The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-12-16 16:24:45

Identitas Dan Kenikmatan

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

I D E N T I TAS D A N
KENIKMATAN

POLITIK BUDAYA LAYAR INDONESIA
Ariel Heryanto Penerjemah: Eric Sasono

pustaka-indo.blogspot.com

pustaka-indo.blogspot.com

IDENTITAS DAN KENIKMATAN

Politik Budaya Layar Indonesia

pustaka-indo.blogspot.com

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta
Pasal 1
Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah
suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Pidana
Pasal 113
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan
pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf
f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan
pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf
e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4
(empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk
pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda
paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

pustaka-indo.blogspot.com

IDENTITAS DAN KENIKMATAN

Politik Budaya Layar Indonesia

Ariel Heryanto

Penerjemah: Eric Sasono

Jakarta:
KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

pustaka-indo.blogspot.com

IDENTITAS DAN KENIKMATAN
Politik Budaya Layar Indonesia
© Ariel Heryanto

KPG 591501000
Cetakan Pertama, Juni 2015

Penerjemah
Eric Sasono

Penyunting
Christina M. Udiani

Tata Letak Isi
Dadang Kusmana

Perancang Sampul
Wendie Artswenda

Foto Sampul
Ariel Heryanto

HERYANTO, Ariel
Identitas dan Kenikmatan
Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2015
xvi + 350 hlm.; 14 cm x 21 cm
ISBN: 978-979-91-0886-9

This edition is a translation of Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian
Screen Culture, originally published in 2014 by NUS Press, Singapore.

Dicetak oleh PT Gramedia, Jakarta.
Isi di luar tanggung jawab percetakan.

pustaka-indo.blogspot.com

untuk Goo

pustaka-indo.blogspot.com

pustaka-indo.blogspot.com

Daftar Isi

Ucapan Terima Kasih xi

Bab 1 1
Mengenang Masa Depan 4
13
Kembali ke Masa Depan 21
Lingkungan Media Baru
Budaya Pop, Identitas, dan Kenikmatan

Bab 2 37
Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 40
48
Islamisasi 57
Era Baru, Kelompok Kaya Baru 68
Politik Islamis, Kebudayaan Post-Islamis
Menatap ke Depan

pustaka-indo.blogspot.com

viii Identitas dan Kenikmatan 75
79
Bab 3 89
Pertempuran Sinematis 99
107
Sukses Mempesona di Luar Dugaan
Pertempuran Sinematis 111
Kilas Balik 116
Melampaui Dikotomi Komoditas/Agama 127
132
Bab 4 139
Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 152

Dosa Asal 157
Pertarungan Tanpa Akhir 164
Media Baru, Luka Lama 174
Tantangan dan Capaian 184
Beban Sejarah
197
Bab 5 198
Kemustahilan Sejarah? 204
213
Sejarah dan Defisit Politik 221
Kisah Jorok Habis 235
Premanisme, Film, dan Sejarah

Bab 6
Minoritas Etnis yang Dihapus

Etnisitas sebagai Fiksi
Etnisitas yang Dihapus
Sangat Dibutuhkan, Tapi Tak Diinginkan
Awal-Mulanya
Hibriditas Disangkal, Tetapi Berjaya

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Daftar Isi ix

Bab 7 243
K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 247
254
Asianisasi 266
Kelas Menengah Muda Perempuan
Hibriditas Remix 279
281
Bab 8 284
Dari Layar ke Politik Jalanan 290
297
Kehidupan Berkiblat Komunikasi-Lisan 304
Kampanye Pemilu 2009
Massa Orde Baru: Politik Penampilan 309
Kampanye Pemilu sebagai Budaya Populer 339
Catatan Penutup 350

PUSTAKA ACUAN
INDEKS
BIODATA

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Ucapan Terima Kasih

KEGIATAN PENELITIAN (20 0 9-20 12) khusus untuk m enyiapkan
buku ini dimungkinkan berkat bantuan berlimpah dari lembaga
dan individu yang lebih banyak ketim bang yang dapat disebutkan
satu per satu di sini. Saya am at berterim a kasih untuk dukungan
m aterial dan kelem bagaan dari Dewan Riset Australia (Australian
Research Council, ARC). The University of Melbourne sangat ber-
jasa dalam m em persiapkan dua lam aran kepada ARC terkait pe-
nelitian ini pada tahun 20 0 8. Pada tahun 20 0 9 saya berpindah ke
The Australian National University (ANU) yang kem udian m en-
jadi tuan-rum ah dan m engelola dua hibah penelitian yang sukses
ini. Saya ingin m enyam paikan terim a kasih kepada Fakultas Asian
Studies dan turunannya yaitu School of Culture, History and
Language; juga kepada Kantor Penelitian di College Asia dan Pa-
ciic di ANU untuk dukungan mereka yang istimewa dan tak ter­
putus sepanjang berlangsungnya proyek penelitian ini.

Merupakan pengalam an istim ewa bagi saya untuk bekerja
sam a dengan Em m a Bauch dalam salah satu dari dua penelitian

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co xii Identitas dan Kenikmatan

yang didukung oleh ARC pada m asa itu. Saya m enikm ati dukungan
sem angat m aupun intelektual dari rekan-rekan di ANU, khususnya
(berurutan m enurut abjad) Am rih Widodo, Hyaewol Choi, Ken
George, Kent Anderson, Khoo Gaik Cheng, Margaret J olly, Roald
Maliangkay, dan Tessa Morri-Suzuki. Untuk urusan adm inistratif,
saya berutang budi kepada dukungan yang luar biasa dan tanpa
henti dari Harriette Wilson, Malcolm Hayes, dan Thuy Pan. Dana
hibah dari ARC telah m eringankan beban m engajar saya. Pak Urip
Sutiyono dan Ibu Nenen Ilahi dengan baik telah m enyediakan diri
untuk m engam bil alih tanggung jawab tersebut. Saya m endapat
hikmah besar dari pengalaman membahas beberapa persoalan
dalam buku ini dengan m ahasiswa saya di kelas yang saya ajar
(khususnya kelas “Budaya pop di Indonesia”). Saya juga beruntung
berdiskusi dengan tiga kandidat doktor di bawah bim bingan saya.
Mereka m enekuni topik penelitian yang berkaitan dengan topik
buku ini: Meg Downes, Maria Myutel, dan Evi Eliyanah.

Banyak orang di Indonesia m encurahkan dukungan berlim pah,
keram ahan, dan m asukan m ereka kepada saya. Saya m enyesal jika
tak dapat m enyebut nam a m ereka sem ua, atau m erinci, bagaim ana
dan seberapa besar saya telah berutang budi kepada m ereka yang
berada dalam daftar ini (juga m enurut abjad): Abduh Aziz, Agus
Mediarta dan Rani, Alex Sihar, Arie Kartika, Aryo Danusiri, Astrid
Reza, Aym ee Dawis, Bowo Leksono, Budiawan, Dianah Karm ilah,
Dim as J ayasrana, Ekky Im anjaya, Eri Sutrisno, Eric Sasono, Fadli
Rozi, Faisol Ahm ad, Gerry Rijkers, Gotot Prakosa, Habiburrahm an
El Shirazy, Heidi Arbuckle, Hellen Katherina, Hendi J ohari dan
Yohana, Hilm ar Farid, Im am Aziz, IGP Wiranegara, Irawan
Saptono, Ishadi SK, Katinka van Heeren, Lasja Susatyo, Lexy
Ram badeta, Lisabona Rahm an, Lulu Ratna, Markus J upri, Melani
Budianta, Otto Adi Yulianto, Putu Oka Sukanta, Rachm ah Ida,
Rama Astraatmadja, Rumekso Setyadi, Soia Setyorini, Stanley
Yoseph Adi dan Veronika Kusum a. Sepanjang paruh pertam a

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Ucapan Terima Kasih xiii

tahun 20 10 , Evi Eliyanah, Monique Rijkers, dan Yuli Asm ini
membantu sebagai asisten dalam penelitian ini. Dedikasi dan
kerja keras mereka sangat mengesankan.

Banyak lagi orang-orang yang tinggal di Australia, dan di ba-
gian lain dunia, telah m enyediakan waktu m ereka yang berharga
untuk m enulis surat atau berbincang dengan saya m engenai
berbagai aspek terkait proyek penelitian ini. Mereka juga m em -
berikan komentar dan kritik dalam berbagai tahap selama proses
penulisan hasil penelitian ini, atau mengusulkan perbaikan-
perbaikan. Terim a kasih saya jauh lebih besar daripada yang bisa
saya sam paikan dengan kata-kata di sini. Di Australia, m ereka
term asuk: Adrian Vickers, Barbara Hatley, Charles Coppel, Dan
Devitt, David Bourchier, David Hanan, J em m a Purdey, J essica
Melvin, J oel S. Kahn, J ustin Wejak, Kate McGregor, Keith Foulcher,
Koici Iwabuchi, Krishna Sen, Marshall Clark, Maxwell Lane,
Michelle Antoinette, Miriam Lang, Quentin Turnour, Rebecca
Conroy, Richard Chauvel, Siauw Tiong Djin, Sri Wahyuningroem ,
Vedi Hadiz, dan Virginia Hooker.

Mereka yang berada di luar Australia term asuk Andrew
Weintraub, Ben Abel, Bettina David, Chua Beng Huat, Hong
Lysa, J ennifer Gaynor, J oshua Coene, J oshua Oppenheim er,
Laurie Sears, Liew Kai Khiun, Loren Ryter, Mary Zurbuchen,
Michael Buehler, Nancy J Sm ith-Hefner, Nissin Otm azgin, Ram ya
Sreenivasan, Robert Hefner, Roger Desforges, Rom m el Curam ing,
Ronnie Hatley, Sum it Mandal, Thongchai Winichakul, dan Ward
Ke e le r .

Pada tahun 20 10 saya m endapat kehorm atan untuk m endis-
kusikan rancangan beberapa bab awal buku ini dalam beberapa
sem inar dan konferensi di Korea Selatan dan Am erika Serikat.
Dari setiap kesem patan, saya m em peroleh kom entar-kom entar
amat penting dari para hadirin. Ini meliputi Sogang Institute
of East Asian Studies di Universitas Sogang (Seoul); panel pada

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co xiv Identitas dan Kenikmatan

“Dangerous Histories” (salah satu tuan rum ahnya adalah Center
for Southeast Asian Studies, University of Wisconsin-Madison)
dalam pertem uan tahunan Association of Asian Studies di
Philadelphia; Baldy Center for Law and Social Policy, University
of Buffalo Law School, State University of New York di Buffalo;
Program Asia Tenggara di Cornell University, Ithaca; dan Kajian
Internasional pada J ackson School, University of Washington
di Seattle. Pada tahun 20 11 saya m endiskusikan sebagian dari
tem uan-tem uan awal dari penelitian ini di Asia Research Institute
di National University of Singapore.

Pada tahun 20 12, saya m endapatkan cuti panjang dari ANU
yang telah m em ungkinkan saya untuk m enyelesaikan sebagian
besar naskah buku ini di J epang dan Eropa. Pada paruh awal
tahun 20 12, saya m enjadi Visiting Research Fellow pada Center
for Southeast Asian Studies, Kyoto University yang bergengsi itu.
Caroline Hau m enjadi sponsor saya. Bantuan J afar Suryom enggolo
dan Chiaki Abe m eringankan pekerjaan dan kebutuhan sehari-
hari saya selam a saya tinggal di J epang. Mikihiro Moriyam a
m engundang saya untuk m endiskusikan karya yang sedang saya
kerjakan di Center for Asia Paciic Studies pada Nanzan University
di Nagoya; Nobuhiro Aizawa m engatur diskusi serupa pada Inter-
disciplinary Studies Center, Institute of Developing Econom ies,
J ETRO di Tokyo.

