The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-12-16 16:24:45

Identitas Dan Kenikmatan

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 33

saja, daftar yang saya buat ini terbuka untuk diperdebatkan. Pada
Bab 3 dan 5, saya akan lebih banyak membicarakan persoalan
metodologi dalam menggunakan ilm untuk keperluan analisa so­
sial dan budaya. Baik disengaja atau tidak, ilm yang diproduksi
secara kolektif m erupakan pernyataan kolektif tentang kenyataan

dan m engundang diskusi tanpa henti m engenai kenyataan itu
dalam berbagai lingkungan sosial di mana ilm itu diproduksi,
diedarkan, ditonton, dan dibicarakan. Dengan sendirinya kenya-

taan dipaham i, dibayangkan, atau dipertanyakan dengan cara

amat beragam atau bertentangan satu sama lain oleh orang-orang

yang turut serta dalam aktivitas tersebut.

Dalam upaya m enyam paikan pesannya, setiap kajian punya

keterbatasan dan perlu bungkam terhadap masalah-masalah lain.

Tidak terkecuali buku ini. Sebagai satu cara untuk mengakhiri

bab ini, izinkan saya m engungkapkan lagi dengan ringkas apa

yang ingin dibahas oleh buku ini, dan apa yang tidak. Buku ini
bukan buku kajian mengenai ilm atau televisi di Indonesia. Buku
ini m erupakan upaya untuk m enyelidiki persoalan yang paling

mencolok dan paling ditekan dari politik identitas dalam hidup

sehari-hari di Indonesia saat ini, sebagaimana tertanam dan ter-

jadi dalam budaya layar populer. Sebagai konsekuensinya, nilai si-
nematik ilm­ilm yang didiskusikan dalam bab­bab berikut buku
ini tak akan m enjadi perhatian utam a pem bahasan kita. Survei
umum tentang beragam produk ilm dan televisi di Indonesia juga
tak akan disajikan di sini. Hanya segelintir judul dan kajian aka-

dem is yang akan dipilih, sejauh ia punya relevansi dengan pokok

utam a bahasan buku ini. Pertim bangan ini m em buat saya m em ilih
judul­judul ilm yang paling diakrabi oleh banyak penonton, tanpa
terlalu memperhatikan pandangan para kritikus tentang nilai
artistik ilm­ilm tersebut. Mengingat keterbatasan bahasa, karya­
karya yang saya acu terbatas pada karya berbahasa Indonesia dan

Inggris. Tak perlu disangsikan lagi, kajian seperti ini akan lebih

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 34 Identitas dan Kenikmatan

kaya seandainya saya bisa m em baca bahan-bahan yang relevan
dari berbagai bahasa Asia dan Eropa lainnya.

Kritik atas politik nasionalistik m erupakan salah satu tujuan
kajian ini, m aka saya m enggunakan ‘bangsa’ sebagai titik tolak
kajian. Sekalipun kritik terhadap perpolitikan nasional menjadi
pusat perhatian buku ini, persoalan tersebut tak akan pernah
disajikan secara terpisah dari, atau secara eksklusif bertentangan
dengan, atau secara statis berhubungan dengan, kekuatan sejarah
lokal, sub-nasional, atau transnasional. Sejak awal pembentuk-
annya, yang nasional selalu m enjadi bagian tak terpisahkan dari
yang global. Kaum nasionalis Indonesia sebagaim ana rekan-rekan
m ereka di berbagai belahan dunia lain m eyakini bahwa bangsa
mereka sudah ada sejak semula, dan berdiri terpisah dari seluruh
dunia. Di Indonesia, unsur-unsur global (m isalnya tradisi Islam ,
Buddha, dan Hindu) dikenali dengan baik (Bab 2­3). Sementara
tradisi tersebut dianggap sudah menjadi bagian dari warisan
sejarah bangsa sendiri, unsur-unsur lain (penjajahan Eropa,
liberalism e, dan kom unism e, atau budaya Tionghoa serta budaya
populer J epang dan Korea) dianggap bukan bagian dari warisan
sejarah bangsa, dan terus m enerus dianggap sebagai sesuatu yang
‘asing’ (lihat Bab 4-7).

Terdapat banyak kajian yang m em beri pengakuan dan per-
hatian serius terhadap keragam an di dalam satu kelom pok yang
sedang dikaji (m isalnya kom unitas Muslim atau etnis Tionghoa).
Nam un dem ikian, hanya sedikit yang m eninjau lebih dalam pada
persilangan yang rum it dan dinam is di dalam dan di antara ke-
lom pok-kelom pok yang berbeda, yang anggota-anggotanya m e-
rupakan orang-orang dengan identitas berlapis-lapis, m isalnya
Tionghoa Muslim atau Muslim yang m enggem ari K-Pop (Bab 7).
J uga terdapat kecenderungan dalam banyak kajian m engenai po-
litik identitas di Indonesia yang beranggapan bahwa fenom ena
kontem porer yang sedang diselidiki ini adalah dam pak kejatuhan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Mengenang Masa Depan 35

rezim Orde Baru yang baru-baru ini saja terjadi. Meskipun sulit
untuk membantah bahwa beberapa unsur tertentu memang me-
rupakan perwujudan yang baru, nam un sebuah kekeliruan yang
serius apabila m engabaikan konteks historis fenom ena yang se-
dang diselidiki itu. Untuk alasan itu, pada setiap bab kita akan
bergerak bolak-balik antara m asa lalu yang relevan dan m asa
kini, sebagaimana kita juga perlu mempertimbangkan dinamika
yang saling berhubungan untuk m asing-m asing persoalan dari
perspektif lokal, regional, nasional, dan global.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Bab 2

Post-Islamisme: Iman,
Kenikmatan, dan Kekayaan

ISLAMISASI TELAH m enjadi satu-satunya ciri paling m encolok
yang m ewarnai dekade pertam a Indonesia sesudah Orde Baru
(1966-98), sekalipun islam isasi m em iliki sejarah lebih panjang
dengan kebangkitan dramatis Islam dalam kehidupan publik
pada dekade 1990 -an, nyaris satu dekade sebelum kejatuhan
pem erintahan Orde Baru. Hingga tingkat tertentu, islam isasi telah
menentukan kerangka, batas-batas, dan isi pergulatan kekuasaan
di Indonesia pasca-Orde Baru, sekalipun dam paknya tak m erata
di seluruh area kehidupan publik. Bab ini berfokus pada islam isasi
dalam budaya populer (di m ana budaya layar m erupakan bagian
am at penting darinya) pada dekade pertam a abad ke-21, sekaligus
m engajukan pertanyaan apakah adaptasi konsep ‘ketakwaan
pasca-Islam ism e’yang digunakan untuk m enganalisa gejala politik
dan kebudayaan di Tim ur Tengah, Asia Barat, dan Asia Selatan
dapat berm anfaat untuk situasi yang tengah diteliti di Indonesia,
dan jika ya, bagaim ana konsep itu berm anfaat. Konteks lebih

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 38 Identitas dan Kenikmatan

luas m engenai islam isasi Indonesia pada abad yang baru ini akan
dipertim bangkan untuk m enyoroti hal-hal khusus dari kasus yang
sedang dikaji jika dibandingkan dengan kecenderungan serupa di
tempat lain.

Banyak pengam at tak sepakat dalam beberapa hal terkait ke-
bangkitan islam isasi yang tam pak jelas dalam budaya populer,
tapi kebanyakan dari m ereka m eletakkan kebangkitan itu dalam
pertentangan antara ketakwaan m oral berbasis agam a dan daya
rusak industri hiburan. Beberapa di antara pengam at tersebut
memperlihatkan kecenderungan untuk menjelaskan gejala ini se-
mata-mata sebagai kasus komersialisasi kehidupan kaum Muslim
dan komodiikasi simbol­sim bol agam a (Henschkel 1994; Hew
2013; Ivvaty 2005; Kom pas 20 0 8b; Murray 1991; Muzakki 20 0 7;
Nazaruddin 2008; Nu’ad 2008; Ramadhan 2003; Suryakusuma
20 0 8; Tem po 20 0 7; Widodo 20 0 8). Dalam pandangan m ereka
terkandung kesan bahwa Islam telah berhasil dijinakkan oleh
kapitalism e global dan dijadikan obyek pem anjaan diri para kon-
sum en. Pandangan yang bertolak belakang m elihat fenom ena
yang sam a sebagai kejayaan islam isasi dalam m enaklukkan dunia
yang sekuler, term asuk terhadap industri hiburan, yang secara
global didom inasi oleh gaya Am erika. Bab ini bertujuan untuk
sedikit m enyum bang m asukan bagi upaya yang sedang tum buh
untuk m encari tafsiran alternatif dengan m engarahkan perhatian
pada aspek-aspek yang lebih kom pleks, penuh nuansa, dan
am bivalen dari fenom ena tersebut, seperti yang pernah dibahas
pada kajian-kajian terdahulu (lihat Fealy dan White 20 0 8; J ones
20 0 7; Lukens-Bull 20 0 7; Nilan 20 0 6; Sm ith-Hefner 20 0 7).

Saya juga akan m engajukan sebuah kerangka baru untuk ke-
perluan analisa dan perdebatan. Ketidaknyam anan saya pada
dikotom i yang lazim dan kelewat m enyederhanakan persoalan
m enjadi ‘islam isasi versus kom ersialisasi’ bersum ber pada ke-
rangka perdebatan itu yang tam paknya berkem bang dari ke-

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 39

rangka besar dalam dikotom i yang dibayangkan, ketim bang
bersumber dari pandangan berdasar hal­hal rinci yang spesiik
dan data-data dari pengam atan em piris. Daripada m enyisipkan
persoalan-persoalan ini ke dalam salah satu kategori semisal
‘komodiikasi/komersialisasi’ versus ‘islamisasi’, saya mengusul­
kan pentingnya m em aham i debat tersebut sebagai bagian dari
dialektika antara bagaimana ketaatan beragama menemukan
perwujudan dalam sejarah kapitalism e industrial Indonesia yang
spesiik, dan bagaimana logika kapitalis m em berikan tanggapan
terhadap pasar yang sedang tum buh bagi revitalisasi dan gaya
hidup islam i. Dalam proses bertem unya kedua hal itu, baik Islam
maupun kapitalisme industrial mengalami perubahan, terkadang
kecil, terkadang besar di saat-saat lain. Dalam kasus tertentu,
substansi keduanya bahkan bisa bergabung, dalam bentuk yang
sam a sekali tidak m enyeluruh. Sebagaim ana diperlihatkan oleh
Darom ir Rudnyckyj (20 0 9) dalam kajiannya, gerakan terbaru
yang berkaitan dengan ketakwaan terhadap agama Islam—yang
sama sekali tidak seragam dan tidak semata-mata dapat dijelaskan
sebagai konsumerisme hedonistik dengan tampilan agama—dapat
dipandang sebagai sebuah komitmen baru terhadap kerja keras,
disiplin diri, produktivitas di tem pat kerja, dan penghorm atan
kosmopolitan terhadap orang lain di dunia lain. Pada bab ini
dan bab berikutnya, dengan latar belakang perdebatan yang saya
sam paikan secara singkat di atas, saya berharap dapat m em per-
timbangkan mengapa dan bagaimana sebuah modiikasi konsep
Asef Bayat tentang politik ‘post-Islam is’ dapat diadopsi se-
bagai kerangka alternatif guna m enganalisa budaya populer di
Indonesia saat ini. Ketim bang m eletakkan seluruh persoalan ke
dalam keranjang besar “islam isasi versus kom ersialisasi”, yaitu
sebuah pendirian yang m enganggap bahwa dua kekuatan tersebut
terpisah satu sam a lain, bersifat m onolitik dan ahistoris, teori
post-Islam is m enawarkan kerangka alternatif yang m enyoroti

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 40 Identitas dan Kenikmatan

gesekan-gesekan m endalam pada kom unitas Muslim yang taat,
serta transformasi mereka yang bersifat spesiik.

I S LAM I S AS I
Istilah “islam isasi” perlu dibongkar. Istilah ini m engacu kepada
sesuatu yang jauh lebih beragam dan rum it daripada berkem -
bangnya politik Islam yang banyak dinyatakan dalam diskusi
mengenai Indonesia kontemporer. Istilah islamisasi ini tidak
saya gunakan sesederhana itu dan tidak saya deinisikan sekadar
sebagai proses perubahan sosial yang diusung dan didukung oleh
sebuah gerakan tunggal di antara anggota komunitas Muslim
yang taat, yang bertujuan untuk m em peroleh ruang lebih luas bagi
pelaksanaan agam a atau pernyataan keim anan dalam urusan-
urusan kehidupan sosial dan agenda politik. Dalam buku ini,
istilah ini m engacu pada sebuah proses yang rum it dengan arah
beragam , m elibatkan berbagai kelom pok Muslim yang berbeda
yang belum tentu saling setuju dalam banyak hal, tanpa ada satu
pihak pun yang m engendalikan secara penuh proses tersebut.
Yang m em perum it m asalah, ada pihak-pihak yang tak m em iliki
m otivasi religius, serta faktor-faktor lain (sem isal politik post-
otoritarian, ekspansi kapitalisme global dalam barang dan jasa,
serta perkembangan dalam teknologi media baru) turut meng-
am bil peran dalam proses luas bernam a islam isasi ini. Ciri khas
utam a berbagai proses islam isasi yang berbeda-beda ini adalah
terjadinya perluasan dalam cara pandang, penam pilan, dan pera-
yaan besar-besaran terhadap unsur-unsur m aterial dan prak-
tik-praktik yang m udah dipaham i dalam m asyarakat Indonesia
sebagai m engandung nilai-nilai islam i atau “yang terislam kan”.1

1 Alina Kokoschka membuat pembedaan yang bermanfaat antara yang “islami”
dan “ter-islam-kan”. Istilah yang pertama mengacu kepada hal-hal yang secara
formal diakui dalam ajaran Islam , sedangkan istilah yang belakangan m encakup
barang-barang dan jasa yang “tidak m asuk ke dalam kategori produk [atau

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 41

Tak perlu dikatakan lagi bahwa dalam kenyataannya setiap unsur
berwajah-majemuk ini bisa memiliki makna berbeda dalam kon-
teks yang berbeda. Islam isasi juga m encakup ragam yang luas
dari praktik-praktik sosial dan perjuangan politik yang tak bisa
disederhanakan sebagai persoalan agama atau politik agama
semata.

