Umur : 10 tahun
Tahun pelajaran : 2019/ 2020
Hari/tanggal : ......
Kondisi awal peserta didik Tunanetra
No Aspek Deskripsi
1 Motorik Motorik kasar:
kasar: Anak memiliki 65% kesiapan belajar omsk yang
ditunjukkan dengan mampu melakukan sendiri
aktivitas yang berhubungan dengan aktivitas diri
tetapi belum aktivitas yang berhubungan dengan
objek lain (memanjat, lompat, berdiri satu kaki, dll.)
belum dapat melakukan
Motorik halus:
Anak memiliki kesiapan dalam motorik halus mencapai
91%, artinya yang bersangkutan mampu mengikuti
program pengembangan omsk lanjutan, tetapi tangan
belum mampu melakukan bidang permainan dengan
tanah liat.
2 Sensorik Anak memiliki 66,7% kesiapan dalam interaksi sosial.
untuk Belum memiliki kompetensi tentang pola permainan,
kepentingan bermain peran, melakukan simulasi, melakukan ekspresi
mobilitas komunikasi formal., melakukan ekspresi komunikasi non
sosial formal.
3 Keterampilan Telah memiliki kemandirian yang berhubungan dengan
berpindah konsep diri sendiri, tetapi belum mandiri dalam aktivitas
tempat/ yang melibatkan jangkuan di luar dirinya (misal:
kemandirian menggunakan deodoran, memotong kuku, menggunakan
sepatu, menyisir rambut, merias, dll.)
a. Kompetensi
Bepergian dengan teknik melindungi diri lingkungan sekolah
b. Indikator
1. Melakukan teknik menyilang tangan di atas
2. Melakukan teknik menyilang tangan ke bawah
3. Melakukan teknik merambat/ menyusuri
4. Melakukan teknik tegak lurus dengan benda
5. Melakukan mencari benda jatuh
Unit Pembelajaran 283
c. Tujuan
Pesrta didik dapat melakukan aktivitas di lingkungan sekolah dengan aman
dan nyaman dengan menggunakan teknik tangan menyilang ke atas (upper
hand and for arm) dan teknik tangan menyilang badan ke arah bawah (lower
hand and fore arm) dengan baik.
d. Pendekatan, Strategi, Metode
1) Pendekatan : individual, kontekstual
2) Strategi : pembelajaran langsung
3) Metoda : penugasan, observasi
e. Materi :
Teknik tangan menyilang ke atas (upper hand and for arm) dan teknik tangan
menyilang badan ke arah bawah (lower hand and fore arm)
f. Sumber dan media/alat
1) Sumber : buku KI KD OMKS
2) Media/ alat : model tubuh (torso), tubuh peserta didik
g. Pelaksanaan program
1) Kegiatan awal
a) Mengucapkan salam
b) Melakukan presensi kehadiran peserta didik.
c) Menyampaikan materi pokok dan tujuan pengembangan
d) Melakukan pengulangan dengan mendemonstrasikan terhadap materi
minggu sebelumnya
2) Kegiatan inti
a) Teknik tangan menyilang ke atas (upper hand and for arm)
• Guru mendemonstrasikan teknik tangan menyilang ke atas yaitu
tangan kanan atau kiri diangkat ke depan setinggi bahu menyilang
badan dengan posisi sikut kira-kira 1200 dan telapak tangan
menghadap ke depan, peserta didik meraba posisi tangan
berulang-ulang.
• Peserta didik melakukan sendiri dengan bimbingan guru.
• Peserta didik berlatih berulang-ulang.
284 Unit Pembelajaran
• Guru menyampaikan tujuan gerakan ini adalah untu melindungi
badan bagian atas.
b) Teknik tangan menyilang badan ke arah bawah (lower hand and fore
arm)
• Guru mendemonstrasikan teknik menyilang ke bawah yaitu tangan
kanan atau kiri disilangkan dimuka badan mengarah ke bawah
dengan telapak tangan menghadap ke badan, peserta didik
meraba berulang-ulang.
• Guru menyampaikan tujuan gerakan ini adalah untu melindungi
badan bagian bawah.
• Peserta didik mencoba melakukan sendiri dengan bimbingan guru.
• Peserta didik berlatih berulang-ulang
c) Teknik menetapkan posisi tubuh ( squaring off)
• Peserta didik diminta untuk mencoba menetapkan posisi meNUrut
pendapatnya masing-masing.
• Guru membimbing terhadap praktik peserta didik yang dengan
cara posisi tegak lurus dengan dinding atau daun pintu, dengan
maksud untuk meluruskan arah berjalan kita
• Guru menyampaikan tujuan gerakan ini adalah menentukan posisi
diri terhadap objek lain.
• Peserta didik mencoba melakukan sendiri dengan bimbingan guru.
• Peserta didik berlatih berulang-ulang
d) Teknik mencari benda jatuh(drop objek)
• Guru menyampaikan tujuan gerakan ini adalah untuk mengambil
benda jatuh dengan aman.
• Guru memberi kesempatan peserta didik menjatuhkan benda dan
mencarinya.
• Guru mendemonstrasikan dengan cara mendekati lokasi benda itu
jatuh, apabila jatuhnya di tempat yang banyak benda-benda, maka
posisi badan kita jongkok dengan tidak membungkukkan badan,
dan tangan menggunakan teknik upper hand yang dimodifikasi,
Unit Pembelajaran 285
lalu menyapukan tangan kita ke lantai di mulai dari tempat yang
dekat dengan badan kita, lalu melebar menjauh dari badan,
peserta didik meraba berulang-ulang.
• Peserta didik mencoba melakukan sendiri dengan bimbingan guru.
• Peserta didik berlatih berulang-ulang
3) Kegiatan Penutup
a) Guru memberi kesempatan untuk menanggapi pembelajaran hari ini.
b) Peserta didik diberi kesempatan untuk mengulang 4 gerakan tersebut
secara bergantian dan atau bersamaan.
c) Guru memberi penguatan terhadap kinerja peserta didik, dengan
memberi pujian.
h. Penilaian
Bentuk : Tes perbuatan
Jenis : Kinerja
Lembar penilaian
Nama : .......................................
Kelas : .......................................
Materi pokok : .......................................
Tanggal : .......................................
Materi Skor
No Bs B C D
1. Tangan menyilang ke atas
2. Tangan menyilang ke bawah
3. Menetapkan posisi tubuh
Mengambil benda jatuh
Konversi nilai Predikat Klasifikasi
(skala 0-100)
A SB (sangat baik)
86-100 B B (baik)
71-85 C C (cukup)
56-70 D
≤55 K (kurang)
286 Unit Pembelajaran
Rubrik penilaian
Skor SB = jika dapat melakukan dengan benar tanpa bimbingan
Skor b = jika dapat melakukan dengan benar dan sedikit bimbingan
Skor c = jika dapat melakukan dengan benar tetapi banyak bimbingan
Skor d = tidak dapat melakukan
Tugas: Buatlah program intervensi pengembangan OMSK dengan
memilih salah satu indikator dengan menggunakan format
sebagaimana terlampir!
Penilaian
Penilaian pada program pengembangan ini lebih mengutamakan kompetensi
keterampilan dan pengetahuan. Teknik penilaian keterampilan dapat
menggunakan: 1) unjuk kerja/kinerja/praktik; 2) proyek; 3) produk; 4) portofolio.
Pemilihan teknik penilaian berdasarkan pada jenis indikator yang
dikembangkan. Teknik penilaian pengetahuan dapat menggunakan tes, lesan
maupun penugasan.
Penilaian program OMSK mengacu pada seberapa besar peningkatan
perilaku/ keadaan/ kompetensi dengan membandingkan antara kondisi awal
dengan akhir pengembangan/ pembelajaran. KKM ditentukan berdasarkan
kemampuan masing-masing peserta didik dan bukan berdasarkan rata-rata
kelas. Ukuran keberhasilan dalam evaluasi ditetapkan berdasarkan kriteria
yang ditetapkan. Jadi cara mengevaluasi peserta didik tunanetra dalam
melakukan omsk adalah melihat langsung sewaktu peserta didik melakukan
kegiatan tersebut. Keberhasilan ditetapkan apabila peserta didik dapat
mempraktekan keterampilan omsk dalam situasi yang sebenarnya.
Tindak lanjut
Tindak lanjut merupakan penentuan tindakan apa saja yang dilakukan untuk
memperbaiki kompetensi peserta didik ke arah yang lebih baik. Tindak lanjut
dapat berupa remediasi, berkesinambungan, pengayaan, akselerasi, bahkan
merujuk pada ahli/ profesi lain.
Jika hasil pengembangan berada di bawah kriteria yang ditentukan, maka
guru melakukan remediasi terhadap kompetensi yang belum mencapai target
Unit Pembelajaran 287
yang diharapkan. Peserta didik yang telah mencapai kriteria yang telah
ditentukan dapat dilanjutkan ke program pengembangan selanjutnya. Peserta
didik yang melampaui kompetensi yang telah ditentukan, guru dapat
melakukan percepatan program pengembangan. Pada saat tertentu guru
memiliki keterbatasan yang berkaitan dengan profesinya, maka guru dapat
merujuk ke profesi ahli lain
2) Tunarungu (PKPBI)
Mekanisme pelaksanaan pengembangan komunikasi, persepsi bunyi dan
irama dilaksanakan secara terprogram dan sesuai dengan kebutuhan peserta
didik tunarungu. Prosedur pelaksanaan layanan program PKPBI dapat
dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
a. Persiapan
1) Penyusunan program layanan
Prosedur penyusunan program PKPBI pada dasarnya sama dengan
penyusunan program pembelajaran akademis. Format prota, promes,
silabus dan RPP pada penyusunan perangkat pembelajaran akademis
dapat digunakan dalam penyusunan program pengembangan PKPBI
dengan beberapa penyesuaian sesuai dengan kebutuhan.
