The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by candraprimadian01, 2021-11-06 04:36:55

PARADIGMA_2021 Lontar Fik LENGKAP

PARADIGMA_2021 Lontar Fik LENGKAP

MENGUNGKAP HAKIKAT

Paradigma Sains

DAN PEMIKIR SAINTIS REVOLUSIONER

Prof. Dr. Sudarmin M.Si., dkk

Prof. Dr. Sudarmin, M.Si, dkk.

MENGUNGKAP HAKIKAT

PARADIGMA SAINS

DAN PEMIKIR SAINTIS REVOLUSIONER

PROGRAM DOKTORAL PENDIDIKAN IPA PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Tahun 2021

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains
dan Pemikir Saintis Revolusioner
Hak cipta ©2021 pada Penulis dan dilindungi Undang-undang Penerbitan

Tim Penulis: Syaifuddin
Sudarmin Yeyendra
Kasmui Rusdiyana
M. Hidayatur Rohman Atip Nurwahyunani
Dyah Setyaningrum Winarni Mutiara Nurul Lita Azizah
Maria Agatha Hertiavi Eli Trisnowati
Fina Fakhriyah Desi Wulandari
Riyanti

Desain Kover : M. Hidayatur Rohman, S.Pd., M.Sc.

Setting : M. Hidayatur Rohman

Dyah Setyaningrum Winarni

Fina Fakhriyah

Hak Penerbitan pada Penulis

Diterbitkan oleh CV. LONTAR MEDIATAMA.
Cetakan I, Juni 2021
xi + 405 halaman, 15.5 x 23 cm
ISBN 978-623-349-022-1

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh buku ini dalam bentuk
apapun tanpa izin dari penerbit

Alamat, MAGUWO NO.216D RT.15 BANGUNTAPAN BANTUL

ii Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, penyusun sampaikan ke hadirat
Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga
akhirnya terselesaikannya book chapter dengan Judul
“Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis
Revolusioner”. Buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu
sumber pembelajaran untuk mahasiswa program sarjana,
magister, serta program doktor pendidikan IPA atau pemerhati
pendidikan IPA. Pada penyusunan buku ini, tim penulis
mensitasi dan merujuk dari berbagai sumber belajar, baik dari
buku filsafat ilmu, filsafat IPA dan pendidikan IPA, buku revolusi
sains Thomas Kuhn, buku filsafat Hempel, dan berbagai
sumber belajar digital, blog, dan lain-lain. Dengan demikian
secara akademik buku ini diupayakan mengikuti kaidah
keilmuan yang benar, oleh sebab itu tim penulis mengucapkan
terima kasih kepada bapak ibu yang telah menyumbangkan
ilmunya dalam buku ini.

Pada buku ini dibahas mulai pandangan Thomas Kuhn
tentang sains normal dan revolusi sains, hakikat sains, kerja
ilmiah, dan paradigma kebenaran, perbedaan sains dan
pengetahuan, non sains, serta pseudosains, paradigma
mekanika newton menuju mekanika lagrangian, pergeseran
paradigma fisika klasik menuju fisika modern, runtuhnya
paradigma dogma Darwinisme, paradigma asal mula makhluk
hidup, runtuhnya teori abiogenesis, paradigma teori hereditas
pramendel dan pascamendel, pergeseran paradigma klasifikasi
organisme, teori evolusi manusia dalam pandangan pemikir
muslim dan Alquran, paradigma gravitasi newton dan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner iii

pergeserannya, paradigma keanggotaan planet pada sistem
tata surya (Pluto), paradigma teori dentuman besar, pergeseran
paradigma geosentris, paradigma runtuhnya atomisme
Leukippos Democritos, dan pergeseran paradigma mekanika
klasik menjadi mekanika kuantum.

Urgensi pentingnya disusunya buku dalam bentuk book
chapter, karena buku Filsafat pendidikan IPA terkait paradigma
dan pemikir saintis revolusioner belum banyak dibahas. Selain
itu disusunya buku bertujuan untuk mendukung sumber belajar
mata kuliah Filsafat Sains, serta dapat dimanfaatkan oleh
mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Filsafat
Pendidikan IPA dan filsafat ilmu. Mata kuliah Filsafat IPA
sangat penting, karena melalui belajar filsafat ini akan
menjadikan mahasiswa IPA memahami bidang kajian ilmunya
secara komprehensif mulai aspek ontologi, epistemologi, dan
aksiologi dan berimplikasi menjadi seorang pendidik yang bijak
dan suka kebenaran.

Akhirnya, pada kesempatan ini tim penyusun
menyampaikan ucapan terima kasih atas budi baik pada pihak
UNNES beserta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan
satu persatu, atas gagasan atau naskah ilmiahnya yang
dijadikan bahan referensi pada buku ini. Semoga amal baiknya
mendapatkan balasan dari Tuhan yang Maha Esa...Aamiin.

Semarang, Mei 2021
Ketua Tim Penyusun

Prof. Dr. Sudarmin, M.Si

iv Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

DAFTAR ISI

PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v

BAB 1 1
SAINS NORMAL DAN REVOLUSI SAINS
(PANDANGAN THOMAS KUHN) 1
1.1. Deskripsi Materi 1
1.2. Biografi Thomas Samuel Kuhn dan Karyanya 1
1.3. Thomas Kuhn Tentang Paradigma 4
1.4. Paradigma Kedua 11
1.5. Epistemologi Paradigma 12
1.6. Hakikat Paradigma 15
1.7. Ilmu sebagai Paradigma 28
1.8. Proses Pengembangan Ilmu menurut pandangan
28
Kuhn

BAB 2 35
HAKIKAT SAINS, KERJA ILMIAH, DAN
PARADIGMA KEBENARAN 35
2.1. Deskripsi Materi 35
2.2. Hakikat Sains 35
2.3. Makna Filsafat sains, kebenaran dan Kerja Ilmiah 52
2.4. Paradigma Kebenaran 56

BAB 3 63
MEMAHAMI PERBEDAAN SAINS DAN PENGE-
TAHUAN, NON SAINS, SERTA PSEUDOSAINS 63
3.1. Deskripsi Materi 63
3.2. Perbedaan Sains dan Pengetahuan 63

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner v

3.3. Memahami Hakikat Filsafat Sains 65
3.4. Memahami Sains, Non Sains, dan Pseudio sains 67
3.5. Pseudosains dan Contohnya 73
3.6. Anomali dan munculnya penemuan baru 81

BAB 4 88
PARADIGMA MEKANIKA NEWTON MENUJU
MEKANIKA LAGRANGIAN 88
4.1 .Deskripsi Materi 88
4.2 Landasan Rasional 89
4.3 .Hakikat Konsep Mekanika Newton 92
4.4. Konsep Dasar Mekanika Newton 98
4.5. Aspek Aksiologi Konsep Mekanika Newton 100
4.6. Konteks Mekanika Newton dalam Kehidupan 103
4.7. Tokoh Saintis Perkembangan Paradigma Mekanika
106
Newton Menuju Mekanika Lagrangian

BAB 5 110

PERGESARAN PARADIGMA FISIKA KLASIK MENUJU

FISIKA MODERN 110

5.1. Deskripsi Materi 110

5.2. Aspek Ontologi Fisika Klasik Dan Letak Kesalahan Pemikiran

Fisika Klasik 110

5.3. Saintis Yang Berperan Dalam Pergeseran Paradigma

Fisika Klasik Ke Fisika Modern 112

5.4. Keunggulan Eksplanasi Fisika Klasik Bagi Saintis 116

5.5. Aspek Aksiologi Setelah Mempelajari Pemikiran Fisika Klasik

117

5.6. Konteks Psikologi Evolusif Pergesaran Paradigma

Fisika Klasik Ke Fisika Modern Dan Maknanya 119

BAB 6 122
RUNTUHNYA PARADIGMA DOGMA DARWINISME 122
6.1. Deskripsi Materi 122
6.2. Biografi Darwin dan Temuannya 120
6.3. Hakikat Runtuhnya Dogma Darwinisme 130
6.5. Tokoh Saintis yang Meruntuhkan Paradigma
131
Dogma Darwinisme

vi Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

6.6. Eksplanasi Penyebab Runtuhnya Dogma 137
Darwinisme 139
150
6.7. Sisi Aksiologi dari Runtuhnya Paradigma Dogma
Darwinisme

6.8. Konteks Psikologi Dogma Darwinisme dan Maknanya
Dalam Kehidupan Sehari-Hari

BAB 7 152
PARADIGMA ASAL MULA MAKHLUK HIDUP:
RUNTUHNYA TEORI ABIOGENESIS 152
7.1. Deskripsi Materi 152
7.2. Hakikat Dogma Teori Abiogenesis 153
7.3. Anomali Paradigma Abiogenesis 155
7.4 .Eksplanasi Abiogenesis yang Mengagumkan bagi
159
Saintis
7.5. Sisi Aksiologi Mempelajari Pemikiran dan Dogma 160

Abiogenesis 161
7.6. Konteks Psikologi Evolusif Pergeseran Paradigma

Abiogenesis ke Biogenesis

BAB 8 163
PARADIGMA TEORI HEREDITAS PRA MENDEL DAN
PASCA MENDEL 163
8.1. Diskripsi Materi 163
8.2 Perkembangan Teori Hereditas Sebelum Mendel 164
8.3. Paradigma dan Pergeseran Paradigma Teori Hereditas
166
Mendel 176
8.4. Ontologi Hakikat Teori Hereditas menurut Mendel
8.5. Nilai Aksiologi setelah mempelajari paradigma teori 182
184
Pra-Mendel dan Pasca-Mendel
8.6. Tokoh Saintis Penguat Paradigma

BAB 9 189
PERGESERAN PARADIGMA KLASIFIKASI ORGANISME 189
9.1. Deskripsi Materi 189
9.2. Mengapa Perlu Klasifikasi Organisme 191
9.3. Tujuan Klasifikasi Makhluk Hidup 192

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner vii

9.4. Epistemologi Tentang Proses Klasifikasi Makhluk 193
Hidup
195
9.5. Tahapan-tahapan dalam Klasifikasi Makhluk
Hidup 195

9.6. Pergeserean Perkembangan Klasifikasi Makhluk 204
Hidup
208
9.7. Penemuan Saintifis Revolusioner dalam Klasifikasi
Kingdom 213

9.8. Nilai Aksiologi Setelah Mempelajari klasifikasi 2 213
kingdom 213
213
BAB 10 215
TEORI EVOLUSI MANUSIA DALAM PANDANGAN 218
PEMIKIR MUSLIM DAN AL-QURAN 223
10.1. Deskrisi Materi
10.2. Pengantar 231
10.3. Teori Evolusi dalam Pandangan Ibnu Khaldun
10.4. Teori Evolusi Menurut Ibnu Miskawaih 231
10.5. Teori Evolusi Manusia dalam Perspektif Al-Quran 231

