The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suharnowo67, 2022-06-14 02:41:17

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini

Penulis :
Cahyo Satria Wijaya

Editor : Puput Alvia
Tata Letak : Nichal Zaki
Rancang sampul : Fikri Ganda Atmaja
Cetakan pertama, 2017

Penerbit : Shira Media
Website : penerbitshiramedia.com

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
viii + 316 hlm.; 15 x 23 cm.
ISBN: 978-602-1142-85-1

Pemasaran:
Solusi Distribusi
Jl. Wulung, Pandean, Condong Catur, Sleman
Telp. 0274-6411861 Yogyakarta
www.solusibuku.com

Pengantar

B uku ini dipersiapkan untuk membuat Anda tersenyum dan
kemudian berpikir. Demikianlah sebuah sindiran. Jika tidak bisa
menyikapi dengan baik dan bijak, maka kemarahan akan muncul
dari dalam hati. Namun, jika dapat menyikapi dengan bijak, maka
sindirian tersebut akan membuat kita tersenyum dan kemudian berpikir,
'ternyata sindiran yang mungkin didengar setiap hari memiliki makna
yang dalam dan hal remeh yang jarang diperhatikan ternyata memiliki
banyak nasihat untuk direnungkan'.

Dari sindiran-sindiran dalam buku ini, akan dikupas satu persatu
untuk disajikan kepada Anda. Sehingga kita bisa bersama-sama mendapat
tabaruk dan sama-sama belajar tentang beragam hal untuk selalu
menguatkan iman, mengeratkan ukhuwah, dan memanjang hubungan
sosial. Ketiga hal inilah yang menjadi kunci pokok kita hidup di dunia.
Iman adalah tentang hubungan kita dengan Allah, ukhuwah hubungan
dengan sesama saudara dalam Islam, dan hubungan sosial dengan seluruh
makhluk Allah. Begitu pula dalam buku ini, seluruh sindiran berujung
pada ketiga hal di atas. Ada sindiran yang menyinggung hubungan kita
dengan Allah, menyinggung hubungan kita dengan sesama muslim dan
lainnya, serta sindirian bagi hubungan kita dengan seluruh makhluk
Allah. Seluruhnya berhubungan, sebab kita hidup dalam satu dunia.

Sindiran dalam buku ini juga bermanfaat bagi kita untuk melakukan
muhasabah, menimbang dan menghitung berapa banyak dosa yang
kita lakukan? Berapa kesalahan yang kita lakukan? Sedangkan faktanya
ibadah kita belum seberapa!

Selamat membaca.

DAFTAR ISI

Pengantar ............................................................................................... iii
Bicarakan Aib Orang, Lupa Aib Sendiri................................................ 1
Berbagi Makanan, Bukan Hanya Fotonya ........................................... 3
Jarkoni ................................................................................................... 5
Jarkoni 2................................................................................................. 7
Salat Hanya 5 Menit, Alasannya Sepanjang 24 Jam............................ 9
Menuntut Hak, Menghindari Kewajiban............................................. 11
Hedonis Tetapi Pelit Sedekah................................................................ 13
Cinta Sehidup Semati............................................................................ 16
Mengafirkan Muslim Lain..................................................................... 19
Stres Itu Karena Kurang Ibadah, Bukan Kurang Liburan.................... 22
Ibadah Mesti Seimbang......................................................................... 24
Tuntut Ilmu Akhirat Juga, Jangan Cuma Ilmu Dunia ........................ 26
Berdoa Kok di Media Sosial................................................................... 28
Berdoa Kok di Media Sosial 2................................................................ 31
Rezeki Tak Akan Lari Dikejar................................................................ 34
Hidup itu Murah, yang Mahal itu Gaya Hidup..................................... 37
Pendidikan Tinggi Tetapi Perilaku Seperti Anak Kecil......................... 41
Kerjaan Mengkritik Orang, Memangnya Kita Sudah Lebih Baik?...... 44
Senang Menikmati, Lupa Mensyukuri.................................................. 47
Allah Mencukupi Kebutuhanmu,
Kamu Penuhi Sendiri Keinginanmu..................................................... 50
Menghormati Azan Tetapi Tidak Salat................................................. 53
Mantan Atau Pahlawan, Kok Dikenang Terus?.................................... 56
Hindari Pacaran Tetapi Jomblo Jangan Permanen.............................. 59
Pilih Jomblo Ataukah Pacaran?............................................................. 62
Hidup Itu Sederhana, Tafsirnya yang Bikin Hidup jadi Istimewa....... 68
Pintar Menilai Orang Lain, Bodoh Menilai Diri Sendiri...................... 71
Menyerahlah, Maka Kamu Akan Rugi.................................................. 74
Jangan Cuma Katanya, Mana Katamu?................................................ 77
Jangan Merasa Benar Sendiri Kalau Kebenaran Mutlak Milik Allah.. 80
Apa Guna Banyak Baca Buku Kalau Tidak Diamalkan......................... 83

Hidup Penuh Gaya Tetapi Masih Mengandalkan Orang tua............... 86
Berhijab Kok Nunggu Jadi Salehah....................................................... 89
Repotnya Jadi Pedagang, Salatnya Dibikin Gampang......................... 93
Repotnya Jadi Petani, Salatnya Nanti................................................... 95
Smartphone Penuh Media Sosial,
Aplikasi Alquran Cuma Jadi Pajangan.................................................. 98
Bicara yang Baik Atau Diam.................................................................. 101
Mengunjungi Tempat Indah Terus, Kapan Mengunjungi Masjid?..... 104
Luangkan Waktu Untuk Ibadah,
Bukan Ibadah di Waktu Luang.............................................................. 107
Ayam Berkokok Menjawab Azan Subuh, Kamu?.................................. 111
Dipanggil Gebetan Langsung Datang, Dipanggil Allah Entar-entar... 114
Jalan ke Surga Terbuka Bagi Siapa Saja,
Kecuali Orang yang Tidak Mau............................................................. 119
Ibadah Itu Bukan Dagangan, Kok Dipamerin?..................................... 122
Bersyukur Tak Perlu Menunggu Bahagia,
Karena Kita Bisa Bahagia dengan Bersyukur....................................... 125
Selalu Berusaha Hidup Enak, Lupa Berusaha Mati Nikmat................ 128
Jihad itu Tak Selalu Perang, Menjaga Perdamaian Juga Jihad........... 131
Maksiat Takut Ketahuan Orang Lain, Tidak Takut Ketahuan Allah... 135
Nyuruh Perempuan Berhijab? Tetapi Mana Pecimu?.......................... 138
Jangan Menyakiti Kalau Tidak Mau Disakiti....................................... 140
Sebaik-baik Hiasan di Rumah adalah Bacaan Alquran......................... 143
Sama Allah Kok Hitung-hitungan......................................................... 146
Terlalu Sering Melihat Langit, Lupa Memijak Bumi............................ 149
Hidup itu Bergantian, Jangan Menang Sendiri.................................... 152
Orang tua Ibarat Alquran Rusak, Harus Tetap Dimuliakan................ 154
Dua Telinga Satu Mulut, Banyak Dengar Sedikit Bicara...................... 157
Kalau Bukan Sutradara Jangan Suka Ngatur Orang Lain.................... 160
Janji Karet, Janjinya Jam Berapa Datangnya Jam Berapa.................. 163
Kita Diciptakan Sama, Hanya Usaha yang Membedakannya.............. 166
Pintar Merasa Bukan Merasa Pintar..................................................... 169
Merasa Pintar Atau Pintar Merasa........................................................ 172
Janji Adalah Utang................................................................................. 176

Utang Membuat Banyak Janji............................................................... 179
Update Amal Harian Biar Kekinian...................................................... 182
Kebahagiaan itu Kita yang Menentukan, Bukan Mereka.................... 185
Melek Malam Jangan Cuma Nonton Bola, Tahajud Sekalian.............. 188
Jika Tidak Ada Tempat Bersandar, Masih Ada Tempat Bersujud....... 190
Hapus Dosa dengan Salat,
Sebelum Dosa Menghapus Salat dalam Hidupmu............................... 193
Mau Nunjukin Puasamu dengan bermalas-malasan?.......................... 195
Orang Kecelakaan Kok Malah Difoto?.................................................. 197
Kalau Mau Makan Berdoa Dulu, Bukan Difoto Dulu........................... 200
Makanan Itu Dimakan, Bukan Difoto!................................................. 202
Handphone Di-charge Terus, Iman Dibiarkan Lemah......................... 204
Selfie itu Ria dan Ujub............................................................................ 207
Selfie Saat Beribadah,Mau Pamer?........................................................ 210
Tidak Mau Salat Pengin Anaknya Jadi Saleh dan Berbakti................. 212
Rumah Hiburan Lebih Ramai Daripada Rumah Allah......................... 215
Sekali Berbohong, Selamanya Kejujuran Akan Hilang........................ 218
Cantik-cantik Nggak Bisa Ngaji, Malu Dong........................................ 221
Kalau Kangen Sebut Namanya dalam Doa,
Bukan Cuma dalam Status.................................................................... 224
Tidurnya Orang Alim Lebih Baik Daripada Salatnya Orang Bodoh.... 227
Bolak-balik Beli Baju, Mukena Satu Dipakai Seminggu....................... 230
Baju terus yang diganti, Mukena Kapan?............................................. 233
Membela Tuhan atau Membela Kepentingan?..................................... 235
Bukan Guru kok Senang Menggurui..................................................... 238
Belajar Itu Mencari Ilmu, Pekerjaan Urusan Lain................................ 241
Hidup Singkat Terlalu Banyak Maksiat................................................. 244
Memikirkan yang Dekat Daripada yang Jauh...................................... 247
Hidup kok Amatiran!............................................................................. 249
Utamakan yang Fardu............................................................................ 251
Cantik Luar Dalam................................................................................. 254
Melihat ke Bawah Saat di Atas.............................................................. 257
Lihatlah ke Bawah, Jangan Lihat Ke Atas............................................. 260
Ilmu Lebih Baik Daripada Harta........................................................... 265

