Bak Liga Besar Sepak Bola 285
OUTPUT
CERDASKAN HIDUP BANGSA
388.812 Kegiatan Kampanye
HASIL PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA
PENYALANHGUNAAN NARKOBA
SATGAS 3 P2K OPERASI KEPOLISIAN
NO JENIS I II TW I THP III MANDIRI BERSINAR JUMLAH
ANTIK 2016
1 JENIS 28.499
2 KSS 20 APRL S.D 1 AGST S.D 1 JAN S.D 5 S.D FEB 2016 21 MARET S.D 36.531
3 TSK 29 JUL 2015 31 DES 2016 30 MARET 2016 19 APRIL 2016
-
6.069 5.078 8.966 3.047 5.358
7.983 6.453 11.352 3842 6.923
-- ---
BB YANG DISITA
• UANG TUNAI 198.033.365 566.264.826 3.137.448.973 555.123.684 1.061.997.840 5.518.868.328
• SAHBAUBU(G(GRARMAM) ) 560.719,9 360,56 246,21 62.512 1.814.079,98 2.174.904,70
• SHABAUBUCHCHAIARIR(G(GRARMAM) ) -- - - 44.000,6 44.000,6
• GANJA KERING (GRAM) 10.412.74 547,81 667.3895 186.0221 12.048.585,88 12.060.399,84
• GANJA BASAH (GRAM) 5.435 18.566 - - - 24
• EKSTASI (BUTIR) 28.349 80.019 159.652 87.558 381.767 737.345
• HEROIN (GRAM) 0,43 0,54 1.0262 0,001 66,41 1,03
• KOKAIN (GRAM) 0.09 0,49 0,0582 0 56.18 56,82
• DOC/CC4 (BUTIR) 21,604 71,903 180.447 123.032 387,942 784,928
• LADANG GANJJA (HA) - 499 137 35 324,07 995
• BATANG GANJA - - 496.086 212.543 2.563.815 3.272.444
OUTCOME
HASIL BB YANG DIUANGKAN LINDUNGI SELURUH BANGSA
Rp. 1.682.332.225.450 DAN TUMPAH DARAH
480 ORANG PENGGUNA AASSUUMMSSIIBBBB((SSHAABBUU,,EEKKSSTTAASSI,I,
YANG DIREHABILITAS GANJA, DOC, HEROIN DAN KOKAIN)
ASUMSI NILAI RUPIAH YANG DAPAT BERDAMPAK PADA
DIHASILKAN DARI PERSONEL YANG 4.271.608 JIWA YANG
DI REHAB DISELAMATKAN ATAU SETARA
Rp. 313.500.000.000 DENGAN
(480 ORANG X Rp. 2,5 JUTA x
Rp. 128.148.249.720.833
12 x 25 TAHUN) (4.271.608 ORANG x 2,5 JUTA x
12 x 1 TAHUN VONIS)
286 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Tiba di kota, kaum jelata tak bisa membeli Narkoba. Sementara menurut
mendapat pekerjaan karena minim Direktur PLRIP-BNN, Ida Utari, pada
keterampilan dan pendidikan sesuai Rakernis Terapi Rehabilitasi Napza
permintaan pasar kerja di kota. di Kementerian Kesehatan (20
Maret 2014) menyatakan, prevalensi
Kini, persoalan wabah Narkoba pengguna Narkoba di Indonesia
menjadi kian akut. Bermacam jenis pada kisaran 2,8%, atau masih
Narkoba berkembang di tengah rendah dibandingkan dengan tingkat
makin derasnya peredaran. Pasar prevalensi rata-rata dunia yang
gelap Narkoba kian meluas di tengah mencapai 5%.
pertumbuhan penduduk yang
jumlahnya jauh lebih besar ketimbang Jika populasi penduduk Indonesia
di era Candu di Tanah Jawa. di tahun 2015 dihitung 250 juta, maka
jumlah pecandu Narkoba diasumsikan
Butuh Satu Dasawarsa lebih dari 5 juta orang. Berarti, dari
setiap 50 orang Indonesia, satu di
Hanya butuh satu dasawarsa antaranya adalah penyalahguna
Indonesia menjadi salah satu pasar narkotika dan obat-obatan terlarang.
gelap Narkoba peringkat atas dunia.
