The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 21:21:54

langit

samoyedd

"Pliiss gue lagi gamau bercanda" "Bintaang??" Teriak seseorang yang terdengar begitu pelan. "Eh? Bentar Langit, lo diem sini" "Hadehhhh udah dicariin lagi aja. Apaaansihhh kesel gue" *ceklek "Eh kakak? Kenapa?" "Mmm, ngga papa. Kakak mau pamit aja, mau pulang" "Ohhh.. okaay hati hati kak" *cup Duh, membeku tubuh Bintang sekarang setelah tiba tiba bibir lembut dan kenyal itu mendarat tepat di dahi mulusnya. "Kakak pulang dulu. See you little star" Suara pintu yang tertutup dari luar menyadarkan Bintang dari keterkejutannya.


Jujur Bintang sangat rindu dengan semua perlakuan, afeksi dan kata kata manis Jovan padanya. Namun, tembok yang tak sengaja Bintang bangun berpondasikan rasa kecewanya selalu membatasinya. "Sialan. Main nyosor aja tuh cowo" "Tau dah. Pokoknya gue kesel" —------ "Langit!" "....." "Laangitt!!" "....." "Langit Adinata! Sini lo, ngapain sih lo mojok disitu? Ngambek lo jelek"


"Sini ish. Gue mau curhat" Oke ini kesempatan Langit untuk mencari tau sebenarnya siapa laki laki tadi. Hingga dia memutuskan untuk menyusul Bintang keatas kasurnya dan meringkuk di sampingnya. "Liat, cantik ngga?" "Heuhhh, itu pasti dari cowo tadi kan? Klise" "Pertama kali setelah setaun lebih gue bisa ketemu kak Jovan lagi" "Kak Jovan masih sama. Manis, perhatian, gentleman, dan menyenangkan" "Idih. Gitu doang gue jg bisa"


"Tapi, perasaan gue kenapa terasa beda sama yang dulu ya?" "Hah maksud lo? Jangan bilang dia pacar? Ato mantan?" "Langit, menurut lo kalo gue buka hati lagi buat kak Jovan gimana?" "Nggaaakkk!!" "Woofff" "Heh. Malah triakk. Jangan kenceng kenceng ish" "Ngggaaa! Jangan!" Dengan gerakan tiba tiba, Bintang bangun dari posisi terlentangnya dan membuka nakas mengeluarkan box kecil dengan merk terkenal diatasnya yang tentu Langit kenal dan tahu apa itu.


"Cincinn?" "Tang.. lo udah nikahh??" "Tolong bilang ngga. Tolong.." "Udah setahun lebih juga ngga pake cincin ini heheh" "Bintaaangg jangan bercanndaaa" "Langit. Menurut lo, kalo orang yang pernah selingkuh itu, bisa dipercaya lagi ngga?" "Hah? Selingkuh? Cowo tadi? Selingkuh?" "Bajingan. Berani beraninya nyelingkuhin Bintang" "Gue ragu" "Dulu Ayah batalin pertunangan kita karena kak Jovan selingkuh. Tapi semuanya berakhir damai. Kak Jovan juga udah minta maaf" "Ohh baru tunangan" "Tapi brengsekk benerr tu cowok. Gue grauk juga tuorang" "Kalo gue ditanya apa gue sayang kak Jovan? I do." "But, i don't know i can trust him again just like before or not" "Ya lo ngertik lah ya? Trust issue gue langsung ketrigger kalo inget kesalahan kak Jovan yang itu"


"Udahh.. cowo kaya gitu gapantes buat dipertahanin Bintang. Mending gue" "Tapi sialannya gue anjingg. Mana mungkin sama lo" "Duhh.. bisa ga si gue balik jadi manusia?" "And, seminggu lagi ulang tahun kak Jovan. Dimana itu selalu ada sesuatu yang sepesial. Apa itu alesan dia pulang dari London?" "Anjir? Jangan bilang 14 Februari yang dilingkarin bintang di tanggalan pake inisial J, itu ulang taunnya Jovan?" "Sialaann" "Apa gue harus nunggu, dan berharap, apa yang akan terjadi di ulang taun kak Jovan nanti?" "Menurut lo apa Langit?" "Menurut gue lo harus tolak dia. Trus sama gue aja" "Ngimpi aja terus Je. Siapa juga yang mau sama anjing" "Oke karena lo diem. I'll wait for that day" "Bangsatt" —-------


[8 : 14 Februari 2.0] Mau sebanyak apapun Jehan dan Rega memarahi Bintang karena dengan mudahnya memaafkan juga kembali dekat dengan Jovan, Bintang tetaplah Bintang. Dia akan selalu memikirkan orang lain, orang tuanya, sahabat sang Ayah yang sudah seperti keluarga, Bintang tidak bisa mengabaikan itu semua begitu saja. Hingga ia lupa, ia telah mengabaikan lukanya. "Bintang, besok ulang tahun si Jovan. Lo yakin dia gak bakalan berulah?" Tanya Jehan kepada Bintang yang sedang asik menyisir bulu milik Langit. "Gatau dah, aman aman aja prasaan" "Tang, gue tau ini sebenernya diluar dari ranah gue, tapi kalau gue boleh bilang jangan terlalu cepet percaya lagi sama dia. Gue takut lo bakal sakit lagi" "Jujur gue juga takut Je. Tapi Ayah, bunda, om, tante Narendra berharap banyak sama gue" "Hah? Ternyata Bintang dijodohin? Ah elahh ini udah bukan jaman siti nurbaya lagi ege" "Yang jalanin hubungan itu lo, yang bakal hidup sama dia itu lo, ya harusnya mereka hargain keputusan lo dong" "Gue ngga mau kecewain mereka Je" "Yang kecewain mereka itu Jovan. Bukan lo" "Entahlah Je."


"Dengerin hati lo Tang, yakinin. Jangan cuma mikirin orang lain, tapi lo juga harus dengerin diri lo sendiri" "I will" "Yaudah. Gue nyusul Rega dulu latihan futsal" "Iyee, thanks udah anter pulang" "Iyaa. Istirahat" "Hmmm" —------- Pagi hari, Bintang bangun dengan kepalanya yang terasa pening. Bintang memikirkan banyak hal semalam, menyaksikan perang perasaan dan logikanya, mendengar perdebatan hati dan pikirannya. "Langit, boleh ngga si gue berharap kalo hari ini ga ada apa apa?" "Jujur gue ga siap akan segala kemungkinan, kenapa rumit bgt ya gue?" "Gue juga ngarep gitu. Semoga aja tuh bagong langsung balik london" "Tapi, dulu setiap ulang tahun kak Jovan selalu ada sesuatu. Kaya yang pertama tuh tiba tiba ada dinner bareng trus ngenalin kak Jovan ke gue trus taun selanjutnya ngomongin soal perjodohan, tahun selanjutnya gue tunangan sama dia, tapi tahun terakhir, malah kak Jovan ketauan selingkuh. Sekarang apa ya?" "Sekarang gue yang bakal lamar lo" "Teruslah berhalu Je"


"Dahhlahh gue males mikiirr, gue mau balik tidur aja" "Et dah, jam segini balik tidur. Udah jam 10 woi sana sarapan kek" "Oiya lo belom makan" "Lah malah gue yang dipikirin" "Makan dulu deh. Gue ambilin ya? Tunggu sini" —---- "Eh cantik udah bangun" sambut bunda yang sedang sibuk di dapur entah melakukan apa. "Sibuk amat bun pagi pagi. Bikin apa?" "Bikin cookies" "Assiiqqq Bintang punya banyak amunisi" "Hahaha, punya Bintang 50% aja" "Loh 50nya?" "Punya Jovan" "Ih apaaann. Gak gak. Ngapain bunda bikin buat kak Jovan?" "Loh, hari ini kan dia ulang tahun, ya bunda bikinin cookies kesukaan dia. Orang dia yang minta, nanti mau dibawa ke London" "Nanti?" "Eh, maksudnya ngga nanti juga balik ke londonnya, besok atau lusa mungkin?"


"Ooohh… yaudah Bunda geser dikit bintang mau masak ayamm" "Kamu ini ayam terus ga bosen apa?" "Sehat bun ayam" "Sehatt sih sehatt, tapi kamu ngemil ayaaam terus emang ngga bosen?" "Yaudah nanti ganti beef" "Hadehhh sama aja" "Kak Jovan mau balik London? Dan dia gabilang gue?" Selesai dengan urusan ayamnya, dan mencomot beberapa dari cookies bundanya yang baru saja matang, Bintang kembali ke kamarnya dengan mood yang sedikit buruk. "Ih yaudah si kalo ngga bilang. Emang knp? ya biarin aja" "Lah lah.. ngapa nih balik balik badmood" "Ini, lo makan ya abisin. Gue mau balik tidur aja" "Bin binn, kenapa sii?" Langit berusaha untuk menarik perhatian bintang dengan mendusal padanya, tapi Bintang hanya diam. "Lo udah melalui banyak hal ya? Di umur lo yang segini"


"Kenapasih gue labil?" "Udah lah tang, jangan terlalu naruh perasaan ke orang lain. Jangan telalu percaya, lo bisa sakit lagi kapan aja" Bintang menutup matanya, dan berhadap dengan ia tidur, ia sejenak lupa dengan hatinya. "Eh, tidur beneran. Yaudah tidur yang nyenyak ya my star, gue balik ke neverland. Lu ngga kunci pintu takut bunda masuk" "Pengen banget gue cium elah. Tapi pake bibir gue… aaarrrghhhh" —------- *tok tok "Bintang?" *ceklekk "Huh? Siapa yang masuk kamar Bintang?" Sudah sejak satu jam yang lalu Bintang kembali meringkuk di kasurnya dan tidak bergerak. Langit yang berada di neverland yakin betul bahwa bintang sedang tidur. Jika tidak, maka dia akan berada bersamanya sekarang.