Sedikit Tetapi Konsisten........................................................................ 268
Kecil Namun Konsisten......................................................................... 270
Menghormati Tukang Sayur daripada Suami sendiri.......................... 272
Tamu Dimasakkan Istimewa, Untuk Suami Biasa Saja........................ 275
Makan Mau Enaknya, Buang Sampah Sembarangan........................... 278
Ramadan yang Disambut, Tetapi Tak Diantar Pulangnya................... 280
Dikasih Hujan Minta Panas, Dikasih Panas Minta Hujan................... 283
Sedekah Jangan Menunggu Ikhlas....................................................... 286
Sedekah Kok Menunggu Ikhlas............................................................. 289
Sedekah Kok Itung-Itungan?................................................................. 292
Berkedok Taaruf Ujungnya Maksiat..................................................... 294
Keluarga Atau Rekan Kerja?.................................................................. 296
Memuliakan Tiga Orang Tua................................................................. 306
REFERENSI............................................................................................ 309
Profil Penulis.......................................................................................... 315



Bicarakan Aib Orang,
Lupa Aib Sendiri

D alam bahasa Jawa kita mengenal istilah ngrasani, atau dalam
bahasa Arab disebut ghibah. Ngrasani atau ghibah atau menggosip
merupakan perbuatan mengunjingkan orang lain. Dalam hal ini,
hal yang digunjingkan biasanya berupa keburukan orang lain. Kita sering
menemukan atau mendengar gosip di kehidupan sehari-hari, bahkan kita
sendiri merupakan pelakuanya.

Nabi Muhammas Saw. mendefinisikan ghibah dalam sebuah hadis
riwayat Muslim, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab:
Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Kemudian beliau bersabda: ghibah
adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia
benci". Ada yang bertanya. Wahai Rasulullah bagaimana kalau yang
kami katakan itu betul-betul ada pada dirinya? Beliau menjawab: jika
yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan
jika apa yang kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnah
(mengucapkan suatu kedustaan).

Membicarakan orang lain memang hal menyenangkan, nyatanya hal
ini kerap dilakukan orang. Di berbagai perkumpulan atau majelis, hal ini
sering pula terjadi. Baik dalam sebuah pertemuan, arisan, atau bahkan
dalam sebuah pengajian. Tak hanya dalam sebuah pertemuan, dalam
grup sosial media juga demikian. Dalam siaran televisi, ghibah juga tak
bisa dihindari.

Saking menyenangkannya, kita sampai lupa bahwa di belakang kita
ada orang yang juga menggosipkan diri kita. Begitu pun orang yang
menggosipkan kita, di belakang mereka, juga ada orang yang sedang

1

menggosipkan mereka. Begitu seterusnya. Berputar-putar seperti ling-
karan setan.

Saking enaknya menggosip, kita lupa bahwa kita sebenarnya tak jauh
lebih baik daripada orang yang kita gosipkan. Kalau kita tak lebih baik,
kenapa kita mengorek keburukan orang lain? Alih-alih kita mengorek
keburukan orang lain, justru hal ini semakin menunjukkan kemampu-
an kita yang sebenarnya. Apalagi dalam menggosip dilatarbelakangi oleh
motif tertentu. Misalnya sifat iri, persaingan usaha, persaingan karier
atau politik dan lain sebagainya.

Dalam ajaran Islam, ghibah merupakan sesuatu yang dilarang karena
bisa menjerumuskan kita dalam perbuatan fitnah. Lebih ngeri lagi,
Alquran mengibaratkan sebagai upaya memakan daging saudara sendiri.
Orang yang menggosip serupa kanibal. Perhatikan terjemahan ayat
berikut.

“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara
kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” [QS. Al
Hujurat: 12].
Bangkai merupakan hal yang menjijikkan dan haram hukumnya.
Pun dengan ghibah, haram dalam agama dan buruk dalam jiwa. Sebab,
orang yang memakan bangkai berarti kejiwaannya tergangg­ u.
Nah, jika kita sedang menggosipkan orang lain, maka ingatlah bahwa
kita sedang memakan bangkai!

2

Berbagi Makanan, Bukan
Hanya Fotonya

I nilah yang akan kita lihat begitu membuka media sosial. Di timeline
akun media sosial kita sudah nyaris seperti menu makanan pada
sebuah restoran. Akan tetapi, kita tidak bisa memesannya, apalagi
menikmatinya. Belum lagi ketika yang melihat makanan tersebut adalah
orang yang tidak mampu. Hal ini hanya akan menimbulkan kesenjangan
sosial yang semakin tinggi. Jika sudah demikian, sesungguhnya kita
merupakan orang yang kejam. Bagaimana tidak, kita menyodori sesuatu
yang nikmati untuk dimakan, akan tetapi kita hanya memberikan
harapan yang tak bisa dijangkau sama sekali.

Bagi yang membagi (share) foto, hal ini tampak sebagai sebuah kegi-
atan yang menyenangkan. Ia menunjukkan bagaimana selera makan dan
gaya hidupnya yang tinggi dan berkelas, padahal mungkin saja sebenar-
nya ia masih berada di kelas menengah ke bawah yang sesekali makan
enak atau nongkrong di kafe. Bagi orang yang benar-benar kaya dan biasa
menikmati makanan enak, tentu hal ini bukan sesuatu yang menarik un-
tuk dibagi.

Yang lebih ironis lagi, gambar makanan itu bukan gambar yang baru
saja diambil, melainkan sudah beberapa hari yang lalu. Tentu saja hanya
kebanggaan yang dikejar demi mendapatkan jempol like atau komentar.
Dan kita semestinya berpikir, selain banyak saudara kita yang tak
seberuntung kita, ada sebagian dari saudara kita yang sedang berpuasa.
Mungkin puasa sunah, mungkin juga wajib. Jika kemudian saudara kita
itu tergoda, bukankah kita menjadi seseorang yang menggoda saudara
yang berpuasa? Sementara penggoda itu identik dengan perilaku setan.

3

Dalam hal ini, sudah selayaknya kita menyontoh perilaku Nabi
Muhammad Saw. dalam berbagi makanan. Beliau sedang senang berbagi,
bahkan menyarankan untuk memperbanyak kuah makanan agar bisa
dibagi kepada banyak tetangga. Abu Dzar berkata: “Sesungguhnya
kekasihku berpesan kepadaku: ‘Jika engkau memasak masakan berkuah,
perbanyaklah kuahnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu,
maka berikanlah kepada mereka dengan baik.” [HR. Muslim].

Mari kita renungkan, jika kita memasak di rumah, berarti kita te-
lah membaui tetangga kita dengan masakannya kita, sehingga kita pun
disarankan untuk membaginya kepada tetangga. Artinya, barangkali de-
ngan masakan itu, kita telah membuat tetangga kita juga ingin mencicipi
makanan yang dibauinya itu. Demikian pula dengan gambar makanan,
barangkali kita telah memancing hasrat makan bagi teman atau saudara
atau tetangga kita melalui media sosial kita. Dan sebaiknya kita berbagi
makanan itu kepada mereka. Namun jika kita tidak mampu membaginya,
sebaiknya kita urungkan niat untuk membagi gambar makanan.

Di sisi lain, membagi foto makanan bisa memasukkan kita dalam
kategori pamer atai ria. Tentu hal ini menjadi keprihatinan. Makanan
yang seharusnya menjadi rezeki yang harus kita syukuri menjadi tidak
berkah dan hina karena dibarengi dengan sifat ria.

4

Jarkoni

J arkoni merupakan akronim dari bisa ujar tetapi ora nglakoni, hanya
bisa ngomong tanpa bisa menjalaninya. Akronim ini dimunculkan
oleh K. Anwar Zahid dari Bojonegoro. Maksud dari akronim tersebut
adalah bahwa banyak orang yang kerap memberikan nasihat, bahkan
disertai dengan dalil-dalil tertentu tetapi ia sendiri tidak melakukannya.
Misalnya kita kerap mendengar orang menganjurkan untuk bersedekah
karena banyak manfaatnya, tetapi ia sendiri tidak melakukannya.

Memang benar, konteksnya adalah amar makruf nahi mungkar, akan
tetapi sebaiknya dilakukan dulu, sebelum menyarankan kepada orang
lain. Oleh sebab itu, kata K. Anwar Zahid, seorang pendakwah atau
mubalig, paling sulit jika diminta memberikan ceramah pada peringatan
hari kematian atau haul. Berbeda dengan jika diminta ceramah soal
kelahiran, khitan, walimatul ursy, dan lain sebagaianya, karena memang
mubalig atau bahkan setiap orang mengalaminya. Sementara untuk
soal kematian, mubalig itu sendiri belum mengalaminya. Untuk itu,
dalam setiap ceramah memperingati orang meninggal, cenderung akan
mengungkit-ungkit segala hal kebaikan selama masa hidupnya.

Suatu masa ketika Nabi Muhammad Saw. sedang melaksanakan Isra
Mikraj, kata Anas Bin Malik, beliau melintasi sekelompok orang yang
bibirnya digunting dengan gunting dari api neraka. “Siapakah mereka?”
tanya Nabi kepada Jibril. Jibril mengatakan, “Mereka adalah orang-
orang yang dulunya menjadi penceramah ketika di dunia. Mereka sering
memerintahkan kepada orang lain untuk melakukan kebaikan tetapi
mereka melupakan diri sendiri padahal mereka membaca firman-firman

5

Allah. Tidakkah mereka berpikir?” [HR. Ahmad, Abu Nu’aim dan Abu
Ya’la].

