193 Selain penamaan tokoh, kasta brahmana juga digambarkan melalui bentuk nama ganti orang dan sapaan, yaitu : 1. Ratu Ratu merupakan nama ganti orang ketiga yang diucapkan oleh kaum sudra kepada perempuan brahmana. Panggilan Ratu ini terlihat beberapa kali dalam dialog yang diucapkan oleh Sagra yang berposisi sebagai pengasuh di rumah Pidada kepada keluarga perempuan Pidada. Berikut salah satu kutipan datanya :“Ratu…, jangan berkata seperti itu, tiang…” 2. Tugus Tugus merupakan panggilan kepada anak laki-laki di keluarga brahmana. Panggilan tugus ini tampak dalam beberapa dialog Sagra kepada Ida Bagus Yoga Saputra. Berikut salah satu kutipan datanya : “Tugus Yoga berbuat apa?” 3. Ibu Kata ibu merupakan panggilan anak-anak brahmana kepada orang tua perempuannya. Kata ibu ini terlihat dalam dialog yang diucapkan oleh Ida Bagus Yoga Saputra untuk merujuk pada ibu kandungnya, Ida Ayu Prami, kemudian tampak dalam percakapan Ida Ayu Pidada kepada Ida Ayu Manik. Berikut salah satu kutipan datanya : “Ibu sudah tidak sayang lagi padaku.” 4. Aji Kata aji merupakan panggilan untuk orang tua laki-laki kandung. Dalam cerpen Sagra, kata aji beberapa kali diucapkan oleh Ida Bagus Yoga Saputra yang merujuk kepada ayahnya. Berikut salah satu kutipan datanya : “Tugus anak kesayangan Ibu dan Aji.”
194 Kemudian, penggambaran kasta brahmana juga terlihat dari narasi yang menunjukkan status sosial bangsawan, melalui ikon griya, dan indeks yang menunjukkan kebangsawanan. Beberapa kali dalam cerpen Sagra karya Oka Rusmini menarasikan kata ―bangsawan‖ atau ―kebangsawanan‖, dan ikon ―griya‖ sebagai penguat penggambaran kasta brahmana di dalamnya. B. Kasta Sudra Kasta Sudra meliputi para buruh atau petani, kasta ini merupakan tingkatan terendah dan tidak memiliki gelar. Kasta sudra dapat diidentifikasi dengan pemberian nama pada tiap individu. Nama-nama dalam kasta sudra diawali dengan kata Luh, Wayan, Gede, Made, Kadek, atau Nengah. Penamaan tokoh dalam cerpen Sagra yang mempresentasikan kasta sudra yaitu : 1. Luh Sewir 2. Luh Sagra 3. Made Jegog 4. Wayan Maglek 5. Made Togok Selain penamaan tokoh, sapaan untuk menyebut diri sendiri, atau orang ganti ketiga juga digunakan dalam cerpen Sagra, yaitu menggunakan kata tiang, meme, dan bape. 1. Tiang Tiang memiliki arti aku/saya. Kata tiang terlihat dalam beberapa dialog yang diucapkan oleh Sagra saat berhadapan dengan Ida Ayu Pidada maupun Ida Ayu Prami. Berikut salah satu kutipan datanya : “Ratu…, jangan berkata seperti itu, tiang…” 2. Meme
195 Meme memiliki arti ibu atau orang tua kandung perempuan. Kata Meme diucapkan oleh Sagra kepada ibunya. Berikut salah satu sajian datanya : “Kita punya tanah, Meme. Sejak Bape mati, bukankah kita yang merawat tanah itu?....” 3. Bape Kata bape memiliki arti ayah atau orang tua kandung laki-laki. Kata Bape diucapkan oleh Sagra untuk menyebut ayahnya. Kemudian, representasi kasta sudra juga tergambar melalui beberapa ikon bangunan seperti pura desa, sumur, dll, serta dalam narasi yang menggambarkan status sosial yaitu kata wong jero. KESIMPULAN Cerpen Sagra karya Oka Rusmini dalam mempresentasikan kelas sosial masyarakat Bali menggunakan tanda-tanda semiotika sebagai penggambarannya. Tanda-tanda semiotika tersebut meliputi ikon, indeks, dan simbol. Kelas sosial yang ditampilkan dalam cerpen tersebut yaitu kasta brahmana dan kasta sudra. Kasta brahmana merupakan tingkatan sosial tertinggi, sedangkan kasta sudra merupakan tingkatan kasta terendah. Ikon yang menunjukkan kasta brahmana, di antara lain : griya dan kediaman keluarga Pidada. Sedangkan ikon yang menunjukkan kasta sudra, yaitu kediaman keluarga Luh Sewir dan pura desa. Kemudian untuk indeks, meliputi perilaku tokoh dalam menggambarkan perasaannya, yang tercermin melalui perasaan tahu diri Sagra sebagai wong jero yang mempresentasikan kaum sudra, dan perasaan marah dan memberi peringatan oleh Pidada yang mempresentasikan kaum brahmana. Sedangkan untuk simbol diwakilkan melalui penamaan tokoh, sapaan, penyebutan nama ganti, dan status sosial. Simbol penamaan tokoh kaum brahmana menggunakan Ida Ayu dan Ida Bagus, sedangkan kaum sudra menggunakan Luh, Made, dan Wayan.
196 Sapaan kaum brahmana menggunakan kata ratu, tugus, ibu, dan aji, sedangkan kaum sudra menggunakan kata meme dan bape. Status sosial kaum brahmana diwakili dengan kaum bangsawan, sedangkan kasta sudra dengan kata wang jero. Sehingga, dapat disimpulkan dalam cerpen Sagra memang benanr mempresentasikan kelas sosial masyrakat Bali di dalamnya. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu. 2009. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI : Katalog DalamTerbitan (KDT). Anwar. (2016). ‗Ini kan Bukan Bali‘: Interaksi Antar-Kasta Masyarakat Transmigran di Desa Kertoraharjo, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Jurnal Etnosia. Vol. 1, no. 2. https://scholar.google.com/citations?user=GGP8YakAAAAJ&hl=id &oi=sra Alex. Sobur. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdaya. Muin. (2004). Pengetahuan Sosial Geografi 3. Bekasi : Grasindo.
197 KELAS SOSIAL DALAM CERPEN SEPASANG SEPATU TUA KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO: KAJIAN SEMIOTIKA Shinta Nuha Mathovany | 21210141039 PENDAHULUAN Kajian semiotik dapat digunakan untuk memahami makna dalam karya sastra melalui tanda-tanda yang terdiri dari signifier dan signified (Wardoyo, 2004). Suatu karya sastra menyajikan suatu gambaran tentang kehidupan manusia serta segala masalahmasalahnya. Banyak sekali jenis karya sastra, salah satunya adalah cerpen atau cerita pendek. Sumardjo (1982:69) menyatakan bahwa cerita pendek adalah cerita yang membatasi diri dalam membahas salah satu unsur fiksi dalam aspeknya yang terkecil. Kependekan sebuah cerita pendek bukan karena bentuknya yang jauh lebih pendek dari novel, tetapi karena aspek masalahnya yang sangat dibatasi. Oleh karena itu terkadang cerpen juga lebih menjadi pilihan pembaca karena isinya yang tidak terlalu panjang namun juga tetap bisa dinikmati dan tidak menghilangkan unsur estetika di dalamnya. Karya sastra memiliki unsur-unsur pembangun seperti tanda-tanda yang diartikan sebagai simbol, dan tanda lainnya seperti ikon, indeks, dan simbol dengan makna tertentu untuk memahami hal yang ingin disampaikan atau diekspresikan dalam karya sastra, itulah yang disebut sebagai semiotika (Ambarini dan Nazla, 2010: 7). Sapardi Djoko Damono merupakan penulis yang sudah memiliki banyak karya, salah satunya cerpennya yang berjudul Sepasang Sepatu Tua yang diterbitkan pada tahun 2019. Cerpen Sepasang Sepatu Tua ini memiliki hal yang unik yaitu mengimajinasikan benda mati seolah-olah memiliki kemampuan seperti manusia yang hidup dengan berbagai permasalahannya.
198 Disini diceritakan tokoh Aku yang membeli sepatunya di China Town, San Francisco beberapa tahun lalu. Ia sangat mencintai sepatunya itu, walaupun bentuk sepatunya hanya biasa saja mirip seperti sepatu bot. Namun tiba-tiba sepatu itu jebol. Ia teringat saat seseorang mengolok-oloknya karena ingin membenarkan jam tangannya, akhirnya ia pun terpaksa memutuskan untuk membeli sepatu yang baru. Dalam cerpen ini juga digambarkan mengenai adanya sebuah keyakinan mengenai suatu hal, yaitu sapi yang dianggap suci, sehingga tidak mungkin dijadikan bahan untuk pembuatan sepatu. Kesombangan dari tokoh-tokoh dalam cerita ini yang digambarkan melalui sepatu-sepatu trendi yang mereka gunakan membuatnya merasa lebih baik dari orang lain. Mereka lebih banyak yang menyukai sepatu-sepatu trendi, sedangkan sepatu-sepatu yang terlihat tidak trendi dan norak akan mereka tinggalkan. Anggapan sepatu yang selalu berada dibawah, mengambarkan bahwa posisi tersebut membuatnya merasa pantas untuk diinjak-injak. Dalam cerpen ini sepasang sepatu juga memperdepatkan mengenai asal-usul mereka. Cerpen ini memberikan penyajian berbeda dengan memanfaatkan benda mati seolah-olah hidup dan merasakan berbagai persoalan dan permasalahan hidup layaknya manusia. Bahkan terkadang tokoh Aku juga mendengar perdebatan yang terjadi antara sepasang sepatu itu. Perbedaan pandangan antara tokoh Aku dengan orang sekitarnya yang memandang modernitas sebagai sesuatu yang perlu atau tidak. Tokoh Aku yang tidak terlalu memperdulikan trendi berbeda dengan orang-orang disekitarnya yang sangat memperdulikan hal tersebut. Cerpen Sepasang Sepatu Tua merupakan salah satu cerpen yang menarik yang menampilkan cerita melalui tokoh sepatu yang mengalami berbagai permasalahan layaknya manusia. Dalam cerpen
199 ini juga digambarkan adanya sikap modernitas dan non-modernitas. Maka dari itu saya menggunakan kajian semiotika. Artikel analisis ini terfokus pada kelas sosial yang terdapat dalam cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono dengan kajian semiotika. Dalam cerpen ini ditampilkan persoalan mengenai kelas sosial yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat saat ini, sehingga artikel ini bertujuan untuk meneliti makna dalam cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono yang berhubungan dengan kelas sosial. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana signifier dan signified dalam cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono? 2. Bagaimana kelas sosial yang digambarkan dalam cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono? HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Signifier dan Signified Dalam Cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono Terdapat adanya hubungan petanda dan penanda dalam teks berikut. “Jam murahan begitu kok masih mau diperbaiki” (Sepasang Sepatu Tua, 2019: 2). Jam murahan menunjukkan bahwa itu tidak memiliki daya jual dan berada pada kelas sosial bawah. Seseorang yang menggunakannya akan dinilai seperti itu di masyarakat. Lalu pada teks “sepatu kok bisu” (Sepasang Sepatu Tua, 2019: 2) menunjukkan bahwa tidak semua hal bisa menjadi baik-baik saja ketika hanya diam membisu. Menyuarakan sesuatu seperti hak atau pendapat terkadang juga kan lebih baik. Walaupun terkadang suara dari kelas sosial bawah jarang didengar. Lalu pada teks “Aku menguasai bahasa-bahasa, seperti Jawa, Indonesia, dan sedikit Inggis..” (Sepasang Sepatu Tua, 2019:
200 3) hal tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak atau semakin tinggi kekuasaan maka kelas sosialnya juga akan lebih baik. Percakapan antara sepatu yang satu dengan yang lainnya, membicarakan bahkan memperdebatkan mengenai segala hal yang terjadi di kehidupan manusia. Salah satunya yaitu mereka memperdebatkan mengenai asal-usul mereka. Darimana mereka berasal, dimana mereka tinggal, dan itu menjadi anggapan bahwa asal-usul sangat penting untuk menilai seberapa baik status sosialnya. Hal ini menandakan adanya indeks di dalam suatu teks yang menghubungkan adanya sebab akibat. Yang kiri mengatakan dengan lantang bahwa mereka sebenarnya tidak berasal dari kulit sapi yang sama (Sepasang Sepatu Tua, 2019: 5). “…Kita ini asalnya berbeda. Aku jelas sapi Jerman, kau entah sapi apa…” (Sepasang Sepatu Tua, 2019: 5). Hal tersebut membuat sepatu yang kanan merasa tersinggung. Baginya mereka berasal dari kulit sapi yang sama. Namun, yang kiri juga tersinggung karena ia tidak ingin disamakan dengan yang lain, ia merasa bahwa dirinya berbeda, dan ia berasal dari kulit sapi yang lebih baik. Dalam hal ini, bisa juga ditemui dalam kehidupan sosial masyarakat saat ini, yang mana asal-usul seseorang dianggap sangatlah penting, semakin tinggi dan baik bibit bebet bobotnya, maka akan dianggap memiliki kelas sosial yang lebih tinggi dan lebih baik pula. Dalam cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono juga digambarkan bahwa orang-orang yang memperdulikan dan memperhatikan modernitas selalu mengikuti trendi yang ada terutama dalam memilih sepatu. Misalnya dalam kutipan berikut ini.
