The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 21:21:54

langit

samoyedd

Tujuan mereka saat ini adalah taman bunga, yang begitu cantik, dan padang rumput yang luas. Karena sejak Langit bersama dengan Bintang, Langit tidak pernah dibawa ke tempat terbuka dalam waktu yang lama. Bintang ingin, Langit sejenak merasakan kebebasan. Setidaknya itu yang Bintang pikirkan.


Puas dengan bermain di padang rumput, mereka akhirnya menuju ke villa yang telah mereka sewa. Villa yang cukup nyaman dengan 3 kamar tidur itu, sangat cukup bagi mereka untuk menikmati liburan dadakan mereka dan rencana perayaan ulang tahun yang pertama untuk Langit.


Semuanya telah disiapkan. Kue dadakan untuk Langit pun juga sudah disiapkan. Begitu tiba di hotel pun, mereka segera istirahat sebentar dan membersihkan diri. —--- Saat malam tiba, dengan heboh. Ketiga manusia itu memaksa Langit untuk duduk dihadapan mereka, dan memakai atribut ulangtahun. Sungguh Langit sangat lucu sekarang. "Lo bisa tiup lilin ga sky?" Tanya Rega.


"Bisalah bego" "Gue bantu deh yokk. Make a wish dulu" kata Bintang sambil menutup kedua mata Langit dengan satu telapak tangannya. "Tuhan. Kasih aku kesempatan buat bilang ke Bintang kalau aku cinta banget sama dia, walaupun aku ngga bisa jadi manusia, its okay. Asal aku bisa bilang ke dia. She ment everything for me" "Dah. Tiup" *fuhh "Yeeeeyyyy uhuuyyy. Sekarang parti kita" Yah gitulah, ketiganya beneran parti. Nyanyi nyanyi ngga jelas. Makan buanyak sampe kenyang, main games sampe capek. Intinya mereka semua bener bener seneng seneng. "Udah mau pagi nih. Tidur yuk? Besok jalan jalan lagi" kata Rega mengingat hari sudah hampir menginjak pagi "Eh, iya. Yaudah tiduurr yook" Yup, ketiganya pun berpisah dan tidur di kamar masing masing. "Langit, gimana? Lo seneng kan?" "Seneng banget lah anjir. Kapan lagi gue bisa main sama lo puas gini"


"Jangan ngambek lagi ya? Gue galau berat kalo lo ngambek" "Asal lo tau aja gue tuh sayangg banget sama lo, gatau ya kenapa, tapi kehadiran lo di hidup gue tuh membawa warna tersendiri gitu. Gue jadi ga kesepian ketika ditinggal ayah bunda. Gue selalu pengen pulang cepet buat ketemu lo, dan gue ada tempat buat cerita banyak, dan lo selalu jadi pendengar yang baik buat gue" "Lo tau, lo berharga banget buat gue" "Tolong jangan marah lagi" "Aduh.. anjir jangan bikin gue pengen nangis dong" "Gue lebih lebih lebih sayang dan cinta sama lo Bin" "Udah. Ayo bobok. Jangan kemana mana, dan jangan lepasin pelukan gue. Oke?" "Ga akan" —---- "Aduh badan gue kenapa rasanya aneh sih?" Sejak tadi Langit merasa tubuhnya sedikit aneh, ia merasa tubuhnya berat. Langit memutuskan untuk bangun, dan melepaskan pelukan Bintang. Dengan langkah gontai karena mengantuk, Langit berjalan menuju ke arah balkon untuk mencari udara segar. Namun, terkejutlah Langit ketika ia menemukan bayangan dirinya, Yang tersorot lampu.


"Hahh???, anjir badan gue?" Langit berlari mencoba untuk mencari sebuah cermin. Dengan ragu, Langit mengintip kedalam kamar mandi dimana ada sebuah kaca disana.


"Fuck." Langit melihat dirinya. Dalam wujud manusia. Panik karena dirinya sama sekali tidak berbusana, Langit menyambar sebuah kimono yang villa itu sediakan, dan mengenakannya. Masih dengan kepanikannya, Langit berlari menuju balkon karena ia tidak ingin membangunkan Bintang karena kerusuhannya. "Anjing anjing, gue beneran berubah. Gue bisa jadi manusia" *plakk "Gue ngga mimpi kan?"


*plakk "Bangun lo Langit." *plakk "Anjir sakit" "Ini gue beneran berubah?" "Ya Tuhannn. Gue harus gimana sekarang? Apa Bintang bisa nerima gue? Apa dia gabakalan takut sama gue? Aduh gimana anjir" "L-laangiitt??" "Aarghhh bangsaatt, Bintang bangun" "Ini gimana cara jadi anjing lagii?? Sumpahh gimanaa??" "Laangiit? Lo kemanaa??" "Ayo dong pliss jadi anjing lagi pliss" *ceklek. "Langit?" —-----


[11 : ......] "Wooff" Tepat waktu. Tepat sebelum Bintang membuka matanya yang masih mengantuk, Langit berhasil mengubah tubuh manusianya kembali menjadi anjing samoyed lucu. "Lo ngapain malah diluar si ah. Ayo tidurr" "Faagg. Untung bisa berubah lagi" "Ini lagi, ngapain lo bawa bawa kimono ish" "Yakan panikk… masa biji gue keekspos gitu yakalik" "Udah ayo tidoorr" "Iya sayang. Eh!!" "Gue yang bilang, gue sendiri yang salting. Bg" —----- "Pagiii" "Wah, udah pada sarapan aja"


"Loh lo baru bangun?" Tanya Rega ketika melihat Bintang berjalan dengan muka bantalnya dan rambutnya yang masih tidak beraturan. "Yaiyalah" "Lah trus? Yang bikin toast sarapan siapa?" "Jeje palingg, kan cuma dia yang bisa diharapkan" "Jeje aja bangunnya bareng gue" "Loh? Bukan lo je?" "Bukan. Gue kira lo yang bikin" "Lahhh???" "Pak tora kali ya?" "Bae bener pak tora? Mana enak lagi" kata Rega. "Elah ga, toast doang inihh" "Tapi enak ege. Matengnya pas" "I-iya sihh. Enak ini" "Udah, gausah pada protes yang penting ga beracun. Cepet makan, kita jalan lagi" "Ay ay capt" "Bintang suka keknya. Resep mama ga pernah salah emang" —---- Setelah selesai bersiap siap, mereka segera menjalankan rencana mereka. Yaitu berjalan jalan, keliling area yang cantik itu.


Bintang nampak begitu bahagia. Rega dan Jehan pun sangat bersyukur melihatnya. Sejak mereka bertiga bersahabat, akan ada saja sesuatu yang mengganggu bintang. Dan membuatnya tidak bebas dan lepas menjalani hari harinya. Tapi sejak kehadiran Langit, Jehan dan Rega melihat seolah beban di tubuh Bintang terangkat begitu saja. Yah, memang Bintang juga suka berbagi cerita dengan Jehan dan Rega, namun tidak semuanya. Karena Bintang berfikir, Rega dan Jehan juga manusia yang punya kehidupan sendiri. Bintang tidak mau jadi manusia yang merepotkan. Tapi kepada Langit, Bintang berikan semuanya. Bintang bagikan semuanya. Kekesalannya, ketidak beruntungannya, kelelahannya, kebahagiaannya, semuanya. Dan Langit, akan selalu memberikan pelukan hangatnya yang memperbaiki semuanya.


"Aduh, capekk" "Yaelah, baru juga jalan segini Tang" kata Rega remeh. "Jompo bgt gue emang" "Wkwk yaudah, mau balik apa mampir jajan?" "Jajaannn yuuu" "Ayooo" "Gendong tapi" "Anjir gaada ya gendong gendong. Gue ga mungkin jadi manusia skarang. Dan masa iya lo di gendong ama curut 2 itu. Kaga kaga"


"Ga sadar diri banget. Lo tu berat Tang" kata Jehan. "Kak Jovan kuat tau" "Yee. Itu mah modus si Jovan makanya kuat" "Aalaahhh" "Kalo gue bisa berubah sekarang gue gendong lo sampe jakarta" "Ayoo. Jalan dikit doang, tuh disana ada toko topoki" "Oiyaa. Yaudaa ayoo cepet laper" "Sumpah ye. Yang tadi makan toast dua biji sapa bangsat." Amuk Rega. —---- "Sky, biar si Bintang makan dulu ngapasih? Nempel mulu lo kek perangko" sengit Rega. "Gak mau. Pengen nempel teros"


Jehan hanya bisa geleng geleng melihat kelakuan Langit yang terus saja menempel pada Bintang. Entah kenapa anjing itu, dia terlihat sangat bahagia. "Perasaan, dari tadi Sky senyum senyum mulu. Seneng banget dia?" "Eh, kirain gue doang yang sadar. Ternyata lo juga Je?" "Iya asli. Ga kaya biasanya" "Ya mungkin dia seneng aja soalnya dibawa jalan jalan. Kan jarang tuh dia dibawa jalan jalan" "Iya sih Ga. Gue juga ngira gitu" "Kalo gitu sering sering bawa kabur aja biar dia seneng" "Wkwk"


"Oiya Tang. Tadi malem gue mendengar sesuatu yang aneh" "hah? Apaan Je?" "Masa, semalem gue denger suara cowo. Dari balkon kamar lo?" "Bangsattt????" "HAH? jangan ngadi ngadi lo Je" "Yang bener aja lo Je" "Loh, beneran. Semalem gue kebangun trus ke toilet. Niatnya gue pengen ke balkon juga. Tapi samar samar gue denger suara cowo dari balkon lo." "Lo ngga ngintip liat gitu?" "Ngga lah tang, merinding gue. Langsung balik tidur. Gajadi ke balkon" "Elahh. Yakin lo itu suara cowo? Orang tadi malem yang ke balkon si Langit" "Loh iya?" "Iya. Gue bangun gaada dia. Ternyata dia di balkon" "Oalah, salah denger kali lu Je. Lo kan masih ngantuk" "Masa sih Ga?" "Iya kali. Sky kan kadang ngedumel sendiri. Kaya lo gatau aja" "Oh, iya juga sih" "Selamaattt hidup gue" "Tapi beneran kaya suara cowo anjir" —----


