Dikendalikan dari Penjara 35
Dikendalikan dari Penjara
Akhir Desember 2010, 8,5 kilogram sabu, dan berbagai
pemain besar sabu dan prekursor serta alat produksinya.
ekstasi, Kamir Santoso, Setelah dijebloskan di Lapas Narkotika
ditangkap di apartemen Cipinang, polisi kembali menggerebek
di Guangdong, Tiongkok, kamar tahanannya dan menyita 22,7
setelah tinggal di sana selama kilogram sabu. Karena diduga terlibat,
setahun. sipir Zaenudin dan Nusantara Ariyanto
ditangkap, sementara sipir lainnya,
Dia adalah kaki tangan Mafia Triad. Deni Sastori, buron.
Pengikutnya tersebar di Hongkong,
Makau, Vietnam, Taiwan, dan sejumlah Setelah bebas tahun 2009, Kamir
negara lain. bertemu Deni di Tiongkok, Mei 2010.
Keduanya melanjutkan bisnis gelap
Ia membangun jaringan di antara sabu mereka. Atas nama Machine
kaum Tiongkok perantauan. Setiap Development and Products Factory
hari, dia dan jaringannya menjual Room 1033 Huaxing Garden Kwontong
1-1,5 kilogram sabu. Buat Kamir, Kowloon Hongkong, mereka mengirim
penjara di Indonesia menjadi tempat paket sabu sebanyak satu kilogram ke
paling aman untuk membangun PT Kaisar Sentosa di Cipinang Muara,
dan menggerakkan bisnis gelapnya. Jakarta Timur.
Lembaga Pemasyarakatan Tangerang,
Banten; Rutan Salemba dan Cipinang Dengan bantuan keuangan Kamir,
di Jakarta; Penjara Banceuy di Deni membangun dan mengelola tiga
Bandung; bahkan Nusakambangan, pabrik sabu di Cipinang Lontar, Jakarta
Jawa Tengah, seperti ditulis Kompas, Timur. Saat pabrik digerebek, polisi
Sabtu (31/12/2011), pernah ia singgahi. menyita 2,5 kilogram sabu, prekursor
ephedrine 38,6 gram, dan ketamin
Tahun 2006, dari tangannya seberat 11,8 gram. Nilai seluruhnya Rp
petugas menyita 52.254 butir ekstasi,
36 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Dikendalikan dari Penjara 37
6 miliar.
Saat mendekam di penjara
Nusakambangan tahun 2007, Kamir
menjalin hubungan dengan Kepala
Lapas Marwan Adli. Dengan bantuan
Marwan, Kamir membangun bisnis
narkobanya di sana dibantu terpidana
narkoba, Hartoni dan Kapten.
Di sanalah Kamir dan kawan-
kawannya setiap hari mampu
menjual sabu 1-2 kg atau senilai
sekurang-kurangnya Rp 1 miliar-Rp
2 miliar. Lewat bantuan sipir, Kamir
membangun jaringan bisnisnya lewat
internet. Hampir seluruh penjara di
Tanah Air menjadi simpul bisnis gelap
Kamir.
Selain di Cipinang Lontar, mereka
juga memiliki pabrik sabu di
Pademangan IV, Pademangan Timur,
Jakarta Utara. Dari sana, petugas
pernah menyita 22.254 butir ekstasi
dan 8,36 kg sabu. Pabrik sabu mereka
lainnya ada di Mediterania, Kelapa
Gading, Jakarta utara.
Sulit mendapatkan saksi yang
memberatkan Kamir dan kelompoknya.
Narapidana narkoba, Benny dan Afon,
diberitakan tewas karena jatuh dari
kamar mandi. Yudi, warga Tangerang,
ingkar bersaksi tentang Kamir setelah
istri dan anaknya tewas dengan cara
mencurigakan.
Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menunjukkan barang bukti upaya
penyelundupan sabu sebanyak 39,5 kilogram dan 180.000 butir ekstasi
di Pelabuhan Muara Jati, Cirebon. Selain sabu dan ekstasi, polisi juga
menyita sebuah kapal tanker yang digunakan untuk mengangkut sabu
dan ekstasi dari Selat Panjang, Riau, 6 April 2016. Dok. arsip Metro
38 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Tiga tersangka penyelundup sabu sebanyak
39,5 kilogram dan 180.000 butir ekstasi di
Pelabuhan Muara Jati, Cirebon. Dok. arsip Metro
Rest Area Tol Cipali ekstasi.
Fajar adalah kurir Narkoba,
Bak tak pernah berakhir, kasus
kasus kendali bisnis gelap sabu dari sementara para penyergap adalah
balik penjara yang mulai terungkap anggota Tim Khusus Narcotic
sejak tahun 2007, terus terjadi. Investigation Center (NIC), Subdit IV
Fajar Priyo Susilo (25) yang sedang Narkoba Bareskrim Mabes Polri. Sabu
melepas lelah di Rest Area Tol Cipali dan pil ekstasi yang dibawa Fajar,
(Cikampek-Palimanan) kilometer 117 disembunyikan di speaker sound
arah ke Jakarta, disergap sejumlah pria system.
berbadan tegap, Rabu (16/3/2016).
Fajar kemudian menjelaskan,
Fajar yang saat itu mengendarai barang-barang tersebut dibawa
Daihatsu Terios hitam B 2129 JA pun dari satu rumah kontrakan yang
dipaksa turun dan tiarap di tanah oleh dimanfaatkan sebagai gudang
para pria tersebut. Para penyergap penyimpanan Narkoba. Tim khusus
kemudian membuka bagian belakang NIC yang dipimpin Ajun Komisaris
mobil. Dari sana dikeluarkan 25 Besar Dony Setiawan tak menyia-
kilogram sabu, dan 160.000 butir nyiakan waktu. Mereka meluncur
ke Perumahan Bumi Citra Lestari
Dikendalikan dari Penjara 39
Blok A-2, di Jalan Jenderal Sudirman, diantar dengan kapal kayu. Semua
Kampung Wanacala, Kecamatan Sugianto yang mengatur,” kata Dony
Harjamukti, Kota Cirebon. saat ditemui di ruang kerjanya,
pertengahan Mei 2016.
Sebanyak 15 kilogram sabu dan
20.000 butir ekstasi ditemukan Dari Acay, polisi mendapat dua
terserak di rumah kontrakan tersebut. nama lain, Hendrik Unan dan Gunawan
Sang pengontrak, Muhammad Rizki Aminah yang tinggal di Pekanbaru.
(35) alias Baong pun ikut diciduk Merekalah yang membiayai Acay
polisi. untuk menyiapkan kapal dan proses
pengangkutannya ke Cirebon.
Fajar dan Baong akhirnya
mengatakan bahwa sabu dan pil “Selain membayar jasa operasional,
ekstasi berasal dari Malaysia. Barang- keduanya punya peran mengatur
barang haram tersebut dibawa keuangan jaringan. Gunawan
ke Indonesia lewat Selat Panjang, menampung uang hasil penjualan
Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, sabu dan ekstasi di Jakarta dan
dan berlabuh di Muara Jati, Kota sekitarnya, sementara Hendrik yang
Cirebon. menyetorkan uang tersebut ke bandar
di Malaysia,” ujar Dony.
Keduanya mengambil sabu dan
ekstasi atas perintah Ricky Gunawan, Acay, Gunawan, dan Hendrik
penghuni Lembaga Pemasyarakatan pun ditangkap. Dari mereka, polisi
(Lapas) Cipinang, Jakarta Timur. mendapatkan nama Anchiong alias
Mendengar hal itu, polisi menjemput Karun, dan Yanto yang mengatur
Ricky untuk diperiksa. distribusi peredaran sabu dan ekstasi.
