PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 140 ~ Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al-Imran :104) Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orangorang fasik (QS Al-Imran :110) Dijelaskan bahwa hukum dari bardakwah adalah fardlu kifayah dan fardlu „ain. Hukum dakwah fardlu kifayah, yaitu kewajiban yang ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu yang memiliki kualifikasi penguasaan pengetahuan kedakwahan, dan kemampuan berdakwah secara profesionali. Sedangkan fardlu ‟ain, yaitu kewajiban yang ditujukan bagi setiap individu Muslim (mukallaf) berdasarkan kemampuannya masing-masing dalam melaksanakan macam-macam pelaksanaan dakwah sesuai situasi dan kondisi yang dihadapinya. Dikenakan kepada setiap manusia sesuai dengan kadar kemampuan yang dimilikinya. Kegiatan dakwah sudah ada sejak adanya tugas dan fungsi yang harus diemban oleh manusia di belantara kehidupan dunia ini. Oleh sebab itu, eksistensi dakwah tidak dapat dipungkiri oleh siapapun, karena kegiatan dakwah sebagai proses penyelamatan umat manusia dari berbagai persoalan yang merugikan kehidupan. Dakwah dipahami sebagai bentuk ajakan kepada Islam. Dakwah merupakan salah satu pokok bagi terpeliharanya eksistensi Islam
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 141 ~ dimuka bumi, Karena peran dakwah yang demikian krusial. Al-Qur‟an sendiri bahkan menganjurkan adanya komunikasi sosial dalam berdakwah, dimana setiap komunitas muslim hendaknya memiliki sekelompok orang yang secara spesifik berprofesi sebagai para ahli dakwah (da‟i) untuk menyampaikan dakwah Islam dan menjalankan fungsi amar ma‟ruf (perintah kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kejahatan dan keburukan) di tengah Masyarakat. Penyampaian dakwah pertama kali adalah tentang ibadah yaitu sholat yang banyak diajarkan oleh ulama fikih. Kemudian, seiring berjalannya waktu dakwah berkembang dalam berbagai bidang disiplin ilmu yang lain. Dakwah lewat tulisan saat ini meliputi semua aspek yang berkaitan dengan kehidupan manusia, tidak hanya di bidang fikih saja, akan tetapi sudah masuk pada tema-tema tertentu yang ada dalam masyarakat yang terwujud dalam bentuk karya tulis yang sangat beragam. Karya tersebut bisa berbentuk buku motivasi, novel, artikel, dan lain sebagainya. Dibutuhkan keahlian khusus dalam menggunakan tulisan sebagai media dakwah. Di dalam Hadist Rasulullah dikatakan : “Dari Abu Sa‟id Al-Khudri radhiyallahu‟anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim) Dengan demikian dapat difahami bahwa berdakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik secara individu maupun kelompok sesuai dengan tingakat kemampuannya masing-masing. D. Nilai-nilai Islam dalam Budaya dan Kearifan Lokal Jika melihat sejarah, Islam hadir pada masa Jahiliyyah dengan tidak serta merta menghapus tradisi dalam masyarakat Arab, namun tradisi yang baik tetap dipertahankan dengan menghapus bertahap tradisi yang buruk. Tradisi yang masih dilestarikan adalah praktek
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 142 ~ bagi hasil dalam perdagangan, jual beli salam yang merupakan kebiasan masyarakat Madinah, dan lain sebagainya. Indonesia dengan ribuan pulau dan berbagai etnik yang dimilikinya juga menghasilkan kearifan lokal yang amat kaya. Kearifan itu sendiri berasal dari bahasa Arab dari akar kata „arafa-ya‟rifu yang berarti memahami atau menghayati, kemudian membentuk kata kearifan yang bisa diartikan dengan sikap, pemahaman, dan kesadaran tinggi terhadap sesuatu. Diantara kearifan lokal ialah adat istiadat dan hukum adat. Kata adat dipergunakan untuk menghaluskan perbuatan, perlakuan, yang membuat kebaikan dengan orang lain, yang sama adatnya dan tata cara pada umumnya yang terdapat dalam satu desa atau satu negara (Mustapa, 2010). Adat istiadat lebih merupakan sistem nilai yang sifatnya lebih abstrak. Sedangkan hukum adat sudah menjadi normanorma sosial kemasyarakatan yang memiliki reward dan punishment. Budaya atau adat istiadat tidak hanya dipahami sebatas seni atau pertunjukkan, ia adalah hasil cipta, karsa dan karya suatu masyarakat yang berupa bahasa, ilmu pengetahuan, ekonomi, kesenian, dan kepercayaan (agama). Islam bukanlah agamanya yang saklek, Islam membawa budaya, namun ia juga masuk ke wilayah yang mempunyai budaya, kemudian menyisipkan nilai-nilai Islam di budaya tersebut. Islam memberi ruang bagi adat kebiasan (hukum adat) yang ada di masyarakat untuk tetap dipertahankan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Kaidah hukum yang digunakan adalah: ُم َح َّكَمة اَلْعَا َدةُ Artinya: Adat atau kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum. Walaupun demikian tidak semua adat bisa dijadikan pijakan hukum, tetapi pada keadaan atau kondisi tertentu, adat bisa dijadikan pijakan untuk mencetuskan hukum ketika tidak ada dalil dari syari. Yang menjadi dasar awal mula kaidah ini ada, diambil dari realita sosial kemasyarakatan dimana nilai-nilai yang diyakini sebagai norma yang sudah berjalan sejak lama akan membentuk cara hidup sehingga mereka akan memiliki pola hidup dan kehidupan sendiri secara khusus berdasarkan nilai-nilai yang sudah dihayati bersama.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 143 ~ Suatu masyarakat dianggap telah mengalami pergeseran nilai apabila mereka telah meninggalkan suatu amaliyah yang selama ini sudah biasa dilakukan. Nilai-nilai seperti ini dalam Islam dikenal dengan sebutan „adah (adat atau kebiasaan), tradisi, budaya, dan sebagainya. Dalam ajaran Islam adat dianggap sebagai pendamping dan elemen yang bisa diambil secara selektif dan proposional untuk dijadikan sebagai salah satu alat penunjang hukum-hukum syara. Tetapi tidak semuan adat kebiasaan dapat diterima begitu saja, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu adat bisa diterima sebagai berikut : a. Tidak bertentangan dengan syari'at. b. Tidak menyebabkan kemafsadatan dan tidak menghilangkan kemashlahatan. c. Telah berlaku pada umumnya orang muslim. d. Tidak berlaku dalam ibadah mahdah e. Urf tersebut sudah memasyarakat ketika akan ditetapkan hukumnya. Selain itu, Al-Qur‟an telah membicarakan mengenai keberagaman dalam banyak ayat salah satunya ialah: Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”. (Q.S Al-Hujurat: 13) Makna substansial dari ayat di atas bahwa umat manusia harus menerima kenyataan kemajemukan budaya. Allah SWT telah menciptakan manusia dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan, menjadikan mereka berbangsabangsa dan bersuku-suku (etnis) yang berarti bahwa keanekaragaman budaya seperti gender, ras, suku, dan bangsa dalam rangka mendatangkan kebaikan dan kedamaian di muka bumi.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 144 ~ Sebuah adat atau ‟urf dapat diterima oleh Islam ketika memenuhi beberapa persyaratan, seperti tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, ia berlaku secara turun temurun, dan diterima oleh akal sehat dan kebanyakan masyarakat setempat. Serta bukanlah hal yang negatif serta merugikan diri sendiri dan masyarakat. E. Bentuk Budaya Lokal yang ada di Bengkulu Penduduk kota Bengkulu bersifat heterogen terdiri berbagai suku, dan beragam pekerjaan maupun profesi. Di kota Bengkulu terdapat dua suku yang dapat diasumsikan sebagai penduduk asli kota Bengkulu, yakni suku Lembak-Bulang yang mendiami daerah Pagar Dewa, daerah Panorama, Tanjung Jaya dan daerah Tanjung Agung, serta suku Orang Er (R) Bekarek yang mendiami daerah Pesisir Kota Bengkulu, antara lain, daerah Malabero, Tapak Padri, Pasar Bengkulu, Nala, Kampung Kepiri, Pondok Besi dan lain sebagainya. Meskipun demikian sebagian besar suku dari masyarakat yang ada di Kota Bengkulu adalah suku pendatang dari berbagai daerah di luar Provinsi Bengkulu, seperti suku Minang dari Sumatera Barat, suku Lembak, suku Pasemah, dan suku Lintang dari Sumatera Selatan, suku Batak dari Sumatera Utara, suku Jawa, dan suku Bugis. Sedangkan suku lainnya adalah suku pendatang yang berasal dalam provinsi sendiri, seperti suku Rejang, suku Serawai, dan suku Kaur. Di Bengkulu terdapat banyak material budaya yang berkembang akibat dari pengaruh pandangan hidup Islam. Sebut saja umpamanya mulai dari tradisi adat istiadat yang berhubungan dengan: 1. Daur hidup yaitu kelahran mencukur rambut bayi, memberi nama, aqiqah, Perkawinan, Meminang, mengantarkan uang, bertunangan, pesta perkawinan, (Bimbang) & kematian. Dalam hal ini tradisi-tradisi di atas berlaku universal di kawasan-kawasan lain di Nusantara, Persia, dan Asia selatan (india, Pakistan, Bangladesh) 2. Aktifitas hidup seperti, buang jung, bayar sat, Kedurai, peringatan Muharram dan tahun Baru Islam 3. Seni yang bernafaskan Islam yaitu Syarafal anam, Seni Hadrah, seni bela diri, mainangan dan arsitektur Mesjid
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 145 ~ 4. Beberapa pasal dari perda yang secara substansial mencerminkan nilai etika Islam yang dikembangkan masyarakat adat, yang sangat mencuat adalah cuci kampung ini cukup terpelihara dalam adat-adat masyarakat Melayu Bengkulu, Lembak, serawai, dan Rejang. Di Rejang Lebong misalnya tradisi ini dilakukan setahun sekali dalam tiga bentuk prosesi, yaitu “Empuk sadei”, “Blangae Agung”, dan “Temabes Sadei”. Kearifan lokal itu sendiri merupakan modal utama masyarakat dalam membangun dirinya tanpa merusak tatanan sosial yang adaptif dengan lingkungan alam sekitarnya. Kearifan lokal dibangun dari nilai-nilai sosial yang dijunjung dalam struktur sosial masyarakat sendiri dan memiliki fungsi sebagai pedoman, pengontrol, dan rambu-rambu untuk berperilaku dalam berbagai dimensi kehidupan baik saat berhubungan dengan sesama maupun dengan alam. Sekarang eksistensi kearifan lokal dirasakan semakin memudar pada berbagai kelompok masyarakat. Salah satu kelompok masyarakat yang paling rawan mengalami pelunturan kearifan lokal adalah masyarakat pedesaan, yang semestinya sebagai penyangga sosial (social buffer) bagi upaya konservasi dan kelestarian sumber daya alam khususnya dalam bidang pertanian. Seperti di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu ada 2 bentuk kearifan lokal menarik yang berkaitan dengan: 1. Bidang Pertanian Dalam bidang pertanian ini, masyarakat di Kaur mengenal istilah repung sebagai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakatnya. Repung sebagai salah satu bentuk kearifan lokal, memiliki dimesi sosial dan budaya yang kuat, karena memang lahir dari aktivitas perlakuan berpola manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab kearifan lokal dapat menjelma dalam berbagai bentuk seperti ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan dalam ranah kebudayaan, sedangkan dalam kehidupan sosial dapat berupa sistem religius, sistem dan organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan, sistem mata pencaharian hidupdan sistem teknologi dan peralatan. Hal ini berkaitan dengan perihal bahwa kearifan lokal yang diwujudkan dalam bentuk prilaku adaptasi mempunyai peran penting dalam pengurangan resiko bencana, seperti bencana kelaparan. Kearifan lokal yang berlaku
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 146 ~ dalam menghadapi dan menyikapi bencana yang akan datang. Kearifan lokal itu sendiri merupakan ekstraksi dari berbagai pengalaman yang bersifat turun temurun dari nenek moyang atau orang terdahulu yang telah mengalami kejadian bencana, seperti repung tersebut. Repung adalah lahan yang disediakan oleh masyarakat untuk ditanami tanaman pangan oleh setiap marga. Lahan yang ditanami adalah tanaman penghasil karbohidrat. Repung ini sangat berfungsi ketika keadaan darurat yaitu ketika bahaya kelaparan mengancam. Pada saat itu kekurangan pangan sering terjadi ketika kemarau panjang melanda masyarakat Kaur. 2. Pengelolaan Hutan Pada masyarakat Kaur, kearifan lokal dalam pengelolaan hutan dapat dalam bentuk yakni: Pertama, cara-cara memadamkan api. Secara umum cara-cara memadamkan api yang ditemui adalah sama yaitu berdasarkan pengelompokan tinggi api dan luasnya penjalaran api. Namun sepanjang pengetahuan mereka, pada zaman dahulu tidak ada api besar, sehingga saat ini jika menghadapi api besar mereka hanya menonton, karena menurut pendapat mereka, memadamkan api besar sama dengan membuang tenaga sia-sia. Dalam menghadapi api kecil, kebiasaan mereka adalah menyembur dengan air menggunakan ember atau memukul api menggunakan rantingranting pohon atau ikatan dedaunan. Sebelum melakukan pembakaran, masing-masing anggota kelompok membersihkan sekat bakar yang telah dibuat sebelumnya dengan menggunakan alat tebas berupa parang dan sebatang kayu untuk mengumpulkan bahan bahan bakar pada sekat bakar dipindahkan ke tengah areal ladang yang akan dibakar. Bahan bakar lainnya berupa vegetasi semak dan pohon kecil di dalam ladang ditebas hingga rebah. Selanjutnya dikeringkan selama beberapa minggu. Setelah sekat dianggap aman maka salah satu anggota kelompok memulai membakar menggunakan alat korek api, obor bambu, atau obor yang dibuat dari ikatan rumput-rumputan yang sudah kering. Pembakaran dilakukan berlawanan dengan arah angin.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 147 ~ Terdapat kearifan lokal dalam bentuk larangan yang ditaati oleh masyarakat adat, seperti (1) Tidak boleh menebang pohon, (2). Tidak boleh memanfaatkan hasil hutan tanpa seizin ninik mamak, (3) Tidak boleh memanfaatkan hasil hutan secara berlebihan, (4) Tidak boleh menjual hasil hutan larangan, (5) Tidak boleh takabur dan sombong selama di kawasan hutan, (6) Tidak boleh berburu fauna hutan larangan, (7) Tidak boleh berbuat yang tidak baik di dalam hutan larangan, dan (8) Tidak boleh berkatakata yang tidak baik di dalam hutan. Daftar Pustaka Abdurrahman MBP. (2015). Sunda teh Islam, Bogor: Majelis Penulis Abduh Muhammad dan Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar Jilid IV, (Bairut: Dâr al-Fikr, tt), hlm. 35 Halimi Safrodin. (2008). Etika Dakwah dalam Perspektif Al-Qur‟an. Semarang: Walisongo press Huda Nor. (2007). Islam Nusantara: Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia. Yogyakarta: AR-Ruzz Karim Abdul. (2007). Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher Mustapa Hasan. (2010). Adat Istiadat Sunda. Bandung: PT Alumni Mertosedono Amir. (1994). Sejarah Wayang, Asal-Usul, Jenis dan Cirinya. Semarang: Penerbit Dahara Prize Muchlis, Usman. (2010). Kaidah-Kaidah Istinbath Hukum Islam (KaidahKaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Pongpidan Alfriyani. (2019). Islam Khas Indonesia: Metodologi Dakwah Islam Nusantara. Vol. 6. No. 2. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.) Rindom Harahap. (2016). Nilai-nilai Budaya Lokal dalam Islam Pada Masyarakat Lembak di Kota Bengkulu. Jurnal Tsaqofah dan Tarikh Vol.1 Nomor. 2 Saerozi. (2013). Ilmu Dakwah. Jakarta: Ombak Anggota IKAPI Samsul Munir Amin. (2009). Ilmu Dakwah. Jakarta: Amzah Undri. (2017). Kearifan Lokal Masyarakat di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol .3 No .2 Umar Nasaruddin, Islam dan Kearifan Lokal dalam Nasaruddinumar.org/islamdan-kearifan-lokal, diakses pada 26 Juli 2018, 14.19 WIB. Baca, Lihat, Sefriyono dan Mukhibat, “Preventing Religious Radicalisme Based on Local Wisdom: Interrelation of Tarekat, Adad, and Local Authority in Padang Pariaman, West Sumatra, Indonesia”, SOSIOHUMANIKA, Jurnal Pendidikan Sain Sosial dan Kemanusiaan, Volume 11 (1), (Mei, 2018), 1-18. Wijaya, A. (2015). Menusantarakan Islam: Menelusuri Jejak Pergumulan Islam yang tak Kunjung Usai di Nusantara. Yogyakarta: Nadi Pustaka
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 148 ~ F. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan Kelompok Kerja Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut: a. Silakan mahasiswa membentuk kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4-6 mahasiswa sesuai arahan dosen. b. Usahakan masing-masing kelompok terdiri atas laki-laki dan perempuan. c. Apabila kelompoknya sudah terbentuk silakan tentukan ketua kelompoknya. d. Ketua kelompok silakan berdiskusi dengan ketua kelompok lainnya menetapkan nama kelompok dengan memilih nama-nama sahabat Nabi sesuai arahan dosen. e. Ketua kelompok bersama anggotanya mengatur tempat duduk sesuai arahan dosen. 2. Pertanyaan Proyek Mahasiswa dalam kelompok diberikan pertanyaan dan tugas oleh dosen secara lisan sebagai berikut: a. Tentunya setelah membaca materi tentang membumikan Islam di Indonesia agar Islam dirasakan sebagai kebutuhan hidup, bukan sebagai beban hidup dan kewajiban, para mahasiswa sudah tahu sejarah masuknya Islam di Indonesia, Metode Dakwah yang dilakukan para Ulama dan bagaimana cara agar Islam dirasakan sebagai kebutuhan hidup.? b. Silakan secara berkelompok menyimpulkan bagaimana membumikan Islam di Indonesia.? 3. Perencanaan Proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masingmasing kelompok sebagai berikut: a. Kesimpulan menggunakan format artikel ilmiah kajian pustaka. b. Sumber referensi dalam membuat kesimpulan yaitu minimal bersumber dari buku ajar yang sedang dibaca ini dan beberapa referensi seperti e-book, jurnal, prosiding dan lainnya. c. Silakan setiap kelompok dalam membuat kesimpulan berpedoman pada penulisan artikel ilmiah kajian pustaka dengan sistematika berikut: 1) Judul Tulisan, Nama, Npm, dan Email Mahasiswa Contoh: Membumikan Islam di Indonesia Oleh Abdul Ghani (NPM A1A018001) Email: [email protected] Nurrahmah (NPM A1A018008) Email: [email protected]
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 149 ~ 2) Abstrak Gunakan format IMRAD (Introduction, Method, Result & Discussion) yang diakhiri kata kunci. Abstrak maksimal 250 kata dan minimal 150 kata. 3) Pendahuluan Pendahuluan sebaiknya memuat beberapa unsur berikut: a. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan teori dan penelitian relevan. b. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan hasil pengamatan, observasi, atau wawancara. c. Menjelaskan pemetaan tentang tulisan sebelumnya baik dari jurnal atau prosiding yang belum menulis tentang kajian yang akan dibahas. d. Menjelaskan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan. 4) Metode Penulisan Jelaskan metode penulisan yang digunakan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Kemudian, jelaskan sumber data tulisan yang diperleh dari buku, jurnal, prosiding, atau lainnya. Jelaskan juga teknik analisis data yang digunakan membuat formulasi permasalahan, mencari literature, evaluasi data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data. 5) Pembahasan Pembahasan berusaha membandingkan dan menghubungkan konsep-konsep tentang kajian yang akan dibahas sehingga ditemukan kesimpulan yang terbaik. 6) Simpulan dan Saran Simpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sebagai jawaban akhir dari pembahasan yang bersumber dari gabungan pendapat dari pakar yang dikutip. Sedangkan saran menyampaikan saran kepada pihak yang menerima kontribusi terhadap tulisan ini yaitu mahasiswa dan dosen. 7) Daftar Pustaka Gunakan format American Psychologycal Association 7 (APA 7) yang bersumber dari buku, jurnal, dan prosiding. Contoh pengutipan dan penulisan daftar putaka menggunakan APA 7 dapat dilihat pada laman berikut https://edutecion.com/apa-style-edisi-7/. d. Kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka menggunakan aturan penulisan berikut: 1. kertas A-4; 2. jenis tulisan Times New Roman; 3. spasi 1,5; 4. margin kiri 3, kanan 2,5, atas 2,5, dan bawah 2,5; 5. kutipan tidak langsung; dan 6. penulisannya menggunakan bodynote.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 150 ~ 4. Penyusunan Jadwal Proyek Proyek menulis kesimpulan dan bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No. Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang membumikan Islam di Indonesia agar Islam dirasakan sebagai kebutuhan hidup, bukan sebagai beban hidup dan kewajiban. 20 2. Menyusun kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 60 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 20 4. Mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi sesuai petunjuk dosen. 10 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 40 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 360 Total Waktu 510 5. Pengawasan Pelaksanaan Proyek Pengawasan pelaksanaan proyek dilakukan oleh guru bisa dengan menggunakan lembar pengamatan penilain sikap berikut: No Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan Ya Tidak 1. Mahasiswa dalam kelompok aktif mencari referensi sebagai bahan membuat kesimpulan. 2. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 3. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 4. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi. 5. Mahasiswa dalam kelompok aktif dan kritis dalam mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 6. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif dalam kegiatan diskusi panel. 7. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 151 ~ mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 8. Mahasiswa dalam kelompok menulis membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti sistematika dan aturan penulisan yang sudah ditetapkan. Jumlah Jawaban Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut: 6. Penilaian Hasil Proyek melalui Presentasi Proyek Penilain hasil proyek atau produk membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah hasil kajian pustaka bisa menggunakan format penilaian berikut: No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Sistematika penulisan. 1-15 2. Isi tulisan berkaitan dengan kekuatan argumentasi 1-30 3. Penggunaan ejaan (penulisan huruf, tanda baca, kata, dan unsur serapan) dan tata bahasa (kalimat dan paragraf). 1-20 4. Aturan penulisan berkaitan dengan kutipan dan format tulisan. 1-15 5. Tingkat keorisinalan tulisan dari hasil cek similaritas atau cek plagiasi. 1-20 Total Nilai 100 7. Evaluasi Pengalaman melalui Refleksi Tahap evaluasi pengalaman melalui refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam membuat kesimpulan tentang membumikan Islam di Indonesia agar Islam dirasakan sebagai kebutuhan hidup, bukan sebagai beban hidup dan kewajiban. Dosen bisa menggunakan evaluasi pengalaman melalui refleksi dengan dua acara berikut: a. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek kepada perwakilan kelompok. Kegiatan refleksi kelompok bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama!
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 152 ~ 2. Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesimpulan tentang Bagaimana sejaarah masuknya Islam di Indonesia, Metode dakwah apa saja yang dilakukan para Ulama dan bagaimana membumikan Islam di Indonesia? b. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek secara individu kepada masing-masing individu yang dianggap belum aktif dalam proses kegiatan proyek. Kegiatan refleksi individu bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sampaikan kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba anda sampaikan kesimpulan tentang Bagaimana sejaarah masuknya Islam di Indonesia, Metode dakwah apa saja yang dilakukan para Ulama dan bagaimana membumikan Islam di Indonesia? G. Tes Kognitif Individu 1) Petunjuk: a. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. b. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benar salahnya jawaban Anda. c. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang paling benar. d. Soal sebanyak 25 soal dengan bobot setiap soal sebesar 4 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. e. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 2) Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d! 1. Berikut merupakan strategi yang digunakan para pendakwah dalam menyebarkan syariat Islam. Kecuali.. a. Perdagangan b. Pernikahan c. Kekerasan d. Pendidikan e. Kebudayaan 2. Perhatikan Surat An-Nahl Ayat 125 berikut : Ayat tersebut menjelaskan bahwa..
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 153 ~ a. Kewajiban sholat b. kewajiban sedekah c. kewajiban sedekah d. kewajiban dakwah e. kewajiban menikah 3. Ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan, menjadikan mereka berbangsabangsa dan bersuku-suku (etnis) yang berarti bahwa keanekaragaman budaya seperti gender, ras, suku, dan bangsa dalam rangka mendatangkan kebaikan dan kedamaian di muka bumi, adalah surat? a. Al-Hujurat ayat 3 b. Albaqarah ayat 3 c. Al-Imran ayat 3 d. Maryam ayat 3 e. Al- Maidah ayat 3 4. Bagaimana sejarah awal penyebaran Islam di Indonesia? a. Melalui penjajahan Belanda b. Melalui perdagangan dan interaksi budaya c. Melalui misi-misi agama dari Arab d. Melalui penyebaran paksa oleh pemerintah Indonesia e. Melalui pengaruh budaya Tionghoa 5. Apa yang dimaksud dengan konsep “Islam Nusantara”? a. Islam yang hanya berlaku di Indonesia b. Islam yang diadaptasikan dengan budaya dan tradisi lokal Indonesia c. Islam yang hanya dianut oleh penduduk pesisir pantai d. Islam yang mengikuti tradisi Arab sepenuhnya e. Islam yang menekankan penggunaan bahasa Arab dalam ibadah sehari-hari 6. Tahun berapa Indonesia termasuk dalam jalur perdagangan internasional? a. 7 M-16 M b. 5 M-17 M c. 7 M-15 M d. 6 M-17 M e. 5 M-16 M 7. Di surat apa yang menjelaskan mengenai kewajiban dakwah? a. Al-Imran ayat 100 b. Al-Imran ayat 102 c. Al-Imran ayat 104 d. Al-Imran ayat 106 e. Al-Imran ayat 108
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 154 ~ 8. Kedatangan Islam di Nusantara berlangsung secara damai dan sangat cepat dengan menggunakan strategi dakwah yang damai, dan menyesuaikan diri terhadap adat dan istiadat penduduk tanpa paksaan dan kekerasan. Salah satunya melalui penggunaan wayang dan gamelan oleh Walisanga. Cara seperti ini termasuk dalam startegi dakwah di bidang.. a. Perdagangan b. Perkawinan c. Tingkatan sosial d. Pendidikan e. Kesenian dan Kebudayaan 9. Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu adat bisa diterima adalah sebagai berikut, kecuali.. a. Tidak bertentangan dengan syari‟at b. Tidak menyebabkan kemafsadatan dan tidak menghilangkan kemaslahatan c. Telah berlaku pada umumnya orang muslim d. Berlaku dalam ibadah mahdah e. Urf tersebut telah memasyarakat ketika ditetapkan hukumnya 10. Ada beberapa faktor yang menyebabkan Islam mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Salah satu faktornya adalah.. a. Islam masuk melalui perdagangan b. Ditaklukannya beberapa kerajaan Hindu-Buddha c. Penyebaran Islam melalui cara damai d. Perayaan dalam islam dilakukan dengan mewah dan menarik e. Adanya pemberian hadiah bagi yang memeluk Islam 11. Salah satu strategi penyebaran Islam di Indonesia yaknik melalui jalur perkawinan. Di antara perkawinan tersebut lahirlah seseorang yang bernama Muhammad Ainul Yakin. Hal tersebut berasal dari perkawinan antara.. a. Perkawinan antara sunan Ampel dengan Nyai Manila b. Perkawinan antara sunan Ampel dengan Putri Campa c. Perkawinan antara Raja Brawijaya dengan Putri Kawungaten d. Perkawinan Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu e. Perkawinan antara Raja Brawijaya dengan Nyai Manila 12. Kearifan berasal dari kata bahasa Arab yakni „arafa-ya‟rifu yang berarti.. a. Seruan atau ajakan b. Memahami atau menghayati c. Memohon d. Tradisi atau kebiasaan e. Terpuji
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 155 ~ 13. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: Arti dari kata yang digaris bawahi adalah.. a. Kami menciptakan kamu b. Maka kamu jijik padanya c. Kamu mencari Kesalahan d. Supaya kamu saling mengenal e. Kamu merasa memberi nikmat 14. Dakwah pertama kali adalah tentang….. a. Syahadat b. Sholat c. Puasa d. Zakat e. Haji 15. Para ulama datang dan menggunakan pendekatan langsung kepada Raja adalah salah satu strategi dakwah Islam yaitu.. a. Strategi perdagangan b. Strategi perkawinan c. Strategi Pendidikan d. Strategi tingkatan sosial e. Strategi kesenian dan kebudayaan 16. Pada awal terbentuknya kerajaan Islam di Indonesia, ditandai dengan munculnya pusat-pusat kerajaan Islam. Kerajaan Islam pertama yang ada di Indonesia adalah.. a. Kerajaan Demak b. Kerajaan Samudera Pasai c. Kerajaan Ternate d. Kerajaan Gowa e. Kerajaan Banten 17. Masuknya Islam ke Indonesia melalui jalur utara melewati.. a. Arab – Yaman – Gujarat – Sri lanka – Indonesia b. Arab – Damaskus – Bagdad – Gujarat – Pakistan – Sri Lanka – Indonesia c. Arab – Iran – Irak – Afganistan – Pakistan – India – Indonesia d. Arab – Irak – Kuwait – Pakistan – Malaysia – Indonesia e. Arab – Yaman – Malaysia – Indonesia – Gujarat 18. Apa yang menjadi strategi utama para pedagang muslim dalam menyebarkan Islam di Indonesia? a. Perkawinan dengan penduduk pribumi. b. Pendidikan melalui pondok pesantren. c. Penggunaan seni dan budaya
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 156 ~ d. Pendakwahan langsung kepada raja dan bangsawan e. Perdagangan 19. Bagaimana para ulama Nusantara mengintegrasikan budaya dan tradisi lokal dengan ajaran Islam? a. Dengan mengabaikan budaya lokal sepenuhnya b. Dengan memerangi budaya lokal yang bertentangan dengan Islam. c. Dengan melakukan akulturasi budaya lokal yang sesuai dengan Islam. d. Dengan memisahkan budaya lokal dan Islam secara tegas. e. Dengan mengubur budaya lokal yang bertentangan dengan Islam 20. Animisme adalah kepercayaan kepada? a. Hewan b. Roh leluhur c. Benda-Benda d. Bintang e. Patung 21. Dinamisme adalah kepercayaan kepada? a. Hewan b. Roh leluhur c. Benda-Benda d. Bintang e. Patung 22. Kesenian dan kebudayaan yang dapat dijadikan media penyebaran Islam adalah, kecuali.. a. Seni ukir b. Gamelan c. Seni suara suluk d. Wayang e. Memahat 23. Hadits yang menerangkan bahwa berdakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik secara individu maupun kelompok masalah hadis riwayat.. a. HR. MUSLIM b. HR. Tirmidzi c. HR. Abu Dawud d. HR. Abu Hurairah e. HR. Imam Bukhari 24. Hukum dari bardakwah adalah.. a. Fardlu kifayah dan fardlu „ain. b. Sunnah c. Makruh d. Muba e. Wajib
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 157 ~ 25. Datangnya ajaran Islam ke Indonesia melalui rute laut tidak lepas dari peran.. a. Pedagang b. Nelayan c. Petani d. Musafir e. Pendatang baru Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 158 ~ BAB VII Membangun Persatuan dalam Keberagaman yang Dinamis dan Kompleks dalam Konteks Kehidupan Sosial Budaya Indonesia yang Plural Sub-CPMK-7 Pertemuan ke-9 dan 10: Mampu membangun persatuan dalam keberagamaan yang dinamis dan kompleks dalam konteks kehidupan sosial budaya Indonesia yang plural. Gambar 7.1 Membangun Persatuan dalam Keberagaman Sumber: https://www.darus.id/2020/07/sambatan-membangun-persatuan-bangsa.html A. Konsep Persatuan Dalam Keberagaman Bangsa Indonesia memiliki keragaman yang begitu banyak, tidak hanya masalah adat istiadat atau budaya seni, bahasa dan ras, tetapi juga termasuk masalah agama. Walaupun mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, ada beberapa agama dan keyakinan lain yang juga dianut penduduk ini. Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu adalah contoh agama yang juga tidak sedikit dipeluk oleh warga Indonesia. Setiap agama tentu punya aturan masing-masing dalam beribadah. Namun perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Banyak ayat Al-Qur‟an yang menerangkan realitas sunnatullah tersebut. Diantara ayat Al-Qur‟an dalam hal ini adalah (artinya):
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 159 ~ Artinya: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” (QS. Yunus/10: 99). Artinya: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka”.(QS. Hud/ 11: 118-119). Artinya: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An-Nahl/16: 93) Artinya: “Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong” (QS. Asy-Syura/42: 8). Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 160 ~ berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenalmengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS. al Hujurat/49: 13). B. Konsep Islam Membangun Persatuan dan Keberagaman Dalam Konteks Kehidupan Sosial Budaya Indonesia yang Plural Indonesia merupakan salah satu negara dengan berpenduduk Muslim besar di dunia. Banyak karakteristik dan ciri yang menjelaskan bahwasanya Indonesia ialah negara yang kaya akan kepulauan dan lautannya. Dataran dan perairan yang juga menjadikan eksotika keberadaan dan karakter masyarakat. Masyarakat lokal dengan kekayaan atnik, suku, bahasa, pola sosial, yang ini mendeskripsikan bahwasanya Indonesia adalah negara yang pluralistik serta heterogen dengan bermacam rupa-rupanya. Dengan banyaknya arus yang menjabarkan bahwasanya Indonesia merupakan negara yang berpotensi besar di dalam pembangunan dan kemajuan umat. Maka tak ayal bilamana secara sensus, Indonesia yang merupakan negara dengan persentase penduduk mayoritas Muslim diharapkan mampu bersama-sama secara kesatuan berdampingan dengan agama-agama lainya. Berdampingan dengan agama yang disahkan di Indonesia yang juga merupakan agama-agama besar dunia seperti Protestan, Katolik, Budha dan Hindu (Abidin 2021). Pluralisme menjadi wacana aktual dan menyebar menjadi isu hangat yang menimbulkan pro dan kontra, terutama pasca Majlis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 28 Juli tahun 2005 mengeluarkan fatwa haram terhadap paham pluralisme. Dalam fatwa tersebut, pluralisme didefiniskan sebagai "Suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga".
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 161 ~ Pengharaman MUI atas paham pluralisme tentulah bukan tanpa dasar. Selain karena alasan kehati-hatian (ikhtiyat), menyamakan bahwa semua agama adalah sama yang menjadi titik tolak keberatan MUI atas paham pluralisme agama tersebut. Sementara menurut Masykuri Abdillah dengan mengutip The Oxford English Dictionary, mengelaborasi faham pluralisme sebagai: (1) Suatu teori yang menentang kekuasaan negara monolitis; dan sebaliknya, mendukung desentralisasi dan otonomi untuk organisasi-organisasi utama yang mewakili keterlibatan individu dalam masyarakat. Selain itu, suatu keyakinan bahwa kekuasaan itu harus dibagi bersama-sama di antara sejumlah partai politik. (2) Keberadaan atau toleransi keragaman etnik atau kelompok-kelompok kultural dalam suatu masyarakat atau negara, serta keragaman kepercayaan atau sikap dalam suatu badan, kelembagaan, dan sebagainya. Definisi yang pertama mengandung pengertian pluralisme politik, sedangkan definisi kedua mengandung pengertian pluralisme sosial atau primordial. Pluralisme adalah bentuk kelembagaan yang mana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. Maknanya lebih dari sekedar toleransi moral atau koeksistensi pasif. Toleransi adalah persoalan kebiasaan dan perasaan pribadi, sementara ko-eksistensi adalah semata-mata penerimaan terhadap pihak lain, yang tidak melampaui ketiadaan konflik. Pluralisme, di satu sisi, mensyaratkan ukuran-ukuran kelembagaan dan legal yang melindungi dan mensahkan kesetaraan dan mengembangkan rasa persaudaraan di antara manusia sebagai pribadi atau kelompok, baik ukuran-ukuran itu bersifat bawaan ataupun perolehan. Begitu pula, pluralisme menuntut suatu pendekatan yang serius terhadap upaya memahami pihak lain dan kerjasama yang membangun untuk kebaikan semua. Semua manusia seharusnya menikmati hak-hak dan kesepakatan-kesepakatan yang sama, dan seharusnya memenuhi kewajibankewajiban yang sama sebagai warga negara dan warga dunia. Setiap kelompok semestinya memiliki hak untuk berhimpun dan berkembang, memelihara identitas dan kepentingnnya, dan menikmati kesetaraan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam negara dan dunia internasional. Di Indonesia, bahwa agama yang diakui secara Undang-Undang tumbuh bukanlah Islam semata, namun ada yang lainya dan diakui
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 162 ~ secara undang-undang. Secara bersamaan dan berdampingannya antara Islam dengan agama lainya yang juga sama-sama memiliki eksistensi. Di dalam menciptakan kedamaian dalam hidup sebagaimana yang secara mutlak dalam peraturan dan perundangan menjadi kewenangan negara, baik diakui secara peradilan agama dan umum. Bilamana dakwah yang diusung oleh para juru dakwah ini hanya dengan bermodalkan semangan juang untuk memerintah kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar, maka kita akan bergesekan dengan eksistensi agama lainya bila mana tidak ada rasa saling menghormati. Inilah yang ditakutkan akan adanya benturan dan gesekan dalam menjayakan dari masing-masing eksistensi agamanya secara egosektoral. Maka dari pada itu, perlu seksama dipahami dan dicermati utamanya bagi seorang juru dakwah atau dai disisi utama tetap untuk semangat di dalam membumikan nilai-nilai Islam sesuai dengan syariat. Dan disisi lainya, dituntut untuk menghormati pula eksistensi agama lainya yang sama-sama hidup berdampingan di sekeliling kita. Inilah nilai pluralitas dan kemajemukan di dalam kita hidup bermasyarakat. Dalam Islampun tidak ada paksaan bagi sesiapa orang untuk memeluk Islam. Inilah yang dinamakan pluralistik sosial dan beragama. Tidak memaksakan kehendak, tidak merasa dirinya yang paling benar dan menghormati segala perbedaan yang ada serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Sebagai perwujudan bahwasanya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil a‟lamin menjadi nilai luruh di dalam umat Islam bermasyarakat secara luas dan lugas. Terkait dengan pluralisme dalam konteks keberagaman ialah sebagai sebuah bentuk mengakui adanya keanekaragaman agama ditengah-tengah kita. Sebab pluralisme merupakan fakta atau realitas yang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, menurut Alwi Shihab yang dimaksud dengan pluralisme adalah: Pertama, pluralisme tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan, namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. Pluralisme agama adalah bahwa setiap pemeluk agama dituntut bukan saja untuk mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan. Kedua, pluralisme
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 163 ~ harus dibedakan dengan kosmopolitanisme, sebab kosmopolitanisme menunjuk pada suatu realitas dimana aneka ragam agama, ras,dan bangsa hidup berdampingan disuatu lokasi, namun interaksi positif antar penduduk khusunya dibidang agama sangat minim kalaupun ada. Ketiga, konsep pluralisme tidak dapat disamakan dengan relativisme. Seorang relativis akan berasumsi bahwa hal-hal yang menyangkut kebenaran atau nilai ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berpikir seseorang atau masyarakat. Sebagai konsekuensi dari paham relativisme, agama atau doktrin agama pun harus dinyatakan benar. Tegasnya, dalam pandangan relativisme bahwa semua agama adalah benar, karena kebenaran agama-agama walaupun berbeda dan bertentangan satu sama lain tetapi harus diterima. Untuk itu, seorang relativis tidak akan mengenal apalagi menerima suatu kebenaran universal yang berlaku untuk suatu tempat dan segala zaman. Keempat, pluralitas agama bukanlah sinkritisme. Yakni menciptakan suatu agama baru dengan memadukan unsur tertentu atau sebagian komponen ajaran dari beberapa agama untuk dijadikan bagian integral dari agama baru tersebut. Dapat kita ambil penegasan, yang dimaksud dengan pluralisme adalah bukan hanya mengakui keanekaragaman agama semata, akan tetapi jauh dari itu adalah sebuah pengakuan secara akomodatif terkait dengan adanya hukum kemajemukan sebagai suatu aturan Tuhan. Kemudian dengan adanya komunikasi dan interaksi sosial antara masyarakat agama secara positif, harmonis, dan berkesinambungan. C. Nilai-Nilai Moderasi Beragama di Indonesia Dalam Policy Brief Series, Issue 4 Vol. 1 2018 disebutkan, ancaman radikalisme di sekolah semakin mengkhawatirkan. Hasil survei siber nasional menyatakan terdapat 41,4% siswa di sekolah beropini sangat radikal dan 2,4% beraksi sangat radikal. Adapun opini dan aksi sangat moderat siswa mencapai 10% dan 54,3%. Hal ini tidak bisa diremehkan begitu saja karena angka tersebut bisa jadi merupakan embrio dari semakin besarnya sikap intoleransi dan radikalisme di negara ini sehingga usaha dalam mewujudkan moderasi beragama sangatlah sulit tercapai. Beberapa hasil riset
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 164 ~ telah terungkap dan hasilnya sangat mencengangkan. Sikap intoleran dan paham radikalisme semakin merajalela di kalangan pelajar. Hal tersebut bisa terjadi dilatarbelakangi oleh setidaknya ada dua faktor penyebab. Pertama, implementasi pendidikan toleransi di sekolah kurang diterapkan. Kedua, pendidikan agama selama ini lebih mengarah kepada simbol dan doktrin semata, kurang fokus pada pengamalan substansi agama itu sendiri dalam kehidupan seharihari. Bisa juga disimpulkan bahwa, pendidikan agama pada sekolahsekolah saat ini masih belum berhasil. Pendidikan agama yang diberikan hanya pada tataran tekstual dan pemahaman, bukan kontekstual dan pengalaman sert pengamalan Brenda Watson dalam Education and Belief (1987) mengatakan, ada tiga sebab utama gagalnya pembelajaran agama di sekolah-sekolah. Pertama, proses pendidikan yang diajarkan guru lebih mengarah kepada proses indoktrinasi. Kedua, pendidikan agama lebih bersifat normatifinformatif. Ketiga, kuatnya ideologi atau komitmen agama guru itu sendiri. Dari ketiga sebab yang dikemukakan oleh Brenda Watson tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap toleran dan moderasi beragama di kalangan pelajar tidak akan terwujud bila Pendidikan agama di sekolah hanya diajarkan melalui proses indoktrinasi, normatif-informatif, serta tekstual semata. Namun, perlu adanya implementasi secara langsung oleh siswa sehingga mereka mendapatkan pengalaman dan pengamalan tentang sikap toleran dan moderasi beragama. Nilai dalam bahasa inggris disebut value. Nilai secara bahasa berarti harga. Antony Giddens (1995), mengartikan nilai sebagai suatu gagasan yang dimiliki seseorang maupun kelompok mengenai apa yang layak, apa yang dikehendaki, serta apa yang baik dan buruk. Sedangkan nilai menurut Danandjaja (2002), adalah pengertian yang dimiliki seseorang akan sesuatu yang lebih penting maupun kurang penting, apa yang lebih baik dan kurang baik, dan juga apa yang lebih benar dan apa yang salah. Jadi, nilai merupakan konsep yang menunjukkan pada segala sesuatu yang dianggap berharga dalam kehidupan manusia, yaitu tentang sesuatu yang dianggap benar, baik, layak, indah, pantas, penting, dan dikehendaki oleh manusia dalam kehidupannya. Sebaliknya, sesuatu yang tidak
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 165 ~ bernilai dianggap salah, tidak baik, tidak layak, buruk, tidak pantas, tidak penting, dan tidak diinginkan oleh masyarakat. Kata moderasi dalam bahasa Arab yaitu لْ َسو َط َیَ َّ ة َ ُ (alwasaṫiyyah). Al-wasaṫiyyah secara bahasa, berasal dari kata wasaṫ. Al-Asfahaniy (2009), mengartikan wasaṫ dengan sawā‟un, yaitu tengah-tengah di antara dua batas, atau dengan keadilan, yang tengah-tengah atau yang standar atau yang biasa-biasa saja. Wasaṫan juga bermakna menjaga dari bersikap tanpa kompromi bahkan meninggalkan garis kebenaran agama (Mufradāt al-Fāẓ alQur‟ān, 2009). Sedangkan makna yang sama juga terdapat dalam Mu‟jam al-Wasīṫ (1972), yaitu „adulan dan khiyāran yang berarti sederhana dan terpilih. Moderasi dalam hal ini dapat diartikan sebagai yang di tengah-tengah, adil, standar, dan terpilih. Moderasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V, didefinisikan dengan pengurangan kekerasan, penghindaran keekstreman. Dengan demikian, seorang yang moderat dapat didefinisikan sebagai seorang yang mengurangi dan menghindari sikap dan perilaku yang keras dan ekstrem. Orang tersebut selalu bersikap dan berperilaku di tengah-tengah, adil, standar, dan biasabiasa saja. Jadi, moderasi (al-wasaṫiyyah) adalah keadaan terpuji seseorang yang menjaganya untuk bersikap dan berperilaku moderat serta terhindar dari dua sikap ekstrem; sikap ifrāṫ (berlebih-lebihan) dan sikap muqaṣṣir (mengurang-ngurangi). Dengan demikian, moderasi beragama dapat diartikan sebagai sikap dan kesadaran seseorang untuk bisa menerima keberagaman dan kebebasan beragama seseorang atau sekelompok orang dengan saling menghargai, menghormati, membiarkan, dan membolehkan pendirian dan keyakinan beragamanya. Afrizal Nur dan dan Mukhlis (2015), dalam penelitiannya menyebutkan beberapa ciri-ciri seorang muslim moderat sebagai berikut: (1) tawassuṫ (mengambil jalan tengah); (2) tawāzun (berkeseimbangan); (3) i‟tidāl (lurus dan tegas); (4) tasāmuḥ (toleransi); (5) musāwah (egaliter); (6) syūrā (musyawarah); (7) iṣlāḥ (damai/reformasi); (8) aulawiyyah (mendahulukan yang prioritas); (9) taṫawwur wa ibtikār (dinamis dan inovatif); dan (10) tahaḍḍur (berkeadaban). Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki beberapa
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 166 ~ ciri tersebut atau bahkan ia memiliki sikap dan perilaku sebaliknya, maka bisa dikatakan sebagai seorang yang tidak moderat. Berdasarkan pengertian dan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa nila-inilai moderasi beragama mencakup: sikap saling menghargai dan menghormati, kasih sayang, kerja sama dan tolong-menolong, adil, damai, toleransi, hidup rukun, peduli dan simpatik terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang dijadikan acuan dalam menganalisa semua Kompetensi Dasar (KD) PAI pada jenjang SD dalam Permendikbud No. 37 Tahun 2018. Dengan begitu, dapat ditemukan dan disimpulkan seberapa maksimal KD PAI SD yang memiliki nilai-nilai moderasi beragama. Moderasi beragama dan bernegara merupakan isu yang hangat didiskusikan akhir-akhir ini. Pasalnya Indonesia dengan notebene penganut muslim terbesar di dunia tengah menghadapi berbagai kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama. Organisasi Front Pembela Islam (FPI) misalnya pada tahun 2015 dan 2016 merazia tempat hiburan malam di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia menjelang bulan puasa dengan kekerasan dan penghancuran terhadap fasilitas-fasilitas yang ada dengan dalih jihad di jalan Allah. Selain itu, pada tahun 2020 kekerasan dan penganiayaan juga dialami oleh salah seorang warga Solo yang diduga beraliran Syiáh oleh kelompok yang menjadikan agama sebagai alat pembenaran. Pembakaran terhadap masjid di Sintang Kalimatan Barat yang diduga beraliran Ahmadiyyah juga menambah daftar rentetan kasus kekerasan yang menjadikan agama sebagai kambing hitam. Selain kasus kekerasan yang menjadikan agama sebagai alat pembenaran, tuntutan sebagian kelompok kepada pemerintah untuk mengubah aturan Pancasila kepada khilafah islamiyyah juga tidak luput dari sorotan. Hizbut Tahrir Indonesia atau yang familiar dengan sebutan HTI perlu diketengahkan di sini. Eko Megawati menandaskan bahwa kelompok ini sangat masif dalam menyampaikan ideologi khilafah kepada masyarakat. Keaktifan tersebut berujung kepada banyaknya masyarakat yang mengikuti paham khilafah yang diusung oleh kelompok ini. Dalam pada itu meskipun secara aturan pemerintah telah membubarkan organisasi ini, namun fakta dilapangan masih banyak ditemukan oknum-oknum yang disinyalir berpaham HTI menyebarkan pemahaman kepada masyarakat
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 167 ~ tentang pentingnya mengubah dasar hukum negara Indonesia dari Pancasila ke khilafah Islamiyah. Kata moderasi berasal dari bahasa latin moderatio, yang bermakna sedang (tidak berlebihan dan tidak kekurangan). Sedangkan dalam bahasa Inggris, kata moderation digunakan dalam pengertian average (rata-rata), core (inti), atau non-aligned (tidak berpihak). Dalam Bahasa arab maka padanan yang tepat akan ditemukan dalam kata wasat/washatiyah. Ibnu Manzur memaknai kata wasat sendiri dengan arti keadilan, keunggulan dan kemulian. Nurhidayanti menandaskan bahwa wasat/washatiyah juga diartikan sebagai kekuatan yang diqiyaskan kepada kekuatan remaja antara kelemahan pada masa balita dan tua. Lawan kata moderasi ialah berlebihan atau dalam bahasa Arab dikenal dengan tatharruf yang bermakna radical, dan extreme. Al-Qur‟án sendiri sebagai kitab yang paling otoritatif pertama di dalam Islam juga mengabadikan kata wasat dengan segala bentuk derivasinya. Mu‟jam al-Mufahras li al-fāz al-Qur„an al-Karīm merekam hal tersebut. Tercatat bahwa kata wasat dan segala bentuk derivasinya disebut sebanyak empat kali dan tersebar dalam berbagai surah. Qs. Al-Baqarah (2): 143, Qs. Al- Ádiyat (100): 5, Qs. Al-Maidah (5): 89 dan Qs. Al-Qalam (68): 28. Masing-masing ayat di atas menjelaskan tentang kaharusan dalam bersikap Wasat atau pertengahan dalam beragama. Dari ke empat ayat di atas, benang merah yang dapat ditarik adalah bahwa Islam yang dalam hal ini direpresentasikan oleh AlQurán selalu menghendaki umatnya bersikap washatiyah (tengah) dalam hal beragama. Istilah ini oleh Nurhidayanti disebut sebagai orang yang memilih jalan tengah antara ekstrem kanan (Fundamentalis) dan ekstrem kiri (liberalis). Melihat ayat di atas, Ibnu Jarir al-Thabari dalam magnum opusnya Jami‟al-Bayan Fi Ta‟wil Al-Qurán menerangkan bahwa wasat dimaknai sebagai posisi pertengahan atau dalam artian lain alThabari menandaskan bahwa kata ini juga bisa dimaknai sebagai adil jika dilihat dari sudut pandang ta‟wil. Asusmi bahwa adil adalah bagian dari sifat orang baik merupakan postulat yang tak terpisahkan dari keterangan di atas . Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh al-Thabari di atas, imam Fakhruddin al-Razi memaknai kata tersebut
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 168 ~ dengan bersikap adil. Adil dalam pengertian yang ditawarkan olehalRazi adalah sikap yang tidak memihak kepada salah satu. Di lain tempat al-Razi juga menyebutkan bahwa wasat juga bisa dipahami sebagai paling utama. Oleh karenanya Al-Qurán menyebutkannya sebagai umma Sejalan dengan dua tokoh mufassir di atas, Kementerian Agama juga menandaskan dengan tegas bahwa moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejewantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan, dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa..Paling tidak ada Sembilan indicator seseorang bisa diidentifikasi sebagai individu yang moderat di antaranya adalah sebagai berikut: kemanusiaan, kemaslahatan umum, adil, berimbang, taat konstitusi, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penghormatan terhadap tradisi. Ada beberapa landasan hukum dalam menguatkan serta mengokohkan pentingnya sikap moderasi beragama terutama dalam konteks keindonesiaan. Pertama, pasal 29 ayat 2 UUD 1945 dijelaskan bahwa negara menjamin tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah agama dan kepercayaannya itu. Kedua, pasal 22 ayat 2 UU 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia yaitu setiap orang bebas memluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan keyakinannya tersebut. Ketiga, pasal 2 Perpres 83 tahun 2015 tentang kementerian agama, yaitu kementerian agama mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang agama untuk membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Keempat, Perpres 18 tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024. Dalam RPJMN dijelaskan bahwa moderasi beragama merupakan program prioritas yang bertujuan untuk mengukuhkan toleransi, kerukunan dan harmoni sosial, menjadi tanggung jawab Kementerian Agama. Kelima, PMA 18 2020 tentang renstra Kementerian Agama 2020-2024, bahwa Kementerian Agama yang professional dan andal dalam membangun masyarakat yang saleh, moderat, cerdas dan unggul untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan gotong royong.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 169 ~ Landasan moderasi beragama di Indonesia dapat dilihat dari komitmen dalam bernegara karena akan dapat diketahui bagaimana kadar keagamaan pada orang tersebut terutama dalam penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara. Tema mengenai moderasi ini, tidaklah diajarkan oleh agama Islam, melainkan agama lain juga mengajarkannya. Semua ajaran agama sangat menjungjung tinggi kasih sayang, kejujuran, adil dan kesetaraan. Dalam tradisi agama Kristen, istilah moderasi beragama dimaknai sebagai cara pandang dalam menengahi ekstremitas tafsir ajaran yang dipahami sebagai umat Kristen. Menurut umat Kristen, salah satu kiat agar dapat melaksanakan praktik moderasi agama ialah dengan menjalin hubungan yang baik dengan agama lainnya sesuai ajaran, yakni agama Yesus terdiri atas cinta kasih. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-kitab (Kitab suci umat Kristen) bahwa Yesus merupakan juru damai. Penguatan moderasi beragama menjadi salah satu indikator utama sebagai upaya membangun kebudayaan dan karakter bangsa. Moderasi beragama juga menjadi salah satu prioritas di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 Kementrian Agama. Dengan adanya moderasi agama, seseorang tidak ekstrem dan tidak berlebih-lebihan saat menjalani ajaran agamanya. Moderasi agama merupakan usaha kreatif untuk mengembangkan suatu sikap keberagaman di tengah berbagai desakan ketegangan (constrains), seperti klaim kebenaran absolut dan subjektivitas, antara interpretasi literal dan penolakan yang arogan atas ajaran agama, dan antara radikalisme dan sekularisme. D. Penguatan dan Tantangan Moderasi Beragama di Indonesia Indonesia adalah negara yang bermasyarakat religius dan majemuk. Meskipun bukan negara agama, masyarakat lekat dengan kehidupan beragama dan kemerdekaan beragama dijamin oleh konstitusi. Menjaga keseimbangan antara hak beragama dan komitmen kebangsaan menjadi tantangan bagi setiap warga negara. Moderasi beragama merupakan perekat antara semangat beragama dan komitmen berbangsa. Di Indonesia, beragama pada hakikatnya adalah ber-Indonesia dan ber-Indonesia itu pada hakikatnya adalah beragama. Moderasi Beragama menjadi sarana mewujudkan
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 170 ~ kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai dan toleran sehingga Indonesia maju. Penguatan Moderasi Beragama pada dasarnya adalah menghadirkan negara sebagai rumah bersama yang adil dan ramah bagi bangsa Indonesia untuk menjalani kehidupan beragama yang rukun, damai, dan makmur. Moderasi Beragama bukan hal absurd yang tak bisa diukur. Keberhasilan Moderasi Beragama dalam kehidupan masyarakat Indonesia dapat terlihat dari tingginya empat indikator utama berikut ini serta beberapa indikator lain yang selaras dan saling bertautan: Komitmen kebangsaan, Penerimaan terhadap prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam konstitusi: UUD 1945 dan regulasi di bawahnya. Toleransi, Menghormati perbedaan dan memberi ruang orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat. Menghargai kesetaraan dan sedia bekerjasama. Anti kekerasan. Menolak tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Penerimaan terhadap tradisi. Ramah dalam penerimaan tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama. Muatan Pesan Moderasi Beragama: Memajukan kehidupan umat manusia, Diwujudkan dalam sikap hidup amanah, adil, serta menebar kebajikan dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Menjunjung tinggi keadaban mulia, Menjadikan nilai-nilai moral universal dan pokok ajaran agama sebagai pandangan hidup (world view) dengan tetap berpijak pada jati diri Indonesia. Menghormati harkat martabat kemanusiaan, Mengutamakan sikap memanusiakan manusia, baik laki-laki maupun perempuan atas dasar kesetaraan hak dan kewajiban warga negara demi kemaslahatan Bersama. Memperkuat nilai moderat, Mempromosikan dan mengejawantahkan pengamalan cara pandang, sikap, dan praktik keagamaan jalan Tengah. Mewujudkan perdamaian, Menebar kebajikan dan kedamaian, mengatasi konflik dengan prinsip adil dan berimbang serta berpedoman pada konstitusi. Menghargai kemajemukan, Menerima keberagaman sebagai anugerah, dan karenanya bersikap terbuka terhadap perbedaan. Menaati komitmen berbangsa,
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 171 ~ Menjadikan konstitusi sebagai panduan kehidupan umat beragama dalam berbangsa dan bernegara, serta menaati aturan hukum dan kesepakatan Bersama. Pemerintah memperkuat Moderasi Beragama sebagai modal sosial pembangunan dalam mewujudkan cita-cita bangsa sesuai amanat konstitusi. Meskipun terdapat institusi negara yang menjadi leading sector, pengejawantahan Moderasi Beragama adalah tugas semua pemangku kepentingan. Arah kebijakan pengutan moderasi beragama dalam RPJM 2020-2024. Kebijakan memperkuat Moderasi Beragama didasarkan pada paradigma: 1. Indonesia bukan negara sekuler yang memisahkan agama dari negara, bukan pula negara yang diatur berdasarkan agama tertentu. Indonesia adalah negara yang kehidupan warga dan bangsanya tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai agama. Karenanya, negara memfasilitasi kebutuhan kehidupan keagamaan warganya sesuai amanah konstitusi. 2. Negara memposisikan diri “in between”: tidak boleh terlalu jauh campur tangan, tapi juga tidak boleh terlalu jauh lepas tangan. 3. Negara berlandaskan dan berorientasi pada nilai-nilai agama, yaitu terwujudnya kemaslahatan bersama menuju kedamaian dan kebahagiaan Strategi Penguatan Moderasi Beragama: 1. Penguatan cara pandang, sikap, dan praktik beragama jalan tengah b. Penyiaran Agama, Pengembangan penyiaran agama untuk perdamaian dan kemaslahatan umat c. Sistem Pendidikan, Penguatan sistem pendidikan yang berperspektif moderasi beragama mencakup pengembangan kurikulum, materi dan proses pengajaran, pendidikan guru dan tenaga kependidikan, dan rekruitmen guru d. Pengelolaan Rumah Ibadah, Pengelolaan rumah ibadat sebagai pusat syiar agama yang toleran e. Pengelolaan Ruang Publik, Pemanfaatan ruang publik untuk pertukaran ide dan gagasan di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pemuda lintas budaya, lintas agama, dan lintas suku bangsa
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 172 ~ f. Pesantren dan Satuan Pendidikan Keagamaan Lainnya. Penguatan peran pesantren dan satuan pendidikan keagamaan lainnya dalam mengembangkan moderasi beragama melalui peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama untuk kemaslahatan 2. Penguatan harmoni dan kerukunan umat beragama disertai pelindungan hak konstitusi, optimalisasi peran lembaga negara dan lembaga agama, serta pemberdayaan FKUB a. Pelindungan umat beragama untuk menjamin hak-hak sipil dan beragama b. Penguatan peran lembaga keagamaan, organisasi sosial keagamaan, tokoh agama, tokoh masyarakat, ASN, TNI, dan Polri sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa c. Penguatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk membangun solidaritas sosial, toleransi, dan gotong royong 3. Penyelarasan relasi agama dan budaya. Apresiasi terhadap ekpresi budaya berbasis nilai agama, pengembangan literasi khazanah budaya, dan pelestarian situs dan perayaan keagamaan dan budaya memperkuat toleransi. a. Apresiasi budaya, Penghargaan atas keragaman budaya yang merupakan wujud dari implementasi pengamalan agama b. Pelestarian budaya. Pelestarian dan optimalisasi produk budaya berbasis agama untuk mensejahterakan umat c. Literasi budaya. Pengembangan literasi khazanah budaya bernafas agama d. Tafsir keagamaan. Pengembangan tafsir keagamaan berperspektif budaya e. Perayaan keagamaan dan budaya. Pemanfaatan perayaan keagamaan dan budaya untuk memperkuat toleransi f. Dialog lintas agama dan budaya. Penguatan dialog lintas agama dan budaya 4. Peningkatan kualitas pelayanan kehidupan beragama. Penerapan perspektif Moderasi Beragama dalam fasilitasi pelayanan keagamaan, peningkatan pelayanan bimbingan keluarga, penjaminan produk halal, dan penyelenggaraan haji dan umrah. a. Peningkatan fasilitasi pelayanan keagamaan yang akuntabel serta bersifat inklusif dan non-diskriminatif.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 173 ~ b. peningkatan kualitas penyelenggaraan haji dan umrah dengan menerapkan hukum fikih yang bertumpu pada pertimbangan realitas sosial, guna menghadirkan kemaslahatan bersama sebagai wujud Islam rahmatan lil alamin. c. Peningkatan bimbingan perkawinan dan keluarga sakinah berwatak moderat. d. Penguatan penyelenggaraan jaminan produk halal sebagai nilai tambah ekonomi sehingga umat lain turut merasakan manfaatnya. Pelayanan sertifikasi halal sebagai jaminan kepastian hukum terkait produk halal, dan bukan untuk menciptakan segregasi pangsa pasar. 5. Pengembangan ekonomi umat dan sumber daya keagamaan sebagai modal penguatan Moderasi Beragama a. Pengelolaan dan pemberdayaan dana sosial keagamaan berperspektif Moderasi Beragama b. Pengelolaan dana haji secara profesional, transparan, dan akuntabel c. Pengembangan dan penguatan kelembagaan ekonomi umat Daftar Pustaka Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. (2020). KBBI V 0.4.0 Beta (40) Luar Jaringan (Luring/Android). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RepublikIndonesia. Convey Indonesia. (2018). Ancaman Radikalisme di Sekolah. Policy Brief Series, Issue 4,Vol. 1, 1-10. Danandjaja, James. (2002). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Danial dan Wasriah. (2009). Metode Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan UPI. Giddens, Anthony. (1995). Politics, Sociology and Social Theory: Encounters with Classical and Contemporary Social Thought. Cambridge: Polity (publisher) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 37 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 24 Tahun 2016 tentangKompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Muchith, M. Saekan. (2016). Radikalisme dalam Dunia Pendidikan. Addin, Vol. 10, No. 1, 163-180.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 174 ~ Mussafa, Rizal Ahyar. (2018). Konsep Nilai-Nilai Moderasi dalam Al-Qur‟an dan Implementasinya dalam Pendidikan Agama Islam. (Unpublished sarjana‟s skripsi) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Semarang, Indonesia. Nur, Afizal dan Mukhlis. (2015). Konsep Wasathiyah dalam Al-Qur‟an (Studi Komparatif antara Tafsir al-Tahrir wa at-Tanwir dan Aisar at-Tafasir). An-Nur, Vol. 4 No. 2, 205-225. Saptoni. (Ed.). (2019). Menanam Benih di Ladang Tandus: Potret Sistem Produksi Guru Agama Islam di Indonesia. Yogyakarta: CIS Form. Syafruddin, Didin dan Ismatu Ropi. (2018). Gen Z: Kegalauan Identitas Keagamaan. Jakarta: PPIM UIN Jakarta. Watson, Brenda. (1987). Education and Belief. Oxford: Blackwell Publishers E. Penugasan Proyek Secara Berkelompok 1. Pembentukan Kelompok Kerja Petunjuk dalam pembagian kelompok kerja sebagai berikut: a. Silakan mahasiswa membentuk kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4-6 mahasiswa sesuai arahan dosen. b. Usahakan masing-masing kelompok terdiri atas laki-laki dan perempuan. c. Apabila kelompoknya sudah terbentuk silakan tentukan ketua kelompoknya. d. Ketua kelompok silakan berdiskusi dengan ketua kelompok lainnya menetapkan nama kelompok dengan memilih nama-nama sahabat Nabi sesuai arahan dosen. e. Ketua kelompok bersama anggotanya mengatur tempat duduk sesuai arahan dosen. 2. Pertanyaan Proyek Mahasiswa dalam kelompok diberikan pertanyaan dan tugas oleh dosen secara lisan sebagai berikut: a. Tentunya setelah membaca materi tentang Membangun persatuan dalam keberagaman yang dinamis dan kompleks dalam konteks kehidupan sosial budaya Indonesia yang plural, para mahasiswa sudah tahu bagimana Konsep persatuan dalam keberagaman, Islam membangun persatuan dala keberagaman dalam konteks kehidupan sosial budaya, membangun Nilai-nilai moderasi beragama dan Penguatan dan tantangan moderasi beragama di Indonesia? b. Silakan secara berkelompok menyimpulkan bagaimana untuk menjadi seorang Muslim yang profesional? 3. Perencanaan Proyek Beberapa perencanaan proyek yang harus dilakukan oleh masingmasing kelompok sebagai berikut: a. Kesimpulan menggunakan format artikel ilmiah kajian pustaka. b. Sumber referensi dalam membuat kesimpulan yaitu minimal
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 175 ~ bersumber dari buku ajar yang sedang dibaca ini dan beberapa referensi seperti e-book, jurnal, prosiding dan lainnya. c. Silakan setiap kelompok dalam membuat kesimpulan berpedoman pada penulisan artikel ilmiah kajian pustaka dengan sistematika berikut: 1) Judul Tulisan, Nama, Npm, dan Email Mahasiswa Contoh: Membangun Persatuan Dalam Keberagamaan Yang Dinamis dan Kompleks Dalam Konteks Kehidupan Sosial Budaya Indonesia Yang Plural Oleh Abdul Ghani (NPM A1A018001) Email: [email protected] Nurrahmah (NPM A1A018008) Email: [email protected] 2) Abstrak Gunakan format IMRAD (Introduction, Method, Result & Discussion) yang diakhiri kata kunci. Abstrak maksimal 250 kata dan minimal 150 kata. 3) Pendahuluan Pendahuluan sebaiknya memuat beberapa unsur berikut: a. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan teori dan penelitian relevan. b. Menjelaskan pentingnya kajian yang akan dibahas berdasarkan hasil pengamatan, observasi, atau wawancara. c. Menjelaskan pemetaan tentang tulisan sebelumnya baik dari jurnal atau prosiding yang belum menulis tentang kajian yang akan dibahas. d. Menjelaskan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan. 4) Metode Penulisan Jelaskan metode penulisan yang digunakan menggunakan metode kajian pustaka (literature review). Kemudian, jelaskan sumber data tulisan yang diperleh dari buku, jurnal, prosiding, atau lainnya. Jelaskan juga teknik analisis data yang digunakan membuat formulasi permasalahan, mencari literature, evaluasi data, menganalisis data, dan menginterpretasikan data. 5) Pembahasan Pembahasan berusaha membandingkan dan menghubungkan konsep-konsep tentang kajian yang akan dibahas sehingga ditemukan kesimpulan yang terbaik. 6) Simpulan dan Saran Simpulan berisi jawaban dari rumusan masalah sebagai jawaban akhir dari pembahasan yang bersumber dari gabungan pendapat dari
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 176 ~ pakar yang dikutip. Sedangkan saran menyampaikan saran kepada pihak yang menerima kontribusi terhadap tulisan ini yaitu mahasiswa dan dosen. 7) Daftar Pustaka Gunakan format American Psychologycal Association 7 (APA 7) yang bersumber dari buku, jurnal, dan prosiding. Contoh pengutipan dan penulisan daftar putaka menggunakan APA 7 dapat dilihat pada laman berikut https://edutecion.com/apa-style-edisi-7/. d. Kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka menggunakan aturan penulisan berikut: 1. kertas A-4; 2. jenis tulisan Times New Roman; 3. spasi 1,5; 4. margin kiri 3, kanan 2,5, atas 2,5, dan bawah 2,5; 5. kutipan tidak langsung; dan 6. penulisannya menggunakan bodynote. 4. Penyusunan Jadwal Proyek Proyek menulis kesimpulan dan bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh dosen. Jadwal proyek bisa mengikuti format berikut: No Kegiatan Hari dan Tanggal Waktu (Menit) 1. Mencari referensi tentang Membangun persatuan dalam keberagaman keberagamaan yang dinamis dan kompleks dalam konteks kehidupan sosial budaya Indonesia yang plural 20 2. Menyusun kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 60 3. Membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 20 4. Mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi sesuai petunjuk dosen. 10 5. Masing-masing kelompok mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 40 6. Masing-masing kelompok memperbaiki dan mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 360 Total Waktu 510
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 177 ~ 5. Pengawasan Pelaksanaan Proyek Pengawasan pelaksanaan proyek dilakukan oleh guru bisa dengan menggunakan lembar pengamatan penilain sikap berikut: No. Aspek yang Diamati Hasil Pengamatan Ya Tidak 1. Mahasiswa dalam kelompok aktif mencari referensi sebagai bahan membuat kesimpulan. 2. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 3. Mahasiswa dalam kelompok aktif membuat presentasi kelompok menggunakan aplikasi Power Point atau Canva. 4. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan proyek membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka dan file presentasi. 5. Mahasiswa dalam kelompok aktif dan kritis dalam mempresentasi hasil proyek dan kegiatan diskusi panel. 6. Mahasiswa menggunakan bahasa yang santun dan efektif dalam kegiatan diskusi panel. 7. Mahasiswa dalam kelompok tepat waktu mengumpulkan hasil perbaikan membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka. 8. Mahasiswa dalam kelompok menulis membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah kajian pustaka mengikuti sistematika dan aturan penulisan yang sudah ditetapkan. Jumlah Jawaban Kriteria penilaian sikap dalam proses melaksanakan proyek sebagai berikut: 6. Penilaian Hasil Proyek melalui Presentasi Proyek Penilain hasil proyek atau produk membuat kesimpulan dalam bentuk artikel ilmiah hasil kajian pustaka bisa menggunakan format penilaian berikut:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 178 ~ No. Aspek yang Dinilai Skala Bobot Penilaian Skor yang Diperoleh 1. Sistematika penulisan. 1-15 2. Isi tulisan berkaitan dengan kekuatan argumentasi 1-30 3. Penggunaan ejaan (penulisan huruf, tanda baca, kata, dan unsur serapan) dan tata bahasa (kalimat dan paragraf). 1-20 4. Aturan penulisan berkaitan dengan kutipan dan format tulisan. 1-15 5. Tingkat keorisinalan tulisan dari hasil cek similaritas atau cek plagiasi. 1-20 Total Nilai 100 7. Evaluasi Pengalaman melalui Refleksi Tahap evaluasi pengalaman melalui refleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa dalam membuat kesimpulan tentang Membangun persatuan dalam keberagaman keberagamaan yang dinamis dan kompleks dalam konteks kehidupan sosial budaya Indonesia yang plural. Dosen bisa menggunakan evaluasi pengalaman melalui refleksi dengan dua acara berikut: a. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek kepada perwakilan kelompok. Kegiatan refleksi kelompok bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba anda sebagai perwakilan dari kelompok pertama, sampaikanlah kesimpulan tentang Konsep persatuan dalam keberagaman, Islam membangun persatuan dala keberagaman dalam konteks kehidupan sosial budaya, membangun Nilai-nilai moderasi beragama dan Penguatan dan tantangan moderasi beragama di Indonesia..? b. Refleksi pengalaman dalam mengikuti proses proyek secara individu kepada masing-masing individu yang dianggap belum aktif dalam proses kegiatan proyek. Kegiatan refleksi individu bisa dengan dua pertanyaan berikut: 1. Coba anda sampaikan kesan dan pesan terhadap pelaksanaan proyek yang sudah kita lalui bersama! 2. Coba anda sampaikan kesimpulan tentang Konsep persatuan dalam keberagaman, Islam membangun persatuan dala keberagaman dalam konteks kehidupan sosial budaya, membangun Nilai-nilai moderasi beragama dan Penguatan dan tantangan moderasi beragama di Indonesia?
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 179 ~ F. Tes Kognitif Individu 1) Petunjuk: a. Berdoalah sebelum mengerjakan soal. b. Kerjakanlah soal dengan cermat dan sunguh-sungguh karena akan memengaruhi benar salahnya jawaban Anda. c. Perhatikanlah pertanyaan yang diminta dalam soal sebelum menetapkan jawaban yang paling benar. d. Soal sebanyak 25 soal dengan bobot setiap soal sebesar 4 poin sehingga total nilai apabila jawaban benar adalah 100. e. Mahasiswa yang memperoleh nilai 80 atau lebih diperbolehkan melanjutkan materi pada pertemuan berikutnya sedangkan mahasiswa yang memperoleh nilai di bawah 80 harus mengikuti kegiatan remedial dengan membuat ringkasan materi. 2) Soal Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar di antara pilihan a, b, c, dan d! 1. Pada tanggal berapa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terhadap paham pluralisme? a. 21 Agustus 2005 b. 28 Juni 2005 c. 28 juli 2005 d. 28 januari 2005 2. Ayat yang menerangkan realitas sunnatullah bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk berpecah belah adalah.. a. QS. Yunus/10:97 b. QS. Yunus/10:98 c. QS. Yunus/10:99 d. QS. Yunus/10:100 3. Berikut yang bukan merupakan beberapa ciri-ciri seorang muslim moderat menurut Afrizal Nur dan Mukhlis (2015) adalah.. a. tawassuf, tawazun, dan i‟tidal b. tawassuf, syura, dan islah c. tawassuf, syura, dan tahaddur d. tawassuf, tawazzun, dan tabligh 4. Berikut adalah empat indikator keberhasilan moderasi beragama dalam kehidupan masyarakat Indonesia, Kecuali.. a. komitmen kebangsaan b. Toleransi c. Anti kekerasan d. komitmen ekonomi 5. Menghormati perbedaan dan memberi ruang orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat. Menghargai kesetaraan dan sedia bekerjasama, merupakan indikator keberhasilan moderasi beragama dalam bidang..
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 180 ~ a. Anti kekerasan b. Toleransi c. Komitmen Kebangsaan d. Penerimaan terhadap tradisi 6. PMA 18 2020 tentang renstra Kementrian Agama 2020-2024 menyatakan bahwa Kementrian Agama yang professional dan handal dalam membangun masyarakat yang saleh, moderat, cerdas dan unggul untuk mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berdasarkan.. a. Pancasila b. Hadist c. Agama d. Gotong royong 7. Yang bukan termasuk strategi penguatan moderasi beragama dengan cara penguatan cara pandang, sikap, dan praktik beragama jalan tengah adalah.. a. Penyiaran agama b. Pengelolaan rumah ibadat c. Pengelolaan ruang publik d. Pengelolaan negara 8. Moderasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V dapat didefinisikan sebagai.. a. Pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstreman b. Pengurangan kekerasan dan menghindari kejahatan c. Penghindaran keekstreman dan penghindaran bahaya d. Penghindaran keekstreman dan pengurangan bahaya 9. Bentuk kelembagaan yang mana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan merupakan pengertian dari.. a. Pluralisme b. Eksistensi c. Sinkretisme d. Relativisme 10. “Nilai sebagai suatu gagasan yang dimiliki seseorang maupun kelompok mengenai apa yang layak, apa yang dikehendaki, serta apa yang baik dan buruk” merupakan pendapat dari.. a. Danandjaja (2002) b. Antony Giddens (1995) c. Afrizal Nur dan dan Mukhlis (2015) d. Aristoteles (1999) 11. Salah satu landasan hukum yang menguatkan serta mengokohkan pentingnya sikap moderasii beragama terutama dalam konteks keindonesiaan adalah.. a. Pasal 30 Ayat 4 UUD 1945 b. Pasal 29 Ayat 2 UUD 1945 c. Pasal 87 Ayat 1 UUD 1945
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 181 ~ d. Pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 12. Adil dalam pengertian yang ditawarkan olehal-Razi adalah sikap yang.. a. memihak kepada salah satu b. memihak kepada keduanya c. tidak memihak kepada salah satu d. tidak memihak kepada keduanya 13. “Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong.” Hal ini terdapat dalam Al-Quran surat? a. Qs. Al-Hujurat/49: 13 b. Qs. Asy-Syurah/42: 8 c. Qs. Yunus/10: 99 d. Qs. Hud/11: 118-119 14. Kata wasat dan segala bentuk derivasinya disebut sebanyak.. a. Dua kali b. Tiga kali c. Empat kali d. Lima kali 15. Suatu teori yang menentang kekuasaan negara monolitis dan sebaliknya, mendukung desentralisasi dan otonomi untuk organisasi-organisasi utama yang mewakili keterlibatan individu dalam masyarakat. Selain itu, suatu keyakinan bahwa kekuasaan itu harus dibagi bersama-sama di antara sejumlah partai politik merupakan elaborasi suatu paham oleh Masykuri Abdillah dengan mengutip The Oxford English Dictionary, yaitu.. a. paham pluralisme b. paham monisme c. paham atheisme d. paham liberalisme 16. Nilai-nilai moderasi beragama mencakup hal berikut, kecuali.. a. Saling menghargai a. Kasih sayang b. Toleransi c. Sombong 17. Menurut Ibnu Manzur makna kata wasat berarti.. a. Keadilan b. Wasiat c. Saling menghargai d. Kejujuran 18. Tercatat bahwa kata wasat disebut sebanyak empat kali di dalam alquran dalam surah berikut, Kecuali..
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 182 ~ a. Qs. Al-Maidah (3): 3 b. Qs. Al-Baqarah (2): 143 c. Qs. Al-Adiyat (100): 5 d. Al-Maidah (5): 89 19. Kata wasat diambil dari Bahasa Arab wasat-yawsitu-wastan yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia berarti.. a. Pertengahan b. Persimpangan c. Pemulihan d. Penggalian 20. Kata moderasi dalam bahasa Arab yaitu ةَّطی ِس َوَ ْ لَا) al-wasaṫiyyah). Alwasaṫiyyah secara bahasa, berasal dari kata.. a. saṫwa b. ṫiyyah c. wasaṫ d. saṫi 21. Menciptakan suatu agama baru dengan memadukan unsur tertentu atau sebagian komponen ajaran dari beberapa agama untuk dijadikan bagian integral dari agama baru tersebut adalah pengertian dari.. a. Pasifisme b. Pluralisme c. Sinkritisme d. Liberalisme 22. Dari ke-empat ayat yang menerangkan mengenai wasat, benang merah yang dapat ditarik adalah bahwa Islam yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Al-Qurán selalu menghendaki umatnya bersikap ... dalam hal beragama. a. terdepan b. terbelakang c. tengah d. termaju 23. Pengamalan Brenda Watson dalam Education and Belief (1987) mengatakan, ada beberapa sebab utama gagalnya pembelajaran agama di sekolah-sekolah. Ada berapa sebab utama yang dimaksud? a. 3 b. 4 c. 10 d. 6 24. Imam Fakhruddin al-Razi memaknai kata washatiyah, yaitu… a. cukup b. layak c. adil d. tepat
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 183 ~ 25. Mengartikan nilai sebagai suatu gagasan yang dimiliki seseorang maupun kelompok mengenai apa yang layak, apa yang dikehendaki, serta apa yang baik dan buruk. Pengertian ini dinyatakan oleh?... a. Brenda Wataon (1987) b. Antony Giddens (1995) c. Alwi Shihab (1997) d. Abdurrahim Ghozali (1988) Nilai: Hari dan Tanggal: Paraf Dosen:
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 184 ~ BAB VIII Islam Menghadapi Tantangan Modernisasi Untuk Menunjukkan Kompatibilitas Islam Dengan Dunia Modern Sub-CPMK-8 Pertemuan ke-11: Mampu menyimpulkan cara Islam menghapi tantangan modernisasi untuk menunjukkan kompatibilitas Islam dengan dunia modern saat ini Gambar 8.1 Islam menghadapi tantangan modernisasi Sumber: https://it.rsudsekayu.mubakab.go.id/ckfinder/userfiles/files/teknologi/1/teknologizaman-nabi.jpg A. Pandangan Islam Tentang IPTEK 1. Pengertian IPTEK Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) adalah bidang pengetahuan yang sangat penting. Seperti yang ditunjukkan oleh sejarah, kemajuan suatu negara sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam bidang teknologi dan sains. Namun, kemampuan ini tidak dapat dicapai dengan cepat dan membutuhkan upaya yang terus-menerus. "IPTEK", singkatan dari "ilmu pengetahuan dan teknologi", merupakan sumber pengetahuan yang dapat meningkatkan pemahaman seseorang tentang teknologi. Cara yang efektif untuk menghubungkan IPTEK dengan masalah yang ada dalam masyarakat adalah dengan menerapkan pendekatan yang
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 185 ~ mengintegrasikan sains, teknologi, dan masyarakat dalam pendidikan. Metode ini berasal dari frase Inggris "Science, Technology, and Society" dan bertujuan untuk memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam konteks kehidupan masyarakat, termasuk sains, teknologi, dan peran masyarakat dalam lingkungannya.. Sebelum itu untuk memperjelas, perlu dipahami beberapa konsep dasar terlebih dahulu. ilmu pengetahuan, atau sains, adalah pengetahuan yang diperoleh mengenai fenomena alam melalui metode ilmiah. Di sisi lain, teknologi adalah penerapan pengetahuan dan keterampilan yang berasal dari ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) adalah hasil dari upaya dan pemikiran yang bertujuan untuk memperluas, mendalami, dan mengembangkan IPTEK itu sendiri. Peranan Islam dalam perkembangan IPTEK adalah penerapannya dalam kehidupan. Prinsip-prinsip Syariah Islam harus digunakan sebagai pedoman dalam penggunaan IPTEK. Prinsip-prinsip ini mencakup penentuan halal dan haram berdasarkan hukum Syariah Islam, yang mana harus digunakan sebagai pedoman dalam penggunaan IPTEK, tidak peduli bentuk atau jenisnya. Syariah Islam melarang IPTEK yang dilarang, tetapi mengizinkan IPTEK yang diizinkan. Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, berulang kali menyatakan bahwa umat Islam membutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melakukan ibadah mereka. Menurut Mu'ti, hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan tidak bertentangan. Dalam menanggapi beberapa orang yang menentang IPTEK dengan agama, Mu'ti tegas menyatakan bahwa IPTEK diperlukan agar ibadah umat muslim lebih khusyuk dan sempurna. Menurutnya, tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan teknologi dengan agama. Mu'ti juga menjelaskan dalam Al Qur'an Surat Yunus ayat 5 bahwa Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengembangkan hisab. Oleh karena itu, umat Islam menganggap membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai hal yang penting. Metodenya adalah dengan memasukkan cara penafsiran kreatif dari ayat-ayat Al-Qur'an.
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 186 ~ 2. Sumber historis, sosiologis dan filosofi konsep islam mengenai iptek a. Sumber Historis Kemajuan di bidang pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi perkembangan politik, ekonomi dan budaya. Anda bisa menelusurinya secara historis ketika dunia Islam unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada Masa Keemasan Islam, kekuasaan politik umat Islam semakin meluas, meluas ke berbagai bidang, dan penguasaan politik ini membawa keberhasilan dalam kehidupan perekonomian umat Islam pada masa itu. Kesejahteraan yang merata juga mendorong umat Islam untuk maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkat hal ini, dunia Islam menjadi sangat kuat secara politik dan ekonomi pada saat itu, berdasarkan kendali penuh atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Masa Keemasan Islam terjadi pada masa pemerintahan dinasti Umayyah di Damaskus, Suriah (dan kemudian berkembang di Spanyol) dan dinasti Abbasiyah di Bagdad, Irak. Jika kita berbicara tentang sejarah perkembangan teknologi dari dulu hingga sekarang, maka hal itu tidak terjadi secara kebetulan atau tiba-tiba, melainkan terjadi secara bertahap, terstruktur, dan berkembang. Untuk memahami sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, seperti perkembangan teknologi dunia Islam, terlebih dahulu kita harus membuat pembagian atau klasifikasi secara teratur. Perkembangan Teknologi di Zaman Para Nabi Pada zaman para nabi, perkembangan teknologi sebenarnya sudah ada dan cukup maju. Hal ini terbukti dengan banyaknya kisah dalam Al-Qur'an tentang kehidupan masyarakat pada zaman Nabi. Nabi Adam membuat peradaban ketika bertemu Siti Hawa. Dalam sejarah, Nabi Adam sempat kebingungan mencari api untuk memasak, namun beliau mendapat wahyu bahwa jika batu digesekkan maka api akan datang. Itu teknologi. Mari kita ambil contoh lain, pada masa Nabi Nuh (a.s.), ada benda-benda seperti kapal, meskipun kapal itu sangat besar. Menurut sejarah, kapal ini berukuran sangat besar dan memuat seluruh makhluk hidup yang taat kepada Nabi Nuh (a.s.) seperti gajah, beruang, dan hewan
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 187 ~ lainnya. Hal ini menunjukkan betapa majunya teknologi di dunia Islam sejak zaman dahulu. Perkembangan teknologi pada masa Bani Umayyah Sejarah perkembangan teknologi di dunia Islam pada abad ke-7, para ahli geografi Muslim dan para navigatornya mempelajari tentang jarum magnet, mungkin dari orang Cina, namun para navigator pertama kali menggunakan jarum magnet dan menggunakannya dalam navigasi. Mereka menemukan kompas dan belajar menggunakannya saat melakukan perjalanan ke barat. Para navigator Eropa mengandalkan navigator Muslim dan peralatan mereka untuk menjelajahi hal-hal yang tidak diketahui. Gustav Le Bon mengakui bahwa jarum magnet dan kompas sebenarnya ditemukan oleh umat Islam dan peran orang Cina hanya kecil. Orang Inggris Alexander Neckam, seperti halnya orang Cina, mungkin belajar tentang kompas dari pedagang Muslim, namun dikatakan sebagai orang pertama yang menggunakannya untuk navigasi. Perkembangan Teknologi Pada Era Daulah Abbasiyah Bagdad (Irak) Sekitar tahun 765, Jurjis Ibn Naubakht mendirikan sekolah kedokteran pertama. Sekitar tahun 990 Masehi Ibnu Firnas, seorang ilmuwan asal Andalusia (Spanyol), bermimpi suatu saat manusia bisa terbang bebas di angkasa seperti burung. Ia terinspirasi dari peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, namun menurutnya tidak mungkin orang awam bisa mengendarai Bouraq kendaraan Nabi Muhammad SAW ke Isra' Mi'raj, karena ia hanya orang biasa saja, bukan seorang yang mulia seperti Nabi. Ibnu Firnas (Armen Firman) memulai penelitian yaitu kajian aerodinamika, fisika udara, dan anatomi burung dan kelelawar. Hingga suatu saat ia menciptakan alat terbang seperti sayap kelelawar. Ia kemudian naik ke puncak menara masjid di Cordoba, diawasi oleh ribuan orang di bawahnya, lalu melompat dan terbang sekitar 3 km dan mendarat dengan selamat. Ribuan orang memuji ciptaannya. Di sisi lain, masyarakat Eropa masih belum tahu apa-apa saat itu, alat terbang Ibnu Firna
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 188 ~ menginspirasi Wright bersaudara untuk membuat pesawat terbang pada awal tahun 1800-an. Perkembangan teknologi pada masa Khalifah Al-Maimun Ibnu Harun Al-Rasyid Sejarah Perkembangan Teknologi di Dunia Islam Pada tahun 813 didirikan Daru Al-Hikmah atau akademi ilmiah pertama di dunia yang terdiri dari perpustakaan, pusat administrasi, observatorium dan universitas. Pada tahun 850, ahli kimia Muslim memproduksi minyak tanah (minyak tanah murni) dengan menyuling produk minyak bumi dan gas (Encyclopaedia Britannica, Petroleum), lebih dari 1.000 tahun sebelum orang Inggris Abraham Gesner mengaku sebagai orang pertama yang memproduksi minyak tanah dari aspal filter. Pada tahun 866, kertas tertua yang menjadi model percetakan di Barat adalah Dzulqaidah 252 karya Abu 'Ubyad AlQasim ibn Sallam, atau naskah berbahasa Arab bernama Gharib Al-Hadist, tertanggal 13 November-12 Desember 866, yang bertahan hingga. Hari ini. Perpustakaan Universitas Leiden. Perkembangan teknologi di era Islam modern Di era ini, dunia Islam telah menciptakan banyak teknologi yang canggih dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Mereka bisa menggunakan energi nuklir sebagai sumber energi. Selain itu, dunia Islam mampu menciptakan pesawat terbang yang canggih karena tidak mau ketinggalan dengan dunia Barat. Dari segi teknologi militer, dunia Islam juga berkembang dengan baik. Ini merupakan peningkatan dari teknologi sebelumnya. Teknologi dunia Islam telah berkembang sejak manusia pertama dan terus berkembang dari masa ke masa. Perkembangan teknologi saat ini erat kaitannya dengan masa lalu. b. Sumber Sosiologis Keberhasilan umat Islam di masa lalu antara lain disebabkan oleh interaksi antara cendekiawan Muslim dan antara cendekiawan Muslim dengan tradisi intelektual non-Muslim seperti para filsuf Yunani. Filsafat Islam berkembang sangat pesat karena adanya interaksi dan adaptasi dengan pemikiran rasional. Ilmu-ilmu lain juga saling mempengaruhi, membentuk dan memperkuat perkembangan ilmu-ilmu dalam masyarakat Islam. Meskipun
PAI Berbasis Moderasi Beragama ~ 189 ~ munculnya masyarakat yang lebih modern pada masa Khulafa AlRasyidin, terdapat beberapa ambiguitas mengenai infrastruktur sosial umat Islam. Namun dari sudut pandang sosiologi, Islam pada masa itu memberikan kontribusi yang besar bagi umat Islam sendiri sehingga berdampak besar terhadap terbentuknya masyarakat modern. Islam, setidaknya karena kontribusinya tersebut, telah melahirkan peradaban modern jauh sebelum Auguste Comte (1798-1853) menciptakan istilah sosiologi. Istilah sosiologi berasal dari kata socius dan logos. Socius artinya teman, sahabat atau teman. Logos berarti pengetahuan atau pikiran. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat diartikan bahwa sosiologi adalah ilmu yang berbicara tentang Masyarakat. Beberapa asumsi dasar sosiologi Islam dijelaskan di bawah ini, yaitu: 1. Sifat alam Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta yang meliputi langit, bumi, bulan, bintang, awan, matahari, planet, air, gunung, dan laut. Allah mengatur segala sesuatu dalam ciptaanNya; itu tidak terjadi secara kebetulan. Pernyataan di atas tentu saja bertentangan dengan pendapat para sosiolog Barat yang berpendapat bahwa Allah tidak menguasai dunia dan isinya, melainkan hukum alam yang mendistribusikan sunnatullah. Perspektif ini tidak diragukan lagi sekuler, dan Islam menolaknya, karena Allah SWT-lah yang mengendalikan dan menciptakan alam semesta ini. Apa hubungan manusia dengan alam?. Manusia, meskipun menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, jelas tidak mampu menciptakan dan mengatur alam dan seluruh komponennya. Karena kenyataan bahwa kemampuan manusia terbatas dan lemah. 2. Sifat manusia Manusia mempunyai empat kualitas yaitu: a. Manusia terdiri dari komponen-komponen yang bertentangan secara diametris (terbagi menjadi dua hal yang berlawanan). Wahyu Tuhan menyatukan kemampuan manusia dalam berbuat baik dan jahat.