The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yona Elya, 2023-12-17 23:10:31

Kumpulan Esai Apresiasi Sastra melalui Semiotika

Sastra Indonesia A

293 Indeks merupakan tanda yang memiliki hubungan sebabakibat dengan penandanya. Pada puisi ini ditemukan satu indeks yang memiliki hubungan sebab-akibat antara penandanya. Wajahnya yang damai, matanya yang hangat mengingatkan saya pada Ibu (Pinurbo, 2017: 53). Wajah yang damai dan matanya yang hangat merupakan sebab, lalu mengingatkan saya pada Ibu adalah akibat. C. Bentuk Simbol dalam Puisi “Jendela Ibu” Karya Joko Pinurbo Simbol merupakan menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petanda yang sifatnya arbitrer. Simbol membutuhkan proses pemaknaan yang lebih intensif. Simbol berada dalam ranah konotatif. 1. Simbol Jendela sebagai Penanda Pengalaman Hidup Dalam puisi ini banyak menggunakan simbol jendela. Jendela biasanya digunakan untuk melihat pemandangan, sebagai sirkulasi udara, dan sebagai akses matahari untuk masuk. Ketika membuka jendela, dapat dilihat berbagai macam pemandangan. Saat seseorang membuka jendela, mereka akan melihat berbagai pengalaman yang selama ini sudah dilalui. Pada larik saya tak punya jendela yang layak dipersembahkan pada senja bermakna ―saya‖ belum punya pengalaman hidup yang matang untuk menghadapi senja (kedewasaan). Pada larik Jendela saya seperti hati saya: dingin, suram, takut. Pada bait ini dapat dirasakan bahwa ―saya‖ memiliki ketakutan karena memiliki pengalaman yang buruk yang membuatnya khawatir untuk beranjak dewasa. Saya berterima kasih kepada ibu yang diam-diam telah mengirimkan sebuah jendela kecil untuk saya. Paket jendela saya temukan di beranda. Saya tidak pangling dengan jendela itu. Jendela tercinta yang kacanya bisa memancarkan beragam warna. (Pinurbo, 2017: 53)


294 Pada kutipan di atas, dapat dipahami bahwa ―saya‖ teringat akan pengalamannya bersama Ibu. Jendela dari Ibu kacanya memancarkan beragam warna, tidak gelap seperti hatinya di awal. Ini menandakan bahwa pengalaman hidup yang didapat bersama sang Ibu itu indah dan membuatnya rindu. Saya pasang jendela itu di di dinding kamar. Cahaya hitam pekat membalut kaca jendela. Perlahan muncullah cahaya remang diiringi suara Burung dan gemercik sungai. (Pinurbo, 2017: 54) Cahaya hitam yang menandakan kekhawatiran ―saya‖ akhirnya menjadi terang lagi karena mengingat pengalamannya dengan Ibu. Meskipun Ibu tidak ada bersama ―saya‖ kasih sayangnya dapat terus ia rasakan dan tak pernah habis. 2. Simbol Pohon Cemara sebagai Penanda Keabadian Pohon cemara merupakan pohon rindang yang mampu menghasilkan oksigen dan menyimpan air. Pohon cemara juga dapat hidup ratusan tahun. Karena itulah orang-orang sering melambang pohon sebagai keabadian. Puisi ini juga menggunakan pohon cemara sebagai simbol keabadian. Setelah mengandaikan bangunan tua, diikuti dengan pohon cemara pada larik Di tepi jalan berjajar pohon cemara. Bangunan tua sebagai ikon orang tua masih berhubungan dengan simbol pohon cemara yang menandakan keabadian. 3. Simbol Kopi sebagai Penanda Kebahagiaan Kopi mengandung kafein yang mampu merangsang sistem syaraf pusat dan mengendurkan otot halus, sehingga bagi penikmatnya kopi dapat membuat seseorang rileks dan memberi kebahagiaan. Simbol kopi digunakan dalam larik berikut ini. Laju taksi tiba-tiba melambat. Taksi berhenti di depan kedai kopi. “Mari ngopi dulu, Penumpang,” ujar sopir taksi. “Baiklah, Sopir,” saya menyahut, “aku berserah diri menuruti panggilan kopi.” (Pinurbo, 2017: 52)


295 Sang sopir sebagai perantara yang hadirnya sementara, membantu ―saya‖ mencari kebahagiaannya. Menuruti panggilan kopi memiliki makna ―saya‖ hendak mencari kebahagiaan. Kopi sebagai simbol kebahagiaan juga tampak pada saat ―saya‖ sudah memasang jendela pemberian ibunya. Hal ini menandakan ada kebahagiaan ketika mengingat pengalaman bersama Ibu. Jendela saya buka, lalu saya duduk tenang ditemani secangkir kopi. Saya dan kopi terperangah ketika cahaya berubah terang. (Pinurbo, 2017: 54) KESIMPULAN Dalam puisi ―Jendela Ibu‖ karya ―Joko Pinurbo‖ telah ditemukan tanda-tanda yang dapat dianalisis dengan teori Peirce. Ikon yang ditemukan dalam puisi ini yaitu, (1) ikon bangunan tua sebagai penanda orang tua, (2) ikon kedai kopi sebagai penanda tempat pemberhentian sementara, (3) ikon sopir taksi sebagai penanda perantara yang sementara, (4) ikon perempuan tua sebagai penanda ibu, dan (5) ikon tembang asmaradana sebagai penanda cinta kasih. Ditemukan satu indeks dalam puisi ini yang memiliki hubungan sebab-akibat yaitu pada larik Wajahnya yang damai, matanya yang hangat mengingatkan saya pada Ibu. Wajah yang damai dan matanya yang hangat merupakan sebab, lalu mengingatkan saya pada Ibu adalah akibat. Simbol yang ditemukan dalam puisi ini antara lain: (1) Simbol Jendela sebagai Penanda Pengalaman Hidup, (2) Simbol Pohon Cemara sebagai Penanda Keabadian, dan (3) Simbol Kopi sebagai Penanda Kebahagiaan. DAFTAR PUSTAKA Laila, A. (2016). Gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan puisi melihat api bekerja karya m aan mansyur (tinjauan


296 stilistika). Gramatika, 2(2). https://doi.org/10.22202/jg.2016.v2i2.842 Pinurbo, J. (2017). Buku Latihan Tidur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Raharjo, H. P., & Wiyanto, E. (2017). Mengenal Struktur Pembangun Karya Sastra. Sindunata. Sobur, A. (2016). Semiotika Komunikasi (6th ed.). Bandung: Rosdakarya. Waluyo, H. J. (1987). Teori dan Apresiasi Puisi. Yogyakarta: Erlangga.


297 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM PUISI "DALAM MATA IBU" KARYA KOMANG IRA Rolla Adindya Kusuma | 21210141010 PENDAHULUAN Sastra merupakan karya seni yang bersifat komunikatif atau menyampaikan pesan atau perasaan melalui tulisan. Karya sastra merupakan wadah seni menampilkan keindahan lewat penggunaan bahasa yang menarik, bervariasi, dan penuh imajinasi (Keraf, 2002:115). Sastra merupakan ide, gagasan, eskpresi, kritik, dan pesan yang diungkapkan secara tertulis. Sastra merupakan media dan sarana bagi penyair untuk mengemukakan ekspresi dan ide dalam Bahasa tertulis dengan penggunaan kata-kata yang tersusun indah. Dalam karya sastra keindahan penuturan, artinya keidahan bahasa, adalah satu hal yang ditentukan. Oleh karena itu, bahasa sastra sering tampil dengan sosok yang berbeda karena menggambarkan tujuan itu. Sastra adalah salah satu macam karya seni, maka tujuannya keindahannya menjadi sangat penting. (Nurgiyantoro, 2014:36). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sistem tandatanda. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan petanda (signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya potret orang menandai orang yang dipotret (berarti orang yang dipotret), gambar kuda itu menandai gambar kuda yang nyata. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan


298 sebab-akibat. Misalnya asap itu menandai api, suara menandai orang atau sesuatu yang mengeluarkan suara. Simbol itu tanda yang tidak menunjukan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan antaranya bersifat arbitrer atau semau-maunya, hubungannya berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan lambang adalah bahasa. Arti simnol ditentukan oleh masyarakat. Misalnya kata ibu berarti ―orang yang melahirkan kita‖ itu terjadi atas konvensi atau perjanjian masyarakat bahasa Indonesia, masyarakat bahasa inggris menyebutnya mother, Perancis: Ia mere. (Pradopo, 2010:121-122) ―Dalam Mata Ibu” merupakan salah satu puisi karya Komang Ira. Komang Ira memiliki nama lengkap Komang Ira Puspitaningsih. Perempuan yang lahir di Denpasar, 31 Mei 1986. Karya Ira bukan hanya puisi namun juga ada cerpen, karya-karyanya juga dimuat di beberapa media massa seperti Bali Post, Koran Tempo, Kompas, Jurnal Puisi, Padang Ekspres, dan Pikiran Rakyat. Puisinya juga pernah menjadi 100 puisi terbaik Indonesia versi Pena Kencana pada 2008 dan 60 puisi terbaik Indonesia versi Pena Kencana 2009. Puisinya juga terhimpun dalam beberapa antologi bersama. Namun Ira juga memiliki antologi puisi tunggal, judul antologi tunggal pertamanya ialah ―Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu‖. Puisi atau sajak adalah jenis sastra dengan Bahasa yang terikat oleh rima, irama, dan diserta dengan susunan bait dan larik. Puisi dapat membuat pembacanya memaknai dan menafsirkan pada setiap larik dan bait dengan menganalisisnya. Melalui analisis puisi, penulis termotivasi dan tertarik untuk mengetahui arti dan makna ikon, indeks, dan symbol yang terkandung dalam setiap bait dan larik puisi ―Dalam Mata Ibu” karya Komang Ira. HASIL DAN PEMBAHASAN


