(768) TITIK JUANGKU / 3 Juni 2021
/ 3 Juni 2021
Tapakku terus melangkah / 3 Juni 2021
Melangkah dan terus melangkah
Tertatih di atas titik-titik juang
Titik akhir masih dalam penantian
Akan kuukir senyum di bibir mereka
(769) TENTANG RASAKU
Pernah kulabuhkan sauh hati
Kucintai hati yang tak mencintai
Kugenggam yang ingin melepaskan
Semua akhirnya bermakna
Rasaku tak semuanya selalu terbalas
(770) CINTA TANPA TEMA
Tatapanmu terpanah membara
Melodi cintamu kian mengalun
Batinku mengapa engkau bisu?
Jiwaku mengapa engkau sepi?
Cinta tak itu tak bertema!
295
(771) GURU / 3 Juni 2021
/ 3 Juni 2021
Kau insan penyabar / 3 Juni 2021
Mengajarkan aku arti kebenaran
Mengasah harapan masa depanku
Kita disatukan cita-cita tanpa ikatan
Guruku, terima kasihku untukmu
(772) KITA BERKISAH
Aku
Engkau
Dia
Mereka
Mari berkisah tentang kita Indonesia
(773) POLITIKUS
Wahai tikus-tikus kantor
Jas dasimu bermotif ambisi
Sumpahmu seakan hanya mainan
Rakyat jelata jadi penonton setia
Memang politik arena penuh rahasia
296
(774) NAJWA SIHAB / 3 Juni 2021
/ 3 Juni 2021
Wanita itu / 3 Juni 2021
Ia pejuang di masa kini
Kartini baru pejuang kebenaran
Belati tatapannya membongkar tabir kegelapan
Senjata katanya merobek tirai berkedok
(775) KITA BISA
Mengapa masih ada ragu di benakmu?
Angin berembus ke mana ia suka
Kita manusia ...
Kita ciptaan paling sempurna
Ah, kita bisa
(776) LEMBARAN BERANGKA
Dia hanyalah lembaran yang didereti angka
Namun dia berharga di mata manusia
Manusia seolah tak bisa hidup tanpanya
Segalanya membutuhkan dia
Namun dia bukanlah segalanya
297
(777) WAKTU / 3 Juni 2021
/ 3 Juni 2021
Entakkan perginya pasti tak kembali / 3 Juni 2021
Detaknya pelan tapi pasti ke depan
Esok akan menjadi hari ini
Hari ini akan pergi menjadi hari kemarin
Torehkan kisah indah dalam waktu
(778) SENJA
Di tengah-tengah kesunyian aku menatapnya
Senja ada, dia ada di sudut langit
Jingganya menemaniku hingga malam tiba
Ingin kumenelusuri setiap sudut langit
Kuharap ada hati yang bisa kusinggah di sana
(779) TERORIS
wahai pembunuh para pembunuh misterius
Hari-hari hidupmu seakan penuh misteri
Ya, misteri rancangan kematian
Belajarlah pada guru agung Sang Pencipta
Merancang hidup manusia penuh misteri
298
(780) CORONA
Corona
Kau datang dengan ancaman
Lama tinggal, tak mau pulang
Manusia kini hidup terpisah
Menanti harap kau pamit
/ 3 Juni 2021
299
GOGYOSHINUS Sr. MARIA FATIMA SORO, CSV
BIOGRAFI SINGKAT
Sr. Maria Fatima Soro, CSV kelahiran Aimere,
Kabupaten Ngada, Flores-NTT pada 13 April 1991.
Pendidikakan yang ditempuh SDI Gemo, SMPN 1
Aimere, SMAN 1 Aimere, masuk biara Suster-Suster
Wajah Kudus tahun 2011, dan sekarang menempuh
pendidikan di Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa
(Stipar) Ende. Minat dalam bidang tulis-menulis dan
kebahasaan. Alamat Ndona, RT 01, RW 02,
Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende.
