343 Indeks adalah hubungan antara penanda dan petanda yang bersifat alamiah dan bersifat kausalitas atau memiliki hubungan sebab-akibat. Analisis indeks dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo terlihat pada lirik berikut ini. a. Bait pertama, baris pertama Tersiksa batinmu, ingat semua masa lalumu Kutipan lirik lagu di atas menunjukan adanya tanda yang berbentuk indeks. Frasa pada lirik /tersiksa batinmu/ merupakan akibat, sementara frasa pada lirik /ingat semua masa lalumu/ merupakan sebab. Kedua frasa tersebut berkorelasi satu sama lain sehingga menimbulkan makna yang utuh. b. Bait kedua Beribu tanya berdesak di dalam kepala Bahkan bahumu pun bertanya Di mana rintihan yang selama ini ada Berdasarkan kutipan lirik lagu di atas, terdapat tanda yang berbentuk indeks. Kalimat pada lirik /beribu tanya berdesak di dalam kepala/ dan /bahkan bahumu pun bertanya/ merupakan akibat, sementara kalimat pada lirik /di mana rintihan yang selama ini ada/ merupakan sebab. c. Bait ketiga, baris kedua dan ketiga Kau tumpahkan semua perihmu Basahi pipimu dan semakin larut
344 Berdasarkan kutipan lirik lagu di atas, terdapat tanda yang berbentuk indeks. Lirik /kau tumpahkan semua perihmu/ merupakan sebab, sementara lirik /basahi pipimu dan semakin larut/ merupakan akibat. Pada baris pertama terdapat kata ―tumpahkan‖ yang menyebabkan pada baris kedua terdapat kata ―basahi‖, karena tumpah hakikatnya proses sesuatu yang keluar dari tempatnya hingga berceceran. d. Bait kelima, baris pertama dan kedua Perih akan slalu terasa Jika luka terus kau dekap Berdasarkan kutipan lirik lagu di atas, terdapat tanda yang berbentuk indeks. Lirik /perih akan slalu terasa/ merupakan akibat, sementara lirik /jika luka terus kau dekap/ merupakan sebab. Hal tersebut dikarenakan terdapat kata ―luka‖ pada lirik kedua yang disebabkan akibat adanya kata ―perih‖ pada lirik pertama. 3. Bentuk simbol lirik lagu Biru karya Aryo Bimo Simbol adalah hubungan antara penanda dan petanda secara alamiah dan arbitrer berdasarkan konvensi.banyak juga yang mengartikan bahwa simbol adalah tanda itu sendiri. Berikut analisis simbol dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo. a. Simbol hujan sebagai penanda air mata Hujan hakikatnya merupakan peristiwa turunnya butir air dari langit ke permukaan bumi sebagai akibat telah terjadinya kondensasi. Dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo, simbol hujan sebagai penanda air mata. Hal tersebut dapat dilihat dari lirik di bawah ini,
345 Menangislah Hujani saja Konvensi hujan sebagai air mata dapat dilihat pada kutipan lirik lagu di atas, setelah lirik /menangislah/ lalu disambung dengan lirik /hujani saja/. Sehingga, dapat dimaknai bahwa hujan adalah simbol dari turunnya air mata. b. Simbol biru sebagai penanda kesedihan Pada hakikatnya biru merupakan warna primer yang sering dijumpai sehari-hari. Namun warna biru, selain diasosiasikan sebagai warna air dan langit juga memiliki warna lain yang dapat berhubungan dengan emosi atau akibat dari kebudayaan lokal. Dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo, simbol biru sebagai penanda kesedihan. Hal tersebut dapat dilihat dari lirik di bawah ini, Dan biru ada di dalam kamarmu Dan biru tenggelamkan kau dan masa lalumu Menangislah Biru diasosiasikan sebagai kesedihan dapat dilihat pada kutipan lirik lagu di atas, terdapat lirik /dan biru ada di dalam kamarmu/ dan /dan biru tenggelamkan kau dan masa lalumu/, lalu dilanjutkan dengan lirik /menangislah/. Sehingga dapat dimaknai bahwa biru adalah simbol dari kesedihan KESIMPULAN
