[Hallo] Bintang, seorang remaja 15 tahun yang menikmati hidupnya layaknya remaja seusianya. Kehidupan bintang yang biasa itu, berubah menjadi luar biasa ketika ia dihampiri oleh seekor anjing kecil yang lucu ketika ia sedang sendirian ditepi danau lingkungan rumahnya. "Lah sianjing??" "Iya gue anjing"
[1 : Si Anjing] Sore hari di hari sabtu yang teduh, Bintang duduk termenung di pinggir danau yang tenang. Langit yang diwarnai oleh cahaya sang surya, menemani Bintang yang larut dalam kesendirian. (Jiiakkkhhh… puistis)
Haha, siapa bilang Bintang duduk termenung sendirian karena sedang galau? Tidakk. Bintang tidak tau apa itu galau, yang ada diotaknya hanyalah memancing. Entah siapa lagi yang suka kegiatan membosankan itu selain Bintang. Agak laen emang.
Disaat Bintang fokus dengan obrolan mengasyikan bersama kedua sahabatnya Jehan dan Rega, Bintang dikejutkan dengan suara yang tiba tiba terdengar di telinganya. *srekk srekk Bintang mendengar suara plastik yang bergerak, entah karena angin atau sosok lain yang ada di sekitar bintang saat ini "Anjir.. jangan jangan ada buaya beneran. Jehan bangke emang" Perlahan Bintang menoleh ke belakang tubuhnya, dimana suara itu berasal. "Weh ni anak anjing ngapain bisa disini?" Bukannya mendapati buaya seperti yang Bintang takutkan, Bintang justru melihat seekor anak anjing lucu yang mengendusi umpan ikannya.
Umpan ikan yang Bintang buat dari crackers yang dihancurkan, ditambahkan sedikit air dan perasa melon itu, terus saja sedikit demi sedikit dimakan oleh anjing kecil itu. Bukannya anjing karnivora? Mana ada anjing suka roti rasa melon? Pikir Bintang. "Heh njing, lu sama siapa deh?" "Diliat liat, ni anak anjing gapake kalung. Dia straykids kah?" "Lu kaga ada yang punya?. Heh, sama gue juga" "Yaudah. Gini deh. Lu duduk diem situ, tar kalo gue dapet ikan kita bagi dua. Gimana?" "Tolol bgt gue ngomong sama anjing. Yaiyalah dia diem aja." "Oke, gue anggep lo setuju" Bintang berniat untuk kembali fokus pada pancingnya, tetapi si anjing ini masih saja memakan umpan ikannya. "Eh eh, ngapa lu malah nyemilin umpannya weh" "Lu vegan?" "Tolol, mana ada anjing vegan" "Woof" "Ngapa lu?"
"Woof" "Apesi?" "Ehh.. ehh.. dapett" Bintang menoleh, dan mendapati pancingnya yang bergerak gerak menandakan ada ikan yang menyambar umpan miliknya. Hmmm lumayan pinter jg ni anjing. —---- Setelah 2 jam lebih Bintang bermain main dengan pancingnya, Bintang memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya sebelum hari gelap. "Nahh. Gue dapet 5 nih. Bagi dua ye. Lu gue kasih 2 guenya 3" "Woof" "Apelo, ga terima? Kan gue yang usaha nariknya ini. Pancing pancing gue juga. Dah tu abisin" Bintang memutuskan buat mulai beranjak daripada dia gila ngomong ama anjing di danau. "Lah lu ngapain ngikutin? Ikannya dimakan sono. Jangan minta lagi, ini mau gue masak buat bunda sama ayah" "Ni orang miskin kah? Mau makan ikan aja segala mancing dulu" (Hmmm suara hati si anjing emang anjing bgt dah)
"Ngapa muka lu julid gitu?" "Dah dah sono" "Tapi gue kedinginan disini. Dahlah ikut aja, bodoamat dia miskin yang penting gue bisa tidur nyenyak ga kehujanan." "Ngapain sih lo ngikut gue njing?" Tegas Bintang ketika sianjing masih saja berjalan dengan kaki kecilnya mengikuti langkah kaki Bintang. /sianjing memasang muka memelas "Jangan harap gue mau pungut lo ye. Bisa di hajar gue sama si bunda" "Dah sono lo diem diem di danau" /jadi muka sedih "Ayolah pungut guee dong. Gue ga macem macem. Bangsat bgt gue terjebak di badan anjing bocil begini" Kesian juga kalo dipikir pikir. "Oke gini. Lo gue bawa pulang tapi lo diem ya anjing. Sini masuk ember" "Sialan ni orang. Embernya kotorrr bulu gue putih. Gatau apa dia gue jenis anjing mahal" "MAU KAGAA?? malah diem. Gue tinggal juga nihh" "Woof" /lompat ke ember
"nah gitu doang lama bener" Bintang tenteng ember itu kerumah beserta pancingnya. Perjalanan pulang hanya 200 meter, karena itulah Bintang memilih berjalan kaki dari danau menuju ke rumahnya. "Bb-bb-banggsaaattt ini gue reinkarnasi di jaman apa si? Masa masih ada kerajaan? Ni bocah orang kaya? Bangsattt kenapa cara ngomongnya kek orang blangsak begini? Baju jg cuma pake kaos, jalan kaki lagi, tapi rumahnya gedongan?" "Eh, dia anak pembantunya kali ya?" Sianjing yang mengintip dari dalam ember terkejut ketika melihat apa yang ada dihadapannya. Seorang remaja perempuan berpenampilan seadanya, memakai sendal jepit 50 ribuan, menenteng pancing dan ember kotor masuk dengan santai kedalam rumah berlantai marmer putih mengkilap yang sangat indah. "Njing lo diem. Jangan bunyi" "Bintang. Kamu dari mana nak?" "Waduh. Bunda nongol" panik Bintang dan segera menyembunyikan embernya dibalik badannya "Mmm ini bun. Tadi Bintang mancing"
Sianjing sedikit tertegun mendengar suara Bunda, dan terkejutlah ia ketika mengintip kecil dari dalam ember. "Aaaanjeeengg... bundanya... kayak bidadariii. Ni anak pungut apa gemana sih" "Bun, bintang kebelakang dulu ya?. Bintang mau ke kemar mandi, kotor bintangnya" "Hadehh, kamu ini mancing terus. Yaudah sana. Dapet ngga ikannya?" "Dapet kok bun heheh. Mau bintang masakin?" "Kasih bibi aja. Kamu mandi sana." "Hehe siap bunn" Seperti biasa, Bintang akan langsung pergi kedapur mencari bibi untuk memberikan ikan hasil tangkapannya. Tapi, kali ini dengan langkah mencurigakan Bintang membawa ember dan juga pancingnya kedalam kamarmandi. "Lah itu si non, kenapa ember sama pancingnya dibawa masuk kamar mandi? Mana ini kan kamar mandi dapur. Ngapain non ga mandi diatas?" "Njing, gimana gue bawa lo masuk kamar gue ya?" /anjingnya diem aja kibasin ekor doang "Nonn. Katanya dapet ikan? Mana? Biar bibi masakin" teriak bibi dari luar pintu. "Sebentar bii"
"Gimana njing ada ide ga?" "Ni bocah dari tadi njang njing mulu. Berasa dikatain gue" /lompat ke pelukan bintang "ASU" teriak Bintang tidak sengaja karena sianjing yang tiba tiba melompat ke tubuhnya. *tok tok "Nonn?? Non kenapaa?" "Njing. Lo bikin gue kaget aja" "Gapapa bi, ikannya lompaatt" Bibi cuman geleng geleng aja. Udah biasa sama kelakuan Bintang. Bintang memang hidup di keluarga kaya raya, tajir mlintir. Tapi keluarganya memang down to earth. Mengajarkan bintang banyak hal salah satunya adalah rendah hati. Dan sifat bintang yang blangsak itu pengaruh dari teman temannya yang sama blangsaknya dengan bintang. Dan orang tua bintang tidak mempermasalahkan itu. Tentu saja. Bintang pandai memposisikan dirinya.
Kapan dia harus elegan, kapan dia harus tegas, kapan dia harus bercanda, kapan dia menjadi dirinya, bintang mampu menjelma menjadi semuanya. "Yaudah, bentar gue tutupin lu pake anduk" Sianjing bintang ubet ubet pake handuk, trus dibawa keluar sama Bintang. "Nih bi ikannya" "Non itu non bawa apa deh?" "Oh, ini pancingnya tadi bi" "Ngapain dibebet pake anduk?" "Dia basah. Kesian nanti kedinginan masuk angin" "Hahh?" "Babay bii. Tlg masak yang enakk bintang kekamar duluu" Bintang berlari melesat kelantai 2, dengan tergesa ia segera masuk ke kamarnya, dan menguncinya rapat. Buru buru bintang buka gulungan handuknya, Untung aja sianjing ini kecil jd ga keliatan dikiranya pancing doang. Bintang pun sedikit terkejut, begitu ia membuka gulungan handuknya. Anjing kecil itu terlihat terengah engah. "Huhh hahhh... bangsaattttt gue kaga bisa napass. Ni bocah gaada peri kemanus... eh.. peri keanjingannya samsekk" "Eh njing sori, sori lupa bikin lubang napass"
/sianjing masih ngap ngap lemes "Jangan mati anjir" "Kagaaaa.. siapa jg mau mati. Gue baru hidup lagi berapa hari coba. Masa mau mati lagi" "Lo mau mandi ga njing? Lo bau" Pertanyaan mendadak dari Bintang membuat sianjing tersindir. Sakit lah hatinya dibilang bau. "Wooff" "Njirr. Gt aja ngegas. Sensi banget, cewek lo?" Dengan tanpa berdosanya, Bintang menelantangkan tubuh mungil sianjing untuk memeriksa kelaminnya. "Weeehehh anjeengg slangkangan gueee. Bangsattt dia liat biji gueee." "Oiya kan gue lg mode anjing." "Tetep ajaaa dia liat biji gueeeeee. Aaaaaa" "Oh. Lakik" "Dasar bocah sialan. Untung kaya lo" "Yaudah si bodo. Ayo mandiiiii"
Dengan cepat, Bintang menyambar tubuh sianjing dan menggendongnya kedalam kamar mandi. "Woi woii jangan mandi barengg.. cokkk umur gue 18 anjing woi bangsatt belom 21, belom boleh liat scene dewasa" "Eh ehhh.. anjirrr jangan lepas baju benerannn. Sialan" Bintang lepas kaosnya. Meninggalkan pakaian dalam dan tanktopnya sebagai atasan. "Ngapa muka lu panik gitu jing? Takut mandi lu?" "Jujur semasa hidup gue jadi manusia, gue paling males mandi tang" "Gausah takut. Gue gabakal ceburin lu kok. Lu gue mandiin dengan lembut dan penuh kasih sayang. Huekkk" "Dih. Sok sokan ni bocah" Bintang mandiin si anjing pelan pelan. Untung aja si anjing ga berontak. Dipakein sampo punya bintang, disikat pawnya biar bersih, giginya juga bintang sikat. Padahal ini anjing masih kecil. "Dah bersih lo. Diem situ gue mau mandi" "Woii woiii. Minimall keluarin gue dulu dr kamar mandi. Gue gamau liat lo mandiii. Belom mau sih. Plislahhh tangg"
Ya bintang mana pahamm. Abis sianjing kecil itu kering soalnya bintang udah hairdrier in, bintang tinggalin si anjing di meja wastafel lapis marmer. Sianjing lebih milih buat duduk diem madep ke pintu, biar ga liat Bintang yang lagi mandi pake sower. "Ni anjing pinter si sebenernya. Nurut bgt. Masa iya dia gaada pemiliknya?? Mana lucu bgt mukaknya" Selesai dengan acara mandinya, Bintang gendong sianjing keluar dari kamar mandi, cuman pake kimono. Setelah selesai berpakaian menggunakan piamanya, Bintang menyusul si anjing yang anteng ndlosor di atas kasurnya. "Hhhahh. Ga espek gue bakalan mungut anjing kaya lo begini" "Ga espek juga gue bakal dipungut bocah prik kaya lo" "Oiya njing. Lo jangan kelayapan ye, lo cuma boleh ada dikamar gue doang. Lo keluar kalo sama gue doang. Gue ngga posesip. Ngga." "Bunda rada takut ama anjing, gue takut kalo nanti ketauan bunda, guenya disuruh buang lo. Gue sih seneng ya buang lo. Tapi siapa yang mau mungut anjing kaya lo selain gue coba?" "Bocah bangsat" "Jadii mending lo nurut yee, jangan gonggong kenceng kenceng juga takut pada curiga" "Besok, gue beliin tempat pup ama makanan"
"Wooff" "Good boy" "Yahh, seengaknya gue bisa makan dan bertahan hidup disini. Walaupun gue tau ga gampang ngadepin bocah prik ini tapi seenggaknya gue bisa hidup lebih baik disini".
[2 : Langit] *tringg Suara yang begitu familiar berasal dari jam weker diatas nakasnya membangunkan Bintang dari tidur nyenyaknya. Dengan mata yang masih setengah tertutup, nyawa yang masih melayang, Bintang mendapati suatu gumpalan bulu di atas selimutnya. "Anjeng, bangke, kaget gue" Teriak Bintang ketika sianjing menggeliat didalam tidurnya. "Kampret sianjing, bikin kaget aja. Orang disuruh tidur di sofa malah tidur disini emang dasar ngelunjak" ngomel sih mulutnya, tapi tetep aja sambil ngelus elus sayang si anjing yang masih tidur pules. Dengan perlahan, Bintang bergeser untuk menuruni kasur dan melakukan kegiatan rutin paginya.
—---- "Gghrhrrhh" "Dah bangun lo? Anjing apa kebo lu?" "Wwff" "Gue sekolah dulu, jangan nakal. Gue udah tinggalin banyak makanan. Tapi jangan dimakan semuanya gue mau pelihara anjing bukan babi" "Bawel bener" "Jangan keluar keluar ya njing!" "Di kamar ajaa. Atau lo gue telantarin" "Ngancem aja tros" "Salaman dulu, biar deal" Bintang sudah mengulurkan tangannya, tapi sianjing malah melengos. Anjing emang. "Lah anjeng" "Emang anjing sih. Untung ye lo lucu, kalo ngga udah gue remet lu" "Yang ada lo yang gue remet cil" "Dahh. Babayy" —-----
Seperti biasa, Bintang menuju ke sekolah elitnya diantar sang ayah yang sejalan dengan kantornya. Sesampainya di sekolah tanpa basa basi Bintang menuju kelasnya dan otomatis duduk di meja diantara kedua sahabatnya Jehan dan Rega. "Wizz tuan putri udah dateng" sambut Rega dengan senyuman manisnya. "Eh guys, kalian pernah piara anjing kan dulu?" "Ah lu mah, ngapain nanya? Kan gue jadi inget coco" kata Rega dengan muka cemberutnya karena coco adalah anjing kesayangan keluarganya yang mati 2 tahun lalu "Ehe, sori Ga. Ga maksud tapi gue mau nanya bneran ini" "Kenapa Tang? Lo mau piara?" Tanya Jehan penasaran "Mmmm, kemaren gue mancing kan? Gue nemu anak anjing" "Hahh? Trus lo pungutt?" Tanya Rega "Iya, soalnya dia lucuu. Dan gapake kalung gitu jadi gue kira dia gaada yang punya" "Jenis apa Tang?" "Mmm apa yak? Samoyed??" "SUMPAH?" "iya deh keknya, kenapa si emang?" "Samoyed jenis mahal Tang, punya tetangga lo kali" sahut Jehan "Gue juga curiga si, soalnya dia pinter Je. Nurut gt lo. Dan kalo gue ngajakin dia ngomong gue ngerasa dia dengerin dan paham gue ngomong apa" "Nahh, bisa jadi itu dia beneran ada yang punya Tang"
"Aduhh, tp kalo gue balikin ke yang punya gue ga relaa. Dia lucu bgtt" "Bukannya bunda takut anjing Tang?" "Ehe, gue diem diem bawa dia kekamar" "Trus sekarang, dia dikamar lo sendirian?" "Iya" "Yahaahha siap siap aja kasur lo dikencingin kalo ga dipup in ama dia" Tawa Rega mengudara "Lahh iya juga. Gue belom sempet beliin pasir. Aduh meninggoy gue" "Tolol banget emang lo tuh" "Gimana dong??" "Nanti kita pulang ke rumah lo deh" "Nahhh gitu donggg, kan kalian bisa gue jadiin kambing hitam nanti kalo sianjing bikin ulah" "Gajadi deh" "Halaahhh ayolah Jeje ku yang paling ganteng" "Huek, muntah sekebon" "Awkwkwkwk" —---- Setelah membeli banyak kebutuhan sianjing, ketiganya kini berdiri mematung didepan pintu kamar Bintang. "Berdoa dulu semoga sianjing ga bikin ulah"
"Lu dari tadi sianjing sianjing. Kasar banget lo ama piaraan sendiri" protes Rega "Ya gue belom kasih nama?" "Ya kasih makaanyaa" "Ya inii mauuu" "Udah heh. Ini mau jadi masuk ngga?" Lerai Jehan yang mulai lelah dengan jobdesknya menjadi penengah dua manusia aries itu. "Oh iya ayok" Bintang membuka pintu kamarnya yang luass dan ketakutannya langsung lenyap ketika melihat kamarnya yang baik baik saja, dan sianjing yang dengan lucunya masih bergelung dengan selimut miliknya.
"Wwof" "Aaaaaa anjirrr lucu bangettt" Gemas Rega dan dengan sigap menyambar tubuh mungil sianjing "Anjir Tang. Gue yakin si dia ada yang punya, kalo stray ga mungkin sebersih dan secakep itu" "Gatau gue Je. Dia jg kaga minta pulang" "Ya lo gila. Mana mungkin dia ngomong minta pulang" "Bangsat bangsaaat, ni bocahh ciumin gue mulu. Gue cowo anyingg. Jangan cium cium gueee. Pipi gue ternodaii"
"Tanggg. Tolongin gue dari temen reog lo ini ngapaa" "Wkwk, lepasin Gaa. Dia brontak ituu" "Gamau Taang, gemesss bangetttt" "Ngambek dia nanti wkwk" "Gaaamauuu" "Anak dajal" —--- Setelah puas Rega menguyel uyel sianjing, kini ketiganya duduk di karpet dengan sianjing yang anteng duduk diatas bantal bersama mereka. "Btw, kasih nama kek Tang. Jangan sianjing sianjing mulu" usul Rega "Eh iya, apa ya?" "Dia cowo kan?" Tanya Jehan
"Iya" "Popo" teriak Rega "Ewhh. Nama apaan?" "Kecakepan buat muka dia" "Yeu. Muka gue cakep kali Tang. Liat aja tar kalo gue jadi manusia" "Kalo diliat liat ya, muka dia tuh cocoknya pake nama…." "Ayo Je. Gue tau lo yang paling normal disini, soalnya tadi lo bilang gue cakep" "Jaenudin" "Yahahahah Jaenudin" "Oalah asu. Sama aja ternyata" "Panggilannya udinn" kata Bintang semangat "Nahh wkekkw" "Kalo ngga Parto, lucu deh wkwk" "Wkwk Parto" "Terusin aja teross" "Serius mau itu?" Tanya Jehan setelah ketiganya puas tertawa. "Ngga wkwk. Gue kasih elemen antariksa juga apa ya? "Biar komplit? Bunda kan Kala, ayah Chandra, lu bintang trus ni si anjing apa?"
(Jadi Kala tu artinya matahari dari bahasa Hawaii, sedangkan Chandra itu artinya bulan dari bahasa sansekerta) "Awann kan dia putih?" Tanya Rega. "Bisa sih, tapi awan rada aneh kalo gue manggil masa wan-wan gitu kalo ga aw-aw gitu wkwk" "Eh iya juga" "Benda langit apa aja ya?" Pikir Jehan "NAH" teriak Bintang tiba tiba mengagetkan ketiganya. "Apesii, kaget tau" "Langitt" "Mau dinamain langit?" Tanya Jehan "Langit or sky? Wdyt?" "Bagus" "Good" "Setuju" "Nahhh, nama lu langit atau sky. Terserah yang manggil yee. Pokonya nama lu itu, dan lu gaboleh protes" Ucap Bintang pada Langit yang sekarang menatapnya. —---- "Tungguu"
"Kenapa Tang?" Tanya Jehan ketika melihat Bintang yang berdiri mematung didekat perlatan memancingnya. "Langitt!! Lo makan umpan ikan gue?" "Heh? Masa langit makan umpan ikan?" Tanya Rega "Kemaren ini masih dikit, sekarang ilang. Dan daging ayam mentah buat dia masih utuh?" "Yakali gue disuruh makan ayam mentah, huekk" "Lah emang anjing bisa makan crackers rasa melon?" "Lebih enak itu dr pada ayam mentah. Iyuh" "Kemaren waktu gue mancing, dia juga ga makan ikan yang gue kasih. Dia nyemilin crackers umpan gue" "Lah ni anjing lain kurasa" "Coba deh Tang, kasih dryfoodnya" Bintang menuang dryfood khusus anjing yang baru saja ia beli sepulang sekolah tadi. Dann.. Langit hanya menyicipinya, tidak suka sepertinya. "Lah. Sky lo prik banget elah. Trus lo makan apaa?" Gemas Rega "Apa dia gasuka makanan mentah ya Tang?" Tanya Jehan. "Iya kali ya? Apa coba gue kasih ayam mateng?"
"Fyi, gue lebih suka daging sapi Tang" "Apalagi sama nasi. Beuhh" "Iya deh coba" "Oke gue minta bibi dulu" "Okee" —--- Tak lama setelah itu, Bintang kembali dengan sepiring ayam yang sudah matang. Dipotong dadu, dan terlihat sangat enak. "Lahh, ini mah gue juga doyann" Kata Rega menyomot satu potong daging dan memakannya "Tuh kann enakk. Di bumbuin lagi ama bibi" "Iyaa, tadi bibi curiga masa iya gue ngemil ayam tapi gaada rasanya. Makanya ama bibi di bumbuin tipis" "Coba Tang, kasih ke sky" "Langitt, sini!" Dengan langkah kecilnya Langit mendekati Bintang dan memakan sepotong ayam yang sudah Bintang suwir kecil. "Nahh, gini kan manusiawi. Gue ga kebiasa makanan anjing wehh" "Lah lahap dia" "Iyaaa ihh, Langit suka ayam ya?"
"Lebih suka beef gue bilang" "Berarti emang dia ga doyan yang mentah Tang" "Yaudah deh, bibi curiga ga ya kalo gue tiap hari minta nyemil ayam?" "Ya ngga kalo ga banyak" "Iya si. Nanti gue kasi crackers juga deh. Tapi aman kan ya buat anjing makan gituan?" "Gapapa kali. Buktinya Ega ngemilin umpan ikan jg ngga mati" "Oiya" "Kurang ajar kalian" "Wkwwkwk" —----- "Ayo, ayo!! Yang kalah dapet hukuman ayoo" Teriak Rega heboh ketika Jehan dan Bintang sedang beradu mekanik main balapan di PS. "Ett, gaada begitu begitu tadi ya Ga" "Ada! Sekarang ada!" "Eh, sky mo kemane lo?" Langit yang sebelumnya duduk dikasur disamping Rega tiba tiba beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. Rega yang penasaran mengendap endap mengikuti Langit, dan terkejutlah Rega ketika melihat Langit yang pipis di diatas toilet. "Heh guys, sini deh"
Keduanya yang penasaran meninggalkan permainan mereka dan mengikuti Rega yang mengintip Langit di toilet "Hah? Langit pipis di toilet??" "Sumpah gue kaga percaya dia anjing stray" "Iya. Dia terlalu pinter menurut gue" Setelah bersusah payah Langit melompat dan memencet mencet flush, Langit berjalan begitu saja tidak menghiraukan 3 orang yang dibuat melongo. "Hilang sudah keperawanan gue" (Addictional information. Yang bahasa ngomongnya rada culametan itu si Rega. Kalo Jehan tuh masih tertata, soft gitu. Biar gue gaperlu nulisin nama mereka awkwk)
[3 : Hari-hari] Sejak hari dimana Bintang memutuskan untuk menjaga Langit, disitulah Bintang bertekad untuk menerima resiko dan menghadapi konsekuensi yang akan datang padanya. Bintang tahu bahwa dirumahnya ini, Anjing tidak diperbolehkan tinggal bahkan hanya singgah saja, hal itu karena sang Bunda takut terhadap makhluk berbulu itu. Tetapi disisilain, Bintang terlanjur menyayangi Langit sebagai temannya. Walalupun Bintang harus mengorbankan salah satu lemarinya untuk menyembunyikan Langit dan barang barangnya, namun kehadiran Langit dirumahnya membuat Bintang tidak lagi merasa kesepian. Sebagai anak tunggal dirumah yang sangat besar itu, Bintang sering merasa kesepian. Karena kedua orang tuanya sering meninggalkannya untuk urusan pekerjaan. Hingga Bintang bertemu dengan Jehan dan Rega pada saat ketiganya duduk dibangku SMP. Sebelum itu, Bintang tidak pernah memiliki teman yang tulus kepadanya, semua teman kelasnya selalu iri kepada Bintang karena Bintang anak yang cantik, pintar dan memiliki manner yang baik karena itu Bintang selalu disukai guru dan membuat teman sebayanya iri. Namun, pertemuan Bintang dengan Jehan dan Rega membuka mata Bintang bahwa bukti kata “sahabat” itu masih ada. Dimana Jehan dan Rega tidak perduli tentang status keluarga Bintang, tidak perduli dengan kekayaan Bintang, Jehan dan Rega hanya melihat Bintang sebagai seorang anak
perempuan yang lucu dan polos, harus segera mereka kenalkan dengan bagaimana cara melawan dunia. Itu yang ada dipikiran mereka dulu.
Seperti itulah kira kira hari hari Bintang dan kedua sahabatnya selama 4 bulan memelihara Langit.
“Anjiirr gimana sih ini, susah banget perasaan” Keluh Bintang yang saat ini dihadapkan beberapa soal yang diberikan oleh gurunya hari ini. Mapel fisika, ughhhh Bintang paling benci mapel itu. Langit yang sejak tadi rebahan di kasur memperhatikan Bintang, mendadak merasa bosan hingga ia memutuskan untuk menyusul Bintang di meja belajarnya. “Langiitt, lo pangkunya nanti ajaa deh, gue lagi pusingg” “Soal apasih? Mana coba” Dari pangkuan Bintang, Langit mencoba untuk membaca soal-soal yang tertera di buku milik Bintang. “Anjir begini doangg. Gue sambil merem juga bisa ini mah, masa sih Bintang gabisa?” “Woff” “Apaa? Ngantukk? Yaudah tidur duluan sana gabisa pelukin dulu malem ini” “Woff” “Apa si Langgitt?, jangan bikin tambah pusing dehh” “Wwooff” “Hahh?” bingung Bintang ketika Langit menunjuk salah satu jawaban dari pilihan ganda yang berada di hadapannya “Apa langitt? Lu nyuruh gue tidur? Iyaa bentar gue selesein dulu” “Kapan selesenya kalo lo tolol gitu, mana udah tengah malem”
“Wwooff” Lagi lagi Langit menunjuk jawaban yang sama, dan menepuk nepuknya seolah memberi tahu. “Lo kenapa sih Sky?” Ditepuk lagi jawaban itu oleh Langit “Lo ngajarin gue? Yang bener ajaa” “Wooff” jawab Langit gembira akhirnya Bintang mengerti maksudnya. “Harus gue percaya sama lo?” “Wooff” “Katakan gue gila diajarin sama anjing. Tapi semoga lo keberuntungan gue Langit. Gue udah ngantuk juga” Bintang mempercayai Langit, dan menuliskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan arahan Langit. “Okkkeeee selesai. Bodoamat hasilnya gimana, ntar tinggal remidi aja” “Thankyouuu Langitt sayang. Ayoo bobok” “Hhh.. percaya sama gue deh my star”
—----- “Baik, sesuai sama jawaban didepan, siapa yang jawabannya benar semua? Silahkan angkat tangan dan sebutkan namanya” Kata guru fisika yang telah selesai menuliskan kunci jawaban atas tugas yang telah ia berikan beberapa hari lalu. Dan hari ini saat untuk mengetahui nilainya. “Bintang pak” jawab seseorang yang duduk didepan meja bintang, dimana bintang menukar lembar jawabnya untuk dicocokkan. “HAAHHH??” spontan Bintang “Kenapa nak Bintang? Kenapa kaget itu jawabanmu sendiri kan?” “Eh, maaf pak saya kaget. Soalnya ada beberapa jawaban yang saya ragu” “Aanjiiirrr itu jawaban Langitt semua bangsatt” “Nanti bisa kamu pahami lebih dalam lagi nak Bintang. Good job Bintang” —----- “Katanya kemaren susahhh, kok bisa bener semua lo?” serang Rega yang merasa terhianati. “Gaes sumpah. Kalian gabakal percaya kalo gue jujur” “Kenapa Tang?” tanya Jehan “Kayaknya Langit itu, anjing ajaib”
“HAHH?” teriak Rega membuat orang lain yang sedang makan dengan tenang dikantin menoleh kearah ketiganya. “Suara lo Ga. kecilin dikit” “Hehe, maap” “Lanjut Tang” “Semalemm, gue bingung dan pusing. Tiba tiba Langit nunjuk nunjuk jawaban dari soal itu. Dan gue nulis exactly seperti yang dia tunjuk. Dan see hasilnya bener semua” “Whatt? Ini lo beneran Tang?” “Beneran Je, gue ngga bohong” “Gue juga curiga, soalnya Sky itu pinter banget, dia nurut banget sama lo tapi julid sama gue. Kayak dia tuh ngerti yang kita omongin gitu” jelas Rega “Kadang gue juga ngerasa Sky ngumpatin gue dalam hatinya” tambah Jehan. “Gue harus pastiin ke Langit sih ini” “Ayo kita mata matain Sky” Tekad Rega —------- “Lah Langit mana?” Begitu sampai didalam kamar Bintang, Ketiganya tidak mendapati eksistensi Langit dikamar bernuansa tosca itu. “Coba liat dikamar mandi” “Gaada Tang”
“Di lemari gaada” “Langit lo kemana?” “Tuh kan? Jangan jangan dia siluman benerann?” “Ega ih. Jangan gitu” “Lah trus kemana ni si sky? Kamar lo kan dikunci, dia gamungkin bisa keluar kecuali lompat jendela” “Gamungkin kan?” Tanya Jehan sambil menatap mata Bintang yang mulai menunjukkan kekhawatiran. “Cari dulu kesemua sisi” Ketiganya mulai menggeledah seluruh kamar Bintang, memberantaki semuanya. “LANGITT” teriak Bintang ketika menemukan Langit yang lemas dibalik bantalnya. “Heh. Sky bangunn. Bangun sky” Rega mulai panik ketika melihat kondisi Langit yang tidak baik. “Kita bawa ke dokter hewan sekarang” Putus Jehan. Dan ketiganya pun berlari ke lantai bawah membawa Langit yang berada di gendongan Bintang, dan dengan sigap sopir keluarga Bintang menyiapkan mobil dan bergegas ke klinik hewan. “Langittt, tolong bertahan. Lo harus kuat langit, jangan tinggalin gue” Rengek Bintang yang begitu miris, hingga membuat seisi mobil ikut merasakan sedih.
“Tenang Tang, Sky bakal baik baik aja. Sky kuat kok” “Pakk cepetan dikit” “Baik den” —------- “Dok Langit kenapa?” Tanya Bintang kepada dokter yang sudah selesai memeriksa Langit yang masih saja lemas. “Tenang saja Nak, Anabulnya mengalami demam, suhu tubuhnya tinggi, tapi kamu tidak perlu khawatir kondisi tubuhnya semua baik. Setelah ini akan dilakukan tes darah untuk memastikan penyebab demamnya” “Lakukan apapun dok” “Baik, akan kami lakukan sebaik mungkin” Berjam-jam mereka menunggu di klinik untuk menjaga Langit yang masih saja lemas tidak berdaya. Dan ketika dokter kembali dengan hasil tesnya ketiganya dapat bernafas lega, karena ternyata itu hanya infeksi kecil yang bisa diatasi dengan antibiotik. Setelah menyelesaikan pemeriksaan dan mendapatkan obatnya, Bintang, Jehan dan Rega membawa Langit kembali pulang dengan perasaan yang sedikit lebih tenang mengetahui Langit akan baik baik saja. “Gue nginep deh” “Gue juga”
“Thankyou guys” —---- “Non, Sky nya kenapa?” sambut bibi yang menunggu dengan gelisah setelah melihat kejadian beberapa jam yang lalu semuanya panik membawa Langit menuju ke mobil. “Sky demam bi” jawab Jehan “Tapi, dia akan baik baik saja kan den?” “Iya bi, dia akan baik baik saja setelah minum obat” “Bi, tolong siapin kamar tamu boleh? Mereka berdua mau nginep” kata Bintang tidak semangat dengan masih menggenggam paw milik Langit sejak tadi. “Gue mau tidur disinii Taang” Jawab Rega “Gabisa Ga, lo mau tidur dimana? Kasur gue penuh gue sama Langit. Lo ga dapet tempat” “Di sofa?” “Trus Jehan?” “Ya biar dia tidur di kamar tamu sendirian” “Ya kalo lo tidur disini, gue juga” Jawab Jehan “Ya gabisa lah” “Non, bibi bisa bawakan kasur dari bawah, untuk den Jehan sama den Rega, bagaimana?” “Nahhhhh, boleh ya Taang? Gue pengen ikut jagain Sky juga” “Yaudah deh”
“Bibi jangan angkat kasur yaa, biar mereka berdua angkat sendiri” “Angkat sendiri sono kasurnya” Tegas Bintang “Iyeee Tang, iyeeee” —------ “Jangan sakit dong Langittt” Sejak kembali dari klinik, Bintang tidak meninggalkan Langit barang semenitpun. Bintang terus mengusap bulu halus Langit dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Langit, sejak tadi menatap Bintang dengan lemas, tidak seperti biasanya, dimana Langit akan menatap Bintang dengan berbinar, dan semangat. “Udah tangg, lo juga tidur gih, udah malem. Biar gue yang kompresin Sky” kata Jehan yang kini duduk disisi ranjang milik Bintang “Langit kenapa ya Je? Padahal semalem dia baik-baik aja, apa karena semalem dia ikut gue begadang dan ngajarin PR gue ya?” “Engga Bintang, mugkin emang kebetulan aja infeksinya Sky baru bereaksi sekarang. lo ngga usah mikir macem macem, mending tidur ya” “Langit bakalan cepet sehat kan?” “Iyaa, percaya sama gue. Si Mico juga sering begini kok, paling beberapa hari doang udah seger lagi” (Mico itu anjingnya Jehan) “Beneran?”
“Iyaa Bintaang, udah sekarang lo merem, pelukin Sky nya.” “Iya Je. Thankyou” “Always”
[4 : Si Ajaib] Setelah beberapa hari Langit menjalani harinya dengan malas, kini kondisi Langit sudah jauhh lebih baik.
Nafsu makannya sudah kembali, dan dia sudah mulai berlari kesana kemari. Tentu saja Bintang sangat senang melihat itu. Dan Bintang beruntung orang tuanya tidak ada di rumah selama dua minggu, karena harus ke luar negeri mengurus suatu pekerjaan. Membuat Bintang leluasa melepaskan Langit dan mengajaknya bermain di sekitar rumah. Jika itu tertangkap cctv, Bintang akan selalu menggunakan Jehan sebagai tamengnya. "Anjingnya Jehan pa" Seperti saat ini, Bintang sedang berada di taman belakang rumahnya rebahan diatas rumput, dengan Langit yang juga melakukan hal yang sama disampingnya. "Langit, lo jangan sakit lagi ya? Gue ngga suka. Gue ngga suka liat lo lemes gitu" "Wwff" "Iya lo ngrepotin, tp gausah minta maaf. Gue lebih suka lo repotin daripada lo kesakitan" Langit pun mendekat dan mendusalkan wajahnya di ceruk leher Bintang. Hal hal seperti ini yang membuat Bintang sangat menyayangi Langit. Bintang selalu merasa bahwa Langit menjawabnya, Langit mengerti dirinya dan perkataannya. "Gue beruntung banget nemu lo Langit"
"Gue lebih beruntung karena lo yang nemuin gue my Star" Bintang meraih dan menangkup wajah Langit dengan kedua tangannya. Membuat Langit beralih menjadi posisi duduk, dan menunduk menatap Bintang. "Gue sayang sama lo Langit. Jangan pernah tinggalin gue ya?" "Jujur, sikap lo ke gue selama ini, terlebih ketika gue sakit kemaren bikin gue makin sayang sama lo Bintang" Dengan perlahan Langit mendekatkan wajahnya ke wajah Bintang. Dan Langit menyatukan dahi mereka. Untuk sejenak mereka menikmati angin yang seolah membelai mereka berdua. "Gue janji my Star" "Janji?" Mendengar suara Bintang yang tiba tiba Langit kaget dan menjauhkan wajahnya. "Masa Bintang denger suara hati gue?" "Janji lo ga bakal tinggalin gue kan? Salaman dulu. Lo harus janji" "Ohhh.. anjir gue kira Bintang beneran denger suara hati gue"
"Ayo mana sini pawnya" Langit meletakkan paw kanannya diatas telapak tangan Bintang yang sejak tadi sudah terbuka. "Janji lo gabakal ninggalin gue Langit" Langit pun mengangguk dan.. "TUNGGU" "LO BARUSAN NGANGGUK?" "LANGIT!! LO NGANGGUK??" "Hadehhh, kelepasan" "Lo ngerti gue ngomong apaa?" "Langit sumpah lo tuh ajaib bangett. Lo siluman kah?" "Ya emang gue siluman, mau apa loo??" "Wahhhh.. Rega emang bener. Kayaknya lo emang beneran siluman" "Oiya. Lo tau ga sih? Jawaban fisika lo, yang minggu lalu. Bener semua anjirrr" "Gue bingung, lo tuh siluman apa titisan einstein?" "Yaelah tang, itu doang mah kecill. Nanti kelas 3 lo bakal nemu yang lebih susah dari itu"
"Thanks anyway wkwk. Seandainya aja lo bisa ngajarin gue gimana cara ngerjainnya" "Gue mau sih. Tapi kan, gue cuma bisa gonggong" "Dahlahh. Udah ya main lempar ama kejarannya, gue capek" "Ya bangsat, gue juga capekk. Jadi anjing berat ternyata, gue kira cuma makan boker ama cuddle doang. Ternyata pake segala lari larian" "Ayoo masukk, kita makann" "Yesss. Daging ayam i'm coming" —----