Kajian tentang naskah-naskah Islam , aktor-aktor politik dan
institusi sosial terkait islamisasi di Indonesia amat melimpah,
sem entara kajian yang berfokus pada saling pengaruh yang rum it
dan bersifat m ulti-dim ensi antara politik Islam dan industri
budaya populer baru m uncul belakangan ini, dan kebanyakan
sebagai kumpulan esai dari penulis-penulis berbeda atau sebagai
artikel di jurnal (lihat Fealy 20 0 8; Heryanto 1999b, 20 0 8; Pink
20 0 9; Weintraub 20 11). Kajian-kajian ini m elihat beragam bentuk
di wilayah-wilayah yang khusus, term asuk pakaian perem puan
(Brenner 1996; J ones 20 0 7; Nisa 20 12; Saluz 20 0 7; Sm ith-Hefner
20 0 7), konsum erism e (J ones 20 10 ; Lukens-Bull 20 0 7; Schm idt
20 12), m edia cetak dan karya sastra (Brenner 1999, 20 11; Hefner
1997; Hellwig 20 11; Krier 20 11; Rani 20 12; Widodo 20 0 8), m edia
sosial (Ali 20 11; Nilan 20 0 6), m usik (Barendregt 20 0 6, 20 11;
Barendregt dan van Zanten 20 0 2; Berg 20 11; Frederick 1982;
Murray 1991; Sutton 20 11; Weintraub 20 0 8, 20 10 ), dan acara
televisi (Arps dan van Heeren 20 0 6; van Heeren 20 12; Im anjaya
20 0 6; Subijanto 20 11; van Heeren 20 0 7; Widodo 20 0 2).2 Bab
berikut akan berfokus pada tantangan Islam m odern baik di

praktik-praktik] halal (m isalnya daging hewan yang dipotong sesuai ajaran
Islam ) juga barang-barang yang secara tradisional tak tergolong sebagai benda-
benda [atau perilaku] kaum Muslim (sem isal jilbab)” (Kokoschka 20 0 9: 226).
Islamisasi mengacu kepada ekspansi besar-besaran dalam cakupan komoditas
barang, jasa, dan praktik-praktik lain yang dapat diterim a sebagai bersifat
‘islam i’ yang terjadi di ruang-ruang publik.
2 Daftar ini sam a sekali tidak dim aksudkan sebagai daftar yang lengkap. Apa
yang disebut di sini hanya contoh yang diam bil secara acak yang dim aksudkan
bagi pem baca yang kurang akrab dengan penelitian di bidang ini.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 42 Identitas dan Kenikmatan

dalam m aupun di luar layar bioskop, yang diharapkan dapat m e-
nyum bang kepada daftar literatur di bidang ini. Nam un sebelum
itu, bab ini m enyajikan gam baran yang lebih besar m engenai
fenom ena tersebut, agar kita tak kehilangan pandangan m engenai
pentingnya persoalan ini dalam wawasan politis dan historis yang
lebih luas.

Pada puncak kejayaan Orde Baru pada dekade 1980 -an, tak
terbayangkan sebuah ilm panjang komersial menggambarkan
pegawai pemerintah semisal prajurit militer atau polisi bersera-
gam menerima uang sogok, apalagi menjadi objek olok-olok.3
Saat ini, sesuatu yang berisiko tinggi, bahkan m ungkin suatu tin-
dakan bunuh diri, bila sebuah ilm menampilkan adegan yang
menggambarkan seorang tokoh protagonis Muslim secara nega-
tif. Hal ini tak berarti bahwa tekanan untuk m engagungkan Islam
tak m engalam i tantangan sam a sekali, m elainkan setiap penyim -
pangan dari standar kepatutan politik dapat dianggap sebagai
sebuah provokasi atau sikap anti-Islam . Kini, norm a yang do-
minan dan telah bertahan lama adalah ilm panjang komersial
Indonesia harus m em iliki akhir cerita yang bahagia. Dalam konteks
islamisasi mutakhir, kecenderungan ini menemukan ungkapan
dalam keberhasilan tokoh Muslim m enyelesaikan persoalan yang
menghadang mereka atau orang lain. Atau alternatifnya, ilm­
ilm seperti ini kerap berakhir dengan salah satu tokoh utamanya

3 Untuk alasan ekonomi dan politik yang berbeda (lihat Sen 1994), industri ilm
di bawah Orde Baru tak pernah berkem bang m enjadi industri yang penting
dan dihorm ati. Festival Film Indonesia yang diselenggarakan di bawah
ampuan negara sempat tak berlangsung selama satu dekade (1993­2003),
terjadi jauh sebelum kejatuhan Orde Baru. Kebangkitan kem bali industri
ilm terjadi pada tahun 2004 berkat generasi baru para pembuat ilm. Film
laris pertam a sejak kejatuhan Orde Baru adalah Ada Apa dengan Cinta?
(2002, Soedjarwo) yang merupakan ilm panjang komersial pertama yang
m em perlihatkan petugas keam anan (di Bandara) m enerim a uang sogok dalam
jum lah kecil ketika m engizinkan orang yang tak m em egang tiket m em asuki
area khusus penumpang karena pertimbangan percintaan.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 43

masuk Islam, sebagaimana diperlihatkan dengan amat baik oleh
ilm laris Ay at-Ay at Cinta (20 0 8, Bram antyo); dan yang pasti
tokoh-tokohnya tak pernah m urtad m eninggalkan keim anan m e-

reka atau sampai berpindah ke agama lain. Dan penegasan hu-

bungan positif dengan Islam tak terbatas pada tokoh-tokoh di

dalam layar. Intan Param aditha m eneliti upaya-upaya di balik
layar orang-orang industri ilm untuk memeluk Islam atau me­
ningkatkan ‘keislam an’ m ereka (Param aditha 20 10 ).

Untuk m em beri gam baran m engenai kepatutan politik yang

berlaku saat ini, perlu disebutkan dua peristiwa yang terjadi pada

paruh pertam a tahun 20 12. Pada bulan J anuari, seorang pegawai
negeri sipil asal Sumatra Barat berusia 30­an bernama Alexander
Aan m em asang status di lam an Facebook-nya, m enyatakan diri

sebagai seorang ateis. Karena hal itu, ia dipukuli oleh beberapa

orang sekotanya, dikucilkan oleh rekan sekantor dan koleganya,

serta ditahan oleh polisi. Belakangan, pengadilan m engadili dan

m enjatuhinya hukum an penjara dua setengah tahun serta denda

seratus juta rupiah atas tuduhan penistaan agama. Pada bulan
Juni, sebuah ilm berjudul Soegija (20 12, Nugroho) diedarkan.
Film ini bercerita tentang uskup ‘pribum i’ pertam a Indonesia,
Albertus Magnus Soegijapranata SJ (1896­1963). Di hadapan
publik, sejum lah orang m em pertanyakan m otivasi pem buatan
ilm itu, mencurigai bahwa ilm itu dimaksudkan untuk mendak­
wahkan Kristen di negeri yang m ayoritas penduduknya Muslim
guna mengimbangi promosi tokoh­tokoh Muslim di layar ilm
seperti ilm Sang Pencerah (20 10 , Bram antyo). Film ini dibuat
berdasarkan kehidupan Ahmad Dahlan (1868­1923) yang pada
tahun 1912 m endirikan Muham m adiyah, organisasi Islam terbesar
kedua di Indonesia. Produser ilm Soegija m enanggapi tuduhan
itu secara sangat serius. Mereka membantah tudingan itu dan
sebagian besar bahan promosi ilm menekankan bahwa semangat
nasionalismelah yang diutamakan oleh ilm ini.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 44 Identitas dan Kenikmatan

Kem bali pada dekade 1970 -an dan 1980 -an, persentase ter-
besar tahanan politik saat itu adalah aktivis politik Muslim .
Dengan retorika yang digunakan oleh rezim yang berkuasa saat
itu, tahanan-tahanan ini adalah “ekstrem is kanan”, yang berbeda
dengan “ekstrem is kiri” (yaitu kom unis), yang lebih banyak di-
bunuh ketim bang dipenjarakan (lihat Bab 4). Banyak pengam at
tergoda untuk m em bandingkan Indonesia pada dekade 1980 -
an dengan Turki, di m ana kediktatoran m iliter sekuler yang
didukung Am erika Serikat m em erintah negeri m ayoritas Muslim
serta m enem patkan para aktivis politik Islam di bawah kendali
yang am at ketat atau di balik jeruji besi. Nam un, m eski terdapat
persam aan yang dangkal antara kedua negara ini, kesam aan
tersebut tak bertahan lam a. Situasi yang m uncul dari konteks
historis yang berbeda dan perkem bangannya kem udian nyaris
bertolak belakang sam a sekali. Setidaknya hingga pertengahan
reformasi Turki tahun 2013, negeri ini menganut politik yang
inklusif dan m ultikultural (Yilm az 20 11); sem entara sejak per-
tengahan 1990 -an Indonesia dengan cepat m engalam i per-
kem bangan ke arah yang berlawanan. Sebuah perubahan yang
dramatis dalam kehidupan publik di Indonesia dimulai pada
tahun-tahun terakhir pemerintahan Orde baru, dan meningkat
dengan cepat sesudah kejatuhan rezim tersebut.

Pada awal dekade 1990 -an, Presiden Soeharto beralih haluan
secara radikal dalam strategi politiknya dengan secara aktif
mengajak kelompok-kelompok Islam dari berbagai orientasi
ideologi untuk m asuk ke dalam pem erintahannya. Untuk m em a-
ham i alasan-alasan perubahan radikal yang dilakukan oleh pem e-
rintahan Orde Baru ini serta konsekuensi-konsekuensinya m em -
butuhkan diskusi yang jauh lebih rinci daripada yang dim ung-
kinkan di sini (lihat juga Heryanto 2008b: 13­5). Cukup untuk
dicatat di sini bahwa berbaliknya sikap dan perlakuan Soeharto
terhadap kelompok-kelompok Islam politis dapat dipandang

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 45

sebagai sebuah langkah tergesa-gesa dan darurat untuk m enye-
lam atkan kekuasaannya ketika gesekan-gesekan di dalam ling-
karan terdekatnya serta basis kekuasaannya m encapai titik yang
tak dapat diselamatkan lagi, serta mengancam kediktatoran-
nya yang telah berusia tiga dekade. Pada dekade 1970 -an dan
1980 -an, rezim Orde Baru m elakukan stigm atisasi terhadap
kelompok-kelompok Islam politis dan menekan segala bentuk
aktivism e Islam politik. Segera sesudah Soeharto m engubah sikap
politiknya, jadwal persidangan di pengadilan sangat penuh hingga
ke tingkat yang tak pernah terjadi sebelum nya, oleh persidangan
warganegara yang dituduh m engeluarkan pernyataan di depan
um um yang m enghina Islam . Seakan-akan tuntutan hukum tak
cukup, sejak awal 20 0 0 -an, berbagai kelompok milisi meraih
posisi penting di m asyarakat dengan m em bawa bendera Islam ,
memamerkan kebebasan mereka untuk melancarkan serangan
dengan kekerasan terhadap kelompok minoritas, termasuk sekte
Muslim minoritas dan kelompok-kelompok atau orang-orang
yang m endukung liberalism e, dem okrasi, hak asasi m anusia,
atau m ultikulturalism e. Pada pertengahan dekade 1980 -an, para
perempuan pelajar mendapatkan hukuman karena menggunakan
jilbab di sekolah negeri; dua dekade kem udian, sejum lah provinsi
di Indonesia m em perkenalkan hukum syariah yang m engenakan
hukum an kepada pelajar perem puan yang tak m em akai jilbab.
Pada tahun 2003 Teater Kom a m encabut beberapa dialog gu-
rauan m ereka yang m engacu kepada kaum Muslim dari naskah
aslinya ketika m ereka m em entaskan ulang Opera Kecoa (1985)—
yang m erupakan salah satu produksi tersukses m ereka sepanjang
m asa; jelas sebagai upaya untuk m enghindar dari risiko serangan
oleh kelompok Islam militan.

Dengan pencabutan batasan-batasan politik yang dipaksakan
pada m asa Orde Baru beberapa tahun terakhir abad ke-20 serta
kemunculan generasi baru pembuat ilm, akan menarik untuk

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 46 Identitas dan Kenikmatan

diamati ilm­ilm jenis apa saja yang dibuat untuk memikat se­
banyak m ungkin penonton Muslim di Indonesia kontem porer.
Satu contoh yang jelas adalah Ay at-Ay at Cinta (sudah dibahas
sebelum nya), yang produksinya dianggap oleh banyak akadem isi
m aupun m asyarakat um um sebagai titik balik yang m enyatakan
kehadiran budaya populer Islam di dalam ilm. Film itu berdasar
novel laris berjudul sam a karya Habiburrahm an El Shirazy yang
latar belakang dan pengalam an pendidikannya m irip dengan tokoh
utama ilm ini. Kisah dalam ilm ini terjadi di Mesir, dengan m usik
latar dan adegan­adegan di sepanjang ilm yang memperlihatkan
karakter Timur Tengah dan islami.