299 PUISI Dalam Mata Ibu Ada langit dalam mata ibu Menjadi hujan membuat semut- semut berlarian Dari sarang menuju tembok- tembok yang berlubang Dari sarang menuju tembok- tembok yang berlubang Ada kelabu dalam mata ibu Menghimpun kenangan anjing-anjing kupu-kupu Kala setumpuk boneka di kamar tidurku Kala setumpuk boneka dikamar tidurku Senja ini langit kelabu tenggelam dalam mata ibu Senja ini langit kelabu mencekam dalam mata ibu A. Ikon Ikon adalah tanda yang memiliki kemiripan fisik atau visual dengan objek yang direpresentasikan. Dalam semiotika ikon sering kali dianggap sebagai bentuk representasi yang lebih langsung dari pada symbol. Ada langit dalam mata ibu Pada bait pertama, terdapat ikon pada baris pertama juga. Kalimat ini menunjukan bahwa didalam mata ibu ada kesabaran dan ketulusan yang seluas langit. Ibu memandang sesuatu dengan ketulusan dan kesabaran yang seluas langit. Jika dari mata ibu keluar air mata membuat orang-orang yang melihat menjadi kalang kabut karena khawatir. Dan orang-orang itu berlarian menuju tempat yang aman dalam artian menuju tempat


300 yang membuat diri mereka aman karena merasa bukan menjadi alasan ibu menangis. Ada kelabu dalam mata ibu Pada bait kedua, terdapat ikon pada baris pertama. Kalimat ini menunjukan bahwa didalam mata ibu juga ada keresahan yang ia rasakan. Keresahan tentang kenangan-kenangan yang sering muncul dibenaknya. Kenangan-kenangan yang muncul tatkala melihat setumpuk boneka dikamar anaknya. Senja ini langit kelabu temggelam dalam mata ibu Pada bait terakhir, terdapat ikon pada baris pertama. Di bait terakhir ini hanya ada dua baris, dan memiliki kalimat yang hampir mirip. Kalimat ini menunjukan bahwa didalam mata ibu langit senja yang indah menjadi kelabu saat sore itu. B. Indeks Indeks merujuk pada salah satu jenis tanda atau representasi. Tanda yang memiliki hubungan kausal atau hubungan fisik dengan objek yang direpresentasikan. Indeks merupakan hubungan tanda yang memiliki sifat sebab-akibat atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Menjadi hujan membuat semut- semut berlarian Pada bait pertama, terdapat indeks pada baris ke dua. Kalimat ini menunjukan sebab-akibat yaitu, ―menjadi hujan‖ merupakan factor sebab dan ―membuat semut-semut berlarian‖ menjadi factor akibat dari hujan tersebut. Situasi ini dapat diartikan bahwa orang-orang akan mencari tempat berteduh dikala hujan melanda. C. Simbol Simbol itu tanda yang tidak menunjukan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan antaranya bersifat arbitrer atau semau-maunya, hubungannya berdasarkan konvensi


301 (perjanjian) masyarakat. Dalam puisi ini tidak ada pertanda symbol yang ada didalamnya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis pada puisi berjudul ―Dalam Mata Ibu‖ karya Komang Ira terdapat adanya ikon dan indeks namun tidak ada symbol didalamnya. Ikon para puisi ini tiga yaitu, (1) Ada langit dalam mata ibu (2) Ada kelabu dalam mata ibu (3) Senja ini langit kelabu temggelam dalam mata ibu. Kemudian Indeks yang ada dalam puisi ini hanya ada satu yaitu berada di bait pertama dengan baris ke dua ―Menjadi hujan membuat semut- semut berlarian”. DAFTAR PUSTAKA Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Pradopo, D. R. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


302 MAKNA SIMBOLIK DALAM PUISI “TIDAK ADA NEW YORK HARI INI” KARYA M AAN MANSYUR Titania Ananta | 21210141011 PENDAHULUAN ―Tidak Ada New York Hari Ini‖ merupakan salah satu puisi di dalam kumpulan puisi yang berjudul Tidak Ada New York Hari Ini karangan M Aan Mansyur untuk film Ada Apa Dengan Cinta 2. Puisi ―Tidak Ada New York Hari Ini‖ ditulis oleh M Aan Mansyur pada tahun 2016. Martan Mansyur atau yang lebih dikenal sebagai M Aan Mansyur merupakan seorang penulis dan penyair asal Bone, Sulawesi Selatan. Kumpulan puisi Aan Mansyur yang lainnya yaitu Cinta yang Marah (2017) dan Sebelum Sendiri (2017). Puisi Menurut Suroto (1989), puisi adalah karangan singkat, padat, pekat. Selain itu, ada pendapat dari Herbert Spencer, mengatakan bahwa puisi adalah salah satu bentuk pengungkapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan keindahan dan efek estetis lainnya. Sementara, menurut KBBI, puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Menurut Samuel Taylor Coleridge (Shahnon Ahmad, 1978:8), mengemukakan bahwa puisi merupakan sekumpulan kata terindah dalam susunan yang terindah. Penyair biasanya memperhatikan setiap kata untuk menjadi susunan yang seimbang dan simetris. Lalu,ada pendapat lain dari Carlyle (Shahnon Ahmad, 1978:8), mengatakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal. Penyair juga biasanya memperhatikan bunyi-bunyi di setiap kata untuk menghasilkan bunyi yang merdu seperti musik ketika seseorang membacanya.


303 Puisi ―Tidak Ada New York Hari‖ ini karya M Aaan Mansyur ini, memiliki diksi-diksi yang indah sehingga menarik untuk dikaji. Puisi ini mendeskripsikan bagaimana ―Aku‖ merasa kesepian di negara orang dan rindu terhadap orang-orang yang disayanginya. ―Aku‖ merindukan kampung halamannya sekaligus keluarganya dan seseorang yang ia sayangi. Ia merasa sangat asing di negara tersebut, tepatnya di New York, USA. Tentunya, puisi ini menarik untuk dikaji dengan teori semiotika Charles Sander Peirce. Semiotika adalah sebuah ilmu disiplin dan metode analisis yang mengkaji tanda-tanda yang terdapat pada suatu objek untuk mengetahui makna yang terkandung dalam objek tersebut. Semiotika juga merupakan suatu tindakan (action), pengaruh (influence), atau kolaborasi dari tiga subjek, yaitu tanda (sign), objek dan interpretant. Semiotika berasal dari kata semeion, dari bahasa Yunani yang memiliki arti tanda. Menurut Charles Sander Peirce (dalam Berger, 2000:11-22), mengemukakan bahwa manusia hanya mampu bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat ditetapkan pada segala macam tanda. Charles Sander Peirce dikenal sebagai ahli filsuf Amerika yang dikenal sebagai ahli logika dengan pemahamannya terhadap manusia dan penalaran atau bisa disebut ilmu pasti. Peirce (dalam Fiske, 1990:46) mengatakan bahwa jenis tanda dibagi menjadi tiga (3), yaitu ikon, simbol, dan indeks. Ikon didefinisikan sebagai tanda yang serupa atau sama dengan yang ditandai. Simbol diartikan sebagai tandai yang tidak sama dengan yang ditandai, tetapi bersifat konvensional dan arbitrer. Sementara, Indeks diartikan sebagai tanda yang bersifat terkait secara otomatis dalam suatu hal yang ditandai atau kausal (eksistensial). Menurut Peirce, terdapat ciri dasar penting dari tanda, yaitu ground (dasar), dan bagian atas tanda disebut dengan kode yang mengarah pada kode bahasa. Esai ini akan membahas makna


304 simbolik dalam puisi ―Tidak Ada New York Hari Ini‖ karya M Aan Mansyur dengan teori Charles Sander Peirce. PUISI “Tidak ada New York hari ini” Tidak ada New York hari ini. Tidak ada New York kemarin. Aku sendiri dan tidak berada di sini. Semua orang adalah orang lain. Bahasa ibu adalah kamar tidurku. Ku peluk tubuh sendiri. Dan cinta—kau tak ingin aku mematikan mata lampu. Jendela terbuka dan masa lampau memasukiku sebagai angin. Meriang. Meriang. Aku meriang. Kau yang panas di kening. Kau yang dingin dikenang Hari ini tidak pernah ada. Kemarin tidak nyata. Aku sendiri dan tidak menulis puisi ini. Semua kata tubuh mati semata. Puisi adalah museum yang lengang. Masa remaja dan negeri jauh. Jatuh dan patah. Foto-foto hitam putih. Aroma kemeja ayah dan senyum perempuan yang tidak membiarkanku merindukan senyum lain. Tidak ada pengunjung. Tidak ada pengunjung. Dibalik jendela, langit sedang mendung. * Tidak ada puisi hari ini. Tidak ada puisi kemarin. Aku menghapus seluruh kata sebelum sempat menuliskannya.


305 HASIL DAN PEMBAHASAN Puisi ―Tidak Ada New York Hari Ini‖ terdiri dari lima (5) bait. Esai ini akan meneliti makna simbolik puisi tersebut. Tanda dibagi menjadi tiga (3) yaitu ikon, simbol dan indeks. Berikut uraiannya. 1. Ikon Semua orang adalah orang lain. Pada bait pertama, terdapat ikon pada baris keempat. Kalimat itu menunjukkan bahwa Aku melihat semua orang disekitarnya adalah orang lain. Si Aku merasa ada dalam di dunia yang asing, bahkan bahasa orang lain dengan bahasa Aku berbeda. Aku merasa sendiri di tengah kota yang penuh hiruk-pikuk manusia. Ku peluk tubuh sendiri. Pada bait kedua, baris kedua terdapat ikon. Kalimat itu menunjukkan Aku yang sedang memeluk dirinya sendiri. Hal tersebut bisa dimaknai dengan kesepian. Si Aku sedang merasa kesepian dan Aku hanya bisa memeluk dirinya sendiri. Dibalik jendela, langit sedang mendung. Pada bait keempat puisi terdapat ikon terhadap langit yang sedang mendung. Langit mendung bisa dimaknai dengan keadaan yang sendu atau sedih. Pada baris itu, bisa dimaknai dengan perasaan Aku yang sedang sedih dan kesepian karena tinggal sendiri di negara asing, di mana Aku tidak ada kerabat di sana. 2. Indeks Bahasa ibu adalah kamar tidurku.


306 Pada bait kedua, baris pertama terdapat indeks. Kalimat itu menunjukkan bahwa Aku hanya bisa menggunakan bahasa ibunya ketika ia menelepon keluarganya atau teman-temannya yang berada di Indonesia di kamar tidurnya. Situasi tersebut menunjukkan bahwa Aku selama di New York hanya menggunakan bahasa Inggris karena memang orang-orang di sana hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya. Situasi tersebut bisa diartikan bahwa Aku merasa terasingi di negara tersebut. Dan cinta—kau tak ingin aku mematikan mata lampu. Jendela terbuka dan masa lampau memasukiku sebagai angin. Bait kedua, baris ketiga dan keempat memiliki makna indeks. Terdapat simbol ―cinta‖ yang dapat menunjukkan bahwa cinta yang dimaksud oleh Aku adalah kekasihnya dari masa lalu atau dapat juga cinta yang dimaksudnya adalah cinta dalam arti sebenarnya. Dalam ungkapan di atas, Aku berbicara kepada cinta dan mengisyaratkan bahwa cinta datang kembali seakan-akan tidak ingin pergi. Jendela terbuka dapat dimaknai bahwa Aku mengingat kembali tentang masa lalunya bersama mantan kekasihnya. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa masa lalunya Aku hanya sebagai sekelebat angin. Ungkapan kata angin dimaknai bahwa hal tersebut seperti tiupan udara yang kencang dan dapat membuat Aku ini jatuh sakit. Meriang. Meriang. Aku meriang. Kau yang panas di kening. Kau yang dingin dikenang Kutipan di atas merupakan lanjutan dari bait kedua. Pada bait kedua, baris kelima dan keenam terdapat trikotomi indeks yang mengisyaratkan suatu petanda yang memiliki hubungan sebab akibat


307 dengan yang ditandai. Aku meriang menandakan bahwa ia sampai jatuh sakit karena merindukan mantan kekasihnya. Aku merasa bahwa baru kemarin bersamanya, lalu sekarang hanya menjadi kenangan. Ungkapan ‖Kau yang panas di kening‖ dapat dimaknai seseorang yang dibicarakan Kau adalah seseorang yang Aku sayangi. Situasi tersebut dapat menunjukkan bahwa kehangatan dan kebahagiaan Aku ketika bersama dengan seseorang tersebut. Untuk konteks puisi ini, Kau adalah mantan kekasih dari Aku karena puisi ini berdasarkan dari film Ada Apa Dengan Cinta 2 dalam sudut pandang tokoh Rangga. Lalu, ungkapan ―Kau yang dingin dikenang‖ dapat dimaknai bahwa Aku sudah mengenang seseorang tersebut sebagai kenangan. Tidak ada kehangatan dan kebahagiaan lagi. Aroma kemeja ayah dan senyum perempuan yang tidak membiarkanku merindukan senyum lain. Pada bait keempat terdapat juga indeks. Larik tersebut mengandung indeks karena larik tersebut mengisyaratkan sesuatu. Ungkapan ―Aroma kemeja ayah‖ menunjukkan Aku mengingat dan merindukan ayahnya. Hal tersebut juga dapat dimaknai sebagai situasi di mana Aku terus membayangkan ayahnya ketika Aku sedang melakukan sesuatu apapun itu. Dalam konteks puisi ini, menggambarkan Aku yang benar-benar rindu keluarga dan kampung halamannya. Lalu, larik tersebut juga menggambarkan situasi di mana Aku bersama dengan perempuan lain di New York. Perempuan tersebut membuat Aku sedikit melupakan masa lalunya. 3. Simbol Dan cinta—kau tak ingin aku


308 mematikan mata lampu. Simbol cinta di sini dapat dimaknai dengan seseorang atau makna sebenarnya cinta itu sendiri. Tetapi, di sini lebih tepat bahwa Aku berbicara kepada sebuah cinta dalam arti sebenarnya. Lalu, simbol mata lampu di sini dapat dimaknai sebagai perasaan atau hati dari Aku. Aku berdialog dengan cinta bahwa cinta tidak ingin Aku untuk menutup hatinya. Jendela terbuka Simbol jendela dapat dimaknai sebagai pikiran dan memori si Aku. Jendela terbuka dimaknai pikiran Aku sedang mengingat-ingat masa lalunya. Semua kata tubuh mati semata. Kata tubuh di sini dapat dimaknai kata-kata yang Aku tulis dalam puisinya. Aku seperti mengatakan bahwa menulis puisi tidak ada gunanya termasuk kata-kata yang Aku di dalamnya. DAFTAR PUSTAKA Ambarini, & Naziah, U. M. (2010). Semiotika: Teori dan Aplikasi pada Karya Sastra. In Ambarini, & U. M. Naziah, Semiotika: Teori dan Aplikasi pada Karya Sastra (p. 106). IKIP PGRI Semarang Press. Oktavianna, Ansori, A., & Haryanti, N. D. (2023). Pemaknaan Simbol Pada Lagu Resah Karya Payung Teduh dan Puisi Menenangkan Rindu Karya M. Aan Mansyur: Semiotika Charles Sanders Peirce. Jurnal Nusantara Raya, 107-121.


309 Retrieved from https://jurnal.univpgripalembang.ac.id/index.php/pembahsi/article/view/4615 Susanto, E. (2023). Penggunaan Ikon, Indeks, Simbol untuk Mempertajam Makna dalam Puisi "Selembar Daun" Karya Soni Farid Maulana: Sebuah Kajian Semiotik. Journal for Energetic Youngsters, 41-48. Retrieved from http://112.78.41.197/ojs3smagaku/index.php/journey/article/ view/6 Taqwiem, A. (2018). Semiotika Puisi Tidak Ada New York Hari Inni Karya M Aan Mansyur. Jurnal Tarbiyah: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 7, 59-66.


310 METAFORA DAN MAKNA DALAM PUISI “KAU PUN TAHU” KARYA ACEP ZAMZAM NOOR Meisya Dina Tri Kartika Sari | 21210141015 PENDAHULUAN Karya sastra merupakan cerminan kehidupan. Karya sastra berbentuk puisi seringkali dianggap sebagai ekspresi pribadi penyair. Segala pikiran, perasaan, dan gagasan yang dialami penyair dituangkan melalui puisi yang menjadi wadah curahan isi hatinya tentang apa yang dilihatnya dalam kehidupan yang dibuat secara imajinatif. Biasanya, puisi dapat berisi hal-hal tentang masa kini dan masa lalu. Penyair terkadang menciptakan puisi selama proses produksinya dengan tujuan mengritisi sesuatu atau menceritakan kembali pengalaman yang pernah dirasakannya dahulu. Hal-hal tersebut kemudian ditulis ke dalam tulisan indah dan kaya makna. Dalam hal ini, pembaca akan terbawa oleh suasana dan emosi yang diciptakan penyair melalui tulisan di dalam puisi yang khas oleh penyair. Tulisan ini pun tidak hanya langsung mempunyai arti yang sebenarnya. Selalu ada kata-kata yang mengandung kiasan yang dibungkus dengan apik oleh penyair. Kata kiasan digunakan untuk memeroleh efek estetik sebagai bentuk perumpamaan dengan membandingkan sesuatu. Dalam hal ini, Acep Zamzam Noor melalui puisinya ―Kau Pun Tahu‖ membawakan bentuk perumpamaan berupa metafora dengan makna yang menyertainya. Acep Zamzam Noor merupakan penyair Indonesia asal etnis Sunda yang tumbuh di lingkungan pesantren. Noor pernah bekerja di berbagai media massa cetak, seperti harian Pikiran Rakyat, dan dikenal sebagai penyair yang seringkali menyampaikan segudang persoalan hidup ataupun kehidupan yang belum terjawabkan.


311 Melalui karyanya, Noor menuliskan puisi berjudul ―Kau Pun Tahu‖ yang menghadirkan sosok ‗aku‘ yang telah kehilangan hati, cinta, dan perasaannya hingga kemudian memilih untuk menyerah dengan perjuangannya dahulu serta pasrah kepada sebuah kenyataan. Isi dari puisi tersebut pun mengangkat tentang kekuasaan yang mendominasi orang-orang kecil yang tidak punya kekuatan sebagai kritikan Noor terhadap realitas sosial yang dilihat dan dialaminya. Demikian pula, Noor menggunakan metafora pada beberapa kata di dalam puisinya sebagai kiasan yang mengandung makna yang menarik untuk dianalisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Acep Zamzam Noor melalui puisinya ―Kau Pun Tahu‖ ingin mengungkapkan pikiran, perasaan, dan gagasannya mewakili rakyat kecil yang hidup di tengah kekuasaan dan kepemimpinan orang lain dalam negara yang dipimpin oleh orang-orang yang semestinya mengemban kewajibannya untuk rakyat dan menghargai suara rakyatnya, namun justru dibungkam dan tidak didengarkan. Noor sengaja memilih kata ‗kau‘, ‗aku‘, dan ‗mereka‘ secara berbeda. Kata ‗kau‘ diperuntukkan kepada para pembaca, kata ‗aku‘ pada sosok yang diceritakan dalam puisi merupakan perwakilan pemikiran penyair, sementara ‗mereka‘ ditujukan kepada pemerintah. Tentunya, isi puisi tersebut dibalut dengan metafora yang bermakna untuk menciptakan keindahan, sebagai berikut. Bait 1. Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Padam, semua rambu seakan Dalam pengembaraanku Menunjuk ke arah jurang Bintang-bintang yang kuburu (Kau Pun Tahu, Noor) Semua meninggalkanku Lampu-lampu sepanjang jalan


312 Kata „pengembaraan‟ diartikan sebagai kehidupan yang telah dijalani sosok ‗aku‘ hingga sekarang. Akan tetapi, dia telah kehilangan cinta dan semangat, yaitu „bintang-bintang‟, yang dikejarnya dan berakhir mencapai titik terendah dalam kehidupan yang dia miliki, atau motivasi bahkan tujuan hidupnya, sebagaimana seperti yang ditampilkan pada tulisan „lampu-lampu sepanjang jalan‟ yang telah „padam‟ bagai „semua rambu seakan menunjuk ke arah jurang‟ yang dapat dimaknakan apabila segala tujuan hidup yang sudah dia rangkai dan ingin capaikan kini telah lenyap dan padam, tak terlihat karena begitu kabur (gelap dan buram) seperti jurang yang tak berdasar. Bait 2. Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Kata-kata yang kusemburkan Dalam setiap ucapanku Menjadi asing dan mengancam Suara yang masih terdengar Seperti bunyi senapan Berasal dari kegelapan (Kau Pun Tahu, Noor) Selain kehilangan semangat hidupnya, sosok ‗aku‘ dalam puisinya juga kehilangan segala harapan yang dia impikan. Segala harapan yang dia utarakan lewat opini dan kritikan di setiap ucapannya berupa kata-kata yang disemburkan dari „kegelapan‟ yang muncul dari keinginan di dalam pikirannya untuk mendapatkan keadilan malah menjadi asing bahkan mengancam nyawanya bagai „bunyi senapan‟ yang akan membunuhnya. Sosok ‗aku‘ tidak berdaya apabila kembali dihadapkan pada situasi di luar kuasanya (mempertaruhkan nyawa), padahal yang dia inginkan hanyalah memberikan opini kepada pemerintah. Bait 3. Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Dengan kasar dan tergesa-gesa Dalam puisi-puisiku Mereka yang berteriak Kota telah dipenuhi papan-papan iklan Tak jelas maunya apa


313 Maklumat-maklumat ditulis orang (Kau Pun Tahu, Noor) Setelah kehilangan semangat dan harapan yang dia impikan, sosok ‗aku‘ sekarang merasa bahwa tempat yang ditinggalinya tidak lagi indah yang menampilkan pemandangan kota dan penghuninya, melainkan dipenuhi oleh „papan-papan iklan‟ sebagai baliho untuk mengiklankan para anggota pemerintah yang tengah berkampanye guna menarik rakyat lewat maklumat-maklumat di sana. Padahal tulisan itu hanya berisi teks tanpa arti yang ditempatkan dengan kasar dan tergesa-gesa. Sosok ‗aku‘ mencemooh tentang baliho-baliho tersebut yang tersebar di setiap sudut kota. Bait 4. Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Perempuan-perempuan yang kupuja Dalam doa-doaku Seperti juga para pemimpin itu Aku sembahyang di comberan Semuanya tak bisa dipercaya Menjalani hidup tanpa keyakinan (Kau Pun Tahu, Noor) Sosok ‗aku‘ juga merasa telah kehilangan keyakinannya. Seperti dia yang pernah mencintai dan memuja perempuan, dia tak mau lagi melakukan hal yang sama kepada para pemimpin di balik pemerintah. Tak lagi memberikan cinta, tak lagi memuja mereka. Dia menyerah dengan keyakinan yang pernah dia pertahankan dahulu terhadap para pemimpin yang berjanji untuk memberikan kehidupan yang layak bagi rakyat-rakyatnya hanya lalu dibohongi karena semuanya hanyalah tuturan singkat guna membodohi para rakyat untuk memilihnya menjadi pemimpin. Bahkan setelah memanjatkan doa di tempat-tempat kotor bagai „comberan‟ yang dipenuhi kehidupan orang-orang yang menjalani kesulitan ekonomi dengan beratapkan gubuk atau rumah-rumah bobrok dan pencurian atau perampokan telah menjadi keseharian, dia tidak lagi memiliki keyakinan kepada pemerintah, tentang semua janji untuk


314 memberikan keamanan dan kenyamanan dari mulut para pemimpin tidak lagi bisa dipercaya. Bait 5. Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Mereka yang lelap tidur Di negeriku yang busuk ini Bangunnya pada kesiangan Pidato dan kentut sulit dibedakan Padahal ingin disebut pahlawan. Begitu juga tertawa dan menangis (Kau Pun Tahu, Noor) Pada akhirnya, sosok ‗aku‘ memilih menyerah karena telah lelah untuk berjuang seperti sedia kala. Dia memandang bahwa tidak ada lagi pengertian dan kepedulian oleh pemerintah kepada rakyatnya. Baginya, pemerintah sudah membuat negeri tempat tinggalnya menjadi busuk sebagaimana janji dan pernyataan yang membesar-besarkan lewat pidato tidak lebih dari sekadar „kentut‟ yang berisi omong kosong belaka yang sama halnya dengan mereka yang tidak dapat membedakan tawa dan tangis yang sedang dirasakan rakyatnya akibat sistem pemerintah yang mereka jalankan. Padahal mereka selalu tertidur lelap dengan nyenyak sampai-sampai kesiangan ketika bangun, tidak seperti rakyat-rakyat kecil yang harus bangun subuh-subuh untuk pergi bekerja mencari nafkah sebagai sumber kebutuhan untuk mencukupi hidupnya. Sosok ‗aku‘ merasa kecewa terhadap para pemimpin yang berada di balik pemerintah itu sebagaimana mereka terus mendengungkan pidato keras-keras, menebar janji dan pernyataan besar karena ingin menjadi sosok penyelamat bagaikan „pahlawan‟ di negeri ini, meskipun pada akhirnya tidak pernah diwujudkan dan direalisasikan secara nyata, seperti pencitraan yang cuma diperlihatkan di hadapan publik sebagai formalitas. SIMPULAN


315 Puisi merupakan cerminan kehidupan yang menjadi wadah curahan hati penyair yang ditulis secara imajinatif dengan kata-kata indah dan kaya makna. Kata-kata ini tidak selalu berarti yang sebenarnya, melainkan bisa dalam bentuk kiasan. Metafora kemudian digunakan sebagai bentuk perumpamaan yang membandingkan sesuatu terhadap sesuatu. Noor melalui puisinya ―Kau Pun Tahu‖ menempatkan metafora beserta makna yang mengikuti guna menciptakan efek estetik dalam puisi, sekaligus menyampaikan pikiran, perasaan, dan gagasan tentang apa yang dilihatnya sebagai realitas sosial kepada pembaca. DAFTAR PUSTAKA Ensiklopedia Bahasa Indonesia. Acep Zamzam Noor. Diakses dari https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Acep_Z amzam_Noer pada 12 Desember 2023. Noor, Acep Zamzam. --. Kau Pun Tahu. Diakses dari https://www.sepenuhnya.com/2018/04/puisi-kau-puntahu.html pada 12 Desember 2023. Sumaryanto. 2019. Karya Sastra Bentuk Puisi. Semarang: Mutiara Aksara.


316 ANALISIS IKON, INDEKS DAN SIMBOL DALAM PUISI TAHANAN KARYA W.S RENDRA Farkhan Baharuddin | 21210141031 Semiotika adalah disiplin ilmu yang menelaah sebuah tanda. Tanda merupakan sesuatu yang dapat dilihat atau diamati di mana di dalam sebuah tanda tersebut terdapat suatu makna sebagai bentuk interpretasi pesan yang dimaksud. Menurut Charles Sanders Pierce alam semesta dipenuhi dengan tanda atau secara eksklusif tersusun oleh tanda. Charles juga menegaskan bahwa kita hanya bisa berpikir dengan media tanda. Manusia hanya dapat berkomunikasi melalui sebuah tanda dalam kehidupan manusia yang dapat berupa tanda gerak atau tanda isyarat. Tanda yang akan dianalisis yaitu tanda ikon, indeks dan simbol dalam sebuah puisi karya W.S Renda. Tentu tak asing kita mendengar sebuah nama penyair Indonesia satu ini, yang dikenal dengan nama W.S Rendra atau yang dijuluki Burung Merak. Salah satu hasil goresan tangan seorang penyair handal yang akan dianalisi penggunaan ikon, indeks dan simbol dalam puisinya yang berjudul Tahanan puisi ini ditulis Rendra pada tahun 1956 dimana dahulu Rendra sempat mengalami keterasingan saat Rendra berada dalam tahanan. Analisis tanda pertama yang akan dibahas dalam puisi Tahanan karya W.S Rendra yaitu penggunaan ikon. Ikon adalah tanda yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi, simulasi, imitasi, atau persamaan. Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan. (Danesi, 2004: 38-39). Sebuah tanda yang ada, dibuat agar mirip dengan sumber acuannya secara visual. Ikon adalah tanda yang mengandung kemiripan rupa sebagaimana yang dikenali oleh pemakainya(Budiman, 2004:29). Persepsi manusia berpengaruh


