PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 290 ~ Bengkulu merupakan satu-satunya wilayah di Indonesia yang pemah dijajah Inggris. Masjid ini dahulu bernama masjid Pinang Belarik yang dibangun oleh H. Wahid, H. Ali, H, Sulaiman atau H. Panjang dan H. Isa. Saat dibuang ke Bengkulu oleh Belanda, Dr. Ir. Sukarno dan para pejuang kemerdekaan lainnya, sering mengunjungi dan salat berjamaah di masjid sederhana ini. Masjid seluas 1,5 Hektar, termasuk juga kompleks pemakaman umum yang ada di areal halaman masjid. Masjid ini berukuran 8 x 9 meter, mampu menampung 150 jamaah. Masjid syuhada ini kalau Anda lihat bercorak krucut trapisium dan bubungan atasnya berbentuk bulat tinggi dengan tiang-tiang penyangga yang kokoh. Masjid ini memiliki kubah berbentuk kerucut, sebagai tempat dikumandangkannya adzan. Masjid ini mencerminkan wajah sederhana kota Bengkulu. Di belakang masjid ada pemakaman umum yang salah satunya adalah makam Raja Alam, seorang raja Islam yang terkenal sebagai salah satu penyebar agama Islam pertama di Bumi Raflesia. Renovasi yang dilakukan pertamakali ialah pada tahun 1935 yang dipimpin oleh H. Taha dengan menambah luas masjid menjadi 15 x 12 meter, renovasi kedua yaitu pada tahun 1947 yang dipimpin oleh Imam H. Sulaeman Zahri dan yang ketiga pada tahun 1971 yang dipimpin oleh Imam H. Suhaimin dan dibantu Korem 41 Garuda Mas dan Swadaya masyarakat, diadakan perbaikan pada bagian atas bubungan bulat. Dan pada Jumat, 29 Desember 1995 dengan swadaya masyarakat setempat. Peletakkan batu pertama oleh Kepala Desa Dusun Besar, Bapak Adri, menelan biaya Rp80 juta dengan luas areal 450 m2. Seperti halnya masjid lainnya, Masjid Syuhada ini juga disemarakkan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti perayaan Maulid Nabi, pengajian Sabtu malam, dan lain-lain. Selain itu, pada setiap tanggal 15 Sya‟ban, masyarakat setempat menyelenggarakan shalat Sya‟ban.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 291 ~ 6. Masjid Agung Sultan Abdullah Gambar 10.15 Masjid Agung Sultan Abdullah Sumber: https://www.rmolbengkulu.id/percantik-masjid-agung-sultan-abdullahpemkab-gelontorkan-dana-rehabilitas Masjid Agung Sultan Abdullah ini berlokasi di Tanjung Agung, Pelabai, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Nama masjid ini diambil dari gelar seorang raja yang pernah berkuasa di Lebong, yaitu gelar Sultan Abdullah dari raja yang bernama Ki Karang Nio. Dimana, masjid ini merupakan masjid termegah yang ada di Provinsi Bengkulu dengan bangunan seluas 1.000 m2 di atas tanah seluas 100.000 m2. Atap Masjid Agung Sultan Abdullah ini sendiri berbentuk bubungan limas yang dikombinasikan dengan bentuk kubah pada atap bagian tengah. Bangunan masjid ini sendiri berdenah persegi empat, dimana bersifat simetris dan pada tiap sudutnya dibuat menjulang tinggi dari atam utama. Menara tersebut diberi warna sama dengan warna kubah dan pada dinding masjid itu sehingga serasi dan sesuai. Sedangkan untuk bahan kubah itu sendiri menggunakan materil beton Frikas yang usianya dapat diperkirakan tahan beberapa tahun. Selanjutnya, untuk bagian struktur masjid dibuat dengan menggunakan beton bertulang yang dilapisi oleh ubin pada sisi lantai serta dinding pada mihrab. Ornament masjid ini menggunakan bentuk bintang bersegi delapan dengan warna kuning dan hijau.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 292 ~ 7. Masjid Aswaja NU Gambar 10.16 Masjid Aswaja Nu Sumber: https://caribengkulu.com/carilokasi/masjid-aswaja-ratu-agung-1991.html Masjid Aswaja NU kota bengkulu berlokasi di Jalan Musium, Daerah Padang Dedok, Kelurahan Tanah Patah, Kecamatan Gading Cempaka. Masjid Aswaju NU ini didirikan pada tahun 1992. Atap masjid memiliki bentuk limas dan bertingkat-tingkat, dimana terdapat tiga tingkatan. Filosofi makna dari atap yang bertingkat itu bermakna dengan tiga tingkatan taqwa yakni, iman, islam dan ihsan. Ada yang menarik pada bagian dinding di dalam masjid Aswaju NU ini, yakni terdapat sebuah rak yang sangat unik, rak tersebut dibuat menyatu ke dalam dinding yang digunakan untuk tempat menyimpan Al-Qur‟an, Yasin, dan buku-buku agama lainnya. Lantai Masjid Aswa NU juga sudah dilapisi dengan keramik, terdapat satu buah tiang bulat di tengah sebagai penyanggah atap Masjid Aswaju NU . Plafon yang berwarna coklat kekuningan dan lampu-lampu yang dipasang disisisisi atas masjid, serta terdapat satu buah lampu yang sangat besar didepan mihrab. Kubah Masjid Aswaja NU berbentuk seperti separuh bola atau seperti kerucut yang permukaanya melengkung keluar. Berdasarkan bentuknya, dalam dunia arsitektur dikenal ada “kubah piring”, karena puncaknya yang rendah dan dasarnya yang besar. Selain itu ada pula “kubah bawang”, karena hampir menyerupai bentuk bawang. Masjid Aswaja NU memiliki mihrab yang sangat sederhana dan tidak terlalu
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 293 ~ besar, hal ini tentu menyesuaikan dengan bentuk dan ukuran masjid yang tidak terlalu besar. Pada bagian atasnya terdapat ukiran kaligrafi bergaya Tsuluts, yang ditulis dalam salah satu ayat dalam Al-Qur‟an. Mimbar yang terdapat pada masjid Aswaja NU ini bentuknya sangatlah sederhana, tidak terdapat ukiran kaligrafi. Mimbarnya terbuat dari bahan beton yang dilapisi dengan keramik, dan memiliki ciri seperti sebuah tangga. Hal ini dibuat dengan tujuan mimbar Masjid Aswaja NU dapat bertahan dengan waktu yang lama, berbeda dengan bahan kayu yang mudah rusak. Di depan Masjid Aswaja NU derdapat satu buah gapura yang berbentuk seperti kubah yang terbuat dari beton, pada bagian atas gapura ini terdapat ukiran kaligraf bergaya Tsuluts, terdapat nama Allah SWT pada bagian kiri sudut gapura, pada bagian tengahnya terdapat bacaan Bismillah, dan bagian kanan sudutnya terdapat nama Nabi Muhammad SAW. Kalimat yang terdapat pada gapura dibuat dengan tujuan agar setiap orang yang memasuki masjid selalu mengingat nama Allah SWT , Nabi Muhammad, serta selalu mengucapkan kalimat Bismillah saat akan menjalankan ibadah atau mengerjakan sesuatu di Masjid Aswaja NU Daftar Pustaka Al-Mubarakfuri, S. Sirah Nabawiyah. Jakarta : PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2008. Agustina, Deta Upia. (2020). Corak dan Perkembangan Arsitektur Masjid Tua di Bengkulu. Institut Islam Negeri Bengkulu. Anggraini, Rika. dkk. 2021. “Studi Potensi Lanskap Bersejarah Untuk Pengembangan Wisata Sejarah Di Kota Bengkulu”, Jurnal Lanskap Indonesia, Vol. 3 No. 1. . 47-57. Ardhiati, Yuke. 2005. Bung Karno Sang Arsitek: Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota, Interior, Kria, Simbol, Model Busana dan Teks Pidato 1926-1945. Jakarta: Komunitas Bambu. Aryadini, Novita. 2000. Perkembangan Arsitektur Kota Bengkulu Masa Kolonial. Palembang: Balai Arkeologi Palembang. Bakhtiar. (2017). POLA PEMBINAAN UMAT DI MASJID DAN GEREJA (Studi deskriptif kualitatif di masjid Agung At-Taqwa kota Bengkulu dan di Gereja St. Yohanes Bengkulu). Manhaj, 3(2), Chanafiah, Ali. 2003. Bung Karno Dalam Pengasingan di Bengkulu. Jakarta: Penerbit Aksara Press. Gootschalk, Louis. 1985. Hansen. (2016). Sejarah Perkembangan Masjid Jamik. Institut Islam Negeri Bengkulu
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 294 ~ Khikmawati, N. (2022). Pemberdayaan Berbasis Religi: Melihat Fungsi Masjid Sebagai Ruang Religi, Edukasi, dan Kultural di Masjid Darusa‟adah, Kota Bandung. Islamic Management and Empowerment Journal, 22(2) : 203-224. Liana, L. (2021). Pelayanan Masjid Agung At-Taqwa Kota Bengkulu, Institut Agama Islam Negeri Bengkulu Nasril, M. Pesona Sejarah dan Ibadah di Masjid Quba.(2022). Retrieved from kemenag.go.id: https://kemenag.go.id/feature/pesona-sejarahdan-ibadah-di-masjid-quba-bmmtri SIDIQ, MUHAMMAD RASYID."PERANAN DEWAN DA‟WAH KOTA METRO DALAM OPTIMALISASI FUNGSI MASJID : Studi Pengembangan Masyarakat Islam Kota Metro. Masters thesis. (2018). UIN Raden Intan Lampung. Rokhim, M. A., Eva, B., Setyowati, D. L.(2017). Pemanfaatan Situs Masjid Agung Demak Sebagai Sumber Belajar Sejarah Bagi Siswa SMA di Kabupaten Demak. Journal of Educational Social Studies. 6(2) :111- 119. Rahmi, Abida. (2016). Peran Masjid Sultan Suriansyah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam (2005-2015). Tarbiyah dan Keguruan. Supriyadi, D. (2016). Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Setia F. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan kelompok Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut: a. Mahasiswa membentuk kelompok yang terdiri dari 5-7 orang. b. Kemudian, masing-masing kelompok menentukan ketua kelompoknya. c. Masing-masing kelompok menentukan nama kelompok yang bertemakan “masjid-masjidbesar di dunia”. d. Ketua kelompok mengkoordinir anggotanya untuk duduk di sisi yang berdekatan sesuaidengan arahan dosen. 2. Pertanyaan proyek Mahasiswa diberikan pertanyaan lisan oleh dosen: a. Setelah pemaparan materi yang saya sampaikan, apakah mahasiswa yang baik sudah bisa menyimpulkan peran utama masjid dalam membangun umat? b. jika telah memahami materi dengan baik, silahkan membentuk kelompok dan mempresentasikan kesimpulan materi tentang masjid pertama, fungsi masjid dalam membangun budaya Islam dan peran masjid dalam perkembangan umat! c. Buatlah media presentasi berupa power point dan proyek berupa artikel ilmiah mengenai kesimpulan materi tersebut! 3. Perencanaan proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masingmasing kelompok sebagaiberikut: a. Kesimpulan menggunakan format artikel ilmiah kajian pustaka.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 295 ~ b. Sumber referensi dalam membuat kesimpulan usahakan diperoleh dari e-book, jurnal, danprosiding yang bisa dilacak c. Silakan setiap kelompok dalam membuat kesimpulan berpedoman pada penulisan artikel ilmiah kajian pustaka dengan sistematika berikut: 1) Judul Tulisan, Nama, NPM, dan Email Mahasiswa Contoh: Peran masjid dalam membangun umat yang religius-spritualistis, sehat rohani dan jasmani, cerdas (emosional, intelektual, dan spiritual) dan sejahtera. Audi Bilqis Nabila (NPM H1A023011) Email: [email protected] Alya Humaida Avy (NPM H1A023027) Email: [email protected] 2) Abstrak Gunakan format IMRAD (Introduction, Method, Result & Discussion) yang diakhiri katakunci. Abstrak maksimal 250 kata dan minimal 150 kata. 3) Pendahuluan Pendahuluan sebaiknya memuat beberapa unsur berikut. a. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan teori dan penelitian relevan. b. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan hasil pengamatan,observasi, atau wawancara. c. Menjelaskan pemetaan tentang tulisan sebelumnya baik dari jurnal atau prosidingyang belum menulis tentang kajian yang akan dibahas. d. Menjelaskan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan. 4) Metode Penulisan Jelaskan metode penulisan yang digunakan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Kemudian, jelaskan sumber data tulisan yang diperleh dari buku, jurnal, prosiding, atau lainnya. Jelaskan juga teknik analisis data yang digunakan membuat formulasi permasalahan, mencari literature, evaluasi data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data. 5) Pembahasan Pembahasan berusaha membandingkan dan menghubungkan konsep-konsep tentang kajian yang akan dibahas sehingga ditemukan kesimpulan yang terbaik. 6) Simpulan dan Saran Simpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sebagai jawaban akhir dari pembahasan yang bersumber dari gabungan pendapat dari pakar yang dikutip. Sedangkan saran menyampaikan saran kepada pihak yang menerima kontribusi terhadap tulisan ini yaitu
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 296 ~ mahasiswa dan dosen. 7) Daftar Pustaka Gunakan format American Psychologycal Association 7 (APA 7) yang bersumber dari buku, jurnal, dan prosiding. Contoh pengutipan dan penulisan daftar putaka menggunakan APA 7 dapat dilihat pada laman berikut https://edutecion.com/apa-styleedisi-7/. d. Kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka menggunakan aturan penulisan berikut: 1. kertas A-4; 2. jenis tulisan Times New Roman; 3. spasi 1,5; 4. margin kiri 3, kanan 2,5, atas 2,5, dan bawah 2,5; 5. kutipan tidak langsung; dan 6. penulisannya menggunakan bodynote. 4. Penyusunan jadwal proyek Proyek menulis kesimpulan dan bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti jadwal yangsudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No. Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang peran masjid alam membangun umat yang religious-spiritualistis, sehat rohani dan jasmani, cerdas (emosional, intelektual, dan spiritual) dan sejahtera 20 2. Menyusun kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 60 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 20 4. Mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi sesuai petunjuk dosen. 10 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 40 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 360 Total Waktu 510 5. Pengawasan pelaksanaan proyek Lembar pengawasan pelaksanaan proyek berikut dapat digunakan oleh dosen sebagai acuan penilaian sikap mahasiswa. No. Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 297 ~ Ya Tidak 1. Setiap Mahasiswa aktif mencari sumber referensi artikel. 2. Mahasiswa dapat bekerja sama dalam pemembuat power point. 3. Mahasiswa dalam kelompok dapat menggunakan aplikasi presentasi seperti power point dan canva. 4. Mahasiswa dalam kelompok dapat menyelesaikan dan mengumpulkan project kelompok tepat waktu. 5. Mahasiswa aktif dan kritis selama diskusi berlangsung 6. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif selama diskusi berlangsung. 7. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan perbaikan tugas dalam bentuk artikel ilmiah . 8. Mahasiswa dalam kelompok menulis artikel ilmiah sesuai dengan aturan kepenulisan yang telah disampaikan. Jumlah Jawaban Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut: Nilai Sikap = 6. Penilaian Hasil Proyek Berikut adalah format penilaian project artikel ilmiah: No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Sistematika penulisan. 1-15 2. Penulisan artikel sesuai dengan pengembangan argumentasi 1-30 3. Penulisan artikel sesuai EYD dan KBBI 1-20 4. Penulisan artikel sesuai dengan format yangdisampaikan. 1-15 5. Tingkat plagiasi yang rendah 1-20 Total Nilai 100 7. Evaluasi pengalaman melalui refleksi Tahapan evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap peranutama masjid dalam membangun umat. Dosen dapat melakukan evaluasi dengan metode berikut: a. Melakuakan pertanyaan lisan kepada beberapa Mahasiswa yang
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 298 ~ dapat disanggah atau ditambaholeh mahasiswa lainnya: 1. Coba Anda sampaikan pesan dan kesan yang anda rasakan selama mempelajari Bab ini? 2. Coba Anda sampaikan kesimpulan moral apa yang dapat ditarik dari Bab ini! 3. Berkaitan dengan Bab ini, kegiatan positif apa yang dapat kita terapkan untuk memakmurkan masjid? G. Tes Kognitif Individu 1) Petunjuk: a. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. b. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benarsalahnya jawaban Anda. c. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang palingbenar. d. Soal sebanyak 25 soal dengan bobot setiap soal sebesar 4 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. e. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 2) Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d! 1. Secara makro, masjid memiliki peran sebagai.. a. Tempat bermain b. Pusat dakwah c. Tempat jual beli d. Tempat singgah 2. Secara mikro, masjid memiliki peran sebagai...Pusat dakwah a. Pusat kebangkitan umat b. Menuntut ilmu c. Tempat bemain d. Tempat ibadah 3. Dalam memposisikan masjid sebagai tempat pengajaran, pendidikan Islam danpengembangan ilmu. Pernyataan tersebut merupakan peran masjid sebagai.. a. Ukhuwah Islamiyah b. Pewaris nilai ajaran Islam c. Dakwah d. Khasanah ilmu pengetahuan 4. Dengan menempatkan saran perpustakaan untuk penghimpun ilmu pengetahuan.Pernyataan tersebut merupakan peran masjid sebagai.. a. Persatuan b. Dakwah
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 299 ~ c. Ibadah d. Khasanah pengetahuan 5. Contoh kegiatan yang bisa dilakukan menurut peran masjid secara mikro, kecuali.. a. Mengaji b. Zikir c. Mengerjakan tugas PAI d. I‟tikaf 6. Perhatikan pernyataan dibawah ini! 1. Bidang pendidikan 2. Bidang sosial 3. Bidang administrasi Bidang ekonomi 4. Bidang spiritual Diantara pernyataan di atas, yang bukan termasuk peran masjid dalam pengembangan umatadalah bidang.. a. 1 b. 2 c. 3 d. 4 7. Perhatikan pernyataan dibawah ini! 1. Menggunakan masjid dengan baik 2. Sarana musyawarah 3. Sarana kumpul remaja 4. Perbanyak relasi 5. Minta dukungan pemerintah Diantara pernyataan diatas, yang termasuk meningkatkan peran masjid sarana pengembangan Islam di era sekarang adalah... a. 1 dan 3 b. 2 dan 3 c. 4 dan 5 d. Semua salah 8. Di bawah ini yang salah mengenai adab di masjid adalah... a. Membiarkan mukenah di masjid berantakan b. Mengagungkan masjid c. Tidak mencoret-coret masjid d. Tidak melakukan jual beli masjid 9. Bentuk yang termasuk penyatuan fungsi masjid , kecuali... a. Tempat ibadah b. Menimba ilmu c. Pusat dakwah d. Kaderisasi 10. Kita bisa menjaga kebersihan masjid dengan... a. Memotong kuku di masjid b. Mengibaskan kain dengan keras di dalam masjid c. Mengeluarkan kotoran dari masjid
