[Hallo] I want it, I got it. Bagaimana bisa dia selamat dari semua itu? Bagaimana bisa dia sesempurna itu? Bagaimana mungkin dia memiliki ketiga lelaki itu? "Cause i am Lycan" —------
[1 : The Major]
Sekolah elit dengan kepopuleran selangit itu kini sedang disibukkan dengan penerimaan angkatan baru. Setiap tahun Neo High School hanya menerima 100 anak terpilih tentu saja yang memiliki kualitas dan status sosial tinggi. Anak anak Neo High School terkenal dengan kecerdasan dan kepopulerannya, selain itu anak anak Neo sangat haus akan ambisi dan pengakuan. Yahhh, tentu saja karena pendidikan orang kaya yang menuntut anaknya untuk sempurna.
Bagaimana dengan mereka? Haha, mereka bahkan sudah sempurna tanpa harus dituntut untuk itu. "Kupikir sekolah disini akan sedikit membuatku tenang. Ternyata sama saja orang orang disini sangat berisik" Ares Lais, dia mungkin bukanlah pemain film atau penyanyi yang memiliki berjuta juta penggemar. Tapi, ketika ada yang menyebut namanya, maka yang terlintas dikepala mereka adalah cerdas, kaya dan kuasa. Dan tentu saja ketampanannya. Bagaimana tidak? Mama dari seorang Lais ini adalah pemilik firma hukum terbesar dan terpercaya disana. Saat kau berani menginjakkan kaki di gedung Lais maka setengah dari kekayaan mu bisa saja akan beralih menjadi sofa di gedung megah itu. "I know i'm famous, tapi kalo disekolah gini juga lama lama risih" Tidak hanya di arena balap, nama seorang Kaishawn memang sudah terlalu sering mondar mandir di telinga masyarakat disana. Pembalap profesional
termuda yang mewakili negaranya ini begitu terkenal akan ketampanan dan kekayaannya yang mampu menggaet wanita manapun. "Baba, Rain mau dirumah ajalah disini banyak paparazi nyebelin" Jangan terkecoh dengan wajah manis dan suara lembut laki laki bernama Rain ini, karena hanya bermodalkan 5 jarinya saja ia mampu memindahkan seluruh deposito bank milik mu menjadi atas namanya. Di kancah internasional, nama Rainner Dwight juga tak kalah bersinar di bidang programmer. haha itu hanya kedok. Dia adalah hacker handal yang bahkan mampu mendapatkan seluruh data dirimu hanya bermodalkan ponsel sambil minum es teh dengan santai.
Dunia luar, memang bukan dunia yang familiar bagi perempuan cantik ini. Sama seperti Rain, ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di sekolah umum. Dan begitu ia menampakkan diri di hadapan dunia, lihatlah dunia langsung terguncang hanya karena langkah kakinya, bahkan disaat semua orang belum tahu siapa namanya. "Dad, this is the real nightmare" —---- "Selamat pagi anak-anak. Sebagai kepala sekolah Neo, saya merasa sangat terhormat menyambut anda semua sebagai generasi ke-25 Neo High School." Buka kepala sekolah Neo, dalam pidato sambutannya di gedung auditorium megah dengan crystal chandelier yang menjadi tokoh utama desain senilai milyaran rupiah itu.
"Dalam kesempatan ini, izinkan saya dengan bangga dan penuh rasa hormat membacakan serta mempersilahkan untuk naik ke podium nama siswa siswi yang memiliki gelar kehormatan sebagai 'The Major' generasi ke-25 Neo High School" Sudah tradisi, dimana sejak mereka belum menginjakkan kaki mereka di Neo High school mereka sudah dituntut untuk bersaing dan berjuang demi mengemban gelar kehormatan 'The Major. Gelar kehormatan ini tidak hanya serta merta dinilai dari sisi akademik, dimana akan diadakan tes secara tertulis maupun lisan sebelum memasuki Neo, namun juga dinilai dari prestasi, kompetisi, influence, serta bakat non akademik yang menjadi faktor penentu yang krusial. Dengan segala keunggulan yang dimiliki oleh penyandang gelar The Major atau biasa disebut Major(s), mereka akan memiliki banyak sekali keuntungan. Mereka akan selalu diutamakan dalam segala situasi, mereka akan selalu mendapatkan fasilitas lebih daripada siswa yang lainnya, mereka akan menjadi the face of Neo dan masih banyak lagi. Tidak heran, semua siswa siswi berusaha mati matian untuk menggeser posisi mereka. Dimana itu mungkin dilakukan apabila siswa yang lain mampu mengungguli ataupun ketika Major melakukan kesalahan fatal. "Semoga gue" "Gue bisa dihajar papa kalo ga masuk the majors" "Sialan saingan kita di generasi ini susah susah"
"Baik, siswa pertama yang akan menyandang gelar The Major" "Yang kami hormati, Ares Lais" "Ngga heran" komentar netizen diiringi dengan tepuk tangan bersamaan dengan Langkah Ares menuju keatas podium "Selanjutnya, yang kami hormati, Cleon Kaishawn" "Hahhh, gue udah sibuk malah ditambah beginian" keluh Leon dalam hati sambil melangkah gontai mengikuti Ares. "Wahhh Kaishawn tuh kalo diliat langsung makin ganteng ya?" "Gak cuma itu, udah ganteng, pinter, kaya lagi" "Baik, untuk selanjutnya yang kami hormati, Ainsley Darrene" "Ooh, Darrene? Model itu?" "Yang kami hormati, Rainner Dwight" "He's deserve that" "He's so cute, but hot at the same time" "Semoga aja ini ngga membuang buang waktuku" "Nah untuk yang terakhir, yang melengkapi jajaran The Majors generasi ke-25. Yang kami hormati Eloise Dayton" "Dayton?" "Itu seperti nama paman"
"Dayton? Siapa?" "Asing sekali namanya" "Apa yang sudah dia lakukan sampai dia bisa masuk The Major?" "Apa dia membayar untuk ini?" Mendengar namanya disebutkan dihadapan seluruh teman seangkatannya dan para guru, Loi, nama panggilan untuk perempuan cantik itu hanya bisa menghela nafasnya panjang. "Dad, istg i will kill you if this shit botherin me" Seiring langkah Loi menuju ke atas podium, tatapan dan bisikan heran sama sekali tidak ia hiraukan. Loi hanya berjalan dengan tatapan datarnya tanpa ada senyum ataupun raut bangga terpancar di wajahnya. "Kenapa dia keliatan familiar ya? Tapi siapa? Aku tidak kenal Eloise, wajah cantiknya, aku seperti pernah melihatnya. Tapi siapa?" "She's gorgeous" "Alright, these are our outstanding 25th The Majors of Neo High School" Pidato dan penyematan gelar kehormatan itu dilanjutkan dengan pemasangan pin khusus terbuat dari bahan emas dengan aksen berlian kecil yang bercahaya serta ditutup dengan kelima Majors yang menunduk memberi hormat.
[2 : Interesting] "Perhatian, bagi 25th Majors silahkan menuju ke ruang kehormatan" Baru saja mereka akan menikmati hari mereka dengan sedikit bersantai didalam kelas mereka. Tapi, pagi mereka yang cerah malah justru di ganggu dengan panggilan yang entahlah untuk apa. "Rain, bangun kamu dipanggil ke ruang kehormatan" kata seseorang yang duduk di belakang bangku milik Rain membangunkan lelaki itu dari tidurnya karena semalaman suntuk ia membantu babanya. "Hahhh, mengganggu tidurku aja" Rain memilih segera bangun dan mengikuti langkah Leon, dan Darrene untuk menuju ke ruang kehormatan. Begitu sampai disana, ternyata Ares dan Loi yang berasal dari kelas prioritas IPS telah sampai lebih dulu, dibandingkan Majors dari kelas prioritas IPA. "Silahkan duduk Majors" sambut staff sekolah yang merupakan pembimbing para Majors. "Jadi, anda semua dikumpulkan disini tentu saja untuk memberikan waktu kepada anda semua untuk lebih saling mengenal, mengingat untuk kedepannya kalian akan melakukan beberapa project sebagai tim" "Sorry sir. Kenapa tidak dilakukan di waktu lain? Kenapa harus keluar dan meninggalkan pelajaran?" Tanya Darrene
"Maaf Darrene, waktu Kaishawn sangat sedikit. Dia harus segera pergi setelah kelas selesai" "Yup" konfirmasi Leon singkat. "Baiklah" "Saya sudah membuat group chat, beranggotakan anda semua, group tersebut dapat digunakan untuk membahas apapun atau mengobrol ringan" "Baik, kalau begitu, saya izin pamit. Saya persilahkan kepada anda semua untuk saling mengenal lebih dekat" "Baik Sir" jawab mereka. "Soo, Ares selamat atas kemenangan olimpiade mu kemarin" kata Darrene memecah keheningan sesaat dengan sengaja mencari perhatian Ares "Kamu hebat banget, baru seminggu disini udah nyumbang piala" lanjutnya "Hmm" jawab Ares tidak niat. "Ekhm, kita disuruh buat kenalan. Bukan pdkt" sindir Leon. "Benar. Aku Ares Lais" "We knew that already" kata Leon malas "Yah, menurutku ini sangat tidak berguna. Bahkan tanpa berkenalan pun kita sudah saling mengenal siapa kita" balas Rain. "Kecuali satu"
"Dayton, bagaimana dengan mu? Mau memperkenalkan diri?" Kata Darrene begitu remeh sambil menatap Loi yang dari tadi hanya diam bersedekap. "Eloise Dayton" Jawab Loi datar "Yayaya, aku tau namamu tapi siapa kamu? Dari mana? Dan bagaimana kau bisa menjadi Major?" "Apa yang kau lakukan kepada kepala sekolah?" Lagi-lagi Darrene dengan remehnya mencerca Loi dengan mulut kotornya "Seharusnya kau bertanya itu pada dirimu sendiri" Sungguh, ingin rasanya Loi menyumpal mulut wanita cerewet itu dengan taplak meja yang terbuat dari kain sutra dihadapannya agar dia bisa diam sejenak. "Sebenarnya aku pun penasaran, sebenarnya siapa kau?" Pertama Kalinya seorang Ares dibuat penasaran, karena mana mungkin seorang Ares akan melewatkan isu isu yang beredar? Hingga ia tidak mengenal wanita cantik yang duduk di sampingnya ini? "Eloise Dayton, putri tunggal Burke Dayton pemilik perusahaan tambang di berbagai negara, lahir 29 Maret 2000 dan dia peraih gelar juara dan menjadi youngest entrepreneur di ajang NBPC, memiliki 3 brand bisnis perhiasan di berbagai kota, tapi tidak ada satupun yang dapat menemukan sosial medianya" "Burke Dayton? Itu benar paman."