Waktu mereka menikmati liburan telah usai. Mereka pun kini sudah berada di rumah dengan selamat dan kembali mereka berhasil menyelundupkan Langit dengan aman ke dalam rumah. "Langit. Sini lo, ayo tidur buruan. Gue besok sekolah" Sudah menunjukkan pukul 09.00 sekarang. Setelah Bintang makan malam dan menceritakan liburannya kepada kedua orang tuanya, tubuh jompo Bintang sudah ga kuat menahan kantuk. Akhirnya dia memutuskan untuk langsung tidur saja. "Et tapi, ada PR Kimia 5 soal doang si. nyontek Jehan aja lah besok" Katanya sebelum menutup mata dan masuk ke pelukan Langit. "Et dah bocah. Main molor aja" "Eh, btw Tang. Setelah berlatih bbrp jam, gue bisa ngendaliin tubuh gue lebih baik. Gue bisa berubah sesuai kemauan gue. Lo masih mau nerima gue kan Tang walaupun gue siluman?" "Yaa maksud gue sih, nerima gue jadi piaraan lo. Lo masih ttp bakal sayang sama gue kan?" "Kalo ngga, mending gue jadi anjing aja seumur hidup gue. Asal gue bisa sama lo" Merasakan Bintang yang sudah tertidur pulas, Langit mencoba untuk berubah menjadi wujud manusianya. Dan berhasil.


Langit menarik selimut kecil Bintang untuk menutup bagian bawah tubuhnya. Jelas, Langit tidak akan mau sesuatu terjadi. "Jangan bangun ya cantik" Langit tatap wajah Bintang yang tertidur dengan damai. Yah, memang setiap hari Langit melihat wajah itu. Namun anehnya, tidak ada bosan dihatinya, justru yang ada dia semakin jatuh kedalam pesonanya. *cup Satu kecupan mendarat di dahi Bintang yang sedikit tertutup poni itu. Langit tersenyum bahagia. Selama ini ia penasaran bagaimana kulit halus Bintang menyentuh bibirnya. Dan kini Langit mampu mewujudkannya. *cup Satu lagi. Kali ini, bukan hanya bahagia. Namun, kembang api yang berada di dalam. Tubuh Langit semuanya meledak. Bibir Bintang yang begitu lembut dan manis, bisa Langit rasakan dengan nyata. Langit tahan bibirnya disana selama beberapa saat. Tanpa sadar air mata mengalir dari ujung mata Langit, mengalir menetes di Bantal yang keduanya gunakan. Sungguh. Langit begitu bahagia, seolah dia sudah mencapai tujuan hidupnya.


"Nnghh" "Shit" Bintang yang merasa tidurnya terusik bergerak, dan memutar tubuhnya membelakangi Langit secara tiba tiba. Tentu saja itu membuat Langit terkejut, bahkan dia membeku sekarang. karena ia mengira Bintang akan bangun. Tapi ternyata tidak. Bintang kembali tidur dengan nyaman. "Hhhh.. thankyou love" —----- "Je.. je.. nyontek PR buruannn" kata Bintang panik setelah sampai di sekolah. Karena ia belum mengerjakan PRnya semalam. "Loh, kenapa semalem ngga bilang?" "Ngantukk bangett, gue tinggal tidur" "Dasar. Nih" Jehan menyerahkan bukunya kepada Bintang untuk segera menyalin, masih ada 15 menit sebelum bel masuk. Seharusnya itu cukup. "LOH?" "Apa? Kenapa?" Tanya Jehan yang kaget karena teriakan Bintang


"Kok gue udah ngerjain?" "Lah gimana maksud lo?" "Liat" Bintang menunjukkan bukunya dimana soal yang semalam masih kosong, sekarang sudah terisi penuh. "Lah?? Itu lo udah" "Je.. sumpah. Semalem gue ngga ngerjain apa apa" "Itu lo kerjain minggu lalu kali. Iseng lo?" "Anjir. Sejak kapan gue isengnya ngerjain soal Je?" "Apanih ribut ribut?" Tanya Rega yang baru saja sampai. "Liat deh ga. Masa PR gue ada yang ngerjain" "Hah? Maksud lo?" "Gue semalem belom ngerjain, tapi pagi ini udah ke isi coba" "Mana coba liat" "Iya juga. Ini bukan tulisan lo kalo diperhatiin" "Lah iya Tang. Lo joki ke siapa?" "Kagaa adaaa " "Mana jawabannya persis punya Jehan lagi. Kemungkinan bener semuanya tinggi" "Asli makin hari makin serem aja" "Iya loh. Abis kejadian toast, trus suara di balkon, sekarang pr lu, asli lo piara tuyul ya?"


"Sembarangan lo Ga. Gue kan cuma piara Langit" "Eh….." "Jangan jangan…" "Tuh kan! Langit tuh beneran siluman Tang" "Tapi gue ga pernah tuh mergokin Langit jadi manusia" "Ya kalo dia pinter berubahnya ya gabakal ketauan ga sih?" "Sstt. Stt.. pak guru dateng" "Anjir. Masa beneran Langit sih?" —---- *brakkk "Langitt!! Woi" Kalian pernah liat film film gangster? Nah sekarang Langit kaget kaya liat live actionnya. "Ss..saya salah apa bang?" "Ngaku lo. Lo siluman kan?" Tanya Rega "LOH? HEH? LO.. HEH?" "Wkwkw ga. Lo kek preman banget asli" ejek Bintang melihat Rega yang sok preman.


"Langit.. akhir akhir ini banyak kejadian aneh, mereka berdua bilang gue piara tuyul. Kan tuyul gue Lo ya? Lo siluman kah?" Tanya Bintang halus. "Haruskah gue mengaku sekarang? Eh. Tapi gue gasiap" "Wofff" "Elah, gila banget kita begini. Lagian mana ada sih siluman? Hybrid gitu? Kaya novel aja" kata Jehan. "Ada Je. Gue" "Lagian mana mungkin coba, anjing gue yang lucu menggemazkan ini bisa jadi manusia. Gimana coba caranya" "Bisa Tang" "Wkwkw, yaudah lah. Mungkin cuma kebetulan ga si? Main ps aja lah kita" Rega mah, Apa apa Ps mulu. "Loh.. gasss" "Jangan sekarang ya Bintang. Tunggu gue bentar lagi" —------ "Bintang"


Oh. No. Suara Bunda. —----


[12 : Truth] Sore itu, ketika Bintang sedang bersantai dengan langit di ruang tengahnya. Bintang dikejutkan dengan suara Bunda yang tiba-tiba saja muncul dari arah pintu. "B-bundaa" Sadar akan hal itu, Langit berlari dengan kencang ke kamar Bintang yang pintunya tidak tertutup sempurna. "B-bunda, sudah pulang? Kenapa ngga ngabarin Bintang?" "Anjing itu lagi?" "B-bunda. Maaf itu.." "Jangan bohong Bintang! Bunda tidak pernah mengajari mu berbohong" Bintang menunduk sekarang, Bundanya tidak pernah berbicara padanya dengan nada tegas seperti itu sebelumnya. "Bunda, *hiks maaf" "Ada apa sayang??" Ayah yang baru saja selesai parkir mobil bingung dengan kondisi yang terjadi diantara istri dan anaknya itu. "Panggil anjing itu kesini Bintang" "Bunda, maaf. Ini salah Bintang, maaf bunda"


"Bintang, bawa dia kesini" Mendengar suara Bunda yang melembut, Bintang berjalan kearah kamarnya dengan tangisan di wajahnya. "Sayang, jangan marah padanya" "Tidak sayang" "Dan kau yakin, ingin melihat anjingnya?. Apa kau baik baik saja?" "Ya. Aku baik" *hiks hiks. Bintang berjalan memasuki kamarnya dengan isakan yang semakin kencang. "Huaaa.. maaf Langit. Kita ketauan Bundaa. Kalo lo dibuang gimaana??? Gue ngga mauuu" "Bundanya marah ya?" "Huaa.. Langiitt ayo kabur ajaa. Gue gamau pisah sama loo" "Gue juga ga mau kali" "Bunda bilang gue suruh bawa lo kebawah. Aaaaaa gue ngga mauu lo dibuaangg" "Kita bisa hadapin ini"


Langit berjalan dengan gagah mendahului Bintang membimbingnya menuju ke kedua orang tuanya yang kini duduk di sofa panjang berwarna abu abu itu. "Lagi lagi. Tuhan, aku serahkan semuanya padamu" Melihat Langit yang berjalan dan duduk dengan patuh, Bunda spontan berdiri. Dan terpaku melihat Langit. "Sepertinya memang ini karma untukku" "Sayang? You okay?" Tanya Ayah, sambil mengusap punggung Bunda dengan lembut. "Bundaa,, bintang mohon. Jangan buang langit bunda" Bukannya menjawab. Bunda berjalan mendekat kearah Langit. Dan memeluknya erat. "Maaf. Maafkan saya" *deg. "Suara ini? Loh?" "Jadi, suara yang pernah gue denger pas gue mati, itu suara bunda? Kok bisa?" "Bunda?" Kaget Bintang.


"Terimakasih, sudah baik padanya ya putriku" "Bunda? Apa maksud bunda?" Lagi lagi tanpa menjawab, Bunda berlalu pergi dan masuk ke dalam kamarnya. "Ayah? What happened?" "Ayo ikut Ayah. Langit, tunggu didalam kamar Bintang ya?" "Wooff" —-- *ceklek "Bunda?" Buru buru Bunda hapus air mata yang mengalir di pipinya ketika dua kesayangannya itu masuk kedalam kamar dan mendapati dirinya menangis sendirian. "Bunda okay?" Tanya Bintang yang kini berlutut dihadapan Bundanya. "Yea, Bunda okay" "Maafin Bintang ya Bunda.." "Tidak sayang.. seharusnya Bunda yang minta maaf. Pasti sulit ya menyembunyikan Langit dari Bunda?"


"Tidak begitu Bunda.. Bintang.." "Sayang, mungkin ini balesan buat Bunda, Tuhan pengen Bunda tanggung jawab. Karena itulah ada Langit disini" "Tanggung jawab apa Bunda?" "Sayang? Jika tidak ingin. Kau tidak perlu menceritakannya" tegur Ayah "Tidak apa apa sayang, its okay" "Dulu. Saat kamu masih kecil. Saat umurmu masih 8 Tahun, Bunda pernah menabrak seekor anjing. Hingga mati" "Hah? Beneran Bunda?" "Iya. Dan anjing itu, mirip sekali dengan Langit" —-- flashback —--- "Puppy bertahanlah, jangan mati. Jangan" Panik Bunda yang turun dari mobil dan menemukan Anjing besar putih kini setengah badannya telah berwarna merah bersimpah darah. Dengan kedua tangannya, Bunda membawa anjing itu ke vet dan tidak peduli mobilnya kini juga kotor karena darah. "Maaf nyonya. Anabulnya sudah mati saat perjalanan" "Oh Tuhan. Maafkan saya"


"Sayang. Cari siapapun pemilik anjing ini, kita harus meminta maaf" "Iya sayang. Kita akan mencarinya" Anjing itu dikuburkan dengan baik, dan ditempatkan di pemakaman yang baik pula oleh Ayah dan Bunda. dengan nisan ukiran huruf J sesuai dengan kalung yang anjing itu kenakan. Satu bulan lebih Bunda dan Ayah berusaha mencari pemilik anjing itu. Namun sama sekali tidak ada hasil. Dan karena rasa bersalahnya, Bunda selalu menangis ketika melihat seekor anjing. Dan dari situlah, Bunda lebih memilih menghindari anjing dan mengatakan bahwa dirinya takut. —--- end of flashback —--- "Jadi.. mungkin Langit adalah salah satu cara dari Tuhan agar Bunda bertanggung jawab." "Langit.. mirip banget sama anjing yang bunda tabrak sayang" "Astaga Bundaa" Bintang memeluk bunda nya dengan sangat erat. "Bunda hebat banget, Bunda bertanggung jawab. Bunda baik banget"


"Tapi pasti pemilik anjingnya sedih kan nak? Karena anjingnya tidak pernah bisa kembali?" "Itu sudah 8 tahun lalu bunda, mungkin sekarang pemiliknya sudah ikhlas. Bunda jangan terus merasa bersalah oke?" "Sayang.. terimakasih" "Terimakasih kamu baik sama Langit, menggantikan bunda. Kita rawat Langit bareng bareng ya?" "Maaf bunda merepotkanmu" "Hah? Tidak bunda. Jika memang Langit datang kesini karena bunda, kalau gitu Bintang terimakasih yang geeedeeeee banget sama Bunda" "Bintang sayang banget sama Langit. Dia nemenin Bintang pas Ayah sama Bunda kerja. Bintang ngga kesepian, Bintang berasa punya sodara." "Oiya?" "Iyupp" "Oiya Bunda, kalung yang dipakai anjing itu? Masih ada sama Bunda?" "Masih" "Boleh Bintang aja yang simpan?" "Boleh" "Okeee. Dengan ini, bunda ga boleh sedih lagi. Karena bunda sudah bertanggung jawab, dan bunda sudah mengizinkan Langit tinggal disini. Maka kesalahan bunda sudah terbayar. Bunda ngga boleh merasa bersalah lagi. Okayyy??" "Sekali lagi terimakasih sayang" "Ay ay Bundaa"


Jangan tanya seberapa bahagianya Bintang sekarang. Jelas ia sangat bahagia melebihi apapun didunia ini. Kini tidak ada alasan lagi baginya menyembunyikan langit. Tidak ada lagi alasan baginya untuk khawatir akan dipisahkan dengan langit. Kini Langitnya akan selalu ada bersamanya. —---- "Wooff" Sambut langit ketika Bintang kembali masuk kekamarnya. Namun ekspresinya benar benar tidak bisa dipahami. "Langit. Bunda terima lo. Kita gabakal di pisahinnn" katanya tiba tiba sambil memeluk langit erat "Anjir udah panik gue" "Ternyata selama ini Bunda ngga takut sama anjing. Bunda cuma ngerasa bersalah karena Bunda pernah ngga sengaja nabrak anjing" "Oohh, jadi karena itu bunda trauma?" "Dan Bunda bilang, anjing yang bunda tabrak mirip sama lo" "Bunda pikir, lo disini karena takdir. Bunda harus bertanggung jawab karena kematian anjing itu"


"Samoyed juga yang ditabrak bunda?" "Bunda udah cari pemiliknya, selama satu bulan lebih buat minta maaf. Tapi ga nemu" "Menurut lo, sekarang pemiliknya udah iklas belom ya?" "Gatau sih. Gue sih masih pengen tau juga anjing gue kemana. Padahal udah 8 taun lalu anjing gue ilang" "Satu satunya yang ditinggalin anjing itu cuma kalung ini" "J-Joey?" "Ini kalung Joey"


"Jadi, selama ini Joey udah mati?" "Langit, lo nangis?" "Lo kenapa?" Bintang panik, ketika Langit tiba-tiba saja menangis. Langit bergerak masuk kedalam selimut di atas kasur bintang. "God. Anjir. Lo siapa?" "Langit. Lo dimana?" Dengan muka panik bercampur takut, Bintang terus menengok kesana kemari mencari keberadaan Langitnya yang tadi jelas jelas dihadapannya. "Bintang" Suara berat yang begitu asing, masuk ketelinga bintang, membuat bintang merinding sekarang. "Lo. Anjir lo siapaa?"


"Gue Langit" "Gak gak. Langit itu anjing gue, bukan Lo." "Gue Langit Bintang" "Gak. Gak mungkin" Bintang dibuat semakin takut sekarang ketika ia tidak menemukan langit dimanapun. Dan Laki laki dihadapannya itu, malah dengan santai memakai selimut kecil bintang untuk menutup bagian bawah tubuhnya. "Sstt.. tenang Bintang, bakal gue jelasin semuanya" "Apa yang mau lo jelasin? Lo siluman gitu?" "Exactly" "Gak. Lo bukan langit gue. Pergi lo" "Siapa tadi yang nangis nangis ke Bunda bilang supaya gue ngga dibuang? Malah sekarang, lo yang ngusir gue?" Langit dengan mode manusia itu berjalan mendekati Bintang yang ketakutan. "Gue Jezziel" "Huh?" Katakan Bintang sedang bermimpi sekarang. Apa apaan? Anjing gembulnya berubah menjadi laki laki tampan dan berotot begini?


"Oke, mending lo kasih gue baju dulu biar kita ngobrolnya enak" "Apa lo mau kita ngobrol gini aja?" Dengan nakal laki laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Jezziel itu terus bergerak mendekati Bintang yang terpojok. "OKE! OKE! MINGGIR GUE AMBILIN BAJU" "Hhhh lucu banget si" "Bangke bangkeee… apa apaan??" —--- "Nih. Gatau gue cukup kaga. Tapi itu baju ayah yang gue curi" "Anjir, ini sempak Ayah?" "Lo gila? Itu baru bangsattt. Iya punya ayah, tp masih baru. Ga liat apa masih ada segelnya?" "Oh iya" "Aduh stresss gueeee" "Thanks gue pake dulu" Sepeninggal Lelaki itu masuk kedalam kamar mandi. Seluruh tubuh Bintang mendadak lemas.


"Anjirrr selama ini Langit beneran siluman?" "Gue kan cerita semuanya ke langit?" "Tuh cowo denger gak ya?" "Gue juga sering mandiin dia anjir. Mandi bareng juga. Anjinggggg laahhhh" *ceklek Bintang langsung terdiam dan pandangannya mengikuti semua pergerakan Laki laki itu yang dengan santainya berjalan di kamar Bintang dan hafal dimana letak barang barang bintang. "SEEETTREEESSSSS" "Jujur. Lo itu siapa dan makhluk apa?"


"Boleh gue pinjem kalung anjing tadi ga?" "Jujur dulu lo siapa?" "Gue udah kenalan kan tadi? Gue Jezziel" "Trusss??? Langit gue kemana?" "Ya gue langit juga" "Hah?" "Kan lo yang namain gue langit? Nama asli gue Jezziel" "Hah?" "Jualan keong lu hah heh mulu dari tadi?" "Lu yang bener ngomongnya" "Ya anjir ini gue beneran ngomongnya" "Jadi lo itu siluman?" "Iya kalik" "Kok kalik?" "Ya gue aja baru tau kalo gue bisa jadi manusia pas gue ulang taun kemaren" "Oww. Pas di vila?" "Iya." "Gue masih ga percaya lo langit" "Hhhhahhhh.." Dengan sigap Jezziel menarik Bintang kedalam pelukannya. Mengusap kepala Bintang dengan penuh kasih sayang. "Hmmm baunya kaya langitt. Rasanya kaya dipeluk langit"


Bintang mendusalkan wajahnya dan memeluk torso Jezziel lebih erat. Hingga menimbulkan senyum di wajah Jezziel sekarang. "Gimana? Percaya kan?" Kaget, Bintang lepas pelukannya dengan tergesa. "Uh, mmmm iya sih" "Udah, coba mana tadi kalung anjingnya?" Bintang menyerahkan kalung inisial J yang berada di genggamannya. "Ini, kalung Joey" "Joey? Siapa?" "Anjing gue. Yang ilang 8 tahun lalu" "Whaaattt???" "Dia siluman juga?" "Hahahahha ngga" "Trus? "Joey, anjing gue. 8 taun lalu dia ilang" "Jadi?? Yang ditabrak bundaa?" "Joey" "Uh.. mm.. sorry, atas nama bunda, gue minta maaf karena lo harus kehilangan anjing lo"


"Selama bertahun tahun gue cari Joey, hidup ataupun mati. Gue cuma pengen tau dia dimana" "Sorry" "Hey, stop saying sorry" "Mungkin, ini cara Tuhan ngewujudin keinginan gue. Buat nemuin Joey apapun yang terjadi" "Karena itu, gue dimasukin ketubuh Langit, dan ditemuin sama lo" "Dan akhirnya sekarang, gue tau kalo Joey udah hidup tenang di alam yang lain" "Gue lagi sedih. Lo gamau nawarin peluk kaya biasanya? Gue juga Langit asal lo tau" "Oh, umm.. kay?" Jezziel menubruk tubuh Bintang, dan mencari kenyamanan disana. "I found you Joey. Finnaly" "What happened to you? Jezziel?" Tanya Bintang lembut. "Gue udah mati" "Hah?" "Gue mati, setahun lalu"


—-----


[13 : Jezziel] "Gue mati, setahun lalu" —--- Flashback —---- "Jezziel, kamu mau kemana nak?" "Oh, ma. Ini, gasengaja Jiel liat selebaran gitu ketempel di tembok deket tempat Jiel study tour ke kota sebelah kemarin. Dan selebarannya ada gambar kalung Joey ma" "Jiel sayang. Joey udah pergi lama, Jiel bilang Jiel juga udah ikhlas kan?" "Maa.. Jiel cuma pengen tau aja kok, kalau Joey udah mati, Jiel bakal cari makamnya." "Disini juga ada alamatnya, Jiel mau nyari informasi aja mama" "Oke. Tapi Jiel janji. Ngga boleh marah kalau Joey beneran udah gaada" "Iya ma" "Hati hati ya sayang" "Iya, maa. Jiel pergi dulu. Bye mama" "Bye sayang" —------ "Joey. Kasih aku petunjuk kamu dimana"


—----- *tringggg "Halo?" "Halo maaf, apa ini dari keluarga Jezziel Arsatama?" "Oh, iya pak dengan saya mamanya, ada yang bisa saya bantu?" "Maaf ibu, kami dari rumah sakit utama Wijaya. Mengabarkan bahwa putra anda mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal di lokasi kejadian" Bayangkan betapa hancurnya hati seorang ibu ketika anak satu satunya yang begitu disayangi. Diambil darinya secara paksa. Dan tanpa kata kata. "J-jiell? No. Ini ngga mungkin" Mama Jezziel pun menangis histeris hingga mengagetkan seisi rumah. Dan Papa jezziel yang telah mendapat kabar, langsung menuju ke tempat kejadian. Begitu sampai di rumah sakit, papa Jezziel mendapat informasi bahwa Jezziel merupakan korban tabrak lari. Saat ini, sopir ugal ugalan itu sedang dalam masa pencarian. "Nak?, kenapa harus kamu? Kenapa kamu harus tinggalin papa sama mama?" "Kita gimana tanpa kamu nak?" Tubuh Jezziel yang sudah bersih dan dingin, dibawa oleh ambulance ke rumahnya. Dan disambut tangis histeris yang luar biasa.


Dan pada hari itu juga, Jezziel dikebumikan. —----- "Puppy bertahanlah, jangan mati. Jangan" "Suara siapa itu anjir?" "Badan gue kenapa aneh banget rasanya?" "Ini gue bakal bangun dimana ya? Rumah sakit? Peti mati? Apa kuburan?" Jezziel membuka matanya. Dan yang ia lihat pertamakali adalah langit. "Anjir. Gue disurga kah?" "Loh, tangan gue? kaki gue? Kenapa berbulu?" Bingung Jezziel ketika dia mendapati tubuhnya yang berubah. "Wait. Reinkarnasi?" "Sumpah? Gue jadi anjing?" Jezziel terus berjalan dan ketika ia melewati sebuah cermin penunjuk jalan, ia melihat tubuhnya. Anjing kecil yang lucu. "Woiii gue jadi anjinggg bangsaaattt"


"Ueueueuee… ini gimana gue bisa hidup anjirr?" Jezziel terus berjalan dan dia memasuki kawasan perumahan yang mewah, tentu saja Jezziel cerdas. Dia ingin dipungut. Untuk bertahan hidup. "Istirahat dulu lah. Capek, mana laper juga" Jezziel duduk di pinggir danau, dibawah pohon yang bisa melindunginya dari matahari. "Eh, ada orang. Gue deketin ga ya?" "Lagi mancing dia" "Wkwkwk tumbenan banget cewe mancing, mana sendirian" "Ih, umpannya keliatan enak" "Colong dikit gapapa kali ya?" "Weh ni anak anjing ngapain bisa disini?" "Yah ketauan" —--- flashback off —--- "Bintang, lo mau ga tunjukin ke gue dimana makam Joey?" "Uh, gue ngga tau dimana. Tapi, gue akan coba buat tanya ke Ayah nanti" "Thankyou"


"Tunggu. Lo… selama ini ada di tubuh langit?" "Iya" "Lo denger semua ocehan gue?" "Iya" "Lo tau gue mandiin lo?" "Iya" "Lo tau kita pernah mandi bareng?" "Iya" "WHAATT??" "eh anjir, gue ga liat badan lo kok. Suer deh. Kan gue selalu madep ke pintu" "I-iya sih" "Lagian lo kenapa ga ngeluarin gue dulu?" "Ya gue kira lo anjing beneran cokk?" "Lo juga ga bilang kalo lo siluman?" "Gimana cara bilangnya malihhh??? Gue gabisa jadi manusia duluu" "Trus kenapa sekarang bisa?" "Ya mana gue tau anjir" "Arghhhhh.." "Trus sekarang lo bisa jadi anjing lagi?" "Bisa" "Mana liat. Buktiin lo berubah dari manusia ke anjing, trus manusia lagi" "Yakin? Nanti kalo gue berubah dari anjing ke manusia gue bakalan telanjang bulet. Lo mau liat?" "Ow shit. Kagaaaa"


"Yakin???" "Lo!!! Anjing ye!" "Kan emang??" "Hhhuuhhh." Langit benar benar melakukannya ia mengubah dirinya menjadi Langit di hadapan Bintang, dan berlari ke kamar mandi untuk mengubah dirinya menjadi Jezziel kembali. "Wah anjir. Gue kira beginian ada di novel doang" "Kan? Gue sendiri aja masih gapercaya" "Eh btw gue panggil apa dong? Jezziel apa Langit nih?" "Langit aja. Sejak lo nemu gue waktu itu, gue hidup sebagai Langit. Langitnya lo" "Ewwhh, cringe banget" "Btw ni ya, kalo si Rega ama Jeje tau pasti heboh banget dah" "Kata lo gue kasih tau mereka ngga?" "Ngga usah ngga si?" "Kenapa?" "Ya kalo banyak yang tau, bisa bisa gue dilaporin trus dibunuh ama warga gimana?" "Uhhh, ya ngga lah" "Lagian tar kalo mereka gabolehin gue tinggal disini gimana? Mereka kan posesip" "Ga ngaca lo anjir"


"Wkwkwk" "Umur lo berapa? Yang aslinya?" "Berarti, 19 sejak ulang taun kemaren" "Ohhh, 3 taun atas gue. Kaya kak Jovan dong" "Heh si bagong" "Kok bagong sih?" "Ya abisss. Dia modus sama lo" "Ya biar aja. dia kan…" "Apa? Mantan tunangan? Hilih mantan doang kali" "Ihh, masa cakep gitu bagong sih?" "Apaaan? Cakepan juga gue" "......" "Iya sih" "Apaa??? Bilang iya aja susah bener lo" "Dih, siapa jg yang mau bilang iya?" "Nama lo bintang kan?" "Iya" "Tuh udah bilang iya" "Oalahhh… bangsaaattttt" "Hahahhha" "Oiya Langit. Lo kalo mau berubah jd manusia bilang bilang dulu. Pake warning. Dan jangan sering sering" "Kenapa tuh?"


"Aneh aja ada cowo keliaran di kamar gue" "Eleh. Biasanya jg gue keliaran" "Yakan bentuk lo anjing ya bangke" "Perasaan lo kalo ngomong sama Langit tuhh penuh kasih sayang deh. Kenapa sekarang lo ngomongnya ngotot gitu" "Lo ngeselin. Lo jadi anjing ajadeh kalo jadi manusia ngajak brantem mulu" "Padahal, gue selalu gini nanggepin omongan lo. Sayang aja lo ga denger suara hati gue" "Ya lo kira gue cenayangg?" "Apaasih triak triak? Gue cium juga nih" "Menjauh dari ku makhluk alien. Ato anda saya kunciin di neverland" "Hahah, lucunya" "Besok kita belanja" "Apaan?" "Baju looo. Mau lo pake sempak itu setaun?" "Kaga lah" "Nahhhhhh" "Ini sumpah, Bintang nerima gue? Dan dia ga takut?" "Menang banyak gue anjir" —------ "Lo! Jangan tidur sama gue!"


Kata Bintang tegas pada Langit yang kini berdiri di ambang pintu neverland. Niat hati ingin seperti biasa standby diatas kasur Bintang tapi si pemilik malah menghentikannya dengan nada yang sengit. "Mang napasi? Biasanya jg kelonan" "Itu lo jadi anjing yaa!" "Yaudah gue tidur sama lo pake mode anjing" "Yakin lo malem malem gabakal berubah jadi manusia?" "Gak sih" "TUH KANN" "Udah lo tidur di neverland sana" "Bin. Lo kan tau, kasur di neverland tu kecil. Badan gue segini besar" "Lo kan bisa tidur mode anjing" "Ahh, tau gitu gue ngga usah ngaku aja biar gue tidurnya sama lo" "Udh gausah brisik. Sana tidur" "Yawdah iyaa" Sebenarnya Bintang sendiri tidak yakin apakah dirinya bisa tidur nyenyak tanpa pelukan dari Langit. Bintang sudah terlalu terbiasa dengan pelukan Langit, tanpanya, mungkin akan terasa sangat berbeda. —--- *tok tok "Langit.. udah tidur??"


Click to View FlipBook Version