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 300 ~ d. Tidak membuang kertas bekas dari dalam masjid 11. Masjid Pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad adalah.. a. Masjid Nabawi b. Masjid Quba c. Masjid Quba dan Nabawi d. Masjidil Aqsha 12. Khalifah Umar bin Khatab membangun masjid yang terletak di Baitul maqdis tepatnya di atas bukit Murah, yang diberi nama dengan sebutan.. a. Masjid Kufah b. Masjid Umar c. Masjid Quba d. Masjid Khalifah 13. Masjid Agung Demak yang didirikan oleh raja pertama di kesultanan Demak bernama.. a. Raden Syahid b. Raden Fattah c. Sultan Abdullah d. Sultan Muhammad Said 14. Salah satu contoh peran masjid dalam memperkuat hubungan social antara umat Islam adalah.. a. Ngobrol di masjid b. Kegiatan ngopi bareng di masjid c. Diskusi di masjid d. Jual beli barang di masjid 15. Ayat Al-Qur‟an yang menjelaskan tentang perintah mamakmurkan masjid terdapat dalam Surat.. a. At-Taubah ayat 19 b. At-Taubah ayat 18 c. Al-Imran ayat 21 d. Al-Imran ayat 18 16. Masjid dijadikan tempat untuk belajar dan membaca Al-Qur‟an adalah salah satu bentuk peran masjid sebagai.. a. Sarana pembinaan umat b. Pusat ibadah c. Dakwah dan kebudayaan d. Pusat kaderisasi 17. Berikut adalah beberapa hal yang dilarang dilakukan di dalam masjid, kecuali.. a. Jual beli di masjid b. Mencari barang yang hilang di masjid c. Mengeraskan bacaan Al-Qur‟an d. Berbicara di dalam masjid 18. Berikut adalah do‟a yang dibaca ketika..
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 301 ~ a. Duduk di masjid b. Keluar dari masjid c. Masuk masjid d. Berangkat menuju masjid 19. Secara umum, arsitektur masjid di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua gaya utama, yaitu.. a. Berkubah dan kotak b. Bermustaka dan kerucut c. Berkubah dan bermustaka d. Berkubah dan persegi panjang 20. Shalat dua rakaat tahiyatul masjid dilakukan sebagai bentuk.. a. Menjalankan perintah Allah b. Penghormatan terhadap Masjid sebagai rumah Allah c. Ibadah dan amal shaleh kepada Allah d. Melebur dosa-dosa yang telah lalu 21. Masjid Jamik Bengkulu dahulunya bukanlah masjid yang langsung dibuat oleh Ir. Soekarno melainkan sebuah bangunan kecil yang dikenal dengan sebutan.. a. Surau b. Mushalla c. Surau Lamo d. Surau Baru 22. Masjid Jamik Bengkulu memiliki ciri khas berupa gaya arsitektur yang menggunakan corak Jawa dan Sumatra serta terkenal dengan julukan.. a. Masjid Sukarno b. Masjid Bung Karno c. Masjid Jamik d. Surau Lamo 23. Masjid tertua di Bengkulu yang dibangun antara tahun 1823 atau 1901 terletak di Desa Padang Betuah Bengkulu Tengah di bangun oleh.. a. Ir. Suekarno b. H. Mansyur c. Ahmad Nasir d. Pangeran Sentot Ali Basya 24. Berikut adalah nama-nama masjid tertua di Bengkulu kecuali.. a. Masjid Jamik Kota Bengkulu b. Masjid Al-Ikhlas Bengkulu Tengah c. Masjid Syuhada Kota Bengkulu d. Masjid At-Taqwa Anggut 25.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 302 ~ Ayat di atas adalah perintah untuk.. a. Shalat di masjid b. Memakmurkan masjid c. Membaca Al-Qur‟an di masjid d. Menjaga kebersihan masjid Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 303 ~ BAB XI Implementasi Islam Rahmatan Lil’alamin Sub-CPMK-11 Pertemuan ke-14: Mampu menyimpulkan tentang implementasi Islam yang rahmatan lil 'alamin Gambar 11.1 Islam Rahmatan Lil-„alamin Sumber: https://alhikmahdua.net/islam-rahmatan-lil-alamin/ A. Konsep Islam Rahmatan Lil’alamin Islam adalah agama yang bersifat universal, humanis, dinamis, kontekstual dan akan abadi sepanjang masa. Agama terakhir yang memiliki kitab suci resmi, orisinal dari Allah SWT, dengan rasul terakhir-Nya yang merupakan penutup para nabi-nabi dan tidak ada nabi setelahnya (Nabi Muhammad SAW). Allah SWT memberikannya Al-Qur‟an sebagai panduan hidup umatnya yang bersifat universal. Sedangkan ucapan, tingkah laku dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang pada umumnya disebut hadis dan sunnah. Keduanya adalah panduan hidup umat Muslim. Islam adalah agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Ibarat bangunan rumah yang kekurangan satu batu bata, agama Islam menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya. Keberagaman yang kokoh adalah fitrah manusia (Qs. Al-Rûm/30: 30). Pola beragama yang sejuk menjadi fitrah manusia dan meminjam gagasan Karen Armstrong-agama yang penuh kasih sayang. Tetapi
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 304 ~ petanyaan selanjutnya adalah, mengapa umat Muslim mundur? Amir Sakib Arsilan telah menulis kitab Limadza Taakhkhara al-Muslimûn wa Limâdza Taqaddama Ghairuhum untuk menjawab problemproblem terkait kemunduran Islam dan penghalangnya. Kemunduran umat Muslim, di samping faktor kejumudan berpikir, juga dikarenakan kurang dewasa dalam beragama. Gagasan Islam Rahmatan lil Alamin yang dijadikan payung dalam berdakwah, tentunya memiliki perbedaan signifikan dalam tatanan praktiknya dengan gagasan-gagasan lainnya, seperti: Islam Liberal dan Islam Pluralis, Islam Progresif, Islam Nusantara, Islam Kalap & Islam Karib, Islam Berkemajuan, dan lain sebagainya. Semuanya, akan menuju kepada agama rahmat untuk alam semesta. Namun, sama-sama memiliki visi membaca Islam dengan penuh kelembutan, kedamaian dan menjadi solusi untuk dunia. Tetapi, istilah Islam Rahmatan lil Alamin merupakan istilah yang bersumber dan tercantum dalam Al-Qur‟an (building in Islam), Allah SWT langsung yang memberikan istilah tersebut untuk menyebut sebuah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad akan berdampak positif, inklusif, komprehensif dan holistik. Gagasan yang tidak memiliki kekurangan dan kelemahan, gagasan yang „suci‟ dan lain sebagainya. Semuanya, akan menuju kepada agama rahmat untuk alam semesta. Namun, sama-sama memiliki visi membaca Islam dengan penuh kelembutan, kedamaian dan menjadi solusi untuk dunia. Tetapi, istilah Islam Rahmatan lil Alamin merupakan istilah yang bersumber dan tercantum dalam Al-Qur‟an (building in Islam), Allah Swt langsung yang memberikan istilah tersebut untuk menyebut sebuah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad akan berdampak positif, inklusif, komprehensif dan holistik. Gagasan yang tidak memiliki kekurangan dan kelemahan, gagasan yang „suci‟ dan gagasan Ilahiah, lebih autentik. Ajaran Islam Rahmatan lil Alamin bukan hal baru dalam konsep pemikiran Islam dan memiliki basis yang kuat dalam teologi Islam. Kata “Islam” berasal dari kata aslama yang berakar kata salama. Kata Islam adalah bentuk infinitif dari kata aslama ini. Dari kata itulah, Islam memiliki varian makna yang diafirmasi oleh al-Qur‟an sendiri, meliputi: damai (Qs. al-Anfâl/8: 61 dan Qs. al-Hujurȃt/49: 9), menyerah (Qs. al-Nisâ/4: 125 dan Qs. Ali Imrân/3: 83), penyerahan
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 305 ~ diri secara totalitas kepada-Nya (Qs. al-Baqarah/2: 208 dan Qs. alShaffât/37: 26), bersih dan suci (Qs. al-Syu‟arâ‟/26: 89, Qs. alMaidah/5: 6 dan Qs. al-Shaffât/37: 84), selamat dan sejahtera (Qs. Maryam/19: 47). Adapun makna “rahmat” adalah al-Riqqatu wa al-Ta‟attufi (kelembutan yang berpadu dengan rasa keibaan). Ibnu Faris mengartikan kata ini dengan merujuk kepada makna kelembutan hati, belas kasih dan kehalusan. Dan dari akar kata ini, lahir kata rahima yang memiliki arti ikatan darah, persaudaraan dan hubungan kerabat. Al-Asfahani mempertegas bahwa dalam konsep rahmat adalah belas kasih semata-mata (al-Riqqat al-Mujarradah) dan kebaikan tanpa belas kasih (al-Ihsân al-Mujarrad dûna al-Riqqat). Artinya, jika rahmat disandarkan kepada Allah Swt maka bermakna “kebaikan sematamata” dan jika disandarkan kepada manusia maka yang dimaksud adalah “simpati semata”. Dan sampai saat ini, orang-orang Arab dalam percakapannya sehari-hari, mengartikan rahmat yang disandarkan kepada Allah bermakna belas kasih, kebaikan, rezeki dan lain-lain. Sedangkan yang disandarkan kepada manusia bermakna “belas kasih”. Di dalam menelaah gagasan Islam Rahmatan lil Alamin perspektif KH. Hasyim Muzadi, merujuk kepada sumber primer, yakni Islam Rahmatan lil Alamin menuju Keadilan dan Perdamaian Dunia (Perspektif Nahdlatul Ulama). Konsep ini telah dikampanyekan ke seluruh belahan dunia, sejak kepemimpinannya di NU, baik bersama Gerakan Moral Nasional (Geralnas) atau International Conference of Islamic Scholars [ICIS]. Kampanye ini telah membuat masyarakat di dunia simpati kepada Islam dan menjadikannya sebagai salah satu presiden dalam World Conference of Religions for Peace (WCRP) di dalam Pertemuan Pimpinan Agama se-Dunia ke-VIII di Kyoto, 29 Agustus 2006. Para petinggi agama berjumlah 800 dari 100 negara seluruh dunia, ikut dan menghasilkan Deklarasi Kyoto. Untuk mewujudkan Islam rahmatan lil„alamin, al-Quran dan hadis mengajarkan nilai keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannâs. Hablun minallah tergambar dalam duabelas poin, yaitu: 1). Beriman kepada Allah dan berpegang teguh dengan keimanan; 2). Menaati Allah dan Rasul-Nya; 3). Mendirikan sholat; 4). Memakmurkan masjid; 5). Mengkaji ayat-ayat Allah di masjid; 6).
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 306 ~ Merasa diri banyak memiliki kekurangan dan berdoa supaya mendapatkan rahmat; 7). Istighfar, taubat, dan memperbaiki diri; 8). Mengikuti al-Quran dan mendengarkannya dengan seksama; 9). Bertaqwa; 10). Berjihad dengan harta dan jiwa; 11). Sabar ketika menghadapi musibah; 12). Tawakkal kepada Allah. Sedangkan ajaran tentang Hablun Minannâs tergambar dalam duabelas berikut: 1). Profesional dalam bekerja; 2). Saling berwala‟ dengan sesama mukmin; 3). Amr ma‟ruf nahi munkar; 4). Membayar zakat; 5). Berbuat baik kepada orang tua; 6). Ukhuwwah yang dibangun di atas dasar taqwa; 7). Hijrah; 8). Menjadi orang saleh; 9). Infaq fi sabilillah untuk mendekatkan diri kepada Allah; 10). Makan harta yang baik; 11). Berbuat baik kepada orang lemah, orang sakit, dan orang miskin; 12). Berlomba melakukan kebaikan di antara suami dan istri. Baik aspek hablun minalah maupun aspek hablun minannas sudah dipraktekkan oleh Rasulullah dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, bernegara. Dengan dipraktekkannya kedua unsur itu secara seimbang maka seluruh makhluk, manusia, hewan, maupun tumbuhan merasakan kasih sayang dan sentuhan kenyamanan dan rahmatan lil‟alamin dari ajaran Islam. B. Nilai-nilai Keislaman dalam Keindonesiaan 1. Konsep Islam Keindonesiaan Islam Keindonesiaan adalah Islam gaya dan khas Indonesia yang memberikan pandangan-pandangan penting tentang situasi dan kondisi kebangsaaan Indoensia yang dibarengi dengan nilainilai keislaman yang berorientasi kepada alur perdamaian, keadilan, menghargai kemajemukan (pluralisme), toleransi dan lain sebagainnya dalam sebuah negara yang majemuk. Islam Inonesia membentuk karekter dan memberikan pandangan khas terkait pentingnya pembangunan yang berkesesuaian dnegan nilai-nilai ajaran Islam (al-Quran dan Hadits), beserta doktrin pembaharuan yang dipandnag penting. Islam Keindonesiaan secara genologis dan sosiologis memberikan padangan penting dalam arus modernisme dalam hal ini, arus modernisme termanifestasi secara kongkrit dalam demokrasi. Islam Keindonesiaan, tanpa terkecuali memberikan pandangan dan penerimaan secara sadar terhadap sistem negara Indonesia, tanpa harus membincangkan secara
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 307 ~ tegang permasalahan-permasalahan yang mengarah kepada konflik. Sehingga dapat dipahami bahwa konteks pemahaman Islam Keindonesiaan merupakan sebuah watak pemikiran yang yang khas sesuai adat, kultur dan budaya Indonesia secara umum. Tetapi, Kelemahan dari Islam Keindonesiaan adalah tidak mendapatkan justifikasi formal layaknya Islam Nusantara yang digeneralisir oleh Nahdatul Ulama (NU), singkatnya Islam Keindonesiaan hanya merupakan refleksi kritis terhadap pemahaman Islam dan Indonesia. Islam keindonesiaan dipandang sebagai komitmen teologi inklusif ini yang merupakan dari ajaran pokok Islam Keindonesiaa mencoba memahami realitas ini dengan sebuah gagasan yang mencoba menintegrasikan komponen-komponen yang tidak seharusnya dibedakan antara satu dan lainnya, sepeti masalah ilmu dan agama. Sebab kedua aspek ini secara prinsipnya berintegrasi dan saling kolerasi. Teologi inklusif memahami adanya sebuah pengakuan hak mendasar kepada semua kalanga, termasuk kepada orang yang berbeda pendapat atau agama. Cak Nur memahami bahwa ide dasar persaudaraan itu mesti ditarik kepada semua kalangan, tanpa terkecuali termasuk dalam memahami ukhuwah Islamiyyah. Pendapat seperti ini pada dasarnya tidak sejati bahwa idak akan terwujud kecuali jika seluruh umat Islam menjadi sama dan satu dalam segala hal alias monolitik sebab kehendak ini terlalu memaksakan. Memelihara Sikap keterbukaan dengan cara menratifikasi argumentasi rasional tentang kebenaran dipahami Cak Nur sebagai salah satu cara menjaga tegaknya ukhuwah Islamiyah kepada semua kalangan secara nyata, bukan hanya sebagai slogan belaka, tetapi sebuah realitas kehidupan, tanpa mengorbankan kreativitas dan pluralitas yang pada mereka. Toleransi dalam perspektif Islam Keindonesiaan ini merupakan sebuah doktrin terbuka untuk memberikan nuansa damai dan perdamaian di tengah-tengah kemajemukan bangsa Indonesia yang plural; dipenuhi oleh aspek-aspek perbedaan. Kondisn keberagaman ini menjadi alasan bagi Cak Nur untuk menarik simpul toleransi ini kepada narasi yang besar dan agung, yang ia sebut sebagi peradaban (Majid, 2008). Perdaban dalam
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 308 ~ kesempatan lain dipahami Caknur merupakan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu dalam konsep islam keindonesiaan Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hal yang sangat dikedepankan. Sebab, Islam dalam pandangan teologisnya benar-benar menghargai hakhak hidup manusia secara esensial-elementer. Demikian dengan Indonesia yang merupakan sebuah negara harus melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia tanpa terkecuali. Gagasan Keislaman dan keindonesiaan dalam memandang Hak Asasi Manusia sudah jelas terintegrasi secara formal-gradual. Penyebutan demokrasi dalam konteks HAM mengandung arti bahwa negara bertanggungjawab penuh atas tegaknya Hak Asasi Manusia secara utuh. Peran strategis dan taktis negara diperlukan untuk mendukung gagasan ini secara gradual-sistematis. Cak Nur menarik sebuah pemahaman yang bersumber dari Al-Qur‟an mendeskripsikan akan pentingnya HAM sebagai kemestian tanpa terkecuali pemahaman HAM yang ramai dibicarakan hari ini pada prinsipnya menurut Cak Nur berasal dari ajaran Islam. Islam menetapkan bagaimana cara menghargai manusia secara manusiawi. Dalam Islam tidak dibenarkan pembunuhan tanpa sebab, bahkan dilarang dan tertulis dalam doktrin suci Q. S. al-Maidah ayat 32. Penelusuran Caknur dalam memahami HAM di dunia internasional dikarenakan peran strategis doktrin Islam itu sendiri yang diadopsi oleh intelektual Barat dan menjadi trend terkini dalam mengara demokrasi atau piagampiagam konstitusi negara maju (Nurcholis Madjid, 1996). Padahal tipologi dasarnya dari Madinah. 2. Islam Nusantara Islam Nusantara adalah Islam yang secara prinsip merupakan khas hasil dari penghayatan dan pemikiran yang sesuai dengan daerah geografis, kebudayaan, kultur, adat dan lain sebagainnya yang mewakili dari Indonesia. Terminologi Islam Nusantara populer ketika dijadikan tema dalam Muktamar NU ke 33 di Jombang dengan tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Indonesia pada tanggal 1-5 Agustus 2015 (H. F. Ismail, 2020). Narasi dasar Islam Nusantara pada akhirnya membawa sebuah gagasan yang Islami dan mampu mewarnai
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 309 ~ kehidupan berbangsa dan bernegara secara aman dan tentram. Islam Nusantara layak menjadi nilai yang diharapkan untuk kepentingan umum dalam mewujudkan rasa aman dan damai di Negara Kesantuan Republik Indonesia. Konsep Islam nusantara berkaitan dengan Islam Wasatiyah di Indonesia yang dipahami sebagai sebau wacana mendasar yang penting untuk mengatasi situasi dan konsidi keberagaman di Indonesia. Masdar Hilmy menyebut tradisi Islam yang berorientasi nalar arus moderat dipahami dan dimaknai dengan tinjauan yang lebih mengarah pada ranah sosiologis. Hilmy menarik makna Islam Moderat merupakan sebuah prinsip yang mencoba memberikan arti dengan sebuah pemahaman semacam ideologi tanpa kekerasan dalam proses transmisi Islam (Dakwah). Konsep Islam Keindonesiaan dan Islam Nusantara merupakan gagasan hasil penghayatan atau refleksi terhadap Islam di Indonesia dengan mengelaborasi nilai-nilai Islam dan nilai nilai Indonesia atau Nusantara. Kedua gagasan ini berperan strategis dalam membangun relasi sekaligus mengkolaborasi narasi besar Islam dan Indonesia. Yang membedakan dari kedua gagasan ini terletak pada penggunaan bahasa dan lembaga. Gagasan Islam Keindoensiaan dan Islam Nusantara mempunyai karakter yang soft utuk situasi kebangsaan Indonesia secara umum sebagai manifestasi yang bersumber pada doktrin Islam secara esensial. Gagasan ini dipandang sesuai dengan situasi dan kondisi arakter kebangsaan yang plural atau majemuk. Kedua tokoh antara Nurcholish Madjid dan Abdurahman Wahid memahami Pluralisme merupakan sebuah kehendak Tuhan yang tidak bisa ditolak. Sehingga mesti diterima secara sadar dan lapang dada dan rendah dengan sikap memahami dan menghargai kepada aspek keberagaman (pluralitas), temasuk dalam masalah pluralisme beragama. Maka untuk memahami pluralitas atau keberagaman di Indonesia kedua tokoh tersebut meratifikasi gagasan kebangsaan antara lain demokrasi dan Pancasila sebagai penyangga dasar dalam menjaga dan merawat pluralitas atau keragaman.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 310 ~ C. Tantangan Islam Rahmatan Lil’alamin dan Penerapannya dalam Pendidikan Islam Seringkali melihat kasus karena suatu perbedaan menjadi masalah berkepanjangan yang menjadikan peserta didik satu sama lain saling menghujat, membuli bahkan mengkafir-kafirkan, maka sudah semestinya melalui pembelajaran PAI membimbing dan mengarahkan melalui bentuk pemahaman terhadap pentingnya menghargai, menghormati dan menjaga solidaritas sebagai satu keluarga yang seharusnya saling menguatkan satu sama lain, sehingga tercipta kehidupan yang damai dan sejahtera, memberikan pemahaman dalam bentuk materi bahwa setiap ajaran mempunyai nilai yang sama yaitu beribadah untuk mendapatkan ridho dari Tuhan YME sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Secara normatifteologis merujuk pada QS. Al-Anbiya, 21 ayat 107, konsep rahmatan lil‟alamin menunjukan Islam sebagai agama rahmat sepenuhnya. Kerahmatan Islam ini dapat dilihat dari dua sisi, pertama dari ajarannya, kedua dari figur yang menbawanya yaitu Nabi Muhammad SAW yang menjadi suri teladan dan mempunyai pribadi yang pengasih dan penyayang (Rosila & Yaacob, 2013). Islam sebagai agama universal (rahmatan lil‟alamin) memuat pedoman untuk mencapai kebahagiaan hidup bagi manusia yang salah satu media mencapainya adalah lewat pendidikan. Sesungguhnya Islam sangat berkaitan erat dengan pendidikan. Islam sebagai kerangka pengembangan dasar pendidikan yang memberikan kontribusi pemikiran (Haq et al., 2022). Muatan Pendidikan Agama Islam dalam kurikulum yang dipakai di Indonesia saat ini mengajarkan kepada semua generasi muda Islam yang sedang mengenyam pendidikan di bangku sekolah maupun kuliah tentang hidup yang ramah, hidup berdampingan dan saling menghormati sesama manusia walaupun berbeda agama dan keyakinan (Departemen Agama RI, 2001). Pendidikan IRA menjunjung tinggi keanekaragaman budaya atau multikultural. Pendidikan Agama IRA bertujuan, (1) sikap respek terhadap sesama, toleransi responsif terhadap berbagai permasalahan muncul dimasyarakat yang harus menjadi budaya oleh setiap orang muslim; (2) tujuan kognitif, yaitu mengenai pencapaian nilai pengetahuan secara akademik, pengembangan pemikiran dalam menentukan
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 311 ~ sebuah proses pembelajaran yang dapat dipahami, diterima oleh suatu golongan tanpa menyudutkan golongan yang lain.; (3) tujuan instruksional, yaitu mengenalkan dan menyampaikan berbagai informasi mengenai keragaman suatu ajaran oleh berbagai kelompok baik yang sesuai ajaran Rasul SAW dan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasul SAW melalui suatu pengajaran dengan buku teks yang dapat dijadikan sebagai rujukan yang bisa dipercaya. Ada faktor-faktor yang harus dipenuhi dalam rangka mengimplementasikan Pendidikan Agama IRA di sekolah sehingga dapat berjalan dengan efektif dan mampu membentuk karakter yang toleran terhadap sesame (Khobir, 2009). Pertama, meningkatkan pemahaman guru terhadap peran dan fungsinya dalam konteks perundang-undangan, sebagaimana sudah dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 6 tahun 2007 tentang standar akademik dan kompetensi guru. Terkait dengan kompetensi sosial, guru bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif. Artinya guru Pendidikan Agama Islam tidak secara diam-diam menyebarkan paham-paham yang bertentangan dengan IRA. Kedua, penerapan pendidikan Agama dan keagamaan yang sesuai dengan amanat undang-undang dan peraturan yang ada di Indonesia, artinya pendidikan Agama dan keagamaan tidak boleh disusupi dan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mengembangkan paham yang menyebarkan fundamentalisme, radikalisme dan terorisme. Pendidikan Agama dan keagamaan memiliki peran sentral dan strategis. Ketiga, kurikulum yang berlaku di Indonesia sangat menghargai keragaman budaya dan keyakinan, hal ini bisa dikaji pada aspek latar belakang perubahan kurikulum 2013, sebagai tantangan kedepan adalah bagaimana memahami serta menerapkan nilai- nilai toleransi sebagai warga negara yang bertanggung jawab, menghargai perbedaan, selain itu dalam prinsip kurikulum dan isi kurikulum, yang mana sangat menghargai keragaman budaya, ras, suku dan agama, guru harus mengembangkan kurikulum yang ada kedalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran yang berbasis IRA. Keempat, guru mampu mengembangkan bahan ajar, sumber belajar dan media pembelajaran yang berbasis IRA, hal ini penting karena dengan menyajikan bahan ajar, sumber belajar dan media
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 312 ~ pembelajaran yang berbasis IRA akan memberikan pengalaman belajar yang nyata pada peserta didik, bagaimana seseorang harus menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Jabali dkk (Jabali et al., 2021) menjabarkan Sembilan nilai konsep rahmatan lil „alamin yang perlu diinternalisasi oleh peserta didik di Indonesia, yaitu: 1. Kemanusiaan Sikap memanusiakan manusia atau memandang manusia secara mendasar sama dan sederajat merupakan sikap humanis yang akan ditekankan dalam Islam. Sikap humanis memandang manusia bukan dari tampilan fisiknya, bahasanya, etnisnya, bahkan agamanya sekalipun karena penghormatan terhadap hakhak asasi manusia tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat primordialisme tersebut. Dasar pemikiran tersebut terdapat dalam QS. At-Tin (95) ayat 4 yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian” (HR. Muslim No. 2564). 2. Keadlian Adil artinya tidak memihak, mengukuti atau sesuai dengan aturan serta menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adil bisa juga berarti keseimbangan antara hak dan kewajiban. Islam sangat menganjurkan berbuat adil. Dalam Alquran Istilah adil disebut adl dan qisth, yang terdapat dalam firman Allah, “Hai orang- orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maidah, 5: 8). Dalam surat lain, Allah berfirman, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 313 ~ sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. An-Nissa, 4: 58). 3. Egalitarianisme Suatu pandangan yang menganggap bahwa pada dasarnya semua orang statusnya setara sekalipun diantara mereka terdapat perbedaa-perbedaan dalam usia, intelektualitas, ras, etnis, status sosial ekonomi, aspirasi, politik, silsilah kebangsawanan, penampilan fisik, agama, kecerdasan, bakat dll. Elemen dalam egalitarianisme adalah pandangan positif, apresiasi, empati, komunikasi, interaksi, kerja sama, pelayanan, dan pemberdayaan, sebagaimana terdapat dalam firman Allah, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat, 49: 13). 4. Musyawarah Musyawarah adalah menyelesaikan persoalan dengan mengambil keputusan yang dilakukan bersama. Usaha untuk menyelesaikan persoalan secara bersama dianggap lebih produktif dan lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada usaha individu betapa pun hebatnya individu tersebut. Islam menganjurkan kepada manusia untuk menyelesaikan persoalan melalui Musyawarah. Musyawarah didasari oleh kasih sayang, solidaritas/perasaan senasib, tolong menolong. Sebagaimana Allah berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. AL Imron, 3: 159). 5. Pluralisme Pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk. Pluralisme dapat diartikan kesiapan untuk menerima kemajemukan.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 314 ~ Perbedaan manusia yang satu dengan lainnya sudah didesain Allah sebagai sesuatu yang memang harus diterima. Pluralisme agama sering disalahpahami sebagai paham yang menyamakan semua agama dan menganggap relatif semua agama. Pluralisme agama semestinya dipahami bahwa seseorang tetap berpegang teguh pada agama yang dianutnya dan meyakini agama yang dianutnya dan meyakini agamanya yang terbaik bagi dirinya. Meskipun demikian, dia menyadari dan memahami bahwa penganut agama lain juga berkeyakinan yang sama mengenai agama mereka yang terbaik. Hal tersebut didasari oleh firman Allah yaitu, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,” (QS Hud, 11: 118) dan “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. AlBaqarah, 2: 62). 6. Toleransi Toleransi adalah sikap saling menghargai antara individu dengan individu, kelompok dengan masyarakat, maupun yang lainnya. Toleransi diperlukan untuk menghadapi realitas kehidupan dunia yang pluralitas dan kompleks. Dalam intern agama sendiri, toleransi diperlukan untuk menghindari gesekan dan benturan perbedaan paham “truth claim” klaim bahwa dirinya yang paling benar sedangkan orang lain salah. Toleransi antarumat beragama”sikap saling menghormati dan menghargai pemeluk semua agama lain,”tidak memaksakan keyakinan agamanya kepada pemeluk agama lain”. Toleransi sosial yaitu sikap saling menghargai antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya, kelompok mayoritas melindungi kelompok yang minoritas, kelompok elite tidak menindas kelompok awam/bawah. Sebagaimana firman Allah, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku" (QS. Al-Kafirun, 109: 6).
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 315 ~ 7. Moderatisme Islam sangat mengutamakan sikap moderat (tawasuth/wasathiah) atau seimbang dalam segala hal, yaitu mengambil jalan tengah diantara dua kutub ekstrim yang saling berlawanan. Lawan moderat adalah radikal dan ekstrim. Sikap moderat dalam beragama ditunjukan ketika penganut agama tidak berlebihlebihan, menjaga keseimbanagn dan memilih jalan tengah. Dasar pemikiran tersebut adalah firman Allah, “Dan orang- orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS Al-Furqon, 25: 67). 8. Inklusivisme Suatu pandangan yang menganggap semua orang sebagai bagian dari dirinya sendiri sekalipun di antara mereka terdapat banyak perbedaam sosiologis. Catatan bahwa inklusivisme tidak berkonotasi membenarkan semua pandangan orang, tetapi lebih sebagai cara pandang yang menganggap semua orang sebagai keluarga besarnya. Hal yang paling mendasar yaitu Berbuat baik, partisipasi, empati, dan saling koreksi, seperti firman Allah: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS Anahl 125). 9. Gender Awareness Suatu kesadaran bahwa secara prinsip komunitas lak-laki dan perempuan memiliki kedudukan, staus, hak, kewajiban dan tanggungjawab yang sama dalam memajukan kehidupan secara keseluruhan (sekalipun diantara mereka terdapat banyak perbedaan baik secara fisik maupun nonfisik). Hal yang mendasar yaitu Apresiasi harga diri, Pengakuan hak, pandangan positif, interpretasi, peran sosial.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 316 ~ Daftar Pustaka Abduh, Muhammad, Risalah Tauhid, Jakarta: Bulan Bintang, 1979. Al-Darami, Abi Muhammad Abdillah bin Abdirrahman bin al-Fadhl, Kitâb alMusnad al-Jâmi‟, Beirut: Dâr al-Basyâ‟ir al-Islâmiyah, 2014. Al-Thabari, Abi Ja‟far Muhammad bin Jarir, Tafsîr al-Thabarî Jâmi‟u alBayâni „an Ta‟wîli ay al-Qur‟âni, Mesir: Markaz al-Buhûts wa alDirâsât al-Arabiyat wa al-Islâmiyat, 2001. Arnold, Thomas W, Sejarah Da‟wah Islam, Jakarta: Wijaya, t.t. Armstrong, Karen, Compassion: 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih, Bandung: Mizan, 2012. Arsilan, Amir Sakib, Limâdza Taakhkhara al-Muslimûn wa Limâdza Taqaddama Ghairuhum, Beirut: Dâr Maktabah al-Hayât, t.t. Hafner, Robert W, Civil Islam: Islam dan Demokratisasi di Indonesia, Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 2001. Hidayat, Adian Husaini dan Nuim, Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya, Jakarta, Gema Insani Press, 2002. Machasin, Islam Dinamis, Islam Historis: Lokalitas, Pluralisme, Terorisme, Yogyakarta: LKiS, 2001. Mandzur, Ibnu, Lisânul Arab, Beirut: Dâr Ihyâ al-Turâts al-Arabi, 1999. Misrawi, Zuhairi, Revitalisasi Islam “Rahmatan lil „Alamin”, Jakarta: Kompas, 2011. Muhammad, Abi al-Qasim al-Husain Ibn, al-Mufradâtu fî Gharîbi al-Qur‟âni, Mekkah: Maktabah Nizâr Mustafa al-Bâz, 2009. Munawwir, Imam, Salah Paham Terhadap al-Qur‟an, Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983. Muzadi, Abdul Muchith, Mengenal Nahdlatul Ulama, Surabaya: Khalista, 2006. Muzadi, Hasyim, “Mengapa Indonesia? Bukan Khilafah?” dalam Youtube, diakses tanggal 21 Mei 2016. ________, “Membangun Format Kerukunan Umat Beragama di Indonesia,” dalam Pengembangan Kerukunan Umat Beragama di NTT, Maumere, Ledalero, 2007. D. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan Kelompok Kerja Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut: a. Silakan mahasiswa membentuk kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4-6 mahasiswa sesuai arahan dosen. b. Usahakan masing-masing kelompok terdiri atas laki-laki dan perempuan. c. Apabila kelompoknya sudah terbentuk silakan tentukan ketua kelompoknya. d. Ketua kelompok silakan berdiskusi dengan ketua kelompok lainnya
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 317 ~ menetapkan nama kelompok dengan memilih nama-nama sahabat Nabi sesuai arahan dosen. e. Ketua kelompok bersama anggotanya mengatur tempat duduk sesuai arahan dosen. 2. Pertanyaan Proyek Mahasiswa dalam kelompok diberikan pertanyaan dan tugas oleh dosen secara lisan sebagai berikut: a. Tentunya setelah membaca materi tentang implementasi Islam yang rah matan lil 'alamin, para mahasiswa sudah tahu Konsep Islam Rahmatan Lil‟alamin, mempraktekan Nilai-nilai Keislaman dalam Keindonesiaan dan menjelaskan tentangTantangan Islam Rahmatan Lil‟alamin? b. Silakan secara berkelompok menyimpulkan bagaimana untuk menjadi seorang Muslim yang profesional..? 3. Perencanaan Proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masingmasing kelompok sebagai berikut. a. Kesimpulan menggunakan format artikel ilmiah kajian pustaka. b. Sumber referensi dalam membuat kesimpulan yaitu minimal bersumber dari buku ajar yang sedang dibaca ini dan beberapa referensi seperti e-book, jurnal, prosiding dan lainnya. c. Silakan setiap kelompok dalam membuat kesimpulan berpedoman pada penulisan artikel ilmiah kajian pustaka dengan sistematika berikut: 3) Judul Tulisan, Nama, Npm, dan Email Mahasiswa Contoh: Konsep Islam Rahmatan Lil’alamin Oleh Abdul Ghani (NPM A1A018001) Email: [email protected] Nurrahmah (NPM A1A018008) Email: [email protected] 4) Abstrak Gunakan format IMRAD (Introduction, Method, Result & Discussion) yang diakhiri kata kunci. Abstrak maksimal 250 kata dan minimal 150 kata. 5) Pendahuluan Pendahuluan sebaiknya memuat beberapa unsur berikut. a. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan teori dan penelitian relevan. b. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan hasil pengamatan, observasi, atau wawancara. c. Menjelaskan pemetaan tentang tulisan sebelumnya baik dari jurnal atau prosiding yang belum menulis tentang kajian yang akan dibahas.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 318 ~ d. Menjelaskan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan. 6) Metode Penulisan Jelaskan metode penulisan yang digunakan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Kemudian, jelaskan sumber data tulisan yang diperleh dari buku, jurnal, prosiding, atau lainnya. Jelaskan juga teknik analisis data yang digunakan membuat formulasi permasalahan, mencari literature, evaluasi data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data. 7) Pembahasan Pembahasan berusaha membandingkan dan menghubungkan konsep-konsep tentang kajian yang akan dibahas sehingga ditemukan kesimpulan yang terbaik. 8) Simpulan dan Saran Simpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sebagai jawaban akhir dari pembahasan yang bersumber dari gabungan pendapat dari pakar yang dikutip. Sedangkan saran menyampaikan saran kepada pihak yang menerima kontribusi terhadap tulisan ini yaitu mahasiswa dan dosen. 9) Daftar Pustaka Gunakan format American Psychologycal Association 7 (APA 7) yang bersumber dari buku, jurnal, dan prosiding. Contoh pengutipan dan penulisan daftar putaka menggunakan APA 7 dapat dilihat pada laman berikut https://edutecion.com/apa-styleedisi-7/. e. Kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka menggunakan aturan penulisan berikut: 1. kertas A-4; 2. jenis tulisan Times New Roman; 3. spasi 1,5; 4. margin kiri 3, kanan 2,5, atas 2,5, dan bawah 2,5; 5. kutipan tidak langsung; dan 6. penulisannya menggunakan bodynote. 4. Penyusunan Jadwal Proyek Proyek menulis kesimpulan dan bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No. Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang implementasi Islam yang rah matan lil 'alamin 20 2. Menyusun kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 60 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 20 4. Mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan 10
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 319 ~ file presentasi sesuai petunjuk dosen. 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 40 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 360 Total Waktu 510 5. Pengawasan Pelaksanaan Proyek Pengawasan pelaksanaan proyek dilakukan oleh guru bisa dengan menggunakan lembar pengamatan penilain sikap berikut: No. Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan Ya Tidak 1. Mahasiswa dalam kelompok aktif mencari referensi sebagai bahan membuat kesimpulan. 2. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 3. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 4. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi. 5. Mahasiswa dalam kelompok aktif dan kritis dalam mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 6. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif dalam kegiatan diskusi panel. 7. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 8. Mahasiswa dalam kelompok menulis membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti sistematika dan aturan penulisan yang sudah ditetapkan. Jumlah Jawaban Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 320 ~ 6. Penilaian Hasil Proyek melalui Presentasi Proyek Penilain hasil proyek atau produk membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah hasil kajian pustaka bisa menggunakan format penilaian berikut: No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Sistematika penulisan. 1-15 2. Isi tulisan berkaitan dengan kekuatan argumentasi 1-30 3. Penggunaan ejaan (penulisan huruf, tanda baca, kata, dan unsur serapan) dan tata bahasa (kalimat dan paragraf). 1-20 4. Aturan penulisan berkaitan dengan kutipan dan format tulisan. 1-15 5. Tingkat keorisinalan tulisan dari hasil cek similaritas atau cek plagiasi. 1-20 Total Nilai 100 7. Evaluasi Pengalaman melalui Refleksi Tahap evaluasi pengalaman melalui refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam membuat kesimpulan tentang Implementasi Islam Rahmatan Lil „alamin. Dosen bisa menggunakan evaluasi pengalaman melalui refleksi dengan dua acara berikut: a. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek kepada perwakilan kelompok. Kegiatan refleksi kelompok bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesimpulan tentang Konsep Islam Rahmatan Lil‟alamin, mempraktekan Nilai-nilai Keislaman dalam Keindonesiaan dan menjelaskan tentangTantangan Islam Rahmatan Lil‟alamin? b. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek secara individu kepada masing-masing individu yang dianggap belum aktif dalam proses kegiatan proyek. Kegiatan refleksi individu bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sampaikan kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba anda sampaikan kesimpulan tentang Konsep Islam Rahmatan Lil‟alamin, mempraktekan Nilai-nilai Keislaman dalam Keindonesiaan dan menjelaskan tentangTantangan Islam Rahmatan Lil‟alamin?
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 321 ~ E. Tes Kognitif Individu 3) Petunjuk: a. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. b. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benar salahnya jawaban Anda. c. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang paling benar. d. Soal sebanyak 25 soal dengan bobot setiap soal sebesar 4 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. e. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 4) Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d! 1. Kitab Limadza Ta akhkhara al-Muslimûn wa Limâdza Taqaddama Ghairuhum yang memuat alasan mengapa Islam mundur dibuat oleh… a. Amir Sakib Arsilan b. Ibnu Faris c. Al-Asfahani d. Ja'far bin Abu Thalib 2. Istilah untuk menyebut sebuah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad akan berdampak positif, inklusif, komprehensif dan holistik disebut dengan… a. al-Riqqatu wa al-Ta‟attufi b. Rahmatan lil Alamin c. al-Riqqat al-Mujarradah d. al-Ihsân al-Mujarrad dûna al-Riqqat 3. lslam memiliki varian makna yang diafirmasi oleh al-Qur‟an sendiri. Makna penyerahan diri secara totalitas kepada-Nya terdapat dalam surah… a. Qs. al-Anfal/8:61 b. Qs. al-Hujurat/49:9 c. Qs. Ali Imran/3 : 83 d. Qs. Al-Baqarah/2:208 4. Tokoh yang mempertegas konsep rahmat sebagai belas kasih semata-mata (al-Riqqat al-Mujarradah) dan kebaikan tanpa belas kasih (al-Ihsân al-Mujarrad dûna al-Riqqat) adalah… a. Amir Sakib Arsilan b. Ibnu Faris c. Al-Asfahani d. Ja'far bin Abu Thalib 5. Sumber primer yang merujuk pada persoektif KH. Hasyim Muzadi dalam menelaah gagasan islam Rahmatan lil Alamin adalah…
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 322 ~ a. Islam Rahmatan Lil Alamin menuju keadilan dan perdamaian dunia (perpestik Nahdatul Ulama) b. Islam Rahmatan Lil Alamin menuju keadilan dan peradaban dunia (perspektif nahdatul ulama) c. Islam Rahmatan Lil Alamin menuju ketidakadilan dalam perdamaian dunia (perspektif nahdatul ulama) d. Tidak adanya sumber primer mengenai Islam Rahmatan Lil Alamin 6. Perhatikan poin-poin berikut. i. Beriman kepada Allah dan berpegang teguh dengan keimanan; ii. Menaati Allah dan Rasul-Nya; iii. Mendirikan sholat; iv. Memakmurkan masjid; v. Mengkaji ayat-ayat Allah di masjid; vi. Merasa diri banyak memiliki kekurangan dan berdoa supaya mendapatkan rahmat; vii. Istighfar, taubat, dan memperbaiki diri; viii. Mengikuti Al- Qur‟an dan mendengarkannya dengan seksama; ix. Bertaqwa; x. Berjihad dengan harta dan jiwa; xi. Sabar ketika menghadapi musibah; xii. Tawakkal kepada Allah. Dari 12 poin di atas menjelaskan tentang… a. Mengajarkan mengenai nilai nilai pancasila dalam agama islam b. Mengajarkan mengenai peradaban Islam di Indonesia c. Mengajarkan mengenai nilai-nilai keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas. d. Mengajarkan mengenai Hablun Minalla 7. Islam dengan khas yang memberikan pandangan penting tentang situasi dan kondisi kebangsaaan Indonesia yang dibarengi dengan nilai-nilai keislaman merupakan pengertian dari… a. Nahdatul Ulama b. Muhammadiyah c. Ukhuwah Islamiyah d. Islam Keindonesiaa 8. Perhatikan pernyataan berikut! i. Tidak mendapatkan justifikasi formal layaknya Islam Nusantara yang digeneralisir oleh Nahdatul Ulama. ii. Membentuk karekter dan memberikan pandangan khas terkait nilai ajaran islam. iii. Memberikan padangan penting dalam arus modernisme. iv. Islam Keindonesiaan hanya merupakan refleksi kritis terhadap pemahaman Islam dan Indonesia.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 323 ~ Pernyataan yang menyatakan kelemahan dari Islam keindonesiaan adalah… a. i dan iv b. ii dan iii c. iii dan iv d. i dan ii 9. Al-Riqqatu wa Al-Ta‟attufi dalam Islam memilki arti? a. Kebaikan yang terpadu dalam rasa keibaan b. Kelembutan yang terpadu dalam rasa keibaan c. Kebaikan yang terpadu dalam rasa keyakinan d. Kelembutan yang terpadu dalam rasa keyakinan 10. Dalam konsep Islam Keindonesiaan hal yang paling dikedepankan adalah? a. Ego b. HAM (Hak dan Kewajiban Manusia) c. Toleransi d. Agama 11. Dalam Islam tidak dibenarkan pembunuhan tanpa sebab, bahkan dilarang dan tertulis dalam doktrin suci yaitu surah.. a. Q.S An-Naziat Ayat 32 b. Q.S Al-Ikhlas Ayat 2 c. Q.S Al-Maidah Ayat 32 d. Q.S Al-Maidah Ayat 2 12. Islam yang secara prinsip merupakan khas hasil dari penghayatan dan pemikiran yang sesuai dengan daerah geografis, kebudayaan, kultur, adat dan lain sebagainnya yang mewakili dari Indonesia disebut.. a. Islam Budaya b. Islam Negara c. Islam Moderat d. Islam Nusantara 13. Sebuah prinsip yang mencoba memberikan arti dengan sebuah pemahaman semacam ideologi tanpa kekerasan dalam proses transmisi Islam (Dakwah) merupakan pengertian dari.. a. Islam Budaya b. Islam Moderat c. Islam Nusantara d. Islam Negara 14. Nabi Muhammad diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Hal ini dijelaskan dalam Qur‟an surah.. a. Al-Baqarah:256 b. Al-Anbiya:107 c. Ad-Dzariyat:56 d. Al-Mulk:10 15. Islam sebagai rahmatan lil alamin dapat dilihat dari dua sisi, yang pertama dari ajarannya sedangakan yang kedua terlihat dari..
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 324 ~ a. Figur yang membawanya yaitu Nabi Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan b. Figur yang membawanya yaitu nabi Isa AS yang bisa membangkitkan orang yang sudah mati c. Figur yang membawanya yaitu nabi musa yang bisa membelah lautan d. Figur yang membawanya yaitu nabi yunus yang hidup dalam perut ikan paus selama berhari-hari 16. Di zaman sekarang pengimplementasian pendidikan agama di sekolah sangat kurang dan tidak efektif. Dikarenakan faktorfaktor pembentuknya tidak terpenuhi. Salah satu dari faktor-faktor tersebut ialah.. a. Sikap rispek yang kurang b. Meningkatkan pemahaman guru terhadap peran dan fungsinya c. Tujuan mengenalkan dan menyampaikan informasi agama d. Kognitif yang berlebihan 17. Tantangan kedepan yang sangat nyata yaitu bagaimana menghargai perbedaan agama, ras, suku dan budaya. Sedangkan dalam Al-Qur‟an telah menjelaskan kita hidup teridiri dari berbagai Bangsa-Bangsa. Surah yang menerangkan dan menjelaskan tersebut ialah.. a. Al-Hujurat:13 b. Ibrahim:7 c. Al-Mu'minun:23 d. Yusuf:12 18. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Terjemahan surat di atas merupakan dasar pemikiran nilai konsep rahmatan lil 'alamin yaitu.. a. Keadilan b. Kemanusiaan c. Musyawarah d. Toleransi 19. Dasar dari nilai konsep rahmatan lil 'alamin keadilan terdapat dalam surah… a. Q.S Al-Maidah:8 b. Q.S Al - Hujarat :13 c. Q.S Ali - Imran : 159 d. Q.S At - Tin : 4 20. Berikut ini adalah merupakan elemen dalam egalitarianisme, kecuali.. a. Empati b. Komunikasi c. Pemberdayaan d. Norma
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 325 ~ 21. Firman Allah tentang musyawarah terdapat pada surat.. a. Q.S Ali-Imran, 3:159 b. QS. Ali Imran, 3:149 c. QS. Ali Imran, 3:139 d. QS. Ali Imran, 3:129 22. Keadaan masyarakat yang majemuk juga disebut dengan.. a. Pluralisme b. Toleransi c. Bhinneka d. Multikulturalisme 23. Berikut yang merupakan contoh sikap toleransi, yaitu.. a. Rajin belajar b. Suka menabung c. Menghargai agama lain d. Semua benar 24. Mengambil jalan tengah diantara dua kutub ekstrim yang saling berlawanan, merupan pengertian dari? a. Moderat b. Seimbang c. Adil d. Radikal 25. Berikut ini merupakan hal mendasar dari Gender Awareness, kecuali? a. Apresiasi harga diri b. Pengakuan hak c. Pandangan positif d. Saling Tolong menolong Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 326 ~ RIWAYAT HIDUP PENULIS Arsyadani Mishbahuddin dilahirkan di Rembang (Jawa Tengah) pada tanggal 11 Maret 1987, anak dari pasangan keluarga Drs. Dimhari MZ dan Tri Iriyanti. Pada tahun 2012, ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis bernama Juni Sutrisnawati yang berasal dari Tangsi Duren Kecamatan Kabawetan Kabupaten kepahiang, dan dikaruniai dua orang anak Ahmed Haidar Malik dan Ahmed Hanif Kamaluddin. Pada saat ini Penulis tinggal di kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu. Pendidikan Formal penulis di jalani di SDN Negeri 1 UPT Air Periukan 1 lulus pada tahun (1999), kemudian melanjutkan di SLTP Lasem lulus pada tahun (2002), MAN Lasem lulus tahun (2005), kemudian melanjutkan di S1 Pendidikan Agama Islam di STAIN Bengkulu selesai pada tahun (2010), dan melanjutkan jenjang S2 Pendidikan Agama Islam di STAIN Bengkulu selsai pada tahun (2012). Sejak tahun 2014 menjadi Dosen di Universitas Bengkulu pengampu mata kuliah Agama Islam sampai sekarang. Pada Tahun 2018-2020 di percaya sebagai Koordinator Mata Kuliah Agama Islam di LPMPP Universitas Bengkulu, dan pada tahun 2021 sampai sekarang di angkat menjadi Kepala Pusat Mata Kuliah Umum (MKU) di LPMPP Universitas Bengkulu. Adapun karya ilmiah penulis cukup banyak, bisa dilihat di Google Scholar.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 327 ~ RINGKASAN ISI BUKU Berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 84/E/KPT/2020 Tentang Pedoman Pelaksanaan Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum Pendidikan Tinggi, bahwa mata kuliah Agama adalah salah satu mata kuliah wajib yang ada di Perguruan Tinggi. Mata kuliah Agama sebagai Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) bertujuan untuk membentuk mahasiswa menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan menghargai perbedaan. Kehadiran buku ajar ini membantu menjawab tantangan bahwa buku ajar dapat terintegrasi dengan langkah-langkah metode pembelajaran berbasis proyek yang dituntut dalam Permendikbud RI No. 3 Tahun 2020 dan Kepmendikbud RI No. 3/M/2021. Untuk itu, pengemasan buku ajar mata kuliah Agama Islam (moderasi beragama) ini mengikuti langkah-langkah metode pembelajaran berbasis proyek (Projek Based Learning) mulai dari penguatan materi, kegiatan pembentukan kelompok kerja, pertanyaan proyek, perencanaan proyek, penyusunan jadwal proyek, pengawasan pelaksanaan proyek, penilaian hasil proyek melalui presentasi proyek, evaluasi pengalaman melalui refleksi, dan tes kognitif secara individu. Harapannya buku ajar mata kuliah Agama Islam berbasis moderasi beragama yang disusun berbasis proyek ini dapat membantu dosen dan mahasiswa mencapai luaran yang dituntut dalam capaian pembelajaran lulusan mata kuliah ini. Penyusunan dan pengembangan buku ini, dengan berpedoman pada kurikulum dan rambu-rambu yang ada pada Rancangan Pembelajaran Semester (RPS) pada mata kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Sehingga diharapkan dapat memberikan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan terkait persoalan moderasi beragama dan nilai-nilai kearifan lokal di tinjau dari ajaran agama Islam, serta dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa, dosen dan perguruan tinggi, khususnya dalam pembelajaran mata kuliah Agama Islam.