http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 233
yang ingin diyakini oleh para pengagum nya di Indonesia saat ini.
Sebagaimana kebanyakan sutradara ilm di mana pun, termasuk
m ereka yang disebut di awal bab ini, kegiatan artistik Usm ar
Ism ail beralih antara percobaan artistik dan proyek kom ersial.
Maka, sangat m ungkin bagi Usm ar tak ada yang istim ewa
dalam mendapatkan “bantuan inansial dari pemilik bioskop
Tionghoa” untuk m enyelesaikan Darah dan Doa. Kita bahkan
layak bertanya-tanya apakah Usm ar sadar soal asal-usul etnis
Tong, dan juga sebaliknya. Banyak alasan untuk m eragukan apa-
kah perbedaan etnis antara mereka memiliki arti penting atau
sebesar yang dipikirkan oleh para ideolog nasionalis Indonesia
m asa kini, m engingat akrabnya pergaulan berjangka panjang
Usm ar dan kebanyakan orang pada m asa itu dalam bisnis dengan
orang dari beragam latar belakang etnis. Keganjilan sikap sadar-
etnis di Indonesia masa kini dapat dilihat dalam pembahasan
Misbach Yusa Biran terhadap karya Teguh Karya. Mungkin karena
Teguh Karya berbeda dari segala stereotip tentang etnis Tionghoa
sebagai m akhluk ekonom i, latar belakangnya sebagai keturunan
Tionghoa diabaikan atau disebutkan dengan cara berbisik-bisik
sebagaim ana dicatat oleh Krishna Sen. Ketika Teguh Karya berada
dalam kesulitan inansial serupa dengan Usmar Ismail, etnisitas
temanteman ‘Tionghoa’nya—dan hanya etnisitas dari kelompok
ini saja—yang datang membantunya amat ditekankan oleh Biran:
Dengan dukungan dari tem an-tem annya produser Cina, Teguh
membuat ilm yang lebih komersial, Cinta Pertam a (1973) yang mem
perkenalkan Christine Hakim ke layar lebar dan m em asangkannya
untuk pertamakali dengan Slamet Rahardjo. Film ini sangat sukses
p en ju a la n n ya .
(Biran 2001: 234)
Semangat kosmopolitan dan keintiman antar-etnis di antara para
pekerja kreatif dalam ilm industri tidak hanya milik lingkaran
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 234 Identitas dan Kenikmatan
Usm ar Ism ail saja. Menurut Krishna Sen “sutradara pribum i
pertama—Raden Ariefin, Anjar Asm ara, Suska, Inoe Perbatasari,
dan Mohammad Said—semua dilatih dalam industri yang didanai
dan secara budaya dipim pin oleh m igran dari Tiongkok” (Sen
2006: 173).18 Esai Anjar Asm ara tahun 1955 tentang “Masa
depan ilm Indonesia” amat bersemangat dan optimistis, tanpa
kekhawatiran ataupun keluhan tentang m asalah yang diciptakan
oleh etnis dan kelom pok tertentu dalam m asyarakat. Sam pai-
sampai dari tulisan itu orang bisa mendapat kesan bahwa industri
ilm di mana Anjar Asmara berpartisipasi berbeda sama sekali
dengan yang digam barkan oleh Misbach Yusa Biran dan Salim
Said. Ketim bang m engungkapkan kom itm en atau harapan pada
ilmilm yang secara unik bersifat “Indonesia”, Anjar Asm ara
m enyam paikan visinya dalam lim a hal term asuk m enem ukan
sebuah form ula produksi yang dapat m enarik perhatian seluruh
m asyarakat. Ketim bang m engkritik produser-produser sebagai
picik secara ekonom i, Anjar Asm ara m em uji dan bangga dengan
para produser di Indonesia. Membandingkan mereka dengan
Malaya, Anjar Asm ara m encatat, “alangkah bahagianya produser-
produser ilem Indonesia yang jauh lebih kaya dengan bahan
bahan yang lebih hidup, lebih hangat dan berjiwa di sekitar alam
kita yang terbuka”. Perbedaan antara visinya dan m ereka yang
m enulis tentang dirinya di Indonesia kini tak bisa lebih besar ketika
18 Di Malaya yang bertetangga dengan Indonesia, kerja sam a antar etnis juga hal
yang um um , dengan pem bagian kerja yang m enjadi pola. J oel Kahn m encatat,
“[d]i tahun 1950an, pola yang khas adalah sebuah ilm diproduksi oleh modal
Cina (Shaw Brothers), disutradarai oleh orang India, dengan cerita versi
Melayu dari kisah Cina dan India, serta dibintangi oleh orang Melayu dengan
dialog berbahasa Melayu. Rum usan ini terbukti sukses secara kom ersial dan
ini m erupakan struktur yang m enjadi tem pat bagi karir P. Ram lee. Sebanyak
25 ilm pertama Ramlee diproduksi antara tahun 1948 dan 1955 oleh MFB
(Malayan Film Board, anak perusahaan Shaw Brothers yang membuat ilm
Melayu) dengan sejum lah sutradara India, term asuk B.S. Rjahans, L. Krishnan,
S. Ram anathan, K.M. Basker dan B.S. Rao” (Kahn 20 0 6: 128).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 235
ia m em bahas bahwa “Disam ping hasil artistik yang kita sebutkan
diatas, ilem harus dipandang sebagai usaha dagang (business).
Dagang sem ata-m ata.” Dengan cara yang sam a bersahabatnya,
Usm ar Ism ail m enyatakan
pujian untuk Dr. Huyung, … dan untuk Basuki Effendi, sutradara
ilm asal LEKRA, antara lain, sesudah 1965, tokoh-tokoh ini nyaris
dihapuskan dari sejarah ilm. Dr. Huyung yang sebenarnya kelahiran
Korea, menunjukkan sebuah sejarah ilm yang rumit dan lintas
nasional, m aka ini sebuah gugatan terhadap etno-nasionalism e yang
tertutup.
(Barker 20 10 : 10 )
Kem bali kepada pernyataan Misbach Yusa Biran yang dikutip
sebelumnya bahwa “ilm yang dibuat oleh studio Cina” diang
gapnya “tak m em iliki m akna” (20 0 1: 220 ), penting untuk dicatat
bahwa pribumi juga turut serta dalam produksi ilmilm pada
tahun 1930an ini, sebagai penonton, pemain, dan penulis dan
beberapa ilm ini bermakna bagi sebagian besar masyarakat.
Contohnya, Salim Said m enyebutkan sukses besar Njai Dasim a
(1929, Lie) yang m engarah pada pem buatan sekuel Njai Dasim a II
(1930, Lie) dan Nancy Bikin Pem balesan (N jai Dasim a III) (1930,
Lie). Said m engutip Biran yang m enilai rahasia sukses ini pada
partisipasi “orang Indonesia” (etnis pribum i) sebagai aktor dalam
ilmilm tersebut. Baik Said maupun Biran berpendapat bahwa
sutradara etnis Tionghoa telah merekrut aktor non-Tionghoa dan
menyebutkan fakta ini dalam publikasi ilmilm tersebut, berkat
bujukan Anjar Asm ara, seorang pribum i lainnya (Said 1982: 20 ).
H IBRID ITAS D ISAN GKAL, TETAPI BERJAYA
Tentu banyak yang harus ditinjau ulang dalam sejarah resmi ilm
Indonesia, sebagaim ana halnya dengan sejarah bangsa ini, yang
kini dipenuhi oleh stereotip, penyederhanaan, penghilangan, dan
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 236 Identitas dan Kenikmatan
kerangka pikir kolonial. Meninjau kasus peran warga Indonesia-
Tionghoa yang dihapus, kita bisa m endapatkan keuntungan dalam
m eninjau soal-soal yang lebih luas berkaitan dengan strategi
rezim kolonial yaitu adu-dom ba berdasar garis rasial, juga kerja
bergairah serta bersemangat kosmopolitan dari para seniman,
pengusaha, dan kaum intelektual lintas-etnis dalam pembentukan
sebuah bangsa yang baru dan m odern. Dalam m enganalisa proses
ini, sifat iktif etnisitas sebagai kategori sosial jelas tam pil ke
m uka. Untuk m enutup bab ini, saya ingin m enyebutkan secara
singkat m asalah yang hadir di m asa depan, dalam hal analisis;
saya m enyarankan perlunya penelitian lebih jauh dalam soal yang
luas dan kom pleks ini, khususnya seputar isu kelas sosial.
Sen (20 0 6) mengakui kehadiran sinematis dari etnis mino-
ritas Tionghoa tum buh dengan luar biasa segera m enyusul
kejatuhan rezim Orde Baru, dengan karya-karya baru diproduksi
oleh senim an yang berasal dari luar etnis tersebut. Nam un, di
luar perkembangan ini, Sen menemukan bahwa stereotip lama
terhadap kelom pok etnis tersebut dan perspektif rasis yang m en-
dasarinya, m asih awet hingga sekarang.19 Nam un sebagaim ana
19 Kritik Sen terhadap Ca-bau-kan am at m encerahkan, saya kutip panjang
lebar di bawah ini. Ini merupakan ilm Indonesia pertama dalam lebih dari
setengah abad yang m enam pilkan tokoh utam a dari keturunan Tionghoa,
dan dimaksudkan untuk menggugat penghapusan atau penistaan terhadap
kelompok etnis ini.
Kom unitas bisnis Tionghoa, dan sepak-terjang m ereka… m engam bil porsi lebih
dari separuh ilm, ditampilkan secara umum sebagai korup, kejam dan kaya dengan
sedikit sekali empati terhadap penduduk Indonesia dan cita-cita nasional. Mereka
m enggadaikan diri kepada orang J epang untuk m em ajukan kepentingan individu
m ereka sendiri. Tiada yang berbeda dari gam baran seperti ini dari stereotip
kom unitas Tionghoa yang dituduh hidup tertutup dan m elakukan eksploitasi seksual
dan ekonom i kepada sebagian besar m asyarakat Indonesia. Tak ada satu pun tokoh
Tionghoa dalam ilm ini (bahkan termasuk tokoh utama) yang tidak korup, kejam,
dan kaya. Sedangkan orang pribum i digam barkan sebagai m akhluk norm al dalam
berbagai rentang sosial: orang m iskin, pelacur, tapi juga jurnalis yang penuh tekad,
pejuang yang berani, dan bangsawan J awa. (Sen 20 0 6: 181)
Dengan sedikit perbedaan, analisa saya (Heryanto 20 0 8a) m enegaskan
tem uan-tem uan Krishna Sen ini.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 237
saya sebutkan di tempat lain (Heryanto 2008a), beberapa ilm
yang lebih belakangan yang diedarkan sesudah Sen m enerbitkan
tulisannya pada 20 0 6, m em perlihatkan perkem bangan yang lebih
m em besarkan hati. Lebih dari sekadar m em perlihatkan kesadaran
menerima perbedaan etnis, kelas menengah muda Indonesia
di layar m aupun di luar layar tam pak lebih nyam an bercam pur
baur dengan orang beragam latar belakang etnis, bahasa, dan
kebangsaan; meskipun demikian kesenjangan antar-kelas mele-
bar dan sering luput dari perhatian banyak pihak. Solidaritas baru
antar-etnis sudah tam pak jelas di akhir 1990 -an (lihat Heryanto
1999b). Maka tak m engherankan apabila kerusuhan anti-Tionghoa
1998 m enim bulkan reaksi balik yang buruk, dikutuk oleh kelas
m enengah dan profesional non-Indonesia-Tionghoa yang m erasa
amat malu (Aguilar Jr. 2001: 53). Ini tak berarti prasangka atau
ketegangan rasial telah hilang sepenuhnya, sem entara publik
kini disibukkan oleh konlik antaragama (termasuk konlik
antar-sekte di dalam kom unitas Muslim , lihat Bab 2). Meskipun
demikian, dapat dikatakan bahwa sementara ketegangan rasial
mereda, hal itu jauh dari selesai, dan bisa muncul lagi dan meletus
jika pem icu yang tepat datang di waktu yang tepat di m asa depan.
Dekade pertam a abad ini juga m enyaksikan penam bahan
jumlah ilm bioskop yang belum pernah tercatat sebelumnya yang
mengambil cerita di daerah beratus kilometer dari ibu kota J akarta
dan menggambarkan kehidupan di daerah terpencil di mana para
tokohnya bicara dalam bahasa daerah, sehingga m em butuhkan
teks terjemahan ketika ilmilm ini diedarkan (Yuliawan 2012).
Namun, stereotip lama tentang baik/ buruk dan pusat/ pinggiran
m asih bertahan (Darm awan 20 12). Menurut hem at saya, peluang
untuk kritik yang efektif dan radikal terhadap cara pandang kolo-
nial dan esensialis di publik Indonesia tentang soal-soal di atas
menuntut kemampuan publik untuk mengenali sifat iktif etni
sitas, serta m enem ukan kem bali kekayaan dan kerum itan serta
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 238 Identitas dan Kenikmatan
kekacauan sejarah sosial Hindia Belanda pada awal abad ke-20
yang m engarah pada kelahiran bangsa Indonesia.
Etno-nasionalisme menobatkan Usmar Ismail untuk mewakili
cita-cita elitis dan nativis yang bertentangan dengan apa yang
mereka pandang sebagai dominasi oleh non-pribumi dalam
industri ilm dan komersialisme yang dipandang terwakili olehnya.
