Langit rengkuh tubuh Bintang, setidaknya, Langit bisa pergi dengan tenang setelah ini. —------ "Saat semua keinginanmu telah terpenuhi, maka kau harus kembali" Langit yang kini sedang berdiri di balkon sendirian, ditemani angin tengah malam yang cukup dingin menerpa kulitnya masih terus teringat kalimat yang membangunkan Langit dari tidurnya. Sudah lama kalimat itu selalu datang dalam mimpinya. Dan Langit pun tau, mungkin itu adalah pengingat untuknya. Bahwa waktunya didunia tidaklah lama, dan reinkarnasinya tidak untuk selamanya. "Gue ngga mau keinginan gue terpenuhi, Gue ngga mau pergi dari sini, gue ga mau pisah sama Bintang, Maaf Tuhan aku egois, tapi kehidupan ini adalah impian ku" "Tapi disisi lain, tubuh gue makin lemahh. Apalagi saat gue jadi manusia. Gue bisa aja repotin Bintang kalo terus begini, gue harus gimana?" "Langit, lo ngapain sih malah disini? Tidurr" "Lah, kok kebangun?"
Langit dan lamunannya dikejutkan suara Bintang yang tiba tiba saja muncul dari dalam, dan menyusul Langit ke balkon yang semakin lama semakin dingin itu. "Ya lo gaada" "Ooh, hahha. Iya ayo balik tidur" "Lo, masih kangen orang tua lo?" "Kangen mah terus, tapi aku okay kok. Kamu jangan khawatir" Perlahan Bintang geser tubuhnya mendekat ke Langit, dan Bintang peluk torso laki laki yang lebih tinggi darinya itu erat. "Lo bisa minta apapun ke gue Langit, jangan simpen semuanya sendiri, lo juga bisa bagi apapun ke gue, termasuk perasaan lo, gue siap dengerin, gue selalu siap ada buat lo. Seperti apa yang lo lakuin buat gue. Gue bakal berusaha penuhin apa yang lo mau sebisa gue" "Jangan Bintang, gue ga bisa. Gue ngga bisa pisah sama lo" "I'm okay, don't worry" "Okay, tapi janji. Lo harus apa apa bilang gue" "Hhh, iya janji" "Wkwkw, ayo tidurr ngantukk" "Wkwk, iyaaa ayo" "Gue gatau, gue bisa tahan perasaan gue ke lo sampai kapan Langit"
—---- Langit cukup khawatir sekarang, karena Bintangnya tidak pernah seperti ini. Bintangnya akan selalu pulang tepat waktu. Jika Bintang akan pulang terlambat, maka Bintang akan selalu memberi kabar kepada Langit. Tapi sekarang, entah dimana Bintangnya itu berada, Langit tau kelas Bintang selesai jam 5 sore tadi, seharusnya ia sudah sampai dirumah sekarang. Ingin bertanyapun bagaimana? Apa Langit harus tiba tiba telfon Rega atau jehan? Lebih baik jangan gila.
Karena hatinya yang tidak bisa tenang, Langit memilih untuk menyambar hoodie dan maskernya. Langit harus mencari Bintang, kemanapun. Tujuan Langit yang pertama tentu saja adalah apartement Jehan dan Rega, tapi Langit tidak menemukan motor vespa warna putih milik Bintang yang ia kendarai hari ini ke kampus, dan Langit menemukan mobil Jehan dan Rega berada di basement parkirannya. Rasa khawatir pada diri Langit semakin memuncak sekarang. Lalu kemana perginya Bintang? "Oiya, tadi Bintang bilang kalo dia mau beli snack apa dia masih di swalayan?" Langit bergegas untuk melajukan kembali mobil Bintang, dan menuju ke swalayan tempat dimana keduanya biasa membeli sesuatu. Tapi lagi-lagi tidak ada motor Bintang diasana. "Shit, kamu kemana sih Bin" Langit memutuskan untuk turun dari mobilnya, dan menuju ke kasir. "Bang, liat Bintang kesini ngga tadi?" Tanya Langit kepada penjaga kasir yang memang akrab dengan keduanya, walaupun abang kasir ini sama sekali tidak tau wajah Langit karena ia selalu memakai masker saat keluar apartemen. "Oh hai mas sky. Tadi mba Bintang kesini, tapi cuma sebentar" "Jam berapa Bintang kesini bang?" "Sekitar jam 5.30 Lah tadi"
"Sekarang sudah 6.30 itu berarti sekitar 1 jam lalu, Bintang kemana sih" "Emangnya mba Bintang ngga bisa dihubungin mas?" "Iya bang, hpnya mati. Dia belum pulang" "Aduh, mas sky. Maaf nih apa mas lagi berantem sama mba Bintangnya?" "Berantem? Ngga kok emangnya kenpa?" "Soalnya tadi mba Bintang rada murung keliatannya, trus mba Bintang juga beli Bir 2 kaleng" "HAH? YANG BENER BANG?" "Eh, i-iya mas" Jawab abang kasir itu gugup karena Langit yang tiba tiba berteriak. "Dia bilang ngga bang mau kemana gitu?" "Ngga sih mas, tadi saya sempet nanya. Mba Bintangnya cuma bilang mau hiling" "Shit" "Oke bang makasih ya" "Oke mas sky, hati hati" Meledak sudah kepanikan Langit sekarang. Bintang dan bir bukan kombinasi yang baik. Jika memang Bintang sudah meminumnya maka itu pasti Bintang sedang menghadapi sesuatu yang sangat menyebalkan. Dan mendengar kata hiling, yang ada di kepala langit hanya satu. Danau.
