The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-12-16 16:24:45

Identitas Dan Kenikmatan

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

Dari Layar ke Politik Jalanan 283

publik (semisal orang duduk bersebelahan di angkutan umum
atau ruang tunggu) tentang urusan keluarga dianggap sebagai
praktik sehari-hari yang lum rah.

Yang jelas, tak ada m asyarakat m odern sekarang ini yang pada
kenyataannya m urni berkiblat pada kom unikasi lisan saja atau
bergantung pada tulisan saja. Dalam setiap m asyarakat, perbedaan
mode komunikasi saling berkompetisi satu sama lain, dan pada
kurun sejarah tertentu satu bentuk yang lebih dom inan ketim bang
lainnya. Sejak paruh kedua abad lalu, ketegangan antara m ode
komunikasi lisan dan tulisan telah diperumit oleh berkembang dan
m enyebarnya secara pesat teknologi m edia digital. Berlawanan
dengan dugaan m ereka yang terdidik Pencerahan abad ke-20 dan
ke-21, kekuatan revolusioner teknologi baru ini lebih m enantang
bagi orang-orang (khususnya generasi yang lebih tua) pada
m asyarakat yang am at bergantung pada kom unikasi tertulis
(Fernback 2003) ketimbang mereka yang lebih berkiblat pada
komunikasi lisan. Teknologi serupa dapat diterima dengan hangat
di m asyarakat berkiblat kom unikasi lisan seperti Indonesia,
karena hal itu cocok dengan pola kom unikasi yang m enghendaki
partisipasi kolektif tinggi (Heryanto 20 0 7).

Seperti halnya negara-bangsa m odern, pem ilu sebagaim ana
yang kita kenal kini m erupakan produk tatanan sosial yang
berkiblat pada komunikasi tertulis. Namun, ini tak berarti bahwa
pem ilu atau dem okrasi tak cocok dengan m asyarakat non-Barat. Di
antara m asyarakat berkecenderungan lisan dan bangsa terjajah di
Asia dan Afrika, pem ilu telah diselenggarakan secara sukses dengan
derajat berbeda-beda. Terlepas dari apakah pemilu diperkenalkan
dengan kekerasan kepada m asyarakat berkiblat kom unikasi
lisan, pemilu kerap menghadapi berbagai kesulitan selain soal-
soal teknis dan logistik. Hingga kini, standar pengelolaan pemilu
m elibatkan perundang-undangan yang ditulis dengan bahasa yang
analitis milik kaum terpelajar, serta upacara di mana para pemilih

pustaka-indo.blogspot.com


284 Identitas dan Kenikmatan

m asuk ke bilik suara sebagai individu; m ereka m em baca dan
m eninggalkan tanda di kertas suara dalam kesunyian yang ‘privat’,
dan ini diikuti oleh penghitungan suara yang birokratis. Tentu
saja pem ilu bisa m engam bil bentuk dan proses yang berbeda di
m asa depan dengan pengem bangan teknologi digital yang sudah
diantisipasi, m isalnya dengan prosedur pem ungutan suara seperti
yang digunakan dalam acara reality show televisi (lihat uraian di
bawah). Degan latar belakang ini, bagian ini akan mendiskusikan
ciri khas pemilu 20 0 9 di Indonesia dan menunjukkan perbedaan
historisnya dengan pem ilu sebelum nya.

KAMPAN YE PEMILU 2 0 0 9 4
Sebagaim ana pem ilu sebelum nya di Indonesia, hasil pem ilu par-
lemen nasional 20 0 9 mudah diduga, sekalipun derajat keme-
nangan partai hanya dapat dijadikan bahan spekulasi sebelum
hari pem ungutan suara.5 Kem enangan Partai Demokrat—dan ter­
pilihnya kembali Presiden bertahan Susilo Bambang Yudhoyono—
juga berarti bersam bungnya dan m enguatnya status quo politik.6
Nam un, satu inovasi penting telah m em bedakan pem ilu 20 0 9
dengan yang sebelum nya, yakni peraturan baru yang m enjatahkan
kursi yang dim enangkan oleh partai-partai kepada para calon
dengan jum lah suara pem ilih terbanyak, dan bukan m ereka yang
berada di peringkat tertinggi dalam daftar calon yang dikeluarkan
oleh partai. Sistem daftar partai yang terbuka ini m erupakan
hasil keputusan Mahkam ah Konstitusi pada bulan Desem ber

4 Saya berterim a kasih atas pertolongan besar Ahm ad Faisol dan tim nya dari
ISAI (J akarta) dalam pengum pulan sejum lah besar bahan em piris pem ilu
2009 untuk bab ini.

5 Pem ilu 1955 dan 1999, yang terjadi pada saat-saat krisis, jauh lebih tak
terduga.

6 Taylor (1996a: 4) m engam ati bahwa hal ini m erupakan hasil pem ilu yang lazim
di Asia Tenggara. Mungkin perlu ditam bahkan bahwa hal serupa juga terjadi
di banyak negara lain di luar wilayah ini.

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 285

20 0 8 yang m em utuskan peringkat daftar partai sebagai tidak
konstitusional. Peraturan ini m em iliki dua dam pak yang bertolak
belakang terhadap m asyarakat: m ereka diberdayakan sekaligus
dilum puhkan pada saat yang sam a.

Di luar persoalan logistik, pem ilu 20 0 9 m em iliki dam pak yang
m em berdayakan dengan m em perluas dan m em perkuat pendidik-
an politik kepada seluruh m asyarakat. Melalui berbagai m acam
cara, warga negara Indonesia—khususnya yang kurang beruntung
secara sosial—memperoleh informasi mengenai prinsip­prinsip
dasar dan nilai-nilai pemilu sebagai bagian esensial berdemokrasi.
Nam un hal ini bukan m erupakan pengalam an yang sepenuhnya
baru. Bahkan pada puncak kebijakan politik Orde Baru yang m en-
depolitisasi m assa, beberapa inform asi terkait keteram pilan dan
pengetahuan praktis untuk berpartisipasi dalam pemilu telah
disediakan. Sejak tahun 1999 dengan berakhirnya otoritarianism e
negara serta propaganda dan indoktrinasi dari atas ke bawah,
pendidikan politik—khususnya mengenai pemilu—mengambil
bentuk yang lebih m em bangkitkan kesadaran dem okrasi. Terlebih
penting lagi, perubahan ini ditem ani oleh tingginya tingkat
kesukarelaan dan partisipasi dari bawah.

Sebelum pem ilu 20 0 9, pejabat Kom isi Pem ilihan Um um (KPU)
dan partai-partai politik menjelajahi daerah-daerah terpencil
untuk m em perkenalkan aturan prosedur baru. Banyak kegiatan
ini dirancang secara khusus dengan sasaran hadirin dari beragam
latar belakang geograis, etnis, dan bahasa dan kebanyakan me­
reka berkiblat pada kom unikasi lisan. Maka, acara penyam paian
inform asi am at bergantung pada interaksi tatap m uka, term asuk
penggunaan seni pertunjukan tradisional (dengan aktor manusia
dan berbagai alat bantu visual lain), konser m usik m odern dan
upacara dalam bahasa sehari-hari, sebagian besar dalam bentuk
pertem uan yang santai. Beberapa penyuluh dari KPU dan partai
politik menempuh perjalanan jauh ke pasar tradisional sehingga

pustaka-indo.blogspot.com


286 Identitas dan Kenikmatan

dapat berkomunikasi tatap-muka dengan penduduk setempat.
Di beberapa wilayah, m obil m ini bus dengan pengeras suara

berjalan perlahan di kam pung-kam pung m enyiarkan inform asi
penting secara langsung. Upaya untuk m endidik m assa bahkan
terjadi pada m ereka yang terlalu m uda untuk m em ilih. Misalnya,
di J akarta pusat guru-guru dari enam sekolah dasar menghabiskan
waktu berjam-jam melatih murid mereka hal-hal dasar seputar
pem ilu. Pelatihan itu tak hanya m eliputi pengajaran dan diskusi
tapi juga kegiatan peragaan, dan murid-murid dari kelas 5 dan
6 m elakukan uji coba pem ilu. Anak-anak kecil ini berpidato dari
mimbar di halaman sekolah, merancang poster, terlibat dalam
debat tentang kebijakan, mencoblos kertas suara, dan menilai
keabsahan kertas suara. Kegiatan seperti ini dapat ditem ukan di
seluruh negeri, sehingga pem ilu 20 0 9 m enjadi pengalam an yang
edukatif dan terbuka bagi banyak orang.

Sementara pemilu telah memberikan semangat dan member-
dayakan orang kebanyakan di Indonesia, sem ua itu diim bangi
oleh kecenderungan sentrifugal yang dipicu oleh undang-undang
pem ilu yang baru. Terlebih penting, peraturan baru ini m engadu
antar-calon dari partai yang sam a. Salah satu dam pak paling nyata
dari aturan yang baru ini adalah terhapusnya kebiasaan usang di
mana pemimpin partai menempatkan diri pada puncak peringkat
nomer urut partai dan mengamankan posisi mereka agar terpilih
(kembali). Di bawah peraturan baru, politisi tak memiliki pilihan
kecuali bekerja keras dalam kam panye yang baru dan m eluas
untuk mempertahankan kedudukan mereka. Sebagai akibat
sam pingan dari sistem pem ilu yang kom petitif ini, tipe baru calon
m uncul untuk m enantang dom inasi fungsionaris partai lam a: para
‘pesohor’ (atau selebritas), khususnya bintang ilm dan televisi,
musisi, dan pelawak.

Sekalipun jum lah total para pesohor ini hanya 61 orang, sangat
kecil saja dari 11.0 0 0 calon di seluruh negeri yang bersaing untuk

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 287

kursi parlem en (Messakh 20 0 9), m ereka m enyedot perhatian besar
publik. J um lah pesohor yang berhasil m asuk ke parlem en lebih
besar ketim bang yang diperkirakan sebelum nya.7 Dalam beberapa
kasus perolehan suara mereka lebih besar ketimbang para politisi
senior m ereka sendiri. Misalnya, pem ain dram a televisi Rieke
Diah Pitaloka memperoleh jumlah suara perorangan terbesar dari
pem ilih PDIP di daerah pem ilihan J awa Barat II, m engalahkan
pem im pin partai Tauiq Kiemas. Serupa dengan itu, bintang ilm
Nurul Ariin menjadi peringkat pertama di daerah pemilihan
J awa Barat VII m engalahkan politisi senior Ade Kom arudin yang
berasal dari partai yang sam a, Golkar (Dariyanto 20 0 9). Tak m au
kalah, pelawak Mandra berada di depan pejabat Ketua DPR Agung
Laksono (Bayuni 20 0 9). Pada tahun 20 0 8, aktor Rano Karno dan
Dede Yusuf m asing-m asing terpilih m enjadi Walikota Tangerang
dan Wakil Gubernur J awa Barat (Khoiri dan Ivvaty 20 0 9). Nam un,
sukses besar para pesohor ini hanya sebagian saja terkait dengan
hukum dan peraturan baru pemilu. Faktor lain turut bermain,
sebagaimana akan didiskusikan di bagian berikut.

Dam pak yang tak kalah penting dari diubahnya hukum pem ilu
adalah peningkatan hasrat warga negara biasa untuk bersaing
dalam pem ilu daerah. Orang-orang inilah yang akan m enjadi
fokus bab ini. Seorang pengam at m enggam barkan pem ilu DPR
20 0 9 di Indonesia yang diselenggarakan dari pusat, turun hingga
ke provinsi, kabupaten, dan kecam atan sebagai “pem ilu terbesar
di dunia yang diselenggarakan dalam sehari” (McDowell 20 0 9),

7 Menurut satu sumber tak resmi (KDPI 20 0 9), sebanyak 18 artis memiliki peluang
besar untuk mendapat kursi parlemen, termasuk: Okky Asokawati (PPP), Rachel
Maryam Sayidina (Gerindra), Rieke Diah Pitaloka (PDIP), Theresia EE Pardede
(Demokrat), Ingrid Maria Palupi Kansil (Demokrat), Nurul Ariin (Golkar),
Tetty Kadi Bawono (Golkar), Nurul Qomar (Demokrat), Primus Yustisio (PAN),
TB. Dedi S. Gumelar (PDIP), J amal Mirdad (Gerindra), Angelina Sondakh
(Demokrat), M. Guruh Irianto Soekarnoputra (PDIP), CP. Samiadji Massaid
(Demokrat), Venna Melinda (Demokrat), Eko Hendro Purnomo (PAN), Ruhut
Poltak Sitompul (Demokrat), dan Tantowi Yahya (Golkar).

pustaka-indo.blogspot.com


288 Identitas dan Kenikmatan

di m ana 11.219 calon bersaing m em perebutkan 560 kursi di DPR;
32.263 calon memperebutkan satu dari 1.998 kursi DPRD Provin­
si; dan 246.588 calon m em perebutkan 16.270 kursi DPRD kabu-
paten/ kota. Di sisi lain, angka-angka ini membenarkan sinisme
m asyarakat bahwa ada hal di luar soal politik atau m oralitas yang
mendorong para politisi ini untuk bersaing.

J alan masuk untuk turut serta dalam pemilu bagi warga
negara yang hanya punya sedikit atau tanpa pengalam an dalam
pengelolaan negara bukan m erupakan hal baru di Indonesia. Khu-
susnya sejak kejatuhan Orde Baru di tahun 1998, pejabat partai
merekrut preman dan tokoh-tokoh bawah tanah untuk menjadi
perantara politik atau memobilisasi pemilih (lihat bagian terakhir
Bab 5). Bedanya, pem ilu 20 0 9 m em perlihatkan sejum lah besar
warga negara biasa-term asuk beberapa orang tua yang tam pak
sangat rentan-ikut bersaing di pem ilu lokal. Banyak dari m ereka
yang tak m em iliki kekuatan ekonom i, pengalam an politik, atau
dukungan kelem bagaan. Contohnya bertebaran di seluruh negeri,
term asuk seorang penarik becak Abdul Wahid (PPP Tegal) dan
Karseno (Partai Matahari Bangsa, Banyum as); pengojek m otor
Soleem an Mooi (tak jelas partainya, Kupang); pedagang pinggir
jalan Lasim an (Partai Dem okrasi Pem baruan, Solo) dan Erni
Wahyuni (Partai Bintang Reform asi, Sam arinda); pencuci m obil
J oko Prihatin (Partai Am anat Nasional, Kudus); petugas parkir
pinggir jalan Sukardji (Partai Demokrasi Pembaruan, Ponorogo)
dan supir angkot Benedictus Adu (calon independen, Serikat Rak-
yat Miskin Indonesia, J akarta). Sepintas lalu, gejala ini m erupakan
tanda suksesnya pendidikan politik m assa.

Satu dari fenom ena paling m enakjubkan dalam pem ilu 20 0 9
adalah m unculnya juru kam panye tunggal. Tam paknya, banyak
kalangan dalam m asyarakat Indonesia telah terkecoh oleh ga-
gasan bahwa siapa saja bisa mencalonkan diri dalam pemilu tanpa
peduli sum ber daya keuangan dan politik m ereka. Tam paknya,

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 289

m ereka juga percaya bahwa kam panye dapat dilakukan secara jitu
dalam bentuk perorangan. Ini tak berarti bahwa acara kumpul-
kum pul terkait pem ilu yang m ereka lakukan m enam pilkan
seorang bintang tunggal sebagai fokus dari acara itu. Nam un
ini berarti sang calon m enam pilkan dirinya sendiri di depan
publik, terkadang tanpa kehadiran pendukung yang terorganisir.
Contohnya, Enteng Sanjaya yang dijuluki “Manusia Contreng”
m engecat badannya dengan warna kuning dan putih sebagai con-
toh kertas suara. Ia menari sedirian di tepi jalan utama di Pasu-
ruan, J awa Tim ur, dan m endorong sepedanya berkeliling kota un-
tuk “m ensosialisasikan” hal ini. Pengem udi ojek kelahiran Sragen
yang tinggal di J akarta, Agus Suwarno, berkeliling Indonesia
dengan sepeda m otornya untuk m em perlihatkan dukungannya
dan m enarik dukungan pihak lain kepada partai Gerindra. Di
Banten, Hudi Yusuf juga m elakukan kam panye tunggal untuk
pencalonan dirinya, dengan m enggunakan kostum superhero.
Calon lain dari Partai Matahari Bangsa, Tony Wangsit, m engun-
jungi penduduk desa di sekitar Tulungagung dari pintu ke pintu,
bernyanyi dan “m ensosialisasikan” pesan kam panyenya. Secara
keseluruhan, kegiatan individual ini m enandai pergeseran penting
dari praktik kam panye sebelum nya, yang m em peroleh kekuatan
dari penampilan kekuatan massa.

Idealnya, kita tak boleh tergesa-gesa m enghakim i dan m ere-
mehkan perilaku tersebut sebagai pemimpi di siang bolong.
Nam un, dengan m elihat arena politik yang lebih luas, sulit untuk
tidak m elihat hal ini sebagai kedunguan yang m enyedihkan. Bab
ini tidak punya ruang untuk m engkaji dinam ika psikologis para
calon ini. Saya tertarik m enyebut hal-hal itu karena aspek eksternal
fenom ena ini dan hubungannya dengan konteks politik Indonesia
yang lebih luas dan ekspansi dari m edia baru dan industri hiburan.
Pada awal bab ini, saya telah m enyebut kecenderungan kuat terha-
dap kom unalism e ketim bang individualism e di Indonesia; saya

pustaka-indo.blogspot.com


290 Identitas dan Kenikmatan

juga berpendapat bahwa kecenderungan ini berkaitan dengan
kiblat orang Indonesia pada kom unikasi lisan. Kecenderungan
ini m enem ukan ungkapannya dalam politik di jalanan. Inilah
yang terjadi selam a pekan-pekan kam panye ketika Orde Baru
sedang berkuasa. Dari perspektif sejarah demikian, kita dapat
m engajukan argum en bahwa kam panye pem ilu 20 0 9 (dan dalam
skala lebih kecil pem ilu 20 0 4) m erupakan penyim pangan besar-
besaran norm a dari dua dekade sebelum nya. Perubahan ini
m erupakan perwujudan dari apa yang sangat diinginkan tapi tak
m am pu dicapai oleh Orde Baru, yaitu penjinakan m assa secara
umum dengan mencerai-beraikan mereka.

MASSA ORDE BARU: POLITIK PEN AMPILAN
Pada m asa Orde Baru, pem ilu diselenggarakan secara teratur. Na-
m un, tak ada sedikit pun tanda-tanda berlangsungnya sem acam
persaingan antar-partai politik. Hasil dari enam kali pemilu ber-
turut-turut selam a Orde Baru selalu sam a dan selalu bisa diduga
sebelum nya. Tak urung, pem erintah tetap m au berepot-repot
membuat penampilan retoris seakan-akan ada partisipasi populer
dan persaingan politik. Mereka m em obilisasi m assa dan berupaya
untuk m em buatnya seakan-akan seperti pendukung dari partai
politik yang bersaing, yang sudah am at dikendalikan dengan ke-
tat. Nam un kenyataannya, yang terjadi justru m assa bertingkah
m enyim pang jauh dari yang diinginkan pem erintah dan tentu
berbeda dari apa yang diam ati dan dipaham i oleh banyak kaum
intelektual perkotaan dan pengamat dari kejauhan.

Berbeda dari situasi sejak 1999, ketika sejum lah partai politik
telah m em ecah kesetiaan m assa yang aktif secara politik, m assa
pada pem ilu Orde Baru pasca-1971 dikerahkan untuk hanya tiga
m esin pem ilu yang diakui pem erintah. Konsentrasi besar dari ke-
rum unan yang bersaing satu sam a lain m em ungkinkan anggota
tiap kelompok untuk m em bay angkan dan bertindak seakan-

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 291

akan m erupakan bagian dari kekuatan yang luar biasa besar,
biarpun yang satu jelas lebih besar ketim bang lainnya. Hal ini
luar biasa karena di luar m asa kam panye pem ilu, pem erintah
tak m enyediakan ruang publik untuk kekuatan politik m andiri.
Kebalikan yang ironis dari situasi pasca-Orde Baru, m assa tak
memiliki kekuasaan di antara pemilu lima tahunan, tapi pada
momen singkat pemilu, mereka menjelma menjadi kekuatan
publik raksasa. Dari perspektif rezim , pem ilu dim aksudkan tak
lebih dari tontonan iktif belaka. Namun pada kenyataannya, ke­
hadiran dan aksi dari m assa nyata dan kuat.

Massa ini m ewujudkan kekuatannya tak sem ata-m ata m elalui
kehadiran mereka dalam jumlah besar di jalanan, stadion, dan
alun-alun, tapi yang lebih penting m elalui suara ribut dan warna-
warni penam pilan m ereka. Kekuatan ini tak sepenuhnya politis,
memiliki dorongan ideologis, atau terorganisir melalui struktur
tertentu. Mereka tak memiliki kemampuan atau pun hasrat untuk
menantang, apalagi menggantikan, pemerintahan petahana. Tak
ada alasan untuk m erom antisirnya. Nam un, dam pak dari pe-
nampakan kekuatan ini sempat mengancam elite politik dan
penam pilan politik yang ‘stabil dan tertib’ yang dipercaya oleh
pem erintah. Perilaku m assa yang tak tertib m engam bil bentuk
berbeda-beda, tetapi yang paling kerap m uncul adalah pawai se-
peda motor tak berknalpot. Para pesepeda motor macho dengan
dandanan dan asesori mencolok berkeliaran di jalanan dan me-
mamerkan berbagai pelanggaran terhadap peraturan dan kebia-
saan berlalu lintas. Mereka berkendara m elebihi batas yang diper-
bolehkan, yaitu dua orang, di satu sepeda m otor, tanpa m em akai
helm, beberapa bahkan berdiri di atas kursi sepeda motor. Mereka
mengabaikan seluruh rambu-rambu dan aturan arah lalu lintas
dan pembagian lajur di jalan. Dengan knalpot dicabut, mereka
membuat pertunjukan dengan suara sepeda motor, ngebut jauh

pustaka-indo.blogspot.com


292 Identitas dan Kenikmatan

melebihi batas kecepatan dan menampilkan berbagai adegan be-
risiko yang mendatangkan tontonan dan—sesekali—kecelakaan.
Beberapa dari m ereka m enum pang truk yang m uatannya m ele-
bihi batas, biasanya dilengkapi dengan pengeras suara yang m e-
masang musik dengan keras. Sebagaimana bisa diduga, kegiatan
ini m enyebabkan kem acetan, kecelakaan, dan perkelahian dengan
pendukung partai lain atau penonton non-partisan.

Ini sem ua m erupakan pesta yang m em bum i dan sangat m as-
kulin serta peragaan pembangkangan terhadap hukum. Semua
itu tam paknya yang dianggap paling penting bagi m ereka yang
terlibat. Ini merupakan penampilan raksasa dari politik non-
identitas dan kenikm atan. Proses dan hasil dari pem ilu yang
m enyediakan ruang bagi kegiatan m ereka ini jadi tidak penting.
Berlawanan dengan aktivis perkotaan dan pegiat politik yang sa-
ngat serius menghadapi pemilu dan meremehkan pemilu karena
ketidakabsahannya dan kekurangan kredibilitas, m assa tam pak-
nya tidak peduli m engenai pem ilu yang dim anipulasi atau kepura-
puraan negara.

Ketika diberi ‘janji palsu’ m ereka m elahapnya m entah-m entah,
tanpa terkecoh, dan m ereka m enanggapi dengan cara sam a. Ke-
tika diberi kemunaikan, kontradiksi dan iksi, mereka merespon­
nya dengan cara sama—namun dalam skala lebih besar atau dengan
intensitas lebih kuat. Ketika negara bertindak ‘irasional’ atau dengan
cara kekerasan, atau tidak tulus, m assa m enanggapinya seperti cer-
min—tapi dengan tenaga berlipat­ganda. Lima tahun sekali massa
yang diasingkan dari politik dan dieksploitasi secara ekonom i ini
m enjadi subyek anonim tertinggi yang m endom inasi ruang publik
selam a beberapa hari dan m alam . Mereka m erayakan kem enangan
ini dengan khazanah diskursif serupa yang m ereka pelajari dari
aparat negara, seperti warna-warni mencolok, suara berisik, pawai
m assa, pam eran kekuatan m askulin dan kekerasan agresif yang pada
kesem patan lain lebih banyak dim onopoli oleh negara.

(Heryanto 20 0 6a: 151)

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 293

Untuk memahami massa ini, kita perlu memahami lebih jauh
dan m elam paui kerangka konseptual McLuhan tentang m asya-
rakat berkiblat komunikasi lisan. Di permukaan, massa berlaku
dengan cara yang m irip teori Bakhtin soal politik jungkir-balik
dalam karnaval tradisional di Eropa. Nam un sebagaim ana saya
sampaikan di tempat lain (Heryanto 2006a: 149­53), konsep Jean
Baudrillard tentang m assa terasa lebih tepat. Ketim bang m em baca
aktivitas m ereka sebagai sebentuk perlawanan politik, m ungkin
kita harus m enganggapnya sebagai subversi yang tak disengaja
dari m assa yang ‘apolitis’. Baudrillard m enjelaskan perbedaan di
antara keduanya:

perlawanan tradisional merupakan interpretasi ulang pesan-pesan

menurut kode-kode kelompok itu sendiri dan untuk tujuan mereka.

Sedangkan, m assa m enelan seluruhnya dan m em untahkan ulang

seutuhnya secara serentak m enjadi sesuatu yang dahsyat, tanpa

m ensyaratkan adanya kode, tanpa m ensyaratkan m akna, dan yang

terpenting, tanpa perlawanan.

(1983, 43)

Politik kebudayaan selam a ini, m alangnya, kurang dipelajari dan
sering disalahpahami dalam kajian-kajian tentang Indonesia.
Tak m engejutkan subversi yang tak disengaja dari jenis m assa
yang teram at patuh ini berlalu begitu saja tanpa diperhatikan,
atau telah diremehkan oleh kaum cerdik pandai Indonesia dan
para pengam at asing.8 Berbeda dari sem ua itu, pejabat Orde Baru

8 Yang m enarik, dalam bagian “Penutup” untuk buku R.H. Taylor, The Politics
of Election in Southeast Asia (1996b), seorang ilm uwan politik, alm arhum
Daniel Lev, m engungkapkan kelegaannya saat m enem ukan bahwa “budaya”
dan “pendekatan budaya” telah sepenuhnya diabaikan dalam kum pulan esai
itu. Lev (sebagaim ana ilm uwan sem asanya) m enjelaskan kejengkelannya
m engenai aspek budaya dari penelitian tentang pem ilu secara khusus dan
politik secara um um . Pem aham annya tentang “budaya” bersum ber dari konsep
usang tentang ‘budaya’sebagai sesuatu yang unik atau esensial atau statis pada

pustaka-indo.blogspot.com


294 Identitas dan Kenikmatan

lebih paham mengenai kekuatan potensial massa. Harus diingat
bahwa negara Orde Baru m eraih kekuasannya pada tahun 1966
berkat keberhasilan memicu histeria massa dalam melawan
dan m elakukan pem bunuhan m assal terhadap kaum Kiri (Bab
4). Dengan dukungan terus m enerus yang berlim pah dari para
pem bela dem okrasi liberal, rezim ini m em elihara kekuasaannya
untuk tiga dekade berikutnya dengan sejum lah besar prem anism e
(Bab 5).

Pandangan Baudrillard tentang m assa diam bil dari diskusinya
tentang dam pak teknologi m edia, terutam a di m asyarakat liberal
m asa kini. Pandangannya sejalan dengan diskusi Achille Mbem be
tentang sosok postkolonial dalam hubungan kekuasaan di Afrika.
Pem bahasan Mbem be sejalan dengan pem aham an saya m engenai
Indonesia di bawah Orde Baru:

agar dirinya dapat dipaham i oleh sejum lah besar rakyatnya, [negara

postkolonial] harus m em ublikasikan dirinya sendiri. Mereka

harus menguasai bahasa dan suara. Mereka harus menuliskan

dirinya sendiri dalam gerakan tubuh… Untuk m em am erkan diri

dan untuk m enam pakkan diri… Agar terlihat dan didengar oleh

semua, mereka tak perlu ragu untuk mengobral ukuran serba besar,

m enggunakan jum lah yang besar, terkadang sam pai tum pah ruah

dalam hal-hal sepele, m enggelem bung, dan m engulang-ulang yang

d in ya t a ka n n ya …

(Mbembe 1992: 130)

Dengan gaya patuh-berlebihan yang tipikal, m assa Orde Baru

menanggapi pemilu palsu dengan menampilkan kepatuhan dan
ketaatan yang riang dan amat bergaya—bukan berpura­pura untuk

m asyarakat tertentu. Menyedihkan bahwa bahkan hingga tahun 20 0 9 saya
m asih m enem ukan banyak ahli yang m erem ehkan ‘kajian budaya’ (cultural
studies) berdasarkan pra-anggapan serupa dan konsepsi keliru mengenai
apa yang dilakukan oleh kajian budaya dan kurangnya pem aham an m ereka
tentang bagaim ana ‘budaya’ telah dikritik dan dipersoalkan oleh m ereka yang
m erasa nyam an m enekuni kajian budaya.

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 295

m enutupi kebencian m ereka atau m enipu elite yang berkuasa,
sekurangnya tidak dem ikian hingga saat yang tepat untuk balas
dendam. Mengutip Mbembe lagi:

diktator bisa tidur nyenyak di m alam hari terbuai oleh raungan
pujian dan dukungan.. tetapi terbangun di pagi harinya m endapati
berhala emas mereka hancur dan aturan hukum mereka dijungkir-
balikkan. Kerum unan yang kem arin bersorak telah m enjadi m assa
yang m engutuk dan m enyerang.

(1992: 14-5)

Pejabat Orde Baru bisa dianggap m udah bersepakat dengan
Mbem be. Dalam tindakan yang tam paknya bertentangan, sejak
pem ilu 1992 dan seterusnya pem erintah Orde Baru m elakukan
upaya untuk m enghentikan apa yang tadinya m ereka sponsori
sendiri, yaitu pengerahan m assa perkotaan untuk m enghidupkan
dan m eram aikan pem ilu palsu yang sebelum nya m em bosankan.
Sebagai gantinya, pem erintah m engusulkan kam panye pem ilu
di masa depan harus dilakukan di tempat tertutup dan terbatas
(aula atau stadion dengan penjagaan), dan lebih dipuji bila dilang-
sungkan m elalui m edia m assa (khususnya televisi), yang diken-
dalikan oleh pemerintah. Dengan menempatkan massa berjarak
jauh dari tem pat-tem pat kam panye dan m em buat m ereka m en-
jadi penonton pasif media massa, pemerintah berharap bisa
m em bangun kem bali ‘stabilitas dan keam anan’.9

Sebagaim ana kebijakan yang lain, usulan pem batasan pawai
sepeda m otor tidak pernah ditegakkan sepenuhnya di seluruh
negeri. Yang terjadi adalah pem batasan berangsur-angsur dan
com pang-cam ping, dan berbuah pada hasil yang beraneka. Mi-
salnya, di Yogyakarta di tahun 1992, pem erintah setem pat m em -

9 Ada lapisan ironi lain dalam pem ilu sebelum nya. Pem erintah yang sam a m en-
coba untuk melarang media menerbitkan laporan kegiatan pemilu pada tahun
1977 (van Dijk 1977: 12­3).

pustaka-indo.blogspot.com


296 Identitas dan Kenikmatan

buat upaya sporadis dan tak konsisten untuk m em batasi pawai
sepeda m otor. Dengan kepatuhan yang tinggi, m assa partai yang
tam paknya bersaing m enanggapi secara seragam . Mereka bukan
sekadar menahan diri dari pawai dan menantang aparat keaman-
an, m ereka bahkan m encopot segala tanda dan aksesori kam panye
pem ilu, dan jadinya m alah m engancam hancurnya tontonan
politik yang disponsori negara yang bernam a ‘pesta dem okrasi’.

Hingga Orde Baru secara resm i dijatuhkan pada tahun 1998,
pawai sepeda m otor tidak pernah sepenuhnya absen dari politik
jalanan. Tentu saja, pada pem ilu 1999, pem ilu pertam a pasca-Orde
Baru, kita m elihat m assa perkotaan m elepaskan hasrat m ereka
yang lam a dikekang dengan m elakukan sebuah pawai m otor ter-
besar. Ironisnya, hingga 20 0 9 ketika pem ilu benar-benar m enjadi
liberal, kerum unan yang berjum lah besar itu m em bubarkan diri
secara suka rela, pawai m enyusut, m enjadi sem akin sedikit dan
jarang, serta m asyarakat kelas bawah tercerai berserakan dalam
kepingan kecil-kecil. Lebih dari sepuluh tahun sejak bangsa
Indonesia m em ulai upaya untuk m enjalankan reform asi, ke-
takutan terhadap ancam an m assa m asih hidup.10 Nam un kini
massa telah benar-benar tercerai berai ke sejumlah partai politik,
dan-lebih buruk lagi-banyak anggota m asyarakat kelas bawah ter-
libat dalam pemilu sebagai calon.

Maka, boleh disim pulkan sem entara bahwa upaya pem erin-
tahan sesudah Orde Baru untuk m elarang pawai sepeda m otor
terbukti tidak perlu. Sedikit sekali m asyarakat yang tertarik ter-
hadap larangan ataupun menghidupkan kembali pawai sepeda
motor. Sekalipun ada pembaharuan terhadap larangan pawai
motor, pawai sepeda motor sebagai bagian dari politik jalanan

10 Untuk “m engam ankan” pelantikan anggota DPR pada tanggal 1 Oktober
20 0 9, kepolisian m engerahkan tak kurang dari 10 .0 0 0 personel (Jakarta Post
20 0 9b).

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 297

terus terlihat hingga pemilu 20 0 9, tetapi lebih jarang terjadi,
dengan jum lah peserta yang lebih sedikit, dan tak ada yang
bergaya sem eriah sebelum nya. Sem entara itu penggunaan ham -
paran m ultim edia yang berkilauan pada kam panye pem ilu telah
meningkat drastis dan telah mendominasi pemandangan pada
pem ilu nasional m aupun lokal. Kam panye di m edia m assa m enjadi
unsur paling banyak diuraikan dalam UU pem ilu 20 0 9 dan am at
sangat dianjurkan. Secara tak sengaja, tren baru ini teramat cocok
dengan usulan Orde Baru tahun 1992 untuk m engebiri partisipasi
m assa yang tak m am pu m ereka kendalikan.

KAMPAN YE PEMILU SEBAGAI BU D AYA POPU LER
Di awal bab ini saya katakan bahwa tren pada pem ilu 20 0 9 tak
bisa dikatakan sem ata-m ata akibat UU pem ilu baru yang sangat
m erangsang terjadinya persaingan. Tak ada hubungan langsung
antara undang-undang yang baru dan pem olesan antusiasm e
di kalangan m asyarakat bawah untuk m encalonkan diri dalam
pemilu. Ekspansi media baru dan industri hiburan telah turut
m em ainkan peran penting. Bagian ini akan m enjabarkan hal
tersebut.

Para ahli kajian m edia telah lam a m enyadari dam pak ganda
teknologi media. Teknologi media-baru mampu menghubungkan
sekaligus m engasingkan, m em berdayakan di satu bagian, m ele-
mahkan di bagian lain. Undang-undang pemilu 20 0 9 mengha-
silkan prosedur dem okratis yang lebih setara, m em buat banyak
orang terkecoh ilusi bahwa setiap warga negara setara di hadapan
pemilu, tak peduli kekuatan sosial ekonomi dan koneksi mereka.
Pada tahun 20 0 9, banyak penduduk desa m encalonkan diri untuk
pemilu DPRD, memecah komunitas lokal mereka, dan menutup
kem ungkinan dukungan m assa yang berm akna terhadap seorang
calon tertentu. Dalam perkembangan terpisah, tapi beririsan,
teknologi m edia baru telah m engubah dunia industrial yang baru

pustaka-indo.blogspot.com


298 Identitas dan Kenikmatan

pertengahan abad ke-20 m enuju apa yang disebut oleh McLuhan
sebagai ‘desa global’. Yang tak disigi oleh McLuhan adalah efek
tandingan yang datang dengan ketersediaan perangkat m edia
digital. Dengan m akin m udah, m urah, dan cepatnya akses ter-
hadap kom unikasi intim bagi orang-orang yang terpisah jauh di
zona waktu berbeda, m ereka tetap m enjadi orang asing bagi te-
tangga sebelah rumah mereka.

Kajian m engenai pem ilu dan budaya populer di Indonesia
akhir-akhir ini telah menggarisbawahi peran pesohor dalam partai
politik dan m eningkatnya m inat politisi profesional untuk m enari
dan m enyanyi di depan um um . Koran dan m ajalah, juga karya
para ahli, telah m encatat, m isalnya petahana presiden berhasil
m enarik pem ilih potensial dengan lagu-lagu yang dikarangnya.
Kebanyakan karya tulis m engenai hubungan antara politik/ po-
litisi dan budaya populer/ artis berfokus pada pem anfaatan yang
satu terhadap yang lain, atau keterlibatan satu kelom pok pro-
fesional dalam bidang kelom pok yang lain (lihat Kartom i 20 0 5;
Lindsay 20 0 7, 20 0 9; McGraw 20 0 9). Kerap kajian-kajian ini
berfokus pada artis dan politisi terkenal serta bagaim ana m ereka
‘m em anipulasi’ m assa. Nam un, saya ingin m em pertim bangkan
dua proses yang berhubungan, tetapi berbeda. Telah saya bahas
dalam Bab 1 pertum buhan besar m edia dan industri hiburan. Kini,
saya ingin m em pertim bangkan daya tarik sem angat ‘prakarya’
(do-it-y ourself, DIY) pada m asyarakat um um , tren akhir-akhir
ini yang dipercepat oleh perkem bangan m edia baru, term asuk
gelombang mutakhir dalam pembuatan ilm secara independen
(lihat Bab 4). Kedua pem bahasan ini m enarik hubungan yang
tak terlalu langsung dan tak terlalu personal antara politik dan
budaya populer, ketim bang apa yang secara um um ditekankan
dalam karya yang sudah ada. Hubungan antara kedua proses ber-
langsung pada tingkat yang lebih fundam ental dan berdam pak
lebih luas ketim bang apa yang dibahas oleh kajian-kajian sejauh

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 299

ini, karena proses tersebut mewakili modalitas baru dalam per-
spektif dan karakternya. Keduanya berfokus pada m asyarakat
yang kurang beruntung.

Sejak 1998, Indonesia m engalam i satu dekade perkem bangan
m edia yang am at fenom enal baik dalam cakupan m aupun inten-
sitasnya. Di puncak liberalisasi besar-besaran m engenai apa yang
dapat didiskusikan oleh publik, pada periode ini terjadi lompatan
besar dalam berbagai arah. Perkembangan ini bersanding dengan
pertum buhan fenom enal dalam industri hiburan. Untuk pertam a
kali dalam sejarah, satu generasi baru musisi Indonesia berhasil
menjual album mereka di atas satu juta. Film Indonesia berhasil
memecahkan rekor jauh di atas ilm produksi negara lain, termasuk
ilm­ilm top Hollywood (Grayling 2002; Heryanto 2008b: 6;
van Heeren 20 0 2). Di televisi, sinetron m elodram a dan reality
show merupakan dua jenis program paling populer dan terus
mendominasi jam siaran secara keseluruhan. Dari sub-kategori
reality show , ajang pencarian bakat penyanyi seperti ‘Indonesian
Idol’ (RCTI) dan ‘Akadem i Fantasi Indosiar’ (Indosiar) tam pak
m enonjol (untuk rinciannya, lihat Coutas 20 0 8). Tentu cukup adil
untuk dikatakan bahwa salah satu bidang kehidupan publik paling
dinamis di Indonesia kini adalah industri media dan hiburan (Sen
dan Hill 20 0 0 ).

Ketika kekuatan industri m edia dan hiburan di Indonesia
telah berjaya dalam bidang ekonom i dan politik bangsa, kita
dapat m engam ati kem ajuan penting terkait fem inisasi kehidupan
publik, yang bergerak lebih jauh ketim bang penam pilan perem -
puan dalam kam panye pem ilu dan keterwakilan perem puan di
parlemen. Terlalu lama, tubuh utama bangsa modern telah ter-
fokus terutam a pada bias sejarah m askulin pem bangunan ne-
gara-bangsa atau penghalang-penghalangnya (m iliterism e, pe-
langgaran hak asasi m anusia, korupsi yang merajalela, konlik
berdarah etnis-religius, dan belakangan ini kelompok militan

pustaka-indo.blogspot.com


300 Identitas dan Kenikmatan

Islam is) (Heryanto 20 0 8b: 7). Budaya populer, khususnya dalam
bentuk industri hiburan televisi, diturunkan derajatnya ke ranah
‘pribadi’ atau ‘dom estik’, khususnya bagi kategori gender kelas
dua. Dari sini, terikut pula pem bagian yang berm asalah antara
dunia m askulin seputar berita, dunia akadem is, serta konferensi
dan dunia fem inin opera sabun, m ajalah gosip, dan urusan ke-
luarga.11 Pada tahun 20 0 9, ketika pawai m otor yang m acho ber-
kurang, serangkaian kemeriahan baru dalam pemilu terlihat
sedang dalam tahap pertumbuhan.

Kita perlu m enahan diri untuk tidak m erom antisir pawai yang
m acho di jalanan m asa Orde Baru ataupun politik fem inin lewat
m edia m assa berfokus hiburan. Keduanya m em iliki akibat yang
serius terhadap m asyarakat Indonesia. Pawai-pawai itu terkadang
m em icu konfrontasi penuh kekerasan di antara para pesertanya,
beberapa dengan akibat berupa kematian. Dapat dipahami, ada
sem acam kelegaan, setidaknya dari polisi dan anggota kelas
menengah, ketika pemerintah dan partai-partai peserta pemi-
lu serta anggota m asyarakat bertekad untuk m enjalankan ke-
giatan “Kam panye Dam ai” pada tahun 20 0 9.12 Beberapa calon
perem puan secara terbuka m em buat pernyataan yang m enya-
takan m ereka m em ilih jenis kam panye yang tertib. Bentuk baru
kegiatan kam panye yang m ereka pilih ini m engingatkan pada
perayaan tradisional Hari Kem erdekaan: lom ba olahraga, lom ba

11 Menurut survei Kom pas tahun 20 0 7, ham pir separuh responden m engindi-
kasikan bahwa alat pengendali saluran televisi keluarga berada di tangan
anak-anak mereka, dan lebih dari 20 persen mengatakan di tangan ibu, jauh
lebih besar di atas responden yang m enyatakan alat itu berada di tangan ayah
(Satrio 20 0 7).

12 Di J awa Barat, pem erintah m em perluas aturan pelarangan. Selain pawai,
“segala kegiatan yang m enarik m assa” seperti konser m usik dan pertandingan
sepakbola selam a m asa kam panye pem ilu dinyatakan terlarang (Fikri 20 0 9).
Pada bulan Septem ber 20 0 9 dalam perayaan Idul Fitri ketika orang-orang
tak terlalu m endiskusikan pem ilu, Gubernur J akarta Fauzi Bowo am at tidak
m enyarankan penduduk J akarta m enjalankan tradisi m alam takbiran di jalan
(Zuharon dan Sjafari 20 0 9).

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 301

m enyanyi karaoke, peragaan busana, dem onstrasi m em asak, dan
lom ba m em ancing. Nam un kelokan baru tradisi kam panye pem ilu
ini datang dengan beberapa persoalan baru, terutama di antara
perem puan, seperti yang akan dibahas sebentar lagi.

Dam pak gelom bang besar dan baru dari m eledaknya hiburan
televisi terhadap orang Indonesia, khususnya anak m uda dan
kaum perempuan, masih kurang dibahas walau sudah ada
pertumbuhan minat di kalangan peneliti kajian media dan kajian
budaya. Dengan acuan khusus terhadap pem ilu, perhatian para
pengam at biasanya diarahkan kepada keseluruhan ekonom i,
estetika atau politik pem bangunan citra publik, khususnya
m elalui m edia m assa dan iklan, dengan m eningkatnya peran agen
konsultan profesional (lihat Hill 20 0 9; untuk Indonesia, lihat
Setiyono 20 0 8; untuk kasus negara tetangga lihat Chua 20 0 7).
Minat saya lebih luas, dengan fokus pada kelom pok non-elite. Di
antara tum buhnya jaringan televisi lokal, penduduk desa term asuk
petani penggarap, supir truk, pensiunan guru, dan murid-murid
sekolah dasar memperoleh keterampilan baru dan keriangan
dalam m em pertahankan penam pilan m ereka di televisi (Pradityo
20 0 8). Di kalangan kaum muda perkotaan dapat kita saksikan
sesuatu yang lebih serius ketim bang kecanduan pada hiburan
televisi. Pada beberapa tahun terakhir, saya m em perhatikan
kecenderungan orang Indonesia untuk m enjadikan acara televisi
sebagai patokan bersama untuk kegiatan sehari-hari mereka
dan percakapan santai m aupun resm i atau proyek rencana
m asa depan; sem ua dalam kehidupan nyata. Apa yang saya
perhatikan adalah reality show yang terbalik: ketika acara televisi
menampilkan gambar bergerak dari peristiwa tak terencana
yang m elibatkan aktor non-profesional seakan segala sesuatu
m encerm inkan kehidupan nyata secara langsung, orang-orang
di dunia nyata m enjadi cerm in acara televisi dengan bertindak,
bicara, dan bernyanyi seakan m ereka berada dalam acara televisi.

pustaka-indo.blogspot.com


302 Identitas dan Kenikmatan

Satu contoh umum adalah pembawa acara pertemuan dan
kum pul-kum pul, term asuk upacara form al. Sepasang anak m uda,
laki-laki dan perem puan yang berpenam pilan rapi, m eniru gaya
pem bawa acara televisi: m ereka bicara bergantian, m elem par
humor ringan, dan berkomentar terhadap acara tersebut, semua
dalam upaya untuk m enghibur sebaik m ungkin dengan gaya
khas pem bawa acara televisi. Bahkan tanpa adanya niatan sedikit
pun untuk tampak lucu atau ironis, dalam sebuah acara mereka
m enggunakan m antera ungkapan acara televisi untuk jeda di
antara dua m ata acara: “jangan ke m ana-m ana, tetaplah bersam a
kami setelah pesan-pesan berikut.”

Dengan latar belakang terurai di atas, tak heran bahwa pemilu
20 0 9 mengalami desakan serupa untuk dirancang dan dihadir-
kan dengan watak sebagai hiburan ketimbang pendidikan poli-
tik dan propaganda. J enis-jenis pertunjukan modern dan tra-
disional (dari wayang kulit hingga dangdut) dikerahkan untuk
m enarik m assa, seperti pada pem ilu sebelum nya. Gam bar m usisi
pop nasional (Dewa dan Slank) dan juga tokoh internasional
terkenal (Barack Obam a, David Beckham , Osam a bin Laden, dan
Superm an) dibajak dan ditem pelkan di atas poster kam panye.
Yang paling m engejutkan saya adalah penggunaan pem andu
sorak (cheerleaders) di Bengkulu dan peragaan busana di dua
kota lainnya untuk kam panye pem ilu. Salah satu peragaan busana
itu dilakukan di Temanggung, disponsori oleh komisi pemilu se-
tempat, remaja perempuan berjalan dan berpose dalam baju
seksi berkilauan m eniru peserta kontes dan m odel profesional di
televisi. Di Medan, calon Him atul Fadillah (Golkar) m ensponsori
peragaan busana lain menampilkan lima puluh perempuan
dewasa (sem uanya berusia di atas 45 tahun dan seorang di anta-
ranya 70 tahun) m em eragakan busana m uslim ah. Kita bisa saja
kesulitan m enem ukan apa hubungan antara tujuan kam panye

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 303

pemilu dan pertunjukan-pertunjukan tersebut. Medium adalah
pesan. Hiburan menjadi raja tak tertandingi di seluruh periode
kam panye pem ilu.

Dari sem ua jenis hiburan yang bersum ber dari acara televisi,
‘Indonesian Idol’ jelas paling m enarik bagi para juru kam panye
dalam pem ilu 20 0 9. Program ini am at populer di televisi berkat
“penekannya pada sistem pem ilihan yang ‘dem okratis’ lewat SMS
untuk ‘memilih’ idola” (Coutas 2008: 113). Tak mau kalah oleh
televisi yang m eniru politik, para calon dengan latar belakang
yang kurang beruntung m enggunakan acara itu sebagai sum ber
sem angat dan harapan yang diperlukan untuk m em bangun alas-
an mencalonkan diri. Terlepas dari ideologi, platform , bahkan
gaya retoris yang kosong dari partai yang m ereka wakili, ideo-
logi ‘Indonesian Idol’-lah yang m enentukan arah peristiwa poli-
tik ini. Ini adalah ideologi-sudah dianut secara nasional dan
internasional-yang m em bujuk orang dari berbagai latar belakang
kehidupan untuk m eyakini peluang dan kebajikan bagi setiap
orang untuk menjalani kisah dari-gembel-jadi-hartawan. Ideo-
logi ini m enyebar luas bersam a sem angat prakarya yang juga ber-
kem bang pada dekade yang sam a, diujungtom baki khususnya
oleh generasi pertama musisi indie dan pembuat ilm independen
(Baulch 20 0 7; van Heeren 20 0 2, 20 12; Wallach 20 0 8).

Sayangnya, individualisasi, prakarya, dan fem inisasi yang m e-
nandai pem ilu 20 0 9 juga m enyodorkan akibat tragis yang datang
dalam bentuk tak terduga. Sebagaimana pawai sepeda motor
m acho yang lekat dengan kekerasan m em udar ke m asa lalu, kom -
petisi yang m eningkat di antara jum lah calon yang m em bengkak
tak terhindarkan, telah m engarah pada fenom ena baru. Tak hanya
m assa m enjadi terpecah dan tersebar, tapi tekanan-jiwa yang
berat m enim pa banyak orang yang tidak berhasil m endapat kursi
dalam pemilu. Media massa melaporkan bangsal rumah sakit
jiwa dipenuhi oleh para bekas calon yang m engalam i gangguan

pustaka-indo.blogspot.com


304 Identitas dan Kenikmatan

m ental m enyusul kekalahan m ereka di penghitungan suara. Pe-
gawai sebuah rumah sakit jiwa di Solo harus menggandakan gi-
liran kerjanya dengan kedatangan 20 0 orang pasien yang m asuk
kategori ini dalam sehari (Bayuni 20 0 9). Di tem pat lain, sejum lah
besar para calon yang gagal telah bunuh diri. Menurut satu ka-
jian, jum lah perem puan lebih banyak dalam kasus ini (Buehler
20 0 9b). Sebagaim ana acara televisi favorit m ereka, Indonesian
Idol, tam paknya banyak calon yang term akan janji palsu akan
sukses luar biasa dan m em bayar m ahal ketika kenyataan berbalik
menghantam mereka.

CATATAN PEN U TU P
Dalam bab ini, saya telah m em perlihatkan bagaim ana selam a
serangkaian pem ilu palsu di bawah pem erintahan Orde Baru
m assa berperilaku dengan cara yang dari luarnya terlihat vulgar
dan kacau. Namun ketika diperhitungkan dalam konteks politik
yang spesiik waktu itu, perilaku mereka dapat dipandang sebagai
lebih rasional dan berdaya subversif lebih ganas ketim bang yang
biasanya digam barkan, yang jelas lebih ganas ketim bang aktivism e
politik kaum terpelajar perkotaan. Namun pada tahun 20 0 9,
situasi politik telah berubah besar-besaran, demikian pula dengan
undang-undang pem ilu dan prosedurnya. Kekuatan subversif
m assa telah bubar. Ironisnya, itu justru terjadi saat dem okrasi
Indonesia menjadi semakin liberal.

Perkembangan baru ini tidak boleh dipandang sebagai keke-
cualian. Benedict Anderson m engingatkan kita bahwa “di bawah
suasana normal, logika pemilu berada dalam arah penjinakan”
(1996: 14). Ketika politik Indonesia m enjadi sem akin “ternor-
m alisasi” (Aspinall 20 0 5) dapat diram alkan bahwa m ayoritas
m asyarakat akan sem akin “terjinakkan”. Bagaim ana proses pen-
jinakan lewat pemilu terjadi, berbeda-beda bergantung pada
situasi sosial-historis m asing-m asing. Bab ini sam a sekali tidak

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 305

m enyatakan bahwa kasus Indonesia m erupakan sesuatu yang
unik, atau secara asali bersifat Indonesia. Bab ini telah m enun-
juk dan menganalisa tiga faktor yang spesiik secara historis amat
penting dalam m engakibatkan perpecahan m assa yang serius:
undang-undang pem ilu baru pada tahun 20 0 9 yang m em ungkin-
kan para calon untuk bersaing sebagai perorangan berdasarkan
suara terbanyak; dam pak tidak terbendung dari m edia baru,
khususnya—tapi tak hanya—industri hiburan televisi; dan konteks
yang lebih luas yakni interaksi berkiblat kom unikasi lisan dalam
m asyarakat.

Mitos dan irasionalitas m erupakan hal yang um um ditem ukan
di sem ua pem ilu (lihat m isalnya Chua 20 0 7; Heryanto 20 0 6a:
149­53; Taylor 1996b). Namun upacara politik yang mahal ini
diselenggarakan di seluruh dunia sebagai prasyarat bagi tekad
yang ham pir universal terhadap utopia m odern bernam a ‘dem o-
krasi’. Kebanyakan kita m em bayangkan dem okrasi sebagai
sesuatu yang nyata; dan kita dengan penuh sem angat m em pro-
m osikannya sebagai sesuatu yang didam bakan secara universal
(Heryanto 2009b; Heryanto dan Mandal 2003; Lev 2005). Obsesi
terhadap dem okrasi yang di-ideal-kan ini kerap m engarah pada
kesalahpaham an terhadap perilaku m assa, baik dalam rezim
demokratis maupun otoriter.

Pada tahun 1992, dalam sebuah upaya untuk m enahan m assa
yang telah m engam bil alih ‘pesta dem okrasi’, Orde Baru m engatur
agar seluruh kegiatan kam panye dipindahkan ke m edia m assa
yang dikendalikan oleh pem erintah. Tak ada dari pem erintah
m askulin Orde Baru m aupun penggantinya yang lebih dem okratis
m em iliki kem am puan untuk m enjinakkan m assa yang kuat,
yang sem ula m ereka kerahkan untuk m elayani kepentingan elite
itu sendiri. Pada tahun 20 0 9, kekuatan lembut industri media
menolong para penguasa ini. Dengan memperoleh momentum
yang diawali oleh UU pem ilu 20 0 9, industri m edia m elebarkan

pustaka-indo.blogspot.com


306 Identitas dan Kenikmatan

ideologi hiburan dan kerajaan komersial mereka ke politik jalanan
dan m enuju ke pem ilu. Pada akhirnya, perusahaan m edia inilah
yang tertawa girang m em etik kem enangan di penghujung. Pada
tahun 20 14, Indonesia akan m enyelenggarakan pem ilu lagi. Kita
dapat m em bayangkan bahwa budaya layar yang kuat akan berjaya
di jalanan, dan akan disiarkan kepada jutaan layar televisi, sabak
digital (tablet), dan telepon pintar milik warga negara Indonesia.

Kelas bawah Indonesia m erupakan fokus dalam bab ini,
tapi tidak dari buku ini secara keseluruhan, yang lebih banyak
mengamati dinamika kelas menengah perkotaan untuk alasan
yang telah dibahas dalam Bab 1. Akan terasa janggal jika kelas
menengah itu dianalisa secara terpisah dengan kelas bawah. Di
seluruh bab, saya telah m encoba untuk m em perlihatkan bagai-
m ana berbagai segm en m asyarakat Indonesia (yang dapat diiden-
tiikasi dan mengidentiikasi diri berdasarkan kelas, jenis kelamin,
agam a, dan garis ideologi) m engam bil bagian dalam upaya yang
kompleks (terkadang tumpang tindih dan bertentangan satu sama
lain) untuk mendeinisikan ulang identitas kolektif mereka pada
dekade pertam a abad ke-21. Ini m erupakan periode yang am at m e-
riah dan m udah sekali berubah dengan janji yang m enggoda akan
terbukanya kesem patan-kesem patan baru, dan juga risiko serta
kekhawatiran. Ini m erupakan kurun pasca-Orde Baru otoriter
yang ditandai dengan kebangkitan politik Islam is yang tak pernah
sehebat ini, perdebatan publik tentang pelanggaran hak asasi
m anusia di m asa lalu, perpecahan yang tajam dan sulit dirujukkan
kembali di kalangan para elite politik, kebangkitan kekuatan
ekonom i Asia, dan revolusi kom unikasi digital di seluruh dunia.

Kebanyakan pertem puran ideologis untuk m endapat posisi
hegem onik guna m engisi kekosongan kekuasaan yang terjadi
sesudah kejatuhan pem erintahan Orde Baru berlangsung di pang-
gung budaya populer dalam berbagai bentuk. Sem entara buku ini
berfokus pada budaya politik kontem porer di Indonesia, setiap

pustaka-indo.blogspot.com


Dari Layar ke Politik Jalanan 307

bab m enyediakan wawasan kesejarahan yang lebih luas. Analisa
mendalam tentang identitas dan politik persaingan dalam bangsa
Indonesia m erupakan fokus buku ini, tapi keterlibatan trans-
nasional dan dim ensi global m erupakan bagian yang penting
dalam cerita yang dituturkan dalam setiap bab buku ini. Sebuah
pesan utam a dalam seluruh buku ini: Indonesia m em iliki kekayaan
suku bangsa, sejarah, dan budaya yang sangat beragam . Kekayaan
ini merupakan berkah dari campuran berbagai pandangan, kerja
kreatif orang-orang berpikiran kosm opolitan yang m engupayakan
versi lokal m odernitas cam puran. Sayangnya, tak lam a sesudah
kem erdekaan Indonesia, kebanyakan dari kekayaan budaya yang
luar biasa ini telah disangkal, dibengkokkan, atau dilupakan dalam
sejarah resmi dan ingatan publik, karena berbagai kelompok
modernis bersaing untuk mencoba memaksakan satu deinisi
yang lebih sem pit m engenai arti m enjadi Indonesia yang sah dan
terhormat.

Kajian ini m em bahas dua bidang kajian utam a yang saling
m elengkapi. Yang pertam a m engacu kepada soal-soal yang tam pak
jelas dan diperdebatkan secara seru di ruang publik nasional dan
m enyangkut politik identitas dan kenikm atan, term asuk budaya
populer dengan tema Islam yang kuat (Bab 2 dan 3); dan juga
popularitas budaya layar dari Asia Tim ur, terutam a dari Korea
Selatan (Bab 7). Bidang kajian utam a kedua m enyangkut soal
yang lebih m enyedihkan yang selam a ini dihindari, dibungkam ,
dilupakan, atau disalahpaham i oleh m asyarakat luas. Ini m e-
nyangkut pertanyaan m engenai pem bunuhan m assal 1965-66
yang telah m enghantui bangsa ini sejak peristiwa itu terjadi (Bab
4 dan 5), seabad diskrim inasi terhadap etnis Tionghoa (Bab 6) dan
kelas bawah (Bab 8). Di bawah politik identitas dan kenikm atan,
terdapat kisah derita, bencana, dan pilu.

Buku ini dim aksudkan sebagai sebuah sum bangan kecil ter-
hadap upaya yang terus bertum buh belakangan ini di kalangan

pustaka-indo.blogspot.com


308 Identitas dan Kenikmatan
para ahli untuk m em beri pengakuan bagi kekayaan budaya politik
dan sejarah Indonesia. Saya sadar akan rum itnya pokok bahasan
ini dan juga keterbatasan saya sendiri, serta keterbatasan yang bisa
dicakup oleh sebuah buku. Buku ini tidak dim aksudkan m enjadi
ensiklopedia dalam cakupannya m aupun sebagai sesuatu yang
teramat lengkap dalam pembahasan. Sebagai kajian etnograis,
dengan penekanan pada data kualitatif mendalam, buku ini tak
dapat m endaku telah m ewakili segala soal yang dibahasnya, atau
generalisasi dari argum en yang diajukannya. Terlepas dari segala
keterbatasan tersebut, saya berharap upaya ini m enawarkan sum -
bangan penting pada kancah akadem is yang tum buh dalam kajian
budaya politik Indonesia dan kajian atas politik kehidupan sehari-
hari baik di masa lalu maupun kini.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan

Adam , Asvi Warm an (20 0 4) “Menciptakan Beragam Narasi Tragedi
1965”, Kom pas, 18 Septem ber.
(2008) “Versi Mutakhir G30S”, Tem po, 37 (39).
(20 10 ) “Supersem ar dan Arsip Bangsa”, Kom pas, 11 Maret.

Aguilar J r., Filom eno (20 0 1) “Citizenship, Inheritance, and the Indige-
nizing of ‘Orang Chinese’ in Indonesia”, positions, 9(3): 501­33.

Aiyar, Pallavi (2013) “The Pakistanisation of Indonesia”, The Hindu,
<www.thehindu.com / opinion/ op-ed/ the-pakistanisation-of-
indonesia/article4815062.ece>, diunggah 15/06/2013, dibaca
15/06/2013.

Ali, Muham ad (20 11) “The Internet, Cyber-religion, and Authority”,
dalam A. Weintraub (ed.), Islam and Popular Culture in Indonesia
and Malay sia, London: Routledge, hal. 10 1-122.

Am in, Husnul (20 10 ) “From Islam ism to Post-Islam ism : A Study of a
New Intellectual Discourse on Islam and Modernity in Pakistan”,
skripsi doktoral pada International Institute of Social Studies, The
Hague, The Netherlands.

Anderson, Benedict (1983) Imagined Communities: Relections on the
Origin and Spread of N ationalism , London: Verso.
(1987) “How Did the Generals Die?”, Indonesia, 43 (April): 109­34.

pustaka-indo.blogspot.com


310 Identitas dan Kenikmatan

(1991) Imagined Communities: Relections on the Origin and
Spread of N ationalism , edisi revisi, London dan New York: Verso.

(1996) “Elections and Participation in Three Southeast Asian
Countries”, dalam R.H Taylor (ed.), The Politics of Elections in
Southeast Asia, Cam bridge: Woodrow Wilson International Centre
for Scholars, hal. 12–33.

(1999) “Indonesian Nationalism Today and in the Future”,
Indonesia, 67 (April): 1-11.

(2002) “Twilight Dogs—Jangled Nerves”, Indonesia, 73 (April):
129-144.

dan McVey, Ruth (1971) A Prelim inary Analy sis of the October 1,
1965, Coup in Indonesia, Ithaca: Modern Indonesia Project, SEAP,
Cornell University.
Ang, Ien (1991) Desperately Seeking the Audience, London: Routledge.

(1996) Living Room W ars: Rethinking Media Audiences for a
Postm odern W orld, London: Routledge.
Anshor, Saiful (20 0 9) “Chaerul Um am : Munculnya Liberalism e
di Industri Film ”, Suara Hiday atullah, Maret 20 0 9, <http:/ /
majalah.hidayatullah.com/?p=223>, diunggah 26/05/2010, dibaca
28/ 0 7/ 20 12.
Antara (20 0 8) “Masyarakat Belanda Nikm ati Film ‘Ayat-Ayat Cinta’“, 4
Oktober, <www.antara.co.id/ arc/ 20 0 8/ 10 / 4/ m asyarakat-belanda-
nikmati­ilm­ayat­ayat­cinta>, dibaca 4/10/2012.
Aprianto, Anton (20 0 8) “Kalla Puas dengan Ayat-Ayat Cinta”, Koran
Tem po, 24 Maret.
Arps, Bernard dan Van Heeren, Katinka (20 0 6) “Ghosthunting and
Vulgar News: Popular Realities on Recent Indonesian Television”,
dalam H.S. Nordholt (ed.), Indonesian Transitions, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, hal. 289­325.
Asm ara, Andjar (1955) “Menjelang Hari Datang: Filem Indonesia”, Star
N ew s, 4 (1), diterbitkan ulang daring tanggal 12/3/2013.
Aspinall, Edward (20 0 5) “Elections and the Norm alization of Politics in
Indonesia”, South East Asia Research, 13(2): 117­56.
Badan Pusat Statistik (2013) “Per Capita National Income, 2000­2012
(Rupiahs)”, <www.bps.go.id/ eng/ tab_ sub/ view.php?tabel=1&daftar
=1&id_subyek=11&notab=76>, dibaca 2/6/2013.
Barendregt, Bart (20 0 6) “Cyber-nasyid; Transnational Soundscapes in
Muslim Southeast Asia”, dalam T. Holden dan T. Scrace (eds) m ed@
Asia; Global Mediation in and out of Context, London: Routledge,
hal. 170 -87.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 311

(20 11) “Pop, Politics and Piety; Nasyid Boy Band Music in Muslim
Southeast Asia”, dalam A. Weintraub (ed.), Islam and Popular
Culture in Indonesia and Malay sia, London: Routledge, hal. 235­56.

dan Van Zanten, Wim (20 0 2) “Popular Music in Indonesia since
1998, in Particular Fusion, Indie and Islam ic Music on Video Com pact
Discs and the Internet”, Yearbook for Traditional Music, 34: 67­113.
Barker, Thom as (20 10 ) “Historical Inheritance and Film Nasional in
Post-Reform asi Indonesian Cinem a”, Asian Cinem a, 21 (2): 7-24.
Baskoro, Sandy (20 0 7) “Depok Musnahkan 1.247 Buku Sejarah”, Koran
Tem po, 21 J uli.
Baudrillard, Jean (1983) In the Shadow of the Silent Majorities,
Sim otext(e), New York, NY.
Baulch, Em m a (20 0 7) Making Scenes; Reggae, Punk, and Death Metal
in 1990 s Bali, Durham : Duke University Press.
Baum gärtel, Tilm an (ed.) (20 12) Southeast Asian Independent Cinem a,
Hong Kong: Hong Kong University Press.
Bayat, Asef (1996) “The Com ing of a Post-Islam ist Society”, Critique:
Critical Middle East Studies, 9: 43­52.

(20 0 2a) “Piety, Privilege and Egyptian Youth”, ISIM New sletter
(10): 23.

(20 0 2b) “What is Post-Islam ism ”, ISIM New sletter (16): 5.
(20 0 7a) Islam and Dem ocracy : W hat is the Real Question?, ISIM
Papers, 8. Am sterdam : Am sterdam University Press.
(20 0 7b) Making Islam Dem ocratic: Social Movem ents and the
Post-Islam ist Turn, Stanford: Stanford University Press.
(20 0 7c) “Islam ism and the Politics of Fun”, Public Culture, 19(3/
Fall): 433­59.
(20 0 9) “Dem ocracy and the Muslim World: the ‘Post-Islam ist’
Turn”, openDem ocracy , <http:/ / www.opendem ocracy.net/ article/
democratising­the­muslim­world>, diunggah 06/3/2009, dibaca
20 / 4/ 20 12.
Bayuni, Endy (20 0 9) “Indonesia’s Do-it-yourself Cam paign”, New York
Tim es, 3 Mei.
Berg, Birgit (20 11) “Musical Modernity, Islam ic Identity, and Arab Aes-
thetics in Arab-Indonesian Orkes Gam bus”, dalam A. Weintraub
(ed.), Islam and Popular Culture in Indonesia and Malay sia, Lon-
don: Routledge, hal. 166-84.
Bev, J ennie S. (20 0 8) “Rom ancing the Koran in Indonesia”, Asia Sentinel,
20 Maret, <http:/ / www.asiasentinel.com/ index.php?option=com_
content&task=view&id=1110&Itemid=35>, dibaca 27/7/2012.

pustaka-indo.blogspot.com


312 Identitas dan Kenikmatan

Biran, Misbach Y (1976) “Pasang Surut Perkem bangan Filem Indonesia”,
Berita Yudha, 7 Oktober, dikutip dari penerbitan ulang di footage,
<http:/ / jurnalfootage.net/ v4/ kronik/ pasang-surut-perkem bangan-
ilem­indonesia­1>, diunggah 21/3/2013, dibaca 8/4/2013.
(20 0 1) “The History of Indonesian Cinem a at a Glance”, dalam D.
Hanan (ed.), Film in South East Asia: View s from the Region, Hanoi:
SEAPAVAA Vietnam Film Institute dan NSSAA, hal. 211-52.

Bodden, Michael (20 10 ) “Modern Dram a, Politics, and the Postcolonial
Aesthetics of Left-Nationalism in North Sum atra: The Forgotten
Theater of Indonesia’s Lekra, 1955-65” dalam T. Day dan M. Liem
(ed.), Cultures at W ar: The Cold W ar and Cultural Expression in
Southeast Asia, Ithaca: Cornell University Southeast Asia Program
Publications, hal.45-80 .

Bonura, Carlo dan Sears, Laurie (20 0 7) “Knowledges that Travel in
Southeast Asian Studies”, dalam L. Sears (ed.), Know ing Southeast
Asia, Seattle: University of Washington, hal. 3­32.

Bourdieu, Pierre dan Passeron, J ean Claude (1977) Reproduction in
Education, Society and Culture, terj. R. Nice, London dan Beverly
Hills: SAGE Publications.

Bram antyo, Hanung (20 0 7) “Kisah Di Balik Layar AAC I”, http:/ /
hanungbram antyo.m ultiply.com / journal/ item / 8 ,diunggah
29/11/2007, dibaca 27/3/2012.
(20 0 8) “Ayat-ayat Pribadi Seorang Sutradara”, http:/ / hanung
bramantyo.multiply.com/journal/item/13, diunggah 22/4/2008,
dibaca 31/3/2012.
(20 10 ) “Agam a Hanyalah Medium ”, wawancara dengan Vivi
Zabkie dan Saidim an Ahm ad, wawancara radio KBR68H tanggal
27/ 10 / 20 10 , <http:/ / islam lib.com / id/ artikel/ hanung-bram antyo-
agam a-hanyalah-m edium >, diunggah tanggal 1/ 11/ 20 10 , dibaca
9/3/2013.

Brenner, Suzanne (1996) “Reconstructing Self and Society: J avanese
Muslim Wom en and ‘the Veil’“, Am erican Ethnologist, 23 (4): 673­
97.
(1999) “On the Public Intim acy of the New Order: Im ages of
Wom en in the Popular Indonesian Print Media”, Indonesia, 67
(April): 13­37.
(20 11) “Holy Matrim ony? The Print Politics of Polygam y in
Indonesia”, dalam A. Weintraub (ed.), Islam and Popular Culture in
Indonesia and Malay sia, London: Routledge, hal. 212­34.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 313

Budi, Muchus (20 0 9) “Genjer-genjer, Karya Seni Korban Politik”,
detikN ew s, 14 Septem ber.

Budiardjo, Carm el (1991) “Indonesia: Mass Exterm ination and the Conso-
lidation of Authoritarian Power”, dan A. George (ed.) W estern State
Terrorism , New York: Routledge, hal. 180 -211.

Buehler, Michael (20 0 9a) “Islam and Dem ocracy in Indonesia”, Insight
Turkey , 11(4): 51­63.
(20 0 9b) “Suicide and Progress in Modern Nusantara”, Inside
Indonesia, 97 (J uli– September).
(2011) “Whodunit? Politicians Afiliated with Secular Parties
Im plem ent Most Sharia Regulations”, Tem po, 12 (1): 58-59.

Bunnell, Frederick (1990 ) “Am erican ‘Low Posture’ Policy Toward
Indonesia in the Months Leading up to the 1965 ‘Coup’”, Indonesia,
50 (Oktober): 29-60.

Burcher, Nick (2010) “Top 30 Facebook Fan Pages by Number of Fans ­
October 2010”, <www.nickburcher.com/2010/10/top­30­facebook­
fan-pages-by-num ber-of.htm l>, diunggah 26/ 10 / 20 10 , dibaca
7/ 4/ 20 12.
(20 12) “Facebook Usage Statistics by Country Decem ber 20 0 8 -
Decem ber 20 11”, <www.nickburcher.com / 20 12/ 0 1/ facebook-usage-
statistics-by-country.htm l>, diunggah 4/ 1/ 20 12, dibaca 4/ 4/ 20 12.

Caldwell, Malcolm (ed.) (1975) Ten Years’ Military Terror in Indonesia,
Nottingham : Spokesm an Books.

Can, Edy (20 0 5) “Korban Peristiwa 1965 Gugat Lim a Presiden”, Koran
Tem po, 10 Maret.

Carey, J am es (1998) “Marshall McLuhan: Genealogy and Legacy”, Cana-
dian Journal of Communication, 23 (3), http://www.cjc­online.ca/
index.php/ journal/ article/ view/ 10 45/ 951, terakhir dibaca 10 / 0 8/
2013.

Chan Kwok-Bun dan Yung Sai-Shing (20 0 5) “Chinese Entertainm ent,
Ethnicity, and Pleasure”, Visual Anthropology , 18(2): 103­42.

Choe Sang-Hun dan Russell, Mark (20 12) “Bringing K-Pop to the West”,
The New York Tim es, 4 Maret.

Chua Beng-Huat (ed.) (20 0 0 ) Consum ption in Asia: Lifesty les and
Identities, London: Routledge.
(20 0 4) “Conceptualizing an East Asian Popular Culture”, Inter-
Asia Cultural Studies, 5(2): 20 0 -21.
(ed.) (20 0 7) Elections as Popular Culture in Asia, London:
Routledge.

pustaka-indo.blogspot.com


314 Identitas dan Kenikmatan

(20 0 8) “East-Asian Pop Culture; Layers of Com m unities”, dalam
Y. Kim (ed.), Media Consum ption and Every day Life in Asia, London
dan New York: Routledge, hal. 99­113.

(20 10 ) “Engendering an East Asia Pop Culture Research
Com m unity”, Inter-Asia Cultural Studies, 11(2): 20 2-6.
Clark, Marshall (20 10 ) Maskulinitas; Culture, Gender and Politics in
Indonesia, Caulield: Monash University Press.
Cohen, J oshua dan Rogers, J oel (1991) “Knowledge, Morality and Hope:
The Social Thought of Noam Chom sky”, New Left Review , 187 (Mei/
J uni): 5-27.
Cohen, Matthew (20 0 6) The Kom edie Stam boel: Popular Theater in
Colonial Indonesia, 1891-190 3, Athens: Ohio University Press.
Cohen, Matthew (20 0 9) “Hybridity in Kom edi Stam bul”, dalam D.
J edam ski (ed.), Chew ing Over the W est, Am sterdam : Rodopi, hal.
275­301.
Comor, Edward (2013) “Digital Engagement: America’s Use (and Misuse)
of Marshall McLuhan”, N ew Political Science, 35(1): 1­18.
Coppel, Charles (1999) “The Indonesian Chinese as ‘Foreign Orientals’ in
the Netherlands Indies”, dalam T. Lindsey (ed.), Indonesia; Law and
Society , Leichhardt, NSW: The Federation Press, hal. 33­41.
Coutas, Penelope (20 0 8) “Fam e, Fortune, Fantasi”, dalam A. Heryanto
(ed.) Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-autho-
ritarian Politics, London: Routledge, hal. 111– 29.
Cribb, Robert (1999) “Nation: Making Indonesia”, dalam D. Em m erson
(ed.), Indonesia Bey ond Suharto, Armonk: Asia Society, hal.3­38.

(ed.) (1990 ) The Indonesian Killings of 1965-1966; Studies from
Java and Bali, Clayton: Centre of Southeast Asian Studies, Monash
Un iver sit y.

dan Coppel, Charles (20 0 9) “A Genocide that Never was:
Explaining the Myth of Anti-Chinese Massacres in Indonesia, 1965–
66”, Journal of Genocide Research, 11(4): 447-65.
Crook, Tom (20 0 7) “Power, Privacy and Pleasure”, Cultural Studies,
21(4): 549-69.
Crouch, Harold (1978) The Arm y and Politics in Indonesia, Ithaca:
Cornell University Press.
Dam ono, Sapardi D. (1984) “Sosiologi Sastra Indonesia Modern”, m aka-
lah untuk National Sym posium on Modern Indonesian Literature,
Yogyakarta, 26-27 Oktober.
Dariyanto, Erwin (20 0 9) “Dari Panggung Hiburan ke Senayan”, Koran
Tem po, 26 April.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 315

Darm awan, Hikm at (20 12a) “Catatan Film Indonesia 20 11 (1): Beban,
Potensi, Aktualisasi Film Nasional 20 11”, Rum ah Film , <http:/ /
new.rumahilm.org/artikel­feature/catatan­ilm­indonesia­2011­1­
beban­potensi­aktualisasi­ilm­nasional­2011>, diunggah 11/1/2012,
dibaca 27/ 12/ 20 12.
(2012b) “Catatan Film Indonesia 2011 (2): Pada Mulanya, dan pada
Akhirnya, Proses”, Rum ah Film , < http://new.rumahilm.org/artikel­
featu r e/ catatan -film -in d on esia-20 11-2-pad a-m u lan ya-d an -pad a-
akhirnya-proses>, diunggah 12/ 1/ 2012, dibaca 27/ 12/ 2012.

David, Bettina (20 0 8) “Intim ate Neighbors: Bollywood, Dangdut Music,
and Globalizing Modernities in Indonesia”, dalam S. Gopal dan S.
Moorti (ed.), Global Bolly w ood; Travels of Hindi Song and Dance,
Minneapolis: University of Minneapolis Press, hal. 179-199.

Dhyatm ika, Wahyu dan Wibowo, Kukuh (20 0 9) “Mengubur Dendam di
Pusara Kiai”, Tem po, 38(30).

Diani, Hera (20 0 5) “FPI Mem bers Stage Protest during PKI Court
Session”, The Jakarta Post, 4 Agustus.

Djaya, Sjum an (1977) “Di Tangan Borjuis Kelontong, Film Hanya Barang
Dagangan”, wawancara, Prism a, 6 (J uni): 42-44.

Dovey, Lindiwe dan Im pey, Angela (20 10 ) “African Jim : Sound, Politics,
and Pleasure in Early ‘Black’, South African Cinem a”, Journal of
African Cultural Studies, 22(1): 57­73.

Em bong, Abdul (20 0 2) State-led Modernization and the New Middle
Class in Malay sia. Basingstoke, UK: Palgrave.

Em ond, Bruce (20 12) “As He Likes It”, W eekender, 25 April.
Fadjri, Raihul (20 0 4) “Kepingan Kiri (yang) J alan Terus”, Koran Tem po,

23 Agustus.
Farram , Steven (20 10 ) “The PKI in West Tim or and Nusa Tenggara Tim ur;

1965 and Beyond”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde,
166 (4): 381­403.
Fealy, G. dan White, S. (eds) (20 0 8) Expressing Islam ; Religious Life and
Politics in Indonesia, Singapura: ISEAS.
Fealy, Greg (2008) “Consuming Islam: Commodiied Religion and
Aspirational Pietism in Contem porary Indonesia”, dalam G. Fealy
dan S. White (ed.) (20 0 8) Expressing Islam ; Religious Life and
Politics in Indonesia, hal. 15­39.

dan McGregor, Katharine (20 10 ) “Nahdlatul Ulam a and the
Killings of 1965-66; Religion, Politics and Rem em brance”, Indonesia,
89 (April): 37­60.

pustaka-indo.blogspot.com


316 Identitas dan Kenikmatan

Febiana, Fanny (20 0 7a) “Penarikan Tuntas Tahun Ini”, Koran Tem po,
22 Mei.
(20 0 7b) “Pem erintah Akan Keluarkan Buku Sejarah Baru”, Koran
Tem po, 2 Oktober.

Fein, Helen (1993) “Revolutionary and Antirevolutionary Genocides:
A Com parison of State Murders in Dem ocratic Kam puchea, 1975
to 1979, and in Indonesia, 1965 to 1966”, Com parative Studies of
Society and History , 35 (4): 796­823.

Fernback, Jan (2003) “Legends on the Net: an Examination of Computer­
Mediated Com m unication as a Locus of Oral Culture”, New Media
and Society 5(1): 29-45.

Foulcher, Keith (1986) Social Com m itm ent in Literature and the Arts:
the Indonesian “Institute of Peoples’ Culture” 1950 -1965, Clayton:
Centre of Southeast Asian Studies, Monash University.
(1990 a) “Making History: Recent Indonesian Literature and the
Events of 1965”, dalam R. Cribb (ed.) The Indonesian Killings 1965-
1966; Studies from Java and Bali, Clayton: Centre of Southeast Asian
Studies, hal. 10 1-19.
(1990 b) “The Construction of an Indonesian National Culture:
Patterns of Hegem ony and Resistance”, dalam A. Budim an (ed.) State
and Civil Society in Indonesia, Clayton: Centre of Southeast Asian
Studies, hal. 301­20.
(1991) “Bum i Manusia and Anak Sem ua Bangsa: Pram oedya
Ananta Toer Enters the 1980 s”, Indonesia, 32 (October): 1­15.

Frederick, William (1982) “Rhom a Iram a and the Dangdut Style”,
Indonesia, 34 (Okt): 103­30.

Garcia, Michael (20 0 4) “The Indonesian Free Book Press”, Indonesia, 78
(Okt): 121-45.

Genie (20 0 5) “Artis Keturunan China Makin Merangsek”, 24 (8-21
Maret).

Genosko, Gary (1999) McLuhan and Baudrillard: Masters of Im plosion,
London: Routledge.

Gerke, Solvay (20 0 0 ) “Global Lifestyles under Local Conditions; the New
Indonesian Middle Class”, dalam Chua Beng-Huat (ed.) Consum ption
in Asia; Lifesty les and Identities, London: Routledge, hal. 135­158.

Grayling, A.C. (20 0 2) “It Started with a Kiss”, Guardian, 1 J uli.
Grossm an, Lev (20 10 ) “Mark Zuckerberg”, TIME, <www.tim e.

com/time/specials/packages/article/0,28804,2036683
_2037183_2037185,00.html>, diunggah 15/12/2010, dibaca
4/ 4/ 20 12.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 317

Hadiz, Vedi (20 11) “No Turkish Delight: The Im passe of Islam ic Party
Politics in Indonesia”, Indonesia, 92 (Oktober): 1-18.

Ham luddin (20 0 7) “Lagi, 775 Buku Sejarah Dim usnahkan”, Tem po
Interaktif, 6 September, <www.tempointeraktif.com/ hg/ jakarta/ 2007/
09/ 06/ brk,20070906-107114,id.html>, dibaca 7 / 09/ 2007.

Hanan, David (20 0 8) “Changing Social Form ations in Indonesian and
Thai Teen Movies”, dalam A. Heryanto (ed.), Popular Culture in
Indonesia, London: Routledge, hal. 54-69.

Hasan, Noorhaidi (20 0 9) “The Making of Public Islam : Piety, Agency and
Commodiication on the Landscape of the Indonesian Public Sphere”,
Contem porary Islam (Springer) 3(3): 229­50.

Hatley, Barbara (20 0 6) “Recalling and Re-presenting the 1965/ 1966
Anti-Com m unist Violence in Indonesia”, m akalah dipresentasikan
pada the 16th Biennial Conference of the Asian Studies Association of
Australia di Wollongong 26-29 J uni 20 0 6.

Hefner, Robert (1997) “Print Islam : Mass Media and Ideological Rivalries
am ong Indonesian Muslim s”, Indonesia, 64: 77­103.

Heider, Karl (1991) Indonesian Cinem a; National Culture on Screen,
Honolulu: University of Hawaii Press.

Hellwig, Tineke (20 11) “Abidah El Khalieqy’s novels: Challenging
Patriarchal Islam ”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde,
167 (1): 16­30.

Henschkel, M. (1994) “Perception of Popular Culture in Contemporary
Indonesia”, Review of Indonesian and Malay an Affairs, 28 (2): 53­70.

Herm awan, Ary (20 0 8) “Habiburrahm an El Shirazy: No Intentions to
Counter ‘Satanic Verses’”, The Jakarta Post, 4 April.

Heru CN (20 0 8) “Soekardjo Wilardjito”, Koran Tem po, 25 J uni.
Heryanto, Ariel (1987) “Kekuasaan, Kebahasaan, dan Perubahan Sosial”,

Kritis , 1(3): 4­53.
(1993) “Memperjelas Sosok yang Samar”, dalam R. Tanter dan K.

Young (ed.) Politik Kelas Menengah Indonesia, Jakarta: LP3ES, hal.
ix-xxv.

(1995) Language of Developm ent and Developm ent of Language,
Canberra: Paciic Linguistics, The Australian National University.

(1996) “Indonesian Middle-class Opposition in the 1990 s, dalam
G. Rodan (ed.) Political Oppositions in Industrialising Asia, London
dan New York: Routledge, hal. 241-71.

(1997) “Silence in Indonesian Literary Discourse: The Case of the
Indonesian Chinese”, Sojourn, 12 (1): 26-45.

pustaka-indo.blogspot.com


318 Identitas dan Kenikmatan

(1998a) “Ethnic Identities and Erasure; Chinese Indonesians in
Public Culture”, dalam Southeast Asian Identities; Culture and the
Politics of Representation in Indonesia, Malay sia, Singapore, and
Thailand, J oel S. Kahn (ed.), Singapura: Institute of Southeast Asian
Studies, hal.95-114.

(1998b) “Flaws of Riot Media Coverage”, The Jakarta Post, 15
J uli.

(1999a) “Rape, Race, and Reporting”, dalam A. Budim an, B.
Hatley, dan D. Kingsbury (ed.), Reform asi: Crisis and Change in
Indonesia? Clayton: Monash Asia Institute, hal. 299­334.

(1999b) “The Years of Living Luxuriously”, dalam M. Pinches
(ed.) Culture and Privilege in Capitalist Asia, London dan New York:
Routledge, hal. 159-87.

(1999c) “Where Com m unism Never Dies”, International Journal
of Cultural Studies, 2 (2): 147-77.

(2003) “Public Intellectuals, Media and Democratization” dalam
A. Heryanto dan S.K. Mandal (ed.), Challenging Authoritarianism
in Southeast Asia; Com paring Indonesia and Malay sia, London:
Routledge Curzon, 2003, hal. 24­59.

(20 0 5) “Ideological Baggage and Orientations of the Social
Sciences In Indonesia”, dalam V. R. Hadiz dan D. Dhakidae (ed.)
Social Science and Pow er in Indonesia, J akarta dan Singapura:
Equinox dan ISEAS, hal. 69-10 1.

(20 0 6a) State Terrorism and Political Identity in Indonesia:
Fatally Belonging, London

(20 0 6b) “Then There were Languages: Bahasa Indonesian
was One Am ong Many”, dalam S. Makoni dan A. Pennycook (ed.),
Disinventing and Reconstituting Languages, Clevedon [UK] dan
Buffalo: Multilingual Matters, hal. 42-61.

(20 0 7) “New Media and Freedom of Expression in Asia”, pidato
utam a, Freedom of Expression dalam Asia Workshop, COMBINE
Resource Institution dan Global Partners and Associates, Yogyakarta,
4 Novem ber.

(20 0 8a) “Citizenship and Indonesian Ethnic Chinese in Post-1998
Film s”, dalam A. Heryanto (ed.), Popular Culture in Indonesia: Fluid
Identities in Post-Authoritarian Politics, London dan New York:
Routledge, hal. 70 -92.

(20 0 8b) “Pop Culture and Com peting Identities”, dalam A.
Heryanto (ed), Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post
-Authoritarian Politics, London dan New York: Routledge, hal. 1­36.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 319

(20 0 9) “The Bearable Lightness of Dem ocracy”, dalam T. Reuter
(ed.), Ten Years of Political Reform in Indonesia: Reasons for Hope,
Monash Asia Institute, Clayton, hal. 51­63.

(20 10 a) “Entertainm ent, Dom estication, and Dispersal: Street
Politics as Popular Culture”, dalam E. Aspinnal dan M. Mietzner (ed.),
Problem s of Dem ocratisation in Indonesia: Elections, Institutions
and Society , Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, hal.
18 1-9 8 .

(20 10 b) “The Look of Love: New Engagem ents with the Oriental
in Indonesian Popular Culture”, dalam D. Shim , A. Heryanto, dan U.
Siriyuvasak (ed.), Pop Culture Form ations Across East Asia, Seoul:
Jimoondang, hal. 209­31.

(20 11) “Upgraded Piety and Pleasure: the New Middle Class and
Islam in Indonesian Popular Culture”, dalam A. Weintraub (ed.),
Islam and Popular Culture in Indonesia and Malay sia, London:
Routledge, hal. 60 -82.

(20 12a) “Screening the 1965 Violence”, dalam J .T. Brink dan J .
Oppenheim er (ed.) Killer Im ages: Docum entary Film , Mem ory and
the Perform ance of Violence, New York: Colum bia University Press,
hal. 224-40 .

(20 12b) “The 1965-6 Killings: Facts and Fictions in Dangerous
Liaisons”, IIAS N ew sletter, 61 (Musim Gugur): 16-17.

dan Adi, Stanley (20 0 2) “Industrialized Media in Dem ocratizing
Indonesia”, dalam Russell Hiang-Khng Heng (ed.) Media Fortunes,
Changing Tim es – ASEAN States in Transition, Singapura: Institute
of Southeast Asian Studies, hal. 47-82.

dan Hadiz, Vedi (20 0 5) “Post-Authoritarian Indonesia: A
Com parative; Southeast Asian Perspective”, Critical Asian Studies,
37 (2): 251­76.

dan Mandal, Sumit K. (2003) “Challenges to Authoritarianism
in Indonesia and Malaysia”, dalam A. Heryanto dan S.K. Mandal
(ed.), Challenging Authoritarianism in Southeast Asia: Com paring
Indonesia and Malay sia, Routledge Curzon, London, hal. 1-24.
Hew, Wai­Weng (2013) “Expressing Chineseness, Marketing Islam; The
hybrid Perform ance of Chinese Muslim Preachers”, dalam SM Sai
dan CY Hoon (ed.), Chinese Indonesians Reassessed; History , Reli-
gion and Belonging, London: Routledge, hal. 178-99.
Hidayah, Aguslia (20 0 9) “Tem pe, Cinta, dan Poligam i”, Tem po, 4 J uni.
Hill, D. dan Sen, K. (20 0 5) The Internet in Indonesia’s New Dem ocracy ,
London dan New York: Routledge.

pustaka-indo.blogspot.com


320 Identitas dan Kenikmatan

Hill, David (20 0 7) “Manoeuvres in Manado: Media and Politics in
Regional Indonesia”, South East Asia Research, 15(1): 5-28.
(20 0 9) “Assessing Media Im pact in Local Elections in Indonesia”,
dalam M. Erb dan P. Sulistiyanto (ed.), Deepening Dem ocracy in
Indonesia?, Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, hal. 229-
55.

Hobart, Mark (20 0 6) “Entertaining Illusions: How Indonesian Élites
Im agine Reality TV Affects the Masses”, Asian Journal of Com m u-
nication, 16 (4): 393­410.

Hobsbawm, Eric dan Ranger, Terence (ed.) (1983) The Invention of
Tradition, Cam bridge: Cam bridge University Press.

Hoesterey, J am es (20 0 7) “Aa Gym ; The rise, Fall, and Re-branding of a
Celebrity Preacher”, Inside Indonesia, 90 (Okt-Des), http:/ / inside-
indonesia.org/ content/ view/ 10 11/ 29/ .
(20 0 8) “Marketing Morality: The Rise, Fall and Rebranding of Aa
Gym ”, dalam G. Fealy dan S. White (ed.) Expressing Islam ; Religious
Life and Politics in Indonesia, Singapura: ISEAS, hal. 95-112.
(20 12) “Prophetic Cosm opolitanism : Islam , Pop Psychology, and
Civic Virtue in Indonesia”, City & Society , 24(1): 38–61.
dan Clark, Marshall (20 12) “Film Islam i: Gender, Piety and Pop
Culture in Post-Authoritarian Indonesia”, Asian Studies Review ,
36(2): 207­26.

Holtzappel, Coen (1979) “The 30 September Movement: A Political Move­
m ent of the Arm ed Forces on an Intelligence Operation?”, Journal of
Contem porary Asia, 9 (2): 216-40 .

Howell, J ulia (20 0 8) “Modulations of Active Piety: Professors and
Televangelists as Prom oters of Indonesian ‘Suisme’“, dalam G. Fealy
dan S. White (ed.), Expressing Islam ; Religious Life and Politics in
Indonesia, Singapura; ISEAS, hal. 40 -62.

Ida, Rachm ah (20 0 8) “Consum ing Taiwanese Boys Culture”, dalam A.
Heryanto (ed.) Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in
Post-Authoritarian Politics, London dan New York: Routledge, hal.
93­110.

Im anjaya, Ekky (20 0 6) “Tentang Sinetron Mistis Berbum bu Relijius”,
lay arperak.com , www.layarperak.com / news, dibaca 28/ 7/ 20 0 6.
(20 0 9a) “Posisi Ideologis dan Representasi: Perem puan Berkalung
Sorban, Mem bela atau Merusak Nam a Islam ?, Rum ah Film , <http:/ /
old.rum ahfilm .org/ resensi/ resensi_ perem puanberkalungsorban.
htm >, diunggah 2/ 25/ 20 0 9, dibaca 28/ 4/ 20 12.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 321

(2009b) “When Love Gloriies God”, Inside Indonesia, <http:/ /
www.insideindonesia.org/ weekly-articles-97-jul-sep-20 0 9/
when­love­gloriies­god­09081774>, diunggah 3/8/2009, dibaca
30/4/2012.
Indrakusuma, Danny (1993) “Imlek dan Larangan Menjual Kue Ranjang”,
Sury a, 25 J anuari.
Indrarto, Totot (2013) “Risalah 2012: Ditinggalkan Bioskop, Diabaikan
Pem erintah”, ilm indonesia, <http://ilmindonesia.or.id/article/
r is a la h - 2 0 12 - d it in gga lk a n - b io s k o p - d ia b a ik a n - p e m e r in t a h # .
UbU6Tpz4Lux>, diunggah 24/4/2013, dibaca 26/4/2013.
Ingawanij, May dan McKay, Benjam in (ed.) (20 12) Glim pses of Freedom
Independent Cinem a in Southeast Asia, Ithaca: Cornell Southeast
Asia Program Publications.
Ivvaty, Susi (20 0 5) “‘Industri’ Dai di Layar Kaca”, Kom pas, 6 Novem ber.
Iwabuchi, Koichi (20 0 2a) Recentering Globalization; Popular Culture
and Japanese Transnationalism , Durham dan London: Duke Uni-
versity Press.

(20 0 2b) “‘Soft’ Nationalism and Narcissism : J apanese Popular
Culture Goes Global”, Asian Studies Review 26 (4): 447-69.
Jakarta Post , The (2009a) “MUI Cleric Seeks Boycott of New Movie”, 2 J uli.

(20 0 9b) “10 ,0 0 0 Personnel to Guard Inauguration of DPR, DPD
Mem bers”, 28 Septem ber.
Jaw a Pos (20 0 8) “Hanung Bakal Filmkan Ketika Cinta Bertasbih”, 5 Maret.
J ones, Carla (20 0 7) “Fashion and Faith in Urban Indonesia”, Fashion
Theory , 11 (2/3): 211­32.

(20 10 ) “Materializing Piety: Gendered Anxieties about Faithful
Consum ption in Contem porary Urban Indonesia”, Am erican
Ethnologist, 37(4): 617–37.
J ung, Sun (20 11) “Race and Ethnicity in Fandom : Praxis K-pop,
Indonesian Fandom , and Social Media”, dalam “Race and Ethnicity
in Fandom ,” diedit oleh R. A. Reid dan S. Gatson, terbitan khusus,
Transform ative W orks and Cultures, (8). doi:10.3983/twc.2011.0289,
dibaca 7/ 1/ 2012.
KabarNet (20 10 ) “Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu
Kau Burukkan”, kata pengantar untuk publikasi ulang wawancara
Tauik Ismail dengan Suara Islam, <http://kabarnet.wordpress.
com / 20 10 / 0 6/ 28 / h an u n g-kau -keter lalu an -pesan tr en -d an -kiyai-
begitu-kau%C2%A0 burukkan/ >, diunggah 28/ 6/ 20 10 , dibaca
11/3/2013.

pustaka-indo.blogspot.com


322 Identitas dan Kenikmatan

Kahar, Novriantoni (2011) “ Marhaban Pasca­Islamisme!”, Jaringan
Islam Liberal, http:/ / islam lib.com / id/ artikel/ m arhaban-pasca-
islam ism e, diunggah 28/ 11/ 20 11, dibaca 28/ 4/ 20 12.

Kahn, J oel (1989) “Culture: Dem ise or Resurrection?” Critique of Anthro-
pology , 9 (2): 5-26.
(1996a). “Growth, Econom ic Transform ation, Culture and the
Middle Classes Malaysia’, dalam R. Robison dan D. Goodm an (ed.),
The N ew Rich in Asia: Mobile Phones, Mcdonalds and Middle Class
Revolution, London dan New York: Routledge, hal. 49-75.
(1996b) “The Middle Class as a Field of Ethnological Study”, dalam
M. I. Said dan Z. Em by (ed.) Malay sia: Critical Perspectives; Essay s
in Honour of Sy ed Husin Ali. Petaling J aya: Malaysian Social Science
Association, hal.12­33.
(20 0 1) Modernity and Exclusion, London: Sage.
(20 0 6) Other Malay s; N ationalism and Cosm opolitanism in the
Modern Malay W orld, Singapura: Singapore University Press.

Kam m en, Douglas dan McGregor, Katharine (ed.) (20 12) The Contours of
Mass Violence in Indonesia: 1965-1968, Singapura: NUS Press.

Kaplan, Ann dan Wang, Ban (20 0 8a) “From Traum atic Paralysis to
the Force Field of Modernity”, dalam A. Kaplan dan B. Wang (ed.)
Traum a and Cinem a; Cross-Cultural Explorations, Hong Kong:
Hong Kong University Press, hal. 1-22.
(ed.) (20 0 8b) Traum a and Cinem a; Cross-Cultural Explorations,
Hong Kong: Hong Kong University Press.

Kartanegara, EH (20 0 7) “Berkah Ayat-ayat Cinta Rp.1.5 m iliar”, Koran
Tem po, 30 Desember.

Kartomi, Margaret (ed.) (20 0 5) The Year of Voting Frequently : Politics and
Artists in Indonesia’s 20 0 4 Elections, Clayton: Monash Asia Institute.

KDPI [Kampanye Damai Pemilu Indonesia] (2009), “Daftar Artis Yang Men-
jadi Anggota DPR”. <http:/ / ekampanyedamaipemiluindonesia2009.
blogspot.com/>, dibaca 30/9/2009.

Kedaulatan Raky at (1990 ) “Lagu-lagu Mandarin Dilarang Diputar Pada
Malam Tahun Baru”, 24 Desem ber: 5.

Kem asang, ART (1985) “How Dutch Colonialism Foreclosed a Dom estic
Bourgeoisie in J ava: the 1740 Chinese Massacres Reappraised”,
Review , 9(1): 57-80 .

Kerr, A., Kücklich, J ., dan Brereton, P. (20 0 6) “New m edia-New Plea-
sures?”, International Journal of Cultural Studies, 9: 63­82.

Khalid, Ahm ad Ali (20 12) “Post-secularism , Post-Islam ism and
Current Arab Revolution”, View point, daring, 97, <http:/ / www.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 323

viewpointonline.net/ post-secularism -post-islam ism -and-current-

arab-revolutions.htm l>, diunggah 6/ 4/ 20 12, dibaca 12/ 4/ 20 12.

Khoiri, Ilham dan Ivvaty, Susi (20 0 9) “Pencitraan Masih Tanpa Isi”,

Kom pas, 1 J uni.

Kim Seong-kon (20 12) “Hallyu: From Pop To Highbrow”, AsiaNew s, Mei

4-17.

Kokoschka, Alina (20 0 9) “Islam izing the Market? Advertising, Products,

and Consum ption in an Islam ic Fram ework in Syria”, dalam J . Pink

(ed.), Muslim Societies in the Age of Mass Consum ption, Newcastle

upon Tyne: Cam bridge Scholars, hal. 225-40 .

Kom pas (1988) “Presiden Soeharto: TNI tak Pernah Lakukan Kup”, 6

Nopember.
(1998) “‘Bukan Sekedar Kenangan’ Diputar Malam Ini”, 30

Sep t em b er .

(20 0 0 a) “Buku-buku Kiri Menyerbu Pasar”, 15 April.

(20 0 0 b) “Marx dan Che di Rum ah Kontrakan”, 14 April.
(2003) “UI Usulkan Pencabutan Tap MPRS Pembubaran PKI”,

17 Mei.

(20 0 6) “Pengedar Kaus Bergam bar Palu-Arit Ditangkap”, 20

Agu s t u s .
(2008a) “Presiden Berkali­kali Menghapus Air Matanya”, 31 Maret.

(20 0 8b) a series of reports on the com m ercialization of the Holy

m onth of Ram adhan, 14 Septem ber.

Koran Tem po (20 0 6) “Penghargaan untuk Kiam at Sudah Dekat”, 1 Mei.

Krier, Sarah (20 11) “‘Sex sells, or Does It?’; Discourses of Sex and Sexuality

in Popular Wom en’s Magazines in Contem porary Indonesia”, dalam

A. Weintraub (ed.), Islam and Popular Culture in Indonesia and

Malay sia, London: Routledge, hal. 123­44.
Kristanto, JB (1984) “‘Pengkhianatan G 30 S’ Pemecah Rekor Komersial”,

Kom pas, 21 Oktober: 6.

(1996) “Wajah Teguh Karya dalam Film Pertam anya”, ilm

in d on esia , http://ilmindonesia.or.id/post/wajah­teguh­karya­

dalam­ilm­pertamanya>, dibaca tanggal 31 Juli 2011.

Kustiani, Rini (20 0 7) “Buku Sejarah Kurikulum 20 0 4 Dilarang”, Koran

Tem po, 10 Maret.

Lane, Max (20 0 9) “INDONESIA: Docum entary Review: ‘Tjidurian 19’”,

<m axlan eon lin e.com / 20 0 9/ 11/ 18 / in don esia-docum en tary-review-

tjidurian-19>, dibaca 18/ 11/ 20 0 9.

Lee Geun (20 0 9) “A Soft Power Approach to the ‘Korean Wave’”, The
Review of Korean Studies, 12 (2/Juni): 123­37.

pustaka-indo.blogspot.com


324 Identitas dan Kenikmatan

Lev, Daniel (1990 ) “Notes on the Middle Class and Change in Indonesia,
dalam R. Tanter dan K. Young (ed.) The Politics of Middle Class
Indonesia, Clayton: Centre of Southeast Asian Studies, Monash
University, hal. 44-48.
(1991) “Becom ing an Orang Indonesia Sejati: The Political J ourney
of Yap Thiam Hien” Indonesia, edisi khusus: 97-112.
(1996) “Afterword”, dalam R.H Taylor (ed.), The Politics
of Elections in Southeast Asia, Cam bridge: Woodrow Wilson
International Centre for Scholars, hal. 243­52.
(20 0 5) “Conceptual Filters and Obfuscation in the Study of
Indonesian Politics”, Asian Studies Review , 29 (Desember): 345­56.

Lim , Merlyna (20 11) “@crossroads: Dem ocratization & Corporatization
of Media in Indonesia”, <http:/ / participatorym edia.lab.asu.edu/
iles/Lim_Media_Ford_2011.pdf>, dibaca 23/2/2012.

Lincoln, Sarah (20 0 8) “‘This Is My History’: Traum a, Testim ony, and
Nation-Building in the ‘New’ South Africa”, dalam A. Kaplan dan
B. Wang (ed.) Traum a and Cinem a; Cross-Cultural Explorations,
Hong Kong: Hong Kong University Press, hal. 25-44.

Lindsay, J ennifer (20 0 7) “The Perform ance Factor in Indonesian
Elections”, dalam Chua B-H (ed.), Elections as Popular Culture in
Asia, London: Routledge, hal. 55-71.
(20 0 9) “Pom p, Piety and Perform ance: Pilkada in Yogyakarta,
20 0 5”, dalam M. Erb dan P. Sulistiyanto (ed.) Deepening Dem ocracy
in Indonesia? Direct Elections for Local Leaders, Singapura: Institute
of Southeast Asian Studies, hal. 211-28.

Listyaningsih, D. (1990) “Demam dan Menjerit ketika Nonton Film G30
S/ PKI”, Yogy a Post, 30 September: 3.

Lockhard, Craig (1998) Dance of Life; Popular Music and Politics in
Southeast Asia, Honolulu: University of Hawaii Press.

Lukens­Bull, Ronald (2007) “Commodiication of Religion and the
‘Religiication’ of Commodities: Youth Culture and Religious Iden­
tity”, dalam P. Kitiarsa (ed.), Religious Commodiications in Asia:
Marketing Gods, London: Routledge, hal. 220­34.

Macdonald, Dwight (1998) “A Theory of Mass Culture”, dalam J . Storey
(ed.), Cultural Theory and Popular Culture, edisi kedua, Athens: The
University of Georgia Press, hal. 22­36.

Mahdavi, Mojtaba (20 11) “Post-Islam ist Trends in Postrevolutionary
Iran”, Com parative Studies of South Asia, Africa and the Middle
East, 31(1): 94­109.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 325

Maliangkay, Roald (20 10 ) “The Effem inacy of Male Beauty in Korea”, The

New sletter, 55 (Musim Gugur/ Dingin): 6-7, <http:/ / www.iias.nl/
sites/default/iles/IIAS_NL55_0607.pdf>.

Marcoes-Natsir, Lies (20 12) “J ilbab, Identitas Kebangsaan, dan

Pem bajakan Makna”, wawancara, Republika, 17 J anuari.

Mardani (20 12) “MUI Nilai Ustaz Pesohor Kurang Mendidik Publik”,

Merdeka.com , <www.m erdeka.com / peristiwa/ m ui-nilai-ustaz-

pes0 hor-kurang-m endidik-publik.htm l>, diunggah 0 4/ 0 8/ 20 12,
dibaca 06/05/2013.

May, Brian (1978) The Indonesian Tragedy , London: Routledge dan

Kegan Paul.

Mbem be, Achille (1992) “The Banality of Power and The Aesthetic of
Vulgarity in the Postcolony”, Public Culture 4 (2): 1­30.

McBeth, J ohn dan Murray Hiebert (1996) “Try Next Door”, Far Eastern

Econom ic Review , 7 Maret: 17.

McDowell, Robin (20 0 9) “Successful Election Marks a Decade of

Dem ocracy”, The Jakarta Post, 9 April.

McGraw, Andrew (20 0 9) “The Political Econom y of the Perform ing Arts

in Contem porary Bali”, Indonesia and the Malay W orld, 37 (109):
299­325.

McLuhan, Eric dan Frank Zingrone (ed.) (1995) Essential McLuhan,

London: Routledge.

McLuhan, Marshall (1964) Understanding Media, edisi kedua, New

York: McGraw-Hill Book.

McVey, Ruth (1995) “Change and Continuity in Southeast Asian Studies”,

Journal of Southeast Asian Studies, 26 (1): 1-9.

Merdikaningtyas, Y.A. (20 0 6) “Dem am K-Dram a dan Cerita Fans di

Yogyakarta”, Clea, (9 Des): 41-60 .

Moham ad, Goenawan (1980 ) “Film Indonesia; Catatan Tahun 1974”,

Seks, Sastra, Kita, J akarta: Sinar Harapan, hal. 71-89.

Murray, Alison (1991) “Kam pung Culture and Radical Chic in J akarta”,

Review of Indonesian and Malay an Affairs, 25 (Musim Dingin): 1-16.

Mushthafa, M (20 0 8) “Perem puan Pesantren dan Sastra Islam ”, blog, dan

sebelum nya diterbitkan di Jurnal Srinthil (17/ 20 0 8), 20 / 12/ 20 0 8,

< h t t p :/ / r in d u p u la n g.b lo gs p o t .co m .a u / 2 0 0 8 / 12 / p e r e m p u a n -

pesantren-dan-sastra-islam .htm l>, dibaca 25/ 7/ 20 12.

Muzakki, Akh (20 0 7) “Islam as a Sym bolic Com m odity: Transm itting and

Consum ing Islam through Public Serm ons in Indonesia”, dalam P.
Kitiarsa (ed.), Religious Commodiications in Asia: Marketing Gods,

London: Routledge, hal. 20 5-19.

pustaka-indo.blogspot.com


326 Identitas dan Kenikmatan

Nazaruddin, Muzayin (20 0 8) “Islam Representations in Religious Elec-
tronic Cinem as in Indonesia”, m akalah untuk konferensi Repre-
senting Islam : Com parative Perspectives, University of Manchester
dan the University of Surrey, Surrey (UK): 5-6 Septem ber 20 0 8.

Nilan, Pam (2006) “The Relexive Youth Culture of Devout Muslim
Youth in Indonesia” dalam P. Nilan dan C. Feixa (ed.) Global Youth?;
Hy brid Identities, Plural W orlds, London: Routledge, hal. 91-110 .
(20 0 9) “Contem porary Masculinities and Young Men in
Indonesia”, Indonesia and the Malay W orld, 37 (109): 327­44.

Nisa, Eva F. (20 12) “Em bodied Faith: Agency and Obedience am ong Face-
veiled University Students in Indonesia”, The Asia Paciic Journal of
Anthropology , 13:4, 366­81.

Nordholt, Henk S. (20 11) “Modernity and Cultural Citizenship in the
Netherlands Indies: An Illustrated Hypothesis”, Journal of Southeast
Asian Studies, 42(3): 435­57.

Nu’ad, Ism atillah A. (20 0 8) “‘Culture’ no Substitute”, The Jakarta Post,
26 September.

O’Connor, B. dan Klaus, E. (20 0 0 ) ‘Pleasure and Meaningful Discourse:
An Overview of Research Issues’, International Journal of Cultural
Studies, 3(3): 369–87.

Olliver, Chloe (20 0 4) “Reconciling NU and the PKI”, Inside Indonesia, 77
(J an-Feb), http:/ / www.insideindonesia.org/ edition-77/ reconciling-
nu-and-the-pki, dibaca 18/ 2/ 20 10 .

Oppenheim er, J oshua (20 12) “The Act of Killing – Context, Background,
Production and Method”, Catatan Produksi diterbitkan seiring
pemutaran ilm, dan bisa diakses lewat situs daring resmi produser
ilm ini di <http://theactofkilling.com/?page_id=682>.
dan Uwem edim o, Michael (20 0 9) “Show of Force: a Cinem a-
séance of Power and Violence in Sum atra’s Plantation Belt”, Critical
Quarterly , 51(1): 84-110 .

Otm azgin, Nissim K (20 0 7) “J apanese Popular Culture in East and
Southeast Asia: Tim e for a Regional Paradigm ?”, Ky oto Review of
Southeast Asia 8/ 9 (Maret/ Oktober), http:/ / kyotoreviewsea.org/
Issue_ 8-9/ Otm azgineng.htm l, dibaca 29/ 11/ 20 0 7.
(20 0 8) “Contesting Soft Power: J apanese Popular Culture in
East and Southeast Asia”, International Relations of the Asia-Paciic,
8(1): 73­101.

Ott, Brian L. (20 0 4) “(Re)locating Pleasure in Media Studies: Toward an
Erotics of Reading”, Com m unication and Critical/ Cultural Studies,
1(2): 194-212.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 327

Pambudy, Ninuk (2003) “Inul di Dalam Budaya Pop”, Kom pas, 5 Mei.
Param aditha, Intan (20 10 ) “Passing and Conversion Narratives: Ay at-

Ay at Cinta and Muslim Perform ativity in Contem porary Indonesia”,
Asian Cinem a, 21(2): 69-91.
Parlindungan, Utan (20 0 7) Musik dan Politik : Genjer-genjer, Kuasa,
dan Kontestasi Makna, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Pasaribu, Adrian J. (2013) “Jimat Sakti Bernama Nasionalisme”,
ilm indonesia, <http://ilmindonesia.or.id/movie /review/
rev51407eac4f63b_jimat­sakti­bernama­nasionalisme#.UbEp­
px7xxU>, diunggah 13/03/2013, dibaca 16/3/2013.
Philpott, Sim on (20 0 0 ) Rethinking Indonesia: Postcolonial Theory ,
Authoritarianism and Identity , Basingstoke: Macm illan.
Pinches, Michael (ed.) (1999) Culture and Privilege in Capitalist Asia,
London: Routledge.
Pink, J ohanna (ed.) (20 0 9) Muslim Societies in the Age of Mass
Consum ption, Newcastle upon Tyne: Cam bridge Scholars.
Pintak, Lawrence dan Setiyono, Budi (20 11) “The Mission of Indonesian
J ournalism : Balancing Dem ocracy, Developm ent, and Islam ic
Values”, International Journal of Press/ Politics, 16(2).
Pontoh, Coen (20 11) “Agam a dan Negara: J ejak Persilangan Kekerasan”,
IndoProgress, http:/ / indoprogress.com / agam a-dan-negara-jejak-
persilangan­kekerasan/, diunggah 4/10/2011, dibaca 11/6/2013.
Pradityo, Sapto dkk. (20 0 8) “Ki Sudrun di Layar Beling”, Tem po, 37 (15).
Prasetyantoko, A (1999) Kaum Professional Menentang Rezim Otoriter,
J akarta: Grasindo.
Pravitta, G.M.M. (20 0 4) “Menonton Perem puan Penonton Meteor
Garden”, Clea (6 Des-J an): 1-29.
Purdey, J em m a (20 0 6) Anti-Chinese Violence in Indonesia, 1996-1999,
Singapore: ASAA-SEA Publications Series dan Singapore University
Press.
Purs, Dicky (2013) “Penghayatan Ke­Indonesia­an Usmar Ismail”, Kultur-
Majalah, http://kultur­majalah.com/index.php/ilm­sosok/304­
penghayatan­ke­indonesia­an­usmar­ismail, dibaca 9/3/2013.
Purwadi, Budiawan (2003) Breaking the Im m ortalized Past; Anti-
Com m unist Discourse and Reconciliatory Politics in Post-Suharto
Indonesia, disertasi tidak dipublikasikan, Singapura: National Uni-
versity of Singapore.
Raiq, Ahmad (2009) “Diprotes Gara­gara Lagu Genjer­genjer”, Koran
Tem po, 15 Septem ber.

pustaka-indo.blogspot.com


328 Identitas dan Kenikmatan

Rahardjo, Agus (20 0 4) “Spanduk Antikom unis Bertebaran di Surabaya”,
Koran Tem po, 1 Oktober.

Rahim , Lily Z. (20 11) “Towards a Post-Islam ist Secular Dem ocracy in the
Muslim World”, m akalah untuk Contem porary Challenges of Politics
Research Workshop, 31/10/2011, Crowne Plaza Hotel Coogee Beach,
Coogee, NSW, Australia.

Ramadhan, Said (2003) “Ideologi Pasar dalam Tayangan Ramadhan?”
Kom pas, 27 Oktober.

Rani, Mohd. Zariat Abdul (20 12): “Islam , Rom ance and Popular Taste in
Indonesia”, Indonesia and the Malay W orld, 40(116): 59­73.

Rayner, Philip (20 0 6) “A Need for Postm odern Fluidity?” Critical Studies
in Media Com m unication, 23 (4, Oktober): 345­9.

Renan, Ernest (1990 ) ‘What is A Nation?’, Martin Thom (penerjemah),
Nation and Narration, H. Bhabha (ed.), London: Routledge, hal. 8– 22.

Ricklefs, M (20 0 1) A History of Modern Indonesia since c.120 0 , third
edition, Basingstoke, Ham pshire: Palgrave Macm illan.

Rinaldo, Rachel (20 0 8) “Muslim Wom en, Middle Class Habitus, and
Modernity in Indonesia”, Contem porary Islam , 2 (1): 23­39.

Risalah Mujahidin (20 0 8) “Misi Pluralism e di Balik Novel Ayat-ayat
Cinta”, 17 (Feb-Maret).

Robinson, Geoffrey (1995) The Dark Side of Paradise : Political Violence
in Bali, Ithaca, NY: Cornell University Press.

Robison, Richard (1990 ) “Problem s af Analysing the Middle Class as a
Political Force in Indonesia”, dalam R. Tanter dan K. Young (ed.) The
Politics of Middle Class Indonesia, Clayton: Centre of South-East
Asian Studies, Monash University, hal. 127­37.
dan Goodm an, David (ed.) (1995) Mobile Phones, McDonalds and
Middle-class Revolution, London: Routledge.

Rogers, Benedict (20 11) “Could Indonesia ‘Pakistanize’?”, The W all Street
Journal, 8 J uni.

Roosa, J ohn (20 0 6) Pretext for Mass Murder; The Septem ber 30 th Move-
m ent & Suharto’s Coup D’etat in Indonesia, Madison: The University
of Wisconsin Press.
(20 0 9) “Bibliography on the Events of 1965-66 in Indonesia”,
weblog Institut Sejarah Sosial Indonesia, <http:/ / sejarahsosial.
org/?p=38>, dibaca 6/2/2010.
, Ratih, A, dan Farid, H. (ed.) (20 0 4) Tahun y ang tak Pernah
Berakhir: Mem aham i Pengalam an Korban 65; Esei-esei Sejarah
Lisan, J akarta: Elsam , Tim Relawan untuk Kem anusiaan, dan Insti-
tut Sejarah Sosial Indonesia.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 329

Rosidi, Ajip (1967) “Peranan Sastra dan Pem bangunan Bangsa”, Horison
2(9):283­86.
(1985) Anak Tanahair: Secercah Kisah, J akarta: Gram edia.

Rudnyckyj, Darom ir (20 0 9) “Spiritual Econom ies: Islam and Neo-
liberalism in Contem porary Indonesia”, Cultural Anthropology , 24
(1): 10 4– 41.

Rutherford, Anne (20 0 6) “Garin Nugroho: Didong, Cinem a and the
Em bodim ent of Politics in Cultural Form ”, Screening the Past, 20 ,
<www.latrobe.edu.au/ screeningthepast/ 20 / garin-nugroho.html>,
dibaca 12/ 2/ 20 10 .

Ryter, Loren (1998). “Pem uda Pancasila: The Last Loyalist Free Men of
Suharto’s Order?”, Indonesia, 66 (Okt): 47­73.
(20 0 2) Youth, Gangs, and the State in Indonesia, skripsi doktoral
tak diterbitkan, diajukan di University of Washington.
(20 0 5) “Reform asi Gangsters”, Inside Indonesia, <http:/ / www.
insideindonesia.org/ weekly-articles-8 2-apr-jun-20 0 5/ reform asi-
gangsters­2407177>, diunggah 1/4/2005, dibaca 15/3/2012.
(20 0 9) “Their Mom ent in the Sun: The New Indonesian
Parliam entarians from the Old OKP”, dalam G. van Klinken dan J .
Barker (ed.) State of Authority : The State in Society in Indonesia,
Ithaca: Cornell Southeast Asia Program , hal. 181-218.

Sai Siew­Min dan Hoon Chang­Yau (ed.) (2013) Chinese Indonesians
Reassessed; History , Religion and Belonging, London: Routledge.

Said, Salim (1982) Proil Dunia Film Indonesia, Jakarta: Graiti Pers.
Salm on, Claudine (1981) Literature in Malay by the Chinese of Indonesia,

Paris: Association Archipel.
Saluz, Claudia (20 0 7) Islam ic Pop Culture in Indonesia; An Anthro-

pological Field Study on Veiling Practices am ong Students of
Gadjah Mada University of Yogy akarta, Bern: Institut für Sozial-
anthropologie, Universität Bern.
Saraswati, Muninggar Sri (20 0 4) “Ex-PKI Mem bers Regain Rights”, The
Jakarta Post, 25 Februari.
Sasongko, Haryo dan Budianta, Melani (2003) Menem bus Tirai Asap;
Kesaksian Tahanan Politik 1965, J akarta: Am anah-Lontar.
Sasono, Eric (2008a) “Fenomena Ayat-ayat Cinta”, Koran Tem po, 28 Maret.

(20 0 8b) “Pertemuan Baru Islam dan Cinta”, Kom pas, 4 April.
(20 10 ) “Islam ic-them ed Film s in Contem porary Indonesia:
Commodiied Religion or Islamisation?”, Asian Cinem a, 21(2): 48-68.
(20 12) “Mencatat Film Tahun 20 11”, Rum ah Film , <http:/ /
n ew.r u m ah film .or g/ ar tikel-featu r e/ m en catat-film -tah u n -20 11> ,
diunggah 10 / 1/ 20 12, dibaca 27/ 12/ 20 12.

pustaka-indo.blogspot.com


330 Identitas dan Kenikmatan

Satrio, BE (20 0 2) “Ketakutan Yang Tak Kunjung Pudar”, Kom pas, 30
Sep t em b er .
(2003) “Nasib Komunisme, Si Hantu Laten”, Kom pas, 4 Agustus.
(20 0 7) “Rating Tak Cerm inkan Mutu Sinetron”, Kom pas, 30
Desem ber .

Schm idt, Leonie (20 12): “Urban Islam ic Spectacles: Transform ing the
Space of the Shopping Mall during Ram adan in Indonesia”, Inter-
Asia Cultural Studies, 13(3): 384­407.

Scott, Peter Dale (1986) “The United States and the Overthrow of Sukarno,
1965-1967”, Paciic Affairs, 58 (2, Summer): 239­64.

Sen, Krishna (1991) “Si Boy Looked at J ohnny: Indonesian Screen at the
Turn of the Decade”, Continuum , 4 (2): 136­51.
(1994) Indonesian Cinem a; Fram ing the New Order, London:
Zed Books.
(20 0 6) “‘Chinese’ Indonesians in National Cinem a”, Inter-Asia
Cultural Studies, 7 (1): 171-84.
dan Hill, David (20 0 0 ) Media, Culture and Politics in Indonesia,
Melbourne: Oxford University Press.

Setijadi-Dunn, Charlotte (20 0 5) “Questioning Proxim ity; East Asian TV
Dram as in Indonesia”, Media Asia 32(4): 197­202.
(2013) “Chineseness, Belonging and Cosmopolitan Subjectivities
in Post-Suharto Independent Film s”, dalam S.M. Sai dan C.Y. Hoon
(ed.), Chinese Indonesians Reassessed; History , Religion and
Belonging, London: Routledge, hal. 65-82.
dan Barker, Thom as (20 10 ) “Im agining ‘Indonesia’: Ethnic Chi-
nese Film Producers in Pre-independence Cinem a”, Asian Cinem a,
21(2): 25-47.

Setiyono, Budi (20 0 8) Iklan dan Politik; Menjaring Suara dalam Pem i-
lihan Um um , J akarta dan Yogyakarta: AdGoal.com dan Galang Press.

Shim , Doobo, Heryanto, Ariel, dan Siriyuvasak, Ubonrat (ed.) (20 10 ) Pop
Culture Form ations Across East Asia, Seoul: J im oondang.

Shim , Doobo (20 0 6) “Hybridity and the Rise of Korean Popular Culture
in Asia”, Media, Culture & Society , 28(1): 25-44.

Shin Hyunjoon (20 0 9) “Have You Ever Seen the Rain? And Who’ll Stop
the Rain?: the globalizing project of Korean pop (K-pop)” Inter-Asia
Cultural Studies 10(4): 507­23.

Siahaan, Arm ando (20 0 9) “The Forgotten History of 1965”, Jakarta
Globe, 30 Juni, <www.thejakartaglobe.com/culture/the­forgotten­
history­of­1965/315358>, dibaca 17/2/2010.

pustaka-indo.blogspot.com


Pustaka Acuan 331

Sianipar, Tito (20 10 ) “Tergila-gila Serba Korea”, Tem po, 1 Novem ber,
<http://majalah.tempo.co/konten/2010/11/01/GH/134954/
Tergila­gila­Serba­Korea/36/39>, dibaca 1/11/2010.

Siregar, Bakri (1964) Sedjarah Sastera Indonesia Modern, Djakarta:
Akadem i Sastera dan Bahasa Multatuli.

Siriyuvasak, Ubonrat dan Shin, H., J . (20 0 7) “Asianizing K-pop: Produc-
tion, Consumption and Identiication Patterns among Thai Youth”,
Inter-Asia Cultural Studies, 8 (1): 109­36.

Sm ith, Wendy (20 0 8) “Asian New Religious Movem ents as Global
Organisations”, IIAS Newsletter (47/Musim Semi): 3.

Sm ith-Hefner, Nancy J . (20 0 7) “J avanese Wom en and the Veil in Post-
Soeharto Indonesia “, The Journal of Asian Studies, 66 (2/ Mei):
389–420.
(20 0 9) “‘Hypersexed’ Youth and the New Muslim Sexology in
J ava, Indonesia”, Review of Indonesian and Malay sian Affairs,
43(1): 209­44.

Southwood, Julie dan Flanagan, Patrick (1983) Indonesia: Law , Propa-
ganda and Terror, London: Zed Press.

Storey, J ohn (20 0 6) Cultural Theory and Popular Culture, New York:
Pearson Prentice Hall.

Strassler, Karen (20 0 8) “Cosm opolitan Visions: Ethnic Chinese and the
Photographic Im agining of Indonesia in the Late Colonial and Early
Postcolonial Periods”, Journal of Asian Studies, 67(2/Mei): 395–432.

Strinati, Dom inic (20 0 4) An Introduction to Theories of Popular Culture,
London: Routledge.

Suara Merdeka (20 0 4) “98 Lukisan Berlam bang Palu Arit Dibredel”, 11
Desem ber .

Subianto, Benny (1993) “Tahun Baru Imlek: Boleh atau Tidak’?”, Jakarta-
Jakarta, 344 (30 Januari­5 Februari): 24­5.

Subijanto, Rianne (20 11) “The Visibility of a Pious Public”, Inter-Asia
Cultural Studies, 12(2): 240­53.

Sulistyo, Herm awan (20 0 0 ) Palu Arit di Ladang Tebu, J akarta: Kepus-
takaan Populer Gram edia.

Sum ardjo, J akob (1981) “Sum bangan Golongan Tionghoa daIam Sastra
Indonesia”, Sinar Harapan, 14 Novem ber: 6.
(1983) “Sastra Melayu­rendah Indonesia”, Horison (18)77: 325­36.
(1985) “Sastra Minoritas”, Kom pas, 3 Februari: 8.
(198 6) “Masalah Sastra Melayu-Ren dah”, Kom pas, 23 Novem­
ber: 10 .

pustaka-indo.blogspot.com


332 Identitas dan Kenikmatan

Suryadinata, Leo (1985) “Governm ent Policies towards the Ethnic
Chinese: A Com parison between Indonesia and Malaysia”, Southeast
Asia Journal of Social Sciences, 13 (2): 15­28.

Suryakusum a, J ulia (20 0 8) “Interest in a J ilbab?”, Tem po, 3 (IX), 16­22
Sep t em b er .

Sutisna, Nanang (20 0 7) “295 Buku Sejarah tanpa ‘PKI’ Dim usnahkan”,
Koran Tem po, 24 J uli.

Sutton, Anderson (20 11) “Music, Islam, and the Commercial Media in Con-
temporary Indonesia”, dalam A. Weintraub (ed.), Islam and Popular
Culture in Indonesia and Malay sia, London: Routledge, hal. 85-10 0 .

Suwarni, Yuli Tri (20 0 6) “Police Break up Discussion on Marxism ”, The
Jakarta Post, 17 Desem ber.

Suyono, Seno dan Septian, Anton (20 0 8) “Seribu Tangis untuk
Fachri”, Tem po Online, <http:/ / m ajalah.tem pointeraktif.com /
id/arsip/2008/03/10/FL/mbm.20080310.FL126587.id.html>,
diunggah 10/3/2008, dibaca 27/4/2012.

Syahirul, Anas (20 0 7) “Solo Razia Buku Bergam bar Palu-Arit”, Koran
Tem po, 8 Agustus.

Syaifullah, Muham m ad (20 0 9) “Saya Cinta Kiai dan Pesantren”, wawan-
cara dengan Abidah El Khalieqy, Koran Tem po, 15 Februari.

Tan, Paige J ohnson (20 0 8) “Teaching and Rem em bering”, Inside
Indonesia, 92 (Apr-J un), <www.insideindonesia.org/ edition-92/
teaching-and-rem em bering>, dibaca 17/ 2/ 20 10 .

Tanter, Richard dan Young, Kenneth (ed.). (1990 ). The Politics of Middle
Class Indonesia, Melbourne: Monash University, Centre of Southeast
Asian Studies.

TAPOL Bulletin (1989) “Looking back at Super Semar”, 92 (April): 11­13.
Tauiq, Rohman (2009) “Massa FPI Geruduk Kantor Jawa Pos”, Koran

Tem po, 3 September.
Tauiqurrahman, M. (2005) “‘Das Kapital’ Unveiled in Bahasa Indonesia”,

The Jakarta Post, 21 Februari.
Taylor, R.H. (1996a) “Introduction: Elections and Politics in Southeast

Asia”, dalam R.H Taylor (ed.) The Politics of Elections in Southeast
Asia, Cam bridge: Woodrow Wilson International Centre for Scholars,
hal. 1-11.

(ed.) (1996b) The Politics of Elections in Southeast Asia,
Cam bridge: Woodrow Wilson International Centre for Scholars.
Tem po (1981) “Pem bakaran”, 14 Novem ber: 14.

(1984) “Penghianatan, Bersejarah dan Berdarah”, 7 April, 6(14):
78 -79 .

pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version