The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by candraprimadian01, 2021-11-06 04:36:55

PARADIGMA_2021 Lontar Fik LENGKAP

PARADIGMA_2021 Lontar Fik LENGKAP

simpulan umum. Sedangkan cara berpikir deduktif artinya
berpikir dengan menarik kesimpulan dari hal-hal yang
umum menjadi ketentuan khusus, hasilnya bersifat obyektif,
terhindar dari kepentingan subyektif dan hasilnya berupa
hukum yang berlaku umum.

Pada saat ini yang menjadi bidang kajian Sains tidak
hanya terbatas fisika, kimia, dan biologi, tetapi juga ilmu
pengetahuan bumi antariksa. Mengacu bahan kajian sains
tersebut, maka pembelajaran sains haruslah melalui
pemahaman dari berbagai aspek bidang kajian sains tersebut,
yaitu aspek sains sebagai:
1. Suatu institusi, artinya suatu kelembagaan dari sains itu

imaginer (tidak nyata), seperti halnya kelembagaan bidang
profesi tertentu seperti hukum, kedokteran, pendidikan,
dsb.
2. Suatu metode. Sains sebagai suatu metode berkaitan
dengan metode ilmiah yaitu suatu metode kerja ilmiah
untuk memperoleh pengetahuan yang terdiri atas sejumlah
kegiatan baik hands on dan minds on, yang mana
didalamnya melibatkan aktivitas kerja ilmiah seperti
pengamatan, eksperimental, klasifikasi, pengukuran,
hipotesis dan pengambilan kesimpulan.
3. Kumpulan pengetahuan. Pada aspek ini, maka sains
dipandang sebagai suatu body of knowledge yang terus
tumbuh dan tidak statis.
4. Sains sebagai alat, artinya sains mengandung makna
bahwa untuk menguasai dan memelihara alam semesta
serta untuk mengembangkan produksi yang berguna
kesejahteraan manusia, maka perlu menguasai Sains
sebagai alatnya.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 39

5. Sains sebagai sikap, artinya sains merupakan salah satu
faktor utama yang mempengaruhi kepercayaan, pola
berfikir dan sikap manusia terhadap alam semesta
Pada kajian epistemologi, maka pengetahuan sains dapat

diperoleh melalui kerja ilmiah; yaitu berkaitan serangkaian
aktivitas manusia yang dikenal dengan penyelidikan dan kerja
ilmiah. Pada awal kerja ilmiah ini, maka saintis didorong rasa
ingin tahu tentang fenomena alam, kemudian menjadi
permasalahan dan pertanyaan untuk dicari pemecahannya
melalui pengamatan dan percobaan, hingga diperoleh
kesimpulan. Pada saat ini penyelidikan ilmiah atau scientific
inquiry telah menjadi primadona dalam bidang sains maupun
non sains. Pemahaman sains dan non sains terletak pada
metode untuk melakukan penyelidikan ilmiah dengan
menggunakan keterampilan proses sains yang dikenal metode
ilmiah (Hempel, 1997).

Perkembangan hakikat dan makna sains dapat disajikan
sebagai berikut: (1) Carin & Sound dalam Bybee (1989)
menyatakan sains adalah suatu sistem untuk memahami alam
semesta melalui pengamatan dan eksperimen yang terkontrol,
(2) Abruscato (1996) dalam bukunya yang berjudul “Teaching
Children Science” mendefinisikan secara epistemologi, maka
sains sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat serangkaian
proses yang sistematik guna mengungkap segala sesuatu yang
berkaitan dengan alam semesta; (3). Sedangkan The Harper
dalam Encyclopedia of Science mendefinsikan sains sebagai
suatu pengetahuan dan pendapat yang tersusun dan didukung
secara sistematis oleh bukti-bukti yang dapat diamati.

Dengan demikian, jika menggunakan sudut pandang yang
lebih menyeluruh, maka sains hakikatnya sebagai cara berpikir
(a way of thinking) untuk memperoleh pemahaman fenomena
atau gejala alam makroskopis maupun mikroskopis; dan sifat-

40 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

sifatnya, cara menyelidiki bagaimana fenomena alam dapat
dijelaskan, sebagai batang tubuh pengetahuan (a body of
knowledge) yang dihasilkan dari keingintahuan orang. Pada
saat ini, hasil suatu eksperimen dan pengamatan yang
diperoleh oleh saintis sebelumnya menjadi bekal bagi
eksperimen dan pengamatan selanjutnya, sehingga
memungkinkan sains untuk terus berkembang.

Hakikat sains adalah suatu pengetahuan atau kumpulan
konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses
kreatif yang sistematis melalui inkuiri yang dilanjutkan dengan
proses pengamatan secara terus-menerus (Liliasari, 2011).
Proses perolehan pengetahuan sains dilakukan oleh seorang
saintis melalui aktivitas operasi mental berpikir, keterampilan,
dan strategi memanipulasi dan menghitung, yang dapat diuji
kembali kebenarannya yang dilandasi sikap keinginan,
keteguhan hati, ketekunan yang dilakukan oleh individu untuk
menyingkap rahasia alam. Oleh karena itu pendidikan sains
adalah suatu upaya atau proses untuk mengembangkan
peserta didik untuk memahami hakikat sains sebagai produk,
proses, dan mengembangkan sikap ilmiah serta nilai yang
ada di dalam masyarakat untuk pengembangan sikap positif.
Adapun nilai-nilai atau aksiologi sains, maka berbagai aspek
sains dalam kehidupan dapat bernilai:
1. Praktis, maksudnya hasil-hasil penemuan sains, baik

secara langsung atau tidak langsung dapat digunakan
secara praktik dan dimanfaatkan manusia dalam
mengatasi persolan dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya penemuan sains tentang listrik yang sangat
bermanfaat bagi kehidupan manusia.
2. Intelektual, maksudnya sains dengan metode ilmiahnya
banyak sekali digunakan untuk memecahkan
permasalahan, bukan saja permasalahan yang berkaitan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 41

dengan sains, tetapi permasalahan lain yang berkaitan
dengan sosial dan ekonomi.
3. Sosial politik-ekonomi, maksudnya jika suatu negara
memiliki kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya
(Ipteks), maka akan mendapat tempat khusus dalam
kedudukan sosial, politik, dan ekonominya.
4. Keagamaan, maksudnya orang atau peserta didik yang
belajar sains, maka menyadarkanpada orang yang belajar
sains bahwa ada yang menciptakan dan mengatur segala
keteraturan yang ada di alam semesta ini.
5. Pendidikan, maksudnya melalui pendidikan sans
diharapkan mampu menciptakan seoarang warganegara
yang sadar akan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Adapun nilai-nilai sosial dari sains yaitu:
1. Nilai etik dan estetika: nilai itu terutama terletak pada

sistem yang menetapkan kebenaran yang objektif pada
tempat yang utama, terdapat hubungan saling percaya di
antara saintis, penemu suatu konsep atau teori yang
terdahulu tetap dihormati.
2. Nilai moral humaniora, terdapat dua sisi nilai yang
berlawanan, yaitu konten dan pengetahuan sains sendiri
adalah suci,sedangkan yang tidak suci terkadang
manusianya.
3. Nilai ekonomi : apabila seorang saintis menemukan suatu
kaidah dari suatu fenomena tertentu, maka pertanyaan
adalah apakah temuan dari sains itu mempunyai nilai
ekonomi secara langsung atau tidak? Jawabnya adalah bisa
ya atau bisa tidak.

Oleh karena itu, sains sebagai produk tidak dapat
dipisahkan dari hakikatnya sebagai proses. Produk sains
adalah fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-

42 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

hukum, dan teori-teori. Prosedur yang dipergunakan oleh para
saintis mempelajari alam ini adalah prosedur empirik dan
analitik. Dalam prosedur empirik saintis mengumpulkan
informasi, mengorganisasikan informasi untuk selanjutnya
dianalisis. Prosedur empirik atau dari sudut epistemologi,
dalam sains mencakup observasi, klasifikasi, dan pengukuran.
Sedangkan dalam prosedur analitik saintis menginter-
prestasikan penemuannya dengan mempergunakan proses
sains seperti mengajukan hipotesa, eksperimen, menarik
kesimpulan.

Webster‘a dalam Patta (2006) menyatakan ―natural
science knowledge concerned with the physical world and its
phenomena”. Yang artinya sains adalah pengetahuan tentang
alam dan gejala-gejalanya. Sedangkan Purnell‘s
mendefinisikan sains adalah pengetahuan manusia yang luas
yang didapatkan dengan cara observasi dan eksperimen yang
sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan aturan, hukum,
prinsip, teori, dan hipotesa. Hakikat sains adalah ilmu yang
mempelajari tentang fenomena alam dan segala sesuatu yang
ada di alam.

Bagaimana dengan hakikat pendidikan sains?. Pendidikan
sains merupakan gabungan antara teori sains dengan ilmu
pendidikan. Pendidikan sains adalah ilmu yang menelaah
fenomerna pendidikan dalam prespektif yang luas dan
integratif. Fenomena pendidikan ini bukan hanya gejala yang
melekat pada manusia (gejala yang universal) dalam perspektif
yang luas, melainkan juga sekaligus merupakan upaya untuk
membentuk kepribadian manusia ( insan ) yang dirancang
secara sadar dan sistematis dalam proses interaksi antara
pendidik dengan peserta didik baik di dalam maupun di luar
sekolah.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 43

Pendidikan sains dapat dimasukkan dalam klasifikasi ilmu
pendidikan karena Dimensi pendidikan sains sangat luas dan
sekurang-kurangnya meliputi unsur-unsur (nilai-nilai) sosial
budaya, etika, moral dan agama. Oleh sebab itu, belajar sains
bukan hanya sekedar memahai konsep ilmiah dan aplikasi
dalam masyarakat, melainkan juga untuk mengembangkan
berbagai nilai yang terkandung dalam dimensi Pendidikan
sains. Pembelajaran sains di sekolah di harapkan memberi
berbagai pengalaman pada anak yang mengijinkan mereka
melakukan berbagai penelusuran ilmiah yang relevan. Dimensi
yang dipelajari dalam pendidikan sains meliputi produk,
proses, dan sikap ilmiah yang tak dapat dipisahkan satu
dengan lainnya.
a. Sains sebagai produk

Sains sebagai disiplin ilmu disebut produk sains karena
isinya merupakan kumpulan hasil kegiatan empirik dan
kegiatan analitik yang dilakukan oleh para saintis selama
berabad-abad. Bentuk sains sebagai produk adalah fakta,
konsep, prinsip, hukum, dan teori sains. Jika ditelaah lebih
lanjut, fakta-fakta merupakan hasil kegiatan empirik dalam
sains, sedangkan konsep, prinsip, hukum, dan teori-teori dalam
sains merupakan hasil kegiatan analitik atau berpikir. Fakta
dalam sains adalah pernyataan tentang benda yang benar ada,
atau peristiwa yang betul-betul terjadi dan sudah
dikonfirmasikan secara obyektif. Contoh fakta: Merkuri adalah
planet terdekat dengan matahari; ular tergolong reptilian; air
membeku pada suhu nol derajat celcius.