Tempat dimana keduanya sering menghabiskan waktu bersama, bertukar cerita tentang seluruh alam semesta, berbagi afeksi yang jelas begitu terasa nyaman untuk keduanya, dengan sang surya yang selalu menjadi penonton mereka, dan tak lupa, pancing bintang yang selalu menjadi pendengar setia mereka. Bintang akan selalu mengajak Langit pergi kesana dengan mengatakan "Langit ayo hiling"
Memang benar, Bintang ada disana sejak tadi. Ia sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Selama ini dia tidak menyangka akan mencintai Langit seperti ini. Iya benar. Bintang telah jatuh cinta. "hey cantik, mau kami temani" "Jangan mabuk sendirian di danau seperti ini cantik"
Lamunan Bintang dibuyarkan oleh suara asing yang masuk ke telingnya. Dan mabuk? Bahkan bintang saja belum sempat membukanya, terlalu sibuk dengan pikirannya. "Apaan si ganggu aja" batinnya. Bintang memilih untuk berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempat dia merenung tadi karena ia merasa pertapaannya terganggu. "Et, mau kemana? Udah kita temani disini. Santai saja" Laki laki asing itu menghentikan langkah Bintang dengan memegang lengan Bintang paksa. "Jangan ganggu gue, mending kalian pergi" "Cukup pedas juga ya ternyata si cantik ini" "Tenang saja, kita tidak akan melakukan apapun" "Mending lepasin tangan lo" kata Bintang masih dengan ketenangannya. Sejujurnya Bintang takut, tapi ia harus bersikap berani agar orang orang bodoh ini tidak macam macam padanya. Laki laki asing itu menarik perlahan tangan Bintang. Namun belum sampai laki laki itu berhasil melangkahkan kakinya, *bugh *bugh
Bogeman mentah mendarat di tulang pipi salah satu laki laki yang memaksa Bintang "Lepasin tangan kotor lo dari cewek gue" "Langit" "Ohh, si pahlawan datang" laki laki satu lagi menahan Bintang dengan menggenggamnya kuat. "Lepasin cewek gue, sebelum kalian gue jadiin babak belur" "Coba aja kalo bisa" "Langit, udah jangan berantem" Tidak mendengarkan Bintang, Langit begerak cepat menghajar laki laki yang telah tersungkur sebelumnya hingga tidak berkutik, dan kini Langit menatap nyalang laki laki bermulut besar yang masih memegang erat tangan Bintang. "Lepasin atau gue bunuh temen lo" "Langit stop"
"Lepasin milik gue sekarang juga." Sungguh, saat ini Langit sangat menyeramkan. Mungkin singa pun akan tunduk mendengar nada suara Langit saat ini. "Oke oke. Chill boy. Nih cewe lo" kata laki laki itu sedikit ketakutan dan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Bintang. Kedua laki laki itu memilih lari meninggalkan keduanya menyelamatkan diri. "Lo ngga papa?" "Huh?"
Bintang cukup terkejut saat ini. Apaa apaan Langit? Kenapa dia masih saja seram? Bahkan nadanya begitu dingin. Biasanya Langit akan bawel dan mengkhawatirkannya tapi dia malah bertanya dingin begitu. "Iya, ngga papa" "Pulang" "Mmm, Langit" "Masuk mobil. Kita bicara dirumah" "Motornya? Gimana?" "Tinggalin. Besok diambil" "Okay?" "Cepet masuk" Sungguh, tidak ada pilihan lain bagi Bintang selain menurut. Langitnya terlihat menyeramkan sekarang. Dan disepanjang perjalanan, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Suasana dingin begitu menusuk ke kulit Bintang. —--- "Langit" Panggil Bintang lagi setelah keduanya sampai di rumah, ia tidak bisa melihat Langitnya seperti ini, setidaknya ia harus minta maaf. "Mandi sana" "Langit dengerin gue duluu" "Gaperlu" "Maaf. Gue minta maaf"
"Salah apa lo?, udah sana mandi" Bintang menunduk, air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Langitnya marah. *hiks hiks Jangan kira Langit tega melihat Bintangnya menangis, jangan kira Langit kuat mendengar isakan wanita kesayangannya, tidak. "Mm-maaf" kata Bintang susah payah disela tangisnya. "Lo udah ga butuh gue lagi? Iya?" Okay, Langitnya benar benar marah. "Ngga gitu" "Trus ngapain lo ke danau sendirian? Bawa bir? Lo ngga bisa pulang aja kalo lagi capek? Gue ada disini, tapi lo malah milih sendirian di danau?" "Maaf, jangan marah" "Apa gunanya gue disini, kalo lo aja ngga butuh gue? Gue pergi aja" "Huweee jangaaann" pecah sudah tangis Bintang dengan memeluk punggung Langit yang marah padanya. "Lo ngapain sih? Apa yang lo pikirin sampe lo ngga bisa cerita ke gue? Apa yang lo sembunyiin dari gue?"
hanya isakan tangis Bintang yang menjadi jawaban dari rentetan pertanyaan Langit. "Oke kalo lo gamau jawab, gue pergi aja" "LO! LO YANG GUE PIKIRIN LANGIT" Teriakan Bintang menghentikan gerakan Langit yang berusaha melepaskan pelukannya. "Huh?" Langit lepaskan pelukan Bintang dan menatapnya bertanya. "Apa kamu bilang?" "Gue mikirin lo" "Apa? Apa yang lo pikirin?" "Gue.." "Now or never Bintang" "Gue cinta sama lo Langit" akhirnya kalimat itu berhasil keluar dari bibir Bintang sambil menatap mata indah Langitnya *deg
"Gue ngga peduli lo siluman sekalipun, gue cinta sama lo, bukan sebagai anjing yang gue temuin, gue cinta sama lo as a man" *brak "LANGIT"
[20 : Last Wish] Bintang dikejutkan dengan Langit yang tiba tiba saja ambruk dan terduduk di lantai. "Langit lo kenapa heh" "Okay, i'm okay" "Apanya yang oke, lo pucet banget" "I'm just tired" "Ayo gue bantu bangun, istirahat di kasur" Dengan susah payah karena tubuh Langit yang besar, Bintang berhasil membantu Langit untuk istirahat di atas kasur mereka. "Lo sakit? Mana yang sakit?" "Here" Langit bawa telapak tangan Bintang untuk ia letakkan diatas dadanya. "Jangan bercanda Langit, lo pucet banget" "Aku ngga bercanda" "Trus kenapa itu bisa sakit?" "Karena kamu" "Aku?" "Yang baru saja" "Jangan lebay deh" "Aku ngga lebay, and its true"
Bintang mencoba mencari sirat bercanda dari tatapan mata Langitnya, tapi sama sekali tidak ada. "Lo serius?" Anggukan lemah menjadi jawaban bagi Bintang. "Kenapa?" "Karena itu, keinginan terakhir gue. Mungkin?" "Hah? Maksud lo keinginan terakhir?" "Selama ini, kamu selalu berhasil mewujudkan keinginanku Bintang, mulai dari menemukan joey, belajar arsitektur, bertemu mama papa, hingga mendapatkan cintaku yang pertama" "Huh?" "I love you Bintang, since then. Sejak hari hari dimana kamu nganggep aku sebagai anjing kecil yang lucu, aku sudah mencintai mu" "Dan setelah semua itu, keinginan terakhirku hanyalah mendapatkan cinta yang sama darimu" "Dan hari ini aku mendapatkannya, hhh" Lagi lagi air mata mengalir bebas melewati pipi Bintang. "Kalo gitu kenapa lo sakit? Harusnya lo bahagia dong? Gue cinta sama lo segede lo cinta sama gue. Gue ngga peduli apapun, gue cinta sama lo Langit" *nyutt "Hhh, karena kalo semua keinginanku terpenuhi, tujuan reinkarnasiku selesai"
