Dalam penerapan model ini peran peserta didik dengan hambatan
fungsional tertentu perlu mendapat tugas yang disesuaikan dengan
keterbatasannya. Namun mereka perlu berpartisipasi aktif secara inklusif.
Ciri-ciri model pembelajaran Two Stay Two Stray, yaitu
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan
materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,
sedang dan rendah.
c. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis
kelamin yang berbeda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu
a. Tujuan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Dalam model pembelajaran ini siswa dihadapkan pada kegiatan
mendengarkan apa yang diutarakan oleh temannya ketika sedang bertamu,
yang secara tidak langsung siswa akan dibawa untuk menyimak apa yang
diutarakan oleh anggota kelompok yang menjadi tuan rumah tersebut. Dalam
proses ini, akan terjadi kegiatan menyimak materi pada siswa.
Dalam model pembelajaran kooperatif TSTS ini memiliki tujuan yang sama
dengan pendekatan pembelajaran kooperatif yang telah di bahas
sebelumnya. Siswa di ajak untuk bergotong royong dalam menemukan suatu
konsep. Penggunaan model pembelajaran kooperatif TSTS akan
mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari
jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman.
Selain itu, alasan menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray ini
karena terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota
kelompok, siswa dapat bekerja sama dengan temannya, dapat mengatasi
kondisi siswa yang ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar.
Dengan demikian, pada dasarnya kembali pada hakikat keterampilan
berbahasa yang menjadi satu kesatuan yaitu membaca, berbicara, menulis
dan menyimak. Ketika siswa menjelaskan materi yang dibahas oleh
kelompoknya, maka tentu siswa yang berkunjung tersebut melakukan
Unit Pembelajaran 233
kegiatan menyimak atas apa yang di jelaskan oleh temannya. materi kepada
teman lain. Demikian juga ketika siswa kembali ke kelompoknya untuk
menjelaskan materi apa yang di dapat dari kelompok yang dikunjungi. Siswa
yang kembali tersebut menjelaskan materi yang di dapat dari kelompok lain,
siswa yang bertugas menjaga rumah menyimak hal yang dijelaskan oleh
temannya.
Dalam proses pembelajaran dengan model two stay two stray, secara sadar
ataupun tidak sadar, siswa akan melakukan salah satu kegiatan berbahasa
yang menjadi kajian untuk ditingkatkan yaitu keterampilan menyimak.
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif TSTS seperti itu, siswa
akan lebih banyak melakukan kegiatan menyimak secara langsung, dalam
artian tidak selalu dengan cara menyimak apa yang guru utarakan yang dapat
membuat siswa jenuh. Dengan penerapan model pembelajaran TSTS, siswa
juga akan terlibat secara aktif, sehingga akan memunculkan semangat siswa
dalam belajar (aktif).
Sedangkan tanya jawab dapat dilakukan oleh siswa dari kelompok satu dan
yang lain, dengan cara mencocokkan materi yang didapat dengan materi
yang disampaikan. Dengan begitu, siswa dapat mengevaluasi sendiri,
seberapa tepatkah pola pikirnya terhadap suatu konsep dengan pola pikir
nara sumber. Kemudian bagi guru atau peneliti, menjadi acuan evaluasi
berapa persenkah keberhasilan penggunaan model pemelajaran kooperatif
two stay two stray ini dalam meningkatkan keterampilan menyimak siswa.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu (dalam
Lie, 2002:60-61) adalah sebagai berikut:
I. Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
II. Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan
meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke
kelompok yang lain.
III. Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil
kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
234 Unit Pembelajaran
IV. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan
melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
V. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka
b. Tahapan-tahapan Dalam Model Pembelajaran TSTS
Pembelajaran kooperatif model TSTS terdiri dari beberapa tahapan sebagai
berikut:
1. Persiapan
Pada tahap persiapan ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat
silabus dan sistem penilaian, desain pembelajaran, menyiapkan tugas
siswa dan membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan masing-
masing anggota 4 siswa dan setiap anggota kelompok harus heterogen
berdasarkan prestasi akademik siswa dan suku.
2. Presentasi Guru
Pada tahap ini guru menyampaikan indikator pembelajaran, mengenal
dan menjelaskan materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang
telah dibuat.
3. Kegiatan Kelompok
Pada kegiatan ini pembelajaran menggunakan lembar kegiatan yang
berisi tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu
kelompok. Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi
permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan konsep materi dan
klasifikasinya, siswa mempelajarinya dalam kelompok kecil (4 siswa)
yaitu mendiskusikan masalah tersebut bersama-sama anggota
kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesai-kan atau
memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri.
Kemudian 2 dari 4 anggota dari masing-masing kelompok meninggalkan
kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain, sementara 2 anggota
yang tinggal dalam kelompok bertugas menyampaikan hasil kerja dan
informasi mereka ke tamu. Setelah memperoleh informasi dari 2 anggota
yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing
Unit Pembelajaran 235
dan melaporkan temuannya serta mencocokkan dan membahas hasil-
hasil kerja mereka
4. Formalisasi
Setelah belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang
diberikan salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya untuk dikomunikasikan atau didiskusikan dengan
kelompok lainnya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan siswa
ke bentuk formal.
5. Evaluasi Kelompok dan Penghargaan
Pada tahap evaluasi ini untuk mengetahui seberapa besar kemampuan
siswa dalam memahami materi yang telah diperoleh dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif model TSTS. Masing-
masing siswa diberi kuis yang berisi pertanyaan-pertanyaan dari hasil
pembelajaran dengan model TSTS, yang selanjutnya dilanjutkan dengan
pemberian penghargaan kepada kelompok yang mendapatkan skor
rata-rata tertinggi.
3. The Study Group
Dalam kelas yang inklusif guru perlu peka dengan perbedaan individu
yang ada di dalam kelas dalam menggunakan metode the study group.
Metode pembelajaran kooperatif tipe The Study Group adalah model
pembelajaran yang memberikan peserta didik tanggung jawab untuk
mempelajari materi pelajaran dan menjelaskan dalam kelompok tanpa
kehadiran pengajar. Tugas perlu cukup spesifik untuk menjamin bahwa hasil
sesi belajar akan efektif dan kelompok akan mampu mengatur diri.
Selanjutnya Silbermen menjelaskan bahwa ada beberapa langkah-langkah
yang dapat dilakukan dalam Metode pembelajaran kooperatif tipe The Study
Group :
a. Berilah peserta didik satu ringkasan, selebaran yang disusun dengan baik,
teks singkat, bagan atau diagram yang menarik. Mintalah mereka
membacanya dengan tenang. Kelompok belajar melaksanakan tugasnya
236 Unit Pembelajaran
dengan baik kalau materinya cukup menantang atau terbuka untuk
interpretasi.
b. Bentuklah sub kelompok dan berikan mereka ruang tenang untuk
mengadakan sesi belajar mereka. 3.Berikan petunjuk yang jelas yang
dapat memandu peserta didik belajar dan terangkan materi dengan jelas.
Ada beberapa variasi dalam Metode pembelajaran kooperatif tipe The Study
Group:
1) Janganlah membuat sub-kelompok. Bacalah dengan kertas materi seperti
sejumlah kelas dengan semangat “ kelompok belajar”. Berhentilah untuk
menjawab pertanyaan peserta didik, lontarkan pertanyaan milik Anda,
atau uraian teks.
2) Jika kelas cukup besar, buatlah empat atau enam kelompok belajar.
Pasang- pasangkan kelompok belajar tersebut dan mintalah mereka
untuk membandingkan catatan dan saling membantu sama
3. Adaptasi atau Penyesuaian Pembelajaran
Adaptasi proses yang dikemukakan tim penyusun modul TOT Pendidikan
Inklusif (2009: 80) perlu dimodifikasi sesuai dengan karakteristik siswa
berkebutuhan khusus yang diperoleh melalui asesmen.
Jenis Kesulitan Disabilitas dan penyesuaian dalam proses pembelajaran
1) Kesulitan penglihatan
a. Penyajian materi lebih menekankan verbal/auditif. Guru berusaha
menyebarkan berbagai informasi atau objek yang ada di lingkungan.
b. Penggunaan Braille sebagai sarana baca tulis.
c. Penggunaan alat/media sebagai sarana baca tulis.
d. Penggunaan alat audio (tape, recorder, dll).
e. Penggunaan buku bicara, komputer bicara dan media bicara lainnya.
2) Kesulitan pendengaran
a. Penyajian materi lebih menekankan visual. Guru berusaha selalu tatap
muka dengan siswa ketika berbicara
b. Penggunaan isyarat dalam berkomunikasi
Unit Pembelajaran 237
c. Penempatan siswa tunarungu pada tempat duduk di depan, supaya
mudah bertatap muka dengan guru.
d. Penggunaan alat bantu visual.
b. Hambatan kecerdasan
c. Penyajian materi dengan penjelasan yang lebih sederhana.
d. Penggunaan objek-objek konkret dalam penjelasan konsep
e. Pemberian materi dan tugas-tugas yang kadarnya lebih mudah,
pembelajaran tambahan secara individual.
f. Penekanan pembelajar pada kompetensi-kompetensi 8 fungsional (skill
yang dibutuhkan untuk kemandirian dalam kehidupan sehari-hari).
3) Kesulitan fisik dan motorik
Adaptasi tata letak ruangan belajar yang memungkinkan aksesibilitas gerak
belajar.
4) Kesulitan emosi dan perilaku
a. Kegiatan kelompok
b. Pemberian pelajaran tambahan yang memungkinkan mengubah perilaku.
c. Penempatan tempat duduk dengan guru.
KEGIATAN 2. Penataan Kelas Inklusif Unit Pembelajaran
(Diskusi Kelompok 1 JP”)
Salah satu perwujudan dari pendidikan
untuk semua (Education For All) di antaranya
adalah menyelenggarakan sistem Pendidikan
Inklusif bagi siswa disabilitas. Sistem pendidikan
ini tidak hanya bertujuan memberikan akses
pendidikan bagi anak disabilitas ataupun anak
yang termarginalkan untuk pengintegrasian
238
pada sekolah reguler, melainkan lebih dari itu, Pendidikan Inklusif merupakan
proses dua arah yang bertujuan meningkatkan partisipasi dalam pembelajaran,
mengidentifikasi dan membantu mengurangi atau menghilangkan kesulitan dalam
belajar dan berpartisipasi penuh, hal ini tentunya untuk meningkatkan
kemampuan literasi dan numerasi dasar peserta didik disabilitas di sekolah
khususnya di sekolah dasar.
Pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengidentifikasi tingkat
kesulitan fungsional dan kemampuan peserta didik dalam belajar dan
berpartisipasi merupakan faktor kunci keberhasilan mereka di kelas khususnya
disabilitas, hal ini tentunya akan membantu bagi guru dalam merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran yang responsif melalui pendekatan pembelajaran
yang kooperatif dan diferensiasi instruksional dengan mengadaptasi materi dan
menggunakan strategi yang bervariasi dalam proses pembelajaran.
Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif bukan hanya memberi manfaat
peserta didik disabilitas, namun juga bermanfaat bagi guru dalam meningkatkan
kompetensinya melalui pengayaan variasi rencana dan strategi pembelajaran
sehingga dapat menciptakan lingkungan dan kelas yang ramah bagi semua. Di
sisi lain siswa non-disabilitas juga menerima manfaat dengan arah berpikir yang
lateral dan kemampuan sosial yang lebih baik (Stubbs, S, 2008). Pendidikan
Inklusif juga akan memberikan tantangan kepada guru untuk keluar dari “zonasi
aman” yang melakukan pembelajaran dengan selalu berpusat pada guru (teacher
centre) bukan berpusat pada peserta didik.
A. Penataan Kelas
Penataan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan
untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya
proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas
ditekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran
yaitu berkaitan dengan pengaturan orang (siswa) dan barang/ fasilitas.
Kegiatan guru tersebut dapat berupa pengaturan kondisi dan fasilitas yang
berada di dalam kelas yang diperlukan dalam proses pembelajaran di
Unit Pembelajaran 239
antaranya tempat duduk, perlengkapan dan bahan ajar, lingkungan kelas
(cahaya, temperatur udara, ventilasi) dll.
Pengaturan ruangan yang akan dilakukan guru dapat mengkomunikasikan
kepada siswa bagaimana guru mengharapkan kepada semua anggota kelas
untuk turut serta dalam mengelola kelas. Filosofi guru mengenai
pembelajaran akan mempengaruhi bagaimana cara guru dalam mengatur
setiap komponen pada ruang kelas. Meja dan kursi yang diatur secara
berkelompok mengisyaratkan bahwa interaksi dan kolaborasi di antara siswa
memfasilitasi beberapa kegiatan aktif yang hendak dicapai. Meja tulis yang
diatur berurutan mengindikasikan bahwa fokus dari ruang kelas adalah sang
guru, papan tulis atau beberapa titik pusat perhatian lainnya.
Dalam pendidikan yang inklusif pengelolaan ruang pembelajaran menjadi
sesuatu yang sangat penting dengan mempertimbangkan berbagai kesulitan
yang dialami oleh setiap siswa yang berkebutuhan khusus. Penataannya perlu
mengacu pada terpenuhinya layanan pendidikan kepada siswa sesuai
dengan kebutuhan atau kesulitan fungsionalnya.
B. Tujuan
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar
maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk
mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya
interaksi pembelajar.
2. Bagi kelas yang inklusif tentu saja untuk mempermudah layanan
pembelajaran pada siswa yang berkebutuhan khusus
C. Manfaat
1. Pengaturan kondisi kelas dan iklim belajar pengelolaan kelas dalam
pengembangan budaya dan iklim sekolah.
2. Memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan
mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam
proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-
kegiatan yang kreatif-produktif.
240 Unit Pembelajaran
3. Bagi siswa yang berkebutuhan khusus dapat lebih mudah mengakses
sumber sumbar belajar yang tersedia di dalam kelas.
D. Prinsip-prinsip Penataan Kelas
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata
lingkungan fisik kelas menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu:
1. Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas
tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat
memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu
pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.
2. Accesibility (mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau
mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran.
Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa
sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa
lain yang sedang bekerja.
3. Fleksibilitas (Keluwesan)
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan
yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat
duduk yang perlu diubah jika proses pembelajaran menggunakan metode
diskusi, dan kerja kelompok.
4. Kenyamanan
Kenyamanan di sini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara,
dan kepadatan kelas.
5. Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang
menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang
indah dan menyenangkan dapat berpengaruh positif pada sikap dan tingkah
laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak
duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk
Unit Pembelajaran 241
membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam
pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny
Semiawan,dkk. (udhiezx.wordpress: 3) yaitu:
E. Model atau ukuran bentuk kelas
1) Bentuk serta ukuran bangku dan meja
2) Jumlah siswa dalam kelas
3) Jumlah siswa dalam setiap kelompok
4) Jumlah kelompok dalam kelas
5) Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang
pandai, pria dan wanita).
Berkaitan dengan penataan ruang kelas belajar maka pada penulisan makalah
ini hanya berkaitan dengan pengelolaan kelas berupa penempatan tempat duduk
siswa saja.
Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa
dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah
formal. Tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila
tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi
empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa
nyaman dan dapat belajar dengan tenang.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu
tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki
oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-
ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran.
Untuk ukuran tempat duduk pun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil
sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran
bentuk kelas.
Sebenarnya banyak macam posisi tempat duduk yang bias digunakan di dalam
kelas seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan
sebagainya. Biasanya posisi tempat duduk berjejer ke belakang digunakan dalam
kelas dengan metode belajar ceramah. Dan untuk metode diskusi dapat
menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan.
242 Unit Pembelajaran
Dan sebagai alternatif penataan tempat duduk dengan metode kerja kelompok
atau bahkan bentuk pembelajaran kooperatif, maka menurut Lie (2007: 52) ada
beberapa model penataan bangku yang biasa digunakan dalam pembelajaran
kooperatif, di antaranya seperti:
➢ Meja tapal kuda, siswa berkelompok di ujung meja
➢ Penataan tapal kuda, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan
➢ Meja Panjang
➢ Meja Kelompok, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan
➢ Meja berbaris, dua kelompok duduk berbagi satu meja
Dan masih ada beberapa bentuk posisi tempat duduk yang dapat diterapkan
dalam pembelajaran kooperatif ini.
F. Langkah-Langkah dalam penataan Kelas
Hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa
tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang
digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik
individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa
itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk
yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (udhiezx.wordpress: 4) melihat siswa
sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya
mencakup ketiga aspek di atas. Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah :
o Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi).
Unit Pembelajaran 243
o Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan
o Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar
o Persamaan dan perbedaan dalam bakat
o Persamaan dan perbedaan dalam sikap
o Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan
o Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman
o Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah
o Persamaan dan perbedaan dalam minat
o Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita
o Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan
o Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian
o Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan
o Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.
Langkah-langkah yang penting dalam melaksanakan penataan kelas yang inklusif
adalah:
1. Pertimbangkan kesulitan fungsional peserta didik
2. Pertimbangkan posisi akses keluar masuk siswa agar mudah dan dijangkau
oleh siswa yang berkebutuhan khusus
3. Pergerakan siswa dalam kelas harus mudah begitu juga untuk guru dalam
melayani siswa
4. Jika di daerah yang rawan bencana seperti gempa bumi maka penempatan
siswa yang berkebutuhan khusus perlu mempertimbangkan kemudahan
akses penyelamatan.
5. Pilih bentuk penataan meja yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan
tuntutan pembelajaran.
6. Penataan kelas perlu berubah-ubah agar lebih variatif dan tidak
membosankan.
7. Libatkan siswa dalam menata kelas sebagai bentuk partisipasi dan tanggung
jawab mereka.
244 Unit Pembelajaran
Pengaturan kondisi kelas dan iklim belajar pengelolaan kelas dalam
pengembangan budaya dan iklim sekolah adalah segala usaha yang diarahkan
untuk mewujudkan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas agar menjadi
kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan
baik sesuai dengan kemampuan.
Pengaruh lingkungan terhadap pembelajaran meliputi : a. Lingkungan sosial
yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. b. Lingkungan non sosial yaitu alam,
sarana dan prasarana.
Guru harus dapat menciptakan lingkungan kelas yang membantu
perkembangan pendidikan subyek didiknya (siswa). Dengan teknik motivasi yang
akurat, guru dapat menciptakan kontribusi iklim kelas yang sehat.
Iklim yang inklusif menuntun siswa lebih sadar terhadap perbedaan individu,
kekurangan dan kelebihan masing-masing agar bangkit rasa saling menyayangi
dan melindungi di antara sesama siswa.
KEGIATAN 3. Futbolnet Dan Madrasah Games
(Diskusi 30” dan Praktik 2 JP)
A. Pengantar
Mewujudkan layanan
pendidikan inklusif dan
pemenuhan hak anak
berkebutuhan khusus untuk
dapat diterima pada pendidikan
di madrasah reguler berarti
memberikan kesempatan
pembelajaran yang bermakna
kepada semua anak. Begitu juga membangun kesadaran masyarakat untuk
bersama-sama menghapus stigma dan diskriminasi terhadap penyandang
disabilitas adalah bagian dari dinamika menuju layanan yang inklusif. Upaya
menyajikan madrasah formal dengan layanan inklusif di madrasah adalah dalam
rangka membangun wawasan masyarakat tentang pentingnya aksesibilitas bagi
Unit Pembelajaran 245
peserta didik berkebutuhan khusus di madrasah sehingga masyarakat bisa
berlaku bijak terhadap anak dengan disabilitas.
Dalam pendidikan inklusi, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap
penyandang disabilitas dengan program pendidikan inklusif melalui peraturan
menteri, paraturan daerah atauu regulasi lain yang mengatur tentang layanan
inklusi. Ini artinya banyak ketentuan penunjang yang telah dibuat sebagai
landasan dalam penyusunan rencana kerja Madrasah. Kesemuanya ini
menunjukkan betapa pentingnya manajemen perencanaan yang baik.
Modul FutbolNet dan Madrasah Game ini adalah salah satu upaya untuk
mencapai keunggulan pembelajaran dalam bidang olahraga permainan, tetapi
sekaligus bermanfaat untuk meningkatkan tumbuh-kembang peserta didik melalui
berbagai permainan olahraga sebagai alat menciptakan perubahan positif. Dalam
tujuan lebih besar lagi, modul ini disusun untuk menciptakan lingkungan sekolah
dan madrasah yang inklusif dengan cara menyebarluaskan nilai-nilai yang terkait
dengan olahraga guna mendorong terjadinya rubahan sikap dan stigma tentang
Peserta Didik berkebutuhan Khusus (PDBK).
Dengan mempelajari modul ini diharapkan mampu mendorong terwujudnya
lingkungan Madrasah yang inklusif dengan tumbuh kembang bersama antara
perserta didik dengan disabiltas dan non disabiltas. Perkembangan yang
diharapkan mampu membuat kebiasaan-kebiasaan sehat sekaligus menjadi bukti
tidak ada batas antara mereka PDBK dan non PDBK. Dengan
mengimplementasikan FutbolNet dan Madrasah Game berarti madrasah sudah
menyediakan ruang untuk saling bertemu, berdialog dan bertukar pengalaman
untuk mendorong sosial inklusif.
