The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by candraprimadian01, 2021-11-06 04:36:55

PARADIGMA_2021 Lontar Fik LENGKAP

PARADIGMA_2021 Lontar Fik LENGKAP

BAB 9

PERGESERAN PARADIGMA
KLASIFIKASI ORGANISME

Atip Nurwahyunani
Dosen Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang

[email protected]

9.1. Deskripsi Materi

Saat ini kita telah memiliki sistem klasifikasi makhluk hidup
yang dikenal dengan nama taksonomi biologi. Namun, proses
pengklasifikasian makhluk hidup ini tidak muncul begitu saja
tetapi telah melalui proses yang panjang dan rumit. Klasifikasi
makhluk hidup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
mengelompokkan makhluk hidup. Pengelompokan tersebut
didasarkan pada kesamaan ciri maupun perbedaan yang
ditemukan pada setiap makhluk hidup. Klasifikasi makhluk
hidup dilakukan dengan melihat ciri ciri makhluk hidup yang
paling umum hingga yang paling spesifik pada makhluk hidup.
Selain pengelompokan dari ciri-ciri makhluk hidup,
pengelompokan juga dilakukan dengan dasar ukuran, manfaat,
dan juga habitat makhluk hidup.

Klasifikasi makhluk hidup dipelajari dalam ilmu taksonomi.
Awalnya, ilmu taksonomi diprakarsai oleh saintis Swedia yang

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 189

bernama Carolus Linnaeus. Olehnya, kelompok makhluk
hidup diklasifikasikan menjadi dua domain dan 2 kingdom
(kelompok) yakni animalia (hewan) dan juga vegetabilia
(tumbuhan). Linnaeus memperkenalkan tentang klasifikasi
makhluk hidup dengan urutan sebagai berikut (tertinggi ke
terendah): Kingdom – Filium (Hewan) / Divisio (Tumbuhan) –
Klass – Ordo – Famiia – Genus – Spesies.

Untuk pemberian nama ilmiah dari makhluk hidup diambil
dari nama genus dan juga spesies dalam klasifikasi makhluk
hidup. Berikut ini aturan yang digunakan untuk pemberian
nama ilmiah pada makhluk hidup: 1) Nama ilmiah
menggunakan bahasa Latin; 2) Nama ilmiah terdiri atas dua
kata, kata pertama adalah nama genus dan kata kedua adalah
nama spesies; 3) Penulisan nama ilmiah ditulis dengan huruf
cetak miring atau digaris bawah; 4) Huruf pertama pada kata
pertama (nama genus) harus menggunakan huruf capital; 5)
Seluruh huruf pada kata kedua (nama spesies) tidak
menggunakan huruf kapital. Sebagai contoh, penulisan nama
ilmiah untuk tanaman pisang adalah Musa paradisiaca atau
Musa paradisiaca. Musa dalam nama ilmiah tersebut adalah
nama genus, sedangkan paradisiaca adalah nama spesies.

Sistem klasifikasi filogeni merupakan suatu cara
pengelompokan organisme berdasarkan garis evolusinya atau
sifat perkembangan genetik organisme sejak sel pertama
hingga menjadi bentuk organisme dewasa. Sistem klasifikasi ini
sangat dipengaruhi oleh perkembangan teori evolusi. Pada
sistem klasifikasi ini terkadang ada organisme yang secara
morfologisnya berbeda, namun ternyata memiliki karakter
genetik yang dekat. Sistem klasifikasi filogeni ini merupakan
sistem klasifikasi yang mendasari sistem klasifikasi modern,
yang dipelopori oleh Hudchinson, Cronquist, dan lainnya.
Biasanya klasifikasi modern ini dilakukan dengan

190 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

memperhatikan kecenderungan evolusi organisme itu lebih
maju atau masih primitif adalahdengan melihat pelestarian atau
penyusutan dari struktur sel atau tubuhnya akibat pengaruh
seleksi alam (TD Pertiwi, 2017). Hal inilah yang kemudian
menarik untuk diketahui lebih lanjut tentang bagaimana sistem
klasifikasi makhluk hidup.

9.2. Mengapa Perlu Klasifikasi Organisme

Para ahli ilmu hayat pertama di Eropa tak tahu menahu
tentang keanekaragaman hayati di dunia. Mereka hanya
mengenal hewan dan tumbuhan yang umum ditemui di sekitar
mereka. Tetapi setelah zaman pertengahan, keadaan berubah
cepat. Penjelajahan dunia abad ke-16 sampai ke-19
mengungkapkan fakta bahwa tiap benua punya biota pribumi
yang uni dan ada aperbedaan di berbagai garis lintang. Daerah
tropis punya bentuk-bentuk kehidupan berbeda dengan daerah
ilim sedang dan kutub. Penelitian laut menunjukan keragaman
kehidupan di sana. Dari permukaan sampai tempat-tempat
terdalam, dan mikroskop menunjukan luasnya dunia protista,
alga, fungi, dan bakteri. Dan itu bukanlah akhir penemuan baru
(Ernst Mayr. 2010)

Klasifikasi merupakan salah satu cara penyederhanaan
terhadap objek (dalam hal ini, makhluk hidup) yang berjumlah
besar dan beragam.. Secara umum, klasifikasi dapat diartikan
sebagai suatu proses mengelompokkan sesuatu berdasarkan
aturan-aturan tertentu. Membuat klasifikasi dapat member
peluang kepada kita untuk bekerja mengikuti sistem file, yaitu
suatu sistem yang pengerjaannya dilakukan dengan cara
pengorganisasian pengetahuan sehingga hal yang diketahui
dapat dikomunikasikan secara sistematis (E Widiyadi, 2009).

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 191

9.3. Tujuan Klasifikasi Makhluk Hidup

Ahli biologi telah bekerja keras melakukan eksplorasi dan
penelitian mengenai makhluk hidup, dan mendeskripsikan ciri-
ciri makhluk hidup. Pada tingkatan yang paling mendasar
terdapat keteraturan dalam kehidupan makhluk hidup. Semua
makhluk hidup memiliki organisasi yang sangat
kompleks.Dalam klasifikasi biologi modern, makhluk hidup
terdiri hewan, tumbuhan dan jasad renik yang sangat beragam
(AS Leksono, 2012).

Mengapa makhluk hidup yang ada di bumi perlu
dikelompokkan? Berikut ini akan dipaparkan beberapa tujuan
dilakukannya klasifikasi makhluk hidup.
a. Untuk Mempermudah Proses Mempelajari Makhluk

Hidup – Klasifikasi makhluk hidup dilakukan dengan
mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan ciri-cirinya.
Dengan mengetahui klasifikasi makhluk hidup tertentu kita
sekaligus mengetahui ciri-ciri dari makhluk tersebut,
kita sekaligus akan mengetahui makhluk hidup apa saja
yang memiliki ciri yang serupa.
b. Mengetahui Hubungan Kekerabatan – Klasifikasi makhluk
hidup terjadi karena adanya pengelompokan berdasarkan
ciri. Tingkat takson yang diperkenalkan oleh Linnaeus dapat
membantu kita mengetahui hubungan kekerabatan antara
makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup yang lain.
Dengan mengetahui ciri-ciri makhluk hidup berdasarkan
tingkatan takson, kita jadi memahami hubungan
kekerabatan pada makhluk hidup.
c. Membedakan Makhluk Hidup yang Satu dengan yang
Lainnya – Berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki oleh makhluk
hidup, kita dapat mengetahui dan membedakan makhluk
hidup satu dengan yang lainnya. Misalnya antara kera dan
monyet, meskipun mirip namun keduanya memiliki nama

192 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

ilmiah yang berbeda karena ada ciri yang membedakan
antara keduanya.
d. Untuk Menyederhanakan Objek Studi – Makhluk hidup
yang ada di bumi berjumlah jutaan. Untuk mempelajarinya
tentu dibutuhkan waktu yang sangat lama. Untuk itu, perlu
dilakukan klasifikasi ilmiah agar objek studi menjadi lebih
sederhana. Klasifikasi makhluk hidup akan lebih membantu
kita untuk mengenali dan mempelajari makhluk hidup
karena telah dikelompokkan berdasarkan kesamaan ciri.
e. Memberi Nama Makhluk Hidup yang Belum Diketahui
Namanya – Seiring perkembangan waktu, berbagai
penemuan spesies baru terus terjadi. Spesies-spesies baru
tersebut belum memiliki nama, karena itu perlu dilakukan
klasifikasi makhluk hidup. Dengan melihat ciri-ciri spesies
yang ditemukan, spesies tersebut akan memiliki nama
ilmiah sesuai ciri-ciri yang ditunjukkan.

9.4. Epistemologi Tentang Proses Klasifikasi
Makhluk Hidup

Epistemologi membahas apa sarana dan bagaimana
memperoleh pengetahuan atau ilmu tertentu. Kajian terkait
dengan epistemologi antara lain adalah logika, filsafat bahasa,
analisis wacana, dan matematika. Pengembangan ilmu
dilakukan oleh saintis melalui penelitian ilmiah sebagai
sarananya (Sudarmin, 2016).

Untuk melakukan klasifikasi makhluk hidup ternyata tidak
hanya didasarkan pada kesamaan ciri saja, masih ada
beberapa kriteria yang dijadikan dasar untuk melakukan
klasifikasi makhluk hidup, di antaranya: a) Berdasarkan
kesamaan ciri, dasar pertama yang dijadikan pedoman untuk
mengklasifikasikan makhluk hidup adalah berdasarkan
kesamaan cirinya. Sebagai contoh elang dan ayam akan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 193

masuk ke dalam jenis aves. Penggolongan tersebut didasarkan
pada kesamaan ciri makhluk hidup yaitu memiliki paruh, bulu,
dan juga sayap; b) Berdasarkan perbedaan, meskipun hewan
satu dengan yang lainnya bisa masuk ke jenis yang sama
namun bisa jadi dua makhluk hidup dalam satu jenis itu
memiliki perbedaan. Misalnya antara ayam dan elang.
Keduanya merupakan pengelompokan hewan berjenis aves,
namun keduanya memiliki perbedaan dari segi jenis makanan
yang dikonsumsi. Ayam adalah jenis hewan herbivora karena
mengkonsumsi tumbuhan, sedangkan elang adalah hewan
karnivora karena mengkonsumsi binatang. c) Berdasarkan
pada ciri morfologi dan juga anatominya, langkah awal yang
dilakukan untuk mengelompokkan makhluk hidup dilakukan
dengan mengamati ciri morfologinya, seperti menggolongkan
beberapa jenis tumbuhan berdasarkan bentuk pohon, bentuk
daun, bentuk bunga, warna bunga, dan lain sebagainya. Jika
ciri morfologi sudah diamati dan diklasifikasikan, maka langkah
selanjutnya adalah mengetahui ciri anatominya, seperti ada
atau tidaknya sel trakea, kambium, berkas pengangkut, dan
sebagainya. Beberapa jenis makhluk hidup mungkin memiliki
struktur morfologi yang sama tetapi memiliki struktur anatomi
yang berbeda, atau bisa juga sebaliknya; d) Berdasarkan
pada ciri biokimianya, selain berdasarkan ciri morfologi dan
antominya, pengelompokan makhluk hidup juga bisa dilakukan
dengan melihat struktur biokimianya, seperti kandungan enzim,
jenis-jenis protein, dan juga jenis DNA yang dimiliki. Ciri
biokimia tersebut akan memberikan bantuan untuk mengetahui
hubungan kekerabatan antara makhluk hidup satu dengan
yang lainnya; e) Berdasarkan pada manfaatnya, makhluk
hidup dengan ragam yang begitu banyak sudah tentu memiliki
manfaat yang berbeda-beda. Perbedaan manfaat itu dapat

194 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasikan makhluk
hidup.

9.5. Tahapan-tahapan dalam Klasifikasi Makhluk
Hidup

Linneaus yang dianggap sebagai bapak taksonomi dunia
menyatakan beberapa tahapan yang dapat dilakukan dalam
mengklasifikasikan makhluk hidup, di antaranya: a) Tahap
pertama adalah identifikasi, tahapan identifikasi dilakukan
dengan mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup yang akan
diklasifikasikan; b) Tahap yang kedua adalah
pengelompokan, tahap pengelompokan dilakukan dengan
mengelompokkan makhluk hidup dengan dasar ciri-ciri yang
dimiliki oleh makhluk hidup tersebut. Makhluk hidup dengan
ciri-ciri yang sama akan masuk dalam satu kelompok yang
sama atau bisa dikatakan akan masuk dalam satu takson; c)
Melakukan penamaan takson, jika makhluk hidup sudah
dikelompokkan ke dalam takson-takson yang sejenis,
selanjutnya adalah pemberian nama takson. Pemberan nama
takson tersebut dilakukan untuk mempermudah pengenalan
ciri-ciri pada kelompok makhluk hidup tertentu.

9.6. Pergeserean Perkembangan Klasifikasi
Makhluk Hidup

Klasifikasi makhluk hidup telah dikenal sejak zaman dahulu,
Seorang ahli filsafat Yunani, Aristoteles (384-322 SM), telah
melakukan klasifikasi makhluk hidup dengan
mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan. Meskipun telah
mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi tumbuhan dan
hewan, pada masa itu manusia belum mengenal
mikroorganisme seperti bakteri atau berbagai makhluk bersel
satu. Dalam perkembangannya, sistem klasifikasi makhluk

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 195

hidup telah mengalami banyak perubahan dari masa ke masa.
Semua itu tidak terlepas dari peranan para saintis untuk terus
melakukan penelitian. Berikut ini beberapa sistem klasifikasi
makhluk hidup dari masa ke masa.
a. Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup Pra-Linnaeus

Pada masa pra-Linnaeus, sistem klasifikasi makhluk
hidup dilakukan dengan dasar pengamatan ciri-ciri
morfologis makhluk hidup. Pada masa ini, seorang ahli
filsafat Yunani, Aristotels, memiliki peranan besar dalam
perkembangan sistem klasifikasi makhluk hidup. Pada
masa pra-Linnaeus, makhluk hidup baru diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu tumbuhan dan hewan. Sebenarnya,
pada masa itu klasifikasi telah dilakukan secara merinci.
Hewan-hewan diberi nama berdasarkan manfaat, ciri-ciri,
serta manfaat yang dimiliki. Hanya saja pada masa itu
orang-orang belum menyadari akan sistem klasifikasi
makhluk hidup, selain itu sistem klasifikasi juga dilakukan
dalam waktu yang sangat singkat. Mereka
mengelompokkan makhluk hidup sebagai hewan dan
tumbuhan.
b. Sistem Klasifikasi 2 Kingdom

Sistem klasifikasi 2 kingdom merupakan awal mula
majunya perkembangan sistem taksonomi. Pada masa ini
dikenal adanya 2 macam kingdom yaitu kingdom animalia
(hewan) dan kingdom plantae (tumbuhan). Pada masa ini,
seorang saintis asal Swedia bernama C. Linneaus adalah
tokoh yang berperan besar melakukan sistem klasifikasi
makhluk hidup. Sistem klasifikasi 2 kingdom diterapkan
pada tahun 1735. Sistem klasifikasi 2 kingdom dianggap
belum sempurna dan masih memiliki beberapa
kekurangan, seperti penggolongan makhluk hidup yang
masih terlalu umum serta kurang spesifiknya penggolongan

196 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

tersebut. Akibatnya, ada beberapa jenis makhluk hidup
yang tidak dapat digolongkan ke dalam dua kingdom
tersebut. Sistem klasifikasi 2 kingdom ternyata masih
memiliki banyak kekurangan diantaranya : 1) Tidak bisa
membedakan organisme eukariot dan prokariot, organisme
uniseluler dan multiseluler serta organisme fotosintetik dan
organisme non fotosintetik; 2) Banyak makhluk hidup yang
tidak termasuk dalam kategori manapun; 3) Tidak
menggunakan karakteristik lain seperti struktur sel, sifat
dinding sel, cara memperoleh makanan, habitat,
reproduksi, dan hubungan evolusi dalam pengklasifikasian.
Meskipun masih belum sempurna dan masih memiliki
kekurangan, sistem klasifikasi 2 kingdom dianggap sebagai
cikal bakal atau pengarah utama untuk menuju sistem
kingdom selanjutnya.

Plantae adalah organisme multiseluler yang
menghasilkan makanan dengan proses fotosintesis.
Kerajaan ini meliputi organisme yang berkisar dari lumut
yang kecil hingga pohon raksasa. Semua tumbuhan
multiseluler dan eukariotik. Salah satu ciri khas tumbuhan
adalah adanya pigmen klorofil seperti a dan b dan
karotenoid yang membantu untuk mengubah sinar matahari
menjadi energi kimia dengan proses fotosintesis
(Soepomo,1987) Hewan atau disebut juga dengan
Binatang adalah salah satu makhluk hidup yang terdapat di
muka bumi ini. Dalam kamus bahasa Indonesia, Hewan
didefinisikan sebagai makhluk yang bernyawa dan mampu
bergerak atau berpindah tempat serta mampu bereaksi
terhadap rangsangan tetapi tidak berakal budi. Dunia
hewan sangat luas, jumlahnya sekitar 1 juta jenis.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 197

c. Sistem Klasifikasi 3 Kingdom
Jika sebelumnya Linneaus mengkasifikasikan makhluk

hidup menjadi 2 kingdom, selanjutnya Ernst Haeckel pada
tahun 1866 mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi 3
kingdom. Sistem klasifikasi 3 kingdom ini terdiri atas
kingdom animalia (hewan), kingdom plantae (tumbuhan),
dan kingdom protista (organisme bersel satu dan
organisme multiseluler sederhana). Awal mula
dimasukkannya protista menjadi salah satu kingdom ialah
ketika makhluk hidup bersel satu mulai ditemukan. Makhluk
hidup bersel satu tersebut dibagi menjadi 2 filum, filum
pertama ialah filum Protozoa yaitu untuk menyebutkan
makhluk bersel satu yang dapat bergerak, filum yang kedua
adalah Thallophyta atau Protophyta yaitu filum yang
menyatakan makhluk hidup bersel satu seperti alga dan
bakteri. Kingdom Protista digunakan untuk menyatakan
organisme bersel satu. Kingdom ini memiliki sifat hewan
dan tumbuhan sekaligus. Sayangnya, sistem klasifikasi 3
kingdom ini masih belum sempurna. Bakteri yang termasuk
ke dalam makhluk hidup tidak dapat dimasukkan ke dalam
kingdom manapun. Hal tersebut tidak lain karena bakteri
merupakan organisme mikroskopis yang tidak memiliki inti
sel. Terlepas dari itu semua, sistem klasifikasi 3 kingdom
menunjukkan adanya kemajuan dalam sistem klasifikasi.
Organisme bersel satu atau multiseluler sederhana telah
memiliki kingdom tersendiri, mengingat makhluk hidup
tersebut memiliki ciri yang berbeda dengan hewan dan
tumbuhan.

d. Sistem Klasifikasi 4 Kingdom
Pada tahun 1938, Herbert F. Copeland dan Whittaker

mengajukan sistem 4 Kingdom dengan menambahkan

198 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Kingdom Monera yang berisi makhluk-makhluk mikroskopis
seperti bakteri. Copeland dan Whittaker adalah dua tokoh
yang sangat berperan dalam penemuan sistem klasifikasi 4
kingdom. Dua saintis tersebut mengkasifikasikan makhluk
hidup menjadi 4 kingdom. Meskipun sama-sama
mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi 4 kingdom,
keduanya memiliki sistem klasifikasi yang berbeda.
Copeland mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi
kingdom Monera, kingdom Protoctista, kingdom Metaphyta
dan kingdom Metazoa. Tumbuhan Kingdom
Monera merupakan kumpulan organisme yang tidak
memiliki membran inti dan memiliki sifat prokariotik. Lain
halnya dengan kingdom Protoctista (Protista) yang bersifat
eukariotik. Kingdom Metaphyta merupakan kumpulan
tumbuhan yang mengalami masa pertumbuhan embrio.
Sedangkan kingdom Metazoa merupakan kingdom dengan
kumpulan hewan yang mengalami masa perkembangan
embrio dalam siklus hidupnya.

Lain halnya dengan Whittaker, ia mengklasifikasikan
makhluk hidup menjadi kingdom Animalia, kingdom
Plantae, kingdom Fungi, dan kingdom Protista. Fungi
memang memiliki ciri yang hampir sama dengan tumbuhan,
hanya saja memiliki beberapa karakteristik yang berbeda,
karenanya fungi dijadikan satu kingdom tersendiri. Fungi
adalah organisme heterotrof yang tidak dapat mensintesis
makanannya sendiri, lain halnya dengan tumbuhan yang
dapat mensintesis makanannya sendiri. Jamur/fungi tidak
dapat melakukan proses pencernaan sendiri layaknya
binatang, fungi juga tidak dapat membuat makanan sendiri
seperti tumbuhan, karena itu fungi dikelompokkan menjadi
kingdom tersendiri. Fungi hidup dengan mengeluarkan
enzim pencernaan pada sekitar makanan mereka,

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 199

kemudian fungi akan melakukan penyerapan nutrisi
makanan ke dalam sel.

e. Sistem Klasifikasi 5 Kingdom
Pada tahun 1969, Robert H Whittaker mengajukan

sistem 5 Kingdom dengan menambahkan 1 Kingdom baru
yaitu Fungi (Jamur). Awalnya Fungi diklasifikasikan dalam
Protista dalam sistem 3 Kingdom. Akhirnya dikarenakan
Fungi adalah makhluk Saptotrof multiseluler (pengurai
organik dan bersel banyak), dia pun dibuatkan klasifikasi
khusus. Kindom ini dianggap sebagai penyempurna dari
sistem klasifikasi sebelumnya, yakni klasifikasi 4 kingdom.
Sayangnya, klasifikasi ini ternyata masih dianggap memiliki
kelemahan. Sistem klasifikasi 5 kingdom belum mampu
mengklasifikasikan kingdom monera secara tepat. Di dalam
kingdom monera masih terdapat banyak perbedaan yang
signifikan, seperti dalam hal RNA polymerase, RNA
sequences, Introns, membran lipid, dan lainnya.

Jamur atau fungi merupakan organisme tidak berklorifil
dan bersifat hererotrof. Berdasarkan ukurannya, terdapat
jamur mikroskopis dan makroskopis. Beberapa jenis jamur
ada yang bersifat parasit pada inangnya, dan ada pula
yang bersifat mutualisme atau saling menguntungkan.
Jamur makroskopis mencakup banyak jamur yang
berukuran besar. Sebagian besar hidup terrestrial.
Sedangkan jamur mikroskopis merupakan jamur yang
berukuran sangat kecil sehingga untuk melihat struktur
jamur ini secara jelas hanya dapat dilakukan dengan alat
bantu berupa mikroskop. Secara alamiah jamur banyak
dijumpai pada tempat dengan kondisi lingkungan yang
lembab. jamur dapat ditemukan pada batang tumbuhan,
dihalaman rumah setelah hujan, pada sisa makanan yang

200 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

sudah basi dan di tempattempat basah atau tempat yang
kaya akan zat organik. (Darwis, Mantovani, & Supriati,
2011). Semua prokariotik, protista, dan alga renik
(plankton) biasa dikenal dengan istilah mikroba (organisme
mikroskospis).

Fungi atau jamur, terutama yang berukuran kecil dan
tidak membentuk hifa, dapat pula dianggap sebagai bagian
dari mikroba, meskipun masih banyak saintis yang tidak
menyepakatinya. Kebanyakan orang beranggapan bahwa
yang dianggap mikroba addalah semua organisme yang
sangat kecil yang dapat dibiaan pada cawan petrik dan
ditumbuhkan di dalam inkubator dalam laboratorium dan
mampu memperbanyak diri secara mitosis (I Effendi, 2020).

f. Sistem Klasifikasi 6 Kingdom
Sistem klasifikasi makhluk hidup menjadi 6 kingdom

pertama kali dikemukakan oleh saintis asal Amerika
bernama Carl Woese pada tahun 1977. 6 kingdom yang
diklasifikasikan oleh Carl Woese adalah kingdom Animalia,
kingdom Plantae, kingdom Protista, kingdom Mycota,
kingdom Eubacteria, dan kingdom Archaebacteria. Awal
mula dilakukannya klasifikasi 6 kingdom ini karena adanya
penemuan monera archaebacteria di samudera. Ternyata
monera archaebacteria tersebut memiliki perbedaan
dengan kingdom monera lainnya yang merupakan
eubacteria. Berdasarkan penelitian, arcahaebacteria lebih
menyerupai sel eukariotik. Namun pada masa ini banyak
saintis yang pro dan kontra terhadap pengklasifikasian
kingdom monera. Para saintis menganggap bahwa
kingdom monera sudah mencakup eubacteria dan juga
archaebacteria sekaligus. Namun banyak juga saintis yang
setuju dengan sistem klasifikasi pada kingdom monera

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 201

tersebut. Alasannya, penjelasan mengenai kingdom
monera menjadi lebih spesifik sehingga mempermudah
proses penelitian lebih lanjut.

Banyak Archaea dikenal sebagai domain yang berbeda
oleh Carl Woese pada tahun 1980-an. Archae merupakan
kelompok prokariot yang umumnya ditemukan pada
lingkungan ekstrim, seperti danau dengan kadar garam
tinggi, sumber air panas, rawa dengan keasaman tinggi,
dan laut dalam dengan kadar garam yang sangat tinggi.
Archaea awalnya muncul terdiri dari tiga jenis
mikroorganisme yang berbeda yang merupakan organisme
yang tidak biasa ditemukan sebelumnya, yaitu
methanogens, kelompok prokariot anaerob yang
menghasilkan metana oleh reduksi CO2 dengan H2;
halobacteria, kelompok prokariot yang dapat hidup hanya
pada konsentrasi air garam yang tinggi (>2M NaCl) dan
thermomoacidophile, mikroorganisme yang mendiami
lingkungan panas berasam (sekitar 90ºC dan pH<2).
Walaupun demikian, beberapa Bacteria juga ditemukan
pada daerah ekstrim. Kelompok Bacteria dan Archaea yang
ditemukan pada daerah ekstrim, yaitu pada suhu tinggi dan
suhu rendah, pada pH rendah dan pH tinggi, tekanan
tinggi, dan pada garam konsentrasi tinggi. Bukti baru
menunjukkan bahwa sekitar 40% mikroorganisme yang
berada di lautan adalah Archae (IG Roosheroe, 2017).
Karena keunikan Archaea, sekarang penelitian banyak
difokuskan pada kelompok mikroorganisme ini. Penelitian
ditujukan antara lain untuk mengambil manfaat dari enzim
termostabil yang diekspresikannya agar enzim tersebut
dapat dimanfaatkan pada berbagai industri seperti industri
kertas, pangan, dan obat-obatan ( M Azhar, 2016).

202 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Pada tahun 1990, Carl Richard Woese mengajukan
penambahan Domain baru, yaitu Archaea. Hal ini
dikarenakan terdapat perbedaan antara Bacteria dan
Archaea dari RNA Polimerase dan kemampuannya dalam
bertahan di kondisi ekstrim. Meski begitu, sistem 3 domain
ini kurang disetujui dan menimbulkan banyak pertentangan.

Pada tahun 1998, Thomas Cavalier Smith mengajukan
taksonomi yang terdiri dari 2 Domain dan 6 Kingdom yang
secara langsung menolak sistem taksonomi dari Woese.
Bahkan, Archaea dijadikan subkingdom dari Bacteria
karena dianggap bahwa Archaea adalah evolusi dari
Bacteria.

g. Sistem Klasifikasi 7 Kingdom
Sistem klasifikasi 7 kingdom pertama kali dikembangkan

oleh Cavalier-Smith pada tahun 1998. Namun pada tahun 2015
dalam Jurnal berjudul A Higher Level Classification of All Living
Organisms, Smith melakukan revisi terhadap taksonomi
buatannya dan memisahkan Archaea dari Bacteria menjadi
Kingdom yang berbeda berdasarkan konsensus pada
Taxonomic Outline of Bacteria and Archaea (TOBA) sehingga
terciptalah sistem 2 domain dan 7 Kingdom. Kemudian Thomas
Cavalier Smith mengajukan sistem 2 Domain dan 7 Kingdom
pada tahun 2015. 7 kingdom yang dimaksud meliputi kingdom
Animalia, Plantae, Protista, Chromista, Eumycota, Eubacteria,
dan Archaebacteria. Dasar klasifikasi ini adalah dua kelas
utama makhluk hidup yakni eukariotik dan prokariotik.
Selanjutnya, organisme eukariotik terbagi menjadi 5 kingdom
yaitu Animalia, Plantae, Protozoa (protista), Eumycota dan
Chromista. Sedangkan organisme prokariotik terbagi menjadi 2
kingdom yaitu Eubacteria dan Archaebacteria.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 203

Dalam klasifikasi 7 kingdom terdapat jenis kingdom baru,

yakni kingdom Chromista. Kingdom tersebut memiliki anggota

yang berasal dari kingdom fungi dan protista yaitu Oomycota,

Hyphochytriomycota, Bacillariophyta, Xanthophyta,

Silicoflagellates, Chrysophyta, dan Phaeophyta. Beberapa jenis

organisme tersebut memiliki perbedaan dengan kingdom

asalnya karena organisme tersebut memiliki klorofil a dan

klorofil c. Organisme tersebut juga tidak menyimpan makanan

sebagai kanji melainkan dalam bentuk minyak, dan juga

organisme-organisme tersebut mampu menghasilkan sel

dengan dua flagella yang berlainan. Klasifikasi kingdom ini

dianggap lebih sempurna karena mampu mengklasifikasikan

berbagai kingdom menjadi lebih spesifik.

Meskipun taksonomi 2 Domain dan 7 Kingdom ini adalah

yang terbaru, tidak semua peneliti serta merta menerimanya.

Ada yang menentang dan ada juga yang menyetujuinya, tetapi

yang pasti taksonomi ini bukanlah yang terakhir karena ilmu

pengetahuan terus berkembang dan masih banyak organisme

yang menunggu untuk diklasifikasikan.

9.7. Penemuan Saintifis Revolusioner dalam
Klasifikasi Kingdom

Sistem klasifikasi 2 kingdom merupakan awal mula
majunya perkembangan sistem taksonomi. Pada masa ini
dikenal adanya 2 macam kingdom yaitu kingdom animalia
(hewan) dan kingdom plantae (tumbuhan). Pada masa ini,
seorang saintis asal Swedia bernama C. Linneaus adalah tokoh
yang berperan besar melakukan sistem klasifikasi makhluk
hidup. Meskipun masih belum sempurna dan masih memiliki
kekurangan, sistem klasifikasi 2 kingdom dianggap sebagai
cikal bakal atau pengarah utama untuk menuju sistem kingdom
selanjutnya. Sistem taksonomi Linnaean adalah metode yang

204 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

cukup berguna untuk mengorganisasikan kenakeragaman
kehidupan ke dalam kelompok-kelompok. Dan sistem 2
kingdom bertahan dalam biologi selama lebih dari 200 tahun.

Pada tahun (1707-1778) Sistem Linnaeus dikenal sebagai
sistem ‖seksual‖ karena Linnaeus memusatkan perhatian
terhadap jumlah benang sari dan hubungan antara benang sari
yang satu dengan lainnya serta terhadap bagian-bagian bunga
lainnya. Menurut pendapatnya organ reproduksi lebih penting
dibandingkan dengan ciri lainnya. Sistem Linnaeus ini
mengenal adanya 24 kelas untuk menampung dunia tumbuhan
yang diklasifikasikan berdasarkan jumlah, posisi, pengaturan
dan panjang benang sari. Kemudian kelas-kelas tadi dibagi
menjadi beberapa bangsa berdasarkan sifat-sifat putik
bunganya. Karena mengabaikan ciri morfologi, maka
pengelompokan yang berdasarkan alat reproduksi seksual
tumbuhan ini menghasilkan suatu sistem yang kaku dan tidak
alamiah. Akan tetapi kegunaannya terasa sangat besar untuk
memudahkan identifikasi atau determinasi tumbuhan. Sistem
Linnaeus yang didasarkan atas alat reproduksi ini disebut
sistem ‖seksual‖, karena cara pengklasifikasiannya didasarkan
pada jumlah alat kelamin maka dikenal pula sebagai sistem
numerik. Buku Linnaeus yang sangat terkenal Spesies
Plantarum terbit Tahun 1753, sekaligus tahun tersebut
ditetapkan sebagai tahun titik tolak berlakunya tatanama
tumbuhan terutama tumbuhan berpembuluh. Linnaeus
memberikan referensi yang sangat berharga dalam sistem
pembuatan identifikasi tumbuhan berdasarkan ciri seksualnya.

Dalam buku Spesies Plantarum Linnaeus memberikan
nama spesies tumbuhan secara konsekuen memakai tatanama
binomial yang sebelumnya telah dirintis oleh Caspar Bauhin.
Linnaeus dan tokoh seangkatannya sangat dihargai karena
banyak menciptakan suatu mekanisme klasifikasi. Mereka

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 205

berasumsi bahwa jenis (spesies) adalah dasar landasan
taksonomi. Mereka dapat memahami dengan jelas bahwa
beberapa tumbuhan mempunyai hubungan sangat dekat satu
dengan lainnya, akan tetapi klasifikasinya tidak
menggambarkan hubungan kekerabatan dan tidak sesuai
dengan kehendak alam sehingga sistemnya disebut sistem
buatan.

Linnaeus tidak hanya dikenal dengan pemikiran dari hasil
karya yang diterbitkannya, akan tetapi juga dikenal karena
kemampuannya mendidik dan mengembangkan semangat
kepada murid-muridnya sehingga menjadi orang-orang
ternama dalam bidang botani antara lain: Peter Kalm (1716-
1779), salah seorang murid Linnaeus yang memiliki
kemampuan sebagai kolektor handal di Finlandia, Rusia dan
Amerika. Frederick Hasselquist (1722-1752), salah satu murid
Linnaeus yang mempunyai kegemaran mengumpulkan
tumbuh-tumbuhan dari wilayah Timur Tengah terutama Irak,
Palestina, Arab, Mesir dan Syria. Hasselquist meninggal karena
sakit di Bagdad, koleksi-koleksinya sangat berharga karena
tumbuhan yang dikumpulkan tersebut belum dikenal. Dari hasil
koleksi ini Linnaeus dapat mempelajari langsung dari tangan
pertama. Murid Linnaeus lainnya yang mempunyai banyak
kontribusi mengumpulkan tumbuhan adalah Carl Peter
Thunberg (1743-1828). Pada waktu Jepang tertutup dan
terisolasi dari dunia luar, Thunberg sebagai seorang ahli bedah
diperkenankan memasuki wilayah Jepang dan berhasil
membuat koleksi tumbuhan dari Jepang yang sebelumnya tidak
pernah dikenal. Dari Jepang perjalanan dilanjutkan ke Afrika
Selatan dan selama 3 tahun Thunberg melakukan koleksi di
Tanjung Harapan, hasilnya ditemukan 300 spesies baru untuk
dunia ilmu pengetahuan.

206 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Sampai dengan Tahun 1760 sistem Linnaeus digunakan
secara luas di Belanda, Jerman, dan Inggris, akan tetapi tidak
pernah digunakan di Prancis. Pada waktu itu sistem yang
dipakai di Prancis adalah sistem de Tourneford sampai
kemudian digantikan oleh sistem dari de Jussieu.

Sistem Linnaeus cukup lama dipergunakan, buku Spesies
Plantarum disempurnakan dan disunting ulang oleh Carl
Ludwig Willdenow (1765-1812) dari Universitas Berlin, Jerman
sehingga merupakan buku yang sangat komprehensif terdiri
dari 9 jilid. Di Amerika sistem Linnaeus dibawa oleh para ahli
botani yang berimigrasi ke Amerika, sampai kemudian muncul
sistem-sistem klasifikasi tumbuhan di Amerika. Sepeninggal
Linnaeus, penanganan koleksinya dilanjutkan oleh anaknya,
Carl, yang juga seorang ahli botani menggantikan kedudukan
dan jabatan ayahnya di Universitas. Namun setelah
meninggalnya Carl (1783), istri dan anaknya tidak berminat
untuk mengelola koleksinya yang sangat berharga itu. Koleksi
tersebut dijual kepada ahli botani Inggris James Edward Smith.
Sebanyak 226 peti besar dikirim dengan kapal ke Inggris,
berangkat dari Stockholm pada bulan September 1784. Raja
Swedia kemudian menyadari bahwa koleksi penting dan sangat
berharga telah terjual ke negara lain, beliau segera
memerintahkan untuk mengejar kapal tersebut dan
mengembalikannya ke Swedia, namun telah terlambat. Koleksi
Linnaeus tersebut kemudian dijual ke the Linnean Society of
London dan sampai sekarang masih terpelihara dengan baik,
sehingga kini kita masih dapat merunut spesimen tipe dari
Linnaeus.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 207

9.8. Nilai Aksiologi Setelah Mempelajari klasifikasi
2 kingdom

Tingkatan Klasifikasi Makhluk Hidup
Aksiologi membahas manfaat ilmu tertentu, misalnya

ilmu pendidikan yang berkaitan dengan nilai kegunaannya bagi
pembelajar dari segala kelompok usia yang diselenggarakan
baik dalam pendidikan formal maupun non formal (Sudarmin,
2016).

Tingkatan klasifikasi mahluk hidup tersebut pertama kali
dilakukan oleh Linneaus. Tingkatan takson tersebut dimulai dari
yang paling umum (tinggi) sampai yang paling spesifik
(rendah). Berikut ini penjelasan tentang 7 tingkatan klasifikasi
makhluk hidup.
a. Kingdom atau Regnum – Kingdom adalah tingkatan

tertinggi pada klasifikasi makhluk hidup. Binatang akan
diklasifikasikan sebagai kingdom Animalia, sedangkan
tumbuhan masuk ke dalam tumbuhan kingdom plantae.
b. Filum atau Divisio – Filum disebut juga dengan keluarga
besar. Ciri-ciri umum pada satu kingdom akan
dikelompokkan menjadi beberapa filum, tergantung dari ciri-
ciri yang ditunjukkan. Beberapa contoh jenis filum pada
hewan di antaranya filum Arthropoda dengan ciri-ciri
memiliki kaki berbuku-buku dan kutikula yang keras, filum
chordata memiliki ciri bertulang belakang dan bernotokorda.
Contoh lainnya adalah filum pada tumbuhan, seperti filum
Spermatophyta atau tumbuhan berbiji dan filum
Basidiomycota atau disebut sebagai tumbuhan jamur
berbasidium.
c. Kelas – Tingkatan di bawah filum atau divisio adalah kelas.
Jika tumbuhan atau hewan pada filum atau divisio memiliki
ciri yang sama maka akan dimasukkan ke dalam satu kelas.
Pada tumbuhan dikenal ada dua macam kelas yaitu

208 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

tumbuhan dengan biji berkeping satu dan tumbuhan dengan
biji berkeping dua. Jadi filum Spermatophyta terbagi
menjadi dua kelas yaitu Monocotyledonae (berkeping
satu) dan Dicotyledonae (berkeping dua). Sedangkan pada
hewan, hewan memiliki beberapa kelas. Sebagai contoh
kelas hewan mamalia seperti sapi, anjing, kuda, kambing,
dan sebagainya.
d. Ordo – Tingkatan takson yang berada di bawah kelas
adalah ordo. Pada tumbuhan, nama ordo biasanya
berakhiran dengan –ales, sedangkan pada hewan tidak ada
ciri khusus pada karakteristik penamaan. Contoh penamaan
ordo pada hewan misalnya adalah herbivora, carnivora,
omnivora, dan sebagainya. Contoh: kelas mamalia terbagi
atas beberapa ordo, misalnya ordo herbivora meliputi sapi,
kambing, gajah, dan sebagainya, ordo carnivora meliputi
anjing, harimau, beruang, dan sebagainya, lalu ordo
omnivora contohnya adalah babi.
e. Famili atau Keluarga – Famili merupakan tingkatan takson
di bawah ordo, biasanya terdapat suatu kelompok yang
berkerabat serta memiliki beberapa kesamaan ciri. Pada
tumbuhan, nama famili akan berakhiran -aceae, sedangkan
pada hewan nama famili akan berakhiran dengan -idae.
Contohnya: Rosaceae (keluarga mawar), Solanaceae
(keluarga kentang), Falidae (keluarga kucing), dan Canidae
(keluarga anjing).
f. Genus – Nama genus dari makhluk hidup dapat diambil dari
berbagai kata, misalnya dari zat kandungannya, nama
hewan, dan lain sebagainya. Nama genus diawali dengan
huruf kapital, penulisannya dengan bercetak miring atau
tegak namun dengan garis bawah.
g. Species atau Jenis – Species menjadi satuan dasar untuk
sistem klasifikasi. Species merupakan tingkatan terendah

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 209

dalam sistem klasifikasi makhluk hidup. Spesies merupakan
makhluk hidup yang melakukan perkawinan dengan
sesamanya dan menghasilkan keturunan yang fertil.
Penulisan spesies makhluk hidup biasanya digabung
bersama nama genus makhluk hidup. Dua kata dalam
penamaan ilmiah makhluk hidup menunjukkan nama genus
dan jenisnya. Kata pertama adalah nama genus, sedangkan
kata kedua adalah jenis makhluk hidup.

Itulah penjelasan mengenai 7 tingkatan takson pada
sistem klasifikasi makhluk hidup. Perkembangan sistem
klasifikasi makhluk hidup sampai sekarang bisa saja
mengalami perubahan sewaktu-waktu mengingat penemuan
spesies-spesies baru masih sangat mungkin terjadi. Selan itu,
penelitian tentang berbagai makhluk hidup juga terus dilakukan
sehingga perubahan juga bisa terjadi untuk menyempurnakan
pengetahuan.

Sampai sekarang belum ada konsensus mengenai mana
sistem yang paling benar, karena semuanya memiliki unsur
subyektif dari peneliti-peneliti tersebut. Saat ini sepertinya para
peneliti lebih menyukai metode yang berdasarkan teori
evolusi, Filogenetik misalnya, menggunakan urutan genom
untuk mengelompokkan dan mengurutkan makhluk hidup. Para
ahli taksonomi zaman dahulu mengelompokan semua spesies
yang mereka ketahui menjadi dua kingdom tumbuhan dan
hewan. Bahkan dengan penemuan dunia mikroba yang
beranekaragam, sistem dua kingdom masih bertahan. Karena
menyadari bahwa bakteri memiliki dinding sel yang kaku, para
ahli taksonomi menempatkan bakteri dakam kindom tumbuhan.
Organisme eukariotik unseluler yang berkloroplas juga
digolongkan sebagai tumbuhan.

Fungi pun diklasifikasikan sebagai tumbuhan, sebagian
karena kebanyakan fungi, seperti kebanyakan tumbuhan, tidak

210 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

dapat berpindah tempat. Klasifikasi ini mengabaikan fakta
bahwa fungi tidak melakukan fotosintesis dan tidak memiliki
banyak kemiripan struktur dengan tumbuhan. Dalam sistem
dua kingdom, organisme seluler yang bergerak dan mencerna
makanan (protozoa) diklasifikasikan sebagai hewan.
Mikroorganisme semacam euglena yang bergerak dan
berfotosintesis dikalim oleh ahli botani maupun ahli zoologi
sehingga tercantum dalam kedua kingdom.

Skema taksonomi dengan lebih dari dua kingdom tidak
diterima secara luas hingga akhir tahun 1960-an. Ketika banyak
ahli biologi mengakui lima kingdom : monera (prokariota)
Protista (kingdom yang beraneka ragam yang sebagan besar
anggotanya adalah organisme uniseluler), plantae, fungi, dan
animalia. Sistem ini menyoroti dua tipe sel yang berbeda
secara mendasar, prokariotik dan eukariotik, dan memisahkan
prokariotik dari semua eukariotik dengan menempatkan mereka
ke dalam kingdom tersendiri monera.

Akan tetapi tak lama setelah pendekatan lima kingdom
diadopsi secara luas, filogeni berdasarkan data genetik mulai
mengungkapkan masalah mendasar dengan sistem ini :
beberapa prokariot sangat berbeda satu sama lain, sama
seperti mereka berbeda dari eukariotik. Kesulitan-kesulitan
semacam ini membuat para ahli biologi menerima sistem tiga
domain. Ketiga domain (bacteria, archaea, eukarya) adalah
tingkat taksonomi yang lebih tinggi daripada tingkat kingdom.
Validitas domain-domain ini kini telah terkonfimasi melalui
penelitian, termasuk analisis terhadap 100 dari beberapa ratus
genom yang telah selesai disekuensing.

Sistem tiga domain menyoroti fakta bahwa sebagian besar
sejarah kehidupan telah bertutur tentang organisme bersel
tunggal. Kedua domain prokariotik terdiri dari organisme-
organisme yang sepenuhnya bersel tunggal, dan bahkan pada

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 211

eukarya, hanya cabang-cabang yang berwarna merah
(tumbuhan, fungi, dan hewan) yang didominasi oleh organisme
multiseluler.

Prokariotik menghuni bumi sudah sejak 3-4 miliar tahun
yang lalu. Tak ada perubahan yang jelas dalam morfologi dan
organisasi sel yang terjadi pada organisme ini selama beberpa
miliar tahun sesudahnya. Sel eukariotik pertama muncul sekitar
1,6-2,7 miliar tahun lalu. Perubahan besar selanjutnya dalam
struktur sel muncul saat bakteri ditelan oleh sel-sel eukariot,
dalam suatu asosiasi kerjasama yang disebut endosimbiosis.
Bakteri yang ditelan dan sel inang kemudian mengaami
koevolusi, dimana bakteri berevolusi menjadi mitokondria dan
hidrogenosom. Penelanan organisme mirip sianobakter lain
menyebabkan pembentukan kloroplas pada algae dan
tanaman.

Sejarah kehidupan ketika itu adalah sejarah eukariotik
uniseluler, prokariotik, dan archaea tersebut hingga sekitar 610
juta tahun lalu ketika organisme multisel mulai muncul di lautan
pada periode Ediacaran. Evolusi multiselularitas terjadi dalam
banyak kejadian independen, pada beragam organisme seperti
sponges, algae coklat, sianobakter, jamur lendir (slime mold)
dan myxobakteri (MS Hassan, 2014).

212 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

BAB 10

TEORI EVOLUSI MANUSIA DALAM
PANDANGAN PEMIKIR MUSLIM
DAN AL-QURAN

Yeyendra
Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Islam Riau

[email protected]

10.1 Deskrisi Materi

Pada bab ini akan diuraikan sekilas mengenai biografi
diikuti teori evolusi dalam pandangan Ibnu Khaldun, biografi
diikuti dengan teori evolusi menurut Ibnu Miskawaih dan teori
evolusi manusia dalam perspektif Al-Quran.

10.2 Pengantar

Apakah evolusi benar-benar terjadi? Pertanyaan ini
memberikan banyak persepsi yang sulit untuk diterima oleh
semua golongan. Teori evolusi seringkali menjadi bahan
perdebatan sekaligus mengundang penolakan dari berbagai
golongan terutama dari golongan agamawan. Alasan
penolakan tersebut tidak lain karena evolusi dianggap
bertentangan dengan dalil yang tercantum dalam kitab suci

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 213

yang ada. Kemunculan dan perkembangan teori evolusi tidak
bertujuan untuk membuat manusia meragukan kebenaran kitab
suci yang diyakininya namun justru dapat memperkuat
keyakinan seseorang terhadap kebenaran agamanya.
Sebagaimana Iskandar (2008) menyatakan bahwa teori evolusi
tidak bertentangan dengan agama mana pun di dunia.
Perdebatan yang terjadi disebabkan karena keterbatasan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Tapi seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, teori evolusi pun mengalami
perkembangan menurut masanya.

Perkembangan ilmu tidak terlepas dari kemajuan teknologi
begitu pula perkembangan teori Evolusi sebagai cabang dari
ilmu Biologi yang sampai saat ini terus mengalami
perkembangan. Walaupun banyak menimbulkan kontroversi,
sampai saat ini teori evolusi Darwin dipandang memiliki
keunggulan dibanding teori evolusi lainnya karena Darwin
berhasil memperlihatkan datadata empiris terjadinya proses
evolusi yang mengarah pada diversitas organisme (Taufik,
2019). Bagaimana pandangan teori evolusi menurut para
pemikir muslim? Dalam Bab ini akan kami berikan sedikit
penjelasan.

Teori evolusi identik dengan Darwin, walapun sebenarnya
gagasan evolusi pertama kali bukan diperkenalkan oleh
Darwin, tetapi kita dapat menelusurinya hingga zaman Yunani
kuno. Thales (636 - 546 SM) dan Anaximander (611 - 547 SM)
biasa memperbincangkan asal usul biota laut dan evolusi
kehidupan. Phytagoras (570 - 496 SM), Xantus (kira-kira 500
SM) dan Empedocles (490 - 430 SM) juga membicarakan isu
yang sama dalam tulisan-tulisan mereka (Comas, 1957 dalam
Risatasa, 2013). Plato (427-347 SM) percaya bahwa benda-
benda yang diamati hanyalah tiruan (copy) dari dunia ide di
keabadian yang tidak dapat dilihat. Agar mengerti dunia

214 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

seseorang harus berkontemplasi prinsip-prinsip umum di
sebalik hal yang diamati (Firman, 2019). Plato berpendapat
bahwa dengan adanya evolusi, akan mengubah dunia yang
organismenya sudah ideal dan beradaptasi sempurna terhadap
lingkungannya. Berbeda dengan Aristoteles (384-322 SM)
murid dari Plato, yang berargumen bahwa pengetahuan
tentang dunia datang melalui pengalaman yang diinterpretasi
nalar (reason) (Firman, 2019). Aristoteles menganut teori skala
alami (scalae naturae) dimana skala alami membahas bahwa
adanya klasifikasi bentuk kehidupan berdasarkan tingkat
kompleksitas. Aristoteles meyakini bahwa spesies sudah
berada dalam bentuk permanen, sempurna, dan tidak
berkembang lagi. Evolusi merupakan proses perubahan
spesies dalam jangka waktu tertentu yang bertujuan agar
mampu beradaptasi terhadap lingkungannya dan meneruskan
perubahan tersebut kepada generasi berikutnya (Campbell,
2003). Evolusi menjadi konsep pemersatu dalam biologi karena
evolusi menjelaskan banyak aspek dalam biologi terutama
bagaimana organisme yang hidup saat ini merupakan evolusi
dari satu nenek moyang (ancestor) dan diversitas kehidupan
yang besar di bumi ini.

10.3 Teori Evolusi dalam Pandangan Ibnu
Khaldun

Menurut beberapa pakar yg mempelajarinya pemikiran
Ibnu Khaldun, mereka menanggapi teori evolusi dalam biologi.
Pada 1377 Ibnu Khaldun menulis Muqaddimah, ia menegaskan
bahwa manusia dikembangkan dari ―dunia monyet‖, dalam
suatu proses yang ―spesies menjadi lebih banyak ―.

Dari terjemahan Muqaddimah Ibnu Khaldun dalam bahasa
Perancis yang ditawarkan oleh Vincent Monteil dalam karyanya
yang berjudul Ibn Khaldoun, Discours sur l‟Histoire Universelle

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 215

– Al-Muqaddima. Terjemahan ini melengkapi terjemahan
lainnya dalam bahasa Inggris yang dilakukan oleh Franz
Rosenthal di tahun 1950-an. Kita lihat pada beberapa paragraf
yang sering dijadikan dasar pemikiran bahwa Ibnu Khaldun
adalah pencetus teori Evolusi jauh sebelum Darwin, yang
mengatakan bahwa evolusi manusia berasal dari seekor kera.

“Coba kita perhatikan alam penciptaan! Kita mulai
pembahasan dari dunia mineral yang dengan sangat
menakjubkan memiliki hubungan dengan dunia tetumbuhan.
Alam tumbuh-tumbuhan pada tahap selanjutnya memiliki
hubungan dengan alam hewan. Pada titik ini, puncak dunia
mineral memiliki hubungan dengan tingkatan awal dunia
tumbuh-tumbuhan, yakni dengan rumput-rumput dan semua
tanaman yang tidak berbiji.

Puncak akhir perkembangan tumbuh-tumbuhan – seperti
kurma – memiliki hubungan dengan tingkatan pertama hewan
yang berada di posisi atasnya, yakni siput dan kerang. Kedua
hewan ini hanya memiliki potensi sentuh. Kata “berhubungan”
(ittisal) yang terjadi dalam semua ciptaan ini maksudnya ialah
bahwa puncak tertinggi masing-masing alam ini memiliki
potensi (isti‟dad) yang cukup dekat sehingga dapat berevolusi
menjadi alam selanjutnya. ”

Dari terjemahan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa
menurut Ibnu Khaldun wujud atau onthos itu terdiri atas
komponen-komponen yang masing-masingnya memiliki tingkat
dan derajatnya di dalam susunan kosmos, dari yang paling
rendah sampai ke yang paling tinggi. Sebagai contoh,
terjemahan di atas mengatakan bahwa wujud itu atas mineral,
tumbuh-tumbuhan dan hewan. Mineral pada level yang tertinggi
memiliki hubungan dengan tumbuh-tumbuhan dengan tingkat
yang paling rendah, atau tingkat awal.

216 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Sedangkan tingkat tumbuh-tumbuhan yang paling tinggi
seperti pohon kurma dan sejenisnya mempunyai hubungan
dengan tingkat hewan yang paling rendah seperti siput dan
sejenisnya. Pandangan seperti ini sebenarnya telah dicetuskan
oleh saintis Islam sebelum Ibnu Khaldun. Jadi bukan sesuatu
yang original dari Ibnu Khaldun sendiri. Yang original ialah
tentang evolusinya.

Dan di akhir paragraf disebutkan bahwa masing-masing
dunia mineral, tumbuh-tumbuhan dan hewan ini dapat
berevolusi menjadi dunia yang di atasnya. Mineral bisa menjadi
tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan menjadi hewan dan
hewan bisa menjadi manusia. Kata kunci evolusi dalam
terjemahan Vincent ini terletak pada kata isti‘dad yang arti
literalnya ialah persiapan atau potensi.

Pertanyaannnya, hewan apa yang bisa berevolusi menjadi
manusia? Sebelumnya telah kita lihat tahapan paling tinggi
suatu makhluk memiliki potensi untuk berevolusi menjadi
tahapan terendah wujud makhluk yang ada di atasnya. Menurut
Ibnu Khaldun, hewan dengan tahapan tertinggi yang memiliki
hubungan atau kaitan dengan tahapan terendah manusia ialah
kera (al-qiradah). Ini seperti yang dapat kita temukan pada
terjemahan berikut ini:

“Alam hewan juga mengalami perkembangan. Hewan
memiliki berbagai macam spesies. Dalam puncak proses
perkembangannya, hewan dapat berevolusi menjadi manusia
yang dikaruniai kemampuan berpikir dan merenung.

Hewan yang berevolusi menjadi manusia ini berasal dari
spesies kera (alam al-qiradah) yang memiliki kemampuan yang
hampir sama dengan manusia: kecerdasan (kays) dan persepsi
(idrak). Namun kemampuan ini tidak mencapai tahap
kesempurnaannya seperti yang ada pada kemampuan

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 217

manusia, yakni tahap berpikir dan merenung (seperti yang
dimiliki manusia)”.

Kutipan terakhir ini perlu kita sajikan dalam bahasa
Arabnya untuk menunjukkan bahwa Ibnu Khaldun memang
pernah mengemukakan pandangan, meskipun bukan dalam
bentuk teori, bahwa manusia berasal dari spesies kera.
Seandainya pandangan ini dapat diterima, bisa dikatakan
bahwa Ibnu Khaldun telah mendahului Charles Darwin yang
muncul lima abad setelahnya. Meskipun Ibnu Khaldun dan
Charles Darwin memiliki titik tolak dan pandangan yang
berbeda. Kita lihat dalam kutipan bahasa Arab dari kitab al-
Muqaddimah di bawah ini:

Ali Abdul Wahid Wafi seperti dalam komentarnya terhadap
redaksi di atas mengatakan bahwa semua tahkik yang
menyebut alam al-qiradah (spesies kera) ini sebagai salah tulis
dari alam al-qudrah (alam kemampuan) adalah keliru. Karena
itu, Wafi juga sama dengan Vincent Monteil, berpandangan
bahwa bahwa Ibnu Khaldun juga memiliki teori evolusi,
terutama evolusi kera menjadi manusia seperti yang dapat kita
lihat pada kutipan di atas.

10.4 Teori Evolusi Menurut Ibnu Miskawaih

Ibnu Maskawaih atau nama lengkapnya Abu Ali bin
Ahmad bin Muhammad bin Yaakub bin Maskawaih merupakan
saintis Islam yang terpenting. Walaupun pemikiran falsafahnya
tidak banyak dibicarakan tetapi beliau telah mengemukakan
berbagai-bagai teori falsafah penting yang menjadi asas
kepada pemikiran falsafah tokoh-tokoh selepasnya.

218 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

Pandangannya mengenai manusia dan perkembangan
masyarakat bukan saja menjadi asas pemikiran kepada saintis
Islam yang lain seperti Ibnu Khaldun dan Jamaluddin Al Rini
tetapi juga para sarjana Barat.

Teori evolusi yang dikemukakannya telah dijadikan
sebagai bahan kajian oleh Charles Darwin yang kemudiannya
menerbitkan buku Origin of Species mengenai kejadian dan
asal-usul manusia. Dalam buku tersebut, Charles Darwin telah
menyatakan bahawa manusia berkembang secara evolusi
daripada spesies hidupan yang paling ringkas kepada yang
kompleks. Perkembangan itu erlaku secara perlahan-lahan
dan mengambil masa yang lama.

Hasil daripada kajian dan pemerhatiannya terhadap
pelbagai spesies hidupan dan fosil di beberapa buah benua,
beliau akhirnya buat
keputusan bahawa manusia sebenarnya berasal daripada
beruk melalui proses evolusi. Teori evolusinya telah menjadi
kontroversi dan mendapat tentangan daripada pihak gereja
kerana dia menafikan peranan Tuhan dalam menjadikan
kehidupan di muka bumi ini.

Namun begitu, teori berkenaan telah menjadikan Darwin
terkenal dan dianggap sebagai pelopor teori evolusi yang
digunakan oleh para sarjana dalam bidang antropologi dan
sosiologi dalam menghuraikan sejarah serta perjalanan
manusia serta perkembangan masyarakat. Padahal teori
evolusi telah lama digunakan oleh Ibn Maskawaih dalam
kajiannya mengenai perabadan manusia. Menurutnya,
kecerdikan manusia tidaklah mengatasi kepintaran yang dimiliki
oleh beruk. Tetapi manusia menjadi lebih cerdik kerana
pengalaman yang mereka peroleh dalam kehidupan
bermasyarakat.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 219

Bagi Ibn Maskawaih, manusia itu ialah sebuah dunia yang
kecil dan padanya terdapat gambaran mengenai segala yang
ada di dunia ini. Setiap manusia mempunyai peranannya yang
tersendiri sama ada sebagai individu ataupun anggota
masyarakat. Pendapat beliau ini menepati "Teori Fungsi" yang
dikemukakan oleh seorang ahli sosiologi Perancis yang
bernama Auguste Comte. Menurut Hamidullah, ide teori
evolusi telah ditemukan dalam karya Ibnu Miskawaih yang
berjudul al-Fawz al-Asghar. Ibnu Miskawaih mengemukakan
teori evolusi makhluk hidup yang secara mendasar sama
dengan Ikhwan al-Shafa‘. Teori itu terdiri atas empat tahapan,
yakni evolusi mineral, evolusi tumbuhan, evolusi hewan dan
evolusi manusia.

Evolusi pertama adalah evolusi mineral, yakni bentuk
kehidupan yang dihuni makhluk-makhluk rendah, misalnya
batu, air, tanah. Dalam karya tersebut Ibnu Miskawaih
mengungkapkan, "(Buku ini) menyatakan bahwa Allah
merupakan yang pertama kali menciptakan zat dan
diinvestasikan dengan energi untuk perkembangan. Zat
diadopsi dari bentuk uap yang dianggap bentuk air karena
waktu.''

Hamidullah menambahkan, dalam kitabnya itu, Ibnu
Miskawaih juga menjelaskan tahapan selanjutnya dalam
perkembangan adalah mineral kehidupan. Berbagai jenis batu
dikembangkan oleh waktu. Bentuk tertinggi mereka berasal
mirjan (karang/coral). Ini merupakan batu yang memiliki cabang
di dalamnya seperti yang pohon. Setelah mineral kehidupan
barulah perkembangan vegetasi dimulai.

Proses evolusi kedua yang dijelaskan Ibnu Miskawaih
adalah evolusi tumbuhan, yang pada awalnya hanya
rerumputan spontan yang muncul, kemudian barulah muncul
tanaman, lalu pepohonan tingkat tinggi. Di antara tumbuhan

220 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

dan hewan terdapat satu bentuk kehidupan tertentu. yang tidak
dapat digolongkan tumbuhan maupun hewan, namun memiliki
ciri-ciri tumbuhan dan hewan, yaitu koral, dan euglena.

Selain itu, papat Hamidullah, Ibnu Miskawaih juga
mengatakan evolusi tumbuhan mencapai puncaknya dengan
pohon yang menghasilkan hewan-hewan yang berkualitas. Ini
adalah palem kurma. Ini terbagi menjadi jantan dan betina.
Pohon itu tak akan layu jika semua cabangnya dipotong, tapi
tanaman ini mati ketika kepalanya dipotong.

Ibnu Miskawaih menganggap pohon palem kurma sebagai
pohon tertinggi di antara pohon lainnya dan mirip dengan
bintang terendah, kemudian lahirlah bintang terendah. Setelah
itu, papar Ibnu Misawaih, tahapan berikutnya muncullah evolusi
hewan, dimana dicirikan oleh adanya daya gerak dan indera
peraba dan pada hewan yang lebih tinggi mulai adanya
inteligensi. Hewan paling tinggi adalah kera.

"Teori evolusi bukanlah dicetuskan Darwin, tapi Ibnu
Miskwaih seperti yang ditulis di dalam Ikhwan al-Safa,'' papar
Hamidullah. Pemikir Muslim dari abad ke-10 nitu menyatakan
bahwa monyet berkembang menjadi jenis terendah dari
seorang Barbar. Dia kemudian menjadi manusia yang unggul.
Manusia menjadi seorang suci dan seorang nabi.

Ibnu Miskawaih mengatakan, semua mahluk bearasal dari
Allah SWT dan semua kembali kepada-Nya," papar Hamidullah
dan Iqbal. Karena hal itulah, tutur Ibnu Miskawaih, kemunculan
evolusi manusia ditandai oleh adanya inteligensi dan daya
pemahaman.

Hamidullah dan Iqbal menegaskan, manuskrip Arab al-
Fawz al-Asghar yang ditulis Ibnu Miskawaih, telah tersedia di
universitas-universitas Eropa pada abad ke-19 M. Karya itu
diyakini telah dipelajari Charles Darwin.

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 221

Sepanjang hidupnya, Ibnu Miskawaih meninggalkan
banyak karya penting, misalnya kitab tahdzibul akhlaq
(kesempurnaan akhlak), tartib as-sa‘adah (tentang akhlak dan
politik), al-siyar (tentang tingkah laku kehidupan), dan jawidan
khirad (koleksi ungkapan bijak). Ibnu Miskawaih adalah salah
satu pertama yang dengan jelas menggambarkan gagasan
evolusi. Gagasan evolusi ditemukan di karyanya al-Fawz Ibnu
Miskawaih al-Asghar, sebagai berikut:

―Menyatakan bahwa Allah pertama kali menciptakan zat
dan diinvestasikan dengan energi untuk perkembangan.
Cetakan, oleh karena itu, mengadopsi bentuk uap yang
dianggap bentuk air pada waktunya Tahap berikutnya dari
pengembangan adalah kehidupan mineral.. Berbagai jenis batu
dikembangkan dalam bentuk perjalanan waktu mereka tertinggi
yang mirjan (karang). ini adalah batu yang memiliki cabang di
dalamnya seperti yang pohon. Setelah kehidupan mineral
berkembang vegetasi. Evolusi vegetasi berpuncak dengan
pohon yang memiliki ciri-ciri hewani. Seperti kurma yg memiliki
jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kurma ini tidak layu jika
semua cabangnya yang dipotong tetapi mati saat kepala
terputus. tanggal kelapa karena itu dianggap yang tertinggi di
antara pohon-pohon dan menyerupai terendah di antara
hewan. Kemudian lahir hewan tingkat rendah yang kelak
berkembang menjadi seekor kera. Ini bukan pernyataan
Darwin. Ini adalah apa yg dikatakan Ibnu Maskawayh
mengenai negara dan ini adalah tepat apa yang tertulis dalam
Surat-surat dari Ikhwan al-Safa. Pemikir Muslim tsb
mengatakan bahwa kera kemudian berkembang menjadi
semacam lebih rendah dari manusia purba. Dia kemudian
menjadi manusia yang unggul manusia menjadi suci, seperti
nabi. Dia berkembang menjadi tahap yang lebih tinggi dan
menjadi malaikat. Semakin tinggi untuk malaikat adalah

222 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

memang tidak ada tetapi Allah. Segala sesuatu dimulai dari Dia
dan kembali segalanya kepada-Nya ―.

Manuskrip Arab al-Fawz al-Asghar yang tersedia
diterjemahkan di universitas-universitas Eropa pada abad ke-
19. Karya ini diyakini telah dipelajari oleh Charles Darwin dan
mempengaruhi pemikirannya.

Hal yg ingin saya tekankan di sini adalah, ga semua orang
Islam, terutama pemikir Islam itu sepakat dengan isi
propaganda Adnan Oktar mengenai keruntuhan teori evolusi.
Apakah dengan mengutip karya Ibn Khaldun dan Al Jahiz dan
Ibn Muskawaih teori evolusi terbukti benar? Tentu tidak, teori
evolusi tetap menjadi teori yg ilmiah yg masih bisa
disempurnakan lagi atau malah diganti dengan teori yg lain,
yang tentu penyusunannya sesuai dengan kaidah ilmiah.

10.5 Teori Evolusi Manusia dalam Perspektif Al-
Quran

Teori merupakan pengetahuan ilmiah mencakup
penjelasan mengenai suatu sektor tertentu dari disiplin ilmu dan
dianggap benar berdasarkan hasil pengamatan, penelitaian
yang mendalam mengenai disiplin ilmu tertentu.Menurut
Kerlinger teori adalah suatu himpunan dari konstrukkonstruk
(konsep-konsep), definisi-definisi dan proposisi-proposisi yang
saling berkaitan dan menyatakan suatu pandangan yang
sistematis tentang suatu fenomena dengan cara menentukan
hubungan antarvariabel, dengan tujuan menjelaskan fenomena
tersebut (Endraswara, 2012). Oxford Advanced Learner‟s
Dictionary menjelaskan teori adalah suatu himpunan gagasan
yang masuk akal dan bertujuan untuk menjelaskan fakta-fakta
atau kejadian-kejadian (Suyono dan Hariyanto, 2017)

Sedangkan kata evolusi berasal dar bahasa Latin
―evolvere” artinya berkembang, mekar. Jadi evolusi adalah

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 223

perkembangan yang maju dan meningkat setapak demi
setapak dan tidak mendadak (Hartono, D. 1986) Menurut
biologi atau organik evolusi adalah proses perkembangan
segala bentuk kehidupan atau perkembangan tahap demi
tahap yang dilawan dengan tidak adanya perubahan sama
sekali, atau perubahan yang menjebatani kesenjangan (Junus
I, 2010). Secara sederhana, teori evolusi dapat didefinisikan
sebagai himpunan gagasan atau pendapat yang menjelaskan
tentang proses kejadian tentang fenomena yang lambat laun
mengalami perkembangan dan perubahan dalam bentuk dan
fungsi.

Teori evolusi dalam Al-Qur‟an merupakan rangkaian
kehidupan manusia yang Allah jelaskan dalam beberapa ayat
dengan penjelasan penciptaan manusia mulai dari tanah, air
dan sperma, rangkaian evolusi dalam Al-Qur‟an menghadirkan
Allah SWT sebagai pencipta manusia dan makhluk hidup.
Proses penciptaan manusia yang dapat dijadikan pendekatan
teori evolusi Allah SWT isyaratkan dalam satu ayat secara
lengkap yaitu Al Qur‟an Surat al-Hajj/22:5.

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang
kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya
Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes
mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal
daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna,
agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,
kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada
kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan
(adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang
dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering,

224 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah
bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam
tumbuh-tumbuhan yang indah.

Proses penciptaan manusia dalam ayat tersebut Allah
jelaskan melalui dua bagian, pertama, proses penciptaan dari
tanah yaitu Nabi Adam dan kedua, proses penciptaan manusia
setelah adam yaitu melalui proses dalam Rahim (kandungan).
Ayat ini juga mengisyaratkan tentang penciptaan manusia dari
mulai diciptakan (ditiupkan dalam rahim), proses dewasa, masa
tua dan sebagian Allah wafatkan sebelum masa dewasa dan
tua sampai Allah jelaskan bagaimana manusia setelah tua akan
kembali lagi ke masa kanakkanak dan mengalami pikun hingga
akhirnya kembali ke tanah sebagaimana penciptaan pertama
manusia. Kata thurab secara bahasa bermakna tanah gemuk,
maksud tanah gemuk menurut al-Ishfahani adalah tanah yang
berada dalam lapisan pertama yang berwarna hitam. Kata
thurab dalam Al-Qur‟an disebutkan sebanyak 22 kali (Al-Ragib
al-Ishfahani). Ar-Razi menjelaskan bahwa jenis-jenis tanah
yang terkandung dalam unsur tersebut satu sama lin tidak
bertentangan. Hal ini disesuaikan dengan jenis pencitaan
pertama yaitu diawali dengan thurab (debu) kemudian menjadi
thin (tanah), selanjutnya menjadi lumpur, kemudian seperti
tembikar (al-Razi, 1990).

Tanah merupakan unsur terpenting yang melengkapi
susunan tubuh manusia. Dari unsur tanah ini, proses
penciptaan berlanjut tahap demi tahap dalam bentuk komposisi
kimiawi yang sangat diperlukan untuk menyususn tubuh
manusia. Susunan tubuh manusia berdasarkan biokimia
tersusun dari karbohidrat, lemak dan protein. Dengan melalui
proses kimia akan membentuk gugusan atom (molekul)
penyususn tubuh. Unsur-unsur tersebut yaitu Karbonat (CO3,
pen.), Oksigen (O2), Hidrogen (H2), Pospor (P), Kibrit, Azur,

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 225

Kalsium (Ca), Votasium, Sodium, Magnesium (Mg), Besi (Fe),
Tembaga (Cu), Yodium (Y), Florit, Kobait (Co), Seng (Zn),
Silikon (Si), dan Alumunium (Al).7 Unsur-unsur tersebut melalui
proses rantai makanan terserap ke dalam tubuh melalui
tumbuh-tumbuhan, hewan, dan air. Melalui proses kimiawi,
unsur-unsur dalam tubuh manusia tersebut berubah menjadi
darah, daging, dan air mani (Nawfal, 1983)

Beragam kandungan unsur yang bermanfaat terdapat
dalam tanah yang menjadi unsur penting dalam penciptaan
manusia. kandungan unsur tersebut mengisyaratkan bahwa
manusia diciptakan sebagai makhluk istimewa dan berguna.
Kandungan selanjutnya adalah nuthfah (sperma). Sperma
merupakan bagian dari dari air mani yang tersusun juga dari
campuran zat-zat lain, seperti zat gula yang diperlukan untuk
menyediakan energy bagi sperma, menetralkan asam di pintu
masuk Rahim dan melicinkan sekitarnya agar memudahkan
perputaran sperma. Dari hasil penelitian terbaru dijelaskan
bahwa pria akan mengeluarkan sperma sekitar 200-500 juta
dan dari sekian banyak jumlah tersebut yang akan diterima
indung telur hanya satu, karena ketika air mani keluar jumlah
sperma hanya 10%, selebihnya adalah zat enzim, vitamin c,
kalsium, protein, sodium, zat besi, zat asam seta fruktosa gula
(Jawad, A, M. 2014). Nasaruddin Umar berdasarkan berbagai
sumber rujukan menjelaskan bahwa substansi manusia
terdapat 12 istilah yaitu, air, tanah, tanah gemuk, tanah
lempung, tanah lempung yang pekat, tanah lempung seperti
tembikar, tanah lempung dari lumpur, dari diri yang satu, sari
pati lempung, air mani yang ditumpahkan, cairan mani yang
bercampur, dan cairan yang hina (Umar, N, 2010). Penafsiran
ayat di atas menjelaskan tentang proses penciptaan manusia
sebagai kelanjutan dari Adam yang diciptakan melalui fungsi
reproduksi dengan melibatkan suami dan istri yang Allah beri

226 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

kekuatan untuk mengandung bagi perempuan dan laki-laki
memberikan cairan dalam bentuk sperma sebagai cikal bakal
anak.

Selanjutnya proses penciptaan manusia terdapat dalam
Al-Qur‟an surat an-Nisa/4: 1.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu
yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari
padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya
Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama
lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Menurut Sayyid Qutub dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an
Surat An-Nisa ayat 1 ini dimulai dengan menjelaskan manusia
sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Manusia berasal dari
ketentuan Allah yang berhubungan dalam satu Rahim, bertemu
dalam satu koneksi dan bersumber dari satu asal-usul dan
bernasab kepada satu nasab, hal ini merupakan upaya
pembelajaran untuk selalu memegang cinta kasih
(kekeluargaan), memelihara hak masingmasing individu, dan
memegang teguh hubungan rububiyyah. Ayat ini menjelaskan
bahwa dasar kehidupan adalah keluarga, dimana Allah SWT
menciptkan laki-laki sebagai suami dan diciptakan perempuan
sebagai isteri untuk saling melengkapi sehingga dengan
keduanya Allah mengembang biakan menjadi banyak. Dari
tatanan keluarga terbentuklah system masyarakat, untuk itu
landasan kelaurga ini harus dikuatkan yaitu menjalankan
kehidupan sesuai fitrah, dan memposisikan manusia baik itu
laki-laki maupun perempuan sesuai kodrat, serta saling
melengkapi dan mengisi dalam membangun keutuhan keluarga
(Quthb, S, 2001).

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 227

Sedangkan Abu Muslim Al- Isfahani menafsirkan kata “min
ha” dalam ayat tersebut dengan arti dari jenis bahan yang
sama yakni tanah, dengan beberapa alasan, pertama sebelum
kata ِ“min ha” ada kata “minnafsiw wahidah” yang maknanya
dari diri yang satu ini menunjukan kesetaraan dan kesejajaran,
kedua, penafsiran hadits dari tulang rusuk Adam berdasarkan
hadis yang dalam teks aslinya tidak ada kata Adam, ketiga
tulang rusuk (dil‟un) tidak terdapat dalam surat annisa 1
bagaimana menjadi marji (tempat kembali dhamir haa pada
minhâ) keempat, penafsiran jumhur tidak sesuai dengan al
Quran yang tujuan pokoknya untuk menjunjung derajat
perempuan (Hosein, I. Putra, D, M, A. 2007). Dari penafsiran
ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa penciptaan manusia
dalam surat an-Nisa/4:1 tidak hanya penciptaan Adam akan
tetapi penciptaan Hawa sebagai isteri yang bertujuan untuk
membentuk keluarga dalam satu ikatan dan saling melengkapi
sehingga dari keduanya menghasilkan anak-anak keturunan
yang tersebar di bumi yang bertujuan untuk beribadah kepada
Allah SWT dan menggunakan alam ini dengan baik, serta
melalui proses evolusi dalam Al-Qur‟an dapat diambil hikmah
bahwa proses penciptaan manusia dalam Al-Qur‟an begitu
terinci, sistematis dan mengandung sains yang dapat dijadikan
landasan dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Evolusi yang terjadi di bumi ini terjadi secara keseluruhan,
baik itu tumbuhan, binatang dan manusia. Al-Qur‟an
menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan sains berbagai
kandungan Al-Qur‟an mengisyaratkan mengenai evolusi
diantaranya proses penciptaan manusia, proses penciptaan
langit dan bumi dalam enam masa dan teori big bang.
Perbedaan teori evolusi dengan teori evolusi yang berkembang
di Barat terutama teori evolusi Charles Darwin terletak pada
keyakinan bahwa seluruh makhluk yang ada dan hidup di bumi

228 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

ini adalah diciptakan, dan Allah SWT sebagai penciptanya.
Selain itu terdapat perbedaan pandangan antara teori evolusi
Barat dan Al-Qur‟an, teori evolusi Barat khususnya teori Darwin
menjelaskan bahwa manusia tercipta dan berasal dari induk
yang sama dengan makhluk lain, hal ini adalah titik
perbedaannya, dimana Al-Qur‟an menjelaskan bahwa manusia
Allah ciptakan dan berasal dari ketrunan Nabi Adam, yang Alah
SWT telah siapkan untuk menjadi khalifah fi al-Ardh (Sholichah,
A. S, 2019).

Manusia dikaruniai Allah suatu kualitas keutamaan yang
membedakan kualitas dirinya dengan makhluk lain. Dengan
keutamaan itu manusia, berhak mendapatkan penghormatan
dari pada makhluk lain. Sebagai makhluk utama dan ciptaan
terbaik Tuhan, serta dengan bekal kemampuan yang dimiliki,
manusia diberi tugas sebagai khalifatullah fil ard, yakni menjadi
wakil Allah di muka bumi (Baharuddin, 2007).

Agar mampu menyelesaikn tugasnya di muka bumi
sebaga khalifah manusia diberi keistimewaan dan potensi yang
telah tergambar dalam kisah perjalanannya menuju tempat
tugasnya. Keistimewaannya inilah yang dalam istilah Islam
disebut sebagai fitrah. M Quraish Shihab salah seorang
mufassir Indonesia berpendapat bahwa fitrah manusia adalah
kejadian sejak semula atau bawaan sejak lahir. Namun fitrah
manusia itu sendiri tidak hanya terbatas pada fitrah
keagamaannya saja, meskipun kepercayaan akan adanya
Yang Maha Kuasa adalah fitri dalam jiwa dan akal manusia dan
tidak dapat diganti dengan yang lain. Manusia berjalan dengan
kakinya adalah fitrah jasadiyah, manusia dapat menarik
kasimpulan dengan premis-premis adalah fitrah akliyah, dan
senang apabila mendapatkan kebahagiaan adalah fitrahnya
(Shihab, Q, M. 1998). Al-Qur‟an sebagai sumber ilmu telah
menggambarkan bagaimana hakikat kemanusiaan mulai dari

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 229

asal usul penciptaan manusia, potensi yang diberikan Allah
kepada manusia dan tugas serta tujuan dari penciptaan
manusia itu sendiri (Kurniawati, E., & Bakhtiar, N, 2018).

230 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

BAB 11

PARADIGMA GRAVITASI NEWTON DAN
PERGESERANNYA

Eli Trisnowati
Dosen Program Studi Pendidikan IPA Universitas Tidar

Email: [email protected]

11.1. Deskripsi Materi

Gerak benda merupakan cabang Fisika yang sangat
berkaitan erat dengan bidang Fisika lainnya, sehingga
mempelajari gerak merupakan hal yang sangat penting dan
ilmiah. Secara epistemologis, ilmu Fisika berusaha menjawab
pertanyaan, ―mengapa sebuah batu jika dilepaskan akan jatuh
ke bawah dan tidak diam saja atau bergerak ke atas,
sementara uap air bergerak ke atas?‖, ―Bagaimana keteraturan
peredaran planet dan benda-benda langit lainnya dalam tata
surya?‖. Pada zaman dahulu kedua fenomena tersebut
dianggap fenomena yang berbeda. Hal ini disebabkan karena
kedua fenomena itu saling lepas dan tidak ada hubungan satu
sama lain. Epistemologi dalam filsafat terus mendorong
manusia untuk selalu berpikir bagaimana menemukan dan
menciptakan sesuatu yang baru atau mencari jawaban

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 231

terhadap sesuatu yang masih menjadi pertanyaan atau
jawaban yang masih diragukan kebenarannya, sehingga filsafat
selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki tentang
pengetahuan. Dalam bab ini dibahas paradigma tentang gerak
benda karena gaya gravitasi.

11.2. Pandangan Filosofis dan Saintis Mengenai
Gerak Sebelum Newton

Beberapa saintis yang tertarik dan sibuk mempelajari
gerak sebelum Newton dipaparkan sebagai berikut.

11.2.1. Plato (427 SM – 347 SM)
Plato membagi gerak dalam

dua jenis yaitu gerak yang
diberlakukan di luar benda dan gerak
dari dalam benda sendiri tanpa ada
gaya yang diberikan dari luar. Gerak
yang diberikan dari luar pada
akhirnya tergantung pada gerak
abadi dan gerak benda sendiri dalam
jiwa-jiwa (roh-roh). Pada akhirnya

Gambar 11.1 Aristoteles

semua gerak dalam alam semesta
tergantung pada aktivitas suatu jiwa. Sumber: suarahkbp.com
Plato mempertahankan bahwa materi itu sendiri tidak aktif.
Satu-satunya hal yang dapat menggerakkan hal lain yang tidak
bergerak adalah jiwa, yang dapat menggerakkan dirinya sendiri
(bergerak sendiri secara abadi). Oleh karena jiwa dapat
menggerakkan dirinya sendiri, maka dapat juga menggerakkan
hal-hal yang tidak bergerak. Jiwa merupakan sebab primer dari
gerakan (perubahan). Dunia yang kelihatan serta ilusif bergerak
terus menerus (mengalir terus menerus dan berubah). Jiwa
adalah kausa prima dari gerak (perubahan).

232 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

11.2.2. Aristoteles (384 SM – 322 SM)
Aristoteles seorang filsuf dan saintis yang banyak

menuangkan hasil pemikirannya tentang gerak. Aristoteles
membagi gerak menjadi dua kelompok besar yaitu: gerak alami
(pure motion) dan gerak paksa (violent motion) (Nabil, 2018).
Menurut Aristoteles gerak alami berkaitan dengan sifat bawaan
dari berbagai benda yang merupakan sifat intrinsik khusus dari
benda itu sendiri. Aristoteles mengidentifikasi sifat berbagai
benda menurut kedekatan sifat-sifatnya terhadap elemen dasar
benda tersebut. Aristoteles berpendapat bahwa setiap benda
mempunyai tempatnya sendiri- sendiri di alam sesuai dengan
unsur dominan yang terkandung dalam benda itu. Misalnya jika
benda bergerak sentripetal dan gerak jatuh bebas merupakan
gerak alamiah dari sifat air dan tanah (bumi). Sedangkan benda
yag bergerak sentrifugal dan loncatan ke atas merupakan sifat
alamiah api dan udara dan gerak sirkuler (melingkar) adalah
gerak alamiah dari sifat eter (Erwin et al., 2017). Batu
mempunyai unsur terbesar berupa tanah, sehingga tempat
yang layak dan semestinya bagi batu itu adalah bumi. Oleh
karena itu, jika batu berada di udara dan dilepaskan akan
bergerak menuju tanah (bumi) atau ke bawah. Uap air unsur
dominannya adalah udara, sehingga akan menuju ke atas.

Gerak paksa menurut Aristoteles adalah gerak benda yang
disebabkan adanya pengaruh luar terhadap benda dan arahnya
dapat ke sembarang arah seperti dorongan dan tarikan yang
berasal bukan dari benda itu sendiri. Berkaitan dengan
pergerakan benda-benda langit, Aristoteles menyatakan bahwa
pergerakan benda-benda langit itu sangat sempurna terus
menerus karena adanya kekuatan yang diberikan oleh sang
pencipta. Aristoteles belum mengenal adanya gaya gravitasi

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 233

dan percaya bahwa bumi merupakan pusat tata surya.
Aristoteles menolak kemungkinan gerak dalam ruang hampa
karena medium sangat penting untuk pergerakan alami pada
kecepatan yang terbatas (Ade Putri, 2017).

11.2.3. Galileo (1564 – 1642)
Galileo tidak lagi terfokus pada pertanyaan mengapa,

melainkan lebih pada penggambaran objek dan berbagai
fenomena. Dengan kata lain, kita tidak lagi bertanya mengapa
batu itu jatuh ke bawah, melainkan bagaimanakah batu itu jatuh
ke bawah. Secara lebih rinci pertanyaan yang muncul adalah
bagaimanakah hubungan antara jarak yang ditempuh batu itu
dengan waktunya.

Galileo menyatakan bahwa semua benda (berat atau
ringan) jatuh dengan percepatan yang sama jika tidak ada
udara. Misal saat kita memegang selembar kertas secara
horizontal dan benda lain yang lebih berat (misalnya saja bola),
kemudian kedua benda dilepaskan bersamaan maka benda
yang lebih berat akan lebih dahulu mencapai tanah. Akan
tetapi, jika kita mengulangi percobaan dengan mengubah
bentuk kertas menjadi gumpalan kecil, maka kedua benda
tersebut mencapai tanah pada saat yang hampir sama. Galileo
yakin bahwa udara berperan sebagai hambatan untuk benda-
benda yang sangat ringan yang memiliki permukaan yang luas.
Sumbangan Galileo yang spesifik terhadap pemahaman kita
tentang gerak benda jatuh dapat dirangkum sebagai: ―Pada
suatu lokasi tertentu di Bumi dan dengan tidak adanya
hambatan udara, semua benda jatuh dengan percepatan
konstan yang sama.‖ Kita menyebut percepatan ini sebagai
percepatan yang disebabkan oleh gravitasi pada Bumi dan
memberikan symbol g (besarnya sekitar g = 9.8 m/s2) (Giancoli,
2001).

234 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

11.3. Aspek Ontologi Hukum Gravitasi Newton

Perbincangan tentang gerak benda sudah dilakukan jauh

sebelum Newton menjelaskan tentang alasan mengapa benda

bergerak. Menjelang berakhirnya abad ke-17 Sir Isaac Newton

(1642-1727), berhasil menyingkap teka-teki alam yang menarik

perhatian itu. Sebagian orang menceritakan bahwa jawaban

tentang teka teki itu diperoleh Newton ketika sebuah apel jatuh

ke kepalanya sewaktu ia sedang merenungi masalah ini di

bawah sebuah pohon apel di pekarangan rumahnya. (apakah

kejadian jatuhnya buah apel yang menimpa kepala Newton ini

benar? Masih diragukan kebenarannya) (Wospakrik, 2005).

Kejadian ini dikatakan oleh banyak orang sebagai kejadian

yang mengilhami Newton menemukan hukum yang kemudian
dikenal dengan ―hukum gravitasi Newton‖. Hukum gravitasi

yang dikemukakan

Newton menyatakan

bahwa dua buah

benda yang terpisah

oleh jarak tertentu

cenderung akan

saling tarik menarik

yang merupakan

gaya alamiah, Gambar 11.2 Sir Isaac Newton
Sumber: brilio.net
besarnya gaya

alamiah ini

sebanding dengan massa masing-masing benda dan

berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda.

Dalam kasus apel jatuh tadi karena massa bumi yang sangat

besar sehingga apel tertarik ke bumi. Secara matematika

pernyataan hukum gravitasi Newton itu dapat dituliskan:

F  G Mm . G adalah tetapan gravitasi = 6,67. 10-11 Nm2 /kg2, M
r2

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 235

dan m masing-masing adalah massa benda pertama dan
massa kedua, serta r adalah jarak pisah antara kedua benda
(Giancoli, 2001). Mekanika benda langit dan mekanika bumi
yang sebelumnya merupakan dua pengetahuan yang terpisah,
dianggap satu kesatuan oleh Sir Isaac Newton (Erwin et al.,
2017). Tanpa adanya kontak timbal balik, Gravitasi bersifat
bawaan dan melekat pada suatu materi, sehingga satu benda
dapat mempengaruhi benda lain pada jarak tertentu, melalui
ruang hampa dan tanpa perantara apa pun (Henry, 2011).

Ciri mencolok dari pemikiran Newton adalah jangkauan
empirismenya yang sangat luas, berpotensi meluas bahkan ke
substansi non-materi. Meskipun Newton juga tertarik pada
prinsip-prinsip metafisika tertentu, tetapi ciri rasionalis dari
pemikirannya paling menonjol dalam perjuangannya untuk
menemukan 'penyebab gravitasi'. Pemikiran Newton yang
mencolok berikutnya bahwa ia memungkinkan zat dari jenis
yang berbeda dapat secara bersamaan menempati wilayah
ruang yang sama (Kochiras, 2009).

11.4. Keterbatasan Hukum Gravitasi Newton pada
Benda Langit

Pada tahun 1905, Albert Einstein mencetuskan teorinya
yang diberi nama Teori Relativitas Khusus. Teori ini
merumuskan ulang bagaimana formasi ruang-waktu. Teori ini
didasarkan pada 2 postulat yaitu semua hukum fisika harus
berbentuk sama (invarian) pada semua kerangka acuan dan
kecepatan cahaya adalah kecepatan mutlak. Dalam teori
relativitas khusus, Einstein menunjukkan teori relativitas
khususnya konsisten dengan teori elektromagnetik Maxwell.
Akibatnya Einstein tiba pada klaim bahwa cahaya memiliki
kecepatan sebesar 299,792 km/s. Einstein mengatakan bahwa

236 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner

kecepatan benda atau energi lain dapat mendekati kecepatan
ini tetapi tidak akan pernah melebihi kecepatan cahaya
(Giancoli, 2001).

Keberhasilan Newton menemukan hukum gravitasi dapat
menjelaskan bagaimana kerja gravitasi pada situasi atau
kondisi normal dan dikenal dengan hukum gravitasi universal
Newton. Pada jaman dahulu hukum gravitasi Newton dipadukan
dengan hukum Keppler untuk mencari letak benda-benda langit
dan menghitung massanya. Kesederhanaan perhitungan yang
dilakukan Newton membuat orang awam mudah menerima
hukum gravitasinya. Akan tetapi kenyataannya alam semesta
tidaklah sesederhana itu karena alam semesta terdiri dari
milyaran bahkan trilyunan benda-benda ruang angkasa yang
saling mempengaruhi letak yang satu dengan lainnya. Bumi dan
tata surya hanyalah sebagian kecil dari isi yang ada di jagat
raya ini.

Teori gravitasi Newton dianggap bermasalah karena
Newton tidak memberikan penjelasan bagaimana gaya gravitasi
yang ditransmisikan antara dua buah benda dapat dipisahkan
dalam ruang. Gaya tarik gravitasi antara dua benda tersebut
menjelajah ruang hampa di antara dua benda tadi dalam waktu
sesaat. Teori gravitasi Newton ini dianggap memiliki
kejanggalan. Kejanggalan yang terjadi pada paradigma
gravitasi Newton terletak pada ketidakcocokan teori gravitasi
Newton dengan teori relativitas khusus yang diajukan Einstein
pada tahun 1905 (Waluyo, 2004). Teori gravitasi Newton
bertentangan dengan klaim Einstein bahwa tidak ada energi
maupun massa yang bisa memiliki kecepatan melebihi
kecepatan cahaya. Mengingat jangkauan gaya gravitasi yang
mencapai ribuan bahkan jutaan kilometer, maka gaya gravitasi
tidaklah mungkin menjelajah angkasa luar dalam waktu yang
singkat. Jika gaya gravitasi bergerak dengan cara yang sama

Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 237

seperti cahaya bergerak, maka Einstein menyimpulkan bahwa
kecepatan gaya gravitasi yang bekerja juga tidak boleh melebihi
kecepatan cahaya. Dengan jarak jangkauan yang jauh maka
jelas gravitasi memerlukan waktu yang panjang untuk
menjelajah ribuan bahkan jutaan kilometer.

Sebagai contoh perjalanan cahaya dari Matahari sampai
ke planet-planet dalam tata surya. Pada bumi yang berjarak
kurang lebih 150.000 kilometer dari matahari, cahaya yang kita
nikmati di bumi ini memerlukan waktu sekitar 8,3 menit untuk
tiba di bumi setelah dipancarkan dari permukaan matahari.
Pada planet Pluto yang berjarak sekitar 5940 juta kilometer dari
matahari, cahaya membutuhkan waktu sekitar 5,5 jam untuk
tiba disana. Jika gravitasi bekerja tidak dalam waktu sesaat
(sesuai dengan relativitas khusus Einstein), maka orbit planet
ini harus mengalami koreksi. Akan tetapi jika koreksi Einstein
dimasukkan, maka koreksi ini justru memberikan hasil prediksi
orbit planet yang tidak sesuai dengan data astronomi.
Pertimbangan ini membuat Einstein menyimpulkan adanya
mekanisme dalam teori gravitasi yang belum dijelaskan oleh
Newton.

Kejanggalan kedua ditemukan Einstein berhubungan
dengan prinsip ekuivalen. Secara sederhana prinsip ini
menggambarkan bahwa semua hukum fisika akan berperilaku
sama dalam kerangka acuan mana saja, baik dalam kerangka
diam atau kerangka yang berjalan dengan kecepatan konstan
maupun dengan laju kecepatan yang positif. Sebagai contoh
saat kita berada dalam sebuah pesawat ruang angkasa yang
berada di ruang hampa dan pesawat itu bergerak ke atas
dengan percepatan yang sama dengan percepatan gravitasi
bumi yaitu 9,8 m/s2. Jika ada sebuah buku yang melayang
dalam pesawat itu, maka buku itu akan bergerak menuju lantai
pesawat dengan percepatan sebesar 9,8 m/s2. Jika buku

238 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner


Click to View FlipBook Version