Dengan cepat Ares rebut pisau itu dan membalas serangan keduanya "Katakan siapa yang mengirimmu?" "Bunuh saja aku" Ares lempar dua pisaunya dan menusuk jantung mereka dengan cepat dan tepat. Keduanya pun, mati di tempat. "I got you. Aku tau kamu memang orangnya Ares Lais" "Sialan siapa sih mereka? Tidak ada tanda pengenal apapun, sesuatu yang spesial juga tidak ada"
—----- "Loi, kau jadi membantuku untuk project akhir semester nanti kan?" Tanya Ares yang berdiri di samping meja Loi saat ini. Ujian semester hampir datang, dan mereka akan segera menemui tahun kedua mereka. Maka dari itu, Majors disibukkan dengan berbagai berkas perlombaan dan bukti pencapaian mereka untuk mempertahankan gelar The Major mereka. "Iya jadi, ayo" Keduanya berjalan bersama menuju ke ruang kehormatan seperti biasa. Dan kembali lagi dihadapkan dengan berkas berkas yang banyaknya luar biasa.
"Ares, ini banyak banget" "Hmm, iyaa. Major lain sedang sibuk, mereka tidak bisa membantu" "Dilanjutkan kapan kapan saja kalau begitu?" Tanya Loi "Waktunya hanya sedikit Loi" "Lalu bagaimana?" "Kita kerjakan saja dirumah" "Oke bisa, apartemenmu?" "Baiklah, ayo" Senyum merekah di bibir Ares sekarang, hanya membayangkan dirinya berduaan dengan Loi di rumahnya saja sudah mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Sepanjang jalan, Ares tidak bisa untuk berhenti tersenyum. Ia terlalu bahagia. "Masuklah Loi" "Thankyou" "Istirahatlah Loi, akan kubuatkan sesuatu untukmu. Atau jika kau ingin jalan jalan silahkan" "Boleh?" "Tentu, tidak ada larangan disini" "Okay"
Loi berjalan berkeliling apartemen mewah yang tertata rapi dan didominasi warna hitam dan abu itu. Tidak banyak hal mencurigakan memang, Ares begitu rapih dan sistematis. "Sangat mirip" "Tenang saja papa, akan kubalas orang yang memisahkan kita sampai tuntas" Tak lama setelah Loi berkeliling dan duduk di meja makan, Ares menyajikan 1 piring steak di hadapan Loi "Hmm, Looks good" "Cobalah" "Wow, Ares. Ternyata kamu jago juga" "Aku dan papa memang suka memasak, justru mama yang sangat jarang memasak" "Beruntung sekali mama mu" "Kau juga akan beruntung nanti" "Hmm?" "Eh, maksudku.. yaa kau pasti juga akan menemukan yang membuatmu merasa beruntung nanti" "Ohh hahha" "Sudah kutemukan" —---
"Loi, Loi?" Panggil Ares namun tidak ada jawaban. Ares berjalan memutar untuk berjongkok di samping Loi, dan yang ia lihat adalah Loi yang tertidur dengan meletakkan kepalanya diatas meja. "Hhh, sangat lucu, kamu manis sekali Loi" kata Ares lembut *cup Dengan berani ares curi sedikit kecupan di dahi wanita yang sudah berhasil mengambil hatinya itu. "Res" *deg "Mati kau res" kaget Ares saat dengan tiba tiba Loi memanggil namanya, itu berarti Loi terbangun dari tidurnya. Loi buka matanya perlahan, pandangannya dipenuhi wajah tampan dengan rahang tegas yang begitu mempesona. "Kenapa tidak kau saja yang membuatku merasa beruntung?" "Huh?" "Apa aku harus mengulangnya lagi?" "Loi? Kau serius?" *cup
"Hmm" jawab Loi singkat setelah memberi ciuman kupu kupu dibibir Ares hingga membuatnya membeku. "Loi? Jangan membuatku mati mendadak dengan bersikap begini" "Hahah, yasudah kalau begitu tidak jadi" "Loh? Kok?" "Aku tidak ingin kau mati" katanya sambil menegakkan tubuhnya, menatap Ares Lekat. Karena perasaannya yang membuncah, Ares menyerang Loi dan melahap bibirnya tergesa. Ares tidak bisa menahannya lagi, Ares mencintai Loi, jika Loi bukan anak perempuan yang papanya maksud, Maka Ares tidak perduli. Hatinya memilih Loi. "Cukup Res" Loi putus ciuman menuntut Ares secara sepihak "Justru aku yang akan mati jika kamu begini" Ares bawa Loi kepelukannya, dan dipeluknya kuat. "Aku pulang ya?" Kata Loi memecah keheningan sesaat mereka "Kenapa tidak menginap?" "Tidak, aku harus melakukan sesuatu" "Ah, begitu ya? Baiklah, ayo aku antar" "Tapi Loi, kata katamu tadi?" "Kita bahas lain kali, aku harus segera pergi"
"Ah, iya baiklah" —----
[8 : I Got 'em] "Hei Cousin, jadi tanding tidak?" Tantang Cleon dengan semangat sambil memasuki ruang kehormatan mereka. "Leon, sebentar lagi ujian. Belajar sana" "Ayolah Loii, untuk yang terakhir sebelum kita fokus ke ujian" "Jangan macam macam Leon, bagaimana jika terjadi sesuatu nanti" peringat Ares. "Yup, Ares benar. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu Cousin?" "Sungguh aku suka caramu menantang Leon, Loi wkwkwk" kata Rain yang melihat tom and jerry yang begitu seru ini. "Enak saja. Khawatirkan dirimu sendiri Cousin tersayang" protes Leon "Oke, ayo ke arena malam minggu nanti" "Baiklah. Jangan mengadu pada bubu jika kau kalah nanti Loi" "Jangan membanting helm mu juga jika kau kalah Leon" "Terserah kalian" lelah Ares "Aku akan siap dengan popcornku nanti" —------
"Siapa yang berani menantang Kaishawn, sampai dia harus membooking seluruh arena malam ini?" Tanya pemilik Arena tempat dimana Leon biasa melakukan latihannya. Dan Leon, belum pernah kalah di tempat ini. "Sepupunya" jawab Ares singkat. "Ini arenaku Loi, aku hafal setiap incinya. Siap kalah dariku Cousin?" "Sebenarnya ini sedikit curang saat kamu memilih tempat ini, but still aku suka tantangan" "Ini yang kusuka darimu" Kata Leon sambil mendekat dan berbisik di telinga Loi "Berikan mobilmu padaku jika kau kalah Leon" "Berikan dirimu padaku jika kau kalah Loi" "Ohh, jadi aku hanya seharga mobilmu?" "Baiklah, minta apapun jika kau menang, dirimu lebih berharga dari segalanya" "Hhhh, dasar" "Okay, siapkan semua hartamu Leon" "Siapkan dirimu Loi"
Mobil McLaren 650S GT3 dominasi warna hitam milik Leon, yang merupakan mobil kesayangannya itu telah memasuki arena dengan gagahnya. "Seserius apa taruhan mereka sampai Leon mengeluarkan Larennya?" "Taruhan? Tidak ada? Mereka tidak membicarakan itu sejak kemarin" jawab Rain yang benar benar sedang duduk santai sambil memakan popcornnya. "Tapi entahlah, kami tidak tau" lanjut Ares. Tak lama, mobil yang juga didominasi warna hitam pekat dengan kecepatan mencapai 268 mph seharga USD 1,7 Juta itu juga memasuki arena dan membuat beberapa audience disana dibuat tidak percaya.
"Bugatti Veyron Super Sport, Wow Loi" kata Ares yang ikut terkagum dengan apa yang dilihatnya. "Pertandingan ini akan seru, aku yakin" sambung Rain. "Wait, aku pernah lihat Bugatti ini. Tapi dimana?" "Yang jelas bukan dipertandingan manapun" "AYOO LOII" Teriakan Rain menyadarkan Leon dari lamunannya.
"Goodluck Cousin" kata Loi sombong "Hh, you too Cousin" Keduanya bersiap dan memasuki mobil mereka masing masing, senyum sudah terpatri di wajah Loi saat ini. Suara tembakan menjadi tanda, dan keduanya mulai memacu roda empat mereka. "Wow, Loi belajar dari mana?" "Perempuan manis itu, dia lumayan juga" "Lumayan juga Loi, tapi kau tidak akan bisa menang dariku sayang" Leon semakin menggebu gebu melajukan kendaraannya, bahkan saat ini Loi sudah cukup tertinggal dari Leon. Setelah 1 Laps dimenangkan oleh Loi dan 2 Lainnya dimenangkan oleh Leon, maka hasil akhirnya Leonlah yang menjadi juaranya. "Dia memang hebat" "Bagaimana Cousin? Siap menyerahkan diri?" Tanya Leon yang sudah membuka helmnya sambil menunduk di kaca mobil Loi. "Okay okay, kau hebat Leon" jawab Loi yang juga sudah melepas helmnya.
*cup "Cicil dulu. Disini banyak orang" kata Leon santai setelah mencuri kecupan ringan di bibir Loi "Tidak tau tempat memang si Leon ini" "Kurang ajar Leon" "Aku sudah merasakannya tapi tetap saja, berani beraninya Leon" "Kata kalian, mereka sepupu?" "Memangg" jawab keduanya kompak "Aduh, anak jaman sekarang" -pemilik arena. —------ "Wow, Loii aku tidak percaya kau melakukan ini. Kerenn" puji Rain ketika kini keempatnya telah berkumpul di ruang vvip arena balap itu. "Kau berlatih Loi?" Tanya Ares. "Sedikit" "Aku bisa memberikan tips untukmu jika memang ingin" saran Leon. "Iya iyaa sipaling hebat" kata Loi menyindir.
"Hahaha, kalau gitu pulang bersamaku nanti" "Terserahh" "Kalian mau kemana?" Tanya Ares curiga "Aku hanya akan mengantarnya pulang, jangan tegang begitu" "Ohh, terserah" alibi emang si Ares. "Yaudah kalo gitu aku pulang duluan, Baba ngasih kerjaan" "Yaudah sekalian aja ayok" Keempatnya pun pergi menuju jalan terpisah, kecuali Leon yang kini harus mengantar sepupunya pulang. "Sudah sampai" "Kenapa parkir di basement?" Tanya Loi, karena biasanya Leon hanya akan mengantarnya sampai Lobby "Tentu saja menagih hutangmu" "Apa?" "Kau kalah dariku hari ini cousin" "Okay, then?" "At least give me kisses" "You're my cousin, remember?" "Fuck that, i dont care. Aku bahkan berani melawan seluruh dunia ini untukmu" "Akan kuadukan ke ayahmu" "Adukan saja, aku tidak takut"
*cup "Puas?" "Apa itu? sedikit sekali. Bahkan tadi aku rela memakai Laren untuk taruhan kita ini" *click Loi melepas seatbeltnya dan beralih untuk duduk dipangkuan Leon. Membuahkan seringaian kemenangan di bibir manis Leon. "Kalau begitu, langkahi batasmu" Satu kalimat dari Loi cukup untuk membuat Leon terantang, dan adrenalinenya kini meningkat lagi bahkan lebih tinggi dibandingkan ketika dirinya di arena tadi. "I will" Leon meraih tengkuk Loi kasar, dan meraup bibirnya tak sabaran. Leon merasakan setiap inci bibir Loi dengan lidahnya. Manis tidak seperti cara bicaranya. "Akhh" Kesempatan Leon dapatkan dengan sengaja menggigit bibir bawah Loi, membuat ciuman panas mereka sekarang bercampur rasa anyir dari darah yang keluar dari bibir Loi.
Tak bisa menahan hormonnya lagi, dengan tergesa Leon lepas ciumannya dan beralih untuk mengerayangi leher dan tulang selangka Loi yang terekspos dengan bibirnya. "Stop Leon" "Why? Katamu aku bisa melangkahi batasku? Atau kita pindah saja ke kamarmu?" "Hahha, enak saja" kata Loi sambil menoyor dahi laki laki Agustus itu cukup kasar. "Loii, pleasee" "Ngga sekarang" "Yahh, trus aku gimana? Aku udah ngga tahan" "Itu salahmu, urus saja sendiri" "Loi, kau tidak kasihan padaku?" Tanya Leon memelas setelah Loi turun dari pangkuannya dan bersiap keluar dari mobil Leon "Hahaha, selamat bersenang senang Cousin" ejek nya sambil keluar dan menutup pintu mobil Leon meninggalkannya sendirian. "Shit arghh, masa iya main sendiri?" —-----
Hari baru di tingkat 2, setelah melaksanakan ujian mereka, yang tentu saja membuahkan hasil dengan nilai yang fantastis, Sehingga mereka bisa mempertahankan gelar The Major mereka dengan baik. Diputuskan Bianca Froud yang merupakan seorang jenius matematika lah yang akan kembali melengkapi jajaran 25th Majors. Dulu, dirinya hanya dinilai kalah dalam hal kompetisi jika dibandingkan dengan Darren. Di siang hari yang sangat tenang dimana awal masuk sekolah masih begitu santai, tiga pemuda itu justru membuat keributan dengan ketiganya yang nekat berjalan cepat menuju ke ruang kehormatan karena biasanya Loi akan disana untuk sekedar membaca buku.
*brakk "Loi" teriak Cleon yang langkahnya disusul Ares juga Rain dibelakangnya "Ada apa?" "Kita bertiga…" "Menyukaimu" "Hahahha" Loi dengan muka datarnya masih diam mengamati wajah ketiga lelaki itu satu persatu. Loi pikir mereka sedang bercanda, tapi Loi tidak menemukan itu dari mimik wajah mereka. "Kalian ini ngomong apa?" "Kita bertiga, mau jadi pacar kamu" jawab Rain "Eh, maksudnya kamu pilih salah satu" lanjutnya dengan panik menyadari kalimatnya yang cukup ambigu "Memilih?" "Iya" jawab Ares. "Tidak mau"
2 kata dari Loi itu kini mampu melemaskan sistem syaraf dari tubuh ketiganya. Tidak mau katanya, ya Tuhann berakhir sudah kisah cinta mereka. "Bisa tidak tiga tiganya saja?" Lanjut Loi yang membuat ketiganya spontan mengangkat kepala dan terbelalak tak percaya. "Hah?" "Loi?" "Mau tidak?" "Maksudmu kita bertiga?" Ucap Leon bingung dengan menunjuk ketiganya bergantian "Iya" jawabnya singkat sambil kembali fokus pada bukunya "Maksudmu kita berbagi?" Tanya Ares "Terserah, ini hanya tawaran sementara. Bisa saja berubah pikiran nanti" "Eh eh, jangan. Jangan berubah pikiran Loi" Panik Rain "Tunggu sebentar kita diskusi" Kata Rain sambil menarik Ares dan Leon keluar ruang kehormatan "Ada ada saja mereka" "Bagaimana sekarang?" Tanya Leon panik
"Arghh kenapa harus berbagi sih? Malaaas, kalian berdua kan nyebelin" protes Rain "Itu lebih baik daripada aku kehilangan Loi" jawab Ares singkat "Makesense sih, tapi emang kita bisa jalanin hubungan kaya gitu?" Tanya Leon ragu. "Tergantung Loi nya sih" "Terserah kalian, aku akan lakukan apapun demi Loi" tuntas Ares "Ikuttt" "Bagaimana? Sudah?" Sambut Loi saat ketiganya sudah kembali masuk ke ruangan mereka "Loi, kenapa tidak memilih saja?" Tanya Rain memastikan. "Oh, jadi kalian tidak mau? Baikla…" "Loi" kalimat Loi terputus oleh suara Ares yang begitu mengintimidasi. "Jawab kami dengan serius, bersedia menjadi pacar kami bertiga?" Lanjutnya. Loi meletakkan buku yang sebelumnya berada di tangannya, mendengar nada dan tatapan Ares yang serius maka Loi, bisa menanggapinya dengan lebih serius.
Loi berjalan mendekat kearah ketiganya, Loi tatap satu persatu laki laki dengan perbedaan dan kelebihan mereka masing masing itu. Mereka bertiga sempurna, dengan cara mereka sendiri. Loi tinggalkan kecupan manis disetiap bibir Laki laki itu dengan tatapan yang begitu lembut. Membuat ketiganya sempat berfikir, benarkah ini Loi? "Yes" Senyum paling cerah menghiasi setiap wajah mereka bertiga hingga mungkin jika ada orang yang melihatnya akan mengira mereka baru saja mendapatkan lotere, padahal nyatanya mereka mendapatkan wanita yang telah mereka idamkan selama hidupnya. Ketiganya pun berhambur dan membuat Loi terhimpit diantara mereka bertiga, rasanya bahagia tentu saja. "I got em, i got em all dad" *brak "Dasar bian bodoh" sesal bian yang mengganggu moment itu karena menjatuhkan buku yang sejak tadi ia tahan "Hehhee, maaf" katanya Lucu Ares, Leon dan Rain saling melempar tatapan bingung mereka. "Sejak kapan dia disini Loi?"
"Sejak sebelum kalian datang" "Harusnya hari ini kita menyambutnya sebagai Majors" kata Loi sambil menampakkan senyum mengancamnya "Hehhe, maaf" kata Leon canggung "Ini sudah sambutan yang luar biasa Loi, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat tadi" kata Bian sungkan. "Bian, bisa aku minta tolong?" "Hmm? Apa Loi?" "Rahasiakan ini" "Kenapa?" Tanya Ares tegas "Iya Loi, kenapa harus dirahasiakan?" Dukung Rain "Aku hanya tidak mau terjadi keributan, malas, bisa kan?" "Apapun untukmu" -Ares "Yaah, asal kau tidak lari dariku akan ku lakukan semuanya" -Leon "Siap tuan putri" -Rain "Aaaa kalian manis sekaliii" kata Bian kegemasan "Tapi, kalian harus jaga Major Loi dengan benarr! Atau aku akan memarahi kalian bertiga" "Kenapa Major kecil ini galak sekali?"
"Dia sangat posessive kepadamu Loi" —----
[9 : Have Fun]
Sepertinya hari hari Loi selanjutnya akan sangat berbeda dari biasanya. Bagaimana tidak? Tiga laki laki yang kini berstatus sebagai pacarnya itu tidak pernah membiarkan Loi hidup tenang barang semenitpun. "Good morning darling" "Kabjagia" Untung saja, nyawa Loi tidak melompat dari tubuhnya ketika ia dikagetkan dengan sapaan yang sangat tidak dibiasanya di pagi buta seperti ini. "R-rain? Kok kamu bisa masuk?" Bingung Loi karena ia tidak pernah memberikan sandi pintu apartemennya kepada siapapun. "Darliing, i'm Rainner Dwight, remember?" Kata Rain sedikit sombong sambil berjalan mendekati Loi yang masih terdiam disamping island dapurnya "Lain kali gunakan kombinasi angka yang lebih rumit, okay darl?" *cup "Sekarang ayo buatkan aku sarapaan, aku ingin makanan buatanmu" kata Rain merayu lucu seperti anak kecil yang meminta permen kepada ibunya. "Aku? Tidak pandai memasak" "Akan ku makan apapun yang kamu buat. Ayolahh, kita harus segera kesekolah lho" "Iyaa iyaa cerewet sekali kamu ini"
"Yesss, kalau gitu aku numpang mandii" kata Rain sambil berlari dengan langkah semangatnya. "Haahhh, untung saja dia lucu" —----- "Sayang, biarkan aku menginap di tempatmu ya malam ini?" "Kenapa?" "Malas sekali ke apart, masih ada sisa kekacauan kemarin dan belum dibersihkan" "Tidak papa, memang tidak boleh?" "Ya boleh aja, tapi tumben?" "Kalau gitu aku akan lebih sering menginap di tempatmu" "Ugh, merepotkan" "Sayang?" Tegur Ares "Iya okay, Mr.Lais" "Hahaha" —--- "Ayo babe aku anter pulang" kata Leon yang sudah berdiri didepan pintu kelas Loi, menunggu remaja Aries itu keluar dari kelasnya. "Loi pulang denganku, aku akan menginap di tempatnya malam ini" Sahut Ares sambil menarik sedikit tangan Loi
"Ett, ngapain kamu mau nginep? Enak aja. Gaada nginep cuma berdua, aku ikut" "Jangan menganggu Leon" "Jangan curi kesempatan Ares" Aduh, mau sampai kapan dua laki laki ini terus saja beradu taring seperti ini? Ternyata melelahkan ya? "Biarkan saja Ares, toh Leon pacarku juga" Lerai Loi pada akhirnya "Hadehh" "Nah kan, letsgoo babe kita pulangg" kata Leon semangat. "Loh, pada mau kemana? Kok aku ngga diajak?" Langkah kaki mereka terhenti oleh interupsi satu suara lagi yang membuat dua laki laki dominan di kedua sisi Loi ini menghela nafas panjang. "Mereka mau menginap di tempatku Rain, wanna join?" Tawar Loi santai "Jelass lahh, ayoo" Kedua laki laki dengan tinggi badan sama itu pun hanya bisa pasrah, mau bagaimana lagi? Ini sudah resiko yang mereka tanda tangani sejak awal.
—----- Masih belum selesai dengan perebutan mereka, kini 3 laki laki itu berebut untuk bisa terus menempel pada Loi. Mereka sedang menonton film dengan santai sekarang, tapi mereka masih saja ribut dengan posisi duduk mereka. "Kalian diam, atau pulang saja sana" tegas Loi pada akhirnya karena tidak ada dari mereka yang mau mengalah sedikitpun. Hingga mereka berakhir pada posisi dimana Loi duduk di atas sofa diantara Ares dan Leon, dan Rain yang duduk di bawah di antara kaki Loi. "Guys, tell me. Kalian ini, menyimpan rahasia apa dariku?" "Huh? Rahasia?" "Tidak ada sayang" "Rahasia apa babe?" "Jangan kira aku tidak tahu dengan apa yang kalian lakukan" "Babe?" "Bekas peluru di mobilmu" "Bekas darah di bajumu" "Dan kamu yang begadang menggali semua informasi" "Aku tau semuanya" Telak sudah. Sekuat tenaga mereka berusaha untuk menyembunyikan kegiatan mereka dari Loi selama 2 bulan lebih mereka telah bersama, akhirnya
ketahuan juga. Mereka takut Loi akan membenci mereka jika Loi tau apa yang mereka kerjakan diluar kesibukan mereka. "Uh, umm sayang ituu" "Stop Ares, jangan lagi berbohong kepadaku. Kau tau kan, aku bisa membaca semuanya?" "Maaf babe, kami hanya melakukan hal benar" "Iya, kami membantu pihak yang benar kok darl" "Tapi tetap saja kalian membunuh kan?" Tanya Loi penuh tekanan "Maaf" Hubungan mereka masih begitu dangkal, mana mungkin akan berakhir secepat ini? Jika memang iya, dunia memang suka bercanda. "Kenapa kalian tidak mengajakku?" "Hah?" "Babe?" "What?" "Itu pasti seru, kenapa kalian tidak mengajakku?" "Babe, kukira kau marah?"
"Hahaha untuk apa? Kau bilang kalian membela yang benar kan? Kalau gitu libatkan aku" "Sayang itu berbahaya" "Iya darl, aku saja hampir terbunuh kemarin" "Maka, aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi padamu darl" kata Loi begitu manis. "Tolong ulangi sekali lagi sayang, itu sangat manis" kata Ares yang tidak tahan melihat Loinya. "Kalau gitu kita tinggal bersama saja. Kita rencanakan misi kita bersama, kita selesaikan misi kita bersama, kita akan selalu bersama" kata Leon begitu eksaitit karena ternyata wanitanya ini jauh diatas ekspektasinya. "Boleh" jawab Loi singkat "Yessss" "Akan kucari rumah yang tepat nanti"
—---
Rumah mewah dengan style maskulin yang kental menjadi pilihan mereka. Saat mereka memasuki rumah baru mereka aura mengintimidasi sangat kental terasa. "Harus banget ya, rumahnya auranya begini? Mentang mentang kita pembunuh?" Tanya Leon "Iya, auranya suram" kata Rain "Ini pilihan Loi" kata Ares singkat. "Babe?? Seleramu kenapa gelap sekali? Seperti anak mafia saja" "Hhh, memang" "Anyway, kalian serius kan dengan pekerjaan kalian?" Tanya Loi yang menarik atensi ketiganya penuh. "Tentu, kita kan sudah bilang sebelumnya. Dan kita juga sudah memberikan semua buktinya padamu kan bahwa kita serius?" Jawab Ares. "Baiklah, akan ku tunjukkan pada kalian alasanku memilih rumah ini pada kalian" Loi mulai melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan yang sangat tertutup, bahkan kode berlapis diterapkan pada kunci pintunya. Rain Pun akan memakan banyak waktu untuk membobolnya. "Pertama, ini untuk mu sayang"
"Wow" "Wtf" Ketiganya dibuat terkejut dengan apa yang ada dihadapan mereka sekarang, senjata berbagai model, dan berbagai ukuran tertata berbaris dengan rapih terlihat gagah memenuhi ruangan berukuran cukup besar itu. "Sayang? Darimana kau mendapatkan sisanya? Koleksiku hanya setengah dari ini" tanya Ares heran. "Setengahnya adalah koleksiku" "Hah?" Kaget ketiganya. "Kenapa? Aku juga berlatih tembak asal kalian tau"
"Wow, pacarku ini kenapa luar biasa sekalii" puji Rain sambil menguyel uyel pipi Loi gemass "Aduhh, Rainn lepaskan nanti pipiku memerah" "Hhhhh" "Okay now, lets go to the next room" "Bagaimana darl? Apa ini cukup?" "Woww ini lebih baik daripada yang di apart. Kau memang sangat pandai darl" puji Rain sambil mencuri kecupan di pipi Loi. Membuat pipinya benar benar memerah sekarang. "Sudah kubilang aku tidak akan menyia nyiakan uangmu" "Hahahah, bahkan akupun tidak peduli jika kau menghamburkan uangku. Karena yang terpenting kamu milikku, itu cukup" "Ekhm" "Aduhh, picisan banget"
"Sialannya kamu tidak hanya milikku tapi mereka juga" kata Rain dan mendapatkan balasan kekehan kecil dari Loi. "Okay now basement" "Bagaimana Babe? Masih kurang?" "Babe? Jujur sama aku. Kamu beneran anak mafia kan?" Tanya Leon sambil menatap dalam mata Loi dan memegang kedua pundaknya. "Aku anak pamanmu Leon, apa dia terlihat seperti seorang mafia?" "Mmm tidak, paman Burke sangat manis" "Nah" "Tapi semua ini?"
"Kan kalian juga yang memberikan kartu kalian padaku, jadi kuhabiskan sebisa mungkin untuk kelancaran misi kita selanjutnya hahahaha" Baiklah, laki laki. Ayo bekerja keras lagi hahaha "Its okay babe habiskan semuanya. Kita bisa cari uang lagi" kata Leon pasrah "Lagipula setelah ini juga ada misi besar" Kata Ares "Dan uangnya, juga sangat besar" sambung Rain. "Baiklah, kita akan bersenang senang kalau begitu" Kata Leon yang sudah bangkit dari kepasrahannya. "Let's have fun boys" —------
[10 : Have fun 2.0] "Bagaimana? Semuanya sudah jelas kan?" Tanya Ares pada ketiga partnernya setelah selesai menjelaskan taktik mereka untuk menghabisi seorang penipu jasa asuransi yang merugikan begitu banyak orang. Ia harus dihabisi karena ia juga telah membunuh banyak orang untuk membungkam kebejatannya. Sialnya orang ini memiliki pengaruh yang cukup besar, sehingga mereka harus melakukannya dengan hati hati, dan penuh perhitungan. "Sudah" "Loi kau yakin akan ikut di misi kami? Aku takut terjadi sesuatu padamu Sayang" "Tenanglah Ares, begini saja. Jika aku selamat di misi ini, maka jangan larang aku untuk ikut di semua misi kalian, bagaimana?" "Kami khawatir padamu Babe" "Sudahlah, lebih baik kita fokus. Kita ini tim, dan tim akan saling mempercayai satu sama lain" "Benar, baiklah kita selesaikan besok" —----
"Sial, kenapa harus di rumahnya seperti ini? Kata Leon yang saat ini di kursi pengemudi membawa 3 partnernya. "Baguslah, kalau begitu dia akan mati di tempat yang dia bangun dengan uang kotornya" kata Loi santai. "3 penjaga diluar, senjatanya pistol kecil" jelas Rain sambil mengendalikan drone kecil rancangannya melalui laptopnya. "Itu FN 57 Rain, sahut Ares yang duduk di kursi belakang bersamanya" "Iya itu maksudku. Lalu dibelakang hanya ada 2 senjatanya sama, sepertinya akan lebih mudah lewat depan, karena dibelakang kunci manual." "Baik, seperti rencana kemarin" Di sore hari menjelang malam, saat langit sudah mulai menggelap, 4 orang yang telah meninggalkan hati nuraninya di kamar mereka ini, mulai mengendap endap untuk memasuki rumah besar yang didominasi warna putih itu. "Cctv all clear" kata Rain dari in ear mereka. Dengan aba aba itu, Ares yang diikuti Loi bergerak memanjat pagar samping untuk menghindari penjagaan. "Ada masalah di ruang kontrol cctv, kalian berjaga jagalah" kata Salah satu penjaga yang tiba tiba muncul dari dalam rumah memperingatkan.
2 penjaga yang sebelumnya berjaga di pintu depan itu berkeliling, dengan senjata siap di tangan mereka. "2 bergerak berlawanan" Dengan isyarat tangannya, Ares pergi meninggalkan Loi untuk pergi ke sisi lainnya. "Baiklah Loi, ayo bersenang senang" "Pintu depan clear" Sempat ketiganya terlonjak kaget dengan suara perempuan mereka yang masuk ke telinga secara tiba tiba, belum ada 10 menit Ares meninggalkan Loi sendirian, dan Loi sudah membersihkan pintu depan? Sungguh tak terduga. "Bagus sayang" puji Ares sambil melempar tubuh penjaga yang sudah tidak bernyawa di tangannya. "Pintu belakang clear" sambung Ares. "Oke, aku masuk lewat depan bersama Loi, Ares lewatlah samping disana ada jendela tidak terkunci. Aku sudah membukanya" Kata Leon "Bagaimana di dalam Rain?" "Tidak terlalu jelas, tapi aku sudah menemukan manusia itu ada di kamarnya. Sedang tertidur"
"Oke boys, ayo kita buat dia tidur selamanya" Begitu langkah kaki Loi dan Leon tertangkap oleh salah satu penjaga disana, keduanya diserang beberapa orang dengan tipe senjata yang sama. "Hh murahan" kata Loi dalam hati karena ia tau senjata itu tidak terlalu berbahaya. Itu tidak bisa menembus jaket anti pelurunya. Keduanya bersembunyi, dibalik tembok untuk sekedar menghindari serangan. "Babe aku akan menyelesaikan ini" "Baik, aku akan pergi dengan Rain" *cup "Berhati hatilah babe" "KALIANN!! CEPAT BERGERAKK ATAU AKU AKAN MARAH" kata Rain "Sialan Leon mencuri kesempatan" Dengan senjata Raging Bull di tangannya, yang jelas lebih baik dari senjata lawannya dan gerakkannya yang luar biasa cepat, Leon berhasil menghabisi 3 orang yang menyerang mereka dengan mudah. —----
"Sial. Bagaimana sekarang Loi?" Tanya Rain karena ternyata lorong menuju brankas berisi arsip kebejatan orang itu dijaga begitu ketat dengan beberapa orang bersenjata disana. "Kerjakan saja tugasmu Rain, akan kubuat mereka sangat sibuk" "Loi, senjata mereka lebih kuat" "Jangan remehkan pisauku darl, ayo" Dengan cerdik, Loi lempar dua pisau dari tangannya dan mengenai tepat di paha dua penjaga itu membuat mereka terjatuh kesakitan karena pisau yang menancap cukup dalam. Bergerak cepat, Loi keluar dari persembunyiannya dan menendang dua orang itu membuat senjata mereka berhasil terjatuh dan Rain mengambilnya dengan cepat. Loi dan dua penjaga itu, bertarung dengan beringas, membuat Rain ragu untuk menembakkan senjata pada mereka. "Rain cepat, kita tidak punya banyak waktu" kata Leon dari in ear mereka setelah mendengar beberapa kendaraan yang mulai mendekat kearah mereka. Rain keluarkan laptopnya, dan dengan segera ia meretas kunci berangkas itu. Meninggalkan Loi yang disibukkan dengan dua penjaga itu Sedikit Lengah, satu penjaga dengan kaki pincangnya mendekati Rain. "Sudah cukup pemanasannya"
Loi keluarkan katana kesayangannya dari punggungnya, dan menusuk perut penjaga dihadapannya tanpa ampun. *sring Terjatuhlah satu tangan penjaga yang mencoba untuk merebut senjata yang Rain amankan disampingnya, dan terjatuh ke tanah "Aaaakkk" "Kau mau menyimpan yang satu lagi? Atau kau berikan keduanya?" Kata Loi sombong. "Kurasa mulai sekarang aku tidak perlu mengkhawatirkanmu"
Penjaga itu ketakutan setengah mati dan lari dengan sekuat tenaganya. namun apa daya, ia malah jatuh setelah menabrak tubuh Ares yang berdiri tegap di ujung Lorong. Membuat darah dari tangannya yang putus mengotori pakaian Ares. "Sial. Kau membuat bajuku kotor" *dar "Bagaimana sayang?" Kata Ares sambil berjalan mendekati Loi yang berjaga di pintu brankas menunggu Rain menyelesaikan tugasnya "All clear. Semua buktinya sudah dapat" Kata Rain "Ayo cepat, mereka semakin dekat" peringat Leon "Jemput kami Leon" kata Ares dan semenit kemudian Leon sudah sampai di luar Lorong dengan mobilnya. "Tunggu Res, bagaimana si bejat itu?" Tanya Rain. "Ah, aku lupa membawa oleh oleh" "Kau membiarkannya utuh? Tumben sekali" tanya Leon "Hhhh" —-----
"Penipu jasa asuransi senilai 125 T berinisal 'OJ' ditemukan meninggal dunia dengan keadaan mengenaskan dengan mulutnya yang telah robek. Semua bukti tindak penipuannya ditemukan tersebar di halaman rumahnya. Seluruh aset serta hartanya akan dikembalikan kepada korban penipuan yang telah menuntut ganti rugi" "Hahaha pantas saja Ares tidak membawa oleh oleh" "Dengan mulut itu, dia menipu banyak orang" Ketiganya telah bersantai duduk di ruang tengah mereka seolah tidak terjadi apapun. "Darl, sungguh aku sempat gemetar melihatmu membabi buta tadi" "Jangan berlebihan, itu aku hanya sedikit bersenang senang" "Loi, aku tidak tau darimana kemampuanmu, tapi kau mencurigakan" kata Leon "Kenapa malah aku?" "Darimana coba kamu mendapat semua kemampuan itu, saat Paman Burke saja sangat manis" "Aku berlatih Leon, untuk melindungi diri. Itu kata bubu" "Kau hebat sayang" "Yaa, i know"