The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suharnowo67, 2022-06-14 02:41:17

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini (Cahyo Satria Wijaya) (z-lib.org)

terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [Riwayat Imam
Ahmad].

Jika dukun dapat menyelesaikan masalah kita, sesungguhnya itu
bukan dari Allah Swt. Pertolongan itu bisa jadi datang dari setan agar
kita tersesat dan memercayai segala perkataan dukun tersebut. Padahal
jika tanpa kehendak Allah, hal itu juga tidak akan terjadi.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah ketika sakit, kemudian
memasrahkan sakitnya tersebut kepada dukun, padahal kita tahu
seorang muslim dilarang memercayai hal itu. Setiap kali sakit, maka
yang terpikirkan pertama adalah pergi ke dukun. Sesungguhnya hal ini
merupakan kemunduran bagi kaum muslim. Yang demikian ini akan
menyebabkan kita masuk dalam kekafiran.

Setiap persoalan atau kesakitan bisa saja menjadi aib orang tersebut,
dan tidak sepatutnya diceritakan kepada orang lain. Bagaimana jika
sakitnya adalah akibat dari perbuatan maksiat? Apakah aib itu tidak
membuatnya malu? Atau demi kesembuhan ia tak segan-segan membuka
aibnya? Sementara Allah begitu rapat menutupi aib itu. Hanya kepada
Allah kita mengadukan segalanya, baik persoalan ataupun sakit.

192

Hapus Dosa dengan Salat,
Sebelum Dosa Menghapus

Salat dalam Hidupmu

S eperti yang kita tahu, salat adalah kewajiban setiap muslim. Akan
tetapi, salat tidak membuktikan kita sebagai muslim karena
merupakan kewajiban, namun salat juga memiliki banyak manfaat
dan faedah.

Selain bermanfaat untuk kesehatan, salat juga berfaedah untuk
menghapuskan dosa-dosa yang telah lampau. Akan tetapi, hanya dosa-
dosa kecil, yang disengaja atau tidak. Sementara untuk dosa besar,
seseorang haruslah tobatan nashuha. Sementara itu, dari banyaknya
salat, salat fardu lima waktu yang memiki keutaman demikian.

Kita bisa membayangkan, bahwa kita memiliki sebuah rumah yang
asri. Di depan rumah kita mengalir sungai yang jernih. Setiap hari ini kita
mandi di sungai selama lima kali dalam sehari. Tentu saja kotoran-kotoran
yang menempel di tubuh kita akan sangat bisa diminimalisir sehingga
kita selalu dalam keadaan yang bersih. Seperti inilah perumpamaan
bahwa salat bisa menghapus dosa-dosa.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim ketika waktunya
salat wajib, lalu ia membaguskan wudunya, ia khusyuk dalam salatnya,
dan menyempurnakan rukuk, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-
dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap
masa semuanya.” [HR. Muslim].

Diterangkan lagi oleh Kata Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam
kitab Bahjatun Nazhirin, “Salat yang menghapuskan dosa adalah yang

193

ditunaikan secara sempurna dengan menghadirkan hati, anggota badan
khusyuk dan mengharapkan wajah Allah.”

Maka jelaslah salat seperti apa yang bisa menghapus dosa-dosa kita.
untuk itu, kita wajib belajar lagi agar bisa salat dengan khusyuk dan tidak
hanya untuk menggugurkan kewajiban.

Namun sebaliknya, ada perbuatan-perbuatan yang bisa menghapus
pahala segala kebaikan yang kita lakukan. Amalan yang sudah kita
tumpuk selama hidup kita bisa menjadi sia-sia jika melakukan salah satu
saja dari perbuatan; murtad; sirik, ria dan sum’ah; al-mann (mengungkit-
ngungkit sedekah), dan al-adzaa (menyakiti perasaan penerima)
tatkala bersedekah, maka pahala sedekahnya terhapus; bersumpah atas
nama Allah, bahwa seseorang tak akan diampuni, beramal demi untuk
mendapatkan ganjaran dunia semata; melakukan amalan haram tatkala
sendiri/sepi; merasa senang dengan membunuh seorang muslim, apalagi
saleh, serta memelihara anjing untuk tujuan selain anjing penjaga
gembalaan, kebun, dan buruan.

Pahala serupa kita tabungan. Kita bisa saja menabung secara rutin
setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, namun apakah kita bisa menjamin
bahwa tabungan kita itu akan aman dari berbagai kesalahan-kesalahan
yang kita buat. Betapa banyak orang yang beramal saleh, namun mereka
juga menghapus pahala itu bahkan dalam waktu sekejap saja.

194

Mau Nunjukin Puasamu
dengan bermalas-malasan?

P uasa merupakan ibadah yang tidak bisa pamer-pamerkan, kecuali
dengan kalimat verbal. Secara perilaku dan tindakan, orang puasa
dan tidak berpuasa sama saja. Bedanya hanya rasa lapar yang
dirasakan oleh orang yang berpuasa. Meski demikian tentu tetap tidak
terlihat dari luar.

Rasa lapar inilah yang biasanya membuat seseorang bermalas-malas-
an untuk melakukan berbagai hal. Lapar dijadikan alasan untuk menunda
semua pekerjaa. Padahal jika ia sungguh-sungguh mau melakukan peker-
jannya, puasa bukanlah penghalang bagi para pekerja. Puasa sudah diran-
cang oleh Tuhan sedemikian rupa, sehingga kita bisa beraktivitas seperti
hari-hari biasa. Hanya orang yang lemah yang akan bermalas-malasan
atau membatalkan puasa di siang hari jika merasa lapar dan haus, kecuali
bagi kondisi orang-orang yang dihalalkan untuk membatalkan puasa.

Menurut Meghan Teychenne, salah satu peneliti dari Deakin
University Center for Physical Activity and Nutrition Research di Australia,
bermalas-malasan dan tidak melakukan apa pun, bisa memertinggi
risiko gangguan mental, seperti depresi dan kegelisahan yang berlebihan.
“Kecenderungan ini justru terlihat pada tipikal manusia modern,”
ujarnya, sebagaimana dilansir dari laman Daily Mail.

Selain menyebabkan gangguan mental, ungkap Meghan, kebiasaan
bermalas-malasan juga bisa meningkatkan risiko terkena penyakit lain
yang membahayakan, seperti sakit jantung, stroke, diabetes, hingga
obesitas. Gangguan ini, sudah mulai mengancam anak-anak yang bahkan
belum menginjak usia 17 tahun.

195

Di sini lain, ada orang yang tetap menahan rasa lapar dan dahaga
tetapi dengan cara-cara yang kurang baik, misalnya seharian digunakan
untuk nge-game, seharian menonton televisi, jalan-jalan atau ngabuburit,
seharian memantau sosial media dan lain sebagainya. Jika memang
lapar dan haus, tidur adalah pilihan yang lebih baik daripada semua itu.
Orang yang demikian sebenarnya telah menyia-nyiakan waktunya dalam
berpuasa.

Dalam beberapa kegiatan tersebut memungkikan ada kemaksiatan.
Puasa yang dibarengi dengan tindakan maksiat memungkinkan kita ha-
nya akan mendapatkan lapar dan dahaga saja. Rasululah sendiri memberi
peringatan pada orang-orang yang menyia-nyiakan puasanya. Beliau ber-
sabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapat-
kan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” [HR. Thobroni].

Namun jika kita masih punya niat untuk menambahkan keutamaan
puasa kita, maka beribadah yang paling baik, di waktu siang maupun
di malam hari. Memperbanyak banyak amalan dan ibadah adalah satu
jalan untuk membuat puasa semakin afdal. Dengan hanya berdiam diri di
rumah kita bisa melakukan berbagai hal yang lebih bermanfaat. Misalnya
dengan memperbanyak membaca Alquran atau membaca buku.

Bekerja juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam ber-
puasa. Dengan berpuasa kita disarankan untuk semakin giat bekerja ka-
rena hal tersebut merupakan jalan jihad bagi kita, jihad menafkahi diri
sendiri dan keluarga. Di samping itu, bekerja dalam kondisi puasa dapat
menjadikan hasil kerja semakin berkah. Keberkahan yang kita dapatkan
akan memberi ketentraman dalam diri kita dan juga keluarga yang mene-
rima hasil kerja.

196

Orang Kecelakaan Kok
Malah Difoto?

M araknya smartphone yang memiliki banyak fitur, terutama
kamera membuat siapa saja bisa mendokumentasikan apa
saja dan di mana saja serta kapan saja. Entah makanan,
tempat rekreasi, bahkan hal-hal kecil sekalipun. Semuanya difoto dan
didokumetasikan. Tujuannya pun beragam. Ada yang bertujuan diposting
di sosial media, ada yang sekadar mendokumentasikan, ada pula hanya
iseng.
Perilaku seperti di atas sangat jamak kita temui di masyarakat kita.
Yang lebih ironis adalah ketika kita memanfaatkan kamera smartphone
atau kamera jenis apa saja, untuk memotret orang kecelakaan atau orang
yang sedang terkena musibah atau korban dari suatu kekerasan. Orang
yang senang melakukan hal ini biasanya cenderung senang menyebarkan
foto-foto di sosial media.
Orang tersebut akan senang jika foto-foto yang ia unggah mendapat-
kan respon dari publik dan dikutip di mana-mana. Ia seolah menjadi yang
pertama dalam mengabarkan korban kecelakaan. Padahal, hal ini tidak-
lah beretika. Dalam etika jurnalistik, tidak diperbolehkan menyebarkan
gambar-gambar yang vulgar. Gambar-gambar itu mestinya disensor terle-
bih dahulu, pada bagian-bagian tertentu gambar dibuat blur.
Mestinya, etika ini juga dipahami masyarakat umum. Sebab tak se-
mua orang bisa bertahan melihat darah atau bagian tubuh yang terluka.
Dengan begitu, kita sebenarnya menghormati orang lain.
Alih-alih ingin menolong, orang tersebut malah mengambil berbagai
gambar orang kecelakaan. Karena sibuk memotret ia jadi lupa untuk me-

197

nolong. Padahal kita tahu, orang yang terkena musibah tersebut sangat
membutuhkan pertolongan. Namun sebagian orang juga enggan meno-
long karena takut atau tidak mau menjadi saksi yang akan ditanya-tanya
oleh polisi. Hal ini biasanya terjadi di kota-kota besar. Di mana kenda-
raan-kendaraan melaju dengan kencang, dan ketika ada yang kecelaka-
an, orang-orang cenderung hanya melihat. Alasannya urusannya akan
panjang. Harus membawa korban ke rumah sakit, dan berurusan dengan
polisi.

