The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yona Elya, 2023-12-17 23:10:31

Kumpulan Esai Apresiasi Sastra melalui Semiotika

Sastra Indonesia A

243 celuritnya sudah seperti istri kedua dan kutipan kedua yang menyatakan orang yang tidak punya celurit artinya dia orang sombong, hal tersebut menunjukan betapa berharganya celurit. d) Puasa Daud dan Sesajen sebagai Simbol Pemenuhan Janji dan Keseriusan. “Lessap melakukan puasa Daud selama mengerjakan celurit itu. Mulutnya tak henti berzikir setiap menempa logam yang sudah membara untuk dibentuk lengkungan menyerupai bulan sabit. Setiap tahun, tepatnya bulan Maulid bersama pekerjanya yang lain, Lessap melakukan ritual kecil di bengkel tempatnya membuat celurit.” (Muttaqin, 2019) “Ritual yang dilakukan Lessap disertai sesajen berupa ayam panggang, nasi, dan air bunga. Sesajen itu didoakan bersama di langgar, kemudian air bunga disiramkan pada bantalan tempat menempa besi.”(Muttaqin, 2019) Puasa Daud adalah puasa dengan melakukan puasa pada hari ini, kemudian puasa lagi pada hari lusa kemudian dan dilakukan secara berulang-ulang pada periode waktu yang umumnya lama, ada yang melakukannya dalam sebulan bahkan sampai setahun. Puasa Daud menandakan bahwa seseorang sedang bernazar atau pemenuhan janji untuk memperoleh sesuatu dan bisa juga karena ingin sekedar beribadah. Lessap sebagai pandai besi yang membuat celurit Brodin melakukan puasa Daud sebagai simbol bahwa dia serius saat menempa celurit itu dan ingin memenuhi janjinya yaitu membuat celurit yang kuat dan sakti. Dan dzikir yang dilakukannya ketika menempa celuritnya memiliki makna bahwa dia konsisten dalam menempa celurit ini. Ritual yang dilakukan Lessap juga sebagai simbol pemenuhan janji atau nazar dalam kepercayaan kejawen. e) Mengubur Celurit sebagai Simbol Selesainya Carok.


244 “Tarebung mengubur celurit itu di atas pusara Brodin.” (Muttaqin, 2019) Tarebung sebagai anak Brodin tentunya sedih atas kematian ayahnya tercinta. Dalam tradisi Madura Tarebung berhak menantang Durrakap yang telah membunuh ayahnya untuk berduel carok. Akan tetapi, prinsip Tarebung yang kuat bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan membunuh yang membuatnya memilih untuk memaafkan Durrakap. Kemudian Tarebung pergi ke makam ayahnya untuk mengubur celuritnya bersamanya menandakan bahwa carok telah usai dan berhenti cukup disini. C. KESIMPULAN Berdasarkan data analisis yang dilakukan pada cerpen Celurit di Atas Kuburan terhadap ikon, indeks, dan simbol didapati ada 2 ikon, 2 indeks, dan 5 simbol pada cerpen tersebut. Pertama ikon yang didapati pada cerpen tersebut adalah 1) ikon celurit sebagai penanda senjata dan 2) ikon pandai besi sebagai penanda orang yang ahli membuat senjata. Selanjutnya indeks, dapat dilihat dari hubungan sebab akibat pada analisis di atas. Kemudian simbol, didapati ada 5 simbol pada cerpen tersebut: 1) malam jumat sebagai simbol malam yang sakral, 2) carok sebagai simbol mempertahankan harga diri dan martabat, 3) celurit sebagai simbol barang yang sangat berharga bagi masyarakat Madura, 4) puasa Daud dan sesajen sebagai simbol pemenuhan janji dan keseriusan, 5) mengubur celurit sebagai simbol selesainya carok. DAFTAR PUSTAKA Muttaqin, Z. (2019, October 13). Celurit di Atas Kuburan. Ruangsastra.Com. https://ruangsastra.com/4457/celurit-di-ataskuburan/ Wulandari, S., & Siregar, E. D. (2020). KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE: RELASI TRIKOTOMI


245 (IKON, INDEKS DAN SIMBOL) DALAM CERPEN ANAK MERCUSUAR KARYA MASHDAR ZAINAL. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora , 04(1). https://onlinejournal.unja.ac.id/index.php/titian


246 CITRA ANAK SULUNG DALAM CERPEN “PAMAN GORDI” KARYA YOGA ZEN Najwa Sirodjudin | 21210141042 PENDAHULUAN Isu terkait tanggung jawab dan beban anak sulung belakangan kerap muncul, salah satunya adalah citra mereka sebagai manusia-manusia teguh yang mencari jalan sendiri dengan pengetahuan nol dan tanpa bimbingan orang tua. Sementara mereka juga harus menanggung beban psikologis menuntun adik-adik mereka yang buta arah, bahkan memenuhi tuntutan mengalah dari orang tua. Tak mengherankan bahwasannya anak sulung menyandang stereotip sebagai pribadi pekerja keras tapi juga keras kepala. Mereka dikatakan sebagai sosok-sosok tahan banting sebab lingkungan mereka hidup tak membiarkan mereka santai dalam menghadapi berbagai masalah. Sastra adalah salah satu media yang juga menyuarakan keresahan ini. Salah satunya adalah cerita pendek karya Yoga Zen yang berjudul ―Paman Gordi‖ yang dimuat pada surat kabar Jawa Pos pada bulan Oktober tahun 2023. Cerpen adalah satu dari sekian jenis sastra yang kerap menjadi wadah bagi penulis untuk merepresentasikan kondisi yang dimaksud. Berbeda dengan novel atau naskah drama yang membutuhkan waktu lama untuk ditulis dan dinikmati (dibaca oleh pembaca), cerita pendek cenderung dapat selesai dibaca dalam sekali duduk. Tidak mengherankan bahwasannya banyak cerita pendek yang mengusung citra tokoh dalam kehidupan nyata di dalamnya, sebab menulis maupun membaca pengalaman diri sendiri atau orang lain; dapat dijadikan sebagai katarsis, bahkan mungkin pelarian diri


247 Dalam cerpen ―Paman Gordi‖ ini, ada dua tokoh dalam cerpen ini yang berperan sebagai anak sulung, yakni 1) tokoh utama ―aku‖ yang merupakan seorang anak perempuan berusia sebelas tahun, dan 2) Paman Gordi, paman si tokoh utama, yang disebut sebagai pria keterbelakangan mental. Kedua tokoh ini sama-sama memiliki kisah hidup yang secara semiotik menunjukkan citra sebagai anak sulung, seperti yang ditandakan dalam sikap diam dan pantang menangis. Untuk mengkaji adanya citra yang diwujudkan dalam tanda tersebut, dibutuhkan suatu disiplin ilmu yang disebut semiotika. Karya sastra sendiri merupakan wujud komunikasi tulis yang menerapkan sistem tanda seperti yang ada dalam Semiotika. Karya sastra dinilai sebagai bentuk komunikasi non-verbal (tulis) yang termuat tanda atau simbol sebagai bagian dari komunikasi antara penanda dan petanda yang berusaha dipecahkan oleh pembaca. Wellek & Warren (1989:109) mengatakan bahwa sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa. Teknik-teknik sastra tradisional seperti simbolisme dan matra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Lagipula, sastra ―menyajikan kehidupan‖. Kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga ―meniru‖ alam dan dunia subjektif manusia. Penekanan teori semiotika dalam kaitannya dengan karya sastra adalah pemahaman makna karya sastra melalui tanda. Hal tersebut didasarkan kenyataan bahwasannya bahasa adalah sistem tanda, dan bahasalah yang merupakan media sastra. Keseluruhan suatu teks dalam karya sastra merupakan tanda-tanda yang perlu dimaknai untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai pada teks tersebut. Teks sastra merupakan tanda yang memiliki ketidaklangsungan ekspresi yang perlu dimaknai oleh pembaca (Lantowa, dkk., 2017:04).


248 Semiotika sendiri memiliki peran penting dalam karya sastra. Karena berbeda dengan tulisan lain berbentuk berita yang hanya menyajikan informasi bagi pembacanya, karya sastra membawa sifat penghiburan yang tidak dapat dipisahkan sebagai konstruksinya. Karya sastra lazimnya tidak memuat hal-hal eksplisit yang masyarakat awam tahu secara luas, atau hal-hal baru yang sekedar ingin diberitahukan secara tertulis. Tetapi karya sastra menggunakan tanda sebagai alat bantu menerangkan sesuatu sehingga mampu membentuk rangkaian cerita yang menjadikannya menarik. TUJUAN Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis serta mendeskripsikan adanya citra anak sulung di dalam cerpen ―Paman Gordi‖ karya Yoga Zen menggunakan teori semiotika. Citra anak sulung tersebut diperoleh dari pemaknaan tanda yang ditunjukkan dua tokoh dalam cerpen ini, yakni tokoh utama ―aku‖ sebagai anak sulung perempuan dan tokoh Paman Gordi sebagai anak sulung laki-laki. Adapun objek penelitian dari artikel ini adalah ―Paman Gordi‖ karya Yoga Zen yang dapat diakses melalui ruangsastra.com. HASIL DAN PEMBAHASAN Anak Sulung sebagai Simbol Ketidakberuntungan Sebagai pribadi yang hadir ketika orang tua mereka—yang mungkin saja—belum siap secara mental dan finansial dalam menjajaki rumah tangga, anak sulung kerap kali menjadi korban atas narasi-narasi ketidakberuntungan. Kehadiran mereka bahkan kerap kali dianggap sebagai pembawa sial, buah dari dangkalnya pengalaman yang belum dimiliki para orang tua yang tak bisa membesarkan seorang anak. Tak mengherankan bahwasannya para anak sulung ini