BAB 11 232
PARADIGMA GRAVITASI NEWTON DAN 232
PERGESERANNYA 233
11.1. Deskripsi Materi 234
11.2. Pandangan Filosofis dan Saintis Mengenai Gerak 235

Sebelum Newton 236
11.2.1. Plato (427 SM – 347 SM)
11.2.2. Aristoteles (384 SM – 322 SM) 242
11.2.3. Galileo (1564 – 1642)
11.3. Aspek Ontologi Hukum Gravitasi Newton 243
11.4. Keterbatasan Hukum Gravitasi Newton pada
Benda Langit
11.5.Keunggulan paradigma gravitasi Newton pada sisi
epistemologi
11.6. Aspek Aksiologi yang dapat diambil dengan
mempelajari Dogma Newton tentang gravitasi

viii Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

BAB 12 245
PARADIGMA DIKELUARKANNYA PLANET PLUTO
DALAM SISTEM TATA SURYA 245
12.1. Deskripsi Materi 245
12.2. Perkembangan klasifikasi Planet dalam Tata Surya 246
12.3. Paradigma Planet Pluto dalam tata surya 247
12.4. Tokoh Saintif Penguat Paradigma baru 248

12.4.1. Para astronom dibantu oleh instrumentasi 248
yang canggih, terus menghitung ulang
massa dan orbit Pluto. 251

12.4.2. Para astronom sesekali mulai terlibat 252
dengan argumen Marsden bahwa Pluto 255
termasuk dalam kategori yang berbeda.
256
12.4.3. Planetarium Museum sejarah alam Amerika
tahun 2000 259

12.4.4. Konferensi IAU 2006 259
12.5. Nilai Aksiologi dan makna yang terkandung dalam 259
260
sebuah kehidupan
265
BAB 13 267
PARADIGMA TEORI DENTUMAN BESAR
(THEORY BIG BANG) 268
13.1. Diskripsi Materi
13.2. Sisi Ontologi dari Teori Dentuman Besar 272
13.3. Teori Dentuman Besar Menjelaskan Tentang Asal 274

Usul Alam Semesta 275
13.4. Kebenaran Teori Dentuman Besar 278

13.4.1. Awal dari Alam Semesta mendukung teori
dentuman Besar

13.4.2. Fenomena Pendukung Teori Dentuman
Besar

13.4.3. Model Teori Dentuman Besar
13.5. Nilai Aksiologi dalam Paradigma Teori Dentuman

Besar
13.6. Makna yang terkadung dalam Sebuah Kehidupan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner ix

BAB 14 281
PERGESERAN PARADIGMA GEOSENTRIS 281
14.1. Diskripsi Materi 281
14.2. Pandangan Geosentris Yunani Kuno 282
283
14.2.1. Tokoh Pencetus Teori Geosentris 288
14.2.2. Saintis Modern Pendukung Geosentris 290
14.3. Pergeseran Paradigma Geosentris Ke Heliosentris
14.3.1. Temuan Revolusioner Mengenai Teori 292
304
Heliosentris
14.4. Aksiologi Dari Teori Geosentris Dan Heliosentris 308

BAB 15 308
PARADIGMA RUNTUHNYA ATOMISME LEUKIPPOS 308
DEMOCRITOS 311
15.1. Diskripsi Materi
15.2. Aspek Ontologi Teori Atom Leukippos Demokritus 316
15.3. Pergeseran Paradigma Leukippos Democritos Ke
319
Teori Atom Dalton 319
15.4. Sejarah perkembangan dan pergeseran teori atom 321
322
pasca Leukippos Democritos 325
15.4.1. John Dalton. 328
15.4.2. Thomson dan teori atommnya 329
15.4.3. Model atom Rutherford
14.4.4. Neils Bohr dan Teori Atomnya 333
15.4.5. Teori atom modern
15.5. Nilai Aksiologi Teori Atom Leucippos Democritos 333
333
BAB 16
PERGESERAN PARADIGMA MEKANIKA KLASIK 334
MENJADI MEKANIKA KUANTUM
16.1. Deskripsi Materi 336
16.2. Hakikat Dogma Mekanika Klasik (Mekanika Newton)
344
Menurut Literatur
16.3. Pergeseran Paradigma dari Mekanika Klasik ke

Mekanika Kuantum
16.4. Eksplanasi Mekanika Klasik yang Mengagumkan

Saintis
16.5. Sisi Aksiologi Mempelajari Pemikiran dan Dogma

x Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Mekanika Klasik 346
16.6. Konteks Psikologi evolusif Pergeseran Paradigma
349
Mekanika Klasik ke Mekanika Kuantum
353
DAFTAR PUSTAKA 386
GLOSARIUM 398
TENTANG PENULIS

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner xi

BAB 1

SAINS NORMAL DAN REVOLUSI SAINS
(PANDANGAN THOMAS KUHN)

Sudarmin
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Email: [email protected]

1.1. Deskripsi Materi

Pada bab 1 sebagai pembuka dari keseluruhan dari
konten buku paradigma dan pemikir saintis revolusioner ini.
Pada bab ini akan diuraikan sekilas mengenai biografi dari
Thomas Kuhn, diikuti pemikirannya dalam memahami sains
normal, paradigma, revolusi sains, dan sebagainya. Materi ini
bersumber dari buku Thomas Kuhn, serta berbagai referensi
yang terkait dan tersedia dalam online dan offline, serta konten
disesuaikan dengan kebutuhan perkuliahan dan mahasiswa.

1.2. Biografi Thomas Samuel Kuhn dan Karyanya

Thomas S. Kuhn dilahirkan di Cicinnati, Ohio pada
tanggal 18 juli 1922. Kuhn lahir dari pasangan Samuel L, Kuhn
seorang Insinyur industri dan Minette Stroock Kuhn. Dia
mendapat gelar B.S di dalam Ilmu Fisika dari Harvard
University pada tahun 1943 dan Magister Science. Pada tahun
1946. Kuhn belajar sebagai Fisikawan namun baru

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 1

mendapatkan Ph.D dari Harvard pada tahun 1949. Pada tiga
tahun dalam kebebasan akademiknya, Kuhn mulai mengalami
perubahan perhatiannya yaitu dari Ilmu Fisika kepada sejarah
dan Filsafat ilmu. Kuhn kemudian diterima di Harvard sebagai
asisten profesor dan mengajar sejarah ilmu atas usulan
presiden Universitas James Conant. Kuhn setelah beberapa
tahun bekerja di Harvard, lalu meninggalkan Harvard dan
belajar di Universtitas Berkeley di California, sekaligus
pengajar di program Filosofi dan Sains.

Thomas Kuhn menjadi profesor sejarah ilmu pada 1961.
Di Berkeley ini, Thomas Kuhn menulis dan menerbitkan
bukunya yang terkenal The Structure Of Scientific Revolution
(962). Pada tahun 1964 dia menjadi profesor filsafat dan
sejarah seni di Princeton pada tahun 1964-1979, dan kemudian
menjadi profesor Filsafat sampai tahun 1999. Pada tahun 1994
dia mewawancarai Niels Bohr sang Fisikawan sebelum
Fisikawan itu meninggal dunia. Pada tahun 1994, Kuhn
didiagnostik dengan kanker dari Bronchial Tubes. Kuhn
meninggal pada tahun 1996 di rumahnya di Cambridge
Massachusetts.

Pada perjalanan hidupnya, Kuhn menikah dua kali dan
memiliki tiga anak. Kuhn mendapat banyak penghargaan di
bidang akademik. Sebagai contohnya dia memegang posisi
sebagai Lowel lecturer pada tahun 1951, Guggeheim fellow
dari 1954 hingga 1955, Dan masih banyak penghargaan lain.
Karya Kuhn cukup banyak, namun yang paling terkenal dan
mendapat banyak sambutan dari Filsuf Ilmu dan saintis adalah
The Structure of Scientific Revolution, sebuah buku yang terbit
pada tahun 1962, dan direkomendasikan sebagai bahan
bacaan dalam kursus dan pengajaran berhubungan dengan
pendidikan, sejarah, psikologi, riset dan sejarah serta Filsafat
sains.

2 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Buku Structure of Scientific Revolutions, banyak
mengubah persepsi orang terhadap apa yang dinamakan ilmu.
Jika sebagian orang mengatakan bahwa pergerakan ilmu itu
bersifat linier-akumulatif, maka tidak demikian halnya dalam
penglihatan Kuhn. Menurut kuhn, ilmu bergerak melalui
tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada kondisi normal
dan kemudian ―membusuk‖ karena telah digantikan oleh ilmu
atau paradigma baru.Demikian selanjutnya. Paradigma baru
mengancam paradigma lama yang sebelumnya juga menjadi
paradigma baru. Dalam sejarah perkembangan ilmu
pengetahuan secara epistemologi, paradigma epistemologi
positivistik telah mengakar kuat selama berpuluh-puluh tahun,
hingga akhirnya setelah sekitar dua atau tiga dasawarsa
terakhir ini muncul perkembangan baru dalam filsafat ilmu
pengetahuan sebagai bentuk upaya pendobrakan atas teori-
teori yang lama. Pendobrakan revolusioner atas filsafat ilmu
pengetahuan positivistik ini dipelopori juga oleh tokoh seperti:
Thomas Kuhn, Stepehen Toulmin, serta Imre Lakatos.

Sejarah ilmu sebagai bidang keahlian Thomas Kuhn,
pada dasarnya merupakan disiplin ilmu yang relatif masih baru.
Pada awal perkembangannya, bidang ini ditangani dan
dikembangkan oleh ahli-ahli dari bidang ilmu lainnya, seperti
ahli fisika. Thomas Kuhn sendiri dengan latar belakang orang
Fisika mencoba memberikan wacana tentang sejarah ilmu ini
sebagai starting point dan kacamata utama dalam menyoroti
permasalahanfundamental dalam epistemologi yang selama ini
masih menjadi teka-teki. Dengan kejernihan dan kecerdasan
pikirannya, Kuhn menegaskan bahwa sains pada dasarnya
lebih dicirikan oleh paradigma dan revolusi yang menyertainya.
Dengan konsep pemikirannya ini, Thomas Kuhn tidak hanya
sekedar memberikan kontribusi besar dalam sejarah dan
Filsafat Ilmu, tetapi lebih dari itu, Kun telah menggagas teori-

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 3

teori yang mempunyai implikasi luas dalam ilmu sosial, seni,
politik, pendidikan bahkan ilmu-ilmu keagamaan dan lain-lain.

1.3. Thomas Kuhn Tentang Paradigma

Pada bagian ini kita bahas mengenai Paradigma. Istilah
paradigma menjadi begitu popular setelah diperkenalkan oleh
Thomas Kuhn melalui bukunya The Structure of Scientific
Revolution, University of ChicagoPress. Buku ini membahas
dan membicarakan mengenai Filsafat Sains. Kuhn menjelaskan
bahwa Paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai-nilai,
metode-metode, prinsip dasar atau memecahkan sesuatu
permasalahan yang dianut oleh suatu masyarakat ilmiah pada
suatu masa tertentu. Apabila suatu cara pandang dari suatu
Paradigma tertentu mendapat tantangan dari luar atau
mengalami krisis (―anomalies‖), kepercayaan terhadap cara
pandang tersebut menjadi luntur, dan cara pandang atau
paradigma yang demikian menjadi kurang berwibawa,pada
saat itulah menjadi pertanda telah terjadi pergeseran suatu
paradigma lama menjadi paradigma baru.

Dengan demikian adanya perkembangan sains pada era
modern yang sangat fantastis telah menyebabkan banyak
ditemukan teori ilmiah (scientific truth) dan temuan alamiah
(naturaled truth) yang dibuktikan dengan banyak bermunculan
teori pengetahuan dan teknologi. Hal ini menggugah Thomas
Kuhn dalam magnum opusnya yakni The Structure of Scientific
Revolutions mengkritisi kebenaran implisit dan eksplisit di
dalam sains itu sendiri. Thomas Kuhn melalui keahliannya
mencoba mengungkapkan secara detail kedudukan sains
secara teoritis dan praktis. Dewasa ini, sains selalu terjadi
improvisasi berupa evolusi dari teori sederhana menuju teori
yang lebih sempurna. Namun Kuhn menolak secara keras
konsep demikian, baginya kebenaran sains tumbuh menurut

4 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

revolusi ilmiah dan alamiah yakni suatu teori tentang sains
ditemukan pada satu objek dan akan terus-menerus berubah
walaupun kesan yang muncul lebih identik sebagai improvisasi.

Sains memiliki wilayah otonom dan teritorium yang
berbeda dalam pencarian kebenaran. Sains menerangi
worldview ilmiah tentang realitas yang sama, namun dengan
perspektif yang berbeda. Kebenaran sains lebih bersifat
sebagai representasi realitas. Sains tidak mengenal suatu
kebenaran yang stationer yang mendoktrinkan once for all
(sekali untuk selamanya). Kebenaran sains bersifat coutinuous
(berkali-kali) sementara sains mencakup all at once (segalanya
pada satu). Pencarian yang mungkin terjadi dalam sains yaitu
antara prediksi dan deteksi yang diabadikan sebagai prioritas
atas pencarian indeept observation. Sains ingin menjelaskan
dunia dan kehidupan dalam perspektif worldview yang
mempengaruhi semua orang.

Akhirnya Kuhn memperkenalkan sebutan teorinya dengan
paradigma. Terdapat dua karakteristik sebagai ciri khas
substansi dari paradigma, yaitu: pertama, menawarkan unsur
baru tertentu yang menarik pengikut keluar dari persaingan
metode kerja dalam kegiatan ilmiah sebelumnya; kedua,
(serentak) menawarkan persoalan baru yang masih terbuka
dan belum terselesaikan. Asumsi Kuhn objektivitas sains tidak
bersifat otoritatif hanya sebatas a justified final detection. Inilah
landasan epistimologi paradigma yang mengkritik keyakinan
manusia terhadap sains sebagai representasi realitas.
Epistemologis sains adalah rasional, empiris dan positivistik.

Paradigma menerima teori revolusi atas nama
kreasionisme, hingga mendorong kebenaran sains bersifat
realitas yang saling fighting se-sama sains sementara sains
memiliki ruang otonomi dalam pencarian kebenaran antara
prediksi dan deteksi yang satu mengisolasi yang lain. Sains

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 5

modern bercorak rasionalistik dan empirisis-positivistik dalam
mengamati realitas. Sains modern menganut paham bebas
nilai, humanistik dan individualistik. Tidak ada hal seperti riset
dalam ketiadaan paradigma apapun.1 Keilmiahan pada situasi
pra-modern terasa jauh lebih naturalistis dan pluralistis.
Perspektif ilmiah melihat realitas alam sebagai dunia objektif
atau fakta yang tunduk pada hukumhukum kausal dan
mekanistis. Para sainstis hanya berkerja dalam tataran
konseptual obyektif, netral, dan tanpa ada intervensi dari para
saintis untuk mengendalikan sains. Ini menunjukkan bahwa
saintisme telah meletakkan dasar-dasar berpikir yang hanya
berpijak pada eksperimen dan hitungan matematis sebagai
ukuran ilmiah atau tidaknya sebuah hasil pemikiran atau
penelitian.

Sains modern ditarik dari analogi antara tingkah laku
manusia dengan cara kerja mekanik. Sains akan terus berubah
berbanding lurus dengan ditemukan fakta-fakta baru. Tujuan
sains untuk menggantikan gagasan yang progresif terhadap
kebenaran, sains sebagai pekerjaan eksplorasi yang terus-
menerus menarik lebih dekat untuk beberapa tujuan yang
ditetapkan oleh alam yang terus berkembang.2 Sains kontingen
terhadap dinamika sejarah dan komunitas saintis sehingga
kebenaran ilmiah pun berubah-ubah secara revolusioner. Sains
merupakan suatu pembelajaran yang terakumulasi dan
sistimatik tentang fenomena alam. Kemajuan sains ditandai
bukan hanya oleh suatu akumulasi fakta, tetapi oleh
berkembangnya metode ilmiah dan sikap ilmiah.

Paradigma juga mengandung makna standard
universal yang didukung oleh worldview ilmiah yang didapat
dari realitas yang diyakini sebagai prediksi atau deteksi sebagai
source dengan hukum universal yang dimunculkan dari
dinamika mekanis dan realitas yang diyakini sebagai proses

6 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

kreatif, thinkable, inteligible, change of culture, and idea of
progress, berkebebasan mencari pengetahuan idealis,
pragmatis atau hedonis Sains sekarang banyak menimbulkan
―efek polusi dan radiasi‖, namun sains negatif itu terabaikan
mengingat sains produktif akan lebih menguntungkan,
sehingga mengugah saintis mengeksplorasi ataupun ekspansif
untuk sebanyak mungkin menemukan sains-sains baru. Sains
dalam modernitas bersifat otoritatif bukan karena rasionalitas
argumentasi, melainkan karena propaganda (represif) lewat
industri, teknologi, dan institusi-institusi ilmiah.

Perkembangan sains di era modern telah mendistorsi
nilai-nilai religiusitas. Sains bukan hasil dari refleksi
sekumpulan kitab suci yang cenderung mengakibatkan
penolakan eksistensi Tuhan dan penciptaan. Sains telah
menyebabkan teknologi dikembangkan untuk memenuhi
kesenangan-kesenangan materi (hedonis-materialistis) dan
mengorbankan alam semesta. Paradigma telah melahirkan
banyak budaya baru melalui eksperimentasi, kuantifikasi, dan
prediksi. Adapun model perkembangan ilmu pengetahuan
menurut Kuhn adalah melalu Paradigma suatu paradigmaI
yaitu Normal Science, Anomalies and Crisis, dan kemudian
terjadi Revolusi. Pada bagian ini akan dibahas mengenai model
perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, yaitu:

1. Normal Science
Thomas Samuel Kuhn (1922-1996) setelah menulis

panjang lebar tentang sejarah ilmu pengetahuan, dan
mengembangkan beberapa gagasan penting dalam filsafat
ilmu pengetahuan. Kuhn paling terkenal karena bukunya
The Structure of Scientific Revolutions di mana ia
menyampaikan gagasan bahwa sains tidak ―berkembang
secara bertahap menuju kebenaran‖, tapi malah mengalami

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 7

revolusi periodik yang dia sebut pergeseran paradigma.
Analisis Kuhn tentang sejarah ilmu pengetahuan
menunjukkan kepadanya bahwa praktek ilmu datang dalam
tiga fase; yaitu tahap:
a. Pra-ilmiah, yang mengalami hanya sekali dimana tidak

ada konsensus tentang teori apapun. penjelasan Fase
ini umumnya ditandai oleh beberapa teori yang tidak
sesuai dan tidak lengkap. Akhirnya salah satu dari teori
ini menang.
b. Normal Science. Seorang ilmuwan yang bekerja dalam
fase ini memiliki teori override (kumpulan teori) yang
oleh Kuhn disebut sebagai Paradigma. Dalam ilmu
pengetahuan normal, tugas ilmuwan adalah rumit,
memperluas, dan lebih membenarkan paradigma.
Akhirnya, bagaimanapun, permasalahan muncul, dan
teori ini diubah dalam ad hoc cara untuk
mengakomodasi bukti eksperimental yang mungkin
tampaknya bertentangan dengan teori asli. Akhirnya,
teori penjelasan saat ini gagal untuk menjelaskan
beberapa Fenomena atau kelompok daripadanya, dan
seseorang mengusulkan penggantian atau redefinisi
dari teori ini.
c. Pergeseran paradigma: Pergeseran paradigma akan
mengantar pada periode baru ilmu pengetahuan
revolusioner. Kuhn percaya bahwa semua bidang ilmiah
melalui pergeseran paradigma ini berkali-kali, seperti
teori-teori baru menggantikan yang lama. Menurut
Kuhn, ilmu sebelum dan sesudah pergeseran
paradigma begitu jauh berbeda melihat beberapa teori
mereka yang tak tertandingi. Pergeseran paradigma
tidak hanya mengubah satu teori, hal itu akan
mengubah cara bahwa kata-kata yang didefinisikan,

8 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

cara para ilmuwan melihat mereka subjek, dan mungkin
yang paling penting pertanyaan yang dianggap sah,
dan aturan yang digunakan untuk menentukan
kebenaran suatu teori tertentu.

2. Anomali dan munculnya Penemuan Baru (Krisis)
Data anomali berperan besar dalam memunculkan

sebuah penemuan baru yang diawali dengan kegiatan kerja
ilmiah. Dalam keterkaitan ini, Kuhn menguraikan dua
macam kegiatan ilmiah yaitu: Puzzle solving, yang mana
dalam puzzle solving, para saintis membuat percobaan dan
mengadakan observasi yang tujuannya untuk memcahkan
teka-teki, bukan mencari kebenaran. Bila paradigmanya
tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan
permasalahan yang penting atau malah berefek konflik,
maka suatu paradigma baru harus diciptakan atau
dimunculkan.

Penemuan paradigma baru: Adapun penemuan
paradigma baru bukanlah peristiwa-peristiwa terasing,
melainkan episode-episode yang diperluas dengan struktur
yang berulang secara teratur. Penemuan diawali dengan
kesadaran akan anomali, yakni dengan pengakuan bahwa
alam dengan suatu cara telah melanggar pengharapan
yang didorong oleh paradigma yang menguasai sains yang
normal. Kemudian paradigma baru berlanjut dengan
eksplorasi yang sedikit banyak diperluas pada wilayah
anomali. Paradigma baru hanya akan berakhir jika teori atau
paradigma itu telah disesuaikan sehingga yang
menyimpang itu menjadi yang diharapkan. Jadi, intinya
bahwa dalam penemuan baru harus ada penyesuaian
antara fakta dengan teori yang baru. Dari teori ini Thomas
Kuhn memberikan definisi yang berbeda antara discovery

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 9

dan invention. Yang dimaksud discovery adalah kebaruan
faktual (penemuan), sedang invention adalah kebaruan teori
(penciptaan) yang mana keduanya saling terjalin erat satu
sama lain.

3. Revolusi Ilmiah
Pada uraian berikut akan disinggung tentang revolusi

sains (revolusi ilmiah) yang muncul karena adanya anomali
dalam riset ilmiah yang dirasakan semakin parah, dan
munculnya krisis yang tidak dapat diselesaikan oleh
paradigma yang dijadikan sebagai referensi riset
(penelitian). Revolusi sains merupakan sebuah episode
perkembangan non-kumulatif yang didalamnya terangkum
sebuah paradigma lama yang diganti sebagian atau
keseluruhan dengan paradigma baru. Adanya revolusi sains
bukanlah hal yang berjalan mulus tanpa hambatan, namun
kerap kali ada pro-kontra, serta gesekan dari masyarakat
yang menyertainya.

Dalam pemilihan paradigma tidak ada standar baku
melainkan hanyalah menyesuaikan diri terhadap
persetujuan masyarakat. Adanya revolusi sains dengan
berbagai teori argumentatifnya akan membentuk
masyarakat sains. Oleh karena itu, permasalahan
paradigma atau munculnya paradigma baru sebagai akibat
dari revolusi sains tiada lain hanyalah sebuah konsensus
atau kesepakatan yang sangat ditentukan oleh retorika di
kalangan akademisi atau masyarakat itu sendiri. Sejauh
mana paradigma baru itu diterima oleh mayoritas
masyarakat sains, maka disitulah revolusi sains atau
revolusi ilmiah akan terwujud. Selama proses revolusi, para
saintis melihat hal-hal baru dan berbeda dengan ketika
menggunakan instrumeninstrumen yang sangat dikenalnya

10 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

untuk melihat tempat-tempat atau kajian ilmiah yang pernah
dilihatnya.

Seakan-akan masyarakat profesional itu tiba-tiba
dipindahkan ke daerah lain dimana objek yang sangat
dikenal sebelumnya tampak dalam penerangan yang
berbeda dan juga berbaur dengan objek-objek yang tidak
dikenal. Kalaupun ada ilmuwan (saintis) atau sebagian kecil
ilmuwan yang tidak mau menerima paradigma yang baru
sebagai landasan risetnya, dan ia tetap bertahan pada
paradigma yang telah dibongkar yang sudah tidak
mendapat legitimasi dari masyarakat sains, maka aktifitas
riset dan penelitiannya hanya merupakan ilmu pengetahuan
yang tidak bermanfaat sama sekali. Inilah yang dinamakan
perlunya revolusi sains atau revolusi ilmiah.

1.4. Paradigma Kedua

Menurut Kuhn bahwa ilmu pengetahuan pada waktu
tertentu didominasi olehsuatu paradigma tertentu, yaitu suatu
pandangan yang mendasar tentang apayang menjadi pokok
persoalan (subject matter ) dari suatu cabang ilmu.Paradigma
tersebut akan berkembang dalam masa normal scienceyaitu
suatu periode akumulasi ilmu pengetahuan dimana para
ilmuwan bekerja danmengembangkan paradigma yang sedang
berpengaruh. Tidak mampunya suatu paradigma tersebut
dalam menjawab berbagai persoalan secara memadai, maka
terjadinya pertentangan dan penyimpangan yang terjadi dan
inilah yang dinamakan anomali sains, yang mana akan
memuncak menjadi suatu krisis yang menyangsikan paradigma
yangdibangun pertama sebelumnya. Apabila krisis sudah
sedemikian hebatnya, maka suaturevolusi akan terjadi dan
muncullah paradigma baru yang dianggap mampu
menyelesaikan persoalan yang terjadi.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 11

Menurut Kuhn bahwa pendekatan ilmu tidak secara
internal (seperti ajaranPositivisme) dan Rasionalisme
Kritikal,seperti ajaran Karl Popper, akan tetapisecara eksternal
dengan bertolak dari suatu paradigma tertentu yang
menjadilandasan dasar disiplin ilmu itu yang akan terjadi bukan
Evolusi sains akan tetapi Revolusi sains. Paradigma yang ada
akan digantikan oleh paradigma baru tanpa mengandung unsur
paradigma yang lama. Menurut Kuhn, secara manusiawi, maka
seseorang tidak akan mau untuk menjatuhkan teori yang
dibangunnya sendiri, tetapi justru akan mempertahankannya,
sehingga muncul lah silang pendapat antar ilmuwan dan
polemik. Selanjutnya teori itu bukan dilemahkan oleh fakta-
fakta, tetapi diamati dan diinterpretasi mengacu pada
paradigmanya yang relasi inti bukan subjek-objek tetapi subjek-
subjek. Pemikiran Thomas Kuhn juga timbul atas kritikan
terhadap ungkapan Karl R.Propper yang berkaitan dengan
falsifikasi yang dilakukannya oleh diri sendiri.Menurut logika
yang dibangun Kuhn, thesis Popper bahwa grounded theory
yang dibangun, diciptakan dari hasil penemuan secara induktif
fakta-fakta utama baru tidak mungkin membangun grounded
theory sebagai pernyataan universal masih bisa diperdebatkan
bahkan bisa ditolak.

1.5. Epistemologi Paradigma

Salah satu bidang garapan dari filsafat ilmu adalah
epistemologi. Secara etimologis epistemologi berasal dari
bahasa yunani epiteme artinya pengetahuan, dan logos artinya
teori, epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat
yang mempelajari asal mula, sumber, struktur, metode dan
syahnya (validitas) pengetahuan. Dengan demikian
epistemologi paradigma terkait dengan asal mula, sumber,
struktur, metode dan syahnya (validitas) suatu paradigma.

12 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Dalam metafisika pertanyaan pokok tentang ada, yaitu apakah
ada itu?, sedangkan dalam epistemologi pertanyaan pokok
adalah “ apa yang dapat saya ketahui?‖. Jadi persoalan apa
saja yang termasuk dalam epistomologi adalah: (1). Bagimana
manusia dapat mengetahui sesuatu?, (2). Dari mana
pengetahuan itu diperoleh?, (3). Bagimana validitas
pengetahuan itu dapat dinilai?, (4). Apa perbedaan antara
pengetahuan apriori (Pengetahuan pra pengalaman) dan
pengetahuan aposteriori ( pengetahuan purna pengalaman).

Pada kajian epistemologi, maka epistemologi terdapat
beberapa perbedaan mengenai teori pengetahuan, hal ini
disebabkan karena setiap ilmu pengetahuan memiliki potensi
objek, metode, sistem dan tingkat kebenaran yang berbeda.
Jadi bisa dikatakan segala perbedaan tersebut terutama
berkembang dari perbedaan sudut pandang dan metode yang
bersumber dari empirisme dan rasionalisme. Dengan kata lain,
epistemologi merupakan suatu bidang kajian ilmu filsafat yang
mempersoalkantentang hakikat kebenaran, karena semua ilmu
pengetahuan mempersoalkan kebenaran.

Merujuk dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa
sejarah penemuan suatu kebenaran tentang pengetahuan
dimulai dari Periode filsafat Yunani yang merupakan periode
sangat penting dalam sejarah peradaban manusia, karena
pada waktu ini terjadi perubahan pola fikir manusia dari
mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola fikir yang
kelihatan sangat sederhana tetapi sebenarnya memiliki
implikasi tidak sederhana. Alam yang selama ini ditakuti dan
dijauhi kemudian didekati bahkan dieksploitasi. Manusia yang
dulunya pasif menjadi aktif sehingga alam digunakan sebagai
objek penelitian atau pengkajian. Dari proses inilah kemudian
ilmu berkembang dari rahim filsafat.

Sejak zaman ini filsafat terus berkembang, mulai dari

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 13

masa kejayaan, kemunduran, dan kebangkitannya kembali.
Filsafat mengalami perkembangan pada abad modern, yang
diawali terlebih dahulu dengan adanya zaman Renaissance,
yaitu peralihan abad pertengahan ke abad modern. Zaman ini
terkenal dengan era kelahiran kembali kebebasan manusia
dalam berfikir. Sejak zaman ini kebenaran filsafat dan ilmu
pengetahuan didasarkan pada kepercayaan dan kepastian
intelektual (sikap ilmiah) yang kebenarannya dapat dibuktikan
berdasarkan metode ilmiah, perkiraan dan pemikiran yang
dapat diuji.
Sedangkan wacana filsafat yang menjadi topik utama pada
abad modern khususnya abad ke-17 adalah persoalan
epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang ini adalah
bagaimana manusia memperoleh pengetahuan yang benar,
serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka dalam abad
ke-17 muncullah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban
berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran tersebut adalah
aliran rasionalisme dan empirisme. Kerjasama antara beberapa
aliran dari rasionalisme dan empirisme lahirlah metode sains
dan dari metodeilmiah inilah lahir pengetahuan sains.

Dalam proses perkembangan keilmuan tersebut,
paradigma keilmuan memegang peranan penting, karena
fungsi paradigma ilmu adalah memberikan kerangka,
mengarahkan, bahkan menguji konsistensi dari proses
keilmuan. Dalam paradima ilmu, ilmu telah mengembang
seperangkat keyakinan dasar yang mereka gunakan dalam
mengungkapkan hakikat ilmu yang sebenarnya dan bagaimana
cara untuk mendapatkannya. Sejak abad pencerahan sampai
era globalisasi saat ini terdapat empat paradigma ilmu yang
dikembangkan oleh para saintis dalam menemukan ilmu
pengetahuan yakni: positivisme, postpositivime, critical teori,

14 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

constuctivism.
Ciri khas yang membedakan model filsafat ilmu baru ini

dengan model yang terdahulu adalah pendekatan atau
perhatiannya yang besar terhadap sejarah ilmu dan filsafat
sains. Peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta
mengkonstruksikan wajah ilmu pengetahuan dan kegiatan
ilmiah yang terjadi. Bagi Kuhn sejarah ilmu merupakan starting
point dan kaca mata utamanya dalam menyoroti berbagai
permasalahan fundamental dalam epistemologi, yang selama
ini masih menjadi teka-teki. Menurutnya, dalam setiap
perkembangan ilmu pengetahuan selalu terdapat dua fase
yang penting yaitu; normal science dan revolutionary science.
Singkatnya, normal science adalah teori pengetahuan yang
sudah mapan sementara revoutionary science adalah upaya
kritis dalam mempertanyakan ulang teori yang mapan tersebut
dikarenakan teori tersebut memang problematis. Oleh karena
itu kita perlu untuk mengetahui sejarah ilmu yang dikenal oleh
paradigm Kuhn dalam proses memperoleh pengetahuan sains
secara benar menurut konsep cabang filsafat dari epistomologi.

1.6. Hakikat Paradigma

Pada awal pembahasan ini, kita bahas ulang pelengkap
dari makna paradigma. Menurut kamus filsafat dalam
Merymaswarita (2009) adalah: (1) Cara memandang sesuatu,
(2) Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari model-
model ini fenomena dipandang dan dijelaskan, (3) Paradigma
adalah suatu totalitas premis-premis teoritis dan metodologis
yang menentukan, menentukan atau mendefinisikan suatu
studi kerja ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek
ilmiah pada tahap tertentu, (4) Dasar untuk menyeleksi
problem-problem dan pola untuk memecahkan problem
riset/penelitian.Menurut Chalmers (1983) Paradigma adalah

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 15

suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi-asumsi teoritis yang
umum (merupakan suatu sumber nilai), sehingga paradigma
merupakan suatu sumber hukum-hukum, metode serta
penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat
menentukan sifat, ciri serta karakter ilmu pengetahuan itu
sendiri Sedangkan pengertian kedua, paradigma menunjukan
sejenis unsur dalam konstelasi itu dan pemecahan teka-teki
yang konkrit yang jika digunakan sebagai model, pola, atau
contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit
sebagai dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki
normal sains yang masih tersisa.

Paradigma menurut Muslih (2004) merupakan suatu
keputusan yudikatif dalam hukum yang tidak tertulis. Secara
singkat pengertian paradigma adalah Keseluruhan konstelasi
kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas
ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena), paradigma
membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari,
persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus
diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh
(Kuhn, 1989).Dari pengertian para ahli diatas, penulis dapat
menyimpulkan pengertian paradigma adalah suatu pandang
atau kerangka berpikir yang berdasarkan fakta atau gejala
diinterpretasikan untuk dipahami dan membantu merumuskan
tentang apa yang harus di pelajari, persoalan apa yang harus
dijawab dan aturan apa yang harus di ikuti dalam
menginterprestasikan jawaban yang diperoleh terhadap suatu
fenomena.

Muslih (2004) menyatakan yang melatarbelakangi
pemikiran Kuhn tentang ilmu dan perkembangannya
merupakan respon terhadap adanya pandangan Positivisme
dan Popper. Positivisme menganggap pengetahuan mengenai
fakta objektif merupakan pengetahuan yang sahih, mereka

16 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

mengklaim bahwa kekacauan kaum idealis dengan berbagai
pendekatan metafisika yang digunakan dalam melihat realitas,
karena bahasa yang mereka pakai secara esensial tanpa
makna, dan secara umum mereka berpendapat bahwa sumber
pengetahuan adalah pengalaman dan proses verifikasi dan
konfirmasi dari suatu eksperimen dari bahasa ilmiah
merupakan langkah dan proses perkembangan ilmu.

Bagaimana perkembangan ilmu menurut Popper?.
Popper berpendapat bahwa proses perkembangan ilmu
menurutnya harus berkemungkinan mengandung salah dengan
proses yang disebut falsifikasi (proses eksperimental untuk
membuktikan salah dari suatu ilmu) dan refutasi (penyangkalan
teori). Kuhn menolak pandangan di atas, Kuhn memandang
ilmu dari perspektif sejarah, dalam arti sejarah ilmu. Rekaman
sejarah ilmu merupakan titik awal pengembangan ilmu karena
merupakan rekaman akumulasi konsep untuk melihat
bagaimana hubungan antara pengetahuan dengan mitos dan
takhayul yang berkembang. Sejarah ilmu digunakan untuk
mendapatkan dan mengkonstruksi wajah ilmu pengetahuan
dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi. Hal-hal baru
baru yang ditemukan pada suatu masa menjadi unsur penting
bagi pengembangan ilmu di masa berikutnya (Kuhn, 1989).

Perbedaan pendapat Kuhn dengan Popper adalah Kuhn
lebih mengeksplorasi tema-tema yang lebih besar misalnya
hakikat ilmu baik dalam praktiknya yang nyata maupun dalam
analisis kongkret dan empiris. Jika Popper menggunakan
sejarah ilmu untuk mempertahankan pendapatnya, Kuhn justru
menggunakan sejarah ilmu sebagai titik tolak penyelidikannya
(Muslih M, 2004), Dari pendapat Kuhn tersebut bisa dikatakan
bahwa Filsafat ilmu harus berguru kepada sejarah ilmu,
sehingga seorang saintis dapat memahami hakikat ilmu dan
aktivitas ilmiah yang sesungguhnya. Dari analisis pendapat

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 17

Kuhn, dapat disimpulkan bahwa Sains lebih dicirikan oleh
paradigma dan revolusi yang menyertainya. Dari rekaman
sejarah ilmu bisa diketahui bahwa terjadinya perubahan
mendalam selama sejarah ilmu tidak didasarkan pada upaya
empiris untuk membuktikan suatu teori atau sistem, tetapi
melalui revolusi sains ilmiah, sehingga kemajuan ilmiah
pertama-tama bersifat revolusioner dan bukan kumulatif. Kuhn
menamakan sekumpulan saintis telah memiliki pandangan
bersama sebagai suatu komunitas ilmiah. Suatu komunitas
ilmiah memiliki suatu paradigma bersama tentang alam dan
pemikiran ilmiah, memiliki kesamaan bahasa, nilai, asumsi,
tujujuan, norma dan kepercayaan (Kuhn 1989).

Kuhn menyatakan bahwa pergeseran paradigma
merupakan suatu istilah untuk menggambarkan terjadinya
dimensi kreatif pikiran manusia dalam bingkai filsafat.
Pergeseran paradigma merupakan letupan ide yang
merangsang timbulnya letupan ide-ide yang lain, yang terjadi
terus-menerus, sambung menyambung, baik pada orang yang
sama maupun orang yang berbeda. Reaksi berantai ini
akhirnya menjadi kekuatan yang bisa merubah wajah dan
tatanan dunia, serta peradaban manusia ke arah suatu
kemajuan ilmu pengetahuan.

Menurut Kuhn (1989) paradigma menentukan jenis
eksperimen yang dilakukan oleh para saintis, tanpa paradigma
tertentu para ilmuawan tidak bisa mengumpulkan fakta-fakta,
dengan tiadanya paradigma atau calon paradigma tertentu,
semua fakta yang mungkin sesuai dengan perkembangan ilmu
tertentu tampak seakan sama-sama relevan, akibatnya
pengumpulan fakta hampir semuanya merupakan aktivitas
acak. Gambaran Kuhn tentang cara ilmu berkembang dapat
diringkas dalam suatu skema yang open-ended, artinya sebuah
akhir yang selalu terbuka untuk diperbaiki dan dikembangkan

18 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

lebih lanjut. Skemanya secara ringkas adalah sebagai berikut
Pra paradigma – Pra science – paradigma normal science –
paradigma-anomali- krisis revolusi- ilmu normal baru--- krisis
baru.Pada uraian berikut akan dijelaskan skema pergeseran
paradigma tersebut, yaitu sebagai berikut:

1. Pra Paradigma dan Pra Sciense
Pada tahap pra paradigma ini aktivitas-aktivitas

ilmiah dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir
sebab tidak ada persetujuan tentang subject matter,
problem-problem dan prosedur di antara para saintis yang
bersaing, karena tidak adanya suatu pandangan tersendiri
yang diterima oleh semua saintis tentang suatu teori
(fenomena). Dari sejumlah aliran yang bersaing,
kebanyakan mereka mendukung satu atau lain varian
dalam teori tertentu dan di samping itu ada kombinasi dan
modifikasi lain yang masing-masing aliran mendukung
teorinya sendiri-sendiri. Sehingga sejumlah teori boleh
banyak digunakan pada pelaksanaannya di lapangan dan
setiap ahli teori itu merasa wajib memulai dengan yang
baru dan membenarkan pendekatannya sendiri, hal
semacam ini berlangsung selama kurun waktu tertentu
sampai suatu paradigma tunggal diterima oleh semua
aliran yang dianut saintis tersebut dan ketika paradigma
tunggal diterima, maka jalan menuju normal science mulai
ditemukan.

Contoh pada fase ini adalah adanya persaingan dari
ilmuwan untuk mempertahankan teorinya masing-masing
dan mendukung teori yang lain. Seperti teori epicurus, teori
aristoteles, atau teori plato. Satu kelompok menggangap
cahaya berasal dari satu partikel-partikel yang keluar dari
benda yang berwujud, bagi saintis yang lain mengatakan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 19

cahaya adalah modifikasi dari medium yang menghalang
diantara benda itu denganmata, yang ahli lain lagi
menerangkan bahwa cahaya sebagai interaksi antara
medium dan yang dikeluarkan oleh mata. Karena dari
masing-masing saintis tidak ada kesepakatan tentang
konsep cahaya itu sendiri maka, paradigma tentang
cahaya tidak bisa disepakati oleh komunitas ilmiah, selama
belum adanya kesepakatan maka tidak akan terjadi normal
sains (Kuhn, 1989).

2. Paradigma Normal Science
Aktivitas yang terpisah-pisah dan tidak terorganisasi

yang mengawali pembentukan suatu ilmu akhirnya menjadi
tersusun dan terarah pada suatu paradigma tunggal yang
telah dianut oleh suatu masyarakat ilmiah, suatu
paradigma yang terdiri asumsi-asumsi teoritis yang umum
dari hukum-hukum serta teknik-teknik untuk penerapannya
diterima oleh para anggota komunitas ilmiah, keadaan
seperti inilah yang dikatakan dalam tahapan paradigma
normal sains.

Para saintis akan menjelaskan dan mengembangkan
paradigma dalam usaha mempertanggung-jawabkan dan
menjabarkan perilaku beberapa aspek yang relevan
dengan dunia nyata ini, sebagaimana diungkapkan lewat
hasil-hasil eksperimen. Physica karya Aristoteles, Almagest
karya Ptolemaeus, Principia dan Opticks karya Newton,
Electricity karya Franklin, Chemistry karya Lavoisier dan
Geology karya Lyell, pencapaian mereka cukup baru belum
pernah ada sebelumnya sehingga dapat menghindarkan
kelompok penganut yang kekal dari mempersaingkan cara
melakukan kegiatan ilmia (Kuhn, 1989).

Para saintis yang risetnya didasarkan atas paradigma

20 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

bersama terikat pada kaidah dan standar praktek ilmiah
yang sama. Contoh konsep yang disepakati pada tahapan
normal sains ini adalah pada abad ke-18 paradigma
disajikan tentang Optik karya Newton yang mengajarkan
bahwa cahaya adalah partikel yang sangat halus yang
diterima oleh komunitas ilmiah pada zaman tersebut.Dari
penjelasan ini, bisa dikatakan pada tahap ini tidak terdapat
sengketa pendapat mengenai hal-hal fundamental di
antara para saintis, sehingga paradigma tunggal diterima
oleh semuanya. Paradigma tunggal yang telah diterima
tersebut dilindungi dari kritik dan falsifikasi sehingga ia
tahan dari berbagai kritik dan falsifikasi. Hal ini menjadi ciri
yang membedakan antara normal science dan pra science
(Chalmers, 1983).

Menurut Muslih (2004), normal science melibatkan
usaha terperinci dan ter-organisasi untuk menjabarkan
paradigma dengan tujuan memperbaiki keseimbangannya
dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki
science, baik teka-teki teoritis maupun teka-teki
eksperimental. Teka-teki teoritis meliputi perencanaan dan
mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penerapan
status hukum Teka-teki eksperimental meliputi perbaikan
keakuratan observasi dan pengembangan teknik
eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran
yang dapat dipercaya. Dalam tahap normal science ini
terdapat tiga fokus bagi penelitian sains faktual, yaitu:
a. Menentukan fakta yang penting.
b. Menyesuaikan fakta dengan teori. Upaya

menyesuaikan fakta dengan teori ini lebih nyata
ketergantungannya pada paradigma. Eksistensi
paradigma itu menetapkan dan menyusun
permasalahan yang harus dipecahkan; (seringkali

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 21

paradigma itu secara implisit terlibat langsung di dalam
desain peralatan yang mampu memecahkan
permasalahan tersebut).
c. Mengartikulasikan teori paradigma dengan
memecahkan beberapa ambiguitasnya yang masih
tersisa dan memungkinkan pemecahan permasalahan
yang sebelumnya hanya menarik perhatian saja.

3. Paradigma Anomali
Sains yang normal, yakni kegiatan pemecahan

permasalahan yang baru saja kita teliti, adalah kegiatan
yang sangat kumulatif, benar-benar berhasil dalam
tujuannya, perluasan secara tetap ruang lingkup dan
persisi pengetahuan sains. Sains yang normal tidak
ditujukan kepada kebaruan-kebaruan fakta atau teori dan,
jika berhasil tidak menemukan hal-hal tersebut. Jika
karakteristik sains ini akan diselaraskan dengan apa yang
telah dikatakan, maka riset yang mengikuti suatu
paradigma harus merupakan cara yang sangat efektif
untuk mendorong perubahan paradigma (Kuhn, 1989). Jika
saintis gagal memecahkan teka-teki science tersebut maka
kegagalan tersebut merupakan kegagalan ilmu itu sendiri
bukan kegagalan paradigma. Teka-teki harus ditandai oleh
kepastian akan adanya pemecahannya dari paradigma.
Teka-teki yang tidak terpecahkan dipandang sebagai
kelainan (anomali) bukan sebagai falsifikasi suatu
paradigm (Chalmer, 1983).

Jadi bisa disimpulkan bahwa apabila dalam
pemecahan teka-teki dan permasalahan science normal
jika dijumpai problem, kelainan, kegagalan (anomali) yang
tidak mendasar, maka keadaan ini tidak akan
mendatangkan krisis. Sebaliknya jika sejumlah anomali

22 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

atau fenomena-fenomena yang tidak dapat dijawab oleh
paradigma muncul secara terus menerus dan secara
mendasar menyerang paradigma, maka ini akan
mendatangkan suatu krisis.

4. Krisis Revolusi
Sasaran normal science adalah memecahkan teka-

teki science dan bukan menghasilkan penemuan-
penemuan baru yang konseptual, yang diikuti dengan
munculnya teori-teori baru. Akan tetapi dalam
perkembangan selanjutnya akan muncul gejala-gejala baru
yang belum terjawab oleh teori yang sudah ada. Apabila
hal-hal baru yang terungkap tersebut tidak dapat
diterangkan oleh paradigma dan anomali antara teori dan
fakta menimbulkan problem yang gawat, serta anomali-
anomali tersebut secara fundamental menyerang
paradigma yang ada, maka dalam keadaan demikian,
kepercayaan terhadap paradigma mulai goyah yang
kemudian terjadilah keadaan krisis yang berujung pada
perubahan paradigma (revolusi) (Kuhn, 1989).

Dengan demikian revolusi sains muncul karena
adanya anomali dalam riset ilmiah yang makin parah, dan
munculnya krisis yang tidak dapat diselesaikan oleh
paradigma yang ada saat itu dan menjadi referensi riset.
Untuk mengatasi krisis, saintis bisa kembali lagi pada cara-
cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara atau
metode itu atau mengembangkan sesuatu paradigma
tandingan yang bisa memecahkan permasalahan dan
membimbing riset berikutnya. Jika yang terakhir ini terjadi,
maka lahirlah revolusi sains.

Revolusi sains merupakan episode perkembangan
non-kumulatif, dimana paradigma lama diganti sebagian

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 23

atau seluruhnya oleh paradigma baru yang bertentangan.
Transformasi-transformasi paradigma yang berurutan dari
paradigma yang satu ke paradigma yang lainnya melalui
revolusi, adalah pola perkembangan yang biasa dari sains
yang telah matang. Jalan revolusi sains menuju sains
normal bukanlah jalan bebas hambatan.Sebagian saintis
atau masyarakat sains tertentu ada kalanya tidak mau
menerima paradigma baru dan ini menimbulkan
permasalahan sendiri. Dalam pemilihan paradigma tidak
ada standar yang lebih tinggi dari pada persetujuan
masyarakat yang bersangkutan. Untuk menyingkap
bagaimana revolusi sains itu dipengaruhi, kita harus
meneliti dampak sifat dan dampak logika juga teknik-teknik
argumentasi persuasif yang efektif di dalam kelompok yang
membentuk masyarakat sains itu. Oleh karena itu
permasalahan paradigma sebagai akibat dari revolusi
sains, hanya sebuah konsensus yang sangat ditentukan
oleh retorika di kalangan masyarakat sains itu sendiri.
Semakin paradigma baru itu diterima oleh mayoritas
masyarakat sains, maka revolusi sains kian dapat terwujud
dengan baik ( Syamsir, 2008).

5. Sains normal
Jika anomali yang ada dalam proses perkembangan

suatu ilmu telah bisa dipecahkan oleh saintis (saintis)
dalam komunitas ilmiah, dalam arti suatu komunitas ilmiah
telah bisa mengatasi dan menyelesaikan krisisnya dan
menyusun suatu paradigma baru maka terjadilah revolusi
sains (Chalmers, 1983). Sesudah suatu komunitas sains
mengalami revolusi dengan perputaran serupa Gestalt
yang menyertainya, maka kemajuan-kemajuan
penyelesaian teka-teki yang ada selama ini bisa

24 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

diselesaikan, sehingga dicapailah kembali pada tahapan
normal sains yang baru yang mempunyai keadaan baru
sebab gambaran yang dihasilkan dari teki-teki tersebut
juga sudah berubah.

Dalam tahapan sains normal baru ini para
komunitas ilmiah menyusun kembali suatu paradigma baru
dengan memilih nilai, norma, asumsi, bahasa, dan cara
mengamati dan memahami alam ilmiahnya dengan cara
baru, sehingga cara pemecahan persoalan model lama
ditinggalkan dan menuju cara pemecahan dan pemahaman
yang baru (Muslih, 2004).

Pada bukunya Thomas Kuhn, yang dimaksud Kuhn
―sains normal (ilmu normal)‖ adalah kegiatan penelitian
yang secara teguh berdasarkan satu atau lebih pencapaian
ilmiah (scientific achievements) dimasa lalu, yakni
pencapaian yang komunitas atau masyarakat ilmiah bidang
tertentu pada suatu masa dinyatakan sebagai pemberi
landasan untuk praktek selanjutnya. Kuhn mengatakan
bahwa sains normal memiliki dua ciri esensial, yaitu:
a. Pencapaian ilmiah itu cukup baru, sehingga mampu

menarik para pemraktek ilmu dari berbagai cara lain
dalam menjalankan kegiatan ilmiah; maksudnya
dihadapkan pada berbagai alternatif cara menjalankan
kegiatan ilmiah, sebagian besar pemraktek ilmu
cenderung memilih untuk mengacu pada pencapaian
itu dalam menjalankan kegiatan ilmiah mereka.
b. Pencapaian itu cukup terbuka, sehingga masih
terdapat berbagai permasalahan yang memerlukan
penyelesaian oleh pemraktek ilmu dengan mengacu
pada pencapaian-pencapaian itu. Jadi dapat
disimpulkan bahwa adanya dua tahap atau periode
dalam setiap ilmu, yakni periode pra-paradigmatik dan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 25

periode ilmu normal (normal science). Pada periode
pra-paradigmatik pengumpulan fakta atau kegiatan
penelitian dalam bidang tertentu berlangsung dengan
cara yang hampir dapat dikatakan tanpa mengacu
pada perencanaan atau kerangka teoritikal yang
diterima umum. Pada tahap pra-paradigmatik ini
sejumlah aliran pikiran yang saling bersaing, tetapi
tidak ada satupun aliran yang memperoleh
penerimaan secara umum. Dengan terbentuknya
paradigma itu, kegiatan ilmiah dalam sebuah disiplin
memasuki periode ilmu normal atau sains normal
(normal science).

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat
disimpulkan bahwa Paradigma merupakan elemen primer
dalam progress sains. Seorang saintis selalu bekerja
dengan paradigma tertentu, dan teori-teori ilmiah dibangun
berdasarkan paradigma dasar. Melalui sebuah paradigma
seorang saintis dapat memecahkan kesulitan-kesulitan
yang lahir dalam kerangka ilmunya, sampai muncul begitu
banyak anomali yang tidak dapat dimasukkan ke dalam
kerangka ilmunya sehingga menuntut adanya revolusi
paradigmatik terhadap ilmu tersebut.

Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih
cocok dengan situasi sejarah dengan demikian diharapkan
filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktifitas
ilmiah sesungguhnya. Menurut Kuhn ilmu harus
berkembang secara revolusioner bukan secara kumulatif
sebagaimana anggapan kaum rasonalis dan empiris klasik
sehingga dalam teori Kuhn, faktor sosiologis historis serta
psikologis ikut berperan, selain itu menurut Kuhn, tidak ada
paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-
kelainan (anomali), sebagai konsekwensinya ilmu harus

26 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu
paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi
revolusi tersebut. Suatu paradigma dapat membantu
seseorang dalam merumuskan tentang apa yang harus
dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan
apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban
yang diperoleh. Secara singkat pradigma dapat diartikan
sebagai ‖ keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan
teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam
memandang sesuatu (fenomena). Paradigma Kuhn telah
memberikan kontribusi dalam dinamika ilmu pengetahuan
dan peradapan manusia serta mampu mendobrak citra
pencapaian ilmu pengetahuan yang absolut dan tidak
terikat ruang dan waktu.Ada empat cara berfikir
berdasarkan dikotomi pengaruh antara individu dan
masyarakat:
a. Dikotomi muncul akibat asumsi umum bahwa individu

dapat membentuk atau mengubah masyarakat.
b. Dikotomi muncul akibat asumsi umum bahwa‖ individu

merupakan produk dari masyarakat (individual is
created society).
c. Dikotomi dari kedua pendapat itu disintensiskan dalam
model yang dimiliki perspektif yang tersangkut paut
dalm hubungan antara anggota masyarakat.
d. Model terakhir ini akan menghasilkan gambaran yang
menyambung. Disatu sisi langsung proses
socialization yang terjadi ketika individu mendapat
pengaruh kuat dari lingkungan sosial, individu akan
menyesuaikan diri dengan pola-pola yang berlaku di
masyarakat.

Pandangan antara paradigma ilmu pengetahuan
tampaknya berubah antar waktu. Perkembangan subtansi

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 27

paradigmatik dalam tulisan ini akan dikupas lengkap,
berawal dari paradigma positivisme, postpositivisme,
critical theory, dan konstruk-tivisme. Perubahan paradigma
dalam ilmu mengcakup seluruh aspek paradigma. Dari
beberapa kasus perubahan paradigma ilmu pengetahuan
yang telah di paparkan, arah yang mencapai memang di
utarakan berupa perkembangan. Kemapanan dan
munculnya spesialisasi ilmu menjadi harapan dari
perubahan tersebut. Perubahan tersebut berhubungan
timbal balik dengan perubahan kehidupan manusia yang
menjadi pendukungnya, termasuk terutama perkembangan
di kalangan saintis.

1.7. Ilmu sebagai Paradigma

Thomas Kuhn melihat adanya kesalahan-kesalahan
fundamental tentang image atau konsep ilmu yang telah
dielaborasi oleh kaum filsafat ortodoks, sebuah konsep ilmu
yang dengan membabi-buta mempertahankan dogma-dogma
yang diwarisi dari empirisme dan rasionalisme klasik. Dalam
teori Kuhn, faktor sosiologis historis serta fsikologis mendapat
perhatian dan ikut berperan. Kuhn berusaha menjadikan teori
tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah. Dengan
demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan
ilmu dan aktifitas ilmiah sesungguhnya, yang dalam
perkembangan ilmu tersebut adalah secara revolusioner bukan
secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum rasionalis dan
empiris klasik.

Kuhn dengan mendasarkan pada sejarah ilmu,
berpendapat bahwa terjadinya perubahan-perubahan yang
berarti tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk
membuktikan salah (falsifikasi) suatu teori atau itern, melainkan
berlangsung melalui revolusi-revolusi ilmiah. Dengan kata lain,

28 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Kuhn berdiri dalam posisi melawan keyakinan yang
mengatakan bahwa kemajuan ilmu berlangsung secara
kumulatif. Ia mengambil posisi alternatif bahwa kemajuan ilmiah
pertama-pertama bersifat revolusioner. Secara sederhana yang
dimaksud dengan revolusi ilmiah oleh Kuhn adalah segala
perkembangan nonkumulatif yakni paradigma yang terlebih
dahulu ada (lama) diganti keseluruhan ataupun sebagian
dengan yang baru. Dengan penggunaan istilah paradigma itu,
Kuhn hendak menunjuk pada sejumlah contoh praktik ilmiah
aktual yang diterima atau diakui dalam lingkungan komunitas
ilmiah, menyajikan model-model penelitian ilmiah yang terpadu
(koheren). Contoh praktek ilmiah itu mencakup dalil, teori,
penerapan dan instrumentasi. Dengan demikian, para saintis
dan saintis yang penelitiannya didasarkan pada paradigma
yang sama, pada dasarnya terikat pada aturan dan standar
yang sama dalam mengemban ilmunya. Keterikatan pada
aturan dan standar ini adalah prasyarat bagi adanya sains
normal.

1.8. Proses Pengembangan Ilmu menurut
pandangan Kuhn

Pada bagian ini akan dibahas mengenai topik-topik berikut
ini, yaitu :
1. Paradigma dan Normal Science

Konsep sentral kuhn adalah apa yang dinamakan
dengan paradigma. Istilah ini tidak dijelaskan secara
konsisten, sehingga dalam berbagai keterangan sering
berubah konteks dan arti. Pemilihan kata paradigma ini erat
kaitannya dengan sains normal, yang olehThomas Kuhn
dimaksudkan untuk mengemukakan beberapa contoh praktik
ilmiah nyata yang diterima; yaitu contoh yang sama-sama
menyangkut dalil,teori,penerapan dan instrukmentasi yang

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 29

telah menyajikan model-model daripadanya lahir tradisi-
tradisi tertentu dari riset dan penyelidikan ilmiah. Atau
dengan kata lain, sains normal adalah kerangka referensi
yang mendasari sejumlah teori maupun praktik-praktik ilmiah
dalam periode tertentu.

Paradigma ini membimbing kegiatan kerja ilmiah dalam
masa sains normal, dimana para saintis berkesempatan
menjabarkan dan mengembangkannya secara terperinci dan
mendalam, karena tidak sibuk dengan hal-hal yang
mendasar.Pada tahap ini, saintis tidak bersikap kritis
terhadap paradigma yang membimbing aktivitas ilmiahnya,
dan selama menjalankan riset ini, saintis bisa menjumpai
berbagai fenonema yang tidak bisa diterangkan dengan
teorinya, dan kondisi atau saat inilah yang disebut anomali.
Jika anomali ini semakin menumpuk dan kualitasnya
semakin meninggi, maka bisa timbul krisis.

Dalam krisis inilah, paradigma mulai dipertanyakan.
Dengan demikian, sang saintis sudah keluar dari sains
normal. Untuk mengatasi krisis itu, saintis bisa kembali lagi
pada cara-cara itu atau mengembangkan suatu paradigma
tandingan yang bisa memecahkan permasalahan dan
bimbing kerja riset berikutnya. Jika yang terakhir ini terjadi,
maka lahirlah revolusi ilmiah.

Dari sini tampak bahwa paradigma pada saat pertama
kali muncul itu sifatnya terbatas, baik dalam cakupannya
maupun dalam ketepatannya. Paradigma memperoleh
statusnya karena lebih berhasil daripada saingannya dalam
memecahkan beberapa permasalahan yang mulai diakui
oleh kelompok pelaku praktik bahwa permasalahan itu
rawan. Keberhasilan sebuah paradigma semisal analisis
aristoteles tentang gerak, atau perhitungan ptolemeus
tentang kedudukan janji akan keberhasilan yang dapat

30 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

ditemukan dalam contoh pilihan dan belom lengkap. Ini pun
sifatnya masih terbatas, dan ketepatanya masih
dipertanyaakan. Dalam perkembangan selanjutnya, secara
dramatis, ketidak berasilan teori Ptolemeus betul-betul
terungkap ketika munculnya paradigma baru dari
Copernicus.

Contoh lain tentang tentang penemuan saintis
revolusioner, misalnya, bisa dilihat pada bidang fisika yang
berkenan dengan teori cahaya. Mula-mula cahaya
dinyatakan sebagai foton, yaitu maujud mekanis kuantum
yang memperlihatkan beberapa karakteristik gelombang dan
beberapa karakteristik partikel. Teori ini menjadi landasan
riset selanjutnya, yang hanya berumur setengah abad ketika
muncul teori baru dari Newton yang mengajarkan bahwa
cahaya adalah partikel yang sangat halus. Teori ini pun
sempat diterima oleh hampir semua praktisi sains optika,
kemudian muncul teori baru yang bisa dikatakan lebih
"unggul" yang digagas oleh Young dan Fresnel pada awal
abad XIX yang selanjutnya dikembangkan oleh Planck dan
Einstein, yaitu bahwa cahaya adalah gerakan gelombang
tranversal.Berbagai transformasi paradigma semacam ini
adalah revolusi sains, dan transisi yang berurutan dari
paradigma yang satu ke paradigma yang lainnya melalui
revolusi. Hal ini merupakan perkembangan yang biasa dari
sains yang telah matang.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa ilmu normal memiliki
dua ciri esensial:
a. Pencapaian ilmiah itu cukup baru sehingga mampu

menarik para pemraktek ilmu dari berbagai cara lain
dalam menjalankan kegiatan ilmiah; maksudnya
dihadapkan pada berbagai alternatif cara menjalankan
kegiatan ilmiah, sebagian besar pemraktek ilmu

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 31

cenderung memilih untuk mengacu pada pencapaian itu
dalam menjalankan kegiatan ilmiah mereka.
b. Pencapaian itu cukup terbuka sehingga masih terdapat
berbagai permasalahan yang memerlukan penyelesaian
oleh pemraktek ilmu dengan mengacu pada pencapaian-
pencapaian itu.
Ilmu normal bekerja berdasarkan paradigma yang
dianut atau yang berlaku. Karena itu, pada dasarnya
penelitian normal tidak dimaksudkan untuk pembaharuan
besar, melainkan hanya untuk mengartikulasi paradigma itu.
Kegiatan ilmiah ilmu normal hanya bertujuan untuk
menambah lingkup dan presisi pada bidang-bidang yang
terhadapnya paradigma dapat diaplikasikan. Jadi ilmu
normal adalah jenis kegiatan ilmiah yang sangat restriktif.
Keuntungannya adalah bahwa kegiatan ilmiah yang
demikian itu dapat sangat mendalam dan cermat.Walaupun
ilmu normal itu adalah kegiatan kumulatif (menambah
pengetahuan) dalam bidang yang batas-batasnya ditentukan
oleh paradigma tertentu, namun dalam perjalanan
kegiatannya dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan.
Maksudnya, dalam kegiatan ilmiah itu dapat timbul
penyimpangan, yang oleh kuhn disebut anomali. Terbawa
oleh sifatnya sendiri, yakni oleh batas-batas yang ditetapkan
oleh paradigma, ilmu normal akan mendorong para saintis
pemrakteknya menyadari adanya anomali, yakni hal baru
atau pertanyaan yang tidak tercover atau terliputi oleh
kerangka paradigma yang bersangkutan, yang tidak
terantisipasi berdasarkan paradigma yang menjadi acuan
kegiatan ilmiah. Adanya anomali merupakan prasyarat bagi
penemuan baru, yang akhirnya dapat mengakibatkan
perubahan paradigma.
a. Anomali dan Munculnya Penemuan Baru

32 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Data anomali berperan besar dalam memunculkan
sebuah penemuan baru yang di awali dengan kegiatan
ilmiah.dalam keterkaitan ini, Thomas Kuhn menguraikan
dua macam kegiatan ilmiah, puzzle solving dan
penemuan paradigma baru. Dalam puzzle solving, para
saintis membuat percobaan yang mengadakan observasi
yang tujuannya untuk memecahkan teka teki, bukan
untuk mencari kebenaran. Bila paradigmanya tidak dapat
digunakan untuk memecahkan persoalan penting atau
malah malah mengakibatkan konflik, suatu paradigma
baru harus diciptakan. Dengan demikian,kegiatan ilmiah
selanjutnya diarahkan kepada penemuan baru ini
berhasil, akan terjadi perubahan besar dalam ilmu
pengetahuan.

Penemuan baru bukanlah peristiwa terasing,
melainkan episode-episode yang diperluas dengan
struktur yang berulang secara teratur . penemuan diawali
dengan kesadaran dengan anomali, yakni dengan
pengakuan bahwa alam, dengan suatu cara, telah
dilanggar pengharapan yang didorong oleh
paradigmayang menguasai sains yang normal.kemudian
ia berlanjut dengan eksplorasi yang seikt banyak
diperluas pada wilayah anomali. Dan ia hanya
berakhirjika teori atau paradigma itu telah disesuaikan
sehingga ang menyimpang itu menjadi yang
diharapkan.jadi yang jelas, dalam penemuan baru harus
ada penyesuaian antara fakta dengan teori yang baru.
b. Revolusi sains

Sebagaimana telah disinggung pada uraian
terdahulu, revolusi sains muncul karena adanya anomali
dalam riset ilmiah yang dirasakan semakin parah, dan
munculnya krisis yang tidak dapat diselesaikan oleh

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 33

paradigma yang dijadikan referensi riset. Revolusi sains
disini dianggap sebagai episode perkembangan non-
kumulatif yang didalam paradigma yang lama diganti
seluruhnya atau sebagiannya oleh paradigma baru yang
bertentangan. Adanya revousi sains bukan merupakan
hal yang berjalan dengan mulus tanpa hambatan.
Sebagai ilmua atau masyarakat sains tertentu ada
kalanya tidak mau menerima paradigma baru tersebut.
Dan ini menimbulkan permasalahan tersendiri yang
memerlukan pemilihan dan legimitasi paradigma yang
lebih definitif.

Oleh karena itu, permasalah paradigma atau
munculnya paradigma yang baru sebagai akibat revolusi
sains tidak lain hanyalah sebuah konsensus atau
kesepakan yang sangat ditentukan oeh retorika di
kalangan akademis dan atau masyarakat sains itu
sendiri. Sejauh mana paradigma baru itu diterima oleh
mayoritas masyarakat sains, maka revolusi sains dapat
terwujud. Selama revolusi sains, para saintis melihat hal-
ha baru dan berbeda dengan ketika menggunakan
instrumen yang sangat dikenalnya untuk melihat tempat
yang pernah dilihatnya. Seakan-akan masyarakat
profesional itu tiba-tiba di pindahkan ke daerah lain di
mana objek-objek yang sangat dikenal sebelumnya
tampak dalam penerangan yang berbeda dan juga
berbaur dengan objek yang tidak dikenal. Kalaupun ada
saintis tidak mau menerima paradigma yang baru sebagi
landasan risetnya, dan tetap bertahan pada
paradigmanya, maka saintis tersebut akan tidak
mendapat dukungan lagi dari mayoritas masyarakat sains
tersebu dan aktivitas risetnya tidak akan diakui.

34 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

BAB 2

HAKIKAT SAINS, KERJA ILMIAH, DAN
PARADIGMA KEBENARAN

Sudarmin
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Email: [email protected]

2.1. Deskripsi Materi

Pada bab ini akan dibahas mengenai hakikat sains
sebagai bagian dari filsafat IPA, karakteristik sains, Kerja
Ilmiah, serta sikap Ilmiah. Topik dan tema dari ini sangat
penting sebagai landasan bagi kerja ilmiah, dan paradigma
dalam mencari kebenaran. Bahan kajian dari materi bab ini
dihimpun dari berbagai sumber, terutama buku Filsafat sains
dan filsafat ilmu, dan beberapa materi makalah atau artikel
ilmiah yang tersedia di internet/digital.

2.2. Hakikat Sains

Kata sains, tidak asing bagi dunia pendidikan. Pada
konteks pembelajaran, maka seorang guru atau dosen dituntut
untuk mengetahui cara pandang tentang sains, yang
merupakan faktor penting dalam menentukan arah

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 35

pembelajaran sains. Pernyataan ini bukan khayalan, tetapi
hasil penelitian, yakni bahwa persepsi guru tentang sains akan
mempengaruhi proses pembelajarannya. Dangan demikian
cara pandang berbeda dalam berfilosofi dan cara pandang
mengenai sains, akan memberikan hasil pandang yang
berbeda, begitu juga dalam memandang hakikat dan
pengertian sains. Pada masa lampau, orang awam akan
memandang sains sebagai susunan informasi ilmiah an sich.
Saintis akan memandang atau mendefinisikan sains sebagai
metode yang berdekatan hipotesis yang akan diuji.

Filsuf memandang sains sebagai cara yang berisi tanya-
jawab, rangkaian tanya-jawab kebenaran dari apa yang telah
diketahui manusia. Ditinjau historisnya, maka pada awalnya
sains merupakan pengetahuan biasa lambat laun berubah
menjadi pengetahuan rasional dan lepas dari takhayul,
kemudian berkembang menjadi pengetahuan yang diperoleh
melalui metode ilmiah.

Perkembangan makna sains menurut beberapa tokoh,
diantaranya (1) Sains dipandang sebagai suatu cara atau
metode untuk dapat mengamati sesuatu fenomena yang
terjadi di Alam; (2) Einstein, berpendapat sains merupakan
suatu pola pikir logis dan uniform, (3) Bernal, Sains adalah
pengetahuan, atau pengetahuan umum yang berisi apa saja
yang diketahui manusia, dimana pengetahuan tersebut benar
secara rasional dan bebas dari takhayul atau kepercayaan
tidak masuk akal. Pengetahuan sains bersifat ilmiah, rasional
dan objektif. Pada saat ini pengertian sains adalah suatu
pengetahuan yang diperoleh dari pengujian kebenarannya
melalui metode ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah inilah
yang menentukan apakah pengetahuan itu ilmiah atau tidak.

Bahan kajian sains dan objek dari sains adalah alam
semesta beserta isinya dan interaksi yang terjadi di Alam,

36 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

sehingga menimbulkan gejala dan fenomena alam. Fenomena
tersebut tidak terkotak-kotak seperti ilmu-ilmu dasar dan
terapan. Hanya keterbatasan kompetensi manusialah
menyebabkan ilmu alam atau sains terkotak-kotak yang
meliputi ilmu kimia, biologi, fisika, dan bumi antariksa sebagai
proses untuk membentuk hukum, model, dan teori yang
memungkinkan orang untuk memprediksi, menjelaskan, dan
mengendalikan tingkah laku alam. Rumpun pengetahuan
utama dari bidang sains terdiri atas :
1. Ilmu Fisika, kata fisika berasal dari bahasa Yunani yang

berarti “alam‖. Fisika adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari sifat dan gejala pada benda-benda di alam.
Gejala-gejala ini pada mulanya adalah apa yang dialami
oleh indera manusia, misalnya penglihatan menemukan
optika atau cahaya, pendengaran menemukan
pembelajaran tentang bunyi, dan indera peraba dapat
merasakan panas. Menurut historisnya, fisika adalah bidang
ilmu yang tertua, karena dimulai dengan pengamatan dari
gerakan benda-benda langit, bagaimana lintasannya,
periodenya, usianya, dan lain-lain. Bidang Fisika ini telah
dimulai berabad-abad yang lalu, dan berkembang pada
zaman Galileo dan Newton. Galileo merumuskan hukum-
hukum mengenai benda yang jatuh, sedangkan Newton
mempelajari gerak, termasuk gerak planet-planet pada
sistem tata surya. Fisika adalah ilmu yang mempelajari
gejala alam secara keseluruhan. Fisika mempelajari materi,
energi, dan fenomena atau kejadian alam, baik bersifat
makroskopis dan mikroskopis yang berkaitan dengan
perubahan zat atau energi. Bidang fisika secara garis besar
terbagi atas dua, yaitu fisika klasik dan modern. Fisika
modern berkembang mulai abad ke-20, sejak penemuan
teori relativitas Einstein dan radioaktivitas.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 37

2. Ilmu Kimia: Ilmu Kimia merupakan ilmu yang pada awalnya
diperoleh dan dikembangkan berdasarkan suatu percobaan
induktif, pada perkembangan selanjutnya kimia juga
diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori deduktif.
Pengertian ilmu kimia adalah ilmu yang mencari jawaban
atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala alam
yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat,
perubahan, dinamika, dan energetika zat (Kemendikbud,
2011). Bahan kajian kimia mempelajari segala sesuatu
tentang zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat,
perubahan, dinamika, dan energetika zat. Pada bahan
kajian pembelajaran kimia, maka terdapat dua hal yang
berkaitan kimia yang tidak terpisahkan, yaitu kimia sebagai
produk pengetahuan kimia yang berupa fakta, konsep,
prinsip, hukum, dan teori dan kimia sebagai proses kerja
ilmiah.

3. Ilmu Biologi: Biologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang makhluk hidup beserta lingkungannya.
Biologi berasal dari kata bios artinya hidup dan logos yang
berarti ilmu. Objek dan bahan kajian dalam biologi adalah
makhluk hidup. Makhluk hidup selalu erat kaitannya dengan
lingkungan. Lingkungan terbagi menjadi lingkungan biotik
dan abiotik. Lingkungan biotik meliputi semua makhluk
hidup yang terbagi atas mikroorganisme, tumbuhan, hewan,
dan manusia. Lingkungan abiotik meliputi faktor fisika dan
kimia yang penting bagi makhluk hidup, seperti air,
temperatur, sinar matahari, dan tanah. Karakteristik biologi
yaitu obyek kajian berupa benda konkret dan dapat
ditangkap oleh panca indera. Biologi dikembangkan
berdasarkan pengalaman empiris, menggunakan cara
berfikir logis, yang bersifat deduktif artinya berpikir dengan
menarik kesimpulan dari hal-hal yang khusus menjadi suatu

38 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner


Click to View FlipBook Version