The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-12-16 16:24:45

Identitas Dan Kenikmatan

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 83

yanto 2011: 72) bahwa salah satu kunci keberhasilan ilm ini terl­
etak pada cerita yang tam pil di layar tidak sepenuhnya bersifat
islami. Unsur­unsurnya mengingatkan pada ilm­ilm Holly­
wood dan Bollywood serta sinetron lokal. Sem ua unsur itu ter-
lihat gamblang sekali di ilm itu. Contohnya, Fahri, tokoh utama
dalam ilm itu, bisa menjadi tokoh ilm arus­utama apa saja, baik
di Asia m aupun di Barat. Alih-alih m engikuti tren baru Mus-

lim Indonesia yang m em akai baju gaya Tim ur Tengah, ia m eng-

gunakan pakaian bergaya Barat yang santai serta potongan ram -

but yang keren. Wajahnya tercukur rapi tanpa jenggot, dan dalam

pesta pernikahannya, ia m em akai setelan jas m odel Barat dan
dasi. Adegan pernikahan dalam ilm ini amat mengingatkan pada
adegan­adegan sejenis di ilm­ilm Bollywood.

Penelitian lebih jauh atas proses pem buatan di balik layar
memperlihatkan bahwa ilm ini telah mengalami pencam pur-
adukan besar-besaran dan tidak sem ata-m ata bersifat islam i.

Film ini dibuat berdasarkan sebuah novel, dan dalam prosesnya

m ateri tersebut dialihkan dari ketakwaan post-Islam ism e yang

didaktik kepada versi ketakwaan yang lebih berorientasi liberal

dan trendi, sebagaim ana dibahas dalam bab sebelum nya. Novel

Ay at-ay at Cinta sudah laris sebelum orang berpikiran untuk
mengubahnya menjadi ilm.3 Penulis Habiburrahm an El Shirazy,
seorang Muslim yang amat taat, mengaku menulis cerita ini—ber­
dasarkan pengam atannya m engenai kehidupan di Mesir ketika ia
menjadi mahasiswa di sana—dengan “sebuah tujuan yaitu men­

ini diedarkan. Bram antyo juga m engenang secara rinci m engenai kesulitan-
kesulitan ini dalam sebuah wawancara radio (Bram antyo 20 10 ).
3 Pada akhir tahun 2007, tiga bulan sebelum diedarkannya ilm Ay at-Ay at
Cinta, novelnya sudah mengalami cetak ulang sebanyak 30 kali, dan masih
terjual terus. Dari 12 persen royalti serta beberapa novel laris lain yang
ditulisnya, penerbit Republika m engaku telah m em bayar sang penulis sebesar
Rp1,5 m iliar dan telah m em berikan pem bayaran bulanan sebesar Rp10 0 juta
(Kartanegara 20 0 7), sekitar 40 hingga 50 kali lebih tinggi ketim bang rata-rata
gaji bulanan seorang dosen yang baru m eraih gelar doktor di Indonesia.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 84 Identitas dan Kenikmatan

dakwahkan Islam” (Hermawan 2008). Produser ilm ini adalah
Manoj Punjabi, seorang warga Indonesia keturunan India dan
pewaris MD Entertainment, pemasok terbesar sinetron di Indo-
nesia. Selama bertahun-tahun MD Entertainment dan perusa-
haan induknya secara bebas m engam bil unsur-unsur sinem atis
gaya Bollywood dalam m enyebarkan banjir sinetron bagi jutaan
pemirsa TV di Indonesia. Manoj Punjabi mendekati sutradara
Hanung Bram antyo dengan ide m engadaptasi novel itu ke dalam
layar lebar. Sekalipun juga seorang Muslim , Hanung m engaku
tak pernah tertarik sebelumnya pada ilm maupun novel religi.
Term asuk juga Ay at-Ay at Cinta.4 Ia m em butuhkan waktu yang
panjang guna mempertimbangkan untuk membuat ilm itu,
sebelum akhirnya m enerim a juga tantangan tersebut. Sesudah
Hanung dan Manoj mencapai kesepakatan, mereka mencari
cara untuk m erum uskan ulang cerita yang tak hanya tepat untuk
medium ilm, tetapi juga menarik penonton yang lebih banyak
daripada pem baca novelnya saja. Proses ini berm uara pada perse-
lisihan sengit dan berkepanjangan antara sang novelis, produser,
dan sutradara. Perselisihan itu berlanjut bahkan sesudah ilm itu
diedarkan di bioskop dan memecahkan rekor penjualan tiket, dan
sem akin banyak orang ikut dalam perdebatan.5

4 Dalam blognya Hanung m engenang, “Mem baca novel Ayat-Ayat Cinta m em -
buatku m uak. Aku tidak tahan m elihat karakter Fahri yang too good to be
true. Ganteng, pintar, alim dicintai perem puan-perem puan cantik secara ber-
sam aan. Seolah begitu m udah perem puan datang kepadanya tanpa sedikit pun
Fahri aktif m elakukan pendekatan. Aku tidak selesai m em baca novel itu. . .”.”

5 Informasi mengenai ketegangan di balik produksi ilm tersebut dalam paragraf
ini dan paragraf-paragraf berikutnya diam bil terutam a dari seri catatan
sutradara Hanung Bram antyo, yang ditulis dengan gaya buku harian dan
diterbitkan di blognya: http:/ / hanungbram antyo.m ultiply.com , tertanggal
dari 29 Novem ber 20 0 7, ketika produksi tengah berlangsung, dan 22 April
2008 sesudah ilm itu terbukti sukses besar—ditambah dengan balasannya
kepada sekitar 90 0 kom entar dan pertanyaan dari penggem arnya. Inform asi
tam bahan saya kum pulkan dari percakapan dengan penulis Habiburrahm an El
Shirazy (Canberra, 7 Maret 20 11) serta berbagai m ateri publikasi sebagaim ana
dikutipkan berikut ini.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 85

Inti perdebatan tersebut adalah sejauh mana ke­islaman ilm
Ay at-Ay at Cinta atau ilm islami itu seharusnya seperti apa.6 Sang
novelis dan banyak pem baca setianya kecewa dengan bagian-
bagian yang dihilangkan atau diubah dalam ilm. Hal ini meru­
pakan sebuah situasi yang um um terjadi: konsum en cerita yang

amat populer dari satu medium kerap kecewa ketika cerita itu
diubah ke dalam m edium yang lain.7 Sejak awal produksi ilm ini,
sutradara Hanung Bram antyo sadar sepenuhnya terhadap tan-

tangan ini dan m encoba m enanganinya secara hati-hati. Nam un

kem arahan sang novelis dan para pem bacanya bukan terutam a
atas penyuntingan materinya agar bisa tertampung ke dalam ilm
yang durasinya dibatasi hanya dua jam . Mereka m arah telebih ka-
rena merasa bahwa seluruh perubahan itu membuat ilm tersebut
kurang ‘islam i’, bahkan ‘tidak islam i’. Berdasarkan inform asi yang
tersedia, dapat diasumsikan bahwa penggemar berat ilm itu tidak
m em baca novelnya atau telah m em baca novelnya tanpa ikatan

batin yang kuat dengan aspek religius novel itu.
Memang perubahan yang dilakukan oleh pembuat ilm ini jauh

m elam paui kebutuhan untuk m eringkasnya dalam batasan durasi

waktu. Film ini m alahan m enam bahkan sebuah sub-cerita yang

6 Hoesterey dan Clark berpendapat “bahwa popularitas ilm islami terletak pada
kem am puannya bukan dalam m engartikulasikan apa itu Islam tetapi apa yang
bisa dan seharusnya dilakukan oleh Islam ” (20 12: 20 8).

7 Sang novelis m erupakan salah satu anggota paling terkem uka jaringan penulis
paling sukses dengan komitmen mendalam terhadap ketakwaan Islam dan
dakwah, yang disebut sebagai Forum Lingkar Pena atau FLP. Kebanyakan
karya m ereka berdakwah kepada orang-orang yang baru m em eluk Islam
atau m enegaskan kem bali keislam an m ereka. Novel Ay at-ay at Cinta sangat
penuh dakwah, m enyam paikan kem enangan Islam . Salah satu karakter dalam
novel adalah seorang perem puan Kristen Koptik yang am at cantik dan pintar,
menjadi mualaf kemudian menikah dengan tokoh utama, menjadi istri kedua
dalam sebuah pernikahan poligam is. Novel ini juga m em asukkan sebuah sub
plot tentang seorang jurnalis perempuan Amerika yang stereotipikal, yang—
sekalipun memperlihatkan ketertarikan kepada Islam—tetap tidak sensitif
terhadap tata cara berpakaian setempat. J urnalis ini pun kemudian memeluk
Islam, dan ini tak digambarkan di dalam ilm.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 86 Identitas dan Kenikmatan

am at penting yang tidak ada di novel, yakni adegan yang m em -
perlihatkan kehidupan sehari-hari sebuah pernikahan poligami.
Telah saya bahas di tempat lain (Heryanto 2011: 72­3) bahwa
tambahan ini jelas sekali merupakan kritik terhadap pernikahan
poligam i, sehingga m erupakan sebuah tandingan kam panye ‘pro-
poligam i’ yang digalakkan pada saat itu. Dengan m elakukan kritik
itu, ilm ini mempermasalahkan semangat ‘pro­islamisasi’ novel
aslinya. Patut diingat bahwa sekitar m asa itu terjadi kam panye
nasional yang m endorong pernikahan poligam i bagi Muslim , yang
m erupakan bagian dari proses islam isasi yang tengah m elanda
Indonesia (lihat Brenner 20 11; Heryanto 20 11: 69-70 ). Masih be-
lum jelas mengapa pesan anti­poligami sang pembuat ilm tam­
paknya tenggelam di tengah-tengah gem pita kaum Muslim yang
bersorak menyambut datangnya ilm islami pertama yang amat
menarik hati pada dekade itu. Pesan anti­poligami di dalam ilm
juga luput dari perhatian dari mereka yang mengkritik ilm itu,
baik dari kelompok Islamis maupun gerakan perempuan Indo-
nesia, yang beranggapan bahwa ilm itu merendahkan martabat
perempuan.

Pokok sengketa lain di antara pembuat ilm, sang novelis, dan
juga penonton yang taat beragam a berkisar pada soal pem ilihan
pem eran utam a. Dalam sebuah wawancara yang saya lakukan
dengan Habiburrahm an El Shirazy tiga tahun sesudah diedarkan-
nya ilm ini, ia mengaku bahwa sang sutradara telah mengingkari
janji untuk berkonsultasi dengannya sebelum m em utuskan se-
cara inal pemilihan pemain. Dalam blog­nya, Hanung Bram antyo
punya cerita lain:

Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang
Abik [panggilan akrab Habiburrahm an El-Shirazy, penerjem ah].
Kang [A]bik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta
memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-
pesantren. Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 87

yang ganteng dan pintar seperti [F]ahri. Tetapi banyak di antara
m ereka sudah m enganggap ‘Film ’ adalah produk sekuler. Oleh sebab
itu banyak di antara m ereka tidak m au ikut casting.

(20 0 7)

Menurut Hanung dalam lem a blog yang sam a, bahkan dalam
tahap awal produksi

Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka
bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa
seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka
bilang ...
‘Ini calon pem ain Fahri dan ini calon pem ain Aisha’sam bil m enunjuk
ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
‘Kam i dari organisasi Islam ,’ lanjutnya. ‘Kam i sangat concern
terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin ilm Ayat­Ayat Cinta
m elenceng dari novel dan ajaran Islam . Kang Abik (Nam a panggilan
Habiburrahm an El Shirasy) sudah tahu tentang ini.’
Kam i hanya saling pandang dan tersenyum . Aku ... m alu sekali.
Tentu saja kam i m enolaknya.

(20 0 7)

Sesudah lima pekan mencari, Hanung menemukan pasangan
yang ia inginkan sebagai pem eran utam a, tetapi Habiburrahm an
m enolaknya lantaran m ereka bukan Muslim . Sesudah tawar-
menawar berkepanjangan dan melelahkan, peran protagonis laki-
laki akhirnya jatuh pada Fedi Nuril. Keputusan ini m engecewakan
banyak penggemar novelnya karena dalam ilm sebelumnya, sang
aktor bercium an dengan seorang perem puan yang bukan istrinya
(baik dalam cerita ilm maupun dalam kehidupan nyata). Kontro­
versi soal pemilihan pemain ini berlanjut bahkan sesudah ilm ini
beredar. Banyak Muslim taat yang menjadi penggemar ilm ini
kecewa ketika sebuah tabloid menampilkan gambar salah satu
pemeran perempuan ilm ini sedang merokok.

Perselisihan mereka tidak berakhir pada tahap pemilihan pe-
m ain saja. Banyak penggem ar novel m enyesalkan penggam baran

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 88 Identitas dan Kenikmatan

tokoh utama laki­laki dalam ilm ini. Di dalam novel, ia merupa­
kan perwujudan seorang laki-laki Muslim ideal. Namun di dalam
ilm ia tampil tak tegas, bahkan lemah ketika berurusan dengan
tokoh perempuan. Sang sutradara dilaporkan dengan sengaja
m em buang sifat m anusia suci yang ada di novel dan m engubah-
nya m enjadi “lelaki biasa yang juga bisa m im pi basah, bila m erin-
dukan Maria (tokoh lain di dalam ilm)” (Suyono dan Septian
20 0 8 ).

Hanung perlu m enjaga langkahnya untuk tetap berada di te-
ngah karena ia di bawah tekanan dua kelom pok yang bertolak
belakang: novelis Muslim yang taat beserta para penggem arnya
di satu sisi, dan produser yang menuntut agar ilmnya punya
daya tarik seluas-luasnya.8 Contohnya, tanpa rasa-salah produser
Manoj Punjabi mengakui bahwa ia dengan sengaja memasukkan
unsur-unsur Hollywood dan Bollywood ke dalam ilmnya itu
(Yum iyanti 20 0 8). Hanung tidak sendirian dalam posisi terjepit
dan terpaksa m engalah pada tekanan dua pihak yang berbeda
pendapat. Sang novelis juga m engatakan kepada saya dalam
sebuah percakapan bahwa kelom pok sekuler m engkritiknya
karena dianggap “islam i secara berlebihan” sem entara lingkaran
Islam is di sekitarnya m enuduhnya m engorbankan nilai Islam dem i
m engejar popularitas dan kekayaan. Satu m ajalah m enuduhnya
telah m enyem ai di dalam novelnya bibit-bibit berbahaya liberal-
ism e, sejalan dengan konspirasi Zionism e internasional (Risalah
Mujahidin 20 0 8).

Uraian di atas memperlihatkan bahwa sebuah pertarungan
sedang terjadi pada beberapa garis depan sekaligus: antara aspi-
rasi sekuler dan Islamis, dan antara ide-ide kelompok Islamis
dengan post-Islam is. Lebih penting lagi, perdebatan-perdebatan

8 Sang produser dilaporkan berinvestasi sebanyak tujuh m iliar rupiah atau dua
kali lipat dari biaya rata­rata sebuah produksi ilm nasional.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 89

ini m enggam barkan aneka ragam posisi yang berbeda dalam
rentang post-Islamisme, dengan sebagian beranjak lebih jauh
m eninggalkan Islam ism e ketim bang yang lain. Secara abstrak,
gagasan posisi ‘tengah’ tam pak dipuji oleh sem ua pihak yang
terlibat. Nam un, di m ana konkretnya posisi tengah itu, dipaham i
berbeda jauh antara satu pihak dan lainnya. Seluruh bahasan di
atas dan sebagian di bagian berikut bab ini mewakili ketegangan
yang m enandai dunia Muslim kontem porer. Seluruh perdebatan
ini m em perlihatkan bahwa stereotip yang diprom osikan oleh ke-
dua pihak yang bertentangan—yaitu juru bicara pemerintahan
konservatif di Barat beserta kelom pok pem ikir dan m edia di satu
sisi dan kelom pok m ilitan Islam di sisi lain9—sesungguhnya amat
m enyesatkan. Dalam bagian berikut, kita akan lihat bagaim ana
persaingan antara m ereka yang m em buat Ay at-Ay at Cinta dan
m asyarakat secara um um berlanjut di layar lebar segera setelah
kesuksesan ilm itu.

PERTEMPURAN SINEMATIS
Kurang dari setahun setelah sukses besar Ay at-Ay at Cinta, terlihat
jelas bahwa kontroversi mengenai nilai­nilai Islam di dalam ilm
itu belum berakhir. Bahkan itu baru m erupakan awal persaingan
seru dan panjang yang m elibatkan serangkaian pertarungan di
dunia sinema. Dua judul ilm yang terpenting dalam pertarungan
itu adalah Perem puan Berkalung Sorban (20 0 9, Bram antyo)
dan Ketika Cinta Bertasbih (20 0 9, Um am ). Bagian ini khusus

9 Sebagai contoh, seorang penulis Am erika m enulis dalam kolom opini di m edia
internasional; tulisan itu gagal membedakan antara novel dan ilmnya, dan
m enggam barkan Ay at-Ay at Cinta sebagai “kendaraan untuk m em asarkan
fundam entalism e” yang telah “disam but oleh kaum Islam is di Indonesia”
serta “orang-orang lain yang tak berpikir secara kritis” (Bev 20 0 8). Artikel
ini m uncul di sebuah m edia online yang m engaku “independen dari segala
pem erintahan dan perusahaan m edia besar” serta “tak m em iliki ideologi selain
kepercayaan terhadap m anfaat baik yang tim bul dari kebebasan m edia”.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 90 Identitas dan Kenikmatan

mendiskusikan kedua ilm itu, tetapi patut dicatat sebenarnya
masih banyak ilm lain mengikuti resep Ay at-Ay at Cinta juga telah
diedarkan, dengan berbagai kualitas sinematis dan menawarkan
wawasan yang m em perjelas tanggapan terhadap pasar yang baru
terbuka ini.10 Harus juga diperhatikan bahwa tak ada di antara
ilm­ilm ini yang mampu mengungguli Ay at-Ay at Cinta dalam hal
penjualan tiket dan dam pak sosialnya. Mungkin ini m erupakan
tanda bahwa ketakwaan post-Islam ism e yang cukup konservatif
pada Ay at-Ay at Cinta, lebih diterim a ketim bang bentuk yang
lebih taat dan didaktik seperti dalam Ketika Cinta Bertasbih
atau keberagam aan yang tegas-tegas bersifat liberal seperti pada
Perem puan Berkalung Sorban.

Segera setelah tuntas kerja sama antara sutradara Hanung
Bram antyo dan novelis Habiburrahm an El Shirazy, m ereka
berpisah jalan. Hal ini terjadi bahkan setelah ada pernyataan
Hanung kepada publik bahwa ia berencana m enyutradarai novel
laris Habiburrahm an lainnya, Ketika Cinta Bertasbih (Jaw a Pos
20 0 8). Masing-masing mengejar ketakwaan post-Islamisme da-
lam bentuk yang berbeda. Konlik ideologi yang awalnya muncul
ke perm ukaan di antara para reform is post-Islam ism e di Indo-
nesia ketika Ay at-Ay at Cinta sedang diproduksi, kini sem akin
m en ja d i-ja d i.

Perem puan Berkalung Sorban diedarkan pada awal 20 0 9.
Hanung Bram antyo m enyutradarai dan m engadaptasi cerita itu
dari novel berjudul sam a yang diterbitkan pada tahun 20 0 1 karya

10 Saya pernah mendiskusikan pentingnya nilai ilm Ay at-Ay at Cinta sebagai
ilm komersial pertama dengan tokoh utama perempuan yang sepenuhnya
berjilbab (Heryanto 20 11). Alangkah anehnya dibutuhkan waktu sedem ikian
lama untuk menampilkan tokoh berjilbab bila diingat islamisasi besar-besaran
telah terjadi lebih dari satu dekade sebelum ilm itu diproduksi. Pemakaian
jilbab di kalangan Muslim ah m erupakan bukti islam isasi yang paling awal,
tam pak jelas, dan trendi, pada pertengahan 1980 -an, jauh sebelum Ay at-
Ay at Cinta. Sesudah sukses Ay at-Ay at Cinta, ilm yang bermuatan Islam
diprom osikan dengan poster yang m enam pilkan perem puan berjilbab.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 91

seorang penulis fem inis Muslim ah, Abidah El Khalieqy. Kisah-
nya berpusat pada Annisa, putri seorang ulam a yang hidup di
sebuah pesantren lokal. Di situ Annisa belajar m elawan diskri-
m inasi gender yang ia hadapi sejak m asa kanak-kanak. Film ini
m enyebabkan geger lebih besar di kalangan kom unitas Muslim
ketim bang Ay at-Ay at Cinta, dan m engasingkan sang sutradara
dari penggem ar-penggem arnya yang religius dan rekan-rekan-
nya di industri ilm. Jika sebelumnya ketidaksepakatan antara
Hanung dan Habiburrahm an dalam Ay at-Ay at Cinta m enyebab-
kan peluang kerja sama mereka di masa depan menjadi sebuah
tanda tanya, kontroversi dalam Perem puan Berkalung Sorban
telah memangkas segala kemungkinan rujuk di antara mereka.
Ali Mustafa Yaqub, seorang ulam a senior yang m enjabat Wakil
Kom isi Fatwa Majelis Ulam a Indonesia (MUI) m em inta agar
kaum Muslim memboikot ilm itu. Di sisi lain, para feminis–
termasuk Siti Musdah Mulia, seorang intelektual terkemuka dan
bekas Penasihat Senior di Kem enterian Agam a dan bekas kepala
Divisi Riset MUI–secara menggebu mendukung ilm ini. Mulia
m em inta agar kaum Muslim m enolak boikot ini (Jakarta Post
20 0 9a). Menurut seorang narasum ber yang diwawancara untuk
keperluan buku ini, beberapa tokoh penting dalam industri ilm
berkumpul di J akarta untuk berbagi kemarahan mereka tentang
ilm ini dan menyusun strategi perlawanan.

Ahli kajian ilm Indonesia terkemuka, Ekky Im anjaya, m e-
nerbitkan sebuah ulasan yang keras tentang ilm ini. Tulisan itu,
yang m em pertanyakan niatan ideologis sang sutradara, penge-
tahuannya tentang Islam , dan keteram pilan sinem atisnya, diberi
judul yang m enonjok: “Posisi Ideologis dan Representasi: Perem -
puan Berkalung Sorban, Membela atau Merusak Nama Islam?”
(20 0 9a). Ulasan ini terbit dalam jurnal daring yang disegani,
Rum ah Film , di m ana Ekky adalah salah seorang pendirinya. Me-
nariknya, rekan sejawat Ekky yang juga ikut m endirikan Rum ah

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 92 Identitas dan Kenikmatan

Film , Eric Sasono, memuji ilm ini sebagai barang langka: ketim­
bang mengikuti apa yang telah menjadi pola baku bagi ilm­ilm
lain– berfokus pada ketakwaan pribadi, karier, dan cinta yang sen-
timental–ilm ini berupaya membongkar persoalan sosial yang
serius (20 10 : 59).

Film Perem puan Berkalung Sorban m enyodorkan kritik ter-
keras terhadap sisi-sisi gelap patriarki yang m asih berlangsung di
dalam kom unitas Muslim di Indonesia.11 Dalam pernyataannya
kepada publik, Hanung menggambarkan ilm itu sebagai pelunas­
an terhadap “utang” kepada sem ua perem puan yang m engang-
gap bahwa Ay at-Ay at Cinta telah m erendahkan perem puan dan
m em iliki bias yang m endukung poligam i (Im anjaya 20 0 9a). Dalam
sebuah wawancara, novelis Abidah El Khalieqy m enyatakan, novel
Perem puan Berkalung Sorban ditulis untuk m em enuhi perm in-
taan Yayasan Kesejahteraan Fatayat cabang Yogyakarta, yang
berada di bawah payung Nahdlatul Ulam a, organisasi Muslim
terbesar di Indonesia, dengan tujuan “m ensosialisasi hak-hak re-
produksi perempuan yang sudah diratiikasi oleh PBB [Perseri­
katan Bangsa-Bangsa]” (Syaifullah 20 0 9). Dalam wawancara yang
sam a Abidah juga m engakui bahwa ia m endapat ilham dari novel
Nawal El Sadawi yang diterjem ahkan ke dalam Bahasa Indonesia,
Perem puan di Titik N ol, dan beberapa karya literatur fem inis yang
beredar di kalangan aktivis dekade 1980 -an dan 1990 -an.

Sebagaim ana dalam novel El Sadawi, dalam buku Abidah tak
satu pun tokoh laki-laki patut dikagum i (kecuali Khudori yang
berusia singkat, orang yang pertam a kali dikasihi Annisa, dalam
novel Perem puan Berkalung Sorban). Kisah ini terjadi di dalam
komunitas Muslim dan menampilkan guru-guru agama Islam;
para kritikus novel dan ilm ini menafsirkan minimnya lelaki yang

11 Lihat Hellwig (20 11) untuk diskusi m engenai tulisan-tulisan fem inis Abidah El
Kh a lieq y.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 93

bisa m enjadi panutan ini sebagai serangan yang disengaja terha-
dap petinggi Muslim dan karenanya terhadap Islam itu sendiri,
ketimbang serangan secara umum terhadap patriarki. Dalam ilm
tersebut, nyaris sem ua laki-laki Muslim , term asuk m ereka yang
m enjalani kehidupan poligam i, bersifat egoistik, m em ikirkan
diri sendiri, irasional, picik, dan intoleran. Mereka semua adalah
orang-orang konservatif yang konyol dan tak bernalar. Beberapa
berm oral korup dan yang lainnya suka m enindas dengan keke-
rasan. Dem i m endapat keuntungan m aterial, ayah Annisa m eni-
kahkan Annisa dengan seorang laki-laki pengangguran, pem abuk,
dan gem ar m elakukan penyiksaan seksual. Yang m enjengkelkan
kritikus seperti Ekky bukanlah penggambaran sisi gelap komu-
nitas Muslim (mereka tak membantah bahwa hal seperti itu bisa
saja terjadi), tetapi karena ilm itu tidak “meliput dari sisi yang
lain” atau m enam pilkan cahaya terang di ujung terowongan. Film
itu berakhir dengan adegan Annisa m enaiki kuda bersam a anak-
nya di pantai, m elem parkan sorbannya (bagian terhorm at dari
pakaian seorang laki-laki Muslim ) ke tanah. Turban yang jatuh itu
ditampilkan di latar depan, ketika kedua orang tersebut menjauh
dari kamera.

Mereka yang menolak ilm Perem puan Berkalung Sorban,
juga terhadap novelnya, berharap gam baran buruk kom unitas
Muslim diimbangi dengan gambaran indah kehidupan Muslim.
Masalahnya, sebagaimana dijelaskan Ekky, ilm ini tampaknya
m enyiratkan pesan bahwa Islam tak punya pem ecahan bagi
masalah yang digambarkan dalam ilm. Yang paling menyakitkan
dari sem uanya, para tokoh perem puan yang m enjadi korban ini
m endapat pencerahan dan jalan keluar dari novel Bum i Manusia
karya alm arhum Pram oedya Ananta Toer. Penting untuk dicatat
bahwa reputasi politis dan kesusasteraan Pram oedya di Indonesia
sam a kontroversialnya dengan Nawal El Sadawi di negerinya
sendiri, Mesir. Novel Bum i Manusia m erupakan buku pertam a

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 94 Identitas dan Kenikmatan

dari tetralogi sem i-historis yang ditulis oleh Pram oedya selagi
menjalani pengasingan selama lebih dari sepuluh tahun di Pulau
Buru. Ia dihukum tanpa diadili ketika Orde Baru secara sistem atis
m enghancurkan kekuatan politik kiri, dengan dukungan Blok
Barat serta organisasi-organisasi Muslim setem pat (lihat Bab 4).

Baik Pram oedya pribadi m aupun novel-novelnya telah m en-
jadi korban tindakan-tindakan brutal dan sum ber kontroversi.12
Buku-bukunya dilarang beredar oleh pem erintah. Pada tanggal
31 Oktober 1981, Kejaksaan Agung Republik Indonesia m enolak
tuduhan bahwa m ereka telah m em bakar sebanyak 10 .0 0 0
eksem plar buku Bum i Manusia dan lanjutannya, Anak Sem ua
Bangsa, dan m engaku m em bakar “hanya” 972 buku (Tem po 1981:
14). Pada akhir dekade 1980 -an, Pengadian Negeri Yogyakarta
m enghukum tiga aktivis m uda karena m em iliki dan m endisku-
sikan karya-karya Pram oedya yang dilarang, serta m em erintahkan
kepada pengadilan untuk menyita dan memusnahkan buku mereka.
Ketiga aktivis itu didakwa dengan Undang-Undang Anti-Subversi
dengan hukuman maksimal hukuman mati. Mereka dinyatakan
bersalah dan dihukum antara tujuh dan delapan setengah tahun
penjara (untuk rinciannya lihat Heryanto 20 0 6a).13

Dengan latar belakang ini, Perem puan Berkalung Sorban
merupakan ilm panjang bioskop pertama yang menampilkan
sam pul Bum i Manusia di layar lebar kepada penonton Indonesia.
Novel itu m uncul dalam sekurangnya lim a adegan, term asuk
ketika tokoh utama ilm ini membaca dan menentengnya. Juga

12 Tetralogi Buru m erupakan produk dari penelitian yang dilakukan oleh
Pram oedya dari awal dekade 1960 -an m engenai asal usul dan pem bentukan
bangsa Indonesia. “[I]tu m erupakan novel yang m enjelaskan m engapa novel-
novel lainnya bisa dilahirkan” (lihat Foulcher 1991: 1). Novel-novel itu telah
diterjemahkan ke dalam 33 bahasa. Ironisnya, di Indonesia keempat jilid
dalam tetralogi itu dinyatakan terlarang segera sesudah penerbitannya.

