Kekehan kecil menjadi respon Loi saat ia melihat rentetan pesan dari kekasihnya yang manis. Jujur Loi merindukan ini, bagaimana ia berkata manja padanya. Tapi Loi saat ini memang sedang merindukan daddynya. Dan saat ia tidak baik seperti ini, hanya daddynya lah yang akan mampu menjadi obatnya. "Kau yakin tidak membiarkan mereka menyusul sayang?" "Tidak bu, nanti saja. Loi pengen sama daddy dulu" "Baiklah, bubu kira kamu sangat rindu pada Rain itu" "Haha memang" "Haha, padahal Rain adalah orang pertama yang ingin kamu kejar kan sayang?" "Bisa dibilang, dia cinta pertamamu kan?" "Hhh, tapi malah dia yang meragukanku" —-----
[16 : integrity ] "Wow dad, Iren baru sadar ternyata keamanan Athens dan Olimphyans sangat bagus" Cyrene duduk di sofa mewah di ruangan daddynya dengan santai setelah seperti biasa, Iren harus menghadapi drama penculikannya. "Memang, keamanan di Athens dan Olimphyans memang dibuat khusus" "Siapa yang membuatnya dad? Dia pasti sangat pintar" "Dwight yang membuatnya" "Hmmm, tunggu. Bukannya Dwight itu pemilik perusahaan periklanan yang besar itu? Dia juga kan yang mengiklankan bar milik daddy?" "Benar. Tapi itu hanyalah pekerjaan sampingannya baby. Dia seorang programmer dan pencipta yang hebat" "Wooww cool" "Daan, dia punya seorang putra yang manis" kata Daddy dengan tatapan menggodanya pada Cyrene. "Really?" "Wait a minute"
Cyrene mulai mengotak atik handphone di tangannya, tentu saja ia langsung mencari siapa putra Dwight yang manis itu. Floyd yang melihat putrinya begitu bersemangat hanya menyinggungkan senyumnya. Floyd benar benar tahu seperti apa keinginan putri satu satunya itu. "Hmm, Rainner Dwight," "Young Programmer. And robotics" "Interesting" "He's cute. And indedd sexy brain" "Benar kan? Daddy tidak mungkin berbohong" "Yea, he's cute" "Ingin daddy bawakan kesini?" "Tidak perlu. Iren sendiri yang akan membawanya kemari" "That's my girl" "Oke dad. Iren ke kamar dulu ya?" "Okay sayang" —----
Sejak tadi tak henti hentinya jari Cyrene mengotak atik handphone nya, mencari informasi apapun terkait makhluk bernama Rainner Dwight itu. "Bagaimana dia bisa manis dan tampan begitu?" "Sayang-" Cyrene dikejutkan dengan suara lembut yang tiba tiba masuk ke kamarnya tanpa ia sadari. Luar biasa sekali, baru beberapa waktu yang lalu nama Rainner Dwight muncul di hidupnya, tapi dia sudah berhasil menguasai perhatian Cyrene. "Mom? Bikin kaget aja" "Hahaha, kamu fokus sekali, sedang melihat foto siapa itu?" Kata sang ibunda yang kini ikut duduk di sisi ranjang Cyrene. "Tidak, tidak ada" "Hhh, kamu itu anak Mom sayang. Jelas mom tau apa yang terpancar di mata mu itu" "Siapa tadi?" Tanya nya lagi "Hehe, dia manis kan Mom?" Kata Cyrene sambil menunjukkan foto Rain yang tersenyum cerah mengangkat pialanya. "Benar. Dia manis" "Dulu, waktu kamu kecil kamu bilang pengen menikah sama orang kaya daddy. Sekarang udah ngga suka sama yang dingin dingin kaya daddy?"
"Mmmm, suka juga." "Hhh dasar" "Lagipula Iren kan masih kecil, baru juga 10 tahun, masa udah mau pacaran gitu?" "Ih, Mom. Ngga. Iren kan cuma bilang dia manis" "Kamu itu mirip sama daddy kamu, kalo udah mau pasti bakal dikejar sampai dapat. Yakan?" "Hmmm, lihat saja nanti hahah" "Okay, mom tunggu perkembangannya ya?" "Hahaha, iyaa mom" "Sekarang Iren siap siap ya? Kita makan ke bawah" "Okay mom" "Kejar sampai dapat ya?" "Itu pasti" —-------
"Kalau bubu boleh tau, kenapa Loi terima ketiganya? Kenapa tidak salah satu?" "Bu, jika Loi bisa mengendalikan hati Loi sendiri, Loi memilih untuk tidak jatuh cinta saja" "Kenapa begitu" "Karena kalau Loi jatuh cinta, sudah pasti itu pada ketiganya" "Bu, Loi sayang sama mereka sama rata." "Mungkin memang Rain yang pertama kali, Leon yang kedua kali, sedangkan Ares yang ketiga kali" "Tapi, jika berbicara soal besarnya cinta Loi, tidak ada yang pertama kedua maupun ketiga bu" "Kalian memang sangat beruntung" "Loi merasa sangat beruntung bertemu dengan mereka bu" "Dan Loi juga sangat berterimakasih sama bubu. Karena bubu, Loi bisa tau soal Leon" —---- "Burke, aku sempat melihat anak perempuan lewat tadi. Dia siapa?" Tanya Barnes yang sedang duduk bersama saudaranya setelah sekian lama mereka tidak bertemu. "Ah, dia putriku"
"Kau ini jahat sekali, kenapa tidak mengabari kalau kau punya seorang putri? Aku boleh bertemu dengannya?" "Ah, aku tidak tau apa dia akan mau. Tapi akan kutanyakan" "Baiklah" Burke berjalan dengan ragu ke kamar Loi, apakah akan baik baik saja jika ia mengenalkan Loi pada saudara tirinya? "Hai" sapa Barnes dengan senyumannya yang begitu hangat pada Loi yang berjalan menuju ke ruang tamu. "Halo, paman?" Kata Loi ragu. "Iyaa, benar. Aku paman Barnes, tapi paman akan lebih suka jika kau memanggilku dengan Ayah kaishawn" "Ayah?" "Begitulah cara anak paman memanggil" "Wahh, Ayah punya anak? Berapa usianya?" "Seusiamu" "Lihat, dia mirip dengan Ayah tidak?"
Pandangan Loi tertuju pada sebuah foto yang terpampang di layar depan handphone yang disodorkan kepadanya. Laki laki dengan bulu mata yang cantik dan senyum yang menawan memenuhi pandangannya. Itu hanya sebuah gambar, tapi kenapa jantung Loi overacting sekali? "Mmmm, tidak. Dia lebih tampan" kata Loi jujur "Hahahahaa, kasian sekali kau kak" tawa bubu pecah mendengar Loi yang berkata begitu santai. "Hahh, sudah biasa ini terjadi. Aku sudah tidak terkejut lagi" kata Ayah Kaishawn pasrah. "Ayah, dia seorang pembalap?" Tanya Loi penasaran mengingat foto laki laki tadi memegang sebuah helm "Leon memang suka sepeda motor, tapi Ayah belum banyak mengizinkannya bermain motor. Itu terlalu berbahaya" "Leon?" "Namanya Cleon" "Nama yang bagus, cocok dengan wajahnya yang tampan" "Ayah, boleh Loi minta tolong sesuatu?" "Minta tolong apa sayang?"
"Jangan katakan pada cousin soal nama Loi ya?" "Kenapa begitu?" "Mmmm, suatu saat nanti biar Loi saja yang berkenalan sendiri dengannya" "Ahhh, begitu?. Baiklah. Ayah janji, ayah tidak akan mengatakan apapun tentangmu" "Baiklah ayah. Terimakasih" "Kenapa rasanya sama seperti saat aku melihat foto Rain?" "Lalu siapa yang akan kukejar sekarang?" —----- Begitu sampai di mansion utamanya, tanpa basa basi Cyrene langsung menuju ruang kerja daddynya. Ia tau, daddynya itu banyak menghabiskan waktunya disana. "Daddy?" "Eh, Iren sayang? Kenapa malah kesini? Kekamar saja ya? Sebentar lagi daddy akan kesana. Iren istirahat ya?" Katanya khawatir karena daddy sudah mendengar kabar soal Cyrene melalui bubu
Tapi, bukannya menuruti perintah daddynya, Cyrene malah melangkahkan kakinya gontai dan langsung duduk di pangkuan daddynya memeluk tubuh kekar itu seperti koala. "Maunya sama Daddy" "Astagaa, kamu ini kalau sakit selalu begini. Manja" "Dad, badan Iren sakit semua" katanya begitu manja "Hmmm, makanya tidur yang benar dikamar saja, biar badan Iren ngga tambah sakit" "Maunya sama Daddy" "Hhahhh, iya baiklah. Kalau gitu ayo kekamar" "Kamar Daddy" perintah Cyrene "Iya tuan putri" Floyd merengkuh kuat tubuh putrinya yang benar benar menempel seperti perangko kepadanya, dan menggendongnya untuk dibawa ke kamar besarnya sesuai perintah si tuan putri. "Suh, selesaikan apa yang ada di meja. Saya tinggal dulu" perintah Floyd pada Personal Assistant nya, sambil menahan tubuh Iren yang memeluknya erat. "Baik tuan"
—---- "Dad" Pelukan daddynya yang hangat, detak jantung yang bagaikan lullaby baginya, semuanya sempurna. Waktunya bersama sang daddy memang tidak banyak. Karena itu, setiap pertemuan mereka selalu menjadi hal yang spesial. Setiap kebersamaan mereka terasa begitu ajaib. "Hm?" "Sudah kutemukan semuanya" "Apanya?" "Siapa yang ingin membunuhku dulu, siapa yang mencelakai mom, siapa yang menyerang mansion kita" "Sayang, ini bukan saat yang tepat membicarakan itu. Istirahatlah, kondisimu sedang kurang baik" "Jangan banyak memikirkan hal hal tidak penting dulu" "Itu penting dad" "Sayang-" "Dad, setelah Iren sembuh nanti akan segera kuselesaikan semuanya"
"Sayang, Dad bisa bantu Iren. Iren tidak perlu melakukan semuanya" "Ini dendam Iren dad. Iren kan sudah janji" "Dan ini juga dendam Daddy juga, karena mereka sudah mencelakai mommy mu" "Dad tau?" "Tau sayang, daddy tau semuanya" "Daddy sangat menghormatimu, daddy juga menghormati sumpahmu untuk membalas mereka, karena itu daddy tidak banyak ikut campur" "Tapi, saat daddy tau dalang dari semua ini adalah orang yang sama, daddy tidak akan membiarkanmu membalasnya sendirian" "Daddy juga akan membalasnya, demi mommy mu" "Kebejatannya memang harus dibayar setimpal. Sebenarnya apa yang dia mau dad? Hah? Dia mau harta? Bukankah dia juga kaya?" "Tidak sayang, dia mau nyawa kita. Lycan" "Entahlah, orang tamak memang tidak akan pernah cukup" "Hhahhh.. ingin sekali rasanya aku mencincang habis kepalanya" "Sayang, itu kejam" "Hah? Daddy apa apaan? Biasanya daddy lebih kejam"
"Iya sih, tapi kalau Iren jangan" "Dihh?? Ngga adil" "Hahaha" "Btw dad" "Apa?" "Daddy masih bisa masak pancake?" "Ya Tuhannn, Iren. Kapan terakhir daddy masuk dapur saja daddy sudah lupa, apalagi membuat pancake gagal seperti saat Iren kecil dulu" "Lebih tepatnya, pertama dan terkahir kali daddy memasak adalah pancake aneh itu" "Tepat sekali" "Dadd, buatkan untukku yaaaa?" "Tidak usah macam macam Iren" "Pleasseeeeeee" "Hhh, bagaimana aku bisa menolak permintaannya?" "Iya baiklah"
"Yaaayyyy" —-----
Memang benar, sudah puas Iren membuat repot daddynya selama 3 hari ini. Iren yang sedang manja meminta ini itu, membuat daddynya yang tidak bisa menolak itu kelimpungan. Dan kini, saatnya ia kembali ke rumahnya karena tiga bayinya sudah merengek. Dan kondisinya pun, sudah sangat baik. Pelukan Daddynya setiap malam benar benar obat paling mujarab yang Iren butuhkan. "Daaarllll" *brukk Baru saja Loi memasuki rumahnya beberapa langkah, ia sudah ditubruk tubuh Rain yang memeluknya erat. "Pelan pelaan Raiin" tegur Loi *cup cup cup "I miss you so much, and i'm sooooo sorry" katanya setelah membuat pipi dan dahi Loi basah karena ciumannya. "Iya iya, udah. Kasian tu yang belakang nunggu" kata Loi merujuk pada dua laki laki yang sama tinggi itu berdiri dengan senyuman mereka.
Setelah Rain melepas pelukannya, Ares berjalan mendekat dan menenggelamkan wajah Loi di dadanya yang bidang. Begitu damai rasanya. "Sudah sembuh sayang?" "Eung" *cup "Syukurlah" kecupan yang begitu dalam penuh dengan rasa sayang itu hinggap di pucuk kepala Loi,, "Gantian dong Res" Kata Leon dengan nadanya yang mulai sedikit kesal. "Utututuuu sini Babe" entah kemana perginya kekesalan Leon tadi, hingga sekarang dia malah bernada manja dan merentangkan kedua tangannya. *bruk "Hehhehe, udah ya sakitnya? Jangan pingsan gitu lagi. Rasanya nyawa ku juga ikutan copot kalo gitu" "Hhh iyaa, maaf ya?" "Lain kali kalo ada apa apa jangan di tahan okay?" "Iya babe"
"Okaayy, sekarang ayoo kita maammm" teriak Rain eksaitit, karena mereka sudah menyiapkan banyak makanan favorit mereka untuk merayakan kembali utuhnya rumah mereka. "Aku menemukan kalian, bukan satu atau dua, tapi kalian semua" "Dan sejak dulu, aku mencari kalian untuk menetap. Menjadikan kalian sebagai rumah" "Dan sebentar lagi, semuanya akan semakin semakin sempurna" "Ayo selesaikan semuanya" "Dan hidup bahagia" —------
[17 : The Mission] "Orang yang berniat membunuhku itu, dia memakai pisau damascus steel. Dimana itu ciri khas dari daerah asal mommy" "Dia satu kampus dengan paman. Itu berarti dia pernah berhubungan dengan keluarga mommy" "Dan dia juga pernah terlihat dengan mantan P.A dady" "Mommy, meninggal karena jatuh dari tangga" "Saat itu, di mansion, hanya ada mommy dan maid tiara" "Maid tiara, mommy membawanya dari daerahnya. Karena maid tiara adalah sahabatnya" "Dann. Maid tiara pernah terlihat duduk satu meja dengan paman di suatu acara" "Penyerangan yang terjadi di mansion, terjadi di hari yang sama dengan kematian mommy" "Mereka memanfaatkan kondisi kami yang berkabung untuk menyerang" "Mereka terlihat seperti saingan bisnis daddy. Dilihat dari atribut senjata mereka" "Tapi, hal yang mencurigakan adalah logat mereka" "Mereka berbicara seperti mommy" "Dan, ada satu hal lagi. Perjalanan dari daerah mommy ke mansion, memakan waktu 10 jam. Tapi, bagaimana mereka bisa sampai secepat itu setelah berita kematian mommy menyebar?" "Kecuali satu, kematian mommy, sudah direncanakan."
Semua puzzle kecurigaan Loi sudah tertata rapi, dan kini telah terlihat jelas gambar siapa yang ada di kepingan puzzle itu. "Dia paman mu Loi, kakak dari mommymu. Kau yakin akan membalasnya?" Tanya Leon kepada Loi yang kini mereka sibuk menyiapkan segala keperluannya di mansion. "Kakak macam apa yang tega membunuh adiknya sendiri?" "Dan itu hanya untuk harta?" "Cih. Bahkan dia tidak pantas disebut manusia" "Aku setuju darl. Dia menjijikkan" "Tapi sayang, kau yakin akan ikut? Ini akan menjadi penyerangan besar kan?" Tanya Ares khawatir "Iya babe, kemarin Bubu dan Daddy saja sampai memohon mohon padamu untuk tidak usah ikut" "Mereka pasti melakukan itu karena sebuah alasan kan?" "Mereka sangat mengkhawatirkan mu darl" "Yaaa memang. Mereka sangat mengkhawatirkanku. Tapi, aku sudah bersumpah untuk menghabisi bajingan itu dengan tanganku sendiri" "Hey. Kalian sudah berjanji kan? Jika aku selamat dari misi pertamaku itu, kalian tidak akan melarangku ikut kalian di misi apapun?" "Tapi babe it-"
"Sst. Leon jangan banyak tapi tapi. Sudah cepat selesaikan saja persiapannya" "Kita harus cepat bergerak" "Daddy tidak suka menunggu" "Ah, iya baiklah" "Semoga kita bisa kembali dengan selamat. Kamu harus kuat" "Nak" —------- "Bagaimana Rain?" "Mereka aman, sepertinya mereka tidak tahu soal penyerangan ini" "Okay baiklah, Ares masuk lewat sisi kiri" "Suh, masuk sisi kanan" "Aku, Dayton dan Iren akan masuk sisi depan" "Leon, tunggu aba aba, dan masuk retas gerbang dalam utama" Rumah utama keluarga Jessdeille dikelilingi komplek penjagaan yang cukup ketat. Tapi, itu tidak secanggih Athens dan Olympians. Oleh karena itu, Rain dengan mudah meretas kamera kamera disana, bahkan Rain sudah memutus koneksi mereka membuat mereka tidak bisa berkutik. "Kau hebat Darl"
"Hahahaha i know darl. You can count on me" "Nanti aja bucinnya simpen duluu" kata Leon protes karena itu terdengar jelas di in ear mereka ber7. Yak benar, bahkan Daddy, Bubu, dan om Suh juga mendengar mereka :). "Baby dengar, jangan pernah pergi dari sisi daddy. Iren tidak boleh jauh dari daddy. Ingat!" "Iya dad tenang saja. Aku sudah bersiap untuk ini" Mereka masuk dengan perlahan ke komplek itu, memang tidak ada masalah pada awalnya, mereka hanya terlihat curiga pada mereka tapi tidak menyerang sedikitpun. Tapi, tak lama setelah mereka berhasil masuk semua pintu disana kembali tertutup dan terkunci. Mereka terjebak. "Oh, jadi ini cara mereka bermain?" "Everyone, get ready. Jangan sampai mati" komando Floyd dari in ear mereka. Saat ini, daddy dan Iren dihadapkan dengan belasan orang bersenjata karena penyamaran mereka telah terbongkar. Sedangkan Ares sudah membrutal lebih dulu di sisi lain.
"Mereka tau pergerakan kita, mereka sudah merencanakan ini" kata Suh yang juga sudah mulai diserang habis habisan di sisi lain. "Plan b" Kode itu telah Leon terima, ia segera melajukan mobil paripurnanya, dan menuju ke arah Iren dan Floyd. Keduanya masuk ke mobil. Mengambil persenjataan jarak jauh mereka. "Cepat pergi Leon" "Baik tuan" Melalui sunroof mobil mereka, Iren dan Daddy menghabisi banyak musuh dengan M416 dan UMP45 di tangan mereka. "Ares bagaimana kondisimu" "Good sayang, keep going" "Good apanya Ares? Kita dikepung" kata Suh, yang kini bergabung dengan Ares mengamankan jalan keempatnya ke gerbang utama. "Dayton, semuanya siap?" "Saya butuh sedikit waktu lagi tuan" "Om Suh" kata Ares serius.
"Apa?" "Wanna play?" "Hah apa maksudmu?" Belum selesai Suh bingung dengan maksud Ares, Ares sudah melempar 2 Colt 1911 nya pada Suh. "Sudah cukup main mainnya" Anggukan keduanya menjad kode, dan mata mereka mendadak berubah. Lagi lagi, hanya ada neraka di tatapan mata mereka. "Hah, Ares sudah mulai gila disana" kata Leon yang sudah hafal sekali dengan tabiat Ares "Okay phase 2" "Dayton update" "More 5 minutes" Mendengar permintaan Dayton, Floyd dan Iren pun memilih turun dari mobil mereka. "Mau pakai yang mana sayang?" Tanya Daddy pada Iren yang setia di sampingnya. "Dad, wanna dance?"
"Of course" "LEON! Cover" teriak Iren, dan Leon sudah bersiap di sunroof mereka dengan senjata jarak jauh favoritenya. "Babe, berapa menit yang kau butuhkan untuk membuka gerbangnya?" "5-7 menit babe" "Got it" "Have fun dad" "Have fun sayang" Suara katana dari keduanya yang beradu dengan tanah, membuat mereka yang saat ini mengepung tim Floyd di gerbang utama merinding seketika. Ditambah dengan tatapan dan senyum keduanya bak psikopat haus darah, membuat mereka bergetar tak karuan. Hanya mengangkat senjata mereka saja mereka tidak mampu. Dan pada saat itu, Iren dan Floyd benar benar berduet dan mengayunkan katana mereka dengan brutal. *sringg "Ughh" Loi menatap kepala yang menggelinding ke arahnya.
"Mau membawanya sebagai oleh oleh?" Tanya Daddy masih sambil menahan serangan musuh yang menyerang mereka. "Ugh, no" balasnya sambil menyingkirkan kepala itu dengan kakinya. "Let's go" Dengan komando itu, keduanya menari dengan begitu luwes dengan kedua katana mereka yang terus mengayun. Tidak peduli bagian tubuh mana yang telah jatuh ke tanah, dan bagian tubuh mana yang mereka tusuk dengan brutal. Mereka justru terlihat sangat menikmati kebrutalan mereka. "It's fun" kata Loi sambil mengusap wajahnya yang terciprat darah dengan kain pakaiannya. "Yea baby, you doing great" balas Daddy yang sambil mencabut katanannya yang menancap di perut penyerang terakhir mereka. "Gilaa, aku jatuh cinta pada psikopat brutal" Kata Leon yang ikut merinding. "Done" "Rain?" "Done"
"Kembali ke mobil dalam 2 menit atau kalian akan mati" Dayton, Ares dan Suh, berlari sekuat tenaga mereka sambil menghabisi siapapun yang menghalangi jalan mereka. Memang benar, jika mereka tidak segera masuk ke mobil anti ledakan mereka. Maka sudah pasti mereka akan menjadi salah satu manusia panggang disana. Tepat sebelum detik terakhir, ketiganya berhasil memasuki mobil mereka dan Leon segera memacu mobilnya, masuk kedalam gerbang utama yang telah berhasil Rain buka. *boomm Bom yang telah Dayton letakkan diam diam di beberapa titik krusial meledak dengan kekuatan besar. Ketujuh manusia itu malah tertawa puas dengan kekacauan yang mereka buat. "Okay, now. Phase 3" Mereka bertujuh memasuki rumah besar yang tampak sepi itu. Mereka sudah memastikan bahwa tidak ada satupun Jessdeille yang pergi kemanapun.
Namun, suasana sepi itu tidak bertahan lama. Ditengah ruang utama yang luas mereka dikepung dan diserang dengan senjata api dengan brutal. Tapi, jangan salah. Gerakan mereka bertujuh lebih cepat jika dibandingan dengan gerakan lamban orang orang rendahan itu. Mereka pun mampu menyelesaikan jebakan kecil itu semudah menjentikkan jari. "Mereka ini beli senjata dimana? Buruk sekali" komentar Leon Yang hanya dibalas kekehan oleh mereka yang ada disana Mereka berpencar, Suh akan melindungi Rain mencari tahu dimana posisi paman Jessdeille itu berada. Leon dan Dayton akan membersihkan kecoa kecil tidak berguna Sedangkan Ares, Floyd dan Iren mereka akan bergerak perlahan juga mencari paman Jessdeille itu bersembunyi. Perjalanan mereka memang tidak mudah, banyak sekali jebakan dan serangan yang mereka dapatkan. "Kalian berdua begitu cocok. Sangat terlihat ada Jeorge didalam diri kalian berdua" komentar Floyd dalam hatinya ketika melihat Ares dan Iren yang bertarung dengan begitu serasi karena mereka memiliki pola yang sama, mereka
memiliki gaya bertarung yang sama. Tanpa berkomunikasi pun mereka bisa saling melengkapi dengan sempurna. "Darl, dia didalam kamar utama" "Haha, dia bersembunyi seperti tikus ya?" "Pergi lebih dulu Rain, Leon bersihkan jalan Rain." "Dayton, Ares, Suh, bersihkan disini" "Aku dan Iren akan menyusul Rain" "Got it" Leon dan Rain telah sampai di kamar utama lebih dulu. Rain bekerja meretas kunci pintu kamar utama itu dengan mudah. Namun, hal yang tidak terduga justru terjadi. Leon yang berada di belakang Rain, tiba tiba tertusuk pisau di bagian bahu dan pahanya. Membuatnya terjatuh, dan kesakitan. "LEON!" Teriakan Rain disusul dengan suara tembakan dari senapan milik Floyd yang dalam perjalanan menyusul keduanya. "Babe!" Teriak Iren "I'm okay, ini luka kecil. Tapi Rain, Rain ditarik ke dalam"
Mereka menatap pintu besar yang kembali tertutup dan terkunci itu. "Sial. Pintunya kembali terkunci" kata Iren "Hancurkan saja" Floyd dengan brutal menghancurkan pintu itu dengan katananya. "Res, we need cover. Leon terluka disini" "Aku kesana sayang" Ares yang menuju ke lantai tiga itu dikejutkan dengan Iren yang sedang melindungi Leon dan Floyd dari serangan. "Hentikan darah Leon sayang, akan ku selesaikan mereka" "Baik" Iren bergegas mencabut pisau yang menancap di bahu dan paha Leon dan mengikat lukanya dengan bandana yang memang sudah Iren siapkan untuk keadaan darurat. *brakk Pintu besar itu berhasil dibuka, setelah Floyd menghancurkan penguncinya. "RAIN!" teriak Iren ketika ia sudah melihat Rain yang babak belur, dan di ancam dengan pisau di lehernya.
"Oho, selamat datang adik ipar" kata laki laki yang berusia hampir 50 tahun itu. "Lepaskan dia Ron. Yang kau inginkan aku bukan?" Sedikit lengah, Ares dan Leon yang berada Sedikit dibelakang telah dibekuk dan dengan ancaman yang sama, pisau berada di leher mereka. Sebenarnya, mudah saja bagi Ares untuk melepaskan diri, tapi ini bukan saat yang tepat. Bisa bisa, Rain atau Leon akan kehilangan nyawanya di sini. "Hahahaha" "Kau? Memang. Mendengar namamu saja sudah membuatku marah Floyd. Kau dan keturunanmu memang harus dihabisi" "Paman? Apa yang paman inginkan? Harta?" "Harta??? Untuk apa? Aku punya banyak disini" "Tapi Kau! Kalian berdua!" "Kalian merenggut Adik ku. Karena menikah denganmu Floyd, adikku kehilangan kebebasannya. Adikku tidak pernah lagi menemui keluarga kami, bahkan saat orang tua kami mati. Dia juga tidak memberikan penghormatan terakhirnya" "Kau itu monster Floyd" "Dan tidak akan kubiarkan ada monster lain seperti mu didunia ini" "Paman yang membunuh mommy! Paman yang menyuruh maid Tiara melakukannya kan? Paman sendiri yang merenggut mommy dari kami!"
"Merenggutnya?" "Aku hanya membebaskannya dari penderitaannya. Penderitaan menikah dengan seseorang seperti kau Floyd" "Menderita?" "Sudah kuduga, kalian tidak akan pernah bisa merasakan penderitaannya. Tapi aku, aku bisa merasakaannya" "Setiap saat aku mendengar suaranya, aku selalu merasakan penderitaannya" "Bohong!" "Daddy bersikap baik pada mommy" "Ayah mana yang tega memisahkan ibu dari anaknya. Dan mengasingkan anaknya jauh dari ibunya selama bertahun tahun tanpa menemuinya?" "Mommy mu selalu tersiksa setiap harinya karena dia rindu padamu" "Jadi kau juga harus tersiksa Cyrene!" "Hentikan Ron!" Teriak Floyd "Hmmm, bagaimana dengan anak manis ini? Atau dua laki laki tampan disana? Kau mencintai mereka kan Cyrene?" "Bunuh saja aku. Lepaskan Iren" teriak Rain "Ahh, jadi itu maumu?" Baron sudah bersiap menggorok Rain dengan pisaunya, tapi gerakannya terhenti..
"Tunggu!" "Kau bilang, aku mencintai mereka? Dan kau mengancam ku dengan mereka paman?" "Bodoh" "Apa?" "Cinta itu merepotkan paman. Dan aku, tidak hidup untuk mengurusi hal menjengkelkan seperti itu" "IREN!!" *dar *dar *dar Tiga tembakan, melesat tepat di dada ketiga laki laki yang berlutut di lantai. Dan dalam sekejap, mereka meluruh, tak berdaya diatas lantai dingin berwarna putih itu. "Oh, jadi Floyd Lycan juga sudah membekukan hatimu?" "Kalian monster" "Kau dan keturunan mu harus mati Lycan!" Floyd dan Iren diserang habis habisan oleh beberapa orang disana, itu memang mudah bagi mereka. Katana mereka mampu membuat siapapun yang dihadapan mereka meregang nyawa dengan begitu sadisnya.
"Matilah kau dan juga calon anakmu Cyrene" Teriak Baron yang sudah bersiap menusuk perut Iren yang sedang sibuk menahan serangan beberapa orang dihadapannya, *jub "Akkkhh" "Daddyy!" Teriak Iren, yang melihat perut daddynya tertusuk pisau karena melindunginya. "SIALAN!" dengan kemarahannya Cyrene membabi buta mengayunkan Katananya, dan Cyrene dengan cepat menghentikan Baron yang hampir kabur dengan melempar pisau nya tepat mengenai leher belakang Baron, menembus hingga leher depannya. Setelah menghabisi semua orang di ruangan itu, Cyrene berjalan dengan menyeret katananya. Ia mengejar Baron yang sudah sampai di ambang kematiannya. Melihat Baron yang bahkan sudah tidak mampu berdiri diatas kedua kakinya, Cyrene menusuk punggung Baron dengan katananya, membuatnya terjatuh tersungkur. Dengan kakinya, Iren gerakkan tubuh itu dan untuk terlentang menatapnya, dan-
*Jubb "Ini untuk papa, karena kau dia mati melindungiku" *Jubb "Ini untuk mommy, karena kau dia pergi dariku" *Jubb *Jubb *Jubb "Ini untuk tiga kekasihku, karena kau, aku harus mengangkat senjata kepada mereka" *Jubb "Dan ini untuk daddyku, kau melukai perutnya bajingan" *Jub "Satu lagi. Ini untuk calon anak ku. Kau berniat melukainya." Tujuh tusukan katana di setiap bagian tubuh Baron, menghancurkan tubuhnya. Membuat pakaian putih Iren kini berubah menjadi merah karena darahnya. Melihat mayat sang paman yang sangat mengerikan, iren berdiri dan menatapnya nyalang.
"Kita berhasil nak. Maaf Aku harus membawamu di kondisi seperti ini" kata Iren sambil mengusap perutnya sayang "Siapa yang masih hidup? Jawab aku" "Aku sayang" "Darl, sakitt" "Babe, perih banget ini" "Baby, dad bisa mati kalau tidak cepat cepat" "Tuan Lycan?" "Kita segera keatas" Mereka semua menjawabnya. Mereka semua berhasil. Rencana mereka berjalan dengan sempurna. —--- "Sayang, kau hamil?" "Babe, jujur!" "Aduh, aku gakuat marah, muka gantengku babak belur sialan" "Hehehe" "Kita bahas dirumah"
—---- Mereka lebih dulu merawat luka mereka di salah satu penthouse milik Lycan yang berlokasi tidak jauh dari mansion Jessdeille. Dan ketika perawatan mereka selesai, kini Cyrene dihadapkan dengan tiga laki laki yang menatapnya tajam, Cyrene pun hanya bisa menghindari tatapan ketiga kekasihnya yang menyeramkan itu. "Iren!" "Jangan panggil aku begitu Ares" "Bagaimana bisa, si bajingan itu tau kau hamil sedangkan kami tidak Iren?" Marah Leon "Darl, kami kekasihmu. Dan kami berhak tahu kondisimu. Bisa bisanya kau tidak memberi tahu kehamilanmu?" "Kalian tidak akan mengizinkanku ikut jika kalian tauu!" "TENTU SAJA! ayah mana yang akan tega membahayakan calon anaknya Iren!" Tegas Ares. "Maaf" kata Cyrene pasrah pada akhirnya. "Kalian baik baik saja kan?" Tanya Ares melembut
"Berapa usianya babe?" Kata Leon yang kini berpindah ke sisi Cyrene dan mengelus perut yang masih cukup rata itu. "6 minggu?" "Atau 7 ya?" "Sudah selama itu dan kami tidak tau?" Kesal Rain. "Jawab pertanyaanku sayang, apa kata dokter tadi?" "Kami baik baik saja Ares, tenang saja" "Kalian, harus jaga Iren dan cucuku! Atau kalian bertiga akan habis ditanganku" kata Daddy yang muncul di ambang pintu tiba tiba "Tuan Lycan tau?" "Hahh.. selama tiga hari Iren membuatku sibuk dengan semua permintaannya, membuat kepalaku hampir pecah" "Heheh, maaf dad. Kan dedenya yang mau bukan Iren" "Alasan" "Bagaimana tuan Lycan bisa tau?"
"Saat Iren sakit kemarin. Dokter bilang bahwa ada janin di perutnya, dan Iren meminta ku merahasiakannya dari kalian. Tapi tidak dari daddynya" sahut Bubu yang juga ikut bergabung dengan mereka. "Sangat tidak adil. Semuanya tau, tapi kita bertiga tidak" "Kan kejutan" kata Iren santai "Terkejut banget sih babe" "Tapi…" "Dedenya anak siapa ya?" Tanya Rain "Anak ku lah" Jawab Leon pede "Jelas dia milik ku" Jawab Ares tak mau kalah "Dahlah, males. Dad pergi aja yuk" kata Cyrene berbisik kepada daddynya dan meninggalkan ketiganya yang ribut. "Dad" "Hm?" "Setelah ini, boleh aku keluar sebagai Cyrene Lycan?" "Maksudmu?"
"Iren ingin dikenal dunia sebagai putrinya daddy" "Tapi sayang, bagaimana jika nanti ada sesuatu hal buruk yang terjadi?" "Iren punya mereka bertiga, dan daddy, bubu, semuanya" "Iren akan baik baik saja dad" "Hm, baiklah" "Masih mau lanjut sekolah di NEO? Atau Iren sudahi saja?" "Hanya tinggal ujian akhir tersisa Dad, biar Iren selesaikan semuanya" "Kapan ujian akhirnya sayang?" "1 bulan lagi" "Bagaimana dengan dedenya?" "Kami akan menjaganya tuan Lycan" "Siapapun yang berani menyentuhnya, akan berhadapan dengan kami" "Kami akan melindunginya" "Yaaa, itu harus"
"Thankyou dad" "Baiklah, kita kembali besok" —-----
[18 : Lycan] Setelah mereka beristirahat beberapa hari, dan luka mereka pun sudah membaik. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke sekolah. Dan sudah mereka duga, kembalinya mereka pasti akan membuat buah bibir.
Karena bekas luka yang masih menonjol dan tidak mampu ditutup dengan makeup itu.
"Tuan Lycan. Apa yang membuat anda harus kemari secara pribadi tuan?" Tanya kepala sekolah NEO menahan ketakutannya melihat munculnya Sang Lycan yang terkenal. "Putriku sedang hamil. Dan dia masih ingin menyelesaikan ujiannya disini" "Jika aku mendengar sesuatu yang mengganggunya, kurasa sekolah ini cukup layak untuk dijadikan kandang singa" "Uh-mm putri anda?" "Maaf tuan Lycan. Tapi saya tidak tahu siapa putri anda" "Ah, Eloise Dayton. Dia putriku Cyrene Lycan" "M-major Dayton?" Kagetnya "Ya, Dia putriku" "M-maafkan kami tuan. Kami benar benar tidak tahu. Maafkan kami. Kami berjanji akan menjaganya tuan" katanya panik. "Ya, baiklah" "Dan satu lagi. Lais, Kaishawn, dan Dwight. Biarkan mereka lakukan apapun untuk putriku" "Ah- baiklah tuan baik. Akan saya ingat" Lutut kepala sekolah NEO dibuat lemas setelah kepergian Floyd Lycan dari ruangannya. 5 menit bersamanya benar benar membuat nafasnya tercekat, ia benar benar mampu mencekiknya tanpa melakukan apapun. Mungkin jika ia
lebih lama bersamanya maka besar kemungkinan kepala sekolah itu akan terbunuh. "Jadi selama ini, Major Dayton adalah putri seorang Lycan" "Benar benar tidak terduga" —----
"Hhahhh, babe? Bagaimana menurutmu?" Para Majors saat ini sedang berkumpul di ruang kehormatan mereka, seperti biasa. Dan kehebohan yang terjadi sama sekali tidak mengusik Cyrene yang sedang duduk dengan Rain yang menjadikan pahanya sebagai bantal dan sejak tadi tak berhenti mengajak janin kecil Cyrene berbicara.
"Rain, dia bahkan belum bisa mendengarmu" kata Cyrene sambil mengelus kepala Rain lembut "Rain, kamu itu berat. Kasihan Iren" tegur Ares "Iya ih, Rain kasihan dede bayinya" tegur Bian yang juga duduk disana bersama mereka "Bilang aja kamu iri" ejek Rain dengan menjulurkan lidahnya. "Terserahh" "Hei heii, jawab aku. Bagaimana kita menghadapi netizen guys?" Kata Leon lebih keras. "Jawab saja sesuka kalian" kata Cyrene pada akhirnya "Benarkah? Boleh kami mengaku?" Tanya Rain eksaitit "Terserah" "Yaayyyy"
Pernyataan yang diberikan Cyrene di akun twitternya benar benar membuat banyak keributan.