The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arion Nelson, 2024-05-28 21:21:54

langit

samoyedd

"Goddammit" "Bangkee, cakep banget lo langittt" Gemuruh tepuk tangan meriah Langit dapatkan, jujur dengan suaranya yang berat dan khas, lagu ini menjadi punya rasa tersendiri. Tepatnya di hati Bintang. "Anjir boleh juga" sambut Bintang ketika Langit kembali ke posisinya duduk disamping dirinya. "Kaaann?? Kamusih ga percaya. Aku tunggu hadiahnyaa hehe" "Kaleeemm"


"Yessss "


Setelah pertunjukan Langit yang begitu memporak porandakan hati seorang Bintang, kini keduanya kembali membelah jalanan. Entah kemana laki laki taurus itu akan membawanya pergi, Bintang hanya pasrah. Ia memilih untuk memeluk erat perut berotot Langit dan berusaha untuk tetap tenang, dan kalem. Walaupun jantung bintang sebenarnya udah berontak berusaha lompat dari dirinya. "Nahhh udah sampe sekarang"


"Ngapain parkir disini?" Tentu Bintang sedikit bingung, karena Langit memarkirkan motornya di tempat parkir umum, namun posisinya masih jauh dari alun alun kota. "Emang gaboleh?" Kata Langit sewot "Bolehh, cuman kaya ngapain gitu lo kan bisa parkir deket alun alun kalo emang mau kesana" "Akunya pengen jalan jalan" "Ih males ege jauhh" "Kamu males mulu. Udah sih ayo" Pemuda april itu tidak peduli Bintang yang menghela napas pasrah, dan meraih pergelangan tangan Bintang untuk dipaksa mengikuti langkahnya. Awalnya Bintang memang kesal karena harus menyianyiakan energinya untuk berjalan kaki, namun.. kekesalannya lenyap begitu saja ketika langit memindahkan telapak tangannya untuk menggeggam tangan Bintang dan memasukkan tangan keduanya yang bertaut kedalam kantung hoodienya. "Tangan kamu dingin" Yang lebih muda tiga tahun itu tidak menjawab apa-apa, karena sesungguhnya dia sedang sibuk menenangkan detak jantungnya. "Tau ngga Bin, aku pernah jalan jalan disini dulu pas aku studytour" "Ya.. ngga tau" "Ini aku kasih tau" "Hh ya trus?"


"Di tembok deket kafe itu aku liat poster yang keluargamu buat pas nyari aku soal Joey" "Oiyaa??" "Iya" "Wah jauh juga ya nempel posternya sampe sini" "Mungkin bunda menempelnya di seluruh kota" "Trus karena itu lo berusaha ke rumah gue dan kecelakaan?" "Ngga. Karena itu sekarang aku bisa sama kamu, jalan jalan sama kamu, genggam tangan kamu, walaupun dalam kondisi ku yang antara hidup dan mati" "LANGIT!" teriak bintang "Lo tuh jangan ngomong gitu kenapa?" "Kan bener?, dan aku bersyukur atas itu" Tidak mengerti. Bintang tidak paham apa yang Langit syukuri, bukan kah seharusnya sekarang langit kesal karena dia tidak bisa meraih mimpinya sebagai Jezziel? Kenapa malah dia bilang bersyukur? "Cantik mikir apasih" Tanya Langit dengan sengaja mengusak rambut Bintang karena melihat bintang yang melamun. "Kok bisa sih lo bersyukur? Saat seharusnya lo bisa jalani masa muda lo, raih mimpi lo" "Kaya, kenapa lo masih bisa bersyukur saat semua itu direnggut dari lo?"


"Hhh, memangnya kenapa aku harus ga bersyukur? Tuhan udah ganti duniaku yang dulu dengan ngasih aku semesta yang bahkan lebih baik" "Huh??" "Hadirnya kamu, itu kaya aku punya semesta" *bugh "Gombal banget njir" "Wkwkkw" "Boleh gue bales ga?" "Apa coba?" "Hadirnya lo, Bintang punya Langitnya, hadirnya lo, bintang punya tempat ternyamannya" "Duhh. Jir ngapain berenti" kaget Bintang karena langkah Langit yang berhenti tiba tiba membuat Bintang hampir saja limbung karena ingat mereka masih bertahan dengan genggaman satu sama lain. Sedangkan Langit dia memasang wajah kagetnya dan memandang Bintang dengan tatapan keheranan. "Apaan sih lo? Ayoo" "Bin, kamuu?? Coba coba ulang sekali lagi" "Gakk"


