The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisikan materi-materi perkuliahan agama Islam berbasis moderasi beragama di PTU dengan model project based learning (PjBL)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arsyadani Mishbahuddin, 2023-12-08 21:59:26

BUKU AJAR MATA KULIAH AGAMA ISLAM

Buku ini berisikan materi-materi perkuliahan agama Islam berbasis moderasi beragama di PTU dengan model project based learning (PjBL)

Keywords: BUKU AJAR AGAMA ISLAM DI PTU

PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 40 ~ Maksudnya, keyakinan bahwa Allah SWT adalah Esa, Tunggal, Satu. Pengertian ini sejalan dengan pengertian tauhid yang digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu ke-Esaan Allah, mentauhidkan berarti mengakui akan keesaan Allah, meng-Esakan Allah. Secara istilah, makna Tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya. Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa malaikat, para nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja. Dalam doktrin Tauhid, Allah ditempatkan di atas segala sesuatu (transenden), di luar batas dan waktu. Oleh karena itu sifat superior (Maha) selalu melekat pada Dzat Allah, yang dalam istilah Kalam disebut dengan sifat istighna, yaitu sifat yang menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan kepada segala sesuatu di luar diri-Nya dan justru semestalah yang membutuhkan-Nya. Doktrin ajaran Tauhid ini merupakan poros dari ajaran Islam, sementara ajaran-ajaran yang lain bergerak dan berputar mengitari dasar ini. Tauhid merupakan misi utama dari para nabi dan rasul untuk didakwahkan kepada umat manusia. M Quraish Shihab memaparkan ayat-ayat tauhidiyah yang tergambar dalam sejarah nabi dan rasul yang bersumber dari Al-Qur‟an yang pada kesimpulannya nabi dan rasul selalu membawa ajaran tauhid. Diantaranya ucapan nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Syu‟aib yang semuanya diabadikan dalam Al-Qur‟an surat al-A‟raf/7: 59, 65, 73, dan 85. Artinya : “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat) (Q.S AlA‟raf :59).


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 41 ~ Artinya: “ Dan kepada kaum „Ad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, “Wahai kaumku! sembahlah Allah! tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?” (Q.S Al-A‟raf :65) Artinya: Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! sembahlah Allah! tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu (Q.S Al-A‟raf :73) Artinya : “Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syuaib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku! sembahlah Allah. Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman (Q.S Al-A‟raf :85). Demikian juga ajaran yang diterima Nabi Musa AS, langsung dari Allah SWT sebagaimana terdapat dalam Al-Qur‟an surat Thaha/20: 13-14. Artinya: “Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 42 ~ tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku (Q.S Thaha: 13-14) Esensi ajaran Islam tentang tauhid ini adalah landasan teologis dan prinsip permanen yang merupakan misi nabi dan rasul. Prinsip ini harus diterima dengan iman karena tidak bisa lagi ditembus oleh logika manusia yang sangat terbatas kemampuannya dalam memahami hakekat segala sesuatu. Oleh karena itu, manusia yang bertauhid senantiasa taat kepada Allah SWT, mengerti fungsinya sebagai manusia yang telah diperintahkan oleh Allah SWT, karena tujuan sebuah ibadah tidak akan tercapai kecuali atas dasar ketauhidan seorang hamba. C. Nilai-Nilai Spiritual Islam dalam Membangun Manusia Beriman dan Bertaqwa Pendidikan nilai Islami memuat indikator kecerdasan spiritual, kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial yang seimbang. Totalitas dalam beragama seharusnya ditandai dengan adanya peningkatan kualitas keimanan. Berpegang teguh pada keyakinan dengan menjunjung tinggi ajaran syariat, adanya perbaikan akhlak menyeluruh, penguatan fisik dan penyehatan jiwa. Mengamalkan Islam secara kaffah berarti menghidupkan jiwa spiritual agar seorang muslim selamat dari alienasi pada kehidupannya. Keyakinan transendental timbul dari adanya upaya membangun spiritualisme melalui motivasi dan refreshing mental. “spiritualitas merupakan ekspresi dari kehidupan yang sehat dan sejahtera yang dipersepsikan lebih tinggi, lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup seseorang dan lebih daripada hal yang bersifat indrawi. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan definisi sehat dan sejahtera bagi seorang muslim.” Pendapat di atas menjelaskan bahwa spiritual hadir dalam diri seseorang sebagai suatu kebangkitan atau pencerahan diri, dalam mencapai tujuan dan makna hidup. Proses spiritual dimulai dengan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang denganTuhan. Realitas penghambaan secara fisik akan terjadi akibat perubahan internal tersebut. Perubahan yang timbul disertai dengan meningkatnya kesadaran dan kebaikan, di mana nilai-nilai ke-


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 43 ~ Tuhanan termanifestasi ke luar dirinya, ketika berhubungan dengan Allah, makhluk-Nya dan segala yang ada di alam semesta. 1. Nilai Spiritual dalam Perspektif Islam Nilai adalah sesuatu yang dapat dijadikan sasaran untuk mencapai tujuan yang menjadi sifat keluhuran yang terdiri dari dua atau lebih dari komponen yang satu sama lain saling mempengaruhi. Nilai dalam Islam merupakan hasil edukasi qurani yang dikembangkan sebagai etika profetik yang digunakan sebagai suatu substansi dalam pendidikan Islam. Adapun konsep spiritual menurut Islam terdapat dalam surah Asy-Syams: 7-10: Artinya : Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. alSyams: 7-10). Ayat Al-Qur‟an di atas menjelaskan bahwa ajaran spiritual Islami hanya dapat diperoleh melalui jalan syariah Islam yang bersumber dalam Al-Qur‟an dan Hadis. Allah telah memberikan potensi fasik dan takwa, manusia dapat memilihnya, apakah akan mengotori jiwanya (fasik) atau akan mensucikan jiwanya (takwa). Hal ini berarti jalan-jalan spiritual dengan mengabaikan syariah akan membuat pengikutnya jauh dari kebenaran Islam dan pelakunya tidak akan memperoleh kedamaian hakiki di dunia maupun akhirat. Nilai spiritual Islam memiliki arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan dan membimbing setiap manusia mencapai kebijaksanaan dalam menemukan hubungan yang lebih dekat dengan Allah. Spiritual dapat membantu setiap muslim menghilangkan ilusi dari gagasan salah yang berasal dari alat indra, perasaan, dan pikiran semata. Dengan kata lain spiritual Islam merupakan roh agama bagi seorang muslim, meskipun mempunyai beberapa arti, di luar dari konsep agama.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 44 ~ Nilai spiritual Islam adalah immateri berupa keyakinan batin, yang bersumber pada nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Nilai spiritual Islam memiliki hubungan transendental intelligence, terletak dalam hati batin yang dianggap mempunyai kekuatan sakral, suci dan agung. Hati adalah hakekat spiritual batiniah, inspirasi, kreativitas dan belas kasih, yang tersembunyi di balik dunia material yang kompleks sebagai pengetahuan spiritual. Pemahaman spiritual merupakan cahaya Tuhan di dalam hati manusia yang membantu untuk melihat kebenaran. Apabila dilihat dari tinggi rendahnya nilai-nilai yang ada, nilai spiritual merupakan nilai yang tertinggi dan bersifat mutlak karena bersumber dari Allah. Aspek spiritual Islam dimulai dari proses tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan. Akibat perubahan internal tersebut dilanjutkan dengan dengan peningkatan realitas fisik. Konotasi lain perubahan akan timbul pada diri seseorang dengan meningkatnya kesadaran diri, dimana nilai-nilai ke-Tuhanan di dalam akan termanifestasi keluar melalui pengalaman dan kemajuan diri. Hal ini tidak terlepas dari upaya yang gigih untuk berpegang teguh pada ajaran dalam kitab suci (Al-Qur'an). 2. Metode Internalisasi Nilai Spiritual Islami Nabi Muhammad Saw telah berhasil menjalankan misinya dalam menyempurnakan akhlak manusia hanya dalam waktu kurang dari 23 tahun, sehingga masyarakat jahiliyah berganti menjadi masyarakat madani. Pada masa awal perkembangan sejarah Islam, kunciutama keberhasilan dakwah Rasulullah adalah keagungan akhlak, sebagaimana disebutkan dalam surah AlQalam: 4, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah figur teladan yang memenuhi kriteria sempurna dalam mendidik manusia. Nabi Muhammad mendidik para sahabat dengan Al-Qur‟an, sehingga memiliki karakter sebagai pengikut terbaik. Adab dan karakter mulia Rasulullah SAW disertai dengan sikap rendah hati yang luar biasa, meskipun status dan kedudukan Beliau sangat tinggi. Rasululah SAW bahkan mengucapkan salam kepada anakanak dan bermain dengan mereka di jalan.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 45 ~ Rasulullah SAW dengan kepribadiannya yang mulia berhasil mendidik para sahabat menjadi pembuka pintu gerbang dalam membangun masyarakat berperadaban tinggi. Sejarah Islam mencatat keberhasilan Rasulullah SAW ini dalam tinta emas tamaddun. Belajar dari keberhasilan Rasulullah SAW tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pendidikan Nabi sangat berpengaruh untuk keberhasilan internalisasi nilai dan pembentukan karakter manusia. 3. Keberhasilan Internalisasi Nilai Spiritual Islam Manusia dikaruniai religious instinct, sehingga dapat dikenal sebagai godly and religious beings. Fiṭrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau peluang untuk berkembang, namun demikian, mengenai arah kualitas perkembangan agama seseorang tergantung kepada proses yang diterimanya. Keberhasilan internalisasi nilai-nilai spiritual Islam dipengaruhi oleh dua faktor yang mempengaruhi individu yaitu faktor internal (fiṭrah) dan faktor ekternal (lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat). Setiap manusia yang lahir ke dunia, baik yang masih primitif, bersahaja, maupun kapitalis, baik yang lahir dari orangtua yang saleh maupun jahat, mereka pasti memiliki naluri beragama. D. Sumber Hukum Islam Sebagai Pedoman Diketahui bahwa dalam Islam terdapat beberapa pedoman yaitu Al-Qur‟an, Hadist dan juga Ijtihad. Ketiganya dapat dijadikan pegangan umat Islam tentang segala sesuatu termasuk didalamnya tentang konsep Ketuhanan. Akan tetapi yang menjadi sumber hukum Islam yang utama adalah Al-Qur‟an dan juga Al-Hadist. Hal ini disebabkan karena apapun yang telah disampaikan pada keduanya tidak akan pernah berubah. Kedudukan Ijtihad pada sumber hukum Islam merupakan pelengkap atau metode yang ditawarkan agar Islam dapat menjawab tantangan zaman, karena banyak hal yang terjadi pada saat ini tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW, akan tetapi hasil dari ijtihad ini tidak bersifat permanen atau kekal sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan Al-Hadist. Hasil ijtihad akan selalu