Mendengar pintu kamar Bintang yang dibuka, Langit mengintip dari lubang yang sengaja di berikan di pintu neverland. "Anjir ngapain si bagong masuk masuk kamar Bintang anjir" "Sialan" Yap, si manusia yang sedang berulang tahun itu baru saja muncul. Setelah mendapatkan izin Bunda, Jovan langsung berlari ke kamar Bintang dan mendapati remaja yang lebih muda 3 tahun darinya itu sedang tertidur dengan nyaman. Perlahan Jovan usap wajah cantik dengan mata tertutup itu. Saat itu, saat Jovan mengatakan bahwa dirinya menyayangi Bintang, itu bukanlah sebuah alasan untuk menyelamatkan diri, ataupun membela diri. Jovan memang merasakannya, dan mengatakannya sesuai isi hatinya. Kala itu, Jovan hanya terlambat menyadarinya. Ketika remaja yang selalu menghadirkan senyum diwajahnya itu, berjalan mundur untuk menghindarinya, Jovan merasa hancur. Dan dirinya yang harus hidup jauh dari Bintang, mengajarkan Jovan betapa berharganya berlian yang sudah dia pukul hingga menimbulkan retakan disana. Merasakan usapan konstan di wajahnya membuat tidur Bintang terusik. Dan ketika ia membuka matanya, pandangannya penuh dengan wajah tampan dengan senyum berlesung pipit yang membuat pahatan Tuhan itu semakin sempurna.


"Hai, little star" sambutnya "Uh? Kakak? Ngapain disini?" "I'm looking for you. Trus Bunda kamu bilang suruh liat aja kekamar kamu. Ternyata kamu masih tidur" "Hehehe.. kenapa nyariin kak?" "Mau pamer rambut baru" "Ohhh.. hahahaha beneran diganti dong" "Ya kamu bilang kepalaku kayak permen gulali, jadi yaudah aku ganti" "Wkwk ganteng" "Apaan? Gue bisa lebih ganteng kali tang" "Hhh.. salting nih aku" "Idih" "Eh, bangun gih" "Kenapa kak?" "Mau jalan jalan ngga?" "Kemana?" "Udah nanti kakak kasih tau. Mau ngga?" "Give me 30 minutes, is it okay?" "Kakak nunggu kamu seumur hidup aja mau" "Dih. Bacot" "Dihh. Apaan gombal bgt" "Mantab Bintang. Lo emang sehati sama gue"


"Yaudah kakak tunggu dulu." "Key" —---- Setelah selesai dengan persiapannya, Bintang berjalan turun ke lantai bawah dimana Jovan sudah menunggunya sambil mengobrol dengan sang Bunda di ruang tengah "Aduhh, cantiknya anak Bunda" sambut Bunda dengan senyumannya yang begitu cantik. "Iyaa lah, kan anaknya Bunda wkwkw" "Haha, indedd. Udah? Berangkat sekarang?" "Ayo kak" "Tante, saya culik dulu bintangnya" "Iya, hati hati ya sayang" "Siap tante" "Byee bunda" "Have funn" "Semoga aja lo pulang bawa kabar baik. Buat gue" —- "Kak kita mau kemana sih?"


"Gatau sih. Kakak cuma pengen sama kamu aja" "Dihh, kalo gt mah tadi dikamar bintang juga bisa" "Ide bagus. Balik aja apa kita, trus seharian dikamar kamu?" "Kakk! Ih" "Loh, salah lagi aku?" "Lagian kakak aneh, masa ngajak jalan jalan tapi ngga tau kemana" "Ya strolling around aja, nabung buat nanti aku balik london ga balik satu semester" "Oiya, kata Bunda tadi kakak mau balik. Kapan?" "Besok" "Kaakk kok cepet banget?" "Hehe maaf ya, soalnya kakak ada project di kampus, jadi ngga bisa lama lama disini" "Ih kakak gaasik" "Nanti kamu aja yang ke london kalo kangen kakak" "Aku disuruh nyamperin gitu? Mager banget" "Hahaha, kamu tuh ya gemesnya ga berubah" "Wwkwkwk" —--- Setelah menempuh 1 jam perjalananan, akhirnya mereka berhenti di satu lokasi yang sejujurnya Bintang tidak tahu tempat apa itu. Jadi Bintang hanya mengikuti langkah kaki laki laki Naratama itu, dengan satu tangannya yang digenggam erat. Ketika mereka berhasil masuk, Bintang melihat hamparan bunga warna warni yang luar biasa cantik, dengan danau yang memantulkan cahaya sang surya, menjadikan tempat ini terlihat indah dan sempurna.


"Woowww cantik bgt bunganya" "Tapi masih cantikan kamu" "Kak, kamu tuh di london kuliah bisnis apa nggombal sih? Dari tadi juga dangdut bgt" "You always love that stuff back then" "Ya sekarang mah ngga ih" "Udah, ayooo kita kelilingg" kata Bintang sambil menarik lengan yang lebih tua untuk mengikuti langkah kecilnya. "Sebesar itu aku nyakitin kamu ya bintang?"


Puas bermain di taman bunga, Jovan kembali membawa langkah Bintang yang kali ini, Bintang begitu familiar dengan tempat ini. "Ahhh.. tempat ini" Bintang tidak akan pernah lupa. Tempat dimana Jovan sering bersamanya, menghabiskan waktu mereka. Dulu.