"Aaarghhh aku saltinggg" "Cium boleh ga sih?" "GAAKKK!!" "Wkwkwkwk" Setiap langkah mereka benar benar terasa hangat, tentu saja karena gejolak didalam diri mereka masing masing. Yang membuat keduanya bahkan tidak mampu menahan senyum sejak tadi. "Dah. Jajan semua yang kamu mau" kata Langit menahan gemas ketika Bintang menatap deretan streetfood yang menggoda. "Beneran boleh apapun?" "Bolehh" "Sombong ya kalo punya duit" "Wkwk buat kamu semuanya" "Oke aku abisin saldo sopipay kamu" Diem lagi. "Aku?? Kamu??" Kaget Langit untuk kesekian kalinya "Tipo gue tipo" "Gak gakk. Lanjutin. Pokoknya harus gitu sampe pulang" "Gajadi, tipo tadi" "Alaahhhh"


Bintang ternyata serius dengan kata katanya, dia membeli banyak sekali jajanan yang bermacam macam membuat kedua tangan Langit penuh hingga kerepotan. "Udahh, ayo duduk di lapangan mamammm" ucap Bintang sambil memindahkan beban dari tangan kiri langit ke tangannya, dan menggantikannya dengan telapak tangannya sendiri. "Hhhh, god.. why she's soo cute" Mereka memilih duduk diatas rumput alun alun, berhadapan dipisahkan bermacam jajanan hasil rampokan. Setiap perlakuan kecil Langit sungguh membuat Bintang kagum. Hal hal simpel seperti menyiapkan sumpit untuk bintang dan mengelapnya terlebih dahulu, membuka bungkus makanan, memotong dimsum agar bintang lebih mudah memakannya, hingga memberikan sosis didalam corndog kepada Bintang karena Langit tau Bintang menyukainya, semua itu titik lemahnya. "Huhh.. kenyangg" "Yaiyalah, orang kamu jajan sebanyak itu kalo masih ga kenyang buto sih" "Baliknya bentaran ya langit? Biar mamamnya turun dulu" "Iyaa" Bintang bawa kepalanya untuk mendarat di pundak tegap Langitnya, menikmati suasana alun alun yang dipenuhi anak muda hingga happi famili yang bermain dengan anak balitanya.


Entah mengapa, Bintang merasakan sesuatu didadanya. Ini semua berbeda seperti biasanya, dimana dirinya sering dibawa jalan jalan dan menikmati makanan yang harganya 10x dari saat ini, dan dibawa duduk di kursi yang empuk dan mewah. Tapi, saat ini makanan biasa ini terasa sangat nikmat, dan rumput lapangan yang lembab ini terasa nyaman. "Bin" "Hm?" "Kamu kalo ga ketemu aku gimana?" "Gaakan sebahagia ini" Jawab Bintang yakin. "Anjirr, jawabnya pake mikir dulu kek dasdes banget, aku gaada waktu buat siap siap salting" "Wkwkwk" "Sebelum ada aku kamu gimana?" "Bahagia juga, tapi sekarang lebih bahagia" "Awww" "Kalo aku pergi gimana Bin?" "APAAN?? GAK BOLEHH!!" Tegas bintang sambil menatap marah ke arah Langit. "Enak aja lo main pergi aja setelah bikin gue baper gini. Minimal tanggung jawab anjir" "Tapi kan, aku gatau dikasih waktu sampe kapan sama Tuhan?"


"Ya gue juga anjir. Gaada yang tau soal umur" "Iya sih bener" "Udah ah. Gamau ngomongin begini. Ayo pulang aja" "Loh, kok ngambek?" "Ngga ngambek, ayo pulang udah malem banget inii" "Hhh, iya ayoo" Perjalanan pulang mereka kali ini lebih hening, jujur ada rasa takut yang merayap di hati keduanya. Bagaimana jika waktu bagi mereka untuk saling meninggalkan itu datang? Apa mereka akan sanggup? "Senyum dulu dong cantiknya Langitt. Kenapa diem aja gitu" kata Langit sambil memperhatikan wajah Bintang dari spion yang dia arahkan pada wajah Bintang. "Itu, spion kenapa bgitu? Sejak kapan itu bgitu?" "Heheh sejak tadi berangkat" "Mantau gue lu?" "Iya lah, biar bisa liat muka kamu" "Idiihh" "Aku gabakalan pergi, peluknya gausah kenceng kenceng gitu dong cantik" Karena memang iya. Sejak obrolan tadi, Bintang selalu menggenggam erat tangan Langit dan sekarang memeluknya erat. "Lo gaboleh pergi pokoknya" "Hahaha iyaaa. Apa nikah aja kita?"