"APA?" "Itu artinya waktuku habis disini, aku harus segera pergi" "Lo gila?" "I do. Aku udah gila sejak aku tau semua fakta ini" "Sejak kapan?" "Sejak ulang tahunku waktu itu, sejak aku tau kalau aku bisa jadi manusia, aku selalu bermimpi ada yang bilang kalau semua keinginanku terpenuhi maka aku harus kembali" "Whatt?" "Setiap kali keinginan ku terwujud berkat kamu, tubuhku melemah, dan dari situ aku percaya, mimpiku itu adalah pertanda." Bintang terdiam, hatinya hancur lebur sekarang. Selama ini Langitnya selalu membawa pelangi untuknya, hingga Bintang lupa, dari langit tidak hanya turun sinar dan cahaya tapi juga ada badai dari sana. "Setelah semua yang lo lakuin? Setelah semua sikap lo yang bikin gue jatuh cinta sedalam ini, lo mau ninggalin gue gitu aja?. Gak, gue gak bisa" "Jadi semua keinginan lo sekarang udah terpenuhi?" "Hahaha kurasa" "Maka aku tidak mau mencintaimu. Jika itu akan membuatmu pergi. Maka aku tidak akan mencintai mu" Bintang dengan susah payah mengatakan keputusannya, ia berhasil. Berhasil menghancurkan hati dan perasaannya sendiri. "Bintang"
"Cukup Langit, gue benci sama lo" "Bin.." Bintang bergerak menuruni kasur besarnya, menyambar kunci mobilnya, dan dengan cepat meninggalkan apartemennya, sama sekali tidak menghiraukan Langit yang berkali kali meneriakkan namanya. Kepala Bintang benar benar kosong, ia mengendarai roda empatnya asal. Benar benar asal. Bintang tidak tahu kemana ia mengarahkan setirnya itu pergi. "Fuck" Bahkan semesta ini seolah mengejek Bintang, dengan sengaja semesta turunkan bulir airnya dengan tidak sopannya. Bintang pandangi sejenak jalanan yang tidak terlalu ramai itu. Hujan deras telah menarik orang orang untuk memilih meneduh dan segera masuk ke apartemennya. "Hah, Je. Kenapa gue selalu dateng ke lo di saat terendah gue?" Benar. Saat ini, Bintang berada di seberang apartemen Jehan. Tidak sulit bagi Bintang untuk memutar sedikit dan memasukkan mobilnya ke lobby apartemen sahabatnya itu. Tapi Bintang sedang gila.
Ia turun dari mobilnya hanya untuk merasakan bulir hujan deras itu menerjang membasahi pakaiannya. Bintang hanya diam, dia benar benar tidak melakukan apapun, air matanya pun telah menyatu dengan air hujan yang menerpa telak wajahnya. Tangisan Bintang, tidak ada siapapun yang bisa mendengarnya. "Tuhan, kenapa selalu begini? Apa maumu? Kau selau memberiku kecewa saat aku jatuh cinta, apa aku tidak pantas untuk siapapun?" Perlahan isakan mulai terdengar jelas dari remaja aries itu. Ia pun terduduk dan memeluk lututnya menumpahkan segala kecewanya disana. "Loh, BINTANGG?" Jehan dengan payungnya berlari mendekat kearah mobil yang sangat ia kenal, dan wanita yang basah kuyup meringkuk disampingnya. "Bintangg lo ngapain anjir?" Mendengar suara sahabatnya, Bintang bawa wajahnya untuk mendongak dan menemukan Jehan entah kenapa malah berada di luar kamarnya disaat hujan deras begini "Jehan" *grepp Bintang tubruk tubuh Jehan membuat pakaian Jehan ikut basah karena ulahnya.
"Gue ga pantes buat siapapun ya Je? Kenapa semua orang ninggalin gue? Salah gue apa Je?" "Hey hey, tenang dulu ya cantik. Ayo masuk dulu, oke?" Jehan bimbing Bintang kembali masuk ke mobilnya, dan Jehan bawa Bintang ke apartemennya. —-- "Ganti baju dulu ya? Nanti lo masuk angin" Bintang menuruti Jehan dengan menerima baju yang Jehan berikan padanya. "Duduk sini, gue handukin rambut lo, nanti lo pilek" Bukannya duduk di sisi ranjang seperti yang Jehan perintahkan, Bintang malah menubruk tubuh Jehan dan memeluknya erat. "Hey, what happened?" Bukan jawaban yang Jehan dapatkan, tapi tangisan Bintang yang kembali pecah membuat Jehan sungguh tidak tega. Jehan biarkan Bintang menangis sepuasnya, sambil selalu ia usap kepala Bintang, untuk sedikit memberikannya ketenangan.
Sedangkan Langit, dia yang sangat sulit bangun karena tubuhnya yang lemah dibuat khawatir ketika menemukan ponsel Bintang yang tergeletak di atas nakas. Lalu bagaimana Langit akan menemukan Bintang sekarang? —-- "Je" "Hm?" "Gue boleh nginep disini?" "Sure" "Beberapa hari" "Tentu. tapi, boleh gue tau kenapa?" Bintang gelengkan kepalanya, ia tidak siap memberi tahu sahabatnya ini. Lagipula bagaimana ia akan memberitahu? Bintang jatuh cinta pada anjing silumannya begitu? "It's okay, take your time" "Boleh peluk lagi?" "As you wish" "Je, Rega bisa kesini ngga ya?" "Lo mau Rega juga? "Eungg" "Oke gue telfon Rega"
Jehan menurutinya, mencoba untuk menelfon Rega. Tapi entah kenapa anak itu tidak mengangkat telfonnya. "Rega ngga angkat" "Mmm yasudah, besok aja" "Lo sekarang tenang dulu, tidur aja gue temenin" "Lo gaakan ninggalin gue?" "Gaakan" "Janji?" "Janji" "Lo ga akan ingkarin janji lo kan?" "Ngga, kenapa nanya gitu?" "Soalnya semuanya ngingkarin janji mereka ke gue" "What happened Bin?" —---- *triinngggg Bintang yang sebelumnya hampir terlelap mendadak terkejut ketika dering ponsel Jehan memenuhi ruangan. "Ga, lo dari mana aja? Ke apart gue sekarang. Bintang disini" "Bintang disitu?" "Iya, dia disini" "Ngapain dia?" "She's not in a good state. Lo cepet kesini" "Omw. Gue butuh penjelasan dari tu anak"
*tutt tutt Rega matikan telfon itu sepihak. Itu membuat Jehan bingung, kenapa Rega terdengar marah? Apa yang terjadi? "Kenapa je?" "Mmm Rega, otw kesini" "Baguslah" Tak berselang lama, suara pin pintu yang terbuka dan sepasang langkah besar mengalihkan atensi Bintang dan Jehan. Mereka jelas tau siapa yang masuk begitu saja, karena hanya Rega yang tau pin apartemen Jehan selain keduanya. "Bintang, sini lo!" "Apa sih ga? ngapain teriak? Dan kenapa lo kesel gitu?" tanya Jehan "Apa ga?" Sambut bintang lemah dengan matanya yang sangat sembab karena menangis begitu lama. "Lo habis ngapain?" "Ga, lo apa apan sih? Bintang lagi ga dalam kondisi baik, lo jangan bikin keadaan makin buruk" "Bin, jawab gue. Siapa cowo yang ada di apart lo! Jawab!" "HAH?" kaget keduanya. "Bagaimana Rega, bagaimana bisa tau?" "Maksud lo? Ada cowo di apart Bintang?" Tanya Jehan.
—---- flashback on —----- "Anjir, ujannya deres banget mana petir. Si Bintang pasti ketakutan" Yak benar, bukan rahasia lagi bahwa Bintang takut dengan hujan dan petir seperti ini. Dan teman temannya sangat mengerti, jika Bintang ketakutan maka ia bisa saja tidak tidur sampai beberapa hari. "Gue ke apart dia ajalah, walaupun Langit ada tapikan tuh anjing kaga bisa nenangin kalo si Bintang panik" Rega bergegas menuju ke apartemen Bintang yang berjarak tidak terlalu jauh dari apartemennya itu. Saat Rega berhasil memasukkan pin dan membuka pintu tempat tinggal Bintang, terkejutlah Rega ketika mendapati tubuh seorang laki laki yang tegap dan kekar terkulai lemas di atas lantai dalam kondisi yang pucat. "Fak, ini siapa anjir. knp dia disini Bintang kemana? Cok anjirrr" "Bangsaatt, hp nya Bintang ditinggal" Dengan panik, Rega segera menghubungi ambulance dan membawa Langit yang pingsan itu kerumah sakit. Saat sedang menunggu, Rega melihat bahwa Jehan menelfon dirinya tadi, dimana itu tidak ia sadari karena Rega terlalu panik. "Ga, lo dari mana aja? Ke apart gue sekarang. Bintang disini" "Bintang disitu?" "Iya, dia disini"
"Ngapain dia?" "She's not in a good state. Lo cepet kesini" "Omw. Gue butuh penjelasan dari tu anak" —----flashback off—---- "Jawab Bintang!" "Dia.. *hiks diaaa…" "SIAPA??" "DIA LANGIT. DIA LANGIT REGA" lagi lagi Bintang terduduk diatas lantai menangis sekencang kencangnya. Sungguh, ia tidak sanggup lagi. "Apa? Langit? Maksud lo?" "Ga, kita bicarain nanti aja, kasian Bintang" "Jelasin Bintang! Maksud lo dia Langit tuh apa? Dia siluman? Dan dia bisa jadi manusia?" Hanya mengangguk yang bisa Bintang berikan sebagai jawaban. "Ya Tuhann. Selama ini, lo sembunyiin itu dari kita?" "Jadi, lo nangis nyamperin gue karena Langit? Lo bilang semuanya mau ninggalin lo itu juga Langit?" Tanya Jehan Bintang mengangguk untuk kesekian kalinya. "Dan kenapa lo malah disini? Lo biarin langit sendirian di kamar lo dalam keadaan mengenaskan begitu hah?"
"Gue ngga sanggup ga, gue cinta sama Langit. Tapi Langit ninggalin gue" "Lo yang ninggalin dia Bintang! Lo!" "Langit gue bawa ke rumah sakit. Dia kritis" lanjut Rega. *deg "Apa?" "Dia kritis Bintang" Ya Tuhann. Apalagi sekarang? Kau benar benar tega mengambil Langit dari Bintang? Lalu dimana Bintang akan bergantung sekarang? Kemana Bintang akan pulang sekarang? "Ega, ayo kerumah sakitt, gue mohonn. Ayoo anter gue" "Janji lo harus jelasin semuanya ke gue dulu Bintang" "Gue jelasin di mobil, ayoo Egaa please" "Oke, ayo". —--- "Dokter bagaimana keadaan Langit?" Tanya Jehan panik ketika ia mendatangi ruangan dokter yang bertanggungjawab. "Ah, pemuda itu?. Ia sedang dalam masa kritis. Mungkin butuh waktu baginya untuk melewati masa kritisnya"
"Dokter, kami mohon lakukan apapun" "Akan kami usahakan" Bintang hanya mampu menatap nanar pintu ugd yang tertutup rapat itu. Ia benci semua ini, kenapa harus kebahagiaannya yang direnggut? Kenapa tidak sekalian nyawanya saja? —---- 3 hari lamanya Langit terbaring dengan menutup matanya, selama 3 hari itu pula Bintang berusaha mengubur dan membunuh perasaannya. Tanpa sadar, saat itu pula Bintsng telah mengubur dan membunuh dirinya sendiri.
Melihat pesan dari Rega, Bintang bergegas menuju ke ugd dimana langit terbaring disana. Ketika Bintang lihat senyum Langit yang begitu ia rindukan, runtuhlah pertahanan Bintang. "Gue gabisa langit. Gue gabisa jauh dari lo, gue gabisa. Langit tolong jangan pergi" "Tapi aku harus pergi" jawab Langit susah payah karena tubuhnya yang begitu lemah.
"Gak, kalo lo pergi gue ikut. Gue ikut langitt" "Ngga. Kamu gaboleh ikut" "Gue gabisa tanpa lo. Kumohon" "Dengerin bintang, tugas ku sudah selesai. Aku sudah mendapatkan semua yang kumau. Kabar orang tuaku, joey, impian ku belajar arsitektur bahkan cintaku aku sudah mendapatkan semuanya, lalu apalagi?" "Ngga, lo belum dapet gue. Lo belum jadiin gue sebagai milik lo. Ngga. Lo belom bisa pergi" "Hahaha, mungkin Tuhan ngga ngasih aku kesempatan itu" "Langit lo jangan bercanda. Lo tega ninggalin gue hah?" "Bintang, ikhlasin aku ya?" "NGGA! ngga mau langitt gue ngga mauu" "Tolong sayang aku sudah ngga kuat lagi" "Ngga mauu, lo gaboleh lo ngga…" *cup Langit raih tengkuk Bintang, dan ia lumat bibir Bintang perlahan, Langit curahkan seluruh cintanya disana, Langit berikan seluruh dunianya disana, Langit tinggalkan seluruh kenangannya disana. "This is my last wish Bintang, Thankyou. And i will always love you" Ciuman Langit terlepas begitu saja, dan Langitnya, pergi untuk selamanya.
"LAANGIITT" histeris Bintang ketika mendapati Langitnya yang telah redup, badainya telah berhenti begitu juga dengan Langitnya, detak jantungnya juga telah berhenti. "JANGAN PERGI LANGITT, KUMOHONN, JANGAN TINGGALIN GUEE, GUE JANJI GUE GAAKAN CINTA SAMA LO. GUE JANJI LANGIT, JANGAN PERGI" "Bintang sudah, s-sudah Bintang" Sungguh hancur sudah hati Jehan dan Rega melihat Bintang yang histeris seperti ini. Yang mereka bisa lakukan hanyalah memberi Bintang kekuatan. Raungan tangis Bintang tiba tiba saja terhenti, dan itu sungguh membuat Jehan dan Rega terkejut. Bintang tatap sekejap wajah Langit yang tetap sempurna bahkan disaat jiwanya telah tiada. "Oke. Lo tega ninggalin gue, lo selama ini cuma pura pura sayang sama gue kan?. Kalo ngga lo gabakal tega ninggalin gue langit" "Lo, bener bener jahat" "Lo, jahat tau ngga" "Lo…." "Gue benci sama lo" Dengan cepat dan tanpa menoleh, Bintang tinggalkan ruangan itu dengan kemarahannya. Bahkan teriakan Jehan dan Rega pun sama sekali tidak Bintang hiraukan.
Bintang terus berdiam diri didalam apartemen Jehan. Berkali kali Jehan dan Rega datang membujuk Bintang untuk mengikuti pemakaman Langit. Tapi ia selalu menolak. Hingga Langit dikebumikan dalam bentuk manusianya, Bintang sama sekali tidak ingin memberikan salam perpisahanya. Langit pergi, membawa sinar Bintang bersamanya.
[21 : Langit] "Sayang, kita pulang ya?" Sebulan lamanya Bintang mengurung diri didalam apartemen Jehan. Sulit baginya kembali ke tempat tinggalnya karena segala tentang Langit masih tertinggal disana. Hanya Jehan dan Rega yang tahu dan mengurus Bintang dengan baik. Hingga akhirnya Ayah mendapat laporan langsung soal Bintang yang absen dari kuliahnya. Tidak ada pilihan lain bagi Rega dan Jehan selain jujur bahwa semua ini terjadi karena anjing kesayangannya, Langit, telah pergi. Ayah tentu sangat mengerti, dan memahami perasaan putrinya ini. "Sayang, Ayah dan Bunda akan selalu di sisi Bintang. Rega, Jehan, semuanya. Bintang tidak perlu khawatir ya sayang?" "Bun, jangan buat janji sama Bintang kalo akhirnya akan diingkari" Bunda berikan senyuman terbaiknya kepada sang putri. Cukup dalam ternyata luka pada putrinya. "Bunda tidak bilang bunda berjanji, karena Bunda akan membuktikannya sayang. Okay? Sekarang kita pulang ya? Kita istirahat di rumah" "Bunda, boleh Bintang bicara sama ayah sebentar?" "Sure, Bunda dan yang lain akan tunggu diluar" "Terimakasih bunda" "Anything sayang"
"Hey, tinkerbell" kata sang Ayah sambil berlutut dihadapan putri semata wayangnya. Dan Bintang, mencari kekuatan dengan memeluk leher ayahnya erat. "Ayah.. Langit kenapa ingkar janji ke Bintang? Apa Bintang ini ngga pantas bahagia? Kenapa saat Bintang mencintai sesuatu, itu selalu mengecewakan Bintang? Kenapa ayah?" "Sayang, siapa bilang Langit ingkar janji?" "Tapi, Langit pergi ninggalin Bintang ayah" "Hhh, coba sini ayah pinjam tangannya" "Hm?" Ayah raih tangan kecil putrinya itu, dan ia letakkan diatas dadanya. "Coba rasain, Bintang rasain pelan pelan, Langit nya Bintang ada di sana. Langitnya Bintang akan selalu hidup disana" "Yah," "Ayah tau, sulit bagi Bintang untuk mengiklaskan Langit karena dia selalu nemenin Bintang selama ini. Tapi, Bintang memangnya ngga mau hidup untuk Langit? Kalau Bintang begini terus memangnya Langit ngga akan sedih?" "Sayang ingat. Bintang tidak akan pernah meninggalkan Langitnya. Begitu juga dengan Langit, dia akan selalu menjaga Bintangnya. Bahkan saat siang
hari, saat si Bintang sedang redup, Langit akan tetap kembali memeluknya dan mengembalikan sinarnya saat malam datang, benar kan?" "Iya ayah" "Kalau begitu yakinlah, dan hiduplah untuk Langit sayang" Bintang mengagguk dan kembali memeluk sang ayah erat. "Baiklah. Langit, tunggu Bintang ya? Kita akan bertemu lagi nanti di kehidupan selanjutnya" "Ayahh, boleh kah Bintang mampir ke apartemen Bintang dulu?" "Tentu, mau ayah temani?" "Bintang sama Rega sama Jehan saja ayah. Nanti Bintang akan segera pulang" "Baiklah" "Terimakasih Ayah" "Anything sayang" —----- "Je, boleh tolong beresin semua bajunya Langit?" "Okay" "Masukin aja ke kotak yang biru" "Oke" "You okay Bin?" Tanya Rega. "I'm okay Egaa"
"Bin" "Hmm?" "Inii?" Jehan menyerahkan sepucuk surat yang ditulis diatas kertas berwarna biru, dengan tulisan yang sedikit berantakan. Hai my love, my star. Banyak yang mau aku omongin ke kamu. Tapi aku akan menyimpannya saja, aku akan mengatakannya nanti saat kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Aku akan mencarimu. Pasti. My star, selama ini aku mengira bahwa tujuan dari reinkarnasiku adalah karena joey, karena aku mati saat akan menemukan fakta tentang joey. Tapi ternyata aku salah, tujuan reinkarnasiku adalah bertemu denganmu, menjalani kehidupan singkat impaianku bersamamu. Aku yakin, jika Jezziel tidak kecelakaan waktu itu, pasti dia langsung jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu. Seperti Langit. Langit juga jatuh cinta padamu saat pertamakali melihat cewek sendirian mancing di pinggir danau. Terimakasih sudah mewujudkan dunia impianku Bintang, dan maaf jika aku banyak menyakitimu.
Aku tidak tahu kau akan menemukan surat ini saat apa, entah saat aku sudah pergi atau belum, tapi aku harap kamu tau. Langit tidak akan pernah meninggalkan Bintangnya. Aku tinggalkan bagian diriku di laci nakas. Hanya sebagian kecil. Tapi ku harap dia bisa jadi pengingat. Bahwa Langit tidak akan pernah meninggakan mu. Hiduplah dengan baik sayang, untukku. Sampai kita bertemu lagi. See you my star. i love you ❤. Setelah membacanya, Bintang bergegas membuka laci nakas dan disana Bintang temukan boneka anjing kecil yang berbulu lembut persis seperti milik Langit. "Langit yang buat ini?" Tanya Rega. "Jadi selama ini Langit minta bulunya disimpan itu untuk ini?" "Langit sudah menyiapkan semuanya Bintang, dia benar benar ga pengen ninggalin lo, karena itu dia berusaha untuk selalu ada buat lo, dalam bentuk apapun" "Langit ngga ngingkarin janjinya untuk selalu ada buat lo Bintang" Belum kering jejak air mata Bintang sebelumnya, kini air mata itu kembali membasahi pipi Bintang dengan tidak sopannya. "Ega, Jeje, kalo gue pengen cepet mati biar cepet ketemu Langit lagi salah ngga sih?"
"HEH!" "NGACO" "Gue kangen lo Langit" Bintang berikan ciuman yang begitu dalam pada boneka kecil dengan bulu Langit yang menyelimutinya itu. Rasa hangat merambat di hati Bintang, persis seperti saat Langit sedang memeluknya. Melihat itu, Jehan dan Rega lagi lagi tidak bisa menahan dirinya. Keduanya bergerak dan memeluk Bintang membuat Bintang yang lebih kecil terhimpit di tengah. "Udah doong galaunya" rayu Rega "Iyaa, masa Bintang yang prik ini mau terus terusan galau. Nanti kampus kita kehilangan topik base dong" "Hahahaha iya juga" "Ih, kalian mah malah ngejekin" "Orang temennya lagi broken hart, patah hati malah digituin. jahat" "Yaudah biar gue yang perbaikin hatinya" kata Jehan "Hooh gue bantuin" sambung Rega "Sebagai papanya Langit kita bakal bertanggung jawab" lanjut Rega lagi. "Hahaha gitu ya?" "Naahh gitu dong ketawaa, kan cantik" "Thankyou guys" "Anything Bintang" "Yup, Anything for you"
"Jadi, kamu ninggalin Langit cimit ini buat gantiin kamu? Ngga bisa sih sebenarnya karena Langit cimit ini ngga bisa berubah jadi manusia. Tapi makasih kamu sempet ninggalin sesuatu buat aku."
—----- "Darl?" Aduh, baru juga Bintang menginjakkan kaki di rumah gedongannya itu langsung disambut bule London yang masih bermuka berantakan karena ia juga baru saja sampai dari bandara. Jovan langsung meninggalkan semua urusan kampusnya ketika ia mendengar kabar kesayangannya sedang berduka. "Kak Jo?" Jovan rentangkan tangannya, dan itu disambut baik oleh Bintang dengan masuk kedalam pelukannya. "Uuhhh, Bintangnya kakak ini kenapa jadi kurus gini ih? Abis ini kita makan ramyun mau?"
Bintang angkat tangannya dengan mengacungkan 2 jari di hadapan Jovan tanpa mengangkat wajahnya dari dada yang lebih tua. "Oke, kali ini dua boleh" "Sama eskrim" "Iya boleh" "Oke" "Yeuuu langsung nempel ke sibabi" dalam hati Rega "Yahh semoga aja Jovan bisa ngobatin hatinya Bintang pelan pelan. Bintang udah terlalu banyak dikecewain" Ikhlas nih Je? Wkwkwk "Langit, aku ngga yakin aku bisa mencintai orang lain atau tidak. Karena kamu dengan jahatnya bawa hatiku bersamamu" "Tunggu aku, aku akan mengambil lagi hatiku" "Langit, jaga hatiku dulu ya. Jaga sampai aku menemukanmu" "Lagi." Langit. End.