(781) TUHANKU
Terlampau laknat, terjerembap lumpur dosa
Jauh dari-Mu hilang daya
Meringkuk dalam mantol kasih-Mu
Basahi batin dipeluk selimut damai
Pintaku ampunilah yang tercemar
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(782) ANAK MANUSIA
Menyusuri tiap lorong dan kota
Mencari yang hilang, menyembuhkan yang sakit
Membangkitkan yang mati
Dan akhir kisah merenggang nyawa
Di tangan musuh-musuh-Nya
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
300
(783) DIAM
Duduk termangu menatap ruang kosong
Isi kepala meliuk-liuk tak mampu ungkap
Melirik sang waktu tak ingin peduli berlalu pergi
Diamku adalah fitnah
Beribu pasang mata menyisir tanya
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(784) IBU
Jejak-jejakmu tertinggal melebur ingatan tentangmu
Terbenam dalam rangkulan bayangan kosong
lenyap dibuai kidung duka
Temui daku dalam surgamu yang abadi
Ibu kasihmu sepanjang masa
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(785) RINDU
Kepada siapa engkau kubawa
Kembali melepas ruang hampa
Puing-puing kenangan rapi teratur
Membawa pergi rindu dalam pelukan malam
Ia tak bertuan
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
301
(786) KEMBALI
Mungkinkah waktu berbalik menjaring angin
Takdir telah berkhianat tinggal luka
Mengubur kesetiaan mustahil
Membunuh rasa bukan masalah
Hanya dia tetap tinggal
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(787) BUTIRAN BENING
Berguguran terciduk rasa
Apalah daya tak mampu menahan
Mengapa harus aku? Batin menggugat tanya
Sabar mengisi daya kekalutan
Inilah jalanmu
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(788) LEMBARAN BERMAKNA
Tiap sajakmu menyeruak tabir kehidupan
Merangsang adrenalin
Engkau kini berselimut debu
Ditinggal beribu teruna
Telah berkhianat mereka merunduk pada zaman
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
302
(789) SATULAH INDONESIA
Beragam SARA menyatu dalam Bhineka Tunggal Ika
Membantai radikalisme pongah kekuasaan
Pancasila teoriku komunis tindakanku
Mari gaungkan lagi persatuan Indonesia
Kerja kita menyatu di kutub mulut satulah Indonesia
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(790) MELEPAS
Meninggalkan yang lama melupakan sebagai pilihan
Gemuruh keraguan seakan menentang
Jalan angan-angan menguatkan tekad
Membacang gelagat asmaraloka
Membebaskan jiwa terpenjara keegoisan
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(791) SUARA PAGI
Crit-criut menyapa pagi
Memuji sang pencipta di sebalik pepohonan
Tak kenal lelah menghibur bumi yang tenang
Anak manusia keluar dari peraduan
Tangan terkatup memohon berkat tuk hari ini
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
303
(792) MAKNA SUNYI BERSAKSI
Sejuta kisah terukir dan terpatri pada setiap insan
Ungkapkan hati terjuntai kata terima kasih
Ucapan belasungkawa menghantam rasa banjir duka
Dia telah pergi tidak kembali
Tinggallah makam sunyi bersaksi
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(793) LAHIRMU PANCASILA
Dari rahim kota kecil nan dekil bukan istana
Kebijaksanaan Ilahi dan insani menyatu dalam darah Sang Proklamator
Ende namamu meterai sejarah masa lampau lima sila
Amnesia Pancasila merasuk atma bagai haus darah
Dikenang tanpa makna karakter bangsa kian ternoda kebencian
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(794) HUJAN
Pecah meremuk bumi
Hilang bentuk tampak lembap
Bermekarlah tunas-tunas muda
Tertambat mengakar kuncup mengembang
Pantulan jingga mendandani butiran bening
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
304
(795) SENJA YANG PERGI
Saat keindahan senja beranjak pergi
Mengulang kisah bersama kenangan
Berderek-derek utuh di pelupuk mata
Membentuk rembulan di sudut sukma
Beribu tanya menggerogot jiwa belum selesaikah kisah ini?
