kedua orbit. Sebaliknya, ketika elektron melompat ke orbit
yang lebih besar, ia harus menyerap kuantum cahaya
yang energinya sama dengan perbedaan dalam orbit.
Model Bohr menjelaskan kestabilan atom karena
elektron tidak dapat kehilangan energi lebih dari yang
dimilikinya di orbit terkecil, yang memiliki n = 1. Model
tersebut juga menjelaskan Rumus Balmer untuk garis
spektral hidrogen. Energi cahaya adalah perbedaan
energi antara dua orbit dalam rumus Bohr. Menggunakan
rumus Einstein untuk menyimpulkan frekuensi cahaya,
Bohr tidak hanya menjelaskan bentuk rumus Balmer
tetapi juga menjelaskan secara akurat nilai konstanta
proporsionalitas R .
3) Menurut mekanika klasik, permukaan benda hitam
memancarkan radiasi secara terus-menerus (kontinu),
hukum tersebut diturunkan dari hukum dasar mekanika
yang dikembangkan oleh Sir Isaac Newton.
Max Planck (1858-1947), fisikawan berkebangsaan
Jerman pada tahun 1900 M mempelajari radiasi benda
hitam. Awalnya Planck menggunakan pendapat mekanika
klasik tersebut, tetapi gagal untuk mendapatkan
persamaan matematika yang dicarinya. Max Planck mulai
dengan asumsi baru, bahwa permukaan benda hitam tidak
menyerap atau memancarkan energi secara kontinu,
melainkan berjalan sedikit demi sedikit dan bertahap-
tahap. Menurut Planck, benda hitam menyerap energi
dalam berkas-berkas kecil dan memancarkan energi yang
diserapnya dalam berkas-berkas kecil pula yang disebut
kuantum.
Dengan hipotesis yang revolusioner, Planck berhasil
menemukan suatu persamaan matematika untuk radiasi
benda hitam yang benar-benar sesuai dengan data
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 339
percobaan yang diperolehnya. Persamaan tersebut
selanjutnya disebut Hukum Radiasi Benda Hitam Planck
yang menyatakan bahwa intensitas cahaya yang
dipancarkan dari suatu benda hitam berbeda-beda sesuai
dengan panjang gelombang cahaya. Planck mendapatkan
suatu persamaan:
E = hf
yang menyatakan bahwa energi suatu kuantum (E) adalah
setara dengan nilai tetapan tertentu yang dikenal sebagai
Tetapan Planck (h), dikalikan dengan frekuensi (f) kuantum
radiasi.
Hipotesis Planck yang bertentangan dengan teori klasik
tentang gelombang elektromagnetik ini merupakan titik awal
dari lahirnya teori kuantum yang menandai terjadinya
revolusi dalam bidang fisika.
4) Efek fotolistrik Einstein.
Efek fotolistrik merupakan fenomena fisika berupa pancaran
elektron dari permukaan benda apabila cahaya dengan
energi tertentu menimpa permukaan benda itu. Semua
logam dapat menunjukkan fenomena ini.
Untuk membuktikan hipotesis Planck, Einstein melakukan
eksperimen efek fotolistrik dengan menembakkan cahaya
pada permukaan logam Natrium dan mengamati partikel-
partikel atau elektron-elektron pada permukaan logam
terhambur dengan kecepatan tertentu. Elektron-elektron
terhambur ini memiliki energi kinetik sebesar ½ mv2, dimana
m adalah masa elektron dan v adalah kecepatan elektron
yang terhambur.
Peristiwa pergerakan elektron dengan kecepatan
tertentu ini merupakan sifat dari partikel, sehingga dikatakan
bahwa gelombang cahaya dapat berperilaku seperti partikel.
Namun hanya cahaya dengan frekuensi/energi tertentu
340 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
yang mampu menghamburkan elektron-elektron pada
permukaan logam Natrium, yaitu energi foton harus sama
dengan energi yang diperlukan untuk memindahkan
elektron (fungsi kerja logam) ditambah dengan energi
kinetik dari elektron yang terhambur, penjelasannya
tersebut memperoleh perhatian luas di kalangan fisikawan.
Hipotesis Planck revolusioner tetapi terbukti benar, karena
itu Planck dianggap sebagai Bapak Mekanika
Kuantum yang telah mengalihkan perhatian penelitian dari
dunia makroskopik yang mempelajari objek-objek tampak
ke dunia mikroskopik yang mempelajari objek-objek sub-
atomik.
5) Menurut mekanika klasik, cahaya dan bentuk-bentuk lain
dari radiasi elektromagnetik diperlakukan sebagai
gelombang.
Hamburan Compton, ditemukan oleh Arthur Holly
Compton adalah hamburan foton oleh partikel bermuatan,
biasanya elektron. Jika itu menghasilkan penurunan energi
(peningkatan panjang gelombang) dari foton (yang mungkin
merupakan X-ray atau gamma ray foton), hal itu disebut efek
Compton . Sebagian energi foton ditransfer ke elektron
rekoiling. Hamburan Compton terbalik terjadi ketika
partikel bermuatan mentransfer sebagian energinya ke foton.
Ketika berkas sinar-X diarahkan ke material target, beberapa
berkas dibelokkan, dan sinar-X yang tersebar memiliki
panjang gelombang yang lebih besar dari berkas aslinya.
Fisikawan Arthur Holly Compton menyimpulkan bahwa
fenomena ini hanya dapat dijelaskan jika sinar-X dipahami
terdiri dari berkas atau partikel diskrit, yang sekarang disebut
foton, yang kehilangan sebagian energinya dalam tabrakan
dengan elektron dalam bahan target dan kemudian tersebar
pada energi yang lebih rendah.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 341
Penemuan efek Compton berpengaruh signifikan
karena menunjukkan bahwa cahaya tidak dapat dijelaskan
hanya sebagai fenomena gelombang. Hamburan Thomson,
teori mekanika klasik gelombang elektromagnetik
yang dihamburkan oleh partikel bermuatan, tidak dapat
menjelaskan pergeseran panjang gelombang pada intensitas
rendah: secara mekanika klasik, cahaya dengan intensitas
yang cukup untuk medan listrik untuk mempercepat partikel
bermuatan ke kecepatan relativistik akan menyebabkan
radiasi- tekanan mundur dan pergeseran Doppler terkait dari
cahaya yang tersebar, tetapi efeknya akan menjadi sangat
kecil pada intensitas cahaya yang cukup rendah terlepas dari
panjang gelombang. Jadi, cahaya berperilaku seolah-olah
terdiri dari partikel, jika kita ingin menjelaskan hamburan
Compton intensitas rendah. Atau asumsi bahwa elektron
dapat diperlakukan sebagai elektron bebas tidak valid
sehingga menghasilkan massa elektron tak hingga yang
efektif sama dengan massa inti (lihat misalnya komentar di
bawah tentang hamburan elastis sinar-X dari efek tersebut).
Eksperimen Compton meyakinkan fisikawan bahwa cahaya
dapat diperlakukan sebagai aliran objek mirip partikel
(kuanta disebut foton), yang energinya sebanding dengan
frekuensi gelombang cahaya. Sesuai sifatnya yang
deterministik, menurut mekanika klasik, setiap partikel
memiliki posisi dan momentum yang tepat.
Berdasarkan penemuan Planck, Einstein dan Compton,
ada pergeseran paradigma dari elektron bersifat partikel dan
cahaya bersifat gelombang saja, menjadi bersifat dualisme,
suatu saat bersifat partikel tapi saat lain berlaku sebagai
gelombang. Untuk membuktikannya, Heisenberg berimajinasi
menciptakan suatu eksperimen imajiner. Eksperimen imajiner
ini berbasis teori tentang model atom sesuai yang
342 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
dikemukakan Neils Bohr pada tahun 1913. Dalam model ini,
elektron dipandang sebagai partikel-partikel bermuatan
negatif yang bergerak mengelilingi inti atom yang bermuatan
positif. Lintasan gerak atau orbit elektron dibayangkan seperti
kulit yang berlapis-lapis, dan masing-masing lapisan kulit
tersebut mempunyai tingkatan energi yang berbeda. Tingkat
energi paling rendah adalah kulit paling dalam, tingkat energi
tertinggi adalah kulit paling luar.
Elektron-elektron bergerak stasioner pada masing-
masing orbitnya, sehingga tidak ada energi yang dipancarkan
maupun diserap. Energi yang dipancarkan atau diserap
timbul bila terjadi perpindahan elektron dari satu orbit ke orbit
lainnya. Berbasis teori model atom Bohr tersebut, maka mari
kita imajinasikan suatu eksperimen sebagai berikut. Seorang
ahli fisika imajiner berusaha mengamati gerak elektron-
elektron pada masing-masing orbitnya, dengan
menggunakan supermikroskop yang sangat kuat. Ahli fisika
itu mengalami kesulitan ketika ingin mengetahui posisi
sebuah elektron tunggal. Mengingat ukuran sebuah elektron
lebih kecil dari sebuah gelombang cahaya, dia hanya dapat
menentukan sifat-sifat elektron cukup akurat, bila ia
berhubungan dengan sejumlah elektron. Makin
banyak/sejumlah besar elektron yang diamati, maka semakin
akurat informasi tentang sifat-sifat elektron bisa didapat. Oleh
karenanya ahli fisika imajiner itu menyimpulkan adanya
hubungan sebab-akibat :
Pertama, sebuah elektron tunggal tidak bisa diamati
disebabkan ukurannya lebih kecil dari sebuah gelombang
cahaya.
Kedua, keakuratan penentuan sifat-sifat elektron tergantung
banyaknya / sejumlah besar elektron yang diamati.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 343
Jika ahli fisika itu berusaha memperbesar ukuran
sebuah elektron yang dilihatnya, ia harus menyinari partikel
itu dengan sinar yang lebih kuat, yaitu suatu radiasi
gelombang pendek, dengan sinar X mungkin masih belum
cukup. Elektron dapat dibuat nampak lebih jelas, hanya
dengan sinar gamma Radium frekuensi tinggi. Namun
kesulitan lain muncul, karena usaha menyinari partikel-
partikel bisa mengganggu gerak elektron. Orbit stasioner
elektron atau keseimbangan gaya-gaya yang terjadi akibat
muatan positif inti atom dan muatan negatif elektron-elektron
tersebut akan terganggu.
Berdasarkan efek fotolistrik, sinar biasa menimbulkan
gaya cukup keras pada elektron, dan sinar X yang mengenai
elektron akan lebih keras lagi, sedangkan tumbukan sinar
gamma yang lebih kuat bisa menimbulkan kerusakan. Disini
ahli fisika imajiner tersebut juga melihat adanya hubungan
sebab akibat: adanya gaya yang lebih keras terhadap
elektron menyebabkan gangguan terhadap gerak stasioner
elektron, dan menjadikan pula sulit menentukan posisi dan
kecepatan elektron secara akurat dalam waktu bersamaan.
16.4 Eksplanasi Mekanika Klasik yang
Mengagumkan Saintis
Mekanika dalam ilmu fisika berkaitan dengan gaya
yang bekerja pada suatu benda. Mekanika klasik biasa
disebut dengan mekanika Newtonian. Dalam mekanika
klasik menggambarkan dinamika dari partikel atau sistem
partikel tersebut. Dinamika partikel ditunjukkan dalam suatu
hukum-hukum yang biasa kita sebut dengan hukum Newton
tentang gerak, terutama oleh hukum kedua Newton. Hukum
ini menyatakan bahwa, ‖Sebuah benda yang memperoleh
344 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
pengaruh gaya atau interaksi akan bergerak sedemikian
rupa sehingga laju perubahan waktu dari momentum sama
dengan gaya tersebut‖. Hukum Newton 2 ini digunakan
sampai sekarang karena bisa menjelaskan fenomena gaya-
gaya antar benda yang makroskopik.