13 Segera sesudah kejatuhan Orde Baru pada tahun 1998, novel-novel itu tersedia
secara luas di toko-toko buku utam a, yang m erupakan pelanggaran jelas-jelas
terhadap larangan peredaran buku itu yang belum pernah dicabut.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 95

ada satu adegan, yang tak ada di dalam novel sumber ilm ini, yang
m enggam barkan sejum lah guru lelaki di pesantren itu m enyita
buku-buku Pram oedya dan m em bakarnya beserta beberapa buku
lain yang dianggap tak dikehendaki dan berbahaya. Orang-orang
yang mengkritik ilm itu membantah dengan mengatakan adegan­
adegan itu tak realistis dan m enam pilkan stereotip yang tak adil
terhadap Muslim yang taat. Menurut m ereka, sekonyol-konyol
seorang pesantren tak akan ada yang sam pai m em bakar buku.14

Yang tak kurang kontroversialnya bagi sebagian besar orang
Indonesia, khususnya Muslim , adalah keberanian seksual sang
tokoh utam a Annisa. Kisah yang berfokus pada penindasan
terhadap perempuan sudah jamak di televisi atau ilm di Indonesia,
tapi korban perem puan yang tidak m enyerah dan m elawan balik
sangat langka. Di antara yang sedikit itu, biasanya perem puan
itu digam barkan sebagai seorang yang berpikiran sesat dan
akhirnya terkutuk. Dem ikian pula, perem puan yang agresif secara
seksual bukan sesuatu yang jarang dalam ilm di Indonesia, tetapi
biasanya m ereka digam barkan sebagai penjahat. J ika sam pai
ada seorang tokoh utam a perem puan yang berani secara seksual
dan taat beragama sekaligus, ini baru benar-benar kejutan besar
bagi banyak orang, khususnya dalam m asyarakat yang sedang
mengalami islamisasi. Setelah bertahun-tahun menderita dan
bertahan dari siksaan dan hinaan suam i dan anggota keluarganya

14 Satu jurnal Islam KabarN et (20 10 ) m enggam barkan Perem puan Berkalung
Sorban sebagai sebuah propaganda kom unis dan m enyebut Hanung
Bram antyo sebagai “Karl ‘Hanung’ Marx” dalam sebuah pendahuluan bagi
wawancara dengan penyair terkenal Tauiq Ismail, yang juga dikenal sikapnya
yang am at anti-kom unis. Pada satu kesem patan, sang pewawancara bertanya,
“Sebagaim ana saya ingat, Partai Kom unis Indonesia dan organisasi-organisasi
sosial yang m enginduk kepadanya m em bakar buku yang ditulis oleh kelom pok
anti-kom unis pada tahun 1964 atau 1965, betulkah dem ikian, Pak?”, dan Ism ail
m enjawab dengan m em benarkannya. Ironisnya, em pat bulan sebelum nya
buku Lekra Tak Mem bakar Buku karya Rhom a Dwi Yuliantri dan Muhidin M.
Dahlan m erupakan salah satu buku yang dilarang oleh Kejaksaan Agung.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 96 Identitas dan Kenikmatan

sendiri, Annisa bergairah pada kesem patan pertam a berjum pa
dengan Khudori yang baru kem bali dari belajar di luar negeri.
Khudori adalah satu-satunya tokoh laki-laki Muslim yang ‘baik’
dalam kisah ini, dan Annisa sejak usia m uda telah m enyim pan
rasa sayang kepadanya.

Ketika mereka berdua saja, Annisa mencopot jilbabnya dan
mengundang Khudori untuk bercinta, lalu bergegas memeluknya.
Khudori melangkah mundur, menenangkan Annisa dan meminta
kepadanya untuk bertobat (istiqfar), tapi terlambat. Pada saat itu-
lah suami Annisa menerobos masuk ke dalam ruangan bersama
rombongannya, menangkap basah mereka melakukan pelanggaran
khalwat, yaitu aturan agama yang melarang dua orang dewasa
berlainan jenis kelamin yang tak terhubung oleh pernikahan berada
dalam kedekatan yang intim. Dengan tuduhan zina, pasangan ini
dijatuhi hukuman rajam. Ketika hukuman dimulai, ibunda Annisa
menggugat kerumunan dan menantang mereka, barangsiapa yang
tak berdosa boleh melempar batu pertama kepada para tertuduh.15
Secara diam-diam, kerumunan pun bubar.

Berlatar belakang kontroversi yang m uncul dari Ay at-Ay at
Cinta, ilm Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 dipersiapkan peredar-
annya. Orang-orang yang bertanggung jawab dalam produksi-
nya term asuk beberapa orang yang am at kecewa atau tersing-
gung oleh ilm Perem puan Berkalung Sorban. Mereka dan para
pendukungnya menyatakan bahwa ilm mereka berikutnya akan
berfungsi sebagai alat koreksi segala kekeliruan m engenai Islam
yang dibuat oleh Hanung Bram antyo dalam Ay at-Ay at Cinta
dan Perem puan Berkalung Sorban. Seperti Ay at-Ay at Cinta,

15 Sekalipun ilm ini tak eksplisit dalam membuat acuan, sulit bagi orang yang
akrab dengan agam a Kristen untuk tak m engenalinya sebagai kutipan dari
“Pericope Adulterae” dan kata-kata dari Yesus (Ia yang tanpa dosa di antara
kalian, silakan lem par batu pertam a kepadanya”, Kitab Yohannes 8:7) yang
dikatakan oleh ibunda Annisa. Sejum lah tokoh Islam m engangkat soal ini, tapi
tidak sampai menimbulkan keresahan publik.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 97

ilm yang lebih baru ini dibuat berdasarkan novel laris karya
Habiburrahm an El Shirazy. Banyak lagi kesam aan yang lain:
kedua cerita terjadi di Mesir, keduanya bertokohkan m ahasiswa
pasca-sarjana dari Indonesia yang m em pelajari Islam , keduanya
m em iliki tokoh utam a laki-laki yang digam barkan tegap dan tanpa
cela, keduanya m erupakan kisah cinta dan persaingan rom antis
antara orang-orang Indonesia, dan keduanya m enam pilkan
dialog-dialog m enggurui tentang etika Islam yang bersinggungan
dengan kehidupan sehari-hari, termasuk soal percintaan.

Sejak sem ula dirancang sebagai upaya korektif terhadap
ilm islami yang mendahuluinya, Ketika Cinta Bertasbih m em -
bedakan diri dalam beberapa cara yang penting dan hal tersebut
ditekankan dalam promosi. Pertama-tama, bertentangan dengan
predikat utam a sutradara Hanung Bram antyo sebagai seorang
sutradara, dengan prioritas membuat ilm bermutu tinggi, prio­
ritas awak ilm yang memproduksi Ketika Cinta Bertasbih ada-
lah penyebaran pesan m engenai ketakwaan islam i yang ‘benar’.
Dalam perbandingan yang nyata, sekaligus kritik diam -diam
terhadap Ay at-Ay at Cinta, para awak ilm ini berkali­kali berjanji
kepada publik bahwa produksi ilm mereka sedapat mungkin
akan setia pada novelnya. Mereka m engandalkan nam a-nam a
besar beberapa tokoh sinem a paling terkenal dan m apan yang
karya­karya ilm islaminya telah beredar sebelum Ay at-Ay at
Cinta, term asuk Chaerul Um am sebagai sutradara dan Deddy
Mizwar sebagai pem ain. Mungkin sebagai satu cara untuk m e-
m astikan bahwa m asalah yang terjadi pada Ay at-Ay at Cinta
tak berulang, novelis Habiburrahm an El Shirazy secara lang-
sung terlibat di dalam produksi, bahkan ikut berperan di dalam
ilm. Keseluruhan kerangka kerja produksi Ketika Cinta Bertas-
bih dirancang untuk m em astikan adanya kepatuhan yang lebih
ketat kepada ajaran-ajaran Islam . Misalnya, aktor dan aktris
yang bukan pasangan suam i istri tak boleh tam pak di layar saling

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 98 Identitas dan Kenikmatan

menyentuh. Kemampuan para pemain ilm ini dalam mengaji Al­
quran m erupakan prasyarat dalam proses pem ilihan pem ain.16

Sebagaim ana disebutkan sebelum nya, pencarian ketakwaan
post-Islam ism e dalam budaya populer tak dapat disederhanakan
sem ata m enjadi urusan keim anan dan ketakwaan. Kem akm uran
merupakan bagian penting dalam hal ini, dan memiliki modal
besar m erupakan syarat m utlak untuk pencarian tersebut. Dalam
hal ini, Ekky Im anjaya m encatat beberapa aspek Ketika Cinta
Bertasbih (KCB):

Dengan anggaran sebesar 40 miliar rupiah, KCB merupakan ilm
paling m ahal yang pernah diproduksi di Indonesia. Dalam pekan
pertama peredarannya, ilm ini ditayangkan di 148 layar bioskop
di seluruh negeri, m engalahkan rekor sebelum nya yang dibuat oleh
Laskar Pelangi karya Riri Riza (20 0 8) yang tayang di 115 layar
bioskop dalam pekan pertamanya. Lanjutan ilm ini, Ketika Cinta
Bertasbih 2 dijadwalkan untuk diedarkan secara nasional pada
tanggal 17 Septem ber, beberapa hari m enjelang Idul Fitri.

(20 0 9b)

Ketika Cinta Bertasbih dirancang untuk m engungguli capaian
Ay at-Ay at Cinta yang kilau suksesnya m em pesona di luar per-
kiraan. Usaha promosi habis-habisan dilakukan untuk menja-
min sukses baik secara komersial maupun moral. Sokongan dari
politisi-politisi top yang berpredikat Islam dim asukkan ke dalam
pemasaran ilm ini. Dengan anggaran lima kali lebih besar dari­
pada Ay at-Ay at Cinta, proyek ini m enghasilkan penjualan tiket
lum ayan: Ketika Cinta Bertasbih I m eraih 2,4 juta penonton
pada pertengahan tahun dan Ketika Cinta Bertasbih II m eraih
1,4 juta penonton pada akhir tahun. Sekalipun dem ikian, tak ada
dari kedua ilm itu melampaui rekor yang dicapai oleh Ay at-Ay at

16 Dalam proses pemilihan pemain, penampilan para inalis ditayangkan secara
nasional di televisi dalam bentuk kontes pencarian bakat.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 99

Cinta. Kebanyakan pembahas ilm itu bersikap kritis terhadap
pencapaian sinem atis Ketika Cinta Bertasbih, dan m ereka tak bisa
tidak, membandingkan ilm itu dengan (dan menganggapnya tak
sebaik) Ay at-Ay at Cinta (m isalnya Hidayah 20 0 9). Akibat kurang
kontroversial, Ketika Cinta Bertasbih tidak m em bangkitkan
diskusi publik seram ai, dan yang tanpa disengaja telah dikobarkan
oleh, Ay at-Ay at Cinta.

KILAS BALIK

Sebelum peredaran Ay at-Ay at Cinta, Indonesia telah m em iliki
sejarah panjang dalam memproduksi ilm­ilm islami. Survei leng­
kap mengenai sejarah genre ini di luar cakupan lingkup bab ini.

Hanya saja, penting untuk dicatat, baik Chaerul Um am , sutradara
Ketika Cinta Bertasbih, m aupun Deddy Mizwar, aktor dalam ilm
tersebut, merupakan dua tokoh legendaris dan paling disegani
dalam perilman nasional serta pelakon seni pertunjukan ber­
tem a Islam . Chaerul Um am telah m em peroleh reputasi sebagai

seorang sutradara yang peduli dengan penyam paian pesan-pesan

islam i jauh sebelum Indonesia m em asuki periode islam isasi yang

m enggelora. Di antara karya-karyanya adalah Al Kautsar (1977),

Titian Seram but Dibelah Tujuh (1982), N ada dan Dakw ah (1991),
dan Fatahillah (1997), untuk menyebut beberapa dari ilm­ilmnya
yang banyak dirayakan. Umam juga banyak menyutradarai ilm
tanpa tem a agam a, tapi m em peroleh penghorm atan yang besar
dari sumbangannya pada wilayah ilm­ilm islami. Ia merupakan
salah satu tokoh paling awal yang mengambil risiko membuat ilm
bertem a islam i di bawah pem erintahan Orde Baru ketika politik

islami secara resmi dicurigai sebagai musuh.

Kom itm en Deddy Mizwar m endakwahkan nilai-nilai Islam

dalam kebudayaan dan seni m elalui sinem a dan televisi m endapat

perhatian publik dalam beberapa dekade belakangan. Meski

dem ikian, tak seperti seniornya, Chaerul Um am , Mizwar telah

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 100 Identitas dan Kenikmatan

m em perlihatkan kom itm en yang nyaris total kepada agenda
Islam , khususnya selam a sekitar satu dekade terakhir. Dalam
m engungkapkan kom itm en keagam aan, kerja kreatif Mizwar
lebih m irip novelis Habiburrahm an El Shirazy. Selam a beberapa
tahun terakhir, predikat keislam an Deddy Mizwar dalam budaya
layar di Indonesia tak tertandingi.

Kedua tokoh ini mengajukan kritik terbuka pada ilm­ilm
islam i Hanung Bram antyo, dan m em pertanyakan pengetahuan-
nya m engenai Islam . Deddy Mizwar m enganggap rendah peng-
gambaran Islam dalam ilm Bramantyo. Chaerul Umam tak kenal
ampun dalam penilaian dan kritiknya terhadap ilm­ilm itu. Da­
lam sebuah wawancara di m edia ketika ditanya m engenai ajakan
untuk m em boikot Perem puan Berkalung Sorban, Um am m enya-
takan bahwa boikot itu tidak tepat: “Harusnya lebih dari itu. Film
ini sudah m elecehkan agam a. Im am (Im am Besar Masjid Istiqlal)
saja m engatakan ini penghinaan. Menurut saya, ini sudah term a-
suk dalam krim inal dan bisa disidangkan. Lem baga Sensor Film
(LSF) juga harus bertanggung jawab. Karena dia, ilm ini lolos ke
publik.” (Anshor 20 0 9). Tentu, dengan m engandalkan Chaerul
Um am dan Deddy Mizwar dalam produksi Ketika Cinta Bertasbih,
konfrontasi antara ilm itu dan Perem puan Berkalung Sorban
menjadi sebuah pertempuran ideologis atas islamisasi kontem-
porer dalam budaya layar. Untuk m em aham i m engapa Ay at-Ay at
Cinta lebih kontroversial dan populer ketimbang ilm­ilm islami,
amat bermanfaat untuk membandingkannya dengan dua ilm ter­
dahulu: Kiam at Sudah Dekat (2003, Mizwar) dan Catatan Si Boy
(1987, Cheppy).

Salah satu karya Deddy Mizwar sebagai seorang sutradara
adalah Kiam at Sudah Dekat. Awalnya ilm ini diedarkan sebagai
ilm panjang untuk bioskop pada tahun 2003; pada tahun 2005
diadaptasi m enjadi sinetron, dengan popularitasnya lebih besar.17

17 Pada tanggal 28 April 20 0 6 Festival Film Bandung m enganugerahkan lim a
penghargaan kepada sinetron tersebut (Koran Tem po 20 0 6). Pada tahun
20 0 7, sinetron itu m em asuki m usim ketiga.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 101

Amat menghibur dan penuh dialog cerdas, ilm ini berkisah tentang
perbenturan peradaban dalam kerangka kisah cinta. Kiam at
Sudah Dekat bercerita tentang Fandy, seorang rocker Indonesia
yang am at terpengaruh gaya hidup Am erika. Ia baru saja kem bali
ke J akarta sesudah tinggal dan tum buh besar di Am erika Serikat;
dan ia tak sengaja bertemu Sarah, seorang perempuan cantik dan
pem alu anak Haji Rom li (diperankan oleh Deddy Mizwar sendiri),
seorang ayah yang sangat konservatif dan protektif, serta seorang
Muslim yangam at taat. Ketegangan-ketegangan kocak berkem bang
antara Fandy yang konyol dan canggung, karena jatuh cinta habis-
habisan pada Sarah, dan Haji Rom li yang curiga bahwa Fandy
sedang iseng m engusili putrinya. Di m ata Rom li, Fandy adalah
seorang anak muda rusak tanpa harapan dan tak islami. Meskipun
begitu, menghadapi bujukan terus menerus dari Fandy agar ia
boleh m endekati Sarah, Rom li akhirnya setuju, dengan syarat
bahwa Fandy harus sukses melewati ujian tentang pengetahuan
agama Islam, juga dalam sikap dan perilaku dalam waktu dua
minggu. Melalui serangkaian episode panjang, sang pembuat ilm
m engikuti perjalanan spiritual Fandy m enjadi Muslim yang baik.
Dalam menghadirkan perjalanan itu, sang pembuat ilm meng­
arahkan khotbahnya kepada penonton untuk m enem ukan penye-
lamatan, dengan menunjukkan bagaimana mencapai hal itu lang-
kah dem i langkah. Film itu m enyam paikan pesan yang jelas bagi
kaum muda Indonesia secara umum: tak peduli separah apapun
seorang pendurhaka, sekuler, ke-Barat-Barat-an, m ereka tak akan
pernah terlambat untuk untuk memperbaiki diri sendiri; selalu
ada harapan untuk m enjadi seorang Muslim yang baik; dan tidak
akan sia-sia untuk berusaha karena ia akan mendapatkan pahala
yang jauh m elam paui m im pi yang paling liar sekalipun. Fandy tak
hanya berhasil m elewati ujian untuk m endapatkan persetujuan
Romli, dan juga membina hubungan dengan Sarah, ia juga secara
tulus m engubah dirinya dan keluarganya dalam proses belajar

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 102 Identitas dan Kenikmatan

m engenai Islam . Ketakwaannya terhadap agam a m elam paui du-
gaan sem ua orang dan Fandy m elam paui niatan asalnya untuk
sekadar menikahi Sarah.