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 46 ~ berkembang dan dapat berubah sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia. 1. Al-Quran Memperkenalkan Tuhan Allah adalah sebutan atau nama Tuhan (tiada Tuhan selain Allah); wujud tertinggi, terunik, Dzat Yang Maha Suci, Yang Maha Mulia, daripada-Nya kehidupan berasal dan kepada-Nya kehidupan kembali. Para filsuf di zaman kuno menamai Allah SWT dengan nama Pencipta, Akal Pertama, Penggerak pertama, Penggerak Yang tiada Bergerak, Puncak Cinta, dan Wajib AlWujud. Allah SWT adalah tuntutan setiap jiwa manusia. Setiap makhluk dan bangsa manusia merasakan dan menyadari kehadiran-Nya sejak masa yang paling awal dan menamai-Nya menurut istilah-istilah yang mereka tentukan. Agama Islam adalah agama yang mengenalkan Tuhan dengan melalui isi kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an. Kata “Allah“ dalam Al-Qur‟an terulang sebanyak 2697 kali. Belum lagi kata-kata semacam wahid, ahad, ar-Rabb, Al-Ilah atau kalimat yang menafikan adanya sekutu bagi-Nya dalam perbuatan atau wewenang menetapkan hukum atatu kewajaran beribadah kepada selain-Nya serta penegasan lain yang semuanya mengarah kepada penjelesan tentang tauhid. Uraian Al-Qur‟an tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad SAW dimulai dengan pengenalan tentang dan sifatNya. Ini terlihat secara jelas ketika wahyu pertama turun. Dalam rangkaian ayat-ayat yang terdapat di dalam wahyu pertama kali turun menunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan kata Rabbuka (Tuhanmu), bukan kata “Allah”. Hal ini menggaris bawahi bahwa wujud Tuhan Yang Maha Esa dapat dibuktikan melalui ciptaan atau perbuatan-Nya. Akan tetapi, pada wahyu yang ke-19 yaitu surat Al-Ikhlas barulah kata “Allah” dijelaskan secara rinci sebagai jawaban terhadap kaum musyrik yang mempertanyakan tentang Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 47 ~ Dari satu sisi tidak digunakannya kata ”Allah” seperti salah satu ungkapan yang oleh sementara pakar dinilai sebagai Hadits Qudsi yang berbunyi: “Aku adalah sesuatu yang tersembunyi, Aku berkehendak untuk dikenal, maka Ku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”. Di sisi lain, tidak digunakannya kata ”Allah” pada wahyuwahyu awal itu adalah dalam rangka meluruskan keyakinan kaum musyrik, karena mereka juga menggunakan kata “Allah” untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan mereka tentang Allah berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh Islam. Dari kekeliruan-kekeliruan tersebut, Al-Qur‟an melakukan pelurusanpelurusan yang dipaparkannya dengan berbagai gaya bahasa, cara dan bukti. 2. Dalil-Dalil Logika Di dalam Al-Qur‟an banyak sekali ayat-ayat yang menguraikan dalil-dalil aqliyah tentang keesaan Tuhan. Misalnya: Artinya: “Dia Pencipta langit dan bumi, bagaimana dia mempunyai anak padahal dia tidak mempunyai isteri, dia menciptakan segala sesuatu, dan dia mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-An‟am:101) Artinya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai „Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya‟: 22) Dari ayat tersebut dapat dipahami, bahwa seandainya ada dua Pencipta, maka akan kacau ciptaan tersebut. Karena jika masing-masing Pencipta menghendaki sesuatu yang tidak dikehendak oleh pencipta yang lain. Maka seandainya keduanya berkuasa, ciptaan pun akan kacau atau tidak akan mewujud. Kalau salah satu mengalahkan yang lain, maka itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan mereka, sehingga keduanya bukan Tuhan, karena Tuhan tidak mungkin membutuhkan sesuatu atau


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 48 ~ lemah atas sesuatu. Selain itu, ada juga ayat Al-Qur‟an yang mengajak mereka yang mempersekutukan Tuhan untuk memaparkan hujjah mereka: Artinya: “Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: “Unjukkanlah hujjahmu! (Al-Qur‟an) Ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku. Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, Karena itu mereka berpaling.” (QS. AlAnbiya‟: 24) Daftar Pustaka Adisusilo Sutarjo. (2012). Pembelajaran Nilai-nilai Karakter Konstruktivisme sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: Rajawali Persada Afrizal, Lalu Heri. (2018). “Rububiyah dan Uluhiyyah Sebagai Konsep Tauhid (Tinjauan, Tafsir Hadist dan Bahasa)” : Jurnal Tasyfiyah, Vol. 2, No. 1 Aliah B. Purwakania Hasan. (2006). Psikologi Perkembangan Islami, Menyingkap Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran Hingga Prakematian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006) Ali Yunasril. 2012, Sufisme dan Pluralisme Memahami Hakikat Agama dan Relasi Agama-agama Jakarta : Gramedia. Asmuni, M Yusran. (1989) Tim penyusun kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen P & K Frager Robert (2007). Nafs in Sufism Psychology, terjemahan Hasmiyah Rauf, Jakarta: Serambi Ilmu Nata Abuddin. (1999). Metodologi Studi Islam. Jakarta: Grafindo Persada Ramayulis. ( 2006). Psikologi Agama. Jakarta: Radar Jaya Ridwan Khafrawi (1997). Ensiklopedia Islam. Jakarta: ichtiar baru Van Hoeve Shalih Muhammad al-Munajjid. (2018). Kaifa „amalahum, Seni Berinteraksi Rasulullah terjemahan Noor Cholis dan Putri Aria Miranda, Solo :Aqwam Media Shihab, M Quraish. (1996) Wawasan Al-Qur‟an : Tafsir Maudhi‟i atas Pelbagai PersoalanUmat ,Bandung: Mizan Shihab, M Quraish. (1998). Mukjizat Al-Qur‟an ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiyah dan Pemberitaan Alam Ghaib. Bandung: Mizan


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 49 ~ Syafleh. (2016). “Tuhan dalam Perspektif Al-Qur‟an”, Jurnal At-Tibyan, Vol. 1 No. 1, E. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan Kelompok Kerja Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut: a.Silakan mahasiswa membentuk kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4-6 mahasiswa sesuai arahan dosen. b. Usahakan masing-masing kelompok terdiri atas laki-laki dan perempuan. c. Apabila kelompoknya sudah terbentuk silakan tentukan ketua kelompoknya. d.Ketua kelompok silakan berdiskusi dengan ketua kelompok lainnya menetapkan nama kelompok dengan memilih nama-nama sahabat Nabi sesuai arahan dosen. e.Ketua kelompok bersama anggotanya mengatur tempat duduk sesuai arahan dosen. 2. Pertanyaan Proyek Mahasiswa dalam kelompok diberikan pertanyaan dan tugas oleh dosen secara lisan sebagai berikut. a.Tentunya setelah membaca materi tentang konsep bertuhan sebagai determinan dalam pembangunan manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang bersumber dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah, para mahasiswa sudah tahu bagaimana konsep ketuhanan Islam, bagaimana menjadi manusia beriman dan bertaqwa sesuai dengan tuntunan Al-Qur‟an dan Assunnah? b.Silakan secara berkelompok menyimpulkan bagaimana untuk menjadi Insan Kamil? 3. Perencanaan Proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masingmasing kelompok sebagai berikut: a. Kesimpulan menggunakan format artikel ilmiah kajian pustaka. b. Sumber referensi dalam membuat kesimpulan yaitu minimal bersumber dari buku ajar yang sedang dibaca ini dan beberapa referensi seperti e-book, jurnal, prosiding dan lainnya. c. Silakan setiap kelompok dalam membuat kesimpulan berpedoman pada penulisan artikel ilmiah kajian pustaka dengan sistematika berikut: 1) Judul Tulisan, Nama, Npm, dan Email Mahasiswa Contoh: Konsep Bertuhan dan Membangun Manusia Beriman dan Bertakwa Kepada Allah SWT Oleh Abdul Ghani (NPM A1A018001) Email: [email protected]


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 50 ~ Nurrahmah (NPM A1A018008) Email: [email protected] 2) Abstrak Gunakan format IMRAD (Introduction, Method, Result & Discussion) yang diakhiri kata kunci. Abstrak maksimal 250 kata dan minimal 150 kata. 3) Pendahuluan Pendahuluan sebaiknya memuat beberapa unsur berikut: a. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan teori dan penelitian relevan. b. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan hasil pengamatan, observasi, atau wawancara. c. Menjelaskan pemetaan tentang tulisan sebelumnya baik dari jurnal atau prosiding yang belum menulis tentang kajian yang akan dibahas. d. Menjelaskan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan. 4) Metode Penulisan Jelaskan metode penulisan yang digunakan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Kemudian, jelaskan sumber data tulisan yang diperleh dari buku, jurnal, prosiding, atau lainnya. Jelaskan juga teknik analisis data yang digunakan membuat formulasi permasalahan, mencari literature, evaluasi data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data. 5) Pembahasan Pembahasan berusaha membandingkan dan menghubungkan konsep-konsep tentang kajian yang akan dibahas sehingga ditemukan kesimpulan yang terbaik. 6) Simpulan dan Saran Simpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sebagai jawaban akhir dari pembahasan yang bersumber dari gabungan pendapat dari pakar yang dikutip. Sedangkan saran menyampaikan saran kepada pihak yang menerima kontribusi terhadap tulisan ini yaitu mahasiswa dan dosen. 7) Daftar Pustaka Gunakan format American Psychologycal Association 7 (APA 7) yang bersumber dari buku, jurnal, dan prosiding. Contoh pengutipan dan penulisan daftar putaka menggunakan APA 7 dapat dilihat pada laman berikut https://edutecion.com/apa-style-edisi-7/. d. Kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka menggunakan aturan penulisan berikut: 1. kertas A-4; 2. jenis tulisan Times New Roman; 3. spasi 1,5; 4. margin kiri 3, kanan 2,5, atas 2,5, dan bawah 2,5;


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 51 ~ 5. kutipan tidak langsung; dan 6. penulisannya menggunakan bodynote. 4. Penyusunan Jadwal Proyek Proyek menulis kesimpulan dan bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No. Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang konsep bertuhan sebagai determinan dalam pembangunan manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah 20 2. Menyusun kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 60 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 20 4. Mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi sesuai petunjuk dosen. 10 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 40 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 360 Total Waktu 510 5. Pengawasan Pelaksanaan Proyek Pengawasan pelaksanaan proyek dilakukan oleh guru bisa dengan menggunakan lembar pengamatan penilain sikap berikut: No. Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan Ya Tidak 1. Mahasiswa dalam kelompok aktif mencari referensi sebagai bahan membuat kesimpulan. 2. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 3. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 4. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi. 5. Mahasiswa dalam kelompok aktif dan kritis dalam mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 52 ~ 6. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif dalam kegiatan diskusi panel. 7. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 8. Mahasiswa dalam kelompok menulis membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti sistematika dan aturan penulisan yang sudah ditetapkan. Jumlah Jawaban Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut: 6. Penilaian Hasil Proyek melalui Presentasi Proyek Penilain hasil proyek atau produk membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah hasil kajian pustaka bisa menggunakan format penilaian berikut: No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Sistematika penulisan. 1-15 2. Isi tulisan berkaitan dengan kekuatan argumentasi 1-30 3. Penggunaan ejaan (penulisan huruf, tanda baca, kata, dan unsur serapan) dan tata bahasa (kalimat dan paragraf). 1-20 4. Aturan penulisan berkaitan dengan kutipan dan format tulisan. 1-15 5. Tingkat keorisinalan tulisan dari hasil cek similaritas atau cek plagiasi. 1-20 Total Nilai 100 7. Evaluasi Pengalaman melalui Refleksi Tahap evaluasi pengalaman melalui refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam membuat kesimpulan tentang konsep bertuhan sebagai determinan dalam pembangunan manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang bersumber dari AlQur‟an dan As-Sunnah. Dosen bisa menggunakan evaluasi pengalaman melalui refleksi dengan dua acara berikut: a. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek kepada perwakilan kelompok. Kegiatan refleksi kelompok bisa dengan dua pertanyaan berikut:


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 53 ~ 1) Coba Anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2) Coba Anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesimpulan tentang Konsep bertuhan sebagai determinan dalam pembangunan manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang bersumber dari Al-Qur‟an dan As Sunnah? b. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek secara individu kepada masing-masing individu yang dianggap belum aktif dalam proses kegiatan proyek. Kegiatan refleksi individu bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1) Coba Anda sampaikan kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2) Coba Anda sampaikan kesimpulan tentang konsep bertuhan sebagai determinan dalam pembangunan manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah? F. Tes Kognitif Individu 1) Petunjuk: a. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. b. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benar salahnya jawaban Anda. c. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang paling benar. d. Soal sebanyak 20 soal dengan bobot setiap soal sebesar 5 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. e. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 2) Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d! 1. Sebuah kata benda yang memiliki arti ke- Esaan Allah, kuat kepercayaan bahwa Allah hanya satu adalah definisi dari.. a. Aqidah b. Tauhid c. I‟tikad d. Teologi 2. Sifat yang menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan kepada segala sesuatu diluar diri-Nya dan justru semestalah yang membutuhkan-Nya disebut.. a. Ifthikhor b. „alimun


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 54 ~ c. Istighna d. Hayyun 3. Suara Tuhan yang terekam di dalam jiwa manusia adalah pengertian dari istilah yang dipopulerkan oleh ahli syaraf California University, V.S. Ramachandra yaitu yang disebut.. a. God-Spot b. Human Intuition c. Karunia Tuhan d. Keistimewaan Manusia 4. Menurut Ibn Taimiyah, fitrah beragama disebut sebagai.. a. Fitrah Majbulah b. Fitrah Al-Gharizah c. Fitrah Munazzalah d. Fitrah Mencintai kebersihan 5. Memahami eksistensi Tuhan merupakan pencarian rumit yang tidak pernah final. Hal ini dinyatakan oleh.. a. Syafleh b. Madjid c. Ali Hasan d. A. J Heschel 6. Menghidupkan jiwa spiritual agar seorang muslim selamat dari aliensi pada kehidupannya merupakan bentuk pengamalan Islam secara.. a. Kaffah b. Fitrah c. Watsaniyyah d. Hayyun 7. Berikut ini merupakan Masdar dari perkataan tauhid, kecuali.. a. Wahhada b. Yuwahhidu c. Wujud d. Tauhidan 8. Berikut ini merupakan pedoman dalam Islam, kecuali.. a. Al-Qur‟an b. Hadits c. Madzhab d. Ijtihad 9. Bagaimana pemahaman tentang Tauhid dapat memengaruhi etika dan moral seseorang dalam kehidupan sehari-hari? a. Tidak ada dampak pada etika dan moral. b. Membuat seseorang lebih toleran terhadap kepercayaan lain. c. Mendorong seseorang untuk berlaku adil, jujur, dan memiliki kesetiaan yang kuat pada Allah. d. Membuat seseorang kurang peduli dengan etika dan moral.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 55 ~ 10. Apa yang dimaksud dengan "Tauhid Rububiyyah" dalam Islam? a. Keyakinan pada keberadaan satu Tuhan. b. Keyakinan pada keberadaan banyak dewa. c. Keyakinan pada kekuatan alam semesta. d. Keyakinan pada kebijakan sosial. 11. Fitrah yang sudah ada di dalam diri manusia disebut dengan.. a. Fitrah munazzalah b. Fitrah sosial c. Fitrah intelektual d. Fitrah majbullah 12. Berapa lama waktu yang dibutuhkan Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia dari masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani? a. Lebih dari 23 tahun b. Kurang dari 23 tahun c. Lebih dari 25 tahun d. Kurang dari 25 tahun 13. Menurut Al-Qur'an, manusia dibagi menjadi 2 yaitu makhluk religi dan makhluk sosial. Penjelasan mengenai manusia sebagai makhluk sosial tercantum pada surah.. a. Al-Baqarah:256 b. Ad-Dzariyat:56 c. Ar-rum:30 d. Ali-Imran:110 14. sumber hukum islam yang dapat berkembang dan berubah sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia disebut... a. Ijtihad b. Al-Qur'an c. ubudiyah d. Sunnah 15. Dalam Al-Qur'an terkandung beberapa dimensi yaitu.. a. Vertikal dan horizontal b. Vertikal, horizontal, dan axial c. Vertikal, diagonal, dan axial d. Vertikal dan axial 16. Abdulkarim Al-jilli membagi insan kamil atas beberapa tingkatan yaitu.. a. Al-bidayah, at-tawasuth, dan al-kharim b. Al-bidayah, al-tawasuth, al-khitam, dan al-kharim c. Al-bidayah dan al-tawasuth d. Al-bidayah, at-tawasuth, dan al-khitam 17. Menurut ajaran Islam, manusia dibandingkan oleh makhluk yang lain mempunyai berbagai ciri, kecuali.. a. Makhluk paling unik b. Dicipatkan untuk mengabdi pada kehidupan dunia


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 56 ~ c. Memiliki potensi d. Memiliki perasaan dan kehendak 18. Pelaku iman disebut.. a. Muhsin b. Ma'mum c. Imam d. Mukmin 19. Mengapa konsep bertuhan dianggap sebagai fondasi dalam membangun manusia yang beriman dan bertaqwa? a. Karena membantu dalam mendapatkan kekayaan b. Karena memberikan petunjuk dan pedoman dalam kehidupan c. Karena meningkatkan status sosial seseorang d. Karena mempermudah dalam mencari pekerjaan 20. Dalam konteks ketaqwaan, apa yang menjadi inti dari kesadaran akan keberadaan Tuhan? a. Melakukan perjalanan ke tempat-tempat suci b. Membaca kitab suci setiap hari c. Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan dan kepatuhan pada ajarannya d. Membuat patung atau gambar Tuhan 21. Apa yang dimaksud dengan nilai spiritual dalam Islam? a. Nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. b. Nilai-nilai material dalam dunia kompleks. c. Kepercayaan pada kekuatan fisik. d. Inspirasi dan kreativitas dalam dunia material. 22. Mengamalkan Islam secara kaffah artinya.. a. Melakukan puasa selama bulan Ramadan b. Mengikuti lima rukun Islam c. Menghidupkan jiwa spiritual agar seorang muslim selamat dari alienasi pada kehidupannya. d. Berusaha menjadi imam dalam shalat jamaah 23. Bertakwakkallah kepada Allah SWT, Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal kepada-nya. Hal ini terdapat dalam AlQur‟an surat? a. QS. Al-Imran: 159 b. QS. Al-Mu‟minun: 12-14 c. QS. At-Talaq: 2-3 d. QS. Al-Baqarah: 195 24. Pemikiran tentang Tuhan dalam Islam melahirkan ilmu kalam, ilmu tauhid atau ilmu ushuluddin di kalangan umat Islam, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Aliran-aliran tersebut ada yang bersifat liberal, tradisional dan ada aliran di antara keduanya. Ketiga corak pemikiran ini mewarnai sejarah pemikiran ilmu ketuhanan (teologi) dalam Islam. Aliran-aliran tersebuut adalah, kecuali.. a. Muktazilah b. Qodariyah


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 57 ~ c. Asy‟ ariyag dan Maturidiyah d. Watsaniyyah 25. Dalam ajaran Islam tauhid merupakan hal yang fundamental dan sebagai landasan teologis serta prinsip permanen. Bagaimana cara manusia untuk menerima tauhid? a. Mencari tahu dengan melakukan riset. b. Menerimanya dengan iman. c. Mengikut kepercayaan orang kebanyakan. d. Menggunakan logika untuk memutuskannya Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 58 ~ BAB III Islam dalam Menjamin Kebahagiaan Dunia dan Akhirat dalam Konteks Kehidupan Modern Sub-CPMK-3 Pertemuan ke-4: Mahasiswa diharapkan mampu menyimpulkan Islam dalam menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat di kehidupan sehari-hari Gambar 3.1 Islam dalam menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat Sumber: https://liputanislam.com/wp-content/uploads/2014/09/Tasawwuf-or-Sufisme.jpg A. Konsep Kebahagiaan dalam Islam Kebahagiaan dapat diartikan menjadi beberapa definisi yang berbeda-beda, banyak pandangan mengenai kebahagiaan itu sendiri. Mengacu pada definisi kebahagiaan dalam KBBI, kebahagiaan adalah sebuah kesenangan dan ketentraman hidup baik secara lahir maupun secara batin. Artinya, kebahagiaan tidak hanya mengenai fisik tetapi juga mencakup pada jiwa manusia. Sehingga, apabila kebahagiaan itu ada kebahagiaan batin atau jiwa maka patokan kebahagiaan bukanlah mengenai harta kekayaan karena manusia memiliki sifat ketidakpuasan akan suatu hal. Namun, dalam pandangan Islam sendiri yang dapat diperlihatkan melalui pendapat Al-Ghazali, kebahagiaan adalah kondisi manusia apabila dapat menguasai hawa nafsu yaitu hawa nafsu hewan dan setan dalam dirinya dan menggantikannya dengan hawa nafsu yang suci.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 59 ~ Kemudian Imam Al-Ghazali juga berpendapat bahwa seseorang yang paling berbahagia adalah mereka yang membuka hijabnya kepada Allah sehingga mereka merasa dikendalikan oleh Allah dimanapun dia berada. Dalam bahasa arab sendiri ada beberapa kata mengenai bahagia yaitu Al-falah. Al-fawz, dan Sa‟adah. Al-falah sendiri artinya yaitu kesuksesan atas tercapainya tujuan. Al-fawz adalah kesuksesan dalam meraih kebaikan dan mendapatkan keselamatan. Sedangkan kata Sa‟adah berarti kebahagiaan karena mendapatkan sesuatu dari Allah juga dapat diartikan sebagai ketercapaiannya sesuatu yang baik. Menurut ahli filsafat yang juga seorang ulama, yakni Imam AlGhazali. Menurut Al-Ghazali, istilah kebahagiaan ini lebih merujuk ke dalam kata sa‟adah dari bahasa Arab yang terdapat dua dimensi, yaitu dunia dan akhirat, sehingga kebahagiaan tidak hanya di dunia saja, tetapi juga terdapat kebahagiaan di akhirat. Imam Al-Ghazali juga menyampaikan, kebahagiaan ini terbagi menjadi dua macam, yakni kebahagiaan sementara dan kebahagiaan sejati. Untuk mendapatkan kebahagiaan sementara ini bisa diperoleh melalui kenikmatan indrawi, sedangkan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati hanya bisa diperoleh ketika sudah menyentuh jiwa. Kenikmatan indrawi yang dimaksud dalam hal ini dapat berupa melihat hal-hal yang indah dan mendengarkan suara-suara yang merdu. Kemudian, Al-Ghazali juga menafsirkan kebahagiaan setelah mengenal Allah merupakan kebahagiaan yang sejati yang dapat menyentuh jiwa. Kebahagiaan ini sendiri bersifat bisa dicapai dengan kebahagiaan dengan perubahan kimiawi, seperti perubahan yang bersifat non fisik, perubahan jiwa, pikiran dan bukan perubahan yang bersifat fisikawi (yang berupa fisik), seperti perubahan menjadi jasad. Akan tetapi seperti yang telah disampaikan di awal, pada dasarnya kebahagiaan itu dapat tercapai ketika manusia sudah mampu mengendalikan segala hawa nafsunya. Hal ini disebabkan manusia adalah makhluk yang sangat lemah dalam mengendalikan hawa nafsu. Dengan mampu mengendalikan hawa nafsu hingga menjadi bahagia membuktikan bahwa kita sebagai makhluk memiliki kesadaran dan harus sadar bahwa kita makhluk yang tidak berdaya karena kita sangat bergantung terhadap pengetahuan dan


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 60 ~ pemahaman yang merupakan kunci untuk terbukanya pengetahuan tentang Allah SWT. Kunci kebahagiaan adalah mengenal diri sendiri. Ketika seseorang sudah mengenali dirinya dengan baik dan menyeluruh, maka ia akan mengetahui apa yang ia kehendaki, apa yang akan ia perbuat, dan apa yang menjadi kewajibannnya dengan baik, sehingga ketika sudah mengenali diri sendiri sesorang tersebut akan menjadi bahagia. Pengenalan terhadap diri sendiri ini kemudian akan berakibat adanya kemungkinan untuk mengenal Allah secara lebih lanjut. Hal ini disebabkan untuk ma‟rifatullah atau usaha untuk mengenal Allah itu memerlukan pengenalan terhadap diri sendiri yang baru kemudian diikuti pensucian jiwa, berdzikir kepada Allah hingga pada tahap terakhir, yaitu mampu melihat Allah melalui hati nurani. Kemudian, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan yang tertinggi adalah ketika manusia mampu melihat dengan mata hatinya atau yang disebut Ma‟rifatullah seperti yang telah dijabarkan sebelumnya. Ma‟rifat Allah adalah puncak dan tujuan dari segalanya yang mana tidak dapat dicapai dengan mudah, tetapi sangat membutuhkan penghayatan hati yang mendalam. Kebahagiaan dalam Al-Qur'an mengacu pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan akhirat, atau kebahagiaan abadi, merupakan tujuan akhir orang beriman. Segala kegembiraan yang dialami manusia di dunia ini merupakan sarana menuju kebahagiaan hakiki di akhirat, dan mereka bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan kepadanya. Kebahagiaan yang diasosiasikan dengan kata sa'adah dalam AlQur'an adalah keadaan yang tetap dan mengacu pada kebahagiaan dunia lain atau kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan abadi ini disebutkan dua kali dalam Al-Qur'an, sebagai kata sifat dan kata kerja. Allah berfirman: “Hari itu telah tiba, tidak ada seorang pun yang boleh berbicara kecuali dengan izin-Nya. Ada di antara mereka yang celaka, ada pula yang berbahagia”. (Q.S Ibrahim:105) “Dan orang-orang yang berbahagia, mereka berada di surga, kekal di sana selama langit dan bumi masih ada, kecuali Tuhanmu menghendaki, sebagai sedekah yang tidak terputus-putus”. (Q.S Ibrahim:108)


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 61 ~ Kebahagiaan akhirat berada pada tingkat yang lebih tinggi, dan tidak bisa disamakan dengan kebahagiaan duniawi. sebagaimana firman Allah: “Mereka bergembira atas kehidupan dunia, namun kehidupan dunia dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan yang sesaat” (Q.S Ar-Ra‟d: 26). Oleh karena itu, jika seseorang bergembira atas nikmat materi semata-mata demi kepentingan duniawi, maka hal itu termasuk kebahagiaan yang sebenarnya. sebagaimana telah disebutkan, manusia akan dimintai pertanggung jawaban pada hari kiamat. Jika mereka berbuat baik maka mereka akan memperoleh kebahagiaan di akhirat nanti, dan jika mereka berbuat jahat maka mereka akan memperoleh kesengsaraan. Para filsuf telah menafsirkan kembali ungkapan Al-Qur'an Yawm al-Qiyamah menjadi Yawm al-Sa'adah. Kebahagiaan adalah konsep kunci dalam filsafat Islam dan berarti perjuangan tertinggi manusia untuk mencapai kebahagiaan abadi di surga. Kita memperoleh kebahagiaan tertinggi ini melalui pemurnian jiwa. Semua karunia yang Tuhan berikan kepada kita, apakah itu kekayaan, kesehatan, atau teman baik, kita gunakan untuk membantu kita dalam penyucian diri. Pada akhirnya kebahagiaan hakiki hanya dapat kita raih melalui anugerah Allah SWT. Oleh karena itu, jika kita mengejar kebahagiaan duniawi dengan tidak berlebih-lebihan dan dengan niat yang benar, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan akhirat sebagaimana telah dijanjikan Allah dalam firmannya : “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga „Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (Q.S At-Taubah:72) B. Cara Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Sebagai manusia, kita mempunyai sifat dasar yang pasti sangat ingin untuk merasa bahagia. Tidak ada manusia yang ingin merasakan kesusahan dan penderitaan terus menerus. Apakah definisi dari bahagia itu?


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 62 ~ Menurut KBBI, bahagia berarti keadaan atau perasaan senang dan perasaan tentram yang di mana dalam kondisi bebas dari segala hal yang menyusahkan hidup kita. Dari penjelasan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa bahagia itu adalah kondisi dimana kita merasa senang dan terlepas dari kesusahan. Meski demikian, pengartian dari kebahagiaan sendiri masih belum final, hal itu dikarenakan setiap individu memiliki definisi bahagianya masingmasing. Perbedaan ini dapat dilatar belakangi oleh perbedaan status sosial, budaya, agama, suasana hati dan jiwa, dan lain-lain. Perbedaan definisi kebahagiaan ini merupakan persoalan yang tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Maka, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas definisi kebahagiaan dalam Al-Qur‟an dan bagaimana cara meraih kebahagiaan dunia dan akhirat menurut Al-Qur‟an. Sebagai umat muslim, sudah semestinya kita meyakini dan mengimpelementasikan firman-firman Allah SWT yang tercantum dalam kitab suci kita yaitu Al-Qur‟an, seperti yang telah dijelaskan pada firman Allah: Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S Al-Baqarah: 2) Salah satu firman Allah yang terdapat di dalam Al-Qur‟an adalah mengenai kebahagiaan dan cara meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam Al-Qur‟an sendiri, kebahagiaan memiliki nama lain sebagai sa‟id, falah, najat, dan najah. Selain itu, terdapat pula kata Fauz yang dapat diartikan sebagai kata kebahagiaan dalam AlQur‟an. Hal itu dijelaskan pada firman Allah: Artinya: “Barangsiapa dijauhkan dari azab atas dirinya pada hari itu, maka sungguh, Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah kemenangan yang nyata.” (Q.S. Al-An‟am: 16) Dalam kehidupan, manusia tentu memiliki berbagai harapan dan tujuan yang ingin ia raih. Salah satu diantaranya adalah meraih kebahagiaan. Maka dari itu, banyak manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan perasaan bahagia tersebut. Namun, tujuan yang


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 63 ~ mereka inginkan untuk mencapai kebahagiaan tersebut tentu berbeda-beda. Ada manusia yang mencari kebahagiaan dengan tujuan hanya untuk kesenangan dunia dan adapula manusia yang mencari kebahagiaan dengan tujuan meraih kebahagiaan akhirat. Setiap manusia pasti akan berusaha mencari cara untuk mencapai kebahagiaan bahkan tidak jarang terdapat kekeliruan dalam perjalanan untuk meraih kebahagiaan tersebut seperti orang yang ingin mencapai kebahagiaan materi dengan instan sehingga melakukan tindak kejahatan. Ada juga yang mencari cara untuk bahagia dengan kesenangan duniawi hingga manusia tersebut melupakan kewajiban kewajibannya. Lantas bagaimanakah cara mencapai kebahagiaan yang tepat?. Berdasarkan Al-Qur‟an bahwa terdapat beberapa cara dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu: 1. Takwa kepada Allah SWT bertakwa kepada Allah SWT berarti kita yakin bahwa dibalik semua kesulitan pasti ada kemudahan. Yakinlah bahwa Allah SWT tidak menurunkan kesulitan kecuali ada kemudahan di balik kesulitan tersebut. 2. Sabar dalam syariát, sabar dibagi kedalam 3 kondisi pengendalian diri, yaitu: a. Sabar dalam mentaati perintah Allah SWT b. Sabar dalam menghindari larangan Allah SWT c. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah SWT 3. Bersyukur Mengeluh akan musibah yang menimpa kita hanya akan menambah energi negatif. Sebaiknya, kita tetap bersyukur dan bertawakal kepada Allah SWT akan segala cobaan yang diberikanNya serta mengambil sisi positif serta pelajaran akan cobaan yang terjadi kepada kita. InsyaAllah hal tersebut akan menghidupkan gen-gen positif yang ada dalam tubuh. 4. Hati yang bersih. Menurut Imam Al-Ghazali (W. 505 H/1111 H) di dalam karyanya, Ihyâ‟ Ulûm al-Dîn, hati yang bersih merupakan sumber berbagai perilaku positif atau akhlak terpuji. Dengan hati yang bersih, kita lebih mudah untuk melakukan perbuatan baik dan terhindar dari perbuatan buruk yang menjadikan kita pribadi yang lebih positif.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 64 ~ 5. Selalu mengingat Allah SWT (zikir). Hal ini disebutkan dalam firman Allah: Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.” (Q.S. Al-Anfal: 45) 6. Bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal kepada Allah SWT berarti membebaskan diri dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya hanya kepada Allah SWT. Contoh perbuatannya yaitu salah satunya dengan berikhtiar. Ada pun juga pengertian tawakal menurut ulama Imam Al Ghazali yaitu tawakal sebagai tempat penyandaran diri kepada Allah SWT sebagai tempat bersandar (Al Wakil) dalam menghadapin segala sesuatu apa pun.Sebagaimana dijelaskan dalam QS. AT Thalaq: 3 yang berbunyi: Artinya: “dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (Q.S. At Thalaq: 3). 7. Mencari rezeki yang halal Di dalam Al-Qur‟an juga terdapat beberapa cara mendapatkan rezeki yang halal. Mencari rezki bukan hanya tentang hahalnya saja, tetapi juga harus yang berkah. Rezeki yang disukai Allah itu mencari rezekinya dengan cara yang halal dan dipergunakan untuk hal baik. Dalam Islam terdapat beberapa ajaran yang baik tentang bagaimana kita mencari rezeki yang halal dan juga berkah, yaitu: a. Bersungguh-sungguh dalam bekerja b. Jauhi semua perkara yang haram c. Meminta dan memohon dengan selalu berdoa, insyaallah pasti Allah akan mengabulkan doa hambanya yang bersungguhsungguh dalam berdoa d. Memberikan sebagian harta kepada yang berhak menerimanya. Contohnya yaitu bersedekah, membantu orang yang sedang kesulitan dan yang membutuhkan bantuan kita.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 65 ~ 8. Sabar dan tawakal Jadi untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, kita harus menguatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Dengan cara kita melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi larangan-larangannya. Dalam mencapai kebahagiaan selain yang telah diajarkan oleh Allah adalah kesesatan dan penyimpangan. Jalan sesat itu tidak dapat mengantar kita ke tujuan akhir yaitu kebahagiaan. Karena di dalamnya ada unsur syirik, dan syirik adalah landasan teologis yang sangat keliru dan tidak diampuni. Dalam definisi apapun, ternyata kebahagiaan hanya berarti satu. Kebahagiaan adalah karena Allah, bersama Allah, dekat dengan Allah, mengenal- Nya dan merasa memilikinya dalam jiwa dan keseharian kita. Dan juga peran agama dalam meraih kebahagiaan sangatlah begitu penting karena sebagai tatanan Allah SWT yang dapat membimbing kita (manusia) yang berakal untuk berusaha mencari kebahagian hdiup di dunia dan akhirat dengan benar. C. Keseimbangan antara Kehidupan Dunia dan Akhirat 1. Konsep Keseimbangan Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (2005), istilah "keseimbangan" berasal dari kata "imbang" yang berarti "seimbang." Seorang psikolog kerja dan perilaku bernama John Stacey Adams mengusulkan teori keseimbangan, juga dikenal sebagai teori keseimbangan, pada tahun 1963. Menurut teori ini, manusia pada dasarnya menyukai perlakuan yang adil atau sebanding. Persepsi mereka tentang distribusi sumber daya yang adil atau tidak adil dalam hubungan interpersonal berkorelasi dengan kepuasan relasional. Menurut Harsono keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan sistem saraf otot tersebut dalam posisi atau sikap yang efektif saat bergerak. Sedangkan Ratinus Darwis menyatakan bahwa keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan sistem saraf otot tersebut dalam posisi atau sikap yang efektif saat bergerak. Alam ini diciptakan seimbang oleh Allah SWT. Secara sains, lautan lebih luas dari daratan. Namun, Allah menyeimbangkan banyaknya air laut dengan tumbuh-tumbuhan di daratan, sehingga


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 66 ~ daratan tidak tenggelam oleh air laut. Dalam Al-Qur‟an, surat AlMulk, ayat 3 menyatakan: Artinya : ”(Dia juga) yang membuat tujuh lapisan langit. Anda tidak akan menemukan ketidakseimbangan sedikit pun dalam karya Tuhan Yang Maha Pengasih. Lihatlah sekali lagi. Apakah Anda menemukan suatu kelemahan? 2. Menumbuhkan Kesadaran untuk Menyeimbangkan Kehidupan Dunia dan Akhirat Sebagai seorang muslim, kita diharuskan untuk menyeimbangkan kehidupan kita di dunia dan di akhirat, sehingga kita tidak hanya berkonsentrasi untuk mencari kebahagian di dunia ini, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat. Hal ini tersirat dalam doa kita setiap saat, meminta kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Karena Al-Qur‟an meliputi dua urusan besar, dunia dan akhirat, kata “doa sapu jagad”, sebagaimana terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 201: Artinya : “Dan di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” Meskipun demikian, ada beberapa orang Islam yang terlalu sibuk dengan kebutuhan duniawi sehingga mereka lupa bahwa mereka akan mati dan menjalani kehidupan di akhirat. Kehadiran mereka sebagai khalifah yang ditugaskan oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia di dunia ini tidak penting bagi mereka yang cenderung menjalani kehidupan secara spiritual. Jika salah satu dari dua kebaikan yang diminta dalam doa di atas lebih penting daripada yang lain, maka keduanya tidak akan terwujud. Bagaimana kita sebagai umat Islam dapat memahami pentingnya menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat?. Saatsaat tertentu, manusia perlu mempelajari cara menyeimbangkan kewajiban, kebutuhan, dan keinginan mereka di dunia ini dengan


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 67 ~ keabadian di akhirat. Meskipun demikian, orang sering mengabaikan bekal kehidupan setelah kematian. Langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menyeimbangkan kehidupan dunia dengan mempertimbangkan bekal akhirat adalah: a. Mengingat bahwa Allah selalu bersama kita Dengan mengingat Allah setiap saat, kita juga akan mengingat tanggung jawab kita terhadap-Nya. Selain itu, apabila kita melakukan perbuatan buruk atau maksiat, kita akan merasa malu dan takut. Kita akan senantiasa mempertahankan disiplin dalam beribadah dan memperlakukan orang lain dengan lebih baik. b. Menempatkan Allah SWT di atas segalanya Apabila kita dapat mencintai Allah di atas segalanya, Allah akan mencintai kita, dan Allah akan mencintai semua makhluk di bumi dan di langit juga. Allah menunjukkan bahwa ketika kita mencintainya lebih dari apapun, kita tidak akan mengalami kerugian apa pun. Berpikir dengan cara ini akan membuat kita lebih santai, memungkinkan kita untuk meningkatkan etos kerja kita, dan kita tidak akan melupakan ibadah. c. Tidak pernah menganggap Islam sebagai beban Berbagai aturan yang diberikan oleh Islam mengatur kehidupan manusia, tetapi kita harus menyadari bahwa aturan tersebut dibuat agar kita menjadi manusia yang bermoral. Jangan lupa bahwa agama Islam mudah, indah, dan fleksibel. Dengan cara berpikir ini, kita akan merasa senang dan tidak terbebani dengan perintah dan larangan Allah. 3. Perilaku Keseimbangan Hidup Dunia dan Akhirat Menurut agama Islam, seseorang harus menjaga keseimbangan antara kehidupan dunianya dan kehidupan akhiratnya. Jika seseorang beragama Islam dan berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia demi kebahagiaan di akhirat, mereka akan mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika mereka hanya mengejar kepentingan dunia saja, mereka tidak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 68 ~ Menyeimbangkan hidup dunia dan akhirat berarti menjalani kehidupan ini dengan menyeimbangkan keduanya, menjadikan akhirat sebagai tujuan utama sambil mempertahankan kehidupan dunia dan bekerja keras untuk menjalani kehidupan ini sesuai syariat Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qasas ayat 77: Artinya : “Dan carilah kenikmatan akhirat yang telah diberikan Allah kepadamu, dan jangan lupa bagianmu dari kenikmatan duniawi. Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan jangan membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai mereka yang melakukan kejahatan”. Orang-orang yang percaya pada keseimbangan antara hidup dunia dan akhirat akan selalu mengingat Allah dalam kesulitan maupun kesenangan. Mereka akan terus mengingat Allah dan tidak melupakan atau mengabaikan tanggung jawab mereka di dunia. Orang-orang yang beragama Islam yang bertindak dengan cara yang mengimbangi hidup dunia dan akhirat: a. Kerja keras adalah melakukan semua tugas dengan penuh semangat sesuai dengan kemampuan anda untuk mencapai hasil yang baik. Karena itu, Rasulullah SAW sangat menyukai umatnya untuk bekerja keras dalam melakukan sesuatu. b. Tekun adalah rajin dan teliti dalam melakukan setiap tugas. Muslim yang tekun akan selalu berusaha memenuhi kewajibannya sesuai dengan syariat Islam. c. Ulet adalah bersemangat untuk melakukan yang terbaik dari kemampuan mereka. Mukmin yang gigih tidak akan pernah putus asa meskipun usaha mereka tidak berhasil, mereka akan mencari cara lain untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. d. Teliti adalah perilaku cermat dan sangat teliti dalam melakukan setiap tindakan atau pekerjaan. Seorang muslim yang teliti selalu melakukan pekerjaannya dengan sunguh-sungguh,


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 69 ~ dengan sedikit kemungkinan kesalahan, dan selalu melakukan pekerjaannya dengan rapi dan sistematis. 4. Cara Menyeimbangkan antara Kehidupan Dunia dan Akhirat Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini terdapat 3 tipe manusia yang salah satunya adalah manusia yang berkarya untuk dunia dan beramal untuk akhirat. Salah satu konsep dalam menggapai dunia dan akhirat adalah, berkaryalah untuk dunia seolah-olah kamu hidup selama-lamanya dan beramallah unuk akhirat seakan-akan kematianmu esok hari. Kita beramal sebanyak-banyaknya agar ada bekal di akhirat, tetapi kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh dengan cara yang halal untuk mencapai kesenangan dunia, lalu bagaimana cara agar kita sebagai umat Islam memiliki kesadaran untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat? Ada kalanya, manusia harus belajar bagaimana menyeimbangkan tanggung jawab, kebutuhan, dan keinginan dunia ini dengan keabadian di akhirat. Namun, manusia cenderung mengabaikan bekal kehidupan setelah kematian. Langkah-langkah untuk menghadirkan kesadaran untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan tidak mengabaikan bekal untuk akhirat adalah: a. Menyibukkan Diri dengan Aktivitas yang Bermanfaat: Orang yang mempergunakan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia adalah salah satu orang yang merugi. Untuk menghindari hal ini, kita perlu mengatur dan mengisi waktu kita dengan baik, seperti tidur dan berolahraga secukupnya, dan bertemu dan bersosialisasi dengan orang terdekat sewajarnya. Anda tidak harus menghabiskan seluruh waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. b. Mendahulukan ibadah wajib: Salah satu cara untuk membangun keseimbangan dalam kehidupan adalah dengan mendahulukan ibadah wajib. Hal ini disebabkan oleh hukum ibadah wajib, yaitu konsekuensi dosa bila ditinggalkan, sehingga kita harus memprioritaskan dan mendahulukan ibadah wajib, yaitu salat fardhu di awal waktu. c. Menjalankan ibadah sunnah: Setelah melakukan ibadah wajib, jangan lupa untuk mengikuti ibadah sunah nabi, seperti salat


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 70 ~ rawatib, dhuha, tahajud, salat witir, dan puasa Senin hingga Kamis. Karena melakukan ibadah sunnah mendapat pahala, dan meninggalkannya tidak berdosa. Selain menjalankan salat dan puasa sunnah, kita juga harus mengamalkan ajaran Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Ini termasuk mengucap salam saat masuk ke rumah, bangun lebih awal, makan atau minum sambil duduk, dan hal-hal lainnya. d. Tekun dalam bekerja: Seseorang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Sebagai orang muslim, kita diharuskan untuk mencari rezeki yang halal dan tidak boleh menunda atau bermalasmalasan dalam memperolehnya. e. Berbahagia dan bersedih secukupnya: Perasaan bahagia dan sedih akan selalu mengiringi hidup Anda. Anda harus selalu mengingat Allah saat anda bahagia atau sedih, apapun keadaannya, karena semuanya hanya sementara dan akan berlalu. Jangan pernah merasa terlalu bahagia atau sedih, karena keduanya memiliki porsi yang sama dan ditunjukkan secara wajar. f. Salah satu cara Islam untuk menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah dengan memperbanyak ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Mengingat bahwa tujuan akhirat lebih penting daripada tujuan duniawi, seorang muslim dapat mengarahkan perhatian mereka pada hubungan spiritual mereka dengan Allah dengan meningkatkan intensitas ibadah mereka. Memperkuat ikatan spiritual dan menjadi lebih sadar tentang persiapan untuk akhirat akan dibantu oleh ibadah seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, dan berdzikir secara teratur. Selain itu, seorang muslim dapat menemukan ketenangan dan kepuasan batin dalam menghadapi kesulitan dan keinginan dunia dengan memperbanyak ibadah dan ketaatan kepada Allah. Namun, seseorang dapat menguatkan iman mereka, mendapatkan ketenangan jiwa, dan tetap teguh dalam menjalani kehidupan mereka dengan pandangan akhirat yang kokoh dengan berpartisipasi dalam ibadah secara teratur. g. Prinsip utama Islam adalah menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam pengelolaan waktu. Sebagai umat


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 71 ~ Islam, waktu adalah anugerah yang berharga yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Memberikan proporsi waktu yang tepat untuk ibadah dan urusan duniawi adalah salah satu langkah penting untuk mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat. Menjalankan ibadah secara teratur adalah kewajiban yang paling penting dalam agama Islam. Mengatur waktu dengan seimbang termasuk shalat lima waktu, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan melakukan ibadah sunnah. Selain itu, sangat penting untuk memberikan waktu yang cukup untuk berusaha, bekerja, dan memenuhi tanggung jawab yang terkait dengan kehidupan sehari-hari seperti pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Muslim dapat mencapai keseimbangan yang baik antara pekerjaan dunia dan ibadah kepada Allah dengan mengatur waktu mereka dengan benar. h. Menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam Islam berarti memberikan hak-hak yang adil kepada Allah dan orang lain. Dalam Al-Qur'an dan Hadis, Allah SWT memberikan petunjuk yang jelas tentang bagaimana seorang muslim harus berperilaku dengan orang lain. Menjaga keseimbangan ini berarti tidak hanya memperhatikan hal-hal duniawi, tetapi juga memberikan hak-hak yang seharusnya diberikan kepada Allah dan orang lain. Memberi hak-hak Allah dengan adil berarti memenuhi kewajiban agama dengan sepenuh hati dan menghindari semua jenis dosa dan maksiat. Seorang muslim diharuskan untuk taat kepada Allah dan menjalankan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji dengan tulus. Menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat juga berarti mengikuti perintah Allah di setiap aspek kehidupan, baik dalam ibadah maupun dalam hubungan sosial. i. Langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah memiliki tujuan dan rencana hidup yang seimbang. Menurut Islam, seseorang harus memiliki visi dan jalan hidup yang jelas agar mereka tidak terjebak dalam hiruk pikuk dunia saat ini. Tujuan dan rencana kehidupan yang seimbang menggabungkan upaya untuk mencapai kebahagiaan duniawi dengan mempersiapkan diri dan berusaha keras untuk hidup abadi di akhirat. Seorang muslim


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 72 ~ harus mempertimbangkan aspek dunia dan akhirat secara proporsional saat membuat tujuan dan rencana kehidupan yang seimbang. Duniawi dapat mencakup hal-hal seperti pendidikan, karir, keuangan, dan keluarga yang baik. Di sisi lain, tujuan akhirat dapat mencakup melakukan amal ibadah, ketaatan kepada Allah, meningkatkan pengetahuan agama, dan membangun karakter yang baik. Memiliki tujuan dan rencana yang seimbang memungkinkan seorang muslim untuk berusaha mencapai kesuksesan di dunia tanpa mengorbankan persiapan menuju kehidupan abadi di akhirat. j. Dalam Islam, dua prinsip penting untuk menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah mengendalikan hawa nafsu dan menjaga kebersihan hati. Hawa nafsu adalah dorongan internal yang dapat memengaruhi perilaku dan pemikiran seseorang. Salah satu langkah penting dalam menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam Islam adalah mengendalikan hawa nafsu agar tidak mempengaruhi tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama. Islam mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan antara apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan. Hawa nafsu yang tidak terkontrol dapat memicu perilaku yang berlebihan, seperti keserakahan, keinginan yang berlebihan untuk memiliki harta, popularitas, atau kenikmatan sementara. Dengan mengendalikan hawa nafsu, seorang muslim dapat menjaga fokus pada tujuan akhirat yang lebih abadi dan mencegah terjebak dalam godaan dunia yang sementara. 5. Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin Secara etimologis, Islam berarti “damai”, sedangkan rahmatan lil „alamin berarti “kasih sayang bagi semesta alam”. Maka yang dimaksud dengan Islam Rahmatan lil‟alamin adalah Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam. Istilah Rahmatan lil‟alamin telah tercantum dalam Al-Qur‟an, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anbiya‟ ayat 107:


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 73 ~ Artinya: ”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil „alamin)”. Rahmat yang dapat diartikan sebagai karunia dibedakan menjadi dua, yaitu rahmat dalam konteks rahman dan rahmat dalam konteks rahim. Rahmat dalam konteks rahman memiliki sifat amma kulla syaik, sifat ini meliputi segala hal, dengan artian orangorang non muslim pun mempunyai hak kerahmanan. Sedangkan Rahmat dalam konteks Rahim merupakan kerahmatan dari Allah yang diberikan hanya kepada orang Islam atau biasa disebut khoshshun lil muslimin. Apabila kita menjalankan dan masuk Islam secara kaffah, maka rahman dan rahim Allah akan turun semuanya. Dalam hal ini hukum sunnatullah berlaku bagi muslim maupun non-muslim. Jika mereka-mereka melakukan hal-hal yang diperlukan oleh kerahmanan, pasti akan mendapatkanya. Sekalipun mereka orang Islam, tetapi enggan melakukan ikhtiar kerahmanan, niscaya mereka tidak akan mendapatkan hasilnya. Dalam hal ini mereka mendapat sifat kerahmanan dari Allah yang berlaku universal (amma kulla syaik). Di sisi lain, hak atas surga ada terletak pada sifat yang dimiliki Allah SWT, yaitu rahim. Kerahiman ini diberikan secara istimewa kepada orang mukminin. Kesimpulannya bahwa rahmatan lil‟alamin adalah bersatunya karunia Allah yang terlingkup di dalam kerahiman dan kerahmanan Allah. Ada banyak ayat di dalam Al-Qur‟an yang isinya menyerukan tentang perdamaian serta kasih sayang, salah satunya adalah Surat Al-Hujurat ayat 10, di mana kita diperintahkan untuk saling menjaga dan mempererat tali persaudaraan. Allah SWT berfirman, yang berbunyi: Artimya : “Sungguh orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu men­dapat rahmat”. Tiga macam persaudaraan (ukhuwwah) a. Ukhuwwah Islamiyah berarti persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar agama (Islam), baik secara lokal, nasional, dan internasional.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 74 ~ b. Ukhuwwah Wathaniyah artinya persaudaraan yang tumbuh dan berkembang dalam landasan kebangsaan. c. Ukhuwwah Basyariyah, artinya persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kemanusiaan. Ukhuwwah Islamiyah dan Ukhuwwah Wathaniyah merupakan landasan untuk mencapai terwujudnya ukhuwwah Insaniyah. Sebagai umat Islam dan sebagai bangsa Indonesia, kita harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh, menyeluruh dan jelas terhadap ukhuwwah dan wathaniyyah Islam. Kita tidak bisa menolak kedua jenis ukhuwwah ini. Hidup bertetangga dengan orang lain, bukan hanya dengan keluarga, bahkan non-Muslim atau non-Indonesia, kita mempunyai kewajiban untuk bersikap ramah dan menghormati mereka dalam arti menjalin hubungan masyarakat dan sosial yang baik. Rasulullah SAW memberikan teladan hidup damai dan toleran dalam lingkungan yang majemuk. Di Madinah, ia mencanangkan Piagam Madinah yang menjamin hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain. Begitu pula saat ia menaklukkan Mekkah, ia memastikan semua orang, termasuk musuh yang ia kalahkan, akan merasa nyaman dan aman. Selama hampir 23 tahun perjuangan kenabiannya, Nabi Muhammad SAW selalu menggunakan metode dialog secara konsisten agar misi rahmat antar suku, budaya dan agama dapat terlaksana dengan baik. Selama lebih dari 12 tahun di Mekkah, perjuangannya penuh resiko, nyawanya terancam. Ia meminta para sahabatnya bersabar, tidak melakukan kekerasan dan pemaksaan, apalagi pembunuhan. Bahkan untuk melindungi keselamatan umat Islam, karena saat itu kekuatan umat Islam masih lemah, maka pada tahun ke-12 kenabiannya, beliau memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Pada masa Madinah ini pun tetap konsisten menggunakan pendekatan yang beradab yaitu membangun perdamaian komunal, menerapkan kebebasan dan kebebasan beragama dalam melaksanakan ajaran masing-masing agama yang tertuang dalam Mitzaq Madinah yang disebut dengan piagam. Artinya, kalaupun terjadi perang, motifnya bukanlah ekonomi atau politik, melainkan dakwah. Oleh karena itu, perang


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 75 ~ bukanlah bersifat ofensif melainkan defensif, yaitu hanya sebagai jalan (wasilah) menuju perdamaian. Oleh karena itu, perang tidak boleh terjadi, tidak boleh menimbulkan kehancuran, dan tetap menghormati hak asasi manusia, khususnya tidak membunuh warga sipil, anak-anak, perempuan, orang lanjut usia, serta tidak merusak lingkungan, fasilitas umum, dan simbol agama, serta tidak boleh membunuh. satwa. Inilah hakikat wasiat Nabi yang disampaikan kepada bala tentara sahabat Nabi pada masa perang Mu'tah dan Fath Makkah. Ketiga jenis ukhuwwah ini harus dilakukan secara seimbang sesuai bagiannya masing-masing, yang satu tidak bisa disamakan dengan yang lain, karena hanya melalui tiga dimensi ukhuwah inilah rahmat lil'alamin dapat terwujud. Rahmatan lil-alamin Islam tidak hanya tercermin dalam konteks hubungan manusia dengan manusia, namun juga dengan seluruh makhluk Tuhan; hewan, tumbuhan, air, gunung, udara, darat, laut bahkan jin dan malaikat. Oleh karena itu, agama tidak hanya mengajarkan Ukhuwwah Makhluqiyyah saja, tetapi juga persahabatan dengan makhluk ruhani dan persahabatan dengan alam. Jadi, Islam Rahmatan Lil‟ Alamin adalah seorang muslim yang menentang kekerasan dan kejahatan, tidak menghina, merendahkan atau memberi label negatif, menjauhi prasangka (su‟udzan), mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus) dan fitnah. Yang kuat melindungi yang lemah, tidak berperilaku merugikan diri sendiri atau orang lain, bersikap adil, berbuat baik terhadap semua makhluk hidup, bertindak dengan tidak berlebih-lebihan (tawasuth) dan seimbang (tawazun), bertindak dengan penuh belas kasihan, toleransi (tasamuh) terhadap perbedaan. Daftar Pustaka Aditia, R. (2021). KARAKTERISTIK BUDAYA MASYARAKAT KAMPUNG BAHARI KOTA BENGKULU CULTURAL CHARACTERISTICS OF THE COMMUNITY OF BAHARI KAMPUNG BENGKULU CITY. AlMutsla:Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Dan Kemasyarakatan, 3(1), 18–28. Amelia, Betti Dian Wahyuni, Dhea Lisa Arianti, & Jessica Adelia Saputri. (2023). Menggali Kearifan Lokal : Etnomatematika Sebagai Cermin Kebudayaan Bengkulu. Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu, 1(2), 16–19. Apa itu Kebahagiaan? (2021). Fakultas Psikologi Universitas


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 76 ~ Muhammadiyah Purwokerto. https://psikologi.ump.ac.id/apa-itukebahagiaan/ Ashar, A. (2023). Konsep Keseimbangan Hidup dalam Perspektif Al Quran. Jurnal SMA Al Muhammad Cepu, 1(1). https:??www.ejournal.smaamc.sch.id/index/php/belajar Ayuni. (2022). Inilah 5 Cara Menyeimbangkan Hidup Antara Dunia dan Akhirat Bagi Muslim, Kunci Sukses Dunia Akhirat. Mediapakuan.Com. https://mediapakuan.pikiran-rakyat.com/beja-ti-batur/pr635917831/inilah-5-cara-menyeimbangkan-hidup-antara-dunia-danakhirat-bagi-muslim-kunci-sukses-dunia-akhirat Azizah, Z. N. (2021). Bagaimana Cara Mendapatkan Rezeki yang Halal dan Berkah. Wujud Aksi Nyata.https://www.wujudaksinyata.org/news/dalamal-quran-terdapat beberapa-cara-mendapatkan-rezeki Bintal pada MS Aceh : Hidup Harus Seimbang antara Duniawi dan Ukhrawi. (n.d.). MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA, MAHKAMAH SYAR‟IYAH ACEH. Retrieved September 19, 2023, from https://www.ms-aceh.go.id/publikasi/berita/item/393-bintal-pada-msaceh-hidup-harus-seimbang-antara-duniawi-dan-ukhrawi-07- 5.html#:~:text=Ustadz menjelaskan bahwa untuk mencapi,akhirat%2C” kata Ustadz mengingatkan Cara Menjaga Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat dalam Islam. (2023). Armindotravel.Com. https://armindotravel.co.id/blog/detail/225/cara-menjaga-keseimbanganantara-dunia-dan-akhirat-dalam-islam EL-ZEINY, I. (2020). The Semantics and Ethics of <em>Sa‟ādah</em> (Happiness) in the Qur‟ān. Islamic Studies, 59(1), 95–114. https://www.jstor.org/stable/27088377 Fauzi, M. (2019). Filsafat Kebahagiaan Menurut Al-Ghazali. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Hamim, K. (2016). Kebahagiaan dalam Perspektif Al-Quran dan Filsafat. Berugak Jurnal Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, 13(2). Junaedi, D. (2021). Berikut Ini Adalah Cara Meraih Kebahagiaan Menurut Al-Quran. Tafsiralquran.Id. https://tafsiralquran.id/berikut-ini-adalahcara-meraih-kebahagiaan-menurut-al-quran/ KBBI Daring. (2023). Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa. Maftuh, M. S. J. (2021). Konsep Terapi Kebahagiaan Menurut Imam AlGhazali dalam Kitab Kimiya Al-Sa‟adah. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Memahami Konsep Islam Rahmatan Lil‟alamin. (2017). Cimahikota.Go.Id. https://cimahikota.go.id/index.php/artikel/detail/874-memahami-konsepislam-rahmatan-lil‟alamin#:~:text=Maka yang dimaksud dengan Islam,sayang bagi manusia maupun alam.%0A Memahami Konsep Islam Rahmatan Lil‟Alamin. (2017). Cimahikota.Go.Id. https://cimahikota.go.id/index.php/artikel/detail/874-memahami-konsepislam-rahmatan-lil‟alamin#:~:text=Maka yang dimaksud dengan Islam,sayang bagi manusia maupun alam%0A


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 77 ~ Mohamed, Y. (2019). The Idea of Happiness in the Qur‟an. Yaqeen Institute. https://yaqeeninstitute.org/read/paper/the-idea-of-happiness-in-thequran No Title. (n.d.). [Universitas Islam Negeri Sumatra Utara]. http://repository.uinsu.ac.id/5065/4/BAB II.pdf Pangemanan, J. I. H. (2022). Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. https://www.uinjkt.ac.id/meraih-kebahagiaan-dunia-danakhirat/#:~:text=Islam mengajari kita untuk bersuci,di dunia dan di akhirat. Qusyairi, A. (2015). Konsep Kebahagiaan Menurut Al-Ghazali. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sakinatunnisaa, S. A. (2021). Konsep Kebahagiaan Menurut Imam AlGhazali dan M. Quraish Shihab. Universitas Islam Negeri Walisongo. Surat Al-Baqarah Ayat 201. (n.d.). TafsirWeb. Surat Al-Mulk Ayat 3. (n.d.). TafsirWeb. Retrieved September 19, 2023, from https://tafsirweb.com/11031-surat-al-mulk-ayat-3.html Surat Al-Qashash Ayat 77. (n.d.). TafsirWeb. Syahira, R. A. (2022). Menyeimbangkan Urusan di Dunia dan Akhirat bagi Umat Islam. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/raisaaamira/6266348abb44865f38578192 /cara-menyeimbangkan-kehidupan-urusan-di-dunia-dan-akhirat-bagiumat-isla Vita. (2018). Bagaimana Agama Menjamin Kebahagiaan Dunia dan Keselamatan Akhirat. Universitas Halu Oleo. Wardani, N. (2023). Keseimbangan Dunia dan Akhirat. Pojok Pustakawan. https://perpustakaan.uad.ac.id/keseimbangan-dunia-dan-akhirat/ Zahara, U. (2018). Konsep Kebahagiaan dalam Perspektif Al-Quran (Studi Deskriptif Analitis Tafsir-Tafsir Tematik). Universitas Islam Negeri ArRaniry. D. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan Kelompok Kerja Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut: a. Mahasiswa membentuk kelompok beranggotakan 10-11 orang sesuai arahan dosen b. Masing-masing kelompok harus terdiri dari laki-laki dan perempuan. c. Tentukan ketua kelompok dan notulen. d. Ketua kelompok memimpin kelompoknya untuk memilih nama bagi kelompok sesuai dengan nama surah Al-Qur'an 2. Pertanyaan Proyek Sebelum presentasi dimulai, dosen akan bertanya kepada setiap anggota kelompok mengenai sub bab yang akan dipresentasikan, yaitu: a. Konsep kebahagiaan dalam Islam b. Cara meraih kebahagiaan dunia dan akhirat c. Keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 78 ~ d. Islam sebagai rahmatan lil „alamin 3. Perencanaan Proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masingmasing kelompok sebagai berikut: a. Sub bab masing-masing kelompok akan dipilih secara acak oleh dosen. b. Masing-masing kelompok akan mendapatkan 1 sub bab untuk dipresentasikan. c. Presentasi menggunakan aplikasi Power Point/Canva, sesuai kesepakatan kelompok. d. Pada akhir slide jangan lupa mencantumkan daftar pustaka. e. Setiap kelompok wajib memberikan 2 pertanyaan kepada kelompok lain saat menjadi audiens. f. Power Point memuat isi point-point saja dan diimprovisasi pada saat melakukan presentasi. g. Setiap anggota kelompok wajib mendapatkan bagian slide presentasi. h. Power Point dibuat sekreatif mungkin tetapi tidak berlebihan. 4. Penyusunan Jadwal Proyek Proyek presentasi Power Point/Canva dilaksanakan dengan mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No. Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang "Cara Meraih Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat" 30 2. Menyusun point-poitn penting materi dalam bentuk Power Point. 60 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 30 4. Mengumpulkan proyek membuat Power Point tentang poin-poin penting materi dan file presentasi sesuai petunjuk dosen. 10 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi (tanya-jawab) 45 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan menambahkan hasil kegiatan diskusi (pertanyaan dan jawabannya) lalu mengumpulkan hasilnya dalam bentuk Power Point 300 Total Waktu 475 5. Pengawasan Pelaksanaan Proyek Pengawasan pelaksanaan proyek dilakukan oleh guru bisa dengan menggunakan lembar pengamatan penilain sikap berikut:


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 79 ~ Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut: 6. Penilaian Hasil Proyek melalui Presentasi Proyek Penilain hasil proyek atau produk membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah hasil kajian pustaka bisa menggunakan format penilaian berikut: No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Kerapihan Power Point 1-25 2. Kesesuaian isi PowerPoint dengan materi 1-25 3. Kesesuaian instruksi pembuatan isi Power Point 1-25 4. Kreativitas dalam pembuatan Power Point 1-25 Total Nilai 100 No. Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan Ya Tidak 1. Mahasiswa dalam kelompok aktif mencari referensi sebagai bahan membuat Power Point. 2. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat pointpoint presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 3. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan proyek membuat point-point sub-bab dalam bentuk Power Point. 4. Mahasiswa dalam kelompok aktif dan kritis dalam mempresentasikan hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 5. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif dalam kegiatan diskusi panel. 6. Mahasiswa dalam kelompok aktif memberikan pertanyaan kepada kelompok lain yang sedang melakukan presentasi. 7. Mahasiswa dalam kelompok mendapatkan bagian masing-masing saat menjelaskan slide presentasi. 8. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan hasil perbaikan membuat point-point subbab dalam bentuk file presentasi. Jumlah Jawaban


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 80 ~ 7. Evaluasi Pengalaman melalui Refleksi Tahap evaluasi pengalaman melalui refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam membuat kesimpulan tentang konsep kebahagiaan dalam Islam, cara meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta Islam sebagai rahmatan lil „alamin. Dosen bisa menggunakan evaluasi pengalaman melalui refleksi dengan dua acara berikut. a. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek kepada perwakilan kelompok. Kegiatan refleksi kelompok bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba Anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba Anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesimpulan tentang konsep kebahagiaan dalam Islam, cara meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta Islam sebagai rahmatan lil „alamin. b. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek secara individu kepada masing-masing individu yang dianggap belum aktif dalam proses kegiatan proyek. Kegiatan refleksi individu bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sampaikan kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba anda sampaikan kesimpulan konsep kebahagiaan dalam Islam, cara meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta Islam sebagai rahmatan lil „alamin. E. Tes Kognitif Individu 1) Petunjuk: d. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. e. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benar salahnya jawaban Anda. f. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang paling benar. g. Soal sebanyak 25 soal dengan bobot setiap soal sebesar 4 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. h. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 2) Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d!


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 81 ~ 1. Dalam bahasa arab sendiri ada beberapa kata mengenai bahagia yaitu Al-Falah, Al-fawz, dan Sa‟adah. Berikut ini adalah pernyataan yang salah, yaitu a. Al-Fawz berarti kesuksesan atas tercapainya tujuan b. Sa‟adah berarti kebahagiaan karena mendapatkan sesuatu dari Allah c. Sa‟adah berarti sebagai ketercapaiannya sesuatu yang baik. d. Al-Fawz berarti kesuksesan dalam meraih kebaikan dan mendapatkan keselamatan 2. Konsep kebahagiaan menurut seorang ahli filsafat yang juga seorang ulama menyatakan bahwa kebahagiaan lebih merujuk ke dalam kata sa‟adah dari bahasa Arab yang terdapat dua dimensi, yaitu dunia dan akhirat, sehingga kebahagiaan tidak hanya di dunia saja, tetapi juga terdapat kebahagiaan di akhirat. Siapakah ahli filsafat/ulama yang menyatakan hal tersebut? a. Ibnu Rusyd b. Al-Farabi c. Ibnu Sina d. Al-Ghazali 3. Dalam konsep kebahagiaan Allah berfirman: “Hari itu telah tiba, tidak ada seorang pun yang boleh berbicara kecuali dengan izin-Nya. Ada di antara mereka yang celaka, ada pula yang berbahagia”. Firman tersebut terdapat dalam Al-Qur‟an surat.. a. Q.S Ibrahim: 108 b. Q.S Ibrahim: 105 c. Q.S At-Taubah: 108 d. Q.S At-Taubah: 105 4. Kebahagiaan yang tertinggi adalah ketika manusia mampu melihat dengan mata hatinya atau yang disebut.. a. Sa‟adah b. Habluminallah c. Ziyadatul khair d. Ma‟rifat Allah 5. Kebahagiaan yang diasosiasikan dengan kata sa'adah dalam AlQur'an adalah keadaan yang tetap dan mengacu pada kebahagiaan dunia lain atau kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan abadi ini disebutkan dalam Al-Qur‟an sebanyak.. a. 1 kali b. 2 kali c. 3 kali d. 4 kali 6. Perhatikan pernyataan berikut ini : 1) Kebahagiaan terbagi menjadi dua macam, yakni kebahagiaan sementara dan kebahagiaan sejati.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 82 ~ 2) Untuk mendapatkan kebahagiaan sementara ini bisa diperoleh melalui kenikmatan indrawi, sedangkan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati hanya bisa diperoleh ketika sudah menyentuh jiwa. Identifikasilah pernyataan tersebut! a. Pernyataan 1 dan 2 benar karena pernyataan sudah sesuai b. Pernyataan 1 benar dan pernyataan 2 salah Karena pada pernyataan 2 cara memperolehnya salah c. Pernyataan 1 salah dan pernyataan 2 benar karena pada pernyataan 1 jenis kebahagiaannya salah d. Pernyataan 1 dan 2 salah karena pernyataan 1 jenis kebahagiaannya salah dan pada pernyataan 2 cara memperolehnya salah 7. Dalam konsep kebahagiaan, Allah berfirman : “Mereka bergembira atas kehidupan dunia, namun kehidupan dunia dibandingkan dengan akhirat hanyalah kesenangan yang sesaat”. Firman tersebut terdapat pada Al-Qur‟an surat? a. Q.S Ibrahim:105 b. Q.S Ibrahim:108 c. Q.S Ar-Ra‟d:26 d. Q.S At-Taubah:72 8. Dalam Al-Qur‟an sendiri, kebahagiaan memiliki nama lain yaitu, kecuali.. a. Falah b. Falat c. Najat d. Najah 9. Perhatikan pernyataan berikut ini: Keadaan atau perasaan senang dan perasaan tentram yang di mana dalam kondisi bebas dari segala hal yang menyusahkan hidup kita, merupakan definisi dari.., menurut..? a. Kebahagiaan, Al-Qur‟an b. Kebahagiaan, KBBI c. Bahagia, Al-Qur‟an d. Bahagia, KBBI 10. Berikut ini adalah beberapa cara meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, kecuali.. a. Takwa kepada Allah SWT b. Kerja keras c. Sabar d. Bersyukur 11. Dalam syariát, sabar dibagi kedalam 3 kondisi pengendalian diri, kecuali..


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 83 ~ a. Sabar dalam mentaati perintah Allah SWT b. Sabar dalam menghindari larangan Allah SWT c. Sabar dalam mengikuti Allah SWT d. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah SWT 12. Ayat tersebut terdapat pada Al-Qur‟an surat? a. Q.S Al-Baqarah : 2 b. Q.S Al-Baqarah : 3 c. Q.S Al-Baqarah : 4 d. Q.S Al-Baqarah : 5 13. Q.S. Al-An‟am: 16 dalam konsep kebahagiaan berbunyi? a. “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” b. “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” c. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyakbanyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.” d. “Barangsiapa dijauhkan dari azab atas dirinya pada hari itu, maka sungguh, Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah kemenangan yang nyata.” 14. Secara etimologis, Islam berarti.., sedangkan rahmatan Lil 'alamin berarti.. a. "Damai" dan "kasih sayang bagi semesta alam" b. "Rahmat" dan "kasih sayang bagi semesta alam" c. "Rahmat" dan "suatu jalan yang buruk" d. "Damai" dan "suatu jalan yang buruk" 15. "Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin)". Merupakan ayat dari surah .. a. Surat al-Baqarah ayat 28 b. Surat al-Furqan ayat 68 c. Surat al-Qasas ayat 60 d. Surat al-Anbiya' ayat 107 16. Rahmat yang dapat diartikan sebagai karunia dibedakan menjadi dua, yaitu .. a. Rahman dan amma kulla syaik b. Rahman dan rahim c. Rahim dan khoshshun lil muslimin d. Amma kulla syak dan khoshshun lil muslimin 17. Rahmat dalam konteks Rahman memiliki sifat ..


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 84 ~ a. Rahmatan lil 'alamin b. Amma kulla syak c. Rahim d. khoshshun lil muslimin 18. Rahmat dalam konteks rahim memiliki sifat ... a. Rahmatan lil 'alamin b. Amma kulla syaik c. Rahman d. Khoshshun lil muslimin 19. Persaudaraan yang tumbuh dan berkembang dalam landasan kebangsaan merupakan pengertian dari .. a. Ukhuwwah Islamiyah b. Ukhuwwah Wathaniyah c. Ukhuwwah Basyariyah d. Amma Kulla Syaik 20. Ukhuwwah Islamiyah dan ukhuwwah wathaniyah merupakan landasan untuk mencapai terwujudnya ... a. Rahmatan lil 'alamin b. Kesejahteraan umat Islam c. Perdamaian d. Ukhuwwah insaniyah 21. Membangun perdamaian komunal, menerapkan kebebasan, dan kebebasan beragama dalam melaksanakan ajaran masing-masing agama yang tertuang dalam Mitzaq Madinah yang disebut.. a. Piagam Madinah b. Perjanjian Madinah c. Perjanjian Mitzaq d. Piagam Mitzaq 22. "Manusia pada dasarnya menyukai yang adil atau sebanding". Teori ini merupakan .. a. Teori perdamaian b. Teori keseimbangan c. Teori keefektifan d. Teori interpersonal 23. Teori keseimbangan atau equity theory dikemukakan oleh .. a. Albert Einstein b. Ibnu Sina c. Al- Zahrawi d. Jhon Stacey Adams 24. Pada tahun berapa teori keseimbangan atau equity theory dikemukakan.. a. 1961 b. 1962 c. 1963 d. 1964


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 85 ~ 25. Berikut merupakan cara mengimbangi hidup dunia dan akhirat, kecuali.. a. Kerja keras b. Tekun c. Teliti d. Hemat Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 86 ~ BAB IV Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil) Sub-CPMK-4 Pertemuan ke-5 dan 6: Mampu menghubungkan integrasi iman, Islam dan ihsan dalam membentuk manusia seutuhnya (insan kamil) Gambar: 4.1 Integrasi iman, Islam dan ihsan dalam membentuk manusia seutuhnya Sumber: https://abbigliamentopeuterey.blogspot.com/2017/11/fungsi-dan-manfaatakal-manusia-dalam-islam.html A. Konsep Trilogi (Iman, Islam, dan Ihsan) Beragama dalam Islam Iman, Islam, dan Ihsan adalah pokok-pokok ajaran Islam. Trilogi Iman, Islam dan Ihsan disebut juga Akidah, Ibadah dan Akhlak. Secara singkat Iman dapat diartikan sebagai kepercayaan atau keyakinan. Islam adalah pelaksanaan atau pembuktian keyakinan. Ihsan adalah etika dalam keyakinan dan pengamalannya. Pelaku iman disebut Mukmin. Pelaksana Islam disebut Muslim. Pengamal Ihsan disebut Muhsin. 1. Iman Iman sering juga dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan hati. Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain. Aqidah tersebut akan menjadi


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 87 ~ pegangan dan pedoman hidup, mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisahkan lagi dari diri seorang mukmin. Bahkan seorang mukmin sanggup berkorban segalanya, harta dan bahkan jiwa demi mempertahankan aqidahnya. Iman memiliki arti ketentraman dan kedamaian kalbu yang dari kata itu bisa muncul kata al-amanah (amanah: dapat dipercaya). Yang dimaksud keimanan seseorang terhadap sesuatu adalah jika dalam hati orang tersebut telah tertanam kepercayaan dan keyakinan tentang sesuatu dan sejak saat itu ia tidak khawatir lagi terhadap menyelusupnya kepercayaan lain yang bertentangan dengan kepercayaannya. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar umat manusia beriman kepada-Nya, sebagai firman Allah: Artinya: “Wahai orang-oran yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasulnya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur‟an) yang diturunkan kepada Rasulnya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.”(Q.S An Nisa : 136) Iman terbentuk dalam diri manusia diawali dari fitrah tauhid (menyembah Allah) yang Allah tanamkan dalam diri manusia sejak dia masih dalam rahim ibu. a. Fitrah Ilahi Hati sangat berperan dalam mewujudkan iman dalam diri seseorang. Allah sesungguhnya telah memberikan potensi pada sertiap manusia untuk bertuhan dan mengabdi hanya kepada Allah, yang di sebut fitrah tauhid. Dijelaskan dalam QS.Al-A‟raf:172


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 88 ~ Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". b. Hidayah Menurut Muhammad abduh, hidayah adalah petunjuk halus yang membawa atau menyampaikan kepada apa yang dituju atau diingini. Dijelaskan dalam QS.Al-Qashas:56 Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” c. Ikhtiar Insani 1. Penciptaan lingkungan sosial yang kondusif Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan, dalam konteks ini pendidikan, memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk keyakinan dan pandangan hidup seseorang. 2. Dzikir, tafakkur, dan tadabbur Dzikir adalah mengingat Allah SWT dan menyebut namanamanya setiap saat dalam segala posisi dan keadaan. Berdzikir dapat dilakukan pula dengan merenung (Tadabbur) dan memikirakan (Tafakkur) ciptaan Allah, memikirkan proses kejadian alam dan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. 3. Ingat mati Mati akan dirasakan oleh manusia setelah tiba saatnya. Salah satu cara untuk mengingat mati dalah bertakziah kepada orang yang mati. Cara lain untuk mengingat mati adalah dengan ziarah kubur.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 89 ~ 2. Islam Islam sendiri secara bahasa memiliki banyak pengertian, beberapa diantaranya: Berserah diri (Aslama), Tunduk patuh (Istislam), Bersih/suci (Saliim), Selamat/sejahtera (Salama), Perdamaian (Silmu), yang masing-masing sudah dijelaskan di AlQur‟an. Islam yang dimaksud dalam hal ini adalah rukun Islam, yaitu lima tindakan dasar dalam Islam, dianggap sebagai pondasi wajib bagi orang-orang beriman dan merupakan dasar dari kehidupan Muslim.Lima rukun Islam: Mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, pergi haji (jika mampu). Seperti yang diterangkan dalam Hadist sebagai berikut : Artinya: “Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu „anhuma dia berkata: ”Rasulullah SAW bersabda: Islam itu dibangun atas lima dasar “persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa pada bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). 3. Ihsan Ihsan berasal dari kata ن َس ُح َyang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ن ْسا َحِ ْا ,yang artinya kebaikan. Allah SWT berfirman dalam Al Qur`an mengenai hal ini. Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk


Click to View FlipBook Version