346 Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis semiotika menggunakan teori Charles Sanders Peirce mengenai ikon, indeks dan simbol dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo ditemukan terdapat 3 bentuk ikon, 4 bentuk indeks, dan 2 bentuk simbol. Bentuk ikon dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo meliputi, (1) Masa lalu sebagai penanda waktu, (2) Kamar sebagai penanda tempat, dan (3) Tangis sebagai penanda perasaan. Bentuk indeks dapat dilihat dari hubungan sebab akibat yang terlihat dari lirik bait pertama, baris pertama; bait kedua; bait ketiga, baris kedua dan ketiga; dan bait kelima, baris pertama dan kedua. Sementara itu bentuk simbol meliputi, (1) Simbol hujan sebagai penanda air mata dan (2) Simbol biru sebagai penanda kesedihan. DAFTAR PUSTAKA Gerung, J., Meruntu, O. S., & Senduk, T. (2023). Representasi Perlawanan Mahasiswa Dalam Lirik Lagu Darah Juang Dan Pembebasan (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce). Kompetensi, 3(9), 2533-2546. Pradopo, R. D. (1999). Semiotika: teori, metode, dan penerapannya dalam pemaknaan sastra. Humaniora, 11(1), 76-84. Ratmanto, T. (2004). Pesan: Tinjauan Bahasa, Semiotika, dan Hermeneutika. MediaTor (Jurnal Komunikasi),5(1), 29-37. Suherdiana, D. (2008). Konsep Dasar Semiotika dalam Komunikasi Massa menurut Charles Sanders Peirce. Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies,4(12), 371-407. Widawati, R. (2014). Syair lagu dalam pengajaran sastra. Edutech, 13(2), 231-235
347 KAJIAN SEMIOTIKA TERHADAP MAKNA GILA DALAM LIRIK LAGU RAYUAN PEREMPUAN GILA KARYA NADIN AMIZAH Prestya Nurlintang Sari | 21210141047 PENDAHULUAN Karya sastra diciptakan oleh pengarang belum memiliki makna. Karya sastra, seperti prosa, puisi, juga sebuah lagu akan indah dan memiliki nilai estetik apabila telah diberi makna oleh para pembaca dan pendengar (Pradopo. 1995: 106). Makna mengenai karya sastra tersebut terikat pada teks karya sastra sebagai sistem tanda. Semiotika pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda serta pemaknaannya. Menurut Saussure, bahasa merupakan suatu tanda yang mewakili makna. Selain Saussure, Pierce adalah seorang filsuf Amerika yang berbicara mengenai sistem tanda atau semiotik. Charles Sanders Peirce menyatakan bahwa semiotika bersinonim dengan logika. Baginya, semiotika adalah ilmu yang mempelajari sebuah tanda sebagai unsur dalam komunikasi. Pierce berpendapat bahwa manusia selama hidupnya berpikir dalam tanda. Pierce membagi tanda berdasarkan penampilannya menjadi tiga, yaitu qualisign, sinsign, dan legisign. Berdasar objeknya, Pierce membagi menjadi ikon, indeks, dan simbol. Menurut interpretasinya, Peirce membagi menjadi rheme, dicent, dan argument. Penelitian ini menitikberatkan pemaknaan tanda berdasarkan objeknya, yaitu ikon. Salah satu tanda ikon, yaitu metafora. Metafora adalah tanda yang membandingkan antara dua hal yang mirip dan bersifat implisit (Baldic dalam Nurgiyantoro, 2017: 224). Indeks sebagai petandanya dan simbol adalah penanda yang akrab digunakan oleh masyarakat. Prinsip dasar dari teori milik pierce ini
348 adalah tanda bersifat representatif, artinya suatu tanda mewakili sesuatu yang lain dan memiliki makna tersirat. Tanda-tanda dalam teori semiotika ini sangat akrab dalam kehidupan manusia, seperti dalam komunikasi. Komunikasi adalah hal yang tidak pernah dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia pastinya membutuhkan komunikasi di setiap saat. Bentuk komunikasi ini bisa beraneka ragam. Bertutur secara langsung dengan lawan tutur atau berkomunikasi secara tidak langsung melalui media sosial. Berkomunikasi secara tidak langsung juga memiliki ragam-ragamnya, seperti melalui lukisan, puisi, cerpen, novel, ataupun lagu. Penciptaan-penciptaan karya sastra tersebut juga masuk dalam kategori komunikasi sebab karya sastra merupakan suatu hasil olah pikir manusia sebagai salah satu media komunikasi antara penulis dan pembaca. Penulis menuangkan pemikiran dan idenya ke dalam karyanya untuk ditangkap oleh pembaca. Oleh karena itu, seluruh karya sastra pasti mengandung tanda-tanda tersebut untuk mewakili sebuah makna yang ingin disampaikan oleh penulis. Berangkat dari sana, pembaca perlu memahami ilmu semiotika untuk menangkap tanda-tanda penulis untuk kemudian disimpulkan maknanya. Karya sastra merupakan sebuah karya untuk menuangkan pikiran, ide, gagasan penulis. Karya sastra ini meliputi banyak sekali bentuk. Salah satunya adalah lagu. Lagu masuk dalam karya sastra berupa seni musik. Dalam perjalanannya, lagu digunakan sebagai tempat bercerita bagi para penulisnya. Lagu dibangun dari lirik-lirik dan ditambahkan aransemen nada-nada sehingga terciptalah musik yang indah. Lirik dalam lagu-lagu tersebut belum memiliki makna jika belum dipahami dan dimaknai oleh pendengar. Nadin Amizah adalah salah satu penyanyi sekaligus penulis dari lagu-lagunya sendiri. Ia menuliskan realitas kehidupannya ke dalam lagu-lagunya sebagai coping mechanism. Oleh karena itu,