Konsep sains adalah suatu ide yang mempersatukan
fakta-fakta sains yang saling berhubungan. Konsep adalah
suatu kosakata khusus yang dipelajari peserta didik, sehingga
diharapkan dapat menjelaskan konsep yang dipelajari,
mengenal ilustrasi konsep, kesamaan suatu konsep, dan

44 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

mengetahui penggunaan konsep itu benar atau salah. Konsep
dianggap telah dipelajari jika seseorang dapat memberikan
tanggapan terhadap pertanyaan atau rangsangan yang
bervariasi pada kelompok atau kategori yang sama

Prinsip sains adalah generalisasi tentang hubungan di
antara konsep sains. Prinsip merupakan kumpulan sejumlah
besar fakta atau menjelaskan saling keterhubungan sejumlah
fakta. Contohnya: Udara yang dipanaskan memuai, adalah
prinsip yang menghubungkan konsep-konsep udara, panas,
dan pemuaian. Prinsip ini menyatakan jika udara dipanaskan
akan memuai. Prinsip sains bersifat analitik sebab merupakan
generalisasi induktif yang ditarik dari beberapa contoh. Menurut
para saintis prinsip merupakan deskripsi yang paling tepat
tentang obyek atau kejadian. Prinsip dapat berubah bila
observasi baru dilakukan, sebab prinsip bersifat tentatif.

Hukum alam adalah prinsip yang sudah diterima
kebenarannya yang meskipun sifatnya tentatif tetapi
mempunyai daya uji yang kuat sehingga dapat bertahan dalam
waktu yang relatif lama. Hukum kekekalan energi berbunyi
bahwa dalam suatu interaksi tidak ada energi yang diciptakan
maupun dimusnahkan, tetapi hanya berubah dari suatu bentuk
ke bentuk lain. Namun Einstein kemudian menunjukkan bahwa
energi dapat diciptakan dari materi di bawah kondisi khusus,
pernyataan ini menyebabkan hukum kekekalan energi harus
diperluas.

Teori ilmiah adalah kerangka hubungan yang lebih luas
antara fakta-fakta, konsep, prinsip, dan hukum. Sehingga
merupakan model atau gambaran yang dibuat para saintis
untuk menjelaskan gejala alam. Teoripun dapat berubah jika
ada bukti baru yang bertentangan dengan teori tersebut.
Contoh: Teori geosantrik alam semesta sekarang hanya
merupakan bagian dari sejarah dan tidak berlaku lagi. Teori

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 45

ilmiah memberi bantuan untuk memahami, memprediksi, dan
kadang-kadang mengendalikan berbagai gejala alam.
b. Sains sebagai proses

Memahami sains bukan hanya memahami fakta dalam
sains. Memahami sains berarti juga memahami proses sains
yaitu memahami bagaimana mengumpulkan fakta dan
memahami bagaimana menghubungkan fakta untuk
menginterpretasikannya. Para saintis mempergunakan
berbagai prosedur empirik dan prosedur analitik dalam usaha
untuk memahami alam semesta ini. Prosedur tersebut disebut
proses ilmiah atau proses sains. Keterampilan proses sains
disebut juga keterampilan belajar seumur hidup. Sebab
keterampilan ini dapat juga dipakai di bidang lain dalam
kehidupan sehari-hari. Keterampilan proses sains adalah
keterampilan yang dilakukan para saintis, di antaranya
mengamati, mengukur, menarik kesimpulan, mengendalikan
variabel, merumuskan hipotesa, membuat grafik, membuat
tabel data, membuat definisi operasional, dan melakukan
eksperimen.
c. Sains sebagai sikap ilmiah

Seorang saintis menggunakan cara khusus untuk
memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Cara itu
dinamakan ―Metode Ilmiah‖ yang secara garis besar terdiri
atas dua kegiatan utama yaitu observasi dan eksperimen.
Dalam memecahkan permasalahan seorang saintis bersikap
ilmiah yaitu berusaha mengambil sikap tertentu yang
memungkinkan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Sikap
yang dimaksud antara lain: 1) obyektif terhadap fakta, 2) tidak
tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data
yang mendukung, 3) berhati terbuka, 4) tidak
mencampuradukan fakta dengan pendapat, 5) bersifat hati-hati,
dan 6) ingin menyelidiki.

46 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Mengetahui cara pandang tentang sains merupakan
faktor penting yang menentukan arah pembelajaran sains.
Pernyataan ini bukan khayalan, tetapi hasil penelitian, yakni
bahwa persepsi guru tentang sains akan mempengaruhi proses
pembelajarannya. Berbeda alat pandang akan memberikan
hasil pandang yang berbeda. Orang awam memandang sains
sebagai susunan informasi ilmiah saja. Saintis memandang
atau mendefinisikan sains sebagai metode yang dengannya
hipotesis diuji. Filsuf akan memandang sains sebagai cara
yang berisi tanya-jawab, rangkaian tanya-jawab akan
kebenaran dari apa yang telah diketahui manusia. Jika
menggunakan sudut pandang yang lebih menyeluruh, sains
seharusnya dipandang sebagai (a) cara berpikir untuk
memperoleh pemahaman tentang alam dan sifat-sifatnya, (b)
cara untuk menyelidiki bagaimana fenomena alam dapat
dijelaskan, (c) batang tubuh pengetahuan yang dihasilkan dari
proses inquiri, adapun penjelasannya setiap pandangan sains
tersebut, adalah:
1. Sains sebagai cara untuk berpikir (Way of Thinking)

Sains merupakan aktivitas manusia yang dicirikan oleh
adanya proses berpikir yang terjadi di dalam pikiran siapapun
yang terlibat di dalamnya. Pekerjaan para saintis yang
berkaitan dengan akal, menggambarkan keingintahuan
manusia dan keinginan mereka untuk memahami gejala alam.
Setiapsaintis memiliki sikap, keyakinan, dan nilai-nilai yang
memotivasi mereka untuk memecahkan persoalan yang
mereka temui di alam. Saintis digerakkan oleh rasa
keingintahuan yang sangat besar, imajinasi, dan pemikiran
dalam penyelidikan mereka untuk memahami dan menjelaskan
fenomena-fenomena alam. Pekerjaan mereka termanifestasi
dalam aktivitas kreatif dimana gagasan-gagasan dan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 47

penjelasan-penjelasan tentang fenomena alam dikonstruksi di
dalam pikiran.
2. Sains sebagai cara menyelidiki (Way Of Investigating)

Siapa saja yang berkeinginan memahami alam dan
menyelidiki hukum-hukumnya harus mempelajari gejala alam
atau peristiwa alam dan segala hal yang terlibat di dalamnya.
Petunjuk-petunjuk yang ada pada gejala alam pada
kenyataannya telah tertanam di alam itu sendiri. Sains
terbentuk dari proses penyelidikan yang terus menerus. Hal
yang menentukan sesuatu dinamakan sebagai sains adalah
adanya pengamatan empiris. Jika ketajaman perhatian
manusia pada fenomena alam ditandai dengan adanya
penggunaan proses ilmiah seperti pengamatan, pengukuran,
eksperimen, dan prosedur ilmiah lainnya, maka itulah
pengetahuan ilmiah dari suatu sains.
3. Sains Sebagai Batang Tubuh Pengetahuan (A Body Of

Knowledge)
Sains merupakan batang tubuh pengetahuan yang
berbentuk pengetahuan fakta, konsep, prinsip, hipotesis, teori,
dan modelmembentuk kandungan (content) sains.
Pembentukan ini merupakan proses akumulasi yang terjadi
sejak zaman dahulu, hingga penemuan pengetahuan sangat
baru. Jenis pengetahuan sains dapat berupa:
1. Fakta
Fakta merupakan produk paling dasar dari sains. Fakta-
fakta merupakan dasar dari konsep-konsep, prinsip-prinsip,
dan teori-teori. Fakta menunjukkan kebenaran dan
keadaan sesuatu. Karena fakta-fakta diperoleh dari hasil
observasi, maka fakta-fakta merepresentasikan apa yang
dapat dilihat. Seringkali, dua buah kriteria berikut ini
digunakan untuk mengidentifikasi sebuah fakta, (a) dapat
diamatai secara langsung, (b) dapat didemonstrasikan

48 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

kapan saja. Oleh karena itu, fakta-fakta terbuka bagi
siapapun yang ingin mengamatinya.
2. Konsep
Fakta-fakta hanyalah merupakan bahan kasar dan harus
diolah lagi sehingga membentuk gagasan yang berarti dan
hubungan antar fakta. Aktivitas berpikir dan menalar
diperlukan untuk mengidentifikasi pola dan membuat kaitan
antar data, sehingga membentuk pertalian yang disebut
dengan konsep. Konsep adalah abstraksi dari kejadian,
banda, atau gejala yang memiliki sifat tertentu atau
lambang.

Kata konsep dan generalisasi sering dipergunakan
secara bergantian. Konsep kadangkala diartikan sebagai
bayangan mental atau sudut pandang secara individual.
Sebagai contoh, jika seorang anak mempunyai konsep jarak
bumi ke bulan, maka konsep ini khas untuk dirinya sendiri.
Sementara generalisasi adalah pernyataan yang didasarkan
atas akumulasi pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam
komunitas ilmiah. Contoh lain dari konsep dalam sains antara
lain:
1. Hewan berdarah dingin adalah hewan yang menyesuaikan

suhu tubuhnya dengan suhu lingkungannya..
2. Satelit adalah benda angkasa yang bergerak mengelilingi

planet.
3. Air adalaha zat yang molekulnya tersusun atas 2 atom

hidrogen dan 1 atom oksigen.

3. Prinsip-prinsip dan hukum-hukum
Prinsip-prinsip dan hukum-hukum merupakan hasil

generalisasi dari konsep-konsep. Prinsip dan hukum seringkali
digunakan secara bergantian sebagai sinonim. Prinsip atau

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 49

hukum terdiri atas fakta-fakta dan konsep-konsep. Prinsip-
prinsip dan konsep-konsep lebih umum daripada fakta-fakta,
tetapi juga sering dikaitkan dengan gejala yang dapat diamati di
bawah kondisi tertentu. Prinsip-prinsip yang mengatur
pertumbuhan dan reproduksi menyediakan informasi yang
dapat dipercaya berkenaan dengan perubahan yang terjadi
dalam sistem kehidupan. Contoh produk pengetahuan sains
yang merupakan prinsip ialah : (a) Logam bila dipanaskan
memuai, (b) Semakin besar besar intensitas cahaya, semakin
efektif proses fotosíntesis, (c) Larutan yang bersifat asam bila
dicampur dengan larutan yang bersifat basa akan membentuk
garam dan bersifat netral, (d) Semakin besar perbedaan
tekanan udara, semakin kuat angin berhembus Hukum adalah
prinsip yang bersifat spesifik.

Kekhasan hukum dapat ditunjukkan dari : (1) Bersifat
lebih kekal karena telah berkali-kali mengalami pengujian,(2)
Pengkhususannya dalam menunjukkan hubungan antar
variabel. Hukum-hukum tentang gas, hukum-hukum tentang
gerak, dan hukum tentang listrik sebagai contoh, menentukan
hal-hal yang dapat diamati di bawah kondisi-kondisi tertentu.
Contoh: Hukum ohm menunjukkan hubungan antara hambatan
dengan kuat arus dan tegangan listrik, yaitu ‖besarnya
hambatan sebanding dengan besarnya tegangan listrik tetapi
berbanding terbalik dengan kuat arusnya‖.

4. Teori-teori
Para saintis menggunakan teori untuk menjelaskan pola-

pola. Teori merupakan usaha intelektual yang sangat keras
karena saintis harus berhadapan dengan kompleksitas dan
kenyataan yang tidak jelas dan tersembunyi dari pengamatan
langsung. Gagasan ini menjadi jelas ketika orang merujuk teori
atom, yang menyatakan bahwa seluruh benda tersusun atas

50 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

partikel yang sangat kecil yang disebut dengan atom. Teori
memiliki tujuan yang berbeda dengan fakta, konsep, dan
hukum, tetapi saintis menggunakan jenis pengetahuan ini untuk
menyajikan penjelasan dari fenomena yang terjadi. Teori-teori
mempunyai hakikat berbeda dan tidak pernah menjadi fakta
atau hukum, tetapi teori tetap berlaku sementara sampai
disangkal atau direvisi. Jika suatu teori tersangkal, maka teori
tersebut terjadi pergeseran paradigma.

5. Model
Model ilmiah adalah representasi dari sesuatu yang tidak

dapat di lihat. Model ini menjadi gambaran mental yang
digunakan untuk menunjukkan gajala dan gagasan-gagasan
yang abstrak. Model-model tersebut harus menyertakan hal-hal
yang menonojol dan penting dari gagasan atau teori yang
mana saintis mencoba untuk memahamkannya atau
menjelaskan gagasan atau teori tersebut. Model atom Bohr,
model tata surya, dan model DNA double helix merupakan
representasi konkret dari gejala/fenomena yang tidak dapat
diamati secara langsung. Sayangnya, orang kemudian percaya
begitu saja pada model yang dia lihat, tidak tahu bahwa model
hanyalah suatu alat bantu mengkonseptualisasi fitur menonjol
dari prinsip dan teori tertentu.

Pada bagian ini, akan dijelaskan beberapa kelebihan
mempelajari sains, yaitu antara lain:
a. Sains telah memberikan banyak sumbangannya bagi

umat manusia, misalnya dalam perkembangan sains dan
teknologi kedokteran, sains dan teknologi komunikasi dan
informasi.
b. Sains dan teknologi memungkinkan manusia dapat
bergerak atau bertindak dengan cermat dan tepat, efektif

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 51

dan efisien karena sains dan teknologi merupakan hasil
kerja pengalaman, observasi, eksperimen dan verifikasi.

Sedangkan kelemahan sains antara lain yaitu :
a. Sains bersifat objektif, menyampingkan penilaian yang

bersifat subjektif. Sains menyampingkan tujuan hidup,
sehingga dengan demikian sains dan teknologi tidak bisa
dijadikan pembimbing bagi manusia dalam menjalani
hidup ini.
b. Sains membutuhkan pendamping dalam operasinya.
Menurut Albert Einstein, "Sains tanpa agama lumpuh, dan
agama tanpa sains adalah buta

2.3. Makna Filsafat sains, kebenaran dan Kerja
Ilmiah

Pembahasan tentang kerja ilmiah, maka harus disinggung
mengenai filsafat ilmu. Filsafat ilmu sebagai filsafat khusus
yaitu cabang filsafat yang membahas tentang hakikat ilmu,
penerapan berbagai metode filsafat dalam upaya mencari akar
persoalan, makna kebenaran, kerja ilmiah untuk menemukan
azas realitas yang dipersoalkan oleh bidang ilmu tersebut.
Dengan demikian penyelesaian permasalahan ilmunya menjadi
lebih terarah. Setiap disiplin ilmu memiliki filsafat ilmunya
sendiri, misalnya filsafat hukum, filsafat pendidikan, filsafat
sejarah, filsafat bahasa, dan filsafat ilmu kealaman (Sains).
Pada bagian ini akan dibahas mengenai makna dari :

1. Hakikat Sains (Ilmu kealaman) dan Proses Kerja ilmiah
Connant mengemukakan bahwa science merupakan

serangkaian konsep dan skema konseptual yang
dikembangkan sebagai hasil eksperimen dan observasi yang
berguna bagi observasi dan eksperimen selanjutnya.Suppe

52 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

seorang ahli fisika berpendapat bahwa science adalah
pengetahuan tentang alam (natural world) yang diperoleh dari
interaksi indera dengan dunia tersebut, dengan keterangan
bahwa : (1) Observasi dilakukan melalui indera, dan (2) proses
observasi mengandung interaksi dua arah antara orang yang
mengobservasi dan yang diobservasi. Kemeny, seorang ahli
filsafat mendefinisikan science sebagai semua pengetahuan
yang diperoleh dengan metode ilmilah. Metode ilmiah sendiri
merupakan siklus induksi, deduksi, verifikasi dan pencarian
terus menerus untuk memperbaiki teori yang pada dasarnya
dikemukakan secara tentative.

Dampier, seorang ahli sejarah ilmu kealaman
berpendapat bahwa science merupakan fenomena yang teratur
tentang alam dan studi rasional tentang kaitan antara konsep
fenomena tersebut. M.Goldstein dan I.F.Goldstein menyatakan
bahwa ―science‖ merupakan aktivitas yang ditandai oleh tiga
hal :
1. Suatu penelusuran untuk mencapai pengertian, untuk

memperoleh jawaban yang memuaskan tentang beberapa
aspek realitas.
2. Pengertian itu diperoleh dengan cara mepelajari prinsip-
prinsip dan hukum-hukum yang berlaku terhadap sebanyak
mungkin fenomena.
3. Hukum dan prinsip dapat diuji dengan eksperimen.
Dalam Encyclopedia America dikemukakan bahwa
science merupakan pengetahuan positif yang sistematik.
Adapun yang dimaksud dengan pengetahuan positif adalah
pengetahuan yang dipahami oleh manusia melalui inderanya.
Dengan demikian science atau sains adalah pengetahuan yang
diperoleh melalui indera dan tersusun secara sistematik.Dalam
uraian selanjutnya istilah sains digunakan dalam pengertian
ilmu kealaman. Sejarah telah menunjukkan bahwa pada
mulanya yang dipelajari orang hanyalah pengetahuan tentang

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 53

alam, yakni lingkungan fisik individu yang ada di luar maupun di
dalam diri manusia itu sendiri. Adapun pengembangan ilmu
sains melalui penelitian ini lazimnya disebut sebagai proses
kerja ilmiah, dan hasilnya berupa konsep-konsep, teori, hukum,
yang disebut produk sains. Inilah yang menyebabkan mengapa
seringkali secara singkat dikatakan bahwa sains merupakan
proses dan produk. Proses dan produk sains ini biasanya
dijalankan para saintis menggunakan untuk kinerja ilmiah.
Albert Einstein mengemukakan bahwa ―Science must start with
facts and end with facts, no matter what theoretical structures it
builds in between‖ (Kemeny,1959). Di bawah ini diberikan
diagram dari pandangan Einstein tersebut.

Matematik Teori Deduksi Prediksi

Induk Fakta Verifikasi
si Fakta

Dunia

Gambar 2.1 Pandangan Einstein tentang Sains

Einstein berpandangan bahwa pada awalnya saintis
melakukan observasi terhadap fakta yang menjadi minatnya,
kemudian berdasarkan sejumlah hasil observasinya ia
melakukan generalisasi, untuk menemukan "sesuatu" yang ada
di balik pengamatan-pengamatannya. Untuk itu ia melakukan
pemikiran yang mendalam, menggunakan matematika sebagai
salah satu sarana, dan dari hasil kajiannya ia membangun
suatu ―teori‖. Ini merupakan tahap pertama dalam

54 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

pengembangan suatu ilmu yang disebut tahap ―induksi‖, atau
pembentukan teori dari pengetahuan berdasarkan fakta-fakta.

Teori yang dibangun atas dasar generalisasi dari fakta-
fakta yang diamati oleh saintis, diharapkan dapat pula
digunakan untuk membuat prediksi- prediksi, artinya untuk
meramalkan sesuatu yang ia harapkan terjadi pada
kesempatan lain. Tentu saja prediksi itu dikatakan benar
apabila didukung oleh sejumlah fakta yang cocok dengan apa
yang ia harapkan atau dengan perkataan lain cocok dengan
teori yang telah dibangunnya. Bila demikian maka dalam
membuat prediksi-prediksi, ia telah memasuki tahap kedua
yaitu tahap ―deduksi‖, yang berawal dari suatu teori yang
bersifat umum (general) menuju pada hal-hal khusus
(partivular). Selanjutnya dalam tahap ketiga atau tahap akhir,
dilakukan ―verifikasi‖ yaitu upaya pembenaran prediksi oleh
fakta-fakta yang dilakukan melalui eksperimen atau observasi.
Dengan demikian berakhirlah satu siklus dalam proses
pengembangan ilmu yang berawal dari fakta dan berakhir pada
fakta pula.

Ada kemungkinan pada suatu masa tertentu, fakta yang
diperoleh dari observasi, eksperimen atau penemuan baru itu
tidak mendukung atau tidak cocok dengan prediksi yang
dilakukan oleh saintis. Dalam hal ini teori tersebut dinyatakan
tidak berlaku lagi dan harus dikaji ulang untuk menemukan
suatu ―teori baru‖. Hal ini tentulah merupakan awal dari siklus
lanjutan yang prosesnya sama dengan siklus terdahulu.
Dengan demikian perkembangan ilmu ditandai oleh adanya
rangkaian siklus-siklus yang terjadi dari masa ke masa.Adapun
garis mendatar pada diagram pandangan Einstein tersebut
dimaksudkan untuk memisahkan ―dunia fakta‖ atau dunia nyata
dengan dunia teori yang ia sebut sebagai ―dunia matematika‖.
Di muka telah dijelaskan bahwa sains sangat erat

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 55

hubungannya dengan teknologi. Hubungan tersebut bahkan
bersifat timbal balik.

Sebagai contoh produk teknologi yang makin modern
dewasa ini memungkinkan penelitian di bidang sains lebih
berkembang. Misalnya dengan ditemukannya mikroskop
elektron, bagian-bagian dari satu sel dapat diamati dan
dipelajari, sehingga ilmu biologi lebih berkembang. Di lain pihak
dengan ditemukannya konsep-konsep sains yang mutakhir
dapat dihasilkan produk teknologi tingkat tinggi. Dewasa ini di
samping menghasilkan produk, memerlukan adanya
keterampilan proses dan sikap ilmiah, sains memperhatikan
nilai dan budaya masyarakat.

2.4. Paradigma Kebenaran

Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas mengenai
hakikat sains, kerja ilmiah, dan klasifikasi ilmu pengetahuan.
Pada pembahasan berikut akan dibahas beberapa paradigma
kebenaran dan mencari kebenaran:
1. Paradigma Kebenaran Atas Logika

Kegiatan yang dilakukan adalah analisis yang memandang
bahwa kebenaran dapat ditunjukkan apabila ada konsistensi
dengan aksioma-aksioma serta definisi yang berlaku. Yang
termasuk kelompok ini antara lain adalah matematika, ilmu
komputer, dan filsafat.
2. Paradigma Positivistik atau paradigma sains

Kegiatan dasar yang dilakukan ialah eksperimen.
Kebenaran diperoleh setelah hipotesis diverifikasi melalui
eksperimen. Contoh bidang yang memperoleh kebenaran
seperti ini antara lain adalah ilmu-ilmu fisika, kimia, biologi,
geologi.
3. Paradigma Naturalistik

56 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Teknik yang dilakukan terutama adalah studi lapangan.
Dengan pengalaman yang cukup dalam meneliti fenomena di
lapangan akan diperoleh kesimpulan yang memang tidak dapat
dielakkan atau tidak dapat dihindari. Contoh penggunaan cara
ini adalah misalnya sejarah, ilmu politik, konseling.
4. Paradigma Modus Operandi

Pandangan tentang kebenaran diperoleh dengan
melaksanakan pengujian atau penelitian secara periodik,
sehingga didapatkan garis penyebab yang khas dari suatu
peristiwa atau keadaan. Contoh bidang yang menggunakan
metode seperti ini adalah diagnosis medik dan patologi
forensik.

