The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisikan materi-materi perkuliahan agama Islam berbasis moderasi beragama di PTU dengan model project based learning (PjBL)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arsyadani Mishbahuddin, 2023-12-08 21:59:26

BUKU AJAR MATA KULIAH AGAMA ISLAM

Buku ini berisikan materi-materi perkuliahan agama Islam berbasis moderasi beragama di PTU dengan model project based learning (PjBL)

Keywords: BUKU AJAR AGAMA ISLAM DI PTU

PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 240 ~ hendaknya perlu ada upaya rekonstruksi untuk menata kehidupan, baik ilmu pengetahuan maupun teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan unsur penting bagi terbentuknya suatau peradaban, bukan menjadi monopoli hanya pada satu agama tertentu. Sebagai umat Dengan demikian, dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa diperlukan kerja sama dari semua orang Indonesia tanpa membedakan agama. Yang perlu ditegakkan adalah aturan untuk melakukan kerja sama tersebut, sehingga perlu dikembanggkan akhlak atau etika pergaulan. Sejarah yang membahas berbagai peristiwa masa lalu, jangan diremehkan dan dibiarkan seiring dengan berlalunya waktu, sebab begitu besar makna sejarah bagi kehidupan manusia. “Belajarlah dari sejarah”, demikian kata-kata mutiara yang dapat mengingatkan kita makna sejarah. Sejarah memiliki nilai dan arti penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Hal tersebut dikarenakan Sejarah menyimpan atau mengandung kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru bagi perkembangan kehidupan manusia. Pentingnya memahami sejarah perabadan Islam tidak semata-mata untuk mengetahui tanggal, bulan, tahun, dan abad suatu peristiwa peradaban Islam di masa lampau. Namun juga memahami realitas muslim untuk mengetahui suatu peristiwa peradaban Islam. Sejarah peradaban Islam sebagai ilmu pengetahuan, secara umum sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, atau peristiwa unik dan berlaku hanya sekali dan tidak berulang untuk kedua kalinya. Bagi seorang Muslim, sejarah adalah rangkaian suatu peristiwa-peristiwa yang sedikitpun tidak mempengaruhi dasar-dasar Islam yang non-temporal. Ia lebih berkeinginan mengetahui “menyadari” dasar-dasar ini daripada memperhatikan originalitas dan perubahan sebagai kebijakan intrinsic. Lambang peradaban Islam bukanlah sebuah sungai yang mengalir melainan Ka‟bah, yang stabilitasnya melambangkan watak Islam yang permanen dan tak berubah. Dalam pembahasan ini, sejarah Islam dilihat dari aspek seberapa besar sejarah peradaban Islam dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan merupakan tujuan dan hakikat yang sangat urgensi. Diharapkan dari memahami sejarah Islam sebagai ilmu


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 241 ~ pengetahuan adalah agar ummat Islam saat ini dan generasi yang akan datang mampu memahami nilai-nilai penting Islam yang sebenarnya. Ummat Islam harus menyadari secara mendalam bahwa kita (Ummat Islam) memiliki peradaban besar yang melahirkan banyak ilmu-ilmu pengetahuan. Yang menjadi keprihatinan saat ini, bahwa umat Islam hanya memfokuskan diri pada aspek ritual, dan melupakan aspek social serta intelektual. Oleh karena itu, tugas daripada kita semua yang telah mengetahui bergeraklah mengajak dan menghimpun kembali umat untuk meneruskan peradaban besar yang sudah lama rapuh dan semakin melemah menjadi kuat dan maju membawa peradaban yang besar dan unggul. C. Faktor Penyebab Kemajuan dan Kemunduran Islam Peradaban Islam dimulai saat Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul. Peradaban Islam pada masa Rasulullah SAW dibagi menjadi dua fase yaitu, fase Makkah dan fase Madinah. Turunnya wahyu pertama pada tahun 610 menjadi tanda dimulainya peradaban Islam di Makkah. Yaitu ketika Rasulullah berdiam di gua hira‟ turunlah wahyu pertama yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5. Khadijah (istrinya) adalah orang pertama yang mendengar kenabian dan mempercayainya, yang dapat dikatakan langsung memeluk Islam sekembali muhammad dari gua hira‟. Adapun peradaban Islam pada fase makkah dibedakan menjadi tiga yaitu; dakwah sirriyah (sembunyisembunyi), dakwah terang-terangan, dan dakwah di luar Makkah. Dakwah secara sembunyi-sembunyi dilakukan Rasulullah kepada keluarga, kerabat, dan para sahabat. Dalam permulaan dakwah Islam terdapat beberapa sahabat yang mengimani Ralullah diantaranya; Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi), zaid bin Haritsah, Abu Bakar As-Sidiq, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Serta beberapa tokoh Quraisy laki-laki dan perempuan dan sejumlah Maula atau bekas budak dan beberapa perempuan. Rasulullah menggunakan rumahnya sendiri dan rumah Al-Arqam bin Abi Arqam dalam menyampaikan ajarannya sebagai tempat pendidikan ketika itu. Adapun materi pendidikannya meliputi penanaman ketauhidan dan Al-Qur‟an.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 242 ~ Setelah tiga tahun Rasulullah melakukan dakwah sembunyisembunyi, turunlah surat Al-Hijr: 94 sebagai perintah kepada Rasulullah untuk menyampaikan (berdakwah) secara terangterangan. Ajakan ini menimbulkan reaksi penentangan dari kaum Quraisy terhadap Rasulullah. 1. Masuknya Islam ke Eropa Dalam sejarah ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, tanah Spanyol lebih banyak dikenal dengan nama Andalusia, yang diambil dari sebutan tanah Semenanjung Liberia. Julukan Andalusia ini berasal dari kata Vandalusia, yang artinya negeri bangsa Vandal, karena bagian selatan Semenanjung ini pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka dikalahkan oleh bangsa Gothia Barat pada abad V. Daerah ini dikuasai oleh Islam setelah penguasa Bani Umayah merebut tanah Semenanjung ini dari bangsa Gothi Barat pada masa Khalifah Al-Walid ibn Abdul Malik. Islam masuk ke Spanyol (Cordoba) pada tahun 93 H (711 M) melalui jalur Afrika Utara di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad yang memimpin angkatan perang Islam untuk membuka Andalusia. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu Provinsi dari Dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan ibn Nu‟man Al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah Al-Walid, Hasan ibn Nu‟man sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman AlWalid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Al-jazair dan Maroko. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu Kerajaan Gotik. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 243 ~ satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang lima ratus orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif ibn Malik dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz tahun 99 H/717 M, dengan sasarannya menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh ke Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. 2. Perkembangan Islam di Spanyol Sejak pertama kali Islam menginjakkan kakinya ditanah Spanyol hingga jatuhnyua kerajaan Islam terakhir di sana sekitar tujuh setengan abad lamanya, Islam memainkan peranan yang besar, baik dalam bidang kemajuan intelektual (filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, bahasa dan sastra), kemegahan bangunan fisik (Cordova dan Granada). Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode yaitu: a. Periode Pertama (711-755 M) Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang terpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 244 ~ perbedaan pandangan antara Khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Khairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang terus-menerus bersaing yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini sering kali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdurrahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M. b. Periode Kedua (755-912 M) Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abdurrahman Al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abdurrahman Al-Ausath, Muhammad ibn Abdurrahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad. Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuankemajuan baik di bidang politik maupun bidang peradaban. Abdurrahman Al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolahsekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abdul Rahman Al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat juga mulai pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman Al-Ausath.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 245 ~ Pada pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesahidan (Martyrdom). Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu sejumlah orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orangorang Arab masih sering terjadi. Ada yang berpendapat pada periode ini dibagi menjadi dua yaitu masa Ke Amiran (755-912) dan masa ke Khalifahan. c. Periode Ketiga (912-1013 M) Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Muluk AlThawaif. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar Khalifah, penggunaan khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Muktadir, Khalifah daulah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilainnya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abdurrahman Al-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M). Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abdurrahman Al-Nasir mendirikan universitas Cordova. Ia mendahului Al-Azhar Kairo dan Nizhamiyah Baghdad, juga menarik minat para siswa, Kristen dan Muslim, tidak hanya di Spanyol tetapi juga dari wilayah-wilayah lain di Eropa, Afrika dan Asia. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 246 ~ khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu. d. Periode Keempat (1013-1086 M) Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth Thawaif yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain. e. Periode Kelima (1086-1248 M) Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Pada masa dinasti Murabithun, Saragosa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M. Dinasti Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumazi (w.1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Mun‟im. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhhidun menyebabkan penguasanya memilih meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara pada tahun 1235 M. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh pada tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 247 ~ f. Periode Keenam (1248-1492 M) Pada Periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam perebutan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaannya. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa‟ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta. Tentu saja, Ferdinand dan Isabella yang mempersatukan kedua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini. Kemajuan Peradaban Dalam masa lebih dari tujuh abad, kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan, pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks. Kemajuan Intelektual Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitaskomunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun orang-orang


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 248 ~ Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol. Filsafat Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M, selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd AlRahman (832-886 M). Atas inisiatif Al-Hakam (961 -976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga, Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia islam. Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Dilahirkan di Saragosa, ia pindah ke Sevilla dan Granada. Meninggal karena keracunan di Fez tahun 1138 M dalam usia yang masih muda. Seperti Al- Farabi dan Ibn Sina di Timur, masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid. Sains Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Farnas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya Al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. la dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. la juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 249 ~ Al-Hasan bint Abi Ja‟far dan saudara perempuan Al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita. Fiqh Dalam bidang fiqih, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini di sana adalah Ziyad ibn Abd Al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam ibn Abd Al-Rahman. Ahli-ahli fiqih lainnya di antaranya adalah Abu Bakr ibn AlQuthiyah, Munzir ibn Sa‟id Al-Baluthi, dan Ibn Hazm yang terkenal. Musik dan Kesenian Dalam bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya Al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki zaryab. Setiap kali diselenggarakan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. la juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya, baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas. Studi-studi musikal Islam, seperti telah diprakarsai oleh para teoritikus alKindi, Avicenna dan Farabi, telah diterjemahkan ke bahasa Hebrew dan Latin sampai periode pencerahan Eropa. Banyak penulis-penulis dan musikolog Barat setelah tahun 1200, Gundi Salvus, Robert Kilwardi, Ramon Lull, Adam de Fulda, dan George Reish dan lain-lain, menunjuk kepada terjemahan Latin dari tulisan-tulisan musikal Farabi. Dua bukunya yang paling sering disebut adalah De Scientiis dan De Ortu Scientiarum. Bahasa dan Sastra Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orangorang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Alfiyah, Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali AlIsybili, Abu Al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan Al-Gharnathi. Kemegahan Pembangunan Fisik Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 250 ~ pasar-pasar dibangun. Bidang pertanian demikian juga. Sistem irigasi baru diperkenalkan kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal sebelumnya. Dam-dam, kanal-kanal, saluran sekunder, tersier, dan jembatan-jembatan air didirikan. Tempat-tempat yang tinggi, dengan begitu, juga mendapat jatah air. Pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, mesjid, pemukiman, dan taman-taman. Di antara pembangunan yang megah adalah mesjid Cordova, kota Al-Zahra, Istana Ja‟fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana Al-Makmun, mesjid Seville, dan istana Al-Hamra di Granada. D. Faktor Pendukung Kemajuan Peradaban Islam Spanyol Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd Al Rahman Al-Dakhil, Abd Al-Rahman Al-Wasith dan Abd Al-Kahman AlNashir. Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang mempelopori kegiatan-kegiatan ilmiah yang terpenting di antara penguasa dinasti Umayyah di Spanyol dalam hal ini adalah Muhammad Ibn Abd AlRahman (852-886) dan Al- Hakam II AlMuntashir (961-976). Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga, mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk orang Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa. Dengan ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerja sama dan menyumbangkan kelebihannya masing-masing. Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad ke-11 M dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan perjalanan dari ujung barat wilayah Islam ke ujung timur, sambil membawa buku-buku dan gagasan-gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun umat Islam


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 251 ~ terpecah dalam beberapa kesatuan politik, terdapat api yang disebut kesatuan budaya dunia Islam. Perpecahan politik pada masa Muluk Al-Thawa‟if dan sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Masa itu, bahkan, merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, Kesenian, dan kebudayaan Spanyol Islam. Setiap dinasti (raja) di Malaga, Toledo, Sevilla, Granada, dan lain-lain berusaha menyaingi Cordova. Kalau sebelumnya Cordova merupakan satusatunya pusat ilmu dan peradaban Islam di Spanyol, Muluk Al-Thawa‟if berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru yang di antaranya justru lebih maju. E. Penyebab Kemunduran dan Kehancuran Konflik Islam dengan Kristen Para penguasa Muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaankerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata. Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orangorang Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad ke-11 M umat Kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran. 1. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu Kalau di tempat-tempat lain, para mukalaf diperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10 M, mereka masih memberi istilah „ibad dan muwalladun kepada para mukalaf itu, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non-Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, di samping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 252 ~ 2. Kesulitan Ekonomi Di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”, sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer. 3. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan di antara ahli waris. Bahkan, karena inilah kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk Al-Thawaif muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan Ferdinand dan Isabella, di antaranya juga disebabkan permasalahan ini. 4. Keterpencilan Spanyol Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dan Afrika Utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di sana. F. Kontribusi Islam dalam Peradaban Dunia Montgomerry Watt menyatakan bahwa Islam bersikap terbuka dalam perkembangannya sehingga proses asimilasi kebudayaan dapat berlangsung baik. Hal ini terlihat ketika peradaban Arab dipadukan dengan peradaban Romawi, Persia ataupun Yunani yang dilandasi spirit keislaman, maka bisa menghasilkan peradaban baru yang wajah dan nilainya memancarkan keislaman serta belum pernah terlihat sebelumnya. Selain itu apresiasi Islam terhadap kebebasan akal telah memberikan ruang untuk melakukan kerja ilmiah yang begitu besar dimana aktivitas intelektual umat Islam tidak dimonopoli oleh mereka saja setelah masa khalifah, namun dibuka seluasluasnya sebagai bentuk kontribusi konkret dalam perkembangan peradaban umat manusia berikutnya (Adz Dzikri & Solehah, 2022). Peradaban Islam memiliki warnanya sendiri meskipun tidak membuat tembok tebal antara Islam dengan non-Islam karena pada dasarnya umat Islam ingin mencoba hal-hal baru dengan cara mempelajari ilmu pengetahuan secara universal, peradaban, dan juga kearifan (al-hikmah) yang ada di negeri-negeri selain daratan Arabia, sehingga mereka tidak memandang sumber dan asal ilmu yang


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 253 ~ mereka dapatkan. Pada akhirnya Islam berkembang dan menjadi harapan serta menjadi kontributor penting dari kemajuan peradaban dunia saat ini dimana keragaman ilmu dan keragaman sosio-kultural bersumber pada agama (naqliyyah) dan akal (aqliyyah) (Dakir, 2017). Kontribusi dan bentuk keragaman kedua ilmu (naqliyyah dan aqliyyah) dapat di lihat berikut ini: 1. Kontribusi dalam Ilmu-Ilmu naqliyyah Konsep ilmu naqliyyah merupakan kesatuan ilmu yang digunakan serta dibangun para filsuf muslim melalui nilai Ilahiyah dan pendekatan nalar spiritual dalam bidang Aqidah, syariah, dan akhlak. Uraian ketiga hal tersebut dapat di lihat berikut ini: Aqidah, akan mempersatukan umat manusia yang terpecah-pecah ke dalam beberapa etnis, golongan, bahasa, ras dan suku bangsa dimana maksud dan tujuan kajian Aqidah adalah mentauhidkan Allah Swt sebagai satu satunya penguasa alam semesta. Oleh karena itu, Aqidah Islam ini menjadi paradigma yang berasaskan kalimat Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah harus berperan sebagai pondasi sekaligus standar dari ilmu-ilmu pengetahuan. Hal itu dibuktikan dengan peristiwa gerhana matahari di masa nabi yang berbarengan dengan wafatnya putra beliau (Ibrahim) sehingga orang-orang Arab mengira gerhana matahari tersebut disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang, namun hal tersebut merupakan tanda kekuasaan Allah dan menjadi pengingat bagi hamba-hamba-Nya (Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, 2018). Selain itu, paradigma inilah yang mencetak para cendekiawan muslim sehingga muncullah beberapa karya terkenal yang berkaitan dengan Aqidah antara lain: Usulu Tsaltsah, Aqidah Wasitiyyah, Qowaidul Arba‟, Kaysfu Syubhat hingga Ilmu Kalam. Syariah merupakan obyek kajian studi Islam yang sangat penting karena menempati urutan kedua setelah Aqidah dalam semua referensi kajian Islam. Syariah meliputi seluruh aspek kehidupan manusia secara langsung (directly) atau secara tidak langsung (explicitly) baik ibadah dan muamalah. Maka Syariah di sini bisa menjadi tolak ukur pemanfaatan ilmu pengetahuan hingga terlihat ketentuan halal-haram mau bagaimana pun juga bentuknya (Abbas, 2011). Sekaligus dengan standar tersebut muncul beberapa cabang ilmu antara lain: Fiqih, usul fiqh, Tafsir, Ilmu


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 254 ~ Alquran hingga hadist. Kontras dengan hal ini, muncul beberapa karya seperti kitab tafsir Assa‟di, kutubusittah hingga syarah almumti‟. Akhlak merupakan kebiasaan-kebiasaan serta adat yang sering dilakukan. Biasanya akhlak ini merupakan buah dan hasil dari pelaksanaan syariat. Ruang lingkup akhlak menurut Zainuddin (2013) mencakup akhlak kepada sang pencipta, akhlak kepada sesama manusia, akhlak kepada diri sendiri dan akhlak terhadap alam semesta. Sementara itu tatanan akhlak tidak hanya terbatas pada penyusunan hubungan antara manusia dengan manusia namun mengatur hubungan manusia dengan segala yang terdapat dalam wujud dan kehidupan, dan hubungannya dengan Allah Swt (Sahnan, 2019). Saking luasnya cakupan tersebut maka para ulama telah membuat beberapa karya antara lain: Ta‟limul mutaalim, Attibyan fi adabi hamaltil qur‟an hingga Akhlaq AlQur‟an. 2. Kontribusi dalam Ilmu-Ilmu „aqliyyah Salah satu aspek penting pada kejayaan Islam ialah kecenderungan, aktivitas serta keberhasilan intelektual yang tinggi pada segala bidang oleh para ilmuan muslim. Perhatian dan perkembangan yang terus menerus dilakukan telah melahirkan sejumlah besar figur intelektual yang kapasitas dan manfaat keilmuannya diakui di seluruh dunia secara universal. Beberapa ilmu yang ditemukan oleh cendekiawan muslim, antara lain: Ilmu Kedokteran, ilmu ini mulai mendapat perhatian ketika Khalifah Al-Mansur sakit sehingga memanggil Khalid Ibn Barmak (seorang Persia) ke Istana untuk mengobati beliau. Dan menjadikannya dokter tetap istana. Ilmu kedokteran pada masa ini masih berkaitan dengan filsafat sehingga ikut berkembang juga. Diantara ilmuan yang terkenal antara lain Ibn Sina, Al- Razi, AlKindi, dan Al-Zahrawi. Berikut kemajuan yang telah dicapai pada bagian kesehatan antara lain: (a) Farmasi yang berkaitan dengan mutu dan dosis obat-obatan. Uraian obat-obatan dimuat dalam kitab-kitab yang terkenal seperti Al-Hawi (oleh Ar-Razi, 830 jenis), Qanun (oleh Ibn Sina, 760 jenis), Al-Kindi dan Al-Zahrawi. (b) Anestetik: pembiusan total untuk pembedahan (besar) dengan menggunakan campuran candu, mandrake, zoari, hyocyamus dan


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 255 ~ diberikan melalui suntikan. (c) Operasi: kitab Al-Tasrif yang ditulis oleh Al-Zahrawi menggambarkan kurang lebih 200 jenis alat dalam bidang operasi serta menjadi rujukan pertama di masanya. (d) Opthalmologi: Istilah-istilah seperti retina, katarak dan lain-lain serta teori baru tentang penglihatan pada lensa mata yang difokuskan ke retina. (e) Anatomi: menyelidiki struktur bentuk dari tubuh manusia. (f) Ortopedik: uraian tentang patah tulang dan terkilir disertai dengan teknik untuk membetulkan kembali tulang yang terkilir dari sendinya. (g) Rumah sakit: banyak ditemukan bangunan rumah sakit pada zaman perkembangan ilmu (abad ke 9–11M), di negara Islam dari Maroko. Selain ilmu kedokteran, Matematika menjadi salah satu bidang ilmu yang sangat penting bagi dunia Islam, ilmu ini tidak terlepas dari peran besar para ilmuan Islam, seperti Yahya AlBarmaki dan Uma bin Al-Farukhan yang diundang langsung oleh Sultan Al-Ma‟mun untuk bekerja di istana. Selain Yahya Al-Barmaki dan Uma bin Al-Farukhan, AlKhawarizmi, termasuk ilmuan yang menemukan struktur angka lebih praktis dari struktur angka yang diciptakan oleh orang-orang Romawi. Salah satu struktur angka adalah angka Nol, sebagai simbol bersistem yang berperan karena dengan 0 kita dapat menghitung puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya. Penemu lain adalah Al-Hasan Abu Kamal, beliau dikenal sebagai penemu angka pecahan atau yang disebut pecahan bilangan desimal. Dalam bidang Ilmu Sains, Teknologi dan Sosial, kontribusi ilmuan muslim tidak kalah penting dari ilmuan Barat, mereka terdiri dari Ibnu Khaldun (ahli sejarah, ekonomi dan sosiologi) dari Tunisia, Ibnu Khawarizmi (ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi) dari Kufah, Ibnu Batutah (ahli geografi dan Alim) dari Maroko, Al-Biruni (ahli Fisika, Astronom, Filsuf ) dari Khiva, AlBattani (ahli Astronomi, matematikawan dan penemu trigonometri) dari Arab, Jabir bin Hayyan (ahli Kimia dan Fisika) dari Yaman, Ibnu Al-Baithar (Apoteker dan Pengumpul racikan tumbuhan) dari Malaga, Abbas Al-Nabati (ahli Biologi dan Farmasi) dari Andalusia, Ibnu Rusyd (ahli sastra, Dokter, Astronomi) dari Andalusia, AlKhawarismi (ahli Matematika, Ahli astronomi dan geografi) dari Kufah, Al- Kindi (Filsuf Islam Pertama), Al-Farabi (Filsuf Islam) dari


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 256 ~ Kazakhastan, Al-Biruni (Penulis, Astronomi, Fisikawan) dari Persia, Al-Ghazali (Psikolog, Ahli Sufi dan Teologi) dari Persia, serta para ilmuan lain yang hidup pada era kontemporer saat ini yang tidak mungkin disebut satu per satu, dan mereka telah memberikan sumbangsih pemikiran dalam dunia Islam dan pada dunia Barat (Mehdi Nakosteen, 1996). Dari paparan di atas bisa dikatakan bahwa ilmu-ilmu naqliyyah yang sumber ajarannya pada agama tidak mengabaikan realitas saat ini yaitu perkembangan Ilmu Pengetahuan yang bersandar pada akal (Ilmu-Ilmu Aqliyyah) sebab hal tersebut merupakan konteks atau wajah dari manusia dunia modern. Merefleksikan hal tersebut maka paradigma Aqidah, standar pemanfaatan syariah serta etika moral dan akhlak dapat membantu manusia untuk melihat kualitas Ilmu pengetahuan yang bukan hanya diukur dari nilai-nilai pragmatis instrumental demi kesejahteraan ekonomis dan sosial, melainkan juga dari nilai-nilai kemanusiaan secara utuh sehingga bisa mencermati dampak negatif bagi kehidupan manusia (Suryanti, 2010). Integrasinya ilmu-ilmu naqliyyah dan aqliyyah telah memberikan dampak dan pengaruh yang cukup signifikan terhadap dunia Islam, antara lain: 1) Terjadinya keseimbangan antara pemahaman ilmu agama dan dunia oleh kaum muslimin. 2) Mendapatkan status yang tinggi dan terhormat bagi orang Islam yang menguasai ilmu tersebut. 3) Munculnya sikap toleran kaum muslim terhadap pemikiran orang luar. 4) Munculnya program islamisasi ilmu pengetahuan khususnya di Indonesia 5) Pendirian lembaga pendidikan Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas SDM. 6) Didirikan berbagai asosiasi, diantaranya Forum Islam International dan selainnya (H.B. Jumin, 2012).


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 257 ~ Daftar Pustaka Affan, Heyder. “Polemik Di Balik Istilah „Islam Nusantara.” Bbc.Com. Diakses 6 November 2018. https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150614_ind onesia_islam_nusantara. Alvionita, Gena, and Arki Auliahadi. “Dinamika Islam Di Indonesia Awal Abad 21.” Khazanah 10, 1 (2020): 13–24. Azra, Azyumardi. “Distinguishing Indonesian Islam: Some Lessons to Learn.” In Islam in Indonesia: Contrasting Images and Interpretations, edited by Jajat Burhanudin and Kees van Dijk, 63–74. Amsterdam: Amsterdam University Press, 2013. Azra, Azyumardi. “Islam Indonesia: Kontribusi Pada Peradaban Global.” Prisma 29, 04 (2010). Azra, Azyumardi. “Islam Nusantara (1).” Republika.Co.Id. Diakses 5 November 2018. https://republika.co.id/berita/kolom/resonasi/15/06/17/nq3f9n-islamnusantara-1. Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana, 2013. Azra, Azyumardi. Renaisans Islam Asia Tenggara. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999. Azra, Azyumardi. “Warisan Islam Asia Tenggara (1).” Republika.Co.Id. Diakses 31 October 31, 2018. https://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/14/08/27/naz5vmwarisan-islam-asia-tenggara-1. Azra, Azyumardi, Noorhaidi Hasan, Yusdani Zuly Qodir, Alimatul Qibtiyah, Nur Kholis, Krismono, Supriyanto Abdi, Ahmad Sadzali, and Hadza Min Fadhli Robby. Islam Indonesia 2020. Yogyakarta: UII Press, 2020. Baso, Ahmad. Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma‟ Ulama Indonesia. Ciputat: Pustaka Afid, 2015. Berlin, KBRI. “Indonesia Jadi Inspirasi Toleransi Beragama Dan Multikulturalisme Bagi Jerman.” Kemlu.Go.Id. Diakses 16 December 2019. https://kemlu.go.id/berlin/id/news/256/indonesia-jadi-inspirasitoleransi-beragama-dan-multikulturalisme-bagi-jerman. Hadi, W.M. Abdul. Cakrawala Budaya Islam: Sastra, Hikmah, Sejarah, Dan Estetika. Yogyakarta: IRCiSoD, 2016. Hasan Muarif Ambary. Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis Dan Historis Islam Nusantara. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1998. Ihsanuddin. “Azyumardi Azra: Islam Di Indonesia Terlalu Besar Untuk Bisa Gagal.” Kompas.Com. Diakses 12 December 2019. https://amp.kompas.com/nasional/read/2017/06/04/21360011/azyumar di.azra.islam.di.indonesia.terlalu.besar.untuk.bisa.gagal. Islam, Syed Serajul. The Politics of Islamic Identity in Southeast Asia. Malaysia: Thompson, 2005


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 258 ~ G. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan Kelompok Kerja Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut. a. Silakan mahasiswa membentuk kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4-6 mahasiswa sesuai arahan dosen. b. Usahakan masing-masing kelompok terdiri atas laki-laki dan perempuan. c. Apabila kelompoknya sudah terbentuk silakan tentukan ketua kelompoknya. d. Ketua kelompok silakan berdiskusi dengan ketua kelompok lainnya menetapkan nama kelompok dengan memilih nama-nama sahabat Nabi sesuai arahan dosen. e. Ketua kelompok bersama anggotanya mengatur tempat duduk sesuai arahan dosen. 2. Pertanyaan Proyek Mahasiswa dalam kelompok diberikan pertanyaan dan tugas oleh dosen secara lisan sebagai berikut. a. Tentunya setelah membaca materi tentang kontribusi Islam dalam pengembangan peradaban dunia yang damai, bersahabat, dan sejahtera lahir dan batin, para mahasiswa sudah tahu Sejarah peradaban Islam, Faktor penyebab kemajuan dan kemunduran Islam dan Kontribusi Islam dalam Peradaban Dunia..? b. Silakan secara berkelompok menyimpulkan bagaimana kontribusi Islam dalam pengembangan peradaban dunia..? 3. Perencanaan Proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masingmasing kelompok sebagai berikut. a. Kesimpulan menggunakan format artikel ilmiah kajian pustaka. b. Sumber referensi dalam membuat kesimpulan yaitu minimal bersumber dari buku ajar yang sedang dibaca ini dan beberapa referensi seperti e-book, jurnal, prosiding dan lainnya. c. Silakan setiap kelompok dalam membuat kesimpulan berpedoman pada penulisan artikel ilmiah kajian pustaka dengan sistematika berikut. 1) Judul Tulisan, Nama, Npm, dan Email Mahasiswa Contoh: Kontribusi Islam Dalam Pengembangan Peradaban Dunia Oleh Abdul Ghani (NPM A1A018001) Email: [email protected] Nurrahmah (NPM A1A018008) Email: [email protected]


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 259 ~ 2) Abstrak Gunakan format IMRAD (Introduction, Method, Result & Discussion) yang diakhiri kata kunci. Abstrak maksimal 250 kata dan minimal 150 kata. 3) Pendahuluan Pendahuluan sebaiknya memuat beberapa unsur berikut. a. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan teori dan penelitian relevan. b. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan hasil pengamatan, observasi, atau wawancara. c. Menjelaskan pemetaan tentang tulisan sebelumnya baik dari jurnal atau prosiding yang belum menulis tentang kajian yang akan dibahas. d. Menjelaskan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan. 4) Metode Penulisan Jelaskan metode penulisan yang digunakan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Kemudian, jelaskan sumber data tulisan yang diperleh dari buku, jurnal, prosiding, atau lainnya. Jelaskan juga teknik analisis data yang digunakan membuat formulasi permasalahan, mencari literature, evaluasi data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data. 5) Pembahasan Pembahasan berusaha membandingkan dan menghubungkan konsep-konsep tentang kajian yang akan dibahas sehingga ditemukan kesimpulan yang terbaik. 6) Simpulan dan Saran Simpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sebagai jawaban akhir dari pembahasan yang bersumber dari gabungan pendapat dari pakar yang dikutip. Sedangkan saran menyampaikan saran kepada pihak yang menerima kontribusi terhadap tulisan ini yaitu mahasiswa dan dosen. 7) Daftar Pustaka Gunakan format American Psychologycal Association 7 (APA 7) yang bersumber dari buku, jurnal, dan prosiding. Contoh pengutipan dan penulisan daftar putaka menggunakan APA 7 dapat dilihat pada laman berikut https://edutecion.com/apa-styleedisi-7/. d. Kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka menggunakan aturan penulisan berikut: 1. kertas A-4; 2. jenis tulisan Times New Roman; 3. spasi 1,5; 4. margin kiri 3, kanan 2,5, atas 2,5, dan bawah 2,5; 5. kutipan tidak langsung; dan 6. penulisannya menggunakan bodynote.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 260 ~ 4. Penyusunan Jadwal Proyek Proyek menulis kesimpulan dan bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang tentang kontribusi Islam dalam pengembangan peradaban dunia yang damai, bersahabat, dan sejahtera lahir dan bati. 20 2. Menyusun kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 60 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 20 4. Mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi sesuai petunjuk dosen. 10 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 40 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 360 Total Waktu 510 5. Pengawasan Pelaksanaan Proyek Pengawasan pelaksanaan proyek dilakukan oleh guru bisa dengan menggunakan lembar pengamatan penilain sikap berikut: No Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan Ya Tidak 1. Mahasiswa dalam kelompok aktif mencari referensi sebagai bahan membuat kesimpulan. 2. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 3. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 4. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi. 5. Mahasiswa dalam kelompok aktif dan kritis dalam mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 261 ~ panel. 6. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif dalam kegiatan diskusi panel. 7. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 8. Mahasiswa dalam kelompok menulis membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti sistematika dan aturan penulisan yang sudah ditetapkan. Jumlah Jawaban Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut: 6. Penilaian Hasil Proyek melalui Presentasi Proyek Penilain hasil proyek atau produk membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah hasil kajian pustaka bisa menggunakan format penilaian berikut: No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Sistematika penulisan. 1-15 2. Isi tulisan berkaitan dengan kekuatan argumentasi 1-30 3. Penggunaan ejaan (penulisan huruf, tanda baca, kata, dan unsur serapan) dan tata bahasa (kalimat dan paragraf). 1-20 4. Aturan penulisan berkaitan dengan kutipan dan format tulisan. 1-15 5. Tingkat keorisinalan tulisan dari hasil cek similaritas atau cek plagiasi. 1-20 Total Nilai 100 7. Evaluasi Pengalaman melalui Refleksi Tahap evaluasi pengalaman melalui refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam membuat kesimpulan tentang tentang kontribusi Islam dalam pengembangan peradaban dunia yang damai, bersahabat, dan sejahtera lahir dan. Dosen bisa menggunakan evaluasi pengalaman melalui refleksi dengan dua acara berikut:


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 262 ~ f. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek kepada perwakilan kelompok. Kegiatan refleksi kelompok bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba Anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba Anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesimpulan tentang Sejarah peradaban Islam, Faktor penyebab kemajuan dan kemunduran Islam dan Kontribusi Islam dalam Peradaban Dunia? g. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek secara individu kepada masing-masing individu yang dianggap belum aktif dalam proses kegiatan proyek. Kegiatan refleksi individu bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba Anda sampaikan kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba Anda sampaikan kesimpulan tentang Sejarah peradaban Islam, Faktor penyebab kemajuan dan kemunduran Islam dan Kontribusi Islam dalam Peradaban Dunia? H. Tes Kognitif Individu 1) Petunjuk: a. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. b. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benar salahnya jawaban Anda. c. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang paling benar. d. Soal sebanyak 25 soal dengan bobot setiap soal sebesar 4 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. e. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 2) Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d! 1. Arti kata “syajaratun” adalah.. a. Daun b. Bunga c. Pohon d. Akar 2. Penyebab pentingnya mempelajari peradaban Islam adalah.. a. Memberikan pemahaman yang utuh mengenai sejarah peradaban islam b. Memberikan sebagian pemahaman mengenai sejaran islam c. Memberikan kajian tentang pendekatan-pendekatan sejarah


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 263 ~ d. Memberikan pemahaman objektif seputar fakta sejarah peradaban islam 3. Kata “history” secara umum di definisikan sebagai.. a. Masa lampau umat manusia b. Masa sekarang umat manusia c. Kesusahan umat manusia d. Masa keemas an umat manusia 4. Salah satu manfaat mempelajari sejarah peradaban Islam adalah.. a. Memahami perkembangan teknologi modern. b. Mengetahui kontribusi Islam dalam ilmu pengetahuan, seni, dan kebudayaan. c. Memahami konflik politik modern. d. Menilai eksistensi peradaban Islam sebagai yang paling superior. 5. Dibawah ini yang termasuk ilmuan penemu struktur angka adalah, kecuali.. a. Yahya Al-Barmaki b. Uma Bin Al-Farukhan c. Al-Khawarizmi d. Marcus Tullius Cicero 6. Kemajuan pesat umat kristen yang bersamaan dengan masa kemunduran islam terjadi pada abad.. a. 15 M b. 11 M c. 9 M d. 16 M 7. Berikut ini yang bukan merupakan penyebab kemunduran dan kehancuran konflik Islam dengan Kristen adalah.. a. Tidak adanya ideologi pemersatu b. Kesulitan ekonomi c. Kurangnya pasokan makanan d. Keterpencilan 8. Pada tahun berapa kerajaan Islam di Spanyol runtuh.. a. 1490 b. 1492 c. 1942 d. 1249 9. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas komunitas negara, salah satunya adalah komunitas barbar yang berasal dari.. a. Arab utara dan Selatan b. Konstantinopel c. Indonesia d. Afrika utara 10. Sejarah memiliki nilai dan arti penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Hal tersebut dikarenakan..


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 264 ~ a. Sejarah mengandung kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai baru bagi perkembangan kehidupan manusia. b. Sejarah membuat kekuatan bagi kehidupan manusia. c. Sejarah melahirkan nilai nilai lama bagi kehidupan manusia dimasa depan. d. Sejarah dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia. 11. Sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, atau peristiwa unik dan berlaku hanya sekali dan tidak berulang untuk kedua kalinya. Pengertain tersebut adalah pengertian Sejarah secara .. a. Khusus b. Spesifik c. Umum d. Bahasa 12. Sejarah ilmu pengetahuan dan peradaban Islam, tanah Spanyol lebih banyak dikenal dengan nama.. a. Vandalusia b. Andalusia c. Libelusia d. Avadulisia 13. Abdurrahman Al-Nasir mendirikan Universitas .. a. Andalusia b. Cordotia c. Cordova d. Vandala 14. Apa yang menjadi salah satu penyebab gangguan dalam pemerintahan Spanyol pada periode pertama (711-755 M).. a. Konflik politik antara suku Arab Utara dan Arab Selatan. b. Perselisihan antara elite penguasa yang berbeda etnis. c. Kehadiran Abdurrahman Al-Dakhil di Spanyol. d. Pemberontakan penduduk Spanyol terhadap pemerintahan Islam. 15. Siapa tokoh yang dikenal sebagai "zaryab" dan memainkan peran penting dalam perkembangan musik dan seni suara di Spanyol Islam.. a. Ibn Yahya b. Abu Bakr ibn Al-Quthiyah c. Al-Hasan ibn Nafi d. Ibn Hazm 16. Salah satu dampak penting dari masuknya peradaban Islam ke Spanyol pada periode kedua adalah... a. Perkembangan di bidang politik dan peradaban b. Meningkatnya kekuasaan Kekaisaran Romawi c. Penyebaran agama Kristen d. Penguasaan Eropa oleh Arab


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 265 ~ 17. Banyak konflik yang terjadi pada periode pertama masuknya Islam ke eropa, seperti digantinya gubernur sebanyak 20 kali dalam waktu yang singkat. Apa penyebab terjadinya hal tersebut.. a. Banyaknya perselisihan antara umat Islam dan Kristen di Spanyol b. Banyaknya perang saudara yang disebabkan oleh perbedaan etnis dan golongan antara elite dan penguasa c. Meningkatnya kekuasaan kekaisaran di Spanyol d. Adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Hafsun yang menyebabkan terpecahnya Islam 18. Studi-studi musikal Islam telah diterjemahkan ke bahasa Hebrew dan Latin sampai periode pencerahan Eropa. Siapa yang terlibat dalam terjemahan ini.. a. Al-Hasan ibn Nafi b. Ibn Yahya c. Teoritikus al-Kindi d. Adam de Fulda 19. Umat Kristen memperoleh kemajuan pesat pada abad ke.. a. 11 b. 12 c. 14 d. 18 20. Ungkapan merendahkan yang diberikan oleh kerajaan Islam di Spanyol kepada orang orang muslim non-arab adalah.. a. Mawali b. Ibad muwalladun c. Abid d. Maulid 21. Kitab Al-Tasrif menggambarkan kurang lebih 200 jenis alat dalam bidang operasi serta menjadi rujukan pertama di masanya, Siapakah yang menulis kitab At-Tasrif.. a. Al-Batani b. Ibnu Al Haytham c. Ibnu Sina d. Al-Zahrawi 22. Peradaban islam pada masa Rasulullah SAW. Dibagi menjadi dua fase yaitu.. a. Fase Yerusalem dan Fase Makkah b. Fase Riyadh dan Fase Yatsrib c. Fase Makkah dan Fase Madinah d. Fase Uhud dan Fase Arqam 23. Berikut yang bukan nama nama sahabat yang mengimani Rasulullah pada permulaan dakwah Islam yaitu.. a. Zaid bin Haritsah b. Abu bakar As-Sidiq c. Ali bin Thalib


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 266 ~ d. Umar bin Khattab 24. Pada tahun 1492 M, kekuasaan Islam di Spanyol yang dimana pada saat itu kekuasaan islam berada di bawah kekuasaan abu abdullah mengaku kalah kepada kerajaan kristen. Siapakah penguasa kristen pada saat itu.. a. Ferdinand dan Isabella b. John dan Adolf c. Stalin dan Lincoln d. Alexander dan paus paulus 25. Siapakah orang yang pertama kali dapat menemukan pembuatan kaca dari batu.. a. Abu abdullah b. Ferdinand c. Abbas ibn farnas d. Ibrahim ibn yahya al-naqqash Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 267 ~ BAB X Peran Masjid dalam Membangun Umat yang Religius-Spritualistis, Sehat Rohani dan Jasmani, Cerdas dan Sejahtera Sub-CPMK-10 Pertemuan ke-13: Mampu menyimpulkan peran masjid dalam membangun umat yang religius-spritualistis, sehat rohani dan jasmani serta cerdas dan sejahtera Gambar 10.1 Peran masjid dalam membangun umat Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid#/media/Berkas:Exterior_of_Sultan_Ahmed_I_Mos que_in_Istanbul,_Turkey_002.jpg A. Sejarah Perkembangan Masjid Keberadaan umat muslim tidak terlepas dari keberadaan masjid di lingkungan umat tersebut, setiap terdapat umat muslim dapat dipastikan di tempat tersebut ada masjid pula. Masjid diambil dari bahasa Arab, yakni sajada yang artinya tempat sujud atau tempat untuk menyembah Allah swt. Menurut Kamus al- Munawwir, sajada memiliki arti yaitu membungkuk dengan khidmat. Sehingga berdasarkan akar kata tersebut, terbentuklah kata masjid yang menunjukkan arti tempat sujud (isim makna dari fi„ilsajada). Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, masjid diartikan sebagai rumah atau bangunan tempat sembahyang bagi Umat Islam. Dalam Al-Qur‟an kata „masjid‟ disebut sebanyak 28 kali, 22 kali di antaranya dalam bentuk tunggal dan 6 kali dalam bentuk jamak.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 268 ~ Selain itu, masjid pada umumnya memiliki fungsi utama sebagai tempat ibadah. Masjid juga didirikan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam, seperti kegiatan hari besar keagamaan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semua kegiatan di masjid ditujukan untuk meningkatkan nilai spiritualitas sebagai seorang hamba agar selalu tunduk dan patuh kepada-Nya. Dalam sejarah perkembangannya, ada dua masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah SAW yang hingga saat ini masih berdiri kokoh, yaitu masjid Qubah dan masjid Nabawi. 1. Majid Quba Rasulullah tiba di Quba pada hari senin tanggal 8 Rabi‟ul Awwal tahun pertama hijrah, tepatnya pada tanggal 23 September 622 M. Quba merupakan kawasan perkampungan di tepian kota madinah yang berada sekitar 5 km di arah selatan masjid Nabawi saat ini. Abdullah Bin Az-Zubair menceritakan, bahwa saat kaum muslimin di Madinah mendengar kabar Rasulullah berhijrah menuju ke madinah, setiap pagi mereka selalu menunggu di tanah lapang untuk menanti kedatangan Rasulullah. Tatkala matahari mulai terik mereka kembali ke rumahnya. Hingga suatu hari saat mereka pulang karena terik panas, seorang Yahudi yang tengah berdiri di sebuah benteng melihat kabilah Rasulullah dan seketika ia berteriak : “ Wahai semua orang Arab, itulah kakek kalian yang kalian tunggu-tunggu.” Seketika itu orang-orang muslimin mengambil senjatantanya. (Sahih Al-Bukhari,1/555) Kedatangan rasulullah disambut hangat dengan suara takbir yang menggambarkan kegembiraan luar biasa kaum musllimin pada saat itu. Mereka menghunuskan pedangnya ke langit dan mengucapkan selamat atas nubuwah Rasulullah. Rasulullah pada saat itu terlihat diam dan tenang karena pada saat itu juga turun wahyu Allah : Artinya: “sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.” (Qs.At-Tahrim 66: Ayat 4).


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 269 ~ Rasulullah berada di Qubah selama empat hari, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Selama di Qubah beliau mendirikan masjid Qubah dan beribadah di dalamnya. Dalam Al Qur'an, telah diceritakan bahwa Masjid Quba adalah masjid yang dibangun dengan dasar ketaatan dan ketaqwaan Rasullullah Saw kepada Allah SWT. Perhatikan ayat berikut: Artinya: " Janganlah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yangdidirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang- orang yang bersih." (QS. At-Taubah 9: Ayat 108). Saat itu, bentuk Masjid Quba masih sangat sederhana. Tiangnya terbuat dari batang pohon kurma dan atapnya tersusun dari pelepah daun kurma. Masjid ini berada di sebidang tanah milik keluarga Kalsum bin Hadam dari kabillah Amir bin Auf yang diwakafnya kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah masjid qubah didirikan, pada hari Jum‟atnya, Rasulullah bersama rombongan yang terdiri dari seratus orang melanjutkan perjalanan memasuki Madinah. Gambar 10.2 Masjid Quba dahulu Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Quba#/media/Berkas:Qubaorig.jpg


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 270 ~ Gambar 10.3 Masjid Quba sekarang Sumber: https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6426577/masjid-quba-masjid-pertamayang-dibangun-rasulullah-dan-fakta-menariknya 2. Masjid Nabawi Rasulullah tiba di Madinah pada hari Jumat tanggal 12 Rabiu‟ul Awwal 1 H, tepatnya pada tanggal 27 September 622 M. Saat itu, Rasulullah singgah di Bani An-Najjar tatkala unta yang ditungganginya menderum di halaman rumah Abu Ayyub. Saat itu juga rasulullah bersabda, “Di sinilah tempat singgah, Insya Allah.” . Rasulullah membeli tanah tempat untanya menderum itu dari dua anak yatim. Di atas tanah inilah Masjid Nabawi dibangun langsung oleh Rasulullah dan kaum muslimin. Pada awal pembangunannya, masih terdapat puing-puing reruntuhan, pohon-pohon kurma, serta kuburan orang musyrik di lahan ini. Sehingga beliau memerintahkan untuk meratakan tanah, menggali kuburan-kuburan itu, memotong pohon kurma dan menentukan arah kiblat yang saat itu masih mengarah ke Baitul Maqdis. Dimulai dengan membangun pinggiran pintu dan dinding dari batu bata dan lumpur tanah. Atapnya ditutupi oleh daun kurma. Lantainya beralaskan pasir dan kerikil-kerikil kecil serta memiliki tiga pintu. Dengan ukuran keseluruhan, panjang bangunan ke arah kiblat seratus hasta, dengan lebar yang hampir seratus hasta pula, serta pondasinya sekitar tiga hasta. Rasulullah juga membangun beberapa rumah pada sisi timur masjid dengan bilik-bilik yang dibangun untuk istri-istrinya. Setelah bangunan ini selesai, Rasulullah dan keluarganya menenmpatinya, yang mana


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 271 ~ sebelumnya beliau tinggal di rumah Abu Ayyub. Pada masa itu, Masjid Nabawi tidak hanya sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai tempat belajar, tempat musyawarah, balai penyelesaian permasalahan masa jahiliyah, gedung parlemen pemerintahan, serta tempat tinggal bagi kaum muhajirin yang belum memiliki tempat tinggal. Di masjid nabawi inilah azan sebanyak lima kali di kumandangkan setiap harinya. Gambar 10.4 Masjid Nabawi dahulu Sumber:https://www.umrohterbaik.com/sejarah-masjid-nabawi/ Gambar 10.5 Masjid Nabawi sekarang Sumber: https://hasuna.co.id/mengenal-sejarah-masjid-nabawi-ada-makam-nabimuhammad-saw/


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 272 ~ B. Sejarah Perkembangan Masjid pada Masa Khalifah Masjid mulai mengalami perkembangan arsitektur dan fungsi pada masa kekhalifahan. Hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah pemeluk agama islam dan penakhlukan daerah kekuasaan oleh para khalifah dan panglima perang. Khalifah dan panglima membangun masjid di daerah yang berhasil ditakhlukkannya. Ada juga pengalihan fungsi gerja dan kuil menjadi masjid. Upaya perluasan kekuasaan terebut memberikan corak-corak baru terhadap arsitektur masjid sesuai dengan budaya masyarakat yang ada di lingkungan masjid itu didirikan. Corak budaya tersebut terlihat pada wujud fisik masjid, seperti bentuk bangunan dan atap, corak dinding, menara dan lain sebagainya. Para khalifah juga melanjutkan pembangunan dan perbaikan masjid-masjid yang sudah ada, seperti masjid nabawi dan masji alHaram. Semua upaya pengembangan masjid ini adalah bentuk upaya memakmurkan masjid yang diharapkan dapat memakmurkan umat pula. Sejarah mencatat, ada dua jenis upaya yang dilakukan para khalifah dan panglima perang dalam memakmurkan masjid: 1. Upaya perluasan dan penyempurnaan masjid. Salah satu masjid yang mengalami perkembangan pesat pada masa kekhalifahan adalah Masjid Nabawi, tepatnya pada masa Khalifah Umar bin Khattab tahun ke-17 H. Beliau melakukan perluasan terhadap masjid Al-Haram. Juga dilakukan sedikit penyempurnaan, yaitu berupa pembuatan benteng atau dinding rendah, tidak sampai setinggi badan. Hal yang sama dilakukan pula oleh Utsman ibn ‟Affan, pada tahun 26 H. Demikian pula dengan masjid Nabawi yang diperluas oleh Umar ibn al-Khattab. Perluasan itu dilakukan pada tiga sisi, yaitu pada sisi selatan sepanjang lima meter, pada sisi barat sepanjang sepuluh meter, dan pada sisi utara sepanjang 15 meter. Sementara itu, pada sisi timur tidak mengalami perluasan dikarenakan pada sisi itu terdapat rumah para istri Rasulullah SAW. Setelah perluasan yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab, luas Masjid Nabawi bertambah menjadi 1.100 meter persegi, sehingga luas keseluruhan menjadi 3.575 meter persegi. Tingginya pun bertambah menjadi 5,5 meter, dan jumlah pintunya pun


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 273 ~ bertambah menjadi enam pintu, demikian pula serambinya yang memiliki enam bagian. Terdapat perkembangan lain dalam perluasan masjid Nabawai, yaitu penambahan bagian luar masjid yang biasa disebut Buthaiha‟ atau yang biasa kita sebut sebagai teras. Buthaiha‟ merupakan bagian yang cukup luas terletak di sebelah utara masjid. Bagian ini sengaja disiapkan untuk jamaah yang ingin duduk-duduk dan bercengkerama bersama teman-temannya seperti berlantun bait-bait syair. Kemudian renovasi dilanjutkan oleh khalifah Ustman ibn Affan dengan mengganti tiang-tiang dengan besi berlapis timah, serta mengganti atapnya dengan kayu. Selain itu, khalifah Ustman juga melakukan renovasi masjid Quba dengan melakukan pemugaran dan perluasan. 2. Upaya Pembangunan Masjid-masjid baru. Para khalifah membangun masjid di daerah yang berhasil ditakhlukkannya, seperti Khalifah umar membangun sebuah masjid di Baitul al-Maqdis tepatnya di atas bukit Muriah. Masjid ini berbentuk lingkaran dan dindingnya dari tanah liat. Masjid itu diberi nama Masjid Umar. Pada masa kini, masjid tersebut dijadikan monumen simbolis jatuhnya kekuasaan kristen ke tangan umat islam. Selain itu, Saad ibn Abi Waqas, seorang panglima perang, membangun sebuah masjid di Kufah menggunakan bahan-bahan persia. Masjid tersebut berhasil dibangun dari tahun 17 H dan selesai pada tahun 18 H. Kemudian pada tahun 21 H, Panglima perang Amr Ibn Al-Ash melakukan pembangunan masjid Al-Atiq di Fustar. Lalu ada pula masjid lainnya, seperti masjid di kota Basrah oleh „Utbah ibn Ghazwan tahun 14H dan masjid di Kota Madain oleh Sa‟ad Ibn Abi Waqas pada tahun 16 H. Usaha penyebaran agama islam berhasil meningkatkan jumlah pemeluknya yang juga mengakibatkan bertambahnya jumlah masjid di seluruh dunia. Bersamaan dengan itu, ada pula masjid yang bercorak seperti gereja atau kuil karena terjadi pengallihan fungsi beberapa tempat ibadah menjadi masjid, seperti masjid Hagia Sopiha di Turki.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 274 ~ Sumber 10.6 Masjid Hagia Sopia Sumber: https://travel.kompas.com/image/2020/07/11/161629927/sejarah-hagiasophia-perjalanan-kembali-menjadi-masjid?page=1 Pada 1453 Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih dapat menguasai atas kota tersebut dan memerintahkan agar adzan dikumandangkan di Gereja Hagia Sophia sebagai pengumuman kepada umat manusia bahwa gereja itu dirubah menjadi masjid dan umat Islam menjadi penguasa yang baru di Konstantinopel. Satu hal yang paling layak disebutkan disini adalah Gereja Hagia Sophia ini awalnya merupakan markas Kristen Ortodoks sedunia, sebagaimana Vatikan merupakan markas Kristen Katolik sedunia. Pola dasar organisasi masjid mengambil bentuk yang berbeda tergantung pada wilayah, periode, dan mazhab. Masjid pada awalnya berfungsi sebagai tempat sentral pemerintahan dan pengadilan, tempat ibadah, sekaligus pendidikan umat Islam. Namun, siring berjalannya waktu fungsi masjid sebagai tempat ibadan dan pusat pemerintahan mulai dipisah. Pusat pemerintahan dan pengadilan memiliki bangunan dan pengurus strukturalnya sendiri sebagai wujud pemerintahan suatu negara yang dapat dipengaruhi oleh nilai-nilai politik. Sedangkan masjid berdiri sebagai tempat ibadah dan pusat perkembangan dakwah yang berfokus dalam meningkatan nilai-nilai penghambaan dan mencerdaskan umat dengan ilmu agama yang berlandaskan AlQur‟an dan As-Sunnah.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 275 ~ C. Sejarah Perkembangan Masjid di Indonesia Perkembangan masjid dan mushalla di Indonesia saat ini sangatlah pesat. Berdasarkan data Kemenag tahun 2014, terdapat 296.795 masjid diseluruh Indonesia dan belum termasuk langgar serta musholla. Masjid-masjid ini dibangun di kawasan permukiman, perkantoran, pusat perbelanjaan, pusat pendidikan, hingga tempat wisata. Dibalik modernisasi masjid saat ini, tersimpan sejarah perkembangan masjid di Indonesia. Sejarah masjid juga berkaitan dengan sejarah datangnya Islam ke bumi nusantara yang kemudian disebar luaskan oleh wali songo. Pada masa penyebaran agama islam, banyak masjid-masjid yang didirikan oleh para raja dan sultan. Awal mula pendirian masjid di Indonesia yaitu berasal dari Pulau Jawa. Para ulama dan pedagang menyebarkan pengaruh Jawa ke wilayah timur Nusantara. Wilayah Maluku adalah sala h satu wilayah yang mendapat pengaruh kuat Jawa dikarenakan perdagangan rempah-rempah yang pesat pada daerah tersebut. Pengaruh Jawa mulai berkembang pesat di Indonesia. Ciri khas dari pengaruh Jawa yaitu adanya atap bersusun banyak. Pengaruh ini berkembang terutama pada wilayah nusantara yang memiliki bandara serta kota pantai. Seiring dengan berkembangnya zaman, arsitektur masjid yang ada di Indonesia kian beragam, namun tetap memadukan dengan budaya- budaya yang ada di Indonesia. Secara umum, arsitektur masjid di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua gaya utama, yaitu masjid berkubah dan masjid bermustaka. Masjid berkubah ialah masjid yang memiliki atap berbentuk kubah dan menjadi simbol arsitektur Islam sejak dibangunnya Qubbat A-Sakhrah atau Kubah Batu di kompleks Masjid Al-Aqsha yang terdapat di Jerusalem. Sedangkan masjid bermustaka merupakan masjid yang memiliki atap berbentuk limas yang bersusun dan ditutupi oleh mustaka yang merupakan pengaruh dari arsitektur Hindu-Buddha. Rata-rata masjid pertama yang dibangun di Indonesia dibuat menggunakan kayu, bukan dengan bata atau batu. Masjid dirancang dengan berlandaskan pengalaman para perancang serta kebiasaan yang masih berlaku dalam masyarakat tersebut. Salah satu masjid di Jawa yang dibuat menggunakan kayu, yakni Masjid Agung Demak yang terletak di Demak dan sekaligus menjadi masjid pertama yang


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 276 ~ ada di Pulau Jawa. Masjid di Indonesia awalnya memiliki ukuran yang cukup besar. Sebagian besar masjid yang ada di Indonesia pada saat itu memiliki kaitan yang erat dengan istana. Masjid tersebut memiliki unsur-unsur seperti tiang yang berfungsi untuk menopang atapnya yang bertingkat- tingkat. Terdapat empat tiang utama yang ada pada masjid Jawa yang biasa disebut saka guru, sedangkan tiang pada timur laut masjid Jawa biasa disebut saka tatal yang berarti tiang serpih- serpih. Berikut adalah tiga masjid tertua yang berdiri di bumi nusantara : 1. Masjid Sultan Suriyansyah Gambar 10.7 Masjid Sultan Suriyansyah Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/masjid-sultansuriansyah/ Masjid Sultan Suriyansyah merupakan masjid tertua peninggalan kerajaan Banjarmasin yang didirikan pada tahun 1526 oleh sultan suriyansyah (sultan banjarmasin pertama yang memeluk Islam). Masjid ini berada di kalimantan selatan kota Banjarmasin tepatnya di tepi Sungai Kuin. Bangunan masjid ini bergaya khas Banjar, yaitu atapnya yang berbentuk tumpang tindih dan atap mihrab yang terpisah dari bangunan utamanya. Pada awalnya masjid ini dibangun untuk beribadah dan musyawarah. Namun seiring berjalannya waktu, masjid ini juga dijadikan sebagai tempat belajar Al-Qur‟an, pengajian setiap malam jum‟at, majelis taklim khusus perempuan dan perayaan hari raya Islam.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 277 ~ 2. Masjid Agung Demak Gambar 10.8 Masjid Agung Demak Sumber: https://jateng.solopos.com/bukan-masjid-agung-demak-ternyata-inimasjid-tertua-di-jawa-tengah-1280598 Masjid agung demak didirikan oleh raja pertama di kesultanan demak, yaitu Raden Fattah pada tahun 1474. Masjid ini berada di desa Kauman Demak Jawa Tengah. Masjid ini dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para wali songo. Di dalam kompleks masjid ini juga terdapat makam-makam para raja dan abdinya. Saat ini, masjid demak dijadikan sebagai pusat kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan keagamaan. Masjid ini berbentuk bujur sangkar dengan atapnya yang berbentuk segi empat bersusun tiga atau sering disebut dengan atap tumpang. 3. Masjid Sunan Ampel Surabaya Gambar 10.9 Masjid Sunan Ampel Sumber: https://www.rumah.com/areainsider/surabaya/article/masjid-sunanampel-16637


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 278 ~ Masjid Sunan Ampel terletak di kelurahan Ampel Surabaya Jawa Timur. Masjid ini didirikan pada tahun 1421 oleh Sunan Ampel. Di sebelah barat masjid ini terdapat makam sultan Ampel yang meninggal pada tahun 1481. Masjid Ampel memiliki lima buah gapura yang tersebar pada wilayah Masjid Ampel Surabaya, lima buah gapura sering kali dimaknai oleh masyarakat sebagai lima rukun Islam. Peran Masijid dalam Perkembangan Umat Sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang, masjid mengambil peran dan fungsi penting dalam dinamika kehidupan di masyarakat umat muslim. Masjid digunakan sebagai sarana tempat beribadah, pembinaan, tempat menimba ilmu, pusat dakwah, kaderisasi, pusat kebudayaan, dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan diri umat muslim. Masjid yang besar, indah, dan bersih adalah dambaan umat Islam. Namun, itu semua tidak cukup dengan tidak adanya kegiatan dalam masjid untuk mendukung kemakmuran. Kondisi masjid mencerminkan kondisi umat muslim di daerah tersebut. Kemakmuran atau keadaan sepi sebuah masjid bergantung pada komunitas di sekitarnya. Jika masyarakat tersebut rajin beribadah di masjid, maka tempat ibadahnya juga akan makmur. Namun,sebaliknya, jika masyarakat atau lingkungan itu tidak atau jarang ke masjid, masjid itu pastinya akan terlihat sepi. Memang logis apabila keadaan umat muslim dapat diukur dengan keadaan masjid yang ada di daerahnya. Masjid yang makmur menunjukkan kemajuan umat di sekitarnya, sedangkan masjid yang sepi menunjukkan lunturnya semangat masyarakat untuk beribadah ke masjid. Pada masa Bani Umayyah dan Abbasiyah, terjadi perubahan fungsi masjid dan perannya. Masjid sudah tidak lagi digunakan sebagai sentral kegiatan umat Islam secara menyeluruh karena pusat pemerintahan dipindahkan ke istana sehingga masjid difokuskan untuk kegiatankeagamaan saja. Optimalisasi peran masjid, secara tidak langsung akan mendukung gerakan pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, terutama anak-anak sebagai generasi penerus bangsa karena masjid adalah tempat yang strategis untuk tempat belajar dan bermain anak. Pendidikan memiliki peran yang besar dalam


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 279 ~ pembangunan suatu bangsa, antara lain pembentukan wawasan kebangsaan, pertumbuhan ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), penyiapan tenaga kerja, dan peningkatan etika dan moralitas. Untuk mencapai hasil yang optimal perlu didukung dengan sistem, aktivitas dan lembaga pemberdayaan masjid. Secara mikro, peran masjid dalam kehidupan umat Islam adalah sebagai rumah ibadah. Sesuai dengan namanya, masjid adalah tempat bersujud, zikir, i‟tikaf, dan ibadah lainnya. Sehingga, fungsi utama masjid adalah sebagai tenpat beribadah, baik secara terang-terangan atau umum menurut dengan ajaran Islam. Sedangkan secara makro, peran masjid sebagai sarana pertemuan (diskusi, debat, seminar), mencari ilmu atau pendidikan, berbagi pengalaman, kegiatan sosial, membangun umat, pusat dakwah, dan kebudayaan Islam. Saat ini, banyak sekali masjid yang sudah dikelola secara profesional sehingga manfaatnya sudah langsung dirasakan oleh masyarakat. Pengelolaan masjid secara profesional diharapkan dapat berlangsung secara massal dan melibatkan banyak komponen umat, baik pengurus masjid, Ulama, Umara, Ustadz, Mubaligh, Intelektual, Aktivis organisasi Islam, Pemerinntah, Politisi Muslim, dan lainnya. Sehingga masjid dapat diperankan secara ideal dalam kehidupan umat. Adapun peran ideal masjid, yaitu: 1) Masjid sebagai Pusat Ibadah Pemanfaatan masjid sebagai sarana ibadah daripada umatbmuslim yang masih menganggap keberadaanya sebagai hamba Allah menunjukkan betapa peranan masjid sangat strategis, utamanya berkaitan dengan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, yaitu: a. Fungsi masjid sebagai tempat sujud atau penghambaan diri kepada Sang Khaliq-Allah SWT, dengan menjadikan masjid sebagai tempat berkumpulnya umat Islam mendirikan shalat fardhu 5 waktu serta shalat sunnah, seperti Tarwih, witir, dan lainnya. b. Fungsi masjid sebagai tempat I‟tikaf, berzikir, pengajian, dna membaca Al-Quran c. Fungsi masjid untuk kegiatan ibadah sosial atau Muamalah,


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 280 ~ seperti penerimaan,penampungan, dan pengelolaan dana zakat. d. Dapat berfungsi sebagai Baitul Mal 2) Masjid sebagai Sarana Pembinaan Umat Semakin berkembangnya dan tersebarnya jumlag masjid dari perkotaan sampai ke pedesaan, merupakan potensi utama dalam mengoptimalkan peranan masjid sebagai sarana pembinaan umat, dengan mengimplementasikan fungsi-fungsi masjid sebagai berikut: a. Fungsi persatuan dan Ukhuwah Islamiyah, maksudnya adalah dengan berkumpulnya umat islam dalam rangka melaksanakan shalat jamaah di masjid akan mengarahkan segenap Muslim dan Muslimat untuk semakin memperkokoh keutuhan persatuan dan persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah). b. Fungsi masjid sebagai Pewaris nilai-nilai ajaran Islam, dengan memposisikan masjid menjadi tempat pengajaran, pendidikan Islam, dan pengembangan ilmu c. Fungsi Dakwah, yakni masjid dapat dimanfaatkan para Da‟i (Muballigh dan Muballighat) untuk memberikan fatwa atau nasehat agama kepada segenap umat Islamdi sekitarnya. d. Sebagai penghimpun khasanah ilmu pengetahuan dengan menempatkan sarana perpustakaan. e. Masjid dapat berfungsi sebagai tempat bermusyawarah terhadap berbagai persoalan umat. 3) Pusat Dakwah dan Kebudayaan Masjid merupakan tempat dimana umat Islam dapat merencanakan sesuatu, mengorganisir, mengkaji, dan melaksanakan dakwah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, masjid berperan sebagai sentral aktivitas dakwah dan kebudayaan. 4) Pusat Kaderisasi Umat Sebagai tempat pembinaan jamaah dan kepemimpinan umat, masjid memerlukan aktivitas yang berjuang menegakkan Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Oleh sebab itu, pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di masjid sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Diantaranya dengan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), remaja masjid, maupun takmir masjid beserta kegiatannya.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 281 ~ D. Fungsi Masjid dalam Membangun Budaya Islam Islam datang untuk membimbing kehidupan manusia agar lebih seimbang dan teratur. Kehadiran islam bukan untuk menghilangkan kebudayaan yang telah ada namun Islam menginginkan agar kehidupan umat manusia terhindar dari keburukan dan kemudharatan. Hadirnya masjid sebagai wadah penyebaran ilmu agama menjadi sangat dibutuhkan untuk membangun budaya islam seutuhnya yang tidak mematahkan budaya yang telah ada namun menyeimbangkan kehidupan berbudaya sebagai seorang manusia dan hamba-Nya. Berfungsi sebagai tempat untuk membangun budaya islam, seperti kegiatan dakwah, pengajian, tempat anak-anak belajar alquran, sedekah dan lain sebagainya. Masjid merupakan symbol persatuan umat Islam. Melalui masjid, terbentuk budaya kehidupan masyarakat yang lebih religius-spritualistis, sehatrohani dan jasmani, serta cerdas sejahtera namun tetap mempertahankan corak budaya yang ada. Masjid juga berperan dalam memperkuat hubungan sosial antara umat Islam. Masjid sering menjadi tempat pertemuan sosial, diskusi, serta kegiatan amal dan sosial. Selain itu, sebagian masjid memiliki arsitektur yang indah yang turut serta menggambarkan sedikit bagian dari kebudayaan islam. Melalui arsitektur yang indah ini juga masjid menyiratkan seni islam dengan kubah, menara, dan hiasan-hiasan artistik yang unik. Bagi banyak muslim, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol penting dari identitas dan budaya islam. Pada dasarnya dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang membahas tentang masjid, salah satunya dalam ayatberikut: Artinya : ” Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang- orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (At-Taubah: 18)


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 282 ~ Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah: Sesungguhnya orang-orang yang berhak memakmurkan masjid-masjid adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hanya beribadah dan bertawakkal kepadaNya, beriman kepada hari akhir, mendirikan shalat wajib dengan menyempurnakan rukun dan syarat-syaratnya, menunaikan zakat bagi fakir miskin yang berhak mendapatkannya, dan hanya takut kepada Allah semata. Mereka adalah orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi, yang senantiasa berharap dapat melakukan apa yang mendatangkan kecintaan dan keridhaan Allah dengan memakmurkan masjid-masjid secara lahir batin; sehingga mereka berhak mendapatkan balasan surga. Melalui ayat diatas telah memberikan penekanan kepada kita bahwasanya masjid adalah tempat yang harus dimakmurkan dengan budaya-budaya islam yang semuanya ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. E. Kearifan Lokal Masjid di Bengkulu Islam mulai berkembang di Bengkulu Pada tahun 1600-1700 M melalui beberapa jalur. Diantaranya melalui jalur dakwah Islam yang dilakukan oleh masyarakat Sumatera Barat dan masyarakat Sumatera Selatan yang merantau ke Bengkulu. Selain itu Islam berkembang di Bengkulu juga melalui interaksi antar Kerajaan yang ada di Bengkulu dengan Kerajaaan Banten yang ada di Pulau Jawa. Sehingga seiring dengan perkembangan zaman, mulai banyak penduduk Bengkulu yang menganut agama Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sekarang sudah terdapat kurang lebih 2944 Masjid yang berdiri di Provinsi Bengkulu. Masjid-Masjid yang tersebar di berbagai wilayah yang ada di Bengkulu selain dijadikan sebagai tempat untuk beribadah, juga dijadikan sebagai tempat kegiatan proses belajar mengajar untuk memperdalam ilmu agama Islam dan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan musyawarah. Hal tersebut memberikan bukti bahwa pengaruh peradaban dan syiar Islam diterima dengan baik di Provinsi Bengkulu. Adapun Masjid di wilayah Bengkulu yang menganut konsep kearifan lokal diantaranya sebagai berikut:


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 283 ~ 1. Masjid Al-Ikhlas Desa Padang Betuah Bengkulu Tengah Gambar 10.10 Masjid Al-Ikhlas Sumber: https://direktoripariwisata.id/unit/8280 Masjid yang terletak di Desa Padang Betuah, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Didirikan oleh beberapa orang tokoh agama yang ada di desa padang betuah, yaitu :1. H. Mansyur yang merupakan imam pertama 2. H. Hanafiah 3. H. Hakim 4. H. Kamarudin 5. H. Yusuf. 6. H.ishak, sekitar tahun 1800. Pembangunan awal masjid ini didirikan dengan swadaya masyarakat. Menurut keterangan beberapa masyarakat sekitar awalnya masjid ini di bangun dengan atap rumbia dan dinding bambu (pelupuh), bangunan masjid ini didirikan di atas tanah wakaf dari bapak H. Hanafiah dan bapak H. Hakim. Dahulunya, menurut Sukri, keturunan pendiri Masjid AlIkhlas yakni H. Mansyur. Masjid awalnya digunakan sebagai pusat penyebaran agama Islam dan tempat berkumpulnya masyarakat dalam mengusir penjajah yang juga dipimpin oleh H. Mansyur. Masjid Al-Ikhlas menempati tanah wakaf, seluas 395 m2 dan luas bangunan masjid 80 m2, dapat menampung 320 jemaah. Awalnya Masjid beratap alang-alang. Namun secara keseluruhan saat ini masjid tidak ada pemugaran yang mengubah bentuk Masjid. Tiang-tiang penyangga Masjid yang terbuat dari kayu disusun tidak terputus namun saling menyambung. Penggunaan paku tidak dominan, namun lebih menggunakan pasak kayu. Dinding masjid terbuat dari semen, namun bagian dalam dinding


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 284 ~ itu tidak diisi dengan batu bata, melainkan bambu (bidai). Bambu itu dibelah dan dipecah-pecah, yang dijadikan sebagai pengganti batu bata. Lalu batang bambu itu setelah disusun baru ditutup dengan semen. Ini rahasia mengapa masjid selalu kokoh tak rusak karena gempa. Saat ini masjid tertua di Bengkulu ini tidak lagi digunakan untuk shalat masyarakat desa karena ukurannya yang kecil sekitar 6 x 6 meter. Masyarakat membuat masjid yang lebih besar. Namun masjid tua tersebut hanya digunakan anak-anak untuk belajar mengaji. 2. Masjid Mujahidin Kelurahan Pasar Bengkulu Gambar 10.11 Masjid Mujahidin Sumber: https://direktoripariwisata.id/unit/8282 Masjid yang berdiri sekitar tahun 1850 ini, berlokasi di Pasar Bengkulu, Kecamatan Teluk Segar, Kota Bengkulu, Propinsi Bengkulu. Dahulunya berdiri di sekitar pemandian (batang air), atau tempat pemandian dangkal, yaitu suatu tempat pemandian para dewa, karena di sekitar tempat tersebut banyak terdapat sumur-sumur tua. Di areal lokasi masjid ini, dulunya menjadi arena “sabung ayam”. Sebelumnya, lokasi Masjid berada di tepi sungai, dipindahkan kurang lebih 100 meter maju ke depan, dekat dengan perkampungan penduduk. Orang yang pertama kali membangun pada tahun 1920 adalah seorang pemuka masyarakat setempat yang bernama H. Setir.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 285 ~ 3. Masjid Jamik Gambar 10.12 Masjid Jamik Bengkulu Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/masjid-jamik-bengkulu/ Masjid Jamik adalah salah satu masjid yang paling terkenal di Provinsi Bengkulu. Hampir seluruh Masyarakat yang ada di Provinsi Bengkulu mengetahui Masjid Jamik, yang terkenal bukan hanya karena keunikann bangunannya, melainkan sosok di balik berdirinya Masjid Jamik. Maksudnya disini adalah orang yang merancang Masjid Jamik. Masjid Jamik Bengkulu merupakan salah satu karya arsitektur oleh Ir. Soekarno selama masa pengasingannya di Bengkulu. Masjid ini erat kaitannya dengan masa-masa pengasingan Bung Karno di Bengkulu yakni sekitar tahun 1930. Ir. Soekarno merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional yang dihukum akibat melanggar peraturan yang telah dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada saat itu, de Jonge mengeluarkan kebijakan baru dalam mempersempit ruang gerak untuk para pergerakan bangsa di bidang politik yaitu larangan berkumpul dan melakukan rapat. Jika ketahuan melakukannya maka akan diberi hukuman pelanggaran berupa hukuman dibuang atau diasingkan. Oleh karena itu, Ir. Soekarno bersama keluarga dibuang ke Pulau Flores pada 1930, lalu pada 1938 dipindahkan ke Bengkulu. Pada awalnya, Masjid Jamik Bengkulu bukanlah masjid yang


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 286 ~ langsung dibuat oleh Ir. Soekarno melainkan sebuah bangunan kecil yang dikenal dengan sebutan 'Surau Lamo‟. Masjid „Surau Lamo‟ didirikan oleh Daeng Makulle, seorang Datuk Dagang dari Tengah Padang. Awal abad ke-18, Masjid Jamik Bengkulu ini dipindahkan ke lokasi tempat masjid Jamik sekarang berdiri. Berbagai sumber terpercaya menyebutkan bahwa masjid ini dulunya berada di Kampung Bajak atau di sekitar lokasi makam pahlawan nasional Sentot Alibasyah. Namun, dengan pertimbangan risiko terjadinya banjir di kala musim hujan, maka masjid ini pun akhirnya dipindahkan ke Jalan Soeprapto. Pada masa itu, arsitektur Masjid Jamik masih sangat sederhana yaitu menggunakan kayu dan atap yang terbuat dari rumbia. Hingga pada akhirnya di saat yang sama, masyarakat Bengkulu ingin memperbaiki Masjid Jamik dan dibantu oleh Ir. Soekarno yang telah mengantongi gelar insinyur di bidang arsitektur, sehingga beliau dapat merancang bangunan masjid ini. Sebelum memulai merancang bangunan Masjid Jamik, Ir. Soekarno telah meminta persetujuan para kaum adat di Bengkulu, walaupun pada awalnya mendapat penolakan. Namun, pada akhirnya para kaum adat dapat menerima rancangan Ir. Soekarno untuk merenovasi Masjid Jamik. Masjid Jamik Bengkulu memiliki ciri khas berupa gaya arsitektur yang menggunakan corak Jawa dan Sumatra serta terkenal dengan julukan 'Masjid Bung Karno'. Dana pertama renovasi untuk masjid Jamik didapat dari swadaya masyarakat, bahan material bangunan diambil dari Desa Air Dingin, Rejang Lebong, Bengkulu Utara. Masjid Jamik berada tepat di Kota Bengkulu yang lebih tepatnya di Jalan Soeprapto Kelurahan Pengantungan, Gading Cempaka, Provinsi Bengkulu. Masjid ini juga sering dijadikan tempat wisata bersejerahan yang ada di Provinsi Bengkulu karena memiliki lokasi yang strategis, sehingga para wisatawan tidak kesulitan mencari masjid ini. Struktur bangunan Masjid Jamik tidak banyak berubah dan sebagian struktur masjid masih dipertahankan, kecuali dinding dan lantai, yang dimana masing-masing ditinggikan 2 dan 30 meter. Bangunan Masjid Jamik memiliki tiga bagian inti, yaitu ruang


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 287 ~ ibadah, serambi, dan tempat wudhu. Pada bagian serambi digunakan ubin teraso putih yang memiliki bentuk persegi dengan ukuran sekitar 11.46 x 7.58 m. Pada bagian belakang serambi Masjid Jamik juga terdapat ruangan utama yang memiliki 3 buah pintu dan pada setiap pintu memiliki dua daun pintu. Pada bagian ambang pintu, terdapat hiasan berupa kaligrafi dari ayat-ayat AlQur‟an. Bangunan utama dari Masjid Jamik Bengkulu memiliki ukuran sekitar 14.65 x 14.65 m dan di dalam banguan utamanya juga terdapat mihrab yang memiliki lebar sekitar 1.60 m dan panjang 2.5 m. Pada bagian sebelah mihrab yang lebih tepatnya dibagian sebelah kanan, terdapat sebuah mimbar yang memiliki corak bergaya Istanbul. Untuk menaiki mimbar ini terdapat 4 buah anak tangga. Sementara tempat wudhu Masjid Jamik sendiri berukuran 8,80 x 5,55 m. Di bagian atap, masjid ini terdapat dua kubah yang terbuat dari seng aluminium. Masjid Jamik juga memiliki atap yang bertumpuk dan bertingkat tiga yang melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Masjid Jamik memiliki ciri khas tersendiri yaitu beratap limasan dengan bentuk mengkerucut, dan didirikan tanpa tiang utama sebagai penyangga. Pada rancangannya, Ir. Soekarno memadukan corak Jawa dan Sumatera, sehingga arsitekturnya begitu unik. Namun, tetap mempertahankan keaslian mimbar, mihrab, ukiran kaligrafi hingga relief sulur di bagian atas tiang penyangga bangunan. Masjid Jamik juga memiliki halaman yang terbilang cukup luas. Kini halaman Masjid Jamik telah dilengkapi dengan pagar besi serta pilar yang terbuat dari batu. Pada halaman masjid terdapat pohon dan tanaman yang terlihat begitu indah dan juga menambah kesan sejuk. Hingga saat ini, Masjid Jamik Bengkulu sudah mengalami tiga kali renovasi. Pada tahun 2004, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Masjid Jamik Bengkulu sebagai bangunan cagar budaya.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 288 ~ 4. Masjid Agung At-Taqwa Gambar 10.13 Masjid Agung At-Taqwa Anggut Sumber: https://duniamasjid.islamic-center.or.id/437/masjid-raya-akbar-at-taqwa/ Salah satu masjid kearifan lokal yang ada di Provinsi Bengkulu adalah Masjid Agung At-Taqwa yang tepatnya di Jalan Soekarno Hatta, Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat pendidikan, kajian agama, dan ikon dari Kota Bengkulu. Proses pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1988 dan diresmikan Presiden Soeharto pada 1 Juli 1989. Masjid Agung At-Taqwa memiliki dominansi bangunan berwarna putih, sehingga menampilkan kesan megah dan elegan serta kokoh dibandingkan bangunan disekitarnya. Masjid Agung At-Taqwa memiliki ciri khas yang jarang kita lihat di masjid-masjid lainnya. Dalam konsep penataan bangunan, masjid ini lebih mirip ke istana-istana era kolonial daripada masjid pada umumnya. Dapat dilihat dari bangunan yang megah, terdapat taman ditengah-tengah masjid yang cukup luas yang memiliki gaya penataan layaknya taman istana negara ataupun alun-alun keraton. Lalu terdapat teras yang memiliki bentuk seperti koridor memanjang yang mengelilingi ruang utama. Koridor dan penyangganya berbentuk bulat berwarna putih nerpadu dengan pagar besi membuat masjid ini semakin lekat dengan ciri keistanaan.


PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 289 ~ Adapun keunikan yang dimiliki masjid ini adalah memiliki kubah yang berbentuk bulat, tetapi bertingkat tiga layaknya limas. Pemerintah Kota Bengkulu melakukan renovasi Masjid Agung AtTaqwa yang diawali dengan penataan taman, pembangunan “Berendo Kota Bengkulu” atau “Alun-alun Kota Bengkulu” dan bangunan Masjid At-Taqwa lainnya agar masjid ini semakin megah dengan kreasi terbaru yang dibuat. Masjid ini juga menjadi salah satu pusat wisata religi di kota Bengkulu. Desain interior atau eksterior Masjid Agung At-Taqwa juga menawarkan perpaduan budaya Indonesia dan Turki. Semenjak adanya alun alun kota bengkulu ini masjid selain menjadi pusat pendidikan dan kajian agama juga menjadi pusat bersosialisasi. Karena barendo kota bengkulu ini sering dijadikan oleh masyarakat bengkulu sebagai tempat berkumpul dan pusat perkembangan agama islam di Bengkulu. 5. Masjid Syuhada Gambar 10.14 Masjid Syuhada Sumber: https://direktoripariwisata.id/unit/8281 Masjid ini berlokasi di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu, Propinsi Bengkulu, menurut catatan pustaka, berdiri sekitar tahun 1767 M. Masjid bersejarah ini terletak agak tersembunyi di Kelurahan Dusun Besar, Kompleks Kompi. Bentuk masjid ini mengesankan bentuk masjid kuno di Nusantara. Masjid Syuhada. Masjid ini dulunya adalah bangunan megah rumah sakit milik bangsa Inggris. Memang, dulu kala


Click to View FlipBook Version