249 berjibaku erat dengan masalah kejiwaan, dan akhirnya hanya beberapa di antara mereka yang dapat bertahan. Tidak ada isak tangis mengiringi kepergian Paman Gordi seolah-olah kami tidak kehilangan siapa-siapa. Keesokan harinya ibu sepenuhnya lupa bahwa masih dalam kondisi berkabung, Hal itu terbukti tatkala para tetangga melayat ke rumah membawa beras dan mereka nyaris pula bila tak segera ditahan oleh nenek. Bagaimanapun, hidup terus berjalan dengan atau tanpa kehadiran Paman Gordi. Dalam kutipan tersebut ditunjukkan bahwasannya kehadiran tokoh Paman Gordi di dalam keluarga ini dapat dianggap sebagai ketidakberuntungan. Hal ini sebab selepas kematiannya tak ada yang merasa berkabung atau merasa kehilangan sosoknya. Padahal dalam narasi selanjutnya disebutkan bahwasannya Paman Gordi ini kerap membantu dan disuruh oleh keluarga si ―aku‖, utamanya adiknya sendiri, yakni ibu si ―aku‖. Itulah yang kukagumi dari Paman Gordi. Ia memperlakukan kami setara. Hal yang jarang kutemukan kala bersama orang tuaku. Ia menyayangiku sebagaimana mencintai adikku. Tak ada perlakuan istimewa, apalagi membandingbandingkan. Aku muak dibanding-bandingkan dengan makhluk cengeng itu. Nenek suka sekali menyebut makhluk itu si pembawa keberuntungan. Dulu nenek dan anak-anaknya hidup biasa saja sampai akhirnya ibu menikah dengan ayah. Ayah pedagang beras. Ia punya dua toko dan dalam waktu dekat ini akan membuka satu toko lagi. Nenek


250 dengan bangga sering bilang ke tetangga bahwa toko semakin ramai semenjak lan lahir. Hal demikian juga ikut diamini oleh ibu. Aku tak percaya sebab menurutku ayahlah yang mengangkat derajat keluarga kami! Pada kutipan ini, sosok anak sulung sebagai simbol ketidakberuntungan tampak menguat. Orang-orang di sekitar akan fokus menyanjung kehadiran anak yang lebih muda tatkala ada kebaikan yang datang pada keluarga mereka. Padahal bisa saja keberhasilan tersebut diperoleh bukan semata karena keberuntungan dari lahirnya nyawa yang baru, akan tetapi bisa saja buah dari keteguhan anak sulung yang senantiasa bertahan dan menerima kondisi hidupnya meskipun tak cukup mendapat cinta yang cukup dari orang tua. Anak Sulung Identik dengan Kekeraskepalaan Kebiasaan anak sulung dalam menjadi mandiri dan mencari jalan sendiri membuat mereka selalu yakin terhadap setiap keputusan yang mereka buat. Tidak mengherankan bahwasannya dengan idealisme seperti ini, mereka cenderung keras kepala dan agak sulit mengungkapkan keinginan hati. Mereka cenderung keras dalam berpendapat, dan tegar meskipun pilihan yang dibuat menjadikan mereka sebagai sosok yang dibenci. Hal ini dapat saja terjadi mungkin karena respon yang didapatkan tidak seperti yang diinginkan, kebebasan berpendapatnya diambil, dan boleh jadi mereka selalu dipaksa melakukan sesuatu tanpa diberitahu alasannya. Kurasa aku perlu menceritakan ini. Aku dan ibu mempunyai hubungan yang rumit. Kami kerap bertengkar dan berdebat hal-hal yang menurutnya sepele, tetapi justru sebaliknya bagiku. Misal, saat kami berada dalam angkot yang penuh sesak, ibu


251 pasti memintaku duduk dipangku. Aku menolak dengan alasan aku bukan anak kecil lagi. Namun, ia terus memaksaku menuruti perintahnya. Kadang ia juga menarik lenganku di hadapan orang banyak. Untuk yang terakhir, kubilang bahwa ibu tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun bila itu yang menghalangiku duduk sendiri sebab aku punya cukup uang untuk membayar ongkos sampai ke rumah, lagi pula aku bisa pulang sendiri! Sejak itu ia tidak lagi menjemputku ke sekolah, melimpahkan tugas itu sepenuhnya pada nenek dan paman. Aku lebih suka pulang bersama paman sebab selain membebaskanku menentukan pilihan duduk di mana, ia juga mengizinkanku membuka jendela asalkan tidak terlalu menjulurkan kepala keluar. Dalam kutipan tersebut ditunjukkan bahwasannya si ―aku‖ sangat keras kepala dalam menentukan pilihannya. Ia tak masalah apabila pilihan untuk tak mau dipangku ini membuatnya tak disukai lagi oleh ibunya, sebab sosok ibu baginya bukan lagi bertempat sebagai orang yang harus ia jaga perasaannya, karena pendapat dirinya tak didengar dan dihargai. Dengan demikian, ia akan terus merasa bahwa pilihan yang dibuatnya adalah suatu kebenaran. Paman Gordi tidak idiot sebagaimana banyak orang menganggap demikian. Ia dulu pernah jadi mahasiswa dan lulus sebagai sarjana. Nenek sempat ragu apakah menguliahkannya keputusan yang tepat. Ibu bahkan terang-terangan menentang permintaan konyol itu mengingat jurusan yang diambil; perbankan. Tetapi, Paman Gordi berhasil membuktikan dengan meraih gelar itu dalam waktu empat tahun.


252 Berbeda dengan tokoh aku yang menempatkan sisi kekeraskepalaan dengan melawan dan membuat keputusan sendiri dengan segala resikonya, tokoh Paman Gordi justru melakukan sikap kekeraskepalaan dengan bungkam. Ia tak masalah dibilang sebagai idiot dan menjadi pesuruh adik perempuannya selama ia dapat membuktikan bahwasannya dirinya mampu menyelesaikan setiap hal yang dipercayakan kepadanya. Anak Sulung dan Siklus Terpaksa Dewasa Menjadi dewasa sesegera mungkin sepertinya sangat umum ditemui dalam dunia anak sulung. Mereka tak pernah diajari untuk mengerti sesuatu—mungkin karena kedua orang tua yang tak siap—tetapi selalu dituntut banyak hal. Anak sulung seringkali dipaksa untuk mengerti berbagai kondisi, memahami situasi orang lain, banyak mengalah, dan dipaksa belajar sendiri dari pahitnya hidup. Itulah yang kukagumi dari Paman Gordi. Ia memperlakukan kami setara. Hal yang jarang kutemukan kala bersama orang tuaku. Ia menyayangiku sebagaimana mencintai adikku. Tak ada perlakuan istimewa, apalagi membandingbandingkan. Aku muak dibanding-bandingkan dengan makhluk cengeng itu. Nenek suka sekali menyebut makhluk itu si pembawa keberuntungan. Dulu nenek dan anak-anaknya hidup biasa saja sampai akhirnya ibu menikah dengan ayah. Ayah pedagang beras. Ia punya dua toko dan dalam waktu dekat ini akan membuka satu toko lagi. Nenek dengan bangga sering bilang ke tetangga bahwa toko semakin ramai semenjak lan lahir. Hal demikian juga ikut diamini oleh ibu. Aku tak percaya sebab


253 menurutku ayahlah yang mengangkat derajat keluarga kami! Dalam cerpen ―Paman Gordi‖ tokoh ―aku‖ kerap kali menyebutkan bahwasannya Pamannya itu adalah pribadi yang sangat mengerti dirinya. Ia selalu diberi kesempatan untuk memilih hal-hal yang dirinya sukai, hal paling remeh sekalipun seperti merk minuman yang akan dibeli. Paman Gordi juga digambarkan sebagai sosok yang mengayomi kedua keponakannya secara adil, hal yang selama ini tak diterima tokoh ―aku‖ dari orang lain, termasuk orang tuanya. Sikap Paman Gordi ini menunjukkan bahwasannya ia adalah pribadi yang dewasa, yang mengerti pendekatan apa yang diperlukan untuk mengatasi keresahan hati anak kecil. Dan sikapnya tersebut juga mengindikasikan bahwa ia telah memaafkan orang-orang yang mungkin saja dulu membuatnya merasakan ketidakadilan. Cara ia mengatasi trauma itu adalah dengan memberi rasa pengayoman. Usiaku sebelas tahun dan aku masih tidur bersama orang tuaku. Jelas bukan sesuatu yang harus dibanggakan. Sejak kecil aku punya kebiasaan kencing tengah malam. Orang tuaku telah berkalikali mengingatkan agar selalu ke kamar mandi sebelum tidur demi meredam kebiasaan itu. Namun, entah bagaimana aku selalu terbangun dan berjalan menuju kamar mandi sendirian. Usiaku sebelas tahun, tapi kukira aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang mereka lakukan tengah malam. Sementara itu, tokoh ―aku‖ sebagai anak sulung juga mendapat banyak sekali tuntutan. Salah satunya seperti kutipan di atas, yakni ketika orang tua tokoh utama ingin mendapat waktu untuk melakukan kegiatan intim di malam hari. Ia dipaksa harus mengerti keadaan dan pada akhirnya memutuskan untuk memiliki kamar


254 sendiri. Hal ini ia lakukan sebagai bentuk pengertian terhadap kedua orang tuanya, meskipun mereka berdua tak pernah berusaha menjelaskan mengapa ia harus berpisah ranjang dengan mereka. Di suatu sore, masih dalam suasana liburan akhir tahun, ada satu peristiwa yang tak bisa kulupakan sekaligus ingin kulupakan. Saat ibu pulang membelikan lan robot Bumble Bee, aku merampok mematahkan kepala mainan itu atas dasar kebencian. lan pun menangis sejadi-jadinya. Ibu dan ayah keluar, berlomba menghardikku. ―Mengapa aku tidak dibelikan juga?‖ tagihku kepada mereka. ―Kan kamu sudah besar. Buat apa mainan?" bentak ibu dengan murka. ―Bukan, maksudku, saat ibu membelikan lan robot, aku juga ingin dibelikan sesuatu. Kalau merasa boneka kemahalan, paling tidak jepit rambut! Aku sama sekali tidak keberatan dengan itu. Atau jangan belikan kami apapun. Biar setimpal!" kataku dalam suara tinggi dan sekali tarikan napas. ―Hei! Bicara yang sopan pada ibumu!‖ tegur ayah, kemudian melanjutkan, ―kamu itu seorang kakak. Harus banyak mengalah.‖ Aku menjawab sambil berteriak di depan mereka, "Mengapa aku yang harus mengalah?" Seketika itu pipiku panas dan perih. Ibu menamparku. Kedua matanya terlihat berlinangan. Aku tidak menangis. Tidak setetes pun! Dan aku bangga dengan itu. Tuntutan untuk selalu mengalah juga dirasakan oleh anak sulung seperti dalam kutipan di atas. Mereka kerap kali merasa bertanyatanya mengapa tak memperoleh hak serupa seperti yang saudara mudanya miliki. Dan parahnya, orang tua juga seringnya tak mau peduli condong kepada anak yang lebih mereka sukai. Padahal,


255 tokoh aku sebagai anak perempuan berusia sebelas tahun tersebut cukup bijak dengan menerangkan keinginan hatinya, pendapatnya, bahkan memberi opsi bagi mereka untuk memberikannya sesuatu yang lebih murah. Sikap kritis inilah yang menjadikan anak sulung selalu terjebak dalam siklus terpaksa dewasa. Kami pulang dan di jalan paman berhasil membuatku kembali tertawa dengan leluconnya. Aku tiba di rumah dengan mata sembap, tapi merasa lega. Lebih baik dari sebelumnya. Ternyata semudah itu, pikirku. Usiaku sebelas tahun dan hari itu aku belajar banyak hal. Kurasa aku juga mulai mengerti banyak hal tentang dunia ini. Tetapi, di malam di mana aku melihat kaki paman mengawang di udara, kurasa aku keliru. Usiaku sebelas tahun dan aku tidak mengerti apa-apa. Nahasnya, kerap kali kedewasaan anak sulung diperoleh secara pahit. Seperti dalam kutipan di atas, tokoh utama pada akhirnya kehilangan satu-satunya orang yang paling mengerti kondisi dan isi hatinya. Menyaksikan sendiri kejadian bunuh diri orang paling terdekat yang ia miliki juga membuat ia percaya, bahwa dunia itu luas dan banyak hal yang perlu ia pelajari untuk menjadi dewasa, meskipun melalui pengalaman pahit. SIMPULAN Dari hasil pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwasanya dalam cerpen ―Paman Gordi‖ karya Yoga Zen ditemui tiga citra anak sulung, yakni 1) anak sulung sebagai simbol ketidakberuntungan, 2) anak sulung identik dengan kekeraskepalaan, dan 3) anak sulung dan siklus terpaksa dewasa. Di dalam citra anak sulung dan siklus terpaksa dewasa sendiri


256 ditemukan bagian-bagian lain seperti anak sulung dipaksa untuk mengerti berbagai kondisi, memahami situasi orang lain, banyak mengalah, dan dipaksa belajar sendiri dari pahitnya hidup. DAFTAR PUSTAKA Lantowa, J., Margahayu, N. M., & Khairussibyan, M. 2017. Semiotika: Teori, Metode, dan Penerapannya dalam Penelitian Sastra. Yogyakarta: Deepublish. Wellek, R., & Austin W. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Zen, Yoga. 2023. Paman Gordi. Jakarta Selatan. Jawa Pos (14 Oktober 2023).


SEMIOTIKA DALAM PUISI


258 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM PUISI SIA-SIA KARYA CHAIRIL ANWAR Selina Wulandari | 21210141004 PENDAHULUAN Semiotika merupakan kajian ilmu yang membahas mengenai ilmu tanda. Konsep tanda ini untuk melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan atau hubungan antara tanda signified dan tanda signifier. Menurut Zoest (1993:1) semiotika dapat diartikan sebagai cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda. Dalam kajian semiotika beranggapan bahwa suatu kejadian sosial pada masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda, semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Menurut Pateda (2001:29) berpendapat bahwa semiotika terbagi menjadi Sembilan macam, yaitu semiotika analitik, semiotika deskriptif, semiotika faunal, semiotika kultural, semiotika naratif, semiotika natural, semiotika normative, semiotika sosial, dan semiotika struktural. Menurut Budiman (2011:3) semiotika digunakan untuk merujuk kepada ilmu tentang tanda-tanda. Karya sastra merupakan karya yang dapat berupa puisi, cerpen, novel, dan lain-lain yang ditulis dan diciptakan oleh pengarang berdasarkan pengalaman maupun imajinasinya. Karya sastra merupakan sarana penghibur bagi pembaca, karena di dalam sebuah karya sastra terdapat beragam emosional yang membuat pembaca terbawa suasana oleh cerita di dalamnya. Selain itu, karya sastra juga menjadi pengetahuan dan wawasan bagi pembaca dengan cara yang unik. Menurut Sugihastuti (2007:81-82) karya sastra


259 merupakan media yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan pengalamannya. Isi dari karya sastra juga didapat oleh pengarang berdasarkan berbagai realitas yang ada dalam kehidupan masyarakat, dan karya sastra mempunyai amanat yang dapat diambil dan diterapkan oleh pembaca. Jadi dalam membaca karya sastra, pembaca tidak hanya mendapatkan hiburan dari ceritanya saja, melainkan mendapatkan manfaat dari amanat yang terkandung di dalamnya. Dalam semiotika terdapat tiga bentuk hubungan yang perlu diketahui (Pierce dalam Nurgiantoro, 2010). Yang pertama terdapat ikon, ikon dapat diartikan sebagai ilmu semiotika yang menandai suatu hal keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subjek. Tanda selalu menunjukkan pada suatu hal nyata, misalnya benda, tulisan, dan lain-lain. yang kedua adanya indeks, indeks dapat diartikan sebagai hubungan antara tanda sebagai penanda dan petandanya yang memiliki sifat-sifat nyata, bertata urut, dan selalu mengisyaratkan sesuatu. Indeks memiliki hubungan tanda dengan acuannya berupa kedekatan eksistesial. Yang ketiga adanya simbol, simbol dapat diartikan sebagai hubungan antara penanda dan petanda dalam sifatnya abritrer. Sebuah tanda yang sendirinya akan berubah menjadi simbol akan diimbuhi sifat-sfiat, kultural, situasional, dan kondisional. Pada penelitian ini, penulis akan memakai rumusan masalah mengenai persoalan ikon, indeks, dan simbol yang ada pada puisi Sia-Sia karya Chairil Anwar. Tujuan makalah ini yaitu untuk memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan mengenai apa itu ikon, indeks, dan simbol. Kemudian apa saja macam-macam ikon, indeks, dan simbol yang ada dalam puisi Sia-Sia karya Chairil Anwar. Pada karya sastra puisi biasanya menggunakan penandaan berupa ikon, indeks, dan simbol dalam isi dari puisinya, dan mempunyai makna-makna yang terkandung di dalam puisinya. Oleh


260 karena itu, penulis menggunakan rumusan masalah ini untuk memahami makna-makna yang ada dalam puisi Sia-Sia karya Chairil Anwar. HASIL DAN PEMBAHASAN Puisi Sia-sia karya Chairil Anwar Penghabisan kali itu kau datang Membawa kembang berkarang Mawar merah dan melati putih Darah dan Suci Kau tebarkan depanku Serta pandang yang memastikan: untukmu. Sudah itu kita sama termangu Saling bertanya: apakah ini? Cinta? Kita berdua tak mengerti Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi 1. Ikon Pada puisi Sia-sia karya Chairil Anwar terdapat ikon yang ada di dalamnya. Ikon pada puisi ini ditemukan dalam bait pertama pada baris pertama, bait pertama baris kelima, dan bait terakhir pada baris kedua. Pada kutipan tersebut adanya hubungan kemiripan atau hubungan antara petanda dan penandanya yang bersifat ilmiah. Ikon pada puisi Sia-sia karya Chairil Anwar ini terdapat pada kata ―kau‖ yang bisa diartikan sebagai seorang gadis yang membawa mawar


261 merah dan melati putih, lalu menunjukkan pesonanya didepan si ―aku‖. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut. Penghabisan kali itu kau datang Kau tebarkan depanku Mampus kau dikoyak-koyak sepi 2. Indeks Pada puisi Sia-sia karya Chairil Anwar terdapat indeks yang ada di dalamnya. Indeks pada puisi ini hanya ditemukan satu indeks saja, yaitu pada puisi bait keempat dan pada baris pertama. Pada bait keempat baris pertama tersebut adanya kedekatan hubungan tanda yang menampilkan dan menunjukkan sebab akibat. Indeks pada puisi Sia-sia karya Chairil Anwar ini disebabkan dari ―aku‖ yang tak memberikan hatinya terhadap gadis yang diceritakan dalam puisi ini. Dan akibatnya gadis itu disudutkan oleh si ―aku‖ dengan mengatakan dengan kata mampus dan selalu merasakan kesepian karena cintanya telah ditolak. Hal tersebut merupakan indeks musyabab sebab akibat dalam puisi ini. Hal tersebut dapat dibuktikan pada bait berikut. Ah! Hatiku yang tak mau memberi Mampus kau dikoyak-koyak sepi 3. Simbol Pada puisi Sia-sia karya Chairil Anwar terdapat simbol yang ada di dalamnya. Simbol pada puisi ini ditemukan dalam bait pertama pada baris ketiga dan keempat. Pada bait pertama baris ketiga dan keempat adanya hubungan yang sudah terbentuk secara konvensional yang telah lazim digunakan oleh masyarakat. Simbol dalam puisi ini terdapat di kalimat ―mawar merah dan melati putih‖ yang mempunyai kaitan dengan ―darah dan suci‖. Warna merah pada puisi ini mempunyai lambang berani, berani dan berkorban untuk


262 cinta. Kemudian warna putih yang suci dan bunga melati yang digambarkan untuk cinta. Mawar merah dan melati putih Darah dan Suci KESIMPULAN Jadi, Semiotika merupakan kajian ilmu yang membahas mengenai ilmu tanda. Konsep tanda ini untuk melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan atau hubungan antara tanda signified dan tanda signifier. Dalam kajian semiotika beranggapan bahwa suatu kejadian sosial pada masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda, semiotik mempelajari sistem-sistem, aturanaturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Karya sastra merupakan sarana penghibur bagi pembaca, karena di dalam sebuah karya sastra terdapat beragam emosional yang membuat pembaca terbawa suasana oleh cerita di dalamnya. Selain itu, karya sastra juga menjadi pengetahuan dan wawasan bagi pembaca dengan cara yang unik. Dalam semiotika terdapat tiga bentuk hubungan yang perlu diketahui (Pierce dalam Nurgiantoro, 2010). Yang pertama terdapat ikon, ikon dapat diartikan sebagai ilmu semiotika yang menandai suatu hal keadaan untuk menerangkan atau memberitahukan objek kepada subjek. Kemudian yang kedua adanya indeks, indeks dapat diartikan sebagai hubungan antara tanda sebagai penanda dan petandanya yang memiliki sifat-sifat nyata, bertata urut, dan selalu mengisyaratkan sesuatu. Kemudian yang ketiga, simbol dapat diartikan sebagai hubungan antara penanda dan petanda dalam sifatnya abritrer. Kemudian dalam penelitian ini mendapatkan hasil adanya ikon, indeks, dan simbol yang dapat dijelaskan dan dipaparkan. Penelitian ini menganalisis ikon, indeks, dan simbol dalam puisi Sia-


263 sia karya Chairil Anwar. Hasilnya yaitu terdapat ikon dalam bait pertama dan pada baris pertama. Kemudian ditemukan indeks dalam bait keempat pada baris pertama. Lalu yang terakhir ditemukan simbol dalam bait pertama pada baris ketiga dan keempat. DAFTAR PUSTAKA Prayogi, Rahmat dan Dewi Ratnaningsih. (2020). Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Tiga Cerita Tentang Lidah Karya Guntur Alam. Jurnal Elsa. Vol. 18, No. 2. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/dewi_ratnaningsi h,+3.+Rahmad+(20-27)%20(1).pdf Lantowa, J., Marahaya N.M, & Khairussibyan M. (2017). Semiotika: Teori, Metode, dan Penerapannya dalam Penelitian Sastra. Deepublish. https://books.google.co.id/books/about/Semiotika_ Teori_Metode_dan_Penerapannya.html?id=i1xDD wAAQBAJ&redir_esc=y Ramdani, Alwan Husni. (2016). Analisis Semiotika Foto Bencana Kabut Asap. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia. https://repository.upi.edu/26982/ Muniroh, Natiqotul. (2012). Analisis Strukturalisme Genetik dalam Novel Moi Nojoud, 10 ANS, Divorcee Karya Nojoud Ali dan Delphine Minoui: Sebuah Sosiologi Sastra. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta. https://eprints.uny.ac.id/8360/ Puisi: Sia-Sia karya Chairil Anwar. https://www.sepenuhnya.com/2023/08/puisi-siasia-karya-chairil-anwar.html


264 PENCARIAN ENTITAS DIRI DALAM “TIGA SAJAK RINGKAS TENTANG CAHAYA” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Nabila Viosta Ekaningtyas | 21210141005 PENDAHULUAN Sebagaimana manusia adanya, hidup dengan rasa keingintahuan akan segala hal yang terjadi pada dirinya dan juga sekitarnya. Berbagai pengalaman dalam mencari jawaban atas keingintahuan tersebut memunculkan kesan yang bagi setiap individu dapat berbeda satu sama lain. Kesan-kesan tersebut tidak mesti terbengkalai begitu saja, tetapi juga dapat diekspresikan ke dalam bentuk lain, sebagai contoh puisi. Melalui puisi berbagai ekspresi yang tercipta dari pengalaman seorang individu dapat terealisasikan dalam wujud bahasa. Selayaknya dulce et utile oleh Horatius, sebuah karya sastra memiliki fungsi estetika dan manfaat, begitupun dengan eksistensi sebuah puisi. Puisi tidak hanya terpaku oleh sudut pandang estetika saja, tetapi juga dapat dipandang dari segi kebermanfaatannya. Kebermanfaatan sebuah puisi dapat dilihat dari sisi penyair dan juga pembaca. Beberapa puisi murni menyalurkan perasaan atau emosi penyair dan terdapat beberapa pula yang ditulis untuk menyampaikan suatu pesan atau nasihat mengenai kehidupan. Salah satunya adalah puisi ―Tiga Sajak Ringkas tentang Cahaya‖ karya Sapardi Djoko Damono. Puisi tersebut ada di antara rimbun puisi lainnya dalam Antologi Puisi Melipat Jarak karya Sapardi Djoko Damono. Antologi tersebut lahir pertama kali pada tahun 2015 dari Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Puisi ―Tiga Sajak Ringkas tentang Cahaya‖ menggambarkan masa-masa pencarian jati diri yang direpresentasikan oleh wujud cahaya dan bayangan. Selain itu puisi


265 tersebut juga membawa makna dan pesan-pesan seputar jati diri manusia kepada khalayak pembaca. Puisi ―Tiga Sajak Ringkas tentang Cahaya‖ terdiri atas tiga bagian atau tiga sajak, yakni bagian /1/, bagian /2/, bagian /3/ yang mana setiap bagiannya terjalin dalam rangkaian cerita tentang perjalanan cahaya mencari bayangannya. Masing-masing bagian puisi terdiri dari satu sampai dua bait. Secara umum, karya sastra terbangun oleh unsur-unsur eksplisit dan implisit (Ambarini & Umaya, 2010: 19). Artinya, konstruk pada karya sastra bisa ditinjau dari yang tampak atau eksplisit dan yang tersembunyi atau implisit. Maka dari itu untuk mendeskripsikan pemahaman dan pemaknaan suatu karya sastra dapat menggunakan teori-teori dari ilmu pengetahuan lainnya. Hal tersebut juga tidak terlepas dari kajian suatu puisi. Dalam hal ini, ilmu semiotika menyusup ke dalamnya dan membantu pemaknaan akan suatu puisi atau karya sastra. Ambarini & Umaya (2010: 18) berpendapat bahwa penggalian nilai dan makna melalui tanda-tanda yang terdapat pada karya sastra tentunya akan berkaitan erat dengan semiotika yang memiliki fokus pada sistem tanda. Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat dikenali adanya urgensitas semiotika dalam pemaknaan sebuah karya sastra. Semiotika berbicara tentang sistem tanda yang mencakup persoalan ikon, simbol, indeks, image, bahkan metafora yang ada pada suatu teks. Metafora merupakan pemakaian kata bukan arti sebenarnya, melainkan sebagai perbandingan atau persamaan. Senada dengan pernyataan tersebut, Dale (dalam Laili, 2021:54) mengemukakan bahwa metafora merupakan bentuk perbandingan antara dua hal atau benda untuk menciptakan kesan mental hidup, tetapi tidak dinyatakan secara implisit. Parera (dalam Cahyaningsih, 2018: 159) menempatkan metafora sebagai sumber untuk melayani motivasi yang kuat dalam menyatakan perasaan dan emosi yang mendalam serta sebagai sarana berbahasa yang bersifat ekspresif. Dalam hal ini


266 metafora sebagai aspek stile suatu bahasa dapat digunakan sebagai sarana menyampaikan perasaan dan juga emosi. Adapun metafora yang dikemukakan oleh Stephen Ullman, antara lain metafora antropomorfis, metafora binatang, metafora pengabstrakan, dan metafora sinaestetik. Peneliti selanjutnya tertarik untuk memaparkan kajian mengenai salah satu jenis metafora oleh Stephen Ullman yang ada pada puisi ―Tiga Sajak Ringkas tentang Cahaya‖ karya Sapardi Djoko Damono. Esai ini bertujuan untuk mendeskripsikan metafora yang terkandung dan mendominasi puisi ―Tiga Sajak Ringkas tentang Cahaya‖ serta memaparkan makna atau pesan yang terkandung di dalamnya. ANALISIS Pada bagian ini dipaparkan hasil mengenai analisis puisi ―Tiga Sajak Ringkas tentang Cahaya‖ atau selanjutnya TSRTC karya Sapardi Djoko Damono (SDD) menggunakan pembagian jenis-jenis metafora oleh Stephen Ullmann. Hasil analisis tersebut diinterpretasi secara menyeluruh. Dalam puisi TSRTC ditemukan dominasi metafora antropomorfis. Berikut merupakan pemaparan hasil analisis dari cerpen tersebut. a) Metafora Antropomorfis Metafora antropomorfis merupakan salah satu jenis metafora yang dikemukakan oleh Stephen Ullmann. Metafora ini mengacu pada suatu tuturan atau ekspresi pada benda-benda tak bernyawa dilakukan dengan mengalihkan dari tubuh manusia; makna atau nilai nafsu yang dimiliki manusia (Cahyaningsih, 2018:162). Dikatakan juga bahwa metafora antropomorfis merupakan metafora yang berkaitan dengan apa yang ada dalam diri manusia, baik secara fisik maupun mental serta perbuatan yang identik dengan manusia.


267 b) Analisis Puisi TIGA SAJAK RINGKAS TENTANG CAHAYA /1/ Cahaya itu, yang sesat di antara pencakar langit, sia-sia mencari bayang-bayangnya. ―Apakah ada cahaya yang tanpa bayang-bayang?‖ pikirnya, ketika sore begitu cepat tiba dan matahari sampai serak memanggilnya. Malam hari, begitu banyak bayang-bayang bersijingkat di sekitar gedung-gedung tinggi ini. Mereka berjumpa si Sesat itu dan berkata, hampir serempak, ―Tapi kau bukan sumberku!‖ /2/ Pada suatu hari sebuah cahaya yang sangat terang berniat mencari sumbernya. Setelah menempuh hutan, menyusur sungai, mendaki gunung, dan meluncur di padang salju sampailah ia ke sebuah padang pasir.


268 Suatu bayang-bayang yang sangat panjang, dan sangat hitam, menyambutnya, ―Aku sumbermu,‖ katanya. Letih dan lelah, tokoh kita si cahaya terang itu berhenti dan berkata ya saja, meskipun ia curiga bagaimana bisa di padang pasir yang begitu luas dan rata dan tak ada sosok apa pun itu bisa tercipta bayang-bayang. /3/ Ketika bangun pagi ini, kudapati cahaya kecil, sisa semalam, bersembunyi di sudut kamarku. Aku hampir tidak mengenalinya sampai ketika aku hampir keluar kamar ia berkata, ―Tutup kembali pintu itu, cepat, aku tak tahan menghadapi cahaya di luar itu!‖ Tentu saja, sumber mereka berbeda, pikirku. ―Siapa bilang begitu!‖ hardik cahaya di luar yang menyilaukan itu


269 Adapun data yang menunjukkan bentuk metafora antropomorfis dalam puisi TSRTC karya Sapardi Djoko Damono di antaranya sebagai berikut. (1) Cahaya itu, yang sesat di antara pencakar langit, sia-sia mencari bayang-bayangnya. Pada Data (1) dapat dicermati bahwa kata mencari yang merujuk pada subjek cahaya itu mengacu pada metafora antropomorfis. Hal tersebut dapat diidentifikasi dari subjek cahaya itu merupakan wujud tak bernyawa yang disandingkan dengan aktivitas mencari yang mana lazim ditemui dalam kegiatan manusia atau makhluk bernyawa. Dalam hal ini subjek tak bernyawa cahaya itu digambarkan aktivitas fisik mencari bayangan. (2) …ketika sore begitu cepat tiba dan matahari sampai serak memanggilnya. Pada Data (2) metafora antropomorfis dapat ditemui dalam larik /dan matahari sampai serak memanggilnya/. Kata serak maupun memanggilnya sama-sama identik ditemukan pada diri manusia. Serak merupakan suara yang parau akibat terlalu sering mengeluarkan suara yang mana hal tersebut lazim ditemui pada suara-suara manusia. Selanjutnya, memanggil juga merupakan aktivitas yang dilakukan oleh manusia dan bertujuan untuk mengajak. Dalam hal ini subjek tak bernyawa matahari digambarkan memiliki suara serak dan melakukan aktifitas fisik memanggil. (3) Malam hari, begitu banyak bayang-bayang bersijingkat di sekitar gedung-gedung tinggi ini.


270 Mereka berjumpa si Sesat itu dan berkata, hampir serempak… Pada Data (3) juga ditemukan bentuk metafora antropomorfis, yakni pada kata bersijingkat, berjumpa, dan berkata. Ketiga kata yang lazim ditemukan dan dilakukan pada diri manusia tersebut disandingkan dengan kata bayang-bayang yang mana merupakan wujud dari tak bernyawa. Kata bersijingkat dapat diartikan sebuah aktivitas berjalan dengan bertumpu pada ujung kaki (berjingkat). Kemudian berjumpa merupakan aktivitas bertemu dan berkata merupakan aktivitas mengeluarkan kata-kata (berbicara) yang mana kedua hal yang telah disebutkan juga merupakan bagian dari manusia. Dalam hal ini subjek tak bernyawa bayang-bayang digambarkan melakukan aktifitas, seperti bersijingkat (jingkat), berjumpa, dan berkata. (4) Pada suatu hari sebuah cahaya yang sangat terang berniat mencari sumbernya. Setelah menempuh hutan, menyusur sungai, mendaki gunung, dan meluncur di padang salju… Pada Data (4) kata berniat, mencari, menempuh, menyusur, dan mendaki disandingkan dengan dengan subjek cahaya yang sangat terang tersebut dapat diidentifikasi sebagai metafora antropomorfis yang mana kelima kata yang lazim berhubungan dengan manusia disandingkan dengan subjek cahaya yang sangat terang sebagai wujud tak bernyawa. Berniat adalah suatu kehendak (keinginan dalam hati) untuk melakukan sesuatu; mencari ialah upaya mendapatkan sesuatu; menempuh adalah aktifitas melalui


271 sesuatu, sama halnya dengan menyusur, serta mendaki atau aktifitas menaiki. Kelima kata yang telah dipaparkan tersebut adalah wujud ekspresi dan juga kegiatan yang biasanya dilakukan oleh manusia. Dalam hal ini subjek tak bernyawa cahaya yang sangat terang digambarkan melakukan niat dan aktivitas fisik lainnya, seperti mencari, menempuh hutan, menyusur sungai, dan mendaki gunung. (5) Suatu bayang-bayang yang sangat panjang, dan sangat hitam, menyambutnya, Pada Data (5) kata menyambutnya yang lazim dikaitkan dengan suatu aktifitas oleh manusia disandingkan dengan subjek bayang-bayang yang merupakan wujud tak bernyawa. Hal tersebut selanjutnya dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk metafora antropomorfis. Menyambut merupakan suatu aktivitas menerima atau memberi tanggapan. Dalam hal ini subjek tak bernyawa bayangbayang digambarkan tengah melakukan aktivitas menyambut. (6) Letih dan lelah, tokoh kita si cahaya terang itu berhenti dan berkata ya saja, meskipun ia curiga… Pada Data (6) ditemukan bentuk metafora antropomorfis pada kata letih, lelah, berkata, dan curiga yang disandingkan dengan subjek tak bernyawa si cahaya terang. Keempat kata tersebut merujuk pada ekspresi dan juga aktivitas yang lazim ditemukan pada diri manusia. Letih dan lelah merujuk pada suatu kondisi ketika seseorang tidak memiliki tenaga setelah melakukan suatu kegiatan. Berkata merupakan aktivitas menyatakan sesuatu atau berbicara dan curiga adalah suatu perasaan was-was atau berhati-hati yang tumbuh dalam batin manusia. Dalam hal ini subjek tak bernyawa si cahaya


272 terang digambarkan merasakan keletihan, kelelahan, dan rasa curiga serta melakukan aktivitas berupa berkata (berbicara). (7) Ketika bangun pagi ini,kudapati cahaya kecil, sisa semalam, bersembunyi di sudut kamarku. Aku hampir tidak mengenalinya sampai ketika aku hampir keluar kamar ia berkata, “Tutup kembali… Pada Data (7) subjek cahaya kecil sebagai wujud tak bernyawa disandingkan dengan kata bersembunyi dan berkata yang erat kaitannya dengan suatu aktifitas oleh manusia. Hal tersebut menunjukkan adanya metafora antropomorfis dalam kutipan bait tersebut. Bersembunyi diartikan sebagai aktifitas melindungi atau menutupi diri dari sesuatu, sedangkan berkata merupakan aktifitas menyatakan atau berbicara mengenai sesuatu hal. Dalam hal ini subjek tak bernyawa cahaya kecil digambarkan tengah melakukan aktifitas berupa sembunyi dan berkata. c) Cahaya sebagai Representasi Pencarian Jati Diri Melalui puisi ―Tiga Sajak Ringkas tentang Cahaya‖, Sapardi Djoko Damono menciptakan sebuah ruang kontemplasi (perenungan) bagi khalayak pembaca mengenai makna yang terkandung dan pesan yang ingin disampaikan. Puisi TSRTC bercerita tentang masa-masa pencarian jati diri yang direpresentasikan melalui cahaya dan bayangan. Puisi TSRTC terdiri dari tiga bagian sekaligus tiga wujud pencarian. Di dalamnya tersebar banyak kata ‗bayangan‘ dan ‗cahaya‘. Cahaya merupakan representasi dari pencarian jati diri, sedangkan bayangan adalah representasi dari jati diri. Pada bagian /1/ menceritakan tentang pencarian yang pertama. Cahaya di dalam bagian tersebut digambarkan sebagai entitas yang sesat dan sia-sia


273 saat mencari bayangannya atau jati dirinya. Meskipun telah menemukan beberapa bayangan (jati diri), tetapi tidak lantas bayangan itu miliknya atau jati dirinya. Pertanyaan retoris pada bait pertama sajak /1/: Apakah ada cahaya yang tanpa bayang-bayang? menggambarkan kebingungan diri saat dalam masa pencarian jati diri. Pada bagian /2/ masih menceritakan bagaimana cahaya menempuh berbagai perjalanan untuk mencari bayangannya. Meskipun di suatu titik perjalanan, cahaya bertemu dengan bayangan yang mengaku sumbernya, cahaya justru curiga. Bait ini menggambarkan bahwa dalam pencarian jati diri, individu melalui berbagai perjalanan atau cerita dan ketika menemukannya justru sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan atau tidak terduga. Pada bagian /3/ menggambarkan bahwa setiap jati diri yang dimiliki oleh setiap individu memiliki karakteristik dan keunikannya masingmasing. Hal ini direpresentasikan dengan keberadaan suatu cahaya yang lebih menyukai kegelapan dan ada cahaya yang menyukai tempat terang. SIMPULAN Puisi merupakan salah satu wujud karya sastra yang tidak jarang digunakan sebagai perantara perasaan dan pesan antara penyair dan pembaca. Dalam hal ini puisi juga dapat menjadi objek kajian menggunakan salah satu ilmu kebahasaan, yakni semiotika. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa (i) Puisi TSRTC didominasi dengan metafora antropomorfis berjumlah 7 data dengan 17 kata yang merujuk pada bentuk metafora antropomorfis; (ii) Puisi TSRTC menggambarkan sebuah perjalanan pencarian jati diri yang direpresentasikan dengan cahaya dan bayangan; (iii) Metafora antropomorfis yang terdapat dalam bait-bait ketiga bagian Puisi TSRTC, memberikan sebuah nyawa bagi puisi,


274 sehingga Puisi TSRTC dapat lebih hidup dan maksud yang terkandung di dalamnya juga dapat menyentuh setiap khalayak pembaca. DAFTAR PUSTAKA Ambarini & Umaya, N.M. 2010. Semiotika Teori dan Aplikasinya pada Karya Sastra. Semarang: IKIP PGRI Semarang Press Cahyaningsih, N. 2018. Metafora dalam Puisi Karya Taufik Ikram Jamil. Nuansa Indonesia. Vol 20, No 2, pp.159-17. DOI: https://doi.org/10.20961/ni.v20i2.38088 Damono, S.D. 2015. Melipat Jarak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Laili, E.N. 2021. Kajian Antropolinguistik Relasih Bahasa, Budaya, dan Kearifan Lokal Indonesia. Jombang: LPPM UNHASY TEBUIRENG JOMBANG.


275 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM PUISI SAJAK PUTIH KARYA CHAIRIL ANWAR Yona Elya | 21210141007 PENDAHULUAN Chairil Anwar, seorang penyair ternama dari Indonesia dikenal sebagai pelopor angkatan 45 atau angkatan gelanggang. Dalam karya-karyanya, Chairil secara kreatif membebaskan diri dari norma-norma tradisional dalam bentuk puisi, seperti tidak terikat oleh aturan terkait jumlah baris, suku kata, atau rima yang teratur. Puisi-puisi Chairil Anwar memiliki sifat prismatis yang kaya makna dan luas dalam interpretasi. Ciri khas karyanya juga terletak pada penggunaan kiasan dan majas yang melimpah, menciptakan keunikan dalam setiap karya. Gaya ekspresinya menonjolkan keaslian dalam pengucapan yang tercermin dalam pemikiranpemikiran yang disampaikan secara murni. Karya-karya Chairil Anwar tidak pernah berkesudahan. Pencapaian-pencapaiannya terus menggema dalam sejarah evolusi puisi Indonesia, menjadi titik acuan bagi daya kreasi para penyair generasi selanjutnya (Faruk, 1996). Kumpulan puisi yang diberi judul Aku ini Binatang Jalang merupakan rangkuman dari karyakarya fenomenal Chairil Anwar, yang masih menjadi objek pembahasan yang sering diulas oleh para peneliti dan akademisi. Salah satu puisi yang terdapat dalam kumpulan puisi Aku ini Binatang Jalang, yaitu ―Sajak Putih‖. ―Sajak Putih‖ berisi tentang kisah cinta muda-mudi yang menginginkan cintanya tetap kekal selamanya. Dalam mengungkapkan makna puisi Chairil Anwar, dapat digunakan pendekatan semiotika. Semiotika adalah pendekatan yang


276 menganalisis karya sastra berdasarkan tanda-tanda yang mewakili konsep lain, bukan objek sebenarnya. Dalam konteks ini, semiotika digunakan untuk mengenali tanda-tanda yang disampaikan oleh penyair melalui tulisannya. Sejalan dengan pernyataan Hoed dalam Nurgiyantoro (1995: 40), semiotik adalah ilmu atau metode untuk mengkaji tanda. Salah satu pakar semiotika yang terkenal adalah Pierce. Pierce dikenal sebagai seorang ahli semiotika karena memperkenalkan konsep Triadik/Trikotomi, yang melibatkan tiga unsur dalam sebuah tanda. Suatu tanda (representamen) adalah sesuatu yang mencerminkan atau mewakili sesuatu yang lain dalam berbagai konteks atau kapasitas. Sesuatu yang lain dinamakan interpretan dari tanda yang pertama dan pada gilirannya mengacu pada objek. Dengan demikian, relasi triadik antara tanda, interpretan, dan objek bersifat tidak langsung. Trikotomi pada bagian objek terdiri dari tiga jenis: 1) ikon; 2) indeks; dan 3) simbol. Ikon adalah hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petandanya (Pradopo, 2013: 120). Hal ini menunjukkan bahwa penanda harus sesuai dengan acuan petandanya. Pierce dalam Santosa (1993: 10) menyatakan bahwa ikon adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang merupakan bentuk objeknya. Artinya, ikon menggambarkan jelas maksud dari ciri objeknya, misalnya kesamaan foto dengan objek yang di foto. Indeks adalah tanda yang memiliki keterkaitan fenomena dan eksistensial (bukti kehadiran) diantara representamen dengan objeknya. Menurut Pierce dalam Santosa (1993: 11), indeks adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya. Misalnya, mendung dapat diartikan menandai hujan dan wajah muram menandai hati yang sedih.


277 Simbol adalah tanda yang bersifat konvensional (kesepakatan sosial). Menurut Pierce dalam Santosa (1993: 11), simbol adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagi penanda yang secara kaidah konvensional telah lazim digunakan masyarakat. Dalam hal tersebut, menunjukkan suatu sifat arbitrer. Misalnya, ibu adalah konvensi masyarakat Indonesia, sedangkan orang Inggris menyebutnya mom atau mother. Dengan demikian, melalui pendekatan Pierce penelitian ini berusaha menggali ikon, indeks, dan simbol yang terkandung dalam puisi ―Sajak Putih‖ karya Chairil Anwar agar dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan pesan-pesan/makna di dalamnya dapat diketahui oleh pembaca. HASIL DAN PEMBAHASAN Puisi yang akan dianalisis, yaitu puisi Sajak Putih karya Chairil Anwar. Berikut akan diuraikan mengenai ikon, indeks, dan simbolnya. Sajak Putih Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, Malam dalam doa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memedu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah


278 Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita mati datang tidak membelah a. Ikon - Bait pertama, baris ke-1: Bersandar pada tari warna pelangi Menggambarkan subjek yang bersandar pada tari warna pelangi. Warna pelangi memikili hubungan kemiripan dengan apa yang diwakilinya, yaitu tentang kebahagiaan sehingga kehidupan menjadi banyak warna seperti pelangi. Warna pelangi digunakan sebagai petanda kebahagiaan yang menandai subjek. Subjek tidak dihadirkan secara langsung, namun walaupun demikian melalui petanda dan penandanya dapat terlihat bahwa subjek disini adalah Si aku. Si aku dapat dikatakan sebagai penulis, dapat juga dikatakan pembaca. Dengan demikian, kebahagiaan tersebut merupakan milik Si aku. - Bait kedua, baris ke-2: Meriak muka air kolam jiwa Menggambarkan sebuah kesedihan. Kata meriak merupakan tanda kesedihan. Keduanya memiliki hubungan kemiripan, meriak muka air diartikan sebagai gerakan air secara pelan dan perlahan sebagai petanda bahwa adanya kesedihan dalam jiwa. Kesedihan dalam jiwa yang mengakibatkan kesengsaraan bagi subjek, yang tidak disebutkan. Dalam diri subjek mengalami kesedihan yang meradang dalam jiwanya. b. Indeks - Bait kedua, baris ke-1: Sepi menyanyi, Malam dalam doa tiba


279 Sepi menyanyi sebagai tanda sepi yang mencekam dan sunyi sehingga menjadi waktu yang tepat digunakan untuk berdoa kepada Tuhan. - Bait kedua, baris ke-3 & 4: Dan dalam dadaku memedu lagu // Menarik menari seluruh aku Baris ketiga sebagai sebab dan baris keempat sebagai akibat. Setelah berdiam dalam sunyi, si aku merasa dadanya seperti bernyanyi-nyanyi memadu lagu sehingga mengakibatkan ia merasa ditarik tubuhnya untuk menari. - Bait ketiga, baris ke-3 & 4: Selama kau darah mengalir dari luka // Antara kita mati datang tidak membelah Selama kau darah mengalir dari luka merupakan sebab yang terjadi ketiga Si aku menggugat kekasihnya. Dengan mengatakan ketika sang kekasih yang diibaratkan sebagai darah dan luka masih mengalir di tubuhnya menjadikan Si aku bertekat akan selalu bersama Sang kekasih sekalipun kematian yang datang. c. Simbol - Bait pertama, baris ke-2: Kau depanku bertudung sutra senja bertudung sutra senja merupakan simbol sore hari yang romantis ketika Sang kekasih datang untuk menemui Si aku. - Bait pertama, baris ke-3: Di hitam matamu kembang mawar dan melati Mawar merupakan simbol kecantikan dan keberaniaan, sementara melati sebagai simbol kesucian. Dengan demikian menandakan bahwa Sang kekasih melalui sorot matanya terlihat kecantikan, keberanian, serta kesuciannya.


280 - Bait pertama, baris ke-4: Harum rambutmu mengalun bergelut senda Menunjukan adanya simbol berkelakar yang menunjukan bahwa Sang kekasih seorang yang senang berseda gurau yang tegembar dari alunan rambutnya yang tertiup angin. SIMPULAN Berdasarkan analisis semiotika Peirce, dalam puisi ―Sajak Putih‖ karya Chairil mengandung unsur ikon, indeks, dan simbol. Unsur semiotika yang paling dominan yaitu indeks. Puisi ―Sajak Putih‖ menceritakan kisah cinta antara muda-mudi yang tidak mampu menyatakan perasaan mereka satu sama lain, namun mereka memilih untuk tetap setia pada perasaan masing-masing dan menyimpannya dalam hati. Meskipun kematian datang, cinta mereka tetap tidak terpisahkan. DAFTAR PUSTAKA Faruk. (1996). ―Aku‖ dalam Semiotika Riffaterre, Semiotika Riffaterre dalam ―Aku.‖ Humaniora, 3, 24–33. Nurgiyantoro, B. (1995). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pradopo, R. D. (2013). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Santosa, P. (1993). Ancangan Semiotika dan Pengkajian Sastra. Bandung: Angkasa.


281 UNSUR SIMBOLIK PADA PUISI “KEPADA HAWA” KARYA AAN MANSYUR Lintang Aulia Ramadhani | 21210141008 PENDAHULUAN Mayoritas orang pada umumnya paham bahwa puisi adalah suatu karya sastra yang identik dengan makna yang terselubung atau tersirat. Banyak sudah analisis pemaknaan puisi yang dilakukan oleh beberapa orang, namun jarang yang mengaitkannya dengan unsur simbolik sebagai penanda dalam puisi itu sendiri. Puisi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yakni poites, yang artinya pembangun, pembentuk, dan pembuat. Puisi dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry yang memiliki arti membuat dan pembuatan. Dalam bahasa latin, puisi berasal dari kata poeta yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan dan menyair. Dalam perkembangannya, puisi bisa diartikan sebagai hasil seni sastra yang di dalamnya terdapat susunan tertentu. Melalui puisi, penyair bisa menciptakan dunia tersendiri yang di dalamnya berisi pesan dan cerminan suasana tertentu, baik secara fisik maupun batin (Setiawan, 2019).. Puisi identik dengan suatu makna. Makna tersebut tersampaikan melalui simbol-simbol yang ada dalam puisi tersebut. Simbol berarti suatu komponen yang mengacu ke suatu objek lain dengan makna yang abstrak. (Johannes, 2015). Ilmu semiotika merupakan ilmu yang dapat dijadikan kajian untuk mengkaji simbol-simbol dalam sebuah puisi. Menurut Hartoko dalam Santosa melalui Pribadi dan Firmansyah (2019), semiotik adalah ilmu yang secara kontekstual mempelajari penanda dan lambang, sistem dan perlambangan. Pada hakikatnya semiotika merupakan bidang keilmuan yang mengkaji semua tanda kehidupan


282 yang tumbuh di masyarakat. Mempelajari semiotika sastra berarti kita mempelajari bahasa yang merupakan sistem komunikasi manusia. Jadi ketika kita mempelajari bahasa, kita akan bersinggungan dengan semiotika, begitupun sebaliknya. Selain itu, ketika kita belajar sastra kitapun akan menemukan penanda pada karya tersebut, penanda itu bisa berupa penciptaan makna, pergantian makna, hiprogram atau hereumatika. Penanda-penanda tersebut bisa ditemukan pada semua karya sastra, terutama sajak atau puisi. (Pribadi & Firmansyah, 2019). Makna-makna yang terdapat pada puisi berasal dari katakata yang menjadi simbolnya. Penafsiran makna tersebut pada setiap orang belum tentu sama, tergantung sudut pandang orang yang menafsirkan puisi tersebut. Pemaknaan puisi terkait dengan simbol dilakukan dengan cara menganalisis dan menginterpretasikan katakata yang menjadi simbol lalu mencari tahu maksud dibalik kata tersebut. Dalam sebuah puisi, kata-kata yang digunakan tidak selalu memiliki arti yang sama dengan kata tersebut, pasti memiliki makna lain yang terselubung. Oleh karena itu, semiotika menjadi alternatif untuk mengkaji pemaknaan kata atau simbol dalam suatu puisi. Dalam tulisan ini, penulis akan melakukan pengkajian semiotika yang berkaitan dengan makna dibalik simbol-simbol yang terdapat pada puisi ―Kepada Hawa” karya Aan Mansyur. Jenis simbol-simbol yang akan dianalisis yaitu diantaranya simbol benda, simbol warna, simbol tindakan, simbol citraan, dan simbol metafora. Analisis mengenai pemaknaan simbol ini dilakukan dengan cara membaca secara berulang-ulang dan cermat, mengkategorikan simbol-simbol yang memiliki makna-makna tertentu dan menganalisisnya ke dalam tulisan ini. Berdasarkan uraian di atas, dalam tulisan ini penulis akan menyajikan puisi Kepada Hawa beserta analisis makna simbolnya. Selain itu juga akan dianalisis keseluruhan makna dari puisi.


283 HASIL DAN PEMBAHASAN Puisi Kepada Hawa Oleh: Aan Mansyur aku merelakanmu menjauh, merelakanmu terjatuh ke tempat sampah bagai sepotong apel merah yang di geligimu pernah berdarah adakah cinta yang jatuh kepadamu melebihi cintaku? lelaki yang engkau cintai itu mati dan tak membawamu ke makamnya sementara aku bertahan hidup, bertahun-tahun sanggup tak mati oleh rindu–dan menanti di surga hawa, aku masih ular yang setia mencintaimu sepanjang usia tuhan. 1. Simbol Benda Data 1: Simbol benda dalam puisi Kepada Hawa terdapat pada bait ―ke tempat sampah”. Simbol tempat sampah memiliki makna terselubung di dalamnya. Makna simbol tempat sampah bukanlah makna yang sebenarnya, makna yang dimaksudkan oleh penulis adalah ―bumi‖. Bumi disimbolkan sebagai tempat sampah bagi iblis, ketika Adam dan Hawa dilemparkan ke dalamnya.


284 Data 2: Simbol benda berikutnya yaitu pada bait ―bagai sepotong apel merah” sepotong apel merah merupakan simbol yang memiliki makna lain yaitu buah khuldi yang dimakan oleh Adam dan Hawa di Surga. Namun buah khuldi itu sendiri merupakan simbol yang memiliki makna hawa nafsu yang mampu membuat Adam dan Hawa jatuh ke Bumi. 2. Simbol Warna Data 3: Simbol warna dalam puisi Kepada Hawa terdapat pada bait ―bagai sepotong apel merah‖. Makna dari bait ini sama dengan makna yang di atas, perbedaannya adalah simbol apel merah memiliki makna sebagai sesuatu yang menggoda hawa nafsu, siapapun yang melihatnya akan tergoda dan akan memakannya bila ada kesempatan. Dalam cerita sebenarnya adalah ketika Adam dan Hawa tergoda oleh hawa nafsu mereka masing-masing ketika berada di Surga, dan hal itu membuat mereka dilemparkan ke Bumi. 3. Simbol Tindakan Data 4: Simbol tindakan dalam puisi Kepada Hawa tedapat pada bait ―aku merelakanmu menjauh‖ ―merelakanmu terjatuh‖. Simbol ini memiliki makna yaitu ketika iblis merelakan Hawa untuk jauh dan terjatuh ke bumi bersama Adam dikarenakan sifat iri yang dimiliki oleh iblis terhadap dua manusia yang hanya tercipta dari tanah tersebut memiliki keistimewaan lebih di mata Allah. Data 5: Simbol berikutnya terdapat pada bait ―dan tak membawamu ke makamnya‖ simbol tindakan membawamu ke makamnya memiliki makna bahwa Hawa mencintai Adam namun ia ditinggalkan begitu saja, sedangkan iblis mampu hidup


285 selama berabad-abad dan merindukannya di Surga yang dimaksudkan oleh iblis. Data 6: Pada bait ―sementara aku bertahan hidup‖ simbol tindakan tergambar pada bertahan hidup yang memiliki makna bahwa iblis memiliki umur yang lebih panjang dibanding Adam dan Hawa. Data 7: Pada bait ―oleh rindu–dan menanti di surga‖ simbol tindakan terdapat pada menanti di surga, yaitu sang iblis yang bertahan hidup lama dan tetap menanti Hawa di surga yang berbeda dengannya, atau dalam arti lain adalah neraka. Data 8: Pada bait ―mencintaimu sepanjang usia tuhan‖ simbol mencintai merupakan simbol tindakan yang dilakukan oleh iblis yang memiliki makna bahwa iblis akan terus mencintai Hawa di sepanjang usianya. Dalam simbol ini pula dapat diberi makna sebagai seseorang yang akan tetap mencintai kekasihnya sepanjang usia yang ditetapkan oleh tuhan. 4. Simbol Citraan Data 9: ―adakah cinta yang jatuh‖ Data 10: ―aku merelakanmu menjauh,‖ Data 11: ―merelakanmu terjatuh‖ Dalam puisi ini terdapat tiga data yang menunjukkan simbol citraan. Citraan tersebut termasuk ke dalam kategori citraan gerak. Simbol yang mengandung citraan gerak adalah ―jatuh‖, ―menjauh‖, dan ―terjatuh‖. Makna dari simbol-simbol itu adalah seseorang yang sangat mencintai perempuannya dan bertanya-tanya apakah ada cinta yang sebesar ini selain cinta yang diberi oleh orang tersebut (iblis kepada hawa). Lalu makna


286 dari simbol menjauh dan terjatuh sama dengan makna yang telah dijelaskan pada simbol tindakan di atas. Puisi Kepada Hawa karya Aan Mansyur adalah sebuah puisi yang memiliki makna sangat mendalam dalam representasinya. Puisi ini bercerita tentang kisah cinta antara dua lelaki dan satu perempuan (Adam, Hawa dan Iblis). Ketika sang lelaki (dalam hal ini sepertinya penulis) sangat mencintai seseorang dan mampu merelakan apapun demi perempuan tersebut, bahkan hingga mampu akan mencintainya selama usia hidupnya meskipun perempuan itu sudah memiliki lelaki yang dicintainya. Puisi ini benar-benar menggunakan latar belakang kisah antara Adam dan Hawa yang terjebak hawa nafsu ketika di Surga hingga mereka terlempar ke Bumi. Dan hasil dari analisis ini adalah murni hasil pemikiran subjektif dari penulis makalah ini terhadap analisis puisi Kepada Hawa. SIMPULAN Ilmu semiotika merupakan ilmu yang dapat dijadikan kajian untuk mengkaji simbol-simbol dalam sebuah puisi. Pada puisi Kepada Hawa karya Aan Mansyur, simbol-simbol tersebut muncul berdasarkan jenis yang berbeda-beda, diantaranya adalah simbol benda, simbol warna, simbol tindkan dan simbol citraan. Makna dari simbol-simbol tersebut adalah hasil dari pemikiran pribadi penulis terhadap puisi ini. Yaitu tentang seseorang yang sangat mencintai seorang perempuan dan mampu merelakan dan melakukan apapun demi perempuan tersebut, bahkan hingga mampu akan mencintainya selama usia hidupnya meskipun perempuan itu sudah memiliki lelaki yang dicintainya. Puisi ini mengangkat tema tentang kisah Adam dan Hawa yang dibalut dengan diksi-diksi yang indah dan memiliki makna yang sangat abstrak.


