The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suharnowo67, 2022-06-14 02:41:17

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Bukankah itu suatu kemunduran? Apakah suatu kemunduran bisa
dikatakan sebagai suatu kemajuan. Pakaian seperti inilah yang sesuai
dengan kemajuan zaman, begitu kata perempuan itu. Penjelasan tersebut
membuat wartawan itu bungkam.

92

Repotnya Jadi Pedagang,
Salatnya Dibikin Gampang

K egiatan berdagang merupakan bagian dari bisnis. Seorang
pedagang mengambil selisih harga dari harga dari produser
dan konsumen. Selisihnya memang tidak selalu banyak, tetapi
jika terus-menerus untung yang didapatkan akan berlipat ganda dan
menumpuk. Inilah saat menyenangkan bagi seorang pedagang.

Pedagang akan merasakan bahagia saat dagangannya laris dan
untung banyak. Bagaimana tidak, terkadang kita melihat seorang
pedagang, baik dalam sekali kecil maupun besar, melihat dagangannya
laris, ia tak akan beranjak dari tokonya. Ia ingin menunggui sejauh mana
dagangnnya diminati dan laris.

Kalau sudah begini, urusan akhirat menjadi nomor ke sekian, dan
salat digampangkan. Digampangkan maksudnya diremehkan. Begitu
azan tidak langsung melaksanakan salat melainkan menunda-nunda
hingga akhir waktu salat dan tak jarang melewati waktu yang ditentukan.
Ia seolah lupa siapa yang telah memberinya rezeki sehingga ia dengan
enaknya meninggal salat.

Dalam kasus ini, kita perlu menyontoh masyarakat Arab Saudi yang
berjualan dan menyediakan oleh-oleh bagi orang-orang yang berhaji.
Para pedagang tersebut sangat taat dan tidak mementingkan urusan
duniawi. Ketika azan memanggil-manggil dari speaker Masjidilharam,
para padagang itu akan segera menutup tokonya dan bergegas ke
masjid untuk salat berjamaah. Bahkan pada saat ada calon pembeli yang
menawar pun, toko akan segera ditutup. Jika mau membeli akan dilayani
setelah salat berjamaah.

93

Para pedagang itu seolah tak khawatir kehilangan pembelinya. Dan
benarlah, calon pembeli akan kembali setelah salat bersama. Semua orang
berjualan barang-barang yang sama, tetapi semua dagangan itu pun laku
tanpa harus meninggalkan kewajiban mereka. Semestinya, kita pun bisa
berlaku demikian. Sulit, sangat sulit. Siapa yang ingin kehilangan rezeki
di saat ada calon pembeli yang menawar. Akan tetapi, jika kita terus-
menerus membiarkan diri kita melayani pembeli, bisa jadi selamanya kita
akan kehilangan salat kita.

Lebih berbahaya mana, antara menunda rezeki dan kehilangan salat?
Kita tentu memiliki menunda rezeki, tetapi bisikan-bisikan di telinga
kita seolah tak mau pergi. Bisikan itu terus menggema menghalangi
kita untuk salat berjamaah. Bisikan itu berupa menggampangkan atau
meremehkan salat. Jika kita meremehkan salat, bukan tidak mungkin
Alah juga akan meremehkan rezeki kita.

Allah Swt. telah memperingatkan orang-orang yang meremehkan
salat, “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari
mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena kafir kepada Allah dan
Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan salat, melainkan dengan malas
dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa
enggan.” [QS. At-Taubah: 54].

Maka jelaslah dengan ayat di atas, bahwa meremehkan salat menjadi
salah satu sebab rezeki tidak lancar. Memang yang terlihat adalah
dagangan laku, tetapi jika ditilik kembali, apakah rezeki pedagang itu
berkah? Apakah rezeki pedagang itu selalu meningkat? Seberapa lama
pedagang itu akan bertahan dengan caranya yang demikian. Tunggu saja,
akan ada saatnya ia akan jatuh.

Di ayat yang lain, Allah juga menunjukkan kekuasaannya dengan
mengelompokkan orang-orang yang meremehkan salat tidak ada bedanya
dengan orang munafik. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu
Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka
berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud
ria (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut
nama Allah kecuali sedikit sekali.” [An-Nisa : 142].

94

Repotnya Jadi Petani,
Salatnya Nanti

I ndonesia adalah negara agraris. Sebagian besar penduduknya masih
menggantungkan hidup dari ladang atau sawah. Apalagi pemerintah
saat ini mencanangkan program swasembada pangan, yang artinya di
berbagai wilayah di Indonesia akan sawah-sawah atau bahkan pembukaan
sawah baru demi memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia.

Dibukanya ladang baru menuntu adanya petani-petani yang mungkin
juga baru. Bagi petani, ladang adalah dunianya. Maka ketika sedang
dalam masa awal dan akhir bercocok tanam mereka akan disibukkan
dengan sawah mereka. Masa panen terutama, seluruh waktunya akan
habis di sawah karena inilah yang ditunggu-tunggu selama tiga bulan
masa tanam.

Dalam kondisi ini, petani yang sudah terjebur di ladangnya kadang
merasa enggan menunaikan ibadah salat sebab terlalu asyik menuai
panen. Dari pagi hingga siang bahkan sore hari, petani dengan senangnya
mengambil jerih payahnya, tetapi ia lupa bahwa ada kewajiban yang harus
ditunaikan. Letak sawah biasanya jauh dari masjid dan ketika sedang
asyik menyiangi padi namun terdengar azan zuhur, petani akan enggan
untuk membersihkan diri dan menjalankan salat dengan alasan jauh dan
'nanggung'.

Sementara di waktu sore hari ketika pulang dari Sawah, mereka
beralasan lelah karena seharian di tengah Sawah yang panas. Selepas
mandi kemudian mereka tiduran istirahat hingga waktu maghrib pun
lewat.

95

Sebenarnya, pekerja petani adalah pekerjaan mulia. Bagaimana tidak,
apa yang ditanamnya bisa menjadi sedekahnya baik sengaja maupun
tidak. Nabi Muhammad Saw. menjelaskan, “Tidaklah seorang muslim
menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman
itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut
sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi
melainkan menjadi sedekah baginya.” [HR. Muslim].

Jika tanamannya dimakan hewan atau yang biasa disebutnya sebagai
hama, sesungguhnya ia sedang bersedekah. Namun wajar jika para petani
juga mengusir hewan-hewan itu karena dapat mempengaruhi hasil pa-
nen. Hasil panen berkurang, pendapatan pun berkurang sehingga tidak
cukup untuk menafkah keluarganya.

Selain itu, apa yang ditanam oleh petani sangat bermanfaat dan
dibutuhkan oleh makhluk Allah Swt. Setiap orang mengonsumsi hasil-
hasil pertanian baik berupa sayuran, buah-buahan, biji-bijian, palawija
dan lain sebagainya. Dengan demikian, para petanilah yang menyediakan
apa yang kita makan sehari-hari. Belum lagi tanaman-tanaman yang bisa
dijadikan sebagai obat-obatan.

Pekerjaan sebagai petani sudah merupakan keniscayaan yang
digariskan oleh Allah Swt. Di mana pun wilayah geografisnya nyaris
selalu ada petani meski jenis tanaman yang ditanam berbeda-beda. Hal
ini menyesuaikan dengan kontur tanah dan musik suatu wilayah. Di
sinilah Allah menunjukkan kekuasannya kepada kita.

Allah Swt. bersabda, “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari
langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-
tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman
yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu biji-
bijian yang banyak, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai
yang menjulai dan kebun-kebun anggur dan (Kami keluarkan pula) zaitun
dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya
di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pula) kematangannya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Alloh) bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Al An’am: 99].

96

Tak hanya keniscayaan dalam bertani, bahkan perkembangan ta-
naman pun dijelaskan dalam ayat di atas. Hal ini menandakan bahwa
pekerjaan petani bukanlah pekerjaan instan atau bulanan yang bisa dita-
rik manfaatnya. Ada proses yang cukup panjang, dari mulai biji, menjadi
tangkai, dan berbuah. Waktunya pun tidak singkat.

Dari pekerjaan yang mulia ini, sangat disayangkan jika kita
menghinakan diri dengan meninggalkan kewajiban sebagai seorang
muslim, yaitu beribadah. Sesibuk apa pun, semelimpah apa pun seorang
petani, sebermanfaat sebersar apa pun hasil pertaniannya, tidak akan
mengugurkan kewajiban salat. Dan bagi petani yang demikian, Allah
Swt. telah mengancam dengan QS. Al Waqi’ah ayat 64, “Kamukah yang
menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? Kalau Kami
kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering.”

97

Smartphone Penuh Media
Sosial, Aplikasi Alquran

Cuma Jadi Pajangan

S martphone telah gaya hidup saat ini. Siapa yang tidak memilikinya?
Setiap orang pasti memilikinya. Beragam merek dan harga yang
variatif terus menggoda manusia modern seperti kita ini agar
menggunakannya. Seperti yang kita tahu, banyak manfaat dari barang
mungil segenggaman ini. Baik untuk komunikasi, mencari informasi
hingga menyelesaikan pekerjaan bisa dengan telepon pintar ini.

Smartphone yang canggih ini memungkinkan untuk multitasking.
Bagaimana tidak, seluruh aktivitas dalam kita lakukan dalam waktu yang
bersamaan. Kita bisa mengirim SMS, telepon, bersosial media dan lain
sebagainya. Dari sekian banyak aplikasi di smartphone, kita tahu media
sosial sangat mendominasi hingga kini. Cobalah tengok, smartphone siapa
yang tidak ada media sosialnya. Baik itu Facebook, Twitter, Instagram,
Path, dan lain sebagainya.

Media sosial yang banyak itu nyaris seluruhnya ada dalam satu
smartphone. Nyaris notifikasi yang masuk ke smartphone dari media
sosial, sehingga pemilik telepon genggam ini terlalu sibuk karena bunyi-
bunyi notifikasi. Sementara aplikasi-aplikasi lainnya seolah menjadi
hiasan saja.

Aplikasi hiasan itu misalnya aplikasi dari media koran daring,
Alquran dan lain sebagainya. Alih-alih ingin membacanya ketika
senggang, handphone terus berbunyi karena notifikasi dari media sosial.
Sebab, aplikasi hiasan tersebut tidak memberikan notifikasi apa pun. Jadi

98

karena sibuk bermedia sosial, kita jadi lupa menyentuh aplikasi-aplikasi
yang sebenarnya sangat penting bagi kita baik dalam kehidupan offline
sosial dan beragama.

Mestinya smartphone ini bisa kita maksimalkan perannya dengan
aplikasi-aplikasi yang dapat mengingatkan kita dari maksiat dan dalam
rangka meningkatkan keimanan kita. Membaca Alquran adalah salah
satunya. Tentu saja ini sangat membantu kita. Menyentuh smartphone
tidak perlu wudu, sehingga kita bisa membaca Alquran kapan saja di
mana saja.