Hadis di atas menunjukkan bagaimana seseorang yang berilmu,
tetapi tidak mengamalkannya. Ia baru sebatas memberitakan. Sifat yang
semacam ini merupakan golongan dari orang Yahudi, yang mendapatkan
murka Allah.

Jarkoni bukan saja pada hal-hal kebaikan sebagaimana dicontohkan
di atas, melainkan juga pada hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seorang
jarkoni melarang orang lain untuk tidak melakukan maksiat atau
kemungkaran, sementara ia sendiri justru menerjang larangan tersebut.
Abu Darda r.a. mengatakan bahwa orang yang demikian termasuk dalam
golongan orang-orang bodoh. Ia berkata dalam Jami’ Bayan Al-Ilmi wa
Fadhlih (1/143), “Tanda kebodohan itu ada tiga; pertama mengagumi
diri sendiri, kedua banyak bicara dalam hal yang tidak manfaat, ketiga
melarang sesuatu namun melanggarnya.”

Sementara bagi Jundub bin Abdillah Al-Bajali, mereka tak ubahnya
seperti sebuah lilin. “Gambaran yang tepat untuk orang yang menasihati
orang lain namun melupakan dirinya sendiri adalah laksana lilin yang
membakar dirinya sendiri untuk menerangi sekelilingnya.” Katanya da-
lam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih (1/195).

Meski demikian, perintah untuk amar makruf nahi mungkar tidak
kemudian ditinggalkan begitu saja. Tidak ada orang sempurna sehingga
apa yang ia perintahkan atau ia larang tetap harus dijalankan, akan
tetapi harus disertai dengan kehati-hatian. “Hal ini karena orang
tersebut memiliki dua kewajiban, pertama memerintah dan melarang
diri sendiri, kedua memerintah dan melarang orang lain. Jika salah satu
sudah ditinggalkan bagaimanakah mungkin hal itu menjadi alasan untuk
meninggalkan yang kedua.” Kata Imam Nawawi dalam Al-Minhaj (1/300).

6

Jarkoni 2

A llah dalam Alquran berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan
apa yang tidak kamu perbuat?Amat besar kebencian di sisi Allah
bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS. Ash-
Shaff: 2-3)

Berangkat dari masalah tersebut maka pentinglah jika seorang
ustaz atau kiai juga harus mengerjakan yang dikatakannya, tidak hanya
ceramah saja.

Misal tentang zakat dan sedekah...!
Sebenarnya zakat dan sedekah itu tidak harus menunggu jadi kaya,
karena dalam Alquran dijelaskan: “Dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-
orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di
waktu sempit.....” (QS Ali Imron: 133).
Tetapi di sisi lain ada keterangan hadis yang menyatakan “Barang
siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala
seperti orang yang melaksanakannya” (HR. Muslim).
Solusinya, mari kita gunakan akal sehat, jangan mudah terpancing
untuk mencelanya karena orang yang menyampaikan demikian mungkin
saja belum mampu atau orang yang menyampaikan sudah zakat dan
sedekah cuma kadang kita saja yang belum tahu. Karena sedekah juga
tidak perlu pamer, masa orang mau sedekah mesti lapor kepada kita? Pun
kita harus menyadari. Sebelum memerintah atau mengajak orang lain,

7

kita harus menyadari apakah kita sudah baik dalam menjalankan agar
tidak di bilang jakoni.

8

Salat Hanya 5 Menit,
Alasannya Sepanjang 24 Jam

S etiap kewajiban sudah ditentukan waktunya. Jika waktu itu lewat
berarti telah berlanjut ke kewajiban yang lain. Sementara itu, kita
yang tidak menjalankan kewajiban sesuai dengan waktunya berarti
telah meninggalkan kewajiban, kecuali dalam keadaan dan kondisi
tertentu. Akibat dari meninggalkan salat memang tidak dirasakan
langsung oleh pelakunya, sehingga hal ini dianggap sepele. Padahal hal
ini merupakan dosa besar, karena tegaknya agama Islam dari salat yang
didirikan oleh pemeluknya. Sebagaimana dikatakan bahwa “salat adalah
tiang agama”. Tentu sudah bisa dibayangkan jika bangunan tanpa tiang.
Pastinya tak akan mampu tegak berdiri.

Dalam hal ini kita patut mencontoh orang-orang Islam di Makkah.
Para pekerja dari berbagai profesi akan segera meninggalkan pekerjaannya
begitu mendengar azan. Dengan sedikit tergesa mereka menutup
warungnya, menutup rumahnya, meninggalkan segala pekerjaannya
untuk pergi ke masjid terdekat. Ketika masuk waktu salat, daerah itu
akan sangat sepi dan kerumunan orang memenuhi masjid.

Pekerjaan duniawi inilah yang kerap membuat kita menunda atau
bahkan melupakan salat. Padahal kita tahu bahwa salat adalah kewajiban
utama sebagai muslim dan tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa
pun. Dalam kondisi sulit salat tetap diwajibkan meskipun kita mendapat
berbagai keringanan. Misalnya sedang dalam perjalanan, dalam keadaan
sakit dan lain sebagainya. Salat harus tetap dijalankan sesuai aturannya.

Ada seorang kiai yang menyindir keras orang kerap meninggalkan
salat dalam syair gubahannya, “Dhuhur bepergian, asar di perjalanan,

9

maghrib kelelahan, isya ketiduran, subuh kesiangan.” Jika sudah
demikian, kapan kita akan salat? Seribu alasan pasti akan dibuat jika
seseorang tidak ada niat untuk mengerjakannya. Tetapi sebaliknya,
orang tak butuh alasan untuk mengerjakan salat bagi mereka yang sudah
berniat ingin melakukannya.

Sebagai amalan yang paling utama, salat menjadi penentu amalan-
amalan lainnya. Jika salat baik, amalan lainnya pun dianggap baik. Begitu
pula sebaliknya, jika salatnya buruk, amalan lainnya pun dianggap buruk.
Habib Luthfi Yahya dari Pekalongan bahkan menyederhanakan orang
sabar dari salat yang dikerjakannya, “Jika seseorang bisa sabar dalam
salat, ia sabar dalam kehidupannya.”

Hal ini menunjukkan bahwa salat tak hanya menjadi kunci dalam
beragama, melainkan juga dalam berkehidupan sosial. Jika seseorang
meninggalkan salat disebabkan sibuk dengan harta, kerajaan, kekuasaan
dan sibuk berdagang. Jika keadaannya demikian, maka ia akan
dikumpulkan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash,
bahwa Nabi Saw. pernah bercerita tentang salat. Beliau bersabda, “Siapa
yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk,
keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia
tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya
di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qorun, Fir’aun, Haman,
dan Ubay bin Kholaf.” [HR. Ahmad 2: 169].

Empat orang itu adalah para pembesar kafir. Qorun melalaikan
salat karena hartanya, Fir’aun sibuk dengan kerajaannya sehingga
meninggalkan salat. Sementara Hamam (menteri Fir’aun), telah
diberdaya oleh kekuasaan sehingga tak mengerjakan salat dan Ubay bin
Kholaf meninggalkan salat karena sibuk berdagang. Semoga kita tidak
termasuk sebagai pengikut salah satunya.

10

Menuntut Hak,
Menghindari Kewajiban

M enerima memang lebih mudah daripada memberi. Pada
satu sisi, memberi terkadang harus merelakan bahwa kita
kehilangan sesuatu yang kita miliki. Sementara menerima
berarti memiliki atau menambah apa yang kita punya. Begitulah
gambaran sederhana antara hal dan kewajiban. Keduanya seperti dua
sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Di mana ada hak, di sisi lain
melekat kewajiban daripadanya.
Misalnya saja kita lebih menuntut hak kita untuk hidup layak dan
dijamin oleh pemerintah, sementara di sisi lain, terkadang kita lalai atau
sengaja melalaikan membayar pajak. Pun demikian dalam kehidupan ber-
agama, kita lebih banyak menuntut hak kita sebagai makhluk, yaitu dipe-
nuhi kebutuhannya, namun terkadang kita lupa atau melupakan kewajib-
an kita kepada Allah yang memberikan segalanya kepada kita. Terkadang
pula, kita tak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Begitulah sifat manusia. Kita tak bisa menyangkal hal ini. Akan
tetapi, manusia yang menyadari akan kewajibannya akan cenderung
menghindari menuntut haknya lebih dari apa sudah ia terima. Selebihnya,
ia akan mengusahakannya sendiri. Orang yang demikian sebenarnya
telah mampu menjaga keseimbangan dalam hidupnya.
Mengenai hak dan kewajiban, Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata:
Rasulullah Saw. bersabda, “Akan terjadi sepeninggalku sifat monopoli
(mementingkan diri sendiri) dan beberapa kemungkaran.” Sahabat
bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pesan tuan kepada kami menghadapi

11

hal itu?” Nabi Saw.. bersabda, “Tunaikanlah kewajibanmu dan mintalah
kepada Allah untuk mendapatkan hakmu.” [HR. Bukhari-Muslim].

Hadis di atas menunjukkan bahwa meninggalkan kewajiban dan
mementingkan hak merupakan sifat egois yang telah mendominasi atau
memonopoli dalam diri seseorang. Sifat egois yang dipelihara secara
terus-menerus ini akan melahirkan sifat sombong.

Mencermati peristiwa akhir-akhir ini, kerap terjadi demonstrasi yang
dilakukan oleh buruh, terutama pada 1 Mei. Tanggal yang diperingati
sebagai hari buruh sedunia ini, dimanfaatkan sebagai momentum
untuk menuntut hak-haknya. Bagi seorang pengusaha kewajibannya
dalam memenuhi hak pegawai atau buruhnya juga telah disabdakan
oleh Rasulullah Saw., “Berilah pekerja itu upahnya sebelum kering
keringatnya.” [HR. Ibnu Majah].