"Heh! Sembarangan dikira nikah modal sah aja" "Wkwkw mana mungkin jg kamu nikah sama siluman" "Eh btw ya, kalo iya nanti anaknya bakalan manusia apa puppy ya?" Sumpah Bintang lo random banget. Langitnya kaget lah anjir. Sampe bingung Langit mau jawab apa. "Aku aja ga kepikiran loh Bin." "Apaaaa… kita coba?" *plakk Bintang toyor kepala Langit yang pake helm itu dengan keras. "Gue potong bijik lo" "Uhh jahatnya" "Awas aja lo macem macem" "Kan tadi kamu yang nanyaa, aku cuma nyaranin" "Stop deh mending, daripada ini pembicaraan jadi malang megong" "Wkwkw bahasa apasih"


—-----------


[17 : Wish] "Sayang, rencana kuliahnya gimana?" Tanya ayah kepada Bintang yang kini sudah hampir selesai dengan masa studinya di SMA. "Sepertinya, Bintang mau ke kota sebelah Yah" "Loh, sayang masih ragu?" Tanya Bunda. "Mmm, iya bun. Sebenernya ada beberapa pertimbangan. Tapi kayaknya Bintang tetep jadiin kota sebelah jadi prioritas" "Ngga papa sayang, dipikirin dulu yang mateng" "Mm sayang, Bagaimana dengan London?" *deg Tentu saja Bintang terkejut. London ya? London sebenarnya tidak buruk, dan disana Bintang bisa mewujudkan salah satu harapannya yaitu tinggal sendiri dengan kekasihnya (akibat kebanyakan baca au gaes) "Disana ada Jovan juga kan? Bunda rasa dia bisa menjagamu" Lagi-lagi Bintang tidak mampu menjawab, entah mengapa hatinya merasa ragu, padahal dulu ini adalah salah satu rencananya.


"Yah, Bun" "Boleh kalo misal Bintang kuliah disini saja? Maksud Bintang di kota sebelah?" "Sebenarnya Ayah tidak masalah sayang, asalkan Bintang enjoy kuliahnya, mau dimanapun akan ayah dukung" "Iya sayang, bunda pasti juga dukung" "Kemarin Jovan sempat menghubungi Ayah, dan bertanya soal bagaimana rencana kuliah mu. Dia bilang dulu kau ingin ikut dengannya" "Lahh, ngapain bilang ke ayah sih?" "Ya memang kuliah di London itu menarik, tapi bagaimana aku bisa bawa Langit? Dann gamungkin juga aku ninggalin Langit" "Sayang?" Tegur Bunda melihat bintang yang malah melamun. "Ah, Yah, Bun. Akan Bintang pikirkan nanti" "Tentu sayang" "Kalau gitu bintang ke atas dulu ya Yah, Bun" "Iya sayang" "Night dear" —-----


"Bin?" Sapa Langit lalu ia menyusul Bintang yang sedang belajar di atas kasurnya. "Hmm?" "Jadinya lo, mau tetep ambil di kota sebelah?" "Hmmm, i think yes" "Kenapa? Kan lo ditawarin ke London sama ayah?" "Kok tau?" "Nguping dikit" "Ohhh, gatau lah. Pengen disini aja" "Kenapa?" "Jehan sama Rega juga mau ke kota sebelah sama gue" "Oiya?" "Iyaa. Dan gue juga pengen ini dari dulu" "Apa?" "Kuliah jauh, tinggal di studio sama pacar wkkwkw" "Jangan banyakan baca au. Halu mulu lo" "Idih, beneran ini mah" "Kalo gitu doang mah, lo ke London juga bisa kan?" "Lahhh?" "Hah? Maksud lo?"


"Ya kalo cuma pengen tinggal ama pacar lo doang kan di London juga bisa" "Dih? Biasanya jg lu yang ngaku ngaku pacar gue, skrg malah gitu. Kampret" "Ya bisa aja sih" "Emang lo mau gue tinggal disini sendirian?" Tanya Bintang dengan tatapan menggodanya. "Ya gue sih ngga mau menghambat impian lo" Sebenarnya jawaban yang Langit berikan saat ini sangat diluar ekspektasi Bintang. Langit ini kenapa? Biasanya dia sangat benci saat akan dijauhkan dari Bintang. Tapi kenapa sekarang dia malah berbicara seperti itu? "Lo kenapasih anjir. Jangan bikin gue ovt dong" "Ya mungkin dengan kamu yang jauh dari aku, bakalan kebiasa gaada aku kan?"