201 “Norak amat sepatumu. Di mana kau beli? Yang dulu mana?” (Sepasang Sepatu Tua, 2019: 4). “Sepatu baru ini warnanya tidak norak, Pak. Trendi. Sesuai untuk remaja tahun 50-an,” (Sepasang Sepatu Tua, 2019: 7). Dengan adanya modernitas dan trendi yang mereka ikuti, terkadang hal tersebut juga membuat mereka menyombongkannya agar dapat terlihat berada di kelas sosial yang lebih baik daripada orang lain. Contohnya seperti dalam kutipan berikut dimana rekan kerja tokoh Aku terkesan meremehkan dan merendahkan orang lain lewat sepatu yang digunakan. ―Sepatu Cibaduyut, sih,‖ komentar rekanku menggoda (Sepasang Sepatu Tua, 2019: 1). “Pak, sepatunya buang aja, deh. Jangan setiap kali manggil tukang sepatu untuk memperbaikinya. Malu, kan? Dikira nggak mampu beli sepatu baru” (Sepasang Sepatu Tua, 2019: 6). Orang lain akan memandang rendah jika seseorang memilih untuk memperbaiki barangnya daripada membuangnya dan membeli yang baru. Hal tersebut juga kerap kali ditemui dalam kehidupan sosial saat ini, di mana masih banyak orang yang akan berpikir seperti itu. Dalam lingkup sosialnya, mereka lebih memilih untuk membeli baru agar terlihat mampu dan tidak ketinggalan zaman. 2. Kelas Sosial yang Digambarkan Dalam Cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono Kelas sosial yang digambarkan dalam Cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono yaitu dalam masyarakat segala hal yang terlihat lebih unggul atau lebih bagus akan dinilai memiliki kelas sosial yang lebih tinggi. Sedangkan yang lebih memilih untuk tidak mengikuti trend atau hal-hal yang sesuai dengan kondisi lingkungannya akan dinilai tidak mampu atau berada pada
202 kelas sosial yang lebih rendah. Hubungan yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh gaya hidup dan kebiasaan. Selain itu, untuk menyuarakan pendapat atau haknya, terkadang orang yang berada di kelas sosial rendah akan lebih sulit daripada yang berada pada kelas sosial yang lebih tinggi. Pentingnya kekuasaan menjadi hal utama untuk bertahan di tengah kehidupan masyarakat. Bahkan terkadang orang yang memiliki kekuasaan justru menjadi semena-mena karena kesombongannya. Orang yang mampu dalam hal ekonomi tanpa sadar mereka juga akan menyombongkan hal tersebut dengan memperlihatkan mereka berada di kelas sosial yang baik atau bahkan lebih baik dari orang lain. Sehingga tidak jarang terkadang dalam lingkungan sosial masyarakat akan mempengaruhi cara berpikir dan tindakan seseorang. Bahkan mereka membeli bukan karena membutuhkannya, tetapi karena ingin mendapat pengakuan publik. KESIMPULAN Kelas sosial yang terjadi saat ini digambarkan melalui cerita dalam cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono. Asal-usul setiap individu dianggap sebagai salah satu hal penting untuk mengukur kelas sosialnya. Sikap orang-orang dalam mempertahankan kelas sosialnya dapat dilihat melalui apa yang mereka gunakan. Sikap dan tindakan seseorang juga dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Sedangkan dalam cerita ini terdapat tokoh Aku yang memiliki pandangan berbeda, ia tidak terlalu tertarik dan tidak terlalu peduli dengan hal itu. Hal-hal tersebut dapat dilihat melalui pemaknaan teks dengan kajian semiotika. Adanya signifier dan signified membantu untuk memahami makna serta menghubungkan indeks di dalamnya.
203 DAFTAR PUSTAKA Asriningsari, A., & Umaya, N. (2010). Semiotika teori dan aplikasi pada karya sastra. http://eprints.upgris.ac.id/311/1/buku%20semiotika.pdf Damono, Sapardi Djoko. (2019). Sepasang Sepatu Tua. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. Hidayat, Anwar. (2012). Penelitian Kualitatif (Metode): Penjelasan Lengkap. https://www.statistikian.com/2012/10/penelitian-kualitatif.html Silitonga, Maysarah. (2020). Analisis Cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono Dengan Pendekatan Ekspresif. Skripsi. Medan: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. http://repository.umsu.ac.id/bitstream/handle/123456789/8863/Skrip si%20Maysarah%20Silitonga.pdf;jsessionid=B931CD5042F4E7D8 DC0BEB2A71470399?sequence=1
204 REFLEKSI PERMASALAHAN EKONOMI PADA TANDA IKON DAN INDEKS DALAM CERPEN ANAK WANDU KARYA PUSPA SERUNI Rizka Setyaningrum | 21210141040 A. PENDAHULUAN Dunia sastra tak bisa lepas dari sifat imajinatif seorang pengarang. Semi (1988:8) berpendapat bahwa sastra adalah hasil pekerjaan seni kreatif dengan memakai objek manusia dan kehidupan melalui bahasa sebagai perantaranya. Proses ide kreatif dan imajinatif ini dapat dikembangkan terlebih dahulu untuk mematangkan setiap gagasan-gagasan yang telah diperoleh. Setelah itu, barulah gagasan tersebut dikemas melalui bahasa untuk menghasilkan suatu makna. Dengan demikian, karya sastra adalah hasil proses kreatif dari pikiran dan imajinasi yang didalamnya memuat nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam sebuah karya sastra tersebut dapat disampaikan melalui perantara tanda. Keberadaan tanda ini memudahkan pembaca untuk memahami lebih lanjut terkait maksud dari karya sastra tersebut. Tanda yang dimaksud karya sastra tentunya masih berupa teks yang sebelumnya telah dipilih dan ditetapkan pengarang, Dengan demikian, keberadaan tanda dapat digunakan pengarang untuk menyampaikan pesan-pesan secara tersirat. Semiotika merupakan ilmu yang mengkaji tentang tanda yang berkaitan dengan kehidupan. Selain itu, keberadaan tanda juga dapat dirasakan oleh panca indera manusia. Dikarenakan berhubungan dengan panca indera maka tanda dapat dilihat (visual), dicium, diraba, dan didengarkan. Ilmu semiotika secara sistematis memaknai segala hal yang berhubungan dengan manusia. Oleh
205 karena itu, seseorang dapat memaknai suatu sistem tanda secara bebas asalkan harus memiliki alasan yang masuk akal dan jelas. Cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra, menghadirkan unsur cerita dan konflik-konflik yang sering terjadi di lingkup masyarakat. Konflik tersebut salah satunya dapat dituangkan melalui tingkah laku tokoh dalam novel dan dari masing-masing watak tokoh juga dapat dimanfaatkan oleh pengarang untuk memperoleh jalan cerita yang menarik. Cerpen Anak Wandu karya Puspa Seruni mengisahkan tentang seorang tokoh Nami yang hidup bersama ayah, ibu, dan adiknya. Keluarganya hidup dengan keadaan ekonomi yang sangat kurang. Bahkan saat adik kecilnya mengalami demam tinggi, bapaknya tetap bersikeras membeli bawang untuk mengobatinya. Meskipun untuk membeli bawang harus mengutang, bapak berpikir itu lebih baik daripada membawa ke rumah sakit yang tentunya biayaya akan mahal. Di satu sisi, Nami selalui dihantui ketakutan dan rasa malu karena cemooh dan caci maki dari teman-teman sekelasnya. Mereka semua menertawakan Nami ketika mengetahui bapaknya penampil pertunjukan wayang orang. Akan tetapi, peran yang dimainkan kebanyakan peran perempuan sehingga mau tidak mau harus fasih dalam berlenggak-lenggok, berdandan, dan juga bertutur layaknya wanita. Teman-teman Nami juga mengatakan jika pekerjaan bapaknya tidak halal (menyalahi kodrat laki-laki) maka itu sama saja makan belatung. Oleh karena itu, Nami berusaha keras membujuk bapaknya agar berhenti melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan bedak dan lipstik tersebut. Dengan menggunakan karya cerpen berjudul Anak Wandu karya Puspita Seruni, penulis mencoba menganalisis tanda-tanda yang terkandung di dalamnya dengan menggunakan pendekatan semiotika teori Charles Sanders Peirce. Teori Peirce ini mengkategorikan sistem tanda mennjadi tiga macam, yakni ikon, indeks, dan simbol. Sehubungan dengan hal itu, penulis akan berfokus pada tanda ikon dan indeks untuk digunakan dalam proses