Seorang pengusaha wajib membayar hak-hak karyawannya ketika
masa pembayaran tiba. Pembayaran tidak bisa ditunda karena kewajiban
bagi pengusaha dan hak bagi pekerja. Akan tetapi, hadis di atas juga
tidak bisa dijadikan pembenaran bahwa pekerja akan selalu menuntut
haknya. Dalam undang-undang peraturan pemerintah daerah juga sudah
diatur berapa besaran hak yang harus dibayarkan. Maka buruh tidak bisa
seenaknya menuntut haknya yang lebih besar, sementara pekerjaannya
tidak bertambah berat.

Hak dengan keinginan tentu saja berbeda. Misalnya keinginan untuk
memakai parfum, menonton bioskop dan lain sebagainya, merupakan
keinginan buruh untuk menambahkan kesejahterannya. Tentu saja per-
usahaan akan keberatan dengan hal tersebut. Berbeda jika yang dituntut
merupakan kebutuhan pokok, sehingga perusahaan pun bisa memper-
timbangkannya dari sisi manusiawi, bukan saja dari sisi bisnis.

Meski demikian, perusahaan harus mengerti bahwa di luar perusa-
haannya tuntutan hidup buruh semakin bertambah. Oleh sebab itu, ke-
naikan upah setiap tahun secara bertahap harus pula dipertimbangkan.
Dengan saling mengerti seperti ini akan terjadi keseimbangan antara
kewajiban dan hak masing-masing pihak. Pada akhirnya tidak ada pihak
yang merasa dirugikan.

12

Hedonis Tetapi
Pelit Sedekah

D unia modern membuat hidup kita semakin praktis. Apa saja
yang kita inginkan seolah bisa menjadi milik kita atau dapat
kita nikmati hanya dengan ujung. Misalnya dengan smartphone,
tinggal tekan-tekan tombol, barang yang kita inginkan bisa saja
dikirimkan ke alamat kita. Hal ini yang kemudian menjadi life style bagi
manusia saat ini.

Seorang ulama besar dari Timur Tengah, Ali Syariati, mengatakan
bahwa budaya hedonisme merupakan tantangan terbesar bagi muslim
saat ini. Budaya ini menjadi jawaban dari pertanyaan sederhana, siapa
yang tidak ingin kemudahan (yang sebenarnya adalah bentuk pemanja-
an)?

Tentu saja hal ini berhubungan dengan ketersediaan dana yang kita
miliki. Jika kita sudah terbiasa dengan kehidupan semacam ini, tentu
beragam cara akan kita tempuh agar bisa memenuhi. Kehidupan hedonis
secara sederhana dapat dirumuskan dengan mencapai kesenangan yang
berbasis pada materi. Perilaku ini sangat bertentangan dengan ajaran
Islam karena termasuk dalam aktivitas orang-orang zalim.

Firman Allah Swt., “…dan orang-orang yang zalim hanya
mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan
mereka adalah orang-orang yang berdosa.” [QS. Huud: 116].

Perilaku hedonis ini berhubungan erat pemenuhan nafsu seseorang.
Kita sendirilah yang bisa membedakan apakah dalam suatua mencapai
kesenangan terdapat nafsu yang besar. Misalnya seseorang yang
sebenarnya tidak mampu untuk melakukan traveling, tetapi mekasakan

13

diri demi mengejar kekinian. Atau sebenarnya tidak mampu membeli
barang-barang tertentu namun dipaksakan untuk mengejar tren saat ini.
Yang demikian sesungguhnya merupakan nafsu yang telah menyelemuti
hati seseorang.

Contoh lainnya adalah berburu barang modern seperti smartphone.
Barang kecil yang bisa kita genggam ini memang sangat canggih. Selain
manfaatnya, barang ini juga bisa dijadikan standar kehidupan seseorang.
Merek smartphone tertentu menjadi standarnya. Tak heran jika kita kerap
melihat seseorang berganti-ganti telepon canggih itu.

Agar tidak terjebak dalam perilaku hedonis, sebaiknya kita membe-
lanjakan harta yang kita miliki sesuai dengan kebutuhan. Misalnya kita
membutuhkan pakaian, maka kita pilih pakaian yang pantas untuk kita,
tidak terlalu mahal juga tidak terlalu murah, yang disesuaikan dengan
kemampuan kantong kita. Sebaliknya, kita kerap menyaksikan bahwa
seseorang menumpuk pakaian-pakaiannya yang masih bagus. Dan ia sen-
diri juga tidak tahu mau diapakan pakaian itu jika sudah tidak tren lagi,
sementara tren pakaian hanya beberapa saat.

Sebagai muslim kita mestinya menyadari, bahwa dibalik itu semua
ada kepentingan bisnis dengan modal yang sangat besar. Kita bisa
melihatnya, bahwa dulu seorang muslimah berjilbab dengan biasa saja.
Namun kemudian kepentingan bisnis membuat jilbab beraneka ragam,
bahwa menonjolkan lekuk tubuh muslimah. Maka muncullah pakaian-
pakaian ketat, atau juga biasa dikenal dengan jilboob. Di satu sisi kita
berusaha untuk mentaati perintah agama, namun di sisi lain kita terjebak
dalam bisnis kapitalis yang sebenarnya merugikan kita sendiri.

Kita bisa melihat hal ini pula dalam tayangan televisi. Pakaian
muslimah, baik dalam sinetron, pengajian maupun yang dikenakan
artis-artis pada saat tampil di layar kaca, seolah menjadi tren yang
harus diikuti oleh penontonnya. Tanpa kita sadari, pakaian muslimah
itu merupakan bagian iklan atau untuk mendapat endors dari seorang
artis. Dan kita sebagai konsumen sasaran empuk. Permainan kapitalis
tak hanya sampai di situ, melainkan juga di wilayah penggunaan bahasa.
Kata jilbab dianggap kuno sehingga perlu digantikan dengan hijab yang

14

kekinian dan kearaban, padahal mereka berideologi kebaratan. Jika kita
sebagai konsumen, kita mengikut ke mana, kearaban atau kebaratan?

15

Cinta Sehidup
Semati

“ Aku sangat mencintaimu. Sungguh. Aku tak bisa hidup tanpamu.”
“Beneran?”
“Aku janji. Kita akan bersama sehidup semati.”
Lalu yang menerima rayuan tersebut langsung berbunga-bunga hati-
nya. Dunia seakan milik berdua. Cinta telah memabukkan dua anak ma-
nusia.

Tetapi apakah Anda yakin, ucapan itu tulus? Mungkin Anda pernah
menjadi korban rayuan tersebut. Atau jangan-jangan malah sebagai
pelakunya sendiri?

Duh, zaman sekarang, rayuan cinta bisa begitu dahsyatnya. Hingga
yang menerima pun seakan-akan mengartikan rayuan itu sebagai sebu-
ah janji. Padahal, tanpa izin Gusti Allah, ucapan tersebut hanya builshit
semata.

Ingat bukan, kalau urusan hidup dan mati adalah rahasia Allah. Kita
tidak bisa merencanakan dengan siapapun untuk bisa bersama sehidup
semati. Misalnya, setelah mengucapkan rayuan tersebut ternyata istrinya
meninggal dunia. Apakah karena janji sehidup semati tersebut, si suami
lantas ikut bunuh diri? Iya kalau aksi bunuh dirinya berhasil. Kalau ter-
nyata gagal, lalu apa kabar janji sehidup semati itu?

Sekarang, tak usahlah berpikir bunuh diri yang dilaknat Gusti Allah
itu, jangan. Karena hidup dan mati tak bisa diminta ataupun ditolak, bu-
kan? Sekarang kita pikirkan coba. Seandainya Anda meninggal lebih dulu,
apakah pasangan Anda masih mau tidur berdua? Apakah yakin pasangan

16

Anda tidak akan menikah lagi? Lah kebanyakan dari kita kan malah keta-
kutan kalau melihat orang mati.

Jadi bisa disimpulkan, bahwa dalam konteks ini, soal teman-mene-
mani hanyalah dibatasi oleh maut. Batas kita bersama pasangan adalah
ketika maut memisahkan. Agak berlebihan rasanya jika rayuan sehidup
semati itu kita percaya mentah-mentah. Karena sesungguhnya rayuan
tersebut telah melawan takdir yang ditentukan oleh Allah.

Lalu, kenapa hal ini begitu lumrah diungkapkan dalam kehidupan
kita?

Alasan paling sederhana adalah ungkapan cinta yang begitu
berlebihan sehingga meninggalkan logika, bahwa tidak mungkin kita bisa
sehidup semati. Terkadang, ketika masih hidup saja, ada pasangan yang
meninggalkan kekasihnya. Artinya, kita tidak mengetahui apa yang akan
terjadi di masa depan, tetapi kita sudah merumuskan bahwa cinta dan
kasih kita kepada seseorang akan abadi sehidup semati.

Siapa sih yang bisa menebak hati seseorang. Kita sendiri bahkan ti-
dak tahu seperti apa takdir kita. Bisa jadi setelah pasangan kita mening-
gal, hati kita tergerak untuk menikah lagi karena suatu keadaan. Jika su-
dah demikian, tentu saja kesepakatan yang telah dibuat dengan pasangan
pertama menjadi gugur bukan?

Seseorang yang meninggal sudah terputus hubungannya dengan du-
nia, sementara yang masih hidup harus menjalani kehidupannya seba-
gai manusia yang membutuhkan pasangan hidup. Lalu apakah kita akan
sanggup menghalangi kebahagiaan pasangan kita jika kitalah yang me-
ninggal lebih dulu? Jadi, jangan percaya deh dengan ucapan akan bersa-
ma sehidup semati.

Tetapi apakah benar tidak ada cinta sehidup semati? Tentu saja
ada, yaitu cinta kepada Allah. Jika di masa hidup kita mampu berteman
dengan Allah, ketika mati pun Allah sanggup menemani kita.

“Aku dekat Engkau dekat, Aku jauh Engkau jauh. Hati adalah cermin,
tempat pahala dan dosa bertaruh.” Pernah mendengar lirik tersebut? Ya,
itu adalah kalimat milik Bimbo.

17

Hanya dengan mencintai Allah dengan rayuan sehidup sematilah,
kita akan dibalas oleh-Nya dengan adil.

Allah sendiri sangat terbuka kepada hamba-Nya yang ingin mendekat
dan berkawan dengannya. Tak pandang siapakah dan apa jabatannya,
Allah bersedia menemaninya, sampai kapanpun. Akan tetapi, kitalah yang
terlebih dahulu menjalin pertemenan itu karena Allah sudah membuka
pintu-Nya, tinggal kita memasukinya. Sebagaimana dalam hadis qudsi,
“Ana jalisu man dzakaroni. Aku (menjadi teman) duduk bagi orang yang
berzikir kepadaku.”

18

Mengafirkan
Muslim Lain

D alil-dalil, baik dikutip dari Alquran maupun hadis kerap kita
dengar di berbagai tempat dan situasi. Di setiap pengajian,
mengutip ayat atau hadis dapat menunjukkan kredibilitas
pendakwah atau ustaz. Di tayangan televisi, bahkan sinetron telah
banyak mengutip dalil sebagai sumber legitimasi apa yang diucapkan dan
diperbuat.

Entah dari mana sumbernya, baik membaca langsung dari
Alquran, membaca kumpulan hadis, didapat dari internet atau hanya
mendengar dari orang lain, dalil-dalil itu berseliweran, terutama saat
memberikan nasihat atau tausiyah. Tetapi sayangnya, dalil-dalil itu
kemudian disalahgunakan dengan mengafirkan sesama muslim. Apa
yang telah dilakukan oleh muslim golongan lain yang tidak sesuai dengan
golongannya dianggap kafir.

Misalnya saja sistem negara kita yang demokrasi dan menggunakan
asas Pancasila, sebagian orang muslim mengklaim bahwa itu ajaran kafir.
Penganut paham liberal dianggap kafir. Pergi ke diskotik dihukumi kafir,
dan banyak lagi hal atau peristiwa yang dijadikan landasan menganggap
seseorang menjadi kafir. Padahal kita tahu, bahwa orang kafir adalah
orang yang mengingkari atau tidak mau beriman sebagaimana disebut-
kan dalam rukun iman. Kafir merupakan kebalikan dari iman.

Sementara di luar itu, barangkali orang berbuat dosa atau maksiat,
tetapi dengan berbagai tuduhan dengan mengambil dalil tertentu
kemudian menghukum seseorang itu sebagai kafir. Hal ini tidaklah dapat

19

dibenarkan. Apalagi hanya karena perbedaaan pendapat, dan terlebih
karena memiliki kepentingan tertentu.

Orang yang kerap mengafirkan sesama muslim, jika itu hanya
tuduhan dan tidak benar, maka tuduhan itu bisa kembali kepadanya.

“Jika seseorang memanggil saudaranya dengan sebutan “Wahai kafir”, maka
sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari
keduanya (pemanggil). Jika orang yang disebut kafir itu memang benar kafir,
maka sebutan itu telah pantas untuknya. Namun jika tidak, maka sebutan
kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dikatakan demikian karena yang berhak menghukum seseorang
kafir hanya Allah dan Rasul-Nya. Kita sebagai manusia biasa hanya
bisa mengenali ciri-cirinya saja, sebab kita tidak tahu apa yang ada di
dalam hati seseorang. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di r.a.
pengarah kitab Irsyad Ulil Abshar wal Albab linail Fiqh Biaqrabith Thuruq wa
Aysarul Asbab, berkata, “Pengkafiran itu adalah hak Allah dan Rasul-Nya.
Oleh karena itu tidaklah seseorang itu kafir kecuali orang yang dikafirkan
oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Dengan demikian, tidaklah benar jika seseorang mengatakan bah-
wa orang yang berbuat salah kemudian dikatakan kafir. Orang itu baru
memiliki ciri-ciri kafir. Sementara penghakiman kekafiran merupakan
hak Allah. Jika kita melakukan hal itu meski dengan berbagai dalil yang
menunjukkan orang tersebut kafir, sesungguhnya kita telah melanggar
batas-batas kekuasaan Allah.

Bagi orang yang benar-benar menguasai ilmu Alquran dan hafal
pelbagai hadis tidak akan mudah untuk mengatakannya. Orang itu
akan cenderung menasihati daripada menghukum seseorang sebagai
kafir. Semakin orang banyak tahu tentang agama, dalam artian secara
syariat, tarekat, hakikat, makrifat telah rampung, bahkan mampu
mencapai tingkatan mahabah, tidak akan gegabah menuduh seseorang
telah kafir. Ia akan semakin merunduk seperti halnya padi. Bahkan, ia
akan mengeluarkan dalil yang diketahui hanya kepada orang yang benar-
benar tepat untuk menerimanya. Sementara kepada orang awam atau

20

ilmu agamanya masih sederhana, akan cenderung diberi perumpamaan-
perumpamaan agar lebih mudah diterima.

21

Stres Itu Karena Kurang
Ibadah, Bukan Kurang

Liburan

S udah berlibur ke mana saja? Mendaki gunung, ke pantai, ke
laut, dan sebagainya. Banyak orang melepaskan kejenuhan dan
kepenatan pada kata liburan. Artinya seseorang itu akan pergi
ke suatu tempat di mana ia tanpa beban bisa menikmati apa saja yang
berada di depannya. Hal ini sebenarnya merupakan kesenangan sesaat.

Bagaimana tidak, setelah berlibur ia akan kembali menghadapi se-
tumpuk tugas dan pekerjaan yang tidak pernah selesai hingga menyebab-
kan stress. Pekerjaan akan terus-menerus ada karena kita membutuh-
kannya, baik hasil maupun prosesnya. Kita membutuhkan proses agar
kita tak hanya diam sehingga pikiran dan tubuh kita bergerakdan tidak
kaku. Membutuhkan hasilnya karena kita harus memelihara tubuh dan
agar bisa berbagi.

Dengan cara berpikir demikian, apakah kita masih memuja liburan
sebagai nikmat akhir pekan atau akhir tahun? Di sini tidak ada larangan
untuk berlibur, bahkan dianjurkan. Namun kita perlu mengukur kadar
seberapa besar rasa kita ingin liburan, atau sekadar untuk melepas keje-
nuhan? Apakah tidak ada cara lain selain berlibur ke suatu tempat, yang
itu justru membuat kita menghabiskan banyak uang?

Di dunia industri, liburan memang merupakan hal yang dinanti dan
dipuja-puja. Bagaimana tidak, selama berbulan-bulan mereka bekerja, li-
buran adalah hal yang patut untuk dirayakan. Oleh karena itu, liburan
dibayar dengan ongkos yang mahal.

22

Lalu apakah kita pernah mengisi liburan kita dengan memperbanyak
amalan ibadah? Kita lebih senang ke gunung, pantai, laut atau berada
di tengah-tengah kota daripada berada dalam masjid atau rumah-rumah
ibadah. Atau kita mengunjungi wisata-wisata religi yang sudah banyak
ditawarkan.

Konsep liburan dalam Alquran adalah, “Katakanlah: Berjalanlah
kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang
yang berdosa.” [QS. An-Naml: 96]. Artinya, bukan saja kita melepaskan
segala kondisi dan beban yang sehari-hari kita terima, melainkan untuk
kembali belajar di alam yang lebih luas.

Faidhul Qadir berkisah dalam Syarh Al-Jami’ Ash-Shagir, bahwa Imam
Nawawi pernah berkata, “Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas ibadah,
dengan melakukan hal yang dibolehkan, yang tidak ada dosa tetapi juga
tidak berpahala.” Hal yang hampir sama juga dikatakan oleh Imam Ali r.a,
“Rehatkan hati kalian, karena hati juga merasa bosan sebagaimana jiwa
kalian merasa capek dan bosan.

Di sisi lain, Faidhul Qadir juga mengisahkan Abu Darda’ r.a. yang me-
nyatakan, “Sungguh, saya menghibur jiwa saya dengan melakukan seba-
gian sendau-gurau atau permainan yang diperbolehkan, agar saya kem-
bali giat dalam melaksanakan kebaikan.”

Dalam konsep liburan para alim dan sahabat di atas, kita bisa meng-
ambil pelajaran bahwa liburan bukan saja untuk mengambil jarak dengan
pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Ilustrasi di atas juga menunjukkan
bahwa liburan bukan semata-mata pergi ke suatu tempat, melainkan cari
hal yang bisa menyegarkan pikiran. Kuncinya adalah penyegaran pikiran.
Sehingga setelah pikiran segar, untuk kembali bekerja tidak menemukan
masalah. Dan mendapatkan energi baru untuk bekerja dengan lebih baik.

Berbeda dengan liburan yang selama ini kita jalani. Setelah libur
panjang, di hari pertama masuk kerja, meja-meja kerja masih banyak
yang kosong dengan alasan lelah dan lain sebagainya. Jika alasan itu yang
dipakai pascaliburan, berarti liburan itu tidak berarti apa-apa. Liburan itu
hanya menghabiskan uang dan pengalaman melihat tempat-tempat yang
jauh saja.

23

Ibadah Mesti
Seimbang

I badah bukan saja soal sembahyang. Melakukan kebaikan sekecil apa
pun juga merupakan ibadah. Selain ibadah yang termaktub dalam
rukun Islam, kita juga mengenal ibadah sosial. Atau secara singkat
dan umum, kita mesti menyeimbangkan hubungan Allah melalui ibadah
(personal) (hablum minallah), dan hubungan dengan sesama juga dengan
ibadah (hablum minannas).

Amaliyah dengan sesama bukan berarti tidak ibadah. Misalnya kita
memberikan sedekah kepada orang yang tidak mampu, maka kita sebe-
narnya telah melakukan ibadah sosial. Begitu pula dengan silaturahmi,
berprasangka baik, menjaga ketenteraman lingkungan, bahkan yang
paling sederhana sekalipun, menjaga kebersihan, juga termasuk ibadah.
Bukankah kebersihan sebagian dari iman? Dengan melaksanakan iman
menjaga kebersihan berarti kita juga telah beribadah.

Ibadah sosial dan ibadah personal jelas kadarnya berbeda.
Akan tetapi, meski kadar ibadah individu lebih tinggi, bukan berarti
mengesampingkan ibadah sosial. Bukan berarti kita rajin berjamaah
di masjid, puasa merupakan amalan harian, dan lain sebagainya, tidak
bisa melepaskan kita dari kewajiban ibadah sosial. Kecuali kita menjadi
makhluk individu dan tak membutuhkan sosial. Tetapi apakah mungkin?

Tarzan saja tidak asosial. Ia mesti bersosial dengan hewan-hewan
yang menjadi teman interkasinya sehari-hari dalam hutan. Ia belajar
bermasyarakat dengan hewan-hewan itu meski sejatinya mereka berbeda.
Tetapi bagaimana pun, Tarzan tidak bisa hidup sendirian. Karena manusia
diciptakan dengan disertai akal dan nafsu.

24

Begitu pula sebaliknya, orang yang beribadah sosial saja tentu tidak
cukup. Karena ada Zat di luar diri kita yang lebih segala-galanya dari kita,
dan bahkan mencukupi segala kebutuhan kita. Berpikir bahwa manusia
menciptakan dirinya sendiri sebenarnya seseorang itu dalam rangka
mengerdilkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Ia sebenarnya sedang
menunjukkan bahwa ia tidak mampu berpikir di luar dirinya. Misalnya
ketika ia sakit, lalu berpikir bahwa ia bisa menyembuhkan dirinya sendiri,
maka ia sebenarnya sedang berusaha menyakiti dirinya lebih dalam.
Artinya, kita sebagaimana manusia tetap menbutuhkan berbagai hal di
luar diri kita. Termasuk Zat yang tak bisa kita ketahui keberadaannya.

Semakin kita mencari tahu tentang-Nya hanya menggunakan akal
dan kajian literatur, kita akan semakin jauh dari-Nya. Dia hanya bisa
kita dekati dengan hati. Maka kita membutuhkan ibadah personal untuk
mendekatkan diri kepada-Nya. “Berpikirlah tentang ciptaannya dan
jangan berpikir tentang Zat-Nya.” Begitulah kata Rasulullah Saw.

Ada orang yang baik dalam hal ibadah personal saja, tetapi buruk
dalam ibadah sosial. Juga sebaliknya, ada yang baik ibadah sosialnya,
tetapi buruk ibadah personalnya. Namun ada juga yang baik keduanya.
Pilihan terakhir adalah yang sebaik-baiknya kita lakukan. Dengan begitu,
kita bisa mencapai keseimbangan hidup. Baik di mata Allah, baik pula di
mata manusia. Saleh secara pribadi, saleh secara sosial.

25

Tuntut Ilmu Akhirat Juga,
Jangan Cuma Ilmu Dunia

A pakah kita tidak butuh nyaman di akhirat? Apakah dengan
mencapai hidup nyaman di dunia, lalu di Akhirat juga akan
sama? Belum tentu, lho. Lalu apakah cukup hanya mempelajari
ilmu dunia?

Ilmu dunia yang dimaksud adalah ilmu yang bisa kita gunakan untuk
mencari rezeki Allah. Untuk itulah ada penjurusan dalam sekolah mau-
pun perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu yang kita miliki
tidak bisa diterapkan dalam segala hal. Termasuk untuk kehidupan di
Akhirat.

Sementara ilmu Akhirat biasa ditafsirkan sebagai ilmu agama. Di
mana kita mencari bekal untuk kehidupan yang akan datang. Kiai Anwar
Zahid dalam sebuah ceramahnya mengisahkan, bahwa kelak ketika kita
sudah menghadap Allah Swt., kita sungguh merasa malu. Dulu kita di
dunia banyak berbaut maksiat, tetapi tetap diberi nikmat. Lalu ketika
di surga kelak (karena setiap umat Islam pasti masuk surga), kita malu-
malu meminta sesuatu kepada Allah, maka yang menjadi juru bicara
kita kepada Allah adalah orang pandai dalam ilmu akhirat. Nah, jika kita
juga menguasai ilmu akhirat, kehidupan kita menjadi nyaman tanpa
ketergantungan kepada siapa saja.

Mengenai menuntut ilmu untuk dunia dan akhirat ini, Nabi Saw.
bersabda, “Barang siapa yang ingin hidup di dunia, maka harus dengan
ilmu. Barang siapa yang ingin hidup di akhirat, harus dengan ilmu. Dan
barang siapa ingin hidup di keduanya, maka harus dengan ilmu.”

26

Hadis di atas menunjukkan bahwa kehidupan kita harus didasari
dengan ilmu. Hidup yang dimaksudkan bukanlah sekadar hidup,
melainkan hidup yang bermanfaat dan bermartabat. Karena setiap orang
yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah. Orang berilmu dalam
kehidupan bermasyarakat tak akan sama posisinya dengan tukang becak
atau pekerja kasar lainnya. Mereka memiliki posisinya sendiri di dalam
masyarakat.

Orang berilmu dengan orang bergelar pendidikan tentu saja berbeda.
Bisa saja orang memiliki gelar yang istimewa, tetapi secara keilmuan ia
tidak bisa membuktikan gelarnya tersebut sebagai intelektual. Sekadar
lulus untuk mencari ijazah memang lebih mudah, daripada lulus
mengamalkan ilmu. Hal ini karena mengamalkan ilmu bukan diukur
melalui ujian di depan penguji, melainkan di depan masyarakat. Tak ayal
jika kita melihat seorang sarjana bekerja di luar keilmuan yang ia pelajari
selama ini. Sementara itu, ilmunya tidak bermanfaat di masyarakat.

Berbeda halnya jika kita memiliki ilmu Akhirat, yang juga bisa
diterapkan dalam kehidupan dunia, tetapi ilmu dunia tidak bisa diterapkan
di Akhirat. Di dunia, di mana orang semakin sempit mempelajari
tentang agama, ketika kita memiliki ilmu tersebut, bisa dimanfaatkan di
masyarakat.

K. H. Ali Maksum (Alm.), salah satu tim penerjemah Alquran dalam
Bahasa Indonesia, pernah mengatakan, “Saben ngelmu kudu dilakoni, saben
laku kudu dingelmuni.” Setiap ilmu harus diamalkan, setiap amal harus
didasari dengan ilmu. Dengan cara demikian, maka kita akan terhindar
dari kesalahan, kemaksiatan, dan terlebih kesesatan karena ilmu.

Dengan seluruh pandangan tentang kelimuan di atas, kita sebagai
manusia sesungguhnya diciptakan sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Belajar tanpa henti, belajar pada apa saja, siapa saja, bahkan orang yang
kita tidak kita sukai sekali pun. “Orang akan tetap pandai, selama dia
terus belajar. Bila dia berhenti belajar karena sudah pandai, mulailah dia
bodoh.” Begitu kata K.H. Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus
Mus.

27

Berdoa Kok di
Media Sosial

B eribadah bisa di mana saja, tetapi tidak untuk berdoa. Berdoa
memilki momentum dan lokasi yang khusus sehingga doa
menjadi mustajab. Atau jangan-jangan doa yang dimaksud itu
hanya keluhan semata yang dibahasakan menjadi doa, bukan sebenar-
benarnya doa? Atau kita sedang menunjukkan kepada orang lain
bahwa sesungguhnya kita adalah seorang yang religius? Alih-alih ingin
menunjukkan kesalehan kita kepada orang lain, kita justru menunjukkan
bahwa kita sedang bermain-main dengan doa.

Mudah saja mengibaratkan seorang anak yang meminta sesuatu
kepada orangtuanya. Ia tak langsung mengatakan keinginannya itu
tetapi ia menulis keinginan di dalam buku sekolahnya dan berharap
orang tua membaca keinginannya itu. Tentu akan sulit dikabulkan.
Dalam urusan meminta kepada orang tua, kita mesti tahu momentum
dan lokasinya pula. Apakah orang tua kita akan bisa menurutinya saat
kita meminta, atau kita punya prestasi apa sehingga orang tua mudah
mengabulkannya? Jika pertanyaannya ini mudah kita jawab, berarti kita
tahu pula bagaimana meminta atau berdoa kepada Allah Swt.

Media sosial merupakan tempat umum, yang setiap saat ada orang
yang “melintas”. Kehidupan di dunia maya yang nonstop membuat siapa
saja, kapan saja, dan di mana saja, mampu melihat gerak-gerik orang
lain. Media sosial memungkinkan mengubah ruang pribadi menjadi
ruang umum, sehingga kita perlu hati-hati dalam menuliskan status atau
postingan. Sebaliknya, media sosial juga mampu mengubah seseorang

28

menjadi orang lain. Artinya, seseorang bisa merekonstruksi identitasnya
atau menyamarkan identitasnya dengan berbagai macam tujuan.

Seperti namanya, dunia maya, begitu samar, begitu umum. Nah,
apakah kita akan berdoa sambil mempertontonkan doa kita kepada orang
lain? Apakah kita akan berdoa di depan umum? Berdoa di lapangan luas
seorang diri? Tentu saja kecuali di tempat-tempat mustajab yang telah
ditentukan.

Berdoa merupakan komunikasi intim antara hamba dengan Allah.
Oleh sebab itu dibutuhkan konsentrasi atau khusyuk dalam melaksanakan
ibadah salat (yang juga bisa diartikan sebagai doa). Berdoa bukan semata-
mata persoalan meminta, tetapi ada usaha mendekatkan diri kepada-Nya.
Kalau kita tidak dekat, mestinya kita tidak meminta. Begitu pula seorang
anak kepada orang tua. Jika tidak dekat dengan orang tua mestinya kita
juga tidak meminta.

Lalu apakah kita berpikir bahwa itu sudah kewajiban orang tua
memenuhi kebutuhan anaknya? Jika pertanyaan itu dibalik, apakah
seorang anak sudah berbakti kepada orang tua sehingga anak berhak
menuntut berbagai macam hal? Jika kita berbakti, sudah dipastikan kita
akan dekat dengan orang tua. Sebaliknya, jika kita durhaka, jarak dengan
orang tua pasti terbentang jauh.

Ketika meminta sesuatu dalam kondisi durhaka, ada dua pilihan
yang akan kita terima. Yang pertama adalah kita akan segera diberi
karena orang tua merasa muak melihat kita. Pilihan kedua adalah sama
sekali tidak diberi karena kerap mengecewakan orang tua.

Begitu pula dengan Allah. Jika kita menjadi hamba yang taat, tanpa
meminta pun Allah akan memberi karena Dia Maha Tahu apa yang
diinginkan hamba-Nya. Akan tetapi, kadangkala ketaatan kita juga diuji
oleh Allah. Kita membutuhkan sesuatu, lalu kita meminta kepada Allah
dan tidak kunjung diberi. Hal ini bukan Allah tidak menerima doa kita,
melainkan Allah senang jika kita terus mendekatkan diri kepada-Nya.

Hal ini baik juga untuk diri kita. Jika kita langsung diberi oleh Allah,
ada kemungkinan kita akan langsung menjauh dari-Nya. Allah meminta

29

hamba-Nya lebih bersabar karena Allah telah menyiapkan rencana besar
bagi hamba tersebut.

30

Berdoa Kok
di Media Sosial 2

F acebook, twitter, Instagram, Blackberry Messenger (BBM), WhatsApp
(WA) dan banyak lagi media sosial yang biasanya hampir setiap
waktu digunakan. Tiap kali membuka akun media sosial tersebut,
banyak sekali hal yang dapat diamati. Mulai dari foto narsis dengan muka
yang aneh, foto makanan yang di upload, pamer kekayaan, status galau ,
status penyemangat, saling lempar tweet, yang jualan atau online shop dan
banyak lagi. Dari banyak hal itu, satu hal yang bikin saya sedikit merenung
dan berpikir keras yaitu banyak orang yang berdoa di media sosial.

Berdoa di beranda media sosial, sebenarnya tidak ada yang melarang
dan tidak pula salah jika niatnya benar-benar tulus tanpa ada candaan.
Akan tetapi, alangkah baiknya jika berdoa di tempat dan waktu yang
lebih baik. Tentunya setiap doa yang dilantunkan mengharapkan doa itu
dikabulkan. Jika ingin dikabulkan sebaiknya berdoalah di tempat dan
waktu yang diutamakan, berbagai hadis juga sudah menyebutkan akan
hal tersebut.

Waktu yang tepat untuk berdoa, “Pada bulan Ramadan, terutama
pada malam Lailatul Qadar, Pada waktu wukuf di Arafah, ketika
menunaikan ibadah haji, Ketika turun hujan, Ketika akan memulai
salat dan sesudahnya, ketika menghadapi barisan musuh dalam medan
peperangan, di tengah malam, di antara azan dan iqamat, ketika iktidal
yang akhir dalam salat, ketika sujud dalam salat, ketika khatam (tamat)
membaca Alquran 30 juz, sepanjang malam, utama sekali sepertiga
yang akhir dan waktu sahur, sepanjang hari Jumat, karena mengharap
berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak

31

antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu,
antara Zuhur dengan Asar dan antara Asar dengan Maghrib, pada waktu
pengajian (belajar) di suatu majelis dan pada waktu minum air zam-zam.”

Tempat-tempat baik untuk berdoa, “Di kala melihat Kakbah, di
kala me1ihat masjid Rasulullah Saw.., di tempat dan di kala melakukan
tawaf, di sisi Multazam, di dalam Kakbah, di sisi sumur Zamzam, di
belakang makam Ibrahim, di atas bukit Shafa dan Marwah, di Arafah, di
Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga, di tempat-tempat yang
mulia lainnya, seperti di Masjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.”

Nah, sudah jelas bukan, bahwa tempat dan waktu mustsajab berdoa
bukanlah saat buka Facebook, twitter, Instagram, Blackberry Messenger
(BBM) , WhatsApp (WA) dan media sosial lainnya. Sebaiknya, social
networking dimanfaatkan sebagai tempat berbagi informasi bersifat
memotivasi bukan bersifat keluh kesah. Selain itu, Allah tidak menyukai
hamba yang suka mengeluh. Tanpa disadari, mengeluh dan mengadu
masalah lebih banyak dilakukan di sosial media daripada mengadu
kepada Allah Swt. Update status lebih diutamakan daripada salat dan zikir
kepada Allah Swt. Bukankah lebih baik jika mengeluh di tempat yang
tepat yaitu tempat memberi ketenangan diri seperti dijelaskan dalam
Alquran, “Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku
hanya kepada Allah,“ (Qs. Yusuf: 86).

Mengeluhkan penderitaan hanya kepada Allah Swt. adalah bagian
dari kesabaran. Menurut pengamatan, ternyata sosial media merupakan
wadah paling tepat bagi seseorang untuk mengeluh, pamer, galau, narsis
dan berdoa di tempat yang salah. Bukan tidak boleh dan melarang berdoa
lewat sosial media, bahkan Islam memperbolehkan berdoa dimana dan
kapan pun, kecuali di toilet/kamar mandi. Namun, akan lebih indah dan
berkah doa yang dipanjatkan pada tempat-tempat telah dicontohkan
Rasulullah Saw.... Jangan sampai doa di publish jadi bahan guyonan,
ingin diketahui publik atau ajang narsis. Gunakanlah akun media sosial
untuk menebar semangat, kebaikan, menebar syukur, silaturahmi bukan
menebar keluh kesah, galau dan narsis yang tidak ada ujungnya. Status
tertulis bukan mendapat solusi kongkret malah sebaliknya dijadikan

32

guyonan dan bahan tawaan yang tidak jelas. Doa yang baik sebaiknya
yang dipanjatkan di tempat dan waktu yang baik.

33

Rezeki Tak Akan
Lari Dikejar

B etul banget. Rezeki seperti halnya gunung, tak akan lari dikejar.
Lalu kenapa kita harus mengejar rezeki habis-habisan, sampai
melupakan waktu untuk beribadah, bahkan menghalalkan semua
cara? Apa saja dilakukan agar mendapatkan keuntungan yang lebih,
bahkan seorang pegawai yang gajinya sudah tetap pun masih ingin
mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Kita tentunya kerap melihat hal demikian. Orang rela bekerja siang
dan malam demi mendapatkan rezeki. Namun dibalik itu, sebenarnya ia
mengorbankan banyak hal. Waktu untuk ibadah semakin sedikit, jarang
kumpul dengan keluarga, kurang bersosialisasi dan lain sebagainya.
Semuanya ia kerjakan demi mengejar rezeki. Tahu-tahu, usia semakin tua
dan ia jarang merasa bahagia. Bukankah kita bekerja demi kebahagiaan?

Gaji yang kita dapatkan sebenarnya sudah sesuai dengan apa yang
kita kerjakan. Kita pasti sudah mengukur dari awal bekerja bahwa gaji
yang akan kita dapatkan sudah cukup. Tidak mungkin kita mengambil
suatu pekerjaan tanpa lebih jelas dahulu gajinya. Dan ketika kita
mengambilnya, pasti kita sudah siap dengan berbagai macam risikonya
hingga gaji yang akan kita terima. Lalu di kemudian hari kita merasa gaji
itu masih kurang?

Alasan ini kemudian dijadikan pembenaran untuk menghalalkan
cara lainnya yang bahkan mungkin disadari salah tetapi masih juga
dilakukan. Maka didapatlah harta atau rezeki yang tidak halal. Hal
demikian sebenarnya bukan memperkaya kita, melainkan justru akan
merusak diri dan kehidupan kita.

34

Rezeki yang tidak halal untuk menghidupi diri dan keluarga akan
menjadikan keluarga kita tidak berkah. Cobaan tidak berhenti menerpa
kita, baik berupa pertengkaran dengan pasangan, anak yang nakal,
kecelakaan dan lain sebagainya. Jangan menyalahkan orang lain,
introspeksilah bahwa kita mendapatkan harta tidak dengan cara yang
dibenarkan.

Lalu bagaimana jika kita sudah menerima gaji yang sudah ditetapkan
tetapi benar-benar tidak cukup? Kita perlu berpikir, apakah kita
menggunakan gaji itu sudah sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan
Rasul-Nya? Jangan-jangan kita menggunakan harta itu karena keegoisan
kita sendiri, bahwa apa yang kita peroleh merupakan usaha kita sendiri,
tanpa bantuan Allah. Lalu kita berargumentasi bahwa ketika kita bekerja
keras kita akan mendapatkan hasil lebih, namun jika usaha kita biasa
saja, yang kita dapatkan juga akan biasa saja.

Hal semacam ini merupakan penyakit hati. Perlu kita ingat, bahwa
ada kekuasaan di luar diri kita yang sebenarnya telah mengatur rezeki
dan kehidupan kita. Memang benar bahwa usaha yang kita lakukan
akan menentukan apa yang kita peroleh, akan tetapi bukan berarti kita
menafikan apa pemberi rezeki, yaitu Allah Swt.

Lalu jika rezeki sudah diatur, apakah kita tidak perlu berusaha?
Pikiran semacam ini juga tidak dapat dibenarkan. Allah memang
menjamin rezeki setiap makhluknya, tetapi dengan atas usaha makhluk
itu sendiri. Seekor harimau tak akan makan jika ia tak berburu. Begitu
pula kita, tak akan mendapatkan rezeki jika tak bekerja. Makan kerja
adalah sebuah kewajiban.

Oleh sebab itu, usaha yang kita lakukan ada dua, yaitu usaha dhohir
dan usaha batin. Usaha dhohir adalah usaha yang kita lakukan secara
fisik. Kita mengerjakan berbagai hal untuk mendapatkan rezeki Allah.
Sementara usaha batin adalah kita meminta kepada Allah agar diberi
kemudahan dalam mencari rezeki dan halal serta berkah. Kedua usaha
ini patut kita jalankan secara bersamaan. Atau dalam bahasa umum
kita mengenal usaha dan doa. Jika keduanya sudah kita lakukan, maka
tawakal adalah jalan terakhir.

35

Allah Swt. berfirman, “Apabila telah ditunaikan salat, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezeki dan usaha
yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung.” [Q.S. Al-Jumu’ah:10].

Ayat di atas menerangkan bahwa yang paling utama dalam kehidupan
kita adalah beribadah kepada Allah, lalu kemudian menjalankan kewajiban
mencari rezeki. Bahkan dalam mencari rezeki pun perlu kita niatkan
karena ibadah kepada Allah. Kita mencari rezeki untuk menafkahi diri
dan keluarga agar tetap bisa melaksanakan kewajiban Allah.

Jika kita sudah berikhtiar dengan jalan yang sudah kita pilih
dalam bekerja, maka tawakal adalah langkah selanjutnya sebagaimana
difirmankan Allah dalam Q.S. Ali Imraan: 159, “Kemudian apabila
kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-
Nya)”.

36

Hidup itu Murah, yang
Mahal itu Gaya Hidup

B erapa biaya yang kita keluarkan untuk hidup? Biaya yang dimaksud
adalah kubutuhan pokok kita untuk bisa hidup. Udara, air, tanah,
dan api, merupakan empat pokok unsur dalam kehidupan. Dan
keempatnya bisa kita dapatkan dengan murah, atau bahkan gratis. Jika
kita pikirkan benar-benar, sesungguhnya hidup itu sangat murah karena
sudah disediakan oleh Allah untuk kita. Kita bebas menggunakannya
tanpa harus membalas-Nya. Hal ini karena Allah bertanggung jawab atas
apa yang telah Ia ciptakan.

Lalu bagaimana dengan orang yang bekerja untuk memperkaya diri
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Sumber utamanya terletak pada
penafsiran hidup, bahwa hidup itu harus begini, harus begitu, mengikuti
tren dan lain sebagainya. Tafsir yang demikian membuat hidup menjadi
mahal sehingga kita merasa harus memenuhi segala tafsir itu.

Misalnya seorang perempuan, untuk bisa tampil cantik ia harus fas-
hionable, menggunakan makeup tertentu dan lain sebagainya. Atau, ukur-
an seseorang bahagia itu karena sering liburan ke berbagai tempat, nong-
krong di mal dan lain sebagainya. Inilah tafsir yang membuat hidup kita
semakin mahal. Terutama lagi soal gaya hidup yang tidak ada habisnya
jika kita mengikutinya.

Manusia senantiasa mengalami perkembangan karena dibekali
dengan daya pikir. Berbeda dengan makhluk selain manusia, selalu stagnan
dan tidak berkembang sama sekali. Apakah harimau tak lagi berburu, ia
bisa ke restoran yang menyediakan khusus daging zebra? Tentu saja tidak

37

ada. Inilah yang membedakan kita dengan hewan. Namun di sinilah pula
kita akan merasa hidup begitu mahal dan sulit dipenuhi.

Hal ini tidak lepas karena sifat dasar manusia yang kerap merasa
kurang. Kita mendapatkan pakaian dengan jenis A, lalu ketika teman
atau tetangga kita memakai jenis dan model B, kita menginginkannya.
Kita pun berusaha untuk memenuhi keinginan itu, maka kita berusaha
untuk mendapatkan uang untuk membayarnya.

Dari deskripsi di atas, kita mengetahui bahwa ada “kebagiaan” yang
mencoba dikejar. Ketika kita mendapatkan model pakaian B kita dapat-
kan, maka kita merasa bahagia. Begitulah seterusnya, kita akan menge-
jar kebahagiaan lainnya yang juga dikejar orang lain. Misalnya sekarang
sedang tren orang piknik atau liburan atau pergi ke suatu tempat, apa-
kah kita juga tak ingin melakukannya? Tentu saja kita sangat ingin, atau
bahkan kita telah melakukannya. Untuk apa kalau bukan demi mengejar
kebahagiaan? Pada akhirnya, kebahagiaan dunia hanya sebuah mitos. Se-
bab, setelah kita memenuhi kebahagiaan itu, apakah kita tidak akan lagi
merasa sedih?

Apa yang kita lalukan dan kita inginkan ini sebenarnya telah ada
sejak masa lalu. Entah sudah berapa generasi hidup kita ini. Hal itu
menandakan bahwa kita memang mengikuti jejak orang terdahulu,
yang barangkali saja dalam bentuk dan tafsirnya yang berbeda. Dari
dulu perempuan ingin tampil cantik, namun standar dan tafsir terhadap
cantik tak selalu sama.

Orang dahulu tak mengenal makeup, tak mengenal operasi, namun
karena makeup dan operasi kecantikan menjadi salah dua standar seo-
rang perempuan bisa memenuhi standar tersebut. Padahal ada atau ti-
daknya standar itu, seorang perempuan tetaplah memiliki jodohnya.

Berkenaan dengan gaya hidup ini, setiap muslim memiliki gaya hidup
islami, sebagaimana yang telah difirmankan Allah Swt., “Katakanlah:
“Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku
tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” [Q.S. Yusuf: 108].

38

Ayat di atas menjelaskan bahwa bergaya hidup Islami hukumnya
wajib bagi muslim. Akan tetapi, gaya muslim bagaimana yang sebaiknya
yang kita gunakan. Tentu saja tidak terlepas dari budaya kita setempat.
Kita sebagai orang Timur mengetahui budaya Timur. Kewajiban kita
adalah menutupi aurat, dan setelah itu aurat tertutupi, maka budaya
ketimuran yang kita gunakan.

Gaya hidup islami bukanlah gaya hidup orang-orang Arab. Orang
Arab menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya seperti ju-
bah, memang begitulah budaya pakaian mereka yang disesuaikan dengan
letak geografis. Sementara kita di Indonesia memiliki budayanya sendiri.
Kita memiliki batik, sarung, peci, dan lain sebagainya, yang merupakan
budaya asli Indonesia perlu kita gunakan.

Gaya hidup yang tidak sesuai dengan gaya hidup islami dan budaya
indonesia sebaiknya kita tinggalkan. Akan tetapi, dalam kehidupan
keseharian, kita kerap merasa prihatin karena justru banyak muslim
yang menggunakan gaya hidup nonmuslim, bahkan berperilaku seperti
mereka. Fenomena ini pernah disinyalir oleh Rasulullah Saw. Beliau
bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak
umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta
demi sehasta.” Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang
Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”
[HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah].

Kemudian dilanjutkan, “Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak
orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta
demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya
kamu mengikuti mereka.” Kami bertanya,”Ya Rasulullah, orang Yahudi
dan Nasrani?” Jawab Nabi, “Siapa lagi?” [HR. Al-Bukhari dari Abu Hur-
airah].

Demikianlah Rasulullah Saw. memandang gaya hidup yang akan
diikuti oleh umatnya di kemudian hari. Dan benarlah, hal itu terjadi baik
di masa lalu maupun kini. Dalam hadis di atas, Rosulullah menyebut
beberapa negara dan kaum, hal itu berarti beliau menunjuk sebuah budaya
tertentu, bukan semata-mata soal aturan dalam beragama. Aturan dalam

39

agama sudah jelas bahwa kita harus menutupi aurat, selebihnya kita
mengikuti budaya yang ada.

40

Pendidikan Tinggi Tetapi
Perilaku Seperti Anak Kecil

K .H. Abdurahman Wahid atau bisa kita sapa Gus Dur pernah
menyindir anggota DPR yang duduk di parlemen seperti anak TK.
Bagaimana tidak, dalam sebuah perdebatan, mereka saling ribut,
perang mulut, hingga saling pukul. Hal ini tentu saja tidak patut terjadi
di gedung yang diisi oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi, dan
terutama lagi mereka adalah sorotan masyarakat kita. Alhasil, peristiwa
itu menjadi bulan-bulanan di masyarakat.

Tak hanya terjadi di parlemen, di berbagai kalangan hal serupa juga
terjadi. Di kalangan mahasiswa misalnya. Alih-alih menyuarakan hak
mereka dalam berpendapat melalui demonstrasi, mereka justru terlibat
dalam aksi perusakan dan bentrokan yang dapat kita kategorikan sebagai
tindakan vandal. Padahal kita tahu, para mahasiswa itu adalah harapan
negeri ini agar kelak mampu mengubah bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Lalu apa yang kita harapkan jika hal ini terus-menerus terjadi? Kita tak
bisa mengelak dengan mengatakan mereka masih labil karena usia yang
belum matang, tetapi patut kita pertanyakan, apa yang mereka dapatkan
di kelas perkuliahan?

Dalam kasus lain, sebuah perkumpulan kaum intelektual memaksa
pemerintah untuk memblokir situs media sosial yang telah lama ada,
yaitu youtube. Situs itu dikenal banyak netizen sebagai ajang kreativitas,
namun dengan tuduhan pornografi sekelompok intelektual itu kemudian
ingin meminjam tangan pemerintah untuk menutupnya. Bukankah hal
ini justru juga menutup kreativitas?

41


Click to View FlipBook Version