Pada paruh kedua tahun 20 12, saya m enjadi Visiting Research
Fellow pada Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
(KITLV), Leiden. Saya m endapat kehorm atan besar disponsori
oleh Henk Schulte Norholdt dan Bart Barendregt. Selam a tinggal
di Belanda, Gerry van Klinken (KITLV) dan Helen van der Minne
(IIAS) am at m em bantu m em buat saya sangat kerasan, sehingga
m eningkatkan daya-kerja dan proses penulisan yang saya kerja-
kan. Segera sesudah fellow ship di Belanda ini, saya m endapat
kehorm atan untuk m enjadi Visiting Researcher pada Institut fur

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Ucapan Terima Kasih xv

Ethnologie di Universitat Freiburg, J erm an dan terlibat dalam
proyek “Historische Lebenswelten in popularen Wissenkulturen
der Gegenwart” bersam a J udith Schlehe dan Sylvia Paletschek
yang bertindak bersam a sebagai sponsor saya. Terim a kasih
sedalam -dalam nya kepada m ereka berdua, juga kepada beberapa
kandidat doktor yang sangat ram ah: Agni Malagina, Evam aria
Sandkuhler, Melanie V. Nertz, Vissia Ita Yulianto, dan Tandy
Ku r n ia wa n .

Saya juga berterim a kasih pada dukungan luar biasa dari
Paul Kratoska, Peter Schoppert, Christine Chong, dan Lena Qua
(NUS Press), dan Yoko Hakam i (Kyoto University) dalam m ener-
bitkan buku ini dalam versi aslinya yang berbahasa Inggris. Rasa
terim a kasih yang tulus saya ucapkan kepada dua orang anonim
yang m enjadi pengulas naskah buku ini, atas kom entar, kritik,
dan usulan m ereka yang luar biasa dan penting. Terim a kasih
yang sebesar-besarnya saya sam paikan kepada Eric Sasono atas
kehorm atan besar yang diberikan kepada saya dengan m ener-
jem ahkan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia secara sangat
cem erlang. Heidi Arbuckle (Ford Foundation di J akarta), telah
m em berikan dukungan yang besar untuk proses penerbitan
buku ini dan peluncurannya di Indonesia. Christina M. Udiani
(Kepustakaan Populer Gram edia) m em berikan perhatian, ban-
tuan, dan kesabaran yang luar biasa sehingga buku ini dapat
dihadirkan di Indonesia dalam bentuk dan waktu sesuai dengan
rencana. Melani Budianta, Budiawan, Francis Dom ini Hera, dan
Bart Barendregt ikut m elancarkan usaha awal saya m enyiapkan
penerbitan buku ini dalam versi Bahasa Indonesia.

Biarpun daftar nam a-nam a lem baga dan rekan perorangan
yang telah saya sebutkan di atas sudah panjang, daftar itu jauh
dari lengkap. Perlu saya tegaskan pula, di balik sem ua bantuan itu,
pada akhirnya saya sendirilah yang bertanggung jawab terhadap
segala m acam kekurangan yang m asih ada pada buku ini.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co xvi Identitas dan Kenikmatan
Saya lahir dan dibesarkan pada m asa dan dalam lingkungan

sosial yang tidak terbiasa m engucapkan “terim a kasih” kepada se-
seorang yang am at dekat dan anggota keluarga sendiri. Nam un,
sesudah sekian lam a m eninggalkan tanah kelahiran saya selam a
bertahun-tahun, dan kini menggunakan bahasa dan cara komu-
nikasi yang am at berbeda, saya hanya dapat m enyatakan secara
canggung cinta dan terim a kasih saya yang tak berbatas kepada
dukungan m aterial, m oral, dan em osional yang tak terhingga dari
tem an-hidup saya, Yanti, dan kedua anak kam i, Arya dan Nina
yang selam a belasan tahun dengan penuh kesabaran m engikuti
saya berpindah-pindah tem pat tinggal. J uga kepada ibu dan
saudara-saudara laki-laki saya di Indonesia sepanjang periode
penelitian ini berlangsung. Secara khusus, saya am at berterim a
kasih kepada belahan jiwa saya untuk kesabaran tiada taranya
dan dukungan tak terhingga pada saat-saat terbaik, terberat, dan
tersulit dari proses penulisan buku ini.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Bab 1

Mengenang Masa Depan

BUKU INI m em bahas bagaim ana sebagian besar penduduk Indo-
nesia, khususnya kelas m enengah m uda perkotaan, m encoba m e-
rumuskan ulang identitas mereka pada dekade pertama abad ke-
21. Ini adalah m asa yang tak terduga, penuh dengan janji akan
kebebasan tapi juga, pada saat yang sam a, ketakutan. Masa ini
juga ditandai oleh beberapa hal seperti: peningkatan politik islami
yang belum pernah sedahsyat belakangan ini, perdebatan publik
tentang pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu, perpecahan
yang berkepanjangan dan tak terdam aikan di kalangan elite poli-
tik, bangkitnya kekuatan ekonom i Asia, serta revolusi kom unikasi
digital yang disam but secara bergairah oleh kaum m uda di seluruh
dunia. Gejala-gejala kem asyarakatan dipengaruhi oleh lowongnya
kekuasaan yang terkuak sesudah berakhirnya rezim represif
yang telah m enikm ati kekuasaan yang panjang. Indonesia pada
dekade pertama abad ke-21 sempat menikmati periode singkat
yang gegap gem pita dan penuh optim ism e, tetapi segera diikuti
oleh kekecewaan, kebingungan arah, serta keputusasaan. Dengan

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 2 Identitas dan Kenikmatan

latar belakang seperti ini, berbagai upaya kreatif dan percobaan
mencari jalan baru telah dilakukan, harapan baru benar-benar
berkem bang, sesekali diselingi oleh nostalgia kejayaan m asa lalu
dan bayangan ketidakpastian m asa depan.

Di tengah ekspansi industri media global maupun nasional
yang belum pernah sehebat sekarang, juga jejaring global m edia so-
sial, kebanyakan pertem puran ideologis untuk m engisi kekosongan
posisi hegem onik kekuasaan terjadi di arena budaya populer, da-
lam berbagai bentuknya, dan dirancang dengan sasaran kaum
profesional yang sedang berada di tengah-tengah karir m ereka,
serta kaum m uda perkotaan yang tengah m elonjak jum lahnya.
Kelom pok-kelom pok sosial ini hanya m erupakan bagian kecil saja
dari 220 juta penduduk Indonesia, dan mereka tidak mewakili
aspirasi sebagian besar m asyarakat Indonesia. Nam un jum lah
mereka bertambah, dan suara mereka amat lantang di ruang pu-
blik. Dapat diduga bahwa mereka sangat menarik perhatian para
elite politik dan ekonomi, entah sebagai calon sekutu maupun
sebagai bibit m usuh. Bagaim anapun, lebih m udah bagi orang-
orang yang sedang berkuasa untuk bicara kepada kaum m uda
perkotaan dan kaum profesional ini ketim bang kelom pok sosial
lainnya yang terdiri dari kelom pok etnis yang am at beragam ,
tersebar di berbagai pulau di negara-bangsa bernama Indonesia
ini. Sekalipun secara internal kaum muda urban perkotaan dan
profesional ini am at beragam , m ereka, sebagaim ana kelom pok
sosial sejenis di berbagai tempat lain di dunia, memiliki kesamaan
satu sama lain, terutama apabila dibandingkan dengan generasi
yang lebih tua dan kelom pok m asyarakat jelata yang kurang ber-
untung. Kesam aan itu adalah: tingkat pendidikan, kem am puan
ekonomi, selera kultural, pola konsumsi, dan ketertarikan ter-
hadap persoalan-persoalan nasional dan internasional.

Dengan m enggunakan analisis yang peka pada nuansa terha-
dap peran serta dan representasi mereka dalam screen culture

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 3

atau budaya layar (sinem a, televisi, internet, dan m edia sosial),
serta memperhitungkan berbagai lapisan konteks politis dan
historis, kajian ini dengan hati-hati akan menelisik aspirasi ke-
lompok demograis ini sesudah runtuhnya diktator militer Orde
Baru (1966-1998). Sem entara fokus buku ini tetap pada politik
kebudayaan kontem porer di Indonesia, setiap bab juga m enye-
diakan banyak pertim bangan m engenai apa yang terjadi pada
abad yang sudah lewat, dari sudut pandang historis. Sekalipun
tujuan utama buku ini adalah menganalisa secara mendalam
persaingan politik dan pencarian identitas yang terjadi dalam
satu bangsa, setiap bab menampilkan keterlibatan transnasional
dan dim ensi global narasi tersebut. Pesan utam a yang disajikan
dalam buku ini: Indonesia telah diberkahi, tak hanya oleh keka-
yaan kem asyarakatan dan kebudayaan, tapi juga oleh sejarah
panjang perkem bangan gagasan yang cem erlang. Berbagai ga-
gasan ini merupakan hasil persaingan sekaligus percampuran
berbagai pandangan yang m uncul dari orang-orang berwawasan
kosm opolitan yang berupaya m enjelajahi bentuk lokal m odernitas
hibrida. Sayangnya, sejak pertengahan abad lam pau, banyak ke-
kayaan budaya ini telah dihapus dari sejarah resm i dan ingatan
bersama. Sisa-sisa keragaman dan kosmopolitanisme itu kini
m enjadi sasaran serangan kelom pok-kelom pok m odernis yang
saling bersaing, dan sem uanya berupaya m em aksakan batasan
sem pit m engenai m akna m enjadi Indonesia. Untungnya, selalu
ada harapan di m asa depan, sebab serangan terhadap kekayaan
sejarah dan keragaman Indonesia tidak pernah berlangsung
habis-habisan atau sepenuhnya berhasil.

Bab ini m encakup tiga bagian. Pertam a, saya akan m enyedia-
kan sem acam uraian latar belakang yang akan m enjadi penting
untuk pem aham an bab-bab berikutnya. Term asuk di dalam bab
ini adalah gambaran singkat dan sederhana, tapi perlu, sejarah
politik dan budaya Indonesia. Kedua, saya akan m enawarkan
survei yang um um dari kondisi m edia (m ediascape) di Indo-

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 4 Identitas dan Kenikmatan

nesia, khususnya di Pulau J awa, pada m asa peralihan abad, yakni
periode yang m enjadi perhatian utam a buku ini. Terakhir, saya
akan m enyediakan beberapa patah kata tentang konsep-konsep
utam a dan m etode yang digunakan dalam kajian ini; juga alasan
lingkup kajian yang saya pilih dan beberapa pengakuan tentang
beberapa keterbatasan penelitian ini.

KEMBALI KE MASA DEPAN
Dalam beberapa hal, Indonesia pasca-1998 m engingatkan kita
pada negara ini ketika berada di dekade pertama kemerdekaan-
nya yang diproklam asikan tahun 1945 dan m endapat pengakuan
internasional pada tahun 1949. Dalam dua periode berbeda ini,
Indonesia m encoba m em bangun ulang dirinya sebagai negara-
bangsa yang terhorm at, m odern, dan berdaulat, seiring dengan
runtuhnya pem erintahan represif yang telah m em erintah dalam
waktu lam a. Kedua periode ini m enyaksikan tum buh-kem bang-
nya harapan-harapan baru, tetapi juga terbukanya luka-luka so-
sial yang telah lam a ada, seiring dengan tum bangnya puing-puing
kelem bagaan yang dihasilkan oleh peralihan kekuasaan yang ber-
langsung dengan penuh kekerasan. Dalam dua periode tersebut,
perjuangan membangun sebuah bangsa itu berjalan lebih sulit
ketim bang yang sem ula diperkirakan oleh para pendukung dan
pelaksananya. Ada ledakan energi dan em osi (sebagian besarnya
tak tertata) yang tiba-tiba berham buran sesudah periode panjang
ketertiban yang dipaksakan lewat ketakutan dan penam pilan ber-
pura-pura patuh di perm ukaan. Kebanyakan energi ini tersalur
untuk melakukan berbagai percobaan penuh semangat berupa
aspirasi dem okratis yang tak terpusat. Hal ini terjadi beriring
dengan harapan serba m uluk yang tak realistis yang biasanya m e-
nem ani pem bangunan ulang negeri-negeri yang baru m erdeka.

Tak lam a kem udian, upaya-upaya ini harus berbenturan
dengan kenyataan-kenyataan buruk, sebagiannya disebabkan

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 5

oleh penghancuran besar-besaran landasan yang dibutuhkan
untuk m em bangun sebuah m asyarakat ideal, dan sebagiannya
lagi disebabkan oleh trauma yang dihasilkan oleh konlik penuh
kekerasan yang telah m enaklukkan rezim sebelum nya. Sum ber
lain kesulitan mendasar dalam dua periode adalah keragaman
dan ketidakcocokan berbagai kekuatan sosial yang m em bentuk
Indonesia. Ketika kecenderungan untuk tercerai-berai yang se-
lam a ini ditekan oleh rezim yang represif akhirnya tam pil ke
perm ukaan, tingkat perselisihan yang m engem uka m em buat
banyak orang terkejut-kejut. Sebelum nya, banyak kelom pok
sosial membentuk persekutuan demi kepentingan bersama ber-
jangka-pendek, dalam rangka m enghajar rezim lam a yang diang-
gap sebagai musuh bersama. Serupa dengan kondisi situasi
sesudah Musim Sem i Arab (post-Arab Spring) pada dekade 20 10 ,
orang Indonesia dalam dua periode itu kaget ketika disadarkan
kenyataaan: segera sesudah m usuh bersam a m enghilang, m ereka
harus menghadapi tantangan lebih berat dalam memelihara per-
satuan sesama mereka agar bisa melangkah maju dan menikmati
buah kem enangan m ereka. Kesejajaran situasi antara Indonesia
mutakhir dan masa sesudah kemerdekaan patut ditekankan de-
ngan tiga alasan, yaitu perlunya m em aham i kondisi m asa kini
dengan perspektif historis yang sepadan, perlunya m engenali
m asalah-ideologi hiper-nasionalis yang telah m enguasai im ajinasi
publik, dan perlunya m em bongkar am nesia publik Indonesia ten-
tang sejarahnya sendiri yang kom pleks. Dalam bab-bab berikut,
saya akan m enguraikan m asing-m asing dari ketiga butir, m eng-
ingat betapa pentingnya sem ua itu dalam m em aham i bab-bab
b er iku t n ya .

Pertam a, perspektif historis yang lebih luas m em bantu kita
untuk m enghindar dari kecenderungan penyam arataan yang ter-
jadi dalam berbagai diskusi (akademis maupun non-akademis)
yang berlebihan dalam m em perhitungkan akibat dan nilai penting

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 6 Identitas dan Kenikmatan

kejatuhan rezim Orde Baru. Banyak analisa dan kom entar telah
m elebih-lebihkan kebaruan dari berbagai hal yang terjadi sesudah
1998, m enganggap kejatuhan Orde Baru sebagai titik berangkat
bagi banyak peristiwa dan kejadian penting sesudahnya. Sebagian
m elakukan hal itu dengan sikap atau niat m enyam butnya, sebagian
lain m enyesalinya, atau kom binasi keduanya. Kecenderungan
um um ini m elupakan fakta bahwa banyak perubahan yang dinya-
takan sebagai ‘pasca-1998’ sebenarnya telah dim ulai beberapa
tahun sebelum kejatuhan resm i Orde Baru. Contohnya yang juga
bertentangan dengan anggapan banyak pengam at adalah peng-
hentian penayangan ilm Pengkhianatan G 30 Septem ber/ PKI
yang sebelum nya diwajibkan tayang di jaringan televisi swasta
(lihat Bab 4), dibolehkannya lagi penam pilan barongsai pada pe-
rayaan Im lek (lihat Bab 6), dan transform asi pakaian m uslim ah
dari tindakan perlawanan m enjadi pernyataan busana (fashion
statem ent) di antara kaum kaya Indonesia (lihat Bab 2). Sebagian
dari gejala atau perilaku tersebut memang membawa semacam
kebaruan atau m eningkat intensitasnya sejak 1998; m isalnya
perluasan industri media dan anjungan distribusi untuk media
baru, serta runtuhnya keabsahan bagi pemerintahan militerisme
atau hak-hak istimewa militer dalam lembaga politik. Namun, ba-
nyak hal lain m asih berlanjut, seperti lingkaran elite politik yang
terus m endom inasi pem erintahan pusat, dan m asih digdayanya
wacana anti-kom unis. Pada beberapa wilayah kehidupan publik,
keruntuhan Orde Baru tam pil sebagai kem balinya Indonesia pada
dekade 1950 -an. Layak disesalkan, berbagai kem iripan kedudukan
Indonesia m utakhir dengan periode ini tak cukup banyak dibahas
oleh mereka yang melakukan kajian mengenai Indonesia kontem-
porer.1

1 Satu perkecualian penting dari kecenderungan umum ini adalah satu gugus
kecil sem inar yang dituanrum ahi oleh Herb Feith Foundation yang berkedu-
dukan di Melbourne, Australia. Karya utam a Feith m em bahas politik Indonesia

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 7

Kedua, sebuah perbandingan dengan m asa lalu penting untuk
dilakukan karena sentim en nasionalism e yang berlebihan (hy per-
nationalism ) terus berjaya di Indonesia kini. Tentu saja, hal itu
tak lebih seru ketimbang suasana gegap-gempita ketika bangsa ini
baru m em erdekakan diri setengah abad sebelum nya. Sentim en
ini m enam pakkan diri tak hanya pada perayaan-perayaan publik
resm i, atau juga pada propaganda negara yang berlangsung dari
atas, tapi juga tampil secara lumrah dalam kehidupan sehari-ha-
ri orang-orang kebanyakan, bahkan pada saat-saat yang sangat
pribadi ketika mereka menikmati waktu senggang dan hiburan.
Selam a rezim Orde Baru, pem erintah telah m eram u sentim en ter-
sebut dengan m em buang unsur-unsur populisnya, m em uliakan
rum usan barunya setelah diselipi unsur-unsur fasis rezim m iliter
berupa seragam , upacara resm i, m askulinitas yang siap tem pur,
dan ketakutan terhadap segala sesuatu yang berbau asing. Nam un
berlangsungnya nasionalism e yang rom antis seperti itu berjalan
dengan baik tanpa langsung di bawah kendali dan sponsor
pem erintah. Beberapa contoh di bawah ini akan m enggam barkan
hal tersebut.

Menjelang akhir pendudukan Indonesia di Tim or Leste, ke-
banyakan orang Indonesia tak punya pilihan kecuali m em percayai
propaganda rezim Orde Baru yang m enggam barkan pendudukan
berbasis m iliter (1975-1999) sebagai integrasi suka rela Tim or
Leste dengan Indonesia. Represi m iliter gerakan pro-kem erdekaan
Tim or Leste nyaris tak dilaporkan oleh m edia nasional. Ketika
gerakan seperti itu (sedikit sekali) dilaporkan, peristiwa-peristiwa
itu digam barkan oleh m edia sebagai upaya aparat keam anan
untuk m enegakkan aturan hukum dan ketertiban, m enyusul

pada dekade 1950 -an. Maka sem inar dan kuliah um um yang diselenggarakan
oleh lembaga ini pada tahun 20 0 0 -an, mau tak mau memperhitungkan secara
serius dim ensi perbandingan antara dua periode yang terpisah lebih dari
setengah abad itu.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 8 Identitas dan Kenikmatan

terjadinya kerusuhan diiringi kekerasan yang konon dim ulai oleh
kelom pok separatis. Um um nya publik m enelan m entah-m entah
penjelasan ini. Bocornya berita tentang kem atian warga sipil tak
bersenjata dan terbakarnya rum ah-rum ah m ereka telah m enim -
bulkan keresahan diam -diam di kalangan beberapa orang yang
peka dalam soal politik, tapi tidak ada satu pun dari berbagai pe-
ristiwa itu yang m em icu am arah publik secara terbuka. Hal yang
m em provokasi publik untuk protes secara nasional justru berita
tentang pem bakaran bendera Merah Putih pada saat terjadinya
protes m assa terhadap pem erintah Indonesia di beberapa Kon-
sulat J enderal dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Aus-
tralia. Pada saat penulisan buku ini, pengibaran bendera Bintang
Kejora yang m erupakan lam bang Papua Merdeka m asih dianggap
sebagai kejahatan serius oleh banyak orang di Indonesia, dan bela-
kangan ini tindakan tanpa kekerasan seperti pengibaran bendera
itu menerima balasan keras dari aparat penegak hukum. Serupa
dengan hal itu, orang-orang di Indonesia turun ke jalan untuk
m elakukan protes terhadap Malaysia karena m enggunakan lagu
“Rasa Sayange” dalam sebuah kam panye prom osi wisata pada
bulan Oktober 20 0 7, dan hal ini m em icu debat m engenai kepe-
m ilikan warisan budaya nasional.

Sejak pertengahan abad lalu, nasionalisme dan didaktisme
(gairah menggurui) masih kuat dalam ilm Indonesia (lihat
Heider, 1991). Dapat dim aklum i, hal ini telah berkem bang ber-
iringan dengan perjuangan di luar layar oleh bangsa ini untuk
m enguatkan kem erdekaan yang baru diraih, sam bil berancang-
ancang m enghadapi ancam an disintegrasi nasional yang tak pu-
tus-putus, seraya m enyatakan pendirian nasional dalam m eng-
hadapi serbuan hegem oni m odernitas m odel Barat yang terus
berlangsung, khususnya m elalui industri hiburan. Sesudah jeda
berupa satu dekade masa pragmatis dalam industri ilm—ber­
fokus pada tema­tema semi pornograi, kekerasan, dan thriller

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 9

pada dekade 1990­an—tema nasionalisme kembali berkobar de­
ngan dosis tinggi pada dekade 20 0 0 -an. Hal ini tam paknya m em i-
kat hati banyak pihak, baik lem baga-lem baga pem erintah yang
m asih dikontrol dengan ketat (Lem baga Sensor Film , kem ente-
rian terkait, dan Festival Film Indonesia) m aupun bagi penonton
d om est ik.