Padahal sebelumnya, Indonesia hanya Besarnya peluang pasar dan jumlah
menjadi tempat transit Narkoba konsumen sebagaimana ditunjukkan
selundupan dari luar negeri. Kini, pasar oleh angka-angka di atas setidaknya
gelap penyalahgunaan Narkoba bukan dapat menjelaskan mengapa
hanya dipenuhi produk dari luar, tetapi peredaran gelap Narkoba sulit
juga produk lokal. diberantas. Sarang-sarang pemadatan
menjamur di segala tempat. Salah
Salah satu produk lokal tersebut satu di antaranya adalah Kampung
ekstasi yang proses pembuatannya Kubur di Kelurahan Petisah Tengah,
pun masih dalam skala produk Kota Medan, Sumatera Utara.
kerajinan rumah tangga. Ini membuat
para penegak hukum sulit mengendus Kampung ini boleh dibilang zona di
para pelakunya. Padahal, meski mana Narkoba sejak 1970 silam sudah
hanya bermodal peralatan sederhana, bebas beredar. Lebih dari 30 gang
produk kerajinan rumah tangga ini bisa sempit mirip lorong tikus nampaknya
beromset miliaran rupiah. sengaja tetap dibiarkan centang
perenang dalam kawasan kampung ini
Masalah bisnis gelap Narkoba kini untuk alasan tertentu.
seperti permainan liga besar dalam
sepak bola. Pendukung, sponsor, dan Di tengah kompleks perkampungan
beking ikut mengamankan bisnis berdiri sebuah bangunan sederhana
ilegal yang mempertaruhkan uang seluas 80-an meter persegi berdinding
melimpah. triplek. Inilah yang kesohor dinamakan
rumah asap. Disebut demikian karena
Kementerian Sosial memperkirakan, di dalamnya ada belasan kompor
saat ini sedikitnya Rp 62 triliun menyala sebagai sarana menghisap
uang masyarakat digunakan untuk sabu. Saban kompor dikerumuni
Bak Liga Besar Sepak Bola 287
beberapa pemadat. Maklum karena dari pengelola dingdong dan rumah
tarif ekonomi, mereka tak bisa teler asap. Bahkan bagi yang bersedia
berlama-lama. Cukup beberapa menyewakan rumahnya untuk lokasi
sedotan, sesudah itu harus bergegas perjudian tarip kontraknya bisa
beranjak, karena di luar puluhan orang mencapai 20 hingga Rp 50 juta/bulan.
telah antri mengular menunggu giliran Kalaupun tidak dengan berjualan
nyabu. minuman ditambah mengutip uang
parkir kendaraan para pengunjungpun
Kejahatan, dan hasilnya sudah cukup besar.
Kehidupan Layak Sementara suami-suami mereka
menjadi pengedar sabu.
Bagian paling menariknya adalah
cara Kampung Kubur mengamankan Kampung Kubur tidaklah sendirian.
dirinya. Setiap polisi datang Hunian-hunian serupa banyak
menggerebek segera disambut didapatkan di sebagian daerah.
suara tetabuhan fales ibu-ibu warga Bentuk kehidupan penduduknya
kampung. Dari rumah masing-masing punya kemiripan dengan yang lain.
mereka menabuh riuh rendah piring, Pola bakunya adalah hubungan saling
gelas, panci, penggorengan, ember memberdayakan antara warga dengan
plastik atau perabot dapur lainnya. kegiatan bisnis gelap karena tuntutan
“perut”.