349 Sebagian besar dari lagu-lagunya mengandung keresahan-keresahan yang ia rasakan selama ia hidup. Nadin baru saja merilis lagu berjudul Rayuan Perempuan Gila. Lagu ini ia tulis sebagai bentuk perdamaiannya terhadap pengalaman pahit yang pernah ia rasakan. Lagu milik Nadin menggunakan metafora untuk merepresentasikan makna yang ingin ia sampaikan pada pendengar. Metafora dalam lirik lagu ini dapat dikaji melalui kajian semiotika. TUJUAN Kajian tentang lagu ini pasti akan sangat menarik sebab dengan adanya kajian terkait lagu akan membuat pendengar setia penyanyi tersebut mengetahui apa makna yang ingin disampaikan oleh penulis dalam lagunya. Tujuan dari kajian semiotika terhadap lagu Rayuan Perempuan Gila karya Nadin Amizah ini adalah memahami makna gila yang terdapat di dalam lirik lagu Rayuan Perempuan Gila menggunakan teori semiotika mengenai metafora. Kajian terkait gila ini menarik untuk dikaji sebab akhir-akhir ini, tren gila sempat menjadi topik teratas di berbagai platform media sosial, baik gila dalam arti denotatif maupun dalam arti konotatif. Dengan adanya kajian ini, diharapkan Masyarakat mampu menangkap makna metafora yang digunakan di dalam lirik lagu Rayuan Perempuan Gila karya Nadin Amizah. HASIL DAN PEMBAHASAN Lirik lagu Rayuan Perempuan Gila oleh Nadin Amizah Menurutmu, berapa lama lagi kau 'kan mencintaiku? Menurutmu, apa yang bisa terjadi dalam sewindu? Bukan apa, hanya bersiap, tak ada yang tahu, aku takut Tak pernah ada yang lama menungguku sejak dulu Yang terjadi sebelumnya Semua orang takut padaku, wo-oh-oh
350 Memang tidak mudah Mencintai diri ini Namun, aku berjanji Akan mereda, wo-oh-oh, seperti semestinya Menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku? Menurutmu, apa yang bisa dicinta dari diriku? Bukan apa, hanya bersiap, tak ada yang tahu, aku takut Tak pernah ada yang lama menungguku sejak dulu Yang terjadi sebelumnya Semua orang takut padaku, wo-oh-oh Panggil aku Perempuan gila Hantu berkepala Keji membunuh kasihnya Penuh ganggu Di dalam jiwanya Sambil penuh cinta Diam-diam berusaha S'lalu tahu Akan ditinggalkan Namun, demi Tuhan Aku berusaha Memang tidak mudah Mencintai diri ini Namun, aku berjanji Akan mereda seperti semestinya, uh-hu-uh Makna Gila dalam lirik lagu Rayuan Perempuan Gila 1. Rasa takut ditinggalkan yang berlebih
351 Menurutmu, berapa lama lagi kau 'kan mencintaiku? Menurutmu, apa yang bisa terjadi dalam sewindu? Bukan apa, hanya bersiap, tak ada yang tahu, aku takut Tak pernah ada yang lama menungguku sejak dulu Yang terjadi sebelumnya Semua orang takut padaku, wo-oh-oh … Menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku? Menurutmu, apa yang bisa dicinta dari diriku? Bukan apa, hanya bersiap, tak ada yang tahu, aku takut Tak pernah ada yang lama menungguku sejak dulu Yang terjadi sebelumnya Semua orang takut padaku, wo-oh-oh Dari lirik di atas, terlihat bahwa penulis ingin menyampaikan ketakutannya yang berlebih tentang ditinggalkan. Penulis ingin menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dalam lirik /Menurutmu, berapa lama lagi kau „kan mencintaiku?/ menunjukkan bahwa penulis ragu terhadap cinta yang ia terima dari pasangannya sehingga ia bertanya tentang kemungkinan ia akan dicintai. Selanjutnya, dalam lirik /Menurutmu, apa yang bisa terjadi dalam sewindu?/ juga menunjukkan ketakutan terhadap hal yang sama. Ketakutan tentang hal-hal yang belum tentu terjadi. Pada lirik /Menurutmu, apa yang bisa dicinta dari diriku/ adalah gila yang direpresentasikan dalam bentuk keraguan tentang alasan pasangannya mampu mencintainya. Ia tidak yakin atas cinta yang ia terima karena rasa takut segera ditinggalkan lebih besar. Diperkuat dalam lirik //Bukan apa hanya bersiap, tak ada yang tahu, aku takut/Tak pernah ada yang lama menungguku sejak dulu/Yang terjadi sebelumnya/Semua orang takut padaku…//.