206 analisis cerpen Anak Wandu tersebut. Berdasarkan hal tersebut masalah yang akan dibahas adalah: 1) Apa saja ikon dan indeks yang terkandung dalam cerpen Anak Wandu karya Puspa Seruni dan 2) Bagaimana makna sosial dari ikon dan indeks dalam cerpen Anak Wandu karya Puspa Seruni? B. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Ikon a. Bawang Bawang dalam KBBI termasuk dalam kategori tanaman umbi lapis dan biasanya dipakai untuk bahan memasak. Selain untuk campuran masakan, bawang yang kaya akan khasiat ini juga bisa digunakan sebagai obat. Bawang dipercaya dapat menurunkan suhu demam dengan cara dihaluskan terlebih dahulu, kemudian jika sudah dapat dioleskan ke tubuh. Ketika beberapa orang yang terhalang ekonomi tidak mampu pergi ke dokter untuk berobat, mereka menjadikan bawang sebagai jalan alternatif ketika dirasa sedang meriang ataupun demam. Sama halnya dengan cerpen ini, pengarang memunculkan bawang sebagai alternatif obat tradisional melalui tokoh Bapak. Tokoh Bapak diceritakan tetap bersikeras mempergunakan bawang untuk mengobati anaknya yang sedang demam meskipun harus berdebat dahulu dengan istrinya. Hal ini dikarenakan dirinya tidak sanggup membawa anaknya pergi berobat ke dokter. b. Lipstik dan Daster "Ibu masih punya lipstik, kan? Boleh bapak pinjam?" Perempuan itu mengangguk. "Pinjam daster juga, Bu," lanjutnya Lipstik merupakan salah satu bagian dari alat rias yang berfungsi untuk memberi warna pada bibir. Biasanya lipstik tersedia dengan berbagai warna sehingga pembeli dapat menyesuaikannya untuk memperoleh hasil yang pas. Daster
207 sendiri sekilas terlihat sama dengan gaun. Yang membedakan adalah gaun digunakan untuk acara outdor bersifat formal sedangkan daster sengaja dibuat longgar karena hanya dipakai dirumah saja. Baik lipstik dan daster sama-sama berkaitan dengan perempuan karena kedua benda tersebut pada umumnya hanya digunakan oleh perempuan saja. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa lipstik dan daster juga dapat dipakai oleh lelaki. Misalnya tuntutan pekerjaan aktor yang mengharuskan memakai atribut-atribut perempuan. Dalam cerpen ini, tokoh Bapak bekerja sebagai penampil pertunjukan wayang orang dan kebetulan peran yang dimainkan kebanyakan peran perempuan. Akan tetapi, tokoh Nami diakhir cerita membakar semua benda-benda itu. 2. Indeks a. Bersembunyi "Nami terus bersembunyi dengan pikiran dipenuhi dugaan bahwa adiknya juga ketempelan setan-setan yang marah" Bersembunyi menurut KBBI adalah upaya melindungi diri agar tidak terlihat. Kutipan di atas memberikan pemahaman bahwa penyebab Nami terus bersembunyi karena ia terus menduga jika adiknya ketempelan setan. Lebih jelasnya, Nami merasa takut dengan segala hal yang berhubungan dengan setan. Hal ini disebabkan karena ketika dirinya mengalami demam tinggi, kedua orangtuanya berpikiran jika ia ketempelan setan sehingga membuatnya takut mengingat hal itu. b. Mendekat dan Berdebar Kencang "Nami mendengar suara langkah kaki mendekat dan dia menunggu dengan jantung yang berdebar kencang." Mendekat dapat diartikan hampir akan tiba. Dalam konteks cerpen ini, mendekat yang dimaksud cenderung sesuatu hal yang tidak diinginkan oleh tokoh Nami. Hal inilah
208 yang membuat Nami menunggu dengan jantung berdebar kencang. Atau dengan kata lain Nami menunggu kedatangan seseorang yang tidak diinginkan atau ditakuti dengan segala perasaan was-was penuh kegelisahan. c. Merangsek "Nami merangsek semakin masuk ke kolong dipan, tak mau bapak dan ibunya melihatnya." Merangsek sama halnya dengan upaya untuk terus menerus mendesak masuk ke dalam suatu tempat. Dalam kutipan di atas, tokoh Nami berusaha keras masuk ke dalam kolong dipan. Dapat dibayangkan jika kolong dipan berukuran sempit, tetapi Nami tetap mendesak masuk ke dalamnya meskipun ia harus kesusahan menyesuaikan diri agar bisa bersembunyi dari orangtuanya. d. Berputar-putar Bayangan dan Menyodorkannya "Sementara di kepala Nami berputar-putar bayangan wajah bapaknya yang keras sedang meraup belatung dan menyodorkannya ke mulut Nami dan adiknya." Dalam kutipan di atas memberikan arti bahwa Nami terlalu berburuk sangka terhadap pekerjaan bapaknya sendiri dan beranggapan telah memberi makan tidak halal kepada ia dan adiknya. Akibatnya, Nami selalu dihantui bayanganbayangan mengerikan mengenai pekerjaan bapaknya. e. Menekan Rasa Malu dan Menelan Kenyataan Pahit "Dia yang selama ini menekan rasa malu demi mengisi perutperut orang yang disayanginya, harus menelan kenyataan pahit dituding anak sendiri." Menekan rasa malu menandakan bahwa terdapat upaya untuk menahan perasaan hina atau rendah dalam suatu kondisi tertentu. Menelan kenyataan pahit menandakan adanya
209 perasaan menderita karena perbuatan dan perkataan yang menyakitkan. Menekan dalam cerpen ini dimaksudkan bahwa demi mencari sesuap nasi untuk keluarganya, tokoh Bapak sebisa mungkin selalu mencoba menghilangkan rasa malu terhadap pekerjaannya sebagai seorang wandu (banci). Menelan kenyataan pahit sendiri diartikan bahwa dari pekerjaannya sebagai wandu tersebut, anak kesayangannya tega mengatakan telah memberi nafkah tidak halal kepada istri dan anak-anaknya f. Keributan dan Tertawaan "Nami teringat keributan-keributan di rumahnya beberapa hari terakhir. Dia tidak mau lagi menjadi bahan tertawaan temanteman di kelasnya." Keributan cenderung mengarah dalam hal-hal yang ramai karena suatu pertengkaran. Lalu tertawaan sendiri biasanya dipakai untuk mengejek sesuatu ataupun seseorang. Antara keributan dan tertawaan dalam cerpen ini berhubungan satu sama lain. Hal ini dikarenakan pekerjaan bapaknya, yakni sebagai wandu dijadikan bahan ejekan oleh teman-teman Nami. Akibatnya, Nami meminta bapaknya berhenti melakukan pekerjaan itu hingga akhirnya timbul keributan antara keduanya. g. Menyalahi "Menurut teman- temannya, pekerjaan bapak Nami tidak halal karena dianggap nyeleneh dan menyalahi kodrat sebagai lakilaki. Sejak saat itu, Nami disebut sebagai si pemakan belatung." Menyalahi menandakan adanya penyimpangan dari aturan-aturan yang berlaku dan disepakat oleh kelompok masyarakat. Apabila seseorang telah menyimpang dari aturan maka ia akan mendapatkan sanksi sosial seperti diejek bahkan dikucilkan dari lingkungan. Dalam hal ini, teman-teman Nami
210 menganggap bahwa pekerjaan menjadi seorang wandu (banci) adalah sesuatu yang aneh dan salah. Mereka menganggap tidak seharusnya seorang laki-laki berpenampilan dan berperilaku seperti layaknya perempuan. Itulah alasan teman-teman Nami sering menyebutnya Pemakan Belatung. h. Diam-Diam dan Membakarnya "Diam-diam Nami masuk ke dalam kamar, mengambil pakaian dan semua hal yang digunakan bapaknya untuk pentas wayang. Nami membawa barang-barang itu ke dapur, lalu membakarnya di halaman belakang." Diam-diam menandakan sebagai tindakan yang tidak boleh dilihat ataupun diketahui oleh orang lain. Membakar adalah upaya merusakkan sesuatu menggunakan api. Tokoh Nami secara hati-hati berusaha masuk kamar untuk mengambil barang-barang milik bapaknya. Dikarenakan perbuatannya dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia berhasil mendapatkan semua barang itu. Akibatnya, Nami dapat melenyapkan barang-barang milik bapaknya dengan cara dibakar. C. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis semiotika terhadap cerpen Anak Wandu karya Puspa Seruni diperoleh kesimpulan bahwa telah ditemukan tanda ikon berjumlah tiga, yakni: 1) bawang, 2) lipstik, dan 3) bedak. Kemudian tanda indeks yang ditemukan berjumlah delapan, yakni: 1) Bersembunyi, 2) Mendekat dan Berdebar Kencang, 3) Merangsek, 4) Berputar-putar Bayangan dan Menyodorkannya, 5) Menekan Rasa Malu dan Menelan Kenyataan Pahit, 6) Keributan dan Tertawaan, 7) Menyalahi, 8) Diam-Diam dan Membakarnya. Antara ikon dan indeks dalam cerpen Anak Wandu tersebut berkaitan dengan permasalahan ekonomi. Kondisi di mana Bapak kesulitan mencari nafkah akhirnya rela menahan rasa malu
211 melakukan pekerjaan yang dianggap rendah dan hina oleh lingkungan sekitar. Dengan penghasilan yang tak seberapa itu, keluarga Nami masih harus menanggung berbagai cemooh dan ejekan dari lingkungannya. Hal ini berimbas terhadap tingkah laku Nami yang mulai berani menentang, melawan, bahkan ikut mengganggap rendah pekerjaan bapaknya. DAFTAR PUSTAKA Mu‘arrof, A. Q. (2019). Representasi Masyarakat Pesisir: Analisis Semiotika dalam Novel Gadis Pesisir Karya Nunuk Y. Kusmiana. In Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMANTIKS) (Vol. 1, pp. 71-78). Muhsin, N. R. S., & Qura, U. (2023). SEMIOTIKA NOVEL DAMAR KAMBANG KARYA MUNA MASYARI. Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 12(3), 125-137. Rozaliya, S., Malik, A., & Elfitra, L. (2020). Analisis Semiotik Novel 121 Hari Di Shimotsuma Karya Boby Julian. Student Online Journal (SOJ) UMRAH-Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 1(2), 171-182. SIPAHUTAR, S. A. (2019). ANALISIS SEMIOTIK DALAM NOVEL SIRKUS POHON KARYA ANDREA HIRATA (Doctoral dissertation). Yuliantini, Y. D., & Putra, A. W. (2017). Semiotika dalam Novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu Karya Tere Liye. Literasi: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya, 1(2), 65-72.
212 CITRA ANAK JALANAN DALAM CERPEN “MEREKA MENGEJA LARANGAN MENGEMIS” KARYA AHMAD TOHARI Defry Nanda Pristyawan | 21210141060 PENDAHULUAN Anak jalanan menjadi isu sosial yang selalu dibicarakan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai media telah banyak mengulas tentang isu sosial ini, salah satunya yaitu sastra. Karya sastra merupakan produk masyarakat, cerminan masyarakat, dan dokumen dari kenyataan sosial, budaya, politik yang terjadi dalam masyarakat pada masa tertentu. Anak jalanan selalu identik dengan citra negatif sebagai sampah masyarakat yang harus dijauhi. Bahkan, sering ditemukan perkataan dalam keluarga menghimbau anaknya untuk belajar dengan rajin supaya tidak menjadi seperti anak jalanan. Melalui karya sastra, isu sosial seperti anak jalanan dapat diangkat agar mendapatkan perhatian dari masyarakat umum. Salah satu jenis karya sastra yang dapat digunakan untuk mengangkat topik anak jalanan adalah cerpen. Cerpen merupakan akronim dari cerita pendek, menurut Kosasih dkk (2004:431) cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang termasuk kedalam genre prosa fiksi. Cerpen termasuk salah satu jenis prosa fiktif yang terdiri dari satu konflik. Prosa jenis ini biasanya selesai dibaca sekali duduk. Cerpen menjadi salah satu karya sastra yang dapat ditemukan pada koran-koran mingguan. Bentuknya yang singkat dan padat membuatnya terkesan lebih keras, lebih galak, dan lebih menekan daripada bentuk fiksi lainnya. Dalam penelitian ini akan dikaji salah satu cerpen karya pengarang terkenal Ahmad Tohari dengan judul "Mereka Mengeja Larangan Mengemis".
213 Cerpen ―Mereka Mengeja Larangan Mengemis‖ karya Ahmad Tohari dapat menjadi bahan kajian yang menarik. Dilihat dari isi ceritanya yang mencoba menguak kehidupan anak-anak jalanan yang keras dan penuh gejolak. Cerpen ini mempunyai tokoh utama, yaitu Gupris. Seorang perempuan anak jalanan yang setiap harinya mencari uang dengan mengamen bersama dengan empat orang teman laki-lakinya. Mereka adalah anak-anak yang tidak mengenyam bangku sekolah dan harus mengamen setiap harinya di lampu merah untuk mendapatkan uang agar bisa makan. Dalam cerpen, Gupris dan keempat temannya mendapatkan penolakan dari seorang hansip yang bernama Karidun yang menyuruh mereka untuk berhenti mengamen. Ahmad Tohari menampilkan tokoh anak-anak jalanan dalam cerpen tersebut sesuai dengan gambaran yang terdapat di masyarakat. Hal ini memancing keingintahuan pengkaji untuk menggali lebih dalam citra anak jalanan yang terdapat dalam cerpen ―Mereka Mengeja Larangan Mengemis‖. Penelitian ini akan menganalisis cerpen ―Mereka Mengeja Larangan Mengemis‖ karya Ahmad Tohari dengan menggunakan pendekatan semiotika. Secara definitif, menurut Paul Cobley dan Litza Janz (dalam Ratna, 2015: 97) menyatakan bahwa semiotika berasal dari kata seme, bahasa Yunani, yang berarti penafsir tanda. Dalam pengertian luas, sebagai teori, semiotika berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia. Sangidu (dalam Pradopo, 2013: 121) menyatakan bahwa semiotik dipandang sebagai ilmu tentang tanda atau sebagai ilmu yang mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti, maka dalam pengertian ini ada dua prinsip, yang perlu diperhatikan. Kedua prinsip itu adalah “penanda” atau “signifier/signifiant”, yakni yang menandai dan “petanda” atau “signiffied/signifie”, yakni yang ditandai.
214 Manusia sebagai Homo Significant, dengan karyanya akan memberi makna kepada dunia nyata atas dasar pengetahuannya. Pemberian makna dilakukan dengan cara mereka dan hasil karyanya berupa tanda. Bahasa sastra merupakan ―penanda‖ yang menandai ―sesuatu‖. Sesuatu itu disebut ―petanda‖, yakni yang ditandai oleh penanda. Makna karya sastra sebagai tanda adalah makna semiotiknya, yaitu makna yang bertautan dengan dunia nyata. Dengan demikian, makna karya sastra tidak hanya ditentukan oleh pembaca terhadap karya sastra yang dihadapinya, tetapi juga ditentukan dan diarahkan oleh karya sastra itu sendiri (ChamamahSoeratno dalam Sangidu, 2012: 18). Semiotika dalam tindak penelitian sastra menjadi salah satu pendekatan, yang terhitung kerap digunakan dalam ragam penelitian sastra. Penggalian nilai dan makna melalui tanda-tanda yang terdapat pada karya sastra tentunya akan terkait erat dengan semiotika yang memiliki fokus pada sistem tanda. Terkait dengan tindakan analisis semiotik terhadap karya sastra, penelitian ini akan berfokus untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk citra anak jalanan yang terdapat dalam cerpen ―Mereka Mengeja Larangan Mengemis‖ karya Ahmad Tohari. Gambaran tentang anak jalanan tersebut diperoleh dari pemaknaan tanda yang dilakukan kepada tokoh utama Gupris dan keempat temannya. Sumber data dalam artikel ini adalah cerpen ―Mereka Mengeja Larangan Mengemis‖ karya Ahmad Tohari yang diakses dari ruangsastra.com. HASIL DAN PEMBAHASAN Anak Jalanan dan Broken Home Kebanyakan anak jalanan selalu berasal dari keluarga yang broken home. Mereka memutuskan untuk tinggal di jalan karena kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Keluarga yang tidak harmonis biasanya disebabkan oleh perceraian orang tua atau
215 tidak adanya sosok ayah maupun ibu yang menemani tumbuh dan kembang selama hidup mereka. Kekosongan sosok ayah atau ibu tersebut membuat anak mencari kasih sayang yang hilang di luar rumah. Hal lain yang menyebabkan keluarga kurang harmonis adalah pekerjaan tidak baik yang dilakukan oleh orang tua, seperti memperjualbelikan barang terlarang atau menjadi seorang pelacur. Anak yang berasal dari keluarga yang broken home ini akan mencari teman yang bernasib sama dengannya. Dikarenakan tidak ada yang mengatur, mereka menjadi bebas untuk melakukan kegiatan apa saja yang mereka sukai. Mereka juga akan melakukan pekerjaan apapun asalkan bisa mengisi perut dan membiayai hidup mereka, contohnya dengan mengamen di lampu lalu lintas. Dan sekarang kelima anak itu telah berlompatan ke atas bak truk tak berdinding yang mulai bergerak meninggalkan pangkalan. Setiap pagi mereka berkumpul di pangkalan truk yang dikelilingi warung-warung, paling banyak warung nasi. Empat anak laki-laki memang selalu tidur di situ, di lantai emper warung yang sudah tutup atau di mana saja sesuka mereka. Di malam hari mereka sudah terbiasa dengan banyaknya nyamuk. Tetapi mereka sering tidak bisa tidur ketika perut lapar. Dalam kutipan di atas terlihat empat anak laki-laki yang merupakan teman tokoh utama Gupris. Mereka adalah anak-anak jalanan yang tidak mempunyai rumah sebagai tempat tinggal. Setiap harinya mereka tidur pada emperan warung yang ada di sebuah pangkalan truk. Tempat yang tidak layak jika diperuntukan untuk tidur karena banyaknya nyamuk dan pastinya kotor akibat lalu Lalang orang pada siang hari. Dalam cerpen tersebut tidak ditemukan keberadaan orang tua ataupun keluarga mereka. Hal ini menunjukan bahawa mereka berasal dari keluarga broken home dan sudah tidak memperdulikan mereka lagi. Kemudian mereka saling bertemu
216 karena persamaan nasib yang dialami. Dalam kutipan tersebut terlihat juga salah satu permasalahan yang sering dialami oleh anak jalanan, yaitu tidak mempunyai uang untuk sekadar makan. Mereka digambarkan sering tidak bisa tidur karena harus menahan lapar sebab tidak bisa makan teratur tiga kali sehari seperti kebanyakan orang. Hal ini menunjukan bahwa untuk kebutuhan primer saja tidak dapat dipenuhi oleh anak-anak jalanan. …Gupris tidak ikut tidur jadi gelandangan di pangkalan. Dia lain. Dia punya rumah kecil di belakang pangkalan. Ada emak, tapi tidak ada ayah. Jam tiga pagi adalah waktu yang paling dibenci Gupris. Dia sering terbangun oleh bau wangi. Dia sering melihat emaknya dini hari sudah mandi, berdandan, pakai bedak, dan bergincu. Lalu mengambil keranjang tenteng dan bilang mau belanja ke pasar. Pada mulanya Gupris tidak peduli. Tapi kemudian dia jadi benci karena emaknya selalu pulang dengan keranjang kosong. Menornya sudah berantakan. Gupris benci dan makin benci. Jadi sekarang tiap jam setengah tiga pagi dia bangun dan pergi ke pangkalan, bergabung dengan empat teman sebelum emaknya pulang. Dalam kutipan berikutnya terlihat tokoh utama Gupris yang sedikit beruntung dibanding keempat temannya karena masih mempunyai rumah untuk tempat tinggal dan seorang ibu. Namun, pada akhirnya Gupris juga bernasib malang karena ibunya yang merupakan satu-satunya keluarga yang dia miliki bekerja sebagai seorang pelacur. Pada awalnya Gupris tidak mengetahuinya dan percaya saja dengan alasan ibunya. Namun, saat mengetahui ibunya bekerja menjadi pelacur, ia menjadi marah dan benci terhadap ibunya tersebut. Ia pun bergabung dengan empat anak laki-laki yang tidur di pangkalan truk dan berteman dengan mereka. Hal ini menunjukan
217 kekosongan sosok ayah dan kekecewaan terhadap ibunya akibat dari pekerjaannya membuat Gupris lebih nyaman bersama dengan temantemannya. Dia memilih mengamen di jalanan daripada tinggal di rumah bersama ibunya. Anak Jalanan Simbol Masyarakat Kelas Bawah Anak jalanan dianggap sebagai masyarakat kelas bawah dalam struktur kelas sosial yang ada di masyarakat. Keberadaan mereka selalu dicap sebagai pengganggu dan membuat kumuh pemandangan kota. Bagi masyarakat yang lebih mampu, anak jalanan adalah sekumpulan orang yang harus dijauhi dan dijadikan sebagai contoh buruk orang yang gagal. Begitu juga dengan pemerintah yang seolah tutup mata terhadap fenomena anak jalanan ini. Padahal pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menanggulangi fenomena anak jalanan. Terlebih lagi kesejahteraan sosial adalah hak asasi manusia yang mendasar, bukannya hak yang istimewa. Hal tersebut tercantum juga dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat (1) yang berbunyi: ―Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara‖. Mereka lima anak tanggung dan hanya Gupris yang perempuan. Kelimanya jarang mandi, dan lebih jarang lagi berganti pakaian. Di antara mereka, Gupris yang paling banyak bergerak dan usil. Juga cerewet. Dalam kutipan di atas terlihat gambaran anak jalanan dalam cerpen ―Mereka Mengeja Larangan Mengemis‖. Gupris dan keempat temannya dideskripsikan oleh pengarang sebagai orang-orang yang jarang mandi. Hal ini menunjukan bagi anak jalanan mandi bukanlah kegiatan yang diprioritaskan dan harus dilakukan setiap hari. Keadaan empat laki-laki teman Gupris yang tidak mempunyai tempat tinggal membuat mereka tidak mempunyai akses kamar mandi dan air bersih yang memadai. Dalam kutipan itu juga terlihat bahwa
218 Gupris dan empat temannya jarang berganti pakaian. Sebagian besar anak jalanan hanya mempunyai satu set pakaian dan dipakai setiap hari. Tidak seperti masyarakat berkecukupan yang mempunyai lemari berisi pakaian yang banyak dan lengkap. Alis Gupris merapat. Bingung dia. Tapi setidaknya dia sudah tahu, dewan itu sejenis manusia juga. Dan mereka bersama walikota membuat larangan, siapa mengemis dan mengamen dipidana kurungan. “Ya, ya. Kami mengemis dan mengamen saban hari. Tapi kami belum pernah dihukum.” Gupris nyengir. Empat temannya tertawa. Dalam kutipan berikutnya terlihat gambaran sikap pemerintahan kota yang tidak memperdulikan nasib anak-anak jalanan. Dewan perwakilan daerah dan walikotalah membuat peraturan tentang larangan mengemis dan mengamen. Namun, pelarangan yang dilakukan oleh pemerintah kota tersebut tidak disertai dengan solusi bagi anak jalanan agar berhenti mengemis dan mengamen. Larangan tersebut tentu akan sulit untuk ditaati oleh para anak jalanan. Dalam cerpen menganggap selagi belum tertangkap, mereka akan terus mengamen. Perkataan Gupris itu disetujui juga oleh empat teman laki-lakinya. Hal tersebut terjadi karena jika para anak jalanan tidak mengemis atau mengamen maka mereka tidak akan mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, khususnya untuk makan. Terlebih lagi tidak ada tawaran kehidupan yang lebih baik dari pemerintah jika mereka berhenti mengemis atau mengamen. Anak Jalanan Identik Dengan Tidak Berpendidikan Pendidikan menjadi pondasi yang sangat penting bagi suatu negara untuk menjadi maju dan rakyat menjadi makmur dan sejahtera. Namun, sayangnya pendidikan di negara Indonesia masih belum merata dan menyeluruh bagi setiap orang. Permasalahan
219 pendidikan tersebut terfokus pada banyaknya biaya yang harus dikeluarkan agar bisa sekolah. Pemerintah Indonesia juga belum bisa memberikan pendidikan gratis untuk rakyatnya. Bagi masyarakat kelas bawah, seperti anak jalanan sekolah dan pendidikan bukan menjadi hal yang penting. Mereka lebih memprioritaskan untuk bekerja demi mendapatkan uang secara langsung. Hal ini tidak dapat dipersalahkan juga mengingat para anak jalanan masih berada pada taraf hidup yang rendah. Apalagi mereka tidak mempunyai keluarga dan harus bergantung pada diri mereka sendiri. Hanya Gupris pula yang pernah bersekolah meski hanya sebentar… …Tetapi tiba-tiba dia berhenti bergerak. Dia melihat sesuatu; ada yang berubah di sudut perempatan itu. Di dekat mereka telah terpancang sebuah papan pengumuman. Tulisannya hitam di atas papan kayu bercat putih. Berbeda dengan teman-temannya yang tidak tertarik karena tidak bisa membaca, Gupris lain. Dia ingin membaca tulisan itu. Dia mulai mengeja. Teman-temannya mendekat dan berdiri di belakangnya untuk menguping. “Ba-ran-g si-a-pa me-nge-mis dan me-ng-a-men... di-pi-da-na... ku-ru-ng-an...”. Gupris berhenti, lalu berbalik menghadap temanteman. “Dipidana itu apa? Dipidana kurungan artinya apa?” tanyanya. Keempat anak laki-laki itu nyengir lalu bergantian menggeleng. Semua tidak tahu. Mereka hanya saling pandang.
220 Dalam kutipan tersebut terlihat kalau dari kelima anak jalanan yang terdapat dalam cerpen, hanya Gupris saja yang pernah sekolah. Gupris pun hanya sebentar mengenyam bangku pendidikan lalu putus sekolah dan mengamen bersama teman-temannya. Hal tersebut ditunjukan pada saat Gupris membaca larangan mengemis di sudut perempatan jalan dengan terbata-bata. Hal tersebut lebih baik daripada empat temannya yang tidak bisa membaca, bahkan mereka tidak tertarik dengan papan tanda yang baru dipasang di perempatan tersebut. Kurangnya pendidikan juga terlihat pada saat mereka tidak tahu arti kata dipidana pada papan tanda. Hal ini menunjukkan bahwa bagi anak jalanan, khususnya empat anak laki-laki ketidaktahuan bukan menjadi masalah. Mereka tidak mengambil pusing terhadap ketidaktahuannya tersebut dan lebih memilih untuk fokus mengamen. “Jadi, menurut saya, dipidana pasti tidak sama dengan diberi dana. Dipidana mungkin sama dengan dihukum. Ya. Dipidana kurungan sama dengan dihukum kurung, dibui, dipenjara. Tahu? Itulah, maka kalian jangan ngemis dan ngamen terus. Seharusnya kalian bersekolah. Jadi kalian bisa seperti saya yang sekuriti dan tahu dipidana itu artinya apa.” Gupris diam sejenak. Lalu berbalik lagi menghadap teman-teman. “Kalian dengar, kita seharusnya sekolah.” “Sekolah dapat uang apa tidak?” potong seorang anak. “Ah, dasar! Sekolah, ya, tidak dapat uang, malah bayar,” jawab Gupris. “Wah, susah kalau begitu? Tidak dapat uang? Lalu kita beli makan pakai apa? Enakan ngamen terus, ngemis terus, bisa makan terus.”
221 Dalam kutipan selanjutnya terlihat seorang hansip bernama Karidun yang menyuruh Gupris dan empat temannya untuk bersekolah. Hansip Karidun merepresentasikan aparat yang hanya mengikuti perintah atasan dan tidak memedulikan masyarakat kecil yang terkena dampak dari aturan yang dibuat. Hansip Karidun hanya melarang Gupris dan teman-temannya untuk mengamen dan menyuruh mereka sekolah tanpa memikirkan cara agar mereka dapat sekolah. Dengan melihat kondisi anak-anak jalanan tersebut yang berkekurangan, bahkan tidak punya tempat tinggal. Respon penolakan terhadap pendidikan pun terlihat pada saat empat anak laki-laki mengetahui kalau sekolah harus membayar dan tidak mendapatkan uang. Hal ini menunjukan bahwa para anak jalanan lebih mementingkan untuk mendapatkan uang secara praktis dengan mengamen daripada harus menempuh pendidikan. Mereka masih berkutat pada pemenuhan kebutuhan primer dan tidak menganggap pendidikan sebagai hal yang utama. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap ―Mereka Mengeja Larangan Mengemis‖ karya Ahmad Tohari dengan menggunakan pendekatan semiotika, ditemukan tiga citra anak jalanan. Pertama, anak jalanan berasal dari keluarga yang broken home sehingga kurang kasih sayang. Kedua, anak jalanan sebagai simbol masyarakat kelas bawah yang tidak dipedulikan dan terpinggirkan. Ketiga, anak jalanan yang identik tidak berpendidikan karena masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan primer. DAFTAR PUSTAKA Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kosasih, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga.
222 Pradopo, Rachmat Djoko. 2013. Beberapa teori sastra, metode kritik, dan penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, Nyoman Kutha. 2015. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra (Cetakan XIII). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sangidu. 2012. Metodologi Penelitian Sastra. Cetakan IV. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya. Tohari, Ahmad. 2019. Mereka Mengeja Larangan Mengemis. ruangsastra.com. Diakses melalui https://ruangsastra.com/4429/mereka-mengeja-laranganmengemis/
223 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM CERPEN TIGA CERITA TENTANG LIDAH KARYA GUNTUR ALAM Fanisha Dian Wulan S | 21210144032 PENDAHULUAN Karya sastra adalah sebuah hasil ciptaan manusia yang menggambarkan kehidupan (baik gambaran nyata maupun tidak nyata). Karya sastra dapat digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaan seseorang melalui karangan yang memiliki seni, sehingga menjadi petunjuk atau pembelajaran bagi orang yang membaca hasil karya sastra tersebut. Sebuah karya sastra tercipta berdasarkan imajinasi pengarang. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah suatu kenyataan bahwa pengarang senantiasa hidup dalam suatu ruang dan waktu tertentu. Di dalamnya ia senantiasa terlibat dalam suatu permasalahan. Sebuah karya sastra merupakan proses kreatif seorang pengarang terhadap realitas kehidupan sosial pengarangnya. Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita mengenai manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek dan singkat. Cerpen adalah karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen terdapat sepenggal kehidupan tokoh, yang penuh pertikaian, peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan. Cerpen atau dapat disebut juga dengan cerita pendek merupakan suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerpen cenderung singkat, padat, dan memiliki tujuan yang jelas dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang seperti novel. Ikon adalah tanda yang memiliki ciri-ciri sama dengan apa
224 yang dimaksudkan. Ikon bukan hanya berupa gambar yang disederhanakan namun setiap gambar yang mewakili obyek yang direpresentasikan. Ikon merupakan bagian dari ilmu semiotika yang menandai suatu hal keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subjek. Dalam hal ini tanda selalu menunjukkan pada sesuatu hal yang nyata, misalnya, benda, kejadian, tulisan, bahasa, tindakan, peristiwa, dan bentuk-bentuk tanda yang lain. Indeks merupakan tanda yang memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang diwakilinya. Indeks merupakan tanda yang mempunyai jangkauan eksistesial paling jauh. Dalam indeks kita dapat menghubungkan antara tanda sebagai penanda dan petandanya yang memiliki sifat-sifat: nyata, bertata urut, penyebab dan selalu mengisyaratkan sesuatu. Simbol adalah sesuatu yang biasanya merupakan tanda yang terlihat yang menggantikan gagasan atau objek. Simbol sering diartikan secara terbatas sebagai tanda konvensional, sesuatu yang dibangun oleh masyarakat atau individu dengan arti tertentu yang kurang lebih standar dan disepakati atau dipakai anggota masyarakat itu sendiri. Arti simbol dalam konteks ini sering dilawankan dengan tanda ilmiah. Cerpen Tiga Cerita tentang Lidah Karya Guntur Alam merupakan cerpen yang di dalamnya terdiri dari tiga cerita berbeda namun di setiap cerita tetap menceritakan tentang lidah. Tiga cerita tersebut adalah Kematian si Pahit Lidah, Lidah yang Bercerita tentang Jurai, dan Perang Lidah Tukang Cerita. Cerpen ini akan dianalisis dengan cakupan analisis tanda dibedakan atas tiga hubungan tanda menurut Pierce di atas, yakni ikon, indeks dan simbol Charles Sanders Pierce dalam Nurgiantoro (2010).