287 DAFTAR PUSTAKA Mubarok, M.I. (2022). Manisnya Puisi Kepada Hawa Karya Aan Mansyur. Nongkrong.co Pribadi, B.S. & Firmansyah, D. (2019). Analisis Semiotika pada Puisi ―Barangkali Karena Bulan‖ Karya W.S. Rendra. Parole. Vol 2, No 2. Johannes, C.V. (2015). Simbol-Simbol pada Puisi-Puisi Ezra Pound. Skripsi. Univeristas Sam Ratulangi. Setiawan, K.E.P, Wahyuningsih, & Kasimbara, D.C. (2021). Makna Simbol-Simbol dalam Kumpulan Puisi ―Mata Air di Karang Rindu‖ Karya Tjahjono Widarmanto. Tabasa. Vol 2, No 2. Setiawan, K.E.P.(2019). Strategi Ampuh Memahami Makna Puisi: Teori Semiotika Michael Riffaterre dan Penerapannya. Cirebon: Eduvision.


288 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM PUISI “JENDELA IBU” KARYA JOKO PINURBO Indriana Sianturi | 21210141009 PENDAHULUAN Manusia hidup dikelilingi dengan banyak tanda yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lain. Tak hanya dijumpai dalam kehidupan nyata, tanda juga banyak ditemui dalam karya sastra, salah satunya puisi. Banyak puisi menggunakan tanda sebagai metafora untuk mencapai unsur keindahan. Puisi-puisi yang banyak menggunakan tanda sebagai unsur keindahannya merupakan salah satu ciri khas gaya kepenulisan dari Joko Pinurbo. Puisi-puisi Joko Pinurbo banyak terselip unsur tanda sebagai pengumpamaan suatu hal secara tidak langsung. Puisi Joko Pinurbo dikenal banyak sindiran yang terbalut dalam unsur kejenakaan. Salah satu puisi Joko Pinurbo yang menggunakan banyak tanda adalah puisi berjudul ―Jendela Ibu‖. Secara keseluruhan, puisi ini memiliki makna kasih sayang ibu yang tidak pernah habis. Setelah ibu pergi, anak akan kehilangan arah dan terus mencari makna hidup, tapi kasih sayang ibu akan terus mengalir seperti air sungai. Dalam puisi ini terselip tanda-tanda yang berhubungan dengan seorang anak yang merindukan kehadiran ibu. Puisi ini terbilang unik karena bentuk puisi naratif seperti cerpen. Untuk itu, puisi ini sangat menarik untuk dikaji melalui kajian semiotika karena puisinya yang terbilang unik dan banyak tanda di dalamnya. Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan memfokuskan pada fisik dan batinnya (Waluyo, 1987: 25). Menurut Luxemburg (melalui Raharjo & Wiyanto, 2017: 31) puisi adalah teks


289 monolog yang bercirikan adanya tipografi tertentu. Puisi menurut pandangan Hasanuddin WS (Laila, 2016: 148) adalah pernyataan perasaan penyair yang imajinatif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang bersifat emosional dan mengedepankan unsur keindahan. Tanda-tanda dalam puisi ―Jendela Ibu‖ karya Joko Pinurbo dapat dianalisis dengan teori C.S. Peirce. Menurut Peirce (melalui Sobur, 2016: 41) tanda adalah sesuatu yang mewakili seseorang. Agar suatu tanda bisa ada, diperlukan adanya proses penafsiran yang berarti harus memiliki penafsir. Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda menjadi tiga, yakni ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang relasi dengan penanda dan petandanya bersifat bersamaan dan alamiah, atau adanya kemiripan. Sedangkan indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan kausalitas atau ada sebab akibat antara tanda dan penandanya, artinya tanda langsung mengacu pada kenyataan. Sementara itu, simbol menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petanda yang sifatnya arbitrer sesuai dengan konvensi masyarakat (Sobur, 2016: 41-42). Penelitian ini akan berfokus pada analisis bentuk dan makna ikon, indeks, serta simbol dalam puisi ―Jendela Ibu‖ karya Joko Pinurbo sesuai dengan teori Peirce. Untuk itu, ditemukan rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu (1) apa saja bentuk ikon, indeks, dan simbol dalam puisi ―Jendela Ibu‖ karya Joko Pinurbo? (2) bagaimana pemaknaan ikon, indeks, dan simbol dalam puisi ―Jendela Ibu‖ karya Joko Pinurbo? HASIL ANALISIS A. Bentuk Ikon dalam Puisi “Jendela Ibu” Karya Joko Pinurbo.


290 Ikon yang dimaksud dalam teori Pierce ialah tanda yang hubungan antara penanda dan petanda bersifat bersamaan secara ilmiah. Ikon sifat dan ciri-cirinyanya mirip dengan tandanya. Berikut analisis bentuk ikon dalam puisi ―Jendela Ibu‖ karya Joko Pinurbo. 1. Ikon Bangunan Tua sebagai Penanda Orang Tua Bangunan tua menandakan sesuatu yang sudah berumur, dan telah menjadi saksi bisu bersejarah, rapuh tapi tetap kokoh berdiri melawan segala musim. Seperti itulah juga orang tua yang meskipun sudah berumur, tapi tetap kuat menjalani kehidupan. Mereka tetap kokoh melewati segala rintangan. Hal ini tampak pada kutipan berikut ini. Atas kesamaan sifat petanda dan penanda inilah bangunan tua dan orang tua termasuk ikon. Taksi memasuki jalanan mulus dan lengang, melintasi deretan bangunan tua dengan jendela-jendela yang tertawa. (Pinurbo, 2017: 52) 2. Ikon Kedai Kopi sebagai Penanda Tempat Pemberhentian Sementara Kedai kopi merupakan tempat yang menyediakan atau menjual kopi ataupun minuman dan makanan lainnya sebagai tambahan. Banyak orang meromantisasikan kedai kopi. Kedai kopi umumnya berisi orang-orang yang ingin melepas penat dan dahaga ataupun orang-orang yang mencari hiburan. Setelah keperluannya didapat, orang-orang tersebut akan pergi dan datang lagi ketika butuh. Maka, kedai kopi dapat dipakai sebagai penanda tempat pemberhentian sementara. Di kedai kopi, telah berkumpul beberapa sopir taksi beserta penumpang masing-masing. (Pinurbo, 2017: 53)


291 3. Ikon Sopir Taksi sebagai Penanda Perantara yang Sementara Sopir taksi merupakan seorang profesional dengan kemampuan mengemudi taksi yang dibayar oleh penumpang. Layaknya sopir taksi, dalam kehidupan ini kita dikelilingi orangorang yang hadirnya hanya sementara. Mereka datang untuk menemani sebagian kisah hidup kita, lalu pergi untuk menemani kisah hidup orang lain. Begitulah sopir taksi yang hadir untuk mengantar kita ke tempat tujuan dan akan pergi untuk mengantar penumpang lainnya ke tempat tujuannya. Sopir taksi merupakan perantara untuk seseorang mencapai sebuah tujuan dan pergi ketika orang tersebut telah sampai menemui tujuannya. Hal ini dibuktikan pada kutipan berikut. Waktu itu saya sedang mencari taksi untuk pulang. Entah dari arah mana munculnya, seorang sopir taksi tahu-tahu sudah memegang tangan saya, meminta saya segera masuk ke dalam taksinya. (Pinurbo, 2017: 53) Kutipan di atas membuktikan bahwa sopir taksi sebagai penanda perantara yang sifatnya sementara hadirnya tiba-tiba tanpa diminta. Ia seolah menjadi penghibur dalam kehidupan yang keras ini, dapat dilihat pada kutipan berikut ini. Di tengah kemacetan pun sang sopir masih bisa riang seolah menghibur si ―saya‖. Ia sopir yang periang. Saat taksi dihajar kemacetan, ia bernyanyi-nyanyi sambil menggoyang-goyangkan kepalanya yang gundul. Tambah parah macetnya tambah lantang nyanyinya, tambah goyang kepalanya. (Pinurbo, 2017: 52)


292 4. Ikon Perempuan Tua sebagai Penanda Ibu Yang dimaksud perempuan tua dalam puisi ini adalah sang penjual kopi yang melayani para penumpang dan sopir. Perempuan itu melayani dengan ramah dan hangat membuat ―saya‖ teringat pada sosok ibu. Perempuan tua itu memberikan nasihat layaknya seorang ibu yang bijak. Kesamaan sifat antara perempuan tua dan sosok ibu inilah yang dikatakan sebagai ikon. Adapun kutipannya sebagai berikut. Mereka dilayani seorang perempuan tua yang keramahannya membuat orang ingin datang lagi ke kedainya. “Urip iki mung mampir ngopi,” ucapnya seraya menghidangkan secangkir kopi di hadapan saya, lalu menepuk-nepuk pundak saya. (Pinurbo, 2017: 53) 5. Ikon Tembang Asmaradana sebagai Penanda Cinta Kasih Tembang Asmaradana berkisah tentang asmara manusia yang beranjak dewasa. Tembang ini biasanya digunakan untuk mengungkapkan perasaan cinta, baik kebahagiaan maupun kesedihan (patah hati). Tembang Asmaradana dalam puisi ini dinyanyikan oleh ibu yang memiliki makna sebagai cinta kasih seorang ibu. Ketika malam makin mekar dan sunyi kian semerbak, ibu melantunkan tembang Asmaradana dan mata ibu sesekali terpejam. Ibu menyanyikan tembang itu berulang-ulang sampai anak-anaknya tertidur lelap. (Pinurbo, 2017: 53) B. Bentuk Indeks dalam Puisi “Jendela Ibu” Karya Joko Pinurbo


Click to View FlipBook Version