The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 21:21:54

langit

samoyedd

Ini sudah lewat tengah malam, tapi remaja aries ini belum juga berhasil menjemput alam mimpinya. "Yahhh.. udah tidur" Melihat Langit yang kini berada diatas kasur anjingnya tertidur lelap, ingin rasanya Bintang ikut menyusul dan memeluk makhluk berbulu itu. Tapi kasurnya tidak akan cukup, pikirnya. Akhirnya, Bintang menggendong paksa tubuh bongsor Langit dan membawanya ke kasurnya seperti biasa. "Susah tidurnya gaada lo. Gue ijin peluk ya?" "Lo jangan jadi manusia, takut jantungan gue" "Goodnigt love" "Dikira gue beneran tidur apa? Gue tau lo gabakal bisa tidur wkwk" "Coba aja lo ngomong sama Jezziel juga selembut ini. Makin klepek klepek gue Bin" "Anw, goodnight my love" Ya gini nih, kalo orang gengsinya doang di gedein. ‐—-----


—-----


[14 : Dipantau] Pagi hari di waktu weekend, Bintang berencana menepati janjinya kepada Langit untuk membawanya ke makam Joey, setelah mendapatkan lokasinya dari sang Ayah. "Sumpah ya, ini lama lama gue bisa serangan jantung liat ni cowo tiba tiba mode manusia dikasur gue gini"


"Woy Langit bangun" Karena tidak ada tanggapan, Bintang goyangkan tubuh Langit dengan brutal untuk membangunkannya. "Woooyyy ellah, bangun udah pagi. Kata mau ke makaam" "Apa sih sayang?" *deg "Anjing" Ya siapa yang ga salbrut kalo tiba tiba diserang pake deep voice serak yang seksi paripurnah??. "Sayang, sayang! Udah buruan mandi cepet" "Mandiin lah" "Congor lu gue sumpel lampu belajar ya! Cepet ah" "Galak banget si manis" "Bcot lu" "Hahha" Langit memilih untuk segera bangun daripada nanti dia ditelen hidup hidup sama Bintang. Sembari berjalan melewati Bintang dan menuju ke kamar mandi, Langit tinggalkan usapan kasar pada kepala Bintang, yang membuat hati Bintang.. et.. Rambut Bintang berantakan. "Oke kalem Bintangg kalemm. Itu cuma Langit. Key, dia cuma Langit"


—----- "Biar gue aja yang nyetir" Kata Langit begitu ia memasuki mobil. Setelah ia mengendap endap keluar rumah Bintang seperti pencuri menghindari cctv. "Bisa gitu anjing nyetir?" "Jangan salah, Jezziel itu jago balap" "Ah masa?" "Dih. Gapercaya kapan kapan gue bonceng bawa motor" Langit merebut posisi sopir dari Bintang, dan kini Bintang duduk di kursi penumpang. "Gimana? Tawaran gue menarik kan? Night ride?" "Sama Ayah gaboleh bawa motor. Bahaya" "Kan sama gue" "Lo kiraa?? Kalo sama lo malaikat pencabut nyawa takut gitu?" "Wkwkwk trus selama ini lo gapernah naik motor?" "Pernah dulu ama Jehan. Trus ketauan Ayah. Gue gaboleh ketemu Jehan seminggu" "Wkwkwkkw demam lo ga ketemu Jehan seminggu?" "Kan di kelas ketemu" "Lah iya juga wkwwk" Perjalanan 20 menit mereka, terus saja diwarnai dengan omelan omelan kecil yang membuat obrolan mereka menjadi berwarna.


Begitu sampai, Bintang bimbing Langit menuju ke makam, yang telah sang Ayah beri tahu lokasi tepatnya. Tatapan Langit terpaku pada sebuah batu dengan ukiran inisial yang sangat mirip dengan kalung milik kesayangannya Joey. Jadi, ini akhirnya? Ini akhir pencariannya? Anjing kesayangannya benar benar tiada? "Hey, Joey? Its me" "You still remember me right?" "Jiel nyari kamu kemana mana, sampe sekarang Jiel udah gede, Jiel udah mati, Jiel masih nyari kamu. Eh, sekarang kalian pasti udah ketemu kan ya di langit?"


"Jiwa Jiel ketinggalan disini Joey. Sekarang namanya Langit. Mirip banget sama kamu dulu. Gede, putih, gembul hahah" "Makasih kamu kasih aku kesempatan buat tau kamu sekarang dimana. Dan sekarang aku tenang karena kamu bakal bahagia sama Jiel disana." "Aku, juga bakal bahagia disini, sebagai Langit. Aku janji" "Udah ya? Nih, cewe kesayangan aku jadi ikutan nangis" "Sial. Gue lagi sedih beneran ini langit malah bisa bisanya bilang gitu. Gagal deh sedihnya" "Aku bakal sering kesini Joey. Hehe, itu pun kalo Bintang bolehin sih" "Boleh lah" sahut Bintang "Yee. Tuh boleh kan? Kita ngobrol kapan kapan lagi. Byee Joey" Setelah mencium batu nisan itu sekilas, Kedua remaja beda usia itu pun meninggalkan area makam dengan bintang yang masih saja terbawa suasana sedihnya. "Ngapa lu masih jelek gitu mukanya?" "Udah dong nangisnya, udah keluar dr makam kita ni" "Langit" "Hmm?" "Lo sayang banget ya sama Joey?" "Banget" "Segede apa?" "Mmm gede banget" "Ya segede apa?"


"Gabisa dibilang segede apa, soalnya gede bangett" "Kenapa?" "Emang harus banget ada alasannya?" "Oke sekarang gue tanya, lo sayang sama gue karena apa?" "Heh??? Siapa yang sayang ama lo?" "Halah. Oke gue ganti. Lo sayang ama Langit karena apa?" "Ya sayang aja" "Nah sama. Jiel juga gitu ke Joey. Sama sama nemenin kalian karena anak tunggal dan sering ditinggal kerja" "Sorry" "Not again. Gue udah bilang kalau Jiel itu udah ikhlas. Dan sekarang biarkan Jiel sama Joey tenang di sana" "Langit. Can i ask something? But if this bothering you, just don't answer it" "Cue" "Lo, ga kangen ama orang tua lo?" "Ya kangen" "Lo ga mau liat mereka kah? Lo dikasih kesempatan lagi kan ini?" "Jujur.. gue pengen tau kabar mama papa gimana. Tapi gue sadar, Putra mereka Jiel udah mati. Dan pasti mereka nguburin Jiel pake tangan mereka sendiri" "Kalo gue muncul di hadapan mereka, apa yang bakal terjadi?"


"U can just watch them from affar?" "Gue bakalan kuat buat ngga peluk mereka ga ya?" "Gue anter. Gue bakal jagain lo. Kapan kapan kita temuin orang tua lo oke?" "Hhh.. Bintangg, orang tua gue tinggal jauh dari sini" "Ngga papa. Gue anter. Sampai manapun, gue temenin" "Thankyou. I'll think about it" "Oke. Now, ayo kita ke mall" "Ngapainn?" "Jalan lah" "Ow, you take me on a date?" "Ewhh. No" "Okayy let's go sayang" "Stop call me that you dumb" "Hhhhh" —-----


"Gue boong cuma demi ni siluman doang? Beban emang ni anjing satu"


"Hp belom kepegang sejam udah instal game ajaa ni si anjing" "Lo kaya sugar momi gue deh Bin" "Mata lo sugar momi" "Ya lo beliin gue segala ini itu" "Ya kan gue adopt lo" "Dah lo mau minta apa dari gue deh Bin? Gue kasih" "Gue minta lo diem gausah banyak bacot" "Galak benerrr, atut" "Tapi ya Bin. Masa iya gue numpang hidup terus sama lo? Mau sampe kapan?" "Ya emang lo mau apa? Kerja? Lo punya identitas emang?"


"Kaga sih" "Udah, diem diem aja lo di gue, gausah fafifu" "Hmmm" "Mending lo beliin gue eskrim sana" "Jangan lupa hoodienya dipake. Siapa tau ada orang yang kenal Jezziel bisa ribet" "Iyaaa iyaa" "Paswordnya?" "Baik paduka ratu" "Mantab "


"Ni cowo, cakep kl diliat liat" "Hehhh! Sadar lo Bintangg" —------


From this


To this


"Hhhh.. isi timeline nya Langit semua. Which means, itu gue" "Ngapa lo senyum sendiri gitu? Kesambet lo?" "Hah? Kaga anjir" "Dasar prik" —-----


[15 : Boyfriendable] Akhir semester telah tiba, dan seperti anak SMA yang lainnya, Bintang disibukkan dengan buku dan komputernya. Ada satu yang sejak tadi menggerutu. Ya tentu saja si bayi anjing besar. Bintang benar benar tidak peduli padanya selama berhari hari karena Bintang fokus pada pelajarannya. Bintang anak yang pintar sebenarnya, tapi jika Bintang tidak belajar maka bisa saja Jehan akan mengunggulinya. Bintang tidak mau itu, karena nanti Jehan akan memarahinya. Langit sudah bosan dengan ponselnya, dia hanya duduk di sofa dan mengamati wajah Bintang sejak tadi. Kalo itu si ngga bikin bosen ya? Kacamata yang bertengger di hidung bintang membuat wajah serius Bintang semakin terlihat cantik. Dahinya yang berkerut ketika berfikir, membuatnya juga semakin menggemaskan.


"Bin.." "Apasih Langit? Dari tadi lu Ban Bin mulu, gatau apa gue lagi belajar" Sahut Bintang ketus "Udahan belajarnya. Udah malem ini" "Yaelah, dikit lagi. Sebab" "Lo udah keliatan ngantuk gitu" "Dikit lagi elah. Lo kalo ngantuk tidur duluan sana jangan ribet" "Haaahhh…. Yaudah. Tapi jangan tidur malem malem" "Iyaaa" Langit berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju ke kasur Bintang. Yahhhh, mau dimana lagi memangnya? *cup


"Semangat cantik" *deg "Asyuuuu langitttt" Dengan jahil Langit tinggalkan kecupan singkat di pucuk kepala Bintang sambil melewatinya. Dan Bintang? ya jelas salbrutt. Bintang masih belum terbiasa dengan sikap Langit yang begitu manis dan terkadang nyeleneh itu. Dan sikap sikap kecilnya itu selalu berhasil membuat kupu kupu di perut Bintang. 20 menit berlalu, yang Bintang lakukan di tempat duduknya hanyalah melirik Langit yang sudah tidur di atas kasurnya. Atensinya tidak lagi pada buku juga tulisan tulisan bejibun itu. Semuanya telah teralihkan karena kecupan sedetik yang berhasil mengambil seluruh kewarasannya. "Au dah bangsat. Gara gara lo gue jadi ga fokus lagi." "Ikut tidur aja lah"


"Wkwkwk apaansih? Sok rajin bgt baca buku" Bisa bisanya hanya dengan melihat Langit yang tertidur dengan posisi tidak benar dan buku yang menutup wajahnya saja, mampu mengangkat lelah di tubuh Bintang karena terlalu lama belajar. Ajaib memang. Namanya jg siluman. Bintang mengambil buku yang menutup wajah tampan Langitnya itu, dan membenarkan posisi tidur Langit. "Goodnight love" Katanya lalu memeluk pinggang Langit posesif dan menyandarkan kepalanya di atas dada bidang yang akhir akhir ini telah menjadi bantal favoritnya. "Goodnight too, my love"


Gerak deh tu, tangannya Langit ditarok di punggungnya Bintang. Biasalahh. Modus. —----- "Aarrghhh kenapa si tadi soalnya susah banget perasaan? Sia sia gue begadang semaleman" keluh Rega begitu ketiganya kini duduk lesu di meja kantin setelah menyelesaikan ujian matematikanya. "Iya ga, gue juga banyak yang ga ngerti asli" jawab Bintang yang juga lesu karena ia juga tidak mampu menyelesaikannya dengan sempurna. "Udahh, lupain aja kan udah kelar juga" Jehan memang terlihat paling santai, walaupun Jehan sama khawatirnya dengan dua temannya. "Au dah kesel" "Mending pesen makan ga, laper nih" Ajak Jehan. "Yaudah ayo. Bin lo mau apa?" "Biasaa" "Oke" Begitu Jehan dan Rega pergi untuk memesan makanan, notifikasi beruntun dari ponsel Bintang membuatnya tersentak, "Anjir siapasih sepam. Ngeselin bgt" *blushh


Baru sedetik lalu Bintang mengomel karena notifikasi beruntunnya, sekarang ia malah tersenyum senyum aneh tidak jelas setelah melihat siapa dibalik pesan beruntun itu


Bintang dapat 'rejeki nomplok' di siang bolong "Aaaanjiirr, di pap dongg" "Mana cakep lagi ah" "Eh bales dulu deh"


—----


"Woi Langit!" “Lah tumbenan ni bocah jadi anjing?” “Wwooff” “Mana? Katanya mau kasih gue hadiah kalo pulang?” Langit dengan mode anjing itu beranjak dan mengambil sebuah buku dari meja belajar Bintang. “Apaannih?” “Ya buku lah anjir, cakep cakep bego” Mata bintang langsung terbuka lebar ketika ia melihat tulisan yang begitu rapi, warna warni dan ketika Bintang membacanya itu adalah materi fisika yang seharusnya ia pelajari untuk UAS besok. “Ini?? Catetan siapa? Rapih bener?” “Wooff” “Elahh.. Kaga ngerti guee” —-- “Punya lo” kata Langit setelah kembali dari neverland dengan wujud manusianya.


“Lah, catetan gue kan berantakan ya? Ini rapih. bukan punya gue.” “Punya lo, dari gue” “Lo?? Yang bikinin gue rangkuman ini?” “Semalem, lo sibuk bikin rangkuman ampe gaada waktu buat latihan soal kan?. Nah itu udah gue bikinin rangkuman + tips trik biar cepet ngerjain rumusnya” “Nanti malem lo cukup latian soal bbrp jam, trus tidur. Jangan tidur malem malem kaya kemaren” “Aaanjaaayyyy.. Act of service nihh ceritanya” “Mlyt akuh mas” “Ohh.. sempet amat lo bikin ginian” “Ya sempet lah, mau ngapain lagi gue?” “Iya sih. Thanks anw” “Anything” —----- “Langit, ini gimana si rumusnya? Kaga ngerti” Seperti biasa, sesi belajar Bintang akan selalu ditemani oleh Langit sipaling setia. Mendengar panggilan kesayangannya, Langit langsung melempar handphonenya begitu saja meninggalkan game yang sejak tadi menyibukkan dirinya. “Apaan?” “Yang ini. Kok susah?”


“Ohhh..” Memang dasar anak muda ya, bukannya fokus dengan apa yang Langit jelaskan, Bintang malah fokus pada wajah Langit yang terlihat berkali kali lipat lebih tampan ketika sedang serius. Ditambah kaca mata baru untuk Langit karena ia sering bermain handphone membuat penampilannya semakin perfect. “Banzengg.. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan sahabat??” “Nah, gituu” “Anjingg..” Kaget bintang sadar dari lamunannya. “Hah? Gimana? Ulangg” “Perhatiin bukunya jangan gue” *deg “Asuu, ketauan kah?”


“Pd mampus lo” Melihat Bintang yang alibi dan salting itu, muncul ide jahil di kepala Langit. Langit yang sebelumnya berdiri disamping kursi Bintang mendadak bergerak cepat dan memutar wheelchair yang Bintang duduki hingga membelakangi meja belajarnya. Ya jelas Bintang cuma bisa diem karena kaget, dan juga Bintang udah kesihir oleh tatapan Langit yang begituuu dalam. Perlahan lahan, Langit menunduk dan mendekatkan wajahnya pada kesayangannya itu, meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kursi, dan menahan Bintang agar tidak pergi kemanapun. “Anjing.. Anjingg.. Woi” paniknya “Nih, pantengin dulu muka gue sepuas lo, baru nanti gue jelasin lagi biar lo fokus ke bukunya” “Dih, apaan? Udah ayo jelasin” “Kalo lo ketauan perhatiin muka gue lagi, gue cium ya?” “Gas..” “Eh, kaga anying” “Apaan cium cium, gaada” “Hhh.. makanya perhatiin” “Iyaa..iyaa.. Suhuu” kata Bintang sambil mengatupkan kedua tangannya.


Dan setelah itu, Langit kembalikan Bintang pada posisinya, dan Langit memulai tutornya. “Gampang kan?” “Iya ih, ngapa td gue bingung?” “Lain kali kalo ada yang jelasin diperhatiin apa yang dijelasin, jangan orangnya” “Ihh.. apaan sih lo. Gjls” *cup “Annnjj… Astaghfirullah” “Bonus. Soalnya lo pinter” “Langit. Anjing lo emang. Aaarrrghhh” “JANGAN MAEN CIUM PIPI GUE GITU DONGG” “Yakan itu apresiasi” “APRESIASI APAAN ANJIR” “Napa lo? salting?” “KAGAAA” “Ituu, pipinya merah” “ALERGI KENA ILER LO INI MAH” “Ngadi ngadi” “AWAS AJA LO CIUM PIPI GUE LAGI” “Kalo lo triak triak mulu sih, gue ciumnya di bibir aja biar lo diem” “LAANGIITTTT, SUMPAH YAA. GUE BUANG LO” “Buang aja kl brani wleeeee”


“Sumpah, gabaik buat jantung” “Lucu bgt sih lo saltingnya ngreog gitu wkwkwk” —-----


Tidak pernah lupa sehari pun selama seminggu ini, Laki laki April itu mengirimkan foto dirinya beserta kata-kata penyemangat yang mampu memantik daya juang Bintang secara instan.


Dan foto hari ini adalah yang terbaik. Lihatlah betapa pandainya siluman samoyed itu mengambil foto dirinya. Koleksi Bintang akan semakin membeludak sekarang hahaha.


At this moment, she know she fucked up. Saat ini, Bintang hanya bisa meringis mendapat tatapan tajam dari kedua sahabatnya yang duduk jauh dari bangkunya. “Siapa tadi Tang?” tanya Jehan ketika ketiganya berjalan bersama menuju lobi untuk segera pulang karena UAS telah selesai. “Ituu.. itu artis korea” alibinya “Ah masa? Siapa namanya? Tumbenan amat lo korean?” introgasi Rega “Gue juga baru tau kemarenn, ganteng, jadi yaudah gue post” “Siapa namanya?” “Aduh alesan siapa anjir. Gue kan kaga tau artis korea” “Lupa gue namanya, pokonya mah gue nonton di iklan yutup”


“Wkwkww anjirrr random banget lo. Apa yang gue harepin dari lo sih Tanggg” “Ohhh, kirain siapa. Tuh si Jovan ampe komen” “Wkwkwk biarin, paling bentar lagi juga telfon dia” “Lo, masih sering komunikasi?” “Masih sih, tapi ya gitu, kak Jovan sibuk banget. Dia bilang gabisa pulang kesini dalam waktu dekat” “Baguslah” “Kok bagus sih Je?” “Ya biar kita puas main ama lu, kaga diganggu si Jovan” sahut Rega “Halahh!” “Tp sekarang yang bakal ganggu kalian Langit awkwkwkwk”


—------


[16 : Boyfriendable 2.0] “Hhhahhh… finally UAS kelarrrr” “Lah kemana nih anjing satu?” “Langitt?” Bintang mengendap-endap masuk ke neverland dan menemukan langit lagi-lagi dengan mode anjingnya sedang bersantai di kasur anjingnya. “Perasaan, Langit sering bangeet pake mode anjing knp siee?” Menyingkirkan pikirannya yang bertanya-tanya, Bintang langsung saja membawa tubuh bongsor langit itu dan memaksanya untuk keatas ranjangnya. “Lo udah janji mau cuddle seharian” “Tp kenapa lo malah jadi anjing?” “Gapapa cuddle nya gini aja” “Hmmm, yaudah deh gpp, asal pelukin jgn kemana mana. Gue capeee” “Iyaaa ish bayi banget” Dua insan yang ditinggal dirumah sendirian itu menikmati waktu mereka yang begitu damai. Merasakan detak jantung satu sama lain, mendengarkann deru nafas satu sama lain, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya, namun itu tidak membuat suasana menjadi sepi. Karena rasa, tidak


hanya bisa disampaikan lewat kata saja, afeksi dan tatapan mata cukup untuk menjelaskan semuanya. —----- “Bin, bangun duluu udah maghrib ayo makann laper” Kata Langit sambil mengusap lembut kepala Bintang yang masih saja setia menutup matanya. Padahal Langit udah bangun, udah mandi, udah ganteng. “Mmhh.. 5 menit” “Ayoo siap siap. Gue ajak date mau ngga?” “Hmm?” “Bangun dulu cantik, cuci muka pake jaket. Ayo ikut gue” “Kemana?” “Udahh.. Ayo” “Mandi dulu ya?” “Iyaa sana” “Ok. tungguin” masih dengan langkah mengantuknya Bintang memilih untuk meenuruti Langit karena sejujurnya dia juga lapar. “Mau kemana kita?” “Gue tanya dulu. boleh ngga pinjem motor Ayah?” “Yang mana?” “Motor ayah cuma 1, dan itupun gapernah dipake” “Ohhhh.. Mau ngapain sih?” “Night ride” “Udah dibilang bahayaa” “Ngga. percaya sama gue. Gue bakal bawa lo dengan aman dan selamat” “Beneran ya?”


“Iyaaa” “Yaudah, gue ambilin kuncinya dulu” “Okkee” Bermodalkan nekat dan kepercayaannya pada Langit, kini keduanya sedang menerjang angin malam yang terasa dingin. Tidak seperti adegan FTV dimana si laki laki akan meraih tangan perempuannya dan mengatakan "pegangan nanti takut jatoh", Bintang tidak seperti itu. Tanpa ragu dan banyak fafifu Bintang lingkarkan kedua lengannya pada perut Langit dan menyandarkan helm lucunya di pundak sebelah kiri Langit. Mungkin, orang orang akan berfikir bahwa Langit sedang menjemput adiknya sekarang, karena Bintang yang sejak tadi berpegangan erat. "Lo kenapa sih? Dari tadi ndusel mulu?" Teriak Langit sambil sedikit menengok "Jangan kenceng kenceng bawanyaa, seremmm" balas Bintang juga dengan teriakan. "Yaelah 60 doang ini astaga" "Pelaannnn" Teriakan itu spontan membuat Langit menutunkan kecepatan motornya. "Iya iya ni pelannn, Hhuhh.. kapan sampenya kalo begini?" "Katanya mau nightride? Ya pelan pelan aja asal sampee" "Iyaadeh tuan putri"


"Kita mau kemana deh?" "Panggil aku sayang dulu nanti aku kasih tau" "Dih apaan aku kamu" "Kan kita ceritanya lg ngedate nih" "Gausah cosplay juga ewh" "Ayolahhh, lo tuh skali aja nurut ngapa sih?" "Gue yang majikan lo ya. Lo yg harusnya nurut" "Yaudah ngga jadi" "Tp, panggil sayang dulu skali aja" "Knp si ih ribet" "Kaya biasanya aja dehh" "Cok??" "Hadah.. my love gitu" "Iyuh. Kapan gue bilang gitu?" "Alibi aja tros" "Sumpah susah ya piara siluman, apaaa aja tau. Kan jadi tengsin gue" Tak lama, motor kawasaki W250 itu berhenti di salah satu warung yang jujur belum pernah Bintang pijak sebelumnya. Bintang memang tidak jarang makan makanan warung tempel di pinggir jalan ketika bersama dengan Jehan juga Rega. Tapi warung ini, Bintang belum pernah sepertinya. "Cari dulu tempat duduk yang estetik, Aku pesenin dulu"


"Masih aku aku aja ni orang dr tadi" "Lah kan tempat duduknya sama lesehan semua, ya sama aja lah woi" "Hehehe iya juga. Ya yang nyaman sana cari" "Yooo" Suasana disini tidak terlalu ramai dan nyaman untuk mengobrol jadi sangat cocok untuk keduanya menghabiskan malam dengan membicarakan isi alam semesta.


"Ini" kata langit sambil meletakkan dua gelas minuman miliknya juga milik Bintang, serta beberapa jenis bakaran yang menggoda. "Aaawwww thankyou" balasnya sambil menyeruput minuman yang berwarna cokelat meninggalkan rasa manis di lidah bintang. "Tadi akunya brosing, disini katanya enak bakarannya. Trus tempatnya juga enak. Murah lagi. Ngga papa kan ya?" "Ya gapapa lah anjir. Asik kok disini ada yang nyanyi juga" "Eh tunggu" "Apa?" "Ini udah dibayar blm? "Udah, kenapa?" "Lahhh??? Duit dari mana lo? Judi?" "Sialan ngga ya" "Truss?? Gue gapernah ngerasa ngasih duit perasaan?" "Punya duit sendiri akuni" "Ngarang" "Yeu gapercayaan" Langit menunjukkan saldo shoppepay nya yang bisa dibilang cukup itu. "Loh, anjir duit darimana? Lo jual apaa anjir?" "Jual diri" "Eh. Lo belom pernah disambit pake sabuk gucci ya?" "Wkwkw, aku jual gambar?" "Maksud lo?"


Lagi lagi Langit menunjukkan sebuah gambar karya seni digital yang menurut Bintang itu sangat bagus. Bintang bahkan sampai mlongo melihatnya. "Anjirrr bagus amatt" "Gue jual kaya gitu. Dan banyak yang minta jasa gue buat gambarin, kebanyakan joki sih. Joki tugas gitu duitnya lumayan" "Lo dapet koneksi dari mana cong?" "Makanya twitter jangan buat baca au mulu" "Ye anjing hiburan itu" "Ya ke menfess menfess, trus base gitu gitu lah. Sama ikut komunitas gambar sama joki" "Lahhh, lo rajin juga ternyata" "Udah gue bilang gue pinter" "Iya dahhh" Melihat ekspresi Bintang yang tengil, Langit hanya bisa menahan gemas dan mengusak kasar rambut remaja yang lebih kecil darinya itu. "Masnya yang nyanyi bagus ih" komentar Bintang tiba tiba membuat Langit yang sedang fokus memakan bakaran pilihannya itu langsung melotot. "Baguss?? Ih apa apaan?" "Masih bagusan aku" "Idih, pede mampus lo" "Lah ngeyel" "Mana buktiin" "Okee"


Lelaki April itu membersihkan tangan dan bibirnya dari saos yang belepotan, lalu dengan semangat mendekatkan dirinya kearah Bintang yang sedang selonjoran bertumpu pada kedua tangannya yang berada di samping tubuhnya. "Kalo aku berani. Kamu mau kasih apa?" "Aku kasih hadiah" "Beneran?" "Iyaaa" "Hadiah beneran bukan prank?" "Iyaaa Langitttt" "Okeee!! Deal" *cup. Kebiasaan memang. Sambil mengucapkannya dengan semangat, Langit tinggalkan kecupan di pipi Bintang sebelum berlari ke arah live music yang tidak jauh dari mereka. "Hhhhh Langit lo tuhhh!! Arghh!!!" "Halooo selamat malam semuanya" "Malamm" "Aduh, maaf nih jadi ganggu live musicnya ijin ikut nyanyi hehe. Saya Langit, dan yang duduk disana yang cantik itu namanya Bintang" "Wooowww wkkwk" Respon pengunjung lain yang ikut tertarik dan heboh menanggapi Langit.


"Cocok banget kan? Tapi sayangnya saya cuma temennya hahahh" "Sama aku aja gantengg" "Aduh gimana tuh? Pawang saya galak tapi wkwkw" "Oke jangan banyak basa basi, disini saya mau bawain lagu spesial buat my star" "Kiwwww piuwiitt" Lebih dari bintang - Lyla Ku pejamkan mata ini saat ku rindu hadirmu Maka tak sedetik pun bayangmu menghilang Begitu hebatnya rasa yang tuhan sedang titipkan Untukku untukku untukku Padamu padamu hanya padamu Kau lebih dari sekedar bintang bintang Kau lebih dari sekedar sang rembulan Bagiku kau ratu penguasa isi hatiku Kau lebih dari sekedar bintang bintang Kau lebih dari sekedar sang rembulan Ku pastikan aku selalu ada untukmu


Click to View FlipBook Version