[13 : Cyrene] "Sayang, apa itu tadi?" Ares, Leon dan Rain sejak tadi masih dibuat kebingungan. Sepanjang mereka mengikuti langkah kaki Loi di mansion besarnya ini, tidak ada sedikitpun penjelasan yang keluar dari bibir manisnya. "Kalian duduklah dulu" perintah Loi pada ketiga kekasihnya setelah mereka sampai di salah satu ruang jamuan, yang kental dengan nuansa maskulin dan didominasi warna cokelat gelap itu. "Silahkan tuan muda" kata Mr.Suh sambil meletakkan gelas berisi teh buterfly pea, favorit Loi "Thankyou om Suh" "Babe jawab. Apa semua ini?" Tanya Leon kembali dengan nada seriusnya setelah Mr.Suh meninggalkan ruangan mereka. "Apa yang kalian ingin tau sebenarnya?" "Penculikanmu, itu jebakan?" Tanya Leon lagi. "No, itu cara daddy menjemputku. Dia memang selalu seperti itu" "Jadi, om yang tadi beneran daddy kamu?" Tanya Rain "Iya"
"Lalu kenapa ada bubu juga?" "Hmmm, bubu itu orang tua angkat" "HAH?" kaget Leon "Oh, lebih tepatnya orang tua pura pura. And my biologist father, is my dad" Ketiga laki laki yang tidak tahu apapun itu hanya terdiam, dengan tatapan bertanya juga tidak percaya. "Sayang, i don't get it" "Hhhahh, it's a long story" "Tell us" "Nanti, itu tergantung daddy. Kita tunggu sampai makan malam nanti" —--- Ketiganya telah bersiap dengan baju yang telah Mr.Suh berikan untuk mereka. Saat ini, tidak ada satupun dari mereka yang tidak gugup. Bagaimana tidak? Suasana dari mansion ini saja sudah sangat mencekam, apalagi nanti, ketika mereka berhadapan dengan seseorang yang Loi panggil dengan sebutan daddy. Seseorang yang dengan bodohnya mereka teriaki tadi.
Tolong doakan ketiganya tidak akan meregang nyawa di meja makan nanti. —--- Kegugupan mereka semakin menjadi jadi ketika mereka telah mendudukkan diri mereka di meja yang berkapasitas 8 orang itu, menunggu kehadiran sang tuan rumah. Tak lama setelah mereka duduk menunggu, terdengar dua pasang langkah kaki yang seirama. Menarik atensi mereka. Dan apa yang ada dihadapannya, membuat mereka terpesona. Luar biasa indahnya, seseorang yang begitu anggun dan cantik, datang dengan menggandeng tangan sang ayah yang begitu berkarisma dan tampan. Membuat mereka yakin, Loi tidak berbohong saat mengatakan laki laki itu adalah ayah kandungnya.
"Jaga mata kalian boys" sindir Daddy telak, hingga mengagetkan ketiganya dan spontan berdiri dan memberi hormat. "Duduklah" Acara makan malam itu berjalan dengan sangat rapih dan seperti biasa, table manner ketat mereka terapkan disana. Dan kini, mereka telah menyelesaikan hidangan terakhir mereka, dan ditemani wine Penfolds Grange Hermitage (1951) Asal Australia untuk menghangatkan obrolan mereka. "Jadi kalian, yang membuat anak saya ini tidak ingat pada daddynya?" "Dad, jangan mulai" tegur Loi "Ah, sebelumnya saya minta maaf tuan atas kekacauan yang kami buat, dan atas perilaku tidak sopan kami sebelumnya" "Hahaha, itu tidak masalah Lais. Aku justru terkesan dengan kalian" "Anda mengenal saya tuan?" "Tentu. Kau juga Kaishawn, dan Dwight. Kalian bertiga cukup hebat" Ketiganya lagi lagi dibuat bingung, bagaimana daddy Loi mengenal mereka saat kali ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. "Umm, apa Loi menceritakan soal kami tuan?" Tanya Leon
"Loi? Hahaha dia hanya menghubungiku ketika mengeluh dan meminta sesuatu saja. Mana mungkin dia cerita" "Apaan sih dad" "Kan memang benar. Kamu apa apa selalu sama bubu, sama daddy kalo lagi butuh aja" Lalu darimana? "Dwight, kenapa diam saja? Tadi saja kau yang paling berisik memarahi saya" kata Daddy sambil menatap Rain yang sejak tadi diam tidak berkutik. "Uh, mmm, om, eh, tuan.." "Dia lucu sekali baby" kata daddy berbisik pada Loi karena kegemasan melihat Rain "Tuan, saya benar benar meminta maaf, saya lancang" "Kamu memang mirip dengan ayahmu. Atau mungkin kau malah justru lebih pandai darinya?" "Anda mengenal baba saya tuan?" "Kalian ini banyak sekali bertanya" "Tentu, tentu saya kenal kalian bertiga, dan ketiga ayah kalian." Ketiganya diam terpaku. Apalagi ini?
"Aku tau boys, kalian pasti bingung" akhirnya Loi angkat bicara setelah menyesap sedikit wine dari gelasnya. "Sebenarnya, selama ini aku menipu kalian" "Huh?" "Aku bukan Eloise Dayton seperti yang kalian kenal" "Aku Cyrene Lycan" "Lycan?" "Astaga" —----- Cyrene Lycan. Seorang anak perempuan cantik yang lahir dari pasangan Floyd Lycan dengan istrinya. Kelahiran Cyrene sangat ditunggu oleh keluarga besar Lycan. Karena ia adalah cucu pertama dan satu satunya dari klan mereka. Keluarga Lycan begitu terkenal dengan kekuasaan dan kekejamannya. Mereka merupakan produsen dan penyalur senjata yang sangat terkenal di dunia gelap. Dan itu ditutupi dengan bisnis bar yang begitu besar dan tersebar diseluruh dunia.
Namun, keluarga Lycan begitu menjaga ketat privasi mereka. Jika kalian bisa bertemu atau melihat anggota keluarga Lycan secara langsung, sudah dipastikan kalian bukan orang sembarangan. Begitu pula dengan Cyrene. Bahkan, jumlah jari tangan kalian saja lebih banyak dibandingkan orang yang tahu kelahiran Cyrene di dunia ini. Cyrene tumbuh besar diselimuti oleh begitu banyak kasih sayang dan tentu juga kekayaan. Ia tumbuh menjadi anak yang cantik dan sangatt cerdas. Namun, tak selamanya kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula. Usia Cyrene kala itu masih 5 tahun, ia tertidur dengan damai di kamarnya. Tanpa ia ketahui, telah ada seseorang yang dengan berani menggenggam pisau di kedua tanganya, ia telah bersiap untuk menjadikan jantung Cyrene sebagai targetnya. *dor Cyrene kecil dikagetkan dengan suara pistol yang menggema di kamarnya. "Bubuuu" Cyrene berlari memeluk kaki laki laki berambut pirang itu, setelah melihat seseorang yang setengah badannya tersampir di kasur besarnya dengan darah yang mengalir membasahi selimutnya. "Ayo kita pergi sayang" —----
"BAGAIMANA DIA BISA MASUK? KALIAN SAMA SEKALI TIDAK BECUS MENJAGA CYRENE!" Teriak Floyd Lycan kepada 3 orang kepercayaannya yaitu Istrinya, Burke Dayton, dan satu maid yang mengurus mansion mereka. Floyd yang ketika insiden itu terjadi masih berada di luar kota, tanpa basa basi langsung terbang dengan helikopternya menuju mansion setelah mendengar bahwa putrinya terancam bahaya. Sejak dulu, aura kemarahan dari seorang Lycan memang selalu berhasil membuat siapapun tidak akan mampu mengangkat kepala mereka. Bahkan hanya untuk bernafas saja mereka terasa begitu sulit, apalagi mengatakan sesuatu untuk membela diri. Sungguh, tidak akan ada yang mampu. "Berlutut Dayton!" Perintah Floyd dengan nada dan suaranya yang mengintimidasi hingga tidak mungkin ada siapapun mampu membantahnya. Kecuali satu "Dad, stoopp" Teriak Cyrene sambil berlari kehadapan Daddynya dan merentangkan kedua tangannya. Ia melindungi bubunya yang sedang berlutut dengan tubuh kecilnya. "Pergi Cyrene!" Katanya dingin
"Noo, Dad!" Bantah Cyrene tak kalah tegas sambil melirik ke arah pistol yang sudah siap di tangan Daddynya. "Dia ceroboh Cyrene. Dia melakukan kesalahan. Kesalahan besar" tekannya "Dad, Bubu lindungin Iren. Bubu tembak om jahatnya, Bubu nda salah Dad" bela Cyrene "Tetap saja dia salah. Seharusnya dia selalu bersamamu. Harusnya dia melindungimu" "Dad yang salah" "Harusnya Dad yang bobo sama Iren, Dad yang lindungin Iren." Sejenak, kalimat yang keluar dari bibir kecil itu membuat hati Floyd bergetar. Putrinya benar. Seharusnya, dirinyalah yang melindunginya. "Memang benar. Semua ini salahku, jika saja aku tidak memilih hidup di jalan ini, putri kecilku tidak harus melalui semua ini. Cyrene benar. Aku yang salah" "Sayang, sini" kata Floyd dengan nada yang begitu halus dan lembut. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya beberapa saat yang lalu. Senyum paling cerah hadir di bibir Cyrene. Ia berlari dan masuk ke pelukan besar yang begitu hangat dan nyaman. "Maafkan Daddy ya? Setelah ini, Dad temani Iren bobo ya?" "Benerann? Daddy ngga sibukk?"
"Daddy usahakan" "Yaaayy, sayaaaanggg daddyy" Hal paling ajaib telah terjadi dihadapan 3 orang yang menjadi saksi kejadian langka ini. Seorang Lycan berlutut dan dengan pandangan teduh dari mata tajamnya, dengan senyum manis dari bibir tipisnya, dengan usapan lembut dari kedua tangannya. Dan itu semua hanya akan ia berikan untuk satu orang didunia ini. Putri kecilnya. —------ "Aku butuh bantuanmu Dwight" "Katakan tuan Lycan. Akan kulakukan sesuai perintahmu" "Aku butuh kau untuk merancang keamanan khusus di Athens dan Olympians. Potong semua server dari luar. Berikan keamanan berlapis" "Tuan, itu terlihat seperti anda sedang menyembunyikan sesuatu disana" "Cyrene putriku. Dia hampir dibunuh semalam" "Putri? Sejak kapan anda memiliki seorang putri tuan?" *pluk
"Namanya Cyrene Lycan. Dia putriku" kata Floyd sambil melempar kertas dengan wajah Cyrene dan namanya disana "Wah, dia sangat cantik tuan" "Hapus semua informasi tentang dia, surat resmi, namanya, wajahnya, buatlah seolah dia tidak pernah terlahir di dunia" "Untuk melindunginya tuan?" "Ya. Kau cukup kerjakan itu. Akan kubersihkan sisanya" "Baik tuan. Akan saya kerjakan" "Baiklah, terimakasih" "Oh, Dwight." "Ya tuan?" "Rainner Dwight, putramu kan?" "I-iya tuan" "Kalau aku masih menemukan jejak nama putriku baik dari orang lain ataupun dirimu, akan sangat mudah bagiku menemukan putramu yang tampan itu" "Baik tuan. Percayalah padaku"
"Baiklah" —----- "Daddy, daddy mau bawa Iren kemana?" Tentu saja Cyrene dibuat sangat bingung sekarang. Ia telah melewati perjalanan yang begitu panjang, dia benar benar tidak tahu kemana Daddynya ini membawa dirinya dan Bubunya pergi. Setelah perjalanan lebih dari 4 jam itu, akhirnya Cyrene sampai di rumah yang sangat indah, lagi lagi ditengah hutan yang sepi, terisolasi dari hiruk pikuk kota sama seperti mansionnya. "Dad, kenapa disini?" "Maafkan Daddy ya sayang, Iren tinggal disini sama Bubu ya? Hanya sebentar kok, nanti, kalau semuanya sudah aman Daddy jemput Iren lagi" Memang, kejadian itu berhasil membuat Floyd marah dan khawatir bersamaan. Setelah beberapa hari mencari, ditemukan fakta bahwa pembunuh itu ada kaitannya dengan pengawal pribadinya, karena itulah, Lycan harus membersihkannya sampai keakarnya. Ketika Floyd mengatakan bahwa ia akan membersihkannya, ia tidak bercanda.
Mata yang pernah melihat Cyrene Lycan sebagai putrinya, Floyd akan mengambilnya. Mengambil nyawa pemiliknya. Floyd benar benar membuat katananya sibuk memotong daging akhir akhir ini. "Tapi kan, om jahatnya udah ditembak sama Bubu Dad" "Bagaimana kalau om jahatnya punya teman?" "Mmmm" "Iren, Dad janji akan sering kunjungi Iren ya? Dad janji kita akan selalu facetime kalau Iren kangen. Oke?" "Janji? Dad akan segera jmput Iren?" "Janji" "Okay, Daddy hati hati ya?" "Iren juga hati hati, nurut sama Bubu" "Okay dad" Floyd meninggalkan putri kesayangannya dan memberikan ciuman yang menggambarkan berjuta juta kasih sayang di dahi Cyrene. Berat baginya berpisah dengan putri kecilnya. Tapi ia harus, semua ini demi keamanan putrinya. —-----
"Dad ngeselin yah bu?" Kata Cyrene dengan muka kesalnya yang lucu sambil menghentakkan kakinya di rumah yang tidak sederhana itu. "Kenapa princess hm?" "Masa Iren dikurung terus? Kalo di mansion kan besar yah? Ada taman didalam rumah, kalau disini? Kan nda ada? Trus kalo Iren bosen gimana?" "Hahha, sayangg. Kan tadi Daddy bilang semua ini untuk melindungi Iren" "Tapi kalo Iren pengen main gimana bubuu? Iren bosennn. Masa cuma belajar, trus main internet, belajar lagi, udahh?" "Mmm princess mau apa?" "Iren pengen belajar yang lain juga Bubuuu" "Hmm oke nanti Bubu pikirin. Tapi, sekarang princess mandi duluu trus istirahat. Kan abis naik mobil jauhh" "Hmm iya deh" —--- "Dayton, aku sudah membeli kepemilikan perusahaan tambang atas namamu. Suatu saat nanti, itu akan menjadi milik Cyrene"
Burke saat ini tidak bisa menahan ekspresi terkejutnya dengan apa yang ia dengar dari sambungan telfonnya. Iya, ia tau kalau tuannya itu amat sangat kaya. Tapi, membeli kepemilikan perusahaan tambang? Gilaaa memang gila. "Kenapa harus nama saya Tuan?" "Dayton. Sudah kurencanakan semuanya. Hidup Cyrene, aku sudah mengaturnya" Burke menahan semua kalimat tanyanya, berharap tuannya akan melanjutkan kalimatnya. "Tidak mungkin selamanya kubiarkan Cyrene hidup seperti ini. Suatu saat nanti, akan ku lepas Cyrene untuk hidup bebas. Berinteraksi dengan orang sungguhan" "Tuan, apa Cyrene akan baik baik saja?" "Hh, karena itu aku sudah mengaturnya dari sekarang. Kau akan mengurus perusahaan itu Dayton, kau harus perlahan lahan muncul di permukaan. Karena nanti Cyrene akan menyusulmu.." "Sebagai Eloise Dayton" "Hahh?? Ah, maaf tuan. Saya tidak mengerti" "Katakan, wanita mana yang ingin kau jadikan sebagai istri? Akan kudapatkan dia untukmu" "Ah, tidak tuan. Saya tidak ingin menikah" "Baiklahh, akan kupalsukan pernikahanmu"
"Silahkan tuan, ini semua untuk Cyrene kan Tuan?" "Kau akan menjadi orangtua pura pura Cyrene. Buat dunia percaya bahwa dia adalah putrimu dan namanya Eloise Dayton. Suatu saat nanti ia akan bersekolah dengan title itu" "Ahh, baiklah Tuan. Tapi, jika saya mengurus perusahaan, bagaimana dengan Cyrene disini?" "Aku sudah menemukan seseorang yang akan mengajarinya semuanya. Orang ini dapat dipercaya. Aku yakin itu" "Baiklah tuan, siapa namanya jika saya boleh tau?" "Jeorge Lais" —------
[14: Papa] "Bubu, Iren pengen pakai pedang deh" "Loh kenapa? Biasanya Iren suka pakai pistol kan?" Obrolan yang cukup normal antara anak usia 5 tahun dengan laki laki berambut pirang itu di pagi hari yang cerah sambil memakan sarapan mereka. "Mmm, soalnya daddy keren banget pakai pedang bu" "Trus, daddy bisa tusuk orang diam diam pake pedang. Nda berisik" "Siall Floyd lihat anakmu, kau berhasil membekukan hati juga darahnya" "Mm bolehh, kapan kapan kita belajar sedikit sedikit yah?" "Yaayy, siapp bubu" *ting tong Suara bel rumah mereka mengambil atensi keduanya hingga membuat mereka harus menghentikan kegiatan sarapan mereka. Melihat kode dari anggukan kepala bubu nya, Cyrene bergerak cepat menuju ke tempat persembunyiannya sedangkan bubu membereskan sisanya. Seorang laki laki. Itu yang bubu lihat dari layar pengawas.
*ceklek "Halo tuan Dayton?" Sapa seseorang dengan kulit bersih yang menawan itu sambil menjulurkan tangannya. "Jadi ini Jeorge Lais?" "Oh halo tuan, Lais?" "Oh, ya. Panggil saja Lais tuan"
"Masuklah" Hal yang pertamakali Jeorge rasakan ketika memasuki rumah indah ini adalah terganggu. Tentu saja, dengan instingnya yang sangat kuat, ia mampu merasakan banyaknya ancaman di rumah indah ini. "Ah, tuan.." "Panggil saja Burke" "Baiklah" "Aku sudah mendengar banyak hal tentang tuan muda Cyrene dari tuan Lycan. Tapi, aku belum pernah melihatnya, dimana dia?" "Ah, jadi Tuan Lycan sudah memberi tahumu?" "Tentu, aku akan sering bersamanya mulai sekarang, jadi tentu saja tuan Lycan sudah memberitahuku beberapa informasi tentangnya" *sret Jeorge yang sedang duduk di sofa sedikit terkejut ketika ada anak panah yang mengarah padanya tiba tiba, namun karena refleknya yang bagus, ia berhasil menghindar dan anak panah itu menancap kuat di sofa. "Itu, dia kan?" Tanya Jeorge kepada Bubu dan mendapatkan anggukan sebagai jawaban.
"Boleh aku berbicara dengannya?" "Tentu" —--- "Jangan bersembunyi disitu sayang, bayanganmu terlihat" Cyrene yang sedang bersembunyi dibalik tembok di lantai dua dikejutkan dengan suara asing dibelakangnya. Tempat persembunyiannya memang tidak sempurna, karena ia tidak bisa memantau dengan baik. "Jangan membidikku begitu" "Aku, Jeorge. Aku yang akan menjadi pembimbingmu sekarang" Kalimat itu membuat Cyrene menurunkan busurnya. Dan menatap tajam laki laki dihadapannya. "Jika kau ingin memantau dengan baik, berdiri di sebelah sini, bayanganmu tidak akan terlihat karena posisi lampunya tepat. Dan gunakan busur dengan tipe yang lebih kecil. Ini masih terlalu besar untukmu" Mendengar penjelasannya panjang lebar Cyrene tanpa sadar mulai mempercayai laki laki dengan senyum yang begitu manis itu. "Baiklah, tuan muda Cyrene, mau turun dengan ku?" Cyrene tatap sejenak tangan yang terulur padanya, selama Cyrene hidup, hanya 3 orang yang mengulurkan tangan diikuti tatapan tulus padanya seperti ini.
Dan Lais lah yang selanjutnya. Anggukan kepala menjadi jawaban dari Cyrene. Ia menyambut tangan yang terulur kearahnya dan keduanya turun bersamaan kembali duduk bersama dengan bubu. "Iren sayang, om ini om Jorge. Dia yang akan mengajari Iren sekarang" "Mengajari apa?" "Apapun yang Iren mau" "Benarkah? Bisa mengajari Iren bermain pedang?" Kata Cyrene dengan tatapannya yang kelewat eksaitit "Pedang?" "Tuan Cyrene suka pakai pedang?" Tanya Jeorge kepada Iren dengan nada lembutnya. "Eung" "Bagus sekali. Kita akan sering belajar pedang, bagaimana?" "Yesss" —----- "Kau hebat Sayang"
"Maaf papa, Iren ngga sengaja lukain perut papa" Bertahun-tahun mereka bersama. Jeorge dengan sabarnya melatih Cyrene semuanya, taktik, bertarung, senjata, Jeorge benar benar berhasil membuat 1 lagi copy paste dirinya. "Ah, ini hanya luka kecil" "Tapi pa, luka yang sebelah ini juga luka dari pedang. Siapa yang melukai papa?" Tanya Iren yang melihat luka persis seperti karyanya di pinggang papanya. "Oh, ini?" "Minggu lalu papa berlatih dengan putra papa, dan sama seperti mu, dia berhasil melukai papa" "PAPA!" "PAPA PUNYA SEORANG PUTRA?" Kaget Cyrene karena setelah 7 tahun lebih ia bersama papanya, ia tidak pernah mengetahui fakta itu. "Hahah, kenapa sayang? Kenapa kaget begitu?" "Kenapa papa tidak pernah bilang sama Iren?" "Memangnya kenapa hmm?" "Iren kan pengen ketemu jugaa, pasti dia tampan kan? Papa saja tampan begini" "Aduh, kumat deh flirty nya" "Hehhe"
"Berapa usianya pa?" "Seusiamu" "Benarkahh??? Waahhhh, ayo paaa bawa dia kesini. Dia pasti hebat seperti papa kan?" "Tidak sayang. Tidak ada siapapun yang boleh kesini selain Papa, Bubu, juga Daddymu" "Yahhh" "Tenang saja, suatu saat nanti kalian pasti akan bertemu" "Siapa namanya pa? Akan kucari dia sampai ketemu" "Hhhh, katanya kau juga ingin mencari anak manis anak programmer itu, sama siapa? Pembalap itu?" "Jadi Iren akan mencari yang mana sebenarnya?" "Akan kutemukan semuanya pa" "Hahaha, tuan Lycan kecil ini memang serakah ya?" "Iren udah besar paa" "Hhh" "Baiklah, akan kutemukan juga kau putra papa" —------ "Pa.." "Hm?"
Selesai dengan sesi latihan mereka, kini keduanya sedang bersantai di atas rumput taman belakang rumah indah itu dengan Cyrene yang menjadikan paha laki laki Lais itu sebagai bantalnya. "Kenapa daddy bisa percaya sama papa?" "Setahuku, Daddy sangat sulit percaya pada orang asing apalagi soal Iren" "Mungkin papa adalah orang asing bagi Iren. Tapi, tidak dengan tuan Lycan. Dia sudah mengenal papa sejak kecil sayang" "Oiya? Bagaimana bisa?" —--- Jeorge kecil, saat itu usianya baru 9 tahun. Ia kehilangan kedua orang tuanya karena perebutan kekayaan. Ia yang sebatang kara hidup tak tentu arah. Karena dendamnya, ia bertekad merebut kekayaannya kembali. Ia melakukan berbagai tindak kejahatan yang anehnya ia lakukan dengan bersih untuk mengumpulkan kekuatan. Begitu tiba saatnya ia membalaskan dendamnya, ia membabi buta membunuh satu keluarga yang tidak lain adalah pamannya. Mendengar satu musuhnya yang runtuh, Lycan bergerak mencari tau siapa yang telah menghabisi salah satu musuhnya, yang menentang bisnis gelapnya. Dan ia menemukan seorang anak kecil yang menodongkan senjata padanya, tanpa rasa gentar dan takut sedikitpun.
"Hei nak? Kau hebat sekali. Mau kuberi senjata yang lebih bagus dari itu? Kau bisa memainkannya sepuasmu" Jeorge yang saat ini tidak memiliki tujuan hidup, ia hanya mengikuti laki laki berusia 50 an itu. Dan terkejutlah dia saat ia dihadapkan dengan senjata berbagai model dan jenis. "Wahhh" "Mau bekerja sama dengan ku?" Jeorge mengangguk mantab. "Okay, berlatihlah dengan Floyd Lycan putraku" Sejak saat itu, Jeorge menjadi algojo andalan dari keluarga Lycan. Ia sering diutus untuk menyamar dan menyusup sebagai P.A dari musuh musuh Lycan. Hingga akhirnya, Jeorge menghabisi mereka untuk Lycan. —------ "Jadi, daddy sama papa bersahabat?" "Tidak sedekat itu, daddymu orang yang sangat dingin. Papa tetap memperlakukannya sebagai tuan. Walaupun Daddymu memperlakukan papa seperti seorang teman" "Ahhh, i see" "Sebentar lagi, Iren akan masuk sekolah kan?"
"Hh, masih 2 tahun lagi papa. Itu masih lama" "Iren harus jaga diri ya? Dunia luar sangat berbeda dengan disini" "Iya papa, kan Iren juga sudah sering keluar sama bubu" "Iya, papa tahu. Tapi tetap saja, kalau nanti papa sudah tidak bisa jaga Iren. Iren harus bisa jaga diri sendiri yah?" "Paa, tenang saja. Iren punya semua yang papa ajarkan. Iren tidak akan takut apapun" "Dan, papa juga tidak akan kemana mana. Papa akan selalu disamping Iren-" "-Kan?" "Hhh, baiklah" —------ "PERGI IREN!" Kacau. Suasana mansion utama saat ini sangat kacau. Suasana berkabung yang belum reda karena kematian sang ibunda, kini diperparah dengan adanya serangan tiba tiba yang datang ke mansion mereka. "PERGI SAYANG!" teriak suara yang berbeda memerintahkan hal sama padanya.
Saat ini, dihadapannya Daddy dan bubunya sedang sibuk menghabisi musuh yang berbondong bondong menyerang mereka. Dengan cekatan, Jeorge tarik tangan Cyrene dan membawanya ketempat yang lebih aman. Serangan yang datang kali ini tidak main main. Sebenarnya apa maunya? Menghabisi clan Lycan? Karena saat ini tiada lagi yang tersisa selain Floyd dan Cyrene? "Iren dengarkan papa. Apapun yang terjadi, kau dan Daddy mu harus tetap hidup" "Papa juga, bubu juga. Semuanya harus hidup" "Baiklah, ayo berjuang bersama" Tak ada kata istirahat sedikitpun, entah berapa nyawa yang telah mereka renggut, entah berapa peluru yang mereka lesakkan, entah berapa kali pedang mereka memotong bagian tubuh, serangan kepada mereka tak kunjung usai. "IREN AWAS" Iren yang disibukkan menembaki musuh lengah, hingga ia tidak sadar seseorang sudah bersiap melempar pisaunya kearah Cyrene. *Jub Dengan telak, pisau itu menancap pada jantung Jeorge.
"PAPA!" Melihat sang papa yang kesakitan, mata Cyrene menggelap. Ia marah sekarang. Dengan cepat, Iren tarik pedangnya. Dan berjalan mendekat kearah orang yang melempar pisau kepada papanya. Orang itu dibuat panik, pisau itu adalah senjata terakhirnya. Dan saat ini, di lorong lantai 5, hanya ada dirinya dan Cyrene yang bersiap membunuhnya. "Berani beraninya kau melukai papaku!" Teriak Cyrene lantang Laki laki itu terus berjalan mundur, sungguh ia takut dengan tatapan Cyrene padanya. Sempat ia ambil pistol dari mayat yang tergeletak tak berdaya di lantai marmer itu. Tapi, karena jarinya yang bergetar, bahkan ia tidak mampu menarik tuas dengan baik. Ditambah lagi dengan suara katana yang Cyrene seret, beradu dengan lantai menimbulkan suara menyeramkan yang mampu mencekik siapapun. *jleb. "Bagaimana? Sakit?" Tanya Cyrene setelah melempar pisau miliknya dan menancap di kaki belakang laki laki yang berlari itu. "Itu tidak seberapa keparat." Cyrene mempercepat langkah kakinya, membuat laki laki itu panik. karena kakinya yang pincang ia tidak bisa berlari dengan baik. *sringg
"Aaaakkk" "Kenapa? Aku hanya membantumu dengan kaki yang pincang itu" "Sekarang, kubuat dua duanya sama rata kan?" Kemarahan telah menguasai diri Cyrene, membuatnya begitu tega memotong kedua kaki laki laki itu dengan ayunan katananya. "Aaakk, ampun tuan ampun" "Terlambat bajingan!" *jleb. Cyrene membalaskan sakit yang papanya rasa, dengan menancapkan katananya tepat di jantung laki laki yang terlentang kesakitan itu. Membuatnya mati seketika. "Papa" Mengingat kondisi papanya, Cyrene kembali untuk berlari menuju ke papanya. Yang sudah lemas tidak berdaya. "Papa bertahanlah kumohon" "I-iren," "Paaa, pleasee bertahanlah"
"Kau hebat, k-kau hebat" "Paa jangan bercanda, ayo bangun akan ku bantu papa ayoo" Tangisan Cyrene yang pecah hanya dibalas senyuman getir oleh Jeorge. Ia tau, ia tidak akan bisa bertahan dengan bantuan apapun. "Cyrene. Tetap hidup sayang. Papa mencintaimu" "PA! PAPA!!" Pecah sudah tangis Cyrene saat sang papa meregang nyawa di pangkuannya. Ia ciumi mata yang sudah tertutup sempurna, mata yang biasa menatap lembut ke arahnya. "Pa, akan kucari siapapun dibalik semua ini. Akan kuhabisi siapapun yang memisahkan kita" "CYRENE!" "Daddyy" tangis Cyrene semakin pecah saat daddy dan bubunya datang dan berlari kearahnya. "Omg, Jeorge" "Dad, papa lindungin Iren. Papa pergi" katanya susah payah disela tangisnya. "Tenang sayang, kita akan balas semuanya oke? Cyrene tenang ya?"
—------
[15 : …..] "Sayang, bagaimana? Sudah memilih sekolah?" Tanya bubu pada Cyrene yang sedang duduk bersamanya. "Iya, sudah bu. Melihat status Dwight dan Lais, aku yakin mereka akan sekolah di Neo" "Hahaha, sudah bubu duga. Baiklah, akan bubu daftarkan kau disana" "Terimakasih bubu" "Sama sama sayaang" "Oiya bu, Bugatti yang kemarin sudah jadi?" "Ah, akan bubu tanyakan pada kakak bubu nanti" "Oh, jadinya bubu masukin ke bengkel ayah Kaishawn?" "Tentu, hanya dia yang bisa mengatasinya" "Baiklah, aku juga ingin ketemu dengannya" "Sudah lama sekali kan terakhir Iren ketemu dengannya?" "Eung"
"Yasudah nanti akan bubu telfon" "Siap." —--- Suara truk yang mengangkut mobil mewahnya telah terdengar memasuki kediaman Dayton yang megah. Iren dengan eksaititnya berlari menuju balkon, dan senyuman terbit di wajahnya ketika ia melihat sosok tampan turun dari truk dan melambaikan tangan kearahnya. "Haaii Loii" teriak ayah Kaishawn menyapa keponakannya "Haai ayahhh Kaishawn" teriak Loi tak kalah ceria. Sambil berlari dan menubruk tubuh tegap itu memeluknya. "Apa kabarmu sayang?" "Baik, bagaimana mobilnya ayah? Amann?" "Kau ini, langsung bertanya soal mobil. Tanyakan kabar ayah dulu lah" "Haha, oke bagaimana kabar ayah kaishawn ini?" "Baik, sangaat baik apalagi setelah bertemu denganmu" "Hahaha, bagaimana kabar cousin?" "Ah dia? Dia sibuk balapan akhir akhir ini"
"Ah, iya juga aku melihatnya di tv" "Dia selalu saja ingin bertemu denganmu, kau tidak ingin menemuinya?" "Ayah tenang saja, kita akan segera bertemu nanti" "Oiya?" "Eung, ayah akan mamasukkannya ke Neo kan?" "Yahh, itu terserah Leon sebenarnya, tapi ayah akan menyarankan Neo, itu yang terbaik" "Loi akan mendaftar di Neo" "Benarkah? Loi tidak akan homeschooling?" "Tidakk. Loi bosan" "Hahaha, itu bagus" "Tapi ayah diam saja, jangan katakan pada Cousin." "Tidak sayang hahaha" "Baiklah, ayo coba mobilnya ayah" "Silahkann tuan putri"
"Haha" —------ "Jadi selama ini?" Tanya Ares terkejut setelah pengakuan Loi soal identitas aslinya. "Ya. Aku Cyrene Lycan" "Tepat seperti yang kau kira Rain, aku anak kecil di atas kertas babamu" "Aku juga anak perempuan yang papa mu jaga Ares" "Dan aku, bukan sepupu mu Leon" Lagi lagi, ketiganya tidak bisa menahan ekspresi terkejut mereka. Selama ini, perempuan yang ingin mereka temui, sudah bersama mereka? "Loi, eh Cyrene.. jadi.. selama ini kau sudah mengenal kami?" Tanya Rain. "Ya. Dan bukan kalian yang mengejarku. Justru aku yang mengejar kalian" "Aku dan Daddy sudah merencanakan semuanya" "Untuk apa Cyrene? Untuk apa mencari kami?" Tanya Ares "Untuk membalas dendamku. Membalas kematian papaku" "Papaku?" Tanya Ares "Yup, papa Jeorge." "Papa mati melindungiku, dan aku mencari kalian karena aku tau kalian hebat. Aku ingin kalian membantuku membalas dendam" "Bukankah tim tuan Lycan lebih hebat?" Tanya Leon
"Kalian baru saja mengalahkan mereka tadi, bagaimana bisa kalian bilang timku lebih hebat?" Jawab Daddy dengan senyum bangganya "Lagipula ini adalah dendam Iren. Dia sudah bersumpah bahwa tangannya sendiri yang akan menyelesaikannya. Aku tidak akan campur tangan" "Benarkan baby?" "Yahhh, itu benar. Karena itu aku menjebak kalian untuk membantuku" "Baiklah aku bersedia" kata Ares yakin "Ya, apapun untukmu" sambung Leon "Mmm, yaa kalau begitu aku ikut saja" Kata Rain. "Baiklah, kalian istirahatlah, kita kembali ke kota besok" tutup Cyrene. "Dan ingat, kalian sudah tingkat 3. Tidak masalah jika kalian ingin memulai misi. Tapi jangan sampai sekolah kalian terganggu" "Baik tuan Lycan" —---- "Jadi selama ini, perlakuan manis Loi, hanya untuk menjebak?" "Apa Loi mau menjadi pacar kami hanya untuk ini?" "Apa Loi benar benar mencintai kami?"
Loi hanya mampu menghela nafas panjang setelah melihat pesan dari kekasih manisnya. Loi jelas tau, ada sesuatu yang mengganggunya akhir akhir ini. Itu sangat jelas terlihat dari wajahnya. Beberapa kali Rain memilih menghindari Loi, seperti halnya tadi pagi. Rain menolak ajakan Loi untuk sarapan bersama dengan alasan yang sama. "Sayang? Kepikiran Rain?" Ares yang saat ini duduk disamping Loi mengalihkan atensinya dari layar besar yang baru saja mulai menayangkan film, karena menyadari raut wajah Loi yang khawatir.
"Hmmm" "Mau pulang aja?" Tawar Leon "Menurut kalian apa yang terjadi pada Rain? Kenapa dia terlihat kesal setelah kita kembali dari Olimphyans waktu itu?" "Kita bahas diluar ya sayang? Disini berisik" "Iya baiklah" —---- *tok tok "Rainn, darl? Masih sibuk?" "Aku sibuk Loi, pergilah" Loi tentu sedikit terlonjak dengan jawaban dari kekasih manisnya yang teredam penghalang pintu itu. Rain sangat jarang memanggilnya dengan nama seperti itu saat dirumah. "Rain, we have to talk" "Loi, aku sibuk" "Keluar, atau kuhancurkan pintu mu Rain" "Biarkan aku sendiri Loi" "Sial"
Ares dan Leon tau, Loi sangat kesal sekarang. Loi meninggalkan keduanya dengan langkah besar dan dengan sekejab ia telah kembali dengan salah satu koleksi pedangnya ditangannya. "SAYANG!" "Babe, mau ngapain kamu?" Kaget keduanya, yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Loi dan ia tetap saja menghancurkan pengunci pintu milik Rain. Bahkan usaha keduanya menghentikan Loi selalu gagal karena tatapan Loi yang begitu tajam tersirat kemarahan yang sangat membara. *brakk "Sudah kuduga, kau akan hancurkan pintu ku" "Sudah kubilang aku ingin bicara denganmu!" Kata Loi masih dengan menahan kemarahannya. "Ah, benar. Tuan muda Lycan maafkan aku, seharusnya memang aku menurut kan?" Sekali lagi, kalimat simpel Rain berhasil menyentil hati Loi. Ngilu rasanya. "Rain!" Tegur Ares. Belum sempat Ares selesai menegur kalimat Rain yang jelas tersirat sindiran disana, Loi sudah mengangkat telapak tangannya tepat di hadapan Ares. "Apa salahku?" Tanya Loi
"Tidak ada" jawab Rain masih dengan nada datarnya. "Sudah kubilang jangan berbohong kepadaku. Jawab dengan benar!" "Mana mungkin Tuan muda Lycan melakukan kesalahan? Kau sempurna. Bahkan Tuhan mungkin iri padamu" "DWIGHT! Jaga bicaramu" Tegur Loi tegas "KENAPA? KENAPA CYRENE?" "Apa peduli mu? Yang kau pedulikan hanya balas dendam kan? Bahkan kau sampai repot repot hidup sebagai Loi." "Sudah kukerjakan semua. Semua data yang kau mau, semua file yang kau mau. Kau ingin balas dendam kan? Lakukan saja." "Aku pergi" "Rain!" Teriak Loi menghentikan langkah Rain yang baru akan meninggalkan mereka "Apalagi?" "Kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku Cyrene Lycan?" "Aku tidak peduli soal itu. Seperti kau yang tidak peduli soal perasaan ku" Rain menyelesaikan kalimatnya lalu pergi meninggalkan ketiganya. Apa maksud Rain? Apa yang menyakiti hatinya? Hingga Rain pergi dari kediaman mereka dengan perasaan kecewanya?. —----
"Babe, ngapain masih diluar?" Suara tiba tiba Leon yang muncul dibelakangnya mengagetkan Loi yang saat ini sedang berdiri di balkon, dengan jutaan hal yang hinggap di pikirannya. "Kangen Rain ya?" Tanyanya lagi. Hanya senyuman getir tak bertenaga yang hadir di bibir Loi menanggapi pertanyaan laki laki Agustus itu. Dan dari senyuman itu, jelas Leon sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. "Udah 2 minggu, Rain tidak pulang. Dia juga tidak pergi ke sekolah. Kau, tidak ingin menyusulnya?" "Dia ingin sendiri kan? Jadi untuk apa aku mengganggu?" "Babe, kau tau Rain dengan baik kan? Dia memang memiliki hati yang sensitif, apalagi soal dirimu. Mungkin dia sedikit kecewa padamu, entah soal apa, mungkin dia hanya sedikit menginginkan perhatianmu" "Entahlah" "Babe, dengarka…" "Wait. Babe???" Leon yang menangkup wajah Loi dikagetkan dengan suhu panas yang menempel di telapak tangannya. Bagaimana bisa wajah Loi sangat hangat saat ia berdiri diterpa angin malam seperti ini? "Babe? You okay? Kamu sakit"
"Aku panggil dokter dulu" "I'm okay" "No. Ayo masuk, kamu pucet banget" "Sebentar lagi" "Come on babe" "LOI" belum berhasil Leon merayu Loi untuk segera istirahat, Leon justru dikejutkan dengan Loi yang tiba tiba saja ambruk, dan dengan sigap Leon merengkuhnya. "Babe, babee" "Ow, shit." "RESS!!! PANGGIL DOKTER CEPAT!!" Teriak Leon khawatir sambil membawa tubuh Loi ke kamarnya. "Ada apa dengan Loi?" Tanya Ares yang ikut khawatir saat melihat kondisi kekasihnya yang terlihat tidak baik. "Jangan banyak tanya. Cepat hubungi dokter" —----- "Dok, bagaimana kondisi Loi?" "Boleh saya bicara pribadi dengan anda tuan Dayton?"
Mendengar permintaan dokter, Leon dan Ares pun meninggalkan kamar Loi, masih dengan perasaan khawatirnya yang besar. "Kenapa dokter hanya ingin bicara pada paman? Kita juga berhak tau kondisi Loi kan?" "Sudahlah Leon, mungkin memang ada sesuatu yang penting" "Aarghh, tapi aku khawatir" "Aku juga, sebaiknya kita tunggu saja" "Eh, dokter. Bagaimana kondisi Loi?" Tanya Leon khawatir pada dokter yang baru saja melangkah keluar dari kamar Loi. "Nona Loi baik baik saja, dia hanya kelelahan. Pastikan dia beristirahat dengan baik, dan jangan terlalu banyak memikirkan hal berat" "Syukurlah, baik dokter. Kami akan menjaganya dengan baik" "Baiklah, saya permisi dulu" "Baik, dokter." —-- "Tuan Dayton, Loi baik baik saja kan?" Bubu singgungkan senyumnya, menatap dua laki laki tampan itu bergantian.
"Rain, dimana?" "Ahh, ituu.." "Kalian sedang ada masalah kan?" "Sebenarnya, Rain sudah tidak pulang sejak dua minggu yang lalu tuan Dayton" jawab Ares "Ada apa?" "Sepertinya, Rain sedikit kecewa tapi kami tidak tahu apa tepatnya" "Hmm, baiklah." "Loi, baik baik saja. Hanya, dia sedikit kelelahan" "Maaf paman, kami kurang baik menjaga Loi" "Tidak Leon, kalian menjaganya dengan baik. Paman yakin" "Yasudah kalian istirahat saja" "Kami akan jaga Loi paman. Paman istirahatlah" "Tidak Leon, tidurlah." "Baik, kalau begitu. Kami ada dikamar jika paman butuh kami" "Baiklah, terimakasih" —----
Pagi hari tiba, Ares dan Leon sudah menelusuri jalanan kota. Kediaman Dwight menjadi tujuan mereka saat ini. Keduanya tidak tega melihat kondisi kekasih mereka yang masih saja lemah dan tidak bersemangat. Mereka berpikir bahwa dengan membawa Rain kembali sekarang, akan membuat Loi sedikit merasa lebih baik. *tok tok "Maaf bi, apa Rain ada di dalam?" "Ah, tuan Lais dan tuan Kaishawn. Akan saya coba panggilkan. Silahkan masuk" —-- "Tuan Rain. Maaf saya mengganggu. Dibawah ada tuan Lais dan Tuan Kaishawn sedang menunggu anda Tuan" "Huhh.." "Katakan saja pada mereka bi. Aku tidak punya waktu" "Sudah kuduga. Kau akan bilang begitu Rain" interupsi suara berat yang berdiri di ambang pintu. "Apakah menurut kalian, tindakan kalian itu sopan?" Tegur Rain.
"Rain, kita perlu bicara" Mendengar nada serius yang keluar dari bibir Ares, bibi menunduk dan pamit keluar. sedangkan Rain, mau tidak mau dia harus menerima kehadiran dua partnernya itu di ruangannya. "Hhah.. ada apa lagi? Kalian mau apa?" "Sebenarnya apa yang membuatmu begini Rain? Kau tidak bisa menerima Loi sebagai Cyrene?" Tanya Leon "Kalian kemari hanya ingin membicarakan ini?" "Ayolah Rain, sebenarnya ada apa? Kau tidak memikirkan Loi?, seka.." "Memangnya Loi memikirkan ku? Memangnya Loi memikirkan perasaan kita?" "Kalian dengar sendiri kan? Loi hanya menjebak kita. Dia mau kita hanya untuk dendamnya" "Apa dia bahkan mencintai kita?" "Bagaimana jika selama ini semuanya palsu? Bukan hanya identitasnya, tapi sikapnya, cintanya, semuanya" Dengan tanpa jeda Rain menumpahkan seluruh perasaannya. Membuat Leon dan Ares bahkan tidak mampu menyela sedikitpun. "Sudah?" "Kalian percaya kalau Loi benar benar mencintai kita? Kalian percaya?" Lanjut Rain lagi.
"Jika tidak, mungkin Loi tidak akan sampai jatuh sakit hanya karena kau pergi dari rumah Rain" "Apa?" "Lain kali dengarkan dulu orang mau bicara apa, jangan langsung kau cerca begitu" nasihat Leon, yang sudah hafal dengan kesabaran Rain yang setipis tisu. "Loi, kenapa?" "Loi sakit, Kemarin dia pingsan. Kata dokter dia hanya kelelahan" jelas Ares "Ya, dan sudah Jelas Loi bukan lelah fisik. Dia lelah karena selalu memikirkanmu" Sambung Leon "Kenapa bisa sampai pingsan sih?" Marah Rain "Rain. Sebenarnya untuk apa kau harus meragukan perasaan Loi padamu? Bukankah sudah jelas selama ini Loi selalu manis padamu? Bahkan kami saja selalu iri padamu. Tapi kenapa kau malah berfikir begitu padanya?" Tanya Leon lagi "Loi memang mengatakan kalau dia mencari kita untuk membantu dendamnya. Tapi Rain, apakah Loi akan mau sejauh ini dengan kita hanya untuk sebuah dendam?" "Rain. Loi menginginkan kita untuk dirinya, bukan untuk dendamnya" Kata Ares menutup kalimat panjang lebar Leon.
"Kalian tidak ragu dengan itu?" Tanya Rain yang sudah melembut "Kenapa harus? Aku bisa melihat semuanya. Bahkan jika Loi mau, dia bisa membalaskan dendamnya tanpa kita bertiga. Dendamnya ini hanya alasan Rain" jelas Ares lagi "Dan yah, kamu juga sudah lihat sendiri. Saat kita berdiskusi soal misi balas dendamnya, Loi benar benar sudah merencanakannya dengan baik kan? Itu memang berarti Loi sudah siap sejak dulu. Dengan atau tanpa kita pun, Loi sudah siap Rain" dukung Leon. Rain benar-benar merasa seperti hatinya diremas sekarang. Ia sudah menuduh Loi hal yang tidak tidak. Ia mengutuk dirinya sendiri bagaimana bisa ia meragukan wanita yang sudah ia tunggu selama hidupnya? "Lalu kenapa sekarang kita masih duduk disini?" "Ayo pulang, kita temui Loi" —------ Tiga pasang langkah kaki yang seirama itu memasuki rumah besar mereka dengan tergesa. Mereka berharap dengan kembalinya mereka bertiga dapat membuat Loi merasa lebih baik. *tok tok "Loi?"
"Boleh masuk?" Tanya Ares dari balik pintu namun tidak kunjung mendapat jawaban "Darl, i'm home. Boleh masuk?" Lagi lagi tak ada sahutan apapun dari balik pintu dengan gantungan mini sword itu. Rain pun memilih untuk membuka pintu besar itu, dan terkejutlah ketiganya ketika mendapati kamar yang bernuansa hijau emerald itu kosong. "Loi, kemana?" "Tadi pagi dia masih disini dengan paman. Sekarang dimana?" "Coba hubungi tuan dayton saja Rain" —---