352 Pada lirik-lirik tersebut, terlihat bahwa penulis sangat takut dengan rasa ditinggalkan karena pengalaman-pengalaman pahit yang pernah ia rasakan. Ketakutan-ketakutan yang berlebih ini membuatnya terlihat gila karena terus menerus menanyakan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Penulis merepresentasikan gila dalam lirik-lirik di atas dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan retoris karena takut ditinggalkan. 2. Rasa tidak pantas dicintai Memang tidak mudah Mencintai diri ini Namun, aku berjanji Akan mereda, wo-oh-oh, seperti semestinya Dari lirik di atas, berfokus pada //Memang tidak mudah/Mencintai diri ini// menunjukkan bahwa penulis merasa tidak layak dicintai. Ia merasa bahwa dirinya sosok yang kotor dan sulit menerima cinta yang dianggapnya sebagai sesuatu yang suci. Akan tetapi, rasa takut ditinggalkan dalam dirinya lebih besar sehingga ia menjanjikan bahwa ia akan segera memperbaiki diri agar pantas dicintai dan tidak ditinggalkan lagi. Hal tersebut dibuktikan dalam lirik berikutnya, //Namun, aku berjanji/Akan mereda…seperti semestinya//. 3. Klaim gila atas dirinya sendiri Panggil aku Perempuan gila Hantu berkepala Keji membunuh kasihnya Penuh ganggu Di dalam jiwanya
353 Bentuk gila selanjutnya adalah pengakuan atau klaim gila atas dirinya sendiri. Pada lirik, //Panggil aku/Perempuan gila// menunjukkan bahwa ia ingin orang-orang menganggapnya gila seperti yang ia pikirkan. Hal tersebut disebabkan oleh perasaan-perasaan takut yang berlebihan, seperti takut ditinggalkan dan takut tidak pantas dicintai karena kekurangankekurangan yang ia miliki. Pada lirik di atas, penulis menggambarkan kegilaannya. Lirik selanjutnya, //Hantu berkepala/Keji membunuh kasihnya/Penuh ganggu/Di dalam jiwanya// menunjukkan bahwa ia dengan segala gilanya mampu menyiksa pasangannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah diinterpretasikan dalam lirik sebelumnya. Hantu berkepala yang keji membunuh kasihnya ini menggambarkan tentang manusia yang masih memiliki hati dan perasaan juga mampu berpikir namun dengan tega ia membunuh perasaannya karena kalah dengan ketakutan-ketakutan yang menghantuinya. Ketakutan-ketakutan yang tidak nyata itu menghantuinya selama bertahun-tahun hingga menjadikan penulis gila karenanya. Penuh ganggu di dalam jiwanya dapat dimaknai bahwa psikologis dari penulis sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Penulis ingin menggambarkan bahwa gila yang sebelumnya ia interpretasikan sebagai hantu berkepala dan perempuan gila memang nyata adanya dan terbukti secara klinis. Pengakuan tentang gangguan psikologis ini disampaikan secara pribadi oleh Nadin Amizah di akun Instagram miliknya. Ia ingin menggambarkan gangguan jiwa yang ia derita untuk memberikan penjelasan berupa makna dari gambaran hantu berkepala dan Perempuan gila yang ada dalam lirik sebelumnya. 4. Mengemis cinta Sambil penuh cinta Diam-diam berusaha
354 S'lalu tahu Akan ditinggalkan Namun, demi Tuhan Aku berusaha Lirik di atas menggambarkan perasaan penulis yang mengemis untuk tetap dicintai. Lirik //Sambil penuh cinta/Diamdiam berusaha//, membuktikan bahwa penulis sangat menyayangi pasangannya dan mengusahakan bagaimanapun caranya agar tidak ditinggalkan seperti pengalaman yang lalulalu. Lirik selanjutnya, //S‟lalu tahu/Akan ditinggalkan//, menunjukkan bahwa di alam bawah sadarnya sudah diatur untuk selalu takut ditinggalkan dan beranggapan bahwa itu nyata. Padahal, ketakutan-ketakutannya tersebut belum tentu akan terjadi namun seakan-akan ia selalu tahu akan ditinggalkan. Selanjutnya, pada lirik, //Namun demi Tuhan/Aku berusaha//, penulis berusaha menginterpretasikan usahanya dalam memperbaiki kondisi kesehatan jiwanya agar tidak ditinggalkan lagi. Secara keseluruhan, pada bagian ini, penulis mengemis cinta pasangannya untuk tetap bertahan dengannya dan ia berjanji untuk segera sembuh dari penyakitnya. Ia akan bertahan dan berusaha sendiri tanpa melibatkan pasangannya asal pasangannya bertahan dengannya. SIMPULAN Dari pemaparan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai makna gila dalam lagu Rayuan Perempuan Gila karya Nadin Amizah melalui tanda-tanda dan simbol yang digunakan dalam liriknya. Makna gila dalam lagu Rayuan Perempuan Gila karya Nadin Amizah yang ditemui ada empat, yaitu 1) Rasa takut ditinggalkan yang berlebih, 2) Rasa tidak pantas dicintai, 3) Klaim gila atas dirinya sendiri, dan 4) Mengemis cinta. Dari keseluruhan lirik lagu Rayuan Perempuan Gila, dapat dimaknai
