Cerita tentang Abdul Latif dan Jaringannya 85
Latif. Sebab, Latif sudah menikah, yang sedang berada di Rutan Klas
memiliki tiga anak, dan tinggal di I Medaeng pun, dicokok. Di kamar
Jalan Tegalsari, Desa Cemadi, Sedati, tahanannya di Blok W, polisi menyita
Sidoarjo. dua telepon genggam dan tiga nomor
kartu telepon.
Setelah mengorek keterangan
dari Indri, polisi menangkap Latif Selanjutnya polisi mengungkap,
yang sedang berada di Kantor Yoyok si terpidana mati, mendapatkan
Polsek Sedati. Dari sana ia dibawa 50 kilogram sabu dari Tiongkok. F
ke Polrestabes Surabaya. Susi
Barang bukti 12 bungkus sabu seberat
12,950 kilogram yang diamankan dari
rumah kos Jalan Pasar Wisata No.23,
Sedati, Sidoarjo. Sabu tersebut sisa
dari peredaran 50 kilogram milik
Yoyok, Susi, Abdul Latif dan Indri
Rachmawati. Foto : Dok. Polrestabes Surabaya.
86 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Operasi Bersinar
Semeru 2016
Selain menjatuhkan vonis Jatim, Komisaris Besar Eko Wahyu
hukuman mati kepada Latif, Prasetyo mengakui, perolehan
Pengadilan Negeri Surabaya barang bukti dalam operasi ini
pada hari yang sama juga belum memuaskan. Meski demikian,
memvonis mati Indri, dan pemberantasan penyalahgunaan
sebulan berikutnya, 1 Maret 2016, Narkoba akan terus berlanjut.
Susi pun divonis hukuman mati di Sebab, lanjut Kapolda Jatim,
pengadilan negeri tersebut. Sebanyak Inspektur Jenderal Anton Setiadji,
19 kurir, pengedar, dan pengecer kaki penyalahgunaan Narkoba saat ini
tangan pasangan Latif-Indri pun sudah menjadi extraordinary crime
terjerat Operasi Bersinar Semeru 2016. atau kejahatan luar biasa. “Kita
membutuhkan sinergi kerja lintas
Operasi yang digelar sejak 21 instansi untuk mengatasinya,”
Maret – 19 April 2016 ini meringkus tegasnya.
783 tersangka yang terdiri dari 764
pria dan 19 wanita. Operasi digelar Jika tidak segera melangkah, lanjut
serempak di 39 Polres di lingkungan Anton, “Kita bisa kehilangan satu
Polda Jatim. Sebanyak 649 kasus generasi seperti terjadi di Tiongkok
Narkoba diungkap. saat perang candu. Penyalahgunaan
Narkoba menjadi cara paling cepat dan
Hasil operasi ini menempatkan mudah menghancurkan satu bangsa”.
Polda Jatim di peringkat ketiga di
antara Polda lain di Indonesia dengan Sebulan sebelum Operasi Bersinar
barang bukti berupa 2,3 kilogram sabu, Semeru 2016 bergulir, Polda Jatim
2,1 kilogram ganja, 100 benih ganja, 36 menggelar Operasi Tumpas Narkoba
batang ganja, 357 butir ekstasi, dan 2016. Operasi yang dilakukan tanggal
15,39 gram serbuk ekstasi. 4-16 Februari 2016 ini mengungkap
418 kasus penyalahgunaan Narkoba.
Direktur Reserse Narkoba Polda
Operasi Bersinar Semeru 2016 87
Direktur Reserse Narkoba Polda
Jatim, Komisaris Besar R. Eko Wahyu
Prasetyo. Foto : Dok. Polda Jatim
88 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Kabid Humas Polda Jatim, Komisaris Besar R.P Argo
Yuwono (kiri) menunjukkan barang bukti 60.042
butir pil Happy Five (H5) yang diselundupkan pria
asal Taiwan, Cheng Min Zni, ke dalam kemasan Teh
Hijau, Januari 2016. Foto : Dok. Polda Jatim
Pelaku yang ditangkap, 483 orang Pengadilan Negeri Surabaya, Ajun
sedang barang bukti yang disita, 888, Komisaris Besar Mikael Sitanggang
84 gram ganja, 2,9 kilogram sabu, bersama timnya dari Unit 2, Subdit
513 butir ekstasi, dan 1.700 butir III Direktorat Reserse Narkoba Polda
psikotropika. Jatim, menangkap Chen Yung Lin (32)
alias Cheng Ming Zni.
Happy Five
Pria asal Taiwan ini dicokok di
Sementara itu, sepekan sebelum halaman Kantor Pos Jalan Kebon
Latif divonis hukuman mati oleh Rojo, Surabaya pada 23 Januari 2016
karena kedapatan membawa dua dus
Operasi Bersinar Semeru 2016 89
berisi 40.000 butir happy five atau Kepalanya menggeleng, tangannya
H5. Di rumah kos Ming Zni, di kamar terus menunjuk mulut dan telinganya
510 Metro House, Jalan Raya Dukuh sendiri. “Awalnya dia mengaku tidak
Kupang Barat nomor 50A, Surabaya, bisa berbahasa Inggris, maupun
polisi menyita satu dus Teh Hijau Mandarin. Berkali-kali dia cuma
lainnya berisi 20.000 H5. Sebanyak menjawab, I don’t know,” kata Ajun
42 butir H5 dan enam butir ekstasi Inspektur Satu Endah Erina Sari.
tercecer di laci meja. Endah adalah Penyidik Direktorat
Reserse Narkoba Polda Jatim.
Saat ditanya, Ming Zni hanya
menggunakan bahasa isyarat. Tak kurang akal, polisi lalu
memanggil penerjemah bahasa
Taiwan. Dengan bujuk rayu lewat
sang penerjemah, Ming Zni akhirnya
berbicara dalam bahasa Taiwan.
Ia terus mengelak bahwa dua dus
kemasan Teh Hijau dari Taiwan
berisi H5 tersebut, miliknya. Padahal
sepengamatan penyidik, paket ini
adalah paket ke-15 yang ditujukan ke
rumah kos-nya di Surabaya. Pengirim
paket tertulis, Wu Chun Ying dari
Taiwan.
Saat diperiksa, Ming Zni mengaku
sebagai koki satu restoran di Taiwan.
Ia sudah setahun tinggal di Surabaya
untuk berbisnis minuman keras impor
ilegal yang di Jakarta sedang bangkrut.
Ia masuk ke Indonesia lewat Jakarta.
Di Surabaya, Ming Zni memacari
perempuan Kalimantan yang
memandunya berkomunikasi, dan
mencarikan tempat tinggal. Hampir
setiap malam Ming Zni plesir ke bar
dan diskotik. Setiap kali pulang ia
selalu membawa perempuan.
“Kos-kosannya seperti hotel,
masuknya harus pakai kartu akses,”
kata Kanit 2 Subdit III Direktorat
Reserse Narkoba Polda Jatim,
Komisaris Polisi Khoirul Umam saat
ditemui pertengahan Mei.
Di siang hari, pria
90 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
berkewarganegaraan Taiwan itu jarang hukumannya 12 tahun dan denda
keluar kamar. Setiap kali pergi, Ming maksimal Rp 8 miliar,” kata Khoirul.
Zni naik taksi dengan mobil dan sopir
yang sama. Saat di mobil, dia hanya Kampung Jatim Bersinar
berputar-putar keliling kota Surabaya
sambil berbicara lewat telepon Usai Operasi Bersinar Semeru 2016,
genggam. Polda Jatim akan membuat Program
Lomba Kampung Jatim Bersinar.
Ming Zni dijerat pasal 112 ayat (1) Pesertanya adalah sejumlah desa
Undang-Undang Nomor 35 tahun di setiap kabupaten atau kota yang
2009 tentang Narkotika, dan pasal 61 dinilai rawan Narkoba. “Program ini
ayat (1) dan atau pasal 62 Undang- merupakan langkah pencegahan dan
Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang penyuluhan terhadap penyalahgunaan
Psikotropika atau pasal 196, atau Narkoba,” tutur Anton. F
pasal 197 Undang-Undang Nomor
36 Tentang Kesehatan. “Ancaman
Selama Operasi Bersinar Semeru 2016, Polrestabes
Surabaya, membekuk 185 tersangka penyalahgunaan
Narkoba. Hasil itu menempatkan Polrestabes Surabaya
peringkat pertama jumlah tangkapan tertinggi di jajaran
Polda Jatim. Foto : Dok. Polrestabes Surabaya
Operasi Bersinar Semeru 2016 91
Polda Jatim memusnahkan barang
bukti Narkoba hasil sitaan Operasi
Bersinar Semeru 2016. Foto : Dok. Polda Jatim
92 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Perahu Ketinting berfungsi sebagai sekoci pengangkut barang
dan penumpang ke kapal besar. Perahu kecil tanpa mesin ini biasa
bersandar di Pelabuhan Madura yang berdekatan dengan pemukiman
pantai Kabupaten Bangkalan, Madura. Ini yang membuat peredaran
sabu masuk ke kampung-kampung di Madura. Foto : Asep Ananjaya
Cerita dari Pulau Garam 93
94 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Cerita dari Pulau Garam 95
Cerita dari
Pulau Garam
Perahu ketinting yang garam itu memang tidak sebesar
Cak Mat (39) kemudikan dermaga Kali Mas dan Tanjung
mulai terombang-ambing Perak di Surabaya. Kapal besar tidak
di tengah laut. Ukurannya ada yang bersandar. Hanya perahu
kalah besar dengan kapal ketinting seperti punya Cak Mat
angkut barang yang melintas. Cak yang tertambat. Itu pun, langsung
Mat bilang, siang itu angin berhembus di belakang rumah penduduk di tepi
kencang. “Pegangan erat-erat, perahu pantai.
mulai goyang,” katanya sambil terus
memegang kayu kemudi. Kampung Rabesen
Pertengahan Mei siang itu, ia
memacu mesin perahu dari dermaga Perahu-perahu kecil itu saling
Kali Mas, Tanjung Perak, Surabaya mengikat, ujung tambang mengarah
menuju dermaga Pulau Madura. Waktu ke kapal besar di tengah laut. Perahu
tempuhnya hanya setengah jam. kecil itu berfungsi sebagai sekoci
Cak Mat sudah tiba di pesisir pantai untuk mengangkut muatan kecil dari
Kabupaten Bangkalan. kapal ke daratan atau sebaliknya.
Pria asal Sampang, Madura ini “Perahu bermesin tidak bisa mendekat
biasa menyewakan perahu untuk ke rumah penduduk. Airnya dangkal,
memancing ikan, atau sekedar baling-baling mesin bisa kandas,” kata
menyeberang dari Kali Mas ke Madura. Cak Mat.
“Sebelum ada jembatan Suramadu,
orang biasa menyeberang seperti Ketika ditanya tentang Kampung
ini. Naik perahu kecil, atau naik kapal Rabesen di Kabupaten Bangkalan,
penumpang,” katanya. Madura, Cak Mat terdiam. Pria itu
Dermaga di pulau penghasil malah bertanya balik, “Mau apa ke
sana ? Kalau mau ke sana jangan
96 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Gubuk-gubuk kayu di sudut Kampung Rabesen, hari. Bahaya,” ujarnya.
Desa Parseh, Kecamatan Socah, Kabupaten Warga Kampung Rabesen di Desa
Bangkalan, Madura. Tak jarang, tempat sederhana
untuk berkumpul warga itu bermetamorfosa Parseh, Kecamatan Socah, tidak
menjadi lapak peredaran sabu. Foto : Dok. Polda Jatim mengenal orang asing. Suatu ketika,
ada peristiwa begal motor di desa itu.
sendirian. Itu kampung rawan Kejadiannya malam hari, korbannya
Narkoba, tidak sembarang orang bisa dibunuh, motornya dibawa kabur.
masuk ke sana. Tidak aman, harus Sampai di rumah, istri pembegal
punya kenalan orang sana”. motor itu bertanya. Anaknya ke
mana, kok hanya motornya saja yang
Ketakutan Cak Mat sama dengan pulang ? Pembegal motor itu bingung.
Kholis (34), pengojek motor di Jalan “Ternyata, yang dibunuh itu anaknya
Kembang Jepun, Surabaya. Kholis sendiri,” ungkap Kholis.
orang Bangkalan kota, dia sendiri
takut ke Kampung Rabesen. Jalannya Saat menjabat sebagai Wakapolres
sempit, kanan-kiri kampung masih Bangkalan, Ajun Komisaris Besar
pepohonan dan sawah. Kalau malam, Cecep Susatiya nyaris kehilangan
kampung itu kurang penerangan. anggotanya. Cerita di tahun 2012 itu
“Di sana banyak begal motor. Kalau berawal saat Cecep menggerebek
memang terpaksa main, jangan malam
Cerita dari Pulau Garam 97
98 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Cerita dari Pulau Garam 99
rumah seorang bandar sabu di
Kampung Rabesen. Suasana
penangkapan malam itu mencekam.
Saat bandar sabu itu diringkus,
warga berkerumun. Wajah mereka
beringas. Ibu-ibunya bawa pentungan
dan batu. Bapak-bapaknya sama
remaja di sana mengacungkan
celurit. “Kita berlima dikepung,” tutur
Cecep yang kini menjabat Kasubdit
II Direktorat Reserse Narkoba Polda
Jatim.
Permintaan warga tidak digubris,
Cecep terpaksa meletuskan tembakan
peringatan berulang kali. Bandar
sabu itu diborgol dan dipaksa masuk
ke mobil. Namun, belum sempat
meninggalkan tempat, warga kembali
berteriak. Kali ini, ancaman warga
tidak main-main. “Ternyata, mereka
menyandera salah seorang anggota
saya. Lehernya sudah dikalungi
celurit,” kata Cecep.
Untuk menghindari jatuh korban,
Cecep bernegosiasi dengan warga.
Nyawa ditukar nyawa, warga meminta
barter. Bandar sabu itu terpaksa
dilepaskan. “Saya tidak ingin anggota
menjadi korban,” kata Cecep.
Sepekan setelah insiden itu, Cecep
kembali melakukan penggerebekan.
Kali ini membawa puluhan anggota
Brimob. “Begitu kita gerebek lagi,
kampung itu sudah sepi. Tinggal
perempuan jompo dan orang sakit
saja. Tidak ada satu pun warga pria,”
kata Cecep.
Setiap kali Direktorat Reserse Narkoba Polda Jatim melakukan
penggerebekan, warga Kampung Rabesen, Desa Parseh,
Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura, berkerumun.
Foto : Dok. Polda Jatim
100 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Direktorat Reserse Narkoba Polda Jatim melibatkan
anggota Brimob bersenjata api laras panjang untuk
mengawal jalannya penggerebekan Kampung Narkoba
Rabesen, Desa Parseh, Kecamatan Socah, Kabupaten
Bangkalan, Madura, Desember 2015. Foto : Dok. Polda Jatim
Cerita dari Pulau Garam 101
Dilindungi
Perangkat Desa
Suasana perkampungan di
Kabupaten Bangkalan, Madura, sama
seperti kampung kampung lainnya
yang belum terjamah pembangunan.
Jarak dari jalan besar menuju kampung
sekitar 2 kilometer. Jalannya masih
tanah kering dan berliku. Lebar jalan
hanya cukup dilintasi satu mobil.
Rumah-rumah di pulau garam itu
tidak berhimpitan. Kanan-kiri jalan
masih kebon kosong dan pepohonan.
Hampir setiap rumah terdapat
saung dan gubuk warung untuk
bersantai sambil menyeruput kopi
dan gorengan. Cecep mengenal betul,
tahun 2012 itu dari gubuk-gubuk
kayu berubah menjadi lapak sabu.
“Ramainya lapak-lapak sabu itu kurang
lebih sejak sabu marak beredar, tahun
2010-an,” kata Cecep.
Setiap akses masuk menuju
kampung itu terdapat pos pantau.
Penjaganya centeng-centeng bandar
yang notabene pemilik rumah dan
lapak sabu. Umumnya para jagoan
kampung ini bersenjata celurit dan
parang. Orang asing yang masuk
kampung, pasti termonitor.
Bangkalan jadi besar sebagai
wilayah peredaran Narkoba karena
dilindungi warga dan perangkat
desanya. Tak ada kepastian siapa
bandar besar yang bermain di sana.
Semua perangkat desa menjadi
bandar. Termasuk, kepala desa. Sebab
itu, pembeli dari mana pun yang
datang dijamin keamanannya kalau
nyabu di tempat.
102 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Kamar di salah satu rumah warga di Kampung menyimpan 10-20 gram.
Rabesen, Desa Parseh, Kecamatan Socah, Pola melayani tamu cukup
Kabupaten Bangkalan, Madura, diduga sebagai
bilik hisap sabu. Kamar-kamar yang disewakan itu sederhana, mereka yang hadir
umumnya hanya tertutup kain gorden. langsung bertemu dengan pemilik
rumah. Satu rumah bandar sabu,
Foto : Dok. Polda Jatim memiliki 5-6 lapak atau bilik hisap
yang disewakan. Posisinya berada di
“Tingkat pendidikan warganya samping, depan atau belakang rumah
rendah, jauh dari hiburan, agamanya dekat dapur. Pintu masuk bilik hisap
kuat tapi kyai di sana kurang berperan hanya tertutup gorden.
aktif,” kata Cecep.
Saat transaksi, sabu diberikan
Perputaran sabu memang sedikit, sekaligus bong dan kompor kecil. Ada
tapi rumah penyedia lapak sabu juga alat hisap yang sudah tersedia
itu banyak, lebih dari 10. Bandar di bilik. Membuka usaha bilik sabu di
besar memasok kiloan gram sabu,
kemudian disebar ke sejumlah rumah
penyedia lapak. Satu bandar sabu bisa
Cerita dari Pulau Garam 103
kampung itu sudah menjadi rahasia Sejak 2015, rumah-rumah terduga bandar
umum. Membeli dan menghisap sabu sabu yang tadinya sederhana berubah
bisa di mana saja. “Jadi, tidak pakai mewah dengan warna cat mencolok.
kasir segala. Pelayannya tuan rumah.
Kalau tidak ada bapaknya, ya ibu- Bisnis peredaran sabu di Kampung Narkoba
ibunya,” ujar Cecep. Rabesen, Desa Parseh, Kecamatan Socah,
Kabupaten Bangkalan, Madura membawa
Beberapa tahun berjalan, bisnis perubahan drastis. Foto : Dok. Polda Jatim
sabu di kampung itu membuat banyak
perubahan. Rumah-rumah yang diduga
milik bandar sabu tidak lagi berdinding
kayu. Kini, bangunannya rumah bandar
104 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Seorang anggota Brimob beratribut lengkap berpatroli di kawasan Kampung Narkoba
Rabesen, Desa Parseh, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura. Upaya penindakan
yang dilakukan Direktorat Reserse Narkoba Polda Jatim sekaligus pencegahan dan sosialisasi
bahaya Narkoba, Desember 2015. Foto : Dok. Polda Jatim
Cerita dari Pulau Garam 105
lebih mewah, dengan cat rumah yang
mencolok.
Sejak 2015, bilik-bilik hisap itu
sudah berubah menjadi kamar yang
tertutup daun pintu. Ruangannya
seluas kamar kos atau kontrakan satu
pintu, 3x3 meter persegi. Lantainya
beralas karpet atau tikar.
Paket sabu yang disediakan juga
semakin murah meriah, mulai dari
paket hemat Rp 50 ribu seberat nol
koma sekian gram. Ada juga paketan 1
gram, seharga minimal Rp.1 juta. “Kalau
dulu, paketnya itu seperempat atau
setengah gram sabu, harganya ratusan
ribu,” ucap Cecep.
Desa Jambringin
dan Campor
Selain di Bangkalan, ada dua desa
di Kecamatan Proppo, Pamekasan
jadi kampung Narkoba. Akibat
penyalahgunaan Narkoba, kriminalitas
di Proppo meningkat. Mayoritas,
pelaku dan pengedar yang tertangkap
di Pamekasan, biasanya berasal dari
wilayah itu.
Masnawi (39), warga Desa
Jambringin, Kecamatan Proppo, nekat
menyandera ayah kandungnya sendiri
pada 12 Februari 2015. Setelah dites
urine, pria itu positif mengonsumsi
Narkoba. Pada Mei 2015 Polres
Pamekasan menangkap pengedar
sabu bernama Safakih, warga Dusun
Jatibudan, Desa Campor, Kecamatan
Proppo.
Menurut Camat Proppo, Hambali,
ada dua desa yang masuk kategori
parah di wilayahnya, Desa Campor dan
Jambringin. Dari kedua desa Hambali
106 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
sering menerima laporan, ada siswa Satu personel pria calon manten,
sekolah dasar yang sudah memakai duduk di mobil paling depan. Wajah
Narkoba. calon manten berkemeja putih dan
berkopiah hitam itu sumringah. Itu
Direktur Reserse Narkoba Polda yang membuat warga Kampung
Jatim, Komisaris Besar Polisi Eko Proppo tidak curiga saat rombongan
Wahyu Prasetyo mengatakan, polisi melintas. “Penyamaran iring-
peredaran Narkoba sulit dicegah iringan pengantin ini sukses,” kata
petugas karena banyak pelabuhan Cecep.
tikus di beberapa kampung. Di
Pelabuhan Bangkalan misalnya, Penyamaran itu ide Cecep bersama
perahu kecil bisa bersandar di samping Kasubdit I, Ajun Komisaris Besar
pemukiman. Andy Arisandi. Sebab, daerah itu
rawan, dan setiap akses masuk sudah
Pasokan sabu dari bandar termonitor oleh kaki-tangan pemain
bisa datang dari mana saja. Jalur sabu. Giat operasi penggerebekan
distribusinya dari Tawau, Malaysia kali ini menyasar bilik-bilik sabu di
ke Kalimantan Timur, terus ke Pulau rumah bandar Mattopah (43). “Itu saja,
Madura. Mereka cukup menggunakan ketika rombongan serempak keluar
perahu kecil. “Mangkanya kita selalu dari mobil, warga di sana bubar. Tapi
merazia tempat-tempat peredaran syukurnya beberapa orang di bilik-bilik
Narkoba di Madura, sudah sering kita sabu itu belum sempat melarikan diri,”
obrak-abrik,” ujar Eko. kata Cecep.
Bisnis gelap sabu di setiap “Begitu mereka sadar, ibu-ibunya
Kampung Narkoba di sana, sama. juga pada berteriak sambil bawa
Rumah-rumah warga menjadi lapak. pentungan. Mobil kita juga sempat
Di setiap akses masuk menuju desa, dilempari batu,” kata Komisaris Ermi
terdapat pos pantau yang dijaga Sugiarti, Kanit Ops Subdit I, yang ikut
centeng bercelurit. Jika ada kendaraan dalam operasi tersebut.
tidak dikenal masuk kampung,
sudah dicurigai. Sebab itu upaya Sayangnya, saat penggerebekan
penggerebekan seringkali gagal. itu, bandar sabu Mattopah tidak
berada di rumahnya. Saat itu, hanya
Iring-iringan Pengantin ada Hartono (23). Pria ini bertugas
melayani pembeli sabu. Selain
Sore tanggal 26 Agustus 2015, di Hartono, petugas juga meringkus lima
Kecamatan Camplong, Pamekasan, orang lainnya, Erfan Yusuf (26), Zainul
ratusan personel Direktorat Reserse (28), Fahmi Sihab (26), Husen (37), dan
Narkoba Polda Jatim berkumpul. Asrul Anam (21).
Belasan mobil yang mengangkut
personel itu dihias rangkaian bunga Beberapa bulan kemudian tersiar
dan pita warna warni. Mereka siap kabar, Mattopah sudah ditangkap
mengiring rombongan manten Badan Narkotika Nasional Provinsi
(pengantin) ke Kecamatan Proppo. (BNNP) Jatim pada 11 Oktober 2015.
“Saat digerebek dia sedang tidur di
Cerita dari Pulau Garam 107
rumah mertuanya. Di bawah kasur, Hampir setiap rumah di Kampung Rabesan,
Mattopah menyimpan 2,7 gram sabu,” Madura menyimpan senjata tajam
kata Kabid Pemberantasan BNNP tradisional. Foto : Dok. Polda Jatim
Jatim, Ajun Komisaris Besar Bagijo Adi.
abrik, penggerebekan berikutnya
Dari penggerebekan di Kampung adalah Kampung Rabesen dan Desa
Proppo, petugas menemukan 21 paket Campor pada 21 Desember 2015.
sabu seberat 14,41 gram, 4 timbangan Ratusan personel menyasar rumah
elektronik, dan puluhan bong yang bandar sabu Muhammad Holil (26).
disembunyikan dalam kotak kayu. Ia ditangkap dengan barang bukti
“Sehari berikutnya, giat operasi di 2 paket sabu seberat 1,35 gram.
kampung itu kita lakukan penyuluhan “Dalam operasi itu, kamar-kamar yang
bahaya Narkoba,” kata Cecep. disewakan untuk nyabu juga kita
hancurkan,” kata Eko Wahyu. F
Setelah Kampung Proppo diobrak-
108 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
barang bukti selama pelaksanaan Operasi BERSINAR SEMERU 2016
dari tanggal 21 Maret s/d 19 April 2016
NO KESATUAN JTP TSK PTP BARANG BUKTI
GANJA/GRAM SHABU/GRAM XTC/BUTIR UANG/ Rp KET
1 DITRESNARKOBA 38 45 - 422,2 - 1.663.000,- 2
2 RESTABES 156 185 155,81 + 100 Benih 36 Batang 476,83 210 +15,09 Gr 40.495.000,- 1
SURABAYA 28 39 -
3 RES TANJUNG 50,324 - 3.420.000,- 4
PERAK
4 RES SIDOARJO 76 81 1.003,49 74,42 38 1.423.500,- 3
5 RES GRESIK 15 16 275,67 25,41 - 4.060.000,- -
6 RES MALANG KOTA 22 24 - 46,14 21 + 0,27 Gr 1.650.000,- -
7 RES MALANG 26 27 - 30,85 - 1.004.000,- -
- 19,99 - 6.076.000,- -
8 RES PASURUAN 11 13 - 43,05 65 845.000,- -
KOTA - 4,53 - 110.000,- -
- 1,29 - 382.000,- -
9 RES PASURUAN 22 28
10 RESTA 99
PROBOLINGGO KOTA
11 RES PROBOLINGGO 44
12 RES LUMAJANG 67 - 6,91 - --
13 RES BATU 56 -4 1 --
14 RES BONDOWOSO 44 - 3,99 - 300.000,- -
15 RES SITUBONDO 57 - 12,89 - --
16 RES JEMBER 23 27 2 14,69 - --
17 RES BANYUWANGI 19 26 - 13,3 6 1.802.000,- -
18 RES KEDIRI KOTA 33 - 5,88 - --
19 RES KEDIRI 88 - 7,3 7 --
20 RES NGANJUK 79 - 1,43 - --
Cerita dari Pulau Garam 109
21 RES BLITAR KOTA 55 - 17,01 - --
22 RES BLITAR 78 - 2,70 - 1.000.000,- -
23 RES TULUNG AGUNG 67 - 5,11 + 1 Pocket - --
24 RES TRENGALEK 12 - 0,92 - --
25 RES MADIUN KOTA 55 1,07 16,09 16 - -
26 RES MADIUN 11 13 8,3 3,83 - 201.000,- -
27 RES MAGETAN 55 3,10 2,04 - --
28 RES NGAWI 45 33,72 0,81 - --
29 RES PONOROGO 22 - 0,66 - --
30 RES PACITAN 46 - 2,09 - --
31 RES BOJONEGORO 22 - 1,17 - 17.500,- -
32 RES TUBAN 22 - 2,68 - --
33 RES LAMONGAN 57 - 2,96 - --
58
34 RES MOJOKERTO 26 33 - 8,13 - 8.100.000,- -
KOTA
35 RES MOJOKERTO 134,92 23,95 - 100.000,- 5
36 RES JOMBANG 14 23 - 10,73 - 2.093.000,- -
37 RES PAMEKASAN 11 18 - 11,2 - 250.000,- -
38 RES BANGKALAN 14 20 - 13 - 400.000,- -
39 RES SAMPANG 20 25 - 18,25 - 359.000,- -
40 RES SUMENEP 8 14 - 21,8 - 1.350.000,- -
41 BNN 55 511 948,09 -- -
JUMLAH 649 783 -
2.129,08 + 100 Benih 2.378,64 + 364 Butir + Bentuk Rp77.101.000,-
36 Batang 1 Pocket Serbuk 15,36 Gram
110 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba SEBATIK
KABUPATEN NUNUKAN
NUNUKA
KABUPATEN
TANA TIDUNG
KOTA
TARAKANP.Karis
KABUPATEN BULUNGAN
KABUPATEN MALINAU
KABUPATEN BERAU
KABUPATEN KUTAI TIMUR
KABUPATEN KUTAI BARAT
KOTA
BONTANG
KABUPATEN KUTAI KERTANEGARA
KOTA
SAMARINDA
KABUPATEN KOTA
PENAJAM BALIKPAPAN
PASIR UTARA
KABUPATEN PASIR
111
112 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Kampung Baru, Gunung Bugis 113
114 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Rumah-rumah di kawasan Kampung Baru, Balikpapan
Barat, Kota Balikpapan, Mei 2016. Perkampungan ini
mayoritas dihuni warga keturunan Bugis. Tempat ini
menjadi sarang Narkoba sekitar awal tahun 2000.
Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
Kampung Baru, Gunung Bugis 115
Kampung Baru,
Gunung Bugis
Bukit ini letaknya yang berkembang lewat kilang
bersebelahan dengan minyak. Ini adalah tempat tinggal
Teluk Balikpapan. Berada para kuli masa lampau yang menjadi
di sebelah barat Kota penopang perkembangan kilang
Balikpapan. Dari atas minyak, pertambangan, maupun
bukit, teluk kelihatan apik dengan aktivitas pelabuhan di Balikpapan
jejeran kapal tanker berlabuh, Jumat pada masa lampau.
(13/5/2016) siang. Lautnya biru dan
tenang. Banyak kapal boat kecil Aktivitas perminyakan di
bergerak cepat, melintas di sisi-sisi Balikpapan dimulai pada 10 Februari
kapal tanker. Semilir angin meniup 1897 oleh Perusahaan Mathilda,
pepohonoan jadi pemandangan setelah mengontrak lahan dari
sehari-hari disana. Indah dan tenang. Kesultanan Kutai Kartanegara.
Orang Balikpapan menyebut Selanjutnya terus berkembang usai
bukit itu Gunung Bugis. Lokasinya beralih ke sebuah kongsi dagang besar
berdekatan dengan Kampung bernama De Bataafsche Petroleum
Baru yang berada di bawah kaki Maatshappij NV—orang-orang
bukit. Kalau dari Gunung Bugis bisa selama beberapa dekade lebih sering
memandang laut dengan bebas, menyebutnya BPM.
dari Kampung Baru laut terhalang
oleh jejeran rumah penduduk, rumah Berikutnya di tahun 1917, Balikpapan
makan, konter ponsel, toko makanan, sudah menghasilkan beberapa
serta beberapa pelabuhan kecil untuk komoditas berbahan dasar dari minyak
menyeberang ke Penajam. bumi. Seperti lilin, parafin, dan banyak
Sejarah Kampung Baru dan Gunung lagi. Lalu di tahun 1919, Balikpapan
Bugis adalah sejarah Kota Balikpapan sudah menjadi lokasi perindustrian
pengolahan minyak yang dipegang
oleh BPM.
116 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Kilang minyak milik Pertamina berdiri di bawah
perbukitan yang diberi nama Gunung Dubbs. Inilah
yang sejak abad 18 silam menggerakan arus kuli dan
pekerja untuk datang ke Kota Balikpapan.
Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
Kampung Baru, Gunung Bugis 117
118 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Bahkan di tahun 1938, Balikpapan
tercatat dikunjungi 353 kapal
pengangkut dengan total muatan
847.000 M3. Tercatat hasil
pertambangan yang diangkut dari
Balikpapan di tahun 1938 adalah
sebanyak 1.700.000 ton.
Karena pesatnya perkembangan
Balikpapan, di tahun 1937, sebelum
Perang Dunia II, Koninklijke
Nederlandsch-Indische Luchtvaart
Maatschappij (maskapai penerbangan
di Hindia Belanda yang disingkat
KNILM) telah memiliki jalur
penerbangan Jawa-Balikpapan. Jika
sebelum Mei 1937, penerbangan hanya
sekali seminggu, maka setelah 1 Mei
1937 menjadi dua kali dalam seminggu.
Pegawai BPM terus mengalir
dari berbagai daerah dan mendapat
kehidupan yang layak. Mereka
mendapat perumahan yang layak di
Gunung Dubbs. Pemukiman bergaya
Eropa dengan bentuk rumah kayu
yang tersebar berjauhan di bukit-
bukit yang ditanami rumput pendek.
Kini rumah-rumah di Gunung Dubbs
dijadikan tempat tinggal para petinggi
Pertamina.
Semakin besar BPM, kebutuhan
terhadap kuli-kuli pun meningkat
di pelabuhan maupun perusahaan
minyak. Mengalirlah tenaga kuli kasar
yang berdatangan dari wilayah Banjar
maupun Sulawesi. Mereka itulah yang
kemudian tinggal di Kampung Baru
dan Gunung Bugis, dimana kemudian
di era awal abad 21 berkembang
menjadi Kampung Narkoba.
Seiring berkembangnya BPM di
tahun 1937, catatan munculnya tempat
hiburan malam juga mulai kelihatan.
Kampung Baru, Gunung Bugis 119
Rumah panggung banyak berdiri di
kawasan Gunung Bugis, Balikpapan Barat,
Kota Balikpapan sejak abad 18. Warga di
perkampungan ini mayoritas bekerja sebagai
kuli-kuli pelabuhan. Tapi kini sudah banyak
pula yang bekerja sebagai pegawai di Kota
Balikpapan. Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
120 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Warta Oemoem edisi 29 Mei 1937 pinggir jalan. Ketujuh wanita itu, oleh
mencatat bahwa mulai tumbuh Commisariet Van Politie Soepaja
tempat hiburan di Balikpapan. diperingati agar tak berbuat serupa di
kemudian hari. Selain itu muncul pula
Di edisi 25/26 Mei 1937, surat kabar lokasi-lokasi perjudian di pasar malam.
itu menulis polisi meringkus tujuh Geliat kehidupan malam Balikpapan
kupu-kupu malam (PSK) di pinggir-
Anak-anak kecil berkumpul sambil bermain
gitar di rumah-rumah panggung yang tersebar
di Gunung Bugis, Balikpapan Barat, Kota
Balikpapan. Oleh jaringan pengedar Narkoba
di Kampung Baru dan Gunung Bugis, anak-
anak kecil ini kerap dimanfaatkan sebagai
kurir sabu. Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
Kampung Baru, Gunung Bugis 121
pun dimulai, tetapi belum ada catatan Merambah Gunung Bugis
mengenai candu atau Narkoba di
tahun-tahun itu. Saling (70), seorang nenek yang
tak lancar berbahasa Indonesia,
menceritakan tinggal di Kampung
Baru sejak sekitar 1960-an. Dia ikut
suaminya yang memilih merantau
ke Balikpapan dan bekerja jadi kuli di
pelabuhan. Saling dan suaminya sama-
sama berasal dari dari Kabupaten
Pare-Pare di Sulawesi Selatan.
Di usia 70 tahun, Saling masih
tampak bugar dengan kulit keriputnya.
Tubuhnya tak kurus dan juga tak
gemuk. Jalannya tegap dan cepat.
Setiap hari dia masih melakukan
seluruh pekerjaan rumah sendiri.
Di tahun 1960-an, kata Saling,
Kampung Baru yang kini sudah hiruk
pikuk dengan kegiatan di pelabuhan-
pelabuhan kecil, rumah makan, dan
bisnis lainnya, hanya jadi lokasi
tinggal para kuli. Kuli bujangan hidup
di bedeng-bedeng, sedang kuli yang
membawa keluarga, membangun
rumah-rumah semi permanen di atas
laut dan kaki-kaki bukit (Gunung
Bugis) atau wilayah Kampung Baru.
Setiap hari, ingat Saling, kuli-kuli
itu termasuk suaminya, pergi pagi
hari dan pulang sore harinya. Saling
tak ingat berapa upah yang didapat
suaminya. Tapi upah itu dibayarkan
setiap hari. Pada akhirnya dia dan
suaminya bisa membangun sebuah
rumah panggung besar untuk
menampung anaknya di tengah hutan
Gunung Bugis. Anak-anaknya ketika
dewasa kemudian membangun rumah
panggung yang mirip di samping-
sampingnya.
122 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Orang Bugis, kata Saling, punya Sahri adalah seorang perempuan
kebiasaan mengajak dan membantu bongsor dengan empat anak.
keluarganya. Mereka yang sudah lama Suaminya bekerja sebagai kuli
menjadi kuli atau berhasil naik jabatan di tambang batubara di wilayah
jadi mandor, kemudian menarik Kecamatan Penajam, Kabupaten Paser
keluarga lainnya yang masih berada di Utara, Provinsi Kalimantan Timur, yang
Sulawesi untuk datang dan bekerja di mesti ditempuh dengan speedboat
Balikpapan. selama 20 menit, lalu beberapa jam
Dia masih sempat menampung
beberapa adiknya yang datang untuk
bekerja di Balikpapan. Itu pula yang
banyak dilakukan keluarga lainnya
sampai kawasan itu benar-benar
menjadi padat.
Setelah kampung baru makin
padat, para pendatang yang berasal
dari Bugis ini merambah lokasi baru.
Mereka mulai naik ke atas bukit
(Gunung Bugis) dan mendirikan
rumah-rumah panggung di atas bukit.
Kayu jenis ulin yang dipakai untuk
menambat fondasi rumah di tanah
bukit yang miring dengan tanah
lembab itu. Kayu ulin ini berwarna
hitam legam dan memiliki bentuk
lurus. Kokoh. Kayu ini menambat ke
dalam tanah sekitar satu sampai tiga
meter.
Saat itu rumah tak dilengkapi
dengan toilet. Setiap hendak buang
air besar (BAB), warga pergi ke hutan
dan BAB disana. “Makanya dulu
namanya bukan Gunung Bugis, tetapi
ini dinamakan (maaf) Gunung Tai.
Sebab banyak tai dimana-mana di
dalam hutan,” kata Sahri Bulan (44),
anak Saling yang lahir tahun 1972 di
Gunung Bugis. Jalan-jalan di Gunung
Bugis dan Kampung Baru pun, amat
sempit. Jalannya hanya berupa tanah
yang dikeraskan. Setiap hujan turun,
jalan menjadi becek dan licin.
Kampung Baru, Gunung Bugis 123
menembus hutan. Seorang warga lelaki mandi di jalan-jalan kayu
Suaminya hanya pulang setiap di salah satu sudut Kampung Baru, Mei 2016.
sepekan atau dua pekan sekali. Saat Pemukiman di sini berada di atas laut. Para Bandar
ditemui di tengah siang di hari Jumat Narkoba banyak memiliki lapak-lapak di tempat ini.
yang basah, Sahri berpakaian asal-
asalan dengan lemak tubuh yang Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
muncul dimana-mana. Dia ‘nangkring’
di rumah panggungnya yang dikelilingi
124 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Warga Kampung Baru mengeringkan ikan. Di Sekadar membantu ekonomi keluarga.
belakangnya bersandar sebuah kapal kecil milik Dulu warga Gunung Bugis –
nelayan setempat. Setiap hari kapal kecil bebas
masuk ke tempat ini. Menyeberang dari Kabupaten Kampung Baru mayoritas bekerja di
Penajam Paser Utara ke Kota Balikpapan, ataupun pelabuhan menjadi kuli, atau di lokasi-
sebaliknya. Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw lokasi kilang Minyak di Balikpapan,
kini, kata Nuraini (44), Ketua RT 32
pepohonan tinggi. Tinggi pohon- Gunung Bugis, tidak lagi. Menurut dia,
pohon itu lebih tinggi dari rumahnya sekarang tak satupun keluarganya
dengan dedaunan rapat. yang bekerja di pelabuhan atau di
perminyakan.
Dia menceritakan bahwa
perempuan asal Bugis yang tinggal “Kalau dulu, ayah saya jadi mandor
di Kampung Baru atau Gunung Bugis, di Pelabuhan,” kata Nuraini. Ia
rata-rata bekerja di pasar, menjual ikan mengaku lahir dan besar di Gunung
hasil laut. Bugis. Ayahnya merantau ke Gunung
Bugis untuk menjadi kuli pelabuhan.
Saat hari ramai, Sahri bisa menjual Kini, suami Nuraini bekerja serabutan.
30 kilogram ikan. Tapi saat sepi, ia “Suami saya sopir angkot sekarang,”
paling menjual 15 kilogram saja. Tapi ujar Nuraini. Dua anak perempuannya
ada pula perempuan yang memilih setiap hari bekerja keluar dari wilayah
membuka warung kecil atau makanan
ringan di depan rumah mereka.
Kampung Baru, Gunung Bugis 125
Kampung Baru. Mereka bekerja di Suasana jalan di Gunung Bugis, Mei 2016.
kantor swasta, di perusahaan leasing. Pemukiman di kawasan ini memang rapat, tetapi
Gunung Bugis di tahun 2016 tidak semrawut seperti gang-gang di Jakarta.
ini sudah menjadi perkampungan Dahulu, di tahun 1960an, jalan ini berbecek dan licin.
padat. Rapat, tapi tidak semrawut
seperti gang-gang kumuh di Jakarta. Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
Di Gunung Bugis, rumah-rumah
penduduknya berderet di sepanjang Perkampungannya berdiri di atas
jalan beraspal yang bisa dilintasi laut. Penambatnya adalah batang-
dua kendaraan berlawanan arah batang kayu ulin yang tebal. Lalu di
tanpa terhambat. Di kecuraman atas kayu-kayu ulin itu berdiri rumah
tanah di Gunung Bugis, rumah- penduduk. Ada yang juga terbuat dari
rumah penduduk berdiri dengan gaya kayu, ada pula yang terbuat dari batu
panggung seperti dimiliki Sahri. bata.
Jalanan di sepanjang Gunung Setiap sore, warga Kampung Baru
Bugis akan terus menanjak sampai yang rumahnya berada di atas laut
diujung, lalu menurun dan bertemu memilih mandi di jalan perkampungan
dengan wilayah Kampung Baru yang itu. Kebanyakan warga lelaki yang
landai dan sejajar dengan pantai. melakukan itu. Mereka memakai
celana dalam atau celana jelek mereka,
lalu menyiram air ke tubuhnya dan
126 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
menyabuninya begitu saja. Sementara
orang lain melintas dan menyapanya.
Para Bandar
Lelaki itu berperawakan gemuk,
pendek, berkulit hitam, memakai
tas selempang, dan mengenakan
topi snapback dengan paduan baju
berwarna merah serta celana pendek
jins. Siang itu, Sabtu (14/5/2016), dia
turun dari mobil Honda CRV model
terbaru berwarna putih dengan pelek
hitam mengkilap di Kampung Baru.
Padahal beberapa pekan lalu dia
datang kesitu memakai mobil Honda
Jazz putih. Dia memang memiliki tiga
mobil.
Begitu ia turun dari mobil,
beberapa pria berperawakan
kurus memakai kemeja putih
bersih dengan kerah yang dibuang
mengacung dan kacamata hitam,
menghampirinya. Seorang pria kurus
lainnya membawakan lelaki bertopi
snapbacak tadi, sepeda motor. Dia
kemudian menukar kunci motor dan
mobil.
Dua orang lainnya keluar dari dalam
mobil. Seorang bocah perempuan
kecil dan istrinya, seorang perempuan
dengan tubuh sintal berkulit putih,
juga turun dari mobil.
Dia kemudian menaiki motor
itu, memboncengkan istrinya dan
menaruh anaknya di tengah-tengah.
Sang anak memilih berdiri di tengah
motor. Ibunya memegang pinggulnya
dari belakang. Sementara tangannya
memegang pundak ayahnya.
Sementara pria yang tadi ia berikan
kunci mobil, memindahkan mobil itu
Kampung Baru, Gunung Bugis 127
Pelabuhan Sei Nyamuk di Desa Sei Nyamuk, Kecamatan
Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Mei 2016. Ini
merupakan pelabuhan resmi yang hanya berjarak 15
menit dari Tawau, Malaysia. Di pelabuhan inilah polisi
pernah meringkus seorang ibu dengan barang bukti 2
kilogram sabu. Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
128 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Anak-anak kecil bermain di lorong-lorong sempit di
Kampung Baru, Mei 2016. Tempat mereka bermain
ini tak jauh dari lapak Narkoba milik Bedu yang kini
sudah dibongkar polisi. Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
Kampung Baru, Gunung Bugis 129
agak ke dalam, masuk ke sebuah jalan
sempit dan memarkirkannya agak
ke ujung. Saat mobil selesai diparkir,
pria tadi sudah menghilang dengan
motor ke gang-gang sempit dan padat
dengan jalan terbuat dari susunan
kayu ulin.
Nama lelaki itu Rozman Rozadi
alias Amon (30), salah satu bandar
dari enam bandar Narkoba yang
mencengkeram Kampung Baru dan
Gunung Bugis. Setiap pekan dia
memang selalu datang ke Kampung
Baru untuk mengunjungi keluarganya.
Dari enam bandar besar Narkoba
disana, Amon bandar yang baru tiga
tahun ini beroperasi.
Ia yang termuda di antara para
bandar di sana. Meski demikian,
dalam tiga tahun ini Amon sukses
menumpuk kekayaannya. Dia bisa
keluar dari kehidupan di Kampung
Baru, dan membeli satu rumah
yang letaknya lebih ke tengah Kota
Balikpapan dan hidup nyaman di
Balikpapan.
Meski demikian, lapak-lapak sabu
miliknya tetap berada di Kampung
Baru. Sebelum menjadi bandar, Amon
pernah bekerja sebagai operator alat
berat di tambang batubara. Tapi ia
memilih keluar.
Begitulah Kampung Baru – Gunung
Bugis berkembang. Berubah jadi
kawasan “Texas” -- sebutan untuk
wilayah rawan kejahatan dan Narkoba
di Balikpapan. Anak muda yang
tumbuh dan besar dalam kehidupan
keras disana, kini menjadi orang kaya
lewat bisnis Narkoba.
Abdul Razid (48), salah satu warga
Kampung Baru yang memilih berbisnis
130 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Suasana Kampung Baru yang berada
di atas bukit, Mei 2016. Rumah-rumah
tersusun diselingi dengan rimbunan
pohon-pohon tropis berdaun lebat.
Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
Kampung Baru, Gunung Bugis 131
132 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
jual-beli tiket pesawat, menceritakan, saat Abdul sedang sibuk kuliah di
di era dia muda, dekade 1980an – Universitas Hasanuddin di Makassar,
1990-an Kampung Baru dan Gunung Sulawesi Selatan.
Bugis mulai berkembang jadi wilayah
rawan. Abdul merupakan salah satu Puncaknya saat Senong menjadi
orang yang kesal ketika tempat debt collector. Dia berkelahi dengan
tinggalnya berubah menjadi kampung seorang pria mabuk di salah satu gang
Narkoba. di Kampung Baru. Senong juga sedang
dalam keadaan mabuk ketika itu. Saat
Anak-anak yang tumbuh dan peristiwa terjadi, Abdul masih kuliah
besar di dekade itu punya kebiasaan di Makassar. Dia menusuk pria itu
berkelahi, mabuk-mabukan dan karena masalah sepele, yakni saling
berbuat onar. Hal itu terus berjalan senggol di ujung gang.
sampai muncul preman-preman disana
yang pada dekade 2000-an menjelma Korbannya tewas dengan satu kali
jadi pengedar sabu dan mulai tikam. Senong diringkus polisi dan
menumpuk kekayaannya. dipenjara selama 5 tahun. “Saat saya
kembali dari kuliah, dia sudah keluar
Abdul tahu betul seluruh bandar dari penjara dan tak bekerja lagi jadi
Narkoba itu dari yang paling awal. debt collector,” kata Abdul.
Dia hidup berdampingan dengan
mereka. Bahkan kakak kandungnya Ketika Abdul merampungkan
menikah dengan bandar terbesar kuliahnya di tahun 2000, Senong
disana. Dia menyebut tali silaturahmi sudah beralih jadi pengedar sabu. Ia
dengan sang kakak agak terputus usai mendapat jaringan peredaran sabu
pernikahan itu. dari penjara tempatnya ditahan di
Balikpapan. Usai keluar itulah dia terus
“Saya itu tinggal dikelilingi oleh menjalin kontak dengan salah satu
Bandar Narkoba. Bandar Narkoba narapidana yang kemudian menjadi
bernama Amon itu tinggal di dekat pemasok Narkobanya.
rumah saya. Ada beberapa bandar lain
yang kakaknya teman saya bermain. Awalnya Senong memakai
Disini itu banyak saudara. Itu pula rumahnya di dekat Masjid Al Ula di
yang kadang membuat orang enggan Kampung Baru pada tahun 2000
melapor ke polisi. Mau dilaporkan, untuk berjualan sabu. Seluruh warga
tetapi tetangga sendiri, kerabat disana tahu apa yang Senong lakukan.
sendiri, atau teman sendiri,” kata Tapi tak ada yang berani menegurnya.
Abdul. Salah satunya lantaran statusnya
sebagai mantan narapidana kasus
Bandar terbesar dan pertama di pembunuhan.
Kampung Baru ialah Senong (60).
Lelaki ini tumbuh dengan kehidupan “Istri pertama Senong itu kakak
yang brutal di Kampung Baru. saya,” kata Abdul. Abdul mengaku tali
Dia tukang mabuk-mabukan dan silaturahminya dengan sang kakak
kerap berbuat onar. Kelakuannya terganggu usai menikahi Senong. Dia
makin menjadi di era 1990-an, yaitu hanya datang ke rumah kakaknya
di hari penting saja. Salah satunya
Kampung Baru, Gunung Bugis 133
Kapal-kapal kecil bebas menyeberang dari Kabupaten
Penajam Paser Utara ke Kota Balikpapan, ataupun
sebaliknya. Foto : Theo Yonathan Simon Laturiuw
134 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba