The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 21:21:54

langit

samoyedd

"Jangan jangan bener kalo Langit itu anjing hasil eksperimen?" —-----


"Gue semakin yakin kalo Sky itu anjing ajaib tang" kata Rega begitu yakin, ketika ketiganya sedang berkumpul di rumah Rega. "Yakaann?" "Kemaren waktu dia nginep disini karena sodara lo lagi kerumah, gue sama dia ngegame bareng"


"Hah? Ngegame?" Tanya Jehan terkejut. Mana mungkin anjing bermain game? "Heh, gapercaya. Nih liat" "Lahhh wkwkkwkw, kaya ngerti aja tuh Langit" "Yakan tang? Gue juga ngerasa dia kek ngerti gitu. Dia bahkan berusaha buat mencet keyboardnya" "Aslinya gue gamau percaya sih, tapi kemaren waktu gue main main sama Sky sama Mico, gue juga liat beberapa kali Sky ngerespon perkataan gue lebih tepat daripada Mico. Dimana Mico itu lebih tua dari dia, dan lebih lama nempel sama gue." "Nahh percaya kan lo sekarang. Sky tuh kayaknya emang bukan anjing biasa" "Gue penasaran apalagi yang bisa Langit lakukan ya?" "Coba suruh debus Tang" Usul Rega asal.


"Tolol, lo sana debus" "Wkwkwkw" "Eh eh, ini kalo lagit bisa diajarin ngerjain mtk gitu, dia bisa ikutan sirkus gak sih?" Lagi lagi Rega dengan ide randomnya "Kaya lumba lumba gitu maksud lo?" "Iya Je. Wkwkwk" "Anjir iya juga ya?. Tp jangan lah, eksploitasi anak itu namanya" "Iya papa ngga setuju" celetuk Jehan "Et gue ya papanya Sky" Sahut Rega "Siapa yang ijinin kalian jd papanya Langit deh? Jangan pede" "Loh kita kan udah menjaga Sky seperti anak sendiri" Kata Rega "Iya, gue juga mau kok nafkahin Sky" "Brisik. Gaada papanya Langit" "Kenapa dari tadi kupingku panas sih?" —------


[5 : Ketauan] Selama 8 bulan lebih Bintang berhasil menyembunyikan Langit dari seluruh isi rumah kecuali bibi. Yahh tentu saja bibi akan tahu karena selalu ada bulu milik Langit yang menempel pada baju ataupun selimut Bintang ketika bibi sedang mencucinya. “Jadi, non minta cemilan ayam sama daging itu, selama ini buat anjingnya non?” tanya bibi ketika Bintang tertangkap basah sedang belajar dengan Langit dipangkuannya “Namanya Langit bi, atau bibi bisa panggil sky” “Bii, Bintang minta tolong jangan bilang bunda atau ayah yaa? Pliisss” “Non, selama nyonya Kala tidak menemukan sky di dalam rumah ini, semuanya akan baik baik saja. Tapi, jika nyonya menemukannya, bukan tidak mungkin nyonya akan meminta non untuk membuangnya” “Bi, kenapa bunda takut sama anjing ya? Masa, sama Langit bunda juga takut? Langit kan lucu bi” “Hhh, Non Bintang cantik. Trauma itu ngga mengingat lucu atau tidaknya. Itu terjadi begitu saja” “Bunda trauma bi?” “Mungkin nanti, Non Bintang bisa tanya ke Tuan Chandra atau mungkin ke Nyonya Kala sendiri” “Bundanya Bintang, trauma sama anjing? Kenapa?”


“Oke bi, terimakasih banyak ya” “Sama sama non. Jaga Sky nya dengan baik yaa. Bibi seneng non Bintang ngga kesepian sejak ada Sky” “Hehehe iyaa bi” “Yaudah lanjutin aja belajarnya non” “Siap bii” Begitulah kira kira dulu ketika Bintang tertangkap basah sedang belajar dengan Langit dipangkuannya. Dan fakta bahwa sang bunda memiliki trauma terhadap anjing membuat Bintang sedikit bingung. Bintang kira, Bunda hanya takut biasa kepada anjing. Tapi, sebuah trauma? Itu hal yang serius. —----- "Sayang, sudah? Ayo berangkat" "Iya Ayah, ayoo" Seperti biasa Ayah Chandra akan mengantar Bintang menuju ke sekolahnya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantornya. "Sayang, boleh Ayah tanya sesuatu?" "Yup. Kenapa Ayah?" "Anjing putih itu, dia milikmu?"


*deg Jantung Bintang terasa seperti ingin melompat dari mobil sekarang juga. "Ayah tau? Aduh bagaimana ini?" "Sayang?" "Uh.. mm Ayah, itu anjing Jehann" "Sayang, Ayah dan Bunda tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong. Karena itu, kamu sangat buruk dalam hal berbohong" "M-maaf Ayah" "Kau sangat menyukainya ya?" "Huh?" "Siapa namanya sayang?" "Langit Ayah" "Nama yang bagus" "Ayah.. Bintang minta maaf, diam diam membawa Langit kerumah Ayah" "Ayah tidak mengira kamu sangat pandai menyembunyikannya" "Maaf Ayah" "Seharusnya Ayah yang minta maaf ke Bintang, karena Ayah bahkan tidak tau kalau anak ayah sangat menyukai anjing" "Ayah terlalu sering pergi ya? Anak ayah kesepian ya?" Sungguh, air mata Bintang sudah tidak bisa tertahan lagi sekarang. Air mata itu, dengan tidak sopannya mengalir membasahi pipi Bintang yang merona.


"Sayang.. kau tau Bunda takut anjing kan?" "*hikss Bintang tau Ayah" "Dan kau sangat menyayangi Langit?" "I-iya Ayaah" "Jika disuruh memilih, apa yang akan kau lakukan?" Isakan Bintang seketika diam, namun air matanya mengalir semakin deras. Melihat putrinya yang sangat ia sayangi menangis dalam diamnya, Ayah Chandra memilih untuk menepi dan menghentikan mobilnya. "Sayang.. Ayah.." "B-bintang memilih Bunda Ayah" Dengan susah payah Bintang mengatakan keputusannya. Walaupun itu sangat berat karena mungkin saja Bintang akan kehilangan Langit, dan tidak bisa memeluknya ketika tidur. "Sayang.. Ayah sungguh tidak ingin membuat mu sedih.." "Its okay Ayah. Bunda lebih penting dari apapun Ayah" "Mau Ayah berikan yang lain sayang?" "Tidak Ayah" "Langit tidak akan bisa digantikan dengan apapun Ayah" "Maafkan Ayah sayang"


—----- "Lahh kenapa mukanya ditekuk gitu lo?" Sambut Rega dari tempat duduknya melihat Bintang datang dengan mata sembab dan hidungnya yang memerah. "Bintang? Ada apa?" Tanya Jehan dengan sigap mendekat dan mengusap punggung Bintang yang menelungkupkan wajahnya diatas meja. "Don't talk me. I'm sad" Jawab Bintang lemah. "Okay, take your time. Jangan nangis cantik" Kata Jehan sebelum kembali ke tempat duduknya. Jehan dan Rega pun hanya bersitatap dan mengangkat bahu, tidak tahu apa yang terjadi. —--- "Bintang, mau makan ga? Gue beliin ya?" Tanya Rega karena Bintang sejak tadi tidak berbicara dengan mereka dan air mata tidak berhenti mengalir dari matanya. "Langit ketahuan sama Ayah" "Hahh? Ketahuan?" Kaget Rega "Lalu ayah bilang apa?" "Ayah minta gue milih antara bunda sama Langit. Huaaaa" pecah lagi tangis Bintang


"Ssst, tenang Bintang. Kita bisa cari jalan keluar" "Iyaaa tangg. Kalo Ayah minta lo buang Sky, buang aja kerumah gue. Toh lo bisa kerumah gue kapan aja kann?" Saran Rega. "Iya Bintang, its okay. Sky juga bisa dirumah gue kan? Ada Mico juga. You can always meet him" "Tapiii gue gabisa pelukin dia tiap malem. Gue udah biasa pelukin Langit kalo tidurr. Gabisa pisah sama Langit" "Bunda sama Ayah kan sering ngga dirumah, nanti kita bawa Sky kerumah biar lo bisa pelukin dia" "Huaaa Laaangiiitt" "Its okay Bintang. Bisa kok" —----


—---- Sepulang dari sekolahnya, Bintang langsung masuk kedalam kamarnya dan memeluk Langit yang sedang rebahan dikasurnya dengan erat. "Aduh aduh, ni bocah kenapa sih. Sesek guee" "*hikss Langit.." "Lahh nangiss? Kenapa?"


Mendengar isak tangis lembut Bintang, Langit terdiam. Dan ia membiarkan Bintang menumpahkan kesedihannya sambil memeluknya. "Jangan pergi Langit" "Lah siapa yang mau pergi? Kagak elahh" Bintang sama sekali tidak melepaskan pelukannya dari Langit. Dan Bintang merebahkan dirinya membawa Langit lebih dalam ke pelukannya. Seolah itu adalah terakhir kali mereka akan bersama. (Alay kali emang) "My star? What happened? —---- *tok tok "Sayang.. makan malam yuk" Suara teriakan Bunda dari balik pintu. "Aduh, ada Bunda. Mana tidur lagi Bintangnya" "Sayangg? Kamu tidur?" Bukannya bangun, Bintang malah mengeratkan pelukannya pada tubuh Langit.


"Sayang.. Bintang mana?" Tanya Ayah Chandra karena Bunda turun sendirian dari lantai dua. "Kayaknya Bintang udah tidur sayang, dia tidak menjawab. Dan pintunya juga dikunci" "Ah, baiklah. Nanti biar aku yang antar makanan kekamarnya" "Iya sayang" —----- *tok tok "Sayang.. ini Ayah. Makan dulu ya?" Tidak ada jawaban dari balik pintu berwarna putih dengan stiker peterpan itu. Ayah mengeluarkan kunci cadangan yang ia miliki. Dan membuka pintu kamar Bintang. Setelah menutup dan mengunci kembali pintu kamar Bintang, Ayah melangkah mendekati putrinya yang tertidur pulas dengan Langit dipelukannya.


"Maafkan Ayah yang tidak bisa melakukan apapun sayang" "Trauma milik Bunda mu, bisa saja kambuh jika melihat Langit" "Lah ayahnya Bintang?" Langit yang mendengar suara Ayah Chandra membuka matanya sedikit dan megintip kehadiran Ayah Chandra disana. "Modar. Ketauan. Bangun woii. Ayah lo disini" "Ayah sungguh tidak tega memisahkan kalian" "Lahh?? Apa gara gara ini tadi seharian Bintang nangis sama bilang jangan pergi?" "Gue ketauan? Dan gue mau dipisahin dari Bintang?" Ayahpun berjalan mendekat dan mengusap lembut kepala Bintang. "Ayah harap, Ayah bisa melakukan sesuatu sayang" "Sumpah? Gue mau dipisahin sama Bintang?"


"No. I'cant" "Kalian terlihat sangat manis" —--- "Sayang kenapa mata mu sembab begitu? Dan semalam kamu juga tidak turun untuk makan malam? Ada apa sayang?" Tanya Bunda pagi hari saat mereka sedang berkumpul untuk melakukan sarapan. "Ah, tidak papa Bunda. Hanya masalah kecil" ingat Bintang tidak pandai berbohong kan? "Sayang?" "Bintang mendapat nilai buruk kemarin sayang, karena itu dia menangis jelek semalaman" Sahut Ayah. "Astaga sayaang, its okayy. Nilai jelek bisa diperbaiki, kenapa harus menangis seperti itu? Kamu hanya perlu berusaha sedikit lagi" "Sini peluk Bunda" Bintangpun menubruk tubuh Bunda yang sudah merentangkan tanganya, Dan memeluknya erat.


"Sudah ya? Jangan menangis lagi" "Iyaa Bunda, terimakasih" "Sudah. Sekarang ayo sarapan" "Iyaa Bunda" —---- "Sayang" "Iya Ayah?" "Pulang sekolah nanti Ayah jemput ya?" "Kenapa Ayah?" "Loh, tidak boleh Ayah jemput anak Ayah sendiri?" "Ngga gitu maksud Bintang, memangnya Ayah ngga sibuk?" "Ini anak Ayah sedang menyindir ya?" "Ih Ayahh.. ngga gitu. Biasanya kan Bintang dijemput pak Tora, kalo ngga Om Sean" "Ayah mau ajak anak ayah jalan jalan" "Ayahh.. kalo ini cuma buat hibur Bintang soal Langit. Ngga bisa Ayah. Ngga ada yang bisa gantiin Langit" "Bahkan Ayah?" "Maksudnya sebagai temen Ayahh.. kalo ayah kan Ayahnya Bintang" "Hehehehe.." "Sudah, pokoknya nanti Ayah jemput kamu jangan protes" "Hdhh, iya iya Ayahh" "Mantab"


—---- Benar saja, selesai dengan semua pelajarannya Bintang bergegas untuk turun dan ketika sampai di lobby sekolahnya, Bintang melihat sang Ayah yang melambaikan tangannya dari dalam mobilnya. Bintangpun langsung memasuki mobil dan mencium tangan Pria berusia 42 tahun itu penuh kelembutan. "Okee ayo pergi" "Kita mau kemana Ayah?" "IKEA" "Hahh? Ngapain Ayah?" "Akan Ayah katakan nanti disana"


Setelah sampai di IKEA, Ayah dan anak itupun saling tatap. Bintang sungguh tidak mengerti jalan pikiran Ayahnya ini. "Ambil semua yang kamu inginkan untuk Langit sayang" "Aayaahhh.. Ayah sebenarnya mau buang langit kemana? Ayah menyuruhku membeli kenang kenangan untuk Langit? Itu tidak perlu Ayah" "Siapa bilang untuk kenang kenangan?" "Lalu?" "Kita bangun rumah baru untuk Langit" "Ayaahh?" "Kau ingat? Didalam kamarmu itu ada ruang rahasia kan?" "Bukannya Ayah sudah menutup ruangan itu agar aku tidak selalu disana?" "Memangg.. kamu sangat sulit diatur ketika kecil dan kamu sangat menyukai neverland mu itu" "Tapi sekarang kamu sudah besar. Ayo kita bangun rumah untuk Langit di neverland. Bagaimana?" "AYAH SERIUSS?" "Tentuu. Ayah tau kamu sangat menyayangi Langit. Dan Ayah tidak tega memisahkan kalian" "Lalu bunda?" "Ssst. Bunda tidak akan tau kalau kita menjaga rahasia neverland" "Ayah…" "Bintang saaayaanggg banget sama Ayah" "Anything little my star" jawab Ayah sambil membalas pelukan Bintang yang begitu erat.


"Tapi ayah, nanti bunda curiga dong kita renovasi neverland" "Itu persoalan mudahh" "Hmm?" "Ayah akan bawa Bunda pergi satu minggu, apa kamu mau ikut?" "Mmm, no?" "Hahaha karena Langit tidak bisa ikut?" "Heheh" "Sekarang anak ayah gitu yaa, Langittt terus. Apa apa Langit. Ayah udah kegeser sekarang" "Ihh ga gitu Ayahh" "Apa Ayah harus punya bulu putih panjang juga, biar kamu mau bobo sambil pelukin Ayah?" "Ih Ayahh apasiihh?" "Wkwkw, manisnyaa"


[6 : Neverland] Hari Bintang yang sebelumnya dipenuhi awan hitam membayangkan setiap menitnya tanpa Langit, mendadak berubah menjadi cerah. Padahal hari ini Bintang sudah mengumpulkan seluruh airmatanya. Untuk ia cicil dikeluarkan setiap malam, saat tidak ada Langit yang akan menahan air matanya. Kesempatan yang Ayah berikan untuk Bintang dan Langit mengangkat seluruh beban dan kesedihan dari hati remaja aries itu. Dan Bintang tidak bisa berhenti tersenyum sekarang. "Ayah suka liat kamu senyum kaya gini" "Hihihi, Ayah i want to say thankyouuu geedeee banget. Ayah izinin Langit buat tinggal" "Liat kamu semalem tidur sambil peluk Langit begitu, Ayah bener bener ngga tega" "Ayah masuk kamar Bintang?, kok bisa?" "Ayah punya kunci cadangan?" "Ih Ayaaahh" "Hahaha, tenang aja cuma Ayah yang tau kok" "Hehhe oke deh" "Coba telfon bibi, tanya Bunda udah pulang atau belum" "Kenapa Yah?" "Kalo Bunda udah pulang kita bawa barang barangnya ke kantor Ayah dulu, kalo belum ya langsung kita bawa pulang" "Ohhh iya oke"


—-- "Aman Yah kondisi rumah" "Okee meluncur pulangg" "Berangkaat" —---- *Brakk "LAANGIIITT" Sungguh, tidak ada aba abanya sama sekali Bintang langsung membuka pintu kamarnya kasar dan memeluk Langit yang lagi lagi sedang tertunduk lesu diatas kasur dengan selimut abu abu itu. "Bintang?" "Laaangiit kita ngga jadi pisaahh. Kamu ngga pergi, sumpah gue seneng bangett" "Hah? Gue, ngga jadi dibuang?" "Kita bikinin persembunyian buat lo oke??" "Hah? Persembunyian gimana sih?"


"Aduh senengnya yang gajadi pisah, sampe Ayah ga dibantuin beresin barangnya" "Hehehe, maaf Ayah. Bintang terlalu eksaitit" "Haha, its okay. Semuanya simpen dulu ya? Lusa mulai direnov" "Apasih ini maksudnya?" "Tuhhh, Ayah ijinin lo tinggal disinii tapi harus ngumpet dari bunda, dan kita bakal bikinin persembunyian buat lo. Maaf deh lo harus ngumpet ngumpett" "Jadi? Gue beneran ga dipisahin sama Bintang?" "Anjir sia sia gue galau seharian sampe ga doyan makan" "Ihhh Langitt, kok diem aja si dari tadii" "Wwooff" jawab Langit sambil menerjang tubuh Bintang mengekspresikan kebahagiaannya. "Hahahhaha udahh geliii" "Kurasa, aku mengambil keputusan yang benar. Aku tidak akan tega melihat putriku kehilangan tawanya ini" —----


Saling menginap di rumah satu sama lain seperti ini sudah biasa mereka lakukan, karena memang orang tua dari ketiganya pun berteman baik sehingga membuat mereka saling mempercayai.