Selain itu, kita tidak perlu membawa-bawa mushaf Alquran yang
terkadang bisa mendekatkan kita ke arah pamer. Selain membaca, aplikasi
Alquran biasanya juga menyertakan muratal. Jadi ketika kita kelelahan
dan tidak konsetrasi dalam membaca, kita bisa menyetel muratal MP3.
hal ini tentu lebih baik daripada kita mendengarkan atau menonton
berbagai tayangan yang tidak jelas.

Adanya Alquran di smartphone merupakan langkah yang perlu
diapresiasi. Hal ini bisa mengerem atau menyeimbangkan kita dari
perilaku yang mungkin melenceng di media sosial. Sebab, Alquran
merupakan petunjuk bagi manusia.

Akan tetapi, tidak pernah membukanya merupakan tindakan
melupakan atau mengabaikan Alquran. Sebenarnya, hal ini sudah
diprediksi dalam Alquran surat Taha ayat 126, “Dia (Allah) berfirman:
‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu
mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.”

Jika hal ini berlaku secara terus menerus, bukan hal yang tidak
mungkin hati kita akan tertutup. Hati yang lalai dari Alquran akan
secara perlahan akan mengeras dan sulit dimasuki oleh ayat-ayat Allah.
Apalagi di dunia maya yang dalam smartphone banyak informasi yang
bisa menyesatkan kita. Jika demikian berarti hatinya sudah mengeras,
bahkan bisa lebih keras daripada batu sekalipun.

Allah Swt. berfirman, “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang
yang beriman, untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi
kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka

99

(berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu,
kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka
menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang yang
fasik.” [QS. Al Hadid: 16].

Maka jelaslah, dari ayat di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa
memiliki aplikasi Alquran di smartphone tetapi tidak pernah membukanya,
bahkan hanya untuk update aplikasi saja tidak, hal bisa membuat hati
kita mengeras karena terlalu memperhatikan tulisan-tulisan lain yang
tersebar di di media sosial daripada ayat-ayat Allah. Keras hati ini
kemudian menjadikan kita sebagai orang yang fasik.

100

Bicara yang Baik
Atau Diam

D i era demokrasi, setiap orang merasa berhak untuk berbicara
apa saja. Jika ada yang memperingatkan untuk tidak bicara
sembarangan, orang kemudian menuduh bahwa yang
memperingatkan telah melanggarkan HAM. Sementara dengan bicara
tidak, seseorang bisa jadi merugikan orang lain atau justru menindas
hak orang lain. Misalnya, seseorang memaki-maki seorang pemimpin
yang memiliki program yang tidak sesuai dengan harapannya. Peristiwa
semacam ini berseliweran di media sosial.

Umpatan, caci maki, bullying, ejekan dan lain sebagainya, setiap hari
kita temui. Tak hanya di media sosial, dalam kehidupan sehari-hari, hal
ini pun kerap kita dengar. Bahkan dalam kelompok tertentu, makian
seolah telah menjadi tanda keakraban. Begitu bertemu mereka saling
memaki, dan pada obrolan selanjutnya, caci maki baik yang ditujuan
kepada temannya itu atau orang yang sedang diceritakan, menghiasi
sepanjang pertemuan mereka.

Selain makian, dilain kesempatan kita juga kerap menemui aksi
bullying, yaitu aksi menyerang dengan kalimat-kalimat verbal bahkan
dengan kekuatan fisik sebagai upaya mengintidasi korban. Aksi ini
kadang dilakukan sendirian dan cenderung beramai-ramai. Aksi tak
menyenangkan ini tentu saja menyakitkan hati korban meski dengan
maksud bercanda.

Bercanda dengan menggunakan teknik bullying tentu sudah
kelewatan, apalagi dalam aksi tersebut tidak ada kalimat-kalimat yang
baik sekalipun. Sementara kita tahu bahwa mulut bisa menjerumuskan

101

kita pada hal-hal buruk, bahkan peperangan sekalipun. “Mulutmu
harimaumu” begitu kata pepatah. Artinya, mulut itu bisa menerkam siapa
saja yang diinginkan dengan kalimat-kalimat verbal, dan mulut lawan
juga bisa berlaku demikian. Mereka akan saling menikam satu sama lain.
Perang mulut tidak cukup, kemudian bisa berlanjut dengan perang fisik.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib pernah memperingatkan bah-
wa, ”Seseorang mati karena tersandung lidahnya, dan seseorang tidak
mati karena tersandung kakinya. Tersandung mulutnya akan menambah
(pening) kepalanya, sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”

Maksud dari perkataan Ali di atas bahwa luka yang diakibatkan oleh
kaki tersandung akan mudah diobati karena luka itu terlihat. Sementara
luka yang tidak terlihat yang diakibatkan dari pembicaraan yang tidak
baik akan sulit diobati. Dan luka hati tersebut akan terus dibawa hingga
mati, hingga ke akhirat nanti.

Apa yang diucapkan oleh mulut juga akan dimintakan pertanggung-
jawabannya di akhirat kelak. Jika mulut kita sering digunakan untuk ke-
baikan, maka selamatlah kita, namun jika sebaliknya, maka neraka me-
nanti kita dan mulut akan menjadi sasaran utama penyiksaan.

Nabi Saw. pun berani menjamin bagi manusia yang bisa menjaga
mulutnya, “Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk
menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya,
kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.” [HR. Bukhori].

“Sesuatu yang ada di antara dua janggutnya” itu adalah mulut, se-
dangkan “sesuatu yang ada di antara dua kakinya” adalah kemaluan. Ke-
duanya sama besar potensi buruknya dan bisa menjermuskan kita dalam
kenistaan di dunia maupun akhirat.

Oleh sebab itu, Rasulullah Saw. memerintahkan kita untuk berkata
yang baik, atau diam saja. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”
[Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari dan Muslim].

Imam Ibbnu Hajar menjelaskan hadis di atas dalam kitabnya Al-Fath,
bahwa hadis tersebut meskipun pendek sesunguh memiliki makna yang

102

dalam, yaitu semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau
salah satu di antara keduanya. Perkataan baik merupakan perkataan yang
wajib atau sunah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan diungkapkan
sebagaimana apa yang terkandung di dalamnya. Sebaiknya tidak
ditambah-tambahkan atau dikurangi, kecuali untuk memberikan contoh
agar perkataan tersebut mudah dipahami. Seluruh keterangan yang
menyertai perkataan ini bisa dikatakan sebagai perkataan yang baik.

Sementara perkataan yang berlawanan berarti tergolong perkataan
buruk atau cenderung mengarah kepada keburukan. Orang yang berkata
demikian bisa diibaratkan terjebak dalam lubang yang digalinya sendiri.
Keburukan ada dalam setiap diri manusia dan itu merupakan lubang, dan
jika kita berkata buruk maka kita masuk ke dalamnya. Oleh karena itu,
orang yang terseret masuk dalam lubangnya hendaklah diam. Itu akan
menjadi pilihan yang terbaik.

Atau kita bisa memilih apa yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam
Syarah Arbain, ““Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia
berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak
merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada
mudaratnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Berpikir sebelum berbicara adalah tindakan terbaik kita dalam ber-
interaksi dengan siapa saja. Kalimat-kalimat yang dipikirkan sebelum ke-
luar selain aman bagi kita, juga akan terlihat bijaksana.

103

Mengunjungi Tempat Indah
Terus, Kapan Mengunjungi

Masjid?

T ren saat ini adalah mengunjungi tempat-tempat indah di
berbagai tempat atau biasa kita sebut dengan traveling. Apalagi
didukung oleh teknologi modern yang dengan mudah bisa
mendokumentasinya lalu mempostingnya di media sosial sehingga
bisa dilihat banyak orang bahwa ia telah pergi ke suatu tempat. Hal ini
menjadi kebanggan tersendiri bagi seseorang.

Hal semacam ini menjadikan orang-orang berlomba-lomba mencari
atau mendatangi tempat-tempat terbaru sehingga dianggap yang lebih
dulu sampai di suatu tempat yang terkesan bagus. Yang diinginkan dari
kegiatan ini adalah pujian dan tanda jempol dari orang-orang yang meli-
hat foto-foto mereka di tempat tujuan.

Akan tetapi, kunjungan ke tempat indah itu berbanding lurus dengan
kunjungan mereka ke masjid. Padahal kelak, sebelum mereka di antara ke
kubur, mereka akan disalatkan di masjid. Mereka tidak akan disalatkan di
tempat-tempat indah yang mereka kunjungi, tetapi di masjid yang jarang
mereka kunjungi. Tentu saja hal ini sangat ironis.

Terlebih lagi jika ada kecerobohan dalam kunjungan tersebut.
Sempat menjadi perbincangan di berbagai media ada seorang pemuda
yang meninggal dunia ketika sedang mendaki gunung, karena tidak hati-
hati, pemuda itu kemudian tergelincir dan jatuh ka kawah dan ditemukan
meninggal. Penyebabnya sangat sederhana, yaitu ia ingin berfoto di
tempat yang menantang dan berbahaya agar ketika foto itu diposting

104

akan mendapatkan banyak pujian. Namun nahas, ia lebih dulu jatuh ke
kawah bahkan sebelum melihat hasil fotonya.

Peristiwa itu jelas merupakan kecerobohan, dan terutama lagi karena
tidak hati-hati dan dengan tujuan ingin pamer. Perlu kita ketahui bahwa
alam semesta ini memiliki kekuatan yang luar biasa atas kehendak Allah,
dan jika kita berada di alam bebas sebaiknya banyak bertawakal kepada
Allah sebab bahaya bisa saja mengintai kita kapan saja.

Peristiwa lainnya yang juga gempar di berbagai media adalah wisata
bunga. Beberapa berkunjung ke kebun bunga, demi mendapatkan hasil
jepretan yang bagus, ia rela menginjak-injak kebun bunga itu, yang pa-
dahal hanya berbunga sekali dalam setahun. Kebun itu pun mengalami
nasib buruk. Sebagian besar bunga terinjak dan hancur.

Meski demikian, beberapa perempuan itu tetap bangga mendapatkan
gambar yang dianggapnya bagus dan kemudian mempostingnya di media
sosial. Alih-alih ingin mencari pujian, perempuan tersebut justru menuai
ejekan dan bullying oleh pengguna media sosial lainnya.

Pada kesempatan yang beda, ada juga sebagian orang yang kerap
ke tempat-tempat religius tetapi dengan maksud hanya wisata. Namun
untuk beribadah tidak begitu jelas. Pembuktiannya cukup mudah,
apakah ia akan banyak berfoto dan membagikannya di media sosial atau
tidak. Tentu saja tidak ada larangan melakukan hal ini, tetapi tidak etis
mengumumkan ibadah di ruang publik virtual.