Bintang jujur soal harapannya. Sejak dulu, Bintang memang ingin tinggal berdua dengan seseorang yang dicintainya. Dulu, memang Jovan yang menjadi salah satu harapannya. Tapi, itu sirna. Hingga datangnya seseorang baru, yang kembali menghidupkan harapannya. Langitnya. "Udah kan belajarnya? Ayo bobok" kata Langit setelah melihat Bintang yang mulai menutup bukunya. Ya siapa juga yang bisa fokus belajar kalo pikirannya aja diganggu sama yang lain. "Iya" Setelah berada di posisi mereka biasanya, dengan Bintang yang berada di dalam dekapan hangat Langit, keduanya terdiam. Bintang tau, ada yang tidak beres disini. Langitnya sedang mendung. "Hey, tok tok" kata Bintang berbisik sambil mengetuk dada Langit perlahan. Membuat Langit yang sudah menutup matanya kembali terjaga. "Itu, pemilik kamu lagi kenapa? Kok aneh banget?" sambung Bintang masih menatap dada Langit, berbicara kepada jantungnya. Seperti biasa


Langit tidak menjawabnya, ia ingin tau apalagi yang akan Bintang katakan pada jantungnya. Sedangkan Bintang yang tidak tau Langit membuka matanya, masih melanjutkan convonya. "Kok itu pemilik kamu nyebelin banget si?" "Masa aku bilang mau aku tinggal dia iya iya aja, ga marah masa? Biasanya jg ngereog kan?" "Kamu tau ngga dia lagi kenapa?" "Padahal ya, maunya aku tuh dia bilang kaya 'yaudah nanti sama aku aja aku temenin' gituu harusnya. Ehhh malah jawab gitu nyebelin banget. Aku tinggal beneran biar tau rasa" "Trus juga kenapa seharian cemberut terus? Kan aku gatau ya harus gimana hiburnya? Kamu tau ga aku harus gimana?" "Bilang dong sama dia, kalo ada apa apa tuh cerita jangan diem aja trus tiba tiba cuekin aku gini. Kan akunya jadi sebel" "Besok kalo dia bangun jangan lupa bilang ya? Sekarang bobo deh" "Oiya, sama bilang ke dia juga kalo aku maunya sama dia. Aku mau tinggal sama dia, kalo ngga aku marah. Oke?" *cup "Good night"


Setelah meninggalkan kecupan pada dada bidang Langit yang tertutup kain, Bintang semakin melesak masuk kedalam pelukan Langit, yang menjadi tempat ternyamannya. Sedangkan Langit, rasa yang campur aduk berkecamuk dalam dirinya. "I want to tell you my star" "But, i don't want to hurt you" —---


"Langit, hariini pengumuman SNM, doain gue lolos yah. Kalo gue lolos gue bakal fix disini" "Tapi kalo ngga, mungkin Ayah bakal beneran bujuk gue ke London hehe" "Gue pengen disini. Sama lo" "Gue gamau ninggalin lo" "Banyak yang harus kita lakukan disini" Racau Bintang sambil mengelus bulu halus milik Langit yang masih tertidur pulas, dengan mode anjingnya.


Tertidur pulas menurut Bintang. "Hhhh, lo lucu bgt sih" "Tolong jangan kemana mana, dan jangan tinggalin gue" "Gue ngga akan kuat" "Hehehe" "Jangan gitu dong" "Kalo lo gitu, mana mungkin gue tega ninggalin lo?" *tingg Notifikasi handphone Bintang yang berbunyi mengalihkan fokus Bintang.


Yup, hari ini adalah pengumuman SNMPTN dan hasilnya, voilaa! Ketiganya diterima di PTN yang sama, itu memang rencana mereka. Yaahh, namanya juga jamet. Mau kuliah aja pake kongkalikong.


"Wey langit" Bisik Bintang pada telinga Langit yang sedang tertidur di neverland. "Gue keterima SNM awwkwkw. kita nanti ke kota sebelah yaayyy" "Lo harus temenin gue. Dan lo harus kasih tau ke gue, apa yang cakep dari kota kelahiran lo itu selain Lo sendiri" "Hihihi, cringe bgt gue"


"Byeee mau kasih tau Bunda sama Ayah duluu" *cup "Bobo ya ganteng" "Hhh, seneng banget kayaknya" "Gue janji, gue bakal bikin lo bahagia sebisa gue"


‐—---------


[18 : Wish 2.0] "Sayang kuliahnya yang rajin, jangan sampai telat makan, jangan banyak begadang, kegiatannya juga jangan banyak banyak, trus.." "Bundaaa,," potong Bintang, karena sejak tadi Bundanya terus menerus meninggalkan pesan berulang kepada Bintang, hingga Ayah mulai bosan menunggu di ambang pintu apartemen yang akan menjadi tempat tinggal Bintang selama menempuh pendidikan sarjananya. "Bunda tenang yaa? Bintang udah gede sekarang, bintang bisa jaga diri kok. Disini juga ada Rega sama Jeje, ada Langit juga, semuanya aman Bunda" "Iya sayang, kamu tenang aja anak kita kan pemberani" Kata Ayah "Hooh, jadi bunda tenang aja yahh, nanti Bintang bakal sering sering telfon bunda" "Janji ya sayang, kalo ada apa apa telfon Bunda atau Ayah, jangan apa apa sendiri ya?" "Iya Bunda sayaang" "Yaudah Bunda pamit ya sayang?" "Hati hati Bunda" "Langit! Jagain Bintang loh!" "Wwooff" "Goodboy" "Bye sayangg, kapan kapan Bunda kesini lagi" "Iyaaa Bundaa"


—------- Seharian Bintang dan Langit sibuk dengan barang barang mereka, menata seluruh isi studio membuat tempat yang begitu nyaman untuk keduanya tinggal. "Langit tolongin, ngga nyampe" "Langitt, ini gimana deh masangnya?" "Langit, gini bagus ngga?"


"Woyy bantu anjir lo main hp mulu ish. Gue sita juga tu hp" "Ett, jangan dong nanti gue cari duitnya gmn?" "Wkwkwk, yaudah makanya bantu dulu" "Ini udah semua sayang, apalagi?" *duhhh "Bangke sayang sayang. Lu kata kuat jantung gue hah?" "Sayang sayang gue getok juga pala lo pake nih centong nasi" "Kan kita nih kaya penganten baru gitu baru pindah rumah, ya wajar panggil sayang" "Langitttt lo tuh yaaa!!!" "Ehe, salting hehehe" ejek Langit sambil berjalan mendekati Bintang dengan langkah jenakanya. "Udah buru itu benerin biar ini bisa digantungg" "Iya sayanggg" "Awas aja lo panggil sayang lg tapi ga dinikahin beneran" *deg "Upsies" "MAU LO? AYOK" kata Langit spontan berteriak


"Goblog, udah jgn banyak bac.. akk-" Kalimat Bintang tidak mampu ia selesaikan ketika dengan cepat Langit angkat tubuh bintang dan ia letakkan diatas counter dapur dengan Langit yang menguncinya dari kedua sisi. Jelas Bintang hanya mampu terdiam karena terkejut, tatapan mata Langit yang begitu dalam membuat Bintang sama sekali tidak memiliki nyali untuk mengeluarkan sepatah kata apapun. "Kalo di film pasti bakal begini kan? Trus bilang.." langit tahan kalimatnya, dan ia dekatkan bibirnya ke telinga Bintang dan mengtakan "wanna eat something sweety?" Bulu kuduk Bintang tak kuasa untuk berdiri, sungguh Langit ini apa apaan? "Kalo diem tuhh, biasanya…" Belum selesai dengan getaran Jantungnya, lagi lagi keimanan Bintang diuji karena Langit yang dengan nakalnya mengusap rahang Bintang dengan lembut. "Bintang, jangan lepas kendali. Tolong" Bintang tutup matanya sejenak, ia harus membersihkan pikirannya sekarang. Jangan ladeni Langit. Itu yang ia pikirkan sekarang. Langit yang melihat Bintang menutup matanya, bergerak perlahan mendekatkan wajahnya membuat hembusan nafasnya bahkan mampu Bintang rasakan menyapu kulit wajahnya.


"Pfffttt hahahah" Tawa Langit tiba tiba membuat Bintang spontan membuka matanya, dan melihat Langit yang tertawa kencang sambil memegangi perutnya. "Apaan dah lo?" Tanya Bintang mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Hahaha, lo harus liat muka panik lo itu wkwkw, lucu banget" "Yeuuu kurang ajar" kata Bintang sambil bergerak turun dari counter dan melanjutkan kegiatannya memasang gantungan. "Tapi ya Bin, kok lo pasrah tumben? Sampe tutup mata gitu, lo mau emang?" "Hah?" "Itu td lo tutup mata" "Ya soalnya lo kl diliat dr deket jlek bgt. Takut mual gue" halah alibi "Ah masa?" "Awas aja lo godain gue lagi. Gue bales tau rasa lo" "Bales aja" "Fineee!! Tunggu pemblasan gue" "Dengan senang hati sayang" "Meh" "Not now. gue ngga bisa" —---- "Binn, bangunn udah pagi ini. Lo masuk pagi kan?" "Bin, sarapan udah gue bikin. Cepet makan nanti telat"


"Bin, nanti langsung pulang kan?" "Sayang. Jangan nakal ya" "Ih, apa apaan? Suka suka gue lah" protes Bintang karena Langit selalu seperti itu. Langit mengurus Bintang dengan sangat baik. Seperti yang kalian tau, Langit seperti seorang ibu sekarang kegiatannya selalu sama. Karena itu Bintang merasa sangat bahagia, bahkan ia selalu bersemangat setiap harinya karena setiap harinnya juga sesuai dengan harapannya.


—---- "Langit" "Hm?" Aahh, malam yang nyaman. Setelah seharian Bintang habiskan tenaga dan batre sosialnya di kampus, kini ia bisa mengistirahatkan dirinya dan mencharge energinya dengan memeluk Langitnya erat dan menjadikan detak jantung Langit yang berada tepat di bawah wajahnya menjadi pengiring obrolan mereka.