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(796) MATA
Ada fajar dalam matamu
Dalam fajar itu misteri sunyi
Dari sebuah malam pekat
Dan janji suci dari suatu hari penuh
Dan aku terpenuhi dan aku adalah utuh
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(797) MENATANG SEPI
Melotot keremangan mengusir sembilu
Lawatan imajinasi tiba-tiba menyusup
Lenggak-lenggok menggoda bersorak kemenangan
Rasio menyapa jenaka untuk apa menatang sepi
Dan aku pun tersadar
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
305
(798) JANJI
Membalut kata setia sampai akhir
Menjamu anca berjuang menepis gabut keegoisan
Ketika mata tersuruk bahagia hangatkan dinginnya malam
Pagi merekah bersua akara mentari
Mari menghadap takdir dengan berani
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(799) CORONA
Bayang-bayang kematian di bibir mata
Seolah menyingkap takbir Sang Pencipta
Lolongannya laksana ceraki mencari mangsa
Satu pukulan menghunjam seluruh tubuh ambruk
Gamang menyelimuti kalbu kapan semua ini berakhir
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(800) DAMAI
Engkau serupa bumi yang lahirkan kebajikan dan kelaliman
Atau engkau serupa sungai yang sewaktu-waktu dapat murka
Adakah engkau seorang muda menggantung cita tak berwujud
Atau juga seorang gelandangan terlelap dipeluk langit malam
Engkau lebih muda dari embun lebih tua dari gurun
306
307
(801) KAMERA HATI
Ingin kupotret wajahmu dengan kamera hatiku
Lalu menyimpannya di memori ingatanku
Agar file-file cinta yang pernah kita unduh
Tak hilang termakan virus
Dan menjadi abadi dalam pelukan waktu
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(802) KUNTUM MEKAR
Indahnya kuntum mekar menggoda mata
Seumpama manisnya rindu lahir dari cinta
Aromanya melekat enggan pergi dari jiwa
Terbuai tak henti kagumi keindahan
Hingga matahari meninggi kau pun tertunduk layu
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(803) PELAUT
Angin terus berdesir menggulung riak laut ketepi
Tak ketinggalan pasir-pasir hitam pekat terseret
Perahu nelayan beranjak dengan bendera berkibar
Menerobos lautan mengais rezeki di setiap sudut
Nenek moyangku seorang pelaut begitulah syairnya
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
308
(804) SANG PROKLAMATOR
Founding father jasamu dikenang laksana purnama
Jiwa bergelora gaungkan kemerdekaan tak kenal takut
Jalan malam kau tempuh untuk sampai kepada fajar
Segala yang dijamah menjadi hidup
Katamu, “beri aku sepuluh pemuda akan kugoncang dunia”
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(805) BINTANG MALAM
Bila mentari berpulang ke peristirahatannya
Bintang menyapa semesta penuh kemesraan
Tiupan angin kian mencolek tubuh gemetar
Secangkir kopi hangatkan suasana hati
Wahai Sang bintang dengarkan sajakku
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(806) KASIH
Membelai lembut insan yang berharap
Terbit di hati laksana cahaya menembus bumi
Mencairkan dinginnya jiwa yang membekukan perasaan
Mengalirkan daya kehidupan merangkul penuh kasih
Bergandengan menatap hari depan yang cerah
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
309
(807) SAHABAT
Tentangmu selalu baru meski lama tlah dikenal
Walau jarak lupa bangkitkan keletihan jiwa
Menopang dikala risau menghunjam
Meski usia terlampau muda
Pintaku jangan melepas kebersamaan ini
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(808) POHON BERINGIN
Dedaunan lebat pohon beringin
Memayungi setiap insan yang berlindung
Dahan-dahannya tempat berdiam burung pipit
Angin merayu menggoyang dan merobohkan
Dan engkau tetap kokoh berakar
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
(809) ENGKAU YANG TERSAMAR
Walau tak terjangkau indra senandung ayat suci
Sejuta permohonan menghiasi altar sucimu
Membubung ke angkasa bersama wangi dupa
Kedamaian batinku menyelami rahasia kasih-Mu
Syukur membangunkan raga jalankan amanah-Mu
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
310
(810) SUNGAI
Legam hitam pekat seperti lumpur tampangmu
Di manakah tempatku bercermin selepas sekolah
Nyatanya kini tinggal senja yang bercerita
Lenyap tertawan tangan-tangan jahanam
Sungai bening sirna meraup materi menjual nurani
/ 9 Juni 2021
Sr. Maria Fatima Soro, CSV
311
GOGYOSHINUS YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag
BIOGRAFI SINGKAT
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag lahir di
Ende, Kabupaten Ende, Flores- NTT pada 06
Mei 1985. Riwayat pendidikan SDK Panamata,
SMPK Wawonato, SMKK Yos Soedarso Ende,
dan Stipar Ende (alumni 2009). Sekarang
sebagai Kepala SDK Panamata. Minat dalam
bidang menulis dan olahraga. Alamat Mbengge
Desa Wolokaro, Kecamatan Ende, Kabupaten
Ende. Bisa kontak WA: 082144108093.
(811) TUHAN (1)
Ketika sisa gerimis disirami mentari
Ketika semburat pelangi menghiasi ufuk
Ketika hati gundah dan mulai bersedih
Ketika mata tak sejalan dengan perkataan
Selalu kuingat Engkau Tuhan
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(812) TUHAN ( 2)
Engkau hadir membawa asa
Menyapu harapan usang yang berserak
Memapah raga yang rapuh
Membalut liku yang tertinggal perih
Dan menuntun langkah yang tak berarah
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
312
(813) IBU (1)
Melukis kisah seluas angkasa
Dan kau selalu menulis cinta dihati
Selalu membawa oleh-oleh ketika kembara
Masih luas ladang-ladang hatimu
Untuk ditemani cinta dan doa-doamu
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(814) IBU (2)
Di pinggir kecemasan yang hampar
Langit mimpi-mimpi kita sore hari
Gerimis juga lalui hati kita
Walau tak bermimpi „tuk jadi pelangi
Namun cintamu merangkul jiwaku
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(815) GURU
Tugas mulia untuk membentuk tabiat
Bertindak rendah hati dan penuh kesabaran
Doamu mengisi otak dan jiwa bagi anak bangsa
Memberi ilmu, disiplin, jujur, rajin, dan hormat
Melahirkan manusia berakhlak dan berbudi pekerti
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
313
(816) AYAH
Ada peluh yang berjatuhan
Ada tapak menyusuri lereng-lereng bukit
Sunyi, untuk melangkah dan menghalau
Betapa kerasnya hidup ini
Mengenang pelukan hangat di jiwa ini
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(817) MIMPI
Kata orang kembang tidur
Kadang baik kadang buruk
Kadang indah kadang menyeramkan
Membuat terperanjat dikala tidur
Pengganggu juga penghibur
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(818) KHAYALAN
Berada dalam pikiran bukan kenyataan
Dia ada namun tiada bahkan kosong
Dibiarkan namun ditertawakan
Tetapi seru dan menyenangkan
Lalu perasan yang ada seperti mengembara
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
314
(819) KEMARAU
Bumi bagaikan dipanggang api
Yang kita panen hanyalah matahari
Mata air kering tanah pun tandus
Dan air mata menguap di setiap hati
Merindukan pelangi di pagi hari
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(820) NERAKA)
Hidup penuh penyiksaan
Hanya ada kebencian dan egoisme
Ratapan dan tangisan menghiasinya
Karena dosa dan keserakahan
Kita jauh dari sang Ilahi dan sesama
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(821) SURGA
Tanpa derita dan maut
Penuh kedamaian dan persaudaraan
Dihiasi para malaikat
Dan bunga-bunga serta madah pujian
Hidup yang damai penuh suka cita
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
315
(822) DOSA
Tubuh menjadi rapuh
Gampang kecewa dan putus asa
Sombong dan iri hati
Kurang sabar dan ceroboh
Yang menjauhkan kita dari cinta
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(823) TOLERANSI
Hidup dalam kebersamaan
Menuntun kedamaian dan kesejahteraan
yang berlandaskan hukum dan keadilan
kuat dan pantang menyerah
berharap terpatri di hati anak bangsa
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(824) LUKA
Menyakitkan namun menguatkan
Membuat hidup terasa berantakan
Menjadi lelah dan kurang energi
Balutlah dengan kesungguhan dan kesabaran
Hargai luka sebagai gairah hidup
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
316
(825) BERSYUKUR
Bersyukurlah dikala lelah dan letih
Dengan itu kekuatan dibangun
Bersyukurlah untuk semua keterbatasan
Memberi kesempatan untuk berkembang
Semuanya akan menjadi berkah
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(826) TERMINAL
Memandang kendaraan pergi dan datang
Lalu lalang para pejalan kaki
Tempat istirahat bagi orang lelah
Menunggu atau hanya sekedar nampang
Ada lambaian tangan dan air mata
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(827) HUJAN
Musim di mana hati para petani riang gembira
Membuat resah bagi para mengendara
Kuli bangunan harus berhenti bekerja
Kami tidak membenci dan juga tidak mencintai
Karena tanpamu tak ada kesuburan
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
317
(828 ) RUMAH (1)
Tempat untukmu pulang
Tempat meletakan rindu yang terlantar
Semacam bangunan jendela, pintu, halaman
Dan serumpun bunga
Yang melambai pada dirimu
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(829) RUMAH (2)
Duhai, aku mengaduh
Masih adakah suatu tempat?
Bagi lelahku yang lunglai
Aku gelisah, aku perlu liang
Untuk menidurkan lelahku
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(830) PENDIDIK YANG TERTIKAM
Seperti perahu yang berlayar
Lalu bertepi di pulau kesedihan
Yang airnya mengeriap perih
Dari kelopak mata ibu pertiwi
Untuk pergi sungguh sangat menyayat hati
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
318
(831) RINDUKU
Tuk ke sekian kalinya
Dikala dinginnya malam
Membacok tulang pendamkan hasrat
Bangkitkan ego dan sombongku
Yang selama ini ngeras di hati
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(832) ULANG TAHUN
Roti panggang melingkar
Lilin angka menyala
Lagu ‘Happy Dirthday’ didendangkan
Ungkapan dan doa menghampiri
Si pemilik tanggal dan bulan
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(833) TIK TOK
Lentik jemari yang indah
Pinggul yang bergoyang
Senada melodi lagu yang memesona
Membangunkan jiwa muda
Yang selama ini tertidur pulas
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
319
(834) LAMPU PELITA
Aku pernah menemukanmu
Di sebuah sudut kamarku
Mengingatkan aku di waktu kecil dulu
Cahaya kuningmu menjelang malam
Hingga merambat ke semua ruangan
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(835) LILIN
Berdiri tegak bagaikan penjaga
Engkau rela membakar dirimu
Walau panasnya tetesan airmu
Rela bertahan sampai akhir
Memberi cahaya bagi pengembara
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(836) HAND PHONE
Hidup hanya diujung jari
Jika disentuh semua berubah
Hemat waktu hemat tenaga
Semua serba disentuh
Tinggal menunggu kalau pintu diketuk
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
320
(837) PANCASILA
Engkau lahir di satu Juni
Di kota Ende yang sunyi
Engkau satukan perbedaan kami
Dengan semboyanmu yang sakti
Pohon sukun jadi saksi
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(838) CORONA
Tak kelihatan namun berbahaya
Lebih baik berjauhan dari pada kerumunan
Apalagi bersentuhan
Tidak pernah kita tahu kapan ia datang
Ruangan isolasi menanti di sana
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
(839) PUTRI KESAYANGAN
Dua tangan mungilmu kupegang
Berambut pirang bermata bulat
Berparas cantik dan berkulit langsat
Cinta dan doaku
Untukmu putriku
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
321
(840) TOGEL
Mimpi naga keluar ular
Mimpi babi keluar anjing
Kepala benar ekor salah
Ekor benar kepala salah
Membuat terlantar hat ipun gundah
YUSTIANA MANDE OMBO, S.Ag / Ende, 17 Juni 2021
322
GOGYOSHINUS LEONI MARIA CHRISTINE L. NARD
BIOGRAFI SINGKAT
Leoni Maria Christine L. Nard lahir di kota
Tegal Jawa Tengah, saat ini berdomisili di
Makassar Sulawesi Selatan.
Puisi puisinya dimuat di beberapa buku
Antologi bersama, di antaranya
1. Ruang tak Lagi Ruang
2. Dari Virus-virus Cinta Sampai ke Sayap-
sayap Cinta-Mu
3. Seserpih Benih Kasih
4. Antologi 1000 Haiku Musim ke 6
5. 1001 Gogyoshinus Nusantara Pertama 2020
Leoni Maria Christine L. Nard dapat di hubungi di accound FB-nya dengan
nama Leoni Maria Christine L. Nard Atau WA: 083139898784
(841) SAJAK KECIL BUAT, FEN
Pada dadamu yang bidang
Segala air mata terpendam
Tinggalkan senyum manis
Pada setangkai kamboja
Yang hampir layu
#Gogyoshi_Lmc
(842) WAJAH
Pada wajah puisimu
Kulihat aksara dusta
Yang kaubalur
Dengan kata-kata manis
Itulah wajah pendusta
#Gogyoshi_Lmc
323
(843) SEBELUM #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Deburan ombak #Gogyoshi_Lmc
Ya, deburan ombak
Menghantam karang laut
Padahal belum sempat
Kuhapal ombak laut
(844) DIA
Tak perlu kautangisi
Dia yang pergi meninggalkanmu
Hapuslah gerimis kecil
Yang jatuh di gunung pipimu
Panggillah Dia dalam doa
(845) ISYARAT KEMATIAN
Seperti daun yang layu
Jatuh berguguran
Itulah kematian
Yang diam-diam datang
Merombak kenisah hati
324
(846) PUSARA #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Di pusaramu #Gogyoshi_Lmc
Air mata jatuh membasah
Dalam keharuman bunga kamboja
Kau yang pergi
Damailah dalam peluk kasih-Nya
(847) PAMIT
Kata hujan kepada mentari
Lalu rintik terakhir rinainya
Jatuh di tanah-tanah kering
Perlahan-lahan hilang
Kini, yang tersisa kabut penghabisan
(848) PEREMPUAN
Ia yang kausebut perempuan
Kadang seperti langit yang nampakkan cerahnya
Kadang juga seperti langit yang jatuhkan rintiknya
Ia perempuan di balik hujan
Yang terakhir kaulihat
325
(849) PERGI #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Di keheningan #Gogyoshi_Lmc
Dalam lantunan bait-bait doa
Kau pergi menghadap Pemilik Hidup
Memeluk tiap goresan luka
Dalam sunyinya hidup
(850) SEPOTONG DOA
Kau doa yang tak pernah usai kudaraskan
Pada pekatnya malam di hidupmu
Hingga maut menjelang
Kau selalu dalam kenangan
Dalam tapak-tapak hidupmu
(851) ISYARAT
Ada yang belum sempat kaukatakan
Tentang hujan malam itu
Sesaat sebelum tidur panjangmu
'Kan kaubawa seuntai kamboja
Nanti, sebelum sunyi menghampirimu
326
(852) MANTRA #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Engkau perempuan #Gogyoshi_Lmc
Tak henti-hentinya
Merapalkan mantra cinta
Malam itu
Setelah hujan turun
(853) MARIA
Haruskah kuakhiri rindu ini, Maria
Rindu yang pernah membara
Laksana sepotong doa
Yang membubung tinggi di angkasa
Bagai asap dupa
(854) BANGKU TUA
Di bawah sinar rembulan
Kau dan aku duduk berdua
Di sebuah bangku
Mungkin kita pasti lupa
Bahwa bangku itu sudah tua dan rapuh
327
(855) PERIH #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Demikianlah, nda #Gogyoshi_Lmc
Kisah itu berakhir dengan setangkai duka
Perihnya menikam
Tepat menghunjam di jantung merah
Lalu dibasuhnya dengan air mata
(856) RINDU
Di kecup doamu
Rapalan rindu mengalir
Kuuntai bait demi bait
Hingga terlena di hangat peluk cintamu
Oh, bunga cintaku
(857) WARTA
Tetiba warta menuliskan
Para cecunguk terciduk KPK
Ah, bosan tiap waktu hanya berita pejabat koruptor
Sebentuk mental recehan
Harga diri tergadai
328
(858) KARTINI #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Aku, kamu, dan dia Kartini #Gogyoshi_Lmc
Kita semua perempuan Kartini Indonesia
Lalu apa yang kauperdebatkan
Tentang gaya pakaianmu atau keimananmu
Stop bicara!
(859) BUNDA MARIA
Puan,
Matamu yang cinta
Mengalirkan gerimis kasih sayang
Di antara doa-doa sunyimu
Salam bagimu, Puan
(860) SURAT
Surat yang dalam genggaman tanganmu
Tak perlu kau baca isinya
Hanya membawa sekerat luka lama
Dan seikat kembang duka
Yang melahirkan seleret luka baru
329
(861) SUSTER MARIA #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Pagi merekah #Gogyoshi_Lmc
Di keheningan bahana Mazmur terdengar
Perempuan keluar dari bilik doa
Berselubung jubah coklat
Kau, Suster Maria dari lembah Karmel
(862) TANGIS DI KESUNYIAN
Di atas kursi roda
Tatapan kosong lelaki paruh baya
Komat-kamit lafalkan mantra
Lalu menangis dalam sunyi
Ia pun tertidur dalam keabadian
(863) SISA HUJAN
Saat hujan meluruhkan dedaunan
Tetes terakhirnya tak sempat kukenali
Perih ini seperti jatuh dari langit
Bukankah ini hujan terakhir bulan Juni?
Sepertinya sisa hujan merapat dalam kenangan
330
(864) DUKA NEGERIKU #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Wajah Rembulan #Gogyoshi_Lmc
Seperti menatap dalam retakan cermin
Lalu mengurai tangis pilu
Negeriku berselubung duka
Menatap mata Kekasih
(865) TANGAN ITU
Tangan yang tersembunyi itu
Menopang segala beban hidupku
Walau terkadang aku melupakan-Nya
Dia yang menuntun jalanku
Menuju jalan Kasih-Nya
(866) KAU
Di matamu ada binar
Kulempar asa ke hatimu
Kau tersenyum
Harapku memudar
Saat tahu kau ada di awan
331
(867) PERJALANAN CINTA #Gogyoshi_Lmc
#Gogyoshi_Lmc
Tetiba ombak datang bergulung sangat tinggi #Gogyoshi_Lmc
Lalu Ia muncul dalam riak-riak kecil
Saat kutatap dari arah pantai sebuah bentangan laut
Demikianlah perjalanan cinta kita, nda
Serupa apa pun bisa hadir di depan kita
(868) KENANGAN
Sebab kenangan ialah pusara di basah hujan
Dan ingatan memekarkan kuntum bunga
Di atas bumi yang membangkitkan tidurnya
Ingin kusampaikan kabar gembira kepadamu
Aku masih hidup dan mencintaimu
(869)KAMBOJA MERAH
Aku kamboja merah
Yang kautanam
Saat rinai hujan turun
Kenanglah aku selalu
Hingga mentari tertidur
332
(870) PEREMPUAN BERHATI SALJU
Wajah dinginmu
Dengan senyum penuh misteri
Mengoyak selubung duka
Negeri di atas awan
Perempuan berwajah sunyi
c#Gogyoshi_Lmc
333
GOGYOSHINUS DIANA BAREK
BIOGRAFI SINGKAT
Diana Barek atau biasa disapa Diana lahir di
Lambolan, Kabupaten Flores Timur, pada
tanggal 17 Maret 2000. Diana pernah belajar
di SDK Ipiebang, SMPN 1 Larantuka, SMAN
1 Larantuka dan sekarang sedang menempuh
pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral
Atma Reksa Ende. Diana memiliki hobi
menulis karya fiksi. Tulisannya yang masih
seumur jagung dapat dilihat di grup LENSA STIPAR. Diana juga dapat
dihubungi melalui WA 082266931667 dan email [email protected]
(871) SENANDUNG RINDU (Ende, 20 Agustus 2020)
(Ende, 15 Januari 2021)
Kutitipkan serangkai kata permohonan
Agar Engkau memberinya tempat terindah
Dalam sujud kudaraskan doa seribu ampun
Atas segala khilafku pada rencana-Mu
Biarkan kelak kami satu dalam kehendak-Mu.
(872) BERSUJUD BERSAMA ASA
Detak-detik terus berputar
Sunyi sepi di gubuk tua
Dalam kelam aku berpasrah
Inginku tinggalkan yang gelap
Datanglah wahai kasih
334
(873) MIMPI DI ATAS MIMPI Ende, 17 Juni 2021
(Ende, 17 Juni 2021)
Deretan asa menjelma kata-kata (Ende, 21 Juni 2021)
Berharap bisa kembali pulang
Tinggalkan duka hadirkan suka
Merajut mimpi bersama waktu
Semoga kujumpa di ujung penantian
(874) KEKASIH
Kekasih kembalilah di dekapanku
Bersama menghitung deretan kenangan
Kuyakin kau pasti tersenyum
Berharap bisa merangkai kata
Jadikan kisah dalam album terindah
(875) DERMAGA IMPIAN
Mengarungi lautan melewati batas harapan
Mengajakku kembali ke pangkuan ibundaku
Hati bingung tanpa tujuan
Lajunya bahtera mulai terhenti
Di sini sudah dermaga impianku
335
(876) DUKA ADONARA
Sukacita nan mulia berubah dalam seketika
Tiupan angin kencang seakan mengusir tawa
Isak tangis tak terdengar, seakan membisu
Langit bungkam, tanah mahar gading tak lagi damai
Gloria nan meriah bagai nyanyian tak berarti
(Ende, 17 Juni 2021)
(877) BUNDA
Terik sang mentari tak lagi terasa
Derasnya hujan tetap dinikmati
Keringat bercucuran demi sang buah hati
Agar kelak nasib kita tak lagi sama
Berharap kelak dapat tersenyum bahagia
(Ende, 17 Juni 2021)
(878) VALENTINE YANG KELABU
Valentine yang kelabu
Hadirkan cinta seperti sediakala
Kan kuracik seribu satu rasa
Kusajikan bersama tawa
Hingga semesta tak lagi memisahkan
(Ende, 12 Februari 2021)
336
(879) BAGAI BAYANGAN (Ende, 18 Juni 2021)
(Ende, 18 Juni 2021)
Di kala jarak memisah doa kujadikan senjata (Ende, 18 Juni 2021)
Berharap dapat bersahabat dengan waktu
Temu menjadi impian yang ingin kugapai
Apalah daya, kenyataan tak semanis harapan
Sebab kamu dekat namun sulit untuk didekap
(880) MANTAN
Bak drama di atas panggung
Berklimaks harapan yang sirna
Usai sudah cinta kelabu
Tak berwarna-warni bagai abu
Penyimpan kenangan yang tak berpengaruh
(881) GADIS KECIL
Wajah ceria bak sang juara
Bersama rintiknya hujan air matamu berlinang
Ke sana-kemari membuang resah
Kau sahabat terbaik yang kutemui
Tetaplah tegar, jangan pernah menyerah
337
(882) GURUKU (Ende, 18 Juni 2021)
(Ende, 18 Juni 2021)
Susah senang dihadapi (Ende, 18 Juni 2021)
Cepat lambat dilalui
Cacian serta pujian diterima
Engkau pahlawan tanpa tanda jasa
Terima kasih berlimpah kuucapkan
(883) TEMPAT BERPULANG
Gubuk tua nan jauh
Terus terlintas di kepalaku
Kalender menjadi pengingat yang setia
Hati merindu tangan ingin menggapai
Berharap cepat kembali pulang
(884) RINDU TANPA TEMU
Nasib si tiga anak kecil
Menabung rindu tanpa temu
Mata ingin memandang wajah ayahnya
Kaki ingin berlari, tangan ingin memeluk
Apalah daya sudah beda alam
338
(885) DOA (Ende, 18 Juni 2021)
(Ende, 18 Juni 2021)
Dalam nama-Mu aku berlindung (Ende, 18 Juni 2021)
Mendendangkan lagu pujian nan mulia
Berbagi cerita, kisah dan kasih
Bersujud dalam keheningan penuh permohonan
Jadilah diriku seturut kehendak-Mu
(886) MY LORD
Syukur berlimpah kuhaturkan
Kepada Engkau Sang Penebus
Tak ada hari tanpa kasih-Mu
Indahkan seruanku
Abadi selalu dalam benakku
(887) SERDADU PESTA
Sepanjang malam kita bersama
Hingga mentari datang menyapa
Ke sana ke mari tak kenal lelah
Di bawah tenda kita bersuara
Menjawabi suasana yang kian ramai
339
(888) REINHA ROSARI (Ende, 18 Juni 2021)
(Ende, 18 Juni 2021)
Kota kecil bersejarah besar (Ende, 18 Juni 2021)
Berpegang teguh, kisah leluhur
Dihantam gelombang, ditiup badai
Demi memuliakan nama-Nya dalam tradisi
Larantuka kota tua, abadikan kenangan dalam doa
(889) SANG PEMIMPIN
Mengarungi lautan
Melewati luasnya angkasa raya
Peduli kasih kaujadikan momentum utama
Menginjakkan kaki, meneteskan air mata
Meratapi nasib rakyat, di tanah mahar gading
(890) SANDIWARA CINTA
Berparas tampan, berkumis tipis
Pandai merayu bagaikan sang pendongeng
Suaramu merdu bagai Roma Irama
Sudahi candamu, seduhlah kopimu
Kamu butuh tenaga bukan teori belaka
340
(891) PRIA TIMUR (Ende, 20 Juni 2021)
(Ende, 20 Juni 2021)
Duduk melingkar gelas berputar (Ende, 20 Juni 2021)
Menanti giliran bak antrean raskin
Terombang-ambing bagai diterjang badai
Bicara tinggi bak janji DPR
Sadarlah kawan, ini bukan duniamu
(892) MENGAPA
Di kala senja menghampiri
Termenung aku menatap langit
Kutanya mengapa kenyataan tak seindah harapan?
Mimpiku yang hampir kugapai
Mesti terhempas, terbuang di lautan terdalam
(893) TEMU TUK PISAH
Hari-hari kita lalui bersama
Merajut mimpi di Pondok Theresa Satu
Canda tawa berlalu begitu manis
Jadikan kisah di hari esok
Kelak waktu „kan mempertemukan kembali
341
(894) ATMA REKSA (Ende, 20 Juni 2021)
(Ende, 20 Juni 2021)
Miskin harta kaya imanmu (Ende, 20 Juni 2021)
Engkau pantas disebut pelita
Begitu bermakna di kala gulita
Jadikan petunjuk bagi jiwa yang tersesat
Melahirkan pewarta berjiwa setia
(895) PUSARA TAK BERNAMA
Di kala cahaya lilin menerangi
Engkau terdiam dan membisu
Bagai jiwa yang tak bertuan
Di manakah sanak-saudaraku?
Mungkinkah aku ditinggalkan?
(896) CORONA VIRUS
Siapakah engkau, hingga seteguh ini?
Benarkah ini sebagai sebuah teguran?
Kuharap tidak!
Tolonglah! Lenyaplah dari bumiku
Bersahabtlah agar kutahu apa yang kau mau!
342
(897) WATO TENA (Ende, 20 Juni 2021)
(Ende, 20 Juni 2021)
Pasirmu putih seputih salju (Ende, 20 Juni 2021)
Batu karang menjulang indah
Desiran ombak pantai mengajakku kembali
Hati menjadi ragu, kaki berat melangkah
Tak ingin aku meninggalkanmu
(898) HUJAN
Jiwa yang hampa dan tersesat
Seketika berubah 'tuk mencarimu
Inginku meneteskan air mata bersamamu
Hatiku damai jika denganmu
Datanglah oh hujan, temani kesendirianku
(899) SIA-SIA
Tak pantas kau kujadikan kenangan
Sebab aku terlalu bodoh d kala itu
Sekian lama kau kuimpikan
Kini terbuang bagai sampah plastik
Betapa kecewanya aku terhadap diriku
343
(900) SENJA DI NAGI REINHA
Di atas pelabuhan kita bersama
Berbagi kasih bersama asa
Desiran ombak terdengar syahdu
Mengiringi langkah kaki yang kian tak pasti
Nyatanya hanya tinggal kenangan
#gogyoshinus_diana_barek
(Ende, 20 Juni 2021)
344