Ada 9 (sembilan nilai) yang nilai yang dikembangkan dalam modul ini. Nilai ini
merupakan prinsip yang menolong kita untuk mengendalikan perilaku kita sendiri
dan peserat didik. Nilai-nilai merupakan kepercayaan mendasar yang membantu
kita memilih berperilaku tertentu dan tidak melakukan yang lain. Dengan
mempelajari modul ini, 9 nilai yang ada diharapkan akan memberikan panduan
bagi madrasah untuk menetapkan tujuan bersama dalam layanan yang inklusif.
Nilai adalah dasar bagi kehidupan bermasyarakat.
246 Unit Pembelajaran
Sembilan nilai yang terkandung dalam permainan futbolnet dan Madrasah
Game ini yaitu: Rendah Hati, Upaya/usaha, Ambisi/Semangat, Hormat, Kerja sama
tim (team work), Moderat, Seimbang, Adil, dan Toleransi. Pada bagian akhir, kita
akan melihat lingkungan madrasah dengan konsep #kolaborasitanpabatas dan
#berkah_madrasah_inklusif.
1. Pengertian FutbolNet dan Madrasah Game
Program FutbolNet adalah sebuah proposal yang dikembangkan oleh
Yayasan FC Barcelona, dirancang untuk mengajarkan nilai-nilai kepada anak-
anak dan pemuda-pemudi melalui olahraga, dengan demikian mendorong
agar pengalaman tumbuh-kembang manusia ditetapkan sebagai prioritas
dalam intervensi sosial dan masyarakat.
Program FutbolNet bukan program untuk mencapai keunggulan dalam
bidang olahraga, tetapi bermanfaat untuk meningkatkan tumbuh-kembang
anak-anak dan pemuda-pemudi melalui berbagai permainan olahraga
sebagai alat menciptakan perubahan positif.
Tujuan:
• Menyebarluaskan nilai-nilai yang terkait dengan olahraga guna mendorong
terjadinya perubahan sikap.
• Mendorong inklusi anak-anak dan pemuda-pemudi yang memiliki
disabilitas.
• Menanamkan kebiasaan-kebiasaan sehat bagi anak-anak dan pemuda-
pemudi.
• Mendorong kesetaraan jender.
• Memberikan pengalaman yang memberdayakan bagi anak-anak dan
pemuda-pemudi.
• Menyediakan ruang untuk saling bertemu, berdialog dan bertukar
pengalaman untuk mendorong kohesi dan inklusi sosial.
2. Nilai-nilai Futbolnet dan Madrasah Game
Nilai-Nilai adalah prinsip yang menolong kita untuk mengendalikan perilaku
kita sendiri. Nilai-nilai merupakan kepercayaan mendasar yang membantu kita
memilih berperilaku tertentu dan tidak melakukan yang lain. Nilai memberikan
Unit Pembelajaran 247
kita panduan untuk menetapkan tujuan pribadi atau tujuan bersama. Nilai
mencerminkan keinginan, perasaan dan keyakinan yang terpenting bagi kita.
Nilai adalah dasar bagi kehidupan bermasyarakat dan berelasi dengan orang
lain. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam permainan futbolnet antara lain:
1. Humility (Rendah hati): Rendah hati adalah kemampuan untuk mengenali
kualitas yang kita miliki dan tidak menyombongkannya. Memahami diri
sendiri dan kemauan untuk belajar juga merupakan definisi dari orang
yang rendah hati.
Tujuan Tujuan Khusus
Pedagogis
1. Mengajarkan perbedaan antara percaya diri
Eksplorasi makna dan kebanggaan diri.
dari rendah hati oleh
diri sendiri dan 2. Menganalisis konsekuensi dari perbuatan dan
dengan orang lain. memberikan penilaian.
Mengenali berbagai 1. Belajar mengenali emosi dan perasaan diri
perasaan dan emosi sendiri.
Mampu mengenali 2. Mengutamakan kesempatan di mana kebaikan
kelebihan orang lain orang lain dapat dihargai.
dan menyampaikan
penghargaan 1. Mendorong adanya suasana saling percaya di
mana sesama pemain dapat mengakui
kesalahan masing-masing.
2. Mengijinkan diri ditolong oleh sesama teman.
2. Effort (Upaya): Upaya adalah dorongan yang membantu kita mencapai
tujuan-tujuan yang kita buat dan kita capai dengan jalan mengatasi
berbagai halangan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Pedagogis Tujuan Khusus
Mendorong terbentuknya 3. Menggerakkan dan memotivasi bahwa
pengalaman yang diikuti segala sesuatu yang dikerjakan harus
dengan refleksi dan yang terbaik.
pemahaman tentang makna
dari effort atau upaya. 4. Mendorong dilakukannya refleksi atas
konsekuensi-konsekuensi positif dari
Merencanakan untuk effort atau upaya.
mencapai tujuan-tujuan 1. Menggunakan perencanaan sebagai
alat untuk membantu mencapai tujuan
yang diinginkan yang ditetapkan.
248 Unit Pembelajaran
2. Belajar bagaimana menetapkan dan
melakukan prioritisasi tujuan.
Menumbuhkan sikap-sikap 1. Mengajarkan untuk menerima rasa
yang pro-aktif frustrasi.
2. Mengajarkan untuk merayakan sukses-
sukses yang dicapai sebagai sebuah
tim.
3. Ambition (Ambisi): Ambisi bisa positif atau negatif tergantung dari
kehendak seseorang. Kita dapat mendefinisikan ambisi sebagai keinginan
untuk mencapai tujuan. Memiliki ambisi yang positif itu bermanfaat karena
mendorong perbuatan yang menghargai orang lain dalam mencapai
tujuan.
Tujuan Pedagogis Tujuan Khusus
Memahami ambisi sebagai 1. Merefleksikan makna positif dan
kapasitas untuk mengatasi negatif dari ambisi
tantangan-tantangan pribadi
maupun bersama. 2. Berjuang untuk mengatasi
tantangan-tantangan secara individu
maupun bersama.
Belajar mengenali kelebihan 1. Mengajarkan untuk melakukan
diri sendiri dan menumbuhkan identifikasi tantangan individual
kepercayaan diri. maupun tantangan bersama.
Memberikan yang terbaik dari 2. Menantang diri sendiri untuk menjadi
diri sendiri dan mencapai lebih baik dengan mengatasi
tujuan-tujuan yang ditetapkan. hambatan.
3. Meningkatkan motivasi diri untuk
melakukan yang terbaik.
Tujuan Pedagogis Tujuan Khusus
Unit Pembelajaran 249
Belajar untuk menghormati diri 1. Mendorong untuk tulus ikhlas
sendiri dan orang lain kepada diri sendiri maupun ke
orang lain.
2. Mendukung kesamaan hak dan
kesempatan bagi setiap orang.
3. Meningkatkan terjadinya dialog
untuk menyelesaikan konflik.
4. Mendorong partisipasi yang
setara di dalam permainan.
5. Mendukung kesetaraan jender
selama bertanding.
Mengetahui bagaimana 1. strategi untuk menetapkan di
menetapkan aturan-aturan dan antara pemain sendiri berbagai
belajar untuk menghargai aturan norma dan adaptasi dari
tersebut. permainan, yang meningkatkan
inklusi.
2. Membantu kelompok untuk
menerima aturan-aturan tersebut
Memberikan strategi
Memelihara lingkungan hidup/ Menghargai dan memedulikan
sekolah/fasilitas publik/barang lingkungan maupun orang lain
milik/makanan/perlengkapan dalam FutbolNet.
olahraga
4. Respect (Hormat): Hormat untuk diri sendiri dan orang lain serta aturan-
aturan dan lingkungan hidup kita merupakan hal yang esensial untuk
pengembangan sosial seorang individu.
5. Teamwork (Kerja sama Tim): Melalui kerja sama tim atau teamwork maka
pengembangan personal atau kolektif tercapai dengan mengijinkan
dibuatnya suatu tujuan bersama secara lebih efektif. Mengurangi tingkat
persaingan untuk memberi jalan terjadinya kolaborasi, inklusi dan saling
percaya, karena kerja sama tim adalah obat terhadap sikap individualistis
dan isolasi sosial.
Tujuan Pedagogis Tujuan Khusus
250 Unit Pembelajaran
Mendorong kerja sama 1. Membantu teman-teman ketika mereka
saling membutuhkan bantuan.
tim dan 2. Mendorong dibuatnya strategi-strategi
membantu
untuk membuat keputusan-keputusan
kelompok.
Mendorong partisipasi 3. Mendorong adanya dialog dan refleksi
dan mendengar secara dalam kegiatan.
aktif 4. Mendorong partisipasi aktif dari sesama
teman
5. Adaptasi kegiatan sehingga semua anak
dan muda-mudi dapat berpartisipasi secara
aktif.
Bekerja secara otonom 6. Mendukung otonomi pemain untuk
dan membuat keputusan membuat adaptasi-adaptasi baru dalam
kegiatan.
7. Mendorong rasa tanggung-jawab untuk ikut
melancarkan penyelenggaraan sesi.
Nilai-nilai yang ditanamkan pada Madrasah Game meliputi:
1. Tawasut: Sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrem kiri
maupun ekstrim kanan.
2. Tawazun: Seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil
aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli
(bersumber dari Al-Quran dan Hadits)
3. I’tidal: tegak lurus, berlaku adil dan tidak berpihak kecuali pada yang
benar
4. Tasamuh: Menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki
prinsip hidup yang berbeda.
3. Sesi-sesi Futbolnet dan Madrasah Game
Kurikulum FutbolNet dan Madrasah Game dirancang supaya anak-anak dan
pemuda-pemudi tetap termotivasi selama 45 menit sampai 2 jam, tergantung
dari ketersediaan waktu, sekali atau dua kali seminggu, selama 12 hingga 24
minggu.
Sesi-sesi berlangsung mengikuti urutan sebagai berikut: 1) Presentation
(presentasi), 2) Warm up activity (kegiatan pemanasan), 3) Learning activities
(kegiatan pembelajaran), 4) FutbolNet match (pertandingan FutbolNet) atau
Unit Pembelajaran 251
Madrasah Match, 5) Cool down activity (kegiatan pendinginan), dan 6) Closing
(penutup).
Terdapat empat pilihan waktu dalam permainan futbolnet atau Madrasah
Game, antara 45 menit, 1 jam, 1.30 jam, atau 2 jam. Pemilihan waktu
disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan model permainan yang dipilih.
Berikut daftar waktu dan pilihan langkah yang bisa diterapkan:
Waktu 2 jam 1,30 jam 1 jam 45
menit
Introduction 10’ 5’ 5’
Warm up 15’ 5’ X X
Learning activities 45’ 30’ 20’ X
The futbolnet match/ madrasah 30’ 30’ 25’ 20’
game 20’
Cool down 10’ 10’ X
10’ 10’ 10’ X
Closing 5’
B. Tahapan Kegiatan Fotbolnet & Madrasah Game
1. Introduction (Presentasi)
➢ Adalah bagian pertama dari sebuah sesi; pendidik dan anak-anak
duduk melingkar untuk mendorong kepercaan diri anak di antara
mereka sendiri.
➢ Pendidik memperkenalkan sebuah nilai tertentu dan bertanya kepada
anak-anak tentang arti dari nilai tersebut: apakah yang anak-anak
ketahui tentang nilai tersebut? Dalam situasi apa sajakah nilai tersebut
dapat ditemukan? Dapatkah anak-anak memberikan beberapa contoh?
➢ Pendidik menjelaskan aktifitas-aktifitas yang akan dilakukan anak-anak
pada hari itu.
➢ Membantu anak-anak memahami arti dari sebuah nilai akan
meningkatkan proses belajar mereka.
2. Warm up (Pemanasan)
Sebelum mulai berlatih dan melakukan aktifitas fisik, sangat penting
dilakukan pemanasan. Pemanasan bermanfaat jangka panjang untuk
252 Unit Pembelajaran
menyiapkan tubuh untuk berlatih, baik dari segi fisik atau mental. Sangat
membantu untuk menghindari cedera.
Pemanasan dapat pula:
➢ Meningkatkan kerja jantung dan pernapasan
➢ Meningkatkan jumlah nutrisi dan oksigen yang dihantarkan ke otot dan
jaringannya
➢ Menyiapkan tubuh untuk mengikuti latihan yang menantang
➢ Memudahkan pembakaran kalori
➢ Memperpanjang masa latihan
Berdasarkan sebab-sebab di atas maka penting untuk memulai sesi
dengan permainan-permainan yang intensitasnya medium, semacam
rekreasi, sehingga peserta diijinkan memulai semua mekanisme fisiologis
yang menyiapkan tubuh menjalani latihan fisik.
3. Learning Activity (Kegiatan Pembelajaran)
Kegiatan pembelajaran merupakan aktifitas-aktifitas olahraga berbasis
nilai-nilai yang ingin kita tanamkan. Pada akhir dari setiap aktifitas ada suatu
refleksi yang menolong anak-anak memahami nilai dan mengaitkannya
dengan permasalahan sosial tertentu. Usahakan agar peserta:
➢ Bersosialisasi, saling mengenal di antara mereka sendiri.
➢ Berdiskusi dengan saling menghormati and mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, merefleksikan nilai-nilai, sikap dan problem-
problem sosial terkait.
➢ Menerapkan otonomi dan kemampuan membuat keputusan di antara
mereka sendiri.
➢ Mengembangkan pembelajaran nilai yang bermakna untuk mereka
sendiri.
4. Learning Activity Reflection (Refleksi pembelajaran)
➢ Pendidik harus mengusahakan terjadinya debat atau tukar pendapat
tentang permasalahan sosial dan nilai tertentu yang sedang dipelajari
melalui kegiatan.
Unit Pembelajaran 253
➢ Peran utama dalam kegiatan refleksi ini seharusnya adalah para
peserta sendiri. Pendidik mendorong terjadinya refleksi melalui
pertanyaan-pertanyaan dan para peserta mendiskusikan serta
mencapai kesimpulan mereka sendiri.
➢ Pendidik harus mengarahkan kegiatan debat/tukar pendapat ke tujuan
yang benar, melakukan kontrol atas pergantian kesempatan berbicara,
memastikan debat yang terjadi tidak melebar keluar jalur dan
dilaksanakan dengan saling menghargai dan dengan ketulusan.
Contoh kegiatan pembelajaran
Nama Permainan: Setiap Lemparan
Dihitung
Tujuan Khusus: Permasalahan sosial yang dibahas:
Belajar berkolaborasi dalam tim untuk Bertanding tidak dengan jujur (unfair
mencapai tujuan-tujuan bersama. play) dalam sport/olahraga dan
Hasil Belajar: Menggunakan dan kegiatan sekolah
menghargai pentingnya aturan-aturan
yang telah disepakati bersama. Pengorganisasian
Dua tim/kelompok
Perlengkapan Waktu Umur
1 bola | 2 gawang
20 Dimulai dari usia 8 tahun
minutes
Penjelasan permainan:
Bagi peserta menjadi dua kelompok dan mainkan pertandingan dari olahraga
yang dikehendaki. Bola yang dimasukkan ke Gawang atau Basket mendapatkan
angka yang sama dengan angka yang didapat dari mengoper bola (pass)
sebelum bola tersebut masuk gawang atau basket. Dengan cara ini, operan
apapun yang dilakukan di antara para pemain juga dihitung sebagai poin atau
diberi angka. Contoh: 7 pass atau operan yang berakhir dengan masuknya bola
ke gawang atau basket diberi angka 7 poin.
254 Unit Pembelajaran
Observasi / Refleksi
Seperti yang kita saksikan sejauh ini, sport atau olahraga itu baik sebagai
kegiatan menyenangkan dan kegiatan pembelajaran. Apakah Anda sudah
mendapatkan kesepakatan bersama dari para pemain tentang strategi
permainan sebelum dimulai? Apakah Anda mengikuti strategi yang sudah dipilih
tersebut? Apa saja kelebihan dari bekerja bersama sebagai sebuah tim? Apa
yang terjadi jika seorang pemain tidak menghargai aturan-aturan yang telah
disepakati bersama?
Pendidik harus mendorong permainan yang jujur (fair play) dalam kegiatan
olahraga dan sekolah.
5. Tahap Pertandingan FutbolNet/Madrasah Game (3 babak):
Pertandingan FutbolNet dibagi dalam tiga babak.
• Babak Pertama: mencapai kesepakatan-kesepakatan mengenai
perilaku dan aturan-aturan dalam pertandingan. Pendidik berusaha
mendorong terjadinya dialog dan interaksi antara para pemain.
• Babak Kedua: pertandingan dimainkan mengikuti aturan-aturan yang
telah disepakati.
• Babak Ketiga: para pemain menilai sendiri kepatuhan terhadap
kesepakatan yang telah dicapai dan menentukan hasilnya.
• Aturan Tetap: tidak boleh ada wasit. Para pemain harus mengatasi
kesalahan (faults) dan menyepakati aturan-aturan permainan.
Cabang olahraga apa pun bisa dimainkan dengan metode tersebut di atas.
a. Cool down (pendinginan)
Setelah sesi-sesi yang melibatkan banyak aktifitas fisik, merupakan hal
yang penting untuk menurunkan intensitas latihan-latihan selanjutnya
secara bertahap, guna membantu tubuh dan pikiran kembali ke kondisi
stabil atau seimbang.
Pendinginan dan peregangan/stretching di akhir latihan akan
menolong untuk:
• Melambatkan detak jantung kembali ke kecepatan normal.
• Mengembalikan pernapasan ke pola yang teratur
Unit Pembelajaran 255
• Menghindari otot-otot menjadi kaku dan terasa sakit
• Mengurangi resiko timbulnya pusing dan berkurangnya kesadaran
• Membuat otot-otot menjadi relaks
b. Closing (penutup)
Bagian ini merupakan yang terakhir dari rangkaian sesi, di mana
pendidik dan anak-anak berbagi dan mendiskusikan pengalaman
dalam sesi-sesi yang sudah dilewati, untuk mengevaluasi apa saja yang
sudah dipelajari oleh anak-anak.
Tabel 18 Adaptasi Untuk Berbagai Jenis Disabilitas
PESERTA BERKURANGNYA DISABILITAS DISABILITAS
INTELEKTUAL
BERKURSI RODA MOBILITAS PENDENGARAN
Pada permainan- Langkah semut Semua Penjelasan
permainan “lari dan penjelasan harus pendek
tangkap”, dari jarak disampaikan dan jelas
satu meter menggunakan
sebutkan nama bahasa isyarat Gunakan
pemain yang akan contoh-contoh
menangkap bola visual
Gunakan bola Bola berukuran Gunakan contoh- Ketika pendidik
lebih kecil atau contoh visual sudah kenal
dengan ukuran lebih ringan dan situasi yang dengan anak-
bisa dijelaskan anak, periksa
lebih kecil secara visual apakah
untuk menolong beberapa
pemahaman permainan dan
pemain latihan perlu
disederhanakan
Untuk permainan Pada latihan yang Gunakan lengan
bola basket, bola melibatkan tangan dan
tangan … pantulkan menjaga gerakan untuk
bola ketika kursi keseimbangan, mendapatkan
roda masih tangan akan perhatian dari
bergerak dan digunakan pemain
usahakan untuk
terus bergerak ke
depan lagi
256 Unit Pembelajaran
PESERTA BERKURANGNYA DISABILITAS DISABILITAS
BERKURSI RODA MOBILITAS PENDENGARAN INTELEKTUAL
Pada permainan- Jika pemain tidak Hargai
bisa melompat, perpanjangan
permainan yang perhitungannya waktu yang
adalah jarak yang diperlukan
melibatkan ditempuh oleh
pelompat Pertimbangkan
melempar bola, sebelumnya waktu
dikalikan 3 pemulihan yang
kursi roda diperlukan di
antara satu
dianggap bagian aktivitas
dengan aktifitas
dari tubuh. yang lain
Pemain berkursi
roda bermain bola
menggunakan
kursi roda untuk
menggiring bola
Pada lintasan
dengan halang-
rintang, pemain
berkursi
dikelilingi roda
teman sesama
Pada latihan-latihan
yang terkait
dengan menjaga
keseimbangan,
tangan akan
digunakan jika kursi
roda tidak bisa
digunakan
Pada permainan
dengan lompatan,
perhitungannya
adalah jarak yang
mampu ditempuh
dengan kursi roda
dikalikan 3
Unit Pembelajaran 257
C. Praktek Futbolnet Dan Madrasah Game
1. Humility (Kerendahan Hati):
Peralatan : Bola Voli/bola pantai/bola busa
Tahap Keterangan
Presentation - Guru memimpin/membariskan peserta didik
(5 menit) - Guru memimpin doa
- Guru menjelaskan pengertian dari Humility
Warm Up Activity Ice (Permainan patung-patungan)
(10 menit)
- Bagi peserta menjadi 2 bagian, 1 anak menjadi
Learning Activity penjaga dan anak yang lainnya sebagai pemain.
(10 menit)
Futbol Net Match - Penjaga bertugas mengejar, menangkap/ menyentuh
( 20 menit ) pemain yang lain. Pemain bertugas menghindari
penjaga agar tidak tertangkap/tersentuh.
Refleksi
(10 menit) - Apabila pemain hendak tertangkap/ meloloskan diri
dari penjaga maka si pemain harus mengucapkan
kata “ice” dan seketika itu pemain harus diam/
menjadi beku seperti es/patung. Pemain dapat
bergerak kembali apabila ada pemain yang lainnya
menyentuhnya.
- Guru Menjelaskan pengertian nilai humility
- Guru memfasilitasi membuat kesepakatan aturan
dalam permainan
- Peserta dibagi menjadi 3 kelompok. 1 (satu) kelompok
bertugas menjadi jaring-jaring di tengah, 2 (dua)
kelompok lainnya menjadi tim pemain voli.
- Kedua tim akan bermain permainan bola voli yang
sebenarnya, yang mana tim jaring-jaring akan
bertugas menghalangi bola bisa melewati jaring-
jaring net.
- Apabila bola tersentuh/tertangkap oleh tim jaring-
jaring maka pemain akan bertukar tempat dengan tim
pemain.
- Peserta membuat lingkaran
- Guru merefleksikan nilai humility yang ada di
permainan
- Guru mengeksplor nilai humility dalam keseharian di
madrasah dan di rumah
258 Unit Pembelajaran
Cool Down - Masing-masing kelompok/tim berbaris berbanjar
Activity kemudian pemain yang ada di bagian depan
(10 menit ) mengoperkan bola ke teman yang berada di
belakangnya lewat kaki sampai dengan teman yang
Closing ada dibelakang sendiri.
(5 menit)
- Setelah sampai di teman yang paling belakang, bola
kembali diserahkan ke teman yang berada di
depannya melewati atas kepala. Dan seterusnya.
Guru bersama siswa merefleksi permainan yang telah
dilaksanakan
2. Effort (Upaya)
Peralatan : Bola Voli/bola pantai/bola busa
Tahap Keterangan
Presentation - Guru memimpin/membariskan peserta didik
(5 menit) - Guru memimpin doa
- Guru menjelaskan pengertian dari effort
Warm Up Activity Laba-laba
(10 menit)
- Peserta dibagi menjadi 2 bagian, 1 bagian bertugas
Learning Activity sebagai laba-laba atau penjaga dan 1 bagian lagi
(10 menit) bertugas sebagai pemain. Setiap pemain membawa
satu bola dan mencoba melintasi lapangan dengan
melambung-lambungkan bola tanpa kehilangan
bolanya.
- Laba-laba atau penjaga bertugas mengambil atau
merebut bola dari pemain yang mencoba melewati
garis tengah lapangan. Laba-laba atau penjaga hanya
bisa bergerak di garis tengah.
- Guru Menjelaskan pengertian nilai effort
- Guru memfasilitasi membuat kesepakatan aturan
dalam permainan
Futbol Net Match Kumpulan Keranjang
( 20 menit )
- Peserta dibagi menjadi 2 kelompok atau lebih, setiap
kelompok membuat barisan berbanjar. Setiap
kelompok diberi bola sesuai warna dari masing-
masing kelompoknya.
- Setiap kelompok bertugas melemparkan bola ke
dalam keranjang yang sudah disediakan dari satu titik
tertentu.
Unit Pembelajaran 259
- Tujuan kelompok adalah mengumpulkan keranjang
sebanyak-banyaknya, dihitung dari banyaknya bola
yang masuk ke dalam keranjang.
Refleksi - Peserta membuat lingkaran
(10 menit) - Guru merefleksikan nilai effort yang ada di permainan
- Guru mengeksplor nilai effort dalam keseharian di
madrasah dan di rumah
Cool Down Permainan Telepon
Activity
- Peserta diarahkan membuat lingkaran.
(10 menit ) - Pendidik membisikkan/ menyampaikan pesan ke
salah satu peserta untuk terus diteruskan ke peserta
lainnya hingga kembali ke peserta yang pertama.
- Setelah sampai di peserta pertama, peserta terakhir
bertugas menyampaikan pesan yang telah diterima.
Closing Guru bersama siswa merefleksi permainan yang telah
(5 menit) dilaksanakan
3. Ambition (Ambisi)
Peralatan: Bola plastik
Tahap Keterangan
Presentation (5 - Guru memimpin/membariskan peserta didik
menit) - Guru memimpin doa
- Guru menjelaskan pengertian dari Ambition
Warm Up Pacman (kejar-kejaran)
Activity
- Permainan ini dapat dilakukan oleh banyak anak
(10 menit) dengan cara salah satu anak mengejar yang lainya pada
rute yang sudah ditentukan
- Anak yang mengejar disebut Pacman. Jika Pacman
menyentuh salah satu anak maka anak tersebut harus
menjadi Pacman
260 Unit Pembelajaran
Learning - Guru Menjelaskan pengertian nilai Ambition
Activity - Guru memfasilitasi membuat kesepakatan aturan dalam
(10 menit) permainan
Futbol Net - Guru menyiapkan satu lintasan lurus dan Bola plastik
Match - Anak diminta untuk berpasang-pasangan
- Setiap pasangan diberikan satu Bola plastik
( 20 menit ) - Setiap pasangan mengapit Bola plastik menggunakan
punggung kemudian berusaha sampai lintasan akhir
terlebih dahulu
- Team yang sampai terlebih dahulu menjadi pemenang
dalam permainan ini
Refleksi - Peserta membuat lingkaran
(10 menit) - Guru merefleksikan nilai Ambition yang ada di
permainan
- Guru mengeksplor nilai Ambition dalam keseharian di
madrasah dan di rumah
Cool Down Tepukan
Activity
- Peserta membentuk sebuah lingkaran dengan titik yang
(10 menit ) sudah ditentukan dan satu titik di tengah.
- Peserta memposisikan diri pada titik yang sudah
ditentukan
- Guru memberikan kode dengan memberikan tepuk satu
kali untuk peserta pindah tempat dan peserta yang di
tengah berusaha mendapatkan titik dalam barisan
lingkaran tersebut.
- Peserta yang tidak mendapatkan titik di lingkaran berarti
di tengah lingkaran.
Closing Guru merefleksi permainan
(5 menit)
4. Respect (Rasa Hormat) Keterangan
Peralatan: Bola tangan/Bola Volley
Tahap
Presentation - Guru membuka dengan salam
(5 menit) - Guru menjelaskan sekilas tentang permainan bola
- Guru menjelaskan sekilas tentang permainan bola
tangan dan nilai yang terkandung (respect)
Unit Pembelajaran 261
Warm Up Ambil ekor/cabut ekor
Activity
- Pemain dapat bergerak bebas untuk mengambil ekor
(10 menit) sebanyak mungkin dari pemain lain sambil
mempertahankan ekornya.
- Pemain yang kehilangan ekor dinyatakan kalah
Learning - Guru memfasilitasi siswa tentang nilai yang terkandung
Activity dalam permainan ini (respect)
(10 menit) - Guru membimbing siswa membuat kesepakatan aturan
dalam permainan.
Futbol Net - Peserta memainkan pertandingan bola tangan. Masing-
Match masing kelompok berlomba memasukkan bola ke
( 20 menit ) gawang.
Refleksi - Peserta membuat lingkaran
(10 menit) - Guru merefleksi nilai-nilai yang ada di permainan
- Guru mengeksplorasi nilai respect yang ada di sekitar
kita (madrasah/ rumah)
Cool Down - Kedua kelompok berbaris menjadi 2 banjar
Activity - Peserta pertama memberikan bola lewat atas kepala
(10 menit ) dan ditangkap peserta berikutnya, dstnya
- Setelah sampai peserta terakhir, peserta berbalik arah
kemudian memberikan bola lewat bawah kaki dan
ditangkap peserta berikutnya dst
Closing Guru merefleksi permainan
(5 menit)
5. Teamwork (Kerja sama)
Peralatan : Kerucut balon, Bola pantai, Bola Sepak, Pelindung dada
Tahap Keterangan
Presentation - Guru memimpin/membariskan peserta didik
(5 menit) - Guru memimpin doa
- Guru menjelaskan pengertian dari Teamwork
262 Unit Pembelajaran
Warm Up Roda Presentasi
Activity
(10 menit) - Peserta membuat lingkaran besar sambil bernyanyi
“lingkaran besar”.
- Semua anak bernyanyi bersama sambil memberikan
balon ke teman sebelahnya.
- Setelah lagu berhenti, anak yang memegang balon
memulai memperkenalkan nama.
Learning - Guru memfasilitasi siswa tentang nilai yang terkandung
Activity dalam permainan ini (team work)
(10 menit)
- Guru membimbing siswa membuat kesepakatan aturan
dalam permainan.
Futbol Net Manusia Papan Tulis
Match - Peserta dibagi menjadi 2 atau 3 kelompok.
- Guru memberikan tugas kepada masing-masing
( 20 menit )
kelompok untuk berdiskusi menyusun kata yang
kemudian diperagakan dengan menggunakan tubuh
sebagai hurufnya.
- Satu kelompok memperagakan kata yang diberikan
guru d idepan kelompok lainnya.
- Tugas dari kelompok lainnya adalah menebak kata
yang diperagakan.
Refleksi - Peserta membuat lingkaran
(10 menit) - Guru merefleksi nilai-nilai yang ada di permainan
- Guru mengeksplorasi nilai Teamwork yang ada di
sekitar kita (madrasah/ rumah).
Cool Down Jam tangan super
Activity
(10 menit ) - Setiap kelompok berada di dalam lapangan yang sudah
dibatasi dengan garis tengah.
- Setiap tim diberi 3 balon yang mana balon tersebut
digunakan untuk dilemparkan ke kelompok lain.
Dengan durasi waktu 2 menit.
- Setelah waktu selesai, kelompok yang mendapat balon
paling sedikit merupakan kelompok yang menang.
Sebaliknya kelompok yang mendapat balon paling
banyak merupakan kelompok yang kalah
Closing Guru merefleksi permainan
(5 menit)
Unit Pembelajaran 263
6. Moderat
Tahap Keterangan
Presentation - Guru memimpin/membariskan peserta didik
(5 menit) - Guru memimpin doa
- Guru menjelaskan pengertian dari Tawasuth
Warm Up Sakura
Activity
(10 menit) - Peserta diajak membuat lingkaran, dan satu peserta
berada di tengah-tengah lingkaran.
Learning
Activity - Peserta yang ada di lingkaran berjalan berputar sambil
(10 menit) bernyanyi “sakura” kemudian setelah lagu berhenti
peserta yang berada di tengah menyebutkan suatu
benda yang diinginkan.
- Kemudian peserta yang berada di lingkaran
mempraktikkan benda dengan menggunakan gerakan
tubuh.
- Guru memfasilitasi siswa tentang nilai yang terkandung
dalam permainan ini moderat
- Guru membimbing siswa membuat kesepakatan aturan
dalam permainan.
Madrasah Kucing dan Tikus
Match
- Peserta melakukan hompimpah dan mencari 2 peserta
( 20 menit ) yang kalah untuk dijadikan “kucing dan tikus”.