Dari beberapa paradigma sebagai pandangan dalam
mencari kebenaran, paradigma ilmiah dan paradigma
naturalistik merupakan paradigma yang paling banyak
digunakan. Paradigma ilmiah juga disebut paradigma
positivistik karena dipengaruhi oleh aliran filsafat positivisme
yang mula-mula berkembang di Perancis dan Jerman pada
awal abad ke 19. Konsep positivisme pada dasarnya
merupakan pemikiran bahwa penyelesaian permasalahan
dalam ilmu, hanya dibatasi pada aturan ilmu yang positif saja.

Paradigma naturalistik didasari oleh pandangan bahwa
penelitian akan memberi hasil yang sesuai dengan yang
diharapkan kalau subyek penelitian yaitu manusia atau
masyarakat dapat bertingkah laku dan mengemukakan
pendapat secara wajar dan alami (natural). Adapun metode
yang digunakan dapat saja kuantitatif kalau menggunakan
statistik atau menggunakan prosen (%) dan dapat kualitatif
apabila hanya menggunakan data kualitatif saja. Dalam suatu
penelitian dengan paradigma positivistik terutama digunakan
metode kuantitatif dan apabila diperlukan dapat pula dilengkapi
dengan data kualitatif. Sebaliknya penelitian dengan paradigma

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 57

naturalistik mengutamakan metode kualitatif yang dapat
didukung oleh data kuantitatif. Dengan adanya perkembangan
sains dan teknologi disadari bahwa teori dan hukum dalam
ilmu, bersifat tentatif. Artinya apabila hasil-hasil penelitian yang
menggunakan konsep-konsep tertentu yang didukung oleh
instrumen-instrumen yang ada pada waktu itu menunjukkan
bahwa hasil penelitian-penelitian terdahulu yang berupa hukum
atau teori tidak dapat diterima lagi, maka hukum atau teori
tersebut akan gugur.

Sebagai contoh proses pembakaran logam yang oleh
sekelompok saintis penganut teori flogiston dipercaya
merupakan peristiwa hilangnya flogiston dari logam, setelah
ditemukan timbangan atau neraca sebagai produk teknologi
pada saat itu, dapat dibuktikan oleh seorang ilmuwam bernama
Antoine Lavoisier(1743-1794) bahwa pembakaran logam
sebenarnya merupakan reaksi antara logam dengan oksigen
seperti yang diterima sekarang. Paradigma yang diikuti oleh
para saintis sebelumnya yang menyatakan bahwa proses
pembakaran adalah hilangnya flogiston itu dari benda yang
dibakar, menjadi sebagai berikut : pembakaran merupakan
reaksi antara benda yang dapat dibakar dengan oksigen. Itulah
sebabnya peserta didik sering mengatakan bahwa produk sains
atau ilmu kealaman adalah tentatif, tidak kekal dan dapat
digugurkan oleh teori atau hukum lain apabila dipandang
bahwa paradigma yang dianut selama kurun waktu tertentu
sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu kemudian.

Jadi pada dasarnya dalam ilmu kealaman berlaku
paradigma tunggal. Artinya apabila dalam kurun waktu tertentu
masih ada beberapa keyakinan untuk peristiwa yang sama,
pada suatu waktu akan berakhir. Kapan berakhirnya ? Sampai
paradigma yang baru diterima oleh semua saintis, karena
didukung oleh verifikasi dari banyak eksperimen. Bagaimana

58 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

dengan paradigma dalam ilmu kemasyarakatan atau ilmu-ilmu
sosial ? Dalam ilmu sosial ada berbagai paradigma yang dianut
dan diyakini oleh para saintis sosial, yang berlaku pada kurun
waktu yang sama. Tentunya keyakinan ini akan dipertahankan
sampai ia sendiri merasa berubah keyakinannya atau meyakini
konsep atau teori lain. Oleh karena itulah dalam ilmu sosial
dikenal paradigma ganda karena dalam suatu kurun waktu
tertentu selalu terdapat lebih dari satu paradigma yang diyakini
oleh saintis sosial. Paradigma dapat berubah setelah
seseorang banyak membaca pandangan saintis sosial lain atau
memperoleh pengalaman pribadi misalnya melalui suatu
penelitian, sehingga teijadi rekonstruksi paradigma.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran
ilmiah dapat diperoleh melalui berbagai cara yang dilandasi
oleh paradigma tertentu yang diyakini oleh saintis atau
kelompok saintis tertentu. Namun dewasa ini beberapa
pandangan timbul khususnya di kalangan kaum yang
beragama, bahwa di dunia ini tidak ada hal yang benar mutlak,
karena kebenaran mutlak hanya ada pada Tuhan. Untuk itu
disarankan agar istilah kebenaran diubah menjadi istilah
validitas oleh karena validitas merupakan hasil pengujian atau
verifikasi manusia yang sebagai makhluk Tuhan memiliki
keterbatasan- keterbatasannya. Sebelum menjelaskan
pengertian dan makna kerja ilmiah, maka ada baiknya terlebih
dahulu diketahui mengenai kebenaran yang terdapat dalam
berbagai pemahaman keilmuan. Ada tujuh jenis kebenaran
yang secara umum telah dikenal oleh banyak, yaitu sebagai
berikut.
1. Kebenaran religious, yaitu kebenaran yang memenuhi

kriteria atau dibangun berdasarkan kaidah agama tau
keyakinan tertentu, yang disebut juga dengan kebenaran

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 59

absolut atau kebenaran mutlak yang tidak terbantahkan.
Kebenaran ini bersifat religious.
2. Kebenaran filosofis, yaitu kebenaran hasil perenungan dan
pemikiran kontemplatif terhadap hakikat sesuatu meskipun
pemikiran intektual tersebut bersifat subjektif dan relatif,
tetapi ; kontemplatif.
3. Kebenaran estetis, yaitu kebenaran yang berdasarkan
penilaian indah atau buruk, serta cita-cita rasa estetis.
Artinya, keindahan yang berdasarkan harmoni dalam
pengertian luas, yang menimbulkan rasa senang, tenang,
dan nyaman.
4. Kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang ditandai oleh
terpenuhinya syarat-syarat ilmiah, adanya teori yang
menunjang dan sesuai dengan bukti. Kebenaran empiris
berdasarkan konsistensi antara teori dan realitasnya yang
valid. Selain itu, kebenaran ilmiah divaliditasi oleh bukti-
bukti empiris, yaitu hasil pengukuran objektif sesuai dengan
data dan fakta.
5. Kebenaran pengetahuan mutlak adalah kebenaran yang
tidak berubah-ubah dan tidak dapat dipengaruhi oleh yang
lain. Artinya, sebagai kebenaran yang telah ada pada
hakikat dirinya sendiri.
6. Kebenaran relatif adalah kebenaran yang berubah-ubah,
tidak tetap, dan dapat dipengaruhi oleh hal lain di luar
hakikat dirinya. Sifat setiap ilmu, sebagaimana kebenaran
mutlak dan relatif, dapat diidentikkan dengan teori sifat
ilmu. Dalam filsafat dielaskan bahwa teori sifat ilmu ada
dua, yaitu teori ―subjektivitas‖ dan ―objektivitas‖. Ilmu
objektif adalah ilmu yang keberadaan objeknya tidak
bergantung pada ada atau tidak adanya pengetahuan
subjek tentang objek tersebut. Sementara ilmu yang
subjektif, yaitu ilmu yang keberadaan objeknya bergantung

60 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

pada ada tidak adanya subjek. Dengan demikian, jika
subjek tidak ada, ilmu pun tidak dinyatakan ada,
keberadaan ilmu dalam kondisi relatif.
7. Kebenaran konsistensi, yaitu adanya kesesuaian antara

teori dan kenyataan.
Berkaitan dengan kebenaran, maka kebenaran ilmiah
merupakan salah satu bidang bagian dari sains. Pada saat ini
sains telah membawa pada kemajuan dalam pengetahuan,
beberapa ciri umum sains, antara lain : (a) Hasil sains bersifat
akumulatif dan merupakan milik bersama,artinya hasil sains
yang lalu dapat digunakan untuk penyelidikan hal yang baru,
dan tidak memonopoli, (b) Hasil sains kebenarannya tidak
mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyeidikinya
adalah manusia., (c) Sains bersifat objektif,artinya prosedur
kerja atau cara penggunaan metode sains tidak tergantung
kepada siapa yang menggunakan, tidak tergantung pada
pemahaman secara pribadi.
Ralph Ross dan Ernest Van den Haag mengemukakan
ciri-ciri sains, yaitu: (a) bersifat rasional (hasil dari proses
berpikir dengan menggunakan rasio atau akal), (b) bersifat
empiris (pengalaman oleh panca indera), (c) bersifat umum
(hasil sains bisa digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali),
(d) bersifat akumulatif (hasil sains dapat dipergunakan untuk
dijadikan objek penelitian berikutnya).Pada pembahasan
sebelumnya dikenal istilah kerja ilmiah. Kerja ilmiah menurut
sebagian pendapat para ahli seperti berikut : (a) mengumpulan
tentang fakta-fakta, (b) menggambarkan tentang fakta-fakta,
dengan cara :definisi dan gambaran umum, analisis,
klarifikasi, penjelasan-penjelasan tentang fakta-fakta, dengan
cara, (c) memastikan sebab musabab (invariable antecedents),
(d) merumuskan berbagai kesamaan perilaku , (e)
menyimpulkan fakta dari analisis dengan metode tertentu.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 61

62 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

BAB 3

MEMAHAMI PERBEDAAN SAINS DAN
PENGETAHUAN, NON SAINS,
SERTA PSEUDOSAINS

Sudarmin
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Email: [email protected]

3.1. Deskripsi Materi

Pada bab ini akan dibahas mengenai perbedaan sains
dan pengetahuan (Knowledge), memahami ilmu pendidikan,
hakikat filsafat sains, non sains, serta pseudosains. Bahan
kajian dari materi ini diperoleh dari berbagai sumber
pembelajaran yang baik dari buku filsafat ilmu, dan filsafat
sains, dan beberapa materi terkait pada topik bahasan ini baik
sumber digital/internet.

3.2. Perbedaan Sains dan Pengetahuan

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya
bahwa kata ilmu dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa
Arab ‗ilm (pengetahuan) kata benda (mashdar) dari kata ‗alima

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 63

yang berarti tahu, sedangkan istilah science dalam bahasa
Inggris berasal dari perkataan latin scientia yang diturunkan
dari kata scio, scire yang artinya to know (mengetahui) dan
juga berarti to learn (belajar). Sedangkan dari pengertian
etimologis itu science, maupun ‗ilm memiliki makna yang sama
yaitu pengetahuan.Meskipun secara etimologis science berarti
pengetahuan yang berarti sama dengan dalam bahasa Inggris
knowledge (pengetahuan), namun science dibedakan dengan
knowledge pada tingkat terminologis. Secara terminologis
science bukan hanya sekedar pengetahuan (knowledge), tapi
pengetahuan yang mempunyai cirri-ciri tertentu. Mengingat
perbedaan tersebut maka dalam bahasa Indonesia ada usaha
untuk membedakannya dimana science diterjemahkan menjadi
ilmu atau ilmu pengetahuan, untuk membedakannya dari kata
knowledge yang diterjemahkan dengan pengetahuan.

Peradaban Barat membedakan pengetahuan ke dalam
dua istilah teknis, yaitu science dan knowledge. Istilah yang
pertama diperuntukkan bagi bidang-bidang ilmu nonfisik atau
empiris, sedangkan istilah yang kedua diperuntukkan bagi
bidang-bidang ilmu nonfisik seperti konsep mental dan
metafisika. Istilah yang pertama diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan ilmu pengetahuan, sementara istilah
yang kedua diterjemahkan dengan pengetahuan saja. Dengan
kata lain, hanya ilmu yang sifatnya fisik atau empiris saja yang
bias dikategorikan ilmu, sementara sisanya seperti ilmu agama,
tidak bias dikategorikan ilmu (ilmiah). Fenomena seperti ini
baru terjadi pada abad modern karena sampai abad
pertengahan, pengetahuan belum dibeda-bedakan ke dalam
dua istilah teknis diatas, istilah pengetahuan masih mencakup
semua jenis ilmu pengetahuan. Baru ketia memasuki abad
modern yang ditandakan dengan positivisme, maka

64 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

pengetahuan yang terukur secara empiris dikhususkan dengan
penyebutan scientific knowledge atau science saja.

3.3. Memahami Hakikat Filsafat Sains

Filsafat sains adalah bidang sains yang mempelajari
dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari sains, yang
termasuk di dalamnya antara lain sains alam dan sains sosial.
Di sini, filsafat sains sangat berkaitan erat dengan epistemologi
dan ontologi. Untuk memahami makna dan hakikat filsafat
sains, di bawah ini dikemukakan pendapat beberapa ahli
sebagai berikut:
1. Robert Ackerman menyatakan Filsafat sains adalah suatu

tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini
dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang
dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi
filsafat sains jelas bukan suatu kemandirian cabang sains
dari praktek ilmiah secara aktual.
2. Lewis White Beck menyatakan bahwa filsafat sains
membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran
ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya
ilmiah sebagai suatu keseluruhan)
3. Cornelius Benjamin menyatakan bahwa filsafat sains
adalah cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah
sistematis mengenai sains, khususnya metode-metodenya,
konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta
letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang
pengetahuan intelektual.
4. Michael V. Berry menyatakan filsafat sains hakikatnya
penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan
hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni
tentang metode ilmiah.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 65

5. May Brodbeck menyatakan hakikat filsafat sains adalah
analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan
penjelasan mengenai landasan – landasan sains.

6. Peter Caws menyatakan Filsafat sains merupakan suatu
bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi sains apa yang
filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman
manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak,
ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam
semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan
bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat
memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan
sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan,
termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada
penghapusan ketakajegan dan kesalahan.

7. Stephen R. Toulmin: Filsafat Sains adalah Sebagai cabang
sains, yang mana filsafat sains mencoba pertama-tama
menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses
penyelidikan ilmiah, prosedur pengamatan, pola
perancangan, metode analisis dan perhitungan, pra-
anggapan atau hipotesis atau metafisis, dan seterusnya dan
selanjutnya menilai landasan bagi kesalahannya dari sudut
tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan
metafisika.Sedangkan filsafat pendidikan sains mencoba
menjelaskan bagaimana unsur yang terlibat dalam proses
penyelidikan ilmiah, prosedur pengamatan, pola
perancangan, metode analisis dan perhitungan, hipotesis
atau pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan
selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya
dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis,
dan metafisika.

66 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

3.4. Memahami Sains, Non Sains, dan Pseudio
sains

Sains adalah suatu alat, suatu cara khusus untuk
menginvestigasi suatu pertanyaan. Ketika menginvestigasi
suatu pertanyaan ilmiah, dibuat suatu hipotesis, dikumpulkan
data-data, dan ahirnya hipotesis didukung atau ditolak. Saintis
tidak pernah takut salah. Pembuktian bahwa suatu hipotesis
tidak benar adalah bagian dari pekerjaan saintis. Adalah
penting untuk menjawab pertanyaan tentang kehidupan dan
alam disekitar kehidupan masyarakat secara ilmiah, sehingga
akan banyak menghilangkan banyak keraguan.

Pembuktian ilmiah selalu diawali dengan pertanyaan,
kemudian diikuti dengan pengumpulan informasi sebanyak
mungkin untuk membangun sebuah hipotesis, atau setidaknya
dugaan atau prediksi yang memiliki dasar informasi ilmiah.
Langkah berikutnya adalah melakukan ekperimen untuk
menguji hipotesis tersebut. Semua yang dilakukan dan
diperoleh, menyenangkan atau tidak menyenangkan, tentu
harus terdokumentasi dengan baik, kemudian dilaporkan
sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh orang lain.

Pada akhirnya, sang saintis harus membuat kesimpulan
berdasarkan fakta yang diperoleh, apakah hipotesisnya
diterima atau ditolak. Saintis juga harus terbuka untuk berbagi
dengan saintis lain tentang eksperimen dan temuannya. Para
saintis dapat saling belajar dan sering memanfaatkan temuan
saintis lain untuk memandu pertanyaan penelitian selanjutnya.
Para saintis juga sering mengulang eksperimen orang lain
untuk memastikan apakah dengan kondisi yang sama akan
diperoleh hasil yang konsisten. Verifikasi seperti ini merupakan
mekanisme kendali mutu untuk meniadakan bias. Sebelum
dipublikasi, hasil-hasil penelitian harus diverifikasi secara

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 67

objektif oleh mitra-bestari yang terdiri atas pakar berbagai
bidang terkait dari institusi yang berbeda.

Makna non sains adalah kumpulan pandangan yang
berada diluar lingkup ilmiah. Wilayah non sains seperti seni,
nilai, kreatifitas, spiritualitas, adalah sangat sahih, dan bagi
banyak orang, merupakan aspek yang sangat penting dari
eksistensi manusia. Subyek non sains biasanya mudah
dipisahkan dari sains. Adapun makna pseudosains terjadi
ketika hal-hal non-sains dicoba untuk dinyatakan sebagai sains
ketika terjadi permasalahan atau keraguan.

Pseudosains muncul ketika ada yang mengklaim bahwa
telah dibuktikan secara ilmiah, Padahal sebenarnya tidak.
Keyakinan dan kepercayaan kadang-kadang menjadi
Pseudosains ketika ada orang yang berusaha mempopulerkan
suatu keyakinan atau kepercayaan sebagai sesuatu fakta yang
sudah terbukti secar ailmiah. Argumentasi seperti ini seringkali
muncul ketika sains belum dapat menemukan jawabannya,
kemudian diambil simpulan bahwa satu-satunya jawabannya
adalah Tuhan.

Terlepas dari masalah keyakinan dan kepercayaan
tersebut, masih banyak hal-hal termasuk dalam pseudosains,
seperti adanya UFO dan hantu, yang sampai saat ini belum
terdapat bukti kuat secara ilmiah. Sangat merepotkan adalah
jika ada pihak-pihak yang menggunakan pendekatan
Pseudosainsuntuk kepentingan tertentu, termasuk komersial,
politik, dan keamanan. Belakangan ini di kehidupan masyarakat
banyak dihadapkan pada klaim-klaim pihak tertentu yang
mampu menghasilkan produk-produk unggul yang dapat
memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi, seperti
bahan bakar, produk pertanian, produk obat, sampai produk
elektronik yang dikenal sebagai sms-santet.

68 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Sedangkan nonsains adalah kumpulan pandangan yang
berada di luar lingkup ilmiah. Wilayah non-sains seperti seni,
nilai, kreatifitas, spiritualitas, adalah sangat sahih, dan bagi
banyak orang, merupakan aspek yang sangat penting dari
eksistensi manusia. Subyek non-sains biasanya mudah
dipisahkan dari sains.Pseudosainsterjadi ketika hal-hal non-
sains dicoba untuk dinyatakan sebagai sains ketika terjadi
masalah atau keraguan. Pseudosainsmuncul ketika ada yang
mengklaim bahwa telah dibuktikan secara ilmiah, Padahal
sebenarnya tidak. Keyakinan dan kepercayaan kadang-kadang
menjadi Pseudosainsketika ada orang yang berusaha
mempopulerkan suatu keyakinan atau kepercayaan sebagai
sesuatu fakta yang sudah terbukti secar ailmiah. Argumentasi
seperti ini seringkali muncul ketika sains belum dapat
menemukan jawabannya, kemudian diambil kesimpulan bahwa
satu-satunya jawabannya adalah Tuhan. Terlepas dari
permasalahan keyakinan dan kepercayaan tersebut, masih
banyak hal-hal termasuk dalam pseudo-sains, seperti adanya
UFO dan hantu, yang sampai saat ini belum terdapat bukti kuat
secara ilmiah.

Pseudosains adalah suatu istilah yang digunakan untuk
merujuk pada suatu bidang yang menyerupai ilmu pengetahuan
namun sebenarnya bukan merupakan ilmu pengetahuan.
Sesuatu yang menyerupai ilmu pengetahuan ini tidak valid dan
memiliki banyak kekurangan, tidak rasional dan cenderung
dogmatis. Dengan kata lain sains ini adalah sains palsu
(Ridwan, 2011). Munculnya kata psudo pada pseudosains
dimaksudkan untuk menghina. Kesan menghina ini muncul
karena kata psudo pada hakikatnya memiliki kesamaan dengan
beberapa frasa menghina lainnya seperti ―ilmu alternatif‖ ―ilmu
palsu‖ atau ―ilmu sampah.‖

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 69

Karakteristik kunci dari pseudosains adalah bahwa hal itu
tidak sesuai dengan metode ilmiah. Ini berarti bahwa klaim ilmu
ini terhadap suatu hal tidak dapat diuji, dan tidak mengikuti
urutan logis. Banyak konsep-konsep ilmiah tidak dapat diuji
dengan peralatan yang ada. Pseudosains tidak memiliki
dukungan ilmiah, dan tidak dapat diuji. Karakter yang kedua
adalah kurangnya testability dan konfirmasi independen. Saintis
sejati selalu senang untuk berbagi data yang telah mereka
dapatkan dalam penelitian. Data ini digunakan untuk sampai
pada kesimpulan mereka. Pengujian independen dan kritik dari
keolega sesama saintis akan selalu mereka nanti. Kritik dan
sanggahan tersebut dapat dijadikan sebagai alat utama untuk
membuktikan teori-teori mereka. Masyarakat pseudosains
dilaion pihak biasanya menolak sanggahan. Mereka lebih
memilih untuk mencari bukti-bukti untuk menguatkan klaim-
klaim tertentu. Jeleknya, masyarakat ini tidak terbuka terhadap
pengawasan dari koleganya atau terhadap diskusi.

Yang sangat merepotkan adalah jika ada pihak-pihak
yang menggunakan pendekatan Pseudosainsuntuk
kepentingan tertentu, termasuk komersial, politik, dan
keamanan. Pada saat ini banyak dihadapkan pada klaim-klaim
pihak tertentu yang mampu menghasilkan produk-produk
unggul yang dapat memecahkan permasalahan yang sedang
dihadapi, seperti bahan bakar, produk pertanian, produk obat,
sampai produk elektronik yang dikenal sms-santet. Atas semua
informasi tersebut, diperlukan scientific wisdom yang memadai
untuk dapat memberikan pertimbangan obyektif terhadap hal-
hal tersebut.Secara umum, sains dan psudosaians berbeda.
Perbedaan ini secara jelas antara sains dan pseudosains dapat
dilihat pada tujuh poin berikut:

1. Dalam sains, literatur ilmiah yang ada ditulis bagi para
saintis. Untuk menciptakan literatur harus ada peer

70 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

review. Terdapat standar yang ketat untuk kejujuran dan
akurasi. Dalam pseudosains, literatur-literatur yang ada
ditujukan untuk masyarakat umum. Tidak ada review,
dalam membuat literatur tersebut, tidak ada standar serta
tidak ada verifikasi pra-publikasi. Meskipun demikian
masih terdapat tuntutan terhadap akurasi dan presisi
literatur.
2. Dalam sains, produk ilmiah dapat direproduksi.
Masyarakat menuntut hasil yang dapat diandalka. Segala
eksperimen yang dilakukan harus dapat dijelaskan
dengan tepat sehingga eksperimen tersebut dapat
diulangi secara presisi. Pengulangan ini dilakukan dalam
rangka perbaikan hasil atau penerapan dalam kasus atau
peristiwa lainnya. Sedangkan dalam pseudosains, produk
psudo sains tidak dapat direproduksi atau diverifikasi.
Meskipun ada studi atau eksperimen, tetapi begitu samar-
samar digambarkan. Studi atau eksperimen tersebutpun
prosedurnya kurang jelas sehingga masyarakat umum
tidak mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan dalam
studi atau eksperimen atau bagaimana hal itu dilakukan
dalam studi atau eksperimen.
3. Dalam sains, kegagalan dalam satu studi memang selalu
dicari, karena teori-teori yang salah seringkali dapat
membuat prediksi yang tepat meskipun itu karena faktor
kebetulan. Dengan kegagalan ini akan tercipta teori yang
benar. Ketika teori yang benar telah ditemukan prediksi
yang dibuatkun tidak akan salah. Dalam pseudosains
kegagalan akan selalu diabaikan, dimaafkan,
disembunyikan, tidak dihitung, dirasionalisasikan agar
selalu benar, dilupakan, dan dihindari.
4. Dalam sains, seiring dengan berjalannya waktu, semakin
banyak orang yang belajar tentang proses fisik dalam

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 71

berbagai penelitian. Dalam pseudosains tidak ada
fenomena ataupun proses fisik yang ditemukan, dicatat
atau dipelajari. Tidak ada kemajuan yang dibuat, Tidak
ada hal konkrit yang dipelajari.
5. Dalam sains, kelebihan, kekurangan, kesalahan dan
blunder peneliti rata-rata tidak mempengaruhi ―sinyal‖
keilmiahan studi. Dalam pseudosains, kelebihan,
kekurangan, kesalahan dan blunder peneliti memberi
pengarauh nol pada keilmiahan studi karena memang
studi yang dilakukan tidak ilmiah sama sekali
6. Dalam sains, masyarakat diyakinkan dengan bukti-bukti
ilmiah, argumen-argumen berdasarkan penalaran logis
dan/atau matematika, dengan membuat kasus-kasus
berdasarkan bukti-bukti empirik. Ketika bukti-bukti baru
bertentangan dengan ide atau teorilama, ide atau teori
lama tersebut ditinggalkan. Pada pseudosains keyakinan
masyarakat dibuat oleh iman dan keyakinan. Dalam
hampir setiap kasus pseudosains memiliki unsur kuasi-
religius yang sangat kuat. Pseudosains memiliki sifat
mencoba untuk mengubah, bukan untuk meyakinkan.
Masyarakat diminta untuk percaya lepas dari fakta, bukan
karena mereka. Ide lama tidak pernah ditinggalkan
meskipun bukti-bukti baru ditawarkan.
7. Pada sains, tidak ada konflik kepentingan, saintis tidak
memiliki orientasi materi tertentu dari studi yang
dikerjakannya. Ini sangat berbeda dengan ―Sains
Sampah,‖, yang mana saintis memproklamirkan diri
mereka sebagai saintis, tetapi sebenarnya mereka
dibayar dan bayaran mereka akan didapatkan ketika hasil
studinya sesuai dengan keinginan pihak tertentu. Dalam
pseudosains terdapat konflik kepentingan ekstrim. Saintis
pseudo umumnya mendapatkan nafkah dengan menjual

72 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

layanan pseudosains misalnya horoskop, prediksi,
instruksi dalam mengembangkan kekuatan paranormal,
dan lain-lain.

3.5. Pseudosains dan Contohnya

Untuk tuntutan memenuhi syarat sebagai ―ilmu‖ harus
memenuhi standar tertentu. Misalnya, tuntutan harus dapat
direproduksi oleh orang lain yang tidak memiliki kepentingan
apakah hal itu benar atau salah. Data dan penafsiran yang
berikutnya terbuka untuk pengamatan dalam lingkungan sosial
di mana tidak salah telah membuat kekeliruan, tetapi tidak
dibolehkan tidak jujur atau menipu. Klaim yang disajikan
sebagai ilmiah tapi tidak memenuhi standar ini adalah yang
disebut sebagai pseudosains. Dalam dunia pseudosains,
keraguan dan tes terhadap salahnya yang mungkin dikurangi
atau dengan tegas diabaikan.

Contoh pseudosains berlimpah. Astrologi adalah sebuah
sistem kepercayaan kuno yang beranggapan masa depan
seseorang ditentukan oleh posisi dan pergerakan planet-planet
dan benda langit lainnya. Astrologi meniru ilmu pengetahuan
dalam memprediksi dimana astrologi didasarkan pada
pengamatan astronomi yang hati-hati. Namun perbintangan
bukan ilmu pengetahuan karena tidak ada validitas untuk
mengklaim bahwa posisi benda-benda langit mempengaruhi
peristiwa-peristiwa kehidupan seseorang. Seperti di ketahui,
gaya gravitasi yang diberikan oleh benda angkasa pada
seseorang lebih kecil daripada gaya gravitasi yang diberikan
oleh benda-benda yang membentuk lingkungan duniawi:
pohon, kursi, orang lain, batang sabun, dan sebagainya.
Selanjutnya, prediksi astrologi tidak terbukti karena tidak ada
bukti bahwa astrologi bekerja.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 73

Manusia sangat baik dalam penyangkalan, yang mungkin
menjelaskan mengapa pseudosains adalah suatu bisnis yang
telah berkembang. Banyak pseudosaintiawan sendiri tidak
mengenali upaya mereka sebagai pseudosains. Seorang
praktisi dari penyembuhan misalnya, benar-benar dapat
percaya pada kemampuan dirinya untuk menyembuhkan
orang-orang yang tidak akan pernah bertemu kecuali melalui
email dan pertukaran kartu kredit. Dia bahkan dapat
menemukan bukti anekdot untuk mendukung perselisihan yang
terjadi dirinya. Efek plasebo dapat menutupi ketidakefektifan
berbagai model penyembuhan. Dalam hal tubuh manusia, apa
yang orang percaya akan sering terjadi bisa terjadi, karena
adanya koneksi fisik antara pikiran dan tubuh.

Teori aktivasi otak tengah mengklaim bahwa aktivasi otak
tengah dapat meningkatkan kecerdasan berfikir, emosi dan
motivasi seseorang. Kenyataannya adalah: otak tengah tidak
memiliki fungsi berpikir, emosi, dan motivasi. Otak tengah yg
merupakan bagian dari batang otak memiliki fungsi otak
primitive yaitu mekanisme pertahanan diri dan refleks-refleks
pada fungsi vegetative. Sedangkan kemampuan berpikir,
proses belajar, dan memori terutama terletak pada korteks dan
subkorteks. ―Teori otak tengah sudah jelas penipuan.

Dengan berpikir atau bertanya sedikit,setiap orang bisa
tahu bahwa ini adalah penipuan. Namun orang Indonesia itu
malas bertanya dan ingin yang serbainstan, terrmasuk
barangkali juga siswa. Jadi siswa gampang sekali jadi sasaran
penipuan. Bahkan, saya pernah memergoki, di sebuah gedung
pertemuan (kebetulan saya ke sana untuk keperluan lain),
sebuah pelatihan diselenggarakan oleh sebuah instansi
pemerintah yang judulnya ―Meningkatkan Kecerdasan Salat‖.
Semuanya dijual sebagai pelatihan dengan biaya yang mahal.
Ini sudah masuk ke permasalahan membohongi publik, sebab

74 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

mana mungkin dengan satu pelatihan selama dua hari seorang
anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan bisa
melihat di balik dinding seperti Superman‖.

Food combining dan diet berdasar golongan darah: teori
food combining mengungkapkan bahwa makan karbohidrat
harus terpisah dari protein dan lemak. Pagi makan karbohidrat,
siang lemak, malam protein. Makan buah dan sayuran harus
dalam keadaan perut kosong. Pada kenyataannya, teori food
combining dan diet berdasar golongan darah tidak memiliki
dasar ilmiah yang benar dan tidak diakui oleh para ahli gizi di
perguruan tinggi. Saluran cerna manusia mengeluarkan enzim
untuk pencernaan Karbohidrat, protein, dan lemak secara
bersama-sama sehingga tidak perlu adanya pemisahan zat
makanan. Pemberian buah dan serat dalam keadaan perut
kosong dapat menyebabkan iritasi pada saluran cerna dan hal
ini menyebabkan tidak terbentuknya feses yang bagus
konsistensinya.

a. Paradigma dan revolusi dalam wahana politik
Pada bagian ini akan dibahas mengenai paradigma dan

revolusi dalam wahana politik. Mengacu pada bangunan
pemikiranThomas Kuhn dengan jargonya paradigma dan
revolusi sains, secara lebih komprehensif dapat diaplikasikan
dalam menyoroti esensi atau fundamental structure dalam ilmu-
ilmu sosial untuk tidak terfokus pada ilmu-ilmu kealaman
seperti dalam teori-teoari politik,ekonomi, pendidikan dan lain
sebagainya. Ada kesejajaran antara revolusi politik dan revolusi
sains. Revolusi politik dibuka oleh kesadaran yang semakin
tumbuh, yang sering terbatas pada suatu segmen dari
masyarakat politik bahwa lembaga-lembaga yang ada tidak lagi
memadai untuk menghadapi permasalahan yang dikemukakan
oleh lingkungan yang sebagian diciptakan oleh lembaga itu.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 75

Revolusi politik bertujuan mengubah lembaga-lembaga
politik dengan cara-cara yang dilarang oleh lembaga-lembaga
itu sendiri (political revolutoins ainm to change political istitution
in ways that those instutions themselves prohibit). Mulanya
hanya krisis yang mengurangi peran dan wibawa lembaga-
lembaga politik. Dan dalam jumblah yang meningkat,
masyarakat menjadi terasing dari kehidupan politik dan
berprilaku semakin bertambah eksentrik didalamnya. Kemudian
dengan mendalamnya krisis, mereka melibatkan diri dalam usul
yang konkret bagi rekontruksi masyarak dalam kerangka
kelembagaan yang baru. Pada saat itu, masyarakat terbagi dua
kelompok atau partai yang bersaing, yang satu berusaha
mempertahankan kontelasi kelembagan yang lama, dan yang
lain berupaya mendirikan yang baru.

Jika polarisasi itu terjadi, penyelesaian secara politik pun
menjadi gagal. Karena mereka berselisih tentang matriks
kelembagaan tempat mencapai dan menelai perubahan politik,
dan karena tidak ada suprainstitusianal yang diakui oleh
mereka untuk mengandili perselisihan revolusioner, maka
akhirnya partai-partai dalam konflik revolusioner ini
mengunakan bantuan teknik-teknik persuasi massa,yang
seringkali melibatkan kekuatan.

Timbulnya suatu krisis dalam politik juga erat sekali
hubungannya dengan tokoh-tokoh politik yang selama krisis itu
menciptakan teori-teori poitik baru untuk mengbongkar fakta-
fakta yang telah menyimpang. Sepanjang Sejarah politik,
misalnya, kita dapat melihat bahwa munculnya teori-teori politik
barat kebanyakan dihasilkan selama waktu-waktu krisis, dan
jarang selama periode-periode normal.fenomena ini
menunjukkan bahwa teori-teori pokok dalam poitik itu
menyerupai ―extraordinary science‖, yang berhadapan dengan
anomali dan krisis yang mendalam. Oleh karenanya, teori-teori

76 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

utama ini menunjukkan ciri yang sama dengan extraordinary
science, yaitu berusaha untuk mendiskreditkan paradigma yang
sedang berjalan.

Gambaran ini tampak pada pemikiran politik Machiavelli
yang mengecam paran kepala negara , atau tuduhaan John
Locke terhadap absolutisme, atau juga kritik Karl Marx atas
masyarakat kapitalis. Dalam menanggapi munculnya teori baru
atau perlawanan terhadap paradigma yang berjalan ini,
masyarakat politik pada dasarnya tidak akan mempedulikan
perlawanan semacam ini, jika merasa tidak merasa ditekan
oleh paradigma yang berlaku. Masyarakat lebih suka
berkonsentrasi untuk menikmati manfaat atau mencari berbagai
kemungkinan dari sistem yang sedang berjalan. Ketidak
acuhan ini bukan merupakan ekspresin dari pilihan antara
memiliki atau meninggalkan teori. Tetapi, suatu masyarakat
yang berjalan yang berjalan secara normal memiliki teorinya
menurut teori yang dominan, bahkan teori tersebut taken for
ngranted, karena ia tidak mencerminkan konsensus
masyarakat.

b. Paradigma dan Revolusi dalam Wacana Pendidikan
Maksud wacana pendidikan disini bukan permasalahan

pendidikan secara makro, atau sistem kelembagaan pendidikan
secara luas, tetapi lebih terfokus teori belajar yang
diinsprirasikan oleh paradigma dan revolusi sains. Istilah
paradigma identik dengan ―skema‖ dalam teori belajar. Skema
adalah suatu struktur mental atau kognisi yang dengan
seseorang secara intelegtual beradaptasi dan mengordinasi
lingkungan sekitarnya. Skema ini akan berubah seiring
perkembangnya mental anak. Perubahan skema ini bisa
mengambil bentuk asimilasi atau akomodasi. Asimilasi
merupakan roses kognitif yang dengannya seseorang

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 77

mengintegrasikan persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke
dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya.

Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru
yang tidak sesuai dengan skema yang ada (data anomali), ada
kalanya seseorang tidak dapat mengamilasikan pengalaman
yang baru itu dengan skema yang telah dimiliki seseorang
tersebut. Pengalaman baru ini bisa jadi sama sekali tidak cocok
dengan paradigma yang telah ada. Dalam keadaan seperti ini,
orang tersebut akan mengadakan akomodasi, yaitu membentuk
skema baru yang dapat sesuai dengan rangsangan yang baru,
atau modifikasi skema yang ada sehingga sesuai dengan
ransangan yang baru, atau modifikasi skema yang ada
sehingga sesuai dengan ata anomali itu. Inilah yang disebut
revolusi skema. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran
perlu didesain bagaimana guru itu dapat merangsang atau
menyediakan data-data anomali yang dapat mengubah skema
pengetahuan siswa kearah skema yang lebih baik. Dan selama
siswa tidak mau mengubah skema atau merevolusi
pengetahuan yang telah ia miliki ke arah skema yang lebih
unggul, maka pengetahuan akan tetap seperti semula, tidak
ada perkembangan.

Pendekatan Kuhn terhadap Ilmu pada dasarnya adalah
reaksi terhadap tafsir Whig atas sejarah, bahwa sejarah adalah
progresi kebebasan linier yang kian meningkat dan berpuncak
pada masa kini. Sejarah Whig membaca masa silam dengan
arah kebelakang dan menjelaskan masa kini sebagai produk
kumulatif pencapaian masa silam. Penolakan terhadap sejarah
Whig dalam bidang sejarah ilmu, dimulai antara lain oleh
Alexander Koyre, yang terhadapnya Kuhn mengakui hutang
intelektual yang besar. Kuhn menyadari bahwa untuk
menyadari bagaimana suatu tradisi historis berkembang, orang
harus memahami perilaku sosial dari mereka yang terlibat

78 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

membentuk tradisi.
Pelestarian suatu bentuk kebudayaan mengandaikan

mekanisme-mekanisme sosialisasi dan penyebaran
pengetahuan, prosedur-prosedur untuk menunjukkan lingkup
makna dan representasi yang diterima, metode-metode untuk
meratifikasi inovasi-inovasi yang telah diterima dan member
mereka cap legitimasi. Semua itu harus dijaga
keberlangsungannya oleh para anggota kebudayaan itu sendiri,
jika konsep dan representasi hendak dipertahankan
eksistensinya. Jika ada bentuk budaya yang tetap bertahan,
pasti ada pula sumber-sumber otoritas dan control kognitif.
Kuhn menampilkan riset ilmiah sebagai produk dari suatu
interaksi yang kompleks antara komunitas peneliti, tradisi
otoritatif, dan lingkungannya. Dalam keseluruhan proses itu
rasio dan logika sama sekali bukan satu-satunya kriteria bagi
kemajuan dalam pengetahuan ilmiah.

c. Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Paradigma dan sains
normal
Rekaman sejarah ilmu merupakan titik awal pengembangan

ilmu karena merupakan rekaman akumulasi konsep untuk
melihat bagaimana hubungan antara pengetahuan dengan
mitos yang berkembang. Sejarah ilmu digunakan untuk
mendapatkan dan mengkonstruksi wajah ilmu pengetahuan
dan kegiatan ilmiah yang terjadi. Hal-hal baru yang ditemukan
pada suatu masa menjadi unsur penting bagi pengembangan
ilmu di masa berikutnya. Dari sejarah juga dapat dilihat bahwa
sains bukan hasil penemuan individual.Sains lebih dicirikan
oleh paradigma dan revolusi yang menyertainya. Dari rekaman
sejarah ilmu bisa diketahui bahwa terjadinya perubahan-
perubahan mendalam tidak didasarkan pada upaya empiris
untuk membuktikan suatu teori atau sistem, tetapi melalui

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 79

revolusi-revolusi ilmiah. Sehingga, kemajuan ilmiah pertama-
tama bersifat revolusioner dan bukan kumulatif.

Pergeseran paradigma adalah istilah untuk
menggambarkan terjadinya dimensi kreatif pikiran manusia
dalam bingkai filsafat. Pergeseran paradigma merupakan
letupan ide yang merangsang timbulnya letupan ide-ide yang
lain, yang terjadi terus-menerus, sambung menyambung, baik
pada orang yang sama maupun orang yang berbeda. Reaksi
berantai ini akhirnya menjadi kekuatan yang bisa merubah
wajah dan tatanan dunia serta peradaban manusia ke arah
suatu kemajuan.

Paradigma merupakan kerangka referensi yang mendasari
sejumlah teori maupun kegiatan ilmiah nyata yang diterima
dalam periode tertentu. Saat pertama kali muncul, masih
sangat terbatas baik cakupan maupun ketepatannya tetapi
menjanjikan suatu keberhasilan. Paradigma memperoleh
statusnya karena lebih berhasil dari saingannya dalam
memecahkan permasalahan keilmuan yang dianggap
rawan.Paradigma membimbing kegiatan ilmiah dalam masa
sains normal sehingga saintis bisa mengembangkan secara
rinci dan mendalam, dan tidak sibuk dengan hal-hal yang
mendasar. Pada sains normal, saintis tidak bersikap kritis
terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiahnya. Tiga
fokus kajian sains normal adalah memperluas pengetahuan
tentang fakta, meningkatkan kesesuaian antara prakiraan
paradigma dan artikulasi lebih lanjut untuk memecahkan
beberapa keraguan yang tersisa, untuk memperkuat citra
sains.

Kegiatan ilmiah ada dua yaitu pemecahan teka-teki (puzzle
solving) dan penemuan paradigma baru. Pada sains normal,
saintis membuat percobaan dan mengadakan observasi untuk
memecahkan teka-teki, bukan mencari kebenaran. Bila

80 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

paradigmanya tidak dapat digunakan untuk memecahkan
persoalan penting atau malah mengakibatkan konflik, maka
paradigma baru harus diciptakan. Dengan demikian kegiatan
ilmiah selanjutnya diarahkan kepada penemuan paradigma
baru, dan jika penemuan baru ini berhasil, maka akan terjadi
perubahan besar dalam ilmu pengetahuan.

3.6. Anomali dan munculnya penemuan baru

Berbagai fenomena (anomali) bisa dijumpai oleh seorang
saintis selama menjalankan riset di sains normal. Jika anomali
kian menumpuk, akan timbul krisis dan paradigma mulai
dipertanyakan yang berarti sang saintis mulai keluar dari sains
normal. Pada data anomali (penyimpangan terhadap teori-teori
dalam paradigma) berperan besar dalam memunculkan sebuah
penemuan baru. Penemuan baru diawali dengan kesadaran
akan anomali, yakni pengakuan bahwa alam dengan suatu
cara, telah melanggar pengharapan yang didorong oleh
paradigma yang menguasai sains normal. Kemudian ia
berlanjut dengan eksplorasi yang sedikit banyak diperluas ke
wilayah anomali dan hanya berakhir bila teori atau paradigma
itu telah disesuaikan sehingga yang menyimpang menjadi
sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga, dalam penemuan
baru harus ada penyesuaian antara fakta dengan teori yang
baru.

Revolusi sains muncul karena adanya anomali dalam riset
ilmiah yang makin parah dan munculnya krisis yang tidak dapat
diselesaikan oleh paradigma yang menjadi referensi riset.
Untuk mengatasi krisis, saintis bisa kembali lagi pada cara-cara
ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu atau
mengembangkan sesuatu paradigma tandingan yang bisa
memecahkan permasalahan dan membimbing riset berikutnya.
Jika yang terakhir ini terjadi, maka lahirlah revolusi

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 81

sains.Revolusi sains merupakan episode perkembangan non-
kumulatif, dimana paradigma lama diganti sebagian atau
seluruhnya oleh paradigma baru yang
bertentangan. Transformasi-transformasi paradigma yang
berurutan dari paradigma yang satu ke paradigma yang lainnya
melalui revolusi, adalah pola perkembangan yang biasa dari
sains yang telah matang.

Jalan revolusi sains menuju sains normal bukanlah jalan
bebas hambatan. Sebagian saintis atau masyarakat sains
tertentu ada kalanya tidak mau menerima paradigma baru dan
ini menimbulkan permasalahan sendiri karena dalam memilih
paradigma tidak ada standar yang lebih tinggi dari pada
persetujuan masyarakat yang bersangkutan. Untuk
menyingkap bagaimana revolusi sains itu dipengaruhi, kita
harus meneliti dampak sifat dan logika juga teknik-teknik
argumentasi persuasif yang efektif di dalam kelompok-
kelompok yang membentuk masyarakat sains itu. Oleh karena
itu permasalahan paradigma sebagai akibat dari revolusi sains,
hanya sebuah konsensus yang sangat ditentukan oleh retorika
di kalangan masyarakat sains itu sendiri. Semakin paradigma
baru itu diterima oleh mayoritas masyarakat sains, maka
revolusi sains kian dapat terwujud.

Selama revolusi, para saintis melihat hal-hal yang baru
dan berbeda dengan ketika menggunakan instrumen-instrumen
yang sangat dikenal untuk melihat tempat-tempat yang pernah
dilihatnya. Seakan-akan masyarakat profesional itu tiba-tiba
dipindahkan ke daerah lain dimana obyek-obyek yang sangat
dikenal sebelumnya tampak dalam penerangan yang berbeda,
berbaur dengan obyek-obyek yang tidak dikenal. Saintis yang
tidak mau menerima paradigma baru sebagai landasan
risetnya, dan tetap bertahan pada paradigma yang telah
dibongkar dan sudah tidak mendapat dukungan dari mayoritas

82 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

masyarakat sains, maka aktivitas risetnya tidak berguna sama
sekali

Pada awal perkembangan ilmu pengetahuan, Saintis yang
berpikir filsafati, diharapkan bisa memahami filosofi kehidupan,
mendalami unsur-unsur pokok dari ilmu yang ditekuninya
secara menyeluruh sehingga lebih arif dalam memahami
sumber, hakikat dan tujuan dari ilmu yang ditekuninya,
termasuk pemanfaatannya bagi masyarakat. Untuk mencapai
tujuan itu, maka proses pendidikan hendaknya bukan sekedar
untuk mencapai suatu tujuan akhir tapi juga mempelajari hal-
hal yang dilakukan untuk mencapai tujuan akhir tersebut.
Sehingga, saintis selain sebagai orang berilmu juga memiliki
kearifan, kebenaran, etika dan estetika.

Secara epistemologis dapat dikatakan bahwa ilmu
pengetahuan yang ada saat ini merupakan hasil dari akumulasi
pengetahuan yang terjadi dengan pertumbuhan, pergantian
dan penyerapan teori. Kemunculan teori baru yang
menguatkan teori lama akan memperkuat citra sains normal.
Tetapi, anomali dalam riset ilmiah yang tidak bisa diselesaikan
oleh paradigma yang menjadi referensi riset, menyebabkan
berkembangnya paradigma baru yang bisa memecahkan
permasalahan dan membimbing riset berikutnya (mela-hirkan
revolusi sains). Tumbuh kembangnya teori dan pergeseran
paradigma adalah pola perkembangan yang biasa dari sains
yang telah matang. Berkembangnya peralatan analisis juga
mendorong semakin berkembangnya ilmu. Contoh
epistemologi ilmu dimana terjadi perubahan teori dan
pergeseran paradigma terlihat pada perkembangan teori atom,
teori pewarisan sifat dan penemuan alam semesta.Dalam
perkembangan ilmu, suatu kekeliruan mungkin terjadi terutama
saat pembentukan paradigma baru. Tetapi, yang harus
dihindari adalah melakukan kesalahan yang lalu ditutupi dan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 83

diakui sebagai kebenaran. Pada bagian ini akan disajikan
contoh hasil pemikiran revolusioner dari saintis, yaitu berkaitan
dengan:

1. Perkembangan teori atom
Konsep atom dicetuskan oleh Leucippos dan Democritos

(abad ke-6 SM): materi (segala sesuatu di alam) secara fisik
disusun oleh sejumlah benda berukuran sangat kecil (atom).
Atom merupakan partikel yang sangat kecil, padat dan tidak
bisa dibagi, bergerak dalam ruang dan bersifat abadi. Menurut
John Dalton (1766–1844) setiap unsur kimia dibentuk oleh
partikel yang tak bisa diurai (atom).Pergeseran paradigma
terjadi ketika ternyata dibuktikan bahwa atom masih bisa dibagi
dan memiliki elektron (J.J. Thomson,1856–1940) dan proton (E.
Goldstein, 1886). Pengetahuan bahwa atom bisa dibagi
membuat saintis lalu mereka-reka struktur atom. Thomson,
menganalogikan atom seperti roti tawar dengan kismisnya,
dimana elektron dan partikel positif terdistribusi merata. Dari
penelitian E. Rutherford (1871-1937) disimpulkan bahwa
elektron mengorbit mengelilingi nukleus. Postulat ini diperbaiki
oleh J. Chadwick (1891–1974): atom memiliki sebuah inti yang
tersusun atas nukleis, dan elektron-elektron yang mengorbit
mengelilinginya; dan lalu disempurnakan oleh Niels Bohr yang
mempertimbangkan efek kuantisasi energi atom. Teori-teori
atom dan strukturnya masih terus disempurnakan. Saat ini
mulai terjadi anomali yang menggugat paradigma yang sudah
ada. Murray Gell-Mann (1964) mengatakan, proton dan netron
masih bisa dibagi menjadi quark.

2. Perkembangan teori pewarisan sifat
Pemikiran tentang pewarisan sifat sudah ada sejak jaman

dulu. Plato dengan paham esensialismenya menjelaskan,

84 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

setiap orang merupakan bayangan dari tipe ideal. Esensinya,
manusia adalah sama dan keragaman di dunia tidak ada
artinya.Perkembangan teori ini diawali dengan dilema yang
dihadapi Darwin: apa penyebab variasi dan apa yang
mempertahankan variasi? Menurut F. Galton, setiap anak
menuju kecenderungan rata-rata dari sifat induknya. Sifat-sifat
hereditas kontinyu dan bercampur, anak adalah rata-rata dari
kedua orang tua, maka variasi tidak ada. Sementara menurut
Darwin, keragamanlah yang penting, bukan rata-rata tetapi
Darwin belum bisa menjelaskan mengapa keragaman tersebut
bisa terjadi.

Hipotesis sementaranya menjelaskan bahwa kopi sel dari
setiap jaringan yang dimasukkan ke dalam darah (gemmules)-
lah yang memproduksi keragaman ketika gemmule dibentuk
dan dikonversi kembali menjadi sel tubuh pada saat reproduksi.
Tetapi perjalanan sejarah ilmu perkembangan sel selanjutnya
membuktikan bahwa hipotesis ini salah. Mendell yang
melakukan persilangan kacang dan menghasilkan varietas
yang berbeda, mulus dan keriput tapi tidak ada yang di tengah-
tengah, menyimpulkan bahwa sifat-sifat yang diturunkan
bersifat diskrit, ada yang dominan dan ada yang resesif, tapi
tidak bisa bercampur. Teori inilah yang selanjutnya digunakan
sebagai dasar pengembangan teori pewarisan sifat.

3. Perkembangan Teori Tata Surya
Prediksi peredaran matahari, bintang, bulan dan gerhana

sudah dilakukan bangsa Baylonia, 4000 tahun yang lalu.
Kosmologi Yunani (4SM) menyatakan bumi pusat dan semua
benda langit mengitari bumi. Konsep ini dipatahkan Copernicus
(1473-1543) yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat
sistem tata surya dan bumi bergerak mengelinginya dalam orbit
lingkaran. Teori Copernicus menjadi landasan awal

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 85

pengembangan ilmu tentang tata surya. Seorang ilmuwan
berada pada posisi dimana dia memiliki pengetahuan yang
berdasarkan pada fakta (factual knowledge). Tetapi, fakta itu
tidak berarti walaupun bisa menjadi instrumen jika tidak
diaplikasikan. Aplikasi dari suatu kajian ilmu hendak-lah
mempunyai nilai kegunaan (aksiologis) yang memberi makna
terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam
seluruh aspek kehidupan.

Kajian filsafat berkenaan dengan pencarian kebenaran
fundamental. Seorang saintis, hendaklah mengkaji kebenaran
fundamental dari suatu alternatif pemecahan permasalahan
yang disodorkannya. Seorang saintis juga memiliki tanggung
jawab sosial untuk memberi perspektif yang benar terhadap
suatu permasalahan yang sedang dihadapi dan alternatif
pemecahannya secara keilmuan kepada mayarakat awam.
Dengan penguasaan ilmunya, seorang saintis juga hendaknya
bisa mempengaruhi opini masyarakat terhadap permasalahan
yang seharusnya mereka sadari.

Sebagai contoh, kajian ilmu bioteknologi, revolusi hijau (bibit
unggul, pestisida, pupuk kimia) dan tanaman transgenik telah
meningkatkan factual knowledge yang dimiliki. Tetapi, ketika
akan diaplikasikan ke masyarakat sebagai alternatif untuk
mengatasi permasalahan, misalnya aplikasi tanaman
transgenik untuk mengatasi produksi pangan yang terus
menurun, maka kita perlu mempertanyakan kebenaran
fundamental yang ada dibelakangnya. Apa penyebab
permasalahan yang sebenarnya? Apa saja alternatif
pemecahan masalahnya? Apakah alternatif yang diajukan
memang alternatif terbaik untuk mengatasi permasalahan?
Bagaimana kajian keuntungan dan resiko dari alternatif yang
dipilih ini? Bagaimana dampaknya terhadap kemanusiaan,
lingkungan, ekonomi dan sistim sosial masyarakat? Hal-hal ini

86 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

harus dipelajari dan dijawab oleh saintis sebelum alternatif ini
benar-benar dipilih untuk mengatasi suatu permasalahan.
Sehingga tidak terjadi kasus dimana aplikasi dari suatu factual
knowledge ternyata pada akhirnya menimbulkan dampak
negatif bagi manusia, lingkungan, sosial ataupun aspek lain
dari kehidupan masyarakat.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 87

BAB 4

PARADIGMA MEKANIKA NEWTON
MENUJU MEKANIKA LAGRANGIAN

Syaifuddin
Enumerator Pusat Studi Kependudukan

dan Kebijakan (PSKK) UGM
email: [email protected]

4.1. Deskripsi Materi

Pada bab ini akan dibahas mengenai paradigma ilmu
fisika terkait perkembangan Mekanika Newton menuju
Mekanika Lagrangian. Materi dalam bab ini dihimpun
berdasarkan referensi dari berbagai sumber di internet dan
lainnya terutama kaitannya dengan konsep perkembangan
Mekanika yang ditinjau dari sudut pandang Newton dan
Lagrangian. Dalam materi ini membahas secara umum tentang
bagaimana konsep perkembangan ilmu pengetahuan terutama
dalam bahasan Mekanika gerak dapat berkembang dari suatu
periode ke periode berikutnya dengan sudut pandang yang
lebih kompleks sehingga menghasilkan suatu paradigma baru
dalam menelaah konsep mekanika yang dicetuskan oleh
Newton yang dikembangkan dengan konsep tiga dimensi oleh
Lagrangian. Materi yang dibahas dalam bab ini meliputi

88 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner


Click to View FlipBook Version