PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 90 ~ membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasa. (alIsra‟: 7) Artinya:“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (al-Qashash:77). Ihsan adalah seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya. Ihsan juga merupakan puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah SWT. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia guna mencari rahmat dari Allah SWT. B. Konsep Manusia dalam Al-Qur’an Sebagai makhluk yang berakal manusia juga diberi sebutan yang bergengsi yaitu ulu al-albab. “Sebagai penyandang ulu al-albab manusia tidak hanya memiliki sikap ontologis tetapi juga sikap aksiologis. Manusia yang tersusun dari dua unsur, materi dan immateri, jasmani dan rohani. Tubuh manusia berasal dari tanah dan ruh atau jiwa berasal dari substansi immateri di alam gaib. Demikian juga manusia sebagai makhluk terhormat memikul beban “khalifah Allah dan hamba Allah” untuk bisa memperjuangkan hak-hak kemanusiaan dengan menikmati kehidupan dan memperoleh kesejahteraan di dunia ini dengan cara terhormat tidak melampaui batas atau melanggar norma-norma
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 91 ~ hukum, karena salah satu kelemahan manusia adalah melampaui batas (QS.Al-Alaq (96):6). Menurut Ilyas Mustawa, Manusia sebagai makhluk Allah memiliki dua dimensi. Dimensi pertama adalah kelebihan, keagungan dan keutamaan Manusia. Dimensi kedua adalah kelemahankelemahan dan kekurangan manusia. Konsep manusia dalam perspektif ajaran Islam disebutkan dalam Al-Qur‟an surat At-Tiin ayat 4: Artinya: "Manusia adalah makhluk terbaik." Oleh karena manusia harus selalu melakukan kebaikan (amal Shaleh). Menurut Al-Qur‟an manusia terbagi dua. Pertama: sebagai makhluk Religi sebagaimana disebutkan dalam surat Ar-Ruum ayat 30: Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Manusia harus senantiasa mejalankan Dimensi Ubudiyah dalam arti seluruh aspek kehiduan dan kegiatan manusia itu harus bernuansa ibadah (dilandaskan kepada Allah SWT). Kedua: Manusia sebagai makhluk sosial (Zoon Politicon). Jauh sebelum Aristoteles memaparkan teori Zoon Politicon Allah sudah menjelaskan dalam dalam Al-Qur‟an sebagai mana tertera dala surat Al-Imran ayat 110:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 92 ~ Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." Sebagai makhluk sosial seorang manusia harus mengutamakan kepentingan bersama (masyarakat) di atas kepentingan pribadi. Di dalam Al-Qur‟an hal terbaik yang dituntut di bidang ilmu ialah dorongannya kepada manusia supaya berpikir. Dalam ayat-ayatnya tidak terdapat suatu ketetapan yang sifatnya mematikan akal untuk memikirkan kandungannya serta menambah wawasan sedalamdalamnya. Al-Qur‟an dengan wawasannya yang amat luas banyak berbicara tentang manusia, kodrat dan kedudukannya. Penelitian melalui daya nalar dan melalui perenungan yang mendalam terutama manusia sejak ia diciptakan hingga tampak di pentas kehidupan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur‟an QS. AlThariq (86):5 Artinya: Maka hendaklah manusia memperhatikan dari Apakah Dia diciptakan? Ayat di ataspun Allah jawab dalam surat Al-Mu‟minum ayat 12-14 yang berbicara tentang proses penciptaan manusia. Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. al-Mukminun ayat 12-14).
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 93 ~ Manusia yang berasal dari nuthfah atau dari turab dengan proses yang ajaib berubah dewasa dan bertebaran di muka bumi. Manusia yang hadir sebagai makhluk fisika berbeda dengan jin sebagai makhluk metafisika, dalam kehidupannya mendapat predikat “ahsan al taqwim” (dalam bentuk yang sebaik-baiknya) dengan sebutan “Al Hayawan al-Natiq” manusia memiliki keterampilan berpikir dan berbicara yang mampu mengekspresikan dirinya dalam mempertahankan hidup dalam pergaulan. C. Tujuan dan Fungsi Manusia diciptakan Isi kandungan Al-Qur‟an memiliki dua dimensi, yaitu berdimensi vertikal dan horizontal. Pada dimensi vertikal terkandung aturan khusus yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah (bersifat ubudiyah). Sedangkan pada dimensi horizontal, Alquran dengan tegas menekankan hubungan kemasyarakatan (social relation) antara sesama manusia. Pada tatanan dimensi vertikal ini, sifat hukum yang berkaitan dengannya tidak dapat diinterpretasikan di luar konteks praktik Rasulullah, karena pola ibadah mahdah dalam tatanan teoritisnya telah ditentukan oleh Allah, sedangkan tatanan praktisnya telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hal ibadah ini banyak informasi yang diperoleh dari sunnah yang menerangkan tentang hal itu. Pada dimensi horizontal yang mempunyai corak hubungan kemasyarakatan, penerapan hukum yang terkandung dalam Al-Quran bersifat fleksibel. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan budaya dan peradaban manusia senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Muamalah merupakan aktivitas yang bersifat horizontal yang dilakukan manusia dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang disiapkan untuk mampu mengemban amanah-Nya, memakmurkan kehidupan di bumi dan diberi kedudukan terhormat sebagai khalifah-Nya di bumi. Kedudukan istimewa manusia di atas bumi berkaitan erat dengan kekuatan pikiran yang diberikan kepadanya untuk menalar dan menganalisa. Terlebih lagi menerima pedoman dari Allah melalui misi-misi kerasulan yang menunjukkan jalan yang benar. Manusia selain menjadi khalifah di bumi, pada saat yang sama ia juga
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 94 ~ sebagai hamba Allah, ia berkuasa di bumi bukan lantaran haknya sendiri, melainkan sebagai wakil Allah yang mengungguli semua makhluk lain, karenanya ia memikul tanggungjawab dihadapan-Nya. Oleh karena itu kegiatan hidup manusia senantiasa diarahkan supaya mempunyai makna dan bernilai pengabdian (ibadah) kepadaNya. Untuk bernilai ibadah, manusia dalam melaksanakan kegiatankegiatan hidupnya hendaknya selalu menjunjung tinggi pedomanpedoman yang diberikan oleh Allah dalam al- Qur‟an dan petunjukpetunjuk pelaksanaannya yang diberikan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya. Akan tetapi dalil-dalil muamalat (hubungan manusia dengan sesamanya) yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan Al-Sunnah pada umumnya bersifat global (mujmal) dan sedikit sekali yang terperinci dan qat'i, sehingga memiliki banyak peluang untuk melakukan ijtihad hukum yang sesuai dengan kemaslahatan manusia. D. Perbedaan Manusia dengan Makhluk yang lain Manusia pada hakekatnya sama saja dengan makhluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Manusia berjuang untuk meraih tujuan yang ingin dicapai dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan makhluk lain. Menurut ajaran Islam, manusia dibanding dengan makhluk yang lain, mempunyai berbagai ciri antara lain ciri utamanya yaitu: 1. Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Sesuai dengan firman Allah : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya,” (QS. At-Tin: 4) 2. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah. 3. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Tugas manusia untuk mengabdi kepada Allah dengan tegas dinyatakanNya dalam al-Qur‟an surat az-Zariyat ayat 56:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 95 ~ “Tidak Kujadikan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku” (QS. az-Zariyat : 56) 4. Manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur‟an surat al-Baqarah ayat 30 : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?, Tuhan berfirman; “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-Baqarah: 30). 5. Di samping akal, manusia dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak. Dengan akal dan kehendaknya manusia akan tunduk dan patuh kepada Allah, menjadi muslim; tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia tidak percaya, tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak Allah bahkan mengingkarinya (kafir). Karena itu dalam surat Al-Kahfi ayat 29 menyebutkan: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaknya ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir)biarla ia kafir” (QS. al-Kahfi : 29) 6. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 96 ~ “setiap seorang (manusia) terikat (dalam arti bertanggung jawab) terhadap apa yang dilakukannya”. (QS. At-Thur: 21) 7. Berakhlak. Berakhlak merupakan utama dibandingkan dengan makhluk lainnya. Artinya, manusia adalah makhluk yang diberi Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk. E. Konsep Insan Kamil Menurut Khan Sahib Khaja Khan, kata ”insan” dipandang berasal dari turunan beberapa kata. Misalnya ”uns” yang artinya cinta. Sedangkan yang lain memandangnya berasal kata ”nas” yang artinya pelupa, karena manusia hidup di dunia dimulai dari terlupa dan berakhir dengan terlupa. Yang lain lagi berkata asalnya adalah ”ain sin”, ”seperti mata”. Manusia adalah mata, dengan nama Tuhan menurunkan sifat dan asma-Nya secara terbatas. Insan Kamil, karenanya merupakan cermin yang merupakan pantulan dari sifat dan asma Tuhan", yakni Allah SWT. Sedangkan menurut Ibn Araby, ada dua tingkatan manusia dalam mengimani Tuhan. Pertama, tingkat insan kamil. Mereka mengimani Tuhan dengan cara penyaksian. Artinya, mereka "menyaksikan" Tuhan; mereka menyembah tuhan yang disaksikannya. Kedua, manusia beragama pada umumnya. Mereka mengimani tuhan dengan cara pendefinisian, yang berarti mereka tidak menyaksikan Tuhan tetapi mereka mendefinisikan Tuhan, berdasarkan sifat-sifat dan nama-nama Tuhan (Asma'ul Husna). Abdulkarim Al-Jilli membagi insan kamil atas tiga tingkatan. yaitu: 1. Tingkatan permulaan (al-bidāyah). Pada tingkat ini insan kamil mulai dapat merealisasikan asma dan sifat-sifat ilahi pada dirinya. 2. Tingkat menengah (at-tawasuth) Pada tingkat ini insan kamil sebagai orbit kehalusan sifat manusia yang terkait dengan realitas kasih Tuhan. Pengetahuan yang
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 97 ~ dimiliki oleh insan kamil pada tingkat ini telah meninngkat dari pengetahuan biasa. karena sebagian hal-hal yang gaib telah dibukakan Tuhan kepadanya. 3. Tingkat terakhir (al-khitām) Pada tingkat ini insan kamil telah dapat merealisasikan citra Tuhan secara utuh. Ia pun telah dapat mengetahui rincian dari rahasia penciptaan takdir. Insan kamil pada umumnya diartikan sebagai manusia yang sempurna baik dari segi wujud dan pengetahuannya. Kesempurnaan dari segi wujudnya ialah karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama-nama dan sifat Tuhan secara utuh. Adapun kesempurnaan dari segi pengetahuannya ialah karena dia telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi, yakni menyadari kesatuan esensinya dengan Tuhan, yang disebut makrifat. F. Pengaruh Iman, Islam, dan Ihsan dalam Membentuk Insan Kamil Kaum muslimin menetapkan adanya tiga unsur penting dalam agama islam yakni, iman, Islam, dan ihsan sebagai kesatuan yang utuh. Para Ulama mengembangkan ilmu-ilmu Islam guna memahami ketiga unsur tersebut. Kaum muslimin di Indonesia lebih mengenal istilah akidah, syariat, dan akhlak sebagai tiga unsur pokok ajaran Islam. Akidah merupakan cabang ilmu agama untuk memahami pilar iman; syariat merupakan cabang ilmu agama untuk memahami pilar Islam dan akhlak merupakan cabang ilmu agama untuk memahami pilar ihsan. Jika keenam unsur tersebut saling dihubungkan, maka bisa dilihat pada tabel berikut: Hubungan Islam, Iman dan Ihsan dengan Ilmu-ilmu Islam No. Unsur Ilmu Objek Kajian 1. Islam Syariat Lima rukun Islam 2. Iman Akidah Enam rukun iman 3. Ihsan Akhlak Bagusnya akhlak sebagai buah dari keimanan dan peribadatan Sumber: Departemen Agama RI
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 98 ~ Jika manusia sudah mahami arti iman dan juga beriman dengan benar, juga menjalani Islam dan rukun-rukunnya dengan istiqamah. Maka akan lebih mudah bagi mereka untuk memahami makna ihsan, manusia akan mencapai derajat ihsan dengan meningkatkan terus kualitas iman dan Islam dalam dirinya, dengan begitu menjadi insan kamil bukanlah hal yang mustahil baginya. G. Bentuk Kearifan Lokal Suku Serawai di Bengkulu Selatan Di Provinsi Bengkulu terdapat delapan suku asli yaitu: suku Rejang, suku Lembak, suku Serawai, suku Muko-Muko, suku Pekal, Kaur, Basemah dan suku Enggano. Suku pendatang yaitu: Jawa, Bugis, Madura, Minangkabau, Batak, Sunda, Nias dan lain-lain. Suku Serawai sebagai suku asli di Provinsi Bengkulu, kaya akan Kearifan Lokal. Kearifan Lokal suku Serawai yang telah dipedomani dalam kehidupan sehari-hari dari generasi ke-generasi mulai berubah, bahkan banyak yang telah punah. Harus ada usaha serius dan nyata untuk melestarikannya, agar suku Serawai menjadi masyarakat modern tapi tetap memiliki karakter kekhasan budayanya sendiri, seperti suku Sunda di Jawa barat, suku Jawa di Jawa Tengah, suku Bali di Bali dan suku-suku lainnya di Indonesia bahkan mancanegara seperti Jepang, Korea Selatan, Cina dan lain-lain. Ada beberapa bentuk kearifan lokal suku Serawai yang ada di Bengkulu Selatan di antaranya: 1. Kearifan lokal yang berkaitan hubungan dengan sesama a. Melami. Melami adalah tegur sapa. Suku Serawai punya kebiasaan ramah kepada sesama khususnya menyapa tamu atau seseorang bila bertemu. Bila tidak menyapa maka akan dianggap tidak biasa sehingga dapat dianggap bukan suku Serawai atau dapat dianggap sombong. b. Geduak. Geduak adalah sikap sombong. Suku Serawai dari kecil dalam keluarga sudah diajarkan orang tua jangan sombong, apalagi bila berhasil dan sukses maka jangan sombong, karena sikap sombong dilarang dalam masyarakat. c. Jangan nundau keau naik akae (jangan mengajak kera naik akar). Maksudnya jangan memberi contoh atau mengajak sesama apalagi generasi muda berbuat, berucap, bersika atau
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 99 ~ hal-hal lain yang tidak baik dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. d. Ngibue ulu mandian (membuat air keruh di hulu tempat mandi). Suku Serawai biasanya mandi di sungai, jangan membuat keruh air di hulu. Jangan membuat keruh suatu persoalan. Berhati-hati dalam menyikapi persoalan khususnya persoalan dalam masyarakat. e. Gaduah. Maksudnya jangan membuat keributan, dapat juga punya pengertian jangan berlebihan. 2. Kearifan lokal yang berkaitan dengan Tuhan a. Nueuni. Acara syukuran atau terimakasih kepada Pencipta atas berkah panen padi. Acara ini dilaksanakan keluarga hari pertama ketika panen padi. Panen pertama diambil tujuh batang padi, dari tujuh rumpun padi yang ada di sawah yang palak aik (paling hulu) atau padi yang ditanam di sawah yang dialiri air pertama masuk sawah (pintu air). Padi pertama di panen disimpan untuk dicampurkan dengan benih atau bibit untuk tahun berikutnya. Acara ini biasanya memanggil tetangga sawah atau desa untuk makan bersama nasi santan, atau wajik atau lemang tapai secara sederhana. b. Nueni. Nueuni juga punya pengertian adalah memulai njawat (memulai mengerjakan sawah). Suku Serawai biasanya mengerjakan atau memulai mengerjakan secara bersama-sama atau serentak. Sebelum mengerjakan sawah biasanya diawali dengan gotong royong membersihkan siring atas saluran air kemudian nguni (menyemai bibit). 3. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pengembangan diri a. Belaeam (nurut). Maksudnya apabila seseorang ingin berhasil atau maju adalah patuh pada perintah orang tua dan normanorma dalam masyarakat. Rajin dalam bekerja dan mengerjakan apa saja yang dianggap baik oleh keluarga dan masyarakat. Pantang menyerah dalam kesulitan dan tidak ikut-ikutan hal-hal tidak baik. b. Neman atau Benasu (Rajin). Neman punya pengertian bekerja lebih keras atau lebih rajin dari yang biasa. Kalau dulu dipakai untuk ukuran neman adalah kalau laki-laki pemuda, sawahnya bersih dari gulma dan pematang sawahnya rapi serta hasil
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 100 ~ panennya banyak. Kalau pemudi dilihat dari banyaknya kumpulan kayu api, halaman rumah bersih dan batu gilingan cabe bersih. c. Ibau (Ingin). Maksudnya adalah ada keinginan atau komitmen untuk menjadi lebih baik dalam bidang tertentu dengan melihat kemajuan yang dimiliki orang lain. Bukan iri tapi kemajuan orang lain dalam bidang tertentu dijadikan pendorong untuk mencapai dengan bekerja lebih baik untuk mencapai keinginan tersebut. d. Himat (Hemat). Maksudnya adalah suka Serawai diajari dari kecil untuk hemat dapat mengatur ekonomi dengan baik. Setelah panen biasanya sudah dapat menghitung berapa nilai hasil panennya. Seorang petani biasanya sudah tahu berapa banyak padi yang disimpan untuk keperluan sampai panen yang akan datang. Kalau akan menjual padi atau beras untuk keperluan lainnya setelah melalui perhitungan tersebut. 4. Kearifan lokal yang yerkaitan dengan peningktan ekonomi a. Ngawuak. Maksudnya adalah keluarga tidak mampu dapat memperoleh bantuan dari keluarga mampu. Ngawuak ini biasanya berkaitan dengan ternak, kerbau, sapi atau kambing. Keluarga kurang mampu dapat memiliki ternak sesuai dengan kemampuan. b. Nyandau/Megang. Maksudnya gadai biasanya sawah atau kebun. Nyandau berarti seseorang membutuhkan uang menggadaikan sawah atau kebunnya dengan perjanjian tertentu misalnya jangka waktu gadai. Megang maksudnya orang yang memegang gadai. 5. Kearifan lokal yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan a. Pelestarian Ikan. Menangkap ikan menggunakan jala, jaring, pancing, bubu dan taut (sejenis pancing yang memiliki tali sekitar 1,5 meter yang memiliki kail seperti pancing yang ukuran cukup besar, diberi umpan kecil dan diikatkan pada sepotong kayu atau bambu kemudian direndam di sungai yang bagian bambu atau kayunya ditindih dengan batu). b. Rintis. Maksudnya masyarakat sudah mengetahui batas atau hutan lindung. Masyarakat turun temurun sudah mengetahui bahwa hutan lindung perlu dilestarikan tidak boleh digarap atau pohon-pohon tidak boleh ditebang
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 101 ~ Daftar Pustaka Abdullah, Burlinan, (2000). Ragam Perilaku Manusia Menurut Al-Qur‟an, PT Kuala Musi Raharja, Palembang Ali, Mohammad Daud, (1998). Pendidikan Agama Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta Assegaf Abd.Rachman, (2005). Studi Islam Kontekstual, Gama Media, Yokyakarta Al-Qasimi, Muhammad Jamaluddîn. (1986) . Bimbingan untuk Mencapai Tingkat Mu`min: Ringkasan Ihya `Ulumiddîn AlGhazali. (Terjemahan). Bandung: CV Diponegoro. Basyir, Ahmad Azhar, (1984). Falsafah Ibadah Dalam Islam, Perpustakaan Pusat UII, Yokyakarta Bucaille, Maurice, (1992). Asal Usul Manusia Menurut Bibel Al-qur‟an Sains, Mizan, Bandung Departemen Agama RI, (2004). Al-Qur‟an dan Terjemahannya Hasan, Muhammad Tholchah Dihamri. (2016). Kearifan Lokal Suku Serawai di Kabupaten Bengkulu Selatan. Jurnal Georaflesia. Volume 1 Nomor 2 Hadiyanto, Andy, dkk. 2016. Pendidikan Agama Islam Cetakan I. Jakarta : Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.[ONLINE] https://pengkajianpelitahati.wordpress.com/2011/04/2 5/konsep-insan-kamil-ibn-arabi/#_ftn3(08:24/06/072018) Muthahhari, Murtadha, (1992). Perspetif Tentang Manusia dan Agama, Mizan, Bandung, Shihab M.Qurasih, 1996. Wawasan al-Qur‟an, Mizan, Bandung, Sukirin, 1981. Pokok-Pokok Psikologi Pendidikan, FIP-IKIP, Yokyakarta Tafsir, Ahmad, 2006. Filsafat Pendidikan Islam, Remaja Rosadakarya, Bandung Othman, Ali Issa. (1982). Manusia Menurut Al-Ghazali. (Penerjemah Johan Smith & Anas Mahyudin Yusuf). Bandung: Pustaka. Takeshita, Masataka. (2005). Insân Kâmil Pandangan Ibnu `Arabi. Sebuah Disertasi. Surabaya: Risalah Gusti. Rahmat, Munawar. (2010). Pendidikan InsanKamil Berbasis Sufisme Syaththariah. Bandung: ADPISI Press. [ONLINE] https://docplayer.info/36752219-Konsep-insan-kamil-menurut-aljili-oleh-drs-h-aceng-kosasih-m-ag.html(05-07-2018/20:43 Kosasih, Aceng, Makalah: Konsep Insan Kamil Menurut Al-Jilli, 2012) [ONLINE] https://sepcor.blogspot.com/2015/09/imanislamihsan.html?m=1(0 6:41/06/07/2018) H. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan Kelompok Kerja Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut: a. Silakan mahasiswa membentuk kelompok dengan masing-masing
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 102 ~ kelompok beranggotakan 4-6 mahasiswa sesuai arahan dosen. b. Usahakan masing-masing kelompok terdiri atas laki-laki dan perempuan. c. Apabila kelompoknya sudah terbentuk silakan tentukan ketua kelompoknya. d. Ketua kelompok silakan berdiskusi dengan ketua kelompok lainnya menetapkan nama kelompok dengan memilih nama-nama ulama mazhab dalam Islam sesuai arahan dosen. e. Ketua kelompok bersama anggotanya mengatur tempat duduk sesuai arahan dosen. 2. Pertanyaan Proyek Mahasiswa dalam kelompok diberikan pertanyaan dan tugas oleh dosen secara lisan sebagai berikut. a. Tentunya setelah membaca materi penguatan tentang Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil), para mahasiswa yang hebat sudah tahu apa saja pengertian Iman, Islam Dan Ihsan bukan? b. Apabila sudah tahu, sekarang silakan secara berkelompok menyimpulkan tentamg Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil) 3. Perencanaan Proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masingmasing kelompok sebagai berikut. a. Kesimpulan tentang Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil) b. Sumber referensi dalam membuat kesimpulan yaitu minimal bersumber dari buku ajar dan beberapa sumber referensi lain usahakan diperoleh dari e-book, jurnal, dan prosiding yang bisa dilacak c. Silakan setiap kelompok dalam membuat kesimpulan berpedoman pada penulisan artikel ilmiah kajian pustaka dengan sistematika berikut: 1) Judul Tulisan, Nama, Npm, dan Email Mahasiswa Contoh: Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil) Oleh Rani Akmalinda (NPM A1A019001) Email: [email protected] Acep Ramadani (NPM A1A019009) Email: [email protected]
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 103 ~ 2) Abstrak Gunakan format IMRAD (Introduction, Method, Result & Discussion) yang diakhiri kata kunci. Abstrak maksimal 250 kata dan minimal 150 kata. 3) Pendahuluan Pendahuluan sebaiknya memuat beberapa unsur berikut: a. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan teori dan penelitian relevan. b. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas menurut kebijakan. c. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan hasil pengamatan, observasi, atau wawancara. d. Menjelaskan pemetaan tentang tulisan sebelumnya baik dari jurnal atau prosiding yang belum menulis tentang kajian yang akan dibahas. e. Menjelaskan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan. 4) Metode Penulisan Jelaskan metode penulisan yang digunakan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Kemudian, jelaskan sumber data tulisan yang diperleh dari buku, jurnal, prosiding, atau lainnya. Jelaskan juga teknik analisis data yang digunakan membuat formulasi permasalahan, mencari literature, evaluasi data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data. 5) Pembahasan Pembahasan berusaha membandingkan dan menghubungkan konsep-konsep tentang kajian yang akan dibahas sehingga ditemukan kesimpulan yang terbaik. 6) Simpulan dan Saran Simpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sebagai jawaban akhir dari pembahasan yang bersumber dari gabungan pendapat dari pakar yang dikutip. Sedangkan saran menyampaikan saran kepada pihak yang menerima kontribusi terhadap tulisan ini yaitu mahasiswa dan dosen. 7) Daftar Pustaka Gunakan format American Psychologycal Association 7 (APA 7) yang bersumber dari buku, jurnal, dan prosiding. Contoh pengutipan dan penulisan daftar putaka menggunakan APA 7 dapat dilihat pada laman berikut https://edutecion.com/apa-style-edisi-7/. d. Kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka menggunakan aturan penulisan berikut: 1) kertas A-4; 2) jenis tulisan Times New Roman; 3) spasi 1,5; 4) margin kiri 3, kanan 2,5, atas 2,5, dan bawah 2,5;
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 104 ~ 5) kutipan tidak langsung; dan 6) penulisannya menggunakan bodynote. 4. Penyusunan Jadwal Proyek Proyek menulis kesimpulan dan bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No. Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil) 20 2. Menyusun kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 60 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 20 4. Mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi sesuai petunjuk dosen. 10 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 40 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 360 Total Waktu 510 5. Pengawasan Pelaksanaan Proyek Pengawasan pelaksanaan proyek dilakukan oleh dosen bisa dengan menggunakan lembar pengamatan penilain sikap berikut: No. Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan Ya Tidak 1. Mahasiswa dalam kelompok aktif mencari referensi sebagai bahan membuat kesimpulan. 2. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 3. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 4. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi. 5. Mahasiswa dalam kelompok aktif dan kritis dalam mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 105 ~ 6. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif dalam kegiatan diskusi panel. 7. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 8. Mahasiswa dalam kelompok menulis membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti sistematika dan aturan penulisan yang sudah ditetapkan. Jumlah Jawaban Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut: 6. Penilaian Hasil Proyek melalui Presentasi Proyek Penilain hasil proyek atau produk membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah hasil kajian pustaka bisa menggunakan format penilaian berikut: No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Sistematika penulisan. 1-15 2. Isi tulisan berkaitan dengan kekuatan argumentasi 1-30 3. Penggunaan ejaan (penulisan huruf, tanda baca, kata, dan unsur serapan) dan tata bahasa (kalimat dan paragraf). 1-20 4. Aturan penulisan berkaitan dengan kutipan dan format tulisan. 1-15 5. Tingkat keorisinalan tulisan dari hasil cek similaritas atau cek plagiasi. 1-20 Total Nilai 100 7. Evaluasi Pengalaman melalui Refleksi Tahap evaluasi pengalaman melalui refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam membuat kesimpulan tentang Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil). Dosen bisa menggunakan evaluasi pengalaman melalui refleksi dengan dua acara berikut. a. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek kepada perwakilan kelompok. Kegiatan refleksi kelompok bisa dengan dua pertanyaan berikut:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 106 ~ 1) Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2) Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesimpulan tentang Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil)! b. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek secara individu kepada masing-masing individu yang dianggap belum aktif dalam proses kegiatan proyek. Kegiatan refleksi individu bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1) Coba anda sampaikan kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2) Coba anda sampaikan kesimpulan tentang Integrasi Iman, Islam dan Ihsan Membentuk Manusia Seutuhnya (Insan kamil)! I. Tes Kognitif Individu 1. Petunjuk: a. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. b. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benar salahnya jawaban anda. c. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang paling benar. d. Soal sebanyak 10 soal dengan bobot setiap soal sebesar 10 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. e. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 2. Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d! 1. Perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah sebagai berikut, kecuali.. a. Manusia diciptakan tuhan untuk menjadi khalifah-Nya di bumi b. Manusia diciptakan tuhan untuk menjadi pemimpin dan penguasa di bumi c. Manusia memiliki akal, perasaan dan kemauan d. Manusia berakhlak 2. “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaknya ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir)biarla ia kafir.” Arti dari ayat tersebut adalah arti dari surat..ayat.. a. At-Thur : 21 b. Al-Kahfi : 19 c. Al-Kahfi : 29 d. At-Thur : 29
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 107 ~ 3. Salah satu kelemahan manusia yang disebutkan dalam QS. Al Alaq (96):6)… a. Tidak bisa terbang b. Angkuh c. Tidak percaya diri d. Melampaui batas 4. “Manusia adalah makhluk terbaik.” Oleh karena itu manusia harus selalu melakukan kebaikan (amal shaleh). hal ini dijelaskan dalam Qur‟an surat.. a. At Tiin ayat 4 b. At Tiin ayat 5 c. At Tiin ayat 10 d. Ar Ruum ayat 30 5. Dimensi apa saja yang terdapat dalam isi kandungan Al-Quran…. a. Vertikal dan horizontal b. Intrinsik dan Ektrinsik c. Alas dan tinggi d. Internal dan eksternal 6. Dimensi yang dimiliki oleh isi kandungan mengatur hubungan antara.. dan.. a. Hubungan kemasyarakatan dan social relation b. Manusia dengan Allah dan hubungan kemasyarakatan c. Habluminallah dan hubungan dengan alam d. Hubungan manusia dengan alam dan tumbuhan 7. Apa yang dimaksud dengan ihsan dalam Islam.. a. Kewajiban dasar dalam Islam b. Konsep tentang pertolongan Allah c. Berbuat baik dan beribadah dengan penuh ketulusan d. Kepatuhan kepada aturan agama 8. Dalam ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam teks, mengapa Allah mengingatkan bahwa jika seseorang berbuat baik, itu adalah untuk dirinya sendiri.. a. Agar orang berhenti berbuat baik kepada orang lain b. Untuk menunjukkan bahwa berbuat baik hanya untuk kepentingan pribadi c. Agar orang memahami bahwa tindakan baik memiliki dampak positif pada diri sendiri d. Hanya sebagai peringatan saja 9. Mengapa ihsan dianggap sebagai puncak ibadah dalam Islam.. a. Karena hanya orang saleh yang bisa melakukannya b. Karena itu adalah syarat untuk masuk surga c. Karena ihsan mencakup beribadah dengan sungguh-sungguh dan berbuat baik kepada sesama d. Karena itu adalah perintah langsung dari Rasulullah SAW.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 108 ~ 10. Bagaimana Rasulullah SAW mengaitkan ajarannya dengan mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.. a. Dia mengajarkan untuk menghindari akhlak baik b. Dia tidak mengaitkan ajarannya dengan ibadah atau akhlak c. Dia menekankan pentingnya beribadah saja d. Dia mendorong umatnya untuk beribadah dengan sungguhsungguh dan memiliki akhlak yang mulia. 11. Ayat yang menjelaskan tentang setiap manusia harus bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan terdapat pada surah.. a. Al-Anbiya‟ ayat 47 b. At-Thur ayat 21 c. Al-Isra‟ ayat 13 d. Al-Isra‟ ayat 14 12. Arti dari ayat diatas adalah.. a. Membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah b. Setiap orang terikat terhadap apa yang dilakukannya c. Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui d. Barangsiapa yang ingin beriman hendaknya beriman 13. Allah SWT berfirman agar manusia beriman kepada-Nya terdapat pada Qur‟an surah.. a. QS. An-Nisa: 136 b. QS. Al-Insyirah: 2 c. QS. An-Nisa: 23 d. QS. Al-Baqarah: 255 14. Sesungguhnya Allah telah memberikan potensi pada setiap manusia untuk bertuhan dan mengabdi hanya kepada Allah, yang disebut.. a. Fitrah suci b. Fitrah kepada Allah SWT c. Fitrah Tauhid d. Fitrah intelektual 15. Manusia diciptakan Allah dengan bentuk yang paling unik, hal itu terfirman dalam surat.. a. Surat At-Tin ayat 4 b. Surat At-Takasur ayat 2 c. Surat Az-Zariyat ayat 56 d. Surat Al-Insyirah ayat 1 16. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Tugas manusia untuk mengabdi kepada Allah dengan tegas dinyatakanNya dalam Al-Qur‟an pada surat apa dan ayat ke.. a. Surat At-Tin ayat 5 b. Surat Al-Ikhlas ayat 2 c. Surat Az-Zariyat ayat 56 d. Surat Al-Falaq ayat 3
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 109 ~ 17. Apa yang bisa dilakukan seseorang untuk meningkatkan ikhtiar insani mereka.. a. Bergantung sepenuhnya pada takdir b. Menyia-nyiakan waktu dan peluang c. Belajar, berusaha, dan berencana dengan bijak d. Berdoa tanpa tindakan 18. Apakah yang dijelaskan oleh hadist di atas.. a. Konsep islam b. Konsep Ihsan c. Konsep iman d. konsep tauhid 19. Jauh sebelum Aristoteles memaparkan teori Zoon Politicon Allah SWT. sudah menjelaskan dalam dalam Al-Qur-an di surah.. a. Al-Baqarah b. An-Nisa c. Al-Kafirun d. Ali-Imran 20. Arti Surah Al Quran QS. Al-Thariq Ayat ke 5 adalah.. a. Maka hendaklah manusia memperhatikan dari mana ia diciptakan b. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah c. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia d. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah 21. Petunjuk halus yang membawa atau menyampaikan kepada apa yang dituju atau diingini disebut dengan.. a. Iman b. Ihsan c. Ikhtiar d. Hidayah 22. Ayat Al-Qur‟an yang menjelaskan tentang fitrah tauhid adalah.. a. Q.S An-Nisa : 136 b. Q.S Al-A‟raf : 172 c. Q.S Al-Qashas : 56 d. Q.S Ar-Ruum : 30 23. Apa kesimpulan umum yang dapat diambil dari definisi “insan kamil” dalam teks di atas? a. Insan kamil adalah manusia yang tidak memiliki kekurangan fisik. b. Insan kamil adalah manusia yang mengimani Tuhan melalui definisi sifat-sifat Tuhan.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 110 ~ c. Insan kamil adalah manusia yang mencapai tingkatan kesempurnaan wujud dan pengetahuan. d. Insan kamil adalah manusia yang tidak memiliki ketidak sempurnaan apa pun. 24. Trilogi Iman-Islam-Ihsan dapat disebut juga.. a. Percaya-Agama-Yakin b. Akidah-Agama-Akhlak c. Akidah-Ibadah-Akhlak d. Percaya-Ibadah-Yakin 25. Menurut Ibn Araby, apa yang membedakan tingkat manusia yang mengimani Tuhan dengan cara penyaksian (insan kamil) dan manusia beragama pada umumnya? a. Insan kamil memiliki pengetahuan biasa b. Manusia beragama pada umumnya mendefinisikan Tuhan berdasarkan sifat-sifat dan nama-nama Tuhan c. Insan kamil menyembah tuhan yang disaksikannya d. Semua di atas Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 111 ~ BAB V Membangun Paradigma Qurani dalam Menghadapi Perkembangan Sains dan Teknologi Modern Sub-CPMK-5 Pertemuan ke-7: Mampu menjelaskan paradigm Qurani dalam menghadapi perkembangan sains dan teknologi modern Gambar 5.1 Membangun paradigm Qurani dalam menghadapi perkembangan sains dan teknologi modern Sumber: https://m.lampost.co/berita-iptek-dalam-perspektif-islam.html A. Konsep dan Karakteristik Paradigma Qurani dalam Menghadapi Modernisasi Modernisasi secara etimologis berasal dari bahasa latin modo danernus. Modo artinya cara sedangkan ernus berarti menunjuk pada adanya periode waktu masa kini. Pada dasarnya modernisasi mencakup suatu transformasi keseluruhan kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola pola ekonomi dan politik yang menjadi ciri negaranegara barat yang stabil. Modernisasi merupakan bentuk perubahan sosial. Biasanya merupakan perubahan sosial yang terarah (directedchange) yang didasarkan pada perencanaan (planned-change). Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia, modernisasi adalah hal atau tindakan yang menjadikan modern.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 112 ~ Karakteristik umum modernisasi menyangkut aspek-aspek sosio-demografis masyarakat dan sosio-demografis sendiri digambarkan dengan istilah gerak sosial (social mobility). Artinya suatu proses unsur-unsur sosial ekonomis dan psikologis mulai menunjukkan peluang ke arah pola-pola baru melalui sosialisasi dan pola-pola perilaku. Kemudian dari aspek struktural organisasi sosial diartikan sebagai unsur-unsur dan norma-norma kemasyarakatan yang terwujud apabila manusia mengadakan hubungan dengan sesamanya di dalam kehidupan bermasyarakat. Perubahan struktural menyangkut lembaga-lembaga kemasyarakatan, norma-norma, lapisan sosial, hubungan-hubungan, dan sebagainya. Sehingga modernisasi merupakan perubahan sosial yang kompleks yang menyangkut proses disorganisasi, problema-problema social, konflik antar kelompok, hambatan hambatan terhadap perubahan, dan sebagainya. Modernisasi menurut Endang Saifuddin Anshari (1990: 230) adalah: Suatu proses aktivitas yang membawa kemajuan yakni perubahan dan perombakan secara asasi mengenai susunan dan corak suara masyarakat dari statis ke dinamis, dari tradisional ke rasional, dari feodal ke kerakyatan dan lain sebagainya dengan jalan mengubah cara berpikir masyarakat sehingga dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi dalam aparat dan tata cara semaksimal mungkin. Menurut Wilbert E.Moore yang dikutif oleh Soerjono Soekanto (1982: 357) modernisasi itu pada dasarnya mencakup suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam arti teknologi secara organisasi/sosial kerah pola-pola ekonomis dan politis yang menandai negara-negara barat yang stabil. Pandangan Wilbert ini akan mempengaruhi sistem nilai sebagai faktor utama lahirnya kapitalisme barat. Disisi lain faham kapitalis yang tumbuh di negara-negara berkembang secara rapat menumbuhkan sikap teralistis dan konsumeris. Lebih lanjut Soejono Soekanto mengemukakan modernisasi adalah: Suatu bentuk dari perubahan sosial, yang biasanya merupakan perubahan sosial yang terarah (directed change) yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasanya dinamakan “Sosial Planing”.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 113 ~ Modernisasi merupakan suatu persoalan masyarakat yang bersangkutan, yang menyangkut proses disorganisasi, problemproblem sosial, konflik antar kelompok, hambatan-hambatan terhadap perubahan dan sebagainya. Dengan demikian dapat diambil beberapa indikator individu modern yaitu: 1. Melihat kedepan bukan kebelakang 2. Memiliki sikap dinamis dan aktif, bukan sikap menunggu 3. Memberikan perhatian khusus pada waktu, terutama kepada ruang bagi rasionalitas, bukan kepada perasaan-perasaan atau asumsi-asumsi 4. Mengembangkan suatu sikap yang terbuka terhadap pemikiran dan hasil-hasil penemuan ilmiah 5. Memberikan perioritas pada hal-hal yang telah dicapai oleh seseorang, bukan kepada statunys yang diakui. 6. Memberikan perhatian yang terbesar kepada persoalan-persoalan langsung yang lebih konkrit dan yang lebih mendunia. 7. Melibatkan dirinya kepada tujuan-tujuan yang mengatasi tujuan-tujuan golongan. Menurut Soerjono modern haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Cara berpikir yang ilmiah (scientific thingking) yang melembaga dalam kelas penguasa maupun masyarakat. Hal ini menghendaki sistem pendidikan dan pengajaran yang terencana dan baik. 2. Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi. 3. Adanya sitem pengumpulan data yang baik, dan teratur dan terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu. Hal ini memerlukan penelitian yan kontinyu agar data tidak tertinggal. 4. Penciptaan iklim yan favorable dari masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa. 5. Tingkat organisasi yang tinggi, di satu pihak berarti disiplin, dipihak lain berarti pengurangan kemerdekaan. 6. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan perencanaan sosial (social planning). Apabila itu tidak kita lakukan, perencanaan akan terpengaruh oleh kekuatan-kekuatan dari kepentingan-kepentingan yang ingin mengubah perencanaan tersebut demi kepentingan suatu golongan kecil dalam masyarakat. Sedangkan menurut Jock Young yang dikutip Nurholis menjadi ciri mendasar masyarakat modern industrial adalah 1. Kesenangan yang tertunda 2. Perencanaan kerja atau tindakan masa datang 3. Tunduk pada aturan-aturan birokrasi 4. Kepastian, pengawasan yang banyak kepada detail sedikit kepada pengarahan 5. Rutin dapat diramalkan,
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 114 ~ sikap instrumental kepada kerja 6. Kerja keras yang produktif dinilai kebaikan. Dalam sudut pandang psikologis teori modernisasi menekankan pada faktor internal dan motiv psikologi sebagai motor pengerak “kebutuhan untuk prestasi”, keinginan untuk menjalankan sesuatu dengan baik, motivasi berkembang dalam transisi ke modernitas melalui sarana pendidikan. Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat juga kita sadari telah merenggut beberapa kebudayaan, etika, moral dan karakteristik serta perilaku bangsa bahkan para pemuda dan anak-anak yang masih sangat labil ikut terimbas oleh laju arus globalisasi, modernisasi dan akses informasi dan menaruh harapan pada generasi untuk masa mendatang tentu tidak akan mendiamkan hal tersebut terjadi begitu saja, maka bagaimana agar generasi kita mampu menyikapi gelombang modernisasi yang sedemikian cepat, dan yang terpenting adalah bagi generasi mendatang mampu memanfaatkan era globalisasi dan modernisasi secara positif dan komperhensif. B. Membangun Paradigma Qur’ani Paradigma menurut Heddy Shri Ahimsa Putra adalah seperangkat konsep yang secara logis berkaitan antara satu sama lainnya dan membentuk suatu kerangka pemikiran (frame of thinking) yang digunakan untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan realitas atau permasalahan yang dihadapi. Paradigma Al-Qur‟an bagi Kuntowijoyo adalah mode of knowing atau sebuah konstruksi pengetahuan yang berisi konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dimaksudkan agar seseorang muslim dapat memahami realitas sebagaimana Al-Qur‟an memahaminya. Dalam paradigma Al-Qur‟an, petunjuk wahyu Al-Qur‟an menjadi sumber pengetahuan yang paling fundamental melengkapi doktrin rasionalisme yang terbatas pada hal-hal yang logis menurut penalaran dan doktrin empirisme yang bertumpu pada yang real melalui pengamatan indrawi. Dengan demikian, wahyu Al-Qur‟an menempati peran sebagai salah satu pembentuk konstruk pemahaman mengenai realitas dan memberikan arahan kepada hati, pikiran dan tindakan seorang muslim.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 115 ~ Berangkat dari riwayat Ibnu Mas‟ud bahwa Al-Qur‟an adalah sumber segala ilmu pengetahuan baik ilmu-ilmu generasi terdahulu maupun generasi mendatang, maka sudah semestinya khazanah ilmu pengetahuan tersebut dapat diekstrak dari Al-Qur‟an melalui perenungan-perenungan mendalam yang kerap disebut dengan tadabur atau tafakur. Ibnu Mas‟ud ra. meriwayatkan: Artinya: Barang siapa yang menginginkan ilmu dari generasi terdahulu sampai pada generasi yang mendatang, maka hendaknya menadaburkan al-Qur‟an. Al-Qur‟an menurut Kuntowijoyo berisi dua bagian, yakni bagian konsep-konsep (ideal type) dan bagian kisah-kisah historis dan perumpamaan-perumpamaan atau amsal (arche type). Muatan konsep-konsep yang terdapat dalam Al-Qur‟an menurut Kuntowijoyo dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu konsep yang bersifat abstrak maupun yang bersifat konkret. Misalnya saja konsep tentang Allah, tentang akhirat, tentang ma‟ruf dan munkar merupakan konsepkonsep yang bersifat abstrak, sementara konsep yang bersifat konkret seperti konsep fuqara‟ (orang-orang fakir), dhu‟afa (golongan lemah), zalimun (para tiran), mufsidun (pelaku koruptor) adalah fenomena-fenomena konkret yang dapat diobservasi. Pada bagian konseptual (ideal type) ini , Kuntowijoyo mengajak setiap muslim agar memiliki pemahaman mendalam dan komprehensif tentang nilai-nilai Al-Qur‟an sebagai weltanschauung atau pandangan dunia-nya. Sementara pada tataran kisah-kisah historis dan amsal merupakan ajakan tafakur untuk memperoleh hikmah (wisdom) melalui perenungan terhadap peristiwa-peristiwa historis dan metaforametafora (amsal) yang dikisahkan di dalam Al-Qur‟an. Paradigma menjadi sebuah konsep popular yang dibicarakan oleh Thomas S. Khun. Istilah seperti kerangka teoritis (theoretical framework), kerangka konseptual (conceptual framework), kerangka pemikiran (frame of thinking), orientasi teoritis (theoretical orientation), sudut pandang (perspective), atau pendekatan (approach) memiliki pengertian yang kurang lebih sama dengan paradigma. Heddy Shri Ahimsa Putra mendefenisikan paradigma sebagai seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 116 ~ sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan atau masalah yang dihadapi. Sehingga dapat dimengerti bahwa paradigma Al-Qur‟an yang dimaksudkan oleh Kuntowijoyo berarti suatu konstruksi pengetahuan yang memuat konsep-konsep dan saling terkait satu sama lainnya yang memungkinkan realitas dipahami sebagaimana Al-Qur‟an memahaminya. Kuntowijoyo dalam hal ini mengandaikan rumusan teoritis (wawasan epistomologis) dan gambaran aksiologis yang dapat dijadikan sebagai pijakan awal dalam bertindak untuk mencapai cita-cita kemanusiaan. Kuntowijoyo melihat bahwa para intelektual Islam masih terjebak pada wilayah normatif dan belum melangkah pada pengembangan norma-norma menjadi kerangka-kerangka teori ilmu teoritis. Sebagai contoh, para penafsir memahami konsep fuqara dan masakin dengan tafsiran moral dan berujung pada kesimpulan bahwa kaum fakir dan miskin patut dikasihani dan diwajibkan untuk diberi zakat, infaq maupun sedekah kepada mereka. Dengan pendekatan teoritis, kaum fakir dan miskin sudah selayaknya diperjuangkan dengan memahami konsep tentang fakir dan miskin pada konteks yang lebih real, lebih faktual, sesuai dengan kondisi-kondisi sosial, ekonomi maupun kultural. Kuntowijoyo dalam hal ini, menawarkan umat Islam umumnya dan intetelektual muslim Islam khususnya terbiasa dengan analisis sosial untuk mengembangkan konsep-konsep dalam AlQur‟an. Dialektika penafsir dengan Al-Qur‟an menciptakan pelbagai pendekatan yang ditawarkan dalam jagad raya ilmu tafsir. Kuntowijoyo dengan semangat progresifnya menawarkan pendekatan sintetik-analitik. Pendekatan ini manganggap bahwa pada dasarnya kandungan Al-Qur‟an terbagi menjadi dua bagian sentral, bagian pertama berisi konsep-konsep dan bagian kedua memuat kisah-kisah sejarah dan amtsal (perumpamaan). Dalam bagian pertama, didapati sejumlah istilah Al-Qur‟an yang merujuk pada pengertian-pengertian normatif yang khusus, doktrin-doktrin etik, aturan-aturan legal, dan ajaran keagamaan pada umumnya, baik itu konsep yang telah dikenal komunitas Arab saat Al-Qur‟an diturunkan maupun konsep etikoreligius yang ingin diperkenalkan. begitu pula, konsep yang bersifat
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 117 ~ abstrak seperti Allah, Malaikat, akhirat maupun konsep yang bersifat konkret dan dapat diamati (observable) seperti konsep fakir dan miskin, mustad‟afin (kelas tertindas), mustakbirun (penguasa), mufsidun (koruptor) dan sebagainya. Bagian pertama bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif atau Weltanschaung (pandangan dunia) mengenai nilai-nilai ajaran Islam. Sedangkan dalam bagian kedua yang berisi kisah-kisah historis dan amtsal, Al-Qur‟an ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh wisdom (hikmah) baik yang tersurat maupun yang tersirat. Jika dalam bagian konseptual diperkenalkan pelbagai ideal-type tentang konsep-konsep, maka dalam bagian yang berisi kisah dan amtsal kita diajak untuk mengenali arche-type tentang kondisi-kondisi yang universal, misalnya kisah kesabaran Nabi Ayyub, kezaliman Fir‟aun, perjuangan pembebasan Nabi Musa dan lain sebagainya. Pemahaman pesanpesan Al-Qur‟an dengan cara ini, disebut oleh Kuntowijoyo sebagai pendekatan sintetik, dengan mensitesiskan penghayatan dan subjektivitas penafsir dengan ajaran normatif Al-Qur‟an yang bersifat objektif yang memunculkan transformasi psikologis penafsir sampai pada tahap transformasi kemasyarakatan. Pendekatan sintetik-analitik yang dimaksudkan Kuntowijoyo adalah menganalisis konsep-konsep normatif Al-Qur‟an menjadi sebuah konstruk teoretis kemudian diterjemahkan pada level objektif di masyarakat yang tentunya dapat diamati (observable). Elaborasi terhadap konstruk teoritis Al-Qur‟an inilah yang pada akhirnya merupakan Qur‟anic theory building yang memunculkan paradigma Al-Qur‟an. Dan dengan paradigma inilah menurut Kuntowijoyo dapat difungsikan sebagai perspektif Al-Qur‟an dalam rangka memahami realitas. Cita-cita transformasi sosial dengan pendekatan sintetikanalitik Kuntowijoyo memiliki kesamaan dengan model tafsir transformatifnya Moeslim Abdurrahman dengan penelusuran pada tiga wilayah interpretasi, yakni: (1) memahami konstruk sosial. (2) membawa konstruk itu berhadapan dengan interpretasi teks (AlQur‟an), dan (3) hasil penghadapan konstruk sosial dan model ideal teks diwujudkan dalam aksi transformasi sosial. Setelah paradigma al-Quran dirumuskan, lebih lanjut Kuntowijoyo menawarkan pendekatan alternatif yaitu Strukturalisme
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 118 ~ transendental yang dimaksudkan sebagai pisau analisa dalam memahami realitas. Tentu saja dengan adanya pengakuan mengenai adanya ide murni yang sumbernya berada di luar diri manusia yaitu “wahyu”, atau suatu konstruk tentang struktur nilai-nilai yang berdiri sendiri dan bersifat transendental. Kuntowijoyo menegaskan dalam hal ini bahwa Al-Qur‟an harus dipahami sebagai sebuah bangunan ide yang transcendental, sebuah orde, atau system yang otonom dan sempurna. Dan di sisi lain, Al-Qur‟an juga dapat dianggap sebagai suatu dokumen historis karena hampir setiap pernyataannya mengacu kepada peristiwa-peristiwa aktual sesuai dengan konteks sejarahnya ketika ia diturunkan. Namun, menurut Kuntowijoyo pesan utama Al-Qur‟an sejatinya bersifat transcendental, dalam arti melampaui zaman. Menyikapi hal ini, dengan metode struktur transcendental Kuntowijoyo, diandaikan sebagai metode yang mampu mengangkat atau mentransendensikan teks Al-Qur‟an dari konteksnya, yaitu dengan mentransendensikan makna tekstual dari penafsiran kontekstual berikut bias-bias historis tertentu akibat keterbatasan situasi historisnya. Kuntowijoyo juga menyatakan kekhawatirannya kepada para penafsir yang dibatasi oleh segala warisan historis umat Islam klasik. Meski membantu dalam memperkaya perspektif namun perspektif ataupun penafsiran tertentu tak lepas dari bias-bias karena keterbatasan historisnya. Pernyataan Kuntowijoyo juga mengindikasikan kemungkinan terjebak pada bias-bias kontemporer, namun Kuntowijoyo menganggap bahwa bias-bias kontemporer bersifat positif dalam meneropong masa ketika Al-Qur‟an diturunkan. Kuntowijoyo dalam hal ini mengindahkan penafsiran kontekstual, mengingat Al-Qur‟an tak lepas dari konteks historis yang mengikatnya atau dalam bahasa Nashr Hamid Abu Zaid, sebagai produk budaya (muntaj al-saqafi). Begitu juga dengan defenisi yang dirumuskan oleh tokoh hermeneutika liberatif Farid Esack yang memaknai Al-Qur‟an sebagai wahyu yang diturunkan dalam rangka merespon berbagai peristiwa yang terjadi. Sedangkan Ali al-Wardi menganggap bahwa mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah transformasi sosial (islah al-ijtima‟i) dalam memerangi segala bentuk ketidakadilan, eksploitasi dan kebangkrutan etika kemanusiaan. Al-Wardi lebih lanjut mengkritisi doktrin I‟jaz Al-Qur‟an pada keindahan bahasa dan sastra
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 119 ~ Al-Qur‟an dan mengabaikan nilai-nilai substantif atau pesan di balik teks. Sebab sejatinya wahyu Al-Qur‟an berdialog sesuai dengan bahasa dan kapabilitas keilmuan Arab semasa Al-Qur‟an diturunkan. Budaya tekstualitas, pemujaan metodologi tafsir klasik dan pengabaian realitas empiris menjadi kegelisahan tersendiri bagi alWardi. C. Urgensi Paradigma Qurani dalam Menghadapi Modernisasi Membentuk Manusia Berparadigma Qur’ani Imam Al-Ghazali (w. 505 H.) berpandangan bahwa jumlah total ilmu pengetahuan dalam Al-Qur‟an adalah sebanyak 77.200 ilmu, sebab setiap kata (lafaz) dari Al-Qur‟an terhitung satu ilmu pengetahuan dan jumlah itu masih bisa berlipat ganda mengingat setiap ayat dari Al-Qur‟an memiliki empat tingkatan makna, yakni makna lahiriah, batin, hadd, dan muttala‟. Dari ayat-ayat afaqiyah dan anfusiyah yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an, selanjutnya dapat dirumuskan ke dalam kerangka-kerangka teori ilmu teoretis. Ilmu-ilmu kealaman, aritmetika, geometri, geometri, astronomi, kedokteran, optika, musik misalnya merupakan penjabaran dari tadabur Al-Qur‟an tentang ayat-ayat afaqiyah. Sementara ilmu biologi manusia, antropologi dan psikologi adalah di antara cabang pengetahuan yang dihasilkan dari tadabur ayat-ayat anfusiyah. Demikian juga, produksi pengetahuan ilmu ilmu-ilmu syariat semisal ilmu tauhid, ilmu kalam, fikih, usul fikih, ilmu Al-Qur‟an dan tafsir, bahasa dan sastranya, tasawuf dan disiplin ilmu lainnya dapat dilakukan melalui tadabur ayat-ayat qauliyah (Al-Qur‟an). Dengan demikian, menjadi ahli AlQur‟an juga berarti manjadi ilmuwan yang menguasai sekian banyak ilmu pengetahuan. Islam berkepentingan mendidik generasi umatnya menjadi manusia literat dan ilmuwan. Asumsi demikian didukung oleh fakta sebagai berikut: (1) kewajiban menuntut ilmu pengetahuan bagi setiap muslim, (2) kenyataan ayat pertama yang diturunkan adalah perintah untuk membaca (iqra‟), (3) terdapat 300 ayat Al-Qur‟an yang berisi tentang aktivitas penalaran, tadabur dan tafakur, (4) aksioma bahwa mukjizat terbesar Baginda Nabi SAW. adalah Al-Qur‟an yang bersifat rasional, (5) banyaknya jumlah hadis baginda Nabi Saw. yang menekankan pentingnya tafakur yang melampaui kualitas ibadah-
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 120 ~ ibadah lainya, (6) terdapat sekian banyak ilmuwan terkenal dan penemu-penemu dunia muslim, misalnya Ibnu Sina, Ibnu Haitsam, Jabir bin Hayyan, al-Khawarazmi dan deretan nama lainnya yang memiliki pengaruh besar terhadap peradaban dunia. Alasan-alasan di atas, merupakan ajakan bagi setiap muslim untuk menjadikan Al-Qur‟an sebagai paradigma dalam memahami pelbagai realitas kehidupan, baik realitas korporal maupun realitas spiritual. Paradigma qur‟ani meniscayakan peran unsur petunjuk transendental berupa wahyu dan ilham sebagai sumber pengetahuan yang penting selain persepsi indrawi dan penalaran rasio. Petunjuk transendetal tersebut adalah unsur pembentuk yang membedakan paradigma sains modern yang berdampak negatif pada kemanusiaan dan kealaman. Dengan demikian, memandang realitas melalui paradigma qur‟ani menaruh harapan besar untuk terwujudnya keseimbangan, keteraturan dan harmoni antara Tuhan, manusia dan alam. Adapun perumusan paradigma qur‟ani dapat ditempuh melalui tahapan-tahapan berikut ini: (1) Tahap pembacaan. Pada tahapan ini, Al-Qur‟an dibaca dengan tartil, diperindah bacaannya melalui tahsin dan dibaca berulang-ulang untuk dihafalkan atau tahfiz, (2) tahap pemahaman. Pada tahapan ini Al-Qur‟an dipelajari kandungan makna-maknanya, baik pada tingkatan makna lahiriah, batin, hadd maupun makna muttala‟-nya, melakukan tafakur, tadabur dan perenungan mendalam terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat qauliyah (al-qur‟an), afaqiyah (makrokosmos) maupun anfusiyah (mikrokosmos), serta mengadakan riset terhadap konsep-konsep (ideal-type) untuk dirumuskan menjadi kerangka-kerangka ilmu teoretis dan menadaburkan kisah-kisah sejarah dan amsal (archetype) untuk dijadikan kerangka pemahaman terhadap realitas kehidupan kontemporer. (3) tahap pengamalan. Pada tahapan ini, nilai-nilai Al-Qur‟an diimplementasikan dalam wujud kesadaran, paradigma, tindakan, bahkan menjadi pribadi Qur‟ani sebagaimana pribadi Baginda Nabi Muhammad SAW. sebagai rahmat bagi keseluruhan semesta alam.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 121 ~ DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, Moeslim. (2003) Islam Sebagai Kritik Sosial. Jakarta: Erlangga -------------------,(1997). Islam Transformatif. Jakarta: Pustaka Firdaus Abdullah, Amin Dkk, (2007). Re-strukturisasi Metodologi Islamic Studies Mazhab Yogyakarta. Yogyakarta: Suka Press Ahimsa-Putra, Heddy Shri. Paradigma Profetik-Mungkinkah? Perlukah?, makalah yang disampaikan dalam „Sarasehan Profetik 2011‟, diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UGM, di Yogyakarta, 10 Februari 2011 Al-Wardi, Ali. Usturah al-Adab al-Rafi‟. (Beirut: Dar Kufan, 1994) Azra, Azyumardi. (2005) Reintegrasi Ilmu-Ilmu dalam Islam dalam Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi untuk Aksi, diedit oleh Zainal Bagir. Bandung: Mizan Fahmi, M. (2005), Islam Transendental: Menelusuri Jejak-Jejak Pemikiran Islam Kuntowijoyo. Yogyakarta: Pilar Media Hamdi, Ahmad Zainil. (2005), Menilai Ulang Gagasan “Islamisasi Pengetahuan” sebagai Blue Print Pengembangan Keilmuan UIN dalam Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan Kuntowijoyo, (2006). Islam sebagai Ilmu: Epistomologi, Metodologi, dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana ----------------,(1993). Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi Bandung: Mizan ----------------,(1994) Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Priyono, A.E. (1993). Periferalisasi, Oposisi, dan Integrasi Islam di Indonesia: Menyimak Pemikiran DR.Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan Turner, Bryan S. (2012). Relasi Agama dan Teori Sosial Kontemporer. Yogyakarta: IRCiSoD Setiawan, M. Nur Khalis. (2005). Al-Quran kitab Sastra Terbesar, Yogyakarta: elSAQ press D. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan Kelompok Kerja Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut: a. Silakan mahasiswa membentuk kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4-6 mahasiswa sesuai arahan dosen. b. Usahakan masing-masing kelompok terdiri atas laki-laki dan perempuan. c. Apabila kelompoknya sudah terbentuk silakan tentukan ketua kelompoknya. d. Ketua kelompok silakan berdiskusi dengan ketua kelompok lainnya menetapkan nama kelompok dengan memilih nama-nama sahabat
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 122 ~ Nabi sesuai arahan dosen. e. Ketua kelompok bersama anggotanya mengatur tempat duduk sesuai arahan dosen. 2. Pertanyaan Proyek Mahasiswa dalam kelompok diberikan pertanyaan dan tugas oleh dosen secara lisan sebagai berikut: a. Tentunya setelah membaca materi tentang membangun paradigma Qurani dalam menghadapi perkembangan sains dan teknologi modern, para mahasiswa sudah tahu Konsep dan karakteristik paradigma Qurani dalam menghadapi modernisasi, ketepatan dalam membangun tentang paradigma Qur‟ani, dan urgensi paradigma Qurani dalam menghadapi modernisas? b. Silakan secara berkelompok menyimpulkan bagaimana Al-Qur‟an menghadapi perkembangan sains dan teknologi moder? 3. Perencanaan Proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masing-masing kelompok sebagai berikut: a. Kesimpulan menggunakan format artikel ilmiah kajian pustaka. b. Sumber referensi dalam membuat kesimpulan yaitu minimal bersumber dari buku ajar yang sedang dibaca ini dan beberapa referensi seperti e-book, jurnal, prosiding dan lainnya. c. Silakan setiap kelompok dalam membuat kesimpulan berpedoman pada penulisan artikel ilmiah kajian pustaka dengan sistematika berikut: 1) Judul Tulisan, Nama, Npm, dan Email Mahasiswa Contoh: Konsep Al-Qur’an Menghadapai Sain dan Teknologi Modern Oleh Abdul Ghani (NPM A1A018001) Email: [email protected] Nurrahmah (NPM A1A018008) Email: [email protected] 2) Abstrak Gunakan format IMRAD (Introduction, Method, Result & Discussion) yang diakhiri kata kunci. Abstrak maksimal 250 kata dan minimal 150 kata. 3) Pendahuluan Pendahuluan sebaiknya memuat beberapa unsur berikut: a. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan teori dan penelitian relevan. b. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan hasil pengamatan, observasi, atau wawancara.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 123 ~ c. Menjelaskan pemetaan tentang tulisan sebelumnya baik dari jurnal atau prosiding yang belum menulis tentang kajian yang akan dibahas. d. Menjelaskan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan. 4) Metode Penulisan Jelaskan metode penulisan yang digunakan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Kemudian, jelaskan sumber data tulisan yang diperleh dari buku, jurnal, prosiding, atau lainnya. Jelaskan juga teknik analisis data yang digunakan membuat formulasi permasalahan, mencari literature, evaluasi data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data. 5) Pembahasan Pembahasan berusaha membandingkan dan menghubungkan konsep-konsep tentang kajian yang akan dibahas sehingga ditemukan kesimpulan yang terbaik. 6) Simpulan dan Saran Simpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sebagai jawaban akhir dari pembahasan yang bersumber dari gabungan pendapat dari pakar yang dikutip. Sedangkan saran menyampaikan saran kepada pihak yang menerima kontribusi terhadap tulisan ini yaitu mahasiswa dan dosen. 7) Daftar Pustaka Gunakan format American Psychologycal Association 7 (APA 7) yang bersumber dari buku, jurnal, dan prosiding. Contoh pengutipan dan penulisan daftar putaka menggunakan APA 7 dapat dilihat pada laman berikut https://edutecion.com/apa-style-edisi-7/. e. Kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka menggunakan aturan penulisan berikut: 1. kertas A-4; 2. jenis tulisan Times New Roman; 3. spasi 1,5; 4. margin kiri 3, kanan 2,5, atas 2,5, dan bawah 2,5; 5. kutipan tidak langsung; dan 6. penulisannya menggunakan bodynote. 4. Penyusunan Jadwal Proyek Proyek menulis kesimpulan dan bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No. Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang Mampu membangun paradigma Qurani dalam menghadapi perkembangan sains dan teknologi modern 20 2. Menyusun kesimpulan dalam bentuk artikel 60
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 124 ~ ilmiah kajian pustaka. 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 20 4. Mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi sesuai petunjuk dosen. 10 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 40 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 360 Total Waktu 510 5. Pengawasan Pelaksanaan Proyek Pengawasan pelaksanaan proyek dilakukan oleh guru bisa dengan menggunakan lembar pengamatan penilain sikap berikut: No. Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan Ya Tidak 1. Mahasiswa dalam kelompok aktif mencari referensi sebagai bahan membuat kesimpulan. 2. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 3. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 4. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi. 5. Mahasiswa dalam kelompok aktif dan kritis dalam mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 6. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif dalam kegiatan diskusi panel. 7. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 8. Mahasiswa dalam kelompok menulis membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti sistematika dan aturan penulisan yang sudah ditetapkan. Jumlah Jawaban
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 125 ~ Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut: 6. Penilaian Hasil Proyek melalui Presentasi Proyek Penilain hasil proyek atau produk membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah hasil kajian pustaka bisa menggunakan format penilaian berikut: No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Sistematika penulisan. 1-15 2. Isi tulisan berkaitan dengan kekuatan argumentasi 1-30 3. Penggunaan ejaan (penulisan huruf, tanda baca, kata, dan unsur serapan) dan tata bahasa (kalimat dan paragraf). 1-20 4. Aturan penulisan berkaitan dengan kutipan dan format tulisan. 1-15 5. Tingkat keorisinalan tulisan dari hasil cek similaritas atau cek plagiasi. 1-20 Total Nilai 100 7. Evaluasi Pengalaman melalui Refleksi Tahap evaluasi pengalaman melalui refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam membuat kesimpulan tentang agama Islam dalam pengembangan manusia seutuhnya dan sarjana muslim yang profesional. Dosen bisa menggunakan evaluasi pengalaman melalui refleksi dengan dua acara berikut. a. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek kepada perwakilan kelompok. Kegiatan refleksi kelompok bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesimpulan tentang Mampu membangun paradigma Qurani dalam menghadapi perkembangan sains dan teknologi modern?
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 126 ~ b. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek secara individu kepada masing-masing individu yang dianggap belum aktif dalam proses kegiatan proyek. Kegiatan refleksi individu bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sampaikan kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba anda sampaikan kesimpulan tentang Konsep dan karakteristik paradigma Qurani dalam menghadapi modernisasi, bagaimana membangun paradigma Qur‟ani, dan Urgensi paradigma Qurani dalam menghadapi modernisasi? E. Tes Kognitif Individu 1. Petunjuk: a. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. b. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benar salahnya jawaban Anda. c. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang paling benar. d. Soal sebanyak 25 soal dengan bobot setiap soal sebesar 4 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. e. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 2. Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d! 1. Modernisasi berasal dari bahasa latin, yaitu.. a. Modo Danernus b. Modo Dernis c. Modern Sasi d. Modern Danernus 2. Menghafalkan Al-Qur‟an disebut juga? a. Tartil b. Tahsin c. Tahfizh d. Tafakur 3. Berikut ini merupakan konsep dalam Al-Qur‟an menurut Kuntowijoyo yang bersifat abstrak, kecuali.. a. Konsep tentang Allah b. Konsep tentang akhirat c. Konsep tentang ma‟ruf dan munkar d. Konsep tentang dhuafa‟
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 127 ~ 4. Berikut ini merupakan konsep Berikut ini merupakan konsep dalam Al-Qur‟an menurut Kuntowijoyo yang bersifat konkret, kecuali.. a. Konsep fuqara‟ b. Konsep dhu‟afa c. Konsep zalimun d. Konsep tentang akhirat 5. Perhatikan pernyataan dibawah ini 1. Kesenangan yang tertunda 2. Perencanaan kerja atau tindakan masa datang 3. Tunduk pada aturan-aturan birokrasi 4. Kepastian, pengawasan yang banyak kepada detail sedikit kepada pengarahan 5. Rutin dapat diramalkan, sikap instrumental kepada kerja 6. Kerja keras yang produktif dinilai kebaikan. Pernyataan di atas merupakan ciri-ciri mendasar masyarakat modern industrial menurut.. a. Jock Young b. Soerjono c. Soejono Soekanto d. Alexandre 6. Perhatikan pernyataan dibawah ini! a) Melihat kedepan bukan kebelakang b) Memiliki sikap menunggu c) Memberikan perhatian khusus pada waktu, terutama kepada ruang bagi rasionalitas, bukan kepada perasaan yang berasumsi d) Mengembangkan suatu sikap yang terbuka terhadap suatu pemikiran dan hasil-hasil penemuan ilmiah e) Memberikan prioritas pada hal-hal yang telah tercapai oleh kelompok masyarakat f) Memberikan perhatian yang terbesar kepada persoalanpersoalan langsung yang lebih konkrit Dari pernyataan diatas yang merupakan indikator-indikator individu modern, yaitu.. a. (a), (b), (c) b. (b), (e), (a) c. (a), (c), (d) d. (b), (c), (d) 7. Apa yang harus menjadi landasan utama dalam membangun paradigma Qur‟ani? a. Interpretasi individu yang beragam b. Tradisi dan Budaya Lokal c. Teks Al-Qur‟an itu sendiri d. Pandangan dunia yang modern
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 128 ~ 8. Muatan sifat konsep-konsep Al-Qur'an menurut Kartosuwiryo dapat diklasifikasikan menjadi.. a. Abstrak dan konkret b. Filsafat dan matematika c. Geografi dan sejarah d. Bahasa dan seni 9. Arti kata yang digaris bawahi adalah.. a. Harapan b. Ingin c. Akan d. Generasi 10. Secara etimologis modernisasi berasal dari bahasa latin Modo Danernus. Modo artinya.. a. Cara b. Ilmu c. Periode d. Penguasa 11. Menurut Soejono, modern haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai dibawah ini, kecuali.. a. Berpikir ilmiah b. Adanya pengumpulan data yang baik dan teratur c. Tingkat organisasi yang tinggi d. Tidak adanya pengecekan terhadap suatu data 12. Seperangkat konsep yang secara logis berkaitan antara satu sama lainnya dan membentuk suatu kerangka pemikiran (frame of thinking) yang digunakan untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan realitas atau permasalahan yang dihadapi. Pernyataan tersebut pengertian paradigma menurut.. a. Thomas S.Khun b. Kuntowijoyo c. Heddy Shri Ahisma-Putra d. Khazanah 13. Ada berapa ciri mendasar masyarakat modern industrial menurut Jock Young yang dikutip Nurholis? a. 3 b. 4 c. 5 d. 6 14. Sebutan lain dari kerangka pemikiran adalah.. a. Frame of Thinking b. Conceptual Framework c. Theoretical Orientation d. Perspective
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 129 ~ 15. "Mode of knowing atau sebuah konstruksi pengetahuan yang berisi konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dimaksudkan agar seseorang muslim dapat memahami realitas sebagaimana Al-Qur‟an memahaminya. Dalam paradigma Al-Qur‟an, petunjuk wahyu Al-Qur‟an menjadi sumber pengetahuan yang paling fundamental melengkapi doktrin rasionalisme yang terbatas pada hal-hal yang logis menurut penalaran dan doktrin empirisme yang bertumpu pada yang real melalui pengamatan indrawi". Merupakan pengertian Pradigma Al-Qur'an menurut.. a. Kuntowijoyo b. Shri Ahisma-Putra c. Soerjono d. Wilbert E. Moore 16. "Modernisasi itu pada dasarnya mencakup suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pra-modern" merupakan konsep modernisasi menurut.. a. Endang Saifuddin Anshari b. Wilbert E. Moore c. Soerjono d. Heddy Shri Ahimsa Putra 17. Riwayat Al-Quran yang menjelaskan sumber segala ilmu pengetahuan baik dari ilmu-ilmu generasi terdahulu adalah.. a. Ibnu Mas‟ud ra b. Kuntowijoyo c. Heddy Shri d. Soerjono 18. Apa yang menjadi karakteristik utama paradigma Qurani dalam menghadapi modernisasi? a. Fleksibilitas dan adaptasi terhadap perubahan. b. Penolakan terhadap inovasi dan perubahan. c. Pengabaian terhadap nilai-nilai tradisional. d. Pemisahan tegas antara agama dan kehidupan modern. 19. Apa yang dimaksud dengan paradigma qur'ani dalam konteks pemahaman Al-Qur'an? a. Paradigma ilmiah yang mengutamakan data empiris b. Kerangka pemikiran yang digunakan untuk memahami realitas AlQur'an c. Konsep tentang kebutuhan untuk prestasi d. Paradigma keagamaan yang tidak terkait dengan ilmu pengetahuan 20. Bagaimana tahapan yang disarankan untuk membentuk paradigma qur'ani dalam memahami Al-Qur'an? a. Hanya membaca Al-Qur'an tanpa pemahaman b. Tahap membaca, pemahaman, dan pengamalan c. Hanya tahap pemahaman tanpa membaca d. Hanya tahap pengamalan tanpa pemahaman
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 130 ~ 21. Menurut penjelasan di atas, apa yang menjadi perbedaan antara paradigma sains modern dan paradigma qur'ani dalam memandang realitas kehidupan? a. Paradigma sains modern lebih transendental b. Paradigma qur'ani lebih mengutamakan pengamalan daripada pemahaman c. Paradigma sains modern cenderung mengabaikan wahyu d. Paradigma qur'ani menekankan data empiris 22. Imam Al-Ghazali berpandangan bahwa jumlah total ilmu pengetahuan dalam Al-Qur‟an adalah a. 77.100 b. 77.200 c. 75.100 d. 75.200 23. Menurut Kuntowijoyo, apa yang membedakan pendekatan sintetikanalitik dalam memahami Al-Qur'an dari pendekatan kontekstual tradisional, dan mengapa dia berpendapat bahwa pendekatan ini penting dalam mengembangkan paradigma qur'ani? a. Pendekatan sintetik-analitik lebih berfokus pada makna lahiriah Al-Qur'an, sedangkan pendekatan kontekstual tradisional lebih berfokus pada makna batin. b. Pendekatan sintetik-analitik mencoba mengangkat Al-Qur'an dari konteks historisnya, sedangkan pendekatan kontekstual tradisional lebih mempertimbangkan konteks historis. c. Pendekatan sintetik-analitik lebih menekankan interpretasi tekstual, sedangkan pendekatan kontekstual tradisional lebih menekankan interpretasi kontekstual. d. Pendekatan sintetik-analitik tidak memperhatikan ayat-ayat qauliyah Al-Qur'an, sedangkan pendekatan kontekstual tradisional lebih memperhatikan ayat-ayat qauliyah. 24. Siapa saja ilmuwan terkenal dalam sejarah Islam yang memiliki pengaruh besar terhadap peradaban dunia, sebagaimana disebutkan dalam pernyataan di atas? a. Ibnu Sina dan Jabir bin Hayyan b. Isaac Newton dan Albert Einstein c. Galileo Galilei dan Charles Darwin d. Leonardo da Vinci dan William Shakespeare 25. “Suatu proses aktivitas yang membawa kemajuan yakni perubahan dan perombakan secara asasi mengenai susunan dan corak suara masyarakat dari statis ke dinamis, dari tradisional ke rasional, dari feodal ke kerakyatan dan lain sebagainya dengan jalan mengubah cara berpikir masyarakat sehingga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam aparat dan tata cara semaksimal mungkin.” Kalimat tersebut diungkapkan oleh..
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 131 ~ a. Endang Saifuddin Anshari b. Wilbert E.Moore c. Soerjono Soekanto d. William Wilbert Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 132 ~ BAB VI Membumikan Islam di Indonesia (Agar Islam dirasakan sebagai kebutuhan hidup, bukan sebagai beban hidup dan kewajiban) Sub-CPMK-6 Pertemuan ke-8: Mampu menyimpulkan tentang membumikan Islam di Indonesia sehingga Islam dapat dirasakan sebagai kebutuhan hidup, bukan sebagai beban hidup dan kewajiban Gambar 6.1 Membumikan Islam di Indonesia Sumber: https://historia.id/agama/articles/meninjau-kembali-proses-masuknya-islam-kenusantara-6kkn2/page/1 A. Masuknya Islam di Indonesia Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia. Walaupun Islam turun di Arab dan dengan menggunakan bahasa Arab, itu tidaklah berarti bahwa Islam itu identik dengan Arab atau Arab itu identik dengan Islam. Maka, yang penting diingat adalah Islam harus dipahami secara komprehensif dan tidak terjebak pada skop bahasa dan budaya Arab itu sendiri. Islam perlu dibumikan, artinya interpretasi Islam itu bersifat terbuka dan dinamis, agar Islam mampu menjawab problematika umat di manapun dan kapanpun. Kedatangan Islam di Nusantara berlangsung secara damai dan sangat cepat beradaptasi dengan budaya Nusantara, tidak ada benturan dengan budaya setempat. Islam masuk ke Indonesia
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 133 ~ melalui jalur perdagangan. Para pedagang dari Arab datang melalui rute laut sehingga tidak heran penduduk Indonesia di daerah-daerah pesisir mayoritas memeluk agama Islam. Beberapa daerah pantai, kota-kota pelabuhan menjadi kota-kota yang bercorak Islam, seperti: Samudera Pasai, Pidie di Aceh, Palembang, Malaka, Jambi, Demak, Gresik, Tuban, Cirebon, Banten, Gowa, Makassar, Banjarmasin, Ternate, Tidore dan sebagainya. Di antara kota-kota tersebut ada yang berfungsi sebagai pusat kerajaan yang bercorak Islam, kadipaten dan sebagai kota pelabuhan. Kerajaan di pinggiran pantai bercorak maritim sedangkan kerajaan di pedalaman bercorak agraris. Selain bercorak Islam, adapula yang merupakan percampuran antara unsur-unsur magis-religius budaya setempat sehingga Islam di Sumatera berbeda dengan Islam di Jawa. Ada perdebatan mengenai kedatangan Islam di Nusantara, ada empat tema pokok yang berkaitan dengan kedatangan Islam ke Nusantara: Pertama, Islam dibawa langsung dari Arab; kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyiar profesional (da‟i), ketiga, pihak yang mula-mula masuk Islam adalah penguasa, dan keempat, mayoritas para penyebar Islam profesional ini datang ke Nusantara pada abad ke 12 dan 13. Jadi Islam sudah diperkenalkan ke Nusantara sejak abad pertama Hijriyah dan abad 12 M Islam semakin tampak secara nyata. Indonesia merupakan Negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia, karena hampir 87 persen penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam. Hal ini dikarenakan penyebaran agama Islam di nusantara yang cukup aktif, dari pulau Sumatera hingga ke Sulawesi dan Maluku. Hal tersebut terjadi sejak ratusan tahun yang lalu dan puncak penyebaran agama Islam terjadi pada masa wali songo. Islam hadir di Indonesia ini sebagai agama baru dan pendatang. Dikarenakan kehadirannya lebih belakang dibandingkan dengan agama Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme. Dinamakan agama pendatang karena agama ini hadir dari luar negeri. Terlepas dari subtansi ajaran Islam, Islam bukan merupakan agama asli bagi bangsa Indonesia, melainkan agama yang baru datang dari Arab. Sebagai agama baru dan pendatang saat itu, Islam harus menempuh strategi dakwah tertentu, melakukan berbagai adaptasi
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 134 ~ dan seleksi dalam menghadapi budaya dan tradisi yang berkembang di Indonesia. Perkembangan Islam di Indonesia ini merasakan berbagai pengalaman, disebabkan adanya keberagaman budaya dan tradisi pada setiap pulau tersebut. Bahkan dalam satu pulau saja bisa melahirkan berbagai budaya dan tradisi. Perjumpaan Islam dengan budaya (tradisi) lokal itu seringkali menimbulkan akulturasi budaya. Kondisi ini menyebabkan ekspresi Islam tampil beragam dan bervariasi sehingga kaya kreativitas kultural-religius. Realitas ini merupakan risiko akulturasi budaya, tetapi akulturasi budaya tidak bisa dibendung ketika Islam memasuki wilayah baru. Jika Islam bersikap keras terhadap budaya atau tradisi lokal yang terjadi justru pertentangan terhadap Islam itu sendiri bahkan peperangan dengan pemangku budaya, tradisi atau adat lokal seperti perang Padri di Sumatera. Maka jalan yang terbaik adalah melakukan seleksi terhadap budaya maupun tradisi yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam untuk diadaptasi sehingga mengekpresikan Islam yang khas. Ekpresi Islam lokal ini cenderung berkembang sehingga menimbulkan Islam yang beragam. Dalam konteks sejarah penyebaran Islam di Indonesia tepatnya pada abad ke-15 dan khususnya di tanah Jawa, Walisongo mempunyai peran yang cukup besar dalam proses akulturasi Islam dengan budaya. Budaya dijadikan sebagai media dalam menyebarkan Islam dan mengenalkan nilai dan ajaran Islam kepada masyarakat secara persuasif. Kemampuan memadukan kearifan local dan nilai-nilai Islam mempertegas bahwa agama dan budaya lokal tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Secara sosiologis, keberadaan Walisongo hampir semua berada di titik tempat pusat kekuatan masyarakat, yaitu di Surabaya, Gresik, Demak, dan Cirebon. Bahkan kerabat mereka pun memiliki peran yang signifikan juga dalam penyebaran Islam secara kultural. Dalam konteks praktik keagamaan yang dijalankan masyarakat Indonesia yang berhubungan dengan gerakan dakwah Walisongo tampak sekali terdapat usaha membumikan Islam. Fakta tentang pribumisasi Islam yang dilakukan Walisongo dalam dakwahnya terlihat sampai saat ini. Sejumlah istilah local yang digunakan untuk menggantikan istilah yang berbahasa Arab, contohnya Gusti Kang
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 135 ~ Murbeng (Allahu Rabbul Alamin), Kanjeng Nabi, Kyai (al-Alim), Guru (Ustadz), bidadari (Hur), sembahyang (shalat), dan lain-lain. Sejak masa Wali Songo, Islam di Indonesia memiliki dua model di atas. Kelompok formalis lebih mengutamakan aspek fikih dan politik kenegaraan, sedangkan kelompok esensialis memprioritaskan aspek nilai dan kultur dalam berdakwah. Di era kemerdekaan sampai dengan era pasca reformasi, polemik antara kedua model keberagamaan ini masih tetap ada. Dalam masyarakat yang pluralistik saat ini diperlukan pengembangan kiat-kiat baru bagi para pendakwah dengan menyelaraskan dengan kemajuan tekhnologi dan modernitas. Penggunaan media massa dan internet dirasa sangat pas dalam menyebarkan dakwah yang lebih luas lagi. Artinya, metode seperti ini juga menandakan sama dengan para Walisongo pada zaman dahulu menggunakan media tradisional. Tuntutan modernitas dan globalisasi menuntut model pemahaman agama yang saintifik, yang secara serius memperlihatkan berbagai pendekatan. Pendekatan Islam monodisiplin tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan zaman yang dihadapi umat Islam di berlbagai tempat. Agar diperoleh pemahaman Islam yang saintifik di atas, maka diperlukan pembacaan teks-teks agama (Quran, Al-Hadis, dan Ijtihad) secara integratif dan interkonektif dengan bidang-bidang dan disiplin ilmu lainnya. B. Metode Dakwah Para Ulama Nusantara Sebelum menjelaskam sejarah Islam masuk di Nusantara, akan dijelaskan tentang dua nama yang menunjukkan satu wilayah yaitu Nusantara dan Indonesia. Nusantara mewakili masa-masa awal keberadaan wilayah yang kini bernama Indonesia. Masuknya agama Islam ke Indonesia tak lepas dari perjuangan para tokoh pendakwah yang menyiarkannya dengan berbagai strategi dan metode, sehingga bisa diterima oleh penduduk pribumi. Dalam berdakwa di Nusantara, baik saudagar yang datang lebih dahulu ataupun para ulama yang datang kemudian menggunakan beberapa metode untuk menyebarkan agama Islam kepada penduduk pribumi. Penyampaian ajaran Islam di Indonesia umumnya dilakukan dengan strategi kedamaian. Melansir buku Sejarah Islam Nusantara oleh
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 136 ~ Rizem Aizid, ada beberapa strategi yang digunakan para pendakwah dalam menyebarkan syariat Islam. 1. Strategi Perdagangan Indonesia termasuk dalam jalur perdagangan internasional pada abad 7 M-16 M, sehingga para pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India turut berdatangan untuk berniaga. Selain berdagang, mereka turut menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat yang waktu itu masih menganut Hindu dan Budha. Para pedagang mengambil jalur laut untuk datang ke Indonesia, sehingga perniagaan yang terjadi antara Jazirah Arab, India, dan Asia Tenggara. Perdagangan bukan satu-satunya jalur masuknya Islam ke Indonesia. Tetapi dengan berniaga inilah Islam mulai dikenal dan diikuti penduduk pribumi. Sehingga para pedagang memiliki peranan penting dalam menyiarkan Islam di Indonesia. Para pedagang muslim yang datang ke Nusantara mempunyai peranan yang sangat besar dalam menyiarkan agama Islam di Nusantara. Pada awalnya mereka datang ke Nusantara kemudian pulang kembali ke negaranya, akan tetapi lama kelamaan ada diantara para pedagang tersebut menetap di Aceh, diantara mereka ada yang belum menikah ataupun kaluar sudah menikah mereka tidak membawa istri-istri mereka. Oleh karena itu Ketika sudah menetap di Indonesia mereka menikah dengan Wanita-wanita pribumi. 2. Strategi Perkawinan Para pedagang muslim yang singgah kemudian banyak yang menetap di Indonesia. Sehingga dari mereka ada yang menikah dengan putri bangsawan dari kerajaan pribumi. Sebagai syarat sahnya pernikahan tentu saja Wanita-wanita pribumi yang akan mereka nikahi harus memeluk agama Islam terlebih dahulu. Perkawinan yang dilakukan pun telah berlangsung secara Islami. Yang mana pada saat itu masyarakat pribumi sudah banyak yang mengucapkan kalimat syahadat. Langkah selanjutnya para saudagara muslim juga mengajak keluarga istri-istri mereka dan pembantu-pembantu mereka memeluk agama Islam, lama kelamaan jumlah mereka semakin banyak dan mereka bisa membentuk masyarakat Islam. Sebagai satu syarat untuk menjalankan kewajiban agama yang bersifat social, seperti membangun masjid, sholat
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 137 ~ berjam‟ah, berkurban, bersedekah, tolong menolong, menyelenggarakan jenazah secara Islam, menyediakan makanan halal dan lain sebagianya. Dari pernikahan itu, banyak dari keturunan mereka yang menjadi ulama dan penyebar Islam di Nusantara. Salah satu contohnya, perkawinan antara Maulana Ishaq dan putri Raja Blambangan yang kemudian melahirkan Sunan Giri. Sunan Giri merupakan salah satu Walisongo yang memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa 3. Strategi Tingkatan Sosial Periode dakwah selanjutnya para ulama datang kemudian menggunakan pendekatan langsung kepada Raja. Para pendakwah Islam lebih dahulu mengislamkan para raja dan bangsawan yang memiliki tingkatan sosial tertinggi. Dengan Islamnya mereka, banyak dari penduduk kerajaan yang tingkatannya berada di bawah mengikuti raja mereka sehingga metode ini juga berhasil. Keberhasilan para ulama mengislamkan keluarga istana dengan sendirinya memudahkan proses dakwah terhadap Masyarakat. Dalam perjalanan dakwah selanjutnya institusi istana dibantu para ulama bahu membahu membantu menyebarkan agama Islam di Nusantara. Berdirinya Kerajaan Islam pertama di Pereulak Aceh diikuti dengan berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam lain di Sumatera, Jawa, Kalimantan sampai ke semenanjung Malaysia. Hubungan diplomatic antar negara, perkawinan diantara keluarga Kerajaan-kerajaan Rantau ini serta perkawinan antara ulama-ulama dengan kerabat Kerajaan memberikan sumbangan terhadap proses dakwah di Nusantara. Strategi ini juga efektif dalam penyebaran Islam di Indonesia. 4. Strategi Pendidikan Setelah banyaknya pengikut Islam di Indonesia, para pendakwah membangun pondok pesantren dan masjid-masjid. Yang mana digunakan sebagai tempat berkumpul untuk belajar syariat Islam dan pembinaan calon ulama. Para murid benar-benar diajarkan berbagai macam ilmu, hingga menjadi ahli dalam bidang agama Islam. Setelahnya mereka pun menyiarkan Islam ke masyarakat pribumi lainnya. Meluas ke berbagai daerah di Nusantara.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 138 ~ Pada saat itu pondok pesantren ini didirikan oleh guru, ulama, juga kiai. Misalnya Sunan Gresik yang diyakini sebagai orang yang pertama kali membangun pesantren di tanah Jawa. 5. Strategi Kesenian dan Kebudayaan Cara ini dilakukan oleh wali songo ketika menyebarluaskan ajaran Islam di Pulau Jawa. Mereka menjadikan pertunjukan seni dan budaya bernuansa Islami, sehingga masyarakat menyukainya. Misalnya, Sunan Kalijaga memperkenalkan dan mengislamkan masyarakat Jawa dengan menggunakan salah satu budaya Jawa yakni, pertunjukkan wayang. Sunan Kalijaga sangat mahir memainkan wayang dan memasukkan unsur dan nilai-nilai keislaman dalam cerita pewayangan. Masyarakat yang menyaksikan pertunjukan Sunan Kalijaga akhirnya mengenal Islam, dan tertarik dengannya. Berbagai kesenian dan kebudayaan lainnya juga dijadikan media penyebaran Islam, antara lain seni ukir, gamelan, dan seni suara suluk. Suluk yang paling tersohor dan melekat di hati rakyat pada waktu itu adalah Tombo Ati oleh Sunan Bonang. Syair ini dijadikan sebagai media dakwah Islam olehnya dengan menggunakan bahasa Jawa dalam liriknya. Sebelum kedatangan Islam ke Nusantara, masyarakat setempat sudah mempunyai tradisi dan amalan masing-masing. Kebanyakan dari mereka menganut kepercayaan animism dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan kepada anima. Semua benda yang bergerak atau tidak mempunyai roh termasuk roh nenek moyang yang bergentayangan yang boleh makan dan minum, marah atau senang dan boleh dikendalikan oleh ahli sihir dan dukun. Dinamisme pula adalah kepercayaan kepada “mana”, kekuatan ghaib yang ada pada manusia atau hewan yang menetap pada kayu, batu, pohon yang dapat menimbulkan dampak baik atau buruk dan boleh dikendalikan oleh dukun dan upacara-upacara. Setelah para ulama memahami budaya dan amalan tradisi yang dibawa oleh Masyarakat setempat dengan mencari persamaan seperti mempunyai sifat persatuan yang besar sehingga menimbulkan rasa solidariti yang tinggi, sifat individual yang tipis kerana setiap orang saling terkait satu dengan yang lainnya, pelanggaran seseorang akan menyebabkan bahaya bagi seluruh
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 139 ~ masyarakat, semangat kerjasama dan gotong-royong yang tinggi dalam kehidupan ekonomi dan aspek lainnya serta rasa tunduk dan penghormatan kepada pemimpin. Sifat-sifat ini dikolaborasikan oleh para ulama Nusantara dengan ajaran Islam yang dibawa menyebabkan dakwah mereka mudah diterima dan hasilnya ramai dari kalangan masyarakat Nusantara tertarik untuk berpegang serta memeluk agama Islam yang dibawa. C. Kewajiban Berdakwah bagi Setiap Muslim Dakwah adalah suatu proses mengajak, mendorong (memotivasi) manusia untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, menyuruh mengerjakan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat. Maka dari itu, secara sederhana kita bisa mengartikan dakwah sebagai kegiatan mengkomunikasikan ajaran Allah, sehingga orang tersebut terajak hatinya untuk ikut ke jalan rahmatan lil‟alamin. Dalam Al-Qur‟an surat An-Nahl ayat 125 Allah berfirman : Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Kata ud`u yang diterjemahkan dengan seruan dan ajakan adalah fi`il amr yang menurut kaidah ushul fiqh setiap fi`il amr adalah perintah dan setiap perintah adalah wajib dan harus dilaksanakan, selama tidak ada dalil lain yang memalingkannya dari kewajiban itu kepada sunnah atau hukum lain. Jadi, melaksanakan dakwah hukumnya wajib karena tidak ada dalil-dalil lain yang memalingkannya dari kewajiban itu dan hal ini disepakati oleh para ulama. Sedangkan menurut Syeh Muhammad Abduh dalam tafsir alManar, dijelaskan bahwa kewajiban dakwah terdapat dalam surat AlImran ayat 104 dan 110: