Jika kita benar-benar berpikir objektif, tiga ilustrasi di atas tak perlu
terjadi dan patut disayangkan. Kita tentu pernah menghadapi anak kecil
yang meminta sesuatu, jika di sekolah mereka tidak senang dengan suatu
hal, mereka akan ribut sendiri dan tak mau mendengarkan guru. Begitu
pula ketika mereka di rumah, ketika tuntutan mereka tak dipenuhi, maka
mereka akan ngambek, marah, memukul-mukul, bahkan mogok makan,
agar orang tua merasa kasihan dan empati sehingga keinginan mereka
dituruti.
Begitu pula ketika tak senang suatu hal di luar sekolah dan rumah,
mereka akan melaporkan kepada orangtuanya. Artinya, anak kecil
itu meminjam tangan orangtuanya untuk melarang hal-hal yang tak
disenanginya. Hal ini tentu saja wajar bagi anak kecil sebab mereka belum
memiliki cara bagaiamana menyelesaikan persoalan. Di sinilah peran
orang tua yang lebih mengetahui cara-cara yang bijak untuk memberikan
arahan kepada anak tentang bagaimana sebuah permasalahn harus ia
selesaikan sendiri.
Lalu, apa bedanya ilustrasi di atas dengan anak kecil? Dari segi pe-
rilaku, kita tentu sepakat keduanya sama. Namun tokoh-tokoh dalam
ilustrasi awal adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi yang seha-
rusnya tidak berlaku demikian. Dan kita pun yakin, mereka pun mampu
menyelesaikan masalah dengan jalan dialog.
Orang-orang yang berilmu memiliki derajat yang tinggi. Bahkan
lebih tinggi dari juragan atau tuan tanah sekalipun. Namun perilaku itu
justru menjatuhkan derajat mereka sendiri. Allah berfirman dalam Q.S.
Al-Mujaadilah: 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat.”
Kita tidak bisa memungkiri ayat di atas karena terdapat kebenaran di
masyarakat kita. Seorang sarjana pasti lebih dihormati daripada tukang
becak. Seorang alim sudah pasti lebih terhormat di mata masyarakat da-
ripada orang awam. Namun bagaimana ilustrasi di atas bisa terjadi?
Jawabannya adalah nafsu dan kekuasaan. Nafsu menggiring kita
pada ambisi yang pribadi atau kelompok dan menghalalkan segala cara
42
untuk mengalahkan orang atau kelompok lain. Sebagaimana kita tahu
jika seseorang telah menuruti nafsunya, banyak hal buruk akan menyer-
tainya. Seseorang tentu tidak ingin keburukannya diketahui orang lain,
maka ia akan berbuat keburukan lainnya untuk menutupi keburukan se-
belumnya. Terus-menerus begitu untuk seterusnya.
Sementara kita yang sudah terjebur dalam kekuasaan dan tak bisa
mengontrolnya, membuat kita berlaku sewenang-wenang dan tidak adil.
Segala kebijakan yang kita keluarkan seolah-olah demi keuntungan diri
sendiri dan kelompok kita. Kita tak rela dan bahkan benci jika melihat
kelompok lain mendapatkan bagian atau bahkan mendapatkan sedikit
kebahagiaan. Maka segala aib kelompok seberang akan diungkap ke pub-
lik demi menjatuhkan nama baik mereka. Jika tak ditemukan aib yang
bisa diungkap, maka mereka akan membuat berbagai isu miring demi
mencelakakan lawannya.
Nafsu dan kekuasaan akan selalu ada sepanjang hidup sepanjang
sejarah. Kita bisa melihat betapa raja-raja di masa lalu berlaku tidak
adil, bahkan kepada Penciptanya. Mereka tak lagi takut ancaman karena
merasa kekuasaan mereka tiada batas dan mereka bisa berlaku sesuai
keinginannya.
Kedua hal di ataslah yang membuat orang-orang yang berpendidikan
tinggi tidak berlaku sebagaimana pendidikan yang ditempuhnya, melain-
kan kembali ke masa anak-anak yang selalu menuntut keinginannya dan
ingin menang sendiri.
43
Kerjaan Mengkritik Orang,
Memangnya Kita Sudah
Lebih Baik?
A da ungkapan Jawa berbunyi, “elek apik diomong”, baik atau jelek
jadi bahan omongan. Begitulah realitas kita sehari-hari. Apa saja
yang dilakukan orang, pasti bisa jadi bahan pembicaraan atau
membicarakan seseorang. Bahkan orang yang sekadar lewat di depan kita
pun bisa jadi bahan omongan. Dan yang sering dibicarakan adalah hal-hal
buruknya. Hal ini kemudian melahirkan kritik.
Sementara di sisi lain, siapa yang ingin jadi bahan pembicaraan
orang, terlebih yang dibicarakan adalah hal-hal buruknya? Mereka yang
membicarakan orang lain suatu ketika pasti akan menjadi bahan pembi-
caraan juga, dan tentunya mereka menolak menjadi objek.
Sekilas penjelasan kritik ini serupa dengan ghibah, yaitu
membicarakan orang lain. Bedanya, kritik disampaikan langsung di
depan orang yang bersangkutan, sementara ghibah adalah membicarakan
orang lain tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik merupakan tanggapan
dan/atau kecaman terhadap apa saja. Kritik ditujukan kepada celah
keburukan, sehingga banyak orang yang tidak tahan dengan kritikan.
Akan tetapi melakukan kritikan adalah hal menyenangkan bagi siapa
saja. Mungkin terbiasa menghujat, menghakimi, mengecam dan lain
sebagainya. Tetapi, tak satu pun dari kita berada di posisi sebaliknya.
Perlu dibedakan bahwa kritik adalah mencari celah keburukan atau
sisi kekurangan. Sementara jika berimbang antara melihat kekurangan
44
dan kelebihan maka bisa kita sebut sebagai evaluasi. Artinya, di sini
sudah jelas bahwa kritik memang untuk melemahkan. Akan tetapi, hal ini
tergantung pula pada tanggapan orang yang dikritik. Jika seseorang yang
dikritik menerima kritikan tersebut dan dijadikan bahan evaluasi diri,
maka kritik tersebut bisa bermakna positif. Sebaliknya, jika seseorang
tak bisa dikritik, berarti kritik tersebut bermakna negatif. Di sebut kritik
negatif juga karena dalam menyampaikan kritik ditujukan semata-mata
untuk mengorek-korek aib yang bersangkutan tanpa didasari alasan yang
jelas. Kritik itu disampaikan dengan cara membabibuta dan mencari
pembenaran atas kritik tersebut meski sebenarnya tidak masuk akal.
Namun dari banyak orang yang bisa menerima kritik, banyak pula
yang tidak bisa menerimanya, terutama jika kritik tersebut disampaikan
di muka umum. Meskipun seseorang sadar bahwa itu kritik, namun ego
manusia pada dasarnya tidak ingin dijatuhkan, apalagi disaksikan banyak
orang.
Dalam Islam, mencari kesalahan atau keburukan orang lain
sebenarnya tidak diperbolehkan. Namun kadangkala hal ini kita
butuhkan untuk membangun kualitas diri. Seburuk apa pun kritik yang
disampaikan pastilah ada manfaatnya jika kita bisa mengambil pelajaran
darinya.
Rasululllah Saw. bersabda, ”Aku peringatkan kepada kalian tentang
prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling
bohong, dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi
tentang kejelekan dan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula
saling dengki, saling benci, saling memusuhi, jadilah kalian hamba Allah
yang bersaudara.” [H.R. Bukhari dan Muslim].
Bedanya memang sangat tipis, antara prasangka dan kritik. Prasangka
cenderung tidak berdasarkan data-data atau hanya dalam sekilas
memandang saja. Berbeda dengan kritik yang bisa kita samakan dengan
ketika kita ujian di sekolah, pasti ada hasil evaluasi. Ketika mendapatkan
nilai yang buruk, sebagian kita ada yang malu menunjukkan kepada
teman, tetapi sebaliknya akan sangat bangga jika mendapatkan nilai yang
bagus.
45
Dengan adanya penilaian tersebut, diharapkan kita termotivasi
untuk lebih giat belajar. Begitu pula dengan logika kritik. Apa pun bentuk
kritiknya, sebaiknya dipandang sebagai evaluasi diri.
Meski demikian, ada tata cara bagaimana menyampaikan kritik agar
bisa diterima dan tidak menimbulkan permusuhan antara pengkritik dan
yang dikritik. Bagaimanapun hal ini sangatlah sensitif.
Alangkah baiknya jika kita tetap memelihara perkataan dan perbu-
atan. Mengritik orang lain memang menyenangkan dan enak-enak saja,
terutama jika kita bisa menemukan celah dari hasil kita mengorek-ngo-
rek kesalahan orang yang kita kritik, karena hal tersebut bisa kita jadikan
senjata untuk melontarkan kritik kita.
Sebelum melontarkan kritik pada seseorang, mari terlebih dulu
kita berusaha memposisikan diri sebagai orang yang kita kritik. Hal ini
penting untuk mengukur apakah kritikan kita akan menyakiti orang lain
atau tidak. Selain itu, kita juga perlu melihat bagaimana capaian orang
yang kita kritik dengan apa yang telah kita capai. Jangan sampai ketika
ilmu kita masih dibawah seseorang kemudian kita dengan seenaknya
mengkritiknya. Hal ini sama saja kita menggali lubang untuk diri sendiri.
Tanyakan pada diri sendiri, kita punya karya apa sehingga kita berani
mengkritik orang lain?
46
Senang Menikmati,
Lupa Mensyukuri
K enikmatan adalah yang paling utama diburu oleh manusia mana
pun. Bahkan untuk mendapatkannya, orang rela melakukan apa
saja dan dengan cara yang nyaris tak masuk sekalipun. Namun
terkadang, kenikmatan itu datang tanpa kita sadari sudah berada di depan
mata, tinggal kita menikmatinya saja. Namun ketika kenikmatan itu kita
dapat, apakah kita sudah mensyukurinya? Dan terlebih lagi apakah kita
pernah memikirkan kenapa kita diberi nikmat tersebut oleh Allah Swt.?
Bayangkan saja, jika kita mendapatkan uang 100 juta, apa yang ada
dalam pikiran kita? Belanja mungkin yang paling utama. Kita akan mem-
beli barang-barang untuk memenuhi rumah yang lengang atau untuk
bersenang-senang. Setelah kita mendapatkan barang impian, kita akan
menggunakannya bahkan memamerkannya ke sana ke mari. Jalan-jalan
ke berbagai tempat, berfoto ria, dan memamerkannya di sosial media. Di
mana sisi bersyukurnya? Apakah cukup dengan “Alhamdulillah”?
Mendapatkan rezeki berupa uang saja, kita dengan mudah melupakan
syukur. Tentu akan sulit bagi kita ketika mendapatkan uang sebanyak itu
dan berpikir akan menyedekahkannya terlebih dahulu. Katakanlah kita
ambil lebih dulu 2.5% dari uang 100 juta tersebut untuk kita sedekahkan,
yang berarti Rp. 2.500.000. Tentu itu juga cukup banyak, bisa untuk
membeli smartphone kelas menengah. Dan tentu berat rasanya untuk
memberikan kepada orang lain. Lalu bagaimana dengan kenikmatan
lainnya yang sudah kita terima setiap hari?
Misalnya saja nikmat sehat. Tentu siapa saja nikmati kesehatan
sehingga tanpa halangan kita bisa beraktivitas sehari-hari; bekerja,
47
bercengkrama dengan keluarga dan teman, bermain dan lain sebagainya.
Tetapi, apakah kita sehari-hari bersyukur? Apakah setiap selesai menarik
dan mengembuskan napas kita telah bersyukur? Ah, tentu waktu kita
akan habis untuk bersyukur. Padahal jika kita tetap melakukan syukur,
Allah Swt. juga tidak segan-segan memberikan tambahan nikmati kepada
kita.
Allah Swt. sendiri sudah menjajikan kepada kita, “Dan (ingatlah juga),
ketika Tuhanmu mengumumkan; “Niscaya jika kamu sekalian bersyukur,
pasti Kami (Allah) akan menambah (nikmat) kepada kamu sekalian, dan
jika kamu sekalian kufur/mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya
azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrohim: 7].
Untuk menyikapi hal ini, kita akan lebih bijak jika mengetahui dan
bisa memaknai setiap nikmat yang diberikan kepada kita. Kita diberi
kesehatan dan rezeki cukup, misalnya. Hal ini tidak lain agar kita bisa
mengerjakan berbagai kewajiban yang dibebankan kepada kita. Artinya,
rasa syukur yang kita bukan saja berupa kalimat “Alhamdulilah”,
melainkan kita gunakan segala nikmat yang kita terima untuk beribadah
lebih dari sebelumnya.
Misalnya ketika kita mendapatkan rezeki lebih, tentu kita ingin
menikmatinya, walau sekadar untuk makan enak lebih dari biasanya.
Nah, ketika kita sedang makan enak lalu ada seorang peminta-minta
atau pengamen, sebenarnya kita sedang diuji, sejauh mana kita akan
memberikan rezeki yang sebagiannya bukan milik kita tersebut.
Setelah kita memberikan sebagian rezeki kepada orang lain dan
telah menikmatinya, kita juga akan kembali diuji, sejauh mana kita
memanfaatkan kenikmatan tadi untuk beribadah.
Kita mungkin akan berpikir bahwa apa yang kita dapatkan merupakan
usaha kita sendiri. Padahal tanpa campur tangan Allah Swt., kita bukanlah
apa-apa dan mungkin tak akan mendapatkan rezeki sebanyak itu. Kita
mendapatkan uang karena kita bekerja, kita sehat karena kita menjaga
pola makan dan pola hidup. Apakah kita tidak belajar, bahwa banyak
orang yang bekerja keras, tetapi masih dalam kekurangan. Orang yang
48
hati-hati dan memilih berbagai jenis makanan, tetapi masih saja terkena
penyakit yang kronis?
Segala apa yang kita terima pasti ada konsekuensi dan
pertanggungjawabannya, oleh karena itu, memahami dan memaknai
setiap kenikmatan yang kita dapatkan akan mampu membuat kita
berpikir dan bertindak bijak.
49
Allah Mencukupi
Kebutuhanmu, Kamu
Penuhi Sendiri Keinginanmu
“ Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit
dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah!” [Saba:24].
Allah Swt. menjamin setiap makhluk yang ada di muka bumi,
tanpa terkecuali. Bahkan semut yang paling kecil sekalipun dijamin oleh
Allah untuk tetap hidup. Atau binatang yang paling dibenci dan jijik juga
dijamin oleh Allah. “Tiada yang melata di muka bumi melainkan Allah
telah menanggung rezekinya.” [QS Hud: 6].
Dua dalil di atas sekiranya cukup membuat kita yakin bahwa
rezeki kita akan dijamin oleh Allah Swt., bahkan saat kita tidak bekerja
sekalipun. Orang sakit misalnya, akan tetap mendapatkan rezekinya,
baik melalui orang-orang yang menjenguk atau dari jalan lainnya. Ke
mana pun seseorang bersembunyi, rezeki akan menghampirinya karena
Allah Swt. telah menjamin.
Akan tetapi, sifat dasar manusia yang kerapkali merasa kurang
dan kerap pula menuntut, menjadikan rezeki yang didapat seolah-
olah kurang. Padahal ketika kita bisa makan dan tetap hidup, jaminan
Allah telah selesai di situ. Selebihnya perlu kita pikirkan apakah itu
kebutuhan atau keinginan kita? Jika itu merupakan kebutuhan, Allah
pasti mencukupinya. Akan tetapi, jika itu merupakan keinginan, maka
kita sendiri yang harus mengusahakannya melalui kerja keras.
Terkadang, kita sudah bekerja keras bahkan sangat keras, tetapi
belum juga mendapatkan apa yang kita harapkan. Bukan kita yang kurang
50
keras bekerja, melainkan Allah menunda memberikan apa yang kita
inginkan, atau Allah telah memberikan imbalan kerja keras kita tetapi
melalui jalan yang bahkan tidak kita sadari.
Misalnya, setiap hari kita bekerja mengendarai kendaraan. Harapan
kita, dalam waktu satu tahun kita bisa membeli kendaraan yang lebih
bagus. Akan tetapi, setelah setahun kita belum juga mampu membeli.
Lalu kita mengeluh bahwa Allah Swt. belum memberikan buah dari hasil
kerja keras kita. Padahal dalam berbagai kesempatan ketika kita ngebut
dijalanan mengejar jam masuk kantor, kita nyaris kecelakaan namun kita
selalu selamat. Mungkin ketika kita mendapatkan kendaraan yang lebih
bagus dan lajunya juga semakin kencang, mungkin saja kita mengalami
kecelakaan. Hal semacam ini mestinya juga menjadi perhitungan kita
dalam bekerja keras.
Apalagi bagi orang yang tidak mau bekerja keras, Allah Swt. tidak
akan memberikan jalan untuk kita. Misalnya kita dalam kondisi yang
selalu kekurangan, jika kita tidak bergerak mengusahakan keadaan kita
agar kecukupan, Allah juga tidak akan mengubah nasib kita. Bukankah
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali
kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka”? [QS.
Ar Ra’d: 11].
kekuatan utama mengubah nasib terletak pada cara berpikir.
Sebagaimana Samuel Smiles memberikan pelajaran kepada kita, bahwa
semua perubahan diawali dengan gagasan atau pikiran. Tanamkan
gagasan, maka akan memetik tindakan. Tanamkan tindakan, maka akan
lahir kebiasaan. Tanamkan kebiasaan, maka akan menghasilkan watak.
Tanamkan watak, maka kita akan mendapatkan perubahan nasib.
Gagasan yang ada dalam pikiran adalah kunci utama yang kemudian
kita aplikasikan dalam wujud tindakan. Tindakan itu jika kita lakukan
secara rutin akan berubah menjadi kebiasaan. Jika kita rutin melakukan
kebaikan, maka kebiasaan kita adalah berbuat baik, sebaliknya jika kerap
melakukan keburukan maka kebiasaan kita adalah buruk. Kebiasaan ini
lambat laun akan menjadi karakter atau watak kita dalam menghadapi
berbagai hal. Pada akhirnya, karakter yang kita miliki akan turut
51
membentuk nasib kita sendiri. Jadi nasib kita, kita sendirilah yang
menentukan. Nasib kita ada di tangan kita.
Misalnya kita memiliki dinamika kerja yang lambat. Pikiran lambat
akan memenuhi ruang pikiran kita selama kita bekerja. Kita akan berang-
kat kerja dengan lambat dan akhirnya terlambat sampai kantor. Jika kita
kerap terlambat masuk kantor, hal ini akan menjadi kebiasaan yang te-
rus-menerus. Kebiasaan ini kemudian akan menjadi tabiat atau karakter
kita. Orang akan mengenal kita sebagai si tukang terlambat. Pada akhir-
nya, karena atasan kita terganggu dengan kinerja kita yang kerap terlam-
bat, memecat kita. Nasib kita menjadi pengguran.
Oleh sebab itu, menanamkan pikiran positif adalah hal utama yang
harus kita lakukan jika ingin memenuhi keinginan kita.
52
Menghormati Azan
Tetapi Tidak Salat
D alam suatu acara, kita tentu pernah menghentikan acara sejenak
demi menghormati suara azan yang berkumandang. Lalu setelah
azan selesai, kita akan melanjutkan acara tanpa beban apa pun.
Hal ini sama seperti halnya orang bermain peta umpet. Masing-masing
orang bersembunyi, sementara seseorang mencari-cari mereka. Nama-
nama mereka pun dipanggil satu persatu, semuanya diam tak bergerak,
bahkan menahan napas agar tak terlihat dan terdengar. Semuanya diam
tak menjawab, apalagi menghampiri orang yang memanggil.
Atau katakanlah kita dipanggil seorang teman. Kita mendengar
panggilan itu, tetapi kita hanya diam dan tak bergerak sama sekali untuk
mendatangi si pemanggil. Kita hanya berhenti sejenak dari pekerjaan
agar dikira sibuk sembari pura-pura tidak mendengar. Nah, bagaimana
jika kita adalah si pemanggil itu? Mengetahui yang kita panggil bersikap
seperti itu pastilah kita jengkel.
Begitulah kita-kira penggambaran kita yang berhenti sejenak
melakukan berbagai aktivitas dengan alasan menghormati azan tetapi
tidak melakukan salat. Hal ini sama saja dengan kita mendengar
panggilan tetapi pura-pura diam. Setelah panggilan itu berlalu kita
melanjutkan aktivitas kita. Bukankah hal ini seperti mempermainkan
panggilan tersebut?
Azan merupakan panggilan untuk kita segera menunaikan ibadah
salat. Nabi Saw. bersabda, “Barangsiapa mendengar seruan azan tetapi
tidak memenuhinya, maka tidak ada salat baginya kecuali karena uzur”
[HR. Ibnu Majah].
53
Hadis di atas merupakan hukum awal bahwa setiap orang yang
mendengar azan haruslah segera memenuhi panggilan tersebut dan
segera menunaikan salat, kecuali bagi orang yang memiliki halangan.
Halangan atau uzur yang dimaksud bukanlah kegiatan atau acara-acara
seperti yang kita jalani selama ini. Dan bukankah ketika memasuki waktu
salat ada jeda acara?
Uzur yang dimaksud adalah karena rasa takut (tidak aman) dan sakit.
Selain kedua alasan tersebut, kita tetap diwajibkan memenuhi panggilan
azan. Bahkan, Rasulullah Saw. dalam dalam hadis riwayat Imam Muslim
dikisahkan, suatu kali ada orang buta yang bertanya, “Wahai Rasulullah,
tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya
rukhshah untuk salat di rumah?” kemudian beliau bertanya, “Apakah
engkau mendengar seruan untuk salat?” ia menjawab, “Ya”. Beliau berkata
lagi, “Kalau begitu, penuhilah.”
Hadis riwayat Muslim di atas menerangkan bahwa kondisi fisik
seseorang tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak pergi ke masjid di
mana panggilan terdekat didengarnya. Seperti yang terjadi pada si buta
di atas, walaupun tidak ada orang yang menuntunnya untuk pergi ke
masjid, ia tetap diwajibkan oleh Rasulullah untuk salat berjamaah di
masjid, apalagi bagi kita yang sehat dan tak memiliki cacat fisik.
Salat merupakan perkara utama yang akan diminta
pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat. Di dunia, salat juga menjadi
ukuran taatnya seorang hamba. Artinya, salah adalah perkara yang
diagungkan dalam Islam. Dengan demikian, panggilan untuk menunaikan
salat juga hal yang mulia. Lalu bagaimana kita bisa mempermainkan
atau bahkan menyepelekan seruan itu? Jika kita termasuk orang-orang
yang demikian, sesungguhnya kita adalah bagian dari orang-orang yang
munafik.
Oleh sebab itu, Allah Swt. berfirman, “Peliharalah segala salat(mu),
dan (peliharalah) salat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu)
dengan khusyuk.” [Al-Baqarah : 238].
Selain kewajiban salat, kita juga diwajibkan untuk berjamaah. Dalam
Alquran beberapa kali kita membaca ayat, “rukuklah bersama orang-
54
orang yang rukuk” atau sujudlah bersama orang-orang yang sujud”.
Artinya, terdapat banyak fadlilah dalam salat berjamaah, bahkan dalam
kondisi genting seperti perang pun masih diwajibkan salat berjamaah.
Allah Swt. berfirman, “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah
mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-
sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat)
besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang
salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka
hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh)
dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum salat, lalu
salatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan
menyandang senjata.” [An-Nisa : 102].
55
Mantan Atau Pahlawan,
Kok Dikenang Terus?
L ama berpacaran, lalu putus? Pasti banyak kenangan yang tersimpan
dalam ingatan dan mengendap dalam hati. Kebersamaan yang dulu
selalu dibangun dengan berbagai kemesraan akan sangat sulit untuk
dilupakan. Apalagi seseorang itu adalah yang sangat baik dan berkesan
bagi kita. Namun karena suatu hal, mesti disepakati untuk berpisah.
Bahkan, yang berpisah dalam kondisi masing-masing sedang emosi pun
tetap ingin mengenang waktu-waktu bahagia bersama.
Begitulah mantan pacar atau pasangan. Setelah kita melepasnya,
baru kita menyadari bahwa kita membutuhkannya. Dalam kondisi inilah
kerinduan mencekam hati kita. Ingin rasanya bertemu dan mengulang
masa-masa terdahulu, namun apa daya, jarak fisik telah terpisah, jarak
hati telah membentang. Mengenangnya hanya akan menyakitkan hati,
mengajaknya “balikan” atau rujuk nyaris tidak mungkin. Apalagi jika
mantan kita telah memiliki pasangan lagi.
Lalu kalau kembali lagi tidak mungkin dan mengenangnya begitu
menyayat hati, kenapa pula harus mengenangnya? Pahlawan dikenang
akan memberikan banyak pelajaran dan pengetahuan sejarah kepada
kita, namun mengenang mantan justru akan semakin menyiksa. Apakah
kita akan memilih untuk lebih tersiksa lagi?
Mantan adalah masa lalu. Bagi kita yang mengenang mantan,
terutama mantan pacar, hanya akan mengenang maksiat demi maksiat
kita jalani bersama dia. Tentu hal ini akan mendekatkan kembali kita
kepada maksiat, seperti jelas kita dilarang untuk berdekatan dengan zina.
Sementara bagi mantan yang dulunya adalah pasangan yang sah, tentu
56
memutuskan hubungan dengannya adalah jalan terakhir yang tak lagi
bisa ditawar, mengingat perceraian adalah perkara yang paling dibenci
Allah Swt. meskipun halal.
Masa lalu adalah pelajaran. Sebagai pembelajar tentu kita memiliki
tingkat pengetahuan yang lebih setelah melewati tahap pelajaran terse-
but. Maka sudah selayaknya kita melangkah menatap masa depan. Masa
lalu telah memberi luka dalam hati dan mestinya kita bersyukur tak lagi
mengalami kemurungan seperti di masa lalu. Tak sepatutnya kita menga-
takan, “Seandainya sekarang aku masih dengannya, aku akan....” Yang
dulu bukanlah yang terbaik bagi kita karena kita digariskan berpisah.
Mengenai masa depan, Allah Swt. telah berfirman, “Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” [Al-Hasyr: 18].
Sekarang menjadi jelaslah, bahwa menatap masa depan adalah
perintah dari Allah Swt. yang mesti kita jalani. Masa lalu seperti yang
telah diilustrasikan di atas hanya akan membuat kita lemah dan khawatir
menghadapi masa depan. “Bagaimana aku akan menjalani hidup jika tak
bersamanya?” Kalimat ini adalah kalimat pesimis, padahal Allah Swt.
sudah menjamin kehidupan kita.
Selain itu, mengenang masa lalu hanya merupakan pekerjaan yang
sia-sia belaka. Sia-sia karena kita tidak mungkin memutar waktu kemba-
li, sia-sia karena justru kita akan terbenang dalam angan-angan yang tak
jelas. Namun jika kita harus mengenang, pahlawan yang berjasa bagi diri
kita, bangsa, negara dan agama yang patut kita kenang.
Maka yang harus kita lakukan adalah berusaha. Berusaha menjauhi
masa lalu dan berusaha berbuat untuk hidup yang lebih baik. Rasulullah
Saw. bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai
Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan dalam keduanya ada
kebaikan. Semangatlah untuk melakukan hal yang bermanfaat bagimu,
mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Dan ketika
sesuatu menimpamu maka janganlah kamu katakan: “Seandainya dahulu
57
aku melakukan hal yang ini maka akan terjadi seperti ini dan itu” tetapi
katakanlah: “Ini adalah takdir Allah dan apa pun yang Dia kehendaki
pasti akan terjadi” karena kata-kata “Seandainya (Lau)” akan membuka
amalan setan.” [HR. Muslim dan Ibnu Majah].
58
Hindari Pacaran Tetapi
Jomblo Jangan Permanen
A nak muda sekarang sangat penting menganggap status
hubungannya dengan lawan jenis, berpacaran atau jomblo?
Dalam keadaan jomblo, kita akan menjadi sasaran tembak
bully dari berbagai sisi. Seolah-olah jomblo adalah suatu kondisi yang
memprihatinkan dan menyengsarakan. Nah sialnya, orang lebih senang
membully orang lain yang sedang dalam kondisi prihatin dan sengsara.
Oleh karena itu, seseorang yang jomblo kastanya lebih rendah daripada
yang berpacaran.
Akan tetapi, banyak di antara teman-teman kita yang sengaja
memilih untuk tidak berpacaran lebih dulu. Perasaan suka dan cinta
terhadap lawan jenis pastilah ada pada setiap manusia, namun seseorang
yang mampu menenteramkan hati agar tidak berpacaran merupakan
pilihan yang bijak.
Bagaimana tidak, seperti umumnya kita bahwa pacaran sangat
dekat dengan zina. Pacaran merupakan hubungan di luar nikah yang
seolah-olah menjadi legalitas seseorang memiliki pasangannya. Bahkan,
dalam kasus tertentu, legalitas kepemilikan ini tak hanya urusan abstrak
berupa hati dan cinta, melainkan juga fisik. Karena sudah pacaran maka
boleh mencium, karena sudah jadi pacar maka boleh memeluk dan lain
sebagainya. Allah Swt. sudah memperingatkan hal ini dalam QS. Al-Isra
ayat 32, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.”
Dalam konteks Islam memang tidak dikenal konsep pacaran, namun
sebelum menikah kita diperkenankan untuk berkenalan dengan calon pa-
59
sangan. Hal ini yang kemudian dibelokkan oleh menjadi makna pacaran,
mengenal calon pasangan luar dan dalam. Namun kita juga kerap men-
dengar bahwa perkenalan itu pada akhirnya tidak cocok, padahal sudah
sampai dalam-dalam.
Dalam kondisi ini, maka pilihan menjadi jomblo merupakan yang
paling aman. Ia tidak mendekati maksiat dan juga tidak melakukan hal-
hal lain yang berbahaya dalam pacaran. Akan tetapi, jangan terlalu lama
men-jomblo. Terlalu lama tanpa pasangan justru akan membahayakan
diri, menyulitkan orang tua dan teman.
Bagi laki-laki, Allah Swt. memperingatkan kita, “Hendaklah mereka
menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian
itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka perbuat.” [QS. An Nur: 30].
Begitu pula bagi perempuan. Kita diperintahkan menjadi diri kita
yang diumpamakan sebagai perhiasan itu. “Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah
mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-
putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-
putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki,
atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap
wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan
janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang
mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [QS. An Nur: 31]
Bagi kita yang muslim, kita tidak punya pilihan untuk men-jomblo
untuk selamanya. Jika kita melakukannya, jelas kita tidak dianggap
sebagian dari golongan Nabi Muhammad Saw. Pilihan kita adalah memilih
dari sekian banyak lawan jenis yang memikat hati kita. Sebagaimana telah
difirmankan Allah Swt., “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di
60
antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba
sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.
Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan
karunia-Nya…” [An Nur: 32].
Bagi muslim yang sudah menikah, sesungguhnya ia telah
menyempurnakan agamanya. Karena kita tahu, bahwa agama Islam
bukanlah ajaran personal, melainkan juga ajaran muamalah atau sosial
sehingga kita perlu berhubungan dengan orang lain, baik dalam rangka
hubungan sosial maupun asmara. Selanjutnya, dari hubungan asmara
seorang muslim diharapkan akan memiliki keturunan yang mampu
meneruskan agama yang dipeluk orangtuanya. Terus-menerus begitu.
Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Jika seorang hamba menikah,
maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu
hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.”
61
Pilih Jomblo Ataukah
Pacaran?
S atu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini
terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna
negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang
untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih, tidak laku?
Emangnya jualan kolor?
Tetapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan perempuan
yang merasa seperti kena kutukan kalau sampe predikat jomblo mereka
sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk
melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton
film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang
remaja perempuan yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka
membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi
yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri
karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.
Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan
pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga
diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan
making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi
ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman
bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzubillah.
Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama
ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri.
Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tetapi
kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama
62
dalam pergaulannya. Predikat jomblo begitu menakutkan buat remaja
yang miskin iman.
Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada
menyandang status ini. So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan
buat sebagian remaja yang miskin iman.. Meskipun seringkali dalam
pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa
karena dipaksa orang tua, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep
diri yang salah. Jadi memang bisa banyak alasan.
Dipaksa teman terjadi bila teman satu geng pada punya laki-laki
semua. Terus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-
ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Sudah deh, siapa saja
boleh asal berstatus laki-laki. Waduh, gawat juga kan.
Orang tua bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan
ini. Ada loh beberapa tipe orang tua yang kelimpungan ketika anak
gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri sadar bahwa ini
adalah ajang berlumur dosa. Eh, orangtuanya ngotot agar sih anak nyari
pacar. Tulalit banget kan? Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia
merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan tidak laku ketika
belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia
bila ada laki-laki di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan
menyesatkan. Konsep diri remaja yang salah, merasa merana tanpa punya
pacar. Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang
menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar
dilakukan. Sudah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja
ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran,
adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar.
Kenapa harus pacaran?
Hayo, bisa tidak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran?
Hm, mungkin di antara kamu ada yang menjawab;
‘biar tidak kuper’
‘biar tidak dibilang tidak laku’
63
‘biar ada laki-laki yang sayang sama kita’
‘biar ada semangat untuk belajar’
‘biar tidak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’
‘sekadar ingin tahu rasanya’
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai
pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal
tidak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.
Pacaran adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih
sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam
bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau
belajar bersama. Tetapi alasan terakhir ini kayaknya banyak tidak jadi
belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya
apa iya?
Kalau kamu sekadar takut dibilang kuper karena tidak mau pacaran,
maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling
kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu
dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang pacarnya saja. Coba
kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu
di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalau Amerika
itu ternyata adalah teroris sejati?
Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu tidak bakalan tahu
topik beginian. Kalau begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling
tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan
kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya,
fasih tidak bahasa Inggris-nya, bagus tidak karangan bahasa Indonesia-
nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk
hal beginian. Kalau pun ada yang pintar, itu sama sekali tidak ada
hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.
Sebaliknya, pacaran adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan
oleh Rasulullah Saw.
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh
baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan
64
wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di
antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)
Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep saja ngeyel berdua-
duaan. Banyak kasus yang mengaku aktivis rohis dan niatnya dakwah
ternyata kebablasan pacaran. Belum lagi yang mengalami married by
accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Sudah sekolahnya
tidak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, kalau sudah begini,
perempuan adalah pihak yang dirugikan.
Laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah
sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat,
berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan
tobatan nasuha. Tobat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah
mengulangi lagi. Bukan tobat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat.
Duh, itu sih namanya main-main alias tidak serius dan mau berubah
total.
Jomblo adalah pilihan
Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo,
masa sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa saja, why not gitu loh?
Lagian tergantung persepsi kan?
Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat
teman-teman perempuan lain serasa tidak bisa hidup tanpa gebetan,
kamu merasa sebaliknya. Tidak harus jadi perempuan untuk aleman,
manja, tergantung ke laki-laki, dan merasa lemah. Perempuan harus
punya pendirian, tidak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah
memilih pacaran sebagai jalan hidup.
Nah, beda kasus dengan muslimah salehah. Ada atau tidak ada yang
mau, dia tidak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika saja sudah cukup
pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran
adalah sesuatu yang tidak penting bagi dirinya. Selain menghabiskan
waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi. Kalau
kamu jadi perempuan sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi
65
akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo
adalah sebuah kebanggaan.
Kamu bisa tunjukkan kalau jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo
bukan karena tidak ada yang mau, tetapi kitanya yang memang tidak mau
kok sama laki-laki seperti anak kecil itu. Lho, kok? Iya, laki-laki kalau
beraninya cuma pacaran itu namanya masih laki-laki kecil. Masa masih
kecil sudah pacaran.
Huh! Kalau laki-laki yang sudah dewasa, pasti ia tidak berani pacaran,
tetapi langsung datang ke orang tua si perempuan dan melamarnya.
Selain menunjukkan tanggung jawab, laki-laki dewasa tahu kalau pacaran
cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo. pada berani
tidak laki-laki kecil itu?
Jomblo Tetapi Salehah
Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah
malu disebut tidak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum
tentu juga jadi nikah nantinya. Malah yang banyak adalah putus di tengah
jalan, patah hati terus bunuh diri. Naudzubillah. Atau bisa jadi karena
takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias
married by accident.
Banyak persepsi tentang perempuan yang pacaran. Perempuan kalau
mau dipacarin kesannya adalah perempuan gampangan. Gampang saja
dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-
gampang yang lain. Idih, tidak asyik banget! Toh, nantinya para laki-
laki itu juga bakal malas sama perempuan beginian karena sudah tahu
‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat perempuan baik-baik.
Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu harus punya patokan
atau standar tersendiri. Kamu tidak mau pacaran karena itu dosa. Kamu
memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu tidak
bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan tidak gaul.
Kamu tetap kukuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya
66
prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu
pegang teguh. Bukankah begitu?
Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat
dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka
terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Benar-benar
tidak ada bedanya dengan mereka yang tidak pake kerudung. Malah
parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini.
Berkerudung tetapi pacaran. Berkerudung tetapi masih suka
boncengan sama laki-laki bukan muhrim. Berkerudung tetapi sering
berduaan sama laki-laki dan runtang-runtung tidak jelas juntrungannya.
Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra
kerudung, image Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang
lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah.
Parah banget!
Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalau kamu menghindari
pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalau
itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan salehah
kalau itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma
sementara saja? Jadi rugi banget kalau hidup sekali dan itu tidak dibikin
berarti. Jadi kalau ada yang rese dengan kamu karena status jomblo-mu,
katakan saja ‘jomblo tetapi salehah, so what gitu loh!’.
67
Hidup Itu Sederhana,
Tafsirnya yang Bikin Hidup
jadi Istimewa
A pa yang berbeda dari kehidupan sehari-hari? Kita yang bekerja,
setiap hari ya berangkat ke kantor. Berangkat pagi, pulang sore
atau bahkan malam. Kita yang masih kuliah, setiap hati ya ke
kampus. Pulang kalau kuliah sudah selesai, sambil sesekali mengikuti
kegiatan ekstra di kampus. Begitu pula dengan kita yang sebagai ibu
rumah tangga, setiap hari hanya menghadapi pekerja rumah yang tak
ada habisnya.
Setiap pekerjaan, bahkan yang dilihat orang paling menyenangkan
sekalipun, bisa membuat orang bosan. Nyatanya, mereka masih butuh
refresing atau piknik. Padahal menurut orang lain, pekerjaan itu piknik
setiap hari. Sebab orang yang bekerja demikian, setiap hari berada di
tempat wisata dan tidak merasa berwisata. Masing-masing kita suntuk
dengan rutinitasnya sehari-hari.
Atau katakanlah pilot dan pramugari, setiap hari mereka ke luar
negeri dan berada di awan-awan, mungkin kita melihat pekerjaan
mereka menyenangkan, tetapi bagi mereka? Apakah mereka tidak penah
mengalami kebosanan, apakah mereka tidak jenuh? Tentu saja, dengan
rutinitas yang melulu itu-itu saja, manusia mana pun akan bosan.
Sesederhana itulah hidup ini.
Melihat para pekerja di atas, terasa tidak ada yang istimewa sama se-
kali. Hidup hanya begitu-begitu saja. Seperti sebuah benda yang tak ber-
gerak dan berkembang. Namun kita adalah makhluk hidup, kita membu-
68
tuhkan gerak untuk berkembang. Terutama karena kita dibekali dengan
akal agar kita berpikir maju.
Cara berpikir inilah yang kemudian melahirkan tafsir atas kehidupan
yang kita jalani masing-masing. Ada yang menafsir bahwa hidup ini se-
rupa arus sungai yang mengalir, tinggal diikuti saja ke mana air itu akan
beranjak. Ada yang menafsir bahwa hidup itu hanya “mampir ngombe”
mampir ke suatu tempat untuk minum. Dan banyak lagi tafsir lainnya.
Orang bisa menafsirkan hidup sesuai dengan latar belakang masing-
masing. Dan karena tafsir itulah hidup menjadi bermakna dan indah.
Tafsir itu kemudian menjadi gaya, ideologi, bahkan tujuan hidup.
Semua orang bisa menafsirkan hidup sesuai dengan keinginannya. Toh
dalam tafsir itu nantinya dia sendiri yang menjalaninya. Yang perlu kita
hindari adalah tafsir yang membahayakan diri lalu mengajak orang lain
dalam bahaya tersebut. Sebut saja misalnya bahwa hidup ini adalah jihad
(dalam makna yang sempit).
Jihad dalam makna sempit yang kita saksikan sehari-hari misalnya
selalu berhubungan dengan pembelaan agama. Bahwa agama Islam kini
diciderai dengan berbagai macam ajaran yang bukan islami. Sementara
kita tahu bahwa hidup beragama juga harus pintar menyesuaikan diri de-
ngan lingkungan sekitar. Agama Islam adalah agama samawi, datang dari
langit dan turun ke bumi. Maka di muka bumi, Islam diharapkan bisa
lentur berdamai dengan aktivitas di bumi tanpa harus mengurangi esensi
ajaran Islam.
“Tuhan tak perlu dibela” demikian kalimat K.H. Abdurahman Wahid
atau biasa kita sapa Gus Dur. Justru kitalah yang perlu meminta Tuhan
membela kita. Begitu juga agama sebagai produk Tuhan. Semestinya kita
cukup menjalani aktivitas agama sebagaimana diperintahkan Allah.
Masa jihad berperang telah lama berlalu. Dengan senantiasa belajar
agama, mendatangi majelis taklim, kita sebenarnya dalam kondisi jihad.
Makna jihad sebenarnya sangat luas, tidak semata-mata urusan pedang
dan darah. Urusan pedang atau senjata mematikan lainnya umumnya
erat kaitannya dengan politik. Dan agama sebaiknya dipisahkan dengan
69
urusan tersebut, meski Islam sendiri mengatur bagaimana berpolitik
yang bersih.
Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-
jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang
yang berbuat baik. [QS. Al-Ankabuut 69].
Dalam firman di atas jelas diterangkan bahwa jihad sesungguhnya
adalah mencari keridaan Allah. Segala apa pun yang kita lakukan dalam
rangka mencari rida Allah maka kita sesungguhnya dalam kondisi jihad.
Pemaknaan jihad yang berujung pada pedang untuk saat ini merupakan
tafsir yang berlebihan (melampaui batas). Dan Allah tidak menyenangi
orang-orang yang berlebihan.
70
Pintar Menilai Orang Lain,
Bodoh Menilai Diri Sendiri
M enilai orang lain memang lebih mudah daripada menilai
diri sendiri. Hal itu karena kita bisa dengan mudah melihat
orang dan yang kita lihat adalah apa yang tampak dari
mereka. Sementara menilai diri sendiri sulit karena kita tidak memiliki
jarak sehingga kita tidak bisa objektif. Yang terjadi kemudian adalah
kita terlalu sibuk menilai orang lain. Orang lain berbuat apa, pasti kita
memiliki komentar bermacam-macam. Apalagi jika orang tersebut
berbeda pandangan dengan kita. Seolah-olah hidup kita terfokus pada
orang lain, sehingga kita sibuk mengurusi dan menilai mereka.
Di atas kereta seseorang membuka Alquran kecil dari sakunya. Lalu
ia membuka halaman tertentu dan membacanya dengan sangat lirih,
bahkan tidak terdengar oleh telinganya sendiri. Karena dilakukan di
depan umum, ada yang mengira bahwa ia sedang pamer, sementara orang
itu tidak mengetahui apa yang terjadi pada orang yang sedang membaca
Alquran tersebut. Barangkali di rumah ia sangat sibuk dan hanya bisa
membaca Alquran di perjalanan. Bukankah yang demikian itu lebih baik
daripada kita yang telah menilai seseorang itu berbuat pamer?
Kita juga tidak bisa begitu saja menghakimi orang dengan ayat-
ayat tanpa kita memahami betul ayat tersebut. Tidak hanya tahu
artinya, melainkan juga asbabun nuzul dan nash-nash lainnya yang bisa
menguatkan ayat tersebut harus pula kita kuasai. Jika hanya artinya
yang kita tahu, kita tak ubahnya seperti anak kecil yang mengatakan,
“Kata Mama makan sambil jalan itu tidak boleh.” Anak kecil hanya tahu
larangan orangtuanya tanpa mengetahui maksud sebenarnya.
71
“Ih, masa sikapnya begitu. Sombong sekali dia,” misalnya lagi.
Padahal dengan menilai semacam itu kita juga sudah berlaku sombong.
Siapa kita bisa seenaknya menilai orang lain? Apakah kita hakim? Apakah
kita juri? Kalau kita bukan siapa-siapa lantas kenapa menilai orang lain?
Dengan begitu berarti kita memposisikan diri kita sendiri di atas orang
yang kita nilai. Bukankah yang berhak menilai adalah orang yang lebih
tinggi ilmu dan derajatnya?
Di sinilah seseorang menjadi bodoh dalam menilai dirinya sendiri.
Bahwa apa yang kita lakukan sudah paling baik. Jika penilaian kita
terhadap orang lain berdasarkan standar yang ada, maka bisa jadi kita
objektif. Misalnya seseorang bisa dikatakan berpakaian sopan jika
menutup aurat, maka ketika ada orang yang memakai pakaian membuka
auratnya kita katakan ia tidak sopan. Akan tetapi, perlu kita ingat
kembali bahwa ukuran standar setiap orang berbeda-beda. Bahkan dalam
sebuah hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah, orang bisa tidak
sependapat. Artinya, setiap orang hidup dengan pembenarannya masing-
masing. Dan pembenaran yang diyakini tidak bisa diterapkan kepada
orang lain.
Belum lagi yang kita nilai hanya semata-mata yang tampak di mata.
Seseorang yang tidak memakai jilbab padahal ia seorang muslimah
dan keluarga seorang kiai, lalu kita menghujatnya. Apakah kita tidak
melihat dari sisi yang lainnya? Barangkali ketika kita tertidur pulas, ia
beribadah dengan sangat khusyuknya. Barangkali setiap amalannya
telah didasari dengan pengetahuan yang kuat. Sementara kita, untuk
menghakimi seseorang masih meminjam kalimat-kalimat orang lain
dengan “katanya...”, “menurut...” dan lain sebagainya.
Abu Hurairah r.a. menceritakaa bahwa Rasullullah Saw. bersabda:
“Jika ada seseorang berkata, “orang banyak (sekarang ini) sudah rusak”,
maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka.”
[HR. Muslim].
Maka kita mesti hati-hati dalam menilai orang lain, dan jika perlu
menghindari menilai orang karena kita tahu apa yang sesungguhnya
terjadi atau dialami seseorang itu. Dengan atau tanpa standar tertentu,
72
menilai bukanlah urusan kita. Sama seperti halnya kita menilai puasa
orang lain, “Ioh puasa kok begitu, mana bisa diterima puasanya.” Penilaian
semacam ini sesungguhnya telah melampaui batas kita sebagai manusia,
sebab yang berhak menilai diterima atau tidak hanyalah Allah Swt.
Berbeda dengan sesuatu yang memang sudah pasti. Misalnya hukum
matematika. Kenapa 4 x 4 sama dengan 16? Jika kita mengatakan jawaban
20, maka dipastikan salah. Karena memang begitu hukum pastinya. Dari
berbagai dispilin mana pun kita tak bisa menolaknya.
Sibuk mengurusi orang lain membuat kita lupa menilai diri sendi-
ri atau introspeksi. Padahal yang paling penting adalah muhasabah ter-
hadap diri sendiri. Menghitung-hitung kesalahan kita, dosa-dosa kita
sendiri. Dosa orang lain, mereka sendiri yang menanggung, sementara
dosa kita, kitalah yang harus memikirkannya, memperbaikinya dengan
amalan-amalan terbaik yang kita bisa.
Mengenai menilai orang lain, Rasulullah Saw. sangat tegas mengatakan
bahwa hal ini sangat dekat dengan fitnah, “Jika apa yang kamu bicarakan
benar-benar ada padanya maka kamu telah mengghibahnya, dan jika
apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat
kedustaan atasnya.” [HR Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi].
73
Menyerahlah,
Maka Kamu Akan Rugi
K adang kita merasa putus asa dan merasa tak sanggup lagi
melanjutkan apa yang sudah terlanjur dimulai. Ketika semua
sudah diusahakan cukup lama, menguras energi, tenaga bahkan
materi, tetapi tak juga membuahkan hasil. Biasanya, menyerah dan
memilih jalan lain adalah hal yang paling sering dilakukan. Padahal,
dalam berbagai usaha, kesabaran adalah hal wajib yang harus kita miliki.
Bersikap sabar itu tidak ada batasnya, ketika seseorang sudah menyerah
berarti ia tidak mampu bersikap sabar, terlepas dari sudah berapa lama
untuk bertahan
Masa depan memang mistri. Kita tidak tahu apa yang terjadi kelak.
Mungkin ketika kita menyerah, tinggal sejengkal lagi kita akan sukses.
Jika kita ragu dengan langkah kita, paling tidak kita perlu menyakini
bahwa apa yang telah kita perjuangkan pasti akan ada hasilnya. Man
jadda wajada.
Allah Swt. telah memberi ketetapan bagi orang-orang yang sabar,
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan
pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10]. Selain sabar sangat
bermanfaat bagi diri kita sendiri, Allah Swt. juga memberi pahala tiada
batas. Betapa beruntungnya orang-orang yang sabar.
Dengan meyakini hal tersebut, tidak ada alasan bagi kita untuk
menyerah. Yang perlu dipikirkan kembali adalah strategi dalam
menghadapi berbagai persoalan yang menghadang. Misalnya sebuah
rumah makan sepi, hal ini bukan semata-mata tempat yang kurang
74
strategis, sebab banyak pula tempat makan yang jauh dari keramaian
bahkan berada di desa terpencil dan masuk ke dalam gang, tetap didatangi
oleh pelanggannya.
Maka dibutuhkan evaluasi yang menyeluruh, mulai dari pengelolaan,
menu, hingga harga dan promosinya. Tanpa strategi yang tepat, kita ha-
nya seperti seorang buta yang sedang mencari jalan. Begitu pula dengan
usaha lainnya. Bahkan hal yang sangat sepele bisa menjadi kendala, kare-
na kita terlalu memikirkan hal-hal yang besar.
Bukankah lebih baik kita mengubah strategi daripada meninggalkan
usaha yang telah kita rintis dengan susah payah. Usaha yang kita rintis
adalah yang paling kita senangi, dan itulah adalah sebaik-baiknya
pekerjaan. Lalu ketika kita mengatakan bahwa “Saya sudah sabar sekian
lama tetapi tidak ada hasilnya,” berarti secara tidak sadar kita sudah
mulai meruntuhkan bangunan impian kita sendiri. Dalam kondisi ini
semestinya tetap berpikir positif dan optimis. Memang akan sangat sulit
sebab kita telah mengalami beberapa kerugian karena usaha tidak jalan,
namun akan semakin rugi jika menutup lembaran usaha tersebut.
Bukan kata menyerah yang sebenarnya kita butuhkan, tetapi doa dan
tawakal yang perlu diperbanyak. Kepada siapa kita meminta tolong dalam
menjalani usaha? Sehebat apa pun kita sebagai pengusaha, melupakan
Zat yang berkuasa di atas kita adalah perbuatan yang menzalimi diri
sendiri. Bagaimana tidak, dengan tidak meyakini Allah Swt. sebagai
pemberi rezeki berarti kita telah memutuskan rezeki kita sendiri. Lambat
laun usaha kita yang awalnya sukses akan berkurang karena tidak ada
keberkahan.
Allah Swt. telah memberikan jalan kepada kita melalui QS. Al-
Baqarah ayat 153 “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan
salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar.”
Allah sudah menjamin, bahwa Allah bersama orang-orang yang sa-
bar. Yang dimaksudkan dengan kebersamaan tersebut adalah kebersama-
an khusus. Bahwa orang–orang yang sabar itu Allah bersamanya, menga-
wasinya dan menolong serta menambah kekuatannya.
75
Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan tetapi, sabar bukan
berarti tidak melakukan apa-apa dan hanya menunggu keajaiban dari
Allah. Perilaku sabar juga kita imbangi dengan mencari jalan keluar yang
tepat, konsultasi kepada siapa saja yang tepat, observasi, ekplorasi, dan
lain sebagainya.
Tanpa kita melakukan apa-apa, Allah juga tidak akan melakukan
apa-apa. Allah akan turun tangan ketika kita sudah benar-benar angkat
tangan memohon kepada Allah. Dan apakah kita sudah mensedekahkan
sebagian harta yang kita miliki? Sebab sedikit harta yang kita setorkan
kepada Allah melalui sedekah dan zakat bisa melancarkan usaha kita.
Mengenai kerugian orang yang tidak mau bersabar dalam usahanya,
Allah Swt. telah menggariskan dalam QS. Al ‘Asr ayat 1–3, “Demi masa
(1), sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan menjalankan
nasihat supaya mentaati kebenaran dan nasihat supaya menetapi
kesabaran.
76
Jangan Cuma Katanya,
Mana Katamu?
A pa yang keluar dari mulut kita merupakan cerminan dari karakter
dan intelektual diri. Ketika kita hanya mengeluarkan kalimat-
kalimat kotor, maka kotor pula karakter kita, bahkan cenderung
tidak memiliki kapasitas intelektual tertentu. Orang kerap menyebutnya
dengan “mulut yang tak pernah disekolahkan”. Artinya secara tidak
sengaja kita telah menunjukkan kejahilan kita kepada orang lain.
Begitu pula jika kita kerap mengeluarkan kata-kata yang santun.
Tentu kita juga menunjukkan bagaimana kita beradab. Akan tetapi, jika
kita menemukan orang yang demikian, terutama dalam kondisi tertentu
terlebih jika baru saja bertemu dan baru saja kenal. Tentu kita tidak akan
memercayainya dengan mudah. Demi sebuah kepentingan, terkadang
orang akan pintar dalam memakai "topeng"nya.
Selain kedua kadakter di atas, kita mengetahui ada orang yang
kerap memakai pendapat orang lain untuk membenarkan apa yang
dilakukannya. Diksi “katanya”, “konon”, “menurut pendapat...:” sering
digunakan dalam setiap pembicaraannya. Orang tersebut sebenarnya
adalah orang yang tidak berpendirian. Pertama, ia menggunakan
kalimat orang lain sebagai tameng untuk dirinya. Kedua, jika pendapat
itu disanggah dan ia tak bisa memberikan penjelasan, dengan mudah
ia mengatakan, “Saya cuma mengutarakan pendapat yang disampaikan
oleh....”
Jika kita selalu mengutip pendapat orang lain, pembicaraan kita
akan penuh dengan daftar pustaka. Padahal kita tidak sedang menyusun
karya ilmiah. Sementara dalam karya ilmiah sendiri kita dituntut untuk
77
memberikan pendapat kita yang disertai dengan argumentasi sehingga
dapat dijadikan sebagai sebuah temuan. Jika karya ilmiah hanya penuh
dengan kutipan orang lain, maka karya ilmiah tersebut tak ubahnya
seperti rangkuman pendapat orang-orang. Karya ilmiah sesungguhnya
mengajarkan kepada kita bagaimana cara berpendapat yang terstruktur.
Ketika seseorang tidak berani mengeluarkan pendapatnya sendiri,
ada dua kemungkinan, yaitu tidak mau bertanggungjawab dan ia memang
tidak memiliki pendapat yang menunjukkan kebodohannya. Kemungkin-
an alternatifnya adalah kebodohannya itu ia perolah karena tidak mau
belajar. “Orang yang pintar adalah orang mau belajar. Ketika ia berhenti
belajar maka mulailah ia bodoh,” begitu inti kalimat yang pernah diutara-
kan oleh K.H. Mustafa Bisri atau akrab kita sapa dengan Gus Mus.
Padahal jika seseorang itu mau berpendapat akan lebih baik meski
pendapatnya tidak begitu bagus. Paling tidak ia mau belajar, sehingga
ketika ada argumentasi yang lebih kuat, ia bisa lebih mengetahui. Hal
ini seperti sebuah peristiwa yang pernah dialami oleh sahabat Umar bin
Khattab.
Ketika itu, khalifah kedua itu sedang membahas untuk menentukan
besarnya mahar, tiba-tiba seorang muslimah menyanggah pendapat
sang Khalifah. Menurutnya, mahar sudah ada ketentuannya, dan sang
khalifah tidak berhak untuk menentukan jumlahnya. Pendapat itu
kemudian dikuatkan dengan dalil yang diketahuinya. Dan ternyata lebih
kuat dari dalil yang dimiliki Khalifah, dengan serta-merta sang Khalifah
membenarkan pendapat tersebut.
Kisah di atas mengingatkan kepada kita bahwa kebebasan
berpendapat juga dijamin dalam Islam, akan tetapi tidak hanya asal
berpendapat, melainkan harus disertai dengan bukti-bukti juga dalil
yang mumpuni. Lihatlah seorang amirulmukminin saja membenarkan
apa yang dikatakan seseorang yang mengetahui dalil yang lebih kuat
darinya. Kepemimpinan dalam Islam selalu diawasi oleh masyarakat,
agar tidak menyimpang dari aturan Allah, sebagaimana aturan di dalam
Salat, bila Imam salah dalam bacaan, maka sang makmun berkenankan
untuk mengoreksi.
78
Untuk kebebasan berpendapat ini, Alquran mempersilakan siapa
saja untuk mengambil pelajaran darinya. “(Alquran ini) sebuah Kitab
yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai Muhammad), Kitab
yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka memahami
dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk orang-orang yang
berakal sempurna beringat mengambil iktibar.”
Kata “iktibar” dalam akhir ayat di atas merupakan dalil di mana
berpendapat dijamin dalam Islam. Aturan dalam Islam sangatlah lentur
selama kita bisa memaknainya. Nah, jika kebebasan berpendapat sudah
diatur, kenapa kita masih menggunakan pendapat orang lain? Apakah
kita juga tidak ingin pendapat kita dipakai orang lain, sehingga kita tahu
bahwa pendapat kita ternyata bermanfaat?
Berpendapat juga masuk dalam kategori ijtihad, bagaimana kita
menyimpulkan suatu peristiwa berdasarkan pengkajian sesuai dengan
kemampuan yang kita miliki. Akan tetapi, ijtihad membutuhkan
pengetahuan yang cukup sehingga kita mendapatkan hasil yang benar.
Imam bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadis Nabi
Muhammad Saw. berkenan dengan kasus ijtihad ini. Beliau bersabda,
‘’Jika seorang hakim memutuskan hukum dengan berijtihad dan
kemudian benar maka dia mendapat dua pahala, dan jika memutuskan
hukum dengan berijtihad dan kemudian salah maka ia mendapat satu
pahala.”
Hadis ini di atas menekankan pentingnya ijtihad, terutama di zaman
sekarang dengan berbagai persoalan yang baru dan tidak kita temui
padanannya di zaman Rasulullah Swa atau zaman para sahabat. Ijtihad
akan selalu ada dan berkembang karena manusia dibekali akal untuk
berpikir dan karena merupakan kebutuhan umat islam sepanjang masa,
sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman.
79
Jangan Merasa Benar
Sendiri Kalau Kebenaran
Mutlak Milik Allah
S iapa pemilik kebenaran? Jika kita meyakini bahwa kebenaran milik
hanya Allah Swt., kenapa pula kita merasa paling benar di antara
orang-orang yang juga sedang mencari kebenaran. Sebuah pepatah
mengatakan, “jangan merasa pintar, tetapi pintarlah merasa.”
Maksud dari pepatah tersebut adalah kita disarankan untuk tidak
mudah merasa diri paling pintar dan paling benar, melainkan kita ha-
rus pintar merasa apa yang ada di sekeliling kita. Dengan demikian, kita
akan menjadi pribadi yang sensitif terhadap berbagai hal, terutama ter-
hadap kebenaran. Kepekaan terhadap kebenaran akan melatih kita untuk
mengalisa berbagai persoalan untuk menemukan kebenaran.
Merasa paling benar ini kerap dijadikan dalil untuk menghakimi
orang atau kelompok lain. Dengan sedikit dibubuhi dalil, seseorang
atau kelompok tertentu kemudian mengatakan orang atau kelompok
lain melenceng dari ajaran Islam, menghukum mereka kafir dan lain
sebagainya.
Sementara menurut Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di
r.a. Pengkafiran merupakan hak Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu,
tidaklah seseorang itu kafir kecuali orang yang dikafirkan oleh Allah
dan Rasul-Nya. Ketika seseorang menggunakan pembenarannya sendiri
untuk mengatakan bahwa orang lain kafir, sesungguhnya ia sedang
mendahului kehendak Allah dan Rasul-Nya.
80
Menuduh seseorang kafir, apalagi jika seseorang itu adalah muslim,
bisa berakibat fatal, mengingat bahwa kekafiran adalah dosa besar.
Mengatakan seseorang kafir juga bisa kembali kepada diri mereka sendiri.
Rasulullah Saw. menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim, “Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran
atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya
itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” Maka
sebaiknya kita berhati-hati dengan kata yang satu ini.
Dalam kasus lain, merasa benar sendiri kerap menjadi hujatan dan
merendahkan orang lain. Mentang-mentang berpendidikan tinggi, lalu
dengan mudah meremehkan keberadaan orang lain. Masyarakat kita ma-
sih sangat peduli dengan hal ini. Orang lebih percaya pada yang berpen-
didikan tinggi dan mengabaikan yang tidak sekolah. Padahal ukuran pen-
didikan bukan hanya formal saja. Pendidikan adalah di mana dan kapan
saja seseorang mau belajar.
Orang yang menempuh pendidikan tinggi belum tentu ia mau bela-
jar, bisa jadi ia hanya candu menjalani aktivitas belajar. Bahwa kalau ti-
dak kuliah tidak punya, kalau tidak kuliah akan diremehkan masyarakat,
kalau tidak kuliah tidak mendapat pekerjaan. Hal-hal yang semacam ini
kemudian membuat sebagian mahasiswa menjadikan kuliah sebagai for-
malitas saja. Ketika menggarap tugas akhir pun mereka tak mau pusing-
pusing, cukup membeli saja.
Belum lagi ketika lulus, mahasiswa ini akan cenderung bekerja di luar
disiplin yang ia pelajari selama kuliah. Ia akan bekerja apa saja dan tak
memusingkan sedikit ilmu yang ia dapatkan ketika kuliah. Dan sebagian
mereka tak segan-segan meminta model besar lagi kepada orang tua
untuk membuka usaha atau berjualan, padahal mereka sudah dibekali
sekolah tinggi bertahun-tahun.
Sementara itu, orang yang benar-benar memiliki ilmu dan sadar akan
pendidikannya tidak tinggi, akan cenderung merendah. Namun ketika ia
mengeluarkan pendapatnya terlihat sekali bagaimana ia banyak belajar
dan melahap berbagai macam buku.
81
Begitu pula dalam hal pekerjaan, seseorang yang berpendidikan
rendah sulit mencari pekerjaan kantoran karena mereka menganggap
pekerjaan di perusahaan mereka hanya bisa dikerjakan oleh seorang
sarjana. Padahal belum tentu. Orang yang tidak berpendidikan tinggi dan
berkeinginan kuat selalu menempa dirinya agar bisa melakukan berbagai
hal untuk bisa bertahan hidup. Dan kemampuan yang dimiliki sebenarnya
bisa melebihi seorang sarjana. Namun masyarakat kita sudah terlanjur
mempercayai seorang sarjana yang mungkin kualitasnya di bawah rata-
rata. Perbedaan mereka hanya dibatasi oleh selembar kertas ijazah.
Perusahaan yang meyakini hal ini sebenarnya telah merendahkan
calon pekerja yang bukan sarjana. Untuk menghindari hal ini, perlu di-
berikan tes masuk yang sama kepada dua calon pekerja agar sama-sama
adil. Meski demikian, seorang sarjana yang berilmu akan lebih unggul
dan lebih dipertimbangkan daripada calon lainnya.
82
Apa Guna Banyak Baca Buku
Kalau Tidak Diamalkan
B anyak orang menjadi tipe pembaca buku. Baik sekadar menikmati,
hobi, gaya agar dijuluki kutu buku, atau hanya membaca jika
membutuhkan untuk penelitian. Namun, ada jug ayang memang
'butuh akan buku. Apa pun itu, kita tetap perlu mengapresiasi mereka
karena bagaimanapun mereka adalah para pembelajar, apa pun tujuannya
membaca buku.
Terlepas dari sekian banyak tujuan membaca buku, pun sedikit tentu
akan mendapat manfaat dari buku tersebut. Apa pun itu yang didaptkan
dari emmbaca buku, apabila bermanfaat haruslah dibagi kepada orang
lain. Seperti kata pepatah bahwa ilmu yang tid ak diamalkan seperti pohon
tanpa buah. Pohon itu akan gersang dan sedikit sekali manfaatnya.
Dengan berbagi ilmu, selain kita mendapatkan keberkahan ilmu
kita juga akan menjadi manusia yang bermanfaat. Bukankah sebaik-
baik manusia adalah yang bermafaat bagi manusia lainnya? Bisa kita
bayangkan manusia yang tidak bermanfaat sama sekali bagi kehidupan
ini, serupa orang gila yang terus membebani manusia lainnya. Lebih
ekstrem lagi seperti mayat hidup.
Ilmu tak akan habis dibagikan. Justru sebaliknya akan terus bertam-
bah karena semakin banyak orang tahu. Dan ini adalah ladang pahala
bagi pemilik ilmu. Saat kita tidak mengamalkannya, barangkali ada orang
lain yang tersesat atau sengsara karena kita hanya diam saja.
Misalnya kita mengetahui ilmu bengkel dan hafal betul ketika ada
mesin motor yang tidak mau menyala. Lalu ketika ketika di tengah jalan
dan bertemu dengan orang yang motornya mogok, kita hanya diam saja
83
padahal kita tahu dari ciri-cirinya, busi motor itu bermasalah. Ketika
diam saja sesungguhnya kita telah membuat orang tersebut sengsara.
Apakah karena tidak kenal lalu kita membiarkannya begitu saja, atau
khawatir jika tidak diberi upah?
Kenapa harus khawatir ketika menyebarkan ilmu Allah? Apakah kita
mendapatkan ilmu itu karena membayar? Setiap keahlian kita pasti akan
dibayar oleh Allah dengan berbagai cara dan bahkan lebih! Lalu kenapa
kita masih ragu dan membiarkan orang lain sengsara?
Al-Fudhail Bin ‘Iyadh pernah mengatakan bahwa, “Seorang
alim tetap dikatakan jahil sebelum ia mengamalkan ilmunya, jika ia
mengamalkannya maka barulah ia dikatakan seorang alim.”
Ungkapan di atas sangatlah dalam. Seseorang yang berilmu tetapi
enggan mengamalkannya maka ia adalah seorang yang jahil (bodoh).
Tidak ada yang membedakan dirinya dengan dengan orang bodoh, karena
sama-sama diam ketika melihat suatu kemungkaran atau kesalahan.
Orang yang bodoh sudah jelas ia akan diam saja karena memang tidak
tahu, lalu apa bedanya orang yang berilmu itu dengan orang bodoh?
Seseorang yang benar-benar menyadari keilmuannya akan senanti-
asa berusaha menularkan ilmu-ilmu itu kepada orang lain, baik dengan
atau tanpa imbalan. Kebesaran ilmu yang dimilikinya akan melatihnya
untuk ikhlas dalam membagikan apa yang ia punya. Semakin tinggi ilmu-
nya semakin mudah ia berbagi.
Berkenaan dengan pembaca buku, ada juga pembaca yang ingin
berbagi ilmu tetapi tidak tahu caranya karena ia tidak pandai bicara.
Maka menulis adalah cara lain untuk berbagi ilmu. Menulis bisa di mana
saja, tidak harus dijadikan buku, melainkan bisa di blog atau di mana saja
yang memudahkan orang mengakses. Lalu bagaimana jika pembaca buku
itu juga tidak menulis.
Dalam kasus ini kita perlu bertanya, tidak bisa atau tidak mau
menulis? Pernah mencoba? Pernah menulis dan membalas pesan di
smartphone? Nah, begitulah menulis. Mudah, bukan? Menulis panjang
(tidak dalam smartphone) hanyalah perkara kesabaran. Seseorang gagap
menulis namun ia tekun melatih diri dengan terus-menerus menulis
84
pastilah bisa. Kita hanya perlu sabar menuliskan setiap kata yang ada
di kepala. Jika kita menyerah karena merasa mentok dan tidak bisa
meneruskan kalimat selanjutnya, maka di situlah akan mulai tidak sabar.
Kesabaran adalah seni menulis, sama seperti seorang guru yang mesti
sabar menularkan ilmunya sementara murid-muridnya begitu bandel.
Setelah kesabaran itu kita peroleh barulah ketahap selanjutnya, yaitu
teliti dan jeli. Baik dalam memilih tema, diksi, maupun alurnya. Ketika
selesai menulis, sebaiknya kita publish di blog atau di mana saja yang bisa
diakses orang. Kalau dengan alasan malu karena tulisan kurang bagus,
sesungguhnya kita masih belum mau berbagi dan menyembunyikan
pengetahuan kita.
Dengan mempublikasikan tulisan kita, kita akan mendapatkan tang-
gapan dari pembaca bagaiman tulisan kita. Apakah cukup bagus, inspira-
tif, atau jelak sama sekali. Nah, di sinilah ujian kita sebagai penulis.
85
Hidup Penuh Gaya Tetapi
Masih Mengandalkan Orang
tua
S etiap orang pasti ingin bergaya dan tampil menarik di hadapan
siapa saja. Dengan berbagai cara orang memilih menjadi yang
diinginkannya. Ada yang ingin gaya sederhana tetapi terlihat
rapi dan bersih, ada juga yang ingin terlihat glamour, dan ada juga yang
ingin terlihat istimewa. Sebagian besar dari mereka yang ingin bergaya
ini adalah anak muda, di mana mereka sedang dalam masa-masanya
menarik lawan jenis.
Tak bisa dipungkiri bahwa anak muda memang penuh gaya. Tak
mengikuti trend saat ini berarti siap-siap dikatakan kuno. Dari model
potongan rambut, minyak rambut, kaca mata, makeup, baju, celana
hingga sepatu, semua diikuti biar terlihat keren. Hal utamanya tentu
untuk manrik simpati orang lain.
Namun, ada yang disayangkan dari gaya anak muda ini. Sebagian
besar mereka belum bekerja dan untuk memenuhi gaya mereka meminta
kepada orang tua. Dari mulai pakaian baru, gadget hingga kendaraan,
merengek kepada orang tua agak dibelikan yang terbaru. Keren sih
penampilannya, tetapi kok dari orang tua semua?
Kata keren untuk memuji penampilan ini bisa kita artikan lain,
yaitu bahwa keren itu bisa memenuhi kebutuhan sendiri di masa muda.
Setiap keingin yang dipenuhi dari hasil keringat sendiri akan lebih
menyenangkan daripada hanya pemberian. Lebih baik motor sederhana
tetapi beli sendiri daripada model terbaru tetapi pemberian orang tua.
86
Sementara bagi orang tua, hal itu tentu menjadi kebanggan sendiri karena
anaknya bisa mandiri. Bukan tak ingin memberi anaknya, melainkan
usaha sang anak itulah yang patut diapresiasi.
Penulis kawakan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer mengatakan,
“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka dengan
usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.” Jadi sebagai
anak muda, mestinya kita bisa berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Tak
perlu meminta kepada orang tua, apalagi merengek.
Selama kita hidup, tentu orang tua telah membekali kita dengan
berbagai ilmu dan keterampilan, dan kita bisa memanfaatkannya untuk
mewujudkan keinginan-keinginan kita. Bukan kemudian malah meminta
terus. Orang tua mana yang tak ingin menuruti permintaan anaknya
selama mereka mampu, tetapi apakah kita akan terus membebani orang
tua dengan berbagai macam permintaan. Umur kita sudah berapa? Masa
sudah 20 tahun, 30 tahun, masih saja minta kepada orang tua.
Mari kita teladani Nabi Muhammad Saw. yang telah mandiri di usia
12 dengan berniaga bersama pamannya. Beliau keliling dari pasar ke
pasar untuk melakukan perniagaan. Di sinilah pembelajaran luar biasa,
dalam usia SMP beliau sudah mandiri dan praktek langsung. Kita bisa
bayangkan dengan generasi sekarang yang baru mandiri saat selesai
kuliah dan menikah.
Memasuki usia ke 20 – 25 tahun, Nabi Muhammad Saw. telah menjadi
pedagang profesional. Beliau mendapat amanah mengelola harta orang
lain. Salah satu amanah yang ditunaikan adalah mengelola perniagaan
Khadijah. Setelah mapan dan profesional, Nabi kemudian melamar
“bos”nya sendiri. Tak tanggung-tanggung, mahar yang diberikan adalah
20 ekor unta. Jika kira-kira per unta terbaik itu seharga 50 juta, maka
maharnya untuk menikah sebesar 1 Miliar. Pernikahan itu sungguh
berkarh. Bisnis Nabi beserta istrinya terus berkembang pesat dengan
perniagaan lintas kota dan berbagai pasar.
Begitulah Nabi Muhammad Saw. memberi contoh kepada kita. Lalu
apakah kita akan berkata, “Itu kan Nabi, punya keistimewaan.” Ingat, di
usia muda itu Muhammad belumlah nabi. Ia masih menusia biasa seperti
87
kita namun sifat-sifat kenabiannya sudah tampak. Baru di usia 40 tahun
beliau diangkat sebagai nabi.
Bagaimana dengan kita? Kita adalah generasi yang dimanjakan oleh
dunia. Apa yang kita butuhkan telah disediakan dunia dengan mudah
dijangkau, terutama karena zaman modern telah menjadikan sebagai
konsumen. Segala macam produk sudah tersedia dan kita perlu susah
payah meciptakannya. Cara membayarnya pun beragam, bisa cash, tempo
atau kredit beberapa bulan.
Karena berbagai kemudahan ini, kemudian membuat kita sebagai
anak muda cenderung malas dalam bereksplorasi dan mencipta. Kita le-
bih senang pekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan keringat, di dalam
ruangan berAC, meski hanya menjadi buruh dengan gaji bulanan yang
sudah ditawan berbagai angsuran dan tagihan.
88
Berhijab Kok Nunggu
Jadi Salehah
H ijab merupakan bagian dari pakaian perempuan yang menutup
bagian atas mulai dari kepala. Untuk ukuran ke bawah masih
relatif dan banyak pilihan hingga menutup bagian dada.
Berhijab berarti menutup anggota tubuh bagian atas. Hijab ini kemudian
mengindikasikan bahwa seorang perempuan adalah muslimah dan
berniat melindungi diri dari berbagai aktivitas maksiat.
Perempuan berhijab memiliki tanggung jawab moral yang tersemat
dalam hijab itu sendiri. Akan tetapi, karena adanya tangung jawab
tersebut, seorang perempuan kemudian berkata, “Saya belum berani
berhijab karena saya belum pantas,” atau “Saya bukan peremuan baik-
baik yang layak menggunakan hijab,” ada juga yang beralasan “Nanti deh
kalau saya mendapat hidayah,” dan yang paling ironis adalah “Nanti kalau
sudah salehah saya akan pakai hijab sendiri, nggak perlu disuruh!”
Berbagai alasan tersebut sebenarnya bukan karena tanggung
jawab yang tersebut dalam selembar kain itu, melainkan keengganan
seorang muslimah memakainya. Kapan waktunya seorang perempuan
pantas menggunakan hijab? Ya saat ini juga! Kapan perempuan menjadi
“baik-baik”? Ya berhijab merupakan salah satu jalan seorang muslimah
menuju jalan yang baik. Jalan itu mesti kita sendiri yang mencari, bukan
menunggu ditunjukkan. Seperti halnya hidayah, kita jugalah yang harus
mencari hidayah itu, baru kemudian Allah Swt. yang merestui. Dengan
kita menggunakan hijab kita berharap Allah memberikan hidayah kepada
kita.
89
Hidayah diberikan kepada orang-orang yang beriman yang
dikehendaki oleh Allah. Lha kalau kita tak beriman, kapan kita
mendapatkan hidayah? Apalagi menunggu menjadi salehah.
Menggunakan hijab adalah usaha kita untuk menjadi muslimah yang
salehah, bukan menjadi salehah dulu baru menggunakan hijab.
Alur logika di atas jelas mudah dibantah. Namun sanggahan yang
kita berikan kepada mereka yang enggan akan tetap saja tidak mempan
sebab dari dasar hati mereka memang belum ingin menggunakan hijab.
Dan ironis lagi, seorang perempuan menginginkan anaknya menjadi saleh
dan salehah sementara ia sendiri tidak berhijab. Artinya, ia sendiri tidak
mendidik dirinya, bagaimana ia mau mendidik anaknya untuk menjadi
saleh dan salehah?
Kewajiban berhijab terlah diatur oleh Allah dalam Alquran,
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: Hendaklah mereka
menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan
janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa)
nampak daripadanya.” [QS. An-Nuur: 31].
Ayat di atas sudah sangat jelas bagaimana hijab itu diatur. Seluruh
tubuh perempuan, kecuali wajah dan telapak tangan adalah aurat.
Oleh sebab itu ketika salat, hanya muka dan telapak tangan yang tidak
ditutupi dengan mukena. Dan karena aurat dan wajib ditutupi, kita bisa
menganggapnya sebagai perhiasan.
Perhiasan kerap mengundang siapa saja ingin memakai dan memi-
likinya. Nah, jika tubuh perempuan adalah perhiasan, setiap lawan jenis
yang melihatnya bisa jadi ingin memakai dan memilikinya. Apakah kita
mau demikian? Oleh sebab itu, menutupi perhiasan adalah sebaik-baik
perempuan.
Perhiasan itu kita tampilkan kepada orang yang berhak, yaitu pa-
sangan kita. Sebab kepada merekalah kita dihalalkan dari berbagai ma-
cam sudut pandang. Ikatan agama dalam pernikahan menghilangkan
segala batas keharaman yang sebelumnya. Dalam konteks ini, seorang
suami wajib mengingat istrinya untuk berhijab. Perintah ini juga diber-
kan oleh Allah kepada NabiNya.
90
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu
dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya
ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Ahzaab: 59].
Perintah Allah di atas tentu memiliki banyak hikmah dan kebaikan
bagi perempuan itu sendiri. Allah telah mensyari’atkan hijab atas
kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui sangat menghargai
perempuan dan tetap menjaga mereka dalam kemuliaan dan kesucian di
berbagai lini kehidupan. Perempuan adalah seorang anak, seorang ibu,
seorang saudari, seorang bibi, dan seorang individu yang menjadi bagian
dari masyarakat. Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah berkata bahwa
Rasulullah Saw. bersabda, “Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah,
maka setan akan menghiasinya.” [HR. Tirmidzi].
Oleh sebab itu, perempuan yang akan keluar rumah hendaknya me-
minta ijin kepada suami atau orang yang muhrim dengannya. Dengan be-
gitu ia akan lebih terjaga. Dan terutama lagi, hijab akan mampu menjaga-
nya. Kita tahu, bahwa masyarakat kita menghargai orang yang berhijab,
apalagi kini telah menjadi tren.
Ada kisah seorang perempuan di negara Barat ditanya oleh seorang
wartawan. Menurut wartawan tersebut, pakaian perempuan itu yang
tertutup dengan berhijab, sangat tidak modern. Wanita itu kemudian
menjawab bahwa justru hijab itulah pakaian paling modern. Bagaimana
tidak, dahulu kala di zaman jahiliyah, perempuan banyak yang
membuka auratnya karena memang tren pakaian seperti itu. Lambat
laun, ketika intelektual manusia makin berkembang, mode pakaian
perempuan menjadi penutup aurat dari atas hingga bawah. Itu adalah
bukti perkembangan manusia. Lalu ketika sekarang dikatakan bahwa
perempuan yang memakai hijab adalah terbelakang, bukankah ini logika
berpikir yang terbalik?
Dan jika kemudian sekarang banyak perempuan yang membuka
auratnya bukankah itu kembali ke zaman jahiliyah. Jika membuka aurat
adalah kemajuan, maka binatanglah yang paling maju daripada manusua.
91