225 HASIL PEMBAHASAN Sesuai pada pendahuluan diatas akan menganalisis Cerpen Tiga Cerita tentang Lidah Karya Guntur Alam. Dengan kajian semiotika akan membahas ikon, indeks, dan simbol, sebagai berikut. 1. Kajian ikon, indeks, dan simbol dalam Kematian si pahit Lidah a. Ikon Kata ‗pahit lidah‘ berarti orang yang suka berkata tentang halhal yang tidak menyenangkan. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. Gosip apa yang hendak kau tanyakan? Perihal Mang Akem yang baru saja berbini ya? Atau tentang Bi Inar yang telah pisah ranjang selama tiga purnama dengan lakinya gara-gara cemburu buta. Mungkin pula kau hendak tahu desas-desus yang beredar mengenai Mang Mahmud yang kaya mendadak di Tanah Abang. Oi, tak ada berita yang tak diketahui Mak Yun. Bila kau dengar cerita darinya lengkap dengan rumor yang tak jelas benar atau salah, asli ataukah telah ditambah-tambah biar sedap, kau akan berkata penuh mufakat: alangkah rincak lidah perempuan tua ini menyusun cerita. Kutipan di atas menyatakan bahwa tokoh Mak Yun merupakan tokoh yang suka ghibah. Hal ini sesuai dengan kata ‗pahit lidah‘ yang berarti orang yang suka membicarakan aib orang lain. Kehadiran ikon terlihat dari kesamaan makna kata ‗pahit lidah‘ dengan peristiwa atau kejadian dalam cerita Kematian si pahit Lidah. b. Indeks Indeks pada Kematian si pahit Lidah ditandai oleh kematian tokoh Mak Yun dalam keadaan lidah terpotong. Hal tersebut terlihat
226 pada kutipan berikut. Dan, petang Sabtu yang naas itu orang-orang dikejutkan oleh lolongan anak bujang bungsu Mak Yun yang menemukan perempuan tua nyinyir itu mati dengan lidah telah terpotong oleh pisau. Desasdesus beredar, Mak Yun memotong lidahnya sendiri karena tak tahan. Ada pula yang mengatakan: Ini pastilah azab dari Allah karena Mak Yun senang meng-ghibah aib orang. Entahlah.! Kutipan diatas menyatakan bahwa kematian tokoh Mak Yun dalam keadaan lidah terpotong merupakan indeks kejadian musyabab/sebab akibat. Kematian Mak Yun dalam keadaan lidah terpotong disebabkan karena Mak Yun gemar ber-ghibah atau bergunjing tentang aib orang lain. c. Simbol Simbol pada Kematian si pahit Lidah terlihat pada kutipan berikut. Telah berpuluh rumah dukun kampung ia sambangi, sampaisampai Mak Yun pun menanggalkan keyakinan-nya yang enggan menjejakkan kaki di Puskesmas lantaran ia tak percaya akan kemujaraban jarum suntik dan obat-obat pahit beraroma asing. Tapi!, tak satu pun yang dapat membuat lidahnya kembali seperti semula. Kutipan di atas merupakan simbol gambaran ketidakpercayaan masyarakat zaman dahulu/masyarakat pedesaan mengenai pengobatan medis karena kebanyakan masyarakat desa masih menganggap pengobatan nonmedis sebagai pengobatan terbaik. Hal ini merupakan kultur yang terbentuk secara turun-temurun. 2. Kajian ikon, indeks, dan simbol dalam Lidah yang Bercerita tentang Jurai
227 a. Ikon Kata Ebak atau ayah berarti orang yang menjadi panutan keluarga (menafkahi, melindungi, dan mengayomi). Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut. Hingga kelak, aku membenci kematian itu. Kematian yang membuatku merasa lelaki itu seorang pengecut, seenaknya mati dan meninggalkan kami dalam belitan hidup yang rumit. Dari kutipan di atas tergambar bahwa seorang ayah merupakan sosok yang menjadi panutan dan bertanggung-jawab terhadap keluarga (menafkahi). Walaupun hal tersebut tidak dilakukan oleh ayah. Namun, dari keinginan tokoh Aku, dapat dilihat bahwa pemaknaan dari kata Ebak adalah orang yang seharusnya bertanggungjawab terhadap keluarga. b. Indeks Indeks pada cerita Lidah yang Bercerita tentang Jurai terlihat pada saat penolakan terhadap tokoh Aku yang ingin melamar kekasihnya namun ditolak karena keadaan/kenyataan bahwa ayah dari tokoh aku merupakan orang yang tidak baik (memunyai dua istri). Selain itu, pergunjingan orang terhadap sifat Emak juga merupakan sebab lain dari penolakan keluarga kekasihnya. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut. Perihal Emak dan Ebak-ku inilah yang membuat orang-orang membicarakan jurai-ku. Tentang sebuah takdir keturunan yang pasti akan diturunkan secara temurun. Sialnya, Ebak-nya Halimah, pacarku itu, mengaminkan pula omongan orangorang dusun itu. Lantaran jurai ini pulalah, calon mertuaku itu menolak mentahmentah niatku mempersunting anak perawannya. c. Simbol
228 Di dalam kutipan berikut terdapat kutipan simbol. Si Anu, bapaknya juragan getah karet. Berhidung mancung, kulit legam, tukang kawin, rambut keriting dengan bibir tebal. Emaknya perempuan nyinyir yang hobi berdandan, berhiasan seperti toko emas berjalan, tubuh gembrot, dan suara serak karena ngoceh tak berujung-pangkal! Pastilah, mereka akan bersepakat, si Anu ini kan jadi tukang kawin pula, hidup foyafoya,, dan pemalas. Tentu tak kan jauh-jauh dari perempuan-perempuan na-kal, karena judi, dan alkohol murahan. Begitulah mereka menebak-nebaknya dan mereka pula mengaminkannya!! Kata Berhidung mancung, kulit legam, tukang kawin, rambut keriting dengan bibir tebal merupakan simbol seseorang yang bersifat hedonis. Selanjutnya kata perempuan nyinyir yang hobi berdandan, berhiasan seperti toko emas berjalan, tubuh gembrot, dan suara serak karena ngoceh tak berujung-pangkal merupakan simbol seseorang yang juga bersifat hedonis. 3. Kajian ikon, indeks, dan silmbol dalam Perang Lidah Tukang Cerita a. Ikon Kata toko kopi atau warung kopi berarti tempat orang berkumpul, berbincang sambil meminum kopi. Kata toko kopi atau warung kopi merupakan ikon dari latar tempat peristiwa terjadinya perang lidah dalam cerita Perang Lidah Tukang Cerita. Warung kopi yang merupakan tempat berkumpul dan ber-bincang orang orang merupakan gambaran latar tempat dalam cerita yang digunakan sebagai ikon. Adanya persamaan antara pengertian warung kopi di dalam ke-hidupan sehari hari dengan warung kopi di dalam cerita menunjukan bahwa kata warung kopi merupakan salah satu bentuk ikon. Hal tersebut dapat dilihat dari kuripan berikut.
229 Duel lawas itu dihangatkan di tokokopi Mang Sahlan, antara Cik Lam dan Cik Mim, dua tukang cerita yang sesungguhnya begitu kami sukai. Cik Lam mengangkat sedikit dagunya begitu mendengar ucapan Mang Han, lanang-lanang yang mencaungkan kaki di bangku kayu panjang toko kopi Mang Sahlan itu pun berdengungdengung.! Lanang-lanang di toko kopi Mang Sahlan saling lempar pandang. Kutipan-kutipan di atas merupakan kutipan yang menyatakan bahwa latar tempat terjadi di sebuah toko kopi atau warung kopi. Kesamaan pengertian dari kata warung kopi dalam kehidupan nyata dengan kenyataan dalam cerita merupakan salah satu ikon yang terbentuk. b. Indeks Indeks yang berupa sebab akibat dalam cerita Perang Lidah Tukang Cerita ditandai pada peristiwa perang lidah antara Cik lam dan Cik Mim. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut. Muasalnya dimulai ketika Mang Han yang memuji-muji Cik Lam, lantaran tukang cerita bertubuh gempal dengan paras yang masih rupawan di usia menjelang senjanya itu, baru-baru ini diajak Kades Lamit ke Muara Enim, memenuhi undangan Pak Bupati untuk bercerita dan mengumpulkan kisah-kisah rakyat yang hendak diarsipkan. “Rupa-rupanyaa, ada yang iri lntaran tak terpilih oleh Kades. Padahal, dah berharap setengah mati. Bahkan kudengar, telah mengepak pakaian, meminjem tas dari Sanuri,” kata-kata Cik Lam barusan langsung mencabekan muka Cik Mim. c. Simbol Berikut kutipan yang memperlihatkan sebuah simbol. Hidung pesek lalaki kurus dengan rambut tak terurus itu
230 mendengus Beberapa lanang mengaruk-gruk rambut yang tak gatel liat pertempuran yang pasti akan mledak. Hal tersebut menandakan tanda kemarahan. Kemarahan terlihat dari kata mendengus yang berarti bernafas dengan kencang yang menandakan detakan jantung yang juga berdetak kencang. Sehingga dapat diindikasi sebagai keadaan amarah yang bergejolak.merupakan sebuah simbol. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan diatas pemaknaan sebuah Cerpen Tiga Cerita Tentang Lidah Karya Guntur Alam dapat dilakukan melalui kajian semiotika. Kajian semiotika berupa ikon, indeks, dan simbol dari ketiga cerita di atas diungkap dengan tujuan memahami karya sastra sebagai fenomena tanda-tanda dalam kehidupan. DAFTAR PUSTAKA Alam, Guntur. (2012). Tiga Cerita tentang Lidah. Jakarta: Suara Merdeka. Sudjiman, Panuti. (1996). Semiotika. Jakarta : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Maryanto. 2009. Bahasa Indonesia . Yogyakarta: Pustaka. Stanton, 2007. Kajian Sastra. Surakarta: Widya Sari Press.