Keduanya adalah narapidana di Lapas
Esok harinya, tanggal 17 Maret, Tim Tanjung Gusta, Medan, Sumatera
Khusus NIC meluncur ke Pelabuhan Utara. Tak ada nama baru lainnya
Muara Jati mendapati kapal pembawa setelah Anchiong dan Yanto dibawa
sabu dan ekstasi dari Malaysia ke Kantor Direktorat Narkoba Mabes
berwarna biru abu-abu, masih Polri.
bersandar. Di kapal bertulis Bahari
I itu, polisi menemukan satu paket “Anchiong adalah warga negara
sabu dan bong (alat hisap sabu). Malaysia yang ditahan karena kasus
Narkoba, sementara Yanto adalah
Juswan (52) yang sedang terpidana penjara seumur hidup
menikmati sabu disitu, ditangkap. Ia karena kasus pembunuhan, “ujar
mengaku disuruh Sugianto alias Acay Dony. Anchiong lah yang memesan
si peyedia perahu, mengantar sabu sabu pada bandar di Malaysia untuk
dan ekstasi dari Selat Panjang ke diedarkan ke Jakarta dan sekitarnya.
Cirebon. Namun, karena tidak lancar berbahasa
Indonesia, ia menggaet Yanto untuk
Acay yang tinggal di Pekanbaru, menggerakkan jalur distribusi dari
Riau juga yang mengatur datangnya Malaysia ke Cirebon. F
sabu dan ekstasi dari Malaysia ke
Selat Panjang. “Dari Malaysia ke
Selat Panjang, sabu dan ekstasinya
40 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
JALUR TRANSPORTASI
MALAYSIA
KAPAL KAYU
SELAT PANDANG, RIAU
KAPAL BAHARI I
PT. INTI GALANGAN SAMUDRA
DERMAGA PELABUHAN MUARA JATI
JL. PERNIAGAAN KEL. LEMAH WUNGKUK
KOTA CIREBON, JAWA BARAT
BARANG BUKTI BARANG BUKTI
TKP III TKP II
WAKTU: 17 MARET 2016 WAKTU: 16 MARET 2016
Perumahan Bumi Citra Lestari
KAPAL BAHARI I Blok A-2, JL. Jend.Sudirman,
MILIK PT. INTI GALANGAN SAMUDRA KP. Wanacala, Harjamukti, Cirebon
DERMAGA PELABUHAN MUARA JATI
1 UNIT KAPAL ANGKUT, 15 KG SABU DAN
1 PAKET SABU DAN ALAT HISAP 20.000 BUTIR EKSTASI
Sumber: Tim Khusus Narcotics Investigation Center (NIC) Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri.
41
JALUR TRANSPORTASI WN MALAYSIA JALUR PEREDARAN
JOINT
ANCHIONG ALS KARUN YANTO ALS ABING RICKY GUNAWAN
NAPI LAPAS TANJUNG GUSTAS NAPI LAPAS TANJUNG GUSTAS NAPI LAPAS NARKOTIKA CIPINANG
PENGENDALI ORANG GUDANG
DAN OPERATOR BARANG
HENDRIK UMAM GUNAWAN AMINAH
KEUANGAN KEUANGAN
BIAYA OPERASIONAL
TRANSPORTER
SUGIANTO ALIAS ACAI PERINTAH
KOORDINATOR TRANSPORTASI PENDISTRIBUSIAN
MALAYSIA KE SELAT PANJANG
SELAT PANJANG KE CIREBON
TRANSPORTER
JUSMAN
TRANSPORTER VIA
JALUR BARANG
PENJEMPUTAN BARANG DAN GUDANG
Perumahan Bumi Citra Lestari Blok A-2, JOINT BARANG BUKTI TKP I
JL. Jend.Sudirman, KP. Wanacala,
Harjamukti, Cirebon MUHAMMAD RIZKY ALS BAONG FAJAR PRIYO SUSILO WAKTU: 16 MARET 2016, 17.45 WIB
REST AREA TOL CIPALI, ARAH JAKARTA KM. 117
PELANGGAN 25 KG SABU DAN 160.000 BUTIR EKSTASI
MR. X MRS. X MR. X MRS. X MR. X
42 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Sejak tahun 1999, penjara dijejali tahanan Narkoba. Akibatnya, penjara pun mengalami over
kapasitas. Di Lapas Klas I Surabaya, Porong Sidoarjo misalnya. Jumlah tahanan per April 2016
ada 349 orang, dari kapasitas Lapas yang hanya 200 orang. Dok. polda jatim
Penjara yang Meluap 43
Penjara yang Meluap
Tak bisa dipungkiri, 2005, Menteri Hukum dan Hak Asasi
berlanjutnya kendali Manusia (HAM) Hamid Awaludin
bisnis sabu dari ruang menjelaskan, tahun 1999 penghuni
ruang penjara di Tanah Air penjara mulai meluap. Di tengah
disebabkan melambungnya kecenderungan naiknya penghuni
jumlah penghuni penjara sejak penjara, muncul kejahatan baru yang
tahun 1999. Sejak tahun tersebut, tidak pernah diperkirakan sebelumnya,
jumlah mereka mulai mendominasi yaitu Narkoba.
narapidana berkasus Narkoba.
Sebanyak 60 persen penghuni,
Proses pembelajaran sesama napi terutama di kota-kota besar, berlatar
oleh sejumlah terpidana mati yang belakang Narkoba. Di era Hamid, Rutan
memiliki “jam terbang” tinggi dalam Pondok Bambu yang berkapasitas 504
urusan bisnis haram ini, kian rapat dan orang, dihuni 1.100 perempuan. Rutan
cepat. Salemba yang berdaya tampung
1.000-an orang, diisi 4.309 penghuni.
Pemindahan 244 narapidana Bahkan rutan di Surabaya yang
Narkoba kelas berat dari lembaga kapasitas huniannya hanya 400 orang,
pemasyarakatan (Lapas) di Provinsi dihuni 2.400 orang.
Banten dan DKI Jakarta, Jawa
Tengah, dan Jawa Timur ke Lapas Ini bisa terjadi karena jumlah
Super Maximum Security Permisan, narapidana yang masuk lebih banyak
Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dari yang ke luar. Di Rutan Salemba,
pada pertengahan tahun 2007, tak misalnya, setiap hari masuk 50 orang,
mampu memutus mata rantai kendali sementara yang keluar cuma sembilan
bisnis sabu dari penjara. orang.
Ketika mengunjungi rumah tahanan
(Rutan) di Jakarta, awal November
44 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Over kapasitas yang terjadi di Lapas Klas I Surabaya, Porong
Sidoarjo membuat napi di dalamnya terpaksa berdesak-desakan.
Satu sel bisa dihuni puluhan napi, April 2016. Dok. polda jatim
Penjara yang Meluap 45
46 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Barang bukti yang ditemukan di dalam sel Lapas
Narkotika Samarinda. Dok. polresta samarinda
Dari Lapas menyembunyikan rasa terkejut. Ia
Narkotika Samarinda berlagak bodoh dengan mengucapkan
kata, “Ada apa” berulang-ulang.
Satu kamar sel tahanan di ujung ”Dimana kamu simpan Ponsel (telepon
Blok Ulin 3 di Lapas Narkotika selular) mu?” tanya Kalapas Mohamad
Samarinda, jadi ramai Rabu (18/5/2016) Riza Aliayafi.
pukul 19.00. Sembilan sipir mengacak-
acak kamar yang ditempati Dedie (26), Dedie menggeleng. “Ponsel apa
narapidana yang divonis 20 tahun pak, tidak punya saya,” ujar Dedie
penjara dan baru menjalani hukuman sambil menatap mata Riza. “Ngaku
dua tahun penjara. Muka para sipir saja. Terus bongkar saja pak,” kata
tertekuk. Marah dan kesal. Riza memerintahkan para sipir terus
mengaduk-aduk seluruh sel tahanan
Wajah Dedie tetap tenang meski itu. Setiap sudut dicermati. Tikar
Penjara yang Meluap 4477
diacak-acak. Beberapa barang yang Ponsel merek Samsung model flip
ada disitu dirobohkan. Kamar itu jadi lama. Kartunya sudah tidak ada.
berantakan.