Peristiwa seperti berbagai ilustrasi di atas merupakan kepentingan
ego manusia yang ingin pamer dan dilihat orang lain. Dan kita tahu
bahwa pamer atau ria bisa mengurangi keutaman berbagai amalan kita.
Ya tadinya amalan kita telah sempurna namun dihancurkan oleh foto-
foto yang tidak bermanfaat yang kita posting di media sosial. Biar orang
lain tahu kita di mana, orang lain tahu kita sudah sukses, orang lain tahu
bahwa kita sedang beribadah.

Jika ibadah itu tetap disembunyikan tentu kita bisa tetap menjaga
kesempurnaannya. Sementara foto-foto yang kita ambil di tempat-
tempat tersebut hanya sebagai dokumentai keluar, untuk memberikan

105

contoh kepada anak cucu bahwa dulu orang tua mereka melakukan
perjalanan ibadah.

Jika kita belajar pada orang-orang saleh, tidak pernah kita dengar
mereka melakukan perjalanan wisata, baik ke tempat-tempat yang
religius, maupun menjemput keindahan alam. Nabi Muhammad Saw.
bersabda, “Sesunguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan
Allah.” [HR. Abu Daud].

Dari sabda Nabi Saw. di atas kita mengetahui bahwa wisata yang
dimaksud adalah dengan tujuan mulia. Salah satunya adalah beriktibar
pada tempat-tempat di mana Allah Swt. menciptakan tempat yang indah.
Bukan sekadar berfoto atau bersuka ria.

Hal ini juga terkait dengan firman Allah, “Katakanlah: Berjalanlah di
muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang
yang mendustakan itu.” [QS. Al-An’am: 11]. Atau dalam ayat lain, “Kata-
kanlah: Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana
akibat orang-orang yang berdosa.” [QS. An-Naml: 69].

106

Luangkan Waktu Untuk
Ibadah, Bukan Ibadah di

Waktu Luang

M eluangkan waktu untuk Allah Swt. Kalimat ini agak terasa
aneh sebenarnya. Bisa kita ilustrasikan begini, kita adalah
rakyat Indonesia. Suatu kali kita memiliki kebutuhan yang tak
bisa kita penuhi sendiri sehingga membutuhkan bantuan presiden. Nah,
saat kita butuh, kok bukan kita yang mendatangi presiden, melainkan
presiden yang memberikan bantuan kepada kita saat kita punya waktu
luang. Padahal jelas bahwa presiden lebih sibuk daripada kita.
Logika meluangkan waktu untuk Allah Swt. memang terkesan ganjil,
namun justru di sinilah Pencipta kita menunjukkan bagaimana kasih
dan sayangnya kepada makhluknya. Jika Allah demikian baik kepada
makhluknya, lalu bagaimana sikap kita kepada-Nya? Apakah meluangkan
waktu saja begitu berat atas semua nikmati yang telah kita terima selama
ini dan bahkan nanti? Apakah kita masih perlu menunggu waktu luang
beribadah, sedang Allah tak henti-henti memberikan nikmat kepada
kita? Coba bayangkan jika Allah Swt. menghentikan pasokan udara di
bumi. Apa yang terjadi?
Apakah kita tidak malu dan masih enggan meluangkan waktu
untuk Allah Swt.? Hal ni merupakan amalan yang sangat penting untuk
mendapatkan ridanya. Rida Allah Swt. dibutuhkan oleh semuan makhluk
dalam pelbagai aktivitas. Sebab, tanpa rida-Nya, suatu hal mustahil
terjadi. Bagi kita yang ingin dianugerahi kekayaan dan terhindar dari

107

kemelaratan, salah satu jalannya adalah dengan meluangkan waktu
untuk Allah, yaitu dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Nabi Muhammad Saw. bersabda bahwa dalam hadis qudsi, Allah Swt.
bersabda, “Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku,
niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan
kamu dari kemelaratan. Kalau tidak, Aku penuhi tanganmu dengan
kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan.”
[HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Sementara itu dengan jelas dalam Alquran, Allah Swt. berfirman,
“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak
menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah,
Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat
kokoh.” [QS. Adz-Dzariaat: 57-58].

Dari ayat di atas, Allah Swt. menunjukkan bahwa Dia tidak
membutuhkan apa pun dari hamba-Nya, bahkan ketika Allah
memerintahkan seluruh makhluk ciptaan-Nya untuk beribadah kepada-
Nya. Melainkan sebaliknya, Allah Swt. memberikan apa yang dibutuhkan
oleh hamba-Nya. Oleh sebab itu, meluangkan waktu bagi Sang Pencipta
adalah tindakan bijak dan saleh.

Apakah meluangkan waktu untuk Allah Swt. mengharuskan kita
untuk beribadah siang dan malam, sehingga tak ada waktu untuk
pekerjaan lainnya? Tentu saja tidak demikian. Sebab selain kewajiban
ibadah ada kewajiban lainnya yang harus kita tunaikan. Bahkan, ibadah
kepada Allah Swt. tak akan sempurna jika kita melalaikan kewajiban
lainnya.

Maksud dari meluangkan waktu di sini adalah kita bersedia membagi
waktu yang kita punya dalam keseharian kita untuk beribadah beberapa
menit, dan tidak dihabiskan untuk bekerja yang orientasinya adalah
duniawi. Ketika panggilan beribadah diserukan, salat wajib misalnya,
bergegas untuk ke masjid, menghadap- Nya.

Amalan inilah yang mestinya dilakukan oleh siapa saja, tak pandang
kelas sosial, jabatan, tingkat pendidikan dan lain sebagainya. Ketika kita
meluangkan waktu untuk Allah Swt. sebenarnya sangat bermanfaat bagi

108

diri kita sendiri, yaitu salah satunya mengurangi waktu untuk bermaksiat.
Semakin banyak waktu kita untuk Allah Swt., semakin banyak pula
maksiat yang berhasil kita hindari.

Dengan demikian, kehidupan suatu kaum akan tenteram dan aman.
Tidak ada korupsi, tidak ada kejahatan, apalagi menimbulkan kematian.
Kehidupan akan berjalan damai dan saling menghormati serta rukun.
Hal ini bukanlah angan-angan semata. Hal benar-benar terjadi pada sua-
tu keluarga yang bahagia dan damai.

Ada seorang takmir masjid yang bercerita, dulu ketika masih
berstatus sebagai mahasiswa, takmir itu kerap mendapati seorang laki-
laki yang rutin ke masjid yang diurusnya itu. Terlebih ketika salat lima
waktu. Nyaris selalu ikut berjamaah setiap hari. Dan jika datang waktu
Maghrib, ia tidak akan langsung pulang, melainkan menunggu sampai
Isya datang dan kemudian berjamaah. Dalam waktu menunggu itu, ia
manfaatkan dengan berzikir dan membaca Alquran.

Lelaki itu melakukannya dengan begitu konsisten selama bertahun-
tahun. Sungguh, sangat luar biasa. Setiap hari di lima waktu yang sudah
diwajibkan ia pergi ke masjid, bahkan iktikaf dalam waktu yang tidak
singkat.

Sampai akhirnya takmir masjid itu lulus kuliah dan suatu kali ia
berkunjung ke masjid yang banyak berjasa padanya itu, ia menemukan
lelaki yang sama, yang bertahun-tahun dulu ia lihat kerap berjamaah.
Lelaki saleh itu masih istiqamah dalam meluangkan waktunya untuk
Allah Swt.

Lalu apakah dia tidak punya pekerjaan sehingga ia kerap pergi ke
masjid? Tentu saja tidak, sebagai muslim sejati ia sadar harus menafkahi
keluraganya, istri dan anaknya. Ia bekerja di luar lima waktu yang sudah
diwajibkan kepada-Nya. Bisakah kita berpikir bahwa lima waktu salat
seperti halnya pekerjaan pokok, sementara pekerjaan lainnya adalah
freelance? Hanya orang-orang dengan tingkat keimanan dan ketaqwaan
seperti waliyullah yang bisa melakukannya.

Karena lama tidak bertemua, lelaki saleh itu menawarkan kepada
takmir masjid untuk bertandang ke rumahnya. Tawaran itu disambut

109

gembira. Barulah ia tahu bagaimana kondisi sesungguhnya rumah
lelaki saleh itu, “Betapa damai dan membahagiakan.” Katanya sembari
menutup ceritanya.

Berkaca dari cerita di atas, bagi kita yang menginginkan hidup damai,
bahagia, tidak kekurangan dan jauh dari kemelaratan, amalan ini bisa
dilakukan. Apakah berat? Tentu saja berat, tetapi akan terwujud jika kita
bekerja keras mewujudkannya. Seperti halnya kita yang awalnya miskin
kemudian memiliki berbagai macam barang. Dari mana kalau tidak kerja
keras? Begitu pula untuk bisa mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan
dari Allah Swt.

Akan tetapi, dibutuhkan keikhlasan ketika mengamalkan ini,
diniatkan benar-benar ikhlas beribadah karena Allah Swt. Bukan karena
harta atau kekayaan. Tak perlu lagi karena hal ini sudah menjadi janji dan
kekuasaan-Nya.

110

Ayam Berkokok Menjawab
Azan Subuh, Kamu?

A lam semesta memiliki ritmenya sendiri. Ada waktu di burung-
burung akan kembali ke sarang, ada waktu ayam kembali ke
kandangnya, dan waktu singa berburu, ada waktu hewan-hewan
berhijrah dan lain sebagainya. Hal itu seolah-olah berjalan tanpa ada
yang mengendalikan, berjalan otomatis. Padahal kita tahu, hewan tidak
berpikir hingga dunia hewan tidak bisa berkembang. Dari dilahirkan
telanjang, sampai mati pun hewan akan tetap telanjang. Pekerjaan
mereka hanya mencari makan dan berkembang biak.

Meski mereka tidak berakal, mereka mengetahui tanda-tanda alam.
Hewan bisa merasakan kapan akan ada bencana dan lain sebagainya.
Sementara manusia, hanya sedikit saja yang bisa merasakannya, meski
tidak bisa memastikan kapan sebuah bencana akan terjadi karena hal itu
merupakan rahasia Allah Swt. Hal ini disebabkan karena manusia banyak
melakukan maksiat dan menjauh dari alam. Hutan ditebangi, sungai
dipenuhi sampah, membuang limbah sembarangan dan lain sebagainya.
Tidak heran jika kemudian tidak punya kepekaan kepada alam dan
kemudian alan menghukum manusia yang bersumber dari ketidakpekaan
itu.

Hanya mereka yang dekat dengan alam bisa merasakan tanda-tanda
alam, bahkan tanda-tanda pergantian waktu dalam setiap hari. Seperti
ayam jantan, misalnya. Ketika azan maghrib mereka pulang kandang, dan
ketika azan subuh mereka pun bangun, seperti ayam jago yang berkokok
menyahut suara azan dari masjid.

111

Al-Hafidz Ibn Hajar dalam kitab Fathul Bari mengatakan, bahwa ayam
jantan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki binatang lain, yaitu
mengetahui perubahan waktu di malam hari. Dia berkokok di waktu yang
tepat dan tidak pernah ketinggalan. Dia berkokok sebelum subuh dan
sesudah subuh, hampir tidak pernah meleset. Baik malamnya panjang
atau pendek. Karena itulah, sebagian Syafi’iyah memfatwakan untuk
mengacu kepada ayam jantan yang sudah terbukti, dalam menentukan
waktu.

Jika ayam jantan saja bangun ketika sebelum subuh, bagaimana
dengan kita? Kita yang berakal, kita memiliki kesempurnaan sebagai
makhluk, tetapi malah malas-malasan untuk bangun subuh. Mestinya
kitalah yang membangun ayam, bukan sebaliknya. Apakah kita tidak
malu pada ayam jantan yang tak pernah sekalipun telat berkokok?

Padahal jika kita bangun, pahala yang sangat besar menanti kita.
Sebagaimana Aisyah r.a. meriwayatkan dari Nabi Saw., beliau bersabda
“Dua rakaat (sebelum) fajar (salat subuh) lebih baik (nilainya) dari dunia
dan seisinya.” [HR. Muslim dan Tirmidzi].

Selain itu pembagian rezeki juga pagi-pagi ketika subuh datang.
Ketika kita masih dalam kondisi tertidur, tentu saja akan terlewatkan
dari rezeki itu. Termasuk juga rezeki berupa udara sehat yang bisa
menyehatkan tubuh kita. Dengan sekian banyak keistimewaan bangun
pagi, apakah kita masih akan menolaknya?

Mendengar ayam jago ini berkokok sebaiknya kita bergegas untuk
bangun dan melaksanakan salat subuh. Oleh karena itu Nabi Muhammad
Saw. melarang kita untuk mencela, membenci dan mengusir ayam jantan
berkokok. Beliau bersabda, “Janganlah mencela ayam jago, karena dia
membangunkan (orang) untuk salat.” [HR. Ahmad].

Selain bermanfaat untuk mengetahui waktu, kokok ayam jantan
ini juga memiliki faedah lainnya. Ayam ini bisa merasakan kehadiran
malaikat. Dan ketika kita mendengar ayam itu berkokok, sebaiknya kita
memanjatkan doa. Doa apa saja, dan berharap malaikat akan mengamini
doa-doa kita sehingga dikabulkan oleh Allah Swt.

112

Abu Hurairah menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda,
“Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia Allah
(berdoalah), karena dia melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar
ringkihankeledai, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan, karena
dia melihat setan.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Sementara menurut Imam Ahmad, ada waktu tertentu kokok ayam
jantan sebagai tanda malaikat datang, yaitu pada malam hari. “Apabila
kalian mendengar ayam berkokok di malam hari, sesungguhnya dia meli-
hat Malaikat. Karena itu, mintalah kepada Allah karunia-Nya.” [HR. Ah-
mad].

113

Dipanggil Gebetan Langsung
Datang, Dipanggil Allah
Entar-entar

P unya gebetan atau incaran yang akan dijadikan pacar atau pasangan
hidup tentu menyenangkan hati. Tentu saja gebetan itu adalah
orang sudah kita pilih dari jutaan orang yang ada. Karena ia pilihan
maka ia menjadi istimewa di hati kita. Bahkan kita rela melakukan apa
saja demi menyenangkannya dan berharap ia juga memiliki perasaan
yang sama dengan kita, sehingga jika waktunya tiba kita menyatakan
perasaan, gebetan kita itu bersedia menerima kita.

Begitu perhatiannya kita terhadap gebetan. Ketika jam makan kita
mengingatkanya untuk makan, waktunya salat kita mengingatkannya,
waktu istirahat kita mengingatkannya, bahkan ketika bangun tidur
pun kita menyapanya. Dunia serasa hanya ada dia, yang lain entahlah,
mungkin hanya iklan.

Apa yang diingikan oleh gebetan, kita pasti berusaha untuk
memenuhi. Begitu ditelepon untuk membantu atau mengantarnya ke
suatu tempat, tanpa pikir panjang kita segera memenuhi undangannya
itu. Tidak perduli sedang sibuk, kita akan mencari-cari alasan agar bisa
lekas menjemputnya. Tak hanya itu, kita bahkan akan bersolek, berhias,
memakai wewangian agar tak membuat malu gebetan kita.

Begitulah jika kita mendapatkan undangan dari gebetan. Lalu
bagaimana jika Allah Swt. yang mengundang? Sehari lima kali kita
dipanggil-panggil untuk bertemu dengannya, tetapi apakah secepat
itu kita akan datang? Apakah kita akan memakai pakaian terbaik dan

114

wewangian untuk menemui-Nya? Ah, rasa-rasanya kok masih jauh dari
semua pertanyaan itu.

Jangankan wewangian, pakaian saja terkadang seadanya. Jangankan
secepat mungkin memenuhi panggilan azan, mendengarnya saja kadang
kita lebih memilik tidur. Jangankan di awal waktu, kadang saja masih
bolong-bolong salatnya. Jangankan berjamaah, sendirian saja salatnya
secepat kilat. Tidak malukah kita kepada Allah? Setiap detik kita
mendapatkan minatnya, tetapi dipanggil saja kita tak memenuhinya,
atau bahkan menoleh saja kita tidak mau?

Mari kita berpikir ulang. Panggilan pertama dari gebetan, memiliki
kencederungan kepada penggilan maksiat. Bagaimanapun gebetan
adalah orang kita pilih untuk kita nikahi kelak. Maka jelas, gebetan bukan
muhrim dan ketika kita mendatanginya berarti kita sedang menuju
maksiat. Sementara panggilan kedua adalah panggilan dari Allah Swt.
untuk menunaikan salat, undangan untuk berkencan dengan Allah Swt.,
undangan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang setiap hari kita
lakukan.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Bagaimana pendapatmu jika ada
sungai di depan pintu rumah di antaramu, mandi di sana lima kali sehari,
apakah masih ada daki di tubuhnya?” Mereka menjawab, “Tidak ada, ya
Rasulallah.” Sabda Nabi, “Itulah perumpamaan salat lima waktu, Allah
menghapus kesalahan dengan salat.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Begitulah Nabi Muhammad Saw. mengumpamakan salat dengan
mandi sehari lima kali. Selain manfaat kebersihan hati dan fisik karena
berwudu, salat lima waktu juga melatih kita untuk disiplin. Baik disiplin
waktu maupun disiplin berpakaian. Tidak mungkin kita menghadap Allah
Swt. dengan pakaian compang-camping, paling minimal adalah standar
pakaian sopan. Hal ini berarti melatih kita berdisiplin berpakaian. Dan
terlebih lagi bagi muslimah, akan berganti dengan mukena.

Panggilan Allah Swt. kepada hamba-Nya ada tiga. Panggilan azan
atau menunaikan salat adalah panggilan pertama. Dan jika panggilan
pertama saja kita sulit untuk mendisplinkannya, bagaimana kita akan

115

memenuhi panggilan kedua dan ketiga, yaitu panggilan ke Baitullah dan
panggilan akhir menghadap Allah Swt.

Untuk bisa memenuhi panggilan kedua dengan sempurna, kita
mesti menyempurnakan panggilan pertama lebih dahulu. Jangan
sampai kebiasaan kita yang enggan memenuhi panggilan pertama
akan terulang ketika kita dalam kondisi memenuhi panggilan kedua di
Baitullah. Sementara di sana adalah tempat paling mustajab untuk kita
memanjatkan doa-doa. Kalau panggilan pertama tidak sempurna atau
mendekati sempurna, apakah doa-doa kita mustajab juga? Seandainya
Allah Swt. tidak luas kasih dan sayangnya kepada hamba-Nya, tentu
tidak mungkin doa-doa kita akan mustajab. Tetapi dengan rohman dan
rohimnya, Allah Swt. mungkin tetap menjadi permohonan kita. Jangan
sampai hal ini menghalangi kita untuk menjadi haji yang mabrur.

Lalu bagaimana dengan panggilan selanjutnya, panggilan kematian?
Apa yang kita banggakan jika panggilan-panggilan sebelumnya tidak
mampu kita penuh, dengan apa kita akan menghadapi kehidupan di
alam barzakh yang merupakan pintu pertama balasan atas semua amal
kita di dunia. Panggilan pertama dan kedua bisa menemani kita di alam
bawah tanah, akan tetapi sebaliknya, panggilan-panggilan yang tidak
kita penuhi justru akan menghakimi kita, baik di alam barzakh maupun
akhirat nanti.

Tidak Harus dia, yang Penting Dia

Ada tiga rahasia Allah Swt. yang tidak bisa diprediksi atau ditebak oleh
siapa pun, bahkan Nabi Muhammad sekalipun, yaitu jodoh, rezeki dan
kematian. Dalam hal ini jodoh akan kita bahas lebih lanjut.

Gebetan seperti yang dibahas sebelumnya adalah calon jodoh yang
kita pilih. Tetapi apakah kita bisa memastikan bahwa gebetan kita itu
akan menjadi jodoh kita? Kalau memang tidak bisa memastikan, maka
kita tak perlu mengatakan, “Tak ada yang bisa memisahkan kita,” atau
“Aku tak akan menikah selain dengan engkau.”

Contoh kalimat-kalimat itu adalah kalimat gombal yang tidak perlu
dipercaya. Bukan berarti kita meragukan kesungguhannya, tetapi hal itu

116

di luar kuasa kita. Kita tak bisa memaksakan kehendak apa yang sudah
menjadi rahasia Allah Swt. Jika kita beranggapan bahwa dia adalah orang
terbaik yang bisa menjadi pendamping hidup kita, belum itu terbaik bagi
Allah untuk kita.

Sebab Allah Swt. yang menciptakan kita, maka Dia pula yang
mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Maka, dalam persoalan jodoh,
yang terpenting bukan dia, tetapi Dia. Kita ikhlaskan jodoh yang
diberikan oleh Allah Swt. Jika kita menikah karena Allah, justru kita
akan mendapat keberkahan dan mampu membina keluarga yang sakinah,
mawadah, warohmah. Tetapi jika sebaliknya, Allah Swt. tidak merestui
jodoh pilihan kita, bisa jadi akan berakhir buruk.

Salah satu tanda Allah merestui adalah restu dari orang tua. Rida-
Nya Allah tergantung pada ridanya kedua orang tua. Maka dalam memilih
jodoh, kita perlu mempertimbangkan dan meminta saran dari orang tua.
Terkadang orang tua tidak mengetahui calon pilihan kita karena kita
bertemu dengannya di perantauan, namun kita bisa bercerita dengan
jujur tentang pilihan kita itu, atau bahkan mempertemukannya dengan
orang tua, sehingga orang tua mengetahui apa dan bagaimana pilihan
kita tersebut.

Jika orang tua merestui, legalah kita. Jika orang tua belum merestui,
kita perlu memberikan penjelasan yang lebih panjang. Jika perlu biarkan
orang tua bercakap-cakap dengan calon kita. Bagaimanapun kelak calon
kita akan berinteraksi dengan orang tua kita, jika dalam percakapan itu
sudah cair, tentu akan mulus jalan selanjutnya. Jika hal ini pun belum
meluluhkan hati orang tua, kita perlu meminta bantuan saudara atau
teman kita untuk memberi pengertian kepada orang tua.

Inilah yang kita sebut sebagai usaha atau ikhtiar. Jodoh sudah
ditentukan oleh Allah Swt. dan kita berusaha menemukannya. Dan
alangkah bahagianya jika usaha kita berhasil, yang berarti kita menikah
dengan orang yang memang istimewa di hati kita. Bukan saja memenuhi
perintah untuk berkeluarga, melainkan membangun mahligai rumah
tangga penuh dengan cinta kasih untuk selamanya.

117

Ciri lainnya sebagai tanda bahwa Allah Swt. merestui calon
pilihan kita adalah memenuhi kriteria sebagaimana disabdakan oleh
Rasulullah Saw., “Wanita dinikahi karena empat hal; hartanya, nasabnya,
kecantikannya dan agamanya, Maka pilihlah karena faktor agama niscaya
engkau beruntung.” [HR. Al Bukhari].

Meski jodoh berada di tangan Allah Swt., kita jugalah yang harus
mengusahakannya. Kita tidak bisa hanya duduk manis di rumah
menunggu Allah Swt. mengantarkan jodoh kita. Allah akan diam jika kita
tidak bergerak. Kebutuhan akan jodoh adalah kebutuhan kita sendiri,
maka kita pulalah yang harus berusaha mendapatkan yang terbaik. Allah
Swt. menjamin kita tetap bisa memenuhi kebutuhan pokok agar tetap
hidup dan beribadah, di luar itu, kita sendirilah yang mengusahakannya,
termasuk urusan jodoh.

Allah Swt. berfirman, “Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang
kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak
akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” [QS. An-Nisa’:
3].

Ayat di atas bukan soal poligami yang akan kita bahas di sini, tetapi
redaksional pada kalimat pembuka, “Maka kawinilah wanita-wanita
(lain) yang kamu senangi”. Artinya, kita memiliki upaya untuk memilih
dan kemudian Allah yang merestui. Kita disarankan untuk memilih
wanita yang “wangi” atau cantik yang “kita sukai”. Dengan begitu, Allah
menunjukkan kasih sayangnya dengan mempersilakan kita untuk saling
mengenal satu sama lain sebelum akhirnya melanggengkan hubungan ke
jenjang pernikahan.

118

Jalan ke Surga Terbuka Bagi
Siapa Saja, Kecuali Orang
yang Tidak Mau

J alan menuju pintu surga terbuka lebar merupakan kabar gembira
bagi setiap makhluk Allah Swt. Siapa yang tidak ingin akhir
hidup dengan bahagia dan penuh suka cita bertemu dengan
Sang Pencipta? Allah memberi kesempatan emas ini kepada seluruh
makhluk-Nya, tanpa terkecuali. Bagi yang menginginkannya pasti akan
bersemangat meraihnya, tetapi bagi yang enggan, sesungguhnya ia
termasuk orang rugi dan tersesat.

Tentu kita akan berpikir, semua orang pasti mau. Jika dipikir dengan
akal sehat, semua orang pasti menginginkan kesenangan, dan puncak dari
kesenangan itu berada di surga Allah Swt. Lalu bagaimana mungkin ada
orang yang menolak dengan kesenangan? Orang yang menolak sesuatu
yang menyenangkan bisa kita kategorikan sebagai orang yang sombong.
Apalagi kesenangan ini datangnya dari Allah Swt.

Kesenangan di surga adalah kesenangan akhir setelah melewati
berbagai cobaan dan ujian panjang di dunia. Bagi yang taat di dunia akan
mulus melenggang ke surga, namun bagi menolak taat dan tidak sabar
serta memilih kesenengan di dunia, hanya itulah yang akan ia dapatkan.

Jika diibaratkan, surga dan neraka seperti sebuah sungai yang
terbelah dengan arus yang berbeda. Sungai pertama beraroma negatif dan
sungai kedua beraroma positif. Sungai pertama mengarah pada dua arus
anak sungai, yaitu sirik dan maksiat, sementara sungai kedua mengarah
pada dua anak arus sungai, yaitu iman dan amal saleh. Dari dua arus ini,

119

kita tinggal memilih, arus pertama akan berakhir pada jurang dan arus
kedua berakhir pada kenikmatan yang indah.

Hal ini sudah dijanjikan oleh Allah Swt., “Sesungguhnya mereka yang
beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan
pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik. Mereka
itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-
sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas
dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal,
sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah.
Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” [QS.
Al-Kahfi: 30-31].

Nabi Muhammad Saw. bersabda kepada para sahabat, “Setiap
umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Mereka bertanya,
“Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau bersabda, “Barang siapa
taat kepadaku, niscaya dia akan masuk surga, dan siapa yang durhaka
kepadaku, dialah yang enggan (masuk surga).” [HR. Bukhari].

Dalam hadisnya, Rasulullah Saw. sudah sangat jelas menunjukkan
siapa yang enggan memilih pintu surga. Mereka yang ditaat adalah orang-
orang yang tidak mau meyakini dan mengikuti apa yang sudah digariskan
dalam Alquran serta menolak mengikuti jejak-jejak Rasulullah Saw.
Jangankan yang menolak, yang menerimanya saja masih akan mencicipi
neraka karena banyak dosa yang sulit dihindari ketika hidup di dunia.

Orang-orang yang menolak taat ini telah menjemput surga mereka
sendiri di dunia. Mereka mencari kesenangan-kesenangan di dunia
yang sebenarnya merupakan larangan-larangan agama Islam. Mereka
menciptakan surga yang tidak abadi yang penuh dengan kemaksiatan.

Apa yang kita alami di dunia sebenarnya kebalikan apa yang akan
kita terima di akhirat kelak. Di dunia kita senang dengan maksiat, kelak
kita sengsara penuh dengan siksaan di akhirat. Tetapi sebaliknya, bagi
seorang yang beriman, akan memilih bersusah payah beribadah kepada
Allah dengan meminimalisir kesenangan-kesenangan duniawi karena
mereka berharap kesenangan yang abadi di akhirat kelak.

120

Kunci surga telah disebutkan dalam surat Al Ashr, “Demi masa.
Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-
orang yang (1) beriman, (2) beramal saleh, (3) saling nasihat menasihati
dalam kebaikan dan (4) saling nasihat menasihati dalam kesabaran.”

Dari surat di atas kita ketahui bahwa kunci surga ada empat hal, yaitu
beriman; beramal Saleh; (berilmu) untuk saling menasihati; dan terakhir
sabar. Inilah prinsip yang harus kita jalani untuk menempuh jalan surga.
Dan jika berhasil, kita akan dimasukkan ke surga bersama orang-orang
yang kita cintai.

121

Ibadah Itu Bukan Dagangan,
Kok Dipamerin?

J ika kita memasuki sebuah showroom atau toko, kita akan melihat
berbagai barang dagangan yang dijajakan menggoda mata
kita. Tujuannya satu, agar orang yang melihat tertarik untuk
membelinya. Dengan demikian, akan banyak keuntungan yang diperoleh
pedagang. Semakin menarik barang yang dipamerkan, akan semakin
banyak mata melihat, dan mungkin semakin laris.

Dalam konteks ibadah, tentu saja hal ini tidak berlaku. Kecuali kalau
memang kita ingin menjual ibadah kita. Bagaimana caranya? Entahlah.
Ada dua kemungkinan, orang menjual ibadah untuk mendapatkan ma-
teri, artinya ibadah yang dilakukannya sebagai media promosi, dan ke-
mungkinan kedua menjual ibadah bukan untuk keuntungan materi, me-
lainkan pencitraan. Bukankah dengan mendapatkan pencitraan akan me-
naikkan status kita dan itu artinya kita diuntungkan dari pamer itu tadi?

Syarat utama agar ibadah kita diterima oleh Allah Swt. adalah ikhlas.
Tanpa keikhlasan, apa yang kita lakukan hanyalah sia-sia belaka, hanya
sebuah ritual untuk menggugurkan kewajiban. Meski hal ini masih lebih
baik daripada tidak beribadah sama sekali namun tak akan berpengaruh
apa-apa bagi pelaku ibadah.

Misalnya, salat bisa mencegah seseorang dari perbuatan fakhsya’ dan
munkar, tetapi kita kerap melihat orang yang salat tetap saja korupsi,
berzina dan melakukan kejahatan lainnya. Hal ini bisa jadi karena tidak
ada keikhlasan dalam beribadah. Salah satu bentuk ketidak ikhlasan itu
adalah pamer.

122

Sifat pamer atau ria terdapat dua jenis hukumnya. Hukum yang
pertama adalah sirik akbar, yaitu jika sesorang beribadah hanya ingin
dilihat orang lain, sementara tujuan utama ibadah untuk mendapat rida
Allah Swt. tidak ia gubris. Yang penting beribadah, dilihat orang, dan ia
dikenal sebagai orang yang religius. Hal ini dilakukan agar ia tetap berada
di lingkungannya atau kelompoknya dan untuk melindungi diri dan
hartanya.

Sifat pamer yang dimikian ini dimiliki oleh orang-orang munafik.
Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah,
dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri
untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (dengan
salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali
sedikit sekali.” [QS. An Nisaa’: 142].

Hukum ria yang kedua adalah sirik asghar atau sirik kecil. Ria jenis
ini terkadang dilakukan oleh orang yang beriman, dari sebagian amal
yang ia lakukan. Akan tetapi, sirik kecil ini juga bisa menjadi sirik akbar
jika 1) tujuan amalnya seperti tujuan sirik akbar, 2) ria yang dilakukan
menyebar ke seluruh amalnya, dan 3) tujuan amalnya dominan kepada
dunia. Karena sifatnya di dalam hati, kita mesti berhati-hati karena hati
mudah sekali berubah.

Sifat ria ini, baik kecil maupun besar bisa menghapus pahala ibadah
kita. Menghilangkan nilai-nilai ibadah yang sudah susah payah kita
lakukan. Akan tetapi keprihatinan ini kerap muncul dan berseliweran di
mata kita nyaris setiap hari. Misalnya seseorang memasukkan sedekahnya
ke kotak masjid tetapi dengan sengaja memperlihatkan kepada orang
lain. Tak hanya cara memasukkannya, bahkan uang yang dimasukkannya
pun sengaja diperlihatkan. Padahal uang yang disedekahkan itu hanyalah
pecahan terkecil yang ada di dompetnya.

Begitu pula orang yang ingin disebut-sebut telah menyumbang
untuk pembangunan masjid. Ia ingin namanya disebut melalui pengeras
suara dan terkadang diumumkan sebelum khotbah jum’at. Masih banyak
lagi contoh yang menunjukkan seseorang ria.

123

Pada kesempatan yang lain, kita pun kerap menjumpai perilaku
ria ini di media sosial. “Alhamdulillah, puasa hari ini lancar,” atau
“Alhamdulillah, bisa mengunjungi Masjidil Haram.” Kira-kira begitulah
orang-orang menulis status di media sosial mereka. Maksudnya memang
baik, bersyukur dan memberitakan kepada orang lain agar terinspirasi
oleh ibadahnya. Namun hal ini cenderung ke arah pamer. Memamerkan
ibadah yang sejatinya belumlah apa-apa.

Orang yang banyak ibadah tidak akan sempat memamerkan
ibadahnya, begitu pula sebaliknya, orang yang sedikit ibadahnya dan
memiliki banyak waktu luang, akan cenderung memamerkannya karena
ia sendiri merasa ibadahnya kurang dan ingin diakui orang sebagai
abidin, orang yang ahli ibadah. Orang yang benar-benar ahli ibadah akan
menyembunyikan setiap ibadahnya karena hanya rida Allah Swt. yang ia
harapkan.

Cara melihatnya cukup sederhana. Seberapa sering ia Update status
dan apa isi statusnya, bandingkan dengan status-statusnya yang lain.
Apakah ia kerap Update ibadahnya atau hanya sesekali. Jika memang
sering Update status ibadah, bisa jadi ia ingin seluruh ibadahnya dilihat
orang. Jika hanya sesekali dan status lainnya tak ada hubungannya
dengan ibadah, mungkin saja ibadah tak ubahnya sebuah piknik baginya.

Mengenai sifat pamer ini, Rosulullah Saw. sudah mengkhawatirkannya
dari dulu. Beliau mengetahui bagaimana sifat manusia yang menjadi
umatnya. Oleh sebab itu, sudah sejak itu beliau juga memperingatkan
untuk menghindari sifat ini. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya
yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah sirik yang
paling kecil. Mereka bertanya: Apakah itu sirik yang paling kecil ya
Rasulullah? Beliau menjawab: Ria! Allah berfirman pada hari kiamat, ketika
memberikan pahala terhadap manusia sesuai perbuatan-perbuatannya:
Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang kamu pamerkan perilaku
amal kamu di dunia. Maka nantikanlah apakah kamu menerima balasan
dari mereka itu.” [HR Ahmad].

124

Bersyukur Tak Perlu
Menunggu Bahagia, Karena

Kita Bisa Bahagia dengan
Bersyukur

B ersyukur ketika mendapatkan apa yang diinginkan sehingga
membuat kita bahagia adalah hal biasa. Bersyukur dalam kondisi
yang biasa saja, baru itu luar biasa. Bersyukur ketika bahagia
bisa dilakukan semua orang, bahkan cenderung menjadi ungkapan
refleks. Dan jika sudah demikian, syukur yang diucapkan itu nyaris tidak
bermakna apa-apa.

Rasa syukur yang benar-benar disadari dan penuh keyakinan dapat
menambah keberkahan dari apa yang kita dapatkan. Konsep berkah
diyakini sebagai tambahan kebaikan dari hal yang baik. Misalnya kita
makan, karena kita bersyukur dan makan kita menjadi berkah, maka
kita memanfaatkan kondisi kenyang untuk hal-hal positif. Jika tidak
mendapatkan berkah, bisa jadi kenyang kita hanya untuk apa-apa atau
malah menjadi awalan untuk bermaksiat.

Untuk itu, bersyukur tidak harus menunggu kebahagiaan besar
datang kepada kita, misalnya mendapat hadiah mobil, pernikahan, dan
lain sebagainya. Akan tetapi kebahagiaan itu bisa kita ciptakan dengan
memperbanyak rasa syukur. Bersyukur atas apa saja yang kita lihat,
bersyukur masih bisa melihat; bersyukur atas apa yang kita dengar,
bersyukur masih bisa mendengar; bersyukur ketika mendengar azan,

125

bersyukur masih bisa salat, bersyukur mendekati Ramadan, bersyukur
masih diberi kesempatan puasa di bulan Ramadan.

Syukur yang hanya ada diucapkan hanya memberikan kita kebahagiaan
sejenak. Karena dengan rasa gembira yang terlalu besar membuat kita lupa
berpikir karena sibuk dengan kegembiraan tersebut. Sementara syukur
yang benar-benar dari hati akan membuat kita menjadi manusia yang
berpikir, dari mana kebahagiaan itu datang, siapa yang memberi, untuk
apa diberikan? Dengan berpikir demikian, kita akan merasa dekat dengan
Allah Swt.

Bagaimana tidak, dengan berpikir demikian berarti kita telah belajar
mengendalikan emosi dan merasa diperhatikan oleh Allah Swt. karena
masih diberikan nikmat berupa kebahagiaan. Kita pun bisa merasa
dekat dengan Allah. Bersyukur yang demikian inilah yang membuat
kita semakin bahagia. Sementara sebaliknya, jika kita berhenti pada
kebahagiaan itu tanpa berpikir panjang, hanya kesengsaran yang akan
menimpa kemudian. Hal ini sesuai yang difirmankan oleh Allah Swt.,
“Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman dan
Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” [QS. An Nisaa’: 147].

Syukur tidak hanya disampaikan kepada Allah Swt., melainkan juga
kepada manusia. Kita tahu bahwa Allah memberikan segala sesuatu
kepada kita bukan dengan cara langsung, melainkan melalui berbagai
prosedur atau cara. Salah satunya melalui orang lain. Dan tak ada kita
wajib pula bersyukur dan berterima kasih kepada orang tersebut.

Misalnya anak yang berbakti dan berusaha membalas balas budi
kepada orangtuanya, maka ia bisa kita sebut sebagai ahli syukur. Dan jika
kita sandarkan pada ayat Allah Swt., “Barangsiapa yang bersyukur, Allah
akan menambah nikmat-Nya”, maka anak yang berbakti dan membalas
budi pada orangtuanya merupakan anak yang mendapatkan nikmat
berlipat-lipat dalam hidupnya, karena sikapnya itu Allah akan selalu
menambah nikmat anak tersebut.

Lalu sudah sejauh mana syukur yang kita lakukan? Ajaran pokok
bersyukur salah satunya adalah dengan mengingat hal baik dari pemberi
nikmat. Ketika kita bersyukur, maka tidak hanya berada di lisan saja,

126

melainkan kita perbanyak menyebut nama-Nya. Semakin sering kita
menyebut, semakin pandai pula kita bersyukur.

Begitu pula bersyukur kepada manusia yang menjadi jalan kita men-
dapatkan sesuatu. Misalnya kepada pahlawan yang dulu berjuang mere-
but kemerdekaan dari tangan penjajah dan rela mengorbankan apa saja.
Dalam berbagai kesempatan peringatan pahlawan, kita kerap diminta un-
tuk mengingat-ingat dan mencontoh perilaku pahlawan tersebut.

Contoh konkret lainnya adalah adalah ketika kita berada di
rumah dan bersama keluarga kita. Bersama pasangan kita, kadang kita
melupakan kebaikannya dan kerap mengungkit hal buruknya. Terutama
lagi ketika sedang sama-sama emosi. Padahal ketika masing-masing bisa
mengingat kebaikan ketika sedang emosi, hal ini justru dapat meredakan
emosi dan kembali berbaikan. Tetapi kadang emosi lebih dominan ketika
marahan daripada berpikir jernih. Mengenang kebaikan pasangan kita
juga merupakan salah satu cara kita untuk mensyukuri nikmat Allah.

Orang yang sadar bahwa memiliki keturunan adalah nikmat dan
anugerah, maka ia akan menyadari kewajibannya untuk mendidik
anaknya, terutama agar lebih dekat dengan Allah. Pendidikan yang baik
dapat menyelamatkan orang tua dari kenakalan anak. Terlebih lagi di
zaman modern ini banyak akses informasi yang tidak diinginkan dan
dikhawatirkan akan memengaruhi pola pikir anak. Pola pikir yang salah
suatu saat bisa membuat aib bagi keluarga.

127

Selalu Berusaha Hidup Enak,
Lupa Berusaha Mati Nikmat

A pakah kita termasuk orang yang selalu bertanya kepada orang
lain tentang pekerjaanya? Apakah kita termasuk orang yang
bekerja keras untuk tidak kekurangan dalam membiayai hidup?
Apakah kita termasuk orang sekolah demi mendapatkan pekerjaan?
Apakah kita termasuk orang menikahkan anak dengan orang yang kaya?

Jika jawabannya iya, maka kita adalah orang-orang memikirkan ke-
hidupan yang enak. Hidup enak memang dambaan semua orang. Serba
kecukupan dan tak perlu berpikir keras untuk membeli berbagai macam
barang. Bisa makan enak, istirahat enak dan lain sebagainya. Semua itu
adalah kenikmatan duniawi yang diburu semua orang.

Berpikir duniawi kadang membuat kita lupa tentang akhirat.
Namun, sebelum berpikir akhirat, ada alam di tengah-tengah di antara
dunia dan akhirat, yaitu alam barzakh. Alam ini merupakan pintu masuk
menuju akhirat. Jika di alam ini kita sukses menjawab berbagai macam
pertanyaan malaikat, maka amanlah kita di akhirat kelak. Namun
sebaliknya, jika gagal menjawab satu pertanyaan saja, maka siksa yang
pedih akan menemani kita di alam kubur. Dan siksa itu akan ditambahkan
lagi ketika di neraka kelak.

Kematian yang nikmat adalah kematian yang berlangsung secara
cepat dan berakhir husnulkhatimah. Dalam kondisi ini, malaikat
yang menyambut kematian kita akan berkata, “Hai jiwa yang tenang,
kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.” [QS.
Al Fajr: 27-28]. Sementara sebaliknya, orang yang su’ul khotimah akan
disambut dengan kalimat, “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju

128

kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.” Lalu si mayat akan berkata dan
memohon kepada Allah Swt., “Hingga apabila datang kematian kepada
seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke
dunia), agar aku berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan.” [QS. Al
Mu’minuun: 99-100].

Jika kita menginginkan kematian yang nikmat atau husnulkhatimah,
kita harus menjadi ahli syukur dan ahli tobat. Sekecil apa pun dosa yang
kita perbuat, bertobat adalah pilihan muslim yang bijak. Selanjutnya
adalah berusaha menjadi ahli ibadah. Salat lima waktu jangan ditunda-
tunda apalagi dilupakan. Selain itu, menunaikan seluruh rukun Islam
dapat membantu kita dalam menghadapi kematian.

Setelahnya, kita kemudian bersiap menghadapi kehidupan di bawah
tanah. Tak seorang yang dapat mendengar apalagi menolong kita. Inilah
waktunya kita berhadapan dengan malaikat yang mengerikan. Maka
hanya tiga hal yang bisa menolong kita, yaitu sedekah jariah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak saleh. Ketiganya tak akan putus sampai kita
dibangkitkan kembali.

Apakah kehidupan di alam barzakh ini sudah kita persiapkan sebagai
kita bersiap-siap menghadapi hidup di dunia yang semakin panas dan
semakin keras? Dalam kehidupan dunia, untuk makan besok saja kita
sudah mempersiapkan, dari mulia uang darimana, menu apa, dan lain
sebagainya. Lalu apakah untuk kehidupan di alam kubur juga demikian
persiapannya? Alasannya mempersiapkan kematian sangat sederhana,
bahwa hidup dunia tidaklah selamanya. Sebagaimana firman Allah Swt.,
“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” [QS. Ali Imraan: 185].

seharusnya kita mempersiapkan diri dengan lebih matang lagi.
sebab, apa yang nanti kaan ditanyakan di alam kubur, belum tentu kita
akan bisa menjawabnya. Hal ini karena alam di dunia dan barzakh sudah
berbeda. Yang bisa membantu kita dalam menjawabnya adalah amal-
amal kita selama hidup di dunia. Salah satunya adalah salat.

Salat adalah amalan utama yang akan ditanyakan dan dimintai
pertanggungjawabannya. Salat akan membantu kita di alam kubur dan
akhirat nanti. Selain itu, bacaan Alquran selama di dunia juga sangat

129

membantu kita di alam kubur. Muslim yang mempersiapkan kematian
dan kehidupannya di alam barzakh adalah muslim pilihan.

Suatu kali Nabi Muhammad Saw. ditanya oleh sahabat dari kalangan
Anshar, tentang siapakah muslim yang cerdas? Beliau kemudian
menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik
persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang
yang cerdas.” [HR. Ibnu Majah].

130

Jihad itu Tak Selalu Perang,
Menjaga Perdamaian Juga

Jihad

J ihad adalah berjuang secara sungguh-sungguh. Arti berjuang tidak
sesempit jika diartikan dengan mengangkat pedang melawan
orang-orang kafir. Berjuang bisa bermakna apa saja. Berjuang
menafkahi keluarga, berjuang mencari ilmu, berjuang mendirikan
masjid, berjuang menyebarkan agam Islam, dan lain sebagainya. Jika di
masa lalu, di zaman nabi jihad identik dengan peperangan karena kondisi
di zaman itu Islam sedang disebarkan dan orang-orang kafir melakukan
tindak kekerasan lebih dulu.

Orang kafir sendiri terbagi dalam empat golongan, yatiu 1) Kafir
Harbi, yaitu orang kafir yang memerangi Allah Swt. dan Rasulullah Saw.
dengan berbuat makar di atas muka bumi; 2) Kafir Dzimi, yaitu orang
kafir yang tunduk pada penguasa Islam dan membayar jizyah atau upeti;
3) Kafir Muahad, yaitu orang kafir yang tinggal di negara kafir, yang
memiliki perjanjian damai dengan negara Islam; 4) Kafir Musta’man,
yaitu orang kafir yang masuk ke negara Islam, dan mendapatkan jaminan
keamanan dari pemerintah.

Dari keempat kelompok orang kafir di atas, hanya satu kelompok
yang diperbolehkan untuk diperangi dan halal darahnya untuk
ditumpahan. Sementara kafir yang lain dibiarkan hidup damai, bahkan
kita diperbolehkan bekerjasama dengan mereka. Dalam definisi kafir
harbi di atas pun dibatasi, yang memerangi Allah dan Rasulullah. Artinya,

131

selama orang kafir tidak menyinggung Allah dan Rasul-Nya, mereka bisa
dikatakan berdamai dengan muslim.

Dalam Alquran dijelaskan bahwa, “Allah tiada melarang kamu
untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari
negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
[QS. Al Mumtahanah: 8]

Ibnu Jarir Ath Thobari r.a. mempertegaskan ayat ini dalam kitabnya
Jaami’ul Bayan fii Ta’wilil Qur’an, bahwa “Allah tidak melarang kalian
untuk berbuat baik, menjalin hubungan dan berbuat adil dengan setiap
orang dari agama lain yang tidak memerangi kalian dalam agama.

Di masa sekarang, hal itu nyaris tidak terjadi. Mungkin hanya
sesekali, misalnya sebuah majalah dengan jelas membuat karikatur
tentang Nabi Muhammad Saw., yang padahal dilarang. Akan tetapi,
sebelum melakukan perang, terlebih dahulu kita mesti bernegosiasi.
Apa maksudnya dengan pembuatan karikatur tersebut? Jika memang
maksudnya adalah menghina, maka hukum sebagai kafir harbi berlaku
baginya. Akan tetapi, jika hal itu dilakukan karena ketidaktahuannya,
maka kita wajib untuk memberitahunya bahwa dalam Islam hal itu
dilarang dan memintanya untuk menarik seluruh peredaran karikatur
tersebut. Dan kita bisa memakluminya karena pembuatan karikatur itu
hidup di negara Barat di mana Islam menjadi minoritas.

Perang merupakan jalan terakhir jika kita tak bisa menempuh jalan
terakhir, jika berbagai jalan damai tak bisa ditempuh. Sementara di
Indonesia sendiri, nyaris tidak ada yang melakukan penghinaan kepada
Allah Swt. dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Artinya, tidak ada
upaya untuk mengajak berperang. Hal ini karena sejak zaman dahulu,
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki toleransi yang tinggi.
Semua agama hidup damai berdampingan. Mereka yang memerangi
kafir golongan ini sesungguhnya bukanlah jihad, tetapi perang karena
kepentingannya sendiri.

Nabi Muhammad Saw. menjelaskan, “Siapa yang membunuh orang
kafir yang ada perjanjian dalam kunhi-nya (dalam penjanjian dan

132

jaminan keamanan padanya), maka dia tidak akan mencium bau surga.”
HR. Ahmad dan Abu Dawud].

Bagaimanapun perang akan membuat kerusakan dan memiliki
dampak buruk di muka bumi. Belum lagi nyawa yang dikorbankan demi
kepentingan perang tersebut. Hal ini sudah dijelaskan dalam firman
Allah Swt.,

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi
Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah
mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka
dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya).
Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia,
dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” [Alquran, Al Maidah:
33].

Yang dimaksud dengan memotong tangan dan kaki adalah memotong
tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi maka dipotong
tangan kiri dan kaki kanan. Dari ayat ini kita tahu bahwa hukuman
mereka di dunia bukan dibunuh, tetapi masih diberi kesempatan hidup
agar mereka sadar dan kembali ke jalan Allah.

Negara Indonesia menjamin kehidupan warga negaranya. Muslim
atau kafir diperkenan hidup bersama dengan jaminan keamanan yang
sama, memiliki hak dan kewajiban yang sama. Artinya, di Indonesia tidak
ada kafir yang wajib diperangi. Jika ada orang yang mengaku muslim dan
berjihad dengan meledakkan bom, kita bisa mempertanyakan jihadnya.
Jihad demi Islam atau jihad demi kepentingan pemimpinnya?

Seorang pemimpin yang memang menyadari ini adalah jihad fi
sabilillah, maka ia akan turun di barisan terdepan. Begitulah Nabi
Muhammad Saw. mencontohkan dengan memimpin perang uhud
dengan jumlah pasukan 700 orang melawan kafir 3000 orang di bawah
pimpinan Abu Sufyan. Sementara jihad dengan meledakkan bom, di
mana pemimpin mereka?

Mengenai anjuran untuk berjihad ini juga tidak untuk setiap
orang. Suatu kali ada seorang sahabat datang kepada Nabi Muhammad
Saw. meminta untuk bergabung bersama pasukannya. Lalu Rasulullah

133

bertanya kepadanya, apakah ia memiliki saudara? Dijawab, tidak. Apakah
masih punya orang tua? Ada, ibu. Maka Rasulullah menyuruh pemuda itu
untuk pulang lagi. Sesungguhnya merawat ibu sendiri sudah termasuk
jihad.

Begitu pula sebagai orang tua, merawat dan mendidik anak juga
merupakan jihad. Bahkan, bagi laki-laki ketika melakukan senggama
dengan istrinya, juga dihitung jihad, dengan pahala yang sama dengan
membunuh empat puluh orang kafir. Makna jihad begitu luas, dan
menyempitkan maknanya merupakan cara berpikir yang kerdil.

134

Maksiat Takut Ketahuan
Orang Lain, Tidak Takut

Ketahuan Allah

B erbuat maksiat adalah menggali lubang aib sendiri, menggali lubang
celaka bagi diri sendiri. Orang yang pertama melakukan maksiat
akan merasa malu-malu dan sangat merasa berdosa. Namun jika
hal ini dilakukan secara terus-menerus akan menebalkan hati mereka
dan menutupnya dari petunjuk Allah Swt. Jika sudah demikian, mereka
tidak akan malu lagi untuk melakukan maksiat, bahkan perbuatannya itu
dijadikan tontonan di muka umum.

Namun, yang namanya aib pasti ada upaya untuk menutupinya.
Tidak ada satu pun orang yang bersedia dikorek-korek aibnya, bahkan
dalam golongan mereka sendiri sebagai olok-olokan. Misalnya seorang
pejabat yang korupsi, ia akan menutupi perbuatannya dengan berpura-
pura baik kepada masyarakat, membangun ini itu, tetapi ia mengambil
jatah pembangunan itu sekian banyak. Berangkali hal ini masih lumrah
terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Seseorang yang mendapat proyek
harus berbagi dengan oknum pemerintah yang memberi proyeknya
tersebut.

Sekali dua kali, melakukan perbuatan ini akan dengan rasa deg-degan.
Tetapi lama-kelamaan, selama menjabat ia akan melakukannya, bahkan
tanpa rasa bersalah sekalipun. Lihatlah misalnya seorang pejabat tinggi
negara dengan tidak merasa bersalah meminta saham kepada sebuah
perusahaan besar dengan jumlah persen yang sudah ia tentukan. Dan
ketika aib ini terkuak, seluruh teman-temannya pun ikut menutupinya.

135

Satu orang berbuat keburukan, ia akan melakukan keburukan lainnya,
bahkan tak hanya dirinya, orang-orang di sekelilingnya juga akan
melakukan hal yang sama, menutupi keburukan itu untuk melakukan
keburukan yang lain.

Keburukan, seperti sifat dan pekerjaan setan akan mengajak kepada
yang lain. Orang yang melakukan keburukan akan mengajak temannya
untuk bergabung berbuat hal yang sama. Hal ini menunjukkan manusia
masih memiliki rasa malu jika melakukan keburukan sendirian dan
terutama jika nantinya ketahuan manusia lainnya.

Itu baru di hadapan manusia. Tetapi kita yakin, bahwa Allah Swt.
maha melihat. Bahkan pelaku korupsi itu juga yakin Allah melihat, tetapi
ia tidak malu kepada-Nya, sebagaimana ia malu kepada manusia. Jika
ia memmang tidak korupsi kenapa tidak melawannya dengan terbuka,
melainkan menggunakan kekuasaannya untuk menutupi perbuatan
jahatnya. Ketika ia malu, maka sesungguhnya ia menyadari bahwa
perbuatannya itu tidak sepatutnya dilakukan.

Meskipun demikian, dengan menjadi malu adalah yang terbaik
baginya. Malu itu bisa mendatangkan kebaikan. Nyatanya ia kemudian
mundur dari jabatan yang sangat strategis di parlemen. Mundurnya
menjadi kebaikan bagi yang lain. Tetapi apakah ia sungguh-sungguh
malu, terutama malu kepada Allah Swt.?

Nabi Muhammad Saw. menjelaskan tentang malu yang sebenar-
benarnya adalah “Malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah
menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga
perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat
kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan
akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan
hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan
sebenar-benarnya.” [HR. Tirmidzi].

Menjaga, menjaga dan menjaga, itulah inti dari malu. Seperti
kemaluan yang selalu kita tutupi, kita jaga agar kita tidak merasa malu
jika dilihat oleh orang lain. Dari hadis di atas kita bisa menyimpulkan
bahwa malu berarti menjaga diri kita dan mengingat kematian, serta

136

meninggalkan kesenangan duniawi. Kesenangan yang bersifat sementara
inilah yang kerap menghapus rasa malu dari diri kita.

Misalnya pemabuk, pezina, dan berbagai jenis maksiat lainnya. Tidak
ada maksiat yang tidak menyenangkan. Maksiat selalu membuat kita
terlena dan itulah ujian yang diberikan Allah Swt. kepada kita. Alangkah
buruknya manusia tanpa malu. Ia akan seperti hewan. Telanjang di
jalanan, kencing sembarang, melakukan berbagai cara agar ia tetap bisa
makan. Bukankah hal ini kerap kita temui di sekeliling kita? Ketika kita
di jalan raya misalnya, seorang pengendara sepeda motor menampilkan
auratnya tanpa rasa malu, dan justru bangga dengan auratnya yang putih
dan bersih.

Ulama Salman Al Farisi mengingatkan kita akan rasa malu ini,
“Sungguh jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang
maka akan Allah hilangkan rasa malu dari diri orang tersebut. Jika
rasa malu sudah tercabut dari dirinya maka tidaklah kau jumpai orang
tersebut melainkan orang yang sangat Allah murkai. Setelah itu akan
hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia sudah tidak lagi
memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka berkhianat dan
dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya. Jika rasa
kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk.
Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”

137

Nyuruh Perempuan
Berhijab? Tetapi Mana

Pecimu?

H ijab di sini dilihat dari sudut pandang sosial. Di masyarakat kita,
hijab menandakan bahwa seorang perempuan itu muslimah
dan cenderung salehah. Jika melihat perempuan muslim tidak
berhijab, orang lain akan memandang berbeda. Muslimah kok tidak
berhijab, di mana akhlaknya? Ya. Hijab kerap disejajarkan dengan akhlak
seorang muslimah.

Pandangan seperti itu tidak luput hinggap di kepala lelaki muslim.
Sebagai lelaki tentu mereka menginginkan istri yang salehah, yaitu
istri yang dengan akhlakul karimah baik dari sisi penampilan maupun
perilakunya. Lalu mereka menuntut istrinya untuk berhijab, bahkan
bercadar sekalipun, meski wajah dan telapak tangan bukanlah aurat yang
wajib ditutupi sebagaimana dalam salat.

Dengan begitu suami merasa puas dan ia pun bisa berkelakar kepada
temannya bahwa istrinya salehah. Namun apakah lelaki itu berpikir,
apakah dia juga saleh? Baik secara pakaian maupun perilaku? Kenapa
lelaki juga tidak melakukan hal yang sama dengan istrinya dengan
memakai peci. Bukankah ini sama-sama adil dan berimbang?

Atau jangan-jangan lelaki yang meminta istrinya berhijab bahkan
lebih adalah dalam rangka menggunakan kekuasaannya sebagai suami,
kepala rumah tangga. Ia bermaksud baik, tentunya. Tetapi di balik itu, ia
sebenarnya sedang memproteksi istrinya agar tidak dinikmati orang lain,
bahkan dalam mata ataupun imajinasi sekalipun. Suami mana yang ingin

138

istrinya dilihat bentuk tubuhnya orang lelaki lain? Akan tetapi, apakah si
suami juga melakukan yang sama? Ia tidak menikmati paha perempuan
lain yang kebetulan berkendara di jalanan?

Sebagai legalitasnya, ayat Alquran pun dikutip. “Hai Nabi, Katakanlah
kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang
mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
Karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Ahzab; 59]

Ulama Indonesia dalam menafsirkan ayat di atas bersepakat, bahwa
jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala,
muka dan dada. Sementara bagian tubuh yang lain ditutupi dengan pa-
kaian yang tidak menampilkan bagian lekuk tubuh lainnya.

Kenapa kesalehan hanya diukur dari jenis pakaian? Padahal kita
tahu bahwa pakaian adalah bagian dari komoditi kapitalis, dan terlebih
lagi pakaian perempuan sangat mahal karena bahannya juga panjang.
Bagaimana jika seorang perempuan yang berjilbab bahkan sampai ke
ujung kakinya, tetapi ia tak bisa ngaji?

Jika kesalehan dihitung dari pakaian, si suami mestinya melakukan-
nya juga. Menggunakan peci setiap kali ke luar rumah. Jika malu dengan
peci yang biasa-biasa saja, bisa diganti dengan peci yang sedang tren. Peci
yang tak lagi terbuat dari kain beludru, melainkan dari kain dari jenis
yang sama dengan jenis kain pakaian.

Hal yang terpenting adalah pemahaman terhadap akidah terlebih
dahulu. Jika seseorang memahami akidah dengan benar, tanpa disuruh
untuk selahah atau saleh, ia akan menjadi saleh dengan sendirinya.
Begitu pula dalam berpakaian, akan mengikuti pola pikirnya. Tanpa
disuruh berhijab, seorang perempuan akan menutupi auratnya sendiri
sesuai dengan pemahamannya. Dan tugas suami adalah memberikan
pemahaman yang utuh kepada istrinya.

139

Jangan Menyakiti Kalau
Tidak Mau Disakiti

J ika semua orang menggunakan prinsip ini, maka damailah dunia.
Tak ada yang saling menyakiti, tak ada saling mencaci, tak ada
yang saling berperang. Semuanya hidup dalam kerukunan karena
tak ingin menyakiti satu sama lain. Apalagi bagi sesama muslim, yang
notabene adalah saudara seiman. Jika seorang muslim yang benar-benar
beriman, tak akan sanggup menyakiti orang lain, terlebih saudaranya
yang seiman, karena ia memahami betul hakikat keimanan. Percaya
kepada Allah, juga berarti percaya kepada manusia sebagai makhluk Allah.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Setiap muslim itu haram atas
muslim yang lain; darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” [HR.
Muslim dan Tirmidzi].

Darah, harta dan kehormatan adalah tiga hal yang paling mudah
untuk dijadikan sebagai media untuk sakit-menyakiti. Darah berhubungan
dengan menyakiti secara fisik, harta berhubungan dengan menyakiti
secara (kelas) sosial, dan kehormatan berhubungan dengan menyakiti
secara mental dan psikologi.

Diibaratkan sebagai sebuah bangunan, sesama muslim adalah batu
bata yang disusun untuk membangun rumah. Jika kita menyakiti batu
bata lainnya, maka berkuranglah kekuatan bangunan itu, begitu pula dari
sisi estetiknya. Sebuah tembok yang berlobang karena batu bata yang
dirubuhkan, maka akan menjadi celah bagi musuh untuk menerobosnya.
Maka jika kita menginginkan Islam tetap kukuh, kita wajib menghindari
sikap saling menyakiti.

140

Atau seperti yang diingatkan oleh Nabi Muhammad Saw., bahwa
sesama muslim adalah saudara. Kita tak ubahnya seperti bagian-bagian
tubuh yang tak terpisahkan. Menyakiti muslim lain berarti menyakiti
saudara sendiri, menyakiti diri sendiri. Jika saudara kita sakit, kita pasti
menjenguknya, bahkan menunggui di rumah sakit. Hal ini adalah wujud
keprihatinan dan bahkan bentuk ketidakrelaan jika ia sakit. Nabi Saw.
bersabda, “Setiap muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak
akan menzaliminya, menghinakannya, dan tidak pula meremehkannya.
Keburukan seseorang itu diukur dari sejauh mana dia meremehkan
saudaranya.” (HR. Muslim]

Tetapi manusia tidak ada yang luput dari kesalahan. Kadang kita
melakukan perbuatan menyakiti orang lain tanpa disengaja. Jika kita
mengetahuinya, sebaiknya menyegerakan diri untuk meminta maaf.
Tidak ada yang berat dalam meminta maaf. Atau jika tidak, maka kita
akan menanggung dosa selamanya.

Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang
mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat,
maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang
nyata.” [QS. Al Ahzab: 58].

Dalam ayat di atas, tidak lagi hanya menyakiti biasa, tetapi sudah
melakukan fitnah. Bahwa ketika kita menuduh seorang muslim berbuat
mungkar atau maksiat, sementara ia tidak melakukannya, maka
sesunguhnya kita telah berbuat fitnah atau kebohongan. Untuk kasus ini
kita kerap menyaksikannya dalam percaturan politik dan bisnis. Untuk
menjatuhkan lawan politik atau bisnis, dibuatlah strategi menjatuhkan.
Dan salah satu jalannya adalah membuat fitnah.

Misalnya seseorang tidak melakukan perbuatan zina dan korupsi,
tetapi oleh lawan politik dibuat black campaign untuk menjatuhkan lawan.
Padahal mereka tahu bahwa lawannya tidak melakukan itu. Kesalahan
sekecil apa pun akan terus-menerus diproduksi untuk black campaign
agar elektabilitas lawan. Cara seperti jelas tidak sportif, namun begitulah
politik kotor bekerja.

141


Click to View FlipBook Version