231 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM TEKS CERPEN JAWABAN ALINA KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Ainaya Neilin Mitsalia | 21210144033 PENDAHULUAN Karya sastra merupakan ungkapan perasaan manusia yang bersifat pribadi, berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, dan keyakinan dalam bentuk gambaran kehidupan yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Menurut Padi (2013:89) mengemukakan bahwa "Sastra adalah kegiatan seni yang menggunakan bahasa dan simbol lainya garis sebagai alat". Dan sedangkan menurut Rafiek (2013:98) mengemukakan bahwa "Sastra adalah objek atau gejolak emisonal penulis dalam mengungkapkan, seperti perasaan sedih, furtasi, gembira dan sebagainya". Karya sastra merujuk pada hasil kreatif dan ekspresif dari penggunaan bahasa, terutama dalam bentuk tulisan, yang bertujuan untuk mengkomunikasikan gagasan, perasaan, atau pengalaman. Karya sastra mencakup berbagai bentuk, seperti puisi, prosa, drama, esai, dan bentuk-bentuk tulisan kreatif lainnya. Tujuan utama karya sastra adalah untuk memberikan pengalaman estetis kepada pembaca atau penonton, melibatkan imajinasi dan emosi mereka. Karya sastra merujuk pada karya-karya seni yang ditulis, seperti puisi, prosa fiksi, drama, dan esai, yang memiliki nilai kesusastraan. Karya sastra dapat mencakup berbagai bentuk, gaya, dan genre yang mencerminkan ekspresi dan imajinasi penulis. Mereka seringkali mengandung elemen-elemen seperti keindahan bahasa, penggunaan imajinasi yang kreatif, serta menyampaikan makna atau pesan yang lebih dalam tentang kehidupan, manusia, atau masyarakat.
232 Menurut Sitorus (2021:62) mengemukakan bahwa "Karya sastra yang termasuk dalam imajinatif adalah karya sastra yang memang dalam proses penciptaanya menekankan pada hal-hal yang menjadi sebuah fakta atau unsur unsur kefaktaannya memang menjadi hal penekanan yang utama". Menurut Wicaksono (2017:4) mengemukakan bahwa "Karya sastra yang ditulis merupakan ungkapan masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, tentang makna hidup dan kehidupan, penderitaan-penderitaan manusia". Rahmat Djoko Pradopo (2001: 71) mengungkapkan bahwa ―semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda‖. Tanda mempunyai dua aspek yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Adapun menurut Paul Cobley dan Litza Janz (dalam Nyoman Kutha Ratna, 2009: 97) ―Semiotika berasal dari kata seme, bahasa Yunani, yang berarti penafsir tanda‖. Sejalan dengan pendapat tersebut, Suwardi Endraswara (2008: 64) mengungkapkan bahwa ―Semiotik adalah model penelitian sastra dengan memperhatikan tanda-tanda. Tanda tersebut dianggap mewakili sebuah objek representatif‖. Mohammad A. Syuropati (2011: 71), menjelaskan bahwa menurut Peirce tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya mempunyai hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tandatanda tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang yang ditegaskan Peirce, ―… sebuah analisis tentang esensi tanda …. Mengarah pada pembuktian bahwa setiap tanda ditentukan oleh objeknya. Cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra dalam bentuk tulisan pendek yang mengisahkan cerita fiksi secara singkat dan jelas. Cerpen memiliki ciri-ciri seperti panjang yang singkat, alur cerita yang sederhana, fokus pada satu konflik atau masalah, serta penggunaan bahasa sehari-hari. Selain itu, cerpen juga dapat dibedakan berdasarkan jenisnya, seperti realistik, fantasi, misteri, dan
233 romantis. Struktur cerpen umumnya terdiri dari pengenalan, konflik, klimaks, dan penyelesaian. Cerpen merupakan salah satu karya sastra yang penciptaanya melalui peng-imajinasian. Hal tersebut sering menggunakan penandaan berupa ikon, indeks, dan simbol dalam pengisahkan critanya. Oleh karena itu, untuk dapat memahami makna tersembunyi di dalam cerpen dapat dianalisis dengan menggunakan metode smiotik. Berdasarkan teori Charles Sanders Pierce dalam Nurgiantoro (2010:) hubungan tanda ada tiga bentuk yang perlu diketahui yaitu: 1. Ikon adalah hubungan tanda dengan acuanya yang berhubungan dengan kemiripan. Ikon merupakan bagian dari ilmu semiotika yang menandai suatu hal keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subjek. Dalam hal ini tanda selalu menunjukkan pada sesuatu hal yang nyata, misalnya, benda, kejadian, tulisan, bahasa, tindakan, peristiwa, dan bentuk-bentuk tanda yang lain. Sebagai cotoh konkret yaitu adanya petir selalu ditandai oleh adaya kilat yang mendahului adanya petir tersebut. Wujud tanda-tanda alamiah ini merupakan suatu bagian dari hubungan secara alamiah. 2. Indeks adalah hubungan tanda dengan acuannya yang berupa kedekatan eksistesial. Indeks merupakan tanda yang mempuyai jangkauan eksistesial paling jauh. Dalam indeks kita dapat meghubungkan antara tanda sebagai penanda dan petandanya yang memiliki sifat-sifat: nyata, bertata urut, musyabab dan selalu mengisyaratkan sesuatu, misalnya: bunyi bel rumah merupakan indeksial kedatanagn tamu. 3. Simbol adalah hubugan antara tanda dengan acuanya yang berhubugan konvensioanal. Pada simbol menampilkan hubungan antara penanda dan petanda dalam sifatnya
234 arbitrer. Kepada penafsir dituntut untuk menemukan hubungan penanda itu secara kreatif dan dinamis. Tanda yang berubah menjadi simbol dengan sendirinya akan dibubuhi sifat-sifat kultural, situasional dan kondisional. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Bentuk Ikon Pantai Dalam Cerpen Jawaban Alina Karya Seno Gumira Ajidarma Menurut Pierce ikon merupakan tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan secara bentuk ilmiah. Ikon Pantai Sebagai Penanda Tempat. Pantai merupakan latar tempat yang digambarkan oleh Seno Gumira Ajidarma di dalam novelnya ini yang berjudul Jawaban Alina. Tak dapat dipungkiri juga bahwa pantai memang memiliki keindahan alam tersendiri. Deburan ombak serta angin yang asin menjadi ciri khas suasana di pantai. Dalam cerpen Jawaban Alina penulis memiliki latar tempat ini untuk di dalam cerpennya. Penggunaan latar tempat pantai sangat cocok dengan tokoh dan isi dari cerpen tersebut. Penggunaan ikon pantai juga mempermudah pembaca dalam memahami cerita. B. Bentuk Indeks Dalam Cerpen Jawaban Alina Karya Seno Gumira Ajidarma Indeks adalah tanda yang terhubung secara kausal dengan objek yang ditunjuk. Misalnya, asap adalah indeks api karena asap ditimbulkan oleh api. Indeks adalah tanda yang menunjuk pada sesuatu yang lain dengan memiliki hubungan kausal. Di dalam cerpen Jawaban Alina karya Seno Gumira Ajidarma menunjukan adanya indeks pada kalimat berikut:
235 “Senja ini baru tiba setelah sepuluh tahun, karena tukang pos yang jahil itu rupanya penasaran dengan cahaya merah keemasemasan yang memancar dari amplop itu Sukab.” Kutipan cerpen diatas menunjukan adanya tanda yang berbentuk indeks. Karena kalimat pertama pada kutipan cerpen tersebut berisi ―Senja ini baru tiba setelah sepuluh tahun” merupakan sebab, sementara pada kalimat ―Karena tukang pos yang jahil itu rupanya penasaran dengan cahaya merah keemas-emasan yang memancar dari amplop itu Sukab.” Adalah sebuah akibat. Kedua kalimat tersebut memiliki korelasi satu sama lain sehingga menimbulkan makna yang utuh. Selain itu terdapat pula di paragraf lainnya, yang berisi mengenai indeks yang terdapat di dalam cerpen Jawaban Alina karya Seno Gumira Ajidarma yaitu pada kutipan sebagai berikut. C. Bentuk Simbol Dalam Cerpen Jawaban Alina Karya Seno Gumira Ajidarma Simbol merupakan suatu bentuk yang dapat menandai sesuatu. Sobur (2003:160) mengatakan bahwa banyak orang yang mengartikan simbol sama dengan tanda. Sejatinya, tanda berkaitan dengan objek, sedangkan simbol memerlukan proses pemaknaan terlebih dahulu. Berikut merupakan analisis simbol di dalam kutipan cerpen Jawaban Alina karya Seno Gumira Ajidarma. “Kamu harus tahu apa akibat perbuatanmu ini Sukab, mengirim sepotong senja untuk orang yang sama sekali tidak mencintai kamu.” Di dalam kutipan cerpen Jawaban Alina karya Seno Gumira Ajidarma tersebut terdapat simbol senja. Dalam cerpen tersebut senja memiliki diibaratkan dengan perasaan Sukab kepada tokoh utama dalam cerpen tersebut yaitu Alina. SIMPULAN
236 Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis oleh penulis mengenai ikon, indeks, dan simbol yang terdapat di dalam cerpen Jawaban Alina karya Seno Gumira Ajidarma. Diantara ketiga bentuk tanda tersebut, dapat disimpulkan bahwa bentuk ikon di dalam cerpen tersebut merujuk kepada pantai. Pantai di cerpen tersebut sebagai penanda tempat. Penggunaan kata dan kalimat di dalam novel Jawaban Alina sangat mudah untuk dipahami oleh pembaca, sehingga memudahkan pembaca untuk menganalisis cerpen tersebut. DAFTAR PUSTAKA Sovia Wulandari dan Erik D Siregar. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks, dan Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 4 (1). Rahmat Prayogi dan Dewi Ratnaningsih. (2020). Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Tiga Cerita Tentang Lidah Karya Guntur Alam. Jurnal Elsa, 18 (2) Lili Agustina. (2017). Analisi Semiotik dalam Kumpulan Cerpen Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam. Stilistika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 2 (1) Ani Diana. (2016). Kajian Semiotik pada Kumpulan Cerpen Sekumtum Mawar di Depan Pintu Karya M. Arman A.Z. Jurnal Pesona, 2 (1).
237 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM CERPEN CELURIT DI ATAS KUBURAN Muhammad Daviq Fayaliq Azri | 21210144038 A. Pendahuluan Karya sastra adalah hasil dari pemikiran, ide, dan gagasan seorang pengarang. Karena karya sastra adalah cerminan kehidupan nyata maka sebuah karya sastra tidak terlepas dari tanda-tanda yang ada di dalamnya. Tanda-tanda tersebut akan menghasilkan sebuah proses komunikasi sekaligus mengadakan pemahaman yang lebih baik terhadap dunia. Tanda tersebut merupakan manifestasi konkret dari citra bunyi dan sering diidentifikasi dengan citra bunyi itu sebagai penanda (Budiman dan Kris, 1999) dalam (Wulandari & Siregar, 2020). Karya sastra dalam perkembangannya telah menghasilkan berbagai jenis tulisan seperti novel, puisi, dongeng, dan cerpen. Cerpen adalah cerita pendek yang umumnya memiliki cerita dan alur yang sederhana, tidak sekompleks novel. Umumnya novel mengangkat tema seputar lingkungan pengarang. Cerpen yang menjadi kajian pada penelitian ini berjudul Celurit di atas kuburan karya Zainal Muttaqin. Celurit di Atas Kuburan menceritakan tentang tradisi carok, tradisi tersebut berasal dari Madura. Orang-orang melakukan tradisi carok pada umumnya dikarenakan untuk membela harga diri sendiri ataupun keluarga. Tradisi tersebut pada zaman dahulu dijadikan ajang balas dendam atas kekecewaan karena merasa dirinya telah dipermalukan oleh orang lain. Akan tetapi, pada zaman sekarang karena semakin berkembangnya zaman tradisi ini pun telah ditinggalkan dan jarang sekali terjadi. Karena sudah seharusnya masyarakat pada zaman sekarang menyelesaikan konflik yang terjadi
238 menggunakan cara yang lebih manusiawi seperti bermusyawarah ataupun membuat kesepakatan satu sama lain. Cerpen tersebut menceritakan seorang tokoh bernama Brodin yang sakit hati dikarenakan istri Brodin diantar pulang dari pasar oleh seorang pria bernama Durakkap. Oleh karena hal itu, Brodin tidak terima dan mengajak carok Durrakap. Anak Brodin yang bernama Tarebung sudah berusaha menghentikan dan menasehati ayahnya untuk tidak melakukan carok, karena menurutnya masih ada cara yang lebih baik yaitu memaafkan daripada saling bunuh satu sama lain. Akan tetapi, apalah daya. Brodin memang terkenal sebagai seorang bajing yang selalu memenangkan carok. Maka keputusannya pun sudah bulat dan prinsipnya sudah tidak bisa digoyahkan oleh anaknya sekalipun. Alhasil Brodin pun berangkat menemui Durrakap dengan membawa celurit takkabuwan miliknya. Brodin sangat percaya diri dikarenakan celurit miliknya ditempa oleh pandai besi terkenal bernama Lessap, ditambah lagi celurit yang dimiliki oleh Durrakap hanya celurit biasa. Dan pertarungan pun meledak diantara mereka. Brodin dan Durrakap saling mengayunkan celuritnya satu sama lain dengan keyakinan satu orang diantara mereka akan tumbang. Pada akhirnya Durrakap berhasil menyayat perut Brodin, dan seketika Brodin pergi dari dunia untuk selamanya. Peneliti tertarik untuk meneliti cerpen tersebut dikarenakan cerpen tersebut mengangkat tradisi carok sebagai isi dari ceritanya. Dan peneliti menemukan tanda-tanda yang digunakan untuk membangun cerita tersebut. Adapun hal yang diteliti berdasarkan cerpen tersebut yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang mewakili objek secara replikatif, indeks adalah tanda yang mewakili asosiasi sebab-akibat dengan objek atau peristiwa, simbol adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam konteks spesifik.
239 B. Hasil dan Pembahasan Metode yang digunakan untuk melakukan penelitian pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik baca dan catat. Peneliti membaca secara berulang-ulang agar menemukan hasil yang maksimal dan mencatat data yang mendukung hasil penelitian ini. dan Hasil yang dipaparkan dalam penelitian ini berupa kutipan dalam cerpen. Berikut analisis ikon, indeks, dan simbol pada cerpen Celurit di Atas Kuburan. 1. Ikon Pierce menjelaskan bahwa ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan secara bentuk alamiah. Contohnya seperti gambar dan peta, potret dan foto. Berikut hasil analisis ikon pada cerpen Celurit di Atas Kuburan. a) Ikon Celurit sebagai Penanda Senjata Celurit merupakan senjata khas dari Madura. Senjata ini memiliki ciri-ciri bilah yang melengkung seperti bulan sabit. Pada umumnya celurit memiliki banyak kegunaan seperti alat pertanian, alat rumah tangga, dan alat bela diri. Pada cerpen Celurit di Atas Kuburan celurit digunakan sebagai senjata yang digunakan Brodian dan Durrakap untuk berduel satu sama lain. b) Ikon Pandai Besi sebagai Penanda Orang yang Ahli Membuat Senjata Dilansir dari Wikipedia pandai besi adalah orang yang pekerjaanya membuat alat-alat dari besi atau baja, seperti alat-alat bertani: cangkul, arit, kapak, pisai dan lain sebagainya. Pada cerpen Celurit di Atas Kuburan pandai besi ditujukan pada Lessap seorang pandai besi yang membuat celurit takkabuwan milik Brodin. 2. Indeks
240 Indeks adalah tanda yang mewakili asosiasi sebab-akibat denguan objek atau peristiwa. Contoh yang menunjukan tanda berupa indeks adalah asap sebagai tanda adanya api. Kesimpulannya indeks adalah hubungan sebab akibat, jika tanda dalam indeks tidak muncul maka petandanya juga tidak akan hadir. a) “Dengan siapa eppa‟ mau carok? Tarebung melihat Brodin yang mengelap celuritnya dengan kain putih. Lalu diciumnya mata celurit itu penuh gairah. Durrakap. Dengan suara emosi Brodin menyebut nama lelaki yang telah melecehkan harga dirinya sebagai lelaki sekaligus kepala rumah tangga.” (Muttaqin, 2019). Melalui kutipan di atas kita dapat mengetahui hubungan sebab akibat Brodin melakukan carok. Tarebung menanyai dengan siapa ayahnya akan melakukan carok. Dan Brodin kemudian menjawab bahwa dia akan melakukan carok dengan Durrakap yang telah melecehkan harga dirinya. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa indeks merupakan hubungan sebab akibat maka Brodin tidak akan melakukan carok apabila Durrakap tidak melecehkan harga dirinya. b) “Brodin menjadi masyhur lantaran kemenangannya merobek perut Dulkaji dengan celurit takkabuwan miliknya tiga tahun lalu. Maka dengan pongah Brodin membilak-balikkan celurit di depan Tarebung. Ia berkeyakinan Durrakap akan langsung tumbang hanya dengan satu sabetan celurit yang ia ayunkan” (Muttaqin, 2019) Kutipan di atas merupakan tanda yang berupa indeks. Pada kalimat Brodin menjadi masyhur lantaran kemenangannya merobek perut Dulkaji dengan celurit takkabuwan miliknya tiga tahun lalu. Sebab: Brodin pernah merobek perut Dulkaji dan dia menjadi masyhur akan hal tersebut. Akibat: Ia berkeyakinan Durrakap akan
241 langsung tumbang hanya dengan satu sabetan celurit yang ia ayunkan. Oleh karena dia menjadi masyhur Brodin menjadi percaya diri bahwa dia akan menumbangkan Durrakap dengan satu kali sabetan yang ia layangkan. 3. Simbol Simbol adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam konteks spesifik. Contohnya, sebagai bunga, mengacu dan membawa gambaran fakta yang disebut ‗bunga‘ sebagai sesuratu yang ada di luar bentuk simbolik itu sendiri. a) Malam Jumat sebagai Simbol Malam yang Sakral. “Setiap malam Jumat, setelah azan magrib berkumandang, Brodin langsung mengambil sebilah celurit yang digantung sungsang pada paku payung berkarat di balik pintu. Laki-laki berkulit gelap itu memandikan celuritnya dengan rendaman air bunga serta kertas-kertas bertuliskan huruf Hijaiyyah. Kemudian Brodin berkomat-kamit membaca doa seraya mengasapi celurit di tangan kanannya itu dengan kemenyan.” (Muttaqin, 2019). Malam Jumat menurut kepercayaan orang muslim dipercaya sebagai malam yang agung dan sakral. Dipercaya Allah SWT mengagungkan umat Nabi Muhammad SAW pada malam jumat, dianjurkan pula pada malam Jumat memperbanyak dzikir dan beribadah. Pada cerpen Celurit di atas Kuburan diketahui Brodin memandikan dan membacakan celuritnya doa sebagai ritual agar celuritnya seakan-akan mendapat kekuatan. Hal tersebut secara implisit ditunjukkan pada kutipan cerpen tersebut. b) Carok sebagai Simbol Mempertahankan Harga Diri dan Martabat
242 “Semua lelaki di kampung itu memiliki pola pikir yang sama seperti Brodin apabila berkaitan dengan martabat dan harga diri. Satu-satunya jalan yang mereka tempuh Cuma satu, yaitu carok.” (Muttaqin, 2019) Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pada masyarakat Madura carok merupakan tradisi saling bunuh dengan tujuan mempertahankan harga diri. Pada cerpen Celurit di atas Kuburan Brodin melakukan carok sebagai pembelaan dirinya atas harga dirinya. Dia merasa harga dirinya telah dilecehkan oleh Durrakap karena dia mengantarkan istrinya pulang. Tradisi carok sebagai simbol harga diri ini ditunjukan bukan hanya pada kutipan tersebut akan tetapi keseluruhan cerpen memang menceritakan carok sebagai simbol mempertahankan harga diri dan kutipan di atas adalah bukti penguat atas hal tersebut. c) Celurit sebagai Simbol Barang yang Sangat Berharga Bagi Masyarakat Madura. “Ia pun sering melihat ritual yang dilakukan Brodin pada celuritnya. Brodin memperlakukan celuritnya ibarat istri keduanya.” (Muttaqin, 2019) ”Hanya orang sombong yang tidak punya celurit di rumahnya. Ini untuk menjaga kita, harta kita, jiwa kita, juga untuk menjaga martabat keluarga.”(Muttaqin, 2019) Dua kutipan di atas menunjukan bahwa celurit bagi masyarakat Madura adalah barang yang amat sangat berharga. Celurit adalah senjata khas orang Madura, kegunaanya bukan hanya sebagai senjata melainkan barang serbaguna untuk kehidupan seharihari. Orang Madura juga mempunyai sejarah dengan celurit sehingga celurit adalah barang yang tidak bisa dipisahkan dari orang Madura. Kutipan di atas menunjukan bahwa Brodin memperlakukan