http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 183
m ereka pada 1960 -an yang direkam pada tahun 20 0 0 -an itu,
dipadu dengan adegan kehidupan mereka seharihari—dalam The
Act of Killing dijalin dengan kisah iktif yang sengaja diciptakan
dan ingatan akan m asa lalu m ereka. Seluruhnya berpadu di depan
kam era untuk m enghasilkan cerita rum it yang am at surealistik,
dengan m om en-m om en penuh kengerian, tawa, diiringi nyanyian
dan tarian, penuh dengan ironi dan tikungan yang m engejutkan.
Lebih dari sekadar m enggam barkan apa yang terjadi pada 1965-
66, ilm ini lebih banyak bicara tentang Indonesia masa kini,
bagaimana masa lalu dikenang oleh para pelaku pembunuhan
m assal 1965-66, dan bagaim ana m ereka berharap dunia m enge-
nang perbuatan mereka melalui ilm yang mereka buat. Penting
untuk dicatat bahwa tak ada arsip rekam an dari dekade 1960 -an
yang muncul dalam ilm ini, yang memperlihatkan minat utama
pembuat ilm pada masa kini ketimbang pada masa lalu. The
Act of Killing secara mendasar amat berbeda dengan ilm yang
pernah diproduksi sebelum nya yang berfokus pada pem bunuhan
1965-66 dan dam pak ikutannya. Film ini tidak m enyerang sebuah
rezim kebenaran tertentu dan m enggantikannya dengan yang
lain. Alihalih, ilm ini merambah berbagai keping berlapislapis
kisah personal tentang kebenaran, ketakutan, kebanggaan, dan
kebencian yang berkaitan dengan peristiwa pada pertengahan
1960an, di mana batas antara fakta dan iksi, pahlawan dan
penjahat, kekuasaan yang sah dan kejahatan kem anusiaan tak
dapat digariskan dengan m udah atau tegas. Akhirnya (berkaitan
dengan rangkaian pertanyaan ketiga), hasil akhir ilm ini tak
kalah dahsyatnya dalam m enyam paikan pesan dibandingkan
dengan ilmilm terdahulu seputar pokok yang sama, termasuk
yang dibuat dengan tujuan m ulia dan tunggal yakni m engungkap
kebenaran faktual (dalam bentuk kesaksian para penyintas di
ilmilm pasca 1998) atau dibuat dengan dusta liar (sebagaimana
ilm propaganda anti-kom unis yang dibuat Orde Baru). Sem ua
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 184 Identitas dan Kenikmatan
ilm itu bernilai. Nilai mereka tidak terletak pada ‘fakta’ yang
khusus, kasar, dan em piris yang disam paikan sebagai satu kisah
utuh yang m asuk akal tentang apa yang ‘sesungguhnya’ terjadi
di masa lalu. Namun yang lebih penting, semua ilm ini bernilai
karena pernyataan yang m ereka sam paikan pada m asanya punya
makna tertentu bagi politik mutakhir Indonesia; mereka juga
m enjelaskan tentang m asa lalu dan m asa kini m acam apa yang
memungkinkan perbuatan, ingatan, dan peragaan tersebut
disajikan dalam bentuk ilm.
Beberapa adegan dalam The Act of Killing m em perlihatkan
bagaim ana para aktor sekaligus pem bunuh dan organisasi yang
m ereka wakili, m em bangun hubungan yang akrab dan langgeng
dengan berbagai pejabat negara pada tingkat nasional (anggota
DPR, kantor kepresidenan, menteri negara) hingga ke tingkat
lokal (DPRD, gubernur, m edia cetak kom ersial, dan TVRI lokal).
Alih-alih disibukkan dengan pengungkapan kisah nyata atau
sejarah tentang kejahatan besar kemanusiaan masa lalu, The Act
of Killing juga menggambarkan bagaimana premanisme berlanjut
dan tertanam dalam politik form al, birokrasi negara, dan ke-
hidupan sehari-hari di Indonesia yang kerap dipuji sebagai negeri
dem okratis. Dengan m em pertim bangkan fakta-fakta ini, m aka
kita dapat m em aham i pengakuan, kepercayaan diri, dan om ong
besar para pelaku dalam ilm dokumenter tersebut.
PREMANISME, FILM, DAN SEJARAH
Apa yang m em bedakan pem erintahan pasca-Orde Baru dari pen-
dahulunya adalah pem bangunan kelem bagaan dem okrasi form al
yang berhasil “m enorm alisasi” politik Indonesia (Aspinall 20 0 5).
Tercapainya keadaan m utakhir ini m enandai pem bagian ke-
kuasaan di tangan politisi profesional yang punya sejarah panjang
kepemimpinan dalam dunia preman di masa lalu, atau memiliki
pendukung di antara kelompok-kelompok milisi terorganisir.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 185
Pada m asa pasca-Orde Baru, m itos tentang ‘kekuatan rakyat’ atau
‘people pow er’ telah kehilangan daya pikat dan relevansi karena
alasan utama keberadaannya—yaitu melawan kekuasaan negara
terpusat dengan aparat yang amat represif―telah pudar. Represi
melalui kekuasaan dan kekerasan telah tersebar ke seluruh negeri,
dan lebih daripada sebelum nya, berjalan secara tersem bunyi,
otonom, dan horisontal melibatkan pelaku non-negara dan
kelompok-kelompok milisi. Perdebatan publik dalam urusan
politik tidak lagi berfokus pada kasus-kasus spektakuler seputar
kekejam an aparat negara terhadap m assa yang tak berdaya.
Sebagai gantinya, perdebatan telah berfokus pada konlik antar
elite―sengketa personal, korupsi, dan skandal seks―yang hanya
m em iliki konsekuensi am at kecil terhadap kepentingan m asyarakat
um um , yang sebenarnya juga telah terpecah-belah oleh lingkaran
konlik yang berkecamuk (setidaknya di lapis permukaan) dalam
bentuk konlik agama atau etnis.
Beginilah ironi sejarah dan perubahan sosial. Beberapa deka-
de propaganda besar-besaran yang dilakukan oleh Orde Baru telah
m em bawa dam pak tak terduga yaitu m enghidupkan propaganda
tandingan dan m enyebabkan rom antisasi terhadap politik populis
di antara anggota m asyarakat, baik yang berada di spektrum politik
kiri m aupun kanan. Mereka yang hidup di bawah pem erintahan
otoriter Orde Baru, baik yang m enjadi korban m aupun tidak, akan
dengan mudah mengetahui, takut, atau membenci kekejaman dan
jahatnya propaganda negara. Secara kiasan, bisa dikatakan untuk
setiap lim a orang Indonesia yang rentan terhadap propaganda
Orde Baru tentang “bahaya laten kom unism e”, bisa hadir satu
orang yang beranggapan propaganda itu justru berarti sebaliknya.
Setiap peristiwa penyensoran, pelarangan, dan propaganda
telah m enyebabkan beberapa pikiran kritis warganegara untuk
m em bayangkan, m eneliti, dan m encurigai kebalikannya, yaitu apa
saja hal-hal yang sengaja disem bunyikan atau ditelikung di balik
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 186 Identitas dan Kenikmatan
pernyataan, pelarangan, museum, hukum, dan ilmilm resmi.
Kekuasaan, secara paradoks, justru m enciptakan, m engingkari,
dan m em produksi ulang perlawanan terhadap dirinya sendiri.
Kem atian Orde Baru berakibat m elem ahnya perlawanan rakyat
terhadap pem erintahan serta elite yang tidak rukun.
Masih ada ironi lebih lanjut. Ditinjau dari berbagai aspek, The
Act of Killing am at m engejutkan di layar. Nam un, hal ini sam a
sekali tak berarti bahwa sejarah resm i 1965-66 akan digantikan
dengan sejarah resm i yang baru yang lebih m eyakinkan. Tentu saja
tak mudah untuk memperkirakan kapan ilm itu akan membawa
dampak kepada publik Indonesia maupun buku pelajaran sejarah
di sekolah, serta seberapa besar pengaruhnya, jika m em ang ada.
Yang sudah terjadi selam a ini m em perlihatkan bahwa propaganda
Orde Baru tentang apa yang terjadi pada pertengahan 1960 -an
hidup lebih panjang ketim bang para pem buatnya. The Act of
Killing menjanjikan sebuah permulaan dari akhir propaganda
resm i itu. Seandainya peristiwa itu benar-benar terjadi, kita akan
m enyaksikan sebuah ironi lebih besar yang harus dihadapi oleh
orang-orang yang berseberangan pandangan tentang sejarah
1965-66: ternyata dusta terbesar dan terkejam Orde Baru dikoyak-
koyak, tidak m elalui usaha gigih para penyintas dengan kesaksian
m ereka yang teram at pahit, atau oleh para ahli yang bicara dengan
cerdas untuk m ereka, tetapi berkat jasa para pem bunuh yang suka
m em b u a l.
Pada saat buku ini ditulis, sebagian publik Indonesia bergairah
dengan laporan media tentang peluncuran The Act of Kiling di
Amerika Utara dan Eropa Barat, dan ulasan ilm ini diterbitkan
di m edia sosial dan m edia cetak di Indonesia. Yang paling dahsyat
di antara ulasan media tersebut adalah laporan khusus majalah
Tem po (1-7 Oktober 20 12) sepanjang 75 halam an, yang berisi cerita
dan analisis peristiwa pem bunuhan 1965 yang kebanyakan datang
dari para pem bunuh yang tak m enyesali perbuatan m ereka, dari
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 187
berbagai kota di J awa. Dalam beberapa hari saja, edisi tersebut
habis terjual di beberapa provinsi, dan beberapa eksem plar dijual
oleh tukang catut dengan harga dua kali lipat dari harga resmi
eceran. Segera sesudahnya, pada peringatan Hari Hak Asasi
Manusia Internasional yang jatuh pada tanggal 10 Desem ber
20 12,5 banyak organisasi non-pem erintah bekerja secara terpisah
menyelenggarakan pemutaran ilm gratis dan terbatas ilm Jagal
(versi Indonesia dari The Act of Killing) di 40 kota besar dan
kecil di Indonesia. Film ini diputar antara lain di Banda Aceh,
Medan, Padang, Pekanbaru, Lam pung, J akarta, Depok, Bandung,
Sum edang, Majalengka, Cirebon, Yogyakarta, Sem arang, Solo,
Salatiga, Blora, Surabaya, Malang, Denpasar, Ubud, Mataram ,
Lom bok Utara, Balikpapan, Sam arinda, Makassar, Palu, Kupang,
Ruteng, Manggarai, Ternate, Am bon dan J ayapura. Reaksi terha-
dap pem utaran yang ditam pilkan di m edia sosial um um nya se-
ragam : cam puran horor terhadap kekejam an yang ditam pilkan,
kemarahan akibat merasa ditipu selama berpuluh-puluh tahun
oleh propaganda pemerintah, lega karena menemukan kepingan
kebenaran tentang kekerasan 1965, dan penghargaan untuk ilm
tersebut.
Untuk m engakhiri bab ini, saya akan m em bahas lebih jauh
yang baru saya sebutkan di atas, dengan kem bali pada, dan m e-
nyoroti, persilangan beberapa persoalan yang dibahas di bab-bab
sebelum nya: (a) kekuatan m enindas dan kekerasan yang telah
m em bentuk bangsa ini m elalui pencincangan dan persatuan yang
dipaksakan lewat rasa takut; (b) kesulitan atau kemustahilan pe-
nulisan sejarah yang relatif stabil dan tepercaya tentang m asa
lalu bangsa ini yang penuh kekerasan, khususnya m engenai
5 Pada hari yang sam a, m ajalah Tem po m enerim a penghargaan Anugerah Yap
Thiam Hien di J akarta. Ini adalah m edia pertam a yang m endapatkan peng-
hargaan paling bergengsi di Indonesia untuk perlindungan terhadap hak asasi
m a n u sia .
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 188 Identitas dan Kenikmatan
pem bunuhan m assal 1965-66; (c) kebangkitan Islam ism e dan
postIslamisme; dan (d) pentingnya ilm sebagai perpanjangan
kekuatan sosial yang terlibat dalam persaingan untuk m encapai
kekuasaan dan legitimasi, sekaligus sebagai medium untuk me-
nyam paikan dan m em persoalkan kategori yang berlawanan: fakta
dan iksi, dominasi dan subversi, kepahlawanan yang patriotik dan
kejahatan. Sebagaimana telah dibahas di atas, The Act of Killing
m erupakan contoh sem purna tentang bagaim ana ilm dokumenter
m enggoyahkan pandangan um um tentang hal-hal yang dianggap
berlawanan itu. Sum bangan utam anya, sejauh yang dibahas bu-
ku ini, bukan berupa m enam bahkan inform asi faktual tentang
sejarah di Sum atra Utara, m elainkan berupa terbukanya ruang
baru bagi im ajinasi dan diskusi tentang apa artinya m engenang
dan membicarakan kejahatan masa lalu di masa sekarang ini, dan
dengan penggam baran yang m engerikan.
Di sini saya perlu m enghadirkan karya cem erlang Loren Ryter
tentang sejarah dan politik Pemuda Pancasila di Sumatra Utara,
khususnya di ibu kota provinsi itu, Medan. Dalam banyak hal,
The Act of Killing dan karya Ryter m erupakan dua pola berkisah
yang berbeda tetapi m elengkapi satu sam a lain dan sam a-sam a
amat menarik, di mana subjek, tokoh, dan perilaku mereka saling
tum pang tindih. Beberapa episode yang diperagakan ulang di
The Act of Killing, diceritakan dengan rinci pada tesis doktoral
Ryter, yang ia selesaikan tahun 20 0 2 atau sepuluh tahun sebelum
peluncuran perdana ilm dokumenter itu. Bahkan, beberapa ku
tipan dan pernyataan tanpa naskah dari pelaku pem bunuhan
196566 yang muncul di ilm dokumenter tersebut mirip sekali
dengan kutipan langsung yang m uncul di karya Ryter, tanpa bisa
kita lihat wajahnya. Bahkan nam a m ereka disam arkan, sehingga
sulit untuk m em astikan apakah kata-kata yang dikutip dalam
karya Ryter itu m erupakan kata-kata dari orang yang sam a yang
identitasnya sepenuhnya dibuka dalam The Act of Killing.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 189
Dengan m engandalkan kekuatan m edia yang berbeda, m a-
sing-m asing dengan kaidah yang berbeda, usaha Ryter dan
Oppenheim er m enghasilkan karya yang berbeda dalam hal kiblat,
cakupan, dan isi. Film dokum enter karya Oppenheim er m enukik
pada persoalan etika dan politik dalam penceritaan di masa kini
tentang kejahatan di m asa lalu. Sekalipun Ryter juga m engaku
bahwa karyanya m erupakan sejarah m asa kini (20 0 2: 9), karya
ini berhasil dengan mengagumkan mengumpulkan beragam
inform asi tentang m asa lalu, m enyusunnya m enjadi sebuah kisah
terpadu sebagai sebuah karya akadem is, dan m em beri pertim -
bangan teoretis yang m em bantu kita di m asa kini m em iliki se-
buah bayangan apa yang m ungkin terjadi pada tahun 1965-66.