Sedangkan peserta yang lainnya akan membuat
lingkaran yang diumpamakan sebagai kandang.
- Tugas kucing mengejar si tikus sebaliknya tugas si tikus
harus berlari menghindari si kucing, dan segera
memasukkan bendera ke dalam tiang.
- Apabila bendera si tikus tertangkap kucing maka akan
terjadi pergantian peran.
Refleksi - Peserta membuat lingkaran
(10 menit) - Guru merefleksikan nilai moderat yang ada di
permainan
- Guru mengeksplor nilai moderat dalam keseharian di
madrasah dan di rumah
264 Unit Pembelajaran
Cool Down CERMIN DIRI
Activity
(10 menit ) - Peserta mencari pasangan kemudian berhadapan
- Satu orang membuat gerakan dan ditirukan oleh yang
Closing
(5 menit) lainya.
- Kemudian gerakan kedua dilakukan oleh pasangan
yang satunya.
Guru bersama siswa merefleksi permainan
7. Seimbang
Peralatan: Karet, Sedotan, tongkat/bola, dan cone
Tahap Keterangan
Presentation - Guru memimpin/membariskan peserta didik
(5 menit) - Guru memimpin doa
- Guru menjelaskan pengertian dari Seimbang
Warm Up Estafet Karet
Activity
- Guru membagi peserta menjadi 3-4 kelompok
(10 menit) - Setiap kelompok mendapatkan 1, 2, 3 atau lebih
karet/gelang dan satu sedotan.
- Setiap kelompok berbaris berbanjar untuk melakukan
estafet karet.
- Kelompok yang paling cepat mengumpulkan karet berarti
itulah kelompok yang menjadi pemenang
Learning - Guru memfasilitasi siswa tentang nilai yang terkandung
Activity dalam permainan ini Tawazun
(10 menit) - Guru membimbing siswa membuat kesepakatan aturan
dalam permainan
Unit Pembelajaran 265
Madrasah SUNDA MANDA ESTAFET (SUTET)
Match
- Buatlah peserta menjadi 2 – 4 kelompok atau lebih
( 20 menit ) - Setiap kelompok berbaris berbanjar di belakang area yang
sudah di buat
- Anak yang paling depan melakukan gerakan melompat
sesuai dengan pijakan yang sudah ada dengan membawa
satu tongkat, jika satu kotak maka menggunakan satu kaki
jika dua kotak maka dengan dua kaki
- Setelah melewati area pijakan maka anak berlari memutari
cone
- Kemudian menyerahkan tongkat kepada teman pada
barisan awal
- Dilanjut anak yang lainya hingga anggota kelompok
melakukan semua
Refleksi - Peserta membuat lingkaran
(10 menit) - Guru merefleksikan nilai seimbang yang ada di permainan
- Guru mengeksplor nilai seimbang dalam keseharian di
madrasah dan di rumah
Cool Down - Melakukan jalan bersama dengan memegang pundak
Activity teman kelompok mengitari cone
(10 menit )
Closing Guru bersama siswa merefleksi permainan
(5 menit)
8. Adil
Tahap Keterangan
Presentation - Guru memimpin/membariskan peserta didik
(5 menit) - Guru memimpin doa
- Guru menjelaskan pengertian dari Adil
Warm Up
Activity SiDeSa (Singa, Delila, dan Samson)
(5 menit) - Guru memberikan pengarahan kepada peserta tentang
peraturan sidesa.
- Samson dengan gerakan perkasa dikalahkan oleh Delila
(Perempuan cantik) dengan gaya centik dikalahkan oleh
singa dengan gerakan tangan mencakar dan auman
- Anak berhadapan dengan pasanganya dan dapat memilih
gerakan untuk melawan pasanganya.
- Dengan instruksi guru peserta melakukan salah satu dari tiga
gerakan tersebut.
266 Unit Pembelajaran
Learning - Bagi yang menang dari pasanganya kemudian mencari
Activity pasangan baru yang menang. Dilakukan hingga tersisa dua
(10 menit) peserta
Ma’arif Match - Guru memfasilitasi siswa tentang nilai yang terkandung dalam
( 30 menit ) permainan ini yaitu adil
Refleksi - Guru membimbing siswa membuat kesepakatan aturan dalam
(10 menit) permainan.
Cool Down KERETA EKOR ULAR
Activity - Peserta dibariskan berbanjar membuat kereta kecuali dua
orang yang menang pada permainan pemanasan. Dua anak
(10 menit ) (leader) tersebut diminta untuk menentukan warna “Merah”
dan “Putih”. Kemudian mereka membuat terowongan dengan
Closing tangan yang bergandengan dinaikan keatas, untuk dilewati
(5 menit) kereta anak.
- Kemudian kereta berjalan sambil menyanyikan lagu anak.
Melewati terowongan. Dua anak tersebut boleh menangkap 1
-3 anak yang akan ditanya memilih warna apa dengan
berbisik. Setelah memilih warna merah atau putih. Anak
berdiri di belakang salah satu leader
- Kegiatan itu dilakukan berkali-kali sampai kereta habis dan
masuk kedalam salah satu leader. Kemudian dua kelompok
saling berhadapan. Anak yang berada dibaris paling belakang
dipasangi balon.
- Leader berusaha mengambil atau memecahkan balon dari tim
lain dengan menggunakan tangan. Syaratnya setiap
kelompok hars berpegangan pinggang
- Kelompok yang berhasil memecahkan atau mengambil balon
sebagai pemenang.
- Peserta membuat lingkaran
- Guru merefleksikan nilai adil yang ada di permainan
- Guru mengeksplor nilai adil dalam keseharian di madrasah
dan di rumah
- Guru membuat peserta menjadi dua baris berbanjar
- Setiap anak berpasangan dengan membuat terowongan
kemudian berbanjar
- Setiap pasangan dengan berpegangan tangan masuk ke
dalam terowongan
- Hingga semua pasangan masuk ke dalam terowongan
Guru bersama siswa merefleksi permainan
Unit Pembelajaran 267
9. Toleransi
Peralatan: Pecahan genteng dengan ukuran yang berbeda agar bisa
ditata menjadi menara, Bola Basket
Tahap Keterangan
Presentation - Guru memimpin/membariskan peserta didik
(5 menit) - Guru memimpin doa
- Guru menjelaskan pengertian dari Toleransi
Warm Up
Activity - Berlari memutari kelompok masing-masing
(5 menit) - Menggelindingkan bola ke teman yang berhadapan
Learning - Guru memfasilitasi siswa tentang nilai yang terkandung
Activity dalam permainan ini Tasamuh
(10 menit)
- Guru membimbing siswa membuat kesepakatan aturan
Ma’arif Match dalam permainan
( 20 menit )
JINNOBOY – BASKET – BOWLING (JINKELING)
Refleksi
(10 menit) - Buatlah dua kelompok dengan masing-masing
kelompok 4-6 orang
Cool Down
- Kelompok 1 sebagai Pemain dan 2 sebagai penjaga
Activity - Kelompok 1 menggelindingkan bola ke arah tumpukan
(10 menit ) genteng dengan jarak yang disesuaikan secara
bergantian berbanjar dan berusaha menjatuhkan
Closing menara genteng
(5 menit) - Kelompok 2 bersiap-siap untuk berlari menata tumpukan
genteng apabila terkena bola
- Setelah kelompok 1 bisa menjatuhkan menara kemudian
berusaha memasukkan bola basket ke dalam ring basket
dengan waktu ditentukan oleh cepatnya kelompok 2
menata menara genteng
- Kelompok yang paling cepat menyelesaikan tugasnya
maka kelompok tersebut mendapatkan poin
- Peserta membuat lingkaran
- Guru merefleksi nilai-nilai yang ada di permainan
- Guru mengeksplorasi nilai Tasamuh yang ada di sekitar
kita (madrasah/rumah)
Bola Berantai
- Guru membuat peserta menjadi dua baris berbanjar
- Kemudian setiap kelompok dikasih satu bola
- Dikasihkan kepada belakangnya melewati atas kepala
hingga peserta terakhir dilanjut memberikan lewat
bawah kaki ke depan hingga barisan paling depan
Guru bersama siswa merefleksi permainan
268 Unit Pembelajaran
Demikian materi FutbolNet dan Madrasah Game sebagai panduan bagi
guru untuk dapat melakukan olah raga permainan menuju terwujudnya
Madrasah Inklusif di Indonesia dan tatanan kehidupan masyarakat yang inklusif
tidak membeda-bedakan kondisi peserta didik menuju tercapainya gerakan
Education For All (EFA). Modul ini hanya menjadi contoh dan inspirasi bagi para
guru kreatif yang selanjutnya bisa dikembangkan kedalam permainan-
permainan lain sesuai kebutuhan, termasuk untuk mengangkat kembali
permainan-permainan tradisional di daerah masing-masing.
F. Tindak Lanjut
Setelah mempelajari bab ini, Fasilitator menyampaikan kegiatan yang akan
menjadi rencana tindak lanjut sesuai dengan poin-poin di tayangan. Sementara
peserta menyepakati rencana tindak lanjut yang akan dilakukan di madrasah
masing-masing.
G. Evaluasi
1. Apa yang dimaksud dengan model-model pembelajaran kooperatif?
2. Bagaimana peran serta guru dalam menyiapkan kelas yang inklusif melalui
pengaturan ruangan?
3. Apa dan bagaimana praktik futbolnett dan madrasah game dimadrasah?
Unit Pembelajaran 269
UNIT PEMBELAJARAN 6.
Program Kebutuhan Khusus Bagi PDBK
A. Deskripsi
Program Kebutuhan Khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus
meliputi: orientasi dan mobilitas serta baca tulis Braille bagi anak tunanetra; bina
persepsi bunyi dan irama dan bina bicara bagi anak tunarungu; bina diri bagi anak
tunagrahita; bina gerak bagi anak tunadaksa; dan bina komunikasi bagi anak autis.
Pada modul ini bahasan masih pada konsep dasar dan rambu rambu
operasionalnya secara ringkas. Sedangkan pembahasan secara detail
dilaksanakan pada waktu pelatihan yang disertai praktik langsung sesuai dengan
jenis kebutuhan khusus yang dibahasnya.
B. Tujuan
Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan mampu:
1. Meningkatkan pemahaman tentang konsep dan jenis-jenis program
kebutuhan khusus bagi PDBK
2. Terampil menyusun program intervensi/layanan sesuai dengan jenis
kebutuhan PDBK
3. Mampu melaksanakan layanan kompensatoris bagi PDBK sesuai dengan
karakteristik kebutuhan dan prinsip-prinsip operasionalnya.
4. Mampu menyusun laporan hasil layanan kebutuhan khusus yang telah
dilakukan.
C. Strategi
Modul ini masih memuat pengertian, konsep dasar, jenis
pendekatan/intervensi dan beberapa rambu-rambu spesifik terkait dengan jenis
layanan kebutuhan khusus bagi PDBK. Oleh sebab itu strategi operasional
pembahasan dan pelatihannya, sebagai berikut:
270 Unit Pembelajaran
➢ peserta pelatihan melakukan observasi umum untuk membuka wawasan dan
mengembangkan wacana;
➢ pembekalan konsep dasar, jenis-jenis dan strategi intervensi;
➢ melakukan pengamatan spesifik sesuai jenis layanan kompensatoris yang
akan di dalami dan penetapan jenis program intervensi yang akan dilakukan;
➢ penyusunan program intervensi yang dipilihnya;
➢ melaksanakan layanan/intervensi kompensatoris pada PDBBK;
➢ penyusunan laporan pelaksanaan intervensi.
D. Media
Sumber dan bahan yang disiapkan dalam melaksanakan unit ini adalah
a. Tayangan Power Point.
b. ATK: lem, gunting, kertas plano, kertas HVS putih, spidol warna ukuran besar
dan kecil, kertas manila, dan pensil warna.
E. Materi
KEGIATAN 1. Memahami Program Kebutuhan Khusus bagi PDBK
(Materi 1 JP” & Diskusi dan penugasan 1 JP)
A. Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
Dalam rangka mengenal anak berkebutuhan khusus maka kita perlu
membaca Peraturan Menteri Agama Nomor 60 Tahun 2015 tentang Perubahan
atas Peraturan Menteri Agama Nomor 90 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan Madrasah yang menjelaskan tentang jenis-jenis peserta didik
berkebutuhan khusus atau yang biasa disebut dengan peserta didik berkelainan
yaitu:
1. Tunanetra
Dikatakan tunanetra bila anak penglihatannya tidak dapat dimanfaatkan
dalam proses pendidikan, sekalipun telah dikoreksi dengan kacamataoptik,
sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak yang
memiliki kerusakan fungsi penglihatan tetapi setelah dikoreksi dengan
Unit Pembelajaran 271
kacamata tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, maka anak
tersebut tidak dapat disebut sebagai tunanetra
2. Tunarungu
Anak tunarungu diartikan sebagai anak yang kehilangan seluruh atau
sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu
berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan
dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan
khusus.
3. Tunawicara
Adalah ketidakmampuan seseorang untuk berbicara. Bisu disebabkan oleh
gangguan pada organ-organ seperti tenggorokan, pita suara, paru-paru,
mulut, lidah, dan sebagainya. Bisu umumnya dikaitkan dengan tuli. Selain itu,
kurang atau tidak berfungsinya organ pendengaran, keterlambatan
perkembangan bahasa, kerusakan pada sistem saraf dan struktur otot, serta
ketidakmampuan dalam kontrol gerak juga dapat mengakibatkan
keterbatasan dalam berbicara. Penyebab lainnya adalah cacat intelektual dan
autisme. Seseorang dapat lahir bisu, atau menjadi bisu di kemudian hari
karena cedera atau penyakit.
4. Tunagrahita
Seorang anak dikatakan tunagrahita bila perkembangan-pertumbuhan
mentalnya selalu di bawah normal jika dibanding dengan anak normal sebaya,
sehingga membutuhkan pelayanan pendidikan khusus.
5. Tunadaksa
Adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada
anggota gerak (tulang, sendi otot). Mereka mengalami gangguan gerak
karena kelayuan otot, atau gangguan fungsi syaraf otak (disebut cerebral
palsy /cp)
6. Tunalaras
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri
dan bertingkah laku tidak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam
lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada umumnya, sehingga
272 Unit Pembelajaran
merugikan dirinya maupun orang lain dan karenanya memerlukan layanan
pendidikan khusus.
7. Berkesulitan Belajar
Anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik
khusus (membaca, menulis, berhitung), kesulitan belajar ini bukan disebabkan
karena inteligensi yang rendah sehingga memerlukan pelayanan pendidikan
khusus.
8. Lamban Belajar
Slow learner (Lambat belajar) adalah mereka yang memiliki prestasi belajar
rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh
area akademik, tapi mereka ini bukan tergolong anak terbelakang mental.
Skor tes IQ mereka menunjukkan skor antara 70 dan 90. Dengan kondisi
seperti demikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan
teman sebayanya. Tidak hanya kemampuan akademiknya yang terbatas tapi
juga pada kemampuan-kemampuan lain, di antaranya kemampuan koordinasi
(kesulitan menggunakan alat tulis, olahraga, atau mengenakan pakaian).
9. Autis
Gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi
sosial, dan aktivitas imajinasi. Gejala mulai tampak ketika usia anak 3 tahun
bahkan autisme infantil sudah nampak pada perkembangan awal/ sejak lahir.
Selain kebutuhan khusus di atas terdapat pula peserta didik berkelainan
gangguan motoric, korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat
aditif lainnya, serta kelainan lainnya.
B. Program kebutuhan khusus bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
Setelah kita memahami pengertian masing-masing istilah keterbatasan,
maka perlu upaya khusus untuk meningkatkan potensi PDBK dengan program
kebutuhan khusus pula. Apa itu program khusus?
1. Pengertian Program Kebutuhan Khusus
Program kebutuhan khusus merupakan suatu layanan intervensi dan/atau
pengembangan untuk mengurangi hambatan dan keterbatasan yang
Unit Pembelajaran 273
diakibatkan oleh kelainan/hambatan/disabilitas yang disandang peserta didik
sehingga dapat mengembangkan berbagai bidang pengetahuan dan
keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup.
2. Landasan Pelaksanaan
Pelaksanaan program layanan khusus tentunya dilandaskan atas regulasi
yang berlaku, di antara landasannya adalah:
a. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional;
b. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen;
c. Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas
d. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi Yang
Layak Untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas.
e. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan Sebagaimana Diubah Dengan Peraturan Pemerintah Nomor
32 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru;
g. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 01 Tahun 2008 Tentang
Standar Proses Pendidikan Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita,
Tunadaksa Dan Tunalaras;
h. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang
Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan
Memiliki Potensi Kecerdasan Dan/Atau Bakat Istimewa
i. Keputusan Menteri Agama Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum PAI
dan Bahasa Arab pada Madrasah.
3. Rasionalisasi Pengembangan Program Kebutuhan Khusus
Pengembangan program kebutuhan khusus bagi peserta didik berkebutuhan
khusus memiliki rasionalisasi, di antaranya adalah:
a. Program Kebutuhan khusus bukan mata pelajaran tetapi wajib diberikan
kepada semua PDBK di mana pun dia sekolah.
274 Unit Pembelajaran
b. Program kebutuhan khusus diberikan oleh guru pendidikan khusus atau
yang sudah mendapat pelatihan khusus sesuai dengan jenis
kekhususannya.
c. Prosus diberikan sesuai dengan kebutuhan khusus bukan didasarkan
pada jenjang atau tingkat kelas.
Program kebutuhan khusus dilakukan sebagai bentuk kompensasi atau
penguatan akibat kelainan yang dialami anak berkebutuhan khusus dengan
tujuan meminimalkan hambatan dan meningkatkan akses dalam mengikuti
pendidikan dan pembelajaran yang lebih optimal. Program kebutuhan khusus
bukan mata pelajaran, tetapi wajib diberikan sesuai kebutuhan peserta didik.
4. Macam Program kebutuhan khusus bagi PDBK
Adapun program kebutuhan khusus bagi peserta didik berkebutuhan
khusus di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Peserta didik hambatan penglihatan yaitu Pengembangan Orientasi,
Mobilitas, Sosial, dan Komunikasi (POMSK)
b. Peserta didik hambatan pendengaran yaitu Pengembangan Komunikasi
Persepsi Bunyi, dan Irama (PKPBI).
c. Peserta didik hambatan berpikir yaitu Pengembangan Diri (PD)
d. Peserta didik hambatan gerak yaitu Pengembangan Gerak (PG)
e. Peserta didik hambatan perilaku, sosial, dan komunikasi yaitu
Pengembangan Komunikasi, Interaksi Sosial, dan Perilaku (PKISP)
5. Fungsi Program Kebutuhan Khusus:
Pada dasarnya pelaksanaan program kebutuhan khusus dengan
sasaran peserta didik berkebutuhan khusus memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1) Habilitasi
2) Rehabilitasi
3) Validasi
4) Revalidasi
5) Kompensasi
Selain itu, dalam pembelajaran tentu memiliki struktur kurikulum yang
khusus, dengan prinsip, integrated/terpadu, separate/terpisah dan prioritas.
Unit Pembelajaran 275
Hal lain yang perlu dipertimbangkan juga dalam membuat kurikulum atau
mendesain pembelajaran pada PDBK, sebagai berikut:
a. Pengembangan program kekhususan disusun tidak berdasarkan jenjang,
satuan pendidikan dan tingkatan kelas
b. Metoda, alat pembelajaran dan evaluasi disesuaikan dengan
perkembangan dan kebutuhan.
c. Proses pengembangan dilaksanakan dengan mengutamakan aspek
motorik dan psikomotor.
d. Penguasaan kemampuan dan indikator tidak harus dilakukan secara
berurutan, tetapi guru diberi wewenang untuk memilih sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan.
e. Guru yang bertanggung jawab menyampaikan pembelajaran hendaknya
berkualifikasi minimal S1 PLB.
f. Guru dan pelatih program kebutuhan khusus hendaknya memanfaatkan
lingkungan sekitar sebagai media dan sarana sumber latihan.
g. Sistem penilaian program kebutuhan khusus dapat menggunakan
penilaian autentik. Penilaian autentik suatu bentuk pengukuran yang
bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah
sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
h. Bentuk program kebutuhan khusus sebaiknya bervariasi, menarik minat,
merangsang emosi, serta menuntun ke arah kesanggupan diri untuk
melakukan dalam kehidupan sehari-hari.
i. Bentuk latihan, pembelajaran pada materi tertentu dapat dilakukan
melalui modeling, simulasi, pembiasaan terus menerus.
Selanjutnya hal yang perlu diperhatikan adalah perlunya sebuah prosedur
yang harus dilakukan dalam mendesain pembelajaran. Prosedur tersebut di
antaranya adalah:
1) Asesmen (apa yang sudah dikuasai, apa yang belum dikuasai, apa yang
dibutuhkan)
2) Menetapkan prioritas materi latihan
276 Unit Pembelajaran
3) Menetapkan tujuan latihan (a=audiens, b=behavior, c=condition,
d=degree)
4) Menganalisis kegiatan materi latihan
5) Menetapkan metode
6) Menetapkan kriteria keberhasilan latihan
7) Menetapkan langkah tindak lanjut
Selanjutnya dalam proses pembelajaran dapat menggunakan beberapa
metode atau pendekatan pembelajaran, di antaranya: ceramah,
demonstrasi/ modeling, direct learning/ pembelajaran langsung, drill/
pembiasaan dan learning scientific. Berbagai metode dan pendekatan
tersebut tentunya senantiasa memperhatikan karakteristik dan potensi yang
dimiliki oleh peserta didik tersebut.
6. Materi program kebutuhan khusus
Sebagaimana dijelaskan di awal bahwa program layanan khusus bagi
peserta didik berkebutuhan khusus meliputi PDBK tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, tunadaksa dan autis. Adapun materi yang diberikan sebagai
berikut:
1) Tunanetra
Bagi peserta didik tunanetra program layanan khusus yang diberikan
berupa pengembangan orientasi mobilitas, sosial dan komunikasi
(POMSK). Pengembangan orientasi dan mobilitas adalah satu
kemampuan, kesiapan dan mudahnya bergerak dari satu posisi/tempat ke
satu posisi/tempat lain yang dikehendaki dengan baik, tepat, efektif, dan
selamat. Pengembangan sosial merupakan gambaran hubungan antar
manusia dan lingkungannya serta perilaku manusia dalam melaksanakan
aktivitasnya sehari-hari secara mandiri tanpa banyak dibantu orang lain.
Pengembangan komunikasi pada tunanetra menekankan pada
bagaimana tunanetra dapat mengkomunikasikan secara lisan pikiran dan
maksudnya dengan ekspresif dan menarik kepada orang lain. Banyak
tunanetra mengkomunikasikan pikiran dan maksudnya tidak ekspresi dan
tidak menarik. Hal ini bukan berarti tunanetra tidak bisa melakukannya,
Unit Pembelajaran 277
tetapi tidak mendapatkan latihan contoh dari lingkungannya karena
ketunanetraannya.
Pomsk merupakan sejumlah keterampilan yang dibutuhkan tunanetra
untuk menutupi atau mengganti keterbatasan sebagai akibat langsung
dari adanya hambatan penglihatan. Pengembangan OMSK adalah
keterampilan (orientasi dan berpindah tempat, sosial, komunikasi) yang
dibutuhkan setiap peserta didik tunanetra untuk bisa akses dan
berinteraksi dengan lingkungannya adapun cakupan dari orientasi
mobilitas, sosial dan komunikasi bagi peserta didik tunanetra adalah:
a. Pengembangan orientasi dan mobilitas
1) Keterampilan motorik, kesadaran ruang dan lingkungan.
2) Konsep dasar orientasi dan mobilitas
3) Komponen keterampilan orientasi
4) Teknik pra tongkat
5) teknik tongkat
b. Pengembangan sosial
1) Kesehatan pribadi (memelihara kepribadian, merawat dan
memelihara pakaian)
2) Aktivitas sehari-hari (menggunakan kompor, menyiapkan
makanan, etika di meja makan
3) Dunia kerja (manajemen, penggunaan waktu)
4) Reproduksi manusia (tanda fisik manusia dari bayi-dewasa,
perbedaan alat, masalah kewanitaan, penanaman moral
keagamaan terkait dengan kewanitaan
c. Pengembangan komunikasi
1) Baca tulis braille
2) Komunikasi
2) Tunarungu
Peserta didik yang memiliki hambatan pendengaran, maka program
kebutuhan khusus yang diberikan berupa pengembangan komunikasi,
persepsi bunyi dan irama (PKPBI).
278 Unit Pembelajaran
Pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan irama (PKPBI) ialah
pembinaan komunikasi dan penghayatan bunyi yang dilakukan dengan
sengaja atau tidak sengaja, sehingga kemampuan komunikasi dan
memersepsi bunyi melalui pendengaran dan perasaan vibrasi yang masih
dimiliki peserta didik tunarungu dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk
berintegrasi dengan dunia sekelilingnya yang penuh dengan bunyi.
Pembinaan secara sengaja yang dimaksud adalah pembinaan dilakukan
secara terprogram. Artinya setelah dilakukan identifikasi dan asesmen,
guru menyusun perencanaan program, menetapkan tujuan, metode
pelaksanaan, alokasi waktu, dan penilaian. Pembinaan secara tidak
sengaja adalah pembinaan yang spontan karena peserta didik bereaksi
terhadap bunyi latar belakang yang hadir pada situasi tertentu.
Pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan irama (PKPBI) merupakan
bentuk layanan program kebutuhan khusus peserta didik tunarungu.
Program layanan ini wajib diberikan kepada peserta didik pada satuan
pendidikan SLB dan juga satuan pendidikan inklusi yang ada PDBK
tunarungu. Melalui layanan PKPBI diharapkan peserta didik dapat
mendeteksi, mendiskriminasikan, dan mengidentifikasi bunyi yang pada
akhirnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan PKPBI adalah mengembangkan kemampuan komunikasi dan
bahasa peserta didik tunarungu. Namun pada tataran praktis, tidak sedikit
guru yang terjebak dalam pengertian layanan PKPBI secara sempit
sehingga pada pelaksanaannya lebih menitikberatkan pada pengenalan
sifat-sifat bunyi. Selayaknya setiap sifat bunyi yang diperkenalkan
dikaitkan dengan bahasa. Jika hal ini dilakukan, maka peserta didik akan
menganalogikan bahwa bunyi yang keras itu seperti suara orang yang
berteriak dan bunyi yang lemah itu seperti suara orang yang berbisik.
Adapun konsep program layanan khusus ini mencakup dua hal penting
yaitu:
a. Komunikasi (pengucapan fonem, pengucapan kata,pengucapan
kalimat)
Unit Pembelajaran 279
b. Persepsi bunyi:
1) Tahap deteksi bunyi yaitu kemampuan menyadari ada dan tidak
ada bunyi.
2) Tahap diskriminasi bunyi yaitu kemampuan membedakan bunyi
3) Tahap identifikasi bunyi yaitu kemampuan mengenal bunyi
4) Tahap komprehensif bunyi yaitu kemampuan memahami bunyi
3) Tunagrahita
Program layanan khusus yang dapat diberikan kepada peserta didik
tunagrahita adalah pengembangan diri atau bina diri. Program
pengembangan diri bagi peserta didik tunagrahita dimaksudkan untuk
memberikan keterampilan perilaku adaptif. Melalui penguasaan
keterampilan perilaku adaptif diharapkan mereka dapat berperilaku
sesuai dengan usianya, pada konteks sosial dan budaya di mana peserta
didik tunagrahita tersebut tinggal.
Adapun pengembangan diri bagi peserta didik tunagrahita mencakup hal-
hal sebagai berikut:
a. Keterampilan merawat diri
b. Keterampilan mengurus diri
b. Keterampilan menjaga keselamatan dan kesehatan,
c. Keterampilan bekomunikasi,
b. Keterampilan bersosialisasi,
c. Keterampilan bekerja, dan
d. Keterampilan menggunakan waktu luang.
4) Tunadaksa
Bagi peserta didik tunadaksa program layanan khusus yang diberikan
adalah pengembangan diri dan gerak. Pengembangan diri dan gerak
adalah merupakan segala usaha, bantuan yang berupa bimbingan,
latihan, secara terencana dan terprogram terhadap peserta didik
tunadaksa, dalam rangka membangun diri baik sebagai individu maupun
sebagai makhluk sosial, sehingga terwujudnya kemampuan mengurus
diri, menolong diri, merawat diri, dan mobilisasi (bergerak-berpindah
280 Unit Pembelajaran
tempat) dalam kehidupan sehari-hari baik di keluarga maupun di
dimasyarakat secara memadai.
Adapun pengembangan diri dan gerak meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Pengembangan diri
1) Kebersihan diri
2) Merawat diri
3) Mengurus diri sendiri
4) Berkomunikasi dan bersosialisasi langsung
5) Penyelamatan diri dari bahaya yang mengancam dirinya
b. Pengembangan gerak
1) Gerakan kontrol kepala, kaki, dan badan
2) Gerak koordinasi motorik kasar dan halus
3) Gerak koordinasi mata dan tangan
4) Gerak koordinasi mata dan kaki
5) Gerak koordinasi mata, tangan dan kaki
6) Alat bantu gerak yang melekat
7) Alat bantu yang bergerak
5) Autis
Autis adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat
kompleks/berat dalam kehidupan yang panjang, yang meliputi gangguan
pada aspek perilaku, interaksi sosial, komunikasi dan bahasa, serta
gangguan emosi dan persepsi sensori bahkan pada aspek motoriknya.
Gejala autis ini muncul pada usia sebelum 3 tahun. Gangguan pada masa
perkembangan di usia dini termanifestasikan dalam berbagai bentuk yang
berbeda-beda dari peserta didik autis satu dengan yang lainnya.
Adapun program kebutuhan khusus yang diberikan kepada peserta didik
autis berupa layanan/intervensi interaksi, komunikasi dan perilaku sosial.
Layanan bagi peserta didik autis merupakan upaya pendidikan yang
diberikan secara khusus, karena pada umumnya peserta didik autis
mempunyai gangguan interaksi, komunikasi, dan perilaku sosial.
Gangguan tersebut dapat berupa perilaku yang tidak fungsional,
Unit Pembelajaran 281
kurangnya interaksi sosial dengan orang-orang yang ada di sekitar,
kesulitan dalam pengembangan bahasa dan komunikasi. Program
layanan/intervensi ini bukan sebagai mata pelajaran, tetapi merupakan
serangkaian kegiatan dan latihan yang di lakukan secara terus menerus.
Adapun program layanan khusus bagi peserta didik autis meliputi hal-hal
sebagai berikut:
a. Keterampilan Sosial
1) Bersosialisasi di lingkungan sekitar
2) Mengidentifikasi orang-orang atau tempat-tempat yang ada di
sekitar
3) Mengikuti permainan dengan baik
4) Menunjukkan prilaku yang baik
b. Sensoris Motorik
1) Merampil melakukan latihan keseimbangan
2) Melakukan latihan motorik halus, kasar
c. Pengembangan Diri
1) Merawat diri sendiri
2) Kemandirian
d. Bahasa dan komunikasi
1) Melakukan komunikasi awal dengan benar
2) Melakukan komunikasi 2 arah dengan benar
3) Komunikasi tulisan
KEGIATAN 2. Menyusun Program Khusus bagi PBDK
(Materi 1 JP & Praktik 3 JP)
1. Pelaksanaan Program Intervensi
Pelaksanaan layanan program layanan khusus bagi peserta didik tunanetra,
tunarungu, tunagrahita, tunadaksa dan autis dapat dilaksanakan sebagai berikut:
1) Tunanetra (POMSK)
Nama anak : Nabila
Jenis kelamin : Perempuan
282 Unit Pembelajaran