2) Penyusunan materi program pengembangan/layanan
Materi pokok pengembangan dapat dipilih dari daftar kompetensi dan
indikator sebagaimana terlampir dalam materi pelatihan ini. Pemilihan
materi pokok didasarkan dari hasil asesmen dan atau hasil
penilaian/tindak lanjut pembelajaran/pelaksanaan pengembangan
sebelumnya.
3) Penyiapan media layanan
Pemanfaatan media/ alat/ teknologi bantu program PKPBI harus
disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, tujuan yang ingin
dicapai, kondisi, serta derajat ketunarunguannya.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan program pengembangan PKPBI dilakukan sesuai dengan
skenario pelaksanaan pengembangan yang telah ditetapkan dalam
288 Unit Pembelajaran
rencana program. Kegiatan pelaksanaan dapat dilaksanakan secara
individual, kelompok dan atau klasikal, hal ini disesuaikan dengan
karakteristik kebutuhan belajar peserta didik.
1) Pendahuluan
Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk menciptakan suasana awal
pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Pada kegiatan ini guru
dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.
a) Tegur sapa
b) Pengecekan kehadiran peserta didik.
c) Pengecekan alat bantu dengar.
d) Pengkondisian kelas yang memungkinkan peserta didik dapat
mengikuti proses pelaksanaan program pengembangan dengan
baik.
2) Inti
a) Kegiatan inti dalam pelaksanaan PKPBI merupakan suatu proses
pembentukan kemampuan/pengalaman peserta didik secara
terprogram yang dilaksanakan dalam durasi waktu tertentu untuk
mencapai tujuan program pengembangan yang telah ditentukan.
b) Kegiatan inti dalam metode saintifik ditujukan untuk
terkonstruksinya konsep, hukum atau prinsip oleh peserta didik
dengan bantuan dari guru melalui langkah-langkah kegiatan.
c) Dilakukan secara individual dan/atau sekelompok kecil peserta
didik yang memiliki permasalahan yang sama.
d) Pelaksanaan PKPBI berbasis aktivitas yaitu peserta didik mencari
tahu/memiliki keterampilan tertentu dengan melakukan sesuatu.
3) Penutup
a) Pertama, validasi terhadap konsep, hukum atau prinsip/
keterampilan/ perilaku/ tindakan yang telah dikonstruk oleh
peserta didik. Validasi dapat dilakukan dengan mengidentifikasi
kebenaran konsep, hukum atau prinsip/ keterampilan/ perilaku/
tindakan yang telah dikonstruk oleh siswa.
Unit Pembelajaran 289
b) Kedua, pengayaan materi pengembangan yang dikuasai peserta
didik.
C. Penilaian
Penilaian dilakukan guru dengan melakukan pengamatan dengan
prosedur sebagai berikut:
1) Guru memilih salah satu responss yang harus dilakukan anak untuk
evaluasi.
2) Siswa mereaksi bunyi yang diperdengarkan guru secara acak.
3) Guru mengamati dan mencatat responss anak pada lembar
pengamatan. (lembar pengamatan /instrumen terlampir)
Pengembangan Kemampuan Persepsi Bunyi dan Irama
(Tahap Deteksi)
Satuan pendidikan : MI BANDA ACEH
Bidang pengembangan : pengembangan kemampuan persepsi bunyi
Waktu : 4 x 30 menit
a. Kompetensi:
Mampu mendeteksi bunyi latar belakang dengan kekerasan 90 db atau lebih
menggunakan abm atau tidak.
b. Indikator:
1) Memberikan reaksi dengan ucapan, gerak, tulisan, menggambar lambang
bunyi, memainkan sumber bunyi, bermain peran bila mendengar bunyi
benda secara tiba.
2) Memberikan reaksi ada atau tidak ada bunyi benda yang diperdengarkan
secara langsung.
3) Memberikan reaksi ada atau tidak ada bunyi alam di sekitar yang terdengar
secara tiba-tiba.
4) Memberikan reaksi ada atau tidak ada bunyi birama dasar yang
diperdengarkan secara langsung.
290 Unit Pembelajaran
5) Memberikan reaksi ada atau tidak ada bunyi musik di sekitar yang
terdengar secara tiba-tiba.
6) Memberikan reaksi ada atau tidak ada bunyi musik secara langsung.
7) Memberikan reaksi ada atau tidak ada suara binatang di lingkungan sekitar
yang terdengar secara tiba-tiba.
8) Menyadari ada atau tidak ada suara rekaman binatang di lingkungan sekitar
secara langsung.
9) Menyadari ada atau tidak ada suara manusia di lingkungan sekitar yang
terdengar secara tiba-tiba.
10) Menyadari ada atau tidak ada suara manusia di lingkungan yang
diperdengarkan secara langsung.
c. Pendekatan, strategi, metode
1) Pendekatan : Multisensory
2) Strategi : Strategi pembelajaran langsung
3) Metode : Tanya jawab
d. Materi
1) Bunyi benda secara tiba
2) Bunyi benda yang diperdengarkan secara langsung.
3) Bunyi alam di sekitar yang terdengar secara tiba-tiba.
4) Bunyi birama dasar yang diperdengarkan secara langsung.
5) Bunyi musik di sekitar yang terdengar secara tiba-tiba.
6) Bunyi musik secara langsung.
7) Suara binatang di lingkungan sekitar
8) Suara rekaman binatang di lingkungan sekitar secara langsung.
9) Suara manusia di lingkungan sekitar yang terdengar secara tiba-tiba.
10) Suara manusia di lingkungan yang diperdengarkan secara langsung.
e. Sumber, media, dan alat
1) Sumber/ media: kaset (rekaman suara dan bunyi alam sekitar), cd (rekaman
suara dan bunyi alam sekitar)
2) Alat : tape recorder, cd player
f. Pelaksanaan Program
Unit Pembelajaran 291
1) Pendahuluan
a) Mengondisikan peserta didik untuk latihan dengan memeriksa abm,
mengatur tempat duduk, dan mengondisikan peserta didik ke dalam
situasi belajar
b) Mengadakan percakapan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan dan
bunyi yang akan didengar.
Gambar 1 Percakapan peserta didik dan guru
2) Kegiatan Inti
a) Peserta didik melaksanakan kegiatan yang sudah disepakati bersama
dengan guru (menulis, membaca, menggambar, atau ketrampilan)
b) Guru mengamati reaksi peserta didik terhadap bunyi- bunyi latar yang
terdengar secara tiba-tiba (bunyi benda, bunyi alam, bunyi musik ,bunyi
binatang dan suara manusia.
c) Guru mengamati reaksi peserta didik terhadap bunyi- bunyi latar yang
terdengar secara langsung (bunyi benda, bunyi alam, bunyi musik ,bunyi
binatang dan suara manusia.
d) Guru menanggapi responss anak dengan memberikan pertanyaan
(apakah ada bunyi? Apakah kamu mendengar suara?)
292 Unit Pembelajaran
Gambar 2 Meresponss bunyi secara multisensoris
e) Peserta didik diharapkan memberikan respons berupa gerakan
(menggeleng, mengangguk, mengedipkan mata) maupun berupa
ucapan (ada bunyi, tidak ada bunyi, ada suara, tidak ada suara).
Guru membunyikan tape recorder, peserta didik mengangkat tangan
dengan posisisi duduk setengah lingkaran membelakangi guru.
Gambar 3 Meresponss bunyi secara unisensoris
3) Penutup
a) Guru mengadakan refleksi seluruh aktivitas pembelajaran yang telah
dilakukan.
b) Guru mengakhiri pembelajaran
g. Penilaian
Guru mencatat hasil pengamatan atas responss yang dilakukan peserta didik
ke dalam tabel yang telah disiapkan.
Unit Pembelajaran 293
Nama Lembar penilaian
Kelas : ……………………………………..
: ……………………………………...
No Materi Ada bunyi Tidak ada Ket.
bunyi
1 Bunyi benda secara tiba- tiba
2 Bunyi benda yang
diperdengarkan secara langsung.
3 Bunyi alam disekitar yang
terdengar secara tiba-tiba.
4 Bunyi birama dasar yang
diperdengarkan secara langsung.
5 Bunyi musik disekitar yang
terdengar secara tiba-tiba.
6 Bunyi musik secara langsung.
7 Suara binatang di lingkungan
sekitar
8 Suara rekaman binatang di
lingkungan sekitar secara
langsung.
9 Suara manusia di lingkungan
sekitar yang terdengar secara
tiba-tiba.
10 Suara manusia di lingkungan yang
diperdengarkan secara langsung.
Rubrik Penilaian
Jika anak memberikan respons terhadap bunyi diberikan tanda cek ( ) pada
kolom ada bunyi atau pada kolom tidak ada bunyi jika tidak memberikan
respons.
294 Unit Pembelajaran
3) Tunagrahita (PD)
Pelaksanaan program pengembangan diri mencakup tiga langkah kegiatan,
yaitu: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan Penutup.
a) Pendahuluan
Merupakan kegiatan awal untuk mengondisikan kesiapan siswa dan
menciptakan suasana awal yang aman, dan nyaman dan menyenangkan
bagi pembelajaran pengembangan diri.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai
kompetensi yang dilakukan secara interaktif, inspiratif; menyenangkan,
menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
kontekstual, kolaboratif, memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian peserta didik, sesuai dengan bakat, minat,
kemampuan, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Kegiatan inti menggunakan pendekatan saintifik yang disesuaikan
dengan karakteristik mata pelajaran dan peserta didik. Guru memfasilitasi
peserta didik untuk melakukan proses mengamati, menanya,
mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/ mengasosiasi, dan
mengomunikasikan.
Dalam setiap kegiatan guru harus memperhatikan perkembangan peserta
didik pada kompetensi dasar dari ki-1 dan ki-2 (khusus untuk mata
pelajaran pendidikan agama dan budi pekerti, dan pendidikan Pancasila
dan kewarganegaraan).
c) Penutup
Kegiatan Penutup dimaksudkan untuk melakukan rangkuman/simpulan
pembelajaran, refleksi dan umpan balik terhadap proses pembelajaran.
Contoh Program Pengembangan Diri
Kondisi awal peserta didik tunagrahita
No Aspek Deskripsi
1 Mampu makan Anak sudah mengenal alat makan dan minum,
dan minum dapat menggunakannya dalam kegiatan makan
dalam dan minum menggunakan alat ataupun dengan
kehidupan tangan, dan makan makanan dalam kemasan
Unit Pembelajaran 295
sehari-hari dan minum minuman dalam kemasan mampu
dengan cara dilakukan dengan cara yang benar, sedangkan
yang benar untuk minum dalam kemasan anak masih
memiliki kesulitan. Kegiatan makan di restoran
atau tempat pesta masih perlu bantuan untuk
dan perlu diingatkan untuk makan dengan tertib
dan sopan.
2 Mampu Anak mampu memelihara kebersihan tangan dan
membersihkan kaki, mencuci wajah, tetapi untuk kemampuan
dan menjaga lainnya belum mampu melakukan aktivitas
kesehatan keseharian/pribadi secara mandiri, beberapa hal
badan dengan anak belum dapat melakukan, yaitu dalam hal
cara yang benar memelihara kebersihan tangan dan kaki,
kegiatan memelihara kebersihan telinga dan
hidung, serta memelihara kuku.
3 Mampu Anak mampu melepas sepatu (berperekat)
menanggalkan melepas kaus kaki dan menanggalkan pakaian
dan dalam secara mandiri. Pada beberapa kegiatan
mengenakan menanggalkan pakaian dalam, mengenakan
pakaian dengan pakaian dalam, menanggalkan pakaian luar,
cara yang benar mengenakan pakaian luar, memakai sepatu
(berperekat), memakai kaus kaki, memilih
pakaian sesuai kebutuhan mampu dilakukan
dengan bantuan. Pada dua aspek lainnya yaitu
mengenakan asesoris pakaian (dasi), dan
mengenakan pakaian sesuai kebutuhan belum
dapat melakukan
296 Unit Pembelajaran
LK. Menyusun Pelaksanaan Program Kebutuhan Khusus
(Gunakan Contoh di bawah ini untuk menyusun Rencana Program Kebutuhan
Khusus)
Contoh
RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM KEBUTUHAN KHUSUS
PENGEMBANGAN DIRI
Nama sekolah : MI SEMARANG
Jenis ketunaan : Tunagrahita
Bidang pengembangan : Merawat diri
Waktu : 4 JP/minggu
Hari/tanggal :
a. Kompetensi
Mampu makan dan minum dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang
benar
b. Indikator
1) Melakukan makan- minum di berbagai tempat makan (restoran atau
resepsi)
2) Melayani sendiri makan- minum di meja makan
3) Menata makanan dan minuman sendiri dan orang lain
4) Menyajikan makanan- minuman sendiri dan orang lain
5) Melakukan tata cara makan dan minum dengan sopan
c. Tujuan
1) Peserta didik mampu melakukan makan-minum di berbagai tempat makan
(restoran atau resepsi)
2) Peserta didik mampu melayani sendiri makan- minum di meja makan
3) Peserta didik mampu menata makanan dan minuman di meja makan
4) Peserta didik mampu menyajikan makanan- minuman sendiri dan orang lain
5) Melakukan tata cara makan dan minum dengan sopan
d. Pendekatan, Strategi, dan Metode
Unit Pembelajaran 297
1) Pendekatan : Individual
2) Strategi : Strategi pembelajaran langsung
3) Metode : Demonstrasi, tanya jawab, tugas, latihan dan praktik
langsung
e. Materi
1) Mengenal alat makan dan minum
2) Menggunakan alat makan dan minum
3) Bahan-bahan makanan dan minuman
4) Tata cara makan menggunakan tangan
5) Tata cara makan makanan berkuah
6) Makanan dan minuman kemasan
7) Menata meja makan
8) Menyajikan makanan
9) Cara makan yang sopan
10) Makan- minum di restoran atau tempat resepsi
f. Sumber dan Media/Alat
1) Sumber: lingkungan sekitar
2) Media/alat: sendok, garpu, piring, gelas, lap, nasi, lauk, sayur, makanan dan
minuman kemasan.
g. Pelaksanaan Program
1) Pendahuluan
(1) Mengondisikan peserta didik ke dalam situasi belajar
(2) Melakukan tanya jawab tentang kebiasaan makan yang dilakukan
peserta didik dan peralatan yang digunakan
(3) Guru menyajikan alat makan dan minum
2) Kegiatan inti
(1) Peserta didik mengamati, dan menunjukkan alat makan dan minum.
(2) Menyebutkan nama alat makan dan minum.
298 Unit Pembelajaran
(3) Guru menjelaskan tata cara makan di restoran atau resepsi
✓ Sebelum jamuan
▪ Hindari bicara dengan satu orang saja.
▪ Kendalikan intonasi suara saat berbicara dan saat tertawa.
Jangan berbicara terlalu keras atau terbahak-bahak sehingga
mengundang perhatian orang lain.
▪ Duduklah di tempat yang telah disediakan.
✓ Tata cara duduk
▪ Posisi badan tegap.
▪ Kursi jangan terlalu dekat dengan meja makan.
▪ Tangan tidak boleh dilipat di atas meja, tetapi letakkan di
pangkuan.
▪ Kaki tidak boleh menyilang, dilipat atau dijulurkan ke depan.
▪ Ketika duduk, tidak boleh melirik-lirik ke kiri dan ke kanan.
▪ Saat duduk tidak boleh memainkan peralatan makan yang ada.
✓ Tata cara menggunakan serbet
▪ Apabila tidak ada petugas maka lakukan sendiri membuka
serbet, lalu letakkan di atas pangkuan.
▪ Serbet dipergunakan hanya untuk membersihkan bagian mulut
atau bibir yang kotor dengan menggunakan tangan kanan atau
kedua tangan.
▪ Serbet tidak boleh digunakan untuk menyeka keringat,
mengelap ingus ataupun membersihkan peralatan makan yang
kotor. Apabila menemukan hal demikian, maka minta tolonglah
kepada petugas untuk mengganti.
✓ Tata cara makan di restoran atau resepsi
▪ Makanlah makanan sesuai ukuran yang dapat dikunyah (bite
size), jangan memakan makanan yang ukurannya terlalu besar
tanpa dipotong terlebih dahulu.
▪ Telanlah makanan yang ada di mulut sebelum mulai memakan
makanan berikutnya.
Unit Pembelajaran 299
▪ Bila menggunakan sauce yang terpisah, pastikan anda
mencelupkan makanan ke dalam sauce boat/dish.
▪ Untuk makanan yang memang menggunakan tangan secara
langsung seperti bruchetta atau chicken drummets, maka
habiskan makanan yang dipegang sebelum mengambil yang
berikutnya.
▪ Mulailah menyantap hidangan bila semua orang telah mendapat
makanan mereka masing-masing.
▪ Hindari meninggalkan meja makan saat jamuan telah dimulai.
Gambar 4 Makan di restoran atau resepsi
✓ Melakukan tata cara makan dan minum dengan sopan
Setiap daerah memiliki aturan tata cara makan yang berbeda-beda.
Namun, ada beberapa aturan dasar yang terdapat di setiap tata cara
makan dan minum.
✓ Tata cara makan
▪ Makan dengan mulut yang tertutup saat mengunyah makanan.
▪ Berbicara dengan volume suara yang rendah.
▪ Tutupi mulut saat batuk atau bersin.
▪ Tidak boleh menyandarkan punggung di sandaran kursi.
▪ Tidak boleh menimbulkan suara saat mengunyah makanan.
▪ Tidak boleh memainkan makanan dengan peralatan makan.
▪ Tidak boleh mengejek cara makan orang lain.
▪ Jangan bersedekap di meja makan.
▪ Meminta ijin apabila akan meninggalkan meja makan.
▪ Tidak boleh menatap mata orang lain saat dia sedang makan.
300 Unit Pembelajaran
▪ Meminta ijinlah saat Anda benar akan menjawab telepon, dan
meminta maaflah saat kembali.
▪ Letakkan garpu di sebelah kiri dan sendok di di sebelah kanan
bersama-sama di arah jam 5 di atas piring dengan bagian pisau
yang tajam menghadap ke dalam untuk menandakan bahwa
selesai makan.
▪ Tidak boleh mengambil makanan dari piring orang lain dan tidak
boleh memintanya juga.
▪ Telan semua makanan yang ada di mulut sebelum minum.
▪ Tidak boleh menggunakan tangan saat mengambil makanan
yang tersisa di dalam mulut, gunakan tusuk gigi.
✓ Tata cara minum
▪ Sebelum minum bersihkan mulut dari sisa-sisa makanan.
▪ Pastikan tidak ada makanan di dalam mulut.
▪ Waktu minum, tidak sedang makan sesuatu.
▪ Jangan berkumur menggunakan air minum.
▪ Air minum yang sudah masuk ke mulut tidak boleh dituangkan
lagi ke dalam gelas.
▪ Minumlah secukupnya pada waktu makan, agar perut tidak
terasa penuh.
Gambar 5 Cara minum yang sopan
(4) Guru membimbing siswa melakukan tata cara makan di restoran atau
resepsi makan dalam sesuai tahapan yang sudah dalam kegiatan
simulasi atau demonstrasi.
Unit Pembelajaran 301
3) Penutup
a) Melakukan refleksi seluruh aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan
b) Guru mengakhiri pelajaran
4) Penilaian
Guru mencatat hasil pengamatan atas respons yang diberikan peserta didik
untuk setiap indikator yang diajarkan. Berikut contoh lembar penilaian
untuk satu indikator.
Lembar Peniaian
Nama Anak : .......................................... Kelas : ......................................
Sekolah : ........................................... Guru : ......................................
Indikator: makan dengan menggunakan tangan Skor 21
No. Tahap kegiatan 43
1
Mencuci tangan ke dalam mangkuk
2
Membaca do’a sebelum makan
3. Mengambil nasi dari tempat nasi ke piring
4. Mengambil lauk dari yang terdekat ke piring
5. Mengambil nasi dan lauk lalu dengan tangan
dan memasukkannya ke dalam mulut
6. Menghabiskan makanan yang diambil di piring
sampai bersih
7. Membaca doa setelah selesai makan
8. Mencuci tangan
302 Unit Pembelajaran
9. Mengelap tangan dan mulut dengan serbet
4) Tunadaksa (PG)
Adapun layanan khusus yang dapat dilakukan terhadap peserta didik tuna
daksa adalah sebagai berikut:
1) Pendahuluan
a) Kegiatan pendahuluan ( berdoa dan kehadiran)
b) Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk menciptakan suasana awal
yang efektif yang memungkinkan siswa dapat mengikuti proses
kegiatan dengan baik.
c) Sebagai contoh ketika memulai kegiatan, guru menyapa anak dengan
nada bersemangat dan gembira, bernyanyi (mengucapkan salam),
2) Inti
a) Kegiatan inti dalam kegiatan ini adalah suatu proses pembentukan
pengalaman/kemampuan/ terkurangi hambatan/ mengompensasikan
pada peserta didik secara terprogram yang dilaksanakan dalam durasi
waktu tertentu.
b) Kegiatan inti dalam proses kegiatan ditujukan untuk terkonstruksinya
proses kegiatan pengembangan oleh siswa dengan bantuan dari guru
melalaui langkah-langkah kegiatan.
c) Dilakukan secara individual dan atau sekelompok kecil peserta didik
yang memiliki permasalahan yang sama.
3) Penutup
a) Pertama, validasi terhadap konsep kegiatan keterampilan/ perilaku/
tindakan yang telah dikonstruk oleh guru dan siswa.
b) Kedua, pengayaan materi pengembangan yang dikuasai siswa.
Validasi terhadap konsep kegiatan keterampilan/ perilaku/ tindakan
yang telah dikonstruk oleh guru dan siswa.
Unit Pembelajaran 303
Program Kebutuhan Khusus
Pengembangan Gerak
1. Identitas
a. Nama :A
b. Tempat / tanggal lahir : 20/12/2000
c. Kelas :V
d. Jenjang : MI
e. Alokasi waktu :
2. Kompetensi
Mampu melakukan gerak pindah diri dalam kehidupan sehari-hari dengan
benar
3. Indikator
a. Mengambil benda sendiri
b. Berjalan dengan membawa benda
4. Tujuan
a. Tujuan umum : Melatih kekuatan otot tangan
b. Tujuan khusus : Anak dapat mengambil benda sendiri
5. Metode
a. Demonstrasi
b. Penugasan
6. Materi
a. Memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain
b. Mengambil benda dari tempat yang jauh ke arah mendekati tubuh anak
7. Sumber media
a. Sumber: Buku progsus Tunadaksa PKLK DIKDAS Th.2015
b. Media :
1) Batu kerikil, benda-benda kecil
2) Piring kecil
304 Unit Pembelajaran
Kemampuan awal
▪ Ananda a memiliki kondisi agb yang tidak dapat berfungsi
▪ Aga masih berfungsi dengan kekuatan otot yang lemah.
▪ Aga kiri lebih lemah dari kanan.
Hasil asesmen
▪ Aga masih dapat digerakkan tetapi lemah sehingga memerlukan
waktu lebih lama untuk melakukan gerakan (dapat bergerak tetapi
lambat).
▪ Diperlukan bantuan untuk menggerakkan lengan, tetapi untuk
menggerakkan siku dan tangan dapat dilakukan sendiri.
8. Langkah-langkah pelaksanaan program pengembangan gerak
a. Kegiatan awal
Berdoa dan cek kehadiran
Mengondisikan siswa mengikuti kegiatan dengan suasana menyenangkan.
b. Kegiatan inti yaitu
Mengambil benda dari satu tempat ke tempat lain.
• Guru memberikan contoh mengambil benda dari tempat satu ke tempat
yang lain
• Anak melakukan gerakan mengambil benda dari tempat satu ke tempat
yang lain dengan jarak sejauh panjang lengan anak
Kegiatan meletakkan benda dari tempat yang jauh ke arah mendekati tubuh
anak
• Guru memberikan contoh meletakkan benda dari tempat yang dekat
• Anak melakukan gerakan meletakkan benda dari tempat yang dekat
Kegiatan memindahkan benda dari tempat yang jauh ke arah mendekati
tubuh anak
• Guru memberikan contoh memindahkan benda dari tempat yang jauh ke
arah tubuh anak
• Anak melakukan gerakan memindahkan benda dari tempat yang jauh ke
arah tubuh anak
c. Kegiatan Penutup
Unit Pembelajaran 305
a. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengulang gerakan tersebut
secara individual dan atau klasikal sebagai evaluasi.
b. Guru memberi penguatan terhadap kinerja peserta didik, dengan
memberi pujian.
c. Berdoa
9. Evaluasi
No Aspek yang dinilai 4 3 2 1 Keterangan
1 Gerakan mengambil benda
2 Gerakan meletakkan benda
dari tempat satu ke tempat
yang lain dengan benar
2 Gerakan memindahkan benda
dari tempat yang jauh ke arah
mendekati tubuh anak
Kriteria penilaian:
Skor 4 = anak dapat melakukan gerakan dengan benar dan tanpa bantuan
Skor 3 = anak dapat melakukan gerakan dengan benar dan tanpa bantuan, tetapi
belum seluruh tugas diselesaikan
Skor 2= anak dapat melakukan gerakan tetapi dengan bantuan
Skor 1= anak tidak dapat melakukan gerakan yang diharapkan
Nilai = jumlah skor perolehan x 10
Jumlah skor max
Hasil yang dicapai : tindak lanjut :
1................................... 1. ……………………………………..
2................................... 2. ………………………………………
3................................... 3. ……………………………………..
306 Unit Pembelajaran
5) Autis (PKISP)
Adapun program layanan khusus yang bisa dilakukan untuk peserta didik
autis adalah sebagai berikut:
Program layanan khusus Autisme
Komunikasi dan Interaksi Sosial
Identitas Peserta Didik
Nama : Noname
Tempat / Tanggal Lahir : 20/12/2000
Kelas :V
Jenjang : MI
a. Asesmen
1) Fisik
Normal tetapi mengalami gangguan non verbal seperti tatapan mata
tidak fokus pada satu benda.
2) Emosional/motorik
Mengalami gangguan seperti emosi tidak terkendali.
3) Visual/cara belajar
Lambat
b. Permasalahan yang akan dibahas
Kesulitan berkomunikasi dalam hal mengulang kata-kata yang sama
c. Kemampuan yang diharapkan
Peserta didik dapat melakukan komunikasi tanpa mengulang kata yang
diucapkan lawan bicara (membeo)
d. Indikator
a. Tatapan mata yang fokus pada guru
b. Menjawab pertanyaan guru dengan benar
e. Program
Tujuan : siswa dapat mengkomunikasikan secara lisan
dengan baik serta dapat Mengikuti kegiatan pembelajaran.
Materi : berbahasa
Unit Pembelajaran 307
Metode : pendampingan
Alat : foto
Waktu : 30 menit
Tempat : ruang kelas tertutup.
f. Proses pelaksanaan
Mengamati : Mengamati foto
Menanya : Guru bertanya kepada siswa tentang foto yang
diperlihatkan guru
Mencoba : Siswa menyebutkan identitas foto yang diperlihatkan
Mengasosiasi/menalar : Mengaitkan foto yang dilihat dengan apa yang
Akan dilakukan
Mengkomunikasikan : Saling mengkomunikasikan tentang foto yang
sudah diperlihatkan
g. Penilaian
a. Sikap
No. Aspek yang dinilai b = baik K C B Bs
1 Berdoa bs = baik sekali
2 Mengucap salam
Ket : k = kurang c = cukup
b. Pengetahuan
Ini siapa? (foto si A)
Siapa namamu?
c. Keterampilan
Mencocokkan foto dengan nama yang sesuai!
F. Tindak Lanjut
Setelah mempelajari bab ini, Fasilitator menyampaikan kegiatan yang akan
menjadi rencana tindak lanjut sesuai dengan poin-poin di tayangan yaitu:
1. Pada Saat pelatihan, Peserta mengerjakan tugas kelompok melalui LK
(lembar kerja) yaitu Menyusun Program layanan khusus.
308 Unit Pembelajaran
2. Setelah pelatihan, peserta menyepakati rencana tindak lanjut yang akan
dilakukan di madrasah masing-masing yaitu Menyusun Program layanan
khusus untuk masing-masing PDBK di madrasahnya.
G. Evaluasi
➢ Apakah yang dimaksud dengan program kebutuhan khusus?
➢ Sebutkan fungsi dari program kebutuhan khusus ?