317 dalam penafsiran dan pembentukan ikon ini. Ikon yang terdapat dalam puisi Tahanan karya W.S Rendra dapat dilihat pada penggalan baris puisi Atas ranjang batu tubuhnya panjang yang dimana pada kata ―ranjang‖ yang menunjukkan pengetahuan umum, yakni ranjang memiliki fungsi sebagai tempat tidur atau beristirahat. Ikon juga ditemukan pada baris puisi berikutnya Sipir memutar kunci selnya dimana dapat kita ketahui bahwa sipir merupakan seorang petugas permasyarakatan yang bertanggungjawab melalukan pembinaan terhadap narapidana atau tahanan lapas dimana ia memiliki hak untuk membuka pintu sel. Pada bait ini kata ―Sipir‖ tentu akan kita ketahui bahwa tugasnya membuka dan mengunci sel. Analisis tanda kedua yaitu indeks pada puisi Tahanan karya W.S Rendra. Indeks merupakan tanda yang memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang diwakilinya. Indeks juga mempunyai hubungan antara tanda dan penanda yang memiliki hubungan sebab akibat, karena tanda dalam indeks tidak akan muncul jika penanda tidak hadir. Pada puisi ini ditemukan tanda indeks pada penggalan larik puisi He, pemberontak hari yang berikut bukan milikmu! kata ―mu‖ pada penggalan puisi tersebut merupakan indeks yang menandai pada tahanan penjara. Berikunya yaitu simbol, simbol atau lambang merupakan tanda yang mewakili sesuatu yang konvensional atau berdasarkan kesepakatan itu. Pada puisi Tahanan karya W.S Rendra ini dapat dilihat banyaknya penggunaan simbol seperti terdapat pada penggalan larik puisi ini Atas ranjang batu kata ranjang batu ini menyimbolkan tempat tidur yang tidak nyaman, karena sebuah ranjang tempat tidur tentu nyaman dan empuk tetapi ini disimbolkan dengan sebuah batu yang keras dan tentu tak nyaman untuk dibawa tidur. Ketidak nyaman karena berada dalam sebuah tahanan. Simbol juga ditemukan pada penggalan larik puisi berikutnya yaitu para


318 pemuda bertangan merah serdadu-serdadu Belanda rebah kata bertangan merah bukan semata-mata mengartikan warna saja tetapi ini simbol dari sebuah darah pemuda-pemuda yang telah melakukan perlawanan terhadap masa penjajahan Belanda terdahulu. Berikutnya juga ditemukan simbol pada penggalan larik Semalam kucicip sudah betapa lezatnya madu darah pada kata ―madu darah‖ kata ini menyimbolkan tentang bagaimana isi darah darah manusia sudah terasa seperti madu yang lezat karena dampak dari aksi pembunuhan-pembunuhan itu. Puisi Tahanan karya W.S Rendra telah dianalisis penggunaan tanda ikon, indeks, dan simbol yang terdapat didalamnya. Tanda-tanda ini memiliki peran penting terhadap suatu karya sastra maupun kehidupan manusia. Pada puisi W.S Rendra ini ditemukan banyak sekali penggunaan simbol. Simbol-simbol yang mewakili isi atau tujuan yang ingin disampaikan pengarang terhadap puisinya ini. Mulai dari terdapatnya simbol bertangan darah, madu darah dan ranjang batu. Simbol-simbol yang terdapat didalam puisi ini memiliki peran dan tujuan masing-masing serta menambah nilai estetika tersendiri saat kita membaca dan menghayati puisi karya W.S Rendra ini. DAFTAR PUSTAKA Andriyani, Rini. 2022. ―Makna Tanda Dalam Semiotika dan Contohnya‖, https://www.indonesiana.id/read/156218/makna-tandadalam-semiotika-dan contohnya , diakses pada 19 Desember 2022 Agusta, Maria. 2016. ―Pengertian Mengenai Apa Itu Icon, Indeks, Symbol‖ , https://www.kompasiana.com/mariaagusta/56e412f2a4afbd5718a7 b339/pengertian mengenai-apa-itu-icon-indeks-symbol , diakses pada 20 Desember 2022


319 SIMBOL PERJALANAN HIDUP DALAM PUISI DERAIDERAI CEMARA KARYA CHAIRIL ANWAR Ina Aula Mualifah | 21210141032 PENDAHULUAN Simbol bisa dianalisis atau ditentukan dengan kajian semiotika. Semiotika adalah kajian mengenai simbol, ikon, dan indeks dalam sebuah karya sastra. Pribadi dan Firmansyah (2019: 271) menjelaskan bahwa mempelajari semiotika sama halnya dengan mempelajari bahasa yang digunakan sebagai sistem komunikasi manusia. Teori semiotika banyak dipakai dalam berbagai bidang ilmu, salah satunya yaitu ilmu mengenai bahasa atau linguistik. Pada saat mempelajari bahasa, maka semiotika juga akan turut dipelajari. Dalam semiotika, dibahas secara dalam mengenai penanda dan petanda. Dalam segi bahasa, penanda bersifat denotatif yang tidak menimbulkan arti lain, sedangkan kata memiliki arti yang sebenarnya. Dari segi makna, kata sendiri bisa memiliki makna lain yang perlu dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Semiotika memperdalam pembahasan mengenai penanda dan petanda yang ditelaah dari bahasa atau makna yang ada pada karya sastra. Karya sastra merupakan salah satu cara untuk menunjukan ekspresi dan emosi yang tidak bisa diungkapkan melalui lisan. Dalam sebuah karya sastra, jiwa yang dimiliki bergantung dengan bagaimana penulis menunjukan perasaan mereka melalui kata dan diksi yang disusun untuk membentuk sebuah kalimat. Salah satu karya sastra yang menggunakan kata dan diksi untuk menunjukan emosi atau jiwa penulisnya yaitu puisi. Puisi memiliki konvensi tersendiri yang berupa satuan tanda seperti halnya kosa kata, kiasan, dan penggunaan gaya bahasa. Tanda atau simbol tersebut biasanya


320 menunjukan arti atau makna yang luas. Dalam sebuah puisi, simbol dapat diartikan dalam berbagai hal sesuai dengan apa yang dipahami pembaca. Puisi Chairil Anwar merupakan salah satu puisi yang memiliki banyak rangkaian struktural. Banyak diksi, gaya bahasa, citraan, dan kiasan yang bisa ditemui dalam puisi Chairil Anwar. Pada kesempatan ini, puisi ‖Derai-Derai Cemara‖ menjadi topik kajian yang akan dibahas simbol-simbol yang ditunjukan. Puisi ‖Derai-Derai Cemara‖ ditulis pada saat Chairil terbaring di rumah sakit. Kemudian, pada saat mengenang setengah abad wafatnya Chairil Anwar, puisi ini diterbitkan bersama puisi-puisi lain dalam buku kumpulan puisi pada 28 April 1949. HASIL DAN PEMBAHASAN Puisi merupakan karya sastra yang dapat digunakan sebagai pengekspresian dari emosi. Puisi berhubungan erat dengan pemaknaan dan penafsiran, sehingga dalam rangkaian kata dan kalimat yang terdapat dalam tiap bait puisi, pasti memiliki makna tersendiri bagi penulis maupun pembaca. Puisi pasti memiliki tanda atau petanda sebagai simbol, ikon, dan indeks. Tak jarang, puisi juga menggunakan diksi yang memiliki makna yang berbeda atau bisa disebut dengan pengandaian. Puisi juga biasanya menggunakan majas atau kiasan untuk lebih mewarnai diksi-diksi yang diciptakan supaya bisa mewakili pesan yang diinginkan penulis untuk pembaca. Derai-Derai Cemara Cemara menderai sampai jauh Terasa hari akan jadi malam Ada beberapa dahan di tingkap merapuh Dipukul angin yang terpendam


321 Pada larik pertama, puisi ini menggunakan ‘cemara‘ sebagai simbol untuk menunjukan pergantian waktu dari sore menuju malam. Waktu ‘sore‘ seakan menjabarkan tentang usia yang tidak lagi muda dan mengalami banyak kesakitan dalam hidup. Lirik kedua, perjalanan menuju malam diibaratkan sebagai perjalanan menuju ‘pulang‘. Lirik ketiga dan keempat semakin mempertegas adanya suasana hari tua. Kata dipukul angin menjadi simbol dari kehidupan keras yang dijalani selama ini menuju masa tua. Aku sekarang orangnya bisa tahan Sudah berapa waktu bukan kanak lagi Tapi dulu memang ada suatu bahan Yang bukan dasar perhitungan kini Pada bait kedua ini, lirik pertama menyimbolkan ‘aku‘ yang tahan akan kerasnya kehidupan. Lirik kedua menunjukan adanya masa kanak atau masa kecil yang telah lewat. Aku lirik menunjukan adanya perjalanan hidup dari masa kecil hingga masa tua yang melewati banyak ujian dan banyak hal yang impulsif. Kata bukan dasar perhitungan pada lirik keempat menyimbolkan adanya rencana-rencana yang tidak menggunakan banyak pertimbangan dalam menjalaninya. Hidup hanya menunda kekalahan Tambah terasing dari cinta sekolah rendah Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan Sebelum pada akhirnya kita menyerah Bait ketiga dan sebagai bait terakhir, lirik hidup hanya menunda kekalahan menyimbolkan adanya hidup yang dijalani sebenarnya hanya sebuah penundaan dari kekalahan. Meskipun begitu, penulis seakan mengingatkan bahwa meskipun hidup hanya sebuah penundaan kekalahan, hidup harus terus berjalan maju. Ketidakberdayaan pada lirik pertama menjadi simbol dari kepasrahan


322 hidup yang dialami. Lirik ada yang tetap tidak terucap menyimbolkan bahwa dalam hidup, tidak semua hal bisa terucapkan. Banyak hal yang memang pada akhirnya hanya bisa tersimpan dan tidak terungkap sampai akhir. Puisi berjudul derai-derai cemara karya Chairil Anwar adalah puisi yang secara keseluruhan menggambarkan tentang usaha manusia dalam menjalani ketidakpastian hidup. Proses panjang dalam mengikuti alur kehidupan yang tidak tertebak, kondisi yang tidak bisa diprediksi, serta masalah yang menerpa turut serta digambarkan dalam puisi ini. Meskipun banyak hal yang harus dijalani, ketidakberdayaan akan takdir yang tidak bisa dilawan pun harus tetap berlalu seperti semestinya. KESIMPULAN Dari hasil analisis puisi derai-derai cemara karya Chairil Anwar, terdapat makna tersembunyi yang ingin disampaikan. Kehidupan yang berjalan dengan semestinya dan harus dijalani dengan pasrah dapat terealisasikan dalam tiap lirik puisi tersebut. Penggambaran dari waktu ke waktu pun turut terlihat dari penggunaan diksi yang dipakai dalam puisi derai-derai cemara ini. Penggambaran ‘aku‘ yang disimbolkan dengan kepasrahan hidup dan perjalanan menuju masa tua yang melewati banyak masalah dan banyak cobaan dijalani dengan tabah dan penuh dengan berserah diri. Dalam puis ini tidak ada perlawanan dalam takdir yang telah ditentukan sehingga semakin menunjukan bahwa ‘aku‘ hidup dengan ketidakberdayaan dan kepasrahan takdir. DAFTAR PUSTAKA Budi Setia Pribadi, D. F. (2019). Analisis Semiotika Pada Puisi ―Barangkali Karena Bulan‖ Karya Ws. Rendra. Parole, 2(2),


323 269–276. Hutagalung, W. (2022). Analisis Semantik Puisi Penerimaan Karya Chairil Anwar. EUNOIA (Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia), 2(1), 48. https://doi.org/10.30821/eunoia.v2i1.1322 Putri, V. K. M. (2023). ANALISIS SEMIOTIK PUISI CHAIRIL ANWAR. Kompas.Com. https://www.kompas.com/skola/read/2023/03/25/090000969/m akna-puisi-derai-derai-cemara-karya-chairil-anwar. Rahayu, I. S. (2021). Analisis Kajian Semiotika Dalam Puisi Chairil. Semiotika, 15(1). Saptawuryandari, N. (2013). Analisis Semiotik Puisi Chairil Anwar (Semiotic Analysis of Chairil Anwar‘s Poems). Kandai, 9(1), 95–104.


324 IKON, INDEKS, DAN SIMBOL DALAM PUISI “CILIWUNG YANG MANIS” KARYA W.S. RENDRA Astri Hanifa | 21210141037 PENDAHULUAN Semiotika sangat lekat dengan kehidupan manusia, khususnya dalam entitas dunia imajinasi yang manusia ciptakan melalui bahasa. Semiotika secara estetis hadir dengan sentuhan berbagai realitas yang ada, salah satunya semiotika dalam bentuk sebuah puisi. Semiotika diartikan sebagai ilmu tentang lambang atau tanda, yang terdapat dalam bahasa, lalu lintas, kode morse, dan lain sebagainya (KBBI, 2023). Tanda adalah sesuatu yang terdiri pada sesuatu yang lain atau menambah dimensi yang berbeda pada sesuatu, dengan memakai apapun yang dapat dipakai untuk mengartikan sesuatu hal lainnya. Charles Sanders Pierce menyatakan bahwa tanda sebagai ―suatu pegangan seseorang akibat keterkaitan dengan tanggapan atau kapasitasnya. Di antara semua jenis tanda, yang terpenting adalah kata-kata (Berger, 2015: 1). Salah satu pendekatan yang populer untuk menganalisis tanda-tanda adalah pendekatan yang dikembangan oleh Charles Sanders Pierce, yakni pendekatan yang menekankan analisis pada ikon (icon), indeks (index), dan simbol (symbol). Pierce menyatakan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan kausal dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Pierce menggunakan istilah icon untuk kesamaannya, index untuk hubungan kausalnya, dan symbol untuk asosiasi konvensionalnya (Berger, 2015: 16).


325 Pernyataan lainnya, icon adalah jenis tanda yang secara fisik menyerupai atau memiliki kesamaan sifat dengan objeknya. Keserupaan (kemiripan) atau kesamaan ini tidak harus berwujud. Misalnya, lukisan klasik merupakan contoh icon. Lukisan ini memiliki kualitas inderawi yang sama dengan objeknya dan skema yang memiliki hubungan yang sama dengan objeknya. Jenis tanda ini mewakili objeknya dengan menggunakan kemiripan atau analogi. Oleh karena itu, ikon sangat mengandalkan kesamaan visual atau inderawi untuk menyampaikan maknanya. Ikon tidak memerlukan penerjemah atau pembaca dan dapat berdiri sendiri dalam pemaknaannya. Indeks (index) adalah tanda yang secara langsung dipengaruhi oleh atau terkait dengan suatu objek. Tanda ini menunjuk, merujuk, atau menyarankan pada objeknya. Indeks tidak dapat menjadi tanda tanpa objeknya. Indeks tidak bergantung pada penafsir atau pembaca untuk memaknainya. Simbol (symbol) adalah tanda yang bergantung pada hubungan yang berbasis konvensional dengan objeknya. Simbol bersifat arbitrer, tidak termotivasi, dan membutuhkan penggunaan konvensional untuk menentukan maknanya. Tanda-tanda simbolik dibangun atau "disepakati" untuk tujuan tertentu. Tidak seperti ikon atau indeks, simbol bukanlah tanda tanpa interpretan, melainkan bergantung pada interpretan dalam memaknainya. Singkatnya, ikon bergantung pada kesamaan visual atau indrawi, indeks secara langsung menunjuk atau berhubungan dengan objeknya, dan simbol bersifat arbitrer dan bergantung pada penggunaan konvensional untuk maknanya. Konsep-konsep ini merupakan dasar dalam studi semiotika, tanda dapat menyampaikan makna dengan basis penjelasan yang masingmasing berbeda (Huening, 2023). Puisi ―Ciliwung yang Manis‖ adalah satu puisi karya W.S. Rendra yang terdapat pada buku kumpulan puisi Manuskrip Puisi: Empat Kumpulan Sajak (2004) Tujuan dari analisis puisi tersebut menggunakan pendekatan Pierce, yaitu (a) mengetahui dan


326 memahami ikon, indeks, dan simbol yang terdapat pada puisi tersebut dan (b) mengetahui dan memahami aspek mana yang mendominasi di antara ikon, indeks, dan simbol. Urgensi dari analisis ini adalah untuk menginterpretasikan makna yang sebenarnya tengah disampaikan pengarang melalui puisi tersebut. PEMBAHASAN Berikut adalah pembahasannya. 1. Bait ke-1 Ciliwung mengalir dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta kerna tiada bagai kota yang papa itu ia tahu siapa bundanya Pada baris ke-1, frasa Ciliwung mengalir dikategorikan sebagai ikon. Hal ini berdasarkan pada konsep kesamaan indrawi dari wujud asli sebuah sungai. Sungai Ciliwung terbentang dari hulu yang terletak di daerah Bogor yang meliputi kawasan Gunung Gede, Gunung Pangrango, Cisarua, hingga kawasan hilir di pantai utara Jakarta (KHN/RBY, 2023). Pada baris ke-2, berupa lanjutan dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta dikategorikan sebagai simbol. Hal ini berdasarkan pada konsepnya yang bersifat arbitrer dan bergantung pada penggunaan konvensional untuk maknanya. Telah dinyatakan bahwa Sungai Ciliwung terbentang melalui Jakarta, seperti yang diketahui bahwa bantaran Sungai Ciliwung pernah menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi penata kelola lingkungan Kota Jakarta, pemukiman yang sangat padat mengiringi aliran airnya. Hal ini mendorong pemerintah untuk segera meremajakan lokasi tersebut. Hal ini juga dilakukan agar masyarakat sekitar bantaran tidak perlu khawatir akan banjir yang melanda. Peremajaan yang


327 dilakukan lantas tidak dapat menghapus ketimpangan sosial yang ada di wilayah tersebut. Gedung-gedung mewah menjulang disamping kesederhanaan hingga kemiskinan yang tumbuh di sekitarnya. Pada baris ke-2 dan ke-3 menginterpretasikan Kota Jakarta yang keras dan sebagai tempat yang hanya berhak dikuasai orang-orang berduit. 2. Bait ke-2 Ciliwung bagai lidah terjulur Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya. Pada bait ke-2 ini, terdapat dua baris yang termasuk pada ikon, frasa lidah terjulur menginterpresentasikan bentangan Sungai Ciliwung yang panjang dan pada tunjukkan lenggoknya hal ini penulis secara puitif menyampaikan aliran Sungai Ciliwung yang berkelok-kelok membelah pemukiman yang berakhir hingga hilir, yaitu laut. 3. Bait ke-3 Dan Jakarta kecapaian dalam bisingnya yang tawar dalamnya berkeliaran wajah-wajah lapar hati yang berteriak kerna sunyinya. Maka segala sajak adalah terlahir karena nestapa kalau pun bukan adalah dari yang sia-sia atau pun ria yang berarti karena papa. Pada baris ke-1 Dan Jakarta kecapaian sebagai simbol kota yang sudah amat padat dengan hingar-bingar yang manusia ciptakan, bila diinterpretasikan sebagai manusia, maka Jakarta seakanakan tidak mampu menopang beban-beban itu. Pada baris ke-2


328 dalam bisingnya yang tawar sebagai simbol Jakarta bila diinterpretasikan sebagai benda mati, yang raungan tangisannya sama sekali tidak akan terdengar. Pada baris ke-3 dalamnya berkeliaran wajah-wajah lapar sebagai indeks, ketimpanganketimpangan yang disinggung pada penjelasan sebelumnya menyebabkan lapisan masyarakat sangat mencolok, dalam hal ini divisualisasikan melalui orang-orang yang mengadu nasib dengan berharap seupah nasi dari penghasilan minimnya. Pada baris ke-4, interpretasi sama dengan pada baris ke-2. Pada baris ke-5 dan ke-6 adalah indeks yang dapat diinterpretasikan bahwa sajak-sajak menjadi pelipur lara bagi orang-orang susah di Jakarta, sebagai sarana yang mewadahi betapa kerasnya hidup di ibukota. Pada baris ke-7, ke-8, dan ke-9 sebagai simbol, yang menginterpretasikan bahwa baik sedih maupun senang seseorang itu akan menuangkan pikiran atau keadaannya ke dalam sajak. 4. Bait ke-4 Ciliwung bagai lidah terjulur Ciliwung yang manis menunjukkan lenggoknya. Hasil interpretasi sama dengan yang ada pada baris ke-2. 5. Bait ke-5 Ia ada hati dikandungnya ia ada nyanyi di hidupnya. Hoi! geleparnya anak manja! Dan bulan bagai perempuan tua letih dan tak diindahkan menyeret langkahnya atas kota. Dan bila ia layangkan pandangnya ke Ciliwung kali yang manis membalas menatapnya! Hoi! Hoi!


329 Pada baris ke-1 dan ke-2 Ia ada hati yang dikandungnya sebagai ikon, sebagaimana manusia Jakarta sangat berupaya jejalanjejalan manusia, ia sepatutnya tidak bersedih dan tetap pada kediamannya memberikan tempat pada semua lapisan masyarakat dengan ditemani oleh senandungan. Pada baris ke-3 dan ke-4 sebagai ikon, Jakarta sebagai ibukota padat penduduk seakan-akan disadarkan kembali dari lamunannya oleh realitas. Pada baris ke-5 dan ke-6 sebagai simbol dari orang-orang yang tinggal di ibukota dan otomatis bekerja lebih keras tanpa peduli karena urusan lelah diri. Pada baris ke-7 dan ke-8 sebagai simbol, bila diinterpretasikan Jakarta seakan-akan sebagai seseorang yang sedang berupaya melegakkan perasaannya melalui pantulan dirinya di atas permukaan Sungai Ciliwung. 6. Bait ke-6 Ciliwung bagai lidah terjulur Ciliwung yang manis menunjukkan lenggoknya. Hasil interpretasi sama dengan yang ada pada baris ke-2. 7. Bait ke-7 Teman segala orang miskin rimbunan rindu yang terperam bukan bunga tapi bunga. Begitu kali bernyanyi meliuk-liuk dan Jakarta disinggung dengan pantatnya. Pada baris ke-1 Teman segala orang miskin sebagai simbol, yang menginterpretasikan bahwa Jakarta selayaknya teman bagi orang-orang yang berlatar belakang ekonomi rendah. Pada baris ke-2 dan ke-3 sebagai simbol, yang menginterpretasikan hal bahagia yang mendalam dan memang patut dipendam dan tidak terwujud ketika hidup di Jakarta. Pada baris ke-3 dan ke-4


330 sebagai ikon, yang menginterpretasikan Sungai Ciliwung sebagai penggoda bagi Jakarta untuk mengeluarkan keluh kesahnya, tetapi Jakarta dalam andaian manusia ini lebih memilih diam dan memihak golongan ekonomi rendah agar tetap hidup. SIMPULAN Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seorang pengarang banyak melibatkan simbol-simbol pada puisinya, secara simbolis tulisan-tulisan yang pengarang ciptakan dapat dinyatakan sebagai isi dari realitas yang ada dan terjadi dalam hidupnya. Oleh karena itu, urgensi di sini telah terjawab bahwa Rendra dalam menikmati Jakarta sebenarnya di sisi lain ingin menyampaikan bahwa banyak ketimpangan sosial yang terjadi dan mengganggu pikiran siapapun yang melihatnya. Namun, Rendra seakan-akan menormalisasi tersebut dengan memanglah demikian kehidupan ibukota yang serba keras dan timpang satu sama lain. DAFTAR PUSTAKA Admin. (2009). Manuskrip Puisi: Empat Kumpulan Sajak W.S. Rendra (1961). PDF Drive. Diakses pada tanggal 13 Desember 2023 dari https://www.pdfdrive.com/manuskrip-puisi-wsrendra-e61516059.html. Berger, Arthur Asa. 2015. Pengantar Semiotika: Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana. Huening, Drew. (2023). ―Symbol, Index, Icon‖. The University of Chicago: Theories of Media. Diakses pada tanggal 13 Desember 2023 dari


331 https://csmt.uchicago.edu/glossary2004/symbolindex icon.htm. KHN/RBY. (2023). Sungai Ciliwung Kini. Wacana Makara. Diakses pada tanggal 13 Desember 2023 dari https://www.ui.ac.id/sungai-ciliwungkini/#:~:text=Terbentang%20dari%20hulu%20yang %20terletak,Sungai%20(DAS)%20387%20Km2.


332 METAFORA DALAM PUISI "HANYA" KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Shabrina Aulia Firyal Safitri | 21210144034 PENDAHULUAN Semiotika adalah sebuah disiplin ilmu dan metode analisis yang dapat mengkaji tanda-tanda yang terdapat pada suatu objek untuk diketahui makna yang terkandung dalam objek tersebut. Semiotika berasal dari bahasa Yunani ―Semeion‖, yang berarti tanda. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda (sign). Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Dan tanda tidak terbatas pada benda (Zoest, 1993:18). Kata semiotika diturunkan dari bahasa Inggris, yaitu semiotics. Nama lain semiotika adalah semiology. Keduanya memiliki arti yang sama, yaitu sebagai ilmu tentang tanda. Baik semiotika atau semiology berasal dari bahasa Yunani, yaitu semeion, yang berarti tanda. Secara terminologis, semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda (Sobur, 2001). Semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda memrepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, kondisi diluar tanda-tanda itu sendiri. Semiotik menjadi salah satu kajian yang bahkan menjadi tradisi dalam teori komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. Menurut Littlejohn, (2009: 53) dalam bukunya Teori Komunikasi Theories of Human Communication edisi 9, Semiotik bertujuan untuk mengetahui makna-makna yang terkandung dalam sebuah tanda atau


333 menafsirkan makna tersebut sehingga diketahui bagaimana komunikator mengkonstruksi pesan. Pada dasarnya, semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang makna dari tanda, dengan menyertakan adanya mitos dan metafora yang bersangkutan dengan tanda tersebut. Konsep-konsep dasar dari semiotika yang dicetuskan oleh Ferdinand de Saussure ini meliputi tanda/simbol, kode, maka, mitos, dan metafora. Tanda atau simbol menurut Saussure, tanda (sign) ini terbagi menjadi tiga komponen, tanda (sign), mencangkup aspek material berupa suara, huruf, gambar, gerak, dan bentuk. Penanda (signifier), mencangkup aspek material bahasa, yakni apa yang dikatakan atau didengarkan; dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda (signified), mencakup aspek mental bahasa, yakni gambaran mental, pikiran, dan konsep. Ketiga komponen tersebut harus memiliki eksistensi yang secara utuh. Apabila salah satu komponennya tidak ada, maka tandanya tidak dapat dibicarakan atau bahkan dibayangkan di benak manusia. Jadi, petanda (signified) adalah konsep yang nantinya akan dipresentasikan oleh penanda (signifier). Hubungan antara petanda dan penanda ini harus berkaitan satu sama lain supaya dapat menghasilkan makna atas tanda tersebut. Kode adalah cara pengkombinasian tanda yang memang telah disepakati secara sosial, untuk memungkinan pesan tersebut tersampaikan kepada orang tertentu. Menurut Barthes, kode dalam semiotika ini memiliki lima macam, yakni Kode Hermeneutik yaitu kode yang berupa menyodorkan berbagai pertanyaan, teka-teki, respons, enigma (ucapan misterius), penangguhan jawab, yang pada akhirnya akan menuju pada jawaban pasti. Kode ini berhubungan dengan teka-teki yang timbul dalam sebuah wacana. Kode Semantik yakni kode yang mengandung adanya konotasi (nilai rasa) pada level penanda. Konotasi atau nilai rasa yang terdapat dalam kode ini misalnya berupa maskulinitas, feminim, kebangsaan, dan lain-lain.


334 Sedangkan, Kode Simbolik yakni kode yang berkaitan dengan psikoanalisis hingga adanya pertentangan dua unsur. Lalu Kode Narasi (Proairetik) yakni kode yang memuat adanya cerita, urutan, dan narasi. Setiap karya fiksi pasti memiliki kode ini. Terakhir, Kode Kebudayaan (Kultural) yaitu kode yang bersifat anonim, bawah sadar, mitos, sejarah, moral, dan legenda. Dari kedua konsep dasar tersebut, yang terakhir ialah makna, terdapat dua macam yakni makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif adalah makna sebenarnya, mencangkup hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata atau hubungan secara eksplisit antara tanda dengan referensi yang ada. Misalnya, terdapat gambar manusia itu berarti maknanya memang berhubungan dengan manusia selaku makhluk hidup. Kemudian pada makna konotatif adalah makna yang tidak sebenarnya, meliputi perasaan, emosi, nilai-nilai kebudayaan, hingga sudut pandang dari suatu kelompok. Menurut Barthes, untuk memahami makna konotatif yang terdapat dalam semiotika, terdapat dua konsep yakni Mitos dan Metafora. Metafora adalah majas yang digunakan untuk menyamakan sesuatu yang lainnya, atau dikenal dengan kiasan. Majas merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dengan cara imajinatif. Majas digunakan oleh seseorang untuk membuat pembaca memperoleh efek tertentu dari gaya bahasa tersebut yang cenderung ke arah emosional. Majas biasa tersemat dalam suatu karya sastra, baik cerpen maupun puisi. Mengutip buku "Diksi dan Gaya Bahasa" oleh Gorys Keraf, metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Puisi berjudul ―Hanya‖ karya Sapardi Djoko Damono dipilih karena menarik dan berisikan majas metafora. Puisi ini menceritakan tentang kerinduan terhadap seseorang yang tidak bisa kita temui


335 raganya, hanya dapat merasakan kehadirannya secara tidak langsung. Dalam puisi ini, Sapardi juga menggunakan gaya bahasa repetisi atau pengulangan. Hal ini dapat dinilai sebagai penekanan dari isi atau makna yang ingin disampaikan oleh penulis. Gaya bahasa repetisi tersebut terlihat pada pengulangan kata "hanya", "dan tak pernah", serta "tapi". Selain menggunakan gaya bahasa metafora dan repetisi, Sapardi juga menggunakan majas simile, personifikasi, sarkasme, dan sinisme. HASIL DAN PEMBAHASAN Hanya suara burung yang kau dengar dan tak pernah kaulihat burung itu tapi tahu burung itu ada di sana Hanya desir angin yang kaurasa dan tak pernah kaulihat angin itu tapi percaya angin itu di sekitarmu Hanya doaku yang bergetar malam ini dan tak pernah kaulihat siapa aku tapi yakin aku ada dalam dirimu Hanya suara burung yang kau dengar dan tak pernah kaulihat burung itu tapi tahu burung itu ada di sana Di dalam bait pertama, terdapat majas personifikasi dan metafora. Metafora pada bait tersebut terdapat di baris kedua dan ketiga. Makna dari kalimat tersebut adalah ia tak pernah melihat seseorang yang ia rindukan, namun ia tahu keberadaannya ada di sana walau tidak dilihat secara langsung. Objek orang yang dirindukan diganti perumpamaannya menggunakan objek burung.


336 Hanya desir angin yang kaurasa dan tak pernah kaulihat angin itu tapi percaya angin itu di sekitarmu Di dalam bait kedua, majas metafora tetap berada di baris kedua dan ketiga sebagai penekanan. Makna dari kalimat tersebut adalah ia dapat merasakan keberadaan angin di sekitarnya walau tak pernah ia lihat bentuknya. Namun ia percaya bahwa keberadaan angin tetap ada di sekitarnya. Objek orang yang dirindukan diganti perumpamaannya menggunakan objek angin. Hanya doaku yang bergetar malam ini dan tak pernah kaulihat siapa aku tapi yakin aku ada dalam dirimu Di bait terakhir, dalam majas metafora tersebut tetap di bait terakhir karena mempertahankan majas repetisi. Kalimat di baris kedua dan ketiga tersebut bermakna bahwa penulis merasa keberadaannya tidak dianggap oleh orang yang sedang ia rindukan. Namun penulis meyakini bahwa hal-hal tentang dirinya tetap hidup di dalam orang yang dirindukan. SIMPULAN Dari pembahasan yang sudah dipaparkan di atas, maka kesimpulannya mengenai metafora yang terdapat di dalam puisi ―Hanya‖ ialah harapan dari seseorang yang ingin bertemu dengan orang yang ia rindukan. Walau ia tidak dapat menemuinya, namun ia tetap merasakan kehadirannya. Bahkan ketika ia merasa bahwa kehadirannya tidak terlihat, ia meyakini bahwa rasa atau kenangannya tetap singgah di dalam diri seseorang tersebut. Majas metafora dalam puisi ini ada di setiap baitnya. Majas metafora


337 tersebut didukung dengan penggunaan majas repetisi, dengan begitu pembaca dapat merasa kesungguhan subjek di dalam puisi dalam menyampaikan kerinduannya terhadap objek. Walau terbilang sangat singkat dan pendek, puisi ini dapat menyampaikan makna dengan padat dan lugas melalui tiga bait dan tiga baris di setiap barisnya. DAFTAR PUSTAKA Fiska, Rahma. (2021). Pengertian Semiotika: Konsep Dasar, Macam, dan Tokoh Pencetusnya. https://www.gramedia.com/literasi/semotika/. Diakses pada tanggal 11 Desember 2023. Iam. (2023). Puisi Hanya Sapardi Djoko Damono. https://jateng.tribunnews.com/2023/09/29/puisi-hanyasapardi-djoko-damono. Diakses pada tanggal 11 Desember 2023. Mulachela, Husen. (2022). Metafora Adalah Gaya Bahasa Kiasan, Ini Fungsi dan Contohnya. https://katadata.co.id/intan/berita/61eed4da0e434/metaforaadalah-gaya-bahasa-kiasan-ini-fungsi-dan-contohnya. Diakses pada tanggal 11 Desember 2023.


SEMIOTIKA DALAM LAGU


339 REPRESENTASI ELEGI DALAM LIRIK LAGU BIRU KARYA ARYO BIMO Maria Ulfah Sunardja | 21210141028 PENDAHULUAN Karya sastra adalah hasil ungkapan perasaan manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, dan gagasan yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Ragam dan bentuk karya sastra pada umumnya dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu puisi, prosa, dan drama. Puisi merupakan bentuk karya sastra hasil ungkapan penyair yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang terikat oleh rima dan irama. Menurut Riffaterre (1978, melalui Pradopo, 1999: 77), puisi merupakan ekspresi tidak langsung yang menyatakan hal lain. Ekspresi tidak langsung disebabkan oleh (a) pengganti arti; (b) penyimpangan atau pemencongan arti; dan (c) penciptaan arti. Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan katakata dalam puisi mengandung makna yang disampaikan secara tidak langsung. Berdasarkan pernyataan tersebut, lagu dapat termasuk ke dalam jenis puisi. Hal ini sejalan dengan pengertian lagu merupakan ungkapan perasaan penyair yang dituangkan dalam sajak-sajak singkat yang memiliki makna. Oleh karena itu, lirik lagu dapat dikualifikasikan dalam genre puisi. Saat ini banyak trend lagu-lagu yang menggunakan kata-kata puitis dan memiliki makna yang mendalam. Salah satunya yaitu syair lagu yang berjudul ―Biru‖ karya Aryo Bimo. Dalam perjalanannya, Aryo Bimo konsisten dengan lagi-lagu dengan lirik bergenre elegi dan memiliki makna mendalam. Lagu yang berjudul ―Biru‖ merupakan lagu dalam album ―Merayakan Sepi” yang bergenre sedih dan duka. Lirik dalam lagu tersebut memiliki makna mendalam yang diungkapkan secara tidak langsung menggunakan simbol-


340 simbol oleh penyair. Makna dalam lirik lagu tersebut dapat diungkapkan melalui pendekatan semiotika yang membahas mengenai hubungan antara penanda dan petanda. Oleh karena itu, kajian ini akan membahas lebih dalam mengenai makna lirik lagu ―Biru‖ karya Aryo Bimo menggunakan pendekatan semiotika. HASIL PEMBAHASAN Semiotika adalah ilmu mengenai tanda-tanda, yang mempelajari fenomena sosial-budaya termasuk sastra sebagai sistem tanda yang mempunyai dua aspek yaitu penanda dan petanda. (Preminger, 1974:980, melalui melalui Pradopo, 1999: 76). Pendekatan semiotika berusaha untuk mengungkapkan simbol atau tanda-tanda yang terdapat dalam karya sastra. Dalam analisis lirik lagu Biru karya Aryo Bimo ini menggunakan pendekatan semiotika dengan teori Charles Sanders Peirce. Konsep teori ini yaitu trikotomi Peirce, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Sehingga melalui analisis ini akan mengungkapkan ikon, indeks, dan simbol yang terdapat di dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo. Berikut lirik lagu Biru karya Aryo Bimo: Biru Tersiksa batinmu ingat semua masa lalumu Mendekam di dalam kamarmu Hujan basahi kamar itu Beribu tanya berdesak di dalam kepala Bahkan bahumu pun bertanya Di mana rintihan yang selama ini ada Larut khayalmu dalam layar di depan mata Kau tumpahkan semua perihmu Basahi pipimu dan semakin larut


341 Sejenak tak terdengar isak tangis saat itu Namun getir masih terasa Seperti melekat dan semakin menusuk Dan biru ada di dalam kamarmu Dan biru tenggelamkan kau dan masa lalumu Menangislah Hujani saja Perih akan slalu terasa Jika luka terus kau dekap Lepaskanlah Lepaskanlah 1. Bentuk ikon dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo Ikon adalah hubungan antara penandan dan petanda yang bersifat alamiah, yaitu penanda sama dengan petandanya. Misalnya seperti peta, foto, atau gambar. Berikut analisis ikon dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo. a. Masa lalu sebagai penanda waktu Secara etimologi ―masa‖ dapat diartikan sebagai waktu atau jangka waktu tertentu, sedangkan ―lalu‖ menunjukan suatu hal yang sudah terjadi. Sehingga dapat diartikan bahwa masa lalu merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukan suatu peristiwa yang telah terjadi pada rentang waktu yang telah lewat. Tersiksa batinmu ingat semua masa lalumu Dan biru tenggelamkan kau dan masa lalumu


342 Berdasarkan kutipan lirik di atas, dapat dilihat bahwa masa lalu menjadi penanda waktu yang terdapat pada lagu Biru karya Aryo Bimo. Waktu yang ditunjukkan bukan waktu sekarang, melainkan flashback kembali ke masa sebelumnya, seperti yang telah diterangkan pada lirik /tersiksa batinmu ingat semua masa lalumu/ b. Kamar sebagai penanda tempat Dalam kamus besar bahasa indonesia, kamar adalah ruang bersekat (tertutup) dinding yang menjadi bagian rumah atau bangunan. Dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo, ikon kamar sebagai penanda tempat. Penggunaan ikon kamar sebagai latar dapat mempermudah pendengar dalam menghayati lagu tersebut. Hal tersebut diterangkan dalam lirik di bawah ini. Mendekam di dalam kamarmu Dan biru ada di dalam kamarmu c. Tangis sebagai penanda perasaan Dalam kamus besar bahasa Indonesia, tangis adalah ungkapan perasaan sedih dengan mencucurkan air mata dan mengeluarkan suara. Dalam lirik lagu Biru karya Aryo Bimo, ikon tangis sebagai penanda perasaan yang menjadi latar suasana dalam lagu tersebut. Hal tersebut diterangkan dalam lirik di bawah ini. Sejenak tak terdengar isak tangis saat itu Menangislah 2. Bentuk indeks lirik lagu Biru karya Aryo Bimo


Click to View FlipBook Version