The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suharnowo67, 2022-06-14 02:41:17

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Pun demikian dalam hal bisnis. Lawan bisnis akan membuat isu-isu
miring untuk menjatuhkan produk yang kita punya. Selalu akan dicari
sisi kekurangannya dan kemudian dijadikan alat untuk menjatuhkan.
Tak hanya itu, kadang bahkan ada yang meminjam tangan penguasa agar
bisa bisnis kita menjadi kacau. Misalnya membuat isu bahwa produk
kita tidak halal, atau produk kita merupakan jelmaan dari sesuatu yang
dibenci masyarakat, dan lain sebagainya.

Dua contoh kasus di atas sudah melampaui menyakiti orang lain,
melainkan sudah menjatuhkam fitnah. Sementara kita tahu, bahwa fit-
nah lebih kejam dari pembunuhan. Fitnah ini bisa mematikan usaha kita,
juga menjatuhkan mental dan membuat pelanggan atau konsumen tidak
percaya lagi pada produk kita. Dalam hal ini politik, fitnah akan menghi-
langkan kepercayaan kepada pemimpin atau tokoh tertentu.

Untuk hal ini, Allah sudah memperingatkan kita dalam firmannya,
“Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan
kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih
baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-
wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita
(yang diolok-olok) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok) dan
janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-
memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan
ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak
bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” [QS. Al Hujurat:
11].

“Janganlah mencela dirimu sendiri” bermakna ganda. Yaitu menya-
kiti diri kita sendiri dan mencela antara sesama mukmin karena orang-
orang mukmin seperti satu tubuh, sesama muslim adalah saudara.

Sementara itu untuk panggilan yang buruk, adalah gelar yang tidak
disukai oleh orang yang digelari, julukan yang tak disenangi oleh orang
yang dijuluki, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, de-
ngan panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya. Begitu pula
ketika kita memanggil nama orang dengan nama-nama binatang.

142

Sebaik-baik Hiasan di
Rumah adalah Bacaan

Alquran

D engan apa kita menghiasi rumah kita? Lukisan, foto, pernak-
pernik, atau kaligrafi? Semua tentu saja boleh dengan batasan-
batasan tertentu. Dari beberapa pilihan tadi, kaligrafi adalah
paling yang paling tepat. Memasang kaligrafi bukan dengan tujuan untuk
tolak bala, mengusir setan dan lain sebagainya. Memasang kaligrafi agar
kita ketika melihatnya kemudian ingat ayat yang ada dalam kaligrafi
kemudian membacanya. Begitu pula dengan tamu yang datang ke rumah.
Kaligrafi itu akan dibaca pula oleh tamu.

Semakin banyak yang membaca, semakin berkah pula rumah
kita karena dipenuhi dengan bacaan-bacaan ayat Alquran. Semakin
banyak kaligrafi yang dipasang maka semakin variatif pula ayat dibaca.
Hendaknya kaligrafi tak hanya mementingkan faktor estetika semata,
melainkan juga mempertimbangkan dari sisi keterbacaan. Jangan sampai
kita memajang kaligrafi yang sangat bagus tetapi sulit bisa dibaca.

Tak hanya itu, dengan membaca ayat-ayat Allah Swt., akan bisa
menjadikan hati tenteram. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Orang-
orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan (membaca)
petunjuk Allah (Alquran). Ingatlah, hanya dengan (membaca) petunjuk
Allah (Alquran) hati menjadi tenteram” (QS. Ar Ra’du: 28].

Akan tetapi, masyarakat kita lebih cenderung menghiasi dinding
utama di rumahnya dengan foto. Terutama foto kepala keluarga dan
kemudian foto keluarga. Hal ini akan menunjukkan bagaimana gagahnya

143

pemiliknya, tetapi dari sisi agama tidak tidak memberikan manfaat yang
nyata. Begitu pula dengan gambar-gambar lainnya yang merupakan
kesukaan pemilik rumah. Terutama memasang gambar makhluk hidup.
Hal ini sebenarnya perlu kita hindari.

Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa, ”Para malaikat tidak akan
masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar
makhluk hidup bernyawa).” (HR. Bukhari dan Muslim]. Namun ada
ulama yang berpendapat bahwa memasang gambar boleh saja asalkan
gambar tersebut tidak utuh sebagaimana makhluk aslinya. Misalnya
gambar manusia utuh dari ujung kepada sampai kaki.

Sekiranya makhluk di dalam gambar itu diberi ruh apakah tetap
hidup atau tidak. Misalnya gambar harimau utuh. Jika diberi ruh tentu
harimau itu akan hidup dan bisa berjalan. Berbeda jika gambar harimau
tersebut hanya berupa kepalanya saja. Tidak mungkin harimau hidup
hanya dengan kepalanya. Begitu pula dengan gambar-gambar lainnya.

Argumentasi ini bersandar pada hadis Nabi Saw., Gambar itu adalah
kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar.”
[HR. Al-Baihaqi]. Dan diriwayat lainnya, Nabi Saw. pernah kedatangan
Malaikat Jibril, “Jibril As meminta izin kepada Nabi, maka Nabi bersabda,
“Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk
sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu
menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya
sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak
masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” [HR. An-
Nasai].

Pernah terjadi di zaman Nabi Saw., “Tatkala Nabi melihat gambar
di (dinding) Kakbah, beliau tidak masuk ke dalamnya dan beliau
memerintahkan agar semua gambar itu dihapus. Beliau melihat gambar
Nabi Ibrahim dan Ismail As tengah memegang anak panah (untuk
mengundi nasib), maka beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan
mereka, demi Allah keduanya tidak pernah mengundi nasib dengan anak
panah sekalipun. “ [HR. Ahmad].

144

Dari ayat di atas kita bisa menganalisis bahwa pada masa itu banyak
orang kafir yang menyembah berhala. Dan adanya gambar di Kakbah
menyerupai berhala yang disembuh walaupun gambar tersebut adalah
gambar seorang nabi. Nabi Muhammad Saw. tidak menginginkan
umatnya menyembah berhala dan seorang nabi sekalipun bukan untuk
disembah.

Lebih dari itu, tidak hanya berupa foto yang dipajang saja, melainkan
gambar-gambar yang berada di media lain. Hal ini seperti yang diceritakan
oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Tahlib, “Saya membuat makanan lalu
mengundang Nabi Saw. untuk datang. Ketika beliau datang dan masuk
ke dalam rumah, beliau melihat ada tirai yang bergambar, maka beliau
segera keluar seraya bersabda, “Sesungguhnya para malaikat tidak akan
masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar.” [HR. An-
Nasai].

Maka jika gambar tersebut tidak memiliki tujuan apa pun selain
sebagai pajangan, lebih baik kita hindari. Bagaimana gambar yang
memiliki tujuan tertentu? Misalnya gambar di dalam sebuah buku
yang memang bukan untuk pajangan melainkan untuk pengetahuan,
begitu pula gambar yang ditempel dengan tujuan untuk memberikan
ingatan visual kepada anak-anak. Karena memang anak-anak belum bisa
membaca, maka pelajaran visual perlu kita berikan. Namun di luar tujuan
itu, segeralah kita lepas gambar tersebut.

Jika gambar saja dilarang, maka patung pun demikian. Patung lebih
menyerupai makhluk hidup karena tiga dimenasi daripada foto yang dua
dimensi.

145

Sama Allah Kok
Hitung-hitungan

J ika dikalkulasikan, berapa banyak nikmat Allah yang diberikan
kepada kita? dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi, jutaan
bahkan triliunan nikmat kita terima. Dari mulai nikmat bisa melek,
hingga nikmat bisa tidur. Bayangkan jika kita tak bisa melek, kita akan
tinggal dalam kebutaan. Seseorang yang bisa melihat kemudian menjadi
buta, mulanya akan berpikir bahwa itu adalah akhir dari hidupnya. Ia tak
bisa lagi menikmati indahnya dunia. Ia akan berjalan dengan tongkat dan
lain sebagainya. Bagi yang tak bisa menerima, pikiran bunuh diri akan
hinggap di kepala mereka. Namun bagi mereka yang memiliki iman kuat,
akan menjadikannya sebagai muhasabah, evaluasi diri.

Atau bayangkan jika kita tak bisa tidur, betapa tersiksanya menjadi
insomnia. Tubuh kita lelah dan ingin istirahat, tetapi mata tak mau
terpejam. Mata akan menjadi merah dan bengkak. Di tempat tidur kita
hanya akan guling ke kanan guling ke kiri sembari dihinggapi rasa gelisah.
Lalu kita akan meminta tolong pada obat kimia. Setiap akan tidur harus
minum obat kimia adalah bagian dari penyiksaan diri.

Nah, bagaiaman jika itu terjadi pada kita? Tentu kita akan berkata,
“Naudzu billah min dzalik.” Semoga Allah menghindarkan kita dari
musibah tersebut. Sudah patutnya kita bersyukur setiap hari atas nikmat-
nikmat itu. Bahkan nikmat bisa menjalankan kewajiban ibadah kepada
Allah Swt.

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (da-
tangnya)” [QS. An Nahl: 53]

146

Namun, sebanyak apa pun nikmat yang diberikan kepada Allah,
kita sebagai manusia masih terlalu sering merasa kurang. Kita diberi
kendaraan berupa motor, kita merasa kurang karena kepanasan dan
kehujanan, dikasih mobil kita masih merasa kurang karena tidak bisa
terbang, dikasih pesawat kita masih merasa kurang tidak bisa berlayar,
dikasih kapal kisat masih merasa kurang tak bisa menyelam, dikasih
kapal selam kita merasa kurang karena sendirian, dikasih istri masih
merasa kurang karena hanya satu, dan seterusnya dan lain sebagainya.

Selalu merasa kurang adalah bagian dari sifat dasar manusia. Namun
jika kita pandai bersyukur, kira bisa mengurangi rasa merasa kurang.
Salah satu cara bersyukur adalah menghitung-hitung nikmati Allah Swt.
Sudah sekian banyak nikmat yang diterima tentu akan merasa malu jika
masih merasa kurang. Seperti hal kita bekerja kepada seseorang, upah
kita sudah begitu besar bahkan sering mendapatkan bonus, akan malu
jika minta kenaikan upah. Yang ada justru kita akan semakin giat bekerja.
Bisakah kita mengaplikasikan ini kepada Allah?

Yang ada bukan menghitung-hitung nikmat Allah, melainkan justru
kita menghitung-hitung apa yang kita lakukan dan kita meminta imbalan
yang lebih dari Allah. Misalnya kita sudah bersedekah, baru tadi pagi
bersedekah, sore hari kita sudah mengeluh, “Katanya kalau sedekah
rezeki dilipatgandakan.” Lha memangnya seberapa sedekah kita jika
dibanding yang Allah berikan kepada kita?

Atau baru beribadah sedikit, sudah minta apa lagi, minta apa, minta
apa lagi. Coba kalau kita yang diminta? Misalnya anak meminta jajan
dipagi hari, siang minta lagi, sore minta lagi, malam juga minta, pasti
kita akan marah. Tetapi tidak bagi Allah. Sifat rahman dan rahim-Nya
tak kenal batas. Sebab Allah juga sudah mengetahui sifat manusia itu,
sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan jika kamu menghitung nikmat
Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia
itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [QS. Ibrahim:
34].

Ayat ini diperkuatkan dengan ayat yang lain, “Dan jika kamu
menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan

147

jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” [QS. An Nahl: 18].

Ulama Muhammad Al Amin Asy Syinqithi memberikan penjelasan
bahwa, “Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia tidak mampu
menghitung nikmat Allah karena begitu banyaknya. Lalu setelahnya
Allah sebutkan bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ini
menunjukkan atas kekurangan manusia dalam bersyukur terhadap
nikmat-nikmat tersebut. Namun Allah masih mengampuni siapa saja
yang bertobat pada-Nya. Allah akan mengampuni setiap orang yang
memiliki kekurangan dalam bersyukur terhadap nikmat.”

Dalam berzikir pun demikian. Kita hitung-hitung berapa kali kita
menyebut asma Allah agar mendapatkan apa yang diinginkan. Kita
memutar tasbih berapa kali untuk mendapatkan apa. Kita membaca
surat dalam Alquran berapa kali agar apa. Manusia memang selalu punya
perhitungan. Hitung-hitungan seperti itu memang ada kadarnya. Seperti
halnya salat yang harus dua rakaat, tiga rakaat, dan empat rakaat.

Sebagai hamba yang lemah, hitungan itu memang berguna. Jika
tidak, kita akan cenderung melakukan di bawah standar. Misalnya salat
bebas berapa pun rakaatnya. Bisa dipastikan, kebanyakan kita akan
memilih hanya satu rakaat saja. Begitu pula dalam wirid. Semua wirid
ada hitungannya. Tetapi hal ini tidak bisa kita jadikan patokan, bahwa
ketika kita sudah wirid sekian banyak kemudian kita harus mendapatkan
sekian banyak. Ini namanya mengintervensi Allah Swt., meski kita tahu
tidak mungkin bisa.

Dalam wirid atau zikir, ada baiknya kita tak menggunakan hitungan.
Mari kita coba seberapa banyak zikir yang bisa kita lakukan. Mengenai
kita membutuhkan apa, bisa kita sampaikan kepada Allah setelah
berzikir dengan berdoa. Zikir yang berzikir saja, wirid ya wirid saja, tanpa
berpikir imbalan atau pahalanya. Lakukan sebanyak mungkin sebagai
upaya kita mendekatkan diri kepada Allah. Setelah kita merasa dekat,
baru kemudian kita meminta apa yang kita inginkan. Dengan demikian,
kita belajar untuk ikhlas kepada Allah.

148

Terlalu Sering Melihat
Langit, Lupa Memijak Bumi

L angit memiliki posisi yang tinggi, bahkan nyaris tak bisa dijangkau.
Sementara bumi, jauh berada di bawah langit. Langit dan bumi
kerap digunakan sebagai perbandingan antara atas dan bawah,
kaya dan miskin, dan lain sebagainya. Untuk melihat langin kita mesti
mendongak, melihat bumi kita mesti menunduk. Di bawah langi kita
hidup, dan di bumi inilah kita menapakkan kaki.

Melihat langit dalam arti konteks ini wajib kita hindari, karena ber-
makna sombong serta iri dan dengki. Bagaimana tidak, terlalu sering me-
lihat ke atas, tentu kita akan kesulitan dalam berjalan. Semestinya kita
berjalan melihat sesejar ke depan dan sesekali ke bawah. Sesejar ke depan
pun ke arah jalan, ke bawah, ke bumi.

Sifat sombong adalah perilaku yang meninggi diri, sementara yang
lain berada di bawahnya. Orang yang sombong merasa apa yang dilaku-
kannya adalah lebih baik daripada yang dilakukan orang lain. Atau ia me-
rasa bahwa orang lain tak akan sanggup menjadi seperti dirinya.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Uluumuddiin menasihati kita bah-
wa, “manusia janganlah sombong karena sesungguhnya manusia dicipta-
kan dari air mani yang hina dan dari tempat yang sama dengan tempat
keluarnya kotoran.” Jika sudah demikian sebaiknya kita berpikir ulang,
apakah dari tempat yang kotor kita tidak malu untuk berlaku sombong?
Kesombongan sesungguhnya akan membawa celaka bagi kita, sebab sia-
pa saja, termasuk orang yang sombong sekalipun, tidak sudi disombongi
atau tidak sudi melihat orang sombong. Dan pada akhirnya, kesombong-
an akan menyakiti orang yang disombongi.

149

Allah Swt. pun tidak menyukai orang-orang yang sombong,
sebagaimana difirmankan dalam Alquran, “Janganlah kamu memalingkan
mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Luqman: 18].

Memangnya apa sudah kita punya? Di atas kita masih ada orang
lain, di atas orang lain, masih ada kuasa Zat Yang Berkuasa. Seberapa
kita kaya, masih ada yang lebih kaya; seberapa kita cantik atau ganteng,
masih ada yang lebih cantik dan genteng; seberapa kita pintar, masih ada
yang lebih genius; seberapa kebaikan kita, masih ada orang lebih baik;
dan seterusnya. Lalu untuk apa kita sombong? Apa yang kita banggakan?

Kepada mereka yang sombong, Allah Swt. telah mengancam,
“Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal
di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang
sombong.” [Al Mu’min 76].

Meski di atas kita masih ada yng lebih tinggi, bukan berarti kita terus
melihat ke atas, apalagi adalah hal duniawi. Hal ini akan melahirkan sifat
iri dan dengki. Inilah penyakit hati selain sombong. Iri dan dengki atas
nikmat orang lain, oleh karena ia ingin agar nikmati tersebut dicabut, dan
diam-diam mengharapkan nikmat tersebut menjadi miliknya. Bahkan
jika dengan jalan merebutnya sekalipun akan ia lakukan.

Allah Swt. mengingatkan kita dalam Alquran, “Dan janganlah kamu
iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu
lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada
bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun)
ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada
Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32].

Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang didapatkan seseorang juga
atas usaha mereka sendiri, dan jika kita menginginkan apa yang mereka
miliki, maka kita juga harus berusaha, bukan malah menginginkan nikmat
hilang darinya dan kita merebutnya. Hal ini kemudian akan melahirkan
dengki. Suatu kebencian yang lahir ketika melihat kebahagiaan orang

150

lain. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang ia berusaha
mencelakakan orang yang didengkinya baik secara lisan, tulisan, atau pun
perbuatan.

Iri dan dengki ini pada akhirnya akan menghapus pahala atas
amal-amal yang telah kita usahakan. Nabi Muhammad Saw. memberi
peringatan kepada kita, “Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki),
sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan
kayu.” [HR. Abu Dawud].

Sementara itu, Nabi Muhammad juga memperbolehkan perbuatan
iri, bahkan dianjurkannya, yaitu iri dalam hal kebaikan. Beliau bersab-
da, “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang
diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang
diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajar-
kannya.” [HR. Bukhari].

Oleh sebab itu, jika kita melihat kedua orang yang melakukan dua hal
dalam hadis di atas, sebaiknya kita mendoakan agar keduanya menjadi
berkah. Sehingga pada akhirnya kita pun terkena limpahan berkahnya.

151

Hidup itu Bergantian,
Jangan Menang Sendiri

H idup ini sejatinya hanya bergantian. Yang hidup menjadi tua
diganti yang muda, yang mati diganti yang lahir. Sekarang
pegang duit, besok duit itu sedah berpindah tangan. Rumah
yang kita dihuni sekarang, kelak akan dihuni anak kita. Yang sekarang
menjabat juga akan diganti oleh pejabat setelahnya. Pemimpin juga akan
diganti dengan penerusnya. Bahkan, kadang istri pun bergantian, ketika
ditinggal sang suami, lelaki lain meneruskan perjuangan suaminya dalam
menafkahi. Begitu terus-menerus hingga pada akhirnya kiamat datang.

Proses hidup yang terus-menerus ini adalah upaya estafet
kepemimpinan khalifah di muka bumi ini, dan agar agama Allah Swt.
terus hidup dan berkembang. Jika agama Allah tak lagi ditegakkan di
muka bumi, saatlah itulah kehancuran akan mendera bumi, kiamat akan
datang.

Proses pergantian pemimpin ditunjukkan oleh Allah Swt. ketika
Nabi Musa a.s. meminta Nabi Harun a.s. untuk menggantikannya sebagai
pemimpin kaumnya, “Dan Telah kami janjikan kepada Musa (memberikan
Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan kami sempurnakan
jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu
yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. dan Berkata Musa
kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah Aku dalam (memimpin)
kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-
orang yang membuat kerusakan”. [QS. Al A’raf: 142].

Dalam ayat yang lain, pergantian itu juga dimaktubkan oleh Allah
dalam surat Az Zukhruf ayat 60, “Dan kalau kami kehendaki benar-benar

152

kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang
turun temurun.

Seperti di sebuah warung. Pelanggan datang silih berganti, kursi
yang hanya itu-itu saja dihuni oleh orang-orang secara bergantian. Dalam
sehari entah berapa yang datang, entah berapa yang pergi. Begitulah
intinya hidup. Tak ada yang abadi. Semua akan lepas pada waktunya. Oleh
karena itu, memiliki sifat untuk menang sendiri sebenarnya bertentangan
dengan prinsip alam ini.

Selain prinsip hidup yang bergantian, juga ada prinsip hidup berba-
gi. Kita tidak membayar apa yang kita nikmati di dunia ini dan banyak
makhluk yang hidup bersamaan dengan kita, untuk sesama makhluk Al-
lah kita beri tugas untuk berbagi karena kitalah manusia sebagai pemim-
pin di muka bumi. Kita juga yang dipasrahi oleh Allah untuk mengatur
dan mendistribusikan sumber daya alam agar semua makhluk juga me-
nikmatinya.

Perintah itu sudah termaktub dalam Alquran, “Apakah mereka
yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah
meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa
derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.
dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [QS.
Az Zukhruf: 32].

153

Orang tua Ibarat Alquran
Rusak, Harus Tetap
Dimuliakan

“ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. “Dan rendahkanlah
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku,kasihilah mereka keduanya, sebagaimana
mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” [Qs. Al Israa’: 23-24].

Kedua ayat di atas adalah ayat paling terkenal dalam upaya
menghormati orang tua. Begitu mulianya orang tua sehingga Allah
Swt. perlu secara khusus mengatur bagaimana menghormati mereka.
Bahkan Allah menggantungkan keridaannya tergantung pada rida kedua
orang tua. Dalam pepatah Jawa lebih ekstrem lagi, bahwa orang itu
seperti Alquran yang rusak. Serusak apa pun harus tetap dihormati dan
ditempatkan di tempat yang lebih tinggi dari kita.

Berbuat baik kepada orang tua atau birrul walidain mempunyai
kedudukan yang istimewa dalam ajaran agama Islam. Allah dan Rasul-
Nya memberikan tempat yang istimewa bagi orang tua, sehingga berbuat
baik pada keduanya juga menempati posisi yang sangat mulia, dan
sebaliknya durhaka kepada keduanya menempati posisi yang sangat hina.

154

Karena mengingat jasa ibu bapak yang sangat besar sekali dalam proses
reproduksi dan regenerasi umat manusia.

Secara khusus Allah juga mengingatkan betapa besar jasa dan
perjuangan seorang ibu dalam mengandung, menyusui, merawat dan
mendidik anaknya. Kemudian bapak, sekalipun tidak ikut mengandung
tetapi dia berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing,
melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya, sehingga mampu
berdiri bahkan sampai waktu yang sangat tidak terbatas.

Kita semua tak ada yang menampik bagaimana peran kedua orang
tua dalam mendidik dan menafkahi kita hingga akil baligh dan kemudian
berkeluarga. Namun tak jarang anak yang durhaka kepada orang tua
hingga terkena azab Allah Swt. Berbagai macam bentuk kedurhakaan itu
telah dicontohkan dalam sejarah panjang kehidupan ini.

Ada Kan’an putra Nabi Nuh, menolak ajakan orangtuanya untuk
naik ke kapal karena akan ada banjir bandang yang menerpa bumi.
Akibatnya, ia tenggelam bersama orang-orang yang menolak ajaran Nabi
Nuh. Lalu ada Alqoma, yang tak mau berbakti kepada ibunya sehingga
ia tersiksa ketika sakaratul maut. Padahal ibadahnya kepada Allah tak
ada yang meragukan. Ia termasuk sahabat Nabi Saw. yang taat, tetapi
menghadapi kematiannya ia kesulitan menyebut syahadat hingga
ibunya memaafkan seluruh kesalahan-kesalahannya. Di Indonesia kita
mengenal kisah Minang, yaitu seorang anak bernama Malin Kundang
yang tak mau mengakui ibunya setelah sukses di perantauan. Sang ibu
marah lalu mengutuknya menjadi batu. Hingga kini, jejaknya masih bisa
kita saksikan untuk dijadikan pelajaran.

Masih banyak lagi kisah-kisah kedurhakaan lainnya yang berakibat
buruk bagi seorang anak. Meski anak berbuat jahat kepada orang tua,
tetapi sesungguhnya orang tua tidak tega melihat anaknya tersiksa.
Setelah azab itu jatuh pada anaknya, orang tua dalam kisah-kisah di atas
menangisi nasih anaknya tak habis-habisnya. Bagaimanapun mereka
adalah darah dagingnya.

Kedurhakaan seorang anak tak hanya pada masa hidupnya saja,
kadang ketika orang tua sudah meninggal, anak-anaknya hanya berebut

155

harta warisan. Saking sibuknya berebut harta, mereka lupa mendoakan
orangtuanya yang telah meninggal dunia. Padahal anak adalah pegangan
orang tua saat meninggal. Bagaimana anak bisa lupa kepada orang tua
padahal mereka diasuh dan dibesarkan dengan susah payah.

Anak pun kerap menyalahkan orang tua ketika dirinya berbuat
maksiat atau tidak di jalan yang benar. Mereka berkata, “Aku tidak
diajarkan oleh orang tuaku untuk belajar agama. Makanya aku seperti
ini.” Padahal sejak kecil mereka sudah disekolahkan. Lalu bagaimana
kesuksesan anak adalah tergantung usaha anaknya sendiri. Kewajiban
orang tua adalah mendidik. Jika tidak mau mendidik sendiri maka
dipasrahkan kepada orang lain, yaitu guru.

Lalu di sisi yang berbeda, kita juga mengatahui kisah-kisah sukses
seorang anak yang berbakti kepada orang tua. Hal itu tidak terlepas dari
doa orang tua yang selalu menyebut nama anaknya dalam setiap doa.
Tetapi banyak anak yang lupa mendoakan orangtuanya. Terlebih ketika
sudah sukses di perantauan, lupa kepada orang tua, bahkan menjenguk
pun tidak, dengan alasan sibuk bekerja. Padahal dulu, sesibuk apa pun
orang tua, tak akan melupakan anaknya. Jika anak pulang terlambat
sedikit saja, orang tua sudah sibuk mencarinya.

Kita pun kerap melihat bagaimana anak terutama laki-laki, lebih
mementingkan istri dan keluarganya yang baru daripada orang tua
kandungnya sendiri. Anak laki-laki memiliki kewajiban lebih untuk tetap
merawat orangtuanya sendiri dengan berbagai cara. Sementara istri lebih
diwajibkan untuk berbakti kepada suaminya, meski tak boleh sama sekali
melepas tanggung jawab terhadap orang tua.

156

Dua Telinga Satu Mulut,
Banyak Dengar Sedikit

Bicara

P anca indera mulut berada di depan mengindikasikan bahwa kita
memang dibekali untuk bisa mengungkapkan berbagai hal. Siapa
pun punya kemampuan seperti itu. Akan tetapi, pada tahap
selanjutnya, siapa yang pintar mengolah diri dan kepandaian dalam
berbicara, ialah yang bisa memaksimalkan peran mulut. Sementara itu,
indera pendengar berada di samping kanan dan kiri berfungsi sebagai
radar untuk menangkap suara-suara. Dan indera pendengar diberi
dua karena memang pada dasarnya kita adalah pendengar yang baik,
daripada pembicara yang baik. Namun karena ego manusia, beberapa
orang kemudian lebih dominan mulut daripada telinga.

Kebanyakan kita, lebih senang didengar daripada sebaliknya. Maka
kita sering melihat orang mencurahkan hatinya ke pada temannya kapan
saja. Begitu juga bidang lain, politik, sosial dan lain sebagainya. Orang
yang lebih dominan bicara biasa lebih menguasai keadaaan dan ia lebih
dipandang. Begitulah yang terjadi di masyarakat kita.

Akan tetapi, semakin banyak orang berbicara, akan semacam banyak
kebohongan yang dikeluarkannya. Nabi Muhammad Saw. bersabda,
“Sifat malu dan al ‘iyyu adalah dua cabang dari cabang-cabang keimanan.
Sedangkan Al Badza` dan Al Bayan adalah dua cabang dari cabang-
cabang kemunafikan.” Abu Isa berkata; Ini adalah hadis Hasan Gharib. Ia
berkata, Al ‘Iyy adalah sedikit bicara dan Al Badza` adalah kata-kata yang
keji, sedangkan Al Bayan adalah banyak bicara seperi para khatib-khatib

157

yang memperpanjang dan menambah-nambahkan isi pembicaraan guna
memperoleh pujian publik dalam hal-hal yang tidak diridai Allah. [HR
Tirmidzi].

Dari hadis di atas kita mengetahui bahwa orang yang banyak ngomong
akan menambah-nambahkan pembicaraannya. Hal ini dilakukan untuk
mendapatkan pengakuan publik bahwa ia banyak mengetahui berbagai
hal sehingga ia mendapatkan pujian. Sementara kebohongan terus keluar
dari mulutnya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa pun yang banyak bicara, maka
dia akan banyak keliru. Orang yang banyak keliru, maka dosanya akan
berlimpah. Orang yang dosanya berlimpah, akan masuk neraka” [HR
Tahbrani].

Jika kita ingin menghindari hal ini karena kita tahu bahwa kita
merupakan orang cerewet, maka kita perlu mengimbanginya dengan
berzikir. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw., “Janganlah
kalian banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah, karena banyak bicara
tanpa berzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang
paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.” [HR Tirmidzi].

Dalam kondisi tertentu, banyak bucara juga diperbolehkan, yakni
untuk menyampaikan kebenaran atau menyampaikan ilmu yang telah
ia dapatkan. Tanpa banyak bicara, tentu ilmu tak akan sampai kepada
orang lain. Sebagaimana kita tahu, seorang guru akan banyak berbicara di
depan kelas, di depan murid-muridnya. Jika ia diam saja, tentu transfer
ilmu tidak akan terjadi.

Hal ini sesuai dengan yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.,
“Barangsiapa yang mengajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala
orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang
mengamalkan sedikit pun”. [HR Ibnu Majah].

Sementara itu, sebelum kita banyak bicara, sebaiknya kita banyak
mendengar. Karena hal ini akan menjadikan sebagai penerima segala
informasi dan ilmu untuk dapat kita tularkan lagi. Seseorang yang tak
mau mendengar tentu tak akan mendapatkan pemahaman atas apa yang

158

telah ia dengar. Karena pada hakikatnya, orang tersebut telah menolak
apa yang ia dengar.

Lebih banyak mendengar sangat disarankan jika kita benar-benar
ingin tahu. Sebagaimana Rasulullah Saw. menyampaikan, “Semoga Allah
memberikan keindahan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dari
kami, lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia dengar. Betapa banyak
orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar.” [HR Abu
Daud].

Jika kita melihat televisi hari ini, banyak orang yang mau menang
sendiri dengan banyak bicara. Betapa banyak dari kita yang senang terlibat
dalam urusan yang tidak penting. Kita terlalu banyak berkomentar
tentang pembicaraan yang ada di televisi, radio, di pasar, di terminal,
kumpulan orang, rapat, dan lain sebagainya. Jika kita evaluasi, berapa
banyak pembicaraan-pembicaraan itu yang tidak bermanfaat dan lagi,
apakha komentar-komentar kita juga lebih bermanfaat.

Hal-hal semacam itu merupakan pembicaraan sia-sia dan tidak baik.
Apalagi dalam infotaiment, sinetron, berita, acara talkshow, dan lain
sebagainya. Sedikit sekali pembicaraan baik kita dengarkan. Bagaimana
dalam suatu acara seseorang dikorek-korek informasi tentang pribadi,
atau mengorek-ngorek urusan rumah tangga orang lain dan lain
sebagainya.

Jika kita terlalu nyaman dengan acara-acara tersebut dan lebih me-
milih duduk berlama-lama menikmatinya, hal ini dapat membuat hati
kita tertutup pada kebenaran. Kita akan menganggap biasa hal-hal yang
buruk dan tidak bermanfaat, dan akan menjadi semakin buruk jika kita
juga turut berkomentar.

159

Kalau Bukan Sutradara
Jangan Suka Ngatur Orang

Lain

M engatur orang memang enak. Apa yang kita katakan dituruti
dan tak ada yang membantah. Kita bisa mengatur apa saja
dan siapa saja untuk kesenangan maupun kepentingan kita.
Jika ada yang tak suka, tinggal kita menghentikannya untuk berperan.
Orang seperti sudah layaknya seorang sutradara. Akan tetapi, ia hanya
bermimpi menjadi sutradara. Ia hanya orang yang senang mengomentari
apa yang dilakukan oleh orang lain, dan lebih lagi, ia ingin mengatur
semua hal. Padahal itu sudah menjadi urusan orang lain.
Selain sutradara, perilaku semacam itu juga bisa dilakukan oleh
seorang pemimpin. Ia menyuruh bisa menyuruh siapa saja demi
kepentingannya. Namun orang yang senang menyuruh-nyuruh ini
bukanlah seorang pemimpin. Ia hanya sedang bermimpi sebagai
pemimpin. Ia hanya orang yang pandai mengomentari apa yang
dilakukan orang lain, lalu menyuruh orang lain menaatinya. Lha
memangnya ia siapa?
Kondisi ini bisa diperparah oleh sikapnya yang suka bertindak dan
mengatur seseorang seenaknya sendiri demi kepentingan dan ambisi
pribadi. Sebaliknya, ia paling malas disuruh-suruh dan diatur. Bila
diatur, ia menjadi mudah depresi. Karena itu kecenderungan untuk
memberontak akan muncul dengan sendirinya. Orang yang demikian
kerap pula berpikir negatif.

160

Selain itu, orang yang suka mengatur biasanya memiliki ambisi
pribadi yang tinggi. Tipe-tipe mengatur adalah tipe sutradara atau
pemimpin, namun jika ia bukanlah keduanya, maka ia sesungguhnya
memiliki ambisi untuk menjadi keduanya. Padahal Rasulullah Saw.
melarang kita untuk mencari-cari jabatan, kecuali jika jabatan itu datang
sendiri kepada kita. Sebagaimana yang Beliau nasihatkan kepada salah
seorang sahabat, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau
meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya,
niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada
kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena kepemimpinanmu,
niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” [HR. Bukhari
Muslim].

Pada kesempatan lain, Rasulullah Saw. juga menasihati sahabat
lainnya yang berhati lemah, yaitu Abu Dzar. Beliau bersabda, “Ya Abu Dzar,
engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah.
Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan
kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang
seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut”. [HR. Muslim].

Hadis di atas menunjukkan bahwa kita memburu jabatan
kepemimpinan, hal itu datangnya dari Allah dan Allah tidak akan
memberikan kita pertolongan. Kita pun sering melihat pemimpin
kita yang tidak jujur karena memburu jabatan yang datangnya bukan
dari Allah. Sementara jabatan yang datangnya dari Allah Swt. tidaklah
untuk diburu, melainkan datang sendiri. Beruntunglah pemimpin yang
demikian, karena akan mendapatkan pertolongan Allah Swt.

Yang dimaksud jabatan datang sendiri bukan berarti tidak berpolitik.
Kita tahu bahwa banyak oknum politik saat ini yang memanfaatkan
kondisi demi meraih ambisi, baik pribadi maupun golongan. Ambisi ini
yang membuat politik menjadi kotor. Seseorang yang tidak memiliki
ambisi tetapi ia bekerja keras dalam sebuah partai politik lambat laun
akan kelihatan tipe kepemimpinannya.

Sekali orang memiliki ambisi dalam politik, maka ia sudah
menjalankan politik kotor. Selanjutnya, jalan apa pun yang ditempuh

161

untuk mewujudkan ambisi itu, pastilah jalan yang kotor pula. Berbeda
dengan seseorang yang tak berambisi. Jabatan yang datang dari Allah
salah satunya adalah berupa dukungan masyarakat yang lebih banyak
daripada si ambisius. Si ambisius menggunakan cara kotor atau bahkan
uangnya untuk bisa menjadikannya sebagai seorang pemimpin. Tak
segan, ia pun menjual janji-janji politik.

Namun sebaliknya bagi yang tak berambisi, orang-orang akan
mendukung dengan tidak hanya memberikan hak suaranya, melainkan
juga tenaga, pikiran, hati, dan lain sebagainya. Mungkin semua hal
mereka curahkan demi pemimpin yang mereka idamkan. Inilah yang
disebut kekuatan alam, kekuatan manusia, kekuatan volunter, atau biasa
kita sebuat dengan istilah people power.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat
berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan
menjadi penyesalan.” [HR. Bukhari].

Hadis Rasulullah di atas memberikan pemahaman kepada kita
bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki sifat ingin berkuasa atau
ambisi terhadap kepemimpinan. Sebab, manusia ingin memiliki semua
yang ia lihat, ia memerintah semau yang ia bisa. Dan hal-hal tersebut bisa
dilakukan jika ia adalah seorang pemimpin. Padahal tidak setiap orang
berbakat menjadi pemimpin.

Ada orang yang lemah dan tidak memiliki ketegasan namun karena
memiliki uang ia ingin jadi pemimpin, ada yang gagah tetapi dibenci, ada
yang cerdas tetapi banyak menipu dan lain sebagainya. Sifat-sifat negatif
tersebut menjadi tanda bahwa seseorang tidak layak menjadi seorang
pemimpin. Dan jika mereka memaksakan diri untuk menjadi pemimpi,
maka Rasulullah sudah mengingatkan bahwa mereka akan menyesal di
hari kiamat.

162

Janji Karet, Janjinya Jam
Berapa Datangnya Jam

Berapa

M enunggu memang menjengkelkan. Terlebih jika kita yang
memiliki kepentingan dan sedang terburu-buru. Di waktu
sudah dijanjikan untuk bertemu, seseorang yang bersedia
datang tak juga kelihatan batang hidungnya. Jika hanya lima menit
barangkala kita masih bisa toleransi. Namun juga sudah dalam hitungan
puluhan menit, bahkan ratusan, kita yang menunggu menjadi gelisah
dan was-was. Apakah ia jadi datang? Apakah ia ada apa-apa di jalan? Ada
halangan apa dia? Dan lain sebagainya.
Itu baru sikap was-was. Belum lagi sifat marah yang muncul karena
menunggu terlalu lama. Siapa yang tidak marah, waktu sudah disepakati
tetapi tidak muncul di saat yang tepat. Hal ini semcam ini sesungguh
merupakan pengingkaran terhadap janji. Padahal setiap janji yang kita
ucapkan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Apakah janji
itu dipenuhi, apakah dipenuhi tetapi tidak tepat waktu, apakah tidak
dipenuhi dan lain sebagainya. Masing-masing ada konskuensinya sendiri-
sendiri.
Kita tahu, bagi yang senang berjanji tetapi tidak menepati atau
menepati tetapi dengan selalu terlambat, berarti ia telah memasukkan
dirinya sendiri ke dalam golongan orang-orang munafik.
Rasulullah Saw. bersabda, “Empat (perilaku) kalau seseorang
ada padanya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau
berbicara berdusta, jika berjanji tidak menepati, jika bersumpah khianat,

163

jika bertikai, melampau batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu
dari sifat tersebut, maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai dia
meninggalkannya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dari hadis di atas kita tahu, bahwa orang tidak menepati atau
menepati janji tetapi dengan selalu terlambat masuk dalam kedua
kategori sekaligus. Yang pertama berdua dan kedua tidak menepati janji.
Jika sudah demikian, kita akan sulit mendapatkan kepercayaan orang
lain.

Nabi Muhammad Saw. memegang teguh dan tidak pernah
meremehkan janji yang pernah dibuatnya. Bahkan beliau sampai
menunggu-nunggu dari pihak yang dijanjikan itu datang untuk
menemuinya. Kisah ini pernah disampaikan oleh Abdullah bin Abi al
Hamsa r.a. “Aku sudah membuat sebuah perjanjian dengan Rasulullah
Saw. sebelum beliau diangkat menjadi Rasul untuk menjual suatu barang.
Sesudah terdapat baki yang tidak dapat diselesaikan ketika itu dan aku
berjanji untuk datang dan menyelesaikannya di suatu tempat, tetapi aku
lupa perjanjian yang telah dibuat bersama beliau. Lalu setelah tiga hari
aku baru teringat. maka aku datang ke tempat tersebut. Tiba-tiba aku
dapati Rasulullah Saw. telah ada di tempat itu. Kemudian beliau berkata:
Wahai pemuda! Sesungguhnya kamu sudah menyusahkanku, aku telah
menunggumu dan berada di sini sejak tiga hari yang lalu.” [HR. Abu
Daud].

Dari kisah di atas kita tahu, Rasulullah Saw. sangat menekankan kita
sebagai umatnya untuk senantiasa menepati janji. Sehingga nilai dan
harga diri seorang muslim bisa dilihat dari cara ia bertanggung jawab
dan menetetapi janji. Jika kita membuat janji penting dengan seorang
muslim lainya, ingatkan janji yang sudah dibuat bersama dan kemudian
menunaikan atau menetetapi janjinya sesuai dengan waktu dan tempat
yang telah disepakati.

Dipandang dari sisi sosial, seseorang yang berjanji dan terbukti
terlalu sering tidak menepati janji, maka akan dengan mudah
menghilangkan kepercayaan seseorang. Tak hanya dari satu orang, berita
itu kemudian menyebar dari satu mulut ke mulut yang lain sehingga

164

dalam satu komunitas kita dikenal sebagat tukang bohong, penipu dan
lain sebagainya. Jika sudah demikian maka ia bisa menyebutnya sebagai
orang yang munafik dan tidak bertanggung jawab.

Bagi yang ketelewat batas, diancam dengan keras, “Barangsiapa
yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat
Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya tobat dan
tebusan.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Kita kelewatan jika selalu berjanji tetapi tak pernah menepati bahkan
sekalipun dalam hidupnya. Setiap perjanjian selalu dirusak, setiap kali
mendapatkan kepercayaan. Tak hanya itu, merusak perjanjian itu pada
akhirnya juga melakukan penipuan. Di mana pun ia berada, pekerjaanya
adalah menipu orang. Melihat tobat orang semacam ini mungkin Allah
enggan menerima.

165

Kita Diciptakan Sama,
Hanya Usaha yang
Membedakannya

A llah menciptakan kita dengan bekal yang sama. Lalu jika
kemudian memiliki kemampuan yang berbeda, bahkan nasib
yang berbeda, itu tergantung pada usaha kita masing-masing.
Lalu apakah kita akan berkata bahwa nasib lebih ditentukan oleh kondisi
orang tua sebelumnya. Anak seorang kaya akan mendapatkan pendidikan
yang cukup bahkan berlebih dan bisa seklah di luar negeri sehingga ia
bisa mewarisi kekayaan orangtuanya. Tetapi sebaliknya, seseorang yang
miskin yang tidak mendapatkan pendidikan yang cukup, tidak akan
beranjak dari kondisi kemiskinannya. Jangankan untuk pendidikan,
untuk makan sehari-hari saja sudah sulit.

Pendapat di atas bisa jadi ada benar. Akan tetapi, hal itu tidak terlepas
dari usaha orangtuanya juga. Seorang anak mendapatkan pendidikan
yang cukup karena usaha dari orangtuanya. Sampai di sini kita perlu tahu
apakah dulu orang orangtuanya juga dilahirkan dari orang kaya? Lalu
orangtuanya lagi apakah kaya? Di satu titik, pasti ada usaha keras dari
seseorang yang tidak punya kemudian dengan usaha kerasnya menjadi
sukses. Kesusksesan tersebut adalah bayaran atas usaha kerasnya. Tak
berhenti pada dirinya, kesusesan itu bisa menjalar ke anak dana cucunya,
karena ia juga mendisiplinkan mereka.

Sementara kita yang anak orang miskin, mari kita evaluasi. Sejauh
mana orang tua kita berusaha dan bekerja keras. Apakah orang tua kita
cukup dengan kehidupannya yang begitu-begitu saja? Sehari-hari hanya

166

bekerja serabutan seadanya, selebihnya hanya di rumah saja. Hal ini
bukan berarti kita menyalahkan dan menghardik orang tua kita, tetapi
hal ini dalam rangka evaluasi.

Maka kita perlu memperbaiki jika apa yang dilakukan oleh orang tua
kita kurang tepat. Jika orang tua kita tak bisa membiayai kita sekolah,
kita masih bisa mengusahakan diri untuk sekolah. Bekerja paruh waktu
dengan kebutuhan kita terhadap sekolah atau kita bisa ikut saudara yang
mampu membiaya kita, jika memang ada. Akan selalu ada jalan.

Kita pasti sering mendengar kisah-kisah sukses seseorang. Jangan
jauh-jauh, jika orang kita terhitung sukses kita bisa mengambil pelajaran
darinya. Bagaimana dulu ia sekolah. Apakah berjalan kaki sejauh puluhan
kilometer, membiayai sekolahnya sendiri, beragkat ke sekolah hanya
berbekal sekarung beras dan lai sebagainya. Begitu kisah-kisah orang
terdahulu dalam menempuh pendidikan. Namun hasil dari pendidikan
mereka tak ada yang menjadi generasi cengeng seperti saat ini, yang hanya
ketika dicubit, ia melaporkan guru tersebut ke polisi. Guru melakukan itu
pasti memiliki dasar yang kuat karena sejatinya seorang guru memiliki
welas asih yang besar kepada siswanya.

Tentu kita tahu tentang pemilik channel televisi Trans Corp. Dalam
buku biografinya ditulis bahwa ia adalah anak singkong. Maksudnya dalah
ia anak dari seorang petani yang kerap makan singkong untuk konsumsi
sehari-hari. Ia menempuh kariernya dengan begitu susah payah, hingga
akhirnya ia bisa sukses mendirikan perusahaan tersebut. Dan terlebih
lagi ia pernah diangkat menjadi menteri koordinator perekonomian pada
era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Lalu di mana teman-temannya yang dulu juga bersekolah bersama
dia? Bukankah mereka mendapatkan pelajaran yang sama dari guru yang
sama? Membayar sekolah dengan biaya yang sama?

Dari sini kita bisa menilik lagi kesuksesan seseorang berdasarkan
pada usaha masing-masing. Meski berawal dari bawah yang belum tentu
nantinya akan sukses bersama. Sebab kita mesti memilih bidang apa yang
kita tekuni, bagaimana peluangnya, bagaimana saingannya, bagaimana

167

risikonya dan terutama lagi, bagaimana usaha kita sendiri. Yang terakhir
ini sangat menentukan pada akhirnya.

Allah Swt. bersabda, “Dialah yang menjadikan bumi ini mudah
bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian
dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah)
dibangkitkan.” [QS. Al Mulk: 15].

Akan tetapi meski sudah diberi rezeki, manusia masih merasa
kurang dan jarang bersyukur. Maka Allah mengingatkan kita agar kita
senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang kita terima. Allah Swt.
berfirman, “Kami telah menjadikan untukmu semua didalam bumi itu
sebagai lapangan mengusahakan kehidupan (bekerja). Tetapi sedikit
sekali diantaramu yang bersyukur.” [QS. Al A’raf : 10].

Islam membukakan pintu kerja bagi setiap muslim agar ia dapat
memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuannnya.
Akan tetapi, tak jarang kita melihat bahwa masih banyak dari saudara
kita yang enggan untuk bekerja dan berusaha dengan alasan bertawakal
kepada Allah Swt. serta menunggu-nunggu rezeki dari langit. Mereka
telah salah memahami ajaran Islam. Pasrah pada Allah tidak berarti
meninggalkan amal berupa bekerja. Seperti yang pernah Rasul Saw.
katakan, “Semaikanlah benih, kemudian mohonkanlah buah dari
Rabbmu.”

168

Pintar Merasa Bukan
Merasa Pintar

K epintaran merupakan salah satu tujuan manusia. Sebab,
dengan kepintaran inilah jembatan kesuksesan membentang,
menghubungkan seseorang dengan apa yang ingin dicapainya.
Oleh sebab itu, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi tak akan kekurangan
murid dan mahasiswa. Lahirlah sarjana-sarjana yang menguasai berbagai
bidang keilmuan.

Allah Swt. berfirman, ”Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat.” [QS. Al Mujaadilah: 11].

Dari ayat di atas kita tahu bahwa Allah meninggikan derajat kaum
berilmu. Derajat ini bisa bermakna derajat apa saja, baik dari sisi kea-
gamaan maupu dari sisi sosial. Orang yang berilmu jelas akan memiliki
pekerjaan yang berbeda dengan yang mengandalkan otot saja. Seorang
sarjana pasti tidak bekerja sebagai penarik becak. Dengan ilmu yang ia
miliki, ia dapat memberikan kebermanfaatan dirinya kepada orang lain.
Orang yang pintar akan berusaha berbagi ilmunya kepada orang-orang
yang membutuhkan. Dan Allah akan meninggikan derajat orang-orang
yang berilmu.

Derajat inilah yang kemudian membuat seseorang menjadi
membanggakan diri dan bahkan berlaku sombong. Pada akhirnya, sikap
semacam itu akan menjadi seseorang merasa pintar daripada yang lain.
Ialah yang paling cerdas dan paling mengetahui sesuatu daripada yang
lain. Padahal masih ada langit di atas, masih yang lebih pintar daripada

169

yang pintar. Mungkin ia pintar di satu wilayah, tetapi belum tentu di
wilayah lainnya.

Sama halnya ketika seorang siswa menjadi juara kelas, ia paling
pintar di antara anggota kelas lainnya. Tetapi jika dibanding dengan
teman seangkatannya, belum tentu ia lebih pintar. Yang paling pintar
dari seangkatan, belum tentu lebih pintar dari yang seangkatan di
sekolah lainnya. Jadi, selalu ada posisi yang lebih tinggi, hingga sampai
pada posisinya dimiliki oleh Sang Maha.

Begitu pula sebaliknya, tidak orang yang benar-benar bodoh. Hanya
mereka yang tak belajar yang akan membodohi diri sendiri. Meskipun
demikian orang yang seperti justru kadang merasa lebih pintar dari yang
lain hanya karena ia pintar bicara. Sementara kualitas pembicaraannya
masih bisa kita ragukan, sebab tak didasari dengan ilmu-ilmu yang mum-
puni.

Demikian dengan orang pintar tetapi merasa paling pintar,
kepintarannya hanya akan digunakan untuk membodohi orang lain.
Ia meremehkan dan merendahkan orang lain. Sikapnya yang seperti
kemudian dapat menjerumuskan orang tersebut ke dalam kesombongan.
Ilmu yang ia miliki bukan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah,
bahkan ia semakin jauh dan berlepas diri dari keistiqomahannya.

Hal ini kemudian memberikan kesimpulan, bahwa banyak orang
pintar tetapi tidak mendapatkan hidayah dari Allah Swt. sehingga ia
tidak bisa memanfaatkan ilmunya untuk masyarakat dengan baik.
Jika seorang yang berilmu itu mendapatkan petunjuk dari Allah maka
sudah semestinya ia juga banyak beramal dari ilmunya itu. Sebab setiap
tindakannya akan didasari pada ilmu yang ia miliki.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barang siapa yang bertambah
ilmunya tetapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah
dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh.”

Tak hanya dalam ilmu umum, penguasaan terhadap ilmu agama
pun demikian. Jika tidak mendapatkan hidayah, pastinya akan semakin
menjauh dari Allah Swt. Dan tanda bagi orang yang demikian adalah
kesombongan yang menyelimuti hati mereka. Rasulullah Saw. bersabda,

170

“Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran.
Di mana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
bacaan mereka. Demikian pula salat kalian daripada salat mereka. Juga
puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca
Alquran dan mereka menyangka bahwa Alquran itu adalah (hujjah) bagi
mereka, namun ternyata Alquran itu adalah (bencana) atas mereka. Salat
mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari
Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya.” [HR Muslim].

Yang dimaksud dengan “tidak sampai melewati batas tenggorokan”
adalah bahwa ilmu yang mereka miliki itu tidak menambahkan kebaikan
bagi mereka. Betul, mereka menguasai ilmu itu, tetapi nyaris tidak ada
manfaatnya. Mereka banyak membicarakan berbagai hal tetapi tidak ada
yang mendengarkan. Ilmu yang mereka kuasai tidak mencegah mereka
dari berbuat keji dan mungkar.

Kita bisa melihat bagaimana mahasiswa yang kerap berbuat onar,
orang-orang berkuasa yang berbuat zalim. Mereka semua adalah orang-
orang yang telah memiliki dan menguasai ilmu, tetapi ilmu itu menjadi
cobaan bahkan bencana bagi mereka. Semestinya, seorang yang memiliki
kapasitas intelektual tertentu pintar merasa, merasakan apa saja. Baik itu
untuk berbuat keadilan, merasakan penderitaan orang lain, merasakan
konflik-konflik yang merekah, sehingga diharapkan mereka memberikan
sumbangsih pemikiran demi terselesaikannya setiap konflik. Bukan
kemudian berbalik merasa pintar dan menciptakan konflik-konflik yang
berujung pada perpecahan umat.

171

Merasa Pintar Atau Pintar
Merasa

O rang yang merasa pintar, memang cermat melihat kekurangan
orang lain, tetapi tidak cermat melihat kekurangan diri. Sering
menganggap dirinya lebih selamat dan saleh dari orang lain.
Meskipun ilmunya baru sedikit, ia sangat suka mengkritik dan menuduh
orang lain. Bahkan pada orang yang lebih berilmu, hanya karena tak
sepaham dengan dirinya sudah cukup untuk memvonis bahwa orang itu
jelek, tak perlu didengar, sedangkan dirinya lebih baik. Sikapnya yang
merasa pintar itu dapat menjerumuskannya dalam kesombongan.

Perasaan selalu merasa lebih baik dari orang lain, menunjukkan masih
adanya dominasi ego, memang sulit bersikap arif. Sukanya memaksakan
kehendak dan sukar memahami orang lain. Bahkan kalaupun ilmu
yang dimilikinya semakin banyak tidak membuatnya bijak. Tak segan-
segan pula mengolok-olok dan merendahkan golongan lainnya. Ia hanya
terfokus pada persepsi dan pemahaman dan perspektifnya, tidak mau
bersabar melihat perspektif dari orang lain.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok
kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari
mereka (yang mengolok-olok) “(Al-Hujaraat[49]:11).

Perasaan merasa paling benar sering menjadi kendala sinergi antar
kelompok. Misalnya, saat melihat aktivis lain yang “melakukan sesuatu”,
tanpa mencari tahu yang lebih dalam, kita pun risih dan tak tahan
untuk langsung berkomentar. “ah hanya begitu saja, bukan apa-apa,
seharusnya…….”.

172

Lalu orang yang disalahkan biasanya juga merasa benar dan bersikap
reaktif. “Bagaima kita akan bangkit, kalau sibuk mempermasalahkan
yang begitu-begitu saja”. Sikap salaing merasa benar mengakibatkan
perbedaan yang ada tidak untuk saling belajar memahami, tetapi salang
“meremehkan” . menyebakan konflik bukan sinergi.

Umar adalah contoh orang yang bukan “merasa pintar”, tetapi
“pintar merasa”. Meski beliau dikenal keras dan tegas, namun memiliki
sensitivitas hati. Beliau lebih sibuk melihat kekurangan dirinya. Bahkan
tidak segan memberi hadiah pada orang yang mau menunjukkan
kesalahannya.

Dalam sebuah kejadian, pernah saat menyampaikan kebijakan
sebagai khalifah di depan umum, Beliau disanggah oleh seorang wanita
tua. Yang dilakukan bukannya ngotot membela diri, tetapi dengan
kebesaran hati Beliau berkata, “Ibu ini benar, dan Umar salah”. Meski
pengorbanan dan perjuangannya tak ada yang meragukan, beliau tidak
merasa pintar sendiri. Misal dalam kisah Hudzaifah, Beliau lebih khawatir
dengan keadaan dirinya dan menanyakan namanya daripada mencari
tahu daftar nama orang lain. Ada rasa takut dan cemas dihadapan Allah;
sudah benarkah keimanannya?

Orang yang “pintar merasa”, lebih memiliki kecerdasan emosional
dari orang yang “merasa pintar”. Bila orang yang “merasa pintar”
cenderung menutup diri dari pendapat orang lain, sementara seseorang
yang “pintar merasa” lebih berlapang dada. Ia memiliki kepekaan dalam
hubungan dengan orang lain dan selalu intropeksi untuk memperbaiki
diri. Menyikapi perbedaan, ia akan lebih bijak. Mau memahami perbedaan
dan bersabar melihat perspektif dan persepsi orang lain. Ia tahu diri,
tidak egois dan lebih bisa bersikap arif. Kalau ada kelebihan orang lain,
dengan jujur ia mengakuinya.

Berbagai perbedaan, bagi orang yang “pintar merasa” bukan dijadikan
bahan perpecahan, namun akan dijadikan sebagai kesempatan saling
memahami, saling mengisi dan saling menghormati. Kalau diskusi yang
dilakukan bukan asal ngotot supaya ia menang. Dirinya khawatir kalau-

173

kalau pendapatnya diterima bukan karena kebenaran, melainkan hanya
kepandaiannya bersilat lidah saja.

Karena itu kala pendapatnya diterima ia tidak bangga tetapi malah
istighfar, “Astaghfirullah…” bila pendapatnya belum diterima ia tidak
marah tetapi justru, “Alhamdulillah…” seperti sikap Imam Syafi’I,
“Pendapat saya benar tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah
tetapi mungkin benar”. Beliau masih menyisakan ruang dalam hatinya
untuk menerima pendapat orang lain. Sehingga meski memiliki
perbedaan pendapat sekitar enam ribua-an masalah dengan Imam Malik,
nereka tetap saling menghormati.

Tindakan bijak dalam menghadapi khilafiyah, Imam Syafi’I telah
memberi teladan kepada kita. Beliau berpendapat bahwa qunut subuh
adalah sunah muakkad. Namun saat Beliau mengunjungi Baghdad,
dimana madzhab Abu Hanifah berkembang, Beliau meninggalkannya,
hal itu dilakukan demi menghormati madzhab Abu Hanifah yang tidak
mengamalkan kunut subuh.

Saat kita mendatangi salat ditempat saudara kita yang celana para
jamaahnya diatas mata kaki, mungkin menurut kita celana diatas mata
kaki tidak wajib. Tetapi celana isbal kita itu tentu akan mengganggu hati
mereka. Jadi, lipat saja samapi diatas mata kaki, tidak ada susahnya.
Bukankah kita diperintahkan untuk saling menghormati saudara
seiman? Perasaan seperti itulah yang dirasakan Umar dan para sahabat.
Hal seperti ini tidak menyombongkan diri dan senantiasa membutuhkan
bimbingan Allah Swt.

Lihatlah positifnya saudara kita, maka kita akan mendapatkan
positifnya. “Subhanallah… Anda telah mengamalkan banyak sunah”. Lalu
mereka juga akan merespon secara positif dan dengan rendah hati akan
menghormati saudaranya. “Masya Allah, saya baru bisa melaksanakan
yang seperti ini. Tetapi hati ini masih banyak kekurangan lainnya dan
perlu belajar sabar serta jujur dari Anda”. Hanya dengan bersikap arif
seperti itulah memungkinkan terjadinya sinergi. Perbedaan bukan untuk
saling merendahkan tetapi untuk saling belajar dan melengkapi. Insya
Allah, kalau kita “pintar merasa” akan terhubung jalinan hati. Bila masih

174

ada cela dan kekurangan saudaranya bukannya di ekspos, melainkan
ditutupi atau dilengkapi.

“Barang siapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka ia akan diitutupi
aibnya oleh Allah Taala di dunia dan akhirat”. (Riwayat Muslim)

Jadi dari uraian diatas, jelaslah bahwa kita lebih selamat bila tidak
“merasa pintar”, tetapi “pintar merasa”.

175

Janji Adalah Utang

N yaris setiap hari kita membuat janji. Baik yang kecil maupun yang
besar dari ukuran kita masing-masing. Membuat janji adalah
membuat ikatan antara dua pihak yang saling menyepakati
perkara tertentu. Hukum berjanji adalah mubah, sementara hukum
menepati janji adalah wajib, sehingga melanggar janji berarti suatu
keharaman. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah
akad-akad itu.” [QS. Al-Ma’idah: 1].

Akad yang dimaksud adalah ikatan-ikatan perjanjian. Misalnya
janji untuk untuk bertemu di lokasi dan waktu tertentu, janji tidak akan
mengulangi lagi suatu perbuatan, janji menikah, janji jual beli, akad
syahadat dan lain sebagainya. Janji-janji itu wajib kita penuhi, bahkan
jika kita meninggal sekalipun janji itu kemudian turun kepada ahli waris
untuk menyelesaikannya.

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah
kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya,
sedang kamu sudah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-
sumpah itu).” [QS. An-Nahl: 91].
Begitulah Allah Swt. mengancam siapa saja yang tak menunaikan
janji sesuai yang disepakati. Janji yang ditinggalkan begitu saja akan
mencederai kepercayaan dan orang lain. Tentu seseorang akan merasa
kecewa dan dikhianati jika janji tak dipenuhi. Dan pada akhirnya,
kepercayaan mulanya kita dapatkan akan hilang begitu saja karena
perbuatan kita sendiri. Jika sudah demikian, kita termasuk orang-orang

176

yang zalim dan dusta kita karena mengingkari janji adalah termasuk ciri-
ciri orang munafik. Kita terkena dua hukum sekaligus, zalim dan munafik.

Dengan ketetapan seperti di atas, maka sangat tepat jika janji
disesejarkan dengan utang. Utang merupakan hak adam yang harus
dipenuhi. Pertanggungjawaban utang akan dibawa sampai mati, bahkan
akhirat. Seorang yang meninggal dunia maka yang pertama kali diurus
adalah membayarkan utang-utangnya meskipun itu menghabiskan
seluruh hartanya dan tidak meninggalkan warisan.

“…Setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar)
utangnya. Setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah
dibayar) utangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris).
Demikianlah ketentuan Allâh…” [QS. An Nisâ’: 11-12].

Terutama lagi, utang pada zaman sekarang sangat beragam. Tak
hanya berutang pada perseorangan, melainkan juga utang kepada sebuah
lembaga, bank, dan jasa leasing. Baik dalam urusan kecil maupun besar.
Jaminan kredit merupakan jenis utang pada zaman sekarang. Untuk
memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang besar seperti rumah,
kendaraan, dan lain sebagainya, banyak jasa cicilan dengan berbagai
bunga tawaran bunga.

Kredit ini harus dibayar setiap bulan. Namun jika tidak, pihak
leasing atau bank bisa melakukan tindakan penyitaan dan kemudian
melelangnya. Nah, logika melunasi utang atau juga janji adalah seperti
itu. Utang dan janji yang tak lunasi pada akhirnya akan menyengsarakan
pejanji itu sendiri.

Rasulullah Saw. bersabda, “Jiwa seorang mukmin itu terkatung-
katung dengan sebab utangnya sampai utang dilunasi.” [HR. Ahmad].

Syariat Islam membolehkan kita untuk membuat akad berutang
tetapi wajib dibayar! Setiap utang-piutang harus dicatat dan tercatat
berapa pun nominalnya, serta waktu pengembaliannya. Semua perjanjian
harus tercatat, tak hanya nominalnya saja. Karena catatan itu untuk
mengingatkan kedua belah pihak. Jika kemudian sampai batas waktu
yang ditentukan belum mampu bayar, maka harus disampaikan kepada

177

yang memberikan utang bahwa kita belum mampu bayar pada hari atau
pekan ini atau bulan ini. Selanjutnya kita bisa minta perpanjangan tempo
pelunasan lagi, agar diberi kelonggaran waktu pada hari, atau pekan, atau
bulan berikutnya.

Dari ilustrasi di atas, maka tampaklah, utang menambahkan kita
membuat semakin banyak janji. Satu janji belum terselesaikan tetapi kita
sudah membuat janji baru. Janji pertama adalah kita sepekat melunasi di
bulan tertentu, akan tetapi sampai jatuh tempo kita belum bisa menepati
janji itu, lalu kemudian kita membua janji baru. Entah janji kedua ini
kapan bisa ditepati.

178

Utang Membuat Banyak
Janji

B erhati-hatilah dengan janji yang terucap. Karena bisa jadi dari
sumpah-sumpah yang kita ucapkan dan tidak kita tunaikan
tersebut kita tuai dosa besar. Janji bagaikan utang. Begitu sebagian
besar orang mengatakannya. Dan memang benar adanya, karena janji
adalah akad, sebagaimana artinya berupa ikatan yang selalu bersifat
mengikat antara kedua belah pihak, baik yang mengucap janji maupun
yang menerima janji.

Hukum berjanji adalah mubah, sementara hukum menepati janji
adalah wajib, sehingga melanggar janji berarti suatu keharaman. Allah
berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS: Al-
Ma’idah: 1)

Ibnu ‘Abbas, mujahid dan beberapa ulama lainnya mengatakan:
“Yang dimaksud dengan akad adalah perjanjian.”

Ibnu Jarir pun menceritakan adanya ijmak tentang hal itu. Ia
mengatakan, ”Perjanjian-perjanjian adalah apa yang mereka sepakati,
berupa sumpah atau yang lainnya.”

Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, “Yang dimaksud
dengan perjanjian tersebut adalah segala yang dihalalkan dan diharamkan
Allah, yang difardukan, dan apa yang ditetapkan Allah di dalam Alquran
secara keseluruhan, maka kalian jangan mengkhianati dan melanggarnya.”

Selanjutnya menurut Ibnu ‘Abbas tentang menepati janji berdasarkan
surat Al-Ma’idah ayat 1 adalah sebagai berikut, “Hal itu menunjukkan

179

keharusan berpegang dan menepati janji, dan hal itu menuntut
dihilangkannya hak pilih dalam jual beli.”

Dari sini, melanggar janji adalah haram.
Sebagaimana Allah berfirman:
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji
dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah
meneguhkannya, sedang kamu sudah menjadikan Allah sebagai saksimu
(terhadap sumpah-sumpah itu).” (QS: An-Nahl: 91)

Janji boleh tidak ditepati jika dalam kondisi
berikut ini.

Pertama, janji tersebut termasuk janji yang tidak diperbolehkan
syariat Islam, misal janji untuk membolos, janji untuk bekerja sama dalam
mengerjakan soal ujian sekolah, transaksi-transaksi haram, dll. Hal ini
berdasarkan kaidah syara’: “Setiap sesuatu yang mengantarkan kepada yang
haram, maka hukumnya haram.”

Kedua, terdapat hal yang lebih baik dibandingkan dengan sumpah
atau janji yang dibuatnya. Dalam hal ini berarti janji yang dibuatnya
berupa janji untuk melakukan suatu hal yang sifatnya mubah atau sunah,
kemudian dalam satu waktu ada kewajiban yang harus ditunaikan.
Membatalkan janji yang seperti ini diperbolehkan oleh syarak.

Ketiga, sakit, pingsan, dan dalam kondisi yang tubuh tidak mampu
untuk menunaikan janji.

Keempat, mendadak hilang akal.
Kelima, cuaca ekstrim, hujan lebat, hujan badai, panas menyengat
hingga membuat sakit kepala, hujan salju.
Keenam, ada kerabat yang meninggal, menjaga saudara/orang tua/
istri yang sakit mendadak, dan hal semisal.
Jika tidak dalam kondisi di atas, maka membatalkan kesepakatan
ataupun janji adalah hal tidak diperbolehkan. Karena membatalkan
ataupun melanggarnya bisa melukai hati orang lain hingga bisa menzalimi
orang lain.

180

“.. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran:
57).

Dari penjelasan di atas, maka tidak diperkenan bagi kita untuk
seenaknya melanggar janji yang sudah kita ucapkan. Meremehkannya
sama halnya meremehkan hukum syara’, bahkan sama halnya
meremehkan kewajiban itu sendiri. Allah pun menyebut orang-orang
yang tidak menjaga amanah dan tidak menepati janji memiliki tanda-
tanda orang munafik.

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga keadaan. Jika ia berkata
ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah
(kepercayaan) ia mengkhianatinya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Oleh karena itu, hati-hati dengan janji yang terucap, sumpah yang
terlafal, dan akad muamalah lainnya yang sudah ditetapkan. Karena bisa
jadi dari sumpah-sumpah yang kita ucapkan dan tidak kita tunaikan
tersebut kita tuai dosa besar. Wallahu ‘alam bi ash shawwab.

181

Update Amal Harian
Biar Kekinian

D unia kita saat ini adalah dunia sosial media. Nyaris semua orang
memiliki sosial media. Bahkan tak jarang yang memiliki akun
sosial media lebih dari satu di sosial media yang berbeda. Tak
cukup dengan facebook, kita membuat akun di twitter, lalu di instagram
bikin akun lagi biar tambah eksis, belum lagi dengan path. Begitu pula
dengan yang terhubung dengan android akan menambahkan BBM,
Whatsapp, line dan lain sebagainya. Seluruhnya bisa beroperasi dalam
waktu bersamaan. Maka manusia modern saat inilah manusia yang sibuk
dengan sosial media.

Untuk apa memiliki sosial media, tujuannya adalah untuk merekon-
struksi diri kita. Mengubah identitas diri agar tampak lebih baik jika di-
baca atau dilihat orang. Kadang kita melihat seseorang begitu berbeda
ketika di sosial media. Seseorang telah mengubah dirinya di dunia maya
sehingga tampak tak seperti nyatanya. Sebab seseorang perlu memberi-
kan kesan kepada orang lain, yang biasa kita sebut dengan pencitraan.

Memiliki akun sosial media tak lengkap rasanya jika tak update
status, baik soal posisi lokasi, sedang beraktivitas apa, bahkan sedang
memikirkan apa. Hal yang baru ada di pikirannya saja dituangkan
dalam sosial media, apalagi yang sudah dilakukan. Maka kita banyak
mengunggah aktivitas ke media sosial.

Di antara aktivitas itu adalah amal kita sehari-hari. Misalnya
“Semoga berkah ya rezekinya.” Hal ini memberikan kabar kepada orang-
orang yang mengikutinya di sosial media bahwa ia baru saja bersedekah.
“Alhamdulillah, malam ini anak-anak sudah memasuk juz ke-15,” yang

182

menunjukkan bahwa ia sedang bertadarus atau mengajar ngaji anak-
anak atau santrinya. “Menunggu bedug Maghrib!” yang menunjukkan ia
sedang berpuasa.

Semua aktivitas ini menunjukkan bahwa seseorang aktif melakukan
amal harian, sehingga orang-orang melihat kita sebagai hamba yang saleh.
Padahal, orang-orang yang benar-benar saleh akan menyembunyikan
amalannya. Semakin seseorang menujukkan amalnya setiap hari,
semakin kita tahu bahwa ia tidak dewasa dalam beramal. Bisa jadi, amal
itu pencitraan baginya.

Apalagi julukan untuk mereka selain ria. Ria adalah sifat suka
menampilkan diri dalam beramal, agar amal tersebut dilihat orang dengan
maksud ingin mendapat simpati atau pujian. Dengan tujuan seperti ini,
orang yang telah update status pasti akan memantau sosial medianya
setiap waktu untuk mengetahui seberapa banyak orang yang menyukai
atau mengomentari statusnya tersebut.

Yunus menceritakan kepadaku, menceritakan kepadaku Laits dari
Yazid, yakni Ibnu Ilhad, dari Amru dari Mahmud bin Labid. “Bahwa
Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan
menimpa kamu sekalian ialah sirik yang paling kecil. Mereka bertanya:
Apakah itu sirik yang paling kecil ya Rasulullah? Beliau menjawab: Ria!
Allah berfirman pada hari kiyamat, ketika memberikan pahala terhadap
manusia sesuai perbuatan-perbuatannya: Pergilah kamu sekalian kepada
orang-orang yang kamu pamerkan perilaku amal kamu di dunia. Maka
nantikanlah apakah kamu menerima balasan dari mereka itu.”

Yang paling mengkhawatirkan dari perilaku ini adalah bahwa
perbuatan ria dan sumah (menceritakan kebaikan kepada orang lain agar
dipuji), dapat mengapuskan pahal amalan-amalan baik kita. Dalam hadis
qudsi Allah Taala berfirman, “Aku paling tidak butuh pada sekutu-sekutu,
barangsiapa yang beramal sebuah amal kemudian dia menyekutukan-Ku
di dalamnya maka Aku tinggalkan dia dan siriknya.” [HR. Muslim]

Menafsir hadis di atas, Imam Nawawi r.a. mengatakan dalam Shohih
Muslim bahwa, “Maknanya adalah Aku tidak butuh pada persekutuan dan
yang lainnya, barangsiapa beramal sesuatu untuk-Ku dan untuk selain-

183

Ku maka Aku tidak menerimanya, bahkan Aku meninggalkanya untuk
yang lainnya itu. Maksudnya yaitu amal orang yang melakukan ria adalah
batil dan tidak ada pahala di dalamnya, serta dia berdosa’.”

184

Kebahagiaan itu Kita yang
Menentukan, Bukan Mereka

B anyak tren yang diciptakan sekarang ini. Tren tersebut berada
di berbagai lini kehidupan kita. Dari mulai pakaian, gaya hidup,
hobi, dan lain sebagainya. Semuanya ada trennya sendiri. Tidak
mengikuti tren berarti tidak kekinian. Dan ketika seseorang mengikuti
kekinian, hal itu seolah-olah telah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Ya. Bahkan kebahagiaan telah dibuat trennya. Seseorang dikatakan
bahagia jika ia telah miliki kulit yang cantik dan mulus, dikatakan baha-
gia jika ia telah berkunjung ke suatu tempat, bahagia jika ia punya rumah
sendiri, mobil sendiri, bahagia jika punya gaji sekian juga, bahagia jika
bisa belanja di luar negeri dan lain sebagainya.

Semua kebahagiaan itu telah menjadi standar yang entah siapa yang
menciptakannya. Yang jelas, yang paling diungtungkan adalah pemiliki
modal, karena seluruh standar kebahagaian yang sedang tren cenderung
mengarah pada kepemilikan barang atau benda-benda tertentu.

Sementara itu kita tahu bahwa kebahagiaan letaknya ada di dalam
hati. Dan masing-masing hati memiliki standar yang berbeda sesuai de-
ngan selera masing-masing. Oleh sebab itu, kita kerap mendenagr atau
membaca “bahagia itu sederhana”. Jika standar awal kebahagiaan mem-
butuhkan modal, pada standar kebahagiaan yang ini lebih disederhana-
kan dan bahkan tak perlu modal sama sekali.

Misalnya seseorang cukup bahagia jika seharian berkumpul dengan
keluarganya, bahagia jika bisa makan bersama teman-temannya, dan lain
sebagainya. Kebahagiaan semacam inilah memang tidak perlu menjadi
standar tren terbaru, karena hal ini sudah berlangsung sehari. Akan

185

tetapi, kebahagiaan inilah yang bisa masuk ke dalam hati hingga ke
tulang-tulang kita.

Artinya, untuk menjadi bahagia kita tak perlu mengikuti tren yang
sedang berlangsung. Akan tetapi kita bisa menciptakannya sendiri sesuai
dengan selera kita. Apa yang kita anggap membahagiakan belum tentu
menjadi standar kebahagiaan orang lain. Ada orang yang hanya bahagia
ketika berkunjung ke kebun binatang, tetapi ada orang yang belum
bahagia jika tidak mengunjungi Hollywood. Ada yang bahagia cukup
dengan memakan singkong, ada yang tidak bahagia meski sudah makan
keju.

Kebahagiaan itu tidak harus untuk diri kita sendiri. Misalnya kita
bahagia melihat teman kita bahagia, kita bahagia melihat orang lain ba-
hagia. Dan inilah cara paling ampuh untuk melupakan kesedihan diri
sendiri, yaitu membahagiakan orang lain. Dengan begitu kita akan sibuk
membuat orang lain bahagia dan kita akan melupakan kesedihan melan-
da kita. Selain itu, kita menjadi bermanfaat bagi mereka.

Dalam kitab Qomi’uth Thughyan diceritakan, ada orang yang
berlumuran dosa, namun kemudian Allah Swt. meleburkan dosa-
dosanya. Nabi Muhammad Saw. bertanya kepada malaikat Jibril, “Sebab
apa gerangan Allah mengampuni dosa-dosa orang itu?” Jibril menjawab,
“Ia menyenangkan putranya dengan ia memberikan buah tangan (oleh-
oleh) ketika pulang dari bepergian.”

Bukankah dalam hadis di atas begitu sederhana membuat orang
bahagia meskipun kepada anak kecil. Dan fadilahnya sangat luar biasa,
yaitu bisa menghapuskan dosa-dosa pemberi bahagia. Kebahagiaan anak
inilah yang mengakibatkan ia memperoleh kaffarotudz dzunub, dosa yang
diampuni.

Hal ini dikuatkan dengan hadis riwayat Ibnu Abbas r.a., bahwa
Baginda Nabi Muhammad Saw. bersabda “sesungguhnya amal yang
paling disukai Allah Swt. setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib
adalah menggembirakan muslim yang lain.”

Banyak cara untuk membahagiakan seorang muslim, dan tidak selalu
dengan harta. Misalnya kita bisa mendoakan muslim lain, memberikan

186

ilmu yang kita miliki, memberi nasihat dan lain sebagainya. Bisa dengan
perkataan yang menyenangkan, bisa dengan sikap rendah hati, tidak
merasa yang paling mulia sendiri, menghormati hak-hak orang lain dan
sebagainya. Yang terpenting tidak melanggar aturan syara’.

Dalam kitab Al ‘Athiyyatul Haniyyah dijelaskan, “Barang siapa yang
membahagiakan orang mukmin lain, Allah Taala menciptakan 70.000
malaikat yang ditugaskan memintakan ampunan baginya sampai hari
kiamat sebab ia telah membahagiakan orang lain.”

Maka sebagai muslim kita tidak perlu ragu untuk membahagiakan
muslim lainnya. Tidak ada kerugian bagi kita membahagiakan saudara
sendiri. Tentu saja kita harus memberikan kebahagian itu dengan ikhlas
tanpa mengharapkan balasan.

187

Melek Malam Jangan Cuma
Nonton Bola, Tahajud
Sekalian

M usim pertandingan bola memang lebih menarik pagi pecinta
bola untuk qiamulail daripada hari-hari biasa. Apalagi jika
yang bertanding adalam tim kesayangan. Dengan antusias
kita akan menunggu hingga pertandingan dimulai atau bahkan kita
sempat-sempatkan bangun malam untuk menyaksikan pertandingan
yang memperebutkan bola tersebut.
Akan tetapi, sangat disayangkan jika qiamulail yang dimaksud di atas
hanya dihabiskan untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Sebagai
seorang muslim, akan lebih utama jika diisi dengan beribadah. Sementara
menonton bola adalah bonus atau motivasi lainnya. Jika tidak demikian,
sesungguhnya kita sedang menyia-nyiakan waktu malam kita hanya
untuk menontonnya.
Apa keuntungan kita jika menonton bola? Jelas kita tidak
mendapatkan keuntungan apa-apa. Kita hanya senang menyaksikan
pertunjukan di lapangan hijau itu tanpa kita mendapatkan apa-apa. Ia
kalau tim yang dijagokan menang, kalau kalah? Bukankah akan kecewa.
Namun jika kita memenuhi malam itu dengan salat malam, maka kita
mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Bahagia karena bisa salat
malam dan sekaligus menonton sepak bola. Dan jika tim kesayangan
menang, maka bertambahlah kebahagiaan itu, namun jika kalah kita tak
terlalu kecewa karena kita mendapatkan kebahagaian yang lain. Dan jika

188

menonton bola dianggap sesuatu yang tidak baik, maka salat malam kita
bisa menetralisirnya.

Allah Swt. berfirman, “Dan dirikanlah sembayang itu pada kedua tepi
siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang
yang ingat.” [Hud : Ayat 114].

Mengenai keutaman salat malam ini, Rasulullah Saw. bersabda, Dari
Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam pernah ditanya: “Salat apakah yang paling utama setelah salat
fardu?” beliau menjawab: “Salat yang paling utama setelah salat fardu
adalah salat (sunah) di tengah malam.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Sejenak meluangkan waktu untuk salat tentu tak akan mengurangi
kekhidmatan kita dalam menonton pertandingan sepak bola. Kita
melakukannya sebelum pertandingan di mulai dan setelahnya kita bisa
wirid sambil menonton pertandingan itu. Karena ketika menonton, kerap
keluar makian-makian ketika pemainnya hendak memasukkan bola ke
arah gawang. Nah dengan wirid, diharapkan makian-makian itu bisa
hilang. Jika belum mengantuk setelah menonton, kita bisa melanjutkan
salat lagi beberapa rakaat. Atau kita ganti dengan mendaras Alquran.

189

Jika Tidak Ada Tempat
Bersandar, Masih Ada

Tempat Bersujud

S etiap kita pasti pernah memiliki masalah. Apa pun bentuk masalah
itu, sebagian kita mungkin membutuhkan bantuan orang lain
untuk menyelesaikannya. Apalagi jika masalah itu adalah masalah
yang besar dan kita merasa tak mampu menyelesaikannya sendiri. Kita
pasti menemui beberapa orang untuk meminta nasihat hingga meminta
bantuan baik tenaga, materiil maupun spiritual.

Namun, kadangkala semua jalan yang kita tempuh belum
membuahkan hasil. Sementara orang-orang yang kita mintai sandaran
atau bantuan juga belum bisa menyelesaikan masalah. Nah, pada saat
inilah kita butuh tempat sujud untuk mengadukan segala masalah kita
kepada Allah Swt. Kita harus yakin, bahwa segala masalah datangnya dari
Allah, dan Allah akan dengan mudah menyelesaikan masalah yang kita
hadapi.

Setiap masalah yang kita hadapi akan semakin mendewasakan kita.
dengan memberikan coba berupa berbagai masalah, sebenarnya Allah
menginginkan kita mendekatkan diri kepada-Nya. Jika kita menyadari
hal ini, sejak awal menghadapi persoalan kita sudah pasti memohon
kepada Allah untuk selalu mendampingi kita. Sebab, tak ada orang
yang benar-benar setia. Maka kita meminta Allah untuk menemani dan
membimbing kita kapan saja, di mana saja.

Kita bisa menjadikan salat kita sebagai media agar Allah memberikan
pertolongan dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian kita akan

190

mendapatkan jaminan dari Allah Swt. Akan tetapi, tidak serta merta
masalah kita akan selesai, Allah akan menolong kita dengan usaha kita
yang kita lakukan. Tanpa ada usaha, Allah juga enggan menolong kita.
Ketika sudah berusaha sedemikian kuat, selanjutnya kita diharuskan
untuk bersama.

Allah Swt. bersabda, “Hai orang-orang yang beriman, mintalah
pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat sebagai penolongmu,
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS. Al Baqarah:
153].

Yang perlu ita ketahui bersama adalah bahwa segala persoalan yang
kita hadapi sesungguhnya merupakan cobaan dari Allah. Sementara
segala cobaan adalah untuk menguji keimanan kita. Apakah kita akan
menyerah dengan sedikit cobaan dan berpaling dari Allah, atau kita
justru semakin dekat dengannya. Jika kita merasa semakin dengan Allah,
maka ujian kita sebenarnya telah berhasil, dan derajat kita diangkat oleh
Allah Swt.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum
datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu
sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah
Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya
pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat
dekat.” [QS. Al Baqarah: 214].

Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Jika kita sabar dalam
menghadapi segala kesulitan maka Allah akan membersamai kita.
Apalagi yang perlu dikhawatirkan jika Allah sudah bersama kita. Jika hati
meragukan, maka sesungguhnya iman kita masih sangatlah lemah. Hati
yang lemah iman, akan cenderung meminta kepada yang terlihat, yaitu
sesama manusia yang dianggap mampu menyelesaikan masalahnya.
Misalnya seorang dukun. Kepada dukun, seseorang berkeluh kesah.

Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang mendatangi peramal atau
dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur

191


Click to View FlipBook Version