Tentu saja Ay at-Ay at Cinta bukan awal budaya populer di
Indonesia sejak m asa kem erdekaan. Banyak pengam at yang
m engakui kebangkitan Rhom a Iram a sebagai ‘Raja Dangdut’ pada
dekade 1970 -an (Frederick 1982; Lockhrad 1998; Weintraub 20 10 )
sebagai pelopor paling penting dalam budaya populer islam i.
Tak urung, dalam industri ilm, tingkat popularitas Ay at-Ay at
Cinta belum pernah tercatat sebelumnya, dan tak ada ilm­ilm
sebelum nya m aupun penirunya yang m am pu m eraih atau bahkan
m endekati sukses yang telah dicapainya. Ay at-Ay at Cinta yang
kerap secara longgar dan keliru disebut­sebut sebagai ilm islami
‘pertam a’ ataupun ‘sejati’ pada m asa pasca-Orde Baru, m am pu
menarik lebih dari tiga juta penonton pada beberapa pekan
pertama penayangannya di bioskop, melampaui ilm­ilm yang
pernah ditayangkan sebelum nya di Indonesia, dari bahasa, asal
negara mana pun, dan genre apa pun, hingga akhir tahun 20 0 8
ketika satu judul ilm laris lain, Laskar Pelangi (2008 Riza), ilm
dengan nuansa lebih nasionalis dan nuansa religius lebih minim,
berhasil m elam paui penjualan tiket Ay at-Ay at Cinta.4

4 Kecuali dinyatakan berbeda, seluruh angka penjualan tiket di buku ini diam bil
dari situs online Film Indonesia, http://ilmindonesia.or.id/, yang saat ini
m erupakan sum ber referensi paling lengkap dan paling andal yang tersedia.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 47

Sisa bab ini akan menganalisa dan memperlihatkan bahwa
sukses besar Ay at-Ay at Cinta dan perdebatan yang m uncul darinya
merupakan sebuah tanda bagi era baru dalam kehidupan publik
di Indonesia. Bagi sebagian besar orang di negeri dengan jum lah
Muslim terbesar di dunia, terutam a bagi kaum m udanya, ketaatan
beragam a dan m odernitas sam a m enariknya dan tak selalu ke-
duanya saling bertentangan. Bagi m ereka, ketaatan beragam a dan
konsum si budaya populer tersedia sebagai pilihan ketim bang hal
yang hanya bisa dipilih salah satu saja. Sem entara di m asa lalu
orang m em andang ketaatan dan hiburan sebagai hal yang tak co-
cok satu sama lain, Muslim generasi baru menemukan cara (sekali-
pun banyak yang m em andangnya sebagai cara yang dangkal)
untuk m endam aikan hal-hal yang secara tradisional dipandang
sebagai bertolak belakang, yang m em buat m ereka m am pu terlibat
dengan agam a dan budaya populer secara berm akna dan sungguh-
sungguh. Bisa ditebak, langkah-langkah tersebut m em bawa hasil
beragam . Upaya pencarian m odernitas yang kokoh secara m oral
merupakan cerita tanpa akhir dan diselingi berbagai gesekan di
dalam m asyarakat besar Muslim yang beragam . Yang lebih pen-
ting, persoalan apa artinya m enjadi m odern sam a pentingnya (jika
tak lebih penting) dengan pertanyaan apa artinya m enjadi Muslim
di balik sem ua perdebatan yang m uncul dari kecenderungan baru
ini. Kaum Muslim m uda berusaha untuk berpartisipasi secara
penuh di dunia modern tanpa melepaskan keimanan mereka.
Mereka bicara mengenai hak-hak sipil, persamaan, transparansi,
dan, tentu saja, hal-hal yang rutin dan kesenangan hidup sehari-
hari. Sebagai konsekuensinya, proses ini berdam pak lebih jauh
m elam paui lingkungan kaum yang taat beragam a, baik Muslim
m aupun bukan. Kelom pok perem puan, kelom pok queer, serta
berbagai kelompok muda berpikiran liberal terkena dampak men-
dalam islamisasi ini. Mereka memberikan tanggapan sendiri seca-
ra lantang, sekalipun tidak dalam bingkai-bingkai keagamaan.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 48 Identitas dan Kenikmatan

ERA BARU , KELOMPOK KAYA BARU
Modernitas bisa menantang atau mendeinisikan ulang bebe­
rapa aspek praktik- praktik keagam aan, juga m ereka yang m em i-
liki wewenang di dalam kom unitas keagam aan, dan sebaliknya.
Sekalipun demikian, modernitas dan agama tidak saling meng-
hancurkan satu sam a lain sebagaim ana anggapan banyak orang
selam a ini. Asef Bayat m engingatkan kita, “[salah satu] kesibuk-
an utam a ilm uwan sosial pada abad ke-19 adalah m engusir ke-
biasaan perbedaan antara yang religius dan yang non-religius.
Kini, sesudah lebih dari seabad m odernisasi, m ereka sibuk m em -
bedakan antara yang religius dan yang lebih religius” (20 0 7a: 5).
Ternyata agam a bukan hanya tetap bugar di berbagai belahan
dunia yang telah m enjadi m odern (Turner 20 0 6, 20 0 7), dunia juga
m enyaksikan pertum buhan luar biasa apa yang disebut sebagai
gerakan-gerakan baru keagam aan. “Tidak seperti agam a-agam a
m apan, Buddha, Kristen, dan Islam , yang tersebar… dalam cara-
cara ad hoc, pendiri gerakan-gerakan keagamaan baru… meng-
adopsi fokus penyebaran yang m endunia sejak dari awal” (Sm ith
2008: 3). Ternyata agama dan kapitalism e bukan hanya dapat
hidup berdam pingan dan m em iliki keterkaitan, keduanya bahkan
dalam beberapa kasus bisa bersekutu hingga mampu mendukung
kegiatan-kegiatan kolektif yang berjangka-panjang (Rudnyckyj
20 0 9).

Dalam rangka m enyatukan m odernitas dan religiusitas, m en-
jadi jelas bagi umat Muslim di Indonesia bahwa ketegangan-kete-
gangan yang m enghadang m ereka tak bisa disederhanakan m en-
jadi m odernitas sekuler yang berasal dari Barat m elawan tradi-
sionalism e agam a yang berasal dari belahan dunia lain. Sialnya,
seiring peristiwa 11 Septem ber, stereotip-stereotip seperti itu
terus disebarkan dan didaurulang oleh kedua pihak yang berse-
berangan: pem erintahan Barat yang konservatif, think tank m e-
reka, serta media massa arus utama di satu pihak dan Muslim

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 49

konservatif di pihak lain. Tak kalah serius dan m engganggunya
bagi umat Islam di Indonesia adalah ketegangan dan tantangan
internal yang muncul dari fakta bahwa Islam—seperti halnya
agama lain di dunia—tak pernah sepenuhnya utuh atau seragam
di antara pengikutnya yang m ajem uk. Kem ajem ukan penuh ke-
tegangan ini tam paknya tak pernah cukup m em ikat perhatian
dunia seperti perhatian m ereka pada yang terjadi dengan, m isal-
nya, Musim Sem i Arab tahun 20 11 dan buntut peristiwa sesu-
dahnya yang berkepanjangan. Padahal ketegangan seperti ini
telah berkembang di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir
pem erintahan Orde Baru.

Satu pendapat pokok yang akan diajukan dalam bab ini ada-
lah adanya tanda-tanda awal terbentuknya gugusan baru Muslim
m odern di Indonesia. Kelom pok ini cenderung berusia m uda dan
berasal dari kelas menengah. Mereka beraspirasi untuk mende-
inisikan ulang arti menjadi Muslim, secara bertolak belakang
dengan Muslim ideal yang direkom endasikan baik oleh otoritas
keagam aan lam a yang berada di lem baga-lem baga m apan ataupun
oleh elite politik saat ini. Sekalipun upaya ini dapat berkem bang
m enjadi sesuatu yang lebih subtansial dan tahan lam a, fenom ena
ini sendiri tam paknya sulit untuk m endom inasi proses islam isasi,
setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. Walau tidak dom inan,
sentim en dan karakteristik Islam baru yang tersebar luas tapi tak
terorganisir ini m em bentuk varian Islam baru yang perlu dike-
nali dengan lebih serius untuk dapat diperhitungkan dalam per-
saingan politik dan m oralitas Islam . Kecenderungan ini jelas-jelas
terpisah dari tradisi lama. Tambahan lagi, ini juga menghadirkan
perlawanan yang kuat terhadap kecenderungan Islam yang
eksklusif dan kelom pok-kelom pok yang condong pada kekerasan
dalam dinam ika islam isasi yang rum it. Perkem bangan serupa
juga telah terjadi di negara-negara lain dengan m ayoritas pendu-
duk Muslim , dan kita akan kelewat m enyederhanakan persoalan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 50 Identitas dan Kenikmatan

apabila tak m engadopsi perspektif lebih luas yang ditawarkan oleh
fenom ena ini. Perbandingan seperti ini m em bantu kita dalam dua
hal: m enolong kita agar tak m em buat asum si-asum si yang tak pro-
duktif tentang keunikan kasus di Indonesia dan membantu mene-
rangi ciri­ciri spesiik kasus Indonesia. Pertama­tama kita akan
m elihat pada persam aan um um yang dapat ditem ukan di negara-
negara berpenduduk m ayoritas Muslim , dan sesudah itu kita
akan m enguji kekhususan kasus Indonesia yang m em bedakannya
dengan negara-negara berpenduduk m ayoritas Muslim lainnya.

Asef Bayat m em bahas kecenderungan dalam budaya popu-
ler Islam – di Iran, Mesir, dan lebih banyak lagi di Tim ur Tengah
pada tahun 20 0 0 -an– yang paralel dengan apa yang saya am ati di
Indonesia kini. Ia m enggam barkan fenom ena ini sebagai kasus
‘ketakwaan post-Islam is’, dengan m enyodorkan konsepnya sendiri
‘post-Islam ism e’(1996). Bayat m em ulai analisanya dengan m elihat
pada kebangkitan bintang dakwah televisi (televangelist) Mesir,
Am r Khalid, yang “[p]ada tahun 1999 m enyam paikan sekitar 21
pelajaran per minggu di rumah-rumah keluarga terpandang, dan
puncaknya adalah hingga 99 pelajaran pada bulan Ram adhan.”
Khalid m enyam paikan dakwahnya tak hanya pada pertem uan
tatap m uka, tapi juga m enggunakan “berbagai jenis m edia…
term asuk saluran TV satelit…internet dengan website pribadinya
yang canggih, serta kaset­kaset audio dan video—m edia yang se-
cara khusus dapat m enjangkau kelas m enengah dan kelas yang
lebih m akm ur” (Bayat 20 0 2a). Bayat m enam bahkan, “[k]aset-
kaset rekam an ceram ah Am r Khalid m enjadi barang terlaris
yang tak tertandingi di Pekan Buku Kairo pada tahun 20 0 2 dan
telah melakukan perjalanan jauh hingga mencapai pasar gelap di
Yerusalem Tim ur, Beirut, dan kota-kota di Teluk Persia” (20 0 2a).
Khalid m erupakan salah satu pendakwah televisi di Tim ur Tengah
yang berhasil m engum pulkan banyak pengikut. Profesi ini tidak
ada sebelum periode post-Islam ism e. Kecenderungan serupa
m elanda Indonesia dengan nam a-nam a seperti AA Gym , J effry al-

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 51

Buchori, dan Muhammad Ariin Ilham sebagai pendakwah televisi
yang paling populer. Nam un beberapa akadem isi ahli Indonesia
(Hasan 2009: 234­41; Hew 2013; Hoesterey 2007, 2008; Howell
20 0 8; Muzakki 20 0 7) yang m enganalisa fenom ena ini um um nya
tak memperlihatkan minat mereka terhadap kaitan gejala seje-
nis di luar Indonesia. Sementara dimensi internasional jelas
tampak dalam diskusi mengenai politik Islam Indonesia, aspek
internasional dari kajian terhadap budaya populer di Indonesia
yang m engandung m uatan islam i, tidak banyak m endapat perha-
tian, dengan beberapa perkecualian langka seperti studi Howell
(20 0 8) dan Hoesterey (20 12).5

Diiringi kontroversi religius di antara kaum Muslim sendiri,
kebangkitan kelas menengah perkotaan di kalangan umat Muslim
di seluruh dunia m enjadi tanda bahwa tum buhnya pem bagian
kelas di kalangan um at Islam m erupakan sebuah fenom ena glo-
bal. Kebangkitan kaum kaya baru di Asia di pengujung abad ke-
20 telah dicatat di banyak tem pat (Chua 20 0 0 ; Em bong 20 0 2;
Pinches 1999; Prasetyantoko 1999; Robinson dan Goodm an 1995;
Tanter dan Young 1990 ). Lonjakan kekayaan dari m inyak bum i
dan akses lebih besar pada pendidikan membawa perluasan dan
konsolidasi politik dari apa yang disebut sebagai “kelas m enengah
perkotaan”.6 “Pendakwah-pendakwah baru ini dengan sengaja
m engincar kaum m uda dan perem puan di kelom pok elite”, m eng-
antarkan “pesan-pesan [kelas m enengah perkotaan] ke depan pin-
tu rum ah m ereka, ke dalam kenyam anan rum ah-rum ah m ereka,
ke klub-klub mereka, ke masjid-masjid, dan lingkungan tempat
tinggal m ereka yang m ewah” (Bayat 20 0 2a).

5 Lihat juga Thom as dan Lee (20 12) untuk koleksi kajian-kajian yang berhu-
bungan dengan budaya populer di seluruh dunia, terutam a kajian dari negara
satu ke negara lain, tak seluruhnya m elibatkan Islam di dalam nya.

6 Terinspirasi dari karya-karya sebelum nya, pada kesem patan lalu saya pernah
m endiskusikan m asalah dan daya tarik yang tak pernah lekang dari istilah
“kelas menengah” (Heryanto 1993, 1999b, 2003).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 52 Identitas dan Kenikmatan

Iran pada dekade 1990 -an dan Indonesia pada 20 0 0 -an m e-
m iliki beberapa kesam aan dan perbedaan penting yang tak m udah
ditem ukan di kebanyakan negeri berpenduduk m ayoritas Muslim .
Baik Iran m aupun Indonesia m engalam i kebingungan sebagai
dam pak dari pergeseran ideologi, dari am erikanisasi yang luas
dan mendalam—tercakup di dalamnya paparan gaya hidup dan
budaya populer Amerika—kepada tuntutan akan ketaatan pada
kem urnian agam a (sepanjang 1980 -an hingga 1990 -an di Iran, dan
1990 -an hingga 20 0 0 -an di Indonesia). Kedua negara m engalam i
perubahan besar dari m asyarakat yang gandrung kesenangan
(fun-loving society ) m enjadi m asyarakat yang diperintah oleh
“anti­fun­damentalisme” (Bayat 2007c: 435). Di sisi lain, terdapat
banyak perbedaan yang penting antara kedua negara, setidaknya
pada otoritas keagam aan yang terkait dengan kepolitikan m ereka.
Contohnya, Indonesia tidak pernah secara resm i diperintah oleh
pem erintahan Islam seperti halnya Iran. Sekalipun berkem bang
dari kekuatan dan konteks sejarah yang am at berbeda, m encatat
perbandingan ekspresi budaya populer pasca-Islam ism e di kedua
negara ini akan berm anfaat.

Dengan m enurunnya legitim asi politik kaum Islam is di Iran,
pergulatan kekuasaan baru telah muncul. Orang muda Iran sekali
lagi telah m ulai m enikm ati kegiatan yang berkaitan dengan
kesenangan dan budaya populer, bahkan dengan risiko m enerim a
hukuman berat dari lembaga sosial dan lembaga pemerintahan
yang hingga kini m asih m em egang kendali terhadap situasi
sekalipun sudah tak sekuat di masa lalu.

Dengan berakhirnya perang dan rekonstruksi pasca-perang sepan-
jang dekade 1990 -an, orang m uda m ulai secara terang-terangan
mengekspresikan diri mereka, baik secara sendiri-sendiri maupun
bersam a-sam a. Laporan-laporan m edia m em beritakan anak laki-laki
yang ketahuan m enyam ar m enjadi perem puan di jalan-jalan di kota
bagian selatan Iran. Perempuan-perempuan tomboi memakai baju

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 53

laki-laki untuk m enghindar dari pelecehan polisi m oral. Kelom pok-
kelompok anak muda ditahan karena memainkan musik dan membuat
berisik di tempat umum, sementara orang lain sedang menari di jalan
untuk upacara m enghukum diri sendiri dalam perayaan berkabung
di hari Ashura yang am at dihorm ati di Iran. Penjualan selundupan
rekam an audio dan video artis-artis Iran dalam pelarian terjadi
di jalan-jalan utam a di kota-kota besar, dan video m usik bergaya
MTV m endapatkan popularitasnya. Di segenap penjuru ibu kota,
kelom pok m usik pop underground dan rock berjaya di pesta-pesta
rahasia, di mana para remaja menikmati musik sekaligus subkultur
pem akaian celana ketat dan baggy, juga penggunaan bahasa Inggris
jalanan yang vulgar dan tato pada tubuh m ereka.

Sejum lah anak perem puan, dalam m engejar individualitas dan
hasrat memiliki pacar serta kebebasan dari pengawasan keluarga,
kabur dari rumah– jumlah mereka 60 ribu orang pada tahun 20 0 2–
dan banyak dari m ereka berakhir di kom unitas jalanan, penjara, atau
tempat-tempat penampungan.

(Bayat 20 0 7c: 440 )

Sebagaim ana sejawat m ereka yang sekuler dan non-Muslim , ge-
nerasi baru dan terdidik Muslim di seluruh dunia berharap me-
m iliki kem erdekaan dan uang yang m em ungkinkan m ereka un-
tuk m enikm ati selera kebudayaan m ereka sam bil m em elihara
kehormatan diri tanpa mengorbankan keimanan mereka. Namun
lingkungan baru di tingkat global m enyulitkan m ereka untuk
memelihara keimanan dan hubungan sosial tanpa perubahan
sam a sekali. Sedikitnya ada dua pergeseran penting yang patut
dicatat di sini: yang satu berurusan dengan pem ilik wewenang
keagam aan, dan yang lainnya adalah pada isi ketakwaan m ereka.
Izinkan saya untuk m enjelaskan keduanya satu persatu.

Di Indonesia, sebagaim ana pada m asyarakat m ayoritas
Muslim lain di Tim ur Tengah, yang m em iliki latar belakang seja-
rah berbeda, status baru orang muda Muslim telah memunculkan
kebutuhan baru di ruang-ruang politik, kebudayaan, dan juga
agam a. Di satu sisi, tipe-tipe baru Muslim ini, m ayoritas m asih

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 54 Identitas dan Kenikmatan

muda, gembira menemukan diri mereka sejajar dengan kelas
menengah lain di seluruh dunia dalam hal pendidikan, kecanggihan
budaya, kehorm atan diri, dan gengsi sem bari tetap secara khusus
m em banggakan ketakwaan beragam a m ereka. Bergantung pada
kepribadian dan situasi khusus m asing-m asing individu, ketaatan
beragama ini dapat membangkitkan berbagai macam tanggapan:
perasaan unggul secara moral bagi sebagian mereka, kerendahan
hati yang penuh percaya diri dan tercerahkan, dan m ungkin
sesuatu yang berada di antara kedua titik ekstrem tersebut, atau
sebuah sikap yang beralih-alih antara perasaan keunggulan m oral
dan kerendahan hati. Yang terpenting adalah: ketaatan beragam a
yang terpelihara dengan baik m em ungkinkan m ereka dengan
bangga mempertahankan perasaan bahwa mereka berbeda dari
warga negara global lain. Di sisi lain, status baru ini berm anfaat
untuk menjaga jarak antara mereka dan saudara sebangsa dan
seim an yang kurang beruntung. Kelom pok yang belakangan ini,
kerap mereka wakili dan mereka bela dari ancaman-ancaman
luar berupa kekuatan—nyata maupun rekaan—anti­Islam (orang­
orang kair, kekuatan “Barat”, atau kaum bidah). Menikmati yang
terbaik dari kedua dunia yang dihasilkan oleh status seperti ini
sebenarnya sulit. Secara um um banyak dari kaum Muslim kaya
baru ini secara terang-terangan m enam pilkan hasrat yang besar
terhadap hal-hal yang berkilauan dari dunia kapitalism e industrial
yang tidak islam i, baik yang berasal dari Asia m aupun dari Barat.
Karenanya, m ereka harus m engatasi pertentangan yang m uncul
dari aspirasi untuk m enikm ati kenyam anan dan gengsi yang
ditawarkan oleh budaya konsum en kapitalism e m odern dan
integritas m oral (setidaknya atribut yang tam pak oleh publik)
seorang religius yang bisa m enjadi pem benaran bagi kenyam anan
dan gengsi yang m ereka peroleh tersebut. Kebutuhan baru ini
tumbuh dengan cepat, tapi sebagian besar tetap tak terpenuhi
sebelum hadirnya pendakwah generasi baru.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 55

Pendakwah baru ini merupakan temuan mutakhir. Selama
berabad-abad sebelum nya, para pendakwah dan ulam a m encapai
kewenangan dan wibawa mereka dengan mengabdikan diri
bertahun-tahun m engaji secara m endalam . Sebaliknya, generasi
pendakwah baru yang merupakan igur­igur religius mentereng
tidak dihasilkan oleh pendidikan keagam aan form al yang ber-
langsung selam a bertahun-tahun. Kebanyakan dari m ereka sam a
sekali tak berlatar belakang pendidikan agama. Modal utama
m ereka adalah keteram pilan kom unikasi yang hebat, keunggulan
dalam bicara di depan umum, dan penggunaan media baru. Di
mata para pendengar mereka, pendakwah baru ini memiliki
penampilan bak bintang musik rock. Mereka memperlihatkan
tren terbaru dan terkeren dalam pidato, pakaian, dan potongan
rambut mereka. Mereka memuaskan kebutuhan generasi baru,
terutam a orang-orang kaya “yang telah belajar m engam bil jalan
pintas dalam mencari ilmu, atau belajar untuk menjadi murid
yang patuh” (Bayat 20 0 2a). Tak m engherankan, sem entara para
pendakwah keren ini menjangkau dengan tepat generasi muda,
kaum kaya baru, dan para pendam ba kekayaan, popularitas
mendadak mereka telah menjadi tantangan langsung bagi para
pem im pin agam a tradisional yang otoritasnya juga m endapat
ancam an dari dem okratisasi agam a yang terjadi belakangan ini
(lihat Mardani 20 12).

Di Indonesia dan di berbagai tempat lain, para pendakwah
tradisional m elakukan apa yang selam a ini dilakukan oleh pen-
dakwah generasi sebelum nya: bertutur secara serius tentang
dogma, menawarkan nasihat berdasarkan kitab suci, serta mene-
kankan pesan mereka pada kewajiban dan kepatuhan dari para
pendengar. Sebaliknya, para pendakwah baru bicara secara ber-
semangat dalam bahasa sehari­hari—menggunakan frasa yang
sederhana dan menarik, terkadang dengan humor dan lawakan
yang mengejek diri sendiri—untuk menawarkan nasihat­nasihat

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 56 Identitas dan Kenikmatan

pendek dan praktis untuk menjawab beragam persoalan sehari-
hari yang dihadapi oleh para pendengar. Hal-hal yang berkaitan
dengan studi, pacaran, diet, kosmetik, pakaian, hiburan, hubungan
orangtua dengan anak, pengelolaan keuangan pribadi, pekerjaan,
hubungan kerja di kantor menjadi topik pokok dakwah mereka.
Mereka m enggunakan teknologi kom unikasi terbaru yang sangat
diakrabi oleh generasi muda dan kaum berada. Di Iran, menurut
sebuah survei, peningkatan popularitas pendakwah televisi sejalan
dengan cara-cara orang menghabiskan waktu luang, di mana
“lebih dari 83 persen orang muda menghabiskan waktu luang di
depan TV, tapi hanya 5 persen dari m ereka yang m enonton acara
keagam aan; dari 58 persen yang m em baca buku, kurang dari 6
persen yang tertarik pada literatur keagam aan” (Bayat 1996: 50 ).
Di Indonesia kini, 55 persen dari pengguna internet berusia antara
15 hingga 19 tahun, dan 70 persen dari m ereka m enggunakan
Facebook (Tem po 20 12a), m enjadikan Indonesia sebagai pusat
jejaring sosial kedua terbesar di dunia (lihat Bab 1). Menurut satu
laporan pada tahun 20 12, Indonesia m erupakan pusat pengguna
Facebook terbesar kedua di dunia (Burcher 20 12). Masalah-
masalah keagamaan mendominasi segala bentuk media sosial di
Indonesia saat ini.

Sebuah pergeseran lain yang m asih terkait dapat dilihat pada
pesan dom inan dakwah baru ini, yaitu penekanan pada hak-
hak pribadi dan urusan personal. Di Tim ur Tengah, “[t]erdapat
pergeseran yang jelas dari fokus sebelum nya yaitu kelem bagaan
politik Islam kepada kesalehan personal dan etika; dari konstituen
yang berpusat pada kelas m enengah yang dilem ahkan kepa-
da para pengikut yang lebih terfragm entasi, term asuk kaum
berpunya” (Bayat 2002a). Kritikus ilm Indonesia Eric Sasono
mengidentiikasi orientasi personal sebagai karakter terpenting
muatan ilm­ilm bertema islami di Indonesia masa kini. Eric
mencatat bahwa ilm­ilm bertema islami sebelum tren terkini

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 57

pada tahun 20 0 0 -an m enghadirkan tokoh utam a yang serupa yaitu

m enginginkan dunia m enjadi tem pat yang lebih baik, terutam a

bagi kaum yang kurang beruntung, dengan cara berkonfrontasi

dengan m asalah-m asalah yang dihadapi oleh m asyarakat secara

um um . Sebaliknya di Indonesia.

Hampir semua ilm­ilm bertema islami pada masa pasca­Soeharto
menganggap capaian pribadi sebagai perwujudan dari ketakwaan.
Capaian pribadi ini dalam beberapa ilm berarti kemakmuran
ekonom i, sem entara pada yang lainnya berm akna pendidikan yang
lebih tinggi (yang juga m enjadi alat bagi peningkatan kehidupan
ekonom i). Seberapa pun kuatnya ikatan kebersam aan dan persa-
habatan yang menjadi latar belakang karakter­karakter dalam ilm,
tujuan terpenting m ereka adalah untuk m encapai pendidikan yang
lebih tinggi atau m enjadi kaya.

(Sasono 20 10 : 57)

Harus diakui bahwa uraian di atas adalah sebuah penggambaran
yang agak kasaran, berfokus pada beberapa aspek paling m en-
colok praktik-praktik dan situasi-situasi yang teram at kom pleks.
Sekalipun berfokus pada kelas m enengah, aspirasi terhadap
gaya hidup bertakwa yang trendi ini tak terbatas pada kaum
berpunya dan orang kaya perkotaan. Penting untuk dicatat bahwa
ketakwaan baru ini adalah kekuatan apolitis yang berada jauh di
luar batas konsum si hedonistik, yang kerap direm ehkan dalam
liputan media dan kajian akademis.

POLITIK ISLAMIS, KEBU D AYAAN POST-ISLAMIS
Sesudah m engusulkan sejum lah ciri yang dim iliki bersam a oleh
Islam di Indonesia dan Timur Tengah, kita sekarang berpaling
kepada perbedaan Indonesia dengan negara-negara berpenduduk
m ayoritas Muslim lainnya. Untuk itu, kita perlu kem bali kepada
konsepsi Bayat tentang post-Islam ism e: apa artinya, bagaim ana
terbentuknya, dan kem ungkinan apa yang bisa dicapai dalam

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 58 Identitas dan Kenikmatan

satu atau dua dekade ke depan dalam sebuah konteks sosial
tertentu. Sekalipun teori Bayat tidak sepenuhnya siap diterapkan
di Indonesia (ia m alah beranggapan teorinya tidak bisa begitu saja
diterapkan di sini), saya berpendapat bahwa dengan beberapa
penyesuaian dan perubahan, yang bahkan m ungkin tak pernah
dibayangkan oleh Bayat sendiri, konsepnya bisa berguna untuk
m enganalisa kasus di Indonesia. Guna m em pertahankan fokus bab
ini pada kebudayaan populer di Indonesia kontem porer (bukan
pada islam isasi secara um um ) dan m engingat rum itnya topik ini,
hanya garis besar saja dari wawasan Bayat, dalam rum usan paling
sederhana, yang akan diusahakan di sini. Mudah-m udahan ini
memadai sebagai latar belakang minimum bagi diskusi mengenai
masalah utama bab ini.

Budaya populer tak tam pil secara m encolok dalam diskusi
Bayat yang beragam tentang ‘post-Islam ism e’, yang kini m enjadi
bahan diskusi yang luas di kalangan akadem isi yang m eneliti politik
Islam .7 Pandangannya tentang ketakwaan post-Islam is dihasilkan

7 Karya Bayat memiliki dampak utama pada kajian kontemporer mengenai Timur
Tengah dan politik Islam secara lebih luas, terutama di Eropa, sekalipun sempat
disalahpahami. Ahli lain yang juga terkenal dalam ‘post-Islamisme’ di Timur
Tengah adalah Oliver Roy. Yang mengejutkan, sedikit sekali terdapat referensi
silang dalam karya kedua penulis ini sekalipun terdapat kesamaan mereka pada
minat dan penggunaan konsep utama. Saya memilih untuk berfokus pada karya
Bayat ketimbang Roy karena karya Bayat lebih berhubungan langsung dengan
analisa saya ini. Karya Bayat lebih berfokus pada post-Islamisme sebagai konsep
teoretis ketimbang sebagai analisa umum tentang perubahan politik dan proses
demokratisasi di Timur Tengah. Tak seperti Roy, Bayat meluaskan perspektif
post-Islamismenya ke area budaya populer. Satu faktor penting lain adalah,
karya Bayat aslinya berbahasa Inggris, sementara karya Roy berbahasa Prancis
dan hanya bisa saya akses melalui terjemahannya.
Di Indonesia, karya Bayat telah m enarik perhatian beberapa ahli, seka-
lipun tidak terlalu m engem uka. Sebelum terjem ahan karyanya, Making Islam
Dem ocratic: Social Movem ent and the Post-Islam ist Turn (Bayat 20 0 7b) di-
edarkan pada tahun 20 11 oleh lem baga swadaya m asyarakat yang berpusat di
Yogyakarta, LKiS, sedikit ahli yang sudah m engutip Bayat (m isalnya Kahar
20 11; Pontoh 20 11) dan satu sem inar sehari diselenggarakan di Universitas
Indonesia pada tanggal 14 Novem ber 20 11 dengan tem a “Post-Islam ism e:
Islam ism e Dem okratis”.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 59

dari penelitiannya yang berfokus pada perubahan-perubahan
politik di Timur Tengah dan negara-negara lain berpenduduk
Muslim dalam jum lah besar, tetapi wawasannya tentang post-
Islam ism e secara keseluruhan dan kom entar singkatnya tentang
budaya populer Islam berm anfaat untuk diskusi di sini. Yang
dim aksud dengan ‘post-Islam ism e’ oleh Bayat adalah sebuah
kondisi dan sebuah proy ek. Kondisi post-Islam ism e “m engacu
kepada kondisi sosial dan politik di mana—sesudah sebuah fase
eksperimentasi—daya tarik, energi, dan sumber daya Islamisme
telah terkuras habis, bahkan bagi para pengikutnya yang tadinya
bersem angat” (Bayat 20 0 2b). Dalam m enanggapi kondisi terse-
but, um at terlibat dalam proy ek post-Islam ism e yang “tidak anti-
Islam , tak juga non-islam i, dan tidak juga sekuler” (Bayat 20 0 7a).
Mela in ka n ,

Mewakili sebuah upaya untuk m enyatukan religiusitas dan hak-hak,
keim anan dan kebebasan, Islam dan kem erdekaan…m enekankan
hak daripada kewajiban, keragaman sebagai pengganti suara otoritas
yang tunggal, kesejarahan ketim bang teks keagam aan, serta m asa
depan ketim bang m asa lalu. Proyek ini ingin m engawinkan antara
pilihan individu dan kebebasan, antara dem okrasi dan m odernitas.

(Bayat 20 0 2b)

Untuk m enim bang gagasan Bayat ini, kita perlu m em perhi-
tungkan fakta-fakta em piris kasus-kasus yang berfungsi m enjadi
dasar bagi gagasannya, sekaligus m enjadi pokok-pokok penjelasan
yang ia tawarkan. Konsep Bayat m engenai Islam ism e tum buh dari
pengam atannya terhadap negara Turki (sebelum kem unculan
gerakan demokrasi pada pertengahan 2013) dan Iran, di m ana
satu periode pemerintahan Islam berujung pada ketidakpuasan,
kerisauan, dan kekecewaan di kalangan pengikutnya, bahkan
di antara m ereka yang tadinya m endukung kepolitikan islam is.
Konsep post-Islam ism e tidak diartikan Bayat berim plikasi pada
berakhirnya “agenda politik islam is”, dan tak juga dim aksudkan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 60 Identitas dan Kenikmatan

untuk mengidentiikasi sebuah fase historis dalam pengertian
yang m ekanis dan determ inistik. Malahan Bayat m enyatakan,
“Dalam kenyataannya kita dapat m enyaksikan proses yang terjadi
secara bersam aan dari islam isasi dan post-islam isasi” (20 0 7a:
20 ). Proses-proses yang bersam aan dan saling bertentangan ini
sedang berlangsung di Indonesia masa kini dan beberapa negara
berpenduduk m ayoritas Muslim .

Post-Islam ism e pada dasarnya m erupakan kategori analitis
ketim bang deskriptif dan penerapannya ke m asyarakat-m asya-
rakat tertentu bukannya tanpa keterbatasan.8 Ahli-ahli lain telah
meneliti dengan lebih rinci mengenai kompleksitas kecenderungan
post-Islam ism e di dua negara yang m enjadi acuan utam a Bayat,
dengan hasil yang m em perlihatkan bahwa post-Islam ism e tak
selalu menjadi obat jika masalah Islamisme dianggap sebagai
sem acam penyakit. Dalam kajian m engenai Turki sebelum gerakan
demokrasi 2013, Ihsan Yilm az m enem ukan sebuah gerakan yang
lebih baru dan lebih menjanjikan ketimbang post-Islamisme
(20 11) sem entara Mojtaba Mahdavi mengidentiikasi setidaknya
tiga arus utam a yang saling berkom petisi dalam pasca-Islam ism e
di Iran sekarang ini (20 11).

Secara konseptual, post-Islamisme tak dapat dianggap terpi-
sah sama sekali dari Islamisme. Sebagaimana kita tahu, berbagai
deinisi mengenai Islamisme diperdebatkan seru; debat itu tak
perlu kita ulas-ulang di dalam ruang terbatas buku ini (lihat Yilm az
20 11: 247-9 untuk ringkasan debat tersebut). Untuk keperluan
penjelasan yang ringkas, saya m engadopsi perum usan sederhana
Islam ism e yang banyak digunakan di Indonesia dan sesuai de-
ngan penggunaan istilah ini oleh para ahli, yaitu: gerakan-ge-

8 Pada beberapa karya belakangan tentang Islam dan politik di Indonesia,
istilah “post-Islam ism e” telah m uncul, tetapi hanya selintas (terkadang dalam
separuh kalim at), dengan pengertian yang sering bersikap m erendahkan,
m isalnya pada karya Pintak dan Setiyono (20 11), dan Tom sa (20 12).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 61

rakan sosial yang m enyerukan dan m em aksim alkan penerapan
ajaran Islam (sebagaim ana dipaham i oleh para pendukungnya)
seluas mungkin dalam kehidupan publik, termasuk tetapi tak ter-
batas pada, pengadopsian secara resmi dan penegakkan hukum
syariah sebagai dasar pem erintahan di sebuah negara-bangsa. Ke-
bangkitan gerakan-gerakan ini dan adopsi gagasannya berbeda-
beda tergantung pada konteks ruang dan waktu. Berbagai bentuk
Islamisme memiliki sedikit persamaan dalam beberapa hal:

Islamisme muncul sebagai bahasa guna mengungkapkan rasa per-
caya diri sendiri, untuk m em obilisasi kelom pok kelas m enengah
yang beram bisi, yang m erasa dipinggirkan oleh proses-proses do-
m inan ekonom i, politik, dan budaya dalam m asyarakat m ereka, dan
bagi mereka kegagalan modernitas kapitalisme dan utopia sosialisme
membuka peluang wacana moralitas (agama) sebagai pengganti
kendaraan berpolitik.

(Bayat 20 0 7a: 14)

Menurut Bayat, pada awal dekade 1950 -an dan 1960 -an, di ba-
nyak tem pat di Tim ur Tengah, “Gerakan Islam is selam a tiga de-
kade telah berhasil m engaktifkan sebagian besar anggota m asya-
rakat yang kecewa dengan apa yang [oleh Bayat] disebut islam -
isasi m urahan, yaitu, dengan kem bali kepada bahasa m oral dan
kem urnian budaya” (20 0 7a: 16). Kadang gerakan-gerakan ini
menggabungkan ideologi keagamaan dengan ideologi nasionalis
dan sosialis yang kuat untuk m elawan dom inasi Barat. Nam un,
selam a tiga dekade proyek ini, banyak gerakan yang m enem ui
jalan buntu setelah terus m enerus gagal untuk m enyam paikan
“islam isasi yang lebih m ahal, yaitu, m endirikan lem baga politik
dan ekonom i Islam serta m enyelenggarakan hubungan interna-
sional yang cocok dengan nasionalism e m odern dan kewarga-
negaraan global” (Bayat 20 0 7a: 16). Sebagai hasilnya, “Pem e-
rintahan Islamis menghadapi krisis mendalam di mana pun ga-
gasan itu dijalankan (di Iran, Sudan, dan Pakistan); dan strategi

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 62 Identitas dan Kenikmatan

dengan kekerasan serta perjuangan bersenjata, yang diadopsi oleh
kelompok Islamis radikal, telah gagal menciptakan perkembangan
yang berarti (seperti di Iran dan Aljazair)” (Bayat 20 0 7a: 16). Krisis
seperti ini m enciptakan kondisi yang m engarah kepada kebang-
kitan pem ikiran dan aspirasi baru yang disebut oleh Bayat sebagai
“post-Islam ism e”.

Sebelum beranjak maju dengan diskusi soal ini, penting un-
tuk dicatat bahwa tak ada keniscayaan yang diusulkan dalam
pandangan di atas. Satu perkem bangan politik (“kondisi”) tidak
harus m engikuti yang lainnya (satu tanggapan tertentu atau
“proyek”). Kebangkitan pem erintahan Islam bisa diikuti dengan
krisis internal yang dibuatnya sendiri, sebagaim ana diperlihat-
kan di Iran, bisa juga tidak. Ketika krisis terjadi, tak ada jam inan
bahwa kekuatan-kekuatan antusias post-Islamisme secara oto-
matis muncul.9 Sebagaimana terdapat lebih dari satu macam
pemerintahan Islamis, maka bisa juga terdapat lebih dari satu
bentuk tanggapan post-Islam is dari pem erintahan tersebut. Karya
Bayat dan ahli-ahli lain yang dibangun berdasar argum en ini telah
memperlihatkan keragaman di antara berbagai kasus di berbagai
negara di m ana terdapat gerakan-gerakan Islam is. “Di beberapa
negara (seperti Iran dan Turki), post-Islamisme telah bangkit
sebagai gerakan sosial yang populer, di tem pat lain (seperti Arab
Saudi dan Mesir), jangkauan dan pengaruh sosialnya terbatas”
(Am in 20 10 : 242). Kajian Husnal Am in juga m enem ukan absen-
nya kekuatan post-Islam ism e yang berarti di Pakistan. Yilm az
(20 11) m em perlihatkan bagaim ana gerakan-gerakan baru di
Turki telah m engam bil langkah berikutnya m eninggalkan m odel
post-Islam ism e dunia, dan m enjadi lebih bersifat sekuler dan
kosm opolitan (“m elam paui post-Islam ism e”), dan protes yang

9 Dalam membandingkan konsep Islamisme dan post-Islamisme, tak ada gagas-
an bahwa yang satu lebih bersifat politik atau secara moral lebih progresif ketim-
bang yang lain. Penilaian seperti itu tidak relevan dengan analisis saya di sini.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 63

terjadi di jalan­jalan di Turki pada pertengahan 2013 tampak­
nya m enawarkan gagasan segar ke arah penelitian lebih jauh m e-
ngenai soal ini. Menurut Yilm az, perkem bangan ini adalah akibat
gerakan pendidikan Fethullah Güllen yang sukses selam a em pat
dekade terakhir, yang berkem bang di seluruh benua serta m en-
dapat sambutan hangat di Indonesia.

Dengan sikap berhati-hati dan menahan diri untuk tidak
terburu melakukan generalisasi dan melebarkan konsep post-
Islam ism e ini ke negara-negara seperti Malaysia dan Indonesia,
Bayat (20 0 9) m enyatakan bahwa analisanya hanya relevan
untuk kawasan Timur Tengah. Sambil menghargai kewaspadaan
seperti itu, saya tetap berpendapat bahwa kerangka teori tersebut
berguna untuk diterapkan kepada analisa kasus Indonesia de-
ngan beberapa modiikasi dan penyesuaian. Menurut saya, per­
lu dibedakan antara post-Islam ism e yang politis, yang berhu-
bungan dengan pem erintahan secara resm i pada tingkat ne-
gara—yang menjadi perhatian utama penelitian Bayat—dengan
post-Islam ism e yang bersifat kultural, yang m encakup baik bu-
daya tinggi elite intelektual m aupun budaya rendah yang m e-
nem ukan ekspresinya pada hiburan dan gaya hidup populer se-
hari-hari, yang m erupakan fokus kajian ini. Tentu saja, sebagai-
mana diperlihatkan oleh keseluruhan buku ini, pembedaan ini
tidak m em bantah bahwa yang politis dan yang kultural itu tak
terpisahkan. Sekalipun Indonesia tidak pernah berada di bawah
pemerintahan Islam, dengan melihat pemerintah daerah di bebe-
rapa wilayah serta beberapa kasus berm otif politik di tingkat
nasional, bisa disimpulkan terdapat peningkatan dukungan bagi
retorika dan regulasi berorientasi Islamisme. Namun demikian,
proses tersebut tam paknya tidak akan m encapai pem erintahan
Islamis resmi semata-mata. Sementara situasi di Indonesia jauh
berbeda dengan Pakistan, kecenderungan politik di Indonesia yang
m em buat banyak pihak khawatir telah m em buat situasi Pakistan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 64 Identitas dan Kenikmatan

lebih relevan dengan diskusi tentang islam isasi di Indonesia serta
kurangnya toleransi antar­agama (Aiyar 2013; Roger 2011).

Sem entara itu secara kultural, post-Islam ism e gaya Indone-
sia telah berkembang pesat, dengan popularitas para pendakwah
televisi hanya sebagian darinya. Dengan m em aham i perbedaan
lokal yang spesiik, saya berpendapat bahwa konsep Bayat ten­
tang Islam ism e dan post-Islam ism e berm anfaat untuk analisa
kecenderungan m utakhir di Indonesia. Konsep-konsepnya m enje-
laskan watak perdebatan hangat yang terjadi di pusat perpolitikan
nasional, yang diiringi dengan insiden berdarah, yang sebagian
di antaranya dipicu, dikom entari, dan ditam pilkan dalam produk
budaya populer m utakhir di Indonesia. Untuk saat ini, cukup
disebut kontroversi m engenai penerapan undang-undang anti-
pornograi tahun 2008 dan penerbitan majalah Play boy edisi
Indonesia pada tahun 20 0 6 sebagai contoh fenom ena ini yang
telah didokum entasikan dengan baik (lihat Allen 20 0 7; Heryanto
20 11: 69-70 ; Kitley 20 0 8; lihat Bab 2). Dalam kedua kasus
tersebut, kelom pok konservatif bangsa Indonesia m arah pada
upaya saudara sebangsa m ereka untuk m em perluas kebebasan
pers, juga pada ekspresi kultural dan artistik yang tak m elulu
m enyesuaikan diri dengan standar norm a Islam dan ketertiban.
Dalam kedua kasus, bentrokan dengan kekerasan terjadi di
ruang publik m enyusul ungkapan protes dan protes tandingan.
Sementara sulit untuk memperkirakan bagaimana konlik ini
akan m enem ukan penyelesaian akhir, pem aham an terhadap sifat
konlik amat penting bagi kita untuk dapat berspekulasi, dalam
pengertian luas, m engenai garis batas sebuah penyelesaian yang
bisa secara efektif mengakhiri konlik atau mendorongnya menuju
sebuah fase yang berbeda.

Tak seperti yang ditem ukan Bayat di Tim ur Tengah, ketak-
waan post-Islamisme di Indonesia tak berkembang dari krisis
yang dihasilkan oleh pem erintahan Islam yang kehabisan te-

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 65

naga. Malahan, ketakwaan post-Islam ism e (atau sesuatu yang
m irip dengan kondisi yang digam barkan Bayat) telah m enjadi
kecenderungan kultural dan moral di seluruh Indonesia bahkan
sebelum adanya pem erintahan Islam is, atau partai politik Islam is
menjadi kekuatan dominan dalam kehidupan bernegara. Perha-
tian utam a kita adalah pada “kondisi” dan “proyek” atau aspirasi-
aspirasi yang dapat diperbandingkan, bukan pada faktor-faktor
penyebab, atau istilah yang sam a persis untuk m enam ai kondisi-
kondisi dan aspirasi-aspirasi tersebut. Ketakwaan yang serupa
dengan “post-Islam ism e” di Indonesia justru bertum buh dari
kebangkrutan tindakan-tindakan represif rezim otoritarian Orde
Baru yang sekuler. Dengan dem ikian, m ungkin istilah “ketakwaan
post-sekularis” (Khalid 20 12) dapat dipertim bangkan sebagai
pengganti untuk istilah “post-Islam ism e” Bayat. Masalahnya, saya
enggan m enggunakan istilah “ketakwaan post-sekularis” karena
Bayat telah m enjelaskan bahwa kita sedang berbicara tentang
orang-orang yang “tidak anti-Islam , bukan non-islam i dan bukan
juga sekuler” (20 0 7a: 19). Apa pun istilah yang dipilih, ketakwa-
an religius populer di Indonesia mengartikulasikan komitmen
berlandaskan m oral untuk m engoreksi m odernisasi yang terjadi
di bawah Orde Baru, tapi juga sebentuk penolakan terhadap ga-
gasan utopia Islam yang berlandaskan syariah. Orang-orang yang
mengadopsi ketakwaan seperti ini tidak pernah memberikan ke-
percayaan m ereka sepenuhnya secara berlebihan terhadap partai
politik Islam dalam pemilihan umum, dan ini mendorong partai-
partai itu untuk meninggalkan dogma-dogma dan retorika asli
m ereka.10

10 Untuk sebuah perbandingan dengan perform a partai politik berbasis Islam di
Turki (Partai Keadilan dan Pem bangunan [Adalet ve Kalkinm a Partisi, atau
AKP]) dan di Indonesia (Partai Keadilan Sejahtera atau PKS), lihat Hadiz
(20 11). Untuk tinjauan um um bagaim ana partai-partai politik bersaing dengan
partai-partai lain di tanah air m ereka, lihat Buehler (20 0 9a).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 66 Identitas dan Kenikmatan

Masalahnya jadi tam bah rum it karena partai-partai politik
besar yang konstituen utam anya bukan berdasarkan agam a juga
turut m engam bil retorika islam i dan m enggunakannya untuk
meningkatkan kekuatan politik mereka. Sekalipun kekuatan-ke-
kuatan pendukung Islamisme memiliki sejarah panjang di Indo-
nesia, mereka pertama kali merasakan kekuasaan lewat meka-
nism e form al yang terlegitim asi dalam kehidupan bernegara baru
pada dekade 1990 -an. Sebagaim ana disebutkan sebelum nya, ke-
tika itu Soeharto, penguasa Orde Baru, secara drastis berputar-
haluan dengan tiba-tiba m engundang banyak pem im pin Islam
dari berbagai spektrum politik untuk ikut menikmati kekuasaan
negara dalam upaya terakhirnya untuk m enyelam atkan rezim nya
yang sedang sekarat. Tak seluruh pem im pin dan kelom pok Islam
m enerim a rayuan itu. Alm arhum Abdurrahm an Wahid m enjadi
penentang utama politisasi agama. Pada awal 20 0 0 -an, menjadi
jelas bahwa m enguatnya Islam , term asuk Islam ism e, telah m e-
lam paui Soeharto, rezim Orde Baru, dan pem erintahan sem entara
di bawah B.J . Habibie. Habibie m eneruskan upaya pendahulunya
m em anfaatkan Islam untuk tujuan politiknya, term asuk m ela-
kukan perekrutan m assal m ilisi-m ilisi Islam is yang baru dibentuk.

Sem entara banyak orang di Iran dan Turki yang m erasa jenuh
dengan Islam ism e, dan kejenuhan itu m endorong bangkitnya
post-Islamisme, bagi kaum Islamis Indonesia, dekade pertama
abad ini m erupakan m usim sem i yang gem ilang. Dengan berbagi
sedikit jatah kendali kekuasaan negara dengan partai-partai po-
litik tak berbasis agama, mereka menikmati sebuah masa bulan
madu. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena partai-partai
politik Islamis terus menerus kalah dalam pemilihan umum, me-
m aksa m ereka m enghadapi kenyataan kondisi politik di Indo-
nesia. Para pemain kunci dan analis dalam politik Indonesia ter-
lalu m enganggap rendah daya tahan dan keteram pilan politik para
bekas pejabat di m asa Soeharto, yang berhasil m engam bil alih

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 67

kem bali kekuasaan negara dengan m elakukan m anuver, m engo-
optasi, atau m em inggirkan partai-partai politik Islam is yang lebih
konsisten, serta elem en yang progresif dari m asyarakat sipil, yang
telah berjasa dalam m enum bangkan Orde Baru. Banyak para
pejabat dari partai penguasa Orde Baru (Partai Golkar) dan partai
oposisi yang sekuler (Partai Dem okrasi Indonesia-Perjuangan)
kini mendominasi parlemen nasional dan pemerintahan daerah.
Tanpa banyak sum ber daya ideologis untuk m em bangun legiti-
m asi politis dan m oral dalam situasi pasca-Orde Baru (atau era
islam isasi), banyak elite politik, baik secara individu m aupun
kolektif, dan kadang tanpa instruksi resm i dari partai, ikut-ikutan
m em anfaatkan retorika politik Islam untuk m engejar kepentingan
politik dan bisnis m ereka sendiri. Para politisi Orde Baru inilah,
dan bukan rekan m ereka dari partai politik Islam is, yang paling
bertanggung jawab atas diresm ikannya perda syariah di beberapa
daerah di luar Daerah Istim ewa Aceh (Buehler 20 11).

Taktik tersebut berhasil karena terjadi aliansi antara politisi
daerah yang oportunis dan prem an terorganisir serta kelom pok
m ilisi yang telah m enjadi yatim piatu politik sejak kejatuhan
pengayom m ereka, yakni rezim Orde Baru. Dalam banyak peris-
tiwa, adopsi hukum syariah ini bersifat sim bolis, tanpa penegakan
yang serius dan konsisten di sisi pem erintah daerah. Lem ahnya
penegakan hukum ini telah m em buat frustrasi kelom pok Islam is
yang lebih aktif dan telah m endorong kelom pok-kelom pok ini
untuk m ain hakim sendiri. Beberapa anggota dari kelom pok yang
sama, atau kelompok Islamis lain, dilaporkan telah mengambil
m anfaat dari situasi ini untuk m elakukan pem erasan dengan dalih
perlindungan. Kelom pok-kelom pok m ilisi ini kerap tam pil sebagai
Muslim yang taat, m engum andangkan teriakan-teriakan islam i,
sembari secara isik menyerang atau memeras korban atau musuh
politik patron baru m ereka (lihat Buehler 20 11; Ryter 20 0 5, 20 0 9;
Wilson 20 0 8).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 68 Identitas dan Kenikmatan

MENATAP KE DEPAN
Sedikitnya dua ironi m enandai politik Islam is di Indonesia. Per-
tama, kekuatan-kekuatan politik Islamis di Indonesia mulai ber-
kembang pada saat rekan mereka di beberapa negara berpenduduk
m ayoritas Muslim lain (m isalnya Iran, Turki, dan kem ungkinan
besar Mesir) m ulai m engalam i krisis serius. Karena budaya populer,
khususnya budaya layar, m erupakan fokus buku ini, patut dicatat
bahwa gelombang post-Islamisme di Iran berjalan beriringan
dengan kebangkitan ilm­ilm mereka di arena internasional dan
m endapat penghargaan dari para kritikus. Kedua, Islam ism e di
Indonesia sem pat m enikm ati periode legitim asi form al dalam
kehidupan bernegara berkat tindakan para politisi sekuler, yang
tidak m em perlihatkan pengabdian yang berbobot dan m eyakinkan
terhadap agenda-agenda keagamaan. Sementara itu, beberapa
partai Islam yang sejak sem ula beraspirasi untuk m engejar cita-
cita politik Islam, telah terpinggirkan sesudah berkali-kali gagal
meraih suara yang signiikan dalam pemilu. Kelompok Islamis
yang lebih kecil berhasil selam at dan tetap m engejar agenda poli-
tik Islam is. Dari waktu ke waktu sayap param iliter kelom pok yang
tak penting ini menjadi bahan pemberitaan karena tindakan keke-
rasan m ereka, nam un tak ada dari m ereka yang berhasil m em -
buat dampak berjangka panjang. Sekalipun demikian, ada ironi
lain, kelom pok inilah yang m endapat perhatian m edia Barat lan-
taran sikap politik m ereka yang eksklusif, yang m engipas dan
m ereproduksi kepanikan dunia internasional atas segala yang
dianggap ancam an berbasis agam a terhadap Barat dan kekerasan
oleh ‘liyan’. Hal ini patut disesalkan, karena gam baran lebih besar
dari dinamika kultural dan politik di negara-negara berpenduduk
m ayoritas Muslim yang tak sesuai dengan stereotip seperti itu
kurang m endapat perhatian yang sepantasnya.

Sulit untuk diketahui bagaim ana kelak penyelesaian atas ke-
tegangan yang terjadi antara kekuatan kelom pok post-Islam ism e/

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 69

ketakwaan post-sekulerisme dan kelompok Islamis ultra konser-
vatif yang disponsori negara. Kita hanya dapat m enduga-duga
dalam kerangka yang lebih luas m engenai bentuk penyelesaian
yang tak akan terjadi. Mengingat bahwa konlik yang terjadi se­
cara fundam ental bukan m erupakan persoalan agam a, m elainkan
persoalan politik, kemakmuran, dan moralitas, maka kemungkin-
an besar faktor-faktor non-religius akan m enentukan bagaim a-
na konlik tersebut akan terselesaikan. Fakta bahwa elite politik
bersedia menggunakan Islam untuk keuntungan politik jangka
pendek m ereka juga m em perlihatkan sifat oportunis m ereka, dan
mengimplikasikan bahwa akan mudah bagi mereka untuk me-
nanggalkan bendera Islam dan mengadopsi simbol berbeda ketika
situasi baru menuntut demikian.

Dengan kondisi di atas, upaya untuk m em aham i dengan lebih
baik konlik atau perkiraan penyelesaian persoalan, menuntut
kita untuk memahami lebih jauh ketimbang sekadar pembacaan
teologis dan teks-teks keagam aan, ataupun analisis yang terlalu
berfokus kepada lem baga-lem baga politik form al dan para anggota
elite politik. Perhatian yang lebih serius harus diarahkan kepada
budaya populer dan bagaim ana itu terjelm a dalam kehidupan dan
im ajinasi sehari-hari jutaan orang, khususnya orang m uda dan
kaum perem puan, yang kurang terwakili dalam politik. Baik dalam
Musim Sem i Arab pada tahun 20 11 m aupun di Indonesia sejak
1998, orang m uda dan perem puan m em ainkan peran am at penting
dalam m enggugat status quo yang didom inasi oleh kaum ortodoks
Islam is dan diujungtom baki oleh sebuah gerakan yang m em iliki
tujuan post-islamisasi. J uga patut untuk dicatat bahwa sekalipun
Bayat m enyam but kekuatan post-Islam ism e dalam ranah politik
sebagai kekuatan progresif dalam pem bentukan m asyarakat sipil,
ia tak terlalu berharap pada dampak ketakwaan post-Islamisme
pada budaya populer. Oleh karena (dan bukan walaupun) berki-
blat pada kelas m enengah yang konservatif dan egois, ketakwaan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 70 Identitas dan Kenikmatan

post-Islam ism e di Indonesia telah m enjadi kekuatan yang penting
yang m enghalangi dan m em perlam bat tekanan dari kelom pok
m ilitan Islam is yang m em iliki “kecenderungan untuk m erayakan
‘kem atian m ulia’ atau m elakukan pengorbanan… pem usnahan
diri sendiri dan sem ua ‘liyan’ atas nam a tujuan-tujuan yang lebih
tinggi” (Bayat 2007c: 483), baik itu berdasarkan keyakinan agama
ataupun lainnya.

Indonesia m em iliki sejarah panjang ‘politik jalanan’ dan ‘ke-
kuatan rakyat’ (people pow er) serta berkelim pahan dengan kisah
rom antis seputar kom itm en yang tak m em entingkan diri sendiri
dan kekuatan gerakan semacam itu (lihat Heryanto 2003). Pada
kenyataannya, kem unculan pem berontakan m assa ini kerap
bersifat spontan, tak disengaja, dan tergantung pada kehadiran
faktor-faktor tertentu (lihat Heryanto 20 10 a). Mereka pada
um um nya m erupakan reaksi atas krisis berkepanjangan yang tak
bisa dikendalikan sepenuhnya hanya oleh satu pihak. J ika ada
hikm ah yang bisa diam bil dari sejarah Indonesia, barangkali ini:
kebanyakan perubahan besar terhadap status quo terjadi beriring
dengan bangkitnya kediktatoran baru yang dihasilkan dari m e-
runcingnya konlik atau perpecahan total di dalam koalisi yang
tak bisa lagi bekerja sama. Situasi seperti ini akan mengundang
cam pur tangan m asyarakat luas atau kekuatan internasional, atau
keduanya. Selam a keadaan belum separah itu, pertanyaan apa
artinya m enjadi seorang Muslim m odern Indonesia tetap m en-
jadi isu utama; di situ pertempuran politik kontemporer diper-
tarungkan dalam debat publik dan sidang-sidang parlemen, sese-
kali dengan letupan kekerasan isik kecil­kecilan.

Di parlemen, di media arus utama, dan jaringan media sosial—
sebagaimana dalam kehidupan sehari­hari—pertarungan masa
depan Indonesia dalam dunia yang m engalam i lintas batas (trans-
nasional) terwujud dalam perdebatan mengenai soal-soal seperti
hak-hak perem puan, poligam i, dan volum e pengeras suara selam a
bulan Ram adan, serta tem pat yang tepat bagi kaum m inoritas,

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 71

termasuk bagi sekte-sekte kecil di dalam Islam, orang-orang non-
Muslim dan kaum non-heteroseksual. Contohnya, pergeseran
dinamika dan signiikansi politik perdebatan cara berpakaian
Muslim ah, khususnya seputar soal jilbab. Sekalipun terjadi da-
lam waktu yang relatif singkat, perdebatan itu m erupakan bukti
m eluasnya islam isasi dan sengitnya pertarungan nilai-nilai prak_
tik pemakaian jilbab.

Suzanne Brenner (1996) adalah salah seorang ahli yang paling
awal mengkaji secara mendalam kebaruan dan makna politis
penggunaan jilbab di Indonesia. Ia melakukan analisa berdasarkan
kajian etnograis Muslimah muda terpelajar perkotaan, di Solo,
pada akhir dekade 1980 -an. Ketika itu pelarangan pengguna-
an jilbab secara nasional m erupakan bagian dari tekanan yang
disponsori oleh negara terhadap gerakan politik yang berlan-
daskan Islam; penggunaan jilbab di muka umum merupakan
ungkapan terbuka dari pembangkangan politik secara terbuka.
Brenner m em buat pengam atan penting bahwa, dalam konteks
dem ikian, tindakan m em akai jilbab m erupakan sebuah upaya
m odernis yang tegas untuk m erdeka baik dari tradisi lam a pem a-
kaian kerudung m aupun dari gagasan m odernitas bergaya Barat
saat itu (1996: 673­4). Kajian berikutnya dari Nancy Sm ith-
Hefner (20 0 7) m elengkapi kajian Brenner tersebut. Berdasarkan
kajian etnograi selama dua dekade di Yogyakarta, Sm ith-Hefner
m elaporkan perbedaan nyata antara pandangan perem puan
m uda yang belajar di perguruan tinggi sekuler dan yang belajar di
perguruan tinggi agam a. Selain m endapat kredensial yang lebih
kuat dalam soal Islam ketim bang saudari-saudari m ereka yang
bersekolah di sekolah sekuler, para aktivis dari sekolah agam a
t r a d ision a l

m em pertanyakan tak hanya m otivasi m ereka yang baru saja m em i-
lih memakai jilbab, tapi juga makna dan nilai penting jilbab itu
sendiri… para aktivis neotradisionalis ini m em pertanyakan apakah
kewajiban yang lebih ketat dari pem akaian jilbab yang diprom osikan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 72 Identitas dan Kenikmatan

oleh kelompok-kelompok mahasiswa militan mencerminkan usaha
untuk m em aksakan “budaya Arab” pada perem puan Indonesia, yang
telah memiliki tradisi asli mereka sendiri dalam pemakaian jilbab
dan kesederhanaan. Sebagian kecil bahkan m em pertanyakan apakah
memang perlu bagi perempuan Muslim untuk memakai jilbab.

(Smith­Hefner 2007: 403)

Yang m asih kurang dikaji adalah pertum buhan pesat industri
busana Muslim , sesuatu yang sudah m encolok pada akhir dekade
1990 -an (Heryanto 1999b). Sesudah selam a berabad-abad m en-
jadi praktik yang biasa saja di kepulauan Indonesia, pem akai-
an jilbab memperoleh nilai politik dan kebaruan sebagai ung-
kapan pem berontakan pada puncak pem erintahan Orde Baru
di pertengahan 1980 -an; kem udian pem akaian jilbab bertrans-
form asi m enjadi tren m ode berpakaian sejak dekade 1990 -an;
lantas menjadi sebuah bentuk kepatutan politik sejak peralihan
abad. Lebih belakangan lagi, sebuah tren baru telah berkem -
bang: pemakaian jilbab telah menjadi strategi di antara para pe-
rem puan terkenal yang m enjadi tersangka ketika m ereka m un-
cul di pengadilan. Contohnya, Nunun Nurbaeti, Neneng Sri
Wahyuni, dan Yulianis—semua diadili pada tahun 2012 karena
kasus korupsi uang negara—memakai jilbab dalam proses persi­
dangan, m ungkin untuk m enarik sim pati m asyarakat um um yang
mengikuti kasus ini di media, serta mungkin juga dari jaksa dan
hakim .11 Menariknya, salah satu dari tersangka terkenal yang
pertama menggunakan taktik memakai jilbab ini bukan seorang
m uslim ah yang taat, bukan pula seorang Indonesia, m elainkan
m odel pakaian dalam terkenal asal Australia Michelle Leslie.
Pada tahun 20 0 5 ia tertangkap di Indonesia memiliki obat-obat-
an terlarang. Taktik ini tam paknya jitu. Sekalipun pengadilan

11 Dalam sebuah wawancara dengan m edia cetak, Marcoes-Natsir (20 12) m em bi-
carakan soal ini.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Post-Islamisme: Iman, Kenikmatan, dan Kekayaan 73

m em utuskan Leslie bersalah dan dihukum tiga bulan penjara, ia
mendapat keringanan lewat masa tahanan dan tidak perlu men-
jalani hukuman kurungan sesudah putusan dijatuhkan.

Di Indonesia kini, sebagaimana di berbagai tempat lain, tak
terlihat benturan besar antara kapitalisme dan komitmen terhadap
ketakwaan beragam a. Keduanya dapat berjalan berdam pingan
untuk alasan-alasan berbeda dan terkadang bertentangan satu
sam a lain. Agam a dapat m enawarkan keteduhan bagi orang-orang
yang tak m am pu secara ekonom i dan politik serta tak m em iliki
perwakilan atau kuasa dalam m eraih keadilan. Bagi orang kaya
urban yang kritis terhadap status quo, agam a dapat berperan se-
bagai titik berangkat bagi pembangkangan ketika seluruh jalur
yang sah untuk politik resm i sudah ditutup. Bagi m ereka yang
sedang berkuasa, dikelilingi oleh kemiskinan, korupsi, dan keke-
rasan yang disponsori oleh negara, ketakwaan dapat m em bantu
memulihkan kecemasan tentang status mereka, mengurangi rasa
bersalah, atau menetralkan persepsi publik tentang kerakusan
m ereka. Apakah usaha-usaha itu sukses atau tidak, itu persoalan
la in .

Bab ini m em perlihatkan bahwa m akna islam isasi, seperti pe-
m akaian jilbab, tidak bersifat beku ataupun tunggal, dan tak se-
orang pun dapat m engendalikan m aknanya yang beragam dan
kadang bertolak belakang. Lebih dari sekadar m enggam barkan ke-
tegangan antara hasrat untuk meraih kemakmuran dan penghar-
gaan moral selama proses islamisasi di Indonesia saat ini, produksi
dan penerimaan dari beberapa ilm Indonesia merupakan medan
penting bagi berlangsungnya konlik, negosiasi, dan upaya­upaya
untuk m erekonsiliasi pihak-pihak dan ideologi-ideologi yang
bertentangan. Bab berikutnya secara khusus akan m enganalisa
proses itu secara rinci.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Bab 3

Pertempuran Sinematis

BAB SEBELUMNYA m em aparkan bagaim ana sem angat post-
Islam ism e di Indonesia m uncul dalam situasi yang berbeda
ketimbang semangat sejenis di Timur Tengah, sekalipun terdapat
beberapa kesam aan cirinya. Saya juga m encatat bahwa, sekalipun
post-Islamisme terus-menerus merangkak masuk ke dalam insti-
tusi-institusi politik di Indonesia, post-Islamisme tampil lebih
m enonjol dalam budaya populer. Sekalipun dem ikian, baik
Islam ism e m aupun post-Islam ism e sam a sekali tidak bersifat
tunggal, atau m enyatu utuh. Bab ini bertujuan untuk m em per-
lihatkan secara rinci beberapa keragaman dan persaingan di an-
tara gagasan post-Islamisme dalam ranah sinema secara khusus.
Hal ini akan m enam pilkan ke perm ukaan upaya-upaya sebagian
besar segm en m asyarakat Indonesia untuk m engakom odasi, m e-
rundingkan, dan merumuskan ulang, modernitas dan bentuk-
bentuk Islam yang dom inan sebagaim ana yang diusung oleh
elite politik. Secara khusus, kita dapat melihat bagaimana orang
Indonesia yang tinggal di perkotaan berusaha untuk berakrobat
dengan menggunakan tiga bola sekaligus: menjadi Muslim taat

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 76 Identitas dan Kenikmatan

yang berpegang pada landasan m oral agam a, m enjadi warga ne-
gara yang terhorm at dan bertanggung jawab di negara-bangsa
modern dan berdaulat bernama Indonesia, sekaligus menjadi
anggota komunitas produsen dan konsumen global.

Bab ini terdiri dari tiga bagian. Saya akan m ulai dengan tin-
jauan ulang terhadap perdebatan atas ilm populer Ay at-Ay at
Cinta (20 0 8, Bram antyo). Saya kem udian akan m endiskusikan
ilm Perem puan Berkalung Sorban (20 0 9, Bram antyo) sebagai
sebuah upaya korektif atau pernyataan-tandingan (counter-state-
m ent) terhadap Ay at-Ay at Cinta. J uga saya akan m enunjukkan
bagaimana ilm Ketika Cinta Bertasbih tam pil sebagai tandingan
berikutnya terhadap Ay at-Ay at Cinta m aupun Perem puan Ber-
kalung Sorban. Kita tak dapat m em aham i secara m em adai m akna
penting dan kebaruan peristiwa bersejarah ini tanpa mempertim-
bangkan beberapa ilm dengan tema mirip yang pernah men­
dahului Ay at-Ay at Cinta. Pada bagian ketiga bab ini, saya akan
sedikit mendiskusikan bagaimana ilm­ilm seperti Kiam at Sudah
Dekat (Deddy Mizwar, 2003) dan Catatan Si Boy (Nasri Cheppy,
1987) dapat m em bantu pem aham an kita atas apa yang khusus
dari Indonesia dan islam isasi pada dekade awal abad ini. Saya
juga akan m enjelaskan m engapa Ay at-Ay at Cinta m enikm ati
sukses besar jauh di luar dugaan para pem buatnya.

Muatan m aupun popularitas Ay at-Ay at Cinta sudah banyak
dibahas. Tam paknya tak m ungkin m em bincangkan budaya popu-
ler Islam tanpa menyebut ilm ini. Bab ini akan memfokuskan diri
lebih kepada kontroversi yang ditimbulkan oleh ilm tersebut serta
menganalisa tanggapan terhadap popularitas ilm tersebut, baik di
layar m aupun di luar layar. Kontroversi ini akan m enjadi titik be-
rangkat bagi sebuah analisa tentang soal yang lebih luas berkaitan
dengan politik identitas dan kesenangan pada masa islamisasi di
Indonesia. Ay at-Ay at Cinta akan diteliti sebagai salah satu dari
sejum lah ungkapan yang tengah bersaing dan m enunjukkan posisi

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 77

sebagian kaum m uda perkotaan. Kaum m uda ini m enyatakan ko-
m itm en sejati m ereka untuk m em bangun kem bali m asyarakat
modern bermoral tangguh sebagai penebusan bagi kemerosotan
m oral yang m ereka anggap terjadi di era yang baru saja berlalu
di bawah pem erintahan m iliter Orde Baru yang sekuler, sekaligus
juga tandingan terhadap ajakan m enerapkan syariah Islam . Upa-
ya m encapai utopia ini terbukti berat, sedikitnya karena hal itu
m erupakan usaha m elawan politik Islam yang telah berjaya di
sejumlah lembaga pemerintahan di tingkat nasional maupun
lokal seperti yang telah dibicarakan dalam bab sebelum nya. Bab
ini bertujuan m em berikan sedikit sum bangan pada kajian yang
sedang bertum buh tentang budaya populer Islam di Indonesia
dengan berfokus pada persilangan persaingan Islam m odern, baik
di dalam m aupun di luar layar. Baik ‘budaya’ m aupun ‘sinem a’ tak
akan diperlakukan sebagai satuan-satuan otonom yang terpisah
dari kekuatan-kekuatan politik dan ekonom i yang lebih luas.

Tentu saja, kita tak boleh memandang ilm yang dibuat secara
kom ersial sebagai sebuah m edium yang m ewakili kenyataan so-
sial secara faktual dalam pengertian langsung dan em piris. Tentu
ilm­ilm itu biasanya juga tak dimaksudkan pembuatnya untuk
diperlakukan dem ikian. Ada alasan yang lebih penting ketim bang
ketidakm am puan teknologi m edia untuk m enam pilkan kenyataan
sosial apa adanya. Pencerminan kenyataan sosial di ilm sesung­
guhnya kurang menarik, baik bagi para pembuat ilm profesional
m aupun publik yang m engonsum sinya. Pem erintah Indonesia
telah m enetapkan batasan-batasan m engenai apa yang boleh dan
apa yang tidak boleh ditayangkan secara publik, dan konsum en
biasanya lebih tertarik pergi ke bioskop untuk lari dari kenyataan
hidup sehari-hari ketim bang terus-terusan m enghadapinya. Seka-
lipun demikian, dengan faktor­faktor tersebut, ilm tetap meru­
pakan bahan yang sangat m em bantu penelitian serius tentang
hubungan-hubungan sosial yang nyata dalam suatu m asyarakat,
juga kesadaran publik, fantasi, dan kecem asan m ereka.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 78 Identitas dan Kenikmatan

Baik disengaja ataupun tidak, ilm panjang yang diproduksi
secara kom ersial m erupakan sebuah pernyataan kolektif m enge-
nai apa yang dianggap sebagai ‘norm al’ (dan dalam soal ini apa
yang ‘tidak norm al’ yaitu: hal-hal yang ‘aneh’, ‘lucu’, ‘m enarik’,
atau ‘m engerikan’) dalam sebuah lingkungan sosial di bawah ke-
daulatan suatu negara, serta apa yang diterim a dan dapat dito-
lerir oleh organisasi-organisasi kem asyarakatan serta lem baga-
lem baga yang diakui oleh negara. Sesekali, pernyataan sinem atis
dibuat dengan niatan untuk m em provokasi publik guna m enan-
tang norma-norma tersebut serta memperkenalkan mereka ke-
pada pengertian-pengertian baru tentang kegairahan. Mengingat
watak dasar industri ilm yakni usaha mencari untung, serta
besarnya modal yang diperlukan dalam membuat sebuah ilm,
maka ilm lebih sering dibuat sesuai norma­norma yang telah
m apan dan m em uaskan harapan m asyarakat um um , dan akhirnya
m enarik penonton. Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang
norm a-norm a dalam m asyarakat Indonesia kontem porer, analisa
berikut ini m elibatkan aspek-aspek apa saja dari m asyarakat yang
ditonjolkan ke depan, dibesar-besarkan, diselewengkan, diabaikan
atau dihapus, atau “ditam pilkan untuk kem udian ditolak”.1 Pada
gilirannya, penelitian seperti itu m enuntut pertim bangan atas
konteks sosial yang lebih luas di m ana sinem a m em ainkan peran,
dan hal ini m erupakan fokus utam a bagian berikut ini.

1 Dalam naskah aslinya, penulis m enggunakan istilah “under erasure”, sebuah
istilah teknis dari pemikiran pasca-strukturalisme. Istilah ini akan dipakai
lebih banyak dan lebih penting dalam Bab 6. Secara singkat dan sederhana,
istilah itu dapat dijelaskan sebagai teknik m enulis dengan m enyebut sesuatu
yang kem udian disangkal atau ditolak sendiri oleh penulisnya. Ini berbeda
dari tindakan penulis untuk tidak m enyebut sam a sekali hal yang sam a.
Bandingkan m isalnya ungkapan “di sana ada Budi, Hasan, dan Tina” dan “di
sana ada Budi, Hasan, Rudi, Ali dan Tina”. Dalam pernyataan pertam a, penulis
bungkam tentang Rudi dan Ali. Dalam pernyataan kedua kehadiran Rudi dan
Ali disebut dan sekaligus disangkal.”

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 79

SUKSES MEMPESONA DI LUAR DUGAAN
Kejatuhan pem erintahan sentralistis Orde Baru yang sem pat
bertahan selama tiga dekade, serta dampak berkepanjangan krisis
ekonom i 1997, telah m engantar m asyarakat pada sebuah m asa
yang m em bingungkan. Masa pasca-otoritarian ini m enciptakan
kekosongan kuasa politik yang m enganga besar, m elepas kekang
bagi proses liberalisasi. Dalam konteks ini, beredarnya Ay at-Ay at
Cinta m em enuhi hasrat terpendam jutaan Muslim yang m udah
terpesona oleh sinema. Film ini menawarkan sebuah jalan tengah
(yang m enarik dan dibutuhkan) di antara citra kaum Islam is
m ilitan– yang banyak disebarkan oleh m edia Barat dan kelom pok-
kelom pok islam i dom estik– dan Muslim tradisional yang bertakwa
dan taat dari era pra-digital. Novel biasanya dinikm ati sendirian.
Lebih menggelitik indra dan fantasi ketimbang novelnya—yang
biasa dibaca secara sendiri­sendiri—ilm ini mampu menyedot
3,7 juta orang untuk datang ke bioskop dan menonton. Mereka
m enyaksikan penam pilan seorang Muslim m odern idam an yang
memikat dan pantas diteladani. Sulit dipastikan berapa ratus atau
berapa ribu orang lagi yang juga menonton ilm ini dalam versi
resm i m aupun tak resm i secara online, atau m elalui DVD bajakan.
Film ini menampilkan citra seorang Indonesia dari keluarga se-
derhana yang ketakwaannya tak perlu dipertanyakan dan m em i-
liki kesadaran moral serta ketekunan intelektual; ia bercita-cita
menjadi bagian dari kaum terpelajar kelas menengah dan warga
negara pasca-kolonial yang akrab dengan naskah-naskah Islam
klasik m aupun gaya hidup dan konsum si global yang didom inasi
Ba r a t .

Belum pernah ada sinem a Indonesia yang m enyentuh bagian
terdalam batin m ayoritas kaum m uda Muslim yang akrab dengan
pusat-pusat perbelanjaan, rumah bagi bioskop-bioskop tempat
mereka menonton ilm. Muda­mudi itu berkumpul untuk me­
nonton Ay at-Ay at Cinta karena inilah untuk pertam a kalinya di

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 80 Identitas dan Kenikmatan

layar lebar m ereka m enem ukan representasi diri m ereka, atau
setidaknya citra seseorang yang m ereka idam kan atau dam bakan.
Penyajian citra itu pun terbebas dari adegan-adegan yang terang-
terangan bersifat tak islam i seperti adegan seks, kekerasan, la-
wakan jorok, atau kekuatan takhayul yang m enjadi sajian pokok
industri ilm Indonesia. Kini untuk pertama kalinya sinema se­
cara terhorm at m enam pilkan seorang Muslim Indonesia yang
m uda, bergaya, m atang, dan taat beragam a, sebuah gam baran
yang secara berwibawa disahkan oleh institusi bergengsi, yak-
ni industri ilm komersial. Hal serupa pernah terjadi ketika ilm
Ada Apa dengan Cinta? (20 0 2, Soedjarwo) yang lebih sekuler
diedarkan. Dalam ilm ini, para aktor memerankan tokoh siswa
SMA di J akarta yang bicara dalam bahasa gaul dan secara terang-
terangan m enyinggung perilaku orangtua pelaku kekerasan do-
m estik. Gaya bicara serta m uatan seperti itu pasti disensor jika
dibuat pada masa pemerintahan Orde Baru. Beberapa ilm ber­
tema Islam datang dan pergi di bioskop sebelum kehadiran Ay at-
Ay at Cinta (akan didiskusikan nanti pada bab ini) tapi tak ada
yang berdam pak sedahsyat Ay at-Ay at Cinta terhadap kaum
muda.

Yang tak kalah m enakjubkan dari rekor jum lah penjualan
tiket Ay at-Ay at Cinta adalah jenis penonton yang berhasil dipikat
ke bioskop oleh ilm ini. Para saksi mata secara konsisten menye­
butkan bahwa penonton ilm ini di antaranya adalah mereka yang
tak pernah datang ke gedung bioskop sebelum nya. Term asuk di
antara mereka adalah perempuan dewasa kelas menengah ang-
gota pengajian serta orang-orang yang tinggal di pinggiran kota
dengan tingkat melek huruf terbatas. Mereka tampak kikuk ketika
melewati gedung bioskop, dan melihat para perempuan muda serta
poster­poster ilm yang memperlihatkan bagian tubuh perem puan
secara seronok (Sasono 20 0 8a; Yum iyanti 20 0 8), tapi tam pak
senang dan puas di akhir pemutaran ilm Ay at-Ay at Cinta. Untuk

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 81

m em aham i jurang yang m em isahkan dunia sosial penonton baru
ini dari mereka yang sudah lazim menjadi penonton ilm, kita bisa
melihat tanggapan kritis terhadap ilm Ay at-Ay at Cinta. Kritikus
ilm kurang terkesan oleh pencapaian estetika ilm ini, dan ilm
ini kurang sukses pada Festival Film Indonesia tahun itu. Bahkan
mungkin lebih buruk lagi, banyak kelompok islami mencaci ilm
itu dengan tuduhan mengabaikan ajaran Islam untuk mengejar

keuntungan material dan popularitas.

Pada ujung lain dari hierarki sosial politik, para petinggi po-
litik berlomba memperlihatkan dukungan mereka terhadap ilm
ini dalam bulan-bulan menjelang pemilu parlemen dan pemilu

presiden 20 0 9. Tam paknya m ereka ingin m engangkat derajat dan

citra m ereka sebagai seorang Muslim yang taat. Pada bulan Maret

20 0 8, untuk m engungguli kehadiran Wakil Presiden J usuf Kalla
dalam penayangan ilm itu yang banyak diliput media (Aprianto
20 0 8), lawannya dalam pem ilu, Presiden Susilo Bam bang Yudho-

yono m em buat kejutan yang dirancang dengan rapi sebagai se-

buah tontonan publik. Ia hadir di salah satu gedung bioskop paling
sibuk di ibu kota Jakarta diiringi oleh 107 orang politisi, 53 orang
diplomat asing, artis dan wartawan untuk menyaksikan ilm Ay at-
Ay at Cinta. Beberapa hari kem udian harian terbesar di Indonesia,

Kom pas (20 0 8a), menurunkan laporan peristiwa tersebut dengan

judul “Presiden Berkali-kali Menghapus Air Matanya”. Para pem -
buat ilm ini, pada gilirannya, memanfaatkan peristiwa tak biasa
ini dalam bahan pem asaran m ereka. Banyak kaum Muslim , warta-
wan, dan politisi memandang ilm ini mempromosikan gagasan
Islam sebagai agam a yang dam ai dan toleran. Dalam hal ini,

Ay at-Ay at Cinta diperlakukan sebagai sebuah bukti-tandingan
terhadap pencemaran agama Islam dalam ilm anti­Islam berjudul
Fitna (20 0 8, Pim pernel), yang disebarkan beberapa pekan sebe-

lum nya di internet. Presiden Yudhoyono m enekankan pesan
tersebut dalam pidatonya sesudah menyaksikan ilm itu. Pesan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 82 Identitas dan Kenikmatan

yang sam a juga disam paikan oleh J unus Effendi Habibie, Duta
Besar Indonesia untuk Negeri Belanda dalam rangka m enyam but
pemutaran ilm tersebut di Den Haag pada tanggal 26 Oktober
20 0 8 (Antara 20 0 8). Pada grup m ailing-list, banyak penonton
menyampaikan simpati mereka kepada ilm itu dengan alasan
yang sam a; ketika yang lain m em buat kom entar yang m engkritik
ilm tersebut, beberapa dari anggota mailing­list itu menganggap
kritik tersebut anti-Islam.

Ironisnya, tak seorang pun dari tokoh-tokoh utam a yang ter-
libat dalam pembuatan ilm Ay at-Ay at Cinta tergolong orang-
orang yang religius. Karier dan prestasi m ereka dibangun dalam
pembuatan ilm panjang bioskop tanpa muatan agama, tak terkait
dengan lembaga atau aktivitas keagamaan. Sukses besar ilm itu
m engejutkan pem buatnya sendiri selain banyak orang (Jaw a
Pos 20 0 8). Ini sem ua m em perlihatkan betapa buruknya kaum
cendekia memahami kebangkitan post-Islamisme di Indonesia
dan apa yang dikehendaki oleh generasi baru Muslim Indonesia
yang terdidik. Kegagalan m ereka m em aham i selera m asyara-
kat juga tampak dari gagalnya banyak ilm­ilm yang kemu­
dian m encoba m engulangi sukses Ay at-Ay at Cinta. Sutradara
Hanung Bram antyo m enyam paikan kepada wartawan bahwa ia
khawatir ilm itu merupakan ilm terakhirnya karena ia tak mam­
pu m em aham i apa yang telah m enarik penonton sebegitu besar
(Emond 2012). Alih­alih menghadiri pemutaran perdana ilm­
nya, Hanung bersem bunyi di luar bioskop, takut penonton, ter-
utama yang telah membaca novel sumber cerita ilm itu, akan
kecewa berat.2 Pernah saya uraikan dalam kesem patan lain (Her-

2 Mem baca blog panjangnya yang m irip dengan catatan harian, khususnya
bagian yang khusus tentang produksi ilm ini selama masih dalam proses
pem buatan, kita dapat m erasakan kekhawatiran dan pesim ism enya tentang
kemungkinan keberhasilan ilm ini. Pesimisme ini diakibatkan oleh banyaknya
kom prom i yang harus ia lakukan, terutam a disebabkan oleh kesulitan logistik
dan keterbatasan anggaran, yang digambarkannya secara rinci sebelum ilm

pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version