Dan kini ketiganya sudah berkumpul sesuai rencana di rumah Rega. Mereka menjadikan ruang tengah rumah Rega sebagai tempat mereka akan tidur bersama dengan kasur yang luas dan selimut tebal. Tapi, sepanjang hari Rega dan Jehan dibuat kesal. Bagaimana tidak? Langit begitu posesif terhadap Bintang. Bahkan saat Jehan sedikit menyentuh paha Bintang ketika main PS saja Langit akan menatapnya tajam dan duduk dipangkuan Bintang. "Enak aja lo grepe grepe Bintang. Gue bejek juga nih pala lo" Ughhh… menyebalkan. Batin Jehan. Begitu juga dengan Rega. Karena kalah dalam permainannya, hukuman Bintang adalah menggendong Rega selama 30 detik. Tentu Bintang mampu menahan Rega di punggungnya selama beberapa detik. Namun, baru tiba di detik 15, Langit sudah protes dan terus saja menggonggong meminta Rega turun dari punggung kesayangannya. "Bintang cuma boleh gendong guee" "Sumpah ye Tang. Lain kali Sky ditinggal ajalah. Nyebelin banget dia" Rega sudah tidak mampu menahan kekesalannya saat ini. "Hahaha kenapasih?" "Kenapa kenapa, dari tadi dia posesif amat sama lu"


"Yaudah si emang kenapa?" "Yaa, ngga papa Bintang. Cuma, nyebelin aja dia tu memanipulasi lo" Jehan ikutan mengprotes "Bodoaamaattt" "Heheh biarin aja ngapa si?" "Lo gitu sekarang, semenjak ada Sky lo ga pernah minta peluk gue lagi" Jehan memelas "Ya kan peluk Langit tuh anget" "Emang gue engga?" "Anget dikit" "Hadehh"


"Sumpah ni bocil berdua modusin Bintang mulu. Kalo aja gue bisa jadi manusia gue smekdon kalian"


—--- "Btw tang. Itu ruangan kecil kenapa bisa dikamar lo deh?" Tanya Rega penasaran. "Ohh, dulu waktu kecil itu dipake buat tempat nyimpen mainan sama buku buku gue gitu, trus dihias sama ayah" "Tapii, gue jadi sering disana dan susah diatur. Makanya itu akhirnya ditutup sama Ayah" "Oh, trus nanti Sky dikunciin disana?" "Wooff" protes Langit "Ya ngga dikunciin juga. Itu buat memperkecil kemungkinan Bunda nemuin Langit aja" —----- Setelah 5 hari lamanya Bintang hidup nomaden di rumah kedua sahabatnya, akhirnya renovasi neverland milik Langit telah selesai. Dan Jehan juga Rega dibuat melongo karena ternyata neverland yang Bintang maksud jauh diatas ekspektasi mereka.


"Tang, sumpah ini kecil dari mananya???" Kaget Rega. "Iya, ini sama kamar gue aja sama gedenya" "Ya kan, ini tuh kaya 2 kamar yang digabung gitu, kan gue anak tunggal awkwkw. Penghuni lantai 2 satu satunya" "Iya sih. Tapi emang ini gabakal ketauan bunda apa?" "Ya yu know lahh, Bunda sama Ayah jarang dirumah. Trus ruangan ini ayah bilang udah ditutup permanen. Jadi bunda ngga bakal ngeh juga." "Kalaupun Bunda mau pake ruangan ini, pasti Bunda bakal minta ke Ayah buat renov" "Makesense" Langit terlihat menyukai ruangan barunya, ia berkeliling dengan semangat menunjukkan dia sangat menyukainya.


"Eh, btw Sky berapa dah umurnya?" Tanya Jehan "Ini sih udah 7 bulan dari gue nemu dia" "Berarti sekitar 9 bulanan lah ya?" "Iya kayaknya, kenapa emang?" "Ya ngga papa sih, soalnya kalo diliat liat, pertumbuhannya Sky tuh cepet. Cepet gedenya" "Iya anying. Kecil nya imut imut gedenya amit amit" sinis Rega "Bangsatt emang Rega" "Kita rayain apa pas ulang taun dia?" "Eh, tapikan gue ngga tau ulang taun dia kapan" "Lo nemu tanggal berapa si itu?" "23 keknya Je" "Nah. Yaudah, pake tanggal itu aja, kalo nemunya bulan Juli, berarti dia setahunnya di April." "Gila, bisa pas banget sama ulang tahun gue ke 19" "Sebulan dari gue dong" kata Rega. "Iya" "Oke deh, kita pake tanggal itu" putus Bintang.