"Jadi kamu putri pamanku? Pantas saja paman selalu menyembunyikanmu dariku. Kau cantik sekali, paman pasti tau kalau aku akan merebutmu dari paman jika aku tau hahaha. Dan itu akan terjadi sekarang " Suara lembut Rain memecah keheningan sambil berjalan menghampiri kursi Loi yang berada diseberangnya hingga mengagetkan keempat orang yang duduk terdiam menunggu jawaban dari Loi. "Kecuali aku tentu saja, am i right? Nona Loi" Lanjut Rain yang kini menundukkan wajahnya untuk menatap dalam mata Loi. "Aku kenal wajah ini. Anak di kertas baba. Tapi kenapa namanya berbeda? Apa mereka mirip saja?. Tatapan matanya juga sedikit berbeda. Yang ini tajam sekali. Masa iya kamu bukan anak cantik itu?" "Darimana kamu tau semua itu Rain?" Tanya Leon penasaran. "Sangat mudah menemukan informasi semacam ini" "Aku bahkan bisa melakukan ini dengan mata tertutup" kata Rain sombong. "Baiklah, aku tidak akan meragukan kemampuan Dwight" Kata Leon sambil mengangkat tangannya pasrah. "Hahaha, Jadi Loi. Apa yang kukatakan benar bukan?" Tanya Rain yang sekarang fokusnya kembali kepada Loi dihadapannya. "Ya" jawabnya singkat. "Hahah kenapa sok dingin sekali, padahal kau selalu mengeluh kepada bubu mu dengan imut di akun privat mu"
"Dengar itu Darrene. Dan Jangan asal bicara, atau titel The Major mu bisa saja dicabut karena mulut mu itu" tegas Rain "Tch" —---- Jam istirahat tiba, akhirnya para Majors dapat keluar dari ruang kehormatan mereka. Baru saja mereka ingin bernafas lega, tapi itu tidak bisa mereka dapatkan begitu saja. Setiap langkah mereka menuju kantin yang tidak bisa disebut kantin itu, yahh, lebih tepat disebut restoran sebenarnya karena kalian tidak bisa mengangkat satu kaki kalian ke atas kursi jika makan disini. Table manner sangat ketat diberlakukan disini. Langkah mereka diiringi decak kagum dan bisik bisik membicarakan aura mereka yang begitu luar biasa. Dimata mereka, lima Majors ini tampak seperti avenger yang sedang bersiap menjalankan misi. Walaupun, tak sedikit pula yang menatap mereka dengan tatapan iri. "Emang jadi Major selalu begini?" Tanya Rain "Biasakan dirimu Dwight" Jawab Ares "Hey baru saja 10 menit lalu kita sepakat untuk tidak memanggil dengan nama marga" protes Rain "Oh, sorry"
Mereka sampai di meja mereka. Dan langsung disambut dengan pelayanan bintang 5 di ruang makan yang jauh dari kata sederhana. Disana hanya ada 3 meja, untuk majors tahun 1, tahun 2, serta majors senior. "Hei Majors" sapa salah satu Major senior dan dibalas hormat dengan kompak oleh kelimanya. "Bagaimana perkenalannya? Lancar kan?" "Its good kak" "Oiya, kalau kalian butuh bantuan sesuatu, atau bertanya sesuatu bisa ke kita okay? Apalagi sebentar lagi kalian akan ada malam keakraban kan?. Dan kalian sebagai Majors harus menjadi pengambil keputusan" "Terimakasih banyak kak, its mean alot for us" Jawab Ares. "No prob, oke silahkan dilanjut. Maaf mengganggu kalian" "Thankyou kak" "Iya juga ya. Kita yang bakal milih makrab bakal dimana" celetuk Rain "Jangan mengobrol didepan makanan Rain, kita bahas nanti" Tegur Ares tegas. "Huh, iyaa iyaa" "He's cute" —---
(I've changed Loi's pov biar textnya makin jelas)
"Semoga aja aku bisa dapet kesempatan ngobrol sama kamu Loi" Malam keakraban di Neo High School jangan disamakan dengan malam keakraban di sekolah negeri biasa yang lebih cocok disebut dengan simulasi rimba itu. Seperti biasa, Neo memang selalu diselimuti kemewahan. Tak tanggung tanggung, malam keakraban angkatan 25 Neo diadakan selama 5 hari di Lombok, dan itu diadakan di hotel termewah di pulau 4.700 km ² itu. The Oberoi Beach Resort, Lombok. Seluruh siswa angkatan 25 menyambut keputusan Majors dengan sangat bahagia. Selera mereka boleh juga, kata mereka. "Siswa yang sudah mendapatkan kunci serta partnernya silahkan untuk segera menuju ke room kalian dan beristirahat sebelum memasuki kegiatan selanjutnya"
"Untuk Majors, silahkan menuju ke Luxury Ocean Views Villa. Kalian akan tinggal disana, silahkan bagi kamar kalian sendiri" Jelas sir Devan kepada 5 pemuda yang selalu dikumpulkan bersama. "Kita satu villa sir?" Tanya Rain "Iya, Rain. Disana akan ada 2 kamar tidur nanti" "Uh, mm yasudah baiklah" "Ada apa Rain?" Tanya Loi yang memperlambat langkah kakinya hingga menyamai Rain yang sejak mendengar penjelasan Sir Devan ia sedikit merubah mimik wajahnya terlihat kecewa. "Aku akan tidur satu kamar dengan mereka berdua?" Kesal Rain sambil menunjuk punggung Ares dan Leon. "Cuma beberapa hari" "Aku tidak bisa tidur jika ada orang lain Loi, kecuali babaku" katanya begitu lucu "Tidak akan satu ranjang Rain" "Tetap saja. Bagaimana jika mereka berisik? Mendengkur? Ughhh i can't" "Kau bisa menutup mulut mereka dengan bantal nanti" "Astaga, itu pembunuhan Loi hahaha" "Setidaknya itu membuat mereka diam kan?" "Seram juga kamu ini" "Hahaha" "Loi.. becanda gak sih? Kok mukanya serius?" "Oiya Loi, kenapa kau tidak buka saja akun twittermu?"
"Kau ini, tidak sopan mengakses privasiku seperti itu. Yahh walaupun aku tau kamu bahkan bisa melakukan lebih dari itu. Tapi itu tidak sopan Rain" "Maaf Loi, kemarin itu aku sungguh sangat penasaran tentangmu. Kamu terlihat begitu familiar bagiku, seperti aku pernah melihatmu, tapi aku tidak yakin. Karena itu aku mencari tentangmu, dan aku menemukannya" "Sudah puas sekarang?" "Belum" "Kenapa?" "Karena kau masih berbeda, kau begitu manis dan lucu saat membicarakan bubu mu di twitter. Tapi kamu sangat dingin ketika bertemu" "Aku akan puas saat kamu bisa bersikap seperti itu padaku Loi" "Dia melihat sejauh apa?" "Jangan harap" "Uhh, tunggu saja sampai kau memanggilku dengan petname setiap hari" "Dalam mimpimu" "Hahahah" "Petname katanya hhh" —-- "Cukup bagus"
Villa private dengan view lautan lepas yang indah dan kolam renang pribadi menjadi fasilitas mereka untuk beberapa hari, dimana itu tidak didapatkan oleh siswa lainnya. "Loi, Ainsley, ini kamar kalian. Sedangkan kalian boys, kamar kalian ada di sebelah utara. Kalian bisa istirahat" "Thankyou Sir Devan" ucap mereka kompak "Sampai ketemu dinner nanti Majors" "Baik Sir" "Berenang enak nih" celetuk Rain "Yok" Jawab Leon setuju dan keduanya tanpa basa basi langsung melepas kaos mereka dan menceburkan diri kedalam kolam renang pribadi mereka. "Awas saja jika kalian masuk ke kamar dalam kondisi basah" Ancam Ares "Bodoamaatt" teriak Rain. —----