Dalam mekanika klasik dibagi menjadi beberapa sub
bagian lagi, yaitu seperti statika (mempelajari benda dalam
keadaan diam), kinematika (mempelajari benda bergerak),
dan dinamika (mempelajari benda yang terpengaruh oleh
gaya). Sebenarnya ilmu mekanika itu sendiri sudah lama
yaitu sejak jaman Yunani kuno sehingga ilmu mekanika bisa
dibilang sebagai ilmu fisika tertua dan diangap sebagai ilmu
―klasik‖ karena mekanika meliputi hukum-hukum yang telah
dipahami sejak lama sebelum terobosan ilmiah seperi teori
kuantum dan teori relativitas di abad ke-20.
Hukum-hukum mekanika klasik ini masih bisa untuk
menjelaskan sebagian besar fenomena umum dialam
semesta yang terjadi dari skala atom dan molekul. Namun
untuk keadaan-keadaan tertentu yang melibatkan bidang-
bidang gravitasi yang kuat, kecepatan tinggi atau skala yang
sangat kecil sehingga terobosan-terobosan yang terjadi
dalam baru-baru ini lebih bisa menawarkan penjelasan yang
lebih akurat mengenai apa yang sedang berlangsung. Ilmu
mekanika klasik lebih menjelaskan aspek-aspek alam
semesta, mulai dari mesin-mesin sederhana hingga sampai
orbit planet. Selain itu juga mekanika klasik juga bisa
menjelaskan dari sifat-sifat benda padat, cair dan gas dari
tingkat atom hingga ke skala sehari-hari atau ―mikroskopis‖.
Dari semua fenomena-fenomena yang telah disebutkan
di atas adalah contoh sederhanya yaitu benda-benda yang
bertubrukan, dan hukum-hukum sederhana yang
menjelaskan interaksi dan tingkah laku benda-benda
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 345
tersebut. Teknik ilmu mekanika klasik lebih memungkinkan
kita bisa menghitung perolehan, pelepasan dan perpindahan
energi antara partikel-partikel, dan kita bisa memprediksi
tingkah laku benda di berbagai situasi.
Hukum paling penting dalam ilmu mekanika ini adalah
hukum Newton tentang gerak dan gravitasi, yang dijelaskan
oleh fisikawan Inggris yang sangat terkenal yaitu bernama
Sir Isaac Newton. Sir Isaac Newton menerbitkan buku yang
fenemonal pada tahun 1687 yang berjudul Principles of
Natural Philosophy. Hukum-hukum Newton ini menjelaskan
tentang gerak benda atau objek dibawah pengaruh gaya dan
kekuatan gaya gravitasi diantara masa-masa besar. Dengan
demikian hukum-hukum Newton memberikan penjelasan
yang sangat lengkap mengenai fenomena-fenomena alam
dalam berbagai kondsi tertentu pada skalasubmikropis fisika
kuantum atau dalam situasi kecepatan atau gravitasi ekstrim
yang dijelaskan ole relativitas. Sungguh, hukum-hukum
Newton sangat berguna dalam menjelaskan fenomena-
fenomena dalam hidup keseharian kita sehingga hukum
Newton sering kita gunakan sebagai sebuah sinonim untuk
seluruh bidang ilmu mekanika klasik.
16.5 Sisi Aksiologi Mempelajari Pemikiran dan
Dogma Mekanika Klasik
Dalam kehidupan sehari-hari mekanika khususnya
mekanika klasik menghasilkan hasil yang sangat akurat. Dia
diikuti oleh relativitas khusus untuk sistem yang bergerak
dengan kecepatan sangat tinggi, mendekati kecepatan
cahaya, mekanika kuantum untuk sistem yang sangat kecil,
dan teori medan kuantum untuk sistem yang memiliki kedua
sifat di atas. Namun, mekanika klasik masih sangat berguna,
karena ia lebih sederhana dan mudah diterapkan dari teori
346 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
lainnya, dan dia juga memiliki perkiraan yang valid dan luas
terapannya. Mekanika klasik dapat digunakan untuk
menjelaskan gerakan benda sebesar manusia (seperti gasing
dan bisbol), juga benda-benda astronomi (seperti planet dan
galaksi, dan beberapa benda mikroskopis.
Mekanika klasik menggambarkan dinamika partikel atau
sistem partikel. Dinamika partikel demikian, ditunjukkan oleh
hukum-hukum Newton tentang gerak, terutama oleh hukum
kedua Newton. Hukum ini menyatakan, ―Sebuah benda yang
memperoleh pengaruh gaya atau interaksi akan bergerak
sedemikian rupa sehingga laju perubahan waktu dari
momentum sama dengan gaya tersebut‖. Hukum-hukum
gerak Newton baru memiliki arti fisis, jika hukum- hukum
tersebut diacukan terhadap suatu kerangka acuan tertentu,
yakni kerangka acuan inersia (Fowles. 1985). Prinsip
Relativitas Newtonian menyatakan, ―Jika hukum-hukum
Newton berlaku dalam suatu kerangka acuan maka hukum-
hukum tersebut juga berlaku dalam kerangka acuan lain
yang bergerak serba sama vertical terhadap kerangka acuan
pertama‖ (Kleppner, and Kolenkow, 1973). Sisi aksiologi
setelah mempelajari pemikiran dan dogma mekanika klasik
adalah
1) Susunan alam semesta, khususnya makroskopis sangat
teratur, sehingga manusia bisa mempelajarinya dan
menuangkan hukum atasnya. Tanda keteraturan alam
semesta yang tampak di depan mata manusia mestinya
dapat meningkatkan nilai keimanan atas keagungan
Allah SWT.
2) Pada semua benda, baik gerak dan interaksinya
terdapat hukum yang dapat dipelajari keteraturannya,
sehingga manusia dapat memanfaatkannya untuk
keperluan yang sesuai, sebagai contoh manusia dapat
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 347
menghitung posisi dan gerak benda langit secara tepat
sehingga bisa digunakan untuk memprediksi adanya
gerhana matahari, gerhana bulan, perubahan musim,
waktu harian, bulanan dan tahunan yang berlangsung
secara teratur dan terus menerus,
3) Sebuah hukum yang ada di alam semesta ada batas-
batas atau restriksinya, sehingga bisa jadi hanya
berlaku untuk kondisi tertentu, dalam hal ini hukum
mekanika klasik (mekanika Newton) berlaku untuk alam
benda makroskopik. Sedangkan untuk alam benda
mikroskopik maka hukum mekanika klasik tidak berlaku
atau kurang tepat. Nilai aksiologi yang dapat diambil
dari keterbatasan ini adalah agar manusia tidak merasa
paling benar sendiri dengan pendapat atau hukumnya,
tetapi perlu mengadopsi, mengadaptasi dan mengakui
pendapat pihak lain yang mungkin mengandung
kebenaran untuk kondisi tertentu.
4) Mengambil hikmah pergeseran paradigma mekanika
klasik ke mekanika kuantum maka kita dapat mengambil
hikmah bahwa suatu pendapat manusia tentang hukum
alam itu bersifat nisbi atau tentatif, karena itu manusia
harus terdorong terus untuk mencari kebenaran yang
nyata secara terus menerus, tidak terpaku pada dogma
yang sedang berlaku.
5) Nilai moral dari hukum kelembaman Newton sebagai
bagian mekanika klasik yaitu bagian tersulit dalam
kehidupan adalah memulai sesuatu pekerjaan. Namun,
jika pekerjaan tersebut telah dimulai dan sering kita
lakukan maka akan menjadi suatu kebiasaan yang akan
melekat dan sulit untuk di hentikan. Maka selalu pastikan
apa yang kita lakukan adalah hal yang baik, agar kita
348 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
selalu melaju menuju kebaikan dan sulit untuk dihentikan
dan bukan sebaliknya.
16.6 Konteks Psikologi evolusif Pergeseran
Paradigma Mekanika Klasik ke Mekanika
Kuantum
Teori mekanika klasik disempurnakan oleh mekanika
kuantum yang terus berkembang dan mengalami pergeseran,
Dalam ilmu pengetahuan, model alam semesta yang baik
dianggap sebagai salah satu yang memungkinkan prediksi
yang paling akurat dalam kondisi tertentu, dan teori yang dapat
terbukti benar dengan perhitungan matematis. Ada banyak
model realitas dalam fisika. Beberapa dari mereka hidup
berdampingan tanpa konflik meskipun mereka menunjuk pada
kesimpulan yang berbeda, terutama jika mereka menjawab
pertanyaan yang berbeda atau diterapkan pada cara dan tujuan
yang berbeda.
Selain itu, tidak satupun dari mereka harus menawarkan
keseluruhan gambaran, namun lebih berkaitan dengan satu
segi dalam prisma realitas. Misalnya, sementara fisika Newton
tidak lengkap, teori ini tetap merupakan teori yang paling
berguna dalam perhitungan sehari-hari kita; Jika seorang
insinyur membangun sebuah bangunan, dia akan menerapkan
fisika Newtonian (klasik) daripada mekanika kuantum.
Di sisi lain, mekanika kuantum dibutuhkan dalam
pengembangan teknologi nano dan komputer modern. Jadi,
banyak cabang fisika mencerminkan cara pandang yang
berbeda dalam memandang kenyataan, namun semuanya
gagal memberi gambaran menyeluruh tentang realitas. Inilah
sebabnya mengapa banyak saintis mencari 'teori segala
sesuatu' terpadu yang biasa disebut 'teori gravitasi kuantum'.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 349
Dalam pengajaran kita, kita juga berbicara tentang
perlunya memiliki visi spiritual yang benar tentang evolusi kita.
Visi spiritual kita juga merupakan model realitas, yang
mencerminkan hukum spiritual tentang kebangkitan dan
penyelesaian. Einstein mengatakan bahwa model harus
sesederhana mungkin, tapi tidak lebih sederhana dari itu. Untuk
terlalu menyederhanakan model apa pun, termasuk strategi
spiritual kita, adalah menjadikannya kekanak-kanakan dan
salah. Misalnya, Aristoteles mengemukakan sebuah model
alam semesta dengan bumi di pusatnya dan semua bintang
dan planet lain yang mengorbit di sekitarnya (sekarang disebut
'model geosentris'). Model geosentris itu sederhana dan
bahkan bisa diterapkan dalam banyak hal, namun dari
perspektif yang lebih tinggi, hal itu salah karena gagal
memprediksi gerakan planet dan siklus kosmis dengan benar.
Wawasan tentang dunia subatomis yang kompleks dan
kaya membantu kita untuk menyadari satu dimensi realitas kita.