"Kalian berdua ulang taunnya mau dibarengin ga? Kalian kan cuma jarak 6 hari" Rujuk Jehan pada Bintang dan Rega. Dimana Rega berulang tahun pada 23 Maret sedangkan Bintang 29 Maret. "Serah si. Lagian kita biasanya juga cuma main doang" kata Rega "Ya skali kali party kecill lahh" "Aduhh Ayah Chandra mana mungkin sih Je bikin party 'kecil'. Apalagi kan Bunda ulang tahunnya bareng sama Bintang" "Iya sih wkwk" "Gampang lah itu ntar. Bisa diatur" "Wizzzz siap booss" wkwkwk "Ohh, Bintang sama Rega Maret?" "Trus yang Bintang buletin di tanggalan 14 Februari siapa? Jehan? Apa emang cuma valentine doang?" —-----


[7 : 14 Februari] "Langiiitt tangkepp" Hari minggu sore yang cerah di awal bulan Februari Bintang habiskan untuk bermain kejar kejaran dengan Langit di halaman belakang rumahnya. Beruntung Bunda dan Ayah belum pulang dari acara temannya jadi kedua sejoli itu bebas untuk berlarian dan bercanda sesuka hati mereka. "Woff" "Hahahhaha, lo kegendutan sih. Susah kan larinya" "Wooff" "Hahahhaaha" "Suara Bintang?" Seseorang yang baru saja tiba dari bandara, masih dengan kondisi jetlagnya itu memasuki rumah besar bernuansa modern classic yang begitu nyaman, ia sudah disambut dengan suara tawa Bintang yang lantang. Seseorang itu pun mencari darimana suara Remaja yang ia rindukan itu berasal.


Dengan bibi yang mengantar seseorang itu, akhirnya ia melihat Bintang dengan gumpalan putih besar berbulu yang sedang bercanda diatas hamparan rumput. "Bagaimana bisa ada anjing di rumah ini?" Seseorang itu pun berjalan perlahan untuk mendekati Bintang. Dan Langit, karena ketajaman yang dimilikinya, dialah yang menyadari lebih dulu soal kehadiran seseorang itu. "Ada apaan?" Bintang mengikuti arah pandang Langit dan menemukan seseorang berbadan tegap dengan kulit sebersih susu yang tersenyum sambil merentangkan tangannya. "Kak?" "Hei, My Star" "My Star? Woiii sape lu? Bintang punya gue ya" "Kak Joo" Dengan eksaitit Bintang berlari dan menubruk tubuh tegap yang telah menunggunya itu, dan memeluknya erat. Tak lupa seseorang yang Bintang panggil kak Jo itu juga membalas pelukan Bintang tak kalah erat dan mengayunkannya kekanan kekiri.


"Kaangeeen kak" "Kakak lebih kangen sama kamu" "Idih picisan banget, siapasih? Kan Bintang anak tunggal" "Ayah sama Bunda kok nggak ada?" "Ohh, ada acara sih belum pulang" "Andd, bagaimana bisa ada anjing dirumah? Bunda baik baik saja?" "Oiya. Namanya Langit ato Sky dia punya bintang. Aku sama Ayah sembunyiin Langit dari Bunda" "Astagaa haha.. okay then" "Kakak ko ngga bilang Bintang kalau mau balik" "Surprisee" "Kaget banget sih akuu" "Hahaha, kakak laper. Makan yuk? ramyun sounds good" "Di Lawson?" "Call" "Langgiitt!! Come" Langit kira dirinya akan ikut kemana dua makhluk berkaki dua itu pergi. Tapi ternyata tidak. "Lo dirumah dulu yee, gue keluar bentar. Nanti bonus kanzler buat lo. Bye Langitt" pamit Bintang sambil mengusap kepala Langit. "Sialan. Siapasih tu cowo? Ganggu gue sama Bintang aja"


—-----


—-----


"Kak, gimana kuliahnya?" "Seru, tapi pusing haha" "Kamu gimana SMAnya?" "Seru juga hehe" "Tumben kamu ngga sama 2 bodyguardmu itu?" "Ohh wkwk, itu mereka lagi ada latihan gitu di sekolah" "Tadi aja mereka udah marah tau aku jalan sama kakak" "Sudah kakak duga sih" "Maaf ya kak, mereka emang emosian gitu" "Harusnya kakak yang minta maaf, mereka bener kok. Kakak yang salah" "Yaudah lagian udah lewat juga" "Kenapa ya dulu kakak bodoh banget nyakitin kamu?" "Kak udah ih. Bintang ngga mau bahas" "Haha, okay little star" Sejenak Bintang menatap mata jernih dihadapannya itu. Masih membangkitkan luka memang, tetapi melihat ketulusan disana Bintang tidak akan mampu mengabaikan laki laki yang mengisi hatinya dulu. Jovan, Laki laki tampan memiliki suara yang lembut itu adalah seseorang yang Ayah percaya untuk menjaga Bintang tepatnya 4 tahun lalu. Bintang yang masih sangat muda kala itu tidak mengerti soal urusan orang dewasa yang menyangkut namanya.


Butuh waktu 1 tahun bagi Bintang untuk membiasakan diri dengan kehadiran Jovan disisinya. Perbedaan usia 3 tahun itu sebenarnya membuat mereka tidak terlalu sulit untuk bermain bersama. namun, sikap bintang yang masih tertutup saat itu membuat Jovan sulit mendekati Bintang. Hingga akhirnya perlahan-lahan Bintang mampu membuka hatinya, dan mulai terbiasa dengan kehadiran Jovan disisinya. Hal itu tentu membuat dua pihak keluarga begitu bahagia karena janji persahabatan mereka sepertinya akan terlaksana. Namun, keretakan yang terjadi satu tahun silam sempat membuat Jovan dan Bintang harus terpisah. —--- Flashback —--- "BANG! LO KALO CUMA MAU MAININ BINTANG MENDING LO TOLAK PERJODOHAN LO SAMA BINTANG!" Teriak Rega telak di hadapan Jovan yang sudah terduduk karena bogeman yang mendarat ke wajahnya keras bukan main. "Itu bukan urusan kalian asal kalian tau" "BANG! Bintang malem malem nyamperin gue kerumah sambil nangis sesenggukan itu karena Lo. Dan lo masih bilang itu bukan urusan kita?" Jehan masih mencoba untuk mengontrol emosinya. "Bintang? Tau?"


"Tololll ya tau lah. Lo pikir kita tau dari mana bang kalo Bintang ga cerita" Rega udah kesel bangettt banget "Makanya kalo selingkuh main yang bersih. Jangan bego bang" "Sumpah ya bang. Kalo bukan karena Bintang yang mohon mohon ke gue buat ga nyakitin lo, gue udah gantung lo dipohon itu bang" "Oke.. okee.. sorry. Gue beneran ga bermaksud buat selingkuh" "Alahhh alesan lo bang. Kalo lo ngga selingkuh sama tu cewek mana mungkin lo bohong ke Bintang? Bilang kalo lo lagi latihan basket disekolah padahal lo lagi jalan sama tu cewek." Semprot Rega. "Apasih yang kurang dari Bintang bang? Kalo lo mikir bintang kekanak kanakan, ya itu resiko karena kalian dijodohin diusia muda. Dia juga masih kelas 3 smp bang. Dia masih perlu banyak belajar. Dan ga sepantasnya lo nyakitin dia di kondisinya yang masih labil begini" Tidak ada kata apapun yang keluar dari bibir seorang Jovan mendengar kalimat yang dilontarkan Jehan. Kenapa dirinya yang lebih tua 3 tahun itu tidak memikirkan hal yang demikian? "Bodoamat sama semua alibi lo itu bang. Yang jelas gue mau lo minta maaf ke Bintang. Dan gue doain semoga lo ga dimaafin sama dia" tuntas Rega dan berlalu pergi meninggalkan keduanya.


"Gue aminin kalimat Rega bang. Lo ga pantes buat Bintang" Jehan pun mengikuti langkah kaki Rega yang lebih dulu meninggalkannya, tersisa Jovan yang masih terduduk memikirkan semua yang telah ia perbuat. —----- "Siapa yang memukulmu Jovan?" Tanya seorang pria berusia 28 tahun lebih tua dari pada Jovan. "Teman teman Bintang pa" "Begitu ya? Mendekat lah" perintahnya. Dan dengan otomatis Jovan mengikuti perintah sang papa untuk mendekat kearahnya. *plakk Tentu Jovan sangat terkejut ketika sang papa menamparnya cukup kuat, membuat lebam yang Jehan berikan terasa semakin nyeri. "Itu pantas untukmu. Sekarang sudah tidak ada lagi muka bagi papa untuk menemui Chandra Adinata. Apa kau memikirkan itu Jovan? Bagaimana bisa kau bersama wanita lain saat kau sudah bertunangan dengan Bintang? Dimana rasa malumu?" "Paa.. Jovan salah, Jovan minta maaf" "Maafmu tidak akan mengembalikan kepercayaan Chandra kepadamu Jovan"


"Paa.. Jovan janji, Jovan akan memperbaiki semuanya. Jovan.. akan menemui Bintang paa" "Terlambat" Langkah kaki Jovan yang sebelumnya tergesa untuk menuju ke kediaman Adinata mendadak terhenti, mendengar satu kata yang keluar dari seorang wanita berparas cantik dan berhati lembut. "Terlambat Jovan. Adinata membatalkan pertunangan kalian" "Maa.. mama bercanda kan?" "Tidak Jovan. Dan mama sangat kecewa padamu" "Maa.. please. We can do something" "No. Tidak bisa Jovan. Bintang sudah mengetahuinya, dan dia sama kecewanya dengan mama" "Maa.. Jovan sayang sama Bintang" "Lalu kenapa kau melakukan kebodohan itu Jovan?" Lagi lagi Jovan terdiam. Sungguh, nafsu sesaatnya menguasai dirinya saat itu. Hingga membuatnya tidak mampu berfikir jernih. "JOVAN NARENDRA! JAWAB PAPA" "Maaf papa. Jovan salah. Papa bisa hukum Jovan apapun"


"Baiklah. Papa akan urus kepindahanmu" "Pa?" "London. Kamu akan sekolah dan kuliah disana. Pikirkan kesalahanmu. Dan berusalah jika kau memang menyayangi Bintang" "Baiklah pa" —---- end of flashback —---- "Kakak punya hadiah buat kamu" kata Jovan lembut menahan gemas melihat Bintang yang sedang memakan eskrimnya dengan semangat. "Hmm?" "Tutup mata dulu" "Ih apaan pake tutup mata kaya anak kecil" "Kamu kan emang masih kecil" "Dihh. Aku udah SMA??" "Baru juga kelas satu" "Iyaa iya om" "Hahhaha masa om sih?" "Kakak kan udah tua" "Wkwkw udahhh, ini mau ngga hadiahnya?" "Apasihh? Sini! Niat ngasih ngga?" "Wkwk galak ya sekarang" "Nih"


Pandangan Bintang tertuju pada kotak kecil lapis beludru yang Jovan letakkan diatas meja. "Hmm? Apa ini kak?" "Ya dibuka dong" Cantik. Itu yang ada di pikiran Bintang. Sebuah kalung kristal berbentuk Bintang yang sangat cantik. "Wahhh.. cantik" "Exactly. Just like you" "Idih. Gombal" "Hehehe.. kamu kok ngga salting trus mukul lagi?" "Udah ga mempaann" "Wkwkw diajarin Jehan ya?" "Beuhh. Mereka lebih flirty daripada kakak" "Waduh, bahaya nih"


"Wkwkwk" "Mau kakak pakein ngga?" "Hmm?" "Kalungnya" "Ohh, boleh??" "Ya boleh lah, kan kakak beliin buat kamu" "Okedeh" Jovanpun mengambil kalung cantik itu dari tangan Bintang, dan berjalan memutar untuk memakaikan kalung cantik itu di leher Bintang, membuatnya tampak lebih cantik. "Cocok banget" "Hehehe, makasih kak" "Anything" "Balik yuk kak, kayaknya Ayah udah pulang deh" "Ohh, iya ayok" —---- "Jovan?" Sambut Ayah, ketika keduanya sampai dirumah. Ternyata benar, Ayahnya sampai terlebih dahulu. "Om Chandra" Sapa Jovan sambil meraih dan mencium punggung tangan yang lebih tua.


"Kapan sampai?" "Sekitar 2 jam yang lalu om" "Oh, dan darimana kalian?" "Hanya dari swalayan depan om" "Yasudah, masuk dulu" "Terimakasih om" Sedangkan Bintang? Ngibrit lah dia kekamar nyariin Langit. Takutnya dia ga masuk ke neverland trus ketauan Bunda kan ribet wkwk. Jika kalian bertanya kenapa Ayah masih ramah terhadap Jovan, itu karena memang Jovan sudah meminta maaf atas apa yang dia lakukan dan Jovan selalu berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang ia lakukan. Karena itu Ayah berfikir untuk menyerahkan hubungan keduanya kepada mereka sendiri, dan menunggu keduanya untuk siap. Kesempatan kedua untuk Jovan. —---- "Laangitttt" kata Bintang sambil mengintip kedalam neverland mencari keberadaan sigembul putih. Begitu sampai didalam Bintang mendapati langit yang diam saja dalam posisi favoritnya 'rebahan'


"Heiii kenapasi lemes gitu?" Tanya bintang sambil mendekat dan duduk tepat disamping Langit. "Heh lo kenapa dah? Ngambek gue tinggal? Kan bentar doangg" "Ayolahh jangan ngambek, sini sini" Bintang berusaha meraih dan ingin mengangkat tubuh Langit untuk dipindahkan kepangkuannya namun, Langit menolak. "Kenapaa heh?" "Baju lo jadi bau parfum cowo, bukan bau parfum lo Bintang. Lo pelukan terus sama dia ya?" "Ucucucucuuu anak mama jangan ngambekk dongg"


Click to View FlipBook Version