Nam un sebagaim ana dicatat sebelum nya di m asa-m asa paling
produktif dari karirnya, Usm ar Ism ail terlibat dalam pem buatan
ilm komersial. Menjelang akhir karir profesionalnya pada akhir
1960 -an, Usm ar Ism ail m enjadi orang Indonesia pertam a yang
memiliki klab malam (Purs 2013), bertentangan dengan dikotomi
yang dipaham i um um berdasar ras, antara pribum i/ non-pribum i
yang dianggap sam a dengan patriotism e/ kolonialism e. Sepan-
jang gegap gem pita perburuan anti-kom unis pada 1970 -an dan
1980 -an, penghapusan sum bangsih dari m ereka yang dicap Kiri
atau Tionghoa semakin digencarkan. Ini juga merupakan perio-
de pertumbuhan ekonomi dan pengembangan industri di selu-
ruh negeri, sementara industri ilm menikmati pertumbuhan
tetap yang m em bawa karya-karya sejum lah sutradara pribum i
m enjadi m engem uka, term asuk Am i Priyono, Sjum an Djaja, dan
Wim Um boh. Nam un m ereka m asing-m asing, juga Teguh Kar-
ya, m em iliki hubungan yang penting dengan orang Kiri m au-
pun Tionghoa, ataupun keduanya (Sen 20 0 6: 177). Upaya jang-
ka panjang untuk membersihkan sejarah ilm Indonesia dari
unsur-unsur yang tak dikehendaki, atau untuk m enciptakan atau
mencapai kemurnian dan keaslian keindonesiaan dalam ilm
nasional tidak pernah sukses. Tentu saja pertanyaannya bukan
kapan atau akankah proyek seperti ini di suatu m asa m encapai
tujuannya. Alih-alih, pertanyaannya adalah m engapa upaya ini
dianggap perlu sam a sekali? Sebagaim ana pendapat yang disam -
paikan dengan jernih oleh Setijadi-Dunn dan Barker, dengan
mengupayakan proyek eksklusi berdasarkan deinisi sempit me
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 239
ngenai siapa yang term asuk orang ‘Indonesia’ asli, dan im pli-
kasinya apa yang membentuk ilm Indonesia—kelompok etno
nasionalis Indonesia telah mengabaikan dan merongrong keka-
yaan sejarah ilm Indonesia itu sendiri (2010: 25).
Bab ini m enawarkan sebuah kritik terhadap pandangan tentang
ilm Indonesia sebagaimana dipahami secara resmi atau dalam
im ajinasi popular. Sem entara kritik ini m engkaji upaya yang tak
bisa dipertahankan untuk m enyangkal dan m enghapuskan peran
dan sum bangsih m ereka yang dicap sebagai ‘Eropa’atau ‘Tionghoa’
dalam pem bentukan industri ilm Indonesia, bukan niat saya
untuk sekadar m engem balikan m ereka yang disingkirkan kem bali
ke tem pat yang selayaknya dalam sejarah bangsa dan tradisi per-
ilmannya. Upaya semacam itu beda dari tujuan utama saya, karena
itu artinya berusaha m enghidupkan kem bali m asyarakat kolonial
beserta pem bagian rasial m ereka, sebuah ide yang secara ironis
telah m enggoda banyak warga Indonesia-Tionghoa di awal kerun-
tuhan Orde Baru pada peralihan abad dan m engarahkan m ereka
kepada serangkaian peng-tionghoa-an kegiatan-kegiatan mereka.
Sebagaim ana saya bahas di tem pat lain (20 0 8: 76-6, 90 ) juga di
awal bab ini, kajian kritis terhadap kasus Tionghoa di Indonesia
yang dihapus m erupakan satu langkah m aju untuk m engenali
sejarah yang lebih besar. Yang saya m aksud adalah sejarah
m asyarakat sepanjang dekade terakhir penjajahan Belanda, yang
m erupakan m asa yang diabaikan, terlupakan atau disangkal oleh
kaum nasionalis yang bersem angat di Indonesia m aupun oleh
peneliti asing. Ini m erupakan sejarah kebersam aan sosial yang
m engalam i transform asi m enuju m odernitas m elalui serangkaian
peristiwa yang rum it, penuh pertentangan, kegairahan, harapan
dan juga kekhawatiran, kejutan dan ketidakpastian. Itulah sejarah
yang menghasilkan iksi yang kuat bernama etnisitas.
Sem entara dinam ika m asyarakat terlalu rum it untuk diring-
kas di sini, saya hanya berharap m enutup bab ini dengan m eng-
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 240 Identitas dan Kenikmatan
garisbawahi dua hal dari uraian di atas yang relevan dengan bab ini.
Pertam a, m asyarakat kolonial Hindia Belanda bukanlah m asya-
rakat yang tersekat-sekat ke dalam tiga kelom pok berdasarkan
garis rasial (Eropa, Tim ur Asing, dan Pribum i) sebagaim ana di-
harapkan oleh pem erintah kolonial, dan dibayangkan orang
Indonesia berideologi kepribumian dan juga oleh para peneliti.
Produksi dan konsumsi ilm merupakan dua wilayah dan format
yang penting di m ana penduduk tanah jajahan m engalam i
getaran m odernitas industrial dan pertem uan kosm opolitan yang
melibatkan orang dari beragam latar belakang etnis, bahasa,
dan budaya, menyimpang dari iksi tentang ras dan pembagian
ras yang disahkan secara hukum . Dalam bidang ini nilai penting
dan keberlanjutan sum bangsih m ereka yang dilabeli secara rasial
sebagai ‘Tionghoa’ terhadap dinam ika m odernitas di kepulauan
ini layak m endapat penghargaan. Sum bangsih ini bukan sesuatu
yang sem purna tapi tetap penting bagi pem bentukan Indonesia
sebagai negara-bangsa yang m erdeka.
Kedua, pem bentukan bangsa Indonesia m erupakan bagian
dari proses dan sekaligus produk dari gejala universal sepanjang
kolonialism e Eropa di seluruh dunia. Sebaliknya, sebuah proyek
untuk memurnikan Indonesia dan ilm Indonesia dengan mem
bersihkannya dari berbagai unsur yang m em perkayanya (yang
selam a ini telah m enjadi bagian tak terpisahkan darinya), m eru-
pakan sebuah upaya untuk m em enggal sebagian tubuh sendiri,
jika tak bisa dikatakan bunuh diri. Dengan m enolak sifat kolektif
m ereka yang berbagi cita-cita untuk m enjadi setara dan bertekad
untuk mewujudkan cita-cita (atau kisah) tentang kebangsaan,
dan dengan membiarkan sebagian dari kebersamaan ini mem-
pertahankan hak istim ewa yang palsu, bencana m aut nyaris tak
terhindarkan. Sayangnya, sebagaim ana diperlihatkan dalam
bab sebelum nya, insiden tragis telah kerap terjadi, dan dalam
skala yang besar. Bab ini dan em pat bab sebelum nya telah m em -
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Minoritas Etnis yang Dihapus 241
perlihatkan bagaimana orang Indonesia terus bertarung dengan
soal-soal pem ecah belah bangsa ini. Dalam bab berikutnya,
kita akan kembali ke masa kini dan kemungkinan masa depan
sebagaimana dialami oleh kaum muda Indonesia dengan jasa
budaya layar pada awal abad ke-21
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Bab 7
K-Pop dan Asianisasi
Kaum Perempuan
BAB SEBELUMNYA berfokus pada sinem a. Pada dua bab berikut,
kita akan mempertimbangkan dinamika politik identitas dalam
cakupan budaya layar yang lebih luas, term asuk yang beredar
m elalui televisi, internet, dan ponsel. Dibandingkan dengan bab
sebelum nya, perhatian lebih besar akan diberikan kepada peran
dan sosok mandiri kaum perempuan dengan latar belakang kelas
m enengah perkotaan. Pada bab berikutnya, perhatian khusus
akan diarahkan kepada kelas bawah dalam politik jalanan. Budaya
pop Korea Selatan yang dikenal juga sebagai Gelom bang Korea
akan disebut berulang kali dalam pembahasan berikut. Namun,
bab ini tidak semata berniat memberikan sumbangan terhadap
penelitian yang sedang m enjam ur tentang Gelom bang Korea
atau pengaruhnya. Melainkan bab ini akan m elihat bagaim ana
kaum muda Indonesia mengambil peran dan posisi tersendiri,
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 244 Identitas dan Kenikmatan
dengan m em anfaatkan budaya populer dari Korea Selatan dan
beberapa negara tetangganya di Asia Tim ur. J enis m usik yang
terkenal dengan nam a K-Pop m erupakan bagian penting dari
sem ua gelom bang budaya ini. Untuk m enyingkatnya dan dem i
m udahnya, saya akan m enggunakan istilah K-Pop dalam judul bab
dan diskusi dalam bab ini sebagai acuan pada gejala Gelombang
Korea yang jauh lebih luas, beragam , dan rum it.
Tam paknya banyak orang Indonesia m enem ukan keasyikan
dari kegiatan menjelajahi dan mengungkapkan sebuah identitas
baru sebagai seorang Asia yang m odern dan kosm opolitan,
sedikitnya lantaran ham batan yang harus m ereka hadapi terkait
kekangan politik dan norm a-norm a m oral yang khusus dalam
konteks kesejarahan m asyarakat. Pada tahapan sejarah ini, im pian
seperti ini beririsan dengan politik identitas yang sedikit berbeda
tapi m asih berhubungan, yakni m erosotnya budaya m askulin
seiring jatuhnya pem erintahan m iliteristik Orde Baru, hasrat
seluruh bangsa untuk mencari model alternatif untuk menjadi
laki-laki dan perem puan di Indonesia m odern (Clark 20 10 ; Nilan
20 0 9), m enebalnya perasaan kebebasan dan kepentingan di antara
sebagian kelas menengah baru dalam mengejar tren global dalam
budaya konsum en (Gerke 20 0 0 ; Heryanto 1999b; van Leeuwen
20 11), berkurangnya secara m encolok ketegangan ras terhadap
m inoritas Tionghoa (Bab 6), dan kebangkitan islam isasi (Bab 2
dan 3).
Bab ini dibangun berdasarkan pustaka terkait yang sudah ada,
dan secara besar-besaran diperkaya oleh penelitian lapangan pada
tahun 20 0 9-11, term asuk pengam atan terlibat di beberapa acara
yang dikelola oleh kelom pok penggem ar, dan wawancara dengan
beberapa puluh perempuan muda di kota-kota di J awa Timur
dan J awa Barat. Kebanyakan yang kam i (saya dan tiga asisten
saya) wawancarai dan am ati adalah m ahasiswi berusia 18 hingga
30 tahun; yang lain sejumlah sarjana dan kaum professional
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 245
yang baru m em ulai karirnya. Pada sebuah acara kum pul yang
diselenggarakan oleh penggem ar m usik Korea, salah seorang
asisten saya m ewawancarai nenek berum ur 77 tahun yang datang
dengan cucunya yang m asih rem aja. Mereka sam a-sam a punya
kaitan emosional dengan para bintang artis itu, dan sama-sama
m engikuti perkem bangan berita tentang K-Pop di seluruh dunia.
Beberapa konsum en budaya populer Asia Tim ur yang diwa-
wancarai untuk buku ini terdiri dari perem puan yang bekerja dan
mengaku bahwa mereka kesulitan mencari waktu untuk tetap ber-
hubungan dengan teman-teman mereka dan memuaskan hasrat
m engikuti serial televisi terbaru atau berita tentang bintang televisi
pujaan m ereka. Berbeda dari m ereka, kelom pok perem puan yang
lebih m uda– kelom pok yang m enjadi fokus buku ini– m em iliki
waktu dan tenaga berlim pah serta jaringan penggem ar lokal yang
luas untuk membentuk kelompok di kota mereka atau jaringan
m aya lintas-negara yang m enjadi tem pat m ereka berbagi catatan,
klip suara, dan video.
Di luar perbedaan-perbedaan tersebut, baik perem puan yang
sudah bekerja m aupun yang lebih m uda m em iliki ciri serupa
sebagai anggota kelas menengah: pendidikan perguruan tinggi,
daya beli m enengah untuk hiburan, dan kiblat transnasional
dalam konsum si dan gaya hidup. Banyak dari perem puan pekerja
pernah m enjadi penggem ar budaya pop Asia Tim ur pada saat
m ereka kuliah. Maka, kajian yang lebih dekat terhadap kegiatan
serta ekspresi kelom pok yang lincah, enerjik, dan m uda berguna
untuk m em aham i aspirasi yang lazim di antara kelom pok kelas
m enengah ini, yang telah m enjadi target industri hiburan. Tak
seperti m ayoritas perem puan pekerja, yang m enikm ati dram a
Korea um um nya dalam lingkaran privat yang kecil, para penggem ar
yang lebih m uda patut m endapat perhatian khusus lantaran hasrat
m ereka yang kuat untuk m engungkapkan sentim en kolektif secara
terbuka, baik secara lokal maupun transnasional.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 246 Identitas dan Kenikmatan
Lebih dari sekadar m enyelenggarakan kum pul-kum pul sesam a
m ereka, penggem ar m uda m enarik perhatian khalayak di ruang
publik pada jam-jam puncak keramaian untuk memperlihatkan
identitas yang baru m ereka adopsi ini dan m erayakan kenikm atan
mereka.1 Tingkah mereka lebih dari sekadar adegan teriakan
penyam butan saat m ereka m elihat kedatangan artis di bandara
atau di aula pertunjukan, sebagaimana terjadi pada penggemar
idola m usik pop di Barat dan di m ana pun di seluruh dunia. Secara
khusus, bentuk yang paling khas dari tindakan para penggem ar
K-Pop di awal abad ini m eliputi lom ba m enyanyi (dalam Bahasa
Korea), “cover dance” yakni tarian yang m eniru para idola m ereka
(termasuk pakaian, potongan rambut, koreograi kelompok
m usik idola hingga rinci), atau lash mob, yakni penam pilan
pertunjukan tari dadakan di pusat perbelanjaan. Berdasarkan
riset tentang penggem ar K-Pop di Indonesia pada tahun 20 10 ,
J ung melaporkan
Para penggemar ini bekerja sama menciptakan-ulang teks dan
gam bar, lalu m enyebarkan isi yang m ereka ubah itu…Meniru tarian
m erupakan salah satu bentuk kerja sam a penggem ar yang paling
um um ditem ui di dunia. Istilah ‘cover dance’ biasanya berarti satu
versi dari lagu yang dinyanyikan oleh seorang artis yang berbeda dari
penyanyi aslinya. Nam un, dalam kasus kegiatan penggem ar, istilah itu
m engacu pada satu versi nyanyian atau tarian yang ditam pilkan oleh
penggem ar…Di Thailand, beberapa kelom pok yang m endedikasikan
1 Siriyuvasak dan Shin m enggam barkan gejala serupa di seluruh Asia sebagai
sebuah “industri [yang] telah m enciptakan…idola-idola laki-laki untuk dikon-
sum si kaum perem puan m uda” (20 0 7: 124). Sebagaim ana rekan-rekan m ereka
di Indonesia,
Perempuan-perempuan Thailand tidak lagi malu-malu dalam mengungkapkan
hasrat seksual m ereka m elalui “idola yang dikhayalkan”. Nam un, pada kenyataannya,
m ereka am at pem alu dan kebanyakan dari m ereka tak bisa berdansa m engikuti m usik.
Mereka tak pernah m engungkapkan diri di ruang publik kecuali untuk m enyam but
idola m ereka di bandara atau di konser. Biarpun m enahan rasa m alu, sungguh luar
biasa perempuan dari latar belakang sosial ekonomi kelas menengah Thailand bisa
m enem ukan pem bebasan m elalui K-Pop dan Asian-pop.
(20 0 7: 124)
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 247
diri untuk m eniru kelom pok idola K-Pop m ereka telah m endapatkan
popularitas di YouTube dan m enjadi pesohor kecil tersendiri.
(20 11: 4.2)
Tindakan seperti ini belum pernah ada sebelum nya di Indonesia,
dan m ungkin di m ana saja di dunia “[D]i tahun 20 10 , lebih dari
120 acara K-Pop yang diselenggarakan penggem ar diadakan, ter-
m asuk kum pul penggem ar dan festival pop Korea dan konser”
(J ung 20 11: 2.2).2
AS IAN IS AS I
Salah satu konteks lebih luas dari diskusi berikut adalah menguat-
nya kesadaran ‘KeAsiaan’—sebuah ranah yang lebih luas dan
lebih tua ketimbang pemujaan terhadap KPop—yang telah me
nyuburkan berkem bangnya m inat di kalangan para sarjana. Walau
K-Pop sedang m arak pada saat buku ini sedang ditulis, bab ini
mempertimbangkan konteks sedikit lebih luas dan dapat disebut
sebagai ‘asianisasi Asia’, ‘intra-/ inter-Asia’, atau m om en-m om en
‘trans-Asia’(Chua 20 0 4, 20 0 8; Iwabuchi 20 0 2a; Otm azgin 20 0 7).
Gejala ini m engacu secara longgar pada bertum buhnya m inat di
kalangan orang-orang yang lahir dan dibesarkan di Asia pada
sebagian dari kehidupan sosial di wilayah Asia yang lain. Gagasan
asianisasi ini tak berarti m enyiratkan sebuah kesadaran proyek
lokalism e atau regionalism e yang puritan. Beberapa m aha-
siswa yang diwawancarai untuk buku ini dengan tegas m enolak
jika dikatakan bahwa kecintaan m ereka terhadap K-Pop berkait
dengan latar belakang m ereka sebagai sesam a orang Asia. Salah
seorang dari m ereka secara langsung m enyatakan bahwa m ereka
2 Penggem ar Michael J ackson atau Beyonce Knowles m ungkin akan terkesim a
oleh nyanyian dan tarian artis pujaan m ereka, tapi penggem ar jenis ini tidak
didom inasi oleh satu jenis kelam in. Mereka tidak m enyelenggarakan rangkaian
pesta atau lom ba m eniru nyanyian dan tarian idola m ereka dalam sebuah
acara kum pul-kum pul, yang diselenggarakan secara teratur, atau m engunggah
rekam an video kegiatan itu di internet.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 248 Identitas dan Kenikmatan
m encintai boy band favorit m ereka, dan bukan boy band lain dari
Asia, karena m usik m ereka “yang terbaik, juga bagaim ana penam -
pilan m ereka di panggung dan klip video m usik, serta kom unikasi
yang bersahabat dengan penggem ar”. Beberapa lagi yang diwa-
wancarai mengaku, sekalipun amat mencintai bintang-bintang
Korea pujaannya, m ereka juga secara teratur m enikm ati budaya
populer dari Bollywood atau produksi lokal dengan m uatan Islam .
Ketim bang m elihat proses ini sebagai ‘de-Westernisasi’ Asia
dalam pengertian yang sem pit, asianisasi m elibatkan sebuah per-
ubahan penting serta pengolahan ulang apa yang sebelum nya
dianggap secara stereotip sebagai ciri-ciri budaya Barat. Lebih
banyak orang Asia, khususnya yang tinggal di perkotaan, m uda,
dan terpelajar yang m endom inasi ruang publik, sedang m eng-
alihkan keterpesonaan mereka ke arah representasi lewat media
m assa dari sesam a orang Asia yang telah ter-barat-kan. Sekalipun
tiada cara untuk m engukurnya secara objektif atau secara kuan-
titatif, m eningkatnya popularitas produk-produk yang berwajah
atau bersuara Asia di Asia berhubungan—sekalipun tidak eks
klusif, setidaknya sebagiannya—dengan indikator global yang do
m inan, dan resep kecantikan dan kenikm atan, yang ujung-ujung
produksinya dapat dilacak secara um um bersum ber pada industri
hiburan Am erika.
Dengan kata lain, unsur budaya populer ‘Barat’ selalu terkan-
dung dalam pergeseran sosial dan kultural yang diacu dalam
analisis ini sebagai ‘asianisasi’. Pergeseran ini tidak m ewakili per-
ubahan dari satu entitas tunggal kepada entitas tunggal lainnya.
Alih-alih, gagasan tentang ‘asianisasi’ m engacu pada sebuah
perubahan penekanan pada unsur-unsur terpilih dalam sebuah
gugus budaya lintas-nasional yang tercam pur baur dan terus ber-
ubah. Maka dari itu, sebagaim ana halnya seperangkat gagasan
biner yang telanjur kuat tapi berm asalah dan telah didiskusikan di
bab sebelum nya (‘Tionghoa’ versus Indonesia ‘asli’), istilah-istilah
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 249
seperti ‘Tim ur’ atau ‘Asia’ atau ‘Barat’ dalam pem bahasan berikut
ini jangan dipahami sebagai sesuatu yang material ataupun isik
dan mengacu pada benda, lokasi, maupun orang-orang atau ciri
tertentu. Sem ua ini adalah kosa-kata yang hanya punya nilai se-
m antik dalam bahasa m utakhir. Yang disebut sebagai ‘Barat’,
m isalnya, m engacu pada arti yang beragam tentang hal-hal dan
orang-orang dalam atau dari kehidupan sosial yang didom inasi
oleh orang kulit putih di Am erika Utara, Eropa Barat, dan Aus-
tralia. Untuk m udahnya, saya akan m enanggalkan tanda kutip
ketika memakai kata-kata ini untuk keseluruhan bab ini.
Untuk pertam a kali pada abad ini, Barat tiba-tiba tidak lagi
m enjadi satu-satunya pusat kiblat konsum si budaya populer di
Indonesia, dan m ungkin secara lebih luas lagi di berbagai wilayah
Asia lainnya. Musik populer Amerika dan ilm Hollywood tentulah
masih amat berpengaruh. Namun mereka tak lagi secara eksklusif
memegang tampuk kekuatan dominan, sebagaimana pada abad
sebelum nya. Dalam dekade yang sam a, yang sering dijuluki
sebagai ‘Abad Asia’, kita tak lagi m endengar dikotom i ‘Tim ur ver-
sus Barat’ sebagai kerangka pikir atau kiasan yang diobral da-
lam diskusi publik, menandai perubahan penting dalam jalinan
kekuasaan transnasional.3 Nilai penting perubahan diskursif ini
perlu ditekankan, terutama bila diingat bagaimana dikotomi
‘Tim ur versus Barat’ m enjadi kunci bagi diskusi publik sepanjang
sejarah dekolonisasi wilayah ini hingga akhir abad lalu ketika
para pem im pin politik di Malaysia dan Singapura m engajukan ide
esensialis ‘Nilai-nilai Asia’.
Sebagaim ana disebutkan dalam bab sebelum nya, pertukaran
antar-wilayah dalam kerja produksi dan kegiatan konsum si
3 Sebagaimana disarankan dalam Bab 2, hanya di kalangan Islamis yang militan
dan m usuh-m usuh m ereka di Washington, London, J akarta, atau Canberra
kita bisa m enem ukan reinkarnasi dikotom i ‘Tim ur versus Barat’ atau ‘Islam
versus Barat’ atau berbagai turunannya yang sejenis.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 250 Identitas dan Kenikmatan
hiburan populer dalam bentuk yang m odern bukan m erupakan
hal yang sam a sekali baru untuk Asia Tenggara atau di m ana pun
di dunia. Hibriditas m enjadi ciri produksi dan konsum si budaya
di wilayah ini, dan sudah ada sejak perkem bangan m odernitas dan
teknologi yang m em fasilitasi lajunya m obilitas dan m ekanism e
produksi industri hiburan pada tahun-tahun akhir abad ke-19.
Beberapa ahli telah m elacak asal-usul pokok soal yang m enarik
ini—dengan pusat perhatian pada apa yang sekarang disebut
sebagai Indonesia—dalam seni pertunjukan (Cohen 2006, 2009;
Winet 2010), ilm (Biran 1976), dan fotograi (Strassler 2008).
Musik populer India (David 2008) dan ilm India (Biran 1976)
sangat digemari sepanjang pertengahan abad ke-20 . Film silat
dan ilm sejarah dari Hong Kong, Taiwan, dan Tiongkok, sebagai
m ana telenovela dari Am erika Latin m enem ukan banyak sekali
penggem ar yang penuh antusias sepanjang dekade 1970 -an dan
1980 -an ketika Indonesia di bawah pem erintahan Orde Baru.
Dalam dua dekade berikutnya, komik, mainan, ilm animasi,
m usik populer, dan dram a televisi sem uanya dari J epang berjaya
di Asia dan tem pat lain di dunia (Iwabuchi 20 0 2a; Otm azgin 20 0 7,
20 0 8). Mereka juga m enyihir generasi pertam a orang Indonesia
yang lahir sesudah siaran televisi berubah dari m esin propaganda
negara menjadi industri swasta dengan sejumlah besar program
hiburan yang m enarik bagi kelas m enengah yang baru tum buh,
juga bagi para pengiklan. Di m ilenium yang baru, peningkatan po-
pularitas yang pesat m usik, dram a televisi, dan video-gam es dari
Korea di seluruh wilayah (lihat Shim 20 0 6; Shim , Heryanto, dan
Siriyuvasak 20 10 ; Siriyuvasak dan Shin 20 0 7) term asuk Indonesia
(lihat Merdikaningtyas 20 0 6; Setijadi 20 0 5), hanya m erupakan
satu dari sejumlah perkembangan terbaru dalam sejarah panjang
arus budaya lintas-wilayah.
Para analis cukup cepat menanggapi sukses kilat industri hi-
buran Korea Selatan, khususnya di negara-negara tetangganya di
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 251
Asia Tim ur, sekalipun gejolak penggem ar m ereka di Asia Tenggara
dapat dianggap cukup hebat. Banyak kajian terkait penerim aan
transnasional terhadap budaya pop Asia Tim ur di negara-negara
Asia lain, yang berfokus pada ibu kota negara atau kota-kota
industri lainnya (m isalnya Chua 20 0 4; Otm azgin 20 0 7; Siriyuvasak
dan Shin 20 0 7). Berbeda dengan kajian-kajian itu, sebagian besar
analisis tentang situasi yang sam a di Indonesia m engkaji kasus-
kasus di luar J akarta, term asuk di banyak pusat kebudayaan dan
kota-kota yang tak terlalu industrial. Ida m enyelenggarakan pe-
nelitian lapangan di Surabaya (20 0 8); Merdikaningtyas (20 0 6)
dan Pravitta (20 0 4) m em buat penelitian di Yogyakarta. Sem en-
tara itu Setjiadi (20 0 5) m em asukkan responden yang tinggal di
J akarta, juga di Bandung dan Medan. Tinjauan terhadap pustaka
yang ada tentang subjek ini berada di luar lingkup bab ini, yang
lebih m em usatkan perhatian secara khusus pada pentingnya
sosok dan peran perempuan muda perkotaan di Indonesia masa
kini berhadapan dengan tiga konteks yang spesiik: konsolidasi
bersinam bungan kelas m enengah, sentim en anti-Tionghoa yang
sudah berusia seabad (lihat Bab 6), dan islam isasi yang terjadi
belakangan ini dan belum pernah sehebat sekarang (lihat Bab 2).
Setiap konteks akan didiskusikan bersambungan di tiga bagian
berikut.
Posisi kelas para penggem ar K-Pop m em ang penting di selu-
ruh wilayah Asia, nam un persoalan rasial dan religius yang akan
didiskusikan di bawah ini membedakan kasus Indonesia (dan
m ungkin di negara tetangga Malaysia) dari tem pat-tem pat lain di
Asia Tim ur. Stereotip, berdasar etnis atau yang lain-lain, selalu
menjadi bagian dari kehidupan kita di seluruh dunia. Sekalipun
banyak orang di Indonesia yang sadar bahwa Tiongkok, J epang,
Hong Kong, dan Korea Selatan m erupakan negara-bangsa yang
berbeda-beda, orang yang tak dikenal di ruang publik dengan
tampang oriental biasanya diidentiikasi sebagai keturunan
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 252 Identitas dan Kenikmatan
Tionghoa, dengan segala stereotip yang akrab dilekatkan kepada
kelom pok etnis tersebut. Beberapa predikat untuk m ereka ini
adalah pekerja keras, kaya, terikat erat pada kelom poknya, opor-
tunistik, kurang sopan, berselera rendah, dan kurangnya patriot-
ism e.4 Dalam bab sebelum nya, kita telah m elihat bagaim ana
sastra dan ilm lokal telah menentang stereotip seperti ini ber
sam a dengan pem belaan yang lebih besar bagi etnis m inoritas
serta pencabutan kebijakan dan hukum yang diskrim inatif. Meski
dem ikian, sangat keliru jika kita m erem ehkan budaya populer
dari Asia Tim ur dalam m em bantu m engurangi stereotip seperti
ini. Tak seperti produk dom estik, produk-produk budaya Asia
Tim ur datang ke Indonesia dalam gelom bang besar yang terjadi
terus m enerus selam a lebih dari satu dekade, dengan m engalirnya
berbagai ilm, drama televisi, pertunjukan panggung, dan video
m usik yang m erajalela di m edia sosial, serta tersedianya DVD
bajakan di mana-mana di pusat perbelanjaan dan di pinggir-
pinggir jalan di kota besar.
Bisa dibilang, toleransi yang lebih besar terhadap etnis m ino-
ritas Tionghoa bukan hal yang sepenuhnya baru dalam sejarah
Indonesia. Sem ua itu m irip dengan Indonesia pra-1965, ketika
ketegangan rasial bisa terjadi sewaktu-waktu tapi tanpa dukung-
an resm i dari negara atau pernyataan m enghasut dari pejabat
negara sebagaimana kerap didengar pada masa pemerintahan
Orde Baru. Yang lebih baru dan m em ukau adalah fenom ena
terkait K-Pop yang dapat diam ati di antara kaum m uda Muslim ,
4 Serupa dengan itu, terdapat pula seperangkat stereotip yang berbeda untuk
orang kulit putih, atau m ereka yang berkulit gelap. Am at lazim bagi orang
Indonesia untuk mengacu pada orang kulit putih sebagai Bule atau Londo,
bentuk singkat dari Belanda, bekas penjajah. Atribut yang dilekatkan kepada
m ereka um um nya: m odern, rasional, kaya, Kristen, berpikiran liberal, dan
individualistik. “Londo yang ada dalam pikiran populer, um um nya m ereka
yang tampil dalam ilm Hollywood atau serial televisi. Im aji tentang m ereka
amat kerap direproduksi lewat iklan, ilm dan industri hiburan” (Heryanto
1999b: 162).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 253
khususnya kaum perem puan. Kebanyakan penggem ar K-Pop la-
hir dan dibesarkan di masa puncak islamisasi. Mereka harus men-
dam aikan dua hal yang tam pak bertolak-belakang: ketakwaan
beragama dan tekad kuat untuk menjalankan disiplin terhadap
diri sendiri dan ketaatan terhadap kesalehan di satu sisi, dan di
sisi lain m erayakan kenikm atan konsum erism e duniawi yang
sudah menjadi gejala global. Dalam Bab 2 dan 3, kita telah melihat
kecenderungan serupa, di m ana post-Islam ism e budaya berhasil
merujukkan komitmen untuk menjadi Muslim modern di satu
sisi, dengan m enjadi seorang yang trendi dan bergaya dalam gaya
hidup konsumen dan terkomodiikasi ala Barat. Yang akan kita
lihat berikut ini tidak sepenuhnya berbeda, karena budaya populer
dari Asia Tim ur m engadopsi dan m engadaptasi dalam jum lah
besar unsur-unsur budaya populer Barat. Nam un ada beberapa
perbedaan penting yang akan dirinci di bawah ini.
Di lapis perm ukaan, pengaruh K-Pop terhadap ketegangan
etnis yang ada selam a ini tam pak tak berhubungan dengan per-
tum buhan post-Islam ism e budaya yang saya sam paikan dalam
Bab 2. Yang m enjadi kesam aan dari dua gejala ini adalah per-
ubahan-perubahan yang m endasar yang terjadi di Indonesia
belakangan ini, yaitu konsolidasi lintas-etnis yang tengah ber-
langsung (Bab 6), m enguatnya sosok m enengah perkotaan, aspi-
rasi kultural dan m oral m ereka, serta gaya hidup dan etos yang
baru. Proses ini telah terjadi beberapa dekade sebelum nya seperti
yang pernah saya tulis di tem pat lain (Heryanto 1999b), dengan
selingan interupsi, seperti gejolak rasial yang m eletus saat per-
ubahan rezim pada tahun 1998 (lihat Bab 6). Perubahan sosial
ini juga m endorong tum buhnya post-Islam ism e budaya (Bab 2
dan 3), dan menjelaskan sambutan antusias terhadap ilm Ay at-
Ay at Cinta (20 0 8, Bram antyo). Sebagaim ana disebutkan da-
lam bab sebelumnya, ilm ini memberikan sebuah representasi
yang telah lam a dinantikan di Indonesia pada m asa pergantian
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 254 Identitas dan Kenikmatan
abad: seorang Indonesia rajin yang berasal dari latar belakang
keluarga sederhana dengan ketakwaan dan kesadaran moral
tanpa kompromi, sekaligus juga menjadi seorang kelas menengah
Asia serta m am pu m endam aikan teks Islam klasik dan gaya hidup
serta konsum si global yang didom inasi Barat. Post-Islam ism e
seperti ini populer baik untuk laki-laki maupun perempuan, dan
ini berbeda dengan apa yang akan kita bahas, yaitu sosok dan
peran kaum m uda perem puan yang m enam pilkan diri m ereka di
ruang publik sebagai tanggapan terhadap K-Pop.
KELAS MENENGAH MUDA PEREMPUAN
Meskipun m ayoritas penggem ar K-Pop adalah perem puan, para
analis telah memahami perbedaan penting dalam pola peneri-
maan dan respons di antara para penggemar ini berdasarkan usia,
jalur profesi, dan kelas. Misalnya, kajian Yang (20 0 8) m enem u-
kan perbedaan antara perempuan kelas pekerja dan perempuan
kelas menengah terdidik di Taiwan dalam hal penerimaan serta
tanggapan m ereka terhadap dram a televisi Korea. Perem puan kelas
pekerja um um nya m enyam but nilai-nilai pedagogis dalam sifat
berbakti dan pekerjaan dom estik yang digam barkan lewat dram a
televisi, sem entara kelas m enengah terdidik m elihat program yang
sama semata-mata sebagai hiburan dan kenikmatan, atau untuk
pem utakhiran inform asi gaya hidup dan petunjuk untuk m em beli
barang-barang mahal. Di tempat lain, Ida (20 0 8) juga menemu-
kan perbedaan penting antara dua kelas penonton dram a televisi
Taiwan, Meteor Garden (lihat di bawah) di Surabaya.
Sekalipun produk populer Korea Selatan telah m endom inasi
persebaran budaya populer Asia Tim ur sejak awal 20 0 0 -an, pro-
duk-produk dari beberapa negara tetangga (J epang, Tiongkok, dan
Taiwan) juga m em ainkan peran yang besar. Tentu di Indonesia,
dan di tem pat lain, produk budaya pertam a yang m em ecahkan
rekor tertinggi, yang berada dalam rangkaian gerbong arus m asuk
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 255
budaya Asia Tim ur, bukanlah berasal dari Korea. Saya m engacu
pada serial dram a Taiwan Meteor Garden (Liúxīng Huāyuán)
(20 0 1). Asal-usul transnasional Meteor Garden m em berikan
banyak hikm ah. Diedarkan pada tahun 20 0 1, serial ini dibuat
berdasarkan m anga J epang Hana Yori Dango (1992) karya Yoko
Kam io yang banyak m endapat penghargaan. Hingga kini, tak ada
dram a televisi kom ersial lain yang m am pu m enandingi sukses
penjualan Meteor Garden di Indonesia. Keberhasilan di tingkat
internasional mendorong para produser untuk segera membuat
lanjutannya (Meteor Garden II) pada tahun 2003. Perlu sekitar
dua tahun sebelum cerita m anga J epang diangkat dalam versi
serial televisi J epang. Sekalipun keduanya tidak benar-benar gagal,
tak ada satu pun yang m am pu m eraih popularitas atau kesuk-
sesan kom ersial seperti seri pertam a Meteor Garden. Versi Korea
serial ini diproduksi tahun 20 0 9 dengan judul Kkotbodanam ja,
atau lebih dikenal dengan Bahasa Inggris-nya Boy s Over Flow er.
Ketika itu, K-Pop telah m endom inasi pasar Indonesia, m enyusul
sukses m ereka di tahun sebelum nya lewat beberapa seri seperti
Endless Love: Autum n in My Heart (20 0 0 ), W inter Sonata
(20 0 2), Sum m er Scent (2003) dan Spring W altz (20 0 6), dan Full
House (2004).
Pada awal tahun 2003, para bintang Meteor Garden J erry
Yan, Vaness Wu, Ken Chu, dan Vic Chou berkunjung ke Indonesia
sebagai anggota kelom pok boy band Flower Four atau yang lebih
dikenal sebagai F4. Kedatangan m ereka m em buat heboh rem aja
perem puan yang berteriak-teriak m enyam but m ereka di bandara.
Perilaku ini mengundang perhatian para wartawan dan analis,
antara lain karena kebanyakan dari m ereka tidak pernah m elihat
hal seperti ini sebelum nya, atau dalam waktu yang sudah lam a.
Adegan di bandara juga kontroversial karena terjadi pada saat
perhatian media massa nasional terpusat pada debat seputar
protes publik terhadap rencana pemerintahan Megawati untuk
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 256 Identitas dan Kenikmatan
m enaikkan tarif listrik, bahan bakar m inyak, dan sam bungan tele-
pon. Bahkan, terjadi dem onstrasi m assa ketika F4 tiba di J akarta.
Banyak kom entator yang m elihat kedua peristiwa itu secara
hitam putih, menggambarkan bahwa penggemar F4 merupakan
perwakilan dari anak-anak manja tak tahu malu dari kelompok
kaya yang tak m em iliki kepekaan terhadap kesulitan yang sedang
dihadapi m ayoritas penduduk yang tak m am pu. Yang tersebut
belakangan ini didukung oleh jurnalis dan para kelas menengah
aktivis dan kaum m uda perkotaan yang lebih sadar politik, sebagai
bagian dari oposisi yang lebih besar kepada pem erintahan.
Dalam kesem patan lain saya sudah m endiskusikan bagaim ana
kontroversi yang berpusat pada kelas m enengah terkait kedua
peristiwa yang berbeda di J akarta tersebut (Heryanto 20 10 b: 227-
8). Kontroversi itu gagal m elihat peristiwa lain yang terkait pada
tingkat m asyakarat yang lebih rendah, khususnya di J awa, yang
segera mengubah perdebatan publik tentang integritas bangsa,
m oralitas, dan industri seni pertunjukan. Yang saya m aksud adalah
‘Inul-m ania’(tergila-gilanya penggem ar penam pilan dangdut Inul
Daratista) yang m elanda m asyarakat m iskin pada periode yang
sama. Pada pertengahan tahun 2003, media nasional menemukan
Inul dan m engubahnya sehingga ia m enjelm a m enjadi ikon bu-
daya. Inul, bergantung siapa yang m enilai, dapat dilihat sebagai
contoh dekadensi m oral yang m engancam bangsa (khususnya
ketika sedang mengalami islamisasi secara sungguh-sungguh)
atau ungkapan baru (dalam konteks lebih luas di Indonesia pasca-
otoritarianism e) tradisi lam a untuk m erayakan seksualitas kaum
perempuan di beberapa komunitas etnis di Indonesia.
Inul m enyebabkan kepanikan m oral yang harus ditekan. Sen-
sualitasnya terbukti kelewat cabul untuk selera budaya dan sen-
sibilitas moral kelas menengah di Indonesia dan negara-negara
tetangga. Ia jelas tidak term asuk dalam jagad Meteor Garden.
Karena ia terlalu penting untuk dilupakan dan terlalu liar untuk
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 257
diabaikan, maka elite bangsa ini kemudian secara resmi mela-
rang pertunjukannya di wilayah m ereka, sem entara yang lain
m engusulkan undang-undang antipornograi kepada parlemen.
Perdebatan seputar Inul m encapai kelokan yang radikal ketika
industri hiburan melihat peluang keuntungan besar dengan ber-
investasi pada penam pilannya di stasiun televisi nasional, dan
m engubahnya m enjadi bintang pop baru sesudah ia diperm ak dan
tariannya dijinakkan (untuk rinciannya, lihat Heryanto 20 0 8b).
Bagi banyak kelas m enengah perem puan urban, perselisihan poli-
tik ini tidak relevan dengan m inat utam a m ereka, yaitu untuk m e-
m anjakan kenikm atan m elahap budaya populer dari Asia Tim ur.
Sebagaimana akan diperlihatkan di bawah ini, bertentangan
dengan pandangan para kritikus yang m erem ehkannya pada tahun
2003, drama televisi populer dari Asia Timur tidak sematamata
berfungsi m em prom osikan nikm atnya m enjadi konsum en pasif
terhadap barang m ewah dan gaya hidup tertentu. Salah satu ciri
utam a yang um um nya ada dalam dram a televisi seperti ini adalah
penggambaran dan pemuliaan etika kerja keras kapitalistik, sikap
rajin, dan kegigihan, khususnya di antara para tokoh perem puan
yang m em im pikan kem erdekaan ekonom i dan kesetaraan gender.
Ciri ini jelas sekali absen dari kebanyakan ilm populer dan drama
televisi di Indonesia. Sekalipun pencapaian personal dan ekonom i
melalui pendidikan tinggi menjadi ciri dominan di banyak ilm
islami pasca1998 (lihat Bab 2 dan 3; Sasono 2010: 57), dengan
beberapa kekecualian, aspirasi seperti ini nyaris selalu dim iliki
oleh tokoh laki-laki dalam m asyarakat yang jelas tidak setara
secara gender.
Meteor Garden m enceritakan kisah cinta antara Shan Cai
dan Dao Ming Tse, dengan segenap kerumitan dan anak-cerita
tam bahan berupa kisah cinta yang m elibatkan tokoh lain. Tokoh
perem puannya, Shan Cai, datang dari latar belakang keluarga
yang sederhana. Sem entara itu, Dao Ming Tse anak m anja yang
berasal dari keluarga kaya raya, m enjadi pem im pin geng sekolah
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 258 Identitas dan Kenikmatan
yang ditakuti, yakni “F4”. Keem patnya diidolakan, sekaligus
ditakuti karena kekayaan, ketam panan, dan kebiasaan m ereka
dalam mengganggu rekan sekolah. Hubungan antara Shan dan
Dao m erupakan contoh ekstrem dari daya tarik yang bertolak
belakang. Di luar kekayaan m ereka yang am at kontras, Shan sam a
keras kepalanya dengan Dao. Nam a Shan, sebagaim ana ia sam -
paikan kepada penonton dalam satu adegan, berarti “tanam an
yang tak boleh diinjak-injak”. Ketika m em bela tem annya yang
sempat berbuat salah pada Dao, dan kemudian mendapatkan
pem balasan yang kasar, Shan berulang-ulang m enjadi objek risak
dari F4 dan tem an-tem an sekolahnya yang bertindak atas nam a
F4. Ketim bang pasrah terhadap serangan dan hinaan itu, Shan
sendirian melawan. Dalam satu adegan, ia menjotos Dao hingga
jatuh ke tanah!
J alan cerita mulai berbelok dan menjadi menarik ketika kita
kem udian paham bahwa Dao suka pada Shan. Ternyata, kekeras-
kepalaan Shan m enjadi sum ber daya tariknya. Yang m engejutkan
Dao, dan semua yang ada dalam cerita ilm itu, Shan menolak Dao
mentah-mentah. Penolakan ini memperdalam hasrat Dao untuk
menaklukkan dan memiliki Shan dengan segala cara, termasuk
dengan m em perm alukan dirinya sendiri di hadapan um um dan
m em bahayakan reputasinya sebagai cowok paling perkasa di se-
kolah. Akhirnya, sesudah m elalui berbagai upaya yang panjang
dan melelahkan, Dao berhasil menaklukkan hati Shan. Namun,
di luar ketertarikan mereka satu sama lain, hubungan mereka
riuh rendah oleh pertengkaran tak berujung, yang m enim bulkan
banyak adegan lucu bagi penonton. Sepanjang hubungan asm ara
Shan dan Dao, keduanya tetap m em elihara harga diri m asing-
masing dan dengan keras kepala terus saja menekan rasa suka
mereka satu sama lain.
Sepanjang cerita, Shan tetap memelihara kepribadian seba-
gai seorang pekerja keras, bertekad kuat untuk memelihara
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 259
kehorm atan pribadi dan keluarganya. Dem i sem ua itu, ia harus
menahan diri dari godaan menikmati pahala secara mudah,
terutam a bila hal itu berkait dengan hubungannya dengan Dao.
Sekalipun akhirnya m enerim a cinta Dao, Shan tak pernah tertarik
menerima limpahan hadiah dan keuntungan material karena
berpacaran dengan pem uda kaya itu, sekalipun ada desakan
dari keluarga Dao dan keluarga Shan sendiri agar ia menerima
hadiah-hadiah itu. Sedemikian kokoh kesadaran pribadi gadis itu
akan latar-belakang ekonom inya yang sederhana. Kesenjangan
ekonom i yang m em bedakan Shan dan Dao m enjadi duri yang
m engancam hubungan m ereka, ketika ibunda Dao tak hanya
keberatan terhadap hubungan mereka, tetapi juga menghina
Shan. Sem entara unsur Cinderella com plex bisa tercium dalam
kisah ini, Shan tetap bertahan sebagai seorang tokoh yang patut
dikagum i integritas dan kekuatannya, serta sikapnya yang tak
pantang m undur, yang m em buatnya tak bisa disam akan begitu
saja dengan Cinderella.
Seperti Meteor Garden yang berkisah seputar kehidupan
sehari-hari dan cinta remaja sekolah menengah, komedi percek-
cokan juga mendominasi hubungan romantis antara dua orang
dewasa yang sam a-sam a keras kepala dalam Full House (20 0 4),
sebuah hit besar dari Korea Selatan. Tokoh-tokoh dalam serial
ini memelihara tekad untuk bekerja keras dan menahan diri,
serta m em endam perasaan m ereka yang sejati satu sam a lain.
Dalam satu dari tetralogi paling terkenal dari Korea Selatan
Endless Love (sudah disebutkan di atas), ada kisah yang am at
berbeda nuansanya. Di sini, kom binasi kelem butan dan sendu
memadati jalan cerita tentang pasangan heteroseksual dewasa
yang m engungkapkan cinta m ereka yang m atang dan lem but
dengan cara-cara yang halus. Selain hal itu, yang terus m enerus
m uncul dalam berbagai dram a televisi yang paling populer di
dalam dan luar Indonesia, adalah pengekangan diri yang luas
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 260 Identitas dan Kenikmatan
biasa dari para tokohnya, beriring dengan peragaan gaya hidup
m ewah di beberapa adegan. Ham pir sem ua responden yang diwa-
wancarai untuk buku ini m engukuhkan studi sebelum nya bahwa
daya tarik utam a produk budaya ini terletak pada adegan-adegan
pem andangan alam dan perkotaan yang indah, serta penam pilan
aktor tam pan dengan gaya hidup yang trendi.
Tentunya tak ada kaitan yang m enghubungkan m aupun m em -
pertentangkan dua unsur yang berbeda dari seri televisi ini: antara
tekad bekerja keras, sifat rajin, dan ketekunan di satu sisi dan, di
sisi lain, sikap konsum tif m em anjakan diri yang m elim pah dengan
gam baran serba indah, keanggunan, dan kem ewahan yang tam pil
dalam gaya hidup para tokoh kaya. Keduanya tak terpisahkan satu
sam a lain, sebab napas kapitalism e hanya bisa bertahan dengan
mengandalkan pada kecenderungan dan keseimbangan antara
kegiatan produktif dan konsum tif. Dem ikian pula, kedua hal itu
punya hubungan sebab-akibat. Tak sem ua tokoh yang bekerja
keras dalam dram a televisi akhirnya hidup berlim pah kekayaan.
Tak juga sem ua yang bekerja keras m elakukan hal itu dengan niat
untuk m enjadi kaya. Tak sem ua tokoh yang kaya tam pak bekerja
lebih keras ketim bang yang kurang kaya. Melalui dram a televisi
populer ini kita bisa m em peroleh gam baran kuat apa artinya
bagi perempuan muda untuk bertahan di tengah tekanan sosial
m asyarakat kapitalis Asia yang tengah m engalam i industrialisasi
pesat. Sekalipun gaya hidup yang nyam an dan cinta yang rom antis
penting dan m enjadi idam an, perhatian utam a dram a televisi ini
terpusat pada soal lain.
Kisah cinta tam pak dalam dram a televisi Asia Tim ur ini dan
kerap menjadi kerangka bagi keseluruhan jalan cerita. Namun,
tak seperti drama Indonesia, pikiran atau ungkapan sentimental
tidak m enjadi pokok persoalan. Alih-alih, penonton diundang
untuk m engikuti perjuangan yang rum it dan m elelahkan sang to-
koh perem puan yang bertekad m em enangkan berbagai pertem -
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 261
puran akibat budaya patriarkal, sebagai warga negara kelas dua
akibat jenis kelam in m ereka, pada saat Asia sedang berubah
pesat m enuju m asyarakat industrial kapitalistik. Tantangan-tan-
tangan ini mencakup persaingan gencar di sekolah dan tempat
kerja; tekanan berat dari keluarga (um um nya dari generasi le-
bih tua), tem an dekat dan kom unitas; beriring dengan alotnya
tawar-menawar tradisi usang, dan berjuang dengan persoalan-
persoalan kesehatan. Pada pertemuan berbagai tekanan dari
berbagai konteks, para tokoh perempuan memperlihatkan kom-
binasi yang m engagum kan yaitu strategi bertahan hidup dan
mencapai keberhasilan: ketekunan, kesabaran, pengekangan diri
ketim bang reaksi yang agresif. Dalam kajiannya tentang Muslim
perem puan di J awa, Sm ith-Hefner m encatat kecenderungan baru
yang m encolok di Indonesia: 95 persen m em prioritaskan ke-
amanan pekerjaan dan kemandirian keuangan ketimbang perni-
kahan—aspirasi yang sama diungkapkan oleh orangtua bagi anak
perem puan m ereka (Sm ith-Hefner 20 0 7: 412).
Dalam banyak dram a seri ini, ketika krisis m encapai puncak-
nya dan tokoh utam anya sedang berada dalam keadaan sedih atau
marah luar biasa, kita sering melihat adegan panjang tanpa kata
dan tanpa gerak, ketimbang ledakan emosi sebagaimana mudah
ditemukan dalam ilm Indonesia maupun Hollywood. J elas bahwa
penggambaran berulang-ulang aspirasi milik tokoh perempuan
dan strategi non-konfrontatif m ereka diterim a dengan baik oleh
m ayoritas kelas m enengah perem puan perkotaan di Indonesia
dan negara-negara tetangga. Terlebih lagi, serial drama ini lebih
sering berakhir dengan kebahagiaan tokoh utam a. Kerja keras,
kesabaran, dan ketekunan para tokoh ini berbuah pahala—bisa
dianggap ini untuk m enyenangkan para penonton. Kesetaraan
gender, pada taraf menengah dan perlahan meningkat secara
bertahap, tam pak seperti janji sejati atau ilham yang berkilau bagi
penggem ar dram a televisi.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 262 Identitas dan Kenikmatan
Tentunya, kerja keras, ketekunan, dan hasrat untuk im balan
m aterial m erupakan hal yang universal dalam m asyarakat kapi-
talis, dan ditam pilkan sebagai sesuatu yang alam iah dalam ber-
bagai kisah iksi dan noniksi. Yang menonjol dalam drama tele
visi Asia Tim ur ini adalah penolakan berulang-ulang atau peng-
ungkapan alternatif hubungan satu sama lain. Pekerjaan bukan
hanya cara untuk m endapatkan im balan ekonom is dan kem an-
dirian; bahkan tak ada jaminan bahwa pekerjaan menjamin kedua
hal tersebut. Dalam dram a televisi dari Asia Tim ur ini, kerja keras
dan pengekangan diri ditampilkan sebagai suatu kebajikan moral
dalam dirinya sendiri ketim bang sebagai cara untuk segera m eraih
imbalan sebagai hak. Dapat dipahami, bagi banyak penonton ilm
Indonesia yang nyata m aupun yang potensial, kebajikan kerja
keras dan pengekangan diri memiliki landasan keagamaan pula.
Dengan dem ikian, ini m erupakan sebuah penyim pangan yang luar
biasa dari pola yang selam a ini diajukan oleh kisah yang sudah
diakrabi penonton dari berbagai sumber dan berbagai masa,
m isalnya Hollywood, yakni kerja keras dan sengaja m enunda
kenikm atan pahala kerap m uncul sebagai syarat tidak enak tetapi
perlu untuk mendapatkan imbalan material di kemudian hari.
Masih perlu diteliti lebih jauh apakah dan sampai sejauh
mana perempuan muda kelas menengah perkotaan tertarik ter-
hadap dram a televisi kontem porer dari Asia Tim ur karena alas-
an-alasan yang saya sebutkan di atas. Masalah ini terkait per-
debatan pada awal tahun 20 0 0 -an m engenai tesis ‘kedekatan
budaya’ untuk m enjelaskan m engapa konsum en budaya populer
di Indonesia mengalihkan kesetiaan mereka dari produk-produk
Am erika Utara dan Eropa Barat ke Asia Tim ur (lihat Setijadi
2005; Iwabuchi 2002a: 1304; Otmazgin 2007). Perdebatan ini
terlalu rum it untuk kita bahas di sini. Berikut ini, saya hanya
ingin m encatat beberapa pengam atan sebagai tanggapan saya ter-
hadap hal itu. Mungkin perlu untuk ditekankan kembali bahwa
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 263
Asia tidak pernah m enjadi satu benda yang seragam dan ber-
ada secara terpisah dari bagian dunia lainnya. Para pengkritik
tesis kedekatan budaya m engingatkan kita bahwa tidak sem ua
produk budaya dari Asia dapat ditem ui atau m enjadi populer
di seluruh wilayah Asia. Lee (2009: 1313) berpendapat bahwa
K-Pop populer tidak hanya di wilayah Asia Tim ur yang didom inasi
Konfusianism e, tetapi juga di beberapa wilayah yang didom inasi
Katolik di Am erika Latin, serta di negara-negara m ayoritas
Muslim . Lee lebih jauh berpendapat bahwa bahkan di wilayah
yang didom inasi Konfusianism e di Asia Tim ur, aspek dan unsur
yang berbeda dari K-Pop m enarik perhatian m asyarakat di negara
yang berbeda. Lebih penting lagi, banyak orang Korea, juga para
analis di sana, yang beranggapan bahwa K-Pop tidak sepenuhnya
m ewakili kebudayaan Korea. Beberapa produk ini dianggap “anti-
Konfusianism e” (Shin 20 0 9: 514). Seperti halnya produk dalam
industri budaya populer kontem porer, K-Pop am at blasteran atau
hibrid dan transnasional. “Bagi banyak agen bintang-bintang
Korea, ketiadaan karakter pem beda khas telah m enjadi faktor
yang disengaja dalam m em asarkan produk m ereka ke luar negeri”
(Maliangkay 20 10 : 6).
Di sisi lain, menarik untuk ditengok mengapa popularitas
K-Pop terkuat ditem ui di berbagai bagian Asia (Utara, Tim ur Laut,
dan Tenggara) bila dibandingkan dengan wilayah lain. Upaya un-
tuk m em asarkan m ereka di Am erika dan m asyarakat ‘Barat’ lain-
nya tidak terlalu sukses (Choe dan Russell 20 12; Shin 20 0 9).5
Maka tesis kedekatan budaya m em iliki argum en yang tak bisa
dibuang begitu saja, tapi membutuhkan semacam tinjauan-ulang
dan perbaikan. Bagian yang kerap digugat para pengkritik tesis
kedekatan budaya adalah istilah ‘budaya’ ketim bang ‘kedekatan’.
5 Lihat pula Iwabuchi (20 0 2b) yang m em bahas sejum lah kecil kasus suksesnya
upaya m em perluas budaya populer J epang ke pasar Am erika Serikat.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 264 Identitas dan Kenikmatan
Tesis ini ada benarnya apabila yang dim aksud dengan ‘budaya’
adalah arena pertarungan dan seperangkat praktik pemaknaan
di dunia yang ditandai oleh hubungan-hubungan kekuasaan yang
tak imbang secara material dan non-material, ketimbang gagasan
usang m engenai budaya sebagai suatu sistem nilai yang statis dan
tak berubah, pandangan dunia serta cara hidup yang dim iliki oleh
suatu kelom pok sosial yang terbatas.
Yang meresahkan saya adalah logika dasar tesis kedekatan
budaya itu sendiri. Dalam sejarah budaya populer, hal yang asing
dan jauh dapat menjadi sumber daya tarik, sama halnya dengan
hal yang akrab dan dekat. Sebagaimana telah ditunjukkan se-
belumnya (dan dikukuhkan oleh banyak responden yang kami ta-
nyai selama penelitian lapangan), aktor tampan, potongan rambut,
pakaian dan rumah yang bergaya, pemandangan indah, serta san-
tapan merupakan sebagian dari daya tarik utama bagi para peng-
gemar drama televisi Asia Timur ini. Dapat dikatakan semua hal
itu memukau para penonton, justru karena asing dan bukan bagian
dari kehidupan sehari-hari para penonton itu.6 Namun tak seperti
rekan sebangsa mereka yang jauh kurang beruntung, orang muda
kelas menengah ini tahu, atau yakin, bahwa gaya hidup seperti ini
tidak sepenuhnya di luar jangkauan mereka di masa depan.
Bagi sebagian dari m ereka, m enjadi penggem ar setia K-Pop
tidaklah m urah. Pada tanggal 27-29 April 20 12, Super J unior
(boy band K-Pop paling populer di Indonesia) m em ecahkan rekor
tampil selama tiga malam berturut-turut di sebuah tempat per-
6 Kim Seong-kon, seorang profesor Sastra Inggris pada Seoul National University
m eletakkannya dalam sebuah wawasan yang sederhana tapi m engena: “K-Pop
m erupakan cam puran dari berbagai budaya, Korea dan Barat. Mungkin budaya
hibrida Tim ur dan Barat ini yang m enarik bagi orang m uda di berbagai negara.
Mereka dengan m udah m enyam but K-Pop karena aspek-aspek kehidupan
Baratnya sudah m ereka akrabi. Sem entara pada saat yang sam a m ereka
terpesona oleh unsur-unsur yang eksotik dan asing yang juga bisa ditem ukan
di KPop” (2012: 39).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 265
tunjukan di J akarta. Setiap m alam , sebanyak 8.0 0 0 tiket terjual
dengan harga mulai dari 50 0 ribu rupiah hingga dua juta rupiah
(Tobing dan Budiartie 20 12: 69). Angka yang belakangan itu lebih
besar ketimbang upah pekerja minimum di J akarta waktu itu
(Rp1.529.150 ) yang besarnya sudah dua kali lipat dibandingkan
daerah-daerah term iskin di Indonesia, dan nyaris m endekati
pendapatan rata-rata bulanan nasional.7 Tidak sedikit orang
kaya Indonesia m elakukan perjalanan ke luar negeri untuk m e-
nonton pertunjukan idola mereka secara langsung (Sianipar
20 10 ). Dalam salah satu acara kum pul-kum pul yang kam i da-
tangi, yang diselenggarakan oleh dan untuk penggem ar K-Pop
di J akarta (bulan J uni 20 10 ), ratusan peserta m enjawab dengan
sem angat sebuah survei yang diadakan oleh sebuah perusahaan
penyelenggara acara. Survei itu bertanya, m ereka ingin grup
Korea apa yang datang berkunjung ke Indonesia untuk m eng-
adakan pertunjukan langsung dan kisaran harga tiket yang rela
m ereka bayar untuk m enonton pertunjukan seperti itu. Keba-
nyakan m enjawab pertanyaan yang kedua dengan angka sekitar
20 0 ribu hingga satu setengah juta rupiah.
Debat tentang kedekatan budaya tak akan berlalu seluruhnya
dari diskusi lanjutan di antara penggem ar setia K-Pop dan para
analis m ereka. Ketim bang m enyelidiki soal ini lebih jauh, pada
bagian sebelum nya saya telah m encoba m em bahas pertanyaan
lain yang tak kurang pentingnya yaitu posisi kelas para penggem ar
tersebut. Posisi kelas mungkin lebih penting ketimbang derajat
kedekatan budaya atau peradaban penggem ar dengan Asia Tim ur.
Tak peduli berapa jauh dan luas KPop— atau musik ragam lain—
7 Badan Pusat Statistik (2013) memperkirakan Pendapatan Nasional Bruto
pada tahun 2012 sebesar Rp30.516.670. Menurut Bank Dunia pada bulan
Maret 2013 “lebih dari 32 juta orang Indonesia saat ini hidup di bawah garis
kemiskinan dan kira-kira separuh rumah tangga tetap berada di sekitar garis
kemiskinan dengan pendapatan sekitar Rp20 0 .262 per bulan.”
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 266 Identitas dan Kenikmatan
berjaya di pasar dunia, m ereka akan dikonsum si dan dim aknai
secara berbeda di antara para penggemar setia mereka karena
beberapa alasan. Bertolak dari posisi kelas, dalam bagian berikut
saya ingin m em bahas bagaim ana penggem ar K-Pop m enyam but
konteks kesejarahan yang khusus pasca-otoritarianism e, ber-
kurangnya ketegangan rasial dan kebangkitan Islam ism e dan
p ost -I sla m ism e.
H IBRIDITAS R EM IX
Dalam Bab 2 saya m engajukan pendapat bahwa baik Islam ism e
maupun post-Islamisme mengalami momentum pertumbuhan
yang belum pernah ada bandingannya. Keduanya terjadi m enyu-
sul runtuhnya rezim m iliter yang telah lam a berkuasa, yang m e-
ninggalkan kekosongan rongga kekuasaan yang besar di berbagai
bidang, term asuk dalam ranah m oral dan budaya. Bisakah m om en
yang sam a ikut m enjadi penyebab derasnya perm intaan terha-
dap budaya populer dari Asia Tim ur di Indonesia, sebagaim ana
pada kasus K-Pop? Sun J ung (20 11: 4.22) berpendapat dem ikian.
Ia m enyodorkan kesejajaran dalam perubahan sosial dan politik
besar-besaran yang terjadi di Tiongkok, Vietnam , dan Indonesia
serta kekosongan budaya yang m enyusulnya ketika K-Pop hadir
di negara-negara tersebut. Dari sudut pandang ini, ia melihat
populernya cover dance (tarian tiruan) di antara para pengge-
m ar m uda di Indonesia sebagai sebuah “upaya untuk m ende-
konstruksi representasi gender yang norm atif, yang pada gilir-
annya m em perkuat konstruksi fem ininitas baru di Indonesia”
(J ung 20 11: 4.18). Saya beranggapan pandangan tersebut m asuk
akal, tapi kesejajaran yang dibahasnya tidak lebih dari itu. Dalam
bagian terakhir bab ini, saya ingin m endiskusikan lebih jauh
kekhasan sejarah kasus Indonesia dengan melihat bagaimana de-
m am K-Pop bertem u dengan sentim en anti-Tionghoa dan islam -
isasi pasca-Orde Baru.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 267
Dalam sebagian besar abad ke-20 , tampang oriental atau
segala atribut ketionghoaan lain dianggap sebagai beban dalam
kehidupan publik di Indonesia. Sem entara kebanyakan orang
Indonesia mengenal ada perbedaan bangsa Tiongkok, J epang,
atau Korea Selatan, kesadaran ini cenderung lenyap dari kehi-
dupan sehari-hari dan ditaklukkan oleh prasangka yang kerap
bercampur dengan persepsi. Dengan kehadiran etnis Tionghoa
yang dianggap berm asalah dalam politik nasional Indonesia,
mudah bagi banyak orang untuk mengidentiikasi atau mengang
gap bahwa setiap orang asing yang bertam pang oriental di ruang
publik atau di media massa sebagai Tionghoa. Hingga kejatuhan
Orde Baru pada tahun 1998, kaligrai Cina sama sekali tak tampak.
Sebagaim ana dibahas di bab sebelum nya, bahasa dan aksara Cina
dilarang. Orang Indonesia-Tionghoa jarang tampil sebagai tokoh
dalam kisah iksi produksi lokal (lihat Bab 6). Ketika sesekali
ditampilkan dalam acara televisi atau ilm, mereka tampil secara
karikatural dan kasar. Sem uanya berubah pada dekade pertam a
abad ini, tak hanya dibuktikan dengan perayaan Tahun Baru Im lek
yang direstui oleh negara sesudah kejatuhan Orde Baru (lihat Bab
6), tetapi juga m engalirnya budaya populer J epang, Taiwan, dan
Korea Selatan setiap hari.
Pada tahun-tahun awal pem erintahan Orde Baru, warga
negara keturunan Tionghoa ditekan untuk mengganti nama dan
m em bayar untuk keperluan m endaftarkan “nam a Indonesia” m e-
reka, tetapi kemudian mereka didiskriminasi lebih jauh ketika
m em butuhkan pelayanan publik. Setengah abad kem udian,
banyak orang m uda penggem ar K-Pop dari berbagai latar bela-
kang etnis secara suka rela m engam bil nam a Korea, sekalipun
hanya iseng atau m ain-m ain. Banyak dari m ereka, term asuk
yang kam i wawancarai untuk buku ini, m enuliskan nam a Korea
m ereka dalam aksara Korea. Seorang perem puan etnis Tionghoa
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 268 Identitas dan Kenikmatan
m enjelaskan ia m em ilih nam a Korea karena ada kesam aan an-
tara penulisan aksara Cina untuk nam anya dan aksara Korea.
Dalam lingkungan liberal baru pasca-Orde Baru, kursus Bahasa
Mandarin m enjam ur bersam a dengan kursus Bahasa Korea.
Sem entara Bahasa Mandarin punya sejarah panjang sebelum
periode Orde Baru, Bahasa Korea m erupakan sesuatu yang baru,
begitu juga m eningkatnya m inat khalayak pada m akanan Korea,
ketertarikan pada pakaian tradisional dan kontem porer Korea,
serta popularitas Korea Selatan sebagai tem pat tujuan wisata.
Pada awal m asuknya budaya populer Asia Tim ur, perem puan
muda penggemar di Indonesia dikejutkan oleh persepsi mereka
sendiri tentang laki-laki bertampang oriental, karena mengalami
perubahan. Contohnya, dalam satu kajian beberapa penggem ar
perempuan mengaku terkejut ketika tahu bahwa mereka
m enyukai tokoh Dao Ming Tse (diperankan oleh J erry Yan) di
Meteor Garden: “tak biasanya kita m elihat cowok ganteng dalam
ilm Mandarin” (Pravitta 20045: 7). Dua responden dalam studi
yang sam a m engatakan m ereka tak m enduga bahwa tam pang
oriental dan kegantengan bisa ada pada satu orang. Pengamatan
Pravitta patut dikutip agak panjang:
Kekaguman terhadap igur Dao Ming Tse tidak sekedar mengubah
selera dalam memilih ilm, tetapi juga dalam memilih lakilaki.
Beberapa waktu yang lalu kita akan m enem ui kenyataan bahwa
sebagian besar m asyarakat pribum i m em iliki kecenderungan untuk
berjarak dengan warga etnis Cina, apalagi untuk urusan m em ilih pacar.
Sangat jarang terjadi seorang pribumi berpacaran dengan seseorang
beretnis Cina. Sangat jarang pula perem puan pribum i yang m enilai
laki-laki Cina dengan sebutan tam pan, keren, dan sebagainya. Sejak
Meteor Garden m eledak, perlahan-lahan kenyataan bergeser. Para
m ahasiswi m ulai m elirik laki-laki keturunan Cina dan m em unculkan
berbagai istilah, seperti cica (cina cakep), cihuy (cina uhuy ).
(20 0 4-5: 18-9)
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 269
Lebih dari satu abad, m odel dan artis bertam pang Indo telah
mendominasi peran ilm dan wajah dalam iklan di seluruh Indo
nesia, sebagai salah satu bekas koloni Eropa. Bahkan hingga tahun
2005 ketika seorang pembuat ilm paling terhormat di Indonesia,
Riri Riza m em buat Gie (sebuah ilm yang mengidolakan aktivis
mahasiswa legendaris Soe Hok Gie dan dianggap sebagai ilm
biopik politik paling berani) ia merasa harus memilih Nicholas
Saputra yang bertam pang Indo untuk m em ainkan peran utam a
sebagai Soe Hok Gie di ilm itu. Pada kurun waktu yang sama,
terjadi peningkatan permintaan artis dan model bertampang
Tionghoa sehingga tren ini menjadi topik untuk liputan utama
sebuah tabloid (Genie 20 0 5). Bersam aan dengan itu, Meteor
Garden menjadi topik pembicaraan sehari-hari orang biasa,
sam pai-sam pai ada bahasan lum ayan jauh tentang dram a televisi
itu dalam ilm komedi Indonesia, 30 Hari Mencari Cinta (2003,
Avianto) yang berkisah tentang tiga perem puan yang berlom ba
mencari hubungan romantis dalam waktu 30 hari. Dalam salah
satu adegan, salah seorang tokoh dalam ilm menyanyikan lagu
tema Meteor Garden.
Di luar segala hal di atas, saya m erasa perlu buru-buru m e-
nambahkan bahwa prasangka rasial atau ketegangan terhadap
etnis m inoritas Tionghoa tidak m enghilang. Kita tidak dapat
m enggeneralisir persepsi yang berubah terhadap etnis Tionghoa
ini berlaku bagi sem ua perem puan dalam m asyarakat secara na-
sional. Di Surabaya, Ida m enem ukan kom entar sinis seorang pe-
rem puan berum ur 29 tahun m engenai tergila-gilanya banyak
perem puan terhadap Meteor Garden: “Saya bertanya-tanya m e-
ngapa banyak perem puan yang suka pada cowok ini (Dao Ming
Tse) … Lucu, m ereka suka F4, tapi m ereka tetap tidak suka Cina
[di Indonesia]!... Mereka hanya suka melihat cowok Cina di TV”
(Ida 20 0 8: 10 6).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 270 Identitas dan Kenikmatan
Kegandrungan baru yang ditam pilkan secara m assal di depan
publik terhadap laki-laki bertampang oriental ini luar biasa;
sedikitnya karena hal ini terjadi dalam m asyarakat di m ana
sem angat anti-Tionghoa telah m enjadi arus yang m engalir dalam -
dalam di batin kehidupan berbangsa ini lebih dari satu abad, dan
belum lagi setengah dekade ketika negeri ini m enyaksikan salah satu
kekerasan massa paling mengerikan terhadap kelompok minoritas
ini (lihat Bab 6). Meski dem ikian, yang lebih m enakjubkan adalah
bagaim ana perem puan m uda Muslim dengan jilbab mereka—pada
puncak islamisasi—berlomba untuk menyambut idola oriental
non-Muslim . Di sini kita m enyaksikan bagaim ana politik identitas
di Indonesia telah mencapai sebuah tahap hibriditas baru. Untuk
m enggam barkan gejala um um ini, saya akan m engutip catatan
lapangan saya tertanggal 14 Novem ber 20 10 :
Evi (salah seorang asisten riset saya) dan Fadli (suam inya) m en-
jem put saya dari hotel dan kam i pergi ke pusat perbelanjaan Malang
Olym pic Garden untuk m enghadiri acara Hallyu Explosion 20 10 . Ini
adalah hari kedua dari acara yang berlangsung dua hari. Menurut
publikasi di lam an Facebook m ereka, sehari sebelum nya m ereka
m engadakan serangkaian penam pilan dadakan berom bongan (lash
m ob) di beberapa ruang publik paling sibuk di kota itu, meniru
penam pilan boy band terkenal Korea seperti DBSK, Super J unior,
dan SHINee. Pada hari kedua, mereka mempersiapkan sebuah
daftar acara yang sangat panjang, term asuk “Parade Tarian Tiruan
Kpop” dengan 33 penari dan 29 kelompok cover dance (tari peniru);
serangkaian kompetisi cover dance (solo, group, silang gender dimana
laki-laki berperan sebagai perem puan dan sebaliknya). Sem entara
pertunjukan berlangsung di panggung di satu ujung ruangan luas
pusat perbelanjaan, di bagian yang sam a dari ruang yang dilengkapi
penyejuk udara ini, terdapat kios untuk beragam pam eran, peragaan
atau kegiatan yang terdaftar di buku panduan berbahasa Inggris: Ko-
rean Food Festival, Goodies Center, Korean Culture corner, Korean
Traditional Fashion Corner, Korean W riting Tutorial, dan Studio
Hanbok. Seluruh kegiatan berlangsung dari pagi– sebelum kami
tiba– hingga lepas m aghrib– ketika saya sudah kelelahan. Diban-
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 271
dingkan dengan kegiatan serupa di J akarta atau Bandung yang
disponsori oleh kedutaan atau perusahaan Korea, kegiatan di Malang
ini sepenuhnya m enjadi tanggung jawab para penggem ar ini.
Pusat perbelanjaan Malang Olym pic Garden m erupakan pusat
perbelanjaan terbaru dan kedua terbesar di J awa Timur. Seperti di
Bandung, Malang terletak di ketinggian beberapa ratus m eter dari
permukaan laut dan lebih tinggi daripada kota-kota lain di negara
kepulauan ini, m enjadikannya sebagai kota yang m enarik bagi orang
lokal m aupun asing karena udaranya yang sejuk dan pem andangan
alam nya yang m enarik. Pusat Perbelanjaan Malang Olypm ic Garden
adalah sebuah bangunan yang dipaksakan secara vulgar terhadap
lingkungan sekitarnya yang pernah m enjadi salah satu bagian terbaik
dari tata kota warisan kolonial. Kawasan itu dulunya m erupakan
kawasan pem ukim an yang terpelihara dengan baik dan rindang
untuk orang kaya kota Malang, dengan ruang terbuka, barisan
lapangan tenis dan kolam renang. Penduduk setempat berbagi
kepada saya cerita yang lazim didengar di daerah bekas koloni
tentang bagaimana aparat negara menggunakan kekerasaan dan
paksaan untuk m em bungkam m ereka yang m enentang penggusuran
pedagang kecil dan pembangunan pusat perbelanjaan itu.
Ketika kam i tiba di lokasi acara, kam i m elihat arus perem puan
m uda yang baru tiba m enuju pintu m asuk. Harga tanda m asuk 20
ribu rupiah; dan para kontestan harus m em bayar lim a kali lipat
untuk ikut serta dalam kom petisi. Lebih dari sekali Evi m engatakan
kepada saya, apa yang paling istim ewa tentang para penggem ar ini
adalah jarak yang m em isahkan m ereka dengan kontak langsung dari
artis yang m ereka idolakan. Evi m em bandingkan dengan penggem ar
yang tinggal di J akarta yang pernah m elihat, setidaknya turut serta
dalam perbincangan radio dengan beberapa artis Korea, produser
atau m anajernya. Penggem ar K-pop di kota di J awa Tim ur ini harus
sepenuhnya m engandalkan sum ber kedua atau ketiga, dan angan-
angan mereka sendiri tentang idola mereka itu. Sekalipun begitu, di
acara kumpul-kumpul ini, mereka menjadi begitu ceria dan bergairah
seakan-akan artis-artis Korea itu benar-benar hadir di situ.
Tak seperti Evi (seorang perem puan m uda Muslim berjilbab)
yang m engejutkan saya (seorang pengam at non-Muslim yang lebih
tua) adalah besarnya kerum unan ini, sebagian besar m ereka adalah
perem puan m uda Muslim berjilbab yang m enjadi anggota panitia
penyelenggara, dan juga para tam u. Lebih dari seribu orang di sana,
lebih dari 90 persennya adalah perem puan di akhir usia belasan
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 272 Identitas dan Kenikmatan
dan awal 20 -an tahun. Lebih dari separuh m em akai baju Muslim
dan kepala m ereka ditutup jilbab. Di panggung, banyak perem puan
yang m enari dan m enyanyi dengan sem angat diiringi m usik yang
m enggelegar dari pengeras suara bertegangan tinggi. Beberapa
dari perempuan ini berpakaian minim, beberapa memakai pakaian
Muslim dan jilbab. Beberapa pengunjung m engantri di “Hanbok
Studio”, bergantian m em akai pakaian tradisional Korea (Hanbok)
yang tersedia untuk disewa dari lem ari jinjing di sudut. Kem udian
m ereka berpose dengan gaya yang dianggap khas Korea sem entara
teman mereka memotret berkali-kali dengan menggunakan telepon
genggam. Di latar belakang, ada beberapa gambar-latar memper-
lihatkan gam bar ukuran sesungguhnya bagian depan sebuah rum ah
Korea. Unsur non-Korea yang tam pak m encolok dalam penam pilan
perempuan-perempuan itu adalah jilbab mereka. Mereka memakai
baju Korea m enutupi pakaian m ereka, dan tetap m em pertahankan
penampilan jilbab mereka.
Di sisi lain ruangan itu, saya m elihat kerum unan perem puan
Muslim bertingkah dengan lebih seru. Gambar para bintang artis
Korea yang lebih besar dari ukuran sesungguhnya dipajang di sebuah
tiang yang m enopang langit-langit gedung. Kerum unan pengunjung
berjilbab bergantian berdiri di atas sebuah kursi di samping tiang
itu sehingga m ereka bisa cukup tinggi untuk m em eluk gam bar foto
itu, mengelus atau mencium pipi laki-laki di poster itu, sementara
teman mereka—juga berjilbab—mengambil rangkaian foto dengan
telepon genggam m ereka. Kem udian m ereka m em eriksa foto itu di
layar telepon genggam m ereka, cekikikan, berbagi kom entar dan
m engulang sesi foto atau pindah untuk m engam bil gam bar dengan
poster lain. Tak ada dalam ilm atau televisi Indonesia yang pernah
m enam pilkan adegan yang m enyerupai perilaku para perem puan
muda berjilbab ini. Jika ini muncul dalam ilm Indonesia, mungkin
banyak yang beranggapan hal ini tak m asuk akal, sem entara kelom -
pok konservatif tak diragukan lagi, akan bertindak dengan m arah.
Sejumlah studi kasus tentang Indonesia dan tempat lain mela-
porkan bahwa m inim nya kontak seksual antara tokoh pasangan
(heteroseksual) yang sedang jatuh cinta m enjadi salah satu alasan
disukainya dram a televisi Korea dan Asia Tim ur lainnya. Mereka
bahkan jarang berciuman, apalagi melakukan hubungan seks
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 273
sebelum atau di luar pernikahan, bahkan ketika mereka meng-
habiskan m alam bersam a di tempat tidur. Serial Meteor Garden
adalah salah satu contohnya. Perem puan Indonesia yang m e-
nontonnya berulang kali m enekankan faktor ini sebagai hal yang
m ereka horm ati dan puji (lihat Merdikaningtyas 20 0 6; Pravitta
20 0 4). Dapat dipaham i bila m ereka dapat m enolerir siaran televisi
Am erika yang m em uat adegan yang m enggam barkan hubungan
erotis atau yang m enyiratkan hubungan intim para tokohnya.
Penggam baran seperti ini hanya m enegaskan lagi persepsi um um
tentang pem bagian ‘Tim ur versus Barat’. Toleransi seperti ini
tidak berarti bahwa penonton kelas menengah Indonesia siap
mengidentiikasi diri dengan tokoh berpikiran liberal seperti itu,
sebagaim ana yang m ereka lakukan dengan tokoh yang m engekang
diri secara seksual dalam Meteor Garden. J ika pengandaian itu
berlaku, m aka tesis ‘kedekatan budaya’ datang m enghantui kita
lagi.
Sebelum ada yang m enelan m entah-m entah pandangan de-
m ikian, saya ingin m engajukan tiga sanggahan. Pertam a, Indo-
nesia merupakan negeri yang kaya akan ilm dan drama televisi
yang berpusat seputar perzinahan. Namun, berbeda dengan iksi
Amerika, kebanyakan ilm dan drama televisi Indonesia mem
perlihatkan tokoh perem puan jahat ketim bang yang baik seba-
gai pihak yang terlibat dalam aktivitas seksual di dalam cerita.
Kedua, ketelanjangan dan erotism e di panggung dan budaya
layar di m asyarakat Indonesia diterim a secara berbeda berdasar-
kan garis etnis, agama, dan kelas. Sebagaimana di tempat lain
di dunia, beberapa orang paling konservatif (secara m oral dan
ideologis) di Indonesia dapat ditemukan di kalangan kelas mene-
ngah.8 Sebagaim ana disebutkan sebelum nya, kasus pedangdut
8 Saya telah membahasnya di tempat lain (Heryanto 2003); lihat juga Heryanto
(1996, 1999b), Kahn (1996a, b), Lev (1990 ), Tanter dan Young (1990 ), dan
Wright (1987, 1989).
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 274 Identitas dan Kenikmatan
Inul Daratista dan penggem arnya yang berasal dari kelas bawah
m em bantah dan sekaligus m enggugat apa yang biasa diterim a
sebagai kelayakan dan kesantunan, sebagaimana dideinisikan
oleh kelom pok konservatif di negeri ini. Ketiga, sebaiknya kita cu-
kup bijak untuk tidak beranggapan, semua perempuan pengge-
m ar budaya populer dari Asia Tim ur tertekan secara seksual ke-
timbang penonton kisah iksi bergaya Hollywood. Kerap terjadi,
publik Indonesia terganggu oleh hasil survei yang m em perlihat-
kan tingginya kegiatan seksual pranikah di antara orang m uda
(lihat Heffner-Sm ith 20 0 9), term asuk di Yogyakarta di m ana
Merdikaningtyas (20 0 6) dan Pravitta (20 0 4) m enyelenggarakan
penelitian dalam kesem patan terpisah. Dalam kajiannya, Pravitta
(2004) memasukkan bagian (2004: 139) yang mendiskusikan
pengakuan fantasi seksual para penonton perem puan ini sesudah
m enonton Meteor Garden, m ulai dari m em belai hingga khayalan
berhubungan seks dengan karakter iktif Dao Ming Tse (2004:
16 - 7) .
Dalam sebuah studi tentang Muslimah muda terpelajar di
J awa, Nancy Sm ith-Heffner m em peroleh pengakuan dari banyak
di antara mereka bahwa mereka
kebingungan dan merasa cemas ketika pertama kali datang ke uni-
versitas dan m engalam i kebebasan dan keragam an yang berlebihan…
Bagi banyak perem puan m uda, kam pus m erupakan saat pertam a
kali m ereka hidup jauh dari rum ah. Kebanyakan perem puan yang
tinggal jauh dari rumah tinggal di kamar sewa atau tempat kost
dengan sesama mahasiswi lain.
(20 0 7: 40 1)
Dalam penelitian terpisah terhadap kelom pok yang sam a, Sm ith-
Heffner m enem ukan “bahwa sebagian besar dari m ereka hanya
menerima sedikit sekali, atau tidak sama sekali, panduan konkret
di sekolah atau dari orangtua mereka bagaimana berinteraksi
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 275
dengan lawan jenis” (20 0 9: 227). Bisa dim engerti, dalam suasana
yang m em bingungkan ini, para perem puan m uda ini m engam bil
langkah yang berbeda-beda. Beberapa dari m ereka m erasa
nyaman dan nikmat dengan ilmilm dan drama televisi yang
konservatif secara seksual m aupun politis dari post-islam ism e
yang sedang tumbuh (lihat Bab 3) atau dalam K-Pop, tanpa
harus m em bahayakan identitas keislam an m ereka. Sebagian lagi
menemukan kebebasan baru dan kenikmatan dalam jaringan
yang sedang tum buh di antara kelom pok-kelom pok penggem ar
dan kelom pok cover dance. Mereka yang lebih berjiwa ingin tahu
dan petualang mengeksplorasi lebih jauh dan mencoba-coba
batasan norm a baru yang diperkenankan. Tetap saja sebagian lagi
berkonsentrasi untuk mendalami tekad spiritual mereka untuk
menjadi lebih bertakwa (Rinaldo 20 0 8).
Dari berbagai penjelajahan identitas yang beragam itu, yang
secara visual paling m enarik dari penelitian lapangan saya adalah
seorang perem puan m uda berjilbab yang m enam pilkan nyanyian
dan tarian Korea di depan um um . Ketika beberapa dari m ereka
kam i tanya apakah m erasakan kejanggalan atau pertentangan
antara m enjadi seorang Muslim yang baik dan m enjadi anggota
aktif sebuah kelompok penggemar, mereka menjawab dengan
tegas “tidak”. Nam un, beberapa dari m ereka m engaku bahwa
kegiatan mereka telah menimbulkan keheranan dari sekitar
m ereka, dan m endatangkan kom entar tak m enyenangkan. Pada
pertengahan 1980 -an, ketika aktivis m ahasiswi m em akai jilbab
sebagai ungkapan pembangkangan politik, mereka menerima
ejekan dari anggota keluarga dan tem an-tem an dekat (Brenner
1996: 674-5). Tiga dekade kem udian, ketika berjilbab sudah
menjadi norma di kalangan Muslimah, beberapa Muslimah muda
ini kembali mengejutkan publik dengan menambahkan satu lapis
identitas dan pakaian di atas pakaian islam i m ereka. Lagi-lagi,
m ereka m enerim a cem ooh yang tak m enyenangkan.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 276 Identitas dan Kenikmatan
Bab ini telah m em perlihatkan sosok dan peran aktif perem -
puan m uda Indonesia dalam m enam pung budaya populer dari
Korea Selatan dan beberapa negara Asia Tim ur lainnya, dalam
upaya untuk m engeksplorasi dan m em bangun sebuah identitas
yang baru sebagai m anusia m odern dan kosm opolitan. Mereka
m elakukannya pada titik persim pangan sejarah yang khusus,
yang m em bedakan pengalam an m ereka dengan rekan m ereka di
kebanyakan tem pat lain di Asia atau di m ana pun di tem pat K-Pop
diterim a dengan hangat. Kasus Indonesia ini ditandai oleh ber-
m uaranya seperangkat faktor ke titik yang sam a: runtuhnya bu-
daya m askulin yang kuat m enyusul kejatuhan pem erintahan m i-
liter Orde Baru dan kekosongan ideologis dan budaya yang m eng-
iringinya; hasrat nasional untuk m encari m odel alternatif untuk
menjadi manusia Indonesia modern beriring dengan ekspansi
dram atis m edia baru dan jaringan sosial yang m em berdayakan
perempuan untuk mengonsumsi sekaligus memproduksi materi
tekstual, audio, dan visual dengan m udah di seluruh dunia; dan
terakhir, m enebalnya perasaan kebebasan di antara segm en
kelas m enengah baru untuk m engejar tren global dalam budaya
konsum en. Bab ini secara khusus m engam ati bagaim ana dem am
K-Pop di Indonesia dan asianisasi di Asia beririsan dengan warisan
ketegangan rasial terhadap etnis m inoritas Tionghoa (Bab 6) dan
kebangkitan islamisasi (Bab 2 dan 3).
Keseluruhan gam bar yang kita dapatkan dari diskusi di atas
m enyarankan satu tahap pem berdayaan perem puan m uda peng-
gem ar budaya populer dari Asia Tim ur, m eredanya prasangka
rasial dan ketegangan yang telah lam a m ewabahi kehidupan pu-
blik di Indonesia, dan sebuah bentuk baru hibriditas di kalangan
post-Islam is. Politik identitas dan kenikm atan yang digam bar-
kan sebelum nya ini dapat m engganggu kelom pok-kelom pok
konservatif yang dom inan di Indonesia m asa kini. Hal ini dapat
berkembang—atau tidak—menjadi sesuatu yang lebih besar dengan
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan 277
kemungkinan untuk menantang status quo. Namun, energi baru di
kalangan penggem ar K-Pop tak dapat secara pasti dianggap sebagai
tren atau gerakan politik yang progresif. Sebagaim ana telah saya
paparkan sebelum nya, kontroversi besar seputar Inul Daratista
(lihat juga Heryanto 20 0 8b) m enggarisbawahi bagaim ana dem am
K-Pop m erupakan tren di tengah kelas m enengah urban. Sem entara
anggota kelas m enengah yang lebih politis telah m engkritik K-Pop
mania, seperti diperlihatkan sewaktu kunjungan F4 pada tahun
2003, politik kaum yang memproklamasikan diri sebagai progresif
ini juga patut mendapat perhatian. Bab berikutnya—berfokus
pada politik jalanan dari mereka yang kurang beruntung—akan
mencoba untuk memperhatikan pokok tersebut.
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Bab 8
Dari Layar ke Politik Jalanan
BAB SEBELUMNYA m em aparkan bagaim ana gelom bang baru
budaya populer dari Asia Tim ur telah m em pesona kaum m uda kelas
m enengah perkotaan m elalui acara televisi, DVD, dan perangkat
telepon pintar. Bab terakhir ini m elihat bagaim ana m erasuknya
budaya layar ini berakibat dan dim anipulasi oleh kelom pok non-
elite, yang oleh para pengam at kerap disebut dengan sem ba-
rangan sebagai “m assa” dalam politik jalanan. Ilustrasi terbaik
fenom ena ini adalah pem ilu 20 0 9 di Indonesia, yang m erupakan
salah satu pem ilu terbesar di Asia. Untuk m elengkapi dan m eng-
imbangi anggapan umum tentang kekuatan media sosial di ma-
syarakat sebagai kekuatan pem berdayaan dalam m enjalankan
proses demokratisasi, bab ini akan memperlihatkan sisi gelap
wajah ganda teknologi media. Di satu sisi, teknologi media baru
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 280 Identitas dan Kenikmatan
m em berdayakan sebagian kehidupan sosial sehingga m engelabui
banyak pihak seakan-akan sem ua warga negara setara di hadapan
hukum . Di sisi lain, teknologi yang sam a dalam jalinan sosial
yang khusus, dapat m em bawa kepada ketidakberdayaan politik,
m em ecah-belah kom unitas dengan cara yang tak terduga. Dengan
sem akin cepat, m udah, dan m urahnya akses pada kom unikasi
yang intim dengan berbagai belahan dunia dalam waktu 7 kali 24
jam , orang lebih sering terasing dari tetangga di sekitarnya.
Sebelum nya, pada akhir Bab 5, saya m enyebutkan sebuah
ironi: tekanan dan propaganda Orde Baru yang gencar telah m e-
nyebabkan segarnya oposisi, propaganda tandingan, dan perla-
wanan terhadapnya. Sebuah pendekatan yang lebih halus untuk
mencapai dominasi dengan baju lain terbukti lebih jitu dalam
m enguras tenaga dan m elum puhkan gerakan politik progresif.
Misalnya, pada kasus di bawah ini, sedikit banyak karena m edia
lam a dan baru bagi budaya layar telah tersebar dengan baik,
m assa di Indonesia saat ini tam paknya tercerai dan dijinakkan
secara suka rela. Ini adalah situasi yang am at diinginkan tetapi
gagal dicapai oleh Orde Baru. Liberalisasi politik yang lebih luas di
m asyarakat tak selalu berarti pem berdayaan m assa.
Untuk keperluan perbandingan, satu bagian dari bab ini akan
menggambarkan dan menggarisbawahi beberapa watak menon-
jol perilaku m assa dalam politik jalanan di m asa Orde Baru ke-
tika budaya layar dikendalikan dengan ketat dan internet m asih
m erupakan hal yang baru. Dalam bagian berikutnya, saya akan
m enggarisbawahi perilaku m ereka satu dekade sesudah rezim itu
runtuh. Bab ini akan diakhiri dengan satu bagian yang m eninjau
pengaruh besar-besaran industri hiburan terhadap pemilu 20 0 9,
dengan kam panye yang m eniru form at acara televisi dan m assa
menukar partisipasi politik dengan penjinakan politik melalui
hiburan. Nam un, ada baiknya terlebih dahulu saya sam paikan di
bagian berikut ini, konsep Indonesia sebagai m asyarakat berkiblat
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co Dari Layar ke Politik Jalanan 281
kom unikasi lisan, untuk m em aham i perubahan sosial yang di-
analisa di bagian berikutnya.1
KEH IDUPAN BERKIBLAT KOMUNIKASI LISAN
Pada pertengahan Bab 4, ketika m endiskusikan popularitas pem -
buatan ilm secara independen, saya menyebut Indonesia seba
gai sebuah lingkungan sosial yang sangat kuat berkiblat pada ko-
m unikasi lisan. Ini yang m enjelaskan m engapa orang Indonesia
lebih peka menerima pesona gambar bergerak dan menjadi lebih
tanggap pada kam era video ketim bang m esin pengolah kata. Saya
akan menjabarkan gagasan ini lebih jauh lagi, karena ini amat
berguna untuk m em aham i apa yang tam pak di perm ukaan seba-
gai kegandrungan yang obsesif terhadap budaya layar m asa kini.
Indonesia secara resm i m em iliki tingkat m elek huruf yang tinggi
(di atas 90 persen). Namun di luar data statistik itu, angka resmi
itu mengacu pada kemampuan untuk mengenali—ketimbang
kecenderungan sebagian besar penduduk untuk menggunakan
secara maksimal—hurufhuruf dan angkaangka. Dalam bab ini,
penggam baran Indonesia sebagai m asyarakat berkiblat kom u-
nikasi lisan m enyiratkan rendahnya m elek huruf fungsional, yang
berbeda dengan m elek huruf nom inal yang diukur oleh statistik;
prioritas tinggi terhadap m ode kom unikasi yang cair, sesaat,
dan kolektif (ciri yang m enandai kom unikasi lisan) ketim bang
tindakan diam dan statis individu dalam m enulis dan m em -
baca rangkaian teks yang seragam . Gagasan Indonesia sebagai
m asyarakat yang berkiblat kom unikasi lisan diam bil dari sepe-
rangkat gagasan rum it yang asalnya bisa dilacak ke karya Marshall
1 Versi awal bab ini pernah terbit dengan judul “Entertainm ent, Dom estication,
and Dispersal: Street Politics as Popular Culture” dalam Problem s of Dem o-
cratisation in Indonesia: Elections, Institutions and Society , ed. Edward
Aspinall dan Marcus Meitzner (20 10 ), 181-98. Artikel tersebut ditulis ulang
dengan perubahan lum ayan penting dan diperbaharui dengan seizin penerbit
awalnya, Institute of Southeast Asian Singapore, http:/ / bookshop.iseas.edu.sg
pustaka-indo.blogspot.com
http://pustaka-indo.blogspot.co 282 Identitas dan Kenikmatan
McLuhan (1964). Lingkup bahasan dalam bab ini tidak m ungkin
m enam pung uraian lebih rinci tentang karya McLuhan,2 tapi
beberapa ciri utam anya perlu untuk digarisbawahi berikut ini.
Dibandingkan dengan m asyarakat lain yang lebih bergantung
pada kom unikasi tertulis, kebanyakan orang di Indonesia, ter-
m asuk para sastrawan dan sarjana, berbagi inform asi dan pe-
san penting m elalui kom unikasi tatap m uka. Kom unikasi begini
m em butuhkan kehadiran orang yang diajak bicara; m ereka
m engungkapkan diri m elalui kata-kata yang dituturkan, dan
terlebih lagi yang tak terucap, bahasa tubuh, dalam suasana ruang
dan waktu dalam sebuah interaksi yang ‘seketika’ (real tim e).
Orang luar yang bahasa ibunya am at m engandalkan kom unikasi
verbal, acap gagal untuk m em aham i gaya kom unikasi seperti
ini. Dalam m asyarakat berkiblat kom unikasi lisan, kehidupan
sehari-hari cenderung berwatak kom unal, dengan hanya sedikit
saja ruang pribadi atau privasi.3 Seluruh ciri ini dapat dibedakan
dengan m asyarakat yang lebih bergantung pada tulisan, di m ana
pemisahan mendasar antara penulis, teks, dan pembaca, dengan
otonom i m asing-m asing dirayakan secara luas. Sedangkan akurasi
serta kepercayaan pada objektivitas tekstual yang dibendakan
am at dihargai. Sum pah suci biasanya digunakan untuk m eres-
m ikan perjanjian pada m asyarakat yang berkecenderungan lisan,
sedangkan kontrak tertulis digunakan pada bangsa-bangsa yang
bergantung pada tulisan. Membaca dengan tenang di ruang
publik yang sibuk m erupakan hal yang biasa pada m asyarakat
yang bergantung tulisan, sem entara hal itu akan tam pak sebagai
hal yang aneh atau anti-sosial pada m asyarakat berkiblat pada
komunikasi lisan, di situ percakapan dengan orang asing di ruang
2 Lihat juga Carey (1998), Comor (2013), Genosko (1999), McLuhan dan Zing
rone (1995), dan Trem blay (20 12).
3 Sesungguhnya, hingga kini belum ada terjemahan untuk kata ‘privacy’ di Indo
nesia. (Catatan penerjem ah: kecuali diserap secara langsung m enjadi privasi).
pustaka-indo.blogspot.com