Jovan memarkirkan mobilnya seperti dulu. Dan sejenak keduanya terdiam. Yahh, Jovan tau bahwa tempat ini akan selalu bring back their memory. "Mau turun?" Katanya memecah keheningan. "Oh, iya ayok kak" Bintang membawa langkahnya turun dari kendaraan roda empat itu, dan memandang lurus kedepan, tidak ada yang berubah memang. "Masih mau kakak bantu duduk di kap ngga? Apa bisa sendiri? Wkwk" "Hehe" Dengan cekatan, Jovan meraih pinggang ramping Bintang dan mengangkatnya untuk membantunya duduk di kap mobilnya. Dan disusul oleh dirinya. Lagi lagi, keduanya terdiam. Pemandangan dihadapan mereka masih sama indahnya, namun suasana diantara mereka tidak sehangat biasanya. Tidak sehangat semestinya. "Bintang" kata Jovan akhirnya memecah keheningan. "Kak. Happy birthday" sahut bintang sambil menoleh dan tersenyum hangat. "Hhh.. aku kira kamu lupa" "Mana mungkin?. Di setiap ulang tahun kakak, selalu aku yang dapet kejutan. Ga mungkin aku lupa" kembali Bintang menerawang ke arah hamparan langit dihadapannya. "Bintang" kata Jovan begitu lembut, dan meraih satu tangan Bintang.


Kosong. Tidak ada lagi cincin pemberiannya disana. "Kenapa kak?" "I want to say sorry to you darl. Kakak tau, sulit bagi kamu buat percaya lagi sama kakak setelah apa yang kakak lakukan. Dan kakak juga tau, mungkin kakak ini ga pantes buat kamu. Tapi, kakak ngga bisa bohong bintang. Kakak ngga bisa bohong kalau kakak pengen kamu kembali lagi ke kakak. Seperti dulu" Panjang lebar Jovan berbicara mengungkapkan perasaannya. Jovan ingin, ia kembali ke London dengan perasaan bahagia, dan tujuan kepulangannya tercapai dengan sempurna. "Mungkin juga sulit buat kamu maafin kakak, i know. Kakak gatau diri ya? Kakak egois ya?" "Maaf darl." Apa yang Bintang pikirkan semalaman kini benar benar terjadi. Lalu sekarang bagaimana? Bintang harus apa? Bintang memang menyayangi lelaki Naratama itu, tapi apa yang menjamin Jovan tidak akan melakukan kesalahannya lagi? Apa yang akan menjamin hatinya tidak akan disakiti lagi? Belum selesai, Jovan mengeluarkan kotak kecil. Lagi lagi. "Can we start all over?" "Kak?"


Sebuah cincin. Yang bahkan sangat manis, lebih dari yang ia simpan didalam nakasnya. Apa? Ini jaminannya? Apakah benda kecil seharga mobil itu yang akan menjamin hatinya? Yang akan menjamin kebahagiaannya? "Can we?" "Kak, Bintang udah maafin kakak dari dulu" "Tapi Bintang masih kecil kak. Bintang masih kekanak kanakan, suka ngambek, nyebelin juga, Bintang masih perlu banyak belajar soal hubungan kak" "Dulu, memang kita bisa bersama karena kakak selalu ada disini, di samping aku" "Tapi sekarang kakak jauh, gimana nanti kalo aku cemburuan? Gimana nanti kalo aku posessive?" "Papa, sudah berbicara dengan Ayah kamu. Jika memang harus, kamu bisa ikut kakak ke London. Kita tinggal disana sementara kakak kuliah" "Kakk. Kakak pasti bercanda" "No. I'm not. Kakak pun ngga bisa jauh dari kamu Bintang" "Mulai deh kakak" "Serius. Kamu udah jebak kakak sampe kakak jadi begini" "Kak boleh ngga sih aku tanya?" "Hmm?" "Bintang bisa percaya sama kakak ngga?" "Kepercayaan ya? Bodoh kamu Jovan"


"I'm so sorry darl. Maaf kakak udah lukain kepercayaan kamu dulu" "Kak aku nanya. Dan itu bukan jawaban buat pertanyaanku" "I promise you darl. It won't happened again." "Promise? Can i believe it?" "Kak. Boleh ngga Bintang minta waktu? "Hmm?" "Biar Bintang belajar dulu, biar Bintang tau dulu soal dunia ini. Biar Bintang, jadi seseorang yang pantes buat kak Jovan. Boleh?" Jovan jelas tau. Bintang masih belum sembuh dari lukanya. Bintang masih belum bisa mempercayainya. Dan semua itu adalah kesalahannya. "Tadi kakak bilang kan? Seumur hidup pun kakak mau nungguin kamu. And i mean it dear" "Seumur hidup ya?" —----


—------ "Sumpah Bintang kemanasih? Ini udah malem anjir" Langit masih sangat setia menunggu kepulangan Bintangnya dengan cemas. Seolah telepatinya terhubung, terdengar suara pintu kamar Bintang yang terbuka.


Langit bergegas mendekat kearah pintu dan melihat dari lubang yang sama dengan sebelumnya. Langit yang awalnya eksaitit dengan kepulangan bintang, mendadak lesu. Ketika seseorang yang ia tunggu sejak tadi, pulang dalam dekapan orang lain. "Shit" Bintang tertidur didalam mobil Jovan ketika perjalanan pulang. Dan, Jovan menggendong Bintang masuk kedalam kamarnya. Tak tega membangunkannya katanya. Dengan perlahan Jovan tidurkan Bintang diatas kasurnya. Dan ia sibakkan rambut yang menutup wajah ayu itu. "Udah tidur ya?" Jovan dikagetkan dengan suara Bunda yang tiba tiba muncul di ambang pintu. "Oh, iya Tante. Tadi ketiduran di mobil Bintangnya." "Jovan, saya tau kamu mau bawa dia ke London" "HAHH? ANJENG? APA APAAN?" "Dan kamu pikir saya akan setuju dengan itu?" "Tante, maaf saya belum berbicara dengan tante soal ini. Karena Bintang juga belum mengatakan keputusannya" "Lalu? Sekarang?"


"Dia sudah mengatakannya tadi tante. Dia ingin waktu, saya rasa itu jelas. Dia tidak setuju dengan itu" "Tante tau Jovan. Kamu sudah berusaha dengan baik, mungkin agak sedikit sulit bagi Bintang untuk kembali percaya padamu" "Saya tau Tante, saya menyesal" "Sudah sudah. Istirahatlah besok kau harus kembali kan?" "Ah, tante. Bolehkah saya meminta ijin?" "Apa?" "Untuk malam ini saja. Saya ingin disini. Setelah ini, saya tidak bisa pulang dalam waktu yang lama. Boleh kah?" "...." "Mmm baiklah jika memang…" "Jangan kunci pintunya" "Huh?" "Tante bilang jangan kunci pintunya" "Baik tantee. Terimakasih banyak" "Tidurlah" "Anjeng lu bagong. Anjeeenggggg" —----- Jovan menyusul Bintang diatas kasurnya, dan masuk keselimut yang sama. Jovan pandangi wajah manis dengan bulu mata cantik dan bibir mungil lucu itu. "Hhh.. kamu tuh ya. Kalo diliat liat makin gede makin cakep"


"Kok aku bego bgt ya dulu selingkuh sama cewe gajelas saat aku punya kamu?" "Dan sekarang, kamu kayak jauh banget dari aku. Ini karma buat aku ya?" "Tapi, aku bakalan selalu nunggu kamu bintang. Kecuali kamu yang suruh aku untuk berhenti dan pergi" "Selama itu belum terjadi, maka aku akan tetap disini" Jovan tutup monolognya dengan mencuri kecupan singkat di dahi dan kedua mata Bintang. Jovan berfikir dulu sekitar satu menit sebelum mencuri ciuman di bibir manis Bintang. "Kalo dia tau, pasti marah marah aku curi bibirnya" "Sumpah Jovan bajingaaannnnn" "Udah nyuri posisi gue. Kasur gue. Bintang gue, sekarang bibirnya bintang jugaaa. Anjengggg" "Udah berbulan bulan gue yang pengen cipok dia malah si Bagong yang dapett" "Ya Tuhann. Kejam sekali takdirmu padaku" (Pray for Langit).


[9 : Marah] "Hooahhhmmmm" "Loh Langit?" Pagi pagi, nyawa masih belum terkumpul sempurna Bintang sudah dibuat terkejut ketika tidak ada Langit dikasurnya. Itu sangat tidak biasa, karena Langit akan selalu terbangun dipelukannya. Dan hal yang pertama kali Bintang lihat saat membuka mata adalah pasti Langitnya. Tapi pagi ini berbeda, entah bagaimana Langit tidak ada di dekapannya. Dan mana mungkin, Langit bangun lebih dulu daripada dirinya? Itu sangat tidak mungkin. Bintang masih belum sadar apa yang terjadi sebenarnya. "Langitt.." "Hah? Dia tidur? Di Neverland?" Yup, Bintang menemukan Langit yang tertidur di rumah anjingnya, tertidur untuk pertamakali disana. Setelah sekian lama rumah anjing itu ada disana. "Laaangittt… ngapain lo pindah kesini sih? Kaget gue gaada lo di kasur" Tak ada jawaban dan pergerakan sama sekali.


"Langiittt, bangun ih" Sebanyak apapun Bintang berusaha untuk membangunkan Langitnya, gumpalan daging berbulu itu sama sekali tidak merespon. "Ih. Yaudah deh, gue mau mandi sekolah. Serah kl lo mau ngambek" "Bodo lah. Gue ngambekkk" "Ih, langit kenapasih? Aneh deh" —---- "Pagi anak Ayah" sambut Ayah ketika Bintang turun dari kamarnya menuju ke ruang makan untuk sarapan tentu saja. "Loh Ayah? Kapan sampai?" "Tadi malem" "Kok Bintang gatau?" "Gimana mau tau, kalo udah dipeluk ayangnya tidur puless banget. Mau ada perang dunia ke 3 juga gabakal bangun" *Deg Seketika gerakan Bintang yang sedang memegang segelas susu mendadak berhenti.


"HAHHH? DIPELUK AYANG? B-BUNDA.. LIAT LANGIT?" "Sayang, jangan gitu. Liat Bintang jadi kaget" "LOH?? AYAH?? GMN SIH?" "Jadi? Kamu baikan sama Jovan?" Tanya Ayah. "Oooohh.. kak Jovan" Dah sekarang udah lanjut minum susunya. Udah ga panik. "Udah lah sayang… orang tidur aja kekepan erat banget masa ga baikan" *UHUKKKK.. UHUKK.. "Eh, eh, sayang.. hati hatii pelan aja minumnya" panik deh tuh Ayah liat bintang keselek. "*uhukk.. Apa Bun?" "Kamu kan semalem tidur ditemenin Jovan, kenapa kaget gitu?" "Hahhhh??? Yang bener?" "Loh, kamu ini gimana? Orang kamu sendiri semalem yang peluk dia ndusel ndusel gitu" "Anjirr gue kira gue tidur sama Langit?" "Nggak. Kata gue lo tolol bin. Orang Langit berbulu kak Jovan ngga lohhh. Bisa bisanya lo anjirrr"


"Loh, kok bunda tau si? Bunda ngintip?" "Ya kan bunda jagain anak gadis bunda. Takut si Jovan macem macem" "Alah, mana berani si Jovan. Dia Ayah pelototin aja menciut" "Betul Ayah" "Tapi kok, bunda sama ayah bolehin si kak Jovan nyusul Bintang tidur?" "Ya soalnya kemaren dia bilang kalo, dia bakal balik ke London siang ini, trus katanya nabung buat bekal di London ga ketemu kamu. Yaudah bunda bolehin" "Aduh. Bundaaa.." "Lagian dulu jg sering kamu tidur ditungguin Jovan" kata Ayah "I-iya sih.." "Ya udah kan?" "I-iya sih.." "Udah… kalian berangkat sana udah mepet waktunya" "Iya deh, Berangkat dulu bun" "See you sayang" "See youu.." —---- "Bestodd"


Haduh. Bintang kalo udah ketemu 2 sahabatnya emang otak selalu lupa ditaruh dimana. "Oyy.." sahut si Leo "Loh, Rega mana?" "Ketoilet dia, beser kali awkwk" "Oalah, makanya dipasang keran biar ga beser" "Mulut lo ya tang." "Wkwkkw" "Eh, gimana? Udah balik tu si Babi?" "Hah? Siapa?" "Jovan lah siapa lagi" "Ohhh.. siang ini katanya" "Eh lo tau ga njing… masa.." "SETOP. GUE JANGAN DITINGGAL" teriak si aries ketika Bintang bersiap untuk sepil the tea. "Apaan?" "Kaget banget gue semalem kak Jovan ternyata tidur di kamar gue njir" "HAH?" Kaget keduanya "TUH KAN. ANJING EMANG" aduh sipaling sumbu pendek emang gimana ya.


"Tenang ish gaa. Tapi aman kok" "Aman gmn maksud lo?" Tanya Jehan "Ya gue bangun masih pake baju?" "Kalo dipakein lagi?" Tekan Rega "Gaada tanda apapun?" "Kalo dia ga bikin tanda?" "Ya gue masih sehatt?" "Siapa bilang abis ngewe jd tipes?" "Rega! Congor lo" tegur Jehan. "Kok bisa dia tidur di kamar lo? Emang ayah sama bunda bolehin?" "Nah itu. Lo pasti kaget" Bintangpun menceritakan fakta pagi ini yang sangat membagongkan. "Perjodohan emang beda ya?" "Bisa bisanya lagi kelon di pantau ayah bunda" geleng kepala deh dua duanya. "Tapi tetep ya tang. Lo gaboleh percaya semudah itu. Lo jangan lupa dulu Jovan selingkuhin lo karena nafsu dan sama cewek murahan" "Iya Je. Gue bakal jaga diri" "Dan semalem, gue juga nolak kak Jovan" "HAH? NOLAK?" "Dia mau lanjutin pertunangannya, dia bawa cincin lagi. Katanya yang lama penuh luka. Dan dia bahkan izin sama Ayah buat bawa gue ke London" "ANJING. GABISA!" teriak Rega.


"Gue juga gamau kalo harus ke London. Gue mau sekolah disini, sama kalian" "Ucucuucucuu cocwiit" "Trus lo bilang apa?" "Gue minta waktu?" "Hmmm… ya oke sih. Tapi cepet pastiin aja, kalo ngga ya bilang ngga ke dia, biar jelas" saran Jovan. "Bener juga" "Gampang dah itu" "Iyadah" —----- "Langit masih ngambek ga ya?" Begitu sampai rumah, yang pertama kali Bintang lakukan tentu saja mencari Langitnya. Tapi, neverland tampak sepi. Langit tidak terlihat sama sekali dimana dia. Dan astaga, tempat makannya masih penuh tidak tersentuh. Langit kemana coba? Bintang berkeliling neverland mencari ke setiap sudut ruangan dimana Langit sebenarnya.


Dan… kaget lah Bintang melihat Langit yang entah kenapa menatapnya nyalang di balik tembok, seolah punya dendam kesumat. "Sumpah Langitt.. lo ngapain disitu??" "Sini weh" Lagi lagi tidak ada respon. "Kenapasi ni bocil?" "Sini gak lo. Gue kasih kanzler deh" "Gak mempan" "Yang keju???" "No" "Duaa??" "Menarik, but still no"


"Ayolahhhh lo kanapasihh?" "Kmuh menyakiti hati mungiel ku" "Sini gak lo!" "Gak" "Okeee… gue tinggal" "Rayu kek apa kek. Malah ditinggal. Gatau ahh kesel gue"


"Lagian kenapa ni bocah ngambek sih? Salah apa gue ya?" —--- "Langiiittt… snack timee" Sumpah ya.. lama lama Bintang ikutan ngambek juga nih. Dari tadi ngga diwaro sama si Langit. Dia masih dieeemmm aja mojok.


"Mau nggaaa?? Ini snacknya enak loh, snackbar kesukaan lo. Gue kasih 2 dehh.. mau gaa??" "Anjir enak tuh" "Mau nggaa??" "Demi snack barr!!! Aku akan memaafkan mu untuk 10 menit kedepan" "Beuhhh… giliran snackbar aja mau ni bocil" 2 snack bar yang Bintang letakkan di mangkok warna biru milik langit habis dalam waktu singkat. Dan langit masih saja cuek padanya. Entahlah, Bintang sungguh tidak tau apa yg terjadi. "Lo kenapa sih heh?" "Okee, kalo ini semua karena gue kemaren ninggalin lo, oke gue minta maaf" "Tapi kan, kak Jovan mau balik london? Ya oke kan kalo gue nemenin dia sblm dia balik?" "Sekarang kan waktu gue buat lo semua" "Udah ya jangan ngambek dongg. Galau nih gue" "Bukan masalah itu Tang. Bibir looo!!! Anying bibir looo!! Diserobot ama sibagongg" "Itu kan bagian gueee" "Mmarrahhh" "Lo jangan diem aja ngapa?" "Jawab gue dong" "Hhhahhh… yaudah. Terserah lo, take your time"


"Sakidd hati ku kakk, kenapa aku gabisa jadi manusia? Kenapaaa" "Gue kan siluman jugaa" —------ Langit sudah gelap. Iya soalnya udah malem jadi matahari sudah menyelesaikan tugasnya hari ini dan diganti oleh bulan untuk menyinari bumi. Tapi, Langit yang satunya lagi masih betah didalam ruangannya. Tidak sadar kalau Bintangnya sudah menunggu sang Langit datang padanya. "Gue seret juga tuh bocah lama lama" Dengan membabi buta, Bintang membawa Langit dengan paksa keluar dari ruangannya dan membawanya kekasurnya. Langit sedikit berontak tapi Bintang bisa mengendalikan sianjing menyebalkan itu. "Temenin. Gamau tau" "Dih apaan? Minta temenin kakak lo tercinta sono. Kesel gue" "Heh! Mau kemana lo?" Langit sudah siap untuk menuruni kasur Bintang namun, suara Bintang yang meninggi seketika membuat Langit menciut. "Udah. Tidur sini! Jangan bandel"


"Kok jadi lo yang marahh sih? Disini gue yang disakitinn kok lo yang marah?" (Ya lo mikir ajaa lah. Mana bintang ngertii??) Tapi, yaudah ya, namanya juga anak muda. Tak lama setelah berdebat, keduanya tertidur saling memeluk seperti biasa. Ya walaupun masih dengan kekesalan mereka masing masing namun, pelukan hangat itu sedikit meredakan badai yang mereka ciptakan sendiri. —------


[10 : Birthdays] Yahh, hari hari berlalu. Tapi, perang dingin diantara Bintang dan Langitnya entah kenapa belum reda. Bintang pun sudah mengusahakan segala cara, namun Langitnya masih saja mendung. Langitnya belum cerah seperti sedia kala, masih ada gerimis disana. Bintang sangat rindu dengan Langitnya, tapi entah bagaimana dan harus berbuat apa, Bintang tidak tahu.


Bahkan, sudah satu bulan lebih Langit cuek kepada Bintang. Namun, Langit belum puas juga bersikap dingin dan menghindari Bintang. Tentu Saja Bintang dibuat bingung dan juga rindu tapi ia tidak tahu apa yang telah bintang perbuat dan bagaimana memperbaikinya. "Langit, lo kenapa sih?" "Bentar lagi gue ulang taun, dan lo masih aja mau cuek sama gue? Gue salah apa sih?" "Ngga bintang, lo ga salah. Gue aja yang cape dan pengen nyerah" "Is that something bothering you?. Come on, you can tell me" "Ya gimana coba? How can i tell you? Bahkan bilang gue cinta sama lo aja gue ga bisa bintang?" "Besok loh, besok banget aku 16 tahun. Kamu jangan ngambek dong besok pliis? Besok doang gapapa deh, abis itu lo ngambek lagi gapapa. Gue kangen sama lo, gue kangen tingkah lo, gue kangen semuanya. Pliiss??" "Gue juga kangen, tapi sumpah gue kesel bgt sama takdir kenapa gue harus ketemu lo saat gue udah mati? Saat jiwa gue kejebak di tubuh anjing begini. Kenapa gue ngga ketemu lo saat gue adalah Jezziel? Kenapa Bintang?" "Jangan muka sedih gitu dong. Gue ngga tau harus gimana buat nolong lo, dan ngertiin perasaan lo"


"How can I say Bintang?" "Will a warm hug make you feel better?" "Yea. But kiss sounds wayyy more better" Katakan Langit memang anak kurang ajar. Tapi tetap saja dia masuk kepelukan Bintang yang begitu penuhh dengan kehangatan. "Tuhan, apa maksud takdirmu aku berada di posisi ini? Kenapa kau memberiku cinta yang besar saat aku tidak akan pernah bisa memilikinya? Bukankah itu terlalu kejam?" "Love you Langit" "I hope i have a chance, just to reply 'I Love you more' Bintang" —---


Keluarga Adinata memang tidak pernah gagal ketika berhubungan dengan pesta. Dan setiap Tahun, Ulang tahun Bunda dan Bintang selalu dirayakan


bersamaan. Umur mereka yang terpaut 24 tahun, tidak menjadi suatu masalah untuk konsep party yang akan mereka langsungkan. Dan yah, look at that. Mereka bersama keluarga dan sahabat mereka begitu menyatu dan berbahagia bersama. Kecuali satu tentu saja. Langit Adinata. Satu anggota keluarga yang Bintang angkat itu, tidak bisa menjadi bagian dari pesta. Menyedihkan memang ketika Langit hanya bisa duduk di kamar Bintang menunggu Kesayangannya yang datang padanya. "Gini banget jadi antara ada dan tiada" "Ayolah Tuhann. Aku sudah hidup 18 Tahun tanpa cinta, dan hanya sibuk mencari soal keberadaan anjingku. Haruskah aku menjalani sisa hidupku tanpa bisa mendapatkan cinta ku yang pertama?" "Aku sendiri sudah iklas tubuh ku yang kekar dan wajahku yang tampan diganti dengan anjing gemuk berbulu ini. Minimal berikan aku sedikit hadiah" *ceklek "Laaangiitttt.. sumpah gue seneng bangett" Lamunannya dikejutkan dengan suara kunci dan suara pintu yanh terbuka tiba tiba. Disusul dengan teriakan bahagia dari kesayangannya.


"Tadi semuanya ngumpull. Bahkan tante pada balik dari luar negeri buat ikut ngumpull. Sayang ga ada kak jovan sih. Tapi tetep aja gue sneenggg banget" katanya beruntun sambil memeluk langit dengan erat. "Gue juga ikut seneng" "Apalagi kalo lo juga bisa ikut kebawah. Ihhh pastii seruuuu banget" "Hhh. Gaakan pernah ga si?" "Mmmm jadi kepikiran buat ngerayain ulang tahun lo nanti" "Hmm?" "Kita rayain sama Ega sama Jeje yokk?? Mau yaa??" "Aaaaa im so exciteedd" "Hhhh dasar bocil" —------


Setelah perundingan yang cukup alot. Ketiganya sudah memutuskan untuk pergi ke kota sebelah, 3 jam ditempuh dengan mobil. Disana banyak pemandangan indah dan merupakan kawasan yang jauh dari perkotaan. Pasti udaranya segar dan bersih. —--- "Yah, Bun. Weekend nanti, Bintang ama Jeje, ama Ega ijin pergi ya?" "Kemana sayang?" Tanya Bunda. "Ke kota sebelah" "Ngapain kamu kesana sayang? Jauh kan itu?" "Uh.. mm" "Pagii Bunda Kalaa, Ayah Chandra jugaa" astaga, suara keras pagi pagi sudah mengdara di rumah mereka. "Egaa. Bikin kaget aja, tumben banget kamu pagi pagi kesini?" "Iyaa Bun. Katanya, Bintang gaberani ijin sendiri makanya Ega temenin" "Tolol Ega." "Sayang, ke kota sebelah mau ngapain sebenarnya?" Tanya Bunda lagi "Ini loh bun. Ada tugas fotografi, disana bagus pemandangannya jadi ya kita pengen kesana." Ega kalo urusang ngeles emang jwara 1 "Berapa hari?" "Sabtu minggu aja pas weekend" "Nginep dong?" "Iyaa Bun. Soalnya kalo pp capek" "Udah sayang, ngga papa biar mereka pergi." Kata Ayah meyakinkan


"Iya sayang, ngga papa kok kalo mau pergi tapi dianter pak Tora aja ya? Jangan naik kereta" "Iyaa siap bun" "Bun boleh beneran?" Tanya bintang "Boleh lah" "Yeeee… makasih bundaa, Ayaahhh" "Hhhh, iya sayang. Udah sana berangkat keburu siang" "Oke bun" —----- Perizinan selesai persiapannya juga, diam diam di hari sabtu pagi dimana ayah sudah membawa bunda pergi, Bintang dan kedua sahabatnya mengevakuasi Langit untuk dibawa pergi ke tempat yang telah mereka pilih. "Ayooo berangkattt" Perjalanan mereka terasa begitu menyenangkan. Diiringi dengan suara musik dan suara Rega yang tak kalah kencang dari musik itu sendiri.


Click to View FlipBook Version