Islam sangat menganjurkan kepada kita untuk saling tolong
menolong. Menolong orang yang kecelakaan adalah salah satunya.
Menolong ini pahalanya sangatlah besar. Nabi Muhammad Saw. berabda:

“Siapa yang berjalan menolong orang yang susah maka Allah akan
menurunkan baginya tujuh puluh lima ribu malaikat yang selalu men-
doakannya dan dia akan tetap berada dalam rahmat Allah selama dia
menolong orang tersebut dan jika telah selesai melakukan pertolongan
tersebut, maka Allah akan tuliskan baginya pahala haji dan umrah dan
sesiapa yang mengunjungi orang yang sakit maka Allah akan melindung-
inya dengan tujuh puluh lima ribu malaikat dan tidaklah dia mengangkat
kakinya melainkan akan dituliskan Allah baginya satu kebaikan, dan ti-
daklah dia meletakkan tapak kakinya untuk berjalan melainkan Allah
angkatkan daripadanya, Allah akan ampunkan baginya satu kesalahan
dan tinggikan kedudukannya satu derajat sampai dia duduk disamping
orang sakit, dan dia akan tetap mendapat rahmat sampai dia kembali ke
rumahnya.” [HR Thabrani].

Pertolongan yang kita berikan tersebut, tidak hanya bermanfaat
bagi kita di dunia, melainkan juga di akhirat. Bertolongan itu akan
berbalik menolong kita, dalam masa-masa sulit di Hari Perhitungan.
Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barang siapa yang melepaskan satu
kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu
kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah
urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di
akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah
akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong

198

hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.” [HR.
Muslim].

Dengan dua hadis di atas, kita tak perlu lagi menolong siapa saja,
dalam kesulitan apa saja. Apalagi jika kecelakaan yang menyebabkan
hilangnya jiwa manusia. Sebagai muslim jelas kita wajib memberikan
pertolongan, jika perlu hingga selesai masa penguburan. Bagaimanapun
hukumnya wajib kifayah untuk menyalatkan dan kemudian menguburkan
mayat.

Sementara itu, bagi pelaku atau orang yang menabrak korban, hingga
menyebabkan kematian, Islam menghukuminya dengan pembunuhan
yang tidak disengaja. Maka bukan hukum qishos yang diberikan
kepadanya, seperti layaknya seseorang yang melakukan kejahatan.
Hukuman baginya adalah diyat (denda yang diberikan kepada keluarga
korban) dan kafarot, berpuasa selama dua bulan berturut-berturut. Jika
keluarga korban menolak, kewajiban tersebut bisa gugur.

Allah Swt. berfirman, “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin
dengan tidak sengaja, (hendaklah) ia memerdekakan seorang budak yang
beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya,
kecuali jika mereka bersedekah (tidak mengambilnya).” [QS. An Nisa: 92].

199

Kalau Mau Makan Berdoa
Dulu, Bukan Difoto Dulu

S martphone yang multitasking kerap disalahgunakan oleh pemiliknya.
Terutama karena memiliki kamera yang salah satu fungsinya untuk
mendokumentasikan berbagai hal. Ironisnya, bahkan makanan pun
didokumentasikan seolah barang yang sangat penting untuk diarsipkan.
Padahal tujuannya bukan untuk itu.

Sembari menunggu yang kita pesan datang, kita pun sibuk
menyiapkan smartphone dengan kamera yang relatif bagus. Ketika
makanan itu datang, betapa senangnya hati kita. Bukan karena perut
yang meronta ingin diisi makanan, melainkan kamera smartphone yang
siap melahapnya untuk kali pertama. Setelah mengambil gambar, bukan
kemudian berdoa dan segera memakannya, tetapi masih disibukkan
dengan mem-posting-nya di sosial media.

Setelah puas dengan hal itu, barulah makanan itu disentuh, hingga
lupa berdoa. Pada saat makan, kita pun masih sibuk dengan smartphone
kita dan melihat-melihat siapa saja yang memberi tanda suka dan
mengomentari apa yang kita makan. Hal ini seolah-olah kita sedang
memamerkan kepada orang lain, bahwa kita sedang makan enak dan di
suatu tempat yang istimewa pula.

Selain itu, kita pun lupa merasakan bagaimana rasanya makanan
tersebut. Kita hanya mengatakan enak pada makanan yang tersaji dan
telanjur kita foto itu. Dengan demikian kita akan demikian sebagai kaum
sosialita yang gemar makan di tempat-tempat tertentu. Pun demikian
berlaku pada masakan kita sendiri. Seolah-olah menunjukkan kita pandai
memasak. Padahal entahlah rasanya seperti apa.

200

Jika kita bermaksud pamer, maka hilanglah rasa syukur kita atas
apa yang telah diberikan Allah pada saat itu, yaitu menikmati makanan.
Sementara itu, jika kita membuat orang lain menginginkannya sementara
kita tidak membaginya makanannya, hanya fotonya saja, sesungguhnya
kita sedang menyiksa orang lain. Niat pamer ini bisa dihukumi dengan
pamer harta. Bagaimanapun kita sedang mekan di tempat enak dan tidak
semua orang bisa menikmatinya, terutama lagi jika harga makanannya
mahal.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Sesungguhnya termasuk
pemborosan bila kamu makan apa saja yang kamu bernafsu memakannya.”
[HR. Ibnu Majah]. Pada mulanya, nafsu pada makanan dimaksudkan
adalah rakus terhadap makanan sehingga terburu-buru memakannya
karena takut ada orang yang akan meminta. Namun dalam konteks ini,
rakus pada makanan bisa diartikan bernafsu ingin memotretnya dan
kemudian menyebarkannya ke sosial media.

Hal ini bukanlah etika makan yang benar menurut Islam. Etika makan
telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Beliau bersabda kepada Umar bin
Abi Salamah, “Wahai anak, ucapkanlah Bismillah dan makanlah dengan
tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di hadapanmu.” [HR.
Bukhari].

Ibnu Katsir dalam kitab tafisrnya yang sangat terkenal berjudul
Tafsir Alquran Al ‘Azhim menjelaskan bahwa, “Kecintaan terhadap dunia,
kenikmatan dan perhiasannya telah melalaikan kalian dari mencari
akhirat. Hal itu pun berlanjut dan baru berhenti ketika datang maut dan
ketika berada di alam kubur saat kalian menjadi penghuni alam tersebut.”

Dalam tafsir yang diberikan oleh Ibnu Katsir tersebut kita dapat
mengaitkan dengan konteks saat ini. Jika kita terlalu menyenangi apa yang
kita makan sehingga kita lupa berdoa dan berbagi, maka sesungguhnya
kita sudah lupa pada urusan akhirat. Kita hanya berbangga-bangga
dengan urusan dunia saja, terutama dalam hal ini soal makanan.

201

Makanan Itu Dimakan,
Bukan Difoto!

K emajuan teknologi internet yang dibarengi dengan munculnya
media-media sosial seperti Facebook, Twitter, Path dan Instagram
memunculkan satu budaya populer baru di kalangan masyarakat,
khususnya kalangan anak muda. Salah satu budaya yang tercipta dari
media sosial adalah kebiasaan mengambil foto makanan sekaligus
mempublikasikan foto tersebut di berbagai media sosial yang mereka
gunakan. Bahkan ada yang memiliki moto seperti ini “Makan belum sah
kalau belum mem-post foto makanan tersebut ke Path dan Instagram”.
Tidak heran jika kini banyak anak muda yang melengkapi kamera
smartphone-nya dengan berbagai perlengkapan untuk mendukung hasil
foto yang diambil.

Beberapa pakar psikologis pun turut angkat bicara terhadap budaya
baru di kalangan anak muda ini, salah satunya Valerie Taylor. Seorang
psikologis   dari Women’s College Hospital, University of Toronto, Canada
ini mengungkapkan bahwa kebiasaan memotret makanan ini didasarkan
pada ambisi seseorang untuk menunjukkan eksistensi dirinya di depan
orang lain. Mereka yang menjadikan kegiatan ini sebagai kebiasaan
yang selalu dilakukan sebelum makan cenderung ingin mendapatkan
pengakuan dan pujian dari teman-teman dunia maya-nya. Bagi mereka,
meng-upload foto makanan menjadi kebanggaan tersendiri, apalagi jika
makanan yang mereka foto memiliki harga yang mahal dan dijual di
restoran mewah.

Saat melakukan aksi pamer foto makanan di media sosial,
kamu hanya akan fokus pada foto yang kamu post dan berbagai

202

komentar yang di-post oleh teman-teman dunia maya kamu. Hal ini
tentunya akan membuat kamu tidak bisa benar-benar menikmati
rasa makanan yang kamu beli. Nah saat makan, sebaiknya kamu
menyimpan gadget atau smartphone kamu untuk sementara, agar
kamu bisa lebih fokus untuk menikmati makanan tersebut.

Semakin mahal harga makanan yang difoto, maka orang pun
akan cenderung merasa lebih bangga untuk mempublikasikan foto
tersebut di media sosial. Hal ini pada akhirnya akan menimbulkan efek
ketergantungan yang berlebihan, dimana kamu rela mengeluarkan uang
yang tidak sedikit hanya untuk memuaskan keinginan dan menunjukkan
eksistensi kamu di depan orang lain. Nah jika dibiarkan terjadi secara
terus-menerus, kebiasaan pamer foto makanan ini akan menjadi gaya
hidup yang negatif dan menimbulkan perilaku pemborosan uang yang
berlebihan.

Jika sudah benar-benar melekat pada diri kamu, budaya
memotret  makanan  ini bisa menjadi “candu” tersendiri yang membuat
kamu selalu ketagihan untuk melakukannya. Saat sudah masuk dalam
tahap ketagihan, kebiasaan ini pada akhirnya bisa membuat kamu
kehilangan identitas diri kamu yang sebenarnya. Misalkan, dulunya
kamu merupakan pribadi yang suka bersosialisasi dan banyak mengobrol
saat bertemu dengan teman, kebiasaan ini bisa saja mengubah kamu
menjadi orang yang individualistis dan hanya sibuk memotret makanan
dan mengabaikan teman-teman saat sedang berkumpul. Kebiasaan
memotret makanan ini juga bisa mengubah pribadi kamu yang dulunya
suka berhemat menjadi orang yang boros dan suka menghambur-
hamburkan uang untuk sekadar membeli makanan mahal untuk difoto.

Sebenarnya tidak ada salahnya jika sesekali kamu memotret
makanan sebelum memakannya dan mem-post foto tersebut di media
sosial. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kamu menjadikan hal
tersebut sebagai kebiasaan yang selalu kamu lakukan sebelum makan.

203

Handphone Di-charge Terus,
Iman Dibiarkan Lemah

S iapa hari ini yang tak memiliki smartphone? Nyaris kita semua
memilikinya. Harganya yang variatif dan fungsinya yang
multitasking membuat siapa saja tertarik untuk memilikinya.
Lha bagaimana tidak, memiliki smartphone seolah sebagian dunia telah
genggam. Dari mulai kecepatan informasi dan berbagai kebutuhan bisa
kita tuntaskan hanya dengan menyentuh-nyentuh layar. Dunia begitu
praktis dalam genggaman saja.

Sebagian kita mungkin sudah terganggu dengan barang modern ini.
Bahkan semenit saja tak menyentuhnya, tangan rasanya sudah gatal.
Menjelang tidur pun kita kerap ditemani barang mungil ini. Pun demikian
kita bangun tidur, yang diraba pertama adalah smartphone. Jika pun tak
rela jika barang kesayangan ini akan mati karena baterai habis. Kita akan
buru-buru mencari colokan listrik agar kebutuhan hidup smartphone kita
terpenuhi.

Meski sangat perhatian dengan smartphone, kita seolah-olah lupa
dengan kebutuhan kita tentang iman. Jika iman kita melemah, kita akan
biasa saja, tanpa ada urgensi untuk segera memberinya daya agar iman
semakin kuat. Contoh yang sering kita alami adalah ketika di bulan suci
Ramadan.

Padahal awal bulan suci bagi muslim ini, lihatlah masjid-masjid
penuh. Orang-orang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitasnya. Dari
mulai buka bersama, salat berjamaah, tarawih, hingga tadarus. Akan
tetapi, pada sepuluh hari kedua, jamaah masjid akan berkurang, apalagi

204

jika sudah sepuluh hari terakhir. Jumlah jamaah bisa kita hitung dengan
jari.

Semestinya, kita lebih peduli dengan iman kita daripada dengan
smartphone. Jika kita memberi daya pada smarphone sehari sekali atau
dua kali, mestinya kita bisa lima kali bahkan sepuluh untuk memberi
kehidupan pada iman kita. Apalagi di bulan puasa, setiap pahala
dilipatgandakan dan mestinya kita memanfaatkan bulan tersebut sebagai
moment untuk meningkatkan iman kita kepada Allah Swt.

Iman terletak di dalam hati, sementara hati mudah sekali berubah-
ubah. Maka tak heran jika iman kadang naik, kadang turun. Untuk
itu, ada perintah agar kita tetap menjaga keimanan kita agar terus
meningkat. Iman seperti halnya kekebalan pada tubuh kita. Jika kita
tidak memberikan nutrisi yang cukup, maka daya tahan tubuh kita bisa
menurun dan pada akhirnya akan mudah terserang penyakit.

Begitu pula dengan iman kita. Iman yang rendah atau lemah, akan
mudah sekali diserang oleh penyakit. Dalam hal ini, penyakit itu terwujud
dengan bujukan setan atau kemaksiatan. Jika iman kita kuat, segala
macam godaan yang dihadirkan setan akan dengan mudah kita hindari.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman
ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan
apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka.” [QS. Al
Anfal: 2].

Ayat di atas memberikan pengertian kepada kita bahwa orang
yang beriman adalah yang selalu mengingat Allah Swt., baik dalam
suka maupun duka. Dan jika mereka mendengar nama Allah Swt. atau
mendengar ayat-ayat suci, maka iman mereka akan bertambah. Demikian
pula jika seseorang itu sudah lama tidak mendengarkan keduanya, maka
imannya pun akan melemah.

Oleh sebab itu, kita haruslah senantiasanya berzikir kepada Allah
dan mendasar Alquran agar iman kita semakin kokoh. Kokohnya iman
kita akan membuat hati kita tenang dan tenteram. Jika ketenteraman
telah kita dapatkan, dalam kehidupan sosial dan agama pun mudah kita
jalani.

205

Allah Swt. berfirman, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan
ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah
di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah
tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana.” [QS. Al Fath: 4].

Berkenaan dengan iman, tak ubahnya seperti sebuah lampu. Jika
lampu tersebut diberikan aliran listrik dan kemudian lampu itu menyala,
maka lampu itu masih memiliki setrum. Akan tetapi jika sebaliknya yang
terjadi, lampu tidak merespon apa pun bahkan tak menyala, maka lampu
tersebut sudah tidak memiliki setrum. Sepeti hal iman kita. kadang
menyala, kadang redup. Maka agar tetap menyala, kia wajib menjaganya
dengan cara-cara yang sudah ditunjukkan oleh Allah dan Rasulullah.

206

Selfie itu Ria
dan Ujub

B agi yang memiliki smartphone, siapa yang tidak pernah selfie?
Bahkan jauh sebelum ada barang kecil multitasking ini, kita sudah
sering melakukannya, entah mengunakan Handphone dengan
kamera seadanya atau menggunakan kamera.

Pengertian Selfie itu sendiri singkatan dari “self potrait” yang
mengartikan foto hasil memotret diri sendiri, yang dilakukannya sendiri.
Sejumlah literatur online menyebutkan bahwa pada 2013 secara resmi
kata selfie masuk ke dalam Oxford English Dictionary.

Selfi merupakan perilaku di mana kita memfoto diri sendiri, dan
menunjukkannya kepada orang lain. Dari awal kemunculan smartphone,
hingga kini aktivitas selfie tetap berjalan dan makin banyak yang
melakukannya seiring berkembangnya teknologi sosial media. Bisa
kita lihat, sosial media yang kini hadir, banyak yang memilih untuk
memanfaatkan foto sebagai bahan postingannya. Hal ini juga yang
kemudian memicu selfie tetap dilakukan banyak kalangan pengguna
sosial media tersebut.

“Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin
diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto
tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya,” ujar Dr Mariann Hardey,
seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social
media, seperti dikutip Guardian.

Hardey juga mengatakan bahwa dengan memamerkan foto-foto
selfie tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat ‘bernilai’,
lebih-lebih apabila ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.

207

Dalam beberapa hal, selfie merupakan penyakit candu. Bagaimana
tidak, selfie membuat orang ingin dipuji dan dikomentari sehingga hal
ini akan berlanjut terus-menerus. Siapa saja sebagai manusia, sekecil apa
pun dalam hatinya, ada rasa ingin dipuji. Namun jika hal ini mendominasi
perasaan kita, maka akan berujung pada pamer. Meski demikian, orang
yang telanjur senang selfie tak akan menghentikannya.

Tanpa postingan yang baru dengan berbagai gaya, masyarakat sosial
media akan menganggap kita sebagai akun yang tertinggal. Sementara
perkembangan sosial media begitu pesatnya. Untuk memenuhi
perkembangan tersebut, pemilik akun di sosial media mestilah update
foto setiap hari.

Selain itu, foto yang diposting dimaksudkan untuk mendapatkan
tanda like dan komentar. Jika like dan komentar banyak, maka pemilik
akunnya juga akan semakin bangga. Jika sedikit yang menyukai, tak
jarang pemilik akun itu akan menghapusnya karena ia beranggapan
fotonya tidak menarik bagi masyarakat sosial media. Hal ini sebenarnya
mencerminkan seseorang yang tidak dewasa dalam bersosial media. Juga
menunjukkan penggunaan internet yang tidak sehat.

Orang yang demikian, dalam Islam dinyatakan sebagai orang yang
bodoh, setinggi apa pun pendidikan yang ditempuhnya. Abu Darda r.a.
dalam kitab Jami’ Bayan Al-Ilmi wa Fadhlih mengatakan bahwa orang
yang demikian termasuk dalam golongan orang-orang bodoh. Ia berkata,
“Tanda kebodohan itu ada tiga; pertama mengagumi diri sendiri, kedua
banyak bicara dalam hal yang tidak manfaat, ketiga melarang sesuatu
namun melanggarnya.”

Dari Abu Darda di atas, kita mengetahui bahwa perilaku selfie
menunjukkan dua hal sekaligus, yaitu pamer dan ujub atau mengagumi
diri sendiri. Rasulullah Saw. melarang perilaku ini. Hal ini bisa
mengakibatkan kita terjatuh pada jurang kosombongan. Bahkan,
Rasulullah Saw. menyebutnya sebagai dosa besar yang membinasakan
pelakunya. “Tiga dosa pembinasa: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu
yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya.” [HR. Thabrani].

208

Jika kita selfie dan menyimpannya masih bisa kita maklumi, karena
tidak ada unsur pamer. Akan tetapi, sikap ujub karena selfie belum tentu
bisa hilang. Sebab mengagumi diri sendiri terkadang tak memerlukan
penilaian orang lain.

209

Selfie Saat Beribadah,
Mau Pamer?

S eiring dengan perkembangan teknologi, kini para jamaah haji dan
umroh ramai-ramai mendokumentasikan kegiatan ibadahnya
dalam bentuk foto dan video lalu meng-upload ke media sosial.
Banyak kalangan yang menganggap bahwa perbuatan tersebut termasuk
ria. Menurut saya foto selfie belum tentu termasuk ria, bahkan bisa

termasuk tambahan perbuatan ibadah. Loh kok bisa?
Ria adalah perbuatan hati yang ingin memamerkan suatu bentuk

ibadah agar mendapat pujian dari manusia. Tujuan pamernya adalah
pujian manusia. Jika tujuan pamernya adalah pujian manusia, jelas hal
itu termasuk ria, tetapi kalau tujuan pamernya adalah ingin menceritakan
suatu nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita maka tidak
termasuk ria bahkan termasuk ibadah yaitu syukur nikmat. Bukankah
Allah memerintahkan kita untuk menceritakan nikmat yang kita peroleh
dari Allah?

“Dan atas nikmat dari Tuhan mu, ceritakanlah.” (QS. Ad-Dhuha 93:11)
Jadi kalau pamernya dengan niat melaksanakan perintah Allah
sesuai ayat tersebut untuk menceritakan nikmat pemberian Allah, maka
perbuatannya termasuk ikhlas (melaksanakan perintah Allah).
Disini jelas berbeda. Kalau  ria  tujuan pamernya adalah pujian
manusia, tetapi kalau  ikhlas tujuan pamernya adalah melaksanakan
perintah Allah. Ria dan ikhlas adalah perbuatan hati yang tidak bisa
dilihat oleh orang lain, yang bisa melihat apakah ria atau ikhlas hanyalah
dirinya dan Allah Swt. Jadi kita tidak bisa menghukum seseorang ria atau

210

ikhlas atas perbuatan yang dilakukannya, karena kita tidak bisa melihat
isi hatinya. Kita hanya bisa berbaik sangka dan berdoa semoga perbuatan
tersebut dilakukannya dengan ikhlas mencari keridaan Allah.

Mari kita perhatikan masjid yang mewah, pesantren yang mewah,
majelis taklim yang mewah, ulama mengarang kitab berjilid-jilid,
Alquran terbesar, Alquran terkecil, dan sebagainya. Apakah para
pembuatnya termasuk ria? Belum tentu, itu tergantung hati mereka,
dan hanya mereka dan Allah saja yang tahu ria atau ikhlasnya. Kita
hanya bisa berbaik sangka dan berdoa semoga mereka ikhlas. Lalu kita
mengambil hikmahnya, alhamdulillah masjidnya nyaman, alhamdulillah
pesantrennya nyaman santrinya jadi betah menuntut ilmu, alhamdulillah
ada ulama yang mengarang kitab dengan sangat jelas dan gamblang jadi
lebih sudah Paham, dan seterusnya.

Kembali kepada foto selfie, alhamdulillah mereka bisa melaksanakan
ibadah haji dengan nyaman dan selamat, dan bisa menggugah hati
umat Islam yang lain untuk melaksanakan haji pula, juga bisa mengikis
anggapan sebagian umat Islam yang menganggap bahwa ibadah haji
itu ngeri karena akan dibalas perbuatan dosa kita waktu di Indonesia.
Semoga mereka melakukannya dengan ikhlas untuk syukur nikmat, dan
semoga mereka semua menjadi haji yang mabrur.

211

Tidak Mau Salat Pengin
Anaknya Jadi Saleh dan

Berbakti

P endidikan untuk anak sangatlah penting. Hal ini merupakan
kewajiban orang tua untuk mendidik anak hingga ia tumbuh
sampai akil balig. Jika orang tua tak mampu mendidik anaknya
sendiri, maka diperbolehkan untuk menyerahkan kepada orang lain,
dalam hal ini adalah guru.

Sebagaimana kita tahu, anak merupakan tabungan kita baik dunia,
di alam kubur maupun di akhirat kelak. Lalai dalam mendidik anak akan
diminta pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Terutama doa anak saleh
yang sangat dinanti-nanti oleh orangtuanya.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Semua kalian adalah pemimpin
dan kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin. Kepala
negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya,
seorang bapak pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya
tentang yang dipimpinnya. Seorang ibu pemimpin di rumah suaminya.
Pembantu pemimpin terhadap harta majikannya dan akan ditanya
akan kepemipinannya. Dan saya mengira telah mengatakan, seseorang
peminpin terhadap harta ayahnya dan akan ditanya terhadap
kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan
ditanya terhadap kepemimpinannya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Siapa pun orangtuanya, menginginkan anaknya berakhlak saleh
atau salehah. Hal ini kerap dikaitkan dengan pemahaman anak terhadap
agamanya. Anak yang dapat memahami agama cendrung akan bersikap

212

baik atau berakhlak karimah. Begitu pula sebaliknya, anak yang jauh dari
ajaran agama, kecenderungan untuk durhaka kepada orang tua sangatlah
tinggi.

Meski tidak menutup menutup kemungkinan anak yang paham
agama akan durhaka kepada orangtuanya, namun ia tahu batasannya.
Kelak, anak itu akan bisa mendoakan orangtuanya. Bagaimana jika anak
tak memahami agama atau bahkan tak tahu cara berdoa? Bagaimana ia
bisa berdoa untuk orangtuanya, bahkan berdoa untuk dirinya sendiri ia
tak bisa?

Mengenai pendidikan anak ini, Allah Swt. telah berfirman, “Hai orang-
orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-
malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.” [QS. At Tahrim: 6].

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma, dia berkata,
Rasulullah Saw. bersabda, “Perintahkan anak kalian untuk melakukan
salat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila
berusia sepuluh tahun, lalu pisahkan ranjang di antara mereka.” [HR. Abu
Daud].

Kita diwajibkan untuk memerintahkan kepada anak kita untuk
berakidah dan beribadah kepada Allah Swt. Pelajaran akidah inilah yang
mula-mula harus kita terapkan kepada anak. Pendidikan selanjutnya bisa
kita ikuti dari kemauan anak. Apa minat dan bakatnya bisa kita arahkan.

Di masyarakat kita sekarang, pendidikan berdasarkan minat dan
bakat lebih cenderung diutamakan. Bahkan banyak orang tua yang
memaksakan anaknya untuk menjadi yang diinginkannya, tetapi tetap di
luar jalur agama. Akan tetapi, keinginan orang tua agar anaknya menjadi
saleh tidak berubah. Hal ini tentu saja harapan yang berkebalikan.

Model pendidikan semacam ini biasanya diterapkan oleh orang
tua yang kurang paham agama. Bahkan untuk beribadah kepada Allah
saja, ia enggan-engganan. Bagaimana orang tua mengharapkan anaknya
menjadi anak yang saleh, sementara ia tidak berusaha menjadi saleh.

213

Padahal, pendidikan anak yang terbaik adalah pendidikan yang berbasis
percontohan. Anak akan meniru perilaku orangtuanya, jika orang tua
tidak salat, maka bisa dipastikan anak juga enggan untuk salat karena
tidak ada yang dijadikan panutan.

Orang tua yang salat dan berperilaku saleh juga merupakan pendidikan
bagi anaknya, bahkan ketika anak itu masih dalam kandungan ibundanya.
Seorang bapak bisa mendidiknya dengan kerap memperdengarkan ayat-
ayat Alquran kepada jabang bayinya. Lalu dilanjutkan ketika lahir, tubuh,
dan menjelang remaja.

Jika sejak dalam di kandungan sudah terbiasa mendengar Alquran
ketika lahir dan besar tidak sulit membentuknya menjadi anak yang
saleh. Sebab, anak kita telah terbiasa dan tidak asing dengan agama Islam.
Ketika sudah remaja dan kemampuan memahami agama kita hanya
sekadarnya saja, kita bisa menitipkan kepada seorang ustaz di pondok
pesantren. Dengan begitu kita akan lebih selamat.

Bagaimanapun pergaulan anak zaman sekarang sulit dikontrol.
Apalagi jika kita menyediakan bergai fasilitas untuknya. Baik jaringan
internet di rumah, maupun menyediakannya kendaraan untuk
bermain bersama temannya. Selain keselamatan agama dan psikologis,
keselamatan jasmani juga harus kita perhitungkan.

214

Rumah Hiburan Lebih
Ramai Daripada Rumah

Allah

S etiap manusia membutuhkan hiburan, tidak terkecuali seorang
muslim. Terutama di kota-kota besar dan dengan tingkat stress
tinggi karena dipacu oleh dunia industri yang sangat menyita
waktu. Bisa dibayangkan jika seseorang bekerja setiap hari, dari pagi
hingga sore atau bahkan malam hari. Maka hiburan adalah hal utama
yang ia cari ketika libur.

Tak jarang orang memuja hiburan ini. Bagaimana tidak, orang bisa
menghabiskan gaji kerja dalam sebulan atau tabungan dalam setahun
untuk mencari tempat hiburan. Dalam setahun telah dirancang akan ke
mana jika liburan panjang, terutama ketika liburan akhir hingga awal ta-
hun. Liburan ini menjadi agenda utama yang dipersiapkan selama seta-
hun penuh. Segala uang lembur, gaji bulanan, ditabung untuk memenuhi
kebutuhan liburan tersebut.

Hiburan memang hal yang menyenangkan bagi siapa saja. Alih-alih
mengatakan stress setelah lelah bekerja, sesungguhnya kita hanya mem-
butuhkan untuk mengerjakan hal lain selain bekerja dengan aktivitas
sehari-hari yang itu-itu saja. Misalnya kita mengerjakan aktivitas sosial.
Tentu hal ini akan sangat menghibur karena kita bisa menyumbangkan
waktu dan tenaga kita untuk orang banyak.

Akan tetapi, orang cenderung mengatakan bahwa hal itu sama
saja dengan bekerja. Padahal aktivitas sosial adalah pilihan sukarela
menyenangkan. Jika kita setiap hari hanya berhadapan dengan klien-

215

klien, sesekali cobalah untuk berhadapan dengan orang-orang yang benar-
benar membutuhkan uluran kita. Hal ini akan terasa sangat berbeda,
terutama untuk mengisi kekosongan hati kita dari ekspresi sosial akibat
terlalu sering bekerja. Dengan demikian, kita tidak akan menjadikan
hiburan atau liburan ke suatu tempat menjadi tujuan utama ketika libur.

Apalagi ke tempat hiburan yang cenderung berbau maksiat. Tempat
hiburan ini, dari buka hingga tutup akan selalu ramai. Setiap malam akan
selalu begitu. Tetapi hal berbanding terbalik dengan aktivitas di dalam
masjid. Masjid lebih cenderung sepi. Aktivitas yang ada hanya ketika
salat lima waktu. Itu pun mungkin hanya maghrib dan isya atau ketika
salat Jumat.

Padahal berdekatan dengan Allah bisa menjadi obat pelipur lara
bagi kita. Semakin kita dengan rumah Allah semakin kita bisa merasa
ketenteraman hati. Hal in bisa kita buktikan ketika kita tertimpa
musibah. Kita akan cenderung mendekat kepada Allah daripada tempat
hiburan. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam hati terdalam, kita lebih
membutuhkan Allah Swt. daripada tempat hiburan mana pun.

Tempat hiburan hanya akan menghibur kita sampai dipikiran saja.
Bahwa kita akan fresh ketika pulang dari tempat hiburan, tetapi di rumah
Allah Swt., tak hanya pikiran, hat kita juga akan menjadi fresh. Orang yang
kerap memburu tempat hiburan adalah orang yang cenderung kepada
kehidupan duniawi. Hal ini jelas dilarang oleh Rasulullah. “Hikmat itu
datang dari langit turun kedalam hati. Tidak akan singgah hikmat itu
kedalam hati yang terdapat di dalamnya empat sifat: Hati yang cenderung
kepada dunia, hati yang mengkhawatirkan esok harinya, hati yang dengki
kepada saudaranya dan hati yang menyukai kepangkatan.”

Oleh sebab itu, kita sebaiknya menghindari tempat hiburan dan
mendekatkan diri ke rumah Allah Swt. Orang yang lebih memilih rumah
Allah adalah orang-orang yang berhak mendapatkan petunjuk. Allah Swt.
berfirman, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-
orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta tetap mendirikan
salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada

216

Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan
orang-orang yang mendapat petunjuk” [QS. At Taubah: 18].

Ayat di atas memberikan penjelasan yang gamblang kepada kita
mengenai hakikat memakmurkan atau meramaikan masjid. Dengan
melakukan hal tersebut, maka kita mendapatkan dua hal sekaligus, yaitu
memperbaiki akidah dan beramal dengan baik. Apalagi jika kita tak hanya
datang ke masjid pada waktu salat fardu.

Kita bisa hanya berdiam diri di masjid sembari mendaras Alquran
atau berzikir. Jika kita tak mampu melakukannya, hanya berdiam diri
saja sudah merupakan hal yang baik. Setiap detiknya dihitung sebagai
pahala. Berbeda dengan kita berdiam diri di tempat hiburan, setiap
detiknya adalah maksiat.

Orang yang bersedia memakmurkan masjid akan senantiasa dalam
lindungan Allah Swt. Artinya, orang tersebut akan senantiasa mendapat
ketenteraman hati dan merasa cukup dengan apa yang diberikan kepada
Allah. Apalagi di dalam masjid kita tak perlu mengeluarkan gaji yang
telah kita dapatkan, tetapi justru akan menambahkan keberkahan atas
apa yang kita dapatkan.

Lalu, jika kita bersedia menabung selama setahun untuk liburan,
apakah kita bersedia menabung untuk akhirat?

217

Sekali Berbohong,
Selamanya Kejujuran Akan

Hilang

S iapa yang mau dibohongi? Kita akan menjawab, tidak sudi
dibohongi. Tetapi kebohongan bisa melanda kepada siapa saja.
Bahkan tanpa direncakan terlebih dahulu. Dan siapa pun kita pasti
pernah dibohongi, sekecil apa pun kebohongan itu. Jika kita merasa
sakit hati karena dibohongi, sebaiknya kita menghindari melakukan
kebohongan.

Kebohongan pertama biasanya akan diikuti oleh kebohongan beri-
kutnya karena kita tidak ingin kebohongan kita terungkap. Kebohongan
berikutnya adalah upaya untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Ke-
bohongan seperti mata rantai yang terus saling mengikat. Bahkan, kita
akan mengajak orang lain untuk berbohong menutupi kebohongan kita.

Siapa pun akan bersepakat bahwa kejujuran sangat mahal harga-
nya. Oleh sebab itu, sekali berbohong orang tak akan prcaya lagi pada
kita. Seperti halnya ketika kita membeli sesuatu di sebuah toko. Lalu kita
mendapatkan harga yang mahal, sesampainya di rumah kita tahu bahwa
barang yang kita beli tidak sesuai dengan yang dideskripsikan ketika di
toko. Tentu kita akan merasa jengkel dan kemudian tidak akan ke toko
itu lagi. Maka toko itu telah kehilangan kepercayaan kita.

Kebohongan biasanya dimulai ketika kita memiliki kepentingan
tertentu tetapi kita sulit meraihnya. Misalnya ketika kita ujian di sekolah.
Kita merasa tidak mampu mengerjakannya, maka kita menyontek.
Ada kepentingan ingin bisa menyelesaikan soal-soal, tetapi kita sulit

218

meraihnya. Maka kebohongan dengan cara menyontek menjadi jalan
yang dipilih.

Atau ketika kita ingin mentarget penjualan di toko. Kita ingin menjual
barang sebanyak-banyaknya. Tetapi kita merasa sulit untuk mendapatkan
pelanggan yang banyak. Maka yang ditempuh adalah berbohong kepada
pelanggan tentang kualitas barang sehingga mendapatkan pembeli. Lalu
ketika pelanggan kecewa dan komplain, kita akan membuat kebohongan
yang baru, entah dengan mengatakan bahwa itu merupakan kecerobohan
pelanggan atau lainnya. Padahal jelas hal itu disebabkan oleh kualitas
barang yang tidak bagus.

Begitu juga ketika kita menawarkan jasa kita. Kita sebenarnya tak
mampu mengerjakan suatu proyek, tetapi karena kita terdesak kebutuhan
ekonomi, maka kita akan berbohong bahwa kita bisa mengerjakannya.
Mengenai bagaimana nanti kita bisa mengerjakannya akan dipikirkan
kemudian. Lalu ketika dalam pengerjaan klien kita menanyakan proses
penggarapan, kita kelimpungan dan memebuat kebohongan yang baru.
Terus-menerus begitu kita akan terikat oleh mata rantai kebohongan.

Mengingat dampak dari kebohongan ini yang sangat negatif dan
membahayakan diri dan masyarakat kita, maka Islam melarang berbohong
dan menganggap perbuatan ini sebagai perbuatan dosa besar. Dalam
Alquran sudah dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” [QS.
Al Mukmin: 28].

Artinya, ketika kita berhohong maka kita akan kehilangan petunjuk
dari Allah Swt., padahal setiap hari dan dalam segala perkara kita
memohon petunjuk dari Allah. Maka ketika kita sudah kehilangan
petunjuk sebagai kompas itu, kita akan tersasar ke jalan yang jauh dari
Allah Swt. Kepada siapa lagi kita akan memohon petunjuk?

Sebagaimana kita tahu, bahwa kebohongan akan mengantar kita
kepada keburukan dan berujung pada neraka, akan tetapi sebaliknya,
kejujuran akan memberi dampak kebaikan kepada kita dan Allah
menjanjikan surga bagi orang-orang yang jujur. Oleh sebab itu, Rasulullah
Saw. memerintahkan kita untuk selalu berpegang teguh kepada kejujuran.

219

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan
menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan
kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai
orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan
kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan ke arah neraka.
Seseorang yang terus-menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah
sebagai pembohong.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Selain ancaman itu, berbohong juga merupakan salah satu sebagai
orang munafik. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw., “Pertanda
orang yang munafik ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji
mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat khianat.” [HR.
Bukhari dan Muslim].

Sebanarnya, dalam kondisi apa pun, kita bisa memilih. Kebohongan
biasanya dilalukan dengan kesadaran. Nah, dalam kondisi sadar
tentu kita juga bisa memilih untuk tidak berbohong. Kejujuran akan
semakin menaikkan “nilai-nilai” kita, sementara kehobongan akan
menjatuhkannya.

220

Cantik-cantik Nggak Bisa
Ngaji, Malu Dong.

S etiap wanita selalu ingin tampil cantik. Baik di dalam rumah
maupun di luar rumah, dalam acara sederhana maupun acara besar,
kecantikan selalu menjadi pilihan bagi perempuan. Bahkan, dalam
satu acara ke acara lain dalam waktu yang nyaris bersamaan pun, wanita
ingin berganti baju akan tampil cantik yang berbeda karena acaranya
sudah berbeda. Terlebih jika dalam satu acara, ada sebagian kenalan yang
juga hadir di acara berikutnya.

Misalnya dalam satu hari ada dua kondangan, wanita akan cende-
rung berganti baju untuk datang ke kondangan berikutnya, jika ada wak-
tu. Misalnya ada jeda satu atau dua jam dari kondangan satu ke kondang-
an berikutnya, maka berganti baju, kalau memungkinkan dengan make-
upnya sekaligus. Hal ini akan menambah nilai prestise bagi wanita.

Terlalu memerhatikan penampilan, wanita melupakan ajaran
agamanya, terutama dalam hal mengaji. Mengaji bukanlah sesuatu yang
kerap ditampilkan orang-orang seperti halnya kecantikan, sehingga
mengaji menjadi prioritas ke sekian. Padahal ini merupakan pendapat
yang terbalik.

Wanita yang pandai mengaji, dalam hal ini dapat memahami agama
dengan baik, tentu tak mengurangi penampilan cantiknya ketika di luar
rumah, melainkan memaksimalkan kecantikannya ketika di dalam ru-
mah. Karena sesungguhnya kecantikan yang dipunyai hanya milik orang-
orang yang muhrim baginya.

Jika wanita berpikir demikian, maka mengaji merupakan hiasan
terbaiknya. Bagaimana tidak, apa yang ia kaji, terutama Alquran akan

221

menjaganya dari berbagai hal yang membahayakan diri dan keluarga.
Kita sering mendengar atau membaca kecantikan yang menghancurkan
rumah tangga. Tampil cantik di luar rumah, sengaja atau tidak, bisa
menjadi godaan bagi laki-laki lain.

Berbeda halnya jika yang dijadikan hiasan adalah bacaan Alquran,
tentu orang juga akan melihat bahwa kita adalah wanita yang tidak
mudah digoda sebab kita memiliki pegangan keimanan yang kuat.
Sebelum menggoda saja, lelaki akan berpikir seribu kali.

Mengaji sama halnya dengan menuntut ilmu, yaitu mempelajari
agama Allah Swt. Dan hal ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Mencari ilmu itu (hukumnya)
wajib bagi setiap orang Islam.” [HR. Ibnu Majah].

Siapa pun orangnya, selagi ia muslim, maka memiliki kewajiban
untuk menuntun ilmu. Dalam hadis lain kewajiban itu berlaku dari sisi
waktu, dari mulai dilahirkan hingga dimakamkan. Dan dalam hadis
kewajiban berlaku secara geografis, yaitu menuntut ilmu walai sampai
ke China. Artinya, kapan pun dan di mana pun kita memiliki kewajiban
untuk senantiasa ngaji atau belajar.

Sementara itu, sebelum kita mempelajari banyak ilmu, Islam telah
memberikan dasar pada kita tentang ilmu apa saja yang mesti kita
utamakan untuk dipelajari. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Ilmu
itu ada tiga, dan yang selain itu hanya lebihan saja, (adapun ketiga ilmu
itu adalah: 1. Ayat yang menghukum, yakni Alquran, dan 2. Sunah yang
tegak, yakni Al-Hadis, dan 3. Iilmu faro’idh (tata cara membagi harta
pusaka/waris) yang adil.” [HR. Abu Dawud].

Maka jelaslah, sebelum kita mengetahui rumus matematika,
menguasai ilmu bahasa, dan melakukan berbagai eksperimen fisika,
terlebih dahulu kita diwajibkan untuk mempelajari Alquran. Hal ini agar
kita memiliki jangkar kendali agar kita tidak terseret arus gelombang
keilmuan yang terkadang bisa menjerumuskan kita.

Belajar tidak harus di sekolah formal, kita bisa belajar di mana saja
asalkan bisa menambahkan pengetahuan yang kita miliki. Berbagai
pengetahuan yang menumpuk pada diri kita pada akhirnya akan

222

mengangkat derajat kita sendiri. Semakin tinggi derajat kita, hidup
kita akan semakin mulia. Dan kemuliaan adalah hal yang paling dicari
manusia di dunia ini.

Allah Swt. telah berfirman, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-
orang yang beriman di antara kamu sekalian dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Waspada terhadap
apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Mujadalah: 11].

223

Kalau Kangen Sebut
Namanya dalam Doa, Bukan

Cuma dalam Status

B erjauhan dengan seseorang kadang menyiksa. Bahwa kita dulu
pernah melakukan berbagai hal bersama-sama, makan bersama-
sama, jalan-jalan bersama, dan lain sebagainya. Tentu kita kita
sudah berpisah karena kebutuhan masing-masing, suatu saat kita akan
merasakan kangen.

Kangen merupakan jarak yang terbentang antara kita dan sesuatu
yang kita kangeni. Jarak membuat kita jarang bertemu, jarang berkomu-
nikasi, dan lain sebagainya. Padahal dulu, setiap hari bertemu. Ketika
kengan inilah, kita ingin menunjukkan kepada orang yang kita kangeni,
atau bahkan kita juga ingin orang lain tahu bahwa kita sedang kangen
seseorang.

Lalu melalui sosial media kita akan menulis nama orang yang kita
kangeni, atau menggunakan inisial atau menyebut ciri-ciri tertentu orang
yang kita kangeni. Ini merupakan hal wajar, ekspresi hati yang perlu
dikeluarkan. Akan tetapi, akan lebih baik, jika skita merindukan orang
lain, kita tak perlu menyebutnya dalam status, tetapi cukup di dalam doa
kita saja.

Artinya, kita mengirim doa untuk orang yang kita kangeni agar ia
baik-baik saja. Bukankah kita ingin mendengar kabar baik dari orang
yang kita kangeni? Jika memang demikian, maka berdoalah. Baik dia ma-
sih hidup atau sudah meninggal dunia, mendoakan yang terbaik adalah
jalan terbaik daripada hanya menyebutnya di sosial media yang tak mem-

224

berikan manfaat apa-apa bagi yang kita kangeni. Terlebih orang yang kita
kangeni adalah sesama muslim.

Mendoakan sesama muslim yang kita kangeni, atau tanpa
sepengatahuan orang tersebut, termasuk dari sunah hasanah yang
diamalkan secara turun-temurun oleh para nabi dan juga orang-orang
saleh pengikut para nabi. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita juga
menirukan hal tersebut.

Para nabi merasa senang jika kaum muslim saling mendoakan untuk
mendapatkan kebaikan kepada saudaranya, sehingga saudaranya itupun
mendoakan kembali untuk kebaikannya tanpa sepengetahunnya. Saling
mendoakan ini akan menjaga silaturahmi dan tersebarnya kasih sayang
antara kaum muslim. Selain itu, hal ini juga menunjukkan keimanan se-
seorang.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidak beriman salah seorang di
antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai
untuk dirinya sendiri.” [HR. Bukhari dan Muslim]. Artinya jika seorang
muslim berdoa untuk dirinya, maka ia juga harus mendoakan muslim
lainnya. Betapa indah jika umat Islam saling mendoakan di mana pun
berada. Kasih sayang saudara seiman akan tetap langgeng.

Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya memotivasi kita untuk selalu
saling mendoakan. Saking pentingnya saling mendoakan ini, Allah Swt.
memberi tugas khusus kepada malaikat untuk mengamini setiap doa
seorang muslim untuk saudaranya. Dan malaikat pun diperintahkan
untuk mendoakan kembali muslim yang mendoakan muslim lainnya tadi.
Doa balasan ini akan lebih besar dari doa yang dipanjatkan sebelumnya.
Seperti kita tahu, doa malaikat adalah doa yang mustajab, maka kita bisa
menyatakan bahwa mendoakan sesama muslim tanpa sepengetahuannya
termasuk dari doa-doa mustajab.

Rasulullah Saw. bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya
yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah
doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada malaikat yang menjadi
wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah

225

kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: Aamiin dan engkau pun
mendapatkan apa yang ia dapatkan.” [HR. Muslim].

Maka jika kita merasa kangen kepada teman, saudara atau siapa saja,
lebih baik kita memanjatkan doa kepada Allah. Karena sesungguhnya,
doa kita akan kembali kepada kita, dan terutama lagi, doa itu mustajab.

226

Tidurnya Orang Alim Lebih
Baik Daripada Salatnya
Orang Bodoh

P osisi antara orang bodoh dan orang alim jelas berbeda. Dari
berbagai hal, mulai dari pekerjaan, perilaku, hingga pilihan kata
dalam berbicara menunjukkan perbedaan yang jelas. Hal ini
merupakan bukti bahwa Allah Swt. benar-benar melunasi janji-Nya
tentang mengangkat derajat orang berilmu.

Allah Swt. telah berfirman, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-
orang yang beriman di antara kamu sekalian dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Waspada terhadap
apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Mujadalah: 11].

Bahkan dalam hal tidur pun, orang alim lebih utama, lebih unggul
daripada orang bodoh. Orang alim yang tidur dan mengetahui tata cara
tidur yang baik, berdoa dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.,
maka tidurnya pun merupakan ibadah karena setelah tidur ia berniat
akan melakukan ibadah lainnya.

Berbeda dengan orang bodoh. Bahkan ketika ia salat, ia tidak memiliki
ilmu untuk membuat salatnya diterima Allah. Ia hanya melakukan
gerakan-gerakan salat tetapi sesungguhnya ia tidak melakukan salat.
Salat bukanlah ritual semata, dibutuhkan ilmu untuk lebih memahami,
lebih khusyuk, agar salat merupakan salat yang utama.

Pernah suatu kali Rasulullah Saw. pergi ke masjid, namun berhenti
ketika berada di pintu masjid. Beliau melihat setan dengan penuh rasa
kekecewaan. Nabi Muhammad Saw. pun bertanya, “Hai Iblis, apa yang

227

sedang kamu lakukan di sini?” Iblis pun menjawab, “Saya ingin masuk ke
dalam masjid, Ya Rasulullah. Saya berniat merusak salatnya orang yang
sedang salat itu, tetapi saya takut pada seseorang lelaki yang tidur di
sebelah sana.”

Merasa heran, Rasulullah Saw. pun bertanya lagi. “Kenapa kamu
bukannya takut kepada orang yang sedang salat, padahal ia dalam
keadaan ibadah dan bermunajat pada Allah Swt., dan justru takut kepada
orang yang sedang tidur, padahal ia dalam posisi tidak sadar?” Iblis pun
segera menjawab, “Orang yang sedang salat ini adalah orang bodoh,
mengganggu salatnya bisa sangat mudah. akan tetapi, orang yang sedang
tidur itu adalah orang alim.”

Dalam hadis disebutkan, dari Ibnu Abbas r.a. Nabi Saw. bersabda,
“Nabi Sulaiman pernah diberi pilihan antara ilmu dan kekuasaan, lalu
beliau memilih ilmu. Selanjutnya Nabi Sulaiman diberi ilmu sekaligus
kekuasaan.”

Ilmu jika digunakan dengan sebaik-baiknya akan mengantarkan
kita kepada kebaikan, namun jika sebaliknya, akan mengarahkan kita
kepada kemungkiran, yang justru bisa lebih besar kemungkarannya
daripada keonaran yang dibuat oleh preman di terminal. Ilmu yang
baik dan digunakan dengan tepat, akan terus mengalir pahala kepada
pemiliknya. Sebagaimana hadis yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.
Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barangsiapa pergi menuntut ilmu
maka Allah akan menunjukkannya jalan menuju surga. Sesungguhnya
orang alim senantiasa dimintakan ampunan untuknya oleh makhluk
yang berada di langit maupun di bumi, hingga dimintakan ampun oleh
ikan-ikan di laut. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.”

Kewajiban untuk berilmu tentunya sangat bermanfaat bagi manusia
itu sendiri. Namun banyak orang menolaknya. Mereka enggan belajar,
dengan alasan lebih enak bekerja. Bekerja menghasilkan uang sementa-
ra sekolah mengeluarkan uang. Orang yang tidak berilmu yang bekerja,
hanya akan mendapatkan gaji yang segitu-segitu saja. Dan terlebih lagi ia
akan senantiasa dalam posisi yang tidak akan berubah. Selain itu, pekerja
yang memiliki ilmu akan lebih memiliki inisiatif ketimbang yang tidak

228

berilmu dan yang hanya menunggu perintah. Dan pekerja seperti inilah
yang dicari oleh perusahaan.

Tidak hanya dalam suatu pekerjaan, dan setiap hal, kita wajib
melandasi dengan keilmuan sesuai bidangnya. Sebagaimana sabda Nabi
Muhammad Saw., “Barangsiapa yang menginginkan hidup di dunia, maka
ia harus memiliki ilmu. Barangsiapa yang ingin hidup di akhirat, maka ia
harus memiliki ilmu. Dan barang siapa menginginkan hidup di keduanya,
maka ia harus berilmu.”

Artinya, apa pun yang kita lakukan, dan apa pun pekerjaan kita,
ilmu harus selalu menyertainya. Jika kita tidak mengetahui suatu ilmu
dan kemudian kita membutuhkannya, maka hendaknya kita tidak malas
untuk mempelajarinya. Belajar tidak hanya dalam ruang kelas formal,
tetapi bisa di mana saja kita menambahkan ilmu pengetahuan kita untuk
kemudian dapat mengembangkan diri.

229

Bolak-balik Beli Baju,
Mukena Satu Dipakai

Seminggu

F ashion bagi sebagian perempuan adalah perkara yang mesti diikuti.
Lemari perempuan anak bertumpuk-tumpuk baju yang digunakan
sehari sekali. Bahkan baju-baju itu jika digunakan untuk satu bulan
dan pemiliknya tidak mencucinya, pakaian di dalam almari itu akan tetap
cukup.

Hal ini karena perempuan selalu ingin tampil berbeda dalam berba-
gai acara. Jika memang memungkinkan, satu acara satu baju. Setelahnya
akan disimpan dan entah kapan digunakan lagi. Tentu dalam acara yang
dihadiri orang sama sekali berbeda dari acara sebelumnya pada saat baju
tersebut digunakan.

Hal ini tentu berbeda perlakukannya dengan mukena. Jika baju ha-
nya digunakan dalam sehari, sementara mukena digunakan sehari lima
kali, dan tentu saja setiap hari kita gunakan. Jika cara berpikir kita seper-
ti baju tadi, maka kita akan mengganti mukena itu setiap hari. Dengan
cara berpikir seperti itu, kita akan memiliki tigapuluh mukena. Setiap
hari berganti dengan yang baru.

Apakah benar demikian keadaannya? Atau justru kita hanya akan
membeli mukena setahun sekali dan dipakai hanya sesekali ketika
melaksanakan salat ied. Setelahnya mukena itu tersimpan rapi dalam
almari. Tahun depan kita beli yang baru agar dikira orang mukena yang
dulu sudah buluk atau rusak, padahal dikasihkan orang lain.

230

Hal ini sangat disayangkan, tentunya. Menumpuk pakaian
merupakan tindakan pemborosan. Apa yang dilakukan oleh perempuan
dalam ilsutrasi di atas adalah perempuan yang mengutamakan gengsi.
Padahal hal tersebut tidak perlu. Jika dalam berpakaian merasa gengsi,
dalam semua lini kehidupan juga akan merasa gengsi. Begitu pula dengan
sepatu, sandal, smartphone, dompet dan lain sebagainya. Jika kita
menurutinya, tidak habis hingga uang kita terkuras. Gengsi kita akan
terus mengikui perkembangan mode dan tren yang sedang kekinian.
Hal ini bukannya menyenangkan hati malah justru menyiksa, sebab kita
harus berburu yang terbaru.

Perilaku boros sangat dilarang dalam Islam, Allah Swt. berfirman,
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”
[QS. Al Isro’: 26-27].

Maksudnya adalah bahwa perbuatan boros merupakan perbuatan
setan dan jika kita melakukannya, maka kita tidak jauh berbeda dengan
setan, kita meniru atau bahkan menyerupai setan. Jika orang yang sadar
dengan ayat ini, tentu ia akan tidak menyia-nyiakan harta dengan sering
berbelanja. Lebih baik sebagian harta itu disedekahkan kepada yang lebih
membutuhkan. Yang ingin dikatai seperti setan? Tentu saja kita tidak.

Dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah
Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah meridai tiga hal bagi kalian
dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah rida jika kalian
menyembah-Nya dan tidak mempersekutuka-Nya dengan sesuatu apa
pun, dan (Allah rida) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya
dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur
urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak
mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang
harta.” [HR. Muslim].

“Membuang-buang harta” termasuk dalam kalimat terakhir. Hal
ini merupakan pemborosan merupakan salah satu hal yang dibenci
Allah Swt. Lalu apakah kita menyanggah bahwa membeli pakaian tidak
membuang-buang harta?

231

Menggunakan pakaian untuk menutup aurat adalah kewajiban bagi
setiap manusia. Oleh karenanya kita akan berbelanja pakaian untuk
memenuhi kewajiban tersebut. Akan tetapi, batasannya adalah pakaian
tersebut untuk menutupi aurat, dan bukan untuk mengikuti tren atau
hawa nafsu ingin tampil berbeda. Jika 7 pakaian dalam seminggu cukup
maka itulah yang kita butuhkan. Selebihnya, kita hanya membeli setahun
sekali untuk menyenangkan hati. Sebagian besar dari kita justru sudah
tidak mempedulikan baju baru pada saat lebaran.

232

Baju terus yang diganti,
Mukena Kapan?

S ebagai makhluk mainstream, beberapa bawaan yang haram untuk
tidak dibawa antara lain dompet dan handphone. Tidak bawa salah
satunya? Hidup langsung bingung. Beda dengan mukena yang
tidak selalu dibawa. Prioritasnya seakan ada di bawah, tidak bawa mukena
juga tidak apa-apa. Mungkin alasannya, karena dompet dan handphone
adalah benda yang begitu personal. Uang, berbagai kartu, nomor kontak,
dan akun chatting yang selalu aktif. Hmm, jadi agak lupa kalau mukena
sebetulnya punya sifat yang jauh lebih pribadi. Itu ibadahmu, kepada
Tuhanmu, sumber kehidupanmu.

Ini sebetulnya jadi toyor-an untuk diri sendiri. Menemukan tempat
salat yang kurang  sip  dan mukenanya  sudah kotor sering ditemui,
bahkan di hotel-hotel berbintang 4 dan 5 sekalipun. Salah satu momen
yang membuat saya jleb dan mikir adalah ketika menghadiri pernikahan
salah satu sahabat. Penampilan tentu saja kece, baju bagus, jilbab cantik,
tas matching, sepatu bersih. Kemudian saya salat zuhur di masjid depan
gedung resepsinya. Pakai mukena seadanya, ternoda, dan aroma yang
kurang enak. Sungguh malu rasanya. Baju yang saya pakai untuk
acara itu mungkin bagus dilihat. Tetapi saat ibadah, saya malah pasrah
dengan mukena yang tidak layak. Padahal tidak mungkin saya ke resepsi
pernikahan dengan baju  lusuh, apalagi baju kotor dan ada nodanya.
Berani sekali, dan kok menghadap Allah malah ‘compang camping’ gitu.

Saya jadi ingat, ibu saya punya banyak sekali jenis item fashion yang
sangat modis dan up to date untuk berbagai kebutuhannya. Apiknya, ibu
saya dalam berpenampilan juga berbanding lurus dengan koleksi mukena

233

dan peralatan salatnya. Dulu saya protes. Boros banget sih beli mukena.
Dan ibu saya tidak pernah larang saya tiap kali kita ke toko dan saya
menunjuk mukena bagus. Biasanya langsung ditawar dan dibeliin. Dan
di toko juga, ibu saya pernah bilang “Kalau suka, beli saja. Masa kita bisa
gampang beli baju, tetapi mikir-mikir beli mukena. Masa bajunya bagus tetapi
mukenanya itu-itu saja”. 

Intinya, kalau kita sudi untuk repot dandan dan berpenampilan
layak di aktivitas sehari-hari, jangan sampai kita malah perhitungan
untuk urusan ibadah. Tas berat dengan payung kalau-kalau hujan,
make up kit kalau-kalau harus poles lipstick lagi, powerbank dan charger
jaga-jaga baterai gadget habis, nah mukena bersih juga harus ada!
Jangan pasrah dengan pikiran  “ah nanti di sana juga sudah disediain
mukena” atau “nanti pinjem saja mukena temen”, lha itu ibadahmu lho sis!
Bawa mukena juga berdampak baik dan positif untuk kualitas ibadah.
Memang  poinnya  bukan hanya  tentang  pakaian/mukena apa yang kita
kenakan, tentu jauh lebih dalam dari itu. Sebetulnya ini lebih kepada
bentuk penghormatan kepada Yang Maha Menciptakan, jangan sampai
kalah prioritas dengan momen ketemu sesama manusia. 

234

Membela Tuhan atau
Membela Kepentingan?

B elakangan, orang banyak menyuarakan pembelaan terhadap
Tuhan. Nama Allah Swt. tak hanya diperdengarkan dalam malam-
malam sunyi sembari menitikkan air mata. Nama Tuhan telah
disebut-sebut di ruang publik, sembari diteriak-teriakkan, dan bahkan
sembari melempar dan merusak segala sesuatu yang dilihatnya.

Pemandangan seperti ini tentu kerap kita saksikan belakangan ini,
terutama bagi kelompok tertentu. Mereka yang tidak sepaham dengan
ideologi mereka dianggap sesat, dianggap kafir sehingga perlu diperangi.
Namun bagi siapa saja yang menyetujuinya, entah dari golongan mana
pun, mereka bersedia melindungi dan merangkulnya. Padahal secara
jelas-jelas orang yang ia rangkul berbuat salah atau jelas-jelas kafir, dan
katanya mereka memusuhi kafir.

Jika dugaan di atas benar adanya, maka yang mereka lakukan
bukanlah membela Tuhan, melainkan membela kepentingan mereka
pribadi. Tuhan dijadikan kedok dalam menjalankan aksi mereka. Nama
Tuhan dijadikan sebagai alat pemukul siapa saja, agar merasa takur dan
tunduk kepada mereka. Alih-alih bermaksud demikian, justru makin
banyak orang yang mencibir dan membenci. Akan tetapi tidak bisa
dipungkiri, pengikut mereka juga semakin bertambah karena berharap
ada keuntungan yang bisa dibagi bersama.

Hal ini sangatlah ironis. Dalam bahasa kasar, kita bisa menyebut
mereka sebagai penjual nama Tuhan. Itu belum termasuk ayat-ayat-Nya.
Setelah menyebut nama Tuhan mereka akan mengutip ayat sebagai dalil
untuk melegalkan tindakannya yang tidak manusia. Dengan dalil itu

235

pula, ia merasa berhak mengafirkan orang, bahkan menghalalkan darah
orang yang beseberangan secara ideologis.

Mari kita renung lagi. Perlukah Tuhan dibela? Allah Swt. adalah
penguasa seluruh jagat raya, penguasa alam seisinya. Siapa saja yang
memiliki masalah mengadu pada-Nya. Allah menjadi solusi atas segala
persolana. Lalu apakah Allah Swt. masih membutuhkan pembelaan?
Pembelaan apa dan dari siapa siapa?

Jangan-jangan, yang dimaksud itu adalah musuh dari kelompok
tertentu dengan mencatut nama Allah. Terutama lagi, yang mereka
anggap musuh cenderung adalah sesama muslim. Tentu saja hal ini tidak
bisa dibenarkan hanya karena berbeda. Tetapi itulah yang digunakan
mereka sebagai dalih.

Dalam Islam, sebenarnya tidak ada perintah untuk membela
Allah Swt. Hal ini karena Allah memiliki segala sifat yang tidak perlu
dikhawatirkan keberadaan-Nya. Justru kondisi manusialah yang semakin
mengkhawatirkan. Yang perlu dibela adalah agama Allah, yaitu dalam hal
ini agama Islam.

Allah Swt. bersabda “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong
(agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu.” [QS. Muhammad: 7].

Dalam memandang ayat di atas, Sayyid Qutb mengatakan,
“Bagaimana orang-orang beriman menolong Allah sehingga mereka
menegakkan persyaratan dan mendapatkan apa yang disyaratkan
bagi mereka berupa kemenangan dan diteguhkan kedudukan?” Beliau
melanjutkan,”Sesungguhnya mereka memurnikan Allah dalam hati
mereka dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu baik sirik yang
nyata maupun yang tersembunyi serta tidak menyisakan seseorang atau
sesuatu pun bersama-Nya di dalam dirinya. Dia menjadikan Allah lebih
dicintai dari apa pun yang dia cintai dan sukai serta meneguhkan hukum-
Nya dalam keinginan, aktivitas, diam, saat sembunyi-sembunyi, terang-
terangan maupun saat malunya, maka Allah akan menolongnya dalam
diri mereka.”

236

Melalui penjelasan tafsir Sayyid Qutb atas ayat di atas memberikan
penjelasan kepada kita bahwa membela bukan lagi urusan berperang
dengan mengangkat senjata. Peristiwa itu sudah terlewati ribuan tahun
yang lalu. Sementara hari ini, serangan terhadap umat Islam bukan
lagi melalui senjata, melainkan melalui mental dan psikologi. Maka
untuk membela agama Allah Swt., kita perlu menguatkan diri dengan
memperkuat iman dan hati kita untuk senantiasa berpegang teguh
kepada Islam.

Keberadaan sebuah agama tergantung pada keberadaan umatnya.
Begitu pula Islam. Maka kita sebagai umat Islam harus senantiasa menjaga
agama Allah dari berbagai kerusakan duniawi dengan tetap menjaga iman
kita. Dengan begitu, kita juga akan mendapatkan pertolongan dari Allah
Swt. Sebagaimana ia sabdakan dalam Kitabnya, “Sesungguhnya Allah
pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa.” [QS. Al Hajj : 40].

237

Bukan Guru kok Senang
Menggurui

T idak banyak orang yang sebenarnya bercita-cita jadi guru. Jika
pun disurvei akan lebih banyak orang yang terpaksa menjadi guru
daripada yang benar-benar ingin menjadi guru. Terutama bagi
sarjana yang pulang kampung. Barangkali hanya guru yang merupakan
pekerjaan layak di kampung atau memang tidak ada pekerjaan lainnya.
Toh pada akhirnya mereka bersedia mengajar. Itulah yang patut disyukuri.

Sementara itu di sisi lain, ada orang yang bukan guru tetapi
berperilaku seperti halnya guru, yaitu dengam cara menggurui siapa
saja yang ia temui. Ia senang sekali membual kepada siapa seolah-olah
dialah orang yang paling tahu, orang yang paling mengerti akan suatu hal
dan orang lain diperintahkannya untuk pengikuti setiap perkataannya.
Padahal ia bukanlah siapa-siapa. Guru bukan, kiai juga bukan, tetapi ia
merasa harus dituruti setiap kalimatnya.

Orang yang sok mengurui ini akan cenderung mengatakan apa yang
sebenarnya tidak dia lakukan. Dia hanya pintar ngomong ngalor ngidul,
agar seolah-olah memiliki keilmuan tertentu sehingga bisa mendapatkan
pengikut, yang sebenarnya akan segera meninggalkannya begitu
tahu tabiat aslinya. Menganai yang demikian, Rasulullah Saw. sudah
memperingatkan:

Dari Usamah, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Akan
didatangkan seorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam
neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana
keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum. Banyak
penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai

238

Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan
mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Sungguh dulu aku
sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya.
Sebaliknya aku juga melarang kemungkaran tetapi aku menerjangnya.”
[HR Bukhari dan Muslim].

Lalu bagaimana dengan para penceramah, mubalig, dai, ustaz yang
belum atau tidak melaksanakan apa yang ia sampaikan? Dari Anas bin
Malik, Rasulullah bersabda, “Saat malam Isra’ Mikraj aku melintasi
sekelompok orang yang bibirnya digunting dengan gunting dari api
neraka.” “Siapakah mereka?” tanyaku kepada Jibril. Jibril mengatakan,
“Mereka adalah orang-orang yang dulunya menjadi penceramah ketika
di dunia. Mereka sering memerintahkan orang lain melakukan kebaikan
tetapi mereka lupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca
firman-firman Allah, tidakkah mereka berpikir?” [HR. Ahmad, Abu
Nu’aim dan Abu Ya’la].

Dari perilaku tersebut, orang yang kerap menggurui akan
melahirkan sifat sombong dalam hatinya tersebut. Bagaimana tidak,
ia telah menganggap semua orang bodoh, dan hanya dia satu-satunya
orang yang paling pintar. Ke mana pun dia berada, sifat sombong ini
akan menyertainya. Sementara Nabi Muhammad Saw., sangat melarang
sifat tidak terpuji ini. Sabdu Beliau, “Sombong adalah sikap menolak
kebenaran dan meremehkan manusia.” [HR. Muslim].

Karena merasa benar sendiri, orang sombong akan biasa sesumbar
dan menolak kebenaran yang datang dari orang lain, meskipun ia
sebenarnya menyutujui dalam hatinya. Tetapi mulutnya menolak karena
kesombongan telah bersemayam di hatinya. Apa pun jenis perkataan dan
dari siapa pun datangnya, orang yang sombong tak akan dengan ragu akan
menolaknya. Malah justru sebaliknya, membantah secara serampangan,
bahkan ia sendiri sadar bahwa bantahannya tidak akan berarti apa-apa
kecuali hanya mempermalukannya sendiri. Tetapi hal itu akan tetap
dilakukannya demi menolak kebeneran dan bersikap seolah-olah dialah
yang paling benar. Ia tak merasa bersalah sedikit pun.

239

Akibat lain dari sifat sok menggurui juga telah ditampilkan dalam
hadis Rasulullah di atas, yaitu meremekan seseorang. Sifat meremehkan
orang ini seperti sudah menjadi pasangan bagi sifat sombong. Keduanya
merupakan pasangan yang sangat setia. Di mana ada kesombongan, di
situ akan ada orang yang direndahkan. Kesombongan cenderung pada
tempat yang tinggi. Dan untuk bisa tinggi, ia membutuhkan yang rendah.

Jika tak ada sesuatu yang direndahkan, ia akan berburu. Ia rela per-
gi ke tempat yang jauh untuk kemudian bisa menggurui orang. Bahkan
kepada orang yang baru dikenal pun ia bisa melakukan hal tersebut. Jika
sifat ini sudah mengakar ke dalam hati, di mana pun dan kapan pun, sa-
dara atau tidak, pasti dilakukannya.

Orang yang seperti ini cenderung akan mudah merendahkan orang
lain. Ia menganggap bahwa tingkat keilmuan orang lain jauh di bawahnya
sehingga ia terus menceramahi orang lain. Padahal di belakangnya, ba-
nyak orang yang menertawai apa yang dikatakannya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-
laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu
lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan meren-
dahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.”
[QS. Al Hujurat: 11].

240

Belajar Itu Mencari Ilmu,
Pekerjaan Urusan Lain

M enuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Kewajiban
ini tak bisa disangkal oleh siapa saja. Sebab kewajiban ini
untuk manusia sendiri. Tidak ada orang yang hidup tanpa
berbekal ilmu, begitu pula kelak jika di akhirat. Dari sisi waktu, menuntut
ilmu juga tidak terbatas pada usia tertentu. Jika ada program pemerintah
wajib belajar 12 tahun, itu hanya program untuk membantu masyarakat
kita agar tetap sekolah. Sementara kebutuhan belajar tidak hanya 12
tahun melainkan dari lahir hingga meninggal dunia.
Dari sisi geografis, menuntut ilmu juga tidak dibatasi. Nabi
Muhammad Saw. pernah menyarankan untuk menuntut ilmu hingga ke
negeri China. Di zaman modern sekarang banyak beasiswa bahwa orang-
orang telah mampu menyekolahkan anaknya ke berbagia negara, baik di
Timur Tengah, Eropa, Amerika maupun di negara-negara tetangga. Hal
ini menunjukkan bahwa kesadaran belajar atau menuntut ilmu sudah
menjadi priorita bagi masyarakat kita.
Akan tetapi, orang tua kerap membebani anaknya yang sekolah
dengan pekerjaan. Bahwa memilih jurusan ini kelak akan sukses, atau
cepat selesaikan kuliah agar lekas bekerja, atau lain sebagainya. Hal
seperti itu sebenarnya sangat membebani anak dalam belajar.
Tugas utama anak adalah belajar, belajar, dan belajar. Mengenai pe-
kerjaan, adalah perkara yang nanti diputuskan anak ketika dalam per-
jalanan belajar. Dalam proses belajar, seorang akan mengetahui seluk
beluk ilmu yang dipelajarinya, bagaimana menyikapinya, dan bagaimana
memanfaatkannya menjadi pekerjaan yang bisa menjamin kehidupannya

241


Click to View FlipBook Version