Totalitas adalah kesatuan semua dimensi: dunia mikro, dunia
makro dan dunia transendental. Untuk menciptakan hubungan
yang lebih dalam dengan dunia subatomik keberadaan kita bisa
sangat memberi inspirasi, dan melayani untuk memperdalam
kebangkitan kita. Melihat kehidupan kita dari tempat dunia
kuantum, yang dialami samadhi di bidang dalam menambah
tingkat kesatuan atau keseluruhan keseluruhan jiwa kita. Jika
seseorang mampu mengaktifkan wawasan yang lebih dalam
tentang dunia subatomik, seseorang dapat langsung
mengalaminya sebagai basis energetik tubuh fisik dan spiritual
diri. Dengan cara ini, seseorang dapat dengan jelas mengalami
kehidupan biasa seseorang dari persatuan sadar dengan dunia
kuantum. Ini adalah makna sebenarnya dari totalitas.
Hikmah yang bisa diambil dari memahami pergeseran
paradigma ilmu pengetahuan adalah memunculkan suatu fakta
350 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
bahwa adanya sejumlah paradigma yang lahir sebagai
paradigma alternatif (interpretif, kritis dan postmodern) untuk
mencari kebenaran realitas yang memberi sejumlah implikasi
baik secara konseptual, praktis dan implikasi
kebijaksanaan. Paradigma alternatif itu adalah cara pandang
atau asumsi dasar yang menolak pemikiran bahwa hanya
terdapat satu pendekatan keilmuan yang dapat mengungkap
realitas sebagai suatu kebenaran.
Dengan adanya paradigma alternatif ini, maka
dapat membuka pandangan yang lebih luas mengenai
keberadaan ilmu pengetahuan dengan berbagai alternatif
pendekatan sehingga peneliti dapat menyadari posisi
paradigma yang dianut, dan bagaimana cara
mempertahankannya serta cara memahaminya dalam
hubungannya dengan paradigma ilmu yang lainnya.
Harapan lainnya adalah dengan adanya paradigma alternatif
diharapkan dapat menghindarkan adanya suatu pandangan
atau keyakinan bahwa satu paradigma adalah mencukupi dan
tepat untuk mengatasi semua masalah yang ada di muka bumi
ini.
Sisi sosial yang ditampilkan oleh paradigma altenatif
adalah dapat memunculkan suatu sikap yang lebih toleran
terhadap berbagai pandangan yang ada khususnya bagi para
peneliti dan akademisi sehingga dapat mengurangi
kecenderungan berpandangan bahwa realitas adalah suatu
dogma atau konsep, karena pandangan yang monoistik pada
suatu pendekatan akan mengurangi kemungkinan untuk ilmu
pengetahuan yang secara nyata dapat diperoleh dengan
berbagai cara.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 351
352 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Rahmat. (2011). Matahari Mengelilingi Bumi. Solo :
Penerbit Arafah.
Abdulsalam, Husien. (2018). Nicolaus Copernicus Mengubah
Pemahaman Manusia atas Alam Semesta.
https://tirto.id/nicolaus-copernicus-mengubah-
pemahaman-manusia-atas-alam-semesta-cK1l.
Diterbitkan : 24 Mei 2018
Abidin, Z. (2014). Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: Rajawali
Pers.
Achmadi, A. (2016). Filsafat Umum, Jakarta: Rajawaji Pers.
Ackermann, R. (1970). The Philosophy of Science, New York.
Western Publishing Company.
Ade Putri, D. N. A. (2017). Pembelajaran Sains Berbasis
Tradisi Sains Islam di Madrasah Tsanawiyah (Gerak
Benda menurut Ibnu Bajjah). Phenomenon, 07(2), 164–
173.
Adib, Mohammad., (2010). Filsafat ilmu, yogyakarta: PUSTAKA
PELAJAR.
Ahmad, Zulfahmi. (2017). Teori Geosentris Vs Teori
Heliosentris. https://
penjelajahangkasa.com/2017/10/teori-geosentris-vs-teori
heliosentris.html. Terbit : 10 Desember 2017.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 353
Akhmad Aminuddin Bama. (2015). MENGENAL FISIKA; dari
Paradigma, Metodologi, hingga Implementasi. Palembang:
Simetri.
Al-Hassan, A.Y. & Hill, D R. (1993). Teknologi dalam Sejarah
Islam. Alih Bahasa Liputo, Y. Bandung. Penerbit Mizan
Allen G.E., (2003). Mendel and modern genetics: the legacy for
today. Journal of Endeavor. Vol. 27(2): 63-8.
Alonso, M., & Finn, J. (1967). Fundamental University Physics.
Canada: Addison-Wesley Publishing Company.
Al-Ragib al-Ishfahani. (Tanpa Tahun). Mu‟jam Mufradat al-
Alfazh al-Qur‟an, Beirut: Daral-Fikr
Al-Razi, F. (1990). Al-Tafsir al-Kabir, Beirut: Dâr al-Hayâ al-
Turâts al-„Arabia, jilid Vlll.
Ami, E. (2019). 7 Fakta Nicolaus Copernicus, Bapak Astronomi
Modern Sekaligus Ekonom.
https://www.idntimes.com/science/discovery/eka-
amira/fakta-nicolaus-copernicus-exp-c1c2/7. Terbit : 12 Jul
2019 Pukul 14:55
Amin Setyo Leksono. (2012). Sejarah Kehidupan : perspektif
evolusi dan kreasi. UB Press : Malang.
Amin, M. (2016). Perkembangan biologi dan tantangan
pembelajarannya. 2016, 1–11.
Amoroso, R. L. (2018). Einstein / Newton duality : An
ontological-phase topological field theory. IOP Conf.
Series: Journal of Physics, 1051(012003), 0–17.
https://doi.org/:10.1088/1742-6596/1051/1/ 012003
Anonim , (2020). Geosentrisme.
https://id.wikipedia.org/wiki/Geosentrisme.
Anonim, (2020). Model Geosentris.
https://kafeastronomi.com/materi-2/model-geosentris
Thursday, October 22, 2020‘ Kafe Astronomi.
354 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Anonim. (2020), Desember. Miskawayh. Dari Wikipedia,
Ensiklopedia Bebas. Diakses pada 10 Desember, 2020,
dari http://en.wikipedia.org/ wiki/Ebn_Meskavayh
Anonim. Online at https://www.youtube.com/r
esults?search_query= ngaji+filsafat+247, diakses 20
Desember 2020.
Anshari, H.E.S., MA. (1982). Ilmu Filsafat dan Agama.
Surabaya. Penerbit: PT. Bina Ilmu
Anugraha, R. (2011). Teori Relativitas dan Kosmologi.
Yogyakarta: FMIPA UGM
Apollo. (2020).
Episteme”Atom”Leucippos.https://www.kompasiana.com/
balawadayu/ 5e1226d5097f360fcd338c72/episteme-atom-
Leucippos? page=2 (Diakses, 27 Oktober 2020)
Arsyad, Natsir M. (1989). Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah.
Bandung. Penerbit Mizan.
Ashok Kumar Verma and Sadguru Prakash. (2020). Status of
Animal Phyla in Different Kingdom Systems of Biological
Classification. IJBI 2 (2), (DECEMBER 2020) 149-154
Atien Priyati, (2002). Falsafah Kebenaran dalam
Perkembangan Ilmu. Http:// rudyct. tripod.com
Atiyeh, G.N. (1983). Al-Kindi, Tokoh Filosof Muslim. Bandung.
Penerbit: Pustaka.
Audi, R. (2001). Belief, Justification1, and Knowledge. An
Introduction to Epistemology. California. Wadsworth
Publishing Company.
Aziz, A. (2019, Mei 24). Teori Evolusi dalam Pandangan Ibnu
Khaldun. Retrieved Desember 10, 2020, from Bincang
Syariah: https://bincangsyariah.com/kalam/teori-evolusi-
dalam-pandangan-ibnu-khaldun/
Azra, Azyumardi (2002). Paradigma Baru Pendidikan Nasional
Rekonstruksi dan DEmokratisasi, Jakarta: Penerbit Buku
Kompas.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 355
Baharuddin dan Moh. Makin, (2007). Pendidikan Humanistis
Konsep Teori dan Aplikasi Praktis
Dalam Dunia Pendidikan. Yogyakarta: Ar Ruz Media
Bahtiar. (2007). Fisika Moder: Definisi, Konsep dan Aplikasinya.
Online at
https://pustaka.unpad.ac.id/archives/10402#:~:text=Fisika
%20modern%20merupakan%20salah%20satu,partikel%2
Dpartikel%20subatomik%20atau%20gelombang.
Bakker SY., JWM. (1978). Sejarah Filsafat dalam Islam.
Yogyakarta. Penerbit: Kanisius.
Bama, A.A., (2015). Mengenal Fisika dari Paradigma,
Metodologi, hingga Implementasi. SIMETRI: Palembang.
Barnes, B. (1982). T.S. Kuhn and Social Science, Theoretical
Traditions in The Social Sciences. London. The Macmillan
Press Ltd.
Basuki, D. (2016). Gravitasi antara AL-Khazini dan Newton.
Indonesia.tempo.co.id
BBC. (2015). Tiga Ilmuwan Meraih Nobel Kimia Terkait
Pemulihan DNA.[online] diakses pada laman
https://www.bbc.com/ indonesia/majalah/2015/1
0/151007_majalah_nobel_kimia. Tanggal 9 November
2015.
Beck, L.W. (1966). 18th - Century Philosiphy, Reading in the
History of Philosophy. New York. A Division of Macmillan
Publishing Co., Inc.
Beekman, G. (1984). Filsafat Para Filsuf Berfilsafat. Jakarta.
Penerbit: Erlangga. (alih bahasa R. A.Rivai)
Beerling, Kwee, Mooij, Van Peursen. (1970). Pengantar Filsafat
Ilmu. Yogyakarta. PT. Tiara Wacana, (alih bahasa
Soejono Soemargono).
Beiser, A. (1981). Fisika Modern. Terjemahan The Houw Liong.
Jakarta: Erlangga.
356 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Benson, N. (2011). The Expanding Universe and Big Bang
Theory. International Journal of Advanced Research in
Physical Science (IJARPS), 4 (1), 9-27
Bernard, C. (2017). Metrik Reissner-Nordstr¨om dalam Teori
Gravitasi Einstein. Jurnal Fisika Dan Aplikasinya, 13(1), 1.
https://doi.org/ 10.12962/ j24604682.v13i1.2128
Beveridge. W.I.B. (1980). Seeds of discovery. London.
Heinemann Educational Books.
Bigge,M.L. and Hunt,MP. (1969). Psychological Foundations of
Education. 2nd edition. New York. Harper and Row.
Bounduriansky R., (2012). Rethinkingheredity, again. Journal of
Trends in Ecology and Evolution. Vol 27 (6): 226-330.
Bourrat, P. (2014). From survivors to replicators: evolution by
natural selection revisited. Biology & Philosophy, 29(4),
517-538.
Braybrooke, D. (1987). Philosophy of Social Science.
Englewood Cliffs, New Jersey. Prentice Hall Inc.
Bridgwater, W. (1963). The Columbia Encyclopedia (No.
030/C718).
Britten, R. J. (2002). Divergence between samples of
chimpanzee and human DNA sequences is 5%, counting
indels. Proceedings of the National Academy of
Sciences, 99(21), 13633-13635.
Brown, H.I. (1979). Perception, Theory and Commitment, The
New Philosophy of Science. USA. The University of
Chicago Press.
Bruton, J.G.( 1966). The Story of Western Science. New York
Cambridge: University Press.
Campbell, N. A., Reece, J. B., & Mitchell, L. G. (2003). Biologi
(5th Eds.). Jakarta: Erlangga.
Campbell, Reece, Urry, Cain, Wasserman, Minorsky, Jackson.
(2008). Biologi Jilid 2 Edisi 8. Erlangga : Jakarta
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 357
Campbell, Simon, Dickey, Hogan, Reece. (2015). Intisari
Biologi. Erlangga : Jakarta
Chalmer, A.F. (1983). Apa Itu yang Dinamakan Ilmu?.
Terjemahan oleh: Joesoef Isak. Hasta Mitra, Jakarta,
Indonesia
Chalmers, A.F. (1982). What Is This Thing Called Science.
Queensland. University of Queensland Press.
Chaudhury, P.J. (1954). The Philosophy of Science. Calcutta.
Progressive Publishers.
Chen, J., & Kipping, D. (2018). On the Rate of Abiogenesis
from a Bayesian Informatics Perspective. Astrobiology,
18(12), 1574–1584. https://doi.org/10.1089/ast.2018.1836
Christy, J. W., & Harrington, R. S. (1978). The satellite of Pluto.
The Astronomical Journal, 83(8), 1005.
https://doi.org/10.1086/112284
Cohen, B., & Whitman, A. (1999). Issac Newton: The Principia.
California: University of California Press.
Collette, Alfred T. & Chiappetta Eugene L. (1994). Science
Instruction in the Middle and Secondary Schools, third
edition. Macmillan Publishing company: New York.
Collins F (1992). "Positional Cloning: Let's not call it reverse
anymore". Nature Genetics. 1(1): 3–
6. doi:10.1038/ng0492-3. PMID 1301996.
Collins, F. S., & Mansoura, M. K. (2001). The human genome
project: revealing the shared inheritance of all
humankind. Cancer: Interdisciplinary International Journal
of the American Cancer Society, 91(S1), 221-225.
Commins, S. and Linscott, R.N. (1974). The Philosophers of
Science. New York. Modern Pocket Library.
Coombs Jr, W. P. (1978). Theoretical aspects of cursorial
adaptations in dinosaurs. The Quarterly Review of
Biology, 53(4), 393-418.
358 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Crawford, G. (2005). (n.d.). Re: 2003 EL61, 2003 UB313, Pluto
& Planetary Status‟, Listserv: Minor Planet Mailing List (31
July).
Darwin C., (2015). The origin of the Species: by Means of
Natural Selection. Diterjemahkan oleh Ira Tri Ongo.
Yokyakarta: Indoliterasi.
Darwis, W., Mantovani, A. R., & Supriati, R. (2011).
Determinasi Jamur Lycoperdales Yang Terdapat Di Desa
Pajar Bulan Kecamatan Semidang Alas Kabupaten
Seluma Bengkulu. Konservasi Hayati, VII(1), 6-12.
Dave, T. (2005). „Re: Important News‟, Listserv: Minor Planet
Mailing List (29 July). Available.
Delfgaauw, B. (1992). Sejarah Ringkas Filsafat Barat.
Yogyakarta. Penerbit: PT. Tiara Wacana Yogya. (alih
bahasa Soejono Soemargono).
Dessler, A. J., & Russell, C. T. (1980). From the ridiculous to
the sublime: The pending disappearance of Pluto. Eos,
Transactions American Geophysical Union, 61(44), 690–
690. https://doi.org/10.1029/EO061i044p00690
Djakaria. (tTanpa Tahun). Teori Kejadian Alam Semesta.
Online at
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRA
FI/194902051978031-
DJAKARIA_M_NUR/TEORI_KEJADIAN_ALAM_SEMEST
A.pdf Diunduh 26 Oktober 2020
Djiwapradja, D. (1980). Islam, Filsafat dan Ilmu. UNESCO.
Penerbit: PT. Dunia Pustaka Jaya.
Downes S.M., (2010). Heretability Stanford Encyclopedia Of
Phylosophy. California: Stanford
Duncombe, R. L., & Seidelmann, P. K. (1980). A history of the
determination of Pluto‘s mass. Icarus, 44(1), 12–18.
https://doi.org/10.1016/0019-1035(80)90048-2
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 359
Ekawati, R. (2015). Kajian Ontologi Teori Big Bang dalam
Penciptaan Alam Semesta. ADIWIDA, edisi Maret 2015,
No. 1, 41-50.
Emeraldy Widiyadi. (2009). Penerapan Tree dalam Klasifikasi
dan Determinasi Makhluk Hidup. makalah if2091 strategi
algoritmik tahun 2009.
https://informatika.stei.itb.ac.id/~rinaldi.munir/Matdis/2009-
2010/Makalah0910/MakalahStrukdis0910-084.pdf
Endraswara, S. (2012). Filsafat ilmu: Konsep, sejarah, dan
pengembangan metode ilmiah. Yogyakarta: Caps.
Ernst Mayr. (2010). Evolusi : Dari Teori ke Fakta. Jakarta KPG.
Erwin, E., Hayat, M. S., & Sutarno, S. (2017). Epistemologi dan
Keterbatasan Teori Gravitasi. Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah
Multi Sciences, 9(1), 33–40.
https://doi.org/10.30599/jti.v9i1.79
Erwin, E., Hayat, M. S., & Sutarno, S. (2017). Epistemologi dan
Keterbatasan Teori Gravitasi. Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah
Multi Sciences, 9(1), 33–40.
https://doi.org/10.30599/jti.v9i1.79
Etkina, E., Murthy, S., & Zou, X. (2006). Using introductory labs
to engage students in experimental design. American
Journal of Physics, 74(11), 979-986.
Falk R., (2015). Review of genetics and philosophy: an
introduction. Journal Philosophy of Science. 81(3): 470-
475
Farida, I. (2009) Analisis Sejarah Perkembangan Model Atom
Berdasarkan Paradigma Kuhn. Working Paper.
https://faridach.wordpress.com/ 2009/ 12/11/ analisis-
sejarah-model-atom-berdasarkan-paradigma-kuhn/,
Bandung.
Farikhah, S. (2013). Perbandingan Teori Gerak Menurut Sadr
al-Din al-Syirazi dan Isaac Newton. Undergraduated (S1)
thesis, IAIN Walisongo. Open akses:
360 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
http://eprints.walisongo.ac.id/1536/. Diakses 20 Desember
2020.
Feinberg, G. (1990). Partikel Elementer: Ilmu pengetahuan
Populer (5th ed.). Jakarta: PT Widya Dara.
Fiebig, J., Stefánsson, A., Ricci, A., Tassi, F., Viveiros, F.,
Silva, C., Lopez, T. M., Schreiber, C., Hofmann, S., &
Mountain, B. W. (2019). Abiogenesis not required to
explain the origin of volcanic-hydrothermal hydrocarbons.
Geochemical Perspectives Letters, 11(July), 23–27.
https://doi.org/10.7185/geochemlet.1920
Firdaus, T., & Sinensis, A. R. (2017). Perdebatan Paradigma
Teori Revolusi: Matahari atau Bumi Sebagai Pusat Tata
Surya ? Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences, 9(1), 23–
32. https://doi.org/10.30599/jti.v9i1.78
Firdaus, Thoha dan Sinensis, Rosa Sinensis. (2017).
Perdebatan paradigma teori revolusi: matahari atau bumi
sebagai pusat tata surya. Jurnal Ilmiah Multi Sciences Vol.
IX No. 1 Halaman: 23 – 32, 2017
Firman, Harry. (2019). Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan
Alam. Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas
Pendidikan Indonesia.
Fogarty, Robin (1991). How to Integrate The Curricula. New
York: IRI/Skylight Publishing. Inc.
Fowles. (1985). Analytical Mechanics. CBS College Publishing:
New York
Francis S. Collins; Sherman M. Weissman (1984). "Directional
cloning of DNA fragments at a large distance from an
initial probe: a circularization method". Proc. Natl. Acad.
Sci. USA.
Fredrik Rieuwpassa, (2002). Kajian Filsuf terhadap Kebenaran
Sains. Http://www. Hayati-ipb.com.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 361
Fridayanti, (2001). Sejarah Perkembangan Pengetahuan
Tentang Manusia dalam Perspektif Ilmu Barat.
Http://rudyct.tripod.com.
Gantira, Uung. (2015). Bukti Matahari Mengelilingi Bumi. http://
www.kompasiana. com/uung_gantira/yang-benar-itu-bumi-
memutari-matahari-atau-matahari-memutari-bumi.
Diperbaharui 25 Juni 2015 . Diakses tanggal 12 Oktober
2020.
Gardner, Martin.(1983). The WHYS of a Philosophical
Scrivener. Quill.
Garner, J. P., Taylor, G. K., & Thomas, A. L. R. (1999). On the
origins of birds: the sequence of character acquisition in
the evolution of avian flight. Proceedings of the Royal
Society of London. Series B: Biological
Sciences, 266(1425), 1259-1266.
Gazalba, S. (1973). Sistematika Filsafat Pengantar Kepada
Dunia Filsafat. Jakarta. Penerbit: Bulan Bintang.
Gazalba, S. (1981). Sistematika Filsafat, Pengantar Kepada
Teori Pengetahuan. Jakarta. Penerbit: Bulan Bintang.
George F. Bertsch dan Sharon Bertsch McGrayne (2020),
Atom, https://www.britannica.com/science/atom, diakses
27 Oktober 2020
Georgievich, B.S. (2017). About the theory of the Big Bang. The
General Science Jurnal, 1-8. DOI:
10.13140/RG.2.2.26288.35840,
Giancoli, D. C. (2001). Fisika Teknik (5th ed.). Erlangga.
Giancoli, D., & Doughlas. (2001). FISIKA Jilid I. Jakarta:
Erlangga.
Gie, T.I, et al. (1998). Fisika Modern. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
Gie, T.L. (1996). Pengantar Filsafat Teknologi. Yogyakarta.
Penerbit Andi.
362 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Gie. T,L. (1987). Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta. Yayasan
Studi Ilmu dan Teknologi.
Gilbert, W. (1986). Origin of life: The RNA world. nature, 319
(6055), 618 618.
Gleick, J. (2016). Kisah Pergulatan Isaac Newton. Bandung:
Mizan.
Goldstein, Laurence. (1990). The Philosopher‘s Habitat: An
Introduction to Investigations in, and Applications of,
Modern Philosophy. New York: Routledge.
Goldstein, M. & Goldstein, I.E. (1980). How We Know, An
Exploration of The Scientific Process. New York and
London. Plenum Press.
Gomes, G.L., Doutorando, & Membro D.C. (2019). The
elementary Role Of The So-Called Differences In The
Atomism Of Leucippos And Democritos. Journal of
Philosopy. Prometheus – N. 29
Griffiths, P., & Stotz, K. (2013). Genetics and philosophy: An
introduction. Cambridge University Press.
Gron, O., & Naess, A. (2011). Einstein‘s Theory; A Rigorous
Introduction for the Mathematically Untrained. Springer.
Hadi, P. Hardono. (1994). Epistemologi Filsafat Pengetahuan.
Yogyakarta. Penerbit Kanisius. (Disadur dari buku
karangan Kenneth T. Gallagher).
Halimah, Siti Nur. (2018). Benang Merah Penemu Teori
Heliosentris: Kajian Pemikiran Ibn Al-Syāṭir . Jurnal
astronomi islam dan ilmu-ilmu berkaitan doi:
https://doi.org/10.30596/jam.v4i1.1939
Halliday. D., Resnik, R. & Walker. J. (2005). Physics 7,h
Extended Edition. Terjemahan Singarimbun, A. & Sustini,
E. Jakarta: Erlangga
Hambali, Slamet. (2013). Astronomi islam dan teori heliocentric
Nicolaus Copernicus. Jurnal Al-Ahkam Volume 23, Nomor
2, Oktober 2013
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 363
Hamdani. (2011). Filsafat Sains. CV Pustaka Setia.
Harahap, F.K.N. (1978). Tokoh-Tokoh Dunia dalam Lapangan
Berpikir. Bandung PT. Karya Nusantara.
Hartono, D. (1986). Kamus Populer Fisafat, Jakarta: Rajawali
Hartono, H. M. (1986). S. Geological evolution of the
Indonesian Archipelago, Geosea. V Proceedings. Geol
Soc Milaysia Bull, 20, 97-136.
Hasan Mustofa. (2015). Sejarah Filsafat Islam: Genealogi dan
Transmisi Filsafat Timur ke Barat. Pustaka Setia: Bandung
Hatta, M..(1986). Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI Press.
Hawking, S. (1988). A Brief Story of Time from Big Bang to
Black Hole. New York: Bantams Books
Hempel, C.G (1966). Philosophy of Natural Science.
Englewood cliffs. Prentice Hall Inc.
Hempel, Carl G. (1945). ―On the Nature of Mathematical Truth,‖
American Mathematical
Henry, J. (2011). Gravity and De gravitatione: The development
of Newton‘s ideas on action at a distance. Studies in
History and Philosophy of Science Part A, 42(1), 11–27.
https://doi.org/10.1016/j.shpsa.2010.11.025
Heriyanto, Husain (2003). Paradigma Holisti: Dialog Filsafat,
Sains, dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead,
Bandung: Mizan Media Utama.
Hobson, M. P., Efstathiou, G., & Lasenby, A. N. (2006).
General Relativity: An Introduction for Physicists.
Cambridge University Press.
http://library1.nida.ac.th/termpaper6/sd/2554/19755.pdf
Holman, M. J., & Payne, M. J. (2016). Observational
Constraints on Planet Nine: Cassini Range Observations .
The Astronomical Journal, 152(4), 94.
https://doi.org/10.3847/0004-6256/152/4/94
Honderich, Ted. (1995). The Oxford Companion to Philosophy.
Oxford/New York: Oxford University Press.
364 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Hopkins,D,(1992). A Teachers' Guide to Classroom Research.
2nd Edition. Buckingham. Open University Press
Horgan, J. (1991). In the Beginning... Scientific
American, 264(2), 116-125.
Hosein, I. Putra, D, M, A. (2007). Al-Quran dan Peranan
Perempuan dalam Islam, Jakarta: IIQ
Houston,W R.(editor), Haberman,M.and Sikula,J. (ass.eds)
(1990). Handbook of Research on Teacher Education.
New York. Macmillan Publishing Company.
https://docplayer.info/56794333-Perkembangan-fisika-klasik-
fisika-modern-ilmu-mekanika-ilmu-panas-ilmu-optic-dan-
ilmu-astronomi-naldo-j-i-tanelab.ht
Hughes, R. A., & Ellington, A. D. (2017). Synthetic DNA
synthesis and assembly: putting the synthetic in synthetic
biology. Cold Spring Harbor perspectives in biology, 9(1),
a023812.
Hw, P. (2012). Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi FKIP
UNS. Biologi, Sains, Lingkungan Dan Pembelajaran
Dalam Upaya Peningkatan Kemampuan Dan Karakter
Siswa, 9(1), 14–18. https://doi.org/ 10.4324/
9780429476877-45
Ibrahim, M. (2014). Inovasi Pembelajaran Sains Berbasis
Kearifan Lokal. Prosiding Seminar Nasional ―Sains dan
Inovasi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal‖ 22
November IKIP Mataram.
Ihsan Fuad. (2010). Filsafat Ilmu, Jakarta : Rineka Cipta, 2010.
Inayatul, U., & Nushan, A. (2015). Pemikiran Thomas Kuhn dan
Relevansinya terhadap Keilmuan Islam. FIKRAH: Jurnal
Ilmu Aqidah Dan Studi Keagamaan, 3(2), 249–276.
Indrawati Gandjar Roosheroe, Priyo Wahyudi. (2017).
Mengenal Biodiversitas Mikroorganisme Indonesia untuk
kesejahteraan Bangsa. Yayasan Pustaka Obor Indonesia :
Jakarta.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 365
International Astronomical Union (2006) „Resolutions Adopted
at the General Assemblies‟, Prague: International
Astronomical Union General Assembly, (24 August).
Available at <https://www.iau.org/
news/pressreleases/detail/iau0603/>. (n.d.).
Irawan, A. (2016). Kajian ruang waktu kerr-newman dalam
gravitasi einstein [Institut Teknologi Sepuluh Nopember].
http://repository. its.ac.id/ 1102/1/1112100070-
Undergraduate_Theses.pdf
Irwan Effendi, (2020). Metode Indentifikasi dan Klasififkasi
Bakteri. Oceanum Press : Riau
Iskandar, Djoko T. (2008). Evolusi. Jakarta: Universitas
Terbuka. pp. 1-44.
Jacobson, Willard. J. & Bergman, Abby Barry. (1991). Science
for Children: A Book for Teacher-3rd ed. Boston: Allyn and
Bacon
James R. (1956). The World of Mathematics, vol. III. New York:
Simon and Shuster Kearney,
Jasin, Maskuri. (2012). Ilmu Alamiah dasar. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada
Jawad, A, M. (2014). Menyingkap Fakta Baru dan Misteri
Kehidupan Manusia. Jakarta: AMP Press
Jewitt, D., & Luu, J. (1993). Discovery of the candidate Kuiper
belt object 1992 QB1. Nature, 362(6422), 730–732.
https://doi.org/10.1038/362730a0
Joyce, G. F. (2007). Leslie Orgel (1927–
2007). Nature, 450(7170), 627-627.
Joyce, G. F., & Orgel, L. E. (1993). Prospects for understanding
the origin of the RNA world. Cold Spring Harbor
Monograph Series, 24, 1-1.
Junus, I. (2010). Memahai Manusia dalam Bingkai Pelangi
Filsafat, Medan: Fakultas Psikologi Universitas Medan,
366 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Kasrina, Sri Irawati dan Wahyu E Jayanti. (2012). Ragam Jenis
Mikroalga Di Air Rawa Kelurahan Bentiring Permai Kota
Bengkulu Sebagai Alternatif Sumber Belajar Biologi SMA.
Jurnal Exacta, Vol. X No. 1 Juni 2012
Kaufmann, W. (1966). Existentialism from Dostoevsky to
Sartre. Cleveland and New York. Meridian Books The
World Publishing Company.
Keenan, Charles W. et all. (1980). General College Chemistry.
Sixth Ed. NY. Harper & Row Publishers, Inc.
Kemeny, J.G. (1959). A Philosopher Looks At Science. New
York. Van Nostrand Reinhold Co.
Kenneth, C. (2001). A Word or Two from the Friends of Pluto.
New York Times (22 January): A1.
Kleppner, D.; Kolenkow, R. J. (1973). An Introduction to
Mechanics. McGraw-Hill.
Kochiras, H. (2009). Gravity and Newton‘s Substance Counting
Problem. Studies in History and Philosophy of Science
Part A, 40(3), 267–280.
https://doi.org/10.1016/j.shpsa.2009.07.003
Komatsu, E. (2009). "Five-Year Wilkinson Microwave
Anisotropy Probe Observations: Cosmological
Interpretation". Astrophysical Journal Supplement. 180:
330. Bibcode:2009ApJS..180..330K. doi:10.1088/0067-
0049/180/2/330.
Kragh, H. (2019). Julius Thomsen (1826–1909) and his
contributions to thermochemistry, atomic theory, and the
nature of chemical elements. ChemTexts 6(4), 1-9.
https://doi.org/10.1007/s40828-019-0099-y
Kresge N., Simoni R.,Robert L., (2009). DNA repair
mechanism: the work of Aziz Sachar. The Journal of
Biological Chemistry. 284 (44):e19
Kristiono. (2014). Pengembangan Model Praktikum Kontekstual
pada Praktikum Fisika Dasar untuk Meningkatkan
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 367
Keterampilan Generik Sains dan Pemahaman Konsep.
Disertasi. Bandung: UPI. Tidak diterbitkan
Kuhn, T. (2012). The Structure of Scientific Revolutions Peran
Paradigma Dalam Revolusi Sains. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Kuhn, T. S. (1989). Peran Paradigma dalam Revolusi Sains.
Remadja Karya.
Kuhn, T. S. (2012). The Structure of Scientific Revolutions:
Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Kuhn, T.S. (1970). The Structure of Scientific Revolution.
Chicago. The University of Chicago Press..
Kuhn, Thomas S., (1962). The Structure of Scientific
Revolution, Leiden: Instituut Voor Theoretische Biologie,
Kuhn, Thomas., (2005). The structure of scientific revolutions
(peran paradigma dalam revolusi sains), Bandung: PT.
Remaja rosakarya.
Kumparan. (2018). Nicolaus Copernicus dan Teori Heliosentris
yang Mengungkap Tata Surya.
https://kumparan.com/potongan-nostalgia/teori-
copernicus-yang-mengubah-.pandangan-astronomi-
manusia 1543814212017773838/full. Desember 2018
12:16.
Kurniawati, E., & Bakhtiar, N. (2018). Manusia Menurut Konsep
Al-Quran dan Sains. Journal of Natural Science and
Integration, 1(1), 78-94.
Kurup, R. (2019). The Origin of Life - Abiogenesis and
Symbiosis. LAP LAMBERT Academic Publishing.
Kuslan, Louis I. & Stone A. Harris. (1968). Teaching Children
Science: an Inquiry Approach. Wadsworth Publishing
Company, Inc: California
368 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Lankford, B. J. (1981). Amateurs versus Professionals: The
Controversy over Telescope Size in Late Victorian
Science. Isis, 72(1), 11–28. https://doi.org/10.1086/352648
Lawson, Russell M. (2004). Science in the Ancient World: An
Encyclopedia. ABC-CLIO. hlm. 29–30. ISBN 1851095349.
Layton, D. (1973). Science For the People. London. George
Allen & Unwin Ltd.
Lee, H.D.P. (1984). Plato The Republic. (Translated with an
Introduction by Desmond Lee). Penguin Books. In Great
Britain by Hazell Watson & Viney Limited.
Lee, M. S., & Worthy, T. H. (2012). Likelihood reinstates
Archaeopteryx as a primitive bird. Biology letters, 8(2),
299-303.
Lee, M. S., Cau, A., Naish, D., & Dyke, G. J. (2014). Sustained
miniaturization and anatomical innovation in the
dinosaurian ancestors of birds. Science, 345(6196), 562-
566.
Leon. E. Rosenberg (2006). "Introductory Speech for Francis S.
Collins". Am J Hum Genet. 79: 419–20.
Leonard Susskind, George Hrabovsky (2013) Classical
Mechanics (The Theoretical Minimum), Great Britain:
Penguin Books
Lilis Sri Astuti. (2007). Klasifikasi Hewan : Penamaan, Ciri, dan
Pengelompokan. PT Kawan Pustaka Tangerang.
Lindahl, T., Modrich, P., & Sancar, A. (2015). The Nobel Prize
in Chemistry. Nobelprize. org. Nobel Media.
Lowe, T., Garwood, R. J., Simonsen, T. J., Bradley, R. S., &
Withers, P. J. (2013). Metamorphosis revealed: time-lapse
three-dimensional imaging inside a living
chrysalis. Journal of the Royal Society Interface, 10(84),
20130304.
Lowell, P. (1915). Memoir on a Trans-Neptunian Planet. Lynn,
MA.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 369
Lubis, A. Y. (2014). Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer.
Raja Grafindo Perkasa.
Magaratta Tr. Paradigma Cartesian -Newtonian,
https://magaratta .wordpress. com/2011/02/06/paradigma-
cartesian-newtonian/, diakses 28 Oktober 2020.
Magnis-Suseno, F. (1992). Berfilsafat dari Konteks.
Yogyakarta. Penerbit: Kanisius.
Mahdi Gulzyani (1986). Filsafat Sains Menurut Al Qur'ati.
Bandung. Penerbit: Mizan.
Malik, A. dan Haq, D.N. (2016). Penciptaan Alam Semesta
Menurut Alquran dan Teori Big Bang
Mandelbaum, M., Gramlich, F.W. and Alan Ross Anderson,
A.R. (1957). Philosophic Problems.
Mangunhardjana, A. (1997). Isme-isme dari A sampai Z.
Yogyakarta. Penerbit Kanisius.
Marsden, B. G. (1980). Planets and satellites galore. Icarus,
44(1), 29–37. https://doi.org/10.1016/0019-
1035(80)90050-0
Marsh, F. L. (1976). Variation & Fixity in Nature. Pacific Press.
Maunah, S. (2019). Hakikat Alam Semesta Menurut Filsuf
Islam. Jurnal Madaniyah, 9(1),1-21.
Max Planck (1960) A Survey of Physical Theory, translated by
R. Jones and D.H. Williams, Great Britain: Penguin Books
Max Planck (1963) Philosophy of Physics, translated by W.H.
Johnston, New York: The Norton Library
Max Planck (1991) The theory of heat radiation, authorized
translation by Morton Masius, New York: Dover
Publications Inc.
McBrayer, Z., Ono, H., Shimell, M., Parvy, J. P., Beckstead, R.
B., Warren, J. T. & O'Connor, M. B. (2007).
Prothoracicotropic hormone regulates developmental
timing and body size in Drosophila. Developmental
cell, 13(6), 857-871.
370 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
McCauley, J. W., Patel, P., Chen, M., Gilde, G., Strassburger,
E., Paliwal, B., ... & Dandekar, D. P. (2009). AlON: A brief
history of its emergence and evolution. Journal of the
European Ceramic Society, 29(2), 223-236.
Mehler B., (1996). Heredity and hereditarianism. Philosophy of
Educatian and Encyclopedia. Ed. J.J. Chambliss. Garland
Publising.Inc.
Meilinda, M. (2017). Teori Hereditas Mendel; Evolusi atau
Revolusi (Kajian Filsafat Sains). Jurnal Pembelajaran
Biologi: Kajian Biologi dan Pembelajarannya, 4(1), 62-70.
Mendel, G. (1866). Experiments in plant hybridization.
Proceedings of the Natural History Society of Brunn.
(Translated by William Bateson and corrected by Roger
Blumberg) http://www.netspace.org./MendelWeb.
Messeri, L. R. (2010). The problem with pluto: Conflicting
cosmologies and the classification of planets. Social
Studies of Science, 40(2), 187–214.
https://doi.org/10.1177/0306312709347809
Meyers,C. (1986). Teaching Students to Think Critically. San
Francisco. Jossey-Boss Inc.Publishers.
Miller, D. (1985). Popper Selections. New Jersey. Pricenton
University Press.
Minda Azhar, (2016). Biomolekul Sel Karbohidrat, Protein, dan
Enzim. UNP Press Padang
Moh. Hatta, (1998). Alam Pikiran Junani II. Jilid ke II, Jakarta.
Penerbit Tintamas.
Morgan Shorrock. (2015). "Positional cloning of human disease
genes: a reversal of scientific priorities" (PDF). University
of Alberta, Department of Biological Science.
Muhammad Habibie. (2015). Keterbatasan Fisika Klasik.
https://www.academia.edu/4414554/Keterbatasan_Fisika_
Klasik.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 371
Muhammad Hilal Sudarbi. (2015). Sejarah Perkembangan
Fisika. Undana
Munif Said Hassan, Eddyman W. Ferial, Eddy Soekandarsi.
Pengantar Biologi Evolusi. Erlangga : Jakarta
Muslih M. (2004). Filsafat Ilmu Kajian Atas Asumsi Dasar
Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan.
Belukar, Yogyakarta, Indonesia.
Musthafa, K.S. (1980). Alam Semesta Dan Kehancurannya
Menurut Al–Qur‟an dan IlmuPengetahuan. Bandung. Al-
Ma‘arif.
Mustofa, H.A. (1997). Filsafat Islam. Bandung. Penerbit: CV.
Pustaka Setia
Nabil, (2018). Pendidikan Ilmu Astronomi Dari Historis Sampai
Heliosentris . Jurnal Al Marhalah : Jurnal Pendidikan
Islam. Volume. 2, No. 2 November 2018
Nabil. (2018). Pendidikan Ilmu Astronomi Dari Historis Sampai
Heliosentris. Al Marhalah : Jurnal Pendidikan Islam, 2(2),
93–110.
Nasoetion, AH. (1999). Pengantar ke Filsafat Sains. Jakarta.
Yayasan Adikarya.
Nasr, S.H. (1986). Sains dan Peradaban di dalam Islam.
Bandung. Penerbit: Pustaka.
Nasution, Hasyimsyah. M.A. (1999). Filsafat Islam. Jakarta.
Gaya Media Pratama.
Nawaschin, S. (1898). Resultate einer Revision der
Befruchtungsvorgange bei Lilium martagon und Fritillaria
tenella. Известия Российской академии наук. Серия
математическая, 9(4), 377-382.
Nawfal A, R. (1983). Allah dari Segi Ilmu Pengetahuan Modern,
Surabaya: Bina Ilmu
Nelson, David L. (1995). "Positional cloning reaches
maturity". Curr Opin Genet Dev. 5 (3): 298–
303. doi:10.1016/0959-437X(95)80042-5. PMID 7 549422.
372 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Nurkhalis. (2012). Konstruksi Teori Paradigma Thomas S.
Kuhn. Jurnal Ilmiah Islam Futura, Volume XI, No. 2, hal
79-99.
Ostrom, J. H. (1974). Archaeopteryx and the origin of flight. The
Quarterly Review of Biology, 49(1), 27-47.
Paken Pandiangan, Tinjauan Ulang Konsep Mekanika Klasik,
http://repository. ut.ac.id/4473/1/PEFI4314-M1.pdf,
diakses 28 Oktober 2020
Panji Tok. (2014). Sistem Klasifikasi Tiga Domain. Online at
https://www.edubio.info/2014/10/sistem-klasifikasi-tiga-
domain.html
Paul K.S. (2017). The Unified Theory in the Big-bang Universe.
International Journal of Advanced Research in Physical
Science (IJARPS). 4(1), 9-27.
Pennock RT., (2007). God of the gaps: the argument from
ignorance and the limits of methodological
naturalism. Scientists confront intelligent design and
creationism (eds, Godfrey LR& Petto AJ), pp. 309–
338. New York, NY: WW Norton & Company.
Peter K. & Evan G. (2015). The Big Bang Theory. CURRENT
COMMENT Advanced Markets Online presents, 1-5.
Phillips, D.C. (1987). Philosophy, Science and Social Inquiry.
New York. Pergamon Press.
Poedjawijatna, I.R. (1998). Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta.
Penerbit: PT. Bina Aksara.
Poespoprodjo, W., L.Ph., S.S. & Gilarso. T. (1985). Logika Ilmu
Menalar. Bandung. Penerbit: Remaja Karya CV Bandung.
Polanyi, Michael. (1996). Segi Tak Terungkap Ilmu
Pengetahuan. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Popper, K.R. (Miller, D. editor) (1985). Popper Selections. New
Jersey. Princeton University Press.
Posted 30th March 2009 by Satrio Arismunandar
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 373
Povinelli, D. J., & Cant, J. G. (1995). Arboreal clambering and
the evolution of self-conception. The Quarterly Review of
Biology, 70(4), 393-421.
Power, E. J. (1982). Philosophy of Education. New Jersey.
Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs.
Priyatikanto, R. (2015). Einstein , Eddington , dan Gerhana
Matahari Total. Media Dirgantara, 10(3).
Purba, N. P., Harahap, S. A., Prihadi, D. J., Faizal, I., Mulyani,
P. G., Fitriadi, C. A., ... & Sitio, J. T. (2017).
Pengembangan Instrumen Lagrangian Gps Drifter
Combined (Gerned) Untuk Observasi Laut. J. Kelaut.
Nas., 12, 109-16.
Purwanto, Agus. (2013). Bumi Berotasi, Pendekatan Teks
Wahyu Matahari Tidak Mungkin Mendahului Bulan.
Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika
―Pembelajaran Sains berbasis Kearifan Lokal‖. Surakarta,
14 September 2013
Quthb, S. (2001). Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an (Di Bawah Naungan
Al-Qur‟an), As‟ad Yasin dkk (penerjemah), Jakarta: Gema
Insani Press,
R. H. Whittaker. On the Broad Classification of Organisms
University of Chicago Press Journals Volume 34, Number
3
R. Rohadi. (1997). Memberdayakan Anak Melalui Pendidikan
Sains—makalah. Dalam buku kumpulan tulisan,
Pendidikan Sains yang Humanistis. Penerbit Kanisius:
Yogyakarta.
Rapar, J.H. (1996). Pengantar Filsafat. Yogyakarta. Penerbit:
Kanisius.
Redaksi, T. (2009, Mei 26). Teori Evolusi Ibnu Miskawaih.
Retrieved Desember 10, 2020, from Republika:
https://www.republika.co.id/
berita/52453/teori_Evolusi_Ibnu_Miskawaih
374 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Reichenbach, H. (1966). The Rise of Scientific Philosophy.
Berkeley and Los Angeles. University of California Press.
Resnick, H., & Walker. 2001. Fundamental of Physics, 6th
Edition. JohnWiley & Son.
Richard (ed.). (2006). Twentieth-Century Continental
Philosophy. Knowledge History of Philosophy Volume VIII.
New York: Routledge.
Ridwan, Fendy. (2011). Pseudosains. artikel dalam http://www.
filsafatilmu.com . Diakses tanggal 11 Oktober 2012. Jam
13.00
Ritonga, M.S. (2018). Alam Semesta Dalam Pandangan
Filosofi Islam Dan Ahli Tafsir. Jurnal Al-Ashriyyah, 4(2),
18-59.
Ritzer, G. (1980). Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma
Ganda. Jakarta Penerbit: CV. Rajawali. (Penyadur: Drs.
Alimandan).
Russell, B. (1985). The Impact of Science on Society. London.
Unwin Paperbacks
Russell, Bertrand. (1948). History of Western Philosophy and
Its Connection with Political and Social Circumstances
from the Earliest Times to the Present Day. London:
George Allen and Unwin Ltd.
Sabarni. (2014). Atom Dan Molekul Berdasarkan Ilmu Kimia
Dan perspektif Al-Quran. Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Lantanida Journal,
2( 2).
Sabda, H. Syaifuddin. (2019). Paradigma Pendidikan Holistik
(Sebuah Solusi atas Permasalahan Paradigma
Pendidikan Modern). Universitas Islam Negeri Antasari.
Sadar, Ziauddin., (2002). Thomas Khun dan Perang Ilmu,
yogyakarta: penerbit jendela.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 375
Salisbury, F. B. (1971). Doubts about the modern synthetic
theory of evolution. The American Biology Teacher, 33(6),
335-354
Sam Gon III. (2019). A Guide to the Orders of Trilobites
A website devoted to understanding trilobites. Online at
https://www. trilobites.info/
Sandler I., (2000). Development: Mendel‘s legacy to genetics:
Journal of Genetics. Vol 154:7-11.
Sandler, S. J. (2005). Requirements for replication restart
proteins during constitutive stable DNA replication in
Escherichia coli K-12. Genetics, 169(4), 1799-1806.
Santi., & Darajat, S.Z.A. (2017). Pembelajaran Pokok Bahasan
Hukum Gravitasi di Madrasah Berdasarkan Abdurrahman
Al-Khazini. Nurani. Vol. 17, No. 1. Hal: 41-48.
Santoso, R. S. I. (1977). Sejarah Perkembangan Ilmu
Pengetahuan. Jakarta. Penerbit PT. Sinar Hudaya.
Sanusi, Achmad,. (1998). Filsafat Ilmu, Teori Keilmuan dan
Metode Penelitian. Bandung. Program Pasca Sarjana IKIP
Bandung.
Saputra, H. (2018). Pemikiran Filsuf Barat dan Islam Terhadap
Konsep Dinamika Gerak. Jurnal Filsafat Indonesia. Vol. 1,
No. 1. Hal: 57-64.
Saputra, O. (2018). Revolusidalam Perkembangan Astronomi:
Hilangnya Pluto Dalam Keanggotaan Planet Pada Sistem
Tata Surya. Jurnal Filsafat Indonesia, 1(2), 71.
https://doi.org/10.23887/jfi.v1i2.13992
Sastria, E. (2016). Hakikat Ilmu (Aksiologi dan Kaitan Ilmu
dengan Moral). Tarbawi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 1(2). 1-
20
Setiawan, O.T., (2010), Filsafat Holisme-Ekologis: Tanggapan
terha- dap Paradigma Cartesian-Newtonian Menurut
Pemikiran Fritjof Capra, Skripsi, Fakultas Ilmu
pengetahuan Budaya, Program Studi Filsafat, Universitas
Indonesia.
376 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Shaffer, J. A. (1968). Philosophy of Mind.Englewood Cliffs.
Prentice-Hall, Inc.
Shalayel, I., Youssef-Saliba, S., Vazart, F., Ceccarelli, C.,
Bridoux, M., & Vallée, Y. (2020). Cysteine Chemistry in
Connection with Abiogenesis. European Journal of
Organic Chemistry, 2020(20), 3019–3023. https://
doi.org/10.1002/ejoc.202000089
Shaver, J.P. & Strong, W. (1982). Facing Value Decisions:
Rationale-Building for Teachers, Second Edition. New
York and London. Teachers College, Columbia University.
Shayer, M. and Adey, P. (1981). Towards a Science of Science
Teaching, Cognitive Development and Curriculum
demand. London. The Chaucer Press Ltd.
Shihab, Q, M. (1998). Wawasan Al Qur`an; Tafsir Maudhu‟i
Atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Sholichah, A. S. (2019). Teori Evolusi Manusia dalam
Perspektif Al-Qur‘an. el-'Umdah, 2(2), 109-132.
Sholichah, A. S. (2019). Teori Evolusi Manusia Dalam
Perspektif Al-Qur‘an. el-'Umdah, 2(2), 109-132.
Sihombing, B. V. (1999). Teori Big Bang dan Implikasinya:
Sebuah Tinjauan Filosofis, Teologis, dan Kosmologis.
(Paper). Fakultas Filsafat Universitas Katolik
Parahiyangan.
Snijders, A. (2004). Antropologi Filsafat Manusia Paradoks dan
Seruan, Yogyakarta: Kanisius.
Soepomo. (1987). Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Pt. Gajah
Muda University Press.
Soko, I.P. (2015). Apakah Atom Sekedar Nama? Kajian
Epistemologi Teori Atom Demokritus-Dalton. Prosiding
Seminar Nasional Pendidikan “Inovasi Pembelajaran
Fisika, IPA dan Ilmu Fisika dalam Menyiapkan Generasi
Emas 2045”
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 377
Sri Sudarmiyati Tjitrosoedirdjo & Tatik Chikmawati. (tanpa
tahun). Sejarah Klasifikasi dan Perkembangan Taksonomi
Tumbuhan http:// repository.ut.ac.id/4359/1/BIOL4311-
M1.pdf. Diakses pada 27 Oktober 2020.
Sri Sudarmiyati Tjitrosoedirdjo, Tatik Chikmawati. Sejarah
Klasifikasi dan Perkembangan Taksonomi Tumbuhan.
Stephen F, M. (1992). A History of The Sciences (New Revise).
London: Abelard-Schuman Ltd.
Stern, A., Mitton, J., & De Pater, I. (1998). Pluto and Charon:
Ice Worlds on the Ragged Edge of the Solar Sytem.
Physics Today, 51(11), 62–64.
https://doi.org/10.1063/1.882056
Stern, S. A. (1991). On the number of planets in the outer solar
system: Evidence of a substantial population of 1000-km
bodies. Icarus, 90(2), 271–281.
https://doi.org/10.1016/0019-1035(91)90106-4
Subiyanto, (1988). Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam.
Depdikbud: Jakarta
Sudarmanto, A. (2016). Perkembangan Fisika yang Tercatat
Sejarah. Online at http://fst.walisongo.ac.id/wp-
content/uploads/2016/03/ASAL-USUL PERKEMBANGAN-
FISIKA-YANG-TERCATAT-SEJARAH.pdf, diakses 20
Desember 2020.
Sudarmin, (2016). Pengantar Filsafat Pendidikan Sains dan
Pemikir Sains. (Paradigma Thomas Kuhn dan Eksplanasi
Ilmiah Hempel). FMIPA Universitas Negeri Semarang.
Semarang : CV Swadaya Manunggal
Sudarsono, (1993). Ilmu Filsafat : Suatu Pengantar. Edisi
Pertama. Jakarta : Penerbit PT. Rineka Cipta.
Suhartono S. (2005). Filsafat Ilmu Pengetahuan. Ar-Ruzz
Media, Yogyakarta, Indonesia
Sujito, Sunardi, Ma‟ruf, & Sri H. (2019). Paradigma Teori Atom
Lintas Waktu. Jurnal Filsafat Indonesia, 2 (1) : 42-51
378 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Sumaryono, E. (1993). Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat.
Yogyakarta. Penerbit Karnisius.
Sungging, Emanuel. (2007). Bukti Bumi Mengelilingi Matahari.
Di akses pada 19 April 2017 di:
http://langitselatan.com/2007/04/21/bagaimana-membukti
kan-bahwa-bumi-mengelilingi- matahari-dan-bukan-
sebaliknya/
Supahar. (2014). The Estimation of Inquiry Performance Test
Items of High School Physics Subject with Quest Program.
Proceeding of International Conference on Research
Implementation and Education of Mathemathics and
Sciences 2014, Yogyakarta State University.
Supardi. (2014). Mekanika Newton. http://staffnew.
uny.ac .id/upload/ 132206562/
pendidikan/MEKANIKA+NEWTONIAN+ (Autosaved).pdf,
diakses 28 Oktober 2020.
Suparwoto. (1999). Sumbangan Sejarah Fisika dalam
Pembentukan Sikap dan Nilai. Jurnal Fisika Indonesia, 10
(111), 14-26.
Supriadi, D. (1998). Kebenaran Ilmiah, Metode, dan Paradigma
Riset Kependidikan. Bandung. Program Pasca Sarjana
IKIP Bandung.
Surajiyo. (2007). Filsafat ilmu dan perkembangannya di
Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara., p. 59
Suriasumantri, J.S. (1985). Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta. Penerbit: Sinar Harapan.
Suriasumantri, Jujun S. (2007). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Suriasumantri, S. Jujun. (1996). Filsafat Ilmu Sebuah
Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan
Susanto A., (2014) Filsafat Ilmu: Suatu Kajian Dalam Dimensi
Ontologis, Epistimologis dan Aksiologis. Jakarta: PT.Bumi
Aksara
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 379
Suseno, F.M. (1992). Berfilsafat dari Konteks. Jakarta. PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Sutanto, S.H. (2011). Perkembangan dan Peran Ilmu Fisika
dalam Pendidikan Karakter. Prosiding Dies Natalis XVIII,
Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas
Katolik Parahyangan, 26 April 2011.
Sutarno, Erwin, Muhammad Syaipul Hayat. (2017). Radiasi
Benda Hitam Dan Efek Fotolistrik Sebagai Konsep Kunci
Revolusi Saintifik Dalam Perkembangan Teori Kuantum
Cahaya. Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences Vol. IX
No. 2 Halaman: 51 – 58.
Sutrisno SJ., Fx. Mudji.& Verhaak SJ., Christ. (1993). Estetika
Filsafat Keindahan. Yogyakarta. Penerbit Kanisius
Suyono dan Hariyanto. (2017). Belajar dan Pembelajaran: Teori
dan Konsep Dasar, Bandung: Remaja Rosdakarya
Syihab, Quraish (1996). Membumikan al-Qur`an: Fungsi dan
Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung:
Penerbit Mizan.
Sykes, M. (2001). Notes from the Chair: A Pluto Controversy at
the Hayden Planetarium‟, Report to the DPS membership.
Tafsir,A. (1990). Filsafat Umum. PT Remaja RoSMPakarya,
Bandung, Jakarta
Taltavull, M.J. (2018). The Uncertain Limits Between Classical
Physics: Optical Dispersion and Boh‘s Atomic Model. DOI:
10.1002/andp.201800104
Tanra, A.H., (2014), Paradigma Newton vs Quantum, https://
id.scribd com/ doc/ 241995594/ Kuliah-S3-Paradigma-
Newton-vs- New-Science-Husni-Tanra-pptx.
Taryadi, A. (1989). Epistemologi Pemecahan Masalah, Menurut
Kari R Popper. Jakarta. Penerbit PT. Gramedia.
Taufik, L. M. (2019). Teori Evolusi Darwin: Dulu, Kini, dan
Nanti. Jurnal Filsafat Indonesia, 2(3), 98-102.
380 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Taufik, L. M. (2019). Teori Evolusi Darwin: dulu, Kini dan
Nanti. Jurnal Filsafat Indonesia, 2(3), 98-102
Tentorku. (2015). Perkembangan Sistem Klasifikasi (Kingdom
& Domain). Online at
https://www.tentorku.com/perkembangan-sistem-
klasifikasi-kingdom-domain/
The Josiah Maccy. (2011). Some DNA does not encode
protein. Online at http://www.dnaftb.org/31/bio.html
Thoyibi, M. (editor). (1994). Filsafat Ilmu dan
Perkembangannya. Surakarta. Muhammadiyah University
Press.
Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. (2004). Filsafat Ilmu. Liberty,
Yogyakarta, Indonesia
Time, N. Y. (1930). Naval Observatory Films New Planet.
Tipler, P. A., & Mosca, G. (2008). Physics for Scientist and
Enginer: Sixth Edition. New York: W. H. Freeman and
Company.
Titus, H.H., Smith, M.S. and Nolar, RT. (1979). Persoalan-
persoalan Filsafat. New York. American Book Company,
(alih bahasa H.M.Rasjidi).
Tjasyono, B. (2006). Manusia dan Alam Semesta Konsepsi
Sains dan Islam. Bandung: Penerbit ITB
Tresna Dewi Pertiwi, Yeni Hendriani, Udin, Muji. (2017). Unit
Pembelajaran Biologi Sma Berbasis Inkuiri: Klasifikasi
Makhluk Hidup. (PPPPTK IPA)
Trigg, R. (1985). Understanding Social Science. Oxford. Basil
Blackwell Publisher Ltd.
Trisakti, S. B. (2016). Thomas Kuhn Dan Tradisi-Inovasi Dalam
Langkah Metodologis Riset Ilmiah. Jurnal Filsafat, 18(3),
223–240. https://doi.org/10.22146/jf.3526
Trouille, L. E., Coble, K., Cochran, G. L., Bailey, J. M.,
Camarillo, C. T., Nickerson, M. D., & Cominsky, L. R.
(2013). Investigating student ideas about cosmology III:
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 381
Big bang theory, expansion, age, and history of the
universe. Astronomy Education Review, 12(1). DOI:
10.3847/ AER2013016
Trowbridge W, Leslie & Bybee W. Rodger. (1990). Becoming a
secondary School Science Teacher, fourth edition. Merril
Publishing Company: Columbus.
Trowbridge,L.W. and Bybee,R.W. (1990). Becoming A
Secondary School Science Teacher,5th edition,
Columbus. Merrill Publishing Co
Tyson, N. deGrasse. (1999). “Pluto‟s honor”, Natural History.
Ulya, I & dan Abid, N. (2015). Pemikiran Thomas Kuhn dan
relevansinya terhadap keilmuan Islam . Jurnal ilmu aqidah
dan studi keagamaan Volume 3, No. 2, Desember 2015.
Ulya, I., & Abid, N. (2015). Pemikiran Thomas Kuhn dan
Relevansinya terhadap Keilmuan Islam. Fikrah, 3(2), 249-
276.
Umar, N. (2010). Agumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-
Qur‟an, Jakarta: Paramadina
Upe, Ambo, Damsyid., (2010). Asas-Asas Multiple Researches:
Dari Nornam K.Denzim hingga John W. Creswell dan
Penerapannya,Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.
Utomo, A.P, (2018). Biografi Tokoh Dunia: Nicolaus
Copernicus, Penemu Teori
Heliosentris.https://internasional.kompas.com/read/2018/0
5/24/17000091/biografi-tokoh-dunia--nicolaus-copernicus-
penemu-teori heliosentris?page=all. Kompas.com -
24/05/2018, 17:00 WIB.
Van Melsen, A.G.M. (1985). Ilmu Pengetahuan dan
Tanggungjawab Kita. Jakarta. Penerbit: PT. Gramedia.
Van Peursen, C.A. (1985). Susunan Ilmu Pengetahuan,
Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. Jakarta. Penerbit: PT.
Gramedia. (alih bahasa J. Drost).
382 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Velasquez, M. and Cynthia Rostankowski (1985). Ethics,
Theory and Practice. Englewood Cliffs. Prentice Hall Inc. t
Verhaak, C. dan Imam, R.H. (1995). Filsafat Ilmu Pengetahuan,
Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu. Jakarta. PT. Gramedia
Utama.
Vilmala, B.K. 2020. Revolusi Saintifik dalam Perkembangan
Mekanika. Jurnal Filsafat Indonesia. Vol. 3, No. 1. Hal: 1-
7.
Waluyo, A. (2004). Teori fisika : Menguji Teori Gravitasi
Einstein. In fisik@net.
http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1100
397070
Wang, L.J. (2013). Alternative Cosmology to the Big Bang–
Dispersive Extinction Theory of Red Shift. Applied Physics
Research; 5(2), 47-62.
Wayan, S.I. (2019). Mekanika Kuantum. Mataram: CV. Garuda
Ilmu
Werner Heisenberg (1930) The Physical Principles of the
Quantum Theory
Wijaya, Agus Fany Chandra. (2010). Gerak Bumi dan Bulan.
Digital Learning Lesson Study Jayapura.
Wikipedia. Online at
https://en.wikipedia.org/wiki/Albert_Einstein
Wikipedia. Online at
https://en.wikipedia.org/wiki/Classical_mechanics, diakses
28 Oktober 2020
Wikipedia. Online at https://en.wikipedia.org/wiki/Isaac_Newton
Wikipedia. Online at
https://en.wikipedia.org/wiki/Quantum_mechanics, diakses
28 Oktober 2020
Wikipedia. Online at
https://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Andrews_Millikan
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 383
Wikipedia. Online at
https://en.wikipedia.org/wiki/Uncertainty_principle, diakses
28 Oktober 2020
Wikipedia. Online at
https://id.wikipedia.org/wiki/Arthur_H._Compton
Wikipedia. Online at
https://id.wikipedia.org/wiki/Erwin_Schr%C3%B6dinger
Wikipedia. Online at https://id.wikipedia.org/wiki/Fisika_klasik
Wikipedia. Online at
https://id.wikipedia.org/wiki/Francis_Collins.
Wikipedia. Online at https://id.wikipedia.org/wiki/Louis-Victor_
Pierre_ Raymond_de_Broglie
Wikipedia. Online at https://id.wikipedia.org/wiki/Max_Planck
Wikipedia. Online at
https://id.wikipedia.org/wiki/Mekanika_klasik, diakses 28
Oktober 2020.
Wospakrik, H. J. (2005). Mengenang 300 Tahun : Teori Gaya
Berat Newton.
http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1110
895525.
Yosi R. (Tanpa Tahun). Pendalaman Materi Fisika : Mekanika
Kuantum, online at
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/r-yosi-
aprian-sari-msi/mgmp-fisika-bantul.pdf, diakses 28
Oktober 2020
Yusro, S., dkk. (2018). Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta Selatan:
PTIQ Press.
Yuyun Suriasumantri. (1982). Nilai-Nilai Budaya dalam Proses
Pendidikan, Analisis Kebudayaan Depdikbud, Tahun II/No.
1
Zalta EN, (2010). Heretability. Stanford Encyclopedia of
Philosophy Publisher. California: The Metaphysics
384 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Research Lab Center for the Study of Language and
Information Stanford University. Stanford.
Zubaedi, (2010). Filsafat barat, jogjakarta: Ar-Ruzz media
group.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 385
GLOSARIUM
Aberasi adalah perubahan kecil pada posisi bintang karena
laju bumi.
Abiogenesis adalah teori bahwa makhluk hidup berasal dari
benda mati
Adaptasi cara bagaimana organisme mengatasi tekanan
lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup
Aksiologi adalah ilmu yang mengkaji tentang nilai-nilai.
Aksiologi sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan
ilmu pengetahuan bagi manusia.
Alam semesta merupakan keseluruhan benda atau segala
sesuatu yang ada baik yang dapat maupun tidak dapat
dilihat oleh mata
Alberth Einstein seorang kelahiran Jerman fisikawan
teoritis yang mengembangkan teori relativitas , salah satu
dari dua pilar fisika modern (bersama mekanika kuantum)
Anomali: merupakan sifat air yang berbeda dengan zat lain,
dimana air akan mengembang sehingga volumenya
meningkat ketika suhu turun 4 oC ke 0 oC
Archaea Satu di antara kedua domain prokariotik. Domain
yang satu lagi adalah Bacteria
Arthur Holly Compton fisikawan amerika serikat yang
menerima penghargaan nobel dalam fisika atas
sumbangannya dalam penemuan sebuah efek yang
dinamai menurut namanya (efek compton)
386 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Asteroid merupakan batuan yang berukuran kecil, lebih kecil
dari planet, yang mengorbit matahari
Astronom adalah seseorang yang mencurahkan waktunya
dalam kegiatan astronomi, dan memberikan sumbangan
pada perkembangan ilmu astronomi
Astronomi disebut sebagai ilmu bintang atau ilmu falak, adalah
cabang ilmu alam yang meneliti benda langit (seperti
bintang, planet, komet, dll) serta fenomena-fenomena
alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi
Atomisme merupakan teori filosofis dan ilmiah bahwa
kenyataan dibentuk oleh bagian-bagian elementer yang
tak dapat dibagi yang disebut atom.
Bacteria Satu diantara kedua domain prokariotik. Domain yg
satunya lagi Archaea
Bakteri anggota domain prokariotik bakteria
Benda langit adalah objek fisik atau struktur yang ada di alam
semesta teramati, seperti planet, satelit, bintang, nebula,
galaksi, asteroid, meteoroid, sistem keplanetan, Komet,
debu antariksa, gugus galaksi, lubang hitam, supergugus,
dll.
Binomial nama bersuku dua yang dilatinkan dari suatu
spesies, terdiri atas genus dan epitet spesies
Biogenesis adalah teori bahwa makhluk hidup berasal dari
makhluk hidup lain
Biologi bidang sains yang mempelajari kehidupan
Degradasi adalah proses penurunan (moral, mutu, jabatan,
dan sebagainya)
Dentuman Besar merupakan teori mutakhir tentang
penciptaan alam semesta bermula dari gumpalan super-
atom atau bola api raksasa yang suhunya antara 10
milyar sampai 1 trilyun derajat celcius kemudian meledak
sekitar 15 milyar tahun yang lalu.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 387
Determinisme segala sesuatu dapat diramalkan karena
mengikuti hukum sebab akibat yang mempercayai
adanya kepastian mutlak, segalanya bisa diramalkan
secara pasti (deterministik)
Dinamika: cabang dari ilmu fisika yang mempelajari gaya dan
torsi serta efeknya terhadap gerak
DNA (deoxyribonucleic acid, asam deoksiribonukleat) molekul
asam nukleat beruntai ganda dan berbentuk heliks yang
tersusun atas monomer nukleotida dengan gula
deoksiribosa; mampu bereplikasi dan menentukan
struktur terwariskan dari protein suatu sel
Dogma adalah aturan atau ajaran yang harus diterima sebagai
bentuk kebenaran dan tidak boleh diragukan.
Domain (1) Kategori taksonomi di atas tingkatan kingdom.
Ketiga domain yang ada adalah Archaea, Bacteria, dan
Eukarya. (2) Bagian protein yang melipat secara mandiri
Dualisme gelombang-partikel menyatakan bahwa cahaya
dan benda memperlihatkan sifat gelombang dan partikel
Efek Doppler merupakan suatu kejadian di mana frekuensi
gelombang dari suatu sumber yang diterima oleh detektor
mengalami perubahan akibat perubahan posisi atau
pergerakan relatif detektor terhadap sumber gelombang
atau sebaliknya
Elektron adalah partikel subatom yang bermuatan negatif dan
umumnya ditulis sebagai e, tidak memiliki komponen
dasar ataupun substruktur apapun yang diketahui,
sehingga ia dipercayai sebagai partikel elementer
Energi Kinetik: bentuk energi yang dimiliki oleh sebuah benda
karena gerakannya
Energi Potensial: merupakan bentuk energi yang
mempengaruhi benda karena ketinggian benda tersebut
dengan kecenderungan menuju tak terhingga dengan
arah gaya yang ditimbulkannya
388 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner