43 merupakan seseorang yang taat beribadah pada Tuhan. Rafli juga merupakan sosok suami dan ayah yang baik dan bertanggung jawab bagi Nania dan anak-anaknya. Dalam persoalan sosial dan budaya, perbedaan strata sosial ekonomi antarkeluarga seringkali memicu problema sosial berupa diskriminasi terhadap perkawinan beda kelas. Namun, lewat kisah cinta tokoh Nania dan Rafli yang akhirnya menjalin hubungan rumah tangga yang bahagia, cerpen ini seolah ingin menyuarakan pesan bahwa cinta sejati mampu menembus sekat-sekat perbedaan latar belakang. Cinta yang sejati dan tulus tidak sekadar impuls sesaat. Namun, juga komitmen untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan apa adanya dengan penuh kesabaran dan pengorbanan, Seperti selayaknya tokoh Rafli yang setia mendampingi Nania meski sang istri tidak dalam kondisi fisik yang baik. Juga seperti Nania yang tetap memilih dan mempertahankan hubungannya dengan Rafli meskipun suaminyamerupakan laki-laki biasa yang tak kaya raya dan berlimpah ruah harta. DAFTAR PUSTAKA Hermawan, Dani & Shandi (2019). Pemanfaatan hasil analisis novel seruni karya almas sufeeya sebagai bahan ajar sastra di SMA. Metamorfosis. Vol.12, No.1 (11-20). Diperoleh dari https://ejournal.unibba.ac.id/index.php/metamorfosis/article/ download/125/127/468 Mawarni, Hasindah & Sumartini (2020). Citra wanita tokoh utama rani novel cerita tentang rani karya herry santoso kajian kritik sastra feminis. Jurnal Sastra Indonesia. Vol. 9, No.2 (137-143). Diperoleh dari https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jsi/article/download/ 30290/16644
44 ANALISIS SEMIOTIKA IKON DAN INDEKS CERPEN MENCARI SEIKAT SERUNIKARYA LEILA S. CHUDORI Yasmin Hana Nafisa | 21210141014 LATAR BELAKANG Pada perkembangannya sastra Indonesia pernah mengalami periodisasi dan memunculkan pengelompokkan pada zaman dalam sejarah perkembangan karya sastra, dalam hal tersebut membuat karya sastra mengalami perubahan, seperti bentuk karya sastra klasik, balai pustaka, hingga pujangga baru (Ambarini & Umaya, 2). Karya sastra menjadi salah ciptaan yang dibuat untuk tujuan estetika yang disampaikan secara komunikatif melalui sebuah bahasa. Penyampaian tersebut berupa pemikiran, ide, serta gagasan dari pengarang. Proses penyampaian ide dan gagasan dalam sebuah karya sastra dilakukan dengan menuliskannya di dalam karya pengarang. Di sisi lain, karya sastra memiliki fungsi sebagai tempat untuk memberikan suatu pelajaran, penyampaian informasi, dan memberikan kesadaran bagi pembaca. Salah satu karya sastra yang banyak diminati keberadaannya untuk dibaca adalah cerpen. Cerita pendek atau cerpen adalah suatu karya sastra berbentuk prosa fiksi yang ditulis dengan ringkas. Tulisan-tulisan yang tertuang di dalam cerpen biasanya tidak berdasarkan kejadian nyata atau bersifat fiksi, namun terdapat beberapa peristiwa di dalam cerpen hampir mirip dengan realitas kehidupan sosial masyarakat. Sesuai dengan namanya karena hanya sebuah cerita pendek, cerpen tercipta dengan serba terbatas dan pendek seperti jumlah kata yang terbatas, jumlah tokoh atau pelaku sedikit, isi cerita, dan peristiwa. Arti pendek di dalam cerpen ini adalah cerita yang hanya berjumlah 7 halaman kuarto saja dan ditulis
45 secara singkat, padat, jelas (Nugroho, 2012:54 via Wulandari & Siregar 2020:32). Dengan demikian, alasan cerpen banyak diminati karena dapat dibaca cepat hanya dengan sekali duduk saja. Leila S.Chudori salah satu sastrawan wanita yang memulai karirnya sejak anak-anak. Ia lahir pada 12 Desember 1962 di Jakarta. Sejak usia 12 tahun, Leila S. Chudori sudah menghasilkan berbagai karya tulis seperti novel dan cerpen. Karya-karya dari Leila S.Chudori mulai diterbitkan tahun 1974 di majalah populer anakanak di Indonesia. Saat dewasa, karya-karya Leila S.Chudori mulai dimuat di berbagai majalah yaitu majalah mingguan Zaman, majalah sastra Horison, Menagerie (Indonesia). Salah satu koleksi cerpen Leila S.Chudori adalah antologi cerpen 9 dari Nadira. Antologi ini berisi 9 judul cerpen. Kumpulan cerpen di dalamnya sangat menyenangkan untuk dibaca karena cerita yang disajikan sangat menyentuh mulai dari segi emosi. Salah satu judul cerpen dalam antologi tersebut adalah Mencari Seikat Seruni. Pada cerpen tersebut menceritakan bagaimana Nadira dan keluarganya terkejut dengan kematian Ibu yang secara mendadak. Selain itu, terdapat bunga kesukaan Ibu yaitu bunga Seruni Putih. Di hari kematian Ibu Nadira ingin memakai bunga seruni putih, namun unga tersebut sangat sulit untuk dicari. Penulisan cerpen ―Mencari Seikat Seruni‖ karya Leila S.Chudori tersebut dikemas dengan estetik dengan gaya penulisan dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami bagi pembaca. Dalam proses penceritaan karya fiksi tidak lepas menggunakan penandaan untuk menghasilkan proses komunikasi dan pemahaman kepada pembaca. Tanda-tanda yang terkandung dalam pengisahan cerita fiksi tersebut tentu saja terdapat makna-makna tersembunyi (Prayogi & Ratnaningsih, 2020:21). Salah satu ilmu yang mengkaji tentang tanda-tanda adalah semiotika.
46 Semiotika adalah salah satu kajian sastra yang membahas tentang makna tanda (Ambarani & Umaya). Pada pemahaman semiotika, karya sastra pasti memiliki makna dan tanda untuk membangun cerita dalam karya tersebut. Salah satu tokoh yang membahas tentang tanda dalam semiotika adalah Charles Sander Peirce dengan konsep dasar dan karakteristik pemahaman makna tanda dalam sebuah karya sastra. HASIL DAN PEMBAHASAN Antologi cerpen berjudul ―Mencari Seikat Seruni‖ karya Leila S.Chudori memiliki 9 judul cerpen. Salah satunya adalah cerpen berjudul Mencari Seikat Seruni. Cerpen tersebut menceritakan tentang seorang anak bernama Nadira. Diceritakan bahwa Ibu Nadira meninggal dan membuat sedih seluruh keluarga terutama Yu Nina. Diceritakan bahwa Ibu Nadra sangat menyukai bunga seruni, namun bunga seruni ini sangat sulit untuk ditemukan. Pada saat pengajian untuk Ibu Nadira berlangsung, sempat terjadi keributan antara Nadira dengan seorang ibu-ibu, karena ia membawa bunga melati untuk Ibu Nadira, akan tetapi Nadira menolak dan naik pitam. Dibalik itu semua, ada seorang teman Nadira yang mau membantu Nadira untuk mencari bunga seruni itu, meskipun sangat jauh dari rumah Nadira. Berkat kesabaran Nadira dan temannya, akhirnya mereka berhasil menemukan bunga seruni di sebuah toko. Charles Sander Peirce merupakan tokoh pemikir tentang semiotika, dalam analisisnya Pierce mengungkapkan bahwa terdapat tiga jenis tanda yaitu indeks (index), ikon (icon), dan simbol (symbol). Hasil analisis data yang ditemukan dalam cerpen Mencari Seikat Seruni karya Leila S. Chudori meliputi tanda ikon dan indeks. Berikut merupakan penjelasan dari ikon dan indeks.
47 1. IKON Ikon adalah sebuah tanda yang memiliki suatu kemiripan ―rupa‖ dan dikenali oleh pemakainya, artinya bahwa hubungan antara tanda dan objek memiliki sifat yang mirip, contohnya gambar, rumah sakit, onomatope. Ikon merupakan tanda yang memiliki kesamaan atau kemiripan antara representamen dan objeknya (Mu‘arrof, 2019:74). Berikut merupakan ikon yang ada pada cerpen Mencari Seikat Seruni karya Leila S. Chudori. 1. Bunyi geremengan surat Yasin itu terdengar seperti dengung lebah yang mengusap hati (Leila, S.C., 2009:8) Dalam kutipan tersebut terdapat surat Yasin. Surat yasin dalam cerpen tersebut merupakan surah yang dipakai untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Hal tersebut dapat diketahui dari kisah Nadia yang mengalami musibah yaitu sang Ibu meninggal dan pada saat itu banyak orang berdatangan dan membacakan surat yasin untuk ibunya. Di kehidupan masyarakat surat yasin sering dibacakan saat ada seseorang tetangga, keluarga, dan kerabat yang meninggal. Di beberapa wilayah, saat ada seseorang yang meninggal pihak keluarga yang bersangkutan akan mengadakan pengajian selama tiga hari berturut-turut untuk membacakan surat yasin, namun ada beberapa daerah yang melakukan pengajian tersebut selama tujuh hari berturut-turut. 2. Terakhir, yang paling penting-yang selalu disebut-sebut Ibuaku pasti mengais-ngais bunga-bunga kesukaan Ibu yang
48 sulit dicari di Indonesia: bunga seruni putih (Leila, S.C., 2009:3). Bunga seruni atau sering dikenal dengan bunga krisan merupakan bunga yang berasal dari Jepang dan memiliki aroma wangi. Bunga seruni putih dalam cerpen ―Mencari Seikat Seruni‖ adalah ikon yang berfungsi sebagai penanda dari kesedihan atau belasungkawa. Hal tersebut disebabkan karena Ibu dari tokoh Nadia meninggal dunia dan Nadia ingin bunga yang digunakan adalah bunga seruni putih karena bunga kesukaan Ibunya. Pada umumnya bunga seruni putih atau sering disebut bunga krisan ini memang digunakan untuk situasi duka. 3. Kang Arya segera menyodorkan masker (Leila, S.C., 2009:18) Kutipan di atas mengandung ikon yaitu pada kata masker. Masker merupakan ikon dari alat untuk menutup muka atau sebuah kain untuk menutupi mulut dan hidung. Dalam kutipan tersebut diceritakan bahwa Kang Arya memberikan masker karena pada saat itu Yu Nina, Kang Arya, dan Nadia sedang berada di gudang, sehingga banyak debu berhamburan dan menyebabkan batuk-batuk. Di kehidupan sehari-hari masker sering digunakan pada saat berkendara motor untuk menghindari debu-debu jalanan. Selain itu, masker sering digunakan ketika seseorang sedang sakit terutama saat sakit flu, hal tersebut dilakukan guna menghindari agar virus tidak menyebar ke sekitarnya. Apalagi setelah peristiwa Covid-19 tahun 2020 lalu, masker menjadi hal wajib bagi setiap individu yang akan beraktivitas di luar rumah.
49 4. Aku juga hanya mendengar sayup-sayup suaranya yang memberi instruksi dari balik maskernya, agar kami memisahkan barang-barang itu sesuai kategori: kursi dan meja antik yang masih harus dipoles; beberapa piring, mangkok, dan sendok-garpu antik; beberapa buah lampu antik; dan terakhir buku-buku berbahasa Belanda milik lbu dan Ayah yang terletak di satu rak besar (Leila,S.C., :19). Kutipan di atas mengandung ikon yaitu kursi, meja, piring, mangkok, sendok, garpu, dan lampu. Kursi merupakan ikon dari tempat untuk duduk, meja ikon dari perabotan rumah yang memiliki bidang datar dan sering digunakan untuk menaruh barang-barang. Kemudian, piring, mangkok, sendok, dan garpu merupakan ikon dari alat makan, piring dan mangkok merupakan tempat untuk meletakkan nasi maupun lauk-pauk. Adapun mangkon yang menjadi ikon dari tempat untuk makanan yang berkuah. Sendok dan garpu merupakan alat untuk mengambil makanan sebagai pengganti tangan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari kursi, meja, piring, sendok, garpu, dan mangkok karena alatalat tersebut merupakan alat perabotan rumah tangga. Selain itu juga alat-alat tersebut sering digunakan di rumah makan atau tempat-tempat penjual makanan. Sehingga meja, kursi, sendok, garpu, mangkok, dan piring menjadi ikon dari perabotan. 2. INDEKS Indeks merupakan sebuah tanda yang mempunyai hubungan eksistensial antara objek dan representamen. Pradopo, 1990:121(via Ambarani & Umayu, 36)
50 mengungkapkan bahwa indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan tanda dan petanda yang bersifat kausal (sebab, akibat) secara alamiah. Sehingga representamen akan kehilangan karakter jika objek dihilangkan, dengan demikian bahwa dalam indeks tanda dan objek memiliki hubungan yang konkret. Di dalam sebuah karya sastra tentu saja memiliki tanda indeks sebagai nilai estetik. Berikut merupakan indeks yang ada pada cerpen Mencari Seikat Seruni karya Leila S.Chudori. 1. Akhir bulan seperti ini, lemari es kami hanya berisi beberapa potong sayur dan buah (Leila, S.C., 2009:6). Kutipan cerpen di atas menunjukkan adanya unsur indeks. Kata akhir bulan merupakan indeks dari Kalimat pertama dari teks tersebut adalah ―akhir bulan seperti ini‖ merupakan sebab dan kalimat kedua dari kutipan tersebut adalah ―lemari es kami hanya berisi beberapa potong sayur dan buah‖ kalimat kedua ini merupakan kalimat akibat. Artinya bahwa akibat dari akhir bulan menyebabkan isi lemari es hanya beberapa potong sayur dan buah saja. Jika direfleksikan di kehidupan sosial akhir bulan merupakan bulan dimana banyak orang mengalami krisis keuangan karena belum mendapat gaji, mengalami kehabisan stok bahan-bahan makanan di rumah. Kedua kalimat tersebut saling memiliki hubungan kausal dan memiliki timbal balik, sehingga memunculkan makna secara utuh. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa kalimat pertama tidak memiliki makna jika kalimat kedua tidak ada.
51 2. Bersamaan dengan suara berisik itu, geremengan surat Yasin di dalam terhenti seketika (Leila, S.C., 2009:9). Kutipan teks diatas merupakan bentuk dari tanda indeks. Kata suara berisik merupakan indeks adanya sesuatu yang terjadinya sesuatu atau ramai, ribut. Diceritakan dalam kutipan tersebut bahwa saat melantunkan surat Yasin tibatiba terdengar keributan dan menyebabkan pengajian diberhentikan. Kalimat satu pada kutipan tersebut adalah Bersamaan dengan suara berisik itu yang dimana kalimat ini merupakan sebab, sementara kalimat kedua dari kutipan tersebut adalah geremengan surat Yasin di dalam terhenti seketika yang merupakan akibat. Kutipan teks tersebut menunjukkan sudah muncul konflik pada cerpen ―Mencari Seikat Seruni‖ karya Leila S.Chudori tersebut. Dari dua kalimat tersebut memiliki korelasi sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh. Adanya kalimat pertama (sebab) menjadi alasan timbulnya kalimat kedua (akibat) yang saling melengkapi. 3. Dia hanya memejamkan matanya sambil sesekali mengeluarkan rintihan kecil (Leila, S.C., 2009:4). Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa adanya indeks dari kata rintihan. Rintihan merupakan indeks dari adanya kesedihan yang memilukan atau keluhan. Menurut KBBI rintihan berasal dari kata rintih yang memiliki arti sakit terdengar memilukan. Pada kutipan cerpen Mencari Seikat kata tokoh merintih karena merasakan kesedihan karena kehilangan Ibunya. Kata rintihan mengakibatkan timbulnya suara kesedihan.
52 4. Suara derit pintu apartemen menandakan Bram sudah di dalam apartemen. Aku sudah tahu, pipinya yang dingin itu akan terasa tebal, empuk, dan berwarna biru kehitaman oleh janggutnya yang segera saja tumbuh begitu pisau cukur menerabasnya setiap pagi. Bram menutup pintu (Leila, S.C., 2009:6). Kutipan di atas menunjukkan adanya indeks. Derit pintu merupakan indeks dari suara atau bunyi pada lantai yang disebabkan karena kayu bagian bawah pintu bergesekan dengan lantai sehingga menandakan adanya seseorang yang datang atau pergi. Kalimat pertama menyebutkan adanya suara derit pintu di apartemen, kemudian di kalimat terakhir dijelaskan bahwa Bram menutup pintu. Suara derit pintu diartikan bahwa ada seseorang yang membuka pintu dan menandakan bahwa ada seseorang yang masuk atau keluar dan diakhir kalimat disebutkan Bram menutup pintu yang artinya bahwa Bram di dalam rumah. 5. Johanna adalah seorang penganut Protestan yang ketat, yang rajin ke gereja dan rak bukunya penuh dengan buku-buku renungan ilahiah (Leila, S.C., 2009:5) Dari kutipan tersebut kata ketat merupakan indeks dari sesuatu yang melekat erat. Disebutkan jika Johana adalah seorang penganut dari agama Protestan yang sangat ketat, lalu pada kalimat kedua disebutkan jika Johana rajin pergi ke gereja dan rak buku miliknya penuh buku renungan. Kalimat pertama merupakan kalimat sebab dan tidak bisa berdiri, sedangkan kalimat kedua adalah akibat, jadi kedua kalimat tersebut saling membangun dan menghasilkan kalimat utuh. Jika hanya ada kalimat pertama ―Johanna adalah seorang penganut Protestan yang ketat‖ pembaca hanya akan tahu
53 jika Johanna penganut Protestan yang ketat tanpa mengetahui Pada kata ketat disini menunjukkan bahwa Johana adalah seorang yang saat taat beribadah. Di kehidupan sehari-hari banyak orang berpendapat jika seseorang yang menganut agama ketat serta rajin pergi ke tempat beribadah menandakan dia adalah orang yang taat. 6. Asap rokoknya mengepul menghambur ke mukaku (Leila, S.C., 2009:10). Kutipan di atas menyatakan adanya indeks yaitu pada kata asap. Asap merupakan indeks adanya atau timbulnya api. Diceritakan dalam kutipan tersebut bahwa terdapat asap rokok yang menghambur. Asap dari kutipan tersebut merupakan indeks dari api, karena munculnya asap disebabkan adanya api begitupun sebaliknya jika terdapat api pasti akan timbul asap. KESIMPULAN Hasil penelitian ikon dan indeks dari cerpen Mencari Seikat Seruni karya Leila S. CHudori didapatkan 4 ikon yaitu pertama surat Yasin yang merupakan surah yang sering digunakan untuk mendoakan seseorang yang sudah meninggal. Kedua, bungan seruni putih, dalam hal ini bunga seruni putih atau bunga krisan yang merupakan penanda dari kesedihan atau belasungkawa. Ketiga, masker yang merupakan ikon dari alat untuk menutup hidung dan mulut agar terlindungi dari debu. Keempat, piring, mangkon, sendok, garpu, kursi, meja yang merupakan ikon untuk perabotan serta alatalat untuk makan. Sedangkan pada indeks ditemukan terdapat 6 yaitu yang pertama akhir bulan, yang merupakan indeks dari situasi dimana orang mengalami masa-masa krisis yang biasanya disebabkan oleh belum mendapat gaji. Kedua, suara berisik yaitu
54 indeks dari suasana ramai atau rebut. Ketiga, rintihan yang merupakan indeks dari adanya kesedihan atau keluhan. Keempat, derit pintu yaitu indeks dari suara dari bawah pintu yang bergesekan dengan lantai dan menandakan ada seseorang yang datang atau pergi. Kelima, ketat yang merupakan indeks dari erat atau melekat dan dari cerpen tersebut menandakan jika Johanna adalah orang yang sangat taat pada agamanya. Keenam, ada asap yaitu indeks dari adanya api yang menyebabkan timbulnya asap. DAFTAR PUSTAKA Ambarani & Umayu, N.M. Semiotika Teori dan Aplikasi Pada Karya Sastra. Mu‘arrof, A.Q. (2019). Representasi Masyarakat Pesisir: Analisis Semiotika dalam Novel Gadis Pesisir Karya Nunuk Y. Kusmiana. Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMANTIKS). Vol 1 Wulandari, S., & Siregar., E.D. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Peirce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks, dan Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora. Vol 4(1). Prayogi, R., & Ratnasingsih, D. (2020). Ikon, indeks, dan simbol dalam cerpen tiga cerita tentang lidah karya guntur alam. Edukasi Lingua Sastra. Vol 18 (2), pp 21. KBBI.com.Rintin, diakses pada 13 Desember 2023, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/rintih Chudori, L.S. (2009). 9 Dari Nadira. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia.
55 REPRESENTASI KEKUASAAN DALAM CERPEN “MIMPI SEBUAH ISTANA” Rosmitha Juanitasari | 21210141016 PENDAHULUAN Kekuasaan didefinisikan oleh KBBI dalam lima poin. Mencoba merangkum keseluruhan definisi yang diberikan, KBBI mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan untuk mengurus juga memerintah suatu daerah, golongan, atau orang berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuatan fisik dengan tujuan menciptakan kedamaian. Sementara pada nyatanya, kekuasaan tak hanya didapatkan melalui kekuatan fisik atau ketangguhan karakter seseorang. Kekuasaan saat ini dengan mudah didapatkan melalui kekayaan saja. Bahkan pada definisi yang diberikan oleh KBBI, kekuasaan menjadi definisi ketiga. Kekayaan ialah harta benda yang dimiliki seseorang yang memiliki sifat kaya. Seseorang dapat dinilai status sosialnya dengan mudah melalui uang, atau kekayaan yang dimilikinya. Semakin besar kekayaan yang dimiliki seseorang, akan semakin mudah pula jalannya dalam menggapai kekuasaan. Salah satu bukti riilnya ialah lahirnya istilah politik uang. KBBI mendefinisikan politik uang adalah politik dengan menggunakan uang sebagai kekuatannya. Pun tak perlu jauh-jauh sampai ke bidang politik, dalam masyarakat desa, istilah tuan tanah sudah memberikan kekuasaan lebih daripada masyarakat biasa. Seorang tuan tanah yang biasanya memiliki tanah dengan luas yang berhektar-hektar, akan dihormati oleh masyarakat desa lain. Hal ini biasanya disebabkan tuan tanah dengan tanahnya yang sangat luas itu memberikan peluang pekerjaan kepada para
56 masyarakat desa. Lantas, dengan kekayaan yang memberikan manfaat kepada masyarakat desa itu, seorang tuan tanah mampu meraih sebuah posisi dengan kekuasaan yang besar. Contohnya, ketika sebuah desa harus mengambil keputusan mengenai masalah tertentu, pendapat seorang pemilik tanah juga sangat dipertimbangkan oleh masyarakat desa. Dengan mudahnya akses akan kekuasaan melalui uang, maka akan ada dinding tinggi antara orang yang berkuasa dan tidak. Mudahnya, masyarakat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu si kaya dan miskin. Si kaya dengan kekayaannya yang memengaruhi masyarakat, biasanya akan mudah memperoleh akses untuk apapun. Dalam hal negatif misalnya, ketika si kaya melakukan tindakan yang akan membuat ia terjerat hukum, dengan kekayaannya ia dapat dengan mudah menyuap seseorang dalam bidang itu agar tindakannya tak mendapat sanksi apapun. Istilah ―tumpul ke atas, tajam ke bawah‖ tentunya tak lagi asing bagi masyarakat di masa kini. Dominasi dengan kekayaan juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada sebuah keluarga kaya. biasanya mereka akan mempekerjakan seseorang dengan ekonomi yang lebih kecil untuk membantu dalam pekerjaan rumah dan sebagainya. Tak jarang, seseorang yang dipekerjakan oleh si kaya akan mendapat perlakuan semena-mena seperti diskriminasi bahkan parahnya sampai pada kekerasan. Dalam anggapan si kaya, perbuatan yang ia lakukan tak salah, sebab ia telah membayar orang itu. Atau anggapan lain bahwa perlakuan kekerasan yang dilakukan adalah cara untuk mendisiplinkan pekerjanya. Timpangnya akses yang bisa didapatkan antara si kaya dengan si miskin membuat adanya ketidakadilan. Hadirnya ketidakadilan tentunya adalah suatu hal yang sangat miris. Ketidakmerataan pendapatan menjadi salah satu hal yang
57 menyokongnya. Jika ketidakadilan ini tidak dihapuskan dan faktorfaktor yang mendukungnya terus dibiarkan tumbuh, maka ke depannya, ketidakadilan akan menjadi suatu hal yang biasa dan kebiasaan. Melalui karya sastra, para sastrawan mencoba memotret realitas sosial seperti ketidakadilan ini, salah satunya ialah cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖. Cerpen dengan judul ―Mimpi Sebuah Istana‖ ini ditulis oleh Nurillah Achmad. Cerpen ini juga mengandung kekuasaan si kaya dengan pekerjanya yang memiliki taraf ekonomi lebih kecil. Cerita pendek ini menceritakan mengenai Marni dan Khoiruni. Keduanya adalah sepasang ibu dan anak yang hidupnya mengalami kesulitan karena tiada kekayaan yang mereka miliki. Akhirnya Marni menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dikirim ke luar negeri untuk mencukupi kebutuhan hidup keduanya. Marni bekerja menjadi pembantu di rumah Tuan Besar dan Nyonya Besar. Ia mendapat kekerasan baik dari Tuan Besar, juga Nyonya Besar. Tuan Besar tak segan menggunakan kekerasan ketika Marni lupa memberi makan anjingnya. Pukulan dan tamparan didapatkan Marni, bahkan ia diseret oleh Tuan Besar untuk sampai di kandang. Sebab ia harus memberi makan dan membersihkan kandang, ia tak bisa masuk ke dalam rumah karena majikannya mengunci pintu. Lalu ia masih harus mendapat kekerasan ketika Nyonya Besar mendapati Marni belum menyelesaikan pekerjaan menyetrikanya. Nyonya Besar dengan entengnya menggunakan setrika yang telah panas dan ditempelkan ke kulit Marni. Segala kesulitan yang Marni dapatkan harus terus ditahan, sebab Marni ingin membangunkan sebuah istana untuk Khoiruni anaknya. Marni ingin memberikan sebuah istana untuk kenyamanan anaknya. Kenyamanan yang tak pernah Marni bisa berikan kepada anaknya, karena ia bahkan juga tak memiliki kemampuan untuk mengaksesnya. Sementara Khoiruni, ia sangat membenci istana yang
58 diimpikan ibunya untuknya. Ia amat membencinya, karena istana yang membuat ia dan ibunya harus berpisah. Tak berbeda jauh dengan Marni, Khoiruni juga mendapat perlakuan semena-mena dari teman-temannya. Khoiruni terusmenerus diejek oleh teman-temannya karena ibunya adalah TKI. Namun, meski ia terus mengalami perundungan verbal yang diberikan teman-temannya, Khoiruni tetap membenci istana. Khoiruni ingin Marni ada di sampingnya. Ia tak keberatan dengan segala kesulitan yang mereka alami, asal ibunya ada di sampingnya. Tanpa kehadiran ibunya, Khoiruni benci karena ia hanya bisa menunduk, menahan semua ejekan yang diberikan teman-temannya. Terdapat dua bagian (I dan II) dalam cerpen ini. Pada bagian I, menceritakan bagaimana Marni bertahan dengan majikannya yang selalu menyiksanya. Sementara pada bagian II, menceritakan bagaimana Khoiruni merindukan ibunya, dan ia yang hanya bisa menunduk ketika mengalami perundungan verbal oleh temantemannya. Pada masing-masing bagian, baik Marni dan Khoiruni saling menulis surat. Surat-surat yang Marni tulis berfokus pada bagaimana ia akan membangunkan sebuah istana yang hangat untuk anaknya. Namun pada surat Khoiruni, ia menyampaikan kerinduannya kepada ibunya, juga kebenciannya akan istana yang diimpikan ibunya. Untuk mengidentifikasi pesan juga tanda dalam cerpen ini, teori yang akan digunakan adalah semiotika Charles Sanders Piers. Berdasarkan teori semiotika yang dikemukakan oleh C. S. Piers, tanda dibagi menjadi tiga bentuk yaitu ikon, indeks, dan simbol (Prayogi dan Ratnaningsih, 2020:21-22). Ikon adalah hubungan antara tanda dengan acuannya yang memiliki kemiripan. Fungsi dari ikon ialah untuk menerangkan atau memberitahukan suatu objek kepada subjek.
59 Indeks merupakan hubungan antara tanda dengan acuannya yang memiliki kedekatan eksistensial. Dengan indeks, dapat dihubungkan antara tanda sebagai penanda, atau petandanya yang memiliki beberapa sifat, di antaranya ialah nyata, urut, musyabab, dan selalu mengisyaratkan suatu hal. Sementara simbol memiliki pengertian hubungan antara tanda dan acuannya yang memiliki hubungan konvensional. Hubungan antara penanda dan petanda dalam simbol memiliki sifat arbitrer. Penafsir dituntut menemukan hubungan antara penanda dengan petanda melalui cara-cara kreatif dan dinamis. Cakupan analisis cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖ adalah dengan tiga bentuk tanda semiotika oleh C. S. Pierce. Berikut beberapa pertanyaan penelitian yang akan menjadi batas penelitian, di antaranya ialah: 1. Bagaimana tanda berupa ikon dalam cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖? 2. Bagaimana tanda berupa indeks dalam cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖? 3. Bagaimana tanda berupa simbol dalam cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖? HASIL ANALISIS Analisis akan dilakukan sesuai dengan pertanyaan serta batasan penelitian yang telah disebutkan di atas. Ikon dalam cerpen “Mimpi Sebuah Istana” Karya Nurillah Achmad Pada teori Pierce, dikatakan bahwa ikon ialah hubungan antara tanda dengan acuan yang memiliki sifat mirip (Wulandari dan Siregar, 2020:36). Terdapat tiga ikon yang dapat diidentifikasi dari
60 cerpen milik Nurillah Achmad. Ikon tersebut di antaranya ialah istana, gubuk, dan Anak TKI. 1. Ikon Istana sebagai Penanda Mimpi Telah tertera pada judul pula, kata istana digunakan untuk menggambarkan mimpi Marni. Merujuk pada KBBI, istana didefinisikan sebagai rumah kediaman resmi raja atau kepala negara dan keluarganya. Selayaknya rumah yang digunakan oleh seorang pemimpin, maka istana merupakan kediaman yang besar dan megah. Selain megah, tentunya terdapat kenyamanan pula di dalamnya. Hal inilah yang diimpikan Marni untuk anaknya, Khoiruni. Selayaknya istana yang ada, ia ingin membangunkan Khoiruni sebuah istana yang besar, megah, juga nyaman. Marni tak ingin Khoiruni bertahan pada ketidaknyamanan, juga kemiskinan. Istana tersebut diharapkan Marni sebagai tempat berlindung dari segala ketidaknyamanan yang kini dirasakan mereka berdua. Dengan keadaan ekonomi yang dialami Marni sekarang, tentunya istana baru berupa mimpi yang bisa ia janjikan pada Khoiruni. 2. Ikon Gubuk sebagai Penanda Kemiskinan Gubuk memiliki definisi rumah kecil yang biasanya ada di sawah atau ladang, bersifat sementara, dan memiliki citra tak baik. Biasanya, gubuk dibangun dengan dinding dari anyaman bambu, kardus, triplek, atau bahkan plastik. Sementara untuk atapnya biasanya menggunakan rumbia atau genting. Dengan beberapa penggambaran tersebut, gubuk merupakan rumah yang jauh dari kata nyaman, aman, dan baik. Kata gubuk disebutkan Marni dalam suratnya kepada Khoiruni. Ia tak ingin Khoiruni tinggal lagi di gubuk yang tak sama sekali nyaman. Marni menggambarkan rumahnya sebagai gubuk yang kondisinya tak jauh berbeda dengan kandang ayam milik kepala padukuhan. Hal ini menunjukkan bahwa posisi Marni dan
61 Khoiruni adalah sebagai si miskin. Penggambaran keadaan rumah yang laksana gubuk juga menjadi penguat. 3. Ikon Anak TKI sebagai Penanda Status Sosial Tenaga Kerja Indonesia, atau singkatnya TKI adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri. Sementara pengertian yang merujuk pada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004, TKI adalah ―setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah.‖ Saat ini, penyebutan TKI mengalami peyoratif, atau penurunan makna menjadi kurang baik. Penyebutan TKI menjadi lebih spesifik, yaitu hanya pada pekerja di luar negeri yang bekerja sebagai pembantu. Meski nyatanya kata pembantu telah dipositifkan menjadi Asisten Rumah Tangga (ART), tak sedikit orang yang masih memandang rendah pekerjaan ART. Pada akhirnya, status TKI merupakan salah satu status sosial yang rendah di kalangan masyarakat. Realitas sosial ini juga dipotret oleh Nurillah Achmad melalui cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖. Pada bagian kedua, yaitu kisah Khoiruni, ia diejek teman-temannya sebab ibunya yang seorang TKI. Ejekan teman-temannya tak pernah jauh dari sebutan ―Anak TKI‖. Hal ini terlihat dari kutipan di bawah. ―Bah! Anak TKI sedang menulis surat untuk ibunya,‖ seru Anwar yang disambut gelak tawa. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba mereka mulai bernyanyi. ―Anak TKI nulis surat... Anak TKI nulis surat....‖ (Achmad, 2023).
62 Indeks dalam cerpen “Mimpi Sebuah Istana” Karya Nurillah Achmad Indeks adalah hubungan antara tanda dan petanda yang memiliki sifat sebab-akibat (Wulandari dan Siregar, 2020:37). Indeks yang diidentifikasi dalam cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖ berjumlah tiga kalimat. a. Suara teriakan terdengar dari luar. Buru-buru Marni melipat kertas dan menaruhnya ke dalam saku. Kutipan cerpen di atas berada pada bagian pertama, atau kisah Marni. Dalam kutipan tersebut, terdapat tanda berbentuk indeks di dalamnya. Kedua kalimat tersebut berkolerasi satu sama lain. Pada kalimat pertama, Suara teriakan terdengar dari luar merupakan sebab. Sementara pada kalimat kedua, Buru-buru Marni melipat kertas dan menaruhnya ke dalam saku merupakan akibat. Lebih jelasnya, pernyataan pada kalimat pertama tidak akan bermakna tanpa adanya kalimat kedua. Marni tak akan buru-buru melipat kertasnya, jika ia tak mendengar teriakan dari luar. b. Marni menjerit saat seorang lelaki yang tak ia kenal tiba-tiba mendobrak pintu dan berusaha menindihnya. Pada kutipan kedua, terdapat tanda indeks di dalamnya. Tentunya hal ini dibuktikan melalui adanya sebab-akibat dalam kutipan tersebut. Frasa Marni menjerit merupakan unsur akibat, sedangkan unsur akibat, ditunjukkan oleh frasa berikutnya, yaitu saat seorang lelaki yang tak ia kenal tiba-tiba mendobrak pintu dan berusaha menindihnya. Hubungan sebab-akibat dalam kutipan kedua membentuk satu kesatuan yang membentuk makna. Makna dalam kutipan tersebut ialah bahwa penolakan Marni akan kelakuan semena-mena orang tak dikenal itu dengan jeritan yang dikeluarkannya.
63 c. Kelakuan teman sekelasnya baru berhenti manakala guru geografi masuk ruangan. Kutipan ketiga yang diambil dari bagian kedua cerpen, menunjukkan indeks dengan hubungan sebab-akibat di dalamnya. Unsur sebab ditunjukkan pada frasa manakala guru geografi masuk ruangan, lantas diikuti unsur akibat yang ditunjukkan pada frasa sebelumnya, yaitu kelakuan teman sekelasnya baru berhenti. Hubungan sebab-akibat ini juga bisa diidentifikasi melalui cara membolak-baliknya. Keduanya berhubungan, sebab ketika dibalik, makna kalimatnya sama. Manakala guru geografi masuk ruangan, kelakuan teman sekelasnya baru berhenti. d. Sampai akhirnya, ia berhenti melangkah musabab mendengar teriakan seorang lelaki pengembala kerbau yang terbirit-birit mengejar binatang peliharaannya. Kutipan yang mengandung tanda indeks selanjutnya berada pada paragraf terakhir cerpen ini. Tanda indeks memiliki unsur sebab yang ditunjukkan dengan frasa musabab mendengar teriakan seorang lelaki pengembala kerbau yang terbirit-birit mengejar binatang peliharaannya. Sementara unsur akibat berada pada frasa sebelumnya, ia berhenti melangkah. Pada tanda indeks pertama dalam kutipan ini, Khoiruni menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan seorang penggembala kerbau. Kalimat ini berindeks, sebab menjelaskan mengapa sebuah peristiwa terjadi. Simbol dalam Cerpen “Mimpi Sebuah Istana” Karya Nurillah Achmad Simbol memiliki pengertian sebagai hubungan antara tanda dengan acuan yang memiliki makna di luar bentuk perwujudan simbolik itu sendiri (Wulandari dan Siregar, 2020:39). Simbol yang diidentifikasi dalam cerpen ini berjumlah empat, berikut penjelasannya.
64 a. Sorot mata majikannya itu serupa nyala api neraka. Kalimat ini berada pada bagian pertama cerpen, pada paragraf terakhir. Perlawanan yang dilakukan Marni atas pelecehan yang dilakukan orang asing yang mendobrak masuk kamarnya, ternyata membuat orang asing itu kehilangan nyawanya. Orang asing itu menggelinding menuruni tangga setelah tersandung saat mengejar Marni. Di lantai dasar, kepala orang asing itu mengeluarkan darah segar, ia meregang nyawanya. Hal itu diketahui Tuan Besar. Marni yang terkejut akan hilangnya nyawa orang asing itu, tambah terkejut dengan adanya Tuan Besar yang menyaksikan kejadian itu pula. Kemarahan Tuan Besar digambarkan melalui sorot mata yang dikatakan serupa nyala api neraka. Frasa ―nyala api neraka‖ menyimbolkan bahwa perbuatan Marni tidak akan lagi ditolerir oleh Tuan Besar hanya dengan pukulan atau tamparan. Marni melihat hidupnya telah berakhir, sehingga sorot mata Tuan Besar bak nyala api neraka bagi Marni. b. Bukan di negara yang letaknya hanya bisa kulihat di peta dunia yang terpajang di dinding kelas. Pada kutipan kedua, terdapat tanda simbol di dalamnya sebagai penanda jauhnya jarak antara Khoiruni dan Marni. Kutipan ini diambil dari potongan surat Khoiruni kepada Marni. Kalimat ini memiliki mengandung simbol dengan pengambaraan letak negara yang didatangi Marni bekerja begitu jauh. Saking jauhnya, Khoiruni tak pernah bisa mengira seberapa jauh negara tersebut. Khoiruni hanya tahu bahwa seberapa jauh jaraknya melalui peta dunia yang tertempel di dinding kelasnya. c. Biarlah bubungan di rumah kita menghitam lantaran tiap hari disesaki asap tungku yang menguar, ... Potongan kalimat dalam kutipan ketiga ini terletak tepat setelah kutipan kedua. Khoiruni menginginkan ibunya pulang. Ia tak
65 ingin dirinya dan ibunya berjarak. Ia rela salah satu bagian rumahnya, yaitu bubung atau puncak rumahnya menjadi hitam sebab aktivitas tungku yang tak berhenti. Simbol dalam kutipan ini memiliki makna bahwa Khoiruni hanya ingin kehadiran ibunya, tanpa mempedulikan bahwa rumah atau apapun yang ia miliki menjadi olokan. d. Aku mesti merunduk ke arah bumi, ... Pada kutipan terakhir, potongan kalimat ini juga diambil dari surat Khoiruni kepada Marni. Khoiruni menjelaskan bahwa jauhnya jaraknya dengan Marni hanya menciptakan kesedihan dalam hatinya. Bahkan ia harus menahan dalam diam segala olok yang diberikan temannya. ―Merunduk ke arah bumi‖ menandakan bahwa Khoiruni harus menunduk dalam-dalam ke bawah, di mana bumi yang ia pijaki berada. Hal ini menunjukkan bahwa tak ada kepercayaan diri lagi di benak Khoiruni, dan ia hanya bersedih merindukan ibunya yang jauh di negeri lain. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang telah dilakukan menggunakan teori semiotika oleh C. S. Pierce terhadap cerpen ―Mimpi Sebuah Istana‖, ditemukan ikon, indeks, dan simbol. Ditemukan 3 ikon, 4 indeks, dan 4 simbol dalam cerpen milik Nurillah Achmad tersebut. Bentuk ikon yang ditemukan meliputi, 1) ikon istana sebagai penanda mimpi, 2) ikon gubuk sebagai penanda kemiskinan, dan 3) ikon anak TKI sebagai penanda status sosial. Sementara empat indeks yang ditemukan terbukti mengandung hubungan sebab-akibat di dalamnya. Dua indeks ditemukan dalam kalimat pada bagian pertama, yaitu cerita Marni. Sementara dua lainnya ditemukan dalam kalimat yang terdapat di bagian kedua, yaitu cerita Khoiruni. Terakhir, terdapat empat simbol yang ditemukan dalam cerpen meliputi, 1) frasa serupa nyala api
66 neraka, 2) negara yang letaknya hanya bisa kulihat di peta dunia, 3) biarlah bubungan di rumah kita menghitam, dan 4) merunduk ke arah bumi. DAFTAR PUSTAKA Achmad, N. (2023). Mimpi Sebuah Istana. ruangsastra.com. Diakses dari https://ruangsastra.com/31311/mimpi-sebuah-istana/ Prayogi, R., & Ratnaningsih, D. (2020). Ikon, Indeks, dan Simbol dalam Cerpen Tiga Cerita tentang Lidah Karya Guntur Alam. Edukasi Lingua Sastra. Vol 18(2), 20–27. DOI: https://doi.org/10.47637/elsa.v18i2.303 Wulandari, S., & Siregar, E. D. (2020). Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce: Relasi Trikotomi (Ikon, Indeks dan Simbol) dalam Cerpen Anak Mercusuar Karya Mashdar Zainal. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora. Vol 4(1), 29-41. DOI: https://doi.org/10.22437/titian.v4i1.9554
67 REPRESENTASI DUA BUDAYA MELALUI PENAMAAN TOKOH Ayunda Permata Kusumaning Indarto | 21210141017 A. PENDAHULUAN Dalam setiap karya sastra, terdapat banyak tanda yang terkadang tidak disadari maknanya. Maka, muncullah bidang ilmu semiotika yang mengkhususkan kajian pada tanda. Tanda merupakan sesuatu yang mewakili hal lain seperti pemikiran, pengalaman, gagasan, dan lain sebagainya (Nurgiyantoro, 2019: 67). Dalam karya sastra bahasa tidak hanya dikaji pada tataran pertama, namun hingga tataran kedua (Cullen melalui Nurgiyantoro, 2019: 66) Pada kajian semiotika, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi bahan kajian. Salah satunya naming atau penamaan tokoh. Penamaan tokoh dalam sebuah cerita bukannya tanpa pertimbangan sebab nama tokoh tentunya mewakili suatu hal yang ingin disampaikan oleh sang penulis. Seperti halnya sastrawan, Umar Kayam yang kerap menggunakan nama tokoh yang disesuaikan dengan latar belakang budaya tokohnya. Dalam cerpen ‖Seribu Kunang-Kunang di Manhattan‘, Umar Kayam menggunakan nama Marno dan Jane. Kedua nama tersebut sangat kontras karena sangat terasa perbedaan budaya yang dibawa oleh nama tersebut. Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen dengan judul yang sama Seribu Kunang-Kunang di Manhattan yang diterbitkan oleh Pustaka Jawa pada tahun 1972. Kumpulan cerpen tersebut kemudian diterbitkan ulang oleh Grafiti Press di tahun 2003.
68 Cerpen ―Seribu Kunang-Kunang di Manhattan‖ menceritakan tentang Marno, seorang laki-laki asal Indonesia yang mengadu nasib di New York, tempatnya kota Manhattan. Ia bekerja jauh tentunya untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya di desa. Akan tetapi, di negeri tetangga itu, Marno justru bermain hati dengan perempuan asal New York bernama Jane. Malam itu, Marno sedang berada di apartemen milik Jane. Mereka berdua menikmati malam dengan ditemani segelas alkohol. Dalam keadaan agak mabuk, mereka berdua mulai melantur tentang berbagai macam hal. Jane membicarakan tentang mantan suaminya, central park zoo, sampai mainan kekasih yang ia miliki sat kecil. Sedangkan Marno tidak begitu banyak bicara, hanya sekali membicarakan tentang kunang-kunang yang belum pernah dilihat Jane. Dalam cerpen ‖Seribu Kunang-Kunang di Manhattan‖ terlihat bagaimana kedua tokoh tersebut memiliki latar belakang budaya yang sangat berbeda. Hal tersebut juga tergambar pada penamaan tokoh. Oleh karena itu, penamaan tokoh atau naming sebagai representasi dua budaya tersebut akan dianalisis lebih lanjut. B. ISI a. Marno Marno merupakan sebuah nama yang umum digunakan oleh orang Jawa. Nama tersebut sangat merepresentasikan nama khas Indonesia, khususnya Jawa yang umumnya tinggal di pedesaan. Melalui naming Marno, Umar Kayam sebagai penulis seakan ingin menonjolkan budaya Indonesia. Melalui nama ‘Marno‘, ia ingin menampilkan bagaimana orang Indonesia harus menghadapi perbedaan budaya di negara barat.
69 Nama tokoh Marno sesuai dengan watak dan sikap yang ditampilkan dalam cerpen ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan‘. Marno sebagai orang desa yang merantau ke negeri orang memperlihatkan bagaimana budaya-budaya yang ia miliki sebagai orang Indonesia, tentunya sangat berbeda dengan budaya Barat. Salah satunya kebiasaan minum alkohol yang tergambar pada kutipan-kutipan berikut. Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak. (Kayam, 2003: 1) ”Tommy, suamiku, bekas suamiku, suamiku, kau tahu...Eh, maukah kau membikinkan aku segelas...ah, kau tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri lagi ini..Uuuuuup….” (Kayam, 2003: 1) Pada kutipan tersebut, Marno sedang meminum segelas scotch dan menambahkan air dan es ke dalam gelasnya itu. Meskipun meminumnya, Marno sebenarnya tidak begitu terbiasa dengan minuman beralkohol, hal ini terlihat dari narasi ‘kepalanya terasa tidak betapa enak‘. Di Indonesia, tidak ada budaya minum minuman beralkohol. Akan tetapi Marno harus menyesuaikan diri karena saat ini dirinya sedang berada di negara barat. Perbedaan budaya minum alcohol juga terlihat pada kutipan kedua. Pada kutipan tersebut, Jane meminta pada Marno untuk membuatkannya segelas martini, namun Jane langsung menyadari bahwa Marno tidak bisa membuat Martini karena selalu bingung dengan campurannya. Ini menunjukkan bagaimana Marno memang tidak terbiasa meracik minuman beralkohol karena memang tidak ada hal seperti itu dalam budaya Indonesia.
70 Perbedaan budaya juga terasa pada saat Marno memperhatikan gedung pencakar langit dari jendela apartemen Jane. Saat melihat keluar, Marno justru teringat pada kunang-kunang yang ada di sawah di desanya. Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunangkunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa. (Kayam, 2003: 3) Pada kutipan tersebut, terlihat bagaimana Marno yang tinggal di desa lebih terbiasa dengan sawah dan pemandangan alam dibanding pemandangan gedung pencakar langit. Saat melihat lampu-lampu berkilau dari gedung-gedung itu, yang ada dalam pikiran Marno justru cahaya kunang-kunang yang sering dilihatnya di sawah. Perbedaaan budaya lainnya juga tampat pada presepsi tentang mainan saat kecil. Menurut Jane, mainan saat kecil yang umum adalah boneka dan semacamnya. Namun, bagi Marno yang tinggal di desa, kerbau milik kakeknya adalah mainannya saat kecil. ”Waktu kau masih kecil, pernahkah kau punya mainan kekasih?” ”Ya” ”Mainan yang begitu kau kasihi hingga ke mana pun kau pergi selalu harus ikut?” ”Aku tidak ingat lagi, jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Jilamprang.” ”Itu bukan mainan, itu piaraan.” ”Piaraan bukankah untuk mainan juga?” (Kayam, 2003: 9)
71 Naming tokoh Marno merupakan sebuah representasi budaya timur yang kemudian juga tampil pada watak dan sikap tokohnya. Oleh karenanya, nama yang identik dengan nama orang Jawa tersebut menampilkan sosok tokoh yang masih memegang erat budaya dan kebiasaan daerahnya. Meskipun ia tetap harus terus beradaptasi di negara tempat ia merantau. b. Jane Nama Jane memiliki banyak arti dalam berbagai bahasa. Salah satunya dalam bahasa Afrika-Amerika, Jane memiliki arti ceria dan penuh kenyakinan serta menyukai petualangan dan hiburan. Hal tersebut sesuai dengan watak tokoh Jane yang digambarkan dalam cerpen ‖Seribu Kunang-Kunang di Manhattan‖. Dalam cerpen tersebut Jane yang meskipun sedang dalam pengaruh alkohol, terdengar ceria menceritakan tentang banyak hal pada Marno. Hal tersebut juga tergambar pada kutipan berikut, Dan Jane, seperti kijang yang mendapat kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh, melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan. (Kayam, 2003: 10) Pada kutipan di atas, Jane membelikan piayama untuk Marno dan ia sangat bersemangat menunjukkan piyama itu. Oleh karenanya, Jane melompat-lompat sebagai tanda bahwa ia sangat senang. Ini juga menunjukkan bagaimana Jane ceria dalam menjalani hidupnya. Nama Jane sendiri merupakan sebuah nama yang cukup populer digunakan di Amerika Serikat. Maka tidak mengherankan jika Umar Kayam menggunakan nama tersebut sebagai nama tokohnya. Hal ini ditujukan untuk menggambarkan negara Barat
72 yang akan langsung muncul melalui nama Jane, juga sebagai kontras budaya dengan nama Marno yang identik dengan nama Jawa. Nama Jane merupakan representasi budaya barat yang ingin ditampilkan oleh Umar Kayam. Maka, perwatakan pada tokoh Jane juga dibuat mewakili budaya-budaya Barat. Seperti kebiasaan Jane minum minuman beralkohol yang tergambar pada kutipan-kutipan berikut, Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas Martini. (Kayam, 2003: 1) Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke daput. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentangdentang. (Kayam, 2003: 2) Jane menghirup martini-nya empat hingga lima kali dengan pelanpelan. Dia sendiri tidak tahu sudah gelas yang keberapa martini yang dipegangnya itu. (Kayam, 2003: 4) Minuman beralkohol bukan sesuatu yang umum di Indonesia, akan tetapi hal tersebut lumrah di negara barat. Bahkan, minuman beralkohol menjadi hal wajib dalam acara-acara penting. Jane, sebagai orang Amerika tentunya sangat terbiasa dengan minuman tersebut. Maka saat bersantai berdua dengan Marno yang disajikan adalah minuman beralkohol. Perbedaan budaya juga terasa pada ketidaktahuan Jane mengenai kunang-kunang yang dijelaskan oleh Marno. Yang Jane tahu hanya lampu-lampu bercahaya yang terpancar dari geung-gedung tinggi di sekitar apartemennya.
73 ”Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.” ”Kunang-kunang?” ”Ya.” ”Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat.” ”Mereka adalah lampu suar kecil-kecil sebesar noktah.” (Kayam, 2003: 8) Pada kutipan tersebut terlihat bagaimana Jane tidak mengetahui bagaimana wujud kunang-kunang. Jane tinggal di Manhattan, sebuah daerah urban yang padat dan dipenuhi gedung-gedung tinggi sehingga tidak ada tempat baginya untuk melihat kunang-kunang yang habitatnya di sekitar hutan, sungai, bahkan rawa-rawa. Berbeda dengan Marno yang memang tinggal di desa, tempat kunang-kunang masih bisa ditemukan di mana saja. Kemudian terdapat juga perbedaan presepsi terhadap mainan saat mereka kecil dulu. Bagi Jane, mainan yang ia mainkan saat kecil adalah boneka. Namun, Marno tidak memiliki pemikiran yang sama karena dulu ia hidup di desa sehingga tidak terbiasa dengan mainan sejenis milik Jane. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut, ”Aku tidak ingat lagi, Jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Jilamprang.” ”Itu bukan mainan, itu piaraan.” ”Piaraan bukankah untuk mainan juga?”
74 ”Tidak selalu. Mainan yang paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom.” ”Siapa dia?” ”Dia boneka hitam yang jelek sekali rupanya. Tetapi aku tidak akan pernah bisa tidur bila Uncle Tom tidak di sampingku.” (Kayam, 2003: 9) Beberapa kebiasaan, watak, dan sikap Jane merepresentasikan bagaimana budaya barat yang memang sudah mendarah daging. Hal ini juga sesuai dengan naming yang diberikan pada tokoh yang merepresentasikan budaya barat tersebut yakni, Jane. C. KESIMPULAN Naming pada tokoh dalam cerpen ‖Seribu Kunang-Kunang di Manhattan‖ merupakan representasi latar belakang budaya berbeda dari kedua tokoh. Nama Marno identik dengan nama orang Jawa, maka ia ditampilkan sebagai sosok perantau yang masih harus terus beradaptasi dengan budaya barat. Sedangkan nama Jane merupakan nama populer di Amerika Serikat, penggunaan nama tersebut dimaksudkan untuk menampilkan kontrasnya sebagai orang barat. Marno dan Jane yang merupakan sepasang kekasih dengan latar belakang budaya yang berbeda itu harus saling menghadapi perbedaan. Beberapa perbedaan budaya yang cukup menonjol dalam cerpen ‖Seribu Kunang-Kunang di Manhattan‖ tersebut diantaranya perbedaan minum alkohol yang lebih identik dengan budaya barat. Perbedaan budaya juga terlihat dari ketidahtahuan Jane mengenai kunang-kunang. Jane yang tinggal di kota lebih terbiasa dengan cahaya di gedung pencakar langit, sedangkan Marno yang hidup di desa lebih sering melihat kunang-kunang di sawah di desannya.
75 Terdapat juga perbedaan presepsi Marno dan Jane mengenai mainan yang dimainkan saat kecil. Menurut Jane, mainan yang umum adalah boneka atau semacamnya. Namun, bagi Marno yang terbiasa bermain dengan kerbau kakeknya, binatang ternak juga merupakan mainan baginya. Perbedaan kebudayaan yang dirasakan oleh tokoh dalam cerpen ‖Seribu Kunang-Kunang di Manhattan‖ sesuai dengan kontras pada naming kedua tokoh. Artinya, tujuan dari penamaan tokoh adalah menampilkan budaya timur dan barat yang memang sangat berlainan. DAFTAR PUSTAKA Ensiklopedia Sastra Indonesia. (2016). Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Ensiklopedia Kemdikbud. Diakses dari https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Seribu_Ku nang-Kunang_di_Manhattan Kayam, U. (2003). Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti Nurgiyantoro, B. (2019). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
76 CITRA PEMIMPIN DALAM CERPEN “KOTA KAMI” KARYA ILHAM WAHYUDI Rahil Muhayya Ramadhana | 21210141019 PENDAHULUAN Situasi sosial politik beberapa tahun terakhir ini sangat panas. Konflik sosial politik terus terjadi di berbagai negara belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Hal ini membuat masyarakat dan pemerintah semakin sensitif jika berbicara tentang sosial politik. Maka dari itu, fakta-fakta sosial politik ini dapat dijadikan dasar dalam membuat sebuah karya sastra. Karya sastra sebagai miniatur kehidupan digunakan pengarangnya untuk menampilkan realitas sosial melalui kisah tokoh-tokoh yang ia ciptakan. Termuat dalam teori kreasi yang dikemukakan Aristoteles, sebuah karya memang berangkat dari kenyataan, namun ada ide dan proses kreatif yang dilakukan seniman dalam menciptakan karya tersebut. Ide-ide itu berasal dari pengamatan seniman tentang lingkungan sosial dan kondisi alam sekitarnya (melalui Wiyatmi, 2013). Pada dasarnya, karya sastra menyajikan berbagai topik persoalan di dalamnya. Yang semuanya beranjak dari gejala sosial yang ada di masyarakat. Fenomena yang terjadi di lingkungan sosial diadaptasi menjadi sebuah karya yang nantinya akan tersimpan sebagai dokumen sejarah pemikiran manusia (Wurianto, 1997). Sastra menjadi wahana bagi pengarang untuk menyalurkan kritiknya terhadap apa yang ia lihat, termasuk gejala sosial politik yang terjadi di sekelilingnya.
77 Karya sastra yang dihasilkan dapat menunjukkan persepsi pengarang dalam melihat fenomena sosial politik yang ada. Meski begitu, sastra tidak serta-merta menjadi alat propaganda, tetapi ia setara dengan muatan lainnya seperti roman, religi, patriotisme, dan sebagainya. Ia menjadi representasi dari pemahaman atas komposisi struktur sosial masyarakat (Wurianto, 1997). Sastra selalu mewakili nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Maka dari itu, perlunya menaruh atensi pada sisi sosial politik yang berusaha dihadirkan pengarang di dalam karya tersebut. Yang dalam hal ini disajikan melalui isi, tema, dan unsur sosio-politik dalam karya. Isi dan muatan karya sastra dapat dikaji sebagai sebuah tanda, objek, dan interpretasi. Seperti yang disampaikan Peirce (melalui Asriningsari & Umaya, 2010), bahwa semiotika menggabungkan tiga hal tersebut menjadi suatu tindakan, pengaruh, dan kerjasama. Peirce percaya bahwa manusia berpikir dalam tanda. Tanda dianggap sebagai sebuah tanda jika representatif, dapat ditangkap, merujuk dan mewakili penerima tanda (Asriningsari & Umaya, 2010). Dalam menilik karya sastra sebagai sebuah tanda, pembaca perlu menemukan gagasan tersembunyi yang dihadirkan pengarang dalam karya tersebut. Gagasan dan ide yang merepresentasikan penerima tanda, yakni realitas sosial politik yang ada di masyarakat. Banyak sekali pengarang yang memasukkan kenyataan yang ada di masyarakat ke dalam karyanya, baik secara eksplisit maupun implisit. Salah satu karya yang menarik untuk dikaji adalah cerpen karya Ilham Wahyudi yang berjudul ―Kota Kami‖. Cerpen ―Kota Kami‖ pertama kali diterbitkan oleh Suara Merdeka pada 13 April 2023. Cerpen ini kemudian dipublikasikan ulang oleh Ruang Sastra pada 23 April 2023, dilengkapi dengan ilustrasi oleh Nugroho DS. Cerpen ―Kota Kami‖ bercerita tentang tokoh ―Aku‖ yang menggambarkan kondisi kota yang ia tinggali.
78 Kota itu pada mulanya adalah kota yang tentram dan sejahtera. Masyarakatnya hidup aman dan damai. Lalu ketika terjadi kekosongan pemimpin, kota itu mulai dikuasai kelompok kasat mata yang diyakini merupakan orang-orang elite yang rakus dan tamak. Kota menjadi tidak terkendali. Masyarakatnya mulai curiga dan saling benci sehingga terjadilah perpecahan di kota itu. Pada akhirnya tokoh ―Aku‖ sangat berharap seseorang mengirimkan bantuan ke kota itu, agar kota tersebut bisa kembali damai dan sejahtera seperti sebelumnya. Artikel ini bertujuan untuk menemukan gagasan sosial politik yang ditampilkan Ilham Wahyudi. Isi ―Kota Kami‖ akan ditilik untuk menemukan gejala dan konflik sosial politik yang menjadi tanda. Selain itu, akan dibahas mengenai citra pemimpin di dalam cerpen ini. Citra pemimpin yang digambarkan tersebut kemudian ditarik menuju fakta yang ada di masyarakat. PEMBAHASAN Penulis memiliki cara yang berbeda-beda dalam menggambarkan tokoh yang ia ciptakan. Pada mulanya, masyarakat dalam ―Kota Kami‖ digambarkan sebagai masyarakat yang hidup makmur, aman, dan sejahtera. Mereka adalah contoh kehidupan bermasyarakat yang ideal. Bisa dikatakan sempurna. Semua aspek sosial, ekonomi, pendidikan, dan politik terpenuhi dengan baik. Kondisi masyarakatnya digambarkan secara gamblang oleh tokoh ―Aku‖. Dari segi ekonomi, ―Kota Kami‖ tidak mengalami persoalanpersoalan ekonomi seperti kelangkaan minyak, permasalahan iuran asuransi, dan kenaikan harga barang. Kehidupan sosial masyarakatnya tentram tanpa ada demo dari mahasiswa atau buruh. Warga ―Kota Kami‖ juga tertib dan taat aturan. Mereka membayar
79 pajak tepat waktu dan rutin melakukan kegiatan sosial, seperti donor darah. Jalan-jalan di kota kami juga sangat mulus dan lapang. Persis seperti kulit bayi yang baru lahir. Sehingga pemerintah kota kami berani menjamin seluruh warga tidak akan mengalami kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat lubang-lubang atau jalanan yang tidak rata (Wahyudi I. , 2023). Hal ini semakin didukung dengan fasilitas pendidikan dan fasilitas umum yang memadai. Seluruh aspek kehidupan yang terpuaskan membuat tingkat kesejahteraan masyarakat ―Kota Kami‖ tinggi. Keadaan awal ―Kota Kami‖ memang berbanding terbalik dengan realita hidup masyarakat yang sering kita temui saat ini. ―Kota Kami‖ adalah sebuah bentuk ironi yang berusaha disampaikan Ilham Wahyudi terhadap kenyataan yang terjadi di masyarakat. Tokoh ―Aku‖ dalam cerpen ini percaya bahwa semua konflik yang terjadi di ―Kota Kami‖ disebabkan karena tidak tampaknya peran pemimpin di kota itu, yang dalam hal ini adalah wali kota yang baru terpilih. Seperti pada kutipan berikut: Dan kemerosotan itu murni akibat tidak adanya pemimpin di kota kami (Wahyudi I. , 2023). Wali kota hanya sebuah posisi yang ditempati pria berdasi yang duduk diam tanpa berlaku sewajarnya pemimpin yang bertanggung jawab. ―Kekosongan‖ pemimpin memicu lahirnya sekelompok orang yang mengambil alih peran pemimpin di kota itu. Kelompok ini diyakini sebagai orang-orang elite yang rakus dan tamak. Akhirnya kota dan seisinya dikendalikan oleh kelompok kasat mata ini.
80 Tokoh pemimpin, wali kota yang saat ini menduduki kursi pemimpin, merasa terancam dan takut posisinya lengser. Maka ia membentuk sekelompok pengadu domba untuk memperkeruh suasana. Saat itulah ia akan muncul bak pahlawan, bertindak sebagai penengah. Sebuah keputusan yang tak bijaksana. ―Kekosongan‖ pemimpin yang dimaksud pada bagian ini adalah pemimpin yang kehadirannya tidak dirasakan masyarakatnya. Pemimpin yang ada, tetapi peran dan fungsinya nihil. Pemimpin yang kedudukannya hanya formalitas belaka dan tidak bertanggung jawab. Fenomena semacam ini merupakan kondisi yang berbahaya dan sepatutnya dihindari. Pemimpin yang tidak cakap berpotensi mempengaruhi seluruh susunan kehidupan masyarakatnya. Sebab pemimpin adalah elemen yang penting dalam suatu tatanan masyarakat. Bahkan dalam suatu kelompok belajar, sosok pemimpin diperlukan agar kelompok belajar tersebut dapat berjalan dengan terarah. ―Kekosongan‖ pemimpin dapat memicu disintegrasi dalam sistem kemasyarakatan. Seperti yang terjadi dalam ―Kota Kami‖, sosok wali kota hanya figuran semata, bertindak sebagai tokoh yang memegang peran yang tidak berarti. Ia bahkan bertindak egois demi mengamankan kedudukannya sendiri. Wali kota pada periode kali ini sangat takut kekuasaannya yang sesungguhnya palsu lengser. Dia juga menciptakan sebuah kawanan yang bertugas membuat suasana kebatinan warga kota kami menjadi saling curiga dan saling membenci (Wahyudi I. , 2023). Hal itu menyebabkan kondisi kota terpecah belah. Keadaan menjadi tidak kondusif dan mempengaruhi seluruh tatanan kota. Kericuhan terjadi di mana-mana. Warga kota mulai mengabaikan hal-hal penting dan sibuk meributkan hal-hal receh. ―Kota Kami‖
81 yang semula damai dan sejahtera, kini jatuh dalam jurang kehancuran sebab dipimpin seorang wali kota figuran. Ironis sekali. Gagasan ini dibuat Ilham Wahyudi untuk menunjukkan bahwa seorang pemimpin memiliki peranan yang penting dalam stabilitas hidup bermasyarakat. Kehidupan tanpa aturan dan kekuasaan yang semena-mena menjadi ancaman serius. ―Kekosongan‖ semacam ini dapat menimbulkan ketidakberaturan dan kemunduran. Maka dari itu, diperlukan sosok pemimpin yang mampu bertanggung jawab atas kekuasaannya. Pemimpin yang dapat menegakkan aturan agar tercipta lingkungan bermasyarakat yang harmoni. Selain ―kekosongan pemimpin‖, Ilham Wahyudi juga memasukkan konflik masyarakat ke dalam cerpen ini. Konflik merupakan pola interaksi yang akan selalu terjadi dalam masyarakat yang dinamis. Konflik terjadi akibat dua sudut pandang yang tidak menemukan titik temu yang sama. Ketidakcocokan ini dapat menjadi sesuatu yang positif maupun negatif. Seperti yang disampaikan Fisher via (Komarudin & Amran, 2020) dalam teori sumber politik, teori hubungan masyarakat, konflik merupakan pola interaksi yang timbul karena kecurigaan dan perselisihan antar dua kelompok masyarakat. Isu sosial semacam ini akan mempengaruhi seluruh anggota masyarakat. Permusuhan akan berdampak pada banyak aspek. Setiap gejala sosial menjadi dampak sekaligus penyebab dari gejala sosial yang lain. Satu aspek akan berpengaruh pada aspek yang lain. Seperti yang terjadi di ―Kota Kami‖. Keributan demi keributan yang dipantik kawanan itu akhirnya berhasil membuat tensi warga kota kami semakin tinggi. Setiap hari ada saja laporan kepada pihak yang berwajib dari satu
82 kelompok warga kepada kelompok warga lain yang terpancing umpan kawanan pengadu domba (Wahyudi I. , 2023). Hubungan sosial masyarakat pun mengalami kemerosotan. Kecurigaan dan kebencian menjalar di seluruh sudut kota. Semua kalangan masyarakat di ―Kota Kami‖ mulai bergosip tentang suasana kota yang sudah tidak terkendali. Mereka tidak dapat melawan sebab musuh yang mereka hadapi tak berwujud dan tak pernah muncul ke permukaan. Wajar jika konflik terjadi dalam sebuah masyarakat, tetapi konflik ada agar masyarakat saling memahami dan bersikap toleransi terhadap sesama. Dewasa ini, kita melihat ada banyak sekali bentrok antarkelompok yang muncul ke permukaan. Masyarakat saling membenci dan menimbulkan pertikaian hanya karena hasutan dari pihak ketiga. Konfrontasi yang sengaja dibuat untuk memecah-belah keteraturan hidup masyarakat. Permusuhan semacam ini dapat merusak tatanan hidup masyarakat hingga hilangnya rasa toleransi dan kedamaian yang sebelumnya ada. Hal itulah yang berusaha disampaikan Ilham Wahyudi melalui ―Kota Kami‖. SIMPULAN Swingewood dalam (Wahyudi T. , 2013) mengatakan bahwa karya sastra memanglah cermin kehidupan yang memuat segala fenomena yang terjadi di masyarakat. Namun sebagai produk estetis, karya sastra lebih daripada itu. Seperti yang dilakukan Ilham Wahyudi yang berusaha menyajikan satire lewat cerpen ―Kota Kami‖. Pada bagian perkenalan ia menampilkan kehidupan masyarakat yang ideal, di mana semua aspek kehidupan manusia tercukupi dengan baik. Sempurna semua bagiannya. Namun kemudian, ―Kota Kami‖ yang ditinggali tokoh ―Aku‖ dilanda suasana yang tidak mengenakkan. Kota yang selama ini mereka
83 tinggali mendadak berubah. Konflik antar masyarakat mulai terjadi. Hal ini karena masyarakat dipecah-belah oleh sekelompok pengadu domba yang menyebarkan berita-berita palsu. Permusuhan semacam ini dapat merusak tatanan hidup masyarakat hingga hilangnya rasa toleransi dan kedamaian yang sebelumnya ada. Hal ini semakin diperparah dengan kekosongan pemimpin yang terjadi di ―Kota Kami‖. Ilham Wahyudi menyajikan sindiran terhadap unsur sosial dan politik sekaligus. Permainan kotor ―mereka‖ yang berkuasa mampu memberi dampak hebat bagi pola interaksi masyarakat dan seluruh tatanannya. Gagasan besar dalam ―Kota Kami‖ adalah disintegrasi yang terjadi dalam masyarakat disebabkan oleh hilangnya peran pemimpin dalam sebuah wilayah. Sindiran-sindiran tentang kehidupan masyarakat ideal pun tak luput dari jangkauan isi ―Kota Kami‖. DAFTAR PUSTAKA Asriningsari, A., & Umaya, N. M. (2010). Semiotika: Teori dan Aplikasi pada Karya Sastra. Semarang: IKIP PGRI Semarang Press. Komarudin, U., & Amran, A. (2020). Sistem Sosial dan Politik Indonesia. Jakarta: PT Pencerah Generasi Antarbangsa. Wahyudi, I. (2023, April 23). Kota Kami. Retrieved from ruangsastra.com: https://ruangsastra.com/30640/kota-kami2/ Wahyudi, T. (2013). Sosiologi Sastra Alan Swingewood Sebuah Teori. Jurnal Poetika. Vol 1, No 1, pp. 55-61. https://jurnal.ugm.ac.id/poetika/article/view/10384/7839. Wiyatmi. (2013). Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Kanwa Publisher. Wurianto, A. B. (1997). Sastra dan politik (Menengok Kembali Kearifan Pemikiran atas Kebenaran). Bestari. 13-17.
84 https://media.neliti.com/media/publications/242751-sastradan-politik-506cc258.pdf.
85 CITRA TOKOH DALAM CERPEN “SAKSI MATA” SEBAGAI REPRESENTASI KEBEBASAN BERPENDAPAT DAN PENEGAKAN KEADILAN DI INDONESIA Yudesti Wulan Hapsari | 21210141020 PENDAHULUAN Kebebasan berpendapat menjadi isu yang terus hangat dibahas sejak era reformasi 1998. Hal ini diasumsikan muncul akibat adanya peristiwa traumatis yang dialami masyarakat Indonesia pada masa rezim Orde Baru. Terlebih pada peristiwa penangkapan, pengurungan, dan penghilangan nyawa yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakat yang dianggap berhubungan dengan organisasi komunis, PKI, pada tahun 1963 hingga sepanjang masa berkuasanya rezim Orde Baru. Adanya peristiwa serupa yang dilakukan pemerintah kepada rakyat yang dianggap vokal maupun keras dan berbahaya juga membuktikan minimnya kebebasan berpendapat pada era tersebut. Selain itu, terjadinya proses kudeta presiden yang terjadi pada tahun 1998 yang bermuara pada peristiwa berdarah, Mei '98 memperdalam goresan luka traumatis pada masyarakat Indonesia. Hal traumatis inilah yang sering kali menjadi inspirasi baik bagi para wartawan maupun sastrawan untuk mengungkap kisah yang ada di baliknya. Tercatat sederet judul karya sastra Indonesia baik dalam bentuk novel, cerpen, hingga puisi yang mencatut kekejaman rezim Orde Baru, terutama dalam hal kebebasan berpendapat, sebagai konflik inti maupun konflik pendamping dalam karya yang diproduksi. Merebaknya topik terkait rezim Orde Baru dalam karya sastra tidak hanya berlaku pada era reformasi saja. Namun, topik tersebut masih terhitung menarik dan segar bagi
86 generasi muda Indonesia hari ini, yakni Generasi Milenial dan Generasi Z. Kebebasan berpendapat yang dijunjung tinggi sejak era reformasi didukung dengan perkembangan teknologi dan menghasilkan internet dan berbagai media sosial sebagai perwujudan era globalisasi. Menipisnya jarak antara sumber informasi dan penerimanya membuat masyarakat lebih mudah menyebarkan maupun mendapatkan informasi yang diinginkannya. Hal ini membawa dua dampak bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang saling berkontradiksi satu sama lain. Di satu sisi, berkembangnya media sosial di tengah masyarakat memang mendukung setiap individu untuk mengungkapkan pendapatnya dengan mudah, murah, dan bebas. Namun, di sisi lain, perkembangan ini membawa dampak buruk berupa banyaknya berita bohong yang beredar di masyarakat, hingga rasa tidak nyaman dan ketersinggungan yang timbul akibat kebebasan berpendapat tanpa batas. Kehadiran dampak buruk penggunaan media sosial memicu gerak pemerintah hingga menghasilkan Undang-Undang ITE. Adanya UU ITE yang diharapkan dapat melindungi masyarakat dari berbagai macam fitnah dan berita bohong lainnya justru dipandang sebagai kekang transparan oleh masyarakat pengguna media sosial. Asumsi ini semakin didukung dengan keberadaan pasal-pasal karet yang menghadirkan kesan ambigu dan dianggap mudah dibelokkan oleh para pemangku kepentingan. Namun, di luar itu, penyerangan fisik secara sembunyisembunyi maupun terang-terangan masih sering terjadi pada pihak oposisi pemangku kepentingan. Hal ini terlihat jelas dalam salah satu karya besar Seno Gumira Adjidarma, yaitu cerpen ―Saksi Mata‖. Cerpen ini terbit dalam buku antologi cerpen dengan judul sama, yakni Saksi Mata. Buku Saksi Mata diterbitkan oleh penerbit
87 Bentang pada tahun 2016. Dalam cerpen ―Saksi Mata‖, Ajidarma (2016) menyajikan dua tokoh utama, yakni Saudara Saksi Mata, dan Bapak Hakim Yang Mulia. Sesuai dengan judulnya, cerpen ―Saksi Mata‖ mengisahkan tentang seorang saksi mata yang mencoba memberikan kesaksiannya di pengadilan. Namun, seseorang terus berusaha mencegah tokoh Saudara Saksi Mata agar tidak dapat bersaksi di pengadilan lagi. Dalam esai ini akan dijelaskan wujud kekerasan fisik yang dialami oleh tokoh Saudara Saksi Mata sebagai metafora kebebasan berpendapat dan penegakan keadilan di Indonesia. HASIL 1. Metafora Kebebasan Berpendapat 1.1. Mata dicungkil (Buta) Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu. (Ajidarma, 2016). “Saudara Saksi Mata.” “Saya Pak.” “Di manakah mata saudara?” “Diambil orang Pak.” “Diambil?” “Saya Pak.” “Maksudnya dioperasi?” “Bukan Pak, diambil pakai sendok.” “Haa? Pakai sendok? Kenapa?”
88 “Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.” (Ajidarma, 2016). “Coba ceritakan apa yang dilihat mata saudara yang sekarang sudah dimakan para penggemar tengkleng itu.” Saksi Mata itu diam sejenak. Segenap pengunjung di ruang pengadilan menahan napas. “Ada beberapa orang Pak.” “Berapa?” “Lima Pak.” “Seperti apa mereka?” “Saya tidak sempat meneliti Pak, habis mata saya keburu diambil sih.” (Ajidarma, 2016). 1.2. Lidah Dicabut (Bisu) Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut. (Ajidarma, 2016). 2. Metafora Penegakan Keadilan 2.1. Diabaikannya Korban Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu. Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dengan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap
89 sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu dari segala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas. (Ajidarma, 2016). Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman. Tapi orang-orang tidak melihatnya. (Ajidarma, 2016). Ruang pengadilan itu terasa sumpek. Orang-orang berkeringat, namun mereka tak mau beranjak. Darah di halaman mengalir sampai ke tempat parkir. Hakim meneruskan pertanyaannya. (Ajidarma, 2016). Darah yang mengalir telah sampai ke jalan raya. (Ajidarma, 2016). Darah masih mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya sampai kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun, ajaib, tiada seorang pun melihatnya. (Ajidarma, 2016). 2.2. Disembunyikannya Kebenaran Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang
90 berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. Darah mengalir memenuhi ruang pengadilan sampai luber melewati pintu menuruni tangga sampai ke halaman. Tapi orang-orang tidak melihatnya. (Ajidarma, 2016). “Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?” “Mereka berlima Pak.” “Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?” “Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.” (Ajidarma, 2016). Dengan sisa semangat, sekali lagi ia ketukkan palu, namun palu itu patah. Orang-orang tertawa. Para wartawan, yang terpaksa menulis berita kecil karena tidak kuasa menulis berita besar, cepat-cepat memotretnya. Klik-klik-klikklik-klik! Bapak Hakim Yang Mulia diabadikan sedang memegang palu yang patah. (Ajidarma, 2016). Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam Ninja mencabut lidahnya–kali ini menggunakan catut. (Ajidarma, 2016). 2.3. Ketidaksadaran Korban Atas Pelanggaran Keadilan yang Menimpanya
91 “Ngomong-ngomong, kenapa saudara diam saja ketika mata saudara diambil dengan sendok?” “Mereka berlima Pak.” “Saudara kan bisa teriak-teriak atau melempar barang apa saja di dekat saudara atau ngapain kek supaya tetangga mendengar dan menolong saudara. Rumah saudara kan di gang kumuh, orang berbisik di sebelah rumah saja kedengaran, tapi kenapa saudara diam saja?” “Habis terjadinya dalam mimpi sih Pak.” (Ajidarma, 2016). “Saudara Saksi Mata tadi mengatakan terjadi di dalam mimpi. Apakah maksud saudara kejadiannya begini cepat seperti dalam mimpi?” “Bukan Pak, bukan seperti mimpi, tapi memang terjadinya dalam mimpi, itu sebabnya saya diam saja ketika mereka mau menyendok mata saya.” “Saudara serius? Jangan main-main ya, nanti saudara harus mengucapkannya di bawah sumpah.” “Sungguh mati saya serius Pak, saya diam saja karena saya pikir toh terjadinya cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau dibikin tengkleng.” (Ajidarma, 2016). 2.4. Usaha Penegakan Keadilan Apakah Saksi Mata yang sudah tidak punya mata lagi masih bisa bersaksi? Tentu masih bisa, pikir Bapak Hakim Yang Mulia, bukankah ingatannya tidak ikut terbawa oleh matanya? “Saudara Saksi Mata.” “Saya Pak.”
92 “Apakah saudara masih bisa bersaksi?” “Saya siap Pak, itu sebabnya saya datang ke pengadilan ini lebih dulu ketimbang ke dokter mata Pak.” “Saudara Saksi Mata masih ingat semua kejadian itu meskipun sudah tidak bermata lagi?” “Saya Pak.” “Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?” “Saya Pak.” “Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?” “Saya Pak.” “Ingatlah semua itu baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada satu pun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.” “Saya Pak.” “Sekali lagi, apakah saudara Saksi Mata masih bersedia bersaksi?” “Saya Pak.” “Kenapa?” “Demi keadilan dan kebenaran Pak.” (Ajidarma, 2016). Dalam perjalanan pulang, Bapak Hakim Yang Mulia berkata pada sopirnya, “Bayangkanlah betapa seseorang harus kehilangan kedua matanya demi keadilan dan kebenaran. Tidakkah aku sebagai hamba hukum mestinya berkorban yang lebih besar lagi?” (Ajidarma, 2016). 2.5. Respons Masyarakat