"Lo kalo lanjut kuliah mau apa?" "Gue pengen arsi" "Woww, sayang ya. Padahal gue yakin lo bisa masuk arsi dengan kemampuan otak dan gambar lo" "Hhhh gue udah siapin buat masuk arsi dari lama. Eh malah mati" *deg Selalu saja. Sudah lama memang Bintang hidup bersama dengan Langit. Tapi, saat dirinya diingatkan bahwa Langitnya tidaklah nyata seutuhnya, hati Bintang terasa seperti tertusuk anak panah. Nyeri. "Kalo lo ada kesempatan belajar mau ga?" Tanya Bintang lagi. "Mau, tapi buat apa juga?" "Ya buat lo kerja ajaa, kan nanti kalo lo ada ilmunya bisa dipake buat joki" "Oh, iya juga ya" "Hooh. Katanya mau nafkahin" kata Bintang jahil. "Berat nafkahin lo tuh. Ngemill mulu ga kenyang kenyang" "Awkkwkw ya maap" —-----


"Bantuin cari buku soal Arsi dong, dari dasar aja. Materi smt 1 lah" todong Bintang langsung ketika melihat dua sahabatnya telah sampai. "Lah, ngapain lu cari buku arsi?" Tanya Rega heran "Soalnya la.." "Lagi suka aja" untung saja ngga keceplosan "Hah? Sejak kapan lo tertarik arsitektur?" Tanya jeje. "Udah ihh, tinggal cari 4 buku lagi nihh kalo nanya mulu kapan maksi nya" "Hhh iya dah cari" —---- "Lo ngapain sih Tang tumben amat segala minjem buku soal arsitektur?" Tanya Rega yang masih heran sambil memasukkan bakso kedalam mulutnya. "Gapapa pengen aja" "Kalo emang kepo bbrp hal mending lu nanya aja ke anak arsi daripada baca buku setebel itu" "Gue gaada kenalan anak arsi Je" "Gue ada" "Lahh? Kok?" "Kan gue teknik juga, ketemu pas ospek" "Kenalin dong ke guee" "Yeuuu genit lo" serang Rega "Idih kaga ye, mau nanya beneran gue" "Hilih, alibi"


—------ Bintang pulang ke apartemennya dengan perasaan begituu bahagia, sejak dulu, Bintang ingin sekali mewujudkan harapan harapan langit. Karena setidaknya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk Langitnya. Bintang tidak ingin, Langitnya merasa kurang satu apapun. Dan Bintang ingin, Langitnya memiliki bahagianya. "Alooo Langitt, udah makaan?" Tanya Bintang pada Langit yang sejak tadi duduk di atas karpet dengan nyaman. "Woff" jawabnya semangat. "Good boy. Gue mandi dulu, berubah jadi manusia cepetan nanti gue kasih hadiah" "Wooff" "Apaan hadiahnya? siniin" Semangat Langit ketika mendengar kata hadiah. "Nih" Bintang menyorkan 1 paperbag berisi begitu banyak buku, dan flashdisk didalam tasnya. "Buku Arsi?" Tanya Langit keheranan


"Yup, buku itu gue pinjem dari perpus kampus, itu rujukan materi anak arsi semua. Dan fd nya gue juga dapet dari anak arsi, disitu banyak materi dan video tutor soal materi arsi, trus nanti kalo lo mau ada yang ditanyain lo bisa hubungin nomor temennya jeje buat nanya nanya dia baik kok, dia…." *grepp Kalimat panjang Bintang terputus begitu saja ketika Langit dengan tiba tiba memeluk Bintang dengan erat. "Makasih, makasihh sayang" Duh, rasanya jantung bintang kaya bisa meledak kapan aja. "Hmm" "Sebagai gantinya, lo boleh deh minta apapun dari guee" kata Langit eksaitit "Temenin gue belanja aja dah, banyak yang abis" "Itu doang?" "Hooh, tapi lu mode anjing ajaa, takut ada yang ngenalin lo. Kan disini kampung halaman lo" "Bjir kampung katanya" "Awkwkwkwk" "Thankyouu so much my dearr, ini salah satu impian gue. Tapi, dengan ini waktu gue sama lo mungkin bakal makin sempit" "Harusnya gue ngga bilang aja ya?" "Maaf ya ganteng, cuma itu yang bisa gue lakuin. Gue suka liat lo senyum gitu, demi senyum itu gue bakal berusaha wujudin semua keinginan lo"


