The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-12-16 16:24:45

Identitas Dan Kenikmatan

IDENTITAS DAN KENIKMATAN - -Ariel Heryanto-

http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 133

sebabnya, karena beragam nya karya yang digolongkan dalam
kelompok ini, mulai dari ilm yang banyak dipuji seperti Eliana,
Eliana (20 0 2, Riza) hingga karya pelajar sekolah m enengah,

yang jum lahnya bisa m encapai ribuan. Istilah ini juga kehilangan

popularitas seiring dengan perdebatan panjang tanpa kesimpulan

pada tahun 20 0 0 -an m engenai apa persisnya m akna istilah yang

penuh m uatan ideologis ini. Mereka yang awalnya digolongkan
sebagai pembuat ilm independen kemudian berada di garis
depan industri ilm arus­utama, sementara beberapa lainya ber­
pindah­pindah antara industri arus­utama dan produksi ilm ba­
wah tanah beranggaran rendah. Istilah ‘ilm indie’ tetap dipakai
di Indonesia kini, sekalipun sudah jarang dan dengan berhati-

hati. Sekalipun dem ikian, patut diperhatikan nasihat Katinka van

Heeren, yang m enyatakan bahwa penggunaan istilah ini di Indo-

nesia harus dipaham i dalam konteks historis yang khusus dan
jangan disamakan dengan penggunaan di tempat lain (2012: 53).
Istilah ‘ilm pendek dan dokumenter’ diterima secara luas karena
istilah itu bersifat deskriptif, bersih dari konotasi politik yang

terkandung dalam istilah ‘indie’.

Beberapa hal m enjadi ciri kecenderungan baru pem buatan
ilm pendek dan dokumenter di Indonesia pada awal abad ini: a)
popularitasnya yang jauh m enjangkau kawasan tengah hingga ba-

rat kepulauan Indonesia, khususnya di kota-kota besar dan kecil
di Jawa; b) jumlah total ilm yang diproduksi, mencapai ratusan
judul per tahun, m eskipun sebagian besar berkualitas rendah;18

c) sementara beberapa nama terkenal ikut dalam perkembangan
baru ini, proil demograis pembuat ilm menunjukkan bahwa
sebagian besar dari mereka adalah pelajar sekolah menengah

18 Ketika stasiun televisi SCTV m em buka lom ba tahun 20 0 2, lebih dari 1.0 0 0
ilm didaftarkan, sekalipun hanya sekitar 800 yang dianggap layak (van
Heeren 20 12: 58). Pada tahun-tahun berikutnya, jum lah peserta di SCTV dan

beberapa kompetisi lain tetap di angka sekitar 80 0 .

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 134 Identitas dan Kenikmatan

dan mahasiswa S1 di akhir usia remaja hingga pertengahan 20 -an
tahun; d) tem a-tem a yang paling banyak ditem ukan adalah gam -
baran kehidupan sehari-hari lingkungan terdekat para pembuat
ilm; dan e) nyaris tidak adanya dukungan yang bersinambungan
dari lem baga atau jaringan organisasi guna distribusi yang efektif,
menyebabkan lumpuhnya konsolidasi di antara para pembuat ilm
ini dan aktivitas m ereka, serta m enghalangi pertum buhan m ereka
secara keseluruhan.

Menurut para pengamat, gejala baru ini didukung oleh murah-
nya perangkat digital untuk membuat ilm dan penyuntingan. Saya
ingin m enam bahkan satu faktor lain. Hidup dalam lingkungan
yang berkiblat pada kom unikasi lisan, orang Indonesia lebih m u-
dah menerima pesona dari gambar bergerak dan lebih tanggap
secara kreatif terhadap apa yang ditawarkan oleh kam era video,
ketimbang kata-kata tertulis atau program komputer pengolah
kata. Sudah kerap dikatakan bahwa komputer membuat orang bia-
sa m enjadi penulis-sekaligus-penerbit atau “prosum er” (produsen
dan konsum en). Ini lebih kerap ada benarnya dalam m asyarakat
yang lebih bergantung pada tulisan ketim bang m asyarakat berki-
blat kom unikasi lisan. Dalam m asyarakat berkiblat kom unikasi
lisan, seperti Indonesia, m asuknya telepon, televisi, dan kam era
video dan pengenalannya m enim bulkan kegairahan m asya-
rakat yang lebih besar—seiring perannya dalam melahirkan ba­
nyaknya pembuat ilm otodidak—ketimbang komputer dalam
m em produksi penulis-sekaligus-penerbit. Banyak orang dalam
m asyarakat yang berkiblat kuat pada kom unikasi cetak m ungkin
kewalahan dengan cepatnya penggantian perangkat digital lam a
dengan yang baru di pasaran. Di Indonesia, hal ini terjadi baik
untuk perangkat digital m aupun buku. Banyak toko buku besar
di Indonesia hanya m em ajang buku yang baru terbit hanya
beberapa bulan saja. Kenyataannya tentu saja lebih beragam dan
dinam is untuk setiap m asyarakat tertentu, dan perbedaan antara

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 135

m ereka jauh lebih kom pleks ketim bang apa yang saya gam barkan
secara kasar di sini. Meskipun dem ikian, yang jelas ilm u sejarah
(historiograi) tidak pernah menjadi tradisi terkuat atau harapan
yang paling diunggulkan di Indonesia. Hal ini m enjadi lebih
parah ketika kita berurusan dengan sejarah pembantaian massal
1965-66, yang telah m eninggalkan luka segar dalam kehidupan
publik bangsa ini. Sebagaimana akan segera dibahas di bagian
berikut, debat yang lebih tenang dan kritis tentang sejarah khusus
peristiwa ini tetap mustahil untuk saat ini dan mungkin sampai
jauh di masa mendatang.

Meskipun terjadi perkembangan media baru di Indonesia
dan m eluasnya ruang untuk kebebasan berekspresi, hanya sege-
lintir ilm pasca­1998 yang meninjau ulang tragedi 1965. Hal ini
seharusnya tak m engherankan m engingat generasi yang lebih
muda tak memiliki alasan untuk tertarik secara khusus pada
tem a yang berat dan m enyedihkan itu. Dari sekitar seribu lebih
ilm pendek dan dokumenter per tahun, hanya sekitar selusin
judul yang secara khusus m eninjau ulang periode sejarah yang
penuh kontroversi ini. Bab berikut akan berfokus pada dua ilm
yang dibuat pada masa pasca­Orde Baru karya pembuat ilm
alternatif dengan tem a kekerasan 1965 atau peristiwa-peristiwa
yang m enyertainya. Bab ini tak akan m eneliti beberapa karya
kreatif lain yang tak relevan dengan perhatian utam a kita di sini.
Tak termasuk dalam pembahasan di sini adalah ilm­ilm yang
m enam pilkan peristiwa 1965 sekadar di latar belakang, seperti
The Years of Living Dangerously (1983, Weir) dan Gie (20 0 5,
Riza), yang pernah saya bahas di tem pat lain (Heryanto 20 0 8a).
Saya juga tak akan membahas ilm­ilm dokumenter asing yang
m em bahas m engenai gejolak politik 1965 dan peristiwa-peristiwa
yang m engikutinya, sem isal The Shadow Play (20 0 1, Hilton),
Terlena: Breaking of a N ation (20 0 4, Vltchek), 40 Years of
Silence: An Indonesian Tragedy (20 0 9, Lem elson), dan The

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 136 Identitas dan Kenikmatan

W om en and The Generals (20 0 9, Wechselm ann). Saya akan
membuat pengecualian dan menyediakan alasannya: ilm bioskop
kom ersial Sang Penari (20 11, Isfansyah) dan ilm dokumenter
yang diproduksi secara internasional, The Act of Killing (20 12,
Oppenheim er) (lihat bab berikutnya).19

Hampir semua ilm mengenai peristiwa 1965 yang dibahas
buku ini diproduksi oleh orang-orang yang berpengalam an dan
berkemampuan teknis serta komitmen politik di atas rata-rata.
Nam un sayangnya, baik secara sendiri m aupun secara keselu-
ruhan, ilm­ilm ini hanya memiliki dampak terbatas pada publik;
dan jelas amat terbatas untuk bisa mengguncang propaganda
Orde Baru tentang 1965.20 Sedikitnya jumlah ilm­ilm ini dan
dam paknya yang terbatas dapat dengan m udah dipaham i bila
dilihat dari betapa besar dan berlapisnya kesulitan yang dihadapi
oleh siapa pun yang membuat ilm dengan tema yang peka ini.
Selain kekangan politik, setiap ilm yang bertema kekerasan 1965
harus berbenturan dengan serangkaian dilem a yang m uncul

19 Diskusi kita ini m ungkin m irip, berkait, atau bertum pang tindih dengan,
analisa terhadap ilm yang membahas isu­isu kekerasan politik di negara lain
atau di Indonesia dari periode yang berbeda, atau juga analisis dari banyak
karya kreatif lain yang m em bahas 1965-66 dalam m edium berbeda (seni visual,
tarian, teater, atau karya sastra) dan jenis-jenis karya audio visual (seni video
dan animasi). Hal-hal terakhir ini terlalu luas dan rumit untuk dimasukkan ke
dalam buku ini.

20 Saya m engakui penilaian ini terbuka untuk diperdebatkan. Dalam percakapan
ketika sedang melakukan penelitian lapangan, beberapa pembuat ilm ini,
juga para pendukungnya, secara terpisah m enyatakan rasa puas m ereka
m engenai penerim aan terhadap karya-karya m ereka. Tam paknya, terdapat
perbedaan besar m engenai dam pak yang diharapkan. Mereka berharap sedikit
sekali dibandingkan saya. Juga ada kemungkinan bahwa ilm­ilm ini secara
perlahan akan m em punyai dam pak lebih besar dalam jangka panjang, dan
apa yang kita saksikan sekarang hanyalah perm ulaan yang lam bat dan kecil
saja. Saya m endasarkan penilaian saya ini pada inform asi yang tersedia selagi
saya m elakukan penelitian, yang m enunjuk pada m erajalelanya propaganda
anti-kom unis Orde Baru, sebagaim ana digam barkan dalam bagian berikutnya,
dan akan dibahas lebih jauh sebagai kasus yang lebih spesiik dalam bagian
kesimpulan bab ini.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 137

dari kerum itan pokok persoalannya sendiri dan ketidaksiapan
penonton Indonesia m enghadapinya. Bagian berikut ini akan m e-
nyodorkan hasil survei secara umum mengenai ilm­ilm tersebut
satu per satu, yang m enggam barkan kesulitan-kesulitan tersebut.
Untuk menganalisa ilm­ilm dengan fokus 1965 ini, dan melihat
nilai pentingnya secara politik, ada dua faktor yang perlu diper-
tim bangkan. Pertam a, dilem a yang harus dihadapi oleh para pem -
buat ilm, berupa serangkaian pilihan narasi dan keterbatasan
m asing-m asing pilihan ketika m engolah topik yang peka ini da-
lam situasi Indonesia m asa kini. Kedua, saya m engusulkan tiga
kategori yang m enjadi latar belakang dan posisi para pem buat
ilm, terkait dengan isu yang sedang dibicarakan dan pengaruhnya
terhadap kekuatan dan kelemahan pencapaian mereka.

Cerita apa pun—dalam ilm dan medium lain—mengenai isu
serum it kekerasan 1965 yang ditujukan bagi khalayak pada tahun
20 0 0 -an akan menghadapi persoalan mendasar berupa menen-
tukan fokus pada bagian peristiwa tertentu yang sesungguhnya
rum it, untuk m engunggulkan perspektif tertentu yang m em iliki
bobot politik penting, dengan risiko m enyisihkan bagian peristiwa
yang lain. Secara singkat, sang pencerita akan berhadapan dengan
sedikitnya satu dari tiga dilem a berikut ini. Pertam a, dilem a di
satu sisi berupa kebutuhan untuk m enyediakan konteks sejarah
yang m em adai dan m eyakinkan di balik peristiwa 1965 (soal ini
sudah kontroversial) sem entara di sisi lain ada kebutuhan untuk
m enyajikan pesan utam a yang dapat diterim a dengan nyam an
dan menarik diikuti oleh penonton masa kini. Hal ini merupakan
sebuah beban berat bagi para pembuat ilm mengingat mayoritas
penonton Indonesia m em iliki pengetahuan atau m inat yang rendah
pada persoalan ini, sementara sebagian lainnya menonton ilm
bertema ini dengan serangkaian praduga berlebihan dan harapan
yang tak realistis. Kedua, para pembuat ilm menghadapi dilema
berupa tarik-m enarik kebutuhan yang saling bertolak belakang,

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 138 Identitas dan Kenikmatan

yakni kebutuhan untuk m em bahas apa yang sesungguhnya terjadi
dalam lingkaran politik elite di J akarta pada bulan September–
Oktober 1965―yang menjadi latar bagi serangkaian aksi yang
terjadi pada bulan­bulan sesudahnya―dan kebutuhan untuk
m enggam barkan pem bunuhan brutal di berbagai daerah yang
sangat jauh dari ibu kota, serta m elibatkan rakyat jelata yang tak
tahu menahu dan tak berminat terhadap pertarungan politik para
elite untuk memperebutkan kekuasaan di sekitar istana. Dilema
yang tak terhindarkan yang ketiga―dan yang mungkin secara
logistik dan naratif paling sulit ditangani oleh para pembuat
ilm ketimbang para kreator di bidang lain―berkaitan dengan
ketegangan untuk memperlihatkan konteks dan struktur global
yang ‘abstrak’ (yaitu Perang Dingin) yang m em bentuk kondisi
bagi rangkaian peristiwa pada tahun 1965, dan pengalam an hidup
yang ‘konkret’ bagi individu yang dikisahkan dalam lingkungan
sosial mereka serta hubungan sosial setempat dan sesaat itu.

Setiap unsur ini sam a pentingnya pada setiap cerita tentang
kekerasan 1965 dan berbagai peristiwa lanjutannya. Sekalipun
begitu, tak ada cerita―dengan jangkauan, kerangka, dan fokus
yang terbatas―yang dapat mencakup seluruh elemen itu dalam
kadar yang setara. Bahkan dalam keadaan yang paling ideal
dan bebas sekalipun, para kreator yang m enceritakan soal ini
(termasuk pembuat ilm) tidak bisa tidak harus memilih untuk
fokus pada aspek tertentu saja, dan bungkam tentang beberapa
yang lain, atau m em biarkan sebagian persoalan lain dari peristiwa
itu tersisih ke pinggiran, atau mundur jadi latar belakang, dan
dengan risiko tidak memuaskan para penonton.

Yang juga penting, latar belakang pembuat ilm menandai
karya m ereka dengan gaya m ereka sendiri. Ini dapat dibagi m en-
jadi tiga kategori. Kategori pertam a terdiri dari m ereka yang
memperkenalkan diri sendiri, atau dikenal oleh pihak lain sebagai
bekas tahanan politik Orde Baru beserta lingkaran terdekat m e-

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 139

reka. Kelom pok kedua adalah aktivis dari berbagai organisasi
non-pem erintah, khususnya yang m em iliki m inat terhadap isu-
isu hak asasi m anusia. Kelom pok ketiga terdiri dari orang-orang
yang bersemangat menjadi pembuat ilm, dan minat mereka pada
pembuatan ilm lebih besar ketimbang pada isu­isu sosial dan
politik.

TAN TAN GAN D AN CAPAIAN 21
Lembaga Kreatiitas Kemanusiaan (LKK) merupakan pembuat
ilm tipe pertama dari tiga kategori di atas. Di bawah pimpinan
penyair dan novelis Putu Oka Sukanta, lem baga ini m erupakan
produser tunggal terbesar ilm dokumenter yang berfokus pada
akibat-akibat kekerasan politik 1965. Sebagaim ana Putu, m ere-
ka yang berada di balik lem baga ini adalah bekas tahanan poli-
tik (atau anggota keluarga m ereka) yang dipenjara karena keang-
gotaan aktif m ereka di Lekra, lembaga kesenian yang berailiasi
pada PKI.22 Dalam percakapan pribadi dengan saya pada tahun
20 10 , Putu m enyebutkan banyak orang m enyam akan LKK
sebagai Lekra baru. Pada saat penulisan buku ini, ada enam ilm
dokum enter yang sudah diproduksi oleh lem baga ini m engenai
korban peristiwa 1965. Film ini adalah (berdasar tahun produksi)
Meny em ai Terang Dalam Kelam (20 0 6, Wiranegara), Perem puan
Yang Tertuduh (2007, Munaidah), Tum buh Dalam Badai (20 0 7,
Wiranegara), Seni Ditating Jam an (20 0 8, Wiranegara), Tjidurian
19 (20 0 9, Azis dan Susatyo) dan Plantungan (20 11, Sukanta dan

21 Sebagian data dan argumen di bagian ini pernah muncul dalam tulisan lama
saya dengan versi yang berbeda, Heryanto (20 12b).

22 Sekalipun LKK dapat dianggap sebagai organisasi non-pem erintah, m ereka
bersifat khusus. Kebanyakan anggota organisasi non-pem erintah dapat ber-
gabung dan keluar setiap saat, tergantung pada prosedur administrasi, ke-
tika m enjadi anggota m ereka secara prinsip m em iliki status yang setara.
Kekhususan LKK, para pendiri dan pem im pin lem baga ini bersum ber dari
status m ereka yang secara tidak suka rela m enjadi tahanan politik akibat
kejahatan serius yang dilakukan oleh Orde Baru.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 140 Identitas dan Kenikmatan

Saleh). Dua ilm pertama melihat isu­isu politik yang lebih luas
daripada peristiwa 1965 dan akibatnya. Film­ilm berikutnya se­
cara perlahan m enyem pitkan fokus pada pengalam an senim an
Lekra dan rekan terdekat m ereka, sebelum kem bali kepada topik
korban perem puan pada Plantungan. Pem bahasan yang lebih
dalam m engenai Tjidurian 19 akan disam paikan dalam bab beri-
ku t n ya .

LKK m em ainkan peran sebagai pelopor dalam m em berikan
ruang bersuara kepada m ereka yang m enderita sebagai tahanan
politik 1965. Salah satu ciri konsisten ilm­ilm mereka adalah
kadar yang besar pada gam bar orang berbicara, kebanyakan dari
m ereka adalah bekas tahanan politik 1965 dan anggota keluarga
m ereka, ditam bah beberapa ahli sejarah yang am at bersim pati
terhadap perjuangan para korban ini. Satu perkecualian adalah
Seni Ditating Jam an yang m em uat wawancara dengan penyair
Leon Agusta, yang posisi politiknya bertentangan dengan Lekra.
Dengan menonton ilm ini, menjadi jelas bagi kita bahwa cara
penyajian bukan hal yang diutam akan, terutam a pada karya-karya
awal m ereka. Tam paknya keterbatasan anggaran m erupakan pe-
nyebab utam a kelem ahan ini. Ketika aspek teknis dan estetis
makin meningkat pesat di ilm­ilm mereka yang belakangan,
muatan politiknya amat menurun. Tak dapat dibantah, ilm­ilm
ini layak dihargai dengan pertim bangan khusus karena nilai yang
menempel pada pengakuan otentik korban dan saksi mata peris-
tiwa 1965. Nam un kem am puan m ereka sangat terbatas untuk
bisa m enarik hati penonton um um di Indonesia zam an sekarang
karena pokok soal yang berat dan penyam paian yang m elelahkan.
Kebanyakan tokoh yang direkam adalah orang-orang yang tam pak
renta di usia m ereka yang sekitar 60 -an, atau bahkan lebih tua
lagi. Mereka bicara dalam Bahasa Indonesia yang datar m engenai
pengalam an m ereka yang nyata dan pribadi, nam un topiknya

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 141

asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Terlebih lagi, para pem -
bawa cerita ini tampak kurang terlatih dalam bidang teknik ber-
bicara kepada um um yang m em ungkinkan m ereka m am pu m em -
bahas persoalan ini secara memikat dengan orang-orang di luar
lingkaran terdekat mereka.

Pembuat ilm kategori kedua yang berfokus pada peristiwa
1965 dan akibat-akibatnya, m erupakan organisasi non-pem erintah
dengan komitmen khusus pada isu-isu hak asasi manusia. Pada
saat penulisan buku ini, saya berhasil menyaksikan lima ilm
m ereka. Yang paling awal dari jenis ini adalah Bunga-tem bok
(2003, Wiludiharto), diproduksi oleh Lembaga Studi dan Advokasi
Masyarakat, Elsam , yang berbasis di J akarta. Film ini tentang
pelanggaran hak asasi m anusia yang dilakukan oleh Orde Baru
dari tahun 1965 hingga 1998, dan tidak secara khusus m em bahas
pem bunuhan m assal 1965. Film ini berisi banyak wawancara
dengan korban dan keluarga mereka, serta beberapa adegan
yang m em perlihatkan aktivis politik yang sibuk m endirikan per-
kum pulan keluarga korban kekerasan politik Orde Baru, dengan
tujuan m encari keadilan bagi para korban. ELSAM juga m en-
jadi sponsor (bersam a dengan Pakorba, Solo) untuk sebuah ilm
dokum enter lain, Jem batan Bacem (2013, Wiludiharto) yang
m enam pilkan korban dan orang-orang yang dipaksa untuk m em -
bantu pem bunuhan m assal pada 1965 di Solo, J awa Tengah.
Satu ilm dokumenter lagi Kaw an Tiba Senja: Bali Seputar 1965
(20 0 4, Wim ba) m erupakan produksi kerja sam a antara Lem baga
Penelitian Korban Peristiwa 65-Bali dan J epun Klopak Enam .
Sebagaimana dinyatakan oleh judulnya, ilm ini berfokus pada
pengakuan korban 1965 dari Pulau Bali, di m ana sebagian besar
pembunuhan terjadi; diselingi oleh wawancara dengan para ahli.
Yang membedakan ilm ini dari yang disebut sebelumnya adalah
besarnya jatah yang diberikan untuk pem bahasan yang analitis,

dengan m enam pilkan banyak wawancara dengan para akadem isi.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 142 Identitas dan Kenikmatan

Yang sangat m enarik, ada dua ilm dokumenter yang khusus
dipersem bahkan bagi perem puan yang m enjadi korban kekerasan
1965. Yang pertam a adalah Kado Untuk Ibu (20 0 4, Setiadi)
dan yang kedua Putih Abu-Abu: Masa Lalu Perem puan (20 0 6,
Prim onik, Kum alawati, Yanuar, dan Ram adhan). Sebagaim ana
karya yang dibahas sebelumnya, sebagian besar narasi kedua ilm
ini menampilkan adegan orang yang berbicara―perempuan yang
dipenjara di penjara Plantungan, Kendal, J awa Tengah, karena
m enikah dengan anggota PKI atau status m ereka sebagai anggota
Gerwani. Penjara yang sam a dan para tahanan politik di sana
juga menjadi fokus ilm dokumenter yang lebih baru berjudul
Plantungan, juga diproduksi oleh LKK (lihat pem bahasan sebe-
lumnya). Para perempuan yang tampil dalam ilm ini dan ilm
dokum enter serupa adalah para perem puan yang gagah berani.
Mereka tam pil dengan kem am puan retorika yang baik dan ber-
semangat ketika menceritakan kisah mereka, termasuk ketika
m engalam i hinaan seksual dari para interogator yang berasal
dari kalangan m iliter. Nam un di luar kualitas orang-orang yang
tampil di ilm ini dengan cerita mereka yang menarik, sulit untuk
membayangkan ilm sejenis ini mampu memikat kesan orang
selain aktivis hak asasi m anusia atau orang-orang dekat yang
m enjadi korban kam panye anti-kom unis Orde Baru.

Putih Abu-Abu: Masa Lalu Perem puan lebih m enarik, baik
secara m uatan m aupun nilai sinem atiknya. Film ini m erupakan
kumpulan dari enam ilm dokumenter pendek, semuanya
diproduksi oleh pelajar sekolah (usia 15-17 tahun) dari Bandung
dan Yogyakarta, sebagai hasil dari keikutsertaan m ereka dalam
lokakarya pembuatan ilm yang diselenggarakan oleh Syarikat
Indonesia dan Kom isi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perem -
puan pada bulan Agustus 2006. Dalam beberapa ilm, teman­
teman sekelas dan guru mereka diwawancarai mengenai pan-
dangan dan pem aham an m ereka terhadap sejarah 1965. Sebagai-
m ana sudah saya katakan sebelum nya, pada pertengahan 20 0 0 -

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 143

an, sejumlah besar anak muda Indonesia menemukan kegemaran
pembuatan ilm secara murah dengan perangkat sederhana.
Lokakarya pembuatan ilm untuk pelajar sekolah sering diadakan.
Putih Abu-Abu: Masa Lalu Perem puan dapat dicatat m em elopori
perkecualian langka terhadap pem aham an um um soal kurangnya
m inat anak m uda terhadap topik kekerasan 1965. Nam a ko-
produser dari dua ilm di situ adalah Syarikat yang merupakan
singkatan dari Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat.23 Orga-
nisasi yang berkedudukan di Yogyakarta ini didirikan oleh para
aktivis Nahdlatul Ulam a, yang dapat dianggap terlibat dalam
pem bunuhan terhadap kom unis pada 1965-66.24 Organisasi ini
mewakili prakarsa pertama dan istimewa di antara umat Islam
yang bertanggung jawab terhadap pem bunuhan 1965-66 untuk
membangun rujuk nasional dengan korban dan anggota keluarga
m ereka. Bergerak m elawan arus utam a, Syarikat tetap m erupakan
prakarsa terbesar dan paling radikal serta terlembaga, dalam
upaya yang terus-m enerus tertunda.25

Syarikat juga memproduksi satu ilm iksi pendek Sinengker:
Sesuatu Yang Dirahasiakan (20 0 7, Aprisiyanto), yang secara

23 Patut dicatat bahwa kata serikat di Indonesia kini berkonotasi serikat buruh,
dengan kecenderungan politik Kiri, yang dulu dinistakan oleh Orde Baru dan
dinyatakan terlarang. Alih-alih m engadopsi ejaan sekarang ‘serikat’, organisasi
yang berbasis di Yogyakarta ini m enyebut diri ‘syarikat’, ejaan lam a kata ini,
yang m engingatkan kita pada Syarikat Islam dan Syarikat Dagang Islam , dua
organisasi m odern paling awal dan lintas-etnis di m asa kolonial Belanda.

24 Edisi khusus m ajalah Tem po (1-7 Oktober 20 12) m enurunkan serangkai
laporan panjang dan wawancara dengan beberapa pelaku pembunuhan terha-
dap tersangka kom unis pada 1965-66, dan m ereka berada di bawah payung
organisasi Islam ini. Ham pir sem uanya bicara terbuka tentang perbuatan
m ereka tanpa tanda-tanda penyesalan.

25 Dalam wawancara dengan Chloe Olliver, Im am Aziz (koordinator program
Syarikat) m enjelaskan aktivitas utam a dan tujuan organisasi ini: “Syarikat
telah m elakukan penyelidikan terhadap pem bunuhan m assal dan berbagai
pelanggaran hak asasi m anusia lain pada 1966 guna m em ulai proses rekonsiliasi.
Proses ini terutam a m elibatkan NU, m engingat bahwa kaum m uda NU yang
m elakukan kekerasan tersebut” (Olliver 20 0 4). Untuk penjelasan konteks
yang lebih luas m engenai hal ini, lihat Fealy dan McGregor (20 10 ).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 144 Identitas dan Kenikmatan

kritis m em bahas ketidakadilan terhadap korban 1965, dengan gaya
yang puitis. Sekalipun terdapat berbagai m asalah dengan logika
cerita di paruh kedua ilm itu, presentasi visualnya merupakan
sebuah perubahan yang segar dari kebiasaan wawancara yang
monoton dalam ilm­ilm dokumenter sebelumnya. Pembuat ilm
ini m em perlihatkan kom itm en dan tingkat keteram pilan yang
cukup dalam aspek estetis fotograi. Persoalan ini mengantar kita
beralih pada pokok berikutnya mengenai ilm­ilm bertema 1965
dari para pembuat ilm yang lebih berdedikasi. Namun, sebelum
kita m engarah ke sana, sepatutnya kita m engam bil jeda sejenak
dan m enengok kem bali pem bahasan sebelum nya tentang tiga
dilem a dalam bercerita tentang peristiwa 1965.