Sudah waktunya untuk dinner tiba, Seperti layaknya prosesi dinner orang kaya, kini siswa siswi Neo telah berpakaian rapi dan menawan karena ini tak hanya dinner biasa namun untuk pertama kalinya The Majors akan duduk bersama mereka dan yah menampakkan diri. Karena itulah banyak yang berusaha menarik perhatian The Majors dengan berdandan dan memakai pakaian yang tentu saja tidak sembarangan. Namun tak sedikit juga yang menjadikan ini sebagai kesempatan, untuk mencari letak kelemahan dari The Majors. Setiap menit adalah kompetisi di Neo. "Siapa yang masih didalam?" Tanya Leon sebagai pemegang kunci villa mereka "Dimana Loi?" Tanya Rain "Idk" jawab Darrene "Dia tidak bersiap di kamar?" "Saat aku keluar dia sudah tidak ada di dalam kamar. Aku tidak tau kemana dia, mungkin dia sudah di dinning room" *tuutt tuuttt "Dia tidak menjawab" kata Ares yang mencoba untuk menghubungi Loi namun tidak ada jawaban "Yaudah mungkin dia udah kesana, atau tidak usah dikunci saja? Siapa tau Loi masih didalam" usul Leon
"Kau gila? Banyak sekali barang penting didalam. Dan aku tidak mau ada satupun barangku yang hilang" Protes Darrene "Makesense, yasudah lebih baik kunci saja Leon" "Baiklah" —----- "Bocah sialan"
[3 : Falling] Loi benar benar kesal saat ini, kenapa hidupnya tidak pernah dibiarkan untuk santai dan biasa saja? Pasti ada sesuatu yang membuat dia harus mengumpat setiap harinya. "Dimana Loi, Majors?" Tanya sir Devan kepada Majors yang datang bersamaan tanpa Loi "Loi belum sampai Sir?" Tanya Rain "Belum, saya kira kalian akan berangkat bersama"
"Di villa sudah tidak ada siapapun Sir" "Lalu dimana Loi?, dia masih belum menjawab pesanku" Tanya Ares mulai khawatir "Kita tunggu saja, mungkin dia sedang berjalan jalan atau pergi ke toilet" saran Sir Devan. "Tapi Sir.." "Sudah Leon, dia sudah besar. Lagipula tidak baik kan membuat yang lain menunggu?" Potong Darrene membuat Leon tidak bisa menyelesaikan kalimatnya "Benar, kalian disini saja dan mulai acaranya. Biar saya yang cari Loi" "Baiklah Sir" Majors pun memilih untuk menurut dan duduk di meja mereka. Tak lama, saat prosesi dinner dimulai terdengar suara pintu dining room mewah yang terbuka, disusul dengan langkah kaki yang angkuh dan tatapan dingin yang mampu membekukan siapapun disana. "Shit, Loi" "Woww, aku merinding" "Aku harap dia bukan anak pamanku" "Sorry, I'm late. There's a problem before" kata Loi dengan sopan lalu menunduk meminta maaf walaupun masih dengan tatapannya yang dingin.
Hal itu membuahkan senyum di bibir beberapa staff pengajar yang ikut andil mengawasi acara makrab mereka. "Loi, kamu dari mana saja?" Tanya Rain khawatir. "Loi, apa yang terjadi? Dimana gaunmu?" Tanya Sir Devan yang mengikuti dan mendampingi langkah Loi sebelumnya. "Someone ruined my gown sir" kata Loi sedikit melirik ke arah Darrene yang terlihat kesal.
Tentu saja Loi langsung tau siapa tersangkanya, Loi sudah terbiasa dengan membaca taktik, gerak gerik dan ekspresi wajah. Hanya dengan kesalahan kecil saja, Loi sudah mampu memecahkan teka teki rumit, salah satunya adalah perusak gaun mewahnya. "Oh God, jadi itu masalahnya. baiklah Loi, jika ada sesuatu yang mengganggumu kamu bisa katakan pada saya oke?" "Thank You sir" "Baiklah, kalau gitu kita segera mulai acara makan malamnya" "Loi terlihat begitu menawan walaupun tanpa gaun yang membentuk lekuk tubuhnya, sangat cantik" "Jas yang dipakai Loi? Milik siapa? Dia terlihat sangat cantik" "Lalu, tadi Loi kemana ya?" "Boys?" Lamunan ketiga laki laki itu buyar seketika saat Loi menegur mereka yang masih diam terpesona. Hingga mereka tidak menyadari sepiring appetizer sudah siap di hadapan mereka. "Uh.. you okay Loi?" Tanya Ares "Ares, jangan mengobrol di depan makanan" sahut Rain balas dendam dengan menirukan gaya bicara Ares.
Dan itu membuahkan senyum di bibir Loi, menurutnya Rain ini sangat lucu. —---- "Silahkan bertempat pada posisi masing masing" Para siswa Neo High School saat ini telah berpindah ke ballroom dengan suasana yang hangat namun tetap mewah di Oberoi resort tempat mereka berdiri saat ini. Acara inilah yang paling mereka tunggu, terutama dari siswa non Majors. Karena mereka mungkin akan punya kesempatan untuk berdansa dengan para Majors. "Silahkan, dimulai" Alunan musik classic yang indah dengan hint tradisional yang unik mengiringi langkah tarian dansa berpasangan yang dilakukan secara relay, dimana setiap dua menit mereka akan berpindah dan berganti pasangan. Kesempatan mereka untuk saling mengobrol bukan? Loi saat ini dipasangkan dengan seorang non Major yang sudah mulai melangkahkan kakinya mengikuti gerak Loi. "Jadi Dayton, kenapa aku tidak bisa menemukan social media mu?" "Privasi" "Ah, sayang sekali. Seharusnya wanita secantik dirimu ditunjukkan kepada dunia" "Tidak penting"
"Tapi kenapa aku tidak mengenal siapa Dayton Ayahmu?" "Tch, berisik" "Seharusnya dia orang penting kan, sampai kau saja bisa berdiri di jajaran para Majors?" "Untung aja aku ngga bawa katana daddy. Kalo bawa, udah ilang kepalamu sekarang" Loi melepaskan rengkuhan laki laki berisik itu dengan sengaja, niat hati Loi ingin meninggalkan ballroom begitu saja. Namun ketika Loi memundurkan sedikit langkahnya, tubuhnya menabrak tubuh tegap dan kekar yang juga sudah meninggalkan partner dansanya. "May i, Eloise Dayton?" Katanya sambil menunduk dan menengadahkan tangannya sopan. "My pleasure Mr.Lais" balas Loi dengan senyuman manisnya yang membuat darah Ares berdesir cepat. "Uh, mm. Loi, dimana kau saat kami pergi dari villa tadi? Ainsley bilang kau tidak ada dikamar" "Aku masih ada di kamar mandi" "Astaga, lalu bagaimana caramu keluar? Maaf kami mengunci pintu Villa, kami tidak tahu kau masih didalam" "Melompat jendela?" "Bagaimana dengan pagarnya?" "Melompat juga" "Wow, apa karena itu juga kamu memilih pakai suit?"
"Yup, bagaimana aku akan lompat pagar jika aku pakai rok mini?" "Hahaha" "Papa, wanita didepanku ini. Dia sangat menarik. Bagaimana jika sekarang aku jatuh cinta saat aku belum menemukan perempuan yang papa maksud waktu itu?" Lagi lagi lamunan Ares dibuyarkan oleh gerakan Loi yang tiba tiba mendekatkan wajahnya ke arah Ares, dan berbisik "See you nanti, Mr. Lais" Duh, tolong pegangi Ares, atau nyawanya akan bercecer kemana mana nanti. Sedangkan Loi malah dengan nakalnya dia tertawa seolah mengejek Ares yang terkejut. Dan berpindah berdansa dengan siswa yang lainnya. "Hhhh.. tenang dulu jantung" Pesta dansa itupun diselesaikan ketika mereka telah berganti pasangan lebih dari 10 kali. —---- "Loi" "Oh hai Leon" Dengan perlahan Leon berjalan dan ikut duduk disamping Loi yang sedang merendam kakinya di kolam renang yang memantulkan sinar cahaya bulan, dan angin yang berhembus semakin kencang karena waktu yang hampir menuju tengah malam.
"Kenapa duduk disini sendirian, anginnya semakin dingin" kata Leon membuka obrolan "Hanya ingin" "Loi, boleh aku tanya sesuatu ngga?" "Tentu" "Burke Dayton,.." "Ah, jangan bubu lagi" "Dia benar benar ayahmu?" "Huh? Apa maksudnya?" "Bukankah Rain sudah mengatakan semuanya? Dan aku bilang itu benar kan?" "Sayang sekali" "Apa maksudmu?" Loi sudah mengepalkan tangannya sekarang, apa maksud laki laki Leo ini mengatakan itu? "Sayang sekali jika benar bahwa kamu putri pamanku" "Huh? Paman?" "Apa paman Burke tidak pernah membicarakan aku atau ayahku?" "Bubu, oh maksudku ayahku dia memang sering bilang bahwa dia punya seorang kakak. Tapi bubu tidak bilang kalau itu Barnes Kaishawn" "Oh, kau tau ayahku?" "Ya, siapa yang tidak tau dia Leon. Dia master di bidang otomotif" "Dia pamanmu Loi" "Hhh, itu berarti kita sepupu?"
"Itu yang aku sayangkan Loi" "Kenapa?" "Bagaimana aku akan mendekatimu sekarang?" "Hahaha, mendekatlah" "Maksudku bukan mendekat begini" "Haha, terserah kau saja. Aku mau tidur" kata Loi sambil berdiri bersiap meninggalkan Leon dengan perasaannya yang campur aduk "Loi" "Huh?" "Kenapa baru sekarang kita bertemu?. Aku sudah lama menunggu mu" "Bicara apa kau ini, lebih baik tidur sana" "Hhh, g night Loi" "You too" "Ayah dan paman ini kejam sekali, kenapa aku harus bersaudara dengannya? Kenapa tidak yang lain?" "Karena kalau untuk jatuh cinta aku tidak bisa kepada yang lainnya" —--- Pagi ketiga mereka di Lombok, cukup cerah. Sangat cocok dengan jadwal mereka hari ini untuk bermain main di pantai. Semua siswa sudah berhamburan di atas pasir putih itu dan bersenang senang dengan kegiatan mereka masing masing.
"Ngga main air?" Tanya Loi yang kini menyusul Ares duduk dibawah payung besar melindungi mereka dari sinar matahari. "Ngga, males basah" "Ooh oke, titip handphone ku juga punya Leon dan Rain kalau gitu. takut basah" "Oke taruh saja, aku jagain" "Thanks" Belum lama setelah Loi meninggalkan handphone nya, terdengar dering yang cukup nyaring dari handphone berwarna hitam itu. "Huh?" Niat hati ingin meneriaki Loi yang sedang asik bermain voli dengan Rain juga Leon, tapi dering yang tadinya sudah berhenti, lagi lagi mengudara dengan nama yang berbeda. "Bubu?" Sejenak dada Ares terasa seperti tertusuk jarum. Siapa yang Loi sematkan hati dibelakang nama manisnya itu? "Loi, ada telfon" teriak Ares akhirnya. Teriakan Ares berhasil membuat Loi meninggalkan kegiatannya dengan dua Majors kelebihan energi itu, dan duduk disebelah Ares menerima ponselnya.
"Kompak sekali, ada apa?" "What's wrong dad?" Kata Loi dengan santai bercakap dengan daddynya tepat disamping Ares, dimana itu terdengar sangat jelas di telinganya. "Kapan kau akan pulang dari lombok?" "2 hari lagi dad" "Okay, kalau gitu bersenang senanglah dulu. Setelah itu bantu daddy mengurus sesuatu" "Sudah kuduga"
"Hahaha, thankyou baby" "Ya,, ya.. bye dad. Love you" Saatnya menelfon yang satu lagi "Hai bubu, ada apa?" "Ah, tidak apa apa princess bubu hanya rindu. sedang apa sekarang?" "Loi, sedang bermain di pantai bubu" "Sudah makan?" "Yup, dan makanan disini enak sekali" "Tentu, Bubu juga sangat suka" "Really? Wow haha" "Yasudah, lanjut sana. Bubu akan ke apartemenmu jika kamu sudah pulang nanti" "Harus" "Haha okay sayang, love you" "Love you bu" Mendengar nada bicara dan mimik wajah Loi, lagi lagi jantung Ares terasa seperti tertusuk tombak. Bukan jarum lagi sekarang. "Yang pertama memang daddy nya. Tapi bubu? Siapa? Apa itu kekasihnya?" "Aku balik kesana dulu" kata Loi sedikit mengagetkan Ares dan meninggalkan Ares dengan perang batinnya.
—--- Semenjak kembali dari pantai, Ares benar benar terlihat seperti kehilangan semangat hidup. Saat diajak bicarapun, Ares hanya menjawab sekenanya saja. "Ares, nanti mau nonton filem bareng ngga?" Tanya Darrene "Ngga. Mau tidur" "Kalau gitu gabung kita bertiga jalan jalan saja Res" kata Loi "Ngga" Itu sungguh membuat Rain dan Leon ikut bingung. Ares menolak Loi? Sebuah keajaiban dunia. Selama satu bulan penuh mereka bekerja sama, Ares tidak pernah satu kalipun menjawab pertanyaan ataupun ajakan Loi dengan lemas seperti ini. —--
Saat masuk ke kamar mereka setelah selesai jalan jalan sebentar, Rain dan Leon justru menemukan Ares yang duduk di kasurnya bersandar ke headboard dan melamun. "Katanya mau tidur?" Tanya Leon "Iya dah, kamu kenapasih seharian ini keliatan aneh, mana ngetwit galau lagi" Tanya Rain heran. "Rain, pas kamu nyari info soal Loi, apa kamu nemuin sesuatu soal kekasih Loi? Atau maybe someone special?" Tanya Ares tiba-tiba "Huh? Kenapa nanya gitu?" "Siang tadi, Loi menelfon seseorang disampingku, dan dia berbicara dengan nada yang lembut dan sangat manis bahkan dia memanggilnya dengan sebutan bubu" "Lalu, saat pesta dansa aku bisa mencium parfum maskulin dari jas yang dia pakai. Apa itu milik bubu itu?" "Pppfffttt Hahahahaha" pecah sudah tawa Rain dan Leon saat ini. Bahkan saking tidak kuatnya, Leon sampai berguling guling diatas kasurnya sambil memegang perutnya yang kram karena tertawa. "Kenapa kalian malah tertawa?" "Hahahhaa kukira tuan Ares Lais ini orang yang paling pintar, ternyata dia lamban juga" ejek Rain "Ada apa?"
"Bubu ituu, panggilan Loi kepada Ayahnya. Bahkan Loi sering membicarakan dia di akun privasinya" Jawab Rain "Ayahnya? Kenapa ada daddy juga kalau begitu?" "Hahahah, jadi kamu dari tadi badmood ngga jelas karena cemburu?" Sahut Leon yang sudah puas tertawa "Iya, mungkin?" "Kamu suka sama Loi? Saingan kita" tantang Rain "Lawan aku dulu. Aku duluan yang suka Loi" -Leon "Aku dulu, sejak di auditorium aku sudah menyukai Loi" Ares tak mau kalah "Kalian mundur saja, Aku sudah suka Loi bahkan sebelum aku tau nama dan wajahnya" ucap Leon dengan muka sombongnya. "Gila, maksudmu apa?" "Burke Dayton. Itu pamanku" "Hahhh???"
[4 : Loi's Fighter] "Ayahhh" Teriak anak berusia 9 tahun itu sambil berlari menghampiri sang Ayah. "Ayah darimana? Kenapa baru pulang?" "Hei jagoan, Ayah kan kerja" "Tapi kenapa laama?" "Haha, ayah mampir sebentar kerumah paman"
"Paman Burke?" "Yup" "Kenapa tidak ajak Leon? Leon mau ketemu paman Burke, Leon kan belum pernah ketemu sejak dulu hanya lihat fotonya saja" "Paman Burke juga sibuk sayang, bahkan Ayah cuma bertemu dan mengobrol sebentar" "Sangat tidak adil" "Oiya Leon, ayah dengar tadi pamanmu punya seorang anak seusiamu, dan katanya dia sangat cantik" "Kenapa Ayah baru bilang sekarang?" "Paman kan sudah tinggal jauh sama ayah lama sekali, ya mungkin mereka belum siap mengabari ayah" Sejak kecil Barnes Kaishawn ayahnya Leon, telah hidup terpisah dengan Burke Dayton adiknya. Itu dikarenakan Barnes yang saat itu berusia 2 tahun lebih memilih untuk ikut papanya saat kedua orang tuanya bercerai. Setelah perceraian itu, Ibu dari Barnes menikah kembali dan lahirlah Burke Dayton 1 tahun setelahnya. "Siapa namanya Ayah?" "Ah, tadi Ayah tidak bertanya karena ayah hanya tidak sengaja mendengarnya" "Leon mau ketemu sama mainn boleh Ayah?" "Ijin paman dulu ya? Tapi mereka tinggal di kota yang jauh sayang" "Mmm kalau gitu Leon mau belajar menyetir boleh Ayahh?" "Kenapa? Kamu masih kecil. Lihatlah kakimu saja masih pendek sekali" "Leon pengen cepet bisa naik motorrr. Mau ketemu sama anaknya paman. Nanti Leon pergi kemanapun dia pergi, wlaaupun jauh Leon pastii dateng. Boleh ya Ayah?"
"Makanya makan yang banyak, minum susumu, dan cepatlah besar" "Siappp Ayahh" "Aku akan segera besar dan bertemu denganmu" —-- end of flashback —--- "So, Loi is your cousin?" Tanya Ares "Sayangnya" "Jadi kamu ngga bisa dong macarin Loi" kata Rain eksaitit karena saingannya berkurang satu "Enak aja, ngga ya. Mau Loi sepupu juga berani aku nerjang" balas Leon menggebu "Ngga bolehh, dimarain paman kamu nanti, mending nyerah aja bro" "Ngga lah, aku kan Jantan" "Aku aduin ayahmu" "Dih, apaan kaya kenal aja kamu?" "Gampaang, Barnes Kaishawn kan?" "Heh mau apa kamu hah?" Leon sudah memiting kepala Rain sekarang yang jahil memegang hp, dimana Leon tau Rain bisa melakukan dan mendapatkan apa yang dia mau hanya lewat jarinya saja. "Sudah sudah. Kalian ini kenapa malah berantem?" Lerai Ares "Tolongin Res" kata Rain lucu "Lepaskan dia Leon, kasian badannya kan kecil"
"Enak ajaa" protes Rain tidak terima "Tapi yakan Res? Harusnya Leon ga boleh deketin Loi kan?" "Sudah Rain biarkan, kita bersaing secara sehat" "Nah iya tuh, ayo kita bersaing suportif" dukung Leon "Okay. Tapi Loi bukan taruhan, dan kalau salah satu dari kita memang bisa mendapatkan Loi, bukan berarti itu sebuah kemenangan. Karena Loi bukan hadiah dari sebuah permainan" Ucap Ares serius "Setuju" kompak keduanya. —-----