Kiam at Sudah Dekat tak kurang menghibur dan patut secara
religius ketim bang Ay at-Ay at Cinta, atau bahkan kebanyakan
ilm­ilm Indonesia lainnya; bahkan mungkin lebih unggul. Film ini
menerima satu penghargaan dan cukup diterima baik di kalangan
kritikus. Tetapi Kiam at Sudah Dekat tidak kelewat sukses dalam
penjualan tiket atau juga tak memicu antusiasme diskusi publik
seperti Ay at-Ay at Cinta. Mengapa? Menurut hem at saya, salah
satu penjelasannya dapat dilihat pada bagaim ana Ay at-Ay at Cinta
m em bedakan dirinya dari Kiam at Sudah Dekat dan nyaris seluruh
ilm berorientasi islami lain sebelumnya. Dalam kebanyakan ilm
islam i, kaum m uda Indonesia ditam pilkan sebagai Muslim yang
teram at taat, yang perilaku, perkataan, dan pikirannya m em buat
m ereka tam pak lebih tua ketim bang usia m ereka sesungguhnya.
J ika tidak, seperti kasus Kiam at Sudah Dekat, kaum muda Indo-
nesia ini tam pil sebagai bahan olok-olok lantaran kenaifan dan
kekurangan mereka, sehingga mereka membutuhkan disiplin
yang ‘baik dan perlu’, pengawasaan orangtua dan koreksi dari
tokoh laki-laki tua.

Bandingkan dengan dunia pada Ay at-Ay at Cinta, yaitu dunia
orang m uda yang berada di pusat panggung, digam barkan tak
hanya m uda, keren, penuh sukacita dan pintar, tetapi juga pada
saat yang sam a berpikir m endalam , tak pura-pura dan sepenuhnya
sadar apa-apa yang pantas secara m oral dan agam a. Lebih penting
lagi, m ereka m em iliki sosok yang tegas, dengan kehendak sendiri
yang lebih besar. Pada ilm Ay at-Ay at Cinta (lebih daripada
novelnya), di luar fakta bahwa m ereka m em utuskan untuk m en-
jalankan pernikahan poligami, tokoh perempuan di sini memiliki
kehendak bebas lebih besar ketim bang tokoh utam a laki-laki. Ke-
timbang semata menjadi objek pendisiplinan dan olok-olok, atau

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 103

m odel yang dibuat berdasar im aji laki-laki Muslim konvensional
tua yang tak realistis, Ay at-Ay at Cinta m enyajikan sebuah dunia
orang m uda yang saling bicara satu sam a lain tentang hal-hal
yang paling penting bagi m ereka. Bahkan ketika orang m uda ini
meminta nasihat kepada orang-orang tua, hal itu digambarkan
sebagai pelaksanaan kehendak bebas mereka sendiri di mana
tokoh-tokoh muda ini memutuskan untuk meminta nasihat ke-
pada orang tua di waktu dan tem pat yang m ereka tentukan sen-
diri. Kehendak bebas yang lebih besar ini tentu bukan penyebab
tunggal sukses besar Ay at-Ay at Cinta. Di awal bab ini saya sudah
m enyodorkan beberapa kem ungkinan lain yang bisa m enjadi
penyebab kesuksesan ilm ini. Perbandingan dengan Kiam at
Sudah Dekat sem ata-m ata m enam bah satu kualitas lagi yang
m em buat Ay at-Ay at Cinta m enjadi sesuatu yang baru.

Film yang lebih pantas dibandingkan dengan Ay at-Ay at Cinta
adalah ilm yang menjadi hit besar pada dekade 1980­1990­an,
yakni Catatan Si Boy , terutam a dalam hal sukses kom ersial,
kem am puannya m em ulai sebuah tren, dan popularitas tokoh
utama laki­laki dalam ilm yang punya hubungan dengan banyak
perempuan sekaligus, serta tetap menampilkan kesalehan dalam
beragam a. Catatan Si Boy dibuat berdasarkan seri dram a radio
tahun 1985 yang disiarkan oleh stasiun radio swasta di J akarta,
Radio Prambors. Radio ini merupakan satu di antara radio paling
populer di kalangan anak muda J akarta dan salah satu sponsor
paling penting kegiatan-kegiatan musik pop Indonesia pada
dekade 1980­an. Empat sekuel ilm ini dibuat antara tahun 1988
dan 1990 . Untuk kebutuhan diskusi kali ini, saya m engacu kepada
lima judul ilm itu secara sekaligus sebagai satu kesatuan dan ter­
pisah dari cerita sem palan yang sem pat beredar dengan judul
Catatan Harian Si Boy (20 11, Tuta), di m ana tokoh utam a Si
Boy, sudah berum ur, hanya m uncul sekilas. Karena keterbatasan
ruangan, saya akan m enekankan hanya pada satu kesam aan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 104 Identitas dan Kenikmatan

dan satu perbedaan utama antara kedua ilm ini dalam kondisi­
kondisi yang lebih luas dengan tujuan khusus yaitu m em perkaya
pem bahasan yang sebelum ini sudah dilakukan orang lain.18 Ay at-
Ay at Cinta dan Catatan Si Boy m asing-m asing dapat diilihat
sebagai sebuah upaya untuk m enawarkan ideologi alternatif atau
pernyataan tandingan kepada logika m odernis yang dom inan
pada masa ilm­ilm ini diproduksi; yang satu sekuler (Catatan Si
Boy dibuat ketika Indonesia di bawah rezim Orde Baru) dan yang
satu lagi berdasar agam a (Ay at-Ay at Cinta dalam m asa pasca-
Orde Baru, ketika gelom bang islam isasi sedang m em uncak).

Film Ay at-Ay at Cinta dapat dibaca sebagai sebuah ungkapan
post-Islam ism e yang berkiblat liberal ketika terjadi kegairahan
Islam ism e di Indonesia yang telah berlangsung satu dekade dan
kebangkitan politik kaum Islamis. Fahri, tokoh utama laki-laki
dalam ilm ini, adalah seseorang yang sangat religius. Ia juga
m em iliki banyak kualitas m enarik lainnya– jiwa m uda, bergaya,
akrab dengan tren dunia terkini– tapi predikat keagam aannyalah
yang m erupakan sifat utam anya, dan dari situ kualitas kedunia-
annya dibangun. Lebih penting lagi, Fahri m enanggapi segala
sesuatu di sekitarnya dari perspektif keim anan, bahkan pada
aspek-aspek kehidupan yang tidak berkait dengan soal agam a.
Dengan kata lain, hal-hal ini merupakan aspek kehidupan sosial
yang m ungkin tidak ‘islam i’ tetapi ‘di-islam kan’ (Islam ized) (lihat
Bab 2). Meskipun am at patut dikagum i dalam soal kekuatan
im an, tokoh utam a dalam Ay at-Ay at Cinta sangat tidak siap un-
tuk berkelahi dan m em bela diri ketika tokoh lain m em ukulnya.
Ia terus m enerus bingung atau m enyerah pada tekanan perem -

18 Untuk komentar lebih jauh yang membandingkan kedua tokoh utama ilm,
lihat kolom opini Eric Sasono (20 0 8b). Krishna Sen (1991) term asuk salah satu
peneliti yang pertam a kali m elakukan analisa yang m engungkapkan banyak
hal tentang ilm Catatan Si Boy . Kom entar David Hanan tentang Catatan Si
Boy dibandingkan dengan ilm blockbuster nasional lainnya, Ada Apa dengan
Cinta? juga tak kalah relevannya dengan diskusi kita di sini (Hanan 20 0 8).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 105

puan yang jatuh cinta kepadanya. Film ini dapat dianggap m enye-
garkan bagi publik Indonesia setelah rezim Orde Baru jatuh dan
m achism o runtuh, serta setelah banyaknya pengebom an atas
nama jihad kaum Islamis. Mungkin bukan kebetulan momen
historis ini tecermin dengan baik pada proil presiden yang saat
itu sedang m enjabat (dan pertam a kalinya dipilih langsung oleh
rakyat), Susilo Bam bang Yudhoyono. Ia seorang pensiunan jen-
deral yang lebih banyak berpakaian sipil ketim bang seragam
m iliter. Selam a m asa jabatannya ia berulang kali m engecewakan
para pendukungnya dan m asyarakat um um karena sikapnya
yang tidak tegas. Pada saat yang sam a, ia am at m em banggakan
bakatnya dalam m enyanyi dengan m engedarkan album rekam an.
Ia adalah presiden yang sam a yang berkali-kali m engusap air
m ata pada saat m enonton Ay at-Ay at Cinta.

Sekalipun sam a-sam a tam pil sebagai sebuah penyataan tan-
dingan terhadap norm a yang sedang berlaku pada zam annya,
Catatan Si Boy m em iliki sifat yang bertolak belakang lantaran
konteks sosial dan politik yang sangat jauh berbeda dengan Ay at-
Ay at Cinta. Film yang jauh lebih dulu diedarkan ini m ewakili
sebuah ekspresi ‘post-sekularis’ (lihat Bab 2) yang terjadi pada
puncak rezim m iliter sekuler Orde Baru, yang m em elihara sebuah
proyek am bisius untuk m enghasilkan pertum buhan ekonom i
terus menerus selama dua dekade, pada saat politik Islam ditindas
habis-habisan, dan hingga tahun 1990 harus bergerak di bawah
tanah. Bertolak belakang dari Fahri dalam Ay at-Ay at Cinta, tokoh
utam a Si Boy dalam Catatan Si Boy m erupakan sosok dari kisah
sukses m aterial luar biasa kaum kaya baru di ibu kota J akarta pada
dekade 1980 -an dan 1990 -an. Ia seorang jago berkelahi dan perayu
perem puan. Banyak adegan dalam Catatan Si Boy m enam pilkan
gaya hidup gem erlap dengan berbagai em bel-em bel kehidupan
keluarga m aha-m akm ur Indonesia yang m enjalani kehidupan
m im pi Am erika yang banyak dipasarkan di Indonesia m elalui

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 106 Identitas dan Kenikmatan

ilm­ilm Hollywood: mobil mewah, rumah megah, perjalanan
berkali-kali ke London atau Los Angeles, liburan di pantai, dan
pesta di klub malam. Satu aspek ilm Hollywood yang tak ditiru
di sini adalah adegan seks atau adegan yang m engarah ke tem a
itu. Dua kali tokoh utama ilm ini menolak ajakan bersetubuh dari
dua perempuan berbeda sekalipun mereka sudah berada di dalam
kamar tidur. Sekalipun demikian, di luar dugaan dan terasa janggal
dalam struktur cerita, ada serangkaian adegan pendek di mana
tokoh utam a m enam pilkan sedikit kualitas religiusnya sebagai
seorang Muslim: shalat atau menggantungkan tasbih sebagai
hiasan di mobilnya yang mewah. Di ilm ini, hanya si tokoh utama
yang ditam pilkan m enjalankan kegiatan agam a seperti shalat dan
ini ia lakukan dengan jarang dan tidak konsisten. Misalnya, hanya
sesekali ia m enyapa orang lain dengan ucapan assalam ualaikum .

Berbeda dengan Ay at-Ay at Cinta, aspek religius tokoh utam a
dalam Catatan Si Boy am at sedikit dan hanya tam pil di kulit per-
m ukaan, sehingga bagian ini bisa sepenuhnya dihilangkan tanpa
merusak keutuhan ilmnya. Tak ada contoh di mana Si Boy me­
mandang serangkaian konlik yang terjadi sepanjang ilm dari
sudut pandang religius (seperti yang dilakukan oleh Fahri secara
konsisten di Ay at-Ay at Cinta). Biarpun sifatnya hanya tem pelan
kecil di Catatan Si Boy , penggam baran elem en yang ter-islam -kan
itu menimbulkan kehebohan di kalangan kaum muda di Indonesia
dan m em icu banyak kom entar di m edia. Mereka terkejut tak hanya
karena hal ini belum pernah ditemui dalam ilm­ilm Indonesia
yang tak secara khusus dipromosikan sebagai ilm islami, tetapi
juga karena hal ini terjadi di masa ketika Islam masih dipandang
dengan penuh curiga. Dilihat dari m asa sekarang, Catatan Si Boy
dapat dianggap sebagai ekspresi sinem atik yang paling awal dan
paling sukses dari aspirasi post-Islamisme (atau post-sekularis) di
Indonesia. Dua dekade kem udian, dan dalam kondisi sosial yang

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 107

jauh berbeda dan lebih m enguntungkan bagi apa pun yang berbau
islam i, sem angat ini tam pil sepenuhnya dalam Ay at-Ay at Cinta.

MELAMPAUI DIKOTOMI KOMODITAS/ AGAMA
Sem ua yang telah dibahas di atas m enunjukkan persaingan antara
berbagai ragam atau aliran post-Islamisme di Indonesia di arena
budaya layar, yang berbeda dari ketegangan yang terjadi di antara
m ereka sem ua dengan pihak-pihak yang lebih berorientasi po-
litik Islamis, dan menilai dakwah agama melalui ilm komersial
m erupakan hal yang terlarang (haram ). Bahkan dengan sedikit
contoh pilihan ilm yang didiskusikan di atas, pertentangan kiblat
yang ditem puh oleh senim an seperti Hanung Bram antyo dan
Habiburrahm an El Shirazy sejak Ay at-Ay at Cinta m asih terus
berlanjut sesudah Ketika Cinta Bertasbih selesai. Pada tahun
2010 Habiburrahman menyutradarai ilm Dalam Mihrab Cinta,
sebuah adaptasi dari novelnya yang lain. Pada tahun 2011, ilm
Hanung yang judulnya hanya satu tanda baca, yaitu ? (Tanda
Tany a), diserang oleh kelompok militan ganas Front Pembela
Islam (FPI). Ironisnya, sepak terjang penuh kekerasan kelom pok
ini digambarkan (tanpa menyebut nama mereka) di dalam ilm
itu. Melalui ancam an kekerasan yang dilakukan secara terbuka
dan dipublikasikan di media, FPI berhasil menekan pemerintah
kota Bandung (Mei 20 11) dan stasiun televisi SCTV (Septem ber
2011) untuk membatalkan penayangan ilm tersebut. Semua itu
sekeping dari suatu perselisihan yang lebih besar dan rum it m e-
ngenai tem pat yang tepat untuk agam a dan m oralitas di dalam
pem erintahan negara, ruang publik, dan wilayah privat, yang ter-
jadi di antara um at Islam dan m asyarakat Indonesia um um nya,
di negeri yang sangat m ajem uk ini. Meskipun dem ikian, sebagai-
m ana saya nyatakan sebelum nya, m enganalisa perselisihan ini
sebagai persoalan agama semata adalah sebuah kekeliruan.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 108 Identitas dan Kenikmatan

Pada bagian awal bab ini, sudah saya katakan bahwa satu alasan
penting keberhasilan Ay at-Ay at Cinta adalah hibriditasnya, pen-
cam puran unsur teks-teks Islam dengan form ula non-Islam yang
dipinjam dari industri hiburan global Hollywood dan Bollywood,
dan juga sinetron lokal. Perlu ditekankan bahwa ilm ini, berkat
keseim bangan unik dari kom posisi ini, telah m encapai puncaknya
baik secara kom ersial m aupun dalam pertem puran m oral yang
kini sedang hangat di masyarakat Indonesia mutakhir. Semua ilm
lain yang didiskusikan di atas juga m engandung hibriditas sam pai
derajat tertentu; sekalipun (dengan kekecualian pada Catatan Si
Boy pada m asanya) tak ada yang m em iliki dam pak yang sam a
pada kehidupan publik seperti yang dicapai oleh Ay at-Ay at
Cinta. Film­ilm lainnya mengandung terlalu banyak atau terlalu
sedikit muatan agama dan pendidikan moral ataupun unsur libe-
ralism e sekuler. Suksesnya Catatan Si Boy pada m asanya, m eng-
ungkapkan dua pesan penting: pertam a, tak ada form ula yang
statis untuk derajat hibriditas yang akan m enjam in sukses jangka
panjang ilm komersial secara lokal maupun internasional; dan,
kedua, efektivitas hibriditas tertentu sangat bergantung pada
pertarungan ideologis dan hubungan kekuasaan yang lebih luas,
terus berubah, dan sangat rum it di m asyarakat secara um um .

Dalam salah satu esai yang paling penuh wawasan yang tem a-
nya berkait dengan topik ini, Mushthafa (20 0 8) m em bedakan dan
m em bandingkan karya sastra “islam i” versus “pesantren”. Menu-
rutnya, karya islam i m enyuarakan sem angat islam i baru yang kini
sedang laku di Indonesia dan ini juga telah menghasilkan produksi
dan perayaan yang meriah terhadap im­ilm islami. Menurut
Mushthafa, gelom bang baru dakwah Islam yang kuat dan sadar ini
merupakan kerja kelas menengah cendekia Muslim urban dalam
m em erangi apa yang m ereka anggap sebagai ancam an terhadap
kehidupan Islam yang sejati di Indonesia. Ancam an itu adalah
sekularism e dan hedonism e dalam budaya populer. Mushthafa

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Pertempuran Sinematis 109

secara khusus m enyebut kerja Forum Lingkar Pena (lihat catatan
kaki no.7 bab ini) dan dugaan umum atas keterkaitan kelompok
itu dengan Partai Keadilan Sosial sebagai kekuatan pendorong di
balik keberhasilan kampanye yang dipelopori ilm­ilm semacam
Ay at-Ay at Cinta. Mungkin sejalan dengan kepercayaan diri dan
m ilitanism e m ereka, karya-karya kelom pok ini ditandai dengan
“penggunaan sim bol yang berlebihan sehingga ia kadang terjatuh
pada pola keagam aan yang form alistik,” m enurut Mushthafa.

Mushthafa m em bedakan karya-karya sastra islam i ini dengan
karya yang disebutnya bergaya pesantren. Ia mengidentiikasi
novelis Ahm ad Tohari dan Abidah El Khalieqy (penulis Perem -
puan Berkalung Sorban) sebagai contoh kom itm en yang lebih
besar terhadap persoalan-persoalan substantif kebebasan manu-
sia dan politik yang inklusif ketim bang kesibukan dengan nilai-
nilai sim bolis Islam . J elas Mushthafa berpihak pada karya sastra
pesantren ketim bang karya sastra islam i, nam un esainya juga
m elancarkan kritik terhadap orang-orang yang m engelola pesan-
tren atas kegagalan mereka untuk mengenali perbedaan antara
kedua jenis karya sastra yang dilahap oleh para santriwati m uda
yang m udah dipengaruhi. Pandangan Mushthafa ini sejalan
dengan tem uan Nancy Sm ith-Hefner tentang perbedaan antara
Muslim ah yang baru belakangan saja m endadak m enjadi taat
di lem baga pendidikan sekuler, dan aktivis fem inis Muslim dari
sekolah­sekolah agama (2007: 43). Kelompok yang pertama se­
cara konsisten m enyatakan ketaatan beragam a m ereka di m uka
umum, seakan secara tak sengaja mengungkapkan perasaan geli-
sah dan tak am an m ereka. Sebaliknya, karena m erasa am an de-
ngan keimanan mereka, kelompok kedua ini dapat mengejar ke-
pentingan m ereka dalam hal-hal lain, seperti politik yang inklusif
terhadap perbedaan dan pluralisme.

Pernah saya bahas di tulisan lain (Heryanto 20 11) bahwa di
Indonesia sekarang ini kita m enyaksikan proses ‘islam isasi m o-

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 110 Identitas dan Kenikmatan
dernitas’ m aupun ‘m odernisasi Islam ’. Penelitian akadem ik ter-
hadap popularitas ilm­ilm islami yang membatasi diri secara
sem pit pada pertanyaan nilai-nilai religius (atau kurangnya nilai-
nilai itu) mengandung risiko besar tidak melihat persoalan dalam
wawasan lebih luas dan kritis terhadap apa yang diungkapkan
oleh keberhasilan ilm­ilm ini mengenai situasi Indonesia saat
ini. Persaingan sinem atis seperti yang dibahas dalam bab ini m e-
rupakan sebagian dari proses yang rum it dari apa yang disebut
sebagai islam isasi. Persaingan yang sam a m erupakan tanggapan
terhadap konlik politik yang lebih besar di belakang layar se­
iring upaya bangsa ini untuk mendeinisikan ulang proyek mo­
dernitasnya. Dengan pertim bangan dem ikian, bab-bab berikut
dalam buku ini akan m em perlihatkan lebih jauh wilayah lain
pertem puran itu, sekalipun kaitannya dengan isu islam isasi di
masa lalu dan kini tak selalu diakui secara publik dan terbuka.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Bab 4

Masa Lalu yang Dicincang
dan Dilupakan

DUA BAB sebelum nya m em perlihatkan bagaim ana islam isasi
di Indonesia telah m enjadi satu-satunya faktor paling m enonjol
yang m engubah bangsa ini dan representasi visualnya, dalam
berbagai bentuk yang saling bersaing. Budaya populer di layar
seperti acara televisi dan ilm membentuk arena yang penting
untuk persaingan ini. Mereka yang belum atau kurang m engenal
Indonesia m ungkin heran dengan islam isasi yang baru terjadi
belakangan ini, terutama bila menimbang bahwa sudah berabad-
abad Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim
terbesar di dunia. Bahkan jika negara secara resm i m em ilih untuk
tetap sekuler, sebagaim ana yang telah dijalankan selam a ini, tetap
layak dipertanyakan m engapa baru belakangan islam isasi dalam
kehidupan sosial ini berlangsung sedemikian luas dan dalam
hingga m encapai taraf yang belum pernah terjadi sebelum nya.
Boleh dibilang, ada faktor internal dan eksternal yang m enjadi
sebab. Untuk sem entara ini, kita tunda dulu analisa sejarah yang

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 112 Identitas dan Kenikmatan

lebih mendalam dan rumit mengenai hal itu. Untuk keperluan
buku ini, cukuplah dicatat beberapa faktor terpenting saja.

Secara internal, m ayoritas um at Islam di Indonesia banyak
mengadopsi pendekatan sinkretis dalam praktik keagamaan me-
reka selama berabad-abad; mengaku Muslim sambil memperta-
hankan berbagai tradisi setempat dan unsur-unsur agama Hindu
dan Buddha yang telah datang ke kepulauan Indonesia sebelum
m asuknya Islam . Hal ini terjadi terutam a di J awa, pulau yang
dihuni oleh lebih dari separuh penduduk Indonesia. Bagi seba-
gian kelom pok Muslim m odernis yang lebih terdidik, praktik
umum seperti ini memprihatinkan karena dianggap praktik bidah
atau bentuk ketaatan beragam a yang m engalam i kem unduran
dan kem erosotan. Dalam kasus yang lain, ketegangan terjadi di-
sebabkan oleh adopsi dari aliran-aliran atau sekte-sekte yang
berbeda di dalam Islam . Ketegangan antara berbagai bentuk ke-
taatan beragama tak pernah berhenti sejak kedatangan Islam ke
pantai-pantai Indonesia. Sebagian besar ketegangan ini tak men-
jurus pada konfrontasi dengan kekerasan dalam lingkup m assal.
Konlik berdarah lebih sering terjadi sejak abad ke­19 hingga masa
perjuangan kemerdekaan Indonesia, ketika kaum Islamis modern
mengambil langkah lebih aktif untuk mempromosikan pandangan
Islam yang lebih m urni dan m engejar cita-cita Indonesia yang
lebih islam i. Kekerasan internal akhir-akhir ini m eningkat ketika
islamisasi terjadi dengan pesat, dan kadang-kadang dilakukan se-
cara tidak terkira. Berbagai percobaan oleh beberapa kelom pok
Islam is untuk m em asukkan syariat Islam ke dalam Undang-
Undang Dasar berkali-kali gagal. Sebagaimana dicatat oleh bab-
bab sebelum nya, bahkan pada puncak islam isasi saat ini, partai
politik yang m engusung Islam ism e berkali-kali tidak berdaya da-
lam pemilihan parlemen nasional; pada saat buku ini ditulis, tak
ada satu pun tanda-tanda mereka akan menjadi dominan dalam
waktu dekat.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 113

Yang tidak kurang penting, dan lebih relevan dengan bab beri-
kut, ada dua kekuatan eksternal yang telah m enahan laju Islam
sehingga kekuatannya terbatas dalam politik Indonesia selam a
lebih dari dua abad terakhir. Kekuatan pertam a adalah pem e-
rintahan sekuler, baik kolonial maupun pemerintahan Indonesia
m erdeka yang m enggantikannya, yang hingga tahun 1990 terus
berlaku tidak sim patik terhadap politik Islam is seraya m em -
perlihatkan sikap lunak terhadap partai politik Islam yang lem ah
atau dilum puhkan, serta kegiatan-kegiatan kebudayaan islam i.
Pada bab sebelum nya, saya telah m em bahas bagaim ana dan m e-
ngapa kebijakan Presiden Soeharto berbalik haluan pada tahun
1990 dan m ulai bersikap ram ah kepada aktivis politik Islam untuk
m enguatkan kem bali cengkeram annya terhadap kekuasaan.

Kekuatan eksternal kedua yang m engurangi kekuatan Islam
adalah kelom pok Kiri, terdiri dari Partai Kom unis Indonesia
(PKI) serta partai dan organisasi nasionalis sekular dan populis
lain yang telah m engham bat berbagai upaya untuk m em buat
Indonesia menjadi lebih islami. Sekalipun pernah terbina kaitan
dan persekutuan antara aktivis politik berkiblat kom unis dan
Islamis pada masa perjuangan kemerdekaan pada dekade awal
abad ke-20 , keakraban itu berusia pendek, dan sebagian besar
sejarah itu telah dihapus dari ingatan publik di Indonesia saat
ini. Memang, proses islamisasi besar-besaran sejak dekade
akhir abad yang lalu telah dim ungkinkan, antara lain, oleh pe-
m usnahan kaum Kiri pada tiga bulan terakhir tahun 1965, yang
digambarkan oleh para ahli sejarah sebagai salah satu pembu-
nuhan m assal terbesar dalam sejarah m odern. Siapa yang sesung-
guhnya bertanggung jawab terhadap pem bunuhan m assal itu
m asih m enjadi bahan perdebatan, sekalipun tulisan-tulisan yang
bermunculan mengenai topik itu menunjukkan bahwa para jen-
deral Angkatan Darat, di bawah kepem im pinan Soeharto, telah
m em ainkan peran kunci serta m engam bil m anfaat terbesar dari

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 114 Identitas dan Kenikmatan

peristiwa itu, sebagaim ana juga banyak pihak sipil anti-kom unis,
serta anggota berbagai organisasi Islam dan milisi lokal berperan
aktif dalam operasi penuh kekerasan itu. Pada tahun-tahun yang
penuh pergolakan itu, Blok Barat pada m asa Perang Dingin m em -
berikan dukungan besar kepada Soeharto, dan ikut menikmati ke-
untungan politis dan ekonomis pemerintahan diktator Soeharto
yang berusia panjang.1

Bab ini dan selanjutnya akan m eneliti peran yang sangat m e-
nentukan yang dim ainkan oleh ilm sebagai medium propaganda
di tangan pem erintahan Orde Baru, dan sebagai m edium yang
memungkinkan kisah­tandingan di tangan pembuat ilm inde­
penden sejak kejatuhan Orde Baru pada tahun 1998. Pentingnya
hubungan antara ilm dan sejarah pembunuhan massal pada tahun
1965-66, yang telah m enyediakan jalan bagi kebangkitan rezim
Orde Baru (1965-98), bukan sesuatu yang dibesar-besarkan.2

1 Pada akhir J uli 20 12, dalam sebuah laporan penyelidikan setebal 840 halam an
yang ditujukan kepada Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Kom isi Nasional
Hak Asasi Manusia (Kom nas HAM) secara resm i m enyatakan pem bunuhan
m assal itu sebagai pelanggaran berat terhadap hak asasi m anusia. Laporan
itu m enyebut beberapa nam a bekas pejabat m iliter (term asuk yang sudah
m eninggal dunia) yang bertanggung jawab terhadap pem bunuhan itu dan
m enuntut Kejaksaan Agung untuk m engam bil langkah untuk m em bawa m ereka
ke pengadilan. Kom nas HAM juga m engeluarkan pernyataan dalam sebuah
konferensi pers. Tak berselang lam a, Presiden Susilo Bam bang Yudhoyono
m engum um kan dukungannya terhadap rekom endasi Kom nas HAM itu.
Meskipun dem ikian, sekalipun banyak orang m enyam but pernyataan itu
sebagai sebuah kem ajuan sim bolis, hanya sedikit yang yakin bahwa dokum en
baru itu akan berdam pak terhadap m ereka yang bertanggung jawab, para
korban, dan buku-buku teks sejarah dan pengajarannya di sekolah. Beberapa
anggota parlemen menanggapi sikap Presiden dengan mencemooh laporan
tersebut dan m em pertanyakan m anfaat m enggali m asa lalu yang penuh
kekerasan dan berisiko menimbulkan perpecahan nasional. Pada pertengahan
Novem ber 20 12, Kejaksaan Agung m engeluarkan tanggapan resm i m enolak
laporan Kom nas HAM itu beserta klaim bahwa pem bunuhan m assal pada
1965-66 m erupakan pelanggaran berat Hak Asasi Manusia.

2 Dua buku utama dalam Bahasa Inggris tentang ilm Indonesia ditulis pada
m asa Orde Baru (tak secara khusus m em bahas gejolak yang terjadi pada 1965-
66) adalah karya Heider (1991) dan Sen (1994). Saya sangat bersyukur pada
sum bangan kedua karya pelopor ini bagi kerja awal saya di bidang ini.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 115

Berdasarkan kajian kritis terhadap ilm pendek dan dokumenter
yang ada tentang peristiwa 1965, serta m elalui pengam atan ter-
hadap peserta beberapa kegiatan pemutaran, wawancara, dan
tinjauan terhadap konteks lebih luas yang relevan bagi penelitian
ini, bab ini akan menawarkan sebuah kesimpulan sementara.
Berlawanan dengan harapan banyak penyintas represi brutal
Orde Baru, terbukanya ruang yang lebih besar bagi kebebasan
politik pada dekade pertam a kejatuhan Orde Baru ternyata tidak
banyak m em berikan m anfaat bagi upaya m em buka kebenaran,
membangun rekonsiliasi, atau mencapai keadilan. Propaganda
Orde Baru secara um um tetap bertahan dengan baik lebih dari
satu dekade sesudah pem erintahan itu bertekuk lutut. Lebih
buruk lagi, dan ini tak m engejutkan, banyak orang Indonesia dari
generasi yang lebih m uda, yang m enikm ati kehebatan teknologi
m edia baru dan kebebasan inform asi yang lebih besar, tam pak
kurang berminat pada masalah kekerasan politik di masa lalu.
Meskipun dem ikian saya akan m engajukan sebuah spekulasi
berupa skenario yang sedikit lebih optim istik pada bab berikut.

Untuk menganalisa ilm­ilm yang diperbincangkan dalam bab
ini, dan m engukur arti pentingnya secara politik, dua faktor akan
dipertimbangkan. Pertama adalah seperangkat hambatan naratif
yang menghadang para pembuat ilm ketika mereka membahas
topik yang sensitif dan dibatasi seperti pem bunuhan m assal 1965-
66. Saya akan m em buat garis besar konteks yang relevan yang
akan m em bantu pem baca m em aham i betapa seriusnya ham -
batan tersebut. Pertimbangan kedua akan menggarisbawahi latar
belakang dan tiga posisi berbeda para pembuat ilm sehubungan
dengan persoalan tersebut. Masing-masing dari tiga posisi ini
sedikit banyak m enjelaskan di m ana kekuatan dan kelem ahan
karya m ereka. Nam un sebelum itu, izinkan saya terlebih dahulu
m enyajikan sebuah latar belakang singkat, yakni sebuah ringkasan
tentang terorism e negara Orde Baru, dan upaya m ereka m eng-
andalkan ilm sebagai medium populer bagi mesin propaganda.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 116 Identitas dan Kenikmatan

DOSA ASAL
Selam a sebagian besar periode kekuasaannya, pem erintahan
Orde Baru m em bina keabsahan politiknya dengan bersandar
pada sebuah kisah yang direkayasa dan am at dikendalikan m e-
ngenai banjir darah 1965-66. Pem erintah m elakukan apa saja
yang dapat dilakukan agar dapat sepenuhnya m em egang kendali
kesadaran publik dan wacana tentang peristiwa itu dengan terus-
m enerus m em aksakan sejarah peristiwa 1965-66 versi resm i.
Dua peristiwa penting m em iliki arti utam a bagi rezim Orde
Baru untuk m em pertahankan versi resm i peristiwa sejarah ini.3
Yang pertam a m erupakan serangkaian peristiwa yang terjadi di
J akarta pada m alam m enjelang subuh tanggal 1 Oktober 1965
(ketika enam orang jenderal dan satu letnan diculik dan kemu-
dian dibunuh oleh sekelompok perwira menengah militer) dan
beberapa hari berikutnya (sesudah keberhasilan serangan balik
terhadap para penculik itu, yang dipim pin oleh Soeharto).4 Ber-
bagai pernyataan resm i tentang saat-saat yang sangat m enen-
tukan itu hanya sedikit, atau bahkan tak m em uat sam a sekali,
mengenai peristiwa kedua: pembunuhan besar-besaran sejak Ok-
tober 1965 hingga pertengahan 1966 terhadap anggota Partai Ko-
munis Indonesia, organisasi yang berailiasi dengannya, dan siapa
pun yang dianggap telah m elakukan atau m engatakan sesuatu
yang dipandang bersim pati kepada organisasi (yang ketika itu)
resmi tersebut. Sekalipun sebagian besar pembunuhan ini terjadi

3 Ada banyak tulisan mengenai dua pokok ini. Misalnya daftar pustaka terbaru
tentang peristiwa seputar 1965, lihat Roosa (20 0 9).

4 Salah satu karya terbaru dan terpenting m engenai perdebatan peristiwa ini
ditulis Roosa (2006). Adam (2008:39) menyajikan ringkasan perbandingan
singkat versi yang berbeda-beda m engenai peristiwa tersebut. Untuk bebe-
rapa contoh tulisan sebelum nya m engenai pokok ini lihat (berurut abjad)
Anderson (1987), Anderson and McVey (1971), Bunnell (1990 ), Crouch (1978),
Holtzappel (1979), Kam m en and McGregor (20 12), May (1978), Scott (1986),
Sulistyo (20 0 0 ), Wertheim (1979).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 117

di Pulau J awa, Bali, dan Sum atra, kejadian serupa juga terjadi di
pulau-pulau di wilayah tim ur Indonesia.

Puluhan ribu tersangka PKI dan pendukungnya turut ditahan
tanpa proses pengadilan, dan selama ditahan mereka mengalami
penyiksaan dan kerja paksa. Banyak yang m eninggal dunia selam a
dalam penahanan. Ketika m ereka dibebaskan pada akhir dekade
1970 -an, para penyintas dan anggota keluarga m ereka (keluarga-
inti m aupun keluarga-batih, bahkan anak-anak m ereka yang
belum lahir ketika itu) menderita secara sistematis. Hak-hak sipil
mereka dirampas, kebebasan bergerak mereka dibatasi, juga ke-
sem patan kerja, layanan publik, dan partisipasi dalam pem ilu.5
Sekalipun kesengsaraan yang berat itu tak disebutkan di dalam
buku-buku sejarah dan berbagai dokumen resmi, pemerintah tak
sepenuhnya m erahasiakan kekerasan tersebut. J ustru pem erintah
dan organisasi non-pem erintah pendukungnya secara rutin m e-
mamerkan ke hadapan publik kekejaman mereka terhadap para
korban dan keluarga m ereka untuk m engancam para penyintas
dan simpatisan (jangan sampai mereka berani bermimpi sedikit
pun soal menuntut balik atau balas dendam) sekaligus juga
m enebar teror kepada m asyarakat luas (dari kelom pok m asyarakat
inilah kediktatoran m iliter Orde Baru m enuntut kepatuhan se-
lama memerintah lebih dari 30 tahun). Perburuan yang luas ter­
hadap ancaman komunisme atau kebangkitan kembali mereka,
juga pemeriksaan secara mental dan ideologis, dilakukan secara
amat teliti dan bersemangat sebagai sebuah tontonan bagi publik
sepanjang pem erintahan Orde Baru (Heryanto 20 0 6a: Bab 2).

5 Sedikit contoh saja, secara acak, tulisan yang m em bahas soal ini (m enurut
abjad) Budiardjo (1991); Caldwell (1975); Cribb (1990 ); Farram (20 10 ); Fealy
dan McGregor (2010); Fein (1993); Heryanto (2006a); Purwadi (2003);
Robinson (1995); Roosa, Ratih, dan Farid (20 0 4); Sasongko dan Budianta
(2003); Southwood dan Flanagan (1983); dan Zurbuchen (2002, 2005).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 118 Identitas dan Kenikmatan

Sejak dini, rezim Orde Baru telah mengenali pentingnya ilm
sebagai alat propaganda. Pada tanggal 15 April 1969, Kom andan
KOPKAMTIB (Kom ando Operasi Pem ulihan Keam anan dan Ke-
tertiban) m engeluarkan sebuah instruksi (Kep-16/ KOPKAM-
TIB/ 4/ 1969) untuk pem bentukan “Projek Film KOPKAMTIB”
yang bertanggung jawab m em produksi “ilm dokumenter” sebagai
“m edia psywar” m elawan m usuh-m usuh di Indonesia m aupun
di luar negeri. Namun, butuh waktu lama bagi mereka untuk
memproduksi ilm propaganda yang cukup “bersifat subtil” dan
“harus m em enuhi persyarakatan [salah cetak dalam teks asli-
nya, mungkin yang dimaksud “persyaratan] perilman umum”,
sebagaimana yang dinyatakan oleh instruksi tersebut. Dua ilm
utam a yang pertam a-tam a disponsori oleh negara Orde Baru
Janur Kuning (1979, Surawidjaja) dan Serangan Fajar (1981,
Noer) m erayakan peran kecil Soeharto dalam pertem puran m i-
liter selama pergerakan nasional untuk kemerdekaan Indonesia
pada tahun 1945. Film propaganda yang paling berpengaruh,
Pengkhianatan G 30 Septem ber (1984, Noer) diselesaikan pada
tahun 1984 sesudah diproduksi selam a dua tahun.6 Dua tahun
kemudian ilm propaganda lain diedarkan: Penum pasan Sisa-sisa
PKI di Blitar Selatan (Operasi Trisula) (1986, Kadaryono) yang
m enggam barkan perburuan lebih jauh terhadap para penyintas
kom unis oleh m iliter di Blitar Selatan, yang dianggap sebagai tem -
pat persem bunyian terakhir m ereka.

6 Ada beberapa variasi judul ilm ini. Adegan pembukaan memperkenalkan
ilm ini sebagai Pengkhianatan G 30 Septem ber. Berbagai iklan ilm ini,
juga sam pul album VCD yang dijual secara kom ersial, m enyebutnya sebagai
Penum pasan Pengkhianatan G 30 Septem ber. Sertiikasi resmi dari Lem baga
Sensor Film m enyebut judulnya sebagai G 30 S PKI. Dalam banyak dokum en
dan pernyataan resmi, sebutan pemerintahan Orde Baru terhadap ilm ini
adalah Pengkhianatan G30 S/ PKI. Lebih dari sekadar urusan rem eh tem eh,
penyusunan kata­kata ini—terutama penggunaan singkatan ‘PKI’ atau
‘Partai Komunis Indonesia’—merupakan sebuah soal yang amat politis bagi
pemerintah, seperti akan dibahas nanti.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 119

Pada tahun 1988, pem erintahan Orde Baru kem bali m em -
produksi satu ilm propaganda: Djakarta 1966 (1982, Noer) yang
m enceritakan peralihan kekuasaan yang penuh kontroversi dari
Presiden Sukarno kepada Mayor J enderal Soeharto. Inti kontro-
versinya bersum ber pada dikeluarkannya Instruksi Presiden
tanggal 11 Maret 1996, yang ditandatangani oleh Presiden
Sukarno, dan penggunaan serta penyalahgunaan surat itu oleh
J enderal Soeharto (TAPOL 1989). Dokum en ini di Indonesia
dikenal dengan nam a “Surat Perintah Sebelas Maret”. Pem erintah
m em asyarakatkan singkatan “Supersem ar”, m engum pam akannya
sebagai Sem ar, tokoh setengah dewa dari kisah wayang. Dokum en
ini m em beri wewenang kepada Mayor J enderal Soeharto untuk
m em ulihkan ketertiban m asyarakat dan stabilitas pem erintahan,
memastikan keselamatan pribadi dan kewibawaan presiden, serta
m elaksanakan segala kebijakannya. Dua kontroversi m enaungi
surat perintah ini; yang satu berhubungan dengan bagaim ana
surat itu dikeluarkan, dan satu lagi berkaitan dengan penggunaan
dan penyalahgunaannya.

Seorang saksi m ata, Soekardjo Wilardjito, yang waktu itu ber-
tugas sebagai pengawal Istana Bogor, belakangan bersaksi bahwa
Presiden Sukarno menandatangani surat itu sementara kepala-
nya ditodong pistol oleh Brigadir J enderal Basuki Rahm at,7 satu
dari em pat perwira m iliter yang m endatangi Presiden di Bogor
dengan membawa rancangan surat berkepala surat kemiliteran,
bukan kepala surat istana presiden. Esoknya, Wilardjito ditahan;
ia dipenjara selam a 14 tahun tanpa proses pengadilan. Ia disiksa
sangat berat selam a dalam tahanan yang m enyebabkan ia cacat
secara isik. Sesudah kesaksiannya muncul ke ruang publik, me­
nyusul kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, ia didakwa telah

7 Banyak jalan utam a di Indonesia diberi nam a ‘Basuki Rahm at’; ia dianugerahi
gelar Pahlawan Nasional dan m eninggal dunia pada tahun 1969.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 120 Identitas dan Kenikmatan

m elakukan pencem aran nam a baik. Akhirnya, sesudah satu de-
kade pertarungan hukum di segala tingkatan, Mahkam ah Agung
m em bebaskan dirinya dari segala tuntutan pada bulan Agustus
2007 (Heru 2008).

Hingga saat ini, dokum en asli yang m em icu kontroversi telah
dinyatakan hilang (Adam 20 10 ). Banyak pihak tepercaya m e-
ragukan kisah Wilardjito. Terlepas dari kebenaran kesaksian
Wilardjito dan keberadaan dokumen asli Supersemar, Soeharto
m elakukan serangkaian tindakan yang jelas-jelas bertentangan
dengan isi Instruksi 11 Maret 1966. Sehari sesudah surat itu dike-
luarkan, ia m elarang Partai Kom unis Indonesia, sekalipun seba-
gian besar anggota partai tersebut telah dibantai enam bulan
sebelum nya. Pada pekan berikutnya, ia m em erintahkan pena-
hanan terhadap menteri pemerintahan Sukarno dan membentuk
sebuah kabinet baru. Sukarno, sesudah disingkirkan, dikenakan
tahanan rum ah hingga m eninggal pada tahun 1970 .

Pada pem ilihan um um tahun 1987, lautan gam bar Sukarno
m em banjiri ruang publik selam a periode kam panye sebagai du-
kungan terhadap partai oposisi-loyal Partai Dem okrasi Indonesia.
Pemandangan seperti itu menghentak pejabat pemerintahan,
sehingga gambar Sukarno dilarang ditampilkan pada pemilu
berikutnya. Serangkaian kam panye m enjelek-jelekkan Sukarno
terjadi segera sesudah partai penguasa Orde Baru m em astikan
kem enangan (yang sudah diduga sebelum nya) pada pem ilu 1987.
Dengan latar belakang seperti itu, ilm Djakarta 1962 diedarkan
dan menjadi penting secara politik. Pada malam pemutaran ilm
itu di Istana Negara, Soeharto secara tegas menandaskan ber-
ulang-ulang “kudeta m iliter tak pernah terjadi” dalam peralihan
kekuasaan 1965-66 (Kom pas 1988).

Tak ada m ateri propaganda, di layar m aupun di luar layar, yang
m enim bulkan dam pak sedahsyat Pengkhianatan G 30 Septem ber.
Film ini m em ecahkan rekor baru dalam durasi waktu tayang
(nyaris 4,5 jam ), jum lah pem ain pendukung (10 .0 0 0 orang), dan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 121

jumlah penonton, serta dalam investasi inansial dan pendapatan
(Kristanto 1984). Siswa sekolah diharuskan m em beli tiket untuk
menonton ilm itu pada jam sekolah.8 Meskipun berdurasi am at
panjang, ilm ini hanya bercerita tentang peristiwa selama lima
hari, antara 30 September hingga 5 Oktober 1965 (yang pertama
dari dua masa kritis periode sejarah Indonesia seperti disebutkan

sebelum nya). Film ini berfokus pada serangan kom unis terhadap

Muslim pem ilik tanah sebelum Septem ber 1965, pem bunuhan

terhadap tujuh perwira m iliter pada m alam 1 Oktober 1965 yang

telah didramatisir, dan adegan terkenal pesta seks perempuan

kom unis, yang m erupakan sebuah penggam baran rekaan sem ata

tentang anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang digam -

barkan telanjang, m enari-nari, dan bernyanyi sam bil m em otongi

tubuh para jenderal, di Lubang Buaya (untuk lebih jelasnya, lihat
Weiringa 20 11).9 Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ilm ini
sepenuhnya bungkam tentang episode kedua (yaitu pem bunuhan
massal), sekalipun ilm lanjutannya yang kurang terkenal diban­
ding ilm itu, yaitu Penum pasan Sisa-sisa PKI di Blitar Selatan

8 Adegan kekerasan dalam ilm itu begitu mengerikan sehingga patut diperta­
nyakan kepantasannya ditonton oleh anak-anak. Satu laporan jurnalistik ber-
judul “Demam dan Menjerit ketika Nonton Film G30 S/PKI” menggambarkan
pengalaman traumatik pelajar­pelajar muda yang menonton ilm itu
(Listyaningsih 1990 ). Nam un salah seorang yang hadir ketika penayangan
ilm itu di istana berkomentar bahwa adegan di Lubang Buaya (di mana terjadi
penyiksaan terhadap para jenderal yang diculik– penerjem ah) “kurang sadis”

(Tem po 1984: 78).

9 Adam berpendapat bahwa penggam baran perm usuhan kom unis terhadap
Muslim di Desa Panigoro seperti yang digambarkan dalam ilm itu dibesar­
besarkan (Adam 20 0 4). Cerita tentang pesta seks disebarkan oleh m edia cetak

m ilik m iliter dan segera m enyebar seperti api liar, m em arakkan sem angat

anti-kom unis yang m em babi buta pada situasi kacau di hari-hari pertam a

bulan Oktober 1965. Cerita yang sam a tentang pesta seks di Lubang Buaya

telah diabadikan dalam dioram a dan pahatan di Museum Lubang Buaya,

J akarta Tim ur, yang dibangun pada tahun 1990 . Sem ua penggam baran ini

bertentangan dengan hasil otopsi resm i oleh satu tim yang terdiri dari lim a

orang ahli forensik di bawah perintah langsung Mayor J enderal Soeharto.

Lihat Anderson (1987) untuk penerbitan dokum en hasil forensik tersebut

(dalam bahasa Inggris) dan catatan pengantarnya yang am at berguna.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 122 Identitas dan Kenikmatan

(1986, Kadaryono) m erayakan penghancuran terhadap kom unis
yang sedang m elarikan diri.

Nam un yang lebih penting ketim bang angka-angka yang m e-
m ecahkan rekor itu adalah fakta bahwa sekurangnya pada dekade
pertama peredarannya, ilm itu merupakan sumber utama—bah­
kan mungkin satu­satunya—sumber informasi rinci bagi orang
Indonesia tentang apa yang m ungkin terjadi pada Septem ber
hingga Oktober 1965. J aringan televisi m ilik negara, TVRI, m e-
nayangkan ilm itu setiap tahun pada tanggal 30 September.
Stasiun televisi swasta diwajibkan m enayangkan juga.10 Film ini
m em bingkai kerangka induk dan m enyeluruh bagi diskusi publik,
angan-angan, dan kiasan sepanjang periode Orde Baru. Pernya-
taan atau pertanyaan publik yang m eragukan keabsahan sejarah
resm i 1965 atau m enyebut kisah berbeda dari para ahli luar negeri
tentang hal ini, dinyatakan sebagai pelanggaran hukum dan dapat
dijatuhi hukuman pidana. Sekalipun menghadapi intimidasi se-
perti itu, suara-suara sumir tetap bermunculan dari waktu ke
waktu sem asa Orde Baru berkuasa, walau segera dilibas. Tekanan
ini terus berlanjut hingga saat penulisan buku ini, lebih dari satu
dekade sesudah kejatuhan Orde Baru.

Bagi banyak orang Indonesia, kom unism e pernah, dan m asih,
m enjadi subjek yang tabu untuk dibicarakan secara kritis, tapi
istilah “kom unis” sering dipakai sebagai m akian. Pada bulan

10 Seakan-akan sem ua itu tidak cukup, pem erintah juga m enghendaki seluruh ja-
ringan televisi menayangkan drama seri untuk melengkapi ilm Pengkhianatan
G 30 Septem ber. Term asuk di antaranya adalah Terjebak pada tahun 1996
dan Ny any ian Dua Bersaudara pada tahun 1997 (Kom pas 1998). Pada bulan
Mei tahun berikutnya (1998) Soeharto kehilangan kekuasaan dan Wakil Pre-
sidennya, B.J . Habibie m engam bil alih posisinya. Untuk m em berikan kesan
pem erintahannya berbeda dengan rezim Orde Baru, yang kini terhina, Habibie
menghentikan kewajiban stasiun televisi untuk menayangkan ilm Pengkhia-
natan G 30 Septem ber. Nam un seluruh stasiun televisi tetap dim inta m ena-
yangkan seri dram a televisi propaganda lain yang anti-kom unis: Bukan Seke-
dar Kenangan pada tanggal 30 September, Melacak Jejak Berkabut pada
tanggal 14 Oktober, dan Sum pah Kesetiaan pada 28 Oktober (Kom pas 1998).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 123

Agustus 1985, dalam peringatan 40 tahun Kem erdekaan Indo-

nesia, m ajalah berita terkem uka di Indonesia, Tem po, m enyeleng-

garakan sebuah pem ungutan suara. Ketika ditanya apa ancam an

paling serius terhadap Indonesia, lebih dari sepertiga responden

(sekitar 90 0 orang, kebanyakan dari J awa dan Sum atra) m em beri
jawaban: potensi kebangkitan kem bali kom unism e (Tem po 1985).11
Lebih dari separuh responden berusia antara 21 dan 30 tahun.
Harian Kom pas m enyelenggarakan pem ungutan suara serupa
pada tahun 2002 dan 2003 (Satrio 2002, 2003) dengan hasil
yang m enegaskan survei Tem po. Sesudah dua tahun m em asuki

m asa pasca-Orde Baru, Tem po m enyelenggarakan lagi satu ronde

pem ungutan suara m encakup 1.10 1 pelajar sekolah m enengah di

tiga kota terbesar di Indonesia (J akarta, Surabaya, dan Medan).

Untuk pertanyaan dari m ana m ereka belajar m engenai sejarah
peristiwa tahun 1965, 90 persen menjawab “ilm”.12 Karena hanya
ada satu ilm tentang hal itu, tak perlu diragukan ilm mana yang
m ereka m aksudkan. Sebanyak 97 persen m engatakan bahwa m e-
reka telah menonton ilm Pengkhianatan G 30 Septem ber. Dita-
nya mengenai berapa kali mereka telah menonton ilm itu, per­
sentase terbesar kelompok jawaban adalah 38 persen responden
dengan jawaban telah m enontonnya lebih dari tiga kali.

Pada awal dekade 20 0 0 -an, pem erintahan yang tergolong

liberal nam un berusia pendek yaitu pem erintahan Abdurrahm an

Wahid (1999-20 0 1) m em utuskan untuk m erom bak kurikulum

sekolah m enengah, sedikit m engubah kisah yang ada, dan m elu-

11 Hal kedua yang dianggap sebagai ancam an terbesar oleh responden adalah
“korupsi” (18,42 persen), cum a sedikit lebih dari separuh jawaban yang
menganggap bahwa komunisme sebagai ancaman paling berbahaya (33,65
persen). Menariknya, dilihat dari situasi sekarang, “Islam radikal” m engam bil
tem pat kedua terbawah dalam daftar potensi ancam an, dengan jum lah jawab-
an kurang dari 1 persen.

12 Responden survei ini diundang untuk m em beri lebih dari satu jawaban atas
pertanyaan yang diajukan. Pada puncak daftar jawaban adalah “guru dan buku
teks” (97 persen); “ilm” menempati urutan berikutnya (Tem po 20 0 0 ).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 124 Identitas dan Kenikmatan

nakkan tuduhan liar terhadap kom unis sebagai penjahat. Buku-
buku teks baru kem udian dipersiapkan dengan m enyesuaikan
kurikulum baru serta diterbitkan oleh perusahaan swasta. Na-
m un, pada pertengahan bulan J uni 20 0 5, Ketua DPR Agung
Laksono m em buat pernyataan yang m enjadi awal perdebatan
berkepanjangan dan emosional selama dua tahun. Ia memper-
tanyakan buku teks sejarah yang baru yang dalam pandangannya
telah “m encuci bersih” kejahatan kom unism e. Sesudah m elalui
serangkaian penyidikan oleh Kem enterian Pendidikan dan Kebu-
dayaan dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia, pada tanggal
5 Maret 20 0 7 Kejaksaan Agung m engeluarkan larangan terhadap
26 buku teks sejarah yang telah beredar di sekolah dengan dalih
bahwa buku ini menghilangkan tuduhan resmi kesalahan komunis
dalam beberapa konlik politik seperti peristiwa Madiun tahun
1948 dan J akarta tahun 1965 (Kustiani 20 0 7).13 Penegak hukum
dikerahkan untuk m enarik kem bali buku yang telah diedarkan
dan mengawasi pembakaran ribuan eksemplar buku-buku itu
(Baskoro 20 0 7; Febiana 20 0 7a; Ham luddin 20 0 7; Sutisna 20 0 7).
Sebagai tambahan, pemerintah bertekad untuk membuat buku
teks sejarah yang baru (Febiana 20 0 7). Sekalipun dem ikian, ke-

13 Dalam propaganda baku Orde Baru, Partai Kom unis Indonesia secara tetap
digambarkan sebagai pengkhianat bangsa sejak awal mula sejarah karena
upaya m ereka yang terus m enerus untuk m enggulingkan pem erintahan yang
sah. Pada tahun-tahun awal Orde Baru, tuduhan itu dikem ukakan dengan
m enyebut pengkhianatan kom unis pada tahun 1926, 1948, dan 1965. Pada
setiap m asa tersebut, PKI diserang habis-habisan, sebelum partai ini akhirnya
dim usnahkan untuk selam anya. Menurut propaganda Orde Baru, pem usnahan
terakhir itu belum cukup, karena “kom unism e tidak pernah m ati”, lihat
Heryanto (1999b). Dalam dongeng Orde Baru, yang punya cerita tetap
mempertahankan komunisme dalam lingkaran tanpa akhir: dibikin, diburu,
disiksa, dibunuh, dan kemudian hidup kembali. Setelah beberapa tahun
disebarluaskan kepada publik, kisah pem berontakan tahun 1926 dihilangkan.
Belakangan, juru bicara Orde Baru m enyadari bahwa negara-bangsa Indonesia
belum ada pada m asa itu, m aka subversi kom unis pada tahun 1926 dapat
diartikan sebagai sebuah tindakan kepahlawanan perjuangan nasionalis untuk
kem erdekaan dari penjajahan Belanda, lihat Heryanto (20 0 6a: 141).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 125

banyakan buku teks terbaru yang condong kepada Orde Baru
yang kini tersedia di toko buku, com pang-cam ping dan saling ber-
tentangan (Tan 20 0 8).

Reproduksi kam panye anti-kom unis oleh Orde Baru tak ber-
henti di situ. Dengan cara-cara yang am at m engingatkan pada pun-
cak kejayaan Orde Baru dan m asa Perang Dingin global (Heryanto
20 0 6a), serangkaian tindakan dilakukan untuk menghabisi tan-
da-tanda sekecil apa pun yang dapat dipandang sebagai upaya ke-
bangkitan kembali komunisme. Gambar palu arit dalam sebuah
pameran seni (Suara Merdeka 20 0 4), sebuah ucapan selamat
dalam buku teks bahasa Inggris (Syahirul 20 0 7) dan di kaos
(Kom pas 20 0 6), semua itu mengundang reaksi berlebihan dari
pejabat keam anan setem pat. Mereka m enyita barang-barang itu
dan m enahan sem entara orang-orang yang dianggap bertanggung
jawab. Satu cara mudah untuk memahami sikap anti-komunis
yang tam paknya sudah kuno ini adalah dengan m engenali betapa
kecil perubahan yang terjadi di dalam kelom pok inti yang m em -
bentuk elite politik tertinggi di Indonesia pasca-Orde Baru:

unsur-unsur dari rezim lam a jelas m asih berkuasa dalam berba-
gai aspek kehidupan politik Indonesia pasca-Soeharto. Meskipun
demikian, perubahan dalam lingkungan politik menuntut per-
ubahan perwujudan dan mekanisme kekuasaan. Tak urung peng-
gunaan lem baga publik dan sum ber daya bagi kepentingan pribadi,
yang m enjadi pola utam a Orde Baru, tetap m erupakan watak paling
m enentukan pada ekonom i politik pasca-Soeharto. Kelom pok-ke-
lom pok m asyarakat yang tak beradab (uncivil) seperti kelom pok
param iliter dan organisasi induk bagi kelom pok preman—kerap
dihubungkan dengan partai politik atau organsasi m assa yang ter-
kait—juga telah menjadi pemain­pemain yang penting.

(Heryanto dan Hadiz 20 0 5: 256)

Karena m eningkatnya gugatan terhadap propaganda Orde Baru
(dan kekhawatiran akan kem ungkinan terjadinya balas-dendam
sebagai konsekuensi hukum keterlibatan mereka dalam kejahatan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 126 Identitas dan Kenikmatan

Orde Baru), bisa jadi kecem asan telah m elanda elite politik yang
berkepentingan m em pertahankan status quo dan warisan rezim
lama. Dampak propaganda Orde Baru terhadap massa—juga
terhadap elite yang kepentingannya dilayani oleh propaganda
itu—tak bisa dianggap remeh. Saat ini, anti­komunisme masih
hidup dan berkobar di antara LSM (Lem baga Swadaya Masya-
rakat) dan kelompok-kelompok sosial termasuk milisi dan gang
yang terorganisir, sebagaim ana halnya yang terjadi setengah abad
lalu (lihat Bab 5).

Pada bulan Oktober 20 0 4 sekelom pok orang di Surabaya m e-
masang spanduk besar mengutuk kekejaman komunis di dunia
dan m engingatkan penduduk m engenai kejahatan m asa lalu yang
dilakukan kom unis di Indonesia (Rahardjo 20 0 4). Di Bandung
pada tahun 20 0 8, FPI (Front Pembela Islam) dan PP (Pemuda
Pancasila) m enyelenggarakan pawai peningkatan kewaspadaan
terhadap komunisme. Dalam kedua peristiwa ini, tak terlalu
jelas apa yang m em icu m ereka sehingga m erasa perlu m em buat
pernyataan publik seperti itu. J angankan m em perlihatkan sim -
pati terhadap kom unism e atau korban 1965, hal-hal yang jauh
lebih sepele bisa membakar kemarahan kelompok anti-komunis
seperti itu. Misalnya, sebuah diskusi ilm iah m engenai Marxism e.
Pada akhir tahun 20 0 6 satu kelom pok yang m enyebut diri
Perm ak (Persatuan Masyarakat Anti Kom unis) m enyerbu satu
toko buku di Bandung yang sedang m enyelenggarakan diskusi
tentang Marxism e. Alih-alih m elindungi pihak yang sedang dise-
rang, polisi setem pat m enahan pem bicara dan penyelenggara
acara dan mendakwa mereka dengan pelanggaran pidana berupa
penyebaran ide terlarang (Suwarni 20 0 6).14

14 Pada awal 1990 -an, tiga aktivis m uda dihukum penjara antara enam dan dela-
pan setengah tahun karena menghadiri diskusi seperti ini dan mengedarkan
novel yang dilarang. Mereka dihukum berdasarkan Undang-Undang Anti-
Subversi, yang hukum an tertingginya adalah hukum an m ati, lihat Heryanto
(2006a: Bab 3 dan 4).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 127

Pada akhir tahun 20 0 9, stasiun radio di Solo menjadi sasaran
ancam an dan protes kelom pok yang m enam akan diri Korps
Hizbullah Divisi Sunan Bonang, yang datang dengan pakaian
loreng ala militer sementara wajah mereka ditutup dengan tu-
dung bergaya jihadis. Yang m em icu kem arahan para pem rotes
ini adalah sebuah lagu yang dulu pernah populer dalam bahasa
J awa berjudul “Genjer-Genjer”, yang disiarkan oleh stasiun radio
itu. Menurut propaganda Orde Baru, Gerwani m enyanyikan lagu
ini ketika mereka melakukan pesta seks dan memotongi anggota
tubuh para perwira angkatan darat yang diculik pada 1965. Sejak
itu, lagu ini dilarang. Para pengunjuk rasa di Solo pada tahun
2009 ini menuntut permintaan maaf dari stasiun radio itu karena
“m enyebarkan sem angat kom unism e” dan m anajer stasiun radio
itu tunduk pada permintaan tersebut (Raiq 2009). Pada akhir
tahun 20 0 9, Kejaksaan Agung RI telah m elarang lim a judul buku,
dua di antaranya m enggugat cerita Orde Baru tentang 1965.

PERTARUNGAN TANPA AKH IR
Sebagaim ana pada m asa Orde Baru, situasi sekarang juga sam a
sekali tidak seragam dan merata. Pemaksaan narasi resmi dan
m unculnya segudang bentuk kisah-tandingan dapat ditem ukan
baik selam a m aupun sesudah pem erintahan Orde Baru. Pernah
saya uraikan dalam kesem patan lain, situasi di bawah pem erin-
tahan Orde Baru, dengan banyak contoh, guna m enyatakan bah-
wa tak ada pem erintahan otoriter yang bagaim anapun hebatnya
yang m am pu m em aksakan penindasan secara total tanpa adanya
kontradiksi internal, celah-celah kegagalan, dan tanggapan sub-
versif dari penduduk yang tertindas (Heryanto 20 0 6a). Pada
bagian berikut, saya berharap dapat m enyajikan sejum lah kasus
yang lebih m utakhir untuk m em beri gam baran lebih jauh tentang
kerum itan dan kontradiksi kondisi pasca-Orde Baru.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 128 Identitas dan Kenikmatan

Karena Orde Baru m elakukan stigm atisasi terhadap lagu
“Genjer-Genjer”, m aka baik aparat propaganda Orde Baru m au-
pun m ereka yang anti-Orde Baru m enggunakan lagu ini untuk
keperluan yang bertolak belakang.15 Film propaganda Orde Baru
Pengkhianatan G 30 Septem ber/ PKI m enggunakan lagu itu untuk
m enggam barkan kelom pok kiri sebagai iblis (Heryanto 20 0 6a:
6-9, 11-16) sem entara sim patisan kaum Kiri m enggunakan lagu
itu untuk m enghargainya. Para senim an di Yogyakarta m em ain-
kan dan m enyanyikan lagu itu sebagai bagian dari penam pilan
yang condong pada ideologi Kiri (Fadjri 20 0 4). Lagu itu m uncul
pada ilm Gie (Riza, 20 0 5), ilm dokumenter Putih Abu-abu: Masa
Lalu Perem puan (20 0 6, Prim onik, Kum alawati, Yanuar, dan
Ramadhan) dan ilm dokumenter Amerika, 40 Years of Silence
(20 0 9, Lem elson). Lagu itu dikarang oleh Muham m ad Arief sebe-
lum ia bergabung dengan Lekra (Lem baga Kebudayaan Rakyat),
sebuah organisasi yang berkait dengan PKI. Sekalipun berbagai
kelom pok Kiri pada pertengahan dekade 1960 -an am at m enyukai
lagu itu dan m em bantu m em asyarakatkannya, popularitasnya
jauh m elam paui lingkaran politik kelom pok kiri. Beberapa artis
terkenal yang sam a sekali tak punya kaitan dengan kelom pok kiri
m enyertakan lagu ini dalam album rekam an m ereka (m isalnya
penyanyi pop Lilies Surjani dan Bing Slam et) atau pada pertun-
jukan wayang (m isalnya dalang terkenal Ki Nartosabdo) (Budi
20 0 9; Parlindungan 20 0 7; Utom o 20 0 5).

Pada bulan Mei 2003, Fakultas Hukum Universitas Indo-
nesia m engusulkan Ketetapan MPR No. Tap MPRS No.XXV/
MPRS/ 1966 untuk dibuang saja ke tem pat sam pah sejarah
(Kom pas 2003). Ketetapan inilah yang melarang Partai Kom unis

15 Kasus “Genjer-genjer” m enjadi contoh bagaim ana pihak yang dom inan m en-
ciptakan dan m enentukan sifat perlawanan pem bangkangnya. Soal ini akan
disentuh lagi dalam diskusi ilm Djedjak Darah dan Mass Grave pada bagian
b er iku t n ya .

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 129

Indonesia dan m enyatakan bahwa setiap penyebaran Marxism e-
Kom unism e dan Leninism e bersifat terlarang di Indonesia,
dengan pengecualian sebagai bagian dari analisis akademis di
perguruan tinggi. Bisa diduga, banyak lem baga pem erintah dan
non-pemerintah menolak dengan keras usulan itu. Fakta bahwa
usulan itu dibawa oleh sebuah lembaga berwibawa telah memicu
debat serius di kalangan elite negeri ini, merupakan peristiwa
penting tersendiri. Toko-toko buku utama di Indonesia sempat
dipenuhi oleh buku-buku kiri pada awal 20 0 0 -an, termasuk
judul-judul yang m asih dilarang, seperti novel karya Pram oedya
Ananta Toer (Kom pas 20 0 0 a, 20 0 0 b). Pada tahun 20 0 5, aktivis-
aktivis m uda bekerja sam a dengan bekas tahanan politik tahun
1965 m erayakan terbitnya terjem ahan Indonesia dari buku Karl
Marx, Das Kapital (Tauiqurrahman 2005).

Pada akhir bulan Februari 20 0 4, Mahkam ah Konstitusi
m em buat putusan bersejarah yaitu m em ulihkan hak-hak korban
1965 dengan m engam andem en undang-undang sebelum nya
(yaitu UU No.3 tahun 1999 dan UU No.12 tahun 2003) yang
membolehkan warga negara seperti mereka untuk memberi
suara dalam pemilu namun tetap memangkas hak mereka seba-
gai calon terpilih dalam pem ilu parlem en bulan April 20 0 4
(Saraswati 20 0 4).16 Ada tanda-tanda kem ajuan yang lain, yakni
bekas tahanan politik m eluncurkan upaya hukum pada tahun
20 0 5 untuk m elawan ketidakadilan yang m enim pa m ereka sela-
ma ini, dengan mengajukan gugatan hukum terhadap semua
presiden Indonesia sebelum nya (Soeharto, B.J . Habibie, Abdur-
rahm an Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bam bang
Yudhoyono) (Can 20 0 5). Yang m engejutkan banyak pihak, se-

16 UU yang diam andem en ini tidak cukup untuk m em perbolehkan bekas tahanan
politik tragedi 1965 untuk m enjadi calon presiden. Ketua Mahkam ah Konstitusi
J im ly Asshiddiqie juga m erupakan tokoh kunci dalam usulan Fakultas Hukum
Universitas Indonesia untuk m em buang Tap MPRS No.XXV/ MPRS/ 1966 itu.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 130 Identitas dan Kenikmatan

sudah serangkaian penelitian adm inistratif, Pengadilan Negeri
m enyatakan dakwaan m ereka sah, dan m em utuskan proses per-
sidangan dilanjutkan. Sekalipun kemudian pengadilan memutus-
kan untuk menggugurkan dakwaan dan membebaskan para ter-
tuduh, putusan akhir ini sem pat m encem askan banyak pihak ber-
kepanjangan, term asuk tam pilnya ancam an kekerasan dari Front
Pembela Islam (Diani 20 0 5).

Selain beberapa pertarungan yang digam barkan di atas, bebe-
rapa upaya rujuk telah berhasil m enyatukan m ereka yang berada
pada posisi politik yang bertentangan pada tahun 1960 -an. Salah
satu contoh terpenting adalah upaya sebuah lem baga non-pem e-
rintah bernam a Syarikat, didirikan oleh aktivis Nahdlatul Ulam a,
organisasi Islam terbesar di Indonesia yang juga diduga terlibat
dalam pem bunuhan m assal pada tahun 1965.17 Reform asi hukum
luar biasa yang dilakukan oleh Mahkam ah Konstitusi tahun 20 0 4
(yang dibahas di atas) terjadi atas prakarasa dan usaha kelom pok
yang terdiri dari orang-orang yang berm usuhan pada tahun
1960 -an, kutub kiri m aupun kutub kanan dalam rentang ideologi
(Wijayanta 20 0 4).

Dalam satu upaya rujuk lain, sebuah pertem uan terjadi pada
akhir bulan Agustus 20 0 9 di Pesantren Sabilil Muttaqien di Desa
Takeran, Magetan, J awa Timur. Pertemuan ini disponsori oleh
Dahlan Iskan, ketika itu CEO kelom pok usaha m edia J awa Pos
Group, sebelum ia menjabat sebagai Menteri Negara Pengawas
Badan Usaha Milik Negara (lihat Bab 1). Lokasi pertem uan ini
m erupakan salah satu tem pat terjadinya bentrok berdarah pada
tahun 1948 antara partai kom unis dan partai Islam , Masyum i.
Insiden ini dikenal sebagai Peristiwa Madiun. Sekalipun lima
orang pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqien terbunuh pada
insiden tersebut, pembicara kunci pada pertemuan tahun 20 0 9

17 Kita akan kembali membahas Syarikat nanti dan ilm yang mereka produksi
tentang tahun-tahun yang berm asalah itu.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 131

itu adalah Soem arsono, ketua sayap m iliter organisasi kom unis
dahulu (Dhyatm ika dan Wibowo 20 0 9). Pada m inggu berikut-
nya, dengan m em akai kostum jihadis, lebih dari seratus anggota
FPI m engadakan pawai di depan kantor harian Jaw a Pos di
Surabaya. Mereka m em bakar koran-koran Jaw a Pos dan buku
karangan Soemarsono berjudul Revolusi Agustus serta menuntut
Dahlan Iskan m em inta m aaf secara terbuka. Yang m em buat
marah para pemrotes itu bukanlah pertemuan di Magelang, me-
lainkan serangkaian wawancara yang dilakukan oleh Dahlan
dengan Soem arsono. Berbeda dengan kasus pem utaran lagu
“Genjer-Genjer” stasiun radio di Solo yang tunduk pada tuntutan
gerom bolan ini, pihak Jaw a Pos m enolak tuntutan tersebut dan
mengundang mereka untuk menulis surat bantahan terbuka
untuk dim uat di Jaw a Pos (Tauiq 2009).

Untuk m eringkas bahasan pada bagian ini, saya tekankan
kem bali pem erintahan Orde Baru (baik pada saat m em erintah
dan sesudah kem atiannya) ditandai dengan berbagai pandangan
dan kisah yang saling bertentangan. Hubungan-hubungan antara
kisah yang bersaing ini tak pernah kaku dan juga tak beku m enuju
satu arah tertentu saja. Melainkan, berbagai pandangan dan
kisah tersebut berubah-ubah dalam melintasi ruang dan waktu.
Sentim en anti-Orde Baru am at kuat pada tahun-tahun pertam a
kejatuhan Orde Baru. Periode itu lantas diikuti beberapa tahun
langkah mundur berupa nostalgia terhadap stabilitas ekonomi
dan ketertiban yang m enjadi ciri rezim otoriter Orde Baru, yaitu
ketika dam pak krisis ekonom i tahun 1997 berkepanjangan tanpa
ada satu kekuatan m am pu m engelola negara pasca-Orde Baru
sendirian (Heryanto dan Hadiz 20 0 5). Sejak pertengahan 20 0 0 -
an tampak terjadi perpecahan pandangan dan suara, dan sedikit
sekali tanda akan m ereda, atau akan terjadinya konsolidasi sebuah
kelompok entah posisi kelompok anti-komunis ataupun anti-Orde
Ba r u .

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 132 Identitas dan Kenikmatan

MEDIA BARU, LUKA LAMA
Dengan pertum buhan teknologi m edia baru yang dem ikian cepat
pada pergantian m ilenium (lihat Bab 1), kesulitan untuk m enye-
lesaikan persoalan 1965 m em asuki tahapan baru. Di beberapa
wilayah, Indonesia telah m engalam i perubahan penting sejak
kejatuhan Orde Baru, tetapi perubahan ini tak langsung dan tak
sepenuhnya dapat dikaitkan dengan kejatuhan Orde Baru. Per-
kem bangan dan penyebaran teknologi m edia adalah salah satu
contoh perubahan seperti itu. Bahkan, beberapa pengam at (m isal-
nya Garcia 20 0 4; Hill dan Sen 20 0 5; Sen dan Hill 20 0 0 ) berpen-
dapat kebalikan dari pandangan um um ; bahwa media—yang
bertumbuh pesat berkat bantuan Orde Baru—merupakan salah
satu dari banyak kekuatan yang m enyum bang kejatuhan rezim
Orde Baru. Bagian ini akan m eneliti beberapa upaya m eninjau
kem bali kekerasan tahun 1965 yang dilakukan oleh beberapa
pembuat ilm pendek dan dokumenter di Indonesia. Saya akan
m erum uskan beberapa m asalah utam a yang ditem ukan oleh para
pembuat ilm Indonesia dan potensi sumbangan mereka untuk
proyek di m asa m endatang dengan tujuan serupa. Dengan bebe-
rapa kekecualian yang akan dibahas di bawah ini, beberapa ilm
bioskop panjang kom ersial m enghindari topik kontroversial ini.

Di tengah perkembangan teknologi media secara luas, indus-
tri ilm nasional pada awal tahun 2000­an mengalami kebang­
kitan yang m engesankan baik dalam jum lah produksi per tahun
m aupun tingkat keberhasilannya secara kom ersial. Seiring de-
ngan perkembangan industri ilm dan televisi, dan sedikit banyak
sebagai ungkapan kekecewaan terhadapnya, kaum m uda Indo-
nesia menemukan kesibukan baru dalam membuat ilm pendek
dan dokum enter pada tahun 20 0 0 -an. Istilah ‘indie’ (singkatan
“independen”) banyak digunakan pada awal 20 0 0 -an untuk m e-
nyebut kegem aran baru ini. Nam un, sebagaim ana di tem pat lain,
di sini istilah ini secara cepat kehilangan daya tariknya. Sebagian

pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version