➢ Apakah program kebutuhan khusus bagi peserta didik dengan hambatan
penglihatan?
➢ Sebutkan 3 cakupan program kebutuhan khusus PDBK tunagrahita?
➢ Apakah program kebutuhan khusus yang diberikan kepada peserta didik
autis?
Unit Pembelajaran 309
UNIT PEMBELAJARAN 7.
Evaluasi dan Pengembangan Madrasah
Inklusif
A. Deskripsi
Pada modul ini, akan disajikan aspek manajemen pendidikan inklusif pada
level implementasi di madrasah. Secara khusus, modul ini akan membahas: 1. Arti
penting dan manfaat pengembangan madrasah inklusi; 2. Peran Kepala Madrasah
dalam pengembangan program Madrasah Inklusi; 3. Indeks inklusivitas (index of
inclusion) dan menggunakannya dalam perencanaan, implementasi, evaluasi, dan
pelaporan Program Madrasah Inklusi.
B. Tujuan
Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan mampu: 1. Menjelaskan
arti penting pengembangan madrasah inklusi; 2. Menjelaskan manfaat
pengembangan madrasah inklusi 3. Menjelaskan peran Kepala Madrasah dalam
pengembangan program Madrasah Inklusi 4. Menjelaskan pengertian indeks
inklusivitas (index of inclusion) dan menggunakannya dalam perencanaan,
implementasi, evaluasi, dan pelaporan Program Madrasah Inklusi.
C. Strategi
1. Menonton Video Pendek
Peserta menonton video pendek dari Facebook dan dari beberapa chanel
terkait Page “Meragam” tentang pengalaman salah satu sekolah di Indonesia
dalam mempersiapkan sekolahya menjadi madrasah inklusif dan dilanjutkan
dialog interaktif.
2. Dialog Interaktif
a. Peserta berdiskusi ”hal-hal apa saja yang menarik dari tayangan itu yang
berhubungan dengan persepsi mereka tentang pendidikan inklusif,
310 Unit Pembelajaran
mempersiapkan madrasah menjadi inklusif, diksusi tentang tantangan, dan
peran Kepala Madrasah dalam mempersiapkan madrasahnya menjadi
madrasah inklusif.
b. Dalam dialog interaktif tersebut, pelatih menggali jawaban peserta
mengarah pada materi modul enam, yaitu 1. Arti penting dan manfaat
pengembangan madrasah inklusi; 2. Peran Kepala Madrasah dalam
pengembangan program Madrasah Inklusi; 3. Apa peran orangtua dan
masyarakan dalam mewujudkan madrasah inklusi, 4. Indeks inklusivitas
(index of inclusion) dan menggunakannya dalam perencanaan,
implementasi, evaluasi, dan pelaporan Program Madrasah Inklusi.
3. Peserta membaca Materi (1) dan (2) secara mandiri
4. Pelatih memfasilitasi diskusi antar peserta terkait materi (1) dan (2)
5. Pelatih menyampaikan Materi (3) dengan metode ceramah interaktif
6. Peserta berlatih menggunakan indeks inklusivitas (index of inclusion) untuk
mengukur kondisi madrasah masing-masing saat ini, membuat Laporan
Evaluasi Diri Madrasah, dan membuat rencana pengembangan madrasahnya
menjadi madrasah inklusi.
7. Peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya
dan mengomentari hasil pekerja peserta lain.
8. Penyimpulan dan penguatan Materi.
9. Penutup/ Evaluasi (mengerjakan LK mandiri atau kelompok)
D. Media
1. Video Pendek tentang upaya sekolah merespons kehadiran siswa
berkebutuhan khusus dari Facebook Page “Meragam”
2. Video dari youtobe terkait tentang sekolah inklusi.
3. Kertas Flip Chart
4. Power point
5. Laptop, dan Projektor.
6. ATK pelatihan.
Unit Pembelajaran 311
E. Materi
KEGIATAN 1. Memahami Arti Penting dan Manfaat Pengembangan Madrasah
Inklusif
(Membaca Mandiri 15” & Diskusi 15”)
Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada semua anak berkebutuhan khusus dan/atau
anak yang mengalami hambatan akses pendidikan untuk mengikuti pendidikan
atau pembelajaran dalam satuan pendidikan sekolah terdekat secara bersama-
sama dengan peserta didik pada umumnya.
Tujuan pendidikan inklusif adalah memastikan bahwa semua anak memiliki
akses terhadap pendidikan yang terjangkau, efektif, relevan dan tepat dalam
wilayah tempat tinggalnya dan memastikan semua pihak untuk berperan serta
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar seluruh anak terlibat dalam
proses pembelajaran. Jadi, inklusif dalam pendidikan merupakan proses
peningkatan partisipasi siswa dan mengurangi keterpisahannya dari budaya,
kurikulum dan komunitas sekolah setempat. Oleh karena itu, mengembangkan
Program Pendidikan Inklusif di Madrasah atau dapat disebut Program Madrasah
Inklusif berarti memastikan layanan pendidikan yang diberikan oleh madrasah
dapat diakses dan relevan dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat yang
ada di lingkungan madrasah.
Kedua kata kunci tersebut (dapat diakses dan relevan) sesungguhnya
merupakan kunci agar madrasah dapat bertahan dan memiliki peran penting bagi
masyakarat di sekitarnya. Dengan demikian, menjadi madrasah inklusif
sesungguhnya bukan suatu pilihan, tetapi keharusan. Namun pada kenyataannya
sistem pendidikan ‘reguler’ termasuk madrasah seringkali abai terhadap
keragaman kebutuhan peserta didik dan masyarakat, khususnya mereka yang
termasuk kelompok marginal, termasuk siswa penyandang disabitas dan siswa
berkebutuhan khusus lainnya.
Situasi nyata di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa menjadi madrasah
inklusif masih merupakan sesuatu yang istimewa. Biasanya satuan pendidikan
menjadi satuan pendidikan inklusif karena menerima peserta didik berkebutuhan
312 Unit Pembelajaran
khusus yang tinggal di sekitar madrasah atau sekolah kemudian mempersiapkan
diri menjadi satuan pendidikan inklusif. Madrasah lainnya menjadi madrasah
inklusif karena penunjukan melalui SK sebagai madrasah percontohan/pilot
project. Dengan situasi seperti ini, sesungguhnya madrasah dapat melihat
peluang mengembangankan program madrasah inklusif sebagai ciri khas dan
keunggulan madrasah.
Pengembangan Program Madrasah Inklusif memiliki beberapa manfaat,
antara lain:
a. Membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan inklusif sekaligus
menghilangkan sikap yang diskriminatif.
b. Melibatkan dan memberdayakan masyarakat untuk melakukan analisis situasi
pendidikan lokal, mengumpulkan informasi semua anak pada setiap distrik
dan mengidentifikasi alasan mengapa mereka tidak sekolah.
c. Menghargai perbedaan fisik, sosial, dan masalah lain terhadap akses dan
kesempatan memperoleh pembelajaran.
d. Melibatkan masyarakat dalam melakukan perencanaan dan monitoring mutu
pendidikan bagi semua anak. Bagi madrasah, hal ini dapat menjadi pintu
masuk untuk menjalin kerja sama dan memperoleh dukungan dengan banyak
pihak lainnya di sekitar madrasah, maupun di tingkat nasional dan
internasional.
e. Meningkatkan relevansi dan arti penting madrasah bagi pembangunan
masyarakat sekitarnya, khususnya bagi peserta didik berkebutuhan khusus
dan mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda.
f. Madrasah inklusi menjadi ciri khas dan keunggulan madrasah dibandingkan
dengan satuan pendidikan lainnya.
g. Mengembangan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan dalam
memberikan pelayanan prima bagi semua peserta didik dengan latar
belakang yang berbeda..
h. Memberikan kesempatan memperoleh layanan pendidikan berkualitas bagi
peserta didik berkebutuhan di madrasah terdekat dengan tempat tinggalnya.
Unit Pembelajaran 313
KEGIATAN 2. Memahami Peran Kepala Madrasah dalam Pengembangan
Madrasah Inklusi
(Membaca Mandiri 30” & Diskusi 30”)
Kepala Madrasah sebagai motor penggerak peningkatan kinerja guru
dituntut memiliki visi, misi, dan wawasan yang luas serta kemampuan profesional
yang memadai dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengawasan penyelenggaraan pendidikan. Selain itu, kepala madrasah dituntut
untuk memiliki kemampuan dalam membangun kerja sama yang harmonis dengan
berbagai pihak yang terkait dengan program pendidikan di madrasah.
Kemampuan kepala madrasah tentunya akan turut mempengaruhi kinerja guru
dalam melaksanakan tugas. Salah satu indikator kinerja kepala madrasah adalah
dinilai berdasarkan atas pelaksanaan tugas dan perannya. Salah satu di antara
peran kepala madrasah yang sangat penting adalah sebagai manajer,
administrator, dan supervisor dalam upaya meningkatkan kinerja guru.
Dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, peranan kepala madrasah
sangat besar. Bukti bahwa peran tersebut sangat besar adalah mengingat bahwa
setiap guru yang akan menyampaikan materi pelajaran terlebih dahulu membuat
program pengajaran harian untuk diteliti dan disahkan oleh kepala madrasah,
sehingga seorang kepala madrasah dapat mengetahui keterlaksanaan proses
pembelajaran yang inklusif. Apabila seorang kepala madrasah komitmen untuk
melaksanakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasahnya, maka
penyelenggaraan pendidikan inklusif akan terlaksana dengan baik.
Kepala madrasah harus mampu melaksanakan perannya sebagai manajer,
administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator. Perspektif ke depan
menunjukkan bahwa kepala madrasah juga harus mampu berperan sebagai figur
dan mediator bagi perkembangan masyarakat dan lingkungan. Dengan demikian
pekerjaan kepala madrasah semakin hari semakin meningkat dan akan semakin
meningkat sesuai dengan perkembangan pendidikan yang diharapkan. Dalam
mengembangkan pendidikan inklusif, seorang kepala madrasah harus
314 Unit Pembelajaran
mengupayakan adanya integrasi pendidikan inklusif pada setiap program dan
kegiatan madrasah.
Berdasarkan fungsinya, kepala madrasah adalah (1) perumus tujuan kerja
dan pembuat kebijakan madrasah yang disebut pemimpin atau pengelola
pendidikan, (2) pengatur tata kerja madrasah, yang mencakup mengatur
pembagian tugas dan wewenang serta mengatur petugas pelaksana dan
menyelenggarakan kegiatan, dan (3) pensupervisi kegiatan madrasah, meliputi:
mengatur kegiatan, mengarahkan pelaksanaan kegiatan, mengevaluasi
pelaksanaan kegiatan serta membimbing dan meningkatkan kemampuan
pelaksana.
Beberapa standar pembinaan, pengawasan dan evaluasi oleh kepala
madrasah dalam mengembangkan pendidikan 53 Panduan Penyelenggaraan
Pendidikan Inklusif di Madrasah inklusif yang terintegrasi dalam tupoksi sebagai
seorang kepala madrasah antara lain:
a. Kepala madrasah sebagai manager
Manajemen pada hakikatnya adalah suatu proses merencanakan,
mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha
anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber daya organisasi
untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Wahyusumidjo, 2001:12 dalam
Mulyasa, 2007). Disebut sebagai suatu proses, karena semua manajer dengan
ketangkasan dan keterampilan yang dimiliki mengusahakan dan
mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai
tujuan.
Manajemen merupakan proses pencapaian tujuan melalui pendayagunaan
sumber daya manusia dan material secara efisien. Weihrich & Koontz (2005:4)
menyatakan: manage-ment is the process of designing and maintaining an
environment in which individuals, working together in groups, efficiently
accomplish selected aims. Pendapat ini menyatakan bahwa manajemen
merupakan proses merancang dan memelihara lingkungan individu-individu
yang bekerja sama dalam kelompok secara efisien untuk mencapai tujuan
Unit Pembelajaran 315
tertentu. Dalam pendapat yang hampir sama, Hersey and Blanchard (1982: 3)
menyatakan, management as working with and throught individuals and
groups to accomplish organizational goals.
Manajemen merupakan proses pencapaian tujuan melalui pendayagunaan
sumber daya manusia dan material secara efisien. Weihrich & Koontz (2005:4)
menyatakan: manage-ment is the process of designing and maintaining an
environment in which individuals, working together in groups, efficiently
accomplish selected aims. Pendapat ini menyatakan bahwa manajemen
merupakan proses merancang dan memelihara lingkungan individu-individu
yang bekerja sama dalam kelompok secara efisien untuk mencapai tujuan
tertentu. Dalam pendapat yang hampir sama, Hersey and Blanchard (1982: 3)
menyatakan, management as working with and throught individuals and
groups to accomplish organizational goals.
Sebagai manajer, kepala madrasah mau dan mampu mendayagunakan
sumber daya madrasah dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan mencapai
tujuannya. Seorang kepala madrasah penyelenggara pendidikan inklusif
memiliki otoritas yang besar untuk mendayagunakan semua sumber daya
madrasah untuk mewujudkan sebuah madrasah yang inkusif. Kepala
madrasah mampu menghadapi berbagai persoalan di madrasah, berpikir
secara analitik, konseptual, harus senantiasa berusaha menjadi juru penengah
dalam memecahkan berbagai masalah, dan mengambil keputusan yang
memuaskan stakeholders madrasah. Kepala madrasah mendorong
keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di madrasah
(partisipatif).
Sesuai kriteria penilaian kinerja kepala madrasah, maka kepala madrasah
perlu memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya
dengan baik yang diwujudkan dalam kemampuan menyusun program,
organisasi personalia, memberdayakan tenaga kependidikan, dan
menberdayakan sumber daya madrasah secara optimal dalam rangka
melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala madrasah harus
memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan
316 Unit Pembelajaran
melalui kerja sama yang kooparatif, memberikan kesempatan kepada tenaga
kependidikan untuk meningkatkan profesinya dan mendorong keterlibatan
seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang
program penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah.
b. Kepala madrasah sebagai administrator
Kepala madrasah sebagai administrator memiliki hubungan erat dengan
berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan,
penyusunan, dan pendokumenan seluruh program madrasah. Secara spesifik,
kepala madrasah perlu memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum,
mengelola administrasi kearsipan, dan administrasi keuangan. Kegiatan
tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang
produktivitas madrasah. Untuk itu, kepala madrasah harus mampu
menjabarkan kemampuan di atas ke dalam tugas-tugas operasional. Dalam
berbagai kegiatan administrasi, maka membuat perencanaan mutlak
diperlukan. Perencanaan yang akan dibuat oleh kepala madrasah bergantung
pada berbagai faktor, di antaranya banyaknya sumber daya manusia yang
dimiliki, dana yang tersedia dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan rencana tersebut. Perencanaan yang dilakukan antara lain
menyusun program kerja tahunan madrasah yang mencakup program
pengajaran, kepesertadidikan, kepegawaian, keuangan dan perencanaan
fasilitas yang diperlukan. Perencanaan ini dituangkan ke dalam rencana
tahunan madrasah yang dijabarkan dalam program semester. Di samping itu,
fungsi kepala madrasah selaku administrator juga mencakup kegiatan
penataan struktur organisasi, koordinasi kegiatan madrasah dan mengatur
kepegawaian di madrasah.
Kepala madrasah penyelenggara pendidikan inklusif sebagai administrator
bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan pendidikan dan
pengajaran yang inklusif di madrasahnya. Hal tersebut mencakup seluruh
kegiatan madrasah, seperti; proses belajar-mengajar yang melayani
kebutuhan seluruh peserta didik, menerima semua perbedaan peserta didik
termasuk yang berkebutuhan khusus (ABK), mengarahkan semua personalia
Unit Pembelajaran 317
madrasah untuk mengakomodir semua keberagaman peserta didik,
menyiapkan sarana prasarana/ aksesibilitas untuk semua anak,
ketatausahaan dan keuangan serta mengatur hubungan madrasah dengan
masyarakat. Selain itu juga, kepala madrasah bertanggung jawab terhadap
keadaan lingkungan madrasahnya.
c. Kepala madrasah sebagai supervisor
Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran,
secara berkala kepala madrasah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang
dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses
pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan
metode, media yang digunakan dan keterlibatan peserta didik dalam proses
pembelajaran (Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui
kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran,
tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan, selanjutnya
diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat
memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan
keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran. Secara umum supervisi
berarti upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan
tugas profesionalnya, agar guru mampu membantu para peserta didiknya
dalam belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Jones dkk. sebagaimana disampaikan Danim (2002) mengemukakan
bahwa menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup
besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah
sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala
madrasah mereka. Ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala
madrasah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum madrasah. Mustahil
seorang kepala madrasah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada
guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik.
Supervisi merupakan suatu teknis pelayanan profesional dengan tujuan
utama mempelajari dan memperbaiki bersama-sama dalam membimbing dan
mempengaruhi pertumbuhan anak. Supervisi berusaha untuk memperbaiki
318 Unit Pembelajaran
situasi-situasi belajar mengajar, menumbuhkan kreativitas guru, memberi
dukungan dan mengikutsertakan guru dalam kegiatan madrasah, sehingga
menumbuhkan rasa memiliki bagi guru. Adapun personel yang menjalankan
kegiatan supervisi disebut supervisor. Dengan demikian administrasi dan
supervisi merupakan sebagian dari proses pendidikan yang tidak bisa
ditinggalkan, namun masih banyak yang memahami bahwa administrasi
termasuk yang sering menghambat dalam proses belajar mengajar.
Supervisi dalam pendidikan telah lama dikenal namun tidak semua orang
dalam dunia pendidikan mengerti apa hakekat supervisi itu sendiri. Supervisi
disamakan dengan pekerjaan mengawasi, supervisi lebih banyak mengawasi
daripada berbagi ide pengalaman. Sebagai supervisor, kepala madrasah
melakukan supervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.
Menurut Sahertian (2004:19) bahwa supervisi merupakan suatu proses yang
dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor
mempelajari tugas sehari-hari di madrasah, agar dapat menggunakan
pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik
pada orangtua peserta didik dan madrasah, serta berupaya menjadikan
madrasah sebagai komunitas belajar yang lebih efektif. Jika supervisi
dilaksanakan oleh kepala madrasah, maka ia harus mampu melakukan
berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga
kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar
kegiatan pendidikan di madrasah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan.
d. Kepala madrasah sebagai leader
Madrasah merupakan salah satu bentuk organisasi pendidikan. Kepala
madrasah merupakan pemimpin pendidikan di madrasah. Kepemimpinan
pendidikan bisa diartikan sebagai suatu usaha untuk menggerakkan
orangorang yang ada dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan. Dalam organisasi pendidikan yang menjadi pemimpin pendidikan
adalah kepala madrasah. Sebagai pemimpin pendidikan, kepala madrasah
memiliki sejumlah tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Untuk bisa
menjalankan fungsinya secara optimal, kepala madrasah perlu menerapkan
Unit Pembelajaran 319
gaya kepemimpinan yang tepat. Peranan utama kepemimpinan kepala
madrasah tersebut, nampak pada pernyataan-pernyataan yang dikemukakan
para ahli kepemimpinan. Knezevich yang dikutip Indrafachrudi (2006)
mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah sumber energi utama
ketercapaian tujuan suatu organisasi. Di sisi lain, Owens (dalam Indrafachrudi,
2006) juga menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan merupakan sarana
utama untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, agar kepala madrasah
bisa melaksanakan tugasnya secara efektif, mutlak harus bisa menerapkan
kepemimpinan yang baik.
Dalam usaha mensukseskan pendidikan inklusif di madrasah yang
dipimpinnya, seorang kepala madrasah juga mempunyai peran yang sangat
besar. Seorang kepala madrasah harus bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan dan keberhasilan pendidikan inklusif yang dipimpinnya. Bentuk
tanggung jawab dan upaya mencapai keberhasilan tersebut dapat dilihat dari
program-program yang dibuat, realisasi, dan evaluasi yang dilakukan
mengenai pendidikan inklusi ini. Mencermati program dan mengetahui
peleksanaan ini menjadi penting karena adanya kasus-kasus yang sering
terjadi, madrasah menggunakan label inklusif namun dalam realisasinya jauh
dari fakta. Bahkan anak berkebutuhan khusus hanya menjadi objek di
madrasah tersebut. Untuk itulah peran kepemimpinan kepala madrasah dalam
menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus sebagai suatu perbedaan
dan harus mendapatkan perhatian dan layanan di madrasah inklusi harus
selalu ditingkatkan dan diupayakan. Tanpa adanya keteladanan
kepemimpinan kepala madrasah maka program pendidikan inklusif di
madrasah tersebut akan sulit direalisaikan bahwa madrasah tersebut memang
ramah dan menerima adanya keragaman perbedaan peserta didik.
320 Unit Pembelajaran
KEGIATAN 3. Memahami indeks inklusivitas (index of inclusion) dan
menggunakannya dalam perencanaan, implementasi, evaluasi, dan pelaporan
Madrasah Inklusi
(Ceramah 30”; Diskusi 30”; Praktik 60”)
1. Manajemen Madrasah Inklusif
Istilah manajemen madrasah acapkali disandingkan dengan istilah
administrasi madrasah. Berkaitan dengan itu, terdapat tiga pandangan
berbeda. Pertama, mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen
(manajemen merupakan inti dari administrasi) kedua melihat manajemen lebih
luas daripada administrasi (administrasi merupakan inti dari manajemen) dan
ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi.
Dalam modul ini, istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi
atau pengelolaan, yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan
sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien
guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di madrasah secara optimal.
Sama halnya dengan fungsi manajemen secara umum, dalam konteks
manajemen madrasah inklusif fungsi manajemen meliputi aspek:
➢ Perencanaan (Planning)
➢ Pengorganisasian (organizing)
➢ Pengarahan (directing)
➢ Pengkoordinasian (coordinating)
➢ Pengawasan (controlling), dan
➢ Penilaian (evaluation)
Prinsip manajemen madrasah penyelenggara pendidikan inklusif
memberikan kewenangan penuh kepada pihak madrasah untuk
merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan,
mengawasi, dan mengevaluasi komponen-komponen pendidikan inklusif
yang bersangkutan. Komponen- komponen tersebut meliputi:
➢ Manajemen kesiswaan
➢ Manajemen kurikulum
➢ Manajemen pembelajaran
Unit Pembelajaran 321
➢ Manajemen penilaian
➢ Manajemen ketenagaan
➢ Manajemen sarana-prasarana
➢ Manajemen pembiayaan
➢ Manajemen sumberdaya lingkungan
Pada hakikatnya pendidikan itu menjadi tanggung jawab bersama
antara madrasah, masyarakat dan pemerintah. Oleh sebab itu para pembina
dan pelaksana pendidikan di lapangan diharapkan mampu memberdayakan
masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif secara optimal,
termasuk dalam mendukung pengembangan madrasah inklusif.
Partisipasi dan peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
inklusif antara lain dalam: (1) perencanaan; (2) penyediaan tenaga
ahli/profesional terkait; (3) pengambilan keputusan; (4) pelaksanaan
pembelajaran dan evaluasi; (5) pendanaan; (6) pengawasan; dan (7)
penyaluran lulusan.
Untuk mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam
penyelenggaraan inklusi dapat diakomodasikan melalui wadah: (1) Komite
sekolah, (2) dewan pendidikan; (3) Forum-forum pemerhati pendidikan inklusif.
Terkait dengan mengoptimalkan peran masyarakat dalam
pengembangan madrasah inklusif, peran Kepala Madrasah juga sangat
penting. Di sinilah kemampuan manajerial Kepala Madrasah menjadi semakin
teruji. Program Madrasah Inklusi dapat menjadi pintu masuk bagi partisipasi
masyarakat dan lembaga-lembaga lain secara lebih luas dan bermakna jika
Kepala Madrasah dapat melihat dan mengelola peluang ini dengan sebaik-
baiknya.
2. Indeks Inklusivitas (Index of Inclusion) dan Penggunaannya dalam
Manajemen Madrasah Inklusif
Hingga saat modul ini diterbitkan, belum ada dokumen resmi Standar
Nasional Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif yang diterbitkan oleh
Pemerintah RI yang dapat menjadi rujukan dalam perencanaan, implementasi,
evaluasi dan pelaporan. Satuan Pendidikan Penyelenggaraan Pendidikan
322 Unit Pembelajaran
Inklusif, termasuk Madrasah Inklusif. Dalam Buku Panduan Penyelenggaran
Pendidikan Inklusif di Madrasah yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam Kementerian Agama RI disebutkan bahwa salah satu acuan
yang dapat digunakan adalah Indeks Inklusivitas (Index of Inclusion).
Indeks Inklusivitas (Index of Inclusion) dikembangkan oleh Ainscow di
Inggris dan telah digunakan di Indonesia untuk menilai kemajuan Program
Pendidikan Inklusif di beberapa satuan pendidikan. Menggunakan indeks
inklusi versi Ainscow lebih fleksibel karena instrumen yang dikembangkan
dapat disesuaikan dengan kondisi madrasah yang dinilai. Hal ini juga
dimaksudkan untuk mempermudah penyempurnaan kelemahan-kelemahan
yang ditemui dalam pengembangan madrasah yang inklusif.
Dalam perspektif fungsi kepemimpinan dan manajemen Kepala
Madrasah, Indeks Inklusivitas (Index of Inclusion) ini dapat digunakan untuk:
(1) Menilai kondisi awal madrasah (baseline study);
(2) Menyusun Rencana Pengembangan Program Madrasah Inklusi
(3) Melakukan monitoring dan evaluasi implementasi Program Madrasah
Inklusi secara berkala; dan
(4) Menyusun Laporan Perkembangan Kemajuan Program Madrasah Inklusi
kepada pemangku kepentingan terkait.
Selanjutnya Indeks Inklusivitas (Index of Inclusion) juga dapat dijadikan
instrumen monitoring dan evaluasi serta supervisi oleh Pengawas Madrasah
dan Kementerian Agama di tingkat pusat, provinsi, maupun Kabupaten/Kota
yang akan dibahas dalam Modul 8.
Adapun alur penilaian yang dikembangkan terdiri dari 4 elemen, yaitu:
Kerangka Dasar, Tinjauan Kerja, Telaah Material dan Proses Penghitungan
Indeks.
1. Kerangka dasar
Kerangka dasar adalah ide-ide bagaimana mengembangkan pendidikan
inklusif di madrasah. Ide-ide yang dimaksud adalah “
a. Inklusivitas (inclusion)
Unit Pembelajaran 323
b. Hambatan-hambatan terhadap pembelajaran dan partisipasi (barries to
learning and participation)
c. Sumber-sumber daya yang mendukung pembelajaran dan partisipasi
(resources to support learning and participation)
d. Dukungan untuk keberagaman Peserta Didik (Support for Diversity)
2. Tinjauan kerangka kerja
a. menciptakan budaya inklusif
b. membuat kebijakan inklusif
c. membangun praktik inklusif
Ketiga dimensi tersebut kemudian dijabarkan ke dalam sub- sub dimensi
sebagaimana tabel berikut:
Tabel 19 Dimensi Budaya Inklusif
Dimensi Sub Dimensi
A. Menciptakan A1. Membangun komunitas yang inklusif
budaya inklusif A2. Membangun nilai-nilai inklusif
B. Membuat kebijakan B1. Mengembangkan Madrasah untuk Semua
inklusif B2. Mengorganisasikan berbagai bentuk
dukungan atas keberagaman
C. Membangun praktik C1. Mengharmonisasi pembelajaran
inklusif C2. Memobilisasi sumber-sumber daya
3. Telaah Material
Proses telaah material adalah perumusan indikator dan pertanyaan yang
dikembangkan berdasarkan tiga dimensi, yaitu: dimensi budaya,
kebijakan dan praktik inklusivitas. Hal ini dimaksudkan untuk membantu
madrasah agar dapat memahami kondisi inklusivitas pada semua aspek
di madrasah. Dan proses telaah ini dapat mengidentifikasi prioritas
pengembangan madrasah karena perumusan indikator dan pertanyaan
disesuaikan dengan kondisi madrasah.
Contoh telaah material untuk Dimensi Menciptakan Budaya Inklusif Sub
Dimensi Membangun Komunitas yang Inklusif:
324 Unit Pembelajaran
Dimensi Sub Dimensi Indikator
A. Menciptakan A1. Membangun 1. Suasana madrasah membuat
semua peserta didik,
budaya komunitas yang pendidik, dan tendik merasa
inklusif diterima sebagai bagian dari
keluarga besar madrasah
inklusif
2. Peserta dididik dikondisikan
untuk saling membantu
3. Pimpinan, pendidik, dan
tenaga kependidikan bekerja
sebagai satu tim.
4. Semua warga madrasah
saling memperlakukan satu
sama lain dengan rasa hormat
5. Terdapat kerja sama yang
baik antara pihak madrasah
dengan orangtua dan wali
peserta didik.
6. Warga masyarakat di sekitar
madrasah terlibat/dilibatkan
dalam pengembangan
madrasah
7. Warga madrasah
terlibat/dilibatkan dalam
kegiatan masyarakat di
sekitar madrasah.
8. Masyarakat di sekitar
madrasah menganggap
warga madrasah sebagai
bagian dari mereka.
4. Proses Penghitungan Indeks
Unit Pembelajaran 325
Proses memulai indeks diawali dengan menyiapkan seluruh
instrumen yang akan digunakan untuk menyelidiki madrasah yang akan
dinilai. Instrumen yang disiapkan adalah daftar indikator yang dilengkapi
dengan interval nilai. Penilai menyiapkan daftar pertanyaan kepada
responden untuk menentukan nilai pada setiap indikator tersebut.
Proses selanjutnya adalah melakukan penyelidikan di madrasah
dengan menggunakan instrumen berupa questioner yang telah disiapkan
kepada beberapa responden yang berkompoten untuk mendapatkan
jawaban yang sesungguhnya sesuai dengan kondisi madrasah. Hasil
penyelidikan selanjutnya diolah untuk menentukan nilai indeks inklusi.
Nilai indeks inklusi untuk pencapaian keseluruhan pengembangan
pendidikan inklusif di sebuah madrasah didapatkan dengan cara :
Nilai indeks = Jumlah nilai perolehan / Jumlah nilai maksimal
Ket : Nilai perolehan adalah jumlah nilai pencapaian dari semua
responden Nilai maksimal adalah jumlah nilai tertinggi semua responden
Selanjutnya untuk mengetahui nilai dari masing-masing dimensi
didapatkan dengan cara yang sama yaitu menentukan nilai masing-
326 Unit Pembelajaran
masing dimensi dari seluruh responden. Paparan nilai tersebut dapat
menggambarkan indikator yang paling lemah dan kuat dalam penerapan
pendidikan inklusi di madrasah. Berdasar dari hasil penilaian tersebut,
dapatlah menjadi acuan untuk penyusunan program pengembangan
inklusi di madrasah tersebut. Instrumen yang sama dapat digunakan untuk
mengevaluasi secara berkala kemajuan program madrasah inklusi di
madrasah tersebut.
Unit Pembelajaran 327
LK 6. Menyusun indeks inklusivitas yang sesuai dengan kondisi madrasah
Instrumen penyusunan Indeks inklusivitas yang sesuai dengan kondisi madrasah.
Dimensi Sub Dimensi Indikator
B. Menciptakan A1. Membangun
budaya komunitas
inklusif A2. Membangun
nilai-nilai inklusif
1. Membuat B1.
kebijakan Mengembangkan
inklusif Madrasah untuk
Semua
B2.
Mengorganisasikan
berbagai bentuk
dukungan atas
keberagaman
2. Membangun C1.
praktik Mengharmonisasi
inklusif pembelajaran
C2. Memobilisasi
sumber-sumber
daya
Kepala Madrasah, ......................., …………………………..
Pengawas
__________________________ _________________________
NIP
328 Unit Pembelajaran
LK.7 Instrumen Pendampingan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
INSTRUMEN PENDAMPINGAN
MADRASAH PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSIF
Nama Madrasah : .....................................................................................
Alamat Madrasah : .....................................................................................
Kecamatan : ......................................................................................
Nama Kepala Madrasah : ......................................................................................
Waktu Kunjungan : Hari / Tanggal ......................................................2020
Kelas/Semester : ..............................................................................
Jumlah PDBK :
Kls I Laki-laki ............ Orang, Perempuan .........Orang
Kls II .Laki-laki ............. Orang, Perempuan .........Orang
Kls III Laki-laki ………. Orang, Perempuan …….Orang
Kls IV Laki-laki ……….. Orang, Perempuan …… Orang
Kls V Laki-laki……….. Orang, Perempuan ……..Orang
Kls VI Laki-laki ……….. Orang, Perempuan ……..Orang
Jumlah Keseluruhan : Laki-laki .................Orang, Perempuan .........Orang.
Topik Sub Instrumen Ya (ada) Keterangan
Topik Skor
1. Tolong bapak/ibu ceritakan
cara menyambut siswa setiap 1 234
pagi di sekolah ini ? (W)
Inklusivitas Budaya
Sekolah 2. Tolong bapak/ibu ceritakan
cara menyambut siswa setiap
pagi di sekolah ini ? (W)
3. Siswa saling membantu dalam
proses pembelajaran. (O)
4. Bagaimana bentuk kerja
sama antara guru satu dengan
yang lainnya di Sekolah Ini?
5. Bagaimanakah kerja sama
terjalin antara guru dan
orangtua ? (W)
Unit Pembelajaran 329
Inklusifitas Regulasi 6. Bagaimanakah keterlibatan
Sekolah masyarakat dalam kegiatan
sekolah ? (W)
7. Budaya menjaga kebersihan
dan ketertiban sekolah
melibatkan semua peserta
didik termasuk PDBK. (O)
8. Bagaimana pandangan guru,
orangtua, siswa dan
masyarakat sekitar sekolah
terhadap pendidikan inklusif?
(W)
9. Guru dan siswa saling
menghormati satu sama lain
(O)
10. Bagaimana cara guru
memberikan motivasi kepada
siswa ? (W)
11. Bagaimana proses
pembelajaran yang diberikan
guru terhadap PDBK di kelas?
(W)
12. Bagaimana cara guru untuk
menghilangkan hambatan
dalam proses pembelajaran
PDBK? (W)
1. Apakah ada kebijakan khusus
untuk penerimaan peserta
didik baru dengan
memprioritaskan anak yang
berada di sekitar lingkungan
sekolah? (W)
2. Apakah ada kebijakan bagi
peserta didik baru
mendapatkan orientasi
(pengenalan lingkungan
sekolah) yang sehat ? (W)
3. Apakah sekolah memiliki
program untuk identifikasi dan
asesmen peserta didik baru?
(W)
4. Apakah RKAS sekolah disusun
oleh Kepala Sekolah, Guru,
tenaga kependidikan, komite,
orangtua ?
5. Apakah sekolah menerapkan
kebijakan penambahan biaya
330 Unit Pembelajaran
untuk pelayanan dalam 331
pembelajaran kepada PDBK ?
(W)
6. Apakah sekolah membuat
peraturan tentang GPK ? (W)
7. Apakah Komposisi Guru
disekolah direkrut berdasarkan
kualifikasi dan kompetensi. (O)
8. Apakah Kepala Sekolah
mengadakan pelatihan/Diskusi
berkala kepada guru untuk
memberikan layanan
pembelajaran sesuai
kebutuhan peserta didik? (W)
9. Apakah sekolah memiliki
kebijakan khusus adaptasi
kurikulum untuk memberikan
layanan terhadap PDBK
(Silabus, RPP, PPI, Sistem
penilaian adaptif)? (D)
10. Bagaimana kebijakan sekolah
dalam menetapkan Kriteria
Ketuntasan Minimal? (D)
11. Apakah sekolah mempunyai
kebijakan kenaikan kelas
secara otomatis? (O)
12. Apakah sekolah mempunyai
kebijakan kelulusan dari
sekolah secara otomatis? (O)
13. Apakah Sekolah menerapkan
sanksi bagi peserta didik yang
tidak mematuhi peraturan
tanpa pandang bulu. (O)
14. Apakah ada kebijakan
pengembangan minat, bakat,
dan potensi bagi PDBK?
15. Apakah sekolah menetapkan
site plan pengembangan
sarana yang aksesibel? (D)
16. Apakah sekolah menetapkan
kebijakan rencana
pengembangan Aksesibilitas
fisik yang tertuang dalam
RKAS? (D)
17. Apakah kebijakan penetapan
visi dan misi sekolah sudah
Unit Pembelajaran
Inklusifitas Praktik mencerminkan pendidikan
Sekolah inklusif? (O)
18. Adakah strategi sekolah untuk
mendapatkan dukungan
eksternal untuk mendukung
penyelenggaraan pendidikan
inklusif? (O)
19. Bagaimana kebijakan sekolah
untuk mengaktifkan komite
sekolah/rukun kelas dalam
memberikan dukungan
terhadap pendidikan inklusif?
(W)
1. Bagaimana proses
penerimaan siswa di
madrasah Bapak/Ibu? (W)
2. Ceritakan bagaimana proses
IAP di madrasah Bapak /Ibu?
(W)
3. Siapa yang melakukan
Identifikasi? (W)
4. Siapa yang melakukan
melakukan Asesmen ?(W)
5. Bagaimana mekanisme
penempatann PDBK yang
telah bapak/ibu lakukan? (W)
6. Apakah ada profil peserta
didik ? (D)
7. Bagaimana semua peserta
didik hadir Bersama dalam
proses belajar mengajar? (W)
8. Kehadiran Bersama dalam
proses belajar mengajar(O)
9. Bagaimana cara Ibu/Bapak
melibatkan setiap peserta
didik dalam proses belajar
mengajar (W)
10. Seperti apa bentuk penilaian
yang Bapak/ Ibu lakukan
terhadap PDBK (W)
11. Daftar nilai (O)
12. Apakah madrasah
melaksanakan kenaikan kelas
peserta didik secara otomatis
? (W)
13. Apakah absensi kelas 1 dan
2 peserta didik pada
332 Unit Pembelajaran