Ini bukanlah bagian dari prosesi
untuk menerima kehadiran rombongan Memang, faktor ekonomi hampir
polisi. Justru sebaliknya, musik dapur selalu menjadi motif maraknya
itu merupakan kode rahasia. Dalam peredaran Narkoba. Banyaknya
sekejap rumah asap kosong. pemutusan hubungan kerja di sektor
industri terutama saat perekonomian
Apa yang dilakukan ibu-ibu nasional suram, membuat para
kampung tersebut adalah tipikal penganggur kemudian menjadi
kehidupan remang daerah pinggiran. pengedar Narkoba. Sementara di sisi
Warga setempat berkepentingan lain, para pengguna pun akhirnya ikut
untuk melindungi eksistensi aktifitas menjadi pengedar Narkoba karena
kriminal di pemukimannya yang bangkrut akibat ketagihan Narkoba.
faktual selama ini mampu memberikan
penghidupan secara layak. Mereka Persoalannya menjadi bertambah
tahu perbuatannya sesungguhnya kompleks ketika masyarakat
termasuk melanggar hukum. Tapi pada dihadapkan pada loncatan kemajuan
sisi lain mereka juga sangat sadar teknologi komunikasi dan informasi
akan keuntungan besar yang dapat yang memungkinkan kebudayaan
diperoleh dari kegiatan perjudian dan barat yang sangat permisif, termasuk
sabu tersebut. kebiasaannya menggunakan Narkoba,
kian deras mengalir masuk.
Setiap warga Kampung Kubur,
misalnya, memperoleh jatah uang
tutup mulut Rp 500 ribu per bulan
288 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
Kapolri Jendral Badrodin Haiti bersama
Wakapolri Komisaris Jendral Budi
Gunawan memimpin rapat Anev hasil
Operasi Bersinar 2016. dok. mabes polri
Bak Liga Besar Sepak Bola 289
Di Balik Penjara
Sejumlah tabel dalam buku ini
memaparkan capaian hasil operasi
polisi menggulung peredaran gelap
Narkoba baik secara kualitas maupun
kuantitas. Puluhan sindikat jaringan
asing maupun bandar besar dalam
negeri yang telah ditangkap. Beberapa
diantaranya bahkan sudah dieksekusi
mati sesuai keputusan pengadilan.
Sayang, keberhasilan tersebut
menjadi hambar oleh terkuaknya
fakta bahwa meski sudah ditangkap,
para bandar Narkoba masih leluasa
mengendalikan bisnis gelapnya.
Bahkan beberapa diantaranya bisa
memproduksi ekstasi di dalam penjara.
Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?
Sebodoh-bodoh orang pastilah
dapat meraba, pasti ada sesuatu
yang salah di sini. Dihukum penjara
nampaknya tidak lagi memberikan
efek jera, apalagi membuat narapidana
menyadari perbuatan jahatnya.
Sebaliknya penjara bagi antara
sesama orang-orang hukuman
dianggap sebagai diskursus dalam
meningkatkan kemampuan berbuat
kriminal.
Dalam buku ini diungkap,
berlanjutnya kendali bisnis sabu
dari ruang-ruang penjara di tanah air
disebabkan melambungnya jumlah
penghuni penjara sejak tahun 1999.
Kurun itu jumlah mereka mulai
mendominasi narapidana berkasus
Narkoba. Proses pembelajaran sesama
napi oleh sejumlah terpidana mati
yang memiliki “jam terbang” tinggi
dalam urusan bisnis haram ini, kian
290 operasi bersinar
Membebaskan Negeri dari Belitan Narkoba
rapat, cepat dan intens. jaringan Narkoba yang dikendalikan
Bisa dimengerti kalau kemudian narapidana Rutan Klas I Surabaya,
Tri Diah Torissiah (48) alias Susi.
muncul pertanyaan. Apakah bandar Dia melakukan aksi bekerjasama
beserta jaringan pelakunya tersebut dengan narapidana penghuni
memang sengaja membuat jejak agar Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusa
mudah ditangkap, karena lebih aman Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah,
membangun kerajaan bisnis sabunya Yoyok alias Big.
dari dalam penjara?
Di persidangan terungkap Latif
Dibiarkan Menguap merupakan satu dari empat pelaku
kasus 50 kilogram sabu. Ini menjadi
Narkoba terutama sabu, telah kasus terbesar yang pernah diungkap
menyusup luas di seluruh lapisan Polrestabes Surabaya. Dan, juga untuk
masyarakat, sampai-sampai sejumlah pertamakalinya di wilayah hukum
polisi, jaksa dan hakim, berhasil ‘dibeli’ Polda Jatim, seorang polisi dihukum
dengan harga tak murah oleh para mati karena kasus Narkoba.
bandar Narkoba. Dengan beking aparat
mereka menjadi semakin aman dan Terabaikan
leluasa beroperasi menjalankan bisnis
gelapnya. Menurut sejumlah kajian mengenai
masalah Narkoba, program-program
Sesekali tertangkap, kasus pelaku yang dilakukan lembaga-lembaga
akan mudah “diatur”, atau bahkan pemerintah maupun non pemerintah
sengaja dibiarkan menguap di tingkat pada umumnya hanya difokuskan
penyelidikan. Kalaupun harus diajukan pada tindakan penyalahgunaan
ke pengadilan, vonis yang dijatuhkan dan pengedaran narkoba. Sedang
bisa saja dibuat seringan-ringannya. proses perbuatan yang mendahului
sebelumnya, justru terabaikan.
Cerita tentang terlibatnya polisi Program juga condong mengarah
dalam jaringan peredaran Narkoba pada keseragaman obyek perbuatan,
bukan fiksi atau cerita bohong. Apa sementara latar belakang sosial
yang terjadi pada Ajun Inspektur budaya, spiritual dan fisik pelaku,
Satu Abdul Latif, seperti yang tertulis sering luput dari perhatian.
dalam buku ini, merupakan salah satu
bukti konkret. Polisi perlu menerapkan
pendekatan secara lebih holistik,
Sebelum terlibat kasus sebagai kurir meliputi aspek preemtif, preventif
Narkoba, Latif adalah anggota buru sampai aspek kuratif-rehabilitatif,
sergap Polsek Sedati, Sidoarjo. Bintara sesuai dengan kompleksitas faktor-
angkatan 1995 ini sesungguhnya faktor yang menyebabkan semakin
cukup berprestasi. Dia pernah ikut berkembangnya penyalahgunaan
mengungkap 235 kasus Narkoba. Narkoba di kalangan masyarakat.
Di depan pengadilan yang Upaya preemtif dimaksudkan
menyidangkan perkaranya Latif
mengaku sudah setahun terlibat
Bak Liga Besar Sepak Bola 291
sebagai upaya awal mencegah Kapolri Jendral Badrodin Haiti bersama Wakapolri
terjadinya tindak pidana. Usaha- Komisaris Jendral Budi Gunawan memimpin rapat
tersebut dalam bentuk menanamkan
nilai-nilai atau norma-norma keutamaan Anev hasil Operasi Bersinar 2016. dok. mabes polri
pada diri seseorang. Teoritis, ketika
nilai-nilai itu berhasil terinternalisasi, memulihkan Kampung Ambon (kini
maka sekalipun ada peluang melanggar, Kampung Permata), patut menjadi
seseorang tak akan melakukannya. pola pemulihan kampung-kampung
Kejahatan pun tak terjadi. Narkoba di tempat lain. Bagaimana
tindakan represif - preventif -
Upaya preventif pada hakikatnya preemtif yang dilakukan terhadap
merupakan tindak lanjut pencegahan warga Kampung Ambon, diuraikan
sebelum tindakan represif diambil. pada bagian akhir buku ini. Program
Tahapan-tahapan tersebut ini kini diperluas Direktorat Reserse
sesungguhnya selama ini sudah Narkoba, Polda Metro Jaya untuk
dipraktikkan melalui penyuluhan- memulihkan belasan kampung
penyuluhan dan kegiatan sejenis Narkoba di Jakarta.
berbagai tempat, terutama sekolahan-
sekolahan mulai tataran dasar hingga Mudah-mudahan dengan mengubah
perguruan tinggi. kegiatan sektoral menjadi sebuah
gerakan nasional yang masif melawan
Program RW Bebas Narkoba penyalahgunaan Narkoba, segera
yang dibuat Polres Jakarta Barat membuahkan hasil yang lebih baik.
bersama pemerintah setempat Muara akhirnya pasti, berhentilah
berurusan dengan penyalahgunaan
Narkoba dan Indonesia bebas dari
Narkoba. F