(504) AYAHKU
Keluarga istana terindah kami
Di mana mutiara-mutiara tumbuh
Ayah perkasa melayani kami
Berkurban sepenuh jiwa-raga
Dalam damai kini 'kan kukenang
(M.C.Tanto Suharto) #gogyoshi_mct. (5 April 2021)
(505) PAGEBLUG-19 (1)
Bermula dari Wuhan
Berwujud mikro tak kasat mata
Mengalahkan semua yang ada di bumi
Berjatuhan sudah korban jiwa yang masif
Kebingungan takut tak percaya
(M.C.Tanto Suharto) #gogyoshi_mct. (5 April 2021)
(506) PAGELUG-19 (2)
Banyak yang lupa asal mula pageblug
Semua menyangkal tanggung jawab
Kini vaksin sudah diketemukan
Berebut di suntik paling terdahulu
Tak ingat negara pembuat pun tak berdaya?
(M.C.Tanto Suharto) #gogyoshi_mct. (5 April 2021)
195
(507) ADVEN IV
Hai, langit turunkan Sang Adil dari atas
Hai, bumi bukalah dirimu tunaskan Sang Penyelamat
Kunyalakan lilin ungu malaikat terang
Sambut kedatangan Sang Sabda Penebus Bijaksana
Bersama senyum wajah memerah Sang Bunda Maria
(M.C.Tanto Suharto) #gogyoshi_mct. (5 April 2021)
(508) DEBU
Dari debulah aku
Tanpa belas kasih-Mu
Apalah artinya aku
Engkau angkat aku menjadi mulia
Terima kasih Tuhan untuk kasih-Mu
(M.C.Tanto Suharto) #gogyoshi_mct. (5 April 2021)
(509) BATAS HARI 2020-2021
Oh, tahun 2020
Izinkan aku menelusuri hari-hari 2020
Untuk merapikan kenanganmu
Bolehkah aku menyelinap ke hari-hari 2021
Untuk membangun harapan baru
(M.C.Tanto Suharto) #gogyoshi_mct. (5 April 2021)
196
(510) KUNANTI
Kau tabur semua misteri
Di diri yang terbuai mimpi
Gelisah penjaga malam menanti pagi
Gelisah menanti cintamu
Oh, kunanti kata cinta hatimu
(M.C.Tanto Suharto) #gogyoshi_mct. (5 April 2021)
197
GOGYOSHINUS WARSITO
Biografi Singkat
Warsito, lahir di Kediri, 2 Maret 1973.
Menyelesaikan pendidikan sarjana
sastra di STFT Widya Sasana Malang.
Seorang yang menyukai fotografi,
traveling, musik dan ingin terus
menulis. Beberapa tulisannya sudah
tersebar di beberapa buku antologi.
Sekarang tinggal di Gresik, Jawa Timur.
(511) REMBULAN TAMPAK SEBAGIAN
Bidadari malam, walau tampak sebagian
Indahnya tetap bisa kurasakan
Hadir untuk menghiasi malam kelam
Seakan menyapa setiap hati yang gundah, tuk jangan
Pandang langit, ada ia teman malam
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(512) NASI SAMBAL TUMPANG
Ribuan hari di belakangku entah mengapa
Selalu terpikat saja aku akan pesonamu
Aroma dan rasamu menggairahkanku
Dirimu, nasi sambal tumpang
Selalu lahap aku menikmatimu
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
198
(513) WAKTU
Waktu adalah sederet kesempatan
Pemberian Sang Empunya kehidupan
Untuk kau wujudkan impian
Dalam jatuh bangun perjuangan
Sebelum Ia tersenyum memanggilmu
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(514) SEBUAH KENANGAN
Pada pucuk-pucuk pohon itu
Pada kereta yang kita naiki
Masih kugantung kenangan
Suatu saat
Semoga kita bisa memetik kembali
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(515) SUASANA MALAM
Malam semakin senyap
Lelah membawa banyak orang terlelap
Satu dua kendaraan masih menembus kesunyian
Di pinggir jalan maju seorang manis menggoda
Akan kenikmatan sesaat
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
199
(516) BIJI ITU
Sebuah biji
Tak dihiraukan
Lepas dari pandangan
Dalam kesendirian
Ia mencoba tumbuh meraih mimpi
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(517) MESKI KADANG HILANG
Meski aku sering hilang dalam ingatan
Tertelan waktu yang terus berjalan
Masih tertanam satu pegangan
Saat debur ombak sungai berbatu menghantam
Kita saling berpegangan tangan
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(518) BILA SAJA
Bila mata tak lagi mampu memandang
Semesta berkata tak memungkinkan
Ijin kan aku menaruh hati
Pada jiwamu
Yang kan kujadikan abadi
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
200
(519) SEBUAH PEMBERIAN
Koala mengendong anak
Hanya sebuah mainan
Kau ulurkan pada tanganku
Malam itu memeterai kisah
Tentang hatimu
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(520) PENGAMEN
Antara Jakarta-Cilegon
Dalam pengapnya panas siang
Bus membawaku ke tempat baru
Tampil di depan seorang lantang berpuisi
Ah, pengamen yang jarang kutemui
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(521) WAKTU
Ia lewat begitu cepat
Sedetik kita melangkah segera menjadi masa lalu
Tak akan bisa kita kejar ataupun ulang
Masih ada waktu di barisan depan
Mari kita isi kawan tanpa penyesalan
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
201
(522) SORE ITU
Hujan masih belum berakhir
Kabut sore masih merayapi pucuk-pucuk daun
Secarik kertas bertulis kuantar
Udara dingin pegunungan adalah saksi
Tentang hatiku
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(523) REMBULAN MALAM
Semalam kulihat rembulan dalam bingkai malam
Elok, sinarnya terangkan kalbu
Berikan senyum pada gelapnya malam
Rembulan malam di kejauhan
Lukisan sang pencipta pada manusia
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(524) HILANG
Lelaki berjalan menyeret kenangan
Akan hati yang masih menjadi napas
Saling memandang tanpa singgah
Mentari sore mencipta bayang diri panjang memudar
Serupa kisah yang akan ditelan malam
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
202
(525) HUJAN DI KOTAKU
Hujan mengguyur di kotaku
Membasahi tanah-tanah kerontang
Menyelimuti benih-benih layu
Seakan menjadi tanda dimulainya masa
Segala yang kering menjadi segar kembali
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(526) TENTANG CINTA
Jangan kau bubuhkan tanda cinta pada pelupuk mataku
Atau sentuhan tangan hangat pada dadaku
Jangan
Tak ingin 'kuperih dan pedih menghampirimu
Suatu saat saja temukan jasadku yang merindu
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(527) HADIRMU
Kau
Hadirmu singkat
Hanya sekelebat
Hangat hatimu
S'lalu kuingat
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
203
(528) MASIH HIDUP
Masih saja kusimpan napasmu
Meski ribuan musim t'lah berlalu
Ah, kamu
Ya, kamu
Tetap saja hidup di dalam sanubariku
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(529) GUGUR
Rindu t'lah gugur
Terbang dibawa angin pagi
Mencipta tunas baru
Seekor burung bertengger di dahan
Melihat dari balik dedaunan
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(530) SUATU SENJA DI MAKASSAR
Senja di tanah Makassar
Kaki melangkah rasakan kotamu
Sejenak kuhanyut ayun iramamu
Nikmati makanan khas yang kau sajikan
Bersama sepenggal hati yang t'lah tertanam
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
204
(531) IMPIAN
Mendung menggelayut di langit
Membungkus hari menjadi redup
Pikiran melayang pada impian yang belum juga kugenggam.
Pada rentang waktu yang sudah teramat panjang
Mungkinkah semua itu masih bisa kupegang?
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(532) IMPIAN
Mendung menggelayut di langit
Membungkus hari menjadi redup
Pikiran melayang pada impian yang belum juga kugenggam.
Pada rentang waktu yang sudah teramat panjang
Mungkinkah semua itu masih bisa kupegang?
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(533) DALAM TANGANMU
Masih kuingat kala itu
Kuraih jemarimu lalu erat kugengam
Di sana terletak hati paling nyaman
Gejolak rasa beristirahat
Gemuruh rindu menjadi teduh
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
205
(534) UNTUK SESEORANG
Untukmu seseorang yang di mana entah
Hilang bak di telan gelap malam
Sempat kupegang wajahmu dalam bingkai kaca
Semoga temukan warna biru dalam hidupmu
Gapai bintang nan terang
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(535) NYANYIAN BINATANG MALAM
Malam sebenarnya lengang
Kuraba saat 'ku di teras bermandi cahaya bulan
Lalu berubah riuh
Binatang berbagai bentuk itu mengerik bersahut-sahutan
Seakan unjuk kebolehan
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(536) PERNAH
Pernah jemari kita beradu
Genggam erat susuri sungai berbatu
Kala itu
Riak gelombang rasa mendeburi jiwa
Aku hanyut dalam kedekatan kita
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
206
(537) JALAN KITA
Kuncup-kuncup hati yang melayu
Merindukan rengkuhan tangan yang tak terulur
Maafkanlah
Kita masih bisa melangkah bersama sambil memandang
Walau di jalan yang berbeda.
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(538) SEPENGGAL KISAH ITU
Sepenggal kisah t'lah usang
Tertinggal waktu yang terus berlari
Terselip di antara lipatan-lipatan kertas kusam
Mungkin akan tertutup lembar-lembar baru
Dan tak pernah disentuh kembali
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
(539) HUJAN MALAM INI
Malam ini
Langit mengguyurkan rintik hujannya
Hawa dingin segar turun menghalau sejenak panasnya udara
Serupa hadirmu malam ini
Membasahi sejenak dinding hati
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
207
(540) SEBELUM HARIKU BERAKHIR
Daun akan jatuh pada masanya
Dan tak akan diingat dalam sejarah
Hai engkau
Kupersembahkan pribadi bersumber hati
Sebagai selimut hari
#gogyoshi_wars. / 20 April 2021
208
GOGYOSHINUS MISTIANI
BIOGRAFI SINGKAT
Nama: Mistiani. Lahir di Malang, 25 Mei 1971.
Alamat: Madyopuro, Malang. Pekerjaan: Guru SMPK
Mardi Wiyata - Malang. Karya yang pernah
dipublikasikan berupa: (1) Artikel opini (koran surya).
(2) Jurnal ilmiah ( kampus Unisma). (3) Artikel
Pendidikan ( Majalah Media Pendidikan Jatim). (4)
Cerpen, Puisi, Artikel (Majalah Oikos). (5)
Resensi/Ulasan buku, dll. Moto : Belajar adalah suatu
kebutuhan, tak terbatas oleh usia dan waktu
(541) TANDA TANYA 1
Terima kasih Tuhan buat hari ini, siap jalankan tugasku
Namun timbul tanda tanya
Akankah ada pembulian lagi
Kuingin berubah bersama sayap kupu-kupu
Setelah berdiam dalam balutan kepompong derita.
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(542) MENANTI
Menanti yang tak pasti
Sekuntum harapku pudar tak tentu
Harus berdamai dengan rindu
Apa daya pada simfoni hati
Tersisa sembilu, diam tanpa kata
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
209
(543) POHON JATI
Deretan pohon jati masih berbaris dengan rapi
Daunnya kekuning-kuningan jatuh diterpa sang bayu
Tempat itu sunyi, sepi, penuh history
Bilakah kulewati jalan ini lagi
Seperti 33 tahun yang dibalut dengan teka teki
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(544) AKU BERHARAP
Hari kedua lomba peringatan BBS
Pada tangga harap yang merangkai
Kulantunkan sekuntum doa
Semoga lancar dan tuntas adanya
Bersama pagi di balik tirai mentari
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(545) KIDUNG MALAM
Malam kian larut, jiwaku bergelayut
Detak jam dinding memanggilku
Tuk mencari ilmu habiskan waktu
Kidungku adalah penaku yang menari
Aku tertegun dan merenung, akhirnya aku mengidung.
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
210
(546) SAMPAI KAPAN
Sekalipun sudah berusaha memperbaiki diri
Tapi, tiada berarti bila pembulian ini bertubi -tubi
Bukan makin baik, tapi gangguan psikologi
Duh Gusti, sampai kapan ini berakhir?.
Kuatkan hati dan jiwa ini
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(547) DI PERSIMPANGAN JALAN
Bingung, mau ke arah mana
Jejakmu hilang tak berbekas
Bolak-balik, ke kanan ke kiri kutoleh
Yah tidak ada, tambah bingung
Tak tahan menjerit, menangis di persimpangan jalan ini
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(548) CINCIN BERMATA HIJAU
Kilau cahaya cincin bermata hijau itu
Menggoyahkan naluriku untuk memilikinya
Berharap dan keyakinan aku memintanya
Setengah tak percaya, ternyata tidak diberikan
Kecewa, cincin bermata hijau sudah kumiliki tetapi hanya sebuah ilusi
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
211
(549) POHON PALEM
Pohon palem berdiri tegak nan kokoh
Begitukah seharusnya di jiwa ini
Memiliki akar yang kuat
Walau penuh rintangan tetap berdiri tegak
Dengan penuh kekuatan, semoga
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(550) SUARA JENGKERIK
Hanya suara jengkerik bersahutan nyaring terdengar
Bergelora dalam kalbu
Penuh misteri, rahasia, dan entahlah
Laksana cermin dalam resonansi jiwa
Yang menggetarkan palung hati hingga ke raga.
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(551) WANITA ITU
Wanita itu hanya duduk bersendeku
Matanya menatap lesu
Kalbunya bergejolak pilu
Menunggu, menunggu, dan menunggu
Hingga angannya diterpa sang bayu
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
212
(552) HUJAN SORE
Hujan sejak sore membuat udara sejuk malam ini
Dingin, nyaman, tentu akan mudah terlena dibuai oleh mimpi
Kubuka pelan-pelan kamar anak semata wayangku, kutatap wajahnya
Parasnya manis, rambut berombak, alis tebal
Ah, sekiranya putriku sudah gadis terima kasih ya Tuhan
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(553) SELAMAT PAGI
Sayup kudengar azan subuh
Pertanda hari sudah pagi
Syukur kepada-Mu ya Tuhan atas hari baru ini
Kutoleh lagi ke kanan dan ke kiri, tidak ada lagi
Tuhan kuatkan imanku, semoga karyaku menjadi berkat.
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(554) MIMPI
Kau menantiku, aku bilang tunggu dulu
Aku berdandan, bersolek merias diri
Tapi kau terimpit waktu
Lalu kau tinggalkan aku
Ah, kiranya ini hanya mimpi
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
213
(555) KASIHMU BUNDA
Aku masih ingat, kau mengantarku saat wisuda
Ada rasa bahagia dan bangga, namun tersimpan
Entah seribu tanya dalam hatimu Bunda
Aku bisa kuat karenamu Bunda
Hanya doamu yang selalu mengantar di balik suksesku
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(556) PALUNG HATI
Mengalir derai air mataku
Saat kutatap matamu yang bisu
Bingung, hindar, nanar
Aku tak tahu apa yang tersimpan di kalbu
Arah langkahmu menggetarkan palung hati, hingga ke raga.
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(557) SANGGAR WAHYU
Cek sound cek sound
Secercah harap bertemu kerabat
Sanggar wahyu bergema di udara
Niat hati lintasi bumi
Tunggulah aku, di sanggar wahyu
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
214
(558) MATAMU
Tajam sinar matamu menatap kosong
Gelagat penuh misteri, rahasia dalam diam
Kehidupan yang mengimpitmu
Memaksamu bertarung dengan jiwamu
Semoga Tuhan menyertaimu selalu
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(559) BISIKAN UNTUKKU
Aku menunggu sekian hari jawabnya "dua hari lagi"
Besoknya, dua hari, lusa pun dua hari lagi
Bosan, jenuh, dengan ketidakpastian
Timbul keraguan "karyaku terenggut"
Suara hatiku berbisik" berpikirlah yang positif!!
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(560) ARAHKAN LANGKAHKU
Burung pipit di atas pohon depan rumahku bersautan
Pertanda hari sudah pagi
Kusiap jalankan tugasku dengan spirit diri
Kuatkan iman, luruskan jalan, dan berikan aku kesabaran ya Tuhan
Arahkan langkahku menurut jalan-Mu
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
215
(561) SANGGAR WAHYU – II
Dua hari yang lalu aku bernyanyi
Lantunkan lagu sendu diiringi melody Rudy
Tatapan binar mata para undangan ke arahku
Bibirnya, tangannya, tubuhnya ikut berlenggok mengikutiku
Ah, kiranya aku telah melintasi senandung rindu di Sanggar Wahyu
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(562) PERJALANAN
Sepanjang jalan ini menuju pantai kutatap isi ponselku
Bersih, tanpa ada kata indah terukir
Sudah kutegakkan bendera harapku
Tuk sapaanmu di batas waktu
Kiranya perjalanan ini hanya tinggalkan jejak harapan
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(563) DEBURAN OMBAK
Percakapan baru selesai di tengah deburan ombak
Sementara Sang Dewi dan Momon berpose di tengah terik matahari
Oliv berulah, tak mau berbasah sendiri.
Diseretnya sang Dewi, menuju pinggiran pantai bersama deburan ombak...
Semoga tali persaudaraan kan abadi
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
216
(564) RAPAT
Bila ada rapat mataku mulai tak bersahabat
Ngantuk lagi, ngantuk lagi ditambah gigi mulai cekut-cekut
Kucubit jemariku tuk mengusir rasa kantukku
Tirai mentari redup, perut keroncongan, lengkap penderitaan
Prosa rasaku menyisakan tanya? bilakah ini berakhir?
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(565) SELALU DAMAI DI JIWA
Lautan pagi ini indah nan cerah
Namun, tidak secerah hatiku
Manakala selesaikan tugas sambil bersungut-sungut
Secercah harap, harus berdamai dengan langit jiwaku
Berkeyakinan bahwa keriangan pagi 'kan mendekapku dengan lembut.
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(566) PENGALAMAN
Aku umpamakan pengalaman ibarat cuaca
Ada malam gelap, ada siang cerah
Kegelapan membantuku menghargai sinar terang
Terlalu banyak sinar, bumi kering, pohon layu, dan mati
Hujan, gelap, terang, dibutuhkan agar manusia arif dan bijaksana dalam
kepribadian
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
217
(567) BADAI
Ada waktu tenang ada waktu badai
Waktu yang tenang, waktuku untuk membangun
Sedangkan badai menguji apa yang telah kubangun
Aku mendapat serangan badai, lalu aku berteriak seperti pelaut
Aku pergi menantang badai dengan tenang dan fokus pada kekuatan.
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(568) AKU SUDAH TIDAK KE SANA LAGI
Bagaimana bisa mengatakan aku sudah tidak ke sana lagi
Sedangkan Vario putih telah mengikatmu untuk pergi
Aku hanya bisa berharap pada lembaran kelabu berubah menjadi putih
Seperti vario putih yang selalu membawa dan mengantarmu pergi
Sementara cahaya jingga terhampar di sebelah barat akan tenggelam
Duh Gusti …..
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
(569) TANDA TANYA II
Tiap kali aku bertanya sambil memandang dan menatap wajahnya
Dia palingkan mukanya ke arah lain
Cerita yang dia sampaikan hanya untuk meyakinkanku
Hingga kini, menyisakan tanda tanya, apakah itu cerita semu
Tiada yang pasti, tapi aku harus terus berdamai bersama langit jiwamu
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
218
(570) WANITA TUA (2)
Tatapan mata sendu, basah karena linangan air mata
Pandangan mata pun juga sudah kabur lalannya terhuyung
Pertanda kurang sehat, namun tidak menyerah mencari putrinya.
Semoga perjuanganmu tidak sia-sia, Tuhan temukan putrimu kembali
(Mistiani). Malang, 20 April 2021
219
GOGYOSHINUS AGNES TRI MARYUNANI
BIOGRAFI SINGKAT
Biodata: Agnes Tri Maryunani, lahir di Klaten
Jawa Tengah, tanggal 29 Juli 1974. Saat ini
tinggal di Jalan Siliwangi, Gang Maksudi,
Cikole, Kota Sukabumi. Jawa Barat. Berbekal
ijazah S1 Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta program studi Pendidikan Bahasa,
Sastra Indonesia, dan Daerah (PBSID), kini ia
bekerja sebagai tenaga perpustakaan di salah satu sekolah Katolik di Kota
Sukabumi. Ia aktif menulis berita kegiatan sekolah untuk media Online,
kadang media cetak lokal. Menulis merupakan hobi yang sejak kecil telah
dilakukan, namun hanya sebagai ekspresi diri semata. Selama pandemi ini, ia
mulai bergabung dengan beberapa grup menulis, barangkali karyanya dapat
dinikmati banyak orang. Ini mimpi yang ingin dicapai sambil menjalani
hidup yang indah ini.
(571) KONTEMPLASI Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Membaca tanpa kata Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Merenung tiap peristiwa 220
Bersujud menyembah
Kembali pada Sang cinta
Guru sejati
(872) BERSYUKUR
Bersyukur pada yang Esa
Atas anugerah
Nikmat yang diterima
Berbagi pada sesama
Indah pada waktunya
(573) SUDAH DIATUR Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Hidup bak sandiwara Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Tokoh unik tercipta
Lakonkan tiap adegan
Semua telah diatur
Sang Sutradara
(574) PAGIKU
Kubuka mata
Sujud bersyukur
Jantung berdetak
Udara segar kuhirup
Keajaiban pagiku
(575) TENANG
Tenang hening merenung
Nikmati tiap perhentian
Rasakan semua indera
Agar tak menyesal
Ketika sampai tujuan
221
(576) DUNIA Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Luas dan indah katanya Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Tapi mengapa masih ada
Jalan buntu pendek pikir lemah akal
Banyak pintu tak teraih
Karna mata tertutup ambisi
(577) BAHAGIAKU
Melihatmu tersenyum
Bekerja sambil berdendang
Terlelap damai
Tangan terentang raih yang datang
Itu bahagiaku
(578) SANG GURU
Lembut berucap
Tegas bersikap
Jadi teladan
Kata dan perbuatan
Itulah sang guru
222
(579) GADIS DI SUDUT KOTA (1)
Tiap hari bangun pagi
Berlari ke sudut kota
Tersembunyi ia memandang
Kerumunan anak berseragam
Itu kerinduannya
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
(580) GADIS DI SUDUT KITA (2)
Lama tak terlihat
Gadis di sudut kota
Entah di mana dia
Ternyata
Di kerumunan anak berseragam
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
(581) SOLIDER
Hidup indah
Tak semua rasakan
Mereka yang "kenyang"
Mampukah bersyukur?
Solider pada yang "lapar"
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
223
(582) GADIS DI SUDUT KOTA (3)
Teringat lagi
Gadis di sudut kota
Tak lagi sendiri
Tawa ceria
Terbuka 'tuk sesama
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
(583) MALAM
Ada yang takut malam
Karna gelap gulita
Tapi aku suka malam
Dengan bulan bintang
Tersenyum menyapa
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
(584) SAHABAT
Meski tanpa kata
Jauh di seberang
Tak sempat menyapa
Selalu ada dalam doa
Sahabat sejati terpatri di hati
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
224
(585) MENTARI Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Setiap pagi dinanti Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Ada yang memuji ada yang memaki
Meski tak pernah ingkar janji
Ia tak peduli
Menyinari tanpa pamrih
(586) PERJALANAN
Hidup bak perjalanan
Perlu bekal 'tuk sampai tujuan
Makan minum seperlunya
Solider pada sesama
Langkah ringan penuh ceria
(587) NISAN
Terbaring raga tak bernyawa
Simbol kefanaan
Ketidakabadian dunia
Peringatan
Bagi semua insan
225
(588) LILIN Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Cahayanya kecil Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Menerangi kegelapan
Tak peduli untuk siapa
Hanya ingin berguna
Meski habis tak tersisa
(589) BINTANG
Kecil terlihat dari bumi
Berpijar di langit bersih
Bertebaran tak terhitung
Menatapnya
Melukis rindu dalam syahdu
(590) RINDU
Menahan rasa di dada
Tak terucap tapi menyiksa
Terkenang masa silam
Ingin terulang
Namun, tak berdaya
226
(591) HUJAN Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Titik air turun ke bumi Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Diiring kilat dan petir
Mencekam di sore hari
Orang-orang lari terbirit
Nyatanya, ia ingin bersahabat
(592) BAHAGIA
Dambaan semua orang
Tapi tak semua mendapat
Beda paham beda standar
Hanya yang bersyukur
Mampu menemukan
(593) ROTI MANIS
Keluar dari oven
Roti manis aneka rasa
Lembut terasa di lidah
Ditemani secangkir kopi pahit
Dan celoteh anak-anak di halaman
227
(594) TIDUR Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Istirahatkan semua indera Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Heningkan hati dan pikiran
Biarkan dalam gelap
Serahkan pada Tuhan
Hingga mata kembali terjaga
(595) MENUJU CAHAYA
Puasa
Mati raga
Refleksi
Pertobatan
Menuju cahaya cinta Tuhan
(596) PUASA
Bukan sekedar menahan lapar
Bukan untuk jaga gengsi
Tapi 'tuk bersihkan diri
Dari ego dan keinginan
Memaknai Ramadan suci
228
(597) MIMPI Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
Di sepertiga malam
Tiba-tiba terjaga
Kala mimpi menggoda
Hati pun gundah
Sujud berdoa
(598) SAAT TEDUH
Angin menyapa
Malam nan hitam
Tanpa bulan bintang
Tlah datang yang dinanti
Saat teduh di hati
(599) ABADI
Mencari yang tak ada
Mendapat yang tak disangka
Tersenyum meski gundah
Tak ada yang abadi
Di dunia ini
229
(600) BERSERAH
Malam tlah larut
Hati makin luruh
Kuserah lunglai tubuh ini
Di haribaan pertiwi
Allah yang Maha Agung
Agnes Tri Maryunani. / 1 Mei 2021
230
231
GOGYOSHINUS ENDANG WURYANI
BIOGRAFI SINGKAT
Endang Wurjani, nama lengkapnya. Dilahirkan
58 tahun lalu, di kota Magetan, Jawa Timur.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini
menyelesaikan pendidikan SD sampai SPG di
kota kelahirannya, sedangkan pendidikan S1
diselesaikan di UNNES Semarang. Dalam
kariernya penulis mengabdikan diri sebagai
guru.
(601) BUNGA DI TAMAN HATI (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Mewangi melebur di hati
Melukis indah ikatan kasih
Memendar jiwa welas asih
Mengukir cinta untuk kekasih
Merambat berseri di taman hati
(602) BUNGA CINTAKU
Langit malam berkilau indah
Lintang hati penuhi janji suci
Lembar baru bunga-berbunga
Lepas letih hilanglah pedih
Labuhkan bunga cinta mekar indah
232
(603) MERANGKAI BUNGA (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Bersusun warna ungu, putih dan biru (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Kuikat dengan bahasa cintaku
Kurangkai untuk pengikat jiwaku
Kuberi nama bunga sedayu
Bunga untuk peluruh rindu
(604) BUNGA KEABADIAN
Terubus bersemi indah menawan
Tertiup bayu gemulai menghias taman
Taman hati ramai dalam sepi
Tebarkan pesona jiwa suci
Terima suratan cinta dalam keabadian
(605) KEMBANG JALANAN
Warnanya cerah kuning berkilau
Wanginya memabukkan duniaku
Warna jalanan penuh debu
Walau langit menentang itu
Waktu memenangkan untukku.
233
(606) KEMBANG KEHIDUPAN
Kutabung dalam kantong rahasia
Kelu hujat hina dan nestapa
Kubiarkan berubah warna
Kubuang sudah nyanyian duka
Kupajang dalam bejana cinta
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(607) BUNGA DI BATU KARANG
Mekar dikerasnya debur ombak
Menahan tegak dikencang angin
Merobek takut juga tangis
Melaju cepat mengikis samodra keramat
Membentang tangan melangkah hebat.
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(608) KEMBANG GULA
Bergaun cantik berlari ke sana kemari
Bernyanyi tralala trilili
Berputar bergoyang semanis gulali
Belahan jiwa tautan hati
Bahagia sesedap kembang gula
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
234
(609) BUNGA ASMARA (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Menggetarkan seluruh jiwa (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Mengembangkan suka bahagia
Merenda benang sutera berdua
Meramu hati, menguntai jiwa
Menggapai asa menanam bunga asmara
(610) HATI YANG BERBUNGA
Telah usai gerimis petang
Terlihat pelangi mengelus awan
Terhanyut dalam seribu impian
Terikat janji dalam indah bakti
Terwujud bahagia di indah doa.
(611) BUAH HATI
Pengikat rasa sulaman jiwa
Penerus indah jalinan sukma
Pematri janji dua hati
Penjalin ikatan suci
Penentram jiwa peluruh duka.
235
(612) BUAH TANGAN
Mereka terima mereka buka
Memilih, tertawa, menangis juga
Menginginkan boneka yang sama
Mengingat itu semua menetes air mata
Mereka kini sudah tak lagi muda.
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(613) SUDAH BERBUAH
Kutanam aneka buah juga bunga
Kusiram kurawat penuh suka
Kusikat semua hama penggoda
Kujaga kudoa dengan segenap cinta
Kuharap indah lebat manis buahnya
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(614) BUAH PIKIR BUAHNYA HATI
Sulaman kata tertata penuh makna
Salinan pena indah gaungnya
Surai bersurai indah terangkai
Seiring mekar kelopak kembang cinta
Semua terajut indah penuh irama.
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
236
(615) BERBUAH BERLIAN (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Selama bintang bertabur permata (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Selama itu pula benderang langitku
Seterang narwastu bersinar merah jambu
Sinarnya memantul memendar indah
Seindah rasa cintaku padamu.
(616) BUAH SIMALAKAMA
Adanya membuat hati berulam jantung
Akarnya melilit dari awal hingga ujung
Akhirnya memang melawa arus
Apa pun terjadi harus dipupus
Amanah buat langkahku lurus.
(617) BUAH NAGA
Merah semerah darah merah
Menyala laksana mata naga
Menyentuhnya berhitung pula
Memotong mengiris dan melumatnya
Menghilangkan dahaga letih juga lara.
237
(618) BUAH KARYA (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Bisa dilihat didengar dirasa juga diraba (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Bernas pula isi juga wujudnya
Bertabur ungkapan hati juga pikir kita
Berharga meski hanya sebuah kata
Bahagia punya buah karya.
(619) BUAH DOAKU
Sebuah pinta dari hamba
Setinggi harap dari banyak ingin
Segala puja dan doa kupinta
Sebesar itu pula anugerah dari-Nya
Sehingga banyak syukurku pada-Nya.
(620) RASA BAHAGIA
Pernah kubayangkan kita berjalan seiring
Petak langkah kita penuh warna
Perasaan kita terjalin di indah senja
Padamu aku berikan seluruh hatiku
Pastikan rasa bahagiaku tak terbelenggu.
238
(621) RASA SEGALA RASA (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Catatanku penuh sesak sayang (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Ikatan kita terlalu rumit
Nada nadimu meluluhkanku
Tangan hatiku erat terikat
Anugrah terindah di kisahku
(622) RASA SEGALA RASA
Kemilau indah disinar mata
Alunnya tebar nada pesona
Syahdu menyelusup kalbu
Ingin menyulam jiwa indahmu
Hanya dirimu bahagiaku
(623) SEIKAT RASA
Sebias sinar di senja biru
Alirkan lembut udara cinta
Yakinkan hati merajut harap
Akan janji seikat rasa
Pasti bukan rasa biasa.
239
(624) SELISIH RASA (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Rangkaian bunga kita lepas (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Ikatan benang emasnya putus
Nyanyian kita hilang bunyi
Datang atau pulang tak beda
Untuk sebuah nama kuterjaga
(625) MATI RASA
Menatap kepergianmu kelu rasaku
Membiarkan cepat lari langkahmu
Membuat serpihan luka menganga
Mengapa harus sirna semua
Melambung hilang tak tersisa.
(626) RASA CINTAKU
Setinggi larinya mega berarak
Sejauh kepak sayap merpati
Seperti itu pula cintaku padamu
Seandainya engkau di sisiku
Seluruh waktu membundar padamu
240
(627) RASA GELISAHKU (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Seikat vanda merah menghias tanganku (Lereng Muria, 28 Mei 2021)
Senyum manis semanis kembang harapan
Selalu indah mekar bersemi
Sulit merangkaimu sukar melepasmu
Setiap ingat padamu gelisah hatiku
(628) CERITA SENJA
Senja merona menggunting derita
Sinar indah mengitari danau hati
Semua berhitung tentang bahagia
Sedang aku sangat suka hadirnya
Sebuah hadiah yang kutunggu lama.
(629) SENJA HAMPA
Lama menunggu langitku keriting
Lirih terdengar suara seruling
Lantunkan harap meski sekeping
Luluh rasa dalam balutan senja
Lama dirasa hidup terasa hampa
241
(630) TERIMA KASIHKU
Banyak yang ingin kukata
Begitu kau ada hilang semua
Terkesima lembut senyumnya
Tanpa suara tanpa aksara
Terima kasih untuk semua cinta
(Lereng Muria, 28 Mei 2021)
242
GOGYOSHINUS YOHANES HERY SUJATMO
BIOGRAFI SINGKAT
Biodata : Yohanes Hery Sujatmo Lahir di
Semarang, 24 Februari 1979. Saat ini tinggal di
kota Sukabumi yang disebut juga Kota Moci.
Seseorang yang menyukai Fotografi ini juga
masih menantang diri di dunia tulis menulis
dan ingin terus menulis. Moto: Tunjukkan
Warnamu, Walaupun Dunia belum melihatmu.
(631) DEJAVU
Seperti dalam mimpi saja
Seperti melihat masa depan
Terpaku dibuatnya
Akankah bisa diubah?
Nasib dan perjalanan hidup, aku bertanya
#gogyoshi Yohanes Hery Sujatmo / 17 Mei 2021
(632) OASE
Siang ini, di bawah teriknya matahari
Di mana pedasnya hujatan dan teriknya kebencian
Menyebar dan tak terbendung dalam Lini masaku
Di manakah aku menemukan kembali
'Tuk melepaskan kedahagaanku akan kebenaran
#gogyoshi Yohanes Hery Sujatmo / 17 Mei 2021
243
(633) TEKO
Siap berkorban
Tanpa pikir dirinya
Biarpun luka
Ciptakan kehangatan
'Tuk hidup lebih bermakna
#gogyoshi Yohanes Hery Sujatmo / 17 Mei 2021
(634) SEPEDA
Alat Transportasi yang kucinta
Lengkap dengan atributnya
Membawaku ke mana saja
Kenangan masa kecil tak terlupa
Saat Sandal terlepas karena tak terasa
#gogyoshi Yohanes Hery Sujatmo / 17 Mei 2021
(635) KASIH
Apakah dia menanggung penderitaan
Apakah dia tidak mementingkan diri sendiri
Apakah dia tidak mengambil keuntungan dari orang lain
Keterbalikan dengan dunia ini
Ya, itulah Kasih, dia menegaskan hari ini.
#gogyoshi Yohanes Hery Sujatmo / 17 Mei 2021
244