Secara umum, ilm­ilm LKK berfokus pada konteks historis
dengan m engabaikan sejum lah m asalah lain yang m ungkin m em -
beri daya tarik lebih bagi penonton yang lebih m uda sekarang
ini. Sekalipun konteks global yang m endorong kondisi terjadinya
peristiwa 1965 digambarkan dalam ilm­ilm mereka, umumnya
fokus ilm­ilm ini adalah pada kekerasan yang terjadi di Jawa dan
Bali dan penderitaan mereka secara individual ―dengan sedikit
sekali pengungkapan m engenai apa yang terjadi di antara elite
politik pada tahun 1965. Dapat dim aklum i, satu benang m erah
yang menghubungkan ilm­ilm LKK adalah kisah penderitaan
para korban, dihadirkan melalui suara otentik para korban itu
sendiri. Tak perlu diragukan, ilm­ilm mereka menarik bagi para
ahli dan orang-orang yang m elakukan penyelidikan sejarah keke-
rasan ketim bang m asyarakat luas, khususnya m ereka yang berusia
20 -an tahun atau rem aja. Film bertem a 1965 yang diproduksi
organisasi non-pem erintah hanya berbeda sedikit dari yang di-
produksi LKK; kesam aan m ereka berlim pah dengan sem angat
advokasi dan penam pilan korban sebagai narasum ber yang
banyak bicara, baik di set ilm maupun digambarkan close up,
dengan kisah kesaksian yang sam a. Nam un, dengan perkecualian

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 145

ilm yang diproduksi oleh Syarikat, banyak ilm organisasi non­
pem erintah yang tak m em iliki suara-suara otentik, kurang latar

belakang inform asi sejarah dan konteks lebih luas sebagaim ana
disajikan dalam ilm­ilm LKK; serta tampak dibuat dengan kom­
petensi teknis pembuatan ilm tingkat dasar. Dalam hal tiga dile­
ma tadi, ilm­ilm buatan organisasi non­pemerintah hanya sedi­
kit lebih baik ketimbang ilm­ilm LKK dalam kemampuannya
m enarik perhatian penonton m uda. Sekalipun dem ikian, LKK le-
bih rajin dan berhasil dalam mempromosikan ilm mereka untuk
menjangkau penonton lebih luas, ketimbang organisasi non-pe-
merintah, mungkin karena advokasi melalui ilm merupakan salah
satu kegiatan saja (m ungkin pinggiran) dalam daftar panjang

pekerjaan yang ada pada program kerja m ereka. Tak seperti karya

LKK, karya dari organisasi non-pem erintah ini (lagi, dengan

kekecualian buatan Syarikat) tak banyak diketahui dan ham pir tak

pernah disebut dalam liputan m edia atau dalam percakapan yang

saya lakukan dengan banyak aktivis organisasi non-pem erintah

yang bekerja di bidang tersebut ketika saya m elakukan penelitian

lapangan untuk buku ini.
Kategori ketiga dan terakhir dari pembuat ilm yang berfokus

pada pem bunuhan m assal 1965 adalah m ereka yang m inat uta-
manya adalah pada ilm sebagai sebuah bentuk seni. Tiga judul
yang berhasil saya dapatkan untuk analisa di sini m em punyai

panjang durasi, genre, dan gaya berbeda-beda. Yang sam a di antara
ketiganya―bertolak belakang dengan ilm­ilm yang saya bahas
sebelumnya―adalah perhatian serius terhadap teknik pembuatan
ilm, dibandingkan dengan aspek lain dari hasil akhirnya maupun
sum ber daya yang digunakan untuk m enghasilkan karya tersebut.
Dalam menghadapi tiga dilema di atas, ilm­ilm kategori terakhir
ini memberi perhatian maksimum untuk mengomunikasikan

secara efektif dan artistik kepada penonton um um nya, term a-

suk bagi m ereka yang tak m em iliki perhatian khusus terhadap

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 146 Identitas dan Kenikmatan

peristiwa 1965. Kualitas ini kadang dicapai dengan m engorbankan
inform asi yang m enjadi latar belakang peristiwa, yang kerap
m enjadi prasyarat bagi penghayatan sepenuhnya terhadap pen-
tingnya cerita ini bagi sejarah Indonesia. Dengan berfokus kepada
dampak dan akibat tragedi nasional itu, serta membingkai cerita
sebagai drama kemanusiaan tentang warga negara biasa, ilm­
ilm artistik ini memperlihatkan bahwa mereka kurang berminat
terhadap perebutan kekuasaan di kalangan elite di J akarta, atau
juga terhadap konteks internasional pembantaian tersebut.

Puisi Tak Terkuburkan (1999, Nugroho) merupakan ilm
pasca-Orde Baru pertam a yang m eninjau ulang peristiwa seputar
1965. Di Indonesia Garin Nugroho m enjadi sutradara dengan
popularitas dan otoritas tiada tandingannya di bidang pem buatan
ilm. Tak mengherankan apabila ilm ini menjadi ilm paling
terkenal dalam genre ini pada dekade pertama abad kedua-
puluh.26 Film ini berfokus pada ingatan lisan Ibrahim Kadir, pe-
nyanyi didong, sebuah seni pantun Aceh. Ia dipenjara pada ta-
hun 1965 akibat salah-tangkap. Ibrahim , yang m em erankan diri-
nya sendiri di ilm itu, menyajikan pengakuan sebagai saksi bagi
situasinya sendiri di dalam sebuah sel penjara, dan sebagai par-
tisipan yang dipaksa untuk ikut m em persiapkan eksekusi rekan-
nya sesama tahanan. Secara sinematograis, tak bisa dipung­
kiri Puisi Tak Terkuburkan merupakan salah satu ilm terbaik
Indonesia m engenai peristiwa 1965. Ketegangan dram a dan
kesedihan terasa mencekam di sebagian besar ilm yang dire­
kam secara hitam putih, dan sebagian besar gambar terbatas
pada dua sel penjara yang berdam pingan. Nam un, situasi para
tahanan ini terlihat tak teralu seram jika dibandingkan dengan
laporan m engenai korban serupa di J awa dan Bali, baik dalam

26 Untuk contoh analisa yang penuh pujian mengenai ilm ini, lihat Rutherford
(20 0 6).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 147

ilm maupun pada kenyataannya. Pandangan ini sama sekali tidak
dimaksudkan sebagai kekurangan ilm, atau kesalahan akurasi
historisnya. Film tak pernah dim aksudkan sebagai representasi
historis dari kenyataan, sekalipun acuan terhadap fakta sejarah
yang nyata tampil dalam adegan pembuka dan penutup ilm ini.
Rutherford berpendapat, “Nugroho m enekankan pilihannya
untuk menghindari pendekatan historis dan bekerja dengan
catatan­catatan emosional dari ‘tradisi lisan’” (2006: 3).

Dua hal terlihat m enonjol dari Puisi Tak Terkuburkan bagi
orang-orang yang m engenal baik situasi di J awa dan Bali seba-
gaimana digambarkan dalam karya para ahli maupun dari ilm
dokum enter lain. Pertam a, Ibrahim Kadir dilepaskan dari tahanan
22 hari sesudah para petugas m em astikan ia tak bersalah. Baik
kasus salah-tangkap maupun penahanan secara sengaja orang-
orang yang tak m enjadi sasaran langsung selam a perburuan tahun
1965 m erupakan hal yang lazim di J awa. Sepanjang pengetahuan
saya, kebanyakan orang-orang tak bersalah di J awa tak dilepaskan
dan mereka ditahan dulu selama bertahun-tahun di pembuangan
diiringi penyiksaan dan penahanan tanpa prosedur pengadilan.
Yang kedua, yang aneh dalam Puisi Tak Terkuburkan adalah hanya
seorang penjaga penjara yang bertugas untuk sedem ikian banyak
tahanan politik, dan orang ini berwatak sangat lemah. Menjelang
pengujung ilm, sang penjaga penjara ini terlihat tak berdaya
ketika seorang tahanan perempuan dengan berani menentang
kekerasan yang disponsori oleh negara dan, lebih khusus lagi,
mengkritik bagaimana eksekusi dilakukan di penjara tersebut.
Adegan seperti ini unik (baik dalam ilm maupun medium lain)
pada periode tersebut dan di daerah lain di Indonesia, sepanjang
yang pernah saya pelajari.

Sebaliknya, penggam baran kekerasan yang sangat m engerikan
dari aparat keam anan terhadap warga negara biasa m enjadi fokus
dari Djedjak Darah: Surat Teruntuk Adinda (20 0 4, Aprisiyanto).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 148 Identitas dan Kenikmatan

Markus Aprisiyanto dan awak pembuat ilm ini tergabung da­
lam sebuah kelompok jaringan pembuat ilm yang berasal dari
Yogyakarta, bernam a Déjà Vu Production. Pada tahun 2004 ilm
ini m em enangkan dua penghargaan: Saraswati Award pada Bali
International Film Festival dan Piala Citra yang bergengsi pada
Festival Film Indonesia. Dibandingkan dengan Kado Untuk Ibu
yang diproduksi Syarikat, Barbara Hartley menggambarkan ilm
ini sebagai berikut:

Karya yang lebih am bisius, dengan m enyelipkan fragm en-fragm en
musik dan puisi yang didendangkan, efek ilmis seperti kilas balik
dan teks Bahasa Inggris, dalam menggambarkan pengalaman ik­
sional pem ain ketoprak m uda yang diciduk dari rum ahnya karena
dicurigai sebagai seorang sim patisan Kom unis, yang ditarik secara
brutal untuk sebuah ‘interogasi’

(2006: 6).

Pesan penting dari adegan penutup tak lepas dari analisis Hatley:

Kekerasan yang dipakai penangkapnya, dengan m enggunakan gerak
lam ban jejak darah sangat m engerikan yang ditinggalkan, m enam -
pilkan kem baran dengan adegan yang m enggam barkan pencu-
likan para jenderal oleh Komunis pada ilm Pengkhianatan G 30
Septem ber.

(2006: 6).

Dalam adegan terakhir, pembuat ilm ini menghadirkan gam­
bar khas mereka kepada penonton dalam bentuk close up darah
sang tokoh utama di lantai dan jejak darah sepatu bot militer
(yang menjadi judul ilm). Dalam kajian mendalam mengenai
ilm independen dan alternatif di Indonesia, Katinka van Heeren
telah mengekspresikan keluhannya tentang ilm alternatif pasca­
Orde Baru yang m ereproduksi struktur sinem atis dan aspek vi-
sual serupa dengan ilm propaganda Orde Baru tetapi dengan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 149

m em balik peran pahlawan/ penjahat (van Heeren 20 12: 10 9-15).

Penelitiannya yang m endalam patut dikagum i, tapi m enurut he-
m at saya penilaiannya layak diperdebatkan.27 Saya setuju dengan
pandangan Hatley, justru dengan meniru kerangka ilm propa­
ganda Orde Baru tapi kem udian m enjungkir-baliknya m eru-

pakan siasat radikal melawan dan merongrong propaganda ter-

sebut. Dalam kasus adegan penutup Djedjak Darah: Surat Ter-
untuk Adinda, dengan meniru adegan sama dengan adegan ilm
Pengkhianatan G 30 Septem ber (menggambarkan darah di lantai

di mana keenam jenderal ditembak di rumah mereka) dan memu-
tar balik pesannya, pembuat ilm pada masa pasca­Orde Baru ini
secara langsung “m elem parkan balik konstruksi ideologis m edia

Orde Baru” (Hatley 20 0 6: 7).

Kisah korban tak berdosa dari gejolak politik 1965-66 juga di-
kedepankan oleh ilm Sang Penari (2011, Isfansyah), sebuah ilm
bioskop kom ersial yang belum lam a diedarkan ketika bab buku

ini sedang ditulis. Film itu dibuat berdasarkan trilogi novel karya
Ahm ad Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (2003). Adegan
pembuka ilm itu menggambarkan tahanan yang berdesakan di
ruang yang gelap―sebuah isyarat yang akan kembali di bagian
belakang ilm itu. Di novelnya, adegan seperti itu tidak muncul
hingga jauh di bagian belakang. Sebetulnya saya m enyebut Sang

Penari dengan sedikit rasa ragu. Karena dibuat untuk keperluan
komersial dan didistribusikan secara luas, ilm ini sebenarnya
tidak term asuk dalam pem bahasan di sini. Sejarah 1965-66 tidak
menjadi sajian utama ilm ini. Seperti Gie (20 0 5, Riza), sejarah
dalam Sang Penari berfungsi sebagai latar belakang cerita utam a

27 Salah satu dari dua ilm yang ia teliti sebagai dasar membangun argumen
adalah Mass Grave, ilm yang segera akan saya bahas berikut ini. Bertentangan
dengan penilaiannya yang kritis terhadap ilm itu, bagi saya ilm dokumenter
tersebut merupakan salah satu yang terbaik dari semua ilm yang saya bahas
di bab ini.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 150 Identitas dan Kenikmatan

belaka. Cerita utam a Sang Penari berpusat pada kisah rom antis
antara sepasang laki-laki dan perem puan yang dibuat dengan
gaya Hollywood, dan tak jauh berbeda dengan The Year of Living
Dangerously (1983, Weir). Yang membedakan―dan membuatnya
istimewa―Sang Penari dibandingkan dengan kedua ilm lain itu
ada dua hal. Pertam a, tokoh utam a dalam Sang Penari secara
langsung terkena dam pak gejolak politik 1965-66 (ketim bang
hanya sebagai seorang pengam at, sebagaim ana pada Gie dan The
Year of Living Dangerously ). Yang kedua, ilm itu amat bersimpati
pada korban pem bunuhan m assal 1965­66. Dalam hal ini, ilm
ini merupakan ilm komersial domestik pertama yang sejauh ini
memiliki posisi paling kritis terhadap ideologi resmi.28 Srintil,
tokoh utam a dalam Sang Penari, m erupakan seorang tahanan
politik pada awal 1966. Rasus, tokoh utam a laki-laki yang juga
kekasih Srintil, seorang prajurit TNI berpangkat rendah dengan
tugas utama membantu perburuan terhadap komunis.

Sayangnya, Sang Penari tidak m engam bil langkah berikutnya
yaitu m enggugat atau keluar dari kerangka ideologi Orde Baru,
yang telah dibangun oleh “narasi induk” yang ada dalam Peng-
khianatan G 30 Septem ber. Dengan beberapa perkecualian (ter-
utam a yang ditulis oleh para penyintas kam panye anti-kom unis
1965), tokoh­tokoh beraliran Kiri di dunia iksi Indonesia dengan
latar belakang pem bunuhan m assal 1965-66 selalu tam pil sebagai

28 Sang Penari m em enangkan em pat penghargaan dalam Festival Film Indo-
nesia 20 11, term asuk untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pem e-
ran Utama Wanita Terbaik, dan Pemeran Pembantu Wanita Terbaik. Hikmat
Darm awan yang m enjadi kom ite seleksi untuk tahun itu m engakui bahwa salah
satu pertimbangan para anggota komite untuk menjagokan ilm itu adalah
“usahanya untuk m em balik sejarah resm i kelahiran Orde Baru” (Darm awan
2012b). Dalam esai terpisah, ketika membahas ilm­ilm yang diproduksi tahun
2012, kritikus ilm Eric Sasono (20 12) m enyam but baik keputusan berani para
pembuat ilm ini untuk secara langsung menunjukkan keterlibatan TNI dalam
pem bunuhan m assal tahun 1965, sekalipun seorang prajurit TNI ditam pilkan
sebagai tokoh utam a yang penuh pesona.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 151

penjahat, tokoh yang cerdas tetapi keji yang berniat m enyesatkan

m asyarakat, atau tokoh tak berdosa tetapi bodoh dan m udah

m enjadi korban em puk propaganda kom unis, atau orang yang

bernasib sial karena terkait dengan komunisme gara-gara garis

keturunan atau hubungan pernikahan. Dengan demikian semua
kisah iksi itu menyampaikan satu pesan yang seragam bagi
penonton: jika m ereka terbunuh dalam peristiwa 1965, yah itu

salah m ereka sendiri. Sang Penari tidak berbeda dari praktik

umum seperti ini.

Film terakhir dari kategori ketiga yang ingin saya sebutkan
adalah ilm karya Lexy Ram badeta, Mass Grave (20 0 2). Menurut
saya ilm dokumenter ini paling istimewa di antara ilm­ilm
non-kom ersial yang telah dibahas di sini, secara teknis m aupun

kekuatan pesan politiknya. Diproduksi pada tahun 20 0 0 -1 dan
diedarkan pada 2002, ilm ini merupakan ilm dokumenter per­
tam a yang berfokus pada topik yang sensitif ini. Selain anggaran-
nya yang am at rendah,29 karya ini m erupakan satu dari beberapa
ilm yang mencapai standar tertinggi di antara ribuan ilm pendek
dan dokumenter pasca­Orde Baru. Yang membedakan ilm ini
dengan ilm dokumenter lain yang telah dibahas dalam bab ini
adalah pada isinya, yaitu rekam an langsung dari dua peristiwa

yang secara langsung berhubungan dengan topik ini, ketim bang

rekonstruksi narasi berdasarkan ingatan narasum ber yang

diwawancara. Peristiwa pertam a yang direkam adalah pengga-

lian kuburan m assal korban 1965. Peristiwa kedua adalah reak-
si komunal penduduk setempat—termasuk serangan isik dan
ancaman pembunuhan lanjutan―karena niat keluarga korban un­
tuk menguburkan kembali kerangka para korban. Dengan bahan-
bahan ini dan keterampilannya dalam membuat ilm, Lexy juga

29 Menurut Lexy, ia menghabiskan empat juta rupiah untuk ilm itu, dari kan­
tongnya sendiri.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 152 Identitas dan Kenikmatan

m em asukkan potongan-potongan arsip yang telah ia pilih dengan
hati-hati, dari berbagai sumber dari dalam dan luar negeri. Seba-
gai pengganti penjelasan narasumber, potongan-potongan gam-
bar ini m uncul di layar sebagai kesaksian dan penjelasan yang
bertutur sepanjang ilm. Hasilnya adalah pesan yang kuat dibantu
oleh m ateri yang kaya suara, gam bar, dan gerak.

Mass Grave karya Lexy juga lebih baik daripada karya-karya
semasanya karena dua alasan tambahan. Pertama, ilm ini men­
capai keseim bangan dalam hal tiga dilem a yang telah diuraikan di
atas, yakni ketegangan antara a) inform asi latar belakang terkait
konfrontasi politik m asa lalu dan m asa kini yang bisa m enyapa
penonton masa kini, b) pertarungan politik elite untuk meraih ke-
kuasaan di J akarta dan pembunuhan massal di berbagai daerah,
c) inform asi tentang konteks global (Perang Dingin) dan ingatan
orang­orang yang menjadi korban peristiwa 1965. Kedua, ilm
dokumenter ini unik karena memasukkan sejumlah besar gambar-
gambar asli kekuatan anti-komunis dan suara mereka (termasuk
adegan seorang pelaku membawa golok sambil mengancam calon
korbannya). Berbeda dari perwira m iliter yang m eraup m anfaat
dari kekerasan 1965 dan seluruh dam pak ikutannya, di sini m ilisi
lokal dapat dipandang sebagai sesama korban dalam tragedi
nasional, sebagaim ana halnya orang-orang yang m ereka serang
dan anggota keluarganya. Gam bar yang sangat m enantang seperti
itu tak muncul dalam ilm dokumenter yang dibuat pada tahun­
tahun itu, yang kebanyakan berupa m onolog yang diulang-ulang.
Masalah tersebut akan kita bahas dalam bab berikutnya.

BEBAN SEJARAH
Secara keseluruhan, ilm yang dibahas di atas mencerminkan
hasrat kuat di Indonesia pada m asa pasca-Orde Baru untuk m e-
ninjau kem bali sejarah 1965 yang m em ilukan, dan m enjelajahi
kisah alternatif terhadap propaganda resm i Orde Baru yang m asih

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 153

bertahan. Senim an Indonesia telah m enghasilkan beragam karya

bertema demikian, baik sebelum maupun sesudah kejatuhan Orde
Baru.30 Beberapa karya ini m em akai sejarah 1965 yang penuh lu-

m uran darah sebagai latar belakang, sem entara lainnya hanya

m em buat acuan selintas m engenai pem bunuhan yang terjadi.

Film pendek dan dokumenter merupakan kecenderungan baru

dalam tahun-tahun awal abad ini.
Banyak pembuat ilm masih harus menghadapi beragam ma­

salah terkait sum ber daya, m anajem en, jaringan, dan distribusi.
Sebagaimana dinyatakan oleh sebagian pembuat ilm, membuat
ilm itu mudah, tetapi menayangkannya di hadapan penonton
massal, lain lagi perkaranya. Di luar popularitas pembuatan ilm
pendek dan dokumenter di Indonesia, dan di luar keresahan
dan perselisihan antar­kubu dalam industri ilm, tak ada tanda­
tanda bahwa rumah produksi besar menampakkan minat dan
kemampuan untuk memproduksi ilm panjang bioskop yang me­
lunasi utang persoalan yang sudah lam a m enuntut untuk dibong-

kar secara terbuka agar bangsa ini bisa berdamai dengan peristiwa

1965 dengan berbagai pelik-pelik historis dan m oral.
Kasus terhentinya produksi ilm Lastri m enjadi sebuah con-

toh yang gam blang, betapa pekerjaan sem acam itu tidak m u-

dah. Film itu rencananya akan disutradarai oleh Eros Djarot,
yang sebelumnya menyutradarai ilm Tjoet Nja’ Dhien (1986)
dan mendapat banyak pujian dari kritikus. Ketika awak ilm
akan m em ulai proses pengam bilan gam bar di Desa Colom adu,

Karang Anyar, J awa Tengah pada bulan Novem ber 20 0 8, FPI
dan Hizbullah Bulan Bintang memprotes, menuduh ilm itu
akan “m enyebarkan Kom unism e”. Sekalipun m enurut laporan

30 Sekalipun karya-karya ini patut m endapat perhatian besar dan analisis yang
lebih serius, hal itu berada di luar lingkup buku ini. Untuk analisis awal dari
beberapa karya ini lihat Bodden (20 10 ) untuk teater, Foulcher (1990 a) untuk
karya sastra, dan Turner (20 0 7) untuk seni rupa.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 154 Identitas dan Kenikmatan

tak ada kekerasan yang terjadi, Khoirul Rus Suparjo, Ketua FPI
cabang setem pat m enyatakan bahwa pem batalan syuting harus
segera dilakukan. Sem inggu kem udian, m akin banyak kelom pok
bergabung dalam protes. Menurut sang sutradara, ilmnya meru­
pakan sebuah kisah cinta melodrama sepasang kekasih dengan
latar belakang situasi 1965 yang penuh gejolak. Kantor polisi
setempat sudah mengeluarkan surat izin untuk produksi ilm
tersebut, dan pihak pabrik gula Colom adu yang m enjadi lokasi
syuting juga sudah m em beri izin penggunaan tem pat m ereka.
Syuting awalnya direncanakan untuk dilakukan di kota tetangga,
Klaten, tapi dibatalkan lantaran adanya ancam an serupa. Aliansi
J urnalis Independen (AJ I) dan sejum lah pim pinan harian m edia
massa mengutuk peristiwa itu. Pawai tandingan dilakukan untuk
m endukung pem buatan Lastri, tetapi para pembuat ilm itu sudah
memutuskan untuk tak melanjutkan produksi.

Seperti banyak bangsa lain, Indonesia m em iliki m asa lalu yang
berm asalah dan penuh kekerasan dahsyat sehingga m ayoritas
penduduknya m enderita berkepanjangan dalam kehidupan se-
hari­hari. Di beberapa negara, medium ilm telah muncul sebagai
ruang belajar untuk berdamai dengan masa lalu mereka secara
bersam a-sam a. Indonesia hanyalah satu dari beberapa negara
yang paling tidak siap akan hal itu, sekalipun bangsa ini m em iliki
sejarah sinem a yang kaya dan panjang (lihat Bab 6). Sebagaim ana
diperlihatkan dari uraian tentang ilm dengan tema 1965­66 di
atas, bangsa Indonesia m asih tak m am pu m enyelesaikan, m eng-
abaikan, atau m elupakan persoalan-persoalan beragam yang
berinduk pada kekerasan dalam sejarah tersebut. Penyangkalan
dan penindasan terhadap masalah itu telah menjadi strategi baku
bagi kebanyakan lem baga m aupun individu di Indonesia. Sikap
seperti ini m enjelaskan, setidaknya sebagian sebabnya, m engapa
ada kecenderungan umum untuk memandang islamisasi di Indo-
nesia dengan cara ahistoris―sebagaimana diperlihatkan oleh

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Masa Lalu yang Dicincang dan Dilupakan 155

bagian awal bab ini―tapi juga kegagalan untuk mengenali dan
m engendalikan warisan kekerasan m asa lalu dan im punitas yang
terus berlangsung dalam kepolitikan kita hingga hari ini. Tak
m engherankan kita m enyaksikan orang-orang Indonesia pada
um um nya terus m enerus kebingungan, terkaget-kaget, dan loyo
ketika menghadapi lingkaran konlik komunal yang menyebabkan
korban jiwa selama lebih dari setengah abad terakhir.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Bab 5

Kemustahilan Sejarah?

KAIDAH MORALIS sering m endorong para peneliti m eyakini,
baik secara naif maupun sengaja, bahwa kebenaran dan keadilan
pada akhirnya akan berpihak kepada para korban pelanggaran hak
asasi m anusia. Karenanya m ereka yang optim istis berbondong-
bondong ikut serta, seberapa pun kecilnya, dalam perjuangan
m encapai tujuan ini, cepat ataupun lam bat. Masalahnya, keba-
nyakan kita tak m em iliki kem am puan, keberanian, ataupun ke-
inginan untuk m em pertim bangkan kem ungkinan yang kurang
ideal, yang kerap dipandang sebagai sikap m engalah, atau lebih
buruk lagi, berpihak pada ketidakadilan. Bahkan selintas tinjauan
kepustakaan kajian tentang Indonesia di m asa Orde Baru m em -
perlihatkan anggapan umum bahwa penindasan oleh negara
dengan sendirinya m enim bulkan kepatuhan penuh atau per-
lawanan―termasuk perlawanan diam­diam di kalangan masya­
rakat um um . Sebaliknya, berakhirnya penindasan sem acam ini
dianggap akan m em bebaskan suara-suara dan perasaan yang

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 158 Identitas dan Kenikmatan

sebelum nya tertekan. Pandangan optim istis seperti ini kuat te-
rasa dalam wacana seputar “transisi m enuju dem okrasi” di selu-
ruh dunia pada dekade 1960 -an, yang m asih saja dianut hingga
sekarang. Bertalian dengan bab ini, sem angat seperti ini tam pak
implisit dalam judul sebuah ilm dokumenter yang meninjau trauma
em pat orang korban kekerasan 1965, yaitu 40 Years of Silence:
An Indonesian Tragedy (20 0 9, Lem elson). Padahal, bahkan pada
puncak pem erintahan otoriter Orde Baru, kita dapat m enem ukan
suara-suara lantang di dalam m asyarakat yang m enentang, serta
adanya kesenjangan pandangan, inkonsistensi, dan pertentangan
di kalangan aparat negara dalam soal ini (Heryanto, 20 0 6a).
Sebagaim ana telah dibahas pada bab sebelum nya, serta telah
disusun teorinya oleh ahli lain,1 tak ada korelasi langsung antara
tum buhnya ungkapan atau tuntutan yang tegas terhadap keadilan
dan perkem bangan dem okrasi form al atau m eluasnya kebebasan
berbicara.

Sekalipun judulnya bisa disalahartikan sebagai m enyarankan
optim ism e serupa, Mary Zurbuchen m enulis dalam Beginning to
Rem em ber: The Past in The Indonesian Present (Mulai Meng-
ingat: Masa Lalu di Indonesia Kini) m em persoalkan harapan
optimistis semacam itu sehubungan dengan kekerasan politik
1965. Dalam bab pengantar, ia m em perlihatkan dengan am at baik
betapa sulit, rum it, dan besarnya risiko m engenang m asa lalu di
m asa kini (Zurbuchen 20 0 5).2 Bukan hanya waktu yang m enjadi
inti soalnya (seperti lazim nya pandangan bahwa penyem buhan

1 Raym ond William s m encatat, “andaikan ide, asum si, dan kebiasaan sosial,
politik, dan budaya kita sem ata m erupakan hasil m anipulasi pihak tertentu…
m aka m asyarakat akan jauh lebih m udah digiring dan diubah ketim bang yang
senyatanya terjadi dalam praktik selama ini” (1980: 37). Lihat juga komentar
Cohen dan Rogers (1991: 17) tentang kom binasi paradoks sikap tunduk
berlebihan m edia di Am erika Serikat dan m inim nya kendali negara terhadap
media-media di negara itu.

2 Untuk pem bahasan lebih jauh m engenai hal ini, lihat Kaplan dan Wang
(20 0 8 b).

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 159

itu butuh waktu, dan dengan berlalunya waktu sem uanya m enjadi
lebih mudah atau lebih baik) sebagaimana direnungkan oleh
Zurbuchen (2005: 13­4). Sebagaimana dicatatnya dalam bab yang
sam a, siapa pun “yang selam at dari pengalam an traum atis m ung-
kin tak mampu atau tak ingin membicarakan pengalaman itu”
(Zurbuchen 20 0 5: 7), bahkan dalam lingkungan kebebasan libe-
ralism e yang ideal. Kita dapat juga m enam bahkan m ungkin sekali
korban pelanggaran hak asasi manusia dan keluarga mereka lebih
suka memilih untuk tidak memperoleh bantuan dari pihak lain
yang ingin m enyuarakan kenangan dan penderitaan m ereka, atau
juga perwakilan yang m enjadi juru bicara tentang kesengsaraan
m ereka. Beberapa korban 1965 m em ilih untuk diam selam a 40
tahun, sem entara bagi beberapa lainnya, 4 tahun diam saja sudah
cukup. Yang lain lagi m em ilih untuk diam selam a hidup m ereka.
Masalahnya m asih dibuat tam bah rum it oleh keterbatasan bahasa
dan ingatan untuk mengungkapkan pengalaman mereka. Mengutip
Edith Wyschogord, Zurbuchen m enim bang “kem ustahilan untuk
m em ulihkan atau m ewakili m asa lalu sepenuhnya” dan bertanya
“[a]pa saja tanggung jawab m ereka yang m eneliti atau m engajukan
pertanyaan tentang m asa lalu, seperti pem bunuhan m assal, jika
kita tak pernah bisa yakin bisa m engetahui apa yang benar-benar
terjadi di masa lampau?” (20 0 5: 6).

Sejarah itu mustahil―apabila yang dimaksud dengan “sejarah”
adalah pem aham an sepenuhnya atas peristiwa-peristiwa “sebe-
narnya terjadi apa adanya”. Mengutip Walter Benjam in, Sarah
Lincoln m encatat bahwa “m engungkapkan sejarah m asa lalu ti-
dak berarti m engenalinya ‘sebagaim ana hal itu sungguh-sung-
guh terjadi’. Hal itu berarti m enangkap erat-erat sebuah ingatan”.
Pada akhirnya m engungkapkan sejarah m enyiratkan kegiatan
“m em bangun sebuah kisah rekaan tentang sebuah sejarah yang
utuh dari penggalan-penggalan kisah yang sebelum nya berse-
rakan tercerai-berai” (20 0 8: 40 ). Adrian Vickers juga m eyakini

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 160 Identitas dan Kenikmatan

kemustahilan sejarah, dengan acuan khusus terhadap perdebatan
publik tentang sejarah 1965 dan beberapa topik terkait lain di
Indonesia m utakhir (20 0 9).3 Alasannya, m enurut Adrian, orang
Indonesia tak bersedia atau tak m am pu untuk “bertukar pan-
dangan yang berbeda” di m ana m asing-m asing pihak dalam
perdebatan “sungguh-sungguh saling m endengarkan” dengan
tenang dan terbuka. Apa yang ia am ati di Indonesia adalah prak-
tik um um perdebatan, di m ana “pernyataan tidak dibuat untuk
m eyakinkan pihak lain m elalui logika dan bukti, m elainkan untuk
m enegaskan ‘kebenaran’ m utlak yang sudah diketahui. Upaya
m em bujuk dilakukan dari m enyusun pernyataan, dari bentuknya
ketim bang dari rincian m engenai isinya” (20 0 9: 7). Hal itu m em -
buat Vickers m em pertanyakan kegunaan karya-karya para ahli
m engenai “sejarah” dan “ingatan” yang m enganalisa kasus-kasus
di Indonesia. Kesangsian Vickers ini m erupakan titik tolak yang
baik sekali untuk penelitian lebih lanjut, dan dapat diolah dengan
lebih m endalam di luar kajian buku ini. Nam un, saya berbeda
pandangan dengan Vickers ketika ia m elanjutkan pendapatnya
bahwa ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk melakukan
perdebatan rasional m erupakan dam pak “kekuatan m em bujuk”
“retorika Orde Baru yang m asih am puh” (20 0 9: 9). Saya akan
mengajukan dua pendapat lain dalam soal ini.

Pertam a, sebagaim ana saya bahas dalam buku saya yang lain
(Heryanto 20 0 6a), kebanyakan saka guru bagi awetnya kedik-
tatoran adalah kekerasan isik dan penghancuran dalam lingkup
besar-besaran, berbarengan dengan ancam an yang berkepan-
jangan akan kem ungkinan berulangnya kekerasan itu. Dalam
kasus Indonesia, yang m enjadi dasar kekuasaan itu adalah pem -
bunuhan m assal pada 1965-66 digabungkan dengan beberapa
dekade selanjutnya berupa kekerasan yang disponsori negara,

3 Saya berterima kasih kepada Adrian yang bersedia berbagi makalahnya dan
m engizinkan saya untuk m engutip karyanya yang belum diterbitkan.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 161

kam panye teror-negara yang berjalan m elalui kekebalan hukum ,
dan ancam an berkepanjangan tentang kem ungkinan bangkitnya
kem bali kom unism e. Faktor-faktor ini m em bentuk kondisi bagi
pelaksanaan kekuasaan negara yang besar sejak tahun 1966, dalam
berbagai bentuk, termasuk dalam retorika. Terlepas dari seberapa
pun hebatnya retorika Orde Baru (sebagaim ana disam paikan oleh
Vickers), keam puhannya tak bergantung sem ata kepada kem ahir-
an para pejabat dan lem baga Orde Baru yang telah m engem bang-
kan dan m enggunakannya. Retorika tidak pernah terjadi di ruang
yang terbebas dari sejarah atau sem ata di dalam dunia sim bol
yang bebas terbang ke m ana-m ana. Sebagaim ana disam paikan
oleh Bourdieu dan Passeron, “setiap kekuasaan yang berhasil m e-
m aksakan m akna, dan berhasil m em aksakan sebagai hal yang sah,
dengan m enyem bunyikan hubungan kekuasaan yang m enjadi
dasar kekuatannya, dengan sendirinya akan m enam bahkan bobot
kekuatan sim bolik bagi hubungan kekuasaan yang m endasar itu”
(1977: 4). Tidak berarti kekerasan 1965 m erupakan penyebab
tunggal dari segala yang terjadi sesudahnya. Pada gilirannya, ke-
kerasan 1965 dapat dipandang sebagai sebuah dam pak sesuatu
yang lebih besar dan lebih tua ketim bang Perang Dingin, dan
sesuatu yang bersifat lokal dan khusus dalam sejarah m asyarakat
ini. Yang kita persoalkan di sini adalah pentingnya rasa takut yang
m endalam , dan m enyebar berlarut-larut serta luka sosial yang
m asih basah, telah m enjadi landasan terbentuknya kehidupan
bersam a, sehingga pem bicaraan tentang 1965-66 m enjadi m us-
tahil, tak diminati, penuh risiko bahkan untuk dibahas pada
tingkat intelektual, dengan cara yang tenang “m elalui logika dan
bukti”, dengan tujuan m ulia untuk m em aham i sepotong kebe-
naran dari m asa lalu. Bahasa m utlak-m utlakan “kita atau m ereka”
dan logika fatalis yang hitam -putih “m em bunuh atau dibunuh”
terus bertahan dan m em iliki dam pak yang diam -diam m irip de-
ngan situasi perang.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 162 Identitas dan Kenikmatan

Yang kedua, tam paknya Vickers m em berikan penilaian yang
berlebihan atas kehebatan Orde Baru. Saya berpendapat rezim
Orde Baru ikut term akan “logika m utlak-m utlakan” sebagaim ana
para penentangnya yang m enggunakan logika dan retorika serupa
untuk m enyerang rezim ini. Logika ini sudah ada sebelum m asa
Orde Baru, dan tak hanya m ilik Indonesia. Kebanyakan, bahkan
m ungkin seluruh, m asyarakat di dunia pada periode tertentu
enggan atau tak m am pu “bertukar antar-posisi” di m ana tiap
pihak bisa “sungguh-sungguh m endengar satu sam a lain” dengan
tenang seputar bagian dari sejarah mereka. Di Indonesia, logika ini
m enyebabkan m araknya politik identitas dengan sem acam ikatan
kodrati terhadap identitas tersebut (Heryanto 2006a: 24­32)
yang m em ecah belah bangsa tanpa cam pur tangan aparat negara.
Satuan sosial yang m enjadi tem pat hinggap ikatan kodrati itu bisa
berbeda dalam berbagai tempat dan waktu: perasaan kebangsaan
di satu saat, agama dan Tuhan di lain kesempatan, atau kesukuan,
bahkan kecintaan terhadap klub olahraga pada kesempatan lain.
Sem entara banyak aspek lain dari tersebarnya ikatan kodrati ini
m asih m enjadi m isteri bagi saya, situasi ini m enjadi tam bah rum it
dalam kehidupan yang berkiblat pada kom unikasi lisan, yang
berbeda dengan tingkat m elek huruf. “Ini adalah sebuah dunia di
mana aksara, rambu, atau lambang dianggap tidak terpisah dari
realitas dunia yang diwakilinya” (Heryanto 2006a: 32).

Pendidikan di Indonesia, khususnya sejak Orde Baru berkuasa,
nyaris tak berbuat apa-apa untuk m enetralkan, m engurangi,
atau m em batasi kecenderungan m enggunakan ‘logika m utlak-
m utlakan’ dan ‘ikatan kodrati’ di kalangan kaum m uda Indonesia.
Malahan sekolah telah m em perparahnya. Teknologi digital hanya
sedikit m engubah keadaan tersebut, dan hanya m em ukau jutaan
kaum m uda Indonesia. Sayangnya, sebagaim ana diperlihatkan
dalam bab sebelum nya, perkem bangan teknologi tidak banyak
m em bantu untuk m em persiapkan m ereka atau generasi yang le-

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 163

bih tua untuk berurusan dengan sejarah 1965 yang sangat berm a-
salah itu. Sebagai sebuah fenom ena global, perangkat digital yang
murah dan mudah tidak semata-mata membantu orang muda
untuk m elakukan apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang tua
m ereka dengan lebih cepat, akurat, m aupun m udah. Yang terjadi,
media baru telah memberi orang muda identitas baru, untuk
m elakukan hal-hal baru di sebuah dunia yang baru. Teknologi
telah m enyediakan kenikm atan untuk m engakses dengan kece-
patan, lingkup, dan kemudahan sarana di mana mereka bisa
m enyunting, berkom entar, dan berbagi pengalam an kehidupan
sehari-hari secara global di mana saja dan kapan saja. Ini adalah
dunia Facebook dan Twitter, di mana racauan sehari-hari, keluhan
dan kegiatan memasuki balai cermin berlapis-lapis dengan skala
global secara seketika.

Maka muncullah paradoks, ketika jejaring orang muda di Indo-
nesia berkembang secara global dengan satu pencet tombol di jari
tangan, wawasan sehari-hari mereka mengerut hingga seukuran
lam an Facebook atau m enjadi sesem pit layar telepon genggam .
Secara teknis, telepon genggam pintar dan Facebook memiliki ke-
m am puan untuk m enyim pan, m enyunting, m engubah, dan m e-
nyiarkan gagasan yang panjang dan m endalam , yang bisa dibuat
dengan teliti setelah melalui beberapa rancangan dan perbaikan.
Namun teknologi telepon pintar tidak dirancang untuk keperluan
itu. Bukan sebuah kebetulan cara bekerja teknologi dalam
kehidupan sehari-hari menumbuhkan perilaku kecanduan pada
penggunanya, yang m enim bulkan kegandrungan buta pada yang
sebaliknya, yaitu pertukaran pesan yang terus m enerus tapi serba
singkat, terpatah-patah, dan tergesa untuk kepingan kesadaran
yang sesaat. Ciri ini m irip dengan m asyarakat yang berkiblat
pada komunikasi lisan. J ika pengamatan kasar ini memberikan
petunjuk bagi fenom ena sosial dan psikologis yang lebih luas, tak
m engherankan jika kajian sejarah yang rinci tak pernah m em iliki

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 164 Identitas dan Kenikmatan

kedudukan istim ewa dalam m asyarakat Indonesia. Pengam atan
ini dibuktikan lebih jauh oleh bentuk dan tem a yang dom inan yang
muncul dalam kebanyakan ilm dokumenter Indonesia mutakhir
yang didiskusikan dalam bab di depan.

Dua bagian berikut dalam bab ini akan menampilkan dua upa-
ya yang m engagum kan untuk m enghadirkan dam pak peristiwa
1965 ke layar lebar. Bagian ini didasarkan pada pengam atan saya
terhadap pemutaran publik ilm dokumenter berjudul Tjidurian
19 (20 0 9, Aziz dan Susatyo), yang disutradarai bersam a oleh
dua orang m uda yang lahir dan dibesarkan di bawah Orde Baru.
Bagian berikutnya disusun dari pengalam an m enonton dan
berbincang dengan sutradara ilm dokumenter berjudul The Act
of Killing (20 12), yang saya tonton secara pribadi dengan para
pem buatnya sebelum pem utaran untuk um um . Film dokum enter
ini m enam pilkan pengakuan yang m engerikan dan tak m asuk akal
dari para pem bunuh orang-orang yang diduga sebagai kom unis di
Sumatra Utara pada tahun 1965. Dengan cara berbeda, kedua ilm
membantu kita mengungkapkan gagasan mengenai kemustahilan
atau nyaris m ustahilnya “sejarah” 1965. Keduanya m em perkaya
wawasan kisah yang m em bantu pem bentukan pem aham an inte-
lektual dan em osional kita terhadap dam pak peristiwa 1965. Kedua
ilm dokumenter ini menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai
upaya di Indonesia untuk berdam ai dengan m asa lalu yang penuh
kekerasan, yang tak bisa begitu saja diabaikan, diselesaikan, atau
d ilu p a ka n .

SEJARAH DAN DEFISIT POLITIK
Ketika Orde Baru tum bang dan aparatnya yang represif m elem ah,
layak jika banyak yang berharap inilah saat bertum buhnya kisah
tandingan. Memang, untuk sejenak, ada perasaan teramat lega
dalam diskusi publik m engenai topik-topik yang peka. Nam un
kegairahan itu lenyap dalam waktu singkat, tidak sem ata karena

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 165

hantu Orde Baru kem bali ke takhta. Bukan sensor dan teror oleh
negara yang m enghalangi m unculnya narasi-tandingan tentang
kekerasan 1965, m elainkan berbagai peristiwa sosial berlapis-
lapis yang m em buat peristiwa 1965 m enjadi kurang relevan,
atau setidaknya tidak m enjadi persoalan bagi m ereka yang
mendominasi ruang publik. Perkembangan seperti ini tidak dapat
diram alkan pada m asa pem erintahan Orde Baru.

Seiring berlalunya waktu dan wafatnya para korban 1965,
sem akin sulit bagi m ereka yang m asih hidup, keturunan, dan
para simpatisan mereka untuk mempertahankan tenaga dan ke-
m am puan yang diperlukan untuk m ewakili para korban 1965-66
dengan cara yang bisa secara nasional m enarik perhatian, dan
tetap m em elihara m inat m asyarakat pada topik itu dalam jangka
panjang. Dalam konteks lebih luas, Indonesia dalam beberapa de-
kade pertam a m ilenium ini bukan Indonesia lam a m inus rezim
otoriter Orde Baru. Sem akin banyak orang m uda yang tidak hanya
sedikit sekali mengetahui tentang masa lalu Indonesia, tetapi juga
tak menemukan alasan mengapa mereka harus peduli pada hal
tersebut.

Selintas m enengok waktu yang sedang berubah ini, dalam
bagian ini saya akan m elaporkan pengam atan dari keikutsertaan
saya dalam pemutaran ilm dokumenter Tjidurian 19 pada bulan
Novem ber 20 0 9. Saya juga akan berbagi catatan yang saya kum -
pulkan dari rangkaian percakapan dengan kedua sutradara ilm
tersebut. Film Tjidurian 19 m erupakan produk generasi m uda
pembuat ilm yang memiliki dedikasi. Hal ini mempertajam
gam baran soal kesenjangan generasi yang m em isahkan antara
m ereka yang m em iliki pengalam an langsung dengan peristiwa
1965, dan m ereka yang dibesarkan dalam propaganda berdosis
tinggi rezim Orde Baru. Judul ilm ini diambil dari alamat sebuah
rum ah di J akarta yang m enjadi kantor dan sanggar kelom pok
senim an anggota Lekra (Lem baga Kebudayaan Rakyat). Lekra

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 166 Identitas dan Kenikmatan

didirikan tahun 1950 dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang
pada tahun 1966 segera sesudah Orde Baru berkuasa (Foulcher
1986). Pem erintahan Orde Baru m enerapkan pelarangan um um
bagi hasil karya anggota Lekra karena m ereka terkait dengan
Partai Kom unis Indonesia. Sebelum pelarangan, rum ah di J alan
Tjidurian 19 merupakan milik pribadi Oey Hay Djoen, tetapi
juga berfungsi sebagai kantor dan sanggar bagi para seniman top
Lekra yang tinggal di J akarta. Segera sesudah Oey dipenjara dan
diasingkan ke Pulau Buru pada tahun 1966, rumah ini disita,
dijualbelikan, dan mengalami beberapa kali perpindahan kepe-
milikan. Ketika Oey dibebaskan dan kembali ke J akarta, tak ada
tanda bahwa rumah ini akan dikembalikan kepadanya atau ia akan
diberi ganti-rugi, atau permintaan maaf. Dalam hal ini, pengalaman
Oey mirip dengan pengalaman puluhan ribu korban 1965 lainnya
beserta anggota keluarga mereka. Mereka yang berasal dari latar
belakang keluarga tidak mampu, menjalani nasib yang lebih buruk
karena tidak pernah tercatat atau terwakili dalam sejarah.

Film Tjidurian 19 sebagian besar berisi wawancara yang di-
lakukan pada tahun 20 0 0 -an dengan para senim an Lekra yang
pernah tinggal atau menghabiskan waktu di rumah itu. Termasuk
di antara m ereka Am rus Natalsya, Am arzan Ism ail Ham id, S.
Anantaguna, Hersri Setiawan, Martin Aleida, Putu Oka Sukanta,
dan T. Iskandar. Wawancara dengan Oey dan istrinya ditam -
bahkan juga. Adegan-adegan wawancara tersebut diselingi dengan
beberapa potongan gam bar arsip J akarta pada dekade 1960 -an.
Saya menghadiri pemutaran perdana ilm ini di Goethe Institut
di J akarta pada tanggal 17 Novem ber 20 0 9 sebagai bagian dari
acara lebih besar, termasuk peluncuran dua buku dan pembacaan
karya sastra, yang seluruhnya berfokus pada warisan kekerasan
1965. Tiga ratus orang lebih m enghadiri acara tersebut, keba-
nyakan para aktivis muda dan pembuat ilm alternatif yang ber­
usia akhir 20­an hingga awal 30­an. Di akhir pemutaran tepuk

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 167

tangan penonton membahana, kemudian dilanjutkan dengan

sesi tanya jawab. Di luar dukungan sepenuhnya dan pujian untuk

Tjidurian 19, beberapa penonton berusia m uda berkom entar
bahwa ilm ini sulit diikuti bagi mereka yang tidak akrab dengan
periode 1960 -an, dan khususnya ketidaktahuan m ereka terhadap
Lekra. Bagi mereka, terlalu banyak tokoh yang muncul dalam ilm
dengan sedikit sekali keterangan tentang siapa m ereka, apa yang

m ereka lakukan pada tahun 1960 -an itu, dan m engapa m ereka

m elakukannya.

Sepasang anak m uda yang duduk di sebelah saya tam pak geli-
sah sepanjang pemutaran ilm dan meninggalkan tempat sebelum
tanya jawab selesai. Sebelumnya ketika ilm masih berlangsung
setengahnya, sang lelaki berbisik pada pasangannya bahwa ilm
itu m erupakan upaya m em bersihkan Lekra dari stigm a Partai

Kom unis Indonesia. Saya tak ingat apa persisnya kata-kata yang

ia ucapkan, tapi saya ingat bahwa saya tergelitik m endengar

pernyataan anak lelaki itu. J arak yang m em isahkan Lekra dari
PKI―berikut otonomi dan integritas para seniman ini dari campur
tangan PKI―jelas merupakan pesan utama yang dinyatakan oleh
mereka yang ditampilkan dalam ilm ini. Mengingat latar bela­
kang sejarahnya, pernyataan “kam i tak seperti PKI” dapat sepe-

nuhnya dipaham i, sekalipun bukan tanpa konsekuensi yang tak

diinginkan. Pernyataan ini jelas dim aksudkan sebagai koreksi

terhadap kam panye penistaan yang telah berlangsung selam a

tiga puluh tahun dalam propaganda Orde Baru, di m ana kom unis

dan sim patisannya digam barkan secara karikatural sebagai kaum

dogm atis, tak m anusiawi, dan jahat. Sayangnya, pem belaan diri

yang disam paikan dalam Tjidurian 19 m enyerupai, sekalipun

jauh lebih lem but, propaganda Orde Baru tentang kom unism e.
Sementara ilm itu berhasil memperlihatkan kualitas kemanu­
siaan anggota Lekra dengan m enekankan jarak dan perbedaan
mereka dengan PKI, pesan tersembunyi dan tak sengaja dari ilm

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 168 Identitas dan Kenikmatan

ini justru m em perlihatkan anggota PKI tidak sebaik anggota Lekra
yang muncul dalam ilm. Bukan hanya kejahatan Orde Baru pada
1965­66 tidak digugat di ilm ini, tuduhan rezim itu mengenai
kebuasan komunis juga tidak ditolak sama sekali, bahkan secara
tersirat seakan-akan dibenarkan.

Kem bali kepada kom entar anak m uda yang duduk di sebe-
lah saya, dalam hati saya bertanya-tanya apa persisnya yang
membuat ia tak menyukai ilm itu. Apakah ia kritis terhadap
propaganda anti-kom unis Orde Baru, dan ia kecewa karena
ilm itu tidak mengkritiknya? Ataukah ia melihat para tokoh
dalam ilm itu kelewat sibuk dengan pembelaan diri sendiri dan
membuat jarak dengan komunis serta kehilangan kesempatan
untuk m engungkapkan gam bar lebih besar m engenai apa yang
‘sesungguhnya terjadi’ pada tahun 1965-66? Ataukah orang
muda ini merupakan produk 30 tahun propaganda Orde Baru
yang percaya bahwa m ereka yang telah dihukum oleh Orde
Baru pasti telah berbuat sesuatu yang am at buruk, m aka segala
penggam baran yang bersim pati terhadap kehidupan, pikiran, dan
kegiatan para bekas tahanan dalam Tjidurian 19 ini m erupakan
kebohongan dan tindakan penyangkalan yang tak m eyakinkan?
Apa yang sesungguhnya ia rasakan, m ustahil untuk dipastikan.
Terlepas dari apa yang sesungguhya terjadi, kom entar, bahasa
tubuh, dan sikapnya m eninggalkan tem pat sebelum acara ber-
akhir m enunjukkan sulitnya m enghasilkan cerita m engenai
pem bunuhan m assal tahun 1965 yang bisa diterim a dengan nya-
m an oleh penonton di Indonesia, khususnya orang m uda. Bah-
kan m ereka yang tetap tinggal di tem pat pertunjukan pada saat
tanya jawab menyatakan sulitnya mengikuti ilm tersebut. Ini bisa
terjadi sekalipun kedua sutradara ilm ini berasal dari generasi
muda pembuat ilm Indonesia.

Max Lane, seorang peneliti asal Australia yang juga sim patisan
gerakan kiri di Indonesia, menulis tinjauan kritis terhadap ilm

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 169

itu dalam blognya sesudah ia m enonton pem utaran pada bulan
Novem ber tersebut. Posisinya tak m em perlihatkan keraguan
sama sekali. Sementara ia menghargai kualitas artistik ilm ter­
sebut, ia juga beranggapan ilm itu gagal karena beberapa alasan
terkait dengan penggam baran posisi politik Lekra. Bukan hanya
posisi Lekra terhadap PKI, tetapi juga dalam konteks sosial dan
situasi politik dom estik serta Perang Dingin global. Baginya,
dengan menekankan sifat halus seniman Lekra, ilm ini telah
m endepolitisasi Lekra:

Tentu, m enurut saya, LEKRA m erupakan bagian intelektual yang
paling radikal dari PKI. Nam un dengan tak m em beri penekanan dan
tak m em bahas sam a sekali peran LEKRA yang sesungguhnya sebagai
sekutu PKI dalam perjuangan politik untuk m encapai kekuasaan,
aktivitas para penulis ini telah dilucuti dari m uatan ideologis dan
konteks politik mereka.

(Lane 20 0 9)

Di satu sisi, secara um um saya setuju dengan penilaian Max Lane.
Film ini, dan peristiwa pemutarannya, mewakili deisit parah
dalam politik dan sejarah yang m enjadi ciri khas narasi m enge-

nai pem bunuhan 1965-66 dan peristiwa susulannya. Tam pak-
nya deisit ini merupakan dampak politik peristiwa yang ingin
dikisahkan lewat gam bar, suara, dan kata-kata. Di sisi lain, saya
bersimpati pada upaya dan kesulitan para pembuat ilm ini.
Mereka mengakui dalam sebuah percakapan sesudah pemutaran
bahwa mereka―sebagaimana para penonton ilm ini―merupakan
produk sejarah yang berbeda dengan sejarah yang dialam i generasi

saya dan Max Lane.

Beberapa hari sesudah pem utaran, saya m elakukan serang-
kaian percakapan dengan sutradara ilm ini, Abduh Aziz (19
Novem ber dan 1 Desem ber) dan Lasja Susatyo (20 dan 24 No-

vem ber 20 0 9). Percakapan ini m engukuhkan banyak hal yang

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 170 Identitas dan Kenikmatan

saya sam paikan di atas. Kedua sutradara ini lebih tertarik pada
pembuatan ilm dan cerita tentang kondisi kemanusiaan ketim­
bang pada persoalan politik. Dalam hal latar belakang dan aspirasi
seperti yang saya bahas dalam bab sebelum nya, m ereka lebih dekat
dengan para pembuat ilm seperti Lexy Ram badeta ketim bang para
pegiat organisasi non-pemerintah, atau dengan Putu Oka Sukanta
dan Lembaga Kreatiitas Kemanusiaan (LKK) yang m ensponsori
pem buatan Tjidurian 19. Baik Abduh m aupun Lasja m engakui
bahwa mereka mungkin merupakan produk sistem sekolah dan
propaganda Orde Baru. Sebelum membuat ilm, keduanya tidak
pernah kenal orang dalam lingkungan dekat m ereka yang m enjadi
korban peristiwa 1965. Mem buat Tjidurian 19 m erupakan sebuah
loncatan dan keputusan besar bagi kedua anak muda Indonesia
ini. Ketim bang m enjadi penghalang, usia m uda m ereka dan
keterbatasan hubungan dengan tahanan politik 1965 berpeluang
m enjadi aset yang bisa m enjem batani kesenjangan generasi yang
telah dibahas sebelum nya. Nam un sebagaim ana diperlihatkan
dalam tanya jawab sesudah pemutaran ilm pada bulan November
20 0 9 tersebut, jembatan penting itu tak bisa ditemui dengan
mudah ataupun pasti.

Dalam lingkaran terdekat m ereka, baik Abduh m aupun Lasja
tidak pernah diajar mengerti cita-cita utopis partai komunis apa
pun, apalagi kegiatan praktis partai tersebut. Abduh m enya-
takan bahwa ia telah menonton ilm Pengkhianatan G 30 Sep-
tem ber lebih dari sepuluh kali dan telah meresapi pesan-pesan-
nya. Sebagaim ana rekan-rekan sebayanya, ketika m arah, ia akan
m enggunakan kata “kom unis” sebagai um patan dan ejekan.
Tum buh dalam sebuah keluarga Muslim yang taat, ia berpan-
dangan bahwa PKI “setan, penjahat, tidak berm oral, tidak ber-
agam a dan sebagainya”. Persepsi ini m ulai berubah ketika ia
kuliah di J urusan Sejarah di sebuah universitas di J akarta.

Sementara itu, sebelum membuat ilm, Lasja tak pernah

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 171

mendengar tentang para tokoh maupun memiliki ketertarikan
terhadap apa itu Lekra. Menurutnya:

Mereka tidak pernah disebut dalam pendidikan kita. Di luar din-
ding sekolah, m ereka adalah kelom pok atau gerakan yang terkait
dengan PKI, m aka berbahaya untuk dipertanyakan apalagi untuk
dibicarakan. Keluarga dan tetangga saya adalah pegawai negeri. Para
pakde, pam an dan tante kalau bukan jendral, anggota DPR atau ya
pegawai negeri juga.

Hidup di bawah Orde Baru dan pasca-Orde Baru, Abduh tum -

buh m enjadi seorang yang tidak percaya pada partai politik, sikap

yang m engingatkan kita pada sem angat para pendukung ketak-

waan post-Islamis sebagai reaksi terhadap politik Islamis (lihat
Bab 2 dan 3). Ketidakpercayaan itu menjadi salah satu alasan
yang mendorong pemuda ini untuk membuat ilm yang mene­
kankan sisi kemanusiaan dan kehidupan para tokoh ilmnya
dalam menjalani kehidupan sehari-hari ketimbang politik partai,

dengan risiko m engecewakan penonton dari generasi yang lebih
tua seperti Max Lane. Abduh juga sadar adanya ilm yang telah
mencoba menandingi propaganda Orde Baru. Film­ilm itu tidak
m enim bulkan kesan berarti baginya karena fokusnya yang sem pit
dan menggambarkan konlik politik antar­elite, dengan menge­
sampingkan kesempatan memperlihatkan perjuangan warga ne-

gara biasa. Ia m erasa, seandainya harus bicara m engenai politik

tingkat tinggi seperti itu, ia akan m em ilih untuk m elakukannya
lewat analisa akademis ketimbang lewat ilm.

Tanpa secara khusus m engacu pada karya LKK, Lasja m enam -
bahkan bahwa ia tak tertarik pada ilm yang membangkitkan rasa
kasihan dari penontonnya (dengan bercanda ia berkata, “Lihatlah,
betapa menderitanya kami”), juga pada ilm yang membangkitkan
amarah, atau ilm yang menggambarkan tragedi dan membuat
penonton tertekan sesudah m enonton. Abduh dan Lasja tum buh

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 172 Identitas dan Kenikmatan

di dunia yang tak hanya berbeda, tapi juga tam pak terputus
dengan orangtua dan kakek-nenek m ereka. Dipicu oleh faktor-
faktor perpecahan politik global (dekolonialisasi, pem bentukan
negara-bangsa, Perang Dingin) hingga ke lingkungan sekitar,
keluarga, dan hubungan personal, maka sulit, bahkan mustahil,
bagi generasi terdahulu untuk kebal dari pengaruh narasi besar
tentang perubahan politik yang terkadang rom antis, kebal dari
jargon politik, serta demam untuk terlibat dalam organisasi massa
yang form al.

Am atlah m udah, nam un kerap keliru, untuk m erem ehkan
nilai politis Tjidurian 19, dan m engabaikan wawasan yang lebih
luas tentangnya. Saya m elihat Abduh dan Lasja m erupakan wakil
generasi m uda Indonesia yang tercerahkan secara politis dan
historis. Hasil wawancara seorang wartawan dengan beberapa
m ahasiswa sebuah universitas di J akarta pada pertengahan
tahun 20 0 9 memperlihatkan gambaran umum tentang generasi
m uda Indonesia kini. Kebanyakan m ahasiswa ini (di usia 20 -an)
m engaku belum pernah m endengar pem bunuhan m assal 1965-
66. Ketika ditanya apakah cerita itu perlu disam paikan kepada
seluruh bangsa Indonesia, salah seorang dari mereka, mahasiswa
fakultas hukum , m enjawab, “Untuk apa? J am an Suharto sudah
berakhir” (Siahaan, 20 0 9). J udul laporan itu, “The Forgotten
History of 1965” atau “Sejarah 1965 yang terlupakan”,4 jelas ber-
m asalah. Sebagaim ana isi laporan itu, bagi banyak orang m uda
Indonesia, sejarah yang berm asalah itu belum dan jelas tidak
bisa “terlupakan” atau “terkenang” karena belum pernah tercatat
dalam benak m ereka. Hingga kini, sikap diam dalam m asyarakat
berarti ketidaktahuan, ketimbang menahan diri, ketakutan,
traum a, atau penghindaran. Gejala ini tidak hanya terjadi di

4 Catatan penerjem ah: “Sejarah 1965 yang terlupakan”. J udul aslinya berbahasa
Inggris. Laporan ini diterbitkan dalam The Jakarta Globe, koran berbahasa
Inggris yang terbit di J akarta.

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 173

Indonesia. “Sem akin sedikit saja orang m uda yang tahu tentang
Holocaust, Hiroshim a, pem erkosaan di Nanking atau Revolusi
Kebudayaan Cina” (Kaplan dan Wang 20 0 8a: 12). Daftar ini akan
segera bertam bah dengan peristiwa yang lebih baru seperti Perang
Vietnam , Soweto, Santa Cruz, dan Tiananm en.

Bahkan jika kita m elihat satu generasi ke belakang, kritik
politis dalam karya sastra dan ilm terkait kejahatan Orde Baru
pada 1965­66 amat jarang. Kebanyakan karya sastra dan ilm
dengan tem a ini cenderung m enyetujui ketim bang m enentang
propaganda Orde Baru tentang kebrutalan kom unis, bahkan
ketika m ereka m enggam barkan derita para korban 1965. Terdapat
beberapa kekecualian, kebanyakan ditulis oleh para penyintas
atau anggota keluarga korban propaganda anti-komunis. Patut
dibahas lagi soal yang sudah saya sebut dalam bab sebelum nya
bahwa dalam kebanyakan karya sastra dan ilm mengenai 1965­
66, tokoh jahatnya cenderung kekiri-kirian, seorang licik yang
m em bujuk orang agar m enyukai ide-ide kom unism e dan m en-
dukung PKI; atau seseorang yang tak berdosa dan m udah ditipu
serta disesatkan; atau seseorang yang bernasib sial karena hu-
bungan darah atau perkawinan dengan kom unism e. Karya-karya
ini punya pesan yang relatif seragam : tokoh-tokoh ini harus dibu-
nuh atau dibimbing bertobat. J ika mereka terbunuh, mereka
sendiri yang disalahkan. Foulcher (1990 ) m enganalisa tem a ini
dalam novel Anak Tanahair: Secercah Kisah karya Ajip Rosidi
(1985), dan saya menemukan tema serupa dalam ilm Gie (20 0 5,
Riza) yang terpilih menjadi ilm terbaik pada FFI 2006 (Heryanto
20 0 8a). Yang absen secara m encolok pada karya-karya itu adalah
peran pelaku m iliter dan sipil dalam pem bantaian 1965, dengan
kekecualian pada ilm Sang Penari (20 11, Isfansyah). Film yang
m endapat Piala Citra ini tetap m enggam barkan kom unis sebagai
penjahat, tetapi bersim pati terhadap penduduk desa yang m iskin
dan tak berdosa yang dibunuhi oleh m iliter. Meskipun dem i-

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 174 Identitas dan Kenikmatan

kian, dalam ilm ini, kematian penduduk desa yang malang itu
digambarkan sebagai akibat kesalahan mereka sendiri, karena
terlalu dekat dengan komunis sebagai buah dari sikap abai atau
kebodohan m ereka tentang bahaya kom unism e.

Kini, orang m uda Indonesia m enjadi sosok yang aktif, tetapi
tetap tunduk pada tekanan zam an dan lingkungan yang am at
berbeda dengan m asa-m asa Perang Dingin. Kebanyakan kelas
menengah perkotaan Indonesia saat ini tidak mengalami tekanan
ataupun mendapat insentif untuk terlibat dengan gerakan politik
untuk menghadapi isu global―dengan kekecualian penting ge­
rakan politik Islam (lihat Bab 2 dan 3). Bagi sebagian besar yang
lebih sekuler, atau lebih nyam an dengan pandangan post-Islam is,
keterlibatan dengan isu global terpusat pada isu konsumsi atau
kom oditas hiburan seiring tren internasional (lihat bab 7), atau
keadilan sosial sebagaimana beredar di jejaring media sosial
mereka.

Dapat dipahami jika tinjauan ulang atas pembunuhan massal
1965 tak pernah m enarik kebanyakan generasi m uda. Sebagai-
m ana ditulis Zurbuchen, pada saat perubahan sosial “representasi
m asa lalu bisa lenyap, berubah, m em peroleh atau kehilangan
kewibawaannya” (20 0 5: 8). Masa depan keterlibatan orang Indo-
nesia dengan m asa lalu yang berm asalah ini bukan hanya susah,
tetapi juga dipenuhi ketidakpastian. Tepat pada saat isu 1965-66
mulai pudar, sebuah titik-balik besar terjadi, dan sebuah harapan
baru muncul: diedarkannya sebuah ilm dokumenter, dan bagian
selanjutnya dari bab ini akan membahas ilm ini secara khusus.

KISAH JOROK HABIS
Sebelum nya saya sem pat m enyebutkan kekecualian dengan m e-
masukkan sebuah ilm dokumenter produksi internasional The
Act of Killing (20 12, Oppenheim er) dalam bab ini. Film karya
Oppenheim er ini am at tidak biasa dan setidaknya terdapat tiga

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 175

alasan teramat kuat untuk memasukkan ilm ini ke dalam pem­
bahasan saya. Pertama, metode produksi ilm ini sangat luar biasa.
Kedua, pembuatan ilm ini melibatkan sejumlah besar orang
Indonesia, termasuk mereka yang menjadi pembuat ilm, aktor,
dan sebagainya. Film ini dipuji oleh para pecinta ilm dan kritikus
top di seluruh dunia, dan secara radikal menentang asumsi-asum-

si tradisional dalam kajian mengenai politik dan kekerasan, serta
apa artinya ilm dokumenter. Ketiga, ilm ini kemungkinan besar
merupakan ilm paling dahsyat tentang pembunuhan 1965­66,
dengan kemungkinan berdampak besar secara politis, dan moral

jika bukan hukum, di kalangan publik Indonesia. Tentu dengan
penyebaran ilm ini secara lebih luas, studi para ahli tentang
pem bunuhan 1965-66 serta studi tentang politik di Indonesia,

tidak akan pernah sama lagi.

Disutradarai oleh J oshua Oppenheimer, bersama dengan

Christine Cynn dan sejum lah orang Indonesia yang nam anya dira-
hasiakan, ilm dokumenter ini merupakan hasil kerja keras selama
tujuh tahun, membuahkan rekaman gambar sepanjang seribu jam

lebih. Film ini berpusat pada pengakuan dan renungan beberapa

tokoh utama organisasi paramiliter Indonesia, Pemuda Pancasila,

yang bertanggung jawab atas pem bunuhan anggota PKI dan para

terduga kom unis di Sum atra Utara pada 1965-66, sebagai bagian

dari pem bantaian nasional yang m em akan korban sekitar satu

juta jiwa.
Dalam bab sebelumnya, saya membahas beberapa ilm pro-

paganda anti-kom unis (juga dram a televisi) yang diproduksi

oleh pem erintahan Orde Baru, yang sem uanya m enekankan pa-

da kisah fantasi tentang kekejam an dan sifat tidak m anusiawi
komunis. Dalam bab tersebut, juga sudah dibahas beberapa ilm
pendek pasca-1998 yang m enentang propaganda tersebut. Film -
ilm itu dengan tegas membalikkan penokohan baik dan jahat,
yang ditanam kan dengan kuat dalam sejarah nasional resm i

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 176 Identitas dan Kenikmatan

oleh beberapa pem erintahan dan pendukungnya, yang paling
mencolok dalam ilm Pengkhianatan G 30 Septem ber (1984,
Noer). Meski begitu, pem balikan seperti ini hanya m enghasilkan,
bukan menghilangkan atau menggugat, kerangka utama dikotomi
baik-lawan-jahat yang m enjadi struktur propaganda pem erintah
dan alam berpikir publik. Dalam aspek penting lainnya, baik ilm
anti­komunis maupun ilm anti­Orde Baru memiliki ciri yang
sam a yaitu tidak hadirnya adegan yang m em perlihatkan wajah
dan suara orang-orang yang m engaku (ataupun dituduhkan)
m enjadi pelaku peristiwa 1965 itu sendiri, baik dalam penyiksaan,
pembakaran, penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Dalam
ilm propaganda Orde Baru dan pernyataan­pernyataan yang tak
terekam , m ereka yang dicurigai m enjadi pelaku kejahatan m au-
pun “dalang” dan pendukungnya, m enyatakan diri entah sebagai
korban kom unis atau sebagai pahlawan nasional yang m enyela-
matkan Indonesia dengan menghancurkan komunisme. Dalam
ilm anti­Orde Baru, pelaku kejahatan 1965­66 dibahas, disebut
nam anya, dan dikutuk dengan perasaan m arah, tapi tanpa pernah
ada dari m ereka yang ditam pilkan di layar.

Yang am at m encolok berbeda dari sem ua itu, The Act of
Killing m em ukau sekaligus m erisaukan dengan m enyajikan wajah
dan suara asli orang-orang yang m engaku m enjadi pem bunuh
pada pem bantaian 1965-66 di Sum atra Utara. Bahkan m erekalah
yang menjadi tokoh utama dalam ilm berdurasi dua setengah
jam ini, yang sebagian besar berisi pengakuan m ereka yang jorok
dan rinci tentang tindak pem bunuhan yang m ereka lakukan. Film
dokum enter ini secara verbal dan blak-blakan m enggam barkan
tindakan kekerasan yang am at jauh m elam paui gam baran keke-
rasan dalam ilm­ilm anti­Orde Baru (mengacu pada para pen­
culik, penyiksa, dan pem erkosa anti-kom unis), m aupun dalam
ilm Pengkhianatan G 30 Septem ber (para penjahat yang ditu-
duh antek gerakan kom unis yang m enyiksa para perwira yang di-

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 177

culik). Tentu saja pengakuan para tokoh The Act of Killing yang
merugikan mereka sendiri ini jauh lebih serius ketimbang tuduh-
an terhadap mereka yang ditampilkan dalam ilm­ilm sebelum­
nya. Namun ilm dokumenter ini menyodorkan narasi yang lebih
jauh daripada sekadar membenarkan atau membuktikan tuduhan
para penyintas tentang kekejam an pem bunuhan berencana yang
dikom andoi oleh m iliter. Film ini m enyajikan kisah pem bunuhan
itu dalam sebuah cerita yang lebih rum it, dengan anak cerita
berlapis-lapis, penuh dengan ironi dan kontradiksi.

The Act of Killing penting dalam bahasan kita bukan karena
ilm ini membawa fakta atau bukti baru tentang kekerasan 1965­
66, melainkan karena ia menawarkan kisah menarik tentang ke-
kejam an yang sebugil-bugilnya dan habis-habisan. Film ini m e-
lim pah dengan pengakuan yang m em beratkan-pelaku-sendiri
dan dituturkan dengan gaya berlebihan oleh para pelaku pem -
bunuhan, yang berbicara dengan bangga di hadapan kam era ten-
tang bagaim ana dengan sekejam -kejam nya m ereka m em bunuh
anggota PKI dan anggota keluarganya, serta m em perkosa para
perem puan, term asuk anak-anak, yang m enjadi korban m ereka.
Pada titik ini, gagasan tentang ‘sejarah’ sudah sangat rum it. Tapi,
pelaku sekaligus aktor ini lebih jauh memperagakan langkah
demi langkah, di depan kamera, bagaimana mereka melakukan
pem bunuhan itu di lokasi kejadian pada tahun 1965. Sem ua ini
m em buat tuduhan para penyintas tentang kejahatan m ereka jadi
tak diperlukan lagi. The Act of Killing memaparkan, dengan cara
yang m engerikan, apa yang telah dihapuskan dari sejarah dan
pernyataan resm i Indonesia oleh beberapa pem erintahan sejak
1966, serta apa-apa yang dengan susah payah berusaha disam -
paikan oleh para penyintas (yang kini sudah sepuh itu) m elalui
pengakuan­pengakuan mereka dalam ilm maupun di luar layar.

Lebih dari satu pelaku dalam The Act of Killing m engaku bahwa
ilm mereka akan jauh mengungguli ilm buatan pemerintah,

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 178 Identitas dan Kenikmatan

Pengkhianatan G 30 Septem ber dalam m enggam barkan adegan-
adegan kekerasan yang m engerikan. Mereka m enyatakan bahwa
m asyarakat um um telah salah beranggapan (sejalan dengan
propaganda Orde Baru) bahwa kom unis jahat dan kejam . Salah
seorang dari m ereka bicara dengan terus terang “Kam i lebih kejam
ketim bang Kom unis”, sam bil tertawa kecil. Mereka m enjelaskan
maksud mereka secara rinci melalui kata-kata dan peragaan ulang
di depan kam era. Kenangan para pelaku ini tentang kejahatan
m ereka ditandai dengan tawa, nyanyian, dan tarian, serta sesekali
diselingi sesal atau mimpi buruk.

Saya beruntung diberi kesempatan oleh sutradara ilm ini un­
tuk melihat rangkaian rekaman mentah ilm dan versi akhirnya
sepanjang dua tahun terakhir produksi ilm ini. Pada saat buku ini
disiapkan, ilm tersebut sedang beredar di bawah tanah di Indo­
nesia lewat acara-acara dengan undangan terbatas dan pribadi
(karena alasan keam anan). Tentu saja, saya sem pat penasaran
bagaimana publik di Indonesia menanggapi ilm ini dan apakah
ilm ini akan tersedia untuk umum lewat bioskop atau DVD, atau
lewat internet. Kalaupun kita tinggalkan sejenak urusan reaksi
publik, ilm ini menimbulkan beberapa pertanyaan metodologis
dan etis yang m enjadi m inat khusus buku ini, selain persoalan
politik dan hukum nya.

Pertanyaan pertam a terkait dengan m etode. Bagaim ana para
pembuat ilm ini berhasil membujuk para pelaku untuk bicara
dengan bebas, dan m engakui tuduhan-tuduhan yang m erugikan
diri m ereka sendiri, dan tanpa m enyem bunyikan identitas m e-
reka? J elas tak ada kam era tersem bunyi yang digunakan dalam
produksi ilm ini. Dengan anggapan bahwa orang­orang ini
berperan secara aktif dalam proyek pembuatan ilm, pertanyaan
ini dapat dirumuskan ulang dari sudut pandang mereka: mengapa
para pelaku mau membeberkan tuduhan kejahatan mereka
sendiri pada tingkatan yang am at serius dan bebas, seandainya

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 179

m ereka tahu persis bahwa pernyataan m ereka pada akhir-
nya akan disebarluaskan kepada publik? Keuntungan apa yang
mereka harapkan untuk diri mereka sendiri, atau mereka beri-
kan kepada penonton? Kalaupun m ereka m em ang kejam di usia
muda, mungkinkah mereka (40 tahun kemudian) begitu bodoh-
nya sehingga tak m enyadari risiko m em buat pernyataan yang
memberatkan diri sendiri mengenai perbuatan mereka di masa
lalu? Pertanyaan kedua terkait persoalan etis. Di luar ketepatan
politis dan kesadaran terhadap risiko yang dim iliki oleh para aktor,
saya sempat bertanya­tanya apakah para pembuat ilm memberi
kesempatan kepada para aktor untuk menonton rekaman awal
yang sudah dibuat, sehingga m ereka dapat m enim bang ulang
untuk diri m ereka sendiri bagaim ana m ereka tam pil di layar
dan m em perkirakan dam paknya terhadap diri m ereka m aupun
penonton. Apakah para pembuat ilm sudah membahas soal­soal
ini dan m enyiapkan m ereka m enghadapi pertanyaan yang kiranya
akan diajukan oleh penonton kelak? Pertanyaan ketiga m erupakan
urusan kebenaran. Terlepas dari apa yang disam paikan oleh para
pelaku tentang yang telah m ereka lakukan terhadap kom unis pada
tahun 1965-66, sam pai sejauh m ana pernyataan dan peragaan
yang m ereka lakukan m ewakili peristiwa yang sesungguhnya
terjadi pada 1965-66? Bagaim ana kita bisa m engetahui dan
menilainya? Seberapa banyak fakta dan atau iksi yang tersaji
dalam penyajian kisah di ilm ini? Apakah itu penting? Sisa dari
bagian ini akan digunakan untuk memberi jawaban sementara
kepada pertanyaan-pertanyaan ini.

Sebuah jawaban pada rangkaian pertanyaan pertam a sudah
tampil jelas dalam ilm ini, yaitu kesukaan para pelaku untuk
berom ong besar. Sutradara J oshua Oppenheim er m enyelidiki hal
ini lebih jauh secara terpisah tetapi m asih terkait dengan proyek
ini secara lebih luas (Oppenheimer dan Uwemedimo 20 0 9).
Para pelaku ini sadar betul m engenai risiko yang ada, dan uraian

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 180 Identitas dan Kenikmatan

mereka mengenai risiko ini terekam dalam ilm. Meskipun begitu,
sifat om ong besar ini m enim bulkan pertanyaan lebih jauh dan
lebih besar. Kita harus bertanya dalam situasi seperti apa―nyata
maupun dalam angan­angan―para pelaku 1965­66 ini dapat me­
m iliki kenikm atan dan hak istim ewa untuk m enyom bongkan diri
dengan bebas apa yang m ereka akui sendiri sebagai “kejahatan”
m ereka. Situasi seperti apa yang m em ungkinkan m ereka m e-
nikmati kekebalan hukum secara penuh dan berkepanjangan?
Boleh jadi sesekali kita senang m enyom bongkan diri di hadapan
beberapa orang. Hal ini tak berarti bahwa sebagian besar orang
akan m enyom bongkan diri tentang apa saja, setiap waktu kepada
masyarakat umum. Para pemeran utama ilm ini menikmati per­
lindungan dari sesam a pelaku dan politisi Orde Baru yang anti-
kom unis yang berhasil m enaiki tangga politik hingga m enduduki
jabatan penting. Beberapa dari m ereka telah m em erintah negeri
ini atau provinsi tem pat m ereka tinggal selam a beberapa dekade
terakhir. Politisi terkenal di tingkat nasional dan lokal yang m en-
jadi pelindung mereka tampil di dalam ilm, memperlihatkan
hubungan yang sangat akrab dengan anggota param iliter lokal,
termasuk di antaranya tokoh utama ilm ini. Kita akan kembali ke
soal ini nanti.

Dengan berlim pahnya keyakinan diri para pelaku ini, pem -
buat ilm tak perlu bersusah­payah membujuk mereka untuk
bicara di depan kamera secara terus terang. Untuk menjamin
persyaratan etis yang wajib, para pembuat ilm lebih dari sekadar
m endiskusikan proyek ini dan m endapatkan pernyataan form al
kesediaan mereka. Sutradara ilm berbagi hasil rekaman kasar
dengan para aktor sekaligus pelaku kejahatan politik ini (Per-
tanyaan 2). Para pelaku yang sedang m enonton rekam an itu, serta
komentar mereka tentang bahan mentah ilm, kemudian direkam,
dan adegan ini menjadi bagian penting dari The Act of Killing.
Inilah yang menampilkan inovasi pembuat ilm, dan membuat

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co Kemustahilan Sejarah? 181

persoalan m enjadi teram at rum it. Ketim bang sekadar sem ata m e-

rekam orang-orang yang m enyom bongkan diri di depan kam era,

J oshua Oppenheimer mengundang mereka mengambil peran
lebih besar dalam proses pembuatan ilm. Oppenheimer mena­
warkan kebebasan untuk menceritakan kisah mereka dalam ke-
rangka sinematis dengan cara membuat cerita iktif untuk proyek
kerja sam a m ereka, berdasarkan ingatan dan fantasi m ereka ten-

tang pem bunuhan 1965-66, serta tanggapan pribadi terhadap
pengalaman mereka sendiri―seluruhnya ditampilkan untuk dire­
kam di depan kamera. Para bekas jagal ini ikut berperan dalam

menulis naskah, mendesain set, musik, memilih pemain lain, dan
merekam ilm yang secara hipotetis mereka produksi dan bintangi.
The Act of Killing memperlihatkan bagaimana mereka mem-
persiapkan dan memproduksi ilm mereka, dan apa komentar
m ereka tentang rekam an yang dihasilkan dari proses kerja sam a

ini, serta akibat tak sengaja dari pengalaman hidup salah seorang
tokoh utama ilm. Oppenheimer juga bertanya kepada sebagian
dari mereka dengan terus terang tentang kesiapan mereka untuk

menghadapi kemungkinan tuduhan sebagai penjahat perang.

Salah seorang dari m ereka m enjawab sam bil m engejek, “Wah

saya siap. Supaya jadi orang terkenal. Tolong sam paikan supaya

saya dipanggil,” dengan percaya diri pada kekebalan hukum yang

dim ilikinya.
The Act of Killing merupakan ilm dokumenter tentang pelaku

sejarah, kesaksian mereka, serta bagaimana pelaku tersebut mem-
buat ilm (dalam ilm itu) untuk mengisahkan kejahatan mereka
pada tahun 1965-66. Film ini m enyajikan penyelidikan sejarah

lisan masa-masa berdarah itu serta ingatan beberapa pelaku. Film
ini juga bercerita tentang kisah iksi para pelaku itu yang secara
sadar dirancang dan diperagakan-ulang untuk m enyam paikan

ingatan dan komentar mereka terhadap ingatan itu, sebagaimana
terilham i oleh gam bar yang m ereka dapat dari ilm­ilm koboi dan

pustaka-indo.blogspot.com


http://pustaka-indo.blogspot.co 182 Identitas dan Kenikmatan

gangster Hollywood dekade 1960 -an, tak berapa lam a sebelum
pem bunuhan itu terjadi pada tahun 1965 dan awal 1966. Maka,
ketimbang menurunkan peran tokoh utama semata sebagai
objek rekaman kamera, sang sutradara membiarkan mereka
turut m enjadi “penulis” kisah yang m em beratkan m ereka sendiri
dalam bentuk sinematis, dan itu mereka lakukan dengan bebas,
penuh sindiran, tawa, serta kenikmatan. Sementara itu, dengan
menggunakan kamera kedua, sang sutradara merekam kegiatan
mereka membuat ilm tentang pembunuhan yang mereka lakukan,
yang pada akhirnya m enghasilkan The Act of Killing.

Tak ada yang dapat m em astikan apa yang hendak dicapai
oleh para pelaku dari proyek ini. Di layar, m ereka m enyatakan
niat untuk “m enyam paikan sejarah apa adanya” kepada dunia,
tidak hanya kepada Indonesia. Dalam gerak tubuh yang sangat
ironis, m ereka m em pertanyakan kebenaran tentang kekejam an
kom unis dan tuduhan pesta seks yang dilakukan oleh anggota
Gerwani di Lubang Buaya sebagaim ana disebarkan secara luas
oleh propaganda anti-kom unis Orde Baru. Nam un The Act of
Killing bukan kisah tentang penyesalan, bukan pula tentang
kepahlawanan sebagaim ana diharapkan oleh para aktornya. Se-
mentara Oppenheimer berhati-hati agar tidak memberi ruang
bagi tokoh-tokoh utama ini untuk menobatkan diri sebagai pah-
lawan, ia juga berusaha m em buat m ereka tidak sepenuhnya tam pil
sebagai orang-orang bodoh atau iblis. Rupanya di luar rencana,
salah seorang yang paling senior, paling om ong besar, dan jagal
yang paling kejam , tiba-tiba tak m am pu m enahan em osi atau rasa
bersalah serta m em ungkiri sikap jantannya, sesudah serangkaian
akting dan peragaan-ulang bersam a rekan-rekannya, ketika
mereka sedang bergiliran berperan sebagai tawanan komunis
yang tertangkap.

“Fakta­fakta” terpilih itu—berupa hasil wawancara dan perbin­
cangan santai dengan pelaku pembunuhan tentang kejahatan

pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version