Ryter menyajikan lebih banyak bahan yang tak ada dalam ilm do
kum enter karya Oppenheim er, yaitu konteks yang lebih luas dan
rincian lebih jauh tentang rangkaian peristiwa yang m engarah pada
terjadinya pem bunuhan 1965-66 di Medan. Contohnya, bukannya
berfokus pada kejahatan, kesaksian, dan fantasi beberapa orang
(sebagaimana dilakukan oleh ilm dokumenter itu), Ryter mem
bahas sengketa politik dan ekonomi di antara kelompok preman
lokal―terkait perebutan lahan percaloan tiket bioskop―di mana
tokoh utam a dan pem bunuhan kejam yang ditam pilkan dalam
The Act of Killing, menjadi bagian kecil (tapi penting) dari per-
soalan itu. Dalam rincian yang m em pesona, Ryter juga m em -
perlihatkan bagaimana pertarungan di tingkat lokal paling bawah
ini berangsur-angsur ditarik dan menjadi bagian politik kepar-
taian yang lebih besar dan ideologis sifatnya, sebagaim ana seluruh
bangsa terperangkap dalam ketegangan global Perang Dingin dan
m enanggung beban besar dari kobarannya yang terus m enjadi-
jadi sejak pertengahan 1960 -an.
Namun, dalam satu aspek penting, ilm dokumenter ini lebih
unggul dengan potensi dam pak yang lebih besar bagi m asyarakat
um um di Indonesia yang tak m ungkin m am pu dicapai oleh sebuah
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 190 Identitas dan Kenikmatan
karya akadem is. Yang saya m aksud adalah dram atisasi representasi
audio visual suara-suara otentik pelaku penting dalam peristiwa
tersebut, seakan mereka bicara langsung kepada penonton; ini
m em beri kesan yang seakan-akan “langsung” (tanpa jasa m edia)
dalam m engungkapkan kebenaran dan kenyataan yang terjadi
pada tahun 1965-66. Tentu saja sensasi yang didapat penonton di
layar terasa am at otentik dan am at bugil; sem ua ini tidak m ungkin
dibangkitkan dari sebuah karya cetak (tekstual) akadem is.
Sem entara representasi yang seakan-akan langsung dan otentik
dalam bentuk gambar bergerak merupakan kekuatan utama ilm,
karya Ryter lebih unggul dalam kelengkapan dan analisa kritis.
Sekalipun ilm dokumenter ini mengaku tidak menggambarkan
peristiwa 1965 secara objektif, The Act of Killing berpeluang
untuk m enim bulkan dam pak besar berkat faktor kejutan yang
ditam pilkan. Film ini tak berupaya untuk m em perlihatkan kepada
kita apa yang terjadi pada 1965-66, m isalnya dengan m enam pilkan
rekaman dari periode tersebut. Alihalih, ilm ini secara berlebihan
menampilkan serangkaian versi iksi yang menyiksa akal sehat
dari kesaksian yang riang gem bira serta peragaan penuh gaya di
m asa kini yang dilakukan oleh para pelaku penting pem bunuhan
1965-66.
Salah satu lapis pengungkapan politik dan sejarah Indonesia
yang dihasilkan dari The Act of Killing berupa beberapa adegan
yang m em perlihatkan hubungan erat antara orang-orang yang
mengaku penjahat politik ini dan pejabat tinggi pemerintahan.
Hubungan ini ada yang berbentuk persekutuan saling m eng-
untungkan antara pem bunuh dan pejabat negara yang terkadang
membuahkan tawaran jabatan bagi para pembunuh atas jasa
yang m ereka berikan kepada pejabat negara. Penonton The Act
of Killing mungkin terkejut oleh ruang lingkup jejaring seperti
itu, dan keterus-terangan orang-orang itu m em bicarakannya di
depan kam era. Mereka ini, dan cerita m ereka yang diperlihatkan
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 191
dalam ilm dokumenter ini, hanya sebagian kecil namun penting
dari gam bar lebih besar yang diungkapkan dan dianalisa dalam
karya Ryter (1998, 20 0 2, 20 0 9) dan Wilson (20 0 6, 20 0 8, 20 11).
Ketim bang sekadar m endapat gam baran sekilas kekebalan
hukum luar biasa yang ditampilkan dalam ilm dokumenter ini,
karya Ryter dan Wilson secara terpisah m engukuhkan pandangan
um um dan m em bahas lebih jauh m engenai prem anism e yang
menguasai seluruh negeri dan berakar kokoh, bahkan secara tak
resmi menjadi terlembaga, di tingkat negara dan menjadi bagian
dari kehidupan sehari-hari, jauh melampaui Medan dan Sumatra
Utara, yang menjadi lokasi ilm The Act of Killing. Menurut
Wilson :
prem an dan para pelaku kekerasan lain terus m eningkatkan daya
tawar m ereka dengan m endiktekan syarat yang m ereka tetapkan
sepihak, sehingga m ereka beralih wujud dari kelom pok yang tunduk,
preman sewaan, dan calo menjadi pelaku sosial dan politik bagi diri
m ereka sendiri. Pengayom an dari kaum elite, sekalipun ‘berguna’,
tak lagi dibutuhkan untuk bertahan hidup. Hubungan saling
ketergantungan ini telah terjungkir, semakin menguntungkan para
prem an, sebuah proses ‘pem alakan terbalik’ di m ana elite politik
m akin m enjadi klien ketim bang penyedia perlindungan.
(20 11: 245)
Menurut Ryter, pada m asa pasca-Orde Baru, pem erintahan se-
panjang 20 0 4 hingga 20 0 9, “ham pir setengah dari seluruh anggo-
ta DPR (45 persen) memasukkan organisasi kepemudaan dalam
curriculum vitae m ereka” (20 0 9: 190 ). “Organisasi kepem udaan”
m erupakan sebuah istilah penghalusan resm i untuk m enyebut
jejaring organisasi m assa yang diakui pem erintah, yang didom inasi
oleh param iliter, m ilisi, dan prem an yang terorganisir.
Meskipun dem ikian, sebagaim ana dibahas oleh Ryter dan
Wilson, dengan terjadinya perubahan tata dan pem bagian kekua-
saan di lingkungan elite politik tertinggi, masa depan Indonesia
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 192 Identitas dan Kenikmatan
sebagai republik preman menjadi tak pasti. Sebagaimana diamati
Ryter (1998, 20 0 9) dan Wilson (20 0 6, 20 0 8, 20 11), telah terjadi
penyebaran, atau katakanlah ‘dem okratisasi’, kekerasan politis
yang terorganisir di dalam m asyarakat. Akibatnya, sejum lah
besar dari mereka mencari pelindung, ailiasi, dan kesempatan
baru di berbagai organisasi massa berbasis Islam. Salah seorang
narasum ber Wilson, seorang prem an yang baru saja bergabung
dengan Front Pem bela Islam , berkata, “sekarang zam an refor-
masi, nasionalisme dan bela bangsa dan segala tetek bengek se-
perti itu tak laku. Sekarang ini kesempatan tersedia di sekeliling
kelom pok yang m em bela jihad dan m em erangi m aksiat” (Wilson
2008: 193). Dalam derajat berbedabeda organisasiorganisasi
ini menampung pengangguran usia muda dan mantan preman
ke dalam organisasi mereka, sambil sekaligus juga mengejar ke-
pentingan ideologis mereka, berdasarkan politik identitas berlan-
daskan etnis atau agama. Hal ini membawa kita kembali kepada
titik awal lingkaran seperti yang dibahas dalam Bab 2 dan 3 ten
tang pembajakan politik dan retorika Islamis oleh anggota partai
politik sekuler yang dom inan.
Salah satu yang terungkap, dan sam a sekali tak terduga, dalam
The Act of Killing adalah pentingnya peran ilm sebagai medium
yang m em bawa kepada pem bunuhan m assal 1965-66. Ada ber-
bagai hubungan di antara para pembunuh itu dengan ilmilm
Am erika yang ditayangkan di Medan ketika itu, juga dorongan
dan gaya m ereka dalam m elakukan pem bunuhan terhadap m u-
suh-m usuh m ereka. Saya sudah m enyebutkan, beberapa jagal
dalam ilm dokumenter ini bekerja sebagai calo tiket bioskop.
Di luar layar, para calo ini m enem pati wilayah di sekitar gedung
bioskop untuk mencari penghasilan mereka; mereka juga me-
nonton dan mengagumi berbagai ilm Hollywood dari berbagai
genre. Sesudah ilm berakhir, mereka meninggalkan bioskop
dan berlaku seakanakan mereka adalah tokoh di dalam ilm itu,
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 193
berjalan keluar layar m enuju jalan raya. Dem ikian pula dalam The
Act of Killing, banyak adegan dan kesaksian dari para jagal ini
yang m em perlihatkan bahwa m ereka m engam bil ilham dari gaya
pembunuhan kejam yang ada di ilmilm koboi dan horor, ketika
m ereka bicara tentang pem bunuhan dalam kehidupan nyata
terhadap tawanan kom unis pada tahun 1965-66. Sesuai dengan
hal itu, dalam melakukan peragaan terhadap pembunuhan itu,
para bekas penjagal itu m em ilih pakaian yang m enyerupai tokoh
ilm gangster Amerika yang mereka pernah lihat dan masih ingat.
Ada juga penyataan sambil lalu dari dua tokoh ilm dokumen
ter itu yang m enyinggung soal kam panye boikot ilm Amerika
pada tahun 1960 -an yang m engancam pendapatan m ereka
sebagai calo tiket bioskop. Karena kelom pok kom unis m erupakan
pendukung utama gerakan boikot tersebut, aksi ini digunakan se-
bagai alasan untuk menghancurkan komunis setempat. J oshua
Oppenheim er juga m enyebutkan salah satu dim ensi tam bahan
mengenai hubungan antara kisah di dalam The Act of Killing dan
industri ilm di Indonesia. Ia menyebut wartawan senior Ibrahim
Sinik, yang tampil dengan identitas sepenuhnya di dalam ilm. Di
situ Sinik mengaku bahwa ia terlibat jauh dalam mengorganisasi
pem bunuhan m assal yang terjadi di lantai dua kantornya, serta
memainkan peran sebagai perantara dengan komandan militer.
Menariknya, m enurut Oppenheim er, Sinik ini adalah wartawan
senior yang
m enjadi sekretaris jenderal organisasi anti-Kom unis yang berperan
serta di dalam pembunuhan dan secara langsung memberi perintah
kepada pasukan pem bunuh yang dipim pin Anwar, teryata juga
seorang produser ilm bioskop, penulis skenario, dan bekas ketua
Festival Film Indonesia. (Oppenheim er 20 12)
Kita dapat m enduga bahwa sem ua itu sedikit aneh, nyentrik, atau
sepenuhnya kebetulan saja, dan segala rincian itu tak akan tam pak
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 194 Identitas dan Kenikmatan
jika tak diperhatikan oleh pembuat ilm seperti Oppenheimer.
Ternyata, tidak ada yang aneh atau kebetulan tentang hal ini
jika kita m em perhitungkan konteks sejarah yang lebih luas.
Bahkan sebagai seorang ahli politik yang tak punya perhatian
khusus terhadap industri ilm, Ryter merujuk pada aspek politik
dan ekonom i distribusi ilm lokal serta percaloan tiket di Medan
sebagai satu faktor paling penting, di antara beberapa faktor lain-
nya, untuk m enjelaskan m engapa Pem uda Pancasila m enjadi ke-
kuatan utama dalam melakukan pembunuhan terhadap komunis
di Sumatra Utara (2002: 31). Jika ilm dokumenter Oppenheimer
m em bantu banyak orang seperti saya untuk m elihat Indonesia dan
ilm dokumenter dengan cara baru yang radikal, maka karya Ryter
m em bantu saya untuk m elihat Indonesia dan karya Oppenheim er
dengan cara yang lebih segar lagi.
Pada aliena ini, saya akan m enggarisbawahi beberapa hal
terpenting dalam studi Ryter (20 0 2) yang berhubungan secara
langsung dengan diskusi kita, tetapi tak tampak dalam The Act
of Killing. Sejak tahun 1950an, ilm merupakan medium hibur
an terpenting bagi bangsa Indonesia yang tengah m enjalani m o-
dernisasi, termasuk di Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia.
Ryter m enggam barkan kedatangan perusahaan listrik di Medan
dengan sangat puitis, “di Medan, kedatangan ‘penerangan’ listrik
berhubungan dengan m asuknya gam bar bergerak, sehingga ke-
duanya m em buahkan sem acam persam aan antara pencerahan
modern dengan representasi sinematograis” (2002: 44). Secara
material, pajak dari distribusi ilm di Medan sangat besar bagi
pundi pendapatan pemerintah lokal, demikian pula bagi para calo
tiket. Menyusul pertum buhan dan keragam an etnis penduduk
Medan, kelompok anak muda bertumbuhan bagai jamur di musim
hujan, dan percaloan tiket di beberapa bioskop menjadi salah satu
bentuk persaingan dan perang berdarah di antara kelompok-
kelompok kaum pendatang muda ini.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 195
Ketika konlik kepartaian di tingkat nasional menajam pada
dekade 1960 -an, disulut oleh Perang Dingin global, kehidupan
sehari-hari orang Indonesia menjadi amat terpolitisasi dengan
cepat, dan bangsa ini terpecah-belah. Pada saat inilah premanisme
lokal yang sudah lam a ada m em peroleh status dan dim ensi baru,
dan m em ulai langkah m aut m ereka. “Pada awal 1960 -an, per-
saingan penguasaan ‘percaloan’ tiket bioskop berpadu dengan
perubahan pada peta persaingan di tingkat nasional untuk meraih
kekuasaan politik” (Ryter 20 0 2: 47). Satu kelom pok yang kalah
bersaing untuk m enguasai satu lahan percaloan yang bergengsi
di sekitar Medan Theatre memilih mendukung boikot terhadap
ilm Amerika yang berakibat hilangnya sarana bertahan hidup
kelom pok lawannya yang dekat dengan Pem uda Pancasila.
Maka, di m ata kelom pok yang belakangan ini, kelom pok pertam a
merupakan segerombolan “komunis”—setidaknya berdasarkan
lingkungan pergaulan m ereka, walau bukan karena keyakinan
ideologis mereka. Konlik politik di antara elite tertinggi negara
di J akarta m enjadi berantakan disebabkan peristiwa yang terjadi
pada bulan Septem ber dan awal Oktober 1965 (lihat Bab 4), dan
dam paknya m enetes ke bawah ke berbagai provinsi di Indonesia.
Di Medan, hal ini m em icu pem bunuhan m assal 1965-66 dalam
bentuknya yang terjadi, dengan Pem uda Pancasila sebagai ujung
tombak pembunuhan terhadap para terduga komunis beserta
kelom pok-kelom pok prem an yang dianggap dekat dengan PKI.
Posisi penting industri ilm yang sangat menggelitik dalam
sejarah Indonesia modern dan kekerasan politik tidak berhenti di
situ. Dalam bab berikut, saya akan m eneliti serangkaian peristiwa
penting baik sebelum dan sesudah 1965, ketika upaya pencarian
identitas nasional melibatkan sejarah panjang penghapusan
kelom pok m inoritas yang pernah m em ainkan peran kunci, antara
lain, dalam industri ilm.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Bab 6
Minoritas Etnis yang Dihapus
EMPAT BAB sebelum nya telah m em perlihatkan betapa serius,
sampai terkadang mematikan, konlik yang dapat berkobar
ketika kelom pok tertentu m em anfaatkan kekuatan m ereka guna
m em aksakan identitas sosial dengan cara m enyingkirkan kelom -
pok lain dan m enyangkal kedudukan sah kelom pok lain tersebut
dalam kehidupan publik. Bab ini akan m endiskusikan salah satu
bentuk politik penyingkiran seperti itu, yaitu m ereka yang disebut
atau m enyebut diri sebagai etnis ‘Tionghoa’ di Indonesia, baik di
layar m aupun di belakang layar.1 Bab ini m enunjukkan, m anfaat
penelitian tentang diskriminasi terhadap etnis minoritas ini tak
sesederhana atau terbatas pada upaya m em bangun argum en dem i
1 Untuk kenyam anan, saya akan m em buang tanda kutip yang dipakai untuk
m enyebut etnis m inoritas ini, kecuali dalam beberapa kasus tertentu ketika
penekanan terhadap posisi iktif mereka diperlukan. Dalam versi terjemahan
ini digunakan istilah “Tionghoa” ketim bang “Cina” sesuai preferensi baik
penerbit m aupun banyak warga dari kaum m inoritas ini, kecuali bila istilah
“Cina” dipakai dalam kutipan langsung dari sum ber aslinya atau acuan dari
sum ber lain yang m engandung sikap rasis.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 198 Identitas dan Kenikmatan
keadilan atau pengakuan bagi mereka sebagai korban. Namun, hal
ini m em ungkinkan kita bisa m engam bil langkah berikutnya dan
m enghadapi dua persoalan lebih besar yang hanya bisa disinggung
selintas dalam bab ini. Pertam a, kita perlu m engenali sifat iktif
etnisitas yang telah begitu luas diterim a sebagai sesuatu yang
alam iah. Kedua kita berkesem patan m enem ukan kem bali sejarah
yang kaya dan m em ukau tentang m odernitas aw al dan interaksi
antar-etnik dalam kehidupan sehari-hari m asyarakat di Hindia
Belanda. Ini adalah sejarah kehidupan sosial yang sangat hidup
yang m elahirkan bangsa Indonesia dan sinem a pada awal abad
ke-20 , di m ana etnis Tionghoa hanyalah bagian darinya. Mem ang,
kasus yang akan diteliti berikut m enggam barkan bagaim ana pem -
bentukan versi lokal modernitas di wilayah ini—sebagai proyek
lintas-etnis dan transnasional—tak terpisah dari sejarah khas
etnis minoritas terkemuka ini. Maka bab ini akan juga akan
m engajukan kritik terhadap sejarah resm i bangsa Indonesia yang
telah menikmati pengesahan dan telah diproduksi ulang dalam
diskusi popular dan karya akadem is dalam bahasa Inggris dan
I n d on esia .
ETNISITAS SEBAGAI FIKSI
Seperti cerita di dalam ilm, etnisitas secara fundam ental, sekalipun
tidak seluruhnya, merupakan sebuah iksi. Serupa belaka dengan
‘bangsa’, seperti halnya ‘kom unism e’ di Indonesia sejak 1966,
atau ‘Islam ’ di berbagai belahan dunia sejak peristiwa serangan
9/11 di Amerika Serikat. Meski demikian, iksi ini memiliki per
wujudan material yang nyata. Jika kisah ilm menemukan eks
presi publiknya secara m aterial di layar sebagai serangkaian
gambar bergerak, maka ke-tionghoa-an di Indonesia hadir dalam
kehidupan sosial secara m aterial dalam KTP yang ditandai secara
khusus, m akanan khas, penggunaan bahasa, atau perayaan
beberapa festival. Namun, tak ada cara untuk mendeinisikan
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 199
kelompok etnis ini (atau kelompok etnis manapun) dengan cara
tertentu yang sepenuhnya objektif dan m aterial, karena apa yang
tam pak nyata sebenarnya selalu cair dan hanya sebagian kecil saja
dari yang diangan-angankan bersifat tetap dan statis. Berlawanan
dengan pemahaman umum, iksi itu sesungguhnya mendahului
dan m enciptakan yang nyata.2
Baik sosok etnisitas sebagai sebuah iksi sebagaimana diper
kenalkan oleh pem erintahan kolonial Belanda m aupun kehidupan
cam pur-aduk yang m eriah di Indonesia telah dihapus dari sejarah
resmi bangsa Indonesia, juga pada penulisan sejarah popular dan
jurnalistik. Penghapusan ini merupakan ulah lingkaran kecil, tapi
amat kuat di tingkat elite politik, dan kaum terpelajar guna memberi
hak istim ewa kepada konsepsi ‘nativistik’ atau kepribum ian yang
dideinisikan dengan amat sempit sebagai orang Indonesia ‘murni’
atau ‘asli’ sejak pertengahan abad ke-20 dan sesudahnya. Sejum -
lah ahli dalam kajian Indonesia telah mengkritik penulisan sejarah
seperti itu, dari berbagai bidang dalam berbagai bentuk. Namun,
sebagaim ana telah diperlihatkan oleh beberapa karya yang am at
m enarik (beberapa contohnya dalam bahasa Inggris Anderson
2 Untuk diskusi terkait kelahiran etnisitas secara legal di wilayah ini pada tahun
1870 , lihat Anderson (1991: 164-70 ) dan Kahn (1989). Dalam kasus khusus
orang Tionghoa di bawah rezim kolonial Belanda, sejarawan Kem asang bahkan
lebih jauh lagi berpendapat bahwa demi memisahkan kelompok etnis ini,
pem erintah kolonial Belanda m em buat hukum yang m enciptakan perbedaan
mereka:
untuk pemisahan orang Tionghoa, maka mereka secara hukum dipaksa untuk meng-
gunakan gaya ram but dan contoh atribut lain yang m em bedakan m ereka secara
visual dengan kelom pok etnis lainnya. Setelah m em aksa orang Tionghoa, Belanda
m em ajaki m ereka untuk “hak istim ewa” tersebut … juga terdapat beberapa bentuk
pem erasan lagi yang berlaku hanya untuk orang Tionghoa, seperti pajak pem akam an,
perkawinan dan pertunjukan wayang (opera)…pajak khusus untuk versi dari upacara
universal kem atian… pungutan untuk m em anjangkan kuku… Pungutan-pungutan
ini, lagi-lagi, m elayani lebih dari satu kepentingan Belanda. Dengan cara itu m ereka
tak hanya bisa m em eras orang Tionghoa, tapi pungutan-pungutan ini, dengan segala
“kekhususan”-nya, juga m em bantu untuk m em astikan pem isahan korban m ereka
dengan m asyarakat luas.
(Kem asang 1985: 71)
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 200 Identitas dan Kenikmatan
1991; Barker 20 10 ; Cohen 20 0 6, 20 0 9; Coppel 1999; Sen 20 0 6;
Strassler 20 0 8; Winet 20 12), kebanyakan karya ilm iah m engenai
topik ini terus terjebak dalam penulisan sejarah yang berm asalah
dan ikut mereproduksi sejarah resmi tersebut.
Kaum etnis Tionghoa di Indonesia bukan satu-satunya kelom -
pok m inoritas di negeri yang am at m ajem uk ini yang m enjadi
korban kebijakan negara yang diskrim inatif dalam waktu yang
panjang. Namun, karena berbagai alasan berikut ini, bahasan
etnis Tionghoa dalam Indonesia mutakhir secara historis amat
khas, sehingga kasus diskriminasi terhadap mereka agak khusus.
Pertam a, selain saudara-saudara setanah air keturunan India,
tak ada kelom pok m inoritas lain yang m enem pati posisi ekonom i
seistimewa etnis Tionghoa sejak era kolonialisme hingga kini. Maka
diskriminasi terbuka dan resmi terhadap minoritas ini menjadi
aneh karena tak sesuai dengan anggapan umum bahwa kekuatan
ekonomi dapat dialihkan menjadi kekuatan politik dan moral dan
sebaliknya. Tentu saja ini adalah contoh istim ewa pepatah ‘uang
tak bisa m em beli segalanya’. Sekalipun dem ikian, m em bicarakan
kekuatan ekonomi kelompok etnis ini, atau kelompok etnis apa
pun, bukan tanpa masalah, sebab gagasan paling pokok mengenai
etnisitas itu sendiri sudah amat bermasalah (lihat Philpott 20 0 0 :
84-7).3 Tam bahan lagi, angan-angan publik dan diskusi tentang
kem akm uran kelom pok etnis ini kerap diwarnai oleh pernyataan
yang berlebihan dan stereotip. Kalaupun kita andaikan sejenak
bahwa “Tionghoa Indonesia” adalah kategori yang jelas, sejauh
m ana skala kekayaan kelom pok ini m erupakan sum ber perdebatan
dan spekulasi.4
3 Philpott mengutip karya Richard Robison sebagai contoh utama bagaimana
analisa politik ekonom i yang inovatif, dengan perhatian serius pada proses
dinam ika sejarah, dapat terjatuh m enjadi “pandangan statis tentang etnisitas”
yang telanjur lazim (Philpott 20 0 0 : 85).
4 Sementara kesenjangan ekonomi amat jelas dalam pengamatan sehari-hari,
jum lah persis dan nilai pentingnya m asih terbuka untuk diperdebatkan. Banyak
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 201
Kedua, sebagaim ana dengan m ereka yang dinyatakan sebagai
Indonesia keturunan India dan m ereka yang keturunan Eropa,
banyak orang Indonesia dari latar belakang etnis Tionghoa m enjadi
tokoh penting dalam seni pertunjukan, baik di panggung maupun
layar perak. Ironisnya, hingga baru-baru ini, peran berbagai
kelom pok etnis ini nyaris dihapus sepenuhnya, atau disebut untuk
dicoret m enyilang (tidak dikehendaki)5 dalam sejarah resm i dan
ingatan publik. Penghapusan ini secara langsung berkait dengan
perhatian utama buku ini, maka persoalan itu akan dibahas dalam
sebagian besar bab ini.
Ketiga, lebih dari etnis minoritas lain (termasuk keturunan
India dan Eropa), orang Indonesia-Tionghoa merupakan satu-
satunya sasaran paling em puk dari kekerasan m assa yang di-
sponsori negara pada abad ke-20 , term asuk peristiwa 1998, yang
m endahului keruntuhan secara resm i rezim Orde Baru, dan m eru-
pakan kekerasan terhadap etnis Tionghoa terburuk dalam bebe-
rapa dekade (lihat Purdey 20 0 6). Dalam kesempatan berbeda,
saya telah m em bahas bahwa kekerasan m assa ini m erupakan
teror bercorak rasialis yang disponsori negara, dan bukan seperti
pandangan umum bahwa peristiwa itu merupakan serangkaian
“kerusuhan m assa” yang rasis (Ricklefs 20 0 1: 40 6).6
warga etnis Tionghoa Indonesia di ibu kota J akarta m aupun di luar J awa yang
tergolong dalam kelompok miskin. J uga dapat diperdebatkan apakah bisa
diterim a bicara tentang para pebisnis kaya sebagai wakil dari kelom pok etnis
m ereka kecuali pada dokum en resm i atau pada khayalan seseorang.
5 Catatan penerjemah: Seperti sudah dijelaskan dalam Catatankaki 1, Bab 3,
dalam naskah aslinya, penulis m enggunakan istilah “under erasure”, sebuah
istilah teknis dari pemikiran pasca-strukturalisme. Secara singkat dan seder-
hana, istilah itu dapat dijelaskan sebagai teknik m enulis dengan m enyebut
sesuatu yang kem udian disangkal atau ditolak sendiri oleh penulisnya. Ini ber-
beda dari tindakan penulis untuk tidak m enyebut sam a sekali hal yang sam a.
6 Istilah “kerusuhan” mengimplikasikan tindakan dari bawah ke atas dan bersifat
spontan, ditandai dengan kehendak bebas para pelaku, yaitu kerumunan yang
marah. Skenario yang banyak diterima ini menyalahkan kriminalitas pada massa
kolektif yang dibayangkan, padahal mereka tak pernah ada, atau penduduk kota
yang miskin, yang sebagian besar tak punya suara untuk membantah tuduhan
tersebut. Kebanyakan dari mereka kehilangan pekerjaan atau hidup mereka
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 202 Identitas dan Kenikmatan
Siapa pun yang m engenal Indonesia m enyadari sepenuhnya bahwa
tak ada kelom pok sosial di luar negara yang m em iliki kekuatan–
bahkan tidak separuhnya– yang diperlukan untuk m elakukan keke-
rasan dengan skala sebesar dan sem ulus yang terjadi di J akarta dan
Su r a ka r t a …
Tak ada kelompok rasial dan etnis di Indonesia, betapapun ma-
rahnya, yang m am pu m em icu kekerasan sistem atis dengan m em a-
kan korban 1.198 jiwa (diantaranya 27 tewas karena tem bakan),
150 orang perem puan diperkosa, 40 pusat perbelanjaan dan 4.0 0 0
toko, ribuan kendaraan dan rumah dibakar secara berbarengan di
27 lokasi di ibukota berpenduduk sepuluh juta jiwa, kurang dari 50
jam . Sem uanya dilakukan pelakunya tanpa dihalang-halangi petugas
keamanan, dan tidak seorang pun didakwa di pengadilan!
(Heryanto 1999b)
Selam a kekerasan anti-kom unis 1965-66, slogan anti-Tionghoa
juga muncul berdampingan dengan slogan anti-komunis. Sede-
m ikian erat keduanya didam pingkan sehingga banyak pengam at
beranggapan keliru bahwa orang Indonesia-Tionghoa menjadi
korban pem bunuhan terbesar dalam pem bantaian m assal 1965.
Kecuali di beberapa daerah seperti Medan (seperti digam barkan
dalam ilm The Act of Killing, dibahas dalam Bab 5), “korban
[pem bantaian 1965-66] m erupakan anggota dan sim patisan
PKI. Orang Indonesia-Tionghoa m engalam i gangguan serius tapi
hanya sedikit yang terbunuh” (Cribb dan Coppel 20 0 9: 447). Me-
nurut Robert Cribb dan Charles Coppel, “m itos m engenai geno-
sida, ada di luar Indonesia—di antara orang Barat dan orang
Tionghoa-ketim bang di dalam m asyarakat Indonesia sendiri”
(20 0 9: 458). Menariknya, m itos serupa terjadi lagi sebagai reaksi
atas kekerasan m assa yang rasis pada 1998, khususnya di J akarta
(dan dalam tingkat yang lebih kecil di beberapa kota lain), di
m ana lebih dari 1.20 0 jiwa m enjadi korban, kebanyakan dari latar
belakang etnis nonTionghoa (Heryanto 1999a: 315).
sebagai akibat langsung kekerasan 1998 (Heryanto 1999a: 314).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 203
Peristiwa di atas m enggarisbawahi soal yang saya sam paikan
sebelum nya, dan akan saya bahas lebih jauh lagi dalam bab ini,
bahwa orang Indonesia-‘Tionghoa’, seperti halnya etnis lain, m e-
rupakan sebuah iksi yang tak pernah menggambarkan secara
pasti atau konsisten pada orang atau kelompok orang tertentu.
Pem berian cap ‘Cina’ yang berm asalah bagi warga Tionghoa ini,
beserta kekebalan hukum m eluas yang dinikm ati oleh para pelaku
kekerasan terhadap kelompok minoritas, membuat kebencian dan
stigm atisasi terhadap etnis Tionghoa m enjadi kelazim an. Pada
gilirannya, diskrim inasi yang di-norm al-kan ini m em ungkinkan
m ereka yang m endom inasi wacana di Indonesia dan perdebatan
publik untuk memanipulasi kategori etnisitas kelompok ini seba-
gai sebuah cap atau label yang m udah dibengkak-bengkok, dan
dapat diperalat secara lentur dengan berbagai makna berbeda-
beda, sem isal istilah ‘Cina’ atau ‘non-pribum i’, tergantung kepen-
tingan m ereka pada saat itu (lihat Aguilar J r. 20 0 1).
Kita perlu m em balik logika yang sudah akrab ini di pangkalnya
untuk dapat memahami dengan lebih baik bagaimana politik
etnis berjalan di Indonesia. Banyak orang Indonesia sesudah 1966
ditahan secara ilegal dan disiksa, sebelum dirampas hak-hak sipil
m ereka dan dinistakan sebagai ‘kom unis’ seum ur hidup. Sesung-
guhnya hal itu terjadi bukan karena m ereka pernah m enyatakan
diri sebagai komunis atau mengungkapkan dukungan terhadap
‘kom unis yang asli’ (yang ketika itu sah). J ustru sebaliknya.
Mereka yang telah babak-belur m engalam i kekerasan dan per-
lakuan sem ena-m ena akan selam anya dicap ‘kom unis’ atau ‘sim -
patisan’ atau ‘saudara’ dari ‘kom unis’ atau ‘sim patisan’ lewat hu-
bungan darah atau pernikahan (lihat Bab 4 dan 5, juga Heryanto
20 0 6a). Hanya karena m ereka telah m enderita akibat kekerasan
yang disponsori negara, m aka banyak yang m enganggap m ereka
pasti pernah bersalah. Dem ikian pula dengan tubuh yang dilukai
dan jendela yang dipecah dalam kekerasan anti-Tionghoa secara
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 204 Identitas dan Kenikmatan
berkala (seperti pada 1998), bukan lantaran tubuh atau jendela itu
milik etnis Tionghoa. Namun, karena dilukai dan dirusak, maka
m ereka “m enjadi Tionghoa” atau “Cina” atau lebih tepatnya “di-
tionghoa-kan”. Luka dan kerusakan itu m enjadi sem acam stem pel
atau m eterai yang diterakan kepada sejum lah besar tubuh dan
jendela untuk m enandai secara pasti bahwa pem iliknya adalah
‘Cin a ’.
Bab ini terdiri dari tiga bagian. Bagi pem baca yang kurang
akrab dengan sejarah Indonesia, saya akan m em ulai dengan sket-
sa tentang status politik minoritas etnis ini dalam setengah abad
belakangan. Kem udian saya akan gunakan satu bagian untuk
m em bahas posisi m ereka yang dilabeli sebagai orang Indonesia-
‘Tionghoa’ dalam industri ilm. Dalam kedua bagian ini, sesekali
perbandingan dengan status kom unism e yang m engalam i stigm a-
tisasi akan dicatat secara singkat. Bagian ketiga, yakni bagian
terakhir, akan m enyelidiki bagaim ana sejarah nasionalism e ber-
upaya untuk m elupakan atau m enyangkal sum bangan etnis m i-
noritas ini (serupa dengan keturunan India dan Eropa) dalam
sejarah industri ilm nasional. Sejarah resmi ilm Indonesia dicip
takan tahun 1962, dan disahkan pada akhir tahun 1999. Sejarah
tersebut menghapus bersih sumbangan etnis non-pribumi (ketu-
runan Tionghoa dan Eropa) m aupun senim an aliran kiri. Bab ini
tak akan memasukkan analisa terhadap muatan ilmilm yang
m em bahas dinam ika hubungan antar-etnis. Kajian sejenis itu
sudah dilakukan beberapa pihak (untuk contoh dalam Bahasa
Inggris, lihat Heryanto 2008a; Sen 2006; SetijadiDunn 2013).
ETN ISITAS YAN G D IH APU S
Tidak sulit mengamati kesamaan dan perbedaan antara politik
penistaan terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia dengan
golongan Kiri (baik yang nyata m aupun yang dibayangkan) di
Indonesia, khususnya pada masa rezim Orde Baru (lihat Bab 3
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 205
dan 4). Keduanya secara m endasar dinyatakan sebagai para liyan
yang berbahaya bagi Indonesia, dengan dua perbedaan penting:
etnis Tionghoa tidak sepenuhnya dim usnahkan sebagaim ana
kaum kom unis. Di luar status politik nista yang disandang orang
Indonesia-Tionghoa serta kerapnya m ereka m enjadi sasaran ke-
kerasan massa, sejumlah besar pengusaha etnis Tionghoa me-
nikm ati posisi ekonom i yang diuntungkan selam a periode Orde
Baru. Posisi ekonom i istim ewa m inoritas etnis ini tam pak jelas di
tiga kota paling industrial, yaitu J akarta, Surabaya, dan Medan.
Kesam aan dan perbedaan dengan kelom pok Kiri tak sepenuh-
nya kebetulan. Sebagaim ana kita lihat sebelum nya, pem usnahan
kom unis dan m ereka yang dianggap sim patisan pada pertengahan
1960 -an m erupakan bagian dari dinam ika politik Perang Dingin
global di tingkat nasional maupun lokal.
Setelah ditolak secara sistematis sebagai bukan bagian dari
jati diri nasional selama berpuluh tahun, serta sesekali disuruh
untuk ‘pulang kam pung’ (ke Tiongkok daratan), kom unitas
Indonesia-Tionghoa dinyatakan bersalah atas beberapa tuduhan
oleh rezim Orde Baru. Pertam a, m ereka dianggap sebagai ras yang
berbahaya secara politik karena dianggap m engidap hubungan
kekerabatan dengan leluhur di Tiongkok daratan, yang hidup di
bawah salah satu dari dua partai komunis terkuat di dunia. Pada
gilirannya, propaganda anti-kom unis global pada m asa Perang
Dingin m enuduh Partai Kom unis Cina (CPC) telah m endukung
PKI, yang dituduh m endalangi pem bunuhan terhadap tujuh orang
perwira m iliter anti-kom unis pada tahun 1965.7 Walaupun sudah
7 Dalam artikel baru-baru ini untuk sebuah kajian mengenai warga Indonesia-
Tionghoa pada awal abad ke21, Sai dan Hoon (2013: 45) mencatat gagasan
populer m en gen ai “sikap an ti diskrim in asi” m en doron g organ isasi den gan
ideologi beragam , yakn i Baperki (yan g an ggotan ya didom in asi oleh Cin a
In don esia) den gan suka cita beralian si pada PKI. Sekalipun ben ar bahwa kedua
organisasi ini m em iliki kepentingan bersam a, penelitian yang lebih cerm at
mengenai persahabatan dan persaingan pribadi di antara para pemimpin
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 206 Identitas dan Kenikmatan
mengalami berbagai penindasan, tidak sedikit pengusaha dengan
latar belakang etnis Tionghoa menjadi kelompok dominan dalam
kelas kapitalis dom estik di Indonesia. Setidaknya secara teoretis,
sem estinya m ereka bersatu dalam posisi kelas yang sam a dengan
kelom pok kaya dari berbagai kelom pok etnis lainnya, dalam upaya
m elawan PKI. Nam un, kenyataannya tak sesuai dengan skenario
tersebut.
Naiknya kekuasaan negara Orde Baru m enandai pem balikan
segera dan total dari retorika dan propaganda politik (berki-
blat sosialis m aupun anti-Barat) yang berjaya pada m asa pem e-
rintahan sebelum nya. Modal asing dari Blok Barat segera kem bali
m em asuki Indonesia dalam skala besar. Berkat bantuan besar-
besaran dari International Monetary Fund (IMF), dan Bank Dunia,
serta penindasan terhadap serikat buruh, pertumbuhan ekonomi
nasional terus bertahan dengan m enakjubkan. Lalu m uncullah
paradoks yang m enyilaukan: ketika negara Orde Baru m enyatakan
status politis dan budaya Indonesia-Tionghoa sebagai sebuah nista
ataupun dianggap berbahaya, kerajaan bisnis beberapa anggota
kelom pok etnis ini m eluas hingga ke tingkat yang belum pernah
tercatat sebelum nya, di bawah perlindungan rezim yang sam a.
Untuk m enjelaskan kontradiksi tak lazim ini, kita hanya perlu
mengingatkan diri kita sendiri mengenai sifat iktif dan plastisnya
etnisitas ini di tangan rezim ketika itu, serta m engenali strategi
Orde Baru dalam m engelola apa yang disebut etnis Tionghoa di
I n d on esia .
politik di dalam dan di antara kedua organisasi itu dapat mengungkapkan
cerita yan g lebih rum it. Misaln ya, ikatan politik an tara Ketua Baperki Siauw
Giok Tjhan dan Tan Lin g Djie; persain gan sen git an tara Tan dan Aidit
yan g pada tahun 1951 m en yin gkirkan Tan dari kepem im pin an PKI, serta
kem ungkinan adanya sentim en anti-Tionghoa yang m enodai persaingan
antara dua orang komunis ini (lihat Lev 1991: 105, ck.13; Anderson, 2002:
1301, ck.2). Saya berterima kasih pada Siauw Tiong Djin dan Charles Coppel
atas masukan mereka soal ini.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 207
Para ahli dalam bidang humanoria telah bersepakat menge-
nai sifat iktif etnisitas dan nyaris seluruh identitas sosial, khu
susnya setelah diterbitkannya dua buku, yaitu The Invention of
Tradition (1983) karya Eric Hobsbawm dan Terence Ranger dan
karya Benedict Anderson, Imagined Communities: Relections
on the Origin and Spread of N ationalism (1983; edisi revisinya
tahun 1991 berisi dua bab tam bahan, term asuk satu bab m engenai
pembentukan kategori rasial dengan penemuan sensus pada
tahun 1870 -an). Walau kesadaran di antara para ahli tentang hal
itu telah m enyebar, gagasan m engenai ras dan etnisitas seba-
gai sesuatu yang nyata, objektif, atau alam iah m asih tetap ber-
jaya baik dalam wacana publik secara um um m aupun dalam
berbagai pernyataan resm i pejabat publik. Mengom entari “gairah
petugas sensus terhadap kelengkapan dan kejelasan” pada masa
kolonial, Anderson m encatat “sikap tak toleran m ereka terhadap
identiikasi yang jamak, ‘banci’ secara politis, kabur atau berubah
ubah…Fiksi sensus menuntut semua orang harus masuk di dalam
kotak-kotak dan kolom sensus, dan setiap orang hanya m em iliki
satu—dan hanya satu—tempat yang amat sangat jelas. Tak terbagi
bagi” (1991: 166). Selam a dan sesudah dekolonisasi negara-negara
bekas jajahan, penghayatan atas kategori-kategori kolonial itu
bukannya berkurang, tetapi m alah m engeras dan m enjadi lebih
popular serta mendapat dukungan politik lantaran hal itu ber-
m anfaat bagi kepentingan elite politik dan para pendukungnya di
masa Indonesia merdeka.
Di bawah pem erintahan Orde Baru, terdapat pem batasan ak-
ses bagi warga Indonesia-Tionghoa untuk mendapatkan pendi-
dikan dan layanan publik. Peluang untuk m em asuki profesi selain
perdagangan dan industri amat terbatas, atau mustahil. Secara
budaya, ‘ke-tionghoa-an’ dipandang asing; secara politis dan m o-
ral dianggap berbahaya bagi jati diri Indonesia sebagaim ana yang
dibayangkan secara resm i. Nam a-nam a Tionghoa untuk orang,
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 208 Identitas dan Kenikmatan
organisasi, dan bisnis harus diindonesiakan. Bahasa Mandarin,
m edia m assa, dan organisasi Tionghoa dibubarkan dan dinyatakan
terlarang. Hingga berakhirnya abad ke-20 , aksara Cina term asuk
dalam daftar barang terlarang seperti halnya bahan peledak,
pornograi, dan narkotika dalam formulir bea cukai yang harus diisi
oleh seluruh pendatang yang m em asuki Indonesia. Hingga awal
1990 -an, senam popular Cina, lagu Mandarin di pusat karaoke,
dan penjualan kuekue Cina dilarang (Indrakusuma 1993; McBeth
and Hiebert 1996; Subianto 1993; Suryadinata 1985). Di tahun
1990 , di kota-kota di Provinsi J awa Tengah, lagu Mandarin tak
boleh diperdengarkan dalam perayaan m alam Tahun Baru Lunar
(dikenal di Indonesia sebagai Tahun Baru Im lek, penerjem ah)
(Kedaulatan Raky at 1990 ). Sem ua ini dilakukan dengan dalih ne-
gara Orde Baru bertekad m em baurkan m inoritas ke dalam tubuh
politik Indonesia, dengan m em bersihkan unsur asingnya (yaitu
‘ke-tionghoa-an’). Meskipun begitu, program pem bauran Orde
Baru m em ang dirancang untuk gagal, karena suksesnya program
ini berm akna runtuhnya kepentingan sponsornya sendiri. Meng-
hapuskan identitas Tionghoa dalam program pem bauran yang
mujarab berarti menanggalkan pembagian kerja berdasar ras
yang m enjadi dasar bagi status quo (Heryanto 1998a: 10 4).
Tak sulit untuk memahami bagaimana paradoks kebijakan
Orde Baru terhadap etnis Tionghoa berlangsung. Kebijakan itu
menjelek-jelekkan etnis Tionghoa dalam bidang politik dan bu-
daya, tapi pada saat yang sam a berpihak kepada sekelom pok ang-
gota etnis ini dalam bidang bisnis. Birokrasi Orde Baru lebih suka
m em beri kem udahan ekonom i kepada m ereka yang dipandang
sebagai ‘ Indonesia-Tionghoa’ dan orang asing, dengan mengor-
bankan rekan-rekan m ereka yang dipandang berasal dari kom u-
nitas ‘pribum i’. Tak seperti orang pribum i, m ereka ini tak m em iliki
peluang untuk bangkit m enjadi kekuatan sosial (m isalnya sebagai
borjuasi domestik) dengan potensi menjadi oposisi politik elite
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 209
Orde Baru. Kecilnya peluang kom unitas bisnis Tionghoa untuk
m enjadi borjuasi dom estik, pada gilirannya, disebabkan oleh
kem udahan ekonom i yang dinikm ati oleh kelom pok bisnis dari
etnis ini. Favoritism e ini berfungsi untuk m enghasut m asyarakat
atau m engipas-ipasi sem angat anti-Tionghoa di m asyarakat, juga
sem angat anti-asing yang terus dipertahankan, terutam a terhadap
Barat yang diangan-angankan.
Dalam diskusi publik, Barat dan Indonesia-Tionghoa digam-
barkan sebagai pihak yang paling diuntungkan dari pertumbuhan
ekonomi dan dampak-dampak imoralnya, dengan mengorbankan
mayoritas pribumi. Setiap kali terjadi ketegangan politik dalam
lingkaran elite rezim, atau terjadi pelambatan pertumbuhan eko-
nomi, maka pemerintah akan memicu kekerasan massal anti-
Tionghoa, yang memberikan tiga keuntungan. Pertama, hal ini
akan mengalihkan kemarahan publik agar tidak tertuju kepada
elite yang sedang memerintah. Kedua, hal ini memastikan etnis
minoritas yang kaya ini—yang tak memiliki perwakilan di peme
rintahan—akan terus bergantung pada bantuan perlindungan dari
individu pejabat tertentu di pemerintahan, sekaligus terus mening-
katkan ongkos pemerasan yang harus mereka bayar untuk ban-
tuan tersebut. Ketiga, lingkaran kekerasan massa anti-Tionghoa
yang dirancang ini membuat aparat keamanan memiliki alasan
untuk menjelek-jelekkan, menahan, atau menghukum tokoh-tokoh
oposisi baik dari kalangan elite sendiri atau dari komunitas pribumi
yang aktif secara politis. Tokoh-tokoh ini dituduh mendalangi apa
yang tampak di permukaan sebagai kerusuhan anti-Tionghoa.
Strategi ini tidak selalu berhasil meyakinkan semua orang. Namun
di bawah kendali ketat negara, media massa tak memiliki pilihan
kecuali menyampaikan versi resmi berita dan penjelasannya terkait
kekerasan massa yang terjadi secara berkala ini.
Penting untuk dicatat di sini bahwa yang kita hadapi ini bukan
kasus yang m urni bersum ber dari kebencian dan penindasan
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 210 Identitas dan Kenikmatan
antar-ras. Namun, ini merupakan kasus paradoks pengelolaan
negara terhadap politik etnis, yang telah terbukti keam puhannya
selam a berpuluh tahun di bawah Orde Baru, dengan sejarah yang
panjang sejak masa kolonial. Sementara kelompok minoritas
ini dihinakan dan disalahkan karena memiliki tanda-tanda ke-
tionghoa-an, dan dinyatakan ‘tak-Indonesia’, pem erintah Orde
Baru secara aktif m em produksi dan m em elihara ke-tionghoa-an
yang dinistakan, walau kem udian diserang untuk dihapuskan.
Maka, ini adalah kasus ‘etnisitas’ (terhapus dengan coretan) yang
sempurna. Tak peduli sejauh mana seorang Indonesia-Tiong-
hoa telah membaur, terutama laki-laki, aparat negara akan me-
mastikan bahwa jejak masa lalu etnis mereka akan terus dibawa
ke permukaan untuk diskriminasi lebih jauh.
Dalam berbagai dokum en hukum yang penting seperti surat
nikah atau akta kelahiran, ada kode khusus bagi warganegara
dengan latar belakang etnis Tionghoa. Mereka yang sudah m em a-
tuhi tekanan pemerintah untuk mengganti nama Tionghoa dan
m engadopsi nam a ‘Indonesia’, m asih saja harus m enyebutkan
nam a lam a m ereka ketika m engisi form ulir. Mereka harus m em -
bawa akta resm i ganti-nam a, yang m em bedakan m ereka dari
warganegara lain dan m engharuskan m ereka m em enuhi syarat-
syarat tam bahan, baik syarat resm i m aupun silum an. Seorang
laki-laki keturunan ‘Tionghoa’ dapat m enikahi perem puan pri-
bumi dan hidup seperti pribumi lain, tetapi mereka, anak me-
reka, dan keturunan m ereka akan terus diberi cap ‘Tionghoa’
oleh logika negara Orde Baru. Ke-tionghoa-an m erupakan nista
yang terwariskan dan abadi, m engikuti garis keturunan laki-laki
yang dianggap kekal dan sudah sejak awalnya nista. Beberapa
hal sudah berubah sedikit sejak kejatuhan Orde Baru pada 1998,
tetapi kebiasaan lama susah menghilang.
Kebanyakan pem bahasan m engenai etnis Tionghoa di Indo-
nesia menekankan secara berlebihan tindakan represif terhadap
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 211
m ereka, atau sebaliknya, m em besarkan kekuatan ekonom i diban-
dingkan proporsi status minoritas mereka di Indonesia.8 Sebagai
konsekuensinya, pem bahasan m ereka gagal untuk m engenali hu-
bungan m endasar yang tam paknya saling bertolak-belakang, seba-
gai sebuah paradoks yang dengan sangat jitu m em elihara status-
quo. Maka, tak m engherankan sesudah kejatuhan Orde Baru,
kebanyakan pem bahasan (jurnalistik m aupun akadem is) tentang
etnis Tionghoa di m asa pasca-Orde Baru dikisahkan terutam a
sebagai cerita pem bebasan, pengakuan-kem bali, pem berdayaan,
dan kebangkitan sebuah kelom pok yang selam a ini ditekan.
Nam un, gagasan utam a tentang etnisitas yang am at berm asalah
tidak pernah dipersoalkan. Menyam but fajar baru keterbukaan
untuk mendiskusikan nasib etnis Tionghoa di Indonesia pasca
1998, Tickell m enyesali tidak m eratanya penulis yang m enikm ati
kebebasan ini, berdasarkan etnisitas mereka, baik Indonesia-
Tionghoa maupun pribumi. Dalam pengamatan Tickell
Apa yang absen…adalah, presentasi m asalah-m asalah penting terbaru
kom unitas Indonesia-Tionghoa yang berasal dari penulis Indonesia-
Tionghoa sendiri…am at sedikit karya tulis kreatif yang diterbitkan
oleh orang Indonesia keturunan Tionghoa dengan menceritakan
pengalam an Indonesia-Tionghoa sendiri…Yang m enonjol, penulis
pribum i m engajukan pertanyaan-pertanyaan ini dan pertanyaan
lebih luas terkait dasar integrasi nasional.
(20 0 9: 277, 289)
Kita telah diingatkan pada soal yang dinyatakan oleh Anderson,
seperti dikutip di atas; seakanakan “setiap orang memiliki satu—
dan hanya satu—tempat yang amat sangat jelas. Tak terbagi
8 Salah satu contoh belakangan ini, Tickell m enggam barkan “di bawah rezim
Orde Baru, ke-tionghoa-an lebih ditandai oleh ketiadaan diskursus ketim bang
keberadaannya, oleh hal yang tak terkatakan ketim bang yang dikatakan… Di
bawah Orde Baru, etnisitas Tionghoa m enjadi tak terkatakan dan tak terlihat”
(20 0 9: 276).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 212 Identitas dan Kenikmatan
bagi” (1991: 166). Lebih jauh lagi, tentu tak ada alasan m enga-
pa orang dari ‘latar belakang etnis’ tertentu harus m enjadi yang
pertam a atau paling produktif ketim bang kelom pok lainnya
dalam m engisahkan atau m enganalisis politik etnis yang m e-
nimpa mereka atau kelompok tersebut. Tickell tak sendirian atau
yang pertam a yang beranggapan dem ikian, sebagaim ana pernah
saya diskusikan di tem pat lain (Heryanto 20 0 8a: 78). Sebuah
penelitian yang lebih belakangan tentang m asalah sejenis m en-
catat sudah lebih banyak senim an dari berbagai latar belakang
telah mengungkapkan tema ini (SetijadiDunn 2013); sekalipun
demikian, dualisme (Indonesia-Tionghoa/ Indonesia-pribumi) ini
masih terus dipertahankan.
Dalam Bab 3, saya telah mendiskusikan panjang lebar ilm
kontroversial karya sutradara Hanung Bram antyo. Ia tam pil da-
lam posisi yang m enentang konsepsi etnisitas yang esensialis,
juga dualism e (pribum i/ non-pribum i) yang m engikutinya. Ia
m engalam i sendiri tirani etnis dan agam a di keluarganya. Ayah
dan kakeknya m enduduki jabatan penting di Muham m adiyah,
tapi ia mengaku bahwa
Saya separuh Cina m elalui ibu saya, yang m asuk Islam . Ketika m uda,
keluarga ibu saya datang ke Yogyakarta turut m erayakan Idul Fitri,
lalu kam i akan pergi ke Salatiga pada saat Natal. Begitulah pluralism e
b er la n gsu n g.
(Em ond 20 12)
Seiring waktu, banyak yang berubah dalam keluarganya seba-
gaimana juga dengan politik di negeri ini (lihat Bab 2 dan 3): “Kita
tak lagi melakukan perjalanan, dan bahkan kita juga tak mengirim
ucapan selam at lewat SMS…J ika saya m em akai gam is putih, saya
akan dianggap Muslim yang baik, tapi jika saya m em akai jins,
m aka saya m enjadi Muslim yang buruk” (Em ond 20 12).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 213
Bukannya secara fatal m enjadi “Indonesia-Tionghoa” atau
“Indonesia-pribum i”, orang Indonesia, sebagaim ana halnya
m akhluk sosial lain, m em iliki identitas yang beragam dan
kom pleks. Identitas ini am at cair dan tak pernah tetap. Bukannya
sem ata-m ata m enindas dengan m otivasi rasial terhadap kelom -
pok etnis m inoritas ini, Orde Baru secara aktif m enciptakan
serangkaian stereotip tentang Indonesia-Tionghoa dalam berbagai
bentuk, m edia dan genre agar m ereka bisa dicela dan dinyatakan
berbahaya. Ini adalah kasus produksi identitas yang aktif dan
beragam , yang dapat dibandingkan dengan konstruksi kom unis
selam a kekuasaan Orde Baru, atau Islam di berbagai belahan
dunia sesudah peristiwa 9/ 11. Tindakan untuk m em produksi se-
suatu yang tercoret atau terhapus ini am at berbeda dengan ber-
bagai bentuk tindak penghilangan, penolakan, penekanan, dan
penyensoran. Sekalipun dem ikian, dengan berbagai alasan lain
yang layak diteliti lebih jauh, kecenderungan um um ini tidak ber-
laku seragam untuk karya sastra Indonesia (lihat Heryanto 1997)
atau ilm (lihat Sen 2006) sebagaimana akan ditinjau lebih jauh di
bagian berikut.
SAN GAT DIBUTUH KAN, TAPI TAK DIIN GIN KAN
Peran etnis Tionghoa dalam masamasa awal pembuatan ilm di
Indonesia dan sumbangan khusus mereka terhadap industri ilm
bagi yang kini dikenal sebagai Indonesia, akhir-akhir ini telah
m enjadi perhatian para ahli. Yang m enyulut perdebatan m ereka
bukanlah penyangkalan atau kelalaian m utlak terhadap peran
utam a etnis Tionghoa dalam industri ilm. Sesungguhnya, pem
bahasan di Indonesia mengenai perkembangan awal ilm Indonesia
sudah m em berikan pengakuan terhadap karya kelom pok ini,
sebagaim ana juga orang-orang keturunan Eropa. Yang m enjadi
m asalah adalah apakah karya m ereka dipandang sebagai warisan
atau bahkan pelopor kebudayaan nasional. Pada saat penulisan
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 214 Identitas dan Kenikmatan
buku ini, sem ua karya yang diterbitkan di Indonesia yang berhasil
saya kum pulkan m enganggap karya-karya tersebut bukan bagian
dari sejarah ilm nasional. Kita akan kembali kepada persoalan
ini lebih dalam dalam bagian berikutnya. Pada bagian ini, kita
akan m elihat soal yang berkaitan: nyaris absennya tokoh-tokoh
beretnis Tionghoa dalam ratusan ilm Indonesia,9 yang sebagian
besar diproduksi oleh kelompok etnis ini.
Krishna Sen, salah seorang pelopor kajian bidang ini dalam
Bahasa Inggris, m enyatakan keganjilan itu dengan baik. Di satu
sisi, ia m engingatkan bahwa “im igran Tionghoa telah m eletakkan
landasan industri ilm pada tahun 1930an dan industri modal
Tionghoa menjadi tulang punggung industri ilm sepanjang seja
rahnya” (Sen 20 0 6: 171). Ia m enam bahkan bahwa etnis m inoritas
ini m em asok tak hanya
produser, pemodal dan distributor tapi juga sumber tenaga kreatif
sinem a seperti sutradara dan penata kam era…[dan ironisnya] seluk-
beluk orang Indonesia-Tionghoa jarang ditampilkan sebagai pokok
utama dalam ilm mereka, bahkan sebelum lenyapnya kehadiran
m ereka dituntut oleh kebijakan pem erintahan Orde Baru.
(Sen 20 0 6: 171)
Sesudah menonton sekitar 200 judul ilm Indonesia masa
Orde Baru (tam bah beberapa lagi yang dipelajarinya dari sum ber
bacaan lain), Sen m enem ukan hanya satu judul (yaitu Putri Giok,
1980 ) yang m enam pilkan keluarga Indonesia-Tionghoa. Nam un,
keluarga ini hanya m uncul di layar untuk dijelek-jelekkan sebagai
m asalah bagi bangsa sehingga perlu m engalam i ‘penghapusan’,
sejalan dengan propaganda Orde Baru m engenai ‘pem bauran’
9 Nam un, seiring dengan sifat paradoks kebijakan Orde Baru dalam m engelola
m inoritas etnis, selam a 1970 -an, pem erintah m engizinkan sejum lah besar
impor ilm Mandarin (lihat Tem po 20 12b: 18).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 215
(Sen 20 0 6: 177).10 Nyaris total lenyapnya kom unitas etnis ini
terus berlangsung hingga kejatuhan Orde Baru pada tahun 1998,
sekalipun etnis m inoritas ini m erupakan topik yang dom inan
dalam perbincangan publik (um um nya sebagai ‘m asalah’nasional)
di berbagai genre dan m edia, term asuk acara obrolan di televisi,
berita, dan hiburan, termasuk dalam opera sabun.
Guna mendapatkan gambaran mengenai kerumitan dan posisi
paradoks orang Tionghoa dalam industri ilm Indonesia, analisa
Krishna Sen m engenai karya dan kepolitikan Teguh Karya am at
berm anfaat. Teguh Karya m erupakan salah satu tokoh m enonjol
dalam sinem a Indonesia kontem porer, “seorang auteur-sutradara
nasionalis terkemuka di antara rekan segenerasinya!” (Sen 2006:
172) dan ia seorang warga negara keturunan Tionghoa atau non-
pribum i. Pada tahun 1996, salah seorang kritikus paling senior di
Indonesia, J .B. Kristanto, m erenungkan m engapa seluruh karya
Teguh Karya m enam pilkan pandangan m uram tentang dunia ini
(Kristanto 1996). Kristanto m engim bau adanya penelitian serius
mengenai hal ini. Seakan-akan memenuhi imbauan tersebut,
analisis Sen terhadap sang sutradara sepuluh tahun kemudian
m enyediakan satu jawaban kunci terhadap pertanyaan Kristanto.
Sen m enunjuk sesuatu yang m enarik tentang Teguh Karya: “di satu
sisi, Teguh Karya (etnis Tionghoa) m em iliki status sebagai auteur/
10 Ternyata, keganjilan sinem atis ini tidak hanya hadir di Indonesia, tetapi juga
dapat ditem ukan di Malaysia sepanjang pertengahan abad ke-20 . Setidaknya,
ini kasus ilm yang disutradarai dan dibintangi oleh P. Ram lee, “tokoh paling
terkenal dalam ilm Melayu, pertama sebagai aktor kemudian sebagai penulis
skenario, sutradara, dan bintang utama dalam ilm roman di sekitar 64 judul
ilm panjang” (Kahn 2006: 127). Menurut Kahn, dalam ilmilm Ramlee,
“tokohtokoh dalam ilmilmnya semuanya beretnis Melayu. Orang Malaysia
-Cina dan Malaysia-India tidak ditam pilkan secara stereotipikal m aupun secara
rasial, m ereka lenyap total …non-Melayu tidak ada sam a sekali” (20 0 6: 120 ).
Ram lee am at terkenal di kalangan penutur Bahasa Melayu yang m encakup
wilayah yang kini terdiri dari beberapa negara berbeda yaitu Malaysia,
Singapura, Brunei, dan Indonesia. Salah satu ilm Indonesia mutakhir yaitu
ilm Koper (20 0 6, Oh) m enam pilkan seorang tokoh Indonesia yang m engoleksi
rekaman lagu P. Ramlee.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 216 Identitas dan Kenikmatan
guru/ bintang dalam tarikh sinem a Orde Baru, nam un di sisi lain,
tak ada seorang tokoh Tionghoa pun di dalam karya-karyanya”
(20 0 6: 171). Salah satu pengam atan Sen paling m engagum kan
dalam kajiannya m engacu pada pertem uan awalnya secara pri-
badi dengan sang sutradara. Karena am at berguna untuk pokok
bahasan bab ini, maka patut untuk dikutip agak berpanjang lebar:
Ketika saya m ewawancarai Teguh Karya untuk pertam a kalinya,
sebagai seorang m ahasiswa pasca-sarjana di tahun 1979 (saya baru
tiba untuk penelitian lapangan saya), ia baru saja m enyelesaikan
N ovem ber 1828 … Dengan kehangatan yang khas, ia m enarik saya
m asuk ke dalam keluarga ‘Teater Populer’. Dalam beberapa jam ,
seorang perem puan m uda yang duduk di pinggiran berbisik kepada
saya ‘kam u tahu ia Cina. Tapi jangan tanya-tanya kepadanya tentang
itu’(kurang-lebih begitu kalim atnya). Setelah beberapa pekan, orang-
orang di lingkaran terdekat dia (m aupun yang jauh) m engulang pesan
yang kurang lebih sam a. Saya segera sadar sem ua orang tahu bahwa
Teguh Karya adalah ‘Cina’, dan m ereka hanya bisa berbisik-bisik saja
soal ini, namun lebih dari itu, mereka tampak tidak tahan untuk tidak
berbisik tentang ini. Bisikan-bisikan itu m em iliki perwujudan yang
ganjil yaitu ketika m edia cetak kerap m enulis di dalam kurung (Steve
Lim) di sebelah namanya, Teguh Karya! Membaca ‘otobiograinya’
sepanjang sepuluh halam an, ketika ia akhirya m enyebut leluhur Cina
di dalam tulisannya, di tahun 1993, bagi saya, ia telah mengulang
bisikian-bisikan tentang ke-Cina-annya yang pernah saya dengar
berkalikali sebelumnya—garis leluhur ini diakui hanya dan segera
diperlakukan seakan-akan tidak penting.
(Sen 20 0 6: 178)
Di luar kebiasaannya berbicara dengan lemah lembut, penampilan-
nya sebagai orang yang berbakti secara menyeluruh pada pernik-
pernik untuk mencapai inovasi artistik, dan ketidaktertarikannya
pada soal politik pada masanya, Teguh Karya sepertinya sedang
menyampaikan pendirian politik seputar isu ras, dengan cara amat
halus. Sesudah melakukan analisis mendalam terhadap karya-
karya ilm Teguh Karya, Sen mencapai kesimpulan:
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 217
Dalam bangsa yang digambarkan oleh ilmilm Teguh Karya, tam -
pak tiada tem pat bagi anak dari ayah orang asing dan ibu orang
Indonesia… Setiap ilmilmnya yang amat nasionalis, merupakan
sebuah gugatan terhadap sebuah sistem yang m enolak m em beri
kewarganegaraan penuh kepada keturunan Cina dan terus-terusan
tak m em beri tem pat bagi m ereka untuk m engeksplorasi ke-Cina-an.
(20 0 6: 180 )
Sedem ikian halusnya sikap kritis ini sehingga gam pang luput dari
perhatian publik terhadap ilmilmnya ketika (di bawah retorika
rasis Orde Baru yang gamblang), secara umum produser ilm etnis
Tionghoa diserang dengan cara blak-blakan dan jelas-jelas rasis.
Kelompok yang dibungkam ini disalahkan atas berjayanya ilm
ilm jorok. Dengan mengambil posisi sebagai kaum yang lebih
suci, para kritikus, bersama dengan sekelompok kecil lingkaran
elite intelektual Indonesia, mengkritik dengan keras isi ilmilm
dom estik: penam pilan gaya hidup m ewah yang berlebihan dari
orang kaya baru, serta adegan kekerasan dan seks yang kasar.
Keluhan-keluhan ini tertam pung, m isalnya, dalam edisi khusus
m engenai “budaya pop” dalam sebuah jurnal paling bergengsi
saat itu, Prism a (No.6/ J uni 1977). Menariknya, sem entara para
sutradara dan kritikus menikmati ruang berlimpah untuk mela-
kukan serangan, suara para produser ilm yang diserang sebagai
biang kerok bencana budaya dan sinem a nasional, tidak diberi
tempat sama sekali dalam edisi tersebut. Hampir semua penulis
artikel, serta para pembuat ilm yang diwawancarai dalam edisi
tersebut, m enggam barkan para produser itu m em iliki standar yang
rendah dan selera budaya yang buruk. Pada gilirannya, selera buruk
ini dilekatkan ke latar belakang etnis m ereka, yaitu ‘Tionghoa’.
Berlawanan dengan para pembuat ilm berlatar belakang etnis
pribum i yang m endapat sanjungan sebagai individu (dengan nam a
mereka disebutkan), tak ada satu pun produser ilm Tionghoa
dianggap layak dipuji; nam a-nam a atau perusahaan m ereka tidak
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 218 Identitas dan Kenikmatan
pernah disebut. Mereka hanya dipandang sebagai satu kelom pok
yang seragam , yakni dicirikan oleh ras. Pem bahasan ini, yang
melibatkan beberapa cendekiawan dan kritikus paling terkemuka
di Indonesia, amat kuat mengingatkan kepada kebijakan Orde
Baru terhadap soal khusus m inoritas Tionghoa: investasi ekonom i
mereka dibutuhkan dan disambut, tetapi suara atau kehadiran
mereka dalam perpolitikan nasional sama sekali tidak dihargai.
Dua pertimbangan penting hilang dalam pembahasan sema-
cam itu, sebagaim ana dicontohkan lewat penerbitan di Prism a
tersebut. Pertama, sementara minoritas etnis dengan posisi mereka
sebagai kaum pariah disalahkan atas buruknya kualitas ilm yang
disutradarai oleh orang-orang yang m engkritik m ereka (kecuali
satu dua komentar tak lebih panjang dari setengah kalimat), tiada
penyebutan—apalagi kutukan—yang berarti terhadap tekanan,
penyensoran, dan campur tangan negara dalam proses produksi ilm
pada periode tersebut. Dengan kata lain, bahasan mengandaikan
seakanakan produksi ilm berlangsung dalam keadaan yang bebas
dan bersahabat, dalam lingkungan pasar yang sepenuhnya bebas.
Seakan-akan para produser yang dituduh berselera rendah itu
bebas m encari keuntungan sebesar-besarnya dari usaha m ereka
dengan cara mengeksploitasi seks dan kekerasan semau mereka
tanpa kendali, campur tangan dan pengawasan negara. Padahal
kenyataannya sebaliknya: produksi ilm mengalami pembatasan
pem batasan yang am at parah yang dilaksanakan di segala bidang
oleh pem erintahan Orde Baru.11 Maka bukan kejutan bahwa “[s]
11 Sekalipun produksi ilm menanggung beban terberat dalam pengawasan
dan penyensoran oleh negara, m edia dan berbagai acara budaya lain m eng-
alam i tekanan yang kurang lebih serupa. Hingga pertengahan 1980 -an,
sebelum pem erintah m engeluarkan izin bagi anggota keluarga presiden
untuk m eluncurkan stasiun televisi m ereka sendiri, hanya ada satu stasiun
televisi—yang dimiliki oleh negara—yaitu Televisi Republik Indonesia atau
TVRI. Di bawah kekuasaan Orde Baru, izin dan pem eriksaan awal oleh petugas
keam anan terhadap naskah puisi disyaratkan untuk pem bacaan puisi di depan
umum.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 219
kenario ilm membutuhkan persetujuan… sebelum pengambilan
gambar dimulai. Pada saat pengambilan gambar selesai, gambar-
gam bar yang didapat (sebelum disunting) perlu diserahkan ke-
pada pem erintah” (Sen 1994: 66). Kedua, bahkan seandainya kritik
terhadap produser etnis Tionghoa ini benar adanya, agak gegabah
bila kita tak m em perhitungkan bagaim ana rezim Orde Baru telah
membatasi ruang bagi minoritas etnis untuk berpartisipasi dalam
kehidupan publik.
Selain sutradara legendaris Usmar Ismail, sutradara lain
yang m endapat pujian besar dalam Prism a edisi 1977 itu adalah
Sjum an Djaya. Sjum an Djaya ditam pilkan saat itu sebagai legenda
hidup yang m enjadi wujud bagi tokoh teladan, sem entara seluruh
produser ilm Tionghoa (tanpa ada nama yang disebut) dikutuk.
Prism a m ewawancarai Sjum an Djaya dalam edisi yang sam a, dan
dalam percakapan yang terjadi, ia m erendahkan para produser
Indonesia-Tionghoa sebagai borjuis kecil, karena “m ereka berasal
dari Shantung” (Tiongkok). Maka, ia berpendapat, “Bagaim ana
bisa m engharapkan sesuatu yang sifatnya kulturil dan artistik dari
orang-orang sejenis ini? Asalnya saja dari borjuasi kelas bawah.
Maka yang dihasilkan betul-betul kerdil” (Djaya 1977: 42). Pada
tahun 1973, sebuah tabloid yang terbit di Jakarta menerbitkan
artikel berjudul Cukong-cukong Cina Ham burkan Uang untuk
Matikan Perilman Nasional (lihat Moham ad 1980 : 80 , m engutip
tabloid Nusantara, 19 September 1973). Judul ini diambil dari
pernyataan Sandy Suwardi, produser ilm yang menuduh adanya
komplotan perusahaan ilm milik orang IndonesiaTionghoa yang
hendak membunuh ilm domestik dengan berpihak kepada ilm
im por dari Am erika dan Hong Kong.
Situasinya m engalam i perubahan besar-besaran sejak awal
2000an, menyusul keruntuhan rezim Orde Baru. Sejumlah ilm
bioskop memecahkan rekor dengan menampilkan tema-tema
baru. Sebelum ilm bertema Islam menjadi populer menyusul
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 220 Identitas dan Kenikmatan
diedarkannya Ay at-Ay at Cinta (20 0 8, Bram antyo) (sudah kita
diskusikan dalam Bab 2 dan 3), sejumlah ilm komersial de
ngan sadar berupaya m enabrak tabu dengan bercerita tentang
warga Indonesia-Tionghoa dan kenyataan pahit sehubungan
dengan status m ereka dalam m asyarakat Indonesia m utakhir.
Diedarkannya Ca-bau-kan (20 0 2, Dinata) dan Gie (20 0 5, Riza)
secara um um dirayakan sebagai pelopor dalam hal ini. Sam pai
berapa jauh kedua ilm ini dan ilmilm lain yang menyusulnya
mampu menantang dan membalikkan pandangan dominan,
m asih m enjadi perdebatan yang terbuka di antara para ahli (Sen
206; SetijadiDunn 2013; Tickell 2009). Dalam hal ini, saya ingin
kem bali ke soal yang m enjadi awal diskusi kita, yaitu pem bahasan
Krishna Sen tentang Teguh Karya serta satu hal tam bahan tentang
Hanung Bram antyo.
Dalam Bab 3, saya membahas jalur amat kontroversial yang
dengan berani diam bil oleh Hanung Bram antyo untuk terlibat
dalam pem bahasan m asalah yang peka tentang politik Islam di
abad baru ini. Sebelum nya dalam bab ini, saya m enyebutkan
pengakuan Hanung tentang dirinya yang separuh Tionghoa lewat
ibunya, serta ketidaknyam anannya terhadap cara yang ditem puh
oleh pejabat negara dan organisasi kem asyarakatan untuk m en-
capai tujuan dalam politik terkait keim anan. Dalam banyak hal
terkait biograi dan perkembangan karirnya, biasanya ada acuan
terhadap pengalam an Hanung pada tahun 1995-96 sebagai
seorang m agang junior di Teater Populer Teguh Karya. Hasrat
untuk m enjadi seorang aktor profesional m em bawa Hanung ke
J akarta dan di sana ia bergabung dengan kelompok tersebut.
Nam un, pergaulannya dengan Teguh Karya dan pengam atan dari
dekat bagaimana Teguh Karya menyutradarai ilm Perkaw inan
Siti Zubaidah (diedarkan sebagai dram a televisi pada tahun 1977)
m engubah pikirannya dan m em bangkitkan m inat Hanung untuk
menjadi sutradara ilm. Pada tahun 1996 ia meninggalkan Teater
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 221
Populer dan mendaftar di jurusan ilm di Institut Kesenian J akarta
(IKJ ). Nam un sebagaim ana kita lihat dalam diskusi sebelum nya,
berbeda dengan m entornya yang bertutur lem ah-lem but dan
apolitis, Hanung membahas soal-soal kepatutan politik pada
zam annya, m enantang secara terbuka bagaim ana agam a dan
etnisitas dipolitisasi di Indonesia.
Sebagaimana dibahas dalam Bab 3, dalam ilm ? (20 11), Ha-
nung m endorong posisinya yang kontroversial ke batas terjauh
yang masih bisa diterima oleh kelompok konservatif. Dalam ilm
ini, ia menampilkan kemungkinan dan hasrat pernikahan antar-
etnis dan antar-agama, serta kehidupan keragaman beragama
di Indonesia.12 Bagi pihak luar yang tak akrab dengan sejarah
soal ini, mungkin sulit memahami bagaimana hubungan sosial
seperti ini bisa dianggap sangat sensitif secara politik. Sebaliknya,
orang-orang muda di Indonesia bisa terkejut bila mengetahui
betapa interaksi lintas etnis dan lintas agam a m erupakan hal yang
sangat lazim terjadi seabad lalu dalam m asyarakat Indonesia.
Ini m erupakan salah satu dari beberapa hal penting yang m en-
dapatkan penyensoran atau dikaburkan dalam sejarah resm i
periode kolonial dan awal-awal kemerdekaan. Penghilangan
serupa sedikit banyak ikut bertanggung jawab atas sikap yang
terus-m enerus m em usuhi karya etnis m inoritas Tionghoa dalam
pembentukan industri ilm di negara kepulauan ini. Bagian berikut
ini secara khusus disiapkan untuk membongkar persoalan itu.
AW AL-MU LAN YA
Dalam Konvensi Dewan Film Nasional pada tanggal 11 Oktober
1962, para peserta mengumumkan bahwa sejarah ilm nasional
Indonesia dimulai dengan pengambilan gambar hari pertama ilm
12 Dalam hal ini, ? mengingatkan pada ilmilm karya almarhum Yasm in Ahm ad
(1958-20 0 9). Sebagai perbandingan dengan Indonesia, Malaysia m em iliki
sejarah larangan secara legal seputar perbedaan etnis dan agama.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 222 Identitas dan Kenikmatan
Darah dan Doa, yang dikenal juga dengan judul The Long March
of Siliw angi, pada tanggal 30 Maret 1950. Sutradara Usm ar Ism ail
(192171) juga disebut sebagai bapak ilm nasional, bersama
dengan Djam aludin Malik (1917-70 ). Sekalipun Indonesia m ulai
m erayakan Hari Film Nasional pada tahun 1963, baru 37 tahun
kem udian segala hal yang diputuskan pada tahun 1962 diresm ikan
lewat Keputusan Presiden pada tahun 1999; ditandatangani oleh
B.J . Habibie yang saat itu m enjadi pejabat presiden m enggantikan
Soeharto yang baru m engundurkan diri.
Hingga saat buku ini disiapkan, tiada satu pun orang di Indo-
nesia yang tam paknya m enggugat sejarah resm i ini. Sejarah resm i
itu telah diterima secara luas di Indonesia dan selalu diproduksi
ulang dalam berbagai bentuk, walau sudah ada kesadaran dalam
masyarakat bahwa produksi, penayangan, dan kritik ilm telah
berlangsung di m asyarakat ini selam a tiga dekade sebelum nya.
Sem ua produksi sebelum 1950 diakui, tapi m ereka tak dianggap
sah, dan bukan karena kemerdekaan Indonesia diproklamasikan
pada tahun 1945 dan baru diakui tahun 1949. Nam un, m enurut
para pendukung sejarah resmi, ilm Darah dan Doa dianggap
m enjadi pendobrak judul-judul sebelum nya sem ata-m ata karena
dianggap m em iliki sem angat dan jiwa “ke-indonesiaan” sejati
(Purs 2013). Namun, tak ada deinisi yang jelas dan bisa diterima
dengan luas m engenai “ke-indonesia-an” ini. Tiada orang di Indo-
nesia yang secara serius mempertanyakan kekaburan deinisi se
penting itu di ruang publik. Tak ada juga yang m encoba untuk
m enyatukan kontradiksi antara penghargaan yang diberlakukan
m undur (retroaktif) bagi Usm ar Ism ail yang dianggap otentik
itu, dengan pengakuannya bahwa ia penganut neo-realism e Italia
dalam pembuatan ilmnya. Usmar bekerja dalam divisi propagan
da tentara pendudukan J epang ketika Indonesia berada di bawah
penjajahan Jepang dan ia belajar di Amerika pada tahun 1953.
Seorang peneliti berpendapat bahwa Darah dan Doa “lebih dihar-
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 223
gai sekarang ini ketimbang pada tahun 1950” (Barker 2010: 13).
Pandangan umum tentang kelahiran ilm nasional biasanya
m enyinggung sejum lah pernyataan sam ar-sam ar yang dikaitkan
pada sutradara Usmar Ismail bahwa ia bercitacita membuat ilm
yang m engungkapkan watak, sem angat, dan pengalam an hidup
sejati orang Indonesia. Hal lain dan tak kurang pentingnya, dan
dipakai untuk memberikan pembenaran bagi sejarah resmi ilm
nasional adalah, Darah dan Doa sebagai ilm pertama yang di
produksi dan disutradarai oleh orang Indonesia ‘asli’ (yaitu orang
‘pribumi’ Indonesia). Semua ilm sebelumnya dianggap tidak
Indonesia karena yang berperan paling besar dalam produksi
m erupakan keturunan Eropa atau Tionghoa (sepenuhnya ataupun
sebagian). Tak mengejutkan, bila anggapan-anggapan seperti itu
m elekat dalam sejarah (apa m akna ke-indonesia-an dan siapa yang
dianggap tidak Indonesia) dan telah dipertanyakan oleh sejum lah
besar sarjana (term asuk sarjana yang lahir di Indonesia) yang
tertarik pada topik ini. Karya-karya sarjana ini cenderung ditulis
dalam Bahasa Inggris dan beredar di luar Indonesia (m isalnya
Barker 20 10 ; Sen 20 0 6; Setijadi-Dunn dan Barker 20 10 ).13
Sekalipun terkubur dalam khazanah pustaka berbahasa
Indonesia mutakhir, peran dan sumbangan penting peranakan
Tionghoa maupun Indo dalam masa awal perkembangan budaya
layar di Indonesia baru-baru ini dikemukakan oleh para sarjana
dalam bidang seni pertunjukan (lihat Cohen 20 0 6, 20 0 9; Winet
2010) dan fotograi (Strassler 2008) dari masa Hindia Belanda.
Semua ini merupakan sebagian belaka dari sejarah yang lebih
panjang dan kajian yang lebih luas. Beberapa dekade sebelumnya,
para peneliti telah menemukan peran penting etnis Tionghoa dalam
bidang media cetak, bahasa, dan kesusastraan (lihat Damono 1984;
13 Karena keterbatasan, saya hanya m elihat karya dalam bahasa Indonesia dan
I n ggr is.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 224 Identitas dan Kenikmatan
Heryanto 1987, 1995; Rosidi 1967; Salmon 1982; Siregar 1964;
Sumardjo 1981, 1983, 1985, 1986; Tickell 1987; Toer 1982, 1985,
1987; Watson 1971). Secara keseluruhan, karya mereka menggugat
secara langsung dan mendasar pandangan palsu yang terus berjaya
di Indonesia tentang status ‘asing’ minoritas etnis Tionghoa dalam
kebangsaan Indonesia, serta anggapan terpisahnya kehidupan sosial
mereka di hari-hari akhir penjajahan dan masa awal dekolonisasi.
Implikasinya, mereka juga menggugat pemahaman yang diterima
luas di Indonesia mengenai lahirnya bangsa ini, dengan melawan
pandangan khayalan etno-nasionalis tentang identitas Indonesia
yang asli, yang dianggap terpisah dari kekuatan kolonialisme Eropa
atau pun semata-mata menjadi korban darinya.
Pihak luar dapat dengan mudah melihat Indonesia sebagai
sebuah bangsa produk kolonialism e Belanda, baik tanah m au-
pun wilayahnya, bahasa dan budayanya, negara serta hukum nya
(Anderson 1999; Cribb 1999). Nam un, sebagian besar orang Indo-
nesia belakangan ini, terutam a m ereka yang tum buh di bawah
rezim fasis Orde Baru, telah m enerim a sejarah resm i yang m eng-
gambarkan bangsa ini telah ada berabad-abad sebelum keda-
tangan kekuatan Eropa. Secara umum amat kecil atau bahkan
tidak sedikit pun terbayangkan bahwa bangsa yang am at m ereka
cintai ini merupakan produk suatu proses sejarah tertentu dan
baru belakangan dibentuk oleh kekuatan-kekuatan luar (musuh-
m usuh bangsa) yang paling berjasa atas kelahirannya pada awal-
awal abad ke-20 . Malahan, m ereka percaya bahwa kolonialism e
Eropa m erupakan sebuah m asa gangguan luar yang tak diundang
bagi utuhnya kedaulatan bangsa yang sebelum nya sudah
ditakdirkan akan m aju berkem bang.14
14 Dalam hal ini, kaum nasionalis Indonesia tidak berbeda dengan rekan-rekan
m ereka di m ana pun di dunia, setidaknya seperti pendapat seorang analis
berikut ini: “J ika negara-bangsa sudah diakui banyak pihak sebagai benda
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 225
“Melupakan, bahkan saya berani m enyebutnya kekeliruan
sejarah, m erupakan faktor penentu terbentuknya sebuah bangsa,”
m enurut pendapat Ernest Renan (1990 : 11). Bagian dari sejarah
penjajahan Belanda dan tahun-tahun awal kem erdekaan yang
dipilih untuk dilupakan oleh kaum nasionalis Indonesia adalah
pergaulan lintas-etnis yang m eriah, beragam , bersem angat kos-
mopolitan dan modern dalam kehidupan sehari-hari ketika itu.
Dengan berbagai cara, kelom pok etnis yang berbeda-beda ini turut
serta menjalankan dan memproduksi ulang, juga merongrong dan
menentang tata-kehidupan kolonial.
Sebaliknya, sejarah resm i Indonesia m em berikan kisah ten-
tang sebuah m asyarakat yang dibayangkan terbagi secara tegas
dan jelas berdasar kotak-kotak ras. Sejarah resmi ini menampil-
kan kisah sim plistik tentang orang Indonesia yang ‘tak berdosa’,
diserang dan diperas oleh non-Indonesia (baik Eropa dan orang
Asia lainnya term asuk etnis Tionghoa), sebelum m ereka m am pu
untuk m em berontak dan m eraih kem erdekaan. Ironisnya, penu-
lisan sejarah seperti ini m erupakan sebuah upaya canggung m em -
produksi ulang m entalitas dan strategi kolonial (yang telanjur
disalahkaprahi) yakni ‘adu-dom ba’, nam un dengan susunan jen-
jang terbalik, yaitu dengan penduduk asli yang m enjadi korban
tetapi kini dimuliakan.
Ham pir seabad lam anya, gagasan bahwa m asyarakat kolo-
nial Belanda dibagi ke dalam tiga kategori berdasar ras (Eropa,
Tim ur Asing dan pribumi)—masingmasing dengan hak berbe
da-beda yang m encerm inkan hirarki sosial m asyarakat kolo-
nial—telah menjadi pandangan dominan di antara para pene
liti Indonesia dan asing. Sikap anti-Tionghoa dalam m asyarakat
Indonesia belakangan ini telah dirasionalisasi dan dibenarkan
‘baru’ dan ‘historis’, bangsa-bangsa yang m enjadi wujud sem angat m ereka
selalu dipandang sudah ada jauh di masa lampau, dan, lebih penting lagi,
berlanjut hingga ke masa depan yang tak terbatas” (Anderson 1983: 19).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 226 Identitas dan Kenikmatan
berdasarkan kesalahpahaman sejarah tentang ketimpangan dan
tentang posisi penduduk asli sebagai korban. Penelitian Coppel
(1999) m enam pilkan pandangan yang lebih kaya nuansa dan
m em berikan ralat yang penting. Dua tem uan dari analisanya
amat penting bagi bab ini. Pertama, pembagian hukum kolonial
berdasarkan ras (Aturan Konstitusional 1854) m em bedakan m a-
syarakat m enjadi dua, bukan tiga, jenis warga: “Eropa dan m e-
reka yang disetarakan (gelijkgestelde) dengan Eropa” dan “pen-
duduk asli dan m ereka yang disetarakan (gelijkgestelde) dengan
penduduk asli” term asuk Tionghoa, Arab, J epang, dan lainnya
(Coppel 1999: 34). Kedua, alihalih diberlakukan dengan tegas
dan konsisten, peraturan ini menjadi bahan kritikan baik dari
dalam aparat kolonial sendiri maupun dari luar, sehingga harus
m enjalani perubahan terus m enerus. Kategori ketiga, yakni Tim ur
Asing (Vreem de Oosterlingen) sebenarnya m erupakan hasil per-
tem puran legal tersebut dan baru m enjadi kategori yang lebih
stabil pada m asa paling akhir pem erintahan kolonial Belanda
(awal 1930an). Kategori ketiga merupakan pengecualian parsial
dari aturan um um yang m em ungkinkan “sem ua orang Tim ur
Asing di J awa” untuk m enikm ati penerapan “Hukum Dagang dan
Sipil Eropa dan menempatkan mereka di bawah hukum adat di
bagian yang lain… Pengecualian ini dirancang untuk m elindungi
kepentingan bisnis orang Eropa dari pebisnis Tionghoa yang
bangkrut, bukan untuk meningkatkan status Tionghoa sebagai
satu kelompok” (Coppel 1999: 34). Salah satu kesimpulan Coppel
amat penting untuk diskusi kita di bab ini:
Selain pengecualian ini dan beberapa hal lain dari klasiikasi dualistik
yang ditetapkan tahun 1854, hingga akhir abad, kategori ‘Tim ur Asing’
secara legal m asih m erupakan bagian dari m ereka yang disetarakan
dengan ‘Pribum i’ ketim bang sebuah kategori baru di tengah-tengah
‘Eropa’ dan ‘Pribum i’.
(1999: 345)
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 227
Studi cem erlang Karen Strassler tentang fotografer am atir m au-
pun studio di J awa m enam pilkan tiga pandangan yang am at pen-
ting. Pertam a, sekalipun jum lahnya dom inan, etnis Tionghoa
yang secara aktif berpartisipasi dalam perkem bangan dua jenis
fotograi pada masa akhir kolonialisme dan awal kemerdekaan
terlibat dalam kerja sam a antar-etnis “dalam proyek pem bentuk-
an bangsa, memperlihatkan dengan jelas asal-usul kosmopolitan
dalam pembentukan kebangsaan” (Strassler 2008: 395). Bahkan
di antara m ereka yang berlatar belakang etnis Tionghoa, terdapat
perbedaan “internal” yang lebih besar di antara m ereka ketim -
bang dualism e yang lazim dikenal sebagai perbedaan antara yang
“totok” (berdarah Tionghoa sepenuhnya dengan orientasi yang
kuat pada Tiongkok) dan “peranakan” (yang lebih bercam pur de-
ngan budaya lokal Indonesia). Kedua, Strassler m encatat bahwa
fotograi amatir dan studio mengungkapkan dua aliran nasio-
nalism e yang berbeda dan saling bersaing. Fotografer am atir m e-
nam pilkan “ideologi nostalgis tentang yang asli” (otentik, orisi-
nal, dan pribum i), sem entara fotografer studio bicara tentang
“visi yang berkiblat keluar tentang Indonesia sebagai sebuah
titik berangkat untuk turut serta dalam modernisasi global”
(Strassler 2008: 395). Sebagaimana kita lihat sebelumnya, tipe
nasionalism e pertam alah yang telah berjaya di Indonesia sejak
pertengahan abad ke-20 . Ironisnya kejayaan itu tercapai dengan
m engorbankan etnis m inoritas yang berada di garis depan dalam
memperjuangkan nasionalisme melalui fotograi amatir. Ketiga,
Strassler m em perluas argum ennya tentang nilai penting dua tipe
fotografer yang tak hanya sebagai representasi dua visi tentang
Indonesia, tetapi juga tentang dua posisi kelas yang berbeda:
Visi am atir cenderung bernostalgia sem entara fotografer studio
lebih m enyam but visi berm asa depan. Ini tidak m engherankan
jika diingat bahwa kebanyakan pem otret am atir m endapat status
istim ewa m ereka berkat struktur hirarki kolonial yang sedang
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 228 Identitas dan Kenikmatan
m elem ah, sem entara fotografer studio m erupakan im igran baru
yang, sebagaim ana orang-orang yang m ereka potret, bertekad untuk
naik kelas sosial.
(2008: 426)
Menyim pang dari penelitian Strassler, beberapa pem bela paling
galak “ideologi nostalgis” nasionalism e pribum i sejak kem er-
dekaan tidak terbatas pada m ereka yang pernah m em iliki “status
istim ewa berkat struktur hirarki kolonial yang sedang m elem ah”.
Sebaliknya, sebagian besar dari m ereka kini m erupakan anggota
kelas m enengah yang m enikm ati kem ajuan ekonom i, politik, dan
budaya yang pesat dan stabil sejak kem erdekaan. Nam un, ke-
m ajuan ini bukannya tanpa batasan. Di Indonesia kini, m ereka
gentar ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan global. Di-
pandang dari kacam ata tua m asa kolonial, kekuatan yang m eng-
ancam ini tam pak seperti hantu tua ‘Tim ur Asing’ dari m asa akhir
kolonialism e sekaligus sebagai Barat Asing yang ‘baru’. Perasaan
nostalgis tentang sosok ‘pribum i’ yang tersisih ini m enawarkan
ruang pelarian moral dan ideologis, serta perlindungan dari kom-
petisi keras hubungan kapitalisme global dalam dunia hiburan
dan lain-lainnya.
Sejarah ilm nasional di Indonesia merupakan “sejarah kepen
tingan kultural kaum elite yang berupaya mendeinisikan ilm na
sional sebagai budaya yang sah dan m enaklukkan bentuk-bentuk
kerakyatan” (Barker 20 10 : 17). Kelom pok elite ini terdiri dari
segolongan pembuat ilm dan kaum terpelajar yang membedakan
dirinya dari massa yang membentuk mayoritas penonton ilm.
Tentu, bukan berarti elitisme seperti ini merupakan sesuatu
yang khas hanya terjadi di Indonesia. Hal ini m alah tam paknya
m erupakan norm a yang um um , ketim bang kekecualian. J uga ha-
rus dicatat bahwa sejarah resmi tersebut merupakan produk dari
usaha baru-baru ini saja, khususnya sejak 1960 -an. Selain m assa
penonton ilm, yang juga tersingkir dari penjelasan semacam ini
adalah para sutradara dan produser dengan latar belakang etnis
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 229
yang ‘keliru’ (yaitu Tionghoa dan Indo), atau berkiblat ideologis
dan politik yang keliru (khususnya kelom pok kiri di era sesudah
pertengahan abad ke-20 ). Untuk menolak posisi kelompok kiri
relatif m udah, m engingat penghancuran besar-besaran hasil karya
periode ini yang dianggap sebagai buah tangan m ereka, beriring
dengan dim atikannya pem bahasan karya senim an kelom pok ini.
Sedangkan untuk m enolak atau m erendahkan karya sutradara
non-pribum i, kategori rasis yang usang dan lazim dari m asa
kolonial, tanpa rasa malu dihidupkan lagi dan lebih digalakkan.
Sekalipun pem erintah kolonial Belanda berkeinginan m ene-
rapkan sistem hukum yang m irip dengan sistem apartheid dengan
cara membagi-bagi penduduk di tanah jajahan menjadi dua (atau
tiga) kelompok besar, kehidupan sosial di tanah jajahan di antara
penduduk dengan latar belakang etnis yang beragam jauh lebih
cair dan dinam is, m enabrak pem bagian rasial yang terlalu sering
disederhanakan atau diabaikan dalam banyak ulasan. Nam un,
dem i kepentingan ideologis m ereka sendiri, banyak para ideolog
nasionalis Indonesia lebih suka memilih gambaran pembagian
m asyarakat berdasar ras yang dikehendaki oleh pem erintah kolo-
nial sebagai cerm inan kenyataan, baik m asa lalu m aupun m asa
kini. Kehidupan di Indonesia m asa kini dipandang sebagai terdiri
dari pem bagian yang m utlak antara Barat (kini um um nya berarti
Am erika Serikat ketim bang Belanda); etnis Tionghoa, terlepas
dari status kewarganegaraan mereka (non-pribumi sebagai ganti
Tim ur Asing); dan pribum i sebagai orang Indonesia sejati, karena
dianggap m ewarisi bangsa ini dari leluhur m ereka.15 Kerangka
15 Anderson m enjelaskan bagaim ana orang Indonesia, seperti halnya banyak
nasionalis lain, telah “keliru” m em aham i nasionalism e:
Terlalu banyak orang Indonesia cenderung beranggapan bahwa Indonesia adalah
‘warisan’, ketim bang sebagai tantangan atau proyek bersam a. J ika ada warisan,
tentu ada ahli warisnya, dan kerap kali terjadi perselisihan sengit di antara m ereka
m engenai siapa yang m em iliki ‘hak’terhadap warisan tersebut: kadang hingga terjadi
kekerasan besar. Orang-orang yang berpikir bahwa Indonesia yang ‘abstrak’ adalah
‘warisan’yang harus dilestarikan dengan segala cara, dapat bertindak buruk terhadap
warga negara yang tinggal di ruang geograis yang abstrak ini. (1999: 4)
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 230 Identitas dan Kenikmatan
pikir seperti ini tam pak jelas dan konsisten dalam nyaris seluruh
pem bahasan tentang sejarah industri ilm Indonesia.
Salah seorang tokoh paling senior dan dihormati dari kalang-
an pencinta ilm dalam tiga dekade terakhir adalah almarhum
Misbach Yusa Biran (19332012). Pengabdiannya bagi kajian
dan pengarsipan ilm di Indonesia tiada taranya. Tulisannya
tentang sejarah ilm nasional Indonesia menjadi sumber utama
bagi m asyarakat luas. Sayangnya, perspektif kolonial yang rasial
tampak jelas dalam tulisantulisannya mengenai sejarah ilm
Indonesia. Bukunya berisi cerita tentang pihak yang baik m ela-
wan yang jahat (ilm dan pembuat ilm yang berniat dagang versus
yang berkiblat artistik) sejalan dengan propaganda etno-nasio-
nalis. Biran mengabaikan pembuat ilm dan karyanya yang men
jadi pelopor pada paruh pertama abad ke-20 lantaran mereka
adalah orang-orang keturunan Eropa dan Tionghoa, yang diduga
bertujuan utama mengejar keuntungan inansial. Pihakpihak
nonpribumi dalam lingkaran perilman dipandang sematamata
berdasarkan ras m ereka, dan nyaris selalu dipandang buruk
(eskploitatif, rakus, dan tidak beretika), sem entara orang-orang
pribum i dirayakan karena patriotism e m ereka dan ditam pilkan
sebagai individu dengan menyebut nama dan biograi mereka
secara utuh.
Untuk mengenal nada tulisan Misbach, kutipan berikut berasal
dari karyanya yang berbahasa Inggris:
Kegiatan menonton ilm datang di negeri ini pada tahun 1900 sebagai
prakarsa orang Belanda, dan penayangan ilm awalnya dilakukan
di gedung yang disewa atau lewat layar tancap. Pertunjukan ilm
kem udian didom inasi oleh orang Cina. Pada tahun 1925, m ayoritas
bioskop dim iliki oleh orang Cina.
(20 0 1: 211)
…di tahun 1928, orang Cina terlibat dalam produksi ilm. Awalnya,
m otivasi m ereka adalah untuk m eningkatkan gengsi. Orang Belanda
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 231
m asih m em andang orang Cina dengan status rendah, dan hal itu
benar adanya di m ata orang pribum i, sekalipun posisi ekonom i
etnis Cina selalu lebih unggul ketim bang pribum i. Orang Cina selalu
dipandang memuja berhala, makan babi, dan melihat uang sebagai
hal terpenting.
(2001: 213)
Ketika pahlawan nasional (Usm ar Ism ail) hadir dalam penu-
turan Biran, ia hadir sebagai seorang individu lengkap dengan
nam anya:
Prakarsa Usm ar ketika itu tidak didukung oleh sikap yang um um
industri ilm Indonesia. Kebanyakan ilm dibuat di studio Cina…
lingkaran produser ilm Cina, yang sejak awal lebih tertarik untuk
menghasilkan uang, tidak tersentuh oleh pengalaman terkait perang
dan revolusi… Filmilm yang dibuat oleh studio Cina yang dibuka
lagi sesudah 1950 tidak berbeda dari ilmilm yang mereka buat
pada awal 1940an. Filmilm itu adalah ilm hiburan semata yang
tak m em iliki m akna.16
(20 0 1: 220 )
Salah satu tokoh lainnya dalam penulisan sejarah ilm Indo
nesia adalah Salim Said. Dalam beberapa bab di bukunya, Proil
Dunia Film Indonesia (1982), soal ras ditam pilkan dengan lebih
bernuansa, dan pembuat ilm atau produser non-pribum i sesekali
disebut nam anya. Nam un, secara um um , ideologi pribum i yang
sam a tam pak m em enuhi karya Said dan terwakili dalam sejarah
ilm Indonesia secara lebih luas dalam persaingan antara dua ku
tub yang berbeda orientasi, m asing-m asing diwakili oleh ras m e-
r e ka .17
16 Kita akan kembali kepada soal mengenai ilm yang dituduh “tidak memiliki
makna”. Fakta bahwa beberapa ilm ini menarik penonton dalam jumlah
besar tentu berarti bahwa m ereka m em iliki m akna bagi yang m enontonnya,
sekalipun jika hal itu tidak memuaskan selera para elite masa itu maupun pada
m asa sesudahnya.
17 Menariknya, ketika Salim Said beralih dari cara pandang yang luas dalam
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 232 Identitas dan Kenikmatan
Karyakarya pelopor orang Cina dalam ilm Indonesia dapat dikenali
dari tujuan ekonom inya. Sebagai orang Tim ur Asing pada periode
tersebut, tak banyak yang bisa diharapkan dari m ereka… Sesudah
Indonesia m eraih kem erdekaan, Usm ar Ism ail m em ulai tradisi yang
sama sekali baru dalam ilm Indonesia. Berbeda dengan kebiasaan
pembuat ilm Cina, baik sebelum maupun sesudah Perang, … Usmar
Ismail memproduksi ilm dengan cerita berdasarkan kehidupan
nyata di sekitarnya yang m em beri inspirasi baginya. Dengan
demikian, wajah Indonesia dapat dilihat dalam ilmilm ini lewat
tangan Usm ar dan rekan-rekannya…
(Said 1982: 6-7)
Patut untuk dicatat sebuah ironi yang bertolak belakang dengan
pembagian rasial antara para pembuat ilm sebagaimana diba
yangkan di Indonesia kini. Karya Usm ar Ism ail Darah dan Doa
(disahkan sebagai awal sejarah ilm—yang bersifat etnonasio
nalis—karena ilm itu memisahkan diri dari praktik sebelumnya
yang didom inasi oleh etnis Tionghoa) “hanya bisa diselesaikan
berkat bantuan keuangan dari seorang pemilik bioskop, Tong
Kim Mew” (Barker 20 10 : 11), satu hal yang sebelum nya juga di-
catat oleh Said (1982: 51). Lebih jauh lagi, Djam aludin Malik
(dianggap bersama-sama dengan Usmar Ismail sebagai pendiri
ilm nasional) lebih jelas lagi memperumit stereotip rasial terang
terangan yang membentuk narasi tentang ilm nasional Indonesia,
karena Djamaludin Malik secara konsisten mengejar keuntungan
kom ersial dalam karya-karyanya. Latar belakang etnisnya telah
m enyelam atkannya, dan kom ersialism enya dim aafkan (Barker
20 10 : 10 ). Bahkan Usm ar Ism ail tidak m engabdikan seluruh
tenaganya untuk m engejar inovasi artistik atau cita-cita nasionalis
dengan mengorbankan tanggung jawab inansial, sebagaimana
melihat sejarah ilm Indonesia dan menyorot lebih dekat peristiwa historis
tertentu, ia m enyajikan rincian yang rinci dan kaya, dan kerap m em ungkiri
dikotom i rasial yang sim plistik, m engacu pada bab-bab sebelum nya pada
bukunya. Dalam lingkup bahasan m ikro, tokoh non-pribum i m uncul sebagai
m anusia nyata dengan nam a dan pencapaian yang m engagum kan.
pustaka-indo.blogspot.com