Wajah Dedie pun berubah pucat. Ia
Beberapa menit kemudian Riza mengaku, kartunya sudah ia patahkan
menerima telepon dari Kanit Opsnal dan buang ke kloset. Ponsel itu diberi
Satres Narkoba Polresta Samarinda, istrinya saat menjenguk. Ponsel
Inspektur Dua Edy Susanto. “Pak, ada disembunyikan di balik kutang sang
pengembangan terkait warga binaan istri. Malam itu juga Dedie dibawa ke
sampeyan. Namanya Dedie, tolong Polresta Samarinda dengan tangan
dicari dan diamankan ponselnya. terborgol.
Dia simpan ponsel itu di dalam,”
kata Edy dari ujung telepon. Dia lalu Di Lapas dan Rutan, Ponsel
memberitahu akan ke Lapas. banyak beredar. Di setiap penertiban,
selalu saja ditemukan Ponsel. “Kita
Edy tahu Dedie mengendalikan pernah razia selama tiga hari. Di hari
Narkoba dari dalam Lapas setelah pertama ditemukan Ponsel. Di hari
meringkus dua orang bernama ketiga, masih juga ditemukan Ponsel,”
Saginah (38) dan Arwis (42) di Jalan keluh Riza. Meski demikian ia masih
Kesejahteraan, Kota Samarinda, menyisihkan ketenangan karena
dengan lima paket sabu seberat 125 sampai hari itu tak seorang pun sipir
gram, sore sebelumnya. Keduanya terlibat Narkoba.
mengaku mendapat petunjuk dari
Dedie. Saat nomor Ponsel dicek, Ia menjelaskan, Ponsel-ponsel
ternyata posisinya di Lapas Narkotika yang dibuang ke saluran air membuat
Bayur. saluran air mampet bahkan banyak
yang kemudian jebol. Ponsel yang
Edy langsung mengetuk semua masuk, lanjut Reza, biasanya
pintu rumah dinas sipir yang berada disembunyikan para penjenguk di balik
di bagian depan kompleks Lapas. Ia popok bayi, makanan yang dibungkus
sempat bingung dengan nama Dedie. plastik, dan kutang.
Sebab, ada tiga nama Dedie di Lapas
tersebut yang semuanya divonis Riza mengakui, jajarannya kian
20 tahun penjara. Ada Dedie dari sulit mengawasi tahanan. Sebab,
Tenggarong, dari Balikpapan, dan dari jumlah penghuninya sudah melebihi
Samarinda. kapasitas. Kapasitas normalnya cuma
339 orang, tetapi di tahun 2016, jumlah
Beberapa narapidana yang jadi narapidana di sana sudah 726 orang.
mata-mata sipir ditanya. Salah
seorang narapidana menduga, Dedie Kondisi serupa juga terjadi di
“Samarinda” pelakunya. Rutan (rumah tahanan) Balikpapan.
Kapasitas normalnya cuma 350
Salah seorang sipir, Ayub, menuju narapidana dan tahanan, tetapi
kakus ruang sel. Ia lalu memasukkan sampai Mei 2016, jumlah penghuninya
jarinya ke lubang kecil dekat kaki sudah 712 yang 441 orang diantaranya
kloset duduk. Jarinya meraba benda adalah tahanan Narkoba.
plastik dan ditarik keluar. Muncullah
Lapas Bayur beroperasi sejak tahun
48 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Razia Narkoba di Lapas Klas IIA Balikpapan.Di
Lapas ini terungkap, perdagangan gelap sabu
melibatkan seorang pegawai tata usaha
Lapas bernama Harun. Dok. polres balikpapan
Penjara yang Meluap 49
2012. Setahun berikutnya di Lapas membuat simpul perdagangan sabu di
tersebut dipasang jammer (pengacak penjara makin menguat.
sinyal) dan CCTV (closed circuit
television). Tetapi setahun berikutnya, Direktur Reserse Narkoba Polda
sebagian besar jammer dan CCTV, Kaltim, Komisaris Besar Mohammad
rusak karena tak ada anggaran Gagah Suseno mengakui, di Kaltim,
perawatan. Bisnis gelap sabu dari sebagian besar pengungkapan kasus
balik penjara pun tumbuh. peredaran Narkoba sekarang, berhulu
di penjara. “Selama soal Ponsel di
Hal serupa juga terjadi Di Lapas Klas tangan para penghuni penjara ini
IIA Balikpapan. Dengan dana Rp 138 belum hilang, bisnis sabu masih terus
juta dari Pemerintah Kota Balikpapan, berlanjut. Sebab, ini bisnis besar buat
dipasanglah jammer. Tetapi karena mereka,” tegas Gagah.
tidak didukung biaya perawatan,
dalam setahun jammer sudah rusak Di Balikpapan, di Lapas Kelas IIA
dan tak diperbaiki. terungkap, perdagangan gelap sabu
melibatkan seorang pegawai tata
Keadaan memburuk setelah muncul usahanya, Harun (39). Kepala Lapas
Peraturan Pemerintah Nomor 99 yang ini, Edy Hardoyo tentu menyesali
menyebutkan, narapidana dengan tindakan Harun yang sehari-hari
Register F tak mendapat hak remisi menjadi sopirnya. “Ya, saya menyesal,
maupun pembebasan bersyarat. tapi apa boleh buat,” tuturnya saat
Mereka yang masuk Register F adalah ditemui pertengahan Mei 2016.
narapidana dengan vonis penjara
di atas lima tahun. Padahal, para Polisi menangkap Harun di
penghuni Lapas Bayur mendapat rumahnya, Rabu (12/11/2014) dinihari.
vonis di atas lima tahun penjara. Dari tangan Harun polisi menyita
9,8 gram sabu. Pengadilan Negeri
Para penghuni yang masuk Balikpapan menghukum Harun penjara
kelompok Register F akhirnya enam tahun. Ia dipecat, keluarganya
beranggapan, tidak ada bedanya berantakan.
berlaku buruk atau makin baik selama
di penjara. Sebab, tidak ada lagi impian Eksekusi Mati
mendapat remisi atau pembebasan
bersyarat. Salah satu upaya mempercepat
putusnya mata rantai jaringan bisnis
“Tak ada yang bisa dijanjikan oleh gelap di penjara adalah mengeksekusi
para petugas Lapas kepada mereka mati puluhan terpidana mati yang
jika mereka berperilaku lebih baik sudah belasan tahun tertunda
di penjara,” ujar Riza. Tak ada yang dilaksanakan. Realisasi langkah
bisa dijanjikan, personel pun terasa tersebut dalam jumlah lebih banyak
semakin minim karena rasio antara baru tercapai di era Presiden Joko
petugas dan narapidana semakin Widodo. Dari 55 terpidana mati, sudah
senjang, sementara serta fasilitas 14 terpidana mati dieksekusi.
penjara kian buruk karena tiadanya
perawatan dan renovasi. Itu semua Jumlah eksekusi terpidana mati
50 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Penjara yang Meluap 51
Adik terpidana mati kasus narkotika kelompok
“Bali Nine” asal Australia Myuran Sukumaran,
Brintha Sukumaran (tengah), menangis histeris
saat berjalan memasuki areal Dermaga Wijayapura,
yang merupakan akses penyeberangan resmi
menuju Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa
Tengah. Selasa (28/4/2015) ini, pada hari terakhir
kunjungan bagi keluarga sembilan terpidana mati.
