The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 21:18:13

lycan

awkwk

Mereka bertiga benar benar menepati janji mereka untuk bersaing secara suportif. Lihatlah sekarang, mereka berlomba lomba saling unjuk kemampuan mereka hanya untuk menarik perhatian satu wanita saja.


Rain POV


Memang benar sudah dua minggu Loi tidak menampakkan dirinya di sekolah karena ia harus mengurus hal kecil bersama daddynya, seperti yang ia janjikan saat ia masih di Lombok kemarin. Entah apa yang ia lakukan, tapi begitulah Loi dengan semua kemisteriusannya. Namun, itu justru membuat banyak orang yang mempercayai spekulasi mereka sendiri tentang Loi, juga karena sangat minimnya fakta yang beredar membuat banyak orang yang selalu termakan opini yang belum terbukti benar adanya.


Bahkan, saat Loi tidak melakukan apapun pun namanya akan selalu diseret. Hal ini memang sudah biasa terjadi. Loi selalu mendapat pandangan sebelah mata hanya karena nama Dayton yang tersemat dibelakang namanya. Bahkan itu juga datang dari sesama Major. Darren tentu saja, siapa lagi? Ia sudah sering menyebar dan menggiring opini untuk menjatuhkan nama Loi, dan itu cukup berhasil.


Menurut mereka Loi tak pantas menjadi Major. Sangat tidak cocok. Tapi, sampai saat ini juga tidak ada yang mampu mengungguli Loi dalam hal Akademik juga kompetisi. Tak butuh waktu lama, menfess berisi hujatan kepada Loi ini sudah sampai di telinga ketiga laki laki yang mengikrarkan diri mereka sebagai Loi's fighter, dan itu bukan sekedar candaan. Karena mereka benar benar akan siap bertarung demi Loi.


—-----


Hari libur yang seharusnya menjadi hari yang mengasyikan bagi siswa siswi Neo, seketika berubah menjadi hari yang penuh dengan suasana berkabung. Neo High School digemparkan dengan berita meninggalnya salah satu Major mereka, Ainsley Darren. Banyak spekulasi spekulasi yang mulai menyebar karena kematian Darren yang begitu tiba tiba dan misterius. Tidak ada petunjuk yang polisi temukan yang dapat digunakan sebagai barang bukti. "Mana mungkin seorang Ainsley akan bunuh diri? Sangat mencurigakan" "Menurutku pasti Ainsley dibunuh, dia tidak akan mungkin bunuh diri" "Siapa yang tega melakukannya?" "Ainsley, kurasa dia tidak memiliki musuh" "Atau mungkin iri padanya?"


[5 : D(e)ad] Loi melangkahkan kakinya menuju ruang pribadi seseorang yang ia panggil daddy itu di Penthouse besar tempat mereka singgah 10 hari terakhir di AS. *tok tok "Masuk baby" "Dad??" Tanya Loi singkat setelah mendudukan dirinya di sofa mewah di ruangan yang didominasi warna navy dan warna kayu itu. "Apa? Daddy salah apa?" "Daddy kan yang melakukan itu?" "Bagaimana mungkin? Bukankah daddy selalu bersamamu 10 hari ini?" "Dadd, Loi sangat tau daddy. Jangan banyak beralasan" "Hahaha, kalau Loi sudah tau kenapa bertanya?" "Dad, bukankah itu berlebihan?" "Apanya? Kematian Darren itu yang paling lembut dan mudah dari semuanya kan? Apa daddy masih kurang baik?" "Tapi dad tetap saja" "Sst, sayang. Walaupun daddy tinggal jauh darimu, daddy tau setiap menit yang terjadi padamu. Termasuk bagaimana dia berusaha menjatuhkanmu" kata Laki laki berusia 40 an itu sambil mengusap sayang kepala Loi nya. "Dad, Loi bisa mengatasinya" "Jika ada daddy, kenapa harus Loi? Jangan kotori tangan cantikmu. Biarkan daddy yang melakukannya"


"Jadi, karena ini juga daddy membawaku pergi dan membuatku pusing dengan semua urusan disini?" "Tentu saja" "Hhahhh, yasudahlah terserah daddy saja. Tapi semuanya aman seperti biasa kan?" "Bersih bos" jawab Daddy sambil duduk tegap. "Hahaha, daddy. You're the best. Setelah ini serahkan sisanya padaku" "Siap bos" obrolan santai soal kematian seseorang itu ditutup dengan obrolan santai antara keduanya. —-- Kini siswa siswi Neo sedang berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir kepada Darrene dengan meletakkan tangkai bunga di wall of honour yang berisi nama-nama Majors yang telah berpulang. Loi datang dengan karangan bunga putih cantik di kedua tangannya. Menyusul Majors lainnya yang sedang berdiri di barisan paling depan melakukan penghormatan. "Loi?" Kompak ketiganya. "Selesaikan dulu" jawabnya singkat. —---


"Loi, kamu darimana saja? Kenapa tidak mengabari sama sekali?" Tanya Leon khawatir saat keempatnya kini berada di ruang kehormatan. "Aku di AS, bersama babaku." "Apa ada masalah Loi?" Tanya Ares "Yah, sedikit problem di perusahaan baba. Tapi itu sudah selesai sekarang" "Kau harus tau Loi, disini sangat caos. Dan saat kau tidak ada, banyak sekali yang menuduhmu tidak tidak. Itu membuatku kesal" Adu Rain seperti anak kecil kepada Loi "Pantas saja saat aku datang banyak sekali bisik bisik aneh, walaupun itu sudah biasa sebenarnya" "Mereka menuduhmu Loi" "Aku?" "Iya, mungkin karena perdebatan kecil kalian kemarin, dan kelicikan Darren selama ini yang banyak membuat mereka tergiring opini" Jelas Leon "Mereka tau?" "Kelicikan?" "Iyalah, dari awal juga kita udah tau kalau Darren itu licik dan berusaha menjatuhkanmu. Dan akhirnya semua kecurigaan Ares terbukti. Dia yang merusak gaunmu, dia yang mengirim menfess ujaran kebencian kepadamu, dan dia juga yang menghasut anak anak untuk membencimu" Panjang lebar Jelas Rain kepada Loi, dia sudah tidak tahan untuk mengungkapnya sebenarnya


"Darimana kau tau Ares?" "Itu mudah, aku bisa lihat dari mata, sikap, gerak gerik, dan membaca semua taktiknya" "Okay, caranya memang mirip denganku. Pantas saja dia bisa tau dengan tepat" "Aku tidak membunuhnya" "Kami tau Loi, tidak mungkin kau membunuhnya. Memangnya untuk apa juga kan? Kau bahkan tidak peduli dengan semua ini" "Hmm" "Aku memang tidak peduli. Tapi daddyku hahaha dia yang akan melakukan semuanya untukku" "Pertama kita harus bersihkan namamu dulu Loi" saran Ares "Untuk apa? Biarkan saja" "Tidak. Aku tidak akan membiarkannya"


"Hhh you guys, sweet"


—---- "Perhatian, kepada Majors Eloie Dayton. Dipersilahkan untuk ke ruang Bimbingan Konseling. Terimakasih"


Ketenangan hidup Loi memang seolah dipermainkan saat ia menginjakkan kaki di dunia luar. Baru saja ia tenang saat tuduhan padanya telah mereda, kini ia sudah dihadapkan dengan hal baru lagi yang menyeret namanya. Ares yang mendengar pengumuman itu, spontan menoleh ke arah Loi yang sudah berdiri dari duduknya dengan malas. "Semoga saja mereka percaya kepadamu Loi" —--- "Majors Dayton, apakah anda tau kesalahan anda?" "Yes Sir" "Apa yang membuat anda memukul laki laki dari sekolah lain itu hingga pingsan?" "Dia membuat saya kesal Sir" "Hanya itu?" "Apa menurut anda itu alasan yang kuat untuk memukul? Apa menurut anda itu perilaku yang baik sebagai Major?" "Tidak sir" "Anda tidak ingin mengajukan pembelaan?" "Saya salah Sir" "Baiklah, anda harus diberi hukuman dengan skorsing 3 hari Major Dayton. Dan kami akan mempertimbangkan kembali title The Major anda. Silahkan kembali dan sampaikan surat ini pada orang tua anda" "Baik Sir"


—---


Pagi ini, Loi menuju ke sekolah bersama supirnya seperti biasa. Tapi, Loi memilih untuk turun di depan kafe sebelum gerbang sekolah karena Loi ingin membeli satu cup kopi untuk memulai paginya. Didalam kafe yang tidak terlalu ramai itu, tepat sebelum Loi melangkah pergi, Loi melihat seorang wanita dengan seragam persis miliknya beradu pendapat dengan suara lantang, hingga akhirnya ditampar cukup keras dan membuat ia tersungkur dihadapan laki laki yang bahkan bertubuh lebih besar dari wanita itu "Kurang ajar" "Apa yang kau lakukan bodoh?" Loi berjalan menuju keduanya dan menghempaskan tangan laki laki itu dari rambut wanita malang itu yang ia tarik kuat "Jangan ikut campur" "Tolong Major Tolong" rintih wanita itu kesakitan bercampur tangis "Lepaskan" "APA URUSANMU?" "Lepaskan kataku" "BERISIK" *bugh Tonjokan keras mendarat di rahang laki laki itu, hingga membuat laki laki itu tersungkur dan pingsan seketika.


"Dia, memukul laki laki itu dengan mudah? Dan langsung pingsan? Loi kuat sekali" Ares yang sebenarnya juga ingin masuk ke kafe itu terpaku melihat bagaimana Loi membela wanita itu, dan memukul tepat di titik lemah laki laki itu seolah Loi terlatih untuk itu. "Kamu ngga papa kan?" "Terima Kasih Major Dayton, terimakasih" "Apa yang terjadi sebenarnya?" "Dia kecewa karena aku menolaknya" "Dasar laki laki bodoh. Cepat kita ke sekolah dan obati lukamu" "Maaf Major, karena ku tanganmu juga ikut terluka" "Tenang saja, ini tidak seberapa" "Sekali lagi terimakasih Major" —---- "Semua ini karena aku, tidak seharusnya Major Dayton mendapatkan hukuman" "Bian, lebih baik kamu pergi dan katakan pada staff konseling jika memang ingin menjelaskan apa yang terjadi" "Tapi, apa mereka akan mempercayaiku? Saat mereka saja tetap menghukum Major Dayton?" "Coba saja Bian, ayo aku temani. Kita tidak bisa diam saja melihat Major Dayton yang terus disalahkan" "Baiklah" Bian dan satu teman kelasnya itu, memilih untuk segera menuju ke ruang konseling meluruskan semua kesalahpahaman.


"Jika benar begitu, kenapa sejak tadi Major Dayton tidak membela dirinya?" "Sir bisa lihat kan pipi saya? Ini tamparan dari laki laki itu. Major Dayton benar benar menyelamatkan saya" "Itu benar Sir" "Maaf apabila saya tidak sopan mendengarkan pembicaraan anda. Saya juga ada disana, saya melihat sendiri bagaimana Major Dayton menyelamatkan Bianca" Jelas Ares yang tiba tiba muncul karena sebenarnya ia juga akan memberikan keterangan sebagai saksi. "Kalian jujur?" "Kami sangat jujur Sir. Jika memang Sir Theo ragu dengan kami, Sir bisa tanyakan pada pegawai kafe yang juga melihat semuanya dengan jelas" "Baiklah" —---- "Sebenarnya, sejak tadi aku masih penasaran. Kenapa cara memukulmu persis seperti papaku?" —----


—--- "Ma, Ares mau tanya sesuatu" Kata Ares begitu serius kepada mamanya yang kini sedang duduk di kursi kebesarannya. "Ada apa sayang?"


"Terakhir, sebelum papa meninggal, papa bekerja kepada siapa Ma?" Seulas senyum getir terbit di wajah wanita cantik itu. Kilasan kenangan dirinya bersama sang suami mendadak muncul di dalam memorinya. Tidak banyak memang, karena suaminya itu selalu sibuk bekerja, dan pekerjaannya adalah mempertaruhkan nyawanya demi orang lain. Tapi itu adalah pilihannya, hingga terakhir kali, dua tahun lalu, suaminya itu tidak pernah bisa kembali lagi karena melindungi seseorang yang dia sayangi. "Mama tidak tahu" "Maa, ayolah" "Mama jujur sayang, papa selalu merahasiakan siapa client atau bosnya" "Dan yang terakhir itu, mama rasa adalah bos yang sangat baik, karena dia selalu bahagia saat pulang kerumah. Kau juga tau itu kan?" "Iya ma" "Jadi itu bos papa yang terakhir?" "Mama benar benar tidak tahu?" "Tidak sayang" "Baiklah, terimakasih ma" "Kenapa tumben sekali anak itu bertanya soal client papanya?" "Apa, Ares menemukan anak perempuan itu?" —-----


[6 : Found] "Papa, aku bertemu dengan seorang perempuan. Dia memukul persis seperti caramu melakukannya. Apa, dia anak perempuan yang papa maksud?" —----- "Paa ayo istirahat dulu ares capek" kata anak tampan yang kini sudah berusia 10 tahun. "Hahha iya ayo" Sesi latihan beladiri mereka seperti biasa di sore hari yang teduh dan cerah, mereka cukupkan dan keduanya duduk di kursi taman belakang rumah besar mereka. "Kamu sudah semakin hebat Ares" "Hihi terimakasih papa" "Tapi ingat, semua yang papa ajarkan hanya boleh digunakan untuk membela diri dan melindungi, tidak boleh untuk kejahatan" "Seperti yang papa lakukan kan? Papa selalu melindungi orang lain?" "Hmm" "Pa, sekarang siapa yang papa lindungi?" "Mmm papa sedang melindungi seorang anak perempuan yang cantik, dia seusiamu" "Oiya?"


"Iya, Kalau papa nanti sudah ngga bisa jaga dia, kamu gantiin papa buat jaga dia ya?" "Siapa dia papa?" "Kamu nanti akan tau, dia kuat seperti kamu, memegang pistol seperti caramu memegang pistol, dia juga pintar memukul seperti kamu" "Kenapa dia kasar pa? Dia kan perempuan?" "Dia tidak kasar sayang. Dia hanya harus kuat. Untuk melindungi dirinya" "Dimana aku bisa menemukannya pa?" "Kau akan menemukannya suatu saat nanti. Papa yakin itu" "Baiklah" —------ "Mungkinkah kau yang papaku maksud Loi?"


"Jika memang benar, maka kau tidak akan pernah bisa lari dariku Loi" —---- "Ares kenapasih sampe sepenasaran itu?" Rain yang juga ikut dibuat penasaran langsung melaksanakan tugasnya tanpa basa basi.


Berbagai informasi soal Jeorge Lais, Rain gali satu persatu. "Sial, ternyata papanya Ares ngeri juga track recordnya, mana kebanyakan foto dia sama mafia" "Pantas saja Ares juga hebat" Rain justru dibuat merinding menemukan fakta dibalik keluarga Ares yang terlihat sangat harmonis. Ternyata Jeorge Lais merupakan seorang personal assistant yang begitu terkenal dikalangan dunia gelap. Terbukti dengan beberapa jejaknya bersama sejumlah mafia. "Trus apa hubungannya dengan Loi?" "Aku tidak bisa menemukan apapun yang berhubungan dengan Loi disini" Nihil. Rain tidak menemukan informasi apapun terkait hubungan Jeorge Lais dengan Loi maupun keluarganya. Bahkan Rain sampai mencari berbagai informasi soal keluarga Dayton, namun tidak banyak yang Rain dapatkan. Hidup keluarga Dayton sangat tertata rapih. "Sebenarnya aku juga sedikit curiga pada Loi, kenapa dia mirip anak perempuan cantik di kertas baba waktu itu? Tapi namanya berbeda, dan matanya juga terlihat berbeda, mata anak di kertas baba terlihat manis dan cerah, tidak tajam seperti milik Loi" —---- "Baba, siapa anak cantik ini?"


Sudah biasa memang Rain kecil suka bermain main di ruang kerja sang baba. Dan itu sama sekali bukan masalah bagi baba, karena menurut baba Rain, putra semata wayangnya ini adalah yang utama. "Sayang. Darimana kamu dapat itu? Letakkan. Jangan dibuat mainan" "Dia cantik sekali baba. Namanya juga cantik" "Iya baba tau" "Baba, Rain pengen ketemu sama dia" "Jangan minta yang aneh aneh sayang. Minta yang lain nanti baba kasih" "Nda mau. Maunya si cantik ini" "Sayang, dengerin baba. Anggep kamu ngga pernah lihat ini, dan jangan pernah sebut nama ini lagi" "Kenapa baba? Tapi dia kan cantik" "Sayang, ini untuk melindunginya" "Kenapa baba?" "Kalau semua orang tau wajah dan namanya, dia ngga akan aman" "Haah?" Kaget Rain "Kenapa begitu baba?" "Banyak orang yang ingin menyerangnya. Dan sekarang papa sedang menghentikan orang orang yang mau menyebar informasi soal dia" "Orang jahat? Seperti yang diinternet?" "Iya." "Rain bisa bantu baba. Rain juga mau lindungin si cantik" "Sayang, ini pekerjaan penting oke. Baba bakal kasih kamu pekerjaan lain sesuai kemampuan kamu"


"Rain mau lindungin si cantikk juga babaaa" "Oke. Rain belajar dulu. Belajar yang banyakkk, suatu saat nanti Rain bisa bantu papa buat usir orang orang yang jahat ke si cantik." "Oke baba. Rain belajar yang banyak" "Nah. Itu baru anak baba" —---- "Nih, semua informasi yang bisa ku temukan. Tidak ada hubungan apapun antara Jeorge Lais dengan keluarga Dayton" kata Rain sambil menyerahkan beberapa kertas dan foto yang bisa dia temukan. "Benarkah? Sayang sekali" "Sebenarnya ada apa Res? Apa yang membuatmu berfikir begitu?" "Papaku sempat bilang dia sedang melindungi anak perempuan cantik, dan kemarin aku melihat cara Loi memukul laki laki itu, persis seperti cara papa melakukannya" "Hanya itu?" "Tapi, hanya aku dan papaku yang menyerang orang seperti itu" "Jujur, aku sempat merinding. Ternyata papamu ngeri juga ya?" "Hahaha, itulah pekerjaan papa selama ini. Sampai akhirnya dia mati karena melindungi seseorang" "Aku tidak akan heran tentangmu sekarang"


"Hahah" "Tapi Res, aku justru menemukan sedikit celah di keluarga Dayton" "Apa?" "Ada apa dengan paman?" Sela Cleon yang tiba tiba saja datang ke basecamp mereka saat ini. "Oh kebetulan keponakannya datang" kata Rain. "Kenapa ada foto foto paman disini?" "Leon, apa yang kau ketahui soal pamanmu?" "Tidak banyak, paman adik tiri berbeda bapak dengan ayahku, jadi sejak kecil mereka hidup terpisah. Karena itu mereka memiliki marga yang berbeda" Jelas Leon "Aku sudah tau itu, aku bisa menemukannya. Bagaimana dengan pernikahan pamanmu?" "Entahlah, aku tidak pernah mendapat kabar tentang itu, yang jelas Ayah bilang paman dan istrinya sudah bercerai, dan dia menjaga putrinya, which is Loi, sendirian" "Kenapa kalian mencari tau soal pamanku?" "Aku menemukan sedikit keanehan" kata Rain.


"Pernikahan pamanmu tercatat di bulan oktober 1999, surat perceraian keluar di tahun 2001. Hak asuh jatuh ke tangan pamanmu, Loi lahir Maret 2000" Lanjutnya "Apa yang aneh?" "Tapi foto pertama kali Loi terlihat bersama Dayton adalah tahun 2010" "Dan aku menemukan di sosial media mantan pegawai CL corp, dia memposting sesuatu dan mengatakan bahwa untuk pertama kalinya Dayton membawa seorang anak perempuan ke kantor, itu terjadi juga 2010" "Selama 10 tahun, kemana Loi?" "Apakah mungkin, Loi terus terusan berada di dalam rumah?" "Mungkin saja kan?" "Tetangga pamanmu, juga mengatakan demikian. Sejak kapan ada anak perempuan di keluarga Dayton" "Jauh sekali kau mencari soal pamanku ya?" "Huh, rasa penasaranku yang membuatku jadi seperti ini Leon, masa kau tidak punya informasi sedikitpun?" "Hmm, ayahku pun juga baru mendapat informasi jika paman memiliki seorang putri ketika umurku sudah 9 tahun" "Bahkan ayahmu tidak diberi tahu?" Tanya Ares "Tidak. Ayah bilang mungkin karena paman sudah hidup terpisah dengannya sangat lama, karena itu dia tidak seterbuka itu"


"Sejak itu pula, Loi langsung merambah ke dunia bisnis. Di usianya yang ke 13 dia sudah memegang beberapa bisnis. Dan memenangkan kompetisi" "Tanpa pendidikan formal" tekan Rain "Tapi Loi memang anak yang pintar, dia hebat, mungkin itu bakat dari ayahnya kan?" Kata Ares "Mungkin" "Kita akan cari tau lagi nanti, aku benar benar penasaran soal Loi" "Okay" —----


Mobil Civic type R warna hitam itu telah telah terparkir dengan apik di lobby apartemen tempat dimana Loi tinggal.


"Hai, Loi" Sapa Cleon setelah 5 menit menunggu dan kini Loi sudah duduk dengan apik di kursi penumpang mobil berkapasitas 4 orang itu. "Hai, let's go" Seolah seperti perintah, Cleon segera melajukan kendaraannya untuk menuju apartemen Rain yang harus ditempuh 20 menit dengan kendaraan. "Sudah lama sekali aku menunggu saat ini Loi" "Menunggu apa?" "Menunggu kau bisa duduk disampingku seperti ini" "Ohh" "Selain dirimu, belum ada yang menduduki kursi itu sebelumnya" "Apa mobil ini baru dibeli?" "Yah sekitar setahun lalu" "Ohh" "Kau tau Loi?" "Tidak" "Aku belum bilang?" "Ya lalu apa?" "Kamu adalah alasanku belajar menyetir bahkan hingga menjadi pembalap seperti ini" "Kenapa aku?" "Karena aku ingin menghampirimu dimanapun kamu pergi" "Jadi kau sudah mengenalku dari dulu?" "Hmm, Ayah bilang bahwa paman punya anak perempuan tapi dia tidak bilang siapa namanya"


"Ternyata itu kamu" "Hahaha, ternyata Ayah Kaishawn memegang janjinya" "Kau bahagia sekarang?" "Tentu, aku sangat bahagia. Aku bisa selalu bertemu denganmu" "Ya ya terserah. Tapi katakan padaku, apa yang kau lakukan dengan mobilmu ini? Kenapa ada bekas peluru di body nya?" "Sial. Loi melihatnya?" "Uh, itu.. tidak sengaja ketika sedang latihan" "Ini bukan mobil balapmu" "Shit" "Kadang aku memakai ini untuk latihan" "Oh, okay?" "Berbohong padaku ya? Jangan harap Leon" "Untung saja Loi percaya" —---- "Huhh, kalian lama sekali" sambut Rain kesal saat Cleon dan Loi sampai di apartemennya. "Bahkan aku yang membeli pizza saja sampai lebih dulu" protes Ares.


"Pembalap amatir ini menyetir dengan lamban" jawab Loi santai "Amatiir?" Protes Leon "Melihatmu menyetir tadi, aku percaya bahwa aku bisa saja mengalahkanmu" "Benarkah? Ayo tanding denganku" tantang Leon dengan tatapan nakalnya "Untuk apa tanding, kalau sudah pasti aku yang menang?" "Percaya diri sekali kau cousin" "Bahkan ayahmu saja mengakui Leon" "Bisakah kalian menghentikan perdebatan antar sepupu yang tidak penting ini?" Sindir Rain. "Kita ada pembahasan penting disini" sambung Ares. "Oke oke, baiklah" Keempatnya pun duduk melingkar dengan berbagai berkas yang harus mereka diskusikan. Staff dari sekolah mereka memberikan beberapa opsi calon Major pengganti Ainsley Darren. Dan merekalah yang harus memutuskan siapa pengganti yang pantas. —---- "Rain, boleh aku melihat lihat?" Tanya Loi kepada Rain yang sedang bersantai karena pembahasan mereka telah selesai


"Silahkan" "Ada tempat privasi?" "Tidak ada, silahkan pergi kemanapun kau mau" jawab Rain singkat. "Rain, dia ayahmu?" Tanya Loi menunjuk foto yang tergantung dengan apik di tembok "Yup, dia baba ku" "Ternyata paman tampan sekali haha"


"Loi, aku harus pergi. Kau akan ikut pulang bersamaku?" Tanya Leon setelah seseorang menghubunginya. "Kau pulanglah duluan, aku bisa pulang sendiri nanti" "Ah, okay kalau begitu, Rain aku titip sepupuku. Jangan kau apa apakan atau kau habis di tanganku" "Apa apaan kau ini? Sudah sana cepat pergi" usir Rain "Yasudah aku pergi dulu" Sepeninggal Leon, kini hanya tersisa Rain dan Loi di apartemen Rain, Ares sudah pergi lebih dulu karena Mamanya membutuhkannya saat ini. "Loi, duduk disini" kata Rain sambil menepuk sofa disampingnya "Aku ingin bertanya sesuatu" "Apa?" Kata Loi sambil mendudukkan diri disamping Rain. "Kenapa kau homeschooling sebelum sma?" "Itu karena bubu mengkhawatirkanku, jadi bubu sendiri yang mengajariku dirumah" "Dan semua kemampuan bisnismu?" "Bubu juga yang mengajarkannya" "Wow, tapi kulihat Dayton seorang sarjana teknik. Bagaimana bisa dia hebat dalam berbisnis?" "Lagi lagi kau mencari latar belakangku?" "Maaf" kata Rain sambil menunduk


"Kenapa tidak langsung tanya saja padaku? Pasti akan ku jawab" "Benarkah?" "Iya" "Kalau begitu…." "Kau tau siapa Cyrene Lycan?" "Huhh??" "Siapa itu?" "Oh, Loi tidak tahu? Itu berarti bukan Loi?" "Oh, tidak tahu ya? Aku sempat mengira kalau kau itu dia, karena kalian terlihat mirip, tapi juga berbeda, nama kalian berbeda, aku sudah mencari tahu dimanapun, tapi tidak kutemukan informasi apapun soal Cyrene Lycan, bahkan aku tidak bisa menemukan dokumen resmi tentangnya, aku…" *cup Rentetan kalimat dari bibir Rain mendadak terhenti ketika bibirnya terbungkam bibir lembut dan kenyal yang mendarat di atas miliknya. Rain yang masih diam terkejut, tersadarkan ketika bibir wanita yang sedang bersamanya ini mulai bergerak dan menyesap miliknya. Rain hanyut dalam desiran darah yang terasa sangat deras ditubuhnya. Tidak ada pilihan lain bagi Rain selain membalas ciuman yang memabukkan itu. Hingga perlahan lahan, Rain bergerak dan mengukung tubuh Loi dan mengambil alih dominasi ciuman tiba tiba itu.


"Aku tidak tau dia siapa, tapi berhentilah mencari tau tentangnya. Ataupun tentangku. Aku disini, tidak perlu kau cari lagi Rain" Kata Loi setelah melepas ciuman mereka sepihak. "Baiklah" "Kalau begitu, antar aku pulang" "Hh, kukira kau ingin menginap" "Tidak" "Kalau gitu beri aku bonus sedikit" "Bonus apa?" *cup "Oke sudah" kata Rain setelah kembali mencuri kecupan di bibir Loi yang masih sedikit basah karena saliva keduanya. "Hhh dasar" respon Loi singkat. "Sialan Loi" "Hahha, sudah kubilang aku yang akan mendapatkan Loi" "Kasian sekali dua laki laki itu wkwk"


—----


[7 : 2/3] "Maafkan papa, tidak bisa menjagamu lagi Lycan" "Akan ku habisi siapapun yang mengambilmu dariku pa" —---- "Aku tahu Lais, kau bisa melakukan tugasmu dengan baik. Kau pembunuh terbaik, seperti papamu" "Kulakukan ini, karena dia koruptor menjijikan" "Sekarang mudah bagi kami untuk menyelamatkan dana bagi orang miskin. Terimakasih Lais" "Gunakan uang koruptor itu dengan baik pak, jika aku mendengar kasus ini lagi, maka salah satu dari kalian bisa saja menjadi target kami selanjutnya" "Tenang saja Lais, kami akan bertindak benar" "Terimakasih juga kalian berdua, kalian tim yang hebat" "Terimakasih pak" —----


"Sial, mobilku kena peluru lagi" "Sudah kubilang jangan bawa mobil itu bodoh" "Si civic yang terbaik untuk misi ini" "Kemarin Loi, menyadari lubang peluru di mobilku saat aku menjemputnya" "Dasar bodoh" Ujar Ares "Aku lupa kita memakai mobil itu untuk menghabisi pejudi kotor itu" "Lain kali hati hati Leon, Loi itu cerdas dia sangat pandai membaca situasi" nasehat Rain. "Tak kusangka kita akan bekerja sama seperti ini" kata Ares setelah beberapa bulan bekerja sama dengan keduanya. "Ternyata melakukan misi seperti ini lebih asik dibandingkan ikut kompetisi" "Asik bagaimana? aku hampir kehilangan nyawa gara gara kau terlambat menjemputku di brankas koruptor itu" "Haha maaf, lagipula Ares datang tepat waktu kan?" "Untung saja" "Terimakasih Lord Ares" kata Rain lucu. "Haha, sudah. Istirahatlah kalian. Uangnya akan segera masuk ke rekening kalian" "Yuhuuu ayo kita jajan eskrim" kata Rain semangat "Rain, uang itu bahkan bisa membuat pabrik eskrim untukmu" "Wkwkwk"


Ares, hahaha. Topengnya memang tebal sekali bukan? Jangan kira keberhasilan firma hukum milik mamanya itu dapat berhasil tanpa adanya pertumpahan darah. Dengan bantuan dua teman barunya, Ares kini dapat melakukan misinya 3 kali lebih mudah. Rain dan Leon, sangat bisa diandalkan lebih dari ekspektasi Ares sendiri. Kemampuan mereka, membuat segitiga bermuda yang tidak akan pernah bisa siapapun lolos dari incaran mereka. Setelah ayahnya, Ares adalah pembasmi hama terbaik yang bisa diandalkan. Ares tidak memikirkan uang jika itu soal membela kebenaran. Namun kekejamannya, nomer 1 dibandingkan ayahnya. —----- *pluk


"Namanya Ares Lais, bawa dia ke bukit utara. Bunuh dia" "Baik" —----


"Lepaskan aku bodoh. Apa maumu?" Teriak Ares yang kini sudah dalam posisi kedua tangannya terikat, didalam mobil dengan kedua matanya yang tertutup membuatnya sama sekali tidak tahu akan dibawa kemana dirinya oleh dua orang tidak dikenalnya itu. "Bocah sialan. Diamlah" "Siapa orang orang ini? Apa ada client mama yang dendam padaku? Atau papa? Atau si koruptor kemarin?" "Sialan, ternyata aku menciptakan banyak musuh" Tubuh Ares yang berontak, mendadak berhenti seiring dengan laju mobil van yang juga berhenti.


"Rumput, lembab, suara jangkrik, angin tipis, dingin, udaranya…" "Ini bukit utara" Menyadari dirinya berada dalam bahaya karena bisa saja ia akan didorong dari atas bukit, Ares melepas paksa rengkuhan dua musuhnya dan membuka penutup matanya menggunakan badan mobil. "Sial benar di bukit utara" "Siapa yang mengutus kalian?" Tanya Ares tenang namun lantang "Jangan berisik bocah" "Baiklah, akan kubuat kalian mengaku" Dua orang itu datang menyerang Ares lebih dulu, namun tanpa diduga Ares mampu menghindari dan bahkan dengan lihai membalas serangan mereka meskipun kedua tangannya belum terlepas. Saat dua orang itu sudah kelelahan, mereka mulai menggunakan pisau mereka. "Gotcha" Ares manfaatkan ayunan pisau dari dua musuhnya itu untuk memotong tali yang mengikat kedua tangannya. "Thankyou"


Click to View FlipBook Version