The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 21:18:13

lycan

awkwk

"Baiklaahh, lets goo kita rayakann. Aku sudah memesan ayamm dan birr" kata Rain eksaitit "Biasanya kau akan membeli eskrim" ejek Leon "Diamlah bodoh" "Uuhh, imut sekali Rain ku ini" kata Loi ikut ikutan mengejek. Tapi malah justru mendapat tatapan terkejut dari ketiganya. "Kenapa kau manis hanya kepada Rain?? Aku bagaimana?" Protes Leon "Benar sayang, aku juga mau" sahut Ares "Karena aku kesayangan Loii" kata Rain sambil memeluk Loi erat. "Hhh" —----- "Sayang, kenapa masih berdiri disini?" Loi yang sedang menikmati hembusan angin malam yang tenang, pasca keributan yang terjadi beberapa jam lalu, dikejutkan dengan suara Ares yang tiba tiba saja muncul di belakangnya tanpa aba aba. "Hm?"


"Masuklah, ini sudah tengah malam. Lagipula anginnya juga dingin" "Kau duluan saja, aku akan masuk sebentar lagi" "Ada yang kau pikirkan sayang?" Kata Ares yang kini justru ikut melangkah keluar balcony, dan memeluk pinggang kekasihnya itu, menyalurkan suhu tubuhnya yang lebih hangat ke punggung wanita kesayangannya itu. "Banyak, tapi jujur aku sangat menyukai adrenaline ku yang kembali dibangkitkan tadi sore" "Kembali?" "Sayang, kau sangat hebat" "Yaah, tak sehebat dirimu. Tapi, aku berusaha" "Boleh aku tau kenapa kau bisa seperti ini? Ah, maksudku kenapa kau tidak takut darah? Bahkan kau bisa bertindak sebrutal itu" "Hmm, kenapa ya? Mungkin karena aku suka adrenaline. Ketika aku ditantang untuk menghabisi seseorang aku merasa jiwaku lebih hidup berkali kali lipat" "Kejam juga kau ini" "Hahaha" "Sayang, mau aku beritahu sesuatu yang bisa meningkatkan adrenaline juga?"


"Hm? Apa?" Dengan seringaian kecil yang muncul di bibirnya, Ares memulai aksinya dengan mengecupi setiap senti ceruk leher Loi, lidahnya yang hangat menyapa kulit Loi dan meninggalkan jejak saliva yang terasa dingin ketika diterpa angin malam. Merasa tidak adanya pemberontakan, Ares putar tubuh Loi sedikit kasar dan mengukungnya di antara dirinya dan railing berbahan besi itu. Pandangan Loi saat ini hanya dipenuhi tatapan Ares yang begitu tajam, aura dominasi menguar begitu kuat dari laki laki dihadapannya sekarang, dan itu membuat Loi sedikit meredam miliknya, membiarkan Ares mendominasi dirinya kali ini. Dihadiahi tatapan sayu dan sentuhan lembut dari wanita dihadapannya, Ares sudah tidak mampu lagi menahan dirinya. Dengan tergesa Ares raup bibir Loi yang sudah menjadi candunya sekarang, kekuatan Ares dalam mendominasi Loi sangat tidak main main, Ares perlakukan Loi cukup kasar, tidak peduli saat ini punggung Loi sudah memerah karena beradu dengan besi yang sangat keras. "Aakh" Rintihan kecil yang keluar dari bibir Loi sama sekali tidak membuat Ares memberikan sedikit pengampunan kepada Loi, itu justru membuat Ares semakin membabi buta membelit lidah Loi dengan rakus tidak peduli ciuman mereka saat ini sudah terasa berbeda karena darah yang bercampur saliva.


"Mmhh" Puas membuat bibir Loi membengkak gemas, Ares mencari target lain dengan menarik piyama Loi dengan kasar, membuat beberapa kancing dari baju itu berceceran di lantai menggelinding tidak tentu arah. Melihat kulit Loi yang begitu mulus tanpa cacat sama sekali membuat libido Ares semakin melonjak tinggi. Saat itu juga Ares nodai kulit Loi dengan gigitan kecilnya menimbulkan ruam merah di permukaan dadanya. Laki laki April itu, tidak kunjung puas membuat luka di dada hingga tulang selangka Loi, karena itu kini ia jatuhkan piayama Loi dari pundaknya, membuatnya tertahan di lengan bawahnya. Ares begitu menyukai pundak Loi yang memiliki tahi lalat kecil disana, menurutnya itu sesuatu yang membuatnya terlihat lebih sexy. Lagi lagi Ares bubuhkan ciuman ciuman geli di pundak Loi, namun kali ini, tangan kekar Ares sudah tidak diam lagi, ia mulai meraba raba pantat sintal Loi dan meremasnya kuat seolah itu adalah bantal boneka yang tidak bisa mengaduh. "Mmhh Aresh" Benar. Ares benar. Ares memberinya adrenaline yang begitu kuat. Mendengar namanya disebut dengan begitu indahnya, Ares dibuat buta, tanpa melihat tempat mereka berdiri sekarang, dengan beraninya Ares mulai meraba punggung Loi berusaha mencari kaitan bra nya disana.


"Ekhmm" Keduanya yang sedang berada di ambang surga itu, dibuat terkejut dengan interupsi tidak sopan yang ternyata sudah berdiri sedekap dada di depan pintu balkon mereka. "At least jangan di luar juga, kalian punya kamar kan?" Tegur Leon yang terlihat kesal. Bukan terlihat lagi, tapi Leon memang kesal. Tidurnya di ruang tengah terganggu suara suara yang membuatnya juga ikut terpancing, tapi bukan dia saat ini yang mendapatkan kesempatan itu, menyebalkan bukan? Senyuman kecil hadir di bibir Loi, jelas ia tau kalau Leonnya ini pasti kesal sekarang. Loi tatap Aresnya terlebih dahulu, sama asamnya. Dua laki laki ini memasang mimik wajah yang sama. Jika Loi tinggalkan keduanya sekarang, sudah pasti mereka akan bertarung. Loi langahkan kakinya perlahan menghampiri Leon yang masih bersandar di kusen pintu dengan tatapan kesalnya. Namun, setiap langkah kecil yang Loi ambil, itu mampu memporak porandakan pertahanannya. Piama sutra yang berkibar terhembus angin, membuat Leon terpana. Wanitanya ini, terlihat begitu mempesona bahkan dengan jejak luka di tubuhnya. Walaupun itu, bukan hasil karyanya. Melihat Leon yang tidak berkedip sama sekali, membuat perempuan Aries itu terkikik geli. Ia meraih tangan kekar milik Leon, dan ikut menariknya keluar


balkon, tentu saja Leon akan menurut seperti kucing lucu, itu karena dia telah terhipnotis dengan tatapan yang Loi berikan. Loi bawa Leonnya untuk menghadapnya dan menggantikan posisinya membelakangi railing. "Jangan kesal begitu babe, kalian sudah janji akan saling berbagi kan?" "Aku tidak akan kesal jika kalian tidak meninggalkan ku" "Maka sekarang giliranmu" Mendapat kalimat keputusan dari Loi, dengan nafsunya, Leon menggantikan bibir Ares melumat bibir Loi yang bahkan belum sembuh dari bengkaknya. Tapi itu justru membuat ciuman mereka semakin bergairah. Ditambah dengan Ares yang masih setia merengkuh pinggang Loi, dan mengecupi tengkuknya lembut. "Mmhhah" Jika bicara soal ciuman, Leon memang mendapat juara pertama di hati Loi. Karena Leon sangat pandai membawa Loi larut kedalam perasaannya. Penuh gairah dan cinta, itu yang Leon curahkan melalui ciumannya. "Res, kita habisi dia didalam" kata Leon dengan suara beratnya. "Ayo" "Well, have fun Loi!" Kata Loi terlampau senang kepada dirinya.


—------


[11 : Marah] "Hooaahhmmm" Mata rubah yang berbinar indah itu menyambut paginya dengan sinar cahaya yang masuk melalui sela sela hordeng besar di ruang tengah mereka. Karena terlalu mabuk, ia pingsan begitu saja disana. Sama sekali tidak tahu apa yang terjadi tanpanya. "Pada kemana sih kok sepi?" Niat hati Rain ingin menyapa burung burung yang berkicau riang melalui balkon yang langsung mengarah ke area luar rumah. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di balkon Rain menemukan piyama sutra dengan aroma khas dari tubuh wanitanya tergeletak di sana. "Loh, Loi?" Dengan tergesa Rain berlari ke arah kamar Loi berada. Ia ketuk pintu berbahan kayu itu dua kali, tidak ada jawaban. Karena perasaan khawatirnya, Rain buka pintu itu secara paksa. Namun, apa yang dihadapannya saat ini, membuatnya ingin mengacak acak seluruh dunia. Loi tertidur dengan dua pacar lainnya yang memeluknya erat, dengan bagian tubuh atas mereka yang terekspos.


Sudah pasti mereka tidak memakai apapun saat ini. Rain mengepalkan tangannya kesal. Memang. Memang, sejak awal Rain sudah harus menerima resiko ini. Resiko dimana wanitanya bukan hanya miliknya, tapi juga milik 2 orang lainnya. Tapi tetap saja, hati Rain selalu sakit ketika melihat Loi lebih memilih Ares atau Leon. Seperti saat ini, Rain yang ditinggal sendiri. —--- "Mmhhh, Lepas Leon" Kata Loi protes karena lengan kekar Leon melingkar kuat di perutnya. "Kakimu berat Ares" Dengan sedikit kasar, Loi hempaskan tangan dan kaki kedua kekasihnya itu dan melepaskan diri dari himpitan keduanya. 10.00 am Loi sadar, ia bangun cukup siang sekarang. Walaupun ini hari libur, tapi tetap saja, ia tidak biasa bangun se-siang ini. Salahkan dua laki laki ini yang membuatnya begadang semalaman.


Loi, turun dari kasurnya, dan menyambar kimono berwarna putih yang selalu tergantung rapih di lemarinya. Setelah sedikit mencuci muka dan menyikat giginya, Loi langkahkan kakinya kearah dapur untuk memasak sesuatu. Karena jelas ia hafal, bahwa kekasih kecilnya yang manis sering mencari sesuatu untuk dimakan saat bangun tidur. Apalagi semalam ia mabuk berat. Selesai membuat sup untuk menghilangkan pengar, niat hati Loi ingin membangunkan kekasih cerdasnya itu. Tapi, ia tidak menemukan siapapun di ruang tengah. Begitu pula di kamar Rain, ia tidak ada dimanapun. "Rain kemana?" Tidak menyerah untuk menemukan kekasihnya, Loi kembali berkeliling untuk mencari sosok dengan wajah yang manis dan tampan bersamaan itu. "Oiya" *tok tok Rain yang sedang duduk di kursi mahalnya dengan perasaan marah campur kesal, dibuat lebih kesal karena ketukan yang mengganggunya. "Rain"


Kata seseorang dari balik pintu, dimana Rain jelas tau siapa yang ada di baliknya. Seseorang yang membuatnya kesal tentu saja. "Rain, buka pintunya darl" Pintu ruangan Rain, hanya ia yang bisa membukanya. Bahkan alat peretas smart lock yang Rain ciptakan saja, tidak bisa meretas kunci pintu ruangan Rain ini. "Darl, jangan sampai aku membobol pintu mu" *ceklek "Apa?" Kata Rain dengan muka sangat masamnya dan kata dinginnya. "Hei ada apa?" Kata Loi lembut. "Kenapa mencariku?" "Aku buat sup pengar untukmu, kamu mabuk berat semalam" "Masih peduli padaku?" Tanyanya tanpa merubah ekspresi dan nada bicaranya. "Darl, kenapa? Hm?" "Kenapa? Kamu masih tanya kenapa padaku?" "Kamu meninggalkan ku Loi. kamu bersama Ares dan Leon semalam"


"Sehebat apa mereka sampai kau melupakan ku?" "Astaga, hahaha. Cemburu ternyata" "Mmm mereka hebat" kata Loi dengan sengaja. "Sudahlah. Sana kamu sama mereka saja. Jangan cari aku" kata Rain semakin kesal dan mendorong tubuh Loi agar keluar dari Ruangannya. "Yakin?" Kata Loi main main "Pergii Loi" "Oke kalo begitu maumu, aku pergi saja" kata Loi dengan tatapan jahilnya sambil meninggalkan ruangan Rain dan menutup pintunya rapat. "IH KESEL. LOI NGESELIN!" Amuk Rain, ia mengira Loi akan merayunya, tapi apa? Loi malah meninggalkannya. Menyebalkan. "Hhhh lucunya" Menjelang siang hari, perut kecil Rain tiba tiba berteriak minta di isi. Ia belum makan apapun sejak pagi. Perlahan Rain keluar dari persembunyiannya, berjalan perlahan berharap ia tidak akan melihat siapapun dulu untuk saat ini. Tapi seolah dunia ini benci Rain, Rain justru melihat Loi, Ares dan Leon sedang berkumpul di meja makan untuk makan bersama. Lagi lagi tanpanya.


"Ih kesel sama Loi" "Tapi laper" "Hmmm gimana ya?" *kruukk "Bodoamat aku mau makan" Rain berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju ke kulkas, ia mengambil eskrimnya, dan duduk di meja makan dengan kesal pula. Rain ambil piring, lauk dan nasinya dengan cepat. Tanpa menatap siapapun di meja makan itu, padahal ketiganya sedang menatap Rain sambil tertawa kecil. "Gemes banget pengen hap" "Babe, aku pergi dulu ya. Aku harus ke bengkel kontrol motor buat kompetisi" "Iya babe hati hati" Gerakan Rain melambat mendengar percakapan antara dua orang di hadapannya itu. Dan kemarahannya semakin dibuat membara saat Leon meninggalkan kecupan singkat dibibir Loi sebelum meninggalkan ruang makan dan beranjak pergi. "Aku juga ya sayang, aku harus kekantor mama. Dia membutuhkanku" "Tentu sayang" Sama dengan Leon, Ares tinggalkan ciuman yang tidak singkat di bibir Loi.


*brak Ciuman mereka dipisahkan oleh Rain yang sengaja sedikit kasar memundurkan kursinya hingga terjatuh. "Hhh, kamu urus pacar kecilmu itu ya sayang" "Rencananya berhasil. Dia pasti semakin kesal sekarang" "Hhh, kamu ini jahil sekali" "Lagian dia lucu banget" "Hhh, baiklah aku pergi dulu. Mama udah nunggu" "Okay hati hati" "Selamat bersenang senang sayang" "I will" —---- "Terimakasih bi, bibi bisa pulang sekarang" "Baik non, bibi pulang dulu" "Terimakasih" Setelah bibi yang bertugas memasak dan membersihkan rumah mereka menyelesaikan tugasnya, kini hanya tinggal Rain dan Loi sendiri di rumah yang begitu besar itu. "Ayo Loi kamu masih harus mengurus satu bayi lagi" kata Loi yang baru saja berniat untuk beranjak dari duduknya di ruang tengah sedang menonton acara tvnya. *ting tong


Langkah kaki Loi yang baru saja akan menuju ke ruangan rain itu terhenti, dan berbalik menuju ke arah pintu. Senyum paling cerah seketika terbit di bibir Loi ketika ia melihat dari monitor siapa yang berdiri didepan pintu rumah mereka. *ceklek "Bubuuuu" teriak Loi sambil menghambur ke pelukan laki laki tampan itu dan memeluknya erat "Aduh aduh, sayang pelan pelan. Nanti kalau jatuh gimana?" "Hehehe ayo masuk bu" "Kenapa sepi sekali, kemana tiga pacarmu sayang?" Kata bubu Jahil "Wkwkw, Ares dan Leon sedang keluar bu. Mereka ada urusan" "Yang satu lagi?" "Ada di ruangannya" "Ohh, baiklahh" "Buu, Loi kangen banget sama bubu" "Ya ya, bubu tauu. Sudah jelas kamu menempel terus begini" "Hehehe"


"Kau sudah bertemu daddy?" "Belum, 2 bulan ini daddy tidak menjemputku. Dia sibuk ya bu?" "Yahh, memang dia sedang mengurus banyak hal sekarang." "Padahal Loi kangen" "Buu, masakin ramen dong. Loi kangen ramennya bubu" "Hhh siap princess ayo kedapur" "Yesss" —--- "Hahhaa memang" Rain yang sedang menuruni tangga untuk meletakkan piring kotornya di dapur spontan terhenti ketika ia mendengar sayup tawa Loi disusul dengan suara tawa berat seorang laki laki. "Huhh, siapa lagi sih? Loi benar benar tidak peduli padaku" Rain semakin dibuat kesal, tapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk menuju ke dapur, karena sesungguhnya Rain juga penasaran siapa yang datang. "Tuan Dayton?" Kaget Rain, ketika melihat laki laki berambut oranye begitu tampan sedang berada di dapur ditemani Loi yang bercanda dengannya.


"Oh, hai Rain?" Katanya ragu karena ini untuk pertama kalinya keduanya bertemu secara langsung. "Sejak kapan sampai tuan Dayton?" Tanya Rain berjalan mendekat ke arah bubu.


"Sejak tadi, kau saja mengunci diri di ruangan mu" sahut Loi dan mendapatkan lirikan tajam dari Rain. "Hey hey, ada apa ini? Tampaknya kalian sedang berantem?" Rain menghindari tatapan bubu padanya, dan menuju ke sink untuk mencuci piringnya sendiri. "Itu tuh bu, ngambek anaknya" adu Loi "Hmm? Kenapa anak manis ini marah?" "Bagaimana tidak marah bu, Loi saja tidak peduli padaku" adu Rain juga spontan ikut memanggil bubu secara tidak sadar "Eh, maaf" lanjutnya "Tidak papa, justru bubu senang kamu memanggil begitu" "Kenapa tadi? Loi tidak peduli?" "Iya, bu. Semalam…" Rain menahan kalimatnya, hampir saja ia mengatakan pada bubu bahwa Loi melakukan hal hal itu bersama 2 pacarnya yang lain, tapi tidak dengan dirinya "Semalam kenapa?" "Mmm" "Biasa bu, dia cemburu. Semalam aku bermain bertiga dengan Ares dan Leon"


"HAH? LOI? Kenapa dia bicara begitu dengan santainya kepada bubu" "Astaga kau ini, pantas saja. Memangnya Rain kemana sampai ditinggal begitu?" "Dia mabuk berat, pingsan di ruang tengah jadi yasudah kita tinggal saja" "Astaga, kamu harus adil sayang. Kamu sudah berjanji kan?" "Hahah, iya buu tenang saja. Loi akan adil kok" "Rain.. Rain!" Panggilan dari bubu mengagetkan Rain dari keterkejutannya. "Huh? Iya bubu?" "Mau ramen juga? Bubu akan buatkan juga untukmu" "Umm, boleh bu" "Baiklah, duduklah disana sama Loi. Akan bubu buatkan untukmu juga" "Terimakasih" "Jangan marah begitu" kata Loi begitu Rain duduk tepat di sampingnya. "Kau tidak dengar tadi? Bubu bilang harus adil. A D I L Loi" tekan Rain *cup "Iya iya, tunggu saja giliranmu" kata Loi dengan santai setelah mencium sekilas pipi Rain. Dihadapan bubunya.


"Lihatlah lycan. Putrimu, dia sangat manis" "Ada bubu Loi, bicaralah yang benar" "Kenapa? Bubu bahkan tidak masalah" "Yakan bu?" "Yah bubu sudah hafal dengan tingkahmu itu" "Hehehe" "Karena kau sangat mirip daddymu" —---- "Kalau begitu bubu pulang ya princess" "Yahhh, bu. Kenapa tidak menginap?" "Kalau bubu menginap, nanti bagaimana kamu bisa memberikan giliran Rain?" Kalimat yang keluar dari laki laki dengan senyum jahilnya itu, spontan membuat pipi Rain yang duduk bersama mereka seketika memerah "Hmm iya juga. Nanti anak bayi ini akan semakin kesal" "Hahaha, yasudah. Bubu pulang dulu" "Hati hati buu, bubu harus sering kesini. Loi kan kangenn"


"Iya iya sayang. Bubu akan sering kesini" "Okay, hati hati nyetirnya ya bu" *cup "Bye princess" "Bye bubu" —--- "Apa? Kenapa menatapku begitu?" Tanya Loi yang kini kembali duduk di ruang tengahnya setelah mengantar bubu sampai halaman rumahnya "Aku masih marah padamu" "Kenapa lagii?" "Kau ini, kenapa bicara begitu dihadapan bubu? Dan bubu biasa saja?" "Bubu tadi sudah bilang kan, kalau dia sudah hafal dengan sikapku?" "Oh, jadi kau memang sering begitu ya?" "Hh, tidak juga. Kalian itu pacar pertamaku" "Lalu, kenapa bubu tadi bilang begitu?"


"Yahh, aku memang flirty. Dan bubu sudah tidak kaget dengan itu" "Hmmm, kau memang aneh" "Hhh" "Jadi darl? Masih marah?" Tanya Loi, tapi hanya dihadiahi tatapan datar saja oleh Rain. "Oh, okay kalo masih marah. Aku ke kamar saja" *greppp "Nggaa, udah ngga marah" kata Rain lucu sambil memeluk punggung Loi erat. "Kalo kamu lucu imut gini, mending jadi sub ku aja ngga sih darl?" "Heh, sembarangan. Imut gini aku bisa bikin kamu pusing keenakan juga kali" "Oiya?" "Buktiin" "Hhh, lets go" kata Rain sambil membawa tubuh Loi dengan bridal style. Kuat juga ternyata ya. "Mmmhh Rain" Rain belai setiap permukaan punggung Loi dengan hidungnya yang kini ia himpit di tembok kamarnya.


"Ahh, Rain" "Mereka memperlakukanmu dengan kasar ya? Tubuhmu penuh luka seperti ini" "Hmmm" "Aku akan mengobatinya untukmu darl" Rain berikan kecupan yang begitu lembut disetiap luka di tubuh Loi. Loi bisa rasakan luapan cinta disana. Rain memperlakukannya begitu lembut dan penuh perhatian. Itu membuat Loi begitu merasa dicintai. Loi menyukainya. "Rainhh, more" "As you wish darl" —--- "Hahaha mereka bodoh" Leon dan Ares yang barusaja memasuki rumah sudah disambut dengan tawa ceria dari suara Rain. Itu jelas membuat mereka bingung, secepat itu Rain meredakan amarahnya? Karena penasaran akhirnya mereka bergegas menuju ke sumber suara itu tercipta, yakni ruang tengah mereka.


"Loh, udahh?" Tanya Leon tanpa basa basi. Ketika melihat Rain yang tiduran manja di paha Loi sambil menonton acara film mereka. "Stoppp" "Kalian berdua ngga boleh deket deket Loi" kata Rain tegas dengan menatap dua laki laki kelahiran 2000 itu bergantian. "Kenapa sih? Jangan aneh aneh kamu Rain" Leon masih tidak terima. "Kalian berdua bisa ngga sih jangan sakitin Loi? Tadi aku lihat badan dia luka luka. Merah merah. Kalian bisa ngga lembut, jangan kasar kasar sama Loi?" "Hhhh lucunya Rain" "Sorry. Apa masih sakit sayang?" Tanya Ares lembut "Udah aku obatin" sambar Rain "Pake apa? Bukannya kamu memperparah?" Tanya Leon "Aku ciumin, kenapa?" "Dih, ciumin doang aku juga bisa" "He's good" kata Loi, membuat Rain merasa sombong dan mengejek keduanya dengan menjulurkan lidah. "I'm so sorry sayang, i'm to overwhelm" "Yea babe, i'm so sorry if i'm going to far"


"It's okay. I love it though" "I love it when you guys go wildin, and so are you Rain, i love it when you do it gently" "It's like you two such a fire which burn my adrenaline, and you darl just like water, which calm me down with your sweetness" "Ululuhhh tumben ngomongnya panjang" kata Rain kegemasan "Hhh, okay then. Istirahat sana sayang" "Aku tidur dengan Loi malam ini" kata Rain tiba tiba "Loh?" Protes Leon "Kalian berdua sudah tidur dengannya kemarin, jangan protes!" "Yaudah deh" pasrah juga akhirnya si Leon "Kenapa aku jadi digilir begini. Dasar kalian menyebalkan" —----


[12 : Missing] Tidak seperti biasanya dimana Loi akan pulang bersama salah satu dari mereka, untuk hari ini Loi memilih untuk pulang lebih dulu. Itu karena Loi malas menunggu 3 kekasihnya yang masih mengurus project bersama kepala sekolah saat ini. "Hhhahh" akhirnya Loi bisa mendudukan diri di sofa empuk dan nyamannya. Ia merasa lelah sekarang karena misi mereka akhir akhir ini begitu padat, belum lagi kompetisi, dan juga sekolah mereka.


Bisa bersantai di rumah itu adalah suatu hal yang sangat mereka syukuri saat ini. Dan kesempatan itu, bisa Loi dapatkan hari ini. Ia sudah selesai dengan kompetisinya minggu lalu, dan tugas untuk misi selanjutnya, sudah dia siapkan dengan baik jadi, ia masih punya sedikit waktu untuk bersantai sekarang. *brruggg Tiba tiba pandangan Loi gelap, ia yang sedang duduk di sofa ruang tengahnya itu mendadak tidak bisa bergerak. Kedua tangannya telah diborgol, dan kepala hingga setengah tubuhnya ditutup dengan kain hitam gelap. Membuatnya tidak berkutik sama sekali. "Tolong jangan memberontak" "Shit, here we go again" Loi menurut dengan melangkahkan kakinya mengikuti seseorang yang membimbing langkahnya. Dan yah, kini ia dibawa di dalam mobil. Entah kemana mereka akan membawanya.


"Bagaimana Rain?" Tanya Leon khawatir menunggu Rain mengecek kamera pengaman di rumah mereka "Ada yang aneh" "Apa?" Tanya Ares


"Cctv kita, mati di jam tepat setelah Loi pulang. Dan jika itu diretas, aku tidak bisa menemukan ip nya sama sekali" "Siapapun dia, dia pasti tahu aku akan melacaknya" "Sial. Bagaimana dengan alat pelacak Loi?" "Di cincinnya" Mengingat itu, Rain segera melacak chip kecil yang terpasang di balik cincin yang mereka berikan kepada Loi. "Mengarah ke bukit utara" "Kita harus segera bergerak." Kata Ares. "Res kita butuh rencana" "Kita bicarakan di mobil" Tanpa berfikir panjang, Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan tidak ada polisi yang mampu mengejar mereka, hingga membiarkan mereka lolos begitu saja. "Fuck, pelacak Loi hilang, tidak terdeteksi lagi" "Sialan. Siapa yang bermain main disini" marah Ares. Kini posisi ketiganya sudah ada di bukit utara. Tidak jauh dari kawasan perumahan Athens yang Bian sebut sebelumnya. "Apa mungkin Loi kesana?" Tanya Leon


"Tunggu sebentar" "Baba bisa membobolnya, itu berarti aku juga bisa. Ayo" kata Rain percaya diri.


Dan mereka segera menuju ke lokasi dengan gerbang besar yang begitu megah. "Ini aneh" "Kenapa Rain?" Tanya Leon karena Rain terlihat begitu panik. "Drone ku, chip pelacak Loi, semua koneksinya terputus tepat setelah melewati gerbang ini" "Itu berarti, Loi masuk kedalam?" Tanya Ares "Kemungkinan besar iya Res, koneksi kita terputus di titik yang sama" "Baiklah kalau begitu kita masuk" "Tapi Res, tanpa drone ku, kita sama sekali tidak bisa memantau kondisi didalam" "Its Okay. Apapun yang terjadi kita harus temukan Loi" "Benar Rain, walaupun harus jatuh bangun, akan kulakukan demi Loi" sambung Leon "Baiklah, aku butuh waktu meretas gerbang ini. Dia hanya bisa dibuka oleh penghuninya, dengan biometrik mereka" "Baiklah, usahakan Rain" —----


"Aku sudah berkeliling tidak ada jalan masuk selain gerbang depan" Lapor Ares kepada kedua temannya yang masih berusaha membobol keamanan gerbang yang luar biasa "Finnaly" "Bisa Rain?" "Sistem keamanannya sangat bagus. Aku jadi penasaran siapa yang membuat sistem keamanan sebagus ini" komentar Rain —----- Baru saja gerbang depan terbuka, mereka sudah dihadapkan dengan beberapa orang dengan tubuh gagah menghadang mereka. "Siapa kalian?" "Ah, kami mencari seseorang" "Bagaimana kalian bisa masuk?" "Siapa yang kalian cari?" "Gerbangnya tadi tidak terkunci, harusnya kalian berjaga lebih teliti" kata Leon "Kami mencari Eloise Dayton. Apa dia tinggal disini?"


"Eloise dayton? Siapa dia? Tidak ada yang bernama itu disini. Lebih baik kalian pergi" *bugh bugh "Ares!" "Ayo cepat, jangan buang waktu" kata Ares setelah berhasil membuat 2 penjaga itu pingsan dengan bogemannya. Setelah memarkirkan mobil mereka, ketiganya mulai melangkah perlahan memasuki perumahan yang bisa dibilang mewah itu, sungguh tertata rapi, dan sangat damai. "Wait, guys" kata Rain. Ketiganya berhenti ditengah jalan begitu mendengar peringatan dari Rain. "Ada ap.." "Sst" Potong Rain, lagi. "Awas!" Teriak Rain ketika melihat beberapa pemanah mulai mengarahkan busurnya pada mereka. "Sial, kenapa kita langsung diserang?" Kata Leon terengah setelah mendapat tempat perlindungan sementara.


"Mereka tau kita penyusup Leon. Aku mengamati setiap kamera disini, dan semenjak kita datang, kamera itu terus memantau kita" "Sistem ku sebentar lagi siap. Aku bisa melakukan tugasku seperti biasa setelah koneksi pribadiku selesai" "Berapa lama?" "10 menit" "Baik. Leon, berusahalah bertahan hidup sampai 10 menit kedepan" kata Ares. "Bangsat, apa maksudmu?" Tanya Leon tanpa dihiraukan sama sekali oleh Ares. Ia bergerak perlahan untuk mengecek situasi, dan ternyata saat ini mereka sudah dikepung. "Sial, perumahan apa ini? Militer?" "Ayo ayoo cepaatt" kata Rain tidak sabar. "Rain, kita harus bergerak perlahan. Atau mereka akan menghimpit kita disini" peringat Ares yang kini melihat orang orang itu mulai merapat ke posisi mereka. "Bagaimana?" "Kita berpencar, akan ku alihkan beberapa pasukan. Aku dan Rain akan berusaha ke mobil, Rain lebih aman disana." Kata Leon "Dan kau Ares, Tinggalkan hati nuranimu di sini. Akan ku tunggu kau di pusat perumahan ini." Lanjutnya "Oke baiklah"


"Tetap hidup Ares" Tepat sebelum bom yang daya ledaknya tidak terlalu besar itu dilempar, ketiganya telah lebih dulu keluar dari bangunan itu dan menembaki pengepung mereka dengan senjata di kedua tangan mereka. "I need 3 menit lagi Leon" "Got it" Leon melajukan mobil modifikasi paling paripurnanya itu dengan brutal. Menabrak siapapun yang menghalangi jalannya. "Dasar bodoh mobil ini anti peluru dan anti ledakan hahahha" tawa Leon mengejek —--- "Ayo Ares. Loi membutuhkanmu" Ares memang telah dipersiapkan untuk menghadapi hal semacam ini sejak masa kecilnya, atau malah justru Ares memang terlahir untuk ini. Hanya bermodalkan Smith and Wesson Model 29 Revolver, .44 Magnum di kedua tangannya, Ares mampu melewati belasan orang yang mengepungnya sejak tadi.


"Cek, Rain, Bagaimana?" "Koneksiku sudah aktif, karena itu in ear kita sudah berfungsi." "Aku akan mencoba meretas sistem dan kamera disini, i need 8 minutes" "Tapi, sebelum itu, coba cek rumah paling besar di ujung. Mungkin saja Loi ada disana" "Oke, Leon jangan tinggalkan Rain" "Iya, aku akan bersamanya" kata Leon sambil terus menembaki beberapa orang yang terlihat di pandangannya. Mendengar perintah dari Rain, Ares segera berlari dan menghabisi siapapun yang menghentikannya. Ares benar benar mematuhi Leon. Ia tinggalkan hati nuraninya di rumah itu, dan mungkin sekarang sudah ikut meledak bersamanya. Karena itu, entah berapa orang yang terjatuh di tanah hanya karena dua tangan Ares. —--- *brakkk "Katakan dimana Eloise?" Teriak Ares menggema di rumah utama paling besar yang terdapat di ujung perumahan, kepada seseorang yang saat ini telah ketakutan setengah mati melihat wajah dan tatapan Ares bak singa yang lapar. "Aku, aku tidak tau"


"Katakan!" "Res!" Panggil Leon dan Rain sambil mendekati Ares yang mungkin saja akan menerkam laki laki itu sebentar lagi. "Cincin Loi, terjatuh didepan" *bruggg —---- "Ah, sial" Ketiganya telah terikat di sebuah tiang di rumah besar itu. Sedikit saja mereka lengah, mereka berhasil tertangkap oleh orang orang yang menyerang mereka. "Katakan siapa kalian!" "Katakan dulu dimana Eloise Dayton" "Kalian menculiknya kan?" "Kami menculik?" "Pelacak lokasi kami berhenti disini. Kalian menculik Eloise kan?" "Hahaha, mereka lucu sekali"


"Apa buktinya anak kecil?" Tanya seseorang itu remeh "Cincinnya. Aku menemukan cincin Loi. Di halaman rumah ini" kata Rain. Rain menemukan cincin Loi yang terjatuh tepat di halaman rumah paling besar dimana mereka berdiri dan ditahan saat ini, berkat trackingnya. "Laporkan saja pada tuan Suh" Kata seseorang yang menahan mereka sambil berbisik. —---- "Tuan dibawah ada 3 anak muda yang menyusup ke athens. Mereka tidak terdeteksi anggota geng ataupun dari kelompok manapun" Lapor seseorang yang dipanggil tuan Suh itu kepada tuan besarnya. "Tiga pemuda?" Tanya seseorang dengan mata tajamnya, yang jelas mampu menundukkan siapapun. "Maaf tuan, Perintahkan kami untuk segera melakukan eksekusi" "Siapa mereka? Bagaimana mereka bisa menembus pertahanan athens?" "Mereka hebat tuan, salah satu dari mereka punya kemampuan berkelahi yang luar biasa hebat, satunya lagi, dia punya alat untuk membobol sandi pintu gerbang, yang terakhir, dia memiliki gerakan sungguh gesit dan cepat"


"Huh?" "Sialan. Gamungkin mereka kan?" "Ada apa baby, kau tau siapa mereka?" Tanya si tuan besar itu kepada Loi yang terlihat terkejut mendengar obrolan dua pria dewasa itu. "Heh. Daddy" "Iya sayang?" Yap, Loi sedang berada di mansion besarnya bersama daddynya sekarang. Dan soal Loi yang diculik? Haha tidak. Itulah cara daddy Loi menjemput putri semata wayangnya. Dan kini, Loi sedang duduk di kursinya dengan kedua tangannya yang masih diborgol erat. Menghadapi Loi harus begitu, karena bisa saja ia malah berlari kesana kemari di mansion yang hanya bisa diinjak oleh 4 orang itu, untuk menghindari obrolan bisnis daddynya yang memusingkan. "Mau bermain sedikit?" "Apa maksudmu sayang?" "Mr. Suh. Katakan pada mereka, kalau mereka harus berusaha sampai di olympians untuk menemukanku"


"Sayang?" "Tenang daddy. Kerahkan saja pasukan daddy. Buat mereka berusaha mati matian" "Heh, dasar putriku" "Lakukan Suh." "Baik tuan" —--- Mendengar bahwa Loi ditahan di olympians, atau mansion besar yang terletak di dalam hutan dibalik athens, Ketiganya benar benar mengamuk seperti Singa yang direbut daerah kekuasaannya. "Bagaimana Res?" Tanya Leon Ares menatap Leon dengan tatapannya yang mengisyaratkan kode bahwa di ada senjata pisau di sabuknya. Dengan kecerdikan mereka, mereka berhasil meloloskan diri dan berlari menuju ke olympians. Mereka memasuki sebuah hutan yang anehnya terasa begitu tenang. *zrakkk Belum mereka memasuki hutan itu lebih jauh dari 100 m sebuah anak panah menembus telak kaca mobil Leon, membuat ketiganya terkejut bukan main. "Sialan, jadi ini cara kalian bermain?"


Ares mengambil senjata jarak jauh kebanggannya, dan membuka sunroof mobil itu untuk menghabisi siapapun yang berani beraninya menyerang mereka "Rain, katakan jalurnya" "Res, pegangan yang erat" Bak harimau yang kesurupan, Leon mengemudikan mobilnya dengan brutal, menyusuri jalan hutan yang penuh dengan jebakan, serta serangan itu. Jangan tanya seperti apa rupa mereka saat ini. Hanya terlihat neraka dari tatapan mata mereka. Sampai di olympians, mereka disambut sebuah mansion yang begitu besar dan sepi. Sangat sepi. "Tempat apa ini?" "Loi ditahan disini?" "Sialan. Ayo cepat" Tanpa berfikir panjang ketiganya masuk ke mansion besar itu dengan mudah, pintu pun terbuka lebar seolah menyambut mereka. *prok prok "Hebat sekali"


"Sialan, katakan dimana Eloise?" Teriak Leon marah kepada seseorang yang berbadan tegap dan tampan yang menyambut mereka tepat di balik pintu mansion. "Eloise? Dayton?" Tanya nya memancing "Katakan sekarang!" Bentak Ares. "Lewati saya dulu" Lagi lagi, pertempuran pun terjadi kembali. Dengan tuan Suh yang diserang habis habisan oleh ketiga pemuda itu.


"Katakan!" Laki laki yang dipanggil Suh itu tersenyum puas. Ketiga pemuda ini, berhasil melumpuhkannya. Ia yakin, Majikannya akan baik baik saja setelah ini. "Nona Loi, ada diatas. Kamar paling ujung memiliki pintu besar dengan handle emas" "Bimbing kami!" Perintah Ares. —--- "Masuklah" kata tuan Suh, yang merupakan personal assistant dari daddy Loi itu sambil menunjuk pintu berhandle emas yang ia maksud. "Terimakasih? Tapi kenapa kau memberi tahu kami?" Tanya Rain curiga. "Masuk saja" "Tapi tunggu, kalian tidak ingin membunuhku dulu?" Jangan pernah ragukan keloyalan om Suh ini, dan kecerdikannya juga sangat luar biasa, ia tau persis apa yang harus ia lakukan untuk tuan juga putri tunggalnya. "Saya tau om, dari tatapan om tadi, om jujur kalau Loi ada didalam. Terimakasih sudah membantu kami" kata Ares yakin


"Anak ini, punya kemampuan seperti tuan muda Lycan?" "Baiklah, kalian masuklah." —--- "LOI" teriak ketiganya ketika menemukan Loi yang terborgol di atas kursi. "Hhh, i know it's you guys" Dan mereka segera melepaskan Loi dari borgolannya. Padahal sebenarnya Loi bisa melepasnya sendiri hanya bermodal antingnya saja. "Loi? You okay?" "Babe ngga papa kan?" "Aku khawatir banget sama kamu darl" kata Rain sambil memeluk Loi erat. *prok prok Lagi lagi suara tepuk tangan mengagetkan mereka untuk kesekian kalinya. Namun kali ini, orang yang menyambut mereka berbeda dari sebelumnya.


"Hebat juga kalian bisa ngalahin pasukan saya" Kata daddy sambil memasang senyum bangganya "Gausah banyak ngomong om. Apa yang om mau sampai menculik Loi?" Teriak Leon "Gampang, saya cuma mau kalian." "Om ngga usah banyak fa fi fu deh" Cerca Rain "Saya cuma gunain anak saya aja, biar saya tau kemampuan pacar pacarnya ini sehebat apa"


"Hah? Anak?" "HAHAHAHHAHA. SUMPAH LAWAK BANGET" pecah sudah tawa Loi yang sejak tadi ia tahan melihat mereka dengan percaya diri memarahi daddynya. Dimana tidak ada seorangpun yang berani melakukannya di muka bumi ini selain dirinya. "Sayang? Apa maksudnya?" "Iya babe? Apa?" "Darl?" "He's my dad" "Whattt??" "Your what?" "Dad?" "Ini semua jebakan?" "Ngga sepenuhnya." "Saya cukup terkesan, kalian bisa menembus penjagaan Athens dan meneriakkan nama anak saya dengan gagah berani. Dan itu membuat saya ingin mencoba kemampuan kalian lebih jauh" "Jadi penculikan nya? Juga pura pura?" "Penculikan? Hahah. Ini adalah cara daddy menjemputku boys" "Huh?" "Ceritanya panjang"


"Kalian pasti lelah mengalahkan pasukan saya juga P.A saya. Kalian istirahatlah" "Uh, mm sebelumnya maaf tuan" "Kami minta maaf" "Sudahlah, kita bahas nanti. Kalian istirahatlah" "Sayang. Ini apa sih?" "Aku kaget, kamu bunuh 25 orang hari ini sayang" "Dan kamu babe, bunuh 15 orang hari ini" "Aku nda ya darl" "Kamu petarung paling cerdas di dunia ini darl" "Jadi aku ngga cerdas sayang?" "Aku juga babe?" "Kalian berdua serem kalo lagi ngereog" "Kita panik loh sayang. Yang dipikiran kita cuma kamu" "Iya babe. Sumpah. Kita juga ga niat buat bunuh. Kita cuma mau kamu selamet" "Oke. Alesan diterima" "Anak anak ini. Mereka bisa menjaga putriku" —-----


Click to View FlipBook Version