The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pembaca yang budiman, pada akhir Februari 2016, setelah Presiden
RI Joko Widodo menyatakan Indonesia Darurat Narkoba, beliau menginstruksi BNN (Badan Narkotika Nasional), Polri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kominfo, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, TNI, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Imigrasi, bekerjasama dan bersinerji memberantas peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba di Tanah Air.

Ikatan kerjasama dan sinerji tersebut digulirkan melalui Operasi Bersinar
(Berantas Sindikat Narkotika) yang digelar tanggal 21 Maret – 19 April 2016. Di lingkungan Polri, operasi tersebut dilaksanakan di 32 Polda dengan 19 Polda prioritas yaitu Polda Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Kepri, Lampung, Metro Jaya, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Kalbar, Kaltim, Kalsel, Kalteng, Sulut, Sultra, dan Sulsel, sedangkan Polda lain melaksanakan kegiatan kepolisian yang
ditingkatkan dengan sasaran kejahatan penyalahgunaan Narkoba.

Selain melakukan tindakan penindakan, Operasi Bersinar 2016 juga melakukan
penyuluhan dan rehabilitasi. Satgas Kampanye melakukan 388.812 kegiatan
penyuluhan sementara dari 1.347 pecandu, Satgas Rehabilitasi merekomendasi 1.195 pecandu untuk dirawat.

Apakah langkah sekali pukul serempak seperti ditunjukkan dalam operasi
besar ini telah menghapus kerisauan presiden yang juga menjadi kerisauan kita? Tentu saja tidak.

Sebab, operasi ini digelar terutama lebih untuk mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa bangsa Indonesia bisa lepas dari lilitan perdagangan gelap dan penyalahgunaan Narkoba, hanya jika mau bekerjasama dan bersinerji. Kerjasama dan sinerji inilah yang kemudian bisa membangkitkan kepedulian nasional terhadap bahaya perdagangan gelap dan penyalahgunaan Narkoba.

Lewat operasi besar ini, seluruh instansi yang terlibat mendapat pengalaman, betapa mahalnya kata, “koordinasi”, “bersinerji”, dan kata “berkelanjutan” (sustainable). Bukti bahwa seluruh instansi yang terlibat mampu mewujudkan hal tersebut, justru datang tahap demi tahap setelah Operasi Bersinar 2016 usai.

Mari kita buktikan bersama, bahwa ketiga kata tersebut terus bergulir makin
bertenaga, makin cepat, sampai bangsa ini bebas dari belitan Narkoba.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by edi ismail, 2020-01-20 10:07:00

OPERASI BERSINAR

Pembaca yang budiman, pada akhir Februari 2016, setelah Presiden
RI Joko Widodo menyatakan Indonesia Darurat Narkoba, beliau menginstruksi BNN (Badan Narkotika Nasional), Polri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kominfo, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, TNI, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Imigrasi, bekerjasama dan bersinerji memberantas peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba di Tanah Air.

Ikatan kerjasama dan sinerji tersebut digulirkan melalui Operasi Bersinar
(Berantas Sindikat Narkotika) yang digelar tanggal 21 Maret – 19 April 2016. Di lingkungan Polri, operasi tersebut dilaksanakan di 32 Polda dengan 19 Polda prioritas yaitu Polda Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Kepri, Lampung, Metro Jaya, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Kalbar, Kaltim, Kalsel, Kalteng, Sulut, Sultra, dan Sulsel, sedangkan Polda lain melaksanakan kegiatan kepolisian yang
ditingkatkan dengan sasaran kejahatan penyalahgunaan Narkoba.

Selain melakukan tindakan penindakan, Operasi Bersinar 2016 juga melakukan
penyuluhan dan rehabilitasi. Satgas Kampanye melakukan 388.812 kegiatan
penyuluhan sementara dari 1.347 pecandu, Satgas Rehabilitasi merekomendasi 1.195 pecandu untuk dirawat.

Apakah langkah sekali pukul serempak seperti ditunjukkan dalam operasi
besar ini telah menghapus kerisauan presiden yang juga menjadi kerisauan kita? Tentu saja tidak.

Sebab, operasi ini digelar terutama lebih untuk mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa bangsa Indonesia bisa lepas dari lilitan perdagangan gelap dan penyalahgunaan Narkoba, hanya jika mau bekerjasama dan bersinerji. Kerjasama dan sinerji inilah yang kemudian bisa membangkitkan kepedulian nasional terhadap bahaya perdagangan gelap dan penyalahgunaan Narkoba.

Lewat operasi besar ini, seluruh instansi yang terlibat mendapat pengalaman, betapa mahalnya kata, “koordinasi”, “bersinerji”, dan kata “berkelanjutan” (sustainable). Bukti bahwa seluruh instansi yang terlibat mampu mewujudkan hal tersebut, justru datang tahap demi tahap setelah Operasi Bersinar 2016 usai.

Mari kita buktikan bersama, bahwa ketiga kata tersebut terus bergulir makin
bertenaga, makin cepat, sampai bangsa ini bebas dari belitan Narkoba.

Pengarah arsip metro
Brigjen. Pol. Drs. Firli, M.Si.
Kombes. Pol. Drs. Eko Daniyanto, MM

Editor
Windoro Adi
0811 1880 403
0896 5136 7655
[email protected]

Tim Penulis
Windoro Adi
Asep Ananjaya
Theo Yonathan Laturiuw
Banu Adikara
Mohammad Yan Yusuf
dan kontributor lainnya

Foto
Windoro Adi
Asep Ananjaya
Theo Yonathan Laturiuw
Mohammad Yan Yusuf
dan kontributor lainnya

Karikatur
Didie SW

Penata Letak
Kuntoro

Tri Brata

1. Berbakti kepada nusa dan
bangsa dengan penuh
ketakwaan terhadap
Tuhan yang Maha Esa.

2. Menjunjung tinggi
kebenaran, keadilan
dan kemanusiaan
dalam menegakkan
hukum negara kesatuan
Republik Indonesia yang
berdasarkan pancasila
dan undang-undang dasar
1945.

3. Senantiasa melindungi,
mengayomi dan melayani
masyarakat dengan
keikhlasan untuk
mewujudkan keamanan
dan ketertiban.

i

ii operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Pengarah
Brigadir Jendral Polisi Drs. Firli, M.Si.
Kombes. Pol. Drs. Eko Daniyanto, MM

Editor
Windoro Adi

Tim Penulis
Windoro Adi
Asep Ananjaya
Theo Yonathan Laturiuw
Banu Adikara
Mohammad Yan Yusuf
dan Kontibutor lainnya

Karikatur
Didie SW

Penata Letak
Kuntoro

Diterbitkan pertamakali oleh:
ARSIP METRO

Cetakan Pertama: Juni 2016

ISBN: 978-602-74069-2-6

Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang keras mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta
Pasal 2 :
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta ata Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya,
yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan Perundang-
undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana
Pasal 72 :
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1)
dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00
(satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta).

iii

iv operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

pengantar v

kepala polri

Jendral Polisi
Drs. Badrodin Haiti

PAssalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
embaca yang budiman, pada akhir Februari 2016, setelah Presiden
RI Joko Widodo menyatakan Indonesia Darurat Narkoba, beliau
menginstruksi BNN (Badan Narkotika Nasional), Polri, Kementerian
Hukum dan HAM, Kementerian Kominfo, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, TNI,
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Imigrasi, bekerjasama dan bersinerji
memberantas peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba di Tanah Air.
Ikatan kerjasama dan sinerji tersebut digulirkan melalui Operasi Bersinar
(Berantas Sindikat Narkotika) yang digelar tanggal 21 Maret – 19 April 2016. Di
lingkungan Polri, operasi tersebut dilaksanakan di 32 Polda dengan 19 Polda
prioritas yaitu Polda Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Kepri, Lampung, Metro
Jaya, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Kalbar, Kaltim, Kalsel, Kalteng, Sulut, Sultra,
dan Sulsel, sedangkan Polda lain melaksanakan kegiatan kepolisian yang
ditingkatkan dengan sasaran kejahatan penyalahgunaan Narkoba.
Selain melakukan tindakan penindakan, Operasi Bersinar 2016 juga melakukan
penyuluhan dan rehabilitasi. Satgas Kampanye melakukan 388.812 kegiatan
penyuluhan sementara dari 1.347 pecandu, Satgas Rehabilitasi merekomendasi
1.195 pecandu untuk dirawat.
Apakah langkah sekali pukul serempak seperti ditunjukkan dalam operasi
besar ini telah menghapus kerisauan presiden yang juga menjadi kerisauan kita?
Tentu saja tidak.
Sebab, operasi ini digelar terutama lebih untuk mengingatkan seluruh elemen
bangsa bahwa bangsa Indonesia bisa lepas dari lilitan perdagangan gelap dan
penyalahgunaan Narkoba, hanya jika mau bekerjasama dan bersinerji. Kerjasama

vi operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

dan sinerji inilah yang kemudian bisa membangkitkan kepedulian nasional
terhadap bahaya perdagangan gelap dan penyalahgunaan Narkoba.

Lewat operasi besar ini, seluruh instansi yang terlibat mendapat
pengalaman, betapa mahalnya kata, “koordinasi”, “bersinerji”, dan kata
“berkelanjutan” (sustainable). Bukti bahwa seluruh instansi yang terlibat
mampu mewujudkan hal tersebut, justru datang tahap demi tahap setelah
Operasi Bersinar 2016 usai.

Mari kita buktikan bersama, bahwa ketiga kata tersebut terus bergulir makin
bertenaga, makin cepat, sampai bangsa ini bebas dari belitan Narkoba.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Jakarta, Juli 2016

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia

Drs. Badrodin Haiti
Jendral Polisi

vii

viii operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

pengantar ix

Wakil Kepala Polri

Komisaris Jendral Polisi
Drs. Budi Gunawan, S.H, M.Si, PhD

PAssalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
embaca yang berbahagia, Operasi Bersinar tanggal 21 Maret – 19 April
2016 yang dilakukan secara serempak di seluruh Tanah Air, sudah
usai. Sebanyak 979 bandar, dan pengedar ditangkap. Barang bukti
berupa 1.814,079 kilogram sabu, 381.767 butir ekstasi, 12.048,645 ton
ganja, dan bermacam jenis Narkoba lainnya, disita. Puluhan kampung
Narkoba yang tersebar di sejumlah Polda, telah ditertibkan.
Operasi Bersinar 2016 digelar setelah Presiden RI Joko Widodo menyatakan
perang terhadap bandar dan jaringan Narkoba. “Penanganan hukum terhadap
pelaku Narkoba harus lebih keras, lebih tegas pada jaringan yang terlibat
dengan sasaran bandar besar, jaringan besar, hasil besar, dan barang bukti dalam
jumlah besar. Tutup semua celah penyelundupan Narkoba,” tegas beliau.
Dalam amanatnya, presiden mengingatkan agar Polri, BNN, Kemenkumham,
Kemenkominfo, Kemenkes, Kemensos, TNI, Dirjen Bea dan Cukai, serta
pemerintah daerah setempat, menghilangkan ego sektoral dalam memberantas
peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba.
Sebagai langkah preemtif, beliau menyampaikan agar kampanye kreatif
mengenai bahaya Narkoba digencarkan, terutama terhadap generasi muda.
Sebagai langkah preventif beliau menyampaikan pengawasan keras terhadap
penjara. “Lakukan pengecekan rutin Lapas minimal sebulan sekali. Lakukan
pengecekan dadakan baik oleh BNN, dan Polri, di back up TNI,” tandas presiden.
Beliau juga mengingatkan agar rehabilitasi penyalahguna dan pecandu Narkoba
berjalan efektif sehingga mata rantai penyalahgunaan Narkoba benar-benar
terputus.
Pembaca yang budiman, banyak pengalaman yang diperoleh dari operasi

x operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

besar ini. Masing-masing instansi bukan hanya dikayakan oleh pengalaman
baru yang berharga, tetapi juga mendapat ruang mengevaluasi instansi masing-
masing.

Apa yang disampaikan Kapolri, Jenderan Badrodin Haiti, betapa mahalnya
kata, “koordinasi”, “bersinerji”, dan kata “berkelanjutan” (sustainable), tepat.
Kemampuan mewujudkan ketiga kata tersebut hanya bisa diperoleh jika seluruh
instansi terkait, berulangkali bekerjasama melakukan kerja kerja serupa Operasi
Bersinar 2016 walau mungkin dalam skala yang lebih kecil, skala kedaerahan.

Ada anggapan sebagian masyarakat bahwa soal peredaran gelap dan
penyalahgunaan Narkoba adalah urusan polisi. Jika polisi rajin menggelar operasi
penindakan, masalah akan selesai. Peran polisi seperti petugas pemadam
kebakaran. Begitu api padam, hiruk pikuk itu lenyap. Benarkah? Tentu saja tidak.

Ada bermacam masalah yang harus dituntaskan setelah penindakan
peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba selesai. Persoalan lapangan kerja,
persoalan kesehatan, persoalan mengubah perilaku dan lingkungan sosial lewat
rekayasa sosial (social engineering), persoalan pendidikan akademik, pendidikan
keluarga, pendidikan agama, dan masih banyak lagi persoalan yang muncul
kemudian dimana polisi kurang bahkan tidak memiliki kompetensi.

Membebaskan Indonesia dari belitan Narkoba berarti, melakukan tindakan
menyeluruh dari hulu ke hilir, dari menumpas (represif) – mencegah (preventif)
– menyuluh (preemptif). Hal tersebut hanya bisa dilakukan jika ada kerjasama
antar instansi seperti ditunjukkan pada Operasi Bersinar 2016.

Apakah Operasi Bersinar 2016 sudah lengkap sehingga bisa menjadi pola
untuk setiap kegiatan operasi serupa dalam skala yang berbeda? Bisa jadi
belum, tetapi setidaknya operasi tersebut menginspirasi langkah serupa
berikutnya, termasuk langkah perbaikan. Semua tergantung dari semangat
kerjasama seluruh instansi, dan tentu saja, kepedulian seluruh anak bangsa.

Saya percaya, rakyat Indonesia termasuk Polri dan instansi terkait, mampu
membebaskan negeri ini dari belitan Narkoba. Sebab, bangsa Indonesia adalah
bangsa yang religius. Mampu membedakan mana yang diridhoi dan mana yang
dilaknat Allah SWT.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Jakarta, Juli 2016

Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia

Drs. Budi Gunawan, S.H, M.Si, PhD
Komisaris Jendral Polisi

daftar isi xi

Daftar Isi

Pengantar Kepala Polri
Jendral Polisi Drs. Badrodin Haiti v

Pengantar Wakil Kepala Polri ix
Komisaris Jendral Polisi Drs. Budi Gunawan, S.H, M.Si, PhD

bab 1 10-11

Dari Hulu 1
Sampai Hilir
3
Pagi Buta di Kualanamu 14

360 Kilogram Sabu

In Memoriam Alda Risma 19
Elegi Zarima 25
Koja - Kalijodo 28
12-13

xii operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

bab 2 71

Menebar Kampung
Narkoba

76-77

Cerita tentang
34 Abdul Latif dan Jaringannya 79

Dikendalikan dari Penjara 35 Operasi Bersinar 86
Penjara yang Meluap 43 Semeru 2016

Candu di Tanah Jawa 57 Cerita dari Pulau Garam 95

Kampung Baru, 115
Gunung Bugis

120-121

Sabu di Perbatasan 141

Rumah-rumah Asap 171

Operasi Bersinar Toba 186

daftar isi xiii

bab 3

Operasi Bersinar 2016
221

Membersihkan Lantai, 227
Membersihkan Sapu

Patah Tumbuh 196
Hilang Berganti 197

228-229

Rehabilitasi, Penyuluhan 251

Jatuh Bangun 259
Kampung Ambon
198-199

Kampung Narkoba 209

260-261

bab 4

Penutup 281

208 Bak Liga Besar Sepak Bola 282

xiv operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

1

bab 1

Dari hulu sampai hilir Narkoba mengalir deras,
menggenangi pemukiman, gedung-perkantoran sampai
bilik bilik madat sabu dan putaw. Mengalir dari kalangan

elit sampai jelata. Pesohor, sipil, Polri, TNI. Sebagian
mereka terbelit Narkoba sampai akhirnya, di tahun 1999,

penjara meledak. Tetapi arus deras itu tak berhenti.
Mereka yang awalnya hanya mengonsumsi Narkoba,
menjelma menjadi pengedar. Pengedar pun menjelma
menjadi bandar bekerjasama dengan para bandar dari
Malaysia, dan Cina. Mereka bahkan mengendalikan bisnis

gelap ini dari balik penjara.

2 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Bandara Kualanamu, Deli Serdang,
Sumatera Utara, 2014. foto : windoro adi

Pagi Buta di Kualanamu 3

Pagi Buta di Kualanamu

Keberangkatan penerbangan “Mohon, topinya dilepas, Bang…”
GA 181 rute Medan – Jakarta sapa petugas.
masih sejam lagi. Bandara
Kualanamu masih sepi, jelang Sang pemuda terkesiap. Namun
Subuh. Senin, 11 Januari 2016. mimiknya kelihatan percaya diri. Pelan,
Empat-lima orang masuk pintu utama. topi dibuka.
Diantaranya seorang pemuda gagah,
rapi berkemeja kasual, bertopi, usia 35 “Coba lihat,” kata petugas, langsung
tahunan. meminta topi.
Setelah meletakkan tasnya ke ban
berjalan di terowongan pemeriksaan Beberapa detik kemudian heboh.
tas, pemuda itu melangkah menuju Sang petugas meneriakkan kata sandi,
pintu X-Ray. Seorang petugas pria seketika petugas lain berdatangan.
Security Check Point sudah menunggu Salah satunya memeriksa tubuh
di seberangnya. pemuda itu.
Petugas mengamati seksama pada
semua calon penumpang pesawat Ternyata di topi terselip setengah
yang melewati pintu itu. Mereka yang butir pil ekstasi. Setelah diteliti lagi,
sudah melewatinya, akan diperiksa ditemukan juga narkoba jenis sabu,
dengan metal detector. yang setelah ditimbang 0,35 gram.
Sang pemuda kini sudah melewati
pintu X-Ray. Petugas tidak segera Siapa sangka, temuan ‘kecil’ dini
menggunakan metal detector. Malah hari di Kualanamu itu kemudian
tertarik pada topi pet yang dikenakan menghebohkan Indonesia. Sebab,
pemuda tersebut. Perhatian petugas, pemuda itu adalah anggota Pasukan
lekat tertuju pada topi. Pengaman Presiden (Paspampres)
bernama Prajurit Satu Frestian Ardha
Pranata. Sehari-hari dia bertugas
sebagai Tamtama Pengawal Bermotor
di Batalyon Pengawal Protokoler
Kenegaraan, Paspampres.

4 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Ladang ganja hasil temuan Operasi Bersinar Rencong
2016, di Gampong Lambada, Kecamatan Seulimum,
Aceh Besar, 1 April 2016. Dok. Polda aceh

Pagi Buta di Kualanamu 5

6 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Salah satu tersangka pemilik 54 hektare ladang ganja
di kawasan Gunung Seulawah, Kecamatan Lamteuba,
Aceh Besar, Februari 2016. dok. mabes polri

Pagi Buta di Kualanamu 7

Tak lama kemudian, Komandan selain Meksiko.
Paspampres (saat itu) Mayor Dikutip dari Acehdalamsejarah.
Jendral (Mayjen) Andika Perkasa
membenarkan, Frestian adalah blogspot.com, ganja dibawa ke Aceh
anggota Paspampres. Frestian pun dari India pada akhir abad ke 19 ketika
diproses. Dan, menurut Mayjen Andika, Belanda membuka perkebunan kopi
inilah temuan kasus narkoba pertama di Dataran Tinggi Gayo. Pihak penjajah
di Paspampres. itu memakai ganja sebagai obat alami
untuk menghindari serangan hama
Di Polsek Sedati, Sidoarjo, Jawa pohon kopi atau ulat pada tanaman
Timur (Jatim), salah seorang anggota tembakau.
buru sergapnya, Ajun Inspektur Satu
Abdul Latif, divonis hukuman mati Di kalangan anak muda Nusantara,
Pengadilan Negeri Surabaya pada ganja lebih familiar disebut bakong ijo,
1 Februari 2016. Bintara angkatan gelek, cimeng atau rasta. Sementara
1995 yang pernah ikut mengungkap sebutan keren lainya ialah tampee,
235 kasus Narkoba ini, terjerembab pot, weed, dope.
menjadi perantara dan penyimpan 50
kilogram sabu. Setelah bertahun tumbuh
menyebar hampir di seluruh Aceh,
Begitu dahsyatnya penyalahgunaan ganja mulai dikonsumsi, terutama
Narkoba membelit masyarakat kita. dijadikan ‘rokok enak,’ yang lambat
Bukan saja di lingkungan pelajar laun mentradisi di Aceh. Bahkan
mahasiswa, kalangan artis, kepala kalau ada masakan, dianggap belum
daerah, dan para wakil rakyat, tetapi sempurna kalau bumbunya tidak
juga para penegak hukum. dicampur dengan biji ganja.

Ganja dan Sabu Aceh di mata masyarakat
internasional memiliki trade mark
Secara kuantitas, pengungkapan sebagai ‘ladang ganja’ terbesar
kasus narkoba di Indonesia, juaranya sekaligus penyuplai ganja berkualitas
adalah jenis ganja. Sudah ratusan nomor wahid. Fenomena ini sampai-
ton ganja diungkap Polri. Ratusan sampai dibahas dalam sidang ke 49
pelakunya ditangkap. Komisi Narkoba PBB (UN Commission
on Narcotic Drugs) tanggal 13-17 Maret
Pada 2012 Polri memecahkan rekor 2006 di Wina Austria.
dunia dalam hal pengungkapan kasus
narkoba. Tak kurang 558 ton ganja di Menjamurnya tanaman ganja di
Aceh diungkap Polri pada tahun itu Aceh didukung kondisi geografis.
melalui serangkaian penangkapan para Tanahnya subur, hujan teratur,
pelakunya. Setiap kasus melibatkan posisinya di pegunungan dengan
barang bukti ganja dalam volume ton. iklim yang relatif stabil, ditambah
Itu tidak mengherankan, sebab sudah keterisolasian akibat konflik sejak
sejak ratusan tahun lalu Aceh dikenal zaman Belanda, DI-TII, sampai era
sebagai ladang ganja terbesar dunia GAM.

Masyarakat yang berada di daerah
terpencil pun terancam kelaparan dan

8 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

kemiskinan akibat rangkaian konflik
tadi.

Warga kemudian berinisiatif
menanam ganja untuk bertahan hidup.
Hampir tak ada orang Aceh yang
tak pernah mencicipinya. Ada yang
menikmatinya lewat rokok, bumbu
dapur, dodol, campuran kopi, hingga
diolah ke berbagai jenis makanan
lainya. Selebihnya, dijual ke luar Aceh.

Mengapa kemudian ganja dilarang?
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997
tentang narkotika mengklasifikasikan
ganja; biji, buah, jerami, hasil olahan
atau bagian tanaman ganja termasuk
damar ganja dan hasil sebagai
narkotika golongan I yang berarti satu
kelas dengan opium dan kokain.

Pasal 82 ayat 1 butir a UU tersebut
menyatakan bahwa mengimpor,
mengekspor, menawarkan untuk
dijual, menyalurkan, menjual,
membeli, menyerahkan, menerima,
menjadi perantara dalam jual beli,
atau menukar narkotika golongan I,
dipidana dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup, atau
pidana penjara paling lama dua puluh
tahun dan denda paling banyak satu
miliar rupiah.

Aparat gabungan Polri dan TNI mendatangi ladang
ganja di Gampong Lamteuba, Kecamatan Seulimum,
Aceh Besar pada 1 April 2016. Dok. Polda aceh

Pagi Buta di Kualanamu 9

10 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Di luar negeri, ganja dibedakan
menjadi dua bagian, yaitu ganja untuk
kepentingan industri maupun medis
yaitu ganja jenis Hemp, dan ganja
terlarang, Cannabis. Sementara di
Indonesia tidak mengenal perbedaan
ini. Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1997 menyebutkan bahwa ganja
termasuk sebagai narkotika saja.

Dalam penelitian meta analisis,
para ahli dari Universitas Cardiff dan
Universitas Bristol, Inggris, pencandu
ganja berisiko schizophrenia, yakni
peningkatan gejala seperti paranoid,
mendengar suara-suara dan melihat
sesuatu yang sebenarnya tidak ada
yang berujung pada kelainan jiwa,
seperti depresi, ketakutan, mudah
panik, depresi, kebingungan dan
berhalusinasi, gangguan kehamilan
dan janin.

Pengungkapan kasus narkoba
oleh Polri dalam kuantitas besar
setelah ganja adalah sabu. Salah satu
tangkapan besarnya ada di Jakarta.
Barang buktinya mencapai… F

Kapolri Jendral Badrodin Haiti (kedua dari kanan) dan
Kadiv Humas Mabes Polri, Inspektur Jendral Anton
Charliyan (paling kanan) memusnahkan pohon ganja
di Gampong Lamteuba, Kecamatan Seulimum, Aceh
Besar pada 1 April 2016. Ganja yang dibakar adalah
hasil temuan Operasi Bersinar Rencong 2016. Seluas
189 hektare ladang ganja tersebar di 23 titik, dengan
jumlah tanaman mencapai 75 ribu batang atau setara
579 ton ganja. Dok. Polda aceh

Pagi Buta di Kualanamu 11

12 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Dari kiri-kanan: Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jendral
Budi Waseso, Kapolri, Jendral Badrodin Haiti, Kadiv Humas Mabes Polri,
Inspektur Jendral Anton Ch, Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jendral Tito
Karnavian dan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar M. Iqbal
merilis hasil pengungkapan 360 Kg Sabu asal Hongkong. Dok. Polda Metro Jaya

Pagi Buta di Kualanamu 13

14 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

360 Kilogram Sabu

Komisaris Besar Eko Sejak Maret, April, dan Mei, Wahyu
Daniyanto dalam bukunya, pun menghabiskan tiga perempat
“Jejak Narkoba”, menulis: harinya di ruangan Timsus. Bak
Terungkapnya sabu ini kapal pecah, ruangan itu sangat tak
memang bukan hal mudah. karuan, dua meja dalam ruang, penuh
Gaya kepemimpinan saya yang dengan kertas berserakan, gelas-
memberikan rasa ketidaknyamanan gelas kopi, dan piring-piring kotor. Di
terhadap anggota sebelumnya, ujung ruangan, tumpukan kertas telah
membuahkan hasil. Empat bulan menggunung melebihi diatas meja.
bekerja, melupakan siang dan malam,
terbayar puas dengan dua orang Karpet lantai penuh dengan debu,
pelaku dan 360 kilogram sabu sebagai selimut sebagai alas tidur sudah
barang buktinya. berbulan lamanya tak dilipat, bersama
dengan dua bantal, itupun hanya
Melalui penangkapan kurir sabu menjadi tempat paling nyaman
asal Hongkong, To Ka Ho (23) di 13 untuk Wahyu melepas lelah. “Hanya
Februari 2015 sebelumnya. Kasubdit hitungan jari saya bisa pulang, sama
III, Ajun Komisaris Besar Arman Asmara saja kan, tidur di rumah atau di
memerintahkan Subdit III Dirnarkoba kantor? Sama-sama istirahat,” ujarnya.
Polda Metro Jaya, Komisaris Alamsyah
Pelupessy melacak keberadaan Layaknya orang autis, keberadaan
sindikat To Ka Ho. Berbekal ponsel Wahyu nyaris tak dirasakan oleh
tersangka, Alamsyah meminta Brigadir sejumlah rekannya. Atasan kaos dan
Wahyu mengecek ratusan kontak celana jeans gulung hanya menjadi
ponsel To Ka Ho dengan bantuan pakaian favorit Wahyu selama tiga
analis TI Mabes Polri. bulan.

Melalui alat direction finder, satu
nomer dari kontak To Ka Ho pun

360 Kilogram Sabu 15

ditelusuri. Kode ‘blok’ pun seolah sebelumnya 10 orang diduga jaringan
membuka titik terang kasus ini To Ka Ho senantiasa dibuntuti.
dimulai. Hanya saja ‘blok’ dimana dan
kemana, Wahyu bingung. “Makanya Pekerjaan membuntuti butuh
kita pakai alat ini untuk mencari keterampilan dan cekatan, selain itu,
keberadaan sinyal tuh nomer,” terang sejumlah waktu pun semakin terkuras.
Wahyu. Yuni, bahkan mesti rela membiarkan
waktunya bersama keluarga terbuang.
Secara teknis, direction finder
mampu menyimpulkan dan Suatu waktu, hari Jumat, anak Yuni
mempersempit sebuah sinyal. Dari menelepon, hujan pertanyaan pun
situlah, akan dapat memperkirakan mulai membayang di otaknya. Yuni
keberadaan si pengedar. “Butuh waktu semakin ragu menjawab telepon,
seharian untuk mencari satu nomor bukan berhenti, si anak malah
saja,” jelas Wahyu, yang mengaku semakin ngotot menelepon. Yuni
hanya sanggup mencari satu nomor menyerah, belum sempat menanyakan
selama 12 jam lamanya. kabar. Si anak, yang masih berusia 4,5
tahun, malah bertanya. “Ayah besok
Berhari-hari menggunakan alat itu, jalan-jalan kemana,” kenang Yuni.
Wahyu mengalami kebosanan. Bila itu
terjadi, semua tumpukan dan laptop di Dengan nada ramah, Yuni
meja ia tinggalkan. Tontonan televisi membalas, “tidak bisa”. Anaknya
dan berjalan kecil di lingkungan menjadi menyesal dengan ucapan
Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya itu, dan menyerahkan ponsel ke
menjadi obat mata dan otot badan Istrinya. Tak ada kata pembalasan
sembari melepas lelah. yang berhasil di ucap, ia menjelaskan,
sebagai anak polisi, si anak harus
Sekitar tiga bulan menganalisis, terbiasa dengan pekerjaan ayahnya
satu sinyal nomorpun didapat. yang tak teratur. Tak seperti umumnya
Temuan itu, ia paparkan kepada keluarga, yang bisa berakhir pekan
atasanya. Kuat dugaan, nomer itu dengan anggota keluarga.
kerap berkomunikasi dengan beberapa
nomer di Malayasia, semakin ditelisik, Dalam sehari ketiga anggota polisi
si pemilik, sering kali berada di ini, silih berganti melakukan pengintai,
kawasan Kamal, Jakarta Barat. tiga jam sekali mereka berganti,
hanya Yuni yang mampu bertahan
Membuntuti Tersangka selama lima jam. Berbagai cara pun ia
lakukan agar tak jenuh, salah satunya
Tugas pun beralih, tim lapangan seperti yang dilakukan Yuni, dengan
yang di komandoi Inspektur mendengarkan musik religius.
Dua Latief Eko Yunianto dengan
beranggotakan Yuni dan Suyatin, silih Begitu pun bila mendapatkan
berganti mengawasi pria keturunan kecurigaan warga. Yuni telah
Tiongkok, Michael Wijaya. Dugaan menyiapkan jurus jitu, seperti dengan
kesitu semakin mengerucut, setelah berpura-pura tengah memata-matai
seorang teroris. Yuni yakin, cara itu
lebih baik, dibandingkan berterus

16 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Tito Karnavian
didampingi Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya,
Komisaris Besar Eko Daniyanto memeriksa hasil tangkapan
besar 360 Kg sabu asal Hongkong. Dok. Polda Metro Jaya

terang tengah membuntuti bandar narkoba. “Saya juga aneh, tapi ini yang
narkoba. ada di lapangan,” tambahnya.

“Saya akan coba jelaskan mereka ke Cara berbeda, justru dilakukan
tempat yang sepi,” tuturnya, sembari oleh Latief, bila sudah terpergok. Ia
menjelaskan mobilnya terparkir di hanya akan mengaku sebagai kreditur
salah satu bengkel di seorang pria mobil macet. “Saya ini debt collector
Tiongkok. (penagih utang),” timpal Latief.

Warga akan lebih mendukung Selama beberapa hari di mobil,
tugasnya, dibandingkan menyangkut sejumlah makanan pun telah ia

360 Kilogram Sabu 17

persiapkan. Alat mandi mereka Setelah puas berkeliling, pria itu
gunakan, untuk membasuh diri, di keluar menuju basement di Central
sebuah masjid yang jaraknya tak jauh Bisnis Park, Jalan Pluit Karang Karya
dari lokasi. Timur, Penjaringan, Jakarta Utara. Di
basement, dua anggota tim yang
Suatu hari, tepat di siang hari, sebelumnya membuntuti Michael
sejumlah orang berpakaian muslim telah berjaga.
menenteng sejadah, berjalan
mengarah masjid. Yuni teringat, ini hari Mereka melihat pria itu mengambil
Jumat, sudah waktunya ia beribadah. tas hitam di sebuah tempat. Dari
Namun begitu, ia tetap fokus bekerja sana, dengan menggunakan sepeda
melakukan pengintaian, ibadah ia motor bebek nopol B 6882 BXH,
tinggalkan. tas pun sudah tersimpan di dalam
bagasi besar belakang motor. “Pria
Tak lama, target yang diintai keluar itu kami grebek. Dari tangannya
menggunakan sepeda motor menuju kami menemukan 10 kilogram sabu
Mega Mall Pluit, Jakarta Utara. Tujuh terbungkus dalam plastik teh merk
anggota tim bergerak, dipimpin taiwan,” tutur Alamsyah.
Alamsyah, mereka mengikuti petunjuk
Yuni. Alamsyah dan Latief berjaga di Belakangan diketahui namanya,
dalam mall, sedangkan Brigadir Satu Cheng Tin Kei (39) asal Hongkong,
Maulana Fajar, Inspektur Dua Yuni sudah dua pekan ia berada di
Sugiarto, dan Brigadir Wahyu Agni Indonesia dengan paspor bernomor
berjaga di luar. Sementara dua lainya K04766966. Selama itu, ia tinggal CBD
berjaga membuntuti Michael dari Pluit, Tower Cendana lantai 16 AJ,
rumah kostnya. Penjaringan, Jakarta Utara.

Selama 30 menit perjalanan, Tanpa pikir panjang, Cheng ditarik
Michael tak membawa barang. Di ke dalam mobil petugas. Di dalam, ‘mis
dalam mall, ia hanya memasuki komunikasi’ terjadi, Cheng tak cakap
sebuah toko sepatu. Sebelum berbahasa Indonesia, mulutnya hanya
akhirnya naik esklator ke lantai atas. mampu menggunakan bahasa Inggris.

Saat memasuki lift, ia sempat Dengan memanfaatkan Google
berpapasan dengan seorang bermata Translate, petugas menerjemahkan
sipit lainnya. Dengan melirik matanya, setiap kata yang keluar dari bibirnya.
Michael seolah memberi ‘kode’ kepada “Pak Alamsyah, sudah menghubungi
pria itu. penerjemah, tapi dia tak datang
cepat,” tutur Yuni. Karena salah
Yuni dan Alamsyah terpecah, tebak, mereka pun setia menunggu
Yuni mengawasi Michael, Alamsyah penerjemah yang datang sejam
mengikuti pria mata sipit penerima kemudian. Dari obrolan antara Cheng
‘kode’. Seperti diakui Alamsyah, pria dan penerjemah, terungkaplah tempat
sipit itu hanya berkutat di dalam mall, tinggalnya di Apartement CBD Pluit.
sejumlah toko, seperti toko baju, toko
kamera, dan beberapa toko lainnya ia Kamarnya, di lantai 16 di geledah,
masuki tanpa membeli barang. tak ada sebutirpun sabu di unitnya.

18 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Namun, petunjuk lain malah kembali menunjukan satu buah mobil Nissan
menjadi teka teki. Satu buah anak Grand Livina nopol B 7434 HI yang
kunci mobil Nissan di temukan dari terparkir di basement apartement.
kamarnya. Belum jelas siapa pemilik
dan jenis mobilnya. Saat di buka, narkoba jenis
sabu dengan jumlah amat banyak
Di Basement tersimpan di dalam mobil. Kala itu,
total barang belum dapat di ketahui
Magrib berkumandang. Sebungkus pasti. Tapi begitu melihat hal itu,
nasi padang dilahap oleh masing- tanpa pikir panjang, pukul 20.00,
masing anggota tim yang kala itu Alamsyah kemudian mengabarkan hal
tengah berpuasa. Tak banyak pilihan itu kepada Eko, yang kemudian datang
dan tempat menu buka di sore itu, ke lokasi. Sorak sorai berkumandang
unit apartement merupakan satu- bahagia menggema di basement.
satunya tempat yang ideal.
Wow, saat ditimbang, angka
Sekitar pukul 18.30, tim bergerak seberat 360 Kilogram pun muncul.
melacak ratusan mobil yang terparkir Dengan nafas panjang, Eko langsung
di apartement. Dengan bantuan bergegas menelepon Kapolda di pukul
satpam apartement dan berkeliling 22.00.
di kawasan parkiran. Anak kunci itu
Esoknya, dengan muka sumringah,
Kapolri memeriksa ulang. F

Barang bukti 360 Kg sabu.

Dok. Polda Metro Jaya

In Memoriam Alda Risma 19

In Memoriam Alda Risma

Alda Risma diantaranya perempuan, tergopoh-
gopoh membawa tubuh Alda Risma
Swartakota/IGN AGUNG NUGROHO Elfariani (24) ke Rumah Sakit Mitra
uasana di kamar 432 Hotel Internasional di Jalan Raya Jatinegara
Grand Menteng, Matraman, Timur, Jakarta Timur, dengan taksi.
Jakarta Timur, hiruk pikuk,
Selasa (12/12/2006) malam. Dari dalam taksi, mulut Alda tak
Tiga orang yang satu henti-hentinya mengeluarkan busa.
Penyanyi itu tewas saat berada dalam
perjalanan. Salah seorang temannya
lalu membawa Alda ke Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat
(Jakpus), dan ditinggalkan begitu saja.

Dr Zulhasmar Samsu, ahli forensik
RSCM yang memeriksanya kala itu
mengatakan, Alda tewas karena over
dosis. Dokter menemukan 20 luka
suntik pada lengannya. Pernyataan
ini dikuatkan temuan Polres Metro
Jakpus, di tempat kejadian perkara.
Unit identifikasi menemukan sejumlah
alat suntik, alat kontrasepsi, puluhan
obat penenang, botol infus yang
sudah dipakai, dan beberapa jenis
kapsul.

Di umurnya yang baru 16
tahun, lagu “Aku Tak Biasa” yang

20 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Dokter forensik menunjukkan luka
bekas jarum suntik di tangan jenazah
Alda Risma. wartakota/IRWAN kintoko

dibawakannya, melejit. Dalam ajang bukan karena kecelakaan atau bunuh
AMI (Anugrah Musik Indonesia) tahun diri seperti pada para pecandu heroin.
1998, lagu Alda dipilih sebagai lagu Narkoba jenis sabu atau ekstasi,
pop terbaik tahun itu. Tahun itu pula lanjutnya, tidak akan menyebabkan
ia menyabet gelar sebagai penyanyi kematian mendadak. Tubuh Alda pun
pop wanita terpopuler mengalahkan tidak kekurangan cairan.
Reza Artamevia, Rita Effendi, dan
Krisdayanti. Dalam contoh darah yang berhasil
didapat, Alda telah mengonsumsi
Alda telah menjadi idola publik heroin sejak malam sebelumnya.
Indonesia. Lagu “Aku tak biasa” dan Ferry Surya Prakasa rekan Alda,
“Kupilih Yang Mana” nyaris setiap hari diketahui telah memesan kamar 423
dilantunkan sejumlah stasion radio. Ia sejak Minggu (10/12/2006) yaitu dua
tampil dalam berbagai acara off air. hari sebelum tewasnya Alda. Hal ini
terungkap dari rekaman CCTV hotel
Ahli forensik, Mun’im Idris seperti pukul 15.56 sampai pukul 15.57. Ferry
ditulis Kompas (15/12/2006) menduga, yang memakai topi biru dan kaos
Alda tewas karena hot shot (Suntikan hitam lengan pendek, terlihat menuju
Mematikan) heroin. Over dosis yang lobi hotel untuk memesan kamar 432
terjadi pada Alda, lanjut Mun’im,

In Memoriam Alda Risma 21

Jakarta Timur memvonis Ferry dengan
hukuman penjara 15 tahun.

Belasan Artis

Pengadilan Negeri Jakarta Timur Sejak tahun 2000 sampai sekarang,
memvonis rekan Alda, Ferry Surya sekurangnya ada 15 pemain sinetron,
Prakasa dengan hukuman penjara 15 film, musisi, dan pelawak yang terjerat
tahun. Ferry terlibat sindikat Narkoba hukum karena mengonsumsi Narkoba.
Ada Doyok, Gogon, Garry Iskak, Fariz
besar. wartakota/NUR ICHSAN RM, Roy Marten, Jennifer Dunn,
Revaldo, Sammy ”Kerispatih”, Yoyo
yang kemudian diantar oleh seorang ”Padi”, Andika ”Kangen Band”, Ibra
room boy hotel tersebut. Azhari, Fachriah Muntas atau Ade Ivay,
Imam S Arifin, dan Sheila Marcia.
Lima menit berselang, Alda datang,
menyusul ke kamar itu ditemani Di dekade 1970-an,
seorang pria berjaket coklat, dan pengonsumsinya masih sebatas
seorang wanita mengenakan baju kalangan musisi. ”Para musisi kita,
merah yang menyandang tas hitam. kala itu, meniru gaya hidup kaum
Perempuan tersebut belakangan muda di Amerika dan Eropa yang
diketahui bernama Suster Maria menjadikan tindakan mengonsumsi
Tumulata Medya, sedang pria berjaket narkoba sebagai bagian dari simbol
coklat adalah sopir Ferry. anti-kemapanan,” tutur sutradara
teater, penyair, dan budayawan Yapi
Brigadir Jenderal Indradi Thanos, Tambayong alias Remy Silado.
Direktur IV Narkotika Bareskrim Mabes
Polri tahun 2006 mengatakan, Ferry Artis lain yang tewas karena
terlibat sindikat Narkoba besar. Hal overdosis antara lain, Ryan Hidayat
ini dikuatkan dengan barang sitaan (26), pemain film Lupus. F
berupa sekoper sabu senilai Rp 2
miliar, serta sepucuk senjata api FN4 Yuni Shara di makam Alda Risma.
dari rumah Ferry di kawasan Kelapa
Gading, Jakarta Utara. wartakota/IGN AGUNG NUGROHO

Cerita tentang kematian Alda
berakhir setelah Pengadilan Negeri

22 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Kalangan artis melelang
barang peninggalan Alda
Risma. wartakota/NUR ICHSAN

In Memoriam Alda Risma 23

24 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Zarima Ratu Ekstasi

Kompas/Frans Sartono

Elegi Zarima 25

Elegi Zarima

Jelang Maghrib, 8 Agustus menyimpan 29.677 pil ekstasi yang
1996, Mardiah (40) keluar rumah dikemas dalam 30 kantong plastik di
menghampiri mobil polisi yang satu brankas berukuran 60 sentimeter
terparkir di depan. Rumah kubik.
berlantai dua itu beralamat di
Perumahan taman Alfa Indah Blok Saat hendak dibawa ke Polres
K3/21, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat Metro Tangerang, Zarima sempat
(Jakbar). “Zarima tidak ada di kamar!” menawarkan uang damai, tetapi
ujar Mardiah gugup. ditolak polisi. Dari Polres Metro
Tangerang, ia dibawa ke Polda Metro
Mendengar hal itu, Kapten (kini Jaya. Sebab, kala itu Polres maupun
Ajun Komisaris) Ade Sutiana, Kasat Polsek belum memiliki satuan atau
Reserse Polres Metro Tangerang, unit reserse Narkoba.
kaget. Ade dan beberapa rekannya
bergegas masuk ke rumah, Di tengah jalan Zarima merengek
meninggalkan mangkuk-mangkuk meminta polisi mampir dulu ke
bakso yang masih terisi. rumah Mardiah, ibu kandungnya
untuk mandi dan pamit. Polisi
“Aduh, mati aku!” kata Ade sambil mengabulkan permintaannya. Zarima?
menepuk jidat saat melihat kamar Kabur. Lewat jendela ia melompat
sudah kosong. Salah satu jendela di genting rumah tetangga, mendarat
lantai dua, terbuka. Zarima Mirafsur di satu pekarangan rumah kosong.
(24) kabur. Di situ, seorang pengendara sepeda
motor sudah menunggu. Keduanya
Bintang sinetron kenamaan di menghilang.
tahun 90-an itu awalnya ditangkap
polisi pada tanggal 7 Agustus 1996
di rumah kontrakannya, di Taman
Alfa Indah Blok A18/15. Ia kedapatan

26 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Kabur ke Texas Serikat karena over stay.
Setelah proses persidangan
“I gotta keep movin’.. Blues fallin’
down like hail.. And the days keeps on pemalsuan dokumen di sana selesai,
worryin’ me.. There’s a hellhound on Zarima dideportasi pulang ke
my trail..” Indonesia, dikawal anggota Polda
Metro Jaya pimpinan Sekretaris
Penggalan lirik lagu blues Hellhound Direktorat Reserse Polda Metro Jaya,
On My Trail besutan bapak blues Letnan Kolonel (kini Ajun Komisaris
dunia, Robert Johnson ini, mungkin Besar) Gories Mere.
cocok menggambarkan cerita pelarian
Zarima waktu itu. Ia buron, pindah dari Majalah Gatra edisi 16 November
satu kota ke kota sebelum akhirnya 1996 menulis, Zarima kabur karena,
terbang ke Houston, Texas, Amerika “Media memojokkan saya. Saya
Serikat. seperti seorang penjahat. Saya depresi
berat”. Selama pelarian, Zarima
Awalnya ia kabur ke Yogyakarta. menghabiskan uang tabungannya.
Dari Yogyakarta ke Bogor, dari Bogor
ke Solo, dari Solo ke Wonosari, dari “Saya memang sudah lama hendak
Wonosari ke Jepara, dari Jepara ke mengunjungi adik saya di Amerika
Batam. Dari Batam ia menyeberang ke Serikat. Memang sudah ada rencana
Singapura. Di sana ia tinggal di rumah mau ke sana,” ujarnya.
keluarganya dua hari. Dari sana ia
terbang ke Johor, Malaysia, dan tinggal Saat disidang di Pengadilan Negeri
di sana empat hari sebelum akhirnya Jakarta Barat awal tahun 1997, Zarima
ke Kuala Lumpur. meminta maaf kepada semua pihak,
termasuk Kapolri. “Saya sangat
Tanggal 31 Agustus 1996, Zarima menyesal. I love my country,” ucapnya.
terbang ke Negeri Paman Sam,
mendarat di Los Angeles, California. F
Dari sana ia melanjutkan perjalanan
ke Houston, tinggal di rumah adiknya,
Rofina.

Pelarian Zarima berakhir di hari ke
87, tepatnya tanggal 4 November 1996
di satu toko baju. Mantan pemain bulu
tangkis nasional pada Turnamen Bulu
Tangkis Malaysia Terbuka tahun 1989
itu di bekuk polisi di Toko Dare Ware,
di Jalan Westheimer 9019, Houston.

Ia ditangkap dan dibawa ke
Liberty County Jail oleh Federal
Bureau Investigation (FBI) dan Drug
Enforcement Agency (DEA) Amerika

Elegi Zarima 27

Sejumlah selebritis bersimpati terhadap kalangan artis yang terjerumus
Narkoba. Bersama kepolisian, mereka menggelar diskusi Anti Narkoba di acara

Coffe Morning, Main Hall Building Polda Metro Jaya (2015). Dok. Polda Metro Jaya

28 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Koja - Kalijodo

Hampir tiga bulan mereka,” tambahnya.
pengungkapan kasus Guruh bahkan kemudian melarang
Narkoba di Polsek Metro
Tamansari, Jakarta anggotanya pulang ke kantor
Barat, kurang menonjol. sebelum mengungkap kasus. “Saya
Tim I Subnit terus mendominasi ingin kedua tim ini menjadi tangguh,
pengungkapan kasus, membuat Tim memiliki etos dan tanggungjawab
II rendah diri dan kurang produktif. kerja yang memadai dengan harapan
Komisaris Guruh Chandra Permana masyarakat,” tutur Guruh.
yang baru menjadi Kanit Reskrim
Narkoba Polsek Tamansari April 2015, Hasilnya mulai terasa. Akhir
gundah. September 2015, laporan dan
Sudah berbagai cara ia lakukan pengungkapan transaksi Narkoba
untuk mendorong Tim II lebih bertambah. Rumah-rumah kos,
produktif sampai akhirnya, di kontrakan, hotel, dan sejumlah
pertengahan September 2015 ia tempat hiburan malam terus diendus.
mengubah memindahkan sebagian
anggota tim buru sergap dan penyidik. Ketika jumlah pengonsumsi sabu
“Yang kurang giat bekerja, kita pindah bertambah, Guruh mulai melacak,
ke bagian lain,” tuturnya saaat ditemui siapa pengedarnya. Sebagian
awal Juni 2016. pengonsumsi sabu yang ditangkap
Dengan susunan personel baru Tim menyebut nama, “Jack”.
II, Guruh mendorong kedua timnya
berkompetisi sehat. “Awalnya saya Jadilah Jack yang suka mangkal di
ikut mendampingi Tim II memompa satu tempat hiburan malam, target
semangat dan kepercayaan diri operasi Guruh dan jajarannya.

Nama asli Jack, Rusli Mamoto (23).
Setelah beberapa waktu dimata-
matai, polisi menangkap Jack di
rumahnya Lantai 2 Jalan Lagoa, RT

Koja - Kalijodo 29

Lokalisasi Kalijodo, Jakarta Utara sebelum dibongkar, Januari
2016. Kawasan pemukiman ini menyala sepanjang malam, di
mana terdapat kafe dan kedai remang-remang. foto : WINDORO ADI

30 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Markas Polsek Tamansari,
Metro Jakarta Barat.

foto : mohammad yan yusuf

Koja - Kalijodo 31

03/02, Lagoa, Koja, Jakarta Utara pada
Rabu 30 September 2015. Di sana
polisi menemukan sabu 0,44 gram.

Pengembangan kasus Jack terpecah
dengan munculnya kasus 100 butir
ekstasi dari Bekasi, Jawa Barat. Di
tengah kemacetan, Ajun Inspektur
Satu Puji Wahyu Jatmiko menelpon
Guruh yang sedang berkendaraan ke
Bekasi.

Puji menjelaskan, timnya
menangkap seorang pelaku di
Cengkareng, Jakarta Barat. Mendengar
hal itu, Guruh minta Puji dan kawan-
kawan tetap di lokasi kejadian perkara
(TKP). “Tunggu saya,” ucapnya.

Guruh kembali menghubungi
Jatmiko, menyuruhnya membuka
kamar hotel di Cengkareng. Untuk
memastikan operasi tidak bocor, ia
melarang anggota tim kembali ke
Polsek sebelum ia datang.

Hari itu Jatmiko dan tim menangkap
Hermanto alias Bat di Jalan Masjid
Raya, RT 06/02, Cengkareng Barat,
Cengkareng, dengan 0,42 gram sabu.
Setelah diperiksa 12 jam, Hermanto
akhirnya mengaku, sabu ia peroleh
dari Jemmy Setiadi.

Jemmy kemudian ditangkap
di Apartement City Resort lantai
5 Tower Orchid, Jalan Boulevard,
Cengkareng Timur, Cengkareng,
dengan barang bukti 0,47 gram sabu.

Putus Asa

Hermanto juga mengaku, setengah
jam sebelum ditangkap, ia mengirim
lima kilogram sabu ke Bandung.
“Kami tak bisa melacak lima kilogram
sabu tersebut karena Hermanto baru

32 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

mengaku setelah dua hari kami tahan,” acak polisi. “Berarti ada orang yang
kata Guruh. masuk dan membereskan kamarnya,”
kata Syarif.
Kabar tentang lolosnya lima
kilogram sabu ini membuat tim Syarif lalu mengambil anak kunci
kehilangan semangat. Tetapi Guruh rumah kontrakan Iwan lainnya yang
tidak. Ia menghubungi rekannya di tak jauh dari TKP. Di sana Syarif
Polda Metro Jaya menemukan lima kilogram sabu yang
disimpan di tas ransel besar.
Dibawah keputusasaan ini, Guruh
kembali menyemangati anggota. Mengacak Kalijodo
Melalui kenalannya di Polda Metro
Jaya ia mencoba memanfaatkan finder Sementara itu, dengan bantuan
direction, melacak Ponsel target lain, rekannya di Polda Metro Jaya, Guruh
Iwan. “Separuh tim buru sergap saya melacak nomor Ponsel Lompo dengan
kerahkan memburu dia,” ujar Guruh. direction finder. Sinyal Ponsel tersebut
pada Sabtu, 10 Oktober 2016 terlacak
Iwan ditangkap di satu kamar berada di sekitar Tambora, Jakarta
kontrakan di Cempaka Baru Barat I, Barat dan Penjaringan, Jakarta Utara.
RT 04/06 nomer 1, Cempaka Baru,
Kemayoran, Jakarta Pusat. Sayang, di Malam itu, dengan bantuan
sana polisi tak menemukan barang personel Polsek Tambora dan Polsek
bukti. Meski demikian Guruh dan anak Penjaringan, sejumlah kafe remang,
buahnya yakin, Iwan adalah bagian hotel kelas melati, sampai apartemen,
dari jaringan pengedar besar sabu. disisir. Mereka mencari mobil Nissan
Keyakinan itu muncul setelah mereka March putih yang sebelumnya terlihat
melihat foto bungkus teh dengan mendatangi rumah kontrakan Iwan.
timbangan digital dari Ponsel Iwan.
Yang ditunggu pun datang. Nissan
Setelah dua hari Iwan “disimpan” March putih muncul di tengah malam
di satu hotel, anggota melapor di Jalan Bidara Raya, Pejagalan,
melihat seorang pria mengunjungi Penjaringan, Jakut, di samping
rumah kontrakan Iwan. Iwan tak mau kawasan hitam Kalijodo.
memberi tahu siapa pria tersebut. Ia
justru minta bertemu dengan Guruh. Lima anggota Subnit II mengamati
mobil, sedang lima anggota Subnit I
Saat bertemu Guruh, Iwan menyamar sebagai pengemudi ojek
mengaku menyimpan sabu di rumah konvensional di dua pintu masuk.
kontrakkannya, sedang pria yang
datang ke rumah kontrakkannya Hampir empat jam Ajun Inspektur
bernama Lompo. Satu Tri Waluyo berada di mobil
minibus yang parker tepat di belakang
Guruh lalu menugaskan Brigadir mobil Nissan March menunggu
Syarif memeriksa rumah kontrakkan perintah. Satu mobil anggota lainnya
Iwan. Sampai di sana Syarif melihat, parkir 50 meter dari situ.
kamar Iwan sudah rapih dan bersih.
Padahal, tiga hari sebelumnya kondisi “Kalau ada orang lewat, kami
kamarnya berantakan setelah diacak- hidupkan mesin mobil. Kaca jendela

Koja - Kalijodo 33

kami tutup, AC kami nyalakan. Jika Enam tersangka pengedar 14 kilogram
sepi, mesin dan AC kami matikan, sabu ditangkap Polsek Metro Tamansari,
jendela kami buka,” kata Tri. Setiap
tiga jam sekali, anggota bergantian Jakarta Barat. foto : mohammad yan yusuf
mengintai.
mendapatkan sabu satu kilogram
Menjelang subuh, Lompo terlihat di satu rumah kontrakan warga di
berulang kali mendatangi mobil. Kalijodo, dan delapan kilogram sabu
Residivis kasus Narkoba itu sempat di Apartement Wisma Gading Permai
beberapa kali hendak membuka pintu lantai 20 no 15, Kelapa Gading, Jakarta
mobil tetapi ia tunda hingga akhirnya, Utara.
Minggu sore, ia membuka pintu mobil.
Malamnya, Kapolsek Metro
Mesin mobil ia nyalakan, tetapi Tamansari, Ajun Komisaris Besar
sebelum ia menjalankan mobilnya, Suwarno menyambut anggotanya
sejumlah polisi mengepung pria dengan bangga. Rekor sita sabu dua
bernama lengkap Hambali Daeng kilogram tahun 2014, sudah pecah.
Tompo ini. Sampai sekarang, rekor sitaan 14
kilogram sabu oleh jajaran setingkat
“Awalnya ia tak mengaku. Kami Polsek, belum berubah. Rekor Polsek
pesimis karena tak ada barang bukti Metro Tamansari itu tertoreh dengan
dalam mobilnya,” ucap Tri. Lompo lalu tinta emas. F
dibawa ke satu hotel di Tambora.
Berbekal keterangannya, keesokan
harinya, Senin, 12 Oktober, petugas

34 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba

Kapal Bahari I disita sebagai barang bukti alat
angkut sindikat narkotika internasional di
Pelabuhan Muara Jati, Cirebon. Dok. mabes polri


Click to View FlipBook Version