Kompas/Gregorius Magnus Finesso
52 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
kasus Narkoba tahun 2004, hanya tiga “DOR!! DOR!! DOR!! “
orang. Jumlah ini sudah yang tertinggi
sejak penjara meluap oleh para Letusan dari sejumlah senjata
terpidana kasus Narkoba tahun 1999. api laras panjang menyalak setelah
Ketiga terpidana mati yang dieksekusi lirik lagu Amazing Grace itu usai
adalah, Ayodya Prasad Chaubey dikumandangkan di Nusakambangan,
asal India, Saelow Prasad asal India, 29 April 2015, dini hari, sekitar pukul
dan Namsong Sirilak asal Thailand. 00.30. Sepuluh butir peluru melesat
Ketiganya ditangkap karena peredaran ke arah para terpidana mati kasus
Narkoba di Sumatera Utara. narkotika yang terikat menunggu ajal
di tiang eksekusi.
Tahun 2008, giliran dua terpidana
mati lainnya dieksekusi. Mereka Kepala Andrew Chan (31) dan
adalah dua warganegara Nigeria Myuran Sukumaran (34), dua anggota
-- Samuel Iwuchukuwu Okoye, dan Bali Nine jatuh tertunduk dikepung
Hansen Anthony Nwaliosa. Keduanya tangisan keras keluarga para
terlibat kasus peredaran Narkoba di terpidana.
Banten.
Penggalan lirik lagu Amazing Grace
Mereka yang dieksekusi mati di era yang dinyanyikan Andrew, dan Myuran
Presiden Joko Widodo adalah Marco beserta terpidana mati lainnya,
Archer Cardoso Mareira asal Brasil, seakan memberi pesan tersirat…Masih
Daniel Enemua asal Nigeria, Ang Kim banyak yang tersesat dan buta dibuai
Soe asal Belanda, warga Malawi oleh Narkoba. Namun, ada saatnya
Namaona Dennis, Rani Andriani, alias mata mereka akan terbuka, dan
Melisa Aprilia asal Indonesia, serta menemukan kebenaran.
Tran Thi Hanh asal Vietnam.
Andrew, dan Myuran diringkus
Tiga bulan setelah mereka polisi pada 17 April 2005 lalu di
dieksekusi, delapan terpidana mati Bandara Internasional Ngurah Rai
lainnya, dieksekusi. Mereka adalah Denpasar, Bali. Andrew dan Myuran
dua anggota Bali Nine asal Australia, ditangkap bersama tujuh anggota
Andrew Chan dan Myuran Sukumaran; Bali Nine lainnya. Mereka dituduh
tiga warga Nigeria -- Raheem Agbaje menyelundupkan delapan kilogram
Salami, Sylvester Obiekwe Nwolise heroin keluar Indonesia.
dan Okwudili Oyatanze; warga Ghana
bernama Martin Anderson, warga Myuran disidang perdana pada
Brasil bernama Rodrigo Gularte, dan tanggal 11 Oktober bersama salah
seorang Indonesia bernama Zainal seorang rekan, Michael Czugac,
Abidin. sementara Andrew kebagian duduk
di kursi pesakitan pada tanggal 13
Bali Nine Oktober bersama terpidana lainnya,
Scott Rush. Sisa anggota Bali Nine
I once was lost, but now I’m found. lainnya, yakni Matthew Norman,
Was blind, but now I see.... Martin Stephens, Si Yi Chen, Tan Duch
Than Nguyen, dan Renae Lawrence
Penjara yang Meluap 53
disidang pada tanggal 12 dan 14 Areski Atlaoui ditunda karena ia
Oktober. mengajukan perlawanan terhadap
putusan Pengadilan Tata Usaha
Vonis dijatuhkan pada 13 Februari Negara (PTUN) yang menolak
2006. Pengadilan Negeri Denpasar gugatannya terhadap Keputusan
menghukum Andrew dan Myuran, Presiden tentang grasi.
tembak mati.
Tahun 2016 ini, Kejaksaan Agung
Dalam sidang, mereka terbukti menyampaikan akan ada 14 terpidana
berperan memperlancar proses mati kasus Narkoba yang akan
penyelundupan heroin dengan cara dieksekusi, termasuk gembong
menyediakan uang, tiket pesawat, Narkoba Freddy Budiman.
dan hotel kepada para penyelundup
heroin. Tujuh anggota lainnya dihukum Tiga belas nama lain terpidana mati
penjara seumur hidup. adalah Ozias Sibanda dan Frederik
Luttar asal Zimbabwe; Obina Nwajagu
Permohonan banding di tahun 2010, dan Humprey Ejike asal Nigeria; dan
dan pengajuan grasi di tahun 2012 Seck Osmane asal Afrika Selatan.
tidak membuat Andrew dan Myuran
lolos dari hukuman mati. Langkah Berikutnya, Zhu Xu Xhiong, Cheng
keduanya menghindari terjangan bedil Hong Xin, dan Gang Chung Yi asal
akhirnya skak mat pada tahun 2014, Tiongkok; A Yam, Jun Hao alias A Heng
saat Presiden Republik Indonesia Joko alias Vass Liem, Suryanto, Agus Hadi
Widodo dalam pidatonya menyatakan dan Pujo Lestari asal Indonesia; dan
tidak ada ampun bagi para pengedar Zulfikar Ali asal Pakistan.
Narkoba.
Menteri Koordinator Politik Hukum
Terpidana mati harus segera dan Keamanan (Menko Polhukam),
dieksekusi. Bujuk rayu Perdana Luhut Binsar Panjaitan seperti
Menteri Australia, Tony Abbott untuk dilansir dari bbc.com tanggal 29
membatalkan eksekusi Andrew dan April 2016, mengatakan, eksekusi
Myuran pun laksana menangkap angin. akan diumumkan tiga hari menjelang
proses.
Eksekusi dua terpidana mati
lainnya – Mary Jane Veloso asal Hal ini dilakukan untuk menghindari
Filipina dan Serge Areski Atlaoui “drama” para keluarga terpidana mati
asal Perancis, ditunda. “Eksekusi seperti yang terjadi saat eksekusi
Mary Jane ditunda karena ada tahap dua. “Tidak ada sinetron seperti
permintaan dari Presiden Filipina yang lalu lagi,” tandas Luhut.
terkait pelaku yang diduga melakukan
perdagangan manusia menyerahkan I once was lost, but now I’m found.
diri di Filipina. Keterangan Mary Jane Was blind, but now I see....
diperlukan untuk mengungkap kasus
perdagangan manusia tersebut,” kata “DOR!! DOR!! DOR!! “ F
Kapuspenkum Kejaksaan Agung, Tony
Spontana pada akhir April 2015.
Eksekusi terpidana mati Serge
54 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Jalan Gula, Pabean, Surabaya. Meskipun tak seramai
zaman kolonial, aktivitas perdagangan di kawasan
yang ada sejak abad 19 itu masih menyala. Hanya saja
gudang-gudang-gudang tua tempat menyimpan rempah
tak lagi dihuni. Catatan sejarah rumah dan gudang tua di
Jalan Gula itu sama dengan Jalan Kopi, Jalan Coklat, Jalan
Teh, Jalan Karet, Jalan Slompretan, Jalan Kali Mati. “Bisa
saja, di antara gudang-gudang tua milik pengusaha kaya
di zaman itu memasok candu. Tapi tidak dalam jumlah
ton,” tutur Dukut Imam Widodo, Penulis buku Hikajat
Soerabaia Tempo Doeloe. Foto : Asep Ananjaya
Candu di Tanah Jawa 55
56 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Candu di Tanah Jawa 57
Candu di Tanah Jawa
Dibandingkan jenis Narkoba tempat transit candu dari India masuk
lainnya, candu memiliki Tiongkok.
sejarah paling panjang.
Narkoba yang dibuat dari Belanda yang tersingkir dari
getah bunga poppy ini persaingan lantas memilih menguasai
seperti dikutip Kompas.com, sudah Asia Tenggara dengan candu. Tahun
dibudidayakan sejak tahun 3400 1811, Belanda menyihir Thailand
sebelum masehi di Mesopotamia, dan dengan candu. Ancaman Raja Rama
Irak. III, Nangklao, menghukum mati
Kala itu candu dikonsumsi sebagai mereka yang mengonsumsi candu, tak
kudapan ringan pelepas penat. membuat rakyat jera.
Tahun 1600 sebelum masehi,
tanaman bernama latin Papaver Tahun 1900, jalur candu dari
somniferum ini mulai ditanam di Thailand ke Myanmar dan Laos
Persia dan India. Dari India, para yang lebih populer dengan sebutan
pedagang Portugis membawa kawasan Segitiga Emas candu,
candu ke Tiongkok. Para pedagang terbentuk. Di kawasan pegunungan
Portugis, serikat dagang Belanda VOC ini, tanaman candu menghampar di
(Verenigde Oostindische Compagnie), atas lahan seluas 950.000 meter
dan serikat dagang Inggris BEC (British persegi. Dari sana, emas hitam ini
East India Company) memanfaatkan dibawa lewat Sungai Ruak dan Sungai
candu untuk menguasai Tiongkok. Mekong.
Inggris merajai di antara mereka.
Tahun 1839 pecah Perang Candu. Lebih Populer
Inggris merebut Hongkong dari tangan
Tiongkok. Pulau itu kemudian dijadikan Di Tanah Jawa, opium atau candu
lebih populer ketimbang ganja di Aceh.
Maklum, jika ganja mulai ditanam
58 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
dan dan hanya dikonsumsi secara sistem tanam paksa, perkebunan
tradisional di Tanah Gayo di akhir abad candu makin meluas.
19, maka di akhir abad 16 di Tanah
Jawa, candu sudah menjadi barang Di tempat lain, bandar opium
komoditi yang menghasilkan pajak Surakarta, bersama wilayah
Karesidenan Kediri dan Madiun, Jawa
melimpah. Timur, kerap menghasilkan pajak
Ketika mulai opium tertinggi bila dibandingkan
wilayah lain. Sampai awal abad ke
memperdagangkan candu, 20, Surakarta tercatat sebagai kota
VOC mesti bersaing dengan jumlah pengguna opium
ketat dengan para terbanyak dibanding wilayah mana
saudagar opium dari pun di Jawa. Berikutnya adalah
Inggris, Denmark, dan Semarang, Rembang dan Surabaya
diikuti Batavia, Rembang, Tuban,
Arab untuk mendominasi Besuki, Pasuruan, Probolinggo, Madura,
perdagangan candu. Setelah dan Ponorogo.
VOC berhasil memaksa raja
Mataram, Amangkurat II, memberi Kaum pribumi membeli opium
hak monopoli dagang, para pesaing dari penghasilan mereka bertani dan
VOC tadi tersingkir. menjadi kuli panggul. Mereka rela
Penguasa Cirebon pun kemudian mengeluarkan uang lima sen setiap
mengikuti jejak Mataram. Sejak itulah hari atau seperempat dari penghasilan
Belanda memonopoli perdagangan mereka sehari. Sebagian kecil di antara
candu di Tanah Jawa. Tidak kurang dari mereka bahkan rela membelanjakan
56 ton opium diperdagangkan penghasilan mereka per hari demi
di Tanah Jawa pada candu.
1619-1799. Hal ini tentu membuat mereka
Selanjutnya, jatuh miskin. Sama halnya dengan
nasib para pengonsumsi sabu dan
James R heroin sekarang. Penguasa Surakarta,
Rush, dalam Pakubuwana IV (1788-1820) prihatin
bukunya, “Candu melihat keadaan ini. Lewat syairnya
Tempo Doeloe” ia mengingatkan dampak negatif
(Komunitas mengonsumsi candu.
Bambu, Depok, Jawa
Barat, 2012) menulis, pada Sementara itu, orang-orang
mulanya pasar terbesar Tionghoa memilih mengonsumsi
opium ada di Jawa Tengah candu dalam klub-klub candu pribadi.
dan Jawa Timur terutama Menjadi tradisi di antara mereka,
di kawasan pesisir. suguhan candu menjadi suguhan
Disebutkan, di Jogyakarta bergengsi. Meluasnya pemukiman
tahun 1820, tercatat ada Tionghoa di pedalaman pun diikuti
372 lokasi yang menerima berkembangnya rumah-rumah candu
lisensi penjualan opium. di sana.
Setelah VOC melakukan
Candu di Tanah Jawa 59
60 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Candu di Tanah Jawa 61
Banten dan Jawa Barat awalnya Gudang tua di bantaran Kali mas, Pabean, Surabaya.
bersih dari tradisi madat. Tetapi Sebagai pelabuhan tradisional Surabaya di abad 17-
setelah pemerintah Hindia Belanda
mencabut hak monopoli para bandar 18, di bantaran Kali Mas terserak gudang-gudang
candu yang dikuasai orang-orang tua penyimpan rempah, termasuk candu. Lantai
Tionghoa, kawasan tersebut terjangkit atas pergudangan di Kali Mas itu dulunya kamar
madat.
penginapan, bar, rumah makan para kelasi dan
Tahun 1830, pemerintah Hindia pedagang. Setelah Pelabuhan Tanjung Perak berdiri
Belanda memberlakukan depot-
depot candu. Jaringan pengawasan tahun 1920, gudang-gudang itu tak lagi hidup.
perdagangan candu pun mulai Menurut Dukut Imam Widodo, Penulis buku Hikajat
dikontrol ketat lewat simpul-simpul Soerabaia Tempo Doeloe, gudang di pelabuhan baru
para mayor, kapitan dan letnan
Tionghoa. Sistem lelang candu itu lebih mewah. Foto : Asep Ananjaya
dibuat. Tawaran lelang diajukan
dengan menyebut besaran pajak atau dibayar bandar dalam waktu setahun.
pachtshat. Nilai pachtstat tergolong tinggi.
Pachtstat artinya pajak yang harus Tahun 1881 di Semarang, nilai
pachtstat mencapai 26 juta gulden
atau setara dengan Rp 1,82 triliun
tahun 2016.
Pemenang lelang juga berhak atas
monopoli peredaran candu di wilayah
yang dimenangkan. Selain peredaran,
lokasi-lokasi mengonsumsi candu
62 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Sejak abad 17-19, kawasan Kembang Jepun terkenal sebagai
pusat bisnis. Kawasan di belahan utara Surabaya ini juga tersohor sebagai lokalisasi
perempuan penghibur “Geisha”. Kembang berarti perempuan, Jepun berarti Jepang. Selain
menyajikan Perempuan Jepang, gemerlap bisnis rumah bordil di kawasan itu juga memantik
peredaran candu. Kata Dukut Imam Widodo, Penulis buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe,
pusat bisnis di kawasan itu merambah ke Jalan Tunjungan. Foto : Asep Ananjaya
Candu di Tanah Jawa 63
64 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Para letnan, kapitan, mayor Tionghoa
dan para saudagar Tionghoa di Batavia
menghisap candu. (ilustrasi). dok. arsip metro
Candu di Tanah Jawa 65
juga dimonopoli. Toko-toko penjual saling memata-matai dan mengadu ini
candu juga hanya boleh menjual berlatar belakang persaingan dagang
candu yang diproduksi bandar. antar para bandar.
Mereka juga menunjuk agen distribusi
candu di setiap kota di daerah yang Tinjauan Hukum
dimenangkan, dan menentukan sendiri dan Medis
jalur distribusinya.
Dalam Undang Undang (UU) Nomor
Dukut Imam Widodo dalam 35 tahun 2009 disebutkan narkotika
bukunya, “Hikajat Soerabaia Tempo adalah zat atau obat yang berasal
Doeloe” (Dukut Publishing, Surabaya dari tanaman atau bukan tanaman
2013) menulis, Surabaya, Kediri, dan -- baik sintetis maupun semi sintetis,
Madiun menjadi tempat di mana yang dapat menyebabkan penurunan
para bandar candu berkuasa penuh. atau perubahan kesadaran, hilangnya
Di Surabaya, bandar Liem Kie Soen rasa nyeri dan dapat menimbulkan
membagi wilayah monopolinya ketergantungan.
lewat sub-sub bandar antara lain
di Plampitan, Nyamplungan, dan UU tersebut menggolongkan
Kembangan, sementara Kediri Tengah narkotika menjadi tiga golongan.
dikuasai bandar Tang Tong Haij (1884- Golongan I antara lain heroin, ganja,
1886). mushroom; Golongan II antara lain
morfin; Golongan III (kurang populer di
Di Madiun, catatan bandar Djie Indonesia); serta psikotropika. Dalam
Bok Hien tahun 1888 menyebutkan, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
ia memiliki 67 toko candu resmi 13 tahun 2014 tentang Perubahan
yang mempekerjakan 293 karyawan. Penggolongan Narkotika, disebutkan
Jaringan dagang candunya tidak terdiri ada 82 jenis narkotika golongan I.
dari sub-sub bandar, melainkan terdiri Peraturan ini melengkapi UU 35/2009,
dari distrik-distrik. Jaringannya terdiri seiring berkembangnya jenis narkotika.
dari lima distrik yang terhubung
dengan afdeling-afdeling administratif Psikotropika seperti disebut
kota Madiun. dalam UU Nomor 5 tahun 1997
adalah zat atau obat, baik alamiah
Kendati demikian, dalam praktiknya, maupun sintetis bukan narkotika,
masih banyak toko-toko candu yang yang berkhasiat psikoaktif melalui
menjual candu secara gelap. Tahun pengaruh selektif pada susunan saraf
1850, tercatat 3.000 toko candu gelap. pusat yang menyebabkan perubahan
Rumah candu gelap pun banyak, pada aktivitas mental dan perilaku.
terutama di kawasan pedesaan.
UU 35/2009 menguraikan,
Maraknya perdagangan gelap candu psikotropika digolongkan menjadi
membuat para bandar gerah. Mereka empat golongan. Golongan I antara
akhirnya mengerahkan mata-mata lain ekstasi (MDMA); Golongan II
bekerja sama dengan polisi Hindia antara lain sabu (methamfetamine);
Belanda. Mereka yang tertangkap, Golongan III antara lain magadon,
diadili. Belakangan diketahui, tindakan
66 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Koleksi perangkat penghisap candu orang orang kaya di
lingkungan para letnan, kapitan, mayor Tionghoa dan
para saudagar Tionghoa di Batavia. Koleksi Museum
Benteng, Tangerang, Selasa (7/6/2016). Foto : WINDORO ADI
serta Golongan IV antara lain aktif berbicara. Nafsu makan
diazepam, lexotan, pil koplo, obat penggunanya bertambah besar
penenang, dan obat tidur. sementara mulut dan tenggorokan
kering.
Dwi Jatmiko dalam “Makalah • Morfin terbuat dari getah bunga
Penyalahgunaan Narkotika dan opium dengan bahan kimia lain.
Psikotropika”, Minggu (30/11/2014) Awalnya dikonsumsi untuk
menulis, konsentrasi berfikir mengurangi rasa sakit. Tetapi
dan daya ingat mereka yang kemudian disalahgunakan untuk
ketagihan ganja, menurun, bahkan mengejar fantasi dan halusinasi.
mengonsumsi ganja dalam waktu Dari morfin terbitlah heroin
panjang bisa menyebabkan kegilaan yang awalnya digunakan untuk
(schizophrenia). mengobati ketergantungan pada
morfin. Tetapi ternyata kecanduan
• Ganja membuat pemakainya heroin justru lebih hebat ketimbang
menjadi lebih rileks, mudah kecanduan morfin. Morfin dan
berkhayal, lebih gembira dan
Candu di Tanah Jawa 67
heroin sering disamakan dengan Narkotika Golongan I dalam bentuk
putaw. Padahal berbeda, sebab, tanaman sebagaimana dimaksud
putaw 100 persen narkotika pada ayat (1) beratnya melebihi
sintetis. Oleh karena itu harganya 1 (satu) kilogram atau, melebihi
lebih murah. Kekuatan biusnya lebih 5 (lima) batang pohon, pelaku
besar ketimbang morfin dan heroin, dipidana dengan pidana penjara
tetapi efek eforia-nya lebih kecil. seumur hidup atau pidana penjara
Pemakai putaw dihinggapi gatal paling singkat 5 (lima) tahun,
pada kulit muka dan hidung, sedang paling lama 20 (dua puluh) tahun
pengonsumsi morfin maupun dan pidana denda maksimum
heroin, tidak. sebagaimana dimaksud pada ayat
• Sabu atau methamphetamine. Zat (1), ditambah 1/3 (sepertiga).
ini mendorong tubuh melampaui
ambang batas kekuatan fisik. Pasal 112 menyebutkan :
Pemakainya dihinggapi halusinasi. (1) Setiap orang yang tanpa hak
Penggunanya mudah mendapat
serangan jantung sementara saraf atau melawan hukum memiliki,
otak dan ginjalnya terganggu. menyimpan, menguasai, atau
• Ekstasi (MDMA). Penggunanya menyediakan Narkotika Golongan
menjadi hiperaktif dan kehausan. I bukan tanaman, dipidana dengan
Detak jantung menjadi lebih cepat. pidana penjara paling singkat 4
Penggunanya pun mudah mendapat (empat) tahun, paling lama 12 (dua
serangan jantung sementara saraf belas) tahun dan pidana denda
otak dan ginjalnya terganggu. paling sedikit Rp. 800.000.000,00
(delapan ratus juta rupiah), paling
UU 35/2009 pasal 111 menyebutkan: banyak Rp. 8.000.000.000,00
(1) Setiap orang yang tanpa hak (delapan miliar rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan memiliki,
atau melawan hukum menanam, menyimpan, menguasai, atau
memelihara, memiliki, menyimpan, menyediakan Narkotika Golongan
menguasai, atau menyediakan I bukan tanaman sebagaimana
Narkotika Golongan I dalam dimaksud pada ayat (1) beratnya
bentuk tanaman, dipidana dengan melebihi 5 (lima) gram, pelaku
pidana penjara paling singkat 4 dipidana dengan pidana penjara
(empat) tahun, paling lama 12 (dua seumur hidup atau pidana penjara
belas) tahun dan pidana denda paling singkat 5 (lima) tahun,
paling sedikit Rp. 800.000.000,00 paling lama 20 (dua puluh) tahun
(delapan ratus juta rupiah), paling dan pidana denda maksimum
banyak Rp. 8.000.000.000,00 sebagaimana dimaksud pada ayat
(delapan miliar rupiah). (1) ditambah 1/3 (sepertiga).
(2) Dalam hal perbuatan menanam,
memelihara, memiliki, menyimpan, Pasal 114 menyebutkan :
menguasai, atau menyediakan (1) Setiap orang yang tanpa hak atau
68 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
melawan hukum menawarkan dan Narkotika Golongan III bagi diri
untuk dijual, menjual, membeli, sendiri dipidana dengan pidana
menerima, menjadi perantara penjara paling lama 1 (satu) tahun.
dalam jual beli, menukar, atau (3) Dalam hal Penyalah Guna
menyerahkan Narkotika Golongan sebagaimana dimaksud pada ayat
I, dipidana dengan pidana penjara (1) dapat dibuktikan atau terbukti
seumur hidup atau pidana penjara sebagai korban penyalahgunaan
paling singkat 5 (lima) tahun, Narkotika, Penyalah Guna tersebut
paling lama 20 (dua puluh) tahun wajib menjalani rehabilitasi medis
dan pidana denda paling sedikit dan rehabilitasi sosial.
Rp. 1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah), paling banyak Undang-Undang RI No. 5 Tahun
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh 1997 tentang Psikotropika
miliar rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan menawarkan Pasal 60 menyebutkan :
untuk dijual, menjual, membeli, (1) Barang siapa memproduksi
menjadi perantara dalam jual
beli, menukar, menyerahkan, atau psikotropika selain yang
menerima Narkotika Golongan I ditetapkan dalam ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat pasal 5, atau memproduksi, atau
(1) yang dalam bentuk tanaman mengedarkan psikotropika dalam
beratnya melebihi 1 (satu) kilogram bentuk obat yang tidak memenuhi
atau melebihi 5 (lima) batang standar, dan atau persyaratan
pohon atau dalam bentuk bukan sebagaimana dimaksud dalam
tanaman beratnya 5 (lima) gram, pasal 7, atau memproduksi,
pelaku dipidana dengan pidana atau mengedarkan psikotropika
mati, pidana penjara seumur hidup, yang berupa obat yang tidak
atau pidana penjara paling singkat terdaftar pada departemen yang
6 (enam) tahun, paling lama 20 bertanggung jawab dibidang
(dua puluh) tahun dan pidana kesehatan sebagaimana dimaksiud
denda maksimum sebagaimana dalam pasal 9 ayat 1, dipidana
dimaksud pada ayat (1) ditambah dengan pidana penjara paling lama
1/3 (sepertiga). 15 tahun dan pidana denda 200
juta rupiah.
Pasal 127 menyebutkan : (2) Barang siapa menyalurkan
(1) Setiap Penyalah Guna: Narkotika psikotropika selain yang
ditetapkan dalam pasal 12 ayat
Golongan I bagi diri sendiri 2, dipidanakan dengan pidana
dipidana dengan pidana penjara penjara paling lama 5 tahun, dan
paling lama 4 (empat) tahun; pidana denda paling banyak 100
Narkotika Golongan II bagi diri juta rupiah.
sendiri dipidana dengan pidana (3) Barang siapa menerima penyalur
penjara paling lama 2 (dua) tahun; psikotropika selain yang
Candu di Tanah Jawa 69
Perangkat penghisap candu koleksi
Museum Benteng, Tangerang. Foto : WINDORO ADI
ditetapkan dalam pasal 12 ayat 2, membawa psikotropika, dipidana
dipidana dengan pidana penjara dengan pidana penjara paling lama
paling lama 3 tahun, dan pidana 5 tahun, dan pidana denda paling
denda paling banyak 60 juta banyak Rp. 100 juta (pengguna).
rupiah.
(4) Barang siapa menyerahkan Pasal 71 menyebutkan :
psikotropika selain yang (1) Barang siapa bersekongkol
ditetapkan dalam pasal 14 ayat 1,
2, 3 dan 4, dipidana dengan pidana atau bersepakat untuk
penjara 3 tahun, dan pidana denda melakukan, melaksanakan,
paling banyak 60 juta rupiah. membantu, menyuruh turut
(5) Barangsiapa menerima penyerahan melakukan, menganjurkan atau
psikotropika selain yang mengorganisasikan suatu tindak
ditetapkan dalam pasal 14 ayat (3), pidana sebagaimana dimaksud
(4) dipidana dengan pidana penjara dalam pasal 60, 62, dan pasal 63,
paling lama 3 tahun, dan pidana dipidana sebagai pemufakatan
denda paling banyak 60 juta jahat.
rupiah. Apabila yang menerima (2) Pelaku tindak pidana sebagaimana
penyerahan itu pengguna, maka dimaksud pada ayat (1) dipidana
dipidana dengan pidana penjara dengan ditambah sepertiga pidana
paling lama 3 bulan yang berlaku untuk tindak pidana
Pasal 62 menyebutkan : tersebut (produksi). F
Barang siapa secara tanpa hak
memiliki, menyimpan, dan atau
70 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
71
bab 2
Dalam evaluasi laporan Operasi Bersinar 2016, Polda Sumatera Utara,
Polda Jawa Timur, dan Polda Kalimantan Timur dinilai paling aktif
selain Polda Metro Jaya. Polda Sumatera Utara dengan 818 kasus
pengungkapan dan 31 pengguna; Polda Jawa Timur dengan 515 kasus
pengungkapan dan 138 pengguna; Polda Kalimantan Timur dengan 520
kasus pengungkapan dengan jumlah pengguna 216.
Angka-angka tersebut tentu saja tidak bersifat mutlak karena
terdistorsi aspek kualitatif pengungkapan kasus dan kegiatan operasi
yang dilakukan sebelum dan sesudah Operasi Bersinar digelar.
Dengan kata lain, gambaran dinamika ketiga Polda memerangi
Narkoba, tidak bermaksud mengecilkan dinamika Polda-Polda lain,
melainkan mewakili perjuangan polisi dimanapun membebaskan
negeri dari belitan Narkoba.
Selain ketiga Polda, Polda Aceh kami pilih karena sampai kini
persoalan ladang ganja di Tanah Rencong itu, tak pernah tuntas. Polisi
membutuhkan kerjasama dan sinerji dengan instansi terkait lainnya
untuk mengubah ladang ganja menjadi tanaman produktif lainnya,
seperti dilakukan Thailand terhadap ladang opium mereka di kawasan
Segitiga Emas.
Bab ini ditutup dengan tulisan mengenai Kampung Narkoba di Tanah
Air. Di beberapa tempat, kampung Narkoba yang umumnya berawal
dari pemukiman kumuh padat penduduk bahkan berubah menjadi
simbol perlawanan terhadap para penegak hukum.
72 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
KAB. TUBAN KAB. SAMPANG KAB. SUMENEP PULAU PAYANGAN
KAB. BOJONEGORO PULAU BULUMANUT
KAB. BANGKALAN • SUMENEP
BANGKALAN • KALIANGET
PULAU PUTERAN
KAB. LAMONGAN KAB. PAMEKASAN PULAU SAPUDI
PAMEKASAN • PULAU RAAS
• SAMPANG PULAU GENTENG
PULAU RAJA
KAB. GRESIK SURABAYA
KAB. NGAWI KAB. SIDOARJO
KAB. MOJOKERTO
KAB. JOMBANG
KAB. NGANJUK
KAB. MADIUN
KAB. MAGETAN
KAB. PASURUAN
KAB. KEDIRI KAB. PROBOLINGGO KAB. SITUBONDO
KAB. PONOROGO KAB. BONDOWOSO
KAB. PACITAB KAB. MALANG KAB. LUMAJANG
KAB. TRENGGALEK KAB. BLITAR
KAB. TULUNGAGUNG
KAB. JEMBER
KAB. BANYUWANGI
PULAU NUSABARUNG
73
74 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
operasi bersinar 2016 75
76 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Abdul Latif, anggota Polsek
Sedati, Polres Sidoarjo digiring petugas Satuan Reserse
Narkoba Polrestabes Surabaya, Jawa Timur. Bintara Polisi
angkatan 1995 itu mengendalikan peredaran 50 kilogram
sabu, Juni 2015. Foto : polrestabes surabaya
Cerita tentang Abdul Latif dan Jaringannya 77
78 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Selama Operasi Bersinar Semeru 2016, Polrestabes
Surabaya membekuk 185 tersangka penyalahgunaan
Narkoba. Hasil tangkapan sebanyak itu menjadi yang
tertinggi di jajaran Polda Jatim. Foto: Dok. Polrestabes Surabaya
Cerita tentang Abdul Latif dan Jaringannya 79
Cerita tentang
Abdul Latif dan Jaringannya
Sebulan sebelum Abdul Latif kata maaf,” ucap Donny.
(41) divonis hukuman mati Latif adalah satu dari empat pelaku
pada 1 Februari 2016, Kasat
Reserse Narkoba Polres Kota kasus 50 kilogram sabu. Kasus ini
Besar (Polrestabes) Surabaya, menjadi kasus terbesar yang pernah
Jawa Timur (Jatim) Ajun Komisaris diungkap Polrestabes Surabaya, “Dan
Besar Donny Adityawarman, menemui untuk pertamakalinya di wilayah
Latif di Rumah Tahanan (Rutan) Klas I hukum Polda Jatim, seorang polisi
Surabaya di Medaeng, Sidoarjo. “Saya dihukum mati karena kasus Narkoba,”
datang untuk memeriksa kembali sesal Donny.
berkas Latif. Sebab, pengungkapan
kasus ini ditangani Kasat Reserse Latif, mantan atlet judo nasional
Narkoba pendahulu saya, rekan Ajun itu, melanggar pasal 114 ayat (2) juncto
Komisaris Besar Bambang Tjahyo pasal 132 ayat (1), Undang Undang
Bawono,” tutur Donny saat ditemui Nomor 35 Tahun 2009 tentang
pertengahan Mei 2016. Narkotika. Ia dinyatakan Majelis Hakim
Pengadilan Negeri Surabaya terbukti
Sebelum terlibat kasus sebagai menjadi perantara dan penyimpan
kurir Narkoba, Latif adalah anggota sabu lebih dari satu kilogram.
buru sergap Polsek Sedati, Sidoarjo,
berpangkat Ajun Inspektur Satu. Latif mengaku sudah setahun
Bintara angkatan 1995 ini pernah ikut terlibat jaringan Narkoba yang
mengungkap 235 kasus Narkoba. dikendalikan narapidana Rutan Klas I
Surabaya, Tri Diah Torissiah (48) alias
Sosok Latif, lanjut Donny, tenang Susi. Dalam aksinya, ia bekerjasama
dan dingin. Tak heran saat sidang dengan narapidana penghuni Lembaga
digelar, majelis hakim geram. “Dia Pemasyarakatan (Lapas) Nusa
seperti tak punya perbendaharaan Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah,
Yoyok alias Big.
80 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Rumah Tahanan (Rutan) Klas I Surabaya di Medaeng,
Sidoarjo. Dari balik jeruji besi Blok W Rutan itu, Tri
Diah Torissiah alias Susi mengendalikan peredaran 50
kilogram sabu bersama Yoyok, Abdul Latif, dan Indri
Rachmawati. Foto : Asep Ananjaya
Cerita tentang Abdul Latif dan Jaringannya 81
Telepon dari Rutan
Cerita Latif menjadi kurir sabu
berawal ketika di satu pagi di awal
April 2015, Indri Rachmawati (30),
perempuan simpanan Latif, menerima
telepon Susi yang menanyakan kabar
Latif. Kala itu Susi masih menghuni
Rutan Klas I Medaeng, Sidoarjo, karena
kasus Narkoba. Tanggal 19 November
2014 Susi ditangkap personel
Polrestabes Surabaya di kamar
933, Apartemen High Point, Jalan
Siwalankerto nomor 161-165, Surabaya.
Usai menerima telepon dari Susi,
Indri menghubungi Latif meminta
Latif datang ke rumah kos Indri di
Jalan Pasar Wisata nomor 23, Sedati,
Sidoarjo. Pukul 15.00, Latif pun datang.
Di sana Latif menghubungi Susi. Susi
meminta Latif dan Indri mengirim 50
kilogram sabu dengan upah Rp 35 juta.
Latif yang mengenal Susi sejak
setahun lalu, tergiur tawaran tersebut.
Dengan hati berbunga, dari rumah kos,
Latif dan Indri naik taksi ke Hotel Fave
Pakuwon, Surabaya. Di perjalanan,
seorang pria teman Susi menelpon
Latif.
Pria tersebut menjelaskan, kunci
hotel bisa diambil di lubang angin
toilet lantai dasar Mall Pakuwon Trade
Centre (PTC). Karena sudah membawa
kunci, keduanya bisa ke kamar hotel
tanpa menemui resepsionis dahulu.
Jarak Hotel Fave dan PTC hanya
sekitar 100 meter.
Sesampainya di kamar, keduanya
mengambil ransel hitam berisi sabu 50
kilogram dan membawanya ke rumah
kos Indri. Dari sana, sabu mereka
82 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Di kamar kos nomor 2, Jalan Pasar Wisata No.23, Restoran cepat saji, McDonald’s di
Sedati, Sidoarjo, Abdul Latif dan Indri Rachmawati Jalan Pabean Sedati, Sidoarjo pada
memulai putaran bisnis 50 kilogram sabu asal 6 Mei 2015. Empat hari kemudian
Tiongkok. Foto : Asep Ananjaya mereka meletakkan sabu seberat lima
kilogram di pintu keluar Terminal Bus
edarkan sesuai petunjuk seorang pria antar Kota Antar Provinsi, Bungur Asih
yang menghubungi Latif. – Purabaya.
Dengan sepeda motor matik Honda Pengedar Menyanyi
Spacy, keduanya berboncengan. Paket
sabu pertama seberat tujuh kilogram Berikutnya, sejoli ini meletakkan
mereka letakkan di depan Rumah “ranjau” seberat dua kilogram di
Makan Padang, di Jalan Raya Waru, bawah satu papan reklame di Jalan
Sidoarjo pada 4 April 2015. Berikutnya, Raya Juanda arah ke Terminal I
tanggal 27 April, mereka meletakkan Bandara Juanda, Surabaya. “Ranjau”
sabu 10 kilogram di bawah pohon di tersebut menjadi ranjau terakhir
Jalan Raya Juanda arah ke Terminal I, mereka. Sebab, sepekan setelah
Bandara Juanda, Surabaya. meletakkan “ranjau” tersebut,
“Ranjau” (paket sabu) ketiga
seberat tiga kilogram mereka
letakkan di depan Alfamart dekat
Cerita tentang Abdul Latif dan Jaringannya 83
84 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
(kiri-kanan) Abdul Latif, Indri Rachmawati, dan Tri Surabaya, Ajun Komisaris Gatot Setyo
Diah Torissiah alias Susi. Ketiganya tervonis mati Budi dan timnya lalu memata-matai
PN Surabaya, karena mengendalikan peredaran 50 kegiatan Indri selama dua pekan –
kilogram sabu, Februari - Maret 2016. 21 Mei sampai 3 Juni 2015. Tanggal
4 Juni pukul 06.00, belasan polisi
Foto : Dok. Polrestabes Surabaya. menggeledah rumah kos Indri.
keduanya ditangkap. Indri yang sedang hamil empat
Polisi mengendus aksi keduanya bulan, ditangkap. Sebanyak 12
bungkus sabu berberat total 12,950
setelah menangkap sejumlah kilogram dan 22 butir ekstasi, disita.
pengedar sabu yang kemudian Polisi pun mengungkap, status
“menyanyi” menyebut nama Indri Indri cuma perempuan simpanan
yang tinggal di sekitar Pasar Wisata
Sedati, Sidoarjo sebagai pemasok sabu
mereka.
Kanit III Satres Narkoba Polrestabes