The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suharnowo67, 2022-06-14 02:41:17

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

kelak. Anak akan belajar dengan sendirinya, sehingga ia membutuhkan
pergaulan lapangan sebagia pendukung.

Kuliah-kuliah saja, bahkan dengan nilai yang bagus belum tentu
bisa menjamin seseorang bisa mendapatkan pekerjaan yang ideal.
Maka pergaulan di luar kampus, atau kegiatan ektrakulikuler akan
sangat mendukung masa depannya. Selain soal pekerjaan, hal ini juga
bermanfaat untuk jaringannya.

Sementara anak yang dibebani untuk segera lulus akan cenderung
menghabiskan masa belajarnya di kampus dan kos. Di kampus dia hanya
mendegarkan dosen, di kos hanya mempelajari apa yang diajarkan dosen.
Tidak lebih dari itu. Sementara itu, ia takut untuk mengikuti kegiatan
kampus karena takut akan lulus terlambat.

Lalu dalam mencari pekerjaan, tidak hanya soal status kesarjanaan
saja, melainkan dibutuhkan pengalaman berorganisasi dan mengelola
suatu komunitas. Dengan demikian, perusahaan menilai kita bisa beker-
ja dalam tim, berbeda dengan tipe mahasiwa kupu-kupu (kuliah pulang,
kuliah pulang). Setiap orang sukses lebih ditetukan bagaimana ia bergaul
dan berkomunitas, sementara gelar akademik akan mendukung dari be-
lakang.

Mahasiswa kupu-kupu kadang memang mudah mencari pekerjaan,
akan tetapi kita bisa melihat apakah pekerjaannya itu sesuai dengan
minat atau yang ia pelajari selama ini? Bagaimana orang yang selama
empat hingga lima kuliah di jurusan pendidikan namun ketika lulus
bekerja di sebagai teller di sebuah bank. Tentu saja tidak ada yang salah,
namun ia telah membuang begitu saja, jerih payah apa yang ia pelajari
bertahun-tahun. Dan hal ini juga menunjukkan bagaimana mahasiswa
itu putus asa karena tidak mendapatkan pekerjaan ideal yang diidamkan,
dan bagaimana ia terlihat kebingungan tanpa komunitas.

Dalam Islam, tidak dalil yang menunjukkan bahwa orang yang
sedang menuntut ilmu harus bekerja setelahnya. Tidak ada dalil dalam
kewajiban menuntut ilmu yang disertai dengan perintah untuk bekerja.
Artinya, keduanya adalah hal yang berbeda dan tidak perlu dikait-

242

kaitkan. Seperti ilustrasi di atas, jika kedua dihubung-hubungkan justru
akan memunculkan masalah baru.

Oleh sebab itu, kita paham bahwa tugas belajar tidak bisa diganggu
dengan hal lain, yang dikhawatirkan akan mengganggu konsentrasinya.
Biarkan anak belajar, berproses, lalu menentukan pekerjaannya sendiri,
setelah menuntaskan belajarnya.

243

Hidup Singkat Terlalu
Banyak Maksiat

B anyak pepatah yang mengatakan bahwa hidup ini singkat. Jika
memang sudah singkat, bukankah sebaiknya diisi dengan berbagai
hal yang bermanfaat dan menambah keimanan kita. Sebab kita
tahu, bahwa hati manusia sangatlah muda berubah. Agar hati kita
menjadi tetap maka kita wajib mengikatnya dengan aktivitas yang dapat
meningkatkan keimanan.

Maksiat merupakan perbuatan yang datang dari setan, akan
tetapi manusia juga sangat menyenangi maksiat karena sifatnya yang
menyenangkan. Tidak ada maksiat yang menyedihkan. Pada awal
melakukannya, maksiat adalah perkara yang menyenangkang. Mengenai
akibatnya adalah urusan belakangan. Meski kita akibat dari maksiat
sangatlah pedih. Siksa baik ketika masih di dunia, di alam kubur dan di
akhirat kelak pasti akan diterimanya.

Akan tetapi, meski sudah diperingatkan dengan berbagai siksa,
godaan akan kenikmatan maksiat selalu menggoda. Maksiat ini sangat
erat hubungannya dengan kesenangan duniawi. Dan kesenangan itu
pastilah ada batasnya. Misalnya ketika sedang meminum minuman keras
(miras), pesta miras dilakukan setiap malam.

Lalu pada suatu malam, ada penggerebekan polisi dan yang seluruh
yang berpesta pada malam itu ditahan oleh polisi dan pada akhirnya
dijebloskan ke dalam penjara. Maka kesenangan ini sifatnya tidak abadi.
Dan ketika mereka sedang di penjara, merupakan balasan Allah Swt. atas
maksiat mereka ketika di dunia. Tentu saja jika mereka bertobat maka
Allah akan memberikan jalan yang terbaik bagi mereka, namun jika

244

sebaliknya atau bahkan lebih parah, Allah akan menambahinya dengan
kemurkaan.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Seorang mukmin jika berbuat
satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika
dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika
ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi
hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu
menutup hati mereka.” [HR Tarmidzi].

Maka jelaslah dari sabda Nabi tersebut, bahwa ketika kita beristighfar
atau bertobat dan mau menjadi lebih baik, Allah pasti memberikan jalan,
yaitu dengan jalan membersihkan hati. Bersihnya hati akan membuat
kita bertindak dan berperilaku seperti halnya orang-orang saleh. Kita
menjauhi maksiat, dan melakukan amar makruf.

Terlalu banyak bermaksiat, dapat menumpulkan hati kita daripada
sentuhan ayat-ayat Allah Swt. Selain ada beberapa akibat lain daripada
bermaksiat ini. Antara lain adalah maksiat akan menghalangi diri kita
untuk mendapatkan ilmu pengetahuan; maksiat akan menghalangi
rezeki; maksiat membuat kita berjarak dengan Allah; kita akan punya
jarak dengan orang-orang baik; maksiat membuat sulit semua urusan
kita; maksiat melemahkan hati dan badan; kita terhalang untuk taat;
maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan; dan maksiat
menumbuhkan maksiat lain.

Beberapa akibat di atas merupakan rangkuman dari berbagai
pembacaan terhadap hadis Nabi Muhammad Saw. Juga mengenai
beberapa akibat lainnya bisa kita simak dalam hadis berikut.

Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu
mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan
badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang
ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati,
kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”

Atau juga kita bisa meliat kisah pada ulama tentang maksiat yang
menghalangi ilmu, suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan

245

daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku
melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu,
wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”

Begitulah maksiat yang dilakukan secara terus-menerus dalam
kehidupan kita tanpa membaca istighfar dan bertobat. Bagaimanapun
segelas ait putih bersih akan berubah warna jika ditetesi oleh berbagai
macam benda apa pun. Misalnya tinta. Meski setetes pasti akan
berpengaruh pada air tersebut. Jika hal itu dilakukan secara terus-
menerus, air putih itu tentu akan menjadi hitam sebagaimana warna
tinta yang mencampurinya.

246

Memikirkan yang Dekat
Daripada yang Jauh

D alam hidup kita, mungkin tetangga menjadi nomor dua setelah
kita memikirkan saudara. Ya, dalam hubungan darah hal ini tentu
sangat wajar. Bagaimana pun dengan saudara kita melewati masa
muda hingga tua dan pada akhirnya masing-masing berpisah karena
memiliki keluarga sendiri-sendiri.

Akan tetapi dalam hubungan sosial, saudara bisa mundur rangkingnya
menjadi di bawah tetangga. Tetangga adalah yang pertama kali tahu jika
kita terkena apa-apa. Dan ketika hal itu terjadi, maka tetanggalah yang
pertama kali diminta tolong dan akan menolong.

Yang dimaksud tetangga adalah empat puluh rumah dari rumah kita.
Kanan empat puluh rumah, kiri empat puluh rumah, depan dan belakang
juga empat puluh rumah. Ya, maka tetangga bukanlah yang rumahnya
berdempetan dengan kita, tetapi jauh memanjang, dengan catatan,
rumahnya berdempet-dempet.

Hubungan kita dengan tetangga yang setiap hari bertemu bisa saja
berubah menjadi hubungan persaudaran karena setiap hari saling tolong-
menolong dan lain sebagainya. Bahkan Nabi Muhammad Saw. bersabda,
“Jibril As senantiasa (terus-menerus) berpesan kepadaku (untuk berbuat
baik) dengan tetangga, sehingga aku mengira bahwasanya dia akan
memberikan hak waris kepada tetangga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Dari hadis di atas, Rasulullah secara tersirat mengajarkan kepada kita
untuk membaik-baiki hubungan dengan tetangga, meski kita memiliki
saudara yang rumahnya lebih jauh. Maka dari keduanya kita diwajibkan

247

mendahulukan tetangga yang lebih dekat. Inilah hakikat memikirkan
yang dekat daripada yang jauh.

Bahkan berbuat baik kepada tetangga ini bisa menentukan kadar
keimanan kita. Terutama hubungannya dengan kasih sayang kepada
sesama, sebab agama Islam adalah agama yang penuh dengan kasih
sayang. Dan hidup rukun dalam bertetangga adalah moral yang sangat
ditekankan dalam Islam. Jika umat Islam memberikan perhatian
dan menjalankan poin penting ini, niscaya akan tercipta kehidupan
masyarakat yang tentram, aman dan nyaman.

Sebagaimana Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barang siapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan
tetangganya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Berbuat naik kepada tetangga ini juga menjadi perhatian Allah
Swt. Sebagaimana fimannya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada
kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan
kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-
banggakan diri.” [QS. An Nisa: 36].

248

Hidup kok
Amatiran!

S egala hal mestinya kita kerjakan secara total. Mengerjakan
hanya setengah-setengah membuat kita tidak mendapatkan
segala sesuatunya dengan maksimal. Hasil yang kita peroleh pun
tidak akan memuaskan. Totalitas dapat menjamin siapa saja untuk
mendapatkan hasilnya yang memuaskan seperti yang diinginkan, bahkan
melebihi ekspektasi kita.

“Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan.” Begitu,
bahkan kesungguhan yang total akan dapat membantu kita mencapai apa
yang kita cita-citakan. Allah pasti memberikan jalan keluar bagi setiap
hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dan total.

Totalitas ini sangat erat hubungannya dengan sikap profesionalisme
seseorang dalam menjalani hidup. Profesionalisme selain menjamin
keberhasil, juga meningkatkan nilai kerja dalam bidang apa pun. Misalnya
totalitas dalam bidang berantem. Seperti kita tahu, berantem adalah hal
negatif, akan tetapi jika menempatkan dalam konteks profesional maka
hal ini akan menjadi positif dan memiliki nilai tinggi.

Profesionalitas berantem itu terwujud dalam karate, silat dan bahkan
tinju. Dua orang yang berantem dalam ring tinju atau kita menyebutnya
sebagia petinju merupakan dua orang sangat profesional. Diikat oleh
peraturan dan tata cara tinju serta dengan persiapan yang matang. Hal
ini kemudian menjadi nilai berantem menjadi sangat tinggi dan bahkan
diminati oleh banyak orang. Kemenangan dalam berantem profesional
ini pun menjadi kebanggan. Lihat saja, seperti Muhammad Ali atau Mike
Tyson.

249

Contoh lainnya kita bisa melihat Jet Lie, Andy Lau dan lain
sebagainya. Kepandaiannya berantem dari jenis kungfu yang profesional
mendatangkan rezeki bagi mereka, yaitu bermain dalam berbagai film.
Bayangkan saja, jika dan kungfu diselenggarakan secara amatiran, selain
hanya mendapatkan babak belur, kita tidak akan mendapatkan kebanggan
ketika memenangkannya. Apalagi jika hal ini berlatarbelakang nafsu dan
dendam. Bisa jadi, akhirnya akan lebih buruk daripada yang diduga, yaitu
kematian.

Hal ini berlaku dalam bidang lainnya. Seorang pelajar yang profesional
juga akan mendatangkan rezeki dan kesuksesan bagi pelajar. Ia tampil
dalam berbagai kompetisi dan bisa menjadi kebanggaan bangsa. Pun
demikian jika kita belajar agama. Belajar agama yang profesional serta
mampu menular hasil belajar kepada masyarakat secara profesional pula
akan mampu mengangkat derajatnya serta mendatangkan rezeki. Hal
ini bisa kita lihat pada diri seorang ustaz yang sangat profesional dalam
belajar dan dakwah.

Nabi Muhammad Saw. sangat menyarankan sikap profesionalisme
ini kepada umatnya. Sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya Allah
suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (profesional atau ahli).”
[HR Ahmad].

Untuk menjadi profesional tidak bisa instan. Ada proses yang harus
dilalui untuk menggapai itu semua. Ada latihan, ada pembelajaran yang
berlangsung secara terus-menerus sehingga kita betul-betul menguasai
apa yang kita pelajari. Setiap keseriusan yang kita jalani tak akan luput
dari perhatian Allah Swt. Hanya dengan keseriusan, totalitas dan
profesionalitas adalah jalan kita dalam mengubah keadaan kita saat ini,
dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik.

250

Utamakan
yang Fardu

S ebagian orang kadang terbalik-balik. Mendahulukan yang sunah,
sementara yang wajib kadang ditinggalkan. Atau menjalani yang
nomor empat tetapi tidak menjalani yang nomor dua. Terbalik-
balik ini sudah lumrah terjadi di masyarakat kita, atau kita sendiri
juga termasuk yang menjalaninya. Oleh sebab itu, selama masih ada
waktu, mati kita perbaiki. Yang terbalik mari kita kembalikan pada yang
semestinya.

Menjalani yang nomor empat meninggalkan nomor dua yang
dimaksud di sini adalah ada orang yang menjalankan puasa di bulan
Ramadan tetapi tidak salat. Hal ini pada dasarnya karena di luar bulan
puasa ia kerap meninggalkan salat, baik dalam keadaan senggang maupun
dalam keadaan sibuk.

Ketika memasuki bulan puasa pun, puasa itu karena ia tidak enak jika
tidak puasa sebab ia adalah muslim. Maka kewajiban puasa itu ia jalani
meski tidak menjalankan salat yang memang sudah biasa ia tinggalkan.
Bagaimana mungkin kita akan menaiki tangga keempat sementara
tangga kedua dan ketiga tidak kita injak? Hal ini tentu saja mustahil.

Ada hierarki dalam beribadah yang harus dilalui sebagaimana
sewaktu kecil kita belajar berpuasa. Awal kita berpuasa berapa jam, lalu
bertambah sampai zuhur, lalu sampai asar dan akhirnya puasa itu kita
sempurna bahkan sebelum akil baligh. Jika kita tak pernah belajar, tentu
kita tak akan berhasil. Begitu juga dalam berpuasa, kita harus tetap
menjalankan perintah salat. Hanya dengan begitu, kita bisa menjadi

251

Allah Swt., yang seutuhnya hamba. Tidak setengah hamba dan setengah
budak setan.

Meski demikian, kita tidak bisa menghukum bahwa puasa
seseorang batal atau tidak diterima oleh Allah Swt. Penerimaan ibadah
seseorang merupakan hak Allah dan sebagai seorang hamba kita tidak
diperkenankan untuk menilai ibadah seseorang. Kita diwajibkan untuk
mengurusi puasa kita sendiri, bukan puasa orang lain.

Contoh lain adalah meninggalkan yang wajib dan menjalani yang
sunah. Saat puasa kita rajin salat tawarih, sementara ketika sehabis sahur
kita lebih memilih tidur hingga akhirnya kita melewatkan waktu subuh.
Tarawih adalah perkara sunah, sementara salat subuh adalah perkara
wajib. Atau dalam kasus lain ketika kita salat ied. Karena subuh bangun
kesiangan sehingga kita buru-buru pergi ke masjid atau lapangan untuk
menunaikan salat ied.

Seorang Muslim yang hanya mengerjakan ibadah-ibadah sunah dan
meninggalkan ibadah-ibadah wajib hakikat pahala dan dosanya hanya
Allah yang mengetahui. Namun, kalau boleh diilustrasikan, ia akan
mendapatkan pahala-pahala dari ibadah sunah yang ia kerjakan tetapi
ia juga mendapatkan dosa dari kewajiban-kewajiban yang ia tinggalkan.
Tentu saja, nilai pahala ibadah wajib lebih tinggi daripada pahala ibadah
sunah. Ibadah wajib tidak boleh ditinggalkan. Konsekuensi bagi yang
meninggalkannya adalah dosa. Sedangkan ibadah sunah, ketika kondisi
memang tidak memungkinkan untuk melakukannya, maka tidak ada
ancaman dosa bagi pelakunya.

Sesuai dengan kaidah fiqih, “Jika dalam suatu masalah bertabrakan
antara manfaat satu dengan yang lainnya maka didahulukan & diambil
manfaat yang paling besar/tinggi.”

Dalam hal ini jika antara yang wajib dan sunnah bertabrakan maka
yang wajib harus didahulukan. Sudah pasti bahwa yang wajib memiliki
kemanfaatan yang lebih besar daripada yang sunah.

Menurut Al-Bazdawiy dalam Ushulnya: “Sunah itu ada dua macam:
Sunnatul Huda (Sunah Petunjuk) dan bagi orang yang meninggalkannya
berhak untuk dicela dan dibenci. Dan Az-Zawaa`id (sunah tambahan),

252

bagi orang yang meninggalkannya tidak harus dicela. Adapun Nafilah,
akan diberi pahala orang yang melakukannya dan tidak diberi sanksi
orang yang meninggalkannya.”

Yang paling penting dan semestinya kita diutamakan adalah
ibadah wajib, sebab ancaman dosa selalu menyertai bagi siapa pun
yang meninggalkan atau melanggarnya. sunah dalam bentuk apa pun
tidak akan mengalahkan hukumnya dengan yang wajib. Amalan sunah
memang penting juga dilakukan mengingat hakikat fungsinya yang dapat
menyempurnakan nilai ibadah wajib. Akan tetapi, tidak semestinya
seorang muslim lebih mengutamakan amalan sunah daripada amalan
wajib. Jika demikian, maka sesungguhnya ia terbalik dalam memahami
ibadah. Jika ibadah sudah terbalik maka manfaat dari ibadah itu juga
akan berkurang. Dalam konteks yang lebih ekstrem, hal ini bisa dihukumi
dengan zalim, tidak menempatkan segala sesuatu pada tempatnya,
termasuk antara sunah dan wajib ini.

Meski demikian, kita bisa tahu bahwa meninggalkan kewajiban
hukumnya haram. Sebab segala kewajiban yang diperintahkan kepada
kita merupakan pembatas kita dengan umat lainnya. Diriwayatkan dari
Jabir bin Abdillah rodhiallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
“Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang dengan kemusyrikan
dan kekafiran adalah meninggalkan salat.” [HR. Muslim].

253

Cantik
Luar Dalam

K ecantikan selalu identik dengan perempuan. Untuk medapatkan
predikat cantik, maka perempuan pun berhias diri. Berhias
sejatinya menutupi hal-hal yang dianggapnya mengganggu
sehingga tampak cantik dengan beberapa tambahan riasan atau aksesoris.
Kecantikan ini biasa ditunjukkan perempuan ketika keluar rumah. Sebab
ia akan bertemu banyak orang.

Berdandan tidak hanya untuk bagian luar saja. Berdandan juga di-
perlukan untuk hati. Sebagaimana kita sering dengar baha perempuan
memiliki inner beauty, yang sesungguhnya merupakan kecantikan dari
dalam, kecantikan dari hati. Dan kecantikan inilah yang membuat kecan-
tikan perempuan tak pernah membosankan untuk dipandang.

Sebagian perempuan lupa untuk berdandan di rumah. Sejatinya ke-
cantikan perempuan ada untuk muhrimnya, atau suaminya. Janganlah
di rumah memakai pakaian seadanya bahkan tanpa berhias sedikit pun,
hanya menggunakan daster yang mungkin sudah kusut. Hal ini tentu saja
akan membuat suami bosan. Berdandan untuk suami merupakan ibadah.

Ketika Rasulullah Saw. ditanya oleh sahabat tentang ciri-ciri
perempuan yang salehah, beliau menjawab, “Yang menyenangkan suami
ketika dilihat, dan mentaati suami ketika diperintah.” [HR. Ahmad dan
Nasai]. Dan berhias adalah salah satu cara agar perempuan enak dilihat
oleh suami.

Meski demikian, ada batasan dalam berhias, yaitu berhias yang ra-
barruj. Maksudnya adalah berhias yang berlebihan. Adapun makna berle-
bihan dalam berhias ini adalah berlebihan dalam menampakkan perhias-

254

an dan kecantikan, seperti: kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis, dan
anggota tubuh lainnya, atau menampakkan perhiasan tambahan. Tabar-
ruj menurut Imam asy-Syaukani dalam Fathul Qadiir karya Asy Syaukani
adalah “Seorang wanita yang menampakkan sebagian dari perhiasan dan
kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana
dapat memancing syahwat laki-laki lain.”

Karena memancing syahwat dan akan berujung bahaya, Allah Swt.
kemudian menunjukkan larangan ini secara spesifik, yaitu dalam QS. Al
Ahzaab ayat 33, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah
kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang
dahulu...”

Akan tetapi, selain berhias dari luar atau yang bisa dilihat orang lain,
sebaiknya kita juga memperhatikan hiasan yang ada di dalam. Terutama
di dalam hati. Rasulullah Saw. bersabda, dari Amr ibnu r.a. ”Dunia adalah
perhiasan dan sebaik-baik perhisannya adalah wanita salehah.” [HR.
Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai].

Dari hadis di atas maka jelas, bahwa yang dimaksud dengan berhias
dalam hati adalah menjadi diri kita sebagai muslimah yang salehah.
Dengan begitu maka akan tampak jelas bagaimana akhlak seorang
muslimah. Namun, menjadi muslimah tidak bisa dibuat-buat. Seorang
yang benar-benar muslimah dan berakhlakul karimah dalam berperilaku
akan sesuai dengan tuntunan agama. Ia akan berhijab dengan sendirinya
tanpa diperintah atau diancam. Ia akan biasakan diri dengan membaca
Alquran setiap hari. Ia akan menambahkan amalan-amalan salehah
setiap hari. Ia akan menebarkan kasih sayang kepada sumua makhluk
Allah dan lain sebagainya. Itu semua hanya sebagian contoh perilaku
seorang muslimah.

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. menerangkan bahwa,
”Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian,
tetapi ia melihat hati dan amal kalian.” [HR.Muslim,Ahmad dan Ibnu
Majah].

Hadis di atas juga berlaku kepada perempuan agar lebih
mendahulukan berhias dari dalam daripada berhias dari luar. Dengan

255

cara demikian, kita akan dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.
dan menjauhi segala maksiat yang dilaknat-Nya.

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kecantikan yang telah diatur
di dalam Alquran dan Islam bukan semata-mata dilihat dari kondisi
kecantikan fisik atau rupa, melainkan lebih pada kecantikan dari dalam,
yaitu sifat, tabiat, kebaikan hati dan akhlakul karimah.

Sebab nilai kecantikan adalah relatif, maka kita tidak perlu
membanding-bandingkan kecantikan luar. Akan tetapi jika
membandingkan kecantikan dari dalam maka kita akan terhitung dalam
fastaqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kecantikan fisik hanya
bisa bertahan beberapa tahun, paling lama dua puluh tahun setelah
menikah, maka selanjutnya kecantikan akan berubah menjadi keriput.
Akan tetapi, jika yang kita utamakan adalah kecantikan dari dalam,
maka kecantikan itu akan selama dan dapat turun-temurun. Kecantikan
akhlak dan kebaikan hati tidak akan pernah hilang walau dimakan waktu
dan usia.

256

Melihat ke Bawah
Saat di Atas

S iapa orangnya pasti pernah berada di posisi bawah. Seperti roda,
kehidupan akan terus berputar. Yang pernah di bawah akan naik
ke atas, yang pernah di atas pasti akan turun pula ke bawah.
Mengingat filosofi ini, maka kita tidak perlu berlaku sombong jika
sedang berada di atas. Namun tidak semua orang bisa berlaku demikian.
Berada di atas memang terasa nyaman, sehingga kadang hal ini membuat
seseorang menjadi lupa bahwa dulu ia pernah ada di bawah dan dibantu
banyak orang.

Ketika posisi di atas, ia bisa jadi lupa bahwa dulu orang-orang juga
membantunya. Dan berada dalam posisi di atas akan mudah dilihat
orang, dan tentunya segala tindak tanduk kita pasti diperhatikan orang.
Perilaku orang yang melupakan ketika posisi di bawah sama seperti pepa-
tah kacang lupa kulitnya.

Ketika kondisi sudah demikian, biasanya tak jarang akan menyakiti
orang lain. Barangkali dulu pernah membuat janji-janji jika ia berada di
posisi atas, tetapi kita posisi itu tercapai ia sama sekali tidak menepati
janjinya. Bisa jadi ia benar-benar lupa karena berada di posisi atas berarti
bebannya juga semakin tinggi. Maka kita perlu mengingatkannya. Tetapi
jika hal ini sudah kita lakukan dan ia tetap tidak melakukan apa pun, kita
bisa menilai bahwa ia sengaja melupakannya.

Jika seorang pemimpin berlaku demikian, sesungguhnya ia
bukanlah pemimpin yang sejati. Sifat kepemimpinan sejati sudah pernah
ditunjukkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan Khulafaur Rasidin. Para

257

pemimpin awal masa-masa perkembangan Islam tersebut, selalu dekat
dengan rakyatnya.

Hal ini untuk menjaga agar seorang pemimpin tidak terlalu tinggi
dan berjarak dengan rakyatnya. Bahwa masih ada rakyat yang miskin,
tidak sepatutnya seorang pemimpin bermewah-mewahan meski memiliki
berbagai fasilitas. Fasilitas-fasilitas itu disediakan untuk memudahkan
kita dalam bekerja dan menjalankan program, bukan untuk membatasi
antara pemimpin dengan rakyatnya.

Hal seperti sudah pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Suatu saat beliau pernah menyampaikan nasihat kepada Abu Dzar. Abu
Dzar berkata, “Kekasihku yakni Nabi Saw. memerintah tujuh perkara
padaku, (di antaranya); (1) Beliau memerintahkanku agar mencintai
orang miskin dan dekat dengan mereka; (2) Beliau memerintahkanku
agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan
dunia), juga supaya aku tidak memerhatikan orang yang berada di atasku;
(3) Beliau memerintahkanku agar menyambung silaturahim meski
berusaha menjauh; (4) Beliau memerintahkanku agar tidak meminta apa
pun kepada seseorang; (5) Beliau memerintahkanku agar berbicara yang
benar (al haq) meski terasa pahit (6) Beliau memerintahkanku agar tidak
takut celaan orang yang mencela saat memperjuangkan agama Allah; (7)
Beliau memerintahkanku agar memperbanyak mengucapkan “Laa hawla
walaa quwwata illaa billaah”, karena itu adalah kekayaan yang terpendam
di bawah Arsy.”” [HR. Ahmad].

Hadis di atas, terutama pada wasiat pertama dan kedua merupakan
wasiat untuk melihat ke bawah mengenai harta, karena sesungguhnya ada
sebagian harta kita yang menjadi hak mereka. Sebab itu kita diwasiatkan
untuk mencintai mereka dan melihat ke bawah untuk urusan dunia ini.

Sementara pada wasiat ketiga adalah melihat ke bawah untuk urusan
silaturahmi. Meski orang yang kita ajak silaturahmi mendongak ke atas
dengan cara menjauhi kita, kita diwasiatkan untuk tetap melihat ke ba-
wah dengan cara tetap menyambung silaturahmi lebih dulu. Dengan de-
mikian, kita pada hakikat sedang merendah untuk meminta seseorang
mau bersilaturahmi dengan kita.

258

Meski kita telah berada di atas, sebaiknya kita juga perlu melihat ke
bawah. Kita kaya, kita melihat ke bawah. Bahwa masih ada orang miskin
yang harus kita tolong. Keberpihakan kita mestinya mengarah ke bawah
sehingga sebagai sesama muslim kita tetap bisa menjaga hubungan
dengan saling tolong-menolong.

Sebab kekayaan sejati bukanlah kekayaan harta, melainkan kekayaan
hati. Rasulullah Saw. bersabda, “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan
banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu
merasa cukup.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Begitu juga dalam hal kebaikan maupun dalam hal agama. Memang
kita disarankan untuk selalu melihat ke atas dalam hal ini, akan tetapi kita
perlu juga melihat ke bawah bahwa masih banyak muslim yang berlaku
tidak adil pada dirinya dan juga kepada agama. Maksudnya adalah dengan
melihat ke bawah diharapkan kita mampu menolong mereka agar tidak
semakin terjerumus. Maka kita perlu mengadakan dakwah.

259

Lihatlah ke Bawah, Jangan
Lihat Ke Atas

M anusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna, dan
paling banyak menerima karunia-Nya, dibanding dengan yang
lainnya. Namun, seringkali manusia lupa mensyukuri semua
karunia itu. Padahal, karunia Ilahi yang datang silih berganti tanpa
pernah kita syukuri hanya akan menambah kemurkaan Allah semata.
Banyak nikmat Allah telah kita sia-siakan. Dari yang terkecil hingga besar.
Bayangkan, seandainya udara yang kita hirup dihargai dengan uang.
Berapa banyak uang yang kita keluarkan hanya untuk membeli udara.
Belum lagi air yang setiap hari kita pakai. Alangkah Maha Pemurahnya
Allah.
Berjalan dengan kedua kaki, melihat dengan kedua mata, dan
bernafas merupakan nikmat yang tidak bisa tidak kita syukuri. Allah
menciptakan manusia dan menyempurnakan penglihatan, pendengaran,
dan mata hati, untuk dapat menjaga kualitas syukur kita atas semua
pemberian-Nya.
Dalam Alquran, Allah berfirman;
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh
(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” [QS: As Sajadah: 9]
Coba kita renungkan tentang susunan anatomi tubuh yang
kompleks, rumitnya saluran darah, jaringan saraf, serta gumpalan otak
dan hati, yang terakhir membuat derajat manusia lebih tinggi di antara
mahluk Allah yang lain. Andai saja ada kerusakan sedikit di bagian otak

260

kita, jaringan saraf terputus, dan aliran darah terhenti sesaat saja. Apa
yang terjadi dalam tubuh kita?

Wujud Manisnya Iman

Kemampuan mensyukuri nikmat adalah salah satu wujud nyata
dari manisnya iman. Ungkapan syukur tidak hanya di lisan. Melainkan
mengejawantah dalam keseharian kita. Ibadah kian bertambah baik.
Hubungan dengan tetangga makin harmonis. Kehidupan rumah tangga
tambah berkah. Dan peran sosial kita semakin dapat dirasakan oleh
masyarakat luas. Semua itu merupakan bentuk lain dari cara mensyukuri
nikmat Allah Swt.

Tubuh kita merupakan nikmat Allah yang tiada tara. Alam raya dan
segala hal yang ada di dalamnya, adalah tanda-tanda kekuasaan dan
fasilitas Allah guna memanjakan mahluk-Nya yang bernama manusia.
Bentangan bumi yang subur, dan perut bumi yang mengandung banyak
karunia Ilahi. Semuanya diserahkan kepada manusia untuk mengelola
dan menikmati hasilnya. Bila sudah sedemikian sayangnya Allah pada
kita, sanggupkah kita mengingkari-Nya? Allah menegaskan dalam
firman-Nya.

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan
untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara
manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu
pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.”
[QS: Luqman [31]: 20]

Pernah kita merasakan betapa nikmatnya sehat itu. Saat terbaring
lemas di rumah sakit, saat makanan-makanan lezat dihidangkan, handai
taulan yang datang membesuk, apa yang kita rasakan? Tubuh tak kuasa
bergerak, lidah tidak dapat merasakan leZat-Nya hidangan yang tersedia,
dan sapaan hangat handai taulan pun berlalu sedemikian dinginnya.

Merasa rendahkah kita, ketika hanya mampu makan sehari sekali,
sedangkan banyak saudara kita yang tidak mampu makan, walau sehari
sekali. Fenomena penyakit busung lapar yang sempat diekspos media
massa beberapa waktu lalu (dan boleh jadi saat ini masih banyak namun

261

tidak terekspos lantaran banyaknya peristiwa baru yang saling susul
menyusul) menghentak kita untuk lebih memacu diri dalam mensyukuri
nikmat Allah. Bagaimana kalau hal itu terjadi pada diri kita dan keluarga?
Apa yang bisa kita lakukan.

Hinakah kita ketika fasilitas hidup yang kita terima tidak sama
lebih rendah dibanding dengan tetanggga atau saudara kita yang lain.
Penghasilan tidak sebanyak kolega kita. Karir tidak melejit secepat teman-
teman seangkatan dengan kita dan bahkan di bawah kita? Demikian
dengan suasana kerja tidak senyaman yang kita harapkan. Dapatkah kita
mensyukuri semua itu sebagai nikmat.

Bersyukur kita, saat banyak orang yang kehilangan pekerjaan,
kesulitan bertahan hidup, dan bekerja dalam penuh ketidakpastian masa
depan dan jaminan penghasilan yang memadai. Kita masih bisa bertahan
seperti apa yang kita alami kini. Kita masih dikaruniai nikmat sehat dan
taat (ibadah).

Kita dianjurkan untuk selalu melihat siapa yang ada di bawah.
Jangan dibiasakan mengukur tingkat kesejahteraan dan kemakmuran
hidup dengan siapa yang ada di atas kita. Inilah yang dapat mendekatkan
diri pada sikap dan perilaku kufur. Tentu yang dimaksudkan ini sebagai
bagian rasa syukur, bukan sebagai legitimasi dan sikap kemalasan. Sebab
sebagai pribadi Muslim, kita tetap diwajibkan terus berprestasi sampai ke
tingkat paling atas dan beramal kebaikan sebanyak-banyaknya.

Pendorong Kekufuran

Sementara arus budaya kufur menggempur kita tiada terkira.
Hampir-hampir iman kita terseret dalam arus budaya kufur. Sarana-
sarana dan fasilitas kekufuran tersedia dengan porsi yang lebih besar
ketimbang sarana untuk bersyukur. Budaya hedonis, konsumtif, dan
kontraproduktif terbangun dengan sistematis. Dan ada sarana untuk
mengejawantahkan kekufuran secara baik, mulus, tanpa hambatan.
Iman yang kita pupuk, dan rasa syukur yang coba ditumbuhkan, serta
merta harus berhadapan dengan gelombang besar kekufuran yang sarat
kemudaratan.

262

Kuncup syukur itu harus berdiri tegak. Tetap tegar walaupun dihajar
badai kufur nan garang. Kelak kualitas kesyukuran kita akan teruji dan
tidak lekang oleh hal yang membuat hambar cita rasa untuk bersyukur.
Bukankah iman tumbuh dan berkualitas saat cobaan dan rintangan
datang tiada henti. Justru ketika tiada hinaan, cercaan, dan hambatan,
iman tumbuh tiada bergelora. Hidup ini tidak berjalan apa adanya. Ada
upaya untuk membuatnya stagnan. Karena hambatan dan cobaan tiada
kunjung tiba. Atau bahkan kita hindari kedatangannya. Menerima setiap
pemberian Allah, betapapun kecilnya, merupakan sikap serta rasa syukur.

Bila kita membiasakan diri dengan menerima ketetapan dan
pemberian Allah dengan perasaan cukup, niscaya kita akan kaya.
Dikayakan oleh Allah Swt. Hidup kian bermakna saat kita pandai
mensyukuri semua yang diberikan Allah pada kita, manusia. Nikmat
dunia adalah ujian. Segala hal yang Allah berikan di dunia ini merupakan
sarana untuk menguji siapa yang paling baik perbuatannya di antara kita.

Ilmu yang Allah berikan pada kita, wajib diamalkan dan
disebarluaskkan pada masyarakat banyak. Agar kelak ilmu yang kita
miliki membuahkan hasil dan mewujud pada perubahan dan perbaikan
peradaban yang hari ini kian masif dan tidak beradab. Banyak orang
pintar tetapi tidak memberi kontribusi apa-apa pada komunitasnya. Yang
ada hanyalah kerusakan yang ditimbulkan akibat ilmu dan kemampuan
yang dimilikinya. Kufur terhadap ilmu yang Allah berikan adalah tidak
mengamalkannya di jalan Allah. Atau berbuat kerusakan bersandar pada
ilmu yang dimilikinya.

Karena sifat dan karakteristik manusia adalah angkuh dan
menyombongkan diri. Kedua sifat tersebut dekat dengan kekufuran.
Sampai-sampai Allah Swt. memberi peringatan secara berulang-ulang.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?.” [QS:
arrahman: 13]

Betapa manusia adalah mahluk yang sering berbuat kekufuran.
Walaupun sifat tidak pernah puas selalu menghantui dan terus saja
mengikuti kita kemanapun pergi, namun kita tak perlu khawatir dengan
itu. Yang bisa kita lakukan ialah, menahan dan mengekang hawa nafsu

263

kita dari kekufuran dan perbuatan yang mendekatkan pada kekufuran
itu sendiri.

Inilah hakikat dan esensi syukur. Refleksi syukur itu hendaknya
mampu mengeliminasi sinyal-sinyal kekufuran yang terus menerus
tumbuh dan berpotensi untuk mendominasi dalam diri setiap insan.
Karena syukur dan kekufuran ibarat minyak dan air. Keduanya sangat
tidak mungkin disatukan. Jurang pembatas terlampau jelas untuk
membedakan keduanya.

Refleksi syukur pun bisa ditafsirkan dengan berlomba-lomba
melakukan kebaikan. Dan hal ini memang sangat dianjurkan. Tetapi
merasa paling baik, paling taat kepada Allah, paling benar, paling
pandai mensyukuri nikmat Allah adalah sikap yang tidak dibenarkan
dalam Islam. Karena itu adalah perangkat Iblis dalam menggoda dan
menggiring anak keturunan Mensyukuri karunia Ilahi dapat dilakukan
dengan beragam cara. Tidak hanya mengucapkan Alhamdulillah saja.
Rasa syukur itu mengejawantah. Syukur itu merealitas dalam kehidupan
sosial dan pribadi kita. Kita dapat mendeteksi sikap dan perilaku diri
sendiri. Sudahkah kita mensyukuri nikmat Allah yang banyaknya tiada
terkira?

264

Ilmu Lebih Baik
Daripada Harta

A apakah benar ilmu lebih baik atau lebih berharga daripada harta?
Kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib sangat menginspirasi. Kita
tahu, bahwa Rasulullah Saw. menjuluki dirinya sebagai kota
ilmu, sementara Ali merupakan pintu gerbangnya. Siapa pun orangnya
akan percaya karena hal ini disabdakan oleh Rasulullah Saw.

Namun di masa yang berbeda, muncul keraguan terhadap Ali r.a.
terutama dari kalangan kaum Muhajirin yang menentang kekhalifahan
Ali bin Abi Thalib. Maka berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij.
Mereka kemudian bersepakat menguji kemampuan Ali dalam menjawab
satu pertanyaan yang mereka ajukan secara bergantian.

“Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang satu masalah saja. Ba-
gaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh
kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?” kata salah seorang.

“Setuju!” jawab lainnya dengan serentak.
“Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja,” yang lain
menyarankan. “Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Jika
jawaban Ali selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali
adalah orang yang cerdas.”
“Baik. Mari kita laksanakan.” Jawab mereka setelah sepakat tentang
pertanyaan akan yang diajukan.
Maka salah satu di antara mereka berangkat menuju ke tempat Ali
berada dan segera mengajukan pertanyaan.
“Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”

265

“Tentu saja ilmu lebih utama,” jawab Ali tegas. “Ilmu adalah warisan
para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir’aun,
Namrud dan lain-lainnya,” Ali menerangkan.

Setelah Ali menjawab, orang Khawarij itu pun pamit mundur. Dan
tak lama kemudian, satu di antara mereka datang kembali.

“Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”

“Lebih utama ilmu dibanding harta,” jawab Ali. “Karena ilmu akan
menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus men-
jaganya.” Orang kedua mundur, diganti orang ketiga.

“Bagaimana pendapat jika ilmu dibandingkan dengan harta?”

“Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu. Sebab orang yang
mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan
orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hor-
mat kepadanya.”

Orang keempat datang dengan pertanyaan yang sama. Dan Ali
menjawab, “Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu.” Tak puas dengan jawaban
Ali, salah seorang Khawarij itu meminta penjelasan, “Karena bila engkau
pergunakan harta, jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila
ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak.”

Tibalah giliran orang kelima. Ali pun menerangkan, “Ilmu lebih mu-
lia. Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik
ilmu akan dihargai dan disegani.” Berlanjut pada orang keenam dengan
membawa pertanyaan yang sama kepada Ali. Namun Ali tak tak goyah
jawabannya, bahkan memiliki penjelasan yang berbeda lagi. “Harta akan
selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari keja-
hatan, lagi pula ilmu akan menjagamu.”

Penjelasan kepada orang ketujuh, “Pemilik ilmu akan diberi syafa’at
oleh Allah Swt. di Hari Kiamat, sementara pemilik harta akan dihisab
oleh Allah kelak.”

Penjelasan kepada orang kedelapan, “Tentunya lebih utama dan lebih
penting ilmu. Dalam waktu yang lama, harta akan habis, sedangkan ilmu
malah sebaliknya, ilmu akan abadi.”

266

Penjelasan kepada orang kesembilan, “Seseorang yang banyak har-
ta akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang
kaya ilmu dianggap intelektual.”

Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali, “Manakah
yang lebih berharga, Wahai Ali, harta dan atau ilmu?” Dengan sabar Ali
menjelas, “Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan
mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu
hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya.”

Ali sebenarnya sudah menyadari bahwa ia sedang diuji oleh kaum
yang menentangnya itu. Namun ia tetap melayani mereka dengan sabar.
Ali pun berkata kepada mereka, “Seandainya kalian datangkan semua
orang untuk bertanya, akan aku menjawab dengan penjelasan yang ber-
beda-beda pula, selagi aku masih hidup.”

Kesepuluh orang Khawarij itu akhirnya menyerah. Mereka percaya
bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. adalah benar adanya. Dan
Ali memang pantas mendapat julukan “gerbang ilmu”.

Lalu dengan apalagi kita akan meragukan bahwa ilmu lebih mulai
daripada harta? Bisa dipastikan bahwa orang yang meragukan ini ada-
lah mereka yang memiliki kedangkalan ilmu, sementara orang-orang kini
berlomba-lomba untuk mendapatkan ilmu melalui berbagai institusi,
baik formal maupun nonformal/informal.

267

Sedikit Tetapi
Konsisten

S edikit demi sedikit lama menjadi bukit. Begitulah pepatah yang
sampai kepada kita dan kita pun mengamininya. Menumpuk
berbagai benda sedikit demi sedikit pada akhirnya akan mampu
menggunung. Logika ini sama halnya dengan kita menabung, sedikit
demi sedikit tabungan kita akan bertambah banyak. Semakin rajin kita
menabung semakin cepat tabungan kita menggunung.

Hal ini akan sangat berbeda dengan kita menabung tidak secara
rutin, tetapi satu kali dalam jumlah yang banyak. Sebab kita tak selalu
mendapatkan rezeki dalam jumlah banyak, maka sekali menabung ada
kemungkinan besar, tabungan itu bukan semakin menggunung tetapi
justru malah menyusut karena kita akan mengambil dengan berbagai
alasan kebutuhan. Lain hal jika kita menabung secara rutin karena
memang kita sudah berniat menyisihkan sebagian rezeki untuk ditabung
dengan masa depan.

Begitu pula dengan amalan yang kita lakukan setiap hari. Lebih baik
kita beramal secara konsisten dan tak berhenti daripada sekali beramal
besar akan tetapi setelah berhenti. Jika logika tabungan diambil karena
berbagai kebutuhan, maka pahala amal ini juga bisa menyusut karena
berbuat maksiat.

Amal yang terus-menerus juga bisa melatih kita untuk berbuat
disiplin dalam beribadah. Jika kedispilinan ini sudah menjadi karakter,
beramal kecil maupun besar tidak akan menjadi soal karena memang
sudah terbiasa menjalankannya. Dan tentu saja, keikhlasan lebih mudah

268

didapat. Berbeda dengan beramal sekaligus besar pasti ada perhitungan
untung dan rugi, serta keikhlasan juga akan tertunda.

Untuk menggambarkan hal ini, para ulama mengatakan, “Sejelek-
jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadan saja.
Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin
salat malam sepanjang tahun.”

Bulan Ramadan memang bulan yang suci, di dalamnya terdapat
rahmat, maghfiroh, dan pembebsan dari api neraka. Akan tetapi di bulan
ini manusia juga diuji, apakah hanya akan beribadah ketika pada bulan
ini saja ataukah setelah Ramadan bisa lebih baik lagi amalannya. Jika
bisa lebih baik, maka ia merupakan manusia yang sukses. Namun jika
tidak, ia tak ubahnya seperti seorang yang menabung dalam jumlah
besar sekaligus tetapi akan berkurang di bulan-bulan berikutnya, hingga
Ramadan datang lagi. Iya kalau dipertemukan dengan Ramadan lagi,
kalau tidak?

Dari ’Aisyah r.a. beliau mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt. adalah amalan yang kontinu
walaupun itu sedikit.”

Maka sebaiknya kita memilih amalan yang sekiranya kita mampu
merutinkannya. Misalnya salat malam dua rakaat yang bisa kita jalankan
sepanjang tahun, hal ini akan lebih mulia jika dibandingkan salat tarawih
hanya di bulan Ramadan. Atau tadarus Alquran sehari minimal setengah
juz. Tentu akan lebih jika hanya tadarus di bulan Ramadan saja. Akan
tetapi, yang demikian masih lebih baik daripada tidak melakukan sama
sekali.

269

Kecil Namun
Konsisten

S aya selalu kangen dengan ajakan ayah di setiap waktu maghrib dan
isya tiba, yaitu ajakan untuk ke masjid. Selalu, kalau bisa dibilang
tidak ada halangan yang mendesak, ayah akan selalu mengajak
anak laki-lakinya, dan tentu saja mencontohkan selama bertahun-tahun,
untuk melaksanakan salat jamaah di masjid yang memiliki ganjaran
pahala 27 derajat.

Bagi saya, ayah merupakan seorang yang saya kagumi dan teladan
dalam hidup saya. Mungkin, ilmu ayah tentang agama Islam tidak
seberapa dibandingkan dengan ustaz dan pemuka agama lainnya.
Namun, semangat untuk melaksanakan apa yang ayah ketahui, tidak ada
yang bisa memadamkan. Biarpun terhitung kecil namun konsisten.

Kadang kita terus-menerus mengejar gelar agar mendapatkan
predikat sebagai orang yang pintar, cerdas, dan berilmu. Namun dari
ayahlah saya belajar bahwa sesungguhnya orang yang berilmu adalah
mereka yang mampu mengamalkan ilmunya yang walaupun dilakukan
sedikit demi sedikit namun konsisten. Inilah yang kemudian menjadikan
amalan utama bagi orang-orang yang berilmu.

Berapa orang yang tahu bahwa salat subuh di masjid adalah wajib?
Berapa orang yang tahu bahwa salat tahajud itu memiliki pahala yang
sangat luar biasa besar bahkan bisa mengabulkan doa-doa orang yang
melaksanakannya. Begitu pula dengan banyak ilmu yang lainnya.
Pertanyaannya, berapa dari mereka yang melaksanakan pengetahuan
mereka tersebut.

270

Memang ternyata ada perbedaan besar antara ‘tahu’ dengan ‘paham’.
Banyak orang yang tahu bahwa salat di masjid berjamaah itu memiliki
ganjaran 27 derajat lebih besar. Namun, hanya sedikit dari mereka yang
memahami dan bersedia melaksanakannya.

Dari sinilah kemudian saya paham mengapa amalan yang konsisten
itu mampu mengalahkan amalan besar yang dilakukan sekali-sekali.
Justru dengan amalan-amalan yang kecil itulah, jika dilakukan dengan
konsisten dapat menggantikan amalan-amalan besar yang bisa jadi rumit
dan sulit untuk melakukannya.

Jadi, amalan apa yang Anda bisa lakukan? Walaupun itu kecil,
namun jika dilakukan dengan konsisten insya Allah akan menjadi amalan
unggulan Anda saat pulang ke akhirat kelak.

271

Menghormati Tukang Sayur
daripada Suami sendiri

K ita tentu pernah berbelanja kepada tukang sayur yang lewat atau
ke sebuah warung. Jika kita tidak kenal akrab dengan penjualnya,
kita cenderung memberikan rasa hormat kepadanya. Tak hanya
tukang sayur, kepada penjual apa saja yang lewat di depan rumah kita,
pasti kita berlaku sopan.

Misalnya bagi orang Jawa, akan menggunakan bahasa Jawa halus
untuk menanyakan berbagai hal, termasuk menanyakan soal harga dari
sekian barang yang kita ambil. Hal ini juga berlaku bagi penjual barang la-
innya. Berlaku sopan santun terjadi di mana saja, terutama di Jawa yang
memang akrab dengan unggah-ungguh.

Misalnya bertanya, “Niki regine pinten, Pak?” Ini harganya berapa, Pak?
Dan ungkapan-ungkapan lain dalam obrolan sehari-hari. Kecenderungan
akan menggunakan bahasa Jawa halus daripada bahasa Jawa Ngoko,
yang digunakan dengan teman sejawat.

Ironisnya, berlaku sopan ini kadang tidak terjadi di dalam rumah.
Misalnya kepada suami atau istri yang mestinya lebih kita hormati atau
lebih kita santuni daripada tukang sayur atau pedagang lainnya. Namun
kenyataan sehari-hari berbicara seperti itu. Kita lebih menghormati
orang asing daripada orang di dalam rumah, terutama suami yang sebe-
narnya lebih berhal mendapatkannya.

Sementara itu, seorang suami berkewajiban mendidik istrinya untuk
berlaku sopan dan menaruh hormat kepadanya. Jika hal ini tidak dila-
kukan oleh suami, maka sepenuhnya bukan kesalahan istri. Suami juga
bertanggungjawab jika istrinya melakukan hal demikian.

272

Hal ini seperti yang sudah disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw.,
“Ketahuilah bahwa kalian mempunyai hak atas istri kalian dan istri kalian
juga mempunyai hak atas kalian. Adapun hak kalian atas istri kalian
adalah tidak mengizinkan orang yang kalian benci untuk memasuki
rumah kalian.” [HR. At-Tirmidzi].

Akan tetapi, hal ini akan berjalan dengan sendirinya ketika istri
yang dimaksud adalah istri yang salehah. Istri tersebut akan tahu
bagaimana cara memuliakan suami dan bagaimana menghormatinya.
Meski demikian, setiap istri tidak bisa disamaratakan karena terkadang
pandangan suami terhadap perilaku istrinya berbeda-beda. Namun
adalah kewajiban bagi suami untuk mendidik istri karena itu merupakan
tanggungjawab suami untuk melindungi istri dari hal-hal yang dilaknat
oleh Allah Swt.

Allah Swt. bersabda, “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan
(istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas
sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah
memberikan nafkah dari hartanya.” [QS. An Nisaa: 34].

Namun secara umum Islam memerintahkan seorang istri untuk
menghormati suaminya dengan cara-cara yang telah diatur oleh agama
Islam. Salah satu caranya yang utama adalah menghormati suami dengan
rajin beribadah, sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah Saw.,
“Bila seorang wanita menunaikan salat lima waktu, berpuasa di bulan
ramadan, taat kepada suaminya niscaya dia masuk surga Tuhan-Nya.”
[HR. Ahmad].

Selain itu, bertutur kata yang baik dan sopan juga termasuk salah
satu cara menghormati suami. Rasulullah Saw. bersabda, ”Aku melihat
neraka dan kebanyakan penghuninya adalah wanita.” Mereka bertanya,
”Mengapa wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw. menjawab, ”Mereka banyak
mengutuk dan mengingkari kebaikan suami.” [HR Bukhari dan Muslim].

Istri juga bisa membuat kesepakatan dengan suami tentang apa
saja yang dilarang dan diridai oleh sang suami. Kesepakatan apa pun
diperbolehkan selama tidak menjerumuskan kepada maksiat. Keridaan
suami terhadap istri merupakan kunci dari kehidupan nikmat sang istri.

273

Sebagaimana Nabi Saw. bersabda, ”Siapa saja wanita yang meninggal,
sedangkan suaminya rida kepadanya, maka dia masuk surga.” [HR
Tirmidzi].

274

Tamu Dimasakkan
Istimewa, Untuk Suami

Biasa Saja

J ika kedatangan tamu, untuk menghormati tamu tersebut biasa
seorang istri akan memasak masakan yang enak. Hal ini untuk
menjaga kehormatan suaminya, bahwa selama ini sang suami
mampu mencukupinya. Selain itu, ada tujuan untuk menghormati
tamu. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw.
bahwa, “Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir, maka
muliakanlah tamu.”

Bertamu adalah bersilaturahmi, sementara hikmah dari silaturahmi
di antaranya adalah memanjangkan usia dan menambahkan rezeki. Yang
dimaksud dengan hikmah tersebut adalah tambahnya berkah dari kedua
hal tersebut. Usia menjadi berkah, begitu pun rezeki, bahkan tamu juga
bisa mendatangkan rezeki. Dan kita memasak untuk tamu, maka Allah
telah memberikan rezeki kepada tamu kita, melalui masakan kita.

Akan tetapi, jika tidak ada tamu, seorang istri memasak untuk
suaminya biasa saja atau bahkan sekenanya. Artinya istri memasak
dengan tidak serius, sehingga masakah terasa terlalu asin atau terlalu
pedas dan lain sebagainya. Hal ini sebenarnya terbalik. Memang kita
diwajibkan menghormati tamu, akan tetapi tidak berarti meniadakan
kewajiban memasak untuk suami.

Masa masak untuk suami dengan menu yang nyaris sama setiap
hari. Masak untuk suaminya kok lebih sering masak tempe, sementara
uang belanja cukup, bahkan berlebihan. Untuk itu, seorang istri mestinya

275

mampu berlaku seimbang dalam memperlakukan istri maupun tamu,
yang kedua wajib ia hormati.

Dalam Islam memang tidak ada dalil khusus tentang seorang istri
harus memasak untuk suami. Akan tetapi, kita bisa menilik bahwa seorang
istri wajib mematuhi perintah suaminya selama tidak bertentangan
dengan syariat Islam. Sementara memasak bukanlah pelanggaran syariat.
Bisa dibayangkan jika istri tidak masak, lalu setiap hati sekeluarga makan
di warung atau restoran. Maka betapa borosnya kehidupan keluarga
tersebut. Sementara itu, kehidupan boros sangat dilarang dalam Alquran,
bahkan disamakan dengan perilaku Setan.

Beberapa ulama berpendapat tentang hal ini. Salah satunya adalah
Ibnu Taimiyah dalam Fatawa Al Kubro, “Ada ulama yang menyatakan
bahwa wajib bagi istri mengurus pekerjaan rumah yang ringan. Sebagi-
an ulama menyatakan bahwa yang wajib adalah yang dianggap oleh urf
(kebiasaan masyarakat). Pendapat yang terakhir inilah yang lebih tepat.
Hendaklah wanita mengurus pekerjaan rumah sesuai dengan yang berla-
ku di masyarakatnya, itulah yang ia tunaikan pada suami. Ini semua akan
berbeda-beda tergantung kondisi. Orang badui dibanding orang kota ten-
tu berbeda dalam mengurus rumah. Begitu pula istri yang kuat dengan
istri yang lemah kondisinya berbeda pula dalam hal mengurus rumah.”

Pendapat yang lain diutarakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih
Al Utsaimin dalam Fatawa Nur ‘alad Darb, “Istri punya kewajiban untuk
mengurus rumahnya sebagaimana yang berlaku di masyarakatnya. Ber-
dasarkan hal itu, kami akan berkata berbeda untuk setiap zaman. Mung-
kin satu waktu, mengurus rumah dengan memasak, membersihkan per-
kakas, mencuci pakaian suami, pakaiannya dan pakaian anak-anak itu
wajib. Begitu pula dalam hal mengurus anak-anak dan mengurus hal-hal
yang maslahat di rumah jadi harus. Namun hal ini bisa jadi berbeda di
zaman yang berbeda. Di suatu zaman bisa jadi memasak bukan jadi ke-
wajiban, begitu pula dalam hal mencuci pakaian di rumah untuk suami
dan anak-anak. Jadi apa yang berlaku di masyarakat, itulah yang diikuti.”

Artinya, apa yang dilakukan oleh istri dalam mengurus pekerjaan ru-
mah tangga merupakan demi kemaslahatan bersama. Dan hal ini dapat

276

disesuaikan dalam adat kebiasaan dari masyarakat tertentu. Satu adat di
suatu tempat tidak bisa disamakan dengan di tempat lain.

Di masyarakat pedesan misalnya, tugas rumah tangga sepenuhnya
dikerjakan oleh istri. Maka hal ini bisa dijadikan kebiasaan oleh istri-istri
yang ada di pedesaan. Hal ini akan berbeda dengan di perkotaan besar, di
mana antara suami dan istri sama-sama bekerja untuk memenuhi kebu-
tuhan rumah tangga. Maka istri juga tidak bisa diwajibkan dalam mengu-
rus pekerjaan rumah tangga.

Maka diperlukan kesepakatan antara suami dan istri bagaimana me-
nyikapi hal demikian. Sementara seorang istri di perkotaan bukanlah pe-
rempuan yang bisa hanya berdiam diri di rumah, mereka membutuhkan
berbagai aktivitas harian agar tak mudah stress menghadapi kehidupan
perkotaan yang makin ruwet.

277

Makan Mau Enaknya,
Buang Sampah
Sembarangan

P erilaku negatif masyarakat modern salah satunya adalah senang
menyisakan sampah pada setiap aktivitasnya. Perilaku ini nyaris
dilakukan oleh semua orang. Setiap hari orang membuang sampah
di berbagai tempat. Dari skala kecil berupa sampah rumahan hingga
sampah besar dari sebuah pabrik atau perusahaan.

Islam yang menekankan tentang penyakit negatif. Sebab kebersihan
merupakan dasar seseorang bisa berlaku sehat, dan ketika sehat beriba-
dah pun menjadi nyaman. Maka kebersihan sebagian dari iman merupa-
kan jargon yang didengungkan oleh muslim di mana pun berada.

Rasulullah Saw. bersabda, “Iman itu 70 dan sekian cabang, yang
paling tinggi adalah kalimat Laa Ilaaha Illallah, yang paling rendah adalah
menyingkirkan gangguan dari jalanan.” [Muttafaqun ‘alaih].

Dari hadis tersebut, kita tahu bahwa sampah merupakan hal yang
sangat serius. Sehingga nyaris disejajarkan dengan keimanan kaum
muslimin. Menyingkirkan gangguan dari jalanan, salah satunya adalah
sampah. Baik sampah organik maupun nonorganik. Gangguan tersebut
dikhawatirkan akan mencelakai orang lain. Misalnya kita melihat
paku di jalanan, maka berdasarkan hadis di atas, kita wajib untuk
menyingkirkannya. Hal in di khawatirkan paku tersebut akan mengenai
kaki seseorang, atau ban kendaraan yang kebetulan lewat.

Begitu pula dengan dengan sampah-sampah lainnya. Barangkali
dampaknya tidak seketika namun membahayakan sehingga menimbulkan

278

banjir. Berbeda jika kita membuang sampah pada tempatnya, sampah itu
dapat dikelola lagi, baik untuk daur ulang ataupun dikubur atau dibakar
sehingga sampai tidak tersisa.

Meski demikian, sampah seperti ini juga bisa berdampak secara
langsung. Misalnya sampah itu akan berbau tidak sedap. Dan jika
sampah itu diberikan terus-menerus akan melahirkan penyakit yang bisa
membahayakan masyarakat, nyamuk demam berdarah misalnya, yang
kerap kita temukan jika di musim hujan. Tak sedikit menyakit ini yang
berakibat pada kematian.

Jika sudah demikian, kita bisa menghukum orang yang buang
sampah adalah pembuatan kerusakan di muka bumi, terutama dalam
skala besar. Sebagaimana firman Allah Swt., “Dan janganlah kamu
membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan
harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat
kepada orang-orang yang berbuat baik.” [QS. Al ‘Araf: 56].

Di ayat yang lain, Allah Swt. lebih memperjelas tentang kerusakan
alam yang dimaksud, “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan
di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-
tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.
[QS. Al Baqarah: 205].

279

Ramadan yang Disambut,
Tetapi Tak Diantar
Pulangnya

R amadan adalah bulan yang sangat mulai. Di dalamnya dipenuhi
berbagai keberkahan dan setiap amal yang dilakukan oleh seorang
hamba akan dilipatgandakan. Untuk itu, akan sangat wajar jika
bulan ini disambut oleh siapa saja yang senang datangnya bulan suci ini.

Bahkan ada dua bulan sebelumnya yang memang dipersiapkan
bagi orang-orang yang ingin menyambut Ramadan, yaitu bulan Rajab
dan Sya’ban. Di kedua bulan ini, kita sudah mulai belajar berpuasa dan
meningkatkan berbagai amal ibadah, sehingga ketika memasuki bulan
Ramadan tubuh kita tidak akan kaget dan kegiatan positif pun berjalan
dengan baik selama Ramadan.

Maka Rasulullah Saw. membuat doa khusus yang kerap dipanjatkan
untuk menyambut Ramadan ini sejak pada bulan Rajab. Doa itu adalah
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban serta pertemukanlah
kami dengan Ramadan.” [HR. Ahmad dan Ath-Thabrani].

Dalam doa tersebut, ada rasa kekhawatiran jika nanti kita tidak bisa
bertemu dengan Ramadan yang mulia ini. Seperti halnya ketika kita
sedang bersiap menyambut tamu istimewa, kita akan merasa khawatir
jangan-jangan di jalan ada rencana yang membelokkan tamu istimewa
kita itu dan membuat kita was-was jika di jalan terjadi sesuatu. Oleh sebab
itu, doa yang mengandung kekhawatiran tersebut sangatlah lumrah.

Bagi seseorang yang benar-benar mengetahui akan banyak hikmah
yang Allah turunkan di bulan ini, pasti akan bergembira tiada tara.

280

Rasulullah Saw. bersabda, “Telah datang pada kalian bulan Ramadan,
bulan Ramadan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian
untuk berpuasa didalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga
serta ditutup pintu-pintu neraka….” [HR. Ahmad].

Lalu bagaimana jika bulan Ramadan berlalu? Kita biasa sudah
disibukkan dengan berbagai kegiatan menyambut bulan syawal yang
merupakan perayaan besar bagi masyarakat muslim di Indonesia,
terutama setelah berpuasa selama sebulan penuh. Karena kesibukan
itu, kita kemudian lupa bahwa bulan yang mulia telah pergi dan kita tak
mengantarkannya.

Belum lagi kita yang disibukkan dengan mengurus tunjangan hari
raya yang tak kunjung cair, membeli baju baru, menyiapkan segala ma-
kanan dan lain sebagainya. Dan terlebih yang menjadi sorotan media ada-
lah kesibukan menetukan satu syawal. Apalagi kita melakukan berbagai
hal yang tidak ada manfaatnya, misalnya menghidupkan mercon dan lain
sebagainya.

Peristiwa ini terus berulang setiap tahun. Tak ada kesedihan sama
sekali ketika berpisah dengan tamu yang sangat istimewa itu. Kita malah
berlaku sebaliknya. Sementara itu kita tidak tahu sama sekali bahwa
jika di bulan Ramadan adalah bulan penuh rahmat, apakah kita masuk
salah satu yang dirahmati. Jika bulan Ramadan penuh dengan ampunan,
apakah kita termasuk salah satu yang diampuni. Tidak ada jaminan sama
sekali bahwa puasa kita diterima oleh Allah Swt. Bukannya memohon
agar segala amal kita diterima, justru kita bergembira.

Berbeda dengan zaman para sahabat, ketika menjelang akhir
Ramadan para sahabat justru asyik beritikaf di sepuluh hari terakhir.
Maka bisa kita bayangkan bahwa Madinah di zaman Rasulullah Saw. di
sepuluh hari terakhir Ramadan layaknya seperti kota setengah mati.
Sebab para lelaki beritikaf di masjid-masjid. Bahkan begitu pula sebagian
para wanitanya.

Dari ummul mukminin, Aisyah r.a. Beliau menceritakan tentang
kondisi Nabi Muhammad Saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir
Ramadan, “Rasulullah Saw. jika telah masuk sepuluh terakhir bulan

281

Ramadan menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan
mengencangkan ikat pinggang.” [Muttafaq ‘alaih].

Dan kemudian, Rasulullah Saw. pun berdoa, “Ya Allah, jadikan sebaik-
baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku
adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari
di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”

282

Dikasih Hujan Minta Panas,
Dikasih Panas Minta Hujan

D i Indonesia, belakangan musim tidak menentu. Sudah memasuki
musim hujan tetapi, panas masih begitu menyengat. Begitu
memasuki musim panas, hujan masih terus mengguyur.
Barangkali hal ini merupakan jawaban, karena di musik hujan manusia
kerap mengeluhkan tentang hujan. Hujan sering datang tanpa bisa
ditebak sehingga mengganggu aktivitas. Begitu pula ketika musim
kemarau. Matahari yang terlalu panas membuat orang malas untuk
keluar rumah melakuakn aktivitas.

Manusia memang kerap tidak merasa puas terhadap apa yang
diberikan oleh Allah Swt. Padahal apa yang diturunkan oleh Allah sudah
semestinya turun. Sementara itu, peristiwa alam ini sebenarnya tidak
hanya untuk manusia, melainkan untuk setiap makhluk yang hidup di
muka bumi ini, meski ujungnya akan bermanfaat bagi manusia. Akan
tetapi tujuan awal musim ini silih berganti adalah untuk menjaga
ekosistem alam.

Bisa dibayangkan jika tidak hujan, tanaman akan banyak yang ke-
ring, pepohonan di hutan akan mati dan menjadi gersang. Begitu pula se-
baliknya, jika hujan turun sepanjang tahun dengan derasnya, tentu akan
membawa bencana lain yang mendatangkan kerugian bagi manusia.

Allah Swt. berfirman dalam surat Yunus ayat 24, “Sesungguhnya
perumpamaan kehidupan dunia itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami
turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu
tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan
binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya,

283

dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira
bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab
Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya)
laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah
tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan
(Kami) kepada orang-orang yang berpikir.”

Maka jelaslah, ekosistem alam dijaga agar kehidupan manusia
berjalan dengan baik. Namun yang manusia memang kurang bersyukur.
Akan tetapi jika manusia memahami ayat di atas dengan saksama, maka
musim apa pun akan bisa diterima dengan lapang dada. Manusia yang
dibekali eko cukup tinggi, menjadi mudah tidak puas dengan berkah
alam.

Bagi penggarap tambak garam akan mengeluh jika terjadi hujan.
Begitu pula dengan pelaut, hujan akan membuat laut berombak besar
dan nelayan sulit untuk melaut. Begitu juga musim kemarau, orang yang
memiliki Sawah mengeluh karena Sawahnya akan rusak karena jarang
terkena air. Dan lain sebagainya.

Namun jika manusia tidak mengeluh Allah akan tetap mencukupi
rezeki mereka meski hujan atau panas sedang melanda wilayahnya. Allah
memberi rezeki tidak melalui satu pintu melainkan beribu-ribu pintu.
Sebaiknya jika sudah demikian, kita pasrah dan tawakal atas apa yang
menjadi kehendak Allah.

Akan tetapi, jika kita pandai mensyukuri atau bahkan kufur nikmat
atas segala pemberian Allah, maka akan ada akibat yang kita terima.
Allah sudah menjelaskannya dalam Alquran, “Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
[QS. Al A’raaf: 96].

Dengan adanya nikmat hujan dan panas mestinya mampu
menjadikan kita sebagai hamba yang semakin meningkatkan keimanan
dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Jangan sampai karena kita tidak
terhalang beraktivitas karena hujan kemudian kita menyalakan Allah

284

Swt. Hal yang demikian bisa dihukumi sebagai kufur nikmat. Dan kita
tahu, kufur nikmat dapat menahan rezeki yang akan datang kepada kita,
maka kita sendirilah yang akan susah.

Allah Swt. pun telah menjanjikannya, “Dan bahwasannya: jikalau
mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar
Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang
banyak).” [QS. Al Jin: 16].

Dan yang perlu kita ingat adalah bahwa ketika Allah sudah
menurunkan rezeki untuk kita, jangan lupa untuk berbagi bagian untuk
sesama maupun untuk alam. Berbagi untuk alam maksudnya adalah
setelah kita panen, kita tidak membiarkan tanah kita kering atau rusak.
Kita akan tetap merawatnya walaupun hasil bumi sudah kita ambil.

Bukan untuk siapa-siapa, yang demikian ini sebenarnya akan
kembali lagi kepada manusia. Jika manusia tak acuh, lalu tanahnya rusak
maka akan mencari kambing hitam atas kerusakan tersebut. Padahal ia
sendiri yang tidak mau merawat tanahnya dengan sebaik-baiknya. Ketika
kita baik kepada alam, maka alam akan sebaliknya, baik kepada kita dan
memberikan hasil bumi yang melimpah.

285

Sedekah Jangan
Menunggu Ikhlas

K eikhlasan adalah sesuatu yang sangat berat dan sulit bagi siapa
saja yang tidak melatihnya. Oleh sebab itu, melakukan apa pun
tidak perlu menunggu ikhlas, melainkan perlu ada pemaksaan
sehingga apa kita terlatih dan terbiasa dalam belajar ikhlas dan pada
akhirnya kita akan senantiasa ikhlas dalam menghadapi apa pun.

Jika kita selalu menunggu ikhlas bisa jadi kita tidak akan pernah
melakukan ibadah atau amal saleh. Sebab terkadang ikhlas datangnya
belakangan. Begitu pula dalam hal sedekah. Dalam bersedekah kita tidak
perlu menunggu ikhlas. Bayangkan saja jika menunggu ikhlas, sementara
kebutuhan kita di zaman yang makin modern ini semakin banyak, untuk
mengeluarkan uang sedikit saja kita banyak perhitungan jika tidak
benar-benar untuk kebutuhan dan kesenangan. Sementara untuk amal
dan ibadah bukanlah hal yang menyenangkan, meski kita tahu hal itu
merupakan kebutuhan bagi setiap muslim untuk mensucikan harta dan
diri.

Dan jika tidak ada janji bahwa sedekah akan dilipatgandakan, apakah
kita akan bisa ikhlas? Ada janji Allah Swt. yang akan melipatgandakan
sedekah kita saja, rasa ikhlas begitu sulit. Tetapi jika tidak dimulai,
bahkan tidak dengan ikhlas sekalipun, kita tidak akan pernah sedekah.

Allah Swt. berfirman, “... Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan,
maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-
baiknya.” [QS. Saba’: 39].

Janji Allah pun ditunjukkan di ayat yang lain, “Perumpamaan (nafkah
yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan

286

Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh
butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran)
bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi
maha mengetahui.” [QS. Al Baqarah: 261]

Sedekah tidak saja untuk orang kaya, siapa pun orangnya ketika
mendapatkan rezeki disarankan untuk sedekah. Sedekah bukan soal
banyak atau sedikit, sedekah adalah soal berbagi dan kesadaran bahwa
dalam rezeki yang kita peroleh, tidak semuanya untuk kita. Akan tetapi,
sebagian titipan Allah yang perlu kita berikah kepada orang yang lebih
membutuhkan.

Sedekah tidak dalam kondisi berada atau kaya bukanlah termasuk
memaksakan diri, melainkan untuk lebih bersyukur dan melatih
kesabaran diri. Hal ini pernah dilakukan oleh Istri Rasulullah Saw., Aisyah.

Hari itu Aisyah tengah berpuasa dan tak punya apa pun di rumahnya
kecuali sepotong roti. Aisyah lantas memerintahkan pembantunya untuk
memberi roti itu kepada si miskin. Pembantunya berkata, “Kalau kita
berikan kepadanya, lalu nanti apa yang kita makan untuk berbuka?”
Aisyah menjawab, “Nanti sore kita akan menerima hadiah yang belum
pernah kita terima sebelumnya.” Ternyata, sore itu benar-benar ada yang
memberi hadiah kepada Aisyah berupa roti. Malah roti ini berisi daging
kambing. Aisyah memanggil pembantunya seraya berkata, “Makanlah.
Roti ini lebih baik daripada yang kau berikan kepada orang yang meminta
tadi.”

Maka jelas bahwa dalam kondisi sempit jika kita berani bersedekah,
kita pasti akan medapatkan balasannya. Tak perlu meragukan akan
rezeki Allah Swt. Sedekah merupakan hal kebaikan, dan kebaikan pasti
akan menular. Kita ketika berbuat baik kepada orang, sesungguhnya
kita sedang berbuat baik kepada diri sendiri. Karena lambat atau cepat,
pertolongan yang kita berikan kepada orang lain akan kembali pula
kepada kita.

Pengembalian apa yang sudah kita berikan kepada orang lain itu,
tak hanya akan kembali dalam bentuk materi, melainkan bisa berbentuk
macam-macam. Sedekah bisa juga kembali dalam berbagai bentuk

287

kebaikan lainnya, seperti tolak bala dan umur yang panjang. Rasulullah
Saw. bersabda, “Segeralah kamu bersedekah, karena bala bencana itu
tidak dapat mendahului sedekah.” [HR. Al Baihaqi].

Dan di lain waktu Rasulullah juga menegaskan akan hal sedekah ini
lagi. Bahwa, “Sesungguhnya sedekah seorang muslim itu memanjangkan
umur dan mencegah dari mati dalam keadaan buruk dan Allah Taala pula
menghapuskan sikap sombong dan membanggakan diri si penderma
dengan sebab sedekahnya.” [HR Thabrani].

288

Sedekah Kok Menunggu
Ikhlas

M endengar kata sedekah, biasanya yang terbayang adalah kata-
kata yang sangat terkenal: “Biar sedikit yang penting ikhlas!“.
Kalimat sakti yang selalu melindungi malasnya kita sedekah
ini sudah begitu mendarah daging dalam kehidupan kita sejak kita masih
duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Saya jadi teringat dengan bincang-
bincang ringan tentang sedekah antara saya dengan Bapak Riawan Amin
(mantan CEO Bank Muamalat) ditemani oleh Ustaz Fajrie (direktur
Muamalat Institute), Gunawan Paggaru (Sutradara) serta Embie C.Noer
(Tokoh Budaya) dalam obrolan santai sambil menikmati martabak telor
dan secangkir kopi di sore yang mendung setahun yang lalu.
Ketika itu Bapak Riawan Amin dan Ustaz Fajrie menyampaikan
pentingnya Sedekah dan betapa Sedekah bisa menjadi solusi untuk
mengatasi kemiskinan bangsa ini. Saat itu saya berkomentar bahwa
Sedekah adalah ibadah yang paling sulit dijalankan. “Karena pake syarat
sih Pak. Kudu ikhlas!” kata saya. “Padahal sudah jelas sedekah banyak-
banyak mah susah ikhlas nya. Nanti sudah keluar duit, gak dapat pahala
pula. Dobel ruginya” sambung saya lagi sambil cengar-cengir.
Komentar saya disambut Gunawan Paggaru “Benar pak. Kalau
sedekah 5000 sih ikhlas. 10.000 juga ikhlas. Tetapi begitu 100 ribu
lumayan geterrr juga pak” kami semua tertawa mendengarnya. Lalu
dengan santai Pak Riawan Amin bertanya “Yang bilang Sedekah Musti
Ikhlas itu siapa ?” Nah Loh! saya, Gunawan dan Embie kontan saling
pandang bingung kayak orang bego.

289

“Lagian, siapa yang bisa mengukur keihkhlasan seseorang?” sambung
Pak Riawan Amin lagi.

Dipikir-pikir benar juga. Yang berhak untuk menilai ikhlas gak ikhlas
itu kan hanya Allah. Lagipula sedekah itu kan sama dengan menolong
orang yang sedang membutuhkan. Artinya sedekah jelas merupakan
perbuatan yang punya nilai kebaikan. Dan yang namanya kebaikan pasti
ada pahalanya. Anggaplah saat bersedekah itu kita tidak ikhlas. Tetapi
kan sedekah yang kita berikan pasti tetap memberi manfaat bagi yang
menerimanya. Kalaupun sedekahnya tidak mendapat pahala karena tidak
ikhlas, kan masih ada cadangan amal ibadah karena sudah membantu
orang yang membutuhkan.

Misalnya kita cuma ikhlas memberi sedekah sebesar 10.000 perak.
Padahal kemampuan kita sebenarnya bisa memberi sedekah 500.000
perak. Ya sudah, kasih saja 500.000 perak. Yang 10.000 perak dapat pahala
karena ikhlas, yang 490.000 perak sisanya dapat pahala karena memberi
pertolongan yang bermanfaat. Tetep untung kan ? Itung-itungan sama
Allah? Boleh kok. Kan Allah sendiri yang membuka peluang umatnya
untuk itung-itungan dalam sedekah. Coba simak janji Allah berikut ini.

“Barang siapa berbuat kebaikan, mendapat balasan
sepuluh kali lipat
amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan,
dibalas seimbang dengan
kejahatannya” (QS. 6 Al An’am : 160)

Atau yang satu ini

“PerumpamaanorangyangmenginfaqkanhartanyadijalanAllahsepertisebutir
biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji…”
(QS. 2 Al-Baqarah : 261)

Jelas, Allah sendiri sudah menjanjikan kepada umatnya dengan
format itung-itungan yang jelas. Jadi gak masalah kalau kita mau
itung-itungan dengan Allah. Gak masalah juga kalau kita pamrih
kepada Allah. Yang gak boleh itu pamrih sama orang

Kalimat “Biar sedikit yang penting ikhlas” ternyata sudah menjebak
kita untuk menjadi umat yang egois. Bahkan saat sedekah pun kita masih

290

memikirkan diri sendiri. Biar sedikit, yang penting ikhlas dan kita dapat
pahala. Hanya pahala untuk kita yang kita pikirkan, bukannya kepentingan
orang yang kita beri sedekah. Padahal sedekah 500.000 perak jelas lebih
bermanfaat bagi si penerima ketimbang duit 10 ribu ! Cuma gara-gara
takut tidak dapat pahala kita malah batal menolong orang.

Padahal gak kurang-kurang Ustaz Yusuf Mansyur bercerita tentang
dahsyatnya sedekah lengkap dengan testimoni jamaahnya yang sudah
merasakan manfaat langsung dari sedekah. Pak Riawan Amin sendiri
menyampaikan salah satu rahasia sukses dirinya dalam menyelamatkan
Bank Muamalat adalah Sedekah. Bagaimana Bank yang dulu nyaris
bangkrut itu mampu bangkit bahkan mampu mencetak laba besar
setahun kemudian. Jika biasanya orang membayar sedekah disaat sudah
untung, Pak Riawan Amin justru “memaksa” Bank Muamalat untuk
membayar zakat disaat rugi.

“Allah menjanjikan minimal 10 kali lipat dari sedekah. Jadi kalau
tahun depan mau untung, ya bayar sedekah 10% dari target!” begitu
yang beliau sampaikan ketika itu. Dan kenyataannya memang Muamalat
berhasil bangkit.

Konsep ini menurut saya sangat menarik. Karena umumnya kita
memang selalu menyisihkan sedikit keuntungan kita untuk sedekah.
Kenapa tidak dibalik? Jadikan sedekah sebagai setoran awal. Jadi, jangan
tunggu punya duit baru sedekah. Justru sedekah supaya punya duit.

Jangan tunggu kaya baru sedekah. Justru sedakah supaya kaya.
Saya tidak akan menyampaikan apa saja manfaat sedekah. karena
saya yakin anda semua sudah tahu. Kan dari SD juga sudah diajarin oleh
guru agama kita disekolah.
Yang ingin saya sampaikan adalah, mari kita rubah kalimat “Biar
sedikit yang penting ikhlas” menjadi “Biar Gak Ikhlas yang penting
banyak !”

291


Click to View FlipBook Version