[19 : Another Wish] Sesuai janji Langit kemarin, kini keduanya sudah berada didalam mobil Bintang bahkan sebelum matahari mencapai puncaknya. Dua sejoli ini mengorbankan weekend yang biasa mereka habiskan dengan menonton film atau bermain game hanya untuk berbelanja bulanan di salah satu mall dekat apartemen mereka. "Mau coba yang mana?" Kata Bintang berbicara kepada Langit yang setia dengan mode Anjingnya. "Wooff" "Oke mantab" Biarkan orang lain memandang Bintang sedikit aneh karena terus terusan mengoceh kepada Langit. Biarkan orang lain tidak tau bahwa anjing besar ini adalah seorang laki laki tampan. Biarkan hanya Bintang saja yang tau. "Dahh selesaii, abis ini kita makan yuu" "Tapi take away aja kita makan di rumah" "Wooff" kata Langit semangat, karena jujur dia juga lapar. "Eh, wait. Dompet siapa ya ini?" Kata Bintang sambil memungut dompet yang terjatuh tidak jauh dari pintu keluar pusat perbelanjaan.


"Hmm, kaya dompet ibu ibu. Mungkin ibunya belom jauh. Apa kita ke informasi aja?" "Woof" "Sek sek bentar" Bintang letakkan dompet tersebut di kereta belanja dimana ada Langit juga menumpang disana. Dan masih bertahan di lokasi itu untuk menunggu sebentar, siapa tahu ada yang mencari dompetnya disana. *sniff sniff "Kaya kenal baunya, ini kaya bau parfum mama" Langit tak henti hentinya mengendus dompet warna abu itu, sungguh ia sangat rindu dengan orang tuanya. Setidaknya, hanya mendengar suaranya. Itu cukup untuk Langit. "Permisi nak" *deg "Suara mama?" "Oh, iya tante? Ada yang bisa dibantu?" Kata Bintang sambil menoleh dan begitu juga Langit. "Mama? Ya Tuhannn ini mama?" "Maaf nak, tante mau tanya apa kamu lihat dompet abu abu disekitar sini? Tadi tante habis berbelanja dari dalam tapi dompet tante tiba tiba tidak ada" "Ah, apa ini dompet tante?"


Kata Bintang sambil menunjukkan dompet abu abu, yang ia letakkan di samping Langit yang mematung. "Anjingnya, mirip joey…" "Ah, iyaa ini dompet tante. Terimakasih banyak nak" "Tadi Bintang mau bawa dompet tante ke informasi, eh malah ketemu tante disini kebetulan" "Terimakasih banyak sayang" kata Mama Jezziel sambil memeluk Bintang akrab. "Mama, gimana dompetnya?" *deg "Papa?" Seorang laki laki paruh baya tiba tiba datang menginterupsi pelukan Bintang dan Mama Jezziel. "Ah, sudah ketemu pa. Anak cantik ini yang menemukan dompet mama" "Syukurlahh, siapa namamu nak?" "Bintang om" "Cantik sekali, nak Bintang, mau ikut makan bersama kami?" "Ah, terimakasih om tapi.." "Wwoff"


Gonggongan kecil langit yang cenderung lemas itu mengalihkan atensi ketiganya. "Oh, maaf om, tantee." "Langitt, sebentar ya ga sopan begitu" "Pa, anjingnya mirip joey" kata mama Jezziel berbisik kepada suaminya, dan itu dibalas senyuman hangat sang suami sambil mengusap punggung istrinya. Sudah jelas istrinya pasti mengingat putranya. "Nak, boleh tante pegang anjingnya?" Pinta Mama Jezziel lembut "Ah, iya tante silahkan" Tangan Mama Jezziel perlahan lahan terangkat dan mengusap lembut bulu Langit. "Maa, ini jiel ma" "Dia sangat manis. Siapa namanya sayang?" "Namanya Langit tante" "Nama yang bagus, sayang" puji Papa Jezziel sambil mengusap kepala Bintang tak kalah lembut. "Sayang, mau ya makan sama tante sama om?" Tanya Papa Jezziel sekali lagi "Wwof"


"Hhh, kayaknya dia suka sama tante" kata Mama Jezziel gemas karena Langit yang mendusal dusalkan kepalanya pada lengan mama Jezziel. "Baiklah om tante. Terimakasih banyak" "Kami yang berterimakasih padamu sayang" Ketiganya, beserta Langit memilih untuk makan disalah satu resto yang begitu familiar bagi Langit. Karena itu adalah resto favoritnya. "Nak, apa Langit selalu seperti ini?" Tanya Mama Jezziel karena Langit sejak tadi tidak lepas dan terus mendusal pada mama Jezziel. "Aduh, maaf tante kalo tante jadi risih. Langit emang cuddly gitu kalo sama Bintang tante" "Hahah, tante ngga risih. Tante justru malah sukaa. Langit manis banget" "Hehe iya tante" "Om tante ini enak banget, makasih udah ngajakin Bintang ke resto seenak ini." "Haha, memang sayang. Disini enak banget makanya tante sama om sering kesini" "Oiya tante?" "Resto ini juga favorit anak tante, dia suka banget kesini. Makanya sampe sekarang seminggu sekali pasti tante sama om kesini" "Mama sama papa masih sering kesini, bahkan saat jiel udah ga ada. Jiel kangen banget disuapin mama disini"


"Wahhh selera anak tante mantab juga" "Sayang, kamu disini kuliah atau memang tinggal disini?" "Saya kuliah om" "Oiya? Tahun berapa?" "Ini tahun pertama Bintang om" "Ah, berarti kamu lebih muda 3 tahun ya dari anak tante" "Oiya? Apa dia kuliah juga tante?" "Hhh, dia sudah meninggal sayang" "mama" "Tante, maaf Bintang tidak tahu." "Tidak apa apa sayang" Sungguh, Langit rasanya ingin sekali mengubah dirinya dan melompat kepelukan mamanya. Berteriak 'mamaaa ini Jiel mama' tapi itu tidak mungkin. Bisa runyam semuanya. "Uuh, terimakasih Langit" Mama Jezziel membalas pelukan hangat Langit yang anehnya terasa begitu hangat itu. "Maafin Jiel ma" "Langit ini pintar sekali, kau yang mengajarinya Nak?" Tanya papa jezziel "Langit emang gitu om, kadang saya juga heran. Dia kaya ngerti apa yang Bintang omongin sama rasain" "Anjing jenis ini memang pintar, dia sangat mudah menuruti perintah" "Wahh, om juga suka anjing ya?"


"Sangat." "Pantas saja Langit langsung menempel" "Om, tante, makasih banyak malah jadi jajanin Bintang begini" "Tante yang makasih banyak sama kamu sayang, karena sudah nemuin dompet tante, sama ijinin tante main sama Langit" "Sama sama tante. Bintang duluan ya om tante" "Iya sayang. Hati hati" "Baik om tante" "Dadah, sayang. Bye Langitt" teriak Mama Jezziel saat Bintang mulai melangkah pergi. "Bye mama, papa. Jiel seneng liat mama sama papa baik baik aja. maafin jiel ngga bisa peluk mama lagi, maa paa selalu sehat ya." "Langit tumben banget keliatan sendu, dan dia dari tadi masih ngeliatin om sama tante terus." —----- Begitu sampai di apartemen, suasana sendu yang Langit bawa itu masih saja belum hilang. Mendungnya, masih belum pergi. "Langit lo kenapa sih? Kenapa malah jadi letoy gitu?" "Eh, eh, kenapa nangis deh?"


Kaget Bintang ketika melihat lelehan air dari mata Langit yang membasahi bulu putihnya. "Lo kenapa sih? Coba cerita deh" Bukannya menuruti perintah Bintang, Langit masih dengan mode anjingnya itu menerjang tubuh Bintang dan memeluknya erat. "Hh, okay. Take your time" Bintang jelas tahu, Langit masih belum ingin cerita karena itu Bintang hanya membalas pelukan Langit dan menciumi kepalanya. Berharap Langitnya akan segera kembali cerah. —----- "Bintang" "Hm?" Mungkin, ini saat yang tepat bagi Langit untuk jujur kepada Bintang, karena sejak tadi Langit sudah membuat suasana rumah menjadi sendu. Bintangnya pun juga menahan sinarnya, karena Langitnya yang mendung. "Mmm," "Kenapa Langitt?" Kini atensi Bintang telah penuh kepada Langitnya, Bintang matikan tv yang sebelumnya menayangkan series favorit mereka dan menatap Langitnya penuh atensi. "Yang tadi siang itu, yang kamu tolong itu…."


"Mama ku" "Hahh?" "Yang bener lo?" "Iya" "Oh, god. Harusnya lo bilang dari tadi gue bisa minta nomor atau sesuatu supaya lo bisa ketemu lagi" "Mungkin itu bakal jadi yang terakhir, Bintang. Waktuku sempit" "Hhh, aku udah seneng banget kok. Liat mama papa baik baik aja setelah aku pergi. Mereka sehat, mereka hidup dengan baik, gue bahagia" "Makasih Bintang, berkat kamu, aku bisa liat dan deket mereka hari ini" "Jadi, yang mereka bicarain tadi itu lo?" "Hhh, iya. Siapa lagi? Gue kan anak satu satunya" "Astagaa, bodoh bgt si lo bin, sampe gatau. Padahal udah jelas jelass" marah Bintang pada diri sendiri "Udah, ngapain kamu malah ngamuk ngamuk sama diri sendiri sih?" "Ya orang, harusnya gue bisa ulur waktu atau berusaha biar lo bisa lama lama ketemu mereka. Malah gue buru buru balik" "Udah sayanggg, itu cukup kok. Tau mereka baik baik aja itu udah cukup buat aku" "I'm so sorry langit" "No, thankyou Bintang. Thankyou"


Click to View FlipBook Version