Salah satu ilm paling sukses secara komersial di Indonesia
adalah Laskar Pelangi (20 0 8, Riza); 4,6 juta orang dilaporkan
telah menonton ilm tersebut. Berdasarkan sebuah novel laris
semi­otobiograi, ilm tersebut dan sekuelnya, Sang Pem im pi
(20 0 9, Riza), bercerita tentang sekelom pok anak m uda Indonesia
yang berasal dari latar belakang yang sederhana tapi m am pu
mencapai cita-cita mereka untuk menempuh pendidikan tinggi
berkat kerja keras mereka dan dedikasi orangtua serta guru me-
reka. Film seperti ini menjamin penonton akan merasa berbaha-
gia mengidentiikasi identitas mereka sebagai orang Indonesia,
sekalipun para tokoh ini datang dari latar belakang yang seder-
hana. Sebelum nya, sutradara yang sam a, Riri Riza, dan produser-
nya, Mira Lesmana, membuat ilm semi­sejarah Gie (20 0 5, Riza)
tentang seorang aktivis hiper-nasionalis yang puritan secara m oral
yang m ati m uda. Merah Putih, m enjadi judul trilogi Merah Putih I
(20 0 9, Sugandi), Darah Garuda-Merah Putih II (20 10 , Allyn dan
Sugandi), dan Hati Merdeka-Merah Putih III (20 11, Allyn dan
Sugandi). Kem udian Garuda, burung m itos yang m enjadi logo
seragam tim sepakbola nasional Indonesia diadopsi menjadi judul
ilm Garuda di Dadaku (20 0 9, Isfansyah) dan lanjutannya Garuda
di Dadaku 2 (20 11, Soedjarwo). Pada dekade yang sam a, produser
Nia Sihasale dan sutradara Ari Sihasale membuat satu seri ilm
yang m engelus-elus perasaan nasionalism e, term asuk King (20 0 9,
Sihasale), yang diam bil dari nam a salah seorang juara bulu tangkis
asal Indonesia. Lagu kebangsaan Indonesia Raya bergem a pada
adegan penutup ilm itu. Ketika organisasi mahasiswa Indonesia

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 10 Identitas dan Kenikmatan

di sebuah universitas di Australia m enyelenggarakan pem utaran
ilm ini di kampus mereka, separuh penonton yang umumnya me­
rupakan orang dewasa dari Indonesia, secara spontan berdiri saat
m endengar lagu kebangsaan itu dan ikut m enyanyikannya dengan
khidmat hingga ilm berakhir!2

Ketiga, perspektif historis diperlukan karena banyak orang
Indonesia m engalam i am nesia sejarah yang serius selam a bebe-
rapa dekade belakangan dan tak banyak peneliti asing yang m em -
bantu membongkar masalah ini. Hal ini sepintas seperti berten-
tangan dengan pandangan saya di alinea sebelum nya m engenai
hiper-nasionalism e. Masalahnya, sekalipun terjadi pengagung-
an terhadap kebangsaan dan romantisasi masa lalu, baik seja-
rah resm i yang dirayakan sebagai kisah perjuangan nasional ke-
m erdekaan m aupun kisah sulitnya hidup di bawah penjajahan
Belanda sam a-sam a am at berm asalah. Ini akibat dihapusnya
aspek-aspek rum it dan tak m enyenangkan sejarah bangsa Indo-
nesia dalam penulisan kitab sejarah resm i. Dalam karya sastra
dan ilm, hal itu sering kali menjadi cerita karikatural hitam putih
yang terdiri dari pahlawan-pahlawan (terutam a dari kalangan
m iliter dan param iliter) m elawan m usuh-m usuh ‘jahat’ yang pasti
kalah (terutam a penjajah Belanda atau sesam a orang Indonesia
berorientasi ideologis kekiri-kirian, termasuk pengikut presiden
pertam a RI, Sukarno serta anggota Partai Kom unis Indonesia dan
para sim patisannya). Pada m asa pem erintahan Orde Baru, m ereka
yang berani m enggugat sejarah resm i dihukum berat. Wawasan
sejarah yang berm asalah itu m asih bertahan, m elam paui m asa
keruntuhan rezim Orde Baru. Akibatnya, banyak orang Indonesia

2 Salah satu pengulas ilm ini membuat komentar—yang jarang ditemukan—
tentang bendera Merah Putih yang dipakai dalam berbagai ilm Indonesia
sebagai pem ecahan segala jenis m asalah yang m enghadang tokoh-tokoh dalam
ilm (Pasaribu, 2013). Selain mengulas Hasduk Berpola (2013, Nizam), ia juga
mengkritik ilm 5 cm (20 12, Mantovani) dengan alasan serupa.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 11

yang lahir dan dibesarkan dalam dua generasi terakhir, hidup tan-
pa mengalami pendidikan dasar dan berimbang mengenai sejarah
nasional mereka sendiri.

Dam paknya bukan sekadar serangkaian ruang kosong dalam
kisah resm i bangsa ini, tapi yang lebih serius dari itu, tersebar
luasnya kepicikan wawasan historis dalam m endiskusikan m asa-
lah-m asalah m utakhir. Sekadar contoh, perdebatan yang terjadi
sebelum pengesahan undang-undang anti­pornograi pada tahun
20 0 8, atau penyerangan terhadap sekte kelom pok m inoritas
dalam Islam dan kelom pok agam a lain yang terjadi pada dekade
yang sam a, um um nya berpusar pada rincian m engenai rangkaian
konlik, pelik­pelik ayat dan pasal perundang­undangan, atau saka
guru moral, teologis, dan ilosoisnya. Yang luput dari berbagai
debat publik itu adalah pertanyaan berkaitan dengan m om entum
sejarahnya: mengapa konlik­konlik dalam skala sebesar ini me­
ningkat sedem ikian rupa sejak tahun-tahun terakhir Orde Baru?
Tentunya, hal itu dapat dihubungkan dengan islam isasi di Indo-
nesia. Pertanyaan berikutnya, m engapa islam isasi juga baru ter-
jadi sekarang? Mayoritas penduduk Indonesia telah m enganut
Islam sejak berabad-abad lalu. Lantas m engapa aspirasi politik
m ayoritas ini gagal m eraih posisi dom inan sejak dulu? Dalam Bab
2 dan 4, saya m encoba m encari jawaban yang belum utuh atas
pertanyaan itu.

Hiper-nasionalism e dan am nesia sejarah tak sepenuhnya sa-
ling bertentangan. Kecintaan nyaris tanpa syarat kepada bangsa
dibangun berdasarkan paduan antara pengetahuan dan pengabai-
an yang selektif, juga m engabaikan serta m elupakan bagian-bagian
sejarah yang dianggap tak m enyenangkan. Dalam hal ini, Indo-
nesia tidak unik. Bukan hanya cinta itu buta, tapi sebagaim ana
diam ati oleh Ernest Renan lebih dari seabad lalu, “Melupakan,
bahkan saya akan m enyebutnya sebagai kekeliruan sejarah, m e-
rupakan faktor kunci dalam terbentuknya sebuah bangsa” (1990 :

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 12 Identitas dan Kenikmatan

11). Perbandingan keadaan Indonesia pada dekade 1950 -an dan
20 0 0 -an juga harus memperhatikan beberapa perbedaan penting.
Tak seperti situasi pasca-kem erdekaan, kem balinya situasi yang
am at cair di Indonesia berlangsung bersam aan dengan terjadinya
ledakan m edia yang seakan-akan sedang m endekati titik jenuh,
yang disebabkan oleh cepat dan luasnya penyebaran m edia baru
m elalui teknologi digital. Mayoritas orang-orang yang sedang
berkuasa di Indonesia saat ini dan yang sedang m engkaji sejarah
negeri ini m erupakan orang-orang yang term asuk dalam “ge-
nerasi terakhir m anusia yang m am pu m engingat kehidupan sebe-
lum adanya internet, walaupun itu baru saja” (Grossm an 20 10 :
tanpa halaman).

Pada pertengahan abad lalu, hanya sejum lah kecil orang ber-
pendidikan m engam bil bagian dalam rangkaian perdebatan yang
berlangsung lama dan bergengsi mengenai bagaimana negara-
bangsa yang baru m erdeka ini seharusnya dikelola, bagaim ana
arah m asa depan harus ditentukan, dan yang terpenting, apa se-
sungguhnya m akna m enjadi Indonesia. Berbeda sekali dengan
yang terjadi pada dekade pertam a abad ke-21, teknologi m edia
sosial telah m endem okratisasi nyaris seluruh perdebatan publik
hingga ke tingkat yang tak terbayangkan sebelum nya. Hal ini tak
berarti bahwa segala perkembangan ini serba baik, kecuali jika
ada orang yang secara naif percaya bahwa dem okrasi selalu pen-
ting dan baik untuk segala hal.3 Demokratisasi media telah me-
ningkat sejak kejatuhan Orde Baru, sem entara kepedulian dan
kemampuan negara serba terbatas untuk mengatur dan mengen-
dalikan kebebasan berbicara.

Akibat perpecahan yang tajam , faksi-faksi dalam elite politik
tak m em iliki banyak pilihan kecuali bernegosiasi m em bentuk per-

3 Untuk upaya sederhana dalam menguji secara kritis konsep dan praktik ‘demo­
krasi’, lihat Heryanto (20 0 8) dan Bab 8 buku ini.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 13

sekutuan atau bersaing satu sama lain dalam meraih dukungan
publik guna bertahan secara politik. Nam un, yang dinam akan
publik juga terpecah-belah. Sebagian kelompok berusaha mewu-
judkan agenda politik yang tertutup dan konservatif, dan hal ini
m erisaukan kelom pok m asyarakat lain yang berpikiran pluralis.
Yang sering terjadi, m ereka yang sedang m em erintah tak terlalu
peduli pandangan dan aspirasi yang m uncul dalam m asyarakat
ketika terjadi perdebatan berisik di berbagai tempat di ranah
publik. Nam un hal ini tak berarti elite politik dapat sepenuhnya
m engabaikan kekuatan m edia baru atau budaya populer yang
belum pernah tercatat sebelum nya, yaitu kem am puan teknologi ini
dalam kelenturan, kem am puan beralih form at dari satu m edium
ke m edium yang lain, dan wataknya yang sangat interaktif.

LINGKUNGAN MEDIA BARU
Perubahan belakangan ini dalam m ediascape di Indonesia tidak
unik dan tak terpisah dari apa yang sedang terjadi di seluruh dunia.
Pada dekade kedua abad ini, menjadi amat jelas bagaimana media
baru telah campur tangan dan membentuk ulang kehidupan sosial
kita di seluruh dunia, dalam berbagai kadar. Hal itu bisa berarti
sesepele seseorang m em ajang fotonya di lam an Facebook ketika
bertem u seorang tem an lam a di sebuah kafe, dan m em buat foto
itu langsung bisa dilihat di seluruh dunia. Perubahan teknologi
ini m ewujud juga dalam hal yang lebih serius, sem isal bocornya
rahasia negara, atau serangan cy ber terhadap kekuatan intelijen
dan pertahanan negara pada tingkat tertinggi, seperti yang dipe-
ragakan oleh Wikileaks. Sekalipun wawasan Marshall McLuhan
(1964) m engenai ‘desa global’ tetap m erupakan sebuah utopia
yang naif bagi sebagian orang, perspektif dasarnya m asih ber-
m anfaat dan patut ditinjau ulang. Dari perspektif pem ikiran
McLuhan kita dapat m engajukan argum en yang substansial bah-
wa sistem percetakan dan bacaan yang m em bantu lahirnya im aji-

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 14 Identitas dan Kenikmatan

nasi baru, revolusi, dan pranata sosial (seperti perbankan, sains,
dan m iliter suatu bangsa), m em ang telah m encapai puncaknya.
Sistem percetakan kini kelabakan dalam menghadapi era baru
yang revolusioner ini, yang sebenarnya baru sedikit sekali dapat
kita ketahui pada m asa ini (lihat Bab 8).

Dunia kita adalah dunia yang m engubah

[c]ara-cara di mana identitas secara tradisional telah dibentuk; kelas

sosial dan, keluarga inti, serikat pekerja, perasaan guyub, dan/ atau
lokasi geograis, seluruhnya itu menjadi amat cair dan tidak lagi

m enjadi pokok dalam m enentukan siapa ‘kita’ sebagai anggota dari

kelompok sosial tertentu.

(Rayner 2006: 346­7)

Gambaran itu secara khusus amat tepat bagi kaum muda, di mana
“ruang ngobrol online dan kom unikasi virtual yang m ereka tem pati
m enjadi lebih relevan dalam m enentukan siapa m ereka sebagai
pribadi, ketim bang televisi atau m usik populer yang, hingga batas
tertentu, masih mereka konsumsi” (Rayner 2006: 346). Teknologi
m edia dalam berbagai form at sudah dem ikian terpadu; alih-alih
bekerja secara terpisah dan bersaing satu sama lain sebagaimana
sebelum nya, isi m edia baru ini lebih m udah beralih wujud dari
satu medium ke medium lain, dan ini berlaku bagi jutaan orang.

Pada tahun 20 10 , m ajalah Tim e m em ilih Mark Zuckerberg
sebagai Tokoh Tahun Ini,4 sekalipun kandidat lainnya, salah satu
pendiri Wikileaks, J ulian Assange, m em peroleh suara lebih ba-
nyak dari pem baca m ajalah itu beberapa hari sebelum pem ilihan
akhir. “Dalam kurang dari tujuh tahun, Zuckerberg telah m eng-

4 Pada saat buku ini disiapkan, Facebook telah “m enam bah 550 juta anggotanya.
Satu dari tiap 12 orang di dunia m em iliki akun Facebook. Mereka berbicara
dalam 75 bahasa dan secara bersam a m enghabiskan lebih dari 70 0 m iliar
m enit di Facebook setiap bulannya…Keanggotaannya kini bertam bah dengan
kecepatan sekitar 70 0 ribu orang per hari” (Grossm an, 20 10 : np)

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 15

hubungkan seperduabelas manusia di bumi dalam satu jaringan…
nyaris dua kali lebih besar ketim bang jum lah penduduk Am erika.
J ika Facebook merupakan sebuah negara, maka ia akan menjadi
negara terbesar ketiga di dunia, di belakang Tiongkok dan India”
(Grossm an, 20 10 ). Kala itu (20 10 ), Indonesia m erupakan negara
dengan pengguna Facebook keempat di dunia, naik dari peringkat
ketujuh pada tahun sebelum nya. Dua tahun sebelum itu (20 0 7),
Indonesia sam a sekali tak tercatat pada peringkat yang dibuat oleh
Nick Burcher di blog-nya. Setahun kem udian (20 11), Indonesia
m elom pat ke posisi kedua di dunia (Burcher 20 12).

Sepuluh tahun sejak kejatuhan Orde Baru, jum lah m edia
berizin di Indonesia m elonjak lebih dari dua kali lipat, dari 289
m enjadi lebih dari 1.0 0 0 . J um lah stasiun TV swasta m eningkat
dari lim a m enjadi lebih dari sepuluh pada periode yang sam a.
J aringan televisi lokal tak ada sem asa kejatuhan Orde Baru, tapi
satu dekade kem udian sekitar 150 jaringan telah beroperasi di
seluruh negeri. Pada saat buku ini disiapkan pada pertengahan
tahun 2013, jumlahnya meningkat lagi hingga 415 (Tem po 2013:
87). Media m assa telah m enjadi salah satu lem baga paling kuat
di Indonesia dan m enjadi satu-satunya industri yang m em perluas
pasar tenaga kerjanya di tengah-tengah krisis ekonom i tahun
1998 (Heryanto dan Adi 20 0 2). Beberapa pengusaha m edia bah-
kan menggandakan pemasukan mereka sepanjang periode ter-
sebut (Hill 20 0 7: 10 ) ketika jutaan perusahaan lain m engalam i
penyusutan. Untuk pertam a kalinya dalam sejarah Indonesia
m enonton televisi m enjadi salah satu kegiatan sosial dan budaya
bagi “lebih dari 90 persen orang Indonesia (yang berusia di atas
10 tahun)” (Lim 20 11: 1); jum lah itu lebih dari 220 juta jiwa, 15
persen di antaranya, m enikm ati jaringan televisi kabel (Lim 20 11:
2). Antara 60 hingga 80 persen dari siaran di televisi swasta m e-
rupakan hiburan sem isal sinetron, ilm, infotainmen, dan reality
show , yang m erupakan tem pat sebagian besar penonton m eng-

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 16 Identitas dan Kenikmatan

habiskan waktunya (lihat lebih jauh data angka-angka seperti ini
dalam Lim 20 11: 15). Tak ada satu pun lem baga sosial di Indo-
nesia yang m am pu m enarik perhatian publik dalam lingkup dan
intensitas serupa dengan media elektronik—khususnya televisi—
di Indonesia. Tak ada pula di Indonesia yang m am pu m enarik
perhatian, dalam arti jum lah jam yang dihabiskan sehari-harinya,
ketim bang acara-acara televisi. Fakta-fakta ini saja m enghendaki
adanya penelitian khusus, jika tidak kajian m engenai Indonesia
m utakhir akan m engalam i cacat yang parah.

Sesudah am bruk selam a satu dekade, sebagiannya disebabkan
oleh ketidakpercayaan publik pada ilm domestik,5 ilm­ilm baru
dari generasi baru pembuat ilm telah membuat terobosan, baik
secara estetik maupun komersial, melampaui popularitas ilm­
ilm Hollywood (Van Heeren 2002). Salah satu ilm lokal laris
yang paling awal mendorong kebangkitan kembali ilm Indonesia
adalah Ada Apa Dengan Cinta? (20 0 2, Soedjarwo). Surat kabar
The Guardian yang terbit di Inggris melaporkan ilm ini telah
“melampaui pendapatan dua ilm paling sukses Hollywood yang
pernah ditayangkan di Indonesia yaitu The Lord of The Rings dan
Titanic” (Grayling 2002). Sekalipun pembuat ilm lokal masih
terus m enghadapi pertem puran berat (akibat nyaris nihilnya du-
kungan dari pemerintah, kontrol moral dari kelompok-kelompok
yang gemar main hakim sendiri, dan persaingan ketat dari ilm
im por), daya tahan dan antusiasm e dari satu generasi ke generasi
berikutnya am at m engagum kan. Menurut data terakhir yang
tersedia, nyaris separuh (46 persen) dari 85 judul ilm panjang

5 Krisis industri ilm pada awal dekade 1990­an merupakan akibat beberapa
faktor, term asuk di antaranya kebijakan sensor yang ketat; m eningkat dras-
tisnya jumlah ilm impor, khususnya dari Hollywood; m eningkatnya jum lah
stasiun televisi swasta yang hadir dengan acara hiburan yang lebih m em ikat;
dan distribusi video bajakan yang dijual dengan harga m urah (Sen dan Hill
2000: 137­41).

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 17

kom ersial yang dirilis pada tahun 20 12 dan ditayangkan di bios-
kop-bioskop utam a, disutradarai oleh sutradara baru (46 dari 78
sutradara) yang m asuk ke industri ilm (Indrarto 2013).

Tak seluruh ilm yang beredar merupakan sesuatu yang da­
tang dari atas, dipaksakan oleh industri ilm kepada seluruh pen­
duduk Indonesia. Dari dekade pertam a abad ke-21, orang-orang
m uda di seluruh Indonesia punya kesibukan baru yaitu m em buat
ilm pendek dan dokumenter berbekal anggaran amat minim dan
perangkat digital sederhana.6 Ketika stasiun televisi besar SCTV
memutuskan untuk menggamit kerja kreatif ini dan membuka
kompetisi ilm pendek pertama pada tahun 2002, mereka mene­
rima lebih dari 1.000 judul ilm, sekalipun hanya sekitar 800 yang
dianggap layak (Van Heeren 20 12: 58).

Dengan adanya kesem patan baru untuk m enjangkau sebagian
besar penduduk, tak m engherankan jika budaya pop telah m enjadi
arena pertempuran ideologi guna mencapai posisi hegemonis da-
lam kekosongan kekuasaan bangsa.7 Beberapa elite politik dan
ekonom i nasional m enyam bar kesem patan ini dan m engam bil
form at serta m uatan budaya pop untuk m engam panyekan nilai-
nilai dan ideologi m ereka (lihat Bab 8), sem entara yang lainnya
dengan m odal keagam aan yang kuat m encoba untuk m enahan
pertum buhan budaya pop, serta dengan dasar m oralitas m eng-
usulkan pem batasan lewat hukum (lihat Bab 2).

Mengikuti kecenderungan dalam ekonomi kapitalisme lanjut,
kepemilikan dan pengendalian media cenderung mengerucut ke

6 Perkem bangan serupa terjadi di seluruh Asia Tenggara, lihat Iwanganij dan
McKay (20 12) dan Baum gartel (20 12).

7 Dalam sebuah perbincangan inform al pada tahun 20 0 8, Ishadi SK yang
ketika itu m enjadi Presiden Direktur Trans TV (jaringan stasiun televisi ter-
besar kedua di Indonesia) m engatakan kepada saya bahwa ia m enganggap,
media saat ini merupakan salah satu lembaga paling berkuasa di Indonesia;
dalam penilaiannya, siapa yang m engendalikan m edia akan m engendalikan
perpolitikan nasional.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 18 Identitas dan Kenikmatan

tangan sedikit orang kuat. Bagaim anapun, sebagai negara indus-
trial yang datang belakangan, Indonesia m asih beruntung m e-
nyaksikan keragam an dan persaingan di antara m uatan m edia
jika dibandingkan dengan negara kapitalis paling maju di mana
kepem ilikan m edia jauh lebih terpusat. Politisi profesional dan
lembaga-lembaga politik kini secara agresif menanamkan sumber
daya m ereka pada perm ainan kekuasaan di m edia, dengan
m inat baru dan lebih besar daripada sebelum nya. Sem entara
itu para mogul media menggeliatkan otot kekuasaan mereka de-
ngan m em asuki arena politik form al, seperti diperlihatkan oleh
Aburizal Bakrie (pem ilik ANTV, TVOne, VIVA new s, dan Ketua
Um um Partai Golkar), Surya Paloh (MetroTV, harian Media
Indonesia, dan Ketua Um um Partai Nasional Dem okrat), Hary
Tanoesoedibjo (RCTI, Global TV, MNCTV, Trijay a FM, Partai
Nasional Dem okrat), dan Dahlan Iskan (Grup J awa Pos, Menteri
Negara BUMN).

Agak m enyederhanakan persoalan apabila m em andang lan-
skap politik-m edia sem ata sebagai jalan sem pit yang terdiri hanya
dari hal-hal yang terjadi pada elite di tingkat paling atas. Elite
politik tak dapat sepenuhnya m endikte dan m engendalikan teks,
suara, dan gam bar yang disebarluaskan, diterim a, dan dipaham i
ke seluruh penduduk yang kelewat m ajem uk ini. Dengan per-
sebaran m edia baru yang am at luas ini, tak ada kelom pok elite
yang m am pu m em onopoli lom ba m encapai ketenaran di m edia
yang kian dem okratis, jauh m elam paui yang diperkirakan banyak
orang dalam dua atau tiga dekade terdahulu. Tekanan besar per-
saingan di pasar industri media menetes ke bawah hingga ke ting-
kat wartawan di lapangan, dan hal ini mendorong mereka untuk
mencari berbagai jalan untuk mencoba dan menguji batas-batas
baru kepantasan yang bisa diterim a oleh m asyarakat dalam rangka
kebebasan yang baru mereka raih—upaya yang melahirkan sedikit
keberhasilan dan lebih banyak kegagalan.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 19

Am at bodoh jika kita m enelan m entah-m entah pandangan
yang pernah diterim a um um m engenai kekuatan m edia baru ini
dan dam paknya pada perubahan sosial dan politik seakan-akan
media tersebut bekerja secara bebas untuk membela kelompok-
kelompok politik progresif saja. Namun demikian, sulit juga untuk
m engabaikan kekuatan m ereka begitu saja. Kam panye Presiden
Am erika Serikat, Barack Obam a, m em perluas operasi m ereka ke
Facebook dan pada tahun pertama berhasil mencatat jumlah peng-
gem ar terbanyak pada lam an penggem ar Facebook m elam paui
lam an penggem ar m anapun (Burcher 20 10 ), dan hal ini terjadi
berbarengan dengan periode pem ilihan um um di Am erika Serikat.
Nam un, m engingat popularitas Barack Obam a di dunia nyata, se-
jarah karir, dan basis partainya yang kuat, patut diperdebatkan
apakah lam an penggem ar Facebook-nya m em berikan sum bangan
penting terhadap keberhasilan Obama memenangkan pemilihan
presiden. Posisi puncak laman penggemar Facebook Obama
yang juga baik di tahun kedua m asa jabatannya sebagai presiden,
boleh jadi disebabkan oleh kepopulerannya, bukan sebaliknya,
m eningkatkan popularitasnya. Hal ini tak bisa disam akan de-
ngan naiknya Presiden Susilo Bam bang Yudhoyono (SBY) dan
peran m edia m assa, khususnya televisi. SBY tak pernah diper-
hitungkan sebagai seorang pemimpin politik, apalagi calon pre-
siden, sebelum secara resmi mencalonkan diri pada tahun 20 0 4.
Berbeda dengan Partai Dem okrat Obam a, Partai Dem okrat yang
didirikan SBY baru m engepakkan sayap ketika bersaing pada pe-
milihan umum. Partai Demokrat tak dianggap sebagai pesaing
serius bagi partai-partai utama, dan ketika berhasil mengesankan
banyak orang, partai itu hanya bisa m eraih sedikit kursi saja dalam
pem ilu parlem en. Segera sesudahnya, SBY m em enangkan pem ilu
presiden. Sulit untuk m enjelaskan naiknya SBYsecara tiba-tiba ke
tam puk kekuasaan, serta keberhasilannya untuk dipilih kem bali

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 20 Identitas dan Kenikmatan

pada tahun 20 0 9, tanpa memperhitungkan keberhasilan tim
kam panyenya dalam m engerahkan kekuatan m edia m assa.8

Pesaing utam a SBY, Megawati Soekarnoputri, adalah Ketua
PDI­P—partai yang sudah punya sejarah panjang, terbentang
hingga masa perjuangan kemerdekaan Indonesia—dan sudah
pernah m eraih suara terbanyak dalam pem ilu parlem en. Perbeda-
an utama di antara kedua calon presiden ini adalah kemampuan
kom unikasi m ereka di hadapan m edia m assa. Megawati banyak
mengecewakan publik Indonesia dengan menghindari media;
ketika dikejar oleh wartawan ia hanya berkata sedikit saja, jika tidak
diam sam a sekali. Kebalikannya, SBY tak hanya m em perlihatkan
perhatian berlimpah pada media, bekas perwira militer ini bah-
kan bernyanyi pada beberapa acara publik (term asuk dalam per-
temuan-pertemuan internasional), mengeluarkan tiga album
kum pulan lagu (yang ketiga pada m asa jabatannya sebagai pre-
siden), dan menghadiri inal acara Indonesian Idol. Pengelolaan
pencitraan publik yang berhati-hati m erupakan tiket SBY untuk
m eraih kursi kekuasaan. Sayangnya, ia tak m am pu m em bangun
dan m engelola m odal awal yang berhasil diraihnya guna m encapai
sesuatu yang lebih besar dalam m asa jabatannya. Ia m enyia-
nyiakan am anah yang luar biasa besar dari pem ilih. Sejak SBY
m em asuki m asa jabatan kedua, dukungan publik terhadapnya
terus merosot. Parlemen juga memperlihatkan sikap bermusuhan
kepada pem erintahannya. Dalam rangka berm ain am an dan
m em pertahankan koalisi di pem erintahan, terkadang SBYm em ilih
tak beraksi apa-apa di tengah situasi krisis. Putus asa akibat sikap
SBY yang tak tegas, para pengkritiknya m enggam barkan SBY
sebagai tak memiliki tawaran apa pun kepada bangsa kecuali

8 Saya berterim a kasih kepada Mark Hobart yang m em bagi pandangannya ini
m elalui sebuah percakapan inform al. Peran m edia sosial sehubungan dengan
kemenangan J oko Widodo pada pemilu gubernur di J akarta lebih mirip untuk
dibandingkan dengan Obam a daripada dengan Yudhoyono.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 21

aura pencitraan publik dan upayanya untuk m enghidupkan citra-
nya di m edia. Ironisnya, pencitraan publik itulah yang m enarik
sebagian besar orang Indonesia untuk m em ilihnya dua kali secara
berturut-turut, sehingga ia memenangkan pemilu pada tahun
2004 dan 2009.

Contoh-contoh terkini m engenai percam puran antara m e-
dia baru, politik, dan hiburan, serta konlik dalam hubungan­hu­
bungan ketiganya am at berlim pah (untuk kasus terkini di Indo-
nesia, lihat Heryanto 20 10 ; Kartom i 20 0 5; Lindsay 20 0 7) dan
tersedia dalam berbagai arena kehidupan di m asyarakat. Bab-
bab berikutnya, terutam a Bab 8, akan m em perlihatkan dinam ika
perpolitikan seperti itu secara rinci. Tapi apa sebetulnya m akna
‘budaya populer’ dan m engapa, hingga kini, belum banyak kajian
yang m enghubungkannya dengan proses politik yang lebih luas di
I n d on esia ?

BU D AYA POP, ID EN TITAS, D AN KEN IKMATAN
Buku ini m engkaji politik identitas dan kenikm atan dalam bu-
daya layar m utakhir di Indonesia, khususnya dalam sinem a dan
sinetron. Budaya layar dalam kajian ini dapat dipaham i sebagai
bagian dari pranata dan praktik sosial yang lebih luas yang secara
um um disebut ‘budaya populer’. Pada sem ua bab selanjutnya, saya
akan m em bahas politik budaya dan kesejarahan dalam pem ben-
tukan dan persaingan identitas yang tam pil pada beberapa judul
dalam budaya layar, term asuk seluk-beluk dinam ika produksi,
sirkulasi, dan penerimaan tontonan tersebut.

Deinisi budaya populer yang mana pun akan selalu menjadi
bahan perdebatan (Storey 20 0 6; Strinati 1995). Untuk keperluan
buku ini, saya m engam bil dua pengertian utam a yang secara
konseptual berbeda dan berpeluang bertolak belakang, sekalipun
dalam beberapa kasus, pengertian-pengertian itu tak sepenuhnya
terpisah satu sam a lain. Pertam a, budaya populer akan kita paham i

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 22 Identitas dan Kenikmatan

sebagai berbagai suara, gam bar, dan pesan yang diproduksi secara
massal dan komersial (termasuk ilm, musik, busana, dan acara
televisi) serta praktik pem aknaan terkait, yang berupaya m en-
jangkau sebanyak m ungkin konsum en, terutam a sebagai hiburan.
Singkatnya, budaya populer dalam pengertian pertam a yang dije-
laskan di atas merupakan proses memasok komoditas satu arah
dari atas ke bawah untuk m asy arakat sebagai konsumen. Dalam
pengertian kedua, buku ini juga m engakui adanya berbagai bentuk
praktik kom unikasi lain yang bukan hasil industrialisasi (non-
industrialized), relatif independen, dan beredar dengan meman-
faatkan berbagai forum dan peristiwa seperti acara keram aian
publik, parade, dan festival. Bentuk kedua ini kerap kali, tapi tak
selalu, bertentangan atau menjadi pilihan alternatif bagi bentuk
budaya populer dalam arti pertam a; inilah budaya populer dalam
pengertian kedua: oleh m asy arakat.

Sebaiknya kita tidak m enekankan perbedaan kedua penger-
tian di atas secara berlebihan. Kita juga tidak perlu m em beri istilah
berbeda kepada keduanya. Chua (20 10 : 20 2-6) m enggunakan
istilah ‘budaya pop’ untuk yang pertam a dan ‘budaya populer’
untuk yang kedua. Walau dua pengertian itu tam pak saling ber-
tentangan, hubungan keduanya di sepanjang sejarah ditandai
dengan upaya saling m em injam , penggabungan dan adaptasi da-
lam unsur-unsur pem bentuk dari satu kategori dengan lainnya.
Tak ada unsur-unsur sejati dalam satu produk atau praktik bu-
daya yang dapat m enentukan apakah produk dan praktik budaya
tersebut dapat digolongkan sebagai ‘budaya populer’ atau tidak.
Apa yang dulu, dan kini, disebut ‘budaya populer’ dalam konteks
historis atau konteks sosial tertentu dapat sangat berbeda di
m asa dan tem pat yang berbeda. Sem ua itu selalu bergantung
pada konteksnya. Walau m em punyai watak yang m udah berubah
dan bergantung pada konteks, ada hal-hal um um yang m em buat
suatu karya atau perilaku sosial secara konseptual (bukan secara

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 23

nyata haraiah) bisa dianggap sebagai contoh budaya populer,
yakni sifatnya yang m udah diakses dan langsung m enarik perha-
tian bagi orang banyak. Ketika diproduksi untuk dijual (m akna
yang pertam a) karya dan praktik itu relatif m urah dan m enarik
perhatian banyak orang dari segala ras, tem pat tinggal, usia, dan
gender. Ketika disebarkan secara kolektif (m akna yang kedua)
karya dan perilaku ini terbuka lebar bagi orang dengan tingkat
kecerdasan rata-rata dari berbagai latar belakang untuk bisa me-
nikmati, menggunakan, berperan serta, mereproduksi, atau men-
distribusi ulang kepada yang lain. Kesederhanaannya, keakrab-
annya, dan kem udahannya ketika digunakan, sem ua ini m enjadi
daya tarik ‘budaya populer’ bagi banyak orang di m asyarakat
mana pun.

Dengan rum usan pem aham an seperti di atas, budaya popu-
ler tidak m em iliki daya tarik universal. Kebanyakan orang yang
m engonsum si dan m em produksi budaya populer disebut “kelas
m enengah” yang hidup di kawasan urban dan industrial. Mereka
ini “bukanlah anggota kelompok elite dalam pengertian ilosois,
estetis, dan politis, dan bukan pula kaum proletariat atau kelas
bawah yang baru” (Kahn 20 0 1: 19). Seperti halnya dalam ‘de-
m okrasi’, di dunia budaya populer, sebagian orang “lebih seta-
ra ketim bang lainnya”. Kelom pok-kelom pok sosial yang lebih
berorientasi elitis m em andang rendah terhadap budaya populer,
m enghina, dan was-was, sem entara banyak kelom pok jelata ber-
sikap mendua, sebagian bercita-cita untuk naik kelas sosial de-
ngan m engikuti perkem bangan terbaru dalam dunia budaya po-
puler; sem entara kelom pok lainnya tetap saja m erasa grogi atau
tersinggung oleh hiruk-pikuk budaya populer. Karena berbagai
masalah seperti inilah maka dapat disimpulkan bahwa secara
fundam ental budaya populer berwatak politis.

Budaya populer sulit untuk m endapatkan status terhorm at
dari lingkungan elite yang beragam karakter politiknya. Hal ini

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 24 Identitas dan Kenikmatan

disebabkan karena m esranya hubungan ‘tidak tahu m alu’di antara
budaya pop dan dunia industri hiburan yang hanya sibuk m engejar
laba dagang. Kaum elite cenderung bersikap m erendahkan budaya
populer dengan penggunaan istilah “budaya m assa” (Macdonald
1998: 22; Strinati 1995: 10 ) sebagai olok-olok terhadap budaya
pop yang dianggap sebagai “budaya rendahan, rem eh-tem eh,
dangkal, palsu dan seragam di pasaran” (Strinati 1995: 21). Dalam
upaya m em bela budaya populer, Dom inic Strinati m engam bil
posisi populis dan berpendapat:

[k]onsum si budaya populer oleh m asyarakat secara um um selalu
m enjadi persoalan bagi ‘orang-orang lain’ seperti kaum intelektual,
pem im pin politik, atau para pem baharu m oral dan sosial. ‘Orang-
orang lain’ ini berpandangan bahwa seharusnya m asyarakat m em -
perhatikan saja hal-hal yang lebih m encerahkan dan lebih berfaedah
ketim bang budaya populer.

(1995: 41)

Pandangan negatif di atas sedikit menjelaskan mengapa ka-
jian budaya populer tak berkem bang lebih awal dan tidak lebih
m arak di seluruh bagian dunia, terutam a di banyak negara di
Asia.9 Dengan m engacu khusus pada Indonesia, dalam sebuah
tulisan lain saya pernah m enam bahkan tiga alasan lain m engapa
minat kaum akademis pada bidang ini sangat sedikit dan lamban
(Heryanto 20 0 8: 6-7), yaitu ekspansi industrialisasi di wilayah
ini baru terjadi belakangan, kuatnya sebuah paradigm a dom inan
kajian-kajian Indonesia di sepanjang sejarahnya, serta bias m as-
kulin pada dunia akadem is pada um um nya.

Pertam a, budaya populer m erupakan produk m asyarakat in-
dustrialis serta mengandalkan teknologi produksi, distribusi, dan

9 Banyak contoh serangan kaum elite terhadap budaya populer, untuk analisanya
silakan lihat Henschkel (1994), Hobart (20 0 6), dan Weintraub (20 0 6).

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 25

penggandaan besar-besaran. Industrialisasi di Indonesia dapat
dilacak lebih dari 10 0 tahun yang lalu, dan sejarah budaya populer
dapat dilacak hingga ke m asa penjajahan Belanda pada akhir abad
ke-19 (Biran 1976; Cohen 20 6; Sen 20 0 6; Winet 20 10 ). Sayangnya,
sebagian besar catatan sejarah itu disangkal bahkan dihapus dari
sejarah resm i kebudayaan Indonesia (lihat Bab 6 buku ini). Kita
juga harus m encatat bahwa ekspansi industrialisasi yang besar
dan berkelanjutan di masa kemerdekaan baru berlangsung sejak
dekade 1980 an, setelah terjadinya pem bantaian m assal terhadap
golongan Kiri dan bangkitnya pem erintahan m iliter di m asa
Orde Baru (1966-98), yang m erupakan m itra penting Blok Barat
sem asa Perang Dingin (lihat Bab 4 buku ini). Sekalipun budaya
populer pernah m enjadi topik debat publik pada dekade 1970 -an
di kalangan kaum terpelajar di Indonesia, sebagian besar peserta
perdebatan tersebut m elihat budaya populer sebagai m asalah,
sem acam hasil yang tak dikehendaki atau ekses m odernisasi,
yang dianggap sebagai tanggung jawab negara (Foulcher 1990 b).
Sedikitnya kajian akadem is yang serius tentang budaya populer di
Indonesia amat berbeda dengan kajian mengenai aspek lain ke-
hidupan modern negeri ini. Situasi di negara-negara tetangga tak
jauh berbeda. Bahkan di negara tetangga yang industrialisasinya
terjadi lebih awal atau lebih gencar, budaya populer tetap m eru-
pakan gejala baru, dan kajian terhadapnya belum lam a dim ulai.

Faktor kedua yang m enyebabkan kurangnya perhatian pada
budaya populer dalam kajian m engenai Indonesia secara um um
berkaitan dengan kokohnya sebuah paradigm a tertentu. Di satu
sisi, kerangka kajian kaum intelektual di Indonesia telah kelewat
lama terpaku pada masalah pembangunan negara-bangsa dan
m odernisasi (Bonura dan Sears 20 0 7; Heryanto 20 0 5, 20 0 6c;
McVey 1995) atau berbagai ham batannya (m iliterism e, pelang-
garan hak asasi m anusia, korupsi yang marak, konlik etno­reli­
gius dengan kekerasan, dan belakangan ini kaum Muslim mi-

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 26 Identitas dan Kenikmatan

litan). Terlalu lam a para akadem isi yang m eneliti tentang Indo-
nesia tak mampu atau tidak tahu bagaimana harus mengha-
dapi hal-hal yang m enjadi obyek kesukaan jutaan warga negara
Indonesia. Di samping itu, terdapat sejarah panjang Orientalisme
dan esensialism e dalam kajian tentang Indonesia yang dilakukan
oleh para peneliti asing dan lokal, yang lebih suka m encari dan
memahami aspek eksotik Indonesia, sejalan dengan imajinasi
kolonial tentang penduduk pribum i yang ‘asli’. Sudah terlalu lam a
kaum terpelajar Barat m em andang budaya populer di Indonesia
dan Asia secara um um , sem ata-m ata sebagai tiruan buruk dan
berselera-rendah budaya populer Barat.10 Akadem isi yang m e-
neliti budaya Indonesia kerap m em beri perhatian besar kepada
budaya ‘tradisional’ atau ‘etnik’, budaya nasional ‘resm i’ yang
diakui negara, atau budaya ‘avant-garde’ dan ‘adiluhung’ yang
lahir dari kaum terpelajar karena menarik perhatian penonton
internasional yang um um nya adalah kritikus dan akadem isi seni
di kota-kota metropolitan.

Faktor ketiga adalah bias maskulin (lihat Pambudy 2003). Hal
ini juga terjadi secara global (untuk ulasan lebih luas lihat O’Connor

10 Bandingkan m isalnya perbedaan yang m encolok antara pandangan Gerke
(20 0 0 ) dan Sen (1991) dalam kajian m ereka m asing-m asing tentang latar
belakang kelas m enengah Indonesia, pola konsum si, dan selera budaya
m ereka terhadap budaya populer. Pada kajian Gerke, fokusnya ada pada
orang-orang Indonesia yang m enghendaki gaya hidup Barat m odern tapi
tak m am pu m encapainya. Maka orang-orang Indonesia yang m alang ini
dianggap m em buat siasat “lifesty ling” atau m eniru-niru gaya hidup, yang
m erupakan tiruan m urahan gaya hidup “sejati” m asyarakat berpunya di Barat
(Gerke 20 0 0 ). Ia m enulis “hanya sebagian kecil kelas m enengah Indonesia
yang m am pu m enjalani gaya hidup kaum perkotaan di Barat. Sebagian besar
tak m am pu m engonsum si barang-barang yang tergolong pantas bagi kelas
m enengah” (Gerke 20 0 0 ). Berkebalikan dengan itu, kajian Sen (1991) tentang
sinem a Asia m eluncurkan kritik post-kolonial berkisar kegagalan para ahli di
Barat, juga di Asia, untuk menjelaskan mengapa kebanyakan penonton ilm di
Indonesia lebih suka menonton ilm­ilm lokal yang tanpa malu menyodorkan
tokoh­tokoh bergaya hidup berbau Amerika, ketimbang menonton ilm laris
Barat “yang asli”, ataupun ilm Indonesia yang memperlihatkan potret eksotis
m asyarakat tradisional Indonesia.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 27

dan Klaus 2000:379­82), di mana aspek material dan isu­isu
konseptual seputar modernisasi, pembangunan negara-bangsa,
ekonom i, agam a, perang atau korupsi utam anya dipandang sebagai
kegiatan tentang dan untuk kaum laki-laki. Baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam kajian akademis, gender selain laki-
laki dinilai lebih rendah dan diturunkan ke peringkat kedua yang
bersifat ‘privat’ataupun ‘dom estik’, yakni ruang utam a bagi waktu
santai yang dihabiskan m elalui perantaraan m edia m assa (m ass-
m ediated leisure), hiburan, dan budaya populer. Bersam aan
itu tim bullah pem bagian yang telah kita kenali, tapi tidak kita
gugat, antara dunia m askulin siaran berita dan dunia fem inin
sinetron; atau antara m ajalah berita yang dianggap serius dan
bacaan yang disebut ‘m ajalah wanita’. Nam un, sebagaim ana akan
dikemukakan bab-bab berikut, pembagian usang ini sulit untuk
dipertahankan lagi berkat m eluasnya penyebaran budaya layar di
berbagai perangkat digital yang m udah dibawa ke m ana-m ana.
Politik identitas semakin sulit dipisahkan dari tuntutan massa
akan kegembiraan dan hiburan serta legitimasi bagi kenikmatan
hidup dan hal-hal yang bersifat fem inin. Sem ua itu tam pil dan
bertatap-m uka dengan berbagai tanggapan yang kadang bertolak-
belakang sejak bangkitnya islam isasi di Indonesia.

Bab-bab dalam buku ini berisi kisah perjuangan yang sulit
tapi menggairahkan kaum muda kelas menengah perkotaan dan
para profesional ketika m ereka berakrobat dengan urusan serius
menegosiasikan (memperbaiki, merumuskan ulang, menegas-
kan) atau m entransform asikan identitas sosial m ereka yang su-
dah lam a diakrabi dengan kebebasan yang baru didapatkan, serta
upaya m em buru berbagai usaha baru yang m engasyikkan seka-
ligus usaha m ewujudkan cita-cita pribadi. Upaya m eraih kenik-
m atan duniawi serta hasrat terhadap gaya hidup yang baru dan
keren, diiringi kepuasan mengonsumsi, menjadi bagian penting
proses tersebut. Sekalipun penting, hal ini hanyalah satu bagian

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 28 Identitas dan Kenikmatan

saja dari sebuah proses, karena media massa, media sosial, dan
budaya populer m enjadi lebih m udah dinikm ati dan m enjadi
sum ber godaan inform asi yang dibutuhkan guna m encapai aspi-
rasi mereka.

‘Menjadi m odern’ dalam konteks ini selalu m enyiratkan pe-
ngertian memiliki baik peluang khusus maupun keterampilan
baru menikmati kesenangan sehari-hari dengan mengonsumsi
komoditas modern, menggunakan teknologi terbaru, dan menja-
lani gaya hidup yang sedang m enjadi tren (Gerke 20 0 0 ; Heryanto
1999b; van Leeuwen 20 11). Sem enjak akhir m asa penjajahan,
m enurut Henk S. Nordholt, bagi m ayoritas penduduk asli kelas
m enengah di Indonesia, “m odernitas berarti gaya hidup yang
menggairahkan” (2011: 435). Selanjutnya ia berpendapat bahwa
gairah ini terpisah dari dan sekaligus lebih kuat ketimbang minat
terhadap gerakan kebangsaan (Nordholt 2011: 438). Di Indonesia
kini, predikat “m enjadi m odern” dalam kehidupan sehari-hari
berperan m em bedakan seseorang dari m asyarakat tradisional
(sebagai kaum yang ‘Lain” bagi kaum m odern). Predikat itu juga
berfungsi m em bedakan m ereka dari pandangan um um tentang
sesam a warga yang m asih ‘terbelakang’ baik di m asa kolonial m au
pun neokolonial. Atribut ini juga m enjadi penanda perbedaan
yang m em isahkan kelas m enengah dari status sebagai warga
negara yang dulu tertindas di era Orde Baru, dari m ayoritas
bangsa ini yang kurang beruntung (kaum m iskin perkotaan dan
rakyat pedesaan), dan dari kemungkinan—baik nyata maupun
yang dibayangkan—menjadi anggota masyarakat yang hanya
tunduk pada rezim yang berorientasi Islam is pada m asa pasca-
Orde Baru.

Sejak dekade 1980 -an konsep ‘kenikm atan’ telah dikem bang-
kan secara bersungguh-sungguh oleh para sarjana di banyak bi-
dang kajian, khususnya yang berkaitan dengan audiens dan resepsi
pada kajian sastra dan m edia di Barat (Ang 1991, 1996; O’Connor

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 29

dan Klaus 20 0 0 ; Ort 20 0 4; Kerr, Küklich, dan Brereton 20 0 6).
Berbagai kajian ini am at berharga untuk m enjelaskan berm a-
cam -m acam arti kenikm atan, m ulai dari m enonton acara televisi
hingga membaca majalah populer, dengan memperhitungkan
ragam (genre), gender, dan perbedaan kelas. Kajian-kajian ini
berbahasa Inggris, kebanyakan berdasarkan fakta yang terjadi di
belahan dunia lain, sehingga, sekalipun berm anfaat, tidak selalu
relevan dengan kajian dalam buku ini. Penelitian lapangan saya
kerap m enuntut saya untuk m em pertanyakan dan m enjelajah
lebih jauh daripada banyak asum si dan kerangka yang digunakan
oleh berbagai kajian tadi, khususnya dalam dua perkara. Pertam a,
yang telah m enjadi ciri khas m asyarakat berorientasi lisan,
pergaulan (tak hanya konsum si) dengan budaya layar di Indonesia
dilakukan dengan cara-cara yang am at kolektif dan kom unal,
ketim bang sebagai pengalam an individual di ruang-ruang privat,
sebagaim ana akan diperlihatkan dalam Bab 7 dan 8.11 Saya akan
m em bahas lebih jauh budaya berorientasi lisan dalam Bab 4
dan 8. Yang segera perlu untuk dicatat, saya dengan hati-hati
m enggunakan istilah ‘m asyarakat berkiblat pada kom unikasi
lisan’, ketim bang ‘budaya lisan’ untuk m engem ukakan sebuah
perbedaan penting atau kecenderungan mereka dalam kehidupan

11 Lihat analisis yang bermanfaat dari Dovey dan Impey (2011) untuk ilm asal
Afrika Selatan, African Jim (1949, Swanson) yang m enekankan pada aspek
“pendengaran/ lisan” yang berfungsi sebagai strategi subversif m elawan
ideologi dominan dan otoritas sinema pada saat itu, sekaligus juga sumber
kenikm atan dan derita bagi para aktor dan penonton kulit hitam . Chan dan
Yung (20 0 6) m engungkapkan satu kasus m enyangkut perubahan orientasi
dari partisipasi kom unal m enuju konsum si yang bersifat suka rela dan
individualistik dari waktu luang dan kenikmatan yang dikomodiikasi di
Singapura. Kajian-kajian m ereka penting untuk m em perlihatkan tum pang
tindih dan dinam ika hubungan (ketim bang hubungan biner yang statis)
antara kehidupan sosial yang berorientasi lisan dan pola-pola ketergantungan
budaya tulis, sekalipun tetap keliru untuk m enganggap (seperti yang m ereka
sarankan) bahwa perubahan-perubahan satu arah dari satu bentuk ke bentuk
lain ini bersifat universal.

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 30 Identitas dan Kenikmatan

sehari-hari dengan ‘m asyarakat berkiblat pada kom unikasi cetak’.
Hal ini tak dapat direduksi menjadi oposisi biner sederhana
budaya (atau tatanan sosial) lisan versus budaya tulisan.

Kedua, berkali-kali penelitian lapangan m engingatkan saya
bahwa kebanyakan teori yang saya baca m erupakan hasil para
penulis berpikiran liberal yang m elakukan kajian pada m asya-
rakat liberal untuk para pem baca yang juga liberal. Ikatan yang
m endalam antara liberalism e, privasi, dan kesenangan di Eropa
m odern m enem ukan perwujudannya dalam berbagai bentuk dalam
kehidupan sehari-hari, term asuk m isalnya kehadiran sekat-sekat
(cubicle) di berbagai ruang sosial (lihat Crook 20 0 7). Sekalipun
modernitas dan kapitalisme telah menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari selam a lebih dari satu abad suatu m asyarakat yang
kini bernama Indonesia, dan ekspansi kapitalisme industrial terus
m enerus m eningkat sejak pertengahan 1980 -an, orang Indonesia
m asih kesulitan m enem ukan padanan bagi kata ‘private’, ‘pri-
vacy ’, atau ‘liberal’, baik dalam bahasa nasional m aupun bahasa
daerah. Bagi banyak orang yang berpartisipasi dalam budaya
layar tontonan yang saya tem ui sepanjang penelitian saya, upaya
mengejar dan mendapatkan kenikmatan tidak pernah dipisahkan
dari persoalan-persoalan m oral dan sosial yang lebih serius. Apa
yang dianggap berm asalah bisa bersum ber dari wawasan yang
m ereka pilih sendiri, bisa juga berasal dari tekanan orang lain.12
Bagi banyak orang dan organisasi yang tak saling setuju dalam
berbagai persoalan, upaya m engejar dan m endapat kenikm atan
dianggap m em butuhkan sem acam keputusan atau fatwa resm i

12 Perbedaan di antara keduanya tak perlu terlalu dibuat berlebihan karena itu
soal derajat, bukan ragam . Cukuplah untuk kita sadari bahwa ada perbedaan
yang penting di antara lingkungan sosial di m ana liberalism e tak dipersoalkan
lagi, dari lingkungan sosial seperti Indonesia di mana liberalisme– sebagai
keyakinan m aupun sebagai perilaku– diperdebatkan secara sengit. Liberalism e
diterima oleh sebagian orang Indonesia, tetapi dikutuk secara publik dalam
pernyataan resm i yang dibuat oleh Majelis Ulam a Indonesia (MUI).

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 31

dari lembaga pemerintah atau lembaga agama, ketimbang semata-
m ata urusan pribadi bagi tiap-tiap konsum en sebagaim ana lazim -
nya dipaham i di negara-negara liberal di Barat. Bab-bab berikutnya
akan m engkaji bagaim ana banyak orang berjalan di titian sem pit
di atas jurang yang dalam ketika m encoba m enam pung atau
mendamaikan berbagai gairah, cita-cita, tekad, dan pantangan
yang, bisa tapi tak selalu, saling bertentangan.

Sekalipun masalah pokok kajian ini telah menarik perhatian
saya selam a dua dekade, buku ini m erupakan hasil riset m endalam
selam a em pat tahun (20 0 9-12), m encakup kerja di perpustakaan,
m enjadi partisipan dalam beberapa kelom pok yang berinteraksi
secara online di m edia sosial m aupun secara ofline, kerja etno-
grais, wawancara, pengamatan, dan diskusi terfokus. Tiga orang
asisten penelitian yang am at andal dan tinggal di Indonesia (Evi
Eliyanah, Monique Rijkers, dan Yuli Asm ini) telah am at m em -
bantu m engum pulkan bahan-bahan yang m elim pah (term asuk
audio dan video, foto, asesori, m em orabilia, dan poster), wawan-
cara dan pengamatan di acara-acara publik. Sekalipun demikian
saya sendiri yang bertanggung jawab terhadap analisa data dan
penulisan buku ini sebagai satu hasil proyek penelitian ini.

Kam i m engum pulkan data dari DKI J akarta dan berbagai
kota lain di J awa Tim ur, J awa Tengah, dan J awa Barat. Kerja m e-
ngum pulkan data m encakup urusan-urusan yang luas dan rum it,
jauh dari yang bisa ditam pung oleh buku ini. Mengingat m asih
terbilang langkanya kajian yang diterbitkan m engenai m asalah ini,
kajian ini sengaja m em fokuskan diri pada produk-produk budaya
populer arus utam a (m ainstream ) dengan distribusi yang paling
gam blang di Pulau J awa. Lebih dari separuh penduduk Indonesia
dari berbagai latar berlakang etnis, bahasa, agama, dan ekonomi
tinggal di pulau ini. Di pulau ini juga persaingan dalam politik
identitas dan kenikmatan menjadi pusat medan tempur politik di
tingkat nasional. Pada tahun 2013, sebanyak 79,63 persen bios­

pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.co 32 Identitas dan Kenikmatan

kop di Indonesia terdapat di Pulau J awa; sedangkan Sumatra
m enem pati tem pat kedua dengan hanya 7,41 persen dari total
bioskop secara nasional (Indrarto 2013). Dengan menyesal, harus
saya akui, beragam kasus spesiik dari daerah di luar Jawa absen
dari kajian ini; di J awa sendiri, m edan persoalan yang rum it tak
sepenuhnya dapat dibahas dengan pantas di buku ini.

Buku ini tak bertujuan untuk m enjadi kajian ensiklopedis dan
komprehensif. Ini adalah kajian etnograis dengan penekanan
pada data kualitatif yang m endalam , dan proyek ini tak dapat
m em buat klaim bahwa ini m ewakili isu-isu yang dikaji atau gene-
ralisasi dari argum en-argum en yang saya sam paikan. Dengan ke-
terbatasan itu, tak urung diharapkan bahwa buku ini menawarkan
sum bangan yang berarti kepada kajian akadem is yang terus ber-
kem bang tentang kehidupan budaya politik, dan politik dalam
kehidupan sehari-hari dalam m asyarakat Indonesia m utakhir.

Untuk m em pertajam fokus kajian ini, saya secara strategis
membatasi ruang lingkupnya dengan mengidentiikasi dan meng­
analisa dua wilayah penelitian utam a. Wilayah pertam a m enca-
kup sejum lah m asalah yang diperdebatkan dengan seru di arena
publik nasional, yakni politik identitas dan kenikm atan. Dua tem a
yang term asuk dalam kategori ini adalah: ledakan hebat budaya
populer yang m engandung m uatan atau tem a Islam di dalam nya
(Bab 2 dan 3); dan popularitas budaya layar dari Asia Tim ur Laut,
khususnya Korea Selatan (Bab 7). Sisi buruk politik identitas
dan kesenangan ini adalah serangkaian duka, kesengsaraan, dan
pilu. Maka, di wilayah kedua yang m enjadi perhatian penelitian,
saya m engkaji budaya politik yang telah dihindari, ditindas, atau
dilupakan oleh m asyarakat secara um um . Hal ini m eliputi per-
tanyaan-pertanyaan seputar pem bunuhan m assal pada tahun
1965-66 yang telah m enghantui bangsa ini terus m enerus (Bab 4
dan 5); diskrim inasi terhadap etnis Tionghoa yang telah berlang-
sung selam a satu abad (Bab 6) dan kelas bawah (Bab 8). Tentu

pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version