355 sebagai bentuk perilisan emosi oleh penulis tentang ‗cap gila‘ yang ia dapatkan dari pasangannya serta dari ahli. Lagu ini memuat perasaan penuh ketakutan akan ditinggalkan karena pengalaman pahit yang sebelumnya dirasakan oleh penulis dalam percintaannya. Segala kemampuan ia keluarkan untuk mempertahankan hubungannya meskipun kondisinya sendiri tidak baik-baik saja. Ia mengesampingkan kondisi mentalnya dan mengemis agar pasangannya stay bersamanya. Dapat disimpulkan bahwa makna gila dalam lagu ini bersifat konotatif dan denotatif. Makna gila secara denotatif, yaitu klaim gila atas dirinya oleh ahli kejiwaan. Makna gila secara konotatif, yaitu perasaan takut ditinggalkan secara berlebih, tidak pantas dicintai, dan mengemis cinta. DAFTAR PUSTAKA Nurgiyantoro, B. (1994). Teori semiotik dalam kajian kesastraan. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 1(1). Putri, A., & Puspita, I.T. (2023). Lirik Lagu Rayuan Perempuan Gila, Singel Baru dari Nadin Amizah. URL: https://www.kompas.com/hype/read/2023/06/23/134722666/ lirik-lagu-rayuan-perempuan-gila-singel-baru-dari-nadinamizah#. Diakses tanggal 11 Desember 2023. Rahayu, I. S. (2021). ANALISIS KAJIAN SEMIOTIKA DALAM PUISI CHAIRIL ANWAR MENGGUNAKAN TEORI CHARLES SANDERS PIERCE. SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi, 15(1). Sartini, N. W. (2007). Tinjauan teoritik tentang semiotik. Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, 20(1), 1-10.
356 INTERPRESTASI LIRIK LAGU “RONA MERAH LANGIT” KARYA KUNTO AJI DALAM ALBUM PENGANTAR PURIFIKASI PIKIR: KAJIAN SEMIOTIKA MICHAEL RIFFATERRE Marella Bennazir Tanjung | 21210144023 PENDAHULUAN Sebagai bidang yang menganalisis tanda dan makna semiotika memainkan peran penting dalam mendekripsi dan menganalisis kompleksitas bahasa dan budaya. "Semiotika" berasal dari kata Yunani "semeion" yang berarti tanda. Bidang penelitian ini tidak hanya membahas linguistik tetapi juga mempelajari berbagai konteks di mana tanda-tanda mengandung makna. Perjalanan semiotika dimulai dengan kontribusi linguis Swiss Ferdinand de Saussure yang memulai gelombang pemikiran strukturalis yang melahirkan tokoh seperti Roland Barthes, Claude Lévi-Strauss, dan Michael Riffaterre. Saussure membawa konsep dasar seperti "tanda" dan "signifier". Dengan gangguannya pada semiotika, Riffaterre memasukkan aspek baru ke dalam analisis karya sastra. Menurut Damono (2005:106-7) lukisan dan nyanyian juga dapat mengadaptasi karya sastra, atau sebaliknya. Teori yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah semiotika Michael Riffaterre. Dalam karyanya yang terkenal pada tahun 1978, menguraikan empat elemen kunci yang esensial dalam proses produksi makna atau konkretisasi puisi yaitu: Pertama, terdapat konsep pembacaan heuristik dan hermeneutik, yang menekankan pada eksplorasi dan interpretasi yang mendalam terhadap teks. Pembacaan heuristik berfokus pada penemuan elemenelemen kecil yang mungkin terlewatkan, sementara pembacaan
357 hermeneutik berusaha memahami makna secara lebih menyeluruh. Kedua, Riffaterre membicarakan matriks dan model sebagai landasan struktural untuk analisis semiotik. Matriks dan model memberikan kerangka kerja untuk memahami hubungan antara elemen-elemen dalam teks dan bagaimana mereka berkontribusi terhadap pembentukan makna. Ketiga, konsep hipogram menjadi pusat perhatian, dengan pembagian menjadi hipogram aktual dan hipogram potensial. Hipogram adalah representasi dari struktur internal teks yang menyimpan potensi makna. Hipogram aktual merujuk pada makna konkret yang muncul secara langsung, sementara hipogram potensial merujuk pada potensi makna yang dapat muncul melalui interpretasi pembaca. Keempat, Riffaterre menggambarkan ketidaklangsungan ekspresi sebagai karakteristik kunci puisi. Menurutnya puisi terbentuk melalui pergantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Puisi menjadi sebuah medium di mana makna terus berubah, terdistorsi, dan terbentuk ulang melalui interaksi kompleks antara teks dan pembaca. Pada penelitian ini yang akan menjadi objek penelitiannya yaitu lirik lagu ―Rona Merah Langit‖ karya Kunto Aji yang menjadi salah satu lagu dari album ―Pengantar Purifikasi Pikir‖. Alasan kenapa memilih objek tersebut karena lagu tersebut baru saja rilis pertama kali pada tanggal 14 September 2023. Jadi tentu saja hal ini yang menjadi alasan utama kenapa memilih objek tersebut yang pasti belum ada yang membahas atau meneliti tentang lirik lagu ―Rona Merah Langit‖. Lagu-lagu Kunto Aji ini diciptakan dengan tujuan untuk menenangkan pendengarnya. Secara estetis, lagu hanyalah hiburan yang membuat pendengar terlibat dengan liriknya. Liriknya dapat berbicara tentang hal-hal seperti kenangan, ingatan, tumbuh, cinta, atau putus cinta. Dengan latar belakang yang telah disebutkan diatas penelitian ini akan mengeksplorasi aplikasinya dalam analisis puisi, khususnya dalam konteks lirik lagu ―Rona Merah Langit‖ karya Kunto Aji. Setelah penelitian ini selesai dilakukan kita dapat
358 memahami lebih dalam bagaimana teori ini memberikan wawasan yang kaya terhadap proses pembentukan makna dalam karya sastra. METODE PENELITIAN Meode penelitian ini yaitu menggunakan penelitian kualitatif dan juga memakai pendekatan deskriptif. Lirik lagu ―Rona Merah Langit‖ karya Kunto Aji yang dimana lagu tersebut termasuk salah satu track lagu dari album ―Pengantar Purifikasi Pikir‖ yang akan dijadikan sumber data primer dari penelitian ini. Jurnal, skripsi, dan buku-buku tentang semiotik adalah sumber data sekunder dari penelitian ini. Ketika penelitian ini berlangsung penulis menggunakan dua teknik pengumpualan data yaitu: 1) teknik simak digunakan untuk menyimak dan mendengarkan lirik lagu ―Rona Merah Langit‖ karya Kunto Aji yang telah dipilih sebagai bahan penelitian. 2) Hal-hal yang dianggap relevan dan membantu memecahkan rumusan masalah dicatat dengan teknik catat. Setelah itu, data dikumpulkan dan dianalisis. Ini dimulai dengan memilah dan mengkategorikan data, dan analisis lanjutan dilakukan dengan menggunakan teori semiotika Riffaterre. PEMBAHASAN Lirik lagu ―Rona Merah Langit‖ karya Kunto Aji Ow, lihat senyumanmu yang lebar Ow, kau terlihat menikmati Matahari cerah dan hangat Ow, awan yang berbentuk hati Semoga ini sebuah pertanda Pertemuan ini memang takdirnya Di waktu seharusnya di musim berbunga Harapan tercipta
359 Kita sama-sama pernah terluka Kita sama-sama pernah disakiti Kita sama-sama ingin berhenti Tuk terus mencari Lupakanlah semua kita mulai sesuatu yang indah Kita menyusuri berjalan menikmati langit cerah (langit cerah) Kau dan aku sama punya mimpi masa depan indah Semoga ini sebuah pertanda Pertemuan ini memang takdirnya Di waktu seharusnya di musim berbunga Harapan tercipta Kita sama-sama pernah terluka Kita sama-sama pernah disakiti Kita sama-sama ingin berhenti Tuk terus mencari Lupakanlah semua kita mulai sesuatu yang indah Kita sama-sama pernah terluka Kita sama-sama pernah disakiti Kita sama-sama ingin berhenti Tuk terus mencari Lupakanlah semua kita mulai sesuatu yang indah Kita menyusuri berjalan menikmati langit cerah Kita menyusuri berjalan menikmati langit cerah (langit cerah) Kita menyusuri berjalan menikmati langit cerah (langit cerah)
360 Pembacaan Hermeneutik dan Heuristik Pendekatan Hermeneutik: Lirik lagu ―Rona Merah Langit‖ karya kunto Aji menciptakan gambaran pertemuan yang dianggap sebagai takdir dan harapan di musim berbunga. Hal ini bisa diasosiasikan dengan pengalaman pribadi penyanyi atau pendengar, dan mungkin mencerminkan optimisme terhadap masa depan. Tema kebersamaan dalam mengatasi luka dan keinginan bersama untuk berhenti mencari menggambarkan aspirasi manusia secara umum. Pesan ini dapat dihubungkan dengan nilai-nilai sosial tentang kerjasama dan optimisme di tengah kesulitan. Kunto Aji mungkin bermaksud menyampaikan pesan positif, merayakan kesamaan dalam perjuangan, dan menciptakan sesuatu yang indah dari pengalaman yang sulit. Ekspresi emosionalnya terlihat melalui nada lagu yang optimis dan lirik yang penuh harapan. Pendekatan Heuristik: Setelah mendengarkan dan memahami lirik lagu ―Rona Merah Langit‖ karya Kunto Aji dapat dilihat tema yang dominan dalam lirik ini adalah kebahagiaan dan harapan. Gambaran matahari cerah, awan berbentuk hati, dan langit cerah menciptakan atmosfer positif dan riang. Kunto Aji menggunakan gambaran matahari, awan berbentuk hati, dan langit cerah sebagai metafora kebahagiaan, harapan, dan keindahan. Metafora ini membentuk citra positif yang menggambarkan momen-momen indah. Struktur lirik yang repetitif pada bagian "Kita sama-sama pernah terluka..." dan "Lupakanlah semua kita mulai sesuatu yang indah" memberikan kesan ritmis dan mengulang tema pengalaman dan harapan. Menggabungkan kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa lirik "Rona Merah Langit" menciptakan cerita tentang kebahagiaan,
361 harapan, dan kebersamaan di tengah jalan hidup yang penuh tantangan. Lirik lagu ini mengajak pendengar untuk melihat sisi positif dari setiap pengalaman, mendapatkan keberanian untuk memulai hal baru, dan menikmati kesenangan bersama. Matriks dan Model Matriks: Baris 1: Senyuman yang lebar, terlihat menikmati, matahari cerah dan hangat, awan berbentuk hati. Baris 2: Pertanda, takdir, waktu, musim berbunga, harapan tercipta. Baris 3: Terluka, disakiti, ingin berhenti, terus mencari. Baris 4: Lupakanlah, mulai sesuatu yang indah. Baris 5: Menyusuri, berjalan, menikmati, langit cerah, mimpi masa depan indah. Model: Setiap baris pada matriks menciptakan model yang saling berhubungan. Misalnya, senyuman lebar dan terlihat menikmati dapat dihubungkan dengan pertanda dan takdir sebagai elemenelemen positif yang menciptakan harapan. Tema "terluka" dan "disakiti" terhubung dengan keinginan untuk berhenti, menciptakan dinamika emosional dalam model. Perubahan dari lupakanlah ke memulai sesuatu yang indah menciptakan transisi positif dalam model. Menyusuri dan menikmati langit cerah menyoroti perjalanan bersama dengan mimpi masa depan indah. Dengan merinci setiap baris dan menghubungkannya, matriks dan model ini mencerminkan struktur kompleks lirik lagu "Rona Merah Langit." Hal ini menggambarkan bagaimana elemen-elemen seperti senyuman,
362 takdir, harapan, cobaan, dan aspirasi untuk menciptakan keindahan saling terkait dalam konstruksi makna lirik. Hipogram Aktual dan Potensial Dalam menerapkan teori semiotika Riffaterre pada lirik lagu "Rona Merah Langit" karya Kunto Aji, kita dapat mengidentifikasi hipogram aktual dan potensial untuk mendalami struktur internal teks. Hipogram Aktual: Ada beberapa hipogram aktual dari lirik lagu ―Rona Merah Langit‖ karya Kunto Aji yaitu: 1) ―Senyuman lebar dan menikmati‖ merupakan representasi dari kebahagiaan dan kesenangan, membentuk gambaran positif dalam pengalaman. 2)―Matahari cerah dan hangat‖ yaitu menyajikan citra kehangatan dan keceriaan, menambahkan elemen positif ke dalam narasi lirik. 3) ―Awan berbentuk hati‖ merupakan gambaran romantis dan positif, menciptakan suasana yang penuh cinta dan kegembiraan. 4) ―Pertanda, takdir, waktu, musim berbunga, harapan‖ merupakan konsep-konsep abstrak yang mengindikasikan unsur-unsur positif, seperti harapan dan takdir yang positif. Hipogram Potensial: 1) Senyuman yang tidak lebar atau terlihat tidak menikmati: Dapat mewakili kemungkinan pengalaman yang kurang positif atau perubahan emosional dalam narasi. 2) Matahari yang redup atau dingin: Menggambarkan perubahan suasana atau perasaan, menciptakan potensi kontrast emosional. 3) Awan tanpa bentuk hati atau berbentuk negatif: Menunjukkan kemungkinan perubahan arah narasi ke arah yang lebih serius atau konflik.
363 4) Pertanda negatif, takdir buruk, waktu yang tidak tepat: Menciptakan potensi untuk konflik atau ketidakpastian, mengubah arah naratif menuju ketidakpastian. Dengan mengidentifikasi elemen-elemen ini, kita dapat melihat bagaimana hipogram aktual menciptakan gambaran positif dan optimis dalam lirik lagu, sementara hipogram potensial menciptakan potensi untuk pergeseran emosional atau konflik dalam narasi. Analisis ini menggambarkan kekayaan makna dan kompleksitas yang tersembunyi dalam struktur lirik "Rona Merah Langit." Ketidaklangsungan Ekspresi Dalam perspektif teori semiotika Riffaterre, ketidaklangsungan ekspresi adalah kunci dalam pembentukan makna dalam puisi atau lirik lagu. Dibawah ini akan identifikasi elemenelemen ketidaklangsungan ekspresi dalam lirik "Rona Merah Langit" karya Kunto Aji sebagai berikut: 1) Senyuman yang lebar dan terlihat menikmati: Ketidaklangsungan muncul dalam kontrast antara senyuman yang lebar dan ekspresi yang menikmati dengan kemungkinan perasaan terluka atau disakiti yang dibahas di bagian berikutnya. 2) Pertanda, takdir, waktu, musim berbunga, harapan: Meskipun pertanda dan takdir terkait dengan harapan, tetapi ketidaklangsungan muncul dalam kemungkinan adanya pertemuan yang dianggap takdir namun di musim yang tidak berbunga, menciptakan pergeseran dalam ekspektasi dan kenyataan.
364 3) Kita sama-sama pernah terluka: Pernyataan ini menciptakan ketidaklangsungan dengan ekspresi positif sebelumnya, mengeksplorasi sisi yang lebih serius dan mungkin melibatkan perasaan terluka yang kontrast dengan gambaran kebahagiaan. 4) Lupakanlah semua kita mulai sesuatu yang indah: Meskipun ada hasrat untuk memulai sesuatu yang indah, namun kehadiran kata "Lupakanlah semua" mengekspresikan ketidaklangsungan, mengisyaratkan adanya sesuatu yang harus dilupakan atau dilepaskan. 5) Menyusuri berjalan menikmati langit cerah (langit cerah): Meskipun gambaran menyusuri dan menikmati langit cerah memberikan kesan positif, ketidaklangsungan muncul dengan pengulangan kata "langit cerah," menekankan aspek positif namun dengan kemungkinan keberlanjutan perasaan yang terus mencari. Dengan demikian, lirik lagu ini mengandung ketidaklangsungan ekspresi yang menciptakan dinamika emosional dan nuansa yang berbeda di setiap bagian, memberikan kekayaan makna dan interpretasi bagi pendengar. KESIMPULAN Hasil penelitian yang dilakukan terhadap lirik lagu "Rona Merah Langit" karya Kunto Aji menggunakan studi semiotika Riffaterre menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: kita dapat memahami bahwa lirik lagu "Rona Merah Langit" tidak hanya sekadar rangkaian kata, tetapi merupakan konstruksi kompleks dari tanda-tanda yang membentuk makna. Interpretasi ini membuka pintu
365 bagi pemahaman yang lebih mendalam terhadap lapisan emosional, konflik, dan optimisme yang terkandung dalam karya seni ini. Artinya, lirik lagu tidak hanya dilihat sebagai rangkaian kata, melainkan sebagai medium yang kompleks untuk menyampaikan nuansa dan makna yang mendalam. DAFTAR PUSTAKA Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa. Keraf, Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Noor, Redyanto. 2015. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo. Palmer, RichardE. 2003. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi (Diterjemahkan oleh Musnur Henry dan Damanhuri Muhammad). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Pradopo, Rahmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Ratih, Rina. 2017. Teori dan Aplikasi Semiotik Michael Riffaterrre. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Riffaterre, Michael. 1978. Semiotic of Poetry. London: Indiana of University Press Sudjiman, Panuti dan Aart Van Zoest. 1992. Serba-serbi Semiotika. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga