Bahkan, ahli mikrobiologi evolusionis, Gerald Joyce dan Leslie
Orgel mengungkapkan keputusasaan atas situasi ini dalam
bukunya yang berjudul “In the RNA World” (Joyce & Orgel,
1993).
Jika kita menganggap bahwa di bumi purba ada RNA
yang dapat mereplikasi diri, seluruh asam amino siap pakai
tersedia dan semua yang mustahil ini terjadi, situasi ini tidak
berakhir dengan pembentukan satu molekul protein pun. Hal ini
karena RNA hanya mengandung informasi mengenai struktur
protein, sedangkan asam amino hanya bahan mentah.
Bagaimanapun, tidak ada mekanisme untuk memproduksi
protein. Anggapan bahwa kehadiran RNA sudah cukup untuk
produksi protein adalah sama tidak masuk akalnya dengan
mengharapkan sebuah mobil dapat merakit diri sendiri hanya
dengan melemparkan secarik kertas yang berisi rancangannya
ke atas tumpukan ribuan onderdil mobil. Dalam kasus ini, juga
tidak ada produksi karena tidak ada pabrik atau pekerja yang
terlibat dalam proses.
6.7 Sisi Aksiologi dari Runtuhnya Paradigma
Dogma Darwinisme
Menurut teori evolusi, semua spesies yang ada dialam
sekarang ini merupakan hasil evolusi dari sebuah sel primitif
protobion yang terbentuk kira-kira 3,8 milyar tahun yang lalu.
Menurut teori itu pula, sel hidup pertama berasal dari sel tak
hidup melalui peristiwa kebetulan. Ada banyak ahli yang
mendukung teori tersebut, tetapi banyak pula yang
menentangnya. Kelompok yang menentang teori ini
berpendapat bahwa makhluk hidup yang ada dialam ini
merupakan hasil penciptaan Sang Maha Pencipta. Teori
tersebut dinamakan ―Teori Penciptaan Khusus‖. Teori ini
menyebutkan bahwa makhluk hidup diciptakan secara periodik
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 139
pada masa-masa tertentu. Pendukung dan penentang teori
evolusi tentu memiliki argumen-argumen yang mendukung
pendapatnya masing-masing. Menurut pendapat para ahli yang
menganut teori penciptaan khusus, teori evolusi memiliki
banyak kelemahan dan tidak memiliki cukup bukti untuk
mempertahankan kebenaran teorinya. Menurut mereka, teori
evolusi Darwin tidak didasarkan pada temuan ilmiah yang
konkret, tetapi dibangun hanya berdasarkan asumsi-asumsi.
Teori evolusi Darwin memiliki tiga kelemahan mendasar, yaitu:
1. Teori evolusi tidak dapat menjelaskan bagaimana kehidupan
di bumi bermula
Menurut teori evolusi, semua spesies makhluk hidup
adalah produk evolusi sebuah sel tunggal yang muncul dari
bumi primitive sekitar 3,8 miliar tahun yang lalu. Dari sebuah
sel tunggal tersebut, secara berangsur-angsur akan
terbentuk jutaan spesies makhluk hidup yang kompleks.
Karena tidak mengenal adanya penciptaan, teori evolusi
bertahan bahwa sel pertama bermula secara kebetulan
dalam hukum-hukum alam tanpa rancangan dan pengaturan
apapun. Teori evolusi menyatakan bahwa materi tak hidup
dapat memproduksi sebuah sel hidup sebagai hasil dari
suatu peristiwa kebetulan. Dalam teorinya, Darwin tidak
pernah merujuk kepada asal usul kehidupan. Pemahaman
sains pada masa Darwin masih beranggapan bahwa
makhluk hidup mempunyai struktur yang sangat sederhana
sehingga pembentukan sebuah sel hidup dari bahan tak
hidup sangat mungkin terjadi. Pada saat Darwin menyusun
teorinya, teori abiogenesis atau generatio spontanea masih
dianut oleh dunia ilmu pengetahuan pada waktu itu, dan
merupakan landasan bagi teori evolusi. Teori abiogenesis
menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati.
Namun kemudian, teori ini dipatahkan oleh teori biogenesis.
140 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Teori biogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup berasal
dari makhluk hidup. Pendukung teori ini adalah Fransisco
Redi, Lazzaro Spallazani, dan Louis Pasteur.
2. Tidak ada temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa
mekanisme evolusi yang diajukan teori evolusi memiliki
kekuatan untuk berevolusi.
Dalam buku The Origin Of Species, Darwin menyatakan
bahwa evolusi terjadi karena adanya mekanisme seleksi
alam (Gilbert,1986). Menurut mekanisme seleksi alam
makhluk hidup yang mampu beradaptasi dengan kondisi
alam habitatnya akan bertahan hidup, sedangkan yang
lemah akan cenderung mengalami kepunahan. Menurut
paham evolusi modern, mutasi dianggap (perubahan pada
gen makhluk hidup karena faktor-faktor eksternal, seperti
radiasi atau kesalahan replikasi) sebagai penyebab
munculnya variasi yang menguntungkan. Menurut teori
evolusi, jutaan makhluk hidup yang ada di atas muka bumi
terbentuk sebagai hasil dari proses banyak organ kompleks
organisme. Akan tetapi, sebuah fakta ilmiah seketika
melemahkan teori tersebut. Berdasarkan fakta, mutasi tidak
menyebabkan makhluk hidup berkembang, tetapi cenderung
merugikan. Hal itu terjadi karena DNA memiliki struktur yang
sangat kompleks dan mutasi dalam bentuk pengaruh acak
dapat mengakibatkan kerusakan pada DNA. Telah dipahami
bahwa mutasi, yang ditampilkan sebagai sebuah mekanisme
evolusioner, sebenarnya merupakan peristiwa genetic yang
merugikan makhluk hidup dan menjadikan mereka cacat.
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa sebuah
mekanisme yang merusak tidak mungkin menjadi
mekanisme evolusioner. Fakta ini menunjukkan kepada kita
bahwa tidak terdapat mekanisme evolusioner dialam. Karena
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 141
tidak ada mekanisme evolusioner, tidak mungkin pula terjadi
proses evolusi dialam.
3. Terdapat catatan fosil yang menunjukkan adanya hal-hal
yang berlawanan dari apa yang dikemukakan teori evolusi
Menurut teori evolusi, setiap spesies makhluk hidup
berasal dari spesies terdahulu. Suatu spesies yang telah ada
sebelumnya lama-kelamaan akan berubah menjadi spesies
lain. Semua spesies dialam ini terbentuk dengan cara seperti
itu, secara perlahan dan dalam periode perubahan yang
panjang. Para penganut teori evolusi percaya bahwa
makhluk-makhluk peralihan pernah hidup dimasa lampau
merupakan bentuk-bentuk transisi. Namun, para penganut
teori penciptaan menyebut makhluk-makhluk tersebut
merupakan makhluk khayalan yang tidak pernah ada. Para
penganut teori penciptaan berkeyakinan bahwa jika spesies
transisi tersebut benar-benar pernah ada, pasti terdapat
jutaan makhluk peralihan yang jumlahnya tiap spesies juga
berjuta-juta. Selain itu, catatan fosil yang telah ditemukan
tidak menunjukkan adanya evolusi bertahap, tetapi
memperlihatkan adanya ledakan tiba-tiba satu kelompok
makhluk hidup yang disertai dengan kepunahan kelompok
lain.
Teori evolusi yang telah bertahan selama 150 tahun
akhirnya runtuh. Perkembangan ilmu pengetahuan, terutama
dalam bidang biologi adalah salah satu penyebabnya. Biologi
saat ini telah berkembang begitu pesat. Bahkan dalam
perkembangannya biologi berhasil mengungkap berbagai
permasalahan mengenai makhluk hidup. Permasalahan yang
pada masa Darwin belum bisa dijawab kini telah terjawab. Tapi
seperti yang sudah dijelaskan di atas, berkembangnya ilmu
biologi justru menjadikan teori evolusi semakin terpojok dan
akhirnya runtuh. Teori evolusi tidak tiba-tiba runtuh. Tetapi
142 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
keruntuhan teori ini disebabkan adanya berbagai pertanyaan
yang tidak mampu terjawab oleh tokoh evolusi hingga saat ini.
Beberapa pertanyaan tersebut antara lain: sama
Mengapa pernyataan “Gen manusia 99%
dengan gen kera” tidak benar?
Gambar 6.13 Perbandingan presentase gen makhluk hidup
Banyak sumber yang menyatakan bahwa manusia dan
kera memiliki kesamaan sebesar 99% dalam informasi genetik
keduanya. Pernyataan ini adalah pernyataan yang
menyesatkan. Sebuah studi di tahun 2002 mengungkapkan
bahwa propaganda evolusionis dalam perihal ini adalah
sepenuhnya tidak benar. Pernyataan evolusionis ini terutama
terpusat pada simpanse, dan menyatakan bahwa jenis kera
inilah yang terdekat dengan manusia, dan oleh karena itu
terdapat hubungan kekerabatan di antara keduanya.
Manusia dan simpanse tidaklah "99% sama" seperti kata
dongeng evolusionis. Kesamaan genetis ternyata tak sampai
95%.Ahli biologi dari California Institute of Technology yang
bernama Roy Britten berkata dalam sebuah studi bahwa cara
baru pembandingan gen memperlihatkan bahwa kesamaan
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 143
genetis antara manusia dan simpanse hanyalah 95% (Britten,
2002). Britten mengambil kesimpulan ini berdasarkan sebuah
program komputer yang membandingkan 780.000 dari 3 miliar
pasang basa dari heliks DNA manusia dengan yang ada pada
simpanse. Ia menemukan lebih banyak ketidakcocokan
daripada yang ditemukan para peneliti sebelumnya, dan
menyimpulkan bahwa sedikitnya 3,9 persen basa DNA adalah
berbeda.
Mengapa DNA tidak mungkin dijelaskan sebagai sebuah
“kebetulan”?
Seperti yang sudah kita ketahui, DNA adalah sebuah
materi yang membawa kode genetik. DNA berisi informasi
genetik yang berperan dalam pewarisan sifat. DNA dari satu sel
manusia saja sudah berisi informasi yang cukup untuk mengisi
ensiklopedi yang terdiri dari sejuta halaman. Kita tidak mungkin
habis membacanya dalam seumur hidup. Jika seseorang mulai
membaca satu kode DNA per detik, tanpa henti, sepanjang
hari, setiap hari, akan diperlukan waktu 100 tahun. Sebab,
ensiklopedia tersebut berisi hampir tiga miliar kode yang
berbeda-beda. Jika kita tulis semua informasi DNA pada kertas,
maka panjangnya akan membentang dari Garis Katulistiwa
mencapai Kutub Utara. Ini berarti sekitar 1000 jilid buku, cukup
untuk mengisi sebuah perpustakaan yang besar. Lebih dari itu,
semua informasi ini terkandung dalam inti setiap sel. Artinya,
bila setiap individu terdiri dari sekitar 100 triliun buah sel, maka
akan terdapat 100 triliun versi dari perpustakaan yang sama.
Sisi menarik lainnya adalah semua makhluk hidup di
planet ini telah diciptakan menurut paparan kode yang ditulis
dalam bahasa yang sama ini. Tidak ada bakteri, tumbuhan
ataupun hewan yang tercipta tanpa DNA. Terlihat jelas bahwa
seluruh kehidupan muncul sebagai hasil berbagai pemaparan
yang menggunakan satu bahasa, dan berasal dari sumber
144 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
pengetahuan yang sama.Hal ini membawa kita kepada satu
kesimpulan yang jelas. Semua kehidupan di bumi, hidup dan
berkembang biak menurut informasi yang diciptakan oleh satu
kecerdasan tunggal. Hal ini menjadikan teori evolusi sama
sekali tak berarti. Sebabnya, dasar teori evolusi adalah
"kebetulan", sedangkan peristiwa kebetulan tidak mampu
menciptakan informasi.
Perkembangan sains memperjelas bahwa makhluk
hidup memiliki struktur yang luar biasa kompleks dan suatu
keteraturan yang terlalu sempurna untuk muncul melalui
peristiwa kebetulan. Ini membuktikan fakta bahwa makhluk
hidup diciptakan oleh Pencipta yang Mahakuasa yang memiliki
pengetahuan tanpa banding. Baru-baru ini, misalnya, dengan
tersingkapnya struktur sempurna dalam gen manusia yang
menjadi isu yang menonjol karena Projek Genom, penciptaan
yang unik dari Tuhan telah terungkap sekali lagi untuk kita
semua. Dari AS hingga Cina, saintis dari seluruh penjuru dunia
telah memberikan upaya terbaik mereka untuk menguraikan 3
miliar huruf kimiawi di dalam DNA dan menentukan urutannya.
Sebagai hasilnya, 85% dari data yang terkandung dalam DNA
manusia dapat diurutkan dengan tepat. Walaupun ini
merupakan perkembangan yang sangat menarik dan penting,
sebagaimana dinyatakan Dr. Francis Collins, pimpinan Projek
Genom Manusia, sebegitu jauh ini baru langkah pertama dalam
upaya menguraikan informasi di dalam DNA (Collins &
Mansoura, 2001).
Teori evolusi yang menyatakan bahwa makhluk hidup
berevolusi ‗tahap demi tahap‘ sebagai akibat dari ‗peristiwa-
peristiwa kebetulan yang menguntungkan‘ secara eksplisit
disangkal oleh paradoks DNA-enzim yang disebutkan di atas.
Ini karena baik DNA maupun enzim harus ada pada saat yang
bersamaan. Para evolusionis mencoba untuk menyalahtafsir-
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 145
kan perkembangan terakhir ini, yang sebenarnya menentang
mereka, dan menampilkannya sebagai bukti dari ―evolusi‖.
Karena tidak mampu menjelaskan bagaimana rantai DNA dari
sebuah bakteri kecil berasal mula, para evolusionis mencoba
untuk menyampaikan pesan seperti ―gen manusia menyerupai
gen binatang‖. Pesan-pesan seperti ini tidak akurat dan tidak
memiliki nilai ilmiah sedikit pun. Mereka dibuat untuk
menyesatkan publik. Sementara, sejumlah lembaga media,
karena ketidaktahuannya akan subjek tersebut dan pendekatan
mereka yang berpraduga, menyangka bahwa Projek Genom
Manusia memberikan ―bukti evolusi‖ dan berupaya
menampilkannya demikian.
Mengapa pernyataan bahwa dinosaurus berevolusi
menjadi burung adalah mitos tidak ilmiah?
Gambar 6.14 Archaeopteryx
Teori evolusi bersandar pada komentar-komentar
berprasangka dan pemutarbalikkan kebenaran untuk
menjelaskan kemunculan makhluk hidup dan seluruh
keberagamannya. Teori evolusi menyatakan bahwa nenek
moyang dari burung adalah dinosaurus (Lee, Cau, Naish, &
146 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Dyke, 2014). Pernyataan ini memunculkan dua pertanyaan
yang harus dijawab. Pertama, "bagaimana dinosaurus mulai
menumbuhkembangkan sayap?".Kedua, "mengapa tidak ada
jejak perkembangan semacam itu dalam catatan fosil?". Ada
dua teori yang diajukan oleh tokoh evolusi dalam masalah ini
(Garner, Taylor & Thomas, 1999). Teori yang pertama disebut
teori kursorial.
Menurut teori ini, dinosaurus berubah menjadi burung
dengan cara melompat dari tanah ke udara untuk menangkap
serangga terbang (Coombs, 1978). Sedangkan teori yang
kedua disebut teori arboreal. Menurut teori arboreal dinosaurus
yang hidup di dahan pepohonan berubah menjadi burung
karena berusaha melompat dari dahan ke dahan (Povinelli &
Cant, 1995). Tetapi kedua teori tersebut tetap saja tidak bisa
digunakan sebagai jawaban atas pertanyaan diatas. Untuk
menutupi hal itu para tokoh evolusi mengajukan sebuah
makhluk yang disebut archaeopteryx (Ostrom, 1974). Seperti
yang sudah dijelaskan di atas, archaeopteryx dianggap sebagai
bentuk peralihan antara burung dan dinosaurus. Tetapi, kajian
terakhir atas fosil archaeopteryx menunjukkan bahwa
penjelasan ini tidak memiliki dasar ilmiah. Archaeopteryx bukan
bentuk peralihan, melainkan spesies burung yang sudah
punah, yang tidak jauh berbeda dengan burung modern (Lee &
Worthy, 2012). Studi lanjutan mengenai fosil archaeopteryx
xtelah menjatuhkan landasan teori evolusi yang mengatakan
bahwa dinosaurus berevolusi menjadi burung. Kajian terbaru
mengenai burung unta juga ikut menggugurkan dongeng
burung-dino.
Bagaimana struktur tubuh hewan purba meruntuhkan teori
evolusi?
Dalam catatan fosil, makhluk hidup membentuk untaian
atau rantai. Bila kita perhatikan rantai ini dari makhluk paling
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 147
purba sampai yang paling muda, tampaklah bahwa makhluk
hidup muncul dalam bentuk mikroorganisme, hewan laut tak
bertulang belakang (invertebrata), ikan, amfibi, reptil, unggas,
dan mamalia. Pendukung teori evolusi membahas rantai ini
dengan penuh praduga, sambil berupaya menyajikannya
sebagai bukti teori evolusi. Mereka menyatakan bahwa
makhluk hidup berkembang dari bentuk sederhana menuju
bentuk yang lebih kompleks, dan selama proses ini
berlangsung, beraneka ragam makhluk hidup pun tercipta.
Perkembangan makhluk hidup dari bentuk primitif ke bentuk
kompleks adalah praduga evolusionis yang tak benar sedikit
pun. Profesor biologi asal Amerika, Frank L. Marsh, yang
mengkaji pernyataan kaum evolusionis, dalam bukunya
―Variation and Fixity in Nature‖ (Marsh, 1976) menyatakan
makhluk hidup tak dapat disusun dalam sebuah urutan yang
senantiasa bersambung tanpa putus dari bentuk sederhana ke
bentuk rumit.
Banyak fosil dari hewan purba yang bisa dijadikan fakta
untuk meruntuhkan teori evolusi. Salah satu contoh hewan
purba yang sangat berpengaruh dalam keruntuhan teori evolusi
adalah trilobita. Trilobita yang termasuk filum Arthropoda,
adalah makhluk sangat rumit dengan cangkang keras, memiliki
tubuh yang bersendi, dan organ-organ kompleks. Hewan ini
memiliki mata yang sangat rumit. Mata trilobita terdiri atas
beratus-ratus faset kecil, yang masing-masing terdiri atas dua
lapisan lensa. Begitu juga dengan lalat yang memiliki mata juga
rumit (Trilobites.info). Dan butuh insinyur yang handal dan
kreatif pada saat ini untuk bisa mengembangkan mata seperti
itu. Sehingga kedua hewan ini sudah bisa digunakan sebagai
dasar untuk meruntuhkan teori evolusi. Maka dapat diambil
kesimpulan bahwa makhluk hidup tidak berkembang dari
148 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
bentuk sederhana ke bentuk yang kompleks. Pada saat
pertama kali muncul, makhluk hidup sudah teramat kompleks.
Mengapa peristiwa metamorfosis bukanlah bukti kebenaran
teori evolusi?
Metamorfosis adalah proses perkembangan yang
dilakukan oleh beberapa makhkuk hidup. Metamorfosis
biasanya terjadi pada serangga. Mereka yang tak begitu
memahami biologi, serta mereka yang mendukung teori
evolusi, kadang-kadang mencoba menggambarkan proses itu
sebagai bukti evolusi. Sumber-sumber yang menyatakan
metamorfosis sebagai "contoh evolusi" adalah omong kosong.
Hal ini merupakan hasil propaganda dangkal dan sempit, yang
bertujuan menyesatkan mereka yang kurang paham tentang
perihal ini, pendukung evolusi yang masih baru, serta guru-guru
biologi Darwinis yang tidak benar-benar tahu jadi masalahnya.
Metamorfosis merupakan proses yang sudah direncanakan,
dan tidak ada kaitannya dengan mutasi ataupun faktor
kebetulan. Metamorfosis tidaklah disebabkan oleh kebetulan.
Penyebab proses ini adalah data genetis yang sudah menjadi
bagian terpadu makhluk tersebut sejak lahir. Penelitian ilmiah
terakhir tentang metamorfosis telah menunjukkan bahwa
peristiwa metamorfosis adalah proses rumit yang dikendalikan
oleh beberapa gen yang berlainan (Lowe, Garwood,
Simonsen, Bradley & Withers, 2013). Yang terjadi dalam
peristiwa metamorfosis adalah irreducible complexity
(kerumitan tak tersederhanakan) (Pennock, 2007).
Proses metamorfosis terjadi melalui keseimbangan dan
pewaktuan hormon yang sangat teliti, yang dipengaruhi oleh
beragam gen (McBrayer, Ono, Shimell, Parvy, Beckstead,
Warren, & O'Connor, 2007). Kesalahan terkecil sekali pun akan
mengakibatkan kematian makhluk hidup tersebut. Oleh sebab
itu, tidak mungkin proses serumit ini dapat terjadi secara
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 149
kebetulan dan bertahap. Karena kesalahan sekecil apa pun
akan mengakibatkan kematian hewan tersebut. Sehingga
mustahil menjelaskan peristiwa ini dengan mekanisme "trial
and error" (coba-coba) atau seleksi alam, seperti pendapat
evolusionis. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat bertahan
berjuta-juta tahun, untuk menunggu bagian tubuh yang
diperlukannya muncul secara kebetulan.
6.8 Konteks Psikologi Dogma Darwinisme dan
Maknanya Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Darwin menitik beratkan teori pada seleksi alam dan
adaptasi. Evolusi berlangsung dengan adanya seleksi alam dan
adaptasi individu terhadap lingkungannya. Darwin malah
memusatkan pembahasannya pada bagaimana tiap individu
dalam populasi suatu spesies mampu beradaptasi dengan baik
di habitatnya melalui seleksi alam, sehingga diperoleh suatu
kesimpulan bahwa
1. Produksi individu yang lebih banyak dibandingkan dengan
yang dapat didukung oleh lingkungan akan mengakibatkan
adanya persaingan untuk mempertahankan individu
didalam populasinya, sehingga hanya sebagian keturunan
saja yang dapat bertahan hidup pada setiap generasi.
Manusia pada dasarnya memiliki jiwa kompetitif agar
bertahan hidup. Persaingan dalam segala aspek
mengakibatkan individu secara berlomba-lomba meng-
upgrade kualitas diri.
2. Kelangsungan Hidup dalam perjuangan untuk
mempertahankan hidup tidak terjadi secara acak, tetapi
bergantung sebagian pada susunan sifat yang terwarisi dari
individu yang bertahan hidup. Artinya individu yang
mewarisi sifat-sifat baik, membuat individu tersebut cocok
atau mampu beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga
150 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
besar kemungkinan akan menghasilkan keturunan yang
lebih banyak dibanding dengan individu yang kurang cocok
sifatnya terhadap lingkungannya.
3. Sifat atau Kemampuan individu untuk bertahan hidup dan
bereproduksi yang tidak sama akan mengakibatkan suatu
perubahan secara bertahap dalam suatu populasi dan sifat-
sifat mengungtungkan akan terakumulasi sepanjang
generasi.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 151
BAB 7
PARADIGMA ASAL MULA MAKHLUK
HIDUP: RUNTUHNYA TEORI ABIOGENESIS
Dyah Setyaningrum Winarni
Dosen Program Studi Pendidikan IPA Universitas Ivet
Email: [email protected]
7.1. Deskripsi Materi
Perkembangan pengetahuan dan rasa ingin tahu manusia
serta kemampuan nalar dibandingkan makhluk lain menjadi
akar pencarian pembenaran atas teori yang belum ada, bahkan
dapat menjadi pembuktian kebenaran atas teori yang sudah
ada (Sudarmin, 2016). Pemikiran ilmiah yang berkembangan
memunculkan argumentasi baru yang dilengkapi dengan
metode ilmiah yang mampu diterima oleh logika berpikir. Salah
satu hasil pemikiran tersebut bahwa makhluk hidup terbentuk
secara tiba-tiba (generatio spontanea) yang dikenal dengan
teori abiogenenis terbukti ketidak benarannya dengan muncul
hasil-hasil eksperimen dengan teori baru yang dikenal dengan
teori biogenesis. Teori Biogenesis menjelaskan bagaimana
152 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
makhluk hidup terbentuk dan faktor pendukung kehidupan.
Dalam kegiatan dan pemikiran asal mula makhluk hidup.
7.2. Hakikat Dogma Teori Abiogenesis
Pandangan asal usul makhluk hidup terdahulu berasal
dari benda mati yang terjadi secara spontan dan diyakini
dibentuk berjuta-juta tahun. Pandangan asal usul ini mencuat
dipengaruhi oleh hal-hal yang timbul antara lain:
a. Adanya lalat pada semua bangkai binatang yang mati
begitu saja seperti, sapi, kuda, babi, anjing, ular, dan
beberapa hewan lain. Mereka tidak mengetahui bahwa
sesungguhnya lalat tersebut berasal dari larva yang
menetas dari telur yang diletakkan pada bangkai tadi oleh
lalat. Oleh karenanya mereka berpendapat bahwa lalat
yang mengerumuni bangkai tersebut berasal dari daging
yang sudah membusuk.
b. Munculnya ikan dan katak pada perairan terbuka atau
beberapa perairan yang terbentuk begitu saja. Orang tidak
mengetahui mengapa pada perairan terbuka bisa terdapat
ikan dan katak. Mereka mengemukakkan pendapatnya
bahwa binantang tersebut dihasilkan dari awan selama
angin ribut yang disertai guntur lalu jatuh ke bumi bersama-
sama hujan.
Pandangan tersebut diterima dengan penuh keyakinan
berdasarkan fakta-fakta yang terlihat. Pada tahun 384-322 SM
seorang filsuf dari Yunani bernama Aristoteles berpendapat
bahwa makhluk hidup timbul begitu saja dari benda tak hidup.
Teori inilah yang menjadi teori awal abiogenesis. Dalam
penelitian abiogenesis bahwa salah satu pembentuk utama
dalam kehidupan adalah sistein. Protein yang terkadung
menjadi material dasar dari kehidupan (Shalayel et al., 2020).
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 153
Teori abiogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup
berasal dari benda tidak hidup atau dapat dimaknai bahwa
makhluk hidup ada dengan sendirinya (Gibb, 2018). Teori ini
dikenal dengan teori generatio spontanea, karena makhluk
hidup ada dengan sendirinya. Pemikiran baru mulai muncul,
rasa ingin tahu yang tinggi menyebabkan beberapa saintis
mulai menganalisis dari mana asalnya, bentuknya, bahkan
sampai kandungan yang menjadi dasar pembentukan makhluk
hidup (Kurup, 2019).
Pandangan teori abiogenesis ini semakin diperkuat
dengan ditemukannya mikroskop oleh Anthonie Van
Leeuwenhoek pada abad ke-17. Dengan ditemukannya
mikroskop dilakukan percobaan dengan menggunakan jerami
yang direndam air (Amin, 2016). Dari air rendaman jerami
ditemukan banyak sekali mikroba. Sehingga mereka
beranggapan bahwa mikroba tersebut berasal dari rendaman
jerami. Penelitian ini diperkuat dengan John Needham (1713-
1781) yang melakukan eksperimen dengan cara memasak
sepotong daging untuk menghilangkan organisme yang ada,
kemudian daging tersebut diletakkan di dalam toples terbuka.
Berdasarkan pengamatannya ditemukan adanya koloni pada
permukaan daging tersebut, sehingga disimpulkan bahwa
mikroorganisme terjadi secara spontan dari daging.
Pandangan abiogenesis ini diterima orang tanpa
pertentangan sampai abad ke-17. Pendukung abiogenesis atau
pandangan abiogenesis dapat bertahan begitu lama
disebabkan pada masa itu belum terdapat peralatan yang
cukup, serta orang-orang belum begitu kritis (Inayatul &
Nushan, 2015) terhadap paham dan pandangan yang muncul
tentang asal mula kehidupan dan menjadi periode Scientific
revolutionis dalam pemecahan permasalahan ilmiah (Trisakti,
2016).
154 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
7.3. Anomali Paradigma Abiogenesis
Perkembangan pengetahuan dan teknologi menjadikan
beberapa saintis mulai meragukan teori abiogenesis. Para ahli
yang mulai meragukan akan teori abiogenesis Francesco Redi,
Lazzaro Spallanzani, dan Louis Pasteur. Para ahli yang
menentang teori abiogenesis ini menyatakan bahwa makhluk
hidup berasal juga dari makhluk hidup lain. Teori yang
menentang abiogenesis ini dikenal dengan teori biogenesis.
Percobaan pertama pada tahun 1668 yang dilakukan oleh
Francesco Redi (1626-1697) menggunakan dua potong daging
segar yang masing-masing dimasukkan dalam toples yang
berbeda, satu toples ditutup rapat, dan satu toples dibiarkan
terbuka. Pada toples yang tertutup tidak ditemukan adanya
larva lalat, sedangkan pada toples yang terbuka ditemukan
larva lalat yang berasal dari telur lalat dan daging mulai
membusuk.
Hasil kesimpulan percobaan yang dilakukannya
mengungkapkan bahwa kehidupan berasal dari makhluk hidup
lain. Namun meskipun demikian hasil percobaan nya masih
dapat disanggah oleh para pendukung teori abiogenesis
dengan peryataan, bahwa toples yang tertutup rapat tidak
ditemukan larva lalat karena tidak bersinggungan dengan udara
bebas sehingga tidak memiliki daya pendukung kehidupan.
Untuk menjawab atau mematahkan sanggahan dari para
pendukung atau penganut teori abiogenesis, Redi melakukan
lagi percobaan yang kedua. Pada percobaan kedua, Redi
menggunakan satu potong daging segar dan satu buah toples.
Akan tetapi pada percobaan yang kedua ini Redi menggunakan
kain kasa sebagai penutup dari toples tersebut, sehingga
daging di dalam toples tetap bisa melakukan kontak dengan
udara luar yang masuk melalui celah - celah kain kasa tersebut.
Tujuan dari penggunaan kain kasa sebagai penutup toples ini
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 155
agar udara tetap bisa masuk ke dalam toples akan tetapi
hewan lalat tidak bisa masuk ke dalam toples. Hasil dari
percobaan kedua yang dilakukan oleh Redi ini yaitu daging di
dalam toples mengalami pembusukan; pada daging di dalam
toples ditemukan sedikit larva lalat; pada bagian permukaan
kain kasa sebagai penutup toples ditemukan lebih banyak larva
lalat dibandingkan dengan larva yang terdapat pada daging.
Gambar 1. Percobaan Francesco Redi menggunakan toples
terbuka dan tertutup.
(Sumber: www.timetoast.com)
Kondisi yang seperti ini membuat Redi dapat mengambil
kesimpulan bahwasanya larva lalat tersebut tidak berasal dari
daging akan tetapi berasal dari lalat yang hinggap pada kain
kasa kemudian bertelur dan sebagian telurnya ada yang jatuh
ke daging di dalam toples. Hasil dari percobaan kedua yang
dilakukan oleh Francesco Redi ternyata masih tetap belum bisa
meyakinkan para saintis dari penganut teori abiogenesis.
Konsep berpikir ilmiah yang dihasilan menggunakan metode
ilmiah menjadi cakrawala baru manusia dalam mengembang-
kannya, sehingga konsep-konsep yang dipaparkan masih
memiliki banyak kemungkinan adanya sanggahan atau
156 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
argument lain sebagai bentuk ketidak percayaan terhadap
sebuah teori (Hw, 2012).
Pada periode yang sama muncul saintis baru dari
Perancis bernama Louis Pasteur (1822–1895) seorang ahli
kimia yang menaruh perhatian pada mikroorganisme. Pasteur
tertarik untuk meneliti peran mikroorganisme dalam industri
anggur, terutama dalam pembuatan alkohol. Salah satu
pendukung teori Generatio Spontanea yang hidup pada masa
Louis Pasteur adalah Felix Archimede Pouchet (1800-1872).
Pada tahun 1859 Pouchet banyak mempublikasikan tulisan
yang mendukung teori Abiogenesis, namun ia tidak dapat
membantah penemuan-penemuan Pasteur. Pasteur sebagai
saintis, untuk memastikan pendapatnya, melakukan
serangkaian eksperimen. Pasteur melakukan eksperimen
menggunakan bejana leher panjang yang dibengkokkan dan
dikenal dengan leher angsa.
Gambar 2. Bejana ini diisi dengan kaldu kemudian dipanaskan
(Sumber: www.pasteurbrewing.com)
Pada kondisi gambar 2, udara dapat dengan bebas
melewati tabung atau pipa leher angsa tetapi di daerah kaldu
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 157
tidak ditemukan adanya mikroorganisme. Hasil analisis
menunjukkan bahwa mikroorganisme beserta debu akan
mengendap pada bagian tabung yang berbentuk U sehingga
tidak dapat mencapai kaldu. Pasteur melalui eksperimen yang
sama, membawa tabung tersebut ke pegunungan Pyrenes dan
Alpen. Hasil pengamatan menemukan bahwa mikroorganisme
terbawa debu oleh udara, sehingga Pasteur menyimpulkan
bahwa semakin bersih atau murni udara yang masuk ke dalam
bejana, maka semakin sedikit kontaminasi yang terjadi.
Salah satu argumen klasik untuk menentang
teori Biogenesis adalah panas yang digunakan untuk
mensterilkan udara atau bahan dianggap dapat merusak energi
vital, karena tanpa adanya vital force tersebut mikroorganisme
tidak dapat muncul serta spontan. John Tyndall merespon
argumen tersebut dengan mengatakan bahwa udara dapat
mudah dibebaskan dari mikroorganisme melalui serangkaian
percobaan yaitu meletakkan tabung reaksi berisi kaldu steril ke
dalam kotak tertutup. Udara dari luar masuk ke dalam kotak
melalui pipa yang sudah dibengkokkan membentuk dasar U
seperti spiral. Terbukti bahwa meskipun udara luar dapat
masuk ke dalam kotak yang berisi tabung dengan kaldu di
dalamnya, namun tetap tidak ditemukan adanya
mikroorganisme. Hasil percobaan Pasteur dan Tyndall memacu
diterimanya konsep biogenesis. Selanjutnya Pasteur lebih
memfokuskan penelitiannya pada peran mikroorganisme dalam
pembuatan anggur dan mikroorganisme yang menyebabkan
penyakit. Berdasarkan hasil percobaan para saintis tersebut
maka muncullah teori baru yaitu teori Biogenesis yang
menyatakan bahwa:
a. setiap makhluk hidup berasal dari telur (omne vivum ex
ovo),
158 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
b. setiap telur berasal dari makhluk hidup (omne ovum ex
vivo),
c. setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup
sebelumnya (omne vivum ex vivo).
7.4. Eksplanasi Abiogenesis yang Mengagumkan
bagi Saintis
Dalam teori abiogenesis bahwa asal mula makhluk hidup
berasal dari benda makhluk tak hidup atau secara spontan
menjadikan pemikiran baru tentang perkembangan ilmu. Teori
abiogenesis menjadikan titik awal penemuan-penemuan baru
dalam menjelaskan perkembangan yang terjadi. Mulai dari
perkembangan teori pembentukan hingga terbentuknya
peralatan baru. Peralatan baru yang muncul seperti
ditemukannya mikroskop menjadi pandangan baru tentang
kehidupan yang lebih kecil atau mikroskopis seperti ilmu-limu
dalam mempelajari adanya bakteri dan hewan sel satu sebagai
cabang ilmu mikrobiologi.
Munculnya abiogenesis dengan kehidupan secara
spontan menegaskan bahwa kebutuhan manusia dalam
mengkaji sebuah fenomena baru dengan dasar teori yang ada
serta mebandingkan budaya tersebut menjadi lebih aktif. Kajian
abiogenesis selain membangkitkan pemikiran para filsuf juga
mendorong saintis untuk menggali lebih dalam kebenaran-
kebenaran (Almas, 2018) yang diciptakan oleh pendukung teori
abiogenesis. Dengan berkembangnya ilmu mikroskopis atau
dengan kata lain fakta baru adanya mikrokehidupan
menjadikan cabang-cabang ilmu baru terbentuk seperti
genetika, mikrobiologi, evolusi, dan beberapa ilmu yang
mengkaji kebenaran hingga pergeseran baru dari teori
abiogenesis. Hal lain yang dibuktikan oleh peneliti, tentang
adanya abiogenesis yang digunakan untuk mengetahui
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 159
pembentukan kerak bumi, bahwanya kerak bumi atau bagian
hidrokarbon hidrotermal pada gunung berapi berasal dari
degradasi bahan anorganik dengan sistem sedimentasi dan
bersirkulasi melalui bahan reservoir. Hal ini yang menjadikan
bahwa ada degradasi termal organisk materi yang dahulu
diklasifikasikan sebagai indicator abiogenesis (Fiebig et al.,
2019).
7.5. Sisi Aksiologi Mempelajari Pemikiran dan
Dogma Abiogenesis
Dalam pembelajaran sains, pemikiran abiogenesis
menjadi bahan perdebatan yang menarik, karena kajian yang
menjadi dasar teori abiogenesis tentunya akan dibahas juga
dalam mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan
keagamaan dan dasar pemikiran para teologi. Sisi aksiologi
setelah mempelajari dogma abiogenesis adalah
a. Bahwa bumi terutama makhluk yang dikatakan hidup
memiliki susunan atau berasal dari mahkluk hidup yang
lain, sehingga dasar perubahan dari makhluk hidup berasal
dari perkembangan makhluk hidup lainnya.
b. Semua yang berasal dari makhluk hidup dapat dijabarkan
atau dapat diolah menjadi kajian baru dalam
mengembangkan ilmu terutama dalam hal asal mula
kehidupan.
c. Pergeseran paradigma abiogenesis menjadi biogenesis
menjadikan hukum alam bahwa yang hidup pasti akan
mati, dan yang mati berasal dari yang hidup. Kajian ini
mendorong penciptaan makhluk hidup lain dengan
mengembangkan kesempurnaan atau ciri-ciri khusus yang
mendukung kehidupan manusia seperti bioteknologi,
biomolekuler, fisiologi, dan cabang ilmu yang lain.
160 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
7.6. Konteks Psikologi Evolusif Pergeseran
Paradigma Abiogenesis ke Biogenesis
Teori abiogenesis (makhluk hidup timbul secara spontan)
mengalami banyak perkembangan dalam hal pembuktian teori
tersebut, hingga akhirnya teori tersebut bergeser menjadi teori
biogenesis. Berkembangnya penemuan baru dalam hal
teknologi dan teori-teori baru membuktikan bahwa kehidupan
berasal dari kehidupan sebelumnya dan tidak muncul secara
spontan atau dari benda mati.
Dalam pembelajaran teori abiogenesis menjadi dasar
munculnya teori-teori biogenesis. Jadi teori abiogenesis
menjadi cara lain dalam memandang ilmu sehingga muncul
fenomena-fenomena lain yang tadinya tidak realistis, menjadi
lebih realitis yang dikaji secara mendalam berdasarkan fakta
dan eksperimen. Untuk memecahkan teori abiogenesis ini
menggunakan beberapa probabilitas dalam menentukan
peristiwa-peristiwa yang menggambarkan proporsi terjadinya
abiogenisis pada waktu atau interval tertentu untuk mendukung
konsep awal kehidupan (Chen & Kipping, 2018).
Wawasan dalam pergeseran teori abiogenesis yang mulai
ditinggalkan pendukungnya sebagai akibat hasil penemuan-
penemuan baru yang mampu membuktikan bahwa makhluk
hidup berasal dari makhluk hidup lain. Berkembangnya teori ini
juga berpengaruh pada acara pandang evolusi dari teori-teori
yang dikaji termasuk teori evolusi Pemikiran ini sejalan dengan
pemikiran Kuhn bahwa pemikiran ilmiah harus berasal dari
saintis yang keahliannya sesuai dengan bidangnya konseptual
teoritis, instrumental, dan metodologi yang tepat untuk
mengetahui perubahan dalam perkembangan pengetahuan
yang tepat dan benar (Lubis, 2014). Pemikiran Kuhn ini juga
menjadi dasar keterbukaan terhadap studi keagamaan baik
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 161
dengan pendekatan normative, histori, sosiologi, antropologi,
dan kajian ilmu lainnya (Inayatul & Nushan, 2015).
162 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
BAB 8
PARADIGMA TEORI HEREDITAS PRA
MENDEL DAN PASCA MENDEL
Fina Fakhriyah
Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Muria Kudus
Email; [email protected]
8.1. Diskripsi Materi
Teori hereditas dimaknai sebagai transmisi genetik dari
orang tua pada keturunannya merupakan penyederhanaan
yang berlebih karena sesungguhnya yang diwariskan oleh anak
dari orangtuanya adalah satu set alel dari masing-masing orang
tua serta mitokondria yang terletak di luar nukleus (inti sel),
kode genetik inilah yang memproduksi protein kemudian
berinteraksi dengan lingkungan untuk membentuk karakter
fenotif (Mehler, 1996). Berdasarkan pada asumsi Kuhn (1962)
menjadi landasan bagi paradigma epistimologi yang mengkritisi
keyakinan manusia bahwa sains merupakan representasi
realitas. Epistimologi sains menerima teori sains sebagai
sebuah revolusiatas nama kreasionisme, akibatnya akan selalu
ada ruang otonomi dalam sains untuk mencari kebenaran pada
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 163
pertarungan paradigma dan prediksi hingga saling mengisolasi
teori yang satu dengan yang lainnya, serta menjabarkan dan
mengembangkan secara terperinci pada tiap teori yang
dipelajari. Maka terjadilah revolusi paradigma (terutama pada
teori hereditas) yang akan di bahas pada subbab selanjutnya.
8.2. Perkembangan Teori Hereditas Sebelum Mendel
Hereditas diungkapkan sebagai genotif pewarisan dari
induk terhadap keturunannya yang akan membuat keturunan
memiliki karakter seperti induknya. Pewarisan ini dapat dilihat
dari warna kulit, tinggi badan, warna rambut, bentuk hidung
bahkan penyakit warisan atau
keturunan merupakan dampak dari
penurunan sifat. Hereditas dibawa
oleh oleh gen yang ada dalam DNA
masing-masing sel makhluk hidup
dan pada makluk hidup multiseluler,
tubuhnya tersusun atas puluhan
sampai trilyunan sel dengan massa
DNA yang saling terkait (Meilinda,
2017). Campbel (2003)
Gambar 8.1 Theophrastus mengungkapkan bahwa Istilah
Sumber: sciencephoto.com hereditas akan mengenalkan
terminologi Gen dan Alel sebagai
ekspresi alternatif yang terkait sifat. Setiap individu memiliki
sepasang alel yang khas dan terkait dengan tetuanya.
Pasangan alel ini dinamakan genotif apabila individu memiliki
pasangan alel yang sama maka individu tersebut bergenotipe
homozigot dan jika berbeda maka disebut heterozigot. Gen
didefinisikan sebagai interval sepanjang molekul-molekul DNA.
Sebagian besar gen membawa informasi yang dibutuhkan
dalam membuat protein. Manusia memiliki sel-sel dengan 46
164 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
kromosom, 2 seks kromosom, dan 22 pasang non seks
kromosom (autosom). Kromosom pada pria adalah ―46, XY‖
dan kromosom pada wanita adalah ―46, XX‖. Kromosom terdiri
atas kombinasi protein-protein dan molekul-molekul DNA yang
sangat Panjang (Tosida dan Utami, 2011).
Filsuf Yunani mempunyai bermacam ide tentang
hereditas, Theophrastus menyatakan bahwa bunga jantan
membuat bunga betina menjadi matang. Hipokrates juga
menduga bahwa benih diproduksi oleh berbagai anggota tubuh
dan diwariskan pada saat terjadi pembuahan. Pendapat
Aristoteles menyatakan bahwa semen jantan dan betina
bercampur pada saat pembuahan. Sedangkan Aeskhylus pada
tahun 458 SM mengajukan ide
bahwa pejantan adalah orang
sebenarnya dan betina adalah
perawat dari bayi yang disemai di
dalamnya. Teori hereditas paling
awal yang paling berpengaruh
adalah teori Preformation yang
menyatakan bahwa organisme yang
diwariskan akan mempertahankan
bentuknya dari satu generasi ke
generasi berikutnya, organisme
tersebut merupakan miniatur dari Gambar 8.2 Aristoteles
organisme dewasa dan telah Sumber: sciencephoto.com
terbentuk jauh sebelumnya
(Meilinda, 2017).
Skopek (2008) mengungkapkan bahwa Aristoteles (384-
323 SM) menyatakan bahwa organisme sederhana dapat
menjadi kompleks dan sempurna karena peristiwa metafisika,
sedang Lamarck menyatakan bahwa perubahan organisme
dipengaruhi lingkungan. Informasi-informasi tentang
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 165
mekanisme hereditas diajukan tanpa kuantifikasi dan kualifikasi
yang sesuai dan layak. Diantaranya menurut Grifitith & Stotz
(2013) bahwa pewarisan campuran dan pewarisan sifat
dapatan namun memvariasikan hewan dan tanaman domestik
yang dapat dikembangkan melalui selektif artificial.
Pada tahun 1892, Weissmann mengungkapkan bahwa tubuh
organisme mengandung dua jenis sel yaitu sel somatik dan
reproduksi. Sel somatik yang bertanggung jawab membentuk
tubuh dan berbagai jenis organ sedangkan sel reproduksi
membentuk sperma dan ovum. Sel somatik mengandung
―somatoplasma‖ sedang sel reproduksi mengandung plasma
nutfah. Plasma nutfah dapat membentuk somatoplasma tetapi
tidak sebaliknya. Hal ini di dapatkan berdasarkan praktikum
yang dilakukan Weissmann pada ekor
tikus yang dipotong pada beberapa
generasi, perubahan sel-sel somatik
karena lingkungan tidak dapat
mempengaruh sel-sel reproduksi dengan
percobaan tersebut Weissmann menolak
teori yang diungkapkan oleh
Lamarkisme. Teori Weissmann ini
menghadapi pertentangan akan tetapi
teori tersebut menjadi konsep dasar
Gambar 8.3 A Weismann pemahaman dan perkembangan
genetika modern selanjutnya (Downes,
Sumber: 2010).
sciencephoto.com
8.3. Paradigma dan Pergeseran Paradigma Teori
Hereditas Mendel
Paradigma merupakan konsesus bersama antara para
saintis tertentu yang menjadikannya memiliki corak yang
166 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
berbeda antara satu komunitas saintis dan komunitas saintis
lainnya. Varian paradigma yang berbeda-beda dalam dunia
ilmiah dapat terjadi karena latar belakang filosofis, teori dan
instrumen serta metodologi ilmiah yang digunakan sebagai
pisau analisisnya (Upe, Ambo & Damsyid, 2010). Paradigma
dapat didefinisikan sebagai bagian dari teori lama yang pernah
digunakan oleh saintis sebagai inspirasi dalam praktik ilmiah
sebagai acuan riset terdahulu dan dipaparkan berdasarkan dari
pengujian-pengujian dan interpretasi dari kaum saintis
berdasarkan metode ilmiah yang digunakan. Sehingga
memperoleh output paradigma yang dipakai sebagai
kesuluruhan manifestasi keyakinan, hukum, teori, nilai, teknik,
dan lain-lain yang telah diakui bersama anggota masyarakat
(Ulya & Abid, 2015).
Kuhn (1962) menyebutkan bahwa terdapat dua substansi
karakteristik utama pada paradigma dalam penelitian ilmiah
yaitu: pertama, menawarkan unsur baru tertentu yang menarik
pengikut keluar dari persaingan metode kerja dalam kegiatan
ilmiah sebelumnya; kedua, menawarkan pula persoalan-
persoalan baru yang masih terbuka dan belum terselesaikan.
Asumsi Kuhn ini lahir dari pandangan bahwa obyektivitas sains
tidak bersifat otoritatif dan hanya sebatas a justified final
detection (Kuhn, 1970). Asumsi Kuhn menjadi landasan bagi
paradigma epistimologi yang mengkritisi keyakinan manusia
bahwa sains merupakan representasi realitas. Epistimologi
sains menerima teori sains sebagai sebuah revolusi atas nama
kreasionisme, akibatnya akan selalu ada ruang otonomi dalam
sains untuk mencari kebenaran pada pertarungan paradigma
dan prediksi hingga saling mengisolasi teori yang satu dengan
yang lainnya. Maka dari itu, Susanto (2014) menyebutkan
bahwa serangkaian ide ini filsafat dari berbagai saintis ini
memberikan pandangan tentang evolusi atau revolusi
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 167
paradigma, normal sains, falsifikasi dan tradisi ilmiah penelitian
yang merupakan alat ukur kemajuan dari keilmuan sains
sehingga mempengaruhi perkembangan konsep teori hereditas
atau pra mendel dan pasca mendel. Paradigma ini
membimbing kegiatan kerja ilmiah dalam masa sains normal,
dimana saintis dan saintis berkesempatan menjabarkan dan
mengembangkan secara terperinci dan mendalam karena tidak
disibukan pada hal-hal yang mendasar (Sudarmin, 2016).
Pada awal abad ke-19, orang-orang umumnya percaya
bahwa spesies tidak berubah sejak diciptakan. Awan-awan
keraguan tentang ketidakberubahan spesies mulai mengumpul.
Namun tak seorang pun yang dapat memperkirakan terjadinya
badai petir di atas horizon. Bagaimana Charles Darwin menjadi
kilatan petir memicu pandangan revolusioner tentang
kehidupan?
Kata evolusi berasal dari Bahasa latin ―evolvere‖ yang
artinya berkembang, mekar. Oleh karena itu Hartono (1986)
mendefinisikan sebagai suatu proses perkembangan yang
maju dan meningkat setapak demi setapak dan tidak
mendadak. Dogma Darwin terkenal dengan teori evolusi. Teori
evolusi Darwin membantu dalam menerangkan pemikiran
mengenai evolusi yang terjadi di dunia saat ini dan merupakan
tonggak berkembangnya berbagai disiplin ilmu melalui inferensi
berdasarkan bukti empiris (Taufik, 2019). Darwin
mengungkapkan bahwa evolusi alam adalah bahwa spesies
makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan
tetapi diciptakan berdasarkan dari nenek moyang yang sama
dan menjadi berbeda satu sama lain akibat seleksi alam
(Sholichah, 2019). Teori Darwin tidak dapat menjelaskan
mengenai evolusi universal, dengan perkembangan teknologi
dan ilmu genetik tersebut melalui mikroskop yang lebih canggih
telah ditemukan organisme awal dengan kromosomnya. Dalam
168 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
kromosom tersebut dapat ditemukan gen-gen yang menjadi
penerus ciri-ciri yang diturunkan orang tua kepada anak dimana
kromosom dalam sel manusia ada 46 tersebut berasal dari
ayah 23 dan ibu 23, dari hasil sel manusia dan kromosom ini
dapat disimpulkan bahwa biji gandum tetap dihasilkan dari biji
gandum, dan dari manusia tetap lahir manusia (Snijders, 2019).
Charles Darwin (1809-1882) dilahirkan di Shrewsbury,
Inggris Barat. Sejak kecil ia sudah sangat tertarik pada alam.
Jika tidak sedang membaca buku tentang alam, ia memancing
berburu dan mengumpulkan serangga. Ayah Darwin seorang
dokter, beranggapan anaknya tidak punya masa depan sebagai
seorang naturalis dan mengirimkan Darwin ke sekolah
kedokteran di Edinburgh. Namun Darwin beranggapan
kedokteran membisankan dan proses operasi ketika metode
pembiusan belum diketemukan merupakan hal yang
mengerikan. Ia berhenti dari sekolah kedokteran dan mendaftar
ke Cambridge University, dengan niat menjadi pendeta (pada
saat itu di Inggris, banyak ahli sains yang merangkap sebagai
pendeta).
Di Cambridge, Darwin menjadi murid Reverend (pendeta)
John Henslow, seorang profesor botani. Segera setelah Darwin
lulus, Hensow merekomendasikannya kepada kapten Robert
FitzRoy, yang sedang menyiapkan kapal survei HMS Beagle
untuk perjalanan panjang mengelilingi dunia. Darwin akan
membayar sendiri kebutuhannya dan bertugas sebagai teman
mengobrol bagi sang kapten muda. FitzRoy menerima Darwin
karena latar belakang pendidikannya, dan karena mereka
berasal dari kelas sosial yang sama dan berusia sebaya.
Darwin bertolak dari Inggris dengan Beagle pada Desember
1831. Misi utama perjalanan itu adalah memetakan pesisir
Amerika Selatan yang kurang diketahui. Sementara awak kapal
menyurvei pesisir Darwin menghabiskan sebagian besar
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 169
waktunya di darat, mengamati dan mengumpulkan ribuan
tumbuhan dan hewan Amarika Selatan. Ia mengamati ciri-ciri
tumbuhan dan hewan yang membuat mereka dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang beranekaragam,
seperti hutan lembab di Brazil, padang rumput yang luas di
Argentina, dan puncak pegunungan Andes yang menjulang.
Darwin mengamati bahwa tumbuhan dan hewan di wilayah
beriklim sedang Amerika Selatan lebih mirip dengan spesies
yang hidup di wilayah tropis Amerika Selatan dibandingkan
dengan spesies yang hidup diwilayah beriklim sedang Eropa.
Lebih lanjut fosil-fosil yang ia temukan, walaupun jelas berbeda
dari spesies yang masih ada, menunjukan kekhasan Amerika
Selatan karena mirip dengan organisme yang masih ada di
benua tersebut.
Darwin juga menghabiskan banyak waktu untuk
memikirkan geologi selama pelayaran tersebut. Meskipun
sering mabuk laut ia membaca Principles Of Geology karya
Lyell sewaktu berlayar di atas Beagle. Ia mengalami sendiri
perubahan geologi ketika gempa bumi yang kuat mengguncang
Chili. Ia kemudian mengamati bahwa bebatuan di sepanjang
pesisir terdorong ke atas sejauh beberapa kaki. Darwin, yang
menemukan fosil organisme laut jauh di ketinggian Andes,
menyimpulkan bahwa bebatuan yang mengandung fosil-fosil
tersebut pastilah terangkat ke atas oleh serangkaian gempa
semacam itu. Pengamatan-pengamatan ini mempertegas hal
yang ia pelajari dari Lyell : bukti fisik tidak mendukung
pandangan tradisional bahwa bumi yang statis hanya berumur
beberapa ribu tahun. Pada juni 1858, prediksi Lyell menjadi
kenyataan, Darwin menerima manuskrip dai Alfred Russel
Wallace (1823-1913), seorang naturalis Inggris yang bekerja di
Hindia Belanda (sekarang Indonesia), yang telah
mengembangkan hipotesis seleksi alam mirip hipotesis Darwin.
170 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Wallace meminta Darwin untuk mengevaluasi makalahnya dan
ameneruskan ke Lyell untuk mengetahui apakah makalah
tersebut pantas diterbitkan. Lyell membacakan makalah
Wallace bersamai potongan esai Darwin di depan Linnean
Society di London 1 Juli 1858. Darwin menyelesaikan bukunya
On The Origin Of Spesies By Means Of Natural Selection
(mengenai asal-usul spesies akibat seleksi alam), dan
menerbitkannya pada tahun berikutnya. Walaupun Wallace
telah mengirimkan gagasannya untuk diterbitkan terlebih
dahulu, ia mengagumi Darwin dan berpikir bahwa Darwin telah
mengembangkan gagasan seleksi alam dengan sedemikian
ekstensif sehingga Darwin lah yang harus diakui sebagai
arsitek utamanya. Darwin menyadari kesatuan dalam
kehidupan, yang dinyatakan sebagai akibat dari semua
organisme yang diturunkan dari satu nenek moyang yang hidup
di masa lalu. Ia juga berpikir bahwa karena keturunan dari
organisme nenek moyang tersebut hidup didalam berbagai
habitat selama jutaan tahun, mereka telah mengakumulasi
berbagai macam modifikasi, atau adaptasi, yang membuat
mereka sesuai dengan cara hidup spesifik. Darwin menalar
bahwa dalam jangaka waktu yang amat panjang, penurunan
dengan modifikasi pada akhirnya menyebabkan tingginya
keanekaragaman makhluk hidup yang kita lihat sekarang.
Darwin memandang sejarah kehidupan sebagai pohon,
dengan banyak cabang dari batang bersama menuju ke ujung-
ujung ranting termuda. Ujung-ujung ranting tersebut
mencerminkan keanekaragaman organisme yang ada saat
ini.setiap percabangan pada pohon mencerminkan nenek
moyang dari semua garis evolusi yang kemudianbercabang
dari titik tersebut. Spesies yang berkerabat dekat misalnya
gajah Asia dan gajah Afrika, sangat mirip sebab mereka berada
pada garis keturunan yang sama sebelum baru-bau ini
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 171
memisah dari nenek moyang bersama mereka. Tujuh garis
keturunan gajah yang berkerabat telah punah dalam 30 juta
tahun terakhir.
Darwin mengajukan sebuah mekanisme seleksi alam,
untuk menjelaskan pola-pola evolusi yang teramati. Ia
menyusun argumen secara hati-hati, untuk meyakinkan
pembaca yang paling skeptis sekalipun. Pertama-tama ia
mendiskusika contoh-contoh umum dari tumbuhan dan hewan
peliharaan hasil pembiakan selektif. Manusia telah
memodifikasi spesies lain selama beberapa generasi dengan
cara menyeleksi dan membiakan individu yang memiliki sifat
yang diinginkan (seleksi buatan). Akibat dari seleksi buatan,
tanaman pangan dan hewan yang dibiakan sebagai ternak atau
ahewan peliharaan seringkali amat berbeda dari nenek
moyangnya di alam bebas. Darwin menyadari hubungan
penting anatara seleksi alam dan kemampuan organisme untuk
menghasilkan keturunan secara berlebih. Ia mulai menyadari
hubungan ini setelah membaca esai Thomas Maltus yang
menyatakan bahwa banyak penderiataan manusia (penyakit),
kelaparan, perang, adalah konsekuensi yang tak terhindarkan
dari potenssi populasi manusia untuk meningkat lebih cepat
daripada ketersediaan makanan dan seumebr daya lain.
Darwin menyadari kapasitas untuk menghasilkan keturunan
secara berlenbih merupakan karakterisitik semua spesies. Dari
banyak telur yang dihasilkan, anak yang dilahirkan, dan biji
yang disebarkan, hanya sekian persen yang menuntaskan
perkembangan mereka dan menghasilkan keturunan sendiri.
Sisanya dimakan, mati kelaparan, mati sakit, tidak kawin, atau
tidak mampu bertoleransi terhadap kondisi fisik lingkungan
seperti kadar garam atau suhu.
Pergeseran teori-teori pra-Mendel (terutama teori evolusi
Darwin) dikuatkan dengan beberapa bukti dari pendapat ahli.
172 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
Teori hereditas Mendel muncul karena beberapa teori tidak
dapat dijelaskan dan terlihat mustahil. Menurut Salisbury
(1971), seorang ahli biologi evolusionis, mengemukakan
pernyataan probabilitas pembentukan secara kebetulan satu
gen saja dari 200.000 gen yang menyusun DNA adalah begitu
rendahnya, sehingga disebut mustahil pun masih terlalu lemah.
Probabilitas dari pembentukan secara kebetulan dari kode
sebuah protein rata-rata dalam tubuh manusia pada DNA
dengan sendirinya adalah 1 banding 1 diikuti oleh 600 angka
nol.
Penelitian empiris tentang hereditas dimulai ketika
penelitian Mendel (1822-1844) ditemukan kembali oleh Hugo
De Vries dan Erich Tshermark secara terpisah pada tahun
1900 (Allen, 2003). Sebenarnya Mendel bukanlah orang yang
pertama kali melakukan percobaan-percobaan persilangan.
Sejumlah percobaan yang terdokumentasi telah dilakukan
sebelum masa Mendel diantaranya adalah: a) pembuatan
Raphanobrassica melalui pesilangan lobak dan kubis pada
abad ke 17 oleh Kohlreuter yang bertujuan untuk menghasilkan
tanaman yang memiliki lobak sebagai umbinya dan kubis di
atas tanah dan penelitian ini tidak berhasil dilakukan; b)
Penemuan dan penjelasan tentang pembuahan ganda pada
tumbuhan berbunga (Magnoliophyta) oleh E. Strassburger
(1878) dan S Nawaschin (1898); c) Percobaan terhadap ribuan
persilangan olah Charles Darwin pada abad ke-19 yang
dipublikasi pada tahun 1896 dengan judul ―The variation of
animal and plant under domestication” pada percobaan
tersebut Darwin menemukan adanya penurunan tampilan pada
generasi hasil perkawinan sekerabat (depresi inbreed) dan
penguatan penampilan pada persilangan antar inbreed
(heterosis) meski Darwin tidak mampu memberikan
penjelasan.; d) Usaha menjelaskan kemiripan oleh Karl
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 173
Pearson melalui metode regresi yang kemudian menjadi dasar
dari teknik statistik modern (Sandler, 2000). Mendel mampu
mengamati keseluruhan sifat yang kompleks dan menemukan
pola pewarisan tersebut sifat demi sifat sehingga mudah untuk
diikuti (Sandler, 2005). Karya Mendel tentang pola pewarisan
sifat ini dipublikasikan pada tahun 1966 pada Proceeding of the
Brunn Society for Natural History dan baru ditemukan kembali
30 tahun setelahnya (tahun 1900). Peristiwa ini menandai era
dari genetika klasik (Downes, 2010).
Perkembangan teori hereditas lebih lanjut pasca Mendel
terjadi ketika Walter S Sutton dan T Boveri secara terpisah
mengembangkan riset tentang perilaku kromosom dalam
pembelahan sel tubuh dan sel kelamin serta mengemukakan
adanya keterpautan gen (gen lingkage). Istilah gen sendiri
mula-mula digunakan oleh ahli genetika Denmark, Johansen
pada tahun 1906 sebagai nama bagian dari satuan pewarisan
sifat yang dipostulatkan oleh Mendel. Menjelang 1940-an,studi
genetika berkembang pesat dan pada saat itu telah dipastikan
bahwa pembawa faktor-faktor keturunan ialah kromosom dalam
sel dan istilah gen digunakan untuk unit-unit pembawa faktor
keturunan dalam kromosom. Di tahun 1944 tiga orang saintis
lainnya dari Amerika yaitu Avery, Leod dan Mc. Carty
menunjukkan bahwa bakteri melakukan perpindahan faktor
hereditas melalui DNA, dalam penelitian tersebut mereka
mengekstrak sel bakteri yang gagal mentransformasi sel
bakteri lainnya kecuali jka DNA dalam ekstrak dibiarkan utuh.
Eksperimen Hersey dan Chase membuktikan hal yang sama
dengan menggunakan pencari jejak radioaktif (radioactive
tracers). Misteri yang belum terpecahkan pada periode ini ialah
bagaimana struktur DNA sehingga ia mampu bertugas sebagai
materi genetik. Persoalan ini kemudian dijawab oleh Crick dan
Watson berdasarkan hasil difraksi sinar X DNA oleh Wilkins
174 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
dan Franklin hingga kemudian hari Crick, Watson dan Wilkin
mendapatkan hadiah Nobel kedokteran pada tahun 1962 atas
penemuan-penemuan di atas.
Pada konsep Mendelism, suatu gen digambarkan sebagai
unit penurunan sifat yang memiliki ciri-ciri tersendiri dan
mempengaruhi karakter fenotifnya. Sementara itu Morgan dan
koleganya menempatkan gen dalam lokus-lokus tertentu di
kromosom sedangkan ahli genetika berikutnya menggunakan
lokus sebagai nama lain dari gen.Penemuan terbarutentang
karakter DNA dan gen oleh Tomas Lindahl, Paul Modrich dan
Aziz Sancar (Kresge, Simoni & Robert, 2009) yang
memperoleh Nobel pada tahun 2015 menunjukkan bahwa
molekul DNA meski rentan mengalami mutasi tetapi memiliki
kemampuan untuk memperbaiki dirinya. Lindahl menemukan
bahwa enzim glikolase berperan untuk menemukan kecacatan
pada sitosin, ketika sitosin kehilangan amino dan berubah
menjadi basa urasil enzim glikolase akan mengkoreksinya.
Sementara itu Sancar berhasil mengungkapkan ―bengkel
molekuler‖ namun dalam skenario yang berbeda, Sancar
menemukan bahwa enzim eksinuklease mampu mendeteksi
kelainan pada sel yang rusak akibat sinar ultraviolet selanjutnya
DNA polimerase dan DNA ligase menyempurkan hasil koreksi
dari enzim eksinuklease tersebut [Kresge, Simoni, & Robert,
(2009); Hughes & Ellington, (2017); BBC, (2005).
Fakta-fakta baru yang ditemukan pasca-Mendel
mengakibatkan hingga saat ini terdapat tiga paradigma dalam
memandang variasi hereditas yaitu: a) Hard heredity; b) Soft
heredity dan c) new sintesis of heredity (Falk, 2015). Ketiga
pandangan ini memfasilitasi gen dan lingkungan sebagai faktor
variasi hereditas pada individu dengan Haryad hereditas lebih
cenderung pada paradigma Mendelism, soft heredity lebih
cenderung pada pasca-Mendel sedangkan new sintesis
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 175
heredity merupakan paradigma baru yang dianut oleh Lindahl,
Modrich dan Sancar (Lindahl, Modrich & Sancar, 2015).
8.4. Ontologi Hakikat Teori Hereditas menurut
Mendel
Penemuan hukum hereditas oleh Mendel (1866) pada
perkembangan mempengaruhi cabang ilmu dan konsep
penting dalam biologi seperti evolusi, perkembangan embrio
makhluk hidup dan biologi molekuler bahkan bidang sosial.
Diskusi hereditas yang paling menarik dibidang sosial terjadi
pada tahun 1970-an sampai 1980-an pada topik IQ dan ras
(Mehler, 1996). Salah satu cabang ilmu Biologi yang
berpengaruh besar setelah ditemukannya hukum Mendel ialah
teori evolusi Darwin.
Pada masa pra-Mendel, teori yang berpengaruh yaitu teori
evolusi Darwin. Darwin dalam On the Origin of Species (1859)
menyatakan dua hal penting dalam teori evolusi yaitu: a)
Spesies-spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies
nenek moyangnya di masa lalu; b) perkembangan spesies
dipengaruhi oleh seleksi alam dan variasi antar populasi
(Darwin, 2015). Kasus terkait seleksi alam mengenai paruh
burung Finch merupakan hasil adaptasi evolusioner yang lama.
Darwin beranggapan bahwa hasil adaptasi tersebut berasal
dari makanan yang dimakan oleh burung finch. Keluarga Grant
(1980) menemukan bahwa ketebalan rata-rata paruh (jarak
antara paruh atas dan paruh bawah pada populasi burung
tersebut berubah seiring dengan berubahnya tahun. Saat
musim kering ketebalan ratarata paruh meningkat, kemudian
mengecil kembali saat musim hujan. Sifat tersebut merupakan
sifat yang dapat diturunkan. Keluarga Grant mengaitkan
perubahan itu dengan ketersediaan relatif biji-bijian kecil dari
tahun ke tahun. Burung-burung dengan paruh yang lebih kuat
176 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
mungkin memiliki keuntungan lebih selama musim kering,
ketika kelangsungan hidup dan reproduksi bergantung pada
kemampuan untuk memecah biji-bijian besar. Sebaliknya para
saintis telah menunjukkan pada kita bahwa seleksi alam
merupakan suatu mekanisme perubahan dalam populasi yang
terus terjadi: proses itu telah diperkuat secara berulang-ulang
melalui kajian ilmiah yang cermat, di mana prediksi
berdasarkan hipotesis diuji melalui pengamatan dan
percobaan.
Hal tersebut didukung pula oleh Campbell (2003) evolusi
paruh pada salah satu burung finch yang dibahas Darwin.
Burung finch darat berukuran sedang (Geospiza fortis), salah
satu dari burung yang ditemukan Darwin di kepulauan
Galapagos, menggunakan paruhnya yang kuat untuk memecah
dan menghancurkan biji-bijian. Jika diberikan kesempatan
untuk memilih biji-bijian besar atau biji-bijian kecil, burung itu
akan memilih biji-bijian kecil yang lebih mudah dipecahkan.
Selama tahun-tahun basah (banyak hujan), biji-bijian kecil
dihasilkan sangat berlimpah sehingga burung finch darat relatif
mengkonsumsi hanya sedikit biji-bijian besar. Akan tetapi,
selama tahun-tahun kering (kemarau) ketersediaan semua biji-
bijian menjadi berkurang, dan burung-burung itu secara
proporsional memakan lebih banyak biji-bijian besar.
Perubahan dalam pola ketersediaan makanan ini berhubungan
dengan perubahan dalam rata-rata ketebalan (dimensi dari atas
ke bawah) paruh burung tersebut. Sifat ini diwariskan dan
bukan didapatkan (misalnya dengan penggunaan paruh itu
untuk biji-bijian besar). Penjelasan yang paling mungkin adalah
burung-burung yang kebetulan memiliki paruh yang lebih kuat
memiliki keuntungan dalam hal makanan dan dengan demikian
memiliki keberhasilan reproduksi yang lebih besar selama
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 177
masa kering, burung-burung itu akan menurunkan gen untuk
paruh yang lebih tebal sampai ke keturunannya.
Teori evolusi Darwin berhasil meyakinkan sebagian besar
ahli biologi bahwa variasi telah mengarah pada evolusi
hereditas, tetapi kurang berhasil menyakinkan mereka bahwa
seleksi alam merupakan mekanisme utamanya. Darwin tidak
menawarkan penjelasan yang tepat tentang kemunculan
spesies baru hingga kemudian teori hereditas Mendel yang
bersifat empiris menutupi kekurangan teori evolusi Darwin dan
ini terjadi pada teori-teori lain yang muncul setelahnya (Zalta,
2010; Bounduriansky, 2012). Teori hereditas Mendel muncul
karena beberapa teori tidak dapat dijelaskan dan terlihat
mustahil. Menurut seorang ahli biologi evolusionis bernama
Salisbury (1971) mengemukakan pernyataan probabilitas
pembentukan secara kebetulan satu gen saja dari 200.000 gen
yang menyusun DNA adalah begitu rendahnya, sehingga
disebut mustahil pun masih terlalu lemah. Probabilitas dari
pembentukan secara kebetulan dari kode sebuah protein rata-
rata dalam tubuh manusia pada DNA dengan sendirinya adalah
1 banding 1 diikuti oleh 600 angka nol.
Pendapat para Evolusionis tidak dapat menjelaskan
bagaimana informasi di dalam DNA berasal mula dan
bagaimana DNA berbeda dalam setiap spesies. Sementara
para evolusionis tidak dapat sama sekali menjelaskan
bagaimana DNA berasal mula, masih ada poin lain di mana
mereka menghadapi jalan buntu. Bagaimana ikan, reptil,
burung, manusia dan sebagainya dapat memiliki DNA yang
berbeda dan jenis informasi yang berbeda?. Para evolusionis
menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa
kandungan informasi dalam DNA berkembang dan mengalami
diversifikasi perlahan-lahan melalui peristiwa-peristiwa
kebetulan. Peristiwa kebetulan yang mereka rujuk adalah
178 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
―mutasi‖. Mutasi adalah perubahan yang berlangsung di dalam
DNA sebagai akibat dari radiasi atau reaksi kimia. Kadangkala
radiasi radioaktif terjadi pada rantai DNA dan merusak atau
memindahkan beberapa pasangan basa di dalamnya. Menurut
para evolusionis, makhluk hidup telah mencapai bentuk mereka
yang sempurna sekarang sebagai hasil diversifikasi dari
sebuah DNA tunggal karena mutasi-mutasi ini (yakni,
kecelakaan). Pertanyaan bagaimana molekul yang dirancang
secara luar biasa seperti DNA berasal mula adalah salah satu
dari ribuan jalan buntu yang dihadapi evolusionis. Karena
berusaha keras menjelaskan kehidupan melalui ―peristiwa
kebetulan‖, teori evolusi tidak pernah dapat menjelaskan
sumber dari informasi luar biasa yang begitu sempurna dan
cermat dikodekan di dalam DNA. Teori-teori ini dapat dikatakan
sebagai teori Hereditas Pra-Mendel.
Filsuf Yunani mempunyai bermacam ide tentang
hereditas, Theophrastus menyatakan bahwa bunga jantan
membuat bunga betina menjadi matang Hipokrates menduga
bahwa ―benih‖ diproduksi oleh berbagai anggota tubuh dan
diwariskan pada saat terjadi pembuahan sementara Aristoteles
menyatakan bahwa semen jantan dan betina bercampur pada
saat pembuahan. Aeskhylus pada tahun 458 SM mengajukan
ide bahwa pejantan adalah orang sebenarnya dan betina
adalah perawat dari bayi yang disemai di dalamnya (Meilinda,
2017). Bermacam mekanisme hereditas diajukan tanpa
dikuantifikasi dengan layak beberapa diantaranya tentang
pewarisan campuran dan pewarisan sifat dapatan namun
memvariasikan hewan dan tanaman domestik yang dapat
dikembangkan melalui selektif artificial (Griffiths & Stotz, 2013).
Selanjutnya penemuan ―binatang kecil‖ oleh Antoine Van
Leeuwenhoek (1632-1723) menjadi dasar dari teori ―spermis‖
yang dilanjutkan dengan teori lainnya yang bertentangan yaitu
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 179
teori ―Ovis‖ sedang ide yang kelihatan menyatukan kedua teori
tersebut ialah pangenesis. Pangensis menyatakan bahwa pria
dan wanita membentuk sebuah ―pangen‖ dalam setiap organ
tubuhnya. Pangen tersebut kemudian berjalan ke alat kelamin
melalui darah. Secara umum ide ini sama dengan ide awal
filsuf Yunani kuno dan mempengaruhi konsep hereditas sampai
seratus tahun hingga kemudian Francis Galton melakukan
percobaan yang berhasil membatah ide pangenesis tersebut
pada tahun 1870 (Bourrat, 2014).
Penelitian empiris tentang hereditas dimulai ketika
penelitian Mendel (1822-1844) ditemukan kembali oleh Hugo
De Vries dan Erich Tshermark secara terpisah pada tahun
1900 (Allen, 2003). Sebenarnya Mendel bukanlah orang yang
pertama kali melakukan percobaan-percobaan persilangan.
Sejumlah percobaan yang terdokumentasi telah dilakukan
sebelum masa Mendel diantaranya adalah: a) pembuatan
Raphanobrassica melalui pesilangan lobak dan kubis pada
abad ke 17 oleh Kohlreuter yang bertujuan untuk menghasilkan
tanaman yang memiliki lobak sebagai umbinya dan kubis di
atas tanah dan penelitian ini tidak berhasil dilakukan; b)
Penemuan dan penjelasan tentang pembuahan ganda pada
tumbuhan berbunga (Magnoliophyta) oleh McCauley et al.
(2009) dan S Nawaschin (1898); c) Percobaan terhadap ribuan
persilangan olah Charles Darwin pada abad ke-19 yang
dipublikasi pada tahun 1896 dengan judul ―The variation of
animal and plant under domestication” pada percobaan
tersebut Darwin menemukan adanya penurunan tampilan pada
generasi hasil perkawinan sekerabat (depresi inbreed)dan
penguatan penampilan pada persilangan antar inbreed
(heterosis) meski Darwin tidak mampu memberikan
penjelasan.; d) Usaha menjelaskan kemiripan oleh Karl
Pearson melalui metode regresi yang kemudian menjadi dasar
180 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
dari teknik statistik modern (Sandler, 2000). Mendel mampu
mengamati keseluruhan sifat yang kompleks dan menemukan
pola pewarisan tersebut sifat demi sifat sehingga mudah untuk
diikuti (Sandler, 2005). Karya Mendel tentang pola pewarisan
sifat ini dipublikasikan pada tahun 1966 pada Proceeding of the
Brunn Society for Natural History dan baru ditemukan kembali
30 tahun setelahnya (tahun 1900). Peristiwa ini menandai era
dari genetika klasik (Downes, 2010).
Perkembangan teori hereditas lebih lanjut pasca Mendel
terjadi ketika Walter. S Sutton dan T. Boveri secara terpisah
mengembangkan riset tentang perilaku kromosom dalam
pembelahan sel tubuh dan sel kelamin serta mengemukakan
adanya keterpautan gen (gen lingkage). Istilah gen sendiri
mula-mula digunakan oleh ahli genetika Denmark, Johansen
pada tahun 1906 sebagai nama bagian dari satuan pewarisan
sifat yang dipostulatkan oleh Mendel. Menjelang 1940-an, studi
genetika berkembang pesat dan pada saat itu telah dipastikan
bahwa pembawa faktor-faktor keturunan ialah kromosom dalam
sel dan istilah gen digunakan untuk unit-unit pembawa faktor
keturunan dalam kromosom. Di tahun 1944 tiga orang saintis
lainnya dari Amerika yaitu Avery, Leod dan Mc. Carty
menunjukkan bahwa bakteri melakukan perpindahan faktor
hereditas melalui DNA, dalam penelitian tersebut mereka
mengekstrak sel bakteri yang gagal mentransformasi sel
bakteri lainnya kecuali jika DNA dalam ekstrak dibiarkan utuh.
Eksperimen Hersey dan Chase membuktikan hal yang sama
dengan menggunakan pencari jejak radioaktif (radioactive
tracers). Misteri yang belum terpecahkan pada periode ini ialah
bagaimana struktur DNA sehingga ia mampu bertugas sebagai
materi genetik. Persoalan ini kemudian dijawab oleh Crick dan
Watson berdasarkan hasil difraksi sinar X DNA oleh Wilkins
dan Franklin hingga kemudian hari Crick, Watson dan Wilkin
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 181
mendapatkan hadiah Nobel kedokteran pada tahun 1962 atas
penemuan-penemuan di atas.
8.5. Nilai Aksiologi setelah mempelajari paradigma
teori Pra-Mendel dan Pasca-Mendel
Menurut Suriasumantri (2007) aksiologi adalah teori nilai
yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di
peroleh. Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia (1995)
aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan
manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika. Sehingga
dapat dinyatakan bahwa aksiologi adalah suatu teori tentang
nilai yang berkaitan dengan bagaimana suatu ilmu digunakan.
Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia
untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang
dinilai, dan mengacu pada permasalahan etika dan estetika.
Etika menilai perbuatan manusia dalam norma-norma
kesusilaan manusia, tingkah laku manusia dalam suatu kondisi
yang normative. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai
tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia
terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
Dari sisi aksiologis atau nilai dan manfaat yang terapkan
dari teori Pra-Mendel secara umum memiliki manfaat dari sudut
pandang perkembangan pengetahuan. Perdebatan yang
selama ini terjadi disebabkan karena keterbatasan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Namun seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, teori evolusi pun mengalami
perkembangan menurut masanya (Taufik, 2019). Teori dan
pemikiran Charles Darwin mengenai evolusi makhluk hidup
menggunakan kajian secara ontologi dan epistemologi, karena
hasil pemikiran Charles Darwin berdasarkan pengamatan-
pengamatan yang ia lakukan lalu dianalisa dan munculah
konsep adaptasi dan seleksi alam. Darwin menggunakan
182 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
paradigma positivistik karena teori evolusi mahkluk hidup
berlandaskan data-data empiris, dapat diobservasi secara
nyata, dan dibuktikan secara ilmiah. Dimensi dinamis dalam
sains digambarkan oleh lahirnya teori evolusi makhluk hidup
melalui metode ilmiah yang menggambarkan sains sebagai
sebuah proses. Hal ini memberikan produk berupa teori evolusi
Darwin sebagai produk dari pengkajian fenomena alam secara
ilmiah. Sesuai dengan pernyataan Firman (2019) bahwa sains
pada hakikatnya merupakan proses dan produk dimana produk
sains adalah hasil dari proses sains itu sendiri. Ilmu
pengetahuan haruslah terbuka pada konteksnya, dan
agamalah yang menjadi konteksnya itu. Agama mengarahkan
ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yakni memahami
realitas alam, dan memahami eksistensi Allah, agar manusia
menjadi sadar pada hakikat penciptaan dirinya, dan tidak
mengarahkan ilmu pengetahuan ―melulu‖ pada praxis, pada
kemudah-mudahan material duniawi saja (Sastria, 2016).
Sebagai seorang yang memegang agama, maka agama
yang menjadi konteksnya. Agama mengarahkan ilmu
pengetahuan pada tujuan yang hakiki. Yakni memahami
realitas alam dan memahami eksistensi Allah. Dan sebagai
manusia menjadi sadar pada hakikat penciptaan dirinya Teori
Pra-Mendel belum selaras dengan Alquran. Maka dari itu dari
sisi aksiologis setelah mempelajari dogma Darwin dapat kita
ambil sikap untuk selalu bersyukur terhadap apa yang diberikan
kepada kita. Proses evolusi makhluk hidup masih terus
berlanjut hingga saat ini dan sejalan dengan seleksi alam yang
terjadi, maka dari itu mengandung makna upaya selalu
meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di bumi dan
kebahagiaan di akhirat serta mmengandung usaha keras untuk
meraih kehidupan yang lebih baik. Untuk itu, perlu adanya
tinjauan lebih mendalam mengenai aksiologi teori darwin. Pada
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 183
dasarnya teori darwin menitikberatkan pada proses seleksi
alam dan adaptasi makhluk hidup bukan pada perubahan
morfologis manusia. Aksiologi perlu diperdalam terkait isu
penggunaannya di tengah masyarakat agamis.
Sedangkan teori-teori pasca-Mendel menyebutkan Fakta-
fakta baru yang mengakibatkan hingga saat ini terdapat tiga
paradigma dalam memandang variasi hereditas yaitu: a) Hard
heredity; b) Soft heredity dan c) new sintesis of heredity (Falk,
2015). Ketiga pandangan ini memfasilitasi gen dan lingkungan
sebagai faktor variasi hereditas pada individu dengan Haryad
hereditas lebih cenderung pada paradigma Mendelism, soft
heredity lebih cenderung pada pasca-Mendel sedangkan new
sintesis heredity merupakan paradigma baru yang dianut oleh
Lindahl, Modrich dan Sancar (2015). Sebagai seorang yang
memegang agama, maka agama yang menjadi konteksnya.
Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan yang
hakiki. Yakni memahami realitas alam dan memahami
eksistensi Allah. Dan sebagai manusia menjadi sadar pada
hakikat penciptaan dirinya Teori Pasca-Mendel beberapa
penemuannya selaras dengan Alquran. Secara aksiologis
tentang belajar tentang perkembangan-perkembangan teori
pasca Mendel sangatlah penting guna kemaslahatan
masyarakat dewasa ini. Secara umum, belajar Genetika
menjadi kegiatan keilmuan yang merupakan proses terus
menerus sebagaimana akumulasi eksplanasi ilmiah menuju
tujuan yang lebih baik.
8.6. Tokoh Saintis Penguat Paradigma
Pergeseran teori-teori pra-Mendel (terutama teori evolusi
Darwin) dikuatkan dengan beberapa bukti dari pendapat ahli.
Penelitian empiris tentang hereditas dimulai ketika;
184 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
1. Penelitian Mendel (1822-1844) ditemukan kembali oleh
Hugo De Vries dan Erich Tshermark secara terpisah pada
tahun 1900 (Allen, 2003). Mendel mampu mengamati
keseluruhan sifat yang kompleks dan menemukan pola
pewarisan tersebut sifat demi sifat sehingga mudah untuk
diikuti (Sandler, 2005). Karya Mendel tentang pola
pewarisan sifat ini dipublikasikan pada tahun 1966 pada
Proceeding of the Brunn Society for Natural History dan
baru ditemukan kembali 30 tahun setelahnya (tahun
1900).
2. Walter S Sutton dan T Boveri, melakukan penelitian
secara terpisah dengan cara mengembangkan riset
dengan pengamatan perilaku kromosom dalam
pembelahan sel tubuh dan sel kelamin serta
mengemukakan adanya keterpautan gen (gen lingkage).
3. Avery, Leod dan Mc. Carty adalah saintis dari Amerika
dan pada tahun 1944 menunjukkan bahwa bakteri
melakukan perpindahan faktor hereditas melalui DNA,
dalam penelitian tersebut mereka mengekstrak sel bakteri
yang gagal mentransformasi sel bakteri lainnya kecuali jka
DNA dalam ekstrak dibiarkan utuh. Eksperimen Hersey
dan Chase membuktikan hal yang sama dengan
menggunakan pencari jejak radioaktif (radioactive tracers).
Misteri yang belum terpecahkan pada periode ini ialah
bagaimana struktur DNA sehingga ia mampu bertugas
sebagai materi genetik. Persoalan ini kemudian dijawab
oleh Crick dan Watson berdasarkan hasil difraksi sinar X
DNA oleh Wilkins dan Franklin hingga kemudian hari
Crick, Watson dan Wilkin mendapatkan hadiah Nobel
kedokteran pada tahun 1962 atas penemuan-penemuan
di atas.
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 185
4. Penemuan terbaru tentang karakter DNA dan gen oleh
Thomas Lindahl, Paul Modrich dan Aziz Sancar (2015)
yang memperoleh Nobel pada tahun 2015 menunjukkan
bahwa molekul DNA meski rentan mengalami mutasi
tetapi memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya.
Lindahl menemukan bahwa enzim glikolase berperan
untuk menemukan kecacatan pada sitosin, ketika sitosin
kehilangan amino dan berubah menjadi basa urasil enzim
glikolase akan mengkoreksinya. Sementara itu Sancar
berhasil mengungkapkan ―bengkel molekuler‖ namun
dalam skenario yang berbeda, Sancar menemukan bahwa
enzim eksinuklease mampu mendeteksi kelainan pada sel
yang rusak akibat sinar ultraviolet selanjutnya DNA
polimerase dan DNA ligase menyempurkan hasil koreksi
dari enzim eksinuklease tersebut (Kresge, 2009; Hughes
RA & Ellington., 2015; BBC, 2015).
Pandangan-pandangan teori Pra-Mendel dan Pasca-
Mendel masih bergulir dan terus menerus berkembang,
terutama penelitian-penelitian teori pasca Mendel. Mendel
menjadi tolak utama pergeseran teori evolusi Darwin yang
menyebutkan teori evolusi makhluk hidup. Pada Pra-Mendel,
variasi hereditas terjadi akibat percampuran antara kedua induk
yang diwariskan ke generasi berikutnya (Vapour and Liquid
Theory & Partikulat Theory) dan pendominasian salah satu
karakter orang tua terhadap keturunannya (preformation
Theory). Variasi yang terjadi pada generasi menurut pra-
Mendel terjadi karena pengaruh lingkungan (Lamark dan
Darwin) yang kemudian di wariskan dari generasi ke generasi.
Variasi yang terjadi pada skala individu ini yang akhirnya akan
mendorong pada proses evolusi (Darwin, 2015). Penolakan
hukum Mendel oleh pendukung paradigma pra-Mendel
186 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner
dikarenakan perbedaan gagasan proses terjadinya variasi
hereditas. Pendukung pra-Mendel memiliki perbedaan
paradigma terhadap terjadinya variasi hereditas yang
berdampak pada evolusi makhluk hidup yaitu akibat pengaruh
lingkungan atau karena faktorgen. Sementara menurut Mendel
evolusi akan terjadi bila terdapat mutasi dan menurut
percobaan Morgan, mutasi tidak menyebabkan evolusi tetapi
memperluas terjadinya variasi (Burian, 1985).
Pada konsep teori-teori yang muncul Pasca Mendel, suatu
gen digambarkan sebagai unit penurunan sifat yang memiliki
ciri-ciri tersendiri dan mempengaruhi karakter fenotifnya.
Sementara itu Morgan dan koleganya menempatkan gen
dalamlokus-lokus tertentu di kromosom sedangkan ahli
genetika berikutnya menggunakan lokus sebagai nama lain dari
gen. Evolusi lebih lanjut dari gen ialah ia dipandang sebagai
suatu daerah urutan nukleotida spesifik di sepanjang molekul
DNA sehingga pada akhirnya saintis menggunakan istilah gen
fungsional sebagai urutan DNA yang mengkode rantai
polipeptida atau molekul RNA (Hartl & Jones, 1998; Saefuddin,
2007; Campbell, 1999). Penemuan terbarutentang karakter
DNA dan gen oleh Thomas Lindahl, Paul Modrich dan Aziz
Sancar (2015) yang memperoleh Nobel pada tahun 2015
menunjukkan bahwa molekul DNA meski rentan mengalami
mutasi tetapi memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya.
Secara garis besar, pengetahuan ilmiah selalu
berkembang dan berubah berbanding lurus dengan
ditemukannya fakta-fakta baru. Hal ini karena tujuan sains ialah
untuk menggantikan gagasan-gagasan yang ada sehingga
progresif terhadap kebenaran. Sains kontingen terhadap
dinamika sejarah dan komunitas saintis sehingga kebenaran
ilmiah pun berubah-ubah secara revolusioner. Sains
merupakan pengetahuan ilmiah, terbentuk bukan hanya dari
Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner 187
akumulasi fenomena alam yang sistematik tetapi juga metode
dan sikap ilmiah. Sains juga sebagai produk yang mempelajari
hal-hal yang sudah temukan oleh saintis sebelumnya.
Perkembangan signifikan teori hereditas terjadi setelah
ditemukannya hukum Mendel, perbedaan signifikan antara pra-
mendel dan pasca-mendel ialah menguatnya kajian empiris
ketimbang rasionalis semata.
Hal ini memberikan hikmah kepada kita untuk selalu
memahami pergeseran paradigma Pra Mendel dan pasca
mendel. Belajar begaimana penemuan-penemuan itu dapat
akhirnya dicetuskan oleh saintis dengan melalui penelitian-
penelitian dan pengamatan yang lumayan memerlukan waktu
yang lama. Sebagaimana menurut pendapat Popper (1968),
teori-teori ilmiah selalu dan hanyalah bersifat hipotesis (dugaan
sementara) dan tidak ada kebenaran terakhir. Setiap teori
selalu terbuka untuk digantikan oleh teori yang lebih tepat,
dengan kata lain kebenaran hanyalah sementara, hal ini
disebutnya sebagai The Thesis of Futability.
188 Mengungkap Hakikat Paradigma Sains dan Pemikir Saintis Revolusioner