Apa kebutuhan/tujuan jangka pendek bagi siswa ? (3 – 6 bulan)
No. Tujuan Aktivitas Bulan Pihak Evaluasi Catatan
Jangka Yang Pencapaian Yang
Pendek Digunakan Terlibat
Petunjuk Pengisian:
1. Tujuan Jangka Pendek, diisi dengan upaya pemenuhan kebutuhan peserta
didik yang bersifat mendesak dan segera yang dapat dilakukan dalam 3-6
bulan, misalnya pengadaan alat bantu seperti kacamata, tongkat, dan lain-lain,
serta pemenuhan kebutuhan pendampingan dalam belajar;
2. Aktivitas Yang Digunakan, diisi dengan strategi atau aktivitas yang diperlukan
untuk mencapai tujuan jangka pendek, misalnya mencari donasi untuk
pengadaan alat bantu melalui pertemuan dengan orangtua, masyarakat, atau
dunia usaha dunia industri.
3. Bulan Pencapaian, diisi dengan bulan target pemenuhan kebutuhan siswa
atau bulan pelaksanaan kegiatan/aktivitas yang digunakan untuk mencapai
tujuan jangka pendek;
4. Pihak yang terlibat dapat berasal dari unsur teman sejawat, guru lain, kepala
madrasah, pengawas, orangtua, masyarakat, dunia usaha dan dunia industri,
dan lain-lain;
5. Evaluasi dapat diisi dengan indikator pencapaian tujuan, misalnya checklist
pemenuhan kebutuhan, atau informasi pendampingan, dan sebagainya;
6. Catatan, dapat diisi dengan catatan yang diperlukan untuk melengkapi
informasi lain yang berkaitan, misalnya perlu surat resmi kepada dunia usaha
dan dunia industri untuk mencari bantuan alat.
Unit Pembelajaran 183
Catatan ;
Khusus Bagian Program Pembelajaran Individual, terdapat Unit Pembelajaran
tersendiri dalam modul ini, akan lebih mudah pengisian jika guru sudah
mengikuti Unit Pembelajaran tentang Program Pembelajaran individual.
F. Tindak Lanjut
1. Tindak Lanjut Informasi Kesehatan
Bagaimana jika rujukan medis/kesehatan memberikan hasil penilaian yang
berbeda dari penilaian yang diberikan guru/orangtua di PBS?
Setelah peserta didik mnedapatkan hasil penilaian diagnostik, terkadang
Anda harus mengubah apa yang telah tercatat di formulir PBS. Sebagai
contoh, seorang anak terlihat seperti memiliki kesulitan melihat papan tulis,
tapi tes penglihatannya menunjukkan kalau penglihatannya baik-baik saja.
Sang anak mungkin menderita dyslexia dan bisa melihat papan tulis tapi
otaknya tidak bisa memproses arti dari apa yang tertulis di sana. Jika hal hal
tersebut terjadi maka tidak apa-apa untuk mengubah apa yang telah Anda
catat sebagai akibat dari telah didapatkannya hasil tes medis. Ini bukan
berarti penilaian Anda buruk. Diagnosis adalah pekerjaan yang sangat sulit
dan penggunaan layanan medis menunjukkankemitraan positif antara
bidang kesehatan dan pendidikan..
2. Tindak Lanjut Informasi tentang Disabilitas
Bagaimana menginginkan informasi lebih mendetil tentang disabilitas?
Bagi beberapa madrasah atau peserta didik, mungkin akan relevan untuk
memasukkan informasi lebih mendetil tentang fungsi dan disabilitas dari
peserta didiknya. PBS merupakan informasi pada tingkat dasar, yang
menjadi hal minimal bagi semua madrasah di Indonesia. Jika misalnya Anda
memerlukan lebih banyak informasi mendetil tentang perilaku seorang
peserta didik, karakteristik syaraf atau tentang muskuloskeletal (otot dan
rangka) untuk mendukung penilaian yang diberikan dalam memberikan
kebutuhan pembelajaran dan dukungan, maka akan juga relevan untuk
melakukan penilaian yang lebih mendetil. Informasi mendetil ini bersifat
184 Unit Pembelajaran
opsional dan tidak akan digunakan sebagai cara untuk menghitung jumlah
anak penyandang disabilitas di madrasah.
3. Praktik penyusunan profil belajar siswa
- Latihan menyusun Instrumen Bersama dipandu dalam kegiatan kelompok
- Menyusun minimal 2 PBS di kelas masing-masing
- Reviu hasil Penysunan PBS dari kelas masing-masing dengan
memamparkan hasil kerja dan meminta masukan dari mitra guru lain atau
fasilitator
G. Evaluasi
Penyusuan Profil Belajar Siswa (PBS) bagi semua siswa yang teridentifikasi
sebagai siswa berkebutuhan khusus di kelas atau madrasah. Evaluasi terhadap
peserta pelatihan dapat dilakukan melalui diskusi dan overview materi terkait
hal-hal sebagai berikut:
1. Manfaat PBS yang dirasakan;
2. Penyusunan Program Pembelajaran
2. Mengenal karakteristik dan kesulitan siswa
Unit Pembelajaran 185
UNIT PEMBELAJARAN 4.
Perencanaan Pembelajaran Inklusif
A. Deskripsi
Pada modul ini, akan disajikan tentang: konsep kurikulum secara umum,
komponen kurikulum, kurikulum dalam konteks inklusif, model-model kurikulum
serta pengembangan kurikulum dalam konteks inklusif. Pada bagian berikutnya
akan dibahas tentang pengertian rencana pembelajaran dan strategi dalam
pengembangan rencana pembelajaran yang meliputi silabus dan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Beberapa contoh silabus dan RPP akomodatif.
B. Tujuan
Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan memiliki: pemahaman
tentang hakikat kurikulum dan rencana pembelajaran inklusif, serta memiliki
kemampuan/keterampilan untuk memodifikasi kurikulum dan menyusun rencana
pembelajaran (RPP akomodatif) dalam konteks pembelajaran inklusif.
Dalam modul ini akan disampaikan beberapa hal mengenai Kurikulum Pendidikan
Inklusi meliputi Pengertian, Komponen, Tujuan Pengembangan Kurikulum, Model
Pengembangan Kurikulum dan Rencana Pembelajaran.
C. Strategi
Beberapa strategi yang akan dilaksanakan oleh peserta dalam
pembelajaran modul ini adalah:
1. Memahami materi/bahan yang ada dalam modul.
2. Nara sumber bersama peserta melakukan pembahasan (ceramah, diskusi,
Tanya jawab) tentang materi
3. Kegiatan melakukan exercise (latihan praktik) dalam mengembangkan
kurikulum modifikasi untuk siswa berkebutuhan khusus dalam setting inklusif.
- Peserta berlatih (praktik) menyusun rencana pembelajaran untuk
pembelajaran siswa berkebutuhan khusus dalam setting inklusif.
186 Unit Pembelajaran
- Peserta melakukan observasi mengenai kurikulum, rencana pembelajaran
dan praktik pembelajaran di sekolah inklusif.
4. Penyampaian Materi Keseluruhan (Ceramah Bervariasi)
5. Penutup
D. Media
- Instrumen/contoh PPI
- Instrumen RPP Akomodatif
- Kertas Flipcart & Pos`it
E. Materi
KEGIATAN 1. Memahami Kurikulum untuk PDBK
(Materi & Diskusi: 1 JP)
Kurikulum yang khusus untuk peserta didik berkebutuhan khusus ini sering
disebut Individual Education Program (IEP) atau Program Pendidikan Individual
(PPI), adalah kurikulum akomodatif yang dibuat oleh Guru Pembimbing khusus
bekerja sama dengan Guru kelas, guru mata pelajaran, di konsultasikan dengan
Psikolog atau Guru Pendidikan Luar Biasa terkait dengan program Kompensatoris
(layanan khusus) jika ada, dikomunikasikan dengan walimurid, dan ditandatangani
oleh Kepala Madrasah.
Undang-Undang Sistem pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 dalam bab 1
pasal 1 ayat 19 mendefinisikan Kurikulum adalah “Seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu”. http://www.inherent-
dikti.net/files/sisdiknas.pdf,hal.12).
Dalam pasal 37 ayat 1 menyebutkan bahwa Kurikulum Pendidikan Dasar dan
Menengah wajib memuat :
a. Pendidikan Agama
b. Pendidikan kewarganegaraan
Unit Pembelajaran 187
c. Bahasa (Indonesia)
d. Matematika
e. Ilmu Pengetahuan Alam
f. Ilmu Pengetahuan Sosial
g. Seni dan Budaya
h. Pendidikan jasmani dan Olah raga
b. Ketrampilan
c. Muatan lokal
Tujuan dalam pengertian di atas berarti apa yang akan dicapai , materi maksudnya
apa yang akan dipelajari, proses berarti apa yang akan dilakukan untuk mencapai
tujuan dan evaluasi berarti apa yang harus dilakukan untuk mengetahui
keberhasilan pencapaian tujuan.
Kurikulum bisa bersifat makro, artinya pengaturan tentang empat hal tersebut
dalam skala nasional, tetapi juga bisa bersifat mikro yaitu pengaturan tentang
empat hal tersebut dalam konteks pembelajaran di kelas, dan jika ini berkaitan
dengan kurikulum ABK, bisa jadi individual.
1. Komponen Kurikulum
Dalam pendidikan inklusi, Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum
Nasional yang berlaku di sekolah umum. Akan tetapi karena di dalam sekolah
umum tersebut juga ada peserta didik berkebutuhan khusus dengan ragam
hambatan yang bervariasi, dari yang ringan, sedang sampai berat, maka
implementasinya dilakukan modifikasi kurikulum sesuai kebutuhan peserta
didik.
Modifikasi (penyelarasan) kurikulum dapat dilakukan oleh Tim pengembang
kurikulum sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, guru pendamping khusus,
konselor, psikolog dan ahli terkait, dan juga dikomunikasikan dengan
walimurid.
Komponen Kurikulum Inklusi tetap mengacu pada :
1. Tujuan, meliputi Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi
(SK), Kompetensi Dasar (KD), dan Indikator
188 Unit Pembelajaran
2. Isi (Materi) : isi atau konten yang harus dipelajari oleh siswa supaya bisa
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Materi pembelajaran bisa berupa
informasi, konsep, teori, dan lain-lain. Materi pembelajaran harus relevan
atau mendukung terhadap pencapaian kompetensi dasar dan standar
kompetensi. Materi biasanya dikembangkan oleh guru dengan mengacu
kepada buku sumber yang relevan.
3. Proses : adalah kegiatan atau aktivitas yang akan dijalani oleh siswa supaya
bisa menguasai materi yang diajarkan dan bisa mencapai tujuan-tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Proses kurang lebih sama
pengertiannya dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) atau pengalaman
belajar, yakni serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh
siswa bersama guru baik di dalam maupun di luar kelas. Proses
pembelajaran biasanya terkait dengan penggunaan metode mengajar,
pemakaian media pembelajaran, pengalokasian waktu, penggunaan
sumber belajar, pengelolaan kelas dan lain.
4. Evaluasi : adalah proses yang dilakukan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Kegiatan evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah para siswa telah
berhasil mencapai atau menguasai kompetensi-kompetensi yang menjadi
tujuan pembelajaran. Isu yang paling penting terkait dengan evaluasi
adalah teknis atau cara yang akan digunakan dalam evaluasi untuk
mengetahui keberhasilan pembelajaran.
2. Tujuan pengembangan Kurikulum
Kementerian Pendidikan Nasional (2010:20) menyebutkan tujuan
Pengembangan Kurikulum dalam Pendidikan Inklusif adalah :
a. Membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi dan mengatasi
hambatan belajar yang dialami siswa semaksimal mungkin dalam setting
inklusi
b. Membantu guru dan orangtua dalam mengembangkan program
pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus , baik yang
diselenggarakan di sekolah maupun di rumah.
Unit Pembelajaran 189
c. Menjadi pedoman bagi sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan ,
menilai dan menyempurnakan program pendidikan inklusif.
3. Model Pengembangan Kurikulum
Kementerian Pendidikan Nasional (2010:20) membuat 4 kategori model
kurikulum (duplikasi, modifikasi, substitusi dan komisi) dan yang sekarang
disederhanakan hanya 2 yakni Modifikasi dan Adaptasi ;
a. Model kurikulum Modifikasi pada tingkat satuan pendidikan yang sesuai
standar nasional, pada model kurikulum ini peserta didik yang berkelainan
mengikuti kurikulum satuan pendidikan seperti kawan-kawannya di dalam
kelas yang sama, program layanan khususnya lebih diarahkan kepada
modifikasi proses pembimbingan belajar, motivasi, dan ketekunan
belajarnya (umumnya untuk peserta didik yang masih mampu mengikuti
kurikulum reguler). Sedangkan modifikasi dilakukan dengan penyesuaian
pada komponen-komponen kurikulum seperti tujuannya, isi (materinya),
prosesnya maupun evaluasinya.
Modifikasi tujuan, berarti tujuan-tujuan pembelajaran yang ada dalam
kurikulum umum diubah untuk disesuaikan dengan kondisi siswa
berkebutuhan khusus. Sebagai konsekuensi dari modifikasi tujuan, maka
siswa berkebutuhan khusus akan memiliki rumusan kompetensi sendiri
yang berbeda dengan siswa-siswa reguler, baik berkaitan dengan standar
kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD)
maupun indikator.
Contoh modifikasi kompetensi dasar (KD)
Mata pelajaran : IPA
Kelas/semester : V/1
Standar Kompetensi Dasar Modifikasi KD Modifikasi KD
Kompetensi (SK) (KD ABK ringan ABK sedang
Mengidentifikasi Mengidentifikasi Mengidentifikasi Mengidentifikasi
cara makhluk penyesuaian diri jenis-jenis hewan jenis-jenis hewan
hidup hewan dengan yang hidup di yang ditemui di
menyesuaikan lingkungan darat. rumah dan
diri dengan tertentu untuk sekitarnya.
lingkungannya. mempertahankan
hidupnya
190 Unit Pembelajaran
Sumber Modul Pendidikan Inklusi Kemendikbud 2010
Contoh modifikasi indikator
Mata pelajaran : IPS
Kelas/semester : V/1
Kompetensi Indikator Modifikasi Modifikasi
Dasar (KD (Umum) Indikator ABK Indikator sedang
ringan
Mengenal Menggambar Membuat denah Membuat denah
keragaman peta Indonesia. sekolah. ruang kelas.
ketampakan Menunjukkan Mengidentifikasi Mengidentifikasi
alam dan pada peta fase-fase waktu fase-fase waktu
buatan serta pembagian dalam satu hari dalam satu hari
pembagian wilayah waktu (pagi, siang dan (pagi, siang, dan
wilayah waktu di Indonesia malam) malam)
di Indonesia
Sumber Modul Pendidikan Inklusi Kemendikbud 2010
Modifikasi isi, berarti materi-materi pelajaran yang diberlakukan untuk
siswa reguler diubah untuk disesuaikan dengan kondisi siswa
berkebutuhan khusus. Dengan demikian, siswa berkebutuhan khusus
mendapatkan sajian materi yang sesuai dengan kemampuannya.
Modifikasi materi bisa berkaitan dengan keluasan, kedalaman dan atau
tingkat kesulitan.
Beberapa contoh rumusan materi pembelajaran yang biasa ditemukan di
Madrasah Ibtidaiah di antaranya adalah:
➢ Konsep bilangan ganjil, penjumlahan, geometri
➢ Proses fotosintetis
➢ Peta wilayah Indonesia.
➢ Kesenian daerah dan kebudayaan nasional
➢ Toleransi beragama dan hidup rukun
➢ Tata cara Shalat dan hukum zakat dsb.
Siswa berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan kecerdasan pada
umumnya tidak bisa menyerap atau memahami materi-materi pembelajaran
yang disajikan untuk anak-anak reguler. Oleh karena itu, materi-materi
pembelajaran yang ada (umum, reguler) harus diubah(dimodifikasi) untuk
disesuaikan dengan kemampuan siswa berkebutuhan khusus. Ada
Unit Pembelajaran 191
beberapa prinsip sekaligus juga cara yang dapat dipertimbangkan oleh guru
pada saat melakukan modifikasi materi pembelajaran :
a. Ketika guru telah memodifikasi tujuan (kompetensi dasar), maka
otomatis materi pembelajaran juga harus dimodifikasi, karena materi
pembelajaran dirumuskan atas dasar tujuan pembelajaran.
b. Tidak semua materi harus dimodifikasi. Hal ini bergantung kepada sifat
materi yang dipelajari, yakni kesulitan, kerumitan, kedalaman atau
keluasannya, juga bergantung kepada jenis hambatan yang dialami oleh
siswa.
c. Siswa berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan kecerdasan
paling banyak membutuhkan modifikasi materi pembelajaran.
d. Semakin bersifat akademik dan abstrak suatu materi pelajaran, semakin
perlu materi tersebut dimodifikasi. Sejumlah materi dalam
e. mata pelajaran kesenian mungkin tidak harus dimodifikasi, tetapi materi-
materi dalam mata pelajaran matematika dan IPA mungkin perlu.
f. Semakin berat hambatan kecerdasan yang dialami siswa berkebutuhan
khusus, semakin ekstrem proses modifikasi materi, dan sebaliknya.
g. Proses modifikasi materi harus didasarkan pada kondisi atau level
kemampuan siswa berkebutuhan khusus yang didasarkan pada hasil
asesmen.
Contoh modifikasi materi pembelajaran
Mata pelajaran : IPA
Kelas/semester : V/1
Standar Kompetensi : Mengidentifikasi cara makhluk hidup menyesuaikan
diri dengan lingkungannya.
KD Umum Materi KD Modifikasi Materi Materi
Umum Modifikas modifikasi
Mengidentifikasi i ringan sedang
penyesuaian diri Jenis/ragam Mengidentifika Jenis- jenis-jenis
hewan dengan si jenis hewan
yang
192 Unit Pembelajaran
lingkungan bentuk jenis-jenis hewan ditemui
(hidup)
tertentu untuk penyesuaia hewan yang yang di rumah
dan
mempertahanka n hidup di darat hidup di sekitarnya
.
n diri hewan dan di darat.
hidupnya. terhadap lingkungan
lingkungan sekitar.
tertentu.
Sumber Modul Pendidikan Inklusi Kemendikbud 2010
Modifikasi proses, berarti ada perbedaan dalam kegiatan pembelajaran
yang dijalani oleh siswa berkebutuhan khusus dengan yang dialami oleh
siswa pada umumnya. Metode atau strategi pembelajaran umum yang
diberlakukan untuk siswa-siswa reguler tidak diterapkan untuk siswa
berkebutuhan khusus. Jadi, mereka memperoleh strategi pembelajaran
khusus yang sesuai dengan kemampuannya. Modifikasi proses atau
kegiatan pembelajaran bisa berkaitan dengan penggunaan metode
mengajar, lingkungan/seting belajar, waktu belajar, media belajar, sumber
belajar dan lain-lain.
Karena hambatan yang ada dalam dirinya, siswa berkebutuhan khusus pada
umumnya tidak bisa mengikuti proses pembelajaran yang dirancang untuk
siswa-siswa pada umumnya (reguler). Waktu yang dibutuhkan untuk
kegiatan pembelajaran lebih lama, demikian juga dengan cara penyampaian
serta media dan sumber belajar yang digunakan. Dalam kondisi tertentu,
lingkungan belajar juga mungkin perlu dibedakan dari siswa lainnya
(dimodifikasi).
Ada beberapa prinsip sekaligus cara yang dapat dipertimbangkan oleh guru
pada waktu akan memodifikasi proses atau kegiatan pembelajaran untuk
siswa berkebutuhan khusus di madrasah inklusif:
➢ Kegiatan pembelajaran harus dirancang dengan memperhatikan
kelemahan yang dimiliki oleh siswa. Artinya cara yang dilakukan oleh
guru harus mampu mengatasi kelemahan pada siswa dan
memanfaatkan kelebihan yang ada padanya. Misalnya, untuk siswa
tunanetra harus menekankan suara yang bisa didengar, sedangkan
untuk tunarungu harus menekankan pada aktivitas visual yang dapat
Unit Pembelajaran 193
dilihat. Untuk siswa tunagrahita penekanan pada kesederhanaan cara
penyampaian sehingga mudah dipahami.
➢ Modifikasi proses pembelajaran berkaitan dengan beberapa aspek yaitu
(1) pengaturan waktu, (2) pemilihan dan penggunaan metode/cara (3)
pengaturan tempat duduk dan lingkungan belajar, (4) penggunaan
media pembelajaran (5) penggunaan sumber/bahan pembelajaran.
➢ Siswa berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan kecerdasan dan
perilaku membutuhkan modifikasi proses yang lebih spesifik dan
signifikan.
➢ Semakin berat hambatan intelektual dan atau perilaku siswa, semakin
signifikan sifat dan kebutuhan akan modifikasi proses.
➢ Modifikasi proses seyogyanya didasarkan pada karakteristik siswa
berkebutuhan khusus, yang diperoleh melalui asesmen.
Hambatan Tabel 17 Contoh Modifikasi Proses
Penglihatan
Pendengaran Modifikasi proses
kecerdasan Penyampaian materi secara
verbal
Fisik Motorik Penggunaan media audio
Menggunakan buku Braille
Media yang bisa diraba
Penyampaian materi dengan
visual
Komunikasi dengan bahasa
isyarat/ gerak tubuh, mimik muka
Penggunaan alat bantu visual
Penjelasan dengan bahasa
sederhana,
Penjelasan konsep dengan
contoh kongkret
Penekanan pembelajaran pada
kompetensi fungsional untuk
kegiatan harian
Modifikasi alat, sarana dan
lingkungan untuk memudahkan
mobilitas ABK
Diikut sertakan dalam kegiatan
olah raga sebagai wasit atau juri
untuk mendapatkan suasana
194 Unit Pembelajaran
Emosi dan perilaku ceria dan memahami bahwa
dirinya dilibatkan dalam semua
proses pembelajaran
Tempat duduk dalam kelas yang
selalu diawasi guru
Pemberian tugas tertentu untuk
menumbuhkan rasa percaya
dirinya
Memberikan kepercayaan untuk
bergabung dengan kelompok
Modifikasi evaluasi, berarti ada perubahan dalam sistem penilaian untuk
disesuaikan dengan kondisi siswa berkebutuhan khusus. Dengan kata lain,
siswa berkebutuhan khusus menjalani sistem evaluasi yang berbeda
dengan siswa-siswa lainnya. Perubahan tersebut bisa berkaitan dengan
perubahan dalam soal-soal ujian, perubahan dalam waktu evaluasi,
teknik/cara evaluasi, atau tempat evaluasi dan lain-lain. Termasuk juga
bagian dari modifikasi evaluasi adalah perubahan dalam kriteria kelulusan,
sistem kenaikan kelas, bentuk rapor, ijazah dan lain-lain. Pelaksanaan
evaluasi mencakup empat komponen
utama yaitu:
1) pengembangan alat evaluasi : Perangkat soal-soal ujian untuk mengukur
hasil belajar siswa
2) cara pelaksanaan evaluasi : teknik yang digunakan untuk mengukur
keberhasilan siswa (tes tulis, lisan, kinerja, portofolio)
3) penentuan keberhasilan : penentuan kriteria keberhasilan siswa
4) pelaporan hasil evaluasi (rapor, ijazah atau STTB)
Ada beberapa prinsip sekaligus cara yang penting dipertimbangkan oleh
guru dalam melakukan modifikasi evaluasi:
1) Siswa berkebutuhan khusus harus menjalani sistem evaluasi yang sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuannya.
2) Perubahan (modifikasi) sistem evaluasi bisa dilakukan terkait dengan
empat komponen evaluasi yaitu (1) isi/materi evaluasi, (2) cara
3) pelaksanaan evaluasi, (3) kriteria keberhasilan dan (4) model
pelaporannya.
Unit Pembelajaran 195
4) Siswa ABK yang mengalami hambatan kecerdasan membutuhkan
modifikasi evaluasi yang lebih signifikan dan pada banyak aspek
evaluasi.
5) Semakin berat hambatan kecerdasan, semakin signifikan perubahan
(modifikasi) sistem evaluasi yang dilakukan.
b. Model kurikulum adaptif dalam kaitan dengan model kurikulum, maka
adaptasi berarti menyesuaikan sesuatu yang ada dalam kurikulum umum
dengan sesuatu yang lain. Penyesuaian dilakukan karena hal tersebut tidak
mungkin diberlakukan kepada siswa berkebutuhan khusus, tetapi masih
bisa diubah dengan hal lain yang kurang lebih sepadan (memiliki nilai yang
kurang lebih sama). Model penyesuaian bisa terjadi dalam hal tujuan
pembelajaran, materi, proses atau evaluasi. Kurikulum yang diadaptasi
sesuai kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus ini dapat dilakukan
pada strategi pembelajaran, jenis penilaian, maupun pada program
tambahan lainnya dengan tetap mengacu pada kebutuhan siswa
(umumnya disebut layanan kompensatoris atau kurikulum non akademik/
kurikulum individual atau yang sekarang disebut sebagai program
kebutuhan Khusus). Jika diperlukan, kalau ada madrasah yang
membutuhkan terapi khusus untuk ABK, ada kurikulum khusus semacam
terapi yang bisa di lakukan sebagai sebuah layanan kompensatoris.
Contoh
Hambatan : Pendengaran
Tujuan/ KD Indikator Materi/Proses
Bereaksi terhadap kegiatan
suara
1.Menoleh saat 1.Menunjukkan reaksi
diperdengarkan suara terhadap berbagai
di telinganya macam suara
2.Memalingkan kepala 2. Menirukan
ke arah suara berbagai macam
3.Menutup telinga saat suara
mendengar suara
gaduh
196 Unit Pembelajaran
Sumber Dokumen kurikulum MIT Ar-Roihan
Contoh Program kebutuhan khusus siswa dengan hambatan wicara :
Target/ KD Indikator Proses kegiatan
1.Membuka mulut
Meningkatkan 1.Mampu membuka
kemampuan untuk mulut dengan
perbaikan modalitas bantuan guru
wicara 2.Mampu menirukan
gerakan membuka
mulut
Sumber Dokumen kurikulum MIT Ar-Roihan
4. Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran adalah persiapan mengajar yang dibuat secara
tertulis oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran. Sebuah rencana
pembelajaran minimal memuat uraian tentang lima komponen utama yaitu:
1) rumusan tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
2) rumusan materi yang akan disampaikan,
3) kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan,
4) informasi tentang sumber dan media yang akan digunakan dan
5) penjelasan tentang kegiatan evaluasi yang akan dilaksanakan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran.
LK. 3 Menyusun perencanaan pembelajaran PDBK
Standar Kompetensi Materi Indikator Kegiatan Alokasi Sumber Evaluasi
Kompetensi Dasar Pembelajaran Waktu &
Media
KEGIATAN 2. Program Pembelajaran Individu (PPI)
A. Pengantar
Pendidikan Inklusif dalam Permendikbud N0. 70 tahun 2009 didefinisikan sebagai
sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada
semua peserta didik berkelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat
Unit Pembelajaran 197
istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan
pendidikan secara bersama sama dengan peserta didik pada umumnya.
Karena yang dimaksud di sini adalah peserta didik dapat bersama sama belajar
dalam lingkungan yang sama dengan peserta didik yang lain, maka untuk
kurikulum peserta didik disesuaikan dengan lingkungan belajar peserta didik pada
umumnya. Akan tetapi beragamnya peserta didik berkebutuhan khusus yang juga
membutuhkan layanan khusus maka kurikulum peserta didik berkebutuhan
khusus dapat di modifikasi dan di adaptasi sesuai dengan kebutuhan peserta
didik.
B. Pengertian Program Pembelajaran Individu (PPI)
Program pembelajaran individual dikenal dengan the Individualized Education
Program (IEP) yang diprakarsai oleh Samuel Gridley Howe pada tahun 1871 (Friend
& Bursuck (2006). Pendidikan ini merupakan salah satu bentuk layanan
pendidikan khusus bagi PDBK. Di lingkungan kementerian pendidikan dan
kebudayaan, bentuk pembelajaran ini sudah diperkenalkan di Indonesia sejak
tahun 1992, yang merupakan satu rancangan pembelajaran bagi anak
berkebutuhan khusus agar mereka mendapatkan pelayanan sesuai
kebutuhannya dengan lebih memfokuskan pada kemampuan dan kelemahan
kompetensi peserta didik. Program pembelajaran individual harus merupakan
program yang dinamis, artinya sensitif terhadap berbagai perubahan dan
kemajuan peserta didik, yang diarahkan pada hasil akhir yaitu kemandirian yang
sangat berguna bagi kehidupannya, mampu berperilaku sesuai dengan
lingkungannya atau berperilaku adaptif.
Program pembelajaran individual merupakan program yang dibuat oleh guru SLB
atau guru pendamping khusus (GPK) bersama tim yang berisi target atau capaian
apa saja yang harus dipenuhi oleh ABK dalam satu semester. Dalam
penyusunannya, masing-masing guru tentu harus melakukan observasi terlebih
dahulu untuk mengetahui kemampuan apa saja yang telah dimiliki ABK yang
bersangkutan. Selain capaian atau target, PPI juga berisi media dan metode yang
digunakan untuk mencapai target pembelajaran. Media dan metode haruslah
variatif dan bersifat menyenangkan agar materi dapat diterima dengan baik. PPI
198 Unit Pembelajaran
juga berisi jadwal pelaksanaan program selama satu semester, agar program
terlaksana tepat waktu.
Dokumen PPI menjadi ukuran akuntabilitas layanan pendidikan yang diberikan
oleh sekolah bagi anak penyandang ketunaan. Dokumen PPI digunakan oleh guru
(dan orangtua) sebagai pedoman untuk mengembangkan perencanaan
pembelajaran, dan mencatat perkembangan siswa.
Apa perbedaan antara PPI dengan RPP? RPP atau rencana program pembelajaran
dibuat oleh guru kelas dan ditujukan untuk seluruh siswa pada kelas tertentu, di
mana artinya RPP merupakan program klasikal, sedangkan PPI atau IEP dibuat dan
diterapkan hanya pada satu orang siswa atau ABK menyesuaikan dengan tingkat
kemampuan yang dimiliki. Maka dari itulah program ini disebut individual, artinya,
program untuk ABK tertentu belum tentu sama dengan ABK yang lain, karena
mereka memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda.
C. Landasan dasar PPI
1. Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif menggunakan
kurikulum tingkat satuan pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan dan
kemampuan peserta didik sesuai dengan bakat, dan minatnya (pasal 7
Permendiknas no. 70)
2. Pembelajaran pada pendidikan inklusif mempertimbangkan prinsip-prinsip
pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik belajar peserta didik
(pasal 8 Permendiknas no. 70)
D. Fungsi PPI
1. Semua anak berkebutuhan khusus membutuhkan PPI, untuk menjamin
ketepatan layanan sesuai kebutuhannya.
2. PPI berisi program intervensi/pembelajaran dengan tujuan mengantarkan/
mendorong anak berkebutuhan khusus dapat berada di kelas inklusif.
3. PPI dibuat oleh sekolah dengan melibatkan tim multi-disiplin.
E. Tahapan Penyusunan PPI
1. Mengumpulkan dan menganalisis informasi yang luas melalui asesmen;
keterampilan perilaku adaptif; karakteristik dan kebutuhan-kebutuhan fisik,
medis dan psikologis; kelebihan dan keterbatasan lingkungan.
Unit Pembelajaran 199
2. Merumuskan informasi dari hasil asesmen menjadi profil anak, yang
mendeskripsikan kebutuhan dukungan atau kompensatif individu siswa
untuk mengembangkan atau meningkatkan performa (kinerja) pada area
yang spesifik.
3. Mengembangkan perencanaan; PPI
4. Mendesain program untuk
▪ Pendidikan,
▪ Penyediaan dukungan agar sukses dalam pendidikan inklusif,
▪ Aktivitas sosial, aktivitas waktu luang bersama teman sebaya (tanpa
ketunaan),
5. Mengevaluasi perkembangan individu siswa sesuai perencanaan yang telah
dibuat.
Contoh
Program Perencanaan Individual (PPI) Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
Kelas 1 Semester 1
1. Nama Lengkap : Muhammad Khoirul
2. Nama Panggilan :
3. Nomor Induk :
4. Tempat/Tanggal Lahir : Surabaya, 23 Juni 2010
5. Jenis Kelamin : Laki-laki
6. Agama : Islam
7. Diterima di MIT Ar-Roihan : 08 Juli 2019
8. Sekolah Asal
: Home Scholling Ar-Roihan
Nama Sekolah : Jl. Monginsidi No. 2 Lawang-Malang
Alamat : Dusun Alkemar 04/06 Martopuro Purwosari,
9. Alamat Siswa
Pasuruan : 085755298980
10. Telepon
11. Orangtua : Muhammad
Nama Ayah : Azizah
Nama Ibu : Dusun Alkemar 04/06 Martopuro Purwosari,
Alamat
Pasuruan :-
:-
12. Telepon
Nama Wali
200 Unit Pembelajaran
13. Alamat :-
Telepon :-
: Autis
14. Jenis Hambatan
Lawang, 15 Juli 2019
Foto Kepala Madrasah
3X4
(Lailil Qomariyah, M.Pd )
Unit Pembelajaran 201
Program Pembelajaran Individu (PPI)
A. DESKRIPSI HAMBATAN
1. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif ananda kurang baik ananda saat ini masih belum
mengenal angka 1- 10, huruf abjad a – z, untuk menulis ananda masih
menebali garis lurus, garis miring, garing melengkung dan garis lingkaran.
Selain itu ananda masih belum bisa memahami instruksi.
2. Perkembangan Motorik Kasar
Perkembangan motorik kasar ananda cukup baik, ananda mampu melompat,
melempar dan menangkap bola.
3. Perkembangan Motorik Halus
Perkembangan motorik halus ananda cukup baik, ananda dapat membuka
tutup botol, meronce, menjahit secara mandiri, dan menyusun menara donat
sesuai ukuran besar kecilnya.
4. Perkembangan Komunikasi dan Bahasa
Perkembangan komunikasi dan bahasa kurang baik, masih kesulitan dalam
mengucapkan huruf dan kata, serta belum mampu mengungkapkan
keinginan terhadap orang lain.
5. Perkembangan Interaksi Sosial
Perkembangan interaksi sosial ananda kurang baik, ananda belum dapat
mengekspresikan, maupun mengungkapkan apa yang diinginkannya.
6. Kemandirian
Kemandirian ananda cukup baik, ananda sudah bisa toilet training, melepas
dan memakai kaos kaki dan sepatu, merapikan isi tas ke dalam tas,
membersihkan mainan ke dalam kotak mainan meski masih di ingatkan, dan
mampu menggunakan celana sendiri tanpa terbalik.
B. PRA AKADEMIK Unit Pembelajaran
202
NO KOMPETENSI INDIKATOR TANGGAL KET
DASAR PELAKSANA Dalam
Mengenal huruf abjad a bimbingan
1. Mengenal Huruf – z dengan media PECS AN
(Gambar huruf a – z dan Juli- Dalam
2. Menulis di sebutkan hurufnya September bimbingan
satu persatu setiap hari)
3. Mengenal Angka Menarik garis lurus Juli- Dalam
horizontal, garis lurus September bimbingan
vertikal, garis miring,
garis bergelombang, Juli-
garis lingkaran. September
Mengenal angka 1 – 10
dengan media PECS
(Gambar angka 1 – 10
dan di sebutkan
angkanya satu persatu
setiap hari)
KOMPETENSI INDIKATOR TANGGAL KET
NO PELAKSANA
DASAR AN
Tematik 1A ( Diriku )
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
1 3.2 Mengenal • Membiasakan salim / Juli- Dalam
bimbingan
aturan yang sungkem kepada November
orang yang lebih tua.
berlaku dalam • Membiasakan sopan
kehidupan santun, cara duduk,
cara memberikan
sehari-hari di barang.
rumah.
2 4.2 Menunjukkan • Mempraktikkan salim Juli- Dalam
bimbingan
kegiatan / sungkem kepada November
orang yang lebih tua.
Unit Pembelajaran 203
sesuai aturan • Mempraktikkan
yang berlaku sopan santun, cara
duduk, cara
dalam memberikan barang.
kehidupan
sehari-hari di
rumah
menggunakan
media PECS.
Bahasa Indonesia
1 3.2 • Mengenal duduk Juli- Dalam
bimbingan
Mengemukaka dengan sopan, November
memegang pensil
n kegiatan dengan benar
persiapan • Mengenal huruf vokal
menulis dan konsonan dalam
tata bahasa Indonesia.
permulaan ( • Mengenal kosakata
tentang anggota
cara duduk, tubuh dan pancaindra
cara menggunakan media
memegang gambar / PECS.
• Menunjukkan
pensil, cara ungkapan perkenalan
meletakkan diri, keluarga,
menggunakan media
buku, gambar / PECS.
pemilihan
tempat dengan
cahaya yang
terang) yang
benar secara
lisan.
3.4 Menentukan
kosakata
tentang
204 Unit Pembelajaran
anggota tubuh
dan
pancaindra
menggunakan
media gambar
/ PECS dan
atau dengan
syair lagu.
3.9 Mengenal
kosakata
setiap
anggota
keluarga,
menggunakan
media gambar
/ PECS.
2 4.2 • Membiasakan duduk Juli- Agustus Dalam
Mempraktikka dengan sopan, bimbingan
n kegiatan memegang pensil
dengan benar
persiapan • Menebali huruf vokal
menulis dan konsonan dalam
tata bahasa Indonesia.
permulaan • Menunjukkan
kosakata tentang
(cara duduk, anggota tubuh dan
cara pancaindra
memegang menggunakan media
gambar / PECS.
pensil, cara • Menunjukkan
ungkapan perkenalan
meletakkan
diri, keluarga,
buku, latihan menggunakan media
pelenturan gambar / PECS.
Unit Pembelajaran 205
gerakan
tangan
menulis di
meja,
melemaskan
jari dengan
mewarnai,
membuat
garis tegak,
miring, lurus,
dan lengkung.
4.3 Melafalkan
bunyi vokal
dan konsonan
dalam kata
bahasa
Indonesia.
4.9
Menggunakan
kosakata
setiap
anggota
keluarga,
menggunakan
media gambar
/ PECS.
SBDP
206 Unit Pembelajaran
1 3.2 Mengenal • Mengetahui elemen Juli- Agustus Dalam
elemen musik musik melalui lagu. bimbingan
• Mengetahui gerak
melalui lagu
tubuh anggota tubuh
melalui tari.
3.3 Mengenal
gerak anggota
tubuh melalui
tari
2 4.2 Menirukan • Meniru elemen musik Juli- Agustus Dalam
elemen musik melalui lagu bimbingan
melalui lagu • Meniru gerak anggota
4.3 badan melalui tari
Mempraktikka
n gerak
anggota tubuh
melalui tari
Tematik 1B (Kegemaranku)
Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan
1 3.2 memahami • Mengenal aturan dan Agustus- Dalam
bimbingan
aturan dan tata tertib yang berlaku September
di rumah dan sekolah Dalam
bimbingan
tata tertib
yang berlaku
di rumah dan
sekolah.
2 4.2 melakukan • Mempraktikkan Agustus-
kegiatan kegiatan sesuai aturan September
dan tata tertib yang
sesuai aturan berlaku di rumah dan
dan tata tertib sekolah dengan
penjadwalan visual
yang berlaku support.
Unit Pembelajaran 207
di rumah dan
sekolah
dengan
penjadwalan
Visual
Support.
Bahasa Indonesia
1 3.1 Mengenal • Mengenal duduk Agustus- Dalam
September bimbingan
kegiatan dengan sopan,
memegang pensil Agustus- Dalam
September bimbingan
persiapan dengan benar
menulis
permulaan (
cara duduk,
cara
memegang
pensil, cara
meletakkan
buku,
pemilihan
tempat
dengan
cahaya yang
terang) yang
benar
2 4.1 • Membiasakan duduk
Mempraktikka dengan sopan,
memegang pensil
n kegiatan dengan benar
persiapan
menulis
permulaan (
208 Unit Pembelajaran
cara duduk,
cara
memegang
pensil, cara
meletakkan
buku,
pemilihan
tempat
dengan
cahaya yang
terang) yang
benar
SBDP
1 3.2 Mengenal • Memahami elemen Agustus- Dalam
bimbingan
elemen musik musik melalui lagu. September
• Memahami gerak Dalam
melalui lagu bimbingan
tubuh anggota tubuh
melalui tari.
3.3 mengenal
gerak
anggota
tubuh melalui
tari
2 4.2 menirukan • meniru elemen musik Agustus-
elemen musik melalui lagu September
• meniru gerak anggota
melalui lagu
badan melalui tari
4.3 meniru gerak
anggota tubuh
melalui tari
Tematik C (Kegiatanku)
Unit Pembelajaran 209
Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan
1 3.2 • Mengetahui aturan September- Dalam
bimbingan
Mengidentifik yang berlaku dalam Oktober
kehidupan sehari-hari Dalam
bimbingan
asi aturan di rumah.
yang berlaku
dalam
kehidupan
sehari-hari di
rumah.
2 4.2 melakukan • Mempraktikkan September-
kegiatan sesuai kegiatan sesuai aturan Oktober
dan tata tertib yang
aturan dan tata berlaku di rumah dan
tertib yang sekolah menggunakan
media PECS.
berlaku di rumah
dan sekolah
menggunakan
media PECS
Bahasa Indonesia
1 Mengenal kosa • meniru kosa kata September- Dalam
kata tentang tentang anggota tubuh Oktober bimbingan
dan panca indra
anggota tubuh melalui PECS dan syair
dan panca indra lagu.
melalui PECS dan
syair lagu.
SBDP
1 3.2 Mengenal • Memahami elemen September- Dalam
elemen musik musik melalui lagu. Oktober bimbingan
• Memahami gerak
melalui lagu
tubuh anggota tubuh
3.3 mengenal melalui tari.
gerak
210 Unit Pembelajaran
anggota
tubuh melalui
tari
2 4.2 menirukan • Mempraktikkan September- Dalam
bimbingan
elemen musik elemen musik melalui Oktober
lagu
melalui lagu • Mempraktikkan gerak
4.3 memeragakan anggota badan melalui
gerak tari
anggota
tubuh melalui
tari
Tematik D (Keluargaku)
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
1 3.2 • Mengetahui aturan Oktober- Dalam
bimbingan
Mengidentifika yang berlaku dalam November
kehidupan sehari-hari
si aturan yang di rumah.
berlaku dalam • Mengetahui
keberagaman
kehidupan
karakteristik individu
sehari-hari di di rumah
rumah
menggunakan
PECS.
3.3 mengenal
keberagaman
karakteristik
anggota
keluarga di
rumah
menggunakan
PECS
Unit Pembelajaran 211
2 4.2 melakukan • Mempraktikkan Oktober- Dalam
bimbingan
kegiatan kegiatan sesuai aturan November
dan tata tertib yang Dalam
bimbingan
sesuai aturan berlaku di rumah dan
Dalam
dan tata tertib sekolah bimbingan
yang berlaku Dalam
bimbingan
di rumah dan
sekolah.
Bahasa Indonesia
1 4.3 Menguraikan • Menyebutkan / Oktober-
lambang bunyi menirukan lambang November
bunyi vokal dan
vokal dan konsonan dalam kata
konsonan bahasa Indonesia atau
bahasa daerah
dalam kata
bahasa
Indonesia atau
bahasa daerah
SBDP
1 3.2 Mengenal • Memahami elemen Oktober-
elemen musik musik melalui lagu. November
• Memahami gerak
melalui lagu
tubuh anggota tubuh
melalui tari.
3.3 mengenal
gerak anggota
tubuh melalui
tari
2 4.2 menirukan • Mempraktikkan Oktober-
elemen musik elemen musik melalui November
lagu
melalui lagu • Mempraktikkan gerak
anggota badan melalui
tari
4.3 menirukan
gerak anggota
212 Unit Pembelajaran
tubuh melalui
tari
MAPEL
Matematika
1 3.1 mengenal • Mengetahui angka 1- Juli- Dalam
bimbingan
bilangan 1 10 melalui puzzle atau November
sampai pun PECS Dalam
bimbingan
dengan 10 • Menebali angka 1
melalui PECS sampai 10
2 3.2 Waktu dan • Mengetahui waktu
suhu pagi, siang, sore dan
malam dengan
menggunakan media
PECS
Pendidikan Jasmani, Olahraga, Dan Kesehatan
2 4.1 • meniru dengan cara Juli-
mempraktikk melakukan pemanasan November
pada tubuh.
an prosedur
gerak dasar
lokomotor
sesuai
dengan
konsep
tubuh, ruang,
usaha, dan
keterhubung
an dalam
berbagai
bentuk
permainan
sederhana
dan atau
tradisional.
Unit Pembelajaran 213
Al-Qur’an Hadis
1 3.1 • Mengetahui urutan Juli- Dalam
bimbingan
Mengidentifik huruf hijaiah dengan November
menggunakan puzzle Dalam
bimbingan
asi huruf- dan menebali.
Dalam
huruf hijaiah bimbingan
Dalam
dan tanda bimbingan
bacanya Dalam
bimbingan
2 3.2 mengenal Q.S • Mengenal Q.S Al Juli-
Al Fatihah, An Fatihah, An Nas, Al November
Falaq, Al Ikhlas, dan Al
Nas, Al Falaq, Lahab secara lisan
Al Ikhlas, dan
Al Lahab
secara lisan
Fiqih
1 3.1 Mengenal lima • Menunjukkan lima Juli-
rukun Islam. rukun Islam November
menggunakan media
PECS
2 3.2 mengenal • Mempraktikkan sholat Juli-
Shalat dhuha dhuha, dan Shalat November
duhur.
dan sholat
duhu.
Akidah Akhlak
1 3.1 Mengenal • Menirukan enam Juli-
November
enam rukun rukun iman secara
benar
iman.
2 4.1 • Mendemonstrasikan Juli- Dalam
November bimbingan
Mendemonstra tata cara berpakaian
secara Islami.
sikan tata cara
214 Unit Pembelajaran
berpakaian
secara Islami.
C. Program Psikomotrik
No. Indikator Tanggal Ket
Pelaksanaan
1. Koordinasi
Siswa mampu melempar dan menangkap bola Juli-Agustus
besar, sedang dan kecil
Siswa mampu memantulkan bola Juli – Agustus
Siswa mampu menendang bola Juli – Agustus
2. Keseimbangan
Siswa mampu berjalan maju/mundur di atas September –
titian Oktober
Siswa mampu berjalan satu kaki/engklek September –
Oktober
Siswa mampu berdiri dengan satu kaki September –
Oktober
3. Kekuatan
Siswa mampu memanjat tangga tali Oktober - November
Siswa mampu berlari Oktober - November
Siswa mampu merayap Oktober - November
Siswamampu merangkak Oktober - November
Siswa mampu meremas kertas Oktober - November
Siswa mampu menyobek kertas Oktober - November
Siswamampu menggunting Oktober - November
Siswa mampu melipat ketas Oktober - November
D. Komunikasi Sosial
No. Indicator Tanggal Ket
Pelaksanaan
1. Siswa mampu memberikan respons Juli – Agustus
pertanyaan sederhana
2. Siswa mampu meminta ijin sebelum meminjam Juli – Agustus
sesuatu
3. Siswa mampu memberikan pertanyaan singkat Juli – Agustus
sederhana
4. Siswa mampu menjawab pertanyaan Juli – Agustus
sederhana secara lisan
5. Siswa mampu menunjuk Juli – Agustus
kan emosi senang ataupun sedih
Unit Pembelajaran 215
6. Siswa mampu berkerja sama dengan Juli – Agustus
temannya.
7. Siswa mampu berbagi dengan temannya. Juli – Agustus
E. Program Layanan Kompensatoris
No. Indikator Tanggal Ket
Pelaksanaan
1. Siswa mampu mengenal cara memelihara September –
kebersihan badan Oktober
2. Siswa mampu mengenal cara berpakaian September –
melalui latihan dan pembiasaan Oktober
3. Siswa mampu merawat pakaian dan September –
keindahan rumah Oktober
4. Siswa mengenal bermacam-macam bahaya Oktober - November
5. Siswa mengenal tata cara makan melalui Oktober - November
latihan dan pembiasaan
6. Siswa mengenal cara memelihara kebersihan Oktober - November
badan melaluia latihan dan pembiasaan
7. Siswa mampu membedakan makanan yang Oktober - November
bersih dan yang kotor
8. Siswa mampu merawat pakaian sendiri Oktober - November
F. Materi Program Tahfidz antara lain:
No. Indikator Waktu Keterangan
Dalam bimbingan
Pelaksanaan Dalam bimbingan
Dalam Bimbingan
1. KHOT / ADZ DZIKRO 1
Mengenal penulisan huruf Juli- November
hijaiyah Ba`,Ta` dan Tsa`
2. TILAWATI JILID 1
Mengenal bacaan tilawati jilid 1 Juli- November
dengan lisan
3. DOA-DOA
Mengenal lagu asmaul husna 1-
20 besrta gerakannya Juli- November
216 Unit Pembelajaran
Guru Pendamping Lawang, 15 Juli 2020 Wali Murid
(Arie Laksathya) (…………………….)
Mengetahui,
Kepala Madrasah
(Lailil Qomariyah, M.Pd )
Unit Pembelajaran K
e
p
a
l
a
S
e
k
o
l
a
h
K
e
p
a
l
a
S 217
e
KEGIATAN 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Akomodatif
(Materi 30” dan Diskusi dan Praktik 90”)
A. Apa RPP Inklusi?
RPP inklusi adalah perencanaan pembelajaran yang dibuat dan dikembangkan
dengan menyesuaikan hasil identifikasi dan asesmen peserta didik berkebutuhan
khusus (PDBK). Pendidikan inklusi merupakan pelayanan untuk peserta didik yang
berkebutuhan khusus tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial
emosional, linguistik atau kondisi lainnya untuk bersama-sama mendapatkan
pelayanan pendidikan di sekolah reguler (SD, SMP, SMU, maupun SMK sederajat).
B. Mengapa RPP Inklusi?
Dalam proses pembelajaran seorang guru harus memiliki pegangan untuk
membantu dalam mengajar sesuai dengan kompetensi inti pada hari tersebut.
Setiap guru berkewajiban menyusun RPP di setiap materi pelajaran yang
diampunya baik dari tingkat MI, MTS, MA, dan MAK/MAK. Pengembangan RPP
dapat dilakukan pada setiap awal semester atau awal tahun pelajaran, dengan
maksud agar RPP telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan
pembelajaran. Pengembangan RPP dapat dilakukan secara mandiri atau secara
berkelompok. Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara mandiri
dan/atau secara bersama-sama melalui musyawarah guru mapel (MGMP) di dalam
suatu madrasah tertentu difasilitasi dan disupervisi kepala madrasah atau guru
senior yang ditunjuk oleh kepala madrasah.
Dalam konteks untuk melaksanakan pembelajaran bagi peserta didik
berkebutuhan khusus (PDBK) perlu adaptasi yang disesuaikan dengan hasil
identifikasi dan asesmen PDBK. Identifikasi merupakan proses penelitian yang
boleh dikatakan penting di antara proses lain sedangkan asesmen yaitu suatu
penerapan dan penggunaan berbagai cara dan alat untuk mendapatkan
serangkaian informasi tentang hasil penilaian.
C. Apa prinsip-prinsip pengembangan RPP inklusi?
Prinsip dalam mengembangkan atau menyusun RPP yaitu:
1. RPP disusun guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan berdasarkan
silabus yang telah dikembangkan di tingkat nasional.
218 Unit Pembelajaran
2. RPP dikembangkan guru dengan menyesuaikan apa yang dinyatakan
dalam silabus dengan kondisi di satuan pendidikan.
3. Mendorong partisipasi aktif peserta didik. Sesuai dengan tujuan kurikulum
2013 untuk menghasilkan peserta didik sebagai manusia yang mandiri
4. Mengembangkan budaya membaca dan menulis.
5. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut.
6. Keterkaitan dan keterpaduan. RPP disusun dengan memperhatikan
keterkaitan dan keterpaduan antara KI dan KD, materi pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu
pengalaman belajar.
7. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.
8. Implementasi RPP menerapkan tiga pokok utama yaitu tujuan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian (assessment).
9. RPP dibuat dan kembangkan sesuai dengan hasil identifikasi dan asesmen
PDBK.
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana pembelajaran atau
persiapan mengajar yang dibuat untuk satu atau dua kali pertemuan. Komponen-
komponen yang dituliskan dalam RPP kurang lebih sama dengan silabus. Bedanya
dengan silabus adalah bahwa RPP dibuat tidak dalam bentuk tabel tetapi uraian
yang memanjang ke bawah. Perbedaan lainnya adalah jika silabus dibuat untuk
satu semester, maka RPP dirancang hanya untuk satu atau dua kali pertemuan.
Sebagaimana telah dijelaskan di awal bahwa peserta didik berkebutuhan khusus
yang mengalami hambatan kecerdasan akan membutuhkan modifikasi pada
hampir semua komponen dari kurikulum. Dengan kata lain mengalami modifikasi
hampir pada semua komponen silabus. Sedangkan siswa ABK yang tidak
mengalami hambatan kecerdasan hanya akan mengalami modifikasi pada
beberapa komponen dari silabus. Oleh karena itu, contoh pengembangan silabus
yang disajikan di bawah ini lebih mengarah kepada silabus bagi siswa ABK yang
mengalami hambatan kecerdasan.
Untuk memodifikasi Silabus, disarankan Standar Kompetensi tidak diubah, hanya
mengubah pada Kompetensi Dasar, indikator, materi , sumber dan media, alokasi
Unit Pembelajaran 219
waktu dan penilaian. Atau SK/KDnya tetap, hanya yang berubah atau dimodifikasi
indikator dan materinya serta prosesnya.
D. Komponen RPP Inklusi
a. Tujuan pembelajaran, tujuan disusun dan disesuaikan berdasarkan
kebutuhan, ketercapaian, dan kemampuan PDBK, yaitu meliputi:
1) Kompetensi Inti (KI)
2) Tujuan pembelajaran
3) Materi pembelajaran
4) Metode pembelajaran
5) Media, alat, dan sumber pembelajaran
b. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran, yaitu:
1) Pendahuluan/kegiatan awal.
2) Kegiatan inti, kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan
kemampuan dan kekhususan PDBK.
3) Penutup dan seterusnya.
c. Penilaian pembelajaran (assessment), penilaian disesuaikan dengan
kemampuan dan kekhususan PDBK.
1) Jenis/teknik penilaian
2) Bentuk instrumen dan instrumen
3) Pedoman penskoran.
E. RPP Akomodatif
Rencana Pembelajaran yang khusus hanya dibuat apabila ada Peserta didik
berkebutuhan khusus yang karena hambatannya tidak dapat mengikuti
pembelajaran di kelas. Hambatan yang dimaksud kategori sedang dan berat.
Misalkan anak-anak dengan kondisi intelektual di bawah rata-rata atau disabilitas
intelektual, dengan komorbid perilaku hiperaktif, atau tuna laras yang sementara
harus mendapatkan penanganan khusus terkait emosinya yang labil dan
perilakunya yang sering membahayakan dirinya, menyulitkan guru atau melukai
teman-temannya. Maka madrasah tersebut harus memiliki Guru Pembimbing
220 Unit Pembelajaran
Khusus dan membuatkan kurikulum khusus atau Individual untuk memperbaiki
perilaku atau hambatan yang dimaksud.
Kurikulum ini sering disebut Individual Education Program (IEP) atau PPI (Program
Pendidikan Individual), sementara untuk Lesson plan atau Rencana Pelaksanaan
Pembelajarannya (RPP) juga dibuatkan RPP akomodatif. Yaitu RPP yang
merupakan turunan dari silabus pada PPI yang berbeda dengan Kurikulum reguler
(umum)
Unit Pembelajaran 221
Contoh
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Akomodatif
Nama siswa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Hambatan (Individual)
Kelas / Semester
Hari/ Tgl : NN
Mata pelajaran : Autis
Kompetensi dasar :I/I
Indikator : Kamis/19 Agustus 2020
: Matematika
Durasi : Mengenal angka 1-5
Materi : Mengetahui makna angka 1-5
: Mengetahui jumlah benda dari 1-5
Prosedur aktifitas : 2 jpl
: Mengenal angka 1-5 dengan menggunakan jari,
Strategi belajar mengetahui jumlah benda 1-5
Media Belajar : Menyanyi balonku ada 5
Penilaian : Memperlihatkan gambar 5 balon dan mengenalkan
bentuk dari angka 1-5 dengan bercerita
Catatan : Menyanyi dan bercerita
: Flash card
: Soal tanya jawab dengan gambar
:
:
Malang,
Guru Pembimbing
…………………………….
222 Unit Pembelajaran
LK 4. Rubrik Penilaian terhadap RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran inklusi
Identitas RPP yang ditelaah: …………………………………
Berilah tanda cek ( v ) pada kolom skor (1, 2, 3 ) sesuai dengan kriteria yang tertera
pada kolom tersebut! Berikan catatan atau saran untuk perbaikan RPP sesuai
penilaian Anda!
No. Komponen Rencana Hasil penelaahan dan skor Catatan
Pelaksanaan Pembelajaran
A. Tujuan pembelajaran Tidak Sesuai Sesuai
sesuai sebagian keseluruhan
1. Satuan pendidikan, kelas,
semester, program/program
keahlian, mata pelajaran atau
tema pelajaran, jumlah
pertemuan.
2. Kesesuaian dengan SKL, KI dan
KD.
3. Kesesuaian penggunaan kata
kerja operasional dengan
kompetensi yang diukur.
4. Kesesuaian dengan aspek
sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
5. Indikator disusun berdasarkan
ketercapaian kemampuan
PDBK
6. Kesesuaian dengan proses dan
hasil belajar yang diharapkan
dicapai.
7. Kesesuaian dengan kompetensi
dasar.
8. Tujuan disusun berdasarkan
ketercapaian PDBK dalam
proses pembelajaran
9. Kesesuaian materi ajar dengan
tujuan pembelajaran
10. Kesesuaian materi ajar dengan
karakteristik
Peserta didik dan ragam
kebutuhan anak berkebutuhan
khusus (PDBK)
11. Kesesuaian materi ajar dengan
alokasi waktu.
Unit Pembelajaran 223
12. Kesesuaian materi dengan
ketercapaian kemampuan
PDBK
13. Kesesuaian sumber belajar dan
media belajar dengan materi
pembelajaran dan pendekatan
scientific.
14. Kesesuaian sumber belajar dan
media belajar dengan
karakteristik dan ragam
kebutuhan anak berkebutuhan
khusus (PDBK)
Peserta didik
B. Proses pembelajaran
1. Kesesuaian model
pembelajaran dengan tujuan
pembelajaran.
2. Kesesuaian model
pembelajaran dengan
pendekatan
Scientific.
3. Kesesuaian model
pembelajaran dengan
kebutuhan anak PDBK
4. Menampilkan kegiatan
pendahuluan, inti, dan Penutup
dengan jelas.
5. Kesesuaian kegiatan dengan
pendekatan scientific.
6. Kesesuaian kegiatan dengan
model Ma’arif play dan Ma’arif
sport
7. Kesesuaian penyajian dengan
sistematika materi.
8. Kesesuaian skenario
pembelajaran terhadap
kegiatan pembelajaran
disesuaikan dengan
karakteristik PDBK
C. Penilaian pembelajaran
(assesment)
1. Kesesuaian penilaian dengan
teknik danBentuk penilaian
autentik.
224 Unit Pembelajaran
2. Kesesuaian penilaian
dengan indikator
pencapaian kompetensi.
3. Kesesuaian kunci
jawaban dengan soal.
4. Kesesuaian pedoman
penskoran dengan soal
Jumlah
Komentar terhadap RPP inklusi secara umum.
.............................................................................................................
.............................................................................................................
............................................................................................................
F. Tindak Lanjut
Setelah mempelajari bab ini, peserta melakukan Focus Group Discussion
(FGD) untuk membahas pentingnya pemenuhan Standar pendidikan dalam
pelaksanaannya di Madrasah. Dan mendiskusikan tantangan-tantangan nyata
dalam pemenuhan SNP dan penyusunan EDM, RKM, RKAM yang inklusif dalam
rangka mendukung terlaksananya layanan inklusif di Madrasah dan apa solusinya.
G. Evaluasi
Evaluasi pada pembelajaran ini dilakukan melalui FGD atau evaluasi
kelompok. Dalam evaluasi tersebut nara sumber atau guru diharapkan mampu: 1).
Memahami Pengertian dan langkah-langkah menyusun Evaluasi Diri Madrasah
(EDM) Inklusi, 2). Mampu menunjukkan hasil kerja dalam bentuk Rencana Kerja
Madrasah (RKM)/Rencana Kerja Anggaran Madrasah (RKAM), 3). Memahami dan
menunjukkan bukti Dokumentasi I KTSP Inklusif, 4). Memahami dan mengerti
tentang pentingnya aksesibilitas dan Lingkungan Inklusif dalam lingkungan
madrasah.
Unit Pembelajaran 225
226 Unit Pembelajaran
UNIT PEMBELAJARAN 5.
Model Pembelajaran, Pengaturan Kelas
dan Madrasah Game
A. Deskripsi
Pada modul ini, akan disajikan materi tentang; model-model dalam
pembelajaran di kelas, setting kelas dan tentang futbolnet dan madrasah Games.
B. Tujuan
Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan mampu:
1. Memahami dan memiliki keterampilan terkait strategi pembelajaran melalui
pendekatan Diferensiasi-Instruksional di kelas.
2. Memahami dan memiliki keterampilan terkait strategi pembelajaran melalui
pendekatan Pembelajaran Kooperatif di kelas.
3. Memahami dan memiliki keterampilan dalam mengatur ruang kelas yang
menarik dan menyenangkan untuk pembelajaran semua anak
4. Mampu mempraktikkan dan mengimplementasikan model futbolnet dan
madrasah game dalam pembelajaran inklusif di madrasah
C. Strategi
1. Dialog Interaktif dan praktik
a. Peserta diajak berdiskusi terkait tiga materi pokok yaitu model-model
pembelajaran, pengaturan kelas dan futbolnet dan madrasah game.
b. Dalam dialog interaktif tersebut, pelatih menggali jawaban peserta
mengarah pada materi satu (1) model-model pembelajaran inklusif (2)
pengaturan kelas (3) fulbolnett dan madrasah game.
c. Peserta diminta praktik untuk membuat model-model pembelajaran dan
praktik fulbolnett dan madrasah game.
2. Penyampaian Materi Keseluruhan (Ceramah Bervariasi) melalui slide.
Unit Pembelajaran 227
3. Penyimpulan Materi.
4. Penutup
D. Media
Sumber dan bahan yang disiapkan dalam melaksanakan unit ini adalah
a. Tayangan Power Point unit 3.
b. ATK: lem, gunting, kertas plano, kertas HVS putih, spidol warna ukuran
besar dan kecil, kertas manila, dan pensil warna.
c. Perlengkapan permainan seperti Bola, tali, dan kertas.
E. Materi
KEGIATAN 1. Model-Model Pembelajaran Inklusif
(Diskusi Kelompok 30” & Praktik 1 JP)
Salah satu perwujudan dari pendidikan
untuk semua (Education For All) di antaranya
adalah menyelenggarakan sistem Pendidikan
Inklusif bagi siswa distabilitas. sistem pendidikan
ini tidak hanya bertujuan untuk pengintegrasian
anak disabilitas baik atau hanya akses
pendidikan bagi anak yang termarginalkan pada
sekolah reguler.
Lebih dari itu pendidikan Inklusif merupakan proses dua arah yang
bertujuan meningkatkan partisipasi dalam pembelajaran, mengidentifikasi dan
membantu mengurangi atau menghilangkan kesulitan dalam belajar dan
berpartisipasi penuh, hal ini tentunya untuk meningkatkan kemampuan literasi dan
numerasi dasar peserta didik disabilitas di sekolah khususnya di sekolah dasar.
Pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengidentifikasi tingkat
kesulitan fungsional dan kemampuan peserta didik dalam belajar dan
berpartisipasi merupakan faktor kunci keberhasilan mereka di kelas khususnya
disabilitas, hal ini tentunya akan membantu bagi guru dalam merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran yang responsif melalui pendekatan pembelajaran
228 Unit Pembelajaran
yang kooperatif dan diferensiasi instruksional dengan mengadaptasi materi dan
menggunakan strategi yang bervariasi dalam proses pembelajaran.
Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif bukan hanya memberi manfaat
peserta didik disabilitas, namun juga bermanfaat bagi guru dalam meningkatkan
kompetensinya melalui pengayaan variasi rencana dan strategi pembelajaran
sehingga dapat menciptakan lingkungan dan kelas yang ramah bagi semua. Di
sisi lain siswa non-disabilitas juga menerima manfaat dengan arah berpikir yang
lateral dan kemampuan sosial yang lebih baik. Pendidikan Inklusif juga akan
memberikan tantangan kepada guru untuk keluar dari “zonasi aman” yang
melakukan pembelajaran dengan selalu berpusat pada guru (teacher centre)
bukan berpusat pada peserta didik.
1. Fungsi Model Pembelajaran
Fungsi dari model pembelajaran sendiri adalah sebagai panduan bagi
pendidik saat melakukan aktivitas pembelajaran.Ini berarti ketika model
pembelajaran diterapkan maka model pembelajaran akan menjadi instrumen
bagi para pendidik untuk menggerakkan aktivitas pembelajaran. Adapun
fungsi lain dari model pembelajaran adalah untuk panduan bagi pencipta
desain pembelajaran dan pendidik untuk menentukan strategi dan
pelaksanaan kegiatan pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa diraih
dengan sukses.
2. Strategi Pembelajaran Kooperatif
Anita Lie dalam Majid (2013:180) menyebutkan bahwa dalam pembelajaran
kooperatif terdapat lima prinsip, yaitu sebagai berikut :
1. Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu
keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang
dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok
ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena
itu, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan
2. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu
keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota
kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai
Unit Pembelajaran 229
tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok
tersebut.
3. Interaksi tatap muka (face to face promotive interaction), yaitu
memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok
untuk bertatap muka dalam melakukan interaksi dan diskusi untuk saling
memberi dan menerima informasi dari kelompok lain.
4. Partisipasi dan komunikasi (participation and communication), yaitu
melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam
kegiatan pembelajaran.
5. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu secara khusus bagi
kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja
sama mereka, agar selanjutnya dapat bekerja sama lebih efektif.
Belajar kooperatif merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Belajar
kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk saling berinteraksi.
Siswa yang saling menjelaskan pengertian suatu konsep pada temannya
sebenarnya sedang mengalami proses belajar yang sangat efektif yang bisa
memberikan hasil belajar yang jauh lebih maksimal daripada kalau dia
mendengarkan penjelasan guru.
Pembelajaran kooperatif juga bisa dipakai sebagai sarana untuk
menanamkan sikap inklusif, yaitu sikap yang terbuka terhadap berbagai
perbedaan yang ada pada diri sesama siswa di sekolah. Pengalaman bekerja
sama dengan teman yang memiliki perbedaan dari segi agama, suku, prestasi,
jenis kelamin, dan lain-lain diharapkan bisa membuat siswa menghargai
perbedaan tersebut.
Selain itu, pembelajaran kooperatif juga memberikan kesempatan pada
siswa untuk mengembangkan beberapa kecakapan hidup yang disebut
sebagai kecakapan berkomunikasi dan kecakapan bekerja sama. Kecakapan
ini memiliki peranan penting dalam kehidupan nyata.
Sayangnya, dalam pembelajaran sehari-hari pembelajaran kooperatif
sering dipahami hanya sebagai duduk bersama dalam kelompok. Siswa
230 Unit Pembelajaran
duduk berkelompok tapi tidak saling berinteraksi untuk saling membelajarkan.
Siswa dalam duduk berkelompok bekerja sendiri-sendiri.
Penerapan pembelajaran kooperatif akan memberikan hasil yang efektif
kalau memperhatikan dua prinsip inti berikut. Yang pertama adalah adanya
saling ketergantungan yang positif. Semua anggota dalam kelompok saling
bergantung kepada anggota yang lain dalam mencapai tujuan kelompok,
misalnya: menyelesaikan tugas dari guru. Prinsip yang kedua adalah adannya
tanggung jawab pribadi (individual accountability). Di sini setiap anggota
kelompok harus memiliki kontribusi aktif dalam bekerja sama. Karena itu,
penting bagi kita mempelajari beberapa bentuk pembelajaran kooperatif dan
penerapannya yang sebenarnya supaya kesalahpahaman tentang belajar
kelompok/kooperatif dalam pembelajaran dapat dihindari. Beberapa jenis
pembelajaran kelompok/ kooperatif sebagai berikut:
Macam-macam Pembelajaran Kooperatif
1. Jigsaw (Model Tim Ahli)
Langkah-langkah:
a. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok beranggotakan
4 s/d 5 orang. Sebaiknya kelompok terdiri atas siswa dengan beragam
latar belakang, misalnya dari segi prestasi, jenis kelamin, suku, agama,
status sosial dll. Kelompok ini disebut kelompok asal.
b. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda. Misalnya, untuk
topik sistem pencernaan, ada sub topik tentang mulut; lambung; usus
halus; usus besar; poros; dan dubur dibagi tugaskan pada tiap anggota
dalam kelompok.
c. Setiap siswa yang mendapat sub topik mulut berkumpul bersama
membentuk ahli mulut. Siswa lain yang mendapat sub topik lambung
juga berkumpul bersama membentuk tim ahli lambung. Begitu
seterusnya. Tim ahli membahas sub topik masing-masing dan menjadi
ahli dalam topik itu.
d. Setelah selesai berdiskusi dalam tim ahli, setiap anggota kembali ke
kelompok asal masing-masing. Kemudian secara bergantian, tiap siswa
Unit Pembelajaran 231
yang telah menjadi ahli mengajar teman satu tim mereka tentang sub
topik yang mereka kuasai.
e. Kelompok asal mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, atau
membuat rangkuman tentang, misalnya sistem pencernaan pada
manusia. Guru bisa juga memberikan tes pada kelompok. Tapi pada saat
mengerjakan tes siswa tidak boleh bekerja sama.
Bagan pengelolaan siswa dalam pembelajaran kooperatif model Jigsaw
AB C A BC AB C
I
A AA B BB CC C
II
AB C A BC A BC
III
Pembelajaran model ini dalam kelas inklusif perlu mempertimbangkan
kondisi fisik peserta didik dengan hambatan fungsional tertentu.
2. Model Pembelajaran Two Stay-Two Stray (TS-TS)
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model TSTS. “Dua
tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa
digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads).
Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi
kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar
mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja
sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal
dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